ads

Jumat, 05 Februari 2021

Pendekar Pemanah Rajawali Jilid 023

Oey Yong lantas menggurat pula di tanah. Ia menulis huruf-huruf di gambar, yang ia ingat dengan baik. Lalu berkata:

"Di garis pertama itu, yang kurang mestinya satu huruf Bu. Kalau keempat huruf itu lengkap, mestinya 'Surat wasiat Bu Bok.' Sekarang garis yang kedua. Sekian lama aku tidak dapat pikir itu, sampai tadi si tua bangka menyebutnya. Menurut dugaanku, huruf itu mestinya 'san' atau 'hong', ialah gunung atau puncak…….."

Kwee Ceng lantas membaca: "Jadi, surat wasiat Bu Bok di gunung Tiat Ciang San." Ia lantas bertepuk tangan, terus berseru: "Bagus! Sekarang mari kita lekas pergi ke sana! Tiat Ciang Pang bersekongkol sama bangsa Kim, mungkin sekali surat wasiat Gak Hui itu mereka serahkan pada Wanyen Lieh! Hanya tinggal yang dua garis lagi…"

Oey Yong tertawa. "Kau sendiri tidak mau menggunakan otakmu, kau paling bisa mendesak orang," ia kata. "Aku rasa, garis yang ketiga itu harus dicari dari kata-katanya si tua bangka bahwa gunung itu mirip lima jeriji tangan. Bukankah itu berbunyi 'dibawah puncak jari tengah'?"

Kembali Kwee Ceng menepuk tangan. "Yong-jie, kau sungguh cerdik, kau cerdik!" ia memuji pula. "Sekarang tinggal garis keempat, yang keempat….."

Oey Yong berdiam, ia berpikir. "Ini…., sukar….." sahutnya. "….yang kedua apakah itu?" Ia memiringkan kepalanya, hingga rambutnya turun memain. "Sudahlah, nanti saja kita pikirkan lagi. Sekarang kita pergi dulu."

Sampai di situ, mereka tidak berayal lagi. Lantas cari kuda dan burung mereka, terus mulai dengan perjalanan ke arah barat, menurut petunjuk Tiat Ciang Sui-siang-piauw Khiu Cian Jin yang aneh itu, yang sebentar temberang dan jenaka, kemudian kosen benar-benar, lalu main memutuskan tali pinggang…………

Mula-mula mereka melewatkan Siang-tek, lalu melintasi Tho-goan, sampai di Goan Kang, atau Goan¬leng, mereka jalan ke hulu, dari sini mereka benar tiba di Louw-kee. Di sini mereka tanya-tanya orang di mana adanya gunung Tiat Ciang San. Mereka mendapat jawaban gelengan kepala. Mereka menjadi heran, hampir mereka putus asa. Maka terpaksa mereka pergi mencari rumah penginapan.

Malam itu Oey Yong pasang omong dengan pelayan yang bicara banyak, tetapi tidak pernah menyebutkan Tiat Ciang San. Maka kemudian si nona kata:

"Semua tempat yang kau sebutkan adalah tempat-tempat yang umum, dasar Louw-kee tempat kecil, di sini tidak ada gunung dan airnya yang bagus!"

Dengan "gunung dan air", si nona maksudkan pemandangan alam yang indah. Kata-kata itu mengandung hinaan, membikin pelayan itu tak puas.

"Meskipun Louw-kee tempat kecil," katanya, "Tetapi pemandangan alam di gunung Kauw Jiauw San mana ada yang dapat menandanginya?"

Oey Yong ketarik sama nama gunung itu, yang artinya gunung Kuku Kera. "Di mana letaknya Kauw Jiauw San itu?" ia tanya.

"Maaf," berkata pelayan itu yang tidak menjawab, hanya ia mengundurkan diri.

Oey Yong memburu, di ambang pintu, ia menjambak punggung orang, menarik kembali ke dalam kamar. Ia terus merogoh keluar sepotong perak dan meletakkannya di atas meja.

"Kau omong biar jelas, uang ini untukmu," ia kata.

Ketarik hatinya pelayan ini, ia meraba-raba uang perak itu. "Perak begini besar?" katanya.

"Ya," sahut Oey Yong bersenyum dan mengangguk.

"Baiklah, aku nanti menjelaskan," pelayan itu lantas berkata, perlahan, "Cuma aku minta jangan jiewi pergi ke sana. Di atas gunung itu ada berdiam sekawanan hantu yang jahat, mereka juga memelihara banyak ular berbisa. Siapa mendekati gunung itu lima lie, jangan harap jiwanya selamat!"

Oey Yong dan Kwee Ceng saling memandang, mereka saling mengangguk. "Kauw Jiauw San itu terdiri dari lima puncak, yang semuanya menjulang ke langit mirip tangan kera, bukan?" kemudian si nona tanya.

Pelayan itu girang. "Ah, kiranya nona sudah tahu!" katanya. "Jadi itulah bukan aku yang menjelaskannya. Lima puncak itu memang luar biasa sekali."

"Kenapa begitu?" tanya Kwee Ceng.

"Lima puncak itu berdiri rapat seperti lima jari tangan," menerangkan si pelayan. "Puncak yang di tengah ialah puncak yang paling tinggi. Puncak-puncak yang lainnya, di kedua sisinya lebih rendah. Yang aneh ialah setiap puncak itu ada garisnya, mirip sama tiga tekukan jari tangan."

Mendengar itu, Oey Yong berjingkrak-jingkrak sambil berseru: "Yang kedua! Yang kedua!"

"Benar! Benar!" Kwee Ceng pun berseru kegirangan. "Engko Ceng mari kita pergi!" berkata Oey Yong.

"Tempat itu terpisah dari sini tak ada enampuluh lie, dengan menunggang kuda merah, sebentar saja kita bisa sampai di sana," berkata Kwee Ceng. "Aku pikir, baiklah besok saja kita pergi berkunjung ke sana."

Si nona tertawa. "Siapa yang mau membuat kunjungan?" katanya. "Kita mencuri buku!"

"Ah!" seru Kwee Ceng, yang baru sadar. "Kenapa aku tolol sekali, aku tidak dapat memikir sampai ke situ…!"

Dua orang ini tidak mau membikin orang penginapan mengetahui perbuatan mereka, mereka keluar dengan diam-diam dengan melompati jendela. Dengan hati-hati juga mereka menuntun kuda mereka. Lalu, dengan menuruti petunjuk pelayan, mereka berangkat menuju ke arah tenggara. Jalanan ke pengunungan rumputnya tinggi-tinggi, jalanan sukar, tetapi kuda kecil itu dapat melaluinya. Dalam waktu satu jam, sampailah mereka di kaki gunung. Terlihat jelas lima puncak gunung, yang mirip dengan lima jari tangan berdiri tegak, terutama puncak yang di tengah-tengah.

"Puncak ini sama benar dengan puncak di dalam gambar," berkata Kwee Ceng setelah ia mengawasi sekian lama. "Lihat di puncak itu, bukankah itu pohon cemara?"

Oey Yong tertawa ketika ia menyahut: "Ya, hanya di sana kurang seorang jenderal yang lagi bersilat dengan pedang!"

Lantas mereka meninggalkan kuda dan burung rajawali di kaki gunung, mereka jalan memutar ke belakang gunung. Di sini, di mana tidak tertampak ada orang lain, mereka mulai mendaki dengan berjalan cepat bagaikan lari. Beberapa lie telah dilewatkan, jalanan menikung, lalu menuju ke barat. Mereka maju terus. Di sini jalan selanjutnya berliku-liku sampai di depan mereka, tampak pohon cemara melulu.

Mereka berhenti sebentar, bersangsi, hingga mereka saling bertanya mendaki terus atau melihat-lihat dulu. Selagi mereka berbicara, si burung merah molos dari tangan baju Oey Yong, terus terbang ke dalam rimba.

Si nona sangat menyayangi burungnya, sambil menggapai kepada Kwee Ceng, ia lari ke arah rimba itu, menyusul burungnya. Hanya ia menjadi bingung ketika kehilangan hiat-niauw yang terbangnya sangat cepat. Terpaksa ia maju terus dengan Kwee Ceng mengikuti.

Sekitar satu lie jauhnya, mereka tiba di satu tempat di depan mana ada cahaya api. Keduanya saling memberi isyarat, setelah itu mereka maju dengan perlahan-lahan, enteng tindakannya. Baru beberapa tindak, mendadak dari samping jalanan, di mana ada pohon-pohon besar, dua orang berlompat keluar, menghadang di muka mereka. Dua orang itu sama-¬sama mengenakan pakaian hitam dan memegang senjata tajam. Hanya mereka itu tidak membuka suara.

Oey Yong lantas berpikir. Ia tahu, kalau mereka bertempur, sulit untuk melakukan pencurian "buku" surat wasiat Gak Hui. Ia cerdik sekali. Maka segera ia mengeluarkan tiat-siang, tangan besi dari Khiu Cian Jin. Ia mengangkat tinggi-tinggi, terus ia bertindak tanpa membuka suara seperti dua orang itu.

Ketika kedua orang berpakaian hitam itu menampak tangan besi, mereka terkejut, dengan lekas mereka memberi hormat, lalu menyingkir ke pinggiran memberi jalan.

Oey Yong berlaku sebat luar biasa. Tepat saat orang mundur, ia menyerang. Dengan tongkatnya, dengan dua gerakan saling susul, ia menotok kedua orang itu, hingga keduanya roboh tak berdaya lagi, hingga gampang saja mereka didupak mencelat ke dalam gompolan rumput. Habis itu, dengan cepat tetapi berhati-hati, mereka maju lagi, menghampiri api yang tadi terlihat samar-samar.

Nyatalah ada sebuah rumah batu dengan lima ruang dan api munculnya dari dua ruang timur dan barat. Mereka menghampiri ruang barat. Segara hidung mereka menangkap bau amis. Tapi mereka tidak menghiraukannya, lantas mengintai di jendela.

Di dalam kamar itu ada sebuah perapian besar, yang apinya menyala marong. Di atas situ ada sebuah kuali. Dua kacung menanti di samping perapian, yang satunya lagi menolak pompa angin, yang lainnya tengah melemparkan seekor ular yang ia jumput dari dalam karung, di lemparkan ke dalam kuali, di depan kuali ada seorang lain, seorang tua yang duduk numprah dengan mata dimeramkan, dengan menggunakan tenaga besar, ia menghisap menyedot uap yang mengepul dari kuali itu, uap berhawa panas. Orang tua itu mengenakan baju kuning pendek. Dan dia bukan orang lain daripada Khiu Cian Jin.

Selagi ia menyedot hawa masakan ular itu, kepala Khiu Cian Jin mengeluarkan hawa panas yang nampak bagaikan uap juga, sedang kedua tangannya yang diangkat tinggi, sepuluh jerijinya pun terlihat mengeluarkan uap serupa. Habis itu, mendadak ia bangun berdiri, kedua tangannya dimasukkan ke dalam kuali. Di waktu begitu, si bocah tukang kipas lantas mengompa angin dengan luar biasa kuat hingga ia memandikan keringat.

Khiu Cian Jin membiarkan tangannya berada di dalam godokan ular, sampai rasa panasnya sudah tak tertahankan, baru ia menarik kedua tangannya. Setelah menarik, ia menyampok sebuah kantung kain yang tergantung di dalam ruangan itu, sampokannya itu menerbitkan suara nyaring, tetapi kantungnya sendiri tidak bergoyang.

Kwee Ceng heran. Ia tahu betul isi kantung itu mestinya pasir dan isi itu tak ada satu batok. Yang mengherankan ialah kantung itu tersampok tanpa bergoyang. Itulah menandakan lihaynya ilmu silat orang tua itu.

Oey Yong sebaliknya daripada engko Cengnya. Ia tetap menganggap si orang tak lain lagi bersandiwara, untuk mengelabui orang. Coba ia tidak lagi memikir untuk mencuri surat wasiat, pastilah ia hendak menjengek orang tua itu.

Latihan Khiu Cian Jin diulangi dan diulangi lagi. Habis menyampok kantung, ia masukkan pula tangannya ke dalam kuali panas, habis itu, ia mengangkat lagi tangannya dan menyampok kembali kantung pasir. Demikian seterusnya.

Setelah mengintai sekian lama, Oey Yong dan Kwee Ceng pergi ke kamar tidur. Di sini mereka menyaksikan pula hal yang mengejutkan. Sebab disini mereka menemukan dua orang yang mereka kenal baik, Yo Kang bersama Bok Liam Cu. Sepasang muda mudi itu lagi bicara dengan asyik, atau lebih benar, Yo Kang alias Wanyen Kang lagi membujuk si nona untuk menikah siang-siang. Manis sekali bicaranya putra dari almarhum Yo Tiat Sim itu. Sebaliknya nona Bok bersikeras meminta si pemuda lebih dulu membalaskan sakit hatinya terhadap Wanyen Lieh, supaya pangeran bangsa Kim itu dibunuh mati, untuk melampiaskan dendam ayah dan ibunya. Katanya dengan begitu baru ia puas dan hatinya akan menjadi lega dan senang.

"Ah, adik yang baik, mengapa kau tidak dapat melihat kenyataan?" kata Yo Kang manis.

"Kenapa begitu?" Liam Cu bertanya heran.

"Memang! Wanyen Lieh itu terjaga kuat sekali, aku seorang diri, mana dapat aku membunuh dia begitu gampang,?" menjawab Yo Kang. "Lagian kalau aku sendirian, mana bisa aku gampang bekerja? Tidak demikian setelah kau menjadi istriku. Nanti aku ajak kau menghadap dia lalu dengan mendadak kita bekerja berbareng, menyerang selagi dia tidak bersiaga. Tidakkah dengan begitu maksud kita dapat tercapai?"

Alasan itu kuat, Bok Liam Cu lantas tunduk. Di antara sinar lampu, kelihatan nyata kedua belah pipinya yang merah, menandakan kecantikannya. Yo Kang melihat hati orang tertarik, ia lantas mencekal tangan orang yang kiri, yang ia usap-usap. Menampak demikian macam, Oey Yong kehilangan kesabaran. Ia menganggap Liam Cu terancam bahaya. Dengan sekonyong-konyong ia berseru:

"Enci Bok, jangan kau percaya obrolannya si jahanam!"

Yo Kang kaget sekali, segera ia meniup api hingga padam, setelah itu, dengan kedua tangannya memeluk Liam Cu, kemudian, seperti disengaja seperti bukan, ia menutupi kedua kuping nona itu.

Di luar kamar, di saat Oey Yong hendak membuka suara lagi, ia segera mendengar bentakan yang bengis:

"Siapa yang berani lancang mendaki Tiat Cang San?!" Itulah suaranya seorang tua.

Oey Yong segera berpaling, demikian juga Kwee Ceng. Di situ ada sinar rembulan, maka tampak nyata si penegur adalah Khiu Cian Jin. Sebaliknya orang she Khiu ini pun terperanjat ketika mengenal sepasang muda-mudi ini.

"Khiu Looyacu!" berkata Oey Yong sambil tertawa. Ia berlaku tabah dan manis. "Aku datang ke mari untuk memberi selamat! Bukankah aku tidak menyalahi janji kita akan bertemu dalam waktu tujuh hari?"

"Janji bertemu tujuh hari?" berseru Khiu Cian Jin. "Ngaco belo!"

"Ah, ah!" Oey Yong tertawa pula. "Kenapakah baru sekejapan mata saja, kau sudah lupa? Eh, ya, apakah perutmu yang mulas sudah sembuh ke akar-¬akarnya?"

Nampaknya orang tua itu sudah tidak dapat menguasai dirinya lagi, dalam murkanya, ia berseru panjang, lalu kedua tangannya melayang ke pundak kiri dan kanan si nona.

Oey Yong yang tertawa haha-hihi, tidak memperdulikan ancaman itu, ia tidak mau menangkis atau berkelit. Ia sengaja hendak membikin tangan orang itu terkena duri baju lapis mustikanya. Akan tetapi ia segera mendengar suara kaget dari Kwee Ceng:

“Yong-jie, minggir!"

Menyusul itu, ia mendengar sambaran angin. Ia tahu tentulah pemuda itu hendak menyerang, menyambut tangan orang. Tapi ia terlambat. Disaat memikir untuk berkelit, hidungnya telah mencium bau amis, menyusul kedua pundaknya terasa terbentur tenaga keras, maka tanpa merasa, tubuhnya terhuyung ke belakang dan belum lagi tubuhnya jatuh ke tanah, ia tak sadarkan diri.

Akan tetapi Khiu Cian Jin telah terluka pada kedua tangannya, yang terus mengucurkan darah, hanya ketika serangan Kwee Ceng sampai, ia masih sempat mengelit tangannya, terus diputar balik, untuk dipakai membalas menyerang. Maka bentroklah tangan mereka, hingga keduanya sama-sama mundur tiga tindak. Itu menunjukkan ketangguhan mereka berimbang.

Kwee Ceng mengkhawatirkan Oey Yong, tidak mau melayani lebih jauh. Ia berlompat kepada kekasihnya, sambil membungkuk, ia menyambar tubuh orang buat diangkat dan terus dibawa lari. Hanya hampir berbareng dengan itu, ia merasakan angin menyambar punggungnya. Ia tahu penyerangan dari lawan. Dengan terpaksa, ia menangkis sambil menyerang. Ia memeluk Oey Yong dengan tangan kiri, tanpa memutar tubuh, ia menyerang ke belakang dengan tangan kanannya. Itulah jurus" Sin liong pa bwee", atau "Naga sakti menggoyang ekor". Itu pula tipu silat dari Hang Liong Sip-pat Ciang - Delapanbelas Tangan menaklukkan Naga - tipu silat yang diperantikan menolong diri dari ancaman bahaya. Dalam keadaan kesusu, ia menggunakan tenaga berlipat ganda.

Ketika Khiu Cian Jin merasakan tangannya bentrok lagi sama si anak muda, tubuhnya terhuyung di luar kehendaknya, berbareng dengan itu rasa sakit di tangannya nelusup hingga ke ulu hati. Sekarang baru ia ingat bahwa di duri baju Oey Yong ada racunnya, maka lekas-lekas ia mengangkat kedua tangannya, melihat di bawah terangnya sinar bulan. Ia tahu tangannya sendiri mengandung racun, ia menduga racun musuh juga lihay, kalau ia terluka, mungkin lukanya hebat. Karena itu, ia menjadi khawatir.

Kwee Ceng menggunakan kesempatan selagi Khiu Cian Jin memeriksa lukanya, ia memondong terus Oey Yong untuk dibawa kabur, tetapi ia bukannya lari turun gunung tapi sebaliknya mendaki puncak. Ia baru lari beberapa puluh tindak ia mendengar teriakan-teriakan riuh di belakangnya, ketika ia menoleh, ia melihat lagi dikejar oleh banyak sekali orang yang berpakaian hitam yang pada membawa obor yang diangkat tinggi-tinggi. Karena tidak ada jalan lain, terpaksa lari naik terus. Sembari lari ia masih mengambil kesempatan memegang hidung si nona. Betapa kagetnya, merasakan orang tidak bernapas.

"Yong-jie, Yong-jie!" ia memanggil, hatinya cemas. Tapi ia tidak memperoleh jawaban, hingga ia menjadi bertambah khawatir, ia menjadi bingung, mendengar teriakan-teriakan riuh di belakangnya, lengah sedikit, pengejar-pengejarnya itu telah mendatangi dekat. Di antara mereka itu ada Khiu Cian Jin. Hanya jumlah mereka tinggal belasan. Tetapi itu menandakan kawanan pengejar itu lihay semua. Sebab siapa tidak pandai ilmu enteng tubuh dan larinya tak keras, dia ketinggalan jauh di belakang.

"Jikalau aku seorang diri, tak sukar nerobos turun dari sini," kata Kwee Ceng di dalam hatinya. "Sekarang aku lagi membawa Yong-jie yang lagi terluka parah…."

Di dalam keadaan mogok seperti itu, tidak ada pilihan lagi untuk pemuda ini. Dengan terpaksa ia lari naik terus. Sekarang tidak lagi memilih jalanan, ia hanya lari dan berlompat lempang langsung ke atas, ia berpegangan, melapai dengan sebelah tangan. Untung untuknya, selama di gurun pasir, ia telah melatih diri dalam hal mendaki gunung. Karena ia pun naik lempang, maka tidak lama, dapat ia meninggalkan pula kawanan pengejarnya.

Kembali Kwee Ceng memeriksa Oey Yong. Ia meraba si nona. Sekarang ia merasakan hawa sedikit hangat. Ini membuat hatinya sedikit lega. Hanya waktu dipanggil beberapa kali, nona itu tetap tidak memberikan penyahutan, tetap ia tak sadar.

Kemudian Kwee Ceng mendongak, memandang ke atas. Maka ia melihat, puncak sudah dekat. Ia lantas menggunakan pikirannya. Ia percaya sekarang sudah di kurung di sekitar puncak itu, jadi perlu sekali tempat untuk menempatkan diri, untuk beristirahat. Terutama perlu sekali Oey Yong dibikin sadar. Ia lantas melihat ke kiri kanan. Di sebelah kiri, sejarak duapuluh tembok lebih, ia melihat samar¬-samar seperti gua. Tanpa sangsi lagi, ia lari naik ke atas. Ia benar-benar mendapat sebuah gua. Tanpa jeri sedikitpun, ia berlari masuk ke dalam situ. Segera meletakkan tubuh si nona, lantas ia menekan jalan darah leng-tay-hiat di punggung si nona, guna membantu jalan pernapasannya.

Di sekitar puncak itu terdengar riuh suara orang-¬orang Tiat Ciang pang, yang rupanya mencari terus. Kwee Ceng tidak menghiraukan mereka, ia tetap menolong Oey Yong. Itulah usaha paling utama untuknya.

Selang lamanya sepeminuman teh, mendadak Oey Yong mengasih dengar seruan perlahan. Ia sadar. Bahkan segera ia berkata:

"Aduh….dadaku sakit…." Suaranya itu perlahan sekali.

Tapi Kwee Ceng girang luar biasa. "Yong-jie, jangan takut," ia berkata menghibur. "Aku ada bersama kau. Kau beristirahatlah dulu." Ia terus bertindak ke mulut gua, di situ ia berdiri tegak, kedua tangannya disilangkan di depan dada, siap untuk mengadu jiwa.

Setelah berada di mulut gua, ia dapat melihat luas di sekitarnya, hati pemuda ini gentar juga. Di pinggang gunung ia seperti menyaksikan tembok obor. Teranglah orang-orang Khiu Cian Jin sudah kumpul semua. Sejarak satu lie dari dia, ia melihat orang-orang yang nampak rada tedas, di paling depan berdiri satu orang yang bukan lain Khiu Cian Jin. Orang banyak itu bergusar dan mencaci tidak hentinya, tetapi tubuh mereka tidak bergerak, mereka bagaikan dipantek paku, tidak ada seorangpun diantaranya yang bertindak maju sekalipun satu tindak.

Untuk sementara, Kwee Ceng mengawasi mereka. Ia tidak dapat menerka maksud mereka. Oleh karena tidak ada ancaman bahaya langsung, ia kembali ke dalam untuk melihat Oey Yong. Disaat ia membungkuk, mendadak ia mendengar suara sesuatu di belakangnya. Ia membungkuk dengan membalikkan belakang kepada bagian dalam dari gua itu. Ia memutar tubuh dengan segera, kedua tangannya siap sedia, kedua matanya dipentang lebar. Tapi melihat tempat gelap, ia tidak nampak apapun. Entah berapa dalamnya gua itu.

"Siapa?!" anak muda ini menegur. "Lekas keluar!"

Dari dalam gua itu terdengar suara terbalik, kumandangnya sendiri. Karena ia berdiam, ia memasang mata dan kuping, tetap waspada.

Sebentar kemudian, dari dalam situ terdengar suara batuk-batuk perlahan, lalu disusul tertawa yang nyaring, membuat orang mau tidak mau bangun bulu romanya. Itulah suara Khiu Cian Jin.

Dengan sebat Kwee Ceng menyalakan api hwee¬cip. Maka segeralah terlihat dari pedalaman gua itu bertindak menghampiri satu orang yang tangannya memegang kipas daun, kumis jenggotnya telah putih semua, karena dialah Tiat Ciang Sui-siang-paiuw Khiu Cian Jin. Maka kagetnya pemuda itu tak terkira. Bukankah orang itu barusan ada di sebelah bawah, lagi mencaci kalang kabutan bersama orang--orangnya? Kenapa dalam sekejap saja dia sudah berada di atas, di dalam gua ini?

Khiu Cian Jin lantas tertawa. "Haha-haha bocah-bocah!" katanya. "Kamu benar-¬benar tidak takut mampus! Benar-benar kamu datang mencari kakekmu! Bagus, sangat bagus!" Habis itu, mendadak dari tersenyum berseri-seri, ia memperlihatkan roman bengis. Ia pun membentak: "Ini adalah daerah terlarang dari Tiat Ciang Pang! Siapa masuk ke mari, dia mesti mati, dia tak dapat hidup pula! Oh, bocah-bocah, benar-benar kamu sudah bosan hidup!"

Kwee Ceng berpikir keras untuk dapat menangkap maksud orang yang sebenarnya, tetapi Oey Yong telah mendahuluinya. Si nona membaliki kepada orang tua itu:

"Jikalau tempat ini tempat terlarang, kenapa kau masuk ke mari?"

Khiu Cian Jin menyeringai. Terang ia likat. Hanya sebentar, lantas ia berkata: "Siapa punya kesempatan bicara dengan kalian, bocah¬-bocah!" Lantas dia bertindak cepat, untuk nerobos keluar.

Kwee Ceng melihat sikap orang, ia khawatir Khiu Cian Jin nanti membokong Oey Yong. Maka ia pikir, baiklah ia turun tangan terlebih dulu daripada orang mendahului mereka. Maka ia berlompat maju, kedua tangannya dikasih turun dengan berbareng ke pundak jago tua itu. Ia menduga orang bakal membalikkan tubuh, untuk menangkis, maka ia sudah bersedia akan meneruskan dengan sikutnya ke arah dada. Itulah ilmu silat ajaran Biauw Ciu Sie-seng Cu Cong si Pelajar Tangan Lihay, Manusia Aneh kedua dari Kanglam. Serangan ke pundak hanya ancaman, yang benar ialah sikut ke dada.

Benarlah dugaan Kwee Ceng, Khiu Cian Jin menangkis. Hanya ia merasa heran. Tangkisan orang tua ini lunak, tak sehebat tadi waktu mereka bentrok tangan. Tapi ia berpikir cepat. Lantas ia mengubah serangannya, membatalkan sikutnya, ia berbalik menyambar kedua tangan orang, yang ia terus cekuk!

Khiu Cian Jin kaget, dia bentrok, tetapi sia-sia saja, dia tidak dapat meloloskan tangannya. Maka teranglah sudah, ilmu silatnya masih sangat rendah!

Sekarang Kwee Ceng tidak bersangsi lagi. Ia lantas membuat main kedua tangannya. Mulanya ia menolak, lalu ia menarik. Tepat tubuh orang maju ke depannya, ia menyambut dada orang dengan totokan di jalan darah im-touw-hiat. Maka sedetik itu juga, lemaslah tubuh Khiu Cian Jin, lantas dia roboh di tanah, tak dapat dia berkutik lagi, cuma dari mulutnya segera terdengar suara yang lunak:

"Ah, tuan cilikku, disaat seperti ini, mengapa kau justru bergurau denganku..?"

Saat itu suara di luar terdengar semakin nyata. Teranglah bahwa orang-orang Tiat Ciang Pang sudah menghampiri semakin dekat. Rupanya mereka dapat mendaki sedikit demi sedikit.

"Sekarang kau baik-baiklah mengantar kami turun gunung!" berkata Kwee Ceng kepada orang tawanannya. Ia berbicara perlahan tetapi bernada mengancam.

Khiu Cian Jin mengerutkan alis dan menggeleng kepala. "Jiwaku sendiri terancam bahaya, mana dapat aku mengantarkan kau turun gunung?" katanya.

"Kau suruh semua murid dan cucu muridmu itu membuka jalan," berkata Kwee Ceng, tetap sabar, "Nanti sesampainya di kaki gunung, aku akan membebaskan kau dari totokanku ini."

Orang tua itu mengerutkan alisnya lagi. "Oh, tuan kecilku," katanya, suaranya tetap suara tak berdaya, "Kenapa kau masih mendesak aku? Pergi ke mulut gua, kau melihat keluar, nanti kau mengerti sendiri…."

Kwee Ceng memang heran. Ia lantas bertindak ke mulut gua. Begitu ia melihat ke bawah, ia berdiri menjublak. Di sana ia melihat Khiu Cian Jin, dengan mengibas-ibas kipas daunnya, masih saja mencaci dan mendamprat seraya membanting-banting kaki, rupanya ia sangat mendongkol tidak dapat segera naik ke puncak, ke gua itu. Ia segera menoleh ke belakang. Di belakang ia melihat Khiu Cian Jin tetap lagi rebah tak berkutik!

"Kau…kau…" katanya, sangat heran. "Kenapa kamu ada dua…?"

"Ah, engko tolol, apakah kau masih tidak mengerti?" berkata Oey Yong perlahan. "Memang benar ada dua Khiu Cian Jin! Khiu Cian Jin yang satu lihay ilmu silatnya, Khiu Cian Jin yang lain si tukang mengepul! Mereka itu terlahir sama rupa sama macamnya!"

Baru sekarang si pemuda sadar. Tapi ia masih menanya Khiu Cian Jin di hadapannya itu:

"Benarkah?"

"Si nona benar," katanya. "Katakanlah dua saudara kembar dan aku si kakak."

"Habis siapa Khiu Cian Jin yang sebenarnya?"

"Nama tak sama, apakah artinya itu?" kata Khiu Cian Jin, si tukang mengepul ini. "Aku dipanggil Khui Cian Jin, dia juga dipanggil Khiu Cian Jin…Kami dua saudara akur satu sama lain, kami berdua semenjak masih kecil telah memakai satu nama…."

"Lekas bilang, siapa yang sebenarnya Khiu Cian Jin?!" Kwee Ceng masih mendesak. Ia agak mulai habis sabar.

"Buat apa ditegaskan lagi?" berkata Oey Yong. "Tentulah ini yang palsu!"

"Hm!" Kwee Ceng mengasih dengar suara bengis. "Eh, tua bangka, siapa namamu yang sebenarnya?!"

Khiu Cian Jin terdesak, ia rupanya takut juga. Maka ia menyahut: "Aku samar-samar ingat ayahku almarhum pernah memberikan nama lain padaku yaitu Cian Lie. Karena nama itu aku dengarnya tak sedap, aku tidak pakai…"

"Jadi kau Khiu Cian Lie!" bentak Kwee Ceng.

Beda dari sikapnya tadi, sekarang Khiu Cian Lie tidak lagi menunjukkan roman likat atau takut, dengan lantang ia berkata:

"Orang suka sebut apa, ia menyebut apa, apakah kau berhak mencampurinya?"

Kwee Ceng tidak menggubris sikap orang ini. Ia menanya: "Kenapa mereka itu mencaci kalang-¬kabutan? Kenapa mereka tidak naik terus ke mari?"

"Tanpa titahku, siapa berani naik ke mari?" menjawab Khiu Cian Lie, jumawa.

Kwee Ceng ragu-ragu.

"Engko Ceng," berkata Oey Yong. "Jikalau tidak dikasih rasa yang enak, bangsat tua yang sangat licin tidak nanti mau mengudal isi perutnya! Kau coba totok jalan darahnya thian-kiu-hiat!"

Kwee Ceng menurut, ia dekati orang tua dan menotok. Jalan darah thian-kiu-hiat itu letaknya di bawah tenggorakan, di atasan satu dim dari jalan darah soan¬kie-hiat, itulah cabang im-wie dari delapan jalan nadi. Begitu ditotok, Khiu Cian Lie menjadi tidak karuan rasanya, ia merasakan sakit seperti digigit ribuan semut dan gatalnya bukan main. Maka ia menjerit mengaduh-aduh dan mengatakannya:

"Apakah ini bukan siksaan hidup! Bukankah ini perbuatan sangat melanggar perikemanusiaan…?"

"Lekas menjawab!" kata Kwee Ceng. "Akan aku membebaskan!"

Kalah juga orang tua bandel ini. "Baiklah," katanya kemudian sambil menahan siksaan, "Kakekmu tidak sanggup melayani kamu kedua bocah… Nah, dengarlah…!"

Beginilah keterangannya si tukang mengepul. Khiu Cian Lie dan Khiu Cian Jin benar saudara kembar, dan semenjak masih kecil, sifat dan roman mereka tak ada bedanya. Pada waktu Khiu Cian Jin berumur tigabelas tahun, kebetulan dia dapat menolong pangcu atau ketua dari Tiat Ciang Pang. Pangcu itu mau membalas budi, maka ia mewariskan kepandaiannya kepada penolongnya. Cian Jin luar biasa, dalam umur duapuluh empat tahun, ia telah pandai segalanya bahkan melebihi gurunya.

Ketika pangcu tutup mata, dia mewariskan Tiat Ciang Pang kepada muridnya yang menjadi tuan penolongnya ini. Khiu Cian Jin gagah dan pintar, di bawah pimpinannya, partai itu memperoleh kemajuan, kemudian namanya, terutama gelarannya -Tiat Ciang Sui-siang-piauw, si Tangan Besi Mengambang di Air - menjadi sangat kesohor sesudah ia menindas rombongan dari Heng San Pay.

Khiu Cian Jin memahamkan Go Tok Sin Ciang Sin-kang, yaitu ilmu tangan besi beracun, tetapi dia tidak turut dalam pertemuan besar yang pertama di Hoa San, karena waktu itu ia belum menyakinkan sempurna ilmunya, ia jeri terhadap Ong Tiong Yang, maka ia mengambil keputusan melatih terus, guna nanti turut dalam pertemuan yang kedua. Ia sangat ingin menjadi "Boe Kong Thian Hee Tee It", jago nomor satu di kolong langit.

Sementara itu, setelah usianya meningkat, sifat Khiu Cian Lie menjadi semakin lihay dalam ilmu mengepul, dia sangat doyan ngebrahol dan mendusta, gemar sekali menipu orang, dan karena roman mereka sama, dia pun dapat membawa aksi jago dengan baik, sedang kalau mogok dia menggunakan kelicinannya seperti dua kali dia menggunakan akal mencoba menjual Oey Yong beramai. Peranannya ini membuat Oey Yong dan Kwee Ceng nampak kesulitan, sampai di Kun San pemuda she Kwee ini mendapat perlawanan hebat, sedang Oey Yong baru saja merasakan tangan lihay Khiu Cian Jin yang tulen.

Puncak tengah dari gunung Tiat Ciang San ini dinamakan Tiong Cie Hong, puncak Jari Tengah. Tempat menyimpan tulang belulang dari semua ketua Tiat Ciang Pang. Kalau satu pangcu merasa umurnya bakal sampai, maka ia naik seorang diri ke atas puncak, untuk menanti penghembusan napasnya yang terakhir. Pula ada satu aturan yang sangat keras dan mesti ditaati dalam Tiat Ciang Pang. Ialah, siapapun dilarang mendaki dan memasuki puncak Tiong Cie Hong bagian tekukan yang kedua atau tee-jie-ciat, dan siapa melanggar itu, dia tidak dapat turun lagi dengan masih hidup. Umpama kata terjadi pangcu mati dilain tempat, mayatnya mesti dibawa oleh salah satu muridnya naik ke puncak, habis itu murid ini mesti membunuh diri di atas puncak. Kebinasaan ini oleh si murid yang bersangkutan dipandang suatu kehormatan paling besar.

Kwee Ceng heran kalau pihak Tiat Ciang Pang menjadi sangat gusar hingga mereka mencaci kalang kabutan. Kenapa Khiu Cian Lie berani mendaki puncak itu? Ini pun ada sebabnya. Dan sebab itu begini: "Di dalam rumah atau gua batu itu, ada tersimpan banyak barang berharga, atau mustika. Sebab setiap satu pangcu yang mau mati, dia tentu naik dengan membawa satu atau lebih barang berharga, umpama golok atau pedang mustika, atau barang kuno atau barang permata mulia. Setelah pelbagai pangcu, maka dianggap di situ telah banyak disimpan benda berharga. Khiu Cian Lie bersusah hati karena selama beberapa bulan belakangan ini ia gagal dengan aksi membualnya, ia tahu itu semua disebabkan ia tidak punya guna. Maka ia memikir, kalau ia mempunyai senjata mustika, pedang atau golok, tentulah ia bisa perbaiki kehormatannya yang telah ternoda itu. Hatinya jadi semakin terdesak ketika ia ingat bakal menghadapi Kwee Ceng dan Oey Yong, maka disaat terdesak itu, dengan mati-matian dan dengan diam-diam ia naik ke puncak, untuk mencuri salah satu senjata. Apa lacur, ia justru kepergok Kwee Ceng dan Oey Yong dan ia dirobohkan tanpa berdaya.

Mendengar keterangan itu, Kwee Ceng berpikir, "Tempat ini tempat keramat, pasti musuh tidak bakal naik ke atas. Tetapi juga tidak ada bakal jalannya untuk turun, cara bagaimana aku bisa lolos dari sini?"

Selagi ia berpikir keras itu, Kwee Ceng mendengar suara kawannya: "Engko Ceng, coba kau masuk ke dalam dan melihat."

"Tapi marilah aku periksa dulu lukamu," berkata si pemuda. Ia lantas mencari cabang kering, untuk membikin obor, sesudah itu ia buka baju si nona, guna melihat lukanya. Di kedua pundak yang putih dan halus ada tapak dari lima jari tangan, tapak yang hitam. Luka itu bukannya enteng, maka syukur, si nona terlindung baju lapisnya.

Kwee Ceng menjadi bingung. Bagaimana ia dapat mengobati luka ini? Ia ingat luka gurunya disebabkan hajaran Kam Mo Kang dari Auwyang Hong. Luka gurunya itu dan luka Oey Yong ini sama hebatnya. Gurunya tertolong karena ketangguhan tubuhnya dan Oey Yong karena baju lapisnya.

Tengah si anak muda ini menjublak, Khiu Cian Lie menperdengarkan suaranya pula: "Eh, bocah, omonganmu barusan apa angin busuk belaka? Kenapa kau tidak lekas-lekas membebaskan kakekmu dari totokan?"

Kwee Ceng tidak dengar itu. Ia masih berdiam saja. Adalah Oey Yong yang mendengarnya.

"Eh, engko tolol, kenapa kau nampak gelisah?" berkata si nona tertawa. "Kau bebaskanlah tua bangka itu!"

Baru sekarang Kwee Ceng sadar. Ia menotok orang tua itu di jalan darah thian-kut-hiat, dengan begitu, lenyaplah rasa gatalnya Khiu Cian Lie, tetapi karena jalan darah im-touw-hiat masih tertutup, ia tetap rebah di tanah.

Kwee Ceng meninggalkan orang tua ini. Ia pergi mencari cabang cemara yang panjang dua kaki, ia nyalakan sebagai obor, sembari memegangi itu, ia kata kepada Oey Yong:

“Yong-jie, aku mau masuk ke dalam untuk melihat-lihat. Kau takut atau tidak?"

Oey Yong tengah merasakan panas dingin bergantian, hebat penderitaannya ini, tetapi karena khawatir Kwee Ceng berduka untuknya, ia menahan diri.

"Di sini ada si tua bangka menemai aku, aku takut apa?" katanya, tertawa. "Kau pergilah!"

Lantas Kwee Ceng bertindak pergi. Ia berlaku hati-hati. Sesudah jalan melewati dua tikungan, dia tiba di depan mulut gua yang besar. Jadi di dalam gua itu ada sebuah guanya lagi. Bahkan gua ini lebih luas lima lipat daripada yang di luar. Kalau yang di luar tadi ada bekas-bekas di gali, gua ini wajar.

Di dalam situ ada terdapat duapuluh lebih rangka tulang-belulang, dengan pelbagai sikap, ada yang duduk, ada yang rebah atau tidur. Di sisi setiap rangka itu ada terletak senjata seperti golok, senjata rahasia, perabot bersantap, juga rupa-rupa barang permata. Kwee Ceng mengawasi itu semua. Jadi benar keterangan Khiu Cian Lie tadi. Ia kata dalam hatinya, "Beberapa puluh pangcu ini, dulu harinya semua gagah perkasa, tapi sekarang semua tinggal tulang-belulangnya, semua tinggal di sini dalam kesunyian…."

Pemuda ini bukan seorang loba, melihat semua senjata dan permata itu, tidak pernah timbul keserakahannya, ia tidak menghiraukannya, ia hanya memikirkan Oey Yong. Sesudah melihat-lihat sekian lama, ia memikir untuk keluar lagi. Tapi mendadak ia melihat rangka yang terakhir, di tangannya tercekal sebuah kotak besi yang nampaknya ada surat. Ia lantas menghampirkan, menyuluhi dengan obornya.

"Rahasia memukul pecah bangsa Kim," demikian ia membaca surat itu, yang diukir di tutup kotak atau peti besi kecil itu. Maka tercekatlah hatinya. Segera ia ingat. "Bukankah ini surat wasiat Gak Bu Bok?" Maka ia mengulurkan tangannya, mengambil kotak itu. Begitu menyentuh, dengan bersuara, tangan itu menyambar.

Kwee Ceng kaget sekali, syukur ia keburu lompat mundur. Gagal menyambar, tangan itu jatuh ke tanah, berkumpul menjadi satu. Dengan membawa kotak itu, Kwee Ceng lari keluar. Ia segera nancap obornya di tanah, ia lantas memondong Oey Yong, untuk dikasih bangun, di depan si nona ia membuka tutup kotak.

"Aku menemukan ini," ia memberitahukan.

Isi peti besi itu ada dua jilid buku tulisan tangan, satu tebal, yang lain tipis. Kwee Ceng mengambil lebih dulu yang tebal. Nyata isinya salinan Han See Tiong atas pelbagai laporan atau usulnya Gak Hui yang dihanturkan kepada rajanya, ada syair dan lainnya buah kalam jenderal gagah perkasa dan setia itu, bunyinya pun penuh dengan penguraian kesetiaan dan semangat kegagahan. Maka ia menjadi sangat kagum, hingga ia menghela napas. Yang paling menawan hati ialah Gak Hui tidak pernah melupakan rakyat.

Oey Yong pun kagum sekali. "Nah, coba periksa buku yang satunya," kemudian Oey Yong minta.

Kwee Ceng menurut, ketika ia melihatnya, lantas ia menjadi sangat girang. "Ini dia ilmu perang yang ditulis sendiri oleh Gak Bu Bok!" katanya berseru. "Dan inilah buku yang Wanyen Lieh si bangsat senantiasa ingat sekalipun di dalam mimpinya! Sungguh Thian murah, kitab ini tidak sampai jatuh ke tangan jahanam itu…"

Ketika anak muda ini membuka halaman yang pertama, lantas membaca delapanbelas huruf besar, yang artinya: "Mengutamakan pemilihan - Rajin berlatih - Adil dalam persenan dan hukuman - Jelas dengan perintah - Keras dengan tata tertib - Bersama¬sama senang dan susah" Jadi inilah pokok untuk memilih punggawa atau serdadu, untuk mendidik dan mengatur tentara.

Selagi Kwee Ceng hendak membalik yang lainnya, tiba-¬tiba ia mendengar berhentinya cacian orang-orang Tiat Ciang Pang, yang tadinya terdengar sekarang hanyalah suara angin. Berdua Oey Yong dan si anak muda memasang kuping. Mereka heran bukan main.

Tidak berapa lama barulah terdengar suara lainnya. Itulah suara seperti sa-sus atau sar-ser, perlahan tetapi berisik ramai. Ketika Khiu Cian Lie mendengar itu, ia lantas mengeluh berulang-ulang, dengan suara sedih, ia berkata:

"Bocah-bocah, hari ini jiwa kakekmu dihabiskan di tangan kalian…"

Kwee Ceng tidak meladeni orang tua itu, ia lompat keluar, tiba di mulut gua, setelah melihat ke bawah, ia menjadi kaget sekali. Mulanya ia tercengang. Baru sekarang ia mengerti bunyi suara yang luar biasa itu. Di antara sinar rembulan terlihat ribuan atau puluhan ribu ular berbisa lagi merayap naik ke atas puncak, semua sambil mengangkat kepala dan mengulur, mengulat-uletkan lidahnya!

"Mereka tidak berani memasuki tempat keramat ini, sekarang mereka menyerang dengan ular," kata Kwee Ceng dalam hatinya. Tidak ayal lagi, ia lari ke dalam untuk memondong Oey Yong.

Khiu Cian Lie melihat perbuatan si anak muda, lantas ia mementang bacotnya mencaci. Kwee Ceng tidak mau melayani tukang membual itu, hanya ketika ia lewat di sampingnya, ia mendupak pinggang orang dua kali. Dengan itu ia membebaskan totokan di jalan darah im-touw-hiat. Habis itu, dengan membawa kotak besinya, ia merayap naik ke atas puncak sekali.

Gua itu berada di tekukan yang kedua, untuk tiba di puncak tertinggi, jaraknya masih beberapa puluh tombak lagi. Kwee Ceng tidak menghiraukan itu, ia membesarkan hatinya, ia mengerahkan tenaganya, ia mengeluarkan kepandaiannya marayap naik. Ketika akhirnya tiba di atas, waktu melongok ke bawah, ia mendapatkan rombongan ular itu telah masuk ke dalam gua. Ia tidak memikirkan lagi Khiu Cian Lie, yang ia percaya, sebagai orang Tiat Ciang Pang, tentu tahu ilmu mengusir atau membinasakan ular.

Setelah merebahkan Oey Yong, Kwee Ceng berpikir keras. Bagaimana caranya menolong nona itu dari makhluk merayap yang jahat. Ia sendiri tidak takut. Ia sudah makan darah ular.

"Kau nyalakan api dulu," berkata Oey Yong, yang dapat menerka kesulitan si anak muda. "Bikinlah api mengelilingi kita."

"Ah, benar tolol!" berseru Kwee Ceng. "Kenapa aku tidak dapat memikirkan itu?"

Ia lantas mengumpulkan cabang kering, menumpuk mengelilingi Oey Yong dan dirinya. Ia bekerja cepat. Lantas ia menyulut api di kedua tempat, agar api itu memakan masing-masing kedua jurusan. Selama itu tidak terdengar apa-apa. Maka tak terkira kagetnya waktu tahu-tahu sejumlah ular, yang menjadi seperti pelopor sudah muncul di depan mereka. Dalam kagetnya ia mengeluh, tetapi ia tidak menjublak karenanya. Dengan sebat ia sambar Oey Yong untuk dipanggul.

Oey Yong terkejut melihat ular muncul begitu banyak, tetapi yang hebat ialah baunya yang amis sekali, membuatnya merasa mual, hampir muntah-muntah. Lantas ia menutup rapat kedua matanya. Waktu itu, ia merasakan sakit di dadanya. Ini disebabkan Kwee Ceng berlompatan ke sana ke mari sambil mulutnya tak henti berseru menggebah ular. Lama-lama, ia menjadi pusing, seperti luka akan diri sendiri. Ia baru sadar ketika hidungnya mencium bau harum. Lekas ia membuka matanya. Segera ia melihat berkelebatnya satu sinar merah. Betapa girangnya, ia mengenali hiat-niauw, burung apinya, yang terbang datang dari arah timur.

Tadi burung itu terbang karena mencium bau ular, maka ia pergi untuk memuaskan nafsu daharnya, sekarang ia melihat cahaya api, dia terbang dengan niatan mandi, maka tepat sekali datangnya itu selagi majikannya terancam bahaya.

Mendapatkan datangnya burung itu, semua ular lantas berdiam, tidak ada yang berani berkutik, maka beberapa diantaranya lantas dipatuk dan dimakan. Habis itu, terus mandi api, kesudahannya terbang menclok di pundak si nona.

Oey Yong dan Kwee Ceng menjadi girang sekali. "Sekarang kita tidak takut ular!" berkata si anak muda gembira. "Sekarang kita mesti mencari jalan untuk lolos dari puncak ini, bagaimana?"

Oey Yong terus berpikir. Nyata ia lantas mendapat jalan. "Hiat-niauw bisa naik ke mari, kalau dia dapat kenapa rajawali kita tidak?" demikian katanya. "Gak Bu Bok bernama Hui, aliasnya yaitu Peng Kie, maka kalau sekarang kita memakai Tiauw Kie, mustahil tidak dapat. Bukankah itu bagus?"

Kwee Ceng tidak mengerti. "Apa itu Tiauw Kie?" ia menanya.

Nama Hui dari Gak Bu Bok berarti "terbang", dan aliasnya itu, Peng Kie, berarti "garuda angkat". Oey Yong menyebutnya "Tiauw Kie" itu berarti "rajawali angkat". Si anak muda memikirkan itu, dalam waktu pendek, ia tidak menangkap maksudnya si nona. Oey Yong tengah merasakan sakit, ia menyahuti:

"Kita suruh rajawali membawa kita terbang pergi dari sini….!"

Kwee Ceng berjingkrak. "Benar!" ia berseru. "Itu bagus! Nanti aku panggil si rajawali!"

Tidak ayal lagi pemuda ini duduk bersila, bersemadhi, mengumpulkan tenaga dalamnya, kemudian mengasih dengar siulannya yang keras dan panjang, yang mengalun jauh. Inilah ilmu semadhi yang dulu ma Giok mengajarkan kepadanya. Setelah memahamkan Kiu Im Cin-keng, ia memperoleh kemajuan yang luar biasa. Jarak di antara puncak dan kaki gunung ada beberapa lie, tetapi begitu siulan mendengung, burung mereka dapat mendengar, kedua burung itu lantas terbang mencari mereka. Maka di lain saat, berkumpullah mereka, burung dan manusia - kedua burung itu berdiri di depan si muda-mudi.

Kwee Ceng membantu Oey Yong membuka baju lapisnya, terus membantu si nona mendekam di punggung rajawali yang betina. Karena khawatir nona itu memegang kurang keras, ia pun mengikatnya. Sesudah beres, baru ia mendekam di punggung rajawali jantan. Akhirnya, mengasih dengar siulan. Kedua burung itu mengerti, keduanya lantas membuka sayapnya untuk terbang.

Mulanya hati pemuda dan pemudi itu kebat-¬kebit, tapi tak lama, mereka menjadi tabah. Mereka dapat mendekam dengan tenang di punggung burungnya. Bahkan si nona yang tetap bersifat kekanak-kanakan, lupa pada sakitnya. Ia ingin mempertontonkan diri di depan Khiu Cian Lie si tua bangka, maka ia mengutik leher burungnya, menyuruh si burung terbang ke arah gua.

Burung itu mengerti, benar-benar ia terbang ke muka gua. Di sana terlihat si tukang membual lagi repot menggebah ular. Dia pun lantas melihat burung membawa orang terbang dan mengenali si nona. Ia kaget, heran, ia menjadi sangat kagum. Ia lantas memanggil:

"Nona yang baik, kau bawalah juga aku pergi! Kalau adikku melihat aku, maka aku si tua bangka tidak bakal dapat hidup lebih lama lagi…!"

Oey Yong mendengar permintaan itu, ia tertawa. "Burungku tidak dapat menggendong dua orang!" ia riang gembira. "Kamu bersaudara kandung, lebih baik minta ampun pada saudaramu!" Dan ia menepuk burungnya, menyuruh terbang terus.

Melihat orang hendak pergi, timbullah hati jahat si orang tua. "Nona yang baik," ia berseru, "Kau lihatlah permainanku, menarik hati atau tidak?"

Oey Yong tertarik, ia memutar balik burungnya untuk datang mendekati. Khiu Cian Lie menanti sampai orang datang cukup dekat, mendadak ia berlompat menubruk, memegang erat-erat si nona, hingga di lain saat, mereka telah berada bersama di punggung rajawali. Ia tidak memperdulikan nona itu kaget.

Orang tua itu menjadi nekat. Ketika ular masuk ke dalam gua, ia mengusirnya. Untuk itu, ia pergi sampai di luar gua. Di sini ia dapat dilihat oleh orang-orang Tiat Ciang Pang. Berarti keputusan mati untuknya. Ia telah memasuki tempat keramat dan terlarang. Jangan kata ia, sekalipun pangcu sendiri, apabila tanpa sebab masuk ke situ, dia bagian mati. Maka itu, ingin ia dapat lolos.

Burung rajawali betina itu benar-benar tidak kuat membawa dua orang. Dia terbang tetapi dia bukan maju jauh, dia turun ke bawah, cuma dengan menggerakkan kedua sayapnya sepenuh tenaga, baru ia dapat memperlambat turunnya. Dia tetap turun…………

Khiu Cian Lie memegang erat-erat kepada Oey Yong. Syukur dia ini diikat tubuhnya, kalau tidak tentulah telah terlepas pegangannya pada burung. Burung betina itu mengasih dengar suaranya berulang-ulang. Yang jantan mendengar, dia hendak menolong, tetapi bagaimana?

Orang-orang Tiat Ciang Pang dapat melihat peristiwa luar biasa itu. Mereka heran dan kaget, semua mengawasi dengan mata terbuka dan mulut menganga, tidak ada yang bersuara.

Disaat Oey Yong terancam bahaya, tiba-tiba satu sinar merah berkelebat di dekatnya. Itulah hiat-niauw, si burung api, yang menyambar dari belakang gunung. Tadi ia terbang mengikuti majikannya. Dan burung ini menyambar mata Khiu Cian Lie.

Dalam keadaan itu, orang she Khiu itu tidak dapat membela diri. Ia juga tidak menyangka sama sekali sang burung bakal menghajar matanya. Ia kaget dan kesakitan, lupa kepada pegagannya, ia mengucak matanya. Saat mengucak matanya, pegangannya terlepas, maka sia-sialah segala daya, tubuhnya terpelanting jatuh. Maka dilain saat terdengarlah suara hebat dan menyayat hati datangnya dari lembah. Di lain saat, burung rajawali telah dapat terbang lagi seperti biasa bersama nona majikannya, mendekati burung yang jantan, untuk terbang berendeng.

Selagi mendekati kaki gunung, Kwee Ceng mengasih dengar siulannya yang nyaring, untuk memanggil kudanya. Ia sekarang berlega hati, sedang tadi ia kagetnya bukan main, takutnya tak terkira, sebab ia tak berdaya untuk menolong kekasihnya. Oey Yong sendiri tidak kurang takutnya, hingga ia menyesal dirinya kena diperdaya orang tua yang sudah nekat itu. Kuda merah mendengar panggilannya, dia lari mengikuti, di darat, burung di udara.

Kwee Ceng merasa ia sudah terbang kira-kira tujuhpuluh lie, lantas memberi tanda kepada burungnya berdua untuk berhenti terbang, untuk turun ke tanah. Ia berkhawatir untuk Oey Yong, yang diam mendekam saja di punggung burungnya. Ketika ia memeriksa, benarlah si nona pingsan. Maka lekas-¬lekas ia menguruti, untuk membikin darahnya jalan seperti biasa.

Selang sekian lama, barulah si nona sadar. Ketika itu awan gelap, hingga si putri malam kena ketutupan. Kwee Ceng bingung juga. Sambil memeluk Oey Yong, ia memandang ke sekelilingnya. Ia berada di tengah tegalan, yang gelap.

Di situ terlihat tempat untuk memernahkan diri. Karena terpaksa, kemudian ia berjalan juga. Dia menerjang rumput yang tinggi sebatas dengkul. Sudah begitu, saban-saban duri pohon menusuk betisnya. Ia merasa sakit tetapi tak dihiraukannya. Ia jalan terus.

Dengan begini, ia jalan perlahan sekali. Jagat gelap, jalanan tak kelihatan. Hatinya berdebaran, ia khawatir kejeblos di liang atau jurang….

Sesudah menderita seperjalanan kira-kira dua lie, mendadak Kwee Ceng melihat bintang besar, munculnya dari sebelah kiri. Bintang itu rendah, seperti di ujung langit, cahaya berkelak-kelik. Ia mengawasi, niatnya untuk mengenali arah tujuan. Karena ini ia lalu dapat melihat tegas, ternyata bukan bintang hanya api.

"Ada api tentu ada rumah," pikirnya. Maka ia menjadi mendapat hati. Maka ia berjalan terus, tindakannya lebar menuju ke arah api.

Ia telah jalan kira-kira satu lie, lalu ia tiba di sutau tempat, di mana ada banyak pohon. Sekarang ternyata, api terlihat diantara pepohonan. Setelah masuk ke rimba, jalanannya tak lurus lagi. Jalanan kecil itu berliku-liku. Mendadak ia kehilangan api.

Kwee Ceng tidak putus asa. Ia melompat naik ke atas sebuah pohon. Dari situ melihat ke bawah. Ia mendapat kenyataan telah melewati api, yang sekarang berada di sebelah belakang. Ia turun, menuju balik. Kembali ia kehilangan api itu. Ia menjadi heran mengalami kejadian itu dua tiga kali. Ia merasakan kepalanya pusing dan matanya seperti kabur. Terus ia tidak dapat mendekati api itu. Kudanya serta tiga ekor burungnya, entah ada di mana.

Karena jengkel, Kwee Ceng ingin jalan di atas pohon saja. Tapi ini sukar dilakukan. Rimba itu gelap dan ia mesti memodong Oey Yong. Ia juga khawatir nanti kejeblok atau si nona kena kelanggar cabang-cabang pohon, yang dapat melukainya. Untung ia sabar, ia tidak menjadi putus asa. Ia beristirahat sebentar, lantas berjalan pulagi.

Oey Yong terluka dan tubuhnya lemah, tetapi dasar cerdik, otaknya berjalan. Ia melihat bagaimana dibawa putar kayun oleh Kwee ceng, dengan perlahan¬-lahan ia mulai mengerti jalan di dalam rimba itu. Ia menggunakan otaknya, meramkan mata.

"Engko Ceng," katanya kemudian, "Jalan ke kanan, ke samping,"

Girang si anak muda mendengar orang dapat berbicara. "Ah, Yong-jie, kau baik?" tanyanya.

Nona itu menyahuti tetapi tidak tegas.

Kwee Ceng menurut. Ia maju ke kanan, lalu nyamping. Oey Yong mengingat-ingat. Setelah tujuhbelas tindak, ia berkata lagi:

"Engko Ceng, jalan ke kiri, delapan tindak."

Kwee Ceng menurut.

"Sekarang ke kanan lagi, nyamping, tigabelas tindak."

Kwee Ceng menurut pula. Kali ini mereka berjalan dengan si anak muda mengikuti petunjuk dari si nona. Oey Yong sudah lantas dapat menduga, jalanan tidak wajar, ini buatan manusia. Dia adalah anak gadis Oey Yok Su, ia telah mendapatkan separuh lebih warisan ayahnya itu mengenai jalan rahasia. Maka, meskipun ia meram, ia seperti bisa melihat tegas jalanan di dalam rimba itu.

Demikian mereka jalan sana jalan sini, maju dan mundur. Akhirnya, dengan lekas, mereka menghadapi api tadi. Kwee Ceng girang hingga ia lantas membuka tindakan lebar untuk berlari.

"Jangan kesusu!" Oey Yong mencegah.

Tapi Kwee Ceng sudah berlari. Mendadak anak muda itu berkoak, karena kedua kakinya sudah menginjak lumpur, bahkan kaki itu lantas terpendam sebatas dengkul. Syukur ia lihay, dengan segera ia menggenjot diri dengan ilmu meringankan tubuhnya, berlompat mundur. Ketika ia kembali ke tanah kering, hidungnya mencium bau lumpur. Ia berdiri diam dan mengawasi. Cahaya api itu membantu kepadanya. Nampak kabut putih di depannya, di situ ada sebuah rumah dengan dua ruang. Api keluar dari rumah itu.

"Kami orang pelancongan!" Kwee Ceng lantas berkata, "Kami pun mendapat sakit berat, maka kami minta tuan rumah sukalah berlaku murah dengan mengijinkan kami menumpang beristirahat seraya meminta air hangat."

Dalam malam yang sunyi itu, suara Kwee Ceng cukup keras, akan tetapi sampai sekian lama, tidak memperoleh jawaban, ia lekas berbicara lagi menyebutkan permintaannya untuk menumpang singgah. Lagi-lagi tidak ada penyahutan.

Ketika lewat sekian waktu, Kwee Ceng mengulangi permintaan untuk ketiga kalinya, barulah mendapat jawaban dari seorang perempuan, katanya:

"Kamu telah dapat tiba di sini, sudah tentu kamu mempunyai kepandaian untuk masuk ke dalam rumahku. Mustahil aku mesti keluar menyambut kamu?" Suara itu tawar sekali, terang orang tidak sudi kedatangan tamu.

Di hari-hari biasa, tidak suka Kwee Ceng mengganggu orang, lebih suka ia tidur di dalam rimba atau tempat terbuka, akan tetapi sekarang bersama Oey Yong yang lagi sakit, ia membutuhkan rumah. Maka dengan perlahan ia berdamai sama si nona. Ia kata rumah dikurung lumpur. Bagaimana mereka bisa menghampiri rumah itu?.

Oey Yong membuka matanya, ia mengawasi sekian lama. "Rumah ini dibangun di tengah-tengah rawa lumpur," katanya kemudian. "Sekarang coba perhatikanlah, bukankah benar modelnya satu bundar dan satu persegi empat?"

Kwee Ceng membuka matanya lebar-lebar, lantas ia menjadi girang sekali. "Oh, Yong-jie, bagaimana kau ketahui itu?" ia bertanya.

"Pergi kau ke belakang rumah yang bundar itu," kata Oey Yong tanpa menyahut. "Di situ kau jalan lurus ke arah api banyaknya tiga tindak, lalu nyamping lima tindak, lalu lurus lagi tiga tindak. Dengan lurus dan nyamping itu, kau tidak bakal salah jalan."

Kwee Ceng menurut perkataan si nona. Benarlah, setiap kakinya ditaruh, kaki itu menginjak pelatok kayu, yang dapat bergerak miring ke sana ke mari, maka siapa tak pandai ilmu meringankan tubuh, pastilah tak dapat menaruh kakinya dan berjalan di situ. Ia jalan terus, sampai seratus sembilanbelas tindak, maka dapatlah ia jalan mutar hingga di depan rumah yang persegi empat itu. Sekarang terlihat tegas, rumah itu tanpa pintu.

Oey Yong berbisik: "Dari sini kau berlompat, kau menaruh kaki di sebelah kiri."

Kwee Ceng menurut, sambil terus menggendong si nona, ia berlompat. Sementara itu ia heran sekali. "Semua dapat diterka Yong-jie!" katanya dalam hatinya.

Tempat di mana si anak muda menaruh kaki adalah tanah, sedang yang di sebelah kanan adalah air atau pengembang. Berjalan di pekarangan ini, Kwee ceng masuk ke sebelah dalam. Di situ ada pintu model rembulan, yang tak ada daun pintunya.

"Masuk!" kata Oey Yong. "Tidak ada yang aneh di dalamnya."

Kwee Ceng mengangguk, terus ia berkata nyaring: "Kami orang yang tengah membuat perjalanan lancang memasuki rumah, harap tuan rumah suka memaafkan," kata-katanya ini diikuti dengan tindakan masuk ke dalam.

Sekarang Kwee Ceng melihat sebuah meja panjang, di atasnya ditaruh tujuh buah pelita, rapi seperti bintang Pak Tauw. Di depan meja, di tanah duduk seorang wanita tua, yang rambutnya telah ubanan, bajunya dari kain kasar, matanya mengawasi ke tanah di mana ada banyak lembaran bambu, dia seperti sedang memikirkan lembaran bambu itu rupanya, sampai dia tidak mau mengangkat kepala walaupun dia mendengar suara tetamunya.

Kwee Ceng meletakkan Oey Yong di atas kursi. Ia memandang mukanya, lantas ia merasa sangat berkasihan. Wajah si nona sangat pucat dan kucal. Ia hendak membuka mulut, guna meminta air hangat, tetapi ia batal. Ia melihat si nyonya rumah tengah memusatkan perhatiannya, jadi ia khawatir mengganggu pemusatan pikiran orang.

Setelah dapat duduk beberapa saat, Oey Yong pulih sedikit kesegarannya. Maka ia juga dapat memperhatikan si nyonya serta lembaran-lembaran bambu itu. Setiap lembaran bambu panjangnya kira-kira empat dim dan lebar dua hoen. Dan si nyonya agaknya berat memikirkan itu. Ia lantas mengerti hitungan apa adanya itu. Oleh ayahnya, ia telah diajari dan ia mengingatnya dengan baik.

"Lima! Duaratus tigapuluh lima!" katanya tiba-tiba.

Si nyonya terkejut, dia mengangkat kepala, matanya nampak tajam sekali, agaknya ia gusar. Hanya sebentar, ia mulai menghitung pula.

Kwee Ceng dan Oey Yong melihat kulit orang bersih, usianya ditaksir baru tigapuluh tujuh kira-kira, mungkin disebabkan banyak pikir, maka rambutnya telah ubanan.

Habis menghitung, wanita tua itu tampaknya heran. Tepat hitungannya si nona tadi. Maka ia mengangkat kepalanya, memandang nona itu. Ia melihat tegas wajah muda dan cantik, hanya lesu. Kemudian ia tunduk lagi, menghitung lebih jauh.

Oey Yong mengawasi, sampai sekian lama si nyonya belum dapat memecahkan, lalu ia berkata dengan perlahan:

"Duaratus duapuluh empat!"

Kembali nyonya itu terkejut. Ia lantas mengangkat kepalanya. Agaknya ia penasaran, maka ia menghitung terus. Segera ia mendapat jawaban, yang akur sama perkataan si nona. Maka ia berdiri dengan melempangkan pinggangnya. Sekarang ia nampak lebih nyata. Jidatnya sudah keriputan, usianya disangsikan sudah tigapuluhan, mungkin baru duapuluhan lebih. Kedua matanya bersinar tajam.

"Mari ikut aku!" katanya kepada si nona, tangannya menunjuk ke dalam kamar. Ia mengambil sebuah pelita, ia membawanya ke dalam kamar yang ditunjuk itu.

Kwee Ceng memepayang Oey Yong untuk mengikuti. Setibanya di mulut pintu, ia merandak, tidak berani turut masuk. Ia melihat kamar itu, yang temboknya bundar, lantainya penuh pasir, di atas pasir itu ada coretan tanda-tanda lurus dan bundar, ada pula guratan huruf-huruf thay, thian¬goan dan lainnya, yang ia tidak tahu artinya. Ia takut nanti merusak itu semua.

Oey Yong melihat semua itu, ia mengerti itu adalah ilmu "Thian-goan Cie Soet" (yang mirip dengan aljabar), maka ia menarik tongkat dari pinggangnya, sambil bergelendot pada Kwee Ceng, ia mencoret-coret di atas pasir. Ia memecahkan beberapa hitungan, yang si nyonya belum dapat menjawabnya. Maka lagi-lagi ia membuat nyonya itu heran.

Setelah mengawasi dengan tercengan, si nyonya menanya: "Kau siapa?"

"Itu hitungan Thian-goan yang tidak sulit," berkata Oey Yong, yang tidak menjawab langsung, dan tanpa diminta, ia menjelaskan pokoknya hitungan itu.

Muka si nyonya menjadi pucat, tubuhnya bergoyang. Mendadak ia menjatuhkan diri di atas pasir, tangannya memegangi kepala. Kelihatannya ia berpikir keras sekali. Kemudian ia mengangkat kepala, lalu wajahnya menjadi terang.

"Dalam hal menghitung, kau lebih pandai dariku!" katanya. "Sekarang jawab aku, bagaimana kau menghitung ini?" Dan ia menunjuk hitungan di atas pasir.

Oey Yong mengingat baik bagaimana ayahnya mengatur Tho Hoa To hingga menjadi pulau rahasia, pulau keder yang tidak dapat dimasuki sembarang orang.

"Gampang!" sahutnya, dan ia menggurat-gurat pula di atas pasir.

Muka si nyonya menjadi pucat, lalu ia menghela napas. "Aku kira inilah ciptaan sendiri, kiranya lain orang pun telah mengetahuinya," katanya masgul.

"Semua itu gampang," kata pula Oey Yong, dan ia membacanya di luar kepala. "Kau boleh coba."

Si nyonya menghitung menurut ajaran si nona dan ia berhasil!

"Semua ini mengenai pat-kwa," kata Oey Yong pula. Ia menjelaskan terlebih jauh. "Rupanya kau belum jelas dengan petanya." Terus ia menggurat¬-gurat lagi.

Nyonya itu menjublak, matanya terpentang, mulutnya terbuka lebar. Lantas ia berbangkit, tubuhnya nampak bergemetar.

"Nona, kau siapa?" akhirnya ia tanya. Tapi, sebelum ia menanti jawaban, mendadak ia menekan ulu hatinya, mukanya meringis, tanda ia menahan sakit. Dari sakunya lekas-lekas ia mengeluarkan satu peles obat, yang terisi pil warna hijau, ia mengeluarkan sebutir dan terus dimakannya. Lewat sesaat, wajahnya menjadi sedikit tenang.

"Habis sudah…!" katanya tiba-tiba, lalu ia mengucurkan air mata.

Oey Yong dan Kwee Ceng saling memandang. Mereka heran untuk sikap nyonya ini. Tidak lama, kelihatannya si nyonya mau bicara, tapi batal karena kupingnya mendengar suara berisik yang datang dari jauh, lalu datang semakin dekat.

Kwee Ceng dan Oey Yong tahu itu barisan pengejar dari Tiat Ciang Pang. "Musuh atau sahabat?" tiba-tiba si nyonya tanya.

"Musuh yang lagi mengejar kami," sahut Kwee Ceng terus terang. Suara berisik itu mendekati terus.

"Tiat Ciang Pang toh?" tanya pula si nyonya.

"Benar," menjawab Kwee Ceng.

Nyonya itu memasang kuping lalu berkata: "Khiu Pangcu memimpin sendiri orang-orangnya," katanya sesaat kemudian. "Sebenarnya kamu ini siapa?!"

Pertanyaan ini luar biasa, saking bengisnya. Kwee Ceng maju di depan Oey Yong, untuk menghalangi, lalu ia menjawab dengan nyaring:

"Kami murid-murid Khiu Cie Sin Kay Ang Pangcu. Ini adik seperguruanku kena dilukai Khiu Cian Jin dari Tiat Ciang Pang, karena itu kami menyingkir ke mari, maka umpama kata cianpwee ada punya sangkutan sama Tiat Ciang Pang dan tak sudi menerima kami, sekarang juga kami meminta diri."

Habis berkata, pemuda ini menjura, lalu ia memegangi Oey Yong, untuk dibawa pergi.

Nyonya itu tertawa tawar. "Usia begini muda sudah keras kepala!" katanya. "Kamu dapat bertahan tetapi adikmu ini tidak, kau mengerti? Aku kira kamu siapa, tidak tahunya kamu murid-murid Ang Cit Kong. Pantas kamu lihay!"

Habis berkata, si nyonya memasang kuping. Ia mendengar suara berseru-seru orang-orang Tiat Ciang Pang, sebentar jauh sebentar dekat, sebentar tinggi sebentar rendah. Kemudian ia kata:

"Mereka tidak menemui jalanan, mereka tidak dapat masuk ke mari. Umpama kata mereka toh dapat masuk, kamulah tetamu-tetamuku, kamu boleh melegakan hati. Apakah kau kira Sin….Sin… Eng Kouw dapat dibuat permainan?"

Sebenarnya dialah Sin-soan-coe Eng Kouw, si ahli hitung, tetapi mengingat si nona jauh lebih pandai daripadanya, setelah menyebut Sin, ia tidak berani meneruskannya.

Kwee Ceng menjura, ia menghanturkan terima kasih. Eng Kouw menghampirkan Oey Yong, ia membuka baju orang, memeriksa lukanya. Ia mengerutkan keningnya, tanpa membuka suara, ia mengambil sebutir obatnya yang hijau itu, setelah melumerkan di air, ia mengangsurkan pada Oey Yong.

"Kau minum ini," katanya.

Oey Yong menyambut obat itu, tetapi ia bersangsi untuk meminumnya. Ia belum kenal nyonya ini.

Eng Kouw mengawasi, lalu ia tertawa dingin dan berkata: "Kau terluka tangan jahat Khiu Cian Jin, apakah kau masih mikir untuk sembuh? Umpama kata aku berniat mencelakakan kau, tidak perlu aku membuat begini. Ini obat untuk menghentikan rasa sakit, kau tidak meminumnya pun tidak apa!" Mendadak ia merampas pulang obatnya itu dan membuangnya ke tanah!

Kwee Ceng gusar melihat orang begitu kurang ajar terhadap kekasihnya. "Adikku lagi terluka parah, mengapa kau membikin dia gusar begini macam?!" ia menegur. "Yong-jie, mari kita pergi!"

Nyonya ini tertawa dingin. Ia kata: "Kamar Eng Kouw ini kecil tetapi apa kamu kira dua orang muda bisa bilang pergi lantas dapat pergi dan bilang keluar lantas keluar? Hm!" Ia lantas memegang dua batang bambunya dan menghadang di ambang pintu.

Kwee Ceng berpikir: "Tidak dapat dengan jalan halus, terpaksa aku mesti menerjang…" Maka ia berkata: "Cianpwee, maafkanlah aku!" Sembari berkata begitu, dengan gerakannya Hang Liong Yu Hui ia nerobos keluar. Ia menggunakan setengah tenaganya karena ia khawatir nyonya itu tidak dapat mempertahankan diri. Ia pun tidak berniat melukai.

Atas datangnya terjangan, si nyonya berkelit, tangan kirinya berbareng menolak dengan enteng, dengan begitu gampang saja ia mengasih lewat serangan itu.

Kwee Ceng menjadi heran sekali. Ia tidak menyangka. Ia pun kaget karena tanpa perlawanan tubuhnya terjerunuk. Syukur ia bisa lantas mempertahankan diri.

Melihat demikian, si nyonya juga nampaknya heran. Ia tidak menyangka si anak muda bisa menahan diri hingga sampai jatuh ngusruk. Maka berserulah dia:

"Ha, bocah, rupanya kau telah mewariskan semua kepandaian gurumu!" Ia lantas menggunakan bambunya menotok jalan darah kiok-tek-hiat di sambungan tangan si anak muda.

Kwee Ceng melihat totokan itu, yang berbahaya, ia membebaskan diri dengan satu jurus lain dari Hang Liong Sip-pat Ciang juga. Sekarang ia mengerti ilmu silat si nyonya adalah dari pihak lunak. Karena ini, ia tidak berani alpa. Beberapa kali ia diserang secara berbahaya. Syukur ia telah mendapatkan ajaran Pek Thong, kedua tangannya dapat memecah diri, maka selalu ia lolos dari ancaman itu.

Selang beberapa jurus, Kwee Ceng kena terdesak dua tindak. Karena terancam, ia menjadi terpaksa. Maka ia lantas membalas menyerang dengan "Siang liong chio cu", atau "Sepasang naga merebut mustika". Ajaran dari Ang Cit Kong yang ia peroleh semasa di Poo-eng, di dalam rumah abu keluarga Lauw.

Nyonya itu terkejut atas serangan ini, diwaktu berkelit, ia sampai mengeluarkan seruan. Walapun ia gesit, kali ini tidak dapat meloloskan diri sepenuhnya. Ia bebas dari tinju kanan yang lurus tetapi ia tidak dapat menyingkir dari serangan tangan kiri. Maka pundak kanannya kena tertekan tangan kiri si anak muda. Kwee Ceng tidak menggunakan tenaga, sebab ia tahu, umpama si nyonya terbentur, tubuhnya bakal terlempar menabrak rumah dan rumah atapmya itu bisa roboh.

Tapi dugaan si anak muda meleset. Ketika tangannya mengenai pundak orang, tangan itu seperti mengenai benda yang licin, yang terus meluncur lewat. Untuk kagetnya, tubuh si nyonya seperti tertegar dan dua batang bambunya dilemparkan ke tanah. Ia mengira nyonya itu terkena hebat, lekas-lekas ia menahan tangannya.

Nyatanya Eng Kouw menggunakan tipu. Selagi si anak muda menarik pulang tangannya, sekali ia membalas menyerang. Lima jarinya menusuk ke dada, di mana ada dua jalan darah sin-hong dan giok-sie.

Kwee Ceng terdesak, ia lantas berkelit, terus kedua tangannya dipakai menolak seperti tadi. Itulah serangan membalas yang hebat. Si nyonya mengetahui itu, maka kembali ia membebaskan diri seperti tadi. Nyata ia telah menggunakan "Nie-ciu Kang", ilmu silat si Lindung.

Sampai di situ, keduanya sama-sama melompat mundur dan sama-sama bersiaga. Mereka telah menginsyafi lihaynya masing-masing. Kwee Ceng berpikir: "Aneh ilmu silat si nyonya ini. Dengan dia tidak bisa dihajar, bukankah tinggal aku sendiri yang setiap saat bisa diserang olehnya?"

Dan si nyonya kata di dalam hatinya: "Ini anak masih muda sekali, cara bagaimana dia sudah jadi begini lihay?. Di sini aku telah bersembunyi sepuluh tahun lebih, aku telah mendapatkan ilmu yang luar biasa, aku memikir aku bisa menjagoi, hingga tak lama lagi, aku bisa pergi untuk menuntut balas, siapa tahu, bocah bau susu ini pun aku masih belum bisa merobohkannya…. Tidakkah ini berarti sia-sia belaka aku menyiksa diri sepuluh tahun lebih. Bagaimana aku bisa membalas sakit hatiku?" Ingat begini, ia menjadi berduka, tanpa merasa, matanya menjadi merah, air matanya lantas mengalir turun….

Kwee Ceng berhati mulia, ia mengira si nyonya telah terhajar keras olehnya, ia lantas berkata:

"Maaf, cianpwee, aku yang muda berbuat kurang ajar terhadapmu, tetapi ini bukan disengaja. Sekarang aku minta sukalah cianpwee mengijinkan kami berlalu…"

Eng Kouw mendapatkan sambil bicara si anak muda itu saban-saban melirik si nona, agaknya ia sangat menyayang dan memperhatikan, melihat begitu, ia jadi ingat akan nasibnya sendiri yang tidak beruntung, yang terpisah jauh dari kekasihnya, yang tidak mempunyai harapan akan dapat berkumpul lagi. Kapan ia ingat akan nasibnya, mendadak timbul rasa julesnya. Maka ia kata dengan dingin:

"Anak perempuan ini telah terkena tangan beracun Ngo Tok Sin-ciang dari Khiu Cian Jin, paling lama ia hidup hanya tiga hari, perlu apa kau masih menyayangi dan melindunginya?"

Mendengar itu, Kwee Ceng kaget sekali, lekas¬ ia menoleh kepada Oey Yong. Ia melihat muka si nona seperti ditawungi sinar guram. Dengan lantas ia lompat kepada kekasihnya.

"Yong-jie, bagaimana kau rasa?" ia menanya, suaranya menggetar.

Oey Yong merasai dada dan perutnya panas, sebaliknya kaki tangannya dingin. Ia menyahut:

"Engko Ceng, selama tiga hari ini, jangan kau meninggalkan aku pergi sekalipun cuma setindak. Dapatkah?"

"Setengah tindak juga aku tidak akan tinggalkan kau…" menjawab si anak muda cepat sedang hatinya mencelos. Rupanya si nona telah mendengar perkataan si nyonya tua.

"Sekalipun tidak berpisah setengah tindak, waktunya cuma tigapuluh enam jam lagi…! berkata si nyonya dingin.

Kwee Ceng mengangkat kepalanya, memandang nyonya itu. Ia tidak bisa berbuat lain daripada menunjuk roman minta dikasihani, agar nyonya itu jangan mengeluarkan kata-kata yang dapat melukai hati Oey Yong….

Sebenarnya Eng Kouw masih hendak memuasi kejelusannya ketika ia nampak roman si anak muda yang lesu, ia lantas berpikir: "Adakah Thian mengirim dua orang ini ke mari untuk aku membalas sakit hatiku ini?" Ia mengangkat kepalanya, memandang langit. "Oh, Thian, Thian…." keluhnya.

Justru itu di luar terdengar pula suara berisik dari orang-orang Khiu Cian Jin, rupanya mereka masih mencari di sekitar situ dan sekarang kembali mendekati rumah yang dikurung dengan rawa lumpur, yang pepohonannya merupakan rahasia keder. Terang mereka menyangka si muda-mudi berada di dalam rumah tetapi mereka tidak berdaya untuk memasukinya.

Lewat lagi sesaat dari arah rimba terdengarlah suaranya Khiu Cian Jin, si ketua Tiat Ciang Pang:

"Sin¬soan-coe Eng Kouw, Kiu Tiat Ciang mohon bertemu denganmu!"

Suara itu datang melawan angin tetapi karena dikeluarkan dengan bantuan tenaga dalam yang mahir, terdengarnya terang sekali.

Eng Kouw bertindak ke jendela. Ia pun mengempos tenaga dalamnya. Ia menyahut dengan suara yang panjang:

"Aku ini biasanya tidak menerima kunjungan orang luar. Apakah kau tidak ketahui bahwa siapa datang ke tempatku, rawa lumpur hitam, dialah bagiannya mati, tidak bagian hidupnya?!"

Di sana terdengar pula suara Khiu Cian Jin: "Ada dua orang muda, satu pria dan satu wanita, masuk ke dalam rawa lumpur hitam kau ini, maka aku minta sukalah kau menyerahkan mereka padaku!"

"Siapakah yang dapat masuk ke dalam rawa lumpur hitamku ini?" berkata Eng Kouw. "Sekarang ini tengah malam buta rata, maka janganlah kau mengganggu tidur orang yang nyenyak!"

"Baiklah kalau begitu!" terdengar lagi suara Khiu Cian Jin. "Jangan kau berkecil hati!"

Suara itu bernada tak berani memandang enteng kepada si nyonya. Habis itu terdengarlah suara berisik yang pergi jauh.

Eng Kouw berpaling pada Kwee Ceng. "Kau ingin menolong adikmu ini atau tidak?" ia tanya.

Kwee Ceng melengak, lalu ia menjatuhkan dirinya berlutut. "Jikalau locianpwee suka menolong…" katanya.

"Locianpwee!" kata si nyonya, bengis. "Apakah aku sudah tua?"

"Tidak, tidak terlalu tua," sahut Kwee Ceng cepat.

Sinar mata Eng Kouw berpindah dari si anak muda ke jendela, dari mulutnya terdengar kata-kata ini:

"Tidak terlalu tua…Hm, itu artinya sudah tua…!"

Kwee Ceng menjadi bingung. Rupanya perkataannya itu telah menyinggung si nyonya. Ia tidak tahu mesti membilang apa.

Eng Kouw menoleh pula. Sekarang ia melihat kepala orang berkeringatan. "Kalau orangku itu dapat menyayangi aku satu persepuluh saja dari si bocah tolol ini," pikirnya. "Ah, tidakkah sia-sia belaka hidupku ini…" Lalu ia bersenandung dengan perlahan:

"Empat buah perkakas tenun… maka tenunan burung wanyoh bakal terbang berpasangan…. Sayang, belum lagi tua tetapi kepala sudah putih…. Gelombang musim semi, rumput hijau, di musim dingin di dalam tempat yang tersembunyi, saling berhadapan mandi baju merah…….."

Mendengar itu Kwee Ceng heran. "Ah, rasanya aku kenal syair ini…" pikirnya. Tapi ia tidak ingat, siapa pernah membacakan itu. Itu bukan Cu Cong, gurunya yang nomor dua dan juga bukan Oey Yong. Maka dengan perlahan, ia menanya si nona:

"Yong-jie, siapakah yang mengarang syair ini? Apakah artinya itu?"

Si nona menggeleng kepala. "Aku mendengar ini baru untuk pertama kali," sahutnya. "aku tidak tahu siapa pengarangnya. Sayang belum tua tetapi kepala sudah putih… Sungguh suatu kata-kata yang bagus!"

Kwee Ceng masgul, ia sudah tidak ingat, Oey Yong pun tidak tahu, sedang si nona terpelajar, luas pengetahuannya. Pikirnya: "Syair bukan buatan Oey Yong, tentu bukan karya ayahnya. Habis siapakah? Toh aku ingat aku pernah mendengarnya…"

Eng Kouw pun lantas berdiam. Ia lagi memikirkan masa lalu. Ia nampak sebentar bergirang sebentar berduka. Kemudian ia mengangkat kepalanya dan berkata:

"Adikmu ini terhajar tangannya Kiu Tiat Ciang Pang, entah ada benda apa yang menghalanginya sehingga ia tidak lantas mati, meski begitu, tidak peduli bagaimana dia tidak bakal dapat bertahan lewat tiga hari. Ah, lukanya ini cuma ada satu orang yang dapat menolong…"

Kwee Ceng lagi menjublak ketika ia mendengar kata-kata terakhir itu, hatinya lantas memukul keras saking girangnya, maka ia lantas menjatuhkan diri berlutut di depan nyonya itu, ia mengangguk tiga kali hingga kepalanya membentur tanah. Ia lantas memohon:

"Tolong loo… oh, tidak, tidak! Tolong kau menolong adikku ini, budimu tidak akan aku lupakan…"

"Hm!" bersuara Eng Kouw, dingin. "Mana aku mempunyai kepandaian untuk menolong orang? Kalau aku pandai, musahil aku berdiam di tempat membeku menderita kesengsaraan ini…"

Kwee Ceng berdiam saja.

"Nyata kau beruntung," kemudian nyonya itu berkata pula: "Kamu telah bertemu denganku yang mengetahui tempat kediaman orang itu, dan beruntung pula, tempatnya tidak jauh, maka di dalam waktu tiga hari, kamu dapat tiba di sana… Hanya sukar untuk dibilang orang itu suka menolong atau tidak."

Kwee Ceng girang bukan kepalang. "Aku nanti meminta, memohonnya!" ia berkata. "Aku percaya ia tidak menolong kalau ia melihat bahaya lagi mengancam…."

"Apa itu melihat bahaya mengancam tidak menolong?" kata Eng Kouw. "Kebaikan apa kau telah berikan padanya? Kenapa dia mesti menolong kamu?" Suara itu menggenggam kegusaran.

Kwee Ceng mengerti, ia tidak berani menyahut. Si nyonya bertindak ke kamar luar, di sana ia duduk di kursi, kepalanya ditundukkan. Ia memegangi pit, entah dia menulis apa. Habis menulis, surat-suratnya dilepit, lantas dibungkus rapi dengan masing-masing sepotong cita, yang terus ia jahit, kemudian ia menjahit dan menjahit lagi hingga merupakan tiga kantung. Habis itu, baru ia kembali ke kamar bundar itu.

"Sekeluarnya dari rimba ini, menyingkirlah kamu dari kepungan Tiat Ciang Pang," ia berkata. "Kamu menuju langsung ke timur laut, terus sampai di kecamatan Tho-goan. Di sana barulah kamu membuka kantung yang putih itu. Seterusnya tindakan apa yang kamu harus lakukan, di dalam situ ada ditulis jelas. Sebelum kamu sampai di sana, ingat baik-baik, jangan kamu buka surat ini!"

Kwee Ceng girang sekali, ia menghanturkan terima kasih berulangkali. Kemudian ia menyodorkan tangannya untuk menerima kantung-kantung itu.

Eng Kouw menarik pulang tangannya. "Tunggu dulu!" katanya. "Jikalau orang itu tidak sudi menolong, yah sudah saja, tetapi apabila dia suka menolong hingga adikmu ini ketolong, aku hendak minta sesuatu."

"Budi ini mesti dibalas," berkata Kwee Ceng. "Cianpwee menitahkan saja!"

Eng Kouw tertawa dingin ketika ia berkata: "Jikalau adikmu ini tidak binasa, maka di dalam waktu satu bulan ia mesti kembali ke mari dan di sini ia mesti tinggal bersama aku selama satu tahun!"

Kwee Ceng heran. "Kenapa begitu?" tanyanya.

"Kenapa begitu?" balik tanya si nyonya. "Apakah sangkutannya itu sama aku? Aku cuma tanya kau, kau suka atau tidak?"

"Kau menghendaki aku mengajari ilmu hitung Kie-bun-sut, bukan?" Oey Yong campur bicara. "Apakah susahnya itu? Baik, aku memberikan janjiku!"

Eng Kouw mendelik kepada si anak muda. "Percuma jadi laki-laki, kau tak bisa melawan kecerdikan adikmu satu persepuluh!" ia mengejeknya tetapi ia menyerahkan tiga kantung kainnya.

Kwee Ceng menyambut. Ia melihat satu kantung putih, satu merah dan satu lagi kuning. Ia lantas menyimpan itu baik-baik. Ia memberi hormat sambil menjura tetapi Eng Kouw menyingkir, tak mau ia menerima hormat itu. Ia kata:

"Tak usah kau mengucap terima kasih padaku, aku juga tidak sudi menerimanya. Kamu dan aku bukan sanak bukan kandung, perlu apa aku menolong adikmu ini? Taruh kata kita bersanak, juga tak usah kau menjadi begini bersyukur. Adalah janji kita yang mesti ditepati. Aku bilang padamu, aku menolong adikmu untuk diriku juga. Hm, siapa tidak berbuat untuk dirinya, dia dimusnahkan Langit dan Bumi!"

Kwee Ceng heran sekali. Suara itu pun tak sedap di kupingnya. Oleh karena ia memang tidak pandai bicara, ia tidak tahu mesti bilang apa. Ia sekarang cuma mengingat keselamatan Oey Yong.

Eng Kouw mengawasi si pemuda dengan mata mendelik. "Kau telah bercapai lelas satu malaman," katanya. "Kau juga tentu telah lapar, maka baiklah kamu dahar bubur!"

Oey Yong sudah lantas merebahkan diri di atas pembaringan, ia beristirahat separuh pulas separuh sadar. Kwee Ceng menjagai dia di sampingnya, pikirannya tidak tentram.

Eng Kouw, yang pergi ke dalam, tak lama datang pula dengan membawa sebuah tetampan, di atas mana ada dua mangkok bubur yang masih panas, asapnya masih mengepul. Harum bubur itu. Sebagai temannya ada daging ayam dan ikan.

Kwee Ceng lantas saja terbangun selera makannya. Ia memang sudah lapar sekali. Ia tidak menyangsikan pula si nyonya. Tadi ia mengkhawatirkan Oey Yong, ia lupa makan. Maka ia menepuk-nepuk belakang tangan kekasihnya itu.

"Yong-jie, mari dahar!" katanya.

Oey Yong membuka matanya, ia menggeleng kepala perlahan. "Dadaku sangat sakit, aku tidak mau dahar," sahutnya.

"Hm!" Eng Kouw tertawa dingin. "Ada obat untuk melenyapkan rasa nyeri tetapi kamu bercuriga!"

Oey Yong tidak ambil peduli sindiran itu. "Engko Ceng, mari kasih aku sebutir pil Kiu-hoa Giok-louw-wan," kata dia.

Pil itu adalah pil pemberian Liok Seng Hong semasa di Kwie-in-chung, si nona simpan di dalam sakunya, ketika Ang Cit Kong dan Kwee Ceng terluka di tangan Auwyang Hong, mereka makan obat itu beberapa butir, benar obat itu tidak dapat menyembuhkan tetapi bisa menghilangkan rasa sakit.

Kwee Ceng menyahut, ia membuka kantung si nona dan mengeluarkan obat yang diminta itu.

Ketika Oey Yong menyebutkan namanya obat, hati Eng Kouw terkesiap, lekas ia melihat pil merah itu, ia kata dengan bengis:

"Adakah ini Kiu-hoa Giok¬louw-wan? Kasih aku lihat!"

Kwee Ceng heran mendengar suara orang demikian aseran, ia menoleh. Maka ia melihat mata si nyonya bersinar tajam. Ia menjadi lebih heran lagi. Tapi ia menyerahkan semua sekantung obat itu.

Kapan Eng Kouw menyambutnya, ia merasakan bau harum dari obat itu menyampok hidungnya. Ia lantas merasakan tubuhnya adem. Ia mengawasi si anak muda, terus ia menanya;

"Obat ini adalah obat dari Tho Hoa To, darimana kamu mendapatkannya? Lekas bilang! Lekas!" Suaranya itu bengis tetapi bengis bercampur nada sedih.

Dalam herannya, Oey Yong berpikir: "Dia hendak mempelajari ilmu Kie-bun-sut, apakah ia mempunyai hubungan sama salah satu murid ayahku?"

Kwee Ceng sendiri sudah lantas menjawab: "Adikku ini putrinya pemilik Tho Hoa To!"

Mendadak Eng Kouw berlompat berjingkrak. "Anaknya Oey Lao Shia?!" dia berteriak. Kedua matanya lantas bersinar bengis, kedua tangannya terus dipentangkan, agaknya hendak menubruk si nona di depannya itu.

"Engko Ceng, kembalikan tiga kantung itu!" kata Oey Yong. "Karena dia adalah musuh ayahku, kita jangan menerima budinya!"

Kwee Ceng mengeluarkan kantungnya hanya ia berayal mengembalikannya. Ia bersangsi.

"Engko Ceng!" kata pula Oey Yong. "Belum tentu aku mati! Mati pun kenapa!"

Belum pernah Kwee Ceng tidak meluluskan sesuatu kehendak si nona, maka ia meletakkan tiga kantung surat wasiat itu.

Eng Kouw memandang keluar jendela, perlahan terdengar keluhannya: "Oh, Thian, Thian…!" Kemudian dengan lantas ia pergi ke kamar sebelah, di sana ia membalikkan tubuhnya, entah apa yang ia lakukan.

"Mari kita berangkat!" mengajak Oey Yong. "Aku sebal melihat perempuan ini!"

Belum lagi Kwee Ceng menyahut, si nyonya sudah kembali. "Aku hendak memperlajari ilmu Kie-bun-sut, untuk memasuki Tho Hoa To," ia berkata, "Sekarang gadisnya Oey Lao Shia ada di sini, aku menyakinkannya seratus tahun juga tidak ada gunanya. Dasar nasib, apa mau dibilang? Nah, pergilah kamu! Bawalah kantung itu!"

Ketiga kantung itu, bersama kantung obat, ia sesapkan di tangannya si anak muda. Kepada Oey Yon ia berkata:

"Obat Kiu-hoa Giok-louw-wan ini untukmu ada bahayanya tidak ada faedahnya, maka janganlah kau makan pula, hanya kalau nanti kau sudah sembuh, jangan kau lupa janji kita satu tahun itu! Ayahmu telah membikin rusak seluruh penghidupanku, maka semua barang makanan di sini, lebih suka aku memberikannya anjing yang makan, tak sudi aku memberikannya kepadamu!" Lantas bubur dan dua rupa masakannya itu ia lemparkan keluar jendela!

Oey Yong gusar bukan kepalang, mau ia membuka mulutnya, tetapi mendadak ia sadar, maka lantas pegangi Kwee Ceng, untuk bangun berdiri. Dengan tongkatnya, ia menulis tiga baris huruf di atas pasir, setelah itu ia mengajak si anak muda itu bertindak ke luar.

Ketika ia sudah tiba di pintu luar, Kwee Ceng berpaling ke belakang, ia bisa melihat Eng Kouw, yang semenjak tadi berdiam saja, lagi mengawasi ke tanah, agaknya dia berdiri bengong, rupanya dia tengah menghitung……..

Sesampainya di muka rimba, Kwee Ceng menggendong Oey Yong, lalu ia bertindak pergi mengikuti jalan masuknya tadi. Selama itu, ia menutup mulut, karena pikirannya dipusatkan kepada tindakan kakinya supaya ia tidak salah jalan. Adalah setibanya di luar, di tempat aman, baru ia menanya si nona apa yang ditulisnya tadi.

Oey Yong tertawa. "Aku menulis tiga macam hitungan untuknya," sahutnya. "Dia boleh memikirkan itu setengah tahun, tidak akan dia mendapatkan jawabannya. Biarlah rambut putihnya menjadi tambah uban! Siapa suruh dia bersikap demikian kurang ajar!"

"Sebenarnya dia bermusuh apa dengan ayahmu?"

"Aku tidak tahu. Tidak pernah aku mendengar ayah mengomonginya." Ia hening sedetik. Lantas ia menanya: "Dimasa mudanya, dia mestinya cantik sekali. Benar tidak engko Ceng?" Selagi menanya begitu, di hatinya ia menduga apa mungkin nyonya itu pernah saling menyinta dengan ayahnya…

"Biar dia cantik atau tidak," Kwee Ceng menyahut. "Dia lagi memikirkan tulisanmu itu, umpama kata dia mendadak menyesal, tidak akan dia dapat menyusul kita."

"Entah apa dia tulis di dalam kantungnya itu?" tanya Oey Yong. "Jangan-jangan dia tidak bermaksud baik. Apakah tidak baik kita membuka dan melihatnya?"

"Jangan, jangan!" Kwee Ceng mencegah. "Biar kita turut pesannya, sampai di kecamatan Tho-goan baru kita buka…"

Oey Yong sangat terpengaruh keinginan tahunya, ingin ia melihatnya, tetapi Kwee Ceng tetap mencegah akhirnya ia mengalah.

Sementara itu tanpa terasa sang malam telah berlalu, sang fajar datang menggantikannya, Kwee Ceng naik ke atas sebuah pohon tinggi, untuk melihat kelilingan. Ia tidak melihat orang-orang Tiat Ciang Pang, maka hatinya lega. Ia lantas bersiul memanggil kuda serta burungnya, yang muncul dengan cepat. Yang datang belakangan ialah kedua burung rajawali.

"Mari kita berangkat," kata si anak muda setelah ia dan si nona sudah berada di punggung kuda mereka.

Justru waktu itu, di pinggiran rimba terdengar suara orang berseru-seru, lalu terlihat munculnya beberapa puluh orang. Mereka adalah orang-orang Tiat Ciang Pang, yang tak putus asa meskipun Eng Kouw telah menampik mereka, dengan terpaksa mereka menanti sambil menyembunyikan diri, baru mereka keluar setelah Kwee Ceng mengasih dengar suaranya yang nyaring memanggil kuda dan burungnya.

"Maaf, tak dapat kami menemani kamu!" berkata Kwee Ceng kepada mereka itu seraya ia mengeprak mengasih kudanya lari, maka dalam waktu yang pendek, si kuda merah meninggalkan jauh sekali kawanan pengepung itu.

Waktu tengah hari, Kwee Ceng telah melalui perjalanan beberapa ratus lie, maka ia lantas berhenti di tepi jalan, di mana ada sebuah warung nasi. Di situ ia bersantap. Oey Yong lagi sakit, ia makan sedikit bubur.

Habis makan anak muda ini menanya tuan rumah tempat itu apa namanya. Ia diberi tahu bahwa ia berada di dalam wilayah kecamatan Tho-goan, maka tidak ayal lagi ia mengeluarkan kantung putihnya, untuk dibuka dan diperiksa. Di situ ada sehelai peta bumi dengan dua baris yang berbunyi: "Jalan mengikuti petunjuk dalam gambar ini. Di ujung jalanan ini ada sebuah air tumpah yang besar, di samping mana ada sebuah rumah atap. Sampai di situ bukalah kantung yang merah."

Tanpa ragu-ragu, Kwee Ceng menuruti surat wasiat itu. Ia mengasih kudanya lari sampai sekitar delapanpuluh lie, sampai jalanan nyata makin jauh makin sempit. Delapan atau sembilan lie lagi, jalanan merupakan jalanan selat yang sempit, di kiri-kanan tembok gunung. Jalanan demikian kecil hingga muat hanya satu orang. Kuda merah juga tidak dapat jalan di situ. Saking terpaksa, Kwee Ceng menggendong pula Oey Yong dan kudanya ditinggalkan, dibiarkan mencari makanan sendiri.

Satu jam Kwee Ceng jalan terus. Kadang-kadang ada tempat demikian sempit hingga untuk lewat di situ, Oey Yong mesti dipondong, tubuhnya dikasih miring.

Ketika itu ada bulan ke tujuh, matahari sangat terik, akan tetapi di situ puncak gunung menghalangi pengaruhnya sang Batara Surya, maka juga jalanan di selat itu sebaliknya menjadi adem.

Kwee Ceng jalan terus sampai ia merasa lapar, maka ia mengeluarkan bekalannya ransum kering, ia menangsel perut sambil jalan, karena ia tidak mau menyia-nyiakan waktu. Ia telah makan habis tiga biji kue. Tepat ketika lehernya kering karena ingin minum, kupingnya mendengar suara air. Dengan lantas ia percepat tindakannya. Semakin lama suara air semakin nyaring. Ia mesti jalan mendaki.

Akhirnya si anak muda tiba di atas bukit. Maka dari situ ia dapat melihat air tumpah, yang besar sekali, airnya meluncur ke bawah, jatuh terbanting keras. Itu sebabnya suara yang nyaring tadi. Ketika ia mengawasi, di samping air tumpah itu tampak sebuah rumah atap. Ia lantas mencari sebuah batu besar di mana ia berduduk. Ia lantas mengeluarkan kantung yang merah, terus dibuka. Di dalam situ ada sebuah surat wasiat yang berbunyi:

"Lukanya anak perempuan ini cuma Toan Hongya yang dapat menolong…"

Membaca surat itu, Kwee Ceng terkejut. "Toan Hongya!" katanya kepada Oey Yong. "Bukankah dia adalah Lam Tee si Kaisar dari Selatan yang namanya kesohor dengan nama ayahmu?"

Sebenarnya Oey Yong sudah lelah sekali tetapi mendengar disebutnya nama Kaisar dari Selatan itu, Lam Tee, ia menjadi ketarik hatinya.

"Lam Tee?" katanya. "Ya, aku pernah mendengarnya dari ayah. Toan Hongya itu ada di Taili di Inlam dimana ia menjadi raja. Apakah itu bukan…" Ia berhenti berkata karena mendadak hatinya menjadi sangat dingin. Bukankah Inlam itu ada satu propinsi yang jauh sekali, yang tak dapat dicapai dengan perjalanan hanya tiga hari? Ia lantas menguatkan hatinya, untuk berduduk sambil menyender pada tubuh si anak muda. Ia mau melihatnya sendiri surat Eng Kouw itu.

Begini bunyinya surat dari kantung wasiat yang merah itu: "Lukanya anak perempuan ini cuma Toan Hongya yang dapat menolong… hanya Toan Hongya itu banyak perbuatannya yang tak selayaknya, karenanya dia tinggal menyembunyikan diri di Tho¬goan, hingga orang sangat sukar menemuinya. Kalau orang bicara dengannya minta diobati, justru pantangannya yang paling besar. Kalau maksud itu diutarakan, belum lagi orang masuk ke rumahnya, orang bakal dibikin celaka lebih dulu oleh si tukang pancing, si tukang kayu, si petani dan si pelajar. Maka itu untuk bertemu dengannya, kamu mesti mendusta. Kamu bilang saja bahwa kamu datang atas nama gurumu, Ang Cit Kong, untuk bertemu sama Toan Hongya, untuk menyampaikan berita penting. Apabila kamu telah bertemu sama Toan Hongya, maka kamu serahkanlah isi kantung kuning. Kehidupanmu tergantung dengan ini."

Habis membaca, Kwee Ceng menoleh kepada Oey Yong. Ia melihat si nona mengerutkan keningnya. Ia menanya:

"Yong-jie, kenapa Toan Hongya melakukan banyak perbuatan tak layak? Kenapa justru permintaan tolong diobati adalah pantangan yang terlebih besar lagi? Dan apa itu artinya kecelakaan di tangan si tukang pancing, tukang kayu, petani dan pelajar?"

Si nona menghela napas. "Engko Ceng, janganlah kau menganggap aku terlalu pintar hingga semuanya aku mesti ada jawabannya." sahutnya.

Kwee Ceng terkejut, ia mengawasi tanpa menanyakan lagi. Ia pondong nona itu. "Baiklah, mari kita turun!" ujarnya.

Tapi, sebelum mulai bertindak, ia mengawasi pula ke bawah ke air tumpah. Di tepi air, di mana ada sebuah pohon yangliu, ia melihat seorang tengah berduduk, kepala orang itu ditutup sama tudung bambu. Karena jaraknya jauh, ia tidak dapat melihat tegas. Terpaksa, ia terus berjalan turun.

Terpengaruh oleh keinginannya lekas-lekas sampai, terbantu oleh jalana di situ tak sesukar tadi, lekas juga Kwee Ceng tiba di bawah, di tepian air tumpah itu. Sekarang ia melihat orang tadi sedang duduk sambil memancing ikan.

Air tumpah jatuhnya sangat keras, air pun mengalir deras luar biasa, di mana bisa ada ikan di situ? Taruh kata ada ikannya, mana sempat ikan itu mencaplok umpan pancing? Maka anehnya ada orang memancing ikan di air sedemikian itu.

Pemuda itu tidak berani lancang mengganggu orang. Lebih dulu ia mengawasi saja. Ia mendapatkan si tukang pancing berumur tigapuluh tujuh atau tigapuluh delapan tahun, kulit mukanya hitam seperti pantat kuali, mukanya berewokan, bulunya kaku seperti kawat. Kedua mata orang terus dipakai mengawasi tajam ke arah air. Setelah mengawasi sekian lama, ia turunkan Oey Yong, supaya si nona dapat duduk menyender di pohon, untuk beristirahat, ia sendiri pergi ke tepian, melihat di kobakan air tumpah itu ada ikan apa. Orang itu tetap diam saja, mereka tidak ditegur sama sekali.

Sekian lama Kwee Ceng mengawasi, tiba-tiba ia melihat berkelebatnya sinar kuning di dalam air itu. Si tukang pancing nampak girang, sebab mendadak jorannya melenkung tertarik ke arah air. Karena ada satu makhluk yang memakan umpan pancing itu ¬makhluk yang seluruhnya berwarna kuning emas. Saking heran, si anak muda berseru sendirinya:

"Eh, binatang apakah itu?"

Berbareng sama seruannya si anak muda, seekor binatang yang serupa itu melesat pula menyambar pancing, maka si tukang pancing menjadi girang sekali, dengan erat-erat ia mempertahankan jorannya, yang sebaliknya jadi makin melengkung. Rupanya kuat sekali merontanya si ikan aneh itu, sebentar kemudian, patahlah joran itu, kedua ikannya berloncat ke air, terus berenang pergi, lenyap di kolong batu. Meski air sangat deras, ikan itu tak hanyut terbawa air.

Si tukang pancing lantas memutar tubuhnya, dia mengawasi Kwee Ceng dengan mata mendelik dan muka merah, tandanya ia murka sekali.

"Hai, bangsat cilik busuk!" dia mendamprat. "Setengah hari dan setengah mati aku menanti di sini, sekejap saja kau membikin kaget dan kabur binatang yang aku pancing itu!" Terus ia mengangkat tangannya yang besar, seperti hendak menyerang, hanya entah kenapa, dia menahannya, hingga tangannya itu mengasih dengar suara meretek.

Kwee Ceng tahu ia telah mengganggu orang itu, ia tidak menjadi gusar. "Maaf, paman," katanya merendah. "Sebenarnya bukan maksudku mengganggu padamu. Sebenarnya ikan apakah itu?"

Orang itu masih tetap gusar. "Buka matamu!" katanya sengit. "Apakah itu ikan? Itulah Kim Wawa!"

Kwee Ceng tertawa. Ia tetap tidak gusar. "Mohon tanya paman, apa itu Kim Wawa?" ia tanya. Ia tidak mengerti makhluk itu dinamai "Kim Wawa" atau "Anak Emas".

"Kim Wawa ialah Kim Wawa!" orang itu berteriak semakin gusar. "Eh, bangsat bau, perlu apa kau banyak bacot?!"

Tetap Kwee Ceng mengendalikan diri. Ia membutuhkan petunjuk untuk mencari Toan Hongya.

"Maaf, paman," katanya, sembari ia memberi hormat pula.

Tapi Oey Yong tak dapat bersabar seperti engko Ceng-nya itu. "Kim Wawa ialah ikan wawa yang berwarna kuning emas," ia campur bicara. "Apakah yang aneh pada ikan itu? Di rumahku, aku memeliharanya beberapa pasang!"

Tukang pancing itu heran mendengar si nona mengetahui tentang ikan itu, tetapi hanya sebentar ia tercengang, segera ia mengasih dengar suaranya yang tak sedap:

"Hm, kau ngepul ya? Kau memeliharanya beberapa pasang! Aku tanya padamu, apakah perlunya Kim Wawa itu?"

"Apa perlunya?" sahut si nona sabar. "Aku melihatnya ikan itu bagus, dia dapat bersuara yayaya, seperti anak kecil, maka aku lantas memeliharanya, untuk dibuat main!"

Mendengar keterangan orang, tak salah, pengail itu mulai menjadi sabaran sedikit. "Eh, anak," katanya kemudian, "Kalau benar kau memelihara ikan itu, kau harus mengganti aku satu pasang!"

"Perlu apa aku mesti mengganti padamu?" si nona menanya.

Orang itu menunjuk Kwee Ceng, dia menyahut: "Aku mengail, aku dapat satu ekor, lantas dia berteriak tak karua-karuan, hingga muncul satu seekor yang lain, hingga kejadian patahlah joranku. Kim Wawa ini sangat cerdik, selanjutnya dia tak bakal kena dikail lagi, maka itu kalau kau tidak disuruh mengganti, habis bagaimana?"

"Tatuh kata kau dapat memancingnya, kau cuma dapat satu," kata lagi Oey Yong. "Apa mungkin kau dapat mancing sekali dua?"

Ditanya begitu, orang itu berdiam. Ia menggaruk-¬garuk kepalanya. "Kalau begitu, kau menggantilah seekor!" katanya kemudian.

Oey Yong tertawa. Ia berkata: "Jikalau sepasang Kim Wawa dipisahkan hidup-hidup, maka tak lebih daripada tiga hari, baik yang jantan maupun yang betina, dua-duanya bakal mati sendiri."

Mendengar begitu, lenyaplah kesangsiannya si pengail, dengan lantas ia menjura kepada sepasang muda-mudi itu. Ia berkata pula:

"Baiklah, anggaplah aku yang tidak benar! Sekarang maukah kau membagi aku satu pasang?"

Oey Yong tersenyum. "Lebih dulu kau mesti menerangkan padaku, perlu apa kau dengan ikan emas itu?" ia tanya.

Orang itu berdiam, agaknya bersangsi. Tapi cuma sejenak, lantas ia membuka mulutnya.

"Baiklah, aku nanti menjelaskan kepada kamu," katanya. "Paman guruku, seorang India, beberapa hari yang lalu telah datang ke mari mengunjungi guruku. Ia telah mendapat tangkap itu sepasang ikan emas, ia girang bukan main. Ia membilangi kita bahwa di negerinya itu ada semacam binatang yang berbisa sekali, yang sangat sukar untuk disingkirkan, kecuali dengan ini ikan, yang menjadi binatang pelumahnya. Dia menyerahkan ikan itu kepadaku, untuk aku merawatnya beberapa hari, nanti setelah ia selesai berbicara sama guruku, diwaktu ia berangkat pulang, hendak ia membawanya sekalian, untuk dipelihara di sana, siapa tahu…"

"Siapa tahu kau telah berlaku tidak hati-hati dan kau membuatnya terlepas!" Oey Yong mendahului.

Pengail itu kaget: "Eh, mengapa kau tahu?" tanyanya heran.

"Tidakkah gampang menduga itu?" berkata si nona tersenyum. "Ikan itu memang sukar dipelihara. Aku sendiri mulanya memelihara lima pasang dan kemudian kabur dua pasang."

Matanya si tukang pancing bersinar. Agaknya ia sangat tergiur. "Nona yang baik, kau bagilah aku sepasang," ia minta. "Kamu masih mempunyai dua pasang lagi, tidakkah itu cukup? Kalau paman gusar, itulah hebat untukku…"

"Untuk membagi kau satu pasang, itu urusan kecil sekali;" berkata si nona, tetap manis. "Hanya aku hendak menanya kau, kenapa kau mula-mulanya galak sekali?"

Orang itu jengah, dia bingung. Ia mau tertawa tetapi pun gagal….. "Ah, nona yang baik," akhirnya ia kata, "Kau ini tinggal di mana? Apakah tidak jauh dari sini?"

"Kalau dikata dekat, tidak dekat," sahutnya, "Kalau dikata jauh, ya tidak jauh, tetapi kalau beberapa ribu lie, ya ada…"

Tukang pancing itu kaget, lantas kumisnya bangun berdiri. "Hai, budak cilik!" dia membentak, "Kiranya kau lagi permainkan tuanmu!" Dia sudah lantas mengangkat kepalannya yang besar, hendak ditimpahkan kepala orang, akan tetapi kapan dia melihat seorang nona cilik dan nampaknya lemah, dia batal sendiri.

Kwee Ceng sendiri sudah lantas bersiap, untuk menjambret tangan orang itu.

Oey Yong tertawa. Sama sekali ia tidak takut ancaman itu. "Kenapa terburu nafsu?" katanya. "Aku telah memikirkan jalannya. Eh, engko Ceng, coba kau tolong panggil si rajawali putih!"

Anak muda itu tidak dapat menerka hati kawannya akan tetapi ia menurut. Ketika si pengail mendengar suara orang, ia terkejut. Suara itu nyaring mendengung, berkumandang di lembah-lembah. Maka sekarang ia kata di dalam hatinya: "Baiklah tadi aku tidak lantas bertempur dengannya, kalau tidak, aku bisa celaka…."

Tak lama datanglah sepasang rajawali mereka. Oey Yong minta Kwee Ceng mengambil babakan pohon, di situ dengan jarumnya ia mencacah beberapa baris tulisan, singkat bunyinya:

"Ayah! Aku menghendaki sepasang Kim Wawa, maka suruhlah si rajawali membawanya.

Dari anakmu, Yong."

Melihat itu barulah Kwee Ceng mengerti, maka ia menjadi girang sekali. Ia lantas menyiapkan tali, ikat pinggangnya yang ia kutungi, lalu dengan itu ia ikat surat babakan pohon itu pada kakinya si rajawali yang jantan. Oey Yong pun lantas berkata kepada si rajawali itu:

"Kau bawa ini ke Tho Hoa To, lekas pergi dan lekas kembali!"

Kwee Ceng masih khawatir burungnya kurang mengerti, ia menunjuk ke Timur dan tiga kali menyebutnya:

"Tho Hoa To!"

Sepasang burung rajawali jinak itu berbunyi berbareng, lantas keduanya terbang pergi, setelah berputaran di tengah udara, mereka menuju ke timur, sebentar saja mereka lenyap di antara gumpalan mega.

Si Tukang pancing melongo matanya dan terpentang mulutnya. "Tho Hoa To… Tho Hoa To…" katanya kemudian, seperti mengoceh tidak karuan. "Pernah apakah kamu dengan Oey Yok Su Loosianseng?"

Baru sekarang Oey Yong memprlihatkan aksinya. "Ia adalah ayahku! Habis kenapa?!" sahutnya, temberang.

"Oh!" seru orang itu heran.

Oey Yong tidak menggubris sikap orang itu, ia tanya: "Dalam waktu beberapa hari saja, burung itu bakal membawa datang ikan itu kemari. Tidak terlambat, bukan?"

"Harap saja…" kata orang itu, matanya mengawasi sepasang anak muda itu, agaknya ia bersangsi.

Kwee Ceng memberi hormat. "Aku belum menanyakan nama she dan nama yang besar dari paman," katanya.

Orang itu tidak menyahuti, sebaliknya ia menanya: "Perlu apa kau datang ke mari? Siapakah yang menyuruhnya?"

Kwee Ceng terus membawa sikapnya yang menghormat. "Aku yang muda mempunyai urusan untuk memohon bertemu sama Toan Hongya," ia memberitahukan. Ia sebenarnya mau memberi keterangan seperti petunjuknya Eng Kouw, akan menyebutkan nama gurunya, Ang Cit Kong, tetapi ia tidak biasa mendusta, mendadak ia merasa tak dapat mengatakan itu.

"Guruku tidak dapat menemui orang!" orang itu kata dengan keras. "Mau apa kau mencari guruku?"

Untuk sejenak Kwee Ceng terbenam dalam kesangsian. Ia sebenarnya mau terus bicara sebenarnya, tapi mendadak ingat keselamatan Oey Yong. Tidakkah ia nanti menggagalkan si nona? Bukankah tak apa ia mendusta kali ini? Selagi ia bersangsi, si pengail telah mendapat lihat kesangsiannya dan melihat tegas si nona, yang lagi sakit.

"Kau mencari guruku untuk minta diobati, bukan?" dia menanya.

Disenggapi begitu, pemuda itu tak dapat mendusta lagi. Ia mengangguk. "Benar," sahutnya, sedang hatinya menyesal tak dapat mendusta….

"Untuk menemui guruku, jangan harap!" kata tukang pancing itu bengis. "Biar aku ditegur guru dan pamanku, aku tak menghendaki lagi ikanmu itu! Lekas pergi!"

Kata-kata itu ketus dan pasti, bagaikan pantek paku, Kwee Ceng menjadi berdiri menjublak, untuk sesaat itu, ia merasakan tubuhnya dingin seluruhnya. Sesaat kemudian barulah ia dapat berkata pula.

"Nona yang terluka ini dan membutuhkan pengobatan adalah putri yang dicintai dari Oey Tocu dari Tho Hoa To," ia berkata, ia pun menjura. "Sekarang ini, nona ini menjadi Pangcu dari Kay Pang. Maka itu paman, aku minta, dengan memandang Oey Tocu dan Ang Pangcu, sukalah kau menunjukkan kami jalan, supaya kami diajak bertemu menemui Toan Hongya."

Mendengar disebutkannya Ang Pangcu, roman si tukang pancing sedikit berubah, akan tetapi ia menggeleng kepala.

"Nona ini pangcu dari Kay Pang?" tanyanya. "Aku tidak percaya!"

Kwee Ceng menuju kepada tongkat Lek-tiok-thung di tangannya Oey Yong. "Ini tongkat Tah-kauw-pang dari Ang Pangcu," ia berkata. "Tentunya paman mengenal tongkat ini…"

Tukang pancing itu mengangguk. "Pernah apakah kamu dengan Kiu Cie Sin Kay?" ia tanya pula.

"Ia adalah guru kami."

"Oh…" si tukang pancing bersuara perlahan. "Jadi kamu datang ke mari mencari guruku ini karena disuruh gurumu, bukan?"

Lagi-lagi Kwee Ceng dibikin ragu-ragu. Ia ingat baik-baik ajaran Eng Kouw untuk mendusta tetapi itu bertentangan dengan kejujurannya.

"Benar!" Oey Yong segera mendahului menjawab.

Orang itu bertunduk, terang ia ragu-ragu. Terdengar ia berkata dengan perlahan: “Bagaimana sekarang? Kiu Cie Sin Kay dengan guruku bersahabat luar biasa erat…"

Oey Yong yang cerdik mengerti kesulitan orang, ia lantas berkata: "Guru kami menitahkan kami mencari Toan Hongya, disamping untuk minta dia menolong mengobatiku juga karena ada urusan penting yang mesti disampaikan!"

Mendadak orang itu mengangkat kepalanya. Kembali terlihat ia menjadi bengis. "Benar Kiu Cie Sin Kay yang menitahkan kamu menemui Toan Hongya?" ia tanya keras.

"Ya," menyahut Oey Yong.

Orang itu menegaskan pula: "Benar Toan Hongya, bukan orang lain?"

Nama Toan Hongya itu ditekan keras, mendengar itu, Oey Yong menduga pasti ada sebabnya, tetapi karena sudah terlanjur, ia tidak dapat lain jalan.

"Ya," ia menyahut pasti, mengangguk.

Pengail itu maju dua tindak. Tiba-tiba ia berseru: "Toan Hongya sudah mati!"

Oey Yong dan Kwee Ceng kaget bukan kepalang. "Mati?" tanya mereka berbareng.

"Ketika Toan Hongya mati, Kiu Cie Sin Kay ada disampingnya!" berkata si tukang pancing itu, suaranya tetap keras. "Maka itu cara bagaimana dia boleh menitahkan kalian pergi mencari lagi kepada Toan Hongya? Hayo bilang, siapakah yang menitahkan kamu? Dengan datang kemari, kamu membawa akal busuk apa? Lekas bilang!"

Segera ia maju setindak lagi, tangan kirinya dikipaskan sebagai ancaman, tangannya menyambar ke pundak si nona.

Kwee Ceng memang selalu bersiap, melihat sikap garang dari orang itu, ia menghadang pula di depan Oey Yong, kedua tangannya bersikap dengan jurusnya "Melihat naga di sawah". Manampak ini, orang itu heran. Itu tandanya si anak muda tak mau menyerang kepadanya. Meski begitu, ia melanjutkan sambarannya. Karena ini mendadak ia merasakan benturan pada tangannya, yang bergemetar, terus ia merasakan dadanya panas, sedang tangannya mental balik. Lantas ia lompat mundur, ia khawatir nanti diteruskan diserang anak muda itu. Selagi berlompat ia ingat pembicaraan Ang Cit Kong bersama gurunya tentang ilmu silat. Ia ingat, anak muda ini bersilat dengan Hang Liong Sip-pat Ciang. "Teranglah mereka ini muridnya Ang Pangcu, tidak boleh aku berbuat salah terhadap mereka," begitu ia lantas mendadak pikiran. Ia lantas mengawasi Kwee Ceng, siapa terus menunjuk sikap menghormat meski terang barusan ia menang unggul, tidak ada romannya yang puas atau temberang. Tapi ia masih berkata:

"Jiewi benar murid-muridnya Kiu Cie Sin Kay tetapi jiewi datang kemari bukan atas titah gurumu, benar bukan?"

Kwee Ceng tak tahu maksud orang tetapi rahasia hatinya telah dapat diterka, dengan terpaksa ia mengangguk.

Tukang pancing itu tidak lagi bersikap bengis seperti semula. "Walaupun Kiu Cie Sin Kay sendiri yang terluka dan datang ke mari, siauwko tidak dapat mengantarkan dia naik ke gunung untuk bertemu sama guruku, maka itu haraplah jiewi memaafkan," katanya. Sekarang ia menyebut diri dengan "siauwko" artinya " yang muda"

"Apakah benar meskipun guruku sendiri yang datang, masih tidak dapat?" Oey Yong menegaskan.

"Tidak dapat!" menyahut orang itu, kepalanya digoyang. "Biarpun dipukul sampai mati, tidak dapat!"

Oey Yong mencurigai orang ini. Bukankah dia menyebut Toan Hongya gurunya dan dia juga membilang Toan Hongya sudah mati? Kenapa ia menyebutnya waktu Toan Hongya mati Kiu Cie Sin Kay berada di sampingnya? Tidakkah itu aneh?

"Tidak bisa lain, gurunya mesti ada di atas gunung!" ia lantas mengambil keputusan. "Tidak peduli dia Toan Hongya atau bukan, kita mesti menemuinya!"

Maka ia mengangkat kepalanya, mendongak ke atas gunung, yang puncaknya seperti masuk ke dalam awan. Itulah puncak lebih tinggi beberapa kali lipat daripada puncak Tiong Cie Hong dari Tiat Ciang San. Benar-benar puncak itu sulit untuk dinaiki. Kemudian ia mengawasi air tumpah. Ia memikirkan jalan untuk dapat mendaki gunung itu. Tengah ia mengawasi itu, ia melihat berkelebatnya sinar kuning di dalam air. Segera ia bertindak ke tepian sambil ia mengawasi jauh. Maka terlihatlah olehnya dua ekor ikan tadi berada di bawah batu, ekornya berada di luar guanya…. Ia lantas menggapai Kwee Ceng.

Anak muda itu mendekati. Ia pun lantas melihat ikan itu. "Nanti aku turun dan menangkapnya," kata Kwee Ceng.

"Jangan!" mencegah si nona. "Air deras, mana kau dapat berdiri diam di air? Janganlah berlaku tolol…!"

Akan tetapi Kwee Ceng berpikir, kalau ia menempuh bahaya dan menangkap ikan itu, untuk diserahkan pada si pengail, mungkin hati orang ini berubah. Ia pun tidak dapat menyia-nyiakan waktu lewat berlarut-larut, itu membahayakan Oey Yong. Karena ia tahu, nona itu bakal mencegah, maka diam-diam ia lompat ke air tanpa membuka lagi sepatu dan pakaiannya.

"Engko Ceng!" Oey Yong berteriak kaget. Ia lantas bangun, tetapi kedua kakinya bergoyang, serta tubuhnya terhuyung.

Si tukang pancing kaget, ia lompat menyambar nona itu, kemudian ia lari ke arah gubuk, agaknya dia lantas mencapai sesuatu guna menolong si anak muda.

Oey Yong berduduk di batu, ia mengawasi ke arah Kwee Ceng, yang dapat berdiri tegak di air, gempuran air tumpah yang dahsyat tak dapat membikin tubuhnya bergeming, maka legalah hatinya.

Kwee Ceng sendiri sudah lantas bertindak menangkap ikan. Ia membungkuk, kedua tangannya dianjurkan perlahan-lahan, sikapnya waspada. Nyata ia bisa bekerja sebat dan jitu juga tangkapannya. Dua¬ tangannya bisa mencekal ekor ikan emas itu, hanya ketika ia mengangkatnya, tidak berani mencekal keras-keras, ia khawatir ikan itu mati. Kesempatan ini digunai kedua ekor ikan itu yang badannya licin, waktu keduanya berontak, mereka dapat lolos dan melentik pula ke air, di mana mereka selulup pula masuk ke kolong batu!

Oey Yong menjerit saking menyesalnya karena sayang ikan itu lolos. Saat itu di belakangnya ada orang yang berseru. Ketika ia berpaling, si tukang pancing lagi berdiri bengong di belakangnya, pundaknya memanggul sebuah perahu kecil dan tangannya mencekal sepasang pengayuh. Rupanya dia hendak menolong orang kecebur.

Kwee Ceng tidak lantas berlalu dari air tumpah. Ia tetap berdiri tegar. Ia membungkuk lagi. Kedua tangannya di ulur ke kolong batu, ke gua tempat ikan tadi lari sembunyi. Tapi ia tidak mau menangkap ikan yang tidak terlihat, hanya ia memegang batu, untuk diangkat. Ia girang ketika merasa batu itu bergerak sedikit. Maka sekarang ia menyiapkan tenaganya, untuk jurusnya "naga terbang ke langit". Dengan mendadak ia mengangkat batu itu, terus dilemparkan ke sampingnya, di lain pihak, kedua tangannya menyambar ke air. Maka sejenak itu juga, kedua tangannya telah mencekal masing-masing seekor Kim Wawa!

Batu besar itu terbanting ke air di samping, berisik suaranya, air muncrat dan mengalir tambah keras. Kwee ceng sendiri tidak terhuyung tubuhnya ketika ia mengangkat dan melemparkan batu.

Si tukang pancing heran dan kagum, tetapi sekarang ia memikir daya untuk menolong Kwee Ceng naik ke darat. Pemuda itu berada di tempat sekira dua tombak. Dengan kedua tangan memegang ikan, sulit untuknya menggunakan tangannya, atau ikan itu bakal terlepas lagi. Akhirnya ia menyodorkan pengayuhnya, ingin anak muda itu mencekalnya, tanpa ia ingat tangan orang lagi memegang ikan….

Tapi Kwee Ceng tidak berkhawatir, setelah melihat ke tepian, ia menjejak dengan kaki kanannya, dengan begitu dia dapat berlompat ke pinggir, di sini ia menaruh kaki kirinya, untuk menjejak pula, maka di lain saat, ia sudah berada di atas di antara si nona dan si tukang pancing.

Oey Yong kaget, girang dan kagum. Sungguh ia tidak menyangka demikian pesat kemajuan pemudanya ini. Tentu sekali sesaat itu ia tidak ingat bahwa Kwee Ceng telah mempertaruhkan jiwanya cuma untuk menolong dia. Sebenarnya anak muda itu sendiri bergidik kalau ingat perbuatannya yang nekat itu.

Lain orang yang tercengang ialah si tukang pancing. Ia heran dan kagum. Maka sekarang tahulah ia, anak muda itu lihay tenaga dalamnya dan ilmu ringan tubuh, jangan dibicarakan lagi tentang nyali yang besar.

Segera setelah itu, Kwee Ceng tertawa. Kedua Kim Wawa di tangannya, sambil meronta-ronta telah mengasih dengar suaranya yang berisik, benar seperti gegowakannya seorang bocah!

"Ah, pantas dia dipanggil Kim Wawa!" katanya lagum. Kemudian ia mengulurkan tangannya kepada si tukang pancing, menyerahkan ikan itu.

Orang itu terlihat alisnya bergerak, tanda kegirangan. Ia pun lekas-lekas menurunkan pengayuhnya. Ketika ia sudah mengulurkan tangan, mendadak ia menariknya pulang.

"Kau lemparkanlah kembali ke air, aku tidak menghendaki!" katanya.

"Kenapa begitu?" tanya Kwee Ceng heran.

"Meski aku menerima ikanmu, tidak dapat aku mengantarkan kau kepada guruku," dia menyahut. "Menerima budi tetapi budi itu tidak dibalas, itu perbuatan yang akan mendatangkan tertawanya orang-orang gagah di kolong langit ini!"

Kwee Ceng heran hingga ia tercengang. "Paman," katanya kemudian, sungguh-sungguh, "Kau tidak dapat meluluskan permintaan kami, mesti ada sebabnya, baiklah kami tidak hendak memaksakannya. Tapi kedua ekor ikan ini tidak berarti, ini bukan budi, maka paman ambillah!" Ia mengulur pula tangannya, menyerahkan ikan itu.

Kali ini si tulang pancing menyambut, hanya romannya sangat likat. Kwee Ceng berpaling kepada Oey Yong, ia kata:

"Yong-jie, hidup dan mati itu takdir, umur manusia tak dapat dipastikan, maka kalau benar-benar kau tidak dapat disembuhkan, di dunia baka itu ada jalannya, maka di sana pastilah akan ada engko Cengmu yang akan tetap menemanimu! Mari kita pergi!"

Mendengar suara anak muda itu, merah mata Oey Yong. Tapi ia sudah memikir sesuatu. Ia tidak lantas menyahuti si anak muda.

"Paman," ia berkata kepada tukang pancing itu, "Kau tetap tidak dapat memberi petunjuk pada kami, tidak apalah, hanya ada satu hal yang aku tidak mengerti. Jikalau kau tidak menjelaskannya, mati pun aku tidak meram…"

"Apa itu?" menanya si tukang pancing heran.

"Kau lihat puncak itu licin bagaikan kaca," berkata si nona. "Bukankah tidak ada jalan untuk mendakinya? Maka umpama kata bersedia akan mengantarkan kami, apa salahnya?"

Orang itu berpikir: "Telah pasti aku tidak dapat mengantarkan dia, maka apa halangannya kalau aku memberikan keterangan kepadanya?" Maka ia menajwab: "Kalau dikata sukar, memangnya sukar, tetapi kalau dibilang gampang, benar-benar gampang sekali. Di sebelah sana, di ujung gunung itu, air tumpah tak sekeras di sini maka jikalau aku duduk di atas perahu besiku dan aku mendayung, aku dapat maju melawan air. Kalau satu orang diantarkan satu kali, maka dua kali saja lantas dua orang dapat tiba di atas!"

"Oh, kiranya begitu!" berkata si nona. "Nah, ijinkan kami pergi!" Nona ini lantas berbangkit, untuk memegangi tubuh Kwee Ceng, siap untuk berlalu.

Kwee Ceng memberi hormat pada orang itu tanpa bilang apa-apa. Tukang pancing itu mengawasi orang, kemudian ia lari ke gubuknya, sebab ia khawatir ikannya nanti terlepas lagi.

Begitu orang masuk ke dalam, Oey Yong lantas berkata: "Lekas ambil perahu dan pengayuhnya! Mari kita pergi ke atas!"

Kwee Ceng terkejut, ia melengak. "Ini… ini kurang bagus…" katanya ragu-ragu.

"Baiklah!" seru si nona. "Kau mau jadi kuncu, nah jadilah kuncu!"

Kwee Ceng bingung: "Mana lebih penting, menolong Yong-jie atau jadi kuncu?" demikian otaknya bekerja sulit. Justru itu, Oey Yong dengan susah payah, sudah bertindak pergi.

Cuma sedetik saja, ia lantas mengambil keputusan. Ia lari ke perahu, ia angkat itu, melemparkannya ke atasan air tumpah, kemudian pergi menyambar kedua pengayuhnya. Tindakannya yang terakhir adalah menolong Oey Yong untuk lari ke atas, hingga dilain saat mereka sudah berada di atas di mana mereka tampak perahu tadi.

"Ser!" demikian suara terdengar, suara dari senjata rahasia.

Dengna mendak, Kwee Ceng membebaskan diri dari senjata rahasia itu, yang jatuh ke dalam perahu dimana tepat datang ke dekatnya. Maka bersama-sama Oey Yong, ia lompat naik ke perahu itu, untuk segera dikuyah kembali… Si tukang pancing terdengar caciannya tapi tak nyata apa katanya…

Kwee Ceng lantas mengayuh. Mulanya dengan tangan kiri, sebab ia masih memegangi Oey Yong, ketika perahu itu maju, ia melepaskan si nona, mengayuh dengan tangan kanannya. Demikian selanjutnya, setiap mengayuh, perahunya maju beberapa kaki….

"Budak busuk! Perempuan hina!" demikian sang angin membawa dampratan si tukang pancing, mendengar ini, Oey Yong tertawa, "Lihat, dia masih menganggapnya kau orang baik! Akulah yang dia caci!" katanya.

Kwee Ceng lagi mengayuh, matanya mengawasi ke depan, ia tidak mendengar gurauan si nona. Ia mesti memakai tenaga dan pikirannya. Perahu itu besar kepalanya dan enteng buntutnya, dia maju melawan air, yang boleh dibilang deras juga. Beberapa kali ia hampir terpukul mundur. Dengan menggunakan tipu dari "Sin Liong pa bwee" atau "Naga sakti menggoyang ekor" dengan cepat ia dapat menguasai kedua pengayuhnya, kedua tangannya bergerak dengan cepat, kuat dan rapi.

Senang Oey Yong melihatnya, dengan gembira ia kata: "Meski si tukang pancing tadi yang mengayuh, tidak akan dia dapat mengayuh selekas ini!"

Perahu itu maju terus, setelah lewat sekian lama, air menikung, maka terlihatlah permukaan air tenang, di kedua tepinya ada tumbuh pohon yangliu. Itulah kali kecil yang lebarnya setombak lebih. Di situ pun ada banyak pohon tho. Kalau waktu ini musim semi, pasti indah pemandangan alamnya. Sebagai gantinya bunga tho, di tepian banyak bunga putih yang kecil-kecil, baunya harum.

Kedua muda-mudi ini heran dan kagum. Tidak dinyana, di atas gunung ada tempat sepermai ini. Iseng-isng Kwee Ceng mengayuh dalam, hampir ia membuat pengayuhnya terlepas. Di luar dugaan, kali itu dalam tak terjajakan oleh pengayuhnya. Di bawahpun air menggolak.

Sekarang kendaraan air dapat dikayuh maju perlahan-lahan, keduanya dapat menikmati pemandangan alam yang indah, makin jauh nampaknya makin menarik hati.

"Jikalau lukaku ini sukar diobati," kata Oey Yong menghela napas. "Biarlah aku terkubur di sini, tak usah aku turun lagi…"

Kwee Ceng berduka, ia hendak menghiburi si nona tetapi ia melihat di sebelah depan ada sebuah terowongan, terhembus bau harum yang keras sekali. Perahunya lantas masuk ke dalam gua itu yang airnya mengalir sedikit keras. Segera kuping mereka mendengar berbagai suara.

"Suara apakah itu?" si pemuda tanya.

"Entahlah," sahut si nona menggeleng kepala.

Terowongan itu tidak panjang, sebentar kemudian mereka telah keluar di ujung lain. Segalanya menjadi terang seperti tadi. Bahkan sekarang mereka bersorak. Di depan terlihat air mancur yang besar sekali, tingginya setombak lebih dan airnya meluncur tinggi bagaikan tiang menjulang ke udara. Itulah yang mangasih dengar suara tadi. Sampai di situ, habislah kali di atas gunung itu dan sumbernya kali ialah air mancur ini.

Kwee Ceng membantu Oey Yong ke darat, kemudian menarik perahunya ke batu, setelah itu bersama si nona memandangi air mancur. Di antara sinarnya matahari, air itu mengasih lihat bianglala yang indah. Tak tahu mereka bagaimana harus memuji keindahan iini, mereka duduk diam sambil berpegangan tangan. Mereka masih kesengsem ketika mendengar suara nyanyian yang seperti keluar dari arah belakang bianglala.

"Kota dan kalinya rusak semua! Mana si pencinta negara? Memikirkan kemakmuran dan keruntuhan, itulah penderitaan. Dinasti Tong bangun, itu artinya dinasti Swie roboh. Jadi miriplah dengan naga yang berubah-ubah. Cepat, langit dan bumi salah! Lambat, langit dan bumi salah!"

Lantas juga terlihat si penyanyi, tangan kirinya membawa sebatang kayu cemara, tangan kanannya mencekal sebuah kampak. Maka teranglah, dia seorang tukang kayu - ya seorang tukang mencari kayu bakar.

Setelah melihat pakaian orang itu, Oey Yong ingat tulisan Eng Kouw, "…….Kalau orang bicara dengannya minta diobati, orang bakal terbikin celaka lebih dulu oleh si tukang pancing, si tukang kayu, si petani dan si pelajar….." Tadi mereka bertemu sama tukang pancing. Dan ini, bukankah ini dia si tukang kayu?

Apakah mereka bakal bertemu sama petani dan si pelajar? Siapa empat orang ini? Murid atau pelayankah dari Toan Hongya? Ia menjadi masgul. Untuk melewati si tukang pancing demikian sukar, maka entah ini tukang kayu. Bukankah nyanyian dia ini bukan nyanyian sembarang? Entah bagaimana lagi dengan si petani dan si pelajar? Kembali terdengar orang itu bernyanyi:

"Dari atas jembatan, memandang jauh,
Hawa dari kerajaan, telah runtuh….
Di atas panggung tak terlihat kepala perang….
Semenjak dulu, hanya seputaran, semua musnah.
Pahala, tidak kekal!
Nama juga tidak kekal!"

Perlahan jalannya si tukang kayu, lalu ia mengawasi si muda-mudi, acuh tak acuh lantas bekerja, mengampak kayu di pinggiran gunung.

Oey Yong melihat tubuh orang yang kekar dan roman gagah, gerak-geriknya seorang panglima perang, maka coba dia itu bukan dandan sebagai tukang kayu dan lagi berada di hutan ini, dia pasti dapat menjadi seorang kepala perang. Ia lantas ingat keterangan gurunya bahwa Lam Tee, si Kaisar dari Selatan, Toan Hongya, telah menjadi kaisai di Taili, Inlam, maka apa mungkin tukang kayu ini asalnya panglima perangnya? Nyanyian orang, pula suaranya, semuanya luar biasa. Sekali lagi tukang kayu itu bernyanyi:

"Puncak gunung bagaikan bertumpuk,
Gelombang seperti berangkara murka,
Di jalanan kota Tongkwan sana, Memandang ke barat, hati ragu-ragu,
Melihat istana, semua runtuh menjadi tanah…
Bangun, rakyat bersengsara!
Musnah, rakyat bersengsara!"

Mendengar kata-kata yang terakhir itu, Oey Yong ingat ayahnya sering mengatakan: "Apa itu segala kaisar dan panglima perang? Semua itu mahkluk jahat tukang membikin rakyat celaka! Merubah kerajaan, menukar she, semua itu menyusahkan rakyat saja!" Maka tanpa merasa, gadis itu memuji:

"Nyanyian yang bagus!"

Tukang kayu itu berpaling, ia menancapkan kampaknya di pinggang. "Bagus? Apanya yang bagus?" dia menanya.

Oey Yong hendak menyahut ketika mendadak ingat: "Dia gemar bernyanyi, kenapa aku tidak mau membalas dia dengan nyanyian juga?" Maka ia bersenyum, lalu ia bernyanyi dengan suara perlahan:

"Gunung-gunung hijau saling menanti,
Mega-mega putih saling mencintai,
Tak bermimpikan jubah sulam dan sabuk emas,
Cukup dengan sebuah gubuk,
Dengan bunga hutannya mekar.
Siapakah yang memusingi:
Siapa bangun, siapa roboh,
Siapa berhasil, siapa gagal?
Cukup dengan gubuk dan satu sendok!
Melarat, semangat tak berubah!
Berhasil, cita-cita tak berubah!"

Nona ini lantas menyangka pasti si tukang kayu ialah panglimanya Lam Tee, panglima yang sekarang lagi hidup bersembunyi - yang dulunya pasti berkuasa besar atas bala tentara, maka itu ia memperdengarkan nyanyian itu, untuk menimpali nyanyian orang. Dugaannya memang tepat karena si tukang kayu menjadi girang, sambil menunjuk ke samping gunung, dia kata:

"Naiklah!"

Di samping gunung ada sebuah batu besar mirip dengan lengan tangan, ketika Kwee Ceng dan Oey Yong memandang ke atas, hanya melihat awan dan bangkonya rotan. Meski begitu, si anak muda lari menghampiri rotan itu, untuk disambar, dipakai melapai naik!

Kwee Ceng cuma mengerti separuh dari semua nyanyian itu, di sebelah itu, yang ia paling khawatirkan ialah si tukang kayu nanti mengubah pikirannya, maka ia tidak mau membuang waktu lagi. Dengan kedua tangannya bekerja cepat, lekas ia telah naik belasan tombak tingginya. Di situ, ia masih dengar nyanyian si tukang kayu:

"….dulu hari itu orang berebutan, Sekarang bagaimana? Menang, semua menjadi tanah! Kalah, semua menjadi tanah!"

Oey Yong di punggungnya si anak muda tertawa. "Engko Ceng," katanya, "Kalau menurut dia itu, kita tak usah datang ke mari untuk minta diobati!"

Kwee Ceng heran hingga ia melengak: "Apa!" dia tanya.

"Semua orang toh bakal mati, bukan?" kata si nona tertawa. "Orang sembuh, dia berubah menjadi tanah! Orang tak sembuh, dia berubah menjadi tanah juga!"

"Fui!" si anak muda mengasih dengar suaranya. "Sudah, jangan dengar ocehannya!"

Oey Yong itu benar lucu, ia tidak menghiraukan si anak muda, dia bernyanyi perlahan: “Hidup, kau menggendong aku! Mati kau menggendong aku juga!"

Kwee Ceng berdiam, ia kewalahan. Ia lebih memerlukan menggunakan terus kedua tangannya, untuk naik ke atas, sampai mereka memasuki awan atau kabut. Ketika itu musim panas tetapi hawa dingin.

"Di hadapan kita ini terdapat segala pemandangan alam yang indah dan luar biasa," kata si nona kagum, "Umpama kata aku tidak bakal dapat disembuhkan, taklah kecewa perjalanan kita ini…"

OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar