Ang Cit Kong bersama Ciu Pek Thong, Kwee Ceng dan Oey Yong berempat, dengan perahu kecilnya, berlayar ke daratan. Kwee Ceng duduk di belakang memegang kemudi. Oey Yong bicara tak habisnya menanyakan Ciu Pek Thong perihal pesiarnya di laut dengan ikan hiu. Agaknya ia sangat mengaguminya. Pek Thong pun gembira, hingga disaat itu ia ingin menangkap pula ikan hiu untuk pesiar bersama si nona. Kwee Ceng sementara itu mengawasi gurunya, air muka siapa beda daripada biasanya.
"Suhu, bagaimana kau merasa sekarang?" ia bertanya.
Cit Kong tidak menjawab, hanya napasnya memburu dan keras suaranya. Dia telah tertotok dengan ilmu totok Touw-kut Ta-hiat-hoat dari Auwyang Hong, walaupun dia sudah ditotok bebas, dia telah terluka dalam.
Ciu Pek Thong sedang gembira, ia tidak memperhatikan orang lagi menghadapi bahaya maut, tapi Oey Yong mengetahui keadaan gurunya, berulangkali ia mengedipi mata dan memberi tanda dengan tangannya agar si orang tua berandalan itu tak menerbitkan suara ribut yang mengganggu Pak Kay tapi si orang tua itu tetap saja ngoceh.
Oey Yong mengerutkan alis. "Kau hendak menangkap ikan hiu, tapi kau tidak punya umpannya, buat apa kau omong saja?" kata si nona akhirnya.
Loo Boan Tong tua tetapi seperti tak menghargai dirinya, ditegur orang muda, ia tidak mengambil peduli.
"Ada akalnya!" katanya selang sesaat, "Saudara Kwee, mari! Aku nanti tarik tanganmu, kau rendam separuh tubuhmu di dalam air!"
Kwee Ceng sangat menghormati kakak angkatnya, walaupun tidak tahu maksud orang, ia menurut. Tidak demikian dengan Oey Yong.
"Engko Ceng, jangan ladeni dia!" si nona mencegah. "Dia hendak pakai tubuhmu umpan guna memancing ikan hiu!" Nona ini dapat menerka maksud orang.
"Benar!" Pek Thong bersorak. "Begitu lekas ikan hiu itu datang, nanti aku sambar dia dan mengangkatnya ke atas. Kau boleh percaya, hiu itu tidak akan melukai kau!"
"Tapi perahu kita ini kecil, heranlah kalau perahu tak karam!" berkata Oey Yong.
"Karam itu lebih baik lagi!" berkata Loo Boan Tong. "Kita boleh sekalian turun ke laut untuk pelesiran!"
"Habis bagaimana dengan guru kami?" menanya si nona. "Apakah kau tidak menghendaki dia hidup terus?"
Pek Thong menggaruk-garuk kepalanya, tak dapat ia menjawab. Hanya kemudian ia persalahkan Auwyang Hong yang melukai Pak Kay.
"Jikalau kau masih ngoceh tidak karuan, kita bertiga tidak sudi bicara pula denganmu!" mengancam Oey Yong, yang agaknya habis sabar.
Pek Thong mengulur lidahnya, ia tidak berani mementang. Ia lantas menyambut pengayuh dari tangannya Kwee Ceng untuk mengayuh.
Daratan tak jauh nampaknya, tetapi untuk tiba di tepian, mereka mesti memakan waktu sampai langit mulai gelap. Karena itu, terpaksa mereka bermalam di pesisir. Besoknya pagi ternyata penyakit Ang Cit Kong bertambah berat. Kwee Ceng berduka dan sangat berkhawatir hingga ia menangis.
Pak Kay sebaliknya tertawa. "Walaupun aku hidup seratus tahun lagi, akhirnya toh aku mesti mati," katanya. "Anak yang baik, aku hanya mempunyai satu keinginan, kamu pergilah untuk mendapatkannya!"
Pek Thong memegat: "Si makhluk berbisa bangkotan itu, melihat cecongornya tidaklah senang aku, maka itu, kalau kau mati, kau matilah, kau legakan hatimu, nanti aku balaskan sakit hatimu, akan aku bunuh mampus!"
Ang Cit Kong tertawa pula. "Membalas sakit hati?" tanyanya. "Itu bukan keinginanku! Sebenarnya aku menghendaki dahar masakan Wanyoh Ngo-tin-kwee dari istana kaisar."
Tadinya tiga kawan itu menyangka pesan terakhir itu adalah urusan yang sangat besar, tidak tahunya urusan gegares, maka legalah hati mereka.
"Itu gampang suhu," Oey Yong lantas berkata, "Dari sini tak terpisah jauh dengan kota Lim-an, nanti aku pergi ke istana kaisar untuk mencuri beberapa mangkok masakan untuk kau dahar sepuasnya."
"Aku juga ingin dahar!" Pek Thong menyelak.
Oey Yong mendelik pada "Bocah" bangkotan itu. "Tahu apa kau tentang makanan lezat atau tidak?!" tegurnya.
"Wanyoh Ngo-tin-kwee itu, sekalipun di dalam istana tak gampang dibikinnya," Ang Cit Kong mengasih tahu. "Ketika dulu aku bersembunyi selama tiga bulan di dapur istana, cuma satu kali aku pernah merasainya. Lezatnya masakan itu, kapan aku ingat, membikin aku mengeluarkan ilar…" "Kalau begitu, aku ada punya satu pikiran," Pek Thong turut bicara. "Kita pergi mencuri koki raja, kita suruh dia masak untuk kita."
"Pikiran Loo Boan Tong ini tak buruk," Oey Yong bilang.
Bukan main girangnya Pek Thong dipuji si nona. Sebaliknya Ang Cit Kong menggeleng kepala.
"Tak dapat itu dilakukan," kata Pengemis dari Utara. "Barang hidangan itu, segalanya mesti istimewa, sampai baranya, mangkoknya juga, kalau tidak, rasanya tidak lezat, salah sedikit pun tidak boleh. Paling benar kita pergi sendiri ke istana untuk memakannya."
Tiga orang itu tak takut pergi ke istana. "Itu memang paling bagus!" kata mereka bareng. "Nah, mari kita berangkat sekarang!"
Kwee Ceng lantas menggendong gurunya, dibawa ke desa yang berdekatan. Di situ mereka minta nasi dan arak, untuk menangsal perut. Mereka hendak membayar uang makanan ketika mereka mendapat kenyataan kantung mereka kosong.
Orang yang mempunyai rumah itu seorang nyonya, dia baik budi, bukan saja tidak menghendaki uang, bahkan ia mengantarkannya ke kota.
Cit Kong berempat menghanturkan terima kasih, lantas mereka pamitan. Ketika melewati sebuah rumah gadai, mendadak Pek Thong gusar dan berseru:
"Ini dia usaha membunuh orang tanpa melihat darah!" Lantas ia hendak menyerbu untuk merampas uang dari pengadaian itu.
"Buat apa terburu nafsu?" Oey Yong mencegah. Ia loloskan gelang rambutnya, ia masuk ke dalam rumah gadai itu, untuk menggadaikan itu sebesar empatbelas tail perak, kemudian mereka mencari hotel dimana mereka beristirahat. Sehabis bersantap, Kwee Ceng bertiga tidak melihat Oey Yong ada bersama.
Berkata Pek Thong kepada adik angkatnya: "Istrimu itu lihay, kalau aku Loo Boan Tong melihatnya, aku takut sekali!"
Kwee Ceng tersenyum. Tidak lama terlihat Oey Yong muncul dari luar dengan wajahnya berseri-seri.
"Kenapa kau takut padaku?" tanyanya pada si tua berandalan.
Pek Thong mengawasi, ia melihat rambut orang ada gelang emasnya. "Eh, kenapa kau lantas menebusnya kembali?" ia tanya heran. "Kalau begitu, kita mesti mencari daya untuk membayar uang sewaan kamar dan makanan kita ini…"
Oey Yong tidak segera menjawab, hanya dari sakunya ia tarik keluar empat kantung uang.
"Untuk apa mesti ditebus?" katanya tertawa. "Rumah gadai itu akulah yang usahakan, maka berapa banyak aku menghendaki, berapa banyak aku boleh ambil!"
Pek Thong kagum bukan main orang dapat pergi dan pulang dengan cepat untuk mengambil balik gelangnya berikut uang, maka ia memberikan pujian. Katanya:
"Ini nona kecil benar-benar dapat mewariskan kepandaian keluarganya, dia pandai sekali!"
"Jikalau aku dibandingkan sama Biauw Ciu Sie-seng yang menjadi guru nomor dua dari engko Ceng, kepandaianku ini sungguh tidak berharga setengah peserpun!" kata si nona tertawa.
"Oh, ada orang yang demikian lihay?" kata Pek Thong. "Aku ingin bertemu dengannya!"
Sementara itu terlihat sakitnya Ang Cit Kong bertambah berat sedang di kota itu tidak ada tabib terkenal, maka Kwee Ceng bertiga menyewa sebuah kereta keledai untuk Pak Kay, dengan itu mereka berangkat menuju ke utara, ke kota Lim-an.
Pada suatu hari tibalah mereka di sungai Cian Tong, darimana mereka pergi ke luar kota Lim-an. Mereka tidak keburu masuk ke dalam kota karena cuaca mulai gelap, burung-burung gowak tengah terbang pulang. Karena itu mereka memikir mencari rumah penduduk, buat menumpang bermalam. Mereka melihat tidak jauh dari situ ada aliran air yang mengitari tujuh atau delapan rumah.
"Kampung itu bagus, mari kita singgah di sana?" Oey Yong mengajak.
"Bagus apa?" tanya Pek Thong, matanya mencilak.
"Kau lihat, bukankah pemandangannya indah bagaikan gambar?" si nona bilang.
"Kalau indah bagaikan gambar, habis bagaimana?" tanya Loo Boan Tong.
Si nona heran, hingga ia melengak. "Jikalau kau bilang jelek, kita jangan singgah di sini," katanya kemudian. "Tapi kita tidak dapat pergi ke lain tempat…"
"Kalau kamu tidak pergi perlu apa aku pergi sendiri?" berkata si orang tua yang lagi kumat berandalannya.
Sementara itu mereka sudah tiba di kampung itu. Nyata itulah sebuah kampung rudin, sebab di sana sini telihat tembok-tembok runtuh. Di muka kampung sebelah timur terlihat sebuah warung arak, maka mereka menuju ke sana. Di bawah payon ada dua buah meja papan, mejanya tebal debunya.
"Hallo!" Pek Thong lantas memanggil.
Dari dalam muncul seorang nona umur tujuh - atau delapanbelas tahun, rambutnya awut-awutan tetapi rambut itu ditancap sebatang tusuk konde. Dia mementang matanya lebar-lebar mengawasi ketiga orang itu.
"Kasihkan aku nasi dan arak," Oey Yong minta.
Si nona menggeleng kepalanya.
"Kau tidak punya arak dan nasi, habis untuk apa kau membuka rumah makan?" menegur Pek Thong.
"Aku tidak tahu," sahut si nona, yang kembali menggoyang kepalanya. "Ah, kau benar-benar nona tolol!" kata Pek Thong.
Si nona tertawa. "Memang aku si Sa Kouw!" sahut nona itu.
"Sa Kouw" berarti "nona tolol"! Mendengar jawaban itu Oey Yong bertiga girang. Oey Yong terus masuk ke dalam menuju dapur untuk melihat-lihat. Ia mendapatkan banyak galagasi. Nasi tinggal nasi dingin. Di atas pembaringan, tikarnya pun tikar butut. Itulah tanda kemelaratan, maka ia terharu.
"Apakah kau sendirian saja di sini?" ia menanya si nona rumah. Sa Kouw mengangguk sambil tersenyum.
"Ibumu?" Oey Yong tanya pula.
"Sudah mati," sahut si nona. Ia mengusap matanya, seperti mau menangis.
"Ayahmu?" Nona itu menggeleng kepala tanda tak tahu. Oey Yong melihat tangan dan muka orang kotor, seperti sudah beberapa bulan tidak pernah ketemu air, maka di dalam hatinya ia berkata: "Taruh kata dia masak nasi, tentu aku tak dapat mendaharnya…." Tapi ia toh menanya:
"Ada beras?"
Nona itu mengangguk, kembali ia tersenyum. Ia pergi mengeluarkan paso besar, yang isinya separuh. Oey Yong lantas turun tangan sendiri, mencuci beras dan memasaknya.
Kwee Ceng lantas pergi ke kampung sebelah barat dimana ia membeli dua ekor ikan serta seekor ayam, terus bersama Oey Yong ia kerjakan itu. Waktu nasi dan barang makanan matang dan disajikan, sang malampun tiba.
Oey Yong minta minyak, untuk memasang lampu, tapi Sa Kouw menggeleng kepala. Terpaksa nona Oey mencari sebatang cemara, ia sulut itu. Ia pergi ke dapur, mencari mangkok dan sumpit. Ketika ia membuka lemari, ia mencium bau busuk. Ia menyuluhi, maka terlihatlah tujuh atau delapan mangkok hijau yang sudah sombeng di sana sini. Di sininya ada belasan bangkai cecurut….
Kwee Ceng membantu mengambil mangkok.
"Pergi kau cuci bersih sekalian ambil beberapa batang cabang pohon untuk dipakai sebagai sumpit," berkata Oey Yong.
Si anak muda menurut, ia berlalu dengan mangkok kotornya. Oey Yong menjumput mangkok yang terakhir ketika ia merasakan mangkok itu dingin seperti es, beda dari mangkok biasa. Ia mengangkatnya, tapi mangkok itu diam di tempatnya seperti terpaku. Ia menjadi heran. Ia tidak berani memaksa mengambil, khawatir mangkok itu pecah. Ia hanya mencoba lagi tetapi kembali gagal.
"Mustahilkah karena dibiarkan lama di sini, mangkok ini penuh debu dan jadi nempel lengket karenanya?" ia berpikir. Maka itu ia mengawasi terus, sampai ia lihat mangkok itu karatan, sebab mangkok itu ternyata terbuat dari besi. Dengan sendirinya nona itu tertawa geli.
"Mangkok emas, mangkok perak, mangkok kumala, semuanya aku pernah lihat," katanya di dalam hati. "Tetapi belum pernah aku dengar ada mangkok besi."
Ia mencoba menarik dengan menggunakan sedikit tenaga, tetap mangkok itu tak bergeming. Ia heran bukan main. Mestinya mangkok itu dapat terangkat berikut papannya. Maka ia menduga papannyapun besi. Ia lantas menyentil. Ia mendengar suara nyaring. Benarlah dugaannya.
Oey Yong pegang mangkok itu, ia memutar ke kiri. Mangkok diam saja. Ia mencoba memutar ke kanan, mangkok itu bergerak sedikit. Ia memutar terus. Tiba-¬tiba mendengar suara keras, sebagian tembok memutar ke kanan, mangkok itu bergerak sedikit. Ia memutar terus. Tiba-tiba ia mendengar suara keras, sebagian tembok dapur terbelah dua, memperlihatkan lobang yang gelap. Dari situ lantas menghembus bau busuk, sampai si nona mau muntah, lekas-lekas ia lompat ke samping.
Kwee Ceng bersama Ciu Pek Thong mendengar suara si nona, mereka lantas datang melihat.
"Jangan-jangan ini rumah makan gelap," berkata Oey Yong, yang menjadi curiga. "Mungkin Sa Kouw berpura-pura tolol." Tiba-tiba ia berlompat ke samping nona tolol itu, yang berada di ruang dapur, kedua tangannya diulur untuk menangkap lengan orang.
Ruang itu gelap tetapi Sa Kouw mendengar suara angin, ia menarik tangannya dengan jurus "Melepas jubah menyerahkan kedudukan," setelah bebas, ia membalas menyerang, ke arah pundak orang.
Oey Yong menduga mungkin tidak bermaksud jahat hanya ia tidak menyangka nona itu demikian gesit dan serangannya pun ganas, ia menjadi kaget. Dengan tangan kiri ia menangkis, terus membangkol dengan tangan kanan ia menyerang dua kali beruntun. Setelah menyakinkan Ie-kin Toan-kut-pian, ia menjadi sebat sekali dan tenaganya bertambah, maka Sa Kouw lantas saja menjerit kesakitan karena lengannya kena terpukul, meski begitu, ia melawan terus.
Sungguh Oey Yong tidak menyangka, di dusun sepi itu ada rumah makan gelap, bahkan pelayannya seorang nona jorok, bahkan dia cukup gagah karena dia dapat bertahan sampai tujuh atau delapan jurus.
Kwee Ceng dan Pek Thong turut menjadi heran. Kemudian Pek Thong dengar suara anginnya Oey Yong berubah hebat, lantas ia berteriak:
"Eh, nona Oey, jangan kau ambil jiwanya!"
Selagi begitu, Kwee Ceng berjaga-jaga di sisinya Ang Cit Kong, ia khawatir ada penghuni jahat lainnya, yang bisa membokong gurunya. Beberapa jurus lagi, Oey Yong menghajar lengan orang hingga lengan itu dikasih turun, tak dapat digerakkan lagi. Kalau mau, ia dapat membinasakan, tetapi ia merasa kasihan.
"Berlutut!" ia menitah. "Akan aku beri ampun dirimu!"
"Aku tidak sudi!" menjawab nona itu, yang mendadak menyerang pula dengan tangan kanannya, bahkan jurusnya ada jurus "Lok Eng Ciang-hoat" ajarannya Oey Yok Su.
Oey Yong kaget dan heran. Sambil menangkis, ia menanya: "Darimana kau pelajari jurus Lok Eng Ciang-hoat? Siapakah gurumu?"
Nona tolol itu tertawa. "Aku tidak suka menjawab. Habis kau mau apa?" ia menantang.
Melihat suara orang tak lagi seperti orang tolol, Oey Yong mengulang serangannya, kedua tangannya bergerak saling susul dua kali, kemudian disusul serangan yang kelima, untuk menggertak, sebab berbareng dengan itu, kakinya bekerja.
"Bruk!" demikian Sa Kouw roboh terguling.
"Ah, kau memakai akal!" serunya. "Mari kita bertempur pula!" Ia terus merayap bangun.
Oey Yong tidak sudi memberi kesempatan, ia menubruk dan menindih, lalu merobek baju orang untuk dipakai mengikat tangannya.
"Bukankah Lok Eng Ciang-hoatku lebih baik daripada kepunyaanmu?" ia bilang.
"Kau menggunakan akal, aku tidak terima!" nona itu membelar. Dan ia mengulanginya perkataan itu.
Melihat si tolol sudah kena dibikin tidak berdaya, Kwee Ceng lari keluar, terus melompat naik ke atas wuwungan, mengawasi sekelilingnya. Ia tidak melihat apapun. Tapi ia turun ke bawah, ia jalan mengitari rumah makan itu. Rumah itu mencil dan pintunya pun cuma satu. Dengan merasa lega, ia masuk pula ke dalam.
Oey Yong tengah mengancam Sa Kouw dengan pisaunya diarahkan ke mata orang. "Siapa yang mengajari kau ilmu silat?" demikian tanyanya. "Lekas bilang! Kalau kau tidak suka bicara, nanti aku tikam mampus!"
Sa Kouw tidak menjadi takut, bahkan ia tertawa haha-hihi. Dia seperti tidak kenal bahaya, dia rupanya menyangka nona tetamunya tengah main-main dengannya. Oey Yong penasaran, ia ulangi pertanyaannya.
"Aku tidak mempunyai guru," sahut si tolol akhirnya. "Siapa yang membilang ada orang yang mengajar aku?"
"Budak ini tidak suka bicara, mari kita masuk ke dalam lobang ini untuk memeriksa," berkata Oey Yong kemudian. "Ciu Toako, tolong lindungi guruku serta menjaga budak ini. Engko Ceng, mari kau bersamaku…"
"Tidak, tidak!" Pek Thong menggoyangkan tangannya. "Aku pergi bersama kau!"
Si nona mengerutkan keningnya. "Tidak, aku tidak mau pergi bersama kau!" ia menolak.
Pek Thong lihay, usianya pun tinggi, entah kenapa, terhadap si nona tak berani membantah, bahkan sebaliknya, ia lantas memohon.
"Nona yang baik, lain kali aku tidak berani pula…" katanya.
Oey Yong lantas saja tertawa melihat kejenakan orang tua. Ia mengangguk. Pek Thong jadi sangat girang, lekas ia mencari dua cabang cemara, untuk disulut menyala, untuk dipakai ia menyuluhi ke dalam gua, yang ia asapkan sekian lama.
Oey Yong sendiri malah melemparkan sebatang cemara yang apinya menyala ke dalam lobang itu, setelah itu ia mendengar suara bentroknya batang itu dengan dinding. Maka teranglah tempat rahasia itu tidak dalam.
Dengan memimjam penerangan obor kayu cemara, orang memandang ke dalam gua. Tidak ada bayangan orang di dalam situ, tidak ada suara apa-apa. Maka tanpa bersangsi lagi, Ciu Pek Thong lantas bertindak masuk. Dia disusul oleh Oey Yong. Setelah memperhatikan beberapa saat, nyata gua itu ada sebuah kamar kecil.
"Kita terjebak, kita terjebak!" Pek Thong berseru-seru. "Tak bagus!"
Oey Yong sebaliknya mengeluarkan suara kaget. Dia melihat ke bawah dan nampak tulang belulang seorang manusia, yang rebah celentang. Pakaiannya sudah rusak, hingga tak dapat dikenali, semasa hidupnya dia orang macam apa. Di pojok timur pun ada tulang-belulang serupa, terletak di atas sebuah peti besi. Sebatang golok tajam panjang satu kaki tengah menancap di punggung tutup peti besi itu.
Pek Thong mendapatkan ruang kecil kotor dan seram dengan adanya tulang-belulang itu, tidak ada apa-apa yang luar biasa, tetapi karena Oey Yong masih memperhatikan segalanya, ia berlaku sabar untuk menemani, hanya kemudian, ia tak dapat menahan sabar pula.
"Nona yang baik," katanya, "Hendak aku pergi keluar, bolehkah?"
"Baiklah," menjawab si nona. "Pergi kau menggantikan engko Ceng, supaya ia datang ke mari."
Pek Thong girang bukan main, ia keluar seperti burung terbang, dilain saat Kwee Ceng datang masuk. Oey Yong mengangkat obor kayu cemaranya, untuk menyuluhi, supaya Kwee Ceng dapat melihat segalanya terutama tulang-belulang manusia, kemudian ia menanya bagaimana atau apa yang menyebabkan kematian dua orang itu.
"Dia ini tentu lagi hendak membuka besi itu, lantas ada orang yang membokong dari belakang," kata Kwee Ceng seraya menunjuk tulang-tulang di atas peti besi. "Yang di tanah itu, karena tulang-tulangnya pada patah, mesti diserang dengan tangan kosong."
"Aku juga menduga demikian, hanya masalahnya hal-hal disini membuat aku tidak mengerti," menyatakan si nona.
"Apa yang kau maksudkan?"
"Umpama Sa Kouw," sahut si nona. "Dia mengerti ilmu silat Lok Eng Ciang-hoat, benar ia menyakininya belum sempurna tetapi itu adalah pelajaran sejati. Darimana ia dapatkan itu? Dua orang ini mati disini, ada hubungan apakah di antara mereka dan Sa Kouw? Sebelum diketahui jelas semua ini, tak tentram hatiku…"
"Baiklah kita tanya pula nona itu," Kwee Ceng mengusulkan. Ia tidak mau menyebut nona itu nona tolol, karena ia sendiri sering dikatakan tolol.
"Menurut penglihatanku, dia memang benar-benar tolol," kata Oey Yong. "Dia tidak suka bicara, percuma kita menanya padanya. Mari kita memeriksa lagi dengan seksama, barangkali saja kita mendapat sesuatu."
Maka ia angkat obornya, menyuluhi dua perangkat tulang-belulang manusia itu. Ketika ia menyuluhi ke peti besi, di kaki itu ada suatu benda yang bergemerlap. Ia lantas jumput, sebuah pay emas dan di tengahnya ditabur dengan sebutir batu permata sebesar jempot tangan. Ia membalik pay itu, menampak sebaris ukiran huruf-huruf, bunyinya: "Cio Gan Keng, panglima kota Tiongciu, gelar Bu Kong Tayhu".
"Pay ini kepunyaan ini setan mati, pangkatnya bukan kecil," kata si nona.
"Seorang berpangkat tinggi terbinasa di sini, sungguh aneh," Kwee Ceng mengutarakan keherannnya.
Oey Yong memeriksa pula tulang-tulang di tanah, ia tidak dapatkan apa-apa, hanya tulang punggung itu rada munjul, maka ia mengoreknya dengan ujung cabang cemara, waktu debunya sudah berkisar, di bawah itu ada selembar besi. Ia kaget hingga berseru, cepat sekali ia sambar besi lempengan itu. Kwee Ceng pun berseru saking heran kapan ia telah melihat benda itu.
"Kau kenal ini?" Oey Yong tanya.
"Ya. Ini patkwa besi kepunyaan Liok Chungcu di Kwie-in-chung."
"Tapi belum tentu kepunyaan Liok Suheng sendiri."
"Mungkin. Melihat rusaknya pakaian, mayat ini mestinya sudah berada di sini sepuluh tahun."
Oey Yong berdiam akan tetapi otaknya bekerja. Habis itu ia sambar golok di atas peti besi itu, ia bawa ke depan matanya, melihat dengan teliti. Ia mendapatkan ukiran sebuah huruf "Kiok". Atas itu dengan kaget ia berseru: "Yang rebah di tanah ini adalah kakak seperguruanku!"
Kembali Kwee Ceng memperdengarkan suara heran.
"Menurut Liok Suheng, Kiok Suheng masih hidup, siapa tahu dia telah terbinasa di sini," berkata Oey Yong kemudian. "Engko Ceng, coba kau lihat ini tulang kakinya."
Kwee Ceng berdongko. "Kedua tulang pahanya patah," ia berkata. "Ah, ia telah dihajar patah oleh ayahmu…"
Si nona mengangguk. "Kakak seperguruan ini bernama Liok Leng Hong," ia memberi keterangan. "Pernah ayah menerangkan, di antara enam muridnya, Kiok Suheng ini paling pandai dan ia pun paling disayang…"
Belum habis ia berkata, Oey Yong sudah lompat untuk lari ke luar dari ruang rahasia itu. Kwee Ceng, yang merasa heran lari mengikuti. Oey Yong lari kepada Sa Kouw.
"Kau she Kiok, bukankah?" ia menanya. Sa Kouw tidak menyahut, ia hanya tertawa geli.
"Nona, apakah shemu?" Kwee Ceng menanya, sabar.
"Aku tidak tahu," menyahut nona itu menggeleng kepala.
Selagi dua orang itu hendak menanyakan terlebih jauh, Pek Thong menjerit-jerit; "Aku sudah lapar! Aku sudah lapar! Aku bisa mati kelaparan!"
"Benar," berkata Oey Yong. "Mari kita bersantap dulu." Ia membuka ikatannya Sa Kouw, ia ajak nona itu bersantap bersama.
Sa Kouw tidak menampik, ia tertawa, ia angkat mangkoknya dan dahar. Sembari bersantap Oey Yong tuturkan Cit Kong apa yang ia dapatkan di dalam kamar rahasia itu.
Pak Kay pun heran. "Rupanya orang she Cio itu menghajar mati suhengmu, lantas ia hendak membuka peti besi itu," katanya, mengutarakan dugaannya. "Tidak tahunya suhengmu itu belum mati dan ia menimpuk dengan golok."
"Melihat keletakannya, mungkin begitu kejadiannya," Oey Yong membenarkan. Ia lantas memperlihatkan golok lancip itu serta patkwa besi pada si nona tolol. Ia menanya, "Apakah kau tahu siapa punya ini?"
Melihat itu, wajah Sa Kouw berubah. Ia berpaling, agaknya ia berpikir, tapi ia tidak dapat mengingat apa-¬apa. Akhirnya ia menggeleng kepalanya, hanya tangannya memegangi golok itu, tak mau dilepaskan.
"Rupanya pernah ia melihat golok ini, sekarang dia tidak ingat," bilang Oey Yong.
Habis bersantap, sesudah memernahkan Ang Cit Kong, yang merebahkan diri untuk tidur, Oey Yong ajak Kwee Ceng pergi pula ke kamar gelap itu, untuk memeriksa terlebih jauh. Sekarang perhatian mereka ditujukan kepada peti besi, yang entah apa isinya.
Semua tulang di atas tutup peti disingkirkan. Gampang sekali mengangkatnya, sebab peti tidak dikunci. Peti itu menyinarkan cahaya bergemerlapan, sebab isinya adalah pelbagai macam batu permata.
Kwee Ceng hanya merasa aneh, tetapi Oey Yong tahu itulah harta besar sekali. Ayahnya biasa mengumpulkan permata tetapi tak sebanyak ini.
Nona Oey meraup permata itu, lalu ia melepaskan pula. Batu-batu itu mengasih dengar suara nyaring.
"Semua permata ini mesti ada riwayatnya," kata si nona kemudian. "Kalau ayahku ada disini, ia tentu mengetahuinya." Lalu ia menjelaskan kepada Kwee Ceng namanya setiap batu permata itu.
Kwee Ceng gelap untuk semua permata itu, belum pernah ia melihatnya, belum pernah ia mendengarnya.
Oey Yong meraup pula, sampai dalam. Tangannya membentur dasar peti besi. Ia merasakan lantai yang keras. Ia jadi menduga peti besi itu ada lapisannya. Ia lantas meneliti pinggiran peti. Sekarang ia melihat gelang kecil di kiri dan di kanan, yang tadinya kealingan batu-batu permata. Ia menggunakan kedua tangannya memegang sepasang gelang itu, lalu mengangkat. Untuk herannya, ia mendapatkan di dasar peti itu sejumlah barang kuno dari perunggu mestinya pun dari pelbagai jaman yang telah lampau. Jadi ini adalah benda-¬benda yang lebih berharga daripada batu-batu permata itu.
Masih ada lagi lain lapisan peti itu. Ketika lapisan ini pun diangkat, di dalam situ terlihat pelbagai gambar lukisan dan tulisan huruf segulung demi segulung.
"Mari bantu aku," si nona minta pada Kwee Ceng, untuk membeber gambar-gambar itu. Kesudahannya, ia menjadi heran dan kagum. Sebab ia melihat lukisan-¬lukisan dari Gouw Too Cu, Co Pa, Kie Jian dan Lie Houw-cu kaisar dari dinasti Tong Selatan, dan lainnya lagi, jumlahnya duapuluh lembar lebih. Dan semua itu pun barang-barang yang harganya luar biasa.
Saking kagum, Oey Yong tidak mau melihat lebih lama, semua itu ia masukkan ke dalam peti, lalu ditutup dengan rapi, kemudian sambil memeluk dengkul, ia duduk bercokol di atasnya. Ia berpikir keras.
"Ayahku pengumpul semua permata dan barang kuno, tetapi apa yang ia peroleh tidak ada satu sepersepuluh dari harta karun ini," pikirnya. "Kenapa Kiok Suheng demikian lihay hingga ia dapat memeproleh semua ini?"
Tidak sempat nona ini berpikir terus, ia mendengar suara nyaring Ciu Pek Thong, "He, keluar kamu semua! Mari kita pergi ke rumahnya kaisar untuk dahar Wanyoh Ngo-tin-kwee!"
"Kita pergi malam ini?" tanya Kwee Ceng.
"Lebih cepat satu hari lebih baik," berkata Cit Kong. "Kalau kita berlambat, aku khawatir tak dapat bertahan lebih lama lagi…"
"Suhu," berkata Oey Yong, "Paling cepat juga baru besok pagi kita dapat masuk ke dalam kota. Suhu jangan dengarkan ocehan Loo Boan Tong!"
"Ya, sudah, sudahlah!" berkata Ciu Pek Thong. "Memang sagalanya aku yang salah!" Terus ia menutup mulutnya.
Besoknya pagi, Oey Yong berdua dengan Kwee Ceng mematangi nasi, lalu mereka sarapan bersama-sama Sa Kouw. Oey Yong memikirkan tempat yang aman untuk menyimpan harta karun itu.
"Sudah, mari kita lekas pergi!" Pek Thong mengajaki. "Itu toh bukannya bendamu! Perlu apa kau capaikan hati?"
Si nona memikir, memang tempat itu adalah tempat yang paling aman. Bukankah harta karun itu sudah berdiam di dalam kamar rahasia itu untuk belasan tahun? Maka ia lantas bekerja, menutup rapat pula pintu rahasia dan benahkan segalanya seperti semula mereka datang.
Selama itu Sa Kouw tidak memperdulikan perbuatan orang, ia tidak tahu menahu, ia hanya lebih suka membuat main golok tajam itu. Ketika mau pergi, Oey Yong memberikan uang perak dua potong. Sa Kouw menerimanya untuk terus dilempar secara sembarangan ke atas meja.
"Jikalau kau lapar, pakailah uang ini untuk membeli beras dan daging," pesan Oey Yong.
Nona itu acuh tak acuh, ia cuma tertawa saja. Oey Yong sangat berduka, ia mengasihi nona tolol ini. Ia percaya pasti ada hubungannya sama Kiok Leng Hong, mungkin sanak atau muridnya. Ia pun tidak mengerti, orang tolol semenjak kecil atau hanya baru belakangan saja karena sesuatu serangan otak. Tadinya ia hendak mencari keterangan di kampung itu tetapi Ciu Pek Thong mendesak tak hentinya, terpaksa ia turut juga. Maka berempat mereka pergi menuju ke kota. Cit Kong tetap naik kereta.
Kota Lim-an ialah kota Hangciu yang tersohor indah, kota ini dijadikan kota raja oleh karena pemerintahan Song berpindah ke Selatan. Oey Yong berempat memasuki pintu kota timur, Cit Kong mendesak untuk pergi ke istana kaisar, dari itu mereka menuju ke pintu Lee-ceng-mui.
Pek Thong bertiga memandang istana yang indah, yang berukir dan bergambar dan juga dicat merah dan air emas. Wuwungannya ditutup dengan genteng kuningan yang berkilauan, yang juga diukir dengan naga-nagaan dan burung hong.
"Bagus!" Pek Thong berseru, kagum. "Mari kita masuk!"
Di muka istana ada serdadu-serdadu pengawal, mereka mendengar suara berisik itu, mereka melihat seorang tua dan sepasang muda-mudi mengiringkan kereta keledai, empat diantaranya lantas maju mendekat untuk menangkap. Mereka semua memegang kampak.
Pek Thong si berandalan gembira sekali, tidak perduli orang bertubuh kekar dan romannya garang, ia hendak maju melayani mereka.
"Jangan!" mencegah Oey Yong. "Mari kita lekas pergi!"
"Takut apa?!" mata Pek Thong mencelik. "Masa mereka dapat gegares aku?"
"Jikalau kau tidak mau dengar aku, lain kali aku tidak mau memperdulikan lagi dirimu!" kata Oey Yong yang terus mencambuk keledai hingga keretanya menggelinding cepat ke arah barat.
Kwee Ceng lantas menyusul. Pek Thong takut juga nanti ditinggal pergi hingga ia tidak dapat turut pesiar, ia turut pula berlalu dengan meninggalkan keempat pengawal pintu itu. Mereka ini tidak mengejar, hanya mereka menertawai. Mereka menduga itulah rombongan orang desa….
Oey Yong larikan keretanya ke tempat sepi di mana tidak ada orang lain, di situ ia berhenti.
"Kenapa tidak menerjang masuk ke istana?" kata Pek Thong. "Itu segala kantung nasi, mana mereka bisa mencegah kita?"
"Menerjang masuk memang tidak sukar," menyahut Oey Yong. "Tetapi kita datang ke mari untuk bertarung atau untuk pergi ke dapur raja mencari makanan? Dengan menerjang masuk, kau membuatnya gaduh, dengan begitu, mana bisa kau mendapatkan Wanyon Ngo-tin-kwee untuk guruku?"
Pek Thong berdiam, tak dapat ia menjawab. "Baiklah, kembali aku yang salah!" katanya kemudian.
"Dasarnya salah!" kata Oey Yong.
"Ya, sudahlah!" kata pula si tua berandalan itu. Ia terus perpaling kepada Kwee Ceng untuk mengatakan: "Wanita di kolong langit semuanya galak-galak, maka Loo Boan Tong tidak sudi menikah seumur hidupnya…"
Oey Yong tertawa. "Engko Ceng orang baik, orang tidak nanti menggalaki dia!" katanya.
"Kalau begitu, apakah aku bukannya orang baik?"
"Habis apa kau sebenarnya orang baik? Coba bilang, kau yang tidak hendak menikah atau si nona yang tak sudi menikah denganmu?"
Pek Thong miringkan kepalanya, ia tidak menjawab.
"Mari kita mencari penginapan dulu," Kwee Ceng dating menengahi. "Sebentar malam baru kita memasuki istana."
"Benar," kata Oey Yong. "Setelah suhu berdiam di hotel, nanti aku masak unntuk kamu dahar."
"Bagus, bagus!" Cit Kong memuji. Ia girang sekali.
Mereka lantas menuju ke Jalan Gie-gay, menyewa kamar di penginapan Kim Hoa. Oey Yong benar saja lantas pergi ke dapur untuk memasak tiga rupa barang hidangan, yang baunya lantas tersiar, hingga orang-orang di penginapan menanyakan pelayan, koki kesohor yang mana yang pandai masak.
Diwaktu bersantap, Pek Thong tidak turut. Ia mendongkol dikatakan tak ada wanita yang sudi menikah dengannya. Tapi dia dibiarkan saja ngambek….! Habis bersantap, Cit Kong masuk untuk tidur, Kwee Ceng mengajak Pek Thong jalan-jalan, Loo boan Tong tetap ngambek.
"Kalau begitu, baik-baiklah kau temani guruku," kata Oey Yong tertawa. "Sebentar aku belikan kau beberapa rupa barang bagus untuk kau main."
Mendengar itu, bangkit kegembiraan si berandalan tua itu. "Apakah kau tidak mendustakan aku?" tanyanya.
"Pasti tidak!" si nona memberikan perkataannya.
Ketika Oey Yong berlalu dari rumahnya saat musim semi, pernah ia pergi ke kota Hangciu ini, yang letaknya dekat dengan Tho Hoa To, hanya karena khawatir dapat disusul ayahnya, ia tidak berani berdiam lama¬-lama, sekarang ia punya waktu, dia mengajak Kwee Ceng pesiar ke telaga See Ouw yang tersohor itu.
Biar bagaimanapun, Kwee Ceng nampak tidak terlalu gembira. Oey Yong melihat itu, ia menduga itu disebabkan si pemuda memikirkan sakitnya Cit Kong. Maka ia berkata:
“Suhu bilang ada serupa barang yang dapat menyembuhkan penyakitnya, hanya itu sangat sukar didapatkan, bahkan ia melarang kita menanya barang apa itu. Biar bagaimanapun, aku hendak berdaya mendapatkannya, buat mengobatinya hingga sembuh!"
"Yong-jie, itu paling bagus!" kata Kwee Ceng girang. "Apakah kau merasa pasti akan bisa mendapatkannya?"
"Aku tengah memikirkan jalannya. Tadi sebelum bersantap, pernah aku menanyakan keterangan suhu. Disaat suhu hendak memberitahu, tiba-tiba ia sadar, lantas ia bungkam. Tapi aku akan berdaya mengorek keterangannya."
Kwee Ceng tahu kekasihnya cerdik, hatinya menjadi lega. Sembari berbicara, mereka tiba di Toan-kio, jembatan buntung di tepi telaga. Ini adalah salah satu tempat yang kesohor di See Ouw, dimana orang bisa melihat sisa salju, cuma karena sekarang musim panas, yang terlihat pohon-pohon teratai dengan bunganya yang tumbuh di kolong jembatan.
"Mari kita minum di sana sambil memandangi bunga teratai," Oey Yong mengajak. Di tepian itu ia melihat sebuah rumah makan kecil yang nampaknya resik.
Kwee Ceng setuju, maka berdua mereka pergi ke rumah makan itu. Mereka meminta arak dan beberapa rupa santapan yang rasanya lezat. Sembari minum, Oey Yong memandang ke sekitarnya. Ia mendapatkan di jendela timur ada sebuah kesokol, yang ditutupi dengan kain indah. Ia lantas mendekati. Nyata di bawahnya ada tulisan yang berupa syair.
"Syairnya indah juga," katanya.
"Apakah artinya itu?" tanya Kwee Ceng. Oey Yong memberi penjelasan, tetapi anak muda itu tak ketarik hatinya. Ia kata; "Di sini kota raja, segala menteri luang waktunya, mereka main minum arak dan pesiar saja. Rupanya urusan negara mereka kesampingkan…."
"Benar begitu," sahut Oey Yong. "Maka itu ayahku paling jemu semua orang semacam mereka. Umpama ayah dapat membaca syair ini, mungkin ia cari penulisnya untuk menebas tubuhnya menjadi dua potong…."
Tiba-tiba di belakang mereka ada orang tertawa dingin yang berkata: "Jiwi tahu apa maka kamu bicara sembarangan di sini?"
Kwee Ceng berdua menoleh dengan cepat. Mereka melihat seorang dengan dandanan sebagai sastrawan, umurnya kurang lebih empatpuluh tahun, yang masih saja tertawa dingin. Kwee Ceng lantas memberi hormat dan berkata:
"Aku yang rendah tidak mengerti, tolong tuan menjelaskannya."
"Kau tahu ini adalah buah kalam istimewa dari Thayhaksu Jie Kok Po dari tahun Sun-hie," kata orang itu. "Ketika itu Kaisar Hauw Cong datang ke mari untuk minum arak, dia dapat melihat syair itu, dia puji tinggi, lalu hari itu juga ia memberikan pangkat kepada Jie Kok Po karena karyanya itu. Itulah untuk bagus dari seorang sastrawan. Maka kenapa jiwi bicara sembarangan saja?"
"Jadi kesokol ini pernah dilihat kaisar maka tuan rumah menutupinya?" tanya Oey Yong.
"Bukan itu saja!" kata orang itu, tetap tertawa dingin. "Coba lihat itu bagian kata-kata 'Besok datang kembali dengan sisa mabuk': Bukankah ada dua tanda hurufnya yang diubah?"
Oey Yong berdua Kwee Ceng mengawasi. Benar mereka mendapatkan dua huruf perubahan itu.
"Sebenarnya Jie Kok Po menulis, 'Besok datang pula dengan membawa sisa arak,' tetapi kaisar cela itu, katanya pandangannya cupat, lalu ia mengubahnya yaitu huruf 'bawa' ditukar dengan huruf 'mendukung' dan huruf ' arak' ditukar dengan huruf 'mabok'. Sebenarnya Jie Kok Po menulis, 'Besok datang pula dengan membawa sisa arak'. Kalau kaisar tidak pintar, mana dapat ia mengubah itu?" Habis berkata orang itu menggeleng kepala dan menghela napas.
"Ha, satu kaisar begitu gila arak!" seru Kwee Ceng dengan gusar, dan ia dupak terbalik kekosol itu, hingga rusak.
Sejak masih kecil Kwee Ceng telah mendengar keterangan ibunya perihal kekejaman bangsa Kim, ia menyangka hanya disebabkan kelemahan kerajaan Song, maka ia mengharap, sepindahnya ke Selatan, raja nanti bergiat memajukan negera, untuk menuntut balas, siapa tahu, raja gila pelesiran. Maka dalam gusarnya, ia hajar sekosol ini, terus ia jambak si sastrawan, untuk dijoroki, hingga ia roboh masuk ke jambangan arak. Kepala di bawah, kaki di atas!
"Bagus!" Oey Yong berseru. Ia sambar kedua kaki meja dan patahkan itu, lalu dengan sepasang kaki meja itu, ia menghajar kalang-kabutan.
Pemilik rumah makan dan tetamu lainnya, yang tidak tahu telah terjadi apa, lari keluar dengan ketakutan. Kwee Ceng lantas mengamuk seperti Oey Yong, akhirnya ia hajar sebuah tiang hingga tiang itu patah dan rumah makan itu ambruk. Setelah itu keduanya tertawa, sambil berpegangan tangan, mereka ngeloyor ke Utara. Tidak ada orang yang berani menyusul mereka.
"Puas juga sekarang!" kata Kwee Ceng di tengah jalan. Ia tertawa pula.
"Ya, apa yang kita lihat dan tak menyenangi, mari kita hajar!" Oey Yong membenarkan.
"Bagus begitu!"
Jalan lebih jauh di sepanjang jalan itu mereka nampak banyak syair, di batu, di pohon, di tembok. Melihat itu, Kwee Ceng menghela napas.
"Kalau begini, tak bisa kita menghajar semua," ia bilang. "Kau cerdik, Yong-jie, kau ada punya daya apa?"
"Aku lihat ada syairnya yang baik," sahut si nona.
"Ah, peduli apa!"
Selagi bicara, mereka tiba di puncak Hui Lay Hong. Di tengah itu ada paseban Cui Bie Teng tulisannya Jenderal Han See Tiong. Girang Kwee Ceng melihat itu, sebab Han See Tong ialah panglima tersohor yang menentang bangsa Kim. Ia bertindak masuk ke dalam paseban itu. Di dalam ada sebuah syair tulisan Han See Tiong.
"Bagus syair ini!" Kwee Ceng memuji.
"Sebenarnya itu adalah syair Bu Bok Ong Gak Hui," kata Oey Yong.
"Eh, mengapa kau ketahui itu?"
"Ayah pernah menuturkan itu padaku. Waktu tahun Ciauw-hin ke 11 di musim dingin, Gak Bu Bok difitnah dan dihukum mati oleh Cin Kwee, lalu di lain tahunnya di musim semi, Han See Tiong membangun paseban ini sebagai tanda peringatan dan ia menuliskan syairnya Bu Bok itu, yang terus diukir."
Kwee Ceng mengagumi panglima kenamaan itu, lama ia berdiri diam mengawasi syairnya, ia usap-¬usap. Sedang begitu, mendadak Oey Yong mendak seraya menarik ujung bajunya, hingga ia mesti mengikuti, masuk ke dalam gombolan pohon bunga. Di situ pundaknya di tekan, hingga ia berjongkok seperti si nona. Hampir bersamaan waktu, mereka mendengar tindakan kaki memasuki paseban itu.
"Han See Tiong itu memang seorang enghiong," berkata seseorang. "Tetapi istrinya pun gagah meski istri itu asal bunga raja. Bukankah ia telah turut maju di medan perang dan telah memukul tambur mengajurkan suaminya memperoleh kemenangan?"
Kwee Ceng mengenali suara itu tetapi tak ingat suara siapa itu.
"Gak Hui dan See Tiong memang enghiong tetapi mereka kalah dengan kaisar," kata seorang lain. "Bukankah kaisar menghendaki kematiannya dan semua kekuasaannya atas angkatan perang telah ditarik pulang? Mereka gagah tetapi mereka mesti menerima nasib. Demikian pengaruh kaisar, yang tak dapat ditentang!"
Sekarang Kwee Ceng ingat suaranya Yo Kang. Ia heran. Ia menduga-duga, mengapa pemuda ini berada di tempat ini. Justru itu terdengar satu suara lain, yang seperti cecer pecah, hingga ia bertambah heran dan kaget. Itulah suaranya See Tok Auwyang Hong si Bisa dari Barat. Kata Auwyang Hong:
"Benar! Asal kaisar gelap pikiran yang bertahta dan segala dorna memegang kekuasaan atas pemerintahan tak peduli satu enghiong terbesar, ia tak ada gunanya!"
"Maka kalau raja bijaksana," berkata orang yang pertama, "Pastilah orang-orang seperti Auwyang Sianseng bakal dapat memperlihatkan kegagahan dan kepandaiannya!"
Kwee Ceng mengenali suara orang ini, ialah Wanyen Lieh, putra keenam dari negara Kim atau musuh yang membunuh ayahnya. Tadi, dalam waktu pendek, ia tak segera mendapat ingat.
Mereka berdiam tidak lama di dalam paseban, habis bicara dan tertawa, mereka berlalu pula.
"Coba duga," kata Kwee Ceng pada Oey Yong setelah mereka itu pergi jauh, "Apa maksud mereka datang ke Lim-an ini? Dan adik Kang, kenapa ia ada bersama mereka?"
"Memang sudah lama aku melihat adikmu bukan orang baik-baik, kau tetap membilang ia turunan orang gagah," menyahut si nona. "Baru sekarang kau mengerti! Kalau ia benar orang baik, kenapa dia bergaul sama See Tok dan pangeran musuh itu?"
"Aku juga tidak mengerti," kata Kwee Ceng.
Oey Yong lantas menyebut hal yang ia dengar di ranggon Hoa Cui Kok di istana Chao Wang baru-baru ini. Ia menambahkan:
"Wanyen Lieh telah mengumpulkan Pheng Lian Houw dan kambrat-¬kambratnya, maksudnya untuk mencari surat wasiat Gak Bu Bok, maka mau aku menduga surat wasiat itu mesti berada di dalam kota Lim-an ini. Sungguh celaka rakyat Song kita apabila surat wasiat itu benar-benar terjatuh ke tangan mereka!"
Tergetar hatinya Kwee Ceng. Memang itulah hebat. "Yong-jie," katanya. "Kita mesti mencegah mereka berhasil mencuri surat wasiat itu!"
"Hanya sulitnya mereka itu bersama si Bisa dari Barat itu…"
"Apakah kau jeri?"
"Apakah kau sendiri tidak takut?"
"Memang aku takut terhadap See Tok, tetapi urusan ini begini besar, karenanya tak dapat kita main takut saja."
Oey Yong tertawa. "Kau tidak takut, aku juga tidak takut!" katanya.
"Bagus! Sekarang mari kita susul mereka!"
Mereka berlalu dari paseban itu, tetapi mereka tak dapat menyandak Wanyen Lieh bertiga, dan sia-sia saja mereka ubak-ubakan di dalam kota. Hangciu kota besar, dalam waktu yang singkat, kota itu tak dapat diputari seluruhnya. Maka itu setelah setengah harian dan sang sore mendatang, mereka pergi ke taman Bu Lim Wan di Tiong-wa-cu.
Oey Yong melihat sebuah toko yang menjual pelbagai macam topeng, yang lukisannya bagus dan hidup, ia menjadi ketarik hatinya. Ia ingat janjinya kepada Ciu Pek Thong, hendah membelikan sesuatu, maka ia masuk ke dalam toko itu, dengan mengeluarkan lima chie, ia membeli belasan topeng, seperti dari Ciong Hiok si raja setan, hakim neraka, toapekkong dapur, malaikat tani, serdadu langit dan hantu lainnya. Semua itu dibungkus jadi satu.
"Entah rumah makan apa itu?" kata Oey Yong. Ia mencium bau makanan lezat dari restoran di sebelah toko topeng itu.
"Rupanya jiwi bukan orang sini maka jiwi tidak ketahui," berkata pelayan toko tertawa. "Itu adalah restoran Sam Goan Lauw, yang kesohor nomor satu di kota kita. Jangan jiwi melewatkan kesempatan ini!"
Oey Yong ketarik hatinya, ia menyambut topengnya, lantas ia tarik tangan Kwee Ceng untuk diajak pergi. Rumah makan itu dipajang indah, catnya pun bagus. Diatas lauwtengnya ada dipanjar banyak tengloleng. Di pekarangan dalam ada pohon-pohon bunga dan lainnya. Setibanya mereka di lauwteng, pelayan menyambut mereka dengan manis, menunjukkan tempat duduk. Kemudian, setelah dapat pesanan makanan, pelayan itu mengundurkan diri.
Dari terangnya api, Kwee Ceng melihat beberapa puluh bunga raja dengan pakaiannya yang mewah berkumpul di samping lorong. Ia heran. Ia hendak menanyakan pelayan atau mendadak ia tunda maksudnya itu, sebab kupingnya segera mendapat dengar satu suara dari balik tembok:
"Baik juga! Coba suruh mereka bernyanyi menemani kita minum arak!"
Itu suaranya Wanyen Lieh. Kwee Ceng dan Oey Yong saling merilik. Di dalam hatinya mereka kata: "Bagus!" Mereka telah mencari berputaran, tak tahunya orang ada disini.
Lalu terdengar suara memanggil dari pelayan, kemudian satu nona bunga raja menyahut lantas datang menghampiri. Dia bertindak elok dan tangannya memegang kecrek. Tidak lama kemudian, sudah terdengar suara bernyanyi yang merdu, nyanyian yang memuji sungai Cian-tong dan kotanya yang indah.
"Bagus!" demikian terdengar pujian Wanyen Lieh dan Yo Kang.
Habis itu terdengar ucapan terima kasih dari si tukang nyanyi, yang lantas mengundurkan diri dengan gembira, rupanya ia mendapat persenan besar.
"Anak," kemudian terdengar suara Wanyen Lieh. "Kau tahu tidak, syairnya Liu Eng itu ada hubungannya sama negara Kim yang besar?"
"Anak tidak tahu, coba ayah menjelaskannya," terdengar jawabannya Yo Kang.
Mendengar orang saling memanggil anak dan ayah, Kwee Ceng dan Oey Yong saling melirik. Kwee Ceng berdongkol berbareng masgul. Kalau bisa, ingin ia menjambak Yo Kang, untuk paksa ia memberi keterangan.
Yang dibilang syairnya Liu Eng itu ialah syair "Bong Hay Tiauw" atau "Memandang gelombang" yang tadi dinyanyikan si nona tukang nyanyi itu.
Lantas terdengar penjelasan Wanyen Lieh. "Di tahun Ceng-liong dari negara Kim yang agung. Junjungan kita Liang telah melihat syairnya Liu Eng itu yang memuji telaga See Ouw. Karena ini, ketika dikirim utusan ke Selatan, sekalian dikirim juga seorang pelukis, dia buat gambar panorama kota Lim-an. Junjungan kita lagi berdiri bersama kudanya di puncak bukit Gouw San, kemudian Dia sendiri menulis syair dalam gambar itu, syair yang menguraikan ia membawa angkatan perang ke See Ouw dan ia berdiri di puncak ke satu dari bukit Gouw San itu."
"Sungguh bagus!" Yo Kang memuji.
Kwee Ceng meremas tangannya sendiri saking mendongkolnya. Lalu terdengar Wanyen Lieh menghela napas dan berkata dengan menyesal:
"Sayang tak tercapai cita¬cita Junjungan Lian membawa angkatan perang ke Selatan untuk mendaki puncak Gouw San itu, meski begitu, cita-cita itu sekarang akan dicontoh oleh anak cucunya. Cita-cita luhur dari Junjungan itu terbukti dengan syair yang ia tulis pada sebuah kipas, bunyinya, 'Kalau gagang kipas ada di tangan, maka angin sejuk akan memenuhi kolong langit'."
Waktu mengucap begitu, semangat Wanyen Lieh tengah tersengsam. Setelah itu terdengar tertawa nyaring dari Auwyang Hong, yang berkata:
"Kalau di lain hari ongya yang memegang kekuasaan besar pastilah akan tercapai itu cita-cita berdiri di puncak gunung Gouw Wan!"
"Semoga terjadi apa yang sianseng katakan," kata Wanyen Lieh perlahan. "Di sini ada banyak mata dan kuping, mari kita minum saja."
Sampai di situ, bertukarlah pokok pembicaraan mereka bertiga. Mereka berbicara tentang keindahan tempat dan adat kebiasaan penduduknya.
"Mereka minum dengan gembira sekali, aku justru akan membikin mereka tidak gembira!"
Oey Yong berbisik di telinga Kwee Ceng, ia terus ajak pergi ke taman belakang. Di sini si nona menyulut api, membakar gudang kayu di empat penjuru, maka di lain saat, berkobarlah api itu merupakan satu kebakaran! Dalam sekejap berisiklah suara orang yang berteriak-¬teriak dari berlari-larian:
"Kebakaran! Kebakaran! Tolong! Padamkan api!"
"Mari lekas ke depan!" si nona membisiki lawannya. "Nanti mereka keburu lenyap lagi!"
"Malam ini mesti aku berhasil menikam mampus Wanyen Lieh!" kata Kwee Ceng sengit.
"Tapi kita mesti temani suhu masuk dulu ke istana," kata Oey Yong. "Kemudian kita minta Ciu Toako layani See Tok, supaya kita leluasa menghadapi sepasang manusia celaka!"
"Benar!" kata Kwee Ceng setuju.
Mereka lantas turut berdesakan pergi ke depan dimana Wanyen Lieh bersama Yo Kang dan Auwyang Hong terlihat lagi keluar dari rumah makan. Mereka menguntit dari kejauhan, melintasi sejumlah jalan dan gang, sampai di penginapan Siang Hong di See-sie-tiang. Sekian lama mereka menanti, tidak juga Wanyen Lieh keluar, maka mereka menduga tentulah tiga orang itu mondok di hotel ini.
"Mari kita pulang, setelah mengajak Ciu Toako, baru kita satroni mereka!" kata Oey Yong.
Kwee Ceng menurut. Mereka pulang ke penginapan Kim Hoa. Baru sampai di depan penginapan, mereka sudah dengar suara berisik dari Ciu Pek Thong, Kwee Ceng kaget, ia khawatirkan luka gurunya. Ia lari masuk. Tiba di pekarangan, hatinya lega. Di sana Pek Thong lagi berselisih sama beberapa anak-anak. Nyata dia kalah bertaruh dan hendak menganglap dan anak-anak itu tidak mau mengerti.
Melihat Oey Yong, karena takut ditegur, Pek Thong lantas ngeloyor masuk. Oey Yong berdua Kwee Ceng mengikuti, sesampainya di dalam, si nona mengeluarkan macam-macam topeng yang ia beli, ia perlihatkan pada si orang tua.
Pek Thong gembira, ia pakai itu satu demi satu, sebentar jadi hakim neraka, sebentar jadi hantu. Oey Yong lantas bicara. Ia minta sebentar si tua itu membantu untuk menghadapi Auwyang Hong.
"Baik!" Pek Thong menjawab. "Sebentar aku lawan dia dengan kedua tanganku, dengan dua macam ilmu silat juga!"
Oey Yong khawatir si tua ini nanti berlaku seperti di Tho Hoa To, sebab menghukum diri disebabkan menggunakan ilmu silat Kiu Im Cin-keng, dia sudah ikat kedua tangannya untuk bertempur sama ayahnya. Maka itu ia lantas berkata:
"See Tok itu manusia sangat busuk, kalau kau gunakan Kiu Im Cin-keng untuk menghajar dia, kau tentu tidak melanggar larangan kakak seperguruanmu!"
"Ah, itu tidak bisa!" menampik Ciu Pek Thong sambil membuka lebar matanya. "Aku toh sudah menyakinkan ilmu silat baru tanpa menggunakan Kim Im Cin-keng itu."
Oey Yong tidak mau memaksa. Ia khawatir si tua itu ngambek. Siang hari itu, hatinya Ciu Pek Thong sudah seperti berada di dalam dapur istana. Maka begitu tiba jam dua, Kwee Ceng lantas menggendong gurunya, sambil jalan diatas genteng, berempat mereka pergi ke istana, menuju langsung ke dapur, yang berada di belakang bukit Liok Pouw San dan dekat dengan pendopo istana Kee-beng-thian. Pendopo ini ialah tempat menyiapkan hidangan raja.
Istana terjaga kuat tapi di tengah malam seperti itu, dapur sepi, cuma apinya yang terang menderang. Beberapa orang kebiri menjaga di situ tapi mereka ini sudah keburu tidur pulas.
Kwee Ceng mendudukkan Ang Cit Kong di atas penglari. Oey Yong bersama Ciu Pek Thong menggeratakkan almari mencari hidangan seadanya, maka dilain saat, berempat mereka sudah menggoyang janggut.
"Ah, pengemis bangkotan, barang makanan di sini mana lebih lezat daripada masakannya Nona Oey," kata Pek Tong menggeleng kepala. "Jauh-jauh kau datang kemari, akhirnya tak menggembirakan…."
"Sebenarnya aku ingin dahar Wanyon Ngo-tin-kwee, sayang kokinya entah pergi kemana," sahut Ang Cit Kong. "Yang ada di sini hanya makanan biasa, ini memang kurang lezat. Baik besok kita bekuk itu koki dan suruh ia memasak."
"Aku tidak percaya dia dapat menangkan masakan Nona Oey!" kata pula Pek Thong.
Oey Yong tertawa. Ia tahu dia dipuji, sebab Pek Thong bersyukur sudah dibelikan topeng.
"Aku mau berdiam di sini menantikan koki itu," kata Cit Kong. "Kalau kau tidak gembira, pergilah bersama anak Ceng, biar anak Yong menemaniku. Besok malam baru kau datang menyambutku."
Pek Thong membekal topengnya, ia pakai topeng malaikat kota. "Tidak, aku akan berdiam di sini menemani kau!" katanya tertawa. "Besok aku akan pakai topeng ini menemui raja! Saudara Kwee dan nona Oey, kamu awasi See Tok jangan sampai berhasil mencuri surat wasiatnya Gak Bu Bok."
"Loo Boan Tong benar, maka pergilah kamu lekas," kata Ang Cit Kong. "Asal kamu waspada."
Muda-mudi iru menyahut bahwa mereka akan taati pesan itu. "Malam itu jangan tempur dulu si tua bangkotan yang berbisa, tunggu saja besok, lihat aku!" Pek Thong memesan pula.
"Meskipun kita tidak menang, kita mesti tempur dia," Oey Yong bilang. Lalu bersama Kwee Ceng ia berlalu, maksudnya pergi ke penginapan Siang Hong untuk mengintai Wanyen Lieh bertiga. Dua pendopo istana telah dilewati ketika si nona merasakan hawa dingin serta kupingnya mendengar suara air. Angin halus pun membawa datang harumnya bunga.
Oey Yong memang paling menggemari bunga, mendapat cium bau semerbak itu, ia lantas berpikir di istana ini, di dekatnya, bunga-bunga di istana mestinya beraneka warna, maka itu, mesti ia melihatnya. Karena ini ia tarik tangan Kwee Ceng, diajak pergi mencari pohon bunga itu.
Tidak gampang muda-mudi ini sampai di tempat tujuan, mereka hanya merasai hawa semakin dingin dan suara air makin keras dan berisik. Mereka jalan terus sampai melewati dua lorong panjang dan menikung, lalu sampai di satu tempat di mana ada ditaman rapi banyak pohon cemara dan pohon bambu, hingga suasana di situ menjadi teduh ayem.
Oey Yong bergembira. Ia dapatkan jalanan di dalam istana ini kalah dengan jalanan di Tho Hoa To, pulaunya itu, tetapi pepohonannya tidak usah menyerah. Ketika ia jalan beberapa tindak, di hadapannya ia melihat air tumpah turun dari gunung putih bagaikan rantai perak, jatuhnya ke sebuah pengempang lebar. Di dalam empang itu kedapatan banyak pohon teratai dengan bunganya yang merah dan putih. Di depan empang ada sebuah paseban indah dengan merknya Cui Han Tong.
Tanpa sangsi-sangsi, Oey Yong bertindak masuk ke dalam paseban itu di mana di bagian depannya terlihat banyak macam bunga musim panas, seperti melati, giokkui dan ang-ciauw yang harum, dan di sebelah belakangnya ada di pasang hio wangi dan dupa, yang menambah harumnya pesaben itu. Di atas meja pun tersajikan banyak macam buah, seperti obi teratai, semangka, tho dan lainnya. Di atas kursi ada beberapa buah kipas. Mungkin tempat raja berangin sebelum raja itu masuk tidur.
"Sungguh raja berbahagia!" Kwee Ceng mengeluh.
"Nah, kau pun boleh mencoba menjadi raja barang satu kali!" kata Oey Yong tertawa seraya ia tarik tangan si anak muda itu, untuk orang bercokol di atas pembaringan, kemudian ia ambil beberapa rupa buah, menyuguhinya sambil berlutut dan berkata: "Silahkan Sri baginda bahar bebuahan!"
Kwee Ceng tertawa, sambil tangannya mengambil buah piepee, ia berkata: "Silahkan bangun!"
"Salah!" berkata Oey Yong. "Raja tidak pernah mengatakan silahkan bangun, itu terlalu sungkan!"
Kwee Ceng tertawa pula, begitu pun si nona. Selagi mereka gembira, mereka seperti lupa daratan, dari kejauhan terdengar bentakan:
"Siapa di sana?!" Keduanya menjadi kaget, serentak mereka berlompat, untuk terus sembunyi di belakang gunung-¬gunungan.
Teguran itu disusul sama tindakan cepat dan berat dari dua orang, mendengar tindakan lega hatinya si pemuda dan pemudi itu.
"Jangan pedulikan mereka!" Oey Yong berbisik. "Dua kantong nasi itu tidak bakal menemukan kita!"
Waktu itu lantas terlihat dua orang, yang tubuhnya besar, tiba di paseban, tangan mereka masing-masing mencekal sebatang golok. Mereka itu lantas celingukan. Cuma sebentar, yang satu lantas tertawa.
"Ah. Lao Su, kau melihat setan!" katanya.
"Ya, dalam beberapa hari ini mataku seperti lamur!" sahut kawannya yang dipanggil Lao Su itu, artinya Su si tua. Kemudian dua orang itu mengundurkan diri.
Oey Yong tertawa di dalam hatinya, lalu ia menarik tangan Kwee Ceng niatnya untuk diajak keluar, tetapi belum lagi mereka muncul dari tempat persembunyiannya, kuping mereka medengar seruan tertahan dari dua centeng istana itu, benar suara itu perlahan akan tetapi si nona dan si pemuda mengerti, itu adalah suara dari orang yang kena ditotok jalan darahnya. Mereka lantas berpikir: "Tentu Ciu Toako tak sabaran, dia pun lantas keluar pesiar!"
"Paseban itu di samping air tumpah ialah Cui Han Tong!" tiba-tiba Oey Yong dan Kwee Ceng mendengar suara orang, perlahan. "Mari kita pergi ke sana."
Muda-mudi ini terperanjat. Mereka mengenal suaranya Wanyen Lieh. keduanya saling menjabat tangan erat-erat, terus mereka menyembunyikan diri. Tubuh mereka tidak berkutik, tetapi mata mereka dipasang, diincarkan ke depan.
Di antara sinar bintang-bintang terlihat beberapa tubuh orang, bahkan lantas dikenali, kecuali Wanyen Lieh dan Auwyang Hong, ada Pheng Lian Houw, See Thong Thian, Leng Tie Siangjin dan Nio Cu Ong.
"Heran, mau apa mereka datang ke istana…" pikir muda mudi ini. "Tak mungkin mereka pun hendak mencuri makanan raja…"
"Siauw-ong telah meneliti surat yang ditinggalkan Gak Bu Bok," terdengar suara Wanyen Lieh, "Juga siauw-ong telah periksa surat-surat dua kaisar Kho Cong dan Hauw Cong, karenanya berani siauw-ong memastikan surat wasiat Gak Bu Bok itu mestinya disimpan di sini, lima belas tindak di Timur Cui Han Tong."
Sembari berkata pangeran Kim menunjuk dengan tangannya, maka semua kawannya memandang ke arah tempat yang di tunjuk. Di sana adalah air tumpah, tidak ada benda lainnya.
"Di dalam air tumpah mana bisa di simpan barang?" berkata Wanyen Lieh heran, "Toh bukti-bukti memastikan demikian…"
See Thong Thian pandai berenang, julukannya pun Kwie-bun Liong Ong, si Raja Naga Pintu Setan, maka ia lantas berkata:
"Nanti aku terjun memeriksa air tumpah ini."
Cepat ia bersiap, lantas terjun ke dalam air. Tidak lama, ia sudah timbul pula dan terus mendarat. Semua kawannya menghampiri.
"Ongya benar pandai!" kata orang she See ini. "Di belakang air tumpah ini ada sebuah gua dengan pintu besi yang terkunci."
Wanyen Lieh menjadi sangat girang. "Surat wasiat Gak Bu Bok mesti di simpan di dalam gua itu!" katanya nyaring. "Sekarang siauw-ongya minta tuan-tuan suka pergi membuka pintu besi itu."
Titah ini tak usah diulang segerA orang sudah lantas berlompat maju memasuki air tumpah itu, kecuali Auwyang Hong yang dengan tertawa dingin berdiam terus di sisinya si pangeran Kim. Ia merasa derajatnya lain, tak sudi ia berbuat seperti kawan--kawannya itu.
See Thong Thian maju paling dulu. Begitu ia melewati air tumpah, mendadak ada angin menyambar. Dia lihay tetapi dia tidak menyangka jelek, maka itu hendak ia berkelit, atau segera tangan kirinya kena orang cekal terus ditolak dengan keras, hingga ia terpental balik menubruk Nio Cu Ong! Syukur, mereka lihay, keduanya tidak terluka, mereka hanya terhuyung mundur.
Semua orang heran, tetapi sementara itu, untuk kedua kalinya, See Thong Thian sudah menyerbu pula air tumpah itu. Ia penasaran dan kali ini ia berseiap sedia. Ia melindungi mukanya. Benar saja, baru ia lewati air, sebuah kepalan sudah meninju. Karena ia sudah bersedia, ia menangkis dengan tangan kirinya seraya kepalan tangan kanan dipakai membarengi menyerang.
Ketika itu Nio Cu Ong pun menyerbu air tumpah itu, hanya untuk kagetnya, ia dipapaki tongkat. Ia kaget, tidak sempat menangkis, maka ia berkelit dengan melenggakan tubuhnya. Tentu sekali, karenanya, ia roboh ke air dan kena ditarik. Celaka untuknya, kakinya kena tergaet. Dasar lihay, ia masih sempat lompat keluar dari air tumpah. Berbareng dengan itu, See Thong Thian pun mesti keluar lagi karena ia kena didesak tinju yang dahsyat.
Hauw Thong Hay menyaksikan semua itu. Ia sembrono, maka itu ia tidak ingat bahwa ilmu silatnya kalah dari See Thong Thian, sang kakak seperguruan, ia lantas maju. Ia mau mengandalkan kepandaiannya berenang dan di dalam air bisa membuka matanya.
Pheng Lian Houw menginsyafi bahaya mengancam kawannya ini, ia hendak memberikan bantuan, tapi belum sempat ia maju, suatu benda besar dan hitam sudah mental keluar dari air tumpah itu, jatuh ke tanah dengan suara gedebuk nyaring, yang mana disusul sama jeritannya Hauw Thong Hay, sebab dialah yang melayang dan roboh itu. Lian Houw lantas lompat menghampiri.
"Perlahan, saudara Hauw!" ia memperingatkan, berbisik. "Kau kenapa?"
"Celaka, kempolanku kena terhajar!" sahut Sam-tauw¬kauw Si Ular Naga Kepala Tiga. Lian Houw kaget dan heran dan merasa lucu juga.
"Sebenarnya telah terjadi apa?" ia menegasi. Ia meraba kempolan orang, di situ ia tidak merasa ada yang luar biasa. Ia teliti, tentu ia tidak mau sembarang menyerbu air tumpah itu. Maka ia menanya pula: "Ada orang di dalam? Siapakah dia?"
"Mana aku tahu?" sahut Thong Hay ketus. Ia kesakitan dan mendongkol. "Begitu aku masuk aku terhajar keluar!"
Lian Houw tercengang. Justru itu Leng Tie Siangjin, dengan jubahnya berkibaran, memasuki air tumpah itu, dilain saat dia perdengarkan suaranya dalam bahasa Tibet, dia berbicara sambil berseru-seru dan terdengar juga suara pertarungan. Maka teranglah ia pun dapat sambutan dan jadi berkelahi.
Wanyen Lieh semua saling mengawasi, mereka terbenam dalam keheranan. Tidak tahu mereka, ada musuh siapa di dalam air tumpah itu. Menurut See Thong Thian dan Nio Cu Ong, mereka samar-samar melihat sepasang pemuda-pemudi, si pemuda dengan tangan kosong, si pemudi dengan tongkat. Kembali terdengar teriakan Leng Tie Siangjin, teriakan kemurkaan. Rupanya dia pun "menderita"…
"Kenapa Siangjin juga begini tidak tahu selatan?" kata Wanyen Lieh sambil mengerutkan kening. "Dia membikin banyak berisik, bagaimana kalau pahlawan-pahlawan raja dapat mendengarnya? Dengan begitu masih bisakah kita mencuri wasiat?"
Baru berhenti suaranya pangeran ini mereka melihat air tumpah membawa serupa benda merah, yang segera juga dikenali jubah suci dari Leng Tie Siangjin, menyusul mana, dengan diberikuti suara air, dua cecernya orang suci ini terlempar keluar dari dalam air tumpah itu.
Hauw Thong Hay khawatir cecer itu jatuh menerbitkan suara berisik, ia lompat untuk menangkapinya. Dari dalam air tumpah sekali lagi terdengar dampratan Leng Tie Siangjin, hanya kali ini disusul mencelat tubuhnya yang besar, akan tetapi karena ia lihay, ketika ia tiba di luar, ia dapat berdiri dengan tegar.
"Itu adalah bocah dan budak yang kita temukan di perahu!" Leng Tie kata dengan sengit.
Kwee Ceng dan Oey Yong yang bersembunyi di belakang gunung, mendengar nyata pembicaraan Wanyen Lieh beramai. Karena mereka itu hendak mencuri surat wasiat Gak Hui, mereka takut sekali surat wasiat kena didapatkan pangeran itu. Inilah hebat. Dengan menggunakan siasatnya Gak Hui itu, pasti bangsa Kim bakal berhasil menyerbu negara Song. Bagaimana itu bisa dicegah? Diantara orang-orangnya Wanyen Lieh pun ada Auwyang Hong yang lihay. Oey Yong mencoba mencari akal, untuk membikin mereka kaget dan nanti lari kabur.
Kwee Ceng sebaliknya tidak sabaran, karena tidak ada waktu lagi untuk berpikir lama-lama atau mengatur tipu. Akhirnya pemudi ini menarik tangan si pemuda, diajak pergi ke belakang air tumpah. Mereka sampai di sana tanpa ada yang lihat dan tanpa ada yang dengar, sebab tumpahnya air sangat berisik.
Muda-mudi ini telah siap sedia ketika See Thong Hay mencoba memasuki air tumpah itu, dengan gampang dia dihajar kembali. Hasilnya penolakan ini membikin mereka berdua jadi heran dan kagum, girang sekali. Itulah buahnya pernyakinan mereka atas ilmu Ie-kin Toan-kut Pian. Demikian mereka menghajar Hauw Thong Hay dan akhirnya Leng Tie Siangjin hingga pendeta Tibet ini mencaci kalang kabutan.
"Engko Ceng, mari lekas!" Oey Yong mengajak. "Mari kita keluar dan berteriak-teriak, biar kawanan pahlawan pada datang kemari, dengan begitu mereka ini tentulah tak dapat bekerja terlebih jauh melakukan pencurian!"
Oey Yong berkata berpikir demikian sebab ia percaya, habis Leng Tie Siangjin, Auwyang Hong bakal turun tangan, kalau See Tok yang maju, pasti mereka tidak berdaya lagi.
"Pergi kau keluar dan berteriak-teriak, aku sendiri akan berjaga di sini!"
"Tapi ingat, jangan tempur si bangkotan yang berbisa itu!" Oey Yong memesan.
"Aku mengerti! Nah, keluarlah! Keluarlah lekas!"
Baru Oey Yong mau keluar mendadak mereka merasakan tolakan angin keras sekali. Mereka kaget tetapi mereka tidak mau menangkis, hanya dengan berbareng keduanya lompat ke samping masing-¬masing.
Hebat tolakan itu, yang ada Kap-mo-kang, pukulam Kuntauw Kodok dari Auwyang Hong. Karena tidak memperoleh perlawanan, serangan itu mengenai tepat pintu besi dari gua, maka terdengarlah suara nyaring sedang air muncrat ke segala penjuru.
Oey Yong melompat tetapi ia kalah sebat, punggungnya kena tersampok angin. Dalam sekejap ia merasakan sulit bernapas, kepalanya pusing, matanya berkunang-kunang, akan tetapi ia masih ingat tugasnya, hanya berdiam sejenak, untuk memusatkan pikiran, segera ia melompat keluar, berteriak-¬teriak sekeras-kerasnya:
"Ada pembunuh gelap! Ada pembunuh gelap! Tangkap! Tangkap!" Dan sembari berteriak-teriak, ia kabur ke depan.
Wanyen Lieh semua kaget. "Marilah kita hajar mampus dulu budak ini!" Pheng Lian Houw berseru saking mendongkolnya. Ia gusar dan penasaran. Segera ia melompat, untuk mengejar.
Suara Oey Yong mendengung di malam yang sunyi itu, suara itu dapat didengar rombongan-¬rombongan Siewie atau pahlawan kaisar di empat penjuru istana. Paling dulu terdengar seruan mereka berulang-ulang, saling memberi tanda, habis itu mereka lantas bergerak.
Oey Yong berlompat naik ke atas genting, mencabuti genting kemudian menimpuk kalang-¬kabutan. Perbuatannya ini pun menambah suara berisik. Pheng Lian Houw, disusul Nio Cu Ong, merangsak, untuk mendekati si nona. Dalam keadaan seperti itu, Wanyen Lieh masih dapat bersikap tenang. Ia menoleh ke sisinya, kepada seorang yang mengenakan pakaian hitam dan bertopeng hitam juga.
"Anak Kang, pergilah kau bersama Auwyang Sianseng masuk ke air tumpah untuk mengambil surat wasiat itu!" katanya. Pangeran itu masih belum mau melepaskan ikhtiarnya mencuri surat yang dia sangat harapkan.
Orang disampingnya itu, yang memakai topeng, memang Yo Kang adanya, putra pungutnya . Auwyang Hong sendiri sudah lantas nongkrong di tanah, untuk mengerahkan tenaganya, menggunakan Kuntauw Kodok menyerang ke arah air tumpah, begitu ia menyerang, terdengar suara berisik seperti tadi. Bahkan kali ini kedua daun pintu gua tertolak mundur ke dalam.
Setelah berhasil dengan serangannya, Auwyang Hong berlompat maju masuk ke dalam air tumpah, memasuki gua dan mengambil surat wasiat yang diarah itu. Justru ia bertindak, matanya melihat bayangan orang yang berkelebat dari samping, dan belum lagi bayangan itu tiba, angin serangannya sudah mendahului. Ia mengenali, itulah pukulan Hui Liong Thay-thian, Naga Terbang ke Langit.
"Hm!" pikir See Tok sambil berkelit. "Memang aku hendak tanyakan dia keterangan kitab Kiu Im Cin¬keng, kebetulan sekali, sekarang baik aku sekalian membekuk dia…!" Karena ini, sambil berkelit ke samping, sebelah tangannya diulur, menjambak penyerang itu.
Si penyerang benar Kwee Ceng adanya. Anak muda ini sudah nekat. Ia bertekad melindungi surat wasiat Gak Hui, maka itu, ia tidak peduli musuh lihay dan Oey Yong telah melarang menempur See Tok. Ia harap, dalam waktu yang pendek, kawanan siewie sudah tiba di situ. Ketika ia menampak gerakannya Auwyang Hong, ia menduga orang tidak niat berbuat telengas, ia hanya hendak ditangkap. Ia sebenarnya heran. Tapi tak ada waktu untuk menduga-duga maksud orang. Dengan tangan kirinya ia menangkis, tangan kanan menyerang ke pundak. Ia menggunakan jurus dari Khong-beng-kun, yaitu Pukulan Kosong.
Kwee Ceng menggunakan ilmu silat ajaran Ciu Pek Thong, yaitu sepasang tangan saling berkelahi sendiri dan jurus yang ia pakai ialah jurus Khong-beng-kun, meskipun itu tak sehebat Hang Liong Sip-pat Ciang, toh tak dapat dipandang enteng. Tidak heran kalau Auwyang Hong terkejut.
"Bagus!" berseru See Tok yang lihay. Ia mendak dengan pundaknya, sebelah tangannya dilonjorkan, guna menangkap lengannya si penyerang. Biar bagaimana, ia berkelahi dengan waspada, sebab ia dapat kenyataan, tiap hari kepandaian pemuda ini bertambah terus. Auwyang Hong penasaran ia belum berhasil menyakinkan Kiu Im Cin-keng, ia ingin mengerti jelas kitab itu, keinginannya bertambah ketika ia dengar ocehan Ang Cit Kong di atas getek. Ia hanya tak insyaf bahwa ia tengah dipermainkan bocah she Kwee itu, sebab kitab Kiu Im Cin-keng yang berada di tangannya ialah kitab yang tidak karuan macam, yang Kwee Ceng kacaukan urutan huruf-hurufnya, hingga tak dapat diartikan lagi.
Sementara itu di empat penjuru Cui Han Tong sudah terlihat obor api terang bagaikan siang. Pelbagai siewie muncul dalam satu-satu rombangan, mereka lari ke arah darimana terdengar teriakan-teriakan Oey Yong.
Wanyen Lieh melihat terangnya obor, ia menjadi bingung juga. Sejak masuknya Auwyang Hong dan Yo Kang ke dalam air tumpah, mereka tidak kelihatan muncul kembali. Syukur untuknya, semua siewie lari ke arah Oey Yong, siapa sedang menungkuli Pheng Lian Houw dan Nio Cu Ong yang terus mengejarnya. Untuk sementara, wilayah air tumpah itu masih selamat. Walapun begitu, pangeran ini membanting-banting kaki, tangannya menggapai-gapai tak hentinya.
"Lekas! Lekas!" ia memanggil Leng Tie Siangjin dan putranya.
"Jangan sibuk, ongya!" berkata Leng Tie. "Nanti siauwceng masuk pula!"
Pendeta Tibet ini lantas masuk ke air tumpah, dimana ia melihat Auwyang Hong sedang menempur Kwee Ceng, sedang Yo Kang yang hendak menerobos masuk, tidak mendapatkan kesempatan.
Leng Tie Siangjin tidak puas mengawasi pertempuran itu. Bukankah waktu mereka sudah sangat mendesak? Kenapa Auwyang Hong bersikap seperti sedang berlatih?
"Auwyang Sianseng, mari aku bantu kau!" ia berseru.
"Minggir jauh-jauh!" Auwyang Hong membentak.
Leng Tie menjadi tidak puas. Di dalam hatinya ia kata: "Disaat seperti ini mana dapat kau masih bertingkah seperti satu enghiong? Jangan kau masih bawa lagakmu sebagai guru besar!" Lantas ia maju ke samping, ke arah Kwee Ceng, sebelah tangannya melayang ke tempilingan kiri si bocah.
Menampak demikian, Auwyang Hong menjadi gusar sekali. Ia maju sambil mengambil pundaknya pendeta Tibet itu, terus ia mengangkatnya, dan melemparkannya! Tepat serangannya See Tok ini. leng ie Siangjin lihay dan tangannya pun ada racunnya, maka untuk melayani dia, anggota tubuhnya tak berbahaya yang mesti dihadapi.
Bukan main murkanya pendeta Tibet itu, tidak memperdulikan pula orang lihay dan dipandang Wanyen Lieh, ia mencaci kalang-kabutan, cuma ia memakai bahasa Tibet, Auwyang Hong tidak mengerti. Ia pun tak bisa mencaci lama-lama atau segera ia tak dapat bersuara lagi, sebab mulutnya lantas kemasukan air. Karena oleh Auwyang Hong dilemparkan ke air tumpah, hingga mulutnya tersumpal air!
Wanyen Lieh terkejut melihat tubuh Leng Tie Siangjin terlempar keluar air tumpah. Justru itu kupingnya juga mendengar suara berisik dari arah Cui Han Tong di mana ternyata, pot kembang yang besar di depan paseban itu telah jatuh hancur. Menyusul itu, nampak munculnya sejumlah siwi.
"Celaka!" ia mengeluh dalam hati. Tidak ayal lagi, dengan menjinjing jubahnya, dia berlompat ke air tumpah, untuk masuk ke situ, menyembunyikan diri. Ia mengerti ilmu silat, tetapi di tempat begitu, kepandaiannya masih belum berarti, begitu kakinya menginjak tanah, ia terpeleset jatuh. Syukur untuknya, Yo Kang dapat melihatnya dan putra ini segera menyambar, menolong. Dengan melongo pangeran Kim itu melihat ke sekitarnya.
"Auwyang Sianseng, apakah bocah ini dapat kau usir?" ia tanya See Tok.
Pertanyaan ini menandakan Wanyen Lieh seorang besar. Ia bukan memerintah, ia hanya menanya. Pertanyaannya itu membangkitkan hawa amarah orang. Hatinya Auwyang Hong menjadi panas.
"Kenapa tidak bisa?" menjawab Auwyang Hong, yang terus berjongkok seraya mulutnya mengasih dengar suara seperti kerak-keroknya kodok. Dengan begitu ia bersiap dengan Kuntauw Kodoknya, lalu terus kedua tangannya dimajukan ke depan.
Si Bisa dari Barat ini telah mengerahkan tenaganya, seandainya di situ ada Ang Cit Kong atau Tong Shia Oey Yok Su, tidak nanti mereka berani melawannya dari depan, apa pula seorang seperti Kwee Ceng.
Sebenarnya, Auwyang Hong melayani Kwee Ceng hanya sebagai latih saja, tidak heran Leng Tie Siangjin melihatnya menjadi muak. Ada sebabnya kenapa See Tok berbuat demikian. Itu disebabkan Kwee Ceng menggunakan Khong-beng-kun. Maka See Tok melayani, menanti sampai anak muda itu habis menjalankan semua jurus dari ilmu silatnya, habis itu baru ia hendak turun tangan, mencekuk si pemuda. Sayang maksudnya tak segera kesampaian. Mendadak Wanyen Lieh masuk ke air tumpah itu dan ia mesti dengar pertanyaan yang seperti ejekan, hatinya menjadi panas. Ia lantas bertindak. Meski begitu, ia tidak mau membinasakan Kwee Ceng, sebab si bocah masih dibutuhkan olehnya. Dilain pihak, ia tidak menginsyafi bocah yang polos dan jujur itu, taat dengan tugasnya.
Kwee Ceng tidak mau mundur, sekalipun ia mesti mati terbinasa. Ia hendak melindungi surat wasiatnya Gak Bu Bok. Begitu ia menyingkir, pasti Auwyang Hong mendapatkan surat wasiat itu, di situ ada banyak pahlawan raja tetapi menghadapi Auwyang Hong, mereka tidak berdaya. Di dalam keadaan seperti itu, selagi bahaya mengancam - sebab ia tahu tidak sanggup menangkis- ia mengenjot kedua kakinya, mengapungkan diri setinggi empat kaki. Dengan begitu, ia bebas dari serangan. Ketika turun, ia tetap berada di muka gua menghadang seperti semula.
"Bagus!" berseru Auwyang Hong kagum. Segera ia menarik pulang kedua tangannya.
See Tok sangat hebat. Kalau serangannya bertenaga beberapa ratus kati, tarikan pulang tangannya pun masih bertenaga besar, ada tenaga menariknya.
Kwee Ceng terkejut merasakan angin menolak punggungnya. Ia mengerti ancaman bahaya. Ia memutar balik tangannya, membela diri. Kali ini ia menggunakan jurus "Sin liong pa bwee" atau "Naga sakti menggoyang ekor" Tentu saja itu gerakan keras lawan keras. Seharusnya ia mencoba berkelit, sebaliknya, ia menangkis. Siapa kalah tenaga dalam, dialah yang bakal bercelaka.
Wanyen Lieh berdiri menjublak menonton cara orang berkelahi itu, mengherankan. Kenapa Auwyang Hong berdiam saja sebagai patung, cuma kedua tangannya yang ditolakkan ke depan dan ditarik pulang? Kenapa Kwee Ceng main berlompatan dan hanya mengawasi See Tok? Kenapa See Tok menarik pulang tangannya dan si bocah menangkis ke belakang, hingga keduanya berdiam bagaikan patung?
Kedua pihak sebenarnya tengah mengadu tenaga dalam, Auwyang Hong tetap menarik, Kwee Ceng tetap mempertahankan diri. Lekas juga bocah ini bermandikan keringat. Ia telah mengeluarkan seluruh tenaganya untuk dapat bertahan.
Kembali Auwyang Hong menjadi kagum. Ia tahu benar, sejenak lagi Kwee Ceng bakal terluka parah. Ia membutuhkan bocah itu, tidak dapat ia mencelakainya. Maka ia memikir untuk mengalah. Lantas mengurangi tenaga manariknya. Tapi berbareng sama dikuranginya tenaga, ia merasakan tolakan keras pada dadanya. Ia terkejut. Syukur tenaga dalamnya mahir, kalau tidak tentulah ia roboh terguling. Benar-¬benar ia tidak menyangka, begitu muda Kwee Ceng, tenaganya besar sekali. Segera ia menahan napas, tangannya menolak. Dengan begitu, lenyaplah tenaga mendorong tadi.
Kalau Auwyang Hong terus menyerang, robohlah Kwee Ceng. Tapi ini tidak dilakukan See Tok. Dia masih mengharap habisnya tenaga si bocah, untuk menangkap hidup padanya, guna mengorek keterangan hal Kiu Im Cin-keng dari mulut orang….
Sesaat kemudian mulailah terlihat tenaga dua orang itu, yang satu berlebihan, yang lainnya berkurang. Tapi Wanyen Lieh dan Yo Kang, yang tetap menonton, tidak tahu kapan akan selesainya pertempuran macam itu, karenanya mereka menjadi cemas dengan sendirinya. Mereka bingung mendengar suara berisik, tanda rombongan siwi tengah bekerja keras mencari orang jahat…
Sekonyong-konyong dari dalam air tumpah terlihat dua siwi menerjang keluar. Yo Kang berlaku sangat sebat, sebelum kedua siwi itu tahu apa-apa, mereka sudah diterjang pangeran muda ini, yang kedua tangannya menyambar ke masing-masing ulu hati mereka, hingga menancap, dengan begitu robohlah mereka dengan jiwa mereka melayang. Yo Kang dengan bengis sudah menggunakan cengkeraman Kiu Im Pek-kut Jiauw.
Setelah itu Yo Kang menghunus pisau belatinya, lalu dengan menggenjot diri, ia lompat kepada Kwee Ceng, untuk menikam pinggangnya si anak muda.
Dalam keadaan seperti itu, Kwee Ceng tidak dapat berkelit. Kalau ia mencoba menyingkirkan tubuhnya, segera ia bakal terbinasa pukulan Kodok dari Auwyaang Hong. Maka dalam sekejap saja ia merasakan sakit pada pinggangnya, berbareng merasa juga pernapasannya berhenti berjalan. Maka lupalah ia segalanya, tanpa merasa ia menghajar lengannya si penyerang itu, si pembokong.
Yo Kang merasakan sakit sekali. Ia bukan lagi tandingan Kwee Ceng, walaupun ia mencoba menarik pulang tangannya, lengannya menjadi korban pula. Tapi waktu itu separuh pisaunya sudah masuk ke pinggang si anak muda.
Karena bergerak itu, tenaga Kwee Ceng menjadi semakin berkurang, dari itu, ia lantas terkena dorongan tenaganya Auwyang hong. Tanpa bisa menjerit lagi ia roboh terkulai.
"Sayang!" berseru Auwyang Hong, yang akhirnya toh juga melukai bocah lawannya itu. "Ia bakal mampus, baiklah aku tak usah pedulikan lagi padanya. Paling perlu aku lekas mencari surat wasiat Gak Bu Bok…." Maka tanpa bersangsi lagi, ia berlompat ke dalam air tumpah.
Wanyen Lieh bersama Yo Kang, lantas mengintil di belakang See Tok. Auwyang Hong sudah lantas dirintangi sejumlah siwi, tetapi ia seperti tidak menghiraukan mereka, siapa datang dekat, ia sambar dan lempar, setelah itu, siwi lainnya tak dapat maju terlebih jauh, hingga tak lagi ada yang bisa mendekati pintu gua.
Yo Kang turut masuk ke dalam gua. Ia menyalakan api untuk dipakai menyuluhi. Di tanah ada banyak tanda debu, suatu tanda tak pernah ada orang yang datang ke situ. Di tengah-tengah gua ada sebuah meja batu, di atasnya ada satu kotak batu persegi dua kaki, kotak mana tersegel. Lainnya barang tak nampak di situ. Dengan membawa apinya, Yo Kang menyuluhi hingga dekat. Di segelan ada suratnya tetapi rupanya karena sudah terlalu tua, huruf-hurufnya tak dapat terbaca lagi.
"Surat wasiat itu ada di dalam kotak ini," berkata Wanyen Lieh.
Yo Kang menjadi sangat girang, ia ulur tangannya mengambil peti itu. Melihat gerakan orang, Auwyang Hong menggerakkan tangan kirinya ke pundak orang, sehingga tidak tetaplah berdirinya Yo Kang, tubuhnya terhuyung beberapa tindak. Pemuda ini tak mengerti, ia melongo mengawasi orang. Auwyang Hong sebaliknya sudah lantas mengempit kotak itu.
"Kita sudah berhasil, mari kita lekas mengundurkan diri!" kata Wanyen Lieh nyaring.
Auwyang Hong bertindak di depan, diikuti oleh Wanyen Lieh dan Yo Kang. Selagi lewat di dekat Kwee Ceng, Yo Kang melihat tubuh orang mandi darah dan rebah tak bergeming di antara siwi korbannya See Tok, ia lantas menghela napas.
"Dasar kau tidak tahu selatan, suka usilan," katanya perlahan. "Maka itu janganlah kau sesalkan aku…"
Sebelum jalan terus, Yo Kang ingat pisau belatinya masih nancap di pinggang mangsanya, maka ingin ia mencabut senjatanya itu. Selagi ia membungkuk, untuk mengambil pisau itu, di air tumpah terlihat satu bayangan berkelebat di susul sama pertanyaan ini:
"Engko Ceng, kau di mana?"
Yo Kang terkejut. Ia mengenal suaranya Oey Yong. Lupa pada pisau belatinya, ia lompat melewati tubuh Kwee Ceng, terus lari keluar air tumpah, menyusul Auwyang hong dan Wanyen Lieh.
Oey Yong mencari Kwee Ceng setelah ia permainkan Nio Cu Ong, yang ia tinggalkan begitu terlihat siwi muncul disana-sini. Sebaliknya, Pheng Lian Houw berdua tidak berani mengejar terus sebab takut kepergok kawanan siwi. Mereka kembali ke dekat air tumpah, menggabungkan diri dengan See Thong Thian dan lainnya. Di sini mereka bertempur sama beberapa siwi sampai Auwyang Hong muncul, maka beramai-ramai mereka mengangkat kaki.
Oey Yong sia-sia mencari Kwee Ceng, ia lantas masuk ke dalam air tumpah. Ia menyalakan api, dari itu ia segera melihat tubuh Kwee Ceng yang mandi darah rebah di antara beberapa siwi. Ia kaget sekali ¬rebahnya si pemuda tepat di sampingnya. Saking kagetnya, tubuhnya gemetaran, sampai api terlepas jatuh dari tangannya. Waktu itu di luar gua terdengar riuh suaranya kawanan siwi yang berteriak-teriak, "Tangkap orang jahat! Tangkap orang jahat!" Tapi mereka itu cuma berteriak-teriak, tidak ada satu pun yang berani maju merintangi Auwyang Hong beramai. Sebabnya ialah, lebih dulu dari itu, beberapa kawannya sudah menjadi korban See Tok hingga mereka menjadi kecil hatinya, terpaksa mereka mementang bacot saja.
Oey Yong sadar dengan cepat. Ia membungkuk memeluk tubuhnya Kwee ceng. Ia merasakan tubuh itu hangat. Ia memanggil beberapa kali, ia tidak memperoleh jawaban. Ia menjadi bingung sekali. Maka itu ia lantas panggul tubuh engko itu, untuk dibawa menyingkir ke belakang gunung-gunungan.
Di Cui Han Tong sendiri telah berkumpul banyak orang, sebab ada datang juga siwi dari lain-lain bagian istana. Obor di situ terang bagaikan siang hari. Maka ketika Oey Yong berkelebat - tak peduli ia sangat gesit - ada siwi yang melihatnya. Siwi itu lantas berteriak, terus ia memburu diikuti beberapa kawannya.
Dalam mendongkolnya, Oey Yong mencaci dalam hatinya: "Ah, kawanan kantung nasi! Sungguh, kamu tidak punya guna! Kenapa kau bukan pergi mengejar orang jahat hanya orang baik-baik?" Ia menggertak gigi, tapi ia lari terus.
Ada beberapa siwi yang lihay, larinya cepat, mereka sudah lantas datang dekat. Oey Yong menjadi bertambah mendongkol, ia meraup jarum rahasianya, menimpuk ke belakang, ke arah pengejar-pengejar itu.
"Aduh!" demikian terdengar teriakan, saling susul.
Itulah tanda robohnya beberapa siwi, sehingga yang lainnya tidak berani mengejar terlebih jauh. Maka si nona bersama engko Cengnya terus lari keluar dari tembok istana.
Keributan itu membikin istana menjadi kacau balau. Orang pun bingung, sebab tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ada huru-hara di dalam untuk merampas tahta kerajaan atau ada menteri yang berontak merampas pemerintahan? Toh setelah itu, orang berisik dengan sendirinya. Tidak ada kejadian lainnya lagi. Di situ telah berkumpul semua siwi, semua serdadu Gie-lim-kun.
Di tengah malam itu, hingga pagi, orang bergelisah tidak karuan. Sedatangnya fajar, tentara penunggang kuda di kirim ke pelbagai jurusan, mencari si orang jahat, antaranya dengan melakukan penggeledahan secara besar-besaran. Tentu saja waktu itu Wanyen Lieh semua telah kabur keluar kota, bahkan Oey Yong bersama Kwee Ceng telah tiba di dusun tempat mereka mondok.
Sebenarnya Oey Yong kabur tanpa arah, baru setelah melihat tidak ada yang mengejar, ia tidak lari keras seperti semula. Lebih dulu ia sembunyi di dalam sebuah gang kecil. Di sini ia pegang hidungnya Kwee Ceng. Ia merasakan hembusan napas. Di situ tidak ada api, tak jelas ia melihat muka si anak muda. Ia mengerti diwaktu siang tidak dapat ia berkeliaran di dalam kota dengan membawa-bawa orang terluka, karena ini, ia terus lari ke tembok kota, untuk melompatinya. Maka dilain saat tibalah ia ditempat Sa Kouw, si nona tolol.
Walaupun ia kuat, setelah berlari-lari setengah malaman, mana hatinya pun berkhawatir dan bingung. Oey Yong toh tersengal-sengal. Ia lantas menjatuhkan diri berduduk, guna meluruskan jalan napasnya. Dengan begitu, perasaannya pulih hatinya pun menjadi terang. Sekarang ia lantas menyalakan sebatang kayu cemara menyuluhi mukanya Kwee Ceng. Apa yang ia lihat membikin kaget, melebihi kagetnya di dalam gua tadi.
Kwee Ceng rebah tak bergeming, kedua matanya tertutup rapat, mukanya sangat pucat. Tak tahu ia apakah masih hidup atau sudah mati. Inilah pukulan sangat hebat untuk Oey Yong, hingga hatinya goncang keras. Ia berdiri bengong dengan tangannya memegangi obor kayunya. Ia merasakan ketika ada orang datang mendekati, ia baru sadar waktu obor kayunya itu ada yang sambar. Segera ia menoleh, mengenali Sa Kouw. Si tolol muncul karena ia dengar suara tak seperti biasanya. Sa Kouw pun cemas menyaksikan keadaan Kwee Ceng itu. Ia lari ke dapur, mengambil air dingin.
Oey Yong mengerti apa yang harus ia kerjakan. Ia keluarkan sapu tangannya, celupkan itu ke dalam air, dilain saat menyusut mulut muka yang keciprutan darah dari si anak muda. Dari lubang hidungnya merasakan hembusan napas yang semakin lemah. Setelah itu ia hendak memeriksa luka, matanya bentrok sama sinar berkilauan warna kuning emas dari pinggang Kwee Ceng. Karena ini sekarang ia melihat sebuah pisau belati nancap di pinggang!
Baru sekarang Oey Yong dapat menyabarkan diri. Dengan hati-hati ia membuka baju dalam si anak muda, dengan begitu ia melihat jelas nancapnya pisau itu. Darah disitu sudah mulai bergumpal. Kelihatannya pisau masuk kira-kira tiga dim dalamnya.
Nona ini menjadi bersangsi. Ia tidak berani mencabut pisau itu, khawatir nanti Kwee Ceng lantas menghembuskan napasnya yang terakhir. Kalau ia tidak mencabut, sebaliknya ia memperlambat waktu. Ini pun membahayakan si anak muda. Ia berpikir keras. Akhirnya ia menggertak gigi, tangannya diulurkan. Ingin mencabut, mendadak ia menarik pulang tangannya itu. Tiba-tiba saja ia bimbang dengan sendirinya. Kesangsian si nona berjalan terus, maka beberapa kali ia hendak mencobanya mencabut pisau belati itu, saban-saban ia gagal pula.
Sa Kouw menyaksikan kesangsian orang, ia menjadi tidak sabaran. Tiba-tiba saja ia mengulurkan tangannya dengan sebat mencabut pisau itu. Kwee Ceng menjerit, begitu pun Oey Yong. Si tolol sebaliknya girang sekali, ia tertawa tebahak-bahak. Ia masih tertawa ketika Oey Yong kaget melihat darah mengalir keluar dari luka engkonya itu. Saking berkhawatir dan mendongkol, ia sampok si tolol hingga dia terguling, setelah itu ia menggunakan sapu tangannya menyumpal luka Kwee Ceng, mencegah keluarnya terus darah itu.
Dengan jatuhnya Sa Kouw, obor cemara di tangannya pun padam. Si tolol menjadi gusar, ketika ia berlompat bangun, ia menendang. Oey Yong tidak menangkis, membiarkan pahanya kena ditendang. Sa Kouw khawatir si nona nanti membalas, ia memutar tubuhnya berlari. Tidak lama ia mendengar nona Oey menangis. Ia menjadi heran, maka ia kembali. Ia menyalakan lagi obor cemaranya.
"Apakah kau kena tendang sakit?" ia menanya Oey Yong.
Nona itu tidak menyahut, ia hanya berlutut mendampingi Kwee Ceng. Pemuda itu pingsan karena rasa nyerinya, sesaat kemudian ia baru sadar.
"Apakah surat wasiatnya Gak Bu Bok kena mereka curi?" Kwee Ceng menanya. Itulah hal yang ia ingat paling dulu.
Oey Yong girang mendengar orang dapat bicara, meskipun suaranya lemah. "Jangan khawatir, penjahat itu tak dapat turun tangan…" ia menyahut. Ia tentu saja berdusta, karena ia tidak ingin orang menjadi kaget dan bersusaah hati. Sebenarnya ia ingin menanyakan lukanya si anak muda, ketika ia merasakan tangannya hangat-hangat, disebabkan darah yang baru keluar dari pinggang Kwee Ceng itu.
"Eh, Yong-jie, kenapa kau menangis?" menanya Kwee Ceng yang baru sekarang melihat si nona berlinangan air mata.
"Aku tidak menangis," kata Oey Yong, yang paksakan diri untuk tertawa.
"Dia menangis tadi!" Sa Kouw campur mulut. "Kau hendak menyangkal? Apakah kau tidak malu? Lihat, mukamu masih ada air matanya!"
"Yong-jie, jangan takut," Kwee Ceng menghibur. "Di dalam Kiu Im Cin-keng ada terdapat cara-cara untuk mengobati luka, aku tidak bakalan mati."
Mendengar itu, Oey Yong merasakan di dalam kegelapannya memperoleh pelita. ia girang. Tadinya ia mau minta penjelasan tentang obat itu, niat ini batalkan, khawatir si anak muda nanti menjadi letih. Maka ia ambil obor dari tangannya si tolol.
"Enci, tadi aku kena serang kau, apakah kau sakit?" ia menanya sambil tertawa.
"Ah, kau menangis, tidak dapat kau menyangkal!" kata si tolol yang tidak memperdulikan pertanyaan orang. Ia hanya mengingat penyangkalan nona ini.
"Ya, benar, aku menangis," kata Oey Yong tersenyum. "Kau sendiri tidak menangis, kau baik sekali."
Mendengar dirinya di puji, Sa Kouw menjadi sangat girang. Kwee Ceng sendiri repot meluruskan pernapasannya, dengan begitu rasa sakitnya berkurang.
"Coba kau memakai jarum emasmu menusuk beberapa kali jalan darahku ceng-ciok dan siauw¬yauw," katanya perlahan pada Oey Yong.
"Ah, aku menjadi bodoh!" kata si nona, terperanjat. Dengan lekas ia mengeluarkan sebatang jarumnya dan terus bekerja. Tiga kali ia menusuk di pinggang kiri di mana ada dua jalan darah yang disebutkan itu. Tusukan ini membantu memperlambat mengalirnya darah dan mengurangi rasa nyeri.
"Luka di pinggangku ini, Yong-jie, meskipun dalam, tetapi tidak berbahaya," Kwee Ceng berkata, suaranya tetap perlahan. "Yang hebat ialah serangan Kap-mo-kang dari si Bisa bangkotan, syukurlah ia tidak menggunakan sepenuhnya tenaganya, dengan begitu aku masih dapat ditolong, cuma dengan begitu kau bakal menderita merawat aku tujuh hari tujuh malam…"
"Biarnya aku bersengsara tujuhpuluh tahun, untukmu aku senang," menyahut si nona, cepat.
Kwee Ceng terharu sekali, hatinya menggetar hampir ia pingsan pula. Ia berdiam menenangkan diri.
"Sayang suhu pun terluka," katanya kemudian.
"Sudahlah, kau jangan terlalu banyak pikir," mencegah Oey Yong sekalian menghibur. "Sekarang ini kau mesti berdaya mengobati lukamu sendiri, supaya orang lega hatinya…."
"Sekarang perlu kita mendapatkan dulu tempat yang tenang," berkata Kwee Ceng. "Disana aku nanti mengobati diriku dengan bantuanmu. Menurut ajaran kitab, kita mesti mengadu tenaga bergantian dengan sama-sama mengendalikan napas. Dengan jalan begitu kau membantu aku dengan tenaga dalammu. Seperti aku bilang tadi, sulitnya ialah waktu yang mesti digunakan tujuh hari tujuh malam, selama itu tak boleh kedua tangan kita berpisahan. Pikiran kita berdua bersatu padu, kita dapat berbicara tetapi tidak boleh ada orang ketiga yang menyelak nyampur bicara. Pula tidak dapat kita bangun atau berjalan sekalipun setengah tindak. Jikalau ada orang yang mengganggu kita, maka…."
Oey Yong mengerti cara pengobatan itu, yang sama dengan orang semadhi, ialah sebelum berhasil tidak boleh ada gangguan, yang akan menggagalkan dan bisa mendatangkan bahaya juga. Ini sebabnya, siapa tengah bersemadhi, ia membutuhkan kawan yang menjaga di sampingnya, guna mencegah gangguan yang tidak diinginkan itu. Ia jadi berpikir: "Aku perlu membantu dia, di sini tidak ada orang lain, siapa yang dapat melindungi? Sa Kouw tidak dapat diandalkan, dia terlalu tolol, malah mungkin dialah yang nanti merecoki. Juga di mana bisa dapatkan tempat sunyi dalam waktu sesingkat ini? Umpama kata Ciu Toako datang kemari masih belum tentu ia sanggup menjaga kita selama tujuh hari tujuh malam…Bagaimana baiknya sekarang?"
Kembali ia berpikir keras, matanya memandang tajam ke sekelilingnya. Mendadak ia melihat tempat menyimpan mangkok dan lainnya.
"Ada!" pikirnya sejenak. "Kenapa aku tidak mau sembunyi di dalam kamar rahasia itu? Dulu Bwee Tiauw Hong tidak mempunyai pembela, dia sembunyi di dalam gua…"
Ketika itu sang pagi mulai terang dan Sa Kouw pergi ke dapur untuk masak bubur.
"Engko Ceng, kau boleh beristirahat," berkata Oey Yong. "Aku hendak pergi sebentar membeli makanan, sekembalinya aku, kita mulai berlatih sambil menyembunyikan diri."
Kwee Ceng menurut, ia membiarkan kekasihnya pergi. Oey Yong pergi ke kampung. Sembari jalan ia pikirkan apa yang ia mesti beli. Tidak sembarang barang dapat disimpan selama tujuh hari tujuh malam, atau barang itu bakal rusak dan bau dan tidak dapat dimakan lagi. Ia tidak usah berpikir lama atau menjadi bingung karenanya. Ia lantas membeli dua pikul semangka, yang ia minta tukang jualnya pikul ke rumah Sa Kouw.
Setelah menerima uang, si tukang semangka berkata: "Nona, ini adalah semangka Gu-kee-cun, manis dan lezat rasanya, bila kau sudah mencobanya, baru kau tahu!"
Terperanjat Oey Yong mendengar nama desa ini, ialah Gu-kee-cun. "Kalau begitu, inilah kampung halamannya engko Ceng," pikirnya. Ia menjadi berkhawatir pemuda itu terganggu pikirannya apabila dia tahu ini kampungnya, maka ia lantas menyahut sembarangan saja asal si tukang semangka lekas pergi. kemudian lekas-lekas ia masuk ke dalam. Ia mendapatkan Kwee Ceng lagi tidur dan darah dari lukanya sudah berhenti mengalir.
Sedangnya pemuda itu tidur, ia lantas bekerja. Ia membuka pintu dapur, terus ia putar pesawat rahasianya, akan masuk ke dalam kamar rahasia. Ke dalam situ ia angkut masuk semua semangkanya. Kepada Sa Kouw ia memesan wanta-wanti agar si tolol jangan beritahukan siapapun juga yang mereka berdua berada di dalam kamar rahasia, dan meski ada peristiwa bagaimanapun hebatnya, si nona dilarang menerbitkan suara berisik.
Sa Kouw tidak mengerti maksud orang akan tetapi ia menginsyafi, karena ia menampak bicara dan gerak-¬gerik tamunya ini sangat sungguh-sungguh.
"Baik," katanya mengangguk. "Kamu hendak makan semangka sambil menyembunyikan diri di kamar ini, kamu hendak memakan habis dulu semua semangka, baru kamu akan keluar lagi. Baiklah, sekarang tidak akan bicara!"
"Memang, Sa Kouw tidak akan bicara!" kata Oey Yong, sengaja mengangkat. "Sa Kouw memang anak baik, kalau Sa Kouw bicara, dia anak buruk…!"
"Sa Kouw tidak akan bicara, Sa Kouw anak baik!" si tolol mengulangi.
Tidak lama Kwee Ceng sadar, ia diberikan bubur satu mangkok besar. Oey Yong pun memakannya semangkok. Habis dahar, nona ini mendukung pemuda itu masuk ke dalam kamar rahasia. Ketika ia menoleh keluar pintu, ia lihat Sa Kouw mengawasi mereka sambil tertawa si tolol berkata:
"Sa Kouw tidak akan bicara!"
Mendapatkan orang demikian tolol, Oey Yong menjadi berkhawatir. "Dia begini tolol, ada kemungkinan dia nanti sembarangan bicara sama siapa saja. Bagaimana kalau dia membilangnya, 'Mereka sembunyi di dalam sini memakan semangka, Sa Kouw tidak akan bicara'? Kelihatannya cuma dengan dibunuhnya baru lenyap ancaman untuk kita…"
Biarnya ia jujur dan polos Oey Yong tidak menghiraukan tentang wales asih atau kepantasan, sesat atau sadar, maka itu ia pun tidak pernah mau pikir, ada hubungan apa di antara Sa Kouw dan Kiok Leng Hong. Sekarang ia pikirkan keselamatannya Kwee Ceng, yang mesti ditolong dan dilindungi. Untuk Kwee Ceng, ia bersedia umpama kata mesti membunuh Sa Kouw. Maka ia lantas ambil pisau belatinya si anak muda. Disaat ia hendak pergi keluar, matanya bentrok sama sinar mata si pemuda itu, sinar kaget luar biasa. Ia memikir, "Mungkinkah dia dapat melihat sinar pembunuhan pada wajahku?" Lantas ia ingat: "Tidak apa aku membunuh Sa Kouw, hanya bagaimana nantinya, engko Ceng sembuh? Bagaimana aku harus membilangnya apabila ia menanyakan? Mesti dia bakal membikin banyak berisik………" Nona ini menjadi ragu-ragu.
"Engko Ceng baik dan halus budi pekertinya," ia berpikir lebih jauh. "Ada kemungkinan dia bakal tak menyebut-nyebut Sa Kouw, tetapi siapa tahu apabila ia terus-menerus membenciku? Ah, sudahlah, biarlah kita mencoba menempuh bahaya…….!"
Oey Yong lantas mengunci pintu. Kemudian ia meneliti seluruh ruang itu. Di ujung barat ada sebuah lobang angin dari mana masuk sinar terang, maka di siang hari, sinar terang itu dapat menerangi ruangan. Di tembok ada sebuah lobang angin kecil, yang ketutupan debu, lalu debu itu disingkirkan.
Kwee Ceng duduk menyender di tembok. Ia bersenyum. "Tidak ada tempat yang baik untuk beristirahat daripada ini," katanya. "Kau bakal menemani dua mayat, apakah kau tidak takut?"
Oey Yong tertawa meskipun sebenarnya ia risi juga. "Yang satu kakak seperguruanku, tidak mungkina ia menggangguku," sahutnya. "Yang satu lagi perwira kantung nasi, saat hidupnya aku tidak takut, apapula mati!"
Sembari berkata, ia mendupak jerangkong itu ke pojok Utara, kemudian ia menghampar rumput kering. Kemudian ia geser semua semangka, untuk didekati kepada mereka berdua, supaya gampang diambil dengan mengulur tangan saja.
"Bagus tidak begini?" akhirnya ia tanya Kwee Ceng.
"Bagus!" menjawab orang yang ditanya. "Sekarang mari kita mulai berlatih!"
Oey Yong membantu pemuda itu mengambil tempat duduk di atas rumput, ia sendiri lantas duduk besila di depannya, sedikit di sebelah kiri, darimana, dengan berpaling, ia bisa mengintai ke lobang angin di tembok itu. Untuk girangnya, ia mendapatkan sebuah kaca di sana, dengan perantaraan kaca, ia bisa melihat ke luar. Maka itu, ia memuji si pembangun kamar rahasia, yang demikian teliti dengan pembuatan kamarnya itu. Orang sembunyi tapi berbareng orang pun bisa melihat ke luar.
So Kouw duduk seorang diri di tanah sambil tangannya menggapai kaca ular sutera, mulutnya bergantian ditutup dan dibuka, suaranya perlahan. Oey Yong memasang kuping, mendengarkan, maka tahulah ia, si tolol lagi menyanyikan lagu meninabobokan anak kecil supaya tidur. Mulanya ia merasa lucu tetapi kemudian ia merasakan suara itu halus dan mengharukan. Tanpa merasa ia berpikir; "Adakah ini nyanyian ibunya dulu untuk ia mendengarkannya? Kalau ibuku belum menutup mata, ibupun akan menyanyikan aku begini rupa…."
"Yong-jie, kau memikirkan apa?" tanya Kwee Ceng mendapatkan orang berdiam saja. "Lukaku tidak berbahaya, kau jangan bersusah hati."
Oey Yong mengusap-usap matanya, ia tertawa. "Sekarang lekas kau ajari aku caranya menyembuhkan lukamu," ia berkata.
Kwee Ceng menurut, dengan perlahan ia membaca di luar kepala kitab Kiu Im Cin-keng bagian pengobatan luka-luka. Isinya pasal ini menjelaskan luka disebabkan serangan tenaga dalam, bagaimana ia harus dilawan untuk memulihkan kesehatan.
Cuma mendengar satu kali saja, Oey Yong telah paham. Cuma beberapa bagian yang kurang jelas, dengan menyakinkan bersama, ia pun dapat mengerti. Maka itu, dilain saat, mereka sudah mulai berlatih. Dua orang ini cocok satu sama lain, sebab si pemuda berbakat baik, si pemudi cerdas sekali. Mereka berlatih dengan Oey Yong mengeluarkan tangan kanannya, yang mana ditahan oleh Kwee Ceng dengan telapakan tangan kirinya, kemudian mereka saling menolak dengan menukar tangan.
Latihan ini dilakukan dua jam sekali maka itu diwaktu beristirahat dengan tangan kirinya Oey Yong memotong semangka, yang separuh untuk Kwee Ceng, yang separuh lagi untuknya sendiri. Selagi makan buah itu, tangan mereka yang sebelah ditempelkan terus satu sama lain.
Sesudah berlatih hingga jam bie-sie, satu atau dua lohor, Kwee Ceng merasakan dadanya sedikit lega, tak pepat seperti semula. Terang itu tanda telah berjalannya hawa hangat dari tangann Oey Yong, yang masuk ke dalam tubuhnya sendiri. Dengan begitu, rasa nyeri di pinggangnya turut berkurang juga. Hal ini membuatnya girang, hingga ia jadi berlatih semakin bersungguh-sungguh.
Ketika tiba pada istirahat yang ketiga, dari lobang di atas terlihat masuknya sinar matahari yang lemah. Itu tanda dari telah datangnya sang sore. Cuaca jadi semakin guram. Dengan berlalunya sang waktu, Kwee Ceng merasa semakin lega pernapasannya, dan Oey Yong pun bertambah segar. Dengan begitu, mereka bisa melewati waktu beristirahat itu dengan memasang omong.
Tidak lama keduanya hendak mulai latihan, kuping mereka medengar suara berlari¬-lari keras ke arah rumah makan dan berhenti di depan pondokan. Setelah itu terdengar masuknya beberapa orang, ternyata dari tindakan kaki mereka yang ramai.
"Lekas sediakan nasi dan lauk pauknya!" begitu terdengar satu suara keras dan kasar. "Tuan-tuan besarmu sudah kelaparan hingga mau mati…."
Kwee Ceng dan Oey Yong saling mengawasi. Mereka mengenal suara Sam tauw-kauw Hauw Thong Hay. Si nona lantas mengintai dari liang kecil di tembok di sisinya. Sekarang ia mendapat kepastian itulah rombangan musuh mereka sebab mereka adalah Wanyen Lieh bersama Yo Kang, Auwyang Hong, Pheng Lian Houw, Nio Cu Ong dan See Thong Thian. Sa Kouw tidak kelihatan, takk tahu kemana perginya si tolol itu.
Hauw Thong Hay menghajar meja kalang kabutan, masih tidak ada suara penyahutan. Pheng Lian Houw dan Nio Cu Ong memperhatikan rumah itu, lalu mereka mengerutkan kening.
"Tidak ada orang di sini…" kata Cu Ong.
"Kalau begitu, biarlah pergi ke kampung untuk membeli makanan!" kata Thong Hay, ia mendongkol tetapi ia sudi gawe.
Pheng Lian Houw tertawa, dia kata: "Hebat kawanan Gie-lim-kun itu, mereka ada kawanan kantung nasi tetapi mereka bisa telasap-telusup di segela tempat, mereka membuat arwah-arwah pun tak mau, hingga sekarang kitalah yang untuk satu hari lamanya tak dapat gegares! Ongya adalah orang Utara tetapi ongya ketahui di sini ada ini dusun sunyi senyap. Hebat!"
Wanyen Lieh tahu orang mengangkat-angkat dirinya tetapi ia tidak jadi kegirangan hingga terkentarakan pada air mukanya, sebaliknya, ia nampak masgul.
"Pada sembilanbelas tahun yang lalu, pernah aku datang ke mari," katanya sambil menghela napas.
Orang melihat wajah pangeran ini, yang agaknya berduka, mereka heran. tentu sekali mereka tidak tahu, pada sembilanbelas tahun yang lampau itu, di situ Pauw Sek Yok telah menolong jiwanya dari ancaman bahaya maut.
Mereka ini tidak usah menanti lama, Hauw Thong Thay telah kembali bersama arak dan makanan, maka Pheng Lian Houw segera menuangkan arak untuk mereka masing-masing, kemudian ia berkata pada si pangeran:
"Hari ini ongya mendapatkan surat wasiat, itu bukti Negara Kim yang terbesar bakal menggentarkan pengaruhnya di kolong langit, dari itu kami semua hendak memberi selamat kepada ongya! Saudara-saudara mari minum!"
Ia pun mengangkat cawanya, untuk cegluk kering isinya. Nyaringnya suara Pheng Lian Houw ini, Kwee Ceng dari tempatnya sembunyi dapat mendengar itu. Pemuda ini menjadi terkejut.
"Kalau begitu berhasillah mereka mencuri surat wasiat Gak Ongya!" pikirnya. Begitu ia berpikir demikian begitu ia merasakan napasnya sesak.
Oey Yong terkejut. Kagetnya si pemuda dapat dirasakan pada tangannya, yang terus menempel sama tangannya si pemuda. Ia mengerti sebabnya gangguan itu. Itulah berbahaya untuk si anak muda. Maka lekas-lekas ia geser kepalanya, untuk mendekati kuping orang dan berbisik:
"Ingat kesehatanmu! Mereka dapat mencuri pulang! Asal gurumu yang kedua turun tangan, sepuluh surat wasiat pun ia dapat curi lagi!"
Kwee Ceng anggap kata-kata itu benar. Ia mengetahui baik kepandaian gurunya yang nomor dua itu ialah Biauw Ciu Sie-seng Cu Cong si Mahasiswa Tangan Lihay. Maka itu ia berdaya untuk menentramkan diri, tak suka ia mendengar lebih jauh pembicaraan mereka. Ia meramkan kedua matanya.
Oey Yong mengintai pula, justru Wanyen Lieh mengangkat cawan araknya. Habis mencegluk, pangeran ini berkata dengan gembira:
"Semuanya siauw¬ong mengandalkan kepada tuan-tuan. Jasa Auwyang Sianseng ini yang nomor satu! Jikalau tidak sianseng mengusir bocah she Kwee itu pastilah kita mesti bekerja lebih sulit lagi."
Auwyang Hong tertawa kering, suaranya bagaikan cecer pecah. Kwee Ceng berdenyut hatinya mendengar tertawanya orang itu. Oey Yong pun bingung, hingga ia berkata seorang diri. "Berterima kasih kepada langit dan bumi, biarlah ini makhluk berbisa tua bangka jangan ngoceh lebih lama di sini, bisa-bisa engko Ceng nanti bercelaka karenanya…"
"Tempat ini sangat mencil dan sunyi," berkata Auwyang Hong, "Tidak mungkin tentara Song dapat menyusul kita sampai di sini. Sebenarnya apa itu surat wasiat Gak Bu Bok, baiklah kita sama melihatnya, untuk menambah pemandangan kita."
Sembari berkata, ia merogoh sakunya mengeluarkan kotak batu, kemudian ia letakkan di atas meja. Di mulut See Tok mengatakan demikian, di dalam hatinya ia sudah mengambil kepastian apabila ia mendapatkan surat wasiat itu berfaedah, hendak ia merampasnya untuk menjadi miliknya sendiri, kalau itu hanya ilmu perang biasa, yang baginya tak ada pentingnya, ia suka mengalah dan menyerahkannya kepada Wanyen Lieh, dengan begitu ia menjadi berbuat jasa untuk pangeran itu……. Sejenak kemudian, semua mata diarahkan kepada kotak batu itu.
Oey Yong melihat semua itu, segera otaknya bekerja. "Cara apa aku mesti ambil untuk dapat memusnahkan surat wasiat itu?" demikian pikirnya. "Kemusnahan adalah yang terlebih baik daripada surat wasiat itu jatuh ke dalam tangannya ini manusi-manusia jahat dan berbahaya….!"
Lalu terdengar suaranya Wanyen Lieh: "Ketika siauw¬ong memeriksa surat peninggalan Gak Hui itu, yang bunyinya seperti teka-teki, lalu itu dihubungi sama catatan hikayat beberapa kaisar di dalam istana kaisar she Tio itu, maka tahulah siauw-ong surat wasiat ini disimpan di Cui Han Tong, di simpan di dalam kotak batu yang berada limabelas tindak di arah Timurnya. Buktinya sekarang, duagaanku itu tidak salah. Aku mau percaya, tak ada orang yang ketahui kenapa telah terjadi pengacauan kita di dalam istana semalam…….."
Kelihatannya pangeran ini sangat puas, lebih-lebih setelah kembali orang memuji padanya. Wanyen Lieh mengurut kumisnya.
"Anak Kang, kau bukalah kotak itu!" ia memerintah.
Yo Kang menurut perintah. Ia maju, menghampiri. Lebih dulu ia menyingkirkan segelannya kotak, habis itu ia membuka tutupnya. Maka ke dalam situ menyorotlah sinar matanya semua orang. Apa yang dilihat membuat semua hadiran menjadi tercengang dan heran, sehingga untuk sesaat tak ada seorangpun yang dapat membuka suara.
Semua mata diarahkan tajam ke dalam kotak batu, yang diharap isinya istimewa, siapa tahu kotak itu ternyata kosong melompong, tidak ada apapun di dalamnya, jangan kata surat wasiat tentang siasat perang, sehelai kertas kosong pun tidak kedapatan.
Oey Yong tidak dapat turut melihat isinya kotak, tetapi ia melihat tegas wajah semua orang, maka ia menduga kotak itu kosong. Diam-diam ia bersyukur.
Wanyen Lieh menjadi sangat lesu, ia duduk dengan memegangi meja, sebelah tangannya menunjang janggut. Ia berpikir keras sekali. Di dalam hatinya ia kata: "Aku telah memikir matang, aku menduga surat wasiat itu berada di dalam kotak ini, kenapa surat itu tak ada sekalipun bayangannya?" begitu ia memikir demikian, begitu ia mendapat pikiran, wajahnya pun menjadi bercahaya saking gembiranya. Ia sambar kotak itu, terus ia bertindak ke cimchee, di sini dengan tiba-tiba ia banting kotak ke lantai batu! Dibarengi suara nyaring, kotak itu pecah menjadi beberapa keping.
Oey Yong cerdas, kupingnya lihay, dari suara pecahnya kotak itu, ia mendapat tahu kotak sebenarnya terdiri dari dua lapis, artinya ada lapisan dalamnya.
"Ah, siapa sangka kotak ini ada lapisannya?" katanya di dalam hati. Ia dapat menduga demikian, tetapi bukannya girang karena dugaannya itu tepat, ia justru menjadi masgul. Percuma menduga dengann tepat, ia sendiri tidak bisa muncul untuk mendapatkan kepastian. Tapi ia tak usah bergelisah lama-lama, Wanyen Lieh tampak sudah kembali ke mejanya seraya berkata:
"Aku sangka kotak itu ada lapisan dalamnya, tak tahunya isinya tidak…" Ia lesu sekali. Lian Houw semua heran, mereka ramai membicarakan kotak itu.
"Ah, siapa sangka!" pikir Oey Yong, hatinya lega, hingga di dalam hatinya mentertawai mereka. Ia berbisik pada Kwee Ceng, memberitahukan Wanyen Lieh belum berhasil memdapatkan surat wasiatnya Gak Hui. Kwee Ceng pun lega hatinya mendengar keterangan itu.
"Aku lihat kawanan penjahat ini belum mati hatinya, meski mereka bakal pergi lagi ke istana," Oey Yong mengutarakan dugaannya. Karena ini ia menjadi berkhawatir untuk gurunya, yang masih berada di dapur istana. Ada kemungkinan gurunya bakal dipergoki. Benar di sana ada Ciu Pek Thong yang melindungi tetapi Pek Thong bangsa berandalan, yang edan-edanan.
Jitu juga dugaanya nona Oey ini. Segera terdengar suaranya Auwyang Hong: “Kegagagalan kita ini tak berarti banyak, sebentar malam kita pergi lagi ke istana, mencari terlebih jauh!"
"Malam ini tak mungkin," Wanyen Lieh mencegah. "Tadi malam keadaan kacau sekali, tentu karenanya penjagaan diperkeras."
"Memang penjagaan tetap dilakukan, itu pun tidak berarti," berkata Auwyang Hong. "Ongya bersama sie¬cu malam ini tak usah turut, baiklah ongya berdua beristirahat di sini bersama keponakanku."
"Dengan begitu kembali siauw-ong membikin sianseng bercapai lelah," kata pangeran Kim itu sambil memberi hormat. "Baiklah siauw-ong menanti kabar baik saja."
Pembicaraan mereka berhenti sampai di situ. Habis bersantap Wanyen Lieh merebahkan diri di hamparan rumput, ditemani putra angkatnya dan Auwyang Kongcu, Auwyang Hong bersama yang lainnya lantas pergi memasuki kota, untuk menyerbu ke istana.
Wanyen Lieh tak dapat tidur, ia golek-golek saja. Ia memikirkan surat wasiat dan kepergian sekalian pahlawannya itu. Ia merasa tidak enak waktu kupingnya mendengar seekor anjing kampung membaung dan mengulun, suaranya sangat menyedihkan, tak sedap masuk ke kupingnya. Ia menjadi tak tentram dan masgul.
Belum lama pada pintu terdengar suara. Rupanya daun pintu ada yang tolak, sebab segera terlihat masuknya seseorang. Ia menggerakkan tubuh, bangun berduduk, tangannya memegang gagang pedang. Yo Kang telah berlompat ke belakang pintu, menyembunyikan diri, bersiap sedia.
Yang datang itu seorang nona dengan rambut riap-riapan, mulutnya memperdengarkan nyanyian perlahan. Ia menolak pintu terus masuk. Dialah Sa Kouw, yang tadi pergi bermain di rimba dekat rumahnya dan sekarang baru kembali. Ia melihat ada orang asing, ia tidak mengambil mumat, langsung ia pergi ke tumpukan rumput tempat ia biasa tidur. Begitu ia merebahkan diri segera terdengar suara napasnya menggeros.
Melihat bahwa orang adalah seorang nona dusun yang tolol, Yo Kang tertawa dengan sendirinya dan terus ia tidur pula.
Wanyen Lieh tetap berpikir, ia masih tak bisa pulas. Maka kemudian ia bangun, nyalakan sebatang lilin, yang ia letakkan di atas meja. Ia mengeluarkan sejilid buku, untuk dibaca, dibolak-balik lembarannya.
Selama itu, Oey Yong terus mengintai dari lubang temboknya. Kebetulan ia menampak seekor selaru terbang memutari api, lalu menyerbu, maka terbakarlah sayapnya dan robohlah tubuhnya di atas meja.
Wanyen Lieh jumput selaru itu. "Jikalau Pauw-sie hujinku ada di sini, pastilah kau bakal ditolong diobati," berkata ia dengan perlahan. Ia pun lantas mengeluarkan sebuah piasu kecil serta satu ples kecil berisi obat, ia pegang itu di kedua tangannya, untuk dibuat main. Ia nampaknya sangat berduka.
Oey Yong menepuk perlahan pundak Kwee Ceng, ia memberi isyarat supaya pemuda itu melihat kelakuan si pangeran .
Kwee Ceng lantas mengintai, dilain saat ia menjadi gusar sekali. Samar-samar ia ingat, pisau dan obat itu kepunyaan Pauw Sek Yok, ibunya Yo Kang. Semasa di dalam istana Chao Wang, Sek Yok pernah menggunakan itu mengobati lukanya seekor kelinci. Selagi ia mengawasi terus, ia dengar pangeran itu berkata seorang diri dengan perlahan:
"Pada sembilanbelas tahun dulu di kampung ini yang buat pertama kali aku bertemu denganmu…. Ah, aku tidak tahu, sekarang entah bagaimana dengan rumahmu yang dulu?" Habis berkata pangeran itu berbangkit, ia ambil lilinnya, terus jalan keluar pintu.
Kwee Ceng berdiam. "Mustahilkah kampung ini kampung Gu-kee-cun, kampung halaman ayah dan ibuku?" ia menanya dirinya sendiri. Ia lantas pasang mulutnya di kuping Oey Yong, untuk menanyakan.
Oey Yong mengangguk. Tiba-tiba Kwee Ceng merasakan dadanya goncang, darahnya berjalan keras, hingga tubuhnya bergerak¬-gerak karenanya. Tangan kanan Oey Yong menempel sama tangan kiri anak muda itu, ia merasakan goncangan keras dari hatinya si anak muda, ia menjadi berkhawatir. Goncangan itu bisa mencelakakan anak muda ini. Lekas¬lekas ia ulur tangan kanannya, ditempel dengan tangan kiri orang, terus ia mengerahkan tenaganya menekan.
Kwee Cengpun turut menekan, ini justru ada baiknya. Dengan begitu, perhatiannya terpusatkan pula, tak terbagi dengan perasaan yang menggoncangkan hati. Perlahan-lahan hatinya menjadi tenang kembali. Tidak lama tertampak sinar api, lalu Wanyen Lieh bertindak masuk sambil menghela napas panjang.
Kwee Ceng mengawasi dengan tenang. Sekarang ia dapat menguasai dirinya. Oey Yong dapat merasai ketenangan hati kawannya ini, ia membiarkan si kawan terus mengintai, cuma sebelah tangan tetap ia tempel sama tangannya sendiri.
Sekarang ini tangan Wanyen Lieh memegang sebuah senjata berwarna hitam. Itu bukan golok, bukan kampak. Dengan bengong si pangeran mengawasi senjata itu di samping api lilin. Sekian lama, ia mengasih dengar pula suaranya yang perlahan:
“Rumah keluarga Yo rusak hingga tak ketinggalan sepotong gentengpun. Keluarga Kwee masih meninggalkan tombak pendek yang dulu hari dipakai Kwee Siauw Thian…."
Hati Kwee Ceng tercekat mendengar nama ayahnya disebut oleh musuh yang telah membunuh ayahnya. Lantas saja ia berpikir, "Jahanam ini terpisah dariku tak ada sepuluh tindak, dengan sebuah pisau belati dapat aku menimpuk mampus padanya…." Terus dengan tangan kanannya ia menanya: "Yong-jie, dengan sebelah tanganmu dapat kau memutar membuka daun pintu?"
"Jangan!" mencegah si nona, yang dapat menerka maksud orang. "Gampang untuk membunuh dia tetapi dengan begitu orang menjadi tahu tempat sembunyi kita ini….."
"Dia…dia memegang senjata ayahku…" kata Kwee Ceng, suaranya menggetar.
Seumurnya Kwee Ceng belum pernah melihat wajah ayahnya, ia cuma mengetahuinya sebagian dari penuturan dan lukisan ibunya, yang lain berkat kekhawatiran hatinya memikir ayahnya, yang ia bayangkan saja. Ia sangat memuja ayahnya. Maka itu melihat ujung tombak ayahnya, hatinya goncang keras karena kebencian dan kemarahannya yang hebat.
Oey Yong mengalami kesulitan. Memang susah untuk membujuk pemuda ini. Tapi ia mencoba. Ia berbisik pula ke telinga si anak muda:
"Ibumu dan Yong-jie menghendaki hidupmu…"
Kata-kata ini besar pengaruhnya. Kwee Ceng terkejut, terus ia menyimpan pula pisau belatinya di pinggang. Ia kembali mengintai. Wanyen Lieh telah merebahkan kepalanya di meja.
Pemuda itu menghela napas. Bukankah ia tak dapat membalas sakit hati ayahnya? Karena lesu, ia lalu bersemadhi lebih jauh. Tapi, belum lagi ia menyingkirkan matanya dari lubang angin, ia melihat seseorang duduk di tumpukan rumput. Di dalam kaca, tak terlihat mukanya yang terkurung sinar api. Hanya setelah ia berbangkit berdiri dan mendekati Wanyen Lieh, akan mengambil peles obat dan pisau kecil tadi, selagi memutar tubuh, dia dapat dikenali sebagai Yo Kang.
Untuk sesaat Yo Kang memandang bengong peles obat dan pisau kecil itu, kemudian dari sakunya mengeluarkan sebuah tombak. Ia pun mengawasi tombak itu. Tidak lama ia berdiam, berbareng sama berubah air mukanya, ia menjumput tombak pendek yang terletak di tanah, dengan itu ia menikam ke arah punggung Wanyen Lieh.
Kwee Ceng melihat itu, girang hatinya. Ia mengerti, Yo Kang tentu mengingat ayah dan ibunya dan sekarang hendak menuntut balas. Asal tombak itu dikasih turun habis sudahlah jiwa pangeran Kim itu. Tapi, tangan Yo Kang terangkat naik terus berdiam, tidak terus dikasih turun, untuk menikam. Lewat beberapa saat, tangan itu pun diturunkan tanpa tikaman.
"Bunuh, bunuhlah!" Kwee Ceng berseru-seru di dalam hatinya. "Sekarang kalau kau tidak turun tangan, kau hendak menunggu sampai kapan lagi?" Lalu ia menambahkan: "Jikalau kau menikam, kau tetap saudaraku yang baik, urusanmu di dalam istana sudah menikam aku, akan aku bikin habis saja."
Tangan Yo Kang gemetaran, tangan itu dikasih turun perlahan sekali, maka kemudian, tombak itu menggeletak pula di tanah…
"Anak haram!" Kwee Ceng mendamprat di dalam hatinya. Ia menyesal dan mendongkol sekali.
Yo Kang meloloskan bajunya yang panjang, ia pakai itu untuk menutupi tubuh Wanyen Lieh, rupanya ia takut ayah angkatnya masuk angin.
Kwee Ceng lantas melengos. Tak sudi ia mengawasi lebih lama lagi. Ia sungguh tak mengerti sikapnya Yo Kang.
"Jangan bergelisah tidak karuan," Oey Yong menghibur. "Jangan keburu nafsu. Setelah kau sembuh, meski jahanam ini lari ke ujung langit, kita akan kejar!"
Kwee Ceng mengangguk, setelah mana ia berlatih terus. Ketika sang fajar datang, beberapa ekor ayam jago kampung berkeruyuk saling sahut, dilain pihak muda-mudi itu sudah berlatih tujuh rintasan hingga mereka merasakan tubuh mereka segar sekali.
Oey Yong menunjukkan telunjuknya. "Telah lewat satu hari!" katanya sambil tertawa. Ia puas dengan selesainya latihan hari pertama itu.
"Sungguh berbahaya!" kata Kwee Ceng perlahan. "Jikalau tidak ada kau, tidak dapat aku mengendalikan diri, dan itu artinya bahaya……."
"Masih ada enam hari dan enam malam, kau mesti janji dengarkan kata-kataku," kata si nona.
"Kapannya pernah aku tidak dengar kau?" Kwee Ceng menanya sambil tertawa.
Oey Yong tersenyum, lalu ia miringkan kepalanya. "Nanti aku berpikir," katanya.
Dari atas mulai bersorot sinar matahari, maka terlihatlah muka Oey Yong yang merah dadu, cantik manis, sedang dilain pihak, Kwee Ceng tengah memegangi tangan orang yang halus lemas, tanpa merasa, dadanya memukul. Maka lekas-lekas ia menenangkan diri, walaupun begitu, mukanya merah. Ia jengah dengan sendirinya. Sejak mereka bertemu dan bergaul, belum pernah Kwee Ceng memikir seperti kali ini terhadap si nona, dari itu ia menyesal dengan sendirinya dan menyesali dirinya juga.
"Eh, engko Ceng, kau kenapa?" tanya Oey Yong. Ia heran menampak perubahan muka si anak muda.
"Aku bersalah, mendadak saja aku memikir…..aku memikir…." Pemuda itu tunduk, perkataannya berhenti sampai di situ.
"Kau memikirkan apa sebenarnya?" si nona menanya lagi.
"Tetapi sekarang aku sudah tidak memikir pula."
"Tadinya kau memikir apa?"
Kwee Ceng terdesak. "Aku memikir untuk merangkulmu, menciummu.." karena terpaksa ia mengaku. Sebagai seorang jujur, tak dapat ia berdusta.
Muka si nona bersemu merah. Ia berdiam. Justru itu ia nampak semakin menggiurkan. Melihat orang diam saja dan bertunduk, Kwee Ceng menjadi tak enak hati.
"Yong-jie, kau gusarkah?" ia menanya. "Dengan memikir demikian, aku jadi buruk seperti Auwyang Kongcu……"
Tiba-tiba si nona tertawa. "Tidak, aku tidak gusar!" sahutnya. "Aku hanya memikir, di belakang hari, kau akhirnya bakal merangkul aku, mencium aku, bahwa aku bakal jadi istrimu!" Mendapat jawaban itu, lega hati Kwee Ceng.
"Engko Ceng," kemudian si nona tanya. "Kau memikir untuk mencium aku, adakah hebat pikiranmu itu?"
Kwee Ceng hendak memberikan jawabannya ketika ia menundanya. Tiba-tiba terdengar tindakan kaki cepat dari dua orang, yang terus masuk ke dalam rumah makann disusul suara nyaring dari Hauw Thong Hay:
"Aku telah bilang, di dunia ini ada setan, kau tidak percaya!"
"Apakah itu setan atau bukan setan?" terdengar suaranya See Thong Thian. "Aku bilang padamu, kita sebenarnya bertemu dengan seorang pandai!"
Oey Yong lantas saja mengintai, maka ia melihat muka Huaw Thong Hay berlepotan darah dan bajunya See Thong Thian robek tidak karuan. Melihat dua saudara seperguruan itu rudin demikian, Wanyen Lieh dan Yo Kang menjadi heran. Mereka lantas menanyakan sebabnya.
"Nasib kita buruk," menyahut Hauw Thong Hay. "Tadi malam di dalam istana kita bertemu hantu, sepasang kupingku si Lao Hauw telah kena ditabasnya kutung…"
Wanyen Lieh melihat kuping Thong Hay, benar lenyap dua-duanya. Ia menjadi heran sekali.
"Masih ngoceh saja!" See Thong Thian menegur. "Apakah kita tidak cukup memalukan?!"
Thong Hay takut kepada kakak seperguruannya itu, tetapi ia melawan. "Aku melihat tegas sekali," katanya membela. "Satu setan hakim yang mukanya biru kumisnya merah seperti cusee sudah berpekik seraya menubruk aku, begitu aku menoleh, sepasang kupingku tahu-tahu sudah lenyap. Hakim itu mirip benar dengan patung hakim di dalam kuil, kenapa dia bukannya hakim neraka tulen?"
See Thong Thian pun menerangkan, ia cuma bertempur tiga jurus dengan hakim neraka itu lantas pakaiannya kena disobek rubat-rubit seperti itu. Mereka itu menjadi heran tanpa pemecahan, dari itu mereka cuma dapat menduga-duga. See Thong Thian percaya ia berhadapan sama jago Rimba Persilatan yang lihay, maka itu ia menyangsikan hantu, tetapi ia pun tidak bisa membuktikan kesangsiannya itu. Ketika Auwyang Kongcu ditanya, mungkin ia ketahui sesuatu, ia pun menggeleng kepala.
Tengah mereka ini berdiam dengan terbenam dalam keheranannya, terlihat baliknya Leng Tie Siangjin bersama Pheng Lian Houw dan Nio Cu Ong bertiga. Mereka datang saling susul, keadaan mereka juga tidak karuan.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA
"Suhu, bagaimana kau merasa sekarang?" ia bertanya.
Cit Kong tidak menjawab, hanya napasnya memburu dan keras suaranya. Dia telah tertotok dengan ilmu totok Touw-kut Ta-hiat-hoat dari Auwyang Hong, walaupun dia sudah ditotok bebas, dia telah terluka dalam.
Ciu Pek Thong sedang gembira, ia tidak memperhatikan orang lagi menghadapi bahaya maut, tapi Oey Yong mengetahui keadaan gurunya, berulangkali ia mengedipi mata dan memberi tanda dengan tangannya agar si orang tua berandalan itu tak menerbitkan suara ribut yang mengganggu Pak Kay tapi si orang tua itu tetap saja ngoceh.
Oey Yong mengerutkan alis. "Kau hendak menangkap ikan hiu, tapi kau tidak punya umpannya, buat apa kau omong saja?" kata si nona akhirnya.
Loo Boan Tong tua tetapi seperti tak menghargai dirinya, ditegur orang muda, ia tidak mengambil peduli.
"Ada akalnya!" katanya selang sesaat, "Saudara Kwee, mari! Aku nanti tarik tanganmu, kau rendam separuh tubuhmu di dalam air!"
Kwee Ceng sangat menghormati kakak angkatnya, walaupun tidak tahu maksud orang, ia menurut. Tidak demikian dengan Oey Yong.
"Engko Ceng, jangan ladeni dia!" si nona mencegah. "Dia hendak pakai tubuhmu umpan guna memancing ikan hiu!" Nona ini dapat menerka maksud orang.
"Benar!" Pek Thong bersorak. "Begitu lekas ikan hiu itu datang, nanti aku sambar dia dan mengangkatnya ke atas. Kau boleh percaya, hiu itu tidak akan melukai kau!"
"Tapi perahu kita ini kecil, heranlah kalau perahu tak karam!" berkata Oey Yong.
"Karam itu lebih baik lagi!" berkata Loo Boan Tong. "Kita boleh sekalian turun ke laut untuk pelesiran!"
"Habis bagaimana dengan guru kami?" menanya si nona. "Apakah kau tidak menghendaki dia hidup terus?"
Pek Thong menggaruk-garuk kepalanya, tak dapat ia menjawab. Hanya kemudian ia persalahkan Auwyang Hong yang melukai Pak Kay.
"Jikalau kau masih ngoceh tidak karuan, kita bertiga tidak sudi bicara pula denganmu!" mengancam Oey Yong, yang agaknya habis sabar.
Pek Thong mengulur lidahnya, ia tidak berani mementang. Ia lantas menyambut pengayuh dari tangannya Kwee Ceng untuk mengayuh.
Daratan tak jauh nampaknya, tetapi untuk tiba di tepian, mereka mesti memakan waktu sampai langit mulai gelap. Karena itu, terpaksa mereka bermalam di pesisir. Besoknya pagi ternyata penyakit Ang Cit Kong bertambah berat. Kwee Ceng berduka dan sangat berkhawatir hingga ia menangis.
Pak Kay sebaliknya tertawa. "Walaupun aku hidup seratus tahun lagi, akhirnya toh aku mesti mati," katanya. "Anak yang baik, aku hanya mempunyai satu keinginan, kamu pergilah untuk mendapatkannya!"
Pek Thong memegat: "Si makhluk berbisa bangkotan itu, melihat cecongornya tidaklah senang aku, maka itu, kalau kau mati, kau matilah, kau legakan hatimu, nanti aku balaskan sakit hatimu, akan aku bunuh mampus!"
Ang Cit Kong tertawa pula. "Membalas sakit hati?" tanyanya. "Itu bukan keinginanku! Sebenarnya aku menghendaki dahar masakan Wanyoh Ngo-tin-kwee dari istana kaisar."
Tadinya tiga kawan itu menyangka pesan terakhir itu adalah urusan yang sangat besar, tidak tahunya urusan gegares, maka legalah hati mereka.
"Itu gampang suhu," Oey Yong lantas berkata, "Dari sini tak terpisah jauh dengan kota Lim-an, nanti aku pergi ke istana kaisar untuk mencuri beberapa mangkok masakan untuk kau dahar sepuasnya."
"Aku juga ingin dahar!" Pek Thong menyelak.
Oey Yong mendelik pada "Bocah" bangkotan itu. "Tahu apa kau tentang makanan lezat atau tidak?!" tegurnya.
"Wanyoh Ngo-tin-kwee itu, sekalipun di dalam istana tak gampang dibikinnya," Ang Cit Kong mengasih tahu. "Ketika dulu aku bersembunyi selama tiga bulan di dapur istana, cuma satu kali aku pernah merasainya. Lezatnya masakan itu, kapan aku ingat, membikin aku mengeluarkan ilar…" "Kalau begitu, aku ada punya satu pikiran," Pek Thong turut bicara. "Kita pergi mencuri koki raja, kita suruh dia masak untuk kita."
"Pikiran Loo Boan Tong ini tak buruk," Oey Yong bilang.
Bukan main girangnya Pek Thong dipuji si nona. Sebaliknya Ang Cit Kong menggeleng kepala.
"Tak dapat itu dilakukan," kata Pengemis dari Utara. "Barang hidangan itu, segalanya mesti istimewa, sampai baranya, mangkoknya juga, kalau tidak, rasanya tidak lezat, salah sedikit pun tidak boleh. Paling benar kita pergi sendiri ke istana untuk memakannya."
Tiga orang itu tak takut pergi ke istana. "Itu memang paling bagus!" kata mereka bareng. "Nah, mari kita berangkat sekarang!"
Kwee Ceng lantas menggendong gurunya, dibawa ke desa yang berdekatan. Di situ mereka minta nasi dan arak, untuk menangsal perut. Mereka hendak membayar uang makanan ketika mereka mendapat kenyataan kantung mereka kosong.
Orang yang mempunyai rumah itu seorang nyonya, dia baik budi, bukan saja tidak menghendaki uang, bahkan ia mengantarkannya ke kota.
Cit Kong berempat menghanturkan terima kasih, lantas mereka pamitan. Ketika melewati sebuah rumah gadai, mendadak Pek Thong gusar dan berseru:
"Ini dia usaha membunuh orang tanpa melihat darah!" Lantas ia hendak menyerbu untuk merampas uang dari pengadaian itu.
"Buat apa terburu nafsu?" Oey Yong mencegah. Ia loloskan gelang rambutnya, ia masuk ke dalam rumah gadai itu, untuk menggadaikan itu sebesar empatbelas tail perak, kemudian mereka mencari hotel dimana mereka beristirahat. Sehabis bersantap, Kwee Ceng bertiga tidak melihat Oey Yong ada bersama.
Berkata Pek Thong kepada adik angkatnya: "Istrimu itu lihay, kalau aku Loo Boan Tong melihatnya, aku takut sekali!"
Kwee Ceng tersenyum. Tidak lama terlihat Oey Yong muncul dari luar dengan wajahnya berseri-seri.
"Kenapa kau takut padaku?" tanyanya pada si tua berandalan.
Pek Thong mengawasi, ia melihat rambut orang ada gelang emasnya. "Eh, kenapa kau lantas menebusnya kembali?" ia tanya heran. "Kalau begitu, kita mesti mencari daya untuk membayar uang sewaan kamar dan makanan kita ini…"
Oey Yong tidak segera menjawab, hanya dari sakunya ia tarik keluar empat kantung uang.
"Untuk apa mesti ditebus?" katanya tertawa. "Rumah gadai itu akulah yang usahakan, maka berapa banyak aku menghendaki, berapa banyak aku boleh ambil!"
Pek Thong kagum bukan main orang dapat pergi dan pulang dengan cepat untuk mengambil balik gelangnya berikut uang, maka ia memberikan pujian. Katanya:
"Ini nona kecil benar-benar dapat mewariskan kepandaian keluarganya, dia pandai sekali!"
"Jikalau aku dibandingkan sama Biauw Ciu Sie-seng yang menjadi guru nomor dua dari engko Ceng, kepandaianku ini sungguh tidak berharga setengah peserpun!" kata si nona tertawa.
"Oh, ada orang yang demikian lihay?" kata Pek Thong. "Aku ingin bertemu dengannya!"
Sementara itu terlihat sakitnya Ang Cit Kong bertambah berat sedang di kota itu tidak ada tabib terkenal, maka Kwee Ceng bertiga menyewa sebuah kereta keledai untuk Pak Kay, dengan itu mereka berangkat menuju ke utara, ke kota Lim-an.
Pada suatu hari tibalah mereka di sungai Cian Tong, darimana mereka pergi ke luar kota Lim-an. Mereka tidak keburu masuk ke dalam kota karena cuaca mulai gelap, burung-burung gowak tengah terbang pulang. Karena itu mereka memikir mencari rumah penduduk, buat menumpang bermalam. Mereka melihat tidak jauh dari situ ada aliran air yang mengitari tujuh atau delapan rumah.
"Kampung itu bagus, mari kita singgah di sana?" Oey Yong mengajak.
"Bagus apa?" tanya Pek Thong, matanya mencilak.
"Kau lihat, bukankah pemandangannya indah bagaikan gambar?" si nona bilang.
"Kalau indah bagaikan gambar, habis bagaimana?" tanya Loo Boan Tong.
Si nona heran, hingga ia melengak. "Jikalau kau bilang jelek, kita jangan singgah di sini," katanya kemudian. "Tapi kita tidak dapat pergi ke lain tempat…"
"Kalau kamu tidak pergi perlu apa aku pergi sendiri?" berkata si orang tua yang lagi kumat berandalannya.
Sementara itu mereka sudah tiba di kampung itu. Nyata itulah sebuah kampung rudin, sebab di sana sini telihat tembok-tembok runtuh. Di muka kampung sebelah timur terlihat sebuah warung arak, maka mereka menuju ke sana. Di bawah payon ada dua buah meja papan, mejanya tebal debunya.
"Hallo!" Pek Thong lantas memanggil.
Dari dalam muncul seorang nona umur tujuh - atau delapanbelas tahun, rambutnya awut-awutan tetapi rambut itu ditancap sebatang tusuk konde. Dia mementang matanya lebar-lebar mengawasi ketiga orang itu.
"Kasihkan aku nasi dan arak," Oey Yong minta.
Si nona menggeleng kepalanya.
"Kau tidak punya arak dan nasi, habis untuk apa kau membuka rumah makan?" menegur Pek Thong.
"Aku tidak tahu," sahut si nona, yang kembali menggoyang kepalanya. "Ah, kau benar-benar nona tolol!" kata Pek Thong.
Si nona tertawa. "Memang aku si Sa Kouw!" sahut nona itu.
"Sa Kouw" berarti "nona tolol"! Mendengar jawaban itu Oey Yong bertiga girang. Oey Yong terus masuk ke dalam menuju dapur untuk melihat-lihat. Ia mendapatkan banyak galagasi. Nasi tinggal nasi dingin. Di atas pembaringan, tikarnya pun tikar butut. Itulah tanda kemelaratan, maka ia terharu.
"Apakah kau sendirian saja di sini?" ia menanya si nona rumah. Sa Kouw mengangguk sambil tersenyum.
"Ibumu?" Oey Yong tanya pula.
"Sudah mati," sahut si nona. Ia mengusap matanya, seperti mau menangis.
"Ayahmu?" Nona itu menggeleng kepala tanda tak tahu. Oey Yong melihat tangan dan muka orang kotor, seperti sudah beberapa bulan tidak pernah ketemu air, maka di dalam hatinya ia berkata: "Taruh kata dia masak nasi, tentu aku tak dapat mendaharnya…." Tapi ia toh menanya:
"Ada beras?"
Nona itu mengangguk, kembali ia tersenyum. Ia pergi mengeluarkan paso besar, yang isinya separuh. Oey Yong lantas turun tangan sendiri, mencuci beras dan memasaknya.
Kwee Ceng lantas pergi ke kampung sebelah barat dimana ia membeli dua ekor ikan serta seekor ayam, terus bersama Oey Yong ia kerjakan itu. Waktu nasi dan barang makanan matang dan disajikan, sang malampun tiba.
Oey Yong minta minyak, untuk memasang lampu, tapi Sa Kouw menggeleng kepala. Terpaksa nona Oey mencari sebatang cemara, ia sulut itu. Ia pergi ke dapur, mencari mangkok dan sumpit. Ketika ia membuka lemari, ia mencium bau busuk. Ia menyuluhi, maka terlihatlah tujuh atau delapan mangkok hijau yang sudah sombeng di sana sini. Di sininya ada belasan bangkai cecurut….
Kwee Ceng membantu mengambil mangkok.
"Pergi kau cuci bersih sekalian ambil beberapa batang cabang pohon untuk dipakai sebagai sumpit," berkata Oey Yong.
Si anak muda menurut, ia berlalu dengan mangkok kotornya. Oey Yong menjumput mangkok yang terakhir ketika ia merasakan mangkok itu dingin seperti es, beda dari mangkok biasa. Ia mengangkatnya, tapi mangkok itu diam di tempatnya seperti terpaku. Ia menjadi heran. Ia tidak berani memaksa mengambil, khawatir mangkok itu pecah. Ia hanya mencoba lagi tetapi kembali gagal.
"Mustahilkah karena dibiarkan lama di sini, mangkok ini penuh debu dan jadi nempel lengket karenanya?" ia berpikir. Maka itu ia mengawasi terus, sampai ia lihat mangkok itu karatan, sebab mangkok itu ternyata terbuat dari besi. Dengan sendirinya nona itu tertawa geli.
"Mangkok emas, mangkok perak, mangkok kumala, semuanya aku pernah lihat," katanya di dalam hati. "Tetapi belum pernah aku dengar ada mangkok besi."
Ia mencoba menarik dengan menggunakan sedikit tenaga, tetap mangkok itu tak bergeming. Ia heran bukan main. Mestinya mangkok itu dapat terangkat berikut papannya. Maka ia menduga papannyapun besi. Ia lantas menyentil. Ia mendengar suara nyaring. Benarlah dugaannya.
Oey Yong pegang mangkok itu, ia memutar ke kiri. Mangkok diam saja. Ia mencoba memutar ke kanan, mangkok itu bergerak sedikit. Ia memutar terus. Tiba-¬tiba mendengar suara keras, sebagian tembok memutar ke kanan, mangkok itu bergerak sedikit. Ia memutar terus. Tiba-tiba ia mendengar suara keras, sebagian tembok dapur terbelah dua, memperlihatkan lobang yang gelap. Dari situ lantas menghembus bau busuk, sampai si nona mau muntah, lekas-lekas ia lompat ke samping.
Kwee Ceng bersama Ciu Pek Thong mendengar suara si nona, mereka lantas datang melihat.
"Jangan-jangan ini rumah makan gelap," berkata Oey Yong, yang menjadi curiga. "Mungkin Sa Kouw berpura-pura tolol." Tiba-tiba ia berlompat ke samping nona tolol itu, yang berada di ruang dapur, kedua tangannya diulur untuk menangkap lengan orang.
Ruang itu gelap tetapi Sa Kouw mendengar suara angin, ia menarik tangannya dengan jurus "Melepas jubah menyerahkan kedudukan," setelah bebas, ia membalas menyerang, ke arah pundak orang.
Oey Yong menduga mungkin tidak bermaksud jahat hanya ia tidak menyangka nona itu demikian gesit dan serangannya pun ganas, ia menjadi kaget. Dengan tangan kiri ia menangkis, terus membangkol dengan tangan kanan ia menyerang dua kali beruntun. Setelah menyakinkan Ie-kin Toan-kut-pian, ia menjadi sebat sekali dan tenaganya bertambah, maka Sa Kouw lantas saja menjerit kesakitan karena lengannya kena terpukul, meski begitu, ia melawan terus.
Sungguh Oey Yong tidak menyangka, di dusun sepi itu ada rumah makan gelap, bahkan pelayannya seorang nona jorok, bahkan dia cukup gagah karena dia dapat bertahan sampai tujuh atau delapan jurus.
Kwee Ceng dan Pek Thong turut menjadi heran. Kemudian Pek Thong dengar suara anginnya Oey Yong berubah hebat, lantas ia berteriak:
"Eh, nona Oey, jangan kau ambil jiwanya!"
Selagi begitu, Kwee Ceng berjaga-jaga di sisinya Ang Cit Kong, ia khawatir ada penghuni jahat lainnya, yang bisa membokong gurunya. Beberapa jurus lagi, Oey Yong menghajar lengan orang hingga lengan itu dikasih turun, tak dapat digerakkan lagi. Kalau mau, ia dapat membinasakan, tetapi ia merasa kasihan.
"Berlutut!" ia menitah. "Akan aku beri ampun dirimu!"
"Aku tidak sudi!" menjawab nona itu, yang mendadak menyerang pula dengan tangan kanannya, bahkan jurusnya ada jurus "Lok Eng Ciang-hoat" ajarannya Oey Yok Su.
Oey Yong kaget dan heran. Sambil menangkis, ia menanya: "Darimana kau pelajari jurus Lok Eng Ciang-hoat? Siapakah gurumu?"
Nona tolol itu tertawa. "Aku tidak suka menjawab. Habis kau mau apa?" ia menantang.
Melihat suara orang tak lagi seperti orang tolol, Oey Yong mengulang serangannya, kedua tangannya bergerak saling susul dua kali, kemudian disusul serangan yang kelima, untuk menggertak, sebab berbareng dengan itu, kakinya bekerja.
"Bruk!" demikian Sa Kouw roboh terguling.
"Ah, kau memakai akal!" serunya. "Mari kita bertempur pula!" Ia terus merayap bangun.
Oey Yong tidak sudi memberi kesempatan, ia menubruk dan menindih, lalu merobek baju orang untuk dipakai mengikat tangannya.
"Bukankah Lok Eng Ciang-hoatku lebih baik daripada kepunyaanmu?" ia bilang.
"Kau menggunakan akal, aku tidak terima!" nona itu membelar. Dan ia mengulanginya perkataan itu.
Melihat si tolol sudah kena dibikin tidak berdaya, Kwee Ceng lari keluar, terus melompat naik ke atas wuwungan, mengawasi sekelilingnya. Ia tidak melihat apapun. Tapi ia turun ke bawah, ia jalan mengitari rumah makan itu. Rumah itu mencil dan pintunya pun cuma satu. Dengan merasa lega, ia masuk pula ke dalam.
Oey Yong tengah mengancam Sa Kouw dengan pisaunya diarahkan ke mata orang. "Siapa yang mengajari kau ilmu silat?" demikian tanyanya. "Lekas bilang! Kalau kau tidak suka bicara, nanti aku tikam mampus!"
Sa Kouw tidak menjadi takut, bahkan ia tertawa haha-hihi. Dia seperti tidak kenal bahaya, dia rupanya menyangka nona tetamunya tengah main-main dengannya. Oey Yong penasaran, ia ulangi pertanyaannya.
"Aku tidak mempunyai guru," sahut si tolol akhirnya. "Siapa yang membilang ada orang yang mengajar aku?"
"Budak ini tidak suka bicara, mari kita masuk ke dalam lobang ini untuk memeriksa," berkata Oey Yong kemudian. "Ciu Toako, tolong lindungi guruku serta menjaga budak ini. Engko Ceng, mari kau bersamaku…"
"Tidak, tidak!" Pek Thong menggoyangkan tangannya. "Aku pergi bersama kau!"
Si nona mengerutkan keningnya. "Tidak, aku tidak mau pergi bersama kau!" ia menolak.
Pek Thong lihay, usianya pun tinggi, entah kenapa, terhadap si nona tak berani membantah, bahkan sebaliknya, ia lantas memohon.
"Nona yang baik, lain kali aku tidak berani pula…" katanya.
Oey Yong lantas saja tertawa melihat kejenakan orang tua. Ia mengangguk. Pek Thong jadi sangat girang, lekas ia mencari dua cabang cemara, untuk disulut menyala, untuk dipakai ia menyuluhi ke dalam gua, yang ia asapkan sekian lama.
Oey Yong sendiri malah melemparkan sebatang cemara yang apinya menyala ke dalam lobang itu, setelah itu ia mendengar suara bentroknya batang itu dengan dinding. Maka teranglah tempat rahasia itu tidak dalam.
Dengan memimjam penerangan obor kayu cemara, orang memandang ke dalam gua. Tidak ada bayangan orang di dalam situ, tidak ada suara apa-apa. Maka tanpa bersangsi lagi, Ciu Pek Thong lantas bertindak masuk. Dia disusul oleh Oey Yong. Setelah memperhatikan beberapa saat, nyata gua itu ada sebuah kamar kecil.
"Kita terjebak, kita terjebak!" Pek Thong berseru-seru. "Tak bagus!"
Oey Yong sebaliknya mengeluarkan suara kaget. Dia melihat ke bawah dan nampak tulang belulang seorang manusia, yang rebah celentang. Pakaiannya sudah rusak, hingga tak dapat dikenali, semasa hidupnya dia orang macam apa. Di pojok timur pun ada tulang-belulang serupa, terletak di atas sebuah peti besi. Sebatang golok tajam panjang satu kaki tengah menancap di punggung tutup peti besi itu.
Pek Thong mendapatkan ruang kecil kotor dan seram dengan adanya tulang-belulang itu, tidak ada apa-apa yang luar biasa, tetapi karena Oey Yong masih memperhatikan segalanya, ia berlaku sabar untuk menemani, hanya kemudian, ia tak dapat menahan sabar pula.
"Nona yang baik," katanya, "Hendak aku pergi keluar, bolehkah?"
"Baiklah," menjawab si nona. "Pergi kau menggantikan engko Ceng, supaya ia datang ke mari."
Pek Thong girang bukan main, ia keluar seperti burung terbang, dilain saat Kwee Ceng datang masuk. Oey Yong mengangkat obor kayu cemaranya, untuk menyuluhi, supaya Kwee Ceng dapat melihat segalanya terutama tulang-belulang manusia, kemudian ia menanya bagaimana atau apa yang menyebabkan kematian dua orang itu.
"Dia ini tentu lagi hendak membuka besi itu, lantas ada orang yang membokong dari belakang," kata Kwee Ceng seraya menunjuk tulang-tulang di atas peti besi. "Yang di tanah itu, karena tulang-tulangnya pada patah, mesti diserang dengan tangan kosong."
"Aku juga menduga demikian, hanya masalahnya hal-hal disini membuat aku tidak mengerti," menyatakan si nona.
"Apa yang kau maksudkan?"
"Umpama Sa Kouw," sahut si nona. "Dia mengerti ilmu silat Lok Eng Ciang-hoat, benar ia menyakininya belum sempurna tetapi itu adalah pelajaran sejati. Darimana ia dapatkan itu? Dua orang ini mati disini, ada hubungan apakah di antara mereka dan Sa Kouw? Sebelum diketahui jelas semua ini, tak tentram hatiku…"
"Baiklah kita tanya pula nona itu," Kwee Ceng mengusulkan. Ia tidak mau menyebut nona itu nona tolol, karena ia sendiri sering dikatakan tolol.
"Menurut penglihatanku, dia memang benar-benar tolol," kata Oey Yong. "Dia tidak suka bicara, percuma kita menanya padanya. Mari kita memeriksa lagi dengan seksama, barangkali saja kita mendapat sesuatu."
Maka ia angkat obornya, menyuluhi dua perangkat tulang-belulang manusia itu. Ketika ia menyuluhi ke peti besi, di kaki itu ada suatu benda yang bergemerlap. Ia lantas jumput, sebuah pay emas dan di tengahnya ditabur dengan sebutir batu permata sebesar jempot tangan. Ia membalik pay itu, menampak sebaris ukiran huruf-huruf, bunyinya: "Cio Gan Keng, panglima kota Tiongciu, gelar Bu Kong Tayhu".
"Pay ini kepunyaan ini setan mati, pangkatnya bukan kecil," kata si nona.
"Seorang berpangkat tinggi terbinasa di sini, sungguh aneh," Kwee Ceng mengutarakan keherannnya.
Oey Yong memeriksa pula tulang-tulang di tanah, ia tidak dapatkan apa-apa, hanya tulang punggung itu rada munjul, maka ia mengoreknya dengan ujung cabang cemara, waktu debunya sudah berkisar, di bawah itu ada selembar besi. Ia kaget hingga berseru, cepat sekali ia sambar besi lempengan itu. Kwee Ceng pun berseru saking heran kapan ia telah melihat benda itu.
"Kau kenal ini?" Oey Yong tanya.
"Ya. Ini patkwa besi kepunyaan Liok Chungcu di Kwie-in-chung."
"Tapi belum tentu kepunyaan Liok Suheng sendiri."
"Mungkin. Melihat rusaknya pakaian, mayat ini mestinya sudah berada di sini sepuluh tahun."
Oey Yong berdiam akan tetapi otaknya bekerja. Habis itu ia sambar golok di atas peti besi itu, ia bawa ke depan matanya, melihat dengan teliti. Ia mendapatkan ukiran sebuah huruf "Kiok". Atas itu dengan kaget ia berseru: "Yang rebah di tanah ini adalah kakak seperguruanku!"
Kembali Kwee Ceng memperdengarkan suara heran.
"Menurut Liok Suheng, Kiok Suheng masih hidup, siapa tahu dia telah terbinasa di sini," berkata Oey Yong kemudian. "Engko Ceng, coba kau lihat ini tulang kakinya."
Kwee Ceng berdongko. "Kedua tulang pahanya patah," ia berkata. "Ah, ia telah dihajar patah oleh ayahmu…"
Si nona mengangguk. "Kakak seperguruan ini bernama Liok Leng Hong," ia memberi keterangan. "Pernah ayah menerangkan, di antara enam muridnya, Kiok Suheng ini paling pandai dan ia pun paling disayang…"
Belum habis ia berkata, Oey Yong sudah lompat untuk lari ke luar dari ruang rahasia itu. Kwee Ceng, yang merasa heran lari mengikuti. Oey Yong lari kepada Sa Kouw.
"Kau she Kiok, bukankah?" ia menanya. Sa Kouw tidak menyahut, ia hanya tertawa geli.
"Nona, apakah shemu?" Kwee Ceng menanya, sabar.
"Aku tidak tahu," menyahut nona itu menggeleng kepala.
Selagi dua orang itu hendak menanyakan terlebih jauh, Pek Thong menjerit-jerit; "Aku sudah lapar! Aku sudah lapar! Aku bisa mati kelaparan!"
"Benar," berkata Oey Yong. "Mari kita bersantap dulu." Ia membuka ikatannya Sa Kouw, ia ajak nona itu bersantap bersama.
Sa Kouw tidak menampik, ia tertawa, ia angkat mangkoknya dan dahar. Sembari bersantap Oey Yong tuturkan Cit Kong apa yang ia dapatkan di dalam kamar rahasia itu.
Pak Kay pun heran. "Rupanya orang she Cio itu menghajar mati suhengmu, lantas ia hendak membuka peti besi itu," katanya, mengutarakan dugaannya. "Tidak tahunya suhengmu itu belum mati dan ia menimpuk dengan golok."
"Melihat keletakannya, mungkin begitu kejadiannya," Oey Yong membenarkan. Ia lantas memperlihatkan golok lancip itu serta patkwa besi pada si nona tolol. Ia menanya, "Apakah kau tahu siapa punya ini?"
Melihat itu, wajah Sa Kouw berubah. Ia berpaling, agaknya ia berpikir, tapi ia tidak dapat mengingat apa-¬apa. Akhirnya ia menggeleng kepalanya, hanya tangannya memegangi golok itu, tak mau dilepaskan.
"Rupanya pernah ia melihat golok ini, sekarang dia tidak ingat," bilang Oey Yong.
Habis bersantap, sesudah memernahkan Ang Cit Kong, yang merebahkan diri untuk tidur, Oey Yong ajak Kwee Ceng pergi pula ke kamar gelap itu, untuk memeriksa terlebih jauh. Sekarang perhatian mereka ditujukan kepada peti besi, yang entah apa isinya.
Semua tulang di atas tutup peti disingkirkan. Gampang sekali mengangkatnya, sebab peti tidak dikunci. Peti itu menyinarkan cahaya bergemerlapan, sebab isinya adalah pelbagai macam batu permata.
Kwee Ceng hanya merasa aneh, tetapi Oey Yong tahu itulah harta besar sekali. Ayahnya biasa mengumpulkan permata tetapi tak sebanyak ini.
Nona Oey meraup permata itu, lalu ia melepaskan pula. Batu-batu itu mengasih dengar suara nyaring.
"Semua permata ini mesti ada riwayatnya," kata si nona kemudian. "Kalau ayahku ada disini, ia tentu mengetahuinya." Lalu ia menjelaskan kepada Kwee Ceng namanya setiap batu permata itu.
Kwee Ceng gelap untuk semua permata itu, belum pernah ia melihatnya, belum pernah ia mendengarnya.
Oey Yong meraup pula, sampai dalam. Tangannya membentur dasar peti besi. Ia merasakan lantai yang keras. Ia jadi menduga peti besi itu ada lapisannya. Ia lantas meneliti pinggiran peti. Sekarang ia melihat gelang kecil di kiri dan di kanan, yang tadinya kealingan batu-batu permata. Ia menggunakan kedua tangannya memegang sepasang gelang itu, lalu mengangkat. Untuk herannya, ia mendapatkan di dasar peti itu sejumlah barang kuno dari perunggu mestinya pun dari pelbagai jaman yang telah lampau. Jadi ini adalah benda-¬benda yang lebih berharga daripada batu-batu permata itu.
Masih ada lagi lain lapisan peti itu. Ketika lapisan ini pun diangkat, di dalam situ terlihat pelbagai gambar lukisan dan tulisan huruf segulung demi segulung.
"Mari bantu aku," si nona minta pada Kwee Ceng, untuk membeber gambar-gambar itu. Kesudahannya, ia menjadi heran dan kagum. Sebab ia melihat lukisan-¬lukisan dari Gouw Too Cu, Co Pa, Kie Jian dan Lie Houw-cu kaisar dari dinasti Tong Selatan, dan lainnya lagi, jumlahnya duapuluh lembar lebih. Dan semua itu pun barang-barang yang harganya luar biasa.
Saking kagum, Oey Yong tidak mau melihat lebih lama, semua itu ia masukkan ke dalam peti, lalu ditutup dengan rapi, kemudian sambil memeluk dengkul, ia duduk bercokol di atasnya. Ia berpikir keras.
"Ayahku pengumpul semua permata dan barang kuno, tetapi apa yang ia peroleh tidak ada satu sepersepuluh dari harta karun ini," pikirnya. "Kenapa Kiok Suheng demikian lihay hingga ia dapat memeproleh semua ini?"
Tidak sempat nona ini berpikir terus, ia mendengar suara nyaring Ciu Pek Thong, "He, keluar kamu semua! Mari kita pergi ke rumahnya kaisar untuk dahar Wanyoh Ngo-tin-kwee!"
"Kita pergi malam ini?" tanya Kwee Ceng.
"Lebih cepat satu hari lebih baik," berkata Cit Kong. "Kalau kita berlambat, aku khawatir tak dapat bertahan lebih lama lagi…"
"Suhu," berkata Oey Yong, "Paling cepat juga baru besok pagi kita dapat masuk ke dalam kota. Suhu jangan dengarkan ocehan Loo Boan Tong!"
"Ya, sudah, sudahlah!" berkata Ciu Pek Thong. "Memang sagalanya aku yang salah!" Terus ia menutup mulutnya.
Besoknya pagi, Oey Yong berdua dengan Kwee Ceng mematangi nasi, lalu mereka sarapan bersama-sama Sa Kouw. Oey Yong memikirkan tempat yang aman untuk menyimpan harta karun itu.
"Sudah, mari kita lekas pergi!" Pek Thong mengajaki. "Itu toh bukannya bendamu! Perlu apa kau capaikan hati?"
Si nona memikir, memang tempat itu adalah tempat yang paling aman. Bukankah harta karun itu sudah berdiam di dalam kamar rahasia itu untuk belasan tahun? Maka ia lantas bekerja, menutup rapat pula pintu rahasia dan benahkan segalanya seperti semula mereka datang.
Selama itu Sa Kouw tidak memperdulikan perbuatan orang, ia tidak tahu menahu, ia hanya lebih suka membuat main golok tajam itu. Ketika mau pergi, Oey Yong memberikan uang perak dua potong. Sa Kouw menerimanya untuk terus dilempar secara sembarangan ke atas meja.
"Jikalau kau lapar, pakailah uang ini untuk membeli beras dan daging," pesan Oey Yong.
Nona itu acuh tak acuh, ia cuma tertawa saja. Oey Yong sangat berduka, ia mengasihi nona tolol ini. Ia percaya pasti ada hubungannya sama Kiok Leng Hong, mungkin sanak atau muridnya. Ia pun tidak mengerti, orang tolol semenjak kecil atau hanya baru belakangan saja karena sesuatu serangan otak. Tadinya ia hendak mencari keterangan di kampung itu tetapi Ciu Pek Thong mendesak tak hentinya, terpaksa ia turut juga. Maka berempat mereka pergi menuju ke kota. Cit Kong tetap naik kereta.
Kota Lim-an ialah kota Hangciu yang tersohor indah, kota ini dijadikan kota raja oleh karena pemerintahan Song berpindah ke Selatan. Oey Yong berempat memasuki pintu kota timur, Cit Kong mendesak untuk pergi ke istana kaisar, dari itu mereka menuju ke pintu Lee-ceng-mui.
Pek Thong bertiga memandang istana yang indah, yang berukir dan bergambar dan juga dicat merah dan air emas. Wuwungannya ditutup dengan genteng kuningan yang berkilauan, yang juga diukir dengan naga-nagaan dan burung hong.
"Bagus!" Pek Thong berseru, kagum. "Mari kita masuk!"
Di muka istana ada serdadu-serdadu pengawal, mereka mendengar suara berisik itu, mereka melihat seorang tua dan sepasang muda-mudi mengiringkan kereta keledai, empat diantaranya lantas maju mendekat untuk menangkap. Mereka semua memegang kampak.
Pek Thong si berandalan gembira sekali, tidak perduli orang bertubuh kekar dan romannya garang, ia hendak maju melayani mereka.
"Jangan!" mencegah Oey Yong. "Mari kita lekas pergi!"
"Takut apa?!" mata Pek Thong mencelik. "Masa mereka dapat gegares aku?"
"Jikalau kau tidak mau dengar aku, lain kali aku tidak mau memperdulikan lagi dirimu!" kata Oey Yong yang terus mencambuk keledai hingga keretanya menggelinding cepat ke arah barat.
Kwee Ceng lantas menyusul. Pek Thong takut juga nanti ditinggal pergi hingga ia tidak dapat turut pesiar, ia turut pula berlalu dengan meninggalkan keempat pengawal pintu itu. Mereka ini tidak mengejar, hanya mereka menertawai. Mereka menduga itulah rombongan orang desa….
Oey Yong larikan keretanya ke tempat sepi di mana tidak ada orang lain, di situ ia berhenti.
"Kenapa tidak menerjang masuk ke istana?" kata Pek Thong. "Itu segala kantung nasi, mana mereka bisa mencegah kita?"
"Menerjang masuk memang tidak sukar," menyahut Oey Yong. "Tetapi kita datang ke mari untuk bertarung atau untuk pergi ke dapur raja mencari makanan? Dengan menerjang masuk, kau membuatnya gaduh, dengan begitu, mana bisa kau mendapatkan Wanyon Ngo-tin-kwee untuk guruku?"
Pek Thong berdiam, tak dapat ia menjawab. "Baiklah, kembali aku yang salah!" katanya kemudian.
"Dasarnya salah!" kata Oey Yong.
"Ya, sudahlah!" kata pula si tua berandalan itu. Ia terus perpaling kepada Kwee Ceng untuk mengatakan: "Wanita di kolong langit semuanya galak-galak, maka Loo Boan Tong tidak sudi menikah seumur hidupnya…"
Oey Yong tertawa. "Engko Ceng orang baik, orang tidak nanti menggalaki dia!" katanya.
"Kalau begitu, apakah aku bukannya orang baik?"
"Habis apa kau sebenarnya orang baik? Coba bilang, kau yang tidak hendak menikah atau si nona yang tak sudi menikah denganmu?"
Pek Thong miringkan kepalanya, ia tidak menjawab.
"Mari kita mencari penginapan dulu," Kwee Ceng dating menengahi. "Sebentar malam baru kita memasuki istana."
"Benar," kata Oey Yong. "Setelah suhu berdiam di hotel, nanti aku masak unntuk kamu dahar."
"Bagus, bagus!" Cit Kong memuji. Ia girang sekali.
Mereka lantas menuju ke Jalan Gie-gay, menyewa kamar di penginapan Kim Hoa. Oey Yong benar saja lantas pergi ke dapur untuk memasak tiga rupa barang hidangan, yang baunya lantas tersiar, hingga orang-orang di penginapan menanyakan pelayan, koki kesohor yang mana yang pandai masak.
Diwaktu bersantap, Pek Thong tidak turut. Ia mendongkol dikatakan tak ada wanita yang sudi menikah dengannya. Tapi dia dibiarkan saja ngambek….! Habis bersantap, Cit Kong masuk untuk tidur, Kwee Ceng mengajak Pek Thong jalan-jalan, Loo boan Tong tetap ngambek.
"Kalau begitu, baik-baiklah kau temani guruku," kata Oey Yong tertawa. "Sebentar aku belikan kau beberapa rupa barang bagus untuk kau main."
Mendengar itu, bangkit kegembiraan si berandalan tua itu. "Apakah kau tidak mendustakan aku?" tanyanya.
"Pasti tidak!" si nona memberikan perkataannya.
Ketika Oey Yong berlalu dari rumahnya saat musim semi, pernah ia pergi ke kota Hangciu ini, yang letaknya dekat dengan Tho Hoa To, hanya karena khawatir dapat disusul ayahnya, ia tidak berani berdiam lama¬-lama, sekarang ia punya waktu, dia mengajak Kwee Ceng pesiar ke telaga See Ouw yang tersohor itu.
Biar bagaimanapun, Kwee Ceng nampak tidak terlalu gembira. Oey Yong melihat itu, ia menduga itu disebabkan si pemuda memikirkan sakitnya Cit Kong. Maka ia berkata:
“Suhu bilang ada serupa barang yang dapat menyembuhkan penyakitnya, hanya itu sangat sukar didapatkan, bahkan ia melarang kita menanya barang apa itu. Biar bagaimanapun, aku hendak berdaya mendapatkannya, buat mengobatinya hingga sembuh!"
"Yong-jie, itu paling bagus!" kata Kwee Ceng girang. "Apakah kau merasa pasti akan bisa mendapatkannya?"
"Aku tengah memikirkan jalannya. Tadi sebelum bersantap, pernah aku menanyakan keterangan suhu. Disaat suhu hendak memberitahu, tiba-tiba ia sadar, lantas ia bungkam. Tapi aku akan berdaya mengorek keterangannya."
Kwee Ceng tahu kekasihnya cerdik, hatinya menjadi lega. Sembari berbicara, mereka tiba di Toan-kio, jembatan buntung di tepi telaga. Ini adalah salah satu tempat yang kesohor di See Ouw, dimana orang bisa melihat sisa salju, cuma karena sekarang musim panas, yang terlihat pohon-pohon teratai dengan bunganya yang tumbuh di kolong jembatan.
"Mari kita minum di sana sambil memandangi bunga teratai," Oey Yong mengajak. Di tepian itu ia melihat sebuah rumah makan kecil yang nampaknya resik.
Kwee Ceng setuju, maka berdua mereka pergi ke rumah makan itu. Mereka meminta arak dan beberapa rupa santapan yang rasanya lezat. Sembari minum, Oey Yong memandang ke sekitarnya. Ia mendapatkan di jendela timur ada sebuah kesokol, yang ditutupi dengan kain indah. Ia lantas mendekati. Nyata di bawahnya ada tulisan yang berupa syair.
"Syairnya indah juga," katanya.
"Apakah artinya itu?" tanya Kwee Ceng. Oey Yong memberi penjelasan, tetapi anak muda itu tak ketarik hatinya. Ia kata; "Di sini kota raja, segala menteri luang waktunya, mereka main minum arak dan pesiar saja. Rupanya urusan negara mereka kesampingkan…."
"Benar begitu," sahut Oey Yong. "Maka itu ayahku paling jemu semua orang semacam mereka. Umpama ayah dapat membaca syair ini, mungkin ia cari penulisnya untuk menebas tubuhnya menjadi dua potong…."
Tiba-tiba di belakang mereka ada orang tertawa dingin yang berkata: "Jiwi tahu apa maka kamu bicara sembarangan di sini?"
Kwee Ceng berdua menoleh dengan cepat. Mereka melihat seorang dengan dandanan sebagai sastrawan, umurnya kurang lebih empatpuluh tahun, yang masih saja tertawa dingin. Kwee Ceng lantas memberi hormat dan berkata:
"Aku yang rendah tidak mengerti, tolong tuan menjelaskannya."
"Kau tahu ini adalah buah kalam istimewa dari Thayhaksu Jie Kok Po dari tahun Sun-hie," kata orang itu. "Ketika itu Kaisar Hauw Cong datang ke mari untuk minum arak, dia dapat melihat syair itu, dia puji tinggi, lalu hari itu juga ia memberikan pangkat kepada Jie Kok Po karena karyanya itu. Itulah untuk bagus dari seorang sastrawan. Maka kenapa jiwi bicara sembarangan saja?"
"Jadi kesokol ini pernah dilihat kaisar maka tuan rumah menutupinya?" tanya Oey Yong.
"Bukan itu saja!" kata orang itu, tetap tertawa dingin. "Coba lihat itu bagian kata-kata 'Besok datang kembali dengan sisa mabuk': Bukankah ada dua tanda hurufnya yang diubah?"
Oey Yong berdua Kwee Ceng mengawasi. Benar mereka mendapatkan dua huruf perubahan itu.
"Sebenarnya Jie Kok Po menulis, 'Besok datang pula dengan membawa sisa arak,' tetapi kaisar cela itu, katanya pandangannya cupat, lalu ia mengubahnya yaitu huruf 'bawa' ditukar dengan huruf 'mendukung' dan huruf ' arak' ditukar dengan huruf 'mabok'. Sebenarnya Jie Kok Po menulis, 'Besok datang pula dengan membawa sisa arak'. Kalau kaisar tidak pintar, mana dapat ia mengubah itu?" Habis berkata orang itu menggeleng kepala dan menghela napas.
"Ha, satu kaisar begitu gila arak!" seru Kwee Ceng dengan gusar, dan ia dupak terbalik kekosol itu, hingga rusak.
Sejak masih kecil Kwee Ceng telah mendengar keterangan ibunya perihal kekejaman bangsa Kim, ia menyangka hanya disebabkan kelemahan kerajaan Song, maka ia mengharap, sepindahnya ke Selatan, raja nanti bergiat memajukan negera, untuk menuntut balas, siapa tahu, raja gila pelesiran. Maka dalam gusarnya, ia hajar sekosol ini, terus ia jambak si sastrawan, untuk dijoroki, hingga ia roboh masuk ke jambangan arak. Kepala di bawah, kaki di atas!
"Bagus!" Oey Yong berseru. Ia sambar kedua kaki meja dan patahkan itu, lalu dengan sepasang kaki meja itu, ia menghajar kalang-kabutan.
Pemilik rumah makan dan tetamu lainnya, yang tidak tahu telah terjadi apa, lari keluar dengan ketakutan. Kwee Ceng lantas mengamuk seperti Oey Yong, akhirnya ia hajar sebuah tiang hingga tiang itu patah dan rumah makan itu ambruk. Setelah itu keduanya tertawa, sambil berpegangan tangan, mereka ngeloyor ke Utara. Tidak ada orang yang berani menyusul mereka.
"Puas juga sekarang!" kata Kwee Ceng di tengah jalan. Ia tertawa pula.
"Ya, apa yang kita lihat dan tak menyenangi, mari kita hajar!" Oey Yong membenarkan.
"Bagus begitu!"
Jalan lebih jauh di sepanjang jalan itu mereka nampak banyak syair, di batu, di pohon, di tembok. Melihat itu, Kwee Ceng menghela napas.
"Kalau begini, tak bisa kita menghajar semua," ia bilang. "Kau cerdik, Yong-jie, kau ada punya daya apa?"
"Aku lihat ada syairnya yang baik," sahut si nona.
"Ah, peduli apa!"
Selagi bicara, mereka tiba di puncak Hui Lay Hong. Di tengah itu ada paseban Cui Bie Teng tulisannya Jenderal Han See Tiong. Girang Kwee Ceng melihat itu, sebab Han See Tong ialah panglima tersohor yang menentang bangsa Kim. Ia bertindak masuk ke dalam paseban itu. Di dalam ada sebuah syair tulisan Han See Tiong.
"Bagus syair ini!" Kwee Ceng memuji.
"Sebenarnya itu adalah syair Bu Bok Ong Gak Hui," kata Oey Yong.
"Eh, mengapa kau ketahui itu?"
"Ayah pernah menuturkan itu padaku. Waktu tahun Ciauw-hin ke 11 di musim dingin, Gak Bu Bok difitnah dan dihukum mati oleh Cin Kwee, lalu di lain tahunnya di musim semi, Han See Tiong membangun paseban ini sebagai tanda peringatan dan ia menuliskan syairnya Bu Bok itu, yang terus diukir."
Kwee Ceng mengagumi panglima kenamaan itu, lama ia berdiri diam mengawasi syairnya, ia usap-¬usap. Sedang begitu, mendadak Oey Yong mendak seraya menarik ujung bajunya, hingga ia mesti mengikuti, masuk ke dalam gombolan pohon bunga. Di situ pundaknya di tekan, hingga ia berjongkok seperti si nona. Hampir bersamaan waktu, mereka mendengar tindakan kaki memasuki paseban itu.
"Han See Tiong itu memang seorang enghiong," berkata seseorang. "Tetapi istrinya pun gagah meski istri itu asal bunga raja. Bukankah ia telah turut maju di medan perang dan telah memukul tambur mengajurkan suaminya memperoleh kemenangan?"
Kwee Ceng mengenali suara itu tetapi tak ingat suara siapa itu.
"Gak Hui dan See Tiong memang enghiong tetapi mereka kalah dengan kaisar," kata seorang lain. "Bukankah kaisar menghendaki kematiannya dan semua kekuasaannya atas angkatan perang telah ditarik pulang? Mereka gagah tetapi mereka mesti menerima nasib. Demikian pengaruh kaisar, yang tak dapat ditentang!"
Sekarang Kwee Ceng ingat suaranya Yo Kang. Ia heran. Ia menduga-duga, mengapa pemuda ini berada di tempat ini. Justru itu terdengar satu suara lain, yang seperti cecer pecah, hingga ia bertambah heran dan kaget. Itulah suaranya See Tok Auwyang Hong si Bisa dari Barat. Kata Auwyang Hong:
"Benar! Asal kaisar gelap pikiran yang bertahta dan segala dorna memegang kekuasaan atas pemerintahan tak peduli satu enghiong terbesar, ia tak ada gunanya!"
"Maka kalau raja bijaksana," berkata orang yang pertama, "Pastilah orang-orang seperti Auwyang Sianseng bakal dapat memperlihatkan kegagahan dan kepandaiannya!"
Kwee Ceng mengenali suara orang ini, ialah Wanyen Lieh, putra keenam dari negara Kim atau musuh yang membunuh ayahnya. Tadi, dalam waktu pendek, ia tak segera mendapat ingat.
Mereka berdiam tidak lama di dalam paseban, habis bicara dan tertawa, mereka berlalu pula.
"Coba duga," kata Kwee Ceng pada Oey Yong setelah mereka itu pergi jauh, "Apa maksud mereka datang ke Lim-an ini? Dan adik Kang, kenapa ia ada bersama mereka?"
"Memang sudah lama aku melihat adikmu bukan orang baik-baik, kau tetap membilang ia turunan orang gagah," menyahut si nona. "Baru sekarang kau mengerti! Kalau ia benar orang baik, kenapa dia bergaul sama See Tok dan pangeran musuh itu?"
"Aku juga tidak mengerti," kata Kwee Ceng.
Oey Yong lantas menyebut hal yang ia dengar di ranggon Hoa Cui Kok di istana Chao Wang baru-baru ini. Ia menambahkan:
"Wanyen Lieh telah mengumpulkan Pheng Lian Houw dan kambrat-¬kambratnya, maksudnya untuk mencari surat wasiat Gak Bu Bok, maka mau aku menduga surat wasiat itu mesti berada di dalam kota Lim-an ini. Sungguh celaka rakyat Song kita apabila surat wasiat itu benar-benar terjatuh ke tangan mereka!"
Tergetar hatinya Kwee Ceng. Memang itulah hebat. "Yong-jie," katanya. "Kita mesti mencegah mereka berhasil mencuri surat wasiat itu!"
"Hanya sulitnya mereka itu bersama si Bisa dari Barat itu…"
"Apakah kau jeri?"
"Apakah kau sendiri tidak takut?"
"Memang aku takut terhadap See Tok, tetapi urusan ini begini besar, karenanya tak dapat kita main takut saja."
Oey Yong tertawa. "Kau tidak takut, aku juga tidak takut!" katanya.
"Bagus! Sekarang mari kita susul mereka!"
Mereka berlalu dari paseban itu, tetapi mereka tak dapat menyandak Wanyen Lieh bertiga, dan sia-sia saja mereka ubak-ubakan di dalam kota. Hangciu kota besar, dalam waktu yang singkat, kota itu tak dapat diputari seluruhnya. Maka itu setelah setengah harian dan sang sore mendatang, mereka pergi ke taman Bu Lim Wan di Tiong-wa-cu.
Oey Yong melihat sebuah toko yang menjual pelbagai macam topeng, yang lukisannya bagus dan hidup, ia menjadi ketarik hatinya. Ia ingat janjinya kepada Ciu Pek Thong, hendah membelikan sesuatu, maka ia masuk ke dalam toko itu, dengan mengeluarkan lima chie, ia membeli belasan topeng, seperti dari Ciong Hiok si raja setan, hakim neraka, toapekkong dapur, malaikat tani, serdadu langit dan hantu lainnya. Semua itu dibungkus jadi satu.
"Entah rumah makan apa itu?" kata Oey Yong. Ia mencium bau makanan lezat dari restoran di sebelah toko topeng itu.
"Rupanya jiwi bukan orang sini maka jiwi tidak ketahui," berkata pelayan toko tertawa. "Itu adalah restoran Sam Goan Lauw, yang kesohor nomor satu di kota kita. Jangan jiwi melewatkan kesempatan ini!"
Oey Yong ketarik hatinya, ia menyambut topengnya, lantas ia tarik tangan Kwee Ceng untuk diajak pergi. Rumah makan itu dipajang indah, catnya pun bagus. Diatas lauwtengnya ada dipanjar banyak tengloleng. Di pekarangan dalam ada pohon-pohon bunga dan lainnya. Setibanya mereka di lauwteng, pelayan menyambut mereka dengan manis, menunjukkan tempat duduk. Kemudian, setelah dapat pesanan makanan, pelayan itu mengundurkan diri.
Dari terangnya api, Kwee Ceng melihat beberapa puluh bunga raja dengan pakaiannya yang mewah berkumpul di samping lorong. Ia heran. Ia hendak menanyakan pelayan atau mendadak ia tunda maksudnya itu, sebab kupingnya segera mendapat dengar satu suara dari balik tembok:
"Baik juga! Coba suruh mereka bernyanyi menemani kita minum arak!"
Itu suaranya Wanyen Lieh. Kwee Ceng dan Oey Yong saling merilik. Di dalam hatinya mereka kata: "Bagus!" Mereka telah mencari berputaran, tak tahunya orang ada disini.
Lalu terdengar suara memanggil dari pelayan, kemudian satu nona bunga raja menyahut lantas datang menghampiri. Dia bertindak elok dan tangannya memegang kecrek. Tidak lama kemudian, sudah terdengar suara bernyanyi yang merdu, nyanyian yang memuji sungai Cian-tong dan kotanya yang indah.
"Bagus!" demikian terdengar pujian Wanyen Lieh dan Yo Kang.
Habis itu terdengar ucapan terima kasih dari si tukang nyanyi, yang lantas mengundurkan diri dengan gembira, rupanya ia mendapat persenan besar.
"Anak," kemudian terdengar suara Wanyen Lieh. "Kau tahu tidak, syairnya Liu Eng itu ada hubungannya sama negara Kim yang besar?"
"Anak tidak tahu, coba ayah menjelaskannya," terdengar jawabannya Yo Kang.
Mendengar orang saling memanggil anak dan ayah, Kwee Ceng dan Oey Yong saling melirik. Kwee Ceng berdongkol berbareng masgul. Kalau bisa, ingin ia menjambak Yo Kang, untuk paksa ia memberi keterangan.
Yang dibilang syairnya Liu Eng itu ialah syair "Bong Hay Tiauw" atau "Memandang gelombang" yang tadi dinyanyikan si nona tukang nyanyi itu.
Lantas terdengar penjelasan Wanyen Lieh. "Di tahun Ceng-liong dari negara Kim yang agung. Junjungan kita Liang telah melihat syairnya Liu Eng itu yang memuji telaga See Ouw. Karena ini, ketika dikirim utusan ke Selatan, sekalian dikirim juga seorang pelukis, dia buat gambar panorama kota Lim-an. Junjungan kita lagi berdiri bersama kudanya di puncak bukit Gouw San, kemudian Dia sendiri menulis syair dalam gambar itu, syair yang menguraikan ia membawa angkatan perang ke See Ouw dan ia berdiri di puncak ke satu dari bukit Gouw San itu."
"Sungguh bagus!" Yo Kang memuji.
Kwee Ceng meremas tangannya sendiri saking mendongkolnya. Lalu terdengar Wanyen Lieh menghela napas dan berkata dengan menyesal:
"Sayang tak tercapai cita¬cita Junjungan Lian membawa angkatan perang ke Selatan untuk mendaki puncak Gouw San itu, meski begitu, cita-cita itu sekarang akan dicontoh oleh anak cucunya. Cita-cita luhur dari Junjungan itu terbukti dengan syair yang ia tulis pada sebuah kipas, bunyinya, 'Kalau gagang kipas ada di tangan, maka angin sejuk akan memenuhi kolong langit'."
Waktu mengucap begitu, semangat Wanyen Lieh tengah tersengsam. Setelah itu terdengar tertawa nyaring dari Auwyang Hong, yang berkata:
"Kalau di lain hari ongya yang memegang kekuasaan besar pastilah akan tercapai itu cita-cita berdiri di puncak gunung Gouw Wan!"
"Semoga terjadi apa yang sianseng katakan," kata Wanyen Lieh perlahan. "Di sini ada banyak mata dan kuping, mari kita minum saja."
Sampai di situ, bertukarlah pokok pembicaraan mereka bertiga. Mereka berbicara tentang keindahan tempat dan adat kebiasaan penduduknya.
"Mereka minum dengan gembira sekali, aku justru akan membikin mereka tidak gembira!"
Oey Yong berbisik di telinga Kwee Ceng, ia terus ajak pergi ke taman belakang. Di sini si nona menyulut api, membakar gudang kayu di empat penjuru, maka di lain saat, berkobarlah api itu merupakan satu kebakaran! Dalam sekejap berisiklah suara orang yang berteriak-¬teriak dari berlari-larian:
"Kebakaran! Kebakaran! Tolong! Padamkan api!"
"Mari lekas ke depan!" si nona membisiki lawannya. "Nanti mereka keburu lenyap lagi!"
"Malam ini mesti aku berhasil menikam mampus Wanyen Lieh!" kata Kwee Ceng sengit.
"Tapi kita mesti temani suhu masuk dulu ke istana," kata Oey Yong. "Kemudian kita minta Ciu Toako layani See Tok, supaya kita leluasa menghadapi sepasang manusia celaka!"
"Benar!" kata Kwee Ceng setuju.
Mereka lantas turut berdesakan pergi ke depan dimana Wanyen Lieh bersama Yo Kang dan Auwyang Hong terlihat lagi keluar dari rumah makan. Mereka menguntit dari kejauhan, melintasi sejumlah jalan dan gang, sampai di penginapan Siang Hong di See-sie-tiang. Sekian lama mereka menanti, tidak juga Wanyen Lieh keluar, maka mereka menduga tentulah tiga orang itu mondok di hotel ini.
"Mari kita pulang, setelah mengajak Ciu Toako, baru kita satroni mereka!" kata Oey Yong.
Kwee Ceng menurut. Mereka pulang ke penginapan Kim Hoa. Baru sampai di depan penginapan, mereka sudah dengar suara berisik dari Ciu Pek Thong, Kwee Ceng kaget, ia khawatirkan luka gurunya. Ia lari masuk. Tiba di pekarangan, hatinya lega. Di sana Pek Thong lagi berselisih sama beberapa anak-anak. Nyata dia kalah bertaruh dan hendak menganglap dan anak-anak itu tidak mau mengerti.
Melihat Oey Yong, karena takut ditegur, Pek Thong lantas ngeloyor masuk. Oey Yong berdua Kwee Ceng mengikuti, sesampainya di dalam, si nona mengeluarkan macam-macam topeng yang ia beli, ia perlihatkan pada si orang tua.
Pek Thong gembira, ia pakai itu satu demi satu, sebentar jadi hakim neraka, sebentar jadi hantu. Oey Yong lantas bicara. Ia minta sebentar si tua itu membantu untuk menghadapi Auwyang Hong.
"Baik!" Pek Thong menjawab. "Sebentar aku lawan dia dengan kedua tanganku, dengan dua macam ilmu silat juga!"
Oey Yong khawatir si tua ini nanti berlaku seperti di Tho Hoa To, sebab menghukum diri disebabkan menggunakan ilmu silat Kiu Im Cin-keng, dia sudah ikat kedua tangannya untuk bertempur sama ayahnya. Maka itu ia lantas berkata:
"See Tok itu manusia sangat busuk, kalau kau gunakan Kiu Im Cin-keng untuk menghajar dia, kau tentu tidak melanggar larangan kakak seperguruanmu!"
"Ah, itu tidak bisa!" menampik Ciu Pek Thong sambil membuka lebar matanya. "Aku toh sudah menyakinkan ilmu silat baru tanpa menggunakan Kim Im Cin-keng itu."
Oey Yong tidak mau memaksa. Ia khawatir si tua itu ngambek. Siang hari itu, hatinya Ciu Pek Thong sudah seperti berada di dalam dapur istana. Maka begitu tiba jam dua, Kwee Ceng lantas menggendong gurunya, sambil jalan diatas genteng, berempat mereka pergi ke istana, menuju langsung ke dapur, yang berada di belakang bukit Liok Pouw San dan dekat dengan pendopo istana Kee-beng-thian. Pendopo ini ialah tempat menyiapkan hidangan raja.
Istana terjaga kuat tapi di tengah malam seperti itu, dapur sepi, cuma apinya yang terang menderang. Beberapa orang kebiri menjaga di situ tapi mereka ini sudah keburu tidur pulas.
Kwee Ceng mendudukkan Ang Cit Kong di atas penglari. Oey Yong bersama Ciu Pek Thong menggeratakkan almari mencari hidangan seadanya, maka dilain saat, berempat mereka sudah menggoyang janggut.
"Ah, pengemis bangkotan, barang makanan di sini mana lebih lezat daripada masakannya Nona Oey," kata Pek Tong menggeleng kepala. "Jauh-jauh kau datang kemari, akhirnya tak menggembirakan…."
"Sebenarnya aku ingin dahar Wanyon Ngo-tin-kwee, sayang kokinya entah pergi kemana," sahut Ang Cit Kong. "Yang ada di sini hanya makanan biasa, ini memang kurang lezat. Baik besok kita bekuk itu koki dan suruh ia memasak."
"Aku tidak percaya dia dapat menangkan masakan Nona Oey!" kata pula Pek Thong.
Oey Yong tertawa. Ia tahu dia dipuji, sebab Pek Thong bersyukur sudah dibelikan topeng.
"Aku mau berdiam di sini menantikan koki itu," kata Cit Kong. "Kalau kau tidak gembira, pergilah bersama anak Ceng, biar anak Yong menemaniku. Besok malam baru kau datang menyambutku."
Pek Thong membekal topengnya, ia pakai topeng malaikat kota. "Tidak, aku akan berdiam di sini menemani kau!" katanya tertawa. "Besok aku akan pakai topeng ini menemui raja! Saudara Kwee dan nona Oey, kamu awasi See Tok jangan sampai berhasil mencuri surat wasiatnya Gak Bu Bok."
"Loo Boan Tong benar, maka pergilah kamu lekas," kata Ang Cit Kong. "Asal kamu waspada."
Muda-mudi iru menyahut bahwa mereka akan taati pesan itu. "Malam itu jangan tempur dulu si tua bangkotan yang berbisa, tunggu saja besok, lihat aku!" Pek Thong memesan pula.
"Meskipun kita tidak menang, kita mesti tempur dia," Oey Yong bilang. Lalu bersama Kwee Ceng ia berlalu, maksudnya pergi ke penginapan Siang Hong untuk mengintai Wanyen Lieh bertiga. Dua pendopo istana telah dilewati ketika si nona merasakan hawa dingin serta kupingnya mendengar suara air. Angin halus pun membawa datang harumnya bunga.
Oey Yong memang paling menggemari bunga, mendapat cium bau semerbak itu, ia lantas berpikir di istana ini, di dekatnya, bunga-bunga di istana mestinya beraneka warna, maka itu, mesti ia melihatnya. Karena ini ia tarik tangan Kwee Ceng, diajak pergi mencari pohon bunga itu.
Tidak gampang muda-mudi ini sampai di tempat tujuan, mereka hanya merasai hawa semakin dingin dan suara air makin keras dan berisik. Mereka jalan terus sampai melewati dua lorong panjang dan menikung, lalu sampai di satu tempat di mana ada ditaman rapi banyak pohon cemara dan pohon bambu, hingga suasana di situ menjadi teduh ayem.
Oey Yong bergembira. Ia dapatkan jalanan di dalam istana ini kalah dengan jalanan di Tho Hoa To, pulaunya itu, tetapi pepohonannya tidak usah menyerah. Ketika ia jalan beberapa tindak, di hadapannya ia melihat air tumpah turun dari gunung putih bagaikan rantai perak, jatuhnya ke sebuah pengempang lebar. Di dalam empang itu kedapatan banyak pohon teratai dengan bunganya yang merah dan putih. Di depan empang ada sebuah paseban indah dengan merknya Cui Han Tong.
Tanpa sangsi-sangsi, Oey Yong bertindak masuk ke dalam paseban itu di mana di bagian depannya terlihat banyak macam bunga musim panas, seperti melati, giokkui dan ang-ciauw yang harum, dan di sebelah belakangnya ada di pasang hio wangi dan dupa, yang menambah harumnya pesaben itu. Di atas meja pun tersajikan banyak macam buah, seperti obi teratai, semangka, tho dan lainnya. Di atas kursi ada beberapa buah kipas. Mungkin tempat raja berangin sebelum raja itu masuk tidur.
"Sungguh raja berbahagia!" Kwee Ceng mengeluh.
"Nah, kau pun boleh mencoba menjadi raja barang satu kali!" kata Oey Yong tertawa seraya ia tarik tangan si anak muda itu, untuk orang bercokol di atas pembaringan, kemudian ia ambil beberapa rupa buah, menyuguhinya sambil berlutut dan berkata: "Silahkan Sri baginda bahar bebuahan!"
Kwee Ceng tertawa, sambil tangannya mengambil buah piepee, ia berkata: "Silahkan bangun!"
"Salah!" berkata Oey Yong. "Raja tidak pernah mengatakan silahkan bangun, itu terlalu sungkan!"
Kwee Ceng tertawa pula, begitu pun si nona. Selagi mereka gembira, mereka seperti lupa daratan, dari kejauhan terdengar bentakan:
"Siapa di sana?!" Keduanya menjadi kaget, serentak mereka berlompat, untuk terus sembunyi di belakang gunung-¬gunungan.
Teguran itu disusul sama tindakan cepat dan berat dari dua orang, mendengar tindakan lega hatinya si pemuda dan pemudi itu.
"Jangan pedulikan mereka!" Oey Yong berbisik. "Dua kantong nasi itu tidak bakal menemukan kita!"
Waktu itu lantas terlihat dua orang, yang tubuhnya besar, tiba di paseban, tangan mereka masing-masing mencekal sebatang golok. Mereka itu lantas celingukan. Cuma sebentar, yang satu lantas tertawa.
"Ah. Lao Su, kau melihat setan!" katanya.
"Ya, dalam beberapa hari ini mataku seperti lamur!" sahut kawannya yang dipanggil Lao Su itu, artinya Su si tua. Kemudian dua orang itu mengundurkan diri.
Oey Yong tertawa di dalam hatinya, lalu ia menarik tangan Kwee Ceng niatnya untuk diajak keluar, tetapi belum lagi mereka muncul dari tempat persembunyiannya, kuping mereka medengar seruan tertahan dari dua centeng istana itu, benar suara itu perlahan akan tetapi si nona dan si pemuda mengerti, itu adalah suara dari orang yang kena ditotok jalan darahnya. Mereka lantas berpikir: "Tentu Ciu Toako tak sabaran, dia pun lantas keluar pesiar!"
"Paseban itu di samping air tumpah ialah Cui Han Tong!" tiba-tiba Oey Yong dan Kwee Ceng mendengar suara orang, perlahan. "Mari kita pergi ke sana."
Muda-mudi ini terperanjat. Mereka mengenal suaranya Wanyen Lieh. keduanya saling menjabat tangan erat-erat, terus mereka menyembunyikan diri. Tubuh mereka tidak berkutik, tetapi mata mereka dipasang, diincarkan ke depan.
Di antara sinar bintang-bintang terlihat beberapa tubuh orang, bahkan lantas dikenali, kecuali Wanyen Lieh dan Auwyang Hong, ada Pheng Lian Houw, See Thong Thian, Leng Tie Siangjin dan Nio Cu Ong.
"Heran, mau apa mereka datang ke istana…" pikir muda mudi ini. "Tak mungkin mereka pun hendak mencuri makanan raja…"
"Siauw-ong telah meneliti surat yang ditinggalkan Gak Bu Bok," terdengar suara Wanyen Lieh, "Juga siauw-ong telah periksa surat-surat dua kaisar Kho Cong dan Hauw Cong, karenanya berani siauw-ong memastikan surat wasiat Gak Bu Bok itu mestinya disimpan di sini, lima belas tindak di Timur Cui Han Tong."
Sembari berkata pangeran Kim menunjuk dengan tangannya, maka semua kawannya memandang ke arah tempat yang di tunjuk. Di sana adalah air tumpah, tidak ada benda lainnya.
"Di dalam air tumpah mana bisa di simpan barang?" berkata Wanyen Lieh heran, "Toh bukti-bukti memastikan demikian…"
See Thong Thian pandai berenang, julukannya pun Kwie-bun Liong Ong, si Raja Naga Pintu Setan, maka ia lantas berkata:
"Nanti aku terjun memeriksa air tumpah ini."
Cepat ia bersiap, lantas terjun ke dalam air. Tidak lama, ia sudah timbul pula dan terus mendarat. Semua kawannya menghampiri.
"Ongya benar pandai!" kata orang she See ini. "Di belakang air tumpah ini ada sebuah gua dengan pintu besi yang terkunci."
Wanyen Lieh menjadi sangat girang. "Surat wasiat Gak Bu Bok mesti di simpan di dalam gua itu!" katanya nyaring. "Sekarang siauw-ongya minta tuan-tuan suka pergi membuka pintu besi itu."
Titah ini tak usah diulang segerA orang sudah lantas berlompat maju memasuki air tumpah itu, kecuali Auwyang Hong yang dengan tertawa dingin berdiam terus di sisinya si pangeran Kim. Ia merasa derajatnya lain, tak sudi ia berbuat seperti kawan--kawannya itu.
See Thong Thian maju paling dulu. Begitu ia melewati air tumpah, mendadak ada angin menyambar. Dia lihay tetapi dia tidak menyangka jelek, maka itu hendak ia berkelit, atau segera tangan kirinya kena orang cekal terus ditolak dengan keras, hingga ia terpental balik menubruk Nio Cu Ong! Syukur, mereka lihay, keduanya tidak terluka, mereka hanya terhuyung mundur.
Semua orang heran, tetapi sementara itu, untuk kedua kalinya, See Thong Thian sudah menyerbu pula air tumpah itu. Ia penasaran dan kali ini ia berseiap sedia. Ia melindungi mukanya. Benar saja, baru ia lewati air, sebuah kepalan sudah meninju. Karena ia sudah bersedia, ia menangkis dengan tangan kirinya seraya kepalan tangan kanan dipakai membarengi menyerang.
Ketika itu Nio Cu Ong pun menyerbu air tumpah itu, hanya untuk kagetnya, ia dipapaki tongkat. Ia kaget, tidak sempat menangkis, maka ia berkelit dengan melenggakan tubuhnya. Tentu sekali, karenanya, ia roboh ke air dan kena ditarik. Celaka untuknya, kakinya kena tergaet. Dasar lihay, ia masih sempat lompat keluar dari air tumpah. Berbareng dengan itu, See Thong Thian pun mesti keluar lagi karena ia kena didesak tinju yang dahsyat.
Hauw Thong Hay menyaksikan semua itu. Ia sembrono, maka itu ia tidak ingat bahwa ilmu silatnya kalah dari See Thong Thian, sang kakak seperguruan, ia lantas maju. Ia mau mengandalkan kepandaiannya berenang dan di dalam air bisa membuka matanya.
Pheng Lian Houw menginsyafi bahaya mengancam kawannya ini, ia hendak memberikan bantuan, tapi belum sempat ia maju, suatu benda besar dan hitam sudah mental keluar dari air tumpah itu, jatuh ke tanah dengan suara gedebuk nyaring, yang mana disusul sama jeritannya Hauw Thong Hay, sebab dialah yang melayang dan roboh itu. Lian Houw lantas lompat menghampiri.
"Perlahan, saudara Hauw!" ia memperingatkan, berbisik. "Kau kenapa?"
"Celaka, kempolanku kena terhajar!" sahut Sam-tauw¬kauw Si Ular Naga Kepala Tiga. Lian Houw kaget dan heran dan merasa lucu juga.
"Sebenarnya telah terjadi apa?" ia menegasi. Ia meraba kempolan orang, di situ ia tidak merasa ada yang luar biasa. Ia teliti, tentu ia tidak mau sembarang menyerbu air tumpah itu. Maka ia menanya pula: "Ada orang di dalam? Siapakah dia?"
"Mana aku tahu?" sahut Thong Hay ketus. Ia kesakitan dan mendongkol. "Begitu aku masuk aku terhajar keluar!"
Lian Houw tercengang. Justru itu Leng Tie Siangjin, dengan jubahnya berkibaran, memasuki air tumpah itu, dilain saat dia perdengarkan suaranya dalam bahasa Tibet, dia berbicara sambil berseru-seru dan terdengar juga suara pertarungan. Maka teranglah ia pun dapat sambutan dan jadi berkelahi.
Wanyen Lieh semua saling mengawasi, mereka terbenam dalam keheranan. Tidak tahu mereka, ada musuh siapa di dalam air tumpah itu. Menurut See Thong Thian dan Nio Cu Ong, mereka samar-samar melihat sepasang pemuda-pemudi, si pemuda dengan tangan kosong, si pemudi dengan tongkat. Kembali terdengar teriakan Leng Tie Siangjin, teriakan kemurkaan. Rupanya dia pun "menderita"…
"Kenapa Siangjin juga begini tidak tahu selatan?" kata Wanyen Lieh sambil mengerutkan kening. "Dia membikin banyak berisik, bagaimana kalau pahlawan-pahlawan raja dapat mendengarnya? Dengan begitu masih bisakah kita mencuri wasiat?"
Baru berhenti suaranya pangeran ini mereka melihat air tumpah membawa serupa benda merah, yang segera juga dikenali jubah suci dari Leng Tie Siangjin, menyusul mana, dengan diberikuti suara air, dua cecernya orang suci ini terlempar keluar dari dalam air tumpah itu.
Hauw Thong Hay khawatir cecer itu jatuh menerbitkan suara berisik, ia lompat untuk menangkapinya. Dari dalam air tumpah sekali lagi terdengar dampratan Leng Tie Siangjin, hanya kali ini disusul mencelat tubuhnya yang besar, akan tetapi karena ia lihay, ketika ia tiba di luar, ia dapat berdiri dengan tegar.
"Itu adalah bocah dan budak yang kita temukan di perahu!" Leng Tie kata dengan sengit.
Kwee Ceng dan Oey Yong yang bersembunyi di belakang gunung, mendengar nyata pembicaraan Wanyen Lieh beramai. Karena mereka itu hendak mencuri surat wasiat Gak Hui, mereka takut sekali surat wasiat kena didapatkan pangeran itu. Inilah hebat. Dengan menggunakan siasatnya Gak Hui itu, pasti bangsa Kim bakal berhasil menyerbu negara Song. Bagaimana itu bisa dicegah? Diantara orang-orangnya Wanyen Lieh pun ada Auwyang Hong yang lihay. Oey Yong mencoba mencari akal, untuk membikin mereka kaget dan nanti lari kabur.
Kwee Ceng sebaliknya tidak sabaran, karena tidak ada waktu lagi untuk berpikir lama-lama atau mengatur tipu. Akhirnya pemudi ini menarik tangan si pemuda, diajak pergi ke belakang air tumpah. Mereka sampai di sana tanpa ada yang lihat dan tanpa ada yang dengar, sebab tumpahnya air sangat berisik.
Muda-mudi ini telah siap sedia ketika See Thong Hay mencoba memasuki air tumpah itu, dengan gampang dia dihajar kembali. Hasilnya penolakan ini membikin mereka berdua jadi heran dan kagum, girang sekali. Itulah buahnya pernyakinan mereka atas ilmu Ie-kin Toan-kut Pian. Demikian mereka menghajar Hauw Thong Hay dan akhirnya Leng Tie Siangjin hingga pendeta Tibet ini mencaci kalang kabutan.
"Engko Ceng, mari lekas!" Oey Yong mengajak. "Mari kita keluar dan berteriak-teriak, biar kawanan pahlawan pada datang kemari, dengan begitu mereka ini tentulah tak dapat bekerja terlebih jauh melakukan pencurian!"
Oey Yong berkata berpikir demikian sebab ia percaya, habis Leng Tie Siangjin, Auwyang Hong bakal turun tangan, kalau See Tok yang maju, pasti mereka tidak berdaya lagi.
"Pergi kau keluar dan berteriak-teriak, aku sendiri akan berjaga di sini!"
"Tapi ingat, jangan tempur si bangkotan yang berbisa itu!" Oey Yong memesan.
"Aku mengerti! Nah, keluarlah! Keluarlah lekas!"
Baru Oey Yong mau keluar mendadak mereka merasakan tolakan angin keras sekali. Mereka kaget tetapi mereka tidak mau menangkis, hanya dengan berbareng keduanya lompat ke samping masing-¬masing.
Hebat tolakan itu, yang ada Kap-mo-kang, pukulam Kuntauw Kodok dari Auwyang Hong. Karena tidak memperoleh perlawanan, serangan itu mengenai tepat pintu besi dari gua, maka terdengarlah suara nyaring sedang air muncrat ke segala penjuru.
Oey Yong melompat tetapi ia kalah sebat, punggungnya kena tersampok angin. Dalam sekejap ia merasakan sulit bernapas, kepalanya pusing, matanya berkunang-kunang, akan tetapi ia masih ingat tugasnya, hanya berdiam sejenak, untuk memusatkan pikiran, segera ia melompat keluar, berteriak-¬teriak sekeras-kerasnya:
"Ada pembunuh gelap! Ada pembunuh gelap! Tangkap! Tangkap!" Dan sembari berteriak-teriak, ia kabur ke depan.
Wanyen Lieh semua kaget. "Marilah kita hajar mampus dulu budak ini!" Pheng Lian Houw berseru saking mendongkolnya. Ia gusar dan penasaran. Segera ia melompat, untuk mengejar.
Suara Oey Yong mendengung di malam yang sunyi itu, suara itu dapat didengar rombongan-¬rombongan Siewie atau pahlawan kaisar di empat penjuru istana. Paling dulu terdengar seruan mereka berulang-ulang, saling memberi tanda, habis itu mereka lantas bergerak.
Oey Yong berlompat naik ke atas genting, mencabuti genting kemudian menimpuk kalang-¬kabutan. Perbuatannya ini pun menambah suara berisik. Pheng Lian Houw, disusul Nio Cu Ong, merangsak, untuk mendekati si nona. Dalam keadaan seperti itu, Wanyen Lieh masih dapat bersikap tenang. Ia menoleh ke sisinya, kepada seorang yang mengenakan pakaian hitam dan bertopeng hitam juga.
"Anak Kang, pergilah kau bersama Auwyang Sianseng masuk ke air tumpah untuk mengambil surat wasiat itu!" katanya. Pangeran itu masih belum mau melepaskan ikhtiarnya mencuri surat yang dia sangat harapkan.
Orang disampingnya itu, yang memakai topeng, memang Yo Kang adanya, putra pungutnya . Auwyang Hong sendiri sudah lantas nongkrong di tanah, untuk mengerahkan tenaganya, menggunakan Kuntauw Kodok menyerang ke arah air tumpah, begitu ia menyerang, terdengar suara berisik seperti tadi. Bahkan kali ini kedua daun pintu gua tertolak mundur ke dalam.
Setelah berhasil dengan serangannya, Auwyang Hong berlompat maju masuk ke dalam air tumpah, memasuki gua dan mengambil surat wasiat yang diarah itu. Justru ia bertindak, matanya melihat bayangan orang yang berkelebat dari samping, dan belum lagi bayangan itu tiba, angin serangannya sudah mendahului. Ia mengenali, itulah pukulan Hui Liong Thay-thian, Naga Terbang ke Langit.
"Hm!" pikir See Tok sambil berkelit. "Memang aku hendak tanyakan dia keterangan kitab Kiu Im Cin¬keng, kebetulan sekali, sekarang baik aku sekalian membekuk dia…!" Karena ini, sambil berkelit ke samping, sebelah tangannya diulur, menjambak penyerang itu.
Si penyerang benar Kwee Ceng adanya. Anak muda ini sudah nekat. Ia bertekad melindungi surat wasiat Gak Hui, maka itu, ia tidak peduli musuh lihay dan Oey Yong telah melarang menempur See Tok. Ia harap, dalam waktu yang pendek, kawanan siewie sudah tiba di situ. Ketika ia menampak gerakannya Auwyang Hong, ia menduga orang tidak niat berbuat telengas, ia hanya hendak ditangkap. Ia sebenarnya heran. Tapi tak ada waktu untuk menduga-duga maksud orang. Dengan tangan kirinya ia menangkis, tangan kanan menyerang ke pundak. Ia menggunakan jurus dari Khong-beng-kun, yaitu Pukulan Kosong.
Kwee Ceng menggunakan ilmu silat ajaran Ciu Pek Thong, yaitu sepasang tangan saling berkelahi sendiri dan jurus yang ia pakai ialah jurus Khong-beng-kun, meskipun itu tak sehebat Hang Liong Sip-pat Ciang, toh tak dapat dipandang enteng. Tidak heran kalau Auwyang Hong terkejut.
"Bagus!" berseru See Tok yang lihay. Ia mendak dengan pundaknya, sebelah tangannya dilonjorkan, guna menangkap lengannya si penyerang. Biar bagaimana, ia berkelahi dengan waspada, sebab ia dapat kenyataan, tiap hari kepandaian pemuda ini bertambah terus. Auwyang Hong penasaran ia belum berhasil menyakinkan Kiu Im Cin-keng, ia ingin mengerti jelas kitab itu, keinginannya bertambah ketika ia dengar ocehan Ang Cit Kong di atas getek. Ia hanya tak insyaf bahwa ia tengah dipermainkan bocah she Kwee itu, sebab kitab Kiu Im Cin-keng yang berada di tangannya ialah kitab yang tidak karuan macam, yang Kwee Ceng kacaukan urutan huruf-hurufnya, hingga tak dapat diartikan lagi.
Sementara itu di empat penjuru Cui Han Tong sudah terlihat obor api terang bagaikan siang. Pelbagai siewie muncul dalam satu-satu rombangan, mereka lari ke arah darimana terdengar teriakan-teriakan Oey Yong.
Wanyen Lieh melihat terangnya obor, ia menjadi bingung juga. Sejak masuknya Auwyang Hong dan Yo Kang ke dalam air tumpah, mereka tidak kelihatan muncul kembali. Syukur untuknya, semua siewie lari ke arah Oey Yong, siapa sedang menungkuli Pheng Lian Houw dan Nio Cu Ong yang terus mengejarnya. Untuk sementara, wilayah air tumpah itu masih selamat. Walapun begitu, pangeran ini membanting-banting kaki, tangannya menggapai-gapai tak hentinya.
"Lekas! Lekas!" ia memanggil Leng Tie Siangjin dan putranya.
"Jangan sibuk, ongya!" berkata Leng Tie. "Nanti siauwceng masuk pula!"
Pendeta Tibet ini lantas masuk ke air tumpah, dimana ia melihat Auwyang Hong sedang menempur Kwee Ceng, sedang Yo Kang yang hendak menerobos masuk, tidak mendapatkan kesempatan.
Leng Tie Siangjin tidak puas mengawasi pertempuran itu. Bukankah waktu mereka sudah sangat mendesak? Kenapa Auwyang Hong bersikap seperti sedang berlatih?
"Auwyang Sianseng, mari aku bantu kau!" ia berseru.
"Minggir jauh-jauh!" Auwyang Hong membentak.
Leng Tie menjadi tidak puas. Di dalam hatinya ia kata: "Disaat seperti ini mana dapat kau masih bertingkah seperti satu enghiong? Jangan kau masih bawa lagakmu sebagai guru besar!" Lantas ia maju ke samping, ke arah Kwee Ceng, sebelah tangannya melayang ke tempilingan kiri si bocah.
Menampak demikian, Auwyang Hong menjadi gusar sekali. Ia maju sambil mengambil pundaknya pendeta Tibet itu, terus ia mengangkatnya, dan melemparkannya! Tepat serangannya See Tok ini. leng ie Siangjin lihay dan tangannya pun ada racunnya, maka untuk melayani dia, anggota tubuhnya tak berbahaya yang mesti dihadapi.
Bukan main murkanya pendeta Tibet itu, tidak memperdulikan pula orang lihay dan dipandang Wanyen Lieh, ia mencaci kalang-kabutan, cuma ia memakai bahasa Tibet, Auwyang Hong tidak mengerti. Ia pun tak bisa mencaci lama-lama atau segera ia tak dapat bersuara lagi, sebab mulutnya lantas kemasukan air. Karena oleh Auwyang Hong dilemparkan ke air tumpah, hingga mulutnya tersumpal air!
Wanyen Lieh terkejut melihat tubuh Leng Tie Siangjin terlempar keluar air tumpah. Justru itu kupingnya juga mendengar suara berisik dari arah Cui Han Tong di mana ternyata, pot kembang yang besar di depan paseban itu telah jatuh hancur. Menyusul itu, nampak munculnya sejumlah siwi.
"Celaka!" ia mengeluh dalam hati. Tidak ayal lagi, dengan menjinjing jubahnya, dia berlompat ke air tumpah, untuk masuk ke situ, menyembunyikan diri. Ia mengerti ilmu silat, tetapi di tempat begitu, kepandaiannya masih belum berarti, begitu kakinya menginjak tanah, ia terpeleset jatuh. Syukur untuknya, Yo Kang dapat melihatnya dan putra ini segera menyambar, menolong. Dengan melongo pangeran Kim itu melihat ke sekitarnya.
"Auwyang Sianseng, apakah bocah ini dapat kau usir?" ia tanya See Tok.
Pertanyaan ini menandakan Wanyen Lieh seorang besar. Ia bukan memerintah, ia hanya menanya. Pertanyaannya itu membangkitkan hawa amarah orang. Hatinya Auwyang Hong menjadi panas.
"Kenapa tidak bisa?" menjawab Auwyang Hong, yang terus berjongkok seraya mulutnya mengasih dengar suara seperti kerak-keroknya kodok. Dengan begitu ia bersiap dengan Kuntauw Kodoknya, lalu terus kedua tangannya dimajukan ke depan.
Si Bisa dari Barat ini telah mengerahkan tenaganya, seandainya di situ ada Ang Cit Kong atau Tong Shia Oey Yok Su, tidak nanti mereka berani melawannya dari depan, apa pula seorang seperti Kwee Ceng.
Sebenarnya, Auwyang Hong melayani Kwee Ceng hanya sebagai latih saja, tidak heran Leng Tie Siangjin melihatnya menjadi muak. Ada sebabnya kenapa See Tok berbuat demikian. Itu disebabkan Kwee Ceng menggunakan Khong-beng-kun. Maka See Tok melayani, menanti sampai anak muda itu habis menjalankan semua jurus dari ilmu silatnya, habis itu baru ia hendak turun tangan, mencekuk si pemuda. Sayang maksudnya tak segera kesampaian. Mendadak Wanyen Lieh masuk ke air tumpah itu dan ia mesti dengar pertanyaan yang seperti ejekan, hatinya menjadi panas. Ia lantas bertindak. Meski begitu, ia tidak mau membinasakan Kwee Ceng, sebab si bocah masih dibutuhkan olehnya. Dilain pihak, ia tidak menginsyafi bocah yang polos dan jujur itu, taat dengan tugasnya.
Kwee Ceng tidak mau mundur, sekalipun ia mesti mati terbinasa. Ia hendak melindungi surat wasiatnya Gak Bu Bok. Begitu ia menyingkir, pasti Auwyang Hong mendapatkan surat wasiat itu, di situ ada banyak pahlawan raja tetapi menghadapi Auwyang Hong, mereka tidak berdaya. Di dalam keadaan seperti itu, selagi bahaya mengancam - sebab ia tahu tidak sanggup menangkis- ia mengenjot kedua kakinya, mengapungkan diri setinggi empat kaki. Dengan begitu, ia bebas dari serangan. Ketika turun, ia tetap berada di muka gua menghadang seperti semula.
"Bagus!" berseru Auwyang Hong kagum. Segera ia menarik pulang kedua tangannya.
See Tok sangat hebat. Kalau serangannya bertenaga beberapa ratus kati, tarikan pulang tangannya pun masih bertenaga besar, ada tenaga menariknya.
Kwee Ceng terkejut merasakan angin menolak punggungnya. Ia mengerti ancaman bahaya. Ia memutar balik tangannya, membela diri. Kali ini ia menggunakan jurus "Sin liong pa bwee" atau "Naga sakti menggoyang ekor" Tentu saja itu gerakan keras lawan keras. Seharusnya ia mencoba berkelit, sebaliknya, ia menangkis. Siapa kalah tenaga dalam, dialah yang bakal bercelaka.
Wanyen Lieh berdiri menjublak menonton cara orang berkelahi itu, mengherankan. Kenapa Auwyang Hong berdiam saja sebagai patung, cuma kedua tangannya yang ditolakkan ke depan dan ditarik pulang? Kenapa Kwee Ceng main berlompatan dan hanya mengawasi See Tok? Kenapa See Tok menarik pulang tangannya dan si bocah menangkis ke belakang, hingga keduanya berdiam bagaikan patung?
Kedua pihak sebenarnya tengah mengadu tenaga dalam, Auwyang Hong tetap menarik, Kwee Ceng tetap mempertahankan diri. Lekas juga bocah ini bermandikan keringat. Ia telah mengeluarkan seluruh tenaganya untuk dapat bertahan.
Kembali Auwyang Hong menjadi kagum. Ia tahu benar, sejenak lagi Kwee Ceng bakal terluka parah. Ia membutuhkan bocah itu, tidak dapat ia mencelakainya. Maka ia memikir untuk mengalah. Lantas mengurangi tenaga manariknya. Tapi berbareng sama dikuranginya tenaga, ia merasakan tolakan keras pada dadanya. Ia terkejut. Syukur tenaga dalamnya mahir, kalau tidak tentulah ia roboh terguling. Benar-¬benar ia tidak menyangka, begitu muda Kwee Ceng, tenaganya besar sekali. Segera ia menahan napas, tangannya menolak. Dengan begitu, lenyaplah tenaga mendorong tadi.
Kalau Auwyang Hong terus menyerang, robohlah Kwee Ceng. Tapi ini tidak dilakukan See Tok. Dia masih mengharap habisnya tenaga si bocah, untuk menangkap hidup padanya, guna mengorek keterangan hal Kiu Im Cin-keng dari mulut orang….
Sesaat kemudian mulailah terlihat tenaga dua orang itu, yang satu berlebihan, yang lainnya berkurang. Tapi Wanyen Lieh dan Yo Kang, yang tetap menonton, tidak tahu kapan akan selesainya pertempuran macam itu, karenanya mereka menjadi cemas dengan sendirinya. Mereka bingung mendengar suara berisik, tanda rombongan siwi tengah bekerja keras mencari orang jahat…
Sekonyong-konyong dari dalam air tumpah terlihat dua siwi menerjang keluar. Yo Kang berlaku sangat sebat, sebelum kedua siwi itu tahu apa-apa, mereka sudah diterjang pangeran muda ini, yang kedua tangannya menyambar ke masing-masing ulu hati mereka, hingga menancap, dengan begitu robohlah mereka dengan jiwa mereka melayang. Yo Kang dengan bengis sudah menggunakan cengkeraman Kiu Im Pek-kut Jiauw.
Setelah itu Yo Kang menghunus pisau belatinya, lalu dengan menggenjot diri, ia lompat kepada Kwee Ceng, untuk menikam pinggangnya si anak muda.
Dalam keadaan seperti itu, Kwee Ceng tidak dapat berkelit. Kalau ia mencoba menyingkirkan tubuhnya, segera ia bakal terbinasa pukulan Kodok dari Auwyaang Hong. Maka dalam sekejap saja ia merasakan sakit pada pinggangnya, berbareng merasa juga pernapasannya berhenti berjalan. Maka lupalah ia segalanya, tanpa merasa ia menghajar lengannya si penyerang itu, si pembokong.
Yo Kang merasakan sakit sekali. Ia bukan lagi tandingan Kwee Ceng, walaupun ia mencoba menarik pulang tangannya, lengannya menjadi korban pula. Tapi waktu itu separuh pisaunya sudah masuk ke pinggang si anak muda.
Karena bergerak itu, tenaga Kwee Ceng menjadi semakin berkurang, dari itu, ia lantas terkena dorongan tenaganya Auwyang hong. Tanpa bisa menjerit lagi ia roboh terkulai.
"Sayang!" berseru Auwyang Hong, yang akhirnya toh juga melukai bocah lawannya itu. "Ia bakal mampus, baiklah aku tak usah pedulikan lagi padanya. Paling perlu aku lekas mencari surat wasiat Gak Bu Bok…." Maka tanpa bersangsi lagi, ia berlompat ke dalam air tumpah.
Wanyen Lieh bersama Yo Kang, lantas mengintil di belakang See Tok. Auwyang Hong sudah lantas dirintangi sejumlah siwi, tetapi ia seperti tidak menghiraukan mereka, siapa datang dekat, ia sambar dan lempar, setelah itu, siwi lainnya tak dapat maju terlebih jauh, hingga tak lagi ada yang bisa mendekati pintu gua.
Yo Kang turut masuk ke dalam gua. Ia menyalakan api untuk dipakai menyuluhi. Di tanah ada banyak tanda debu, suatu tanda tak pernah ada orang yang datang ke situ. Di tengah-tengah gua ada sebuah meja batu, di atasnya ada satu kotak batu persegi dua kaki, kotak mana tersegel. Lainnya barang tak nampak di situ. Dengan membawa apinya, Yo Kang menyuluhi hingga dekat. Di segelan ada suratnya tetapi rupanya karena sudah terlalu tua, huruf-hurufnya tak dapat terbaca lagi.
"Surat wasiat itu ada di dalam kotak ini," berkata Wanyen Lieh.
Yo Kang menjadi sangat girang, ia ulur tangannya mengambil peti itu. Melihat gerakan orang, Auwyang Hong menggerakkan tangan kirinya ke pundak orang, sehingga tidak tetaplah berdirinya Yo Kang, tubuhnya terhuyung beberapa tindak. Pemuda ini tak mengerti, ia melongo mengawasi orang. Auwyang Hong sebaliknya sudah lantas mengempit kotak itu.
"Kita sudah berhasil, mari kita lekas mengundurkan diri!" kata Wanyen Lieh nyaring.
Auwyang Hong bertindak di depan, diikuti oleh Wanyen Lieh dan Yo Kang. Selagi lewat di dekat Kwee Ceng, Yo Kang melihat tubuh orang mandi darah dan rebah tak bergeming di antara siwi korbannya See Tok, ia lantas menghela napas.
"Dasar kau tidak tahu selatan, suka usilan," katanya perlahan. "Maka itu janganlah kau sesalkan aku…"
Sebelum jalan terus, Yo Kang ingat pisau belatinya masih nancap di pinggang mangsanya, maka ingin ia mencabut senjatanya itu. Selagi ia membungkuk, untuk mengambil pisau itu, di air tumpah terlihat satu bayangan berkelebat di susul sama pertanyaan ini:
"Engko Ceng, kau di mana?"
Yo Kang terkejut. Ia mengenal suaranya Oey Yong. Lupa pada pisau belatinya, ia lompat melewati tubuh Kwee Ceng, terus lari keluar air tumpah, menyusul Auwyang hong dan Wanyen Lieh.
Oey Yong mencari Kwee Ceng setelah ia permainkan Nio Cu Ong, yang ia tinggalkan begitu terlihat siwi muncul disana-sini. Sebaliknya, Pheng Lian Houw berdua tidak berani mengejar terus sebab takut kepergok kawanan siwi. Mereka kembali ke dekat air tumpah, menggabungkan diri dengan See Thong Thian dan lainnya. Di sini mereka bertempur sama beberapa siwi sampai Auwyang Hong muncul, maka beramai-ramai mereka mengangkat kaki.
Oey Yong sia-sia mencari Kwee Ceng, ia lantas masuk ke dalam air tumpah. Ia menyalakan api, dari itu ia segera melihat tubuh Kwee Ceng yang mandi darah rebah di antara beberapa siwi. Ia kaget sekali ¬rebahnya si pemuda tepat di sampingnya. Saking kagetnya, tubuhnya gemetaran, sampai api terlepas jatuh dari tangannya. Waktu itu di luar gua terdengar riuh suaranya kawanan siwi yang berteriak-teriak, "Tangkap orang jahat! Tangkap orang jahat!" Tapi mereka itu cuma berteriak-teriak, tidak ada satu pun yang berani maju merintangi Auwyang Hong beramai. Sebabnya ialah, lebih dulu dari itu, beberapa kawannya sudah menjadi korban See Tok hingga mereka menjadi kecil hatinya, terpaksa mereka mementang bacot saja.
Oey Yong sadar dengan cepat. Ia membungkuk memeluk tubuhnya Kwee ceng. Ia merasakan tubuh itu hangat. Ia memanggil beberapa kali, ia tidak memperoleh jawaban. Ia menjadi bingung sekali. Maka itu ia lantas panggul tubuh engko itu, untuk dibawa menyingkir ke belakang gunung-gunungan.
Di Cui Han Tong sendiri telah berkumpul banyak orang, sebab ada datang juga siwi dari lain-lain bagian istana. Obor di situ terang bagaikan siang hari. Maka ketika Oey Yong berkelebat - tak peduli ia sangat gesit - ada siwi yang melihatnya. Siwi itu lantas berteriak, terus ia memburu diikuti beberapa kawannya.
Dalam mendongkolnya, Oey Yong mencaci dalam hatinya: "Ah, kawanan kantung nasi! Sungguh, kamu tidak punya guna! Kenapa kau bukan pergi mengejar orang jahat hanya orang baik-baik?" Ia menggertak gigi, tapi ia lari terus.
Ada beberapa siwi yang lihay, larinya cepat, mereka sudah lantas datang dekat. Oey Yong menjadi bertambah mendongkol, ia meraup jarum rahasianya, menimpuk ke belakang, ke arah pengejar-pengejar itu.
"Aduh!" demikian terdengar teriakan, saling susul.
Itulah tanda robohnya beberapa siwi, sehingga yang lainnya tidak berani mengejar terlebih jauh. Maka si nona bersama engko Cengnya terus lari keluar dari tembok istana.
Keributan itu membikin istana menjadi kacau balau. Orang pun bingung, sebab tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ada huru-hara di dalam untuk merampas tahta kerajaan atau ada menteri yang berontak merampas pemerintahan? Toh setelah itu, orang berisik dengan sendirinya. Tidak ada kejadian lainnya lagi. Di situ telah berkumpul semua siwi, semua serdadu Gie-lim-kun.
Di tengah malam itu, hingga pagi, orang bergelisah tidak karuan. Sedatangnya fajar, tentara penunggang kuda di kirim ke pelbagai jurusan, mencari si orang jahat, antaranya dengan melakukan penggeledahan secara besar-besaran. Tentu saja waktu itu Wanyen Lieh semua telah kabur keluar kota, bahkan Oey Yong bersama Kwee Ceng telah tiba di dusun tempat mereka mondok.
Sebenarnya Oey Yong kabur tanpa arah, baru setelah melihat tidak ada yang mengejar, ia tidak lari keras seperti semula. Lebih dulu ia sembunyi di dalam sebuah gang kecil. Di sini ia pegang hidungnya Kwee Ceng. Ia merasakan hembusan napas. Di situ tidak ada api, tak jelas ia melihat muka si anak muda. Ia mengerti diwaktu siang tidak dapat ia berkeliaran di dalam kota dengan membawa-bawa orang terluka, karena ini, ia terus lari ke tembok kota, untuk melompatinya. Maka dilain saat tibalah ia ditempat Sa Kouw, si nona tolol.
Walaupun ia kuat, setelah berlari-lari setengah malaman, mana hatinya pun berkhawatir dan bingung. Oey Yong toh tersengal-sengal. Ia lantas menjatuhkan diri berduduk, guna meluruskan jalan napasnya. Dengan begitu, perasaannya pulih hatinya pun menjadi terang. Sekarang ia lantas menyalakan sebatang kayu cemara menyuluhi mukanya Kwee Ceng. Apa yang ia lihat membikin kaget, melebihi kagetnya di dalam gua tadi.
Kwee Ceng rebah tak bergeming, kedua matanya tertutup rapat, mukanya sangat pucat. Tak tahu ia apakah masih hidup atau sudah mati. Inilah pukulan sangat hebat untuk Oey Yong, hingga hatinya goncang keras. Ia berdiri bengong dengan tangannya memegangi obor kayunya. Ia merasakan ketika ada orang datang mendekati, ia baru sadar waktu obor kayunya itu ada yang sambar. Segera ia menoleh, mengenali Sa Kouw. Si tolol muncul karena ia dengar suara tak seperti biasanya. Sa Kouw pun cemas menyaksikan keadaan Kwee Ceng itu. Ia lari ke dapur, mengambil air dingin.
Oey Yong mengerti apa yang harus ia kerjakan. Ia keluarkan sapu tangannya, celupkan itu ke dalam air, dilain saat menyusut mulut muka yang keciprutan darah dari si anak muda. Dari lubang hidungnya merasakan hembusan napas yang semakin lemah. Setelah itu ia hendak memeriksa luka, matanya bentrok sama sinar berkilauan warna kuning emas dari pinggang Kwee Ceng. Karena ini sekarang ia melihat sebuah pisau belati nancap di pinggang!
Baru sekarang Oey Yong dapat menyabarkan diri. Dengan hati-hati ia membuka baju dalam si anak muda, dengan begitu ia melihat jelas nancapnya pisau itu. Darah disitu sudah mulai bergumpal. Kelihatannya pisau masuk kira-kira tiga dim dalamnya.
Nona ini menjadi bersangsi. Ia tidak berani mencabut pisau itu, khawatir nanti Kwee Ceng lantas menghembuskan napasnya yang terakhir. Kalau ia tidak mencabut, sebaliknya ia memperlambat waktu. Ini pun membahayakan si anak muda. Ia berpikir keras. Akhirnya ia menggertak gigi, tangannya diulurkan. Ingin mencabut, mendadak ia menarik pulang tangannya itu. Tiba-tiba saja ia bimbang dengan sendirinya. Kesangsian si nona berjalan terus, maka beberapa kali ia hendak mencobanya mencabut pisau belati itu, saban-saban ia gagal pula.
Sa Kouw menyaksikan kesangsian orang, ia menjadi tidak sabaran. Tiba-tiba saja ia mengulurkan tangannya dengan sebat mencabut pisau itu. Kwee Ceng menjerit, begitu pun Oey Yong. Si tolol sebaliknya girang sekali, ia tertawa tebahak-bahak. Ia masih tertawa ketika Oey Yong kaget melihat darah mengalir keluar dari luka engkonya itu. Saking berkhawatir dan mendongkol, ia sampok si tolol hingga dia terguling, setelah itu ia menggunakan sapu tangannya menyumpal luka Kwee Ceng, mencegah keluarnya terus darah itu.
Dengan jatuhnya Sa Kouw, obor cemara di tangannya pun padam. Si tolol menjadi gusar, ketika ia berlompat bangun, ia menendang. Oey Yong tidak menangkis, membiarkan pahanya kena ditendang. Sa Kouw khawatir si nona nanti membalas, ia memutar tubuhnya berlari. Tidak lama ia mendengar nona Oey menangis. Ia menjadi heran, maka ia kembali. Ia menyalakan lagi obor cemaranya.
"Apakah kau kena tendang sakit?" ia menanya Oey Yong.
Nona itu tidak menyahut, ia hanya berlutut mendampingi Kwee Ceng. Pemuda itu pingsan karena rasa nyerinya, sesaat kemudian ia baru sadar.
"Apakah surat wasiatnya Gak Bu Bok kena mereka curi?" Kwee Ceng menanya. Itulah hal yang ia ingat paling dulu.
Oey Yong girang mendengar orang dapat bicara, meskipun suaranya lemah. "Jangan khawatir, penjahat itu tak dapat turun tangan…" ia menyahut. Ia tentu saja berdusta, karena ia tidak ingin orang menjadi kaget dan bersusaah hati. Sebenarnya ia ingin menanyakan lukanya si anak muda, ketika ia merasakan tangannya hangat-hangat, disebabkan darah yang baru keluar dari pinggang Kwee Ceng itu.
"Eh, Yong-jie, kenapa kau menangis?" menanya Kwee Ceng yang baru sekarang melihat si nona berlinangan air mata.
"Aku tidak menangis," kata Oey Yong, yang paksakan diri untuk tertawa.
"Dia menangis tadi!" Sa Kouw campur mulut. "Kau hendak menyangkal? Apakah kau tidak malu? Lihat, mukamu masih ada air matanya!"
"Yong-jie, jangan takut," Kwee Ceng menghibur. "Di dalam Kiu Im Cin-keng ada terdapat cara-cara untuk mengobati luka, aku tidak bakalan mati."
Mendengar itu, Oey Yong merasakan di dalam kegelapannya memperoleh pelita. ia girang. Tadinya ia mau minta penjelasan tentang obat itu, niat ini batalkan, khawatir si anak muda nanti menjadi letih. Maka ia ambil obor dari tangannya si tolol.
"Enci, tadi aku kena serang kau, apakah kau sakit?" ia menanya sambil tertawa.
"Ah, kau menangis, tidak dapat kau menyangkal!" kata si tolol yang tidak memperdulikan pertanyaan orang. Ia hanya mengingat penyangkalan nona ini.
"Ya, benar, aku menangis," kata Oey Yong tersenyum. "Kau sendiri tidak menangis, kau baik sekali."
Mendengar dirinya di puji, Sa Kouw menjadi sangat girang. Kwee Ceng sendiri repot meluruskan pernapasannya, dengan begitu rasa sakitnya berkurang.
"Coba kau memakai jarum emasmu menusuk beberapa kali jalan darahku ceng-ciok dan siauw¬yauw," katanya perlahan pada Oey Yong.
"Ah, aku menjadi bodoh!" kata si nona, terperanjat. Dengan lekas ia mengeluarkan sebatang jarumnya dan terus bekerja. Tiga kali ia menusuk di pinggang kiri di mana ada dua jalan darah yang disebutkan itu. Tusukan ini membantu memperlambat mengalirnya darah dan mengurangi rasa nyeri.
"Luka di pinggangku ini, Yong-jie, meskipun dalam, tetapi tidak berbahaya," Kwee Ceng berkata, suaranya tetap perlahan. "Yang hebat ialah serangan Kap-mo-kang dari si Bisa bangkotan, syukurlah ia tidak menggunakan sepenuhnya tenaganya, dengan begitu aku masih dapat ditolong, cuma dengan begitu kau bakal menderita merawat aku tujuh hari tujuh malam…"
"Biarnya aku bersengsara tujuhpuluh tahun, untukmu aku senang," menyahut si nona, cepat.
Kwee Ceng terharu sekali, hatinya menggetar hampir ia pingsan pula. Ia berdiam menenangkan diri.
"Sayang suhu pun terluka," katanya kemudian.
"Sudahlah, kau jangan terlalu banyak pikir," mencegah Oey Yong sekalian menghibur. "Sekarang ini kau mesti berdaya mengobati lukamu sendiri, supaya orang lega hatinya…."
"Sekarang perlu kita mendapatkan dulu tempat yang tenang," berkata Kwee Ceng. "Disana aku nanti mengobati diriku dengan bantuanmu. Menurut ajaran kitab, kita mesti mengadu tenaga bergantian dengan sama-sama mengendalikan napas. Dengan jalan begitu kau membantu aku dengan tenaga dalammu. Seperti aku bilang tadi, sulitnya ialah waktu yang mesti digunakan tujuh hari tujuh malam, selama itu tak boleh kedua tangan kita berpisahan. Pikiran kita berdua bersatu padu, kita dapat berbicara tetapi tidak boleh ada orang ketiga yang menyelak nyampur bicara. Pula tidak dapat kita bangun atau berjalan sekalipun setengah tindak. Jikalau ada orang yang mengganggu kita, maka…."
Oey Yong mengerti cara pengobatan itu, yang sama dengan orang semadhi, ialah sebelum berhasil tidak boleh ada gangguan, yang akan menggagalkan dan bisa mendatangkan bahaya juga. Ini sebabnya, siapa tengah bersemadhi, ia membutuhkan kawan yang menjaga di sampingnya, guna mencegah gangguan yang tidak diinginkan itu. Ia jadi berpikir: "Aku perlu membantu dia, di sini tidak ada orang lain, siapa yang dapat melindungi? Sa Kouw tidak dapat diandalkan, dia terlalu tolol, malah mungkin dialah yang nanti merecoki. Juga di mana bisa dapatkan tempat sunyi dalam waktu sesingkat ini? Umpama kata Ciu Toako datang kemari masih belum tentu ia sanggup menjaga kita selama tujuh hari tujuh malam…Bagaimana baiknya sekarang?"
Kembali ia berpikir keras, matanya memandang tajam ke sekelilingnya. Mendadak ia melihat tempat menyimpan mangkok dan lainnya.
"Ada!" pikirnya sejenak. "Kenapa aku tidak mau sembunyi di dalam kamar rahasia itu? Dulu Bwee Tiauw Hong tidak mempunyai pembela, dia sembunyi di dalam gua…"
Ketika itu sang pagi mulai terang dan Sa Kouw pergi ke dapur untuk masak bubur.
"Engko Ceng, kau boleh beristirahat," berkata Oey Yong. "Aku hendak pergi sebentar membeli makanan, sekembalinya aku, kita mulai berlatih sambil menyembunyikan diri."
Kwee Ceng menurut, ia membiarkan kekasihnya pergi. Oey Yong pergi ke kampung. Sembari jalan ia pikirkan apa yang ia mesti beli. Tidak sembarang barang dapat disimpan selama tujuh hari tujuh malam, atau barang itu bakal rusak dan bau dan tidak dapat dimakan lagi. Ia tidak usah berpikir lama atau menjadi bingung karenanya. Ia lantas membeli dua pikul semangka, yang ia minta tukang jualnya pikul ke rumah Sa Kouw.
Setelah menerima uang, si tukang semangka berkata: "Nona, ini adalah semangka Gu-kee-cun, manis dan lezat rasanya, bila kau sudah mencobanya, baru kau tahu!"
Terperanjat Oey Yong mendengar nama desa ini, ialah Gu-kee-cun. "Kalau begitu, inilah kampung halamannya engko Ceng," pikirnya. Ia menjadi berkhawatir pemuda itu terganggu pikirannya apabila dia tahu ini kampungnya, maka ia lantas menyahut sembarangan saja asal si tukang semangka lekas pergi. kemudian lekas-lekas ia masuk ke dalam. Ia mendapatkan Kwee Ceng lagi tidur dan darah dari lukanya sudah berhenti mengalir.
Sedangnya pemuda itu tidur, ia lantas bekerja. Ia membuka pintu dapur, terus ia putar pesawat rahasianya, akan masuk ke dalam kamar rahasia. Ke dalam situ ia angkut masuk semua semangkanya. Kepada Sa Kouw ia memesan wanta-wanti agar si tolol jangan beritahukan siapapun juga yang mereka berdua berada di dalam kamar rahasia, dan meski ada peristiwa bagaimanapun hebatnya, si nona dilarang menerbitkan suara berisik.
Sa Kouw tidak mengerti maksud orang akan tetapi ia menginsyafi, karena ia menampak bicara dan gerak-¬gerik tamunya ini sangat sungguh-sungguh.
"Baik," katanya mengangguk. "Kamu hendak makan semangka sambil menyembunyikan diri di kamar ini, kamu hendak memakan habis dulu semua semangka, baru kamu akan keluar lagi. Baiklah, sekarang tidak akan bicara!"
"Memang, Sa Kouw tidak akan bicara!" kata Oey Yong, sengaja mengangkat. "Sa Kouw memang anak baik, kalau Sa Kouw bicara, dia anak buruk…!"
"Sa Kouw tidak akan bicara, Sa Kouw anak baik!" si tolol mengulangi.
Tidak lama Kwee Ceng sadar, ia diberikan bubur satu mangkok besar. Oey Yong pun memakannya semangkok. Habis dahar, nona ini mendukung pemuda itu masuk ke dalam kamar rahasia. Ketika ia menoleh keluar pintu, ia lihat Sa Kouw mengawasi mereka sambil tertawa si tolol berkata:
"Sa Kouw tidak akan bicara!"
Mendapatkan orang demikian tolol, Oey Yong menjadi berkhawatir. "Dia begini tolol, ada kemungkinan dia nanti sembarangan bicara sama siapa saja. Bagaimana kalau dia membilangnya, 'Mereka sembunyi di dalam sini memakan semangka, Sa Kouw tidak akan bicara'? Kelihatannya cuma dengan dibunuhnya baru lenyap ancaman untuk kita…"
Biarnya ia jujur dan polos Oey Yong tidak menghiraukan tentang wales asih atau kepantasan, sesat atau sadar, maka itu ia pun tidak pernah mau pikir, ada hubungan apa di antara Sa Kouw dan Kiok Leng Hong. Sekarang ia pikirkan keselamatannya Kwee Ceng, yang mesti ditolong dan dilindungi. Untuk Kwee Ceng, ia bersedia umpama kata mesti membunuh Sa Kouw. Maka ia lantas ambil pisau belatinya si anak muda. Disaat ia hendak pergi keluar, matanya bentrok sama sinar mata si pemuda itu, sinar kaget luar biasa. Ia memikir, "Mungkinkah dia dapat melihat sinar pembunuhan pada wajahku?" Lantas ia ingat: "Tidak apa aku membunuh Sa Kouw, hanya bagaimana nantinya, engko Ceng sembuh? Bagaimana aku harus membilangnya apabila ia menanyakan? Mesti dia bakal membikin banyak berisik………" Nona ini menjadi ragu-ragu.
"Engko Ceng baik dan halus budi pekertinya," ia berpikir lebih jauh. "Ada kemungkinan dia bakal tak menyebut-nyebut Sa Kouw, tetapi siapa tahu apabila ia terus-menerus membenciku? Ah, sudahlah, biarlah kita mencoba menempuh bahaya…….!"
Oey Yong lantas mengunci pintu. Kemudian ia meneliti seluruh ruang itu. Di ujung barat ada sebuah lobang angin dari mana masuk sinar terang, maka di siang hari, sinar terang itu dapat menerangi ruangan. Di tembok ada sebuah lobang angin kecil, yang ketutupan debu, lalu debu itu disingkirkan.
Kwee Ceng duduk menyender di tembok. Ia bersenyum. "Tidak ada tempat yang baik untuk beristirahat daripada ini," katanya. "Kau bakal menemani dua mayat, apakah kau tidak takut?"
Oey Yong tertawa meskipun sebenarnya ia risi juga. "Yang satu kakak seperguruanku, tidak mungkina ia menggangguku," sahutnya. "Yang satu lagi perwira kantung nasi, saat hidupnya aku tidak takut, apapula mati!"
Sembari berkata, ia mendupak jerangkong itu ke pojok Utara, kemudian ia menghampar rumput kering. Kemudian ia geser semua semangka, untuk didekati kepada mereka berdua, supaya gampang diambil dengan mengulur tangan saja.
"Bagus tidak begini?" akhirnya ia tanya Kwee Ceng.
"Bagus!" menjawab orang yang ditanya. "Sekarang mari kita mulai berlatih!"
Oey Yong membantu pemuda itu mengambil tempat duduk di atas rumput, ia sendiri lantas duduk besila di depannya, sedikit di sebelah kiri, darimana, dengan berpaling, ia bisa mengintai ke lobang angin di tembok itu. Untuk girangnya, ia mendapatkan sebuah kaca di sana, dengan perantaraan kaca, ia bisa melihat ke luar. Maka itu, ia memuji si pembangun kamar rahasia, yang demikian teliti dengan pembuatan kamarnya itu. Orang sembunyi tapi berbareng orang pun bisa melihat ke luar.
So Kouw duduk seorang diri di tanah sambil tangannya menggapai kaca ular sutera, mulutnya bergantian ditutup dan dibuka, suaranya perlahan. Oey Yong memasang kuping, mendengarkan, maka tahulah ia, si tolol lagi menyanyikan lagu meninabobokan anak kecil supaya tidur. Mulanya ia merasa lucu tetapi kemudian ia merasakan suara itu halus dan mengharukan. Tanpa merasa ia berpikir; "Adakah ini nyanyian ibunya dulu untuk ia mendengarkannya? Kalau ibuku belum menutup mata, ibupun akan menyanyikan aku begini rupa…."
"Yong-jie, kau memikirkan apa?" tanya Kwee Ceng mendapatkan orang berdiam saja. "Lukaku tidak berbahaya, kau jangan bersusah hati."
Oey Yong mengusap-usap matanya, ia tertawa. "Sekarang lekas kau ajari aku caranya menyembuhkan lukamu," ia berkata.
Kwee Ceng menurut, dengan perlahan ia membaca di luar kepala kitab Kiu Im Cin-keng bagian pengobatan luka-luka. Isinya pasal ini menjelaskan luka disebabkan serangan tenaga dalam, bagaimana ia harus dilawan untuk memulihkan kesehatan.
Cuma mendengar satu kali saja, Oey Yong telah paham. Cuma beberapa bagian yang kurang jelas, dengan menyakinkan bersama, ia pun dapat mengerti. Maka itu, dilain saat, mereka sudah mulai berlatih. Dua orang ini cocok satu sama lain, sebab si pemuda berbakat baik, si pemudi cerdas sekali. Mereka berlatih dengan Oey Yong mengeluarkan tangan kanannya, yang mana ditahan oleh Kwee Ceng dengan telapakan tangan kirinya, kemudian mereka saling menolak dengan menukar tangan.
Latihan ini dilakukan dua jam sekali maka itu diwaktu beristirahat dengan tangan kirinya Oey Yong memotong semangka, yang separuh untuk Kwee Ceng, yang separuh lagi untuknya sendiri. Selagi makan buah itu, tangan mereka yang sebelah ditempelkan terus satu sama lain.
Sesudah berlatih hingga jam bie-sie, satu atau dua lohor, Kwee Ceng merasakan dadanya sedikit lega, tak pepat seperti semula. Terang itu tanda telah berjalannya hawa hangat dari tangann Oey Yong, yang masuk ke dalam tubuhnya sendiri. Dengan begitu, rasa nyeri di pinggangnya turut berkurang juga. Hal ini membuatnya girang, hingga ia jadi berlatih semakin bersungguh-sungguh.
Ketika tiba pada istirahat yang ketiga, dari lobang di atas terlihat masuknya sinar matahari yang lemah. Itu tanda dari telah datangnya sang sore. Cuaca jadi semakin guram. Dengan berlalunya sang waktu, Kwee Ceng merasa semakin lega pernapasannya, dan Oey Yong pun bertambah segar. Dengan begitu, mereka bisa melewati waktu beristirahat itu dengan memasang omong.
Tidak lama keduanya hendak mulai latihan, kuping mereka medengar suara berlari¬-lari keras ke arah rumah makan dan berhenti di depan pondokan. Setelah itu terdengar masuknya beberapa orang, ternyata dari tindakan kaki mereka yang ramai.
"Lekas sediakan nasi dan lauk pauknya!" begitu terdengar satu suara keras dan kasar. "Tuan-tuan besarmu sudah kelaparan hingga mau mati…."
Kwee Ceng dan Oey Yong saling mengawasi. Mereka mengenal suara Sam tauw-kauw Hauw Thong Hay. Si nona lantas mengintai dari liang kecil di tembok di sisinya. Sekarang ia mendapat kepastian itulah rombangan musuh mereka sebab mereka adalah Wanyen Lieh bersama Yo Kang, Auwyang Hong, Pheng Lian Houw, Nio Cu Ong dan See Thong Thian. Sa Kouw tidak kelihatan, takk tahu kemana perginya si tolol itu.
Hauw Thong Hay menghajar meja kalang kabutan, masih tidak ada suara penyahutan. Pheng Lian Houw dan Nio Cu Ong memperhatikan rumah itu, lalu mereka mengerutkan kening.
"Tidak ada orang di sini…" kata Cu Ong.
"Kalau begitu, biarlah pergi ke kampung untuk membeli makanan!" kata Thong Hay, ia mendongkol tetapi ia sudi gawe.
Pheng Lian Houw tertawa, dia kata: "Hebat kawanan Gie-lim-kun itu, mereka ada kawanan kantung nasi tetapi mereka bisa telasap-telusup di segela tempat, mereka membuat arwah-arwah pun tak mau, hingga sekarang kitalah yang untuk satu hari lamanya tak dapat gegares! Ongya adalah orang Utara tetapi ongya ketahui di sini ada ini dusun sunyi senyap. Hebat!"
Wanyen Lieh tahu orang mengangkat-angkat dirinya tetapi ia tidak jadi kegirangan hingga terkentarakan pada air mukanya, sebaliknya, ia nampak masgul.
"Pada sembilanbelas tahun yang lalu, pernah aku datang ke mari," katanya sambil menghela napas.
Orang melihat wajah pangeran ini, yang agaknya berduka, mereka heran. tentu sekali mereka tidak tahu, pada sembilanbelas tahun yang lampau itu, di situ Pauw Sek Yok telah menolong jiwanya dari ancaman bahaya maut.
Mereka ini tidak usah menanti lama, Hauw Thong Thay telah kembali bersama arak dan makanan, maka Pheng Lian Houw segera menuangkan arak untuk mereka masing-masing, kemudian ia berkata pada si pangeran:
"Hari ini ongya mendapatkan surat wasiat, itu bukti Negara Kim yang terbesar bakal menggentarkan pengaruhnya di kolong langit, dari itu kami semua hendak memberi selamat kepada ongya! Saudara-saudara mari minum!"
Ia pun mengangkat cawanya, untuk cegluk kering isinya. Nyaringnya suara Pheng Lian Houw ini, Kwee Ceng dari tempatnya sembunyi dapat mendengar itu. Pemuda ini menjadi terkejut.
"Kalau begitu berhasillah mereka mencuri surat wasiat Gak Ongya!" pikirnya. Begitu ia berpikir demikian begitu ia merasakan napasnya sesak.
Oey Yong terkejut. Kagetnya si pemuda dapat dirasakan pada tangannya, yang terus menempel sama tangannya si pemuda. Ia mengerti sebabnya gangguan itu. Itulah berbahaya untuk si anak muda. Maka lekas-lekas ia geser kepalanya, untuk mendekati kuping orang dan berbisik:
"Ingat kesehatanmu! Mereka dapat mencuri pulang! Asal gurumu yang kedua turun tangan, sepuluh surat wasiat pun ia dapat curi lagi!"
Kwee Ceng anggap kata-kata itu benar. Ia mengetahui baik kepandaian gurunya yang nomor dua itu ialah Biauw Ciu Sie-seng Cu Cong si Mahasiswa Tangan Lihay. Maka itu ia berdaya untuk menentramkan diri, tak suka ia mendengar lebih jauh pembicaraan mereka. Ia meramkan kedua matanya.
Oey Yong mengintai pula, justru Wanyen Lieh mengangkat cawan araknya. Habis mencegluk, pangeran ini berkata dengan gembira:
"Semuanya siauw¬ong mengandalkan kepada tuan-tuan. Jasa Auwyang Sianseng ini yang nomor satu! Jikalau tidak sianseng mengusir bocah she Kwee itu pastilah kita mesti bekerja lebih sulit lagi."
Auwyang Hong tertawa kering, suaranya bagaikan cecer pecah. Kwee Ceng berdenyut hatinya mendengar tertawanya orang itu. Oey Yong pun bingung, hingga ia berkata seorang diri. "Berterima kasih kepada langit dan bumi, biarlah ini makhluk berbisa tua bangka jangan ngoceh lebih lama di sini, bisa-bisa engko Ceng nanti bercelaka karenanya…"
"Tempat ini sangat mencil dan sunyi," berkata Auwyang Hong, "Tidak mungkin tentara Song dapat menyusul kita sampai di sini. Sebenarnya apa itu surat wasiat Gak Bu Bok, baiklah kita sama melihatnya, untuk menambah pemandangan kita."
Sembari berkata, ia merogoh sakunya mengeluarkan kotak batu, kemudian ia letakkan di atas meja. Di mulut See Tok mengatakan demikian, di dalam hatinya ia sudah mengambil kepastian apabila ia mendapatkan surat wasiat itu berfaedah, hendak ia merampasnya untuk menjadi miliknya sendiri, kalau itu hanya ilmu perang biasa, yang baginya tak ada pentingnya, ia suka mengalah dan menyerahkannya kepada Wanyen Lieh, dengan begitu ia menjadi berbuat jasa untuk pangeran itu……. Sejenak kemudian, semua mata diarahkan kepada kotak batu itu.
Oey Yong melihat semua itu, segera otaknya bekerja. "Cara apa aku mesti ambil untuk dapat memusnahkan surat wasiat itu?" demikian pikirnya. "Kemusnahan adalah yang terlebih baik daripada surat wasiat itu jatuh ke dalam tangannya ini manusi-manusia jahat dan berbahaya….!"
Lalu terdengar suaranya Wanyen Lieh: "Ketika siauw¬ong memeriksa surat peninggalan Gak Hui itu, yang bunyinya seperti teka-teki, lalu itu dihubungi sama catatan hikayat beberapa kaisar di dalam istana kaisar she Tio itu, maka tahulah siauw-ong surat wasiat ini disimpan di Cui Han Tong, di simpan di dalam kotak batu yang berada limabelas tindak di arah Timurnya. Buktinya sekarang, duagaanku itu tidak salah. Aku mau percaya, tak ada orang yang ketahui kenapa telah terjadi pengacauan kita di dalam istana semalam…….."
Kelihatannya pangeran ini sangat puas, lebih-lebih setelah kembali orang memuji padanya. Wanyen Lieh mengurut kumisnya.
"Anak Kang, kau bukalah kotak itu!" ia memerintah.
Yo Kang menurut perintah. Ia maju, menghampiri. Lebih dulu ia menyingkirkan segelannya kotak, habis itu ia membuka tutupnya. Maka ke dalam situ menyorotlah sinar matanya semua orang. Apa yang dilihat membuat semua hadiran menjadi tercengang dan heran, sehingga untuk sesaat tak ada seorangpun yang dapat membuka suara.
Semua mata diarahkan tajam ke dalam kotak batu, yang diharap isinya istimewa, siapa tahu kotak itu ternyata kosong melompong, tidak ada apapun di dalamnya, jangan kata surat wasiat tentang siasat perang, sehelai kertas kosong pun tidak kedapatan.
Oey Yong tidak dapat turut melihat isinya kotak, tetapi ia melihat tegas wajah semua orang, maka ia menduga kotak itu kosong. Diam-diam ia bersyukur.
Wanyen Lieh menjadi sangat lesu, ia duduk dengan memegangi meja, sebelah tangannya menunjang janggut. Ia berpikir keras sekali. Di dalam hatinya ia kata: "Aku telah memikir matang, aku menduga surat wasiat itu berada di dalam kotak ini, kenapa surat itu tak ada sekalipun bayangannya?" begitu ia memikir demikian, begitu ia mendapat pikiran, wajahnya pun menjadi bercahaya saking gembiranya. Ia sambar kotak itu, terus ia bertindak ke cimchee, di sini dengan tiba-tiba ia banting kotak ke lantai batu! Dibarengi suara nyaring, kotak itu pecah menjadi beberapa keping.
Oey Yong cerdas, kupingnya lihay, dari suara pecahnya kotak itu, ia mendapat tahu kotak sebenarnya terdiri dari dua lapis, artinya ada lapisan dalamnya.
"Ah, siapa sangka kotak ini ada lapisannya?" katanya di dalam hati. Ia dapat menduga demikian, tetapi bukannya girang karena dugaannya itu tepat, ia justru menjadi masgul. Percuma menduga dengann tepat, ia sendiri tidak bisa muncul untuk mendapatkan kepastian. Tapi ia tak usah bergelisah lama-lama, Wanyen Lieh tampak sudah kembali ke mejanya seraya berkata:
"Aku sangka kotak itu ada lapisan dalamnya, tak tahunya isinya tidak…" Ia lesu sekali. Lian Houw semua heran, mereka ramai membicarakan kotak itu.
"Ah, siapa sangka!" pikir Oey Yong, hatinya lega, hingga di dalam hatinya mentertawai mereka. Ia berbisik pada Kwee Ceng, memberitahukan Wanyen Lieh belum berhasil memdapatkan surat wasiatnya Gak Hui. Kwee Ceng pun lega hatinya mendengar keterangan itu.
"Aku lihat kawanan penjahat ini belum mati hatinya, meski mereka bakal pergi lagi ke istana," Oey Yong mengutarakan dugaannya. Karena ini ia menjadi berkhawatir untuk gurunya, yang masih berada di dapur istana. Ada kemungkinan gurunya bakal dipergoki. Benar di sana ada Ciu Pek Thong yang melindungi tetapi Pek Thong bangsa berandalan, yang edan-edanan.
Jitu juga dugaanya nona Oey ini. Segera terdengar suaranya Auwyang Hong: “Kegagagalan kita ini tak berarti banyak, sebentar malam kita pergi lagi ke istana, mencari terlebih jauh!"
"Malam ini tak mungkin," Wanyen Lieh mencegah. "Tadi malam keadaan kacau sekali, tentu karenanya penjagaan diperkeras."
"Memang penjagaan tetap dilakukan, itu pun tidak berarti," berkata Auwyang Hong. "Ongya bersama sie¬cu malam ini tak usah turut, baiklah ongya berdua beristirahat di sini bersama keponakanku."
"Dengan begitu kembali siauw-ong membikin sianseng bercapai lelah," kata pangeran Kim itu sambil memberi hormat. "Baiklah siauw-ong menanti kabar baik saja."
Pembicaraan mereka berhenti sampai di situ. Habis bersantap Wanyen Lieh merebahkan diri di hamparan rumput, ditemani putra angkatnya dan Auwyang Kongcu, Auwyang Hong bersama yang lainnya lantas pergi memasuki kota, untuk menyerbu ke istana.
Wanyen Lieh tak dapat tidur, ia golek-golek saja. Ia memikirkan surat wasiat dan kepergian sekalian pahlawannya itu. Ia merasa tidak enak waktu kupingnya mendengar seekor anjing kampung membaung dan mengulun, suaranya sangat menyedihkan, tak sedap masuk ke kupingnya. Ia menjadi tak tentram dan masgul.
Belum lama pada pintu terdengar suara. Rupanya daun pintu ada yang tolak, sebab segera terlihat masuknya seseorang. Ia menggerakkan tubuh, bangun berduduk, tangannya memegang gagang pedang. Yo Kang telah berlompat ke belakang pintu, menyembunyikan diri, bersiap sedia.
Yang datang itu seorang nona dengan rambut riap-riapan, mulutnya memperdengarkan nyanyian perlahan. Ia menolak pintu terus masuk. Dialah Sa Kouw, yang tadi pergi bermain di rimba dekat rumahnya dan sekarang baru kembali. Ia melihat ada orang asing, ia tidak mengambil mumat, langsung ia pergi ke tumpukan rumput tempat ia biasa tidur. Begitu ia merebahkan diri segera terdengar suara napasnya menggeros.
Melihat bahwa orang adalah seorang nona dusun yang tolol, Yo Kang tertawa dengan sendirinya dan terus ia tidur pula.
Wanyen Lieh tetap berpikir, ia masih tak bisa pulas. Maka kemudian ia bangun, nyalakan sebatang lilin, yang ia letakkan di atas meja. Ia mengeluarkan sejilid buku, untuk dibaca, dibolak-balik lembarannya.
Selama itu, Oey Yong terus mengintai dari lubang temboknya. Kebetulan ia menampak seekor selaru terbang memutari api, lalu menyerbu, maka terbakarlah sayapnya dan robohlah tubuhnya di atas meja.
Wanyen Lieh jumput selaru itu. "Jikalau Pauw-sie hujinku ada di sini, pastilah kau bakal ditolong diobati," berkata ia dengan perlahan. Ia pun lantas mengeluarkan sebuah piasu kecil serta satu ples kecil berisi obat, ia pegang itu di kedua tangannya, untuk dibuat main. Ia nampaknya sangat berduka.
Oey Yong menepuk perlahan pundak Kwee Ceng, ia memberi isyarat supaya pemuda itu melihat kelakuan si pangeran .
Kwee Ceng lantas mengintai, dilain saat ia menjadi gusar sekali. Samar-samar ia ingat, pisau dan obat itu kepunyaan Pauw Sek Yok, ibunya Yo Kang. Semasa di dalam istana Chao Wang, Sek Yok pernah menggunakan itu mengobati lukanya seekor kelinci. Selagi ia mengawasi terus, ia dengar pangeran itu berkata seorang diri dengan perlahan:
"Pada sembilanbelas tahun dulu di kampung ini yang buat pertama kali aku bertemu denganmu…. Ah, aku tidak tahu, sekarang entah bagaimana dengan rumahmu yang dulu?" Habis berkata pangeran itu berbangkit, ia ambil lilinnya, terus jalan keluar pintu.
Kwee Ceng berdiam. "Mustahilkah kampung ini kampung Gu-kee-cun, kampung halaman ayah dan ibuku?" ia menanya dirinya sendiri. Ia lantas pasang mulutnya di kuping Oey Yong, untuk menanyakan.
Oey Yong mengangguk. Tiba-tiba Kwee Ceng merasakan dadanya goncang, darahnya berjalan keras, hingga tubuhnya bergerak¬-gerak karenanya. Tangan kanan Oey Yong menempel sama tangan kiri anak muda itu, ia merasakan goncangan keras dari hatinya si anak muda, ia menjadi berkhawatir. Goncangan itu bisa mencelakakan anak muda ini. Lekas¬lekas ia ulur tangan kanannya, ditempel dengan tangan kiri orang, terus ia mengerahkan tenaganya menekan.
Kwee Cengpun turut menekan, ini justru ada baiknya. Dengan begitu, perhatiannya terpusatkan pula, tak terbagi dengan perasaan yang menggoncangkan hati. Perlahan-lahan hatinya menjadi tenang kembali. Tidak lama tertampak sinar api, lalu Wanyen Lieh bertindak masuk sambil menghela napas panjang.
Kwee Ceng mengawasi dengan tenang. Sekarang ia dapat menguasai dirinya. Oey Yong dapat merasai ketenangan hati kawannya ini, ia membiarkan si kawan terus mengintai, cuma sebelah tangan tetap ia tempel sama tangannya sendiri.
Sekarang ini tangan Wanyen Lieh memegang sebuah senjata berwarna hitam. Itu bukan golok, bukan kampak. Dengan bengong si pangeran mengawasi senjata itu di samping api lilin. Sekian lama, ia mengasih dengar pula suaranya yang perlahan:
“Rumah keluarga Yo rusak hingga tak ketinggalan sepotong gentengpun. Keluarga Kwee masih meninggalkan tombak pendek yang dulu hari dipakai Kwee Siauw Thian…."
Hati Kwee Ceng tercekat mendengar nama ayahnya disebut oleh musuh yang telah membunuh ayahnya. Lantas saja ia berpikir, "Jahanam ini terpisah dariku tak ada sepuluh tindak, dengan sebuah pisau belati dapat aku menimpuk mampus padanya…." Terus dengan tangan kanannya ia menanya: "Yong-jie, dengan sebelah tanganmu dapat kau memutar membuka daun pintu?"
"Jangan!" mencegah si nona, yang dapat menerka maksud orang. "Gampang untuk membunuh dia tetapi dengan begitu orang menjadi tahu tempat sembunyi kita ini….."
"Dia…dia memegang senjata ayahku…" kata Kwee Ceng, suaranya menggetar.
Seumurnya Kwee Ceng belum pernah melihat wajah ayahnya, ia cuma mengetahuinya sebagian dari penuturan dan lukisan ibunya, yang lain berkat kekhawatiran hatinya memikir ayahnya, yang ia bayangkan saja. Ia sangat memuja ayahnya. Maka itu melihat ujung tombak ayahnya, hatinya goncang keras karena kebencian dan kemarahannya yang hebat.
Oey Yong mengalami kesulitan. Memang susah untuk membujuk pemuda ini. Tapi ia mencoba. Ia berbisik pula ke telinga si anak muda:
"Ibumu dan Yong-jie menghendaki hidupmu…"
Kata-kata ini besar pengaruhnya. Kwee Ceng terkejut, terus ia menyimpan pula pisau belatinya di pinggang. Ia kembali mengintai. Wanyen Lieh telah merebahkan kepalanya di meja.
Pemuda itu menghela napas. Bukankah ia tak dapat membalas sakit hati ayahnya? Karena lesu, ia lalu bersemadhi lebih jauh. Tapi, belum lagi ia menyingkirkan matanya dari lubang angin, ia melihat seseorang duduk di tumpukan rumput. Di dalam kaca, tak terlihat mukanya yang terkurung sinar api. Hanya setelah ia berbangkit berdiri dan mendekati Wanyen Lieh, akan mengambil peles obat dan pisau kecil tadi, selagi memutar tubuh, dia dapat dikenali sebagai Yo Kang.
Untuk sesaat Yo Kang memandang bengong peles obat dan pisau kecil itu, kemudian dari sakunya mengeluarkan sebuah tombak. Ia pun mengawasi tombak itu. Tidak lama ia berdiam, berbareng sama berubah air mukanya, ia menjumput tombak pendek yang terletak di tanah, dengan itu ia menikam ke arah punggung Wanyen Lieh.
Kwee Ceng melihat itu, girang hatinya. Ia mengerti, Yo Kang tentu mengingat ayah dan ibunya dan sekarang hendak menuntut balas. Asal tombak itu dikasih turun habis sudahlah jiwa pangeran Kim itu. Tapi, tangan Yo Kang terangkat naik terus berdiam, tidak terus dikasih turun, untuk menikam. Lewat beberapa saat, tangan itu pun diturunkan tanpa tikaman.
"Bunuh, bunuhlah!" Kwee Ceng berseru-seru di dalam hatinya. "Sekarang kalau kau tidak turun tangan, kau hendak menunggu sampai kapan lagi?" Lalu ia menambahkan: "Jikalau kau menikam, kau tetap saudaraku yang baik, urusanmu di dalam istana sudah menikam aku, akan aku bikin habis saja."
Tangan Yo Kang gemetaran, tangan itu dikasih turun perlahan sekali, maka kemudian, tombak itu menggeletak pula di tanah…
"Anak haram!" Kwee Ceng mendamprat di dalam hatinya. Ia menyesal dan mendongkol sekali.
Yo Kang meloloskan bajunya yang panjang, ia pakai itu untuk menutupi tubuh Wanyen Lieh, rupanya ia takut ayah angkatnya masuk angin.
Kwee Ceng lantas melengos. Tak sudi ia mengawasi lebih lama lagi. Ia sungguh tak mengerti sikapnya Yo Kang.
"Jangan bergelisah tidak karuan," Oey Yong menghibur. "Jangan keburu nafsu. Setelah kau sembuh, meski jahanam ini lari ke ujung langit, kita akan kejar!"
Kwee Ceng mengangguk, setelah mana ia berlatih terus. Ketika sang fajar datang, beberapa ekor ayam jago kampung berkeruyuk saling sahut, dilain pihak muda-mudi itu sudah berlatih tujuh rintasan hingga mereka merasakan tubuh mereka segar sekali.
Oey Yong menunjukkan telunjuknya. "Telah lewat satu hari!" katanya sambil tertawa. Ia puas dengan selesainya latihan hari pertama itu.
"Sungguh berbahaya!" kata Kwee Ceng perlahan. "Jikalau tidak ada kau, tidak dapat aku mengendalikan diri, dan itu artinya bahaya……."
"Masih ada enam hari dan enam malam, kau mesti janji dengarkan kata-kataku," kata si nona.
"Kapannya pernah aku tidak dengar kau?" Kwee Ceng menanya sambil tertawa.
Oey Yong tersenyum, lalu ia miringkan kepalanya. "Nanti aku berpikir," katanya.
Dari atas mulai bersorot sinar matahari, maka terlihatlah muka Oey Yong yang merah dadu, cantik manis, sedang dilain pihak, Kwee Ceng tengah memegangi tangan orang yang halus lemas, tanpa merasa, dadanya memukul. Maka lekas-lekas ia menenangkan diri, walaupun begitu, mukanya merah. Ia jengah dengan sendirinya. Sejak mereka bertemu dan bergaul, belum pernah Kwee Ceng memikir seperti kali ini terhadap si nona, dari itu ia menyesal dengan sendirinya dan menyesali dirinya juga.
"Eh, engko Ceng, kau kenapa?" tanya Oey Yong. Ia heran menampak perubahan muka si anak muda.
"Aku bersalah, mendadak saja aku memikir…..aku memikir…." Pemuda itu tunduk, perkataannya berhenti sampai di situ.
"Kau memikirkan apa sebenarnya?" si nona menanya lagi.
"Tetapi sekarang aku sudah tidak memikir pula."
"Tadinya kau memikir apa?"
Kwee Ceng terdesak. "Aku memikir untuk merangkulmu, menciummu.." karena terpaksa ia mengaku. Sebagai seorang jujur, tak dapat ia berdusta.
Muka si nona bersemu merah. Ia berdiam. Justru itu ia nampak semakin menggiurkan. Melihat orang diam saja dan bertunduk, Kwee Ceng menjadi tak enak hati.
"Yong-jie, kau gusarkah?" ia menanya. "Dengan memikir demikian, aku jadi buruk seperti Auwyang Kongcu……"
Tiba-tiba si nona tertawa. "Tidak, aku tidak gusar!" sahutnya. "Aku hanya memikir, di belakang hari, kau akhirnya bakal merangkul aku, mencium aku, bahwa aku bakal jadi istrimu!" Mendapat jawaban itu, lega hati Kwee Ceng.
"Engko Ceng," kemudian si nona tanya. "Kau memikir untuk mencium aku, adakah hebat pikiranmu itu?"
Kwee Ceng hendak memberikan jawabannya ketika ia menundanya. Tiba-tiba terdengar tindakan kaki cepat dari dua orang, yang terus masuk ke dalam rumah makann disusul suara nyaring dari Hauw Thong Hay:
"Aku telah bilang, di dunia ini ada setan, kau tidak percaya!"
"Apakah itu setan atau bukan setan?" terdengar suaranya See Thong Thian. "Aku bilang padamu, kita sebenarnya bertemu dengan seorang pandai!"
Oey Yong lantas saja mengintai, maka ia melihat muka Huaw Thong Hay berlepotan darah dan bajunya See Thong Thian robek tidak karuan. Melihat dua saudara seperguruan itu rudin demikian, Wanyen Lieh dan Yo Kang menjadi heran. Mereka lantas menanyakan sebabnya.
"Nasib kita buruk," menyahut Hauw Thong Hay. "Tadi malam di dalam istana kita bertemu hantu, sepasang kupingku si Lao Hauw telah kena ditabasnya kutung…"
Wanyen Lieh melihat kuping Thong Hay, benar lenyap dua-duanya. Ia menjadi heran sekali.
"Masih ngoceh saja!" See Thong Thian menegur. "Apakah kita tidak cukup memalukan?!"
Thong Hay takut kepada kakak seperguruannya itu, tetapi ia melawan. "Aku melihat tegas sekali," katanya membela. "Satu setan hakim yang mukanya biru kumisnya merah seperti cusee sudah berpekik seraya menubruk aku, begitu aku menoleh, sepasang kupingku tahu-tahu sudah lenyap. Hakim itu mirip benar dengan patung hakim di dalam kuil, kenapa dia bukannya hakim neraka tulen?"
See Thong Thian pun menerangkan, ia cuma bertempur tiga jurus dengan hakim neraka itu lantas pakaiannya kena disobek rubat-rubit seperti itu. Mereka itu menjadi heran tanpa pemecahan, dari itu mereka cuma dapat menduga-duga. See Thong Thian percaya ia berhadapan sama jago Rimba Persilatan yang lihay, maka itu ia menyangsikan hantu, tetapi ia pun tidak bisa membuktikan kesangsiannya itu. Ketika Auwyang Kongcu ditanya, mungkin ia ketahui sesuatu, ia pun menggeleng kepala.
Tengah mereka ini berdiam dengan terbenam dalam keheranannya, terlihat baliknya Leng Tie Siangjin bersama Pheng Lian Houw dan Nio Cu Ong bertiga. Mereka datang saling susul, keadaan mereka juga tidak karuan.


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar