"Lihat saja pakaianmu, Lou Toako! Pakaianmu kotor tetapi pakaian mereka bersih sekali. Lou Toako, hendak aku omong terus terang, bajunya cabang Pakaian Dekil itu hitam dan bau, pasti tidak menyenangkan, maka kalau kau mencuci bersih pakaianmu, bukankah kedua cabang lantas menjadi satu?"
"Kau anak hartawan, pasti kau jemu terhadap pengemis," kata Yoe Kiak sambil ia berjingkrak bangun berdiri.
Kwee Ceng hendak menghanturkan maaf tetapi orang lantas ngeloyor pergi, kelihatannya ia mendongkol sekali.
Oey Yong mengulur lidahnya. "Engko Ceng, jangan kau menegur aku," katanya.
Kwee Ceng tertawa. "Sebenarnya aku berkhawatir," kata Oey Yong.
"Kenapa?" pemuda itu tanya. "Aku berkhawatir Lou Yoe Kiak nanti mendupak padamu."
"Tidak karu-karuan dia mendupak aku, kenapa?" Si nona memainkan mulutnya, ia tertawa, ia tidak menjawab.
Kwee Ceng menjadi berpikir. Ia benar tidak mengerti.
Oey Yong menghela napas. "Ah, engko tolol," katanya. "Kenapa kau tidak hendak memikirkan namanya itu?"
Sekarang Kwee Ceng sadar. "Bagus ya!" katanya. "Dengan memutar kau memaki aku bagaikan anjing!" Ia lantas berbangkit, tangannya diulur, untuk mengitik, Oey Yong tertawa dan berkelit.
Tengah muda-mudi ini bergurau, di tangga lauwteng terdengar pula suara tindakan kaki. Segera terlihat munculnya ketiga tiangloo yang tadi pergi mengikuti Yo Kang. Mereka menghampiri terus memberi hormat. Tiangloo yang ditengah, yang mukanya putih dan tubuhnya gemuk, yang kumisnya gompiok, sudah lantas tertawa sebelum ia berbicara. Coba ia tidak berpakaian banyak tambalannya, tentulah orang menyangka dia itu seorang hartawan. Dengan manis ia berkata:
"Jiewi, si pengemis tua she Lou tadi telah dengan diam-diam menurunkan tangan jahat. Kami tidak senang melihat kelakuannya itu maka datang untuk memberikan pertolongan kami."
Kwee Ceng dan Oey Yong terkejut. "Bagaimana itu?" mereka tanya.
"Bukankah dia tidak sudi dahar bersama jiewi tadi?"
"Ya! Apakah dia telah meracuni kami?"
Pengemis itu menghela napas. "Inilah gara-garanya partai kami lagi malang," ia berkata, romannya berduka. "Di luar keinginan kami, di antara kami boleh ada banyak orang buruk semacam dia. Dia itu lihay, asal tangannya menyentil, racun yang disimpan di kuku tangannya bisa tanpa diketahui lagi masuk nyampur ke dalam barang makanan atau arak. Jiewi telah terkena racun itu dan hebat, tidak lewat sampai setengah jam, maka jiewi sukar ditolong lagi……."
Oey Yong terkejut tetapi ia bersangsi. "Kami tidak bermusuhan dengannya, kenapa dia boleh menurunkan tangan jahat?" tanyannya.
"Jiewi telah keracunan berbahaya sekali, baik jiewi lekas makan obat ini, baru jiewi bisa dapat ditolong!" kata si pengemis tanpa menyahuti dulu pertanyaan orang. Ia lantas mengeluarkan satu bungkusan obat bubuk warna kuning, obat itu ia masukkan ke dalam dua cangkir arak, "Lekas minum, jiewi!" katanya pula.
Oey Yong tadi melihat Yo Kang, ia curiga, maka itu mana mau ia minum arak. Maka ia berkata:
"Tadi tuan Yo itu kenal kami, tolong samwie ajak dia datang menemui kami."
"Memang jiewi harus bertemu dengannya," berkata si pengemis. "Tetapi racun jahanam itu berbahaya sekali, baik jiewi minum dulu obat ini. Kalau ayal-ayalan, nanti susah buat diobatinya."
"Samwie baik sekali, terima kasih," berkata Oey Yong. "Nah, marilah duduk kita minum bersama! Sebenarnya kami kagum sekali kepada Kay Pang sebab kami ingat tahun dulu pangcu dari generasi yang kesebelas, di Pak Kouw San dia seorang diri telah melayani banyak lawan yang gagah dengan sepasang tongkatnya, dengan sepasang tangannya, dia telah membinasakan lima jago dari Lok-yang! Sungguh gagah!"
Tiga pengemis itu nampak heran sebab mendadak mendengar orang bicara perihal partainya, maka mereka lantas saling melirik. Heran mereka, kenapa nona begini muda tahu peristiwa dulu itu.
"Ang Pangcu itu lihay sekali ilmu silatnya yang bernama Hang Liong Sip-pat Ciang," berkata pula Oey Yong. "Kepandaiannya itu tak ada bandingannya di kolong langit ini, maka entahlah samwie telah dapat memperlajari beberapa jurus dari ilmu silat itu?"
Mendengar ini, tiga pengemis itu lantas menduga tentulah orang curiga dan tak sudi minum arak campur obat itu. Maka yang beroman mirip hartawan itu berkata sambil tertawa: "Kalau nona bercuriga, tentu sekali kami tidak berani memaksa, tetapi marilah nona melihat suatu bukti nanti nona percaya. Sekarang jiewi lihat dimataku ada apa yang luar biasa?"
Kwee Ceng dan Oey Yong mengawasi, mereka mendapatkan mata orang bercahaya tajam sekali. Oey Yong melihat tidak ada apa-apa yang aneh, maka ia memikir itulah tak lebih tak kurang sepasang mata babi………
Tetapi si pengemis itu sudah berkata pula: "Jiewi awasi mataku, jangan sekali jiewi memecah perhatian. Lihatlah, sekarang jiewi mulai merasa kulit matamu berat dan kepala pusing, seluruh tubuh jiewi tidak ada tenaganya. Nah, itu alamat terkena racun. Lekas jiewi menutup mata dan tidur!"
Kata-kata itu menarik dan berpengaruh. Kwee Ceng dan Oey Yong benar-benar lantas merasa matanya ingin dirapatkan dan lesu, benar-benar seluruh tenaganya habis.
"Tempat ini menghadap telaga besar," berkata pula si pengemis. "Hawanya pun adem sekali, maka jiewi silahkan berangin dan tidur di sini! Tidur, tidurlah!"
Makin lama kata-kata itu terdengar makin perlahan, kata-kata itu sangat manis dan menarik hati, maka tanpa merasa sepasang muda-mudi itu menguap, lalu tidur pulas dengan mendekam di meja. Beberapa lama sang waktu telah lewat, mereka tak tahu, hanya mereka merasa ada hawa sejuk yang menyampok muka, samar-samar kuping mendengar suara gelombang. Mereka lantas membuka mata. Maka tampaklah di antara mega munculnya sang rembulan, yang baru mulai naik di gunung timur. Mereka terkejut.
Tadi mereka tengah bersantap dan minum arak di Gak Yang Lauw, kenapa sekarang sudah malam? Mereka mau berbangkit, tapi mereka merasakan kaki dan tangan telah diringkus. Mereka mau berseru, merasakan mulut juga telah disumpal biji bebuahan, hingga mereka merasakan mulut sakit.
Sebagai seorang cerdik Oey Yong lantas mengerti bahwa ia telah kena dipermainkan si pengemis gemuk itu, hanya ia belum bisa menerka, orang menggunakan ilmu apa membuat dia dan Kwee Ceng menjadi mengantuk dan lemas akhirnya tidur lupa daratan. Ia mengerti, maka ia tidak mau banyak berpikir. Ia segera melihat ke sekitarnya. Nampak Kwee Ceng di sisinya, kelihatan kawannya meronta, maka hatinya lega sebagian.
Kwee Ceng pun sadar karena ia merasakan sampokan hawa dingin. Ia kaget untuk belungguan yang kuat sekali, hingga ia tidak mampu berontak untuk memutuskannya. Kiranya itu adalah tambang yang dipakai mengikatnya tali kulit kerbau campur kawat. Ketika ia hendak mencoba berontak lagi, tiba-tiba merasa dingin di pipinya, dua kali pipinya disampok pedang. Ketika ia mengawasi, ia dapatkan empat pengemis muda menjagai dia dengan senjata di tangan.
Oey Yong lantas berpikir terus. Satu hal yang membuatnya kaget. Ia mendapat kenyataan berada di atas sebuah puncak, di sekitarnya telaga dengan airnya yang jernih. Di antara sinar rembulan, ia dapat melihat tegas ke sekitarnya. Ia menjadi heran sekali kenapa ia tidak merasa orang telah mengangkutnya ke atas puncak, puncak dari gunung Kun San di tengah telaga Tong Teng itu.
Di depan terlihat sebuah panggung tinggi belasan tombak. Di sekitarnya duduk beberapa ratus pengemis. Semua duduk dengan diam. Itulah sebabnya kenapa mereka mulanya tak nampak, tak ketahuan. Segera setelah ia ingat, hatinya girang. Pikirnya: “Benarlah! Hari ini Cit gwee Capgouw, hari Rapat Besar Kaum Kay Pang! Biarlah aku bersabar, sebentar aku memperdengarkan titah suhu, mustahil mereka tidak akan mentaati…."
Lewat sekian lama, segalanya masih diam saja. Nona ini mulai habis sabarnya. Karena tak dapat bergerak, ia merasakan kaki tangannya baal. Sang waktu pun berjalan terus. Kemudian sinar rembulan menjojoh pinggiran panggung di mana ada tiga huruf besar: "Hian Wan Tay", artinya panggung "Kaisar Hian Wan". Maka ingatlah Oey Yong akan cerita dongeng, katanya dulu hari Oey Tee, Kaisar Hian Wan itu, telah membuat perapian kaki tiga di sini, setelah perapian itu rampung, dia menunggang naga naik ke langit. Jadi inilah panggung yang berhikayat itu.
Sekian lama lagi, di waktu sinar rembulan telah memenuhi seluruh panggung, maka terdengarlah suara yang tiga-tiga kali, suara itu sebentar cepat dan sebentar perlahan, sebentar tinggi, sebentar rendah, ada iramanya. Kemudian ternyata semua pengemis memegang tongkat kecil, dengan itu mereka mengetuk batu hingga berlagu.
Oey Yong menghitung, setelah terdengar sampai delapanpuluh satu kali, suara itu berhenti serentak. Lalu kelihatan berbangkitnya empat pengemis yang usianya tinggi, keempat tiangloo, Lou Yoe Kiak serta tiga tiangloo lainnya yang Oey Yong mengenalinya dengan baik. Mereka itu berdiri di empat penjuru panggung. Semua pengemis pada berbangkit, dengan membawa tongkat ke depan dadanya, mereka memberi hormat sambil menjura.
Si tiangloo putih dan terokmok setelah menanti semua pengemis berduduk pula, lantas berkata dengan nyaring:
"Saudara-saudara, Thian telah melimpahkan bahaya untuk Kay Pang kita, Ang Pangcu kami telah berpulang ke langit di Lim-an!"
Mendengar warta itu, semua pengemis berdiam, hanya seorang yang kemudian berteriak keras, terus ia roboh ke tanah, setelah mana semua pengemis pada menumbuki dadanya, semua menangis sedih, ada yang menggerung-gerung, ada yang mambanting¬-banting kaki. Tangisan mereka itu berkumandang jauh.
Kwee Ceng kaget sekali. "Aku tidak dapat mencari suhu, kiranya ia telah menutup mata…" pikirnya. Ia pun menangis, hanya tidak dapat bersuara sebab mulutnya tersumbat.
Oey Yong bercuriga. Ia pikir: "Kami tidak dapat mencari suhu, musathil mereka bisa! Mungkin kawanan manusia jahat ini lagi mengelabui orang banyak…"
Tengah orang sangat bersedih, Lou Yoe Kiak bertanya: "Pheng Tiangloo, ketika Pangcu berpulang ke dunia baka, adakah tiangloo melihatnya sendiri?"
Si tiangloo putih dan gemuk itu menyahut: "Lou Tiangloo, jikalau Pangcu masih hidup, siapa yang berani makan nyali macan tutul dan hati harimau untuk menjumpainya? Orang yang melihat sendiri Pangcu meninggal dunia berada di sini. Yo Siangkong, silahkan kau memberi keterangan kepada orang banyak!"
Seseorang lantas muncul di antara orang banyak. Dialah Yo Kang. Dengan memegang tongkat bambu, ia naik ke panggung. Semua pengemis berdiam, untuk memasang kuping.
Yo Kang berbatuk satu kali, baru ia mulai bicara. Ia kata: "Kejadiannya baru satu bulan yang lalu. Kejadiannya di kota Lim-an. pangcu telah berkelahi dan orang kesalahan memukul hingga ia mati." Mendengar itu, suara orang banyak menjadi riuh.
"Siapakah musuh itu?!" tanya mereka. Nyata mereka murka. "Lekas bilang, lekas! Pangcu demikian lihay, mungkinkah dia jatuh? Pastilah Pangcu telah dikepung ramai-ramai maka ia roboh!"
Kwee Ceng mendongkol mendengar keterangan Yo Kang itu. "Pada satu bulan yang lalu, suhu ada bersamaku! Ha, kiranya dia lagi main lagi!"
Yo Kang mengangkat kedua tangannya, ia menunggu sampai suara orang reda, baru ia berkata pula:
"Orang yang mencelakai hingga Pangcu mati adalah Tong Shia Oey Yok Su, pemilik dari Pulau Tho Hoa To, bersama tujuh imam bangsat dari Coan Cin Pay!"
Oey Yok Su sudah lama tidak meninggalkan pulaunya, antara kaum pengemis ini, dalam sepuluh, sembilan tidak ada yang mengenal dia, hanya Coan Cin Cit Cu sangat kesohor maka mereka mengenalnya. Mereka mau percaya ketua mereka kalah karena dikeroyok, maka itu mereka mencaci dan mengutuk, ada yang mau lantas pergi untuk menuntut balas.
Tentu saja mereka tidak tahu bahwa mereka lagi dipermainkan Yo Kang, yang mau mengadu mereka dengan Tong Shia dan Coan Cin Cit Cu. Tentang Kanlam Liok Koay, ia tidak takut. Yo Kang bertindak begini karena Ang Cit Kong terluka parah hajaran Kuntauw Kodok dari Auwyang Hong sedang Kwee Ceng, ia menyangka telah mati tertikam olehnya di dalam istana, siapa tahu kemarin ia menemui Kwee Ceng dan Oey Yong di Gak Yang Lauw, karena sudah kepalang, ia minta Pheng Tiangloo membekuk kedua orang itu dengan tipu, dengan liap-sim-hoat, yang mirip dengan ilmu sihir. Ia mengharap Tong Shia, Coan Cin Kauw dan Kay Pang nanti ludas bersama karena bentroknya mereka bertiga…….
Selagi suara orang berisik itu maka bangkitlah salah satu dari tiga tiangloo itu, ialah Kan Tiangloo.
"Saudara-saudara, mari dengar perkataanku!" ia kata. Ia telah putih kumis dan alisnya, tubuhnya tegar, di dalam partainya dia disegani. Maka semua orang lantas berdiam.
"Sekarang ini kita lagi menghadapi dua urusan sangat penting," ia berkata. "Kesatu untuk menuruti pesan Pangcu, yaitu memilih pangcu generasi kesembilanbelas. Kedua guna berdaya mencari balas untuk pangcu kita."
"Benar!" menyahut semua pengemis.
"Tapi kita mesti bersembahyang dulu untuk pangcu," berkata Lou Yoe Kiak. Ia menjumput lumpur, lalu bikin menjadi patung, mirip dengan patung Ang Cit Kong, ia meletakkan di atas panggung, terus ia mendekam di tanah dan menangis sedih. Semua pengemis turut menangis pula.
Oey Yong sendiri berpikir: "Hm, kamu gila! Suhu toh baik-baik saja, dia tidak mati, kenapa kamu tangisi? Kamu gila sudah mengikat aku dan engko Ceng, sampai kita tidak bisa bicara! Inilah kamu yang cari penyakit sendiri, sia-sia belaka kamu bersedih….."
Setelah orang menangis sekian lama, Kan Tiangloo menepuk tangannya tiga kali. Lantas semua orang berhenti menangis. Tiangloo ini berkata:
"Kita sekarang berapat di sini, kita sebenarnya harus mengangkat pangcu baru menurut petunjuk Ang Pangcu, karena Ang Pangcu telah menutup mata, kita harus menuruti pesannya saja, dan kalau pesannya tak ada, kita harus mentaati pemilihan oleh keempat tiangloo. Ini aturan kita turun-temurun. Benar begitu, saudara-saudara?"
Semua pengemis menyahuti membenarkan.
Kang Tiangloo lantas berkata pula: "Yo Siangkong, silahkan kau menyampaikan pesan dari Ang Pangcu!"
Dalam Kay Pang, pengangkatan pangcu baru adalah urusan paling besar dan penting. Pada itu tergantung makmur dan runtuhnya partai. Maka pangcu adalah yang memegang peranan paling penting. Pernah terjadi pangcu mereka yang ketujuhbelas, yaitu Cian Pangcu, meski dia gagah, dia lemah, pimpinannya tidak tepat, maka terjadilah bentrokan di antara kedua golongan Pakaian Bersih dan Pakaian Dekil hingga partai menjadi lemah. Ang Pangcu kemudian menguasai keadaan, dia melarang bentrokan. Dengan begitu, Kay Pang maju lagi. Maka sekarang, selagi menaruh perhatian besar, orang berdiam menanti perkembangan.
Yo Kang memegang Lek-tiok-thung dengan kedua tangannya, ia angkat itu tinggi di atas kepalanya, lalu ia berkata:
"Ang Pangcu kena dikeroyok oleh orang jahat, dia mendapat luka parah hingga jiwanya terancam bahaya. Kebetulan waktu itu aku yang rendah lewat di tempat kejadian, cepat-cepat aku menyembunyikan dia di rumahku, setelah dapat menipu musuh-musuh itu pergi, aku lantas mengundang tabib. Sayang, karena parahnya luka, pangcu tidak dapat ditolongi lagi……."
Mendengar itu, terdengar banyak keluhan.
Yo Kang berhenti sebentar, baru ia melanjutkan: "Ketika Ang Pangcu hendak menghembuskan napasnya yang terakhir, ia menyerahkan tongkat suci ini kepadaku dan dia menugaskan aku yang rendah untuk menerima tanggung jawab yang berat sebagai pangcu yang kesembilanbelas…"
Orang banyak menjadi heran. Tidak disangka, pangcu yang baru adalah pemuda ini yang mirip seorang sastrawan.
Yo Kang cerdik sekali. Setelah mendapatkan tongkat Lek-tiong-thung di rumahnya Sa Kouw di Gu¬kee-cun, ia mendapat kenyataan kedua pengemis gemuk dan kurus itu sangat menghormat padanya, segera ia mendapat pikiran. Lantas di sepanjang jalan ia menanya ini dan itu kepada mereka tentang tongkat itu. Kedua pengemis itu melihat orang memegang tongkat partainya, mereka menjawab segala pertanyaan. Dengan begitu tahulah Yo Kang tentang tongkat itu serta pengaruhnya. Maka ia pikir, selagi Kay Pang sangat besar dan berpengaruh, kenapa dia tidak mau memanfaatkannya? Bukankah Ang Pangcu telah mati dan tentang kematiannya itu tidak ada saksinya? Bagaimana besar faedahnya kalau ia yang menggantikan memegang pimpinan? Ia lantas mengambil keputusan, maka dengan mempengaruh ketiga tiangloo, hendak ia mewujudkan cita-citanya menjadi pangcu dari Kay Pang.
Kan Tiangloo, Pheng Tiangloo dan Nio Tiangloo percaya obrolan Yo Kang. Ini pun kebetulan sekali untuk mereka. Sebenarnya mereka ingin sekali diangkat menjadi pangcu, cuma di dalam hal ini, mereka malang sama Lou Tiangloo. Di bawah pimpinan Ang Pangcu, mereka menerima keadaan. Ang Pangcu dapat bertindak bijaksana, dia bisa mengimbangi keadaan, dia bersedia mengenakan baju bersih dan baju kotor bergantian.
Hanya diantara keempat tiangloo, dia sebenarnya menghargai Lou Yoe Kiak, cuma Yoe Kiak ini, cacatnya ialah tabiatnya keras dan terburu nafsu, beberapa kali pernah ia hampir menerbitkan onar, kalau tidak, pasti siang-¬siang ia sudah diangkat menjadi pangcu.
Untuk rapat besar di Gakciu ini, pihak Pakaian Bersih sebenarnya berkhawatir Lou Yoe Kiak yang nanti kepilih, ketiga tiangloo itu pernah memikir daya untuk mencegahnya, tetapi karena takut kepada Ang Cit Kong, mereka tidak berani bergerak. Maka mereka tidak sangka, sekarang muncul Yo Kang dengan tongkat suci mereka dan katanya Ang Pangcu telah terbinasa. Mereka berduka tetapi mereka tak melupakan urusan besar mereka. Mereka berlaku sangat hormat kepada Yo Kang. Mereka heran Yo Kang tidak mau menerangkan pesan pangcu mereka.
Mereka tidak tahu pemuda ini sangat licin. Baru tiba disaat rapat ini, Yo Kang menyebutkan pesan itu - pesan karangan otaknya sendiri. Mereka menyesal, yang mereka tidak terpilih, akan tetapi mereka dapat menghibur diri, sebab Yoe Kiak tidak terpilih juga. Maka, sambil memikir, mungkin di belakang hari mereka dapat mempengaruhi Yo Kang, mereka mengangguk tandanya mereka suka menerima si anak muda sebagai ketua mereka yang baru.
Kan Tiangloo lantas berkata: "Tongkat yang di pegang Yo Siangkong ialah tongkat sejati dari partai kita, tetapi kalau ada saudara yang menyangsikan, silahkan maju untuk memeriksa”.
Lou Yoe Kiak melirik Yo Kang. Ia sangsi pemuda ini dapat memimpin Kay Pang. Maka ia maju, memeriksa tongkat suci itu. Ia mendapat kenyataan kesejatian nya tongkat itu. Maka berpikirlah ia: "Tentulah Pangcu mengingat budi maka pangcu mewariskan tongkat suci ini kepadanya. Karena pangcu telah memesannya, mana dapat aku membantahnya?" Karena itu ia pun mempercayainya. Ia angkat tongkat ke atas kepalanya, dengan hormat ia menyerahkan kembali kepada Kan Tiangloo, yang tadi menyambuti itu dari tangan Yo Kang. Ia kata:
"Kami menurut kepada pesan Ang Pangcu, kami menjunjung Yo Siangkong sebagai pangcu kami yang kesembilanbelas!"
Mendengar ini semua pengemis berseru memperdengarkan persetujuan mereka.
Kwee Ceng dan Oey Yong tidak bisa bicara, juga mereka tidak bisa bergerak, bukan main mendongkol dan masgulnya mereka.
"Benar dugaan Yong-jie, Yo Kang ini bernyali besar, berani dia main gila seperti ini," pikir si anak muda. "Dia tentunya bakal mendatangkan onar besar."
Oey Yong sebaliknya lagi memikirkan, tindakan apa yang Yo Kang bakal mengambil terhadap mereka berdua, sebab tentulah mereka tidak bakal dilepaskan dengan begitu saja.
Yo Kang mengasih dengar suaranya: "Aku yang rendah, muda usiaku dan cupat pengetahuanku, tidak berani aku menerima tugas yang berat ini."
"Pesan Ang Pangcu demikian rupa, janganlah Yo Siangkong merendahkan diri," kata Pheng Tiangloo.
"Benar!" berkata Lou Yoe Kiak, yang lantas batuk satu kali, lalu ia berteriak dan meludah ke muka si anak muda.
Yo Kang tidak menyangka, tidak dapat ia berkelit, reak si pengemis tua nemplok di pipi kanannya. Ia menjadi kaget. Baru ia mau menanyakan ketiga tiangloo lainnya atau mereka itu pun bergantian telah lantas meludah kepadanya, setelah mana keempat tiangloo itu, dengan menyilang tangan, mereka lantas memberi hormat sambil berlutut dan mendekam. Yo Kang masih tidak mengerti, ia tetap berdiri tercengang.
Perbuatan keempat tiangloo ini disusul oleh semua pengemis lainnya, dengan mengikuti runtutannya, mereka itu menghampiri untuk meludahkan, setiap habis berludah, baru memberi hormat.
"Ini adalah cara meludah tanda hormat kepadaku?" Yo Kang tanya dirinya sendiri. Ia tidak tahu, demikianlah aturan yang dihormati Kay Pang, setiap pangcu baru mesti diperhina, sebab pengemis, mereka mesti bersedia menerima penghinaan khalayak ramai. Ia tidak tahu itulah semacam latihan kebathinan.
Selang sekian lama barulah semua pengemis memberi hormat, lalu ramailah suara mereka:
"Yo Pangcu, silahkan naik ke panggung Hian Wan Tay!"
Yo Kang melihat panggung tidak terlalu tinggi, hendak ia membanggakan kepandaiannya. Lantas ia menjejak kedua kakinya, mengapungkan diri, berlompat naik. Bagus caranya ia berlompat naik itu, karena ia mempunyai ilmu meringankan tubuh yang baik. Hanya di mata keempat tiangloo, terlihatlah kepandaiannya itu masih rendah, tetapi mengingat usianya yang muda, ia tidak dapat dicela. Keempat tiangloo itu percaya ia adalah murid seorang yang pandai.
Begitu lekas berada di atas panggung, Yo Kang mengasih dengar suaranya yang nyaring:
"Penjahat yang mencelakai Ang Pancu masih belum dapat dibinasakan tetapi dua pembantunya aku telah berhasil membekuknya!"
Mendengar itu, berisiklah semua pengemis, segera terdengar teriakan mereka: "Di mana? Di mana? Lekas cincang! Jangan lantas dihukum mati, hukum picis dulu biar dia tahu rasa!"
Kwee Ceng tidak menduga jelek, maka ia kata di dalam hatinya: "Aku hendak lihat siapa pembantunya pembunuh itu…."
Yo kang lantas berseru: "Bawa mereka ke depan panggung!"
Pheng Tiangloo lantas bertindak cepat kepada Kwee Ceng dan Oey Yong, dengan masing-masing sebelah tangannya, ia memegang dan mengangkat tubuh orang, buat dibawa ke depan panggung di mana ia menggabrukkan dua muda-mudi itu.
Sekarang baru Kwee Ceng sadar. "Ha, binatang, kiranya kau maksudkan kami!" ia mendamprat di dalam hatinya.
Lou Yoe Kiak terperanjat ketika melihat Kwee Ceng dan Oey Yong, yang ia kenali, maka ia lantas mengingat kepada keterangan Lee Seng. Ia lantas berkata:
"Pangcu, dua orang ini murid-murid Ang Pangcu! Cara bagaimana dapat mencelakai guru mereka?"
"Justru itulah sebabnya, yang membuat orang semakin gemas!" berkata Yo Kang.
Pheng Tiangloo pun berkata: "Pangcu melihatnya sendiri, mana bisa salah?"
Lee Seng dan Ie Tiauw Hian hadir di dalam rapat ini, keduanya lantas maju dan berkata:
"Harap pangcu ketahui, dua orang itu adalah orang-orang gagah, untuk mereka, kami berdua bersedia menanggungnya dengan jiwa kami. Pasti sekali kebinasaan Ang Pangcu tidak ada hubungannya sama mereka ini!"
"Kalau bicara, biarlah tiangloo kamu yang bicara!" Nio Tiangloo membentak. "Apa di sini dapat kamu campur mulut?!"
Kedua pengemis ini adalah dari golongan Pakaian Kotor dan berada di bawah pimpinan Lou Yoe Kiak, derajat mereka pun rendah, tidak berani mereka berbicara lebih lanjut lagi. Mereka mengundurkan diri dengan sangat penasaran.
"Di dalam hal ini bukan aku yang rendah tidak mempercayai Pangcu," berkata Lou Yoe Kiak kemudian, "Akan tetapi mengingat urusan membalas sakit hati ialah urusan sangat besar, aku mohon Pangcu nanti memeriksanya dengan seksama."
Yo Kang memang telah memikir, maka lantas ia menyahut: "Baiklah, nanti aku periksa." Kemudian ia mengawasi Kwee Ceng dan Oey Yong serta berkata: "Aku hendak menanya kamu, tidak usah kamu membuka mulutmu. Jikalau apa yang aku katakan benar, kamu mengangguk, kalau tidak, kamu menggoyang kepala. Jikalau kamu mendusta sedikit saja, ingat golok dan pedang tidak mengenal kasihan!"
Pangcu ini mengibaskan tangannya, maka Pheng Tiangloo dan Nio Tiangloo lantas menghunus senjata mereka, dipasang di punggung Kwee Ceng dan Oey Yong. Pheng Tiangloo memegang pedang, dan Nio Tiangloo mencekal golok.
Oey Yong gusar sekali hingga mukanya menjadi pucat. Ia lantas mengingat peristiwa di Gu-kee-cun, waktu dari lain kamar ia mendengari Liok Koan Eng berbicara sama Thia Yauw Kee, bicara hal lamaran sambil main mengangguk-angguk. Ia tidak menyangka, sekarang ia mesti mengalami kejadian itu.
Yo Kang tahu Kwee Ceng jujur dan polos dan dapat dipermainkan, maka ia memegang tubuh orang, untuk diangkat ke samping. Segera ia menanya dengan suaranya yang bengis:
"Bukankah anak perempuan ini anak kandung dari Oey Yok Su?"
Kwee Ceng menutup matanya, ia tidak mengambil mumat pertanyaan itu. Nio Tiangloo menekan dengan ujung goloknya.
"Benar atau tidak!" dia menanya. "Mengangguk atau menggoyang kepala?"
Kwee Ceng sebenarnya tidak niat membuka mulut, ketika ia berpikir, biarnya ia tidak dapat membuka, toh perkara akan menjadi terang juga. Maka ia lantas mengangguk.
Begitu melihat orang mengangguk, banyak pengemis lantas berteriak-teriak: "Buat apa ditanya lebih jauh! Lekas bunuh! Lekas bunuh!" Mereka itu mau percaya benarlah pangcu mereka telah terbinasa di tangan Oey Yok Su. Ada pula yang berteriak: "Lekas bunuh dia! Mari kita cari si tua bangka pembunuh itu!"
"Saudara-saudara, jangan berisik!" Yo Kang berkata. "Tunggu sampai aku selesai menanyakan dia terlebih jauh!"
Mendengar begitu, rapat menjadi sunyi lagi.
"Oey Yok Su telah tunangkan gadisnya kepada kau, benarkah?" Yo Kang menanya lagi. Ia telah memikir matang runtun pertanyaannya itu.
Kwee Ceng anggap itu benar, ia mengangguk lagi.
Yo Kang meraba pinggang orang, dari situ ia menarik keluar pisau belati yang tajam sekali.
"Inilah pisau yang dikasihkan kepadamu oleh Khu Cie Kee, salah seorang dari Coan Cin Pay, dan imam tua she Khu itu mengukir namamu di sini, benar?" Yo Kang tanya.
Kwee Ceng mengangguk.
"Ma Giok dan Coan Cin Cit Cu telah mengajari kau ilmu silat dan Ong Cie It, salah satu anggota lain dari Coan Cin Pay itu pernah menolong jiwamu! Bukankah kau tidak dapat menyangkal itu?"
"Perlu apa aku menyangkal?" pikir si anak pemuda yang polos itu. Dan ia mengangguk.
"Pangcu Ang Cit Kong menganggap kamu berdua orang baik-baik dan dia pernah mengajari ilmu silatnya yang istimewa kepada kamu, benar tidak?"
Kwee Ceng mengangguk.
"Ang Cit Kong telah dibokong musuhnya hingga dia terluka parah. Kamu berdua berada di samping orang tua itu, benarkah?"
Untuk sekian kalinya, Kwee Ceng mengangguk.
Semua pengemis menyaksikan dan mendengar pemeriksaan itu, selagi suara Yo Kang semakin bengis, Kwee Ceng terus mengangguk saja, dari itu mereka menyangka Kwee Ceng itu mengakui kesalahannya, mereka tidak memikir bahwa semua pertanyaan itu tidak ada hubungannya sama urusan Ang Cit Kong. Yo Kang tengah memainkan peranannya yang teratur. Mendengar itu, Lou Yoe Kiak pun kena terpengaruh hingga ia menjadi sangat membenci Kwee Ceng dan Oey Yong. Ia bertindak mendekati dan menendang Kwee Ceng beberapa kali.
Yo Kang tidak mencegah, ia berkata pula: "Saudara-saudara! Nyata dua bangsat ini berlaku terus terang, maka baiklah mereka dibebaskan dari siksaan terlebih jauh. Pheng Tiangloo, Nio Tiangloo, silahkan kamu turun tangan!"
Mendengar begitu, Kwee Ceng dan Oey Yong saling mengawasi sambil tersenyum sedih, hanya kemudian Oey Yong mendadak tertawa. Sebab ia ingat: "Aku yang mati bersama-sama engko Ceng, bukan putri Gochin Baki itu!"
Kwee Ceng lantas memandang ke langit, ia ingat ibunya yang berada jauh di gurun pasir. Ia mengawasi ke langit di mana tampak bintang-bintang bersinar. Maka ingatlah ia akan pertempuran hebat di antara Coan Cin Cit Cu dan Bwee Tiauw Hong dan Oey Yok Su. Siapa bakal mati, pikirannya menjadi jernih, demikian Kwee Ceng, ia menjadi ingat jelas barisan Thian Kong Pak Tuaw Tin dari Coan Cin Cit Cu itu. Sedang begitu, kedua tiangloo sudah siap untuk bekerja, Kwee Ceng pun telah dihampiri.
"Tunggu dulu!" mendadak terdengar cegahan Lou Yoe Kiak. Ia lantas mendekati Kwee Ceng, ia keluarkan biji yang menyumpal mulut anak muda itu. Ia lantas menanya: "Bagaimana caranya pangcu kami telah orang bikin celaka, kau tuturkanlah biar jelas!"
"Tak usah tanya, aku tahu semua!" berkata Yo Kang yang terkejut atas perbuatan Tiangloo itu.
"Pangcu," berkata Yoe Kiak, "Lebih jelas kita menanya dia lebih baik. Di dalam hal mengenai pangcu kita, siapa pun tidak dapat dilepaskan!"
Yo Kang berdiam. Permintaan Yoe Kiak ini pantas, tidak dapat ia melarangnya.
Kwee Ceng telah dibebaskan dari sumbatannya, ia masih tidak mau bicara, ia terus mengawasi langit di utara itu. Ia menjublak, hingga beberapa kali Yoe Kiak mengulangi pertanyaannya, ia seperti tidak mendengarnya. Karena sekarang ia lagi memahamkan keletakan bintang-bintang itu, tujuh bintang Pak-tauw, yang tepat sama barisan rahasianya Coan Cin Cit Cu. Ia tengah memperoleh kemajuan, maka ia tidak memperdulikan si tiangloo.
Oey Yong dan Yo Kang melihat orang tidak hendak menggunakan kesempatan yang baik itu untuk membela diri, yang satu berduka, yang lainnya bergirang. Tapi Yo kang tidak sudi menyia-nyiakan kesempatannya lagi, maka ia mengibaskan tangannya, memberi tanda kepada kedua tiangloo Pheng dan Nio untuk tidak menunda lagi dijalankannya hukuman mati.
Tepat ketika kedua tiangloo itu hendak mengayunkan senjatanya masing-masing, di situ terdengar satu suara yang diikuti berkelebatnya sinar merah tua melintas di permukaan telaga. Kedua tiangloo itu heran, mereka mengawasi. Lalu terlihat pula dua sinar biru meluncur ke udara, berpisah dari Kun San jauhnya beberapa lie. Terang sinar itu muncul dari tengah telaga.
Kan Tiangloo lantas berkata: "Pangcu, ada tetamu agung!"
Yo Kang terperanjat. "Siapakah?" tanya dia.
"Pangcu dari Tiat Ciang Pang!" sahut Kan Tiangloo.
"Tiat Ciang Pang?" Yo Kang menegasi. Ia tidak tahu halnya partai Tangan Besi itu.
"Itu sebuah partai besar di sekitar Su-coan dan Ouwlam," Kan Tiangloo menerangkan, "Pangcu mereka telah datang, dia harus disambut dengan hormat. Maka dua jahanam ini, baik kita tunda sebentar menghukumnya."
"Baiklah," sahut Yo Kang. "Silahkan tiangloo menyambut tetamu terhormat itu."
Kan Tiangloo lantas memberikan titahnya. Maka di atas sebuah gunung Kun San terlihat meluncurnya tiga buah panah api, yang warnanya merah.
Tidak lama dari itu terlihatlah datangnya perahu, yang terus mendekati tepian. Pihak Kay Pang memasang obor, mereka menyambut.
Panggung Hian Wan Tay ada di atas puncak Kun San, dari kaki gunung ke puncak, perjalanannya cukup jauh, maka itu meski tetamu lihay ilmunya meringankan tubuh, masih diperlukan waktu untuk mendakinya.
Kwee Ceng dan Oey Yong telah dibawa ke dalam rombongan orang banyak, mereka dijaga murid-murid Pheng Tiangloo.
Oey Yong mengawasi Kwee Ceng, ia heran sekali. Pemuda itu, seperti orang tolol, masih berdiam saja, dari mulutnya terdengar suara sangat perlahan, entah apa yang dikatakannya.
Tengah nona ini heran, ia melihatnya tetamu telah tiba. Obor ada sangat terang, maka terlihatlah tegas¬-tegas tetamu itu, yang diiringi beberapa puluh orang dengan pakaian hitam. Dia mengenakan baju kuning yang pendek, tangannya membawa kipas. Siapakah dia kalau bukannya Khiu Cian Jin?
Kan Tiangloo maju menyambut, ia bicara dengan ramah tamah, sikapnya sangat menghormat. Setelah itu ia memperkenalkannya kepada Yo Kang. Ia kata:
"Inilah Tiat Ciang Sui-siang-piauw Khiu Pangcu, yang kepalan saktinya tak ada tandingan, yang namanya menggetarkan dunia."
Yo Kang tidak memandang mata kepada tetamunya ini. Selama di Kwie-in-chung, Thay Ouw, ia telah menyaksikan orang turun merek. Ia tidak menyangka orang adalah pangcu dari suatu partai besar. Tapi karena orang telah datang berkunjung dan ia tuan rumah, ia berpura-pura pilon.
"Sungguh aku girang dengan pertemuan kita ini!" katanya, tertawa. Dengan mengulur tangan berjabatan tangan. Ia lantas mengerahkan tenaganya berniat membikin orang kesakitan dan menjerit karenanya. Di dalam hatinya ia kata: "Semua orang percaya kau lihay tetapi di sini hendak aku merobohkanmu! Inilah kesempatan yang baik sekali! Tua bangka, hendak aku meminjam kau untuk memamerkan kepandaianku di antara semua pengemis ini!"
Begitu lekas Yo Kang menggunakan tenaganya, begitu lekas ia merasa telapak tangannya panas, seperti terkena bara, maka lekas-lekas ia menarik pulang tangannya, akan tetapi tangannya itu seperti kena kecantol, tak dapat dilepaskan, sedang hawa panasnya jadi semakin hebat. Tanpa merasa ia menjerit:
"Aduh! Mati aku!" Mukanya lantas menjadi pucat, air matanya mengucur, saking sakitnya, pinggangnya menjadi lengkung, hampir dia pingsan.
Keempat tiangloo kaget, semua berlompat maju. Kan Tiangloo sebagai tertua di antaranya, dengan tongkat baja di tangannya menggetok batu gunung, hingga terdengar suara nyaring dan lelatu apinya muncrat, lalu ia menanya:
"Khiu Pangcu, Yo Pangcu kami masih sangat muda sekali, mengapa kau menguji kepandaiannya?"
Pangcu she Khiu ini menyahuti dengan dingin: "Aku berjabat tangan dengan baik-baik dengannya, adalah pangcu kamu yang telah mencoba aku. Yo Pangcu telah berminat meremas hancur beberapa tulangku yang tua!"
Sambil mulut mengatakan demikian, Khiu Pangcu tidak melepaskan tangannya, maka Yo Kang terus berteriak teraduh-aduh, suaranya makin perlahan. Rupanya ia tidak dapat bertahan lebih lama lagi, lantas dia pingsan.
Baru sekarang Khiu Cian Jin melepaskan tangannya, dengan disemperkan, maka Yo Kang yang sudah tak sadarkan diri, lantas terguling tubuhnya. Syukur Lou Yoe Kiak keburu lompat untuk memegangi.
Kan Tiangloo menjadi gusar. "Khiu Pangcu apakah artinya ini?" ia menegur.
"Hm!" ketua Tiat Ciang Pang itu mengasih dengar suaranya sedang tangan kirinya menyambar kemuka orang.
Kan Tiangloo mengangkat tongkatnya, untuk menangkis atau - dengan kesebatannya yang luar biasa - Khiu Cian Jin telah dapat menangkap tongkat orang, hanya belum sempat ia merampasnya, Kan Tiangloo sudah menarik keras sekali. Karena itu ia lantas mengayunkan tangan kanannya ke kiri, tepat mengenai tongkat itu. Kali ini Kan Tiangloo merasakan tangannya sakit, bahkan telapak tangannya itu pecah dan mengucurkan darah, hingga dia tidak dapat memegang lebih lama pula dan senjatanya itu kena juga dirampas. Bahkan dengan tongkatnya, tetamu ini lantas berhasil menangkis golok dan pedang Pheng Tiangloo dan Nio Tiangloo, yang telah segera menyerang sebab mereka ini menyaksikan rekan mereka sudah bertempur.
Khiu Pangcu lihay sekali hampir berbareng dengan itu, ia juga menyikut mukanya Lou Yoe Kiak, hingga dia ini mesti mundur juga. Semua pengemis menjadi kaget, semua lantas menghunus senjata mereka, bersiap untuk menyerbu asal ada titah dari ketua mereka.
Khiu Cian Jin mencekal tongkat dengan tangan kiri dan tangan kanannya, ia tertawa lebar dan panjang, sambil berbuat begitu ia mengerahkan tenaganya, sembari berteriak hendak membikin patah tongkat itu, tetapi ia tidak berhasil, karena tongkat itu terbuat dari baja pilihan, maka itu sesudah terus ia mengerahkan tenaganya, ia cuma bisa menekuk melengkung bundar beberapa lipat. Baru sekarang ia mengendorkan tenaganya, ia melemparkan tongkat dengan tangan kirinya, hingga tongkat terlempat mengenai batu gunung, keras suaranya, batu gunung itu pada meletik lelatunya, ujungnya tongkat nancap.
Menyaksikan semua itu, kaum Kay Pang jagi kaget dan kagum. Yang lebih kaget dan heran adalah Oey Yong. Nona ini kata dalam hatinya: "Tua bangka ini terang satu penipu besar yang tidak mempunyai guna, sekarang kenapa dia menjadi begini lihay? Sungguh aneh!"
Rembulan sedang bersinar terang sekali. Oey Yong memandang tajam kepada orang tua itu. Tidak salah, dialah Khiu Cian Jin si penipu yang dulu ia ketemukan di Kwie-in-chung dan Gu-kee-cun. Maka ia jadi berpikir, apakah juga penipuan belaka ilmu kepandaian orang ini?
Kemudian si nona menoleh lagi kepada Kwee Ceng, ia mendapat kenyataan pemuda itu masih saja mengawasi bintang-bintang di langit, hingga ia menjadi bingung. Ia tidak tahu, apa yang sebenarnya lagi dikerjakan kawannya ini.
Khiu Cian Jin dengan suaranya yang dingin, terdengar berkata: "Tiat Ciang Pang serta partai tuan-¬tuan tidak ada hubungannya satu dengan lain, karena aku mendengar hari ini ada Rapat Besar, aku sengaja datang berkunjung, karena itu kenapa pangcu kamu dengan tidak karu-karuan hendak merobohkan aku?"
Kan Tiangloo telah jeri, sekarang mendengar suara orang bukannya suara bermusuh, maka ia lantas memberikan penyahutannya. Ia kata:
"Khiu Pangcu salah paham! Pangcu kesohor di empat penjuru negeri, kami biasa sangat menhargainya, maka dengan kunjungan pangcu ini, bagi kami itulah suatu kehormatan besar."
Khiu Cian Jin mengangkat kepalanya, ia tidak menyahut, sikapnya jumawa. Hanya sejenak kemudian, baru ia membuka pula mulutnya. Ia kata:
"Aku mendengar kabar Ang Pangcu telah berpulang ke dunia baka, maka dengan begitu di kolong langit ini berkurang pula satu orang gagah, sungguh sayang! Sekarang partai kamu mengangkat satu pangcu yang baru seperti ini, ini pun sayang, sayang!"
Ketika itu Yo Kang sudah sadar, ia mendengar suara yang sangat menghina itu, akan tetapi ia tidak berani membuka mulut. Ia masih merasakan tangannya sakit, tangan itu bengkak berikut lima jejarinya.
Keempat tiangloo juga tidak tahu meski mengucap apa, maka terdengarlah Khiu Cian Jin berkata pula:
"Aku yang rendah hari ini datang berkunjung, ada dua maksudku untuk mana aku ingin memohon sesuatu. Untuk itu aku pun hendak menghadiahkan sesuatu."
"Tolong Khiu Pangcu memberi petunjuk," kata Kan Tiangloo yang belum tahu orang menghendaki apa.
Khiu Cian Jin tidak langsung menjawab, ia hanya menyapu dengan matanya kepada semua hadirin di seputar itu. Ketika ia melihat Kwee Ceng dan Oey Yong, lantas sinar matanya menjadi tajam sekali.
Oey Yong tidak takut, ia membalas mengawasi dengan tajam juga. Bahkan ia mengasih lihat senyuman memandang enteng. Ia telah pikir: "Buat kau beraksi bagaimanapun, aku tentu menganggapmu satu penipu besar!"
Khiu Cian Jin berpaling kepada Kan Tiangloo. "Nona kecil itu serta kawannya si bocah telah mencelakai beberapa muridku," katanya. "Maka dengan membesarkan nyali aku hendak minta mereka untuk aku menghukumnya."
Kan Tiangloo tidak berani mengambil keputusan. "Yo Pangcu, bagaimana?" ia menanya ketuanya itu.
"Dua orang ini sebenarnya musuh-musuh besar partai kami," berkata Yo Kang, "Maka aku tidak menyangka, mereka juga telah berdosa terhadap Khiu Pangcu. Kalau begitu mari kita menghukumnya bersama-sama!"
Khiu Cian Jin mengangguk. "Itu boleh!" katanya. "Sekarang permintaan yang kedua. Kemarin ada beberapa muridku yang lagi bekerja atas titahku, entah kenapa mereka menyebabkan kemurkaan dua anggota dari partai kamu, mata mereka telah dibikin buta!" Dia lantas menuding Kwee Ceng berdua dan menambahkan: "Kabarnya kedua bangsat itu telah membantu menurunkan tangan. Orang-orangku itu tidak punya guna, aku tidak bisa membilang apapun, hanya kalau kejadian ini sampai tersebar, tentulah kami Tiat Ciang Pang menjadi hilang mukanya, maka itu, aku si orang tua menjadi tidak kenal gelagat, aku ingin sekali belajar kenal dengan kepandaian kedua sahabat itu!"
Yo Kang tidak mencintai orang-orang Kay Pang, tidak ada niatnya untuk melindungi mereka, maka itu mana ia mau berbuat salah lagi hanya untuk dua orang? Maka ia lantas menanya:
"Siapakah sudah lancang menerbitkan onar, yang telah bentrok dengan sahabat-sahabat dari Tiat Pangcu? Lekas kamu keluar untuk memohon maaf dari Khiu Pangcu ini!"
Kay Pang itu semenjak dipimpin Ang Cit Kong belum pernah hilang muka, maka bukan main mendongkolnya semua anggota mendengar pangcu baru bersikap demikian lemah. Lee Seng dan Ie Tiauw Hin lantas maju ke depan. Lee Seng kata dengan nyaring:
"Harap dimaklumi pangcu. Peraturan partai kami yang nomor empat berbunyi menganjurkan kami berlaku mulia, kami mesti bisa menolong sesama yang berkesusahan. Kemarin kebetulan saja kami menyaksikan sahabat-sahabat dari Tiat Ciang Pang membikin celaka rakyat jelata dengan mengumbar ular, sebab kami tidak dapat menahan sabar lagi, kami lantas mencegah perbuatan mereka. Kebetulan di situ ada dua sahabat kecil ini, jikalau tidak ada mereka yang membantu, pastilah kami berdua pun terbinasa oleh ular-ular berbisa itu!"
"Tidak peduli bagaimana, kamu mesti menghanturkan maaf kepada Khiu Pangcu!" berkata Yo Kang bengis.
Lee Seng dan Ie Tiauw Hin saling mengawasi. Mereka menghadapi kesukaran, hati mereka panas sekali. Kalau mereka tidak menghanturkan maaf, mereka menentang titah pangcu; kalau mereka menurut, mereka sangat penasaran. Tapi tak lama Lee Seng bersangsi, ia lantas berseru kepada semua anggota partainya:
"Saudara-saudara, jikalau Ang Pangcu masih hidup, tidak mungkin kami dibiarkan hilang muka, maka sekarang, Siauwtee lebih suka terbinasa, tidak mungkin Siauwtee menerima penghinaan!"
Sembari berkata begitu, Lee Seng mencabut pisau belati dari betisnya, lantas menikam dadanya, ulu hatinya, maka di situ juga ia roboh dengan jiwa melayang. Menampak demikian, Ie Tiauw Hin menubruk saudaranya, untuk merampas pisau belatinya, kemudian ia pun menikam dirinya, maka ia juga roboh dengan jiwa melayang.
Semua pengemis terbangun semangatnya. Kejadian ini sangat hebat untuk mereka. Tapi mereka masih berdiam, tanpa ada titah pangcu, mereka tidak berani lancang.
Setelah menyaksikan semua itu, Khiu Cian Jin tertawa tawar. "Permintaanku yang kedua ini sudah beres," katanya. "Maka sekarang kami hendak menghanturkan bingkisan kepada partai tuan-tuan!"
Habis berkata, ia memberi tanda dengan tangan kirinya. Maka beberapa puluh orang bertubuh besar yang mengenakan pakaian hitam lantas maju bersama kopor mereka yang besar, yang lantas dibuka tutupnya, dari situ mereka mengambil masing-masing sebuah tetampan untuk diletakkan di samping Yo Kang. Itulah uang emas dan perak dan permata yang sinarnya berkeredepan!
Semua pengemis heran melihat orang mengeluarkan harta sebesar itu.
"Tiat Ciang Pang kami," berkata Khiu Cian Jin, "Meski kami masih dapat makan, tidak mungkin kami sanggup mengeluarkan bingkisan begini berharga, maka itu baiklah tuan-tuan ketahui, ini adalah hadiah dari Chao Wang negara Kim, yang meminta kami tolong menyampaikannya."
Mendengar keterangan ini, Yo Kang heran dan girang. "Di mana adanya Chao Wang?" ia menanya lekas. "Aku ingin bertemu dengannya!"
"Ini kejadian beberapa bulan yang lalu," menyahut Khiu Cian Jin, menyahuti apa yang tidak ditanya. Karena ia memberikan keterangannya. "Waktu itu Chao Wang telah mengirimkan utusannya kepadaku membawa bingkisan ini dan dia minta partaiku yang tolong menyampaikannya."
Mendengar itu, Yo Kang tahu bahwa hal itu terjadi sebelum ayahnya - ilaga Chao Wang - berangkat ke Selatan. Hanya ia belum tahu maksudnya mengapa Kay Pang dikirimi harta sebesar ini.
Khiu Cian Jin masih meneruskan keterangannya: "Chao Wang mengagumi partai tuan-tuan, maka ia memerintahkan secara istimewa untuk aku sendiri yang menyampaikan bingkisan ini."
"Jikalau begitu kami membuat capai saja kepada pangcu!" berkata Yo Kang girang.
Khiu Cian Jin tertawa. "Yo Pangcu muda nyata kau luas pandangannya, kamu menang jauh daripada Ang Pangcu!" ia memuji.
Yo Kang masih belum tahu maksud ayahnya berhubungan sama Kay Pang, maka ia menanya pula:
"Entah ada titah apakah dari Chao Wang untuk perkumpulan kami? Tolong pangcu menitahkannya saja!"
"Menitahkan, itulah tak dapat disebutkan," berkata Khiu Cian Jin. "Hanya Chao Wang memesan untuk memberitahukan bahwa wilayah utara ini tanahnya miskin dan rakyatnya melarat, jadi sukar untuk….."
Yo Kang cerdas, segera ia dapat menduga. "Jadi Chao Wang menghendaki kami pergi ke Selatan?" katanya.
"Sungguh Yo Pangcu cerdas sekali!" berkata Khiu Cian Jin, memuji. "Maaf untuk sikapku tadi. Chao Wang membilang bahwa propinsi-propinsi Kwietang dan Kwiesay serta Hokkien, tanahnya subur, rakyatnya makmur, maka itu ia bertanya kenapa saudara-¬saudara dari Kay Pang tidak mau pergi ke Selatan untuk menaruh kaki di sana? Wilayah Selatan jauh lebih menang daripada wilayah Utara ini."
"Terima kasih untuk petunjuk Chao Wang serta pangcu sendiri," berkata Yo Kang tertawa. "Percayalah, aku yang rendah pasti bakal menurutinya."
Khiu Cian Jin heran orang dengan gampang saja menerima hadiah, tetapi karena ia khawatir Kay Pang nanti menyesal, ia lantas berkata:
"Kata-kata seorang laki-laki cukup dengan sepatah kata! Dengan semua saudara dari Kay Pang berangkat ke Selatan, bukankah itu berarti bahwa kamu tidak bakal kembali ke Utara ini?"
Yo Kang hendak memberikan jawabannya ketika Lou Yoe Kiak memotong: "Harap pangcu mengetahuinya! Kami semua hidup dari mengemis, maka apa perlunya kami dengan uang emas dan barang permata? Lagi pula partai kita berada di seluruh negeri, kami merdeka, maka kapan kami pernah dipengaruhi orang lain? Oleh karena itu aku memohon pangcu memikirkan dengan seksama!"
Sekarang Yo Kang dapat menerka maksud Wanyen Lieh. Di Kangpak ini, yaitu utara Sungai Besar, Kay Pang menjadi musuh bangsa Kim, sering terjadi, kalau pihak Kim jauh ke utara, Kay Pang suka mengganggu mengacau bagian belakang, baik dengan membunuh punggawa perangnya maupun dengan membakar rangsum, maka kalau Kay Pang dipindah ke Selatan, gampanglah usaha bangsa Kim. Maka itu atas cegahannya Lou Yoe Kiak, ia berkata:
"Ini adalah maksud baik dari Khiu Pangcu, jikalau kita tidak menerima, itu tandanya kita berlaku tidak hormat. Uang emas dan perak dan permata ini, aku sendiri tidak membutuhkannya, maka Suwie Tiangloo, sebentar sebubarnya rapat, silahkan kamu membagi-bagikan kepada semua saudara!"
Tapi Yoe Kiak tidak memperdulikan perkataan pangcu baru ini. Ia berkata pula: "Ang Pangcu kami yang tua dikenal sebagai Pak Kay, maka itu usaha kita di Utara mana dapat gampang-gampang ditinggalkan secara begini? Lagi pula partai kita bercita-¬cita bersetia dan membela negara sedang dengan bangsa Kim, kita adalah musuh turunan, dari itu tidak dapat bingkisan ini diterima! maka tidak dapat kita pindah ke Kanglam!"
Yo Kang menjadi tidak senang, air mukanya menunjuki itu. Tapi belum lagi ia membuka mulut, Pheng Tiangloo sambil tertawa mendahului. Kata ini Tiangloo;
"Lou Tiangloo, urusan besar dari partai kita diputuskan oleh pangcu, bukan diputuskan kau seorang diri, bukan?"
Tetapi Yoe Kiak tetap sama sikapnya. Ia berkata keras: "Jikalau mesti melupakan kesetiaan dan kejujuran, biar mati, aku tidak suka menurut!"
"Ketiga tiangloo Kan, Pheng dan Nio, bagaimana pikiran kalian?" Yo Kang tanya ketiga tetua itu.
"Kami bersedia untuk titah pangcu!" menyahut ketiga tiangloo itu serentak.
"Bagus!" berseru Yo Kang. "Mulai tanggal satu bulan delapan, kita pergi menyeberang Sungai Besar!"
Atas perkataan itu, sebagian besar orang Kay Pang menjadi gaduh.
Di dalam Kay Pang ini, perbedaan di antara golongan Pakaian Bersih dan Pakaian Kotor nyata sekali. Golongan Pakaian Bersih, meski pakaian mereka banyak tambalannya, tetapi pakaian itu bersih seperti pakaian orang kebanyakan dan cara hidupnya sama dengan khalayak ramai, tidak demikian dengan golongan Pakaian Kotor yang teguh sama cita-citanya, sudah pakaiannya butut dan dekil, mereka tidak menggunakan uang untuk membeli barang, bahkan mereka tidak duduk bersantap bersama-sama dengan orang lain, mereka tidak akan bertempur bersama orang yang tidak mengerti ilmu silat. Benar di antara empat Tiangloo, tiga ada dari golongan Pakaian Bersih, walaupun demikian, jumlah pengemis Pakaian Kotor lebih banyak. Mereka inilah yang sekarang memberi suara setuju kepada Lou Yoe Kiak.
Melihat sikap sebagaian pengemis itu, Yo Kang menjadi bingung juga. Ketiga tiangloo she Kan, Pheng dan Nio lantas mengasih dengar suara nyaring mereka, meminta orang jangan gaduh, suaranya tidak diambil mumat. Kan Tiangloo menjadi habis sabar, maka ia memandang Lou Yoe Kiak.
"Lou Tiangloo, adakah kau hendak memberontak kepada pangcu?" dia tanya bengis.
"Biarnya aku dihukum picis, tidak akan aku berani melawan yang tua!" menyahut Yoe Kiak keren. "Apapula untuk memberontak terhadap pangcu, pasti aku lebih-lebih tak berani. Akan tetapi anjing Kim itu adalah musuh besar dari Kerajaan Song kita! Apa kata Ang Pangcu kepada kita?"
Kan Tiangloo bertiga kena terdesak, mereka lantas tunduk. Mereka mulai menyesal. Khiu Cian Jin melihat suasana itu, maka ia pikir usahanya bakal gagal kalau Lou Yoe Kiak tidak dipengaruhi, maka dengan tertawa dingin, ia berkata kepada Yo Kang:
"Yo Pangcu, hebat Lou Tiangloo ini!" Lalu menyusul penutup perkataannya itu, dengan kedua tangannya diulur ke arah pundak si tiangloo.
Ketika mendengar orang tertawa dingin, Lou Yoe Kiak sudah bercuriga, ia telah siap sedia, maka ketika ia diserang, dengan cepat ia berkelit sambil menunduk untuk nelusup masuk ke selangkangan orang. Sebab ia mengerti dengan baik, tidak bisa ia melawan dengan kekerasan. Sembari nelusup itu, tanpa menanti lempangnya pinggang, kakinya sudah menendang ke kempolan pangcu dari Tiat Ciang Pang. Dia bernama Lou Yoe Kiak, Lou si Mempunyai Kaki, dari itu bisa dimengerti ilmu dupakan itu.
Khiu Cian Jin heran untuk caranya orang berkelit itu, Guna melindungi diri, ia lantas mengayun tangannya ke belakang, guna menghajar kaki si pengemis.
Yoe Kiak tahu tangan lawan itu hebat, ia menarik pulang dupakannya ketiga. Ia khawatir kakinya nanti terluka. Sambil lompat ke samping, ia meludah kepada lawannya!
Khiu Cian Jin boleh gagah dan luas pengalamannya, akan tetapi serangan semacam itu ia tidak menyangka sama sekali, maka itu, belum sempat ia berkelit, mukanya sudah kena diludahi. Ludah itu tidak mendatangkan rasa sakit atau gatal, toh itu membuatnya tercengang.
"Lou Tiangloo, jangan kurang ajar kepada tetamu agung!" Yo Kang membentak.
Yoe Kiak masih taat kepada ketuanya, tetapi justru ia hendak merubah sikapnya, Khiu Cian Jin yang gusar sudah lantas menyerang, kedua tangannya yang kuat seperti kepit sudah menyambar ke arah tenggorakan. Ia kaget, maka ia berlompat jumpalitan untuk menghindarkan diri dari bahaya. Tapi ia terlambat, selagi kupingnya mendengar ejekan, "Hm!" kedua tangannya kena disambar lawan. Dalam kagetnya ia berontak, tetapi sia-sia saja. Ia sudah banyak pengalamannya, ia tidak menjadi bingung atau ketakutan, maka ia berdaya pula. Dengan tiba-tiba ia menyeruduk dengan kepalanya!
Semenjak masih kecil, Yoe Kiak sudah melatih kepalanya, maka serudukannya dapat menggempur tembok hingga bolong. Pernah ia bertaruh sama saudara-saudara separtai dengan melawan banteng, mengadu kepala, kepalanya sendiri tidak kurang suatu apapun, si kerbau sendiri roboh kelenger.
Hanya kali ini, ketika kepalanya mengenai perut, ia merasa membentur benda lunak seperti kapas. Ia kaget, mengerti bahaya, dengan lekas ia menarik pulang kepalanya. Betapa kagetnya, perut orang itu mengikuti kepalanya. Ia lantas mengerahkan tenaganya, untuk membebaskan kepalanya. Sebagai kesudahan dari pergulatannya itu, ia merasa kepalanya mulai panas sedang kedua tangannya yang terus dicekal menjadi panas sekali, seperti dimasukkan ke dalam perapian marong….
"Kau takluk atau tidak?!" tanya Khiu Cian Jin membentak.
"Bangsat busuk, takluk apa!" menjawab Yoe Kiak membentak juga.
Khiu Cian Jin mengerahkan tangan kirinya, maka lima jari Lou Tiangloo mengasih dengar suara meretak, kelima jarinya kena dipencet patah.
"Kau takluk atau tidak?!" tanya pula ketua Tiat Ciang Pang itu.
"Bangsat busuk, takluk apa!" Yoe Kiak membandel.
Khiu Cian Jin memencet pula, maka sekarang kelima jari kiri Lou Yoe Kiak yang pada patah. Ia merasakan sakit bukan main, ia sampai menjadi was¬was, tetapi ia bernyali besar dan besar kepala, ia terus masih mencaci.
"Jikalau aku menggerakkan perutku, kepalamu pun bakal remuk!" Khiu Cian in mengancam. "Aku mau lihat, kau masih dapat mencaci atau tidak….."
Disaat Lou Yoe Kiak menghadapi waktu kematiannya, di antara rombongan pengemis mendadak terlihat seorang berlompat maju - seorang yang tubuhnya tinggi dan dadanya lebar. Dialah si bocah Kwee Ceng!
Dengan tindakan lebar, Kwee Ceng segera menghampiri Lou Yoe Kiak, terus ia mengangkat tangannya yang kanan, dengan tiga kali beruntun menghajar kempolan si pengemis. Dia menghajar Yoe Kiak akan tetapi tenaganya itu tersalur, dari kempolan terus ke kepala, terus juga ke perut ketua Tiat Ciang pang, hingga tiga kali Khiu Cian Jin merasakan benturan yang kuat, hingga sekejap itu juga, buyarlah kekuatannya menempel dan menyedot.
Begitu lekas ia merasakan kepalanya merdeka, Yoe Kiak lantas mengangkat bangun tubuhnya, hanya kedua tangannya yang masih belum dilepaskan.
"Kau bukannya lawan dari Khiu Cianpwee, kau minggir!" berkata Kwee Ceng, yang sembari berkata telah menggenjot tubuhnya untuk berlompat, maka juga sebelah kakinya bisa mendupak pundak si pengemis.
Tendangan ini sama pengaruhnya seperti hajaran pada kempolan tadi. Tenaga si anak muda tersalurkan ke kedua tangannya Khiu Cian Jin, tidak peduli tangannya panas, ia merasakan sakit pada telapak tangannya, maka tanpa merasa, cekalannya menjadi kendor dan terlepas sendiri.
Loe You Kiak pun merasakan ia tak terpegang keras lagi, ia lantas menggunakan tenaganya membarengi berontak sambil berlompat mundur. Tapi karena ia telah tercekal keras dan kepalanya masih terasa pusing, kedua kakinya seperti tidak bertenaga, ia roboh sendiri.
Khiu Cian Jin terperanjat menyaksikan kepandaian Kwee Ceng. Ia mengetahui ilmu yang disebut "Kek san ta gu", atau " Memukul kerbau diantara gunung". Ilmu itu cuma mendapat dengar, sekarang ia membuktikannya sendiri. Ia pun heran melihat seorang bocah, yang ia tidak kenal. Karena ini ia menyiapkan tenaga di kedua tangannya, ia mengawasi pemuda itu. ia tidak berani sembarang menyerang meski sebenarnya ia mendongkol.
Sementara itu kegaduhan terbit di antara kaum pengemis. Mereka tidak tahu apa yang terjadi dengan Lou Yoe Kiak, mereka menyangka Kwee Ceng menyerang orang hingga roboh, pingsan atau terbinasa, maka dengan suara riuh mereka maju dengan niat menyerang si anak muda. Mereka juga heran anak muda itu yang teringkus sekian lama, mendadak dapat membebaskan diri.
Semenjak ia melihat bintang Pak Tauw, Kwee Ceng telah mengumpulkan semangatnya. Ia memperhatikan gerak-gerik rahasia dari Coan Cin Cit Cu, ia gabung dengan sarinya Kiu Im Cin-keng, yang ia telah paham betul, maka ia tidak memperdulikan segala apa yang terjadi di sekitarnya. Ia tidak mengambil mumat Oey Yong, ia tidak menggubris segala pembicaraan terutama diantara Loe Yoe Kiak dan Khiu Cian Jin. Hebat ia memusatkan pikirannya itu. Selagi Yoe Kiak terancam bahaya, ia sendiri lagi memecahkan suatu ilmu dari Kitab Bawah dari Kiu Im Cin-keng itu, bagian ilmu "Menyimpan otot dan meringkaskan tulang". Siapa yang paham ini, ia bisa membikin tubuhnya ciut menjadi kecil. Di dalam hal ini, ia memperoleh banyak sekali bantuan dari ilmu yang diwariskan Ang Cit Kong kepadanya, ialah "Ie Kin Toan Kut Pian", atau ilmu "Menukar otot dan melatih tulang". Dengan mempunyai dasar itu, ia berhasil dengan lekas sekali. Demikian tanpa ia merasa, ia dapat kembalikan tenaga dan tubuhnya mengkerat kecil hingga ia lolos dari belenggu. Sebab Yoe Kiak terancam bahaya, ia segera menghampiri tiangloo, untuk memberikan pertolongan.
Pheng Tiangloo yang ditugaskan menjaga Kwee Ceng pun heran dan kaget ketika mendadak mendapatkan bocah itu bebas. Ia menjambret, gagal, ia cuma bisa menyambar tambang ringkasannya itu. Ia sadar dengan lekas, hendak ia menyusul si anak muda, tapi ia terlambat, Kwee Ceng sudah mendahului melemahkan tenaga dalam dari Khiu Cian Jin hingga Lou Yoe Kiak dapat ditolong. Tapi ia licik. Begitu melihat suasana, ia berteriak:
"Tangkap penjahat licik itu!" Ia sendiri tidak bergerak dari tempatnya berdiri, karena ia merasa, majunya toh bakal sia-sia belaka.
Kwee Ceng menyesal menyaksikan aksinya kaum pengemis, tetapi karena ia justru ingin mencoba lebih jauh hasil latihannya barusan, ia kata dalam hatinya: "Kalau hari ini aku tidak memberi ajaran adat kepada kamu, kemendongkolanku tidak dapat dilampiaskan...." Maka ia mementang kedua tangannya sambil kakinya memasang kuda-kuda "Thian Koan".
Tujuh pengemis maju paling dulu, dari depan dan belakang, dari kedua samping. Kwee Ceng membiarkan mereka maju, dengan kuda-kuda tidak begeming, ia menyambut mereka dengan kedua tangannya. Di belakang mereka itu, ada lagi beberapa pengemis yang merapatkan diri. Mereka pun disambut serupa, dengan tangkisan atau sikut, kalau perlu barulah dengan dupakan. Maka saling susul mereka berteriak kesakitan, saling susul juga mereka roboh terguling. Dengan cara ini Kwee Ceng pun mengundurkan yang lainnya lagi. Kemudian ia memikir untuk menerkam Yo Kang, tetapi ia melihat dua pengemis berlompat ke arah Oey Yong. Jarak diantara mereka cukup jauh, sulit untuk berlompat menolong nona itu. Tidak ada jalan lain, ia lantas menarik copot kedua sepatunya, dengan itu ia menimpuk ke arah kedua penyerang itu.
Dua pengemis itu adalah orang-orang yang kukuh, mereka hendak membunuh si nona, ke satu untuk membikin si nona tidak keburu lolos, kedua untuk membalaskan sakit hati ketua mereka. Nyata ilmu silat mereka sudah cukup sempurna, mereka mendengar ada angin menyambar di belakang mereka, hanya ketika yang satu segera menoleh untuk melihat dan menangkis, tahu-tahu sepatu sudah menghajar dadanya sedang yang lain kena terhajar punggungnya.
Sebenarnya sepatu itu barang lembek tetapi ditimpuki Kwee Ceng, tenaganya besar luar biasa. Sambil menjerit, mereka roboh terjengkang dan tengkurap, dan untuk sementara mereka tak dapat merayap bangun. Pheng Tiangloo berada dekat dua pengemis itu, ia kaget menyaksikan lihaynya Kwee Ceng.
Kwee Ceng sendiri, habis menimpuk, lantas mementang sayapnya, menghalangi beberapa pengemis yang merangsak pula, terus ia berlompat menghampiri Oey Yong, membuka belunggu si nona.
Selama itu, kawanan pengemis menyerbu lagi. Mereka tidak menjadi takut melihat sejumlah kawannya kena dirobohkan dengan gampang.
Sekarang Kwee Ceng tidak melayani seperti tadi. Dengan lantas menjatuhkan diri, untuk duduk mendeprok di tanah, lalu sambil berduduk, ia meniru gerak-geriknya Khu Cie Kee dan Ong Cie It beramai ketika Coan Cin Cit Cu menggerakkan tangan kanannya, sebab tangan kirinya dipakai membuka ikatan Oey Yong, sedang tubuh si nona ia pangku di atas kedua pahanya. Ia dapat berbuat demikian karena sekarang ia menggunakan tipu ajarannya Ciu Pek Thong. Ialah ilmu memecah pemusatan perhatian, kedua tangan bisa dipakai berkelahi satu sama lain.
Rombongan pengepung pengemis itu jadi semakin banyak. Tetapi Kwee Ceng membela diri dengan tangan kanannya, tetap tangan kirinya membuka belenggu si nona. Ketika kemudian ia berhasil membuka semua ikatan, ia lantas mengeluarkan biji sumbatan dari mulut nona itu, sambil berbuat demikian, ia tanya:
"Yong-jie, apakah kau terluka?"
"Tidak, cuma aku merasa sekujur tubuhku kesemutan," menyahut si nona, yang terus merebahkan diri.
"Bagus!" berkata si anak muda. "Kau boleh beristirahat, kau lihat bagaimana aku melampiaskan kemendongkolan kita!"
Oey Yong menurut, ia beristirahat. Kuat sekali kepercayaannya kepada Kwee Ceng. Ia cuma memesan sambil tertawa:
"Kau hajarlah mereka, asal mereka jangan sampai terluka parah!"
"Aku mengerti," menyahut si anak muda. "Kau lihat!"
Dengan tangan kirinya, Kwee Ceng mengusap-usap rambut yang bagus dari si nona, tangan kanannya ia mengibas. Kontan tiga orang pengemis kena dibikin terlempar, habis mana menyusul empat pengemis lainnya, semuanya ialah yang merangsak rapat.
Pertempuran kacau itu menyebabkan terdengar satu suara nyaring: "Saudara-saudara, lekas mundur! Biarlah saudara dari generasi delapan yang melayani dua bangsat cilik ini!"
Suara itu ialah Kan Tiangloo. Suara itu ditaati, maka lekas semua pengemis mengundurkan diri, hingga tinggal delapan pengemis, yang masing-masing punggungnya menggendol delapan buah kantung goni. Karena ada dari generasi ke delapan, kedudukan mereka ini cuma ada di sebawahan keempat tiangloo. Di antara mereka itu ada si kurus dan si gemuk yang menyambut Yo Kang. Sebenarnya jumlah mereka semua sembilan orang akan tetapi dengan Lee Seng membunuh diri, mereka tinggal delapan.
Kwee Ceng tahu bakal melayani delapan musuh tangguh, sebenarnya ia hendak bangun berdiri tetapi Oey Yong berbisik kepadanya:
"Kau duduk saja! Layani mereka dengan sabar!"
Kwee Ceng suka menurut, akan tetapi ia segera berpikir: "Baiklah aku lantas merobohkan beberapa di antaranya supaya hati mereka kecil!" Maka sambil mata mengawasi delapan pengemis itu, tangannya memegang tambang yang dipakai mengikat si nona, Ia memperhatikan si gemuk dan si kurus, segera ia menyerang mereka dengan tambangnya. Ia menggunakan satu jurus dari Kim Liong Pian-hoat, atau ilmu silat cambuk Naga Emas, pengajarannya Ma Ong Sin Han Po Kie. Tambang itu lemas tetapi di tangan pemuda ini lantas menjadi kaku.
Melihat datangnya serangan, kedua pengemis itu berlompat untuk berkelit, setelah itu mereka maju merapatkan diri. Enam saudara mereka tapinya terpegat oleh ujung tambang, hingga mereka tak dapat lantas maju karena tertahan.
"Jangan menyerang!" Kan Tiangloo mencegah, tetapi sia-sia saja cegahannya ini, si kurus dan si gemuk yang penasaran, sudah maju terus. Mereka ingin sekali bisa merobohkan si bocah. Maka mereka disambut Kwee Ceng. Sia-sia mereka menangkis, pundaknya kena dihajar bergantian. Saking kerasnya hajaran itu, tubuh mereka terpental mundur, hanya ada perbedaannya, si gemuk terpendal lebih dekat, si kurus lebih jauh. Bagusnya untuk mereka, tubuh mereka kena membentur orang-¬orangnya Khiu Cian Jin.
Mulanya ketua dari Tiat Ciang Pang tidak memperdulikan orang terpental, hanya setelah terjadi benturan, baru ia kaget, lagi-lagi Kwee Ceng menggunakan tipu silatnya "Kek san ta gu" itu. Ia kaget karena ia menginsyafi hebatnya hajaran semacam itu.
Untuk menolong orangnya, Khiu Cian in lantas berlompat, tetapi ia terlambat, kedua pengemis itu sudah berlompat bangun tanpa mereka terluka. Adalah dua orang Tiat Ciang Pang, yang dibentur mereka yang menjadi korban, malah mereka ini pada putus ototnya dan patah tulangnya, hingga mereka mesti rebah terus di tanah.
Ketika si ketua kaget, ia terkejut pula karena kupingnya mendengar angin menyambar. Segera ia menoleh, maka segera ia melihat terlemparnya tubuh dua pengemis lain! Itulah hebat! Lagi-lagi orangnya yang bakal menjadi korban. Tidak ayal lagi, ia lompat maju. Pengemis yang satu ia sampok, membikin ia terlempar ke tempat kosong, dan pengemis yang kedua, ia hajar punggungnya. Syukur untuk pengemis yang kedua ini, tenaga Khiu Cian Jin berimbang sama tenaga Kwee Ceng, dia tidak terluka, dia jatuh dengan perlahan, lantas ia lari pula ke arah si anak muda.
Empat tiangloo dan Oey Yong heran. Keempat pengemis ini tidak mengerti kenapa bocah itu demikian lihay dapat bertahan terhadap ketua Tiat Ciang Pang yang sangat lihay. Oey Yong heran, ia berpikir: "Penipu besar ini biasa saja kepandaiannya, mengapa ia dapat menandingi engko Ceng? Ini aneh!"
Sampai di situ, Khiu Cian Jin mengipas tangannya, memberi tanda untuk orang-orangnya jangan bergerak. Ia menginsyafi, kekuatannya berimbang sama kekuatan si anak muda, jadi percuma orang¬-orangnya menerjang. Ia tahu mereka itu bergusar karena robohnya dua saudaranya. Ia berdiri diam saja menonton.
Empat pengemis generasi ke delapan itu heran untuk ketangguhan si anak muda, tetapi mereka melawan terus. Mereka dibantu oleh saudaranya, yang tadi dihajar punggungnya oleh Khiun Cian Jin. Berlima mereka mengepung, tapi hasilnya tak ada.
Coba Kwee Ceng tidak berlaku murah, siang-siang tentulah mereka sudah mendapat hajaran. Kemudian Kwee Ceng merobohkan lagi dua orang lawan. Baru sekarang tiga yang lainnya jeri dan mundur, tetapi mereka terlambat. Dengan menggunakan tambangnya, Kwee Ceng menyambar dan melilit kaki dua pengemis, terus ia menariknya orang ke sisinya, terus ia meringkus mereka.
Oey Yong gembira sekali menyaksikan kemenangan dari engko Cengnya itu. Ia lantas ingat kepada Pheng Tiangloo, si pengemis yang wajahnya berseri-seri, yang menangkap dia berdua dengan Kwee Ceng dengan caranya yang aneh itu. Ia sekarang ingat akan hal ayahnya pernah bicara tentang Liam-sim-hoat, semacam ilmu sihir dengan apa orang dapat dengan tiba-tiba dibikin tidur dan dipermainkan tanpa berdaya. Maka ia lantas tanya Kwee Ceng apa di dalam Kiu Im Cin-keng ada disebut tentang itu macam ilmu gaib. Ia percaya betul Pheng Tiangloo telah menggunakan ilmu itu.
"Tidak," Kwee Ceng menyahut.
Mendapat jawaban ini, si nona menyesal. Tapi segera ia memberi peringatan: "Hati-hati dengan pengemis jahat yang gemar berseri-seri itu, jangan mengadu sinar mata dengannya!"
Kwee Ceng mengangguk. "Aku justru hendak memberi hajaran kepadanya," katanya perlahan.
Karena sekarang pertempuran sudah berhenti, ia memegang punggung si nona, untuk dikasih bangun, ia sendiri berbareng berbangkit. Lalu dengan mengawasi Yo Kang, ia bertindak kepada si anak muda.
Yo Kang sendiri telah berdebaran hatinya semenjak tadi. Ia jeri untuk lihaynya si anak muda, maka ia mengharap-harapkan kemenangan pihaknya sendiri, ialah pihak pengemis. Maka kesudahannya itu membuatnya takut, lebih-lebih ia melihat anak muda itu mendatangi ke arahnya dengan matanya yang tajam.
"Su-wie Tiangloo!" ia lantas berteriak. "Kita di sini ada banyak orang gagah, apakah dapat bangsat kecil ini dibiarkan banyak bertingkah?!" Ia berteriak tetapi ia mundur ke belakang Kan Tiangloo.
"Tabahkan hati, Pangcu," kata Kan Tioangloo dengan perlahan. "Biar bangsat kecil itu gagah, dia tidak akan sanggup melawan kita yang berjumlah besar. Mari kita lawan dia dengan bergantian!" Dan lantas dia berteriak: "Murid-murid kantong delapan aturlah Barisan Tembok!"
Titah itu ditaati, lantas muncul seorang pengemis dengan kantung delapan. Majunya dia ini diturut oleh belasan pengemis lain, yang mengatur diri dengan rapi, ialah mereka yang bergandengan tangan, jumlah semua enam atau tujuhbelas orang. Mereka lantas maju untuk menerjang Kwee Ceng, majunya sambil berseru nyaring.
Oey Yong berseru heran, ia berkelit ke kiri, sedang Kwee Ceng ke kanan. Segera di arah kiri dan kanan itu, atau timur dan barat, muncul masing-masing satu barisan seperti yang pertama itu, yang menyerang dengan hebat.
Menampak cara penyerangan yang aneh dan teratur itu, Kwee Ceng tidak berkelit lagi, ia mencoba mengajukan kedua tangannya, guna menahan mereka. Segera ternyata, barisan itu berat sekali, mereka dapat ditolak mundur. Sebaliknya, selagi mereka ditolak, dua barisan yang lain lantas maju pula. Karena terlambat sedikit, si anak muda kena dibikin terhuyung. Terpaksa ia berlompat tinggi, melewati kepala mereka. Baru ia menaruh kaki di tanah atau telah datang pula pasukan yang keempat. Lagi-lagi ia berlompat pergi. Lagi-lagi ia diserang barisan yang serupa. Maka, ke mana ia menyingkir, di sana ia dipegat dan diserbu apa yang dinamakan Barisan Tembok itu.
Juga Oey Yong mengalami serbuan yang serupa. Ia lebih gesit daripada Kwee Ceng tetapi ia kewalahan. Akhirnya ia lompat kepada si anak muda, untuk mempersatukan diri. Karena ini, bersama-sama mereka kena didesak mundur. Mereka mundur terus hingga di pojok batu gunung.
"Engko Ceng, mundur ke jurang!" Oey Yong berkata.
Kwee Ceng belum bisa menerka maksud si nona tetapi ia menurut, ia mundur ke arah jurang seperti si nona. Ketika mereka akan sampai di tepian, lagi lima atau enam kaki, mendadak pihak penyerang menghentikan desakannya. Ia lantas berpaling ke belakang. Baru sekarang ia mengerti. Ia kata dalam hatinya: "Di sini ada jurang, kalau mereka mendesak tanpa sanggup mempertahankan kakinya, tentu mereka bakal terjerunuk ke dalam jurang!"
Pemuda ini lantas memandang ke Oey Yong, hendak ia memuji ke cerdikan orang, atau ia tak jadi memuji. Roman bergembira dari si nona lekas berubah menjadi guram. Ia menoleh lagi ke arah musuh. Sekarang ia mendapatkan musuh maju dengan perlahan-lahan, musuh itu berlapis-lapis. Ini benar-¬benar berbahaya. Berdua mereka bisa dipaksa jatuh sendiri ke dalam jurang, sedang untuk berlompat di atasan kepala dari selapis dari seratus orang, itu tak dapat.
Selama di gurun pasir, Kwee Ceng pernah mengikuti Ma Giok berlari-lari di tepian jurang, maka itu, ia lantas memperhatikan jurang itu. Ia mendapat kenyataan keadaan jurang kalah daripada jurang di gurun pasir itu. Maka ia lantas mendapat pikiran.
"Yong-jie!" ia berkata. "Lekas kau naik ke punggungku. Mari kita pergi!"
"Tidak bisa!" kata si nona menghela napas. "Mereka bisa menyerang kita dengan batu…!"
Kwee Ceng pikir itulah benar juga. Ia menjadi bingung. Tapi justru itu, ia ingat suatu bagian dari Kiu Im Cin-keng.
"Yong-jie," ia berkata. "Aku ingat di dalam Kiu Im Cin-keng, ada ilmu yang disebut Ilmu memindah Arwah, mungkin itu sama dengan ilmu Liam-sim-hoat yang kau tanyakan tadi. Baik, mari kita mencoba…."
Tetapi si nona masih berduka. "Mereka semua adalah murid yang dicintai suhu, apa gunanya membinasakan mereka apa pula di dalam jumlah yang banyak?"
Tetapi Kwee Ceng tidak memperdulikan lagi si nona. Mendadak ia memeluk tubuh orang sambil ia berbisik:
"Lekas lari!" Menyusul itu, ia mencium pipi si nona yang nempel sama hidungnya itu selagi ia berbisik, lalu dengan mengerahkan tenaganya, ia melemparkan nona itu ke atas panggung Hian Wan Tay!
Oey Yong telah membikin tubuhnya enteng, maka tubuhnya melayang ke arah panggung. Ia mengerti maksud Kwee Ceng, yang mau melawan sendiri semua lawannya, agar ia menyingkir terlebih dahulu. Ketika ia sampai di panggung, dengan enteng ia menaruh kakinya. Sesaat itu, ia menjadi tidak karuan rasanya. Tapi ia segera melihat Yo Kang di pojok panggung itu, dengan tangan memegang Lek-tiok-thung, orang she Yo itu lagi memegang pimpinan pada barisan pengemis. Ia lantas mendapat pikiran. Terus ia menjejak lantai, berlompat kepada anak muda itu, tangannya diulur menyambar tongkat suci kaum Kay Pang.
Yo Kang terkejut melihat tahu-tahu si nona berada di atas panggung, ketika tubuh orang hampir sampai, ia hendak menghajarnya dengan tongkatnya, tetapi tangan kanan si nona, dengan dua jari terbuka, meluncur ke arah kedua matanya. Juga kaki kiri si nona dipakai menjejak tongkatnya.
Dalam kagetnya, saking takutnya, Yo Kang melepaskan tongkatnya dan ia sendiri lompat turun dari panggung. Meski begitu, ia masih kalah sebat oleh si nona, matanya toh kebentur juga jari si nona, hingga ia merasakan sangat sakit, kedua matanya menjadi gelap.
Oey Yong telah mengeluarkan jurus "Dari mulut anjing galak merampas tongkat". Itulah salah satu jurus terlihai dari ilmu tongkat "Ta Kauw Pang-hoat" Jangan kata baru orang dengan ilmu silat seperti Yo Kang itu, biar yang terlebih pandai, sukar untuk meloloskan diri.
Oey Yong segera mengangkat tinggi tongkat sucinya itu, ia berseru: "Saudara-saudara Kay Pang, lekas kamu menghentikan pertempuran! Ketahuilah oleh kamu, Ang Pangcu masih belum meninggal dunia! Semua adalah bisanya ini manusia jahat!"
Suara itu terang terdengar, semua pengemis menjadi heran. Dengan serempak, mereka menghentikan aksi mereka. Semua orang lantas mengawasi ke arah panggung, hati mereka ragu-ragu. Benarkah kabar girang itu - artinya pangcu mereka yang she Ang belum menutup mata?
"Saudara-saudara, mari!" Oey Yong memanggil. "Mari dengar aku bicara hal Ang Pangcu!"
Yo Kang mendengar suara nona itu, tetapi ia tidak dapat membuka matanya. Maka dari bawah panggung, ia berteriak:
"Akulah pangcu! Saudara-saudara dengar perintahku! Lebih dulu dorong itu bangsat laki-laki jatuh ke dalam jurang, baru bekuk ini bangsat perempuan yang ngaco-belo!"
Titahnya Yo Kang ini besar pengaruhnya. Walaupun ragu-ragu, bangsa pengemis itu tetap taat kepada ketuanya. Maka mereka maju sambil berseru-seru.
"Saudara-saudara, dengarlah!" Oey Yong berteriak pula. "Tongkat Kay Pang ada di tanganku, akulah pangcu dari Kay Pang!"
Semua pengemis itu melengak, tindakan kaki mereka berhenti sendiri. Memang belum pernah mereka mengalami peristiwa tongkat suci mereka kena dirampas orang.
Oey Yong berkata lagi: "Kay Pang kita telah malang melintang di kolong langit tetapi hari ini kita telah diperhina, dibuat permainan oleh orang luar, bahkan dua saudara Lee Seng dan Ie Tiauw Hin dipaksa membuang jiwanya dengan cuma-cuma! Dan Lou Tiangloo pun telah terluka parah! Kenapakah itu? Apakah sebabnya itu?"
Kata-kata itu berpengaruh juga, maka ada separuh dari Kay Pang mengawasi si nona untuk mendengar pembicaraannya terlebih jauh.
"Sebabnya ialah karena manusia licin she Yo telah bersekongkol dengan pihak Tiat Ciang Pang!" berkata pula Oey Yong dengan nyaring. "Orang she Yo ini telah menyiarkan cerita burung bahwa Ang Apngcu meninggal dunia! Tahukah saudara-saudara siapakah orang she Yo ini?"
"Siapakah dia? Siapakah dia?" banyak suara bertanya. "Lekas bilang, lekas!"
Tapi ada juga yang berseru. "Jangan dengar ocehannya bangsat perempuan ini, dia lagi mengacau pikiran kita!"
Maka itu, suara mereka menjadi berisik. Oey Yong tidak menghiraukannya. Ia berkata pula:
"Dia bukan orang she Yo, dia sebenarnya she Wanyen! Dialah putra dari Pangeran Chao Wang dari negara Kim! Dia tengah beraksi untuk merampas Kerajaan Song!"
Kawanan pengemis itu melengak tetapi mereka tidak berani lantas mempercayai. Oey Yong berpikir cepat. Ia pun mengerti, sukar untuk lantas merebut kepercayaan orang banyak. Maka ia membutuhkan bukti. Ia lantas merogoh ke dalam sakunya. Ia merasa bersyukur barang-¬barangnya tidak terampas semua. Di situ masih ada tangan besi yang Cu Cong curi dari tubuhnya Khiu Cian Jin. Dia lantas mengangkatnya tinggi-tinggi. Ia lantas berkata nyaring:
"Lihatlah, barang ini apa! Baru saja aku merampas dari tangannya si orang she Yo ini! Lihatlah, semua saudara!"
Semua orang merangsak maju. Mereka terpisah cukup jauh dari panggung. Mereka ingin melihat tegas, barang apa itu. Lantas juga di antaranya ada yang berseru,
"Itu tangan besi! Kenapa barang itu ada padanya?"
"Nah, inilah dia!" berseru Oey Yong. "Dialah mata-mata dari Tiat Ciang Pang! Tentu saja dia membawa-bawa barang pertandaan dari partainya!"
Yo Kang kaget dan takut sekali. Segera ia mengayunkan sebelah tangannya, maka dua biji pusutnya menyambar ke arah si nona. Ia tidak bisa melihat tetapi ia bisa menduga orang berada di mana dengan mendengar suaranya saja. Ia pun berada paling dekat dengan nona.
Oey Yong bisa melihat menyambarnya senjata rahasia, yang mengeluarkan sinar berkeredepan, ia biarkan saja. Diantara pengemis ada yang berteriak-teriak:
"Senjata rahasia! Awas!" Ada pula yang menjerit: "Celaka!"
Dua batang senjata rahasia itu mengenai tubuh Oey Yong, terdengar suara yang nyaring, dan kedua senjata rahasia itu jatuh ke panggung, sementara si nona tidak kurang suatu apapun.
"Eh, orang she Yo!" Oey Yong menegur. "Jikalau kau bukan orang jahat, kenapa kau membokongku dengan senjata rahasia!"
Para Kay Pang menjadi heran, mereka jadi sangat bersangsi. Rata-rata mereka bertanya, siapa nona itu, dan apa benar perkataannya. Ada juga yang menanya, apa pangcu mereka - Ang Pangcu - belum mati. Maka itu, banyak mata lantas ditujukan kepada keempat tiangloo. Agaknya mereka ingin minta keempat tertua itu mengeluarkan pikirannya.
Karena kejadian ini, Barisan Tembok dari kaum Kay Pang itu pecah sendiri, dengan begitu ketika Kwee Ceng pergi ke pinggiran panggung, tidak ada orang yang ambil peduli.
Ketika itu Lou Yoe Kiak sudah sadar, maka keempat tiangloo lantas berbicara.
"Sekarang ini belum bisa didapat kepastian," berkata Yoe Kiak. "Maka itu baiklah kedua pihak ditanya dengan jelas. Yang paling penting ialah mencari tahu dulu benar atau tidak Ang Pangcu meninggal dunia…."
"Tetapi kita sudah mengangkat pangcu baru, mana dapat kita mengubahnya dengan sembarangan?" kata Kan Tiangloo bertiga. "Aturan kita turun-temurun, titah pangcu tidak dapat dibantah!"
Maka itu, keempat tiangloo itu pun menjadi terpecah dua. Kemudian ketiga tiangloo golongan Pakaian Bersih saling mengasih isyarat, terus mereka mendekati Yo Kang, terus Kan Tiangloo berseru:
"Kami cuma mempercayai perkataan Yo Pangcu! Entah darimana datangnya ini dukun perempuan, dia mengacau pikiran orang! Jangan dengarkan dia! Saudara-saudara bekuk dia! Bawa dia turun untuk dihajar!"
Tapi Kwee Ceng di bawah panggung berseru dengan bengis: "Siapa berani turun tangan?!"
Melihat orang bersikap garang, tidak ada pengemis yang berani naik ke panggung. Sementara itu Khiu Cian Jin bersama orang-¬orangnya semua berdiri diam di samping, jauh dari mereka. Ia senang menyaksikan peristiwa itu. Bukankah orang seperti lagi saling membunuh?
Oey Yong berkata pula: "Sekarang ini Ang Pangcu masih hidup, ia berada dengan tidak kurang suatu apapun di dalam istana di Lim-an! Pangcu kelewat gemar dahar barang santapan raja, ia tidak dapat membagi waktu untuk datang ke mari, maka itu ia mewakilkan aku. Kalau nanti Ang Pangcu sudah cukup dahar, ia pasti akan datang menemui saudara-saudara!"
Keempat tiangloo serta kedelapan pengemis kantung delapan itu tahu kegemaran pangcu mereka akan bersantap, keterangan Oey Yong ini dapat juga menarik kepercayaan mereka, maka pikiran mereka guncang pula.
Kembali Oey Yong berkata: "Orang she Yo ini sudah bersekongkol sama Tiat Ciang Pang, dia sengaja hendak mencelakai aku. Dia telah mencuri tongkat Pangcu untuk mengakali orang. Kenapa kamu tidak dapat membedakan apa yang benar dan apa yang salah dan kamu main percaya saja? Keempat tiangloo dari partai kita adalah orang-orang yang banyak penglihatannya dan luas pengetahuannya, mengapa kamu tidak dapat melihat ini suatu akal yang kecil sekali?"
Mendengar itu, semua mata lantas diarahkan kepada keempat tiangloo. Banyak mata yang bersinar ragu-ragu.
Yo Kang telah buntu jalan, dia norek. "Kau bilang Ang Pangcu masih hidup, habis kenapa dia menugaskan kau menjadi pangcu?" ia menanya. "Dia menghendaki kau menjadi pangcu, kau mempunyai bukti apa?"
Oey Yong membalingkan tongkatnya. "Inilah tongkat Tah-kauw-pang dari Pangcu! Mustahilkah ini bukan bukti?" berkata ia.
Yo Kang tertawa lebar. "Haha! Toh itu tongkat suciku, yang barusan kau merampasnya dari tanganku?" katanya. "Siapakah tidak menyaksikan itu barusan?"
"Jikalau Ang Pangcu menghendaki kau menjadi pangcu, mengapa dia tidak mengajari ilmu silat Tah Kauw Pang-hoat?" Oey Yong tanya. "Kalau benar dia mengajarinya, kenapa kau membiarkannya aku merampas?"
Mendengar orang menyebut ilmu silat Tah Kauw Pang-hoat, yaitu ilmu silat tongkat peranti mengemplang anjing. Yo Kang menyangka Oey Yong memandang hina tongkat itu, maka ia hendak membalikinya. Ia berteriak:
"Ini adalah tongkat suci dari Pangcu kami, kenapa kau menyebut-nyebut tongkat peranti mengemplang anjing? Ha, kau mengaco belo, ya! Sungguh berani kau menghina tongkat suci dari partai kami!"
Yo Kang bangga sekali. Ia menganggap dengan begitu ia telah menghormati tongkatnya itu. Ia mau percaya, tentulah orang-orang Kay Pang senang dengannya. Ia sama sekali tidak menyangka, bahwa selama di sepanjang jalan, si pengemis gemuk dan kurus sebenarnya tidak berani menyebut Ta Kuaw Pang kepada tongkat suci itu, hingga dengan begitu, ia sendiri jadi tidak tahu nama tongkat itu. Mendengar perkataannya ini, semua pengemis saling mengawasi, wajah mereka muram, suatu tanda mereka tidak senang hati.
Yo Kang dapat melihat sikap orang, ia mengerti bahwa ia tentu telah omong kurang tepat, hanya ia tak tahu di mana letak kesalahannya. Tidak pernah ia menyangka, tongkat suci yang dipandang keramat Kay Pang itu, namanya sebenarnya ialah Tah Kauw Pang alias tongkat peranti pengemplang anjing!
Oey Yong tersenyum. "Ha, buat apa banyak-banyak omong tentang tongkat suci ini!" katanya. "Jikalau kau menghendaki, kau ambillah!" Dan ia mengulurkan tangannya, menyodorkan tongkat itu.
Yo Kang menjadi girang sekali, meski begitu, ia tidak berani lantas naik ke panggung, ia jeri Kwee Ceng.
"Pangcu, kita nanti menjagai kau," Pheng Tiangloo berbisik. "Lebih dulu ambillah tongkat itu, baru kita bicara lagi." Habis berkata begitu, tiangloo ini mendahului berlompat naik.
Melihat demikian, Yo Kang yang sekarang telah dapat melihat pula, turut naik dengan diiringi Kan Tiangloo dan Nio Tiangloo.
Yo Kang dengan bersangsi, dia curiga orang nanti menggunakan akal, ia tidak langsung menyambut, lebih dulu ia bersiaga dengan tangan kiri, baru tangan kanannya diulur.
Oey Yong melepaskan cekalannya. Ia tertawa. "Apakah kau telah memegangnya erat-erat?" ia menanya.
"Kenapa?" tanya Yo Kang gusar, sedang tangannya memegang keras tengah tongkat.
Oey Yong tidak menjawab, hanya dengan tangan kirinya bergerak, kaki kanannya terbang, menyusul mana, tangan kanannya dilonjorkan, Dengan gerakannya itu pas berbareng cepat, tongkat suci kembali pindah ke tangannya tanpa Yo Kang mampu berdaya untuk melindunginya.
Kedua tiangloo she Pheng dan Nio kaget bukan main, mereka heran sekali. Cuma sekejap, tongkat telah berpindah tangan pula. Kan Tiangloo juga tidak kurang herannya. Bukankah mereka bertiga melindungi pangcu mereka yang muda itu?
Yo Kang bersangsi. Kang Tiangloo menggerakkan cambuknya sebat sekali, cuma sedetik, tongkat itu kena disambar, dililit dan ditarik, lalu dipegang tangannya. Menyaksikan itu, semua orang Kay Pang bersorak dengan pujian mereka. Kemudian tongkat dapat diserahkan kepada Yo Kang.
"Ketika Ang Pangcu menyerahkan tongkat ini kepadamu, mustahil ia tidak mengajari kau untuk memegangnya dengan erat?" tanya Oey Yong tertawa pada si anak muda. "Bukankah ia telah mengajari supaya kamu dapat melindunginya hingga tidak gampang-gampang kena orang rampas?"
Tepat selagi ia tertawa, kedua kaki si nona menjejak lantai, lalu tubuhnya melesat di antara Kan Tiangloo dan Nio Tiangloo, terus tiba di depan Yo Kang. Kan Tiangloo menyambar dengan tangan kirinya, guna menangkap si nona, tetapi tangkapannya gagal. Sebab nona itu tepat menggunakan jurus "Burung waket terbang berpasangan" ajaran Ang Cit Kong, tubuhnya lincah dan licin.
Bukan main heran dan kagetnya tiangloo itu, yang mengenal baik kepandaian sendiri. Hatinya tercekat. Justru itu mereka mendengar sambaran angin, hingga terpaksa mereka melompat mudur.
"Ini jurus yang dinamakan Tongkat mengemplang anjing sepasang," berkata si nona, yang tubuhnya melesat sedang barusan, dengan gerakan tongkatnya, ia sengaja membikin kedua tiangloo itu membuka jalan untuknya. Maka ia telah sampai di pojok timur dari panggung itu, tongkat Tah-kauw-pang tercekal di tangannya, cahayanya menyorot hijau di antara sinar rembulan. Demikian sebat si nona, tak ada orang yang melihat gerakannya itu.
Kwee Ceng lantas berseru: "Lihatlah! Kepada siapa Ang Pangcu telah menyerahkan tongkat Tah-kauw¬pang? Apakah masih belum cukup terang?"
Orang-orang Kay Pang menjadi kagum, heran dan bercuriga. Mereka telah menyaksikan jelas bagaimana caranya si nona merampas pulang tongkat itu dari tangan Yo Kang, sedang anak muda mereka itu - si pangcu baru - pun pandai ilmu silat dan dia juga dilindungi ketiga tiangloo. Lantas mereka ramai membicarakan itu.
Lou Yoe Kiak lantas berkata: "Saudara-saudara, apa yang diperlihatkan nona ini benar-benar adalah ilmu silatnya Ang Pangcu!"
Kan Tiangloo saling mengawasi dengan Pheng Tiangloo dan Nio Tiangloo, lalu ia berkata:
"Dialah muridnya Ang Pangcu, sudah tentu dia mendapat warisan pelajaran ilmu silatnya! Apakah yang aneh!"
"Semenjak jaman dahulu, Tah Kauw Pang-hoat tidak diwariskan kecuali kepada orang yang menjadi pangcu," berkata Lou Yoe Kiak. "Mustahilkah Kan Tiangloo tidak ketahui aturan itu?"
Kan Tiangloo tertawa dingin. "Nona ini mengerti beberapa jurus ilmu silat tangan kosong merampas senjata, belum tentu itu adalah Tah Kauw Pang-hoat!" ia berkata.
Yoe Kiak menjadi bersangsi, tetapi ia berkata kepada Oey Yong: "Nona, silahkan kau menjalankan ilmu silat Tah Kauw Pang-hoat. Kalau benar kau mewariskan ilmu silat itu, pasti pengemis di seluruh negeri bakal takluk kepadamu."
"Tetapi," berkata Kan Tiangloo yang licik, "Ilmu silat itu kita cuma baru mendengar namanya saja, belum pernah ada yang melihatnya, maka itu siapa berani memastikan itu tulen atau palsu?"
"Habis itu kau menghendaki apa?" Lou Tiangloo tanya.
Kan Tiangloo menepuk kedua tangannya satu dengan lain, ia kata dengan nyaring: Jikalau nona ini dengan ilmu silat tongkat itu dapat mengalahkan sepasang tanganku yang kosong ini, maka aku si orang she Kan barulah takluk benar-benar dan akan menjunjungnya sebagai pangcu kita! Umpama kata aku mengandung dua hati, biarlah laksana panah menancap di tubuhku dan ribuan golok menghukum picis mayatku!"
"Hm!" Yoe Kiak berkata, "Berapa tinggikah usia si nona ini? Meskipun dia pandai dengan ilmu silat tongkatnya, maka sanggup dia melayani kau yang sudah belajar silat beberapa puluh tahun lamanya?"
Selagi dua tiangloo ini berebut bicara, Nio Tiangloo si tabiat keras sudah habis sabarnya, dengan mendadak dia berlompat kepada Oey Yong sambil membacok dengan goloknya. Sembari menyerang, dia kata:
"Tulen atau tidaknya ilmu silat Tah Kauw Pang¬hoat itu akan terbukti setelah diuji! Maka lihatlah golok!"
Penyerangan itu hebat. Itulah penyerangan berantai tiga kali, sedang dilakukannya dengan cara seperti membokong.
Oey Yong dapat melihat serangan itu, dengan cepat ia menyoren tongkat di pinggangnya, dengan sebat ia berkelit, dan ia berkelit terus tiga kali, hingga ia bebas dari serangannya. Ia pun berkelit tanpa memindahkan kaki, cuma main mengegos tubuh.
"Apakah untuk melayani kau tepat aku menggunakan ilmu silat Tah Kauw Pang-hoat?" ia kata sambil tertawa. Kata-kata ini disusul gerakan tangan kiri dan kanan - tangan kiri menyerang, tangan kanan mencoba merampas golok!
Nio Tiangloo berkenamaan, ia menjadi gusar sekali, bocah cilik berani memandang dia sebelah mata, maka itu habis menyingkirkan goloknya, ia lantas menyerang pula. Tentu sekali, ia berlaku bengis.
Sekarang Kan Tiangloo tidak lagi memandang enteng kepada si nona, ia mau percaya, mengenai si nona, mesti ada apa-apa yang masih tersembunyi, dari itu, karena khawatir kawannya berlaku semberono, ia meneriaki:
"Nio Tiangloo, jangan kau berlaku telengas!"
Tapi Oey Yong sebaliknya memandang enteng, "Jangan sungkan-sungkan!" katanya tertawa. Sembari berkata dan tertawa itu, ia melayani si tiangloo. Karena orang bersenjata golok dan menyerang bengis, ia melawan dengan lebih banyak berkelit, setiap ada kesempatan, ia membalas, meninju atau menendang, atau ia menyikut atau memenggal. Dalam waktu yang pendek, ia mengasih lihat belasan macam jurus yang luar biada.
Semua pengemis menjadi seperti kabur matanya. Mereka heran dan kagum, apapula delapan pengemis kantung delapan itu.
"Ah, itulah Lian Hoa Kun!" yang satu berseru.
"Eh, itu toh pukulan gembolan kuningan?" kata si gemuk, yang turut menjadi kagum. Hanya belum ia menutup rapat mulutnya, Oey Yong sudah menukar lagi ilmu silatnya, hingga seorang pengemis lain berseru: "Ah, itulah ilmu silat Kun-thiang-kang dari Ang Pangcu!"
Ang Cit Kong itu adalah seoarang yang wajar, ia tidak suka menerima murid, kalau ada anggota yang berjasa, ia cuma mengajari satu atau dua jurus sebagai persen. Lee Seng bukannya seorang lemah, ia cuma diajarkan satu jurus dari Hang Liong Sip-pat Ciang, ialah jurus "Naga sakti menggoyang ekor".
Sudah begitu ada lagi satu tabiat aneh dari pangcu itu, ialah satu jurus yang diajarkan kepada satu orang, ia tidak suka mewariskan lagi kepada yang lain, maka juga, pelajaran yang didapat anggota-anggota Kay Pang, semua berlainan. Cuma Oey Yong yang menjadi murid istimewa, sebab ia pandai masak, dia dapat memincuk pangcu itu dengan pelbagai masakannya yang lezat, setiap kali ia masak, setiap kali ia memperoleh satu pelajaran.
Maka selama di Kiang Bio-tin, dia memperoleh puluhan macam jurus. Sekarang, di depan Kay Pang, ia sengaja pertontonkan ilmu silatnya itu, membikin orang kagum, heran dan tunduk. Maka setiap anggota Kay Pang, yang pernah memperoleh warisan dari Ang Cit Kong lantas memuji kalau ia melihat si nona menjalankan jurusnya itu. Maka itu, ramailah suara pujian, yang keluar saling susul.
Nio Tiangloo melihat itu semua, ia juga menjadi heran dan kagum, matanya pun seperti kabur, oleh karena itu, ia tidak mau berlaku sembrono lagi, tidak mau ia menyerang, ia selalu membela diri dengan menutup dirinya rapat-rapat.
Lagi beberapa jurus telah dilewatkan atau mendadak si nona berhenti bersilat, dengan menyilangkan kedua tangannya di depan dada, ia tertawa menanya:
"Apa kau suka menyerah kalah?"
Nio Tiangloo belum mengeluarkan seantero kepandaiannya, mana sudi ia menyerah kalah, bahkan kerena panas hatinya, ia lantas menyerang. Bacokannya ini hebat sekali.
Kan Tiangloo dan Lou Yoe Kiak kaget. "Tahan!" mereka berseru.
Pula banyak pengemis lainnya yang berteriak saking kagetnya. Selagi orang kaget dan berkhawatir itu, Oey Yong sendiri tidak menghiraukan datangnya bacokan yang diarahkan ke pundaknya yang kiri.
Nio Tiangloo sendiri pun menyesal, tetapi ia tidak dapat menarik pulang bacokannya itu, maka tepat sekarang si nona kena dibacok, sebab ia nampak tidak berkelit atau menangkis.
Baru Nio Tiangloo menyesal atau mendadak tangannya dirasai lenyap tenaganya, goloknya itu terlepas dari cekalan, jatuh dengan mengasih dengar suara nyaring di lantai panggung. Ia tentu tidak tahu nona lawannya itu mengenakan pakaian dalam joan-wie-kah, jangan kata golok biasa, golok mustika pun tak mungkin memakan. Berbareng dengan menyesalnya itu, sikutnya telah ditotok si nona menggunakan ilmu totok warisan ayahnya "Lan¬hoa-hoet-hiat-ciu", ilmu menotok jalan darah Bunga Anggrek.
Dengan lantas Oey Yong mengulurkan kakinya, menginjak goloknya si pengemis tertua itu, kepalanya dimiringkan, sembari tertawa, ia menanya,
"Bagaimana?"
Nio Tiangloo tercengang, lalu tanpa membilang apa-apa, ia lompat mundur. Waktu itu Khiu Cian Jin dari tempatnya menonton mengasih dengar suaranya yang nyata sekali:
“Orang memakai mustika dari Tho Hoa To, atau tidak membacok kepalanya, mana bisa kau melukai dia?"
Kan Tiangloo tunduk, ia berpikir.
"Bagaimana, kau percaya aku tidak?" tanya Oey Yong tertawa.
Lou Yoe Kiak mengedipi mata kepada si nona, untuk menyudahi saja. Ia tahu, dalam ilmu silat, nona ini kalah jauh dari Nio Tiangloo, maka kemenangannya itu mesti karena suatu tipu daya. Atau sedikitnya, akan sama tangguhnya. Dilain pihak, Kan Tiangloo jauh lebih lihay daripada Nio Tiangloo. Maka ia bergelisah melihat si nona tidak menggubris isyaratnya. Hanya celaka untuknya, untuk turun tangan, ia tidak sanggup, tangannya yang diremas Kiu Cian Jin, masih terasa sakit sekali, bahkan semakin sakit, hingga ia mengeluarkan keringat dingin di sekujur badannya, hingga tak bisa ia membuka mulut.
Akhirnya Kan Tiangloo mengangkat kepalanya. "Nona marilah aku belajar kenal denganmu!" ia berkata.
Kwee Ceng melihat tegas tiangloo itu, ia percaya Oey Yong tak sanggup melawannya, maka itu, ia hendak menggantikan nona itu. Maka ia lantas menjumput tambang kulit yang dipakai meringkus dirinya, dengan satu gerakan tangan, ia membikin ujung tambang menyambar tongkat Kan Tiangloo yang tadi oleh Kiu Cian Jin dibikin nancap di batu gunung, sambil membentak, ia menarik dengan kaget. Maka tongkat itu tercabut, terlempar ke arah si tiangloo. Disaat itu ia berlompat ke depan Kan Tiangloo, ia menyambar dengan sambaran "Menunggang enam naga", suatu jurus dari Hang Liong Sip-pat Ciang, setelah itu, dengan tangan kiri memegang kepala tongkat dan tangan kanan mencekal bututnya, yaitu ujungnya, ia membikin gerakan memutar. Maka itu dilain saat, tongkat yang telah melilit melengkung lantas menjadi pulih keadaannya, lempang seperti biasa. Segera setelah itu, ia menyerukan,
"Sambutlah!" dan tongkat itu ia lemparkan kepada pemiliknya.
Kan Tiangloo terkejut. Ia tahu, kalau ia menyambut, tangannya bisa terluka. Maka dengan lantas ia berkelit, sambil berbuat begitu, ia berseru kepada orang¬-orangnya dibawah panggung, menitahkan mereka lekas menyingkir. Kalau tidak, mereka atau beberapa di antaranya bisa terhajar tongkat itu.
Akan tetapi tongkat itu tidak sampai mendatangkan bencana. Oey Yong dengan sebat sekali, dengan cara pandai, telah mengulurkan Lek-tiok-thung di tangannya, menyambar bagian tengah dari tongkatnya Kan Tiangloo, lalu dengan gerakan menarik sambil memutar, membuat tongkat tertahan dan kena tertekan hingga turun di lantai.
Gerakan nona Oey ini adalah jurus "Menindih punggung anjing", dari ilmu silat Tah Kauw Pang-hoat, tepat bekerjanya, setelah mana si nona sambil tertawa berkata kepada tiangloo yang barusan menantang padanya:
"Silahkan kau menggunakan tongkat baja, aku hendak menggunakan tongkat bambu ini! Marilah berdua kita main-main beberapa jurus…."
Kan Tiangloo sangat bersangsi. Sekarang ia mengambil sikap, kalau kalah, baiklah ia menyerah. Ia lantas membungkuk, untuk memungut tongkat bajanya itu - kepala tongkat diturunkan ke bawah, buntut tongkat naik ke atas, lalu sambil memberi hormat dengan membungkuk, ia berkata:
"Aku mohon belas kasihan nona."
Dengan cara menghormat itu, kepala tongkat diturunkan, tiangloo ini mengambil sikap menurut aturan Kaum Rimba Persilatan, kehormatan di antara yang muda dengan yang tua, tanda dari tidak berani menganggap diri seimbang derajat. Itulah untuk mohon petunjuk.
Oey Yong meluncurkan tongkatnya, dengan gerakan "Anjing dongak ke langit", ia menyontek ujung tongkat si pengemis tertua, hingga tongkat itu naik ke atas, sambil berbuat begitu, ia mengatakan sambil tertawa:
"Tak usah memakai banyak adat peradatan! Aku khawatir kepandaianku tidak dapat melawan kepandai kau.."
Tongkat baja dari Kan Tiangloo adalah tongkat yang berat yang telah dipakai beberapa puluh tahun lamanya, sekarang tongkat itu, dengan satu sontekan perlahan, kena dibikin terangkat naik oleh si nona, bahkan ujungnya terangkat sampai hampir mengenai jidatnya, ia menjadi terkejut. Syukur ia lekas menggunakan tenaganya, untuk menahan, ia kembali membawa sikapnya si muda terhadap seatasan. Ia menyerang dengan jurus "Raja Cin menghajar batu", suatu jurus dari Hong Mo Thung¬hoat, ilmu silat Hantu Edan dari Lou Tie Cim, salah seorang anggota gagah dari pahlawan-pahlawan Liang San.
Menampak gerakan si tiangloo, Oey Yong tidak berani berlaku lalai. Ia tahu, meskipun memakai baju lapis, serangan tongkat itu bisa melukai di dalam tubuh. Maka dengan lincah ia berkelit. Ia bukannya mundur, hanya berkelit sambil merangsak. Ia terus menggunakan jurus-jurus dari Tah Kauw Pang-hoat.
Demikian keduanya bertempur. Beratnya tongkat baja tigapuluh kati lebih tetapi menghadapi tongkat bambu yang enteng itu, tidak dapat berbuat banyak.
Mulanya Kan Tiangloo masih mengandung rasa khawatir nanti kena merusak tongkat suci itu, serangannya hebat tetapi dibatasi, kalau dirasa ia bakal menghajar Lek-tiok-thung, segera ia membatalkannya, ia selalu mencegah bentrokan, akan tetapi sesudah beberapa jurus, ia mengubah caranya berkelahi, bahkan jadi bersungguh¬-sungguh. Ia mendapat kenyataan, tongkat si nona lihay sekali, tikamannya juga dapat merupakan totokan kepada jalan darah. Dengan lantas untuk membela diri, ia menjadi repot.
Kwee Ceng menjadi sangat kagum. "Benar lihay ilmu silatnya suhu," ia berkata di dalam hatinya, memuji Ang Cit Kong.
Tengah bertempur, mendadak Oey Yong membuat satu perubahan. tongkatnya bukan ia cekal gagangnya, hanya bagian tengahnya, dan bukan menyerang, ia terus putar itu dengan asyik, hingga tongkatnya nampak bulat. Tentu saja itu bukan cara bertarung, bagaikan orang tengah main-main saja.
Mulanya Kan Tiangloo heran hingga ia tercengang, habis itu ia menyerang si nona, untuk mencegah kurungan. Ia mengarah pundaknya si nona.
Oey Yong melihat datangnya serangan, bukannya menangkis, ia hanya menjaga. Tapi ia tidak membuat kedua tongkat bentrok, cuma mendekatkan saja, lalu bagaikan memancing, ia menarik.
Kan Tiangloo terkejut. Ia menyerang tetapi merasa tongkatnya seperti tertarik dengan keras. Jadi terang si nona telah meminjam tenaga lawan. Dalam kagetnya, ia lantas menarik. Kembali ia terkejut. Tongkatnya itu seperti nempel sama tongkat lawan, tertarik atau menarik. Ia kaget sebab ia tahu, di dalam halnya tenaga dalam, ia mesti menang daripada si nona, tetapi sekarang ialah yang kena dipengaruhi. Tujuh atau delapan kali sudah ia menarik, sia-sia belaka, tongkatnya tidak bisa dia membebaskannya.
Tah Kauw pang-hoat ada delapan pokoknya, dan sekarang Oey Yong lagi menggunakan pokok "melibat" maka tongkatnya seperti ada talinya yang mengikat tongkat si tiangloo.
Kan Tiangloo penasaran, ia mengerahkan tenaganya dan memainkan Tay-lek Kim-kong Thung¬hoat, yaitu ilmu tongkat Arhat Tangguh, dengan begitu hebat ia membuat ujung tongkatnya bergerak keempat penjuru. Tetapi aneh tongkat si nona, kemana ujung tongkat baja menuju, ke sana tongkat bambu mengikuti. Nampaknya seperti si tiangloo yang berkuasa, sebenarnya dia seperti lagi dikendalikan. Atau diumpamakan kuda binal, kuda itu lagi diumbar oleh penunggangnya yang lihay.
Akhirnya Pheng Tiangloo yang menonton dengan kekaguman dan keheranan, tertawa dan berkata:
"Pangcu kau telah lelah, istirahatlah!"
Suara itu perlahan dan halus, sedap didengar telinga. Oey Yong benar-benar lantas merasa tubuhnya lelah. Ia pun memikir, setelah bertempur sekian lama, sudah waktunya ia beristirahat. Begitu ia merasa, begitu ia menjadi letih dan lesu, matanya pun menjadi kantuk.
Tapi sekarang pandangannya Kan Tiangloo sudah berubah, ia percaya si nona adalah pangcunya yang tulen, ia hendak melindungi si nona, maka mengetahui Pheng Tiangloo lagi menggunakan Liam¬sin-hoat, ilmu sihirnya, ia lantas membentak:
"Eh, Pheng Tiangloo, kau hendak berbuat apa kepada pangcu?!"
Pheng Tiangloo tidak memperdulikannya, ia tertawa perlahan dan berkata pula: "Pangcu hendak beristirahat, ia telah sangat letih, kau jangan ganggu padanya….."
Oey Yong mengerti ia terancam bahaya akan tetapi ia merasakan tubuhnya lemas dan matanya mau meram saja, ia merasa mesti beristirahat. Hanya disaat separuh was-was dan separuh sadar, mendadak ia ingat perkatan Kwee Ceng tadi. Bagaikan tersadar, ia lantas tanya kawannya:
"Engko Ceng, bukankah kau membilang tadinya bahwa di dalam kitab ada disebut hal ilmu memindahkan arwah?"
Kwee Ceng mengerti pertanyaan itu. Ia memang telah bercuriga terhadap Pheng Tiangloo, kecurigaannya bertambah menyaksikan Oey Yong berubah sikap, pertempuran berhenti sendiri secara demikian aneh dan romannya si nona pun sangat lesu. Ia sudah memikir untuk menghajar tiangloo itu kalau ia main gila, maka mendengar pertanyaan itu, ia segera mendekati Oey Yong dan membisiki padanya bunyi ilmu memindah arwah.
Kedua ilmunya si tiangloo dan yang termuat di dalam Kiu Im Cin-keng ada serupa intinya, ilmu sihir belaka, maka ilmu itu harus dilawan dengan kekuatan hati, diri sendiri harus dapat dikendalikan. Maka Kwee Ceng telah membisiki si nona untuk menguatkan hati, Oey Yong yang masih sadar, lantas menuruti nasehat si pemuda. Ia lantas meramkan mata, pemikirannya dipusatkan. Ia mengempos semangat, membikin bathinnya kuat. Selang tidak lama, lantas lenyap rasa lesu dan kantuknya. Ketika ia membuka matanya, ia sadar seperti biasa.
Pheng Tiangloo girang sekali. Ia percaya si nona meram karena terkena pengaruh ilmunya. Ia lantas memikirkan daya lainnya, untuk membikin nona itu membuka matanya, ia terus diawasi sambil tersenyum! Ia tahu mesti ada terjadi keanehan, ia lekas-lekas balas bersenyum. Ia hendak menggunakan ilmunya untuk mempengaruhi si nona. Tapi sekarang ia gagal, dari tersenyum, tanpa merasa ia tertawa sendiri.
Oey Yong melihat perubahan tiangloo itu, ia mengerti ilmu dari Kiu Im Cin-keng telah bekerja dan memenangi si tiangloo, maka itu ia bukan cuma tersenyum, ia lantas tertawa lebar.
Pheng Tiangloo kaget. Ia masih ingat akan dirinya, ia mencoba mengendalikan diri. Tapi sudah kena dibikin kaget, tidak dapat ia menguasai dirinya. Bahkan dari berdiri diam, lantas berjingkrak, terus tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya! Ia tertawa haha-hihi, ia berteriak, makin lama suaranya makin keras. Semua pengemis menjadi heran, semua dibikin bingung karenanya.
"Eh, Pheng Tiangloo, kau bikin apa?" Kan Tiangloo menegur. "Kenapa kau begini kurang ajar terhadap pangcu?"
Pheng Tiangloo tidak memperdulikan teguran itu, ia terus tertawa terpingkal-pingkal. Ia menunjuk hidungnya. Kan Tiangloo mengira ada apa-apa yang aneh pada hidungnya, ia mengusap. Tapi ini membuat rekannya tertawa lebih hebat. Akhirnya Pheng Tiangloo lompat turun ke bawah panggung di mana ia terus tertawa sambil bergulingan!
Baru sekarang semua pengemis menjadi curiga. Dua muridnya Pheng Tiangloo lantas lari kepada gurunya itu, mengasih bangun, akan tetapi mereka ditolak, guru itu tertawa tak hentinya. Karena ini mukanya lantas menjadi merah tua.
Kalau orang biasa terkena ilmu Oey Yong, paling juga dia merasa lelah dan ingin tidur, tidak demikian dengan Pheng Tiangloo, yang sendirinya tukang sihir. Karena ia melawan, kesudahannya, akibatnya menjadi hebat. Ia menyerang, sekarang dia kena dibalas diserang, serangan itu dahsyat untuknya.
Kan Tiangloo menjadi tak enak hati. Ia khawatir Pheng Tiangloo mati karenanya. Maka ia lantas menjura pada Oey Yong dan berkata:
"Pangcu, Pheng Tiangloo berlaku kurang ajar, dia harus dihukum berat, tetapi aku mohon dengan kemurahan hati pangcu, sukalah ia diberi ampun."
Lou Yoe Kiak juga io Tiangloo, lantas turut maju, sambil menjura, mereka pun memohon keampunan bagi tiangloo yang telah menjadi seperti gila itu. Hanya sekali mereka ia minta-minta ampun, di sana terdengar suara aneh dari Pheng Tiangloo sendiri…….
Oey Yong tidak menjawab ketiga tiangloo itu, ia hanya berpaling kepada Kwee Ceng. "Engkong Ceng, cukupkah sudah?" ia menanya.
"Cukup!" menjawab si anak muda. "Kasihlah dia ampun!"
Oey Yong lantas menghadapi ketiga tiangloo itu. "Samwie, kamu menghendaki aku memberi ampun padanya, boleh," dia berkata. "Aku hanya minta kamu tidak dapat meludah kepada tubuhku!"
Kan Tiangloo melihat jiwa Pheng Tiangloo terancam, ia menjawab dengan cepat: “Aturan kami ditetapkan oleh pangcu, maka itu pangcu juga yang dapat menetapkan atau menghapuskannya. Teecu semua menurut perintah saja."
Senang Oey Yong mendengar jawaban itu. Ia tertawa. "Sekarang pergilah kau menotok dia pada jalan darah thongkok-hiat dan siang-kiok-hiat!" ia memberi petunjuk.
Kan Tiangloo lompat turun dari panggung, ia menghampiri Pheng Tiangloo menotok kedua jalan darah yang ditunjuk. Dengan lantas tiangloo berhenti tertawa, hanya kedua matanya mencelik hingga terlihat putih semua, sedang jalan darahnya menjadi sulit.
Oey Yong tertawa. "Sekarang benar-benar aku mau beristirahat!" katanya. "Eh, mana si orang she Yo itu?" ia tanya. Ia heran melihat Yo Kang tidak ada di antara mereka.
"Dia sudah pergi," menyahut Kwee Ceng.
Si nona berjingkrak. "Kenapa dia dikasih pergi?" katanya. "Dia pergi kemana?"
"Dia pergi mengikuti si tua bangka she Khiu itu," sahut Kwee Ceng seraya tangannya menunjuk.
Oey Yong memandang ke telaga di mana perahu layar tengah berlayar pergi. Tentu saja tidak dapat menyusul Yo Kang atau Khiu Cian Jin, maka dia cuma bisa mendongkol dan menyesal sendiri. Ia mengerti kebiasaan Kwee Ceng, yang sangat jujur. Rupanya ini engko Ceng masih ingat persahabatan dari dua turunan, dia jadi suka memberi ampun pada pemuda she Yo yang jahat itu.
Yo Kang cerdik, begitu melihat pertempuran antara Oey Yong dan Kan Tiangloo, ia mengerti, jikalau ia tidak lantas mengangkat kaki, dia bakal menghadapi bahaya, dari itu, diluar tahu orang - selagi orang menonton pertempuran - ia nelusup kepada rombongannya Khiu Cian Jin dan minta pertolongan orang she Khiu itu.
Kapan Khiu Cian Jin mengetahui orang adalah putranya Wanyen Lieh, ia menepuk dada memberikan kepastian untuk menolong, kemudian sesudah melihat suasana - bahwa pastilah Oey Yong yang bakal jadi ketua Kay Pang dan si nona bersama Kwee Ceng adalah musuh-musuh tangguh, diam-diam dia mengajak orangnya pangeran itu berlalu dari gunung Kun San.
Kemudian Oey Yong menghadapi semua orang Kay Pang, sambil mengangkat Lek-tiok-thung, ia berkata:
"Sekarang ini, selama Ang Pangcu masih belum kembali, akulah yang buat sementara waktu mengurus partai. Kan Tiangloo bersama Nio Tiangloo, silahkan kau berangkat menyambut pangcu. Kamu membawa murid-murid kantung delapan dan menyambutnya di timur sana. Lou Tiangloo sendiri berdiam di sini untuk beristirahat."
Suaranya ini wakil pangcu disambut dengan riuh oleh orang-orang Kay Pang itu. Kemudian Oey Yong menanya:
"Pheng Tiangloo ini tidak lurus hatinya, coba kamu bilang, dia harus dihukum bagaimana?"
Kan Tiangloo menjura, ia berkata: "Dosa saudara Pheng ini besar sekali, dia harus dihukum berat, akan tetapi mengingat dulu ia telah membantu pangcu mendirikan jasa besar untuk partai kita, teecu mohon dia diberi ampun dari hukuman mati."
Oey Yong tertawa. Ia berkata: "Aku memang telah menduga, kau bakal memintakan ampun untuknya. Baiklah! Mengingat dia telah tertawa cukup banyak sekarang dia dipecat kedudukannya sebagai tiangloo, biar dia menjadi murid kantung delapan!"
Ketiga Tiangloo she Kan, Nio dan Lou itu menghanturkan terima kasih, Pheng Tiangloo sendiri juga mengucapkan terima kasihnya.
Oey Yong berkata pula: "Sebenarnya sukar mencari kesempatan untuk berkumpul di sini, kalian semua tentu ingin berbicara banyak, maka pergilah kamu bicara asal terlebih dahulu kamu mengubur baik-¬baik dua saudara Lee Seng dan Ie Tiauw Hin. Aku melihat Lou Tiangloo adalah orang yang paling baik, selanjutnya semua urusan aku serahkan padanya dan kamu mesti mendengar segala perintahnya. Aku sendiri, sekarang juga mau berangkat. Nanti di Lim-an kita bertemu lagi!"
Begitu ia berkata, Oey Yong mencekal tangannya Kwee Ceng, dituntun berlalu turun gunung. Melihat demikian, semua orang Kay Pang mengiringinya sampai di kaki gunung, sampai nona itu berdua dibawa perahu dan lenyap di antara kabut malam, baru mereka kembali ke puncak gunung, di mana dengan dipimpin Lou Tiangloo, mereka membicarakan segala urusan.
Hari sudah terang ketika Oey Yong dan Kwee Ceng kembali ke Gak Yang Lauw. Di sana mendapatkan kuda mereka, sepasang burung rajawali dan burung hiat-niauw menantikan mereka. Semua binatang itu nampak girang bertemu dengan majikannya.
Oey Yong memandang jauh ke timur, ia menyaksikan sang Batara Surya seperti meloncat keluar dari gelombang telaga Tong Teng Ouw. Sinar fajar itu sangat indah dan menawan hati.
"Pemandangan begini indah, jangan kita lewatkan," kata si nona kemudian, tertawa, "Engko Ceng, mari kita naik ke atas!"
Kwee Ceng menurut. Tapi ketika mereka tiba di atas dan ingat kejadian kemarin, pengalaman itu membuatnya mereka bergidik sendiri. Kejadian itu sangat berbahaya. Hanya keindahan alam membuat mereka dengan cepat melupakan kejadian kemarin. Belum lama lagi mereka minum arak, mendadak Kwee Ceng melihat air muka si nona berubah, agaknya ia bergusar.
"Engko Ceng, kau jahat!" katanya tiba-tiba.
Kwee Ceng kaget, "Kenapa?" tanyannya heran.
"Kau tahu sendiri!"
Kwee Ceng berpikir tetapi ia tidak ingat apa-apa. "Yong-jie yang baik, kau jelaskanlah," pintanya.
"Baik," menyahut si nona. "Sekarang aku tanya kau! Tadi malam kita didesak ke jurang, jiwa kita terancam bahaya. Kenapa kau melemparkan aku? Apakah kau kira kalau kau mati aku bisa hidup? Apakah kamu masih belum tahu hatiku?" Habis itu si nona menangis, air matanya jatuh ke dalam arak.
Kwee Ceng terharu mendapatkan orang demikian mencinta dirinya. Ia mengulur tangan, mencekal erat-erat tangan kanan nona itu. Tidak dapat ia mengucapkan sesuatu.
Oey Yong menghela napas perlahan, melegakan hatinya. Ia sebenarnya hendak membuka mulut ketika mendengar tindakan kaki di tangga, lalu terlihat nongolnya kepala orang. Keduanya terkejut. Itu adalah Tiat Ciang Siu-siang-piauw Khiu Cian Jin.
Kwee Ceng segera melompat bangun, akan menghalangi di depan si nona. Ia khawatir orang tua itu nanti menyerang.
Tapi Khiu Cian Jin bukannya menyerang, ia hanya bersenyum, tangannya diangkat, menggapai, setelah itu dia memutar tubuh, lantas turun lagi. Kelihatan nyata orang jenaka tetapi dalam keadaan ketakutan…………
"Dia takut pada kita, ini aneh!" berkata Oey Yong. "Nanti aku lihat." Tanpa menanti jawaban, si nona lantas lari turun.
Kwee Ceng lekas membayar uang arak, lekas-lekas ia menyusul. Tapi setibanya di bawah, ia tidak mendapatkan Khiu Cian Jin atau Oey Yong. Ia menjadi kaget dan berkhawatir. Tentu sekali ia takut nona itu celaka di tangan si Tangan Besi. Maka ia lantas memanggil-manggil:
"Yong-jie! Yong-jie! Kau di mana?"
Oey Yong mendengar panggilan Kwee Ceng tetapi ia tidak menyahut. Ia lagi menguntit Khiu Cian Jin, kalau ia bersuara, orang akan mengetahui lagi dibayangi. Ia menguntit terus.
Ketika mereka berjalan di pinggir sebuah rumah besar, Oey Yong sembunyi di balik tembok di pojok utara. Ia hendak menguntit terus setelah si orang tua jalan sedikit jauh. Akan tetapi Khiu Cian Jin seorang cerdik, begitu ia mendengar suara Kwee Ceng, ia menduga si nona lagi mengikutinya. Maka setelah menikung di ujung tembok, ia menyembunyikan diri.
Dengan begitu, mereka sama-sama bersembunyi. Dengan begitu, sama-sama mereka berdiam. Yang satu menantikan yang lain, yang lain menunggu yang satu. Selang sekian lama, karena dua-duanya tetap bersembunyi, mereka ingin melihat. Keduanya menongolkan kepala. Apa mau dikata, waktunya tepat, bareng sekali. Maka sinar mata mereka bentrok satu sama lain. Nyatanya mereka bersembunyi dekat satu dengan lain: satu di pojok sana, satu di pojok lain - jarak di antara mereka tidak ada setengah kaki! Tentu sekali, keduanya menjadi sama kagetnya.
Setelah menyaksikan peristiwa di Kun San, Oey Yong jeri terhadap orang tua ini, yang sekian lama ia mengiranya seorang penipu besar, cuma namanya saja kesohor tapi gunanya tidak ada, tidak tahunya, dia sangat lihay. Khiu Cian Jin sebaliknya jeri terhadap si nona, karena sudah beberapa kali dia bercelaka di tangan si nona ini. Maka, setelah sama-sama berseru kaget, sama-sama juga mereka menyingkir!
Oey Yong tidak puas. Segera ia kembali, untuk menguntit lagi. Ia pikir lewat jalan memutar rumah besar itu. Karena ia khawatir Khiu Cian Jin sudah pergi jauh, ia bertindak cepat. Ia ingat tiba lebih dahulu di ujung tembok timur, untuk dapat menguntit terus.
Juga Khiu Cian Jin berpikir seperti si nona, ia pun jalan memutar. Tidak heran kalau l mereka jadi bersamplokan lagi! Sekarang mereka bertemu di tembok menghadap ke selatan.
Oey Yong sudah lantas berpikir: "Jikalau aku memutar tubuh dan pergi dari sini, bisa-bisa nanti ia membokong punggungku! Dia sangat lihay, mana bisa aku mengelit?" Maka itu, ia lantas tersenyum. Ia berkata: "Khiu Locianpwee, dunia ini benar-benar sempit! Kembali kita bertemu di sini…!" Sambil berkata begitu, si nona pun berpikir: "Baiklah aku mengulur waktu! Aku mesti menanti engko Ceng, waktu itu aku tak usah takut lagi………."
Khiu Cian Jin juga sama berpikir seperti si nona. Dia tertawa dan berkata: "Hari itu kita berpisah di Liam-an, siapa sangka sekarang kita bertemu pula di sini. Apakah kau banyak baik, nona?"
Oey Yong heran tak kepalang. "Bangsat tua, kau ngaco belo!" katanya di dalam hati. "Terang-terang tadi malam kita bertemu di Kun San, sekarang kau menyebut-nyebut tentang pertempuan di Lim-an! Baik, biarlah kau ngoceh tidak karuan! Aku ada membuat ilmu silat Tah Kauw Pang-hoat, kenapa aku tidak menghajar dia sebelum sadar?" Maka ia lantas berteriak nyaring: "Engko Ceng, kau hajar punggungnya!"
Khiu Cian Jin kaget. Ia mengira Kwee Ceng muncul di belakangnya. Ia lantas menoleh. Oey Yong sangat sebat, berbareng sama teriakannya, tangannya mengeluarkan tongkat, terus menyapu ke bawah!
Juga Khiu Cian Jin sangat licin. Ia menoleh dengan cepat, ia tidak melihat Kwee Ceng, lantas ia insyaf bahwa ia diperdayakan. Ia pun mendengar bersiurnya angin, maka lantas berlompat. Maka bebaslah ia dari sapuan itu. Akan tetapi Oey Yong tidak sudi mengasih hati. Gagal sapuannya, ia mengulangi. Dan ia mengulanginya terus, berulang-ulang, untuk membikin orang tak dapat bernapas.
Bukan main takutnya Khiu Cian Jin. Dengan terpaksa, ia berlompatan. Tidak ada kesempatan untuk melesat jauh, guna melarikan diri. Setelah tujuh atau delapan kali lompat-lompatan terus, betis kirinya kena juga oleh ujung tongkat, tidak ada waktu lagi, dia menjerit mengaduh dan tubuhnya terbanting.
"Tahan! Aku hendak bicara!" ia berkata, tangannya diangkat.
Oey Yong menghentikan serangannya, ia mengawasi sambil tertawa geli, tetapi begitu orang bangun sambil berlompat, tidak menanti kaki orang mengenai tanah, ia menyapu lagi. Dalam keadaan seperti itu, Khiu Cian Jin tidak dapat berkelit lagi, maka sekali lagi terguling memegang tanah. Ia bandel sekali, setiap kali jatuh, ia bangun sambil berlompat, maka si nona pun, setiap orang berlompat dia membarenginya menyapu. Dengan demikian, enam kali orang she Khiu itu jatuh bangun.
Habis itu, Cian Jin terus mendekam di tanah. Ia tahu percuma berlompat bangun. Ia pun tidak berani berkutik.
"Kau berpura-pura mampus?" kata Oey Yong tertawa.
Khiu Cian Jin menyahut sambil berlompat bangun, hanya kali ini ia berlompat seraya menarik tali celananya, hingga tali itu putus, sambil berbuat begitu, ia berteriak-teriak:
“Kau mau pergi atau tidak? Aku hendak melepaskan tanganku!"
Nona Oey melengak. Ia tidak menyangka bahwa seorang ketua partai main gila seperti itu. Tentu saja ia takut orang membuktikan ancamannya, artinya Khiu Cian Jin meloloskan pakaian, maka terpaksa sambil berludah ia memutar tubuhnya untuk bertindak pergi. Ia lantas mendengar suara orang tertawa kegirangan, disusul suara tindakan kaki. Ketika ia mencoba menengok, ia melihat Khiu Cian Jin masih memegangi celananya, bahkan sekarang ia lari hendak mengejar. Nona ini mendongkol berbareng merasa lucu, tetapi ia terpaksa lekas-lekas lari.
Khiu Cian Jin belum lari jauh ketika ia memikir sudah cukup mengusir nona, maka ia berhenti mengejar, tetapi saat itu, Kwee Ceng muncul dari ujung rumah, lantas maju menghalang, kedua tangannya digerakkan, tangan kirinya menjaga dada, tangan kanan diajukan.
"Celaka!" berseru Khiu Cian Jin. Ia lantas berhenti mengejar.
"Hajar dia, engko Ceng!" Oey Yong berkata. "Jangan ladeni ocehannya!"
Kwee Ceng lantas bersiap. Ia tahu Khiu Cian Jin pendusta, tapi di Kun San ia telah melihat ketangguhannya, dia tidak mau memandang enteng.
"Eh, anak-anak, kau dengar kata-kata kakekmu!" berkata Khiu Cian Jin sambil tetap memegangi celananya. "Selama beberapa hari ini kakekmu termaha gegares, menjadi mulas perutnya. Sekarang pun kakekmu mau buang air besar…"
"Engko Ceng, hajar dia!" berkata Oey Yong yang sendirinya tak berani maju bahkan ia mundur.
"Aku tahu hatimu, anak-anak," berkata pula Khiu Cian Jin. "Jikalau kamu tidak diberi kesempatan menyaksikan kepandaiaan kakekmu, kamu tentu tidak puas, kamu tidak suka menyerah, maka sayang sekali sekarang justru perut kakekmu lagi sakit, semua yang ada di dalam perut mau melonjor keluar. Baiklah anak-anak yang manis, aku beri waktu padamu. Tujuh hari maka kakekmu akan menanti kalian di kaki gunung Tiat Ciang San! Beranikah kalian pergi ke sana?"
Oey Yong telah menyiapkan seraup jarumnya, hendak menyerang apabila saatnya tiba, akan tetapi ia mendengar orang menyebut nana gunung Tiat Ciang Pang, mendadak ia ingat huruf-huruf dalam gambar peninggalan Kiok Leng Hong, yang bunyinya "Tiat Ciang San-hee" atau "di bawah gunung Tiat Ciang San" - gunung Tangan Besi. Maka ia lantas menyahut:
"Baiklah, biar tempat itu mirip kedung naga atau gua harimau, tentu kamu nanti pergikan! Di mana adanya Tiat Ciang San itu?"
"Dari sini kau pergi ke barat," berkata Khiu Cian Jin, tangannya menunjuk, “Kamu nanti melintasi Siang-tek, Sin-cu dan sungai Goan Kang. Kamu ikuti sungai mengalir. Nanti kamu tiba di Louw-kee dan Sin-kee. Di antara itu ada sebuah gunung tinggi seperti lima jari menunjuk ke langit, nah itulah gunung Tiat Ciang San. Gunung itu sangat berbahaya, kakekmu sendiri sangat lihay, maka itu kedua bocah, umpama kata kamu takut, baiklah sekarang saja kamu mohon ampun dari kakekmu, lantas bolehlah tak usah kamu pergi ke sana!"
Oey Yong mendengar keterangan "seperti lima jari menunjuk ke langit", ia jadi bertambah girang.
"Baiklah!" ia memberikan jawabannya, "Sekarang aku memberi kepastian, dalam waktu tujuh hari kami pergi mengunjungi gunungmu!"
Khiu Cian Jin mengangguk-angguk, mendadak ia berteriak pula: "Celaka!" berulangkali dan tanpa membilang apa-apa lagi, ia lari keras ke barat!
Kwee Ceng tidak mengubar, bersama Oey Yong ia mengawasi sampai orang telah pergi jauh. Kemudian ia berkata pada si nona:
"Yong-jie, ada satu hal yang bagiku benar-benar tidak jelas. Cobalah kau yang menerangkan."
"Apakah itu?" Tanya Oey Yong.
"Cianpwee she Khiu ini sangat lihay, kenapa dia gemar sekali memperdayakan orang?" Kwee Ceng mengutarakan keheranannya. "Kau lihat sendiri, ada kalanya dia berpura-pura berkepandaian sangat rendah. Di Kwie-in-chung dia telah meninju dadaku, coba dia mengeluarkan tangannya seperti tadi malam, mana bisa jiwaku bisa hidup sampai sekarang? Apakah dia berlagak gila saja? Atau apakah dia ada maksud yang lain?"
Oey Yong berpikir, ia menggigit jari tangannya. "Dalam hal ini, aku juga sangat tidak mengerti," sahutnya sesaat kemudian. "Tadi aku serang dia berulang kali, dia selalu roboh tak berdaya sama sekali, dia tidak mampu membalas menyerang, bahkan dia lantas main gila. Apa mungkin dia juga memperdayakan orang diwaktu menekuk melengkung tongkat baja?"
Kwee Ceng menggeleng kepala. "Dia telah meremas tangan Lou Toangloo," dia menambahkan. "Ketika ia menyambut seranganku dengan tipu silat Kek San Tah Gu, itu ilmu sejati. Ilmu itu tak dapat dipalsukan……"
Oey Yong lantas membungkuk, dengan tusuk kondenya, ia menggurat-gurat tanah, lalu selang sesaat, ia menghela napas.
"Benar-benar kau tidak dapat menerka tua bangka itu lagi memberi pertunjuk apa," katanya. "Biarlah, mari kita pergi ke Tiat Ciang San, setibanya di sana pasti kita akan mendapatkan pemecahannya."
"Buat apa kita pergi ke Tiat Ciang San?" tanya Kwee Ceng, bersangsi. "Benar urusan kita telah selesai tetapi kita harus mencari suhu. Tua bangka itu pandai main gila, perlu apa kita menangkapnya benar-¬benar?"
"Engko Ceng, mari aku tanya kau," kata si nona. "Bukankah gambar yang ayahku berikan padamu telah basah dan huruf-huruf apakah yang telah kau lihat di situ?"
"Surat itu telah rusak sampai artinya tak dapat ditangkap," kata Kwee Ceng sambil menggoyangi kepalanya.
"Habis, apakah kau tidak memikirkannya?" tanya pula Oey Yong tertawa.
Kwee Ceng benar-benar tidak dapat memikir atau menduga. "Ah, Yong-jie yang baik," katanya. "Kau tentu telah dapat memikir sesuatu, maka lekaslah kau jelaskan padaku!"
OBJEK WISATA MANCA NEGARA
"Kau anak hartawan, pasti kau jemu terhadap pengemis," kata Yoe Kiak sambil ia berjingkrak bangun berdiri.
Kwee Ceng hendak menghanturkan maaf tetapi orang lantas ngeloyor pergi, kelihatannya ia mendongkol sekali.
Oey Yong mengulur lidahnya. "Engko Ceng, jangan kau menegur aku," katanya.
Kwee Ceng tertawa. "Sebenarnya aku berkhawatir," kata Oey Yong.
"Kenapa?" pemuda itu tanya. "Aku berkhawatir Lou Yoe Kiak nanti mendupak padamu."
"Tidak karu-karuan dia mendupak aku, kenapa?" Si nona memainkan mulutnya, ia tertawa, ia tidak menjawab.
Kwee Ceng menjadi berpikir. Ia benar tidak mengerti.
Oey Yong menghela napas. "Ah, engko tolol," katanya. "Kenapa kau tidak hendak memikirkan namanya itu?"
Sekarang Kwee Ceng sadar. "Bagus ya!" katanya. "Dengan memutar kau memaki aku bagaikan anjing!" Ia lantas berbangkit, tangannya diulur, untuk mengitik, Oey Yong tertawa dan berkelit.
Tengah muda-mudi ini bergurau, di tangga lauwteng terdengar pula suara tindakan kaki. Segera terlihat munculnya ketiga tiangloo yang tadi pergi mengikuti Yo Kang. Mereka menghampiri terus memberi hormat. Tiangloo yang ditengah, yang mukanya putih dan tubuhnya gemuk, yang kumisnya gompiok, sudah lantas tertawa sebelum ia berbicara. Coba ia tidak berpakaian banyak tambalannya, tentulah orang menyangka dia itu seorang hartawan. Dengan manis ia berkata:
"Jiewi, si pengemis tua she Lou tadi telah dengan diam-diam menurunkan tangan jahat. Kami tidak senang melihat kelakuannya itu maka datang untuk memberikan pertolongan kami."
Kwee Ceng dan Oey Yong terkejut. "Bagaimana itu?" mereka tanya.
"Bukankah dia tidak sudi dahar bersama jiewi tadi?"
"Ya! Apakah dia telah meracuni kami?"
Pengemis itu menghela napas. "Inilah gara-garanya partai kami lagi malang," ia berkata, romannya berduka. "Di luar keinginan kami, di antara kami boleh ada banyak orang buruk semacam dia. Dia itu lihay, asal tangannya menyentil, racun yang disimpan di kuku tangannya bisa tanpa diketahui lagi masuk nyampur ke dalam barang makanan atau arak. Jiewi telah terkena racun itu dan hebat, tidak lewat sampai setengah jam, maka jiewi sukar ditolong lagi……."
Oey Yong terkejut tetapi ia bersangsi. "Kami tidak bermusuhan dengannya, kenapa dia boleh menurunkan tangan jahat?" tanyannya.
"Jiewi telah keracunan berbahaya sekali, baik jiewi lekas makan obat ini, baru jiewi bisa dapat ditolong!" kata si pengemis tanpa menyahuti dulu pertanyaan orang. Ia lantas mengeluarkan satu bungkusan obat bubuk warna kuning, obat itu ia masukkan ke dalam dua cangkir arak, "Lekas minum, jiewi!" katanya pula.
Oey Yong tadi melihat Yo Kang, ia curiga, maka itu mana mau ia minum arak. Maka ia berkata:
"Tadi tuan Yo itu kenal kami, tolong samwie ajak dia datang menemui kami."
"Memang jiewi harus bertemu dengannya," berkata si pengemis. "Tetapi racun jahanam itu berbahaya sekali, baik jiewi minum dulu obat ini. Kalau ayal-ayalan, nanti susah buat diobatinya."
"Samwie baik sekali, terima kasih," berkata Oey Yong. "Nah, marilah duduk kita minum bersama! Sebenarnya kami kagum sekali kepada Kay Pang sebab kami ingat tahun dulu pangcu dari generasi yang kesebelas, di Pak Kouw San dia seorang diri telah melayani banyak lawan yang gagah dengan sepasang tongkatnya, dengan sepasang tangannya, dia telah membinasakan lima jago dari Lok-yang! Sungguh gagah!"
Tiga pengemis itu nampak heran sebab mendadak mendengar orang bicara perihal partainya, maka mereka lantas saling melirik. Heran mereka, kenapa nona begini muda tahu peristiwa dulu itu.
"Ang Pangcu itu lihay sekali ilmu silatnya yang bernama Hang Liong Sip-pat Ciang," berkata pula Oey Yong. "Kepandaiannya itu tak ada bandingannya di kolong langit ini, maka entahlah samwie telah dapat memperlajari beberapa jurus dari ilmu silat itu?"
Mendengar ini, tiga pengemis itu lantas menduga tentulah orang curiga dan tak sudi minum arak campur obat itu. Maka yang beroman mirip hartawan itu berkata sambil tertawa: "Kalau nona bercuriga, tentu sekali kami tidak berani memaksa, tetapi marilah nona melihat suatu bukti nanti nona percaya. Sekarang jiewi lihat dimataku ada apa yang luar biasa?"
Kwee Ceng dan Oey Yong mengawasi, mereka mendapatkan mata orang bercahaya tajam sekali. Oey Yong melihat tidak ada apa-apa yang aneh, maka ia memikir itulah tak lebih tak kurang sepasang mata babi………
Tetapi si pengemis itu sudah berkata pula: "Jiewi awasi mataku, jangan sekali jiewi memecah perhatian. Lihatlah, sekarang jiewi mulai merasa kulit matamu berat dan kepala pusing, seluruh tubuh jiewi tidak ada tenaganya. Nah, itu alamat terkena racun. Lekas jiewi menutup mata dan tidur!"
Kata-kata itu menarik dan berpengaruh. Kwee Ceng dan Oey Yong benar-benar lantas merasa matanya ingin dirapatkan dan lesu, benar-benar seluruh tenaganya habis.
"Tempat ini menghadap telaga besar," berkata pula si pengemis. "Hawanya pun adem sekali, maka jiewi silahkan berangin dan tidur di sini! Tidur, tidurlah!"
Makin lama kata-kata itu terdengar makin perlahan, kata-kata itu sangat manis dan menarik hati, maka tanpa merasa sepasang muda-mudi itu menguap, lalu tidur pulas dengan mendekam di meja. Beberapa lama sang waktu telah lewat, mereka tak tahu, hanya mereka merasa ada hawa sejuk yang menyampok muka, samar-samar kuping mendengar suara gelombang. Mereka lantas membuka mata. Maka tampaklah di antara mega munculnya sang rembulan, yang baru mulai naik di gunung timur. Mereka terkejut.
Tadi mereka tengah bersantap dan minum arak di Gak Yang Lauw, kenapa sekarang sudah malam? Mereka mau berbangkit, tapi mereka merasakan kaki dan tangan telah diringkus. Mereka mau berseru, merasakan mulut juga telah disumpal biji bebuahan, hingga mereka merasakan mulut sakit.
Sebagai seorang cerdik Oey Yong lantas mengerti bahwa ia telah kena dipermainkan si pengemis gemuk itu, hanya ia belum bisa menerka, orang menggunakan ilmu apa membuat dia dan Kwee Ceng menjadi mengantuk dan lemas akhirnya tidur lupa daratan. Ia mengerti, maka ia tidak mau banyak berpikir. Ia segera melihat ke sekitarnya. Nampak Kwee Ceng di sisinya, kelihatan kawannya meronta, maka hatinya lega sebagian.
Kwee Ceng pun sadar karena ia merasakan sampokan hawa dingin. Ia kaget untuk belungguan yang kuat sekali, hingga ia tidak mampu berontak untuk memutuskannya. Kiranya itu adalah tambang yang dipakai mengikatnya tali kulit kerbau campur kawat. Ketika ia hendak mencoba berontak lagi, tiba-tiba merasa dingin di pipinya, dua kali pipinya disampok pedang. Ketika ia mengawasi, ia dapatkan empat pengemis muda menjagai dia dengan senjata di tangan.
Oey Yong lantas berpikir terus. Satu hal yang membuatnya kaget. Ia mendapat kenyataan berada di atas sebuah puncak, di sekitarnya telaga dengan airnya yang jernih. Di antara sinar rembulan, ia dapat melihat tegas ke sekitarnya. Ia menjadi heran sekali kenapa ia tidak merasa orang telah mengangkutnya ke atas puncak, puncak dari gunung Kun San di tengah telaga Tong Teng itu.
Di depan terlihat sebuah panggung tinggi belasan tombak. Di sekitarnya duduk beberapa ratus pengemis. Semua duduk dengan diam. Itulah sebabnya kenapa mereka mulanya tak nampak, tak ketahuan. Segera setelah ia ingat, hatinya girang. Pikirnya: “Benarlah! Hari ini Cit gwee Capgouw, hari Rapat Besar Kaum Kay Pang! Biarlah aku bersabar, sebentar aku memperdengarkan titah suhu, mustahil mereka tidak akan mentaati…."
Lewat sekian lama, segalanya masih diam saja. Nona ini mulai habis sabarnya. Karena tak dapat bergerak, ia merasakan kaki tangannya baal. Sang waktu pun berjalan terus. Kemudian sinar rembulan menjojoh pinggiran panggung di mana ada tiga huruf besar: "Hian Wan Tay", artinya panggung "Kaisar Hian Wan". Maka ingatlah Oey Yong akan cerita dongeng, katanya dulu hari Oey Tee, Kaisar Hian Wan itu, telah membuat perapian kaki tiga di sini, setelah perapian itu rampung, dia menunggang naga naik ke langit. Jadi inilah panggung yang berhikayat itu.
Sekian lama lagi, di waktu sinar rembulan telah memenuhi seluruh panggung, maka terdengarlah suara yang tiga-tiga kali, suara itu sebentar cepat dan sebentar perlahan, sebentar tinggi, sebentar rendah, ada iramanya. Kemudian ternyata semua pengemis memegang tongkat kecil, dengan itu mereka mengetuk batu hingga berlagu.
Oey Yong menghitung, setelah terdengar sampai delapanpuluh satu kali, suara itu berhenti serentak. Lalu kelihatan berbangkitnya empat pengemis yang usianya tinggi, keempat tiangloo, Lou Yoe Kiak serta tiga tiangloo lainnya yang Oey Yong mengenalinya dengan baik. Mereka itu berdiri di empat penjuru panggung. Semua pengemis pada berbangkit, dengan membawa tongkat ke depan dadanya, mereka memberi hormat sambil menjura.
Si tiangloo putih dan terokmok setelah menanti semua pengemis berduduk pula, lantas berkata dengan nyaring:
"Saudara-saudara, Thian telah melimpahkan bahaya untuk Kay Pang kita, Ang Pangcu kami telah berpulang ke langit di Lim-an!"
Mendengar warta itu, semua pengemis berdiam, hanya seorang yang kemudian berteriak keras, terus ia roboh ke tanah, setelah mana semua pengemis pada menumbuki dadanya, semua menangis sedih, ada yang menggerung-gerung, ada yang mambanting¬-banting kaki. Tangisan mereka itu berkumandang jauh.
Kwee Ceng kaget sekali. "Aku tidak dapat mencari suhu, kiranya ia telah menutup mata…" pikirnya. Ia pun menangis, hanya tidak dapat bersuara sebab mulutnya tersumbat.
Oey Yong bercuriga. Ia pikir: "Kami tidak dapat mencari suhu, musathil mereka bisa! Mungkin kawanan manusia jahat ini lagi mengelabui orang banyak…"
Tengah orang sangat bersedih, Lou Yoe Kiak bertanya: "Pheng Tiangloo, ketika Pangcu berpulang ke dunia baka, adakah tiangloo melihatnya sendiri?"
Si tiangloo putih dan gemuk itu menyahut: "Lou Tiangloo, jikalau Pangcu masih hidup, siapa yang berani makan nyali macan tutul dan hati harimau untuk menjumpainya? Orang yang melihat sendiri Pangcu meninggal dunia berada di sini. Yo Siangkong, silahkan kau memberi keterangan kepada orang banyak!"
Seseorang lantas muncul di antara orang banyak. Dialah Yo Kang. Dengan memegang tongkat bambu, ia naik ke panggung. Semua pengemis berdiam, untuk memasang kuping.
Yo Kang berbatuk satu kali, baru ia mulai bicara. Ia kata: "Kejadiannya baru satu bulan yang lalu. Kejadiannya di kota Lim-an. pangcu telah berkelahi dan orang kesalahan memukul hingga ia mati." Mendengar itu, suara orang banyak menjadi riuh.
"Siapakah musuh itu?!" tanya mereka. Nyata mereka murka. "Lekas bilang, lekas! Pangcu demikian lihay, mungkinkah dia jatuh? Pastilah Pangcu telah dikepung ramai-ramai maka ia roboh!"
Kwee Ceng mendongkol mendengar keterangan Yo Kang itu. "Pada satu bulan yang lalu, suhu ada bersamaku! Ha, kiranya dia lagi main lagi!"
Yo Kang mengangkat kedua tangannya, ia menunggu sampai suara orang reda, baru ia berkata pula:
"Orang yang mencelakai hingga Pangcu mati adalah Tong Shia Oey Yok Su, pemilik dari Pulau Tho Hoa To, bersama tujuh imam bangsat dari Coan Cin Pay!"
Oey Yok Su sudah lama tidak meninggalkan pulaunya, antara kaum pengemis ini, dalam sepuluh, sembilan tidak ada yang mengenal dia, hanya Coan Cin Cit Cu sangat kesohor maka mereka mengenalnya. Mereka mau percaya ketua mereka kalah karena dikeroyok, maka itu mereka mencaci dan mengutuk, ada yang mau lantas pergi untuk menuntut balas.
Tentu saja mereka tidak tahu bahwa mereka lagi dipermainkan Yo Kang, yang mau mengadu mereka dengan Tong Shia dan Coan Cin Cit Cu. Tentang Kanlam Liok Koay, ia tidak takut. Yo Kang bertindak begini karena Ang Cit Kong terluka parah hajaran Kuntauw Kodok dari Auwyang Hong sedang Kwee Ceng, ia menyangka telah mati tertikam olehnya di dalam istana, siapa tahu kemarin ia menemui Kwee Ceng dan Oey Yong di Gak Yang Lauw, karena sudah kepalang, ia minta Pheng Tiangloo membekuk kedua orang itu dengan tipu, dengan liap-sim-hoat, yang mirip dengan ilmu sihir. Ia mengharap Tong Shia, Coan Cin Kauw dan Kay Pang nanti ludas bersama karena bentroknya mereka bertiga…….
Selagi suara orang berisik itu maka bangkitlah salah satu dari tiga tiangloo itu, ialah Kan Tiangloo.
"Saudara-saudara, mari dengar perkataanku!" ia kata. Ia telah putih kumis dan alisnya, tubuhnya tegar, di dalam partainya dia disegani. Maka semua orang lantas berdiam.
"Sekarang ini kita lagi menghadapi dua urusan sangat penting," ia berkata. "Kesatu untuk menuruti pesan Pangcu, yaitu memilih pangcu generasi kesembilanbelas. Kedua guna berdaya mencari balas untuk pangcu kita."
"Benar!" menyahut semua pengemis.
"Tapi kita mesti bersembahyang dulu untuk pangcu," berkata Lou Yoe Kiak. Ia menjumput lumpur, lalu bikin menjadi patung, mirip dengan patung Ang Cit Kong, ia meletakkan di atas panggung, terus ia mendekam di tanah dan menangis sedih. Semua pengemis turut menangis pula.
Oey Yong sendiri berpikir: "Hm, kamu gila! Suhu toh baik-baik saja, dia tidak mati, kenapa kamu tangisi? Kamu gila sudah mengikat aku dan engko Ceng, sampai kita tidak bisa bicara! Inilah kamu yang cari penyakit sendiri, sia-sia belaka kamu bersedih….."
Setelah orang menangis sekian lama, Kan Tiangloo menepuk tangannya tiga kali. Lantas semua orang berhenti menangis. Tiangloo ini berkata:
"Kita sekarang berapat di sini, kita sebenarnya harus mengangkat pangcu baru menurut petunjuk Ang Pangcu, karena Ang Pangcu telah menutup mata, kita harus menuruti pesannya saja, dan kalau pesannya tak ada, kita harus mentaati pemilihan oleh keempat tiangloo. Ini aturan kita turun-temurun. Benar begitu, saudara-saudara?"
Semua pengemis menyahuti membenarkan.
Kang Tiangloo lantas berkata pula: "Yo Siangkong, silahkan kau menyampaikan pesan dari Ang Pangcu!"
Dalam Kay Pang, pengangkatan pangcu baru adalah urusan paling besar dan penting. Pada itu tergantung makmur dan runtuhnya partai. Maka pangcu adalah yang memegang peranan paling penting. Pernah terjadi pangcu mereka yang ketujuhbelas, yaitu Cian Pangcu, meski dia gagah, dia lemah, pimpinannya tidak tepat, maka terjadilah bentrokan di antara kedua golongan Pakaian Bersih dan Pakaian Dekil hingga partai menjadi lemah. Ang Pangcu kemudian menguasai keadaan, dia melarang bentrokan. Dengan begitu, Kay Pang maju lagi. Maka sekarang, selagi menaruh perhatian besar, orang berdiam menanti perkembangan.
Yo Kang memegang Lek-tiok-thung dengan kedua tangannya, ia angkat itu tinggi di atas kepalanya, lalu ia berkata:
"Ang Pangcu kena dikeroyok oleh orang jahat, dia mendapat luka parah hingga jiwanya terancam bahaya. Kebetulan waktu itu aku yang rendah lewat di tempat kejadian, cepat-cepat aku menyembunyikan dia di rumahku, setelah dapat menipu musuh-musuh itu pergi, aku lantas mengundang tabib. Sayang, karena parahnya luka, pangcu tidak dapat ditolongi lagi……."
Mendengar itu, terdengar banyak keluhan.
Yo Kang berhenti sebentar, baru ia melanjutkan: "Ketika Ang Pangcu hendak menghembuskan napasnya yang terakhir, ia menyerahkan tongkat suci ini kepadaku dan dia menugaskan aku yang rendah untuk menerima tanggung jawab yang berat sebagai pangcu yang kesembilanbelas…"
Orang banyak menjadi heran. Tidak disangka, pangcu yang baru adalah pemuda ini yang mirip seorang sastrawan.
Yo Kang cerdik sekali. Setelah mendapatkan tongkat Lek-tiong-thung di rumahnya Sa Kouw di Gu¬kee-cun, ia mendapat kenyataan kedua pengemis gemuk dan kurus itu sangat menghormat padanya, segera ia mendapat pikiran. Lantas di sepanjang jalan ia menanya ini dan itu kepada mereka tentang tongkat itu. Kedua pengemis itu melihat orang memegang tongkat partainya, mereka menjawab segala pertanyaan. Dengan begitu tahulah Yo Kang tentang tongkat itu serta pengaruhnya. Maka ia pikir, selagi Kay Pang sangat besar dan berpengaruh, kenapa dia tidak mau memanfaatkannya? Bukankah Ang Pangcu telah mati dan tentang kematiannya itu tidak ada saksinya? Bagaimana besar faedahnya kalau ia yang menggantikan memegang pimpinan? Ia lantas mengambil keputusan, maka dengan mempengaruh ketiga tiangloo, hendak ia mewujudkan cita-citanya menjadi pangcu dari Kay Pang.
Kan Tiangloo, Pheng Tiangloo dan Nio Tiangloo percaya obrolan Yo Kang. Ini pun kebetulan sekali untuk mereka. Sebenarnya mereka ingin sekali diangkat menjadi pangcu, cuma di dalam hal ini, mereka malang sama Lou Tiangloo. Di bawah pimpinan Ang Pangcu, mereka menerima keadaan. Ang Pangcu dapat bertindak bijaksana, dia bisa mengimbangi keadaan, dia bersedia mengenakan baju bersih dan baju kotor bergantian.
Hanya diantara keempat tiangloo, dia sebenarnya menghargai Lou Yoe Kiak, cuma Yoe Kiak ini, cacatnya ialah tabiatnya keras dan terburu nafsu, beberapa kali pernah ia hampir menerbitkan onar, kalau tidak, pasti siang-¬siang ia sudah diangkat menjadi pangcu.
Untuk rapat besar di Gakciu ini, pihak Pakaian Bersih sebenarnya berkhawatir Lou Yoe Kiak yang nanti kepilih, ketiga tiangloo itu pernah memikir daya untuk mencegahnya, tetapi karena takut kepada Ang Cit Kong, mereka tidak berani bergerak. Maka mereka tidak sangka, sekarang muncul Yo Kang dengan tongkat suci mereka dan katanya Ang Pangcu telah terbinasa. Mereka berduka tetapi mereka tak melupakan urusan besar mereka. Mereka berlaku sangat hormat kepada Yo Kang. Mereka heran Yo Kang tidak mau menerangkan pesan pangcu mereka.
Mereka tidak tahu pemuda ini sangat licin. Baru tiba disaat rapat ini, Yo Kang menyebutkan pesan itu - pesan karangan otaknya sendiri. Mereka menyesal, yang mereka tidak terpilih, akan tetapi mereka dapat menghibur diri, sebab Yoe Kiak tidak terpilih juga. Maka, sambil memikir, mungkin di belakang hari mereka dapat mempengaruhi Yo Kang, mereka mengangguk tandanya mereka suka menerima si anak muda sebagai ketua mereka yang baru.
Kan Tiangloo lantas berkata: "Tongkat yang di pegang Yo Siangkong ialah tongkat sejati dari partai kita, tetapi kalau ada saudara yang menyangsikan, silahkan maju untuk memeriksa”.
Lou Yoe Kiak melirik Yo Kang. Ia sangsi pemuda ini dapat memimpin Kay Pang. Maka ia maju, memeriksa tongkat suci itu. Ia mendapat kenyataan kesejatian nya tongkat itu. Maka berpikirlah ia: "Tentulah Pangcu mengingat budi maka pangcu mewariskan tongkat suci ini kepadanya. Karena pangcu telah memesannya, mana dapat aku membantahnya?" Karena itu ia pun mempercayainya. Ia angkat tongkat ke atas kepalanya, dengan hormat ia menyerahkan kembali kepada Kan Tiangloo, yang tadi menyambuti itu dari tangan Yo Kang. Ia kata:
"Kami menurut kepada pesan Ang Pangcu, kami menjunjung Yo Siangkong sebagai pangcu kami yang kesembilanbelas!"
Mendengar ini semua pengemis berseru memperdengarkan persetujuan mereka.
Kwee Ceng dan Oey Yong tidak bisa bicara, juga mereka tidak bisa bergerak, bukan main mendongkol dan masgulnya mereka.
"Benar dugaan Yong-jie, Yo Kang ini bernyali besar, berani dia main gila seperti ini," pikir si anak muda. "Dia tentunya bakal mendatangkan onar besar."
Oey Yong sebaliknya lagi memikirkan, tindakan apa yang Yo Kang bakal mengambil terhadap mereka berdua, sebab tentulah mereka tidak bakal dilepaskan dengan begitu saja.
Yo Kang mengasih dengar suaranya: "Aku yang rendah, muda usiaku dan cupat pengetahuanku, tidak berani aku menerima tugas yang berat ini."
"Pesan Ang Pangcu demikian rupa, janganlah Yo Siangkong merendahkan diri," kata Pheng Tiangloo.
"Benar!" berkata Lou Yoe Kiak, yang lantas batuk satu kali, lalu ia berteriak dan meludah ke muka si anak muda.
Yo Kang tidak menyangka, tidak dapat ia berkelit, reak si pengemis tua nemplok di pipi kanannya. Ia menjadi kaget. Baru ia mau menanyakan ketiga tiangloo lainnya atau mereka itu pun bergantian telah lantas meludah kepadanya, setelah mana keempat tiangloo itu, dengan menyilang tangan, mereka lantas memberi hormat sambil berlutut dan mendekam. Yo Kang masih tidak mengerti, ia tetap berdiri tercengang.
Perbuatan keempat tiangloo ini disusul oleh semua pengemis lainnya, dengan mengikuti runtutannya, mereka itu menghampiri untuk meludahkan, setiap habis berludah, baru memberi hormat.
"Ini adalah cara meludah tanda hormat kepadaku?" Yo Kang tanya dirinya sendiri. Ia tidak tahu, demikianlah aturan yang dihormati Kay Pang, setiap pangcu baru mesti diperhina, sebab pengemis, mereka mesti bersedia menerima penghinaan khalayak ramai. Ia tidak tahu itulah semacam latihan kebathinan.
Selang sekian lama barulah semua pengemis memberi hormat, lalu ramailah suara mereka:
"Yo Pangcu, silahkan naik ke panggung Hian Wan Tay!"
Yo Kang melihat panggung tidak terlalu tinggi, hendak ia membanggakan kepandaiannya. Lantas ia menjejak kedua kakinya, mengapungkan diri, berlompat naik. Bagus caranya ia berlompat naik itu, karena ia mempunyai ilmu meringankan tubuh yang baik. Hanya di mata keempat tiangloo, terlihatlah kepandaiannya itu masih rendah, tetapi mengingat usianya yang muda, ia tidak dapat dicela. Keempat tiangloo itu percaya ia adalah murid seorang yang pandai.
Begitu lekas berada di atas panggung, Yo Kang mengasih dengar suaranya yang nyaring:
"Penjahat yang mencelakai Ang Pancu masih belum dapat dibinasakan tetapi dua pembantunya aku telah berhasil membekuknya!"
Mendengar itu, berisiklah semua pengemis, segera terdengar teriakan mereka: "Di mana? Di mana? Lekas cincang! Jangan lantas dihukum mati, hukum picis dulu biar dia tahu rasa!"
Kwee Ceng tidak menduga jelek, maka ia kata di dalam hatinya: "Aku hendak lihat siapa pembantunya pembunuh itu…."
Yo kang lantas berseru: "Bawa mereka ke depan panggung!"
Pheng Tiangloo lantas bertindak cepat kepada Kwee Ceng dan Oey Yong, dengan masing-masing sebelah tangannya, ia memegang dan mengangkat tubuh orang, buat dibawa ke depan panggung di mana ia menggabrukkan dua muda-mudi itu.
Sekarang baru Kwee Ceng sadar. "Ha, binatang, kiranya kau maksudkan kami!" ia mendamprat di dalam hatinya.
Lou Yoe Kiak terperanjat ketika melihat Kwee Ceng dan Oey Yong, yang ia kenali, maka ia lantas mengingat kepada keterangan Lee Seng. Ia lantas berkata:
"Pangcu, dua orang ini murid-murid Ang Pangcu! Cara bagaimana dapat mencelakai guru mereka?"
"Justru itulah sebabnya, yang membuat orang semakin gemas!" berkata Yo Kang.
Pheng Tiangloo pun berkata: "Pangcu melihatnya sendiri, mana bisa salah?"
Lee Seng dan Ie Tiauw Hian hadir di dalam rapat ini, keduanya lantas maju dan berkata:
"Harap pangcu ketahui, dua orang itu adalah orang-orang gagah, untuk mereka, kami berdua bersedia menanggungnya dengan jiwa kami. Pasti sekali kebinasaan Ang Pangcu tidak ada hubungannya sama mereka ini!"
"Kalau bicara, biarlah tiangloo kamu yang bicara!" Nio Tiangloo membentak. "Apa di sini dapat kamu campur mulut?!"
Kedua pengemis ini adalah dari golongan Pakaian Kotor dan berada di bawah pimpinan Lou Yoe Kiak, derajat mereka pun rendah, tidak berani mereka berbicara lebih lanjut lagi. Mereka mengundurkan diri dengan sangat penasaran.
"Di dalam hal ini bukan aku yang rendah tidak mempercayai Pangcu," berkata Lou Yoe Kiak kemudian, "Akan tetapi mengingat urusan membalas sakit hati ialah urusan sangat besar, aku mohon Pangcu nanti memeriksanya dengan seksama."
Yo Kang memang telah memikir, maka lantas ia menyahut: "Baiklah, nanti aku periksa." Kemudian ia mengawasi Kwee Ceng dan Oey Yong serta berkata: "Aku hendak menanya kamu, tidak usah kamu membuka mulutmu. Jikalau apa yang aku katakan benar, kamu mengangguk, kalau tidak, kamu menggoyang kepala. Jikalau kamu mendusta sedikit saja, ingat golok dan pedang tidak mengenal kasihan!"
Pangcu ini mengibaskan tangannya, maka Pheng Tiangloo dan Nio Tiangloo lantas menghunus senjata mereka, dipasang di punggung Kwee Ceng dan Oey Yong. Pheng Tiangloo memegang pedang, dan Nio Tiangloo mencekal golok.
Oey Yong gusar sekali hingga mukanya menjadi pucat. Ia lantas mengingat peristiwa di Gu-kee-cun, waktu dari lain kamar ia mendengari Liok Koan Eng berbicara sama Thia Yauw Kee, bicara hal lamaran sambil main mengangguk-angguk. Ia tidak menyangka, sekarang ia mesti mengalami kejadian itu.
Yo Kang tahu Kwee Ceng jujur dan polos dan dapat dipermainkan, maka ia memegang tubuh orang, untuk diangkat ke samping. Segera ia menanya dengan suaranya yang bengis:
"Bukankah anak perempuan ini anak kandung dari Oey Yok Su?"
Kwee Ceng menutup matanya, ia tidak mengambil mumat pertanyaan itu. Nio Tiangloo menekan dengan ujung goloknya.
"Benar atau tidak!" dia menanya. "Mengangguk atau menggoyang kepala?"
Kwee Ceng sebenarnya tidak niat membuka mulut, ketika ia berpikir, biarnya ia tidak dapat membuka, toh perkara akan menjadi terang juga. Maka ia lantas mengangguk.
Begitu melihat orang mengangguk, banyak pengemis lantas berteriak-teriak: "Buat apa ditanya lebih jauh! Lekas bunuh! Lekas bunuh!" Mereka itu mau percaya benarlah pangcu mereka telah terbinasa di tangan Oey Yok Su. Ada pula yang berteriak: "Lekas bunuh dia! Mari kita cari si tua bangka pembunuh itu!"
"Saudara-saudara, jangan berisik!" Yo Kang berkata. "Tunggu sampai aku selesai menanyakan dia terlebih jauh!"
Mendengar begitu, rapat menjadi sunyi lagi.
"Oey Yok Su telah tunangkan gadisnya kepada kau, benarkah?" Yo Kang menanya lagi. Ia telah memikir matang runtun pertanyaannya itu.
Kwee Ceng anggap itu benar, ia mengangguk lagi.
Yo Kang meraba pinggang orang, dari situ ia menarik keluar pisau belati yang tajam sekali.
"Inilah pisau yang dikasihkan kepadamu oleh Khu Cie Kee, salah seorang dari Coan Cin Pay, dan imam tua she Khu itu mengukir namamu di sini, benar?" Yo Kang tanya.
Kwee Ceng mengangguk.
"Ma Giok dan Coan Cin Cit Cu telah mengajari kau ilmu silat dan Ong Cie It, salah satu anggota lain dari Coan Cin Pay itu pernah menolong jiwamu! Bukankah kau tidak dapat menyangkal itu?"
"Perlu apa aku menyangkal?" pikir si anak pemuda yang polos itu. Dan ia mengangguk.
"Pangcu Ang Cit Kong menganggap kamu berdua orang baik-baik dan dia pernah mengajari ilmu silatnya yang istimewa kepada kamu, benar tidak?"
Kwee Ceng mengangguk.
"Ang Cit Kong telah dibokong musuhnya hingga dia terluka parah. Kamu berdua berada di samping orang tua itu, benarkah?"
Untuk sekian kalinya, Kwee Ceng mengangguk.
Semua pengemis menyaksikan dan mendengar pemeriksaan itu, selagi suara Yo Kang semakin bengis, Kwee Ceng terus mengangguk saja, dari itu mereka menyangka Kwee Ceng itu mengakui kesalahannya, mereka tidak memikir bahwa semua pertanyaan itu tidak ada hubungannya sama urusan Ang Cit Kong. Yo Kang tengah memainkan peranannya yang teratur. Mendengar itu, Lou Yoe Kiak pun kena terpengaruh hingga ia menjadi sangat membenci Kwee Ceng dan Oey Yong. Ia bertindak mendekati dan menendang Kwee Ceng beberapa kali.
Yo Kang tidak mencegah, ia berkata pula: "Saudara-saudara! Nyata dua bangsat ini berlaku terus terang, maka baiklah mereka dibebaskan dari siksaan terlebih jauh. Pheng Tiangloo, Nio Tiangloo, silahkan kamu turun tangan!"
Mendengar begitu, Kwee Ceng dan Oey Yong saling mengawasi sambil tersenyum sedih, hanya kemudian Oey Yong mendadak tertawa. Sebab ia ingat: "Aku yang mati bersama-sama engko Ceng, bukan putri Gochin Baki itu!"
Kwee Ceng lantas memandang ke langit, ia ingat ibunya yang berada jauh di gurun pasir. Ia mengawasi ke langit di mana tampak bintang-bintang bersinar. Maka ingatlah ia akan pertempuran hebat di antara Coan Cin Cit Cu dan Bwee Tiauw Hong dan Oey Yok Su. Siapa bakal mati, pikirannya menjadi jernih, demikian Kwee Ceng, ia menjadi ingat jelas barisan Thian Kong Pak Tuaw Tin dari Coan Cin Cit Cu itu. Sedang begitu, kedua tiangloo sudah siap untuk bekerja, Kwee Ceng pun telah dihampiri.
"Tunggu dulu!" mendadak terdengar cegahan Lou Yoe Kiak. Ia lantas mendekati Kwee Ceng, ia keluarkan biji yang menyumpal mulut anak muda itu. Ia lantas menanya: "Bagaimana caranya pangcu kami telah orang bikin celaka, kau tuturkanlah biar jelas!"
"Tak usah tanya, aku tahu semua!" berkata Yo Kang yang terkejut atas perbuatan Tiangloo itu.
"Pangcu," berkata Yoe Kiak, "Lebih jelas kita menanya dia lebih baik. Di dalam hal mengenai pangcu kita, siapa pun tidak dapat dilepaskan!"
Yo Kang berdiam. Permintaan Yoe Kiak ini pantas, tidak dapat ia melarangnya.
Kwee Ceng telah dibebaskan dari sumbatannya, ia masih tidak mau bicara, ia terus mengawasi langit di utara itu. Ia menjublak, hingga beberapa kali Yoe Kiak mengulangi pertanyaannya, ia seperti tidak mendengarnya. Karena sekarang ia lagi memahamkan keletakan bintang-bintang itu, tujuh bintang Pak-tauw, yang tepat sama barisan rahasianya Coan Cin Cit Cu. Ia tengah memperoleh kemajuan, maka ia tidak memperdulikan si tiangloo.
Oey Yong dan Yo Kang melihat orang tidak hendak menggunakan kesempatan yang baik itu untuk membela diri, yang satu berduka, yang lainnya bergirang. Tapi Yo kang tidak sudi menyia-nyiakan kesempatannya lagi, maka ia mengibaskan tangannya, memberi tanda kepada kedua tiangloo Pheng dan Nio untuk tidak menunda lagi dijalankannya hukuman mati.
Tepat ketika kedua tiangloo itu hendak mengayunkan senjatanya masing-masing, di situ terdengar satu suara yang diikuti berkelebatnya sinar merah tua melintas di permukaan telaga. Kedua tiangloo itu heran, mereka mengawasi. Lalu terlihat pula dua sinar biru meluncur ke udara, berpisah dari Kun San jauhnya beberapa lie. Terang sinar itu muncul dari tengah telaga.
Kan Tiangloo lantas berkata: "Pangcu, ada tetamu agung!"
Yo Kang terperanjat. "Siapakah?" tanya dia.
"Pangcu dari Tiat Ciang Pang!" sahut Kan Tiangloo.
"Tiat Ciang Pang?" Yo Kang menegasi. Ia tidak tahu halnya partai Tangan Besi itu.
"Itu sebuah partai besar di sekitar Su-coan dan Ouwlam," Kan Tiangloo menerangkan, "Pangcu mereka telah datang, dia harus disambut dengan hormat. Maka dua jahanam ini, baik kita tunda sebentar menghukumnya."
"Baiklah," sahut Yo Kang. "Silahkan tiangloo menyambut tetamu terhormat itu."
Kan Tiangloo lantas memberikan titahnya. Maka di atas sebuah gunung Kun San terlihat meluncurnya tiga buah panah api, yang warnanya merah.
Tidak lama dari itu terlihatlah datangnya perahu, yang terus mendekati tepian. Pihak Kay Pang memasang obor, mereka menyambut.
Panggung Hian Wan Tay ada di atas puncak Kun San, dari kaki gunung ke puncak, perjalanannya cukup jauh, maka itu meski tetamu lihay ilmunya meringankan tubuh, masih diperlukan waktu untuk mendakinya.
Kwee Ceng dan Oey Yong telah dibawa ke dalam rombongan orang banyak, mereka dijaga murid-murid Pheng Tiangloo.
Oey Yong mengawasi Kwee Ceng, ia heran sekali. Pemuda itu, seperti orang tolol, masih berdiam saja, dari mulutnya terdengar suara sangat perlahan, entah apa yang dikatakannya.
Tengah nona ini heran, ia melihatnya tetamu telah tiba. Obor ada sangat terang, maka terlihatlah tegas¬-tegas tetamu itu, yang diiringi beberapa puluh orang dengan pakaian hitam. Dia mengenakan baju kuning yang pendek, tangannya membawa kipas. Siapakah dia kalau bukannya Khiu Cian Jin?
Kan Tiangloo maju menyambut, ia bicara dengan ramah tamah, sikapnya sangat menghormat. Setelah itu ia memperkenalkannya kepada Yo Kang. Ia kata:
"Inilah Tiat Ciang Sui-siang-piauw Khiu Pangcu, yang kepalan saktinya tak ada tandingan, yang namanya menggetarkan dunia."
Yo Kang tidak memandang mata kepada tetamunya ini. Selama di Kwie-in-chung, Thay Ouw, ia telah menyaksikan orang turun merek. Ia tidak menyangka orang adalah pangcu dari suatu partai besar. Tapi karena orang telah datang berkunjung dan ia tuan rumah, ia berpura-pura pilon.
"Sungguh aku girang dengan pertemuan kita ini!" katanya, tertawa. Dengan mengulur tangan berjabatan tangan. Ia lantas mengerahkan tenaganya berniat membikin orang kesakitan dan menjerit karenanya. Di dalam hatinya ia kata: "Semua orang percaya kau lihay tetapi di sini hendak aku merobohkanmu! Inilah kesempatan yang baik sekali! Tua bangka, hendak aku meminjam kau untuk memamerkan kepandaianku di antara semua pengemis ini!"
Begitu lekas Yo Kang menggunakan tenaganya, begitu lekas ia merasa telapak tangannya panas, seperti terkena bara, maka lekas-lekas ia menarik pulang tangannya, akan tetapi tangannya itu seperti kena kecantol, tak dapat dilepaskan, sedang hawa panasnya jadi semakin hebat. Tanpa merasa ia menjerit:
"Aduh! Mati aku!" Mukanya lantas menjadi pucat, air matanya mengucur, saking sakitnya, pinggangnya menjadi lengkung, hampir dia pingsan.
Keempat tiangloo kaget, semua berlompat maju. Kan Tiangloo sebagai tertua di antaranya, dengan tongkat baja di tangannya menggetok batu gunung, hingga terdengar suara nyaring dan lelatu apinya muncrat, lalu ia menanya:
"Khiu Pangcu, Yo Pangcu kami masih sangat muda sekali, mengapa kau menguji kepandaiannya?"
Pangcu she Khiu ini menyahuti dengan dingin: "Aku berjabat tangan dengan baik-baik dengannya, adalah pangcu kamu yang telah mencoba aku. Yo Pangcu telah berminat meremas hancur beberapa tulangku yang tua!"
Sambil mulut mengatakan demikian, Khiu Pangcu tidak melepaskan tangannya, maka Yo Kang terus berteriak teraduh-aduh, suaranya makin perlahan. Rupanya ia tidak dapat bertahan lebih lama lagi, lantas dia pingsan.
Baru sekarang Khiu Cian Jin melepaskan tangannya, dengan disemperkan, maka Yo Kang yang sudah tak sadarkan diri, lantas terguling tubuhnya. Syukur Lou Yoe Kiak keburu lompat untuk memegangi.
Kan Tiangloo menjadi gusar. "Khiu Pangcu apakah artinya ini?" ia menegur.
"Hm!" ketua Tiat Ciang Pang itu mengasih dengar suaranya sedang tangan kirinya menyambar kemuka orang.
Kan Tiangloo mengangkat tongkatnya, untuk menangkis atau - dengan kesebatannya yang luar biasa - Khiu Cian Jin telah dapat menangkap tongkat orang, hanya belum sempat ia merampasnya, Kan Tiangloo sudah menarik keras sekali. Karena itu ia lantas mengayunkan tangan kanannya ke kiri, tepat mengenai tongkat itu. Kali ini Kan Tiangloo merasakan tangannya sakit, bahkan telapak tangannya itu pecah dan mengucurkan darah, hingga dia tidak dapat memegang lebih lama pula dan senjatanya itu kena juga dirampas. Bahkan dengan tongkatnya, tetamu ini lantas berhasil menangkis golok dan pedang Pheng Tiangloo dan Nio Tiangloo, yang telah segera menyerang sebab mereka ini menyaksikan rekan mereka sudah bertempur.
Khiu Pangcu lihay sekali hampir berbareng dengan itu, ia juga menyikut mukanya Lou Yoe Kiak, hingga dia ini mesti mundur juga. Semua pengemis menjadi kaget, semua lantas menghunus senjata mereka, bersiap untuk menyerbu asal ada titah dari ketua mereka.
Khiu Cian Jin mencekal tongkat dengan tangan kiri dan tangan kanannya, ia tertawa lebar dan panjang, sambil berbuat begitu ia mengerahkan tenaganya, sembari berteriak hendak membikin patah tongkat itu, tetapi ia tidak berhasil, karena tongkat itu terbuat dari baja pilihan, maka itu sesudah terus ia mengerahkan tenaganya, ia cuma bisa menekuk melengkung bundar beberapa lipat. Baru sekarang ia mengendorkan tenaganya, ia melemparkan tongkat dengan tangan kirinya, hingga tongkat terlempat mengenai batu gunung, keras suaranya, batu gunung itu pada meletik lelatunya, ujungnya tongkat nancap.
Menyaksikan semua itu, kaum Kay Pang jagi kaget dan kagum. Yang lebih kaget dan heran adalah Oey Yong. Nona ini kata dalam hatinya: "Tua bangka ini terang satu penipu besar yang tidak mempunyai guna, sekarang kenapa dia menjadi begini lihay? Sungguh aneh!"
Rembulan sedang bersinar terang sekali. Oey Yong memandang tajam kepada orang tua itu. Tidak salah, dialah Khiu Cian Jin si penipu yang dulu ia ketemukan di Kwie-in-chung dan Gu-kee-cun. Maka ia jadi berpikir, apakah juga penipuan belaka ilmu kepandaian orang ini?
Kemudian si nona menoleh lagi kepada Kwee Ceng, ia mendapat kenyataan pemuda itu masih saja mengawasi bintang-bintang di langit, hingga ia menjadi bingung. Ia tidak tahu, apa yang sebenarnya lagi dikerjakan kawannya ini.
Khiu Cian Jin dengan suaranya yang dingin, terdengar berkata: "Tiat Ciang Pang serta partai tuan-¬tuan tidak ada hubungannya satu dengan lain, karena aku mendengar hari ini ada Rapat Besar, aku sengaja datang berkunjung, karena itu kenapa pangcu kamu dengan tidak karu-karuan hendak merobohkan aku?"
Kan Tiangloo telah jeri, sekarang mendengar suara orang bukannya suara bermusuh, maka ia lantas memberikan penyahutannya. Ia kata:
"Khiu Pangcu salah paham! Pangcu kesohor di empat penjuru negeri, kami biasa sangat menhargainya, maka dengan kunjungan pangcu ini, bagi kami itulah suatu kehormatan besar."
Khiu Cian Jin mengangkat kepalanya, ia tidak menyahut, sikapnya jumawa. Hanya sejenak kemudian, baru ia membuka pula mulutnya. Ia kata:
"Aku mendengar kabar Ang Pangcu telah berpulang ke dunia baka, maka dengan begitu di kolong langit ini berkurang pula satu orang gagah, sungguh sayang! Sekarang partai kamu mengangkat satu pangcu yang baru seperti ini, ini pun sayang, sayang!"
Ketika itu Yo Kang sudah sadar, ia mendengar suara yang sangat menghina itu, akan tetapi ia tidak berani membuka mulut. Ia masih merasakan tangannya sakit, tangan itu bengkak berikut lima jejarinya.
Keempat tiangloo juga tidak tahu meski mengucap apa, maka terdengarlah Khiu Cian Jin berkata pula:
"Aku yang rendah hari ini datang berkunjung, ada dua maksudku untuk mana aku ingin memohon sesuatu. Untuk itu aku pun hendak menghadiahkan sesuatu."
"Tolong Khiu Pangcu memberi petunjuk," kata Kan Tiangloo yang belum tahu orang menghendaki apa.
Khiu Cian Jin tidak langsung menjawab, ia hanya menyapu dengan matanya kepada semua hadirin di seputar itu. Ketika ia melihat Kwee Ceng dan Oey Yong, lantas sinar matanya menjadi tajam sekali.
Oey Yong tidak takut, ia membalas mengawasi dengan tajam juga. Bahkan ia mengasih lihat senyuman memandang enteng. Ia telah pikir: "Buat kau beraksi bagaimanapun, aku tentu menganggapmu satu penipu besar!"
Khiu Cian Jin berpaling kepada Kan Tiangloo. "Nona kecil itu serta kawannya si bocah telah mencelakai beberapa muridku," katanya. "Maka dengan membesarkan nyali aku hendak minta mereka untuk aku menghukumnya."
Kan Tiangloo tidak berani mengambil keputusan. "Yo Pangcu, bagaimana?" ia menanya ketuanya itu.
"Dua orang ini sebenarnya musuh-musuh besar partai kami," berkata Yo Kang, "Maka aku tidak menyangka, mereka juga telah berdosa terhadap Khiu Pangcu. Kalau begitu mari kita menghukumnya bersama-sama!"
Khiu Cian Jin mengangguk. "Itu boleh!" katanya. "Sekarang permintaan yang kedua. Kemarin ada beberapa muridku yang lagi bekerja atas titahku, entah kenapa mereka menyebabkan kemurkaan dua anggota dari partai kamu, mata mereka telah dibikin buta!" Dia lantas menuding Kwee Ceng berdua dan menambahkan: "Kabarnya kedua bangsat itu telah membantu menurunkan tangan. Orang-orangku itu tidak punya guna, aku tidak bisa membilang apapun, hanya kalau kejadian ini sampai tersebar, tentulah kami Tiat Ciang Pang menjadi hilang mukanya, maka itu, aku si orang tua menjadi tidak kenal gelagat, aku ingin sekali belajar kenal dengan kepandaian kedua sahabat itu!"
Yo Kang tidak mencintai orang-orang Kay Pang, tidak ada niatnya untuk melindungi mereka, maka itu mana ia mau berbuat salah lagi hanya untuk dua orang? Maka ia lantas menanya:
"Siapakah sudah lancang menerbitkan onar, yang telah bentrok dengan sahabat-sahabat dari Tiat Pangcu? Lekas kamu keluar untuk memohon maaf dari Khiu Pangcu ini!"
Kay Pang itu semenjak dipimpin Ang Cit Kong belum pernah hilang muka, maka bukan main mendongkolnya semua anggota mendengar pangcu baru bersikap demikian lemah. Lee Seng dan Ie Tiauw Hin lantas maju ke depan. Lee Seng kata dengan nyaring:
"Harap dimaklumi pangcu. Peraturan partai kami yang nomor empat berbunyi menganjurkan kami berlaku mulia, kami mesti bisa menolong sesama yang berkesusahan. Kemarin kebetulan saja kami menyaksikan sahabat-sahabat dari Tiat Ciang Pang membikin celaka rakyat jelata dengan mengumbar ular, sebab kami tidak dapat menahan sabar lagi, kami lantas mencegah perbuatan mereka. Kebetulan di situ ada dua sahabat kecil ini, jikalau tidak ada mereka yang membantu, pastilah kami berdua pun terbinasa oleh ular-ular berbisa itu!"
"Tidak peduli bagaimana, kamu mesti menghanturkan maaf kepada Khiu Pangcu!" berkata Yo Kang bengis.
Lee Seng dan Ie Tiauw Hin saling mengawasi. Mereka menghadapi kesukaran, hati mereka panas sekali. Kalau mereka tidak menghanturkan maaf, mereka menentang titah pangcu; kalau mereka menurut, mereka sangat penasaran. Tapi tak lama Lee Seng bersangsi, ia lantas berseru kepada semua anggota partainya:
"Saudara-saudara, jikalau Ang Pangcu masih hidup, tidak mungkin kami dibiarkan hilang muka, maka sekarang, Siauwtee lebih suka terbinasa, tidak mungkin Siauwtee menerima penghinaan!"
Sembari berkata begitu, Lee Seng mencabut pisau belati dari betisnya, lantas menikam dadanya, ulu hatinya, maka di situ juga ia roboh dengan jiwa melayang. Menampak demikian, Ie Tiauw Hin menubruk saudaranya, untuk merampas pisau belatinya, kemudian ia pun menikam dirinya, maka ia juga roboh dengan jiwa melayang.
Semua pengemis terbangun semangatnya. Kejadian ini sangat hebat untuk mereka. Tapi mereka masih berdiam, tanpa ada titah pangcu, mereka tidak berani lancang.
Setelah menyaksikan semua itu, Khiu Cian Jin tertawa tawar. "Permintaanku yang kedua ini sudah beres," katanya. "Maka sekarang kami hendak menghanturkan bingkisan kepada partai tuan-tuan!"
Habis berkata, ia memberi tanda dengan tangan kirinya. Maka beberapa puluh orang bertubuh besar yang mengenakan pakaian hitam lantas maju bersama kopor mereka yang besar, yang lantas dibuka tutupnya, dari situ mereka mengambil masing-masing sebuah tetampan untuk diletakkan di samping Yo Kang. Itulah uang emas dan perak dan permata yang sinarnya berkeredepan!
Semua pengemis heran melihat orang mengeluarkan harta sebesar itu.
"Tiat Ciang Pang kami," berkata Khiu Cian Jin, "Meski kami masih dapat makan, tidak mungkin kami sanggup mengeluarkan bingkisan begini berharga, maka itu baiklah tuan-tuan ketahui, ini adalah hadiah dari Chao Wang negara Kim, yang meminta kami tolong menyampaikannya."
Mendengar keterangan ini, Yo Kang heran dan girang. "Di mana adanya Chao Wang?" ia menanya lekas. "Aku ingin bertemu dengannya!"
"Ini kejadian beberapa bulan yang lalu," menyahut Khiu Cian Jin, menyahuti apa yang tidak ditanya. Karena ia memberikan keterangannya. "Waktu itu Chao Wang telah mengirimkan utusannya kepadaku membawa bingkisan ini dan dia minta partaiku yang tolong menyampaikannya."
Mendengar itu, Yo Kang tahu bahwa hal itu terjadi sebelum ayahnya - ilaga Chao Wang - berangkat ke Selatan. Hanya ia belum tahu maksudnya mengapa Kay Pang dikirimi harta sebesar ini.
Khiu Cian Jin masih meneruskan keterangannya: "Chao Wang mengagumi partai tuan-tuan, maka ia memerintahkan secara istimewa untuk aku sendiri yang menyampaikan bingkisan ini."
"Jikalau begitu kami membuat capai saja kepada pangcu!" berkata Yo Kang girang.
Khiu Cian Jin tertawa. "Yo Pangcu muda nyata kau luas pandangannya, kamu menang jauh daripada Ang Pangcu!" ia memuji.
Yo Kang masih belum tahu maksud ayahnya berhubungan sama Kay Pang, maka ia menanya pula:
"Entah ada titah apakah dari Chao Wang untuk perkumpulan kami? Tolong pangcu menitahkannya saja!"
"Menitahkan, itulah tak dapat disebutkan," berkata Khiu Cian Jin. "Hanya Chao Wang memesan untuk memberitahukan bahwa wilayah utara ini tanahnya miskin dan rakyatnya melarat, jadi sukar untuk….."
Yo Kang cerdas, segera ia dapat menduga. "Jadi Chao Wang menghendaki kami pergi ke Selatan?" katanya.
"Sungguh Yo Pangcu cerdas sekali!" berkata Khiu Cian Jin, memuji. "Maaf untuk sikapku tadi. Chao Wang membilang bahwa propinsi-propinsi Kwietang dan Kwiesay serta Hokkien, tanahnya subur, rakyatnya makmur, maka itu ia bertanya kenapa saudara-¬saudara dari Kay Pang tidak mau pergi ke Selatan untuk menaruh kaki di sana? Wilayah Selatan jauh lebih menang daripada wilayah Utara ini."
"Terima kasih untuk petunjuk Chao Wang serta pangcu sendiri," berkata Yo Kang tertawa. "Percayalah, aku yang rendah pasti bakal menurutinya."
Khiu Cian Jin heran orang dengan gampang saja menerima hadiah, tetapi karena ia khawatir Kay Pang nanti menyesal, ia lantas berkata:
"Kata-kata seorang laki-laki cukup dengan sepatah kata! Dengan semua saudara dari Kay Pang berangkat ke Selatan, bukankah itu berarti bahwa kamu tidak bakal kembali ke Utara ini?"
Yo Kang hendak memberikan jawabannya ketika Lou Yoe Kiak memotong: "Harap pangcu mengetahuinya! Kami semua hidup dari mengemis, maka apa perlunya kami dengan uang emas dan barang permata? Lagi pula partai kita berada di seluruh negeri, kami merdeka, maka kapan kami pernah dipengaruhi orang lain? Oleh karena itu aku memohon pangcu memikirkan dengan seksama!"
Sekarang Yo Kang dapat menerka maksud Wanyen Lieh. Di Kangpak ini, yaitu utara Sungai Besar, Kay Pang menjadi musuh bangsa Kim, sering terjadi, kalau pihak Kim jauh ke utara, Kay Pang suka mengganggu mengacau bagian belakang, baik dengan membunuh punggawa perangnya maupun dengan membakar rangsum, maka kalau Kay Pang dipindah ke Selatan, gampanglah usaha bangsa Kim. Maka itu atas cegahannya Lou Yoe Kiak, ia berkata:
"Ini adalah maksud baik dari Khiu Pangcu, jikalau kita tidak menerima, itu tandanya kita berlaku tidak hormat. Uang emas dan perak dan permata ini, aku sendiri tidak membutuhkannya, maka Suwie Tiangloo, sebentar sebubarnya rapat, silahkan kamu membagi-bagikan kepada semua saudara!"
Tapi Yoe Kiak tidak memperdulikan perkataan pangcu baru ini. Ia berkata pula: "Ang Pangcu kami yang tua dikenal sebagai Pak Kay, maka itu usaha kita di Utara mana dapat gampang-gampang ditinggalkan secara begini? Lagi pula partai kita bercita-¬cita bersetia dan membela negara sedang dengan bangsa Kim, kita adalah musuh turunan, dari itu tidak dapat bingkisan ini diterima! maka tidak dapat kita pindah ke Kanglam!"
Yo Kang menjadi tidak senang, air mukanya menunjuki itu. Tapi belum lagi ia membuka mulut, Pheng Tiangloo sambil tertawa mendahului. Kata ini Tiangloo;
"Lou Tiangloo, urusan besar dari partai kita diputuskan oleh pangcu, bukan diputuskan kau seorang diri, bukan?"
Tetapi Yoe Kiak tetap sama sikapnya. Ia berkata keras: "Jikalau mesti melupakan kesetiaan dan kejujuran, biar mati, aku tidak suka menurut!"
"Ketiga tiangloo Kan, Pheng dan Nio, bagaimana pikiran kalian?" Yo Kang tanya ketiga tetua itu.
"Kami bersedia untuk titah pangcu!" menyahut ketiga tiangloo itu serentak.
"Bagus!" berseru Yo Kang. "Mulai tanggal satu bulan delapan, kita pergi menyeberang Sungai Besar!"
Atas perkataan itu, sebagian besar orang Kay Pang menjadi gaduh.
Di dalam Kay Pang ini, perbedaan di antara golongan Pakaian Bersih dan Pakaian Kotor nyata sekali. Golongan Pakaian Bersih, meski pakaian mereka banyak tambalannya, tetapi pakaian itu bersih seperti pakaian orang kebanyakan dan cara hidupnya sama dengan khalayak ramai, tidak demikian dengan golongan Pakaian Kotor yang teguh sama cita-citanya, sudah pakaiannya butut dan dekil, mereka tidak menggunakan uang untuk membeli barang, bahkan mereka tidak duduk bersantap bersama-sama dengan orang lain, mereka tidak akan bertempur bersama orang yang tidak mengerti ilmu silat. Benar di antara empat Tiangloo, tiga ada dari golongan Pakaian Bersih, walaupun demikian, jumlah pengemis Pakaian Kotor lebih banyak. Mereka inilah yang sekarang memberi suara setuju kepada Lou Yoe Kiak.
Melihat sikap sebagaian pengemis itu, Yo Kang menjadi bingung juga. Ketiga tiangloo she Kan, Pheng dan Nio lantas mengasih dengar suara nyaring mereka, meminta orang jangan gaduh, suaranya tidak diambil mumat. Kan Tiangloo menjadi habis sabar, maka ia memandang Lou Yoe Kiak.
"Lou Tiangloo, adakah kau hendak memberontak kepada pangcu?" dia tanya bengis.
"Biarnya aku dihukum picis, tidak akan aku berani melawan yang tua!" menyahut Yoe Kiak keren. "Apapula untuk memberontak terhadap pangcu, pasti aku lebih-lebih tak berani. Akan tetapi anjing Kim itu adalah musuh besar dari Kerajaan Song kita! Apa kata Ang Pangcu kepada kita?"
Kan Tiangloo bertiga kena terdesak, mereka lantas tunduk. Mereka mulai menyesal. Khiu Cian Jin melihat suasana itu, maka ia pikir usahanya bakal gagal kalau Lou Yoe Kiak tidak dipengaruhi, maka dengan tertawa dingin, ia berkata kepada Yo Kang:
"Yo Pangcu, hebat Lou Tiangloo ini!" Lalu menyusul penutup perkataannya itu, dengan kedua tangannya diulur ke arah pundak si tiangloo.
Ketika mendengar orang tertawa dingin, Lou Yoe Kiak sudah bercuriga, ia telah siap sedia, maka ketika ia diserang, dengan cepat ia berkelit sambil menunduk untuk nelusup masuk ke selangkangan orang. Sebab ia mengerti dengan baik, tidak bisa ia melawan dengan kekerasan. Sembari nelusup itu, tanpa menanti lempangnya pinggang, kakinya sudah menendang ke kempolan pangcu dari Tiat Ciang Pang. Dia bernama Lou Yoe Kiak, Lou si Mempunyai Kaki, dari itu bisa dimengerti ilmu dupakan itu.
Khiu Cian Jin heran untuk caranya orang berkelit itu, Guna melindungi diri, ia lantas mengayun tangannya ke belakang, guna menghajar kaki si pengemis.
Yoe Kiak tahu tangan lawan itu hebat, ia menarik pulang dupakannya ketiga. Ia khawatir kakinya nanti terluka. Sambil lompat ke samping, ia meludah kepada lawannya!
Khiu Cian Jin boleh gagah dan luas pengalamannya, akan tetapi serangan semacam itu ia tidak menyangka sama sekali, maka itu, belum sempat ia berkelit, mukanya sudah kena diludahi. Ludah itu tidak mendatangkan rasa sakit atau gatal, toh itu membuatnya tercengang.
"Lou Tiangloo, jangan kurang ajar kepada tetamu agung!" Yo Kang membentak.
Yoe Kiak masih taat kepada ketuanya, tetapi justru ia hendak merubah sikapnya, Khiu Cian Jin yang gusar sudah lantas menyerang, kedua tangannya yang kuat seperti kepit sudah menyambar ke arah tenggorakan. Ia kaget, maka ia berlompat jumpalitan untuk menghindarkan diri dari bahaya. Tapi ia terlambat, selagi kupingnya mendengar ejekan, "Hm!" kedua tangannya kena disambar lawan. Dalam kagetnya ia berontak, tetapi sia-sia saja. Ia sudah banyak pengalamannya, ia tidak menjadi bingung atau ketakutan, maka ia berdaya pula. Dengan tiba-tiba ia menyeruduk dengan kepalanya!
Semenjak masih kecil, Yoe Kiak sudah melatih kepalanya, maka serudukannya dapat menggempur tembok hingga bolong. Pernah ia bertaruh sama saudara-saudara separtai dengan melawan banteng, mengadu kepala, kepalanya sendiri tidak kurang suatu apapun, si kerbau sendiri roboh kelenger.
Hanya kali ini, ketika kepalanya mengenai perut, ia merasa membentur benda lunak seperti kapas. Ia kaget, mengerti bahaya, dengan lekas ia menarik pulang kepalanya. Betapa kagetnya, perut orang itu mengikuti kepalanya. Ia lantas mengerahkan tenaganya, untuk membebaskan kepalanya. Sebagai kesudahan dari pergulatannya itu, ia merasa kepalanya mulai panas sedang kedua tangannya yang terus dicekal menjadi panas sekali, seperti dimasukkan ke dalam perapian marong….
"Kau takluk atau tidak?!" tanya Khiu Cian Jin membentak.
"Bangsat busuk, takluk apa!" menjawab Yoe Kiak membentak juga.
Khiu Cian Jin mengerahkan tangan kirinya, maka lima jari Lou Tiangloo mengasih dengar suara meretak, kelima jarinya kena dipencet patah.
"Kau takluk atau tidak?!" tanya pula ketua Tiat Ciang Pang itu.
"Bangsat busuk, takluk apa!" Yoe Kiak membandel.
Khiu Cian Jin memencet pula, maka sekarang kelima jari kiri Lou Yoe Kiak yang pada patah. Ia merasakan sakit bukan main, ia sampai menjadi was¬was, tetapi ia bernyali besar dan besar kepala, ia terus masih mencaci.
"Jikalau aku menggerakkan perutku, kepalamu pun bakal remuk!" Khiu Cian in mengancam. "Aku mau lihat, kau masih dapat mencaci atau tidak….."
Disaat Lou Yoe Kiak menghadapi waktu kematiannya, di antara rombongan pengemis mendadak terlihat seorang berlompat maju - seorang yang tubuhnya tinggi dan dadanya lebar. Dialah si bocah Kwee Ceng!
Dengan tindakan lebar, Kwee Ceng segera menghampiri Lou Yoe Kiak, terus ia mengangkat tangannya yang kanan, dengan tiga kali beruntun menghajar kempolan si pengemis. Dia menghajar Yoe Kiak akan tetapi tenaganya itu tersalur, dari kempolan terus ke kepala, terus juga ke perut ketua Tiat Ciang pang, hingga tiga kali Khiu Cian Jin merasakan benturan yang kuat, hingga sekejap itu juga, buyarlah kekuatannya menempel dan menyedot.
Begitu lekas ia merasakan kepalanya merdeka, Yoe Kiak lantas mengangkat bangun tubuhnya, hanya kedua tangannya yang masih belum dilepaskan.
"Kau bukannya lawan dari Khiu Cianpwee, kau minggir!" berkata Kwee Ceng, yang sembari berkata telah menggenjot tubuhnya untuk berlompat, maka juga sebelah kakinya bisa mendupak pundak si pengemis.
Tendangan ini sama pengaruhnya seperti hajaran pada kempolan tadi. Tenaga si anak muda tersalurkan ke kedua tangannya Khiu Cian Jin, tidak peduli tangannya panas, ia merasakan sakit pada telapak tangannya, maka tanpa merasa, cekalannya menjadi kendor dan terlepas sendiri.
Loe You Kiak pun merasakan ia tak terpegang keras lagi, ia lantas menggunakan tenaganya membarengi berontak sambil berlompat mundur. Tapi karena ia telah tercekal keras dan kepalanya masih terasa pusing, kedua kakinya seperti tidak bertenaga, ia roboh sendiri.
Khiu Cian Jin terperanjat menyaksikan kepandaian Kwee Ceng. Ia mengetahui ilmu yang disebut "Kek san ta gu", atau " Memukul kerbau diantara gunung". Ilmu itu cuma mendapat dengar, sekarang ia membuktikannya sendiri. Ia pun heran melihat seorang bocah, yang ia tidak kenal. Karena ini ia menyiapkan tenaga di kedua tangannya, ia mengawasi pemuda itu. ia tidak berani sembarang menyerang meski sebenarnya ia mendongkol.
Sementara itu kegaduhan terbit di antara kaum pengemis. Mereka tidak tahu apa yang terjadi dengan Lou Yoe Kiak, mereka menyangka Kwee Ceng menyerang orang hingga roboh, pingsan atau terbinasa, maka dengan suara riuh mereka maju dengan niat menyerang si anak muda. Mereka juga heran anak muda itu yang teringkus sekian lama, mendadak dapat membebaskan diri.
Semenjak ia melihat bintang Pak Tauw, Kwee Ceng telah mengumpulkan semangatnya. Ia memperhatikan gerak-gerik rahasia dari Coan Cin Cit Cu, ia gabung dengan sarinya Kiu Im Cin-keng, yang ia telah paham betul, maka ia tidak memperdulikan segala apa yang terjadi di sekitarnya. Ia tidak mengambil mumat Oey Yong, ia tidak menggubris segala pembicaraan terutama diantara Loe Yoe Kiak dan Khiu Cian Jin. Hebat ia memusatkan pikirannya itu. Selagi Yoe Kiak terancam bahaya, ia sendiri lagi memecahkan suatu ilmu dari Kitab Bawah dari Kiu Im Cin-keng itu, bagian ilmu "Menyimpan otot dan meringkaskan tulang". Siapa yang paham ini, ia bisa membikin tubuhnya ciut menjadi kecil. Di dalam hal ini, ia memperoleh banyak sekali bantuan dari ilmu yang diwariskan Ang Cit Kong kepadanya, ialah "Ie Kin Toan Kut Pian", atau ilmu "Menukar otot dan melatih tulang". Dengan mempunyai dasar itu, ia berhasil dengan lekas sekali. Demikian tanpa ia merasa, ia dapat kembalikan tenaga dan tubuhnya mengkerat kecil hingga ia lolos dari belenggu. Sebab Yoe Kiak terancam bahaya, ia segera menghampiri tiangloo, untuk memberikan pertolongan.
Pheng Tiangloo yang ditugaskan menjaga Kwee Ceng pun heran dan kaget ketika mendadak mendapatkan bocah itu bebas. Ia menjambret, gagal, ia cuma bisa menyambar tambang ringkasannya itu. Ia sadar dengan lekas, hendak ia menyusul si anak muda, tapi ia terlambat, Kwee Ceng sudah mendahului melemahkan tenaga dalam dari Khiu Cian Jin hingga Lou Yoe Kiak dapat ditolong. Tapi ia licik. Begitu melihat suasana, ia berteriak:
"Tangkap penjahat licik itu!" Ia sendiri tidak bergerak dari tempatnya berdiri, karena ia merasa, majunya toh bakal sia-sia belaka.
Kwee Ceng menyesal menyaksikan aksinya kaum pengemis, tetapi karena ia justru ingin mencoba lebih jauh hasil latihannya barusan, ia kata dalam hatinya: "Kalau hari ini aku tidak memberi ajaran adat kepada kamu, kemendongkolanku tidak dapat dilampiaskan...." Maka ia mementang kedua tangannya sambil kakinya memasang kuda-kuda "Thian Koan".
Tujuh pengemis maju paling dulu, dari depan dan belakang, dari kedua samping. Kwee Ceng membiarkan mereka maju, dengan kuda-kuda tidak begeming, ia menyambut mereka dengan kedua tangannya. Di belakang mereka itu, ada lagi beberapa pengemis yang merapatkan diri. Mereka pun disambut serupa, dengan tangkisan atau sikut, kalau perlu barulah dengan dupakan. Maka saling susul mereka berteriak kesakitan, saling susul juga mereka roboh terguling. Dengan cara ini Kwee Ceng pun mengundurkan yang lainnya lagi. Kemudian ia memikir untuk menerkam Yo Kang, tetapi ia melihat dua pengemis berlompat ke arah Oey Yong. Jarak diantara mereka cukup jauh, sulit untuk berlompat menolong nona itu. Tidak ada jalan lain, ia lantas menarik copot kedua sepatunya, dengan itu ia menimpuk ke arah kedua penyerang itu.
Dua pengemis itu adalah orang-orang yang kukuh, mereka hendak membunuh si nona, ke satu untuk membikin si nona tidak keburu lolos, kedua untuk membalaskan sakit hati ketua mereka. Nyata ilmu silat mereka sudah cukup sempurna, mereka mendengar ada angin menyambar di belakang mereka, hanya ketika yang satu segera menoleh untuk melihat dan menangkis, tahu-tahu sepatu sudah menghajar dadanya sedang yang lain kena terhajar punggungnya.
Sebenarnya sepatu itu barang lembek tetapi ditimpuki Kwee Ceng, tenaganya besar luar biasa. Sambil menjerit, mereka roboh terjengkang dan tengkurap, dan untuk sementara mereka tak dapat merayap bangun. Pheng Tiangloo berada dekat dua pengemis itu, ia kaget menyaksikan lihaynya Kwee Ceng.
Kwee Ceng sendiri, habis menimpuk, lantas mementang sayapnya, menghalangi beberapa pengemis yang merangsak pula, terus ia berlompat menghampiri Oey Yong, membuka belunggu si nona.
Selama itu, kawanan pengemis menyerbu lagi. Mereka tidak menjadi takut melihat sejumlah kawannya kena dirobohkan dengan gampang.
Sekarang Kwee Ceng tidak melayani seperti tadi. Dengan lantas menjatuhkan diri, untuk duduk mendeprok di tanah, lalu sambil berduduk, ia meniru gerak-geriknya Khu Cie Kee dan Ong Cie It beramai ketika Coan Cin Cit Cu menggerakkan tangan kanannya, sebab tangan kirinya dipakai membuka ikatan Oey Yong, sedang tubuh si nona ia pangku di atas kedua pahanya. Ia dapat berbuat demikian karena sekarang ia menggunakan tipu ajarannya Ciu Pek Thong. Ialah ilmu memecah pemusatan perhatian, kedua tangan bisa dipakai berkelahi satu sama lain.
Rombongan pengepung pengemis itu jadi semakin banyak. Tetapi Kwee Ceng membela diri dengan tangan kanannya, tetap tangan kirinya membuka belenggu si nona. Ketika kemudian ia berhasil membuka semua ikatan, ia lantas mengeluarkan biji sumbatan dari mulut nona itu, sambil berbuat demikian, ia tanya:
"Yong-jie, apakah kau terluka?"
"Tidak, cuma aku merasa sekujur tubuhku kesemutan," menyahut si nona, yang terus merebahkan diri.
"Bagus!" berkata si anak muda. "Kau boleh beristirahat, kau lihat bagaimana aku melampiaskan kemendongkolan kita!"
Oey Yong menurut, ia beristirahat. Kuat sekali kepercayaannya kepada Kwee Ceng. Ia cuma memesan sambil tertawa:
"Kau hajarlah mereka, asal mereka jangan sampai terluka parah!"
"Aku mengerti," menyahut si anak muda. "Kau lihat!"
Dengan tangan kirinya, Kwee Ceng mengusap-usap rambut yang bagus dari si nona, tangan kanannya ia mengibas. Kontan tiga orang pengemis kena dibikin terlempar, habis mana menyusul empat pengemis lainnya, semuanya ialah yang merangsak rapat.
Pertempuran kacau itu menyebabkan terdengar satu suara nyaring: "Saudara-saudara, lekas mundur! Biarlah saudara dari generasi delapan yang melayani dua bangsat cilik ini!"
Suara itu ialah Kan Tiangloo. Suara itu ditaati, maka lekas semua pengemis mengundurkan diri, hingga tinggal delapan pengemis, yang masing-masing punggungnya menggendol delapan buah kantung goni. Karena ada dari generasi ke delapan, kedudukan mereka ini cuma ada di sebawahan keempat tiangloo. Di antara mereka itu ada si kurus dan si gemuk yang menyambut Yo Kang. Sebenarnya jumlah mereka semua sembilan orang akan tetapi dengan Lee Seng membunuh diri, mereka tinggal delapan.
Kwee Ceng tahu bakal melayani delapan musuh tangguh, sebenarnya ia hendak bangun berdiri tetapi Oey Yong berbisik kepadanya:
"Kau duduk saja! Layani mereka dengan sabar!"
Kwee Ceng suka menurut, akan tetapi ia segera berpikir: "Baiklah aku lantas merobohkan beberapa di antaranya supaya hati mereka kecil!" Maka sambil mata mengawasi delapan pengemis itu, tangannya memegang tambang yang dipakai mengikat si nona, Ia memperhatikan si gemuk dan si kurus, segera ia menyerang mereka dengan tambangnya. Ia menggunakan satu jurus dari Kim Liong Pian-hoat, atau ilmu silat cambuk Naga Emas, pengajarannya Ma Ong Sin Han Po Kie. Tambang itu lemas tetapi di tangan pemuda ini lantas menjadi kaku.
Melihat datangnya serangan, kedua pengemis itu berlompat untuk berkelit, setelah itu mereka maju merapatkan diri. Enam saudara mereka tapinya terpegat oleh ujung tambang, hingga mereka tak dapat lantas maju karena tertahan.
"Jangan menyerang!" Kan Tiangloo mencegah, tetapi sia-sia saja cegahannya ini, si kurus dan si gemuk yang penasaran, sudah maju terus. Mereka ingin sekali bisa merobohkan si bocah. Maka mereka disambut Kwee Ceng. Sia-sia mereka menangkis, pundaknya kena dihajar bergantian. Saking kerasnya hajaran itu, tubuh mereka terpental mundur, hanya ada perbedaannya, si gemuk terpendal lebih dekat, si kurus lebih jauh. Bagusnya untuk mereka, tubuh mereka kena membentur orang-¬orangnya Khiu Cian Jin.
Mulanya ketua dari Tiat Ciang Pang tidak memperdulikan orang terpental, hanya setelah terjadi benturan, baru ia kaget, lagi-lagi Kwee Ceng menggunakan tipu silatnya "Kek san ta gu" itu. Ia kaget karena ia menginsyafi hebatnya hajaran semacam itu.
Untuk menolong orangnya, Khiu Cian in lantas berlompat, tetapi ia terlambat, kedua pengemis itu sudah berlompat bangun tanpa mereka terluka. Adalah dua orang Tiat Ciang Pang, yang dibentur mereka yang menjadi korban, malah mereka ini pada putus ototnya dan patah tulangnya, hingga mereka mesti rebah terus di tanah.
Ketika si ketua kaget, ia terkejut pula karena kupingnya mendengar angin menyambar. Segera ia menoleh, maka segera ia melihat terlemparnya tubuh dua pengemis lain! Itulah hebat! Lagi-lagi orangnya yang bakal menjadi korban. Tidak ayal lagi, ia lompat maju. Pengemis yang satu ia sampok, membikin ia terlempar ke tempat kosong, dan pengemis yang kedua, ia hajar punggungnya. Syukur untuk pengemis yang kedua ini, tenaga Khiu Cian Jin berimbang sama tenaga Kwee Ceng, dia tidak terluka, dia jatuh dengan perlahan, lantas ia lari pula ke arah si anak muda.
Empat tiangloo dan Oey Yong heran. Keempat pengemis ini tidak mengerti kenapa bocah itu demikian lihay dapat bertahan terhadap ketua Tiat Ciang Pang yang sangat lihay. Oey Yong heran, ia berpikir: "Penipu besar ini biasa saja kepandaiannya, mengapa ia dapat menandingi engko Ceng? Ini aneh!"
Sampai di situ, Khiu Cian Jin mengipas tangannya, memberi tanda untuk orang-orangnya jangan bergerak. Ia menginsyafi, kekuatannya berimbang sama kekuatan si anak muda, jadi percuma orang¬-orangnya menerjang. Ia tahu mereka itu bergusar karena robohnya dua saudaranya. Ia berdiri diam saja menonton.
Empat pengemis generasi ke delapan itu heran untuk ketangguhan si anak muda, tetapi mereka melawan terus. Mereka dibantu oleh saudaranya, yang tadi dihajar punggungnya oleh Khiun Cian Jin. Berlima mereka mengepung, tapi hasilnya tak ada.
Coba Kwee Ceng tidak berlaku murah, siang-siang tentulah mereka sudah mendapat hajaran. Kemudian Kwee Ceng merobohkan lagi dua orang lawan. Baru sekarang tiga yang lainnya jeri dan mundur, tetapi mereka terlambat. Dengan menggunakan tambangnya, Kwee Ceng menyambar dan melilit kaki dua pengemis, terus ia menariknya orang ke sisinya, terus ia meringkus mereka.
Oey Yong gembira sekali menyaksikan kemenangan dari engko Cengnya itu. Ia lantas ingat kepada Pheng Tiangloo, si pengemis yang wajahnya berseri-seri, yang menangkap dia berdua dengan Kwee Ceng dengan caranya yang aneh itu. Ia sekarang ingat akan hal ayahnya pernah bicara tentang Liam-sim-hoat, semacam ilmu sihir dengan apa orang dapat dengan tiba-tiba dibikin tidur dan dipermainkan tanpa berdaya. Maka ia lantas tanya Kwee Ceng apa di dalam Kiu Im Cin-keng ada disebut tentang itu macam ilmu gaib. Ia percaya betul Pheng Tiangloo telah menggunakan ilmu itu.
"Tidak," Kwee Ceng menyahut.
Mendapat jawaban ini, si nona menyesal. Tapi segera ia memberi peringatan: "Hati-hati dengan pengemis jahat yang gemar berseri-seri itu, jangan mengadu sinar mata dengannya!"
Kwee Ceng mengangguk. "Aku justru hendak memberi hajaran kepadanya," katanya perlahan.
Karena sekarang pertempuran sudah berhenti, ia memegang punggung si nona, untuk dikasih bangun, ia sendiri berbareng berbangkit. Lalu dengan mengawasi Yo Kang, ia bertindak kepada si anak muda.
Yo Kang sendiri telah berdebaran hatinya semenjak tadi. Ia jeri untuk lihaynya si anak muda, maka ia mengharap-harapkan kemenangan pihaknya sendiri, ialah pihak pengemis. Maka kesudahannya itu membuatnya takut, lebih-lebih ia melihat anak muda itu mendatangi ke arahnya dengan matanya yang tajam.
"Su-wie Tiangloo!" ia lantas berteriak. "Kita di sini ada banyak orang gagah, apakah dapat bangsat kecil ini dibiarkan banyak bertingkah?!" Ia berteriak tetapi ia mundur ke belakang Kan Tiangloo.
"Tabahkan hati, Pangcu," kata Kan Tioangloo dengan perlahan. "Biar bangsat kecil itu gagah, dia tidak akan sanggup melawan kita yang berjumlah besar. Mari kita lawan dia dengan bergantian!" Dan lantas dia berteriak: "Murid-murid kantong delapan aturlah Barisan Tembok!"
Titah itu ditaati, lantas muncul seorang pengemis dengan kantung delapan. Majunya dia ini diturut oleh belasan pengemis lain, yang mengatur diri dengan rapi, ialah mereka yang bergandengan tangan, jumlah semua enam atau tujuhbelas orang. Mereka lantas maju untuk menerjang Kwee Ceng, majunya sambil berseru nyaring.
Oey Yong berseru heran, ia berkelit ke kiri, sedang Kwee Ceng ke kanan. Segera di arah kiri dan kanan itu, atau timur dan barat, muncul masing-masing satu barisan seperti yang pertama itu, yang menyerang dengan hebat.
Menampak cara penyerangan yang aneh dan teratur itu, Kwee Ceng tidak berkelit lagi, ia mencoba mengajukan kedua tangannya, guna menahan mereka. Segera ternyata, barisan itu berat sekali, mereka dapat ditolak mundur. Sebaliknya, selagi mereka ditolak, dua barisan yang lain lantas maju pula. Karena terlambat sedikit, si anak muda kena dibikin terhuyung. Terpaksa ia berlompat tinggi, melewati kepala mereka. Baru ia menaruh kaki di tanah atau telah datang pula pasukan yang keempat. Lagi-lagi ia berlompat pergi. Lagi-lagi ia diserang barisan yang serupa. Maka, ke mana ia menyingkir, di sana ia dipegat dan diserbu apa yang dinamakan Barisan Tembok itu.
Juga Oey Yong mengalami serbuan yang serupa. Ia lebih gesit daripada Kwee Ceng tetapi ia kewalahan. Akhirnya ia lompat kepada si anak muda, untuk mempersatukan diri. Karena ini, bersama-sama mereka kena didesak mundur. Mereka mundur terus hingga di pojok batu gunung.
"Engko Ceng, mundur ke jurang!" Oey Yong berkata.
Kwee Ceng belum bisa menerka maksud si nona tetapi ia menurut, ia mundur ke arah jurang seperti si nona. Ketika mereka akan sampai di tepian, lagi lima atau enam kaki, mendadak pihak penyerang menghentikan desakannya. Ia lantas berpaling ke belakang. Baru sekarang ia mengerti. Ia kata dalam hatinya: "Di sini ada jurang, kalau mereka mendesak tanpa sanggup mempertahankan kakinya, tentu mereka bakal terjerunuk ke dalam jurang!"
Pemuda ini lantas memandang ke Oey Yong, hendak ia memuji ke cerdikan orang, atau ia tak jadi memuji. Roman bergembira dari si nona lekas berubah menjadi guram. Ia menoleh lagi ke arah musuh. Sekarang ia mendapatkan musuh maju dengan perlahan-lahan, musuh itu berlapis-lapis. Ini benar-¬benar berbahaya. Berdua mereka bisa dipaksa jatuh sendiri ke dalam jurang, sedang untuk berlompat di atasan kepala dari selapis dari seratus orang, itu tak dapat.
Selama di gurun pasir, Kwee Ceng pernah mengikuti Ma Giok berlari-lari di tepian jurang, maka itu, ia lantas memperhatikan jurang itu. Ia mendapat kenyataan keadaan jurang kalah daripada jurang di gurun pasir itu. Maka ia lantas mendapat pikiran.
"Yong-jie!" ia berkata. "Lekas kau naik ke punggungku. Mari kita pergi!"
"Tidak bisa!" kata si nona menghela napas. "Mereka bisa menyerang kita dengan batu…!"
Kwee Ceng pikir itulah benar juga. Ia menjadi bingung. Tapi justru itu, ia ingat suatu bagian dari Kiu Im Cin-keng.
"Yong-jie," ia berkata. "Aku ingat di dalam Kiu Im Cin-keng, ada ilmu yang disebut Ilmu memindah Arwah, mungkin itu sama dengan ilmu Liam-sim-hoat yang kau tanyakan tadi. Baik, mari kita mencoba…."
Tetapi si nona masih berduka. "Mereka semua adalah murid yang dicintai suhu, apa gunanya membinasakan mereka apa pula di dalam jumlah yang banyak?"
Tetapi Kwee Ceng tidak memperdulikan lagi si nona. Mendadak ia memeluk tubuh orang sambil ia berbisik:
"Lekas lari!" Menyusul itu, ia mencium pipi si nona yang nempel sama hidungnya itu selagi ia berbisik, lalu dengan mengerahkan tenaganya, ia melemparkan nona itu ke atas panggung Hian Wan Tay!
Oey Yong telah membikin tubuhnya enteng, maka tubuhnya melayang ke arah panggung. Ia mengerti maksud Kwee Ceng, yang mau melawan sendiri semua lawannya, agar ia menyingkir terlebih dahulu. Ketika ia sampai di panggung, dengan enteng ia menaruh kakinya. Sesaat itu, ia menjadi tidak karuan rasanya. Tapi ia segera melihat Yo Kang di pojok panggung itu, dengan tangan memegang Lek-tiok-thung, orang she Yo itu lagi memegang pimpinan pada barisan pengemis. Ia lantas mendapat pikiran. Terus ia menjejak lantai, berlompat kepada anak muda itu, tangannya diulur menyambar tongkat suci kaum Kay Pang.
Yo Kang terkejut melihat tahu-tahu si nona berada di atas panggung, ketika tubuh orang hampir sampai, ia hendak menghajarnya dengan tongkatnya, tetapi tangan kanan si nona, dengan dua jari terbuka, meluncur ke arah kedua matanya. Juga kaki kiri si nona dipakai menjejak tongkatnya.
Dalam kagetnya, saking takutnya, Yo Kang melepaskan tongkatnya dan ia sendiri lompat turun dari panggung. Meski begitu, ia masih kalah sebat oleh si nona, matanya toh kebentur juga jari si nona, hingga ia merasakan sangat sakit, kedua matanya menjadi gelap.
Oey Yong telah mengeluarkan jurus "Dari mulut anjing galak merampas tongkat". Itulah salah satu jurus terlihai dari ilmu tongkat "Ta Kauw Pang-hoat" Jangan kata baru orang dengan ilmu silat seperti Yo Kang itu, biar yang terlebih pandai, sukar untuk meloloskan diri.
Oey Yong segera mengangkat tinggi tongkat sucinya itu, ia berseru: "Saudara-saudara Kay Pang, lekas kamu menghentikan pertempuran! Ketahuilah oleh kamu, Ang Pangcu masih belum meninggal dunia! Semua adalah bisanya ini manusia jahat!"
Suara itu terang terdengar, semua pengemis menjadi heran. Dengan serempak, mereka menghentikan aksi mereka. Semua orang lantas mengawasi ke arah panggung, hati mereka ragu-ragu. Benarkah kabar girang itu - artinya pangcu mereka yang she Ang belum menutup mata?
"Saudara-saudara, mari!" Oey Yong memanggil. "Mari dengar aku bicara hal Ang Pangcu!"
Yo Kang mendengar suara nona itu, tetapi ia tidak dapat membuka matanya. Maka dari bawah panggung, ia berteriak:
"Akulah pangcu! Saudara-saudara dengar perintahku! Lebih dulu dorong itu bangsat laki-laki jatuh ke dalam jurang, baru bekuk ini bangsat perempuan yang ngaco-belo!"
Titahnya Yo Kang ini besar pengaruhnya. Walaupun ragu-ragu, bangsa pengemis itu tetap taat kepada ketuanya. Maka mereka maju sambil berseru-seru.
"Saudara-saudara, dengarlah!" Oey Yong berteriak pula. "Tongkat Kay Pang ada di tanganku, akulah pangcu dari Kay Pang!"
Semua pengemis itu melengak, tindakan kaki mereka berhenti sendiri. Memang belum pernah mereka mengalami peristiwa tongkat suci mereka kena dirampas orang.
Oey Yong berkata lagi: "Kay Pang kita telah malang melintang di kolong langit tetapi hari ini kita telah diperhina, dibuat permainan oleh orang luar, bahkan dua saudara Lee Seng dan Ie Tiauw Hin dipaksa membuang jiwanya dengan cuma-cuma! Dan Lou Tiangloo pun telah terluka parah! Kenapakah itu? Apakah sebabnya itu?"
Kata-kata itu berpengaruh juga, maka ada separuh dari Kay Pang mengawasi si nona untuk mendengar pembicaraannya terlebih jauh.
"Sebabnya ialah karena manusia licin she Yo telah bersekongkol dengan pihak Tiat Ciang Pang!" berkata pula Oey Yong dengan nyaring. "Orang she Yo ini telah menyiarkan cerita burung bahwa Ang Apngcu meninggal dunia! Tahukah saudara-saudara siapakah orang she Yo ini?"
"Siapakah dia? Siapakah dia?" banyak suara bertanya. "Lekas bilang, lekas!"
Tapi ada juga yang berseru. "Jangan dengar ocehannya bangsat perempuan ini, dia lagi mengacau pikiran kita!"
Maka itu, suara mereka menjadi berisik. Oey Yong tidak menghiraukannya. Ia berkata pula:
"Dia bukan orang she Yo, dia sebenarnya she Wanyen! Dialah putra dari Pangeran Chao Wang dari negara Kim! Dia tengah beraksi untuk merampas Kerajaan Song!"
Kawanan pengemis itu melengak tetapi mereka tidak berani lantas mempercayai. Oey Yong berpikir cepat. Ia pun mengerti, sukar untuk lantas merebut kepercayaan orang banyak. Maka ia membutuhkan bukti. Ia lantas merogoh ke dalam sakunya. Ia merasa bersyukur barang-¬barangnya tidak terampas semua. Di situ masih ada tangan besi yang Cu Cong curi dari tubuhnya Khiu Cian Jin. Dia lantas mengangkatnya tinggi-tinggi. Ia lantas berkata nyaring:
"Lihatlah, barang ini apa! Baru saja aku merampas dari tangannya si orang she Yo ini! Lihatlah, semua saudara!"
Semua orang merangsak maju. Mereka terpisah cukup jauh dari panggung. Mereka ingin melihat tegas, barang apa itu. Lantas juga di antaranya ada yang berseru,
"Itu tangan besi! Kenapa barang itu ada padanya?"
"Nah, inilah dia!" berseru Oey Yong. "Dialah mata-mata dari Tiat Ciang Pang! Tentu saja dia membawa-bawa barang pertandaan dari partainya!"
Yo Kang kaget dan takut sekali. Segera ia mengayunkan sebelah tangannya, maka dua biji pusutnya menyambar ke arah si nona. Ia tidak bisa melihat tetapi ia bisa menduga orang berada di mana dengan mendengar suaranya saja. Ia pun berada paling dekat dengan nona.
Oey Yong bisa melihat menyambarnya senjata rahasia, yang mengeluarkan sinar berkeredepan, ia biarkan saja. Diantara pengemis ada yang berteriak-teriak:
"Senjata rahasia! Awas!" Ada pula yang menjerit: "Celaka!"
Dua batang senjata rahasia itu mengenai tubuh Oey Yong, terdengar suara yang nyaring, dan kedua senjata rahasia itu jatuh ke panggung, sementara si nona tidak kurang suatu apapun.
"Eh, orang she Yo!" Oey Yong menegur. "Jikalau kau bukan orang jahat, kenapa kau membokongku dengan senjata rahasia!"
Para Kay Pang menjadi heran, mereka jadi sangat bersangsi. Rata-rata mereka bertanya, siapa nona itu, dan apa benar perkataannya. Ada juga yang menanya, apa pangcu mereka - Ang Pangcu - belum mati. Maka itu, banyak mata lantas ditujukan kepada keempat tiangloo. Agaknya mereka ingin minta keempat tertua itu mengeluarkan pikirannya.
Karena kejadian ini, Barisan Tembok dari kaum Kay Pang itu pecah sendiri, dengan begitu ketika Kwee Ceng pergi ke pinggiran panggung, tidak ada orang yang ambil peduli.
Ketika itu Lou Yoe Kiak sudah sadar, maka keempat tiangloo lantas berbicara.
"Sekarang ini belum bisa didapat kepastian," berkata Yoe Kiak. "Maka itu baiklah kedua pihak ditanya dengan jelas. Yang paling penting ialah mencari tahu dulu benar atau tidak Ang Pangcu meninggal dunia…."
"Tetapi kita sudah mengangkat pangcu baru, mana dapat kita mengubahnya dengan sembarangan?" kata Kan Tiangloo bertiga. "Aturan kita turun-temurun, titah pangcu tidak dapat dibantah!"
Maka itu, keempat tiangloo itu pun menjadi terpecah dua. Kemudian ketiga tiangloo golongan Pakaian Bersih saling mengasih isyarat, terus mereka mendekati Yo Kang, terus Kan Tiangloo berseru:
"Kami cuma mempercayai perkataan Yo Pangcu! Entah darimana datangnya ini dukun perempuan, dia mengacau pikiran orang! Jangan dengarkan dia! Saudara-saudara bekuk dia! Bawa dia turun untuk dihajar!"
Tapi Kwee Ceng di bawah panggung berseru dengan bengis: "Siapa berani turun tangan?!"
Melihat orang bersikap garang, tidak ada pengemis yang berani naik ke panggung. Sementara itu Khiu Cian Jin bersama orang-¬orangnya semua berdiri diam di samping, jauh dari mereka. Ia senang menyaksikan peristiwa itu. Bukankah orang seperti lagi saling membunuh?
Oey Yong berkata pula: "Sekarang ini Ang Pangcu masih hidup, ia berada dengan tidak kurang suatu apapun di dalam istana di Lim-an! Pangcu kelewat gemar dahar barang santapan raja, ia tidak dapat membagi waktu untuk datang ke mari, maka itu ia mewakilkan aku. Kalau nanti Ang Pangcu sudah cukup dahar, ia pasti akan datang menemui saudara-saudara!"
Keempat tiangloo serta kedelapan pengemis kantung delapan itu tahu kegemaran pangcu mereka akan bersantap, keterangan Oey Yong ini dapat juga menarik kepercayaan mereka, maka pikiran mereka guncang pula.
Kembali Oey Yong berkata: "Orang she Yo ini sudah bersekongkol sama Tiat Ciang Pang, dia sengaja hendak mencelakai aku. Dia telah mencuri tongkat Pangcu untuk mengakali orang. Kenapa kamu tidak dapat membedakan apa yang benar dan apa yang salah dan kamu main percaya saja? Keempat tiangloo dari partai kita adalah orang-orang yang banyak penglihatannya dan luas pengetahuannya, mengapa kamu tidak dapat melihat ini suatu akal yang kecil sekali?"
Mendengar itu, semua mata lantas diarahkan kepada keempat tiangloo. Banyak mata yang bersinar ragu-ragu.
Yo Kang telah buntu jalan, dia norek. "Kau bilang Ang Pangcu masih hidup, habis kenapa dia menugaskan kau menjadi pangcu?" ia menanya. "Dia menghendaki kau menjadi pangcu, kau mempunyai bukti apa?"
Oey Yong membalingkan tongkatnya. "Inilah tongkat Tah-kauw-pang dari Pangcu! Mustahilkah ini bukan bukti?" berkata ia.
Yo Kang tertawa lebar. "Haha! Toh itu tongkat suciku, yang barusan kau merampasnya dari tanganku?" katanya. "Siapakah tidak menyaksikan itu barusan?"
"Jikalau Ang Pangcu menghendaki kau menjadi pangcu, mengapa dia tidak mengajari ilmu silat Tah Kauw Pang-hoat?" Oey Yong tanya. "Kalau benar dia mengajarinya, kenapa kau membiarkannya aku merampas?"
Mendengar orang menyebut ilmu silat Tah Kauw Pang-hoat, yaitu ilmu silat tongkat peranti mengemplang anjing. Yo Kang menyangka Oey Yong memandang hina tongkat itu, maka ia hendak membalikinya. Ia berteriak:
"Ini adalah tongkat suci dari Pangcu kami, kenapa kau menyebut-nyebut tongkat peranti mengemplang anjing? Ha, kau mengaco belo, ya! Sungguh berani kau menghina tongkat suci dari partai kami!"
Yo Kang bangga sekali. Ia menganggap dengan begitu ia telah menghormati tongkatnya itu. Ia mau percaya, tentulah orang-orang Kay Pang senang dengannya. Ia sama sekali tidak menyangka, bahwa selama di sepanjang jalan, si pengemis gemuk dan kurus sebenarnya tidak berani menyebut Ta Kuaw Pang kepada tongkat suci itu, hingga dengan begitu, ia sendiri jadi tidak tahu nama tongkat itu. Mendengar perkataannya ini, semua pengemis saling mengawasi, wajah mereka muram, suatu tanda mereka tidak senang hati.
Yo Kang dapat melihat sikap orang, ia mengerti bahwa ia tentu telah omong kurang tepat, hanya ia tak tahu di mana letak kesalahannya. Tidak pernah ia menyangka, tongkat suci yang dipandang keramat Kay Pang itu, namanya sebenarnya ialah Tah Kauw Pang alias tongkat peranti pengemplang anjing!
Oey Yong tersenyum. "Ha, buat apa banyak-banyak omong tentang tongkat suci ini!" katanya. "Jikalau kau menghendaki, kau ambillah!" Dan ia mengulurkan tangannya, menyodorkan tongkat itu.
Yo Kang menjadi girang sekali, meski begitu, ia tidak berani lantas naik ke panggung, ia jeri Kwee Ceng.
"Pangcu, kita nanti menjagai kau," Pheng Tiangloo berbisik. "Lebih dulu ambillah tongkat itu, baru kita bicara lagi." Habis berkata begitu, tiangloo ini mendahului berlompat naik.
Melihat demikian, Yo Kang yang sekarang telah dapat melihat pula, turut naik dengan diiringi Kan Tiangloo dan Nio Tiangloo.
Yo Kang dengan bersangsi, dia curiga orang nanti menggunakan akal, ia tidak langsung menyambut, lebih dulu ia bersiaga dengan tangan kiri, baru tangan kanannya diulur.
Oey Yong melepaskan cekalannya. Ia tertawa. "Apakah kau telah memegangnya erat-erat?" ia menanya.
"Kenapa?" tanya Yo Kang gusar, sedang tangannya memegang keras tengah tongkat.
Oey Yong tidak menjawab, hanya dengan tangan kirinya bergerak, kaki kanannya terbang, menyusul mana, tangan kanannya dilonjorkan, Dengan gerakannya itu pas berbareng cepat, tongkat suci kembali pindah ke tangannya tanpa Yo Kang mampu berdaya untuk melindunginya.
Kedua tiangloo she Pheng dan Nio kaget bukan main, mereka heran sekali. Cuma sekejap, tongkat telah berpindah tangan pula. Kan Tiangloo juga tidak kurang herannya. Bukankah mereka bertiga melindungi pangcu mereka yang muda itu?
Yo Kang bersangsi. Kang Tiangloo menggerakkan cambuknya sebat sekali, cuma sedetik, tongkat itu kena disambar, dililit dan ditarik, lalu dipegang tangannya. Menyaksikan itu, semua orang Kay Pang bersorak dengan pujian mereka. Kemudian tongkat dapat diserahkan kepada Yo Kang.
"Ketika Ang Pangcu menyerahkan tongkat ini kepadamu, mustahil ia tidak mengajari kau untuk memegangnya dengan erat?" tanya Oey Yong tertawa pada si anak muda. "Bukankah ia telah mengajari supaya kamu dapat melindunginya hingga tidak gampang-gampang kena orang rampas?"
Tepat selagi ia tertawa, kedua kaki si nona menjejak lantai, lalu tubuhnya melesat di antara Kan Tiangloo dan Nio Tiangloo, terus tiba di depan Yo Kang. Kan Tiangloo menyambar dengan tangan kirinya, guna menangkap si nona, tetapi tangkapannya gagal. Sebab nona itu tepat menggunakan jurus "Burung waket terbang berpasangan" ajaran Ang Cit Kong, tubuhnya lincah dan licin.
Bukan main heran dan kagetnya tiangloo itu, yang mengenal baik kepandaian sendiri. Hatinya tercekat. Justru itu mereka mendengar sambaran angin, hingga terpaksa mereka melompat mudur.
"Ini jurus yang dinamakan Tongkat mengemplang anjing sepasang," berkata si nona, yang tubuhnya melesat sedang barusan, dengan gerakan tongkatnya, ia sengaja membikin kedua tiangloo itu membuka jalan untuknya. Maka ia telah sampai di pojok timur dari panggung itu, tongkat Tah-kauw-pang tercekal di tangannya, cahayanya menyorot hijau di antara sinar rembulan. Demikian sebat si nona, tak ada orang yang melihat gerakannya itu.
Kwee Ceng lantas berseru: "Lihatlah! Kepada siapa Ang Pangcu telah menyerahkan tongkat Tah-kauw¬pang? Apakah masih belum cukup terang?"
Orang-orang Kay Pang menjadi kagum, heran dan bercuriga. Mereka telah menyaksikan jelas bagaimana caranya si nona merampas pulang tongkat itu dari tangan Yo Kang, sedang anak muda mereka itu - si pangcu baru - pun pandai ilmu silat dan dia juga dilindungi ketiga tiangloo. Lantas mereka ramai membicarakan itu.
Lou Yoe Kiak lantas berkata: "Saudara-saudara, apa yang diperlihatkan nona ini benar-benar adalah ilmu silatnya Ang Pangcu!"
Kan Tiangloo saling mengawasi dengan Pheng Tiangloo dan Nio Tiangloo, lalu ia berkata:
"Dialah muridnya Ang Pangcu, sudah tentu dia mendapat warisan pelajaran ilmu silatnya! Apakah yang aneh!"
"Semenjak jaman dahulu, Tah Kauw Pang-hoat tidak diwariskan kecuali kepada orang yang menjadi pangcu," berkata Lou Yoe Kiak. "Mustahilkah Kan Tiangloo tidak ketahui aturan itu?"
Kan Tiangloo tertawa dingin. "Nona ini mengerti beberapa jurus ilmu silat tangan kosong merampas senjata, belum tentu itu adalah Tah Kauw Pang-hoat!" ia berkata.
Yoe Kiak menjadi bersangsi, tetapi ia berkata kepada Oey Yong: "Nona, silahkan kau menjalankan ilmu silat Tah Kauw Pang-hoat. Kalau benar kau mewariskan ilmu silat itu, pasti pengemis di seluruh negeri bakal takluk kepadamu."
"Tetapi," berkata Kan Tiangloo yang licik, "Ilmu silat itu kita cuma baru mendengar namanya saja, belum pernah ada yang melihatnya, maka itu siapa berani memastikan itu tulen atau palsu?"
"Habis itu kau menghendaki apa?" Lou Tiangloo tanya.
Kan Tiangloo menepuk kedua tangannya satu dengan lain, ia kata dengan nyaring: Jikalau nona ini dengan ilmu silat tongkat itu dapat mengalahkan sepasang tanganku yang kosong ini, maka aku si orang she Kan barulah takluk benar-benar dan akan menjunjungnya sebagai pangcu kita! Umpama kata aku mengandung dua hati, biarlah laksana panah menancap di tubuhku dan ribuan golok menghukum picis mayatku!"
"Hm!" Yoe Kiak berkata, "Berapa tinggikah usia si nona ini? Meskipun dia pandai dengan ilmu silat tongkatnya, maka sanggup dia melayani kau yang sudah belajar silat beberapa puluh tahun lamanya?"
Selagi dua tiangloo ini berebut bicara, Nio Tiangloo si tabiat keras sudah habis sabarnya, dengan mendadak dia berlompat kepada Oey Yong sambil membacok dengan goloknya. Sembari menyerang, dia kata:
"Tulen atau tidaknya ilmu silat Tah Kauw Pang¬hoat itu akan terbukti setelah diuji! Maka lihatlah golok!"
Penyerangan itu hebat. Itulah penyerangan berantai tiga kali, sedang dilakukannya dengan cara seperti membokong.
Oey Yong dapat melihat serangan itu, dengan cepat ia menyoren tongkat di pinggangnya, dengan sebat ia berkelit, dan ia berkelit terus tiga kali, hingga ia bebas dari serangannya. Ia pun berkelit tanpa memindahkan kaki, cuma main mengegos tubuh.
"Apakah untuk melayani kau tepat aku menggunakan ilmu silat Tah Kauw Pang-hoat?" ia kata sambil tertawa. Kata-kata ini disusul gerakan tangan kiri dan kanan - tangan kiri menyerang, tangan kanan mencoba merampas golok!
Nio Tiangloo berkenamaan, ia menjadi gusar sekali, bocah cilik berani memandang dia sebelah mata, maka itu habis menyingkirkan goloknya, ia lantas menyerang pula. Tentu sekali, ia berlaku bengis.
Sekarang Kan Tiangloo tidak lagi memandang enteng kepada si nona, ia mau percaya, mengenai si nona, mesti ada apa-apa yang masih tersembunyi, dari itu, karena khawatir kawannya berlaku semberono, ia meneriaki:
"Nio Tiangloo, jangan kau berlaku telengas!"
Tapi Oey Yong sebaliknya memandang enteng, "Jangan sungkan-sungkan!" katanya tertawa. Sembari berkata dan tertawa itu, ia melayani si tiangloo. Karena orang bersenjata golok dan menyerang bengis, ia melawan dengan lebih banyak berkelit, setiap ada kesempatan, ia membalas, meninju atau menendang, atau ia menyikut atau memenggal. Dalam waktu yang pendek, ia mengasih lihat belasan macam jurus yang luar biada.
Semua pengemis menjadi seperti kabur matanya. Mereka heran dan kagum, apapula delapan pengemis kantung delapan itu.
"Ah, itulah Lian Hoa Kun!" yang satu berseru.
"Eh, itu toh pukulan gembolan kuningan?" kata si gemuk, yang turut menjadi kagum. Hanya belum ia menutup rapat mulutnya, Oey Yong sudah menukar lagi ilmu silatnya, hingga seorang pengemis lain berseru: "Ah, itulah ilmu silat Kun-thiang-kang dari Ang Pangcu!"
Ang Cit Kong itu adalah seoarang yang wajar, ia tidak suka menerima murid, kalau ada anggota yang berjasa, ia cuma mengajari satu atau dua jurus sebagai persen. Lee Seng bukannya seorang lemah, ia cuma diajarkan satu jurus dari Hang Liong Sip-pat Ciang, ialah jurus "Naga sakti menggoyang ekor".
Sudah begitu ada lagi satu tabiat aneh dari pangcu itu, ialah satu jurus yang diajarkan kepada satu orang, ia tidak suka mewariskan lagi kepada yang lain, maka juga, pelajaran yang didapat anggota-anggota Kay Pang, semua berlainan. Cuma Oey Yong yang menjadi murid istimewa, sebab ia pandai masak, dia dapat memincuk pangcu itu dengan pelbagai masakannya yang lezat, setiap kali ia masak, setiap kali ia memperoleh satu pelajaran.
Maka selama di Kiang Bio-tin, dia memperoleh puluhan macam jurus. Sekarang, di depan Kay Pang, ia sengaja pertontonkan ilmu silatnya itu, membikin orang kagum, heran dan tunduk. Maka setiap anggota Kay Pang, yang pernah memperoleh warisan dari Ang Cit Kong lantas memuji kalau ia melihat si nona menjalankan jurusnya itu. Maka itu, ramailah suara pujian, yang keluar saling susul.
Nio Tiangloo melihat itu semua, ia juga menjadi heran dan kagum, matanya pun seperti kabur, oleh karena itu, ia tidak mau berlaku sembrono lagi, tidak mau ia menyerang, ia selalu membela diri dengan menutup dirinya rapat-rapat.
Lagi beberapa jurus telah dilewatkan atau mendadak si nona berhenti bersilat, dengan menyilangkan kedua tangannya di depan dada, ia tertawa menanya:
"Apa kau suka menyerah kalah?"
Nio Tiangloo belum mengeluarkan seantero kepandaiannya, mana sudi ia menyerah kalah, bahkan kerena panas hatinya, ia lantas menyerang. Bacokannya ini hebat sekali.
Kan Tiangloo dan Lou Yoe Kiak kaget. "Tahan!" mereka berseru.
Pula banyak pengemis lainnya yang berteriak saking kagetnya. Selagi orang kaget dan berkhawatir itu, Oey Yong sendiri tidak menghiraukan datangnya bacokan yang diarahkan ke pundaknya yang kiri.
Nio Tiangloo sendiri pun menyesal, tetapi ia tidak dapat menarik pulang bacokannya itu, maka tepat sekarang si nona kena dibacok, sebab ia nampak tidak berkelit atau menangkis.
Baru Nio Tiangloo menyesal atau mendadak tangannya dirasai lenyap tenaganya, goloknya itu terlepas dari cekalan, jatuh dengan mengasih dengar suara nyaring di lantai panggung. Ia tentu tidak tahu nona lawannya itu mengenakan pakaian dalam joan-wie-kah, jangan kata golok biasa, golok mustika pun tak mungkin memakan. Berbareng dengan menyesalnya itu, sikutnya telah ditotok si nona menggunakan ilmu totok warisan ayahnya "Lan¬hoa-hoet-hiat-ciu", ilmu menotok jalan darah Bunga Anggrek.
Dengan lantas Oey Yong mengulurkan kakinya, menginjak goloknya si pengemis tertua itu, kepalanya dimiringkan, sembari tertawa, ia menanya,
"Bagaimana?"
Nio Tiangloo tercengang, lalu tanpa membilang apa-apa, ia lompat mundur. Waktu itu Khiu Cian Jin dari tempatnya menonton mengasih dengar suaranya yang nyata sekali:
“Orang memakai mustika dari Tho Hoa To, atau tidak membacok kepalanya, mana bisa kau melukai dia?"
Kan Tiangloo tunduk, ia berpikir.
"Bagaimana, kau percaya aku tidak?" tanya Oey Yong tertawa.
Lou Yoe Kiak mengedipi mata kepada si nona, untuk menyudahi saja. Ia tahu, dalam ilmu silat, nona ini kalah jauh dari Nio Tiangloo, maka kemenangannya itu mesti karena suatu tipu daya. Atau sedikitnya, akan sama tangguhnya. Dilain pihak, Kan Tiangloo jauh lebih lihay daripada Nio Tiangloo. Maka ia bergelisah melihat si nona tidak menggubris isyaratnya. Hanya celaka untuknya, untuk turun tangan, ia tidak sanggup, tangannya yang diremas Kiu Cian Jin, masih terasa sakit sekali, bahkan semakin sakit, hingga ia mengeluarkan keringat dingin di sekujur badannya, hingga tak bisa ia membuka mulut.
Akhirnya Kan Tiangloo mengangkat kepalanya. "Nona marilah aku belajar kenal denganmu!" ia berkata.
Kwee Ceng melihat tegas tiangloo itu, ia percaya Oey Yong tak sanggup melawannya, maka itu, ia hendak menggantikan nona itu. Maka ia lantas menjumput tambang kulit yang dipakai meringkus dirinya, dengan satu gerakan tangan, ia membikin ujung tambang menyambar tongkat Kan Tiangloo yang tadi oleh Kiu Cian Jin dibikin nancap di batu gunung, sambil membentak, ia menarik dengan kaget. Maka tongkat itu tercabut, terlempar ke arah si tiangloo. Disaat itu ia berlompat ke depan Kan Tiangloo, ia menyambar dengan sambaran "Menunggang enam naga", suatu jurus dari Hang Liong Sip-pat Ciang, setelah itu, dengan tangan kiri memegang kepala tongkat dan tangan kanan mencekal bututnya, yaitu ujungnya, ia membikin gerakan memutar. Maka itu dilain saat, tongkat yang telah melilit melengkung lantas menjadi pulih keadaannya, lempang seperti biasa. Segera setelah itu, ia menyerukan,
"Sambutlah!" dan tongkat itu ia lemparkan kepada pemiliknya.
Kan Tiangloo terkejut. Ia tahu, kalau ia menyambut, tangannya bisa terluka. Maka dengan lantas ia berkelit, sambil berbuat begitu, ia berseru kepada orang¬-orangnya dibawah panggung, menitahkan mereka lekas menyingkir. Kalau tidak, mereka atau beberapa di antaranya bisa terhajar tongkat itu.
Akan tetapi tongkat itu tidak sampai mendatangkan bencana. Oey Yong dengan sebat sekali, dengan cara pandai, telah mengulurkan Lek-tiok-thung di tangannya, menyambar bagian tengah dari tongkatnya Kan Tiangloo, lalu dengan gerakan menarik sambil memutar, membuat tongkat tertahan dan kena tertekan hingga turun di lantai.
Gerakan nona Oey ini adalah jurus "Menindih punggung anjing", dari ilmu silat Tah Kauw Pang-hoat, tepat bekerjanya, setelah mana si nona sambil tertawa berkata kepada tiangloo yang barusan menantang padanya:
"Silahkan kau menggunakan tongkat baja, aku hendak menggunakan tongkat bambu ini! Marilah berdua kita main-main beberapa jurus…."
Kan Tiangloo sangat bersangsi. Sekarang ia mengambil sikap, kalau kalah, baiklah ia menyerah. Ia lantas membungkuk, untuk memungut tongkat bajanya itu - kepala tongkat diturunkan ke bawah, buntut tongkat naik ke atas, lalu sambil memberi hormat dengan membungkuk, ia berkata:
"Aku mohon belas kasihan nona."
Dengan cara menghormat itu, kepala tongkat diturunkan, tiangloo ini mengambil sikap menurut aturan Kaum Rimba Persilatan, kehormatan di antara yang muda dengan yang tua, tanda dari tidak berani menganggap diri seimbang derajat. Itulah untuk mohon petunjuk.
Oey Yong meluncurkan tongkatnya, dengan gerakan "Anjing dongak ke langit", ia menyontek ujung tongkat si pengemis tertua, hingga tongkat itu naik ke atas, sambil berbuat begitu, ia mengatakan sambil tertawa:
"Tak usah memakai banyak adat peradatan! Aku khawatir kepandaianku tidak dapat melawan kepandai kau.."
Tongkat baja dari Kan Tiangloo adalah tongkat yang berat yang telah dipakai beberapa puluh tahun lamanya, sekarang tongkat itu, dengan satu sontekan perlahan, kena dibikin terangkat naik oleh si nona, bahkan ujungnya terangkat sampai hampir mengenai jidatnya, ia menjadi terkejut. Syukur ia lekas menggunakan tenaganya, untuk menahan, ia kembali membawa sikapnya si muda terhadap seatasan. Ia menyerang dengan jurus "Raja Cin menghajar batu", suatu jurus dari Hong Mo Thung¬hoat, ilmu silat Hantu Edan dari Lou Tie Cim, salah seorang anggota gagah dari pahlawan-pahlawan Liang San.
Menampak gerakan si tiangloo, Oey Yong tidak berani berlaku lalai. Ia tahu, meskipun memakai baju lapis, serangan tongkat itu bisa melukai di dalam tubuh. Maka dengan lincah ia berkelit. Ia bukannya mundur, hanya berkelit sambil merangsak. Ia terus menggunakan jurus-jurus dari Tah Kauw Pang-hoat.
Demikian keduanya bertempur. Beratnya tongkat baja tigapuluh kati lebih tetapi menghadapi tongkat bambu yang enteng itu, tidak dapat berbuat banyak.
Mulanya Kan Tiangloo masih mengandung rasa khawatir nanti kena merusak tongkat suci itu, serangannya hebat tetapi dibatasi, kalau dirasa ia bakal menghajar Lek-tiok-thung, segera ia membatalkannya, ia selalu mencegah bentrokan, akan tetapi sesudah beberapa jurus, ia mengubah caranya berkelahi, bahkan jadi bersungguh¬-sungguh. Ia mendapat kenyataan, tongkat si nona lihay sekali, tikamannya juga dapat merupakan totokan kepada jalan darah. Dengan lantas untuk membela diri, ia menjadi repot.
Kwee Ceng menjadi sangat kagum. "Benar lihay ilmu silatnya suhu," ia berkata di dalam hatinya, memuji Ang Cit Kong.
Tengah bertempur, mendadak Oey Yong membuat satu perubahan. tongkatnya bukan ia cekal gagangnya, hanya bagian tengahnya, dan bukan menyerang, ia terus putar itu dengan asyik, hingga tongkatnya nampak bulat. Tentu saja itu bukan cara bertarung, bagaikan orang tengah main-main saja.
Mulanya Kan Tiangloo heran hingga ia tercengang, habis itu ia menyerang si nona, untuk mencegah kurungan. Ia mengarah pundaknya si nona.
Oey Yong melihat datangnya serangan, bukannya menangkis, ia hanya menjaga. Tapi ia tidak membuat kedua tongkat bentrok, cuma mendekatkan saja, lalu bagaikan memancing, ia menarik.
Kan Tiangloo terkejut. Ia menyerang tetapi merasa tongkatnya seperti tertarik dengan keras. Jadi terang si nona telah meminjam tenaga lawan. Dalam kagetnya, ia lantas menarik. Kembali ia terkejut. Tongkatnya itu seperti nempel sama tongkat lawan, tertarik atau menarik. Ia kaget sebab ia tahu, di dalam halnya tenaga dalam, ia mesti menang daripada si nona, tetapi sekarang ialah yang kena dipengaruhi. Tujuh atau delapan kali sudah ia menarik, sia-sia belaka, tongkatnya tidak bisa dia membebaskannya.
Tah Kauw pang-hoat ada delapan pokoknya, dan sekarang Oey Yong lagi menggunakan pokok "melibat" maka tongkatnya seperti ada talinya yang mengikat tongkat si tiangloo.
Kan Tiangloo penasaran, ia mengerahkan tenaganya dan memainkan Tay-lek Kim-kong Thung¬hoat, yaitu ilmu tongkat Arhat Tangguh, dengan begitu hebat ia membuat ujung tongkatnya bergerak keempat penjuru. Tetapi aneh tongkat si nona, kemana ujung tongkat baja menuju, ke sana tongkat bambu mengikuti. Nampaknya seperti si tiangloo yang berkuasa, sebenarnya dia seperti lagi dikendalikan. Atau diumpamakan kuda binal, kuda itu lagi diumbar oleh penunggangnya yang lihay.
Akhirnya Pheng Tiangloo yang menonton dengan kekaguman dan keheranan, tertawa dan berkata:
"Pangcu kau telah lelah, istirahatlah!"
Suara itu perlahan dan halus, sedap didengar telinga. Oey Yong benar-benar lantas merasa tubuhnya lelah. Ia pun memikir, setelah bertempur sekian lama, sudah waktunya ia beristirahat. Begitu ia merasa, begitu ia menjadi letih dan lesu, matanya pun menjadi kantuk.
Tapi sekarang pandangannya Kan Tiangloo sudah berubah, ia percaya si nona adalah pangcunya yang tulen, ia hendak melindungi si nona, maka mengetahui Pheng Tiangloo lagi menggunakan Liam¬sin-hoat, ilmu sihirnya, ia lantas membentak:
"Eh, Pheng Tiangloo, kau hendak berbuat apa kepada pangcu?!"
Pheng Tiangloo tidak memperdulikannya, ia tertawa perlahan dan berkata pula: "Pangcu hendak beristirahat, ia telah sangat letih, kau jangan ganggu padanya….."
Oey Yong mengerti ia terancam bahaya akan tetapi ia merasakan tubuhnya lemas dan matanya mau meram saja, ia merasa mesti beristirahat. Hanya disaat separuh was-was dan separuh sadar, mendadak ia ingat perkatan Kwee Ceng tadi. Bagaikan tersadar, ia lantas tanya kawannya:
"Engko Ceng, bukankah kau membilang tadinya bahwa di dalam kitab ada disebut hal ilmu memindahkan arwah?"
Kwee Ceng mengerti pertanyaan itu. Ia memang telah bercuriga terhadap Pheng Tiangloo, kecurigaannya bertambah menyaksikan Oey Yong berubah sikap, pertempuran berhenti sendiri secara demikian aneh dan romannya si nona pun sangat lesu. Ia sudah memikir untuk menghajar tiangloo itu kalau ia main gila, maka mendengar pertanyaan itu, ia segera mendekati Oey Yong dan membisiki padanya bunyi ilmu memindah arwah.
Kedua ilmunya si tiangloo dan yang termuat di dalam Kiu Im Cin-keng ada serupa intinya, ilmu sihir belaka, maka ilmu itu harus dilawan dengan kekuatan hati, diri sendiri harus dapat dikendalikan. Maka Kwee Ceng telah membisiki si nona untuk menguatkan hati, Oey Yong yang masih sadar, lantas menuruti nasehat si pemuda. Ia lantas meramkan mata, pemikirannya dipusatkan. Ia mengempos semangat, membikin bathinnya kuat. Selang tidak lama, lantas lenyap rasa lesu dan kantuknya. Ketika ia membuka matanya, ia sadar seperti biasa.
Pheng Tiangloo girang sekali. Ia percaya si nona meram karena terkena pengaruh ilmunya. Ia lantas memikirkan daya lainnya, untuk membikin nona itu membuka matanya, ia terus diawasi sambil tersenyum! Ia tahu mesti ada terjadi keanehan, ia lekas-lekas balas bersenyum. Ia hendak menggunakan ilmunya untuk mempengaruhi si nona. Tapi sekarang ia gagal, dari tersenyum, tanpa merasa ia tertawa sendiri.
Oey Yong melihat perubahan tiangloo itu, ia mengerti ilmu dari Kiu Im Cin-keng telah bekerja dan memenangi si tiangloo, maka itu ia bukan cuma tersenyum, ia lantas tertawa lebar.
Pheng Tiangloo kaget. Ia masih ingat akan dirinya, ia mencoba mengendalikan diri. Tapi sudah kena dibikin kaget, tidak dapat ia menguasai dirinya. Bahkan dari berdiri diam, lantas berjingkrak, terus tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya! Ia tertawa haha-hihi, ia berteriak, makin lama suaranya makin keras. Semua pengemis menjadi heran, semua dibikin bingung karenanya.
"Eh, Pheng Tiangloo, kau bikin apa?" Kan Tiangloo menegur. "Kenapa kau begini kurang ajar terhadap pangcu?"
Pheng Tiangloo tidak memperdulikan teguran itu, ia terus tertawa terpingkal-pingkal. Ia menunjuk hidungnya. Kan Tiangloo mengira ada apa-apa yang aneh pada hidungnya, ia mengusap. Tapi ini membuat rekannya tertawa lebih hebat. Akhirnya Pheng Tiangloo lompat turun ke bawah panggung di mana ia terus tertawa sambil bergulingan!
Baru sekarang semua pengemis menjadi curiga. Dua muridnya Pheng Tiangloo lantas lari kepada gurunya itu, mengasih bangun, akan tetapi mereka ditolak, guru itu tertawa tak hentinya. Karena ini mukanya lantas menjadi merah tua.
Kalau orang biasa terkena ilmu Oey Yong, paling juga dia merasa lelah dan ingin tidur, tidak demikian dengan Pheng Tiangloo, yang sendirinya tukang sihir. Karena ia melawan, kesudahannya, akibatnya menjadi hebat. Ia menyerang, sekarang dia kena dibalas diserang, serangan itu dahsyat untuknya.
Kan Tiangloo menjadi tak enak hati. Ia khawatir Pheng Tiangloo mati karenanya. Maka ia lantas menjura pada Oey Yong dan berkata:
"Pangcu, Pheng Tiangloo berlaku kurang ajar, dia harus dihukum berat, tetapi aku mohon dengan kemurahan hati pangcu, sukalah ia diberi ampun."
Lou Yoe Kiak juga io Tiangloo, lantas turut maju, sambil menjura, mereka pun memohon keampunan bagi tiangloo yang telah menjadi seperti gila itu. Hanya sekali mereka ia minta-minta ampun, di sana terdengar suara aneh dari Pheng Tiangloo sendiri…….
Oey Yong tidak menjawab ketiga tiangloo itu, ia hanya berpaling kepada Kwee Ceng. "Engkong Ceng, cukupkah sudah?" ia menanya.
"Cukup!" menjawab si anak muda. "Kasihlah dia ampun!"
Oey Yong lantas menghadapi ketiga tiangloo itu. "Samwie, kamu menghendaki aku memberi ampun padanya, boleh," dia berkata. "Aku hanya minta kamu tidak dapat meludah kepada tubuhku!"
Kan Tiangloo melihat jiwa Pheng Tiangloo terancam, ia menjawab dengan cepat: “Aturan kami ditetapkan oleh pangcu, maka itu pangcu juga yang dapat menetapkan atau menghapuskannya. Teecu semua menurut perintah saja."
Senang Oey Yong mendengar jawaban itu. Ia tertawa. "Sekarang pergilah kau menotok dia pada jalan darah thongkok-hiat dan siang-kiok-hiat!" ia memberi petunjuk.
Kan Tiangloo lompat turun dari panggung, ia menghampiri Pheng Tiangloo menotok kedua jalan darah yang ditunjuk. Dengan lantas tiangloo berhenti tertawa, hanya kedua matanya mencelik hingga terlihat putih semua, sedang jalan darahnya menjadi sulit.
Oey Yong tertawa. "Sekarang benar-benar aku mau beristirahat!" katanya. "Eh, mana si orang she Yo itu?" ia tanya. Ia heran melihat Yo Kang tidak ada di antara mereka.
"Dia sudah pergi," menyahut Kwee Ceng.
Si nona berjingkrak. "Kenapa dia dikasih pergi?" katanya. "Dia pergi kemana?"
"Dia pergi mengikuti si tua bangka she Khiu itu," sahut Kwee Ceng seraya tangannya menunjuk.
Oey Yong memandang ke telaga di mana perahu layar tengah berlayar pergi. Tentu saja tidak dapat menyusul Yo Kang atau Khiu Cian Jin, maka dia cuma bisa mendongkol dan menyesal sendiri. Ia mengerti kebiasaan Kwee Ceng, yang sangat jujur. Rupanya ini engko Ceng masih ingat persahabatan dari dua turunan, dia jadi suka memberi ampun pada pemuda she Yo yang jahat itu.
Yo Kang cerdik, begitu melihat pertempuran antara Oey Yong dan Kan Tiangloo, ia mengerti, jikalau ia tidak lantas mengangkat kaki, dia bakal menghadapi bahaya, dari itu, diluar tahu orang - selagi orang menonton pertempuran - ia nelusup kepada rombongannya Khiu Cian Jin dan minta pertolongan orang she Khiu itu.
Kapan Khiu Cian Jin mengetahui orang adalah putranya Wanyen Lieh, ia menepuk dada memberikan kepastian untuk menolong, kemudian sesudah melihat suasana - bahwa pastilah Oey Yong yang bakal jadi ketua Kay Pang dan si nona bersama Kwee Ceng adalah musuh-musuh tangguh, diam-diam dia mengajak orangnya pangeran itu berlalu dari gunung Kun San.
Kemudian Oey Yong menghadapi semua orang Kay Pang, sambil mengangkat Lek-tiok-thung, ia berkata:
"Sekarang ini, selama Ang Pangcu masih belum kembali, akulah yang buat sementara waktu mengurus partai. Kan Tiangloo bersama Nio Tiangloo, silahkan kau berangkat menyambut pangcu. Kamu membawa murid-murid kantung delapan dan menyambutnya di timur sana. Lou Tiangloo sendiri berdiam di sini untuk beristirahat."
Suaranya ini wakil pangcu disambut dengan riuh oleh orang-orang Kay Pang itu. Kemudian Oey Yong menanya:
"Pheng Tiangloo ini tidak lurus hatinya, coba kamu bilang, dia harus dihukum bagaimana?"
Kan Tiangloo menjura, ia berkata: "Dosa saudara Pheng ini besar sekali, dia harus dihukum berat, akan tetapi mengingat dulu ia telah membantu pangcu mendirikan jasa besar untuk partai kita, teecu mohon dia diberi ampun dari hukuman mati."
Oey Yong tertawa. Ia berkata: "Aku memang telah menduga, kau bakal memintakan ampun untuknya. Baiklah! Mengingat dia telah tertawa cukup banyak sekarang dia dipecat kedudukannya sebagai tiangloo, biar dia menjadi murid kantung delapan!"
Ketiga Tiangloo she Kan, Nio dan Lou itu menghanturkan terima kasih, Pheng Tiangloo sendiri juga mengucapkan terima kasihnya.
Oey Yong berkata pula: "Sebenarnya sukar mencari kesempatan untuk berkumpul di sini, kalian semua tentu ingin berbicara banyak, maka pergilah kamu bicara asal terlebih dahulu kamu mengubur baik-¬baik dua saudara Lee Seng dan Ie Tiauw Hin. Aku melihat Lou Tiangloo adalah orang yang paling baik, selanjutnya semua urusan aku serahkan padanya dan kamu mesti mendengar segala perintahnya. Aku sendiri, sekarang juga mau berangkat. Nanti di Lim-an kita bertemu lagi!"
Begitu ia berkata, Oey Yong mencekal tangannya Kwee Ceng, dituntun berlalu turun gunung. Melihat demikian, semua orang Kay Pang mengiringinya sampai di kaki gunung, sampai nona itu berdua dibawa perahu dan lenyap di antara kabut malam, baru mereka kembali ke puncak gunung, di mana dengan dipimpin Lou Tiangloo, mereka membicarakan segala urusan.
Hari sudah terang ketika Oey Yong dan Kwee Ceng kembali ke Gak Yang Lauw. Di sana mendapatkan kuda mereka, sepasang burung rajawali dan burung hiat-niauw menantikan mereka. Semua binatang itu nampak girang bertemu dengan majikannya.
Oey Yong memandang jauh ke timur, ia menyaksikan sang Batara Surya seperti meloncat keluar dari gelombang telaga Tong Teng Ouw. Sinar fajar itu sangat indah dan menawan hati.
"Pemandangan begini indah, jangan kita lewatkan," kata si nona kemudian, tertawa, "Engko Ceng, mari kita naik ke atas!"
Kwee Ceng menurut. Tapi ketika mereka tiba di atas dan ingat kejadian kemarin, pengalaman itu membuatnya mereka bergidik sendiri. Kejadian itu sangat berbahaya. Hanya keindahan alam membuat mereka dengan cepat melupakan kejadian kemarin. Belum lama lagi mereka minum arak, mendadak Kwee Ceng melihat air muka si nona berubah, agaknya ia bergusar.
"Engko Ceng, kau jahat!" katanya tiba-tiba.
Kwee Ceng kaget, "Kenapa?" tanyannya heran.
"Kau tahu sendiri!"
Kwee Ceng berpikir tetapi ia tidak ingat apa-apa. "Yong-jie yang baik, kau jelaskanlah," pintanya.
"Baik," menyahut si nona. "Sekarang aku tanya kau! Tadi malam kita didesak ke jurang, jiwa kita terancam bahaya. Kenapa kau melemparkan aku? Apakah kau kira kalau kau mati aku bisa hidup? Apakah kamu masih belum tahu hatiku?" Habis itu si nona menangis, air matanya jatuh ke dalam arak.
Kwee Ceng terharu mendapatkan orang demikian mencinta dirinya. Ia mengulur tangan, mencekal erat-erat tangan kanan nona itu. Tidak dapat ia mengucapkan sesuatu.
Oey Yong menghela napas perlahan, melegakan hatinya. Ia sebenarnya hendak membuka mulut ketika mendengar tindakan kaki di tangga, lalu terlihat nongolnya kepala orang. Keduanya terkejut. Itu adalah Tiat Ciang Siu-siang-piauw Khiu Cian Jin.
Kwee Ceng segera melompat bangun, akan menghalangi di depan si nona. Ia khawatir orang tua itu nanti menyerang.
Tapi Khiu Cian Jin bukannya menyerang, ia hanya bersenyum, tangannya diangkat, menggapai, setelah itu dia memutar tubuh, lantas turun lagi. Kelihatan nyata orang jenaka tetapi dalam keadaan ketakutan…………
"Dia takut pada kita, ini aneh!" berkata Oey Yong. "Nanti aku lihat." Tanpa menanti jawaban, si nona lantas lari turun.
Kwee Ceng lekas membayar uang arak, lekas-lekas ia menyusul. Tapi setibanya di bawah, ia tidak mendapatkan Khiu Cian Jin atau Oey Yong. Ia menjadi kaget dan berkhawatir. Tentu sekali ia takut nona itu celaka di tangan si Tangan Besi. Maka ia lantas memanggil-manggil:
"Yong-jie! Yong-jie! Kau di mana?"
Oey Yong mendengar panggilan Kwee Ceng tetapi ia tidak menyahut. Ia lagi menguntit Khiu Cian Jin, kalau ia bersuara, orang akan mengetahui lagi dibayangi. Ia menguntit terus.
Ketika mereka berjalan di pinggir sebuah rumah besar, Oey Yong sembunyi di balik tembok di pojok utara. Ia hendak menguntit terus setelah si orang tua jalan sedikit jauh. Akan tetapi Khiu Cian Jin seorang cerdik, begitu ia mendengar suara Kwee Ceng, ia menduga si nona lagi mengikutinya. Maka setelah menikung di ujung tembok, ia menyembunyikan diri.
Dengan begitu, mereka sama-sama bersembunyi. Dengan begitu, sama-sama mereka berdiam. Yang satu menantikan yang lain, yang lain menunggu yang satu. Selang sekian lama, karena dua-duanya tetap bersembunyi, mereka ingin melihat. Keduanya menongolkan kepala. Apa mau dikata, waktunya tepat, bareng sekali. Maka sinar mata mereka bentrok satu sama lain. Nyatanya mereka bersembunyi dekat satu dengan lain: satu di pojok sana, satu di pojok lain - jarak di antara mereka tidak ada setengah kaki! Tentu sekali, keduanya menjadi sama kagetnya.
Setelah menyaksikan peristiwa di Kun San, Oey Yong jeri terhadap orang tua ini, yang sekian lama ia mengiranya seorang penipu besar, cuma namanya saja kesohor tapi gunanya tidak ada, tidak tahunya, dia sangat lihay. Khiu Cian Jin sebaliknya jeri terhadap si nona, karena sudah beberapa kali dia bercelaka di tangan si nona ini. Maka, setelah sama-sama berseru kaget, sama-sama juga mereka menyingkir!
Oey Yong tidak puas. Segera ia kembali, untuk menguntit lagi. Ia pikir lewat jalan memutar rumah besar itu. Karena ia khawatir Khiu Cian Jin sudah pergi jauh, ia bertindak cepat. Ia ingat tiba lebih dahulu di ujung tembok timur, untuk dapat menguntit terus.
Juga Khiu Cian Jin berpikir seperti si nona, ia pun jalan memutar. Tidak heran kalau l mereka jadi bersamplokan lagi! Sekarang mereka bertemu di tembok menghadap ke selatan.
Oey Yong sudah lantas berpikir: "Jikalau aku memutar tubuh dan pergi dari sini, bisa-bisa nanti ia membokong punggungku! Dia sangat lihay, mana bisa aku mengelit?" Maka itu, ia lantas tersenyum. Ia berkata: "Khiu Locianpwee, dunia ini benar-benar sempit! Kembali kita bertemu di sini…!" Sambil berkata begitu, si nona pun berpikir: "Baiklah aku mengulur waktu! Aku mesti menanti engko Ceng, waktu itu aku tak usah takut lagi………."
Khiu Cian Jin juga sama berpikir seperti si nona. Dia tertawa dan berkata: "Hari itu kita berpisah di Liam-an, siapa sangka sekarang kita bertemu pula di sini. Apakah kau banyak baik, nona?"
Oey Yong heran tak kepalang. "Bangsat tua, kau ngaco belo!" katanya di dalam hati. "Terang-terang tadi malam kita bertemu di Kun San, sekarang kau menyebut-nyebut tentang pertempuan di Lim-an! Baik, biarlah kau ngoceh tidak karuan! Aku ada membuat ilmu silat Tah Kauw Pang-hoat, kenapa aku tidak menghajar dia sebelum sadar?" Maka ia lantas berteriak nyaring: "Engko Ceng, kau hajar punggungnya!"
Khiu Cian Jin kaget. Ia mengira Kwee Ceng muncul di belakangnya. Ia lantas menoleh. Oey Yong sangat sebat, berbareng sama teriakannya, tangannya mengeluarkan tongkat, terus menyapu ke bawah!
Juga Khiu Cian Jin sangat licin. Ia menoleh dengan cepat, ia tidak melihat Kwee Ceng, lantas ia insyaf bahwa ia diperdayakan. Ia pun mendengar bersiurnya angin, maka lantas berlompat. Maka bebaslah ia dari sapuan itu. Akan tetapi Oey Yong tidak sudi mengasih hati. Gagal sapuannya, ia mengulangi. Dan ia mengulanginya terus, berulang-ulang, untuk membikin orang tak dapat bernapas.
Bukan main takutnya Khiu Cian Jin. Dengan terpaksa, ia berlompatan. Tidak ada kesempatan untuk melesat jauh, guna melarikan diri. Setelah tujuh atau delapan kali lompat-lompatan terus, betis kirinya kena juga oleh ujung tongkat, tidak ada waktu lagi, dia menjerit mengaduh dan tubuhnya terbanting.
"Tahan! Aku hendak bicara!" ia berkata, tangannya diangkat.
Oey Yong menghentikan serangannya, ia mengawasi sambil tertawa geli, tetapi begitu orang bangun sambil berlompat, tidak menanti kaki orang mengenai tanah, ia menyapu lagi. Dalam keadaan seperti itu, Khiu Cian Jin tidak dapat berkelit lagi, maka sekali lagi terguling memegang tanah. Ia bandel sekali, setiap kali jatuh, ia bangun sambil berlompat, maka si nona pun, setiap orang berlompat dia membarenginya menyapu. Dengan demikian, enam kali orang she Khiu itu jatuh bangun.
Habis itu, Cian Jin terus mendekam di tanah. Ia tahu percuma berlompat bangun. Ia pun tidak berani berkutik.
"Kau berpura-pura mampus?" kata Oey Yong tertawa.
Khiu Cian Jin menyahut sambil berlompat bangun, hanya kali ini ia berlompat seraya menarik tali celananya, hingga tali itu putus, sambil berbuat begitu, ia berteriak-teriak:
“Kau mau pergi atau tidak? Aku hendak melepaskan tanganku!"
Nona Oey melengak. Ia tidak menyangka bahwa seorang ketua partai main gila seperti itu. Tentu saja ia takut orang membuktikan ancamannya, artinya Khiu Cian Jin meloloskan pakaian, maka terpaksa sambil berludah ia memutar tubuhnya untuk bertindak pergi. Ia lantas mendengar suara orang tertawa kegirangan, disusul suara tindakan kaki. Ketika ia mencoba menengok, ia melihat Khiu Cian Jin masih memegangi celananya, bahkan sekarang ia lari hendak mengejar. Nona ini mendongkol berbareng merasa lucu, tetapi ia terpaksa lekas-lekas lari.
Khiu Cian Jin belum lari jauh ketika ia memikir sudah cukup mengusir nona, maka ia berhenti mengejar, tetapi saat itu, Kwee Ceng muncul dari ujung rumah, lantas maju menghalang, kedua tangannya digerakkan, tangan kirinya menjaga dada, tangan kanan diajukan.
"Celaka!" berseru Khiu Cian Jin. Ia lantas berhenti mengejar.
"Hajar dia, engko Ceng!" Oey Yong berkata. "Jangan ladeni ocehannya!"
Kwee Ceng lantas bersiap. Ia tahu Khiu Cian Jin pendusta, tapi di Kun San ia telah melihat ketangguhannya, dia tidak mau memandang enteng.
"Eh, anak-anak, kau dengar kata-kata kakekmu!" berkata Khiu Cian Jin sambil tetap memegangi celananya. "Selama beberapa hari ini kakekmu termaha gegares, menjadi mulas perutnya. Sekarang pun kakekmu mau buang air besar…"
"Engko Ceng, hajar dia!" berkata Oey Yong yang sendirinya tak berani maju bahkan ia mundur.
"Aku tahu hatimu, anak-anak," berkata pula Khiu Cian Jin. "Jikalau kamu tidak diberi kesempatan menyaksikan kepandaiaan kakekmu, kamu tentu tidak puas, kamu tidak suka menyerah, maka sayang sekali sekarang justru perut kakekmu lagi sakit, semua yang ada di dalam perut mau melonjor keluar. Baiklah anak-anak yang manis, aku beri waktu padamu. Tujuh hari maka kakekmu akan menanti kalian di kaki gunung Tiat Ciang San! Beranikah kalian pergi ke sana?"
Oey Yong telah menyiapkan seraup jarumnya, hendak menyerang apabila saatnya tiba, akan tetapi ia mendengar orang menyebut nana gunung Tiat Ciang Pang, mendadak ia ingat huruf-huruf dalam gambar peninggalan Kiok Leng Hong, yang bunyinya "Tiat Ciang San-hee" atau "di bawah gunung Tiat Ciang San" - gunung Tangan Besi. Maka ia lantas menyahut:
"Baiklah, biar tempat itu mirip kedung naga atau gua harimau, tentu kamu nanti pergikan! Di mana adanya Tiat Ciang San itu?"
"Dari sini kau pergi ke barat," berkata Khiu Cian Jin, tangannya menunjuk, “Kamu nanti melintasi Siang-tek, Sin-cu dan sungai Goan Kang. Kamu ikuti sungai mengalir. Nanti kamu tiba di Louw-kee dan Sin-kee. Di antara itu ada sebuah gunung tinggi seperti lima jari menunjuk ke langit, nah itulah gunung Tiat Ciang San. Gunung itu sangat berbahaya, kakekmu sendiri sangat lihay, maka itu kedua bocah, umpama kata kamu takut, baiklah sekarang saja kamu mohon ampun dari kakekmu, lantas bolehlah tak usah kamu pergi ke sana!"
Oey Yong mendengar keterangan "seperti lima jari menunjuk ke langit", ia jadi bertambah girang.
"Baiklah!" ia memberikan jawabannya, "Sekarang aku memberi kepastian, dalam waktu tujuh hari kami pergi mengunjungi gunungmu!"
Khiu Cian Jin mengangguk-angguk, mendadak ia berteriak pula: "Celaka!" berulangkali dan tanpa membilang apa-apa lagi, ia lari keras ke barat!
Kwee Ceng tidak mengubar, bersama Oey Yong ia mengawasi sampai orang telah pergi jauh. Kemudian ia berkata pada si nona:
"Yong-jie, ada satu hal yang bagiku benar-benar tidak jelas. Cobalah kau yang menerangkan."
"Apakah itu?" Tanya Oey Yong.
"Cianpwee she Khiu ini sangat lihay, kenapa dia gemar sekali memperdayakan orang?" Kwee Ceng mengutarakan keheranannya. "Kau lihat sendiri, ada kalanya dia berpura-pura berkepandaian sangat rendah. Di Kwie-in-chung dia telah meninju dadaku, coba dia mengeluarkan tangannya seperti tadi malam, mana bisa jiwaku bisa hidup sampai sekarang? Apakah dia berlagak gila saja? Atau apakah dia ada maksud yang lain?"
Oey Yong berpikir, ia menggigit jari tangannya. "Dalam hal ini, aku juga sangat tidak mengerti," sahutnya sesaat kemudian. "Tadi aku serang dia berulang kali, dia selalu roboh tak berdaya sama sekali, dia tidak mampu membalas menyerang, bahkan dia lantas main gila. Apa mungkin dia juga memperdayakan orang diwaktu menekuk melengkung tongkat baja?"
Kwee Ceng menggeleng kepala. "Dia telah meremas tangan Lou Toangloo," dia menambahkan. "Ketika ia menyambut seranganku dengan tipu silat Kek San Tah Gu, itu ilmu sejati. Ilmu itu tak dapat dipalsukan……"
Oey Yong lantas membungkuk, dengan tusuk kondenya, ia menggurat-gurat tanah, lalu selang sesaat, ia menghela napas.
"Benar-benar kau tidak dapat menerka tua bangka itu lagi memberi pertunjuk apa," katanya. "Biarlah, mari kita pergi ke Tiat Ciang San, setibanya di sana pasti kita akan mendapatkan pemecahannya."
"Buat apa kita pergi ke Tiat Ciang San?" tanya Kwee Ceng, bersangsi. "Benar urusan kita telah selesai tetapi kita harus mencari suhu. Tua bangka itu pandai main gila, perlu apa kita menangkapnya benar-¬benar?"
"Engko Ceng, mari aku tanya kau," kata si nona. "Bukankah gambar yang ayahku berikan padamu telah basah dan huruf-huruf apakah yang telah kau lihat di situ?"
"Surat itu telah rusak sampai artinya tak dapat ditangkap," kata Kwee Ceng sambil menggoyangi kepalanya.
"Habis, apakah kau tidak memikirkannya?" tanya pula Oey Yong tertawa.
Kwee Ceng benar-benar tidak dapat memikir atau menduga. "Ah, Yong-jie yang baik," katanya. "Kau tentu telah dapat memikir sesuatu, maka lekaslah kau jelaskan padaku!"


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar