Oey Yong tertawa. "Ayah, sarung tangan ini bagus untuk mainan, aku menyukainya, hanya ini alat peranti menipu orang aku tidak membutuhkannya! Nah ini, kau sambutlah!" Ia mengayaun tangannya, hendak menimpukkan pedang-pedangan itu. Mendadak, ia membatalkannya. Jarak dengan Kiu Cian Jin jauh juga, ia khawatir tidak dapat menimpuk sampai di sana. Maka pedang itu ia serahkan kepada ayahnya seraya membilangnya sambil tertawa: "Ayah, kau saja yang menimpukkannya!"
Oey Yok Su memang tengah bersangsi, ia ingin mencoba Kiu Cian Jin, maka ia menyambut pedang itu, yang ia taruh di telapak tangannya yang kiri, ujungnya yang lancip di arahkan ke luar, lalu dengan jari tangan dari tangan kanan, ia menyentil. Sekejap saja pedang itu melesat bagaikan terbang!
"Bagus!" berseru Oey Yong dan Kwee Ceng sambil bertepuk tangan.
"Tiat Cie Sin-kang yang hebat!" Auwyang Hong memuji di dalam hatinya. Ia kaget sendiri bertapa lihaynya Tong Shia si Sesat dari Timur ini.
Semua mata diarahkan kepada pedang itu serta Kiu Cian Jin. Di situ ia tampak jongkok tak bergeming walaupun bebokongnya mau dijadikan sasaran pedangnya. Maka cepat sekali, pedang telah mengenai dan menancap.
Serangan Oey Yok Su sangat hebat, jangankan pedang besi, walaupun pedang kayu, kalau sasarannya kena terhajar, korbannya mesti bercelaka.
Kwee Ceng lantas berlompat lari ke arah Kiu Cian Jin. Ketika ia sampai di tempat orang berjongkok, mendadak ia berseru:
"Celaka betul!" Tangannya pun lantas mengangkat sepotong baju, untuk diulap-ulapkan. Ia berseru pula: "Orangnya sudah kabur!"
Kiu Cian Jin telah meloloskan bajunya, yang ia sangkutkan dengan rapi hingga ia tampak seperti terus berjongkok membuang air besar, dengan nyelusup di pepohonan lebat, ia sendiri diam-diam angkat kaki, menyingkir dari tempat berbahaya itu. Dengan kecerdikannya ini ia telah berhasil mengelabui Tong Shia dan See tok yang berpenglamanan dan lihay itu, hingga dua orang itu melengak dan saling mengawasi, lalu keduanya tertawa lebar.
Auwyang Hong kenal baik Tong Shia, yang tak sejujur Ang Cit Kong, yang sukar untuk dibokong, sekarang melihat orang tengah tertawa, ia menganggap inilah kesempatan untuk turun tangan. Dengan mendadak ia berhenti tertawa, terus menjura dalam sekali.
Oey Yok Su terus tertawa hanya sambil tertawa tangan kirinya dilonjorkan, tangan kanan ditekuk, ia membalas hormat.
Sesaat itu tubuh mereka bergoyang sebentar, kemudian Auwyang Hong mundur tiga tindak. Ia telah membokong dengan tidak berhasil. Lantas ia kata:
"Baiklah, kita berdua nanti bertemu pula di belakang hari!" Sembari berkata begitu, ia mengibaskan tangan bajunya, memutar tubuh, dan berlalu.
Air mukanya Oey Yok Su berubah. Dengan lekas ia mengulur tangan kiri ke depan anak gadisnya. Kwee Ceng pun telah melihat, selagi memutar tubuh, Auwyang Hong menyerang secara rahasia, menyerang Oey Yong dengan "Pek-hong-ciang", yaitu ilmu silat tangan kosong yang memerlukan anginnya saja. Ia hanya kalah jeli dengan Oey Yok Su. Tapi ia berseru, dengan kedua tangannya ia lantas menyerang See Tok, untuk memaksa orang membatalkan serangannya.
Auwyang Hong melihat ia ditangkis Oey Yok Su, yang melindungi putrinya, ia lantas menarik kembali serangannya, hanya bukan untuk dibatalkan, tetapi diteruskan menyerang Kwee Ceng, selagi si anak muda menyerang padanya, hingga serangan mereka bakal bentrok, keras sama keras. Kwee Ceng tahu diri, ia tidak mau melayani, maka dengan sebat ia membuang diri, bergulingan, terus berlompat berdiri. Ia kaget hingga mukanya pucat sekali.
"Ha, anak yang baik!" berseru Auwyang Hong. "Baru beberapa hari kau tidak terlihat, kepandaianmu telah maju pesat sekali!" Memang di luar dugaan, si anak muda lolos dari bokongannya itu.
Melihat orang telah turun tangan, Kanglam Liok Koay segera memernahkan diri di belakang Auwyang Hong, untuk memegat. Auwyang Hong maju terus, ia mendekati Coan Kim Hoat dan Han Siauw Eng. Mereka ini tidak berani turun tangan, maka itu, bebas See Tok berjalan melewati mereka, keluar dari dalam rimba.
Oey Yok Su pun berdiam saja. Sebenarnya kalau ia mau turun tangan, dibantu Liok Koay, See Tok bisa dapat celaka, tetapi ia berkepala besar, tidak mau mengepung si Bisa dari Barat itu, ia khawatir nanti orang mentertawakan. Ia memikir, lain kali saja, kalau ada kesempatan, mereka bertempur satu lawan satu. Ia tertawa dingin mengawasi punggung orang.
Ketika itu Kwee Ceng telah lepaskan Gochin Baki berempat dari tambatan. Putrinya Jenghiz Khan ini girang sekali melihat si anak muda tidak mati, maka dengan sengit ia menamprat Yo Kang yang dikatakan sudah menjual cerita untuk mendustakan orang. Tuli menambahkan dengan berkata:
"Orang she Yo itu bilang ia mempunyai urusan mesti lekas pergi ke Gak-ciu, kami menyangka dia orang baik-baik, maka kecewa sekali kami memberikan dia tiga ekor kuda pilihan…"
"Anda," Kwee Ceng tanya, "Bagaimana caranya maka kamu bertemu sama itu dua siluman tua?"
Putri Mongolia itu, dalam kegembiraannya, mendahului memberikan keterangan. Mereka ini sangat berduka mendengar dari Yo Kang bahwa Kwee Ceng telah meninggal dunia, dilain pihak, senang hati mereka mendengar Yo Kang berniat mencari balas. Mereka menaruh kepercayaan besar, senang mereka bergaul dengan orang she Yo itu. Malam itu mereka menginap bersama di sebuah dusun. Yo Kang beberapa kali mencoba membokong Tuli, selalu gagal disebabkan penjagaan yang keras dari kedua pengemis kurus dan gemuk terhadapnya, kalau tidak si gemuk, tentulah si kurus yang meronda sambil memegang tongkat keramatnya. Kecewa ia karena kegagalannya, dari itu, terpaksa besoknya pagi ia minta saja tiga ekor kuda, dengan itu bersama kedua pengemis itu ia berangkat ke barat.
Tuli berempat menuju ke utara, sedang kedua burung rajawali terbang ke selatan, sampai lama, keduanya tidak kembali. Ia tahu waktu itu mesti ada sebabnya. Karena mereka tidak membikin perjalanan cepat, mereka menantikan di rumah penginapan, sampai dua hari. Baru di hari ketiga, kedua ekor burung rajawali itu kembali, keduanya menclok di pundak Gochin Baki seraya berbunyi tak mau berhenti.
"Mari kita ikuti mereka," berkata Tuli, yang merasa heran.
Mereka kembali ke selatan dengan kedua rajawali itu menjadi petunjuk jalan, hanya apa lacur, di rimba itu mereka bertemu Auwyang Hong dan Kiu Cian Jin. Tuli, Jebe dan Borchu gagah tetapi menghadapi Auwyang Hong, mereka tidak berdaya, dari itu bersama si opsir pengiringnya, dengan gampang mereka kena ditawan dan dibelenggu. Malang si opsir, dia menjadi korban paling dulu. Kiu Cian Jin mendapat tugas dari negara Kim untuk mengacau orang-orang kosen di Kanglam. Supaya mereka bentrok satu sama lain, untuk menggampangi usaha bangsa Kim menyerang ke Selatan. Bersama Auwyang Hong ia berada di rimba itu, kapan ia melihat Tuli berlima, ia lantas menganjurkan Auwyang Hong turun tangan. Syukur kedua burung rajawali telah bisa mencari bantuan dan rombangan Kwee Ceng ini datang tepat. Gochin Baki sangat gembira, sembari menutur ia pegangi tangan Kwee Ceng, ia tertawa tak hentinya.
Oey Yong mengawasi tingkah laku putri itu, ia merasa tak puas. Ia jadi lebih tak senang karena si putri bicara dalam bahasa Mongolia, yang ia tidak mengerti. Ia menjadi tidak sabaran.
Oey Yok Su melihat roman anak gadisnya itu, ia heran. "Yong-jie, siapakah ini perempuan asing?" ia tanya.
"Dialah istrinya engko Ceng yang belum dinikah!" sahut sang gadis.
Ayah itu heran hingga ia hampir tidak mempercayai kupingnya sendiri. "Apa?!" ia menanya, mengulangi.
"Ayah, kau pergi tanya dia sendiri," sahut si anak perlahan. ia malu untuk menjelaskannya.
Cu Cong mendapat dengar pembicaraan di antara ayah dan anak, ia mengerti keadaan berbahaya untuk Kwee Ceng, karena ia tahu baik hal ikhwal putrinya Jenghiz Khan itu dengan muridnya, ia lantas campur bicara, menuturkan duduknya hal itu. Tentu saja ia menyebutkan, jodoh itu desakkan Khan.
Oey Yok Su memang tidak penuju Kwee Ceng, kalau toh ia menjodohkan juga putrinya, itu saking terpaksa. Sekarang ia mendengar ini soal yang baru untuknya, ia menjadi tidak puas. Ia kepala suatu partai, sangat menyayangi putrinya bagaikan mutiara mustika, mana dapat putrinya ini menjadi istri kedua, artinya menjadi gundik?
"Yong-jie!" ia lantas kata kepada putrinya, suaranya keras. "Ayahmu hendak melakukan sesuatu, kau tidak boleh mencegah!"
Anak itu kaget. "Apakah itu, ayah?" ia tanya.
"Anak busuk itu, perempuan hina itu, dua-duanya mesti dibunuh!" sahut sang ayah.
Oey Yong kaget, ia lompat menubruk tangan ayahnya. "Tetapi, ayah, engko Ceng bilang dia sungguh mencintai aku!" katanya.
Oey Yok Su tidak meronta, tetapi ia membentak kepada Kwee Ceng. "Eh, bocah, kau bunuhlah perempuan asing itu, untuk membuktikan hatimu sendiri!"
Kwee Ceng berdiri menjublak. Belum pernah ia menghadapi soal sesulit ini. Ia memang kurang cerdas, dari itu, ia ayal mengambil keputusannya.
"Lebih dulu kau sudah bertunangan, kenapa kau melamar juga putriku?!" tanya Oey Yok Su bengis. "Apakah artinya perbuatanmu ini?!"
Kanglam Liok Koay memasang mata waspada. Sikapnya Tong Shia luar biasa sekali. Setiap saat si Sesat dari Timur ini dapat menurunkan tangan dahsyat, muka orang merah padam. Hati mereka goncang sebab pemilik Tho Hoa To ini sangat lihay.
Kwee Ceng tidak pernah mendusta, maka ia menyahut: "Pengharapanku dalam seumur hidup bisa berkumpul bersama Yong-jie saja, lainnya hal tidak ada di hatiku."
"Baik kalau begitu," kata Oey Yok Su, yang hawa amarahnya sedikit mereda. "Sekarang begini saja. Tidak apa kau tidak suka membinasakan perempuan itu, tetapi kau semenjak hari ini, aku larang kau bertemu pula dengannya!"
Kwee Ceng berdiam, pikirannya bekerja.
"Bukankah kau pasti akan bertemu pula dengannya?" Oey Yong bertanya.
"Di dalam hatiku, dia bagai adik kandungku," sahut Kwee Ceng. "Kalau aku tidak bertemu dengannya, aku suka mengingatnya."
Mendengar itu Oey Yong tertawa. "Kau suka melihat siapa, kau boleh melihatnya!" katanya. "Tentang itu aku tidak perduli!"
"Baik, begini saja!" berkata Oey Yok Su. "Saudara-¬saudara perempuan asing itu ada di sini, aku ada di sini, dan keenam gurumu berada di sini juga, maka hayolah kau membilang jelas bahwa yang bakal kau nikahi adalah putriku, bukan perempuan asing itu!"
Dengan bicara begitu, Oey Yok Su sudah menentang hatinya sendiri, untuk keberuntungan gadisnya, ia suka mengalah. Kwee Ceng berpikir sambil tunduk, maka ia lantas melihat golok Kim-too hadiah dari Jenghiz Khan serta pisau belati pengasih Khi Cie Kee. Ia menjadi bingung sekali. Ia berpikir: "Menurut pesan ayahku, dengan Yo Kang aku mesti menjadi saudara sehidup semati, akan tetapi Yo Kang itu bersifat lain, kelihatannya persaudaraanku dengannya tidak dapat dilindungi lagi. Pula menurut pesan paman Yo, aku harus menikah sama adik Liam Cu. Bagaimana sekarang? Seharusnya pesan orang tua mesti dijalankan. Dengan begitu, perangkapan jodohku dengan putri Gochin Baki pun atas kehendak Jenghiz Khan, seorang tua! Bolehkah karena kata-kata orang tua itu lantas aku mesti berpisah dengan Yong¬jie?" Setelah memikir paling belakang itu, pemuda ini lantas mengambil keputusan. Ia mengangkat kepalanya.
Sementara itu Tuli telah menanyakan Cu Cong tentang pembicaraan di antara Kwee Ceng dengan Oey Yok Su, setelah mengetahui duduknya hal dan menampak kesangsian si anak muda, ia menjadi tidak puas. Ia gusar mengetahui orang tidak mencintai adiknya. Maka dari kantung panahnya, ia menarik keluar sebatang anak panah bulu burung tiauw, sambil memegang itu di tangannya, ia kata dengan nyaring:
“Kanda Kwee Ceng, seorang laki-laki yang mau malang melintang di dunia, dia mesti berbuat hanya dengan satu kata-katanya yang pasti! Oleh karena kau tidak mencintai adikku, mana bisa putri yang gagah dari Jenghiz Khan memohon-mohon meminta kepadamu? Oleh karena itu, mulai hari ini, putus sudah persaudaraan di antara kita! Di masa mudamu, kau pernah menolong aku, kau juga telah menolong ayahku, budi itu, kami ingat baik-baik, dari itu, ibumu yang sekarang berada di Utara, akan aku mengirim orang untuk mengantarkannya, tidak akanaku membikin dia kurang suatu apapun! Kata-katanya seorang kesatria mirip gunung kekarnya, karenanya kau boleh bertetap hati!"
Habis berkata begitu, ia patahkan anak panah itu dan melemparkan di depan kudanya. Hati Kwee Ceng tergerak. Ia lantas ingat masa mudanya di gurun pasir, bagaimana kekalnya pergaulan sama Tuli. Ia jadi berpikir: "Memang, perkataannya seorang kesatria mirip sebuah gunung. Jodoh adik Gochin Baki telah aku menerima dengan mulutku sendiri, bagaimana sekarang aku tidak memegang kepercayaanku? Tanpa kepercayaan, dapatkah aku menjadi manusia? Biarlah Oey Tocu membunuhku, biarlah Yong-jie membenciku seumur hidup, aku tidak dapat berbuat lain!" maka itu ia mengangkat kepalanya dan berkata dengan tegas:
"Oey Tocu, keenam guruku, kanda Tuli, kedua guruku Jebe dan Borchu, aku Kwee Ceng, bukan seorang yang tidak mempunyai kepercayaan, maka itu, aku mesti menikah sama adik Gochin!"
Kwee Ceng bicara dalam bahasa Tionghoa, lalu ia salin itu ke dalam bahasa Mongolia, hingga kedua belah pihak mengerti. Kata-kata ini membikin mereka menjadi heran sekali. Itu diluar dugaan. Tuli dan Gochin Baki heran berbareng girang. Kanglam Liok Koay memuji muridnya sebagai laki-laki sejati! Adalah Oey Yok Su, yang tertawa dingin.
Oey Yong sangat kaget dan berduka, ia terbengong sekian lama. Ia maju beberapa tindak, memandangi si putri Mongolia, tubuhnya kekar, alisnya lancip, matanya besar dan bagus, air mukanya gagah dan agung. Tanpa merasa, ia menghela napas. Ia berkata kepada Kwee Ceng,
"Engko Ceng, aku mengerti. Dia dan kau orang dari satu kalangan, kamu berdua bagai sepasang rajawali putih dari gurun pasir, sebaliknya, aku hanya seekor burung walet di bawah cabang yangliu di Kanglam…."
Kwee Ceng maju satu tindak, ia mencekal tangan si nona. Ia kata: "Yong-jie, aku tidak tahu perkataan kau tepat atau benar, tetapi di dalam hatiku cuma ada kau satu orang! Kau mengerti aku, maka kalau aku dicincang selaksa golok, tubuhku dibakar menjadi abu, dalam hatiku tetap cuma ada kau sendiri!"
Air mata si nona mengembang. "Habis kenapa kau hendak menikahi dia?" ia tanya.
"Aku seorang tolol, segalanya aku tidak mengerti," sahut si pemuda. "Aku cuma tahu, apa yang telah dijanjikan tidak dapat dibuat menyesal. Aku tidak suka omong dusta, tidak peduli bagaimana, dalam hatiku cuma ada kau seorang!"
Oey Yong bingung. Ia girang tetapi juga bersusah hati. "Engko Ceng, aku sudah tahu," katanya, tertawa tawar. "Kalau dari atas pulau Beng Hoo To kita tidak kembali, bukankah itu terlebih bagus?"
"Ini gampang!" memotong Oey Yok Su sambil alisnya berdiri, sebelah tangannya diayunkan ke arah putri Gochin Baki.
Oey Yong telah melihat roman ayahnya, maka ia mendahului lompat menyambar tangan putri dari Mongolia itu, ditarik turun dari kudanya. Oey Yok Su khawatir mencelekai gadisnya, gerakannya terlambat, sesudah putri itu ditarik turun, baru tangannya menghajar pelana kuda. Mulanya tak apa-apa, hanya selang sesaat kemudian, kuda itu tunduk kepalanya, lemas empat kakinya, lalu mendeprok, jiwanya melayang.
Kuda itu kuda Mongolia pilihan, besar dan kuat, tetapi dengan sekali hajar, dia mampus, kejadian itu membuat Tuli semua kaget bukan main. Kalau Gochin Baki kena terhajar, tidakkah tubuhnya ringsek?
Oey Yok Su melengak. Ia tidak menyangka gadisnya mau menolong nona Mongolia. Tapi ia cerdik, sejenak kemudian, ia mengerti sebabnya. Kalau putri itu terbinasa, tentu Kwee Ceng bakal murka, kalau Kwee Ceng murka, mana bisa dia akur lagi dengan gadisnya? Ia lantas berpikir keras. Sama sekali ia tidak takut bocah itu. Kemudian ia memandang kepada gadisnya, yang romannya lesu dan sangat berduka, hatinya menjadi dingin. Paras si nona waktu itu sungguh mirip sama paras istrinya, ibunya Oey Yong, selagi si istri mau menghembuskan napasnya yang terakhir. Oey Yong dan ibunya sangat mirip satu sama lain dan Oey Yok Su sangat mencintai istrinya, meninggalnya membuat ia seperti gila. Sudah lewat limabelas tahun tetapi wajah istrinya kadang-kadang masih terbayang di depan matanya. Sekarang ia melihat roman gadisnya itu, tahulah ia bagaimana anaknya sangat mencintai Kwee Ceng. Akhirnya ia mengela napas, lalu bersenandung. Oey Yong pun berdiri diam, air matanya turun mengucur…..
Han Po Kie menarik tangan Cu Cong. "Dia berkata apakah?" ia berbisik.
"Ia mengulangi tulisannya seorang she Kee di jaman Ahala Gan," Cu Cong jawab. "Itu artinya, manusia di dunia beserta segala bendanya adalah seperti penderitaan yang dibakar di dalam sebuah perapian besar."
"Dia demikian lihay, apalagi penderitaannya?" Po Kie tanya pula.
Cu Cong tersenyum, ia tidak menjawab.
"Yong-jie, mari kita pulang…" akhirnya terdengar suara Oey Yok Su halus. "Untuk selanjutnya, selamanya jangan kita melihat pula bocah ini…"
"Tidak, ayah," sahut si anak menggeleng kepala. "Aku mesti pergi ke Gak-ciu. Suhu menitahkan untuk menjadi pangcu, ketua dari Kay Pang."
Ayahnya tersenyum. "Apa enaknya menjadi ketua Partai Pengemis?" ia menanya.
"Aku telah memberikan janjiku pada suhu, ayah!"
Ayahnya berpikir. "Baiklah," katanya kemudian, "Kau coba-cobalah untuk beberapa hari. Seandainya kau menganggap terlalu jorok, kau wariskan saja kepada orang lain. Bagaimana di belakang hari, kau masih mau menemui bocah ini atau tidak?"
Oey Yong melirik kepada Kwee Ceng, siapa terus mengawasi kepadanya, sinar matanya sangat lesu, romannya sangat berduka. Ia berpaling kepada ayahnya, ia menyahut:
"Ayah, dia mau menikah sama orang lain maka aku pun akan menikah dengan orang lain juga. Di dalam hati dia cuma ada aku satu orang, maka di dalam hatikupun cuma ada dia seorang…"
"Ha!" berkata orang tua itu. "Anak perempuan dari Tho Hoa To tidak dapat dihina orang, itu bagus. Habis bagaimana kalau orang-orang dengan siapa kau menikah nanti melarang kau menemui dia?"
"Hm, siapa yang berani melarang aku!" kata nona itu keren. "Aku toh anakmu!"
"Ah, budak tolol!" berkata ayahnya. "Lewat beberapa tahun lagi aku bakal meninggalkan dunia ini…"
"Tetapi ayah," kata si nona yang berduka, "Begini rupa dia memperlakukan aku, apakah kau mengira aku bakal dapat hidup lama pula?"
Kanglam Liok Koay dijuluki manusia-manusia aneh tetapi mendengar pembicaraan ayah dengan anak itu, mereka menjublak. Di jaman Song itu, masih keras orang menghormati adat-istiadat, dan sopan santun. Oey Yok Su bukannya Seng Tong dan Bu Ong, bukannya Ciu Kong atau Khong Cu, tetapi ia adalah seorang yang aneh, maka julukannya pun Tong Shia, si Sesat dari Timur. Apa yang ia lakukan biasanya sebaliknya daripada umum, sedang Oey Yong, semenjak kecil ia sudah dididik ayahnya yang aneh ini, yang terpelajar tinggi dan luas pengetahuannya, maka ia mengerti, suami istri tinggal suami istri tetapi cinta adalah lain.
Kwee Ceng pun mendengar pembicaraan itu dengan hati terluka. Ia sangat berduka. Ia mau menghibur Oey Yong tetapi apa ia hendak bilang? Maka ia pun berdiam saja.
Oey Yok Su memandang putrinya, lalu ia mengawasi Kwee Ceng, kemudian ia mendongak lagi memandang langit dan mengasih dengar suaranya yang lama dan keras, yang seumpama kata menggetarkan rimba, suaranya itu berkumandang di lembah-lembah. Burung-burung kucica kaget hingga pada beterbangan mengitari pepohonan.
"Burung kucica, burung kucica!" berkata Oey Yong. "Malam ini Gu Long bakal bertemu sama Cit Lie, kenapa kau tidak lekas-lekas membuat jembatan?"
Tapi Oey Yok Su sengit, ia menjumput seraup pasir, ia menimpuk, maka belasan burung jatuh dan mati, setelah itu dia membalikkan tubuh, berjalan pergi tanpa menoleh lagi….
Tuli tidak mengerti pembicaraan orang, karena tahu Kwee Ceng tidak akan menyalahi janji, ia girang sekali. Ia pegang golok Kim-too dari ayahnya, dia cium itu di mulutnya, lalu ia membawanya kepada Kwee Ceng, untuk diserahkan.
"Kanda," katanya, "Aku harap usahamu yang besar lekas selesai, supaya kau bisa pulang ke Utara di mana kita nanti dapat bertemu lagi!"
"Burung kita ini kau boleh bawa," berkata Gochin Baki. "Aku harap kau lekas pulang!"
Kwee Ceng mengangguk. Dari sakunya ia mengeluarkan sepotong tombak pendek, sambil menunjukkan itu, ia berkata pada putri Mongolia:
"Kau bilang ibuku, pasti aku akan pakai senjata ayahku ini untuk membinasakan musuh kami!"
Jebe dan Borchu pun turut mengambil selamat berpisah. Oey Yong mengawasi empat orang Mongolia itu berlalu, Kwee Ceng masih berdiri saja. Ia melihat kedukaan orang.
"Engko Ceng, kau pergilah, aku tidak sesalkan kau," katanya.
"Yong-jie," menyahut si anak muda, yang bicara dari lain hal, "Tongkat Kay Pang dibawa Yo Kang, dan ayahmu membilang, mengenai Kay Pang mungkin terjadi sesuatu, maka malam ini mari kita mencari suhu, besok aku nanti terus pergi bersama kau."
Si nona menggeleng kepala. "Pergi kau sendiri mencari suhu," katanya.
Ia mengasih keluar pisau belati Kwee Ceng, yang ia selipkan di pinggangnya, ia letakkan itu di tanah. Ia juga menurunkan dan membuka pauwhok yang digendol di punggungnya, ia mengeluarkan segulung gambar. Ia berkata:
"Ini pemberian ayah untukmu." Masih ia mengeluarkan lakonnya yang beraneka warna, kemudian ia pisahkan separuh. Ia berkata pula: "Ini barang yang kita kumpulkan di pulau, aku bagi separuh untukmu…" Ia mengawasi bungkusannya itu, di situ cuma ada baju pemberian Kwee Ceng serta sejumlah uang serta beberapa potong pakaiannya untuk salin tiap hari, maka ia tertawa dan berkata pula: "Aku tidak mempunyai barang lain lagi untuk diberikan padamu." Lalu dengan perlahan ia membungkus rapi, ia menggendol itu, kemudian ia memutar tubuhnya, berjalan pergi.
Kwee Ceng tercengang, dengan menuntun kuda merah, ia menyusul. "Sebaiknya kau menunggang kuda," katanya.
Oey Yong menoleh, ia tertawa, tetapi ia jalan terus.
Kwee Ceng masih menyusul beberapa tindak, lantas ia berhenti. Ia masih bengong mengawasi orang pergi hingga nampak seperti bayangan.
"Anak Ceng, bagaimana sekarang?" Han Siauw Eng menegur.
Anak muda itu masih menjublak. "Aku hendak pergi ke istana mencari suhu," sahutnya.
"Itu benar," berkata Kwa Tin Ok. "Oey Lao Shia pernah mengacau di rumah kita, mungkin orang rumah bingung, maka sekarang kita mau pulang. Kalau kau berhasil mencari gurumu, kau undang dia datang ke rumah kami untuk sekalian beristirahat."
Kwee Ceng menurut, selanjutnya ia mengambil selamat berpisah dari keenam gurunya ini. Kemudian ia sendiri, setelah menyimpan pisau belati dan lakonnya, terus menuju ke Lim-an. Malam itu Kwee Ceng memasuki istana, mencari gurunya, hasilnya sia-sia belaka. Ang Cit Kong tidak ada, Ciu Pek Thong entah ke mana. Di malam kedua ia mencari pula, hasilnya sama.
"Tidak ada jalan lain, lebih baik aku pergi menyusul Yong-jie," pikir anak muda ini kemudian. "Baik aku membantu dulu mengurus Kay Pang, kemudian bersama-sama kembali mencari suhu."
Hari itu tanggal sembilan bulan tujuh, tinggal enam hari untuk pembukaan rapat Kay Pang di Gak-ciu. Kwee Ceng tidak takut ketinggalan. Ia menunggang kudanya yang jempol. Dalam satu hari saja ia sudah tiba di batas jalan barat dari Kanglam.
Sementara itu suasana sudah berubah. Separuh dari Tiongkok sudah diduduki bangsa Kim. Batas di timur adalah Hoay-sui, dan di barat kota San-kwan. Untuk kerajaan Lam Sang - Song Selatan - tinggal apa yang disebutkan limabelas "jalan" ialah dua propinsi Ciatkang dan Kangsouw, Liang Hoay (yaitu daerah di antara kedua sungai Hong Hoo dan Yang Cu Kang di Anhui dan Kangsouw), dua jalan timur dan barat dari Kanglam, dua jalan di selatan dan utara dari Kheng¬ouw, empat jalan di Su-coan Barat, Hokkien, Kwietang dan Kwiesay. Maka itu, negara menjadi lemah sekali.
Kwee Ceng berjalan dengan kadang-kadang melepaskan dua ekor burung rajawalinya, guna membantu mencari Oey Yong. Ia sendiri mencari dengan sia-sia. Ketika pada suatu hari ia tiba di kecamatan Bu-leng, di kota Liong-hin, dekat dengan kota Gak-ciu, ia berjalan dengan perlahan. Diwaktu sore, ia menghadapi sebuah rimba lebat, yang kelihatan menyeramkan. Di belakang rimba ada satu bukit yang panjang. Tentu sukar untuk melintasi rimba itu dan gunung sesudah cuaca gelap, maka ia mencari pondokan. Di samping rimba itu ia melihat pagar bambu.
"Ada pagar tentu ada rumah," pikirnya girang. Ia bertindak. Ia melihat sebaris pohon. Di situ ia lantas melihat sebuah rumah dengan tiga undakan. Ia mendekati rumah itu. Belum ia datang dekat, kupingnya sudah mendengar tangisan seorang wanita. Ia menjadi heran. "Orang lagi berduka, tidak dapat aku mengganggu," pikirnya. Ia hendak mengundurkan diri.
Tapi Orang di dalam rumah sudah mendengar suara kuda. Dengan kaget membuka daun pintu. Di situ muncul seorang tua dengan rambut ubanan, yang tubuhnya sudah melengkung, tangannya memegang cagak besi yang panjang. Dia berdiri di depan pintu sambil berseru:
"Pembesar anjing! Ular tidak ada, cucu perempuanku juga tidak ada. Yang ada hanya selembar jiwa tuaku ini!"
Kwee Ceng heran. Ia tahu orang salah mengerti. "Tuan, aku hanya seorang pelancong!" katanya lantas sambil ia memberi hormat. "Aku lagi mencari tempat mondok, maka niatku datang ke mari untuk menumpang bermalam. Satu malam saja. Kalau kau lagi ada urusan, tidak apa, aku pergi ke rumah lain saja."
Orang tua itu lantas mengawasi, habis itu lekas-lekas ia meletakkan cagaknya, untuk membalas hormat.
"Maafkan aku, tuan, aku lagi ngaco," katanya. "Jikalau kau tidak jijik, silahkan masuk dan minum teh."
Kwee Ceng mengucap terima kasih. Lantas ia memberikan sejumlah uang, untuk dicarikan rumput guna makan kudanya, setelah itu baru ia masuk ke dalam. Nyata rumah itu bersih sekali. Ia menjadi heran. Ia baru duduk ketika kupingnya mendengar suara berisik dari kuda. Ia menduga ada tiga penunggang kuda datang ke situ. Ia pun lantas mendengar suara bengis:
"Orang tua she Cin, kau menyerahkan ular atau cucu perempuanmu?!"
Lalu terdengar suara seorang lain: "Kami dapat mengasih ampun kepadamu, tetapi looya kami tidak dapat memberi ampun kepada kami! Maka itu lekas kau keluar!"
Suara itu disusul sambaran cambuk ke atap rumah, hingga atap itu, yang terbuat dari rumput rusak. Si orang tua tidak menyahuti suara dari luar itu, ia hanya masuk ke dalam kamar, untuk berkata:
"Anak Kim, pergi kau lari ke belakang, ke dalam rimba. Malam ini kau sembunyi terus. Besok pagi-pagi, kau boleh pulang sendiri ke Kwietang….." Segera terdengar tangisan wanita tadi.
"Engkong, mari kita mati bersama…." kata perempuan itu.
"Lekas lari, lekas!" berkata si orang tua, membanting kaki. "Nanti terlambat!"
Dari dalam kamar keluar seorang nona dengan baju hijau, ia menubruk si orang tua, sebaliknya menolak tubuh orang, untuk disuruh lari ke belakang. Berbareng dengan itu, pintu terdengar tertembrak hingga terbuka, tiga orang nerobos masuk. Orang yang paling depan lantas menjambak pundak si orang tua she Cin itu, sedang tangannya yang lain menyambar si wanita muda, untuk dipeluk.
Nona itu ketakutan hingga membungkam. Kwee Ceng mengawasi tiga orang itu. Dari dandanannya, yang di depan itu seorang polisi, yang dua lagi serdadu. Si orang polisi, yang memeluki si nona, berkata sambil tertawa.
"Empeh Cin, kami datang atas titah tuan camat, maka jangan kau sesalkan kami! Malam ini kau mengantarkan duapuluh ekor ular, ini nona akan kita kembalikan, kalau kau menunggu sampai besok, nanti sudah tidak keburu!" Ia terus tertawa lebar, sambil bertindak pergi, ia bawa si nona bersama.
Orang tua she Cin itu menjerit keras, dengan membawa cagaknya, ia memburu, terus menikam. Si orang polisi berkelit, kemudian mencabut golok di pinggangnya dan mengetok cagak itu. Si empeh tidak dapat mempertahankan diri, cagaknya terlepas dan jatuh di tanah. Menyusul polisi itu menendang, hingga ia roboh seketika.
"Eh, tua bangka, jangan kau banyak tingkah!" dia membentak. "Awas, jangan kau nanti sesalkan golokku tidak ada matanya!"
Empeh itu seperti kalap, lupa pada dirinya, ia menubruk kaki kanan orang, terus ia menggigit. Opas itu kesakitan dan berontak, dalam sengitnya ia hajar kepala si empeh dengan belakang goloknya, maka pecahlah jidat orang dan darahnya menyiram ke mukanya. Tapi empeh itu sudah nekat, ia tidak menghiraukan luka dan sakitnya, ia menggigit terus, tidak mau ia melepaskannya. Dua serdadu itu maju menolongi si opas, yang satu menendang, yang lainnya menarik, sedang si opas menghajar lagi beberapa kali dengan gagang goloknya.
Sampai di situ, Kwee Ceng tidak dapat menonton lebih lama. Tadi ia baru gusar saja. Seperti biasanya, ia pun bergerak ayal. Tapi sekarang, ia lompat maju. Lebih dulu ia jambak punggung kedua serdadu itu, ia melemparkan mereka. Si opas lagi membacok ketika Kwee Ceng menahan belakang goloknya, ditolak keras hingga golok itu berbalik dan tepat membacok jidatnya. Dengan tangan kanannya, Kwee Ceng menyambar tubuh si nona sambil kakinya menendang, dari itu, tidak ampun lagi, tubuh opas itu kena terlempar. Tapi empeh Cin menggigit dan memeluk erat sekali, tubuhnya turut terlempar.
Menampak begitu, Kwee Ceng kaget sekali. Ia khawatir, karena jatuh terbanting, empeh itu nanti mati karenanya. Lupa melepaskan tubuh si nona, ia lompat menyusul seraya tangannya menyambar leher si opas, sedang kepada si empeh ia berseru:
“Empeh, ampunkanlah dia!"
Benar-benar si empeh kalap, ia seperti tidak mendengar suara orang, sampai si nona muda berteriak memanggil,
"Engkong! Engkong!" baru ia melepaskan gigitannya, dengan mulut berkelepotan darah, ia mengangkat kepalanya.
Waktu itu Kwee Ceng telah melemparkan tubuh si opas, yang jatuh terbanting hingga tidak mau bangun lagi, karena ia khawatir nanti dihajar lebih jauh. Kedua opas itu nyalinya kecil, mereka tidak berani melawan, setelah melihat si anak muda tidak menyerang lebih jauh, mereka menghampiri si opas kawannya, untuk dikasih bangun, lantas diajak pergi dengan kaki si opas dingkluk-dingkluk. Saking takut, mereka tidak berani menaiki kuda. Sampai di situ, baru Kwee Ceng melepaskan tubuh si nona, lekas ia mengasih bangun si orang tua.
Nona itu mengawasi tuan penolongnya, nampaknya ia sangat bersyukur, tetapi karena malu, ia tidak dapat membuka mulut. Maka ia cuma mengeluarkan sapu tangannya, kemudian menyusuti darah di muka kakeknya.
Tidak enteng luka si empeh, akan tetapi melihat si nona tidak dibawa pergi si opas dan serdadu, ia menjadi bersemangat, dengan cepat ia berlutut di depan Kwee Ceng, memberi hormat sambil menghanturkan terima kasihnya berulang-ulang.
Si nona turut berlutut juga. "Sudah, lootiang," kata Kwee Ceng seraya mengasih bangun. "Tidak dapat aku menerima hormatmu ini."
Orang tua itu lantas mengundang tetamunya masuk pula, dan si nona segera menyuguhkan teh.
"Injin, silahkan minum," katanya perlahan. Ia lantas memanggil "injin" - tuan penolong.
"Terima kasih," sahut Kwee Ceng sambil berbangkit.
Empeh Cin lantas menanyakan she dan nama tetamunya dan Kwee Ceng memperkenalkan diri.
"Sebenarnya, empeh, urusan apakah ini?" Kwee Ceng tanya.
Empeh itu suka mengasihkan ceritanya. Ia asal propinsi Kwietang, karena gangguan seorang hartawan di kampung halamannya, ia mengajak keluarganya pindah ke propinsi Kang-see. Di sini ia melihat tanah kosong, lantas membuat rumah dan berusaha di situ. Bersama ia turut kedua anak lelakinya. Di rimba ini ada banyak ular, apa celaka, dua anak itu serta seorang nyonya mantunya, bergantian mati dipagut ular, hingga seterusnya ia tinggal berduaan saja bersama cucu perempuannya, yang diberi nama Lam Kim.
Si empeh bersakit hati, ia pulang ke Kwietang, untuk mempelajari ilmu menangkap ular, setelah itu ia kembali. Ia membalas sakit hati dengan membinasakan setiap binatang berbisa itu. Dasar malang nasibnya dan ia pun lemah, tanah yang telah buka dirampas seorang hartawan galak di dalam kota. Saking terpaksa, ia lantas hidup sebagai penangkap ular. Di dalam usahanya ini, syukur ia tidak mendapat saingan. Untuk sembilan tahun, mereka berdua hidup tentram, sampai datang Kiauw Lay, camat yang baru. Kebetulan ia doyan ular, untuk itu ia berani untuk membeli.
Empeh Cin tidak kuat membayar pajak, ia diwajibkan setiap bulan menyerahkan duapuluh ekor ular berbisa. Dengan terpaksa empeh Cin menunaikan tugasnya, ia dibantu oleh cucunya. Tapi tahun ini, di musim semi, entah kenapa, ular menjadi berkurang. Susah sekali mencarinya. Sampailah waktu itu, di bulan ke enam, mereka tidak bisa mendapatkan ular. Sudah begitu, lantas datang gangguan lain. Kiauw Thayya mendapat tahu Lam Kim cantik, ia minta nona itu. Beberapa kali ia mengirim comblang, si empeh senantiasa menampik. Lalu datanglah hari ini, Kiauw Thayya menggunakan kekerasan, ia mengirim opasnya dan dua serdadu untuk minta ular atau orang. Sebab empeh tidak bisa menyerahkan ular, maka cucunya dipaksa dibawa pergi. Kebetulan sekali, di situ ada Kwee Ceng.
Mendengar cerita itu, Kwee Ceng menghela napas. Habis bersantap malam, empeh mempersilahkan tetamunya tidur. Lam Kim yang mengantarkan ke kamar sambil membawa pelita, katanya dengan perlahan:
"Di sini hutan, segalanya kotor, harap injin maklum…"
"Nona panggil saja aku engko Kwee," Kwee Ceng memberitahu.
"Mana aku berani, injin," kata si nona. Tiba-tiba ia terkejut. Di luar terdengar suara nyaring dan luar biasa dari seekor burung hutan. Hampir ia membikin pelitanya terlepas.
"Nona, burung apakah itu?" tanya Kwee Ceng heran, sudah suara burung itu aneh, ia pun merasakan tubuhnya gatal tidak karuan dan dadanya penuh seperti mau tumpah-tumpah.
"Itu burung keramat tukang makan ular," sahut si nona perlahan.
"Burung pemakan ular?" si anak muda menegaskan.
"Benar. Semua ular di rimba sini habis dimakan dia, maka itu engkong jadi sengsara…"
"Kenapa tidak berusaha menyingkirkan burung itu…?"
"Perlahankan suaranya injin…" kata si nona, romannya ketakutan. Ia lantas menutup jendela. "Burung itu sakti, kalau ia dengar suara injin, bisa celaka…!"
"Apa? Burung itu bisa mendengar suara kita?"
Lam Kim hendak memberikan jawabannya, ketika terdengar suara si empeh di luar kamar:
"Diwaktu malam tak leluasa untuk bicara banyak, besok siang saja nanti aku yang menjelaskan."
Kwee Ceng heran tetapi ia menurut, sedang si empeh lantas saja ajak cucunya pergi ke kamar mereka. Melihat roman ketakutan dari tuan dan nona rumah, Kwee Ceng bertambah heran hingga ia tidak dapat tidur nyenyak. Ia pun memikirkan Oey Yong, yang entah ada dimana adanya. Ia gulak-galik sampai tengah malam ketika ia mendengar pula suara si burung pemakan ular, yang berbunyi tiga kali.
"Aku tidak dapat tidur, baik aku lihat burung itu," pikirnya. Ia turun dari pembaringan, membuka jendela untuk melompat ke luar. Di saat mau menuju ke arah suara burung itu, ia mendengar teguran perlahan di belekangnya:
"Injin, aku turut kau…" Ia lantas menoleh. Nampak Lam Kim berdiri di bawah sinar rembulan, rambutnya riap-riapan mirip dengan rambut Bwee Tiauw Hong. Nona ini berkulit putih, romannya cantik. Kedua tangannya memegang entah barang apa yang hitam. Dengan perlahan ia menghampirkan si anak muda, untuk berkata pula: "Injin mau melihat burung keramat itu?"
"Ah, jangan kau memanggil injin padaku," Kwee Ceng mencegah.
Nona itu likat. "Engko!" ia memanggil.
Kwee Ceng mengasih lihat panahnya. "Aku hendak memanah mampus burung itu, supaya ia jangan lagi mengganggu engkongmu," katanya.
"Perlahan!" si nona kata. Ia pun mengangkat tangannya. "Pakai ini di kepala, untuk berjaga-jaga." Suara si nona itu bergetar.
Kwee Ceng melihat sebuah kuali besi, ia menjadi heran. Lam Kim memegang kuali besi di tangan kirinya, ia berkata pula:
"Burung itu dapat datang dan pergi bagaikan angin, ia biasa mematuk mata orang, hebat sekali. Kupingnya juga tajam, begitu mendengar suara orang, dia bisa lantas datang. Engko, kau mesti hati¬-hati."
Kwee Ceng tidak takut. Bukankah ia pernah menghadapi burung rajawali raksasa. Lantas ia jalan di depan. Belum mereka sampai di tepi rimba, burung ular itu berbunyi lagi, tiga kali. Justru itu di situ terdengar suara berisik. Lam Kim terkejut.
"Ah, aneh! Kenapa di sini ada begini banyak ular?" katanya.
Kwee Ceng memasang kuping. Ia lantas mendengar suara beberapa orang yang bersuit dan menggebah¬-gebah. Ia kenali suaranya budak-budak pengiring ular dari Pek To San. Ia menjadi lebih heran sebab agaknya mereka itu dalam kekhawatiran, sebagai juga kawanan ularnya tidak menurut perintah. Ia lantas berpikir.
"Mari!" ia mengajak Lam Kim, untuk lari masuk ke dalam rimba. Di sini ia celingukan, mencari tempat yang lebat. Tanpa membilang apapun ia sambar pinggang si nona, dibawa lompat naik ke sebuah pohon, dimana mereka memernahkan diri di satu cabang besar.
Baru mereka duduk rapi, burung tadi telah berbunyi pula tiga kali: Sekarang jarak mereka lebih dekat, suara burung itu tajam terdengar, seperti menusuk telinga. Tidak lama, sampailah rombongan ular itu, yang berjumlah ribuan. Kwee Ceng kenal binatang itu, ia tidak kaget, tidak demikian dengan Lam Kim, yang ketakutan hingga hatinya guncang, dengan erat ia pegangi ujung baju si pemuda.
Begitu masuk ke dalam rimba, kawanan ular itu berlari¬-lari ke delapan penjuru. Mereka seperti terkena hawa panas, hingga mereka tidak dapat diam, tubuh mereka berlompatan. Di bawah sinar rembulan, nyata terlihat lagak mereka itu.
Tujuh atau delapan budak pengiring ular itu, dengan pakaiannya yang putih, lari ke dalam rimba. Mereka menggunakan galah, bentakan mereka berisik, tapi kawanan ular itu tidak mau mendengar perintah untuk berbaris rapi seperti biasa.
Kwee Ceng membenci Auwyang Hong, melihat ular itu kacau, ia senang. "Sayang Yong-jie tidak ada di sini, hingga ia tidak dapat menyaksikan ini," pikirnya.
Lam Kim heran ketika melirik mendapatkan Kwee Ceng gembira. Diam-diam ia memuji hati besar anak muda ini. Tiba-tiba ia kaget sekali. Sebab ia mendengar si burung keramat bersuara nyaring luar biasa, kemudian semua ular berhenti bergerak, semua mendekam tidak berkutik.
Budak-budak mengayun berulang-ulang galah mereka, mulut mereka membentak tak hentinya, tetapi semua ularnya diam mendekam. Sesudah kewalahan, mereka lantas mengambil sikap. Seorang berdiri tegak, kepala mereka diangkat. Yang lainnya berdiri diam dengan galah dipasang berdiri. Yang satu lantas berkata dengan nyaring:
"Kami orang-¬orangnya Auwyang Sianseng dari Pek To San, kami tengah berlewat di sini, tetapi kami tidak mengenal gunung Tay San, kami tidak datang membuat perkunjungan. Maka itu, dengan memandang Auwyang Siangseng, harap kami diberi maaf."
Kwee Ceng mengawasi, ia merasa lucu. Suara orang itu tidak ada yang layani. Berselang sekian lama, ia mengucapkan pula kata-katanya itu. Sekarang suaranya lebih keras, tandanya ia tidak senang, dia agaknya menggertak. Ia pun memandang ke sekitarnya, ke tanah di dekatnya. Dia berpura-pura tidak melihat, dia memutar tubuh membelakangi pohon, yang ada pohon hoay, dia pun membungkuk seperti orang lagi menjura. Adalah ketika itu, mendadak ia membalikkan tubuhnya, sambil bangun mengayunkan kedua tangannya ke arah pohon. Maka empat buah gin-so, torak perak, menyambar kepada Kwee Ceng berdua. Dia telah membokong!
Kalau lain orang yang diserang secara menggelap itu, celakalah dia. Tidak demikian dengan Kwee Ceng. Ia melihat gerakan orang, yang ia terus awasi. Ia melihat berkelebatnya barang berkilau. Lekas-lekas ia turunkan kuali besinya, dipakai menyambut, maka dengan suara "trang!" empat kali, keempat torak itu masuk ke dalam kuali.
Kaget dan heran orang itu karena bebokongannya gagal. " Di atas pohon itu orang gagah darimana? Silahkan memberikan she dan namamu!" ia minta. Suaranya tak seangker tadi.
Kwee Ceng tidak menyahut, hanya ia menimpuk balik torak itu. Orang itu menjadi kaget. Galah di tangannya kena terhajar torak, tangannya sakit dan gemetaran, galahnya pun patah lima. Dia mengerti, orang berlaku murah, kalau tubuhnya yang dihajar, pasti dia tidak akan selamat. Dia menjadi bingung sekali. Kalau menyerah dan minta ampun, menurunkan derajat Auwyang Hong, dia pun bakal tidak diberi ampun. Kalau ular itu tidak dibawa pergi, dia juga bakal disiksa majikannya yang bengis itu.
Selagi orang ini masih bingung, tiba-tiba di situ tercium bau harum, dada rasanya menjadi lapang, lantas semua ular menggerakkan kepalanya, mendongak ke langit. Orang itu menyangka Kwee Ceng, yang ia tidak kenal itu, pandai mengendalikan ularnya, lantas ia meniup suitannya, menitahkan ularnya pergi. Tapi ular itu tetap diam. Hanya bau hatum menjadi semakin keras.
Terang bau itu datangnya dari atas. Maka dia dongak. Tiba-tiba terlihat menyambar turunnya cahaya teras sebagai segumpal api, luar biasa cepatnya, turun di sisinya. Dengan tiba-tiba, ia menjadi kaget. Dia mendapat kenyataan, gumpalan api itu hanyalah seekor burung yang tubuhnya merah marong, tubuhnya lebih besar dari gagak, bacotnya panjang kira-kira setengah kaki. Berdiri di tanah, burung aneh itu lantas melihat ke sekelilingnya, nampaknya keren. Bau harum itu datang dari tubuhnya. Kwee Ceng menjadi merasa suka melihat burung itu, yang tak ada bulunya yang kecampuran, kedua matanya tajam, sinarnya merah juga.
"Kalau Yong-jie melihat burung ini, tentu dia suka sekali," pikirnya. Maka ia lantas ingin menangkap hidup burung itu.
Mulanya semua ular kaget dan takut, sekarang semua berbalik menjadi jinak, tidak ada yang bergeming. Ketika burung itu berbunyi satu kali, empat ekor ular yang besar nyelosor menghampiri, di depan burung itu, mereka menggulingkan diri, perutnya menghadap keatas. Kapan burung itu mematuk, maka pecahlah perut mereka. Dengan empat patukan saja, isi perut mereka masuk ke dalam perut burung itu. Semua pengiring ular itu menjadi heran sekali, kaget dan gusar. Yang menjadi kepala tadi mengayun tangannya, sebuah torak melayang ke burung itu.
Kwee Ceng kaget, ia khawatir burung itu celaka karenanya. Dengan sebat sekali ia mematahkan secabang pohon kecil, ia timpukkan ke depan burung itu guna melindunginya. Cepat melayangnya cabang itu tiba di depan burung lebih dulu dari tibanya torak, maka torak dan cabang beradu, bersama-sama jatuh ke tanah.
Burung itu cerdas sekali. Dia heran, lantas berpaling ke arah darimana datangnya cabang pohon dan torak itu. Dia tahu ada orang yang membokong dan ada yang menolong, terus ia mengangguk ke arah Kwee Ceng dan Lam Kim, kemudian dengan sinar merahnya bergerak, dia terbang ke arah penyerangnya. Penggiring ular itu kaget tetapi dia menyerang pula. Dia menggunakan empat buah ginso, yang menyambar saling susul.
Kwee Ceng kaget, untuk menolong sudah tidak keburu, maka ia mengeluh, Sayang…!"
Sementara itu sang burung merah tukang makan ular menyambar terus. Dia melihat menyambarnya dua buah torak perak, dia menyampok ke bawah dengan sayapnya, maka jatuhlah torak itu. Sambil menyampok, dia berkelit, lalu dengan lain sayapnya menyampok pula, maka dua torak lolos lagi, terpental naik ke udara!
"Bagus!" Kwee Ceng berseru saking gembira. Burung itu bergerak bagai seorang ahli silat.
Belum berhenti suaranya Kwee Ceng ini, si budak pengiring ular sudah menjerit keras, kedua tangannya dipakai menutupi muka, dia lari ke depan dimana dia membentur sebuah pohon besar, maka sambil menjerit, dia berjongkok di situ. Nyatalah kedua biji matanya telah dipatuk burung itu.
Tujuh budak lainnya menjadi kaget, semua lantas menyerang dengan senjata rahasia. Di terangnya rembulan itu, torak-torak perak terbang berkeredepan. Burung itu benar-benar lihay. Dia beterbangan, mengelitkan diri atau menyampok, ia mundur dan maju, lalu dua orang lagi berkoak, sebab mereka pun kena dipatuk biji matanya.
Ketika itu mendadak ada menyambar sinar biru terang, menyambar ke burung pemakan ular itu. Kwee Ceng mengenal api belerang. Serangan ini lebih hebat dari ginso. Tapi burung itu berbunyi nyaring, dia terbang memapaki api itu, yang berupa anak panah, terus dia mencengkeram dengan kukunya. Dia tidak menghiraukan belerang menyala. Setelah meletakkan anak panah di tanah, burung itu mencari rumput, ditaruh di atas api itu hingga rumput terbakar!
"Sayang! Sayang!" Kwee Ceng berseru berulang-¬ulang.
"Sayang apa, engko?" Lam Kim menanya heran.
"Ini permainan bagus, sayang Yong-jie tidak melihatnya!" sahut si anak muda.
"Yong-jie?" tanya Lam Kim. "Siapakah dia?"
"Ya, Yong-jie…"
Lam Kim mau menanya lagi ketika kupingnya mendengar suara helaan napas, seperti suara wanita, di belakangnya. Ia lantas menoleh, tetapi dia tidak melihat siapapun. Tanpa merasa, bulu romannya bangun berdiri. Ia menduga kepada setan, maka ia memegang keras lengan Kwee Ceng, tubuhnya disenderkan rapat-rapat. Ia pun menanya,
"Engko, siapakah yang menghela napas itu?"
Perhatian Kwee Ceng dipusatkan kepada burung merah, ia tidak mendengar suara helaan napas, ia tidak dapat mendengar juga perkataan si nona yang sangat perlahan, bahkan ia seperti tidak merasakan tubuh yang halus dari si nona Cin menyambar di dadanya.
Burung itu bergulingan di api yang dia nyalakan, ketika api mulai berkurang, ia mengambil pula daun dan cabang kering, hingga api menjadi berkobar lagi. Ia membuat main bulunya di dalam api, ia tidak terbakar, tidak kepanasan. Ia malah mematuki bulunya menyisili, seperti biasanya burung mandi.
Selagi Kwee Ceng mengawasi dengan heran, bau harum terasa makin keras. Kapan kawanan ular mendapat cium bau itu, mereka seperti tidak dapat menguasai diri, semua lantas bergerak berlompatan, lalu saling menggigit, hingga suaranya menjadi berisik. Ada ular yang kesakitan digigit telah menggigit ekornya sendiri! Maka kacaulah ribuan ular itu.
Lam Kim merasa kepalanya pusing dan matanya kabur, hampir dia jatuh dari atas pohon, maka lekas-lekas ia memegangi erat-erat tubuh Kwee Ceng, yang ia peluki.
Sisa budak-budak itu kaget dan ketakutan, lantas mereka lari keluar dari rimba. Si burung menganggap mereka itu sebagai musuh, dia terbang mengubar. Mereka ketakutan, menutup muka dengan tangan, tapi tangannya itu dipatok, ketika mereka melepaskan tutupannya, lantas mata mereka dipatok. Tidak lama, mereka semua menjadi si orang-orang buta. Habis itu, burung terbang kembali ke rimba, ke api, tetapi api sudah padam. Dia lantas mengibas-ngipas dengan kedua belah sayapnya, menyalakan api itu lagi. Tentu saja abunya menjadi beterbangan.
Kwee Ceng menepuk pundak Lam Kim. "Kau diam di sini, kau pegangi pohon," katanya perlahan seraya menyingkirkan tangan yang merangkulnya. Habis itu ia lompat turun, bertindak dengan perlahan ke arah si burung aneh itu.
Sang burung melihat ada orang datang. Dia mengenali penolongnya tadi, dia diam mengawasi. Burung itu mengangkat kepalanya, dia tidak menghampiri. Selagi turun dari pohon, Kwee Ceng memperhatikan semua ular, dari itu ia bertindak dengan perlahan, tetapi sekarang ia mendapat kenyataan, semua ular itu, yang sudah berkelahi sendiri, seperti membuka jalan untuknya. Rupanya binatang berbisa itu takut kepadanya, yang pernah minum darah ular. Dengan berani, ia maju terus, tindakannya lebar. Setelah datang dekat kepada burung aneh itu, ia mengulur tangannya.
Burung itu lihay, dia gesit sekali. Sambaran Kwee Ceng cepat tetapi dia dapat berkelit, setelah itu, tidak menanti sampai disambar pula, ia membalas menyerang, hendak mematuk matanya si anak muda.
"Engko Kwee, hati-hati!" Lam Kim berseru, memberi ingat.
Kwee Ceng menungkrap dengan kuali besinya. Burung itu benar lihay, dia berkelit, dia lolos.
"Bagus!" berseru Kwee Ceng, seraya ia melompat, kualinya menungkrap pula.
Sang burung terbang ke atas, terpisahnya kira-kira satu kaki. Dia melihat tangan kiri Kwee Ceng menyusul, di atasan kepalanya, dia kaget, terus dia terbang ke bawah lewat selangkangan si anak muda. Habis itu dia terbang naik kembali, hendak mematuk mata.
Kwee Ceng gembira, hingga timbul sifat kekanak-¬kanakannya. "Di tanganku ada senjata, kalau aku tidak dapat menangkap kau, aku bukan laki-laki," katanya. "Baiklah, mari kita bertempur dengan tangan kosong!"
Maka ia melemparkan kualinya, lantas dia menyambar. Dia takut melukai, maka ia memakai tenaga cuma satu bagian. Burung itu kena dipapaki, dia tidak keburu kelit, karena kebentur, dia roboh. Kwee Ceng mengulur lebih jauh tangannya, untuk mencekik, tapi burung itu telah terbang lagi. Dia rupanya tahu lawannya lihay, bukan seperti pengiring-¬pengiring ular tadi, maka dia terbang pergi.
Kwee Ceng menyambar, tangannya diputar. Dia menggunakan jurus dari Hang Liong Sip-pat Ciang, jurus "Enam naga berputaran". Burung itu kena terpegat di sana-sini, lalu kebentur jatuh hingga ia jumpalitan. Justru itu Kwee Ceng mencekik padanya.
"Nona, dia telah kena aku tangkap!" Kwee Ceng serukan Lam Kim.
Nona itu girang sekali, ia lekas mengeluarkan obatnya pemunah racun, yang ia masukkan ke mulutnya, setelah itu, ia turun dari pohon, lari menghampiri si anak muda. Sebutir obatnya mau ia serahkan kepada si anak muda.
Burung itu pingsan, dengan begitu, lenyaplah pengaruhnya, maka waktu itu, semua ular yang ketakutan, lantas lari serabutan menyingkir dari rimba itu. Kwee Ceng merasakan burung tidak bergerak, ia khawatir mati, ia memegang dengan perlahan. Ia memegang dengan kedua tangannya. Ia membawanya ke tempat di mana ada tembusan sinar rembulan.
Ketika Lam Kim telah datang dekat, ia mengangsurkan obatnya. "Engko Kwee, obat ini bisa melawan racun ular," katanya.
Kwee Ceng tahu ia tidak membutuhkan itu, akan tetapi tidak menampik kebaikan hati si nona, ia menyambutnya. Karena menyambut, tangannya yang memegang burung tinggal sebelah. Justru itu, burung itu berontak dan terbang lolos!
"Ah, sayang, sayang!" anak muda ini membanting¬-banting kakinya.
"Burung itu cerdik, mungkin dia tidak berani datang lagi," berkata si nona.
"Maka itu aku mengatakan sayang," kata si anak muda.
"Kenapa engko?"
"Aku berniat menangkap dia untuk diberikan kepada Yong-jie…."
Lagi-lagi nama Yong-jie disebut. Lam Kim heran. Suara memanggil itu pun halus sekali. "Apakah Yong-jie itu anakmu?" ia menanya. Ia mengartikan Yong-jie seperti anak yang bernama Yong.
Ditanya begitu, pemuda itu melengak. "Bukan!" sahutnya dengan cepat. "Dia adalah anak perempuan, jika dibandingkan denga kau, usianya lebih muda satu dua tahun."
"Ah, dia tentu cantik sekali, bukan?"
"Tentu saja! Dia bukannya cuma cantik, juga pintar dan baik hati….."
Selama beberapa bulan Kwee Ceng selalu mengingat-¬ingat Oey Yong cantik dan pintar, hanya karena pendidikan ayahnya, ia termanjakan, tabiatnya rada keras, dia biasa membawa sukanya sendiri, cuma dimata Kwee Ceng, dia tidak ada celaannya. Terhadap Kwee Ceng, Yong-jie suka mengalah.
Lam Kim duduk bersama Kwee Ceng di atas sebongkol pohon yang roboh melintang di tanah, ia mendengar si pemuda memuji si nona, tanpa merasa, ia merasakan sesuatu yang berbeda daripada biasanya.
Lekas juga si pemuda sadar. "Kau lihat!" katanya tertawa. "Tengah malam buta kita memasang omong di sini! Mari kita pulang. Kalau sebentar kakekmu bangun dan ia tidak melihat kau, ia tentunya berkhawatir."
"Tidak," menyahut si nona. "Aku suka sekali mendengar ceritamu." Ia berhenti sebentar, lalu ia menanya. "Nona Oey itu pergi ke mana? Kenapa kau tidak ikuti dia?"
Pertanyaan itu mengena telak kepada Kwee Ceng. Ia tidak dapat lantas menjawab. Bukankah ia bakal menikah dengan Gochin Baki? Bukankah sulit untuknya nanti bertemu pula sama Oey Yong? Mengingat semua itu, ia menjadi berduka. Mendadak saja ia menangis.
Lam Kim terkejut. Ia menyangka telah salah omong. Ia menjadi menyesal dan berduka. Ia malah menjadi bingung bagaimana harus menghibur anak muda ini. Dengan sendirinya tangannya merogoh ke dalam saku, mengasih keluar sehelai saputangan. Ia sodorkan kepada si anak muda.
Kwee Ceng menyambutnya, ia menyusuti matanya. Ia tidak ingin menangis, tetapi ia tidak sanggup menahan kesedihannya. Maka ia menangis lagi.
Tiba-tiba di belakang mereka terdengar satu suara tertawa geli.
"Yong-jie!" berseru Kwee Ceng, ia melompat bangun, akan tetapi ketika ia menoleh tidak melihat siapapun, tidak ada bayangan orang meski cuma separuhnya………..
"Ah, engko Kwee!" berkata Lam Kim. "Kau senantiasa memikirkan nona Oey. Mari kita pulang!"
"Mari!" sahut si anak muda.
Bersama-sama mereka keluar dari hutan itu. Baru jalan beberapa puluh tombak, di depan mereka, melihat tujuh atau depalan orang dengan pakaian putih berbaris, tangan kirinya bertongkat sebatang galah panjang. Mereka jalan setindak demi setindak. Merekalah budak-budak Auwyang Hong, yang matanya buta di patok burung merah itu.
Mengawasi mereka itu, Kwee Ceng merasa kasihan. Maka ia menghela napas. Tapi ia tidak mau mendekati atau menegur, bersama nona Cin ia terus menuju ke rumah si nona, untuk terus tidur.
Besok pagi, ketika Kwee Ceng bangun, ia mendengar empeh Cin lagi sesalkan Lam Kim, yang katanya tidak seharusnya mengajak tetamunya pergi menangkap burung aneh itu sebab berbahaya.
"Memangnya aku yang mengajak?" si nona tertawa. "Dia sendiri yang gemar bermain!"
"Kau gila! Dia toh penolong kita, dia bukannya bocah lagi! Cara bagaimana kau bilang dia gemar bermain sendiri?"
"Kalau yaya tidak percaya, masa bodoh!" kata cucu itu tertawa.
"Masih kau tidak mau kalah! Kalau tuan penolong kita kena dilukai burung keramat itu, habis bagaimana?"
"Dia kosen sekali, mana dapat dia dilukai?" si cuca masih melawan.
Kakek itu menghela napas. "Sudah, sudah…." ia mengalah. "Mari kita berbenah……. Tidak dapat tidak, kita mesti berlalu dari sini…."
"Bagaimana engkong?" tanya si nona heran.
"Kita pulang ke Kwietang. Bangsat polisi itu kena dihajar, mana dia puas? Mana dapat kita tinggal lebih lama di sini? Kalau sebentar tuan penolong kita pergi, jikalau kita berlambat, bahaya tentu bakal menimpa kita…."
Cucu itu bengong. "Habis engkong, bagaimana dengan rumah ini, meja dan kursi kita?" ia menanya.
"Anak tolol!" mengelak orang tua itu. "Jiwa kita sendiri masih belum ketentuan, apa perduli segala rumah dan meja kursi? Anak, dasar nasib kita yang buruk, maka janganlah kau bersusah hati….."
Kwee Ceng mendengar semua pembicaraan itu, maka ia lantas mengambil keputusan, menolong orang tidak boleh kepalang tanggung. Ia turun dari pembaringan untuk menemui kakek dan cucunya.
"Lootiang, kau jangan berkhawatir," katanya menghibur. "Nanti aku pergi ke kantor camat membereskan urusanmu ini."
"Oh, injin, jangan kau pergi ke kantor camat!" cegahnya lekas. "Kantor itu adalah laksana gua harimau atau serigala!"
"Aku tidak takut!" berkata Kwee Ceng.
Empeh Cin masih hendak mencegah tetapi Kwee Ceng sudah lantas pergi keluar, menuntun kudanya, maka dilain saat ia sudah kabur dengan kuda merahnya. Dalam tempo sedaharan nasi, ia sudah sampai di dalam kota. Tengah ia memikir untuk menanya dimana letaknya kantor camat, mendadak nampak api berkobar di depannya dan banyak orang berlari-lari berteriak-teriak:
"Kantor camat kebakaran! Oh, Thian, ada matanya!"
"Begini kebetulan?" kata Kwee Ceng di dalam hatinya. "Masa begini tepat kantor camat kebakaran?"
Ia lantas mengasih kudanya lari di depan kantor, belum juga mendekat, ia sudah diserang hawa panas dari api itu hingga ia mesti mundur. Herannya tak ada orang yang mau menolong memadamkan api. Orang banyak berdiri jauh-jauh, roman mereka bukan kaget atau takut, sebaliknya semua bermuka terang, tandanya riang hati mereka.
Kwee Ceng lompat turun dari kudanya. Ia sekarang melihat di tanah ada rebah belasan orang polisi, ada yang sudah terbakar, ada yang masih hidup tetapi romannya tidak karuan dimakan api, ada yang dapat membuka matanya, tetapi mata itu tidak berkutik. Ia heran, menghampiri, terus mengangkat seorang opas. Baru sekarang ia ketahui orang adalah korban totokan. Ia lantas menotok pinggangnya.
"Mana camat?" ia tanya.
"Dia di dalam kantor, tuan," sahut opas itu, tangannya menunjuk. "Kemungkinan besar dia sudah mati terbakar…."
"Kenapa terbit kebakaran?" tanya pula Kwee Ceng. "Siapa yang merobohkan kau?"
"Maaf tua, aku tidak jelas," sahut pula si opas. "Tadi pagi-pagi sebelum aku bangun tidur, aku dengar koan¬thayya membikin banyak berisik, rupanya ia mencaci orang dan berkelahi, lalu api berkorbar. Aku hendak lari, tiba-tiba merasakan tubuhku kaku dan lemas, tahu-tahu aku sudah roboh…."
"Koan-thayya kamu bertempur sama orang, apakah dia pandai silat?" Kwee Ceng heran. Ia tidak menyangka seorang camat pandai silat dan menngerti juga Tok-see-ciang, tangan Pasir Beracun. Lantas ia ingat camat ini gemar dengan ular. "Ah, tentulah ia pakai ular itu untuk melatih diri," terkanya. Ia lantas menanyakan itu kepada opas.
"Aku tidak tahu, tuan"
"Rupanya, ada orang kangouw yang mencari camat itu," akhirnya Kwee Ceng pikir. "Ini ada baiknya, aku jadi tak usah capai hati…"
Oleh karena pikirannya sudah lega, Kwee Ceng tidak menggubris lagi si opas atau camat, ia berniat pulang ke rumah empeh Cin, untuk menyampaikan kabar gembira, tetapi waktu ia berpaling kepada kudanya, ia terkejut. Kudanya itu tak ada. Ia bersiul, memanggil. Kuda itu tidak muncul. Ketika ia mengulangi beberapa kali, tetap kuda merah itu tak nampak. Ia menjadi heran sedang ia tahu betul kuda itu cerdik dan sangat mengerti dan mengenali tuannya. Lantas ia pergi mencari, ia seperti memutari seluruh kota, tetapi tidak berhasil mencari kudanya.
"Benar heran!" pikirnya, bingung dan masgul. Akhirnya ia berjalan balik ke rumah empeh Cin, hatinya berpikir: "Nanti aku bawa burung rajawali untuk mencari, mustahil tidak ketemu…" Ia berjalan pulang sambil berlari-lari.
Empeh Cin dan cucunya heran mendengar gedung camat kebakaran, mereka girang mendapat tahu camat sendiri mati terbakar. Mereka bersyukur bukan main. Habis memberi keterangan, Kwee Ceng bersiul, memanggil burungnya. Tapi aneh, burung itu juga tak nampak dan tak muncul. Ia heran bukan main dan ia jadi semakin bingung. Saking berduka, ia tak nafsu dahar minum. Malam itu ia diam terus di rumah empeh Cin. Ia mengambil keputusan, besok ia mau pergi mencari kuda dan burungnya …….
Ketika itu musim panas, hawa udara sangat mengendus. Empeh Cin menggotong bale-bale serta dua buah kursi ke luar rumah, ditaruh di bawah para-¬para pohon kacang. Ia pun masak air dan menyeduh teh. Ia mengajak Kwee Ceng dan cucunya berangin. Ia melewatkan waktu dengan bercerita tentang sifatnya pelbagai ular berbisa.
Hati Kwee Ceng terhibur juga. Cerita si empeh menarik hati. Mereka berangin sampai tengah malam, sampai mereka merasa tubuh adem. Empeh itu beberapa kali mengajak tetamu dan cucunya masuk tidur, sang cucu menolak.
"Dasar bocah!" kata sang engkong tertawa. "Anak ini hidup sendirian, setiap hari menemani aku si tua bangka, di sini sulit mendapat tetamu, maka sekarang dia jadi gembira luar biasa…."
"Kalau besok engko Kwee pergi, kita kembali tinggal berdua…" kata Lam Kim. Ia nampak masgul, suaranya pun tak gembira.
Kwee Ceng berdiam.
"Engko Kwee, pergilah tidur," kata si nona kemudian. "Aku sendiri, masih hendak memandangi sang bintang…."
"Anak tolol! Apakah bagusnya bintang !" kata sang kakek.
"Tetapi aku suka memandanginya." kata si cucu.
Orang tua itu memandang ke langit, dimana ada mega hitam. "Lihat, langit bakal lekas berubah, bintang pun bakal lenyap…" katanya.
Ketika itu mendadak Kwee Ceng mendengar suara kuda berlari mendatangi. "Kuda merahku!" ia berseru. Segera ia menoleh dan mengawasi.
Jauh di sana, seekor kuda merah mendatangi. Lekas juga ternyata, dialah si bulu merah kudanya sendiri, seperti telah membilangnya. Di atas kuda itu ada penunggangnya, yang bajunya berkibaran, dialah Oey Yong.
"Yong-jie! Aku di sini!" Kwee Ceng berseru kegirangan.
Mendengar disebutkannya Yong-jie, hati Lam Kim terkesiap. Lekas sekali kuda merah itu telah tiba kepada tiga orang itu. Bersama Oey Yong ada kedua burung rajawali yang putih.
"Ah, sungguh aku tolol!" Kwee Ceng sesalkan dirinya sendiri. "Memang kecuali Oey Yong, siapakah yang dapat menguasai kuda dan burungku?"
Oey Yong lompat turun dari kudanya sedang Kwee Ceng maju memburu. Ia girang bukan kepalang.
"Aku berlatih tetapi keliru, kedua tanganku tak dapat digerak," berkata si nona.
"Ah!" Kwee Ceng berseru. "Mari lekas salurkan napasmu!"
Keduanya lantas lompat naik ke bale-bale, duduk bersila. Kwee Ceng meletakkan kedua tangannya di punggung si nona, menyalurkan hawanya ke tubuh si nona. Justru itu langit benar-benar berubah. Perlahan-lahan terdengar suara guntur, yang diikuti bergeraknya sang awan, hingga langit menjadi gelap.
Kira-kira setengah jam kemudian, pernapasan Oey Yong mulai lurus, hawa dari perut naik ke dadanya. Karena itu, tubuhnya seperti terdorong ke kiri dan ke kanan.
Selama itu Lam Kim mengawasi nona Oey, yang duduk sambil menutup mata dan merapatkan mulutnya, hanya mulutnya itu nampak tersenyum. Dia berkulit putih bersih, saat itu nampak cahaya dadu, maka terlihat tegaslah kecantikannya. Di lehernya ada tergantung kalung mutiara, yang bersinar menambah mentereng kecantikannya.
"Dia mirip dewi, tak heran engko Kwee jatuh hati kepadanya," Lam kIm berpikir. "Hanya, entahlah apa yang mereka lagi lakukan sekarang…."
Dia tengah berpikir begitu ketika mendadak matanya seperti gelap. Karena segumpal mega hitam lewat menutupi sang putri malam. Dan menyusul itu, seluruh langit mulai menjadi gelap gulita.
"Kwee Toako," ia berkata kepada Kwee Ceng. "Baiklah, kau masuk ke dalam bersama nona ini, lekas akan turun hujan."
Boleh dibilang ia baru menutup mulutnya, ketika ia merasai muka dan lehernya dingin, karena sang air hujan sudah lantas mulai turun beberapa tetes! Hujan di musim panas benar luar biasa. Begitu dibilang, hujan lantas turun. Dan Lam Kim lantas juga berkoak. Sebab dengan lantas hujan turun dalam jumlah besar, seperti dituang-tuang! Kwee Ceng dan Oey Yong lagi menyalurkan napas mereka, tidak menghiraukan hujan itu.
Nona Cin menjadi heran sekali, ia menduga orang kena pengaruh sesat. Ia menghampiri si anak muda, yang pundaknya ia tolak. Ia tidak menggunakan tenaga besar, ketika ia menolak, ia tertolak mundur satu tindak. Ia menjadi terlebih heran. Ia maju lagi, ia menolak dengan terlebih keras. Ia menanya:
"Engko Kwee, kau kenapa?" Tetapi mendadak, untuk kagetnya, ia tertolak mundur hingga terguling di tanah, jatuh duduk di air hujan!
Empeh Cin sudah masuk tidur, ia mendengar suara hujan diselengi guntur, maka ia memanggil Lam Kim. Beberapa kali ia memanggil tanpa ada penyahutan, lantas pergi ke luar, tepat ia menyaksikan cucunya itu lagi merayap bangun dari lumpur, rambutnya kusut, basah dengan air hujan, romannya bingung. Tengah ia kaget, ia mendengar suara nyaring cucunya:
"Engkong, tuan penolong kita kena pengaruh jahat, lekas tolong dia!"
Empeh itu pun kaget. Ia pun sangat bersyukur kepada anak muda itu. Maka tanpa pikir lagi, ia menghampiri Kwee Ceng, ia pegang tangannya, untuk ditarik masuk. Atau ia menjadi kaget. Tubuh si anak muda tidak bergeming. Ketika ia menarik dengan kuat, ia sendiri terpental jatuh, maka ketika ia sudah merayap bangun, ia berdiri bengong seperti cucunya.
Lam Kim lekas sadar, ia lari masuk untuk mengambil payung, ia memegang itu untuk dipakai memayungi Kwee Ceng berdua. Ia juga berkata:
"Engkong, lekas menyulut kertas kuning, kau asapi hidung mereka!"
Empeh Cin lari masuk, tindakannya limbung. Apa mau, ia kena membentur pelita hingga terbalik. Lam Kim sendiri lantas nyata perubahan hatinya. Biarnya ia mengagumi Oey Yong, hatinya ada pada Kwee Ceng, maka payungnya itu mulai bergeser, menutupi si anak muda sendiri, hingga si nona lantas ketimpa hujan pula. Tidak lama empeh Cin muncul dengan kertas kuningnya, yang telah disulut. Dengan dijagai ujung bajunya, kertas itu ia bawa kepada Kwee Ceng, hidungnya lantas ia asapi.
Hebat kesudahannya ini untuk si anak muda, yang lagi menyalurkan napasnya itu. Ia lantas merasa napasnya sesak. Ia menjadi kaget sekali, lantas ia menahan napasnya. Tapi ia cuma bisa menahan sebentar, asapnya si empeh masuk pula. Beberapa kali ia terbatuk-batuk. Celaka untuknya, di dalam keadaan seperti itu, ia tidak dapat membuka mulutnya.
Empeh Cin bingung. Melihat asap tidak menolong, ia menekan jintiong, ialah hidungnya si anak muda. Siapa pingsan karena teriknya panas matahari, kalau ia ditotok di jintiong itu, ia dapat sadar. Tidak demikian dengan Kwee Ceng. Ia bahkan jadi semakin seperti disiksa. Sudah tidak dapat membuka mulutnya, ia juga tidak dapat menolak mundur si empeh yang mau menjadi penolong tetapi sebaliknya menjadi seperti mencelakainya.
Sang hujan turun terus, guntur pun masih berbunyi. Satu kali kilat menyambar, guntur berbunyi keras. Nyata satu pohon kena ditimpa hingga menyala dan terbakar.
Lam Kim kaget dan ketakutan, tetapi ia tidak berkisar dari tempatnya berdiri, ia masih memayungi tuan penolongnya. Hanya matanya menjadi tidak karuan, sebab ia melihat kilat, melihat api, dan melihat air hujan juga. Kapan ia memandang Kwee Ceng, ia mendapatkan pemuda itu duduk tenang seperti biasa, begitu juga dengan si nona Oey, bahkan nona ini nampak tersenyum manis, romannya sangat cantik.
Empeh Cin berdiri tercengang, ketika ia memandangi cucunya, ia mendapati muka cucunya itu sangat pucat. Dalam keadaan seperti itu, mendadak kilat berkelebat, cahayanya terang sekali. lalu suara geledek, menyusul demikian hebat, sampai saking kagetnya, empeh Cin dan Lam Kim roboh karenanya.
Guntur berbunyi di samping Kwee Ceng, tidak heran kalau kakek dan cucunya roboh pingsan. Hanya sehabisnya guntur, segera Kwee Ceng merasakan pernapasannya berjalan dengan baik seperti biasa. Maka sekarang ia dapat bergerak. Juga Oey Yong dapat bergerak.
Lagi-lagi guntur menggelegar dekat si nona, maka Kwee Ceng lantas mendekam di tubuh si nona, untuk melindungi. Berselang sekian lama barulah guntur berkurang dan hujan pun mulai berhenti. Dan setelah lewat sekian waktu, maka langit menjadi bersih, si putri malam muncul pula dengan segala kepermaiannya.
Oey Yong merasakan tubuhnya sehat sekali. Dengan perlahan ia mengangkat tubuhnya.
"Engko Ceng," katanya berbisik. "Benar-benarkah kau mencintaiku?"
Kwee Ceng merangkul, girangnya bukan buatan, sampai ia tidak bisa membuka mulutnya.
"Lihat itu," kata Oey Yong kemudian, tangannya menunjuk ke pohon yang tadi ditimpa geledek dan terbakar. Di sana, di antara api, si burung darah, hiat-niauw, lagi bergulingan dan berlompatan, rupanya gembira sekali ia memain api. "Mari kita tangkap padanya," kata si nona berbisik.
Kwee Ceng mengangguk, lantas berbangkit. Ketika itu ia melihat empeh Cin, yang sadar sendiri lagi menolong cucunya, untuk dikasih duduk di kursi.
Oey Yong sendiri bertindak menghampiri hiat¬niauw. Burung itu telah mempunyai pengalaman, ia tidak berani berkelahi, ia lantas terbang pergi, sia-sia si nona berlompat menubruk padanya. Karena ini Oey Yong bersiul, memanggil burung rajawalinya.
"Tangkap burung itu tetapi jangan lukai dia!" ia memerintah.
Kedua burung rajawali itu mengerti, keduanya lantas menyambar hiat-niauw. Mereka bertindak dengan memegat jalan. Hiat-niuaw kecil sekali, seluruhnya cuma sebesar kepala rajawali, tetapi ia sangat gesit, maka itu ia dapat molos, lantas ia terbang cepat dan jauh, ketika sudah beberapa lie, ia mendapatkan masih disusul, lantas ia terbang balik, untuk mencoba melawan.
Hebat perlawanannya itu. Kalau ia kena dicengkeram atau dipacuk, pastilah ia celaka, tetapi karena gesitnya, ia selalu bisa membebaskan diri. Bahkan dialah yang beberapa kali berhasil mematuk bulu lawan hingga rontok. Coba si rajawali bukan berdua, mungkin mereka kalah.
Selagi bertempur terlebih jauh, rajawali yang jantan kena dipatuk lehernya, ia merasakan sakit, saking sengit, ia menyampok dengan sayapnya. Hiat-niauw berkelit, tapi justru ia kena disampok sayap burung betina, sampai ia roboh. Tapi ketika ia ditubruk ia sempat berkelit lagi, terus terbang cepat dan jauh, kedua rajawali terus menyusul, mereka pergi jauh ke belakang gunung.
Kwee Ceng berpaling kepada Oey Yong, untuk berkata dengan perlahan: "Yong-jie, kau maju pesat sekali. Guntur berbunyi di sampingmu, kau tidak tahu."
"Kau pun sama!" kata si nona tertawa.
Kwee Ceng lantas ingat perbuatannya empeh Cin tadi. "Sungguh berbahaya," katanya dalam hatinya. "Kalau aku tidak dapat bertahan, aku mesti menyia-nyiakan waktu lagi tujuh hari tujuh malam untuk memulihkan diri. Lantas ia ajar kenal Oey Yong dengan tuan rumah, itu kakek dan cucu.
"Yong-jie, kau melepas api di kantor camat, bukan?" kamudian Kwee Ceng tanya si nona.
"Kalau bukan aku, siapa lagi?" si nona membaliki, tertawa.
Empeh Cin dan cucunya terkejut. Tidak mereka sangka, nona ini demikian besar nyalinya dan pandai juga.
Kemudian Oey Yong melirik Lam Kim, ia bersenyum. "Engko Ceng," katanya, "Kau selalu memuji aku, apa kau tidak takut enci ini nanti menertawainya?"
"Oh!" kata Kwee Ceng. "Kau telah bersembunyi di dalam rimba?"
Kembali Oey Yong tertawa. "Jikalau kau tidak membilang hendak menangkap burung itu untukku, aku lebih suka tanganku bercacad, tidak mungkin aku kembali padamu!" katanya. "Kemudian kau menangis! Apakah kau tidak malu?"
Kwee Ceng tunduk, ia menyahut perlahan: "Aku merasa telah memperlakukan kau tidak bagus, dan aku khawatir sekali untuk selamanya nanti tidak dapat melihatmu lagi…."
Oey Yong mengulur tangannya, membereskan rambut orang. "Sebenarnya aku berpikir untuk tidak menemuimu lagi tetapi aku tidak bisa," ia berkata. “Tapi sudahlah, sekarang kita jangan pikirkan hal-hal di belakang hari, untuk kita, dapat satu hari selebih banyak kita berkumpul, itu artinya kita dapat tambah satu hari kegirangan!"
Lam Kim berdiri bengong melihat dan mendengar orang berbicara demikian asyik. Berempat mereka bagaikan baru sadar ketika kuping mereka mendengar suara burung rajawali di tengah udara, kapan mereka mengangkat kepala, terlihat hiat¬niauw masih dikepung kedua rajawali itu, terbangnya sangat pesat.
Menampak demikian, Oey Yong lantas mendapat akal. Ia bersiul satu kali. Atas itu rajawali yang betina terbang turun, menclok di pundaknya. Maka tinggallah yang jantan, yang mengejar terus-terusan. Ia menunggu sudah lewat lama juga, ia memanggil burung jantannya seraya melepaskan yang betina guna menggantikan mengejar hiat-niauw itu.
Siasat ini digunakan terus-menerus, maka akhirnya lelah juga burung api itu, yang tak dapat mengaso sama sekali. Setelah terbangnya menjadi perlahan dan kegesitannya pun berkurang, satu kali ia kena disampok sayap rajawali, lantas ia tidak dapat terbang lebih jauh, maka ia kena disambar, dibawa kepada Oey Yong.
Nona Oey menyambut burung api itu, memegangnya, hatinya sangat girang. Hiat-niauw sangat letih, dia mengawasi si nona, sinar matanya seperti minta dikasihani.
"Baik-baik kau turut aku, aku tidak bunuh padamu," berkata Oey Yong sambil tertawa.
Empeh Cin sangat girang sekali melihat burung itu kena ditangkap. "Bagus!" serunya. "Nona telah berhasil menangkap burung ini, maka aku dan cucuku bakal dapat makan pula! Nanti aku membuatkan kurungan." Lam Kim tahu burung itu suka makan nyali ular, ia mengambil arak nyali ular mengasih burung itu minum, setelah habis setengah peles, hiat-niauw itu lantas pulih kesegarannya. Ia benar-benar menjadi jinak sekali.
"Aku hendak memelihara dia hingga dia mendengar kata-kataku!" kata Oey Yong. "Aku mau mengajari dia bagaimana harus mematuk mata orang!"
Tapi sementara itu, orang letih dan kantuk, maka mereka lantas pergi mengaso. Lam Kim mengalah mengasihkan pembaringannya untuk Oey Yong, siapa sebaliknya minta empeh Cin lekas membikin ia kurungan untuk burungnya itu.
Besoknya pagi, ketika matahari merah menyorotkan sinarnya masuk ke jendela, Oey Yong bangun untuk lantas menjadi kaget. Di meja, kurungannya rusak, tetapi burungnya berdiri diam di meja, ia tidak lari meski orang menghampiri. Kaget dan girang, Oey Yong menggapai.
"Mari!" ia memanggil.
Hiat-niauw terbang, menclok di telapak tangan si nona. "Dia takluk padaku, dia takluk padaku!" kata Oey Yong kegirangan. Ketika ia melihat kurungan, kurungan itu rusak dan patah. Ia pikir, tentulah itu burung mau membilang: "Aku merdeka, kalau aku tidak mau pergi, tidak apa, tetapi kalau aku mau, apa artinya kurungan macam begini?" Sedangkan si nona bergirang, kupingnya lantas mendengar keluhan Kwee Ceng di lain kamar. Ia heran, lantas lari menghampiri.
"Engko Ceng, kenapa?" ia menanya.
Kwee Ceng menyeringai, tangannya memegangi gambar pemberian Oey Yok Su. Nyata karena kehujanan, gambar itu terkena air.
"Ah, benar sayang!" si nona mengeluh. Ia menyambut gambar itu, yang telah pecah. Ia merasa, tidak ada jalan untuk dapat memperbaikinya. Ketika ia hendak meletakkannya di meja, mendadak ia melihat di pinggiran syairnya Han See Tiong ada tambahan beberapa baris huruf halus. Ia lantas mendekati, melihat terlebih tegas. Surat itu berlapis, kalau tidak karena basah, tidak mungkin dapat terlihat. Sekarang pun sangat sukar untuk membacanya. Oey Yong mementang matanya, ia mencoba membaca:
"…..Surat wasiat….Bok…Tiat Ciang…tengah…puncak…….." Huruf-huruf lainnya lagi tak dapat dibaca.
Kwee Ceng juga turut membaca, lantas berkata: "Ini bisa diartikan surat Wasiat Gak Bu Bok…."
"Tidak salah," berkata Oey Yong. "Wanyen Lieh si jahanam menyangka surat wasiat ini berada di dalam peti batu di dalam istana, tetapi meskipun petinya telah didapatkan, surat wasiatnya tidak ada. Sekarang kita mendapatkan gambar ini. Bunyinya kata-kata ini mungkin rahasia surat rahasia itu. Tiat Ciang, tengah, puncak…" Ia lantas memikir keras. "Tiat Ciang" itu ialah "Tangan Besi". Kemudian ia menanya Kwee Ceng: "Engko Ceng, apakah keenam gurumu pernah menyebut tentang Tiat Ciang Pang?"
"Tiat Ciang Pang?" kata Kwee Ceng berpikir. "Tidak. Aku hanya ketahui si tua bangka she Kiu, si penipu besar itu, dipanggil Tiat Ciang Sui-siang-piauw."
"Tidak, tidak bisa jadi tua bangka celaka itu ada hubungannya dengan ini!" berkata Oey Yong, memandang enteng. "Hanya ada juga kemaren ketika aku membakar kantor camat, di sana aku mendengar si camat she Kiauw berbicara sama siapa, tahu menyebut-nyebut entah bagaimana dengan 'Tiat Ciang Pang kami'. Ia menyebut pula perlu lekas dicari banyak ular untuk dipersembahkan kepada Toa Hiocu. Ketika kemudian aku bertempur dengannya, ternyata ilmu silatnya tidak rendah, dia mengerti juga Tiat-ciang, yaitu Tangan Pasir Besi."
"Anggota dari suatu perkumpulan kaum kangouw menjadi camat, ini benar-benar aneh!" kata Kwee Ceng. Tiat Ciang Pang ialah Partai Tangan Besi.
Lantas keduanya memikir kata-kata di gambar itu, masih mereka tidak dapat menangkap maksudnya, maka Oey Yong lantas membenahkan gambar rusak itu, disimpan di dalam sakunya.
"Biarlah perlahan-lahan kita memikirkannya lagi." katanya.
Sampai di sini, sepasang muda-mudi ini lantas pamitan dari empeh Cin dan cucunya, dengan menaiki kuda merah, mereka berangkat pergi. Tuan rumah dan cucunya merasa berat tetapi mereka tidak dapat menahan.
Pada suatu hari tibalah Kwee Ceng dan Oey Yong di wilayah kota Gakciu. Oey Yong mengingat-ingat hari. Itulah hari Cit-gwee Capsie - tanggal empatbelas bulan tujuh - jadi besok hari rapatnya Kay Pang, Partai Pengemis.
"Kita tidak mempunyai urusan sekarang, kita pesiar perlahan-lahan saja," kata Kwee Ceng.
"Baiklah," si nona menyahut.
Mereka lompat turun dari kuda, dengan berpegangan tangan mereka bertindak, dengan perlahan-lahan. Mata mereka memandang jauh ke depan di mana tampak hanya air dan sawah-sawah di mana pohon padi sudah tumbuh tinggi dan telah berbuah, maka diduga tahun ini, panen bakal memberi hasil baik.
Kata Oey Yong: "Dahulu ayah pernah membilangi aku, kalau Ouw Kong matang, seluruh negara cukup, maka itu kelihatannya tahun ini rakyat bakal bebas dari bahaya kelaparan."
Ouw Kong ialah empar propinsi Ouwlam dan Ouwpak serta Kwietang dan Kwiesay, sedang dengan "matang" diartikan "masak" atau musim panen. Kemudian si nona menunjuk ke sebuah pohon besar di mana seekor tonggeret lagi berbunyi, ia kata pula:
“Binatang itu berbunyi tak hentinya, entah apa yang dia katakan. Suaranya itu membuat aku ingat satu orang…"
"Siapakah dia?" Kwee Ceng tanya.
"Dia adalah Kiu Looyacu yang pandai meniup kulit kerbau…" sahut si nona tertawa.
"Oh!" seru Kwee Ceng. Ia juga tertawa.
Ketika itu matahari sedang teriknya, petani lagi bermandikan peluh tapi mereka bekerja terus mengompa air. Demikian di bawah sebuah pohon yang-liu, seorang nyonya bekerja bersama satu bocah berumur tujuh atau delapan tahun, berat gerakan kaki mereka. Pakaian mereka telah basah kuyup, sedang muka si bocah merah seluruhnya. Oey Yong menghentikan tindakannya, ia mengawasi mereka, ia merasa kasihan.
Si bocah melihat ada orang yang mengawasi, ia menoleh. Ia kagum menyaksikan keelokan si nona.
"Ibu," katanya, "Lihat, enci itu lagi mengawasi kita!" Dari suaranya, ternyata ia bergembira meski dia bekerja capai.
Si nyonya menoleh, ia tersenyum dan mengangguk kepada pasangan muda-mudi itu. Oey Yong merogoh ke dalam sakunya, berniat mengambil sedikit uang untuk mengasih persen kepada bocah itu untuk ia membelikan kembang gula tatkala kupingnya mendengar suara samar-samar dari guruh di kejauhan, lantas saja ia menjadi girang. Ia kata kepada itu ibu dan anaknya:
"Sudah, tak usah kamu mengompa air lagi, hujan bakal turun!"
Si nyonya memasang kupingnya, mendadak romannya menjadi pucat, suatu tanda dia takut. Si bocah lompat turun dari pompa airnya sambil berkata:
"Ibu, raja kodok mau datang makan kodok hijau lagi!"
Si nyonya mengangguk.
Oey Yong tidak mengerti, ia mau minta keterangan, tetapi segera ia mendengar riuhnya gembereng yang dipalu breng-breng keras sekali, yang memalunya seorang laki-laki yang mengenakan tudung rumput yang lebar serta tubuhnya tidak memakai baju. Dia menabuh sambil berlari-lari ke barat.
Belum lama lantas datanglah sambutan gembreng riuh dari segala penjuru, menyusul semua orang, pria dan wanita, yang lagi mengompa air, pada lari meninggalkan pompa mereka, semua lari ke arah barat.
Oey Yong mendapat si bocah dan ibunya turut lari juga. "Engko Ceng, mari kita lihat, keramaian apa itu!" katanya saking tertarik hatinya.
Kwee Ceng menurut, maka mereka lari menyusul orang banyak itu. Ketika mereka sudah melewati sebuah tikungan gunung, mereka lantas melihat sawah-sawah yang luas yang penuh air, sedang semua orang tani itu berkumpul di sebuah tanjakan tinggi semacam bukit, dengan roman tegang, mata mereka memandang ke depan. Di situ memalu seratus lebih gembreng kuningan, hingga suaranya berisik menulikan telinga. Dengan begitu tak terdengar lagi suara orang bicara.
Di samping bukit kecil itu tumbuh sebuah pohon yang besar dan tinggi, Kwee Ceng menarik tangan Oey Yong, diajak ke sana, mereka terus melompat naik ke atasnya, dengan begitu mereka berdua dapat memandang jelas ke arah semua mata ditujukan. Di sana terlihat langit biru seperti lautan, di sana tidak apa-apa yang mencurigakan. Tapi mereka tetap mengawasi. Tidak lama kemudian, kuping mereka dapat menangkap samar-samar suatu suara yang keras, yang tidak dapat dilawan berisiknya gembreng.
Mulanya Oey Yong menyangka kepada guruh, hanya sebentar kemudian, ia melihat benda-benda kuning yang membikin ia menjadi heran sekali. Semua benda itu datang dengan berlompatan.
"Hai, begitu banyak kodok!" akhirnya si nona berseru.
Memang di sana terlihat ribuan atau laksaan kodok, yang dating ke tempat itu, dan suara berisik tadi mirip guruh ialah suara kerak-keroknya mereka! Begitu melihat sang kodok, berhentilah semua petani memalu gembreng mereka. Sekarang terlihat tegas air muka mereka yang lesu dan masgul.
Kapan kawanan kodok itu tiba di tepi sawah di depan bukit kecil itu, semua lekas berhenti, berbaris dengan rapi. Di belakang mereka terlihat beberapa ratus kodok yang besar-besar, yang mengerumuni seekor kodok yang badannya besar istimewa - lebih besar enam atau tujuh lipat dari kodok yang umum. Itulah dia yang rupanya si bocah sebut sebagai raja kodok. Dia lantas mengasih dengar suara berkerok satu kali, lantas dia disambut rakyatnya hingga riuh pulalah suara mereka yang mirip guruh itu. Ketika raja kodok itu berbunyi pula, maka siraplah suara semua rakyatnya.
"Nah, ini pun membikin aku ingat satu orang!" berkata Oey Yong.
Kali ini Kwee Ceng tidak menanya siapapun, ia hanya tertawa dan berkata dengan cepat:
"Auwyang Hong!"
"Jempol!" berseru Oey Yong sambil menunjukkan jempolnya. Ia menganggap pemuda itu cerdas dapat menerka dengan jitu.
Kawanan kodok itu menaati titah rajanya. Setelah tiga kali berbunyi, mereka berdiam pula, hingga suasana di situ menjadi sangat sepi. Hanya sekarang lantas terdengar gantinya, ialah suara perlahan tetapi terang dari seekor kodok hijau yang kecil, yang berlompat keluar dari belakang sebuah batu besar di arah timur.
Ketika orang-orang tani ini melihat kodok hijau, dengan serentak gembreng mereka dipalu pula, sambil memalu, mereka berseru-seru keras sekali. Mereka bersorak-sorai, tanda dari kegirangan. Terang mereka membantu menggembirakan atau menganjurkan kodok kecil itu.
Kwee Ceng dan Oey Yong heran. Tak tahu mereka apa yang akan dilakukan si kodok hijau kecil itu. Selagi mereka mengawasi dengan perhatian, kuping mereka mendengar tindakan kaki yang berisik, ketika mereka berpaling, terlihat dari empat penjuru datang pula beberapa ratus petani. Mata si nona sangat jeli, ia mendapatkan di dalam rombongan itu ada sejumlah orang yang pakaiannya berenda. Ia lantas menarik tangan baju Kwee Ceng seraya mulutnya dimonyongkan ke arah orang-orang itu, yang jumlahnya empat atau limapuluh orang. Mereka itu mengenakan baju hitam dan tangan mereka memegangi korang bambu yang besar. Terang sekali mereka pun menyembunyikan senjata. Dilihat dari romannya yang bengis, mestinya mereka bukan sembarang petani. Di tepi bukit, mereka berkumpul menjadi satu, terpisah beberapa puluh tombak dari petani lainnya.
Kodok hijau yang kecil itu berlompatan hingga terpisah lagi tiga kaki dari tepian sawah, di situ ia berhenti, lalu berbunyi beberapa kali. Dari dalam rombongan kodok yang berjumlah besar sekali itu muncul seekor kodok kuning yang besar, ia meloncati galangan, sampai di depan kodok hijau. Di situ ia mementang mulutnya dan bersuara, suaranya keras bagaikan suara kerbau. Si kodok kecil tak takut, ia juga membuka suaranya, maka terjadilah saling sahut, makin lama makin cepat. Dari situ, kelihatan si kodok kecil bernapas lurus dan rapi. Si kodok besar agaknya kesusu, rupanya ia ingin lekas-¬lekas menang.
Sesaat berselang, suara kodok besar itu menjadi serak, dan perutnya yang putih pun kembung makin besar, setelah itu, suaranya berubah menjadi dalam, sedang kedua matanya seperti mencelos keluar, perutnya itu menjadi bundar bagaikan bola. Mendadak saja, perut kembung itu meledak, nyaring suaranya, lalu ia rebah binasa.
Semua petani bersorak riuh. Beda dengan rombongan baju hitam itu, kelihatannya mereka gusar. Maka sekarang terlihat tegas, petani berpihak pada kodok hijau, kodok yang banyak itu.
Kodok hijau itu menang, dia bersuara tiga kali, lantas dia memutar tubuh, rupanya dia mau pergi, atau mendadak terlihat enam kodok besar berlompatan maju, untuk mengejar.
"Tidak tahu malu!" membentak pihak orang petani banyak. "Tidak punya guna! Apa ini? Malu! Baik mati saja!"
Enam kodok besar itu berpecah menjadi dua, sikapnya mengurung. Si kodok kecil berlompat, untuk menyingkir. Dia lantas dikejar. Kira-kira tiga tombak, maka di sebelah belakang enam kodok itu terdengar suara kodok lainnya. Lantas mereka berhenti mengejar, berniat kembali, tetapi mereka terlambat. Mereka segera dipegat kira-kira tigapuluh kodok hijau yang besar yang muncul dari gili-gili.
Kali ini kedua pihak tidak lagi mengadu suara, hanya mereka lantas saling terjang, saling menggigit. Karena kalah jumlah, enam kodok besar itu lantas saja mati. Banyak kawannya, tetapi tidak ada yang maju menolong.
Oey Yong menjadi heran, ia berpaling kelilingan. Ketika matanya terarahkan ke pinggir sawah di mana ada sebuah kali kecil, maka di situ ia melihat segalanya hijau, sebab di situ pun ada berkumpul ribuan atau laksaan kodok hijau, hanya mereka ini semua tidak bergerak. Mungkin ini yang menyebabkan kodok besar itu tidak berani sembarangan melintasi tapal batas.
Si raja kodok berbunyi kerok dua kali, maka seratus di pihaknya lantas maju melintasi batas. Mereka disambut sebarisan kodok hijau yang muncul dari tempatnya mendekam. Maka bertempurlah mereka. Belum lama, kodok besar itu lari ke arah selatan. Kodok hijau mengubar setombak lebih, lantas berhenti. Melihat demikian, kodok besar berbalik akan menyerang pula.
Benar saja, di selatan itu, di mana ada batu besar, terlihat munculnya barisan tersembunyi kodok besar itu dan mereka lantas maju, membantu kawannya. Karena ini, dari tepi kali pun datang bantuan kodok hijau. Kedua pihak lantas bertempur dengan berisik.
Dalam tempo dekat, puluhan ekor kodok roboh sebagai bangkai. Kerugian terdapat dikedua pihak. Mereka yang terluka merayap ke pinggiran, lalu ada yang kawannya menolong mengajak kembali ke dalam barisannya.
Kelihatan si raja kodok tidak puas melihat belum ada keputusan, ia berbunyi lagi dua kali. Kali ini lantas ada satu pasukan besar yang menyebrang, buat membantu. Sekarang kodok hijau, yang tak sempat mundur, terancam terkurung. Mereka mengatur barisan bundar, ekor ke dalam, mulut keluar. Dengan begitu, mereka tidak takut nanti diserang dari belakang. Kodok besar berjumlah besar tetapi mereka tidak dapat menyerbu semua.
Sejumlah petani berteriak-teriak mengajuri kodok hijau mengirim bala bantuan, anjuran itu tak ada hasilnya. Nampaknya kodok hijau bersikap tenang. Dari barisan kodok besar itu ada beberapa yang berlompat, hendak maju, tetapi saban kali ada satu yang menerjang, segera dia dipapaki diterjang satu kodok hijau, hingga keduanya sama-sama jatuh. Dengan begitu, kodok besar tidak dapat menerjang ke dalam barisan lawan.
"Celaka!" mendadak Oey Yong berseru. Ia melihat di empat penjuru kurungan kodok besar itu, sejumlah kodok besar mendekam, kawannya naik ke atas dan mendekam pula, hingga mereka merupakan gundukan tinggi tiga kaki, kemudian di paling atas, sejumlah kodok berlompat ke arah kodok hijau. Hebat serangan itu. Kodok hijau jadi terbokong, banyak yang mati.
"Sayang…" kata Oey Yong.
"Lihat!" terdengar suara Kwee Ceng yang tangannya terus menunjuk.
Di arah timur laut sejumlah kodok besar hijau bergerak, menuju ke belakang kodok besar, untuk menyerang dari belakang. Raja kodok mendapat tahu bokongan musuh, dia mengirim barisannya, untuk memegat. tapi kodok hijau itu tidak menghiraukan, di sebelah yang bertempur, yang lain maju terus ke belakang pasukan musuh. Kodok besar jadi kacau tetapi mereka tetap berkelahi.
Raja kodok melihat barisannya tak dapat maju, ia berbunyi nyaring sekali, lantas ia sendiri maju, memegang pimpinan penyerbuan. Ia mengepalai barisannya sendiri, yang semua besar-besar dan romannya bengis. Kodok besar ini bisa dengan sekali menggigit, mampus musuhnya. Sebentar saja seekor kodok besar bisa mematikan belasan musuhnya. Karena ini, kodok hijau terpaksa berkelahi sambil mundur.
Kawanan kodok besar itu maju merangsak. Raja kodok berlompat, sekali lompat jauhnya setengah tombak, tapi segara ia dikepung kodok hijau. Tapi hanya sejenak, dia lantas dibantu barisannya. Karena bergesernya tempat bertempur, orang pun menggeser, untuk melihat lebih tegas. Oey Yong dan Kwee Ceng lompat turun, mereka nelusup di antara orang-orang tani itu.
Kelihatan semua orang tani berduka, mereka pada menghela napas. Oey Yong heran, ia ingin mengetahui duduknya hal, maka ia tanya seorang tua, kenapa kedua macam kodok itu saling bertempur. Sebelum menjawab, orang itu mengawasi dulu hingga ia mengenali orang adalah asing untuk desanya itu.
"Katak itu ada yang piara," ia menerangkan, "Dan dipelihara istimewa untuk menangkap kodok hijau."
Oey Yong heran. "Ah!" suaranya tertahan.
"Kami orang tani, mengharapkan bantuan kodok-kodok hijau itu untuk merawat tanaman padi," orang itu berkata pula, "Sekarang nampaknya kodok hijau bakal kalah, maka di tempat sekitar sini, luasnya beberapa puluh lie, panen kami tahun ini bakal gagal….."
"Kalau begitu, nanti aku bantu kamu," kata Oey Yong. "Nanti aku hajar semua kodok itu." Ia merogoh ke sakunya, meraup jarumnya.
"Jangan, nona," berkata si orang tua perlahan, tanganya menarik ujung baju orang. "Telah aku bilang, katak itu ada yang pelihara." Ia menunjuk kepada rombongan orang pakaian hitam yang bengis-bengis itu. "Merekalah si pemelihara katak itu. Kalau kau ganggu katak mereka, buntutnya bakal hebat sekali. Nona cantik bagaikan bunga, maka menurut aku, sebaiknya nona jangan berdiam lama-lama di sini, kau lekas pergi!"
Oey Yong tersenyum.
"Jumlah kita banyak, takut apa?" Kwee Ceng pun berkata.
Orang tua itu menghela napas. "Karena urusan kodok itu, tahun lalu kita pernah bertempur sampai banyak yang terluka," katanya. "Perkara jatuh ke tangan pembesar negeri. Kesudahannya camat memutuskan, untuk selanjutnya biarlah katak bertempur sama katak, di antara binatang, kita dilarang campur tangan, siapa berani melanggar putusan, dia bakal di hukum berat."
"Ah, pembesar anjing!" mendamprat Kwee Ceng. "Bukankah itu terang-terang membantu kawanan manusia jahat itu?"
"Memang. Tapi camat dan mereka adalah sekawan. Camat cuma tahu menangkap kodok hijau untuk dipakai memelihara ular, dia tidak menggubris rakyat mati atau hidup!"
Mendengar keterangan hal menangkap kodok untuk memelihara ular, Kwee Ceng dan Oey Yong heran betul. Ketika mereka mau menanya lagi, justru kaum petani itu lagi berseru-seru girang. Nyata pertarungan katak itu membawa perubahan.
Kawanan katak besar mengumpulkan diri di empang besar, mereka terdesak. Sejumlah kodok hijau terjun ke air, mereka berenang ke belakang musuh, membantu menyerang dari samping dan belakang. Katak hijau itu pandai sekali berenang. Sedang katak besar tidak pandai memain di permukaan air. Mereka berdesakan, tak dapat bergerak dengan merdeka, banyak yang kecebur ke empang. Di dalam air, mereka tidak bisa bertempur dengan hebat seperti di darat. Maka mereka jatuh di bawah angin, banyak yang mati, bangkainya mengambang dengan perut putihnya di atas. Barisan kodok besar menjadi kalut. Rajanya, bersama barisan pengawalnya, menerjang kalang kabutan tanpa ada hasilnya. Maka orang-orang tani itu bersorak, ada yang berseru:
"Panen kita tahun ini ketolong!"
Kwee Ceng dan Oey Yong mengawasi semuanya sambil memperhatikan rombongan orang baju hitam itu. Muka mereka menyatakan kegusaran. Tiba-tiba di antara mereka ada yang berseru, lalu belasan di antaranya membuka tutup korang.
Begitu korang-korang dibuka tutupnya, maka keluarlah ratusan ekor ular berbisa kecil dan besar, semua merayap ke medan pertempuran, maka di dalam tempo yang pendek, mereka telah dapat menelan banyak kodok hijau. Kodok hijau memang makanan mereka. Lantas kodok itu pada lari atau merengkat saking takutnya. Kawanan petani menjadi kaget dan gusar, mereka mengasih dengar suara berisik.
Seorang, yang tubuhnya tinggi besar di antara orang-¬orang berpakaian hitam, maju ke depan orang-¬orang tani, dia mengasih dengar suara bentakannya:
"Camat telah memaklumkan, katak berkelahi di antara bangsannya adalah adat kebiasaan, maka selagi mereka tidak membikin hubungannya sama kita manusia, perlu apa kamu membikin banyak berisik?!"
Orang-orang tani itu berteriak-teriak: "Kodok besar itu serta ular berbisa ini adalah kamu yang pelihara! Kodok hijau mana bisa melawan ular! Tidak tahu malu! Kami melarat tahun ketemu tahun, panen kami bakal gagal, daripada kami mati kelaparan, mari semua mengadu jiwa!"
Orang tinggi besar itu mengangkat tangan kanannya, maka di situ terlihat goloknya yang berkeredepan. Dia lantas diturut kawan-kawannya, yang semua pada mengeluarkan senjatanya masing-masing. Dengan berbaris rapi, mereka maju mendekat.
"Kamu mau apa?" tanya si orang tinggi besar pada kaum tani itu. "Apakah kamu tidak mau dengar perintah camat? Apakah kamu mau memberontak?!"
Orang banyak itu pada mencaci, ada juga yang menimpuk dengan lumpur dan batu. Orang tinggi besar itu mengibaskan tangannya, lantas di antara mereka muncul dua orang yang dandanannya sebagai hamba polisi, yang satu memegang golok, yang lainnya membawa rantai borgolan. Mereka ini lantas memaklumkan, siapa yang cari gara-gara dan berkelahi, dia akan dihukum sebagai pemberontak!
Orang-orang tani itu berdiam, mereka saling mengawasi. Beberapa diantaranya kata: “Mereka inilah masing-masing kepala polisi berkuda dan berjalan kaki."
Oleh karena pihak sana dapat bantuan pembesar negeri, maka celakalah kawanan kodok hijau itu, oleh katak besar dan ular mereka digiring masuk ke dalam korang.
"Yong-jie, apakah kita turun tangan sekarang?" Kwee Ceng berbisik.
"Coba tunggu sebentar lagi," menyahut sang nona.
Ketika itu tujuh atau delapan bocah maju sambil berteriak-teriak, mereka menggunakan batu menimpuki rombangan ular, hingga ada beberapa ular yang lantas mati. Orang-orang berpakaian hitam menjadi murka, beberapa diantaranya maju menyerang bocah¬bocah itu. Satu bocah kena dirobohkan, yang lainnya lari kabur. Bocah yang roboh kena dicekik.
"Bagus, ya, kau berani membikin mati ular yang kita rawat susah payah!" katanya bengis. "Kau mesti dikasih rasa!"
Seorang petani wanita lantas lari menghampiri. "Tolong tuan, tolong," ia memohon, "Tolong lepaskan anakku ini…"
Kwee Ceng dan Oey Yong mengenali, itulah ibu dan anak yang mereka ajak bicara. Sambil dengan tangannya yang satu memegangi terus si bocah, dengan tangan yang lain laki-laki itu menyambar lehernya si nyonya, terus ia melemparnya balik hingga tubuh si nyonya terpelanting ke dalam rombongannya, di mana dia menimpa dua orang hingga mereka roboh bersama. Lantas laki-laki bengis itu mengibasi tangannya, atas mana kawan-kawannya maju dengan senjata siap sedia.
Kawanan orang tani itu mundur. Mereka kebanyakan adalah orang tua dan wanita. Mereka lebih takut lagi ketika orang mengayun goloknya untuk membacok, lekas¬-lekas mereka mundur pula. Nyata itulah ancaman belaka.
Adalah si bocah yang tertangkap yang malang. Dia digaplok, bajunya disobek, setiap kali digaplok, setiap kali disobek, hingga itu terulang belasan kali, hingga dia menjadi bengkak matang biru mukanya dan tubuhnya pun telanjang. Ibunya menangis menjerit¬jerit. Lupa segalanya, nyonya itu merangsak maju untuk menolongi anaknya. Segera dia dipegangi dua orangn laki-laki.
Laki-laki kejam tadi mengasaih dengar siulan nyaring, beberapa ratus ular berbisa mengangkat kepalanya dan mengulur lidahnya, semua mengawasi tubuh telanjang bulat dari si bocah. Maka kagetlah semua orang tani, pucat muka mereka. Si bocah juga ketakutan bukan main, matanya mendelong mengawasi ibunya.
"Ibu…!" kemudian ia menjerit.
"Bangsat cilik, kalau kau bisa, larilah!" kata si laki-¬laki bengis. Ia menampar, maka robohlah si bocah. Bocah itu lari kepada ibunya. Tapi di sini dia dipapaki sabetan golok beberapa orang, maka ia lari balik ke tempat kosong.
Si laki-laki bengis, yang rupanya menjadi kepala, bersiul pula, maka sekarang semua ular tadi, yang sudah siap, lantas lari mengubar bocah itu. Bukan main kaget dan takutnya si bocah ketika ia menoleh mendengar suara sa-sus riuh dari kawanan ular, yang semua mementang mulutnya, mengsaih lihat ancaman lidahnya yang bergerak-gerak, dalam takutnya ia lari sekeras-kerasnya. Tapi kawanan ular dapat lari lebih keras, lantas hampir kena disusul.
"Anakku!" menjerit si nyonya, yang lantas pingsan dan roboh.
Kawanan petani itu menjadi kaget dan gusar, mereka mau maju menyerang ular, tetapi mereka dihalang-¬halangi kawanan orang yang berpakaian hitam, yang membolang-balingkan goloknya dihadapan mereka. Menampak kejadian itu, Oey Yong sudah lantas bersiap dengan seraup jarumnya, ia hendak segera menyerang. Sekonyang-konyong bocah itu tersandung, tubuhnya terjatuh, maka itu ia lantas kena dicandak.
Oey Yong kaget hingga ia berseru, tubuhnya berlompat. Tepat ia hendak mengayun tangannya tetapi diantara rombongan orang tani terlihat dua orang melompat maju menghalangi di depan si bocah, tangan mereka diayunkan, menerbangkan empat bungkusan bubuk warna kuning, yang terus menggaris di tanah, sedang hidung orang lantas membaui bau belerang. Segera setelah itu, semua ular pada mundur sendiri.
Ketika Oey Yong mengangkat kepalanya, ia mengenali dua orang itu, Lee Seng dan Ie Tiauw Hin dari Kay Pang, Partai Pengemis, yang pernah ditemui di Poo-eng.
Melihat merintangnya dua orang itu, laki-laki baju hitam itu lantas berkata: "Kami dari Tiat Ciang Pang dengan pihak Kay Pang adalah seumpama air kali tidak bertemu air sumur, oleh karena itu kenapa tuan-tuan sekarang memaksa maju sendiri membela orang lain?"
Lee Seng memberi hormat. "Bocah ini belum tahu apa-apa, maka aku si pengemis tua memohon muka, sudilah dia diberi ampun," sahutnya.
Si hitam melihat Lee Seng menggondol delapan kantung goni, ia tahu orang dari angkatan tinggi, tetapi ia tertawa dingin dan lantas menanya:
"Jikalau aku tidak memberi ampun, habis tuan mau bikin apa?"
Ie Tiauw Hin masih muda, ia tidak sabaran. Dia berseru: "Kamu berbuat jahat dan kejam, kami telah mempergokinya, mana pula kami tidak campur tatang?!"
Si hitam tertawa menghina pula. Dia kata: "Aku mendengar kabar kamu kaum Kay Pang, besok kamu bakal mengadakan rapat besar di Gak Yang Lauw, di mana akan hadir semua pemimpin dari partaimu dari pelbagai penjuru, apakah kau pengemis cilik mau menghina orang dengan mengandalkan jumlah banyak? Hm! Aku khawatir tidak gampang-gampang kamu dapat berbuat demikian! Kamu katanya kaum yang pandai menangkap ular, coba aku lihat, apa kamu pandai menangkap ular kami?"
Ie Tiauw Hin panas hatinya. Ia lantas berlompat maju, kedua tangannya menyambar masing-masing seekor ular. Ia memegang ekor ular, segera digentak kaget. Tulang ular bersambung bagaikan rantai, karena dihentak kaget, tulang-tulang itu jadi seperti terlepas, maka itu, meski tidak segera mati, kedua ular itu lantas tidak mampu menggerakkan tubuh mereka. Itulah ilmu kepandaian menangkap ular dari bangsa pengemis.
Si hitam menjadi murka luar biasa, lantas ia bersiul keras, maka ribuan ularnya lantas melesat maju, untuk menerjang.
Ie Tiauw Hin boleh pandai menangkap ular tetapi menghadapi ular demikian banyak, ia kewalahan, maka itu, ia lompat ke garisan bubuk belerangnya. Lee Seng lantas berteriak, menanya she dan nama besar si hitam. Dia ini sendiri tidak menyahutinya, dia cuma tertawa dingin. Setelah ia melihat ularnya tidak berani maju, lagi sekali ia bersiul. Kali ini terjadilah pemandangan yang luar biasa.
Seekor ular menggigit ekor kawannya, kawan digigit pula ekornya oleh kawannya yang lain, demikian seterusnya, hingga mereka merupakan beberapa puluh potong rantai yang panjang, habis itu, ketika si hitam berteriak, mereka berlompat ke arah kedua pengemis itu, yang mereka terus kurung, hingga si bocah terkurung bersama.
"Pengemis busuk, tangkaplah ular itu!" kata si hitam menantang. "Kenapa kau diam saja?!"
Semua ular itu mendongak mengawasi, siap untuk menerjang. Muka Lee Seng dan Tiauw Hin pucat. Mereka rupanya menginsyafi ancaman bahaya.
Si hitam lantas berkata dengan jumawa, "Kami kaum Tiat Ciang Pang tidak suka mencelakai orang tanpa sebab, maka itu asal kamu berjanji untuk selama-¬lamanya tidak akan menangkap ular kami, asal kamu memberikan buktinya - hm! Kami tentu suka memberi ampun!"
Lee Seng tahu bukti apa yang diminta Tiat Ciang Pang. Ialah mereka harus merusak tangan mereka sendiri. Tentu sekali, mereka tidak suka menyerah, tidak peduli keadaan sangat berbahaya. Mereka berdiri tegak dan gagah.
Si hitam mementang kedua tangannya. Ia kata: "Asal aku merangkap kedua tanganku ini maka di tubuh kamu masing-masing bakal tambah beberapa ratus gigi yang beracun! Apa kamu masih tidak mau bertekuk lutut untuk memohon ampun?"
"Susiok, jangan kita mendatangkan malu!" kata Tiauw Hin.
Lee Seng tertawa. "Untuk apa mengatakan itu?" sahutnya. Ia lantas perkeras suaranya, berbicara kepada orang Tiat Ciang Pang: "Terima kasih banyak saudara hendak mengantar kami pulang ke Langit Barat, hanya aku masih belum mengetahui nama saudara yang besar!"
"Benarlah kamu, sampai mati kamu tidak mau memeramkan mata!" kata si hitam itu. "Aku murid ketiga dari Kiu Tiat Ciang, yang orang menyebutnya Hian-pwee-bong Kiauw Thay si Ular Naga Abu-abu!"
Belum berhenti suara jumawa si hitam ini, lantas terdengar suara tertawa halus nyaring disusuli kata-¬kata terang halus:
"Aha! Aku mengira siapa, tak tahunya segala murid dan cucu muridnya si tua bangka she Kiu!"
Suara itu segera disusul oleh orangnya, maka semua orang melihat seorang nona cantik manis yang rambutnya dijepit dengan gelang emas. Dialah Oey Yong kita. Maka heranlah Kiauw Thay.
Oey Yong tidak menanti orang sadar dari herannya, ia berkata pula: "Tiat Ciang Sui-siang-piauw she Kiu yang tua itu memanggil aku kouw-nay-nay, maka itu kenapa kau tidak segera memanggil aku couw kouw-nay-nay?" Dia minta dirinya dipanggil bibi dan bibi tua.
"Hai, bocah kau ngaco belo!" membentak si hitam. Di dalam hatinya, ia heran sekali kenapa bocah ini mengetahui nama besar gurunya.
Oey Yong tertawa dan berkata pula: "Anak-anak menerbitkan onar di luaran, inilah aku kouw-nay-nay kamu paling tidak senang melihatnya! Bukankah kamu pun adalah kawannya itu anak yang memangku pangkat camat di Bu-leng? Beberapa hari yang lalu, sambil lewat di mana, kouw-nay-nay telah membereskan dia! Nah, apa katamu?"
Camat she Kiauw di Bu-leng itu memang saudaranya Kiauw Thay ini, dia menerima kabar halnya kantor camat dibakar dan camatnya mati baru tadi pagi, maka itu ia lantas melirik si nona dengan hati sangat panas. Dia berduka berbareng gusar tetapi dia bersangsi apa nona ini benar membunuh saudaranya itu yang ia tahu gagah. Ia lantas memberi tanda, maka ratusan ularnya mengurung si nona.
"Siapakah yang membinasakan camat Bu-leng?" Kiauw Thay membentak, "Lekas bilang!"
Oey Yong tertawa manis. "Dengan sebenarnya akulah yang membinasakan dia!" dia menyahut, berani. "Dia melawan aku dengan menggunakan Tok see-ciang, tangan beracunnya itu! Siapakah tidak mengenal jurusnya, seperti jurus 'Jarum tawan' dan 'Mengangkat obor membakar langit' "Ketika aku menotok jalan darah kiok-tie-hiat, pecahlah kepandaiannya, maka setelah aku menotok pula kedua jalan darahnya, kie¬bun dan kin-ceng, aku menyuruh dia duduk di kursinya, duduk tak bergeming lagi, mirip lagaknya diwaktu hari-hari biasa dia dengan bengis memeriksa rakyat negeri. Kemudian ketika aku membakar gedung camat dan kantornya sampai ludas menjadi abu, entah kenapa dia tetap tidak keluar lagi dari kantornya!"
Kiauw Thay tetap heran. Kenapa orang begitu berani bicara seperti mendongeng saja, demikian tenang, lancar dan rapi? Meski dia masih bersangsi, dia toh memikir untuk membekuknya, guna mendengar keterangan orang terlebih jauh. Maka ia lantas berseru:
"Loo Sam, Loo Su, bekuklah budak ini!"
Dua orang lantas maju, dengan goloknya mereka menyingkirkan ular-ular yang mengurung, setelah datang dekat dengan empat tangan, mereka menjambret pundak si nona.
Oey Yong tertawa melihat lagak orang, "Loo Sam, Loo Su, kau rebahlah!" ia kata. Sebat luar biasa, ia mendak, lalu tubuhnya melesat ke belakang orang. Belum dua orang itu tahu apa-apa, punggung mereka sudah dicekal, lalu dtitolak keras satu sama lain, maka di antara suara beradu keras, kepala mereka bentrok hingga tubuh mereka terhuyung, lalu roboh di tanah!
Orang-orang tani itu sebenarnya lagi ketakutan akan tetapi menyaksikan robohnya dua jago itu, mereka heran dan kagum hingga mereka tertawa. Kiauw Thay murka bukan main, ia lantas mengangkat tangan kanannya dan memasukkan dua jerijinya ke dalam mulut. Ia hendak bersuit, guna mengasih perintah kepada ularnya untuk menyerbu.
Tetapi dia didahuli dengan suara kuk-kuk-kuk tiga kali, lalu di tangan Oey Yong terlihat seekor burung merah, sebab burung apinya itu telah masukkan ke dalam tangan bajunya.
Dengan mengasih dengar suara, burung api itu pun lantas mengasih keluar bau harumnya, yang segera seperti memenuhi ladang itu, seketika semua ular dapat mencium bau itu, semuanya menjadi bergerak dengan kacau, akhirnya pada rebah diam saja, sejumlah di antaranya lantas terlentang, mengasihkan perutnya untuk di patuk!
Hiat-niauw pun tidak sungkan-sungkan, dia berlompat maju, dia mematuk setiap perut, hingga sebentar saja dia sudah makan nyalinya tujuh ekor ular. Dia sudah kenyang tetapi dia masih mematuki perut ular lainnya!
Kiauw Thay kaget dan gusar, habislah sabarnya. Ia mengeluarkan tiga batang kong-piauw, dua batang ia timpuki burung api itu dan satunya kepada si nona!
Oey Yong memakai baju lapisnya, ia tidak memperdulikan datangnya senjata rahasia itu ke tubuhnya, sedang hiat-niauw, melihat datangnya serangan itu, berlompat untuk menyampok hingga kedua kong-paiuw jatuh di tanah, kemudian ia terbang gesit menyampok jatuh piauw yang mengarah si nona.
Bukan main girangnya Oey Yong mendapatkan burungnya itu mengerti dan dapat membela majikan. Ia lantas menuding si hitam itu serta kawan-kawannya, ia berkata:
“Mereka itu orang-orang jahat, patuklah biji matanya!"
Burung api itu terbang melesat, tubuhnya yang merah berkelebat mirip api, segera satu orang menjerit kesakitan, lantas diturut oleh beberapa orang yang lain. Sebab seperti tanpa merasa lagi, mata mereka telah kena dipatuk burung itu! Saking takutnya, semua orang lari serabutan, sedang yang matanya terpatuk pada menjatuhkan diri, untuk merayap atau bergulingan, guna melarikan diri.
Hingga dilain saat, habislah mereka, tinggal kodok dan ular mereka, maka kedua binatang itu lantas diserbu ramai-ramai oleh kawanan orang tani. Ketika kemudian mereka hendak menghanturkan terima kasih kepada Oey Yong dan Kwee Ceng, muda-mudi itu dengan tidak banyak omong telah pergi jauh.
Juga Lee Seng dan Ie Tiauw Hin hendak menemui sepasang anak muda itu tetapi mereka telah ditinggal kabur kuda merah yang larinya pesat.
Oey Yong girang bukan main atas kesudahan perbuatannya itu, maka malam itu, selagi singgah, ia menyalakan api, membiarkan hiat-niauw mandi dengan gembira.
Besoknya pagi, tibalah mereka di Gakciu. Mereka berjalan kaki, kuda mereka dituntun. Langsung mereka menuju ke lauwteng Gak Yang Lauw. Mereka memandangi keindahan telaga Tong Teng Ouw di tepi mana lauwteng itu dibangun. Luas telaga itu, jernih airnya. Di sekitarnya adalah rentetan gunung, keindahan dan keangkeran telaga itu beda lagi dengan keindahan dan keangkeran telaga See Ouw.
Masakan Ouwlam kurang cocok bagi lidah mereka, sudah rasanya pedas, juga mangkoknya lebih besar dan sumpitnya lebih panjan.. Di empat penjuru tembok mereka melihat banyak tulisan orang-orang pandai, yang pernah naik di lauwteng ini untuk bersantap atau minum. Di antaranya ada syairnya Hoan Tiong Am tentang kedukaan dan kegirangan, yang datangnya duluan dan belakangan.
Mereka lantas membicarakan Hoan Tiong Am itu, yang pintar dan gagah, yang pernah menjagoi di See Hee, tetapi semasa kecilnya dia miskin, ayahnya mati muda, hingga ibunya menikah lagi pula, hidupnya sengsara, maka setelah hidup berpangkat dan berbahagia, dia tetap memperhatikan nasib rakyat jelata. Itu pula sebabnya mengapa ia menulis syairnya itu lebih dulu menderita, lalu bergembira.
"Demikian juga dengan bangsa orang gagah!" kata Kwee Ceng kemudian seraya menenggak araknya.
"Dia memang orang baik," kata Oey Yong tertawa. "Cuma di dunia ini, kedukaan lebih banyak, daripada kegembiraan. Aku tidak mau hidup seperti dia!"
Kwee Ceng tersenyum, dia diam saja.
"Engko Ceng, aku tidak pedulikan kedukaan atau kesenangan itu!" kata si nona kemudian. "Hanya kalau kau tidak gembira, hatiku pun tidak senang…" Kata-kata ini dikeluarkan perlahan, alisnya pun mengkerut.
Kwee Ceng ingat nona itu tentulah mengingat hubungan di antara mereka, maka dia pun masgul, dia tidak dapat menghibur, dia tunduk dan berdiam saja.
Tiba-tiba si nona mengangkat kepalanya dan tertawa. "Sudahlah, engko Ceng!" katanya. "Eh, ya, tahukah kau syair Hoan Tiong Am yang berjudul 'Mencukil lampu perak'?"
"Aku tidak tahu. Cobalah kau membacakannya untuk aku dengar?"
Oey Yong membacakan bagian bawah syair itu: "Orang hidup tidak seratus tahun, maka jangan tolol, kalau tua, lantas layu. Hanya di bagian usia pertengahan, itu sedikit tahun, harus dapat menahan hati. Kedudukan tinggi, banyak uang dan rambut putih, bagaimana itu dapat dihalaunya?"
"Kalau begitu," kata Kwee Ceng nyaring, "Itu nasehat supaya orang jangan menyia-nyiakan waktu, jangan cuma mengejar nama besar, kenaikan pangkat dan harta!"
Oey Yong pun berkata pula, perlahan: "Arak masuk ke dalam usus berduka, berubah menjadi air mata kenangan…."
"Apakah itu pun syair Hoan Tiong Am?" tanya Kwee Ceng, mengawasi si nona.
"Ya. Orang besar dan orang gagah bukannya tidak mempunyai perasaan," kata si nona, yang terus tertawa. Ia menanya: "Engko Ceng, bagaimana kau lihat caranya aku menghadapi murid-murid jahat dari Tiat Ciang Pang itu? Tidakkah itu memuaskan?"
"Memang!" jawab Kwee Ceng bertepuk tangan.
Demikian mereka bersantap, minum dan bicara dengan asyik dan merdeka, seperti di situ tidak ada lainnya orang lagi. Kemudian Oey Yong menyapu kelilingnya. Ia melihat di arah timur ada tiga orang tua dengan dandanan sebagai pengemis, bajunya banyak tambalan tetapi bersih. Tentulah mereka orang penting dari Kay Pang, yang hendak menghadiri rapat besar kaumnya. Yang lainnya ialah orang dagang atau orang biasa saja.
"Sebenarnya Tiat Ciang Pang itu kumpulan apa?" kemudian kata si nona perlahan. "Kenapa mereka itu sama dengan See Tok paman dan keponakannya, mereka memelihara ular?"
"Entahlah," sahut Kwee Ceng. "Kalau mereka semua sama dengan Kiu Cian Jin si tua bangka, mereka tentu tidak bisa membangun apa-apa yang besar…"
Kata-kata itu belum habis dikeluarkan ketika di atasan kepala mereka terdengar suara orang tertawa terbahak sambil berkata dengan suara angker:
"Sungguh mulut besar! Sampai pun 'Tiat Ciang Sui-siang-piauw, si orang she Kiu tua', tidak dilihat mata!"
Oey Yong terkejut, ia lompat mundur beberapa tindak, baru dia mendongak. Di atas penglari ada duduk nagkring seorang pengemis tua yang kulitnya hitam legam, bajunya sangat butut, tetapi dia mengawasi dengan tertawa haha-hihi.
Kwee Ceng telah menduga kepada orang Tiat Ciang Pang, setelah melihat ia berhadapan sama pengemis, hatinya menjadi sedikit lega, apapula orang nampaknya tidak mengandung maksud jahat. Ia lantas memberi hormat seraya berkata:
“Locianpwee, silahkan turun untuk minum barang tiga gelas arak? Sudikah?"
"Baik!" menyahut pengemis itu, yang lantas menjatuhkan diri, hingga ia mendeprok di papan lauwteng yang debunya mengepul. Setelah menepuk-¬nepuk kempolannya ia merayap bangun.
Kwee Ceng dan Oey Yong heran bukan main. Orang bisa ada di atas mereka tanpa bersuara, mereka menduga orang berkepandaian tinggi, tetapi orang jatuh terbanting begitu rupa, agaknya sangat berat tubuh orang, itulah bukan tandanya orang lihay.
"Silahkan minum!" Oey Yong mengundang. Ia menyuruhnya pelayan menambahkan cangkir arak, mangkok dan sumpit. Ia pun mengisikan cangkir.
"Pengemis tua tak tepat duduk di kursi," kata pengemis itu, yang lantas duduk mendeprok di lantai, sedang dari kantungnya ia mengeluarkan sebuah mangkok jonges serta sepasang sumpit bambu. Ia pun kata: "Sisa arak dan sayur yang kamu telah makan, kasihlah itu padaku!"
"Itu perbuatan tak hormat dari kami, locianpwee," berkata Kwee Ceng. "Apa yang locianpwee hendak dahar, bilang saja, suruh pelayan menambahkan!"
"Pengemis ada macamnya si pengemis," kata orang tua itu, "Kalau pengemis cuma nama tapi tak tepat sama artinya, cuma berpura-pura saja, buat apa dia menjadi pengemis? Jikalau kamu sudi mengamal, nah, kasihlah, jikalau tidak, aku bisa pergi mengemis ke lain tempat…"
Kedua muda-mudi itu heran tetapi Oey Yong melirik kawannya, lalu ia berkata sambil tertawa:
"Locianpwee benar!" Maka ia lantas sisihkan sisa sayur mereka, ia menuangnya ke mangkok butut itu.
Si pengemis merogoh ke dalam sakunya, mengeluarkan nasi dingin, yang mana ia campur sama sisa sayur, terus ia dahar, nampaknya bernafsu sekali.
Oey Yong yang cerdik diam-diam menghitung kantung di punggug orang, semuanya susun tiga, setiap susunnya terdiri dari tiga buah, maka ada sembilan kantung. Ketika ia berpaling kepada ketiga pengemis lain, mereka pun mempunyai masing-masing sembilan kantung. Yang beda ialah mereka itu bertiga di depannya tersajikan banyak macam sayur pilihan.
Mereka itu agaknya tidak memperdulikan pengemis yang satu ini, mereka tidak sudi berpaling atau melirik, cuma pada paras mereka tampak samar-samar roman tak puas.
Tengah si pengemis bersantap dengan bernafsu, di tangga lauwteng terdengar tindakan kaki. Kwee Ceng lantas berpaling. Maka terlihat naiknya dua pengemis, pengemis kurus dan gemuk yang di Gu-kee-cun, Lim-an menemani Yo Kang. Bahkan di belakang mereka terlihat Yo Kang sendiri. Hanya dia itu, begitu melihat si orang she Kwee, dia melongo, lekas dia turun pula. Entah dia berbicara apa sama si pengemis gemuk, maka si gemuk itu ikut turun. Si pengemis kurus maju terus, ia menghampiri pengemis yang tiga itu yang makannya royal, dia bicara berbisik-bisik. Atas itu, ketiga pengemis itu berbangkit, mereka membayar uang makan, lantas mereka berlalu bersama si kurus.
Si pengemis yang dahar sambil duduk mendeprok dan makan sisa, terus tidak menghiraukan sepak terjang beberapa rekannya itu.
Oey Yong berjalan ke jendela, melongok ke bawah. Ia melihat belasan pengemis mengikuti Yo Kang ke barat. Jalan belum jauh, pemuda she Yo itu menoleh ke belakang. Maka tepat sinar matanya bentrok sama sinar matanya Oey Yong. Dia agaknya terkejut, segera ia mempercepat tindakannya, selanjutnya dia tidak berpaling lagi.
Pengemis tua itu lantas dahar habis. Ia menjilati mangkok dan sumpitnya disusuti kepada bajunya, semua itu lantas dimasukkan ke dalam kantungnya. Diam-diam Oey Yong mengawasi. Ia melihat sinar kedukaan pada kulit muka orang yang berkeriputan. Aneh adalah tangannya, yang jauh lebih besar daripada tangan kebanyakan orang lain, sedang belakang tangannya penuh dengan otot-otot besar, suatu tanda dari penghidupan berat.
"Cianpwee, silahkan duduk!" berkata Kwee Ceng seraya memberi hormat. "Dengan berduduk, leluasalah kita berbicara."
Pengemis itu tertawa. "Aku tidak biasa duduk di bangku!" katanya. "Kamu berdua murid-muridnya Ang Pangcu, meskipun usia kamu lebih muda, kita adalah sama derajatnya, cuma aku lebih tua beberapa puluh tahun, kau panggillah aku toako. Aku she Lou, namaku Yoe Kiak."
Oey Yong tertawa. "Toako, namamu menarik hati!" katanya. Yoe Kiak itu berarti "ada kaki"
Pengemis itu berkata: "Orang biasa membilang, orang miskin hidup tanpa tongkat dia diperhina anjing, tetapi aku tidak mempunyai pentung, aku mempunyai sepasang kakiku yang bau ini, kalau anjing berani menghinaku, akan aku mendupak dia pada kepalanya, supaya dia terkuwing-kuwing dan kabur sambil menggoyang-goyang ekornya."
Oey Yong bertepuk tangan. "Bagus, bagus!" serunya, "Kalau anjing mengetahui namamu, tentulah siang¬-siang dia sudah lari jauh-jauh!"
"Tadi pagi aku telah bertemu sama saudara Lee Seng," berkata Yoe Kiak, yang lantas bicara secara sungguh-sungguh, "Dari dia aku mendapat ketahui perbuatan kamu di Poo-eng dan Gakciu. Maka benarlah orang bilang, kalau ada semangat, bukan cuma karena usia tinggi, siapa tanpa semangat, percuma usianya lanjut!"
Kwee Ceng berbangkit untuk merendahkan diri mengucapkan terima kasih atas pujian itu.
"Barusan kamu bicara tentang Tiat Ciang Pang," berkata Lou Yoe Kiak, "Agaknya mengenai mereka, kamu belum mengetahui jelas."
"Benar. Justru itu, aku mohon petunjuk," sahut Oey Yong.
"Tiat Ciang Pang itu, untuk Ouwlam dan Ouwpak dan Sucoan, pengaruhnya sangat besar," menerangkan si pengemis tua, "Anggota-anggotanya suka membunuh orang dan merampok, tak ada kejahatan yang tak dilakukan mereka. Mulanya mereka cuma bersekongkol sama pembesar negeri setempat, kemudian mereka jadi semakin berani, kecuali bersekongkol mereka pun menempel pembesar berpangkat tinggi dan main sogok hingga ada diantaranya yang memangku pangkat. Yang paling menyebalkan ialah mereka bersekongkol sama negeri Kim, mereka melakukan perbuatan hina sebagai pengkhianat. Maka tepatlah hajaran kamu kepada mereka."
"Kabarnya kepala Tiat Ciang Pang ialah Kiu Cian Jin," berkata Oey Yong. "Tua bangka itu paling pandai memperdayakan orang. Kenapa dia jadi demikian berpengaruh?"
"Kiu Cian Jin itu sangat lihay, nona," berkata Yoe Kiak, "Aku harap kau tidak memandang enteng kepadanya."
Oey Yong tertawa. "Apakah kau pernah bertemu dengannya?" dia menanya
"Bertemu, itulah belum. Aku mendapat kabar dia tinggal bersembunyi di atas gunung, di mana dia meyakinkan tangan beracun yang dinamakan Ngo-tok Sin-ciang. Sudah sepuluh tahun lamanya dia tidak turun gunung…."
"Kau terpedayakan!" kata Oey Yong tertawa. "Aku telah bertemu dengannya beberapa kali, bahkan kita pernah bertempur juga. Kau bilang ia meyakinkan Ngo-tok Sin-ciang? Ha ha ha…!" Dan dia tertawa geli mengingat ngacirnya Kiu Cian Jin, sambil tertawa ia mengawasi Kwee Ceng.
"Apakah yang disandiwarakan itu Kiu Cian Jin itu," kata pula Yoe Kiak, tetap sungguh-sungguh,
"Aku tidak tahu, tetapi benar sekali selama beberapa tahun kemarin Tiat Ciang pang maju sangat pesat, dia tidak dapat dipandang enteng."
"Lou Toako benar," kata Kwee Ceng. Yang khawatir pengemis itu menjadi tidak senang, "Memang Yong-jie gemar bergurau…"
"Ah, kapannya aku bergurau?" berkata si nona tertawa, "Aduh, aduh! Perutku sakit…!" dan dia beraksi mirip dengan tingkah lakunya Kiu Cian Jin baru-baru ini, ketika ia berpura-pura sakit perut untuk lari membuang air besar tetapi akhirnya kabur dengan tipu tonggeret meloloskan kulit.
Mau tidak mau, Kwee Ceng tertawa menyaksikan nona itu menekan-nekan perutnya. Melihat kawannya tertawa, Oey Yong berhenti tertawa. Ia pun mengubah sikap.
"Loa Toako," tanyanya, "Apakah kau kenal ketiga tuan tadi yang bersantap di meja itu?"
Ditanya begitu, Yoe Kiak menghela napas. "Kamu bukan orang luar, hendak aku bicara dengan sebenar-benarnya," sahutnya kemudian. "Pernahkah kamu mendengar keterangan Ang Pangcu bahwa partai kita terbagi dalam dua cabang, cabang Pakaian Bersih dan Pakaian Dekil?"
"Belum, belum pernah kita mendengar keterangan itu," sahut kedua muda-mudi itu.
"Suatu partai terpecah dalam dua cabang, itulah sebenarnya tidak bagus," kata pula Yoe Kiak. "Mengenai itu, Pangcu tidak puas, akan tetapi dia telah berdaya sekuatnya untuk mempersatukan, dia tidak berhasil juga. Kay Pang dibawah Ang Pangcu mempunyai empat tiangloo."
"Ya, tentang itu pernah aku mendengarnya. Suhu pernah bercerita."
Meski masih muda, karena Ang Cit Kong masih hidup, Oey Yong tidak segera menjelaskan bahwa ia telah ditugaskan Pak Kay untuk menjadi pangcu.
Lou Yoe Kiak mengangguk perlahan. "Akulah tiangloo yang kedua," dia berkata. "Tiga orang tadi juga berkedudukan sebagai tiangloo."
"Aku mengerti," kata Oey Yong lekas, "Kau dari cabang Pakaian Dekil, mereka dari Pakaian Bersih."
"Eh, mengapa kau ketahui itu?"
OBJEK WISATA MANCA NEGARA
Oey Yok Su memang tengah bersangsi, ia ingin mencoba Kiu Cian Jin, maka ia menyambut pedang itu, yang ia taruh di telapak tangannya yang kiri, ujungnya yang lancip di arahkan ke luar, lalu dengan jari tangan dari tangan kanan, ia menyentil. Sekejap saja pedang itu melesat bagaikan terbang!
"Bagus!" berseru Oey Yong dan Kwee Ceng sambil bertepuk tangan.
"Tiat Cie Sin-kang yang hebat!" Auwyang Hong memuji di dalam hatinya. Ia kaget sendiri bertapa lihaynya Tong Shia si Sesat dari Timur ini.
Semua mata diarahkan kepada pedang itu serta Kiu Cian Jin. Di situ ia tampak jongkok tak bergeming walaupun bebokongnya mau dijadikan sasaran pedangnya. Maka cepat sekali, pedang telah mengenai dan menancap.
Serangan Oey Yok Su sangat hebat, jangankan pedang besi, walaupun pedang kayu, kalau sasarannya kena terhajar, korbannya mesti bercelaka.
Kwee Ceng lantas berlompat lari ke arah Kiu Cian Jin. Ketika ia sampai di tempat orang berjongkok, mendadak ia berseru:
"Celaka betul!" Tangannya pun lantas mengangkat sepotong baju, untuk diulap-ulapkan. Ia berseru pula: "Orangnya sudah kabur!"
Kiu Cian Jin telah meloloskan bajunya, yang ia sangkutkan dengan rapi hingga ia tampak seperti terus berjongkok membuang air besar, dengan nyelusup di pepohonan lebat, ia sendiri diam-diam angkat kaki, menyingkir dari tempat berbahaya itu. Dengan kecerdikannya ini ia telah berhasil mengelabui Tong Shia dan See tok yang berpenglamanan dan lihay itu, hingga dua orang itu melengak dan saling mengawasi, lalu keduanya tertawa lebar.
Auwyang Hong kenal baik Tong Shia, yang tak sejujur Ang Cit Kong, yang sukar untuk dibokong, sekarang melihat orang tengah tertawa, ia menganggap inilah kesempatan untuk turun tangan. Dengan mendadak ia berhenti tertawa, terus menjura dalam sekali.
Oey Yok Su terus tertawa hanya sambil tertawa tangan kirinya dilonjorkan, tangan kanan ditekuk, ia membalas hormat.
Sesaat itu tubuh mereka bergoyang sebentar, kemudian Auwyang Hong mundur tiga tindak. Ia telah membokong dengan tidak berhasil. Lantas ia kata:
"Baiklah, kita berdua nanti bertemu pula di belakang hari!" Sembari berkata begitu, ia mengibaskan tangan bajunya, memutar tubuh, dan berlalu.
Air mukanya Oey Yok Su berubah. Dengan lekas ia mengulur tangan kiri ke depan anak gadisnya. Kwee Ceng pun telah melihat, selagi memutar tubuh, Auwyang Hong menyerang secara rahasia, menyerang Oey Yong dengan "Pek-hong-ciang", yaitu ilmu silat tangan kosong yang memerlukan anginnya saja. Ia hanya kalah jeli dengan Oey Yok Su. Tapi ia berseru, dengan kedua tangannya ia lantas menyerang See Tok, untuk memaksa orang membatalkan serangannya.
Auwyang Hong melihat ia ditangkis Oey Yok Su, yang melindungi putrinya, ia lantas menarik kembali serangannya, hanya bukan untuk dibatalkan, tetapi diteruskan menyerang Kwee Ceng, selagi si anak muda menyerang padanya, hingga serangan mereka bakal bentrok, keras sama keras. Kwee Ceng tahu diri, ia tidak mau melayani, maka dengan sebat ia membuang diri, bergulingan, terus berlompat berdiri. Ia kaget hingga mukanya pucat sekali.
"Ha, anak yang baik!" berseru Auwyang Hong. "Baru beberapa hari kau tidak terlihat, kepandaianmu telah maju pesat sekali!" Memang di luar dugaan, si anak muda lolos dari bokongannya itu.
Melihat orang telah turun tangan, Kanglam Liok Koay segera memernahkan diri di belakang Auwyang Hong, untuk memegat. Auwyang Hong maju terus, ia mendekati Coan Kim Hoat dan Han Siauw Eng. Mereka ini tidak berani turun tangan, maka itu, bebas See Tok berjalan melewati mereka, keluar dari dalam rimba.
Oey Yok Su pun berdiam saja. Sebenarnya kalau ia mau turun tangan, dibantu Liok Koay, See Tok bisa dapat celaka, tetapi ia berkepala besar, tidak mau mengepung si Bisa dari Barat itu, ia khawatir nanti orang mentertawakan. Ia memikir, lain kali saja, kalau ada kesempatan, mereka bertempur satu lawan satu. Ia tertawa dingin mengawasi punggung orang.
Ketika itu Kwee Ceng telah lepaskan Gochin Baki berempat dari tambatan. Putrinya Jenghiz Khan ini girang sekali melihat si anak muda tidak mati, maka dengan sengit ia menamprat Yo Kang yang dikatakan sudah menjual cerita untuk mendustakan orang. Tuli menambahkan dengan berkata:
"Orang she Yo itu bilang ia mempunyai urusan mesti lekas pergi ke Gak-ciu, kami menyangka dia orang baik-baik, maka kecewa sekali kami memberikan dia tiga ekor kuda pilihan…"
"Anda," Kwee Ceng tanya, "Bagaimana caranya maka kamu bertemu sama itu dua siluman tua?"
Putri Mongolia itu, dalam kegembiraannya, mendahului memberikan keterangan. Mereka ini sangat berduka mendengar dari Yo Kang bahwa Kwee Ceng telah meninggal dunia, dilain pihak, senang hati mereka mendengar Yo Kang berniat mencari balas. Mereka menaruh kepercayaan besar, senang mereka bergaul dengan orang she Yo itu. Malam itu mereka menginap bersama di sebuah dusun. Yo Kang beberapa kali mencoba membokong Tuli, selalu gagal disebabkan penjagaan yang keras dari kedua pengemis kurus dan gemuk terhadapnya, kalau tidak si gemuk, tentulah si kurus yang meronda sambil memegang tongkat keramatnya. Kecewa ia karena kegagalannya, dari itu, terpaksa besoknya pagi ia minta saja tiga ekor kuda, dengan itu bersama kedua pengemis itu ia berangkat ke barat.
Tuli berempat menuju ke utara, sedang kedua burung rajawali terbang ke selatan, sampai lama, keduanya tidak kembali. Ia tahu waktu itu mesti ada sebabnya. Karena mereka tidak membikin perjalanan cepat, mereka menantikan di rumah penginapan, sampai dua hari. Baru di hari ketiga, kedua ekor burung rajawali itu kembali, keduanya menclok di pundak Gochin Baki seraya berbunyi tak mau berhenti.
"Mari kita ikuti mereka," berkata Tuli, yang merasa heran.
Mereka kembali ke selatan dengan kedua rajawali itu menjadi petunjuk jalan, hanya apa lacur, di rimba itu mereka bertemu Auwyang Hong dan Kiu Cian Jin. Tuli, Jebe dan Borchu gagah tetapi menghadapi Auwyang Hong, mereka tidak berdaya, dari itu bersama si opsir pengiringnya, dengan gampang mereka kena ditawan dan dibelenggu. Malang si opsir, dia menjadi korban paling dulu. Kiu Cian Jin mendapat tugas dari negara Kim untuk mengacau orang-orang kosen di Kanglam. Supaya mereka bentrok satu sama lain, untuk menggampangi usaha bangsa Kim menyerang ke Selatan. Bersama Auwyang Hong ia berada di rimba itu, kapan ia melihat Tuli berlima, ia lantas menganjurkan Auwyang Hong turun tangan. Syukur kedua burung rajawali telah bisa mencari bantuan dan rombangan Kwee Ceng ini datang tepat. Gochin Baki sangat gembira, sembari menutur ia pegangi tangan Kwee Ceng, ia tertawa tak hentinya.
Oey Yong mengawasi tingkah laku putri itu, ia merasa tak puas. Ia jadi lebih tak senang karena si putri bicara dalam bahasa Mongolia, yang ia tidak mengerti. Ia menjadi tidak sabaran.
Oey Yok Su melihat roman anak gadisnya itu, ia heran. "Yong-jie, siapakah ini perempuan asing?" ia tanya.
"Dialah istrinya engko Ceng yang belum dinikah!" sahut sang gadis.
Ayah itu heran hingga ia hampir tidak mempercayai kupingnya sendiri. "Apa?!" ia menanya, mengulangi.
"Ayah, kau pergi tanya dia sendiri," sahut si anak perlahan. ia malu untuk menjelaskannya.
Cu Cong mendapat dengar pembicaraan di antara ayah dan anak, ia mengerti keadaan berbahaya untuk Kwee Ceng, karena ia tahu baik hal ikhwal putrinya Jenghiz Khan itu dengan muridnya, ia lantas campur bicara, menuturkan duduknya hal itu. Tentu saja ia menyebutkan, jodoh itu desakkan Khan.
Oey Yok Su memang tidak penuju Kwee Ceng, kalau toh ia menjodohkan juga putrinya, itu saking terpaksa. Sekarang ia mendengar ini soal yang baru untuknya, ia menjadi tidak puas. Ia kepala suatu partai, sangat menyayangi putrinya bagaikan mutiara mustika, mana dapat putrinya ini menjadi istri kedua, artinya menjadi gundik?
"Yong-jie!" ia lantas kata kepada putrinya, suaranya keras. "Ayahmu hendak melakukan sesuatu, kau tidak boleh mencegah!"
Anak itu kaget. "Apakah itu, ayah?" ia tanya.
"Anak busuk itu, perempuan hina itu, dua-duanya mesti dibunuh!" sahut sang ayah.
Oey Yong kaget, ia lompat menubruk tangan ayahnya. "Tetapi, ayah, engko Ceng bilang dia sungguh mencintai aku!" katanya.
Oey Yok Su tidak meronta, tetapi ia membentak kepada Kwee Ceng. "Eh, bocah, kau bunuhlah perempuan asing itu, untuk membuktikan hatimu sendiri!"
Kwee Ceng berdiri menjublak. Belum pernah ia menghadapi soal sesulit ini. Ia memang kurang cerdas, dari itu, ia ayal mengambil keputusannya.
"Lebih dulu kau sudah bertunangan, kenapa kau melamar juga putriku?!" tanya Oey Yok Su bengis. "Apakah artinya perbuatanmu ini?!"
Kanglam Liok Koay memasang mata waspada. Sikapnya Tong Shia luar biasa sekali. Setiap saat si Sesat dari Timur ini dapat menurunkan tangan dahsyat, muka orang merah padam. Hati mereka goncang sebab pemilik Tho Hoa To ini sangat lihay.
Kwee Ceng tidak pernah mendusta, maka ia menyahut: "Pengharapanku dalam seumur hidup bisa berkumpul bersama Yong-jie saja, lainnya hal tidak ada di hatiku."
"Baik kalau begitu," kata Oey Yok Su, yang hawa amarahnya sedikit mereda. "Sekarang begini saja. Tidak apa kau tidak suka membinasakan perempuan itu, tetapi kau semenjak hari ini, aku larang kau bertemu pula dengannya!"
Kwee Ceng berdiam, pikirannya bekerja.
"Bukankah kau pasti akan bertemu pula dengannya?" Oey Yong bertanya.
"Di dalam hatiku, dia bagai adik kandungku," sahut Kwee Ceng. "Kalau aku tidak bertemu dengannya, aku suka mengingatnya."
Mendengar itu Oey Yong tertawa. "Kau suka melihat siapa, kau boleh melihatnya!" katanya. "Tentang itu aku tidak perduli!"
"Baik, begini saja!" berkata Oey Yok Su. "Saudara-¬saudara perempuan asing itu ada di sini, aku ada di sini, dan keenam gurumu berada di sini juga, maka hayolah kau membilang jelas bahwa yang bakal kau nikahi adalah putriku, bukan perempuan asing itu!"
Dengan bicara begitu, Oey Yok Su sudah menentang hatinya sendiri, untuk keberuntungan gadisnya, ia suka mengalah. Kwee Ceng berpikir sambil tunduk, maka ia lantas melihat golok Kim-too hadiah dari Jenghiz Khan serta pisau belati pengasih Khi Cie Kee. Ia menjadi bingung sekali. Ia berpikir: "Menurut pesan ayahku, dengan Yo Kang aku mesti menjadi saudara sehidup semati, akan tetapi Yo Kang itu bersifat lain, kelihatannya persaudaraanku dengannya tidak dapat dilindungi lagi. Pula menurut pesan paman Yo, aku harus menikah sama adik Liam Cu. Bagaimana sekarang? Seharusnya pesan orang tua mesti dijalankan. Dengan begitu, perangkapan jodohku dengan putri Gochin Baki pun atas kehendak Jenghiz Khan, seorang tua! Bolehkah karena kata-kata orang tua itu lantas aku mesti berpisah dengan Yong¬jie?" Setelah memikir paling belakang itu, pemuda ini lantas mengambil keputusan. Ia mengangkat kepalanya.
Sementara itu Tuli telah menanyakan Cu Cong tentang pembicaraan di antara Kwee Ceng dengan Oey Yok Su, setelah mengetahui duduknya hal dan menampak kesangsian si anak muda, ia menjadi tidak puas. Ia gusar mengetahui orang tidak mencintai adiknya. Maka dari kantung panahnya, ia menarik keluar sebatang anak panah bulu burung tiauw, sambil memegang itu di tangannya, ia kata dengan nyaring:
“Kanda Kwee Ceng, seorang laki-laki yang mau malang melintang di dunia, dia mesti berbuat hanya dengan satu kata-katanya yang pasti! Oleh karena kau tidak mencintai adikku, mana bisa putri yang gagah dari Jenghiz Khan memohon-mohon meminta kepadamu? Oleh karena itu, mulai hari ini, putus sudah persaudaraan di antara kita! Di masa mudamu, kau pernah menolong aku, kau juga telah menolong ayahku, budi itu, kami ingat baik-baik, dari itu, ibumu yang sekarang berada di Utara, akan aku mengirim orang untuk mengantarkannya, tidak akanaku membikin dia kurang suatu apapun! Kata-katanya seorang kesatria mirip gunung kekarnya, karenanya kau boleh bertetap hati!"
Habis berkata begitu, ia patahkan anak panah itu dan melemparkan di depan kudanya. Hati Kwee Ceng tergerak. Ia lantas ingat masa mudanya di gurun pasir, bagaimana kekalnya pergaulan sama Tuli. Ia jadi berpikir: "Memang, perkataannya seorang kesatria mirip sebuah gunung. Jodoh adik Gochin Baki telah aku menerima dengan mulutku sendiri, bagaimana sekarang aku tidak memegang kepercayaanku? Tanpa kepercayaan, dapatkah aku menjadi manusia? Biarlah Oey Tocu membunuhku, biarlah Yong-jie membenciku seumur hidup, aku tidak dapat berbuat lain!" maka itu ia mengangkat kepalanya dan berkata dengan tegas:
"Oey Tocu, keenam guruku, kanda Tuli, kedua guruku Jebe dan Borchu, aku Kwee Ceng, bukan seorang yang tidak mempunyai kepercayaan, maka itu, aku mesti menikah sama adik Gochin!"
Kwee Ceng bicara dalam bahasa Tionghoa, lalu ia salin itu ke dalam bahasa Mongolia, hingga kedua belah pihak mengerti. Kata-kata ini membikin mereka menjadi heran sekali. Itu diluar dugaan. Tuli dan Gochin Baki heran berbareng girang. Kanglam Liok Koay memuji muridnya sebagai laki-laki sejati! Adalah Oey Yok Su, yang tertawa dingin.
Oey Yong sangat kaget dan berduka, ia terbengong sekian lama. Ia maju beberapa tindak, memandangi si putri Mongolia, tubuhnya kekar, alisnya lancip, matanya besar dan bagus, air mukanya gagah dan agung. Tanpa merasa, ia menghela napas. Ia berkata kepada Kwee Ceng,
"Engko Ceng, aku mengerti. Dia dan kau orang dari satu kalangan, kamu berdua bagai sepasang rajawali putih dari gurun pasir, sebaliknya, aku hanya seekor burung walet di bawah cabang yangliu di Kanglam…."
Kwee Ceng maju satu tindak, ia mencekal tangan si nona. Ia kata: "Yong-jie, aku tidak tahu perkataan kau tepat atau benar, tetapi di dalam hatiku cuma ada kau satu orang! Kau mengerti aku, maka kalau aku dicincang selaksa golok, tubuhku dibakar menjadi abu, dalam hatiku tetap cuma ada kau sendiri!"
Air mata si nona mengembang. "Habis kenapa kau hendak menikahi dia?" ia tanya.
"Aku seorang tolol, segalanya aku tidak mengerti," sahut si pemuda. "Aku cuma tahu, apa yang telah dijanjikan tidak dapat dibuat menyesal. Aku tidak suka omong dusta, tidak peduli bagaimana, dalam hatiku cuma ada kau seorang!"
Oey Yong bingung. Ia girang tetapi juga bersusah hati. "Engko Ceng, aku sudah tahu," katanya, tertawa tawar. "Kalau dari atas pulau Beng Hoo To kita tidak kembali, bukankah itu terlebih bagus?"
"Ini gampang!" memotong Oey Yok Su sambil alisnya berdiri, sebelah tangannya diayunkan ke arah putri Gochin Baki.
Oey Yong telah melihat roman ayahnya, maka ia mendahului lompat menyambar tangan putri dari Mongolia itu, ditarik turun dari kudanya. Oey Yok Su khawatir mencelekai gadisnya, gerakannya terlambat, sesudah putri itu ditarik turun, baru tangannya menghajar pelana kuda. Mulanya tak apa-apa, hanya selang sesaat kemudian, kuda itu tunduk kepalanya, lemas empat kakinya, lalu mendeprok, jiwanya melayang.
Kuda itu kuda Mongolia pilihan, besar dan kuat, tetapi dengan sekali hajar, dia mampus, kejadian itu membuat Tuli semua kaget bukan main. Kalau Gochin Baki kena terhajar, tidakkah tubuhnya ringsek?
Oey Yok Su melengak. Ia tidak menyangka gadisnya mau menolong nona Mongolia. Tapi ia cerdik, sejenak kemudian, ia mengerti sebabnya. Kalau putri itu terbinasa, tentu Kwee Ceng bakal murka, kalau Kwee Ceng murka, mana bisa dia akur lagi dengan gadisnya? Ia lantas berpikir keras. Sama sekali ia tidak takut bocah itu. Kemudian ia memandang kepada gadisnya, yang romannya lesu dan sangat berduka, hatinya menjadi dingin. Paras si nona waktu itu sungguh mirip sama paras istrinya, ibunya Oey Yong, selagi si istri mau menghembuskan napasnya yang terakhir. Oey Yong dan ibunya sangat mirip satu sama lain dan Oey Yok Su sangat mencintai istrinya, meninggalnya membuat ia seperti gila. Sudah lewat limabelas tahun tetapi wajah istrinya kadang-kadang masih terbayang di depan matanya. Sekarang ia melihat roman gadisnya itu, tahulah ia bagaimana anaknya sangat mencintai Kwee Ceng. Akhirnya ia mengela napas, lalu bersenandung. Oey Yong pun berdiri diam, air matanya turun mengucur…..
Han Po Kie menarik tangan Cu Cong. "Dia berkata apakah?" ia berbisik.
"Ia mengulangi tulisannya seorang she Kee di jaman Ahala Gan," Cu Cong jawab. "Itu artinya, manusia di dunia beserta segala bendanya adalah seperti penderitaan yang dibakar di dalam sebuah perapian besar."
"Dia demikian lihay, apalagi penderitaannya?" Po Kie tanya pula.
Cu Cong tersenyum, ia tidak menjawab.
"Yong-jie, mari kita pulang…" akhirnya terdengar suara Oey Yok Su halus. "Untuk selanjutnya, selamanya jangan kita melihat pula bocah ini…"
"Tidak, ayah," sahut si anak menggeleng kepala. "Aku mesti pergi ke Gak-ciu. Suhu menitahkan untuk menjadi pangcu, ketua dari Kay Pang."
Ayahnya tersenyum. "Apa enaknya menjadi ketua Partai Pengemis?" ia menanya.
"Aku telah memberikan janjiku pada suhu, ayah!"
Ayahnya berpikir. "Baiklah," katanya kemudian, "Kau coba-cobalah untuk beberapa hari. Seandainya kau menganggap terlalu jorok, kau wariskan saja kepada orang lain. Bagaimana di belakang hari, kau masih mau menemui bocah ini atau tidak?"
Oey Yong melirik kepada Kwee Ceng, siapa terus mengawasi kepadanya, sinar matanya sangat lesu, romannya sangat berduka. Ia berpaling kepada ayahnya, ia menyahut:
"Ayah, dia mau menikah sama orang lain maka aku pun akan menikah dengan orang lain juga. Di dalam hati dia cuma ada aku satu orang, maka di dalam hatikupun cuma ada dia seorang…"
"Ha!" berkata orang tua itu. "Anak perempuan dari Tho Hoa To tidak dapat dihina orang, itu bagus. Habis bagaimana kalau orang-orang dengan siapa kau menikah nanti melarang kau menemui dia?"
"Hm, siapa yang berani melarang aku!" kata nona itu keren. "Aku toh anakmu!"
"Ah, budak tolol!" berkata ayahnya. "Lewat beberapa tahun lagi aku bakal meninggalkan dunia ini…"
"Tetapi ayah," kata si nona yang berduka, "Begini rupa dia memperlakukan aku, apakah kau mengira aku bakal dapat hidup lama pula?"
Kanglam Liok Koay dijuluki manusia-manusia aneh tetapi mendengar pembicaraan ayah dengan anak itu, mereka menjublak. Di jaman Song itu, masih keras orang menghormati adat-istiadat, dan sopan santun. Oey Yok Su bukannya Seng Tong dan Bu Ong, bukannya Ciu Kong atau Khong Cu, tetapi ia adalah seorang yang aneh, maka julukannya pun Tong Shia, si Sesat dari Timur. Apa yang ia lakukan biasanya sebaliknya daripada umum, sedang Oey Yong, semenjak kecil ia sudah dididik ayahnya yang aneh ini, yang terpelajar tinggi dan luas pengetahuannya, maka ia mengerti, suami istri tinggal suami istri tetapi cinta adalah lain.
Kwee Ceng pun mendengar pembicaraan itu dengan hati terluka. Ia sangat berduka. Ia mau menghibur Oey Yong tetapi apa ia hendak bilang? Maka ia pun berdiam saja.
Oey Yok Su memandang putrinya, lalu ia mengawasi Kwee Ceng, kemudian ia mendongak lagi memandang langit dan mengasih dengar suaranya yang lama dan keras, yang seumpama kata menggetarkan rimba, suaranya itu berkumandang di lembah-lembah. Burung-burung kucica kaget hingga pada beterbangan mengitari pepohonan.
"Burung kucica, burung kucica!" berkata Oey Yong. "Malam ini Gu Long bakal bertemu sama Cit Lie, kenapa kau tidak lekas-lekas membuat jembatan?"
Tapi Oey Yok Su sengit, ia menjumput seraup pasir, ia menimpuk, maka belasan burung jatuh dan mati, setelah itu dia membalikkan tubuh, berjalan pergi tanpa menoleh lagi….
Tuli tidak mengerti pembicaraan orang, karena tahu Kwee Ceng tidak akan menyalahi janji, ia girang sekali. Ia pegang golok Kim-too dari ayahnya, dia cium itu di mulutnya, lalu ia membawanya kepada Kwee Ceng, untuk diserahkan.
"Kanda," katanya, "Aku harap usahamu yang besar lekas selesai, supaya kau bisa pulang ke Utara di mana kita nanti dapat bertemu lagi!"
"Burung kita ini kau boleh bawa," berkata Gochin Baki. "Aku harap kau lekas pulang!"
Kwee Ceng mengangguk. Dari sakunya ia mengeluarkan sepotong tombak pendek, sambil menunjukkan itu, ia berkata pada putri Mongolia:
"Kau bilang ibuku, pasti aku akan pakai senjata ayahku ini untuk membinasakan musuh kami!"
Jebe dan Borchu pun turut mengambil selamat berpisah. Oey Yong mengawasi empat orang Mongolia itu berlalu, Kwee Ceng masih berdiri saja. Ia melihat kedukaan orang.
"Engko Ceng, kau pergilah, aku tidak sesalkan kau," katanya.
"Yong-jie," menyahut si anak muda, yang bicara dari lain hal, "Tongkat Kay Pang dibawa Yo Kang, dan ayahmu membilang, mengenai Kay Pang mungkin terjadi sesuatu, maka malam ini mari kita mencari suhu, besok aku nanti terus pergi bersama kau."
Si nona menggeleng kepala. "Pergi kau sendiri mencari suhu," katanya.
Ia mengasih keluar pisau belati Kwee Ceng, yang ia selipkan di pinggangnya, ia letakkan itu di tanah. Ia juga menurunkan dan membuka pauwhok yang digendol di punggungnya, ia mengeluarkan segulung gambar. Ia berkata:
"Ini pemberian ayah untukmu." Masih ia mengeluarkan lakonnya yang beraneka warna, kemudian ia pisahkan separuh. Ia berkata pula: "Ini barang yang kita kumpulkan di pulau, aku bagi separuh untukmu…" Ia mengawasi bungkusannya itu, di situ cuma ada baju pemberian Kwee Ceng serta sejumlah uang serta beberapa potong pakaiannya untuk salin tiap hari, maka ia tertawa dan berkata pula: "Aku tidak mempunyai barang lain lagi untuk diberikan padamu." Lalu dengan perlahan ia membungkus rapi, ia menggendol itu, kemudian ia memutar tubuhnya, berjalan pergi.
Kwee Ceng tercengang, dengan menuntun kuda merah, ia menyusul. "Sebaiknya kau menunggang kuda," katanya.
Oey Yong menoleh, ia tertawa, tetapi ia jalan terus.
Kwee Ceng masih menyusul beberapa tindak, lantas ia berhenti. Ia masih bengong mengawasi orang pergi hingga nampak seperti bayangan.
"Anak Ceng, bagaimana sekarang?" Han Siauw Eng menegur.
Anak muda itu masih menjublak. "Aku hendak pergi ke istana mencari suhu," sahutnya.
"Itu benar," berkata Kwa Tin Ok. "Oey Lao Shia pernah mengacau di rumah kita, mungkin orang rumah bingung, maka sekarang kita mau pulang. Kalau kau berhasil mencari gurumu, kau undang dia datang ke rumah kami untuk sekalian beristirahat."
Kwee Ceng menurut, selanjutnya ia mengambil selamat berpisah dari keenam gurunya ini. Kemudian ia sendiri, setelah menyimpan pisau belati dan lakonnya, terus menuju ke Lim-an. Malam itu Kwee Ceng memasuki istana, mencari gurunya, hasilnya sia-sia belaka. Ang Cit Kong tidak ada, Ciu Pek Thong entah ke mana. Di malam kedua ia mencari pula, hasilnya sama.
"Tidak ada jalan lain, lebih baik aku pergi menyusul Yong-jie," pikir anak muda ini kemudian. "Baik aku membantu dulu mengurus Kay Pang, kemudian bersama-sama kembali mencari suhu."
Hari itu tanggal sembilan bulan tujuh, tinggal enam hari untuk pembukaan rapat Kay Pang di Gak-ciu. Kwee Ceng tidak takut ketinggalan. Ia menunggang kudanya yang jempol. Dalam satu hari saja ia sudah tiba di batas jalan barat dari Kanglam.
Sementara itu suasana sudah berubah. Separuh dari Tiongkok sudah diduduki bangsa Kim. Batas di timur adalah Hoay-sui, dan di barat kota San-kwan. Untuk kerajaan Lam Sang - Song Selatan - tinggal apa yang disebutkan limabelas "jalan" ialah dua propinsi Ciatkang dan Kangsouw, Liang Hoay (yaitu daerah di antara kedua sungai Hong Hoo dan Yang Cu Kang di Anhui dan Kangsouw), dua jalan timur dan barat dari Kanglam, dua jalan di selatan dan utara dari Kheng¬ouw, empat jalan di Su-coan Barat, Hokkien, Kwietang dan Kwiesay. Maka itu, negara menjadi lemah sekali.
Kwee Ceng berjalan dengan kadang-kadang melepaskan dua ekor burung rajawalinya, guna membantu mencari Oey Yong. Ia sendiri mencari dengan sia-sia. Ketika pada suatu hari ia tiba di kecamatan Bu-leng, di kota Liong-hin, dekat dengan kota Gak-ciu, ia berjalan dengan perlahan. Diwaktu sore, ia menghadapi sebuah rimba lebat, yang kelihatan menyeramkan. Di belakang rimba ada satu bukit yang panjang. Tentu sukar untuk melintasi rimba itu dan gunung sesudah cuaca gelap, maka ia mencari pondokan. Di samping rimba itu ia melihat pagar bambu.
"Ada pagar tentu ada rumah," pikirnya girang. Ia bertindak. Ia melihat sebaris pohon. Di situ ia lantas melihat sebuah rumah dengan tiga undakan. Ia mendekati rumah itu. Belum ia datang dekat, kupingnya sudah mendengar tangisan seorang wanita. Ia menjadi heran. "Orang lagi berduka, tidak dapat aku mengganggu," pikirnya. Ia hendak mengundurkan diri.
Tapi Orang di dalam rumah sudah mendengar suara kuda. Dengan kaget membuka daun pintu. Di situ muncul seorang tua dengan rambut ubanan, yang tubuhnya sudah melengkung, tangannya memegang cagak besi yang panjang. Dia berdiri di depan pintu sambil berseru:
"Pembesar anjing! Ular tidak ada, cucu perempuanku juga tidak ada. Yang ada hanya selembar jiwa tuaku ini!"
Kwee Ceng heran. Ia tahu orang salah mengerti. "Tuan, aku hanya seorang pelancong!" katanya lantas sambil ia memberi hormat. "Aku lagi mencari tempat mondok, maka niatku datang ke mari untuk menumpang bermalam. Satu malam saja. Kalau kau lagi ada urusan, tidak apa, aku pergi ke rumah lain saja."
Orang tua itu lantas mengawasi, habis itu lekas-lekas ia meletakkan cagaknya, untuk membalas hormat.
"Maafkan aku, tuan, aku lagi ngaco," katanya. "Jikalau kau tidak jijik, silahkan masuk dan minum teh."
Kwee Ceng mengucap terima kasih. Lantas ia memberikan sejumlah uang, untuk dicarikan rumput guna makan kudanya, setelah itu baru ia masuk ke dalam. Nyata rumah itu bersih sekali. Ia menjadi heran. Ia baru duduk ketika kupingnya mendengar suara berisik dari kuda. Ia menduga ada tiga penunggang kuda datang ke situ. Ia pun lantas mendengar suara bengis:
"Orang tua she Cin, kau menyerahkan ular atau cucu perempuanmu?!"
Lalu terdengar suara seorang lain: "Kami dapat mengasih ampun kepadamu, tetapi looya kami tidak dapat memberi ampun kepada kami! Maka itu lekas kau keluar!"
Suara itu disusul sambaran cambuk ke atap rumah, hingga atap itu, yang terbuat dari rumput rusak. Si orang tua tidak menyahuti suara dari luar itu, ia hanya masuk ke dalam kamar, untuk berkata:
"Anak Kim, pergi kau lari ke belakang, ke dalam rimba. Malam ini kau sembunyi terus. Besok pagi-pagi, kau boleh pulang sendiri ke Kwietang….." Segera terdengar tangisan wanita tadi.
"Engkong, mari kita mati bersama…." kata perempuan itu.
"Lekas lari, lekas!" berkata si orang tua, membanting kaki. "Nanti terlambat!"
Dari dalam kamar keluar seorang nona dengan baju hijau, ia menubruk si orang tua, sebaliknya menolak tubuh orang, untuk disuruh lari ke belakang. Berbareng dengan itu, pintu terdengar tertembrak hingga terbuka, tiga orang nerobos masuk. Orang yang paling depan lantas menjambak pundak si orang tua she Cin itu, sedang tangannya yang lain menyambar si wanita muda, untuk dipeluk.
Nona itu ketakutan hingga membungkam. Kwee Ceng mengawasi tiga orang itu. Dari dandanannya, yang di depan itu seorang polisi, yang dua lagi serdadu. Si orang polisi, yang memeluki si nona, berkata sambil tertawa.
"Empeh Cin, kami datang atas titah tuan camat, maka jangan kau sesalkan kami! Malam ini kau mengantarkan duapuluh ekor ular, ini nona akan kita kembalikan, kalau kau menunggu sampai besok, nanti sudah tidak keburu!" Ia terus tertawa lebar, sambil bertindak pergi, ia bawa si nona bersama.
Orang tua she Cin itu menjerit keras, dengan membawa cagaknya, ia memburu, terus menikam. Si orang polisi berkelit, kemudian mencabut golok di pinggangnya dan mengetok cagak itu. Si empeh tidak dapat mempertahankan diri, cagaknya terlepas dan jatuh di tanah. Menyusul polisi itu menendang, hingga ia roboh seketika.
"Eh, tua bangka, jangan kau banyak tingkah!" dia membentak. "Awas, jangan kau nanti sesalkan golokku tidak ada matanya!"
Empeh itu seperti kalap, lupa pada dirinya, ia menubruk kaki kanan orang, terus ia menggigit. Opas itu kesakitan dan berontak, dalam sengitnya ia hajar kepala si empeh dengan belakang goloknya, maka pecahlah jidat orang dan darahnya menyiram ke mukanya. Tapi empeh itu sudah nekat, ia tidak menghiraukan luka dan sakitnya, ia menggigit terus, tidak mau ia melepaskannya. Dua serdadu itu maju menolongi si opas, yang satu menendang, yang lainnya menarik, sedang si opas menghajar lagi beberapa kali dengan gagang goloknya.
Sampai di situ, Kwee Ceng tidak dapat menonton lebih lama. Tadi ia baru gusar saja. Seperti biasanya, ia pun bergerak ayal. Tapi sekarang, ia lompat maju. Lebih dulu ia jambak punggung kedua serdadu itu, ia melemparkan mereka. Si opas lagi membacok ketika Kwee Ceng menahan belakang goloknya, ditolak keras hingga golok itu berbalik dan tepat membacok jidatnya. Dengan tangan kanannya, Kwee Ceng menyambar tubuh si nona sambil kakinya menendang, dari itu, tidak ampun lagi, tubuh opas itu kena terlempar. Tapi empeh Cin menggigit dan memeluk erat sekali, tubuhnya turut terlempar.
Menampak begitu, Kwee Ceng kaget sekali. Ia khawatir, karena jatuh terbanting, empeh itu nanti mati karenanya. Lupa melepaskan tubuh si nona, ia lompat menyusul seraya tangannya menyambar leher si opas, sedang kepada si empeh ia berseru:
“Empeh, ampunkanlah dia!"
Benar-benar si empeh kalap, ia seperti tidak mendengar suara orang, sampai si nona muda berteriak memanggil,
"Engkong! Engkong!" baru ia melepaskan gigitannya, dengan mulut berkelepotan darah, ia mengangkat kepalanya.
Waktu itu Kwee Ceng telah melemparkan tubuh si opas, yang jatuh terbanting hingga tidak mau bangun lagi, karena ia khawatir nanti dihajar lebih jauh. Kedua opas itu nyalinya kecil, mereka tidak berani melawan, setelah melihat si anak muda tidak menyerang lebih jauh, mereka menghampiri si opas kawannya, untuk dikasih bangun, lantas diajak pergi dengan kaki si opas dingkluk-dingkluk. Saking takut, mereka tidak berani menaiki kuda. Sampai di situ, baru Kwee Ceng melepaskan tubuh si nona, lekas ia mengasih bangun si orang tua.
Nona itu mengawasi tuan penolongnya, nampaknya ia sangat bersyukur, tetapi karena malu, ia tidak dapat membuka mulut. Maka ia cuma mengeluarkan sapu tangannya, kemudian menyusuti darah di muka kakeknya.
Tidak enteng luka si empeh, akan tetapi melihat si nona tidak dibawa pergi si opas dan serdadu, ia menjadi bersemangat, dengan cepat ia berlutut di depan Kwee Ceng, memberi hormat sambil menghanturkan terima kasihnya berulang-ulang.
Si nona turut berlutut juga. "Sudah, lootiang," kata Kwee Ceng seraya mengasih bangun. "Tidak dapat aku menerima hormatmu ini."
Orang tua itu lantas mengundang tetamunya masuk pula, dan si nona segera menyuguhkan teh.
"Injin, silahkan minum," katanya perlahan. Ia lantas memanggil "injin" - tuan penolong.
"Terima kasih," sahut Kwee Ceng sambil berbangkit.
Empeh Cin lantas menanyakan she dan nama tetamunya dan Kwee Ceng memperkenalkan diri.
"Sebenarnya, empeh, urusan apakah ini?" Kwee Ceng tanya.
Empeh itu suka mengasihkan ceritanya. Ia asal propinsi Kwietang, karena gangguan seorang hartawan di kampung halamannya, ia mengajak keluarganya pindah ke propinsi Kang-see. Di sini ia melihat tanah kosong, lantas membuat rumah dan berusaha di situ. Bersama ia turut kedua anak lelakinya. Di rimba ini ada banyak ular, apa celaka, dua anak itu serta seorang nyonya mantunya, bergantian mati dipagut ular, hingga seterusnya ia tinggal berduaan saja bersama cucu perempuannya, yang diberi nama Lam Kim.
Si empeh bersakit hati, ia pulang ke Kwietang, untuk mempelajari ilmu menangkap ular, setelah itu ia kembali. Ia membalas sakit hati dengan membinasakan setiap binatang berbisa itu. Dasar malang nasibnya dan ia pun lemah, tanah yang telah buka dirampas seorang hartawan galak di dalam kota. Saking terpaksa, ia lantas hidup sebagai penangkap ular. Di dalam usahanya ini, syukur ia tidak mendapat saingan. Untuk sembilan tahun, mereka berdua hidup tentram, sampai datang Kiauw Lay, camat yang baru. Kebetulan ia doyan ular, untuk itu ia berani untuk membeli.
Empeh Cin tidak kuat membayar pajak, ia diwajibkan setiap bulan menyerahkan duapuluh ekor ular berbisa. Dengan terpaksa empeh Cin menunaikan tugasnya, ia dibantu oleh cucunya. Tapi tahun ini, di musim semi, entah kenapa, ular menjadi berkurang. Susah sekali mencarinya. Sampailah waktu itu, di bulan ke enam, mereka tidak bisa mendapatkan ular. Sudah begitu, lantas datang gangguan lain. Kiauw Thayya mendapat tahu Lam Kim cantik, ia minta nona itu. Beberapa kali ia mengirim comblang, si empeh senantiasa menampik. Lalu datanglah hari ini, Kiauw Thayya menggunakan kekerasan, ia mengirim opasnya dan dua serdadu untuk minta ular atau orang. Sebab empeh tidak bisa menyerahkan ular, maka cucunya dipaksa dibawa pergi. Kebetulan sekali, di situ ada Kwee Ceng.
Mendengar cerita itu, Kwee Ceng menghela napas. Habis bersantap malam, empeh mempersilahkan tetamunya tidur. Lam Kim yang mengantarkan ke kamar sambil membawa pelita, katanya dengan perlahan:
"Di sini hutan, segalanya kotor, harap injin maklum…"
"Nona panggil saja aku engko Kwee," Kwee Ceng memberitahu.
"Mana aku berani, injin," kata si nona. Tiba-tiba ia terkejut. Di luar terdengar suara nyaring dan luar biasa dari seekor burung hutan. Hampir ia membikin pelitanya terlepas.
"Nona, burung apakah itu?" tanya Kwee Ceng heran, sudah suara burung itu aneh, ia pun merasakan tubuhnya gatal tidak karuan dan dadanya penuh seperti mau tumpah-tumpah.
"Itu burung keramat tukang makan ular," sahut si nona perlahan.
"Burung pemakan ular?" si anak muda menegaskan.
"Benar. Semua ular di rimba sini habis dimakan dia, maka itu engkong jadi sengsara…"
"Kenapa tidak berusaha menyingkirkan burung itu…?"
"Perlahankan suaranya injin…" kata si nona, romannya ketakutan. Ia lantas menutup jendela. "Burung itu sakti, kalau ia dengar suara injin, bisa celaka…!"
"Apa? Burung itu bisa mendengar suara kita?"
Lam Kim hendak memberikan jawabannya, ketika terdengar suara si empeh di luar kamar:
"Diwaktu malam tak leluasa untuk bicara banyak, besok siang saja nanti aku yang menjelaskan."
Kwee Ceng heran tetapi ia menurut, sedang si empeh lantas saja ajak cucunya pergi ke kamar mereka. Melihat roman ketakutan dari tuan dan nona rumah, Kwee Ceng bertambah heran hingga ia tidak dapat tidur nyenyak. Ia pun memikirkan Oey Yong, yang entah ada dimana adanya. Ia gulak-galik sampai tengah malam ketika ia mendengar pula suara si burung pemakan ular, yang berbunyi tiga kali.
"Aku tidak dapat tidur, baik aku lihat burung itu," pikirnya. Ia turun dari pembaringan, membuka jendela untuk melompat ke luar. Di saat mau menuju ke arah suara burung itu, ia mendengar teguran perlahan di belekangnya:
"Injin, aku turut kau…" Ia lantas menoleh. Nampak Lam Kim berdiri di bawah sinar rembulan, rambutnya riap-riapan mirip dengan rambut Bwee Tiauw Hong. Nona ini berkulit putih, romannya cantik. Kedua tangannya memegang entah barang apa yang hitam. Dengan perlahan ia menghampirkan si anak muda, untuk berkata pula: "Injin mau melihat burung keramat itu?"
"Ah, jangan kau memanggil injin padaku," Kwee Ceng mencegah.
Nona itu likat. "Engko!" ia memanggil.
Kwee Ceng mengasih lihat panahnya. "Aku hendak memanah mampus burung itu, supaya ia jangan lagi mengganggu engkongmu," katanya.
"Perlahan!" si nona kata. Ia pun mengangkat tangannya. "Pakai ini di kepala, untuk berjaga-jaga." Suara si nona itu bergetar.
Kwee Ceng melihat sebuah kuali besi, ia menjadi heran. Lam Kim memegang kuali besi di tangan kirinya, ia berkata pula:
"Burung itu dapat datang dan pergi bagaikan angin, ia biasa mematuk mata orang, hebat sekali. Kupingnya juga tajam, begitu mendengar suara orang, dia bisa lantas datang. Engko, kau mesti hati¬-hati."
Kwee Ceng tidak takut. Bukankah ia pernah menghadapi burung rajawali raksasa. Lantas ia jalan di depan. Belum mereka sampai di tepi rimba, burung ular itu berbunyi lagi, tiga kali. Justru itu di situ terdengar suara berisik. Lam Kim terkejut.
"Ah, aneh! Kenapa di sini ada begini banyak ular?" katanya.
Kwee Ceng memasang kuping. Ia lantas mendengar suara beberapa orang yang bersuit dan menggebah¬-gebah. Ia kenali suaranya budak-budak pengiring ular dari Pek To San. Ia menjadi lebih heran sebab agaknya mereka itu dalam kekhawatiran, sebagai juga kawanan ularnya tidak menurut perintah. Ia lantas berpikir.
"Mari!" ia mengajak Lam Kim, untuk lari masuk ke dalam rimba. Di sini ia celingukan, mencari tempat yang lebat. Tanpa membilang apapun ia sambar pinggang si nona, dibawa lompat naik ke sebuah pohon, dimana mereka memernahkan diri di satu cabang besar.
Baru mereka duduk rapi, burung tadi telah berbunyi pula tiga kali: Sekarang jarak mereka lebih dekat, suara burung itu tajam terdengar, seperti menusuk telinga. Tidak lama, sampailah rombongan ular itu, yang berjumlah ribuan. Kwee Ceng kenal binatang itu, ia tidak kaget, tidak demikian dengan Lam Kim, yang ketakutan hingga hatinya guncang, dengan erat ia pegangi ujung baju si pemuda.
Begitu masuk ke dalam rimba, kawanan ular itu berlari¬-lari ke delapan penjuru. Mereka seperti terkena hawa panas, hingga mereka tidak dapat diam, tubuh mereka berlompatan. Di bawah sinar rembulan, nyata terlihat lagak mereka itu.
Tujuh atau delapan budak pengiring ular itu, dengan pakaiannya yang putih, lari ke dalam rimba. Mereka menggunakan galah, bentakan mereka berisik, tapi kawanan ular itu tidak mau mendengar perintah untuk berbaris rapi seperti biasa.
Kwee Ceng membenci Auwyang Hong, melihat ular itu kacau, ia senang. "Sayang Yong-jie tidak ada di sini, hingga ia tidak dapat menyaksikan ini," pikirnya.
Lam Kim heran ketika melirik mendapatkan Kwee Ceng gembira. Diam-diam ia memuji hati besar anak muda ini. Tiba-tiba ia kaget sekali. Sebab ia mendengar si burung keramat bersuara nyaring luar biasa, kemudian semua ular berhenti bergerak, semua mendekam tidak berkutik.
Budak-budak mengayun berulang-ulang galah mereka, mulut mereka membentak tak hentinya, tetapi semua ularnya diam mendekam. Sesudah kewalahan, mereka lantas mengambil sikap. Seorang berdiri tegak, kepala mereka diangkat. Yang lainnya berdiri diam dengan galah dipasang berdiri. Yang satu lantas berkata dengan nyaring:
"Kami orang-¬orangnya Auwyang Sianseng dari Pek To San, kami tengah berlewat di sini, tetapi kami tidak mengenal gunung Tay San, kami tidak datang membuat perkunjungan. Maka itu, dengan memandang Auwyang Siangseng, harap kami diberi maaf."
Kwee Ceng mengawasi, ia merasa lucu. Suara orang itu tidak ada yang layani. Berselang sekian lama, ia mengucapkan pula kata-katanya itu. Sekarang suaranya lebih keras, tandanya ia tidak senang, dia agaknya menggertak. Ia pun memandang ke sekitarnya, ke tanah di dekatnya. Dia berpura-pura tidak melihat, dia memutar tubuh membelakangi pohon, yang ada pohon hoay, dia pun membungkuk seperti orang lagi menjura. Adalah ketika itu, mendadak ia membalikkan tubuhnya, sambil bangun mengayunkan kedua tangannya ke arah pohon. Maka empat buah gin-so, torak perak, menyambar kepada Kwee Ceng berdua. Dia telah membokong!
Kalau lain orang yang diserang secara menggelap itu, celakalah dia. Tidak demikian dengan Kwee Ceng. Ia melihat gerakan orang, yang ia terus awasi. Ia melihat berkelebatnya barang berkilau. Lekas-lekas ia turunkan kuali besinya, dipakai menyambut, maka dengan suara "trang!" empat kali, keempat torak itu masuk ke dalam kuali.
Kaget dan heran orang itu karena bebokongannya gagal. " Di atas pohon itu orang gagah darimana? Silahkan memberikan she dan namamu!" ia minta. Suaranya tak seangker tadi.
Kwee Ceng tidak menyahut, hanya ia menimpuk balik torak itu. Orang itu menjadi kaget. Galah di tangannya kena terhajar torak, tangannya sakit dan gemetaran, galahnya pun patah lima. Dia mengerti, orang berlaku murah, kalau tubuhnya yang dihajar, pasti dia tidak akan selamat. Dia menjadi bingung sekali. Kalau menyerah dan minta ampun, menurunkan derajat Auwyang Hong, dia pun bakal tidak diberi ampun. Kalau ular itu tidak dibawa pergi, dia juga bakal disiksa majikannya yang bengis itu.
Selagi orang ini masih bingung, tiba-tiba di situ tercium bau harum, dada rasanya menjadi lapang, lantas semua ular menggerakkan kepalanya, mendongak ke langit. Orang itu menyangka Kwee Ceng, yang ia tidak kenal itu, pandai mengendalikan ularnya, lantas ia meniup suitannya, menitahkan ularnya pergi. Tapi ular itu tetap diam. Hanya bau hatum menjadi semakin keras.
Terang bau itu datangnya dari atas. Maka dia dongak. Tiba-tiba terlihat menyambar turunnya cahaya teras sebagai segumpal api, luar biasa cepatnya, turun di sisinya. Dengan tiba-tiba, ia menjadi kaget. Dia mendapat kenyataan, gumpalan api itu hanyalah seekor burung yang tubuhnya merah marong, tubuhnya lebih besar dari gagak, bacotnya panjang kira-kira setengah kaki. Berdiri di tanah, burung aneh itu lantas melihat ke sekelilingnya, nampaknya keren. Bau harum itu datang dari tubuhnya. Kwee Ceng menjadi merasa suka melihat burung itu, yang tak ada bulunya yang kecampuran, kedua matanya tajam, sinarnya merah juga.
"Kalau Yong-jie melihat burung ini, tentu dia suka sekali," pikirnya. Maka ia lantas ingin menangkap hidup burung itu.
Mulanya semua ular kaget dan takut, sekarang semua berbalik menjadi jinak, tidak ada yang bergeming. Ketika burung itu berbunyi satu kali, empat ekor ular yang besar nyelosor menghampiri, di depan burung itu, mereka menggulingkan diri, perutnya menghadap keatas. Kapan burung itu mematuk, maka pecahlah perut mereka. Dengan empat patukan saja, isi perut mereka masuk ke dalam perut burung itu. Semua pengiring ular itu menjadi heran sekali, kaget dan gusar. Yang menjadi kepala tadi mengayun tangannya, sebuah torak melayang ke burung itu.
Kwee Ceng kaget, ia khawatir burung itu celaka karenanya. Dengan sebat sekali ia mematahkan secabang pohon kecil, ia timpukkan ke depan burung itu guna melindunginya. Cepat melayangnya cabang itu tiba di depan burung lebih dulu dari tibanya torak, maka torak dan cabang beradu, bersama-sama jatuh ke tanah.
Burung itu cerdas sekali. Dia heran, lantas berpaling ke arah darimana datangnya cabang pohon dan torak itu. Dia tahu ada orang yang membokong dan ada yang menolong, terus ia mengangguk ke arah Kwee Ceng dan Lam Kim, kemudian dengan sinar merahnya bergerak, dia terbang ke arah penyerangnya. Penggiring ular itu kaget tetapi dia menyerang pula. Dia menggunakan empat buah ginso, yang menyambar saling susul.
Kwee Ceng kaget, untuk menolong sudah tidak keburu, maka ia mengeluh, Sayang…!"
Sementara itu sang burung merah tukang makan ular menyambar terus. Dia melihat menyambarnya dua buah torak perak, dia menyampok ke bawah dengan sayapnya, maka jatuhlah torak itu. Sambil menyampok, dia berkelit, lalu dengan lain sayapnya menyampok pula, maka dua torak lolos lagi, terpental naik ke udara!
"Bagus!" Kwee Ceng berseru saking gembira. Burung itu bergerak bagai seorang ahli silat.
Belum berhenti suaranya Kwee Ceng ini, si budak pengiring ular sudah menjerit keras, kedua tangannya dipakai menutupi muka, dia lari ke depan dimana dia membentur sebuah pohon besar, maka sambil menjerit, dia berjongkok di situ. Nyatalah kedua biji matanya telah dipatuk burung itu.
Tujuh budak lainnya menjadi kaget, semua lantas menyerang dengan senjata rahasia. Di terangnya rembulan itu, torak-torak perak terbang berkeredepan. Burung itu benar-benar lihay. Dia beterbangan, mengelitkan diri atau menyampok, ia mundur dan maju, lalu dua orang lagi berkoak, sebab mereka pun kena dipatuk biji matanya.
Ketika itu mendadak ada menyambar sinar biru terang, menyambar ke burung pemakan ular itu. Kwee Ceng mengenal api belerang. Serangan ini lebih hebat dari ginso. Tapi burung itu berbunyi nyaring, dia terbang memapaki api itu, yang berupa anak panah, terus dia mencengkeram dengan kukunya. Dia tidak menghiraukan belerang menyala. Setelah meletakkan anak panah di tanah, burung itu mencari rumput, ditaruh di atas api itu hingga rumput terbakar!
"Sayang! Sayang!" Kwee Ceng berseru berulang-¬ulang.
"Sayang apa, engko?" Lam Kim menanya heran.
"Ini permainan bagus, sayang Yong-jie tidak melihatnya!" sahut si anak muda.
"Yong-jie?" tanya Lam Kim. "Siapakah dia?"
"Ya, Yong-jie…"
Lam Kim mau menanya lagi ketika kupingnya mendengar suara helaan napas, seperti suara wanita, di belakangnya. Ia lantas menoleh, tetapi dia tidak melihat siapapun. Tanpa merasa, bulu romannya bangun berdiri. Ia menduga kepada setan, maka ia memegang keras lengan Kwee Ceng, tubuhnya disenderkan rapat-rapat. Ia pun menanya,
"Engko, siapakah yang menghela napas itu?"
Perhatian Kwee Ceng dipusatkan kepada burung merah, ia tidak mendengar suara helaan napas, ia tidak dapat mendengar juga perkataan si nona yang sangat perlahan, bahkan ia seperti tidak merasakan tubuh yang halus dari si nona Cin menyambar di dadanya.
Burung itu bergulingan di api yang dia nyalakan, ketika api mulai berkurang, ia mengambil pula daun dan cabang kering, hingga api menjadi berkobar lagi. Ia membuat main bulunya di dalam api, ia tidak terbakar, tidak kepanasan. Ia malah mematuki bulunya menyisili, seperti biasanya burung mandi.
Selagi Kwee Ceng mengawasi dengan heran, bau harum terasa makin keras. Kapan kawanan ular mendapat cium bau itu, mereka seperti tidak dapat menguasai diri, semua lantas bergerak berlompatan, lalu saling menggigit, hingga suaranya menjadi berisik. Ada ular yang kesakitan digigit telah menggigit ekornya sendiri! Maka kacaulah ribuan ular itu.
Lam Kim merasa kepalanya pusing dan matanya kabur, hampir dia jatuh dari atas pohon, maka lekas-lekas ia memegangi erat-erat tubuh Kwee Ceng, yang ia peluki.
Sisa budak-budak itu kaget dan ketakutan, lantas mereka lari keluar dari rimba. Si burung menganggap mereka itu sebagai musuh, dia terbang mengubar. Mereka ketakutan, menutup muka dengan tangan, tapi tangannya itu dipatok, ketika mereka melepaskan tutupannya, lantas mata mereka dipatok. Tidak lama, mereka semua menjadi si orang-orang buta. Habis itu, burung terbang kembali ke rimba, ke api, tetapi api sudah padam. Dia lantas mengibas-ngipas dengan kedua belah sayapnya, menyalakan api itu lagi. Tentu saja abunya menjadi beterbangan.
Kwee Ceng menepuk pundak Lam Kim. "Kau diam di sini, kau pegangi pohon," katanya perlahan seraya menyingkirkan tangan yang merangkulnya. Habis itu ia lompat turun, bertindak dengan perlahan ke arah si burung aneh itu.
Sang burung melihat ada orang datang. Dia mengenali penolongnya tadi, dia diam mengawasi. Burung itu mengangkat kepalanya, dia tidak menghampiri. Selagi turun dari pohon, Kwee Ceng memperhatikan semua ular, dari itu ia bertindak dengan perlahan, tetapi sekarang ia mendapat kenyataan, semua ular itu, yang sudah berkelahi sendiri, seperti membuka jalan untuknya. Rupanya binatang berbisa itu takut kepadanya, yang pernah minum darah ular. Dengan berani, ia maju terus, tindakannya lebar. Setelah datang dekat kepada burung aneh itu, ia mengulur tangannya.
Burung itu lihay, dia gesit sekali. Sambaran Kwee Ceng cepat tetapi dia dapat berkelit, setelah itu, tidak menanti sampai disambar pula, ia membalas menyerang, hendak mematuk matanya si anak muda.
"Engko Kwee, hati-hati!" Lam Kim berseru, memberi ingat.
Kwee Ceng menungkrap dengan kuali besinya. Burung itu benar lihay, dia berkelit, dia lolos.
"Bagus!" berseru Kwee Ceng, seraya ia melompat, kualinya menungkrap pula.
Sang burung terbang ke atas, terpisahnya kira-kira satu kaki. Dia melihat tangan kiri Kwee Ceng menyusul, di atasan kepalanya, dia kaget, terus dia terbang ke bawah lewat selangkangan si anak muda. Habis itu dia terbang naik kembali, hendak mematuk mata.
Kwee Ceng gembira, hingga timbul sifat kekanak-¬kanakannya. "Di tanganku ada senjata, kalau aku tidak dapat menangkap kau, aku bukan laki-laki," katanya. "Baiklah, mari kita bertempur dengan tangan kosong!"
Maka ia melemparkan kualinya, lantas dia menyambar. Dia takut melukai, maka ia memakai tenaga cuma satu bagian. Burung itu kena dipapaki, dia tidak keburu kelit, karena kebentur, dia roboh. Kwee Ceng mengulur lebih jauh tangannya, untuk mencekik, tapi burung itu telah terbang lagi. Dia rupanya tahu lawannya lihay, bukan seperti pengiring-¬pengiring ular tadi, maka dia terbang pergi.
Kwee Ceng menyambar, tangannya diputar. Dia menggunakan jurus dari Hang Liong Sip-pat Ciang, jurus "Enam naga berputaran". Burung itu kena terpegat di sana-sini, lalu kebentur jatuh hingga ia jumpalitan. Justru itu Kwee Ceng mencekik padanya.
"Nona, dia telah kena aku tangkap!" Kwee Ceng serukan Lam Kim.
Nona itu girang sekali, ia lekas mengeluarkan obatnya pemunah racun, yang ia masukkan ke mulutnya, setelah itu, ia turun dari pohon, lari menghampiri si anak muda. Sebutir obatnya mau ia serahkan kepada si anak muda.
Burung itu pingsan, dengan begitu, lenyaplah pengaruhnya, maka waktu itu, semua ular yang ketakutan, lantas lari serabutan menyingkir dari rimba itu. Kwee Ceng merasakan burung tidak bergerak, ia khawatir mati, ia memegang dengan perlahan. Ia memegang dengan kedua tangannya. Ia membawanya ke tempat di mana ada tembusan sinar rembulan.
Ketika Lam Kim telah datang dekat, ia mengangsurkan obatnya. "Engko Kwee, obat ini bisa melawan racun ular," katanya.
Kwee Ceng tahu ia tidak membutuhkan itu, akan tetapi tidak menampik kebaikan hati si nona, ia menyambutnya. Karena menyambut, tangannya yang memegang burung tinggal sebelah. Justru itu, burung itu berontak dan terbang lolos!
"Ah, sayang, sayang!" anak muda ini membanting¬-banting kakinya.
"Burung itu cerdik, mungkin dia tidak berani datang lagi," berkata si nona.
"Maka itu aku mengatakan sayang," kata si anak muda.
"Kenapa engko?"
"Aku berniat menangkap dia untuk diberikan kepada Yong-jie…."
Lagi-lagi nama Yong-jie disebut. Lam Kim heran. Suara memanggil itu pun halus sekali. "Apakah Yong-jie itu anakmu?" ia menanya. Ia mengartikan Yong-jie seperti anak yang bernama Yong.
Ditanya begitu, pemuda itu melengak. "Bukan!" sahutnya dengan cepat. "Dia adalah anak perempuan, jika dibandingkan denga kau, usianya lebih muda satu dua tahun."
"Ah, dia tentu cantik sekali, bukan?"
"Tentu saja! Dia bukannya cuma cantik, juga pintar dan baik hati….."
Selama beberapa bulan Kwee Ceng selalu mengingat-¬ingat Oey Yong cantik dan pintar, hanya karena pendidikan ayahnya, ia termanjakan, tabiatnya rada keras, dia biasa membawa sukanya sendiri, cuma dimata Kwee Ceng, dia tidak ada celaannya. Terhadap Kwee Ceng, Yong-jie suka mengalah.
Lam Kim duduk bersama Kwee Ceng di atas sebongkol pohon yang roboh melintang di tanah, ia mendengar si pemuda memuji si nona, tanpa merasa, ia merasakan sesuatu yang berbeda daripada biasanya.
Lekas juga si pemuda sadar. "Kau lihat!" katanya tertawa. "Tengah malam buta kita memasang omong di sini! Mari kita pulang. Kalau sebentar kakekmu bangun dan ia tidak melihat kau, ia tentunya berkhawatir."
"Tidak," menyahut si nona. "Aku suka sekali mendengar ceritamu." Ia berhenti sebentar, lalu ia menanya. "Nona Oey itu pergi ke mana? Kenapa kau tidak ikuti dia?"
Pertanyaan itu mengena telak kepada Kwee Ceng. Ia tidak dapat lantas menjawab. Bukankah ia bakal menikah dengan Gochin Baki? Bukankah sulit untuknya nanti bertemu pula sama Oey Yong? Mengingat semua itu, ia menjadi berduka. Mendadak saja ia menangis.
Lam Kim terkejut. Ia menyangka telah salah omong. Ia menjadi menyesal dan berduka. Ia malah menjadi bingung bagaimana harus menghibur anak muda ini. Dengan sendirinya tangannya merogoh ke dalam saku, mengasih keluar sehelai saputangan. Ia sodorkan kepada si anak muda.
Kwee Ceng menyambutnya, ia menyusuti matanya. Ia tidak ingin menangis, tetapi ia tidak sanggup menahan kesedihannya. Maka ia menangis lagi.
Tiba-tiba di belakang mereka terdengar satu suara tertawa geli.
"Yong-jie!" berseru Kwee Ceng, ia melompat bangun, akan tetapi ketika ia menoleh tidak melihat siapapun, tidak ada bayangan orang meski cuma separuhnya………..
"Ah, engko Kwee!" berkata Lam Kim. "Kau senantiasa memikirkan nona Oey. Mari kita pulang!"
"Mari!" sahut si anak muda.
Bersama-sama mereka keluar dari hutan itu. Baru jalan beberapa puluh tombak, di depan mereka, melihat tujuh atau depalan orang dengan pakaian putih berbaris, tangan kirinya bertongkat sebatang galah panjang. Mereka jalan setindak demi setindak. Merekalah budak-budak Auwyang Hong, yang matanya buta di patok burung merah itu.
Mengawasi mereka itu, Kwee Ceng merasa kasihan. Maka ia menghela napas. Tapi ia tidak mau mendekati atau menegur, bersama nona Cin ia terus menuju ke rumah si nona, untuk terus tidur.
Besok pagi, ketika Kwee Ceng bangun, ia mendengar empeh Cin lagi sesalkan Lam Kim, yang katanya tidak seharusnya mengajak tetamunya pergi menangkap burung aneh itu sebab berbahaya.
"Memangnya aku yang mengajak?" si nona tertawa. "Dia sendiri yang gemar bermain!"
"Kau gila! Dia toh penolong kita, dia bukannya bocah lagi! Cara bagaimana kau bilang dia gemar bermain sendiri?"
"Kalau yaya tidak percaya, masa bodoh!" kata cucu itu tertawa.
"Masih kau tidak mau kalah! Kalau tuan penolong kita kena dilukai burung keramat itu, habis bagaimana?"
"Dia kosen sekali, mana dapat dia dilukai?" si cuca masih melawan.
Kakek itu menghela napas. "Sudah, sudah…." ia mengalah. "Mari kita berbenah……. Tidak dapat tidak, kita mesti berlalu dari sini…."
"Bagaimana engkong?" tanya si nona heran.
"Kita pulang ke Kwietang. Bangsat polisi itu kena dihajar, mana dia puas? Mana dapat kita tinggal lebih lama di sini? Kalau sebentar tuan penolong kita pergi, jikalau kita berlambat, bahaya tentu bakal menimpa kita…."
Cucu itu bengong. "Habis engkong, bagaimana dengan rumah ini, meja dan kursi kita?" ia menanya.
"Anak tolol!" mengelak orang tua itu. "Jiwa kita sendiri masih belum ketentuan, apa perduli segala rumah dan meja kursi? Anak, dasar nasib kita yang buruk, maka janganlah kau bersusah hati….."
Kwee Ceng mendengar semua pembicaraan itu, maka ia lantas mengambil keputusan, menolong orang tidak boleh kepalang tanggung. Ia turun dari pembaringan untuk menemui kakek dan cucunya.
"Lootiang, kau jangan berkhawatir," katanya menghibur. "Nanti aku pergi ke kantor camat membereskan urusanmu ini."
"Oh, injin, jangan kau pergi ke kantor camat!" cegahnya lekas. "Kantor itu adalah laksana gua harimau atau serigala!"
"Aku tidak takut!" berkata Kwee Ceng.
Empeh Cin masih hendak mencegah tetapi Kwee Ceng sudah lantas pergi keluar, menuntun kudanya, maka dilain saat ia sudah kabur dengan kuda merahnya. Dalam tempo sedaharan nasi, ia sudah sampai di dalam kota. Tengah ia memikir untuk menanya dimana letaknya kantor camat, mendadak nampak api berkobar di depannya dan banyak orang berlari-lari berteriak-teriak:
"Kantor camat kebakaran! Oh, Thian, ada matanya!"
"Begini kebetulan?" kata Kwee Ceng di dalam hatinya. "Masa begini tepat kantor camat kebakaran?"
Ia lantas mengasih kudanya lari di depan kantor, belum juga mendekat, ia sudah diserang hawa panas dari api itu hingga ia mesti mundur. Herannya tak ada orang yang mau menolong memadamkan api. Orang banyak berdiri jauh-jauh, roman mereka bukan kaget atau takut, sebaliknya semua bermuka terang, tandanya riang hati mereka.
Kwee Ceng lompat turun dari kudanya. Ia sekarang melihat di tanah ada rebah belasan orang polisi, ada yang sudah terbakar, ada yang masih hidup tetapi romannya tidak karuan dimakan api, ada yang dapat membuka matanya, tetapi mata itu tidak berkutik. Ia heran, menghampiri, terus mengangkat seorang opas. Baru sekarang ia ketahui orang adalah korban totokan. Ia lantas menotok pinggangnya.
"Mana camat?" ia tanya.
"Dia di dalam kantor, tuan," sahut opas itu, tangannya menunjuk. "Kemungkinan besar dia sudah mati terbakar…."
"Kenapa terbit kebakaran?" tanya pula Kwee Ceng. "Siapa yang merobohkan kau?"
"Maaf tua, aku tidak jelas," sahut pula si opas. "Tadi pagi-pagi sebelum aku bangun tidur, aku dengar koan¬thayya membikin banyak berisik, rupanya ia mencaci orang dan berkelahi, lalu api berkorbar. Aku hendak lari, tiba-tiba merasakan tubuhku kaku dan lemas, tahu-tahu aku sudah roboh…."
"Koan-thayya kamu bertempur sama orang, apakah dia pandai silat?" Kwee Ceng heran. Ia tidak menyangka seorang camat pandai silat dan menngerti juga Tok-see-ciang, tangan Pasir Beracun. Lantas ia ingat camat ini gemar dengan ular. "Ah, tentulah ia pakai ular itu untuk melatih diri," terkanya. Ia lantas menanyakan itu kepada opas.
"Aku tidak tahu, tuan"
"Rupanya, ada orang kangouw yang mencari camat itu," akhirnya Kwee Ceng pikir. "Ini ada baiknya, aku jadi tak usah capai hati…"
Oleh karena pikirannya sudah lega, Kwee Ceng tidak menggubris lagi si opas atau camat, ia berniat pulang ke rumah empeh Cin, untuk menyampaikan kabar gembira, tetapi waktu ia berpaling kepada kudanya, ia terkejut. Kudanya itu tak ada. Ia bersiul, memanggil. Kuda itu tidak muncul. Ketika ia mengulangi beberapa kali, tetap kuda merah itu tak nampak. Ia menjadi heran sedang ia tahu betul kuda itu cerdik dan sangat mengerti dan mengenali tuannya. Lantas ia pergi mencari, ia seperti memutari seluruh kota, tetapi tidak berhasil mencari kudanya.
"Benar heran!" pikirnya, bingung dan masgul. Akhirnya ia berjalan balik ke rumah empeh Cin, hatinya berpikir: "Nanti aku bawa burung rajawali untuk mencari, mustahil tidak ketemu…" Ia berjalan pulang sambil berlari-lari.
Empeh Cin dan cucunya heran mendengar gedung camat kebakaran, mereka girang mendapat tahu camat sendiri mati terbakar. Mereka bersyukur bukan main. Habis memberi keterangan, Kwee Ceng bersiul, memanggil burungnya. Tapi aneh, burung itu juga tak nampak dan tak muncul. Ia heran bukan main dan ia jadi semakin bingung. Saking berduka, ia tak nafsu dahar minum. Malam itu ia diam terus di rumah empeh Cin. Ia mengambil keputusan, besok ia mau pergi mencari kuda dan burungnya …….
Ketika itu musim panas, hawa udara sangat mengendus. Empeh Cin menggotong bale-bale serta dua buah kursi ke luar rumah, ditaruh di bawah para-¬para pohon kacang. Ia pun masak air dan menyeduh teh. Ia mengajak Kwee Ceng dan cucunya berangin. Ia melewatkan waktu dengan bercerita tentang sifatnya pelbagai ular berbisa.
Hati Kwee Ceng terhibur juga. Cerita si empeh menarik hati. Mereka berangin sampai tengah malam, sampai mereka merasa tubuh adem. Empeh itu beberapa kali mengajak tetamu dan cucunya masuk tidur, sang cucu menolak.
"Dasar bocah!" kata sang engkong tertawa. "Anak ini hidup sendirian, setiap hari menemani aku si tua bangka, di sini sulit mendapat tetamu, maka sekarang dia jadi gembira luar biasa…."
"Kalau besok engko Kwee pergi, kita kembali tinggal berdua…" kata Lam Kim. Ia nampak masgul, suaranya pun tak gembira.
Kwee Ceng berdiam.
"Engko Kwee, pergilah tidur," kata si nona kemudian. "Aku sendiri, masih hendak memandangi sang bintang…."
"Anak tolol! Apakah bagusnya bintang !" kata sang kakek.
"Tetapi aku suka memandanginya." kata si cucu.
Orang tua itu memandang ke langit, dimana ada mega hitam. "Lihat, langit bakal lekas berubah, bintang pun bakal lenyap…" katanya.
Ketika itu mendadak Kwee Ceng mendengar suara kuda berlari mendatangi. "Kuda merahku!" ia berseru. Segera ia menoleh dan mengawasi.
Jauh di sana, seekor kuda merah mendatangi. Lekas juga ternyata, dialah si bulu merah kudanya sendiri, seperti telah membilangnya. Di atas kuda itu ada penunggangnya, yang bajunya berkibaran, dialah Oey Yong.
"Yong-jie! Aku di sini!" Kwee Ceng berseru kegirangan.
Mendengar disebutkannya Yong-jie, hati Lam Kim terkesiap. Lekas sekali kuda merah itu telah tiba kepada tiga orang itu. Bersama Oey Yong ada kedua burung rajawali yang putih.
"Ah, sungguh aku tolol!" Kwee Ceng sesalkan dirinya sendiri. "Memang kecuali Oey Yong, siapakah yang dapat menguasai kuda dan burungku?"
Oey Yong lompat turun dari kudanya sedang Kwee Ceng maju memburu. Ia girang bukan kepalang.
"Aku berlatih tetapi keliru, kedua tanganku tak dapat digerak," berkata si nona.
"Ah!" Kwee Ceng berseru. "Mari lekas salurkan napasmu!"
Keduanya lantas lompat naik ke bale-bale, duduk bersila. Kwee Ceng meletakkan kedua tangannya di punggung si nona, menyalurkan hawanya ke tubuh si nona. Justru itu langit benar-benar berubah. Perlahan-lahan terdengar suara guntur, yang diikuti bergeraknya sang awan, hingga langit menjadi gelap.
Kira-kira setengah jam kemudian, pernapasan Oey Yong mulai lurus, hawa dari perut naik ke dadanya. Karena itu, tubuhnya seperti terdorong ke kiri dan ke kanan.
Selama itu Lam Kim mengawasi nona Oey, yang duduk sambil menutup mata dan merapatkan mulutnya, hanya mulutnya itu nampak tersenyum. Dia berkulit putih bersih, saat itu nampak cahaya dadu, maka terlihat tegaslah kecantikannya. Di lehernya ada tergantung kalung mutiara, yang bersinar menambah mentereng kecantikannya.
"Dia mirip dewi, tak heran engko Kwee jatuh hati kepadanya," Lam kIm berpikir. "Hanya, entahlah apa yang mereka lagi lakukan sekarang…."
Dia tengah berpikir begitu ketika mendadak matanya seperti gelap. Karena segumpal mega hitam lewat menutupi sang putri malam. Dan menyusul itu, seluruh langit mulai menjadi gelap gulita.
"Kwee Toako," ia berkata kepada Kwee Ceng. "Baiklah, kau masuk ke dalam bersama nona ini, lekas akan turun hujan."
Boleh dibilang ia baru menutup mulutnya, ketika ia merasai muka dan lehernya dingin, karena sang air hujan sudah lantas mulai turun beberapa tetes! Hujan di musim panas benar luar biasa. Begitu dibilang, hujan lantas turun. Dan Lam Kim lantas juga berkoak. Sebab dengan lantas hujan turun dalam jumlah besar, seperti dituang-tuang! Kwee Ceng dan Oey Yong lagi menyalurkan napas mereka, tidak menghiraukan hujan itu.
Nona Cin menjadi heran sekali, ia menduga orang kena pengaruh sesat. Ia menghampiri si anak muda, yang pundaknya ia tolak. Ia tidak menggunakan tenaga besar, ketika ia menolak, ia tertolak mundur satu tindak. Ia menjadi terlebih heran. Ia maju lagi, ia menolak dengan terlebih keras. Ia menanya:
"Engko Kwee, kau kenapa?" Tetapi mendadak, untuk kagetnya, ia tertolak mundur hingga terguling di tanah, jatuh duduk di air hujan!
Empeh Cin sudah masuk tidur, ia mendengar suara hujan diselengi guntur, maka ia memanggil Lam Kim. Beberapa kali ia memanggil tanpa ada penyahutan, lantas pergi ke luar, tepat ia menyaksikan cucunya itu lagi merayap bangun dari lumpur, rambutnya kusut, basah dengan air hujan, romannya bingung. Tengah ia kaget, ia mendengar suara nyaring cucunya:
"Engkong, tuan penolong kita kena pengaruh jahat, lekas tolong dia!"
Empeh itu pun kaget. Ia pun sangat bersyukur kepada anak muda itu. Maka tanpa pikir lagi, ia menghampiri Kwee Ceng, ia pegang tangannya, untuk ditarik masuk. Atau ia menjadi kaget. Tubuh si anak muda tidak bergeming. Ketika ia menarik dengan kuat, ia sendiri terpental jatuh, maka ketika ia sudah merayap bangun, ia berdiri bengong seperti cucunya.
Lam Kim lekas sadar, ia lari masuk untuk mengambil payung, ia memegang itu untuk dipakai memayungi Kwee Ceng berdua. Ia juga berkata:
"Engkong, lekas menyulut kertas kuning, kau asapi hidung mereka!"
Empeh Cin lari masuk, tindakannya limbung. Apa mau, ia kena membentur pelita hingga terbalik. Lam Kim sendiri lantas nyata perubahan hatinya. Biarnya ia mengagumi Oey Yong, hatinya ada pada Kwee Ceng, maka payungnya itu mulai bergeser, menutupi si anak muda sendiri, hingga si nona lantas ketimpa hujan pula. Tidak lama empeh Cin muncul dengan kertas kuningnya, yang telah disulut. Dengan dijagai ujung bajunya, kertas itu ia bawa kepada Kwee Ceng, hidungnya lantas ia asapi.
Hebat kesudahannya ini untuk si anak muda, yang lagi menyalurkan napasnya itu. Ia lantas merasa napasnya sesak. Ia menjadi kaget sekali, lantas ia menahan napasnya. Tapi ia cuma bisa menahan sebentar, asapnya si empeh masuk pula. Beberapa kali ia terbatuk-batuk. Celaka untuknya, di dalam keadaan seperti itu, ia tidak dapat membuka mulutnya.
Empeh Cin bingung. Melihat asap tidak menolong, ia menekan jintiong, ialah hidungnya si anak muda. Siapa pingsan karena teriknya panas matahari, kalau ia ditotok di jintiong itu, ia dapat sadar. Tidak demikian dengan Kwee Ceng. Ia bahkan jadi semakin seperti disiksa. Sudah tidak dapat membuka mulutnya, ia juga tidak dapat menolak mundur si empeh yang mau menjadi penolong tetapi sebaliknya menjadi seperti mencelakainya.
Sang hujan turun terus, guntur pun masih berbunyi. Satu kali kilat menyambar, guntur berbunyi keras. Nyata satu pohon kena ditimpa hingga menyala dan terbakar.
Lam Kim kaget dan ketakutan, tetapi ia tidak berkisar dari tempatnya berdiri, ia masih memayungi tuan penolongnya. Hanya matanya menjadi tidak karuan, sebab ia melihat kilat, melihat api, dan melihat air hujan juga. Kapan ia memandang Kwee Ceng, ia mendapatkan pemuda itu duduk tenang seperti biasa, begitu juga dengan si nona Oey, bahkan nona ini nampak tersenyum manis, romannya sangat cantik.
Empeh Cin berdiri tercengang, ketika ia memandangi cucunya, ia mendapati muka cucunya itu sangat pucat. Dalam keadaan seperti itu, mendadak kilat berkelebat, cahayanya terang sekali. lalu suara geledek, menyusul demikian hebat, sampai saking kagetnya, empeh Cin dan Lam Kim roboh karenanya.
Guntur berbunyi di samping Kwee Ceng, tidak heran kalau kakek dan cucunya roboh pingsan. Hanya sehabisnya guntur, segera Kwee Ceng merasakan pernapasannya berjalan dengan baik seperti biasa. Maka sekarang ia dapat bergerak. Juga Oey Yong dapat bergerak.
Lagi-lagi guntur menggelegar dekat si nona, maka Kwee Ceng lantas mendekam di tubuh si nona, untuk melindungi. Berselang sekian lama barulah guntur berkurang dan hujan pun mulai berhenti. Dan setelah lewat sekian waktu, maka langit menjadi bersih, si putri malam muncul pula dengan segala kepermaiannya.
Oey Yong merasakan tubuhnya sehat sekali. Dengan perlahan ia mengangkat tubuhnya.
"Engko Ceng," katanya berbisik. "Benar-benarkah kau mencintaiku?"
Kwee Ceng merangkul, girangnya bukan buatan, sampai ia tidak bisa membuka mulutnya.
"Lihat itu," kata Oey Yong kemudian, tangannya menunjuk ke pohon yang tadi ditimpa geledek dan terbakar. Di sana, di antara api, si burung darah, hiat-niauw, lagi bergulingan dan berlompatan, rupanya gembira sekali ia memain api. "Mari kita tangkap padanya," kata si nona berbisik.
Kwee Ceng mengangguk, lantas berbangkit. Ketika itu ia melihat empeh Cin, yang sadar sendiri lagi menolong cucunya, untuk dikasih duduk di kursi.
Oey Yong sendiri bertindak menghampiri hiat¬niauw. Burung itu telah mempunyai pengalaman, ia tidak berani berkelahi, ia lantas terbang pergi, sia-sia si nona berlompat menubruk padanya. Karena ini Oey Yong bersiul, memanggil burung rajawalinya.
"Tangkap burung itu tetapi jangan lukai dia!" ia memerintah.
Kedua burung rajawali itu mengerti, keduanya lantas menyambar hiat-niauw. Mereka bertindak dengan memegat jalan. Hiat-niuaw kecil sekali, seluruhnya cuma sebesar kepala rajawali, tetapi ia sangat gesit, maka itu ia dapat molos, lantas ia terbang cepat dan jauh, ketika sudah beberapa lie, ia mendapatkan masih disusul, lantas ia terbang balik, untuk mencoba melawan.
Hebat perlawanannya itu. Kalau ia kena dicengkeram atau dipacuk, pastilah ia celaka, tetapi karena gesitnya, ia selalu bisa membebaskan diri. Bahkan dialah yang beberapa kali berhasil mematuk bulu lawan hingga rontok. Coba si rajawali bukan berdua, mungkin mereka kalah.
Selagi bertempur terlebih jauh, rajawali yang jantan kena dipatuk lehernya, ia merasakan sakit, saking sengit, ia menyampok dengan sayapnya. Hiat-niauw berkelit, tapi justru ia kena disampok sayap burung betina, sampai ia roboh. Tapi ketika ia ditubruk ia sempat berkelit lagi, terus terbang cepat dan jauh, kedua rajawali terus menyusul, mereka pergi jauh ke belakang gunung.
Kwee Ceng berpaling kepada Oey Yong, untuk berkata dengan perlahan: "Yong-jie, kau maju pesat sekali. Guntur berbunyi di sampingmu, kau tidak tahu."
"Kau pun sama!" kata si nona tertawa.
Kwee Ceng lantas ingat perbuatannya empeh Cin tadi. "Sungguh berbahaya," katanya dalam hatinya. "Kalau aku tidak dapat bertahan, aku mesti menyia-nyiakan waktu lagi tujuh hari tujuh malam untuk memulihkan diri. Lantas ia ajar kenal Oey Yong dengan tuan rumah, itu kakek dan cucu.
"Yong-jie, kau melepas api di kantor camat, bukan?" kamudian Kwee Ceng tanya si nona.
"Kalau bukan aku, siapa lagi?" si nona membaliki, tertawa.
Empeh Cin dan cucunya terkejut. Tidak mereka sangka, nona ini demikian besar nyalinya dan pandai juga.
Kemudian Oey Yong melirik Lam Kim, ia bersenyum. "Engko Ceng," katanya, "Kau selalu memuji aku, apa kau tidak takut enci ini nanti menertawainya?"
"Oh!" kata Kwee Ceng. "Kau telah bersembunyi di dalam rimba?"
Kembali Oey Yong tertawa. "Jikalau kau tidak membilang hendak menangkap burung itu untukku, aku lebih suka tanganku bercacad, tidak mungkin aku kembali padamu!" katanya. "Kemudian kau menangis! Apakah kau tidak malu?"
Kwee Ceng tunduk, ia menyahut perlahan: "Aku merasa telah memperlakukan kau tidak bagus, dan aku khawatir sekali untuk selamanya nanti tidak dapat melihatmu lagi…."
Oey Yong mengulur tangannya, membereskan rambut orang. "Sebenarnya aku berpikir untuk tidak menemuimu lagi tetapi aku tidak bisa," ia berkata. “Tapi sudahlah, sekarang kita jangan pikirkan hal-hal di belakang hari, untuk kita, dapat satu hari selebih banyak kita berkumpul, itu artinya kita dapat tambah satu hari kegirangan!"
Lam Kim berdiri bengong melihat dan mendengar orang berbicara demikian asyik. Berempat mereka bagaikan baru sadar ketika kuping mereka mendengar suara burung rajawali di tengah udara, kapan mereka mengangkat kepala, terlihat hiat¬niauw masih dikepung kedua rajawali itu, terbangnya sangat pesat.
Menampak demikian, Oey Yong lantas mendapat akal. Ia bersiul satu kali. Atas itu rajawali yang betina terbang turun, menclok di pundaknya. Maka tinggallah yang jantan, yang mengejar terus-terusan. Ia menunggu sudah lewat lama juga, ia memanggil burung jantannya seraya melepaskan yang betina guna menggantikan mengejar hiat-niauw itu.
Siasat ini digunakan terus-menerus, maka akhirnya lelah juga burung api itu, yang tak dapat mengaso sama sekali. Setelah terbangnya menjadi perlahan dan kegesitannya pun berkurang, satu kali ia kena disampok sayap rajawali, lantas ia tidak dapat terbang lebih jauh, maka ia kena disambar, dibawa kepada Oey Yong.
Nona Oey menyambut burung api itu, memegangnya, hatinya sangat girang. Hiat-niauw sangat letih, dia mengawasi si nona, sinar matanya seperti minta dikasihani.
"Baik-baik kau turut aku, aku tidak bunuh padamu," berkata Oey Yong sambil tertawa.
Empeh Cin sangat girang sekali melihat burung itu kena ditangkap. "Bagus!" serunya. "Nona telah berhasil menangkap burung ini, maka aku dan cucuku bakal dapat makan pula! Nanti aku membuatkan kurungan." Lam Kim tahu burung itu suka makan nyali ular, ia mengambil arak nyali ular mengasih burung itu minum, setelah habis setengah peles, hiat-niauw itu lantas pulih kesegarannya. Ia benar-benar menjadi jinak sekali.
"Aku hendak memelihara dia hingga dia mendengar kata-kataku!" kata Oey Yong. "Aku mau mengajari dia bagaimana harus mematuk mata orang!"
Tapi sementara itu, orang letih dan kantuk, maka mereka lantas pergi mengaso. Lam Kim mengalah mengasihkan pembaringannya untuk Oey Yong, siapa sebaliknya minta empeh Cin lekas membikin ia kurungan untuk burungnya itu.
Besoknya pagi, ketika matahari merah menyorotkan sinarnya masuk ke jendela, Oey Yong bangun untuk lantas menjadi kaget. Di meja, kurungannya rusak, tetapi burungnya berdiri diam di meja, ia tidak lari meski orang menghampiri. Kaget dan girang, Oey Yong menggapai.
"Mari!" ia memanggil.
Hiat-niauw terbang, menclok di telapak tangan si nona. "Dia takluk padaku, dia takluk padaku!" kata Oey Yong kegirangan. Ketika ia melihat kurungan, kurungan itu rusak dan patah. Ia pikir, tentulah itu burung mau membilang: "Aku merdeka, kalau aku tidak mau pergi, tidak apa, tetapi kalau aku mau, apa artinya kurungan macam begini?" Sedangkan si nona bergirang, kupingnya lantas mendengar keluhan Kwee Ceng di lain kamar. Ia heran, lantas lari menghampiri.
"Engko Ceng, kenapa?" ia menanya.
Kwee Ceng menyeringai, tangannya memegangi gambar pemberian Oey Yok Su. Nyata karena kehujanan, gambar itu terkena air.
"Ah, benar sayang!" si nona mengeluh. Ia menyambut gambar itu, yang telah pecah. Ia merasa, tidak ada jalan untuk dapat memperbaikinya. Ketika ia hendak meletakkannya di meja, mendadak ia melihat di pinggiran syairnya Han See Tiong ada tambahan beberapa baris huruf halus. Ia lantas mendekati, melihat terlebih tegas. Surat itu berlapis, kalau tidak karena basah, tidak mungkin dapat terlihat. Sekarang pun sangat sukar untuk membacanya. Oey Yong mementang matanya, ia mencoba membaca:
"…..Surat wasiat….Bok…Tiat Ciang…tengah…puncak…….." Huruf-huruf lainnya lagi tak dapat dibaca.
Kwee Ceng juga turut membaca, lantas berkata: "Ini bisa diartikan surat Wasiat Gak Bu Bok…."
"Tidak salah," berkata Oey Yong. "Wanyen Lieh si jahanam menyangka surat wasiat ini berada di dalam peti batu di dalam istana, tetapi meskipun petinya telah didapatkan, surat wasiatnya tidak ada. Sekarang kita mendapatkan gambar ini. Bunyinya kata-kata ini mungkin rahasia surat rahasia itu. Tiat Ciang, tengah, puncak…" Ia lantas memikir keras. "Tiat Ciang" itu ialah "Tangan Besi". Kemudian ia menanya Kwee Ceng: "Engko Ceng, apakah keenam gurumu pernah menyebut tentang Tiat Ciang Pang?"
"Tiat Ciang Pang?" kata Kwee Ceng berpikir. "Tidak. Aku hanya ketahui si tua bangka she Kiu, si penipu besar itu, dipanggil Tiat Ciang Sui-siang-piauw."
"Tidak, tidak bisa jadi tua bangka celaka itu ada hubungannya dengan ini!" berkata Oey Yong, memandang enteng. "Hanya ada juga kemaren ketika aku membakar kantor camat, di sana aku mendengar si camat she Kiauw berbicara sama siapa, tahu menyebut-nyebut entah bagaimana dengan 'Tiat Ciang Pang kami'. Ia menyebut pula perlu lekas dicari banyak ular untuk dipersembahkan kepada Toa Hiocu. Ketika kemudian aku bertempur dengannya, ternyata ilmu silatnya tidak rendah, dia mengerti juga Tiat-ciang, yaitu Tangan Pasir Besi."
"Anggota dari suatu perkumpulan kaum kangouw menjadi camat, ini benar-benar aneh!" kata Kwee Ceng. Tiat Ciang Pang ialah Partai Tangan Besi.
Lantas keduanya memikir kata-kata di gambar itu, masih mereka tidak dapat menangkap maksudnya, maka Oey Yong lantas membenahkan gambar rusak itu, disimpan di dalam sakunya.
"Biarlah perlahan-lahan kita memikirkannya lagi." katanya.
Sampai di sini, sepasang muda-mudi ini lantas pamitan dari empeh Cin dan cucunya, dengan menaiki kuda merah, mereka berangkat pergi. Tuan rumah dan cucunya merasa berat tetapi mereka tidak dapat menahan.
Pada suatu hari tibalah Kwee Ceng dan Oey Yong di wilayah kota Gakciu. Oey Yong mengingat-ingat hari. Itulah hari Cit-gwee Capsie - tanggal empatbelas bulan tujuh - jadi besok hari rapatnya Kay Pang, Partai Pengemis.
"Kita tidak mempunyai urusan sekarang, kita pesiar perlahan-lahan saja," kata Kwee Ceng.
"Baiklah," si nona menyahut.
Mereka lompat turun dari kuda, dengan berpegangan tangan mereka bertindak, dengan perlahan-lahan. Mata mereka memandang jauh ke depan di mana tampak hanya air dan sawah-sawah di mana pohon padi sudah tumbuh tinggi dan telah berbuah, maka diduga tahun ini, panen bakal memberi hasil baik.
Kata Oey Yong: "Dahulu ayah pernah membilangi aku, kalau Ouw Kong matang, seluruh negara cukup, maka itu kelihatannya tahun ini rakyat bakal bebas dari bahaya kelaparan."
Ouw Kong ialah empar propinsi Ouwlam dan Ouwpak serta Kwietang dan Kwiesay, sedang dengan "matang" diartikan "masak" atau musim panen. Kemudian si nona menunjuk ke sebuah pohon besar di mana seekor tonggeret lagi berbunyi, ia kata pula:
“Binatang itu berbunyi tak hentinya, entah apa yang dia katakan. Suaranya itu membuat aku ingat satu orang…"
"Siapakah dia?" Kwee Ceng tanya.
"Dia adalah Kiu Looyacu yang pandai meniup kulit kerbau…" sahut si nona tertawa.
"Oh!" seru Kwee Ceng. Ia juga tertawa.
Ketika itu matahari sedang teriknya, petani lagi bermandikan peluh tapi mereka bekerja terus mengompa air. Demikian di bawah sebuah pohon yang-liu, seorang nyonya bekerja bersama satu bocah berumur tujuh atau delapan tahun, berat gerakan kaki mereka. Pakaian mereka telah basah kuyup, sedang muka si bocah merah seluruhnya. Oey Yong menghentikan tindakannya, ia mengawasi mereka, ia merasa kasihan.
Si bocah melihat ada orang yang mengawasi, ia menoleh. Ia kagum menyaksikan keelokan si nona.
"Ibu," katanya, "Lihat, enci itu lagi mengawasi kita!" Dari suaranya, ternyata ia bergembira meski dia bekerja capai.
Si nyonya menoleh, ia tersenyum dan mengangguk kepada pasangan muda-mudi itu. Oey Yong merogoh ke dalam sakunya, berniat mengambil sedikit uang untuk mengasih persen kepada bocah itu untuk ia membelikan kembang gula tatkala kupingnya mendengar suara samar-samar dari guruh di kejauhan, lantas saja ia menjadi girang. Ia kata kepada itu ibu dan anaknya:
"Sudah, tak usah kamu mengompa air lagi, hujan bakal turun!"
Si nyonya memasang kupingnya, mendadak romannya menjadi pucat, suatu tanda dia takut. Si bocah lompat turun dari pompa airnya sambil berkata:
"Ibu, raja kodok mau datang makan kodok hijau lagi!"
Si nyonya mengangguk.
Oey Yong tidak mengerti, ia mau minta keterangan, tetapi segera ia mendengar riuhnya gembereng yang dipalu breng-breng keras sekali, yang memalunya seorang laki-laki yang mengenakan tudung rumput yang lebar serta tubuhnya tidak memakai baju. Dia menabuh sambil berlari-lari ke barat.
Belum lama lantas datanglah sambutan gembreng riuh dari segala penjuru, menyusul semua orang, pria dan wanita, yang lagi mengompa air, pada lari meninggalkan pompa mereka, semua lari ke arah barat.
Oey Yong mendapat si bocah dan ibunya turut lari juga. "Engko Ceng, mari kita lihat, keramaian apa itu!" katanya saking tertarik hatinya.
Kwee Ceng menurut, maka mereka lari menyusul orang banyak itu. Ketika mereka sudah melewati sebuah tikungan gunung, mereka lantas melihat sawah-sawah yang luas yang penuh air, sedang semua orang tani itu berkumpul di sebuah tanjakan tinggi semacam bukit, dengan roman tegang, mata mereka memandang ke depan. Di situ memalu seratus lebih gembreng kuningan, hingga suaranya berisik menulikan telinga. Dengan begitu tak terdengar lagi suara orang bicara.
Di samping bukit kecil itu tumbuh sebuah pohon yang besar dan tinggi, Kwee Ceng menarik tangan Oey Yong, diajak ke sana, mereka terus melompat naik ke atasnya, dengan begitu mereka berdua dapat memandang jelas ke arah semua mata ditujukan. Di sana terlihat langit biru seperti lautan, di sana tidak apa-apa yang mencurigakan. Tapi mereka tetap mengawasi. Tidak lama kemudian, kuping mereka dapat menangkap samar-samar suatu suara yang keras, yang tidak dapat dilawan berisiknya gembreng.
Mulanya Oey Yong menyangka kepada guruh, hanya sebentar kemudian, ia melihat benda-benda kuning yang membikin ia menjadi heran sekali. Semua benda itu datang dengan berlompatan.
"Hai, begitu banyak kodok!" akhirnya si nona berseru.
Memang di sana terlihat ribuan atau laksaan kodok, yang dating ke tempat itu, dan suara berisik tadi mirip guruh ialah suara kerak-keroknya mereka! Begitu melihat sang kodok, berhentilah semua petani memalu gembreng mereka. Sekarang terlihat tegas air muka mereka yang lesu dan masgul.
Kapan kawanan kodok itu tiba di tepi sawah di depan bukit kecil itu, semua lekas berhenti, berbaris dengan rapi. Di belakang mereka terlihat beberapa ratus kodok yang besar-besar, yang mengerumuni seekor kodok yang badannya besar istimewa - lebih besar enam atau tujuh lipat dari kodok yang umum. Itulah dia yang rupanya si bocah sebut sebagai raja kodok. Dia lantas mengasih dengar suara berkerok satu kali, lantas dia disambut rakyatnya hingga riuh pulalah suara mereka yang mirip guruh itu. Ketika raja kodok itu berbunyi pula, maka siraplah suara semua rakyatnya.
"Nah, ini pun membikin aku ingat satu orang!" berkata Oey Yong.
Kali ini Kwee Ceng tidak menanya siapapun, ia hanya tertawa dan berkata dengan cepat:
"Auwyang Hong!"
"Jempol!" berseru Oey Yong sambil menunjukkan jempolnya. Ia menganggap pemuda itu cerdas dapat menerka dengan jitu.
Kawanan kodok itu menaati titah rajanya. Setelah tiga kali berbunyi, mereka berdiam pula, hingga suasana di situ menjadi sangat sepi. Hanya sekarang lantas terdengar gantinya, ialah suara perlahan tetapi terang dari seekor kodok hijau yang kecil, yang berlompat keluar dari belakang sebuah batu besar di arah timur.
Ketika orang-orang tani ini melihat kodok hijau, dengan serentak gembreng mereka dipalu pula, sambil memalu, mereka berseru-seru keras sekali. Mereka bersorak-sorai, tanda dari kegirangan. Terang mereka membantu menggembirakan atau menganjurkan kodok kecil itu.
Kwee Ceng dan Oey Yong heran. Tak tahu mereka apa yang akan dilakukan si kodok hijau kecil itu. Selagi mereka mengawasi dengan perhatian, kuping mereka mendengar tindakan kaki yang berisik, ketika mereka berpaling, terlihat dari empat penjuru datang pula beberapa ratus petani. Mata si nona sangat jeli, ia mendapatkan di dalam rombongan itu ada sejumlah orang yang pakaiannya berenda. Ia lantas menarik tangan baju Kwee Ceng seraya mulutnya dimonyongkan ke arah orang-orang itu, yang jumlahnya empat atau limapuluh orang. Mereka itu mengenakan baju hitam dan tangan mereka memegangi korang bambu yang besar. Terang sekali mereka pun menyembunyikan senjata. Dilihat dari romannya yang bengis, mestinya mereka bukan sembarang petani. Di tepi bukit, mereka berkumpul menjadi satu, terpisah beberapa puluh tombak dari petani lainnya.
Kodok hijau yang kecil itu berlompatan hingga terpisah lagi tiga kaki dari tepian sawah, di situ ia berhenti, lalu berbunyi beberapa kali. Dari dalam rombongan kodok yang berjumlah besar sekali itu muncul seekor kodok kuning yang besar, ia meloncati galangan, sampai di depan kodok hijau. Di situ ia mementang mulutnya dan bersuara, suaranya keras bagaikan suara kerbau. Si kodok kecil tak takut, ia juga membuka suaranya, maka terjadilah saling sahut, makin lama makin cepat. Dari situ, kelihatan si kodok kecil bernapas lurus dan rapi. Si kodok besar agaknya kesusu, rupanya ia ingin lekas-¬lekas menang.
Sesaat berselang, suara kodok besar itu menjadi serak, dan perutnya yang putih pun kembung makin besar, setelah itu, suaranya berubah menjadi dalam, sedang kedua matanya seperti mencelos keluar, perutnya itu menjadi bundar bagaikan bola. Mendadak saja, perut kembung itu meledak, nyaring suaranya, lalu ia rebah binasa.
Semua petani bersorak riuh. Beda dengan rombongan baju hitam itu, kelihatannya mereka gusar. Maka sekarang terlihat tegas, petani berpihak pada kodok hijau, kodok yang banyak itu.
Kodok hijau itu menang, dia bersuara tiga kali, lantas dia memutar tubuh, rupanya dia mau pergi, atau mendadak terlihat enam kodok besar berlompatan maju, untuk mengejar.
"Tidak tahu malu!" membentak pihak orang petani banyak. "Tidak punya guna! Apa ini? Malu! Baik mati saja!"
Enam kodok besar itu berpecah menjadi dua, sikapnya mengurung. Si kodok kecil berlompat, untuk menyingkir. Dia lantas dikejar. Kira-kira tiga tombak, maka di sebelah belakang enam kodok itu terdengar suara kodok lainnya. Lantas mereka berhenti mengejar, berniat kembali, tetapi mereka terlambat. Mereka segera dipegat kira-kira tigapuluh kodok hijau yang besar yang muncul dari gili-gili.
Kali ini kedua pihak tidak lagi mengadu suara, hanya mereka lantas saling terjang, saling menggigit. Karena kalah jumlah, enam kodok besar itu lantas saja mati. Banyak kawannya, tetapi tidak ada yang maju menolong.
Oey Yong menjadi heran, ia berpaling kelilingan. Ketika matanya terarahkan ke pinggir sawah di mana ada sebuah kali kecil, maka di situ ia melihat segalanya hijau, sebab di situ pun ada berkumpul ribuan atau laksaan kodok hijau, hanya mereka ini semua tidak bergerak. Mungkin ini yang menyebabkan kodok besar itu tidak berani sembarangan melintasi tapal batas.
Si raja kodok berbunyi kerok dua kali, maka seratus di pihaknya lantas maju melintasi batas. Mereka disambut sebarisan kodok hijau yang muncul dari tempatnya mendekam. Maka bertempurlah mereka. Belum lama, kodok besar itu lari ke arah selatan. Kodok hijau mengubar setombak lebih, lantas berhenti. Melihat demikian, kodok besar berbalik akan menyerang pula.
Benar saja, di selatan itu, di mana ada batu besar, terlihat munculnya barisan tersembunyi kodok besar itu dan mereka lantas maju, membantu kawannya. Karena ini, dari tepi kali pun datang bantuan kodok hijau. Kedua pihak lantas bertempur dengan berisik.
Dalam tempo dekat, puluhan ekor kodok roboh sebagai bangkai. Kerugian terdapat dikedua pihak. Mereka yang terluka merayap ke pinggiran, lalu ada yang kawannya menolong mengajak kembali ke dalam barisannya.
Kelihatan si raja kodok tidak puas melihat belum ada keputusan, ia berbunyi lagi dua kali. Kali ini lantas ada satu pasukan besar yang menyebrang, buat membantu. Sekarang kodok hijau, yang tak sempat mundur, terancam terkurung. Mereka mengatur barisan bundar, ekor ke dalam, mulut keluar. Dengan begitu, mereka tidak takut nanti diserang dari belakang. Kodok besar berjumlah besar tetapi mereka tidak dapat menyerbu semua.
Sejumlah petani berteriak-teriak mengajuri kodok hijau mengirim bala bantuan, anjuran itu tak ada hasilnya. Nampaknya kodok hijau bersikap tenang. Dari barisan kodok besar itu ada beberapa yang berlompat, hendak maju, tetapi saban kali ada satu yang menerjang, segera dia dipapaki diterjang satu kodok hijau, hingga keduanya sama-sama jatuh. Dengan begitu, kodok besar tidak dapat menerjang ke dalam barisan lawan.
"Celaka!" mendadak Oey Yong berseru. Ia melihat di empat penjuru kurungan kodok besar itu, sejumlah kodok besar mendekam, kawannya naik ke atas dan mendekam pula, hingga mereka merupakan gundukan tinggi tiga kaki, kemudian di paling atas, sejumlah kodok berlompat ke arah kodok hijau. Hebat serangan itu. Kodok hijau jadi terbokong, banyak yang mati.
"Sayang…" kata Oey Yong.
"Lihat!" terdengar suara Kwee Ceng yang tangannya terus menunjuk.
Di arah timur laut sejumlah kodok besar hijau bergerak, menuju ke belakang kodok besar, untuk menyerang dari belakang. Raja kodok mendapat tahu bokongan musuh, dia mengirim barisannya, untuk memegat. tapi kodok hijau itu tidak menghiraukan, di sebelah yang bertempur, yang lain maju terus ke belakang pasukan musuh. Kodok besar jadi kacau tetapi mereka tetap berkelahi.
Raja kodok melihat barisannya tak dapat maju, ia berbunyi nyaring sekali, lantas ia sendiri maju, memegang pimpinan penyerbuan. Ia mengepalai barisannya sendiri, yang semua besar-besar dan romannya bengis. Kodok besar ini bisa dengan sekali menggigit, mampus musuhnya. Sebentar saja seekor kodok besar bisa mematikan belasan musuhnya. Karena ini, kodok hijau terpaksa berkelahi sambil mundur.
Kawanan kodok besar itu maju merangsak. Raja kodok berlompat, sekali lompat jauhnya setengah tombak, tapi segara ia dikepung kodok hijau. Tapi hanya sejenak, dia lantas dibantu barisannya. Karena bergesernya tempat bertempur, orang pun menggeser, untuk melihat lebih tegas. Oey Yong dan Kwee Ceng lompat turun, mereka nelusup di antara orang-orang tani itu.
Kelihatan semua orang tani berduka, mereka pada menghela napas. Oey Yong heran, ia ingin mengetahui duduknya hal, maka ia tanya seorang tua, kenapa kedua macam kodok itu saling bertempur. Sebelum menjawab, orang itu mengawasi dulu hingga ia mengenali orang adalah asing untuk desanya itu.
"Katak itu ada yang piara," ia menerangkan, "Dan dipelihara istimewa untuk menangkap kodok hijau."
Oey Yong heran. "Ah!" suaranya tertahan.
"Kami orang tani, mengharapkan bantuan kodok-kodok hijau itu untuk merawat tanaman padi," orang itu berkata pula, "Sekarang nampaknya kodok hijau bakal kalah, maka di tempat sekitar sini, luasnya beberapa puluh lie, panen kami tahun ini bakal gagal….."
"Kalau begitu, nanti aku bantu kamu," kata Oey Yong. "Nanti aku hajar semua kodok itu." Ia merogoh ke sakunya, meraup jarumnya.
"Jangan, nona," berkata si orang tua perlahan, tanganya menarik ujung baju orang. "Telah aku bilang, katak itu ada yang pelihara." Ia menunjuk kepada rombongan orang pakaian hitam yang bengis-bengis itu. "Merekalah si pemelihara katak itu. Kalau kau ganggu katak mereka, buntutnya bakal hebat sekali. Nona cantik bagaikan bunga, maka menurut aku, sebaiknya nona jangan berdiam lama-lama di sini, kau lekas pergi!"
Oey Yong tersenyum.
"Jumlah kita banyak, takut apa?" Kwee Ceng pun berkata.
Orang tua itu menghela napas. "Karena urusan kodok itu, tahun lalu kita pernah bertempur sampai banyak yang terluka," katanya. "Perkara jatuh ke tangan pembesar negeri. Kesudahannya camat memutuskan, untuk selanjutnya biarlah katak bertempur sama katak, di antara binatang, kita dilarang campur tangan, siapa berani melanggar putusan, dia bakal di hukum berat."
"Ah, pembesar anjing!" mendamprat Kwee Ceng. "Bukankah itu terang-terang membantu kawanan manusia jahat itu?"
"Memang. Tapi camat dan mereka adalah sekawan. Camat cuma tahu menangkap kodok hijau untuk dipakai memelihara ular, dia tidak menggubris rakyat mati atau hidup!"
Mendengar keterangan hal menangkap kodok untuk memelihara ular, Kwee Ceng dan Oey Yong heran betul. Ketika mereka mau menanya lagi, justru kaum petani itu lagi berseru-seru girang. Nyata pertarungan katak itu membawa perubahan.
Kawanan katak besar mengumpulkan diri di empang besar, mereka terdesak. Sejumlah kodok hijau terjun ke air, mereka berenang ke belakang musuh, membantu menyerang dari samping dan belakang. Katak hijau itu pandai sekali berenang. Sedang katak besar tidak pandai memain di permukaan air. Mereka berdesakan, tak dapat bergerak dengan merdeka, banyak yang kecebur ke empang. Di dalam air, mereka tidak bisa bertempur dengan hebat seperti di darat. Maka mereka jatuh di bawah angin, banyak yang mati, bangkainya mengambang dengan perut putihnya di atas. Barisan kodok besar menjadi kalut. Rajanya, bersama barisan pengawalnya, menerjang kalang kabutan tanpa ada hasilnya. Maka orang-orang tani itu bersorak, ada yang berseru:
"Panen kita tahun ini ketolong!"
Kwee Ceng dan Oey Yong mengawasi semuanya sambil memperhatikan rombongan orang baju hitam itu. Muka mereka menyatakan kegusaran. Tiba-tiba di antara mereka ada yang berseru, lalu belasan di antaranya membuka tutup korang.
Begitu korang-korang dibuka tutupnya, maka keluarlah ratusan ekor ular berbisa kecil dan besar, semua merayap ke medan pertempuran, maka di dalam tempo yang pendek, mereka telah dapat menelan banyak kodok hijau. Kodok hijau memang makanan mereka. Lantas kodok itu pada lari atau merengkat saking takutnya. Kawanan petani menjadi kaget dan gusar, mereka mengasih dengar suara berisik.
Seorang, yang tubuhnya tinggi besar di antara orang-¬orang berpakaian hitam, maju ke depan orang-¬orang tani, dia mengasih dengar suara bentakannya:
"Camat telah memaklumkan, katak berkelahi di antara bangsannya adalah adat kebiasaan, maka selagi mereka tidak membikin hubungannya sama kita manusia, perlu apa kamu membikin banyak berisik?!"
Orang-orang tani itu berteriak-teriak: "Kodok besar itu serta ular berbisa ini adalah kamu yang pelihara! Kodok hijau mana bisa melawan ular! Tidak tahu malu! Kami melarat tahun ketemu tahun, panen kami bakal gagal, daripada kami mati kelaparan, mari semua mengadu jiwa!"
Orang tinggi besar itu mengangkat tangan kanannya, maka di situ terlihat goloknya yang berkeredepan. Dia lantas diturut kawan-kawannya, yang semua pada mengeluarkan senjatanya masing-masing. Dengan berbaris rapi, mereka maju mendekat.
"Kamu mau apa?" tanya si orang tinggi besar pada kaum tani itu. "Apakah kamu tidak mau dengar perintah camat? Apakah kamu mau memberontak?!"
Orang banyak itu pada mencaci, ada juga yang menimpuk dengan lumpur dan batu. Orang tinggi besar itu mengibaskan tangannya, lantas di antara mereka muncul dua orang yang dandanannya sebagai hamba polisi, yang satu memegang golok, yang lainnya membawa rantai borgolan. Mereka ini lantas memaklumkan, siapa yang cari gara-gara dan berkelahi, dia akan dihukum sebagai pemberontak!
Orang-orang tani itu berdiam, mereka saling mengawasi. Beberapa diantaranya kata: “Mereka inilah masing-masing kepala polisi berkuda dan berjalan kaki."
Oleh karena pihak sana dapat bantuan pembesar negeri, maka celakalah kawanan kodok hijau itu, oleh katak besar dan ular mereka digiring masuk ke dalam korang.
"Yong-jie, apakah kita turun tangan sekarang?" Kwee Ceng berbisik.
"Coba tunggu sebentar lagi," menyahut sang nona.
Ketika itu tujuh atau delapan bocah maju sambil berteriak-teriak, mereka menggunakan batu menimpuki rombangan ular, hingga ada beberapa ular yang lantas mati. Orang-orang berpakaian hitam menjadi murka, beberapa diantaranya maju menyerang bocah¬bocah itu. Satu bocah kena dirobohkan, yang lainnya lari kabur. Bocah yang roboh kena dicekik.
"Bagus, ya, kau berani membikin mati ular yang kita rawat susah payah!" katanya bengis. "Kau mesti dikasih rasa!"
Seorang petani wanita lantas lari menghampiri. "Tolong tuan, tolong," ia memohon, "Tolong lepaskan anakku ini…"
Kwee Ceng dan Oey Yong mengenali, itulah ibu dan anak yang mereka ajak bicara. Sambil dengan tangannya yang satu memegangi terus si bocah, dengan tangan yang lain laki-laki itu menyambar lehernya si nyonya, terus ia melemparnya balik hingga tubuh si nyonya terpelanting ke dalam rombongannya, di mana dia menimpa dua orang hingga mereka roboh bersama. Lantas laki-laki bengis itu mengibasi tangannya, atas mana kawan-kawannya maju dengan senjata siap sedia.
Kawanan orang tani itu mundur. Mereka kebanyakan adalah orang tua dan wanita. Mereka lebih takut lagi ketika orang mengayun goloknya untuk membacok, lekas¬-lekas mereka mundur pula. Nyata itulah ancaman belaka.
Adalah si bocah yang tertangkap yang malang. Dia digaplok, bajunya disobek, setiap kali digaplok, setiap kali disobek, hingga itu terulang belasan kali, hingga dia menjadi bengkak matang biru mukanya dan tubuhnya pun telanjang. Ibunya menangis menjerit¬jerit. Lupa segalanya, nyonya itu merangsak maju untuk menolongi anaknya. Segera dia dipegangi dua orangn laki-laki.
Laki-laki kejam tadi mengasaih dengar siulan nyaring, beberapa ratus ular berbisa mengangkat kepalanya dan mengulur lidahnya, semua mengawasi tubuh telanjang bulat dari si bocah. Maka kagetlah semua orang tani, pucat muka mereka. Si bocah juga ketakutan bukan main, matanya mendelong mengawasi ibunya.
"Ibu…!" kemudian ia menjerit.
"Bangsat cilik, kalau kau bisa, larilah!" kata si laki-¬laki bengis. Ia menampar, maka robohlah si bocah. Bocah itu lari kepada ibunya. Tapi di sini dia dipapaki sabetan golok beberapa orang, maka ia lari balik ke tempat kosong.
Si laki-laki bengis, yang rupanya menjadi kepala, bersiul pula, maka sekarang semua ular tadi, yang sudah siap, lantas lari mengubar bocah itu. Bukan main kaget dan takutnya si bocah ketika ia menoleh mendengar suara sa-sus riuh dari kawanan ular, yang semua mementang mulutnya, mengsaih lihat ancaman lidahnya yang bergerak-gerak, dalam takutnya ia lari sekeras-kerasnya. Tapi kawanan ular dapat lari lebih keras, lantas hampir kena disusul.
"Anakku!" menjerit si nyonya, yang lantas pingsan dan roboh.
Kawanan petani itu menjadi kaget dan gusar, mereka mau maju menyerang ular, tetapi mereka dihalang-¬halangi kawanan orang yang berpakaian hitam, yang membolang-balingkan goloknya dihadapan mereka. Menampak kejadian itu, Oey Yong sudah lantas bersiap dengan seraup jarumnya, ia hendak segera menyerang. Sekonyang-konyong bocah itu tersandung, tubuhnya terjatuh, maka itu ia lantas kena dicandak.
Oey Yong kaget hingga ia berseru, tubuhnya berlompat. Tepat ia hendak mengayun tangannya tetapi diantara rombongan orang tani terlihat dua orang melompat maju menghalangi di depan si bocah, tangan mereka diayunkan, menerbangkan empat bungkusan bubuk warna kuning, yang terus menggaris di tanah, sedang hidung orang lantas membaui bau belerang. Segera setelah itu, semua ular pada mundur sendiri.
Ketika Oey Yong mengangkat kepalanya, ia mengenali dua orang itu, Lee Seng dan Ie Tiauw Hin dari Kay Pang, Partai Pengemis, yang pernah ditemui di Poo-eng.
Melihat merintangnya dua orang itu, laki-laki baju hitam itu lantas berkata: "Kami dari Tiat Ciang Pang dengan pihak Kay Pang adalah seumpama air kali tidak bertemu air sumur, oleh karena itu kenapa tuan-tuan sekarang memaksa maju sendiri membela orang lain?"
Lee Seng memberi hormat. "Bocah ini belum tahu apa-apa, maka aku si pengemis tua memohon muka, sudilah dia diberi ampun," sahutnya.
Si hitam melihat Lee Seng menggondol delapan kantung goni, ia tahu orang dari angkatan tinggi, tetapi ia tertawa dingin dan lantas menanya:
"Jikalau aku tidak memberi ampun, habis tuan mau bikin apa?"
Ie Tiauw Hin masih muda, ia tidak sabaran. Dia berseru: "Kamu berbuat jahat dan kejam, kami telah mempergokinya, mana pula kami tidak campur tatang?!"
Si hitam tertawa menghina pula. Dia kata: "Aku mendengar kabar kamu kaum Kay Pang, besok kamu bakal mengadakan rapat besar di Gak Yang Lauw, di mana akan hadir semua pemimpin dari partaimu dari pelbagai penjuru, apakah kau pengemis cilik mau menghina orang dengan mengandalkan jumlah banyak? Hm! Aku khawatir tidak gampang-gampang kamu dapat berbuat demikian! Kamu katanya kaum yang pandai menangkap ular, coba aku lihat, apa kamu pandai menangkap ular kami?"
Ie Tiauw Hin panas hatinya. Ia lantas berlompat maju, kedua tangannya menyambar masing-masing seekor ular. Ia memegang ekor ular, segera digentak kaget. Tulang ular bersambung bagaikan rantai, karena dihentak kaget, tulang-tulang itu jadi seperti terlepas, maka itu, meski tidak segera mati, kedua ular itu lantas tidak mampu menggerakkan tubuh mereka. Itulah ilmu kepandaian menangkap ular dari bangsa pengemis.
Si hitam menjadi murka luar biasa, lantas ia bersiul keras, maka ribuan ularnya lantas melesat maju, untuk menerjang.
Ie Tiauw Hin boleh pandai menangkap ular tetapi menghadapi ular demikian banyak, ia kewalahan, maka itu, ia lompat ke garisan bubuk belerangnya. Lee Seng lantas berteriak, menanya she dan nama besar si hitam. Dia ini sendiri tidak menyahutinya, dia cuma tertawa dingin. Setelah ia melihat ularnya tidak berani maju, lagi sekali ia bersiul. Kali ini terjadilah pemandangan yang luar biasa.
Seekor ular menggigit ekor kawannya, kawan digigit pula ekornya oleh kawannya yang lain, demikian seterusnya, hingga mereka merupakan beberapa puluh potong rantai yang panjang, habis itu, ketika si hitam berteriak, mereka berlompat ke arah kedua pengemis itu, yang mereka terus kurung, hingga si bocah terkurung bersama.
"Pengemis busuk, tangkaplah ular itu!" kata si hitam menantang. "Kenapa kau diam saja?!"
Semua ular itu mendongak mengawasi, siap untuk menerjang. Muka Lee Seng dan Tiauw Hin pucat. Mereka rupanya menginsyafi ancaman bahaya.
Si hitam lantas berkata dengan jumawa, "Kami kaum Tiat Ciang Pang tidak suka mencelakai orang tanpa sebab, maka itu asal kamu berjanji untuk selama-¬lamanya tidak akan menangkap ular kami, asal kamu memberikan buktinya - hm! Kami tentu suka memberi ampun!"
Lee Seng tahu bukti apa yang diminta Tiat Ciang Pang. Ialah mereka harus merusak tangan mereka sendiri. Tentu sekali, mereka tidak suka menyerah, tidak peduli keadaan sangat berbahaya. Mereka berdiri tegak dan gagah.
Si hitam mementang kedua tangannya. Ia kata: "Asal aku merangkap kedua tanganku ini maka di tubuh kamu masing-masing bakal tambah beberapa ratus gigi yang beracun! Apa kamu masih tidak mau bertekuk lutut untuk memohon ampun?"
"Susiok, jangan kita mendatangkan malu!" kata Tiauw Hin.
Lee Seng tertawa. "Untuk apa mengatakan itu?" sahutnya. Ia lantas perkeras suaranya, berbicara kepada orang Tiat Ciang Pang: "Terima kasih banyak saudara hendak mengantar kami pulang ke Langit Barat, hanya aku masih belum mengetahui nama saudara yang besar!"
"Benarlah kamu, sampai mati kamu tidak mau memeramkan mata!" kata si hitam itu. "Aku murid ketiga dari Kiu Tiat Ciang, yang orang menyebutnya Hian-pwee-bong Kiauw Thay si Ular Naga Abu-abu!"
Belum berhenti suara jumawa si hitam ini, lantas terdengar suara tertawa halus nyaring disusuli kata-¬kata terang halus:
"Aha! Aku mengira siapa, tak tahunya segala murid dan cucu muridnya si tua bangka she Kiu!"
Suara itu segera disusul oleh orangnya, maka semua orang melihat seorang nona cantik manis yang rambutnya dijepit dengan gelang emas. Dialah Oey Yong kita. Maka heranlah Kiauw Thay.
Oey Yong tidak menanti orang sadar dari herannya, ia berkata pula: "Tiat Ciang Sui-siang-piauw she Kiu yang tua itu memanggil aku kouw-nay-nay, maka itu kenapa kau tidak segera memanggil aku couw kouw-nay-nay?" Dia minta dirinya dipanggil bibi dan bibi tua.
"Hai, bocah kau ngaco belo!" membentak si hitam. Di dalam hatinya, ia heran sekali kenapa bocah ini mengetahui nama besar gurunya.
Oey Yong tertawa dan berkata pula: "Anak-anak menerbitkan onar di luaran, inilah aku kouw-nay-nay kamu paling tidak senang melihatnya! Bukankah kamu pun adalah kawannya itu anak yang memangku pangkat camat di Bu-leng? Beberapa hari yang lalu, sambil lewat di mana, kouw-nay-nay telah membereskan dia! Nah, apa katamu?"
Camat she Kiauw di Bu-leng itu memang saudaranya Kiauw Thay ini, dia menerima kabar halnya kantor camat dibakar dan camatnya mati baru tadi pagi, maka itu ia lantas melirik si nona dengan hati sangat panas. Dia berduka berbareng gusar tetapi dia bersangsi apa nona ini benar membunuh saudaranya itu yang ia tahu gagah. Ia lantas memberi tanda, maka ratusan ularnya mengurung si nona.
"Siapakah yang membinasakan camat Bu-leng?" Kiauw Thay membentak, "Lekas bilang!"
Oey Yong tertawa manis. "Dengan sebenarnya akulah yang membinasakan dia!" dia menyahut, berani. "Dia melawan aku dengan menggunakan Tok see-ciang, tangan beracunnya itu! Siapakah tidak mengenal jurusnya, seperti jurus 'Jarum tawan' dan 'Mengangkat obor membakar langit' "Ketika aku menotok jalan darah kiok-tie-hiat, pecahlah kepandaiannya, maka setelah aku menotok pula kedua jalan darahnya, kie¬bun dan kin-ceng, aku menyuruh dia duduk di kursinya, duduk tak bergeming lagi, mirip lagaknya diwaktu hari-hari biasa dia dengan bengis memeriksa rakyat negeri. Kemudian ketika aku membakar gedung camat dan kantornya sampai ludas menjadi abu, entah kenapa dia tetap tidak keluar lagi dari kantornya!"
Kiauw Thay tetap heran. Kenapa orang begitu berani bicara seperti mendongeng saja, demikian tenang, lancar dan rapi? Meski dia masih bersangsi, dia toh memikir untuk membekuknya, guna mendengar keterangan orang terlebih jauh. Maka ia lantas berseru:
"Loo Sam, Loo Su, bekuklah budak ini!"
Dua orang lantas maju, dengan goloknya mereka menyingkirkan ular-ular yang mengurung, setelah datang dekat dengan empat tangan, mereka menjambret pundak si nona.
Oey Yong tertawa melihat lagak orang, "Loo Sam, Loo Su, kau rebahlah!" ia kata. Sebat luar biasa, ia mendak, lalu tubuhnya melesat ke belakang orang. Belum dua orang itu tahu apa-apa, punggung mereka sudah dicekal, lalu dtitolak keras satu sama lain, maka di antara suara beradu keras, kepala mereka bentrok hingga tubuh mereka terhuyung, lalu roboh di tanah!
Orang-orang tani itu sebenarnya lagi ketakutan akan tetapi menyaksikan robohnya dua jago itu, mereka heran dan kagum hingga mereka tertawa. Kiauw Thay murka bukan main, ia lantas mengangkat tangan kanannya dan memasukkan dua jerijinya ke dalam mulut. Ia hendak bersuit, guna mengasih perintah kepada ularnya untuk menyerbu.
Tetapi dia didahuli dengan suara kuk-kuk-kuk tiga kali, lalu di tangan Oey Yong terlihat seekor burung merah, sebab burung apinya itu telah masukkan ke dalam tangan bajunya.
Dengan mengasih dengar suara, burung api itu pun lantas mengasih keluar bau harumnya, yang segera seperti memenuhi ladang itu, seketika semua ular dapat mencium bau itu, semuanya menjadi bergerak dengan kacau, akhirnya pada rebah diam saja, sejumlah di antaranya lantas terlentang, mengasihkan perutnya untuk di patuk!
Hiat-niauw pun tidak sungkan-sungkan, dia berlompat maju, dia mematuk setiap perut, hingga sebentar saja dia sudah makan nyalinya tujuh ekor ular. Dia sudah kenyang tetapi dia masih mematuki perut ular lainnya!
Kiauw Thay kaget dan gusar, habislah sabarnya. Ia mengeluarkan tiga batang kong-piauw, dua batang ia timpuki burung api itu dan satunya kepada si nona!
Oey Yong memakai baju lapisnya, ia tidak memperdulikan datangnya senjata rahasia itu ke tubuhnya, sedang hiat-niauw, melihat datangnya serangan itu, berlompat untuk menyampok hingga kedua kong-paiuw jatuh di tanah, kemudian ia terbang gesit menyampok jatuh piauw yang mengarah si nona.
Bukan main girangnya Oey Yong mendapatkan burungnya itu mengerti dan dapat membela majikan. Ia lantas menuding si hitam itu serta kawan-kawannya, ia berkata:
“Mereka itu orang-orang jahat, patuklah biji matanya!"
Burung api itu terbang melesat, tubuhnya yang merah berkelebat mirip api, segera satu orang menjerit kesakitan, lantas diturut oleh beberapa orang yang lain. Sebab seperti tanpa merasa lagi, mata mereka telah kena dipatuk burung itu! Saking takutnya, semua orang lari serabutan, sedang yang matanya terpatuk pada menjatuhkan diri, untuk merayap atau bergulingan, guna melarikan diri.
Hingga dilain saat, habislah mereka, tinggal kodok dan ular mereka, maka kedua binatang itu lantas diserbu ramai-ramai oleh kawanan orang tani. Ketika kemudian mereka hendak menghanturkan terima kasih kepada Oey Yong dan Kwee Ceng, muda-mudi itu dengan tidak banyak omong telah pergi jauh.
Juga Lee Seng dan Ie Tiauw Hin hendak menemui sepasang anak muda itu tetapi mereka telah ditinggal kabur kuda merah yang larinya pesat.
Oey Yong girang bukan main atas kesudahan perbuatannya itu, maka malam itu, selagi singgah, ia menyalakan api, membiarkan hiat-niauw mandi dengan gembira.
Besoknya pagi, tibalah mereka di Gakciu. Mereka berjalan kaki, kuda mereka dituntun. Langsung mereka menuju ke lauwteng Gak Yang Lauw. Mereka memandangi keindahan telaga Tong Teng Ouw di tepi mana lauwteng itu dibangun. Luas telaga itu, jernih airnya. Di sekitarnya adalah rentetan gunung, keindahan dan keangkeran telaga itu beda lagi dengan keindahan dan keangkeran telaga See Ouw.
Masakan Ouwlam kurang cocok bagi lidah mereka, sudah rasanya pedas, juga mangkoknya lebih besar dan sumpitnya lebih panjan.. Di empat penjuru tembok mereka melihat banyak tulisan orang-orang pandai, yang pernah naik di lauwteng ini untuk bersantap atau minum. Di antaranya ada syairnya Hoan Tiong Am tentang kedukaan dan kegirangan, yang datangnya duluan dan belakangan.
Mereka lantas membicarakan Hoan Tiong Am itu, yang pintar dan gagah, yang pernah menjagoi di See Hee, tetapi semasa kecilnya dia miskin, ayahnya mati muda, hingga ibunya menikah lagi pula, hidupnya sengsara, maka setelah hidup berpangkat dan berbahagia, dia tetap memperhatikan nasib rakyat jelata. Itu pula sebabnya mengapa ia menulis syairnya itu lebih dulu menderita, lalu bergembira.
"Demikian juga dengan bangsa orang gagah!" kata Kwee Ceng kemudian seraya menenggak araknya.
"Dia memang orang baik," kata Oey Yong tertawa. "Cuma di dunia ini, kedukaan lebih banyak, daripada kegembiraan. Aku tidak mau hidup seperti dia!"
Kwee Ceng tersenyum, dia diam saja.
"Engko Ceng, aku tidak pedulikan kedukaan atau kesenangan itu!" kata si nona kemudian. "Hanya kalau kau tidak gembira, hatiku pun tidak senang…" Kata-kata ini dikeluarkan perlahan, alisnya pun mengkerut.
Kwee Ceng ingat nona itu tentulah mengingat hubungan di antara mereka, maka dia pun masgul, dia tidak dapat menghibur, dia tunduk dan berdiam saja.
Tiba-tiba si nona mengangkat kepalanya dan tertawa. "Sudahlah, engko Ceng!" katanya. "Eh, ya, tahukah kau syair Hoan Tiong Am yang berjudul 'Mencukil lampu perak'?"
"Aku tidak tahu. Cobalah kau membacakannya untuk aku dengar?"
Oey Yong membacakan bagian bawah syair itu: "Orang hidup tidak seratus tahun, maka jangan tolol, kalau tua, lantas layu. Hanya di bagian usia pertengahan, itu sedikit tahun, harus dapat menahan hati. Kedudukan tinggi, banyak uang dan rambut putih, bagaimana itu dapat dihalaunya?"
"Kalau begitu," kata Kwee Ceng nyaring, "Itu nasehat supaya orang jangan menyia-nyiakan waktu, jangan cuma mengejar nama besar, kenaikan pangkat dan harta!"
Oey Yong pun berkata pula, perlahan: "Arak masuk ke dalam usus berduka, berubah menjadi air mata kenangan…."
"Apakah itu pun syair Hoan Tiong Am?" tanya Kwee Ceng, mengawasi si nona.
"Ya. Orang besar dan orang gagah bukannya tidak mempunyai perasaan," kata si nona, yang terus tertawa. Ia menanya: "Engko Ceng, bagaimana kau lihat caranya aku menghadapi murid-murid jahat dari Tiat Ciang Pang itu? Tidakkah itu memuaskan?"
"Memang!" jawab Kwee Ceng bertepuk tangan.
Demikian mereka bersantap, minum dan bicara dengan asyik dan merdeka, seperti di situ tidak ada lainnya orang lagi. Kemudian Oey Yong menyapu kelilingnya. Ia melihat di arah timur ada tiga orang tua dengan dandanan sebagai pengemis, bajunya banyak tambalan tetapi bersih. Tentulah mereka orang penting dari Kay Pang, yang hendak menghadiri rapat besar kaumnya. Yang lainnya ialah orang dagang atau orang biasa saja.
"Sebenarnya Tiat Ciang Pang itu kumpulan apa?" kemudian kata si nona perlahan. "Kenapa mereka itu sama dengan See Tok paman dan keponakannya, mereka memelihara ular?"
"Entahlah," sahut Kwee Ceng. "Kalau mereka semua sama dengan Kiu Cian Jin si tua bangka, mereka tentu tidak bisa membangun apa-apa yang besar…"
Kata-kata itu belum habis dikeluarkan ketika di atasan kepala mereka terdengar suara orang tertawa terbahak sambil berkata dengan suara angker:
"Sungguh mulut besar! Sampai pun 'Tiat Ciang Sui-siang-piauw, si orang she Kiu tua', tidak dilihat mata!"
Oey Yong terkejut, ia lompat mundur beberapa tindak, baru dia mendongak. Di atas penglari ada duduk nagkring seorang pengemis tua yang kulitnya hitam legam, bajunya sangat butut, tetapi dia mengawasi dengan tertawa haha-hihi.
Kwee Ceng telah menduga kepada orang Tiat Ciang Pang, setelah melihat ia berhadapan sama pengemis, hatinya menjadi sedikit lega, apapula orang nampaknya tidak mengandung maksud jahat. Ia lantas memberi hormat seraya berkata:
“Locianpwee, silahkan turun untuk minum barang tiga gelas arak? Sudikah?"
"Baik!" menyahut pengemis itu, yang lantas menjatuhkan diri, hingga ia mendeprok di papan lauwteng yang debunya mengepul. Setelah menepuk-¬nepuk kempolannya ia merayap bangun.
Kwee Ceng dan Oey Yong heran bukan main. Orang bisa ada di atas mereka tanpa bersuara, mereka menduga orang berkepandaian tinggi, tetapi orang jatuh terbanting begitu rupa, agaknya sangat berat tubuh orang, itulah bukan tandanya orang lihay.
"Silahkan minum!" Oey Yong mengundang. Ia menyuruhnya pelayan menambahkan cangkir arak, mangkok dan sumpit. Ia pun mengisikan cangkir.
"Pengemis tua tak tepat duduk di kursi," kata pengemis itu, yang lantas duduk mendeprok di lantai, sedang dari kantungnya ia mengeluarkan sebuah mangkok jonges serta sepasang sumpit bambu. Ia pun kata: "Sisa arak dan sayur yang kamu telah makan, kasihlah itu padaku!"
"Itu perbuatan tak hormat dari kami, locianpwee," berkata Kwee Ceng. "Apa yang locianpwee hendak dahar, bilang saja, suruh pelayan menambahkan!"
"Pengemis ada macamnya si pengemis," kata orang tua itu, "Kalau pengemis cuma nama tapi tak tepat sama artinya, cuma berpura-pura saja, buat apa dia menjadi pengemis? Jikalau kamu sudi mengamal, nah, kasihlah, jikalau tidak, aku bisa pergi mengemis ke lain tempat…"
Kedua muda-mudi itu heran tetapi Oey Yong melirik kawannya, lalu ia berkata sambil tertawa:
"Locianpwee benar!" Maka ia lantas sisihkan sisa sayur mereka, ia menuangnya ke mangkok butut itu.
Si pengemis merogoh ke dalam sakunya, mengeluarkan nasi dingin, yang mana ia campur sama sisa sayur, terus ia dahar, nampaknya bernafsu sekali.
Oey Yong yang cerdik diam-diam menghitung kantung di punggug orang, semuanya susun tiga, setiap susunnya terdiri dari tiga buah, maka ada sembilan kantung. Ketika ia berpaling kepada ketiga pengemis lain, mereka pun mempunyai masing-masing sembilan kantung. Yang beda ialah mereka itu bertiga di depannya tersajikan banyak macam sayur pilihan.
Mereka itu agaknya tidak memperdulikan pengemis yang satu ini, mereka tidak sudi berpaling atau melirik, cuma pada paras mereka tampak samar-samar roman tak puas.
Tengah si pengemis bersantap dengan bernafsu, di tangga lauwteng terdengar tindakan kaki. Kwee Ceng lantas berpaling. Maka terlihat naiknya dua pengemis, pengemis kurus dan gemuk yang di Gu-kee-cun, Lim-an menemani Yo Kang. Bahkan di belakang mereka terlihat Yo Kang sendiri. Hanya dia itu, begitu melihat si orang she Kwee, dia melongo, lekas dia turun pula. Entah dia berbicara apa sama si pengemis gemuk, maka si gemuk itu ikut turun. Si pengemis kurus maju terus, ia menghampiri pengemis yang tiga itu yang makannya royal, dia bicara berbisik-bisik. Atas itu, ketiga pengemis itu berbangkit, mereka membayar uang makan, lantas mereka berlalu bersama si kurus.
Si pengemis yang dahar sambil duduk mendeprok dan makan sisa, terus tidak menghiraukan sepak terjang beberapa rekannya itu.
Oey Yong berjalan ke jendela, melongok ke bawah. Ia melihat belasan pengemis mengikuti Yo Kang ke barat. Jalan belum jauh, pemuda she Yo itu menoleh ke belakang. Maka tepat sinar matanya bentrok sama sinar matanya Oey Yong. Dia agaknya terkejut, segera ia mempercepat tindakannya, selanjutnya dia tidak berpaling lagi.
Pengemis tua itu lantas dahar habis. Ia menjilati mangkok dan sumpitnya disusuti kepada bajunya, semua itu lantas dimasukkan ke dalam kantungnya. Diam-diam Oey Yong mengawasi. Ia melihat sinar kedukaan pada kulit muka orang yang berkeriputan. Aneh adalah tangannya, yang jauh lebih besar daripada tangan kebanyakan orang lain, sedang belakang tangannya penuh dengan otot-otot besar, suatu tanda dari penghidupan berat.
"Cianpwee, silahkan duduk!" berkata Kwee Ceng seraya memberi hormat. "Dengan berduduk, leluasalah kita berbicara."
Pengemis itu tertawa. "Aku tidak biasa duduk di bangku!" katanya. "Kamu berdua murid-muridnya Ang Pangcu, meskipun usia kamu lebih muda, kita adalah sama derajatnya, cuma aku lebih tua beberapa puluh tahun, kau panggillah aku toako. Aku she Lou, namaku Yoe Kiak."
Oey Yong tertawa. "Toako, namamu menarik hati!" katanya. Yoe Kiak itu berarti "ada kaki"
Pengemis itu berkata: "Orang biasa membilang, orang miskin hidup tanpa tongkat dia diperhina anjing, tetapi aku tidak mempunyai pentung, aku mempunyai sepasang kakiku yang bau ini, kalau anjing berani menghinaku, akan aku mendupak dia pada kepalanya, supaya dia terkuwing-kuwing dan kabur sambil menggoyang-goyang ekornya."
Oey Yong bertepuk tangan. "Bagus, bagus!" serunya, "Kalau anjing mengetahui namamu, tentulah siang¬-siang dia sudah lari jauh-jauh!"
"Tadi pagi aku telah bertemu sama saudara Lee Seng," berkata Yoe Kiak, yang lantas bicara secara sungguh-sungguh, "Dari dia aku mendapat ketahui perbuatan kamu di Poo-eng dan Gakciu. Maka benarlah orang bilang, kalau ada semangat, bukan cuma karena usia tinggi, siapa tanpa semangat, percuma usianya lanjut!"
Kwee Ceng berbangkit untuk merendahkan diri mengucapkan terima kasih atas pujian itu.
"Barusan kamu bicara tentang Tiat Ciang Pang," berkata Lou Yoe Kiak, "Agaknya mengenai mereka, kamu belum mengetahui jelas."
"Benar. Justru itu, aku mohon petunjuk," sahut Oey Yong.
"Tiat Ciang Pang itu, untuk Ouwlam dan Ouwpak dan Sucoan, pengaruhnya sangat besar," menerangkan si pengemis tua, "Anggota-anggotanya suka membunuh orang dan merampok, tak ada kejahatan yang tak dilakukan mereka. Mulanya mereka cuma bersekongkol sama pembesar negeri setempat, kemudian mereka jadi semakin berani, kecuali bersekongkol mereka pun menempel pembesar berpangkat tinggi dan main sogok hingga ada diantaranya yang memangku pangkat. Yang paling menyebalkan ialah mereka bersekongkol sama negeri Kim, mereka melakukan perbuatan hina sebagai pengkhianat. Maka tepatlah hajaran kamu kepada mereka."
"Kabarnya kepala Tiat Ciang Pang ialah Kiu Cian Jin," berkata Oey Yong. "Tua bangka itu paling pandai memperdayakan orang. Kenapa dia jadi demikian berpengaruh?"
"Kiu Cian Jin itu sangat lihay, nona," berkata Yoe Kiak, "Aku harap kau tidak memandang enteng kepadanya."
Oey Yong tertawa. "Apakah kau pernah bertemu dengannya?" dia menanya
"Bertemu, itulah belum. Aku mendapat kabar dia tinggal bersembunyi di atas gunung, di mana dia meyakinkan tangan beracun yang dinamakan Ngo-tok Sin-ciang. Sudah sepuluh tahun lamanya dia tidak turun gunung…."
"Kau terpedayakan!" kata Oey Yong tertawa. "Aku telah bertemu dengannya beberapa kali, bahkan kita pernah bertempur juga. Kau bilang ia meyakinkan Ngo-tok Sin-ciang? Ha ha ha…!" Dan dia tertawa geli mengingat ngacirnya Kiu Cian Jin, sambil tertawa ia mengawasi Kwee Ceng.
"Apakah yang disandiwarakan itu Kiu Cian Jin itu," kata pula Yoe Kiak, tetap sungguh-sungguh,
"Aku tidak tahu, tetapi benar sekali selama beberapa tahun kemarin Tiat Ciang pang maju sangat pesat, dia tidak dapat dipandang enteng."
"Lou Toako benar," kata Kwee Ceng. Yang khawatir pengemis itu menjadi tidak senang, "Memang Yong-jie gemar bergurau…"
"Ah, kapannya aku bergurau?" berkata si nona tertawa, "Aduh, aduh! Perutku sakit…!" dan dia beraksi mirip dengan tingkah lakunya Kiu Cian Jin baru-baru ini, ketika ia berpura-pura sakit perut untuk lari membuang air besar tetapi akhirnya kabur dengan tipu tonggeret meloloskan kulit.
Mau tidak mau, Kwee Ceng tertawa menyaksikan nona itu menekan-nekan perutnya. Melihat kawannya tertawa, Oey Yong berhenti tertawa. Ia pun mengubah sikap.
"Loa Toako," tanyanya, "Apakah kau kenal ketiga tuan tadi yang bersantap di meja itu?"
Ditanya begitu, Yoe Kiak menghela napas. "Kamu bukan orang luar, hendak aku bicara dengan sebenar-benarnya," sahutnya kemudian. "Pernahkah kamu mendengar keterangan Ang Pangcu bahwa partai kita terbagi dalam dua cabang, cabang Pakaian Bersih dan Pakaian Dekil?"
"Belum, belum pernah kita mendengar keterangan itu," sahut kedua muda-mudi itu.
"Suatu partai terpecah dalam dua cabang, itulah sebenarnya tidak bagus," kata pula Yoe Kiak. "Mengenai itu, Pangcu tidak puas, akan tetapi dia telah berdaya sekuatnya untuk mempersatukan, dia tidak berhasil juga. Kay Pang dibawah Ang Pangcu mempunyai empat tiangloo."
"Ya, tentang itu pernah aku mendengarnya. Suhu pernah bercerita."
Meski masih muda, karena Ang Cit Kong masih hidup, Oey Yong tidak segera menjelaskan bahwa ia telah ditugaskan Pak Kay untuk menjadi pangcu.
Lou Yoe Kiak mengangguk perlahan. "Akulah tiangloo yang kedua," dia berkata. "Tiga orang tadi juga berkedudukan sebagai tiangloo."
"Aku mengerti," kata Oey Yong lekas, "Kau dari cabang Pakaian Dekil, mereka dari Pakaian Bersih."
"Eh, mengapa kau ketahui itu?"


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar