ads

Rabu, 06 Januari 2021

Pendekar Pemanah Rajawali Jilid 019

Leng Tie Siangjin dengan kedua tangannya tertelikung ke belakang dengan rantai besi. Pheng Lian Houw dengan muka bengkak dan matang biru mungkin bekas digaploki berkali-kali. Io Cu Ong lebih lucu lagi, kepalanya sudah dicukur licin mirip kepala seorang paderi!

Mereka begitu memasuki istana, akan mencari surat wasiat Gak Hui, katanya telah bertemu hantu. Masing-masing bertemu sama hantu sendiri, ialah satu hantu Bu Siang Kwie, satu malaikat Oey Leng Koan, dan satu lagi toapekkong tanah.

Nio Cu Ong pulang dengan mulutnya memaki kalang¬-kabutan seraya tangannya mengusap-usap kepalanya yang gundul licin. Pheng Lian Houw dapat menguasi diri, ia berdiam saja. Leng Tie Siangjin tertelikung hebat sekali, rantai melibat keras kulit dan dagingnya. Pheng Lian Houw mesti bekerja sekuat tenaganya, baru rantai itu dapat diloloskan, karena itu lengan orang suci dari Tibet itu jadi berdarah. Mereka ini saling mengawasi saja. Mereka percaya sudah bertemu sama musuh lihay, maka terpaksa mereka menutup mulut.

"Kenapa Auwyang Sianseng masih belum kembali?" tanya Wanyen Lieh sesudah mereka membungkam sekian lama.

"Aku ga tahu dia pun bertemu hantu atau tidak…"

"Auwyang Sianseng sangat lihay, umpama ia juga bertemu hantu, tidak mungkin ia dapat dikalahkan," berkata Yo Kang. Mendengar jawaban Yo Kang, Pheng Lian Houw jengah dengan sendirinya.

Oey Yong melihat dan mendengar semua pembicaraan mereka, ia puas sekali. "Aku telah membelikan topeng pada Ciu Toako, siapa tahu sekarang ia telah perlihatkan pengaruhnya," katanya dalam hati. "Ini diluar sangkaanku. Hanya entahlah si tua bangka yang berbisa itu bertemu dengannya atau tidak…"

Nona ini menoleh kepada Kwee Ceng, ia dapatkan si anak muda lagi berlatih terus, maka ia pun menemani.

Pheng Lian Houw semua sudah lapar sekali, dari itu repotlah mereka membelah kayu untuk menyalakan api, membeli beras dan memasak nasi. Hauw Thong Hay pergi mencari mangkok, di dapur ia melihat mangkok besi, ketika ia angkat, tidak bergerak, Ia heran hingga berseru. Sekali lagi ia menarik dengan mengerahkan tenaganya, tetap ia tak berhasil.

Oey Yong yang berada di dalam kamar dapat mendengar suara Thong Hay. Ia terkejut. ancaman bahaya apabila kamar itu ketahuan ¬orang-orang di luar, karena mereka adalah rombongan musuh. Tidak saja mereka berjumlah besar dan semuanya lihay, Kwee Ceng sendiri tak dapat menggerakkan tubuhnya. Maka itu ia cemas hati, ia menjadi bingung.

See Thong Thian mendengar suara Thong Hay, ia mengatakan adik seperguruannya itu berisik. Adik ini penasaran.

"Kalau begitu, kaulah yang mengambilnya!" katanya sengit.

Thong Thian menghampiri, ia mencoba mengangkat. "Ah…!" serunya heran. Ia pun tak berdaya.

Berisiknya mereka ini membikin Pheng Lian Houw datang mendekati. Ia mengawasi mangkok itu.

"Pasti ini ada rahasianya," bilangnya kemudian. "See Toako, coba kau memutarnya ke kiri atau ke kanan."

Oey Yong kaget bukan main. Ia serahkan pisau belatinya kepada kwee Ceng, ia sendiri memegangi tongkatnya Ang Cit Kong. Justru itu ia melihat tulang-¬belulang di pojokan, tiba-tiba ia mendapat pikiran. Lantas ambil kedua buah tengkorak itu, ia belesaki itu ke dalam buah semangka.

See Thong Thian di luar kamar sudah bekerja, diputarnya mangkok besi itu membuat pintu rahasia terbuka. Melihat itu, Oey Yong lantas bekerja. Ia riap-¬riapkan rambutnya hingga terurai tidak karuan dimukanya, tangannya memegang semangka bertengkorak, ia ajukan ke depan, mulutnya memperdengarkan suara meniru hantu.

Hauw Thong Hay yang pertama melihat setan "berkepala dua" itu, ia kaget bukan main. Bukankah mereka itu baru saja diganggu hantu? Maka itu ia menjerit keras dan lari ngiprit. Perbuatannya ini diturut yang lainnya, yang hatinya menjadi ciut. Hingga disitu tinggal Auwyang Kongcu seorang yang rebah di atas rumput tanpa bergerak.

Oey Yong tertawa lebar, lalu ia menghela napas lega. Lekas ia menutup pula pintu rahasianya. Sekarang ia mesti berpikir keras, mencari jalan lain guna menyelamatkan diri. Sebagai orang-orang kangouw lihay, mesti Thong Hay beramai bakal dating kembali.

Selagi si nona berpikir, ia mendengar suara pintu depan dibuka, lalu satu orang bertindak masuk. Ia menjadi khawatir sekali. Ia lantas mencekal tempulingnya dan tongkatnya diletakkan di sampingnya. Begitu pintu dibuka dan orang terlihat, hendak ia mendahului menimpuk dengan tempuling itu. Tidak lama terdengarlah suara halus tapi nyaring memanggil-manggil tuan rumah.

Oey Yong menjadi heran. Itu adalah suara wanita. Lekas¬ lekas ia mengintai. Tidak keliru pendengarannya. Orang yang baru datang itu benar seorang wanita, yang terus berduduk di sebuah kursi. Dia berdandan indah seperti seorang nona hartawan. Karena ia menghadapi kaca, mukanya tidak kelihatan. Selang sesaat, kembali nona itu memanggil-manggil tuan rumah, yang jawabannya tak juga kunjung tiba. Oey Yong menjadi heran. Ia ingat sekarang suara nona itu. "Dia Nona Thia dari Poo-ceng?" katanya dalam hati.

Kebetulan waktu itu si nona berpaling. Maka heran dan giranglah Nona Oey. Tidak salah, nona itu ialah Thia Yauw Kee. Maka ia menduga-duga sekarang, kenapa nona itu bisa berada di tempat ini. Sementara itu Sa Kouw, yang tidur layap-layap, bangun juga atas panggilan si nona. Ia menghampiri.

"Tolong bikinkan aku makanan," nona Thia minta.

Si tolol menggeleng kepala, tanda tak ada barang makanan, tetapi justru itu, hidungnya mencium bau nasi baru matang, sambil menoleh, ia lari ke dapur. Ia menjadi heran menampak nasih putih di dalam tempulo. Itu adalah nasi Wanyen Lieh beramai. Ia menjadi girang sekali. Tanpa cari tahu darimana datangnya nasi itu, ia menyendok satu mangkok untuk nona tetamunya, ia sendiri turut dahar pula.

Tidak biasa, nona Thia dahar tanpa lauk pauk, nasi itu pun nasi keras, maka itu baru beberapa suap, sudah meletakkan mangkok serta sumpitnya. Sa Kouw sendiri memakan habis tiga mangkok, kemudian menepuk-nepuk perutnya, romannya menandakan ia sangat puas. "Nona aku numpang tanya," nona Thia menanya. "Tahukah kau dusun Gu-kee-cun dari sini berapa jauh lagi?"

"Gu-kee-cun?" menyahut si tolol. "Ini justru Gu-kee¬cun. Hanya aku tak tahu berapa jauh terpisahnya.."

Nona Thia agaknya likat, mukanya menjadi bersemu dadu, kepalanya terus ditundukkan dan tangannya membuat main ujung bajunya.

"Oh, kiranya ini Gu-kee-cun!" katanya kemudian. "Sekarang aku hendak tanyakan kau tentang seseorang, apakah kau tahu…. kau tahu….."

Sa Kauw tidak menanti hingga orang mengucapakan habis pertanyaannya, ia menggoyang-goyang kepalanya, terus ia berlari keluar.

Oey Yong sendiri, yang mendengar pertanyaan nona Thia jadi berpikir. "Ah, siapakah yang ia cari di sini? Ya, ia muridnya Sun Put Jie, mungkin ia dititahkan guru atau paman gurunya mencari Yo Kang muridnya Khu Cie Kee…"

Sambil berpikir, nona Oey mengawasi nona Thia. Dia duduk dengan sopan, pakaiannya indah dan rapi, tangannya mengusap-usap bunga di samping kupingnya. Mukanya pun bersemu merah. Entah apa yang ia lagi pikirkan.

Oey Yong mengawasi terus. Waktu itu terdengar tindakan kaki di luar rumah, lalu satu orang muncul sambil memanggil-¬manggil tuan rumah.

"Sungguh kebetulan!" berkata Oey Yong di dalam hatinya. "Kenapa orang-orang yang kukenal di kolong langit ini justru pada berkumpul di Gu-kee-cun ini?"

Orang baru itu ialah Liok Koan Eng, tuan muda dari Kwie-in-chung. Ia berdiri di muka pintu. Heran ia melihat nona Thia. Ia tidak menegur, hanya kembali ia memanggil tuan rumah. Nona Thia melihat seorang muda, ia malu dan likat, ia lantas menoleh ke arah lain.

Koan Eng pun heran, hingga ia tanya dirinya sendiri. "Kenapa ada nona cantik di sini dan sendirian saja?" Ia bertindak masuk, terus ke dapur. Ia tidak menemukan siapapun, maka agaknya ia bernafsu kapan ketika melihat nasi di tempulo.

"Aku lapar, hendak aku minta beberapa mangkok untukku, bolehkah nona?" ia tanya nona Thia.

Yauw Kee menganggap lucu orang minta nasi yang bukan kepunyaannya sendiri, ia tertawa.

"Nasi itu bukan kepunyaanku, kau makanlah!" katanya tertawa.

Tanpa banyak bicara, Koan Eng lantas berdahar. Ia makan dua mangkok. "Terima kasih," katanya kemudian seraya memberi hormat kepada nona Thia. "Sekarang aku mohon menanya, adakah nona ketahui dusun Gu-kee-cun berapa jauh dari sini?"

Nona Oey menjadi bertambah heran, nona Thia pun tak terkecuali. "Kiranya dia juga mencari dusun Gu-ke-cun," pikir nona Oey.

"Tempat ini justru desa Gu-ke-cun," menyahut Yauw Kee sambil membalas hormatnya si anak muda.

Koan Eng menjadi girang. "Bagus!" katanya. "Sekarang aku minta tanya nona tentang satu orang…"

Yauw Kee memikir untuk memberitahukan bahwa ia bukannya penduduk Gu-kee-cun, atau ia ingat baiklah ia dengar dulu, siapa yang dicari pemuda ini. Maka itu ia menanti.

"Ada seorang muda she Kewe namanya Ceng, entah dia tinggal di rumah yang mana di sini?" Koan Eng tanya. "Apakah ia berada di rumahnya?"

Yauw Kee heran, lebih-lebih Oey Yong.

"Mau apa dia mencari engko Ceng?" putri Tong Shia tanya dirinya sendiri. Yauw Kee tidak menyahut, ia hanya likat hingga mukanya jadi merah, lekas-lekas ia menunduk.

Oey Yong mendapat lihat wajah dan kelakuan orang itu, saking cerdiknya ia dapat menerka hari orang. "Ah, kiranya!" pikirnya. "Engko Ceng telah menolong dia di Poo-eng, rupanya ia lantas mencintainya secara diam-diam…"

Oey Yong polos dan jujur, ia tidak kenal iri atau cemburu, maka mengetahui ada orang yang mencintai Kwee Ceng, justru menjadi girang sekali.

Memang tidak keliru dugaan putrinya Oey Yok Su ini. Yauw Kee ingat budinya Kwee Ceng. Ia memang dibantu oleh Lee Seng dan lainnya dari Kay Pang, Partai Pengemis, tetapi mereka bukan tandingan Auwyang Kongcu, tanpa ada pemuda itu, pasti ia bakal terhina. Melihat Kwee Ceng muda, romannya tampan, dan orangnya jujur, mulia hatinya dan gagah, lantas ia menjadi ketarik dan jatuh hati, maka seperginya pemuda itu, ia ingat dan kepikiran terus. Lama-lama tak dapat ia menguasai dirinya lagi, setelah memikir pergi pulang, pada suatu malam secara diam-diam pergi dari rumahnya.

Ia mengerti ilmu silat tetapi belum pernah ia melakukan perjalanan seorang diri dan jauh, dia asing dengan segala kaum kangouw. Tetapi ia memberanikan diri. Ia mencari dusun Gu-kee-cun sebab Kwee ceng bilang berasal dari dusun itu dengan kotanya Lim-an.

Untung nona Thia, karena dandannya indah, di tengah jalan tidak ada orang yang mengganggu, sampai ia tiba di Gu-kee-cun, hanya ia belum tahu itulah desa yang ia cari. Maka itu, ia minta keterangan dari Sa Kouw. Begitu mendapat jawaban, ia menjadi likat dengan sendirinya, pikirannya pun kacau.

Dari tempat jauh ia datang, setelah tiba, ia berharap Kwee Ceng tak ada di rumah…katanya dalam hati: "Sebentar aku mencuri datang ke rumahnya, setelah melihat dia, aku akan lantas berangkat pulang lagi. Aku tidak boleh membikin dia ketahui datangku. Kalau dia melihat aku, aku malu sekali…"

Diluar dugaan Yauw Kee, Koan Eng datang ke situ, dan pemuda ini menanyakan Kwee Ceng. Ia kaget dan heran. Bukankah ia tengah "bersalah"? Ia mau menduga si anak muda telah pecahkan rahasia hatinya, ia menjadi malu sendiri. Setelah berdiam sekian lama, ia bangun berdiri, dengan niat mengangkat kaki. Tapi ia belum sempat mewujudkan itu, mendadak dari luar mongol satu kepala orang yang romannya jelek. Cepat sekali, kepala itu diperengkatkan. Ia terkejut hingga bertindak mundur.

Cepat sekali, kepala dengan muka jelek itu nongol lagi, bahkan sekarang mengasih dengar suaranya: "Hantu kepala dua, kalau kau berani, marilah muncul di terangnya matahari! Sam-tauw-kauw Hauw Looya bersedia melayani kau bertempur!"

Liok Koan Eng dan Thia Yauw Kee menjadi heran. Apakah mereka yang ditantang? Kalau benar, kenapa?

"Hm!" Oey Yong mengasih dengar suara perlahan. "Dia datang lagi!"

Tapi nona ini menjadi berkhawatir untuk keselamatan Yauw Kee dan Koan Eng. Terang mereka bukan tandingan rombongan Thong Hay ini. Maka ia pikir baiklah mereka berdua lekas mengangkat kaki dari situ. Daya apa dia ada punya?

Memang Thong Hay muncul cepat sekali. Tadi ia yang kabur lebih dulu, hingga kawan-kawannya turut lari. Kawan-kawannya menyangka muncul lagi si hantu istana, mereka lari jauh. Ia lari belum jauh, lantas berhenti, dengan begitu ditinggalkan semua kawannya. Ia bertabiat keras, hatinya menjadi panas.

"Hantu itu tak dapat berbuat apa-apa di siang hari bolong!" demikian ia dapat berpikir. "Tidak, aku si Lao Hauw tidak takut, biar aku balik lagi untuk singkirkan hantu itu! Biar mereka itu melihat aku!"

Dengan tindakan lebar, ia kembali ke rumah makan. Meski begitu, hatinya toh kebat-kebit. Ia heran ketika mengintai melihat Koan Eng dan Yauw Kee. Pikirnya: "Celaka betul, sekarang hantu kepala dua itu mencipta diri jadi setan pria dan setan wanita! Oh, Lao Huaw, kau mesti waspada!" Begitulah kemudian ia menantang.

Koan Eng dan Yauw Kee berdiam sesaat, lantas mereka tidak memperdulikannya. Mereka menduga berhadapan sama orang yang otaknya tak beres.

Thong Hay menantang dengan sia-sia. Si setan pria dan wanita tidak muncul menyambut tantangannya. Ia jadi lebih percaya bahwa setan tidak muncul diwaktu siang. Karena itu, hatinya menjadi semakin besar. Untuk menyerbu, ia ragu-ragu. Kemudian ia ingat pembilangan bahwa hantu takut sama kotoran manusia atau air kencing.

"Kenapa aku tidak mencoba?" pikirnya. Ia pun lantas mengambil keputusan, maka ia pergi mencari kakus. Tidak sulit untuk mencari tempat kotoran itu. Di samping rumah makan ada sebuah. Saking penasaran, ia melupakan segalanya. Untuk membungkus najis itu, ia pakai bajunya.

Dengan membawa kotoran itu, ia kembali ke rumah makan. Ketika ia sampai, ia lihat kedua setan muda-mudi itu lagi duduk diam. Ia menjadi gusar sekali.

"Hantu yang bernyali besar!" ia membentak. "Kau lihat Hauw Looya kamu akan membikin segera memperlihatkan diri asalmu!" lantas ia bertindak masuk, tangan kirinya mencekal senjatanya bercagak tiga, tangan kanannya membelak bungkusan najis.

Koan Eng dan Yauw Kee terperanjat melihat "si edan" kembali, mereka melengak. Mereka mengawasi dengan menjublak. Di sebelah itu, hidung mereka mencium bau busuk yang santar.

Hauw Thong Hay sendiri sudah berpikir, "Aku dengar orang bilang, setan pria kalah jahat dengan setan wanita, sekarang aku hajar dulu yang wanita!" Maka itu, ia menimpuk ke arah Yauw Kee.

Nona Thia kaget hingga berteriak, ketika hendak berkelit, Koan Eng mendahului, menolong menangkis serangan dengan sebuah bangku. Hebat tangkisan itu. Bungkusan terhajar jatuh ke lantai, baunya berhamburan, siapa mecium, pasti muak.

Thong Hay sendiri lantas berkoak: "Hantu kepala dua sudah pulang ke asalnya!" Dan koakannya ini disusul sama serangannya menikam nona Thia! Dia semberono tetapi ilmu silatnya cukup baik. Maka hebatlah tikamannya ini.

Koan Eng dan Yauw Kee bertambah heran. Mereka sekarang percaya, bukan orang edan tapi seorang gagah dari Rima Persilatan. Tidak ayal lagi, Koan Eng menggunakan bangku menangkis pula tikaman itu.

"Kau siapa tuan?" ia menanya. Ia tidak mau berlaku tak tahu aturan.

Hauw Thong Hay tidak memperdulikan pertanyaan itu, ia hanya menuruti kehendak hatinya. Begitulah ia menyerang beruntun hingga tiga kali lagi. Dengan terpaksa Koan Eng membela diri, sambil menangkis berulang-ulang, ia masih menanyakan nama orang.

Thong Hay bertempur dengan hati lega. Ia melihat orang mengerti ilmu silat tetapi tidak selihay musuh tadi malam. Karena ini, sekarang ia suka bicara. Ia menyahut: "Hantu, kau ingin mengetahui namaku supaya kau bisa menggunakan jampemu yang berbahaya? Tidak, tuan besarmu tidak akan memberitahukan nama!"

Ia menggerakkan cagaknya, ia membikin gelangnya bersuara nyaring, lalu mengulangi serangannya secara hebat.

Koan Enng keteter dan terdesak ke tembok. Ia memang kalah gagah dan senjata bangku juga tidak cocok untuknya. Tidak ada kesempatan mencabut golok di pinggangnya. Ia terdesak ke tembok yang kebetulan lobang tempat Oey Yong mengintai.

Teranglah Hauw Thong Hay telah melihat kesempatan yang baik dengan hebat ia mengirimkan tusukan. Masih sempat Koan Eng berkelit, maka ujung senjata musuh menikam ke tembok di samping lobang.

Koan Eng berlaku sebat, belum lagi musuh mencabut senjatanya, ia mendahului menghajar dengan bangkunya. Tapi Thong Hay lihay, matanya awas, gesit gerakannya, sebelah kakinya terangkat naik, mendahului menendang lengan lawannya, yang mengenai tepat, sedang tangan kirinya membarengi menyerang.

Koan Eng terkejut. Bangkunya terlepas dari tangannya. Padahal ia pun mesti berkelit dari serangan tangan kiri. Tengah ia mendak, Thong Hay sudah mencabut senjatanya yang nancap di tembok.

Thia Yauw Kee, yang melihat bahaya, lompat kepada Koan Eng, menolong si anak muda menghunus goloknya, untuk diserahkan kepada anak muda itu.

"Terima kasih!" kata Koan Eng seraya menyambuti golok dari tangan si nona. Ia kagum melihat kelincahan si nona, yang dalam saat genting seperti itu dapat membantunya. Sebab gerakannya Thong Hay, ia sudah menyerang pula. Disaat senjata lawan hampir sampai didadanya, Koan Eng menangkis dengan keras, maka keras juga bentrokan kedua senjata, hingga muncratlah lelatu api. Thong Hay merasakan telapak tangannya sakit.

Pertempuran berlanjut terus, kaki keduanya telah menginjak kotoran. Selama itu Thong Hay bergelisah. Nyata lawannya tangguh.

"Perlihatkan diri asalmu!" ia membentak sambil menikam ke arah perut. Itulah pukulan "Menolak peragu menuruti aliran air". Menampak ilmu silat itu, Koan Eng lompat mundur tiga tindak.

"Tahan dulu!" ia berseru. "Kau pernah apakah dengan Kwie-bun Liong Ong?"

Thong Hay melirik dengan tajam. "Ha, hantu, kau kenal juga nama sukoku!" katanya dingin.

Koan Eng menduga orang gila, yang menyerang kalng-kabutan, atau orang salah menyangka, tetapi sekarang, mendengar orang menyebut sebagai adik seperguruan dari See Thong Thian, tahulah ia bahwa orang ini datang menuntut balas untuk Hong Ho Su Koay, Empat Siluman dari sungai Hoang Hoo. Ia jadi hendak membalaskan sakitnya Toat-pek-pian Ma Ceng Hiong. Karena ini, ia lantas berkelahi semakin hebat. Tidak lama, kembali Koan Eng kena terdesak, tidak peduli ia berlaku mati-matian.

Yauw Kee dapat melihat si pemuda terancam bahaya. Mulanya ia berdiam saja di pojokan menyaksikan pertempuran itu, ia pun takut pada kotoran, tetapi sekarang nampak ancaman bahaya itu, tidak dapat ia berdiam terus-terusan. Ia mencabut pedangnya sambil mengajukan diri.

"Jangan takut, aku bantu kau!" ia berkata. Ia bahkan segera menikam punggung lawan. Ia murid kepala dari Ceng Ceng Sanjin Sun Put Jie, dari itu ia adalah orang dari kaum Coan Cin Pay.

Majunya nona ini sudah diduga Hauw Thong Hay. Tidak demikian dengan Koan Eng. Maka pemuda ini menjadi heran berbareng girang, hingga terbangun semangatnya, kalau tadi ia repot membela diri, hingga tidak dapat melakukkan penyerangan balasan, sekarang ia dapat melakukan itu.

Mulanya Thong Hay jeri, ia khawatir si nona lihay, tetapi selang beberapa jurus, legalah hatinya. Dia mendapat kenyataan nona ini kurang latihannya. Maka kemudian, walaupun dikepung berdua, ia lebih banyak menyerang.

Oey Yong dari dalam kamar mengikuti terus pertempuran itu. Ia menjadi berkhawatir. Ia tahu dengan baik, lama-lama muda-mudi itu bisa celaka di tangan musuh yang telengas ini. Ia berkhawatir sebab ada keinginan untuk membantu tetapi keinginan itu tidak dapat diwujudkan. Mana bisa ia tinggalkan Kwee Ceng?

"Nona kau pergilah!" berkata Koan Eng kemudian. "Urusan di sini bukan urusanmu!"

Yauw Kee tak mau mundur. Ia tahu pemuda itu mengkhawatirkan keselamatanya. Untuk kebaikan hati itu, ia merasa sangat bersyukur. Tentu sekali, tidak dapat ia mengangkat kaki membiarkan kawan menghadapi bahaya maut. Maka ia menggeleng kepalanya.

"Kita bermusuh, maka itu kau carilah aku sendiri si orang she Liok!" Koan serukan Thong Hay. "Lekas kau membuka jalan untuk nona ini mengundurkan diri!"

Thong Hay tertawa lebar. Sekarang ia telah memperoleh kepastian muda-mudi ini bukan hantu atau iblis, hatinya menjadi besar. Ia pun sudah menang di atas angin! Bukankah si nona pun cantik manis?

"Hantu pria aku hendak tangkap, iblis wanita aku hendak bekuk juga!" katanya dingin. Ia mengulangi serangannya yang hebat, hanya terhadap Thia Yauw Kee, ia tidak menggunakan tenaga sepenuhnya.

Koan Eng menjadi bertambah khawatir. "Nona lekas kau menyingkir!" ia serukan nona itu. "Aku berterima kasih padamu!"

"Kau she Liok?" tanya si nona perlahan tanpa menghiraukan anjuran orang untuk angkat kaki.

"Benar," menyahut Koan Eng. "Nona sendiri she apa dan murid siapakah?"

"Guruku she Sun, orang menyebutnya Ceng Ceng Sanjin," sahut nona Thia. "Aku sendiri…aku…" Ia hendak menyebut namanya tetapi malu.

"Nona," berkata Koan Eng. "Akan aku tahan dia, kau pergilah menyingkir! Asal aku dapat menolong jiwaku, nanti aku susul dirimu!"

Mukanya Yauw Kee merah. Ia tidak menjawab itu anak muda, hanya ia membentaki lawannya:

"Eh, siluman, jangan kau lukai dia! Ketahui olehmu, guruku adalah Sun Cinjin dari Coan CinPay dan dia segera bakal datang kemari!"

Nama Coan Cin Pay sangat terkenal, maka mendengar disebutnya partai itu, hati Thong Hay tercekat. Bukankah Thie-kak-sian Giok Yang Cu Ong Cie It pernah memperlihatkan kepandaiannya di istana Chao Wang? Meski begitu, ia tidak sudi mengasih lihat kelemahannya. Maka itu ia sengaja berseru:

"Biarpun tujuh siluman Coan Cit Cit Cu datang kemari, aku hendak membinasakan semuanya!"

"Orang bosan hidup, kau ngaco belo!" mendadak terdengar seruan dari arah luar.

Kaget ketiga orang itu, dengan sendirinya mereka pada lompat mundur. Koan Eng khawatir Thong Hay main gila, ia tarik Yauw Kee ke belakangnya, ia lantas berdiri di depan si nona seraya bersiap dengan goloknya.

Semua mata mengawasi ke luar. Di ambang pintu berdiri seorang tojin atau imam usia muda, romannya tampan, tangannya mencekal kebutan atau hudtim. Ia bersenyum dingin ketika ia menegaskan pula:

"Siapakah yang membilang hendak membinasakan Coan Cin Cit Cu?"

"Hauw Looya yang membilangnya!" sahut Thong Hay takabur. "Kau mau apa?!"

"Baiklah! Sekarang kau cobalah membunuhnya!" menantang si imam muda. Kata-kata ini disusul sama gerakan tubuhnya seraya kebutannya mengebut kemuka si Ular Naga Kepala Tiga.

Ketika itu selesailah Kwee Ceng dengan latihannya, waktu kupingnya dapat mendengar suara berisik di luar kamar, ia lantas mengintai.

"Mungkinkah benar imam muda ini anggota Coan Cin Cit Cu?" Oey Yong tanya.

Kwee Ceng segera mengenali imam muda itu, In Cie Peng muridnya Tiang Cun Cu Khu Cie Kee. Dialah yang dua tahun lampau pergi ke Mongolia menyampaikan surat gurunya kepada Kanglam Liok Koay dan dalam pibu, ia kena dikalahkan. Maka, ia beritahukan si nona Oey siapa imam itu.

"Dia pun tak dapat melawan Hauw Thong Hay," berkata Oey Yong sambil menggeleng-geleng kepala.

Setelah lewat dua tahun, kepandaiannya In Cie Peng telah bertambah, walaupun demikian, berkelahi sama Liok Koan Eng mengepung Hauw Thong Hay mereka cuma berimbang saja.

Yauw Kee menonton dengan bengong. Ia terkejut ketika dipegang oleh Koan Eng dan ditarik ke belakang si anak muda, kemudian anak muda itu menyerang Thong Hay yang menyambut serangannya In Cie Peng. ia tengah mengusut-usut tangannya tatkala mendengar suara Koan Eng,

"Nona, awas!"

Saat Itulah Hauw Thong Hay, menggunakan kesempatan membokong si nona, yang ia tikam pundaknya. Ia tidak menyangka akan serangan itu, atas peringatan si anak muda, ia lantas berkelit, kemudian dalam murkanya ia maju menyerang. Dengan begitu, Thong Hay jadi dikerubuti bertiga.

Walaupun ia gagah, sekarang Thong Hay bingung juga. Memang nona Thia ini tidak lihay, akan tetapi dikepung berdua, mereka sudah berimbang, dengan bertambah satu tenaga lagi, ia merasa berat. Ia menjadi cemas dengan sendirinya, hendak ia meloloskan diri, tetapi kepungan rapat.

In Cie Peng mempermainkan kebutan di muka lawannya, lama-lama Thong Hay menjadi seperti kabur matanya, maka satu kali ia alpa, gerakannya kurang sebat, ia merasakan pahanya sakit, golok Koan Eng mampir di pahanya. Ia menjadi murka sekali, ia mendamprat leluhur lawannya.

Si Ular Naga Kepala Tiga masih membuat perlawanan. Karena luka dikaki, kelincahannya menjadi berkurang. Belum lagi diganggu kebutan Cie Peng, membikin ia kewalahan. Ketika ada kesempatan ia mencoba menikam, Cie Peng libat gaetannya itu, hingga keduanya jadi saling tarik.

Biar bagaimana, Thong Hay menang tenaga, kesudahannya saling tarik, kebutan Cie Peng kena tertarik hingga lepas. Tapi menang disini, Thong Hay kalah dilain pihak. Dengan mengadu tenaga sama Cie Peng, ia menjadi lengah, maka ujung pedangnya Yauw Kee menusuk pundak kanannya, terlepaslah tempulingnya yang bercagak tiga!

In Cie Peng lepas kebutannya itu, ia tidak menjadi kaget atau bingung, bahkan ia memperlihatkan kegesitannya, lawannya kena tertikam, ia maju untuk menotok. Tepat mengenai jalan darah hian-kie, Sam-tauw-kauw roboh seketika. Koan Eng tidak berlaku ayal, ia berlompat menubruk, dengan menggunakan ikat pinggang lawan, ia ringkus lawannya, kedua tangan ditelikung.

"Lihat, muridnya Coan Cin Cit Cu saja kau tidak sanggup lawan!" kata In Cie Peng mengejek. "Masihkah kau hendak membinasakan semua Coan Cin Cit Cu?"

Thong Hay gusar, ia memaki kalang kabutan. Ia kata toh dikepung bertiga. Cie Peng tidak sabaran, ia sobek ujung baju orang untuk menyumbat mulut yang kotor itu, maka sekarang, si Ular Naga Tiga Kepala hanya bisa mendelikkan mata dan mukanya merah, mulutnya tak bersuara lagi.

"Suci," berkata Cie Peng kepada Yauw Kee sambil memberi hormat. "Kau adalah murid dari Sun Susiok, maka terimalah hormat suteemu."

Yauw Kee membalas hormat sambil merendahkan diri. "Entah suheng murid paman guru yang mana?" ia bertanya.

"Siauwtee adalah In Cie Peng, muridnya Tiang Cun Cu," menyahut saudara asal seperguruan ini.

Yauw Kee tidak pernah keluar pintu, tidak kenal keenam saudara gurunya tetapi ia pernah mendengar dari gurunya tentang mereka itu, maka tahulah ia siapa Tiang Cun Cu itu.

"Kalau begitu, In Suheng, kaulah suhengku," katanya perlahan. "Adikmu ini she Thia, kau panggil saja sumoy padaku."

In Cie Peng bersenyum melihat sumoynya, adik seperguruan, tetapi meski begitu, ia melayani berbicara, setelah mana ia belajar kenal dengan Liok Koan Eng. Orang she Liok itu memberitahukan she dan namanya tetapi ia tak menyebutkan nama dan gelaran ayahnya dan menyebut juga pekerjaannya sebagai kepala perampok di telaga Thay Ouw, ia cuma menerangkan, ia bermusuh dengan Hauw Thong Hay sebab ia telah membunuh Ma Ceng Hiong.

"Orang edan ini kosen, dia tidak dapat dimerdekakan!" berkata nona Thia.

"Biarlah aku yang binasakan dia!" berkata Liok Koan Eng.

"Ah, jangan!" mencegah nona Thia, yang hatinya pemurah.

"Tidak apalah dia tidak dibikin mampus!" kata Cie Peng tertawa. "Sumoy, sudah berapa lama kau berada disini?"

"Baru saja," sahut si nona dengan wajahnya merah jengah.

Cie Peng mengawasi muda-mudi ini, pikirannya bekerja. "Mereka rupanya pasangan, aku jangan berdiam lama lagi di sini membuat mereka muak saja…" pikirnya. Maka ia lantas berkata: "Aku sedang menjalankan tugas yang diberikan suhu. Aku diperintah pergi ke dusun Gu-kee¬cun guna menyampaikan berita kepada seseorang. Nah, sampai di sini saja, harap kita bisa bertemu lagi!"

Yauw Kee masih likat. "In Suheng, kau sedang mencari siapa?" tanyanya perlahan.

Cie Peng agaknya bersangsi, tetapi sejenak kemudian, ia pikir: "Thia sumoy orang sendiri, dia berjalan sama anak muda ini, dia pun bukan orang lain, tidak ada halangannya untuk aku bicara." Maka ia menjawab bahwa ia lagi mencari seorang kenalan she Kwee.

Keterangan ini membuat beberapa orang terkesiap hatinya. Mereka juga yang berada di dalam kamar rahasia, begitu pun Liok Koan Eng, bahkan pemuda she Liok ini lantas bertanya:

"Adakah ia yang bernama Ceng?"

"Benar," sahut Cie Peng memberikan kepastian. "Saudara Liok kenal sahabat she Kwee itu?"

"Siauwtee justru hendak mencari Kwee Susiok," menyahut Koan Eng.

"Eh, kau memanggil dia susiok?" tanya Cie Peng dan Yauw Kee berbareng. Nona ini pun heran waktu pertama mendengar Cie Peng menyebut "sahabat she Kwee"

"Ayahku setingkat derajatnya dengannya, maka itu siauwtee memanggil susiok," Koan Eng menjelaskan. (Susiok artinya paman guru)

Tingkat Liok Seng Hong sederajat dengan Oey Yong, dengan sendirinya Koan Eng mesti memanggil paman guru kepada Kwee Ceng. Mengenai Kwee Ceng itu, Yauw Kee tidak membilang apapun akan tetapi perhatiannya tertarik.

"Apakah kau telah bertemu. Ada di mana dia sekarang?" Cie Peng menanya dengan cepat.

"Siauwtee pun baru tiba di sini, selagi siauwtee hendak mencari keterangan, kita bertemu orang edan ini, yang tiba-tiba saja menyerang kita," menerangkan Koan Eng.

"Kalau begitu, mari kita sama-sama pergi mencarinya," kata Cie Peng kemudian.

Oey Yong dan Kwee Ceng saling mengawasi. Mereka telah mendapat dengar semua pembicaraan ketiga orang itu.

"Mereka pasti bakal kembali," kata Kwee Ceng. "Yong¬jie, kau bukalah pintu."

"Mana bisa?" si nona berkata. "Mereka mencari kamu tentu untuk urusan penting. Kau lagi beristirahat, mana dapat kau memecah pikiranmu?"

"Tetapi urusannya mesti sangat penting," si anak muda bilang.

"Biar langit ambruk, tidak akan aku membuka pintu," kata si nona dengan pasti.

Hati Kwee Ceng tidak tenang, tetapi Oey Yong benar. Ia pun khawatir si nona menjadi berduka. Maka terpaksa ia berdiam saja, melanjutkan istirahatnya. Benar saja, selang tidak lama, Koan Eng bertiga kembali ke rumah makan Sa Kouw. Kaon Eng berduka, katanya:

"Di kampung halamannya sendiri susiok tidak dapat dicari. Bagaimana sekarang?"

"Urusan penting apakah antara kamu berdua, saudara Liok?" Cie Peng tanya Koan Eng. "Bolehkah aku ketahui?"

Sebenarnya Koan Eng tidak suka memberitahu, tetapi ketika ia menampak wajah nona Thia, ia mengubah pikirannya dalam sekejap.

"Ceritaku panjang," ia menyahut. "Biarlah aku bersihkan dulu kotoran di sini, nanti baru kita bicara."

Di rumah Sa Kouw ini, sapu pun tidak ada, maka Koan Eng dan Cie Peng menggunakan rumput untuk menyapu kotoran. Setelah itu ketiganya duduk menghadapi meja.

Koan Eng hendak mulai bicara ketika Yauw Kee mencegah. "Tunggu dulu!" katanya seraya ia berbangkit bertindak mendekati Hauw Thong Hay. Ia memotong sejuwir ujung baju tawanan itu, yang mana ia pakai menyumpal kedua kupingnya. "Biar dia tidak mendengar!" ia menambahkan dengan tertawa.

"Kau teliti, nona!" Koan Eng memuji. Ia pun tersenyum.

Oey Yong dalam tempat persembunyiannya tertawa di dalam hati. Pikirnya: "Kau masih bicara tentang teliti! Kami berdua saja sukar untuk mengetahuinya, di sana pun ada rebah Auwyang Kongcu, kau masih belum ketahui juga……"

Thia Yauw Kee masih hijau, inilah tidak heran. In Cie Peng biasa mengikuti gurunya tetapi dasarnya semberono. Sedang Koan Eng, yang biasa memerintah, kurang waspada. Demikian mereka berbicara, bertindak, tanpa memeriksa dulu tempat di sekitarnya. Nona Thia mendapatkan kuping Thong Hay telah terpapas, ia tercengang, tetapi hanya sejenak.

"Sekarang kau boleh bicara!" katanya tertawa pada Koan Eng habis ia menyumbat.

Untuk sesaat, agaknya pemuda she Liok itu bersangsi. "Ah, darimana aku harus mulai?" katanya. "Sekarang aku lagi mencari Kwee susiok. Sebenarnya tidak seharusnya aku pergi mencari tetapi tanpa mencari, tak dapat…."

"Inilah aneh!" berkata Cie Peng.

"Memang. Aku mencari Kwee Susiok bukan untuk urusan sendiri tetapi untuk keenam gurunya."

"Ah, Kanglam Liok Koay?" Cie Peng tanya seraya menepuk meja. "Mungkin kita ada kebersamaan tujuan. Sekarang mari kita masing-masing menulis di tanah, lalu minta Thia sumoy yang melihatnya, cocok atau tidak."

Belum lagi Koan Eng menyahut, sambil tertawa Yauw Kee mendahului: "Bagus! Nah putarlah tubuhmu dan menulislah!"

In Cie Peng dan Liok Koan Eng memegang masing-¬masing sebatang puntung, sambil belakang ¬membelakangi, mereka sudah lantas mencoret-coret di tanah.

"Thia Sumoy!" kemudian kata Cie Peng tertawa, "Kau lihat tulisan kita sama atau tidak?"

Yauw Kee melihat coretan mereka. "In Suheng, kau keliru," katanya perlahan. "Tulisan kamu tidak sama."

"Ah!" seru Cie Peng sambil berbangkit.

Yauw Kee tertawa dan menambahkan: "Kau menulis 'Oey Yok Su' dan dia menggambar sebatang bunga tho."

Oey Yong heran. "Mereka mencari engko Ceng, mengapa ada sangkutannya sama ayahku?" ia menduga-duga.

Lalu terdengar suara Koan Eng perlahan: "Apa yang ditulis In Suheng adalah nama dari kakek guruku, dan siauwtee tidak berani menulisnya langsung…"

"Oh, kakek gurumu?" kata Cie Peng terperanjat. "Kalau begitu, pikiran kita sama saja. Bukankah Oey Yok Su itu tocu dari pulau Tho Hoa TO?"

Yauw Kee heran. "Oh, kiranya begitu!" katanya.

"Karena saudara Liok adalah orang kaum Tho Hoa To," berkata In Cie Peng, "Dengan begitu mencari Kanglam Liok Koay, kau tentunya bermaksud tak baik untuk mereka…"

"Sebaliknya, suheng…"

Cie Peng tidak puas orang omong sangsi-sangsi. "Oleh karena saudara Liok tidak mengangap aku sebagai sahabat, sudahlah, tak ada gunanya kita bicara banyak-banyak," katanya. "Ijinkanlah aku meminta diri." Ia lantas berbangkit dan memutar tubuh, untuk berlalu.

"Tunggu, In Suheng!" mencegah Koan Eng. "Aku hendak menutur sesuatu, aku pun hendak memohon bantuanmu."

Adalah tabiat Cie Peng yang paling senang kalau orang meminta sesuatu padanya, dari itu ia lantas menjadi girang.

"Baiklah!" katanya. "Sekarang kau boleh bicara!"

"In Suheng," berkata Koan Eng menerangkan, "Kau adalah orang Coan Cin Pay, maka itu bukankah ada semacam tugas dari kamu umpama kata kau mendengar sesuatu tentang orang lain, kau akan lantas memberitahukan atau mengisikinya supaya orang itu berhati-hati dan berjaga-jaga? Sekarang, andaikata, ada salah seorang dari pihak seatasan kau hendak mencelakai seseorang, dan kau mengetahuinya, pantas atau tidak kalau kau mengisiki orang itu untuk lari menyingkirkan diri?"

In Cie Peng seperti dapat menduga maksud orang. Ia menepuk pahanya. "Aku mengerti sekarang," katanya. "Teranglah di antara kamu pihak Tho Hoa To ada orang yang tengah menghadapi kesulitan. Nah, kau bicaralah!"

"Di dalam perkara ini," berkata Koan Eng. "Jikalau aku memeluk tangan menonton saja, aku jadi berbuat tak selayaknya, sebaliknya, apabila aku mencampurinya, aku jadi menentang kaumku sendiri. Maka itu, In Suheng, walaupun aku ingin memohon bantuanmu, tak dapat aku membuka mulutku…"

Cie Peng mau menduga, akan tetapi karena orang tidak menjelaskannya, ia pun tidak dapat mengambil putusan, maka ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ia nampaknya likat sendiri.

Yauw Kee memandang kedua orang itu, ia mendapat jalan. "In Suheng," katanya, "Kau tanyalah Liok Toako. Kalau ia mengangguk, itulah soalnya, kalau ia menggeleng kepala, itulah bukannya. Asal Liok Toako tidak mengatakannya sendiri, itu berarti tidak melanggar aturan kaum."

"Bagus dayamu ini, Thia Sumoy!" kata Cie Peng girang. "Saudara Liok, mari dengar aku bicara dulu tentang urusanku. Guruku yaitu Tiang Cun Cu Khu Cinjin, diluar keinginannya, telah mendapat kabar penting, mengenai Tocu Tho Hoa To karena membenci Kanglam Liok Koay, berniat membunuh jago-jago dari Kanglam itu, hendak membinasakan mereka serumah tangga. Karena itu guruku lantas mendahului pergi untuk memberi kisikan. Nyatanya Liok Koay tidak ada dirumahnya, mereka telah pergi pesiar. Karena itu guruku lantas menitahkan semua anggota keluarga Liok Koay pergi menyingkirkan diri masing-masing. Maka ketika Oey Yok Su sampai ke Kee-hin, ia tidak menemukan seorangpun. Ia menjadi sangat gusar dan mendongkol, tetapi ia cuma dapat menungkuli diri, dengan gondok ia berangkat ke Utara. Setelah itu tak tahu lagi bagaimana kejadian selanjutnya. Dan kau, tahukah tentang itu?"

Koan Eng mengangguk. In Cie Peng berdiam sebentar habis itu ia berkata pula: "Menurut rasaku dia mencari terus kanglam Liok Koay. Sebenarnya di antara guruku dan Liok Koay ada suatu perselisihan, tetapi perselisihan itu sudah dapat disudahi sedang mengenai urusannya, kesalahan berada di pihak Oey Yok Su maka itu kebetulan Coan Cin Cit Cu berkumpul di Kanglam, mereka lantas memisah diri mencari Liok Koay untuk menasehati mereka untuk berhati-hati menjaga diri, bahkan paling betul mereka menyingkir jauh-jauh, supaya mereka tak dapat dicari kakek gurumu itu. Coba kau pikir, tindakan itu tepat atau tidak?"

Koan Eng mengangguk pula.

Mendengar sampai di situ, Oey Yong berpikir: "Engko Ceng sudah tiba di Tho Hoa To memenuhi janji, kenapa ayah hendak pergi mencari lagi Liok Koay?"

Ia tidak tahu ayahnya telah kena ditipu Leng Tie Siangjin dan mempercayai ia telah mati kelelap di laut hingga dia menjadi sangat berduka dan gusar dan karenanya hendak menumpahkan amarahnya kepada Kanglam Liok Koay.

Kembali terdengar suara In Cie Peng: "Oleh karena tidak dapat mencari Liok Koay, guruku ingat Kwee Ceng yang menjadi murid Liok Koay. Kwee Ceng berasal dari dusun Gu-kee-cun di Lim-an dan dipercaya betul ia telah kembali ke kampung halamannya, dari itu aku dititahkan datang kemari mencari dia. Guruku percaya pastilah Kwee Ceng mengetahui di mana adanya semua gurunya itu. Kau telah datang ke mari, saudara Liok, bukankah itu untuk urusan yang sama?"

Lagi-lagi Koan Eng mengangguk. "Sekarang ternyata Kwee Ceng belum kembali ke kampung halamannya ini," berkata Cie Peng pula, "Meskipun begitu guruku telah melakukan kewajibannya terhadap Liok Koay itu, maka walaupun dia tidak dapat mencari mereka, itulah disebabkan habis daya. Melihat yang mereka sukar dicari, aku percaya, Oey Yok Su juga tentu tak akan dapat mencari mereka. Nah, saudara Liok, kau hendak memohon bantuanku, bukankah itu urusan mengenai ini juga?"

Untuk kesekian kalinya, Liok Koan Eng kembali mengangguk.

"Kau hendak menitahkan apa padaku, saudara Liok, silahkan kau mengatakannya," kata Cie Peng. "Di mana yang aku bisa, pasti aku akan memberikan bantuan padamu."

Atas ini, Liok Koan Eng membungkam.

Yauw Kee tertawa. "In Suheng, kau lupa," katanya mengingatkan. "Saudara Liok tak dapat membuka mulutnya!"

Cie Peng sadar, ia pun tertawa. "Benar!" ujarnya. "Bukankah saudara Liok hendak memohon aku berdiam terus disini untuk menanti sampai pulangnya sahabat Kwee Ceng?"

Koan Eng menggeleng kepala.

"Apakah kau menghendaki aku lekas pergi ke segala tempat untuk mencari Kanglam Liok Koay dan sahabat she Kwee?" Cie Peng tanya lagi.

Kembali Koan Eng menggeleng kepala.

"Ah, aku mengerti sekarang!" kata Cie Peng, "Kau menghendaki aku menyampaikan kabar pada sahabat-¬sahabat di Kanglam, mereka terkenal, mereka pasti punya sahabat-sahabat kekal, yang nantinya akan mengisikinya mereka terlebih jauh. Benarkah begitu?"

Lagi-lagi Koan Eng menggeleng kepalanya.

Cie Peng mengutarakan pula beberapa dugaan akan tetapi Koan Eng tidak membenarkan, Yauw Kee turur dua kali menanya, ia pun dijawab dengan gelengan kepala. Maka itu, Oey Yong yang curi dengar turut menjadi bingung juga. Sekian lama mereka bertiga berdiam saja.

"Thia Sumoy," akhirnya In Cie Peng berkata, "Perlahan saja kau bicara sama saudara Liok ini, aku tidak dapat main teka-teki terus-terusan, hendak aku keluar sebentar. Satu jam lagi, aku akan kembali."

Habis berkata, benar-benar Cie Peng bertindak keluar. Maka itu di dalam ruangan, kecuali Hauw Thong Hay, tinggal Liok Koan Eng berdua dengan Thia Yauw Kee. Si nona bertunduk, ia berpikir. Ia tetap mendapati Koan Eng berdiam saja, diam-diam ia melirik, justru itu, Koan Eng pun memandang padanya, maka sinar mata mereka jadi saling bentrok. Ia jengah dengan sendirinya, dengan muka merah, ia lekas-lekas melengos, terus ia tunduk, kedua tangannya membuat main runce gagang pedangnya.

Setelah itu Koan Eng berbangkit dengan perlahan, untuk menghampiri perapian. Di muka dapur itu ada gambar malaikat dapur, kepada malaikat itu ia berkata: "Touw Ongya, hambamu mempunyai satu urusan, yang sulit untukku memberitahukan kepada orang lain, maka itu baiklah hambamu menjelaskan pada ongya saja, dan hambamu mengharap semoga ongya suka memayunginya."

Mendengar itu girang hatinya Yauw Kee. "Orang yang pintar!" ia memuji di dalam hatinya. Ia lantas mengangkat kepala untuk mendengar terlebih jauh.

"Hambamu she Liok bernama Koan Eng," berkata pula si anak muda. "Hambamu adalah anak dari Chungcu Liok Seng Hong dari dusun Kwie-in-chung di tepi telaga Thay Ouw. Ayahku telah mengangkat Tocu Oey Yok Su dari Tho Hoa To sebagai gurunya. Beberapa hari yang lalu guru ayahku, adalah kakek guruku datang ke Kwie-in-chung, ia mengatakan hendak membinasakan semua keluarga Kanglam Liok Koay, maka ia menitahkan ayahku dan supee Bwee Tiauw Hong turut mencari Kanglam Liok Koay. Bwee supee bermusuhan dengan Kanglam Liok Koay, inilah hal yang sangat menggirangkan hatinya.

Tidak demikian dengan ayahku, yang mengagumi kemuliaan Kanglam Liok Koay. Ayahku menganggap tidaklah pantas membinasakan orang-orang gagah seperti mereka itu. Karenanya ayahku menjadi berduka. Ayah berniat menitahkan aku mengisiki Kanglam Liok Koay, untuk menyingkir, tetapi ayah tidak berani berbuat demikian sebab itu berarti mendurhakai kakek guru. Maka pada suatu malam ayah menghadapi gambar yang dilukis Sukouw Oey Yong, yang menjadi putrinya kakek guru, untuk mengutarakan kesulitannya itu. Hambamu ini telah mendapat dengar pengutaraan ayahku, karenanya hamba segera berangkat mencari Kanglam Liok Koay, guna menyampaikan berita dari ancaman bahaya itu…."

Mendengar itu, Yauw Kee dan Oey Yong kata dalam hatinya: "Dia cerdik juga, dengan kata-katanya ini dia ingin orang lain mendengarkan. Dengan caranya ini, dia menjadi tidak berdurhaka kepada partainya."

Lalu terdengar suara Koan Eng lebih lanjut: "Karena hambamu tidak dapat mencari Kanglam Liok Koay, lantas berangkat kemari. Hambamu ingat kepada murid mereka Kwee Susiok. Siapa tahu, Kwee Susiok pun tak ketahuan dimana adanya, Kwee Susiok adalah menantu dari kakek guruku…"

Yauw Kee menaruh hati kepada Kwee Ceng. Ia menaruh hati sendirinya. Maka ia terkesiap juga mendengar bahwa Kwee Ceng menantu Oey Yok Su. Cuma sebentar perasaannya itu, lantas ia dapat melegakan hati. Bukankah sekarang perhatiannya telah ditumpleki kepada Liok Koan Eng, pemuda di hadapannya ini, yang lebih tampan daripada pemuda she Kwee itu?

Koan Eng masih bicara seorang diri: "Asal hambamu dapat mencari Kwee Susiok, maka ia dapat bersama Oey Sukouw meminta kakek guru membatalkan niatannya. Kakek guru boleh keras hatinya tetapi tidak mungkin ia dapat menolak permintaan anak mantunya. Hanya, dari suaranya ayahku, mungkin Kwee Susiok dan Oey Sukouw telah menampak suatu bencana… Di dalam hal ini, tidak dapat hambamu menanyakan keterangan ayah."

Mendengar kata-kata ini, Oey Yong tanya dalam hatinya: "Mustahilkah ayah sudah ketahui engko Ceng terluka parah? Tidak, tidak mungkin ia ketahui itu. Mungkinkah ayah ketahui yang kita terlunta-lunta di pulau kosong…?"

"In Suheng adalah seorang yang sungguh-sungguh hati dan nona Thia cerdas dan lemah-lembut," terdengar suaranya Koan Eng terlebih lanjut. Mendengar pujian ini Yauw Kee girang berbareng mukanya merah. "Meski demikian, mereka tidak dapat menebak apa yang aku pikir. Sulit adalah Kanglam Liok Koay. Mereka adalah orang-orang gagah yang kenamaan, benar mereka bukan tandingan kakek guru, akan tetapi untuk meminta mereka menyingkir jauh-jauh, rasanya tidak mungkin. Menyingkir bagi mereka berarti merusak nama baik, itu tandanya mereka jeri. Pastilah mereka tidak akan melakukan itu. Bahkan hambamu percaya, kalau mereka mendengar kabar lagi dicari, mungkin mereka justru akan berbalik mencari kakek guru!"

Diam-diam Oey Yong memuji Koan Eng, yang tidak kecewa menjadi kepala perampok di Thay Ouw, sebab nyata ia berpandangan jauh.

"Maka sekarang aku memikir lain," Koan Eng masih berkata-kata terus. "Coan Cin Cit Cu gagah dan mulia hatinya, nama mereka kesohor, ilmu silat mereka mahir, jikalau In Suheng dan nona Thia yang memohon bantuan guru mereka, suka mengajukan diri sebagai juru pendamai, mungkin kakek guruku sudi mendengar suara mereka. Tidak mungkin ada permusuhan hebat di antara kakek guru dan Kanglam Liok Koay, dan biarpun Kanglam Liok Koay umpama kata benar bersalah terhadapnya, jikalau ada orang kenamaan yang mendamaikan, hambamu percaya perdamaian bakal didapatkan. Touw Ongya, inilah kesulitan hambamu. Sia-sia belaka hambamu mempunya pikiran ini tetapi tidak dapat mengutarakannya kepada orang lain. Dari itu hambamu mohon sudi apakah ongya dapat mengaturnya…"

Yauw Kee tahu pembicaraan orang akan berakhir, maka tidak nanti sampai Koan Eng berhenti bicara, ia sudah memutar tubuhnya bertindak keluar mencari Cie Peng, guna menyampaikannya, hanya baru ia tiba di ambang pintu, kembali ia mendengar lagi suara pemuda she Liok ini. Kata dia ini:

"Touw Ongya, jikalau Coan Cin Cit Cu suka membantu mendamaikan, sungguh ini suatu perbuatan sangat besar dan bagus, hanya hambamu berharap dengan sangat, kapan nanti Coan Cin Cit Cu bicara sama kakek guru, biarlah mereka tidak menyentuh hingga kakek guru merasa tersinggung. Kalau tidak, satu ombak belum sirap, lain gelombang datang menyusul, itulah artinya celaka. Ongya, sampai disinilah kata-kata hambamu, tidak ada lagi…"

Mendengar itu Yauw Kee tertawa. Di dalam hatinya ia berkata: "Kau sudah bicara habis, sekarang akulah yang akan bekerja untukmu!" Ia berjalan keluar untuk mencari In Cie Peng, tetapi telah ia memutari sekitar rumah makan, tidak melihat bayangan si kakak seperguruan itu. Terpaksa ia berjalan kembali. Tiba-tiba ia mendengar suara Cie Peng, perlahan sekali:

"Thia Sumoy…"

"Oh, kau di sini!" kata si nona girang.

Cie Peng memberi tanda dengan tangannya agar si nona tidak berisik. Iapun segera menunjuk ke arah Barat, sambil berkata, tetap dengan perlahan sekali.

"Di sana ada orang, tindakannya seperti setan. Dia membawa senjata di tubuhnya…"

"Mungkinkah dia orang yang tengah lewat di sini?" kata Yauw Kee, menghampiri kakak seperguruannya. Ia mengatakan demikian karena perhatiannya terpengaruh kata-kata Koan Eng.

In Cie Peng sebaliknya bersikap sungguh-sungguh. Katanya pula: "Di sana ada beberapa orang, lincah tubuh mereka, mestinya lihay."

Orang-orang yang ia lihat itu adalah rombongan Pheng Lian Houw. Mereka menanti Thong Hay, yang lama tak kembali, mereka menjadi menduga kawannya mendapat kecelakaan, tetapi walaupun demikian, karena mereka sangat mementingkan diri sendiri, mereka tidak berani pergi untuk mencari dan menolong. Mereka jeri terhadap orang yang menyamar hantu di istana, yang sangat lihay….."

In Cie Peng menanti sekian lama, setelah tidak dapat melihat bayangan orang, ia bertindak menghampiri ke tempat mereka tadi. Nyata mereka sudah tidak nampak lagi. Sampai di situ, Yauw Kee menuturkan ocehannya Koan Eng tadi kepada malaikat dapur.

"Begitu rupanya yang ia pikir, mana dapat orang menerkanya," berkata Cie Peng. "Sekarang begini, sumoy. Pergi kau bicara sama Sun Susiok, aku sendiri akan minta bantuan guruku. Asal Coan Cin Cit Cu suka membantu, di kolong langit ini tak ada urusan yang tak dapat diselesaikan."

"Hanya kita harus waspada agar urusan tidak berubah menjadi keonaran," kata nona Thia itu, yang menyampaikan kata-kata terakhir dari Koan Eng tadi.

"Hm!" kata Cie Peng. "Oey Yok Su itu makhluk macam apa, mustahil dia dapat melebihkan Coan Cin Cit Cu?" Ia tertawa dingin.

Yauw Kee ingin minta orang jangan takabur, tetapi melihat wajah orang muram, ia membatalkan niatnya itu. Bersama-sama mereka lantas kembali ke rumah makan.

"Aku hendak meminta diri," kata Koan Eng kepada dua orang itu. "Lain hari, kalau kamu lewat di Thay Ouw, harap kamu berdua sudi mampir di Kwie-in-chung singgah buat beberapa hari."

Yauw Kee tercengang. Berat rasanya untuk segera berpisah dengan pemuda itu. In Cie Peng sendiri memutar tubuh menghadapi malaikat dapur, untuk berkata:

"Touw Ongya, Coan Cin Cit Cu paling gemar mendamaikan segala persengketaan. Urusan tak adil bagaimanapun di kalangan kangouw, asal murid-murid Coan Cin mengetahuinya, pasti mereka tak berpeluk tangan saja!"

Koan Eng mengerti kata-kata itu ditujukan kepadanya, maka ia pun berkata: "Touw Ongya, semoga ongya dapat membereskan urusan ini dengan baik, dan hambamu sangat bersyukur kepada sekalian budiman untuk kebaikannya sudi mengeluarkan tenaganya."

In Cie Peng pun berkata pula. "Touw Ongya, silahkan legakan hati. Coan Cin Cit Cu tersohor di kolong langit ini, asal mereka suka turun tangan, tidak ada urusan yang tidak dapat diselesaikan."

Koan Eng melengak. Di dalam hatinya ia kata: "Kalau Coan Cin Cit Cu memaksakan perdamainan, mana kakek guruku puas?" Maka lekas-lekas ia berkata pula:

"Touw Ongya, ongya mengetahui sendiri kakek guru biasa bawa maunya sendiri, dia tidak suka memperdulikan orang lain, kalau orang lain sudi bersahabat dengannya, dia suka mendengarnya, tetapi bila orang bicara dari hal kepantasan, itulah yang ia paling sebal."

Cie Peng lantas mengasih dengar pula suaranya: "Haha, Touw Ongya! Coan Cin Cit Cu mana pernah jerih terhadap orang lain? Urusan ini memang tidak ada sangkutannya sama pihak kami, guruku pun cuma menyuruh mengasih kabar saja kepada orang lain, tetapi kalau orang berani main gila terhadap Coan Cin Cit Cu, hm, biar dia Oey Yok Su atau Hek Yok Su, nanti Coan Cin Kauw memperlihatkan apa yang bagus!"

Kata-kata Oey Yok Su dan Hek Yok Su itu berarti ejekan, karena disini "Oey" itu bukan diartikan she, hanya "oey - kuning" dan "hek - hitam"

Mendengar itu, Liok Koan Eng menjadi tidak senang. Maka ia pun lantas berkata: “Touw Ongya, apa yang barusan hambamu telah mengatakannya, harap dipandang saja sebagai kata-kata ngelindur. Umpama kata ada orang tak melihat mata kepada kami, pasti kami tak sudi menerimanya!"

Mereka itu masing-masing bicara kepada malaikat dapur, diluar dugaan, kata-kata mereka menjadikan bentrokan satu sama lain. Yauw Kee menjadi serba salah, mau ia datang menengahi tetapi mereka itu sama-sama muda dan darahnya panas.

Begitulah In Cie Peng berkata pula: "Touw Ongya, ilmu silat Coan Cin Pay adalah ilmu silat sejati di kolong langit ini, ilmunya orang lain kaum yang sesat, biar bagaimana luar biasapun, tidak mungkin dapat dibandingkan!"

"Touw Ongya," berkata Koan Eng, "Hambamu juga telah lama mendengar tentang ilmu silat Coan Cin Pay, bahwa banyak orangnya yang lihay, akan tetapi di antaranya tak mustahil tak ada si tukang ngobrol belaka!"

Bukan main gusarnya Cie Peng, tangannya segera menyampok. Maka gempurlah sebelah kepalanya patung malaikat dapur itu. Dia berseru:

"Binatang yang baik, kau berani mendamprat orang?!"

Koan Eng pun menyampok membikin gempur sebelah yang lain dari kepala malaikat dapur itu, sambil berseru:

"Mana aku berani mendamprat kau? Aku hanya mencaci manusia tak tahu diri, yang tak melihat orang!"

In Cie Peng telah menyaksikan kepandaian orang, ia berada di sebelah atas, ia menjadi tidak takut, maka ia tertawa dingin dan berkata:

"Baiklah, mari kita main-¬main, untuk melihat siapa sebenarnya yang tidak memandang orang!"

Koan Eng menginsyafi bahwa ia kalah kosen tetapi ia tidak senang pihaknya di pandang ringan, ia menjadi tengah menunggang harimau hingga tak dapat turun, maka dengan tangan kanan menghunus golok, dengan tangan kirinya ia memberi hormat. Ia berkata:

"Baiklah, siauwtee suka sekali menerima jurus-jurus yang lihay dari Coan Cin Pay!"

Yauw Kee bertambah bingung. Beberapa kali ia hendak mencegah, selalu saja batal dengansendirinya, cuma air matanya yang berlinang-linang. Ia tidak mempunyai keberanian untuk maju menengahi mereka.

Cie Peng sudah lantas mengebut hudtimnya, ia bertindak maju. Mereka berdua sudah lantas bertempur. Koan Eng tidak mengharapkan kemenangan, ia lebih mengutamakan pembelaan diri. Ia mainkan sungguh-¬sungguh ilmu golok warisan Kouw Bok Taysu, ilmu golok Lo Han Too-hoat.

In Cie Peng memandang ringan kepada lawannya, ia lancang maju, maka kagetlah ketika hampir saja lengan kirinya terbacok. Karena ini barulah ia berkaku waspada, kemudian barulah ia menang angin.

Oey Yong dari tempat sembunyinya mendengar dan menyaksikan itu semua. Ia terus menonton. Ia mendongkol juga kepada In Cie Peng, yang berani mengatai ayahnya berilmu sesat.

"Kalau bukan engko Ceng lagi sakit, akan aku kasih rasa padanya!" katanya dalam hati. Tiba-tiba saja, ia menjerit, "Ah, celaka!"

Koan Eng membacok begitu hebat hingga ia kehilangan sasarannya. Golok itu terpancing hudtim Cie Peng, setelah mana orang she In ini menbalas menotok, dengan jitu, golok lawan terlepas dan jatuh, setelah mana dia mengebut terus ke muka orang seraya berkata jumawa:

"Ingat baik-baik, inilah jurus lihay dari Coan Cin Pay!"

Diantara bulu hudtim itu tercampur kawat halus, kalau muka Koan Eng kena terkebut, pasti wajahnya yang tampan bakal penuh baret dan berlumuran darah. Koan Eng melihat bahaya, ia berkelit sambil tunduk. Cie tak mau sudah, ia menyusul dengan kebutannya.

"In Suko!" Yauw Kee berseru. Kali ini si nona berlompat maju seraya menangkis dengan pisaunya.

Kesempatan ini dipakai Koan Eng memungut goloknya.

"Bagus!" berseru Cie Peng, tertawa dingin. "Kau telah membantu orang luar, Thia Sumoy! Nah, kamu berdua, majulah bersama!"

"Apa katamu!" menegur Yauw Kee murka.

Cie Peng tidak menyahut, ia hanya menyerang beruntun tiga kali, membuatnya si nona repot menangkis.

Koan Eng mendongkol, ia maju pula. Dengan begitu Cie Peng benar-benar dikerubuti berdua. Tapi Yauw Kee tidak mau bertempur dengan kakak seperguruannya, ia lantas lompat mundur.

"Mari maju!" Cie Peng menantang adik seperguruannya itu. "Dia sendiri tidak dapat melawan aku. Dengan kau maju, tak usahlah sebentar kau membantui padanya!"

Oey Yong merasa lucu menyaksikan tiga orang itu, dari kawan, menjadi lawan, malah mereka jadi bertempur. Ia memikir, bagaimana urusan mereka dapat diselesaikan. Justru itu ia mendengar satu suara di pintu dan terbukanya daun pintu, setelah mana terlihatlah masuknya rombongan Pheng Lian Houw yang mengiringi Wanyen Lieh dan Yo Kang.

Mereka ini menanti sekian lama tanpa mendengar sesuatu, See Thong Thian jadi berkhawatir untuk saudara seperguruannya, dengan membesarkan nyali, ia masuk untuk membuat penyeledikan, diwaktu mengintai, ia melihat Cie Peng tengah bertempur sama Koan Eng. Seorang diri ia tidak berani lancang masuk, maka ia kembali mengajak kawan-kawannya. Demikian mereka masuk dengan tiba-tiba.

In Cie Peng dan Koan Eng melihat datangnya banyak orang itu dengan sendirinya, mereka berhenti berkelahi, lantas keduanya berlompat mundur. Belum sempat mereka menjauhkan diri, sebat luar biasa, See Thong Thian menubruk mereka, menyambar masing-masing tangan mereka, Sedang Pheng Lian Houw dengan cepat pergi menolongi Hauw Thong Hay dengan melepaskan belenggunya dan membebaskan totokannya.

Thong Hay susah bernapas, maka itu, tanpa menanti mengeluarkan sumbatannya, sambil mencoba berseru, ia menyerang Yauw Kee, tangannya menyerbu ke muka si nona. Nona Thia melihat serangan, ia dapat berkelit mendak. Thong Hay mendongkol bukan main, mukanya merah. Kembali ia maju, kali ini dengan dua kepalan berbareng.

"Tahan!" Pheng Lian Houw berseru. "Mari kita menanya dulu!"

Thong Hay tidak dapat mendengar cegahan itu, karena kedua kupingnya pun disumpal. Koan Eng dicekal keras oleh Thong Thian, separuh tubuhnya sampai tak bisa digerakkan, akan tetapi menampak Thong Hay menyerang Yauw Kee seperti kesetanan, entah darimana datangnya, ia berontak hingga terlepas, terus ia lompat kepada si orang she Hauw. Akan tetapi Lian Houw awas dan sebat, kakinya melayang, karena mana, pemuda itu roboh terbanting, hingga batang lehernya kena dicekuk.

"Kau siapa?!" Lian Houw membentak. "Kemana perginya manusia yang menyaru jadi hantu?!"

Baru Lian ouw menutup mulutnya, atau mana daun pintu terdengar bersuara, terbuka dengan perlahan. Semua orang menoleh dengan cepat, akan tetapi mereka tak melihat orang masuk. Tanpa merasa, hati mereka ciut dengan sendirinya. Hanya sejenak, di ambang pintu tampak seorang wanita muda dengan rambut kusut awut-awutan, mulanya kepala yang nongol.

Nio Cu Ong bersama Leng Tie Siangjin lompat mencelat. "Celaka, iblis wanita!" mereka berseru, kaget.

Tapi Pheng Lian Houw bermata jeli, ia melihat orang bukan setan. "Masuk!" ia memanggil.

Sa Kouw, demikian wanita itu, bertindak masuk sambil tertawa haha-hihi. "Oh, begini banyak orang!" katanya seraya mengulur lidahnya.

Nio Cu Ong yang menjeritkan iblis, menjadi gusar sekali. "Kau siapa?!" ia membentak sambil lompat maju, tangannya menyambar lengan orang. Ia menganggap gadis desa yang tolol. Tapi ia ketemu batunya!

Sa Kouw tidak sudi tangannya dicekuk, ia kelit seraya berbalik membalas menyerang, maka "plok!" tanganna Cu Ong kena dihajar keras, hingga ia merasakan sakit. Tentu saja, dia jadi gusar sekali.

"Ha, kau berlagak tolol!" ia berseru. Dia maju dengan dua tinjunya berbareng.

"Hahahaha!" mendadak si tolol tertawa seraya menuding kepala orang yang gundul licin.

Semua orang heran mendengar tertawa itu, Cu Ong tidak menjadi terkecuali, tapi mereka melengak tidak lama, atau si orang she Nio sudah mengirim satu tinjunya - tinju yang kanan.

Sa Kouw menangkis, ia berhasil, akan tetapi tubuhnya terhuyung. Mengertilah ia bukan tandingannya lawan itu, maka tak ayal lagi, ia memutar tubuhnya untuk lari pergi.

Cu Ong berlaku sebat, dengan satu loncatan ia sudah menghadang di depan si tolol itu, sikutnya dikerjakan, maka hidung si nona menjadi sasaran, hingga ia kesakitan, dan matanya kabur. Lantas ia berteriak-teriak:

"Adik yang makan semangka, lekas kau keluar menolongi aku! Ada orang memukul aku!"

Oey Yong terkejut. "Jikalau anak tolol ini tidak dibinasakan, dia bakal menjadi bahaya untuk kami," pikirnya. Tapi belum lagi ia mengambil keputusan atau tindakan, mendadak ia mendengar satu suara "Hm!" perlahan, yang ia kenali dengan baik sekali.

"Ah, ayah datang!" katanya dalam hati, sedang hatinya berdebaran. Ia segera mengintai pula.

Benar-benar oey Yok Su muncul di situ dengan jubahnya yang panjang dan hijau warnanya, mukanya ditutup dengan topeng kulit manusia. Dia berdiri di ambang pintu! Tidak ada orang yang mengetahui kapan tibanya orang baru ini, tidak ada yang melihat datangnya, tidak ada yang mendengarnya, hingga mungkin ia baru tiba, mungkin juga ia masuk lebih dulu ke dalam situ. Dia berdiri tak bergerak. Benar mukanya tidak bercaling atau bengis, tetapi kulitnya bukan kulit orang hidup, hanya kulit mayat, maka siapa yang memandangnya, lekas-lekas ia melengos, tidak berani mengawasi terus.

"Nona, kau siapa?" Oey Yok Su kemudian menanya. Ia heran melihat gerak-gerik si nona, ia tahu orang bersilat dengan ilmu silatnya sendiri. "Siapa gurumu? Mana gurumu?"

Sa Kouw menggeleng kepala. Ketika ia mengawasi mukanya Oey Yok Su, ia menjublak. Tapi cuma sebentar, lantas ia tertawa berkakakan dan menepuk¬-nepuk tangan.

Oey Yok Su mengerutkan keningnya, ia berpikir sejenak, lantas ia mengambil putusan nona ini pasti cucu muridnya, hanya entah dari muridnya yang mana. Ia memang paling sayang sama muridnya, tidak sudi ia orang menghinakan muridnya. Buktinya Bwee Tiauw Hong, yang murtad tetapi waktu murid itu dikalahkan oleh Kwee Ceng masih ia hendak melindungi. Apa pula Sa Kouw nona yang tolol dan polos ini.

"Eh, anak!" tegurnya. "Orang telah serang kau, mengapa kau tidak membalas menghajarnya?"

Ketika baru-baru ini Oey Yok Su pergi naik ke perahu mencari putrinya, ia tidak mengenakan topeng, tetapi kali ini lain, orang tidak segera mengenalinya, kali ini setelah ia membuka mulutnya, lantaslah Wanyen Lieh bertiga Yo Kang dan Pheng Lian Houw menjadi ciut nyalinya. Bahkan ia menduga-duga, jangan-jangan Oey Yok Su yang menyamar jadi hantu di dalam istana. Maka ia lantas memikir untuk tidak bertempur, hanya mencari ketika untuk mengulur langkah seribu. Untuk ia, jiwanya paling penting, nama wangi dan malu adalah urusan lain…

"Aku tidak dapat menghajar dia," Sa Kouw menjawab.

"Siapa bilang kau tidak dapat menghajarnya?!" bentak Oey Yok Su. "Kau hajar cecongornya seperti tadi memukul hidungmu! Dia memukul kau satu kali, kau membalas dia tiga kali lipat ganda!"

Sa Kouw tertawa. "Bagus!" katanya. Dan ia menghampiri Nio Cu Ong, tanpa memikir pula ia bukan tandingan jago itu. Ia kata, "Kau memukul hidungku satu kali, aku akan hajar hiudngmu tiga kali!" Dan ia mengangkat kepalannya, meninju hidung orang!

Nio Cu Ong tidak sudi mandah dihajar, ia angkat tangannya, untuk menangkis, tiba-tiba ia merasakan jalan darah kiok-tie-hiat di lengannya mati, ia tak sanggup sekalipun untuk melonjorkan lengannya itu. Maka, "Buk!" hidungnya dihajar si nona tolol itu, hingga ia kaget dan kesakitan.

"Yang kedua!" berseru sa kouw tanpa mengasih hati.

Nio Cu Ong memasang kuda-kuda, tangan kirinya digerakkan. Ia hendak menggunakan tipu silat Kim-na-hoat, Menangkap untuk membikin lengan orang terlepas dari sambungannya. Tidak sudi ia terus-terusan kena dihajar. Hanya, belum lagi tangannya bentrok, ia merasakan jalan darahnya pek-jie¬hoat lemas, hingga habislah tenaganya, Dilain pihak, "Buk!" kembali hidungnya kena dihajar untuk kedua kalinya, bahkan kali ini hajarannya jauh lebih hebat, sampai tubuhnya melengak ke belakang.

Selagi Nio Cu Ong kaget dan kesakitan juga heran, semua hadirin tak kurang herannya, kecuali Pheng Lian Houw seorang ahli senjata rahasia. Ia mendengar, setiap kali Nio Cu Ong menggerakkan tangan, untuk menangkis atau membalas, selalu ada suara halus berkesiar, maka ia menduga, tentulah Oey Yok Su menggunakan semacam senjata rahasia, mungkin sebangsa jarum, ia tak dapat melihatnya, tak tahu kapan senjata rahasia itu dipakai menyerang. Tentu saja ia tidak tahu Oey Yok Su sudah melepaskan jarum rahasia dari dalam tangan bajunya, dimana jarum dapat menembus tangan baju itu, untuk meleset kepada sasarannya. Siapa dapat berkelit dari serangan semcam itu?"

"Yang ketiga!" terdengar suara pula Sa Kouw, nyaring.

Nio Cu Ong terkejut. Oleh karena ia tidak ingin merasakan pula bogem mentah, lekas-lekas ia mundur, untuk menghindarkan diri. Tapi, baru ia mengangkat kakinya, betisnya kena bagian jalan darah pek¬hay-hiat, mati dengan sendirinya. Ia kaget tak terkira. Itu artinya ia tak dapat berkelit. Ia menjadi sangat menyesal, maka tiba-tiba saja matanya menjadi merah, air matanya mengembang, untuk meluncur keluar. Kalau sampai ia menangis, habis sudah nama besarnya, maka ia hendak menyusutnya. Celaka untuknya, tidak dapat ia menangangkat tangannya. Akhirnya bercucuranlah air matanya!

Sa Kouw tolol akan tetapi hatinya pemurah dan lemah, ketika melihat orang menangis, ia batal meninju, bahkan berkata nyaring.

"Sudah, jangan kau menangis! aku tidak akan menghajar lagi…"

Hiburan ini bahkan lebih hebat daripada tinjuan yang ketiga. Nio Cu Ong merasa lebih terhina lagi. Begitu hebat mendongkolnya, mendadak ia muntahkan darah segar! Tapi ia segera mengangkat kepalanya, memandang Oey Yok Su.

"Tuan siapakah kau?" ia menanya. "Secara gelap kau melukai orang, apakah itu perbuatan enghiong, seorang gagah?"

Oey Yok Su tertawa dingin. "Tepatkah orang semacam kau menanyakan namaku?" katanya dengan dingin mengejek, lalu dengan suara nyaring, ia memerintah: "Semua kalian menggelinding pergi dari sini!"

Semua orang menjadi kaget berbareng lega hati. Mereka telah menyaksikan segalanya, walaupun mereka gagah, hati mereka toh ciut, jeri mereka terhadap orang lihay tak dikenal ini. Untuk menyerang, mereka tak berani, untuk mengangkat kaki mereka malu, dari itu mereka diam saja, sampai tiba-tiba datang seruan orang.

Pheng Lian Houw si licik adalah yang bergerak paling dulu, hendak berlalu. Baru dua tindak ia berjalan, mendadak orang menghadang di depan pintu! Terpaksa ia menghentikan langkahnya, berdiri menjublak si situ.

"Setan alas!" berseru Oey Yok Su. "Telah aku melepaskan kamu, untuk kamu pergi, kenapa kamu berdiam saja? Apakah kamu ingin aku membunuh mampus kalian semua?!"

Pheng Lian ouw ketakutan, ia mengerti bahaya. "Locianpwee ini menitahkan kita pergi, marilah kita keluar!" ia mengajak kawan-kawannya. Tidak berani ia ngeloyor sendirian.

See Thong Thian panas hatinya. Ia menyingkirkan sumbatan mulutnya. "Minggir untukku!" ia berseru mendongkol. Ia pun maju ke depan Oey Yok Su, matanya bersinar merah saking gusarnya.

Oey Yok Su tidak mengambil mumat suara orang yang bengis itu. Bahkan dengan tawar ia berkata:

"Tidak dapat kau meminta aku membuka jalan! Siapa yang menyayangi jiwanya, lekas molos dari selangkanganku!"

Thong Thian semua saling mengawasi, muka mereka merah saking mendongkol. Saking gusar, mereka menjadi nekat. Mereka pun berpikir, "Walaupun kau sangat lihay, dapatkah kau melawan kami?"

Maka itu Hauw Thong Hay sudah lantas berseru sambil berlompat maju, menubruk perintang jalan yang jumawa.

"Hm!" terdengar suara Oey Yok Su, yang tahu-tahu tangannya sudah mencekuk si orang she Hauw itu, kemudian diangkat tinggi-tinggi, terus dengan mendadak, tangannya menyambar lengan kiri Thong Thay, untuk ditarik, menyusul mana, orang galak ini menjerit keras, sebab sebelah tangannya kena dipatahkan. Habis itu, tubuh korban ini lantas dilemparkan, dia sendiri terus dongak memandang langit, sikapnya acuh tak acuh……..

Thong Hay roboh setengah mati, sakitnya bukan main. Tangannya yang patah itu mengucurkan darah tak hentinya. Semua orang kaget, hati mereka ciut. Kemudian Oey Yok Su menggerakkan kepalanya, dengan matanya perlahan-lahan menyapu muka semua orang.

See Thong Thian dan Pheng Lian Houw semua, sebangsa iblis, merasakan tubuh mereka menggigil dengan sendirinya. Bukan main kerennya sinar mata orang ini! Bulu roma mereka pada bangun sendiri.

"Kamu mao molos atau tidak?" tanya Oey Yok Su bengis karena orang pada tetap diam saja.

Tidak ada seorangpun yang berani banyak mulut, tidak ada yang berani menerjang atau membangkang, bahkan Pheng Lian Houw, dengan kepala tunduk, sudah lantas molos mendahului yang lain-lain!

See Thong Thian melepaskan In Cie Peng dan Liok Koan Eng, dengan menolong adik seperguruannya, ia molos menyusul Pheng Lian Houw, diturut oleh Wanyen Lieh bersama Yo Kang. Yang paling belakang molos adalah Nio Cu Ong bersama Leng Tie Siangjin. Sekeluarnya dari pintu rumah makan, mereka melekaskan tindakan mereka, bahkan tidak berani menoleh ke belakang.

Oey Yok Su tertawa sambil melengak. "Koan Eng dan kau nona, diam kamu!" ia berkata.

Koan segera mengenali kakek gurunya, akan tetapi orang mengenakan topeng dan menduga kakek guru ini sengaja tidak hendak memperlihatkan diri, ia tidak berani memanggil, ia cuma bertekuk lutut mengasih hormat dengan mengangguk empat kali. Menyaksikan orang demikian lihay, In Cie Peng mennduga ini bukan orang sembarangan, ia lantas memberi hormat seraya memperkenalkan diri sambil menyebut nama gurunya, Tiang Cun Cu dari Coan Cin Kauw.

"Semua orang telah mengangkat kaki!" berkata Oey Yok Su nyaring. "Aku pun tidak menahan kau, perlu apa kau masih berdiam di sini? Apakah kau sudah bosan hidup?"

Cie Peng melengak. Ini perlakuan yang tidak disangkanya. "Teecu adalah murid Coan Cin Kauw, bukan orang jahat," ia memberi keterangan.

"Habis kalau Coan Cin Kauw, bagaimana?!" tanya Oey Yok Su sambil tangannya diulur ke meja di mana ada sepotong kayu, yang mana ia ayunkan ke arah Cie Peng.

Nampaknya ringan potongan kayu itu dan melayang. In Cie Peng mengangkat kebutannya menangkis. Akan tetapi, ketika keduanya bentrok, murid Khu Cie Kee ini terkejut. Ia merasakan serangan yang keras luar biasa, kebutannya kena tertolak sampai ujungnya mengenai mulutnya hingga ia merasakan sakit sekali dan mulutnya seperti kemasukan entah barang apa. Ketika ia telah memuntahkannya, nyatalah ada beberapa buah giginya yang copot serentak. Ia menjadi kaget dan bungkam. Sungguh hebat!

"Akulah Oey Yok Su atau Hek Yok Su!" kata Tong Shia dingin. "Kamu kaum Coan Cin Kauw, hendak memandang bagaimana kepadaku?"

Mendengar itu, In Cie Peng kaget bukan main, hatinya berdebaran. Yauw Kee semenjak tadi diam saja menyaksikan tingkah pola orang, turut terkejut, hatinya kebat-kebit.

Koan Eng turut berkhawatir, di dalam hatinya berkata, "Tentulah kakek guruku ini dengar pembicaraanku dengan tosu muda ini. Kalau dia pun mendengar kata-¬kataku kepada malaikat dapur barusan, entah dia bakal menghukum bagaimana kepadaku…"

In Cie Peng memegang pipinya. "Kaulah pemimpin suatu partai persilatan, mengapa perbuatanmu begini cupat?" kemudian Cie Peng menegur si Sesat dari Timur itu. "Kanglam Liok Koay adalah orang-orang gagah yang berhati mulia, mengapa kau mendesak mereka demikian rupa? Mengapakah? Jikalau bukan guruku yang memberikan kabar, bukankah mereka semua bakal bercelaka di tanganmu?"

Oey Yok Su menjadi gusar. "Pantas tak ketemu aku dengan mereka di mana-mana, kiranya ada orang ikut campur mengadu biru di antara kita!" katanya nyaring.

Cie Peng menjadi berani, ia berjingkrak. "Jikalau kau hendak membunuh aku, bunuhlah!" ia menantang. "Aku tidak takut!"

Oey Yok Su tertawa dingin. "Bukankah kau telah mencaci aku dibelakangku?" katanya.

Imam muda itu menjadi nekat. "Di depanmu pun aku berani mencaci kau!" katanya sengit. "Kaulah si setan alas, si siluman!"

Koan Eng berkecil hati mendengar keberanian Cie Peng. Semenjak ia menjadi jago, Oey Yok Su ditakuti semua orang, dari kalangan Hitam dan Putih, tidak pernah ada orang yang berani berlaku kurang ajar terhadapnya, maka Cie Peng ini adalah orang yang pertama. "Hebat! Ini imam cilik bakal tak ketolongan jiwanya…" ia mengeluh.

Tetapi aneh, bukannya marah, Oey Yok Su justru tertawa. Nyata si Sesat dari Timur ini menghargai dan menyayangi hati besar bocah ini. Ia ingat pada masa mudanya, yang juga tidak kenal takut.

"Jikalau kau berani, kau makilah pula padaku!" katanya bengis sambil bertindak menghampiri.

"Aku tidak takut, hendak aku memaki pula padamu!" jawab Cie Peng. "Kau iblis, kau siluman!"

"Hai, binatang bernyali besar, kau berani menghina kakek guruku!" membentak Koan Eng, yang lantas membacok. Tapi ia bukan hendak mencelakai, sebaliknya, untuk melindungi. Karena ia mengerti baik sekali, kalau kakek gurunya yang turun tangan, celakalah imam muda ini. Ia pikir, bacokannya sendiri, ke arah alis, tidak meminta jiwa orang. Ia harap perbuatannya ini nanti merendahkan kegusaran kakek gurunya.

Cie Peng berkelit dan berlompat mundur dua tindak. Ia mendelik, kembali ia pentang mulutnya lebar-lebar.

"Imam kamu yang muda ini hari ini tak menghendaki hidup lebih lama lagi!" katanya nyaring dan sengit, "Hendak aku mencaci kau!"

Koan Eng hendak membacok orang roboh, untuk menolong jiwanya, maka tanpa membilang suatu apapun, ia menyerang lagi.

"Traang!" demikian satu suara nyaring. Sebab yauw Kee menalangi Cie Peng menangkis. Nona ini pun segera berkata nyaring: "Aku pun orang Coan Cin Kauw! Jikalau kau hendak membunuhnya, nah bunuhlah kami berdua saudara seperguruan!" Perbuatan nona Thia ini membuat Cie Peng terkejut dan kagum.

"Bagus, Thia Sumoy!" serunya. Berdua mereka berdiri berendang, mata mereka memandang tajam kepada Oey Yok Su. Sikap mereka ini membuat Koan Eng menghentikan sepak terjangnya.

Oey Yok Su mengawasi sepasang muda-mudi ini, ia tertawa terbahak. "Bagus, kamu bersemangat!" katanya memuji. "Memang aku Oey Lao Shia, aku adalah dari bangsa sesat, maka tepatlah kau memaki aku! Gurumu masih terhitung orang di bawahan tingkat derajatku, mana bisa aku melayani kamu bangsa sebawahanku? Nah, kau pergilah!"

Sambil berkata begitu, Oey Yok Su mengulurkan sebelah tangannya menjambak dada si imam muda, terus tangannya dikibaskan.

Cie Peng kena terjambak tanpa ia berdaya dan tahu-¬tahu tubuhnya sudah melayang, terlempar ke luar. Ia kaget bukan main. Ia percaya bahwa bakal jatuh terbanting keras. Kesudahannya diluar dugaan. Ia jatuh dengan berdiri, ia seperti dipegangi Oey Yok Su dan dikasih turun dengan perlahan-lahan! Muridnya Tiang Cun Cu ini berdiri menjublak. "Sungguh berbahaya.." katanya dalam hati.

Sekarang ini biar nyalinya lebih besar pula, tidak berani mencaci lagi si Sesat dari Timur itu, kepandaiannya benar-benar luar biasa. Kemudian dengan pegangi pipi yang bengkak-bengkak, ia memutar tubuhnya ngeloyor pergi… Yauw Kee memasukkan pedang ke dalam sarungnya, ia pun membalikkan tubuh dan berlalu.

"Perlahan dulu!" mencegah Oey Yok Su seraya ia mengangkat tangan ke mukanya, untuk menyingkirkan topengnya. "Bukankah kau suka menikah dengannya untuk menjadi istri? Benarkah?" Ia menanya seraya menunjuk ke Koan Eng.

Kaget nona Thia. Ini tak disangka. Dengan sendirinya mukanya menjadi pucat dan kemudian berubah menjadi bersemu merah dadu…

"Imam cilik yang menjadi kakak seperguruanmu itu, memang tepat caciannya padaku," berkata pula Oey Yok Su. "Bukankah ia mengatakan aku iblis dan siluman? Memang tocu dari Tho Hoa To, Tong Shia Oey Yok Su, siapakah orang kangouw yang tidak mengetahuinya? Seumur aku Oey Lao Shia, aku paling jemu adalah segala hal welas asih dan pribadi, segala peradatan dan aturan, dan yang paling aku benci yakni segala nabi atau rasul, segala kehormatan atau kesucian diri! Semua itu adalah daya belaka untuk memperdayakan suami-istri tolol, dan manusia di kolong langit ini, turun temurun telah dibelesaki ke dalam situ tanpa mereka sadari! Tidakkah itu sangat menyedihkan, harus dikasihani dan lucu juga? Oey Yok Su tidak percaya semua itu! Orang mengatakan Oey Yok Su sesat! Hm! Sebenarnya hatiku lebih baik daripada segala nabi yang dipuja di dalam kuil!"

Yauw Kee berdiam, tapi hatinya berdenyutan. Hebat kata-kata Oey Yok Su ini. Ia tidak tahu, apa yang si sesat ini hendak perbuat atas dirinya….

"Kau omonglah terus terang kepadaku," berkata pula Oey Yok Su, "Benar bukan kau hendak menikah sama cucu muridku ini? aku paling sukai bocah yang bersemangat dan polos serta jujur! kau lihat imam cilik tadi, ia mencaci aku dibelakangku. Coba di depanku dia takut mencaci lebih jauh, coba dia justru bertekuk lutut memohon ampun, kau lihat, aku bunuh padanya atau tidak! Hm! Di saat yang sangat berbahaya kau membantu imam cilik itu, kau bersemangat, maka itu tepatlah kau dipasangkan sama cucu muridku ini! Nah, kau jawablah!"

Yauw Kee girang bukan kepalang. Memang sangat ingin ia menikah sama Koan Eng. Akan tetapi cara bagaimana ia dapat membuka mulut dalam urusan yang mesti direcoki orang tua mereka? Kepada ayah ibunya sendiri ia malu untuk menjelaskannya, apa pula kepada orang asing ini, ia baru pertama kali menemuinya? Pula di situ Koan Eng ada beserta! Maka ia tetap berdiri diam, wajahnya tetap merah dadu…

Oey Yok Su mengawasi Liok Koan Eng. Juga pemuda itu, cucu muridnya, berdiam sambil tunduk. Tiba-tiba ia ingat pada putrinya. Maka ia menghela napas.

"Jikalau dihendaki kamu berdua, suka aku merecoki jodoh kamu," katanya perlahan. "Memang di dalam hal perjodohan, orang tua juga tiak dapat memaksanya…."

Si Sesat dari Timur ini ingat kejadian kepada putrinya. Coba ia meluluskan anak darahnya itu menikah dengan Kwee Ceng, tidak mungkin mati mengenaskan di dasar laut. Karena ini, ia menjadi uring-uringan.

"Koan Eng!" katanya tiba-tiba nyaring. "Kau jawablah terus terang, sebenarnya kau menghendaki atau tidak dia ini menjadi istrimu?!"

Pemuda she Liok itu kaget hingga ia mencelat. "Cauwsuya," sahutnya cepat, gugup, "Aku hanya khawatir tidak setimpal dengannya…"

"Tepat, cocok!" berseru Oey Yok Su. "Kaulah cucu muridku, sekalipun putri raja, tentu dia tepat, dia setimpal denganmu!"

"Ya, cucu muridmu suka," Koan Eng menjawab dengan cepat. Ia mengerti kalau ia tidak omong polos dan terus terang, ia bisa celaka di tangan kakek guru yang tabiatnya aneh ini.

Kalau tadi ia beroman beringis, sekarang Oey Yok Su tersenyum. "Bagus!" serunya. "Sekarang kau, nona?" ia terus tanya nona Thia.

Bukan main girangnya yauw Kee, manis ia mendengar suaranya Koan Eng. Akan tetapi ia masih menundukkan kepala.

"Tentang hal ini harusnya ayahku yang memutuskan…" sahutnya sesaat kemudian.

"Ha, apakah itu segala titah orang tua, segala perkataan comblang?" kata Oey Yok Su keras. "Segala itu ialah angin busuknya anjing! Sekarang ini akulah yang hendak mengambil keputusan! Jikalau ayahmu tidak mupakat, suruh dia berurusan denganku!"

Yauw Kee berdiam.

"Kalau begitu, terang kau tidak suka!" berkata Oey Yok Su. "Kau merdeka! Kita harus omong terus terang, aku Oey Lao Shia, aku larang kau menyesal kemudian!"

Yauw Kee tersenyum. "Ayahku cuma pandai berhitung dan menulis, dia tidak mengerti ilmu silat," katanya, menjelaskan.

Oey Yok Su heran, melengak. "Biarlah mengadu menghitung dan menulis pun boleh!" katanya kemudian. "Lekas kau bilang, kau suka atau tidak menikah dengan cucu muridku ini?"

Nona Thia melirik Koan Eng, roman siapa gelisah. Di dalam hatinya ia kata: "Ayahku paling sayang padaku, asal kau minta orang datang melamar aku, dia tentu akan menerimanya. Kenapa kau begini bergelisah?"

Oey Yok Su mengawasi cucu muridnya. "Koan Eng, mari turut aku mencari Kanglam Liok Koay!" katanya nyaring. "Lain kali kalau kau dan nona ini bicara pula, sepatah kata saja, akan aku kuntungi lidah kamu!"

Koan Eng kaget bukan main. Ia tahu benar, perkataannya si kakek guru tentu bakal diwujudkan. Maka lekas-lekas ia menghampiri Yauw Kee, kepada siapa ia menjura seraya berkata:

"Nona Thia, aku Liok Koan Eng, kepandaian ilmu silatku rendah sekali, aku pun tidak terpelajar, sebenarnya tidak setimpal aku denganmu, akan tetapi hari ini kita telah bertemu, itu tandanya kita berjodoh…"

"Jangan terlalu merendah, kongcu," sahut Yauw Kee perlahan, "Aku…aku bukannya…."

Koan Eng lekas memotong. Ia jadi ingat tadi si nona bicara dari hal mengangguk kepala untuk menggantikan jawaban.

"Nona," demikian katanya. "Jikalau kau mencela aku si orang she Liok, kau goyanglah kepalamu…"

Di mulut Koan Eng mengatakan demikian, hatinya sebenarnya goncang keras. Ia menatap si nona, ia khawatir nona itu benar-benar menggeleng kepala… Sekian lama, Yauw Kee berdiam saja. Di atas dari kepalanya, di bawah sampai kakinya, dia tidak bergerak sedikitpun.

Bukan main girangnya Koan Eng. "Nona!" ia berseru, "Kalau kau setuju, kau menerima baik, sukalah kau mengangguk!" Tapi, nona Thia tetap tidak bergerak. menampak itu, Koan Eng bergelisah bukan main.

Oey Yok Sun sendiri menjadi tidak sabaran. "Menggeleng kepala tidak, mengangguk pun tidak, habis bagaimana?!" katanya.

Yauw Kee tunduk, ia bersenyum ketika ia berkata, "Tidak menggeleng kepala itu berarti mengangguk…"

Mau tidak mau, Oey Yok Su tertawa berkakakan. "Hebat Ong Tiong Yang, dia menerima ini macam cucu murid! Sungguh lucu!" serunya. "Bagus, bagus! Sekarang juga aku akan menikahkan kamu!"

Koan Eng dan Yauw Kee terkejut. Keduanya lantas mengawasi orang tua ini, mulut mereka bungkam.

"Mana itu nona tolol?" kemudian Oey Yok Su menanya. "Hendak aku tanya dia, siapakah gurunya."

Ketiganya menoleh ke sekitar, Sa Kouw tidak ada di antara mereka. Entah kapan si tolol menghilang selagi orang berbicara.

"Sudah, tidak usah repot mencari dia," kata Oey Yok Su kemudian, "Koan Eng, sekarang hayolah kau dan nona Thia sama-sama menghormati langit dan bumi, untuk menglangsungkan pernikahan kalian."

"Cauwsuya," berkata Koan Eng. "Kau menyayang cucu muridmu ini, untuk itu walaupun tubuhku hancur lebur, sukar aku membalas budimu, akan tetapi dengan aku menikah di sini, nampaknya ini terlalu tergesa-gesa…"

"Hus!" membentak Tong Shia. "Kamu murid Tho Hoa To, apakah kau juga hendak mengukuhi segala aturan umum? Mari, mari, berdirilah berendeng dan memberi hormatlah ke luar kepada langit!"

Berpengaruh sekali suara pemilik pulau Tho Hoa To ini. Sampai di situ, Yauw Kee dan Koan Eng bertindak satu sama lain, berdiri berendeng, terus menjalankan kehormatan.

"Sekarang menghadap ke dalam, menghormati bumi!" Oey Yok Su berkata pula, "Nah, kau menghormatilah couwsu kamu! Bagus, bagus, sungguh aku girang! Sekarang suami istri saling memberi hormat!"

Demikian KoanEng dan Yuaw Kee seperti main sandiwara di bawah pimpinan Tong Shia, selama itu Oey Yong bersama Kwee Ceng terus mengikuti dari kamar rahasia. Mereka heran dan lucu atas sepak terjang orang tua ini.

"Bagus!" terdengar pula suara Oey Yok Su. "Sekarang hendak aku menghadiahkan serupa barang kepada kamu suami-istri muda. Kamu lihat!"

Seketika itu juga, di dalam ruangan ini terdengar suara angin menderu-deru, seumpama kata, tembok bergoyang-goyang…

Oey Yong tidak mengintai tetapi ia tahu, ayahnya tengah menjalankan ilmu silat yang dinamakan Kong¬piauw-kun atau Angin Ngamuk. Sekitar semakanan teh, angin berhenti menderu.

"Kamu lihat, sekarang kamu turuti, untuk berlatih," berkata Oey Yok Su. "Mungkin kamu tidak dapat menangkap seluruh sarinya ilmu silat ini akan tetapi setelah meyakinkannya, meskipun cuma kulitnya saja, bila kemudian kamu bertemu pula orang sebangsa si orang she Hauw tadi, tak usah kau takut lagi. Koan Eng, pergi kau cari sepasang lilin, malam ini kamu boleh merayakan pernikahanmu!"

Koan Eng melengak. "Cauwsu," katanya tertahan.

"Apa? Habis menghormati langit-bumi, apakah bukannya merayakan pernikahan di antara lilin di dalam kamar?" tanya kakek guru ini. "Kamu berdua adalah orang-orang yang menyakinkan ilmu silat, mustahilkah untuk kamu masih dibutuhkan segala kamar yang dirias indah dan gubuk reot tak cukup?"

Koan Eng terdesak. Tetapi diam-diam ia bergirang. Ia lantas pergi membeli lilin sekalian membeli juga arak putih dan seekor ayam, bersama-sama Yauw Kee ia pergi ke dapur, setelah itu mereka melayani sang kakek guru bersantap. Sejak itu Oey Yok Su tidak banyak omong lagi, bahkan ia melihat ke langit, otaknya memikirkan anak daranya.

Oey Yong bersusah hati, beberapa kali ia hendak memanggil ayahnya, selalu ia membatalkannya. Ia khawatir nanti mengganggu lukanya Kwee Ceng. Pernah ia mengulur tangan ke pintu, lekas ia menariknya pulang.

Yuaw Kee dan Koan Eng beberapa kali melirik Tong Shia, lalu mereka saling mengawasi. Mereka juga membungkam, tidak ada yang berani membuka mulut.

Auwyang Kongcu rebah di atas rumput, ia merasa sangat lapar, tetapi ia menguatkan hatinya, untuk tak bersuara, tak bergerak. Maka ketika itu, di dalam tiga kamar, keenam orang itu sama-sama rapat mulutnya. Demikian cuaca gelap. Dengan mulai gelapnya sang jagat, hati Yauw Kee berdebaran.

"Ah, kenapa si tolol itu masih belum kembali?" berkata Oey Yok Su. "Kawanan jahanam tentulah tak berani mengganggunya." Ia menoleh pada Koan Eng. Ia menanya. "Malam ini malam pengantin, mengapa kau tidak memasang lilin?"

"Ya," menyahut Koan Eng cepat dan ia menyalakan api menyulut lilin.

Maka itu di antara terangnya api ia dapat melihat wajah nona Thia dengan rambutnya yang bagus dan pipinya yang putih. Di luar rumah terdengar suara angin perlahan, dari memainnya daun-¬daun bambu.

Oey Yok Su menngangkat sebuah bangku, ia letakan di depan pintu, lantas di situ rebahkan dirinya. Tidak lama, dari hidungnya mulai terdengar suara menggeros perlahan, suatu tanda ia sudah tidur pulas.

Yuaw Kee dan Koan Eng masih duduk tak bergeming. Sang waktu berjalan terus sampai sepasang lilin padam, habis menjadi cair beku dan sumbunya menjadi abu, hingga ruangan menadi gelap petang. Setelah ini mereka berbicara, seperti berbisik-bisik hingga Oey Yong yang memasang kuping, tidak dapat menangkap pembicaraan mereka.

Nona Oey berhenti memasang kuping tatkala merasakan tubuh Kwee Ceng bergerak secara tiba-¬tiba, napasnya seperti memburu. Ia mengerti, itulah saat genting dari latihan mereka. Maka ia memusatkan perhatiannya, ia mengempos tenaga dalamnya, untuk menunjang kawannya itu. Ia menanti sampai si anak muda tenang lagi, baru ia mengintai keluar.

Sekarang mulai tampak sinar rembulan, yang molos masuk dari jendela butut. Dengan begitu kelihatan juga Koan Eng dan nona Thia duduk berbareng. Mereka duduk diatas sebuah bangku.

"Tahukah kau hari ini hari apa?" kemudian terdengar si nona Thia, suaranya perlahan.

"Ini hari baik dari kita berdua," menyahut Koan Eng.

"Itu tak usah disebutkan lagi," kata si nona. "Hari ini bulan tujuh tanggal dua - adalah hari lahir aku."

Koan girang. "Oh, sungguh kebetulan!" katanya. "Tidak ada hari sebaik hari ini!"

Yauw Kee mengulur tangannya menutup mulut orang. "Sst, perlahan," ia memberi ingat. "Kau lupa daratan, eh?"

Hampir Oey Yong tertawa mendengar pembicaraan mereka itu. Justru ia pun bagaikan sadar.

"Hari ini tanggal dua, dan engko Ceng baru sembuh tanggal tujuh," demikian ia ingat. "Rapat partai Pengemis di kota Gakyang bakal dilakukan tanggal limabelas. Dalam waktu delapan hari, mana dapat kita sampai di sana?"

Nona ini tengah berpikir ketika kupingnya mendengar siulan panjang di luar rumah makan, disusul tertawa nyaring seperti menggetarkan rumah makan itu. Ia mengenali suaranya Ciu Pek Thong.

"Hai, tua bangka berbisa bangkotan!" terdengar pula suaranya si orang tua berandalan itu. "Dari Lim-an kau mengubar ke Kee-hin, dari Kee-hin kau mengejar balik ke Lim-an, sudah satu hari satu malam kau mengejarnya, sampai diakhirnya, kau masih tak dapat menyandak Loo Boan Tong! Sekarang ini sudah ada keputusannya tentang kepandaian kita berdua, apalagi hendak kau bilang?"

Oey Yong terkejut. "Dari Lim-an ke Kee-hin toh perjalanan limaratus lie lebih?" pikirnya. "Ah, bagaimana cepat larinya mereka berdua?"

Waktu itu terdengar suara Auwyang Hong: "Meski kau lari ke ujung langit, aku akan kejar kau sampai di sana!"

Ciu Pek Thong tertawa terbahak. "Kalau begitu, biarlah kita jangan gegares jangan tidur!" dia berkata nyaring.

"Biar kita terus kejar-kejaran untuk mendapat tahu, siapa yang larinya paling kencang, siapa yang paling ulet. Kau berani atau tidak?!"

"Baik!" menyambut Auwyang Hong. "Mari kita lihat siapa yang akan lebih dulu mampus kecapaian!"

Sebenta saja terdengar perkataan dan tertawanya Auwyang Hong dan Ciu Pek Thong berdua, atau sejenak kemudian, suara mereka terdengar sudah jauh mungkin di luar belasan tombak.

Koan Eng dan Yauw Kee duduk menjublak. Tak tahu mereka siapa kedua orang itu, mereka heran. Apa perlunya dua orang itu muncul di tengah malam buta rata? Saking ingin tahu, mereka bangun berdiri, terus sambil berpegangan tangan mereka bertindak ke pintu.

Oey Yong sendiri berpikir: "Mereka berdua hendak menguji kekuatan kaki mereka, mestinya ayah menyaksikan mereka itu."

Benar saja, segeralah terdengar suara Koan Eng, "Ah, aneh! Mana Couwcu?"

"Lihat di sana!" berkata Yauw Kee. "Bukankah di sana ada bayangan tiga orang? Bayangan yang paling belakang itu mirip sama bayangan couwsu."

"Ya, benar!" berkata Koan Eng. "Kenapa dalam sekejap saja mereka sudah pergi begitu jauh? Siapakah itu dua orang yang lain? Mereka lihay sekali! Kita tidak dapat melihat mereka…"

Kata Oey Yong dalam hatinya: "Tidak peduli kamu melihat si bisa bangkotan atau si bocah tua bangkotan berandalan, untuk kamu berdua tidak ada faedahnya…"

Habis itu, Koan Eng dan Yauw Kee lega hatinya. Dengan kepergian Oey Yok Su sang kakek guru, mereka menganggap berdua saja di rumah makan itu. Bukankah Sa Kouw pun pergi tidak karuan paran?

Koan Eng lantas merangkul pinggang langsing dari istrinya si pengantin baru. "Adikku, apakah namamu?" ia menanya perlahan.

Nona Thia tertawa. "Aku tidak hendak membilangi kamu. Kamu terkalah!"

Koan Eng pun tertawa. "Kalau bukan kucing kecil tentulah anjing cilik, !" katanya.

"Semaunya bukan!" kata si nona, kembali tertawa.

"Itulah si biang kutu gede!" Koan Eng tertawa pula. Dengan "biang kutu gede" dimaksudkan harimau.

"Oh, kalau begitu tak dapat aku menangkapnya!" katanya. Nona Thia berontak, ia melompat ke meja. Koan Eng mengejar sambil tertawa-tawa.

Demikian mereka main kejar-kejaran, berputar¬-putaran, suara tertawa mereka ramai. Samar-samar Oey Yong menampak bayangan mereka di antara sinar bintang-bintang, ia terus mengawasi, mulutnya tersenyum sendiri.

"Eh, Yong-jie, coba kau terka, dapatkah dia menyandak nona Thia atau tidak?" tiba-tiba Kwee Ceng menanya.

"Dia bakal pasti tercandak!" jawab si nona.

"Kalau sudah kena ditangkap, bagaimana?" Kwee Ceng menanya pula.

Oey Yong tidak dapat menjawab. Pertanyaan itu menggerakkan hatinya. Justru itu terdengar suaranya Koan Eng, tandanya ia telah berhasil menyandak dan membekuk Yauw Kee, lalu keduanya saling merangkul, kembali ke bangku. Mereka bicara dan tertawa dengan perlahan. Bukan main gembiaranya mereka itu.

Tangan kanan Oey Yong tetap beradu sama tangan kiri Kwee Ceng, ia merasakan telapak tangannya si anak muda makin lama makin panas, tubuhnya pun bergoyang ke kiri dan ke kanan, bergoyang makin lama makin keras. Ia menjadi terkejut.

"Engko Ceng, kau kenapa?" ia menanya.

Kwee Ceng masih belum sembuh total, bersenda guraunya Koan Eng dan Yuaw Kee mengganggu pemusatan pikirannya, lebih-lebih ia berada berduaan saja sama Oey Yong. Sulit dia menguasai dirinya, maka tanganya menjadi panas, tubuhnya bergoyang. Ia tidak jawab si nona, hanya ia ulur tangan kanannya memegang pundak si nona.

Oey Yong bertambah khawatir. Pemuda itu bernapas memburu keras, hawanya pun bertambah panas.

"Engko Ceng, hati-hati!" ia memperingatkan, "Kau tenangkan dirimu, kau tetapkan hatimu!"

"Aku gagal, Yong-jie," menyahut Kwee Ceng, yang hatinya goncang. "Aku…aku.." Habis berkata, ia mencoba bangun untuk berdiri.

"Jangan bergerak!" Oey Yong berteriak saking bingungnya. Ia gugup.

Kwee Ceng duduk lagi, ia mainkan pernapasannya. Ia merasakan hatinya ruwet, dan dadanya pun seperti hendak meledak.

"Yong-jie, kau tolonglah aku, tolong…" ratapnya. Kembali ia hendak berbangkit bangun.

"Jangan bergerak!" Oey Yong melarang pula. "Begitu kau gerak, aku akan totok dirimu!"

"Benar, lekaslah kau totok!" kata Kwee Ceng. "Aku tidak dapat menguasai diriku lagi…"

Oey Yong menjadi sangat bingung. Ia tahu, kalau ia menotok, habis sudah latihan mereka berdua, yang telah dilakoni dengan susah payah, dikemudian hari mereka harus berlatih lagi dari awal.

Tapi Kwee Ceng menghadapi bahaya, asal ia berdiri, maka terancamlah jiwanya. Tapi ia tak dapat bersangsi, ia tidak boleh berayal lagi. Dengan menggertak gigi, ia gerakkan tangan kirinya, dengan tipu "Lan-hoat Hut-huat-ciu", ia menotok jalan darah ciang-bun di tulang rusuk ke sebelas dari dada kiri si pemuda.

Tenaga dalam Kwee Ceng telah terlatih sempurna sekali, ia dapat menggunakan itu secara wajar, maka waktu jari si nona hampir sampai pada sasarannya, ia berkelit dengan sendirinya. Dua kali Oey Yong menotok, gagal. Ketika ia hendak mengulangi untuk ketiga kalinya, mendadak lengan kirinya tercekal keras, lengan itu kena ditangkap Kwee Ceng.

Cuaca ketika itu sudah mulai terang. Oey Yong berpaling mengawasi si anak muda. Ia mendapatkan sepasang mata orang merah bagaikan api. Ia terkejut. Ia pun merasa tangannya ditarik. Mulut Kwee Ceng mengasih dengar suara tak tegas, terang ia kacau otaknya. Terpaksa ia menggerakkan pundaknya, membentur tangan orang. Dengan begitu duri dari baju lapisnya mengenai daging si anak muda.

Kwee Ceng kaget kesakitan, ia tertegun. Justru waktu itu, kupingnya dapat menangkap keruyuknya ayam jago. Mendadak saja, otaknya menjadi terang dan sadar. Dengan perlahan ia lepaskan cekalannya, ia mengasih turun tangannya. Ia pun malu hingga merasa jengah sendiri.

Oey Yong mengawasi. Di jidat anak muda terlihat keringat mengetel. Kulit muka orang pun lesu dan pucat sekali. Tapi, meskipun itu semua, ancaman bahaya sudah lenyap. Maka legalah hatinya, ia menjadi girang.

"Engko Ceng, kita sudah melewati dua hari!" katanya.

"Plok!" demikian satu suara nyaring. Nyata Kwee Ceng telah menggaplok mukanya sendiri. "Sungguh berbahaya!" katanya. Ia masih hendak menggaplok lagi si nona mencegah.

"Jangan, itu tak ada artinya!" kata Oey Yong tertawa. "Kau ketahui lihaynya Loo Boan Tong, dia masih tak sanggup mempertahankan diri dari suara seruling ayahku, apapula kau tengah terluka parah?"

Tanpa terasa, karena ancaman bahaya itu, Kwee Ceng dan Oey Yong sudah memasang omong. Mereka lupa keadaan mereka, tidak ingat lagi untuk main berbisik saja.

Koan Eng dan Yauw Kee tengah kelelep asmara, mereka tidak mendapat dengar, tetapi tidak demikian dengan Auwyang Kongcu di ruang dalam. Pemuda ini memasang kupingnya, hingga ia mengenali suaranya Oey Yong. Ia kaget berbareng heran. Ia masih mendengar lagi tapi suara lantas sirap. Ia menjadi sangat menyesal karena kedua kakinya luka parah hingga tak mampu berjalan. Tetapi ia ingin berjalan pula, maka terpaksa menggunakan kedua tangannya, yang dijadikan seperti kaki, hingga tubuhnya terangkat ke atas, kakinya naik tinggi sedangkan kepalanya berada di bawah!

Koan Eng bersama pengantinya berdiri berendeng, tangan kirinya merangkul leher istrinya itu, terletak di pundak istrinya. Ia terkejut ketika kupingnya mendengar suara berkerisiknya rumput, segera ia menoleh. Maka terlihatlah seorang berjalan dengan kedua tangan di jadikan kaki. Ia segera berbangkit seraya mencabut goloknya.

Auwyang Kongcu telah terluka parah, ia pun sudah kelaparan, tubuhnya menjadi sangat lemah, ketika ia lihat berkelebatnya sinar golok, kagetnya tak kepalang, tidak ampu lagi ia roboh pingsan.

Koan Eng melihat orang tengah sakit, ia lompat mengasih bangun, buat dikasih duduk di atas bangku, tubuhnya disenderkan pada meja. Selahi suaminya menolong orang, Thia Yauw Kee menjerit kaget. Ia tidak usah mengawasi lama karena orang itu adalah Auwyang Kongcu, yang di Poo-ceng telah menangkap dirinya.

Koan Eng menoleh karena jeritan istrinya. Ia terkejut mendapatkan muka si istri, yang seperti orang sangat ketakutan.

"Jangan takut," ia menghibur. "Dia telah patah kakinya."

Tapi istrinya menyahut lain. "Dia orang jahat, aku kenal dia!" demikian sahutnya.

"Oh!" seru Koan Eng tertahan.

Auwyang Kongcu sadar. "Bagi aku nasi, aku lapar sekali," ia memohon.

Yauw Kee mengawasi. Ia melihat orang bermata coleng dan beroman sangat kucel, timbul rasa kasihannya. Ia memang berperangai halus dan pemurah hati, ia menjadi tidak tega. Ia menghampiri kuali untuk mengisikan satu mangkok nasi, kemudian ia angsurkan pada pemuda yang celaka itu.

Auwyang Kongcu menyammbut, terus ia makan. Habis satu mangkok, ia minta lagi, maka habislah tiga mangkok, setelah itu ia merasa tenaganya pulih. Ia mengawasi Yauw Kee. Mendadak timbul pula pikiran yang buruk.

"Mana nona Oey," ia tanya.

"Nona Oey yang mana?" Koan Eng balik menanya.

"Nona Oey putrinya Oey Yok Su dari Tho Hoa To," Auwyang Hong menjawab.

"Oh, kau kenal nona Oey?" kata Koan Eng. "Kabarnya dia sudah menutup mata…"

Pemuda itu tertawa. "Ah, kau hendak memperdayaku?" katanya. "Terus-terang aku telah mendengar suaranya barusan!"

Terus dengan mendadak ia menekan meja dengan tangan kirinya, kemudian tubuhnya melesat, hingga dilain saat ia sudah berdiri pula dengan kedua tangannya. Ia berputaran di ruang itu, mencari Oey Yong. Sia-sia ia mencari, maka ia memasang mata sambil memasang kupingnya. Ia mengawasi ke arah darimana datangnya suara Oey Yong, dari arah timur. Tapi di situ ada tembok, tidak ada pintu. Ia sangat cerdas, tak usah berpikir lama, ia lantas mencurigai lemari.

"Mesti ada rahasianya di situ," demikian pikirnya.

Maka ia lantas menarik meja, dibawa ke depan lemari itu, kemudian ia naik ke atas meja, segera membuka daun lemari. Ia menyangka ada pintu rahasia di situ, tapi ia kecele. Ia melihat bagian dalam lemari yang hitam dan kotor. Ia berputus asa akan tetapi pikirannya bekerja terus. Maka terlihatlah olehnya mangkok besi, bahkan di situ ia mendapatkan beberapa tapak jari tangan, yang masih baru. Mendadak hatinya tergerak. Segera ia mengulur tangan, meraih mangkok itu. Ia menarik tetapi mangkok tidak bergeming. Ia tidak mau sudah, sekarang ia memutar. Mangkok itu terus bergerak, ia memutar terus. Maka segeralah terdengar suara, disusul bergeraknya pintu rahasia hingga di sana terlihat Oey Yong dan Kwee Ceng lagi duduk di dalam kamar rahasia.

Bukan main girangnya kongcu ini melihat si nona, hanya menampak Kwee Ceng ada beserta nona itu, ia berbalik menjadi kaget berbareng iri dan cemburu.

"Adikku, apakah kau tengah berlatih?" ia menanya. Ia melihat dua orang itu berdiam saja.

Semenjak tadi Oey Yong merasa pasti rahasianya bakal ketahuan. Ia telah mengawasi setiap gerak-¬gerik Auwyang Kongcu, ketika orang membuka lemari, ia lantas berpikir.

"Jangan bergerak," ia bisiki Kwee Ceng. "Aku akan pancing dia mendekat, lalu kau hajar dia dengan ang Liong Sip-pat Ciang untuk menghabisinya."

"Tetapi aku tidak dapat menggunakan tenaga di tanganku," Kwee Ceng membilang, berbisik juga.

Oey Yong masih hendak berbicara lagi, pintu sudah terbuka dan Auwyang Kongcu muncul di depan mereka, maka lekas-lekas ia mengasah otaknya: "Dengan cara bagaimana aku dapat menghalau dia hingga suka pergi jauh-jauh, supaya aku bisa melewatkan terus lima hari lima malam dengan tenang? Kalau aku membuka mulut, bisa celaka engko Ceng…Bagaimana sekarang?"

Auwyang Kongcu jeri terhadap Kwee Ceng, melihat orang berdiam saja, ia mengawasi dengan tajam hingga ia dapat melihat roman yang lesu, mukanya pucat. Dia lantas ingat pembilangan pamannya bahwa Kwee Ceng pernah dihajar dengan Kuntauw Kodok di dalam istana, kalau tidak lantas mati, si anak muda mestinya terluka parah. Maka sekarang, ia melihat keadaan Kwee Ceng dan menyaksikan sikap mereka berdua, sebagai orang cerdik, ia lantas dapat menduga duduknya hal. Untuk mendapat kepastian, ia hendak mencoba.

"Adik, kau keluarlah," ia berkata. "Buat apa berdiam di dalam kamar ini, membikin pikiran menjadi pepat…" Sembari berkata, ia mengulur sebelah tangannya, berniat menarik ujung baju si nona.

Oey Yong tidak menyahut, hanya ia angkat tongkatnya menghajar kepala orang. Auwyang Kongcu kaget, lekas ia berkelit. Hebat serangan itu, sebagaimana anginnya pun berkesiur keras. Ia lompat jumpalitan, turun dari meja.

Oey Yong menjadi sangat menyesal. Kalau dapat ia bergerak, ia bisa menyusulkan dengan serangan yang kedua, yang pasti tidak bakal gagal. Sekarang ia cuma bisa numprah terus, jengkelnya bukan kepalang.

Sementara itu Koan Eng dan Yauw Kee heran bukan main mendapatkan kamar rahasia itu serta di dalam ada orangnya, mereka sampai diam menjublak saja. Ketika kemudian mereka mengenali Oey Yong dan Kwee Ceng, waktu itu si nona Oey sudah menyerang Auwyang Kongcu, tetapi serangannya gagal.

Setelah itu, pemuda itu naik pula ke meja, untuk beraksi. Ia jadi berani karena ia melihat Oey Yong tidak bergerak untuk menyusul dirinya, dugaannya menjadi satu kepastian. Begitulah ia menyerang si nona, tangan siapa ia hendak tangkap untuk ditarik. Kalau Oey Yong menghajar dia dengan tongkat, ia senantiasa main berkelit. Kalau ada kesempatan, ia akan menotok.

Oey Yong kewalahan, tidak peduli ilmu tongkatnya lihay. Ia tidak berani bangun, untuk meninggalkan Kwee Ceng. Karena ini, lama-lama ialah yang kena terdesak.

Koan Eng dan istrinya melihat keadaan buruk nona Oey, dengan serentak mereka maju membantu. Mereka masing-masing menggunakan golok dan pedang.

Auwyang Kongcu melihat majunya suami-istri itu, ia tertawa lebar dan panjang, sambil tertawa tubuhnya bergerak, sebelah tangannya menyambar ke arah Kwee Ceng.

Pemuda itu melihat bahaya mengancam, akan tetapi ia tidak dapat menangkis atau berkelit, terpaksa ia tutup rapat kedua matanya untuk menantikan maut datang.

Oey Yong kaget bukan main, ia segera menyerang. Auwyang Kongcu sudah bersiap, begitu tongkat tiba, ia menanggapi mencekal, lalu menarik keras. Dalam tenaga, tentu saja nona Oey kalah, sedang sebelah tangannya tidak dapat ia gunakan. Bahkan ia khawatir sekali tangannya itu lepas dari tangan Kwee Ceng. Sekalipun tubuhnya terhuyung, ia berdaya untuk mempertahankan diri. Tidak ada jalan lain, terpaksa ia lepaskan tongkatnya, tangannya itu dipakai merogoh ke dalam sakunya, meraup jarumnya, dengan apa ia menyerang ke arah musuh yang licik itu.

Auwyang Kongcu terkejut. Jarak di antara mereka cukup dekat, ketika ia melihat barang berkeliauan, lantas menjatuhkan diiri rebah di atas meja. Tanpa berkelit secara demikian, pastilah ia celaka. Justru itu, Koan Eng datang dengan bacokannya. Kembali Kongcu itu kaget, terpaksa ia menggulingkan diri ke kanan.

Golok Koan Eng mengenai meja, sebab sasarannya lenyap. Tengah Koan Eng membacok, jarumnya Oey Yong tiba, menggenai punggungnya. Ia kaget sebab dengan segera ia merasakan separuh tubuhnya tak dapat digerakkan. Maka ketika Auwyang Hong menyambar, ia kena dicekuk tanpa berdaya. Sebat luar biasa, keponakannya Auwyang Hong mencekal tangan orang.

"Bagus!" katanya.

Waktu itu Yauw Kee pun menyerang. Si nona kaget dan hendak menolong suaminya. Tapi Auwyang Kongcu terlalu lihay untuknya. Pemuda itu berkelit, sambil berkelit, sebelah tangannya menyambar ke dada orang. Ia kaget bukan main. Celaka kalau dadanya kena dipegang pemuda ceriwis iiu. Lekas ia mambacok. Auwyang Kongcu menarik pulang tangannya, tetapi dia telah berhasil menjambret baju orang, yang kena dia robek. Saking kaget, hampir Yauw Kee membikin pedangnya terlepas, mukanya pucat. Karena ini, ia tidak dapat maju lagi.

Auwyang Kongcu duduk numprah di atas meja. Ketika itu, pintu lemari, atau lebih benar pintu rahasia, sudah tertutup lagi. Ia bergidik sendiri kapan ia ingat serangan jarum berbisa dari si nona tadi.

"Budak ini benar-benar lihay," pikirnya. "Tapi biarlah dia, sekarang aku permainkan saja nona Thia, aku tanggung mereka berdua bakal jadi kacau pikirannya, rusak semadhinya. Sampai waktu itu, aku tentu sudah mempunyai daya untuk menguasai mereka…"

Mengingat itu, bukan main girangnya pemuda itu. "Eh, nona Thia," ia berkata kepada Yauw Kee. "Kamu menghendaki dia mati atau hidup?"

Ia maksudkan Koan Eng, yang sudah tidak berdaya itu. Ia sudah pikir, nona Thia tidak dapat dilawan dengan keras, mesti dengan halus, supaya ia suka menyerah sendiri. Jalan itu ialah Koan Eng harus dipakai sebagai alat.

Yauw Kee bingung bukan main. Ia lihat suaminya menutup kedua matanya, tubuhnya tak bergeming.

"Auwyang Kongcu," katanya terpaksa. "Dia dengan kau tidak ada bermusuhan, aku minta sukalah kau bebaskan dia…"

"Haha!" tertawa si anak muda. "Kiranya kamu kaum Coan Cin Pay juga ada harinya minta-minta kepada orang lain!"

"Dia…dialah murid dari Thoa hoa To, jangan kau celakai dia…" kata pula si nona.

"Siapa suruh dia membacokku?" kata si anak muda tetap tertawa. "Jikalau bukannya aku berkelit dengan cepat, apakah batok kepalaku masih ada di batang leherku? Jangan kau gertak aku dengan nama Tho Hoa To! Oey Yok Su itu mertuaku!"

Yauw Kee tidak tahu orang bicara benar atau mendusta. "Kalau begitu kau yang terlebih tua, kau bebaskanlah dia," kata pula ia. "Biarlah dia menghanturkan maaf padamu."

"Mana bisa gitu gampang, he?" Auwyang Kongcu pula. "Jikalau kau menghendaki aku melepaskan dia, kau mesti menerima baik permintaanku."

Yauw Kee mengawasi paras orang, ia menduga orang bermaksud tidak baik, maka ia lantas tunduk, tidak menyahut.

"Kau lihat!" berkata Auwyang Kongcu, tiba-tiba. Ia mengangkat tangannya menghajar ujung meja hingga ujung meja itu semplak seperti bekas dibacok.

Yauw Kee terkejut. "Suhu juga tidak selihay dia ini," pikirnya.

Auwyang Kongcu mewariskan kepandaian Auwyang Hong, sang paman, maka dia menang banyak daripada Sun Put Jie. Ia senang mendapatkan si nona berkhawatir.

"Begini permintaanku," kata dia. "Apa yang aku perintahkan kau harus lakukan, jikalau kau tidak menurut, maka leher dia akan aku bikin macam begini!" Dia mengasih contoh dengan ancaman tangannya, seperti tadi ia membacok meja, tetapi kali ini ia tujukan kepada batang leher Koan Eng.

Nona Thia kaget hingga menjerit.

"Kau menurut atau tidak?" Auwyang Kongcu tanya.

Dengan terpaksa Yauw Kee mengangguk.

"Bagus!" seru keponakan Auwyang Hong. "Begini barulah anak manis! Nah, pergilah kau menutup pintu!"

Yauw Kee berdiri diam.

"Kau dengar tidak kataku?" Auwyang Kongcu membentak.

Takut Yauw Kee, maka dengan terpaksa, dengan hati berdebaran, ia menutup pintu.

"Bagus!" anak muda itu tertawa girang. "Tadi malam kamu berdua menikah, aku mendengarnya dengan nyata, cuma anehnya, di dalam kamar pengantin, kamu tidak membuka pakaian. Di kolong langit ini tidak ada suami-istri seperti kamu! Sekarang kau loloskanlah semua pakaianmu, sepotong juga tak boleh ketinggalan. Jikalau kau tidak menurut, segera aku kirim suamimu ke alam baka, hingga kau lantas menjadi janda muda!"

Koan Eng tidak dapat menggerakkan kaki tangannya, tetapi kupingnya mendengar segalanya dengan nyata dan matanya melihat segala sesuatu, maka ia murka bukan main, hingga matanya seperti mau melompat keluar, hatinya seperti mau meledak. Ia hendak meneriakkan istrinya jangan menuruti permintaan itu, supaya istri itu pun melarikan diri, tapi celaka, ia tidak dapat membuka mulutnya.

Sementara itu Oey Yong di dalam kamarnya telah siap sedia. Ia yang mengunci pula pintu rahasia selagi Auwyang Kongcu merobohkan Liok Koan Eng. Ia mencekal pisaunya kalau-kalau si anak muda menyerang untuk kedua kalinya. Maka ia kaget, mendongkol berbareng gusar mendengar Auwyang Kongcu menitah Yauw Kee melepaskan pakaiannya untuk bertelanjang bulat. Dilain pihak, dasar sifatnya kekanak-kanakan, ia ingin melihat Yauw Kee akan meluluskan atau tidak permintaan kongcu Auwyang itu…. Maka itu masih menantikan….

"Mengapa sulit untuk meloloskan pakaian?" berkata pula Auwyang Kongcu. "Ketika kau dilahirkan dari dalam perut ibumu, apakah kau pun berpakaian? kau bilang, kau hendak melindungi mukamu atau jiwanya dia?" Kembali ia menuding kepada Koan Eng.

Nona Thia berdiam, otaknya bekerja keras. "Nah, kau bunuhlah dia!" kata dia akhirnya, suaranya dalam.

Auwyang Kongcu melengak. Sungguh dia tidak menyangka si nona dapat memberikan jawaban itu. Itu menjadi terlebih kaget ketika ia melihat nona itu mengayun pedangnya ke arah lehernya sendiri. Lantas ia menimpuk dengan sebatang jarum, jarum Touw-kut-ciam, maka jatuhlah pedang di tangannya nona itu.

Yauw Kee membungkuk, untuk menjumput pula pedangnya itu. Tiba-tiba: "Pengurus hotel! Pengurus hotel!"

Suaranya seorang wanita, memanggil pemilik hotel. Yauw Kee mendapat harapan. Setelah mencekal pedangnya, ia lompat ke pintu, segera membukakan. Maka ia melihat seorang wanita muda, yang pakaiannya putih, berdiri di muka pintu, rambutnya dibungkus dengan kain putih juga dan dipinggangnya tersoren sebatang golok. Dia beroman kucel tetapi itu tidak menutupi kecantikannya. Ia tidak kenal nona itu tetapi dia mau anggap orang adalah penolongnya.

"Silahkan masuk, nona!" katanya cepat.

Nona itu berdiri bengong melihat "pemilik" rumah berpakaian mewah tetapi tangan mencekal pedang. Ia mengawasi sekian lama, baru ia berkata: "Di luar ada dua peti mati, bolehkah dibawa ke dalam?"

Kalau di dalam rumah orang biasa, pasti sekali jenazah orang tidak dapat dibawa masuk, lain adalah dengan rumah penginapan, bahkan kali ini dalam suasana luar biasa itu. Untuk Yauw Kee, jangan kata baru dua buah, seratus pun ia akan mengijinkannya dibawa masuk.

"Baik, baik!" sahutnya cepat. "Silahkan!"

Nona itu heran mendapatkan pelayanan istimewa dari "pemilik" rumah penginapan ini akan tetapi ia lantas menoleh keluar, menggapai. Maka lantas juga masuk delapan orang menggotong dua buah peti mati, di bawa ke ruang dalam. Ketika ia berpaling ke arah Auwyang Konngcu, ia kaget sekali, dengan segera ia menghunus golok dipinggangnya.

Auwyang Kongcu sudah lantas tertawa lebar. "Inilah dia jodoh yang telah ditakdirkan Thian!" katanya nyaring. "Dari jodoh telah tertakdir itu, orang tidak dapat meloloskan diri! Inilah peruntungan baik yang diantarkan sendiri! Jikalau peruntungan ini tidak diterima, sungguh durhaka!"

Nona itu bukan lain daripada Bok Liam Cu, yang pernah ia tawan. Sesudah bentrok hebat sama Yo Kang di Poo-eng, ludas sudah pengharapan nona Bok ini, hatinya menjadi tawar, cuma tinggal satu hal yang ia berati, maka itu ia lantas ke Tiong-touw (Peking) dimana ia ambil jenazah ayah dan ibunya untuk dibawa pulang ke dusun Gu-kee-cun di Lim-an, untuk dikubur di kampung halamannya.

Hebat untuknya, seorang wanita, membawa-bawa peti mati orang tuanya disaat negara demikian kacau. Ketika itu tentara Mongolia tengah menyerang negara Kim. Ia pun, ketika meninggalkan kampung halaman, usianya baru baru lima tahun, maka ia tidak ingat lagi kampung halamannya. Maka juga setibanya, begitu melihat pondokannya Sa Kouw, lantas ia mikir untuk singgah terlebih dahulu, sambil mencari keterangan.

Maka diluar sangkaannya, ia justru bertemu keponakannya Auwyang Hong. Tentu sekali ia tidak tahu nona itu dengan pakaian mewah tengah diperhina si anak muda. Ia belum pernah bertemu dangan nona Thia dan sekarang ia menyangka nona Thia itu adalah gula-¬gulanya pemuda itu. Dengan menghunus goloknya, ia lantas membacok si anak muda, setelah itu ia berlompat untuk lari keluar. Tetapi ia merasakan angin menyambar, dari orang yang lompat lewat diatasan kepalanya. Ia lantas membacok ke atasan kepalanya.

Auwyang Kongcu lihay sekali. Dengan tangan kanannya, dengan dua jeriji, dia menekan belakang golok, dengan tangan kiri, ia menangkap lengan si nona, maka sedetik itu, terlepaslah goloknya Liam Cu, hingga berbareng mereka jatuh ke atas sebuah peti mati. Keempat tukang gotong kaget hingga mereka berteriak, mereka roboh, peti matinya jatuh, mereka babak belur mukanya sebab terkena pikulan dan saling tubruk.

Dengan tangan kanan merangkul nona Bok, tangan kanan Auwyang Kongcu menghajar tukang-¬tukang gotong itu hingga mereka ini menjerit-jerit dan terus merayap, lari keluar, diturut oleh empat tukang gotong lainnya, hingga mereka tidak memikir untuk meminta upah lagi.

Selama kejadian itu, Yauw Kee lompat kepada Koan Eng, yang rebah di lantai, untuk dikasih bangun. Ia bingung sekali, tidak tahu ia bagaimana harus menyingkirkan diri.

Auwyang Kongcu melihat sikapnya Yauw Kee, dengan sebelah tangan menekan peti mati, sambil terus merangkul Liam Cu, ia lompat kepada nona Thia, yang mana ia terus peluk dengan tangan kanannya, setelah itu ia duduk di atas kursi. Sambil tertawa lebar, ia berkata:

"Adik Oey, kau juga datang ke mari!"

Sedangnya pemuda ini kegirangan, mendadak ada bayangan berlompat dari luar, masuk ke dalam, maka dilain saat ketahuanlah dia adalah Yo Kang!

Yo Kang ini, sehabis dihinakan Oey Yok Su, tidak meninggalkan Gu-kee-cun. ia sakit hati dan sangat ingin dapat melampiaskannya. Karena kerasnya hati, ia dengan perkenan Wanyen Lieh, memisahkan diri. Di luar Gu-kee-cun, dia berdiam di dalam pepohonan yang lebat. Diwaktu malam, ia melihat Oey Yok Su, Auwyang Hong dan Ciu Pek Thong bertiga mondar-¬mandir, tentu sekali terhadap mereka ia tidak bisa berbuat apa-apa.

Lantas paginya ia melihat Bok Liam Cu membawa jenazah orang tuanya. Diam-diam ia menguntit nona ini sampai di rumah Sa Kouw. Baru nona ini masuk ke dalam lantas tukang-tukang gotong peti itu lari serabutan. Ia menjadi heran, maka lantas ia memburu ke dalam. Di pintu ia mengintai, ia tidak melihat Oey Yok Su, sebaliknya ia mendapatkan Auwyang Kongcu duduk di kursi dengan air muka terang, dirangkulannya kiri kanan ada kedua nona cantik, Bok Liam Cu dan Thia Yauw Kee, yang lagi dipermainkan. Tidak ayal lagi, ia melompat masuk.

"Oh, siauw-ongya, kau telah kembali!" menegur Auwyang Kongcu ketika melihat pangeran itu.

Yo Kang mengangguk.

Auwyang Kongcu melihat muka orang muram, ia lantas menghibur. "Jangan kecil hati, jangan berduka, siauw-ongya," katanya. "Juga di jaman dulu Han Si pernah menerima penghinaan merangkak di bawah selangkangan orang: Seorang laki-laki harus dapat berlaku keras dan lunak. Itu tidak ada artinya. Kau sabar saja, kau tunggu sampai kembalinya pamanku nanti kau boleh melampiaskan sakit hatimu ini!" Ia menduga pangeran ini berduka karena bekas diperhina.

Yo Kang mengangguk lagi, tetapi matanya mengawasi Liam Cu. Auwyang Kongcu tertawa.

"Siauw-ongya," katanya, "Tidakkah kedua si cantik kepunyaanku ini tak ada kecelaannya?"

Kembali pangeran ini mengangguk. Auwyang Kongcu tidak tahu ada hubungan apa di antara si pangeran dengan Liam Cu, sebab waktu mereka berdua mengadu kepandaian di jalan besar di Tong-touw, ia tidak hadir bersama. Mulanya Yo Kang tidak memperhatikan si nona, sampai si nona itu mencintai dia dengan sungguh-sungguh, hingga ada janji untuk menikah, maka sekarang, melihat nona itu dalam rangkulan Auwyang Kongcu, hatinya panas. Ia dapat mengendalikan diri, ia tidak mengentarakan suatu apapun.

Lagi-lagi Auwyang Kongcu tertawa dan berkata: "Semalam ada orang menikah di sini, maka itu di dalam almari ada arak dan daging ayam! Siauw-ong tolong kau ambilkan, mari kita minum bersama. Nanti aku menyuruh kedua si cantik ini meloloskan semua pakaiannya, supaya mereka menari untuk menggembirakan kau minum arak!"

"Bagus!" sahut Yo Kang tertawa.

Bukan main panasnya hati Liam Cu melihat sikap Yo Kang ini, karenanya hatinya menjadi dingin, ingin ia membunuh diri di depan kekasihnya itu, supaya ia bebas dari penderitaan. Segera juga ia melihat Yo Kang mengambil arak dan ayam, kemudian duduk minum dan dahar bersama Auwyang Kongcu.

Auwyang Kongcu mengisikan dua cawan arak, ia bawa itu ke depan mulutnya nona itu, sembari tertawa ia kata:

"Mari minum arak dulu, baru kamu menari!"

Kedua nona ini gusarnya bukan main, hampir mereka pingsan. Tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Tubuh mereka sudah di totok pemuda itu. Ketika cawan arak ditempelkan ke mulut mereka, masih mereka tidak berdaya. Maka akhirnya, mereka mesti menenggak air kata-kata itu.

"Auwyang Sianseng," berkata kepada Yo Kang, "Sungguh aku mengagumi kepandaian kau! Mari aku beri selamat padamu dengan secawan arak, habis itu baru kita menonton tarian!"

Auwyang Kongcu tertawa bergelak, ia menyambut araknya, untuk dihirup kering. Habis itu ia menotok bebas Yauw Kee dan Liam Cu, cuma kedua tangannya masih menekan jalan darah mereka yang dinamakan sintong-hiat, yang adanya dipunggung. Ia kata:

"Baik-¬baik saja kamu mendengar perkataanku, dengan begitu kamu tidak bakal menderita, sebaliknya, kamu akan mendapat kesenangan!"

Liam Cu menunjuk kepada kedua peti mati itu. "Yo Kang!" katanya, bengis, "Kau lihat, jenazah siapakah itu?!"

Pangeran itu memandang ke peti mati yang ditunjuk. Yang pertama ia tampak tulisan tinta merah yang berbunyi: "Tay Song Gie-su Yo Tiat Sim Sim cie¬leng". Artinya, "Jenazah dari Yo Tiat Sim, orang gagah dari jaman ahala Song".

Sebenarnya hatinya terkesiap, tetapi ia menguatkan diri, ia menunjukkan sikap acuh tak acuh. Bahkan ia berkata kepada Auwyang Kongcu:

"Auwyang Sianseng, kau pegangi kedua nona manis ini, aku hendak meraba-raba kaki mereka, untuk membuktikan siapakah yang kakinya paling mungil…"

Auwyang Kongcu tertawa. "Siauw-ongya sungguh jenaka!" katanya. "Aku lihat tentulah kaki dia ini yang lebih mungil!" Dan ia meraba kakinya Thia Yauw Kee.

OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar