"Ah, belum tentu!" berkata Yo Kang, yang terus saja membungkuk hingga ke kolong meja.
Liam Cu dan Yauw Kee sudah mengambil keputusan, begitu mereka diraba, mereka hendak menendang tempilingan pangeran itu.
Yo Kang, tidak segera meraba, hanya ia tertawa. "Auwyang Sianseng, kau minum lagi satu cawan!" katanya, "Habis minum nanti aku beritahu, dugaanmu cocok atau tidak…."
"Bagus!" sahut Auwyang Kongcu, seraya ia mengangkat cawannya.
Yo Kang sambil membungkuk melirik di saat pemuda itu dongak untuk minum, kemudian ia mengeluarkan tombak buntung dari sakunya, dengan sekuat tenaga - sambil ia mengertak gigi - ia menikam ke arah perut orang, hingga tombak itu nancap dalam lima atau enam dim, menyusul mana, ia membalikkan meja!
Kejadian ini mendadak sekali dan luar biasa, maka Oey Yong dan Kwee Ceng, juga Bok Liam Cu, Liok Koan Eng dan Thia Yauw Kee menjadi kaget dan heran sekali. Auwyang Kongcu menggerakkan kedua tangannya, membuat Liam Cu dan Yauw Kee terbalik dari kursinya, sedang cawan arak di tangannya ditimpukkan ke arah Yo Kang! Pangeran ini berkelit sambil mendak, maka jatuhlah cawan itu ke lantai, pecah hancur dengan mengasih dengar suara nyaring.
Yo Kang berkelit dengan terus menjatuhkan diri, untuk bergulingan, maksudnya buat lari ke pintu, apa dikata ia terhalang peti mati. Terpaksa berlompat bangun dan memutar tubuhnya, mengawasi Auwyang Kongcu. Hatinya menjadi ciut melihat pemuda itu berdiri dengan tubuh doyong ke depan, kedua tangannya berpegangan pada kursi, sepasang matanya mendelik, wajahnya seperti tertawa dan bukannya tertawa. Ia menggigil sendiri. Sebenarnya ia berniat lari menyingkir tetapi sepasang mata tajam dan bengis membuat kakinya seperti terpaku.
Auwyang Kongcu melengak dan tertawa. "Aku si orang she Auwyang telah malang melintang seumur hidupku, aku tidak menyangka bahwa hari ini aku mati di tangan kau, binatang!" katanya bengis. "Cuma satu hal yang aku tidak mengerti! Siauw-ongya, mengapa kau mencoba membunuhku?"
Yo Kang tidak menjawab, hanya dengan menenjot diri, ia hendak berlompat ke pintu, guna melarikan diri. Ia telah pikir, setelah berada di luar pintu, baru ia hendak memberikan keterangannya. Selagi tubuhnya melayang, mendadak merasakan belakang lehernya kena dicengkram keras sekali, bagaikan terbangkol gaetan besi, hingga ia tak mampu berlompat lebih jauh, bahkan sebaliknya, ia jatuh ke atas peti mati ¬jatuh bersama-sama tubuhnya Auwyang Kongcu ¬yang telah melompat menyambar dirinya.
"Kau tidak mau bicara, apakah kau hendak membikin aku mati penasaran?!" kata Auwyang Kongcu sembari tertawa. Nyata ia masih kuat sekali.
Yo Kang tahu ia ada bagian mati, hatinya menjadi besar. Ia tertawa dingin. "Baiklah, nanti aku memberi keterangan padamu!" sahutnya. "Tahukah kau, siapa dia?" Ia menunjuk kepada nona Bok.
Auwyang Kongcu memandang Liam Cu. Nona ini memegang golok di tangan, siap untuk menerjang, guna menolongi si pangeran, cuma ia masih bersangsi sebab ia khawatir nanti melukai kekasihnya.
"Dia…dia.." kata Auwyang Kongcu, yang terus terbatuk-batuk.
"Dia tunanganku!" Yo Kang meneruskan. "Dua kali kau menghina dia, mana aku dapat membiarkannya?"
"Benar," kata Auwyang Kongcu. Dia masih tertawa. "Mari kita sama-sama pergi ke neraka…!" Dia mengangkat kepalannya, untuk di kasih turun ke batok kepalanya si pangeran…….
Liam Cu kaget hingga ia berteriak, hendak ia menolong tetapi sudah tidak keburu. Yo Kang meramkan kedua matanya, ia menantikan kebinasaannya. Tapi ia menanti sekian lama, tidak merasakan hajaran kepada batok kepalanya. Saking herannnya, ia membuka mata.
Auwyanng Kongcu mengasih lihat senyumannya, tapi tangannya yang mencekuk leher sudah terlepas, maka waktu si pangeran berontak, ia lantas jatuh menimpa peti mati. Sebab ia sudah putus jiwa……..
Yo Kang melengak, Liam Cu melongo. Hanya sejenak, lantas keduanya lari saling menghampiri, terus saling berpegangan tangan. Dalam keadaan seperti itu banyak kata-kata yang hendak dikeluarkan tetapi tak sepatahpun yang dapat diucapkan. Ketika mereka memandang mayat Auwyang Kongcu, lantas terbayang apa yang barusan terjadi, dengan sendirinya mereka bergidik. Yauw Kee sendiri mengasih bangun Koan Eng, yang totokannya ia bebaskan.
Koan Eng ketahui Yo Kang adalah pangeran Kim tetapi orang telah membinasakan Auwyang Kongcu, artinya orang telah menolong dirinya, lantas memberi hormat sambil menjura, setelah itu membungkam, ia tuntun tangan istrinya untuk diajak berlalu dari situ. Sebagai laki-laki yang mengenal budi, tidak sudi ia menyerang pangeran itu untuk membunuhnya.
Senang hati Oey Yong menyaksikan Yo Kang dan Liam Cu bertemu lagi dengan cara luar biasa. Kwee Ceng pun mengharap Yo Kang bisa mengubah kelakuannya. Dengan Oey Yong ia saling memandang, lalu keduanya tersenyum.
Waktu itu terdengar suara Liam Cu. "Jenazah ayah dan ibumu telah aku bawa pulang," katanya kepada Yo Kang.
"Sebenarnya itu kewajibanku, aku hanya membuat kau bercapai lelah, adikku," Yo Kang bilang.
Liam Cu tidak mau menimbulkan soal lama, lalu menanyakan bagaimana penguburan harus dilakukan.
Yo Kang mencabut tombaknya dari perut Auwyang Kongcu. "Lebih dulu, kita kubur mayat dia ini," katanya. "Kalau kejadian ini diketahui pamannya, walaupun dunia ini lebar, kita tak ada tempat untuk menyembunyikan diri…"
Liam Cu menurut, lantas keduanya bekerja. Mayat Auwyang Kongcu dikubur begitu saja di pekerangan rumah penginapan Sa Kouw. Sesudah beres, mereka pergi ke kampung, meminta bantuan sejumlah penduduk guna menggotong dan mengubur jenazah dibelakang rumah. Di sini Yo Kang seperti tidak punya kenalan lagi, tidak ada orang yang yang menanyakan dia ini dan itu. Setelah penguburan, hari pun sudah malam. Untuk tidur, Liam Cu menumpang pada seorang penduduk sedang Yo kang mengambil tempat di pondokan. Besoknya pagi si nona pergi menyamperi ke rumah penginapan, ia mendapat Yo Kang lagi membanting-banting kaki dan menyesali diri tak hentinya.
"Kau kenapa?" tanya si nona.
"Aku menyesal kemaren tidak sekalian membinasakan dua orang itu," Yo Kang menyahut. Ia maksudkan Yauw Kee dan Koan Eng. "Aku tolol, aku dibikin bingung tidak karuan. Mereka sudah pergi, ke mana mereka harus di cari?"
Nona Bok heran. "Perlu apa kita membinasakan mereka?" tanyannya.
"Sebab aku telah membunuh Auwyang Kongcu. Kalau mereka membuka rahasia, kita terancam bahaya…."
Liam Cu berpikir lain. Ia mengerutkan alisnya. "Seorang laki-laki, dia mesti berani berbuat berani bertanggung jawab!" katanya. "Jikalau kau takut kemarin tak seharusnya kau membinaskan dia!"
Yo Kang menutup mulutnya, akan tetapi hatinya memikirkan bagaimana ia harus mencari Koan Eng dan Yauw Kee itu, untuk membinasakan mereka.
"Pamannya Auwyang Kongcu benar lihay," kata lagi Liam Cu, "Tetapi jikalau kita menyningkir jauh, mustahil dia dapat mencari kita?"
"Adikku, aku memikir lain," berkata Yo Kang. "Pamannya itu lihay sekali, aku hendak mengangkat dia menjadi guru."
"Oh, begitu!" kata si nona heran.
"Sebenarnya sudah lama aku kandung niatku ini," Yo Kang menerangkan. "Hanya di pihak Auwyang Kongcu ada aturan yang ditaati turun-temurun, ialah warisan selalu diturunkan kepada satu orang. Sekarang Auwyang Kongcu telah mati, maka pasti pamannya suka menerima aku sebagai muridnya!" Pangeran ini berbicara dengan bangga sekali, tandanya ia sangat girang.
Liam Cu berdiam, hatinya tawar. "Jadi kau membunuh dia bukan untuk menolong aku?" tanyanya. "Kau punya maksud tersendiri!"
"Adikku, kau terlalu bercuriga!" kata Yo Kang tertawa. "Untukmu aku rela hancur lebur!"
"Tentang itu baiklah kita bicarakan di belakang hari saja," berkata si nona kemudian. "Sekarang apa yang kau pikir. kau suka menjadi rakyat yang bersetia kepada kerajaan Song yang maha agung atau karena keserakahanmu dengan kedudukan mulia, kau tetap mengakui musuh sebagai ayahmu?"
Yo Kang mengawasi nona itu, wajah yang cantik dan potongan tubuhnya yang bagus sangat menggiurkan hatinya. Hanya kata-kata yang tajam itu membuatnya tidak senang.
"Kedudukan yang mulia?" katanya. "Kedudukan mulia apakah itu? Sekarang ini kota Tiong-touw dari kerajaan Kim telah diserang bangsa Mongolia! Setiap kali diserang bangsa Kim kalah! Di depan mataku sekarang ini ada bayangan dari kemusnahan negara Kim!"
Tapi Liam Cu tidak senang mendengar urusan itu. "Negara Kim kalah, itulah yang paling kita harapkan!" katanya nyaring. "kau sebaliknya membuatnya sayang…."
"Adikku, untuk apa kau menimbulkan urusan ini?" Yo Kang membujuk. "Kau tahu, semenjak kau pergi, hatiku bersengsara memikirkanmu…" Dengan tindakan perlahan ia mendekati si nona mencekal tangannya.
Mendengar suara orang yang lemah, hati Liam Cu menjadi lemah juga, maka ia membiarkan tangannya dicekal, digenggam perlahan. Cuma karena itu, kulit mukanya menjadi merah.
Yo Kang hendak merangkul ketika tiba-tiba kupingnya mendengar beberapa kali suara burung yang lagi terbang, suaranya sangat nyaring. Ia lantas mengangkat kepala, mendongak. Ia melihat dua ekor rajawali putih yang besar terbang berputaran.
Ketika dulu Wanyen Lieh mengejar Tuli, Yo Kang melihat dua ekor rajawali itu, yang kemudian dibawa pergi oleh Oey Yong. Maka ia jadi berpikir dan menanya dalam hatinya: "Kenapa burung ini sekarang berada disini?"
Dengan mencekal terus tangan Liam Cu, ia pergi keluar. Ia melihat burung itu terbang berputaran di atas. Di dekat pohon yang besar terlihat seorang nona, yang duduk di atas seekor kuda bagus, lagi memandang ke tempat yang jauh. Nona itu memakai sepatu kulit, tangannya mencekal cambuk, dia dandan sebagai wanita Mongolia.
Sesudah terbang berputaran, kedua burung itu terbang ke arah jalan besar, hanya tak lama mereka kembali. Tidak lama dari jalan besar itu terdengar riuh rendah tindakan kaki kuda.
"Rupanya burung itu memanggil orang," Yo Kang pikir. "Supaya mereka berkumpul sama ini nona Mongolia…"
Segera terlihat debu mengepul naik, disusul tiga penunggang kuda. Selagi mereka mendekat, terdengarlah suara melesatnya sebatang anak panah, yang dilepaskan ke arah rumah penginapan.
Si nona muda mengeluarkan busur dan anak panahnya, ia terus memanah. Ketiga penunggang kuda mendengar suara panah tersebut, mereka berseru kegirangan, kudanya lantas dikasih lari lebih keras lagi. Si nona pun melarikan kudanya untuk memapaki. Kedua pihak sudah datang dekat sekitar tiga tombak, Keduanya berseru berbareng, tubuh mereka mencelat turun dari kuda masing-masing, belum lagi tubuh mereka tiba di tanah, tangan mereka sudah saling menyambar, akhirnya mereka turun di tanah berbareng.
Menyaksikan kegesitan mereka, Yo Kang kaget dan kagum. "Bangsa Mongolia demikian pandai menunggang kuda dan menggunakan panah, pantaslah kalau bangsa Kim kalah!" katanya dalam hati.
Oey Yong dan Kwee Ceng di dalam kamar juga dapat mendengar suara burung dan kuda berlari-larian. Mereka tetap memasang kuping. Tidak lama dari, mereka mendengar orang mendatangi rumah penginapan sambil berbicara. Kwee Ceng terperanjat bukan main.
"Ah, kenapakah mereka datang ke mari?" katanya. Ia kenal baik suara mereka. Si nona Mongolia adalah putri Gochin Baki, yang oleh Jengiz Khan ditunangkan kepadanya, dan tiga lainnya ialah Tuli, Jebe dan Borchu.
Putri itu berbicara sambil tertawa dengan kakaknya, Oey Yong tidak mengerti sepatah katapun juga apa yang dibicarakan, sebab mereka menggunakan bahasa Mongolia. Kwee Ceng sebaliknya, hingga kulit mukanya pucat dan merah bergantian. Di dalam hatinya pemuda ini berkata: "Di dalam hatiku sudah ada Yong¬jie, pasti aku tidak dapat menikah dengannya, tetapi sekarang ia menyusul aku sampai di sini… Mana dapat aku merusak kepercayaannya. Bagaimana sekarang?"
"Engko Ceng, siapakah nona itu?" Oey Yong tanya berbisik, "Apakah yang mereka bicarakan? Kenapa kelihatannya kau tidak tenang?"
Kwee Ceng polos dan jujur, sudah beberapa kali ia hendak mengasih keterangan pada Oey Yong, setiap kali hendak membuka mulutnya, ia selalu gagal, dengan sendirinya ia menarik pulang apa yang ia pikir untuk diucapkan itu, tetapi sekarang ia ditanya, mana dapat ia berdusta?
"Dialah putri Jenghiz Khan, dari Mongolia," menyahut dia. "Dialah tunanganku…."
Oey Yong tercengang, lalu air matanya keluar mengucur. "Kenapa kau tidak pernah memberitahukan hal ini padaku?" ia menanya kemudian.
"Pernah aku memikir memberitahukan kau, tetapi selalu batal, aku berkhawatir kau tidak senang," Kwee Ceng menyahut. "Pula kadang kala aku tidak ingat urusan itu."
"Dia tunanganmu, kenapa kau tidak ingat?" Oey Yong tanya.
"Aku pun tidak tahu jelas. Aku hanya memikir dia sebagai saudara kandungku….Sebenarnya aku tidak ingin menikah dengannya."
Oey Yong heran. "kenapa begitu?" ia menanya.
"Karena pertunangan kami ditetapkan oleh Khan sendiri. Ketika itu perasaanku tidak menentu, ada kalanya aku senang, ada kalanya tidak. Aku melainkan pikir bahwa perkataannya Kha Khan itu tidak salah. Sekarang ini Yong-jie, mana dapat aku menyia-nyiakan kau untuk menikah dengan orang lain?"
"Nah, habis bagaimana?"
"Aku juga tidak tahu…"
Oey Yong berdiam, lalu ia menghela napas. "Asal di hatimu kau selalu perlakukan aku dengan baik, biarlah kau menikah dengannya, aku tidak ambil peduli…" Katanya sesaat kemudian. Ia berhenti pula sejenak, lantas menambahkan; "Hanya aku pikir, lebih baik kau tidak menikah dengannya. Aku tidak suka melihat wanita lain setiap hari mengintil saja padamu, hingga aku khawatir nanti satu waktu darahku naik hingga aku membuatnya lubang pedang di dadanya! Kalau sampai itu terjadi, tentulah kau bakal mencaci aku…Coba dengar, apa saja yang mereka bicarakan?"
Di luar kamar rahasia itu, keempat orang Mongolia memang sedang asyik bicara. Putri Mongolia lagi bicara tentang perpisahan mereka sama saudara-saudaranya itu.
Sebenarnya, setelah Kwee Ceng dan Oey Yong lenyap di hutan, kedua burung itu sia-sia mencari mereka, sebab di tengah laut tak ada tempat untuk menclok, akhirnya mereka terbang ke darat, mereka ingat majikan mereka yang lama, terus mereka terbang pulang ke Utara.
Gochin Baki heran melihat pulangnya kedua burung itu. Ia melihat ada potongan kain diikat di kaki burung. Itu adalah robekan kain layar. Dirobekan kain itu ada tulisan huruf Tionghoa. Ia tidak mengerti bahasa Tionghoa, ia bawa itu kepada ibunya Kwee Ceng, Nyonya Kwee atau Lie Peng. Huruf-huruf itu bunyinya "Yoe Lan" artinya "Mendapat bahaya".
Tentu saja sang putri menjadi berkhawatir, maka ia lantas berangkat ke Selatan. Waktu itu Jenghiz Khan lagi memimpin angkatan perangnya menyerang bangsa Kim dan pertempuran lagi berlangsung di luar dan di dalam Tembok Besar, maka itu, ke mana si putri mau pergi, tidak ada orang yang melarangnya.
Kedua burung rajawali mengerti maksud nona majikannya, mereka membawa si nona ke Selatan, mencari Kwee Ceng. Dalam satu hari, mereka bisa terbang jauhnya beberapa ratus lie, siang mereka terbang pergi, malam mereka terbang kembali. Akhirnya tibalah mereka di Liam-an. Di sini Gochin Baki tidak dapat menemukan Kwee Ceng, sebaliknya ia bertemu dengan kakak ketiganya.
Tuli ini lagi menerima tugas dari ayahnya. di utus ke Lim-an untuk berserikat sama kerajaan Song sama-sama menyerang bangsa Kim. Raja Song - Song Selatan - merasa kedudukannya aman, ia pun jeri terhadap bangsa Kim, dari itu ia menyambut ajakan Tuli dengan tawar. Dia pernahkan Tuli di gedung tetamu, dia berlaku acuh tak acuh terhadap utusan Mongolia itu.
Selama itu datang kabar baik dimana pihak Mongolia menang terus-terusan, sampai kota Tiong-puw kena dipukul jatuh, waktu itu berubahlah sikap menteri-menteri Song, lantas mereka berlaku manis kepada Tuli, pangeran Mongolia itu. Tuli tidak puas sekali, akan tetapi karena teringat sama tugasnya, untuk berserikat sama negara Song, terpaksa ia melayani mereka.
Demikian perserikatan dilangsungkan. Karena ini berangkatlah ia kembali ke Utara. Di luar kota Lim-an, kebetulan melihat burung rajawali adiknya, ia menyangka kepada Kwee Ceng, tidak tahunya malah bertemu sama adiknya. Karena ia bersama Jebe dan Borchu, mereka jadi berempat. Mereka terus singgah di tempatnya Sa Kouw.
"Apakah kau bertemu sama kanda Kwee Ceng?" sang adik menanya kakaknya.
Tuli baru mau menjawab di luar terdengar suara berisik pasukan tentara, yang kemudian ternyata adalah barisan tentara Song yang ditugaskan mengantar pasukan Mongolia itu.
Yo Kang melihat bendera pasukan Song itu di mana dituliskan: "Dengan segala kehormatan mengantarkan Utusan Mongolia pulang ke Utara". Melihat itu ia menjadi bimbang. Baru beberapa puluh hari yang lalu, dia pun pangeran yang menjadi utusan rajanya sekarang dia sebatang kara. Dapatkah ia menyia-nyiakan kedudukan yang mulia itu?
Liam Cu mengawasi pemuda itu dengan tingkahnya yang tidak wajar, ia mengerti orang tidak dapat melupakan kedudukan mulia atau penghidupan yang mewah, ia menjadi berduka.
Ketika itu punggawa perang yang mengepalai pasukan pengiring pihak Song masuk ke dalam rumah penginapan, dengan hormat sekali ia menghadap Tuli, dengan siapa ia berbicara. Tuli pun mengatakan sesuatu. Habis itu ia memutar tubuhnya, dengan membentak memberikan perintah:
"Pergi kamu menanyakan setiap rumah di kampung ini, apa di rumah mereka ada Kwee Ceng Kwee Koanjin! Jikalau tidak ada, kamu pergi mencari ke lain tempat!" Perintah itu diterima oleh pasukannya, setelah menyahut, tentaranya bubar.
Tidak lama setelah itu terdengarlah suara ayam ribut beterbangan atau anjing berlarian serta jeritan-¬jeritan dari laki-laki serta tangisan dari perempuan. Teranglah sudah kawanan serdadu itu telah menggunakan kesempatan yang baik itu untuk melakukan perampasan.
Mendengar suara berisik itu, Yo Kang mendapat pikiran. "Kenapa aku tidak mau menggunakan kesempatan ini untuk bersahabat dengan pangeran-pangeran Mongolia?" demikian pikirnya. "Dalam waktu beberapa hari pastilah aku dapat membinasakan mereka. Kalau Kha Khan dari Mongolia mengetahui ini, pasti menyangka perbuatannya pihak Song, dengan begitu perserikatan mereka bakal bubar. Dan itu pasti menguntungkan pihak Kim…." Dengan cepat Yo Kang mengambil keputusan.
"Adikku, kau tunggu sebentar," ia berkata kepada Liam Cu. Terus ia pergi menghampiri si punggawa Song, ketika ia membentak, tangannya digerakkan, dengan tangan kirinya ia membikin punggawa itu terguling jatuh celentang, hingga untuk sesaat dia tidak dapat merayap bangun.
Tuli dan Gochin Baki menyaksikan itu, mereka heran. Yo Kang melihat keheranan orang, lantas bertindak ke ruang tengah. Di sini ia keluarkan tombak buntungnya, ia angkat tinggi melewati kepalanya terus diletakkan di atas meja. Lalu, setelah menekuk kedua lututnya, mendadak ia menangis menggerung-gerung. Ia segera mengeluh:
"Oh, saudara Kwee Ceng, kau mati secara menyedihkan sekali…..Pasti aku membalas dendam untukmu! Oh, saudara Kwee Ceng……"
Tuli dan saudaranya beramai tidak mengerti bahasa Tionghoa, tetapi mereka mendengar nama Kwee Ceng disebut-sebut, mereka menjadi heran, maka selagi punggawa merayap bangun, mereka menitahkan punggawa memberikan keterangan.
Dengan suara terputus-putus Yo Kang kata: "Aku adalah saudara angkat Kwee Ceng. Saudara Kwee Ceng telah dibunuh dengan ditikam ujung tombak, aku hendak pergi mencari musuhnya guna membalaskan sakit hati ini."
Ketika Tuli dan saudaranya dikasih mengerti, mereka berdiri menjublak. Jebe dan Borchu sebaliknya, mereka menangis sambil menumbuki dada. Mereka ingat benar persahabatannya dengan Kwee Ceng.
Yo Kang mengarang cerita terlebih jauh dengan menuturkan halnya ia menghajar mundur bangsa Kim di Poo-eng. Cerita ini dipercayai Tuli beramai, bahkan mereka menanyakan penjelasan dan kebinasaan Kwee Ceng. Yo Kang pandai sekali mengatur ceritanya.
Kwee Ceng di kamar rahasia mendengar ocehan itu, ia pun terbengong. Sebaliknya Gochin Baki, si putri Mongolia, mendadak menghunus golok di pinggangnya, untuk membunuh diri. Hanya ketika golok itu hampir mengenai lehernya, tiba-tiba ia memikir sesuatu, goloknya terus ia bacokkan ke meja sambil bersumpah:
"Jikalau aku tidak membalaskan sakit hati kanda Kwee Ceng, aku sumpah tidak sudi menjadi manusia!"
Yo Kang senang sekali. Nyata akalnya sudah termakan. Ia terus tunduk, menangis lagi. Karena ia tunduk, tiba-tiba matanya melihat tongkat Oey Yong, yang dirampas Auwyang Kongcu. Itu adalah tongkat yang bersinar hijau bagus. Ia ketarik hatinya, maka ia jumput tongkat itu.
Oey Yong melihat tongkatnya diambil pemuda itu, ia mengeluh. Tentu sekali ia tidak bisa keluar untuk merampasnya.
Tidak lama tentara datang dengan barang hidangan, Gochin Baki semua tak ada nafsu untuk menangsal perut mereka. Bahkan mereka lantas minta Yo Kang mengantarkan mereka mencari pembunuh Kwee Ceng.
"Marilah!" jawab Yo Kang. Ia membawa tongkat Oey Yong serta terus bertindak ke pintu, diikuti rombongan orang Mongolia itu.
"Siapakah yang Yo kang bakal cari?" Kwee Ceng berbisik pada Oey Yong.
Si nona menggeleng kepala. "Aku tidak tahu," sahutnya. "Bukankah dia sendiri yang membacok dirimu? Dia sangat licik, di dalam halnya kelicikan, aku kalah…"
Justru itu di luar rumah terdengar suara orang bersenandung dengan nada tinggi, katanya:
"Malang-¬melintang dengan mereka, tanpa ikatan, jikalau hati tidak kemaruk akan kemulian, diri sendiri taklah terhina…! Eh, nona Bok, kenapa kau ada di sini?"
Itulah suara Tiang Cun Cu Khu Cie Kee. Dia menanya Bok Liam Cu selagi si nona baru muncul di ambang pintu. Belum lagi si nona menyahut, Yo Kang bertindak keluar. Kaget ia melihat gurunya, hatinya berdenyutan. Tentu sekali ia tidak punya kesempatan untuk menyingkirkan diri, maka dengan terpaksa dia menghampiri gurunya, memberi hormat sambil berlutut dan mengangguk.
Khu Cie Kee tidak sendirian, di sampingnya ada Tan Yang Cu Ma Giok, Giok Yang Cu Ong Cie It, Ceng Ceng Sanjin Sun Put Jie serta In Cie Peng, muridnya. Kedatangan Khu Cie Kee kali ini untuk urusan muridnya ini.
Ketika In Cie Peng kena dihajar Oey Yok Su hingga giginya copot, ia mengadu kepada gurunya. Kebetulan Khu Cie Kee berada di Lim-an. Dia kaget dan gusar, maka ia mencari Oey Yok Su. Ma Giok sabar, ia mencegah.
"Oey Lao Shia dulu sama kesohornya dengan almarhum guru kita," kata Cie Kee. "Di antara kita bertujuh, cuma Ong Sutee yang pernah bertemu dengannya selama rapat di gunung Hoa San. Siauwtee mengagumi dia, memang siauwtee ingin bertemu dengannya, maka ini kesempatan yang baik. Siauwtee tidak memikir untuk menempur dia, kenapa suheng mencegah?"
Ma Giok tertawa dan berkata: "Aku dengar Oey Lao Shia itu aneh tabiatnya, sedang kau, berangasan, maka jikalau kamu bertemu muka, kebanyakan bisa terbit onar. Bahwa ia telah memberi ampun pada Cie Peng, itu tandanya ia menaruh muka…"
Cie Kee tidak dapat dibujuk, dia pergi juga, maka itu Ma Giok lantas mengundang saudara-saudaranya untuk pergi ke Gu-kee-cun. Mereka sudah berkumpul tetapi Ma Giok mengusulkan untuk mereka berlima yang pergi terlebih dulu. Tam Cie Toan, Lauw Cie Hian dan Cek Tay Thong menanti di luar kampung itu, bersiap membantu kalau ada perlunya. Diluar dugaan, mereka bukan bertemu Oey Yok Su, malah melihat Bok Liam Cu. Khu Cie Kee mengenali nona itu, maka selagi bersandung, ia menegur lebih dulu.
Melihat muridnya itu, Khu Cie Kee mengasih dengar suara di hidung, "Hm!" Dia tidak memperdulikan.
"Suhu," Cie Peng berkata, "Tocu dari Tho Hoa To menghina teecu di rumah penginapan ini."
Cie Peng sebenarnya menyebut Oey Yok Su dengan nama Oey Lao Shia, yang berarti si Oey tua yang tersesat atau si Sesat bangkotan, tetapi ia ditegur oleh Ma Giok, maka ia mengubah sebutannya.
Khu Cie Kee segera menghadapi rumah penginapan itu, dengan nyaring ia berkata: “Murid-murid Coan Cin Kay, Ma Giok beramai, datang menghadap kepada Oey Tocu dari Tho Hoa To!"
"Di dalam tidak ada orang," Yo Kang memberitahu.
"Sayang, sayang," kata Cie Kee yang membanting¬-banting kaki. Tapi ia lantas tanya muridnya: "Kau di sini, ngapain?"
Hati Yo Kang sudah goncang karena melihat guru dan sekalian paman gurunya, maka atas pertanyaan itu, ia tidak lantas dapat memberikan jawaban.
Sementara itu Gochin Baki mengawasi Ma Giok, lalu ia lari menghampiri, terus ia berseru:
"Oh, kau imam yang membantu aku menangkapi rajawali putih. Lihatlah, sekarang sepasang rajawali telah menjadi besar sekali!"
Putri Mongolia ini menunjuk pada burungnya sambil bersiul, kedua ekor burung itu lantas turun, menclok di kedua belah pundaknya.
Ma Giok tersenyum, ia mengangguk. "Apakah dia pun datang ke Selatan ini untuk pesiar?" ia menanya.
Putri ini tahu siapa yang dimaksudkan dengan "dia" itu, lantas saja ia menangis. "Kanda Kwee Ceng telah dibikin celaka orang hingga mati!" katanya sengit. "Totiang, tolong kau balaskan sakit hatinya!"
Ma Giok terkejut hingga mencelat. Dengan bahasa Tionghoa ia lalu memberi keterangan kepada saudara¬-saudaranya perkataan putri itu. Khu Cie Kee dan Ong Cie-pun, dengan berbareng mereka lantas menanyakan apa sebenarnya yang telah terjadi.
Putri Jenghiz Khan segera menunjuk kepada Yo Kang. "Dialah yang membawa berita, katanya ia melihat sendiri," bilangnya. "Coba kau tanyakan dia sendiri!"
Melihat si nona kenal paman gurunya yang tertua, Yo Kang berkhawatir, maka lantas ia berkata kepada Tuli dan si nona itu:
"Kamu tunggu dulu di sebelah depan sana, aku hendak bicara sama beberapa imam ini. Sebentar aku susul kamu."
Perkataan ini disalin oleh si punggawa. Mendengar itu Tuli mengangguk, lantas ia ajak adik dan kawannya pergi ke depan, ke utara kampung itu.
"Siapa yang membunuh Kwee Ceng?!" Cie Kee menanya, bengis. "Lekas bicara!"
Dalam takutnya Yo Kang berpikir: "Kwee Ceng aku sendiri yang membunuhnya, sekarang aku mesti menimpakan kesalahan kepada siapa…? Baiklah aku menyebut seorang lihay, supaya suhu mencari dia, supaya dia mengantarkan jiwanya sendiri, dengan begitu untuk selamanya aku bebas dari mara bahaya…" Maka dengan lagu suara sangat membenci, ia menjawab:
"Dialah tocu dari Tho Hoa To!"
Menyusul jawabannya Yo Kang ini, dari kejauhan terdengar tertawa lebar yang samar-samar, disusul suara nyaring seperti bentroknya cecer rombeng, lalu disusul lagi suara yang perlahan sekali, tetapi meskipun perlahan, terdengar tegas. Suara itu seperti berputaran di luar kampung lantas pergi jauh………
Akan tetapi Khu Cie Kee kaget berbareng girang. "Itulah tertawanya Ciu Susiok," katanya.
"Ketiga Suheng pergi menyusul!" kata Sun Put Jie.
"Rupanya suara cecer pecah dan suara memanggil tadi seperti lagi menyusul susiok," kata Ong Cie It.
Ma Giok nampaknya berduka. "Kelihatannya dua orang itu berkepandaian tidak ada di bawah Ciu Susiok," katanya. "Entah mereka itu orang pandai darimana? Ciu Susiok sendirian melawan dua musuh, aku khawatir…" Ia lantas menggoyang-goyangkan kepalanya.
Khu Cie Kee dan tiga saudaranya mendengar pula, sekarang suara itu lenyap, rupanya orang telah pergi jauh beberapa lie hingga sulit disusul lagi.
"Ada Tam Suko bertiga, kita tidak usah mengkhawatirkan susiok," kata Sun Put Jie kemudian.
"Aku khawatir mereka tidak dapat menyandak," bilang Cie Kee. "Coba Ciu Susiok tahu kita berada di sini dan dia datang ke mari…"
Oey Yong dapat mendengar semua pembicaraan mereka, ia tertawa sendiri. "Ayahku bersama si bisa bangkotan dan tua bangka berandalan tengah mengadu kepandaian lari!" katanya di dalam hati. "Mereka itu bukan lagi berkelahi. Umpama kata mereka benar lagi berkelahi, kamu beberapa imam hendak membantu, mana kamu dapat melawan ayahku serta si bisa bangkotan itu?"
Ma Giok yang sabar lalu mengibas tangannya, maka semua orang lantas masuk ke dalam rumah penginapan untuk pada berduduk.
"Eh, mari aku tanya kau!" kata Cie Kee pada muridnya. "Aku mau tahu, sekarang ini kau dipanggil Wanyen Kang atau Yo Kang?"
Yo Kang takut sekali. Mata gurunya sangat tajam memandang padanya. Kalau ia salah menjawab, jiwanya terancam bahaya. Maka lekas-lekas ia menjawab:
"Jikalau bukan suhu serta Ma Supee dan Ong Susiok yang memberi petunjuk, sampai sekarang tentu teecu masih dalam kegelapan, teecu tetap mengaku musuh sebagai ayahku. Sekarang ini teecu she Yo. Baru saja tadi malam berdua bersama adik Bok ini teecu mengubur jenazah ayah bundaku."
Senang Khu Cie Kee mendengar jawaban itu, ia mengangguk-angguk, air mukanya pun berubah tak bermuram lagi seperti tadi. Sebagai imam jujur, ia mempercayai orang. Juga Ong Cie It tidak lagi mendongkol melihat Yo Kang bersama Liam Cu, yang tadinya dia gusar karena keponakan muridnya menyangkal perjodohannya dengan nona Bok.
Kebetulan Khu Cie Kee melihat ke lantai tatkala sinar matanya bentrok sama tombak buntung. Ia kenali itu sebagai senjatanya Kwee Siauw Thian. Ia lantas memungutnya, untuk diusap-usap. Nyata ia berduka.
"Pada sembilanbelas tahun yang lampau," katanya perlahan, "Di sini aku telah berkenalan dengan ayahmu serta pamanmu she Kwee, sekarang sesudah belasan tahun lewat, aku melihat ini peninggalan tombaknya, sedang sahabatku telah pulang ke alam baka….."
Kwee Ceng mendengar perkataan itu, ia berduka bukan main. Katanya dalam hati: "Khu Totiang menyebutnya sahabat ayahku, tetapi aku sendiri tidak pernah melihat wajah ayah…."
Kemudian Khu Cie Kee tanya muridnya bagaimana caranya Oey Yok Su membunuh Kwee Ceng.
Sudah terlanjur, Yo Kang lantas mengarang cerita. Ketiga imam itu menghela napas, berduka sekali. Mereka pun mengenal baik pemuda she Kwee. Selama itu hatinya Yo Kang tidak tenang. Ia pun telah berjanji kepada Tuli dan Gochin Baki.
"Apakah kamu berdua sudah menikah?" kemudian Ong Cie It tanya keponakan muridnya itu.
"Belum," sahut Yo Kang. Kali ini ia tidak berani berdusta.
"Lebih baik kalian lekas menikah!" Ong Cie It bilang. "Khu Suko, baiklah hari ini kau merecoki jodoh mereka, supaya mereka lantas menikah."
Oey Yong dan Kwee Ceng saling mengawasi, dalam hatinya, mereka berkata: "Benarlah malam ini kembali kita akan menonton sepasang pengantin?"
Sementara itu Yo Kang berkata dengan cepat: "Terserah kepada suhu!"
Tapi Bok Liam Cu berkata: "Mesti dipenuhkan dulu satu permintaanku, yang menjadi syarat, kalau tidak biarnya mati, aku tidak sudi menikah!" Nona ini telah lama mengikuti ayahnya merantau maka ia beda dengan Yauw Kee.
Khu Cie Kee tersenyum. "Baiklah!" bilangnya. "Apakah itu nona, kau bilanglah!"
"Ayah angkatku telah dibikin mati oleh Wanyen Lieh, musuh negaraku," menyahut nona Bok, "Maka itu dia mesti membalaskan dulu sakit hati ayahku!"
"Bagus!" berseru Cie Kee bertepuk tangan. "Nona, pikiranmu cocok sama pikiran si imam tua! Nah, anak Kang, bagaimana dengan kau? Setujukah?"
Syarat itu hebat sekali, tentu saja Yo Kang menjadi ragu-ragu. Selagi ia berpikir, bagaimana ia harus menjawab, di luar penginapan terdengar suara orang bernyanyi, suaranya serak, dan nyanyiannya lagu "Lian Hoa Lok", nyanyiannya bangsa pengemis. Nyanyian itu lantas disusul satu suara halus dan tajam, katanya:
"Tuan-tuan besar sukalah berlaku murah hati, mengamal untuk satu bun saja…!"
Mendengar suara itu, Bok Liam Cu lantas berpaling, ia mengenali suara itu. Di ambang pintu terlihat dua orang pengemis, yang satu bertubuh jangkung dan gemuk, yang lainnya kate dan kurus, dan si jangkung gemuk itu umpama kata sebesar empat kali tubuhnya si kate kurus. Maka itu sangat luar biasa perbedaaan di antara mereka berdua.
Sang waktu telah berselang banyak tahun tetapi nona Bok masih ingat peristiwa ketika usianya tigab belas tahun, ketika lukanya dibalut oleh pengemis ini, sedang Ang Cit Kong, yang menyukai si nona, telah mengajari ilmu silat selama tiga hari. Liam Cu hendak menghampiri kedua pengemis itu tetapi ia bersangsi waktu melihat kedua pengemis itu lantas mengawasi tongkat di tangannya Yo Kang, lalu setelah mereka saling melirik, mereka menghampiri pemuda itu. Dengan menyilangkan kedua tangan, mereka memberi hormat.
Ma Giok semua mengawasi kedua pengemis itu, dengan hanya melihat tindakan orang dan gerakan tubuhnya, mereka tahu dua orang ini mesti lihay ilmu silatnya. Mereka juga melihat di punggung orang ada tergendol delapan buah kantung goni, yang mana adalah tanda tingkatan tinggi dari kaum Kay Pang. Hanya mereka tidak mengerti kenapa keduanya demikian menghormat terhadap Yo kang.
Si pengemis kurus lantas berkata: "Saudara yang baik, beruntung sekali di dalam kota Lim-an ini kau telah menemukan tongkat pangcu kami. Sebenarnya kami telah mencarinya berputaran! Saudara, entahlah dimana tahu kemanakah perginya pangcu kami meminta amal?"
Yo Kang heran diperlakukan demikian. Ia memegangi tongkat tetapi tidak tahu hal ikhwalnya tongkat itu. Tentu sekali tidak tahu ia harus menjawab bagaimana. Adalah aturan kaum Kay Pang, melihat tongkat sama seperti menghadap pangcu mereka sendiri, dari itu terhadap Yo Kang mereka berlaku sangat menghormat, tetapi sekarang Yo Kang seperti tidak memperdulikan mereka, agaknya mereka bergelisah, lekas-lekas mereka menunjukkan sikap lebih hormat lagi. Si pengemis gumuk turut berkata, katanya:
"Pertemuan di Gak-ciu sudah mendesak harinya, untuk itu Kan Tianglo dari timur sudah bergerak ke barat."
Yo Kang menjadi semakin tidak mengerti. Tadi ia mengasih dengar, "Hm!" sekarang ia mengasih dengar pula suaranya itu.
Pengemis kurus pun berkata pula: "Oleh karena teecu mencari tongkatnya pangcu, waktu kami telah tersia-¬siakan beberapa hari, maka sekarang setelah kita bertemu, seharusnya kita lantas berangkat! Maka itu baiklah sekarang teecu beramai menemani padamu!"
Biar bagaimanapun Yo Kang dapat menggunakan otaknya. Memang ia ingin lekas-lekas menyingkir dari depan guru dan paman-paman gurunya ini. Maka ia lantas berlutut kepada mereka, katanya:
"Teecu mempunyai urusan penting, tidak dapat teecu menemani suhu sekalian, dari itu, harap teecu dimaafkan!"
Khu Cie Kee sekalian percaya muridnya ini mempunyai urusan penting dengan Kay Pang, mereka pun tahu, Ang Cit Kong kenal baik dengan Ong Tiong Yang, almarhum guru mereka, karena itu mereka tidak berani menahan Yo Kang. Malah sebaliknya, mereka berlaku hormat kepada kedua pengemis itu, yang sikapnya demikian halus.
Bok Liam Cu pun suka turut. Bukankah ia kenal dengan dua pengemis itu? Maka ia juga memberi hormat pada Khu Cie Kee berempat, untuk pamitan. Begitulah, berempat mereka berangkat.
Khu Cie Kee berempat bermalam di rumah penginapan itu untuk menantikan Tam Cie Toan bertiga. Baru besoknya tengah malam, mereka mendengar suara siulan panjang di luar kampung. Sun Put Jie lantas berkata:
"Cek Suheng datang!"
Ketika itu Khu Cie Kee berempat lagi bersemadhi tatkala mereka mendengar isyarat dari Kong Leng Cu Cek Tay Thong, dimana Ma Giok lantas memberikan jawabannya perlahan tetapi terang. Cuma sebentar saja, lantas satu bayangan berkelebat dan Cek Tay Thong bertindak masuk.
Oey Yong belum pernah melihat imam itu, ia lantas mengintai. Malam itu tanggal lima bulan tujuh, rembulan masih kecil, akan tetapi si nona dapat melihat dengan tegas. Ia melihat seorang yang bertubuh gemuk dan tinggi besar, romannya seperti seorang pembesar negeri, tangan baju dari jubahnya ada separuh, cuma sampai sebatas sikut. Pakaiannya berbeda sekali dengan jubah Ma Giok beramai.
Cek Tay Thong ini, semasa belum menjadi imam, adalah seorang hartawan di Lenghay, Shoatang, dia pun terpelajar tinggi, baru kemudian dia mengangkat Ong Tiong Yang menjadi guru. Ketika ia menerima muridnya ini, Ong Tiong Yang meloloskan jubah yang ia pakai, kedua ujung bajunya ia kutungi, jubahnya itu dikasihkan muridnya. Ia pun berkata:
"Tidak ada bahaya, tidak ada tangan baju, maka kamulah yang harus merampungkan sendiri."
Huruf "tangan baju" ada sama suaranya dengan huruf "menerimakan". Dengan itu mau diartikan, meskipun guru ini tidak memberikan banyak pengajaran kepada muridnya, dengan peryakinan sendiri, si murid akan memperolah kemajuan. Cek Toy Thong mengingat baik-baik perkataan gurunya, maka selanjutnya ia tetap mengenakan jubah tangan buntung itu.
"Bagaimana dengan Cui Susiok?" tanya Khu Cie Kee yang tidak sabaran. "Sebenarnya ia lagi bergurau atau benar-benar bertempur?"
Cek Toy Thong menggeleng kepala. "Kepandaianku masih rendah sekali, setelah menyusul tujuh atau delapan lie, aku kehilangan Cui Susiok," ia menyahut. "Tam Suko bersama Lauw Suko berada di sebelah depanku."
"Kau letih, Cek Sutee, kau beristirahatlah," katanya.
Cek Tay Thong lantas duduk bersila, menjalankan pernapasannya. "Diwaktu tadi aku berjalan pulang," kemudian ia berkata lagi, "Di Ciu Ong Bio aku melihat enam orang, melihat roman mereka, mestinya Kanglam Liok Koay yang Khu Suheng cari. Lantas aku menghampiri mereka, nyata penglihatanku tidak keliru."
"Bagus!" kata Cie Kee girang. "Sekarang di mana adanya mereka?"
"Sebenarnya mereka baru kembali dari Tho Hoa To," Tay Thong memberi keterangan pula.
Cie Kee terkejut. "Sungguh mereka bernyali besar berani pergi ke Tho Hoa To!" katanya. "Pantas kita tidak dapat mencari mereka."
"Menurut keterangan Thay-hiap Kwa Tin Ok, ketua dari Liok Koay, mereka telah membuat perjanjian dengan Oey Yok Su untuk pergi ke Tho Hoa To, hanya setibanya mereka di pulau itu, Oey Yok Su tidak ada. Mendengar kita berada di sini, mereka membilang bahwa dalam satu dua hari ini mereka hendak datang berkunjung."
Kwee Ceng mendengar pembicaraan itu, mengetahui semua gurunya tidak kurang suatu apapun, ia girang sekali. Sementara itu, setelah lewat lima hari lima malam, kesehatannya sudah pulih separuhnya.
Di hari keenam kira-kira jam tiga atau empat, dari luar kampung sebelah timur terdengar suara siulan, atas itu Khu Cie Kee berkata:
"Lauw Sutee kembali bersama seorang yang lihay, entah siapakah dia…"
Berlima mereka lantas berbangkit, pergi keluar untuk menyambut. In Cie Peng jalan di belakang. Lantas mereka melihat Cie Hian bersama seorang tua yang rambut kumisnya sudah putih semua, bajunya pendek, sepatunya sepatu goni, sebelah tangannya memegang sebuah kipas besar, sembari berjalan ia berbicara sambil tertawa-tawa. Ketika sampai di muka penginapan, kepada lima anggota Coan Cin Pay yang menyambutnya, dia cuma mengangguk sedikit, agaknya dia tidak melihat mata kepada mereka. Tapi Lauw Cie Hian segera mengajarnya kenal:
"Inilah Tiat-ciang Cui-siang-piauw Kiu Locianpwee yang namanya kesohor di seluruh negara. Hari ini kami bertemu dengannya, sungguh beruntung!"
Mendengar nama imam she Lauw itu, Oey Yong tersenyum, dengan sikutnya ia membentur tubuh Kwee Ceng, siapa lantas tersenyum juga. Berdua mereka berpikir: "Marilah kita menyaksikan tua bangka ini penipu besar mempermainkan orang-orang Coan Cin Kauw!"
Lalu terdengarlah suara Ma Giok berlima, yang bicara sama orang she Kiu ini dengan sikap menghormat, sedang Kiu Cian Jin lantas mengasih dengar ocehannya. Kemudian Khu Cie Kee menanya apa "locianpwee" bertemu sama Ciu Pek Thong, paman gurunya.
"Loo Boan Tong?" menegaskan orang she Kiu itu. "Dia telah dibinasakan oleh Oey Yok Su!"
Semua orang Coan Cin Kauw itu menjadi kaget sekali. "Ah, tidak mungkin!" kata Cie Hian selang sesaat. "Baru saja boanpwee melihat Cui Susiok, karena larinya sangat keras, boanpwee tidak dapat mengusul."
Kiu Cian Jin tertawa, ia tidak membilang suatu apapun. Ia rupanya lagi berpikir bagaimana harus menelurkan kedustaan.
"Lauw Sutee," tanya Cie Kee, "Apakah kau melihat tegas romannya dua orang yang mengejar Ciu Susiok?"
"Yang satu mengenakan jubah putih, yang lainnya jubah hijau panjang. Mereka itu sangat kencang larinya. Samar-samar aku melihat wajah yang berjubah hijau itu luar biasa sekali, mirip dengan mayat".
Kiu Cian Jin telah melihat Oey Yok Su di Kwie-in¬chung, segera berkata. "Benar! pembunuh Ciu Pek Thong si baju hijau itu! Lain orang mana bisa? Aku hendak mencegah sayang terlambat…!"
Nama Tiat-ciang Sui-siang-piauw Kiu Cian Jin sangat kesohor, enam imam Coan Cin Kauw ini tidak menyangka bahwa orang tengah membohong, mendengar hal dibunuhnya Ciu Pek Thong, paman guru mereka, mereka sangat berduka berbareng gusar.
"Tam Suko dapat lari lebih keras daripada aku, mungkin dia mendapat kesempatan melihat bagaimana caranya susiok dibunuh," kata Cie Hian.
"Aku khawatir Tam Suko pun nampak bahaya…" kata Sun Put Jie yang berkhawatir. Ia berhenti tiba-tiba dan mukanya pucat.
Khu Cie Kee lantas menghunus pedangnya. "Mari kita menyusul!" serunya. "Kita mesti menolong dan membalaskan sakit hati!"
"Jangan!" berteriak Kiu Cian Jin, yang khawatir mereka dapat mencari Ciu Pek Thong. "Oey Yok Su ketahui kamu berada di sini, segera juga dia bakal datang ke mari. Oey Lao Shia itu sangat jahat, aku si orang tua tidak dapat membiarkannya! Aku juga tidak membutuhkan bantuan orang lain, maka biarlah kamu berdiam saja di sini menanti kabar baik dariku!"
Khu Cie Kee sekalian sangat percaya dan menghormati orang tua ini, mereka tidak membantah. Pula, kalau mereka mengejar, khawatir nanti mengambil jalan salah hingga jadi tidak dapat bertemu sama Oey Yok Su, dari situ, mereka menanti saja. Maka mereka berjalan keluar mengantarkan kepergian orang tua ini, mereka sikapnya sangat menghormat.
Setelah keluar dari ambang pintu, Kiu Cian Jin memutar tubuhnya seraya mengibaskan tangan serta mulutnya berkata:
"Tidak usah kau mengantar sampai jauh! Meskipun Oey Lao Shia lihay sekali, aku toh mempunyai jalan untuk mengalahkan dia! Kamu lihat!"
Ia tidak lantas berjalan terus hanya menghunus sebatang pedang dari pinggangnya, dengan itu ia menikam perutnya, hingga mereka menjadi kaget. Tiga dim dari pedang telah tertancap separuhnya! Akan tetapi si orang tua tertawa dan berkata:
"Di kolong langit ini, senjata tajam apapun tidak dapat melukaiku, maka janganlah tuan-tuan kaget dan takut! Jikalau aku menyusul tetapi tidak bertemu dan sebaliknya Oey Lao Shia itu datang ke mari, jangan tuan-tuan melayani dia bertempur, khawatir nanti kamu terluka, kamu tunggu saja kembaliku!"
"Sakit hati paman guru, yang menjadi keponakan muridnya, tak dapat kami tidak membalasnya!" berkata Khu Cie Kee.
Mendengar itu, Kiu Cian Jin menghela napas. "Kalau begitu, terserah!" katanya berduka. "Ini takdir! Jikalau kamu hendak membalas sakit hati, satu hal kamu mesti ingat!"
"Tolong locianpwee memberi petunjuk," Ma Giok minta.
Kiu Cian Jin lantas mengasih lihat roman sungguh¬-sungguh. "Begitu kamu melihat Oey Lao Shia, kamu harus segera mengepung dengan sungguh-sungguh!" katanya. "Jangan kau bicara sepatah katapun! Kalau tidak, sukarlah sakit hati kamu terbalaskan! Ingat baik-¬baik!" Habis berkata, ia memutar tubuhnya, untuk terus berlalu, pedangnya masih nancap terus diperutnya……
Khu Cie Kee sekalian saling mengawasi dengan berdiri menjublak. Mereka adalah orang-orang dengan pengetahuan dan pemandangan yang luas tetapi belum pernah mereka menyaksikan orang menublas perut demikian rupa, dapat bicara, tertawa dan berjalan dengan tenang! maka itu maulah mereka menduga bahwa kepandaian orang tua itu sangat luar biasa.
Sama sekali mereka tidak pernah menyangka telah dijual Kiu Cian Jin. Pedang itu bertekuk tiga, kalau tekukan yang pertama membentur sesuatu, yang dua lagi segera ngelepot masuk, jadi ujung pedang cuma mengenai ikat pinggang dan nancap, hanya nampaknya seperti terpendam di dalam perut. Dia telah menerima undangan Wanyen Lieh, dia bertugas menyebar racun kata-kata untuk membuat orang-orang gagah di jamannya itu bentrok satu sama lain, agar bangsa Kim (kin atau Chin) mendapat kesempatan menyerbu ke Selatan, menumpas alaha Song.
Seperginya orang tua itu, Khu Cie Kee berenam tak tenang hatinya, sampai mereka tidak bernafsu dahar dan minum. Mereka terus menanti. Ketika tiba tengah malam dari tanggal tujuh, mendadak mereka mendengar sama-samar suara orang di arah utara, seperti dua orang saling susul, sebentar kemudian, tibalah dua orang itu di depan rumah penginapan.
Enam orang Coan Cin Kauw ini duduk bersemadhi di atas tumpukan rumput, dengan jalan itu mereka memelihara diri sambil berlaku sabar sebisanya, cuma In Cie Peng, yang latihannya masih rendah, sudah tidur pulas. Mendengar suara itu, mereka lantas berlompat bangun.
"Musuh mengejar Tam Sutee," berkata Ma Giok. "Berhati-hatilah semua!"
Kwee Ceng, malam itu pun malam terakhir, guna memenuhi waktu istirahat tujuh hari tujuh malam. Tindakan mereka besar faedahnya. Bukan saja Kwee Ceng sendiri sembuh luka dalamnya, juga rapat luka luarnya, pula tenaga dalam mereka mendapat kemajuan besar. Waktu beberapa jam lagi adalah waktu yang terpenting. Tapi Oey Yong berduka dan berkhawatir kapan ia mendengar perkataan Ma Giok itu.
"Kalau yang datang benar ayah, inilah hebat," pikirnya. "Coan Cin Cit Cu tentu bakal lantas menyerang dan mengerebuti….Aku tak dapat keluar, untuk mencegah guna mengasih penjelasan. Bagaimana? Aku khawatir sangat mereka ini bakal bercelaka di tangan ayah. Kematian mereka tidak ada sangkutnya dengan aku sendiri, tidak demikian dengan engko Ceng. Engko Ceng ada sangkutannya dengan mereka itu. Pasti engko Ceng akan bertindak…… Tidakkah itu bakal meludaskan usaha kita berhari-hari dan bemalam¬-malam ini, sedangkan ini adalah detik-detik terakhir? Aku khawatir, tidak cuma ilmu silatnya juga jiwanya akan terancam bahaya…" Maka ia lantas berbisik di kuping lawannya itu: "Engko Ceng, kamu mesti berjanji padaku, tidak peduli bakal terjadi apapun yang besar dan penting, kau tidak boleh keluar dari sini!" Kwee Ceng mengangguk.
Segera juga siulan terdengar di luar pintu penginapan.
"Tam Sutee, lekas mengatur barisan Thian Kong Pak Tauw!" Khu Cie Kee berseru.
Mendengar nama barisan itu, Kwee Ceng jadi sangat ketarik hatinya. Di dalam kitab Kiu Im Cin-keng ada disebut-sebut nama bintang-bintang itu, sebagai pokok untuk pernyakinan kemahiran, penjelasan lainnya tidak ada, maka itu, ia ingin ketahui kepandaian Coan Cin Cit Cu. Segera ia mengintai.
Justru pemuda ini mengintai, pintu tergabrukan terbuka dan seorang imam melompat masuk, hanya disaat jubahnya berkibar dan kaki kirinya baru melewati ambang pintu, mendadak ia terhuyung dan mundur keluar. Ini disebabkan musuhnya telah tiba dan sudah menyerang.
Khu Cie Kee bersama Ong Cie It berlompat ke pintu, mereka berdiri berendeng, kedua tangan diajukan ke depan, maka tenaga mereka bentrok sama tenaga dari luar. Sebagai kesudahannya, kedua imam ini mundur dua tindak, lawannya mundur dua tindak juga. Ketika ini digunakan Tam Cie Toan berlompat masuk.
Di bawah sinar rembulan terlihat tegas orang di luar itu awut-awutan rambutnya, mukanya ada dua goresan darah, pedang di tangan kanannya tinggal sepotong, entah bekas dikutungi dengan senjata apa.
Setiba di dalam, tanpa mengucap sepatah kata, Tam Cie Toan lantas duduk bersila, untuk bersemadhi, sikapnya itu diturut oleh keenam saudaranya. Di luar pintu terdengar suara yang keras dan seram:
"Imam tua she Tam, jikalau bukan nyonya besarmu memandang kepada Ma Giok yang menjadi kakak seperguruanmu, pasti siang-siang aku telah mengantarkan jiwamu! Perlu apa kau memancing nyonya besarmu datang ke mari? Siapa itu barusan yang membantumu? Kau terangkanlah kepada Mayat Besi dari Hek Hong Siang Sat!"
Di tengah malam buta itu, suara Bwee Tiuw Hong ini membuat tubuh orang menggigil. Setelah itu, kembali sunyi senyap. Apa yang dapat terdengar melainkan suara kutu. Hanya sebentar kemudian, terdengar suara seperti mereteknya tulang-¬tulang dan otot-otot. Kwee Ceng tahu itulah tanda Bwee Tiauw Hong, yang rupanya hendak menyerbu ke dalam. Habis itu terdengar:
"Sekali tertinggal sampai pula beberapa puluh tahun…" Itulah senandungnya Ma Giok, suaranya halus dan sabar.
Lalu Tam Cie Toan menyambung: "Dengan rambut kusut jalan sepanjang hari bagaikan edan." Suara itu besar dan kasar, hingga Kwee Ceng mengawasi anggota Coan Cin Cit Cu yang kedua ini, muka siapa berdaging dan berotot, alisnya gompiok, matanya besar, tubuhnya besar dan kekar. Sebelum menyucikan diri, tukang besi di Shoatang ini, tabiatnya jujur dan polos, dari itu, gelarannya ialah Tiang Cin Cu.
Orang yang ketiga bertubuh kate dan kurus, mukanya seperti kera. Dialah Tiang Seng Cu Lauw Cie Hian, yang turut bersenandung.
"Di bawah pesaben haytong menanam bibit." Dia bertubuh kecil tetapi suaranya nyaring sekali.
Tiang Cun Cu Khu Cie Kee pun menyambuti: "Di dalam perahu di antara daun teratai ada dewa Thay It Sian." Ia lantas disambung Giok Yang Cu Ong Cie It "Tak ada beda maka boleh keluar dari batok kosong."
Kong Leng Cu Cek Tay Thong turut bersenandung juga: "Ada orang yang dapat sadar sebelum dilahirkan." Ia dituruti oleh Ceng Ceng Sanjin Sun Put Jie, katanya, "Pergi keluar sambil tertawa dan bebas bebas." Sebagai penutup bersenandunglah Tan Yang Cu Ma Giok, "Mega di telaga See Ouw, rembulan di langit!"
Bwee Tiauw Hong terkejut mendengar suara mereka, yang menandakan tenaga dalam yang mahir. Maka berpikirlah dia: "Mustahilkah Coan Cin Cit Cu berkumpul di sini semua? Ah, tidak mungkin! Kecuali Ma Giok, suara mereka itu lain…."
Selama di jurang di padang pasir Mongolia, Bwee Tiauw Hong pernah mendengar suara Ma Giok serta Kanglam Liok Koay yang menyamar sebagai Coan Cin Cit Cu, dengan kupingnya yang jeli sekali, ia bisa ingat dan membedakan suara orang. Ia tidak mempunyai mata, ia mengandal kupingnya. Sekarang ia mendengar suara yang lain sekali kecuali suara Tan Yang Cu Ma Giok. Sampai sekarang ia masih belum tahu bahwa dulu ia telah diperdayakan Ma Giok.
"Ma Totiang!" ia lantas menanya. "Semenjak kita berpisah, bukankah kau baik-baik saja?"
Ia masih ingat imam itu, yang dulu hari berlaku baik terhadapnya, dari itu, mengenai perbuatannya Tam Cie Toan, ia masih memandang ketua Coan Cin Cit Cu itu. Sebenarnya, ketika Cie Tong gagal menusuk Ciu Pek Thong, di tengah jalan ia melihat salah satu Hek Hong Sang Sat ini, yang lagi berlatih. Ia tahu Tiauw Hong sangat jahat, ia memikir untuk menyingkirkan si jahat ini dari dunia. Ia berhati mulia, tak tega menyaksikan Tiuw Hong berlatih dengan sasaran orang hidup. Maka ia lantas menyerang. Diluar dugaannya, ia dikalahkan. Tiauw Hong mengenali orang dari Coan Cin Kauw, ia ingat Ma Giok, maka ia cuma melukainya, tidak mau ia merampas jiwanya, meski begitu, ia mengejar terus sampai di rumah penginapan ini.
"Terimas kasih, terima kasih!" menyahut Ma Giok. "Tho Hoa To dengan Coan Cin Kauw tidak mendendam tidak bermusuh, apakah benar gurumu bakal segera datang kemari?"
Bwee Tiauw Hong melengak. "Untuk apa kamu menanyakan guruku?" ia menanya.
Tapi Khu Cie Kee bertabiat keras. Ia membentak: "Perempuan siluman! Lekas kau suruh gurumu datang ke mari, supaya dia belajar kenal dengan kepandaian Coan Cin Cit Cu!"
"Kau siapa?!" tanya Tiauw Hong gusar.
"Khu Cie Kee! pernahkah kau mendengar namaku?"
Tiauw Hong mengasih dengar suaranya yang aneh, tubuhnya mencelat. Ia menyerang ke arah darimana suara jawaban itu datang, tangan kirinya menutup diri, tangan kanannya menjambak, mencengkeram kepala!
Kwee Ceng mengetahu lihaynya Bwee Tiauw Hong, serangannya sangat hebat, biar Cie Kee lihay, tak dapat ia melawan keras dengan keras. Akan tetapi dia melihat si imam tetap duduk bersila, tidak mau menangkis, tidak mau berkelit, ia menjadi kaget. "Celaka!" katanya dalam hati. "Kenapa Khu Totiang bernyali begini besar?"
Bwee Tiauw Hong mengarah batok kepala Khu Cie Kee, selagi ia menjambak, mendadak datang serangan angin dari kiri dan kanannya. Itulah serangan berbareng dari Lauw Cie Hian berdua Ong Cit It. Ia mau melanjutkan serangannya itu, maka tangan kirinya dikibaskan, guna menangkis. Di luar dugaannya, hebat serangan angin itu, tidak dapat ia menghalaunya, maka terpaksa ia berlompat mundur sambil jumpalitan.
Cie Hian dan Cie It, dengan tenaga dalam im dan yang, telah menggabungkan diri. Ia menjadi kaget dan heran. Ia menyangsikan itulah serangan orang Coan Cin Kauw. Maka ia lantas berseru dengan pertanyaannya,
"Apakah Ang Cit Kong dan Toan Hongya ada di sini?"
"Kitalah Coan Cin Cit Cu!" berkata Khu Cie Kee tertawa. "Di sini mana ada Ang Cit Kong dan Toan Hongya?"
Tiauw Hong bertambah heran. “Si imam tua she Tam bukan tandinganku, kenapa di antara saudara-saudaranya ada yang begini lihay?" pikirnya. "Apa mungkin kepandaian mereka berlainan tanpa memperdulikan tingkatan tua atau muda?"
Kwee Ceng pun heran seperti Tiauw Hong melihat Khu Cie Kee terbebaskan oleh Lauw Cie ian dan Ong Cie It itu. Hebat Tiauw Hong kena dibikin terpental mundur. Ia menduga kedua imam itu berimbang sama si Mayat Besi. Memang cuma Ang Cit Kong, Ciu Pek Thong, Oey Yok Su dan Auwyang Hong yang mempunyai tenaga demikian besar. Kalau Caon Cin Cit Cu, inilah aneh…
Tiauw Hong beradat keras, kepalanya besar. Kecuali gurunya, ia tidak takut siapapun. Makin ia terhajar, makin ia penasaran. Demikian kali ini. Setelah berdiam sebentar, tangannya meraba ke pinggangnya. Ia keluarkan cambuk lemasnya, Tok-liong Gin-pian, cambuk perak si Naga Beracun.
"Ma Totiong, maafkan, hari ini terpaksa berlaku kurang ajar!" katanya.
"Kata-kata yang baik!" Ma Giok menjawab.
"Aku hendak menggunakan senjata, maka itu, kamu hunuslah senjata!" kata si buta.
"Kami bertujuh, kau sendirian," berkata Ong Cie It. "Kau pun tidak bisa melihat apa-apa! Maka itu, biar bagaimana kami tidak dapat menggunakan senjata. Kami akan tetap duduk bersila, kau majulah!"
Tiauw Hong bersuara dingin. "Jadi kamu hendak melayani cambuk perakku dengan duduk diam saja?" tanyanya.
"Ah, perempuan siluman!" Cie Kee membentak. "Malam ini malam ajalmu tiba, buat apa kau masih banyak omong lagi?"
"Hm!" Tiauw Hong berseru di hidungnya, sedang tangannya lantas diayun, hingga cambuknya terus meluncur ke arah Sun Put Jie. Cambuk panjang yang banyak gaetannya itu bergerak perlahan bagaikan seekor ular besar berlegot.
Oey Yong memasang kuping mendengarkan kedua pihak mengadu mulut, ia tahu cambuknya Tiauw Hong lihay sekali, maka heran Coan Cin Cit Cu mau melayani tanpa senjata dan tanpa bergerak juga dari tempatnya bercokol masing-masing. Ia menjadi ingin melihat. Ia menarik Kwee Ceng, agar menyingkir. Buat ia menggantikan mengintai. Begitu menyaksikan caranya tujuh imam itu berduduk, ia menjadi heran. "Itulah keletakan bintang-bintang Pak Tauw," pikirnya. "Ah, tidak salah, barusan Khu Totiang menyebutkan tentang Thian kong Pak Tauw. Inilah rupanya barisan itu."
Oey Yok Su mengerti ilmu alam, ketika Oey Yong masih kecil, suka ia membawanya berangin waktu malam, maka sambil mengasih anak itu duduk di pangkuannya, sering ia menunjuk ke langit dan membritahukan kepada si anak tentang bintang--bintang. Oey Yong ingat benar petunjuk ayahnya, maka sekarang, dengan sekali lihat, ia ketahui Coan Cin Cit Cu ini telah menempatkan diri sebagai tujuh bintang Pak Tauw, bintang-bintang Utara.
Di antara tujuh imam, Ma Giok yang mengambil kedudukan thian-kie, Tam Cie Toan thian-soan, Lauw Cie Hian thian-khie, dan Khu Cie Kee thian-koan, sedang Ong Cie It giok-heng, Cek Thay Thong kay¬yang, dan Sun Put Jie yauw-kong. Kedudukan thian-koan paling penting, dia yang menghubungkan tiga dengan yang tiga lagi, dari itu kedudukan ini ditempati Khu Cie Kee yang ilmu kepandaiannya paling lihay. Yang kedua yang penting giok-heng, maka itu diambil Ong Cie It.
Oey Yong sangat cerdas, selagi Kwee ceng mengawasi sekian lama tapi tak mengerti apapun, ia hanya menampak sekelebatan, lantas ia mengerti. Tujuh imam itu menggabungkan diri dengan tangan kiri menyambung sama tangan kanan. Sambungan tangan itu mirip dengan tangan dia dan Kwee Ceng, guna membantu pemuda ini mengobati diri.
Cambuk Tiauw Hong bergerak perlahan ke arah kepala Sun Put Jie. Kelihatannya saja perlahan, sebenarnya hebat. Imam wanita itu tetap tidak bergerak. Selagi mengawasi, Oey Yong melihat jubah orang, di situ ia mendapatkan sulaman sebuah tengkorak. Ia heran, hingga ia berpikir: "Coan Cin Kauw ada dari kalangan murni, kenapa jubahnya sama dengan jubah Tiauw Hong dari kalangan sesat?" Ia pasti tidak tahu, waktu Ong Tiong Yang menerima muridnya ini, dia telah menghadiahkan gambar tengkorak dan murid ini yang ingat budi gurunya, lantas menyulamkan pada jubahnya.
Disaat cambuk hampir mengenai sasarannya ke bagian gigi dari tengkorak di jubah Sun Put Jie, tiba¬-tiba cambuk itu berbalik sendiri, bagaikan kepala ular kena dibacok, bagaikan anak panah melesat, menyambar kepada pemiliknya!
Tiauw Hong kaget, tidak sempat ia menggerakkan tangan, sebab tangannya bergetar, terpaksa ia kelit kepalanya, hingga ujung cambuk lewat di atas rambutnya. "Sungguh berbahaya.." ia kata dalam hatinya. Sesudah itu baru ia dapat menguasai pula cambuknya. Ia lalu menyerang ke arah Ma Giok dan Khu Cie Kee. Kedua imam itu duduk diam adalah Tam Cie Toan dan Ong Cie It yang menyerang dan membuatnya cambuk mental.
Oey Yong memasang mata, ia dapat melihatnya. Kalau satu imam menangkis, ia mengguna sebelah tangannya dan tangan yang lain diletakkan di pundak seorang saudaranya. Ia lantas mengerti. Cara mereka itu sama dengan caranya sendiri mengobati Kwee Ceng. Itu artinya, tujuh orang menggabung tenaganya melawan Bwee Tiauw Hong satu orang.
Apa yang dinamakan barisan bintang Thian Kong Pak Tauw ini adalah semacam ilmu kepandaian paling mahir dari kaum Coan Cin Kauw. Ciptaannya Ong Tiong Yang, sesudah imam itu memutar otaknya melatih diri dengan bersusah payah dan mengambil waktu lama. Untuk melayani lawan, tak usah orang diserang sendiri yang menangkis atau berkelit, hanya kawan di sampingnya yang membalas menyerang, kalau kawan ini menyerang, tenaganya jadi berlipat ganda kuatnya, sebab ia dibantu oleh yang lain-lainnya.
Tiauw Hong mencoba lagi beberapa kali, ia menjadi berkhawatir. Lama-lama ia merasa, kalau menyerang, bukan lagi cambuknya dibikin terpental seperti semula hanya seperti ditarik, meski ia masih dapat menggunakan, bergeraknya cambuk seperti diperciut. Sia-sia ia mencoba untuk menarik, guna mengulurnya. Ia merasa dirinya terancam tetapi ia masih penasaran. Tak mau ia membiarkan cambuknya dirampas musuh-musuh yang melawannya sambil duduk bercokol saja. Tapi karena ia penasaran dan bersangsi, ia melenyapkan kesempatan yang baik. Coba ia melepaskan cekalannya dan melompat mundur, tentu ia selamat……
Kalau barisan bintang-bintang utara itu bergerak, kecuali pemegang pusat thian-koan, gerakannya tidak dapat dihentikan. Bahkan ketujuh imam itu bergeraknya semakin cepat.
Bwee Tiauw Hong menggertak gigi. Ia tahu, kalau ia terus melawan, ia bakal celaka. Maka dengan berat, ia terpaksa melepaskan juga cambuknya. Tetapi sekarang sudah terlambat. Lauw Cie Hian sudah lantas menarik keras. Dengan menerbitkan suara, cambuk menghajar dinding tembok, hingga rumah penginapa itu bergetar, genting-gentingnya berbunyi, debu meluruk jatuh. Menyusul tubuhnya Tiauw Hong terbetot satu tindak ke depan.
Tindakan satu tindak itu adalah tindakan yang memutuskan. Kalau tadi ia melepaskan cambuknya dan lompat, lalu mundur, ia bisa memutar tubuhnya untuk lari ke luar. Mungkin ia bakal disusul tetapi tak akan ia tercandak. Di saat berbahaya ini, ia masih mencoba membela diri. Ia menjambak ke kiri dan kanan. Ia segera kebentrok tangannya Sun Put Jie dan Ong Cie It. Menyusul itu, Ma Giok dan Cek Tay Thong pun menyerang dari belakang. Ia majukan kaki kirinya setengah tindak, sambil berseru nyaring, ia menerbangkan kaki kanannya. Dengan begitu saling susul ia menendang lengannya kedua imam yang belakangan itu, di jalan darah gwa-kwan dan hwee-cong.
“Bagus!" Khu Cie Kee dan Lauw Cie Hian memuji. Dengan saling susul, mereka menolong dua saudaranya dari bahaya.
Kaki kanan Tiauw Hong belum lagi menginjak tanah, kaki kiri sudah bergerak pula. Dengan begitu ia menyingkir dari serangan Cie Kee dan Cie It. Ketika kaki kanan itu diturunkan, ia maju lagi satu tindak. Dengan begini berarti ia telah masuk semakin dalam ke dalam barisan ketujuh imam itu. Artinya, kecuali ia dapat merobohkan salah satu musuh, ia tidak mempunyai jalan lagi untuk nerobos keluar dari barisan itu.
Oey Yong heran dan terkejut. Di antara sinar rembulan ia menyaksikan Tiauw Hong dengan rambut panjang awut-awutan, berlompatan pergi datang dan tangan kakinya menjambak dan menendang tak hentinya. Hebat setiap jambakan dan tendangannya itu mengasih dengar suara angin. Tidak peduli segala gerakannya yang hebat, maka Coan Cin Cit Cu tetap bercokol tak bergeming, cuma tangan mereka yang bekerja, saling sambut dengan rapi, tetap mereka mengurung si Mayat Besi.
Bwee Tiauw Hong telah berkelahi dengan menggunakan dua macam ilmu silat, yaitu pelbagai jambakan Kiu Im Pek-kut Jiauw dan hajaran Cwie-sim-ciang yang dahsyat, ia terus mencoba untuk menerjang keluar tetapi selalu gagal, selalu tertolak mundur. Saking gusarnya, ia berkoak-koak secara aneh.
Sekarang, kalau Coan Cin Cit Cu menghendaki nyawa orang, cukup mereka melakukan satu penyerangan, akan tetapi mereka atau salah satu diantaranya, tidak mau menurunkan tangan terakhir.
Mulanya Oey Yong heran, sebentar kemudian ia bersabar. "Ah, aku mengerti sekarang!" katanya dalam hati. "Terang mereka meminjam Bwee Suci untuk melatih barisan bintang! Memang sukar dicari orang yang sekosen suci, yang dapat dipakai menguji barisannya ini. Rupanya mereka hendak membikin lawannya letih hingga mati dengan sendirinya baru mereka mau berhenti…….."
Dugaan nona Oey ini cocok separuhnya. Memang benar Ma Giok beramai memakai Tiauw Hong sebagai kawan berlatih, tetapi untuk membinasakan, mereka tak pikir. Tidak gampang mereka melakukan pembunuhan.
Sampai di situ, Oey Yong tidak mau menonton lebih lama lagi. Ia tidak berkesan baik terhadap Bwee Tiauw Hong, si suci, kakak seperguruan, toh ia tak tega mengawasi lebih jauh. Maka itu, ia berikan tempat mengintainya kepada Kwee Ceng. Maka sekarang ia cuma mendengar, angin serangan sebentar keras sebentar kendor, tandanya pertempuran masih berlanjut terus.
Kwee Ceng menonton tetapi ia tetap tidak mengerti akan cara berkelahinya ke tujuh imam itu.
"Mereka menggunakan kedudukan bintang Pak Tauw," Oey Yong membisiki. "Apakah belum pernah melihatnya?"
Baru sekarang pemuda ini sadar. Ia ingat bunyinya kitab kedua dari Kiu Im Cin-keng. Sekarang ia mengerti. Karena itu ia menjadi tertarik hingga tanpa merasa ia berlompat bangun.
Oey Yong kaget, segera ia menahan. Kwee Ceng pun sadar, lekas-lekas ia berdiam. Tapi ia masih mengintai. Sekarang ia mengerti betul kegunaan barisan Thian Kong Pak Tuaw itu. Ketika di Tho Hoa To menyaksikan Ang Cit Kong menempur Auwyang Hong ia memperoleh kemajuan besar, kali ini ia mendapatkan kemajuan serupa, dengan begitu, pengetahuannya menjadi bertambah.
Lama-lama maka letihlah Bwee Tiauw Hong, ia hampir tak dapat bertahan lagi. Dilain pihak, tenaganya Coan Cin Cit Cu agaknya berkurang, mereka mulai kendor. Saat itulah di pintu terdengar suara orang.
"Saudara Yok, kau maju lebih dulu atau kau suka mengalah untuk aku mencoba-coba?" demikian suara itu.
Kwee Ceng terkejut. Ia mengenal baik suara Auwyang Hong. Entah kapan datangnya See Tok, si Bisa dari Barat itu.
Juga Coan Cin Cit Cu kaget semuanya, dengan serentak mereka melirik ke arah pintu. Di samping pintu itu berdiri berendeng dua orang, yang satu bajunya hijau yang lainnya putih. Mereka mengetahui adanya musuh-musuh yang tangguh, dengan berbareng mereka berseru, dan dengan berbareng mereka menghentikan pertempuran untuk berbangkit berdiri.
"Bagus betul" berkata Oey Yok Su, "Tujuh rupa bulu campur aduk ini mengepung satu muridku! Saudara Hong, jikalau aku memberi pengajaran kepada mereka, bisakah kau membilangnya aku menghina kepada yang muda?"
Auwyang Hong tertawa, ia menyahut: "Mereka yang terlebih dulu tidak menghormati kau! Jikalau kau masih tidak mengasih lihat sedikit dari ilmu kepandaianmu, pasti ini kawanan anak muda tidak mengetahui lihaynya pemilik dari Tho Hoa To!"
Ong Cie It pernah melihat Tong Shia dan See Tok di Hoa San, heran ia mendapatkan orang muncul berbareng dengan tiba-tiba, hendak ia maju untuk memberi hormat, tapi Oey Yok Su sudah maju dengan sebelah tangan terayun. Ia hendak menangkis tapi sudah tidak keburu, maka dengan satu suara "Plok!" pipinya kena digaplok, tubuhnya lantas terhuyung, hampir ia menubruk lantai.
Khu Cie Kee kaget sekali. "Lekas kembali ke tempat masing-masing!" ia berseru.
Akan tetapi belum sempat saudara-saudaranya itu menaati seruannya namun plak-plok tak hentinya, dengan bergantian mukanya Tam Cie Toan, Lauw Cie Hian, Cek Tay Thong dan Sun Put Jie telah tergaplok seperti muka Ong Cie It. Setelah itu bayangan pun berkelebat ke mukanya Tiang Cun Cu sendiri, demikian rupa, hingga tak tahu ia bagaimana harus menangkisnya, maka tidak ayal lagi, ia mengibas tangannya, mengarah dada Oey Yok Su!
Khu Cie Kee adalah yang terpandai dari Cit Cu, Oey Yok Su memandang terlalu ringan, maka dadanya itu kena terkibas hingga ia merasakan sakit. Dengan sebat ia menutup diri, lalu dengan tangan kirinya menyambar tangan baju si penyerang, tangan kanannya mencari biji mata lawan. Khu Cie Kee meronta sekuatnya, ujung bajunya robek.
Waktu itu Ma Giok maju bersama Ong Cie It, akan tetapi Oey Yok Su sudah berlompat ke belakang Cek Tay Thong, ketika kakinya dilayangkan, Kong Leng Cu roboh jungkir balik!
Di kamar rahasia, Kwee Ceng menyerahkan lubang intaian kepada Oey Yong, maka giranglah nona ini menyaksikan ayahnya menunjukkan kepandaiannya, coba ia tidak ingat kawannya mesti menanti lagi satu dua jam untuk sembuh betul, tentulah ia sudah menepuk tangan bersorak-sorai.
Adalah Auwyang Hong yang berdiri di pintu sambil tertawa berkakakan, dengan mulutnya dibuka lebar-¬lebar:
"Yang Ong Tiong Yang terima adalah ini segerombolan kantung nasi!"
Cie Kee penasaran sekali. Semenjak belajar silat, belum pernah ia dikalahkan begini rupa.
"Berdiri rapi di tempat masing-masing!" ia berteriak pula.
Akan tetapi Oey Yok Su tidak sudi memberikan kesempatan. Ia bergerak ke timur dan barat, ia menyerang kalang-kabutan hingga semua lawannya itu menjadi kelabakan, barisannya tidak dapat diatur pula. Bahkan pedangnya Ma Giok dan Tam Cie Toan telah dipatahkan Tong Shia dan dilemparkan ke lantai.
Khu Cie Kee bersama Ong Cie It lantas merangsak dengan pedang di tangan masing-masing. Itulah jurus istimewa dari ilmu pedang Coan Cin Pay. Oey Yok Su tidak berani memandang ringan lagi, ia berkelahi dengan hati-hati.
Ma Giok cerdik, diam-diam ia menggunakan kesempatan akan lompat ke dudukan thian-kie dan terus saja ia memegang pimpinan. Tam Cie Toan dan Lauw Cie Hian lantas menyusul mengambil kedudukan mereka. Perbuatan mereka ini lantas diikuti oleh yang lain-¬lainnya.
Sebentar saja, barisan Thian Kong Pak Tauw lantas teratur rapi. Dengan begitu, jalannya pertempuran juga berubah menjadi lain. Thian Koan bersama giok-heng lantas menhadapi lawan di depan, thian-kie dan kay¬yang yang terus menyerang dari samping, sedang yauw-kong dan thian-soan di belakang turut merangsak. Cie Kee maju di bantu Cie Peng.
Oey Yok Su meseti melayani musuh di empat penjurunya. "Saudara Hong!" katanya tertawa. "Ong Tiong Yang toh dapat meninggalkan ini macam ilmu kepandaian!"
Tong Shia bicara sambil tertawa, meski begitu, ia merasakan lawan menjadi beda, tenaga mereka menjadi besar sekali. Maka sekarang ia bersilat dengan Lok Eng Ciang-huat, ia berputaran di dalam Thian Kong Pak Tauw itu, hingga tubuhnya seperti melayang-layang dan tangannya beterbangan…
Oey Yong mengenali ilmu silat ayahnya. "Ketika ayah mengajari ilmu silat ini, aku menyangka hanya ilmu kosong dan satu berisi atau tujuh berisi dan satu kosong," katanya di dalam hati, "Tidak tahunya setelah dipakai bertempur benar-benar, semua lima kosong dan tujuh berisi itu dapat diubah bergantian."
Pertempuran ini beda sekali dengan perlawanan Tiauw Hong tadi. Si nona menonton sambil menahan napas. Bahkan Auwyang Hong yang lihay pun turut ketarik sampai ia menjadi kagum sekali.
Selagi orang bertaruh seru, tiba-tiba terdengar satu suara jeritan, "Aduh!" disusul mana tubuh jatuh terguling. Nyata korban itu ialah In Cie Peng. Dia tidak sanggup melayani Oey Yok Su berputaran, matanya kabur, kepalanya pusing, dunia dirasakan bagai berputar, di depan matanya entah ada berapa banyak musuhnya itu, akhirnya setelah penglihatannya gelao, tidak ampun lagi ia roboh!
Coan Cin Cit Cu memusatkan pikiran. Mereka tahu, asal ada satu saja yang hatinya goncang, mereka tidak bakal ketolong lagi, atau Coan Cin Pay bakal runtuh dan musnah. Oey Yok Su pun gelisah. Ia sudah kepalang, ia bersangsi untuk bertempur terus atau berhenti. Perlawanan hebat dari Khu Cie Kee beramai itu membuat kedua pihak sama unggulnya. Sementara itu ayam-ayam sudah berkokok dan sinar matahari mulai mengintai di arah timur.
Dengan lewatnya sang waktu, selesai sudah batas waktu istirahatnya Kwee Ceng. Ia telah sembuh dan memperoleh kembali kesehatannya seperti sediakala. Di luar kamarnya orang bertempur umpama kata langit terbalik dan bumi ambruk tetapi ia sendirinya tetap tenang, ia duduk diam. Baru sesaat kemudian, ia mengintai ke luar kamar rahasianya, ia menjadi terkejut.
Oey Yok Su bertindak dengan perlahan, kakinya mengikuti garis patkwa, atau segi delapan, setiap gerakan tangannya berlahan juga. Ketika Oey Yong menggantikan Kwee Ceng mengintai, ia tahu betul ayahnya lagi menggunakan ilmu silatnya yang tak sembarang dipakai. Segera juga bakal datang saat yang memutuskan.
Coan Cin Cit Cu berkelahi dengan seantero tenaganya. Mereka pun menginsyafi bahaya yang tengah mengancam. Berkali-kali mereka mengasih dengar suara satu sama lain, untuk mengasih isyarat, guna menambah semangat masing¬-masing. Di batok kepala mereka mulai terlihat hawa panas mengkedus, sedang jubah mereka telah basah kuyup. Hilanglah ketenangan mereka sebagaimana tadi mereka melayani Bwee Tiauw Hong.
Auwyang Hong terus menonton sambil memperhatikan barisannya imam-imam dari Coan Cin Kauw itu. Ia mengharap Oey Yok Su nanti mengurus semua tenaganya hingga mendapat luka dalam. Dengan begitu, kapan kembali di adakan rapat besar di Hoan San, rapat yang kedua, untuknya akan kurang satu lawan yang tangguh. Akan tetapi Tong Shia benar-benar lihay, meski Khu Cie Kee semua bekerja sekerasnya, mereka itu masih tidak dapat merampas kemenangan.
Menyaksikan pertempuran yang sangat memakan waktu itu, Auwyang Hong menjadi tidak sabar. Dasar ia berbisa, setelah berpikir sekian lama, ia mendapat satu akal licik. Pertempuran itu berjalan semakin perlahan, tapi itu tandanya bahwa bahaya semakin dekat.
Oey Yok Su bekerja terus, nyata sekali terlihat ia menyerang dengan kedua tangannya kepada Sun Put Jie dan Tam Cie Toan. Kedua imam itu mengangkat tangan mereka untuk menangkis. Mereka segera dibantu Lauw Cie Ian dan Ma Giok.
Saat itu, mendadak See Tok bersiul panjang dan terus berseru: "Saudara Yok, aku bantu kau!" menyusul suaranya itu ia berjongkok, segera dengan kedua tangannya ia menolak ke arah Tam Cie Toan!
Tiang Ci Cu tengah memusatkan perhatiannya terhadap Oey Yok Su, ia telah mengerahkan tenaganya menangkis serangan Tong Shia, ketika mendadak ia merasakan benturan keras di belakangnya, jangan kata untuk menangkis, berkelit saja sudah tidak keburu, maka dengan menerbitkan suara, ia roboh tengkurap. Oey Yok Su menjadi gusar sekali.
"Siapa menghendaki bantuanmu!" ia menegur See Tok.
Ketika itu Khu Cie Kee dan Ong Cie It menyerang dengan berbareng. Tong Shia mengibas untuk menangkis atau tangannya yang kanan bentrok sama perlawanannya Ma Giok dan Cek Tay Thong, yang pun menyerang kepadanya.
Auwyang Hong tertawa. "Kalau begitu, biarlah aku bantu mereka!" seruanya.
Sambil berkata begitu, dengan kedua tangannya benar-benar ia menyerang si Sesat dari Timur itu. Kalau tadi ia menyerang Tam Cie Toan dengan menggunakan tenaga tiga bagian, sekarang ia menggerahkan tenaganya dengan sepenuhnya. Itu pun saat Oey Yok Su tengah menghadapi empat lawannya. Ia mengharap hajaran ini, satu kali saja, akan menamatkan riwayat pemilik pulau Tho Hoa To itu. Akal yang ia bertelurkan dari batok kepalanya ialah lebih dulu menjatuhkan salah satu Coan Cn Cit Cu, baru ia membokong Oey Yok Su. Ia sudah memikir matang, setelah Thian Kong Pak Tauw Tin pecah, dengan Oey Yok Su sudah mati, walaupun imam-imam dari Coan Cin Kauw itu murka, ia tidak usah takuti mereka.
Oey Yok Su kaget sekali. Ia tidak menyangka Auwyang Hong dapat berlaku demikian. Ia menghadapi kesulitan. Tidak bisa ia meninggalkan empat musuhnya, umpama kata ia memutar tubuh, melayani Auwyang Hong, ia bisa celaka. Maka itu tidak ada jalan lain, ia mencoba menutup diri seraya mengerahkan tenaga di punggungnya, guna terpaksa menerima serangan Kap-mo-kang, ilmu silat Kodok, dari si Bisa dari Barat yang licin itu.
Auwyang Hong girang sekali melihat Tong Shia mau mempertahankan diri dari serangannya yang dahsyat. Itu artinya akal busuknya berhasil. Tapi saat ia lagi bergirang, mendadak ia melihat berkelebatnya satu bayangan hitam, yang mencelat dari samping, bayangan mana berlompat ke belakang Oey Yok Su, untuk mewakili Tong Shia menyambut serangannya itu!
Segera setelah serangan Auwyang Hong itu ada yang tangkis, Oey Yok Su dan keempat imam lawannya menghentikan pertempuran sambil melompat minggir, untuk memisahkan diri. Ketika mereka melihat tegas, nyata orang yang berkorban untuk Tong Shia ini adalah Bwee Tiauw Hong!
Oey Yok Su menoleh kepada See Tok, ia tertawa dingin. "Benar-benar si Bisa Bangkotan ternama tak mengecewakan," katanya mengejek.
Auwyang Hong sendiri berulang-ulang menyatakan, "Sayang, sayang!" di dalam hatinya. Ia menyesal bukan main serangannya gagal, sebab orang lain yang menjadi korban. Dasar licik, ia mengerti bahaya. Ia tidak mau melayani Oey Yok Su. Ia mengerti baik sekali, kalau Oey Yok Su bergabung dengan semua imam itu, berarti ia menghadapi bencana jiwa. Maka sembari tertawa ia memutar tubuh berlompat keluar, terus angkat langkah seribu!
Ma Giok lantas menghampiri Tam Cie Toan, ia membungkuk untuk mengangkatnya. Segera juga ia menjadi kaget. Tubuh adik seperguruannya itu lemas sekali dan kepalanya pun teklok. Auwyang Hong telah menghajar orang hingga tulang-tulang iga serta punggungnya patah. Kakak ini lantas mengucurkan air mata, sebab ia merasa pasti, adik seperguruannya tidak bakal dapat ditolong lagi.
Khu Cie Kee yang bertabiat keras berlompat keluar dengan membawa pedangnya, ia mau menyusul See Tok, menyerang si bisa yang jahat itu, tetapi dari tempat yang jauh cuma mendengar suara orang:
"Oey Lao Shia, telah aku membantu kau memecahkan barisan istimewa warisan Ong Tiong Yang, aku pun sudah mewakili kau menghukum mati murid Tho Hoa To yang murtad, maka itu, sisanya enam imam campur aduk, kau sendiri pun dapat melayaninya. Sampai ketemu pula!"
Oey Yok Su mengeluarkan suara di hidung. Ia tahu, kata-kata terakhir dari See Tok ini adalah untuk membakar hatinya dan kawanan Coan Cin Kauw itu, supaya mereka murka dan menumplekkan kemurkaan terhadapnya. Tapi ia pun besar kepala, tidak sudi ia memberi keterangan kepada Ma Giok semua. Ia hanya menghampiri mayat Bwee Tiauw Hong, mengangkatnya dengan perlahan-lahan. Muridnya telah memuntahlan darah segar, kelihatannya tidak bisa hidup lebih lama lagi.
Khu Cie Kee mengubar sampai beberapa puluh tembok, Auwyang Hong entah telah kabur kemana. Ketika itu, Ma Giok berulang-ulang memanggil pulang, maka ia kembali dengan tindakan lebar. Ia masih gusar sekali, kedua matanya terbuka besar dan bersinar merah. Segera ia menuding Oey Yok Su.
"Coan Cin Kauw kami denganmu ada bermusuhan apa?!" ia menegur dengan bengis. "Oh, iblis tersesat yang jahat sekali! Mulanya kau membinasakan Ciu Susiok kami, sekarang kau mencelakai Tam Sutee kami. Apakah artinya perbuatanmu, hai manusia sesat?"
Ditegur begitu, Oey Yok Su melengak. "Kau maksudkan Ciu Pek Thong?" akhirnya ia menanya. "Kau bilang aku membinasakan dia?"
"Apakah kau masih mau menyangkal?" Cie Kee mendesak.
Oey Yok Su tahu di sini ada salah mengerti, tetapi ia membungkam, ia cuma tertawa dingin. Sebenarnya bersama-sama Ciu Pek Thong dan Auwyang Hong, ia lagi mengadu lari, sesudah beberapa ratus lie dilalui, mereka masih seri. Niat mereka semula adalah mengadu terus sampai ada keputusan siapa yang menang, tetapi mendadak, Ciu Pek Thong menghentikannya setengah jalan. Ini disebabkan Loo Boan Tong tiba-tiba ingat Ang Cit Kong, yang ditinggalkan seorang diri di dalam istana kaisar. Berbahaya kalau Pengemis dari Utara itu sampai kena dipergoki penghuni istana. Bukankah ia telah habis ilmu silatnya? Maka itu ia kata kepada kedua lawannya:
"Loo Boan Tong ada mempunyai urusan, kita berhenti saja, kita jangan mengadu lari lebih jauh!"
Kata-kata ini kepastian, Oey Yok Su dan Auwyang Hong tidak dapat memaksakan, untuk itu, ia dibiarkan lari. Oey Yok Su berniat menanyakan Ciu Pek Thong tentang putrinya, karena kepergian si orang tua berandalan dan jenaka itu, ia menjadi batal menanyakan.
Ketika itu sia-sia belaka Tam Cie Toan menyusul mereka bertiga, ia tidak dapat melihat sekalipun bayangan orang, sebaliknya Oey Yok Su semua mengetahui dan melihat jelas sekali, maka itu seberlalunya Loo Boan Tong, Oey Yok Su dan Auwyang Hong lantas kembali ke Gu-kee-cun. Kebetulan sekali, sesampainya mereka di rumah penginapan, mereka dapat menyaksikan Coan Cin Cit Cu lagi menempur Bwee Tiauw Hong. Biar bagaimana, Tong Shia tidak bisa membiarkan muridnya bercelaka, maka itu, diakhirnya ia yang turun tangan sendiri. Di luar dugaan, kesudahannya demikian hebat.
Selagi Khu Cie Kee kalap, Sun Put Jie menangiskan Tam Cie Toan. Yang lain-lain pun gusar sekali, hingga mereka semua mau mengadu jiwa.
Tiba-tiba Tam Cie Toan membuka matanya dan berkata: "Aku mau pergi…"
Khu Cie Kee semua lantas menghampiri, mereka mengerubungi saudara seperguruan itu. Tam Cie Toan bersenandung lemah, lalu ia menarik napasnya yang penghabisan, matanya meram. Keenam Cu bertunduk, untuk memujikan arwah saudaranya. Habis itu Ma Giok memondong tubuh suteenya, dibawa pergi. Khu Cie Kee semua mengikuti tanpa bersuara, tanpa berpaling lagi ke belakang, mereka keluar dari rumah penginapan itu dan pergi.
Oey Yok Su heran sekali, ia tidak tahu permusuhan apa di antara ia dan Coan Cin Kauw, tetapi ketika ia melihat Bwee Tiauw Hong bernapas empas-empis, ia menjadi berduka. Biar bagaimana Tiauw Hong adalah muridnya, mereka telah hidup bersama beberapa puluh tahun. Murid itu pun telah berkorban untuknya. Pada dasarnya, ialah seorang yang jujur, maka itu, dalam kedukaannya, ia menangis. Bwee Tiauw Hong dapat mendengar tangis gurunya, ia mengerti, lantas tersenyum. Ia tidak mengatakan apapun, hanya dengan mengerahkan tenaga terakhir, dengan tangan kanannya ia mematahkan lengannya yang kiri, kemudian dengan tangan kanan itu ia menghajar batu itu hancur dan lengannya pun patah pula. Menyaksikan perbuatan muridnya, Oey Yok Su tercengang.
"Suhu," berkata sang murid, "Ketika di Kwei-in-chung suhu menitahkan muridmu melakukan tiga macam perbuatan, dua yang lain muridmu tak keburu melakukannya….."
Oey Yok Su lantas ingat akan tiga macam perintahnya itu, ialah pertama mencari pulang kitab Kiu Im Cin-keng yang telah hilang, kedua mencari Liok Leng Hong serta dua muridnya yang lain, dan yang ketiga, yaitu yang terkahir, dimestikan membayar pulang ilmu silat yang didapat dari Kiu Im Cin-keng. Sekarang dengan mematahkan kedua tangannya itu, Bwee Tiauw Hong menepati perintah gurunya, sebab dengan tangannya patah maka musnahlah juga kepandaian Kiu Im Pek-kut Jiauw seri Cwie-sim¬ciang.
Lantas sang guru tertawa terbahak. "Bagus, bagus!" katanya. "Dua yang lain itu sudah tidak ada artinya lagi! Sekarang mari aku terima pula kau menjadi murid dari Tho Hoa To!"
Tiauw Hong menginsyafi telah tersesat, maka mendengar gurunya memberi ampun dan suka menerima ia kembali, girangnya bukan main, dengan memaksakan diri ia merayap bangun, memberi hormat kepada gurunya sambil paykui beberapa kali, ketika ia mengangguk untuk ketiga kalinya, tubuhnya rebah tak bangun lagi.
Oey Yong dari kamar rahasia menyaksikan itu semua, ia disandingkan pelbagai perasaan. Hebat apa yang ia saksikan itu, semuanya mengagetkan dan mengharukan. Dilain pihak, ia mengharap-harap ayahnya berdiam sebentar lagi saja, supaya ia bersama Kwee Ceng dapat keluar menemuinya. Kwee Ceng tinggal menanti berkumpulnya hawa di pusar.
Oey Yok Su mengangkat tubuh Bwee Tiauw Hong, untuk dipondong. Hampir di waktu itu, di luar rumah terdengar suara meringkiknya kuda. Oey Yong mengenal kuda merah yang kecil kepunyaan Kwee Ceng. Menyusul suaranya Sa Kouw, yang berkata:
"Inilah dusun Gu¬kee-cun! Mana aku tahu di sini ada orang she Kwee atau tidak………?"
Lalu terdengar suara yang lain: "Di sini toh cuma ada beberapa buah rumah! Mustahil kau tidak kenal semua penduduk sini?"
Agaknya orang itu tidak sabaran, karena ia lantas saja menolak pintu dan bertindak masuk.
Oey Yok Su menempatkan diri di belakang pintu, ketika ia melihat orang yang masuk, air mukanya berubah. Orang ini adalah Kanglam Liok Koay yang telah ia cari dengan susah payah.
Kanglam Liok Koay sudah pergi ke Tho Hoa To, lantas mereka berputar-putar, mereka tidak berhasil mencari rumahnya pemilik pulau Bunga Tho itu, baru kemudian mereka bertemu sama satu bujang yang gagu dan mereka tahu majikan pulau itu tengah bepergian. Kemudian lagi Kanglam Liok Koay melihat kuda merah dari Kwee Ceng terlepas bebas di dalam rimba, mereka lalu membawanya sampai di dusun Gu-kee-cun ini, dimana mereka bertemu Sa Kouw, si nona tolol.
Kwa Tin Ok sangat jeli kupingnya, begitu masuk di pintu, ia medengar suara orang bernapas di belakang pintu, maka segera ia memutar tubuhnya, diturut oleh lima saudaranya. Lantas mereka melihat Oey Yok Su menhadang di ambang pintu seraya tangannya memondong Bwee Tiauw Hong. Oey Yok Su rupanya mau mencegah keenam orang luar biasa dari Kanglam itu melarikan diri…..
"Oey Tocu baik?" Cu Cong lantas menanya. "Sudah lama kita tidak bertemu! Kami berenam telah memenuhi janji bertemu di Tho Hoa To, sayang tocu tidak ada di rumah, tetapi hari ini kebetulan bertemu di sini, kami merasa sangat beruntung!" Habis berkata begitu, si Pelajar Tangan Lihay lantas menjura dalam.
Oey Yok Su berniat membunuh Liok Koay, sekarang ia menampak pula muka pucat pasi dari Tiauw Hong, ia berpikir: "Liok Koay ini musuh besar dari Tiauw Hong, siapa nyana sekarang Tiauw Hong mendahului mereka mati, meski begitu, sekarang aku mesti membuatnya ia membinasakan musuhnya dengan tangannya sendiri, supaya ia mati dengan meram….."
Maka itu tangan kanan tetap memondong tubuh muridnya, tangan kiri ia mengangkat tangan patah muridnya, tangan yang hanya tersambung dengan kulit daging, sembari berbuat begitu ia melompat ke samping Han Po Kie, dengan cepat sekali tangannya Tiauw Hong menghajar bahu kanan si Malaikat Raja Kuda.
Han Po Kie kaget bukan main, sampai dia tidak sempat berkelit atau menangkis. Hebat ia kena dihajar, benar lengannya tidak sampai patah tetapi sesaat itu dia tidak dapat menggerakkan tangan.
Liok Koay kaget dan gusar karena sikapnya Oey Yok Su ini, yang menyerang tanpa bicara lagi, maka mereka pun lantas balik menyerang. Han Po Kie turut maju setelah ia merasa tangannya lebih ringan. Mereka berseru sambil menghunus senjatanya masing-masing. Mereka mengurung dengan rapi.
Oey Yok Su mengangkat tinggi tubuh Bwee Tiauw Hong, ia seperti tidak menghiraukan pelbagai alat senjata yang aneh dari enam jago Kanglam itu.
Han Siauw Eng adalah orang pertama yang diserang pemilik Tho Hoa To itu. Ia kaget ketika melihat muka Bwee Tiauw Hong, yang matanya mendelik, rambutnya riap-riapan, mulutnya penuh darah. Itulah roman mayat yang sangat menyeramkan. Tangan Tiauw Hong pun diangkat tinggi-tinggi, mengancam batok kepalanya. Tanpa merasa ia menjadi lemas kaki dan tangannya.
Lam Hie Jin dan Coan Kim Hoat menyaksikan saudara angkat mereka terancam, dengan berbareng mereka menyerang tangan Tiauw Hong itu. Mereka menggunakan pikulan serta bandulan besi dacin.
Oey Yok Su sebat luar biasa, dengan cepat ia menarik pulang tangan kanan Tiauw Hong, kemudian dengan tangan kirinya menghajar Siauw Eng. Ahli pedang Gadis Wat itu tengah tidak berdaya, maka pinggangnya menjadi sasaran, ia kesakitan hingga tubuhnya melengkung jongkok.
Han Po Kie maju dari samping, menyerang dengan cambuknya, Kim-liong-pian, atau cambuk Naga Emas. Oey Yok Su mengangkat kaki kirinya, ia bergerak sebat, tetapi toh kakinya kena kelibat. Hanya Han Po Kie, meski mengeluarkan seluruh tenaganya, tidak sanggup ia menarik kuda-kudanya Tong Shia. Dilain pihak, tangan berkuku dari Bwee Tiauw Hong telah menyambar ke mukanya. Ia kaget sekali, melepaskan libatan cambuknya, ia berkelit sambil berlenggak terus menjatuhkan diri bergulingan. Meski begitu, ia merasakan mukanya panas dan sakit, ketika ia meraba muka, tangannya penuh darah. Sebab lima kuku Tiauw Hong berhasil menyambar mukanya. Syukur untuknya, Tiauw Hong sudah menjadi mayat dan jambakannya itu bukan jambakan Kiu Im Pek-kut Jiauw.
Setelah beberapa jurus, Liok Koay lantas jatuh di bawah angin. Coba tidak Oey Yok Su menghendaki membinasakan musuh dengan tangannya Tiauw Hong sendiri, mungkin mereka sudah bercelaka. Sekarang mereka hanya terancam bahaya.
Kwee Ceng di dalam kamar rahasia menjadi bergelisah. Ia mendengar nyata suara napas menggorong dari keenam gurunya, tanda dari keaadan berbahaya dari mereka. Ia menjadi cemas hati sebab ia sendiri tidak bisa lekas-lekas keluar, untuk mencegah bencana. Ia masih memerlukan waktu untuk memperkuat hawa di pusarnya. Tapi dapatkah ia main ayal-ayalan? Budi guru-gurunya itu sama dengan budi orang tuanya! Maka akhirnya, ia menahan napas, ia meluncurkan sebelah tangannya menghajar daun pintu, hingga pintu itu gempur.
Oey Yong kaget bukan main. "Engko Ceng, jangan!" ia mencegah. Ia tahu kawannya mesti beristirahat.
Kwee Ceng merasakan akibat serangannya itu, hawa naik ke atas, ke jantungnya, maka lekas-¬lekas ia meramkan mata menarik pulang hawanya kembali ke pusar. Tetapi sekarang pintu rahasia telah tergempur pecah dan terbuka.
Oey Yok Su dan Kanglam Liok Koay kaget sekali, apa pula mereka lantas melihat muda-mudi itu. Dengan sendirinya mereka pada lompat mundur menghentikan pertempuran. Oey Yok Su heran dan girang, hingga ia mengucak¬-ucak matanya.
"Anak Yong, benarkah kau?" ia menanya. Hampir tak mempercayai matanya sendiri. Ia merasa bagaikan lagi bermimpi.
Oey Yong dengan sebelah tangannya memegang tangan Kwee Ceng, mengangguk sambil tersenyum. Ia tidak membuka mulut untuk menjawab ayahnya itu.
Mengawasi sikap anak gadisnya itu, Oey Yok Su lantas mengerti. Untuknya, diketemuinya anak itu seperti juga si anak sudah mati tetapi hidup lagi. Itulah putri satu-satunya dan juga yang ia sayangi seperti jiwanya sendiri. Ia lantas meletakkan tubuh Tiauw Hong di atas bangku, ia terus menghampiri Kwee Ceng, di sisinya ia duduk bersila, tangannya diulur untuk mencekal tangan anak muda itu.
Kwee Ceng merasakan hawa di dalam tubuhnya panas bergolak, sangat sukar ia melawan. Beberapa kali ia hendak berkoakan atau berlompatan. Tapi, begitu lekas tangannya di tempelkan Oey Yok Su, lantas hawa panasnya berkurang, dapat ia berlaku tenang. Dengan lain tangannya, Oey Yok Su pun menguruti sekejur tubuh pemuda itu.
Boleh di bilang hanya sekejap kemudian, Kwee Ceng dapat menenangkan dirinya. Itu artinya bukan saja ia telah terhindar dari bahaya, bahkan ia sudah sembuh betul, otot dan tulang-tulangnya menjadi bertambah kuat. Maka itu, ia lantas bangun, untuk paykui kepada pemilik Tho Hoa To itu, kemudian ia pun menghampiri keenam gurunya, memberi hormat.
Selagi pemuda itu berbicara sama semua gurunya, menuturkan segala hal semenjak mereka berpisah, Oey Yok Su pun asyik pasang omong dengan putrinya, tangan siapa ia tuntun. Mereka gembira sekali, kadang-kadang mereka tertawa gila.
Mengetahui tentang nona Oey, Liok Koay heran dan ketarik hati. Mereka pun ketarik dengan suara halus dari nona itu. Maka diam-diam mereka bertindak mendekati, mendengarkan lebih jauh suara si nona, yang terus berbicara dengan ayahnya. Sebab banyak yang anak ini tuturkan.
Tiba pada saatnya pertempuran Oey Yok Su dengan Liok Koay, nona itu berkata sambil tertawa:
"Sudahlah, tak usah aku bercerita terus!"
Segera setelah itu Oey Yok Su berkata: "Aku hendak membinasakan empat orang, ialah Auwyang Hong, Leng Tie Siangjin, Kiu Cian Jin dan Yo Kang, maka anak yang baik, mari kau turut aku menyaksikan keramaian!"
Tapi ia melirik kepada Liok Koay, agaknya ia jengah, tetapi dasar angkuh, ia terus tidak sudi mengaku salah, cuma seperti untuk menghibur diri, ia berkata:
"Anggaplah sang peruntungan masih tidak terlalu buruk hingga aku tidak sampai mencelakakan orang baik-baik!"
"Ayah," kata Oey Yong tertawa, "Baiklah kau minta maaf kepada beberapa suhu ini…"
"Hm," jawab ayahnya, yang lalu menyimpanginya. "Aku hendak mencari See Tok, eh, anak Ceng, kau turut atau tidak?"
Belum lagi Kwee Ceng menyahut, Oey Yong sudah memegat kata-kata anak ini, "Ayah, baiklah kau pergi dulu ke istana untuk memapak suhu!"
Kwee Ceng tidak sempat menjawab Oey Yok Su, ia terus bercerita terus sampai Oey Yok Su memberi perkenan untuk ia menikah dengan Oey Yong serta Ang Cit Kong mengambil ia sebagai murid. Mengenai ini, ia minta keputusan guru-gurunya itu.
Kwa Tin Ok menjadi sangat girang. "Kau sungguh beruntung!" katanya. "Dengan kau mendapatkan Kiu Cie Sin Kay sebagai guru dan Tocu dari Tho Hoa To sebagai mertua, kami girang bukan kepalang! Masa dapat kami tidak memberikan perkenan? Cumalah halnya Kha Khan dari Mongolia?"
Tin Ok hendak menyebutkan urusan putrinya Jenghiz Khan, bahwa halnya murid ini adalah calon Kim-too Huma, tetapi ia tidak dapat lantas membuka mulut.
Mendadak sekali, pintu yang tadi tertutup, sekarang ada yang pentang dan Sa Kouw muncul di antara mereka, tangannya memegang monyet-¬monyetan dari kertas. Ia menghampiri Oey Yong dan menanya sambil tertawa:
"Adik, apakah semangkamu telah habis dimakan? Seorang tua telah menyuruh aku menyerahkan kunyuk-kunyukan ini kepadamu, katanya buat main…"
Oey Yong menyangka orang lagi kumat ketololannya, ia menyambut kera kerta itu acuh tak acuh. Sa Kouw berkata lagi:
"Orang tua yang rambutnya ubanan, memesan juga supaya kamu jangan gusar, katanya pasti ia bakal menolong kau mencari gurumu."
Mendengar itu, Oey Yong menduga kepada Ciu Pek Thong, maka ia lantas meneliti kertas itu. Benarlah di situ ada tulisan alamatnya, maka ia lantas membukanya, hingga ia dapat membaca:
"Si pengemis tua tak dapat ditemukan, karenanya Loo Boan Tong menjadi tidak gembira."
Si nona menjadi heran dan kaget. "Ah, kenapa suhu lenyap?" serunya.
Oey Yok Su berdiam, lalu ia berkata: "Loo Boan Tong edan-edanan tetapi ia lihay sekali, maka asal Ang Cit Kong tidak mati, pasti ia dapat menolongnya. Hanya sekarang ini Kay Pang lagi menghadapi satu urusan besar…"
"Bagaimana, ayah?" Oey Yong menanya terkejut.
"Tongkatnya si pengemis tua telah diberikan padamu sudah dibawa pergi oleh Yo Kang si binatang cilik itu! Binatang itu tidak lihay ilmu silatnya tetapi lihay otaknya, kalau tidak bagaimana dapat orang sebangsa Auwyang Kongcu terbinasa di tangannya? Dia telah mendapatkan tongkat keramat kaum pengemis, pastilah dia bakal menerbitkan gelombang kekacauan, yang dapat membahayakan Kay Pang. Mari kita lekas mencari dia, untuk merampas kembali tongkat itu, kalau tidak, pasti celakalah murid-murid dan cucu-cucu muridnya si pengemis bangkotan itu!"
Mendengar itu Liok Koay menganggukkan kepala.
"Sayang suhu sudah pergi beberapa hari, mungkin sukar dicandak," kata Kwee Ceng.
"Di sini ada kuda merahmu, kau boleh coba menyusul," kata Po Kie.
Kwee Ceng lantas ingat kuda merahnya, ia menjadi girang sekali, lantas lari keluar seraya bersiul. Kuda itu mendengar suara majikannya, dia berjingkrak lari menghampiri, dia mengelus-elus majikannya seraya meringkik perlahan tak hentinya.
Menampak demikian Oey Yok Su berkata: "Anak Yong, pergilah kau bersama Kwee Ceng untuk merampas pulang tongkat itu. Kuda kecil itu keras larinya, mungkin kamu dapat menyandak."
Selagi berkata begitu, Oey Yok Su melihat Sa Kouw di samping mereka, nona itu tertawa dengan ketololannya. Ia melihat wajah dan gerak-gerik orang, ia ingat itulah mirip dengan sifat muridnya, Kiok Leng Hong.
"Apakah kau she Kiok?" ia tanya nona itu.
Sa Kouw menggeleng kepala secara lucu. "Aku tidak tahu," sahutnya.
"Ayah, mari kau lihat!" berkata Oey Yong, mengajak ayahnya, yang ia tuntun ke dalam kamar rahasia.
Begitu melihat pengaturan ruangan itu, Oey Yok Su ketarik hatinya. Itulah pengaturan seperti caranya sendiri. Maka ia menduga, mesti itu diatur oleh Kiok Leng Hong, muridnya.
"Ayah, coba lihat benda di dalam peti besi itu," Oey Yong berkata lagi.
Oey Yok Su tidak lantas membuka peti hanya tubuhnya mencelat tinggi sambil tangannya diulur ke pojok tembok barat daya, menyambar ke arah wuwungan, ketika ia menarik, tembok itu lantas terbuka merupakan sebuah lubang. Dengan tangan kanannya memegang kertas, ia lantas menggelantungkan diri, lalu dengan tangan kirinya, ia merogoh ke dalam lubang itu. Dari situ ia menarik keluar segulungan kertas. Belum lagi ia lompat turun, tangan kanannya sudah menekan tembok, maka dengan itu, ia berlompat terus keluar kamar.
Oey Yong dengan sebat melompat mengikuti ayahnya. Ia melihat gulungan kertas yang penuh debu setelah dibeber, kertas itu memuat tulisan yang huruf-hurufnya tidak karuan macam, bunyinya:
"Surat ini dihanturkan kepada guruku yang berbudi di pulau Tho Hoa To. Dari istana kaisar muridmu telah berhasil mendapatkan sejumlah tulisan dan gambar lainnya, yang semua hendak dihanturkan kepada suhu, maka tidak beruntung sekali, selama di dalam istana aku telah dikepung sekawanan siwi. Aku telah meninggalkan seorang anak perempuan……."
Sampai di situ, habis sudah surat itu, yang terlihat tinggal titik-titik yang terang adalah titik-titik darah. Melihat surat itu, Oey Yong menjadi terharu hatinya. Ia mengingat nasib celaka murid-murid ayahnya, yang semuanya lihay tetapi mereka telah diusir ayahnya gara-gara Bwee Tiauw Hong berdua. Sekarang beginilah nasib Kiok Leng Hong, salah satu murid yang tetap setia itu.
Oey Yok Su mengerti, Leng Hong ini tentulah ingin kembali ke Tho Hoa To, maka setelah diusir dia berdaya mencari rupa-rupa barang yang menjadi kesukaan gurunya, ia membesarkan hati pergi mencuri ke istana, maka apa celaka, ia menemui saat naas, disaat berhasilnya, ia kepergrok dan dikepung pahlawan-pahlawan istana. Melihat nasibnya Liok Seng Hong, ia sudah menyesal, maka sekarang ia menjadi lebih menyesal lagi. Sa Kouw tidak tahu apa-apa, ia berdiri di samping sambil terus tertawa haha-hhihi.
"Apakah ilmu silatmu diajari ayahmu?" Oey Yok Su menegur si nona, suaranya bengis.
Sa Kouw menggeleng kepala lantas dia lari keluar pintu besar, daun pintu itu ia tutup rapat, setelah ia mengintai ke dalam, terus ia bersilat. Dia mengintai pula, lalu kembali bersilat lagi.
"Ayah," berkata Oey Yong, "Dia belajar silat dengan mencuri pelajaran Kiok Suko."
Ayahnya mengangguk. "Ya," katanya, "Aku pun tidak percaya, setelah di usir, Leng Hong bernyali besar berani mewariskan ilmu kepandaiannya kepada lain orang… Eh, anak Yong, coba kau serang dia dibagian bawah, kau gaet dia roboh!"
Kata-kata yang belakangan ini dikeluarkan secara mendadak. Oey Yong heran, tidak tahu ia maksud ayahnya, tetapi ia menghampiri Sa Kouw, sembari tertawa haha¬hihi, ia kata kepada nona tolol itu,
"Sa Kouw, mari aku berlatih bersama-sama denganmu. Kau berhati-¬hatilah!" Ia lantas menggerakkan dengan tangan kiri, disusul tendangan kaki kiri dan kanan degan sebat sekali.
Sa Kouw melengak, sebelum ia sempat berdaya, kempelonnya yang kanan kena ditendang. Ia lantas lompat mundur. Tetapi di sini ia telah ditunggu, begitu ia digaet, lantas ia jatuh terguling. Ia lompat bangun dengan segera.
"Kau menggunakan akal!" serunya. "Adik kecil, mari kita mulai lagi!"
"Hus!" membentak Oey Yok Su. "Apa adik kecil! Kau mestinya memanggil kouw-kouw!"
"Kouw-kouw!" Sa Kouw lantas memanggil, tanpa ia mengetahui apa bedanya "adik kecil" dengan "kouw¬kouw" atau bibi.
Baru sekarang Oey Yong mengerti bahwa ayahnya hendak mencoba bagian bawah dari si tolol itu sebab Kiok Leng Hong hilang kedua kakinya, kalau Leng Hong bersilat seorang diri, kuda-kudanya tidak nampak, kalau ia mengajari dengan mulut, mestinya nona itu sempurna bagian atas, tengah dan bawahnya.
Dengan terus menyebut "kouw-kouw" itu sama dengan artinya Oey Yok Su menerima si nona sebagai muridnya.
"Kenapa kau tolol?" ia tanya pula.
"Aku Sa Kouw," sahut si nona tertawa. "Tolol" ialah "Sa"
"Mana ibumu?" tanya Oey Yok Su, alisnya mengkerut.
Nona itu meringis, "Ia sudah pulang…" sahutnya.
Masih Oey Yok Su menanya beberapa kali, jawaban si nona tidak karuan, maka ia menghela napas panjang. Ia tidak tahu orang tolol semenjak dilahirkan atau karena suatu penderitaan yang mengagetkan. Kecuali Leng Hong hidup pula, tidak nanti ada orang lain yang mengetahui sebab-musabab itu. Dengan mendelong, tocu dari Tho Hoa To ini mengawasi mayatnya Tiauw Hong.
"Anak Yong," katanya selang sesaat, "Mari kita lihat barang-barang Kiok Sukomu itu."
Oey Yong menurut, maka ayah dan anak itu masuk pula ke dalam kamar rahasia. Mengawasi tulang-belulang Kiok Leng Hong, Oey Yok Su berdiri mendelong, kemudian air matanya mengucur turun.
"Anak Yong," katanya. "Diantara semua muridku, Leng Hong yang paling pandai, maka kalau bukan kakinya buntung, seratus siwi pun tidak akan sanggup menawan dia!"
"Itu wajar!" sahut putrinya. "Ayah, apakah kau mau menerima Sa Kouw sebagai muridmu?"
"Ya," ayahnya menyahut. "Aku akan ajarkan dia ilmu silat, bersyair dan menabuh khim, juga ilmu Kie¬bun Ngo-heng. Apa yang dulu sukomu niat pelajarkan, tetapi belum kesampaian, semua akan aku ajarkan kepada anaknya ini!"
Oey Yong mengulur lidahnya. "Hebat penderitaan ayah," pikirnya.
Oey Yok Su membuka peti besi, ia memeriksa isinya. Melihat semua itu, ia menjadi semakin berduka. Ketika ia membeber sebuah gambar, ia menhela napas.
"Gambar bunga dan burung Kaisar Hwie Cong ini indah dilukisannya," katanya, "Maka sayang sekali, negara yang indah pun ia hanturkan kepada bangsa Kim…." Selagi ia menggulung pula gambar itu, mendadak Oey Yok Su berseru, "Ih!"
"Ada apa ayah?" tanya Oey Yong.
"Kau lihat!" sahut ayah itu, tangannya menunjuk kepada sebuah gambar san-sui, lukisan pemandangan alam, gunung dan air.
Oey Yong mengawasi, ia melihat gambar sebuah gunung tinggi dengan puncak lancip menjulang ke langit, masuk ke dalam mega, di bawah mana ada jurang yang berair, di lembah ada sekumpulan pohon cemara, yang penuh salju, yang semuanya doyong ke Selatan, seperti bekas diserang angin Utara yang hebat, di puncaknya, di sebelah Barat, sebaliknya ada sebuah pohon cemara yang berdiri tegak, di bawah pohon itu, dengan tinta merah, ada lukisan seorang jenderal perang lagi bersilat dengan pedang. Muka jenderal itu tak nampak jelas, tetapi dandanannya membuat siapa yang melihat, mesti menaruh hormat. Seluruh gambar memakai tinta hitam, kecuali manusianya ini, yang merah merong, hingga kelihatan mencolok mata. Gambar itu pun tidak ada tanda-tanda pelukisnya, cuma ada syairnya seperti berikut:
"Setelah bertahun-tahun maka baju perang penuh debu dan tanah, Maka aku sengaja mencari bau harum di paseban Cui Bie, Gunung yang indah, sungai yang permai, belum dipandang cukup. Tindakan kuda mendesak hingga malam terang bulan pergi pulang."
Oey Yong memperhatikannya, lalu ia ingat. Beberapa hari yang lalu, di paseban Cui Bie Teng di puncak Hui Lang Hong, ia pernah melihat syair itu yang ada tulisannya Jenderal Han See Tiong yang kesohor.
"Ayah," katanya, "Ini tulisan Tiong Bu Han Kie Ong, sedang syairnya buah kalam Gak Bu Bok."
"Benar," berkata ayahnya, "Gak Bu Bok menulis syair ini melukiskan gunung Cui Bie San di Kota Tie-ciu, hanya gunung yang dilukisan begini berbahaya keadaannya bukan gunung Cui Bie San itu sendiri. Latar belakang lukisan ini bagus tetapi pelukisnya bukan seorang pelukis jempolan."
Oey Yong ingat waktu di Hui Lay Hong, Kwee Ceng sangat ketarik sama syairnya yang ditulis Han See Tiong, yang ia ukir di batu dengan jeriji tangannya, dan si pemuda seperti tidak hendak meninggalkannya. Maka itu ia kata kepada ayahnya:
"Sebaiknya gambar ini diberikan kepada menantumu!"
Oey Yok Su tertawa dan berkata: "Memang anak perempuan berpihak ke luar, maka itu, aku hendak bilang apa lagi?" Ia pun memilih serenceng mutiara seraya berkata pula: "Mutiara yang dulu si Bisa bangkotan serahkan kepadamu, aku telah ambil dari Tho Hoa To dan membayar kembali kepadanya, maka itu sekarang kau ambillah ini."
Oey Yong tahu ayahnya sangat membenci Auwyang Hong, ia mengangguk, ia menyambut mutiara itu seraya terus mengalungkan di lehernya. Ia sedang berbuat begitu waktu kupingnya mendengar suara burung rajawali putih berbunyi keras beberapa kali di udara, suaranya nyaring dan kesusu. Ia sebenarnya sangat menyukai burung rajawali itu tetapi mengingat burung telah diambil oleh putri Gochin Baki, ia menjadi tidak senang, meski begitu, ia toh lari keluar, masih ingin ia membuat main burung itu.
Tiba di luar, ia melihat Kwee Ceng berada di bawah sebuah pohon liu yang besar, seekor rajawali memacuk bajunya di pundak dan menarik-narik, yang satunya lagi berputaran memutari seraya ia berbunyi tak hentinya. Sa Kouw kegirangan, ia berlari-lari memutari Kwee Ceng, ia bertepuk-tepuk tangan sambil tertawa dan bersorak.
"Yong-jie, mereka mendapat susah!" kata Kwee Ceng melihat si nona muncul. "Mari kita pergi menolong!"
"Siapa mereka?" Oey Yong menanya.
"Kedua saudara angkatku, yang pria dan wanita!"
Nona itu memonyongkan mulutnya. "Aku tidak mau pergi!" katanya.
Kwee Ceng melengak, ia tidak mengerti tapi lekas ia berkata pula: "Ah, Yong-jie, jangan seperti bocah! Mari kita lekas pergi!" Habis berkata, ia menarik kudanya, melompat naik ke punggungnya.
"Habis, kau menghendaki aku atau tidak?" Oey Yong tanya.
Pemuda itu menjadi bingung. "Kenapa aku tidak menghendaki kau?" ia balik menanya. Dengan tangan kiri ia menahan kudanya, tangan kanannya diangsurkan untuk menyambuti si nona.
Oey Yong tertawa, lalu ia berpaling ke arah ayahnya, sambil berkata nyaring: "Ayah, kita hendak pergi menolong orang! Kau bersama keenam suhu sebaiknya turut juga!"
Ia terus menjejak tanah dengan kedua kakinya, dengan begitu tubuhnya mencelat tinggi, tangan kirinya diluncurkan, menyambut tangan kanan Kwee Ceng, untuk ditarik, maka itu, tubuhnya lantas melayang naik ke atas kuda hingga ia duduk di sebelah depan!
Kwee Ceng memberi hormat dari atas kuda kepada gurunya, setelah itu ia melarikan kudanya, yang lantas lari kabur. Kedua burung rajawali pun terus terbang, sambil berbunyi mereka terbang cepat di sebelah depan, untuk menunjukkan jalan. Kuda mereka itu girang sekali bisa bertemu lagi sama majikannya, dia lari keras dengan gembira, kalau burung bukannya burung rajawali, mungkin keduanya ketinggalan di belakang. Kedua burung itu terbang ke sebuah rimba lebat di sebalah depan, terus turun. Kuda itu sangat mengerti, tanpa perintah majikannya, ia lari terus ke arah rimba itu.
Setibanya Kwee Ceng di luar rimba, dari dalam situ ia mendengar suara nyaring bagaikan cecer pecah, katanya:
"Saudara Cian Jin, telah lama aku mendengar Tangan Besimu yang lihay, aku sangat mengaguminya, maka itu sekarang baiklah aku menggunakan dulu kepandaianku yang tidak berarti ini mengambil nyawa yang satu ini, setelah itu aku minta kau menggunakan tanganmu yang lihay terhadap yang lainnya. Setujukah kau, saudara?"
Menyusuli itu maka terdengarlah suara gemuruh diikuti jeritan yang menyayat hati. Sebuah pohon kelihatan bergerak bagian atasnya, lalu roboh.
Kwee Ceng kaget, ia lompat turun dari kudanya, ia lari ke dalam rimba. Oey Yong lompat turun, ia menepuk-nepuk kepala si kuda merah seraya berkata:
"Pergi lekas menyambut ayahku!" Kemudian ia menunjuk ke jalan dari mana mereka datang.
Kuda merah itu mengerti, dia berbalik dan lari pergi. "Semoga ayah lekas datang…" kata nona Oey ini dalam hatinya, "Kalau tidak, kita bisa susah di tangan si Bisa bangkotan!" Lalu ia lari ke dalam rimba tetapi dengan cara sembunyi.
Begitu ia melihat ke depan, Oey Yong menjadi kaget sekali, hingga ia tercengang. Di sana Tuli, Gochin Baki, Jebe dan Borchu berempat sedang tertawan, masing-masing ditambat di atas sebuah pohon kayu.
Di bawah pohon, Auwyang Hong berdiri bersama Kiu Cian Jin. Di sebuah pohon lain, yang sudah roboh, ada tertambat seorang lain, yang seragamnya mewah, sebab ialah si punggawa perang Song yang mengantarkan keempat orang Mongolia itu pulang ke negerinya. Hanya perwira itu sudah mati, sebab pohonnya telah dihajar roboh oleh See Tok. Di situ tidak ada pasukan serdadu mereka, rupanya tentara telah diusir ini dua jago tua.
Kiu Cian Jin tidak berani mengadu tenaga tangan Auwyang Hong, tapi iapun tidak mau omong terus terang, sebab ia hendak memegang derajatnya, selagi ia hendak menggunakan alasan, guna menutup diri, tiba-tiba ia melihat munculny Kwee Ceng. Ia jadi terperanjat bahkan girang. Ia segera mendapat pikiran. "Kenapa aku tidak mau pinjam tangannya See Tok menyingkirkan bocah ini?" demikian pikirnya.
Auwyang Hong pun heran. Nyata Kwee Ceng tidak mati terkena pukulan ilmu Kodoknya. Waktu itu putri Gochin Baki berseru:
"Engko Ceng, lekas tolongi aku!"
Melihat suasana itu, Oey Yong sudah lantas mengasah otaknya. "Sang waktu mesti diperlambat, sampai ayah datang!" demikian ia peroleh akal.
Kwee Ceng sendiri menjadi gusar, ia jadi tak kenal takut. "Bangsat tua, apa kamu bikin di sini?!" ia mendamprat. "Kembali kamu mencelakai orang, ya?!"
Auwyang Hong hendak menguji kepandaian Kiu Cian Jin, meski diperlakukan kurang ajar, ia bahkan bersenyum. Tidak demikian dengan si orang she Kiu itu.
"Ha, binatang cilik yang baik!" dia membentak. "Di sini ada Auwyang Sianseng, mengapa kau tidak berlutut memberi hormat? Apakah kau sudah bosan hidup?!"
Kwee Ceng sangat membenci orang ini, yang di rumah penginapan sudah ngaco belo, memfitnah dan mengadu gurunya dengan Oey Yok Su, di sini kembali dia mencelakai orang, maka itu tanpa membilang apapun, ia menghampiri, terus menyerang dadanya. Pemuda ini menyerang dengan Hang Liong Sip-pat Ciang, yang sekarang telah maju jauh sekali. Ia menggunakan tenaga menyerang enam bagian dan tenaga menarik empat bagian, dari itu, habis menyerang, tinjunya cepat ditarik pulang. Kiu Cian Jin berkelit, tetapi ia kena ditarik anginnya tinju itu, tubuhnya mundur hanya diluar keinginannya, dia ditarik ke depan, terus jatuh terjerunuk!
"Hm!" Kwee Ceng mengejek seraya tangannya yang kiri dilayangkan, guna menyambut muka muka orang, hendak menghajar hingga gigi rontok dan lidah terkancing putus, supaya jago tua ini tidak dapat mengacau lagi menerbitkan gelombang yang tidak-¬tidak.
"Tahan!" berseru Oey Yong tiba-tiba seraya ia melompat keluar dari tempat persembunyiannya.
Kwee Ceng heran, ia batal menggaplok, tetapi karena ia sebat, ia ubah gerakan tangannya, segera ia menyambar ke arah leher, untuk mencekuk, setelah itu ia mengangkat tubuh orang.
"Yong-jie, bagaimana?" ia menanya seraya ia berpaling.
Oey Yong khawatir Kwee Ceng mencelakai orang tua itu, kalau itu sampai terjadi, pasti Auwyang Hong turun tangan. Inilah ia mau cegah, untuk menjalankan akalnya.
"Lekas lepaskan!" ia berkata. "Orang tua ini mempunyai semacam kepandaian yang lihay pada kulit mukanya, kalau pipinya dihajar, tenaganya berbalik bekerja, kau pasti terluka dalam!"
"Ah, mustahil?" kata Kwee Ceng yang tidak percaya.
"Aku tidak tahu, asal ia mementang mulut dan meniup, seekor kerbau pun dapat terkelupas kulitnya!" kata pula si nona. "Masih kau tidak lekas mengundurkan dirimu!"
Pemuda ini masih tetap tidak percaya, akan tetapi ia menduga kekasihnya itu ada maksud, maka ia menurut, melepaskan cekikannya.
"Syukur nona ini mengetahui bahaya," Kiu Cian Jin berkata. "Kita berdua tidak bermusuhan, maka selagi Thian murah hati, masa aku ambil sikap yang tua menindih yang muda dan sembarang melukai kau?"
Oey Yong tertawa. "Itu benar!" ia bilang. "Kepandaian kau yang lihay, loosiansseng, aku sangat mengagumi, karena itu, hari ini aku mau minta pengajaran dari kau, untuk beberapa jurus saja, tetapi aku harap janganlah kau melukai aku…"
Habis berkata si nona lantas memasang kuda-¬kuda, tangan kirinya dikibaskan ke atas, tangan kanan ditarik ke dalam, terus di bawa ke mulutnya, untuk mengasih dengar siulannya beberapa kali. Ia tertawa pula dan berkata:
"Sambutlah ini! Jurusku yang dinamakan silat Meniup Terompet Keong!"
"Ah, nona kecil, sungguh besar nyalimu!" berkata Kiu Cian Jin. "Auwyang Sianseng kesohor namanya di seluruh negara, mana dapat ia membiarkan kau tertawa mengejek dia..?"
Oey Yong tidak meladeni kata-kata itu, tangan kanannya melayang ke kuping orang, hingga terdengarlah suara mengelepok yang nyaring. Ia lantas tertawa dan berkata:
“Dan ini namanya Pukulan Berbalik ke arah Kulit Tebal!"
Berbareng dengan itu, dari luar rimba terdengar suara orang tertawa yang disusul dengan pujian,
"Bagus! Sekalian saja kau menggaplok lagi satu kali!"
Mendengar suara itu, Oey Yong girang bukan kepalang. Ia mengenali suara ayahnya. Dengan begitu, hatinya menjadi mantap. Sembari menyahut, tangannya melayang. Kembali tangan yang kanan.
Kiu Cian Jin buru-buru menundukkan kepala untuk berkelit. Tapi gaplokan itu gertakan belaka, yang benar adalah susulan tangan kiri. Ia melihat itu, lekas berkelit pula. Atas ini, tangannya si nona melayang pergi pulang, hingga ia menjadi repot berkelit tak hentinya. Akhirnya, kuping kanannya tergaplok pula!
Kiu Cian Jin kaget. Ia mengerti, kalau terus-terusan begitu hebat untuknya. Maka ia lantas membalas menyerang. Dengan dua kepalannya, ia memaksa si nona mundur, setelah itu lompat ke samping.
"Tahan!" ia berseru.
"Apa?" Oey Yong tertawa. "Apakah sudah cukup?"
Kiu Cian Jin mengasih lihat roman sungguh-sungguh. "Nona, kau telah terluka dalam!" ia berkata. "Lekas kau pulang untuk bersemadhi di kamar rahasia lamanya tujuh kali tujuh menjadi empatpuluh sembilan hari! Jangan kena angin atau jiwamu yang muda tidak bakal ketolongan!"
Melihat roman orang sungguh-sungguh untuk sejenak Oey Yong tercengang, tetapi lekas juga ia tertawa pula. Ia tertawa terkekeh, kepalanya memain.
Ketika itu Oey Yok Su yang tadi cuma terdengar suaranya saja, telah tiba bersama-sama Kanglam Liok Koay. Mereka heran melihat Tuli beramai menjadi orang tawanan. Auwyang Hong sendiri lagi keheran-heranan. Ia heran untuk Kiu Cian Jin. Ia tahu betul, orang she Kiu ini lihay sekali, dulu pernah dengan tangannya yang seperti besi itu ia menghajar mati dan luka pada jago-¬jago dari Heng San Pay, sampai partai itu roboh dan tak dapat bangun lagi, maka kenapa sekarang ia kena digaplok Kwee Ceng, kena dicekuk pula, dan melayani Oey Yong nampak tak berdaya? Ia menduga-duga, apakah benar orang mempunyai kepandaian di kulit muka? Itulah kepandaian yang ia belum pernah dengar, itu mirip khayal……
Selagi si Bisa dari Barat itu ragu-ragu, matanya menjurus kepada Oey Yok Su, ia melihat di pundak pemilik pulau Tho Hoa To itu tergantung sebuah kantung sulam buatan Su-coan, yang sulamannya sutera putih adalah seekor unta. Ia mengenal baik sekali, itulah kantung keponakannya. Ia menjadi kaget. Habis membinasakan Tam Cie Toan dan Bwee Tiauw Hong, ia pergi, tapi sekarang ia kembali, niatnya untuk melihat keponakannya.
"Mungkinkah Oey Yok Su telah membunuh keponakanku untuk membalas sakit hati muridnya?" Ia berpikir. Maka ia lantas menanya dengan suaranya menggetar:
“Bagaimana dengan keponakanku?"
Oey Yok Su menjawab dingin: "Bagaimana dengan Bwee Tiauw Hong muridku!"
Auwyang Hong merasakan tubuhnya beku separuh. Auwyang Kongcu namanya saja keponakannya akan tetapi nyatanya ia adalah anaknya sendiri yang didapatkan dari hubungan gelap antara dia dan istri kakaknya. Jadi paman dan ipar telah main gila dan terlahirlah "Keponakan" yang dimanjakan itu. Ia sangat kejam, jahat sebagai bisa, tetapi terhadap anaknya, ia sangat menyayangi, melebihkan jiwanya sendiri. Ia tidak menyangka keponakannya bakal terbinasa, sebab dengan kedua kakinya rusak, ia percaya Oey Yok Su dan Coan Cin Cit Cu, yang adalah orang-orang kenamaan, tidak mungkin menurunkan tangan mengambil nyawa sang keponakan, siapa tahu, kesudahannya, keponakan itu toh menerima nasibnya.
Oey Yok Su berdiri dengan waspada terhadap See Tok. Ia mengerti kalau si Bisa dari Barat kalap, ia mesti bekerja keras untuk membela diri.
"Siapa yang membunuh keponakanku?" akhirnya Auwyang Hong menanya, suaranya serak. "Muridmu atau muridnya Coan Cin Cit Cu?"
See Tok masih tidak percaya pemilik Tho Hoa To membinasakan orang yang kakinya telah buntung dua-duanya. Itu perbuatan memalukan.
Dengan tetap dingin, Oey Yok Su menjawab pula: "Dia pernah mempelajari ilmu silat Coan Cin Pay serta pernah mempelajari sedikit silat dari Tho Hoa To. Pergilah kau cari dia!"
Pemilik Tho Hoa To itu menyebut Yo Kang akan tetapi Auwyang Hong menduga Kwee Ceng. Bukan main panas hatinya, tetapi dalam keadaan seperti itu, ia masih dapat menguasai diri.
"Nah, apa perlunya kau membawa-bawa kantung keponakanku?" ia tanya.
"Peta Tho Hoa To berada pada dia, aku mesti mengambilnya kembali," menyahut Oey Yok Su. "Tidak dapat aku menanti sampai dia masuk ke dalam tanah…."
"Kata-kata yang bagus!" ujar Auwyang Hong. Ia terus menahan sabar. Ia tahu baik sekali, kalau ia menempur Tong Shia, mereka mesti berkelahi sampai satu atau duaribu jurus tanpa ada ketentuan siapa menang siapa kalah, bahkan ada kemungkinan ia tak berada di atas angin. Ia ingat Kui Im Cin-keng telah didapatkan, dari itu, soal membalas sakit hatinya bolehlah ditaruh di belakang. Tapi di sini ada Kiu Cian Jin.
"Dia ada di sini, dia dapat membantuku," pikirnya. "Kalau dia dapat mengalahkan Kanglam Liok Koay beserta Kwee Ceng dan Oey Yong, lantas dia dapat membantuku! Tidakkah dengan begini aku bisa mengambil jiwanya Oey Yok Su?"
Karena berpikir begini, harapannya lantas timbul. Lantas ia menoleh kepada si orang she Kiu.
"Saudara Cian Jin, pergi kau membinasakan delapan orang ini, aku sendiri melayani Oey Lao Shia!" katanya.
Kiu Cian Jin mengibaskan kipasnya yang besar, ia tertawa. "Begitu pun bagus!" sahutnya. "Setelah membinasakan mereka berdelapan, nanti aku membantu kau!"
"Benar begitu!" menjawab Auwyang Hong, yang lantas menghadapi Oey Yok Su, terus ia berjongkok perlahan-lahan.
Oey Yok Su lantas bersedia. Ia memasang kuda-kudanya yang disebut "put teng put pat", ia mengambil apa yang dinamakan kedudukan "tong hong it bok". Ia memasang mata jeli.
sementara itu Oey Yong berkata kepada Kiu Cian Jin. "Baiklah kau bunuh aku dulu!" bilangnya tertawa.
Orang tua itu menggeleng-geleng kepala. "Ah, sebenarnya aku tidak tega…" katanya. "Aduh, aduh, celaka!" ia terus menjerit. "Sungguh tidak kebetulan…!" ia lantas memegang perutnya, tubuhnya membungkuk.
"Kau kenapa?" Oey Yong tanya.
Kiu Cian Jin meringis. "Kau tunggu sebentar, aku hendak membuang air…"
"Cis!" si nona meludah.
"Aduh!" Kiu Cian Jin berkoak pula, lalu ia memegangi pinggiran celananya, terus ia lari. Melihat romannya, dia benar-benar perutnya sakit dan kebelet ingin membuang air besar.
Oey Yong mengawasi tanpa berani mengejar. Ia sangsi orang benar-benar sakit perut atau lagi menggunakan akal bulus. Tiba di pinggiran, Kiu Cian Jin berjongkok.
"Nah, ini kertas untukmu!" berkata Cu Cong, yang lari kepada orang she Kiu itu, pundaknya ia tepuk, sedang tangannya menyerahkan kertas yang ia keluarkan dari kantungnya.
“Terima kasih!" mengucap Cian Jin. Ia lantas pergi ke gompolan rumput di mana ia berjongkok.
"Pergi jauhan sedikit!" kata Oey Yong yang memungut sepotong batu kecil, ia menimpuk orang tua itu. Batu melayang bagaikan terbang tetapi Kiu Cian Jin menyambutnya.
"Nona takut bau busuk?" katanya tertawa. "Baiklah, aku akan menyingkir sedikit lebih jauh. Kau orang delapan mesti menunggu, aku larang kamu pada melarikan diri…..!"
Dengan masih memegangi celananya, Cian Jin pergi sampai belasan tombak, di situ ia baru jongkok, hingga tak terlihat.
"Jie suhu, jangan-jangan bangsat tua itu mau melarikan diri!" berkata Oey Yong.
Cu Cong tertawa. "Mungkin dia mau lari tetapi dia tidak bisa," sahutnya guru yang nomor dua itu. "Kau ambillah dua rupa barang ini untuk kau buat main…."
Oey Yong melihat sebatang pedang dan sebuah sarung tangan dari besi di tangan gurunya itu, maka tahulah dia tadi selagi menepuk pundak Kiu Cian Jin, gurunya sudah memindahkan barang orang. Ia periksa pedang itu, lantas ia tertawa geli. Selama di dalam kamar rahasia ia melihat Kiu Cian Jin mempermainkan Coan Cin Cut Cu dengan menikam perutnya dengan pedang itu, tidak tahunya itulah pedang rahasia, yang dapat dibikin melesak atau ngelepot tiga kali. Maka ia lantas menghampiri Auwyang Hong.
"Auwyang Sianseng, aku tidak mau hidup lagi!" katanya sambil tertawa, tangan kanannya terus diayunkan ke perutnya, ia tumblas dengan pedangnya Kiu Cian Jin, hingga pedang itu melesak masuk.
Auwyang Hong dan Oey Yok Su yang bersiap untuk bertempur menjadi kaget, tetapi Oey Yong sudah lantas mencabut pedangnya, yang menjadi pendek, sembari memperlihatkan kepada ayahnya, ia menuturkan rahasia pedang tukang sulap itu.
Auwyang Hong menjadi melengak dan berpikir: "Apa mungkin tua bangka itu main gila sedang sebenarnya dia tidak mempunyai guna?"
Oey Yok Su terus mengawasi si Bisa dari Barat itu, ketika ia melihat tubuh orang mulai tak jongkok lagi, ia dapat menerka hati orang. Ia lantas menyambut sarung tangan besi dari anaknya, untuk meneliti. Ia melihat ukiran huruf "Ki" di telapak tangan, di sebelah belakangnya ada ukiran seekor ular kecil serta seekor kelabang kecil, yang berguling menjadi satu. Ia ingat itu adalah lengpay atau tanda dari Tiat-ciang Sui¬siang-piauw Kiu Cian Jin.
Pada duapuluh tahun yang lalu, lengpay itu sangat berpengaruh di dunia kangouw, siapa yang membawanya, dia dapat lewat dengan bebas di selatang dan di utara sungai Tiang Kang atau di hulu dan hilir sungai Hong Hoo, bahkan golongan Hitam dan Putih sangat jeri terhadapnya. Maka itu heran, mungkinkah pemilik lengpay itu adalah ini orang yang besar mulutnya saja? Sembari berpikir, Oey Yok Su kembalikan sarung tangan itu kepada putrinya. Auwyang Hong juga berpikir keras, ia turut merasa heran.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA
Liam Cu dan Yauw Kee sudah mengambil keputusan, begitu mereka diraba, mereka hendak menendang tempilingan pangeran itu.
Yo Kang, tidak segera meraba, hanya ia tertawa. "Auwyang Sianseng, kau minum lagi satu cawan!" katanya, "Habis minum nanti aku beritahu, dugaanmu cocok atau tidak…."
"Bagus!" sahut Auwyang Kongcu, seraya ia mengangkat cawannya.
Yo Kang sambil membungkuk melirik di saat pemuda itu dongak untuk minum, kemudian ia mengeluarkan tombak buntung dari sakunya, dengan sekuat tenaga - sambil ia mengertak gigi - ia menikam ke arah perut orang, hingga tombak itu nancap dalam lima atau enam dim, menyusul mana, ia membalikkan meja!
Kejadian ini mendadak sekali dan luar biasa, maka Oey Yong dan Kwee Ceng, juga Bok Liam Cu, Liok Koan Eng dan Thia Yauw Kee menjadi kaget dan heran sekali. Auwyang Kongcu menggerakkan kedua tangannya, membuat Liam Cu dan Yauw Kee terbalik dari kursinya, sedang cawan arak di tangannya ditimpukkan ke arah Yo Kang! Pangeran ini berkelit sambil mendak, maka jatuhlah cawan itu ke lantai, pecah hancur dengan mengasih dengar suara nyaring.
Yo Kang berkelit dengan terus menjatuhkan diri, untuk bergulingan, maksudnya buat lari ke pintu, apa dikata ia terhalang peti mati. Terpaksa berlompat bangun dan memutar tubuhnya, mengawasi Auwyang Kongcu. Hatinya menjadi ciut melihat pemuda itu berdiri dengan tubuh doyong ke depan, kedua tangannya berpegangan pada kursi, sepasang matanya mendelik, wajahnya seperti tertawa dan bukannya tertawa. Ia menggigil sendiri. Sebenarnya ia berniat lari menyingkir tetapi sepasang mata tajam dan bengis membuat kakinya seperti terpaku.
Auwyang Kongcu melengak dan tertawa. "Aku si orang she Auwyang telah malang melintang seumur hidupku, aku tidak menyangka bahwa hari ini aku mati di tangan kau, binatang!" katanya bengis. "Cuma satu hal yang aku tidak mengerti! Siauw-ongya, mengapa kau mencoba membunuhku?"
Yo Kang tidak menjawab, hanya dengan menenjot diri, ia hendak berlompat ke pintu, guna melarikan diri. Ia telah pikir, setelah berada di luar pintu, baru ia hendak memberikan keterangannya. Selagi tubuhnya melayang, mendadak merasakan belakang lehernya kena dicengkram keras sekali, bagaikan terbangkol gaetan besi, hingga ia tak mampu berlompat lebih jauh, bahkan sebaliknya, ia jatuh ke atas peti mati ¬jatuh bersama-sama tubuhnya Auwyang Kongcu ¬yang telah melompat menyambar dirinya.
"Kau tidak mau bicara, apakah kau hendak membikin aku mati penasaran?!" kata Auwyang Kongcu sembari tertawa. Nyata ia masih kuat sekali.
Yo Kang tahu ia ada bagian mati, hatinya menjadi besar. Ia tertawa dingin. "Baiklah, nanti aku memberi keterangan padamu!" sahutnya. "Tahukah kau, siapa dia?" Ia menunjuk kepada nona Bok.
Auwyang Kongcu memandang Liam Cu. Nona ini memegang golok di tangan, siap untuk menerjang, guna menolongi si pangeran, cuma ia masih bersangsi sebab ia khawatir nanti melukai kekasihnya.
"Dia…dia.." kata Auwyang Kongcu, yang terus terbatuk-batuk.
"Dia tunanganku!" Yo Kang meneruskan. "Dua kali kau menghina dia, mana aku dapat membiarkannya?"
"Benar," kata Auwyang Kongcu. Dia masih tertawa. "Mari kita sama-sama pergi ke neraka…!" Dia mengangkat kepalannya, untuk di kasih turun ke batok kepalanya si pangeran…….
Liam Cu kaget hingga ia berteriak, hendak ia menolong tetapi sudah tidak keburu. Yo Kang meramkan kedua matanya, ia menantikan kebinasaannya. Tapi ia menanti sekian lama, tidak merasakan hajaran kepada batok kepalanya. Saking herannnya, ia membuka mata.
Auwyanng Kongcu mengasih lihat senyumannya, tapi tangannya yang mencekuk leher sudah terlepas, maka waktu si pangeran berontak, ia lantas jatuh menimpa peti mati. Sebab ia sudah putus jiwa……..
Yo Kang melengak, Liam Cu melongo. Hanya sejenak, lantas keduanya lari saling menghampiri, terus saling berpegangan tangan. Dalam keadaan seperti itu banyak kata-kata yang hendak dikeluarkan tetapi tak sepatahpun yang dapat diucapkan. Ketika mereka memandang mayat Auwyang Kongcu, lantas terbayang apa yang barusan terjadi, dengan sendirinya mereka bergidik. Yauw Kee sendiri mengasih bangun Koan Eng, yang totokannya ia bebaskan.
Koan Eng ketahui Yo Kang adalah pangeran Kim tetapi orang telah membinasakan Auwyang Kongcu, artinya orang telah menolong dirinya, lantas memberi hormat sambil menjura, setelah itu membungkam, ia tuntun tangan istrinya untuk diajak berlalu dari situ. Sebagai laki-laki yang mengenal budi, tidak sudi ia menyerang pangeran itu untuk membunuhnya.
Senang hati Oey Yong menyaksikan Yo Kang dan Liam Cu bertemu lagi dengan cara luar biasa. Kwee Ceng pun mengharap Yo Kang bisa mengubah kelakuannya. Dengan Oey Yong ia saling memandang, lalu keduanya tersenyum.
Waktu itu terdengar suara Liam Cu. "Jenazah ayah dan ibumu telah aku bawa pulang," katanya kepada Yo Kang.
"Sebenarnya itu kewajibanku, aku hanya membuat kau bercapai lelah, adikku," Yo Kang bilang.
Liam Cu tidak mau menimbulkan soal lama, lalu menanyakan bagaimana penguburan harus dilakukan.
Yo Kang mencabut tombaknya dari perut Auwyang Kongcu. "Lebih dulu, kita kubur mayat dia ini," katanya. "Kalau kejadian ini diketahui pamannya, walaupun dunia ini lebar, kita tak ada tempat untuk menyembunyikan diri…"
Liam Cu menurut, lantas keduanya bekerja. Mayat Auwyang Kongcu dikubur begitu saja di pekerangan rumah penginapan Sa Kouw. Sesudah beres, mereka pergi ke kampung, meminta bantuan sejumlah penduduk guna menggotong dan mengubur jenazah dibelakang rumah. Di sini Yo Kang seperti tidak punya kenalan lagi, tidak ada orang yang yang menanyakan dia ini dan itu. Setelah penguburan, hari pun sudah malam. Untuk tidur, Liam Cu menumpang pada seorang penduduk sedang Yo kang mengambil tempat di pondokan. Besoknya pagi si nona pergi menyamperi ke rumah penginapan, ia mendapat Yo Kang lagi membanting-banting kaki dan menyesali diri tak hentinya.
"Kau kenapa?" tanya si nona.
"Aku menyesal kemaren tidak sekalian membinasakan dua orang itu," Yo Kang menyahut. Ia maksudkan Yauw Kee dan Koan Eng. "Aku tolol, aku dibikin bingung tidak karuan. Mereka sudah pergi, ke mana mereka harus di cari?"
Nona Bok heran. "Perlu apa kita membinasakan mereka?" tanyannya.
"Sebab aku telah membunuh Auwyang Kongcu. Kalau mereka membuka rahasia, kita terancam bahaya…."
Liam Cu berpikir lain. Ia mengerutkan alisnya. "Seorang laki-laki, dia mesti berani berbuat berani bertanggung jawab!" katanya. "Jikalau kau takut kemarin tak seharusnya kau membinaskan dia!"
Yo Kang menutup mulutnya, akan tetapi hatinya memikirkan bagaimana ia harus mencari Koan Eng dan Yauw Kee itu, untuk membinasakan mereka.
"Pamannya Auwyang Kongcu benar lihay," kata lagi Liam Cu, "Tetapi jikalau kita menyningkir jauh, mustahil dia dapat mencari kita?"
"Adikku, aku memikir lain," berkata Yo Kang. "Pamannya itu lihay sekali, aku hendak mengangkat dia menjadi guru."
"Oh, begitu!" kata si nona heran.
"Sebenarnya sudah lama aku kandung niatku ini," Yo Kang menerangkan. "Hanya di pihak Auwyang Kongcu ada aturan yang ditaati turun-temurun, ialah warisan selalu diturunkan kepada satu orang. Sekarang Auwyang Kongcu telah mati, maka pasti pamannya suka menerima aku sebagai muridnya!" Pangeran ini berbicara dengan bangga sekali, tandanya ia sangat girang.
Liam Cu berdiam, hatinya tawar. "Jadi kau membunuh dia bukan untuk menolong aku?" tanyanya. "Kau punya maksud tersendiri!"
"Adikku, kau terlalu bercuriga!" kata Yo Kang tertawa. "Untukmu aku rela hancur lebur!"
"Tentang itu baiklah kita bicarakan di belakang hari saja," berkata si nona kemudian. "Sekarang apa yang kau pikir. kau suka menjadi rakyat yang bersetia kepada kerajaan Song yang maha agung atau karena keserakahanmu dengan kedudukan mulia, kau tetap mengakui musuh sebagai ayahmu?"
Yo Kang mengawasi nona itu, wajah yang cantik dan potongan tubuhnya yang bagus sangat menggiurkan hatinya. Hanya kata-kata yang tajam itu membuatnya tidak senang.
"Kedudukan yang mulia?" katanya. "Kedudukan mulia apakah itu? Sekarang ini kota Tiong-touw dari kerajaan Kim telah diserang bangsa Mongolia! Setiap kali diserang bangsa Kim kalah! Di depan mataku sekarang ini ada bayangan dari kemusnahan negara Kim!"
Tapi Liam Cu tidak senang mendengar urusan itu. "Negara Kim kalah, itulah yang paling kita harapkan!" katanya nyaring. "kau sebaliknya membuatnya sayang…."
"Adikku, untuk apa kau menimbulkan urusan ini?" Yo Kang membujuk. "Kau tahu, semenjak kau pergi, hatiku bersengsara memikirkanmu…" Dengan tindakan perlahan ia mendekati si nona mencekal tangannya.
Mendengar suara orang yang lemah, hati Liam Cu menjadi lemah juga, maka ia membiarkan tangannya dicekal, digenggam perlahan. Cuma karena itu, kulit mukanya menjadi merah.
Yo Kang hendak merangkul ketika tiba-tiba kupingnya mendengar beberapa kali suara burung yang lagi terbang, suaranya sangat nyaring. Ia lantas mengangkat kepala, mendongak. Ia melihat dua ekor rajawali putih yang besar terbang berputaran.
Ketika dulu Wanyen Lieh mengejar Tuli, Yo Kang melihat dua ekor rajawali itu, yang kemudian dibawa pergi oleh Oey Yong. Maka ia jadi berpikir dan menanya dalam hatinya: "Kenapa burung ini sekarang berada disini?"
Dengan mencekal terus tangan Liam Cu, ia pergi keluar. Ia melihat burung itu terbang berputaran di atas. Di dekat pohon yang besar terlihat seorang nona, yang duduk di atas seekor kuda bagus, lagi memandang ke tempat yang jauh. Nona itu memakai sepatu kulit, tangannya mencekal cambuk, dia dandan sebagai wanita Mongolia.
Sesudah terbang berputaran, kedua burung itu terbang ke arah jalan besar, hanya tak lama mereka kembali. Tidak lama dari jalan besar itu terdengar riuh rendah tindakan kaki kuda.
"Rupanya burung itu memanggil orang," Yo Kang pikir. "Supaya mereka berkumpul sama ini nona Mongolia…"
Segera terlihat debu mengepul naik, disusul tiga penunggang kuda. Selagi mereka mendekat, terdengarlah suara melesatnya sebatang anak panah, yang dilepaskan ke arah rumah penginapan.
Si nona muda mengeluarkan busur dan anak panahnya, ia terus memanah. Ketiga penunggang kuda mendengar suara panah tersebut, mereka berseru kegirangan, kudanya lantas dikasih lari lebih keras lagi. Si nona pun melarikan kudanya untuk memapaki. Kedua pihak sudah datang dekat sekitar tiga tombak, Keduanya berseru berbareng, tubuh mereka mencelat turun dari kuda masing-masing, belum lagi tubuh mereka tiba di tanah, tangan mereka sudah saling menyambar, akhirnya mereka turun di tanah berbareng.
Menyaksikan kegesitan mereka, Yo Kang kaget dan kagum. "Bangsa Mongolia demikian pandai menunggang kuda dan menggunakan panah, pantaslah kalau bangsa Kim kalah!" katanya dalam hati.
Oey Yong dan Kwee Ceng di dalam kamar juga dapat mendengar suara burung dan kuda berlari-larian. Mereka tetap memasang kuping. Tidak lama dari, mereka mendengar orang mendatangi rumah penginapan sambil berbicara. Kwee Ceng terperanjat bukan main.
"Ah, kenapakah mereka datang ke mari?" katanya. Ia kenal baik suara mereka. Si nona Mongolia adalah putri Gochin Baki, yang oleh Jengiz Khan ditunangkan kepadanya, dan tiga lainnya ialah Tuli, Jebe dan Borchu.
Putri itu berbicara sambil tertawa dengan kakaknya, Oey Yong tidak mengerti sepatah katapun juga apa yang dibicarakan, sebab mereka menggunakan bahasa Mongolia. Kwee Ceng sebaliknya, hingga kulit mukanya pucat dan merah bergantian. Di dalam hatinya pemuda ini berkata: "Di dalam hatiku sudah ada Yong¬jie, pasti aku tidak dapat menikah dengannya, tetapi sekarang ia menyusul aku sampai di sini… Mana dapat aku merusak kepercayaannya. Bagaimana sekarang?"
"Engko Ceng, siapakah nona itu?" Oey Yong tanya berbisik, "Apakah yang mereka bicarakan? Kenapa kelihatannya kau tidak tenang?"
Kwee Ceng polos dan jujur, sudah beberapa kali ia hendak mengasih keterangan pada Oey Yong, setiap kali hendak membuka mulutnya, ia selalu gagal, dengan sendirinya ia menarik pulang apa yang ia pikir untuk diucapkan itu, tetapi sekarang ia ditanya, mana dapat ia berdusta?
"Dialah putri Jenghiz Khan, dari Mongolia," menyahut dia. "Dialah tunanganku…."
Oey Yong tercengang, lalu air matanya keluar mengucur. "Kenapa kau tidak pernah memberitahukan hal ini padaku?" ia menanya kemudian.
"Pernah aku memikir memberitahukan kau, tetapi selalu batal, aku berkhawatir kau tidak senang," Kwee Ceng menyahut. "Pula kadang kala aku tidak ingat urusan itu."
"Dia tunanganmu, kenapa kau tidak ingat?" Oey Yong tanya.
"Aku pun tidak tahu jelas. Aku hanya memikir dia sebagai saudara kandungku….Sebenarnya aku tidak ingin menikah dengannya."
Oey Yong heran. "kenapa begitu?" ia menanya.
"Karena pertunangan kami ditetapkan oleh Khan sendiri. Ketika itu perasaanku tidak menentu, ada kalanya aku senang, ada kalanya tidak. Aku melainkan pikir bahwa perkataannya Kha Khan itu tidak salah. Sekarang ini Yong-jie, mana dapat aku menyia-nyiakan kau untuk menikah dengan orang lain?"
"Nah, habis bagaimana?"
"Aku juga tidak tahu…"
Oey Yong berdiam, lalu ia menghela napas. "Asal di hatimu kau selalu perlakukan aku dengan baik, biarlah kau menikah dengannya, aku tidak ambil peduli…" Katanya sesaat kemudian. Ia berhenti pula sejenak, lantas menambahkan; "Hanya aku pikir, lebih baik kau tidak menikah dengannya. Aku tidak suka melihat wanita lain setiap hari mengintil saja padamu, hingga aku khawatir nanti satu waktu darahku naik hingga aku membuatnya lubang pedang di dadanya! Kalau sampai itu terjadi, tentulah kau bakal mencaci aku…Coba dengar, apa saja yang mereka bicarakan?"
Di luar kamar rahasia itu, keempat orang Mongolia memang sedang asyik bicara. Putri Mongolia lagi bicara tentang perpisahan mereka sama saudara-saudaranya itu.
Sebenarnya, setelah Kwee Ceng dan Oey Yong lenyap di hutan, kedua burung itu sia-sia mencari mereka, sebab di tengah laut tak ada tempat untuk menclok, akhirnya mereka terbang ke darat, mereka ingat majikan mereka yang lama, terus mereka terbang pulang ke Utara.
Gochin Baki heran melihat pulangnya kedua burung itu. Ia melihat ada potongan kain diikat di kaki burung. Itu adalah robekan kain layar. Dirobekan kain itu ada tulisan huruf Tionghoa. Ia tidak mengerti bahasa Tionghoa, ia bawa itu kepada ibunya Kwee Ceng, Nyonya Kwee atau Lie Peng. Huruf-huruf itu bunyinya "Yoe Lan" artinya "Mendapat bahaya".
Tentu saja sang putri menjadi berkhawatir, maka ia lantas berangkat ke Selatan. Waktu itu Jenghiz Khan lagi memimpin angkatan perangnya menyerang bangsa Kim dan pertempuran lagi berlangsung di luar dan di dalam Tembok Besar, maka itu, ke mana si putri mau pergi, tidak ada orang yang melarangnya.
Kedua burung rajawali mengerti maksud nona majikannya, mereka membawa si nona ke Selatan, mencari Kwee Ceng. Dalam satu hari, mereka bisa terbang jauhnya beberapa ratus lie, siang mereka terbang pergi, malam mereka terbang kembali. Akhirnya tibalah mereka di Liam-an. Di sini Gochin Baki tidak dapat menemukan Kwee Ceng, sebaliknya ia bertemu dengan kakak ketiganya.
Tuli ini lagi menerima tugas dari ayahnya. di utus ke Lim-an untuk berserikat sama kerajaan Song sama-sama menyerang bangsa Kim. Raja Song - Song Selatan - merasa kedudukannya aman, ia pun jeri terhadap bangsa Kim, dari itu ia menyambut ajakan Tuli dengan tawar. Dia pernahkan Tuli di gedung tetamu, dia berlaku acuh tak acuh terhadap utusan Mongolia itu.
Selama itu datang kabar baik dimana pihak Mongolia menang terus-terusan, sampai kota Tiong-puw kena dipukul jatuh, waktu itu berubahlah sikap menteri-menteri Song, lantas mereka berlaku manis kepada Tuli, pangeran Mongolia itu. Tuli tidak puas sekali, akan tetapi karena teringat sama tugasnya, untuk berserikat sama negara Song, terpaksa ia melayani mereka.
Demikian perserikatan dilangsungkan. Karena ini berangkatlah ia kembali ke Utara. Di luar kota Lim-an, kebetulan melihat burung rajawali adiknya, ia menyangka kepada Kwee Ceng, tidak tahunya malah bertemu sama adiknya. Karena ia bersama Jebe dan Borchu, mereka jadi berempat. Mereka terus singgah di tempatnya Sa Kouw.
"Apakah kau bertemu sama kanda Kwee Ceng?" sang adik menanya kakaknya.
Tuli baru mau menjawab di luar terdengar suara berisik pasukan tentara, yang kemudian ternyata adalah barisan tentara Song yang ditugaskan mengantar pasukan Mongolia itu.
Yo Kang melihat bendera pasukan Song itu di mana dituliskan: "Dengan segala kehormatan mengantarkan Utusan Mongolia pulang ke Utara". Melihat itu ia menjadi bimbang. Baru beberapa puluh hari yang lalu, dia pun pangeran yang menjadi utusan rajanya sekarang dia sebatang kara. Dapatkah ia menyia-nyiakan kedudukan yang mulia itu?
Liam Cu mengawasi pemuda itu dengan tingkahnya yang tidak wajar, ia mengerti orang tidak dapat melupakan kedudukan mulia atau penghidupan yang mewah, ia menjadi berduka.
Ketika itu punggawa perang yang mengepalai pasukan pengiring pihak Song masuk ke dalam rumah penginapan, dengan hormat sekali ia menghadap Tuli, dengan siapa ia berbicara. Tuli pun mengatakan sesuatu. Habis itu ia memutar tubuhnya, dengan membentak memberikan perintah:
"Pergi kamu menanyakan setiap rumah di kampung ini, apa di rumah mereka ada Kwee Ceng Kwee Koanjin! Jikalau tidak ada, kamu pergi mencari ke lain tempat!" Perintah itu diterima oleh pasukannya, setelah menyahut, tentaranya bubar.
Tidak lama setelah itu terdengarlah suara ayam ribut beterbangan atau anjing berlarian serta jeritan-¬jeritan dari laki-laki serta tangisan dari perempuan. Teranglah sudah kawanan serdadu itu telah menggunakan kesempatan yang baik itu untuk melakukan perampasan.
Mendengar suara berisik itu, Yo Kang mendapat pikiran. "Kenapa aku tidak mau menggunakan kesempatan ini untuk bersahabat dengan pangeran-pangeran Mongolia?" demikian pikirnya. "Dalam waktu beberapa hari pastilah aku dapat membinasakan mereka. Kalau Kha Khan dari Mongolia mengetahui ini, pasti menyangka perbuatannya pihak Song, dengan begitu perserikatan mereka bakal bubar. Dan itu pasti menguntungkan pihak Kim…." Dengan cepat Yo Kang mengambil keputusan.
"Adikku, kau tunggu sebentar," ia berkata kepada Liam Cu. Terus ia pergi menghampiri si punggawa Song, ketika ia membentak, tangannya digerakkan, dengan tangan kirinya ia membikin punggawa itu terguling jatuh celentang, hingga untuk sesaat dia tidak dapat merayap bangun.
Tuli dan Gochin Baki menyaksikan itu, mereka heran. Yo Kang melihat keheranan orang, lantas bertindak ke ruang tengah. Di sini ia keluarkan tombak buntungnya, ia angkat tinggi melewati kepalanya terus diletakkan di atas meja. Lalu, setelah menekuk kedua lututnya, mendadak ia menangis menggerung-gerung. Ia segera mengeluh:
"Oh, saudara Kwee Ceng, kau mati secara menyedihkan sekali…..Pasti aku membalas dendam untukmu! Oh, saudara Kwee Ceng……"
Tuli dan saudaranya beramai tidak mengerti bahasa Tionghoa, tetapi mereka mendengar nama Kwee Ceng disebut-sebut, mereka menjadi heran, maka selagi punggawa merayap bangun, mereka menitahkan punggawa memberikan keterangan.
Dengan suara terputus-putus Yo Kang kata: "Aku adalah saudara angkat Kwee Ceng. Saudara Kwee Ceng telah dibunuh dengan ditikam ujung tombak, aku hendak pergi mencari musuhnya guna membalaskan sakit hati ini."
Ketika Tuli dan saudaranya dikasih mengerti, mereka berdiri menjublak. Jebe dan Borchu sebaliknya, mereka menangis sambil menumbuki dada. Mereka ingat benar persahabatannya dengan Kwee Ceng.
Yo Kang mengarang cerita terlebih jauh dengan menuturkan halnya ia menghajar mundur bangsa Kim di Poo-eng. Cerita ini dipercayai Tuli beramai, bahkan mereka menanyakan penjelasan dan kebinasaan Kwee Ceng. Yo Kang pandai sekali mengatur ceritanya.
Kwee Ceng di kamar rahasia mendengar ocehan itu, ia pun terbengong. Sebaliknya Gochin Baki, si putri Mongolia, mendadak menghunus golok di pinggangnya, untuk membunuh diri. Hanya ketika golok itu hampir mengenai lehernya, tiba-tiba ia memikir sesuatu, goloknya terus ia bacokkan ke meja sambil bersumpah:
"Jikalau aku tidak membalaskan sakit hati kanda Kwee Ceng, aku sumpah tidak sudi menjadi manusia!"
Yo Kang senang sekali. Nyata akalnya sudah termakan. Ia terus tunduk, menangis lagi. Karena ia tunduk, tiba-tiba matanya melihat tongkat Oey Yong, yang dirampas Auwyang Kongcu. Itu adalah tongkat yang bersinar hijau bagus. Ia ketarik hatinya, maka ia jumput tongkat itu.
Oey Yong melihat tongkatnya diambil pemuda itu, ia mengeluh. Tentu sekali ia tidak bisa keluar untuk merampasnya.
Tidak lama tentara datang dengan barang hidangan, Gochin Baki semua tak ada nafsu untuk menangsal perut mereka. Bahkan mereka lantas minta Yo Kang mengantarkan mereka mencari pembunuh Kwee Ceng.
"Marilah!" jawab Yo Kang. Ia membawa tongkat Oey Yong serta terus bertindak ke pintu, diikuti rombongan orang Mongolia itu.
"Siapakah yang Yo kang bakal cari?" Kwee Ceng berbisik pada Oey Yong.
Si nona menggeleng kepala. "Aku tidak tahu," sahutnya. "Bukankah dia sendiri yang membacok dirimu? Dia sangat licik, di dalam halnya kelicikan, aku kalah…"
Justru itu di luar rumah terdengar suara orang bersenandung dengan nada tinggi, katanya:
"Malang-¬melintang dengan mereka, tanpa ikatan, jikalau hati tidak kemaruk akan kemulian, diri sendiri taklah terhina…! Eh, nona Bok, kenapa kau ada di sini?"
Itulah suara Tiang Cun Cu Khu Cie Kee. Dia menanya Bok Liam Cu selagi si nona baru muncul di ambang pintu. Belum lagi si nona menyahut, Yo Kang bertindak keluar. Kaget ia melihat gurunya, hatinya berdenyutan. Tentu sekali ia tidak punya kesempatan untuk menyingkirkan diri, maka dengan terpaksa dia menghampiri gurunya, memberi hormat sambil berlutut dan mengangguk.
Khu Cie Kee tidak sendirian, di sampingnya ada Tan Yang Cu Ma Giok, Giok Yang Cu Ong Cie It, Ceng Ceng Sanjin Sun Put Jie serta In Cie Peng, muridnya. Kedatangan Khu Cie Kee kali ini untuk urusan muridnya ini.
Ketika In Cie Peng kena dihajar Oey Yok Su hingga giginya copot, ia mengadu kepada gurunya. Kebetulan Khu Cie Kee berada di Lim-an. Dia kaget dan gusar, maka ia mencari Oey Yok Su. Ma Giok sabar, ia mencegah.
"Oey Lao Shia dulu sama kesohornya dengan almarhum guru kita," kata Cie Kee. "Di antara kita bertujuh, cuma Ong Sutee yang pernah bertemu dengannya selama rapat di gunung Hoa San. Siauwtee mengagumi dia, memang siauwtee ingin bertemu dengannya, maka ini kesempatan yang baik. Siauwtee tidak memikir untuk menempur dia, kenapa suheng mencegah?"
Ma Giok tertawa dan berkata: "Aku dengar Oey Lao Shia itu aneh tabiatnya, sedang kau, berangasan, maka jikalau kamu bertemu muka, kebanyakan bisa terbit onar. Bahwa ia telah memberi ampun pada Cie Peng, itu tandanya ia menaruh muka…"
Cie Kee tidak dapat dibujuk, dia pergi juga, maka itu Ma Giok lantas mengundang saudara-saudaranya untuk pergi ke Gu-kee-cun. Mereka sudah berkumpul tetapi Ma Giok mengusulkan untuk mereka berlima yang pergi terlebih dulu. Tam Cie Toan, Lauw Cie Hian dan Cek Tay Thong menanti di luar kampung itu, bersiap membantu kalau ada perlunya. Diluar dugaan, mereka bukan bertemu Oey Yok Su, malah melihat Bok Liam Cu. Khu Cie Kee mengenali nona itu, maka selagi bersandung, ia menegur lebih dulu.
Melihat muridnya itu, Khu Cie Kee mengasih dengar suara di hidung, "Hm!" Dia tidak memperdulikan.
"Suhu," Cie Peng berkata, "Tocu dari Tho Hoa To menghina teecu di rumah penginapan ini."
Cie Peng sebenarnya menyebut Oey Yok Su dengan nama Oey Lao Shia, yang berarti si Oey tua yang tersesat atau si Sesat bangkotan, tetapi ia ditegur oleh Ma Giok, maka ia mengubah sebutannya.
Khu Cie Kee segera menghadapi rumah penginapan itu, dengan nyaring ia berkata: “Murid-murid Coan Cin Kay, Ma Giok beramai, datang menghadap kepada Oey Tocu dari Tho Hoa To!"
"Di dalam tidak ada orang," Yo Kang memberitahu.
"Sayang, sayang," kata Cie Kee yang membanting¬-banting kaki. Tapi ia lantas tanya muridnya: "Kau di sini, ngapain?"
Hati Yo Kang sudah goncang karena melihat guru dan sekalian paman gurunya, maka atas pertanyaan itu, ia tidak lantas dapat memberikan jawaban.
Sementara itu Gochin Baki mengawasi Ma Giok, lalu ia lari menghampiri, terus ia berseru:
"Oh, kau imam yang membantu aku menangkapi rajawali putih. Lihatlah, sekarang sepasang rajawali telah menjadi besar sekali!"
Putri Mongolia ini menunjuk pada burungnya sambil bersiul, kedua ekor burung itu lantas turun, menclok di kedua belah pundaknya.
Ma Giok tersenyum, ia mengangguk. "Apakah dia pun datang ke Selatan ini untuk pesiar?" ia menanya.
Putri ini tahu siapa yang dimaksudkan dengan "dia" itu, lantas saja ia menangis. "Kanda Kwee Ceng telah dibikin celaka orang hingga mati!" katanya sengit. "Totiang, tolong kau balaskan sakit hatinya!"
Ma Giok terkejut hingga mencelat. Dengan bahasa Tionghoa ia lalu memberi keterangan kepada saudara¬-saudaranya perkataan putri itu. Khu Cie Kee dan Ong Cie-pun, dengan berbareng mereka lantas menanyakan apa sebenarnya yang telah terjadi.
Putri Jenghiz Khan segera menunjuk kepada Yo Kang. "Dialah yang membawa berita, katanya ia melihat sendiri," bilangnya. "Coba kau tanyakan dia sendiri!"
Melihat si nona kenal paman gurunya yang tertua, Yo Kang berkhawatir, maka lantas ia berkata kepada Tuli dan si nona itu:
"Kamu tunggu dulu di sebelah depan sana, aku hendak bicara sama beberapa imam ini. Sebentar aku susul kamu."
Perkataan ini disalin oleh si punggawa. Mendengar itu Tuli mengangguk, lantas ia ajak adik dan kawannya pergi ke depan, ke utara kampung itu.
"Siapa yang membunuh Kwee Ceng?!" Cie Kee menanya, bengis. "Lekas bicara!"
Dalam takutnya Yo Kang berpikir: "Kwee Ceng aku sendiri yang membunuhnya, sekarang aku mesti menimpakan kesalahan kepada siapa…? Baiklah aku menyebut seorang lihay, supaya suhu mencari dia, supaya dia mengantarkan jiwanya sendiri, dengan begitu untuk selamanya aku bebas dari mara bahaya…" Maka dengan lagu suara sangat membenci, ia menjawab:
"Dialah tocu dari Tho Hoa To!"
Menyusul jawabannya Yo Kang ini, dari kejauhan terdengar tertawa lebar yang samar-samar, disusul suara nyaring seperti bentroknya cecer rombeng, lalu disusul lagi suara yang perlahan sekali, tetapi meskipun perlahan, terdengar tegas. Suara itu seperti berputaran di luar kampung lantas pergi jauh………
Akan tetapi Khu Cie Kee kaget berbareng girang. "Itulah tertawanya Ciu Susiok," katanya.
"Ketiga Suheng pergi menyusul!" kata Sun Put Jie.
"Rupanya suara cecer pecah dan suara memanggil tadi seperti lagi menyusul susiok," kata Ong Cie It.
Ma Giok nampaknya berduka. "Kelihatannya dua orang itu berkepandaian tidak ada di bawah Ciu Susiok," katanya. "Entah mereka itu orang pandai darimana? Ciu Susiok sendirian melawan dua musuh, aku khawatir…" Ia lantas menggoyang-goyangkan kepalanya.
Khu Cie Kee dan tiga saudaranya mendengar pula, sekarang suara itu lenyap, rupanya orang telah pergi jauh beberapa lie hingga sulit disusul lagi.
"Ada Tam Suko bertiga, kita tidak usah mengkhawatirkan susiok," kata Sun Put Jie kemudian.
"Aku khawatir mereka tidak dapat menyandak," bilang Cie Kee. "Coba Ciu Susiok tahu kita berada di sini dan dia datang ke mari…"
Oey Yong dapat mendengar semua pembicaraan mereka, ia tertawa sendiri. "Ayahku bersama si bisa bangkotan dan tua bangka berandalan tengah mengadu kepandaian lari!" katanya di dalam hati. "Mereka itu bukan lagi berkelahi. Umpama kata mereka benar lagi berkelahi, kamu beberapa imam hendak membantu, mana kamu dapat melawan ayahku serta si bisa bangkotan itu?"
Ma Giok yang sabar lalu mengibas tangannya, maka semua orang lantas masuk ke dalam rumah penginapan untuk pada berduduk.
"Eh, mari aku tanya kau!" kata Cie Kee pada muridnya. "Aku mau tahu, sekarang ini kau dipanggil Wanyen Kang atau Yo Kang?"
Yo Kang takut sekali. Mata gurunya sangat tajam memandang padanya. Kalau ia salah menjawab, jiwanya terancam bahaya. Maka lekas-lekas ia menjawab:
"Jikalau bukan suhu serta Ma Supee dan Ong Susiok yang memberi petunjuk, sampai sekarang tentu teecu masih dalam kegelapan, teecu tetap mengaku musuh sebagai ayahku. Sekarang ini teecu she Yo. Baru saja tadi malam berdua bersama adik Bok ini teecu mengubur jenazah ayah bundaku."
Senang Khu Cie Kee mendengar jawaban itu, ia mengangguk-angguk, air mukanya pun berubah tak bermuram lagi seperti tadi. Sebagai imam jujur, ia mempercayai orang. Juga Ong Cie It tidak lagi mendongkol melihat Yo Kang bersama Liam Cu, yang tadinya dia gusar karena keponakan muridnya menyangkal perjodohannya dengan nona Bok.
Kebetulan Khu Cie Kee melihat ke lantai tatkala sinar matanya bentrok sama tombak buntung. Ia kenali itu sebagai senjatanya Kwee Siauw Thian. Ia lantas memungutnya, untuk diusap-usap. Nyata ia berduka.
"Pada sembilanbelas tahun yang lampau," katanya perlahan, "Di sini aku telah berkenalan dengan ayahmu serta pamanmu she Kwee, sekarang sesudah belasan tahun lewat, aku melihat ini peninggalan tombaknya, sedang sahabatku telah pulang ke alam baka….."
Kwee Ceng mendengar perkataan itu, ia berduka bukan main. Katanya dalam hati: "Khu Totiang menyebutnya sahabat ayahku, tetapi aku sendiri tidak pernah melihat wajah ayah…."
Kemudian Khu Cie Kee tanya muridnya bagaimana caranya Oey Yok Su membunuh Kwee Ceng.
Sudah terlanjur, Yo Kang lantas mengarang cerita. Ketiga imam itu menghela napas, berduka sekali. Mereka pun mengenal baik pemuda she Kwee. Selama itu hatinya Yo Kang tidak tenang. Ia pun telah berjanji kepada Tuli dan Gochin Baki.
"Apakah kamu berdua sudah menikah?" kemudian Ong Cie It tanya keponakan muridnya itu.
"Belum," sahut Yo Kang. Kali ini ia tidak berani berdusta.
"Lebih baik kalian lekas menikah!" Ong Cie It bilang. "Khu Suko, baiklah hari ini kau merecoki jodoh mereka, supaya mereka lantas menikah."
Oey Yong dan Kwee Ceng saling mengawasi, dalam hatinya, mereka berkata: "Benarlah malam ini kembali kita akan menonton sepasang pengantin?"
Sementara itu Yo Kang berkata dengan cepat: "Terserah kepada suhu!"
Tapi Bok Liam Cu berkata: "Mesti dipenuhkan dulu satu permintaanku, yang menjadi syarat, kalau tidak biarnya mati, aku tidak sudi menikah!" Nona ini telah lama mengikuti ayahnya merantau maka ia beda dengan Yauw Kee.
Khu Cie Kee tersenyum. "Baiklah!" bilangnya. "Apakah itu nona, kau bilanglah!"
"Ayah angkatku telah dibikin mati oleh Wanyen Lieh, musuh negaraku," menyahut nona Bok, "Maka itu dia mesti membalaskan dulu sakit hati ayahku!"
"Bagus!" berseru Cie Kee bertepuk tangan. "Nona, pikiranmu cocok sama pikiran si imam tua! Nah, anak Kang, bagaimana dengan kau? Setujukah?"
Syarat itu hebat sekali, tentu saja Yo Kang menjadi ragu-ragu. Selagi ia berpikir, bagaimana ia harus menjawab, di luar penginapan terdengar suara orang bernyanyi, suaranya serak, dan nyanyiannya lagu "Lian Hoa Lok", nyanyiannya bangsa pengemis. Nyanyian itu lantas disusul satu suara halus dan tajam, katanya:
"Tuan-tuan besar sukalah berlaku murah hati, mengamal untuk satu bun saja…!"
Mendengar suara itu, Bok Liam Cu lantas berpaling, ia mengenali suara itu. Di ambang pintu terlihat dua orang pengemis, yang satu bertubuh jangkung dan gemuk, yang lainnya kate dan kurus, dan si jangkung gemuk itu umpama kata sebesar empat kali tubuhnya si kate kurus. Maka itu sangat luar biasa perbedaaan di antara mereka berdua.
Sang waktu telah berselang banyak tahun tetapi nona Bok masih ingat peristiwa ketika usianya tigab belas tahun, ketika lukanya dibalut oleh pengemis ini, sedang Ang Cit Kong, yang menyukai si nona, telah mengajari ilmu silat selama tiga hari. Liam Cu hendak menghampiri kedua pengemis itu tetapi ia bersangsi waktu melihat kedua pengemis itu lantas mengawasi tongkat di tangannya Yo Kang, lalu setelah mereka saling melirik, mereka menghampiri pemuda itu. Dengan menyilangkan kedua tangan, mereka memberi hormat.
Ma Giok semua mengawasi kedua pengemis itu, dengan hanya melihat tindakan orang dan gerakan tubuhnya, mereka tahu dua orang ini mesti lihay ilmu silatnya. Mereka juga melihat di punggung orang ada tergendol delapan buah kantung goni, yang mana adalah tanda tingkatan tinggi dari kaum Kay Pang. Hanya mereka tidak mengerti kenapa keduanya demikian menghormat terhadap Yo kang.
Si pengemis kurus lantas berkata: "Saudara yang baik, beruntung sekali di dalam kota Lim-an ini kau telah menemukan tongkat pangcu kami. Sebenarnya kami telah mencarinya berputaran! Saudara, entahlah dimana tahu kemanakah perginya pangcu kami meminta amal?"
Yo Kang heran diperlakukan demikian. Ia memegangi tongkat tetapi tidak tahu hal ikhwalnya tongkat itu. Tentu sekali tidak tahu ia harus menjawab bagaimana. Adalah aturan kaum Kay Pang, melihat tongkat sama seperti menghadap pangcu mereka sendiri, dari itu terhadap Yo Kang mereka berlaku sangat menghormat, tetapi sekarang Yo Kang seperti tidak memperdulikan mereka, agaknya mereka bergelisah, lekas-lekas mereka menunjukkan sikap lebih hormat lagi. Si pengemis gumuk turut berkata, katanya:
"Pertemuan di Gak-ciu sudah mendesak harinya, untuk itu Kan Tianglo dari timur sudah bergerak ke barat."
Yo Kang menjadi semakin tidak mengerti. Tadi ia mengasih dengar, "Hm!" sekarang ia mengasih dengar pula suaranya itu.
Pengemis kurus pun berkata pula: "Oleh karena teecu mencari tongkatnya pangcu, waktu kami telah tersia-¬siakan beberapa hari, maka sekarang setelah kita bertemu, seharusnya kita lantas berangkat! Maka itu baiklah sekarang teecu beramai menemani padamu!"
Biar bagaimanapun Yo Kang dapat menggunakan otaknya. Memang ia ingin lekas-lekas menyingkir dari depan guru dan paman-paman gurunya ini. Maka ia lantas berlutut kepada mereka, katanya:
"Teecu mempunyai urusan penting, tidak dapat teecu menemani suhu sekalian, dari itu, harap teecu dimaafkan!"
Khu Cie Kee sekalian percaya muridnya ini mempunyai urusan penting dengan Kay Pang, mereka pun tahu, Ang Cit Kong kenal baik dengan Ong Tiong Yang, almarhum guru mereka, karena itu mereka tidak berani menahan Yo Kang. Malah sebaliknya, mereka berlaku hormat kepada kedua pengemis itu, yang sikapnya demikian halus.
Bok Liam Cu pun suka turut. Bukankah ia kenal dengan dua pengemis itu? Maka ia juga memberi hormat pada Khu Cie Kee berempat, untuk pamitan. Begitulah, berempat mereka berangkat.
Khu Cie Kee berempat bermalam di rumah penginapan itu untuk menantikan Tam Cie Toan bertiga. Baru besoknya tengah malam, mereka mendengar suara siulan panjang di luar kampung. Sun Put Jie lantas berkata:
"Cek Suheng datang!"
Ketika itu Khu Cie Kee berempat lagi bersemadhi tatkala mereka mendengar isyarat dari Kong Leng Cu Cek Tay Thong, dimana Ma Giok lantas memberikan jawabannya perlahan tetapi terang. Cuma sebentar saja, lantas satu bayangan berkelebat dan Cek Tay Thong bertindak masuk.
Oey Yong belum pernah melihat imam itu, ia lantas mengintai. Malam itu tanggal lima bulan tujuh, rembulan masih kecil, akan tetapi si nona dapat melihat dengan tegas. Ia melihat seorang yang bertubuh gemuk dan tinggi besar, romannya seperti seorang pembesar negeri, tangan baju dari jubahnya ada separuh, cuma sampai sebatas sikut. Pakaiannya berbeda sekali dengan jubah Ma Giok beramai.
Cek Tay Thong ini, semasa belum menjadi imam, adalah seorang hartawan di Lenghay, Shoatang, dia pun terpelajar tinggi, baru kemudian dia mengangkat Ong Tiong Yang menjadi guru. Ketika ia menerima muridnya ini, Ong Tiong Yang meloloskan jubah yang ia pakai, kedua ujung bajunya ia kutungi, jubahnya itu dikasihkan muridnya. Ia pun berkata:
"Tidak ada bahaya, tidak ada tangan baju, maka kamulah yang harus merampungkan sendiri."
Huruf "tangan baju" ada sama suaranya dengan huruf "menerimakan". Dengan itu mau diartikan, meskipun guru ini tidak memberikan banyak pengajaran kepada muridnya, dengan peryakinan sendiri, si murid akan memperolah kemajuan. Cek Toy Thong mengingat baik-baik perkataan gurunya, maka selanjutnya ia tetap mengenakan jubah tangan buntung itu.
"Bagaimana dengan Cui Susiok?" tanya Khu Cie Kee yang tidak sabaran. "Sebenarnya ia lagi bergurau atau benar-benar bertempur?"
Cek Toy Thong menggeleng kepala. "Kepandaianku masih rendah sekali, setelah menyusul tujuh atau delapan lie, aku kehilangan Cui Susiok," ia menyahut. "Tam Suko bersama Lauw Suko berada di sebelah depanku."
"Kau letih, Cek Sutee, kau beristirahatlah," katanya.
Cek Tay Thong lantas duduk bersila, menjalankan pernapasannya. "Diwaktu tadi aku berjalan pulang," kemudian ia berkata lagi, "Di Ciu Ong Bio aku melihat enam orang, melihat roman mereka, mestinya Kanglam Liok Koay yang Khu Suheng cari. Lantas aku menghampiri mereka, nyata penglihatanku tidak keliru."
"Bagus!" kata Cie Kee girang. "Sekarang di mana adanya mereka?"
"Sebenarnya mereka baru kembali dari Tho Hoa To," Tay Thong memberi keterangan pula.
Cie Kee terkejut. "Sungguh mereka bernyali besar berani pergi ke Tho Hoa To!" katanya. "Pantas kita tidak dapat mencari mereka."
"Menurut keterangan Thay-hiap Kwa Tin Ok, ketua dari Liok Koay, mereka telah membuat perjanjian dengan Oey Yok Su untuk pergi ke Tho Hoa To, hanya setibanya mereka di pulau itu, Oey Yok Su tidak ada. Mendengar kita berada di sini, mereka membilang bahwa dalam satu dua hari ini mereka hendak datang berkunjung."
Kwee Ceng mendengar pembicaraan itu, mengetahui semua gurunya tidak kurang suatu apapun, ia girang sekali. Sementara itu, setelah lewat lima hari lima malam, kesehatannya sudah pulih separuhnya.
Di hari keenam kira-kira jam tiga atau empat, dari luar kampung sebelah timur terdengar suara siulan, atas itu Khu Cie Kee berkata:
"Lauw Sutee kembali bersama seorang yang lihay, entah siapakah dia…"
Berlima mereka lantas berbangkit, pergi keluar untuk menyambut. In Cie Peng jalan di belakang. Lantas mereka melihat Cie Hian bersama seorang tua yang rambut kumisnya sudah putih semua, bajunya pendek, sepatunya sepatu goni, sebelah tangannya memegang sebuah kipas besar, sembari berjalan ia berbicara sambil tertawa-tawa. Ketika sampai di muka penginapan, kepada lima anggota Coan Cin Pay yang menyambutnya, dia cuma mengangguk sedikit, agaknya dia tidak melihat mata kepada mereka. Tapi Lauw Cie Hian segera mengajarnya kenal:
"Inilah Tiat-ciang Cui-siang-piauw Kiu Locianpwee yang namanya kesohor di seluruh negara. Hari ini kami bertemu dengannya, sungguh beruntung!"
Mendengar nama imam she Lauw itu, Oey Yong tersenyum, dengan sikutnya ia membentur tubuh Kwee Ceng, siapa lantas tersenyum juga. Berdua mereka berpikir: "Marilah kita menyaksikan tua bangka ini penipu besar mempermainkan orang-orang Coan Cin Kauw!"
Lalu terdengarlah suara Ma Giok berlima, yang bicara sama orang she Kiu ini dengan sikap menghormat, sedang Kiu Cian Jin lantas mengasih dengar ocehannya. Kemudian Khu Cie Kee menanya apa "locianpwee" bertemu sama Ciu Pek Thong, paman gurunya.
"Loo Boan Tong?" menegaskan orang she Kiu itu. "Dia telah dibinasakan oleh Oey Yok Su!"
Semua orang Coan Cin Kauw itu menjadi kaget sekali. "Ah, tidak mungkin!" kata Cie Hian selang sesaat. "Baru saja boanpwee melihat Cui Susiok, karena larinya sangat keras, boanpwee tidak dapat mengusul."
Kiu Cian Jin tertawa, ia tidak membilang suatu apapun. Ia rupanya lagi berpikir bagaimana harus menelurkan kedustaan.
"Lauw Sutee," tanya Cie Kee, "Apakah kau melihat tegas romannya dua orang yang mengejar Ciu Susiok?"
"Yang satu mengenakan jubah putih, yang lainnya jubah hijau panjang. Mereka itu sangat kencang larinya. Samar-samar aku melihat wajah yang berjubah hijau itu luar biasa sekali, mirip dengan mayat".
Kiu Cian Jin telah melihat Oey Yok Su di Kwie-in¬chung, segera berkata. "Benar! pembunuh Ciu Pek Thong si baju hijau itu! Lain orang mana bisa? Aku hendak mencegah sayang terlambat…!"
Nama Tiat-ciang Sui-siang-piauw Kiu Cian Jin sangat kesohor, enam imam Coan Cin Kauw ini tidak menyangka bahwa orang tengah membohong, mendengar hal dibunuhnya Ciu Pek Thong, paman guru mereka, mereka sangat berduka berbareng gusar.
"Tam Suko dapat lari lebih keras daripada aku, mungkin dia mendapat kesempatan melihat bagaimana caranya susiok dibunuh," kata Cie Hian.
"Aku khawatir Tam Suko pun nampak bahaya…" kata Sun Put Jie yang berkhawatir. Ia berhenti tiba-tiba dan mukanya pucat.
Khu Cie Kee lantas menghunus pedangnya. "Mari kita menyusul!" serunya. "Kita mesti menolong dan membalaskan sakit hati!"
"Jangan!" berteriak Kiu Cian Jin, yang khawatir mereka dapat mencari Ciu Pek Thong. "Oey Yok Su ketahui kamu berada di sini, segera juga dia bakal datang ke mari. Oey Lao Shia itu sangat jahat, aku si orang tua tidak dapat membiarkannya! Aku juga tidak membutuhkan bantuan orang lain, maka biarlah kamu berdiam saja di sini menanti kabar baik dariku!"
Khu Cie Kee sekalian sangat percaya dan menghormati orang tua ini, mereka tidak membantah. Pula, kalau mereka mengejar, khawatir nanti mengambil jalan salah hingga jadi tidak dapat bertemu sama Oey Yok Su, dari situ, mereka menanti saja. Maka mereka berjalan keluar mengantarkan kepergian orang tua ini, mereka sikapnya sangat menghormat.
Setelah keluar dari ambang pintu, Kiu Cian Jin memutar tubuhnya seraya mengibaskan tangan serta mulutnya berkata:
"Tidak usah kau mengantar sampai jauh! Meskipun Oey Lao Shia lihay sekali, aku toh mempunyai jalan untuk mengalahkan dia! Kamu lihat!"
Ia tidak lantas berjalan terus hanya menghunus sebatang pedang dari pinggangnya, dengan itu ia menikam perutnya, hingga mereka menjadi kaget. Tiga dim dari pedang telah tertancap separuhnya! Akan tetapi si orang tua tertawa dan berkata:
"Di kolong langit ini, senjata tajam apapun tidak dapat melukaiku, maka janganlah tuan-tuan kaget dan takut! Jikalau aku menyusul tetapi tidak bertemu dan sebaliknya Oey Lao Shia itu datang ke mari, jangan tuan-tuan melayani dia bertempur, khawatir nanti kamu terluka, kamu tunggu saja kembaliku!"
"Sakit hati paman guru, yang menjadi keponakan muridnya, tak dapat kami tidak membalasnya!" berkata Khu Cie Kee.
Mendengar itu, Kiu Cian Jin menghela napas. "Kalau begitu, terserah!" katanya berduka. "Ini takdir! Jikalau kamu hendak membalas sakit hati, satu hal kamu mesti ingat!"
"Tolong locianpwee memberi petunjuk," Ma Giok minta.
Kiu Cian Jin lantas mengasih lihat roman sungguh¬-sungguh. "Begitu kamu melihat Oey Lao Shia, kamu harus segera mengepung dengan sungguh-sungguh!" katanya. "Jangan kau bicara sepatah katapun! Kalau tidak, sukarlah sakit hati kamu terbalaskan! Ingat baik-¬baik!" Habis berkata, ia memutar tubuhnya, untuk terus berlalu, pedangnya masih nancap terus diperutnya……
Khu Cie Kee sekalian saling mengawasi dengan berdiri menjublak. Mereka adalah orang-orang dengan pengetahuan dan pemandangan yang luas tetapi belum pernah mereka menyaksikan orang menublas perut demikian rupa, dapat bicara, tertawa dan berjalan dengan tenang! maka itu maulah mereka menduga bahwa kepandaian orang tua itu sangat luar biasa.
Sama sekali mereka tidak pernah menyangka telah dijual Kiu Cian Jin. Pedang itu bertekuk tiga, kalau tekukan yang pertama membentur sesuatu, yang dua lagi segera ngelepot masuk, jadi ujung pedang cuma mengenai ikat pinggang dan nancap, hanya nampaknya seperti terpendam di dalam perut. Dia telah menerima undangan Wanyen Lieh, dia bertugas menyebar racun kata-kata untuk membuat orang-orang gagah di jamannya itu bentrok satu sama lain, agar bangsa Kim (kin atau Chin) mendapat kesempatan menyerbu ke Selatan, menumpas alaha Song.
Seperginya orang tua itu, Khu Cie Kee berenam tak tenang hatinya, sampai mereka tidak bernafsu dahar dan minum. Mereka terus menanti. Ketika tiba tengah malam dari tanggal tujuh, mendadak mereka mendengar sama-samar suara orang di arah utara, seperti dua orang saling susul, sebentar kemudian, tibalah dua orang itu di depan rumah penginapan.
Enam orang Coan Cin Kauw ini duduk bersemadhi di atas tumpukan rumput, dengan jalan itu mereka memelihara diri sambil berlaku sabar sebisanya, cuma In Cie Peng, yang latihannya masih rendah, sudah tidur pulas. Mendengar suara itu, mereka lantas berlompat bangun.
"Musuh mengejar Tam Sutee," berkata Ma Giok. "Berhati-hatilah semua!"
Kwee Ceng, malam itu pun malam terakhir, guna memenuhi waktu istirahat tujuh hari tujuh malam. Tindakan mereka besar faedahnya. Bukan saja Kwee Ceng sendiri sembuh luka dalamnya, juga rapat luka luarnya, pula tenaga dalam mereka mendapat kemajuan besar. Waktu beberapa jam lagi adalah waktu yang terpenting. Tapi Oey Yong berduka dan berkhawatir kapan ia mendengar perkataan Ma Giok itu.
"Kalau yang datang benar ayah, inilah hebat," pikirnya. "Coan Cin Cit Cu tentu bakal lantas menyerang dan mengerebuti….Aku tak dapat keluar, untuk mencegah guna mengasih penjelasan. Bagaimana? Aku khawatir sangat mereka ini bakal bercelaka di tangan ayah. Kematian mereka tidak ada sangkutnya dengan aku sendiri, tidak demikian dengan engko Ceng. Engko Ceng ada sangkutannya dengan mereka itu. Pasti engko Ceng akan bertindak…… Tidakkah itu bakal meludaskan usaha kita berhari-hari dan bemalam¬-malam ini, sedangkan ini adalah detik-detik terakhir? Aku khawatir, tidak cuma ilmu silatnya juga jiwanya akan terancam bahaya…" Maka ia lantas berbisik di kuping lawannya itu: "Engko Ceng, kamu mesti berjanji padaku, tidak peduli bakal terjadi apapun yang besar dan penting, kau tidak boleh keluar dari sini!" Kwee Ceng mengangguk.
Segera juga siulan terdengar di luar pintu penginapan.
"Tam Sutee, lekas mengatur barisan Thian Kong Pak Tauw!" Khu Cie Kee berseru.
Mendengar nama barisan itu, Kwee Ceng jadi sangat ketarik hatinya. Di dalam kitab Kiu Im Cin-keng ada disebut-sebut nama bintang-bintang itu, sebagai pokok untuk pernyakinan kemahiran, penjelasan lainnya tidak ada, maka itu, ia ingin ketahui kepandaian Coan Cin Cit Cu. Segera ia mengintai.
Justru pemuda ini mengintai, pintu tergabrukan terbuka dan seorang imam melompat masuk, hanya disaat jubahnya berkibar dan kaki kirinya baru melewati ambang pintu, mendadak ia terhuyung dan mundur keluar. Ini disebabkan musuhnya telah tiba dan sudah menyerang.
Khu Cie Kee bersama Ong Cie It berlompat ke pintu, mereka berdiri berendeng, kedua tangan diajukan ke depan, maka tenaga mereka bentrok sama tenaga dari luar. Sebagai kesudahannya, kedua imam ini mundur dua tindak, lawannya mundur dua tindak juga. Ketika ini digunakan Tam Cie Toan berlompat masuk.
Di bawah sinar rembulan terlihat tegas orang di luar itu awut-awutan rambutnya, mukanya ada dua goresan darah, pedang di tangan kanannya tinggal sepotong, entah bekas dikutungi dengan senjata apa.
Setiba di dalam, tanpa mengucap sepatah kata, Tam Cie Toan lantas duduk bersila, untuk bersemadhi, sikapnya itu diturut oleh keenam saudaranya. Di luar pintu terdengar suara yang keras dan seram:
"Imam tua she Tam, jikalau bukan nyonya besarmu memandang kepada Ma Giok yang menjadi kakak seperguruanmu, pasti siang-siang aku telah mengantarkan jiwamu! Perlu apa kau memancing nyonya besarmu datang ke mari? Siapa itu barusan yang membantumu? Kau terangkanlah kepada Mayat Besi dari Hek Hong Siang Sat!"
Di tengah malam buta itu, suara Bwee Tiuw Hong ini membuat tubuh orang menggigil. Setelah itu, kembali sunyi senyap. Apa yang dapat terdengar melainkan suara kutu. Hanya sebentar kemudian, terdengar suara seperti mereteknya tulang-¬tulang dan otot-otot. Kwee Ceng tahu itulah tanda Bwee Tiauw Hong, yang rupanya hendak menyerbu ke dalam. Habis itu terdengar:
"Sekali tertinggal sampai pula beberapa puluh tahun…" Itulah senandungnya Ma Giok, suaranya halus dan sabar.
Lalu Tam Cie Toan menyambung: "Dengan rambut kusut jalan sepanjang hari bagaikan edan." Suara itu besar dan kasar, hingga Kwee Ceng mengawasi anggota Coan Cin Cit Cu yang kedua ini, muka siapa berdaging dan berotot, alisnya gompiok, matanya besar, tubuhnya besar dan kekar. Sebelum menyucikan diri, tukang besi di Shoatang ini, tabiatnya jujur dan polos, dari itu, gelarannya ialah Tiang Cin Cu.
Orang yang ketiga bertubuh kate dan kurus, mukanya seperti kera. Dialah Tiang Seng Cu Lauw Cie Hian, yang turut bersenandung.
"Di bawah pesaben haytong menanam bibit." Dia bertubuh kecil tetapi suaranya nyaring sekali.
Tiang Cun Cu Khu Cie Kee pun menyambuti: "Di dalam perahu di antara daun teratai ada dewa Thay It Sian." Ia lantas disambung Giok Yang Cu Ong Cie It "Tak ada beda maka boleh keluar dari batok kosong."
Kong Leng Cu Cek Tay Thong turut bersenandung juga: "Ada orang yang dapat sadar sebelum dilahirkan." Ia dituruti oleh Ceng Ceng Sanjin Sun Put Jie, katanya, "Pergi keluar sambil tertawa dan bebas bebas." Sebagai penutup bersenandunglah Tan Yang Cu Ma Giok, "Mega di telaga See Ouw, rembulan di langit!"
Bwee Tiauw Hong terkejut mendengar suara mereka, yang menandakan tenaga dalam yang mahir. Maka berpikirlah dia: "Mustahilkah Coan Cin Cit Cu berkumpul di sini semua? Ah, tidak mungkin! Kecuali Ma Giok, suara mereka itu lain…."
Selama di jurang di padang pasir Mongolia, Bwee Tiauw Hong pernah mendengar suara Ma Giok serta Kanglam Liok Koay yang menyamar sebagai Coan Cin Cit Cu, dengan kupingnya yang jeli sekali, ia bisa ingat dan membedakan suara orang. Ia tidak mempunyai mata, ia mengandal kupingnya. Sekarang ia mendengar suara yang lain sekali kecuali suara Tan Yang Cu Ma Giok. Sampai sekarang ia masih belum tahu bahwa dulu ia telah diperdayakan Ma Giok.
"Ma Totiang!" ia lantas menanya. "Semenjak kita berpisah, bukankah kau baik-baik saja?"
Ia masih ingat imam itu, yang dulu hari berlaku baik terhadapnya, dari itu, mengenai perbuatannya Tam Cie Toan, ia masih memandang ketua Coan Cin Cit Cu itu. Sebenarnya, ketika Cie Tong gagal menusuk Ciu Pek Thong, di tengah jalan ia melihat salah satu Hek Hong Sang Sat ini, yang lagi berlatih. Ia tahu Tiauw Hong sangat jahat, ia memikir untuk menyingkirkan si jahat ini dari dunia. Ia berhati mulia, tak tega menyaksikan Tiuw Hong berlatih dengan sasaran orang hidup. Maka ia lantas menyerang. Diluar dugaannya, ia dikalahkan. Tiauw Hong mengenali orang dari Coan Cin Kauw, ia ingat Ma Giok, maka ia cuma melukainya, tidak mau ia merampas jiwanya, meski begitu, ia mengejar terus sampai di rumah penginapan ini.
"Terimas kasih, terima kasih!" menyahut Ma Giok. "Tho Hoa To dengan Coan Cin Kauw tidak mendendam tidak bermusuh, apakah benar gurumu bakal segera datang kemari?"
Bwee Tiauw Hong melengak. "Untuk apa kamu menanyakan guruku?" ia menanya.
Tapi Khu Cie Kee bertabiat keras. Ia membentak: "Perempuan siluman! Lekas kau suruh gurumu datang ke mari, supaya dia belajar kenal dengan kepandaian Coan Cin Cit Cu!"
"Kau siapa?!" tanya Tiauw Hong gusar.
"Khu Cie Kee! pernahkah kau mendengar namaku?"
Tiauw Hong mengasih dengar suaranya yang aneh, tubuhnya mencelat. Ia menyerang ke arah darimana suara jawaban itu datang, tangan kirinya menutup diri, tangan kanannya menjambak, mencengkeram kepala!
Kwee Ceng mengetahu lihaynya Bwee Tiauw Hong, serangannya sangat hebat, biar Cie Kee lihay, tak dapat ia melawan keras dengan keras. Akan tetapi dia melihat si imam tetap duduk bersila, tidak mau menangkis, tidak mau berkelit, ia menjadi kaget. "Celaka!" katanya dalam hati. "Kenapa Khu Totiang bernyali begini besar?"
Bwee Tiauw Hong mengarah batok kepala Khu Cie Kee, selagi ia menjambak, mendadak datang serangan angin dari kiri dan kanannya. Itulah serangan berbareng dari Lauw Cie Hian berdua Ong Cit It. Ia mau melanjutkan serangannya itu, maka tangan kirinya dikibaskan, guna menangkis. Di luar dugaannya, hebat serangan angin itu, tidak dapat ia menghalaunya, maka terpaksa ia berlompat mundur sambil jumpalitan.
Cie Hian dan Cie It, dengan tenaga dalam im dan yang, telah menggabungkan diri. Ia menjadi kaget dan heran. Ia menyangsikan itulah serangan orang Coan Cin Kauw. Maka ia lantas berseru dengan pertanyaannya,
"Apakah Ang Cit Kong dan Toan Hongya ada di sini?"
"Kitalah Coan Cin Cit Cu!" berkata Khu Cie Kee tertawa. "Di sini mana ada Ang Cit Kong dan Toan Hongya?"
Tiauw Hong bertambah heran. “Si imam tua she Tam bukan tandinganku, kenapa di antara saudara-saudaranya ada yang begini lihay?" pikirnya. "Apa mungkin kepandaian mereka berlainan tanpa memperdulikan tingkatan tua atau muda?"
Kwee Ceng pun heran seperti Tiauw Hong melihat Khu Cie Kee terbebaskan oleh Lauw Cie ian dan Ong Cie It itu. Hebat Tiauw Hong kena dibikin terpental mundur. Ia menduga kedua imam itu berimbang sama si Mayat Besi. Memang cuma Ang Cit Kong, Ciu Pek Thong, Oey Yok Su dan Auwyang Hong yang mempunyai tenaga demikian besar. Kalau Caon Cin Cit Cu, inilah aneh…
Tiauw Hong beradat keras, kepalanya besar. Kecuali gurunya, ia tidak takut siapapun. Makin ia terhajar, makin ia penasaran. Demikian kali ini. Setelah berdiam sebentar, tangannya meraba ke pinggangnya. Ia keluarkan cambuk lemasnya, Tok-liong Gin-pian, cambuk perak si Naga Beracun.
"Ma Totiong, maafkan, hari ini terpaksa berlaku kurang ajar!" katanya.
"Kata-kata yang baik!" Ma Giok menjawab.
"Aku hendak menggunakan senjata, maka itu, kamu hunuslah senjata!" kata si buta.
"Kami bertujuh, kau sendirian," berkata Ong Cie It. "Kau pun tidak bisa melihat apa-apa! Maka itu, biar bagaimana kami tidak dapat menggunakan senjata. Kami akan tetap duduk bersila, kau majulah!"
Tiauw Hong bersuara dingin. "Jadi kamu hendak melayani cambuk perakku dengan duduk diam saja?" tanyanya.
"Ah, perempuan siluman!" Cie Kee membentak. "Malam ini malam ajalmu tiba, buat apa kau masih banyak omong lagi?"
"Hm!" Tiauw Hong berseru di hidungnya, sedang tangannya lantas diayun, hingga cambuknya terus meluncur ke arah Sun Put Jie. Cambuk panjang yang banyak gaetannya itu bergerak perlahan bagaikan seekor ular besar berlegot.
Oey Yong memasang kuping mendengarkan kedua pihak mengadu mulut, ia tahu cambuknya Tiauw Hong lihay sekali, maka heran Coan Cin Cit Cu mau melayani tanpa senjata dan tanpa bergerak juga dari tempatnya bercokol masing-masing. Ia menjadi ingin melihat. Ia menarik Kwee Ceng, agar menyingkir. Buat ia menggantikan mengintai. Begitu menyaksikan caranya tujuh imam itu berduduk, ia menjadi heran. "Itulah keletakan bintang-bintang Pak Tauw," pikirnya. "Ah, tidak salah, barusan Khu Totiang menyebutkan tentang Thian kong Pak Tauw. Inilah rupanya barisan itu."
Oey Yok Su mengerti ilmu alam, ketika Oey Yong masih kecil, suka ia membawanya berangin waktu malam, maka sambil mengasih anak itu duduk di pangkuannya, sering ia menunjuk ke langit dan membritahukan kepada si anak tentang bintang--bintang. Oey Yong ingat benar petunjuk ayahnya, maka sekarang, dengan sekali lihat, ia ketahui Coan Cin Cit Cu ini telah menempatkan diri sebagai tujuh bintang Pak Tauw, bintang-bintang Utara.
Di antara tujuh imam, Ma Giok yang mengambil kedudukan thian-kie, Tam Cie Toan thian-soan, Lauw Cie Hian thian-khie, dan Khu Cie Kee thian-koan, sedang Ong Cie It giok-heng, Cek Thay Thong kay¬yang, dan Sun Put Jie yauw-kong. Kedudukan thian-koan paling penting, dia yang menghubungkan tiga dengan yang tiga lagi, dari itu kedudukan ini ditempati Khu Cie Kee yang ilmu kepandaiannya paling lihay. Yang kedua yang penting giok-heng, maka itu diambil Ong Cie It.
Oey Yong sangat cerdas, selagi Kwee ceng mengawasi sekian lama tapi tak mengerti apapun, ia hanya menampak sekelebatan, lantas ia mengerti. Tujuh imam itu menggabungkan diri dengan tangan kiri menyambung sama tangan kanan. Sambungan tangan itu mirip dengan tangan dia dan Kwee Ceng, guna membantu pemuda ini mengobati diri.
Cambuk Tiauw Hong bergerak perlahan ke arah kepala Sun Put Jie. Kelihatannya saja perlahan, sebenarnya hebat. Imam wanita itu tetap tidak bergerak. Selagi mengawasi, Oey Yong melihat jubah orang, di situ ia mendapatkan sulaman sebuah tengkorak. Ia heran, hingga ia berpikir: "Coan Cin Kauw ada dari kalangan murni, kenapa jubahnya sama dengan jubah Tiauw Hong dari kalangan sesat?" Ia pasti tidak tahu, waktu Ong Tiong Yang menerima muridnya ini, dia telah menghadiahkan gambar tengkorak dan murid ini yang ingat budi gurunya, lantas menyulamkan pada jubahnya.
Disaat cambuk hampir mengenai sasarannya ke bagian gigi dari tengkorak di jubah Sun Put Jie, tiba¬-tiba cambuk itu berbalik sendiri, bagaikan kepala ular kena dibacok, bagaikan anak panah melesat, menyambar kepada pemiliknya!
Tiauw Hong kaget, tidak sempat ia menggerakkan tangan, sebab tangannya bergetar, terpaksa ia kelit kepalanya, hingga ujung cambuk lewat di atas rambutnya. "Sungguh berbahaya.." ia kata dalam hatinya. Sesudah itu baru ia dapat menguasai pula cambuknya. Ia lalu menyerang ke arah Ma Giok dan Khu Cie Kee. Kedua imam itu duduk diam adalah Tam Cie Toan dan Ong Cie It yang menyerang dan membuatnya cambuk mental.
Oey Yong memasang mata, ia dapat melihatnya. Kalau satu imam menangkis, ia mengguna sebelah tangannya dan tangan yang lain diletakkan di pundak seorang saudaranya. Ia lantas mengerti. Cara mereka itu sama dengan caranya sendiri mengobati Kwee Ceng. Itu artinya, tujuh orang menggabung tenaganya melawan Bwee Tiauw Hong satu orang.
Apa yang dinamakan barisan bintang Thian Kong Pak Tauw ini adalah semacam ilmu kepandaian paling mahir dari kaum Coan Cin Kauw. Ciptaannya Ong Tiong Yang, sesudah imam itu memutar otaknya melatih diri dengan bersusah payah dan mengambil waktu lama. Untuk melayani lawan, tak usah orang diserang sendiri yang menangkis atau berkelit, hanya kawan di sampingnya yang membalas menyerang, kalau kawan ini menyerang, tenaganya jadi berlipat ganda kuatnya, sebab ia dibantu oleh yang lain-lainnya.
Tiauw Hong mencoba lagi beberapa kali, ia menjadi berkhawatir. Lama-lama ia merasa, kalau menyerang, bukan lagi cambuknya dibikin terpental seperti semula hanya seperti ditarik, meski ia masih dapat menggunakan, bergeraknya cambuk seperti diperciut. Sia-sia ia mencoba untuk menarik, guna mengulurnya. Ia merasa dirinya terancam tetapi ia masih penasaran. Tak mau ia membiarkan cambuknya dirampas musuh-musuh yang melawannya sambil duduk bercokol saja. Tapi karena ia penasaran dan bersangsi, ia melenyapkan kesempatan yang baik. Coba ia melepaskan cekalannya dan melompat mundur, tentu ia selamat……
Kalau barisan bintang-bintang utara itu bergerak, kecuali pemegang pusat thian-koan, gerakannya tidak dapat dihentikan. Bahkan ketujuh imam itu bergeraknya semakin cepat.
Bwee Tiauw Hong menggertak gigi. Ia tahu, kalau ia terus melawan, ia bakal celaka. Maka dengan berat, ia terpaksa melepaskan juga cambuknya. Tetapi sekarang sudah terlambat. Lauw Cie Hian sudah lantas menarik keras. Dengan menerbitkan suara, cambuk menghajar dinding tembok, hingga rumah penginapa itu bergetar, genting-gentingnya berbunyi, debu meluruk jatuh. Menyusul tubuhnya Tiauw Hong terbetot satu tindak ke depan.
Tindakan satu tindak itu adalah tindakan yang memutuskan. Kalau tadi ia melepaskan cambuknya dan lompat, lalu mundur, ia bisa memutar tubuhnya untuk lari ke luar. Mungkin ia bakal disusul tetapi tak akan ia tercandak. Di saat berbahaya ini, ia masih mencoba membela diri. Ia menjambak ke kiri dan kanan. Ia segera kebentrok tangannya Sun Put Jie dan Ong Cie It. Menyusul itu, Ma Giok dan Cek Tay Thong pun menyerang dari belakang. Ia majukan kaki kirinya setengah tindak, sambil berseru nyaring, ia menerbangkan kaki kanannya. Dengan begitu saling susul ia menendang lengannya kedua imam yang belakangan itu, di jalan darah gwa-kwan dan hwee-cong.
“Bagus!" Khu Cie Kee dan Lauw Cie Hian memuji. Dengan saling susul, mereka menolong dua saudaranya dari bahaya.
Kaki kanan Tiauw Hong belum lagi menginjak tanah, kaki kiri sudah bergerak pula. Dengan begitu ia menyingkir dari serangan Cie Kee dan Cie It. Ketika kaki kanan itu diturunkan, ia maju lagi satu tindak. Dengan begini berarti ia telah masuk semakin dalam ke dalam barisan ketujuh imam itu. Artinya, kecuali ia dapat merobohkan salah satu musuh, ia tidak mempunyai jalan lagi untuk nerobos keluar dari barisan itu.
Oey Yong heran dan terkejut. Di antara sinar rembulan ia menyaksikan Tiauw Hong dengan rambut panjang awut-awutan, berlompatan pergi datang dan tangan kakinya menjambak dan menendang tak hentinya. Hebat setiap jambakan dan tendangannya itu mengasih dengar suara angin. Tidak peduli segala gerakannya yang hebat, maka Coan Cin Cit Cu tetap bercokol tak bergeming, cuma tangan mereka yang bekerja, saling sambut dengan rapi, tetap mereka mengurung si Mayat Besi.
Bwee Tiauw Hong telah berkelahi dengan menggunakan dua macam ilmu silat, yaitu pelbagai jambakan Kiu Im Pek-kut Jiauw dan hajaran Cwie-sim-ciang yang dahsyat, ia terus mencoba untuk menerjang keluar tetapi selalu gagal, selalu tertolak mundur. Saking gusarnya, ia berkoak-koak secara aneh.
Sekarang, kalau Coan Cin Cit Cu menghendaki nyawa orang, cukup mereka melakukan satu penyerangan, akan tetapi mereka atau salah satu diantaranya, tidak mau menurunkan tangan terakhir.
Mulanya Oey Yong heran, sebentar kemudian ia bersabar. "Ah, aku mengerti sekarang!" katanya dalam hati. "Terang mereka meminjam Bwee Suci untuk melatih barisan bintang! Memang sukar dicari orang yang sekosen suci, yang dapat dipakai menguji barisannya ini. Rupanya mereka hendak membikin lawannya letih hingga mati dengan sendirinya baru mereka mau berhenti…….."
Dugaan nona Oey ini cocok separuhnya. Memang benar Ma Giok beramai memakai Tiauw Hong sebagai kawan berlatih, tetapi untuk membinasakan, mereka tak pikir. Tidak gampang mereka melakukan pembunuhan.
Sampai di situ, Oey Yong tidak mau menonton lebih lama lagi. Ia tidak berkesan baik terhadap Bwee Tiauw Hong, si suci, kakak seperguruan, toh ia tak tega mengawasi lebih jauh. Maka itu, ia berikan tempat mengintainya kepada Kwee Ceng. Maka sekarang ia cuma mendengar, angin serangan sebentar keras sebentar kendor, tandanya pertempuran masih berlanjut terus.
Kwee Ceng menonton tetapi ia tetap tidak mengerti akan cara berkelahinya ke tujuh imam itu.
"Mereka menggunakan kedudukan bintang Pak Tauw," Oey Yong membisiki. "Apakah belum pernah melihatnya?"
Baru sekarang pemuda ini sadar. Ia ingat bunyinya kitab kedua dari Kiu Im Cin-keng. Sekarang ia mengerti. Karena itu ia menjadi tertarik hingga tanpa merasa ia berlompat bangun.
Oey Yong kaget, segera ia menahan. Kwee Ceng pun sadar, lekas-lekas ia berdiam. Tapi ia masih mengintai. Sekarang ia mengerti betul kegunaan barisan Thian Kong Pak Tuaw itu. Ketika di Tho Hoa To menyaksikan Ang Cit Kong menempur Auwyang Hong ia memperoleh kemajuan besar, kali ini ia mendapatkan kemajuan serupa, dengan begitu, pengetahuannya menjadi bertambah.
Lama-lama maka letihlah Bwee Tiauw Hong, ia hampir tak dapat bertahan lagi. Dilain pihak, tenaganya Coan Cin Cit Cu agaknya berkurang, mereka mulai kendor. Saat itulah di pintu terdengar suara orang.
"Saudara Yok, kau maju lebih dulu atau kau suka mengalah untuk aku mencoba-coba?" demikian suara itu.
Kwee Ceng terkejut. Ia mengenal baik suara Auwyang Hong. Entah kapan datangnya See Tok, si Bisa dari Barat itu.
Juga Coan Cin Cit Cu kaget semuanya, dengan serentak mereka melirik ke arah pintu. Di samping pintu itu berdiri berendeng dua orang, yang satu bajunya hijau yang lainnya putih. Mereka mengetahui adanya musuh-musuh yang tangguh, dengan berbareng mereka berseru, dan dengan berbareng mereka menghentikan pertempuran untuk berbangkit berdiri.
"Bagus betul" berkata Oey Yok Su, "Tujuh rupa bulu campur aduk ini mengepung satu muridku! Saudara Hong, jikalau aku memberi pengajaran kepada mereka, bisakah kau membilangnya aku menghina kepada yang muda?"
Auwyang Hong tertawa, ia menyahut: "Mereka yang terlebih dulu tidak menghormati kau! Jikalau kau masih tidak mengasih lihat sedikit dari ilmu kepandaianmu, pasti ini kawanan anak muda tidak mengetahui lihaynya pemilik dari Tho Hoa To!"
Ong Cie It pernah melihat Tong Shia dan See Tok di Hoa San, heran ia mendapatkan orang muncul berbareng dengan tiba-tiba, hendak ia maju untuk memberi hormat, tapi Oey Yok Su sudah maju dengan sebelah tangan terayun. Ia hendak menangkis tapi sudah tidak keburu, maka dengan satu suara "Plok!" pipinya kena digaplok, tubuhnya lantas terhuyung, hampir ia menubruk lantai.
Khu Cie Kee kaget sekali. "Lekas kembali ke tempat masing-masing!" ia berseru.
Akan tetapi belum sempat saudara-saudaranya itu menaati seruannya namun plak-plok tak hentinya, dengan bergantian mukanya Tam Cie Toan, Lauw Cie Hian, Cek Tay Thong dan Sun Put Jie telah tergaplok seperti muka Ong Cie It. Setelah itu bayangan pun berkelebat ke mukanya Tiang Cun Cu sendiri, demikian rupa, hingga tak tahu ia bagaimana harus menangkisnya, maka tidak ayal lagi, ia mengibas tangannya, mengarah dada Oey Yok Su!
Khu Cie Kee adalah yang terpandai dari Cit Cu, Oey Yok Su memandang terlalu ringan, maka dadanya itu kena terkibas hingga ia merasakan sakit. Dengan sebat ia menutup diri, lalu dengan tangan kirinya menyambar tangan baju si penyerang, tangan kanannya mencari biji mata lawan. Khu Cie Kee meronta sekuatnya, ujung bajunya robek.
Waktu itu Ma Giok maju bersama Ong Cie It, akan tetapi Oey Yok Su sudah berlompat ke belakang Cek Tay Thong, ketika kakinya dilayangkan, Kong Leng Cu roboh jungkir balik!
Di kamar rahasia, Kwee Ceng menyerahkan lubang intaian kepada Oey Yong, maka giranglah nona ini menyaksikan ayahnya menunjukkan kepandaiannya, coba ia tidak ingat kawannya mesti menanti lagi satu dua jam untuk sembuh betul, tentulah ia sudah menepuk tangan bersorak-sorai.
Adalah Auwyang Hong yang berdiri di pintu sambil tertawa berkakakan, dengan mulutnya dibuka lebar-¬lebar:
"Yang Ong Tiong Yang terima adalah ini segerombolan kantung nasi!"
Cie Kee penasaran sekali. Semenjak belajar silat, belum pernah ia dikalahkan begini rupa.
"Berdiri rapi di tempat masing-masing!" ia berteriak pula.
Akan tetapi Oey Yok Su tidak sudi memberikan kesempatan. Ia bergerak ke timur dan barat, ia menyerang kalang-kabutan hingga semua lawannya itu menjadi kelabakan, barisannya tidak dapat diatur pula. Bahkan pedangnya Ma Giok dan Tam Cie Toan telah dipatahkan Tong Shia dan dilemparkan ke lantai.
Khu Cie Kee bersama Ong Cie It lantas merangsak dengan pedang di tangan masing-masing. Itulah jurus istimewa dari ilmu pedang Coan Cin Pay. Oey Yok Su tidak berani memandang ringan lagi, ia berkelahi dengan hati-hati.
Ma Giok cerdik, diam-diam ia menggunakan kesempatan akan lompat ke dudukan thian-kie dan terus saja ia memegang pimpinan. Tam Cie Toan dan Lauw Cie Hian lantas menyusul mengambil kedudukan mereka. Perbuatan mereka ini lantas diikuti oleh yang lain-¬lainnya.
Sebentar saja, barisan Thian Kong Pak Tauw lantas teratur rapi. Dengan begitu, jalannya pertempuran juga berubah menjadi lain. Thian Koan bersama giok-heng lantas menhadapi lawan di depan, thian-kie dan kay¬yang yang terus menyerang dari samping, sedang yauw-kong dan thian-soan di belakang turut merangsak. Cie Kee maju di bantu Cie Peng.
Oey Yok Su meseti melayani musuh di empat penjurunya. "Saudara Hong!" katanya tertawa. "Ong Tiong Yang toh dapat meninggalkan ini macam ilmu kepandaian!"
Tong Shia bicara sambil tertawa, meski begitu, ia merasakan lawan menjadi beda, tenaga mereka menjadi besar sekali. Maka sekarang ia bersilat dengan Lok Eng Ciang-huat, ia berputaran di dalam Thian Kong Pak Tauw itu, hingga tubuhnya seperti melayang-layang dan tangannya beterbangan…
Oey Yong mengenali ilmu silat ayahnya. "Ketika ayah mengajari ilmu silat ini, aku menyangka hanya ilmu kosong dan satu berisi atau tujuh berisi dan satu kosong," katanya di dalam hati, "Tidak tahunya setelah dipakai bertempur benar-benar, semua lima kosong dan tujuh berisi itu dapat diubah bergantian."
Pertempuran ini beda sekali dengan perlawanan Tiauw Hong tadi. Si nona menonton sambil menahan napas. Bahkan Auwyang Hong yang lihay pun turut ketarik sampai ia menjadi kagum sekali.
Selagi orang bertaruh seru, tiba-tiba terdengar satu suara jeritan, "Aduh!" disusul mana tubuh jatuh terguling. Nyata korban itu ialah In Cie Peng. Dia tidak sanggup melayani Oey Yok Su berputaran, matanya kabur, kepalanya pusing, dunia dirasakan bagai berputar, di depan matanya entah ada berapa banyak musuhnya itu, akhirnya setelah penglihatannya gelao, tidak ampun lagi ia roboh!
Coan Cin Cit Cu memusatkan pikiran. Mereka tahu, asal ada satu saja yang hatinya goncang, mereka tidak bakal ketolong lagi, atau Coan Cin Pay bakal runtuh dan musnah. Oey Yok Su pun gelisah. Ia sudah kepalang, ia bersangsi untuk bertempur terus atau berhenti. Perlawanan hebat dari Khu Cie Kee beramai itu membuat kedua pihak sama unggulnya. Sementara itu ayam-ayam sudah berkokok dan sinar matahari mulai mengintai di arah timur.
Dengan lewatnya sang waktu, selesai sudah batas waktu istirahatnya Kwee Ceng. Ia telah sembuh dan memperoleh kembali kesehatannya seperti sediakala. Di luar kamarnya orang bertempur umpama kata langit terbalik dan bumi ambruk tetapi ia sendirinya tetap tenang, ia duduk diam. Baru sesaat kemudian, ia mengintai ke luar kamar rahasianya, ia menjadi terkejut.
Oey Yok Su bertindak dengan perlahan, kakinya mengikuti garis patkwa, atau segi delapan, setiap gerakan tangannya berlahan juga. Ketika Oey Yong menggantikan Kwee Ceng mengintai, ia tahu betul ayahnya lagi menggunakan ilmu silatnya yang tak sembarang dipakai. Segera juga bakal datang saat yang memutuskan.
Coan Cin Cit Cu berkelahi dengan seantero tenaganya. Mereka pun menginsyafi bahaya yang tengah mengancam. Berkali-kali mereka mengasih dengar suara satu sama lain, untuk mengasih isyarat, guna menambah semangat masing¬-masing. Di batok kepala mereka mulai terlihat hawa panas mengkedus, sedang jubah mereka telah basah kuyup. Hilanglah ketenangan mereka sebagaimana tadi mereka melayani Bwee Tiauw Hong.
Auwyang Hong terus menonton sambil memperhatikan barisannya imam-imam dari Coan Cin Kauw itu. Ia mengharap Oey Yok Su nanti mengurus semua tenaganya hingga mendapat luka dalam. Dengan begitu, kapan kembali di adakan rapat besar di Hoan San, rapat yang kedua, untuknya akan kurang satu lawan yang tangguh. Akan tetapi Tong Shia benar-benar lihay, meski Khu Cie Kee semua bekerja sekerasnya, mereka itu masih tidak dapat merampas kemenangan.
Menyaksikan pertempuran yang sangat memakan waktu itu, Auwyang Hong menjadi tidak sabar. Dasar ia berbisa, setelah berpikir sekian lama, ia mendapat satu akal licik. Pertempuran itu berjalan semakin perlahan, tapi itu tandanya bahwa bahaya semakin dekat.
Oey Yok Su bekerja terus, nyata sekali terlihat ia menyerang dengan kedua tangannya kepada Sun Put Jie dan Tam Cie Toan. Kedua imam itu mengangkat tangan mereka untuk menangkis. Mereka segera dibantu Lauw Cie Ian dan Ma Giok.
Saat itu, mendadak See Tok bersiul panjang dan terus berseru: "Saudara Yok, aku bantu kau!" menyusul suaranya itu ia berjongkok, segera dengan kedua tangannya ia menolak ke arah Tam Cie Toan!
Tiang Ci Cu tengah memusatkan perhatiannya terhadap Oey Yok Su, ia telah mengerahkan tenaganya menangkis serangan Tong Shia, ketika mendadak ia merasakan benturan keras di belakangnya, jangan kata untuk menangkis, berkelit saja sudah tidak keburu, maka dengan menerbitkan suara, ia roboh tengkurap. Oey Yok Su menjadi gusar sekali.
"Siapa menghendaki bantuanmu!" ia menegur See Tok.
Ketika itu Khu Cie Kee dan Ong Cie It menyerang dengan berbareng. Tong Shia mengibas untuk menangkis atau tangannya yang kanan bentrok sama perlawanannya Ma Giok dan Cek Tay Thong, yang pun menyerang kepadanya.
Auwyang Hong tertawa. "Kalau begitu, biarlah aku bantu mereka!" seruanya.
Sambil berkata begitu, dengan kedua tangannya benar-benar ia menyerang si Sesat dari Timur itu. Kalau tadi ia menyerang Tam Cie Toan dengan menggunakan tenaga tiga bagian, sekarang ia menggerahkan tenaganya dengan sepenuhnya. Itu pun saat Oey Yok Su tengah menghadapi empat lawannya. Ia mengharap hajaran ini, satu kali saja, akan menamatkan riwayat pemilik pulau Tho Hoa To itu. Akal yang ia bertelurkan dari batok kepalanya ialah lebih dulu menjatuhkan salah satu Coan Cn Cit Cu, baru ia membokong Oey Yok Su. Ia sudah memikir matang, setelah Thian Kong Pak Tauw Tin pecah, dengan Oey Yok Su sudah mati, walaupun imam-imam dari Coan Cin Kauw itu murka, ia tidak usah takuti mereka.
Oey Yok Su kaget sekali. Ia tidak menyangka Auwyang Hong dapat berlaku demikian. Ia menghadapi kesulitan. Tidak bisa ia meninggalkan empat musuhnya, umpama kata ia memutar tubuh, melayani Auwyang Hong, ia bisa celaka. Maka itu tidak ada jalan lain, ia mencoba menutup diri seraya mengerahkan tenaga di punggungnya, guna terpaksa menerima serangan Kap-mo-kang, ilmu silat Kodok, dari si Bisa dari Barat yang licin itu.
Auwyang Hong girang sekali melihat Tong Shia mau mempertahankan diri dari serangannya yang dahsyat. Itu artinya akal busuknya berhasil. Tapi saat ia lagi bergirang, mendadak ia melihat berkelebatnya satu bayangan hitam, yang mencelat dari samping, bayangan mana berlompat ke belakang Oey Yok Su, untuk mewakili Tong Shia menyambut serangannya itu!
Segera setelah serangan Auwyang Hong itu ada yang tangkis, Oey Yok Su dan keempat imam lawannya menghentikan pertempuran sambil melompat minggir, untuk memisahkan diri. Ketika mereka melihat tegas, nyata orang yang berkorban untuk Tong Shia ini adalah Bwee Tiauw Hong!
Oey Yok Su menoleh kepada See Tok, ia tertawa dingin. "Benar-benar si Bisa Bangkotan ternama tak mengecewakan," katanya mengejek.
Auwyang Hong sendiri berulang-ulang menyatakan, "Sayang, sayang!" di dalam hatinya. Ia menyesal bukan main serangannya gagal, sebab orang lain yang menjadi korban. Dasar licik, ia mengerti bahaya. Ia tidak mau melayani Oey Yok Su. Ia mengerti baik sekali, kalau Oey Yok Su bergabung dengan semua imam itu, berarti ia menghadapi bencana jiwa. Maka sembari tertawa ia memutar tubuh berlompat keluar, terus angkat langkah seribu!
Ma Giok lantas menghampiri Tam Cie Toan, ia membungkuk untuk mengangkatnya. Segera juga ia menjadi kaget. Tubuh adik seperguruannya itu lemas sekali dan kepalanya pun teklok. Auwyang Hong telah menghajar orang hingga tulang-tulang iga serta punggungnya patah. Kakak ini lantas mengucurkan air mata, sebab ia merasa pasti, adik seperguruannya tidak bakal dapat ditolong lagi.
Khu Cie Kee yang bertabiat keras berlompat keluar dengan membawa pedangnya, ia mau menyusul See Tok, menyerang si bisa yang jahat itu, tetapi dari tempat yang jauh cuma mendengar suara orang:
"Oey Lao Shia, telah aku membantu kau memecahkan barisan istimewa warisan Ong Tiong Yang, aku pun sudah mewakili kau menghukum mati murid Tho Hoa To yang murtad, maka itu, sisanya enam imam campur aduk, kau sendiri pun dapat melayaninya. Sampai ketemu pula!"
Oey Yok Su mengeluarkan suara di hidung. Ia tahu, kata-kata terakhir dari See Tok ini adalah untuk membakar hatinya dan kawanan Coan Cin Kauw itu, supaya mereka murka dan menumplekkan kemurkaan terhadapnya. Tapi ia pun besar kepala, tidak sudi ia memberi keterangan kepada Ma Giok semua. Ia hanya menghampiri mayat Bwee Tiauw Hong, mengangkatnya dengan perlahan-lahan. Muridnya telah memuntahlan darah segar, kelihatannya tidak bisa hidup lebih lama lagi.
Khu Cie Kee mengubar sampai beberapa puluh tembok, Auwyang Hong entah telah kabur kemana. Ketika itu, Ma Giok berulang-ulang memanggil pulang, maka ia kembali dengan tindakan lebar. Ia masih gusar sekali, kedua matanya terbuka besar dan bersinar merah. Segera ia menuding Oey Yok Su.
"Coan Cin Kauw kami denganmu ada bermusuhan apa?!" ia menegur dengan bengis. "Oh, iblis tersesat yang jahat sekali! Mulanya kau membinasakan Ciu Susiok kami, sekarang kau mencelakai Tam Sutee kami. Apakah artinya perbuatanmu, hai manusia sesat?"
Ditegur begitu, Oey Yok Su melengak. "Kau maksudkan Ciu Pek Thong?" akhirnya ia menanya. "Kau bilang aku membinasakan dia?"
"Apakah kau masih mau menyangkal?" Cie Kee mendesak.
Oey Yok Su tahu di sini ada salah mengerti, tetapi ia membungkam, ia cuma tertawa dingin. Sebenarnya bersama-sama Ciu Pek Thong dan Auwyang Hong, ia lagi mengadu lari, sesudah beberapa ratus lie dilalui, mereka masih seri. Niat mereka semula adalah mengadu terus sampai ada keputusan siapa yang menang, tetapi mendadak, Ciu Pek Thong menghentikannya setengah jalan. Ini disebabkan Loo Boan Tong tiba-tiba ingat Ang Cit Kong, yang ditinggalkan seorang diri di dalam istana kaisar. Berbahaya kalau Pengemis dari Utara itu sampai kena dipergoki penghuni istana. Bukankah ia telah habis ilmu silatnya? Maka itu ia kata kepada kedua lawannya:
"Loo Boan Tong ada mempunyai urusan, kita berhenti saja, kita jangan mengadu lari lebih jauh!"
Kata-kata ini kepastian, Oey Yok Su dan Auwyang Hong tidak dapat memaksakan, untuk itu, ia dibiarkan lari. Oey Yok Su berniat menanyakan Ciu Pek Thong tentang putrinya, karena kepergian si orang tua berandalan dan jenaka itu, ia menjadi batal menanyakan.
Ketika itu sia-sia belaka Tam Cie Toan menyusul mereka bertiga, ia tidak dapat melihat sekalipun bayangan orang, sebaliknya Oey Yok Su semua mengetahui dan melihat jelas sekali, maka itu seberlalunya Loo Boan Tong, Oey Yok Su dan Auwyang Hong lantas kembali ke Gu-kee-cun. Kebetulan sekali, sesampainya mereka di rumah penginapan, mereka dapat menyaksikan Coan Cin Cit Cu lagi menempur Bwee Tiauw Hong. Biar bagaimana, Tong Shia tidak bisa membiarkan muridnya bercelaka, maka itu, diakhirnya ia yang turun tangan sendiri. Di luar dugaan, kesudahannya demikian hebat.
Selagi Khu Cie Kee kalap, Sun Put Jie menangiskan Tam Cie Toan. Yang lain-lain pun gusar sekali, hingga mereka semua mau mengadu jiwa.
Tiba-tiba Tam Cie Toan membuka matanya dan berkata: "Aku mau pergi…"
Khu Cie Kee semua lantas menghampiri, mereka mengerubungi saudara seperguruan itu. Tam Cie Toan bersenandung lemah, lalu ia menarik napasnya yang penghabisan, matanya meram. Keenam Cu bertunduk, untuk memujikan arwah saudaranya. Habis itu Ma Giok memondong tubuh suteenya, dibawa pergi. Khu Cie Kee semua mengikuti tanpa bersuara, tanpa berpaling lagi ke belakang, mereka keluar dari rumah penginapan itu dan pergi.
Oey Yok Su heran sekali, ia tidak tahu permusuhan apa di antara ia dan Coan Cin Kauw, tetapi ketika ia melihat Bwee Tiauw Hong bernapas empas-empis, ia menjadi berduka. Biar bagaimana Tiauw Hong adalah muridnya, mereka telah hidup bersama beberapa puluh tahun. Murid itu pun telah berkorban untuknya. Pada dasarnya, ialah seorang yang jujur, maka itu, dalam kedukaannya, ia menangis. Bwee Tiauw Hong dapat mendengar tangis gurunya, ia mengerti, lantas tersenyum. Ia tidak mengatakan apapun, hanya dengan mengerahkan tenaga terakhir, dengan tangan kanannya ia mematahkan lengannya yang kiri, kemudian dengan tangan kanan itu ia menghajar batu itu hancur dan lengannya pun patah pula. Menyaksikan perbuatan muridnya, Oey Yok Su tercengang.
"Suhu," berkata sang murid, "Ketika di Kwei-in-chung suhu menitahkan muridmu melakukan tiga macam perbuatan, dua yang lain muridmu tak keburu melakukannya….."
Oey Yok Su lantas ingat akan tiga macam perintahnya itu, ialah pertama mencari pulang kitab Kiu Im Cin-keng yang telah hilang, kedua mencari Liok Leng Hong serta dua muridnya yang lain, dan yang ketiga, yaitu yang terkahir, dimestikan membayar pulang ilmu silat yang didapat dari Kiu Im Cin-keng. Sekarang dengan mematahkan kedua tangannya itu, Bwee Tiauw Hong menepati perintah gurunya, sebab dengan tangannya patah maka musnahlah juga kepandaian Kiu Im Pek-kut Jiauw seri Cwie-sim¬ciang.
Lantas sang guru tertawa terbahak. "Bagus, bagus!" katanya. "Dua yang lain itu sudah tidak ada artinya lagi! Sekarang mari aku terima pula kau menjadi murid dari Tho Hoa To!"
Tiauw Hong menginsyafi telah tersesat, maka mendengar gurunya memberi ampun dan suka menerima ia kembali, girangnya bukan main, dengan memaksakan diri ia merayap bangun, memberi hormat kepada gurunya sambil paykui beberapa kali, ketika ia mengangguk untuk ketiga kalinya, tubuhnya rebah tak bangun lagi.
Oey Yong dari kamar rahasia menyaksikan itu semua, ia disandingkan pelbagai perasaan. Hebat apa yang ia saksikan itu, semuanya mengagetkan dan mengharukan. Dilain pihak, ia mengharap-harap ayahnya berdiam sebentar lagi saja, supaya ia bersama Kwee Ceng dapat keluar menemuinya. Kwee Ceng tinggal menanti berkumpulnya hawa di pusar.
Oey Yok Su mengangkat tubuh Bwee Tiauw Hong, untuk dipondong. Hampir di waktu itu, di luar rumah terdengar suara meringkiknya kuda. Oey Yong mengenal kuda merah yang kecil kepunyaan Kwee Ceng. Menyusul suaranya Sa Kouw, yang berkata:
"Inilah dusun Gu¬kee-cun! Mana aku tahu di sini ada orang she Kwee atau tidak………?"
Lalu terdengar suara yang lain: "Di sini toh cuma ada beberapa buah rumah! Mustahil kau tidak kenal semua penduduk sini?"
Agaknya orang itu tidak sabaran, karena ia lantas saja menolak pintu dan bertindak masuk.
Oey Yok Su menempatkan diri di belakang pintu, ketika ia melihat orang yang masuk, air mukanya berubah. Orang ini adalah Kanglam Liok Koay yang telah ia cari dengan susah payah.
Kanglam Liok Koay sudah pergi ke Tho Hoa To, lantas mereka berputar-putar, mereka tidak berhasil mencari rumahnya pemilik pulau Bunga Tho itu, baru kemudian mereka bertemu sama satu bujang yang gagu dan mereka tahu majikan pulau itu tengah bepergian. Kemudian lagi Kanglam Liok Koay melihat kuda merah dari Kwee Ceng terlepas bebas di dalam rimba, mereka lalu membawanya sampai di dusun Gu-kee-cun ini, dimana mereka bertemu Sa Kouw, si nona tolol.
Kwa Tin Ok sangat jeli kupingnya, begitu masuk di pintu, ia medengar suara orang bernapas di belakang pintu, maka segera ia memutar tubuhnya, diturut oleh lima saudaranya. Lantas mereka melihat Oey Yok Su menhadang di ambang pintu seraya tangannya memondong Bwee Tiauw Hong. Oey Yok Su rupanya mau mencegah keenam orang luar biasa dari Kanglam itu melarikan diri…..
"Oey Tocu baik?" Cu Cong lantas menanya. "Sudah lama kita tidak bertemu! Kami berenam telah memenuhi janji bertemu di Tho Hoa To, sayang tocu tidak ada di rumah, tetapi hari ini kebetulan bertemu di sini, kami merasa sangat beruntung!" Habis berkata begitu, si Pelajar Tangan Lihay lantas menjura dalam.
Oey Yok Su berniat membunuh Liok Koay, sekarang ia menampak pula muka pucat pasi dari Tiauw Hong, ia berpikir: "Liok Koay ini musuh besar dari Tiauw Hong, siapa nyana sekarang Tiauw Hong mendahului mereka mati, meski begitu, sekarang aku mesti membuatnya ia membinasakan musuhnya dengan tangannya sendiri, supaya ia mati dengan meram….."
Maka itu tangan kanan tetap memondong tubuh muridnya, tangan kiri ia mengangkat tangan patah muridnya, tangan yang hanya tersambung dengan kulit daging, sembari berbuat begitu ia melompat ke samping Han Po Kie, dengan cepat sekali tangannya Tiauw Hong menghajar bahu kanan si Malaikat Raja Kuda.
Han Po Kie kaget bukan main, sampai dia tidak sempat berkelit atau menangkis. Hebat ia kena dihajar, benar lengannya tidak sampai patah tetapi sesaat itu dia tidak dapat menggerakkan tangan.
Liok Koay kaget dan gusar karena sikapnya Oey Yok Su ini, yang menyerang tanpa bicara lagi, maka mereka pun lantas balik menyerang. Han Po Kie turut maju setelah ia merasa tangannya lebih ringan. Mereka berseru sambil menghunus senjatanya masing-masing. Mereka mengurung dengan rapi.
Oey Yok Su mengangkat tinggi tubuh Bwee Tiauw Hong, ia seperti tidak menghiraukan pelbagai alat senjata yang aneh dari enam jago Kanglam itu.
Han Siauw Eng adalah orang pertama yang diserang pemilik Tho Hoa To itu. Ia kaget ketika melihat muka Bwee Tiauw Hong, yang matanya mendelik, rambutnya riap-riapan, mulutnya penuh darah. Itulah roman mayat yang sangat menyeramkan. Tangan Tiauw Hong pun diangkat tinggi-tinggi, mengancam batok kepalanya. Tanpa merasa ia menjadi lemas kaki dan tangannya.
Lam Hie Jin dan Coan Kim Hoat menyaksikan saudara angkat mereka terancam, dengan berbareng mereka menyerang tangan Tiauw Hong itu. Mereka menggunakan pikulan serta bandulan besi dacin.
Oey Yok Su sebat luar biasa, dengan cepat ia menarik pulang tangan kanan Tiauw Hong, kemudian dengan tangan kirinya menghajar Siauw Eng. Ahli pedang Gadis Wat itu tengah tidak berdaya, maka pinggangnya menjadi sasaran, ia kesakitan hingga tubuhnya melengkung jongkok.
Han Po Kie maju dari samping, menyerang dengan cambuknya, Kim-liong-pian, atau cambuk Naga Emas. Oey Yok Su mengangkat kaki kirinya, ia bergerak sebat, tetapi toh kakinya kena kelibat. Hanya Han Po Kie, meski mengeluarkan seluruh tenaganya, tidak sanggup ia menarik kuda-kudanya Tong Shia. Dilain pihak, tangan berkuku dari Bwee Tiauw Hong telah menyambar ke mukanya. Ia kaget sekali, melepaskan libatan cambuknya, ia berkelit sambil berlenggak terus menjatuhkan diri bergulingan. Meski begitu, ia merasakan mukanya panas dan sakit, ketika ia meraba muka, tangannya penuh darah. Sebab lima kuku Tiauw Hong berhasil menyambar mukanya. Syukur untuknya, Tiauw Hong sudah menjadi mayat dan jambakannya itu bukan jambakan Kiu Im Pek-kut Jiauw.
Setelah beberapa jurus, Liok Koay lantas jatuh di bawah angin. Coba tidak Oey Yok Su menghendaki membinasakan musuh dengan tangannya Tiauw Hong sendiri, mungkin mereka sudah bercelaka. Sekarang mereka hanya terancam bahaya.
Kwee Ceng di dalam kamar rahasia menjadi bergelisah. Ia mendengar nyata suara napas menggorong dari keenam gurunya, tanda dari keaadan berbahaya dari mereka. Ia menjadi cemas hati sebab ia sendiri tidak bisa lekas-lekas keluar, untuk mencegah bencana. Ia masih memerlukan waktu untuk memperkuat hawa di pusarnya. Tapi dapatkah ia main ayal-ayalan? Budi guru-gurunya itu sama dengan budi orang tuanya! Maka akhirnya, ia menahan napas, ia meluncurkan sebelah tangannya menghajar daun pintu, hingga pintu itu gempur.
Oey Yong kaget bukan main. "Engko Ceng, jangan!" ia mencegah. Ia tahu kawannya mesti beristirahat.
Kwee Ceng merasakan akibat serangannya itu, hawa naik ke atas, ke jantungnya, maka lekas-¬lekas ia meramkan mata menarik pulang hawanya kembali ke pusar. Tetapi sekarang pintu rahasia telah tergempur pecah dan terbuka.
Oey Yok Su dan Kanglam Liok Koay kaget sekali, apa pula mereka lantas melihat muda-mudi itu. Dengan sendirinya mereka pada lompat mundur menghentikan pertempuran. Oey Yok Su heran dan girang, hingga ia mengucak¬-ucak matanya.
"Anak Yong, benarkah kau?" ia menanya. Hampir tak mempercayai matanya sendiri. Ia merasa bagaikan lagi bermimpi.
Oey Yong dengan sebelah tangannya memegang tangan Kwee Ceng, mengangguk sambil tersenyum. Ia tidak membuka mulut untuk menjawab ayahnya itu.
Mengawasi sikap anak gadisnya itu, Oey Yok Su lantas mengerti. Untuknya, diketemuinya anak itu seperti juga si anak sudah mati tetapi hidup lagi. Itulah putri satu-satunya dan juga yang ia sayangi seperti jiwanya sendiri. Ia lantas meletakkan tubuh Tiauw Hong di atas bangku, ia terus menghampiri Kwee Ceng, di sisinya ia duduk bersila, tangannya diulur untuk mencekal tangan anak muda itu.
Kwee Ceng merasakan hawa di dalam tubuhnya panas bergolak, sangat sukar ia melawan. Beberapa kali ia hendak berkoakan atau berlompatan. Tapi, begitu lekas tangannya di tempelkan Oey Yok Su, lantas hawa panasnya berkurang, dapat ia berlaku tenang. Dengan lain tangannya, Oey Yok Su pun menguruti sekejur tubuh pemuda itu.
Boleh di bilang hanya sekejap kemudian, Kwee Ceng dapat menenangkan dirinya. Itu artinya bukan saja ia telah terhindar dari bahaya, bahkan ia sudah sembuh betul, otot dan tulang-tulangnya menjadi bertambah kuat. Maka itu, ia lantas bangun, untuk paykui kepada pemilik Tho Hoa To itu, kemudian ia pun menghampiri keenam gurunya, memberi hormat.
Selagi pemuda itu berbicara sama semua gurunya, menuturkan segala hal semenjak mereka berpisah, Oey Yok Su pun asyik pasang omong dengan putrinya, tangan siapa ia tuntun. Mereka gembira sekali, kadang-kadang mereka tertawa gila.
Mengetahui tentang nona Oey, Liok Koay heran dan ketarik hati. Mereka pun ketarik dengan suara halus dari nona itu. Maka diam-diam mereka bertindak mendekati, mendengarkan lebih jauh suara si nona, yang terus berbicara dengan ayahnya. Sebab banyak yang anak ini tuturkan.
Tiba pada saatnya pertempuran Oey Yok Su dengan Liok Koay, nona itu berkata sambil tertawa:
"Sudahlah, tak usah aku bercerita terus!"
Segera setelah itu Oey Yok Su berkata: "Aku hendak membinasakan empat orang, ialah Auwyang Hong, Leng Tie Siangjin, Kiu Cian Jin dan Yo Kang, maka anak yang baik, mari kau turut aku menyaksikan keramaian!"
Tapi ia melirik kepada Liok Koay, agaknya ia jengah, tetapi dasar angkuh, ia terus tidak sudi mengaku salah, cuma seperti untuk menghibur diri, ia berkata:
"Anggaplah sang peruntungan masih tidak terlalu buruk hingga aku tidak sampai mencelakakan orang baik-baik!"
"Ayah," kata Oey Yong tertawa, "Baiklah kau minta maaf kepada beberapa suhu ini…"
"Hm," jawab ayahnya, yang lalu menyimpanginya. "Aku hendak mencari See Tok, eh, anak Ceng, kau turut atau tidak?"
Belum lagi Kwee Ceng menyahut, Oey Yong sudah memegat kata-kata anak ini, "Ayah, baiklah kau pergi dulu ke istana untuk memapak suhu!"
Kwee Ceng tidak sempat menjawab Oey Yok Su, ia terus bercerita terus sampai Oey Yok Su memberi perkenan untuk ia menikah dengan Oey Yong serta Ang Cit Kong mengambil ia sebagai murid. Mengenai ini, ia minta keputusan guru-gurunya itu.
Kwa Tin Ok menjadi sangat girang. "Kau sungguh beruntung!" katanya. "Dengan kau mendapatkan Kiu Cie Sin Kay sebagai guru dan Tocu dari Tho Hoa To sebagai mertua, kami girang bukan kepalang! Masa dapat kami tidak memberikan perkenan? Cumalah halnya Kha Khan dari Mongolia?"
Tin Ok hendak menyebutkan urusan putrinya Jenghiz Khan, bahwa halnya murid ini adalah calon Kim-too Huma, tetapi ia tidak dapat lantas membuka mulut.
Mendadak sekali, pintu yang tadi tertutup, sekarang ada yang pentang dan Sa Kouw muncul di antara mereka, tangannya memegang monyet-¬monyetan dari kertas. Ia menghampiri Oey Yong dan menanya sambil tertawa:
"Adik, apakah semangkamu telah habis dimakan? Seorang tua telah menyuruh aku menyerahkan kunyuk-kunyukan ini kepadamu, katanya buat main…"
Oey Yong menyangka orang lagi kumat ketololannya, ia menyambut kera kerta itu acuh tak acuh. Sa Kouw berkata lagi:
"Orang tua yang rambutnya ubanan, memesan juga supaya kamu jangan gusar, katanya pasti ia bakal menolong kau mencari gurumu."
Mendengar itu, Oey Yong menduga kepada Ciu Pek Thong, maka ia lantas meneliti kertas itu. Benarlah di situ ada tulisan alamatnya, maka ia lantas membukanya, hingga ia dapat membaca:
"Si pengemis tua tak dapat ditemukan, karenanya Loo Boan Tong menjadi tidak gembira."
Si nona menjadi heran dan kaget. "Ah, kenapa suhu lenyap?" serunya.
Oey Yok Su berdiam, lalu ia berkata: "Loo Boan Tong edan-edanan tetapi ia lihay sekali, maka asal Ang Cit Kong tidak mati, pasti ia dapat menolongnya. Hanya sekarang ini Kay Pang lagi menghadapi satu urusan besar…"
"Bagaimana, ayah?" Oey Yong menanya terkejut.
"Tongkatnya si pengemis tua telah diberikan padamu sudah dibawa pergi oleh Yo Kang si binatang cilik itu! Binatang itu tidak lihay ilmu silatnya tetapi lihay otaknya, kalau tidak bagaimana dapat orang sebangsa Auwyang Kongcu terbinasa di tangannya? Dia telah mendapatkan tongkat keramat kaum pengemis, pastilah dia bakal menerbitkan gelombang kekacauan, yang dapat membahayakan Kay Pang. Mari kita lekas mencari dia, untuk merampas kembali tongkat itu, kalau tidak, pasti celakalah murid-murid dan cucu-cucu muridnya si pengemis bangkotan itu!"
Mendengar itu Liok Koay menganggukkan kepala.
"Sayang suhu sudah pergi beberapa hari, mungkin sukar dicandak," kata Kwee Ceng.
"Di sini ada kuda merahmu, kau boleh coba menyusul," kata Po Kie.
Kwee Ceng lantas ingat kuda merahnya, ia menjadi girang sekali, lantas lari keluar seraya bersiul. Kuda itu mendengar suara majikannya, dia berjingkrak lari menghampiri, dia mengelus-elus majikannya seraya meringkik perlahan tak hentinya.
Menampak demikian Oey Yok Su berkata: "Anak Yong, pergilah kau bersama Kwee Ceng untuk merampas pulang tongkat itu. Kuda kecil itu keras larinya, mungkin kamu dapat menyandak."
Selagi berkata begitu, Oey Yok Su melihat Sa Kouw di samping mereka, nona itu tertawa dengan ketololannya. Ia melihat wajah dan gerak-gerik orang, ia ingat itulah mirip dengan sifat muridnya, Kiok Leng Hong.
"Apakah kau she Kiok?" ia tanya nona itu.
Sa Kouw menggeleng kepala secara lucu. "Aku tidak tahu," sahutnya.
"Ayah, mari kau lihat!" berkata Oey Yong, mengajak ayahnya, yang ia tuntun ke dalam kamar rahasia.
Begitu melihat pengaturan ruangan itu, Oey Yok Su ketarik hatinya. Itulah pengaturan seperti caranya sendiri. Maka ia menduga, mesti itu diatur oleh Kiok Leng Hong, muridnya.
"Ayah, coba lihat benda di dalam peti besi itu," Oey Yong berkata lagi.
Oey Yok Su tidak lantas membuka peti hanya tubuhnya mencelat tinggi sambil tangannya diulur ke pojok tembok barat daya, menyambar ke arah wuwungan, ketika ia menarik, tembok itu lantas terbuka merupakan sebuah lubang. Dengan tangan kanannya memegang kertas, ia lantas menggelantungkan diri, lalu dengan tangan kirinya, ia merogoh ke dalam lubang itu. Dari situ ia menarik keluar segulungan kertas. Belum lagi ia lompat turun, tangan kanannya sudah menekan tembok, maka dengan itu, ia berlompat terus keluar kamar.
Oey Yong dengan sebat melompat mengikuti ayahnya. Ia melihat gulungan kertas yang penuh debu setelah dibeber, kertas itu memuat tulisan yang huruf-hurufnya tidak karuan macam, bunyinya:
"Surat ini dihanturkan kepada guruku yang berbudi di pulau Tho Hoa To. Dari istana kaisar muridmu telah berhasil mendapatkan sejumlah tulisan dan gambar lainnya, yang semua hendak dihanturkan kepada suhu, maka tidak beruntung sekali, selama di dalam istana aku telah dikepung sekawanan siwi. Aku telah meninggalkan seorang anak perempuan……."
Sampai di situ, habis sudah surat itu, yang terlihat tinggal titik-titik yang terang adalah titik-titik darah. Melihat surat itu, Oey Yong menjadi terharu hatinya. Ia mengingat nasib celaka murid-murid ayahnya, yang semuanya lihay tetapi mereka telah diusir ayahnya gara-gara Bwee Tiauw Hong berdua. Sekarang beginilah nasib Kiok Leng Hong, salah satu murid yang tetap setia itu.
Oey Yok Su mengerti, Leng Hong ini tentulah ingin kembali ke Tho Hoa To, maka setelah diusir dia berdaya mencari rupa-rupa barang yang menjadi kesukaan gurunya, ia membesarkan hati pergi mencuri ke istana, maka apa celaka, ia menemui saat naas, disaat berhasilnya, ia kepergrok dan dikepung pahlawan-pahlawan istana. Melihat nasibnya Liok Seng Hong, ia sudah menyesal, maka sekarang ia menjadi lebih menyesal lagi. Sa Kouw tidak tahu apa-apa, ia berdiri di samping sambil terus tertawa haha-hhihi.
"Apakah ilmu silatmu diajari ayahmu?" Oey Yok Su menegur si nona, suaranya bengis.
Sa Kouw menggeleng kepala lantas dia lari keluar pintu besar, daun pintu itu ia tutup rapat, setelah ia mengintai ke dalam, terus ia bersilat. Dia mengintai pula, lalu kembali bersilat lagi.
"Ayah," berkata Oey Yong, "Dia belajar silat dengan mencuri pelajaran Kiok Suko."
Ayahnya mengangguk. "Ya," katanya, "Aku pun tidak percaya, setelah di usir, Leng Hong bernyali besar berani mewariskan ilmu kepandaiannya kepada lain orang… Eh, anak Yong, coba kau serang dia dibagian bawah, kau gaet dia roboh!"
Kata-kata yang belakangan ini dikeluarkan secara mendadak. Oey Yong heran, tidak tahu ia maksud ayahnya, tetapi ia menghampiri Sa Kouw, sembari tertawa haha¬hihi, ia kata kepada nona tolol itu,
"Sa Kouw, mari aku berlatih bersama-sama denganmu. Kau berhati-¬hatilah!" Ia lantas menggerakkan dengan tangan kiri, disusul tendangan kaki kiri dan kanan degan sebat sekali.
Sa Kouw melengak, sebelum ia sempat berdaya, kempelonnya yang kanan kena ditendang. Ia lantas lompat mundur. Tetapi di sini ia telah ditunggu, begitu ia digaet, lantas ia jatuh terguling. Ia lompat bangun dengan segera.
"Kau menggunakan akal!" serunya. "Adik kecil, mari kita mulai lagi!"
"Hus!" membentak Oey Yok Su. "Apa adik kecil! Kau mestinya memanggil kouw-kouw!"
"Kouw-kouw!" Sa Kouw lantas memanggil, tanpa ia mengetahui apa bedanya "adik kecil" dengan "kouw¬kouw" atau bibi.
Baru sekarang Oey Yong mengerti bahwa ayahnya hendak mencoba bagian bawah dari si tolol itu sebab Kiok Leng Hong hilang kedua kakinya, kalau Leng Hong bersilat seorang diri, kuda-kudanya tidak nampak, kalau ia mengajari dengan mulut, mestinya nona itu sempurna bagian atas, tengah dan bawahnya.
Dengan terus menyebut "kouw-kouw" itu sama dengan artinya Oey Yok Su menerima si nona sebagai muridnya.
"Kenapa kau tolol?" ia tanya pula.
"Aku Sa Kouw," sahut si nona tertawa. "Tolol" ialah "Sa"
"Mana ibumu?" tanya Oey Yok Su, alisnya mengkerut.
Nona itu meringis, "Ia sudah pulang…" sahutnya.
Masih Oey Yok Su menanya beberapa kali, jawaban si nona tidak karuan, maka ia menghela napas panjang. Ia tidak tahu orang tolol semenjak dilahirkan atau karena suatu penderitaan yang mengagetkan. Kecuali Leng Hong hidup pula, tidak nanti ada orang lain yang mengetahui sebab-musabab itu. Dengan mendelong, tocu dari Tho Hoa To ini mengawasi mayatnya Tiauw Hong.
"Anak Yong," katanya selang sesaat, "Mari kita lihat barang-barang Kiok Sukomu itu."
Oey Yong menurut, maka ayah dan anak itu masuk pula ke dalam kamar rahasia. Mengawasi tulang-belulang Kiok Leng Hong, Oey Yok Su berdiri mendelong, kemudian air matanya mengucur turun.
"Anak Yong," katanya. "Diantara semua muridku, Leng Hong yang paling pandai, maka kalau bukan kakinya buntung, seratus siwi pun tidak akan sanggup menawan dia!"
"Itu wajar!" sahut putrinya. "Ayah, apakah kau mau menerima Sa Kouw sebagai muridmu?"
"Ya," ayahnya menyahut. "Aku akan ajarkan dia ilmu silat, bersyair dan menabuh khim, juga ilmu Kie¬bun Ngo-heng. Apa yang dulu sukomu niat pelajarkan, tetapi belum kesampaian, semua akan aku ajarkan kepada anaknya ini!"
Oey Yong mengulur lidahnya. "Hebat penderitaan ayah," pikirnya.
Oey Yok Su membuka peti besi, ia memeriksa isinya. Melihat semua itu, ia menjadi semakin berduka. Ketika ia membeber sebuah gambar, ia menhela napas.
"Gambar bunga dan burung Kaisar Hwie Cong ini indah dilukisannya," katanya, "Maka sayang sekali, negara yang indah pun ia hanturkan kepada bangsa Kim…." Selagi ia menggulung pula gambar itu, mendadak Oey Yok Su berseru, "Ih!"
"Ada apa ayah?" tanya Oey Yong.
"Kau lihat!" sahut ayah itu, tangannya menunjuk kepada sebuah gambar san-sui, lukisan pemandangan alam, gunung dan air.
Oey Yong mengawasi, ia melihat gambar sebuah gunung tinggi dengan puncak lancip menjulang ke langit, masuk ke dalam mega, di bawah mana ada jurang yang berair, di lembah ada sekumpulan pohon cemara, yang penuh salju, yang semuanya doyong ke Selatan, seperti bekas diserang angin Utara yang hebat, di puncaknya, di sebelah Barat, sebaliknya ada sebuah pohon cemara yang berdiri tegak, di bawah pohon itu, dengan tinta merah, ada lukisan seorang jenderal perang lagi bersilat dengan pedang. Muka jenderal itu tak nampak jelas, tetapi dandanannya membuat siapa yang melihat, mesti menaruh hormat. Seluruh gambar memakai tinta hitam, kecuali manusianya ini, yang merah merong, hingga kelihatan mencolok mata. Gambar itu pun tidak ada tanda-tanda pelukisnya, cuma ada syairnya seperti berikut:
"Setelah bertahun-tahun maka baju perang penuh debu dan tanah, Maka aku sengaja mencari bau harum di paseban Cui Bie, Gunung yang indah, sungai yang permai, belum dipandang cukup. Tindakan kuda mendesak hingga malam terang bulan pergi pulang."
Oey Yong memperhatikannya, lalu ia ingat. Beberapa hari yang lalu, di paseban Cui Bie Teng di puncak Hui Lang Hong, ia pernah melihat syair itu yang ada tulisannya Jenderal Han See Tiong yang kesohor.
"Ayah," katanya, "Ini tulisan Tiong Bu Han Kie Ong, sedang syairnya buah kalam Gak Bu Bok."
"Benar," berkata ayahnya, "Gak Bu Bok menulis syair ini melukiskan gunung Cui Bie San di Kota Tie-ciu, hanya gunung yang dilukisan begini berbahaya keadaannya bukan gunung Cui Bie San itu sendiri. Latar belakang lukisan ini bagus tetapi pelukisnya bukan seorang pelukis jempolan."
Oey Yong ingat waktu di Hui Lay Hong, Kwee Ceng sangat ketarik sama syairnya yang ditulis Han See Tiong, yang ia ukir di batu dengan jeriji tangannya, dan si pemuda seperti tidak hendak meninggalkannya. Maka itu ia kata kepada ayahnya:
"Sebaiknya gambar ini diberikan kepada menantumu!"
Oey Yok Su tertawa dan berkata: "Memang anak perempuan berpihak ke luar, maka itu, aku hendak bilang apa lagi?" Ia pun memilih serenceng mutiara seraya berkata pula: "Mutiara yang dulu si Bisa bangkotan serahkan kepadamu, aku telah ambil dari Tho Hoa To dan membayar kembali kepadanya, maka itu sekarang kau ambillah ini."
Oey Yong tahu ayahnya sangat membenci Auwyang Hong, ia mengangguk, ia menyambut mutiara itu seraya terus mengalungkan di lehernya. Ia sedang berbuat begitu waktu kupingnya mendengar suara burung rajawali putih berbunyi keras beberapa kali di udara, suaranya nyaring dan kesusu. Ia sebenarnya sangat menyukai burung rajawali itu tetapi mengingat burung telah diambil oleh putri Gochin Baki, ia menjadi tidak senang, meski begitu, ia toh lari keluar, masih ingin ia membuat main burung itu.
Tiba di luar, ia melihat Kwee Ceng berada di bawah sebuah pohon liu yang besar, seekor rajawali memacuk bajunya di pundak dan menarik-narik, yang satunya lagi berputaran memutari seraya ia berbunyi tak hentinya. Sa Kouw kegirangan, ia berlari-lari memutari Kwee Ceng, ia bertepuk-tepuk tangan sambil tertawa dan bersorak.
"Yong-jie, mereka mendapat susah!" kata Kwee Ceng melihat si nona muncul. "Mari kita pergi menolong!"
"Siapa mereka?" Oey Yong menanya.
"Kedua saudara angkatku, yang pria dan wanita!"
Nona itu memonyongkan mulutnya. "Aku tidak mau pergi!" katanya.
Kwee Ceng melengak, ia tidak mengerti tapi lekas ia berkata pula: "Ah, Yong-jie, jangan seperti bocah! Mari kita lekas pergi!" Habis berkata, ia menarik kudanya, melompat naik ke punggungnya.
"Habis, kau menghendaki aku atau tidak?" Oey Yong tanya.
Pemuda itu menjadi bingung. "Kenapa aku tidak menghendaki kau?" ia balik menanya. Dengan tangan kiri ia menahan kudanya, tangan kanannya diangsurkan untuk menyambuti si nona.
Oey Yong tertawa, lalu ia berpaling ke arah ayahnya, sambil berkata nyaring: "Ayah, kita hendak pergi menolong orang! Kau bersama keenam suhu sebaiknya turut juga!"
Ia terus menjejak tanah dengan kedua kakinya, dengan begitu tubuhnya mencelat tinggi, tangan kirinya diluncurkan, menyambut tangan kanan Kwee Ceng, untuk ditarik, maka itu, tubuhnya lantas melayang naik ke atas kuda hingga ia duduk di sebelah depan!
Kwee Ceng memberi hormat dari atas kuda kepada gurunya, setelah itu ia melarikan kudanya, yang lantas lari kabur. Kedua burung rajawali pun terus terbang, sambil berbunyi mereka terbang cepat di sebelah depan, untuk menunjukkan jalan. Kuda mereka itu girang sekali bisa bertemu lagi sama majikannya, dia lari keras dengan gembira, kalau burung bukannya burung rajawali, mungkin keduanya ketinggalan di belakang. Kedua burung itu terbang ke sebuah rimba lebat di sebalah depan, terus turun. Kuda itu sangat mengerti, tanpa perintah majikannya, ia lari terus ke arah rimba itu.
Setibanya Kwee Ceng di luar rimba, dari dalam situ ia mendengar suara nyaring bagaikan cecer pecah, katanya:
"Saudara Cian Jin, telah lama aku mendengar Tangan Besimu yang lihay, aku sangat mengaguminya, maka itu sekarang baiklah aku menggunakan dulu kepandaianku yang tidak berarti ini mengambil nyawa yang satu ini, setelah itu aku minta kau menggunakan tanganmu yang lihay terhadap yang lainnya. Setujukah kau, saudara?"
Menyusuli itu maka terdengarlah suara gemuruh diikuti jeritan yang menyayat hati. Sebuah pohon kelihatan bergerak bagian atasnya, lalu roboh.
Kwee Ceng kaget, ia lompat turun dari kudanya, ia lari ke dalam rimba. Oey Yong lompat turun, ia menepuk-nepuk kepala si kuda merah seraya berkata:
"Pergi lekas menyambut ayahku!" Kemudian ia menunjuk ke jalan dari mana mereka datang.
Kuda merah itu mengerti, dia berbalik dan lari pergi. "Semoga ayah lekas datang…" kata nona Oey ini dalam hatinya, "Kalau tidak, kita bisa susah di tangan si Bisa bangkotan!" Lalu ia lari ke dalam rimba tetapi dengan cara sembunyi.
Begitu ia melihat ke depan, Oey Yong menjadi kaget sekali, hingga ia tercengang. Di sana Tuli, Gochin Baki, Jebe dan Borchu berempat sedang tertawan, masing-masing ditambat di atas sebuah pohon kayu.
Di bawah pohon, Auwyang Hong berdiri bersama Kiu Cian Jin. Di sebuah pohon lain, yang sudah roboh, ada tertambat seorang lain, yang seragamnya mewah, sebab ialah si punggawa perang Song yang mengantarkan keempat orang Mongolia itu pulang ke negerinya. Hanya perwira itu sudah mati, sebab pohonnya telah dihajar roboh oleh See Tok. Di situ tidak ada pasukan serdadu mereka, rupanya tentara telah diusir ini dua jago tua.
Kiu Cian Jin tidak berani mengadu tenaga tangan Auwyang Hong, tapi iapun tidak mau omong terus terang, sebab ia hendak memegang derajatnya, selagi ia hendak menggunakan alasan, guna menutup diri, tiba-tiba ia melihat munculny Kwee Ceng. Ia jadi terperanjat bahkan girang. Ia segera mendapat pikiran. "Kenapa aku tidak mau pinjam tangannya See Tok menyingkirkan bocah ini?" demikian pikirnya.
Auwyang Hong pun heran. Nyata Kwee Ceng tidak mati terkena pukulan ilmu Kodoknya. Waktu itu putri Gochin Baki berseru:
"Engko Ceng, lekas tolongi aku!"
Melihat suasana itu, Oey Yong sudah lantas mengasah otaknya. "Sang waktu mesti diperlambat, sampai ayah datang!" demikian ia peroleh akal.
Kwee Ceng sendiri menjadi gusar, ia jadi tak kenal takut. "Bangsat tua, apa kamu bikin di sini?!" ia mendamprat. "Kembali kamu mencelakai orang, ya?!"
Auwyang Hong hendak menguji kepandaian Kiu Cian Jin, meski diperlakukan kurang ajar, ia bahkan bersenyum. Tidak demikian dengan si orang she Kiu itu.
"Ha, binatang cilik yang baik!" dia membentak. "Di sini ada Auwyang Sianseng, mengapa kau tidak berlutut memberi hormat? Apakah kau sudah bosan hidup?!"
Kwee Ceng sangat membenci orang ini, yang di rumah penginapan sudah ngaco belo, memfitnah dan mengadu gurunya dengan Oey Yok Su, di sini kembali dia mencelakai orang, maka itu tanpa membilang apapun, ia menghampiri, terus menyerang dadanya. Pemuda ini menyerang dengan Hang Liong Sip-pat Ciang, yang sekarang telah maju jauh sekali. Ia menggunakan tenaga menyerang enam bagian dan tenaga menarik empat bagian, dari itu, habis menyerang, tinjunya cepat ditarik pulang. Kiu Cian Jin berkelit, tetapi ia kena ditarik anginnya tinju itu, tubuhnya mundur hanya diluar keinginannya, dia ditarik ke depan, terus jatuh terjerunuk!
"Hm!" Kwee Ceng mengejek seraya tangannya yang kiri dilayangkan, guna menyambut muka muka orang, hendak menghajar hingga gigi rontok dan lidah terkancing putus, supaya jago tua ini tidak dapat mengacau lagi menerbitkan gelombang yang tidak-¬tidak.
"Tahan!" berseru Oey Yong tiba-tiba seraya ia melompat keluar dari tempat persembunyiannya.
Kwee Ceng heran, ia batal menggaplok, tetapi karena ia sebat, ia ubah gerakan tangannya, segera ia menyambar ke arah leher, untuk mencekuk, setelah itu ia mengangkat tubuh orang.
"Yong-jie, bagaimana?" ia menanya seraya ia berpaling.
Oey Yong khawatir Kwee Ceng mencelakai orang tua itu, kalau itu sampai terjadi, pasti Auwyang Hong turun tangan. Inilah ia mau cegah, untuk menjalankan akalnya.
"Lekas lepaskan!" ia berkata. "Orang tua ini mempunyai semacam kepandaian yang lihay pada kulit mukanya, kalau pipinya dihajar, tenaganya berbalik bekerja, kau pasti terluka dalam!"
"Ah, mustahil?" kata Kwee Ceng yang tidak percaya.
"Aku tidak tahu, asal ia mementang mulut dan meniup, seekor kerbau pun dapat terkelupas kulitnya!" kata pula si nona. "Masih kau tidak lekas mengundurkan dirimu!"
Pemuda ini masih tetap tidak percaya, akan tetapi ia menduga kekasihnya itu ada maksud, maka ia menurut, melepaskan cekikannya.
"Syukur nona ini mengetahui bahaya," Kiu Cian Jin berkata. "Kita berdua tidak bermusuhan, maka selagi Thian murah hati, masa aku ambil sikap yang tua menindih yang muda dan sembarang melukai kau?"
Oey Yong tertawa. "Itu benar!" ia bilang. "Kepandaian kau yang lihay, loosiansseng, aku sangat mengagumi, karena itu, hari ini aku mau minta pengajaran dari kau, untuk beberapa jurus saja, tetapi aku harap janganlah kau melukai aku…"
Habis berkata si nona lantas memasang kuda-¬kuda, tangan kirinya dikibaskan ke atas, tangan kanan ditarik ke dalam, terus di bawa ke mulutnya, untuk mengasih dengar siulannya beberapa kali. Ia tertawa pula dan berkata:
"Sambutlah ini! Jurusku yang dinamakan silat Meniup Terompet Keong!"
"Ah, nona kecil, sungguh besar nyalimu!" berkata Kiu Cian Jin. "Auwyang Sianseng kesohor namanya di seluruh negara, mana dapat ia membiarkan kau tertawa mengejek dia..?"
Oey Yong tidak meladeni kata-kata itu, tangan kanannya melayang ke kuping orang, hingga terdengarlah suara mengelepok yang nyaring. Ia lantas tertawa dan berkata:
“Dan ini namanya Pukulan Berbalik ke arah Kulit Tebal!"
Berbareng dengan itu, dari luar rimba terdengar suara orang tertawa yang disusul dengan pujian,
"Bagus! Sekalian saja kau menggaplok lagi satu kali!"
Mendengar suara itu, Oey Yong girang bukan kepalang. Ia mengenali suara ayahnya. Dengan begitu, hatinya menjadi mantap. Sembari menyahut, tangannya melayang. Kembali tangan yang kanan.
Kiu Cian Jin buru-buru menundukkan kepala untuk berkelit. Tapi gaplokan itu gertakan belaka, yang benar adalah susulan tangan kiri. Ia melihat itu, lekas berkelit pula. Atas ini, tangannya si nona melayang pergi pulang, hingga ia menjadi repot berkelit tak hentinya. Akhirnya, kuping kanannya tergaplok pula!
Kiu Cian Jin kaget. Ia mengerti, kalau terus-terusan begitu hebat untuknya. Maka ia lantas membalas menyerang. Dengan dua kepalannya, ia memaksa si nona mundur, setelah itu lompat ke samping.
"Tahan!" ia berseru.
"Apa?" Oey Yong tertawa. "Apakah sudah cukup?"
Kiu Cian Jin mengasih lihat roman sungguh-sungguh. "Nona, kau telah terluka dalam!" ia berkata. "Lekas kau pulang untuk bersemadhi di kamar rahasia lamanya tujuh kali tujuh menjadi empatpuluh sembilan hari! Jangan kena angin atau jiwamu yang muda tidak bakal ketolongan!"
Melihat roman orang sungguh-sungguh untuk sejenak Oey Yong tercengang, tetapi lekas juga ia tertawa pula. Ia tertawa terkekeh, kepalanya memain.
Ketika itu Oey Yok Su yang tadi cuma terdengar suaranya saja, telah tiba bersama-sama Kanglam Liok Koay. Mereka heran melihat Tuli beramai menjadi orang tawanan. Auwyang Hong sendiri lagi keheran-heranan. Ia heran untuk Kiu Cian Jin. Ia tahu betul, orang she Kiu ini lihay sekali, dulu pernah dengan tangannya yang seperti besi itu ia menghajar mati dan luka pada jago-¬jago dari Heng San Pay, sampai partai itu roboh dan tak dapat bangun lagi, maka kenapa sekarang ia kena digaplok Kwee Ceng, kena dicekuk pula, dan melayani Oey Yong nampak tak berdaya? Ia menduga-duga, apakah benar orang mempunyai kepandaian di kulit muka? Itulah kepandaian yang ia belum pernah dengar, itu mirip khayal……
Selagi si Bisa dari Barat itu ragu-ragu, matanya menjurus kepada Oey Yok Su, ia melihat di pundak pemilik pulau Tho Hoa To itu tergantung sebuah kantung sulam buatan Su-coan, yang sulamannya sutera putih adalah seekor unta. Ia mengenal baik sekali, itulah kantung keponakannya. Ia menjadi kaget. Habis membinasakan Tam Cie Toan dan Bwee Tiauw Hong, ia pergi, tapi sekarang ia kembali, niatnya untuk melihat keponakannya.
"Mungkinkah Oey Yok Su telah membunuh keponakanku untuk membalas sakit hati muridnya?" Ia berpikir. Maka ia lantas menanya dengan suaranya menggetar:
“Bagaimana dengan keponakanku?"
Oey Yok Su menjawab dingin: "Bagaimana dengan Bwee Tiauw Hong muridku!"
Auwyang Hong merasakan tubuhnya beku separuh. Auwyang Kongcu namanya saja keponakannya akan tetapi nyatanya ia adalah anaknya sendiri yang didapatkan dari hubungan gelap antara dia dan istri kakaknya. Jadi paman dan ipar telah main gila dan terlahirlah "Keponakan" yang dimanjakan itu. Ia sangat kejam, jahat sebagai bisa, tetapi terhadap anaknya, ia sangat menyayangi, melebihkan jiwanya sendiri. Ia tidak menyangka keponakannya bakal terbinasa, sebab dengan kedua kakinya rusak, ia percaya Oey Yok Su dan Coan Cin Cit Cu, yang adalah orang-orang kenamaan, tidak mungkin menurunkan tangan mengambil nyawa sang keponakan, siapa tahu, kesudahannya, keponakan itu toh menerima nasibnya.
Oey Yok Su berdiri dengan waspada terhadap See Tok. Ia mengerti kalau si Bisa dari Barat kalap, ia mesti bekerja keras untuk membela diri.
"Siapa yang membunuh keponakanku?" akhirnya Auwyang Hong menanya, suaranya serak. "Muridmu atau muridnya Coan Cin Cit Cu?"
See Tok masih tidak percaya pemilik Tho Hoa To membinasakan orang yang kakinya telah buntung dua-duanya. Itu perbuatan memalukan.
Dengan tetap dingin, Oey Yok Su menjawab pula: "Dia pernah mempelajari ilmu silat Coan Cin Pay serta pernah mempelajari sedikit silat dari Tho Hoa To. Pergilah kau cari dia!"
Pemilik Tho Hoa To itu menyebut Yo Kang akan tetapi Auwyang Hong menduga Kwee Ceng. Bukan main panas hatinya, tetapi dalam keadaan seperti itu, ia masih dapat menguasai diri.
"Nah, apa perlunya kau membawa-bawa kantung keponakanku?" ia tanya.
"Peta Tho Hoa To berada pada dia, aku mesti mengambilnya kembali," menyahut Oey Yok Su. "Tidak dapat aku menanti sampai dia masuk ke dalam tanah…."
"Kata-kata yang bagus!" ujar Auwyang Hong. Ia terus menahan sabar. Ia tahu baik sekali, kalau ia menempur Tong Shia, mereka mesti berkelahi sampai satu atau duaribu jurus tanpa ada ketentuan siapa menang siapa kalah, bahkan ada kemungkinan ia tak berada di atas angin. Ia ingat Kui Im Cin-keng telah didapatkan, dari itu, soal membalas sakit hatinya bolehlah ditaruh di belakang. Tapi di sini ada Kiu Cian Jin.
"Dia ada di sini, dia dapat membantuku," pikirnya. "Kalau dia dapat mengalahkan Kanglam Liok Koay beserta Kwee Ceng dan Oey Yong, lantas dia dapat membantuku! Tidakkah dengan begini aku bisa mengambil jiwanya Oey Yok Su?"
Karena berpikir begini, harapannya lantas timbul. Lantas ia menoleh kepada si orang she Kiu.
"Saudara Cian Jin, pergi kau membinasakan delapan orang ini, aku sendiri melayani Oey Lao Shia!" katanya.
Kiu Cian Jin mengibaskan kipasnya yang besar, ia tertawa. "Begitu pun bagus!" sahutnya. "Setelah membinasakan mereka berdelapan, nanti aku membantu kau!"
"Benar begitu!" menjawab Auwyang Hong, yang lantas menghadapi Oey Yok Su, terus ia berjongkok perlahan-lahan.
Oey Yok Su lantas bersedia. Ia memasang kuda-kudanya yang disebut "put teng put pat", ia mengambil apa yang dinamakan kedudukan "tong hong it bok". Ia memasang mata jeli.
sementara itu Oey Yong berkata kepada Kiu Cian Jin. "Baiklah kau bunuh aku dulu!" bilangnya tertawa.
Orang tua itu menggeleng-geleng kepala. "Ah, sebenarnya aku tidak tega…" katanya. "Aduh, aduh, celaka!" ia terus menjerit. "Sungguh tidak kebetulan…!" ia lantas memegang perutnya, tubuhnya membungkuk.
"Kau kenapa?" Oey Yong tanya.
Kiu Cian Jin meringis. "Kau tunggu sebentar, aku hendak membuang air…"
"Cis!" si nona meludah.
"Aduh!" Kiu Cian Jin berkoak pula, lalu ia memegangi pinggiran celananya, terus ia lari. Melihat romannya, dia benar-benar perutnya sakit dan kebelet ingin membuang air besar.
Oey Yong mengawasi tanpa berani mengejar. Ia sangsi orang benar-benar sakit perut atau lagi menggunakan akal bulus. Tiba di pinggiran, Kiu Cian Jin berjongkok.
"Nah, ini kertas untukmu!" berkata Cu Cong, yang lari kepada orang she Kiu itu, pundaknya ia tepuk, sedang tangannya menyerahkan kertas yang ia keluarkan dari kantungnya.
“Terima kasih!" mengucap Cian Jin. Ia lantas pergi ke gompolan rumput di mana ia berjongkok.
"Pergi jauhan sedikit!" kata Oey Yong yang memungut sepotong batu kecil, ia menimpuk orang tua itu. Batu melayang bagaikan terbang tetapi Kiu Cian Jin menyambutnya.
"Nona takut bau busuk?" katanya tertawa. "Baiklah, aku akan menyingkir sedikit lebih jauh. Kau orang delapan mesti menunggu, aku larang kamu pada melarikan diri…..!"
Dengan masih memegangi celananya, Cian Jin pergi sampai belasan tombak, di situ ia baru jongkok, hingga tak terlihat.
"Jie suhu, jangan-jangan bangsat tua itu mau melarikan diri!" berkata Oey Yong.
Cu Cong tertawa. "Mungkin dia mau lari tetapi dia tidak bisa," sahutnya guru yang nomor dua itu. "Kau ambillah dua rupa barang ini untuk kau buat main…."
Oey Yong melihat sebatang pedang dan sebuah sarung tangan dari besi di tangan gurunya itu, maka tahulah dia tadi selagi menepuk pundak Kiu Cian Jin, gurunya sudah memindahkan barang orang. Ia periksa pedang itu, lantas ia tertawa geli. Selama di dalam kamar rahasia ia melihat Kiu Cian Jin mempermainkan Coan Cin Cut Cu dengan menikam perutnya dengan pedang itu, tidak tahunya itulah pedang rahasia, yang dapat dibikin melesak atau ngelepot tiga kali. Maka ia lantas menghampiri Auwyang Hong.
"Auwyang Sianseng, aku tidak mau hidup lagi!" katanya sambil tertawa, tangan kanannya terus diayunkan ke perutnya, ia tumblas dengan pedangnya Kiu Cian Jin, hingga pedang itu melesak masuk.
Auwyang Hong dan Oey Yok Su yang bersiap untuk bertempur menjadi kaget, tetapi Oey Yong sudah lantas mencabut pedangnya, yang menjadi pendek, sembari memperlihatkan kepada ayahnya, ia menuturkan rahasia pedang tukang sulap itu.
Auwyang Hong menjadi melengak dan berpikir: "Apa mungkin tua bangka itu main gila sedang sebenarnya dia tidak mempunyai guna?"
Oey Yok Su terus mengawasi si Bisa dari Barat itu, ketika ia melihat tubuh orang mulai tak jongkok lagi, ia dapat menerka hati orang. Ia lantas menyambut sarung tangan besi dari anaknya, untuk meneliti. Ia melihat ukiran huruf "Ki" di telapak tangan, di sebelah belakangnya ada ukiran seekor ular kecil serta seekor kelabang kecil, yang berguling menjadi satu. Ia ingat itu adalah lengpay atau tanda dari Tiat-ciang Sui¬siang-piauw Kiu Cian Jin.
Pada duapuluh tahun yang lalu, lengpay itu sangat berpengaruh di dunia kangouw, siapa yang membawanya, dia dapat lewat dengan bebas di selatang dan di utara sungai Tiang Kang atau di hulu dan hilir sungai Hong Hoo, bahkan golongan Hitam dan Putih sangat jeri terhadapnya. Maka itu heran, mungkinkah pemilik lengpay itu adalah ini orang yang besar mulutnya saja? Sembari berpikir, Oey Yok Su kembalikan sarung tangan itu kepada putrinya. Auwyang Hong juga berpikir keras, ia turut merasa heran.


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar