"Baiklah," sahut Kwee Ceng, yang terus mengayuh pula, untuk mendekati perahu besar itu, yang sekarang sudah tidak bergerak lagi. Lekas juga perahu kecil itu mendekati perahu besar, begitu lekas Ang Cit Kong merasa ia dapat melompatinya, ia lantas menggerakkan tubuhnya berlompat sambil mengapungkan diri. Ia berlompat seperti tengkurap, maka waktu ia tiba di perahu, tangannya yang sampai terlebih dulu. Ia menggunakan tangan kiri dengan kelima jarinya yang kuat, untuk dipakai mencengkeram tepian perahu, dengan mengerahkan tenaga di tangannya, ia membuat tubuhnya tiba di atas perahu itu.
Auwyang Hong masih mencekali Oey Yong. Ia menyeringai. "Pengemis bangkotan busuk, kau hendak apa!" dia menanya, menantang.
"Mari,mari!" Cit Kong juga menantang. "Mari kita bertempur pula seribu jurus!" Jawaban itu dibarengi sama serangan kedua tangan saling susul.
Auwyang Hong berlaku licik, bukannya ia berkelit, ia menangkis dengan mengajukan tubuh Oey Yong sebagai tameng. mau tidak mau, Cit Kong mesti batalkan penyerangannya itu. Ketika itu dipakai oleh Auwyang Hong untuk segera menotok jalan darah si nona, maka sesaat itu juga, lemaslah tubuh Oey Yong, tak dapat ia berkutik.
"Letaki di perahu!" Cit Kong menantang pula. "Marilah kita bertempur untuk memastikan menang atau kalah!"
Auwyang Hong terlalu licik untuk meletakkan tubuh nona itu. Ia pun melihat keponakannya lagi didesak sambaran-sambaran api hingga ia mesti main mundur. Tiba-tiba ia mendapat akal. Mendadak ia lemparkan Oey Yong kepada keponakannya itu.
"Pergi kamu lebih dulu ke perahu kecil!" memerintahnya.
Auwyang Kongcu menyambut tubuh yang tak dapat bergerak itu. Ia melihat Kwee Ceng di perahu kecil. Ia mengerti, kalau ia melompat bersama si nona, mungkin perahu kecil itu akan karam karenanya. Maka ia menarik sehelai dadung, ia ikat itu di kaki tiang layar, habis itu dengan tangan kiri memeluk Oey Yong, tangan kanan menarik dadung itu, untuk meluncur ke perahu kecil. Maka terayunlah tubuh mereka, turun menghampiri perahu.
Kwee Ceng melihat Oey Yong tiba di perahunya, ia girang bukan main. Tentu saja ia tidak mengetahui kekasihnya sudah kena totok hingga menjadi tidak berdaya. Ia lebih memerlukan mengawasi gurunya yang lagi bertempur sama Auwyang Hong. Biar bagaimana, ia bergelisah untuk gurunya itu. Dengan api berkobar-kobar, tertampak nyata kedua jago tua itu lagi mengadu jiwa. Mendadak saja terdengar suara nyaring seperti guntur,
lalu tertampak perahu besar terbelah dua, sebab tulang punggungnya dimakan api dan pecah karenanya. Menyusul itu kelihatan bagian perahu yang belakang mulai tenggelam, perlahan-lahan karam ke dalam air.
Ang Cit Kong dan Auwyang Hong bertempur terus. Kadang-kadang mereka mesti berkelit dari runtuhan tulang layar atau dadungnya, yang jatuh termakan api. Dalam pertempuran sengit ini, Ang Cit Kong lebih menang sedikit, dalam arti kata ia tidak merasakan hawa panas seperti lawannya. Itu karena pakaiannya basah bekas tadi merendam di air. Karena ini juga, dapat ia mendesak See Tok, yang sebaliknya mesti berkelahi sambil mundur perlahan-lahan.
Pernah Auwyang Hong memikir untuk terjun ke laut, ia hanya menyesal, pikirannya itu tidak dapat segera mewujudkannya. Ia didesak terlalu hebat, kalau ia memaksa terjun, itu artinya ia tidak dapat membela diri, mungkin nanti ia kena diserang lawannya yang lihay itu. Ada kemungkinan juga ia nanti terluka parah. Saking terpaksa, ia melayani terus dengan otaknya dikasih bekerja tak hentinya untuk mencari jalan lolos.
Ang Cit Kong menyerang dengan hatinya terasakan puas. Bukankah ia terus mendesak? Tengah ia merangsak, tiba-tiba ia teringat sesuatu.
"Kalau aku desak dia hingga dia terbakar, sampai mengantar jiwanya, itu tak menarik hati," demikian pikirannya yang menyandinginya itu. "Dia telah mendapatkan salinan kitab dari Ceng-jie, jikalau dia tidak mendapat kesempatan untuk mempelajarinya, bila nanti ia mampus, pastilah ia mampus tak puas! Tidak dapat tidak, dia mestinya dibikin kena batunya…!"
Karena ini Pak Kay lantas tertawa terbahak-bahak. "Bisa bangkotan, hari ini aku memberi ampun padamu!" ia berseru. "Kau naiklah ke perahu kecil itu!"
Kedua mata Auwyang Hong mencelik, lantas ia terjun ke laut. Cit Kong hendak menyusul tatkala ia dengar teriakan See Tok.
"Tahan dulu!" demikian si Bisa dari Barat itu berteriak. "Sekarang tubuhku pun basah, maka marilah kita berdua bertempur pula. Sekarang barulah adil, sama rata sama rasa!"
Suara itu disusul berkelebatnya satu tubuh, maka di lain detik, Auwyang Hong telah berdiri pula di atas perahu besar, di depan lawannya. Sekejap Ang Cit Kong melengak, lalu ia tertawa lebar.
"Bagus, bagus!" serunya. "Seumur hidupnya si pengemis bangkotan, ini hari barulah ia bertempur paling memuaskan!"
Kembali dua orang itu bertarung dengan hebat. Dengan tubuh basah kuyup, agaknya See Tok menjadi segar sekali.
"Yong-jie," berkata Kwee Ceng kepada kekasihnya. "Kau lihat See Tok ganas sekali!" Oey Yong tengah ditotok, ia tak dapat bersuara.
"Apakah tidak baik aku minta suhu turun ke mari?" Kwee Ceng berkata pula menanyai si nona. "Perahu besar itu bakal lekas tenggelam…." Oey Yong tetap tidak menyahuti.
Kwee Ceng heran, maka lekas ia berpaling. Semenjak tadi ia terus mengawasi ke gelanggang pertarungan. Maka gusarlah ia menyaksikan Auwyang Kongcu lagi meringkus kedua tangan orang.
"Lepaskan!" ia lantas berteriak.
Auwyang Kongcu tertawa. "Jangan kau bergerak!" dia berseru. "Asal kau bergerak, satu kali saja, akan aku hajar hancur kepalanya!" Dan dia mengancam. Kwee Ceng tidak menggubris ancaman itu, bahkan seperti tanpa berpikir sejenakpun, ia menyerang. Auwyang Kongcu berlaku sebat, ia berkelit sambil mendak. Kwee Ceng penasaran, ia menyerang pula ke muka orang. Ia seperti merabu tanpa jurus tipu silat. Auwyang Kongcu bingung juga. Perahu kecil, tidak merdeka untuk ia terus main berkelit. Tapi ia mesti melawan. Maka ia membalas menyerang. Kwee Ceng menangkis, dengan begitu kedua tangan bentrok. Auwyang Kongcu licik, sambil menyerang ia terus memutar kepalannya, menyerang pula, maka "Plak!" pipinya si anak muda kena terhajar.
Serangan itu keras, mata Kwee Ceng berkunang¬-kunang. Tapi ia mengerti bahaya, ia membuka matanya. Justru itu datang serangan yang kedua kali. Kembali ia menangkis. Auwyang Kongcu menggunakan tipu silat seperti tadi. Ia memutar balik kepalannya, untuk mengulangi serangan susulan. Tapi kali ini Kwee Ceng melenggakkan kepalanya, tangan kanannya berbareng dipakai menolak ke depan.
Menurut aturan, sambil berlenggak tidak dapat orang pun menyerang. Tapi Kwee Ceng adalah lain daripada yang lain. Ia sudah dapat mewariskan kepandaian Ciu Pek Tong, ia bisa berkelahi dengan dua tangannya seperti tangan dua orang, kedua tangannya dapat digerakkan sesuka hatinya. Maka itu celakalah keponakan Auwyang Hong, yang tidak mengetahui kebiasaan orang. Tangan kanannya itu, yang dipakai menyerang ke muka, kena ditangkis hebat, sedetik itu juga tangan itu patah!
Dalam ilmu silat, Auwyang Kongcu tidak ada dibawahan Ma Giok, Ong Cie It atau See Thong Thian atau lainnya lagi, maka itu dibandingkan sama Kwee Ceng, ia menang segala-galanya, hanya kali ini ia kebentur sama ilmu silat yang istimewa, yang asing untuknya, dari itu robohlah dia!
Selagi lawannya roboh, hingga Oey Yong terlepas dari pelukan tangan kirinya, Kwee Ceng pun tidak menggubris, pemuda ini lebih memerlukan berlompat kepada pacarnya, yang rebah tak bergeming. Sekarang ia mengerti si nona kena tertotok, lantas saja ia menotok untuk membebaskannya. Syukur Auwyang Kongcu menggunakan totokan yang umum, dengan begitu Kwee Ceng dapat menyadarkan nona itu.
"Lekas bantu suhu!" berteriak Oey Yong yang sesadarnya dia.
Kwee Ceng sudah lantas berpaling kepada gurunya. Ia melihat gurunya dan Auwyang Hong tengah berkelahi mati-matian. Suara beletak-beletok dari bekerjanya api seperti menambah serunya pertarungan itu. Yang hebat ialah terlihatnya badan perahu mulai karam. Maka itu juga Kwee Ceng menyambar pengayuh, memajukan perahunya datang mendekat ke perahu besar itu.
Di dalam pertempuran itu, suasana menjadi terbalik. Sudah lama sejak Ang Cit Kong kerendam air, sekarang pakaiannya sudah kering semua, pakaian itu gampang tersambar api dan terbakar, hawa api pun membikin tubuh panas. Di pihak lain, tubuh Auwyang Hong basah kuyup, ia tidak takut api, bahkan bekas nyebur, ia menjadi seperti mendapat tambahan tenaga dan semangat. Tapi hebat si Pak Kay, Pengemis dari Utara itu, walaupun ia terdesak, ia memaksakan diri untuk bertahan.
Mendadak sebatang tiang layar jatuh dengan apinya yang berkobar, jatuh di tengah-tengah kedua jago itu. Mau atau tidak, mereka itu sama-sama berlompat mundur, hingga selanjutnya mereka terpisahkan kayu menyala-nyala itu. Auwyang Hong penasaran, dengan tongkat ularnya dia menyerang pula. Ang Cit Kong tidak diam saja, ia mencabut tongkatnya dari pinggang, guna menangkis. Kalau tadi mereka bertarung dengan tangan kosong, sekarang mereka menggunakan genggaman. Tentu sekali, sekarang ini mereka berkelahi semakin hebat.
Kwee Ceng terus mengayuh perahunya. Ia terus bergelisah untuk gurunya. Hanya ketika ia menyaksikan pertempuran dua orang itu, perhatiannya jadi tertarik, ia menghela napas saking kagumnya.
Di kalangan persilatan ada kata-kata, "Belajar golok seratus hari, belajar tombak seratus hari, belajar pedang selaksa hari". Itulah bukti ilmu silat pedang yang paling sukar dipelajari. Demikian pada duapuluh tahun yang lalu, dalam pertempuran di Hoa San terlihat nyata sempurnanya tetapi pun sulitnya ilmu pedang, maka Ang Cit Kong dan Auwyang Hong masih menukar senjata mereka. Ang Cit Kong memakai tongkatnya yang senantiasa di bawa-bawa, ialah tongkat warisan Kay Pang atau tanda tertua dari Partai Pengemis. Tongkat itu lebih panjang satu kaki daripada sebatang pedang dan sifatnya lemas, tetapi di tangan Cit Kong, satu ahli luar gwa kee, tongkat itu menjadi tegar sekali.
Tongkat ular-ularan dari Auwyang Hong pun senjata istimewa. Dan See Tok menggunakannya dengan campuran gerak-gerik toya dan tongkat. Di ujung kepala tongkat ada ukiran kepala orang yang mulutnya terbuka tertawa, yang kedua baris giginya terpentang dengan semua giginya tajam serta gigi itu dipakaikan racun ular, maka diwaktu dipakai bersilat, kepala orang-orangan itu bergerak-gerak bagaikan hantu mengangga. Pula, asal pesawat rahasianya dikasih bergerak, dari dalam mulut itu bakal tersembur senjata rahasia yang beracun juga. Yang lebih lihay lagi ialah dua ekor ular yang melilit di batang tongkat, yang bisa memagut orang secara tiba-tiba….
Hebat pertempuran ini karena mereka sama-sama lihaynya. Tongkat Auwyang Hong lebih unggul, tetapi Cit Kong adalah kepala Pengemis di seluruh Tionggoan dan sebagai kepala pengemis, dialah penakluk ular yang nomor satu. Demikian tongkatnya bergerak-gerak, bukan cuma menyerang lawan tetapi juga menghamtam kedua ular berbisa itu. Hanya dengan kelicikannya, Auwyang Hong saban-saban dapat menolong ularnya. Ia menjadi sengit, diam-¬diam ia mengutuk pangcu dari Kay Pang itu, yang kelihayannya mesti ia akui.
Kwee Ceng menonton dengan pikirannya bingung. Mau ia membantu gurunya tetapi tidak mempunyai kesanggupan. Bukankah musuh itu sangat lihay? Mana dapat ia menyelak di antara mereka berdua.
Tapi Auwyang Hong juga insyaf bahaya yang mengancam. Perlahan-lahan ia merasakan tubuhnya berhawa panas. Yang hebat hanya ia merasakan badan perahu, yang tinggal sebelah itu, mulai tenggelam. Penyerangan lawan dahsyat sekali, kalau ia tidak keluarkan kepandaiannya, bisa-bia ia terbinasa di tangan si pengemis tua ini. Maka ia lantas menukar siasat. Tangan kanannya, yang memegang tongkat, ia tarik, dan tangan kirinya dipakai menyapu.
Dengan tongkatnya Ang Cit Kong mengejar tongkat lawan, dengan tangan kiri menangkis sapuan tangan kiri lawannya. Atau mendadak tangan kiri Auwyang Hong dikelitkan, diputar, untuk secepat kilat dipakai menyerang pula ke arah pelipis kanan dari musuhnya!
See Tok menggunakan tipu silat Kim Coa Kun atau Kuntauw Ular Emas. Itulah siasat ilmu silatnya yang istimewa. Bahkan ia hendak mengandalkan ini ilmu pada pertemuan yang kedua kali nanti di Hoa San, untuk menundukkan semua lawannya. Keistimewaannya ialah selagi dipakai menyerang, tangannya dapat diputar balik, untuk dipakai menyerang pula secara dahsyat diluar dugaan lawan. Begitulah, ia menggunakan tipu silatnya terhadap Pak Kay. Ia percaya si pengemis tidak kenal ilmu silatnya.
Memang, mulanya Ang Cit Kong tidak kenal Kim Coa Kun, ia pun melihatnya secara kebetulan, yaitu di Poo¬eng, Auwyang Kongcu menggunakan itu terhadap Kwee Ceng. Sebabnya Cit Kong tidak menghadari pestanya Lee Seng beramai itulah karena ia lagi memikir keras tipu silat untuk memecahkan ilmu Kim Coa Kun itu. Maka, kali ini, melihat Auwyang Hong menggunakan tipu ilmu silat ini lagi, Cit Kong sudah siap sedia. Dengan menggunakan tipu silat Kim-na-ciu, menangkap tangan, ia mengulur tangannya untuk menjambret.
Inilah Auwyang Hong tidak sangka, ia terkejut sambil berlompat mundur. Justru itu ada jatuh segumpal api, yang menyambar dirinya. Cit Kong juga terkejut, dia terus melompat mundur. Sekarang dia dapat melihat tegas, yang jatuh itu adalah kain layar yang termakan api.
Di dalam keadaan biasa, tidak nanti Auwyang Hong kena ketungkup, tetapi barusan ia sedang kaget dan heran sebab ilmu silatnya kena dipecahkan lawan, ia juga baru menaruh kaki, sedang jatuhnya layar secara tiba-tiba, maka tidak berdayalah ia untuk menyingkir.
Dalam kagetnya itu, Auwyang Hong tidak menjadi gugup atau bingung. Ia lantas menggunakan tongkatnya, menyingkap kain layar. Lacur untuknya, tongkatnya terhalang tiang layar, tidak dapat ia gerakkan. Baru setelah itu ia menghela napas dan mengeluh:
"Habis sudah, hari ini aku mesti pulang ke langit…"
Sekonyong-konyong ia menampak sinar terang. Tadinya ia berada dalam gelap gulita. Ketika ia awasi, melihat Ang Cit Kong tengah menggunakan tongkatbya menyontek menyingkap layar.
Pak Kay adalah seorang yang berperangai halus dan murah hati, walaupun ia sangat benci See Tok untuk kelicikan dan keganasannya, ia masih tidak tega menonton orang mampus terbakar. Maka tanpa banyak pikir, ia memberikan pertolongannya.
Auwyang Hong telah terbakar pakaiannya, rambutnya dan alisnya. Ia berlompat, terus menjatuhkan diri, bergulingan di lantai perahu. Dengan caranya ini ia hendak membikin api padam. Selagi ia bergulingan itu, mendadak perahu miring, lalu rantai jankar jatuh menimpa ke arahnya.
Cit Kong kaget hingga ia menjerit, terus ia berlompat menyambar jangkar itu. Celaka untuknya, jangkar itu merah marong bekas terbakar, ketika kena terpegang, kontan tangannya terbakar hangus, tetapi ia masih sempat melemparkannya ke laut. Hanya, selagi menolong ini dan hendak lompat ke laut, mendadak ia merasakan punggungnya berikut pundaknya menjadi kaku. Untuk sesaat ia melengak, tak tahu apa sebabnya itu. Atau tiba-tiba ia ingat sesuatu, yang berkelebat di otaknya. Segera ia menoleh ke belakang. Di dalam hatinya ia berkata: "Aku telah tolongi See Tok, mustahilkah ia menggunakan tongkat ularnya mencelakaiku?" Ia berpaling, justru tongkat bambu berkelebat di depan matanya, kedua mulutnya ular penuh darah hidup, kepalanya sedang digoyang¬-goyang. Bukan main murkanya Ang Cit Kong, kedua tangannya segera melayang ke arah Auwyang Hong.
See Tok dapat berkelit, maka itu, sebatang tiang layar dibelakangnya terhajar keras, menjadi patah dan roboh karenanya. Cit Kong tidak berhenti sampai di situ, ia menyerang terus. Auwyang Hong melihat orang seperti kalap, ia tidak mau melawan berkelahi, ia lebih banyak berkelit sambil berlompatan.
"Suhu! Suhu!" Kwee Ceng berteriak-teriak melihat kelakuan gurunya itu. Ia pun merayap naik ke perahu besar.
Adalah di saat itu, Ang Cit Kong terhuyung-huyung. Ia merasakan kepalanya pusing, ia tak ingat apapun. Auwyang Hong berlompat maju, dengan sebelah tangannya ia menghajar punggung si raja pengemis. Hebat serangannya ini. Dalam keadaan seperti itu, Ang Cit Kong tidak bisa mempertahankan dirinya. Ia lantas saja roboh sambil muntahkan darah segar.
Kiu Cie Sin Kay Ang Cit Kong sangat kesohor kegagahannya, Auwyang Hong ketahui dengan baik, hajarannya tidak dapat segera menghabiskan jiwa orang, dan ia ketahui juga, kalau nanti Ang Cit Kong sembuh dari lukanya, pembalasan tak akan ada habisnya, maka itu, sudah kepalang, ia mengambil sikap: "Berkasihan tidak menurunkan tangan, menurunkan tangan tidak berkasihan". Ia lantas berlompat maju, dengan kakinya ia menjejak punggung orang!
Kwee Ceng baru saja naik dari perahunya ketika ia menyaksikan keganasan See Tok terhadap gurunya, tidak sempat ia maju lebih jauh untuk menolong, karena tidak ada jalan lain, ia menyerang dengan kedua tangannya dengan pukulan "Sepasang naga mengambil air". Ia menyerang ke punggung bagian pinggang.
Auwyang Hong tahu si bocah lihay, ia tidak memandang hebat. Ia gerakkan tangan kiri menangkis, dengan tangan kanannya ia membalas menyerang. Di sebelah itu, kakinya terus menginjak Ang Cit Kong!
Kwee Ceng kaget hingga ia melupakan segalanya, ia berlompat menubruk Auwyang Hong, batang lehernya ia rangkul. Tapi justru ini, ia membuat dirinya kosong, maka enak saja rusuknya kena dihajar si Bisa dari Barat.
Dalam keadaan rapat seperti ini, tidak leluasa Auwyang Hong menyerang, tetapi dasar ia lihay, serangan itu hebat, hanya syukur untuk Kwee Ceng, tenaga dalamnya telah mempunyai dasar, maka ia tidak segera roboh, dia cuma merasakan sakit sekali dan separuh tubuhnya hampir kaku. Karena ini dia menjadi nekat, ia perkeras rangkulannya, mencekik leher orang.
Oleh karena perlawanan Kwee Ceng ini, tendangan Auwyang Hong kepada Ang Cit Kong menjadi batal, sebab untuk membela diri, ia mesti segera menarik pulang kakinya itu. Tapi ia tidak sanggup menggunakan kuntauw Kodok atau Ular Emas, mereka terlalu rapat, maka ia cuma dapat menyerang muka orang. Kwee Ceng berkelit setiap kali ia dipukul. Untuk menangkis, ia tidak mampu, lantaran kedua tangannya lagi digunakan dengan sekuat tenaganya. Ia bisa berkelit di atas kepalanya ¬tidak bisa ia dibawah rusuknya. Maka lagi-lagi See Tok menyikut.
Kwee Ceng berkelit ke kanan, dengan begitu ia terpaksa melepaskan tangan kirinya, tetapi ia tidak berhenti berdaya, dengan lekas ia menggunakan ilmu gulat bangsa Mongolia. Tangannya ditelesupkan antara iga dan lengan musuh, diulur untuk membangkol batang leher.
Auwyang Hong lihay tetapi sekarang ia merasakan sakit. Ia mengerti si anak muda menggunakan tiou silat apa, hanya celakanya untuk dia, ia tidak mengerti caranya untuk menolong diri, dari itu ia cuma bisa menggunakan kepalan tangannya meninju ke belakang.
Melihat ini Kwee Ceng menjadi sangat girang. Segera ia melepaskan cekikannya, dengan tangan kanan, tangan ditelesupkan seperti tangan kiri taidi - kalau tadi di sebelah kiri, sekarang di sebelah kanan. Kembali ia membangko leher orang, berbareng dengan mana ia berseru mengerahkan tenaganya. Dengan menggunakan dua tangan berbareng, ia menjadi berbahaya sekali. Ini dia yang dinamakan tipu "Menjirat mematahkan gunung". Dalam halnya Auwyang Hong, dia terancam patah leher….
Cerdik sekali Auwyang Hong. Ia pun bertindak dengan sebat. Ia mengasih turun kepalanya, nelusup ke selangkangan si anak muda sembari berbuat begitu ia juga meninju dengan kepalan kiri. Ia tidak mau mengasih ketika orang sempat mengerahkan tenaganya.
Sebelum ia kena ditinju, Kwee Ceng telah menyambar tangan kiri si jago yang berbisa itu. Ia tetap merapatkan tubuhnya kepada tubuh musuh, ia mencoba terus menggunakan ilmu gulatnya. Ia menginsyafi, satu kali mereka renggang, ia bisa susah. Pula, dengan berkelahi rapat, ia dapat mencegah musuh mencelaki gurunya.
Oey Yong bingung sekali. Di satu pihak ia Ang Cit Kong rebah di pinggir perahu, separuh tubuhnya berada di luar perahu, di lain pihak terlihat Kwee Ceng lagi bergulat mati-matian terhadap Auwyang Hong, keduanya bergulingan, tubuh mereka sudah tererap api. Karena ini dengan pengayuh ia mengahajar Auwyang Kongcu. Walaupun dia telah terluka tangan kirinya, pemuda she Auwyang ini tetap kosen. Ia berkelit ke kiri, sambil berkelit, tangannya menyambar lengan si nona. Oey Yong berkelit sambil menekan perahu, hingga perahu itu menjadi miring.
Auwyang Kongcu tidak bisa berenang, miringnya perahu membikin tubuhnya terhuyung. Untuk menetapkan diri, ia batal menyerang terus kepada si nona. Menggunakan saat perahu miring itu, Oey Yong terjun ke air. Ia pandai berenang, ia tidak takut. Hanya dengan beberapa kali menggunakan tangannya, tubuhnya sudah nyelosor ke perahu besar. Perahu itu tinggal separuh, sekarang separuh tubuh itu sudah kelam separuhnya lagi. Dengan gampang si nona naik ke parhu besar itu. Di situ ada sebuah tempuling, ia sambar itu hendak membantu Kwee Ceng.
Auwyang Hong dan si anak muda masih berkutat bergulingan, bergantian di bawah dan di atas, kemudian karena ia lebih hilay, Auwyang Hong terus berada di sebelah atas. Dalam keadaan seperti itu, Kwee Ceng terus mengendalikan kedua tangan musuh, supaya musuh tidak dapat menyerang.
Adalah di saat itu, Oey Yong berlompat maju sambil menikam. Hebat Auwyang Hong. Ia mendapat tahu ada serangan di belakangnya, ia berkelit seraya mengerahkan tenaganya mengangkat tinggi tubuh Kwee Ceng, memakai si anak muda sebagai tameng. Oey Yong mengubah serangannya, kali ini kepala See Tok. Jago tua itu bisa berkelit, bahkan terus-terusan ia mengegos ke kiri dan ke kanan, menyingkir dari ujung tempuling.
Tiga kali oey Yong menikam dengan sia-sia, yang keempat kalinya, tempulingnya nancap di lantai perahu, hingga abunya mengepul naik mengenai matanya, ia kelilipan dan matanya mengeluarkan air. Ia mengucak matanya itu. Justru itu ia merasakan kakinya sakit, tubuhnya limbung, malah terus ia roboh. Sebab Auwyang Hong telah sapu kakinya selagi ia tidak melihat.
Si nona roboh terus menggulingkan diri, buat berlompat bangun. Karena robohnya itu, rambutnya kena kesambar api. Ia maju pula, untuk mengulangi serangannya. Atau mendadak Kwee Ceng berseru¬:
"Tolongi suhu dulu! Tolongi suhu dulu!"
Oey Yong mengerti tugasnya, ia lantas lari kepada Ang Cit Kong, ia tubruk tubuh orang, untuk dipeluk, setelah mana ia terjun ke air. Dengan menyeburkan diri, ia lantas merasakan tubuhnya adem, tak sepanas seperti tadi. Ia berenang sambil menggendong gurunya, ia menuju ke perahu kecil. Auwyang Kongcu berdiri di atas perahu kecil itu, sebelah tangannya mengangkat pengayuh.
"Lepaskan si pengemis tua! Cuma kau sendiri yang boleh naik!" demikian teriaknya dengan mengancam.
Sebelah tangan Oey Yong masih memegangi tempulingnya. "Baiklah, mari kita bertempur di dalam air!" ia pun berseru, menjawab ancaman itu. Ia menyambar pinggiran perahu, menggoyangnya.
Auwyang Kongcu kaget dan ketakutan melihat perahu tergoncang keras. Kalau perahu terbalik dan karam, celakalah dia.
"Jangan, jangann goncang!" ia berteriak-teriak seraya keras memegangi perahu. "Nanti perahu ini karam…"
Oey Yong tertawa. "Lekas tarik guruku naik!" ia menitah. "Hati-hati! Jikalau kau main gila, aku nanti lelapkan kau di dalam air selama tiga jam!"
Auwyang Kongcu tidak berdaya, terpaksa ia memegang bebokongnya Ang Cit Kong, mengangkatnya naik ke perahu.
"Nah, beginilah baru anak manis!" berkata Oey Yong tertawa.
Sebenarnya Oey Yong hendak kembali ke perahu besar, untuk menolong Kwee Ceng, atau mendadak ia mendengar satu suara nyaring sekali, lalu melihat gelombang besar dan tinggi medampar ke arahnya. Ia lantas memutar tubuhnya, habis itu ia berbalik pula, rambutnya di depan mukanya tersingkap ke belakang. Ia berdiri tercengang kapan ia sudah memandang ke depan.
Gelombang berputar seperti usar-usaran air, di situ tidak terlihat lagi perahu besar yang tinggal separuh tadi, dengan begitu, lenyap juga Kwee Ceng dan Auwyang Hong yang tengah bergulat.
Oey Yong baru sadar ketika air asin menyambar masuk ke dalam mulutnya. Tadinya ia seperti lupa akan dirinya sebab hatinya mencelos mendapatkan pemuda pujaannya lenyap. Ia lantas melihat ke sekelilingnya. Di situ ia tidak nampak apapun kecuali perahu kecil. Rupanya semua sudah ditelan sang laut.
Oey Yong selulup, ia berenang ke arah air berputar itu. Ia tidak jeri untuk tenaga besar dari usar-usaran air itu, ia dapat mempertahankan diri dari sedotan yang keras. Di situ ia selulup ubak-ubakan, mencari Kwee Ceng. Lama ia berputaran, Kwee Ceng tidak nampak, Auwyang Hong pun tidak ada. Maka maulah ia menduga, kedua orang itu telah kena terbawa perahu sampai di dasar laut............
Lama-lama lelah juga Oey Yong. Tapi ia masih belum putus asa, bahkan penasaran. Maka ia mencari terus. Ia sangat mengharap-harapkan nanti dapat menemukan si anak muda. Diam-diam ia mengharap bantuan Thian, mengasihani dia. Tapi masih sia-sia belaka usahanya itu. Saking letih, ia muncul ke muka air. Ia berenang ke perahu kecil. Didalam hatinya ia berjanji, sebentar ia akan menyelam lagi, untuk mencari terlebih jauh.
Auwyang Kongcu melihat si nona menghampiri, ia mengulur tangannya membantu naik ke perahu. Ia pun sangat berkhawatir atas lenyapnya pamannya itu.
"Apakah kau melihat pamanku? Apakah kau melihat pamanku?" demikian pertanyaannya berulang-ulang.
Oey Yong tidak menyahut, bahkan ia tak sadarkan diri sebab begitu lekas juga ia merasai matanya gelap.
Beberapa lama si nona pingsan, ia tidak ketahu. Ketika ia siuman, ia merasakan tubuhnya enteng, bagaikan melayang-layang di antara mega, kupingnya pun mendengar suara angin mendesir-desir. Lekas¬ ia memusatkan pikirannya, kemudian ia menggerakkan tubuhnya, untuk berduduk. Maka sekarang bisalah ia melihat ke sekitarnya. Ia masih berada di atas perahu kecil, perahu itu hanyut mengikuti aliran gelombang. Auwyang Kongcu tidak mengerti urusan mengemudikan perahu, maka ia membiarkan perahunya berlayar sendirinya…. Pula, entah berapa jauh sudah terpisahnya perahu dengan tempat karamnya perahu besar.
Bukan main berduka dan sakitnya hati Oey Yong. Ia percaya ia tidak bakal bertemu pula dengan Kwee Ceng. Mendadak saja ia pingsan lagi. Auwyang Kongcu duduk diam dengan sebelah tangannya keras-keras memegangi perahu, yang terombang-ambing itu.
Lewat sekian lama, Oey Yong sadar dengan sendirinya. Ia benar-benar putus asa, hingga tawar untuk hidup lebih lama lagi. Ketika ia menoleh kepada Auwyang Kongcu timbullah rasa muak dan bencinya. Pemuda itu lagi memperlihatkan roman ketakutan.
"Mana bisa aku mati bersama-sama binatang ini?" pikir si nona sesaat kemudian. Maka ia segera berlompat bangun.
"Lekas lompat ke laut!" ia membentak bengis.
Auwyang Kongcu kaget bukan main. "Apa?!" dia menanya.
"Lompat ke laut!" sahut Oey Yong dengan bentakannya. "Kau tidak mau lompat? Baik! Akan aku balikkan perahu ini!"
Lantas si nona lompat ke kanannya, maka kontan perahu itu miring ke kanan, dari situ ia lompat pula ke kiri, membuatnya perahu turut miring ke kiri, bahkan miringnya terlebih hebat.
Auwyang Kongcu ketakutan, ia menjerit keras. Senang Oey Yong mendengar teriakan itu, sengaja ia menggoncang pula perahu itu lagi. Dalam takutnya, Auwyang Kongcu masih dapat berpikir. Biar bagaimana, ia pun seorang lihay. Terpaksa ia mengambil tindakan. Setiap kali si nona lompat ke kanan, ia lompat ke kiri, demikian sebaliknya. Ia senantiasa mengimbangi nona itu.
Oey Yong kewalahan, tidak dapat ia menggoda terlebih jauh. "Baik!" katanya kemudian. "Hendak aku membocorkan perahu, ingin aku lihat, kau bisa bikin apa!" Ia menghunus pisau belatinya, ia lompat ke tengah¬ perahu.
Justru itu, Oey Yong melihat Ang Cit Kong lagi rebah tengkurup tanpa bergerak. Ia menjadi kaget sekali. Baru sekarang ia ingat pula akan gurunya. Segera ia mendekati, memasang kupingnya. Ia mendengar suara napas perlahan, hatinya menjadi sedikit lega. Ia lantas mengangkat bangun tubuh orang, untuk dibalik, hingga ia dapat melihat wajah gurunya.
Muka Cit Kong sangat pucat, dadanya bergerak turun naik perlahan-lahan, jantungnya berdenyutan perlahan juga, tanda dari kelemahannya. Keras keinginan si nona untuk menolong gurunya, ia tak pedulikan lagi Auwyang Kongcu. Ia lantas membukai baju gurunya, memeriksa lukanya. Tiba-tiba saja perahu itu bergerak keras.
"Tepian! Tepian!" Auwyang Kongcu pun berseru-seru kegirangan.
Oey Yong segera menoleh. Ia melihat pepohonan yang lebat. Perahunya sudah berhenti bergerak. Perahu kandas di tepian pulau yang berpasir. Masih jauh ke darat, tetapi air ke arah sana dangkal sekali, dasarnya tampak. Mungkin dalamnya tak sebatas dada.
Dalam girangnya Auwyang Kongcu lompat turun dari perahu. Ia lantas jalan beberapa tindak. Tiba-tiba ia berpaling kepada Oey Yong, terus ia berjalan kembali.
Oey Yong melihat pada tulang belikat kanan dari gurunya ada tapak tangan yang hitam, tapak itu dalam membekas di daging, seperti bekas dibakar. Di sekitar itu ada tanda hangus. Ia kaget sekali.
"Kenapa sehebat ini tangannya See Tok?" ia menanya di dalam hatinya.
Ia melihat punggung sebelah kanan dan leher, di sana ada dua lubang kecil sekali, hampir tak terlihat. Ia meraba dengan jari tangannya, ia merasakan sakit seperti terkena hawa panas, lekas-lekas ia menarik pulang tangannya.
"Suhu, bagaimana?" ia menanya.
Ang Cit Kong bersuara, "Hm!" perlahan, ia tidak menyahut.
"Eh, mari keluarkan obat pemunahmu!" Oey Yong tegur Auwyang Kongcu.
Pemuda itu menggerakkan kedua tangannya, tanda putus asa. "Semua obat ada di tangan pamanku," sahutnya.
"Aku tidak percaya!" berkata si noa.
"Kau geledah saja!" Auwyang Kongcu menyerah. Ia buka bajunya, ia keluarkan semua isi sakunya.
Oey Yong mengawasi dengan melongo. "Nah, mari bantu aku mengangkat guruku ke darat!" ia berkata kemudian.
Auwyang Kongcu menurut. Maka Ang Cit Kong lantas dikasih bangun, untuk dapat didukung. Kedua muda-¬mudi itu memasang pundak masing-masing, menahan si orang tua. Kemudian Oey Yong memegang tangan kiri Auwyang Kongcu untuk tangan mereka saling disilang, hingga si orang tua dapat duduk di tangan mereka yang terpalang melintang. Hati Oey Yong cemas sekali. Ia merasakan tubuh gurunya gemetar.
Auwyang Kongcu sebaliknya girang. Ia merasakan tangan yang halus dan empuk memegang erat-erat tangannya. Ini kejadian yang sekalipun di dalam mimpinya ia tidak berani mengharapkan. Maka ia amat menyesal cepat sekali mereka sudah tiba di darat.
Sambil berdongko dan membungkuk, Oey Yong menurunkan gurunya. "Lekas ambil papan perahu!" ia menitahkan Auwyang Kongcu. "Jaga jangan basah!"
Habis menurunkan Ang Cit Kong, Auwyang Kongcu membawa tangan ke bibirnya, ia berdiri menjublak. Itulah bagian tangan yang sejak tadi dipegang erat-erat oleh tangan yang halus dan empuk dari si nona. Karena itu, ia seperti tidak mendengar perkataan si nona. Syukur untuknya, Oey Yong tidak menyangka jelek terhadapnya, cuma sambil mendelik si nona mengulang perintahnya.
Dengan cepat Auwyang Kongcu mengambil papan. Waktu itu Oey Yong telah tengkurapkan tubuh gurunya di rumput yang empuk, ia mencoba meringankan sakitnya. Maka diam-diam pemuda ini dapat lari ke tanjakan yang tinggi. Sembari lari ia menanya dirinya sendiri: "Tempat apakah ini?" Ketika ia sudah melihat ke sekelilingnya, ia kaget berbareng girang.
Itulah sebuah pulau kecil, yang lebat dengan pepohonan, hingga ia tidak tahu, pulau itu ada penghuninya atau tidak. Ia kaget ketika mengingat, kalau pulau itu kosong, darimana mereka dapat makanan dan pakaian, dimana mereka bisa bernaung? Ia girang ketika ingat bahwa ia berada berduaan sama si nona manis, sedang si pengemis tua, ia percaya sukar dapat ditolong lagi.
"Sama si cantik aku berdiam di sini, pulau kosong pun bagaikan sorga!" pikirnya. "Kalau toh aku mesti mati dalam sehari atau semalam, aku puas…"
Seking girangnya, ia berjingkrakan seperti orang menari. Hanya ia kaget tatkala angkat tangan kanannya. Baru sekarang ia ingat lengannya itu telah patah. Karena ini lekas-lekas ia menggunakan lengan kirinya mematahkan dua cabang pohon, ia pun merobek ujung bajunya. Maka dilain saat ia sudah dapat menggantung tangannya itu.
Hati Oey Yong tidak tentram tetapi ia menyilangkan kedua tangannya, ia menelad Cit Kong untuk menjura ke arah utara. Pak Kay menghela napas panjang, dari wajahnya nampak letih sekali, tetapi ia bersemangat, tanda dari riang hatinya.
Oey Yong mempepayang, membantu gurunya merebahkan diri. "Sekarang kau menjadi Pangcu, dengan begitu aku menjadi tianglo," kata Cit Kong. "Tianglo masih dihormati oleh Pangcu tetapi dalam urusan besar dan penting, tianglo tunduk kepada titah pangcu. Ini aturan yang menjadi pesan Couwsu-ya, yang sekali-sekali tak dapat disangkal. Asal tongkat Lek-tiok-thung ini berada di tanganmu, begitu kau memberikan titah maka semua pengemis di negeri kita ini mesti menerima dan menurut segala titah."
Oey Yong masgul berbareng gugup, ia bingung. Apa artinya guru ini dengan tiba-tiba mewariskan kedudukan raja pengemis padanya? Mana ada alasannya? Tapi gurunya tengah terluka parah, ia pun sudah memberikan janjinya, tidak dapat ia menampik. Penampikan berarti menambah susah hati gurunya. Ia juga memikir: "Kita sekarang berada di pulau kosong… di bulan dan tahun kapan kita dapat kembali ke tanah Tionggoan? Laginya, engko Ceng sudah meninggal dunia, aku tidak ingin hidup lebih lama… Sekarang suhu menyuruh aku mengepalai pengemis dari seluruh negeri…" Maka ia menjadi berdiam saja.
Ang Cit Kong berkata pula; "Tahun ini tanggal limabelas bulan tujuh adalah tanggal rapat besar setahun sekali yang bakal diadakan di kota Gakyang di tepi telaga Tong Teng Ouw, di sana akan berkumpul semua kepala pengemis dari pelbagai tempat. Rapat itu diutamakan untuk semua pemimpin mendengar aku menunjuk bakal gnatiku sebagai Pangcu, siapa sangka sekarang aku terbengkalai di sini. Kau telah menjadi penggantiku, kau dapat pergi ke sana memegang pemimpin. Dengan kau mencekal dan membawa tongkat ini, semua saudara akan segera mengerti maksudku. Di dalam urusan Kay Pang, keempat tianglo lainnya akan membantu kamu, maka tak usahlah aku memesan banyak. Hanya aku menyesal sekali, tanpa sebab dan secara begini mendadak aku memaksakan kau, satu nona yang manis, merendahkan diri masuk ke dalam kalangan bangsa pengemis…."
Walaupun ia mengucap demikian, Pak Kay toh tertawa girang. Tapi, karena tertawanya itu, ia merasakan lukanya nyeri, setelah meringis, ia batuk-batuk tak henti-hentinya. Oey Yong mengusap-usap punggung gurunya.
"Aku si pengemis tua benar-benar sudah tak punya guna," kata Cit Kong setelah berhenti batuk-batuk. "Karena aku tidak tahu kapan bakal berpulang ke lain dunia, mesti aku lekas-lekas menurunkan ilmu silat Pa-kauw-pang kepadamu…!"
Sudah puluhan macam ilmu silat didapat Oey Yong dari gurunya ini, belum pernah ia mendengar Pa-kauw¬pang, yang berarti ilmu silat pentungan menghajar anjing. Ia memikir-mikir, kenapa tak enak sekali disebutnya nama ilmu silat itu - mementung anjing….
"Bagaimana galaknya seekor anjing, dia dapat dihajar mampus dengan sebuah kepalan," ia berpikir pula, "Maka itu, untuk apa mesti mempelajari pula ilmu silat menemplang anjing? Tapi suhu bicara dengan sikap begini sungguh-sungguh, baiklah aku menurut…" Maka mengangguklah ia, bersedia menerima warisan ilmu silat yang ia anggap aneh itu.
Ang Cit Kong mengawasi muridnya, ia tertawa. "Meskipun kau menjadi Pangcu, kau tak usah mengubah macam atau dandanmu, tak usah mengubah tabiat atau sifatmu," berkata ia menjelaskan. "Kau doyan guyon bergurau, tetap kau boleh berpesta pora dengan kenakalanmu itu! Kami bangsa pengemis, justru paling kemaruk sama kemerdekaan dan kebebasan, sebab tanpa kebebasan, tak dapat kami menjadi pengemis. Kalau tidak demikian, kenapa kita tidak menjadi saja pembesar negeri atau seoarng hartawan? Nampaknya kau tidak puas dengan Pa-kauw-pang, benarkah? Kau bilanglah terus terang!"
Oey Yong tersenyum. "Muridmu sebenarnya memikirkan berapa ketangguhannya seekor anjing.." ia menyahut. "Muridmu memikir untuk apa mesti diciptakan semacam ilmu silat.."
"Sekerang kau telah menjadi kepala pengemis, kau harus memikir sebagai pengemis juga!" katanya. "Tapi pakaianmu indah, romanmu mentereng sebagai nona hartawan, kalau ada anjing melihat, mesti anjing itu mengangguk-angguk dan menggoyang-goyang ekor terhadapmu. Dengan begitu, apa perlunya menghajar anjing itu? Tetapi kalau si pengemis tulen bertemu sama anjing, hebatlah akibatnya, sungguh menyedihkan! Bukankah pepatah kuno ada membilang, 'Seorang miskin melarat tanpa pentungan dia diperhina oleh anjing'? Kau belum pernah menjadi seorang miskin, kau tidak mengerti kesengsaraannya si miskin."
Mendengar itu Oey Yong tertawa seraya bertepuk tangan. "Suhu, kali ini kau keliru!" katanya gembira.
Cit Kong heran, ia melengak. "Kenapa keliru?" tanyanya.
"Ketika pada bulan ketiga yang baru lalu ini aku minggat dari Tho Hoa To dan aku pergi ke Utara, di sana aku telah menyamar sebagai pengemis!" sahut si nona. "Disepanjang jalan ada saja anjing yang menggonggong dan mengikutiku, hendak menggigit, selalu aku hajar dia dengan dupakan, lantas dia lari sambil menggoyang-goyang ekornya!"
"Ya, itu benar," berkata Ang Cit Kong. "Hanya kalau anjing sangat galak hingga sukar ditendang, tidak dapat tidak, tongkat harus dipakai untuk mementungnya!"
Si nona menjadi berpikir. "Di mana ada anjing demikian galak dan hebat?" Tapi hanya sejenak, lantas ia insyaf. Maka ia menambahkan: "Benar! Manusia jahat pun sama dengan anjing galak!"
Cit Kong tersenyum. "Kau sungguh cerdas!" pujinya. "Jikalau…." Ia sebenarnya hendak menyebut Kwee Ceng pasti tidak dapat menebak, tetapi ia berduka, ia batal melanjutkannya. Ia bahkan terus berdiam.
Oey Yong dapat menerka hati orang, ia berpura-pura tidak tahu. ia pun sangat berduka.
"Pa-kauw-pang terdiri dari tigapuluh enam jurus," kemudian Cit Kong berkata pula, memberi penjelasan. "Itu ilmu silat yang diciptakan sendiri oleh Couwsa¬ya. Sampai sebegitu jauh, menurut aturan dan kebiasaan, ilmu silat ini cuma diajari dan diwariskan kepada Pangcu, tidak kepada orang yang kedua. Katanya dulu Pangcu yang nomor sebelas, waktu ia berada di gunung Pak Kouw San, ia telah dikepung banyak orang kosen, dengan sepasang kepalannya, ia telah menghajar mati lima di antaranya. Ketika itu, ia menggunakan ilmu silat Pa-kauw-pang."
Oey Yong tertarik, tetapi ia menghela napas. "Suhu," tanyanya, "Ketika di perahu besar itu kau menempur See Tok Auwyang Hong, kenapa kau tidak menggunakan ilmu silatmu?"
"Menggunakan ilmu silat ini adalah urusan besar dari Partai kita," menyahut sang guru. "Sekalipun aku tidak menggunakan, See Tok tak dapat mengalahkan aku! Siapa sangka dia sangat hina dina, aku sudah tolong, dia justru membokong menyerang punggungku…"
Diwaktu mengucap demikian, wajah Pak Kay muram. Oey Yong dapat menduga kemendongkolan dan kemasgulan gurunya, hendak ia menyimpang pembicaraan.
"Suhu," ia berkata, "Sekarang kau ajarkanlah ilmu silat tongkat itu kepada Yong-jie, sesudah Yong-jie bisa, nanti Yong-jie pakai untuk membunuh See Tok guna membalaskan sakit hati suhu!"
Cit Kong tertawa tawar. Ia menumput sebatang cabang kering, setelah mana mulutnya membaca, tangannya digerak-gerakkan. Ia tetap rebah tetapi dapat menjalankan tigapuluh enam jurus dari Pa-kauw¬pang itu. Yang mana kurang jelas, ia menambahkan dengan keterangannya. Dengan cara itu ia menurunkan ilmu silat mementung anjing itu. Ia tahu Oey Yonng cerdas sekali, ia mengajari dengan sungguh-sungguh. Dilain pihak ia khawatir umurnya tidak panjang lagi…..
Nama ilmu silat pentungan itu tak sedap didengarnya, tetapi ilmu silatnya sendiri lihay, banyak perubahannya, kalau tidak, tidak nanti ilmu itu menjadi ilmu istimewa dalam Kay Pang dan diwariskan secara turun temurun. Maka itu, mesti Oey Yong cerdas luar biasa dan ia dapat menjalankan, tak semuanya segera ia dapat menangkap maksudnya. Habis memberi pelajaran, Cit Kong menghela napas, ia bermandikan keringat.
"Aku mengajari kau terlalu singkat," ia berkata, "Itu tidak bagus. Sebenarnya, tidak dapat aku mengajari lebih jauh…" Mendadak ia menjerit, "Aduh!" dan tubuhnya roboh rebah.
Oey Yong kaget, ia berlompat menubruk. "Suhu!" ia memanggil. Ia pun mengasih bangun.
Tangan dan kaki Cit Kong dingin, napasnya jalan sangat perlahan. Nampaknya ia tidak dapat ditolong pula…
Selama beberapa hari ini hebat penderitaan si nona, maka ia mendekam di tubuh gurunya, ia menangis tanpa dapat mengeluarkan suara. Ia masih dapat mendengar denyutan jantung gurunya. Lantas ia menggunakan kedua tangannya, memegang kedua bagian rusuk, untuk membantu sang guru bernapas. Saat itu saat genting untuk gurunya, ia mendengar satu suara perlahan di belakangnya. lantas sebuah tangan diangsurkan ke lengannya.
Dalam kedukaan dan kekhawatiran, Oey Yong cuma ingat menolong gurunya, maka itu tahu ia kapannya Auwyang Kongcu masuk ke dalam gua, hingga ia seperti lupa yang di belakangnya ada seekor anjing yang galak.
"Berat sakitnya suhu, lekas kau pikirkan daya untuk menolong," ia berkata pada pemuda itu. Ia berpaling, mengawasi dengan air mata berlinang-linang.
Melihat roman orang yang sangat menyedihakan itu, Auwyang Kongcu merasa kasihan. Ia berjongkok untuk melihat Ang Cit Kong, kulit mukanya pucat dan kedua matanya terbalik. Melihat keadaan orang, ia justru menjadi girang sekali. Ia berdampingan sama si nona, ia mendapat cium bau harum dari tubuh si nona, sedang mukanya kena rambut orang. Betapa menyenangkan?
Kembali pemuda ini tidak dapat mengendalikan diri. Kalau tadi ia cuma menyentuh lengan si nona, sekarang ia mengulur tangan kirinya merangkul pinggang orang. Oey Yong terkejut, ia menyikut dengan meninju, si anak muda berkelit, ia berlompat bangun. Auwyang Kongcu jeri kepada Ang Cit Kong, sekarang ia mendapatkan orang tengah rebah sebagai mayat, hatinya menjadi besar. Kalau tadinya ia takut menggunakan kekerasan terhadap Oey Yong, sekarang ia berani. Hendak ia memaksa. Maka ia berlompat ke mulut gua, untuk menghalang. Ia tertawa.
"Adik yang baik," katanya manis, "Terhadap orang lain aku tak biasanya menggunakan kekerasan, tetapi kau begini cantik manis, kau botoh sekali, tidak dapat aku menguati hati lagi. Marilah, adik, kau mengasihkan aku satu cium…" Sembari mengucap demikian, pemuda itu mementang tangan kirinya, ia maju setindak demi setindak.
Hatinya Oey Yong bergoncang keras. "Ancaman bencana atas diriku hari ini berlipat sepuluh kali daripada ancamana bahaya semasa aku berada di istana Chao Wang," berpikir si nona ini. "Kalau tidak dapat membinasakan dia, aku mesti membunuh diri. Hanya, mana aku puas…?" Hanya dengan satu kali menggerakkan tangan, Oey Yong sudah siap dengan tempuling dan jarumnya.
Auwyang Kongcu lantas tersenyum. Ia lantas meloloskan bajunya, untuk dipakai sebagai cambuk lemas. Kembali ia maju dua tindak.
Oey Yong berdiri diam, matanya mengawasi tajam. Ia menanti orang mengangkat kaki. Belum lagi kaki itu diturunkan ke tanah, tiba-tiba ia melompat ke kiri. Menampak itu, Auwyang Kongcu meneruskan berlompat ke kiri juga, untuk merintangi si nona. Tapi justru itu Oey Yong mengayunkan tangannya. Lihay si anak muda, dia menggerakkan sabuk bajunya, menangkis serangan jarum. Tapi si nona pun lihay, ia memang menggunakan siasat, maka tengah pemuda itu membela diri, ia berlompat, melesat ke luar gua!
Auwyang Kongcu benar-benar lihay, walaupun dia repot, toh dapat berlaku gesit luar biasa. Dia berlompat untuk menyusul, maka itu tengah lari, Oey Yong mendengar desiran angin di belakangnya. Itulah desiran pukulan ke arah punggung. Ia tidak takut, sebaliknya, ia menjadi girang. Bukankah ia memakai baju lapis berduri? Bukankah ia pun sudah nekat? Ia tidak takut mati, asal ia dapat melukai musuh. Maka itu, ia tidak mau menangkis, hanya memutar tubuhnya untuk membarengi menyerang!
Auwyang Kongcu tidak berniat membinasakan si nona, kalau ia menyerang, hanya mengancam, ia hendak menggoda saja, maka ketika serangan itu datang, ia batal menyerang terus, ia menangkis serangan itu, lalu ia melompat lebih jauh, untuk mendahului tiba di mulut gua.
Oey Yong berkelahi seperti kalap. Ia menyerang tanpa mengingat pembelaan diri. Dengan begini, kegagahannya seperti tambah satu kali lipat.
Adalah maksud Auwyang Kongcu membuat si nona itu letih, tetapi sekarang ia mesti menghadapi serangan bertubi-tubi, terpaksa ia mesti melayani juga. Di dalam keadaan seperti itu, walaupun ia lebih kosen, toh kewalahan juga, kesatu ia memang tidak berniat mengambil nyawa si noa, kedua ia mesti berkelahi dengan sebelah tangan, sedang tangan yang lain lagi sakit. Pertempuran telah berlangsung kira-kira enampuluh jurus ketika mendadak Oey Yong menubruk, sambil menubruk, ia menimpuk dengan jarumnya.
Auwyang Kongcu repot menangkis jarum, untuk itu ia mesti mengebas dengan sabuk bajunya. Disamping itu, hebat tubrukkan Oey Yong, yang menikam ke arah tangan kanannya yang sakit itu. Hendak ia menangkis pula dengan tangan kirinya tetapi sudah tidak keburu, ujung tempuling telah mengenai lukanya.
Tapi juga Oey Yong tidak dapat bergirang karena hasil tikamannya. Baru ia menikam merasakan tangannya kesemutan, terus senjatanya terlepas jatuh ke tanah. Sebab di luar sangkaannya, walaupun dia kena ditikam, Auwyang Kongcu mengubah tangkisannya menjadi totokan kepada lengan nona itu dan tepat totokannya itu. Si nona kaget, ia berlari terus. Ia lari sembari membungkuk.
Auwyang Kongcu tidak hendak melepaskan bakal mangsanya ini. Ia berlompat dengan pesat, ia juga membungkuk, tangan kirinya dilonjorkan ke depan, untuk menotok kaki orang, yang lagi diangkat untuk berlari. Ia berhasil, dua kali ia dapat menotok jitu, mulanya di jalan darah koanciong-hiat di kaki kiri si nona, kemudian di jalan darah tiongtouw-hiat di kaki kanan. Maka tak ayal lagi, baru bertindak dua kali, nona itu sudah lantas terguling roboh!
Sekali lagi Auwyang Kongcu berlompat, bahkan dia mendahului, untuk membeber bajunya, hingga si nona terjatuh di atas hamparan baju itu. Pemuda itu pun menggoda, sembari tertawa ia berkata:
"Ah, jangan sampai kau merasa nyeri!"
Oey Yong mendapat pelajaran langsung dari ayahnya, Auwyang Kongcu mewariskan kepandaian pamannya, yang menyayang ia sebagai anak sendiri, maka itu mereka sama-sama mempunyai kepandaian yang lihay. Oey Yok Su gagah, begitu juga dengan Auwyang Hong, bahkan mereka berdua ini berimbang. Dengan demikian, pemuda dan pemudi ini seharusnya sama kosennya juga. Tapi toh Oey Yong kalah! Kenapa? Waktu itu ada terselip selisih usia dan waktu latihan. Oey Yong baru berumur limabelas tahun, Auwyang Kongcu sudah lebih dari tigapuluh tahun, maka itu, perbedaan waktu belajar mereka adalah kira-kira duapuluh tahun. Benar Oey Yong mendapat pelajaran juga dari Ang Cit Kong tetapi belum lama dan latihannya belum sempurna. Karenanya, walaupun si pemuda terluka tangannya, ia tetap lebih unggul.
Oey Yong kaget tetapi pikirannya tidak kacau. Begitu ia jatuh, ia berbalik sambil menimpuk dengan jarumnya. Kemudian ia gerakkan tubuhnya untuk berlompat bangun. Tidak beruntung untuknya, kedua kakinya tidak mau menurut perintah, maka tidak dapat ia berlompat bangun untuk berlari. Ia baru bergerak sedikit ia terguling pula.
Ketika itu Auwyang Kongcu mengulur sebelah tangan dengan maksud mengasih bangun. Dalam murkanya, Oey Yong meninju dengan tangan kirinya. Tapi si anak muda dapat melihat serangan itu, dengan leluasa menyambut dengan tangan kirinya, dengan totokan, maka matilah tangan kiri si nona, seperti tangan kanannya yang ditotok juga, hingga kaki tangannya tak dapat bergerak semua. Ia mirip orang yang dibelenggu.
Bukan main panasnya hati nona ini, ia sangat menyesal yang barusan ia tidak membunuh diri saja, hingga sekarang jadi kena tertawan. Ia ada begitu murka dan mendongkol. Mendadak ia merasakan matanya gelap dan kepalanya pusing, seketika itu juga ia rebah tak sadarkan dirinya.
"Jangan takut, jangan takut," berkata Auwyang Kongcu sambil tertawa, suaranya halus. Ia bertindak seraya mengulur tangan, berniat memondong nona itu. Tetapi mendadak
"Kau mau hidup atau mati?!" demikian satu suara keras dan kejam, suara dingin yang disusul tertawa ejekan.
Pemuda itu terperanjat, dengan cepat ia menoleh. Betapa kagetnya, melihat Ang Cit Kong berdiri di mulut gua, tangannya memegang tongkat, matanya melirik tajam. Disaat itu pada otaknya berkelebat penuturan pamannya hal Ong Tiong Yang berpura-pura mati untuk mengalahkan lawannya.
"Hai, kiranya si pengemis tua ini berpura-pura mampus!" pikirnya. "Ah, habislah aku hari ini!" Ia ketahui baik sekali kegagahan Ang Cit Kong, ia putus asa. Tanpa berpikir lagi, ia menekuk kedua kakinya sambil berlutut ia berkata: "Aku cuma bermain-¬main saja sama adik Oey, tidak ada niatku untuk berbuat jahat terhadapnya…."
"Hm!" Pak Kay mengasih dengar suara bengis. "Bangsat bau, masih kau tidak hendak menotok bebas jalan darahnya? Apakah aku si orang tua harus turun tangan?"
Auwyang Kongcu jeri. "Ya, ya," ia menyahut seraya terus menotok kaki tangannya si nona.
"Satu kali lagi kau menginjak gua ini, jangan kau sesalkan aku!" Ang Cit Kong mengancam. "Lekas pergi!" Sembari berkata begitu, jago tua itu bertindak ke samping.
Keponakan See Tok bagaikan menerima putusan pengampunan, cepat-cepat ia ngeloyor pergi.
Oey Yong tak tahu apa yang sudah terjadi, ketika ia sadar, ia sadar dengan perlahan-lahan. Ia membuka kedua matanya seraya merasa bagaikan tengah bermimpi. Ang Cit kong tidak dapat berdiri lama-lama, ia roboh dengan sendirinya. Melihat gurunya jatuh, Oey Yong kaget. Ia lupa pada tangan atau kakinya bekas ditotok, ia menekan tanah untuk berlompat bangun, menghampiri gurunya, segera ia pegangi untuk dikasih bangun. Ia melihat mulut gurunya berlumuran darah, sebab ternyata tiga buah giginya sudah copot bekas kebentur tanah. Ia menjadi sangat berduka.
"Suhu!" ia memanggil.
Ang Cit Kong sadar, ia pegang ketiga buah giginya itu, terus tertawa. "Gigiku, gigiku!" katanya. "Kau tidak mensia-siakan aku! Kau telah membuat aku si pengemis tua dapat mencicip segala macam barang hidangan paling lezat dan sedap di kolong langit ini! Sekarang aku si pengemis sudah sampai pada usiaku, kau telah mendahului meninggalkan aku…!"
Memang hebat sekali lukanya Pak Kay kali ini, cuma saking kuat tubuhnya, ia tidak mati lantas di bawah tangan jahat dari Auwyang Hong. Celaka untuknya, ia tidak dapat obat untuk mengobati luka-lukanya, luka racun ular dan gempuran kuntauw Kodok yang dahsyat. Cit Kong melihat kedukaan muridnya.
"Selama napasku masih ada, jahanam itu tidak akan berani datang mengganggumu lagi," ia menghibur si nona.
Tapi Oey Yong memikir lain. "Kita berada di dalam gua, memang jahanam itu tidak berani masuk ke mari," demikian pikirnya. "Tetapi bagaimana dengan makan dan minum kita?"
Cit Kong pun sudah merasakan lapar. Ia melihat si nona tunduk saja. "Bukankah kau sedang memikirkan daya mencari makanan?" ia menanya. Oey Yong tidak menjawab, ia hanya mengangguk. "Mari kau pepayang aku ke pesisir untuk menjemur di matahari," menyuruh orang tua itu.
Oey Yong cerdik sekali, ia lantas mengerti maksud orang. "Bagus!" serunya kegirangan. Ia pun tertawa. "Kita menangkap ikan!"
Maka bukan lagi ia pepayang gurunya itu, ia menggendong, cuma jalannya perlahan-lahan. Hari ini cuaca terang berderang, angin meniup halus. Begitu berjodoh sinar matahari, Ang Cit Kong merasa segar, hingga semangatnya jadi terbangun. Ia pun melihat Auwyang Kongcu lagi berdiri di tempat jauh dari mereka, ketika pemuda itu mendapatkan mereka keluar dan mengawasi dirinya, dia bertindak pergi lebih jauh sedikit. Rupanya ia jeri. Dari tempat jauh ia terus mengawasi.
Cit Kong dan Oey Yong berduka, hati mereka berpikir: "Jahanam itu sangat cerdas, lama-lama pasti dia dapat mengetahui keadaan kita yang tidak berdaya…" Karena itu, mereka pun membawa sikap tenang.
Auwyang Kongcu pun agaknya lega melihat ia tidak dihampiri. Oey Yong sudah lantas bekerja. Lebih dulu ia pernahkan Ang Cit Kong, supaya gurunya dapat duduk sambil menyender pada sebuah batu besar, kemudian ia mencari cabang pohon yang panjang untuk dijadikan joran. Talinya ia mencari babakan pohon, ia menekuk sebatang jarum hingga ujungnya bengkok. Sebagai umpan, ia mencari udang di tepian. Maka tak lama kemudian, ia sudah mulai memancing.
Satu jam dipakai untuk memancing, akhirnya si nona memperoleh tiga ekor ikan, cukuplah untuk mereka berdua menangsal perut. Ikan itu dipanggang seperti biasa kaum pengemis memanggang ayam. Setelah beristirahat sebentar, Cit Kong mengajari Pak¬kauw-pang. Ia memberi petunjuk sambil duduk menyender terus cuma tangannya digerak-gerakkan. Tapi ini pun menolong banyak untuk si nona yang otaknya terang, hingga dia dapat mengerti lebih banyak.
Demikian mendekati sore, Oey Yong telah dapat menjalankan ilmu tongkat itu dengan baik, hingga tinggal berlatih terus untuk memahirkannya. Sesudah hilang letihnya, Oey Yong membuka baju luarnya, terus nyebur ke laut membersihkan tubuh. Ia berenang pergi datang hingga ia ingat suatu cerita dongeng jaman Tong katanya di dalam laut ada istana raja naga serta putrinya yang elok sekali.
"Mungkin engko Ceng telah pergi ke sana?" ia ngelamun.
Karena ini ia lantas menyelam. Tiba-tiba ia merasakan kakinya sakit, lekas-lekas ia menarik pulang. Ia mendapat kenyataan kakinya dijepit sesuatu. Ia tidak kaget, ia menduga kepada simpling atau kerang besar. Ia lantas membungkuk, untuk melihat. Baru sekarang ia terkejut. Kakinya dijempit simping yang besar sekali, yang beratnya mungkin duaratus kati. Sia-sia ia menarik kakinya, sia-sia ia mencoba memengkang membuka kedua batok simping itu. Bahkan kakinya dijepit semakin keras, sampai ia merasakan sakit sekali. Saking kerasnya ia berkutatan, dua kali ia kena menenggak air laut asin.
Tentu sekali nona ini menjadi sangat penasaran. Tidak ikhlas ia mati di tangan binatang laut, walaupun sebenarnya ia bersedia mati bersama gurunya andaikata tetap mereka tak berdaya untuk berlalu dari pulau kosong itu. Ia memikir akal. Ia mencoba memungut batu ketoki batok simping itu. Ini pun tidak memberi hasil. Batoknya simping telalu keras dan batunya terlalu kecil.
Sekali lagi ia menenggak air. Baru sekarang ia ingat suatu akal. Maka ia lepaskan batunya, sebagai gantinya ia meraup pasir, ia kasih masuk di sela-sela mulut simping. Nyata binatang laut itu takut sekali pasir, begitu dia merasakan pasir masuk ke dalam mulutnya, dia pentang mulutnya.
Begitu merasakan jepitan kendor, lekas Oey Yong menarik keras kakinya. Kali ini bebaslah ia, maka terus saja ia berenang untuk muncul di muka air. Paling dulu, ia membuang napas, untuk melegakan diri.
Cit kong di darat berkhawatir melihat si nona menyelam demikian lama, ia menduga muridnya menghadapi bahaya. Ia menyesal tidak dapat bergerak hingga tak bisa menolong. Ia hanya bisa mengawasi ke laut dengan jantung berdenyutan. Akhirnya muncul juga si nona, maka legalah hatinya guru ini, sampai ia bersorak.
Oey Yong tidak naik ke darat, sesudah mengulapkan tangan kepada gurunya itu, ia selulup pula. Ia telah mendapat satu pikiran. Ia pergi ke tempat tadi, tapi sekarang sudah bersiap. Ia turun di dekat simping itu tanpa si simping dapat mencakop dirinya. Nyata binatang itu nempel batoknya dengan batu karang, dia jadi tidak bisa berenang pergi.
Si nona mencoba menggempur karang itu, setelah berhasil, ia memegang simping dari bawah, terus ia bawa naik ke atas. Ia menampah seraya kakinya menjejak dasar laut, terus berenang ke tempat yang dangkal. Di sini simping itu tak berdaya lagi. Hanya saking beratnya binatang laut itu, tidak kuat Oey Yong mengangkat dibawa ke gua, maka ia mengambil saja batu besar ia pakai mennghajar batoknya. Hanya dengan beberapa kali hajaran, remuklah batok simping itu.
Puas hatinya si nona, yang kakinya sakit bekas dijepit. Bahkan malam itu bersama gurunya ia bisa menangsal perut secara memuaskan karena adanya daging simping yang lezat sekali.
Besok paginya, Ang Cit Kong merasai sakit pada tubuhnya berkurang. Ia mencoba memainkan napasnya, ia merasakan lega. Tanpa merasa ia berseru dengan girangnya.
Oey Yong terbangun untuk segera duduk. "Suhu, kenapa?" ia menanya, kaget.
"Setelah tidur semalaman, aku merasai lukaku mendingan," sahut sang guru. "Sakitnya tidak sehebat kemarin."
Oey Yong menjadi girang. "Mungkin ini disebabkan guru makan daging simping!" katanya.
Maka berlari-larilah ia keluar gua, ke tepi laut, untuk memotong sisa daging simping itu. Saking kegirangan, ia sampai lupa Auwyang Kongcu. Ia baru memotong dua keping tatkala ia melihat bayangan orang mendekati perlahan-lahan ke arahnya. Ia kaget tetapi ia mengerti ancaman bahaya. Baru sekarang ia ingat keponakannya See Tok itu. Diam-diam ia memungut batok simping, lalu dengan sekonyong-konyong menimpuk ke belakang, tubuhnya sendiri terus berlompat setombak lebih hingga ia berada di pinggiran air.
Auwyang Kongcu dapat berkelit. Dia tidak gusar, sebaliknya ia tertawa. Sekian lama pemuda ini tidak pergi jauh, terutama ia memperhatikan gerak-¬gerik Ang Cit Kong, hingga timbullah kecurigaannya bahwa raja pengemis itu tidak berdaya, tak dapat berjalan karena lukanya yang hebat. Meski begitu, ia tidak mempunyai nyali yang cukup besar untuk menyerbu ke dalam gua. Maka ia terus memasang mata.
Pagi itu ia melihat Oey Yong keluar sendirian, pergi ke pasir, ia mengikuti. Ia girang bukan main, ia anggap dikaruniai sesuatu yang baik sekali oleh Thian. Maka ia menghampiri si nona sambil berindap-indap. Hanya sayang, bayangannya telah menggagalkan maksudnya.
"Adik yang baik, jangan pergi!" ia berkata dengan manis. "Aku hendak bicara denganmu!"
"Orang tidak menggubrismu, apa perlunya kau menggerembengi orang?" si nona menanya. "Apakah kau tidak tahu malu?"
Melihat orang tidak gusar, senang hatinya Auwyang Kongcu. Ia jadi semakin berani. Ia mendekati pula dua tindak. Lagi-lagi ia tertawa.
"Semuanya dasar kau!" katanya. "Siapa suruh kau begini cantik dan manis, hingga kau membikin hati orang terbetot keras?"
Oey Yong tertawa. "Aku bilang tidak menggubrismu, tetap aku tidak mau memperdulikan!" katanya. "Percuma saja kau mengambil-ambil hatiku, membaiki padaku!"
Pemuda itu maju lagi satu tindak. "Ah, aku tidak percaya!" katanya, tertawa. "Hendak aku mencobanya!"
Tiba-tiba si nona memperlihatkan roman keren. "Satu tindak lagi kau maju, aku akan minta suhu menghajarmu!" ia mengancam.
"Sudahlah!" tertawa si anak muda, membelar. "Apakah si pengemis tua masih dapat berjalan? Apakah tidak baik jikalau aku menggendong dia?"
Oey Yong terkejut, ia mundur dua tindak. ia khawatir. Ia takut kalau pemuda ceriwis ini mengetahui gurunya sudah tidak berdaya.
Auwyang Kongcu tertawa pula. "Jikalau kau ingin terjun ke laut, nah terjunlah!" katanya. "Akan aku menunggu kau di darat! Marilah kita lihat, kau yang dapat berdiam lebih lama di dalam air atau aku yang di daratan."
"Baiklah!" si nona berseru. "Kau menghina aku, untuk selamanya aku tidak sudi bergaul denganmu!"
Nona ini lantas memutar tubuhnya, untuk lari, baru tiga tindak, ia roboh terguling seraya menjerit "Aduh!" karena kakinya kena menginjak batu dan terpeleset.
Keponakan Auwyang Hong benar-benar licin. Ia khawatir si nona menggunakan tipu untuk menyerangnya dengan jarum tatkala ia berlompat menubruk, maka sebelum maju ia membuka dulu baju luarnya, dipakai sebagai senjata pelindung diri. Ia bertindak perlahan-lahan.
"Jangan mendekat!" membentak si nona. Ia bangun, untuk bertindak pula, baru satu tindak, ia roboh kembali. Bahkan kali ini ia terguling hingga separuh tubuhnya rebah di air, ia bagaikan pingsan. Tubuhnya tidak bergerak lagi.
"Budak, kau sangat licik tidak nanti aku kasih diriku diperdayakan!" kata Auwyang Kongcu dalam hatinya. Ia berdiri seraya mengawasi.
Ada seketika sehirupan teh, masih si nona tidak berkutik, tubuhnya dari kepala sampai di dada masuk ke dalam air.
"Ah, dia benar-benar telah pingsan," pikir si kongcu kemudian. "Jikalau aku tidak tolongi dia, mungkin dia mati kelelap, sayang begini cantik dan manis…."
Ia lantas bertindak maju, memegang kaki orang. Ia terperanjat ketika sudah menarik, ia merasakan nona dingin sekali seperti membeku. Ia lekas-lekas membungkuk, untuk memeluk tubuh orang, niatnya untuk diangkat ke darat. Baru saja ia merangkul ketika kedua tangan si nona memeluk kedua kakinya seraya nona itu membentak,
"Turunlah kau!"
Dalam keadaan seperti itu, Auwyang Kongcu tidak berdaya lagi, maka terceburlah ia ke laut bersama¬-sama si nona, yang berseru sambil membetot membuang dirinya ke laut. Bukan kepalang kagetnya Auwyang Kongcu, hatinya terkesiap. Biarpun ia terlebih kosen daripada si nona, di dalam air, habislah dayanya. Ia menyesal walaupun sangat berhati-hati, masih kena diperdaya si nona yang cerdik. Maka pikirnya: "Habislah aku kali ini…"
Oey Yong yang telah berhasil dengan tipu dayanya, dengan hati sangat bernafsu ia menarik orang ke tengah, ke tempat yang lebih dalam. Percuma si anak muda mencoba berontak, ia kena teseret ke tengah. Ia telah dijambak pada kepalanya, kepala itu dibeleseki di dalam air.
Berulang-ulang pemuda itu menenggak air laut, mulanya masih terdengar suara gelogokan di tenggorokan, habis itu ia mati daya, cuma tangan dan kakinya yang menjambret-jambret dan menendang-nendang, rupanya untuk menjambret atau menendang si nona tetapi ia tidak berhasil. Sebab Oey Yong tahu diri, dia sudah menjauhkan dirinya.
Selang sesaat, Auwyang Kongcu merasakan kakinya menginjak tanah. Ia sudah minum banyak air tetapi ia belum pingsan, ia masih ingat akan dirinya. Dasar ia lihay, pikirannya tidak menjadi kacau. Selama di tengah air, karena tidak bisa berenang ia tidak dapat berbuat apa-apa, akan tetapi selekasnya merasa menginjak dasar laut, mendadak ia membungkuk, untuk memegang dasar laut itu, ia menahan napas. Ia berhasil mengerahkan tenaga dalamnya. Ia lantas menduga-duga yang mana arah darat, tetapi di dalam air, ia tidak dapat mengenali timur atau barat, selatan atau utara. Ia mencoba berjalan juga, tangannya mencekal sebuah batu besar. Ia bertindak cepat ke arah dasar laut yang tinggi, yang menanjak.
Oey Yong melepaskan cekalannya sesudah orang kena dilelapkan dan kelabakan tidak karuan, ia muncul di muka air, akan tetapi menanti sekian lama tidak melihat orang timbul, ia menjadi heran. Lekas-lekas ia selulup pula.
Ia dapat menentang matanya di dalam iar, dari itu ia dapat melihat orang sedang bertindak ke arah darat. Ia terperanjat saking heran dan kagumnya. Tak ayal lagi ia berenang, menyusul. Ia menggerakkan tangan dan kakinya tanpa bersuara, setelah datang dekat, ia menikam dengan tempulingnya.
Kebetulan Auwyang Kongcu lagi mempercepat tindakannya, ia lolos dari tikaman itu. Sementara itu, ia sudah tiba di tempat yang dangkal, ia dapat berdiri dengan kepala di luar air. Ia melepaskan pegangannya, ia membuka kedua matanya, dan menghela napas, melegakan hatinya.
Oey Yong pun menghela napas. Ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi terhadap anak muda itu, terpaksa ia selulup pergi.
Auwyang Kongcu merayap naik ke darat, ia merasakan kupingnya pengang dan matanya kabur, tetapi ia masih ingat untuk lekas rebah tengkurap di tanah, untuk mengundal ke luar air dari dalam perutnya. Habis itu ia merasakan lemah sekali, seperti baru sembuh dari semacam penyakit yang berat. Terus ia beristirahat. Tentu sekali, hatinya menjadi mendongkol dan panas, hingga muncullah niatnya yang kejam.
"Biar aku mampusi dulu si pengemis bangkotan!" demikian keputusannya. "Hendak aku lihat, budak itu nanti menurut padaku atau tidak!"
Walaupun ia telah berkeputusan demikian, Auwyang Kongcu tidak segera turun tangan untuk mewujudkannya. Ia masih sangat lelah maka ia beristirahat terus. Ia menjalankan napasnya, untuk meluruskan pernapasannya.
Sesudah berselang lama, baru ia berbangkit bangun, akan mencari sebatang pohon yang kuat, yang ia patahkan, untuk dipakai sebagai senjata, untuk menotok jalan darah. Tiba di dekat gua, ia bertindak dengan hati-hati. Biar bagaimana, ia masih jeri terhadap pengemis tua inu. Di mulut gua ia memasang kupingnya. Ia tidak dapat mendengar suara apapun. Ia masih menanti beberapa saat, baru ia bertindak masuk. Tidak berani ia masuk langsung, ia mepet-¬mepet di pinggiran, majunya setindak demi setindak.
Sekarang ia bisa melihat Pak Kay lagi duduk bersila menghadap matahari, orang tua itu lagi berlatih dengan ilmu dalamnya, dilihat dari air mukanya yang segar, ia seperti tidak tengah menderita luka parah.
"Baiklah aku mencoba dulu, untuk mengetahui dia dapat berjalan atau tidak," berpikir si anak muda, yang sangat berhati-hati. Setelah diperdayakan Oey Yong, ia menjadi semakin cerdik.
"Paman Ang!" ia berseru. "Celaka! celaka…!"
Ang Cit Kong dapat mendengar teriakan itu, ia sudah lantas membuka matanya. "Ada apa?" ia menanya.
"Adik Oey mengejar kelinci, dia terjatuh ke dalam jurang…!" ia menyahut, suaranya dibikin tak lancar. "Dia terluka parah, sampai tak dapat bangun!"
Nampaknya Ang Cit Kong kaget. "Lekas tolong dia!" dia berseru.
Mendengar perkataan orang itu, girangnya Auwyang Kongcu bukan kepalang. Ia mengerti, kalau pengemis tua itu tidak dapat berjalan, mestinya ia sendiri sudah berlompat bangun dan berlari pergi, guna menolong nona itu. Maka ia bertindak maju di mulut gua seraya sembari tertawa lebar ia berkata:
"Dia telah menggunakan seribu satu akal untuk mencelakaiku, mana sudi aku menolong dia? Pergi kau sendiri yang menolongnya?!"
Ang Cit Kong terperanjat. Kata-kata si anak muda dan sikapnya itu menandakan bahwa orang tak jeri lagi kepadanya.
"Rupanya ia telah metahui kepandaianku sudah musnah," pikirnya. "Ini tandanya telah habis lelakon hidupku…!"
Tapi Pak Kay tidak hendak menyerah dengan begitu saja, maka ia bersiap sedia untuk mati bersama. Diam¬-diam ia mencoba mengumpul tenaganya di tangan, untuk menghajar dengan sekali pukul. Kesudahannya ia kaget sekali. Begitu bertenaga, ia merasakan luka si punggungnya sakit, semua tulang-tulangnya seperti hendak buyar belarakan. Sementara itu ia melihat Auwyang Kongcu mendatangi sambil memperlihatkan muka menyeringai. Tanpa merasa ia menghela napas panjang, lantas ia meramkan kedua matanya untuk menantikan kebinasaannya….
Ketika itu Oey Yong di dalam air telah berpikir, menduga bahwa selanjutnya makin sukar melayani Auwyang Kongcu, yang mestinya jadi semakin licin. Ia selulup beberapa tombak jauhnya, baru ia muncul di muka air. Ketika ia melihat daratan, itulah bukan tempat dimana tadi ia telah bergulat sama Auwyang Kongcu. Di sini pepohonannya lebih lebat. Tiba-tiba saja ia dapat ingat pulaunya sendiri, maka ia berpikir:
"Alangkah baiknya kalau aku dapat cari tempat bersembunyi, untuk aku berdiam bersama suhu sambil merawatnya, tentulah si bangsat tidak gampang¬-gampang dapat mencari kita…"
Habis berpikir, si nona mendarat. Ia tidak berani lantas jalan begitu saja, ia berjalan di sepanjang tepian. Ia khawatir nanti ketemu sama keponakannya Auwyang Hong.
"Coba dulu aku tidak terlalu gemar memain dan aku pelajari ilmu Kie-bun Ngo-heng, sekarang tentulah dapat aku melayani bangsat itu," pikirnya pula. Ia seperti ngelamun. "Ah, sayang ayah telah menyerahkan peta Tho Hoa To kepadanya! Jahanam itu sangat cerdas, tentu ia pun dapat memaham peta itu.
Berjalan seperti melamun, Oey Yong kurang memperhatikan jalanan yang dilalui. Tiba-tiba ia keserimpat oyot rotan dan terhuyung karenanya. Berbareng dengan itu di kepalanya terdengar bunyi sesuatu yang disusul sama meluruk jatuhnya butir-¬butir tanah keras seperti batu. Segera ia lompat nyamping, terus ia angkat kepalanya, memandang ke atas. Apa yang ia saksikan membuatnya kaget sekali, hingga jantungnya berdenyutan.
Di atas itu, yang merupakan lamping, ada sebuah batu besar. Batu itu seperti merongkong sebelah, nampaknya seperti bergoyangan, hingga sembarang waktu bisa jatuh ke bawah. Pelurukan batu barusan datangnya dari bawah batu besar itu. Di batu itu pun ada melibat banyak pohon rotan, satu di antaranya ialah yang meroyot ke bawah, yang barusan kena ia injak sehingga ia keserimpat. Hancur remuk tubuhnya, andaikata batu itu jatuh dan menimpa padanya….
Masih Oey Yong mendongak mengawasi, sampai kagetnya lenyap. Ia heran atas keletakannya batu itu. Itu pengaruh sang alam. Hanya dengan disentil sekali saja mungkin batu itu jatuh ambruk. Entah sudah berapa puluh tahun batu itu bercokol di tepi jurang itu.
Sampai di situ, batal Oey Yong maju terus. Ia sekarang berjalan kembali. Ingin ia melihat gurunya. Ia belum berjalan jauh ketika mendadak ia mendapat satu pikiran.
"Yang Maha Kuasa hendak membinasakan jahanam itu maka juga telah diciptakan ini batu luar biasa," demikian pikirnya. "Kenapa aku jadi setolol ini?"
Girang luar biasa nona ini hingga ia berjingkrakan jungkir balik dua kali. Ia lantas lari kembali ke tempat batu tadi, ia memasang mata memperhatikan keletakannya. Di samping itu ada banyak pohon yang besar dan tinggi. Kalau orang berlompat menyingkir, paling jauh juga orang dapat berlompat empat atau lima kaki. Kalau batu jatuh, burung sekalipun tak keburu terbang menyingkir….
Segera nona ini mengeluarkan pisau belatinya, yang panjang empat dim kira-kira. Itulah pisau peranti menyembelih ayam atau memotong daging. Ia cekal itu di tangan kanan, lantas bertindak turun ke lembah. Ia perdatakan tujuh atau delapan oyot rotan yang melibat batu besar itu, ia tidak mengganggunya, hanya ia memotong putus beberapa puluh oyot lainnya. Ia bekerja cepat, saban-saban ia menahan napas dan menghela. Ia pun berlaku hati-hati, supaya ia tidak usah membikin batu itu kena tertarik. Karena ia mesti mengutungi puluhan oyot, ia menjadi mandi keringat. Kemudian, setelah mengumpulkan semua oyot, agak tak kentara sudah diputuskan, baru ia bertindak pergi. Ia mencoba mengingat baik-baik tempat ini. Ia berjalan sambil bernyanyi dengan perlahan, suatu tanda ia merasa puas sekali.
Selagi mendekati gua, si nona tidak melihat Auwyang Kongcu. Ia berjalan terus. Sekonyong-konyong ia mendengar suara tertawa panjang dan nyaring yang keluar dari dalam gua. Ia kenali suaranya si anak muda, yang mana disusul sama kata-katanya yang nyaring:
"Kau sombongkan kepandaianmu yang lihay, sekarang kau roboh di tangan kongcumu? Kau takluk tidak? Baiklah, karena aku berkasihan usiamu yang sudah lanjut, aku menyerah untuk kau menyerang dulu tiga kali! Bagaimana?"
Takutnya Oey Yong bukan main. Ia insyaf bahaya yang mengancam gurunya. Tetapi Ia cerdik luar biasa. Disaat berbahya seperti itu, ia mendapat akal.
"Ayah, ayah!" ia berteriak-teriak. "Kenapa kau datang ke mari? Eh, kau juga Auwyang Peehu? Kenapa kau pun datang?"
Nyaring suara si nona, suara itu terdengar sampai di dalam gua. Auwyang Kongcu tengah mempermainkan Ang Cit Kong, yang hendak dibinasakannya, dia menjadi kaget sekali mendengar suara si nona.
"Ah, kenapa pamanku bisa datang bersama-sama Oey Lao Shia?" pikirnya. Ia sangat bersangsi, hingga ia memikir pula: "Jangan ini pun main gilanya si budak cilik. Ia hendak menolongi pengemis bangkotan ini, dia menipu aku supaya aku keluar…. Tapi tak apa, baik aku melihat dulu, pengemis ini toh tak bakal lolos dari tanganku!" Maka ia bertindak keluar dari gua.
Oey Yong berada di tepian, di pasir. "Ayah! Ayah!" suaranya terdengar, tangannya diulap-¬ulapkan.
Auwyang Kongcu memandang jauh. Ia tidak melihat siapapun di antara mereka apa pula Oey Yok Su atau pamannya. Maka ia tertawa terbahak-bahak.
"Adikku, kau memancing aku supaya menemani kau?" katanya. "Kau lihat, bukankah aku sudah keluar?"
Si nona menoleh, ia tertawa, matanya pun memain. "Siapa kesudian mendustai kau?" katanya manis. Dan ia lari di sepanjang pasir.
Auwyang Kongcu tertawa. "Kali ini aku telah bersiaga," katanya. "Jikalau kau memikir untuk menyeret pula aku ke laut, marilah kita mencoba-coba!"
Sembari berkata, pemuda ini lari mengejar. Hebat ilmu meringankan tubuhnya, sebentar saja dia sudah datang dekati si nona.
"Celaka…" mengeluh Oey Yong. "Kalau aku tidak keburu sampai di batu itu, pasti dia bakal dapat menawan aku…" Maka ia lari terus sekuatnya.
Lagi beberapa puluh tombak, Auwyang Kongcu telah datang semakin dekat. Oey Yong lari ke kiri, mendekati laut, tinggal lagi beberapa kaki. Benar-benar Auwyang Kongcu menjadi cerdik, tidak mau ia mendekati.
"Baiklah, mari kita main petak umpat!" katanya tertawa. Ia maju pula, ia waspada.
Oey Yong menghentikan tindakannya, ia juga tertawa. "Di depan sana ada seekor harimau galak," katanya, "Jikalau kau tetap menyusulku, kau nanti diterkam dan digegares olehnya!"
"Aku sendiri pun harimau!" tertawa si anak muda. Ia tidak percaya perkataan orang. "Aku pun hendak mencaplok dirimu!"
Oey Yong tertawa, tanpa menyahuti ia lari pula. Demikian mereka main lari-larian atau kejar-kejaran hingga mereka datang dekat ke batu separuh tergantung itu. Di sini Oey Yong lari makin keras. Ia harus menang tempo.
"Mari!" ia menantang. Dan ia berlompat pesat ke arah depan batu.
Hanya sekelebatan, ia merasa melihat bayangan orang di pesisir. Tapi ia lagi menghadapi saat tegang itu, biar pun ia heran, ia tidak sempat mencari tahu. Ia lari terus sampai di tempat oyot rotan tadi. Dengan tiga kali lompatan, tibalah ia di lembah.
"Mana si harimau?" tanya Auwyang Kongcu mengejek. Ia pun menambah pesat larinya, sehingga ia juga tiba di depan lembah.
Sekonyong-konyong pemuda ini mendengar suara berkeresek di atasan kepalanya, suaranya disusul sambaran angin. Ia lantas mengangkat kepalanya, mendongak untuk melihat. Bukan main kagetnya. Ia menampak sebuah batu besar jatuh ke arahnya. Tidak ada jalan lain. Ia berlompat ke samping. Ia lompat tanpa melihat lagi arahnya. Ia terkejut ketika ia merasakan tubuhnya membentur sebuah pohon, yang terus patah dan bagian patahannya melukai punggungnya. Lupa ia pada rasa sakit, ia cuma ingat menyingkir, menyingkir…. Ia mencoba berlompat pula….
Disaat seperti itu, Auwyang Kongcu sudah seperti pingsan, tetapi ia masih merasakan ada tangan yang kuat yang menyambar menjambak batang lehernya, terus ditarik. Meski begitu, jatuhnya batu cepat luar biasa, ia masih ketimpa juga, maka robohlah ia dibarengi jeritannya yang hebat sekali, debu dan batu pun muncrat! Debu itu mengepul bagaikan uap.
Oey Yong melihat jebakannya telah memberi hasil, ia girang berbareng kaget. Ia tidak menyangka bahwa jatuhnya batu demikian hebat. Ia menjatuhkan diri ke tanah, duduk menumprah seraya meletakkan kedua tangannya di atas kepala. Ia baru mengangkat kepala dan membuka matanya ketika mendengar sirapnya suara nyaring dan berisik. Samar-samar menampak dua tubuh orang berdiri di sisi batu besar. Seperti orang lagi bermimpi, ia mengucak-ucak kedua matanya. Lalu ia mengawasi pula, dengan perhatian dipusatkan. Tidak salah, di situ ada dua orang lain, bahkan orang itu ialah Auwyang Hong dan Kwee Ceng! Si anak muda yang tidak dapat dilupakannya….
"Engko Ceng!" akhirnya ia berseru seraya berlompat bangun.
Kwee Ceng juga tidak menyangka di tempat itu dapat menemukan kekasihnya, ia juga berlompat menubruk, merangkul erat-erat si nona. Hingga keduanya lupa bahwa di samping mereka berada musuh besar!
Auwyang Hong dan Kwee Ceng tenggelam terbawa perahu mereka yang masuk ke dasar laut terbawa oleh usar-usaran air. Memang perahu itu, yang tinggal sebelah, telah kemasukan banyak air. Segera juga mulut dan hidung mereka menyedot air asin, hingga keduanya menjadi kaget. Mereka menginsyafi bahaya. Karena itu mereka tidak berkutat terlebih jauh, sama¬-sama melepaskan tangan mereka, sebaliknya dipakai menekap hidung dan kuping. Mereka pun terbawa arus hingga jauh.
Ketika Kwee Ceng timbul di muka air, untuk bernapas, ia melihat jagat gelap, perahu kecil entah pergi ke mana. Ia menjerit-jerit, tidak ada yang menyahuti, meskipun sebenarnya Oey Yong tengah mencari-cari padanya. Damparan gelombang sangat berisik, angin juga tak kurang ributnya.
Selagi Kwee Ceng berteriak-teriak, ia merasa ada yang menarik kakinya yang kiri, atau dilain saat muncullah Auwyang Hong di sisinya. Dia ini tidak pandai berenang, maka itu, kecebur di laut, ia habis daya. Syukur dia dapat mencekal kakinya si anak muda, dia terus tidak mau melepaskannya, bahkan ia memegang juga kaki yang kanan. Sia-sia Kwee Ceng meronta-ronta. Mereka berkutat pula, hingga mereka tenggelam kembali. Tak lama, keduanya mengambang lagi.
"Lepaskan tanganmu!" Kwee Ceng berseru. "Aku tidak akan tinggalkan kau!"
Auwyang Hong tidak mau melepaskannya, baru sesaat kemudian, ia melepaskan kaki yang sebelah. Rupanya ia ingat, dengan bergulat terus, mereka bakal mati bersama. Kwee Ceng lantas berenang, sembari berenang ia mengangkat sedikit rusuk jago tua itu. Untung untuk mereka, tidak lama mereka membentur sepotong balok, maka si anak muda berpegang pada balok itu. Dengan begitu tak usah ia memakai banyak tenaga lagi.
"Lekas peluk balok ini!" ia berteriak. "Jangan lepas!"
Auwyang Hong menurut. Bukan main girangnya pemuda ini. Mereka terombang-ambing di laut sehingga sang fajar datang. Sekarang ternyata balok itu ada patahan tiang layar mereka. Hanya melihat kelilingan, mereka tak nampak perahu.
Auwyang Hong sangat berduka. Tongkatnya pun sudah lenyap, hingga ia menjadi sangat berkhawatir.
"Kalau ada ikan cucut di sini, mana bisa aku melawan seperti Ciu Pek Thong…?" pikirnya. "Ketika itu ada aku yang menolong dia, tetapi sekarang, siapa yang menolongi aku…?"
Mereka lapar dan berdahaga. Syukur, untuk dahar mereka bisa mengunyah ikan mentah. Kalau ada ikan yang lewat disampingnya, Kwee Ceng menikam dengan pisau belatinya, dan Auwyang Hong menghajar dengan tangannya. Hebat rasanya untuk menggerogoti ikan mentah itu.
Sekarangb mereka tidak bergulat lagi. Maka hari itu, sampailah mereka di tepian pulau di mana Cit Kong, Oey Yong dan Auwyang Kongcu telah tiba. Mereka mendarat untuk beristirahat. Tiba-tiba mereka mendengar suara orang berbicara sambil tertawa-¬tawa. Keduanya heran, Auwyang Hong yang berlompat paling dulu melihat orangnya. Tepat ia melihat batu lagi jatuh turun dan keponakannya lagi terancam, maka ia melesat menyambar keponakannya. Ia masih terlambat, sebab kesudahannya kedua kaki Auwyang Kongcu kena tertindih batu raksasa itu, anak muda itu menjerit untuk terus pingsan.
Untuk sejenak Auwyang Hong memandang sekelilingnya, setelah merasa pasti tidak ada ancaman bahaya lainnya, ia menghampiri keponakannya. Ia mendapat kenyataan sang keponakan cuma pingsan, maka hatinya menjadi sedikit lega. Ketika mencoba mendorong batu, ia tidak berhasil, tidak peduli tenaganya besar luar biasa.
"Paman…" memanggil keponakannya perlahan, setelah ia sadar, sedang pamannya lagi membungkuk.
"Tahan sakit," menyahut paman itu. Ia lalu memeluk, untuk menarik.
Auwyang Kongcu menjerit, kembali pingsan. Hebat tarikan itu sedang kaki tidak bergeming. Paman itu menjublak.
"Mana suhu?" tanya Kwee Ceng, yang menarik tangan Oey Yong. Ia seperti tidak ingat itu paman dan keponakannya.
"Di sana," sahut si nona, tangannya menunjuk.
Lega hatinya si anak muda. Selagi ia mau minta si nona mengajak pergi kepada gurunya, ia mendengar jeritan Auwyang Kongcu. Dasar hatinya mulia, ia menjadi tidak tega.
"Mari aku bantu padamu!" ia berkata kepada Auwyang Hong.
Oey Yong menarik tangan pemuda itu. "Mari kita lihat suhu!" ia mengajak. "Kita jangan pedulikan manusia jahat!"
Auwyang Hong tidak tahu bahwa batu besar itu jatuh karena ulahnya si nona, meski begitu ia gusar mendengar perkataan orang. Ia pun mengingat sesuatu akan mendengar Ang Cit Kong masih hidup serta berada di tempat itu. Ia membiarkan orang pergi, kepada keponakannya ia berbisik.
"Kau tahan sabar, aku nanti cari akal untuk menolongmu." Ia berlompat naik ke atas pohon, mengawasi ke arah muda-¬mudi itu pergi. Panas hatinya menyaksikan orang jalan rapat asyik sekali. "Jikalau aku tidak dapat menyiksa kamu berdua bangsat cilik hingga kau mati tidak hidup juga tidak, percuma aku disebut See Tok!" katanya dalam hati dengan sengit sekali. Habis itu ia lompat turun dari pohon, untuk menguntit.
Kwee Ceng berdua bersama Oey Yong berjalan terus sampai di mulut gua. Mereka tidak tahu bahwa mereka ada yang membayangi.
"Suhu!" memanggil si anak muda.
Cit Kong kelihatan lagi menyender di batu, matanya tertutup rapat, mukanya sangat pucat. Karena di ganggu Auwyang Kongcu, penyakitnya yang baru baikan kumat pula. Karena itu ia berdiam saja mendengar panggilan muridnya. Kwee Ceng dan Oey Yong menghampiri, yang satunya membuka kancing baju, yang lainnya menguruti tangan dan kakinya.
Akhirnya Ang Cit Kong membuka mata. Melihat Kwee Ceng, ia segera mengenalinya, ia girang. Ia tersenyum.
"Anak Ceng, kau pun datang!" katanya lemah.
Kwee Ceng hendak menyahuti gurunya tatkala ia terkejut mendengar suara nyaring dibelakangnya:
"Pengemis tua, aku juga datang!"
Itulah suaranya Auwyang Hong, yang telah menguntit sampai di luar gua. Kwee Ceng bangun memutar tubuh dan berlompat maju, ia menghalang di pintu dengan sikapnya "Sin liong pa bwee" atau "Naga sakti menggoyang ekornya". Oey Yong sendiri menyambar tongkat gurunya terus ia berlompat ke samping pemudanya.
Auwyang Hong tertawa "Pengemis bangkotan, keluar!" katanya nyaring. "Jikalau kau tidak keluar, nanti aku yang masuk ke dalam!"
Kwee Ceng menoleh kepada Oey Yong dan mengedipkan mata, maksudnya memberitahu, apapun yang bakal terjadi, hendak ia membela gurunya.
Auwyang Hong tidak memperoleh jawaban, ia tertawa lalu ia mju. Atas itu tanpa bersangsi lagi, Kwee Ceng menyerang. Inilah See Tok telah duga, malah ia menerka juga orang akan menggunakan Hang Liong Sip¬pat Ciang, dari itu ia sudah bersiaga untuk itu. Ia berkelit dengan berlompat ke kanan. Tapi di sini ia dipapaki tongkat, kelihatannya tongkat menyontek ke atas, tidak tahunya menyapu ke bawah berulang-ulang, hingga ia tidak dapat menduga tepat arah serangan orang. Diam-diam hatinya terkesiap. Ia lantas melindungi dirinya, untuk mencegah serangan apapun. Tapi hebat tongkat itu, tongkatnya Oey Yong. paling akhir ujung tongkat mencari jalan darah di pinggang.
Saking kaget, Auwyang Hong berlompat mundur, segera ia melirik. Ia tidak menyangka si nona menjadi begini lihay. Oey Yong mendapat hati melihat musuh mundur.. Ia telah menggunakan tipu-tipu dari Pa-kauw-pang, yang ia belum dapat menguasai dengan mahir. Sebaliknya See Tok belum pernah melihat ilmu silat itu.
"Hm!" berseru si Bisa dari Barat sambil ia berlompat maju, tangannya diulur untuk merampas tongkat si nona.
Oey Yong dapat berkelit, ketika ia dirangsak, masih ia bisa menyingkir dari pelbagai serangan. Kwee Ceng girang berbareng heran menyaksikan ilmu silat kawannya. Ia tidak menonton lebih lama, ia lantas maju, untuk menyerang dari samping.
Auwyang Hong menjadi sangat gusar, ia berlompat mundur, lalu ia berdongko, menyusul itu kedua tangannya menyerang dengan berbareng hingga anginnya berdesir. Hebat serangan itu, serangan menurut Kuntauw Kodok. Debu pun sampai kena dibikin terbang.
Kwee Ceng melihat ancaman bahaya, dengan cepat ia menolak pundaknya Oey Yong - orang yang diserang itu - hingga si nona terhuyung, tetapi dengan begitu ia terhindar dari bahaya.
Auwyang Hong penasaran, ia maju dua tindak, kembali menolak dengan sepasang tangannya. Memang hebat Kuntauw Kodok dari See Tok ini, sebagaimana ternyata, Ang Cit Kong yang begitu lihay cuma bisa bertarung seri dengannya.
Segera juga Kwee Ceng dan Oey Yong kena didesak mundur, sebab mereka main berkelit saja. Auwyang Hong dapat memasuki gua. Ketika ia menyerang gagal ke kiri, ia menghantam pinggiran gua hingga batu dan tanahnya gugur. Setelah itu ia menyerang dengan tangan kanannya ke arah Ang Cit Kong.
Pak Kay sedang menutup mata ketika ia mendengar desiran angin dari pukulan-pukulan yang dahsyat itu, lantas ia membuka matanya.
"Ilmu silat yang bagus sekali!" pujinya. "Tangan yang hebat!"
Muka Auwyang Hong menjadi merah, ia merasa diejek. Bukankah ia sedang melayani segala bocah? Maka tangannya itu tak dapat diteruskan.
"Guruku menolong jiwamu, kau sekarang hendak mencelakai guruku? Oey Yong berteriak. "Sungguh kau tidak mempunyai muka?!"
Batal menyerang, Auwyang Hong menolak dengan perlahan tubuhnya si Pengemis dari Utara. Ia merasakan dada dan daging yang lembek, hingga dada itu kentop. Biasanya, ditekan begitu, tubuh seorang ahli silat mesti membal untuk melawan, tapi ini sebaliknya, maka tahulah See Tok bahwa kepandaian orang telah lenyap. Ia lantas membungkuk, berniat mengangkat tubuhnya si pengemis.
"Kamu membantu aku menolong keponakanku, maka aku beri ampun jiwanya ini penegemis tua!" ia berkata bengis. Ia mengancam si pemuda dan pemudi.
"Thian yang menurunkan batu itu menindih dia, kau melihatnya dengan matamu sendiri!" berkata Oey Yong, menyahuti. "Siapa sanggup menolong dia? Jikalau kau berbuat jahat, nanti Thian pun melemparkan batu besar itu untuk menindih padamu sampai mampus!"
Auwyang Hong angkat tubuhnya Ang Cit Kong tinggi-¬tinggi, ia mengancam hendak melemparkannya.
Kwee Ceng sangat mulia hatinya, ia tidak tahu bahwa orang lagi menggertak. "Lekas turunkan guruku!" ia berseru. "Nanti kita bantu kau!"
Sebenarnya Auwyang Hong ingin lekas-lekas menolong keponakannya, tetapi ia tidak sudi kentarakan itu, ia justru membawa aksi. Kemudian ia menurunkan tubuh Cit Kong dan meletakkannya dengan baik.
"Untuk membantu kau menolongi dia tidaklah sukar!" berkata Oey Yong. Ia masih penasaran, ia menyebutnya Auwyang Kongcu dengan "dia". Tetapi kita harus membuat dulu tiga perjanjian!"
"Eh, budak perempuan, kesulitan apa lagi kau hendak mengajukannya?!" See Tok mendongkol.
"Sesudah kami membantu kau menolongi keponakanmu, kita tinggal bersama-sama di pulau ini," menjawab Oey Yong. "Selama itu kau tidak boleh mengganggu kami guru dan murid bertiga!"
Auwyang Hong terus mengangguk, karena ia sudah lantas ingat keponakannya tidak bisa berenang, untuk dapat pulang ke daratan, mereka mengandalkan bantuan tiga orang ini.
"Baik!" ia memberikan janjinya. "Selama berada di pulau ini, aku pasti tidak akan turun tangan terhadap kamu, tetapi nanti di daratan, itu sukar untuk membilangnya…"
"Sampai itu waktu, biarnya kau tidak turun tangan, kami yang bakal turun tangan terhadapmu!" kata Oey Yong menantang. "Sekarang yang kedua. Ayahku telah menjodohkan aku dengan dia, kau melihatnya sendiri, kau mendengarnya sendiri juga, maka itu kalau di belakang hari keponakanmu itu menggerembengi pula padaku, ia lah binatang yang tak mirip-miripnya sekalipun dengan anjing babi!"
"Hm!" terdengar suara tawar dari See Tok. "Baiklah, tetapi ini pun terbatas selama kita berada di pulau ini, seberlalunya kita dari sini, kita lihat saja nanti!"
Oey Yong tersenyum. "Sekarang syarat yang ketiga!" ia berkata pula. "Kami akan membantu kau dengan sungguh-sungguh akan tetapi umpama kata Thian hendak mengantarkan jiwa keponakanmu itu pulang ke alam baka, itu bukannya tenaga manusia yang dapat mencegahnya, maka itu kau tidak boleh menimbulkan lain urusan lagi!"
Kedua mata Auwyang Hong mendelik dan berputar. "Jikalau keponakanku sampai mati, si pengemis tua jangan harap dapat hidup lebih lama!" katanya bengis. "Budak cilik, jangan kau ngaco belo lebih lama! lekas kau tolongi keponakanku!"
Habis berkata, jago dari Barat ini lantas lompat keluar dari gua, berlari-lari keras ke arah lembah.
Kwee Ceng hendak lompat menyusul tetapi si nona tarik tangannya. "Engko Ceng," ia berkata, memesan, "Kalau sebentar See Tok membantu mendorong batu besar itu, kau gunakan saat itu untuk membokongnya biar habis jiwanya!"
"Cara membokong itu bukan cara terhormat," berkata Kwee Ceng.
"Dia bikin celaka suhu, adalah itu caranya terhormat?" tanya si nona. Agaknya ia mendelu.
"Tetapi kita telah mengeluarkan kata-kata, harus kita pegang itu," Kwee Ceng mengasih mengerti. "Sekarang kita tolong dulu keponakannya, nanti di belakang hari kita mencari jalan untuk membuat pembalasan."
Mendengar itu, si nona tertawa. "Baiklah," katanya. "Kau seorang nabi, suka aku mendengar kata-katamu!"
Setelah memesan gurunya untuk menanti, kedua muda-mudi ini lari ke lembah. Di sana mereka mendengar Auwyang Kongcu merintih, suaranya sangat mengenaskan, menandakan ia sangat menderita.
"Lekas, lekas!" Auwyang Hong memanggil seraya membentak.
Kwee Ceng dan Oey Yong lantas mendekati batu, memasang kuda-kuda. Auwyang Hong sendiri sudah bersiap terlebih dulu. Dengan satu tanda, berbareng enam buah tangan memegang batu dan menolaknya. Auwyang Hong adalah yang berseru;
“Angkat!"
Ditolak oleh enam tangan yang kuat, batu itu tergerak, tetapi cuma sebentar, sehabisnya tenaga orang, batu itu jatuh pula, pulang ke tempat asalnya.
"Aduh!" menjerit Auwyang Kongcu yang tak sempat menarik kedua kakinya. Ia ketimpa pula, lantas ia pingsan kembali.
Auwyang Hong kaget, ia berdongkol melihat keponakannya, napas siapa empas-empis selekasnya dia sadar pula, dia menahan sakit hingga ia menggigit keras bibirnya, sampai bibirnya mengeluarkan darah.
See Tok menjadi sangat bingung. Terang sudah tenaga mereka bertiga tidak cukup kuat mengangkat batu raksasa itu. Lama-lama keponakannya bisa mati karena sakitnya. Ia menjadi lebih bingung lagi ketika ia merasakan kakinya dingin, ketika mengangkat sebelah kakinya, nyata sepatunya sudah basah, tanah pasir yang ia injak kerendam air. Air laut pasang, yang naik sampai ke lembah itu.
"He, budak cilik!" See Tok membentak Nona Oey. "Jikalau kau hendak menolongi jiwa gurumu, lekas kau tolong keponakanku ini!"
Oey Yong lagi berpikir keras ketika ia ditegur itu. Batu begitu berat, di pulau ini tidak ada orang lain yang dapat membantu. Bagaimana? Ia mendongkol atas teguran itu.
"Coba kalau guruku tidak terluka, pasti dia dapat membantu!" katanya. "Ilmu luar dari guruku lihay sekali, tenaganya besar luar biasa, dengan kita berempat bekerja sama, mestinya batu ini dapat digeser. Sekarang…" Ia angkat kedua tangannya, ia menggoyang-¬goyangkannya, tanda ia putus asa.
Auwyang Hong tidak senang mendengar itu tetapi itulah kenyataan, ia tidak bisa bilang apapun. Ia pikir, memang benar kalau Ang Cit Kong tidak terluka, pengemis itu pasti dapat membantu mereka. Maka maulah ia memikir itu adalah takdir, kebetulan keponakannya bercelaka, kebetulan Pak Kay terluka…
"Paman," terdengar suaranya Auwyang Kongcu perlahan. "Kau hajar saja aku supaya lantas mati…" "Aku….aku tidak dapat bertahan lagi…."
Auwyang Hong mengawasi, lantas ia mencabut pisau belatinya. "Kau tahan sakit sedikit," katanya seraya terus menggigit gigi. "Tanpa sepasang kakimu, kau masih dapat hidup…!" Ia maju mendekati, hendak menguntungi kedua kaki orang.
"Paman, paman!" berteriak-teriak si keponakan. "Jangan, jangan! Lebih baik kau tolong aku dengan membunuh saja…!"
Marah paman itu. "Percuma aku mendidik kau beberapa tahun, kenapa kau tidak mempunyai semangat laki-laki?!" bentaknya.
Keponakan itu menutup mulutnya, dengan kedua tangannya ia mendekap dadanya. Dengan begitu ia mencoba menahan sakit. Menyaksikan itu, hati Oey Yong lemas juga. Ia lantas berpikir pula, hingga ia ingat cara ayahnya bekerja di Tho Hoa To waktu ayahnya mengangkat batu dengan balok.
"Tunggu!" ia berkata kepada Auwyang Hong. "Kalau kau kutungi kedua kakinya, apakah itu bukan berarti kau mengantarkan jiwanya? Aku mempunyai satu daya, entah berhasil atau tidak, mari kita coba dulu."
"Lekas bilang, lekas bilang, apa itu?" See Tok lantas mendesak. "Nona yang baik, kali ini tentulah kau berhasil…"
"Hm," pikir Oey Yong. "Kau sangat ingin menolongi keponakanmu, sekarang kau tidak mencaci dan membentak-bentak aku pula, bahkan memanggil aku nona yang baik." Ia lantas tersenyum, terus ia berkata: "Baiklah! Sekarang kau mesti dengar titahku. Lekas kau keset pohon itu, kau membuatnya dadung yang panjang untuk menarik batu besar…"
"Siapakah yang menariknya?" Auwyang Hong memotong. Ia heran. Bukankah mendorong dan menarik sama saja sebab mereka tetap bertiga?
"Kita bekerja seperti di perahu ketika mengangkat jangkar," Oey Yong bilang.
Auwyang Hong mengerti, tiba-tiba ia jadi mendapat harapan. "Cocok, cocok!" katanya. "Kita menarik sambil berputaran!"
Kwee Ceng tidak tahu caranya Oey Yong akan bekerja, begitu mendengar si nona minta babakan pohon untuk diambil tali seratnya, ia lantas saja mengeluarkan pisau, terus bekerja memotong babakan pohon.
Auwyang Hong dan Oey Yong juga turut bekerja. Tidak lama mereka sudah mendapatkan beberapa puluh lembar babakan yang panjang. Auwyang Hong bekerja sambil mengawasi keponakannya, tiba-tiba ia menghela napas dan berkata dengan putus asa:
"Sudahlah, tak usah kita memotong lebih jauh…."
"Kenapa?" tanya Oey Yong heran. "Kenapa tidak jadi?"
See Tok menunjuk ke arah keponakannya. Oey Yong dan Kwee Ceng mengawasi. Mereka melihat air pasang telah naik hingga tubuh Auwyang Kongcu sudah kerendam separuhnya. Maka jangan kata membikin tambang, memotong babakan saja sudah tidak keburu…. Auwyang Kongcu sendiri berdiam, ia tidak bergerak, tidak bersuara.
"Jangan putus asa!" kata nona Oey kemudian. "Lekas potong terus!"
Auwyang Hong si iblis yang biasanya malang-¬melintang, mendengar suara si nona, sudah lantas bekerja pula. Ia bekerja dengan cepat sekali. Oey Yong sendiri lompat dari atas pohon, ia lari kepada Auwyang Kongcu. Ia angkat tubuh orang, ia mengganjalnya dengan satu batu besar. Secara begini, pemuda itu tidak kerendam mukanya, maka dapatlah ia bernapas terus.
"Adik yang baik, terima kasih banyak-banyak untuk pertolonganmu," berkata Auwyang Kongcu dengan perlahan. "Aku tidak bakal hidup lebih lama pula, akan tetapi melihat kau begini sungguh-sungguh menolongku, kalau aku nanti mati, aku mati senang…."
"Jangan mengucap terima kasih padaku," kata Oey Yong yang karena jujurnya merasa jengah dengan sendirinya. "Kau terjebak karena aku yang mengaturnya, kau tahu?"
"Hus, jangan omong keras-keras!" mencegah Auwyang Kongcu. "Kalau pamanku mendengar, dia tidak akan melepaskanmu! Sudah sedari siang-¬siang aku dapat mengetahui perbuatanmu ini, tetapi terbinasa di tanganmu, sedikit juga aku tidak menyesal…."
Oey Yong menghela napas, hatinya berpikir; "Meski orang ini menjemukan tetapi terhadapku dia tidak buruk…" Ia lantas kembali ke bawah pohon, untuk mulai bekerja. Ia melara, membuatnya sebuah dadung kasar. Ini rupanya belum cukup kuat, maka empat helai itu ia melaranya pula menjadi satu helai yang besar.
Auwyang Hong bersama Kwee Ceng tidak hentinya memotong babakan pohon, untuk diambil seratnya, dan si nona pun tak henti-hentinya melara. Semua bekerja cepat dan sungguh-sungguh. Mereka mesti berlomba sama sair pasang. Air baru saja naik, tak gampang-gampang lekas surut.
Belum Oey Yong dapat melara kira-kira setombak panjangnya, air sudah naik hingga dipinggir mulutnya Auwyang Kongcu, setelah ia dapat lagi beberapa kaki, air itu sampai di pinggiran bibir, ya, ke bibir, hingga dilain saat terlihat saja liang hidungnya si anak muda.
Menampak itu Auwyang Hong lompat turun dari atas pohon. "Menyingkirlah kamu!" katanya pada Kwee Ceng dan Oey Yong. "Aku hendak bicara sama keponakanku. Kamu sudah berbuat apa yang kamu bisa, aku mengerti kebaikanmu ini."
Kwee Ceng pun merasa bahwa harapan sudah lenyap, ia lompat turun, dengan jalan berendeng sama si nona, ia bertindak pergi jauhnya lebih dari sepuluh tombak.
"Mari kita pergi ke belakang batu besar itu, kita mencuri dengar perkataannya," bisik Oey Yong si cerdik.
"Urusan toh tidak mengenai kita?" berkata si anak muda. "Laginya si tua bangka yang lihay itu tentu mengetahuinya…."
"Semampusnya keponakannya itu, mungkin dia akan mengganggu suhu," kata Oey Yong. "Kalau kita ketahui niatnya, dapat kita bersiaga. Umpama kata si tua bangka beracun itu memergoki kita, kita bilang saja kita kembali untuk mengambil selamat berpisah dari keponakannya itu…"
Kwee Ceng mengangguk. Ia anggap alasan itu tepat. Bersama-sama mereka lantas jalan terus, memutar dengan diam-diam, selekasnya mereka tak nampak lagi oleh Auwyang Hong, mereka menghampiri ke arah batu. Tentu sekali mereka tak sudi memperdengarkan tindakan kaki mereka.
Tepat mereka sampai, mereka dapat mendengar kata-¬katanya Auwyang Hong: "Kau pergilah dengan baik, aku mengerti maksud hatimu. Kau berkeinginan menikahi putri Oey Lao Shia sebagai istrimu, pasti aku akan membikin keinginanmu itu terkabul."
Kedua muda-mudi di belakang batu itu heran bukan main. "Dia bakal segera mampus, cara bagaimana keinginan itu dapat dikabulkan?" mereka berpikir. "Apakah artinya kata-kata si tua bangka berbisa ini?"
Mereka memasang kuping terlebih jauh, setelah mana mereka jadi kaget dan gusar, punggung mereka dialiri peluh dingin. Auwyang Hong itu berkata: "Akan aku bunuh putrinya Oey Lao Shia, nanti aku masukkan tubuhnya dalam satu liang kubur bersamamu! Bukankah semua orang mesti mati? Kau dan dia tak dapat hidup bersama, tetapi mati dapat dikubur menjadi satu, kau tentu merasa puas juga…" Mulutnya Auwyang Kongcu telah kerendam air, tidak dapat ia menjawab.
Oey Yong memencet tangannya Kwee Ceng, yang ia tarik, dengan perlahan ia bertindak. Maka bersama¬-sama mereka menyingkir dari situ. Auwyang Hong tengah berduka sangat, ia tidak mendengar suara apapun.
Tiba di tempat dimana mereka sudah berpisah cukup jauh, Kwee Ceng berkata dengan sengit. "Yong-jie, lebih baik kita hampiri si bisa bangkotan itu untuk mengadu jiwa dengannya!"
"Bertempur sama dia, kita melawan dengan kecerdikan, tidak dengan tenaga," menyahut si nona tenang.
"Bagaimana caranya?"
"Aku lagi memikirkannya." Mereka jalan terus, sampai di tikungan. Di situ si nona melihat gombolan pohon gelaga. "Jikalau dia tidak jahat dan kejam, aku dapat jalan untuk menolong keponakannya itu," berkata Oey Yong.
Kwee Ceng heran. "Bagaimana?" dia tanya.
Oey Yong menghampiri gombolan gelaga itu, ia memotong sebatang, di antaranya lalu ia angkat, dimasukkan ke dalam mulutnya, untuk menyedot dan bernapas.
"Bagus!" Kwee Ceng bertepuk tangan. "Oh, Yong-jie yang baik bagaimana kau dapat memikirkan ini? Bagaimana sekarang, kita menolongi atau jangan?"
Oey Yong memainkan bibirnya. "Tentu aku tidak sudi menolong dia!" sahutnya. "Si tua bangka berbisa itu hendak membunuhku, biarlah dia coba membunuhnya! Aku tidak takut!"
Kwee Ceng heran, ia berdiam diri. Si nona mengawasi, lalu ia tarik tangan orang. "Engko Ceng," katanya halus, "Mustahilkah kau menghendaki aku menolong manusia jahat itu? Adakah kau berkhawatir untuk keselamatanku? Jikalau kita menolong dia, belum tentu dua manusia jahat itu dapat berbuat baik kepada kita…"
"Memang kau benar," berkata Kwee Ceng. "Memang aku memikirkan kau dan suhu. Aku pikir si tua bangka berbisa ada satu pemimpin partai, mestinya perkataannya dapat dipercaya juga…"
Oey Yong mengambil keputusan dengan cepat. "Baik, marilah kita menolongi dia!" katanya. "Habis itu, kita lihat saja nanti. Kita boleh jalan setindak demi setindak."
Keduanya lantas jalan balik, mereka putarkan batu raksasa itu. Sekarang Auwyang Hong berdiri di dalam air, sebelah tangannya memegangi keponakannya. Ia melihat dua orang muda itu menghampiri, matanya lantas bersinar, sikapnya mengancam.
"Aku menyuruh kamu pergi, buat apa kamu kembali?!" tanyanya bengis.
Oey Yong menghampirkan sepotong batu, di situ ia berduduk. "Aku datang untuk melihat dia sudah mampus atau belum?" ia menyahut sembari tertawa geli.
"Habis kalau mati bagaimana, kalau hidup bagaimana?!" tanya See Tok, tetap bengis, panas hatinya.
Si nona menghela napas. "Kalau ia sudah mati, sayang, tidak ada daya lagi…" sahutnya.
Auwyang Hong heran, hingga ia berjingkrak. "Oh, nona yang baik," serunya. "Dia…dia masih belum mati! Benarkah kau ada punya daya? Lekas bicara!"
Oey Yong menyodorkan batang gelaganya. "Kau masukkan ini ke mulutnya, dia tentu tidak mati," sahutnya enteng.
Auwyang Hong girang, ia menyambut, ia lompat pula kepada keponakannya. Dengan cepat ia masukkan batang gelaga itu ke dalam mulut keponakannya, hingga batang itu merupakan semacam pipa.
Keadaan Auwyang Kongcu sedang hebatnya, tetapi ia masih dapat mendengar pembicaraan di antara si nona dan pamannya, begitu pipa dimasukkan ke dalam mulutnya, ia telan air yang terakhir di mulutnya, lalu ia dapat bernapas seperti biasa. Ia girang hingga sesaat melupakan kakinya yang sakit.
"Lekas!" berseru Auwyang Hong. "Lekas kita melanjutkan membuat dadung itu!"
"Paman Auwyang," berkata si nona, sebelum ia menyambut ajakan itu, “bukankah kau memikir membunuhku untuk dikorbankan demi keponakanmu ini?"
See Tok melengak. "Kenapa ia dengar pembicaraanku barusan?" pikirnya.
Oey Yong masih tertawa, ia berkata pula: "Kau hendak membunuhku, kalau maksudmu kesampaian, habis itu Thian sangat membenci kejahatanmu, kepada kau diturunkan sesuatu malapetaka, siapakah nanti yang menolongmu?"
Auwyang Hong sangat membutuhkan bantuan orang, ia tidak mengambil peduli gangguan itu, dengan berlagak tuli dengkak, ia lari ke darat, ke bawah pohon untuk mulai lagi memotongi babakan pohon.
Si nona tidak mengganggu terlebih jauh, ia pun mengajak Kwee Ceng untuk bekerja pula. Mereka sama-sama melara setelah babakan didapat cukup banyak. Masih kira-kira satu jam melara beberapa kali, ia menghampirkan dadung, baru mereka berhasil merampungkan sehelai dadung yang panjangnya tiga puluh tombak lebih. Sementara itu kepalanya Auwyang Kongcu sudah mulai kerendam air, hingga tampak tinggal pipa gelaga itu.
Auwyang Hong berkhawatir, beberapa kali ia menyampirkan, memeriksa nadi keponakannya. Hatinya lega, nadi itu tetap berjalan baik. Ia pun menjadi terlebih lega telah sesaat kemudian ternyata, air pasang sudah tiba saatnya surut pula, maka dilain detik, kepala si anak muda mulai tertampak pula.
"Cukuplah sudah!" terdengar suara Oey Yong keras habis ia mengulur-ulur dadung buatannya itu. "Sekarang aku membutuhkan tiga batang kayu besar untuk dipakai sebagai alat putaran."
Auwyang Hong bersangsi. Mereka tidak mempunyai kampak atau golok, bagaimana mereka bisa mendapatkan potongan-potongan kayu yang dibutuhkan?
"Bagaimana itu harus dibuatnya?" ia menanya.
"Kau tak usah ambil tahu caranya, kau cari kayunya saja!" membentak si nona.
See Tok berkhawatir juga nona itu benar-benar murka dan nantinya tidak sudi membantu terlebih jauh, lantas ia pergi menghampiri pepohonan. Ia pilih yang batangnya tidak terlalu besar, ia berjongkok di situ, ia pegang pohon dengan kedua tangannya, lalu sambil mengerahkan tenaga dari Kuntauw Kodok, ia coba mendorong pohon itu. Nyata ia berhasil! Maka ia lantas bekerja terus, merobohkan semuanya tiga buah pohon.
Kwee Ceng dan Oey Yong mengulurkan lidahnya menyaksikan tenaga orang yang besar itu. Auwyang Hong masih bekerja. Ia mencari sebuah batu besar dan lancip, ia menggunakannya untuk membabat berulang-ulang, memutuskan semua cabang kecil dari ketiga batang pohon itu, setelah semuanya merupakan sebagai potongan balok, terus ia menyerahkan itu kepada si nona.
Oey Yong dan Kwee Ceng menyambuti. "Begini," kata si nona kepada kawannya. Ia pun lantas bekerja.
Kwee Ceng membantu tanpa banyak omong. Oey Yong mengikat ketiga batang balok itu satu kepada lain, ia mengikat erat-erat, meninggalkan tiga ujung yang panjang. Kemudian selebihnya dadung ia bawa ke batu besar itu, untuk melibatnya dibagian tengahnya, lalu ujung itu diikatkan ke balok-balok yang sudah dipasang dan terikat rapi.
Ketiga potong balok itu diikat di seputarnya sebuah pohon cemara tua yang besar sekali, yang tumbuh di sebelah kanan batu raksasa itu. Besarnya pohon mungkin tak terpeluk lima atau enam orang.
"Bukankah pohon cemara tua ini dapat melayani batu besar itu?" kemudian si nona tanya si Bisa dari Barat.
Auwyang Hong mengangguk. Sekarang ia mengerti sudah maksudnya nona itu. Tapi Oey Yong masih kurang puas, ia menyuruh si tua bangka berbisa membuat lagi dadung yang lebih kecil, untuk dipakai mengikat lebih jauh ketiga potongan balok itu, supaya kekuatannya bertambah.
"Nona yang baik, kau sungguh cerdik!" akhirnya See Tok memuji. "Inilah yang dibilang keluarga pintar luar biasa, - ada ayahnya, ada putrinya!"
"Tapi mana bisa aku dapat menandingi keponakanmu itu?" berkata Oey Yong tertawa. "ah, marilah kita mulai menarik memutar!"
Auwyang Hong menurut, begitu juga dengan Kwee Ceng, maka setelah memegang masing-masing ujungnya ketiga balok itu, mereka lantas saja menolak dengan mengeluarkan tenaga mereka. Perlahan tetapi pasti, batu itu bergerak berkisar sedikit.
Sementara itu dengan lewatnya sang waktu - matahari sudah doyong ke darat - air pun telah surut habis, hingga sekarang Auwyang Kongcu terlihat duduk mendeprok di tanah yang merupakan lumpur berpasir. Ia mendelong mengawasi batu besar itu, yang bergeraknya sangat ayal, nampaknya ia bergelisah dan bergirang……
Batang pohon cemara tua dan besar itu bagaikan dilindas balok-balok, yang berputar di sekitarnya berputar tak hentinya. Dengan babakan runtuh, batang itu menjadi terlebih licin dan berputarnya balok-balok tak seberat semula.
Auwyang Hong tidak percaya Thian, malaikat atau iblis, tetapi sekarang diam-diam ia memuji supaya mereka diberikan tambahan tenaga, supaya batu raksasa itu dapat terangkat cukup tinggi hingga kedua kaki keponakannya tak tertindih lebih lama lagi. Asal batu itu dapat terangkat, Auwyang Kongcu bisa diangkat untuk disingkirkan.
Tengah mereka mendorong mendadak terdengar satu suara keras dan nyaring, hingga ketiganya kaget dan lompat minggir. Nyata dadung di tengah terputus, maka dengan sendirinya batu besar itu balik pada kedudukannya yang lama. Mereka sendiri, apabila tidak berlompat pasti terkena balok-balok itu. Auwyang Hong menjadi sangat lesu, air mukanya tak enak dilihat. Oey Yong pun masgul bukan main. Ini ia tak sangka.
"Marilah kita membikin lagi dadung yang lebih kasar," kata Kwee Ceng kemudian. Ia tidak melihat lain jalan. "Kita memakai dua rangkap."
Auwyang Hong menggeleng kepala. "Sulit," katanya. "Kita bertiga tidak berdaya…."
"Kalau saja ada yang membantu…." Kwee Ceng berkata sambil ngelamun.
Mendengar itu, Oey Yong melengak, lalu mendadak ia berjingkrak seraya menepuk-nepuk tangan.
"Akur! Akur!" serunya. "Ada orang yang membantu….!"
Kwee Ceng heran, ia girang. "Yong-jie," katanya, "Benarkah ada orang yang membantui?"
"Ah, sayang engko Auwyang mesti menderita lagi satu hari…" berkata si nona. "Ia mesti menanti sampai besok diwaktu air pasang barulah ia lolos dari penderitaannya ini…."
Auwyang Hong heran begitu pun Kwee Ceng. Keduanya mengawasi nona itu. Mereka berpikir hingga di dalam hatinya mereka menanya: "Mustahilkah besok di waktu air pasang ada orang yang datang membantu?"
Oey Yong tidak memperdulikan mereka itu. "Setelah bekerja keras seharian, aku lapar!" katanya, tertawa. "Mari kita mencari makanan dulu baru kita bicara lagi."
"Nona," akhirnya Auwyang Hong menanya, " Kau bilang besok bakal ada orang datang membantu, apakah artinya pembilanganmu itu?"
"Besok pada waktu begini, batu yang menindih tubuh saudara Auwyang bakal disingkirkan," menyahut si nona. "Inilah adalah rahasia alam, tak dapat aku membocorkannya…."
Melihat orang bicara secara demikian sungguh-¬sungguh, Auwyang Hong menjadi separuh percaya dan separuh tidak. Pula, ia tidak mempercayai, ia pun tidak mempunyai daya lain. Maka terpaksa ia berdiam saja menemani keponakannya itu.
Oey Yong bersama Kwee Ceng sudah lantas pergi memburu beberapa ekor kelinci, yang seekor mereka matangi, untuk dibagi kepada Auwyang Hong dan keponakannya itu.
Mereka sendiri berdahar bertiga bersama Ang Cit Kong di dalam gua. Sembari berdahar mereka dapat pasang omong tentang segala kejadian sejak mereka berpisahan. Si pemuda girang sekali mendapat penjelasan bahwa Auwyang Kongcu roboh karena jebakan si nona.
Kemudian malam itu ketiganya tidur nyenyak. Mereka percaya Auwyang Hong tidak bakal datang mengganggu sebab See Tok mengharap-harapkan sangat bantuan mereka guna menolong keponakannya. Mereka menyalakan api ungun di mulut gua untuk mencegah masuknya binatang liar.
Besoknya fajar, baru Kwee Ceng membuka matanya, ia dapat melihat satu bayangan orang berkelebat di muka gua. Ketika ia berlompat bangun, ia mendapatkan Auwyang Hong.
"Apakah nona Oey sudah bangun?" menanya Auwyang Hong perlahan.
Oey Yong tersadar, selagi Kwee Ceng berlompat bangun, kapan ia dengar suaranya musuh ia pejamkan pula matanya dan menperdengarkan gerosan napasnya untuk berpura-pura tidur nyenyak.
"Belum," Kwee Ceng menyahut, perlahan. "Ada apa?"
"Kalau sebentar dia sudah bangun, minta dia datang untuk menolong orang," menyahuti See tok.
"Baik," menjawab Kwee Ceng.
Dari dalam, Cit Kong menyambar: "Aku telah kasih dia minum arak yang wangi bernama Mabok Seratus Hari di dalam tempo tiga bulan mungkin dia tak akan bangun…!"
Auwyang Hong melengak justru mana Pak Kay tertawa terbahak-bahak, maka taulah bahwa ia tengah digoda. Ia mendongkol bukan main tetapi ia ngeloyor pergi.
Oey Yong melompat bangun, ia pun tertawa. "Kalau bukan sekarang kita goda dia, kita hendak tunggu kapan lagi?" katanya.
Dengann ayal-ayalan nona itu menyisir rambutnya dan merapikan pakaiannya, habis itu ia membawa joran untuk pergi memancing ikan, memburu kelinci, yang semuanya dimatangi untuk mereka sarapan pagi. Selama itu Auwyang Hong telah datang tujuh atau depalan kali, ia bergelisah seperti semut di atas kuali panas.
"Yong-jie," menanya Kwee Ceng, "Benarkah sebentar diwaktu air pasang bakal datang orang membantu kita?"
"Kau percayakah bakal datang pembantu?" si nona balik menanya, tertawa.
"Aku tidak percaya." sahut si anak muda.
"Aku juga tidak percaya!" Dan si nona tertawa pula.
Kwee Ceng tercengang. "Jadinya kau sengaja mempermainkan si tua bangka berbisa itu?"
"Bukan seluruhnya aku mendustai dia," sahut si nona. "Diwaktu air pasang, aku mempunyai daya untuk menolong keponakannya itu."
Kwee Ceng tahu kekasihnya cerdik sekali, ia tidak menanya lebih jauh. Oey Yong lantas ajak pemuda itu pergi ke pinggir laut mencari pelbagai macam batok kerang. Nona Oey tidak mempunyai kawan semenjak kecil, ia biasa main-main seorang diri, sekarang ia mendapat Kwee Ceng sebagai teman, ia gembira bukan main. Begitulah diajaknya pemuda itu berlomba mendapatkan banyak lokan yang bagus-bagus. Dalam tempo yang pendek, mereka mendapatkan banyak, saking gembira, saban-saban terdengar suara tertawa mereka. Sesaat itu mereka seperti lupa bahwa mereka berada di pulau kosong di mana jiwa mereka terancam bahaya maut………
"Eh, engko Ceng, rambutmu kusut, mari aku tolong sisirkan," kata si nona kemudian.
Kwee Ceng menurut, mereka duduk berduaan. Dari sakunya, Oey Yong mengeluarkan sisir yang terbuat dari batu giok bersalut emas. Ia membuka rambut orang dan menyisirnya dengan perlahan-lahan.
"Bagaimana dayanya untuk mengusir See Tok dan keponakannya itu?" ia bertanya sambil tangannya bekerja. "Kalau mereka itu sudah tidak ada, kita bertiga dapat berdiam dengan aman di sini. Tidakkah itu bagus?"
"Tapi aku memikirkan ibuku serta enam guruku," menyahut Kwee Ceng.
"Ah, ya, masih ada ayahku juga…" menambah si nona. Ia berhenti sebentar, lalu ia berkata pula: "Entah bagaimana dengan enci Bok sekarang….. Suhu telah menyuruh aku menjadi Pangcu dari Kay Pang, karena itu aku pun jadi memikirkan itu kawanan pengemis…………."
Kwee Ceng tertawa. "Maka itu aku pikir lebih baik kita pikirkan daya untuk berlalu dari sini…." katanya.
Oey Yong sudah selesai menyisiri, lalu ia mengondekan rambut pemuda itu.
"Yong-jie, kau menyisiri rambutku, kau mirip ibuku," kata Kwee Ceng.
"Kalau begitu, panggilah aku ibu!" Oey Yong tertawa.
Si anak muda diam saja, lantas si nona mengitik. "Kau memanggil atau tidak?" nona itu pun menanya. Kwee Ceng kaget kegelian, ia berjingkrak bangun, maka kacaulah pula kondenya.
"Kau tidak mau memanggil, ya sudah saja!" berkata Oey Yong tertawa. "Memang siapa yang sangat menginginkan itu? Kau tahu, di belakang hari tentu bakal ada orang yang memanggil ibu kepadaku. Nah, kau duduklah!"
Kwee Ceng duduk pula, untuk si nona mengondekan pula rambutnya. "Engko Ceng," si nona menanya pula, "Bagaimana tentang melahirkan anak. Tahukah kau?"
"Tahu."
"Coba bilang."
"Orang menikah menjadi suami istri, itu artinya mendapat anak."
"Hal itu pun aku tahu. Hanya bagaimana sebenarnya?"
"Sampai sebegitu jauh, aku tidak tahu. Cobalah kau bilang."
"Aku juga tidak tahu. Pernah aku tanya ayah, ayah bilang…."
Kwee Ceng hendak menanya jelas ketika mereka mendadak mendengar suara seperti cecer pecah di belakang mereka:
"Urusan mendapat anak itu nanti juga kamu mendapat tahu sendiri! Sekarang air pasang mau naik pula!"
Keduanya terkejut. Mereka tidak menyangka Auwyang Hong - orang yang membuka suara nyaring itu - telah tahu-tahu berada di antara mereka. Muka Oey Yong pun menjadi merah. Kwee Ceng menyusul kawannya itu. Auwyang Kongcu tertindih batu sehari semalam, ia payah bukan main.
"Nona Oey,!" berkata Auwyang Hong, suaranya keren. Ia pun menyusul mereka ini. "Kau yang bilang diwaktu air pasang bakal ada orang datang membantu kita. Urusan ini mengenai jiwa manusia, bukan urusan main-main!"
"Ayahku pandai ilmu meramal, putrinya pasti mengerti juga ilmu itu tiga bagian," menyahut si nona. "Apakah artinya baru ilmu meramalkan?"
Auwyang Hong memang ketahui baik kepandaiannya Oey Yok Su. "Jadi ayahmu yang bakal datang?" dia menegaskan. "Bagus!"
"Hm!" si nona mendengarkan suara tawar. "Untuk urusan remeh ini kenapa aku mesti sampai mengganggu ayahku? Laginya, jikalau ayah dapat melihatmu, mana dia sudi mengasih ampun? Apakah yang kau buat girang?" Disenggapi begitu, Auwyang Hong bungkam. "Engko Ceng," berkata si nona, tanpa menggubris pula See Tok, "Coba kau tolong mencari bongkot pohon, semakin banyak semakin bagus. Pula pilihlah yang besar-besar."
Si anak muda bersedia untuk bekerja, ia lantas pergi. Oey Yong lantas bekerja, melara dadung dan menyambung yang putus kemarin.
Auwyang Hong tidak dapat berdiri diam saja, ia tanya nona itu apa benar Oey Yok Su bakal datang. Sia-sia belaka ia menanya sampai beberapa kali, Oey Yong malah bernyanyi-nyanyi perlahan, tangannya terus bekerja. Karenanya ia terpaksa ngeloyor pergi, untuk membantu Kwee Ceng mencari balok. Ia dapat melihat Kwee Ceng merobohkan pohon dengan serangan Hang Liong Sip-pat Ciang, dengan dua kali hajaran saja dia dapat mematahkan batang sebesar mangkok.
"Hebat bocah ini," memikir See Tok. "Dia pun hapal Kiu Im Cin-keng, kalau dia terus dikasih tinggal hidup, di belakang hari dia bakal menjadi bahaya untuk pihakku…"
Maka berpikirlah ia, keponakannya ketolongan atau tidak, pemuda ini harus disingkirkan. Habis itu ia bekerja, membuatnya Kwee Ceng heran dan kagum. Ia berdiri di antara dua pohon, begitu ia menggerakkan tangannya kedua pihak, dua pohon roboh patah dengan berbareng.
"Paman Auwyang," Kwee Ceng menanya, "Sampai kapan aku dapat mencapai ilmu seperti yang dipunyakan kau ini?"
Wajah Auwyang Hong bermuram durja, di dalam hatinya, ia kata: "Tunggu sampai kau menitis pula…" Ia tidak memberikan jawaban pada pemuda itu.
Setelah memperoleh belasan potong balok, Kwee Ceng dan See Tok membawa semua kepada Oey Yong. Matanya See Tok kemudian diarahkan ke tengah laut. Ia mau melihat ada perahu datang atau tidak. Ketika itu air mulai naik. Terang sekali ia sudah tidak sabaran sekali, maka juga ia mengajak si nona dan pemuda lekas bekerja.
Kali ini Oey Yong mengikat potongan-potongan balok itu ke batu. Ia pakai balok-balok itu untuk meminjam tenaga mengambangnya. Setelah itu, dengan dadung yang terikat rapi pula pada pohon besar, mereka mulai lagi dengan usahanya mendorong mutar ujung-ujung balok yang diikat pada pohon itu.
Percobaan si nona memberi hasil yang menyenangkan, dengan dibantu tenaga mengambangnya balok-balok itu, batu besar itu dapat terangkat hanya dengan beberapa putaran.
Auwyang Hong menyuruh muda-mudi itu menahan kuat-kuat, ia sendiri lari ke batu. Air telah pasang, maka untuk menolongi keponakannya, ia mesti menahan napas untuk selulup. Tidak sukar untuknya memondong Auwyang Kongcu, buat dibawa ke darat.
Kegirangannya Kwee Ceng tidak terhingga besarnya dimana pertolongan mereka telah berhasil, tanpa merasa ia bersorak-sorai, kemudian ia tarik tangan Oey Yong, diseret berlari-lari ke gua mereka tanpa memperdulikan lagi paman dan keponakannya itu.
"Adik Yong, pantas atau tidak aku bersorak?" tanya Kwee Ceng. "Hatimu lega atau tidak?"
"Aku hanya lagi memikirkan tiga soal yang aku merasakan kesulitannya," menyahut si nona.
"Kau sangat cerdas, kau pasti mempunyai dayanya," berkata pula Kwee Ceng. "Soal-soal apakah itu?"
Oey Yong menyebut-nyebut kesulitan tetapi ditanya begitu, ia bersenyum. Hanya, belum lagi ia memberikan jawabannya kedua alisnya dikerutkan.
"Soal yang pertama tidak apa," berkata Ang Cit Kong yang semenjak tadi berdiam saja. "Yang kedua dan yang ketiga memang sulit sekali, sungguh itu dapat membuat orang tidak berdaya……."
Kwee Ceng menjadi heran. "Eh, mengapakah suhu mendapat tahu?" katanya. "Apakah itu?"
"Aku dapat menerka pikirannya Yong-jie," menyahut sang guru. "Yang pertama-tama yaitu dengan cara bagaimana dia dapat mengobati lukaku. Di sini tak ada tabib, tak ada obat, aku si pengemis tua menyerah saja kepada takdir. Lihat saja, aku bakal mati atau bisa hidup terus… Yang kedua bagaimana caranya melawan Auwyang Hong si licin dan berbisa itu. Dia suka berbalik pikir, maka dia tak dapat dipercaya segala pembilangannya. Dia sangat lihay, kamu berdua tidak bisa menempur padanya. Yang ketiga ialah soal bagaimana kita bisa dapat pulang ke daratan. Benar bukan, Yong-jie?"
Nona itu mengangguk. "Benar!" sahutnya. "Ini soal sangat penting untuk kita, bagaikan bencana di depan mata. Aku memikir jalan untuk dapat mengendalikan si tua bangka berbisa itu, walaupun tidak sempurna, asal dia dapat dibikin tidak berani memandang sebelah mata kepada kita."
"Melihat keadaan, sekarang ini kita mesti melawan si bisa bangkotan itu dengan otak bukannya dengan tenaga," berkata Ang Cit Kong. "Hanya dia sangat cerdik dan licin, inilah kesulitannya. Sukar dia dapat diperdayakan…"
Oey Yong berdiam, ia berpikir. Kwee Ceng pun tidak berdaya. Ang Cit Kong berpikir keras sekali, ia merasakan dadanya sakit, karena itu ia lalu batuk-batuk. Nona Oey kaget, lekas-lekas ia pegangi gurunya, untuk dikasih rebah.
Disaat itu, mendadak gua menjadi gelap, ada bayangan hitam yang mengalinginya. Si nonalah yang paling dulu mengangkat kepala. Ia melihat Auwyang Hong berdiri tegar seraya memondong keponakannya. Dengan suara serak tetapi bengis, See Tok membentak:
"Kamu semua keluar! Serahkan gua ini padaku aku merawat keponakanku!"
Kwee Ceng gusar hingga ia berlompat bangun. "Di sini ada guruku!" ia berseru.
Auwyang Hong mengasih dengar suara dingin: "Sekalipun Giok Hong Taytee yang tinggal disini, dia juga mesti keluar!"
Kwee Ceng bertambah gusar, tetapi Oey Yong lekas menarik tangan bajunya, kemudian si nona memondong tubuh gurunya, dibawa keluar dari gua itu. Selagi lewat di samping Auwyang Hong, Cit Kong menyeringai.
"Sungguh gagah, sungguh angker!" ia menyindir.
Mata Auwyang Hong mencilak. Kalau ia menyerang, segera Ang Cit Kong akan terbinasa, entah kenapa ia merasakan suatu pengaruh aneh, maka lekas-lekas ia berpaling ke arah lain, untuk menyingkir dari mata tajam si pengemis. Walaupun begitu, mulutnya membilang:
"Sebentar kamu membawakan makanan untuk kami berdua. Dan kau, dua makhluk cilik, jikalau kamu main gila dengan makanan itu, hati-hati jiwamu bertiga!"
Ketiganya berjalan terus, hati mereka panas. Kwee Ceng sangat mendongkol, ia mengutuk tak hentinya. Pak Kay dapat menutup mulut, demikian juga Oey Yong. Hanya nona ini bekerja otaknya.
"Kamu tunggu sebentar di sini, aku akan mencari tempat yang baru," kata Kwee Ceng kemudian.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA
Auwyang Hong masih mencekali Oey Yong. Ia menyeringai. "Pengemis bangkotan busuk, kau hendak apa!" dia menanya, menantang.
"Mari,mari!" Cit Kong juga menantang. "Mari kita bertempur pula seribu jurus!" Jawaban itu dibarengi sama serangan kedua tangan saling susul.
Auwyang Hong berlaku licik, bukannya ia berkelit, ia menangkis dengan mengajukan tubuh Oey Yong sebagai tameng. mau tidak mau, Cit Kong mesti batalkan penyerangannya itu. Ketika itu dipakai oleh Auwyang Hong untuk segera menotok jalan darah si nona, maka sesaat itu juga, lemaslah tubuh Oey Yong, tak dapat ia berkutik.
"Letaki di perahu!" Cit Kong menantang pula. "Marilah kita bertempur untuk memastikan menang atau kalah!"
Auwyang Hong terlalu licik untuk meletakkan tubuh nona itu. Ia pun melihat keponakannya lagi didesak sambaran-sambaran api hingga ia mesti main mundur. Tiba-tiba ia mendapat akal. Mendadak ia lemparkan Oey Yong kepada keponakannya itu.
"Pergi kamu lebih dulu ke perahu kecil!" memerintahnya.
Auwyang Kongcu menyambut tubuh yang tak dapat bergerak itu. Ia melihat Kwee Ceng di perahu kecil. Ia mengerti, kalau ia melompat bersama si nona, mungkin perahu kecil itu akan karam karenanya. Maka ia menarik sehelai dadung, ia ikat itu di kaki tiang layar, habis itu dengan tangan kiri memeluk Oey Yong, tangan kanan menarik dadung itu, untuk meluncur ke perahu kecil. Maka terayunlah tubuh mereka, turun menghampiri perahu.
Kwee Ceng melihat Oey Yong tiba di perahunya, ia girang bukan main. Tentu saja ia tidak mengetahui kekasihnya sudah kena totok hingga menjadi tidak berdaya. Ia lebih memerlukan mengawasi gurunya yang lagi bertempur sama Auwyang Hong. Biar bagaimana, ia bergelisah untuk gurunya itu. Dengan api berkobar-kobar, tertampak nyata kedua jago tua itu lagi mengadu jiwa. Mendadak saja terdengar suara nyaring seperti guntur,
lalu tertampak perahu besar terbelah dua, sebab tulang punggungnya dimakan api dan pecah karenanya. Menyusul itu kelihatan bagian perahu yang belakang mulai tenggelam, perlahan-lahan karam ke dalam air.
Ang Cit Kong dan Auwyang Hong bertempur terus. Kadang-kadang mereka mesti berkelit dari runtuhan tulang layar atau dadungnya, yang jatuh termakan api. Dalam pertempuran sengit ini, Ang Cit Kong lebih menang sedikit, dalam arti kata ia tidak merasakan hawa panas seperti lawannya. Itu karena pakaiannya basah bekas tadi merendam di air. Karena ini juga, dapat ia mendesak See Tok, yang sebaliknya mesti berkelahi sambil mundur perlahan-lahan.
Pernah Auwyang Hong memikir untuk terjun ke laut, ia hanya menyesal, pikirannya itu tidak dapat segera mewujudkannya. Ia didesak terlalu hebat, kalau ia memaksa terjun, itu artinya ia tidak dapat membela diri, mungkin nanti ia kena diserang lawannya yang lihay itu. Ada kemungkinan juga ia nanti terluka parah. Saking terpaksa, ia melayani terus dengan otaknya dikasih bekerja tak hentinya untuk mencari jalan lolos.
Ang Cit Kong menyerang dengan hatinya terasakan puas. Bukankah ia terus mendesak? Tengah ia merangsak, tiba-tiba ia teringat sesuatu.
"Kalau aku desak dia hingga dia terbakar, sampai mengantar jiwanya, itu tak menarik hati," demikian pikirannya yang menyandinginya itu. "Dia telah mendapatkan salinan kitab dari Ceng-jie, jikalau dia tidak mendapat kesempatan untuk mempelajarinya, bila nanti ia mampus, pastilah ia mampus tak puas! Tidak dapat tidak, dia mestinya dibikin kena batunya…!"
Karena ini Pak Kay lantas tertawa terbahak-bahak. "Bisa bangkotan, hari ini aku memberi ampun padamu!" ia berseru. "Kau naiklah ke perahu kecil itu!"
Kedua mata Auwyang Hong mencelik, lantas ia terjun ke laut. Cit Kong hendak menyusul tatkala ia dengar teriakan See Tok.
"Tahan dulu!" demikian si Bisa dari Barat itu berteriak. "Sekarang tubuhku pun basah, maka marilah kita berdua bertempur pula. Sekarang barulah adil, sama rata sama rasa!"
Suara itu disusul berkelebatnya satu tubuh, maka di lain detik, Auwyang Hong telah berdiri pula di atas perahu besar, di depan lawannya. Sekejap Ang Cit Kong melengak, lalu ia tertawa lebar.
"Bagus, bagus!" serunya. "Seumur hidupnya si pengemis bangkotan, ini hari barulah ia bertempur paling memuaskan!"
Kembali dua orang itu bertarung dengan hebat. Dengan tubuh basah kuyup, agaknya See Tok menjadi segar sekali.
"Yong-jie," berkata Kwee Ceng kepada kekasihnya. "Kau lihat See Tok ganas sekali!" Oey Yong tengah ditotok, ia tak dapat bersuara.
"Apakah tidak baik aku minta suhu turun ke mari?" Kwee Ceng berkata pula menanyai si nona. "Perahu besar itu bakal lekas tenggelam…." Oey Yong tetap tidak menyahuti.
Kwee Ceng heran, maka lekas ia berpaling. Semenjak tadi ia terus mengawasi ke gelanggang pertarungan. Maka gusarlah ia menyaksikan Auwyang Kongcu lagi meringkus kedua tangan orang.
"Lepaskan!" ia lantas berteriak.
Auwyang Kongcu tertawa. "Jangan kau bergerak!" dia berseru. "Asal kau bergerak, satu kali saja, akan aku hajar hancur kepalanya!" Dan dia mengancam. Kwee Ceng tidak menggubris ancaman itu, bahkan seperti tanpa berpikir sejenakpun, ia menyerang. Auwyang Kongcu berlaku sebat, ia berkelit sambil mendak. Kwee Ceng penasaran, ia menyerang pula ke muka orang. Ia seperti merabu tanpa jurus tipu silat. Auwyang Kongcu bingung juga. Perahu kecil, tidak merdeka untuk ia terus main berkelit. Tapi ia mesti melawan. Maka ia membalas menyerang. Kwee Ceng menangkis, dengan begitu kedua tangan bentrok. Auwyang Kongcu licik, sambil menyerang ia terus memutar kepalannya, menyerang pula, maka "Plak!" pipinya si anak muda kena terhajar.
Serangan itu keras, mata Kwee Ceng berkunang¬-kunang. Tapi ia mengerti bahaya, ia membuka matanya. Justru itu datang serangan yang kedua kali. Kembali ia menangkis. Auwyang Kongcu menggunakan tipu silat seperti tadi. Ia memutar balik kepalannya, untuk mengulangi serangan susulan. Tapi kali ini Kwee Ceng melenggakkan kepalanya, tangan kanannya berbareng dipakai menolak ke depan.
Menurut aturan, sambil berlenggak tidak dapat orang pun menyerang. Tapi Kwee Ceng adalah lain daripada yang lain. Ia sudah dapat mewariskan kepandaian Ciu Pek Tong, ia bisa berkelahi dengan dua tangannya seperti tangan dua orang, kedua tangannya dapat digerakkan sesuka hatinya. Maka itu celakalah keponakan Auwyang Hong, yang tidak mengetahui kebiasaan orang. Tangan kanannya itu, yang dipakai menyerang ke muka, kena ditangkis hebat, sedetik itu juga tangan itu patah!
Dalam ilmu silat, Auwyang Kongcu tidak ada dibawahan Ma Giok, Ong Cie It atau See Thong Thian atau lainnya lagi, maka itu dibandingkan sama Kwee Ceng, ia menang segala-galanya, hanya kali ini ia kebentur sama ilmu silat yang istimewa, yang asing untuknya, dari itu robohlah dia!
Selagi lawannya roboh, hingga Oey Yong terlepas dari pelukan tangan kirinya, Kwee Ceng pun tidak menggubris, pemuda ini lebih memerlukan berlompat kepada pacarnya, yang rebah tak bergeming. Sekarang ia mengerti si nona kena tertotok, lantas saja ia menotok untuk membebaskannya. Syukur Auwyang Kongcu menggunakan totokan yang umum, dengan begitu Kwee Ceng dapat menyadarkan nona itu.
"Lekas bantu suhu!" berteriak Oey Yong yang sesadarnya dia.
Kwee Ceng sudah lantas berpaling kepada gurunya. Ia melihat gurunya dan Auwyang Hong tengah berkelahi mati-matian. Suara beletak-beletok dari bekerjanya api seperti menambah serunya pertarungan itu. Yang hebat ialah terlihatnya badan perahu mulai karam. Maka itu juga Kwee Ceng menyambar pengayuh, memajukan perahunya datang mendekat ke perahu besar itu.
Di dalam pertempuran itu, suasana menjadi terbalik. Sudah lama sejak Ang Cit Kong kerendam air, sekarang pakaiannya sudah kering semua, pakaian itu gampang tersambar api dan terbakar, hawa api pun membikin tubuh panas. Di pihak lain, tubuh Auwyang Hong basah kuyup, ia tidak takut api, bahkan bekas nyebur, ia menjadi seperti mendapat tambahan tenaga dan semangat. Tapi hebat si Pak Kay, Pengemis dari Utara itu, walaupun ia terdesak, ia memaksakan diri untuk bertahan.
Mendadak sebatang tiang layar jatuh dengan apinya yang berkobar, jatuh di tengah-tengah kedua jago itu. Mau atau tidak, mereka itu sama-sama berlompat mundur, hingga selanjutnya mereka terpisahkan kayu menyala-nyala itu. Auwyang Hong penasaran, dengan tongkat ularnya dia menyerang pula. Ang Cit Kong tidak diam saja, ia mencabut tongkatnya dari pinggang, guna menangkis. Kalau tadi mereka bertarung dengan tangan kosong, sekarang mereka menggunakan genggaman. Tentu sekali, sekarang ini mereka berkelahi semakin hebat.
Kwee Ceng terus mengayuh perahunya. Ia terus bergelisah untuk gurunya. Hanya ketika ia menyaksikan pertempuran dua orang itu, perhatiannya jadi tertarik, ia menghela napas saking kagumnya.
Di kalangan persilatan ada kata-kata, "Belajar golok seratus hari, belajar tombak seratus hari, belajar pedang selaksa hari". Itulah bukti ilmu silat pedang yang paling sukar dipelajari. Demikian pada duapuluh tahun yang lalu, dalam pertempuran di Hoa San terlihat nyata sempurnanya tetapi pun sulitnya ilmu pedang, maka Ang Cit Kong dan Auwyang Hong masih menukar senjata mereka. Ang Cit Kong memakai tongkatnya yang senantiasa di bawa-bawa, ialah tongkat warisan Kay Pang atau tanda tertua dari Partai Pengemis. Tongkat itu lebih panjang satu kaki daripada sebatang pedang dan sifatnya lemas, tetapi di tangan Cit Kong, satu ahli luar gwa kee, tongkat itu menjadi tegar sekali.
Tongkat ular-ularan dari Auwyang Hong pun senjata istimewa. Dan See Tok menggunakannya dengan campuran gerak-gerik toya dan tongkat. Di ujung kepala tongkat ada ukiran kepala orang yang mulutnya terbuka tertawa, yang kedua baris giginya terpentang dengan semua giginya tajam serta gigi itu dipakaikan racun ular, maka diwaktu dipakai bersilat, kepala orang-orangan itu bergerak-gerak bagaikan hantu mengangga. Pula, asal pesawat rahasianya dikasih bergerak, dari dalam mulut itu bakal tersembur senjata rahasia yang beracun juga. Yang lebih lihay lagi ialah dua ekor ular yang melilit di batang tongkat, yang bisa memagut orang secara tiba-tiba….
Hebat pertempuran ini karena mereka sama-sama lihaynya. Tongkat Auwyang Hong lebih unggul, tetapi Cit Kong adalah kepala Pengemis di seluruh Tionggoan dan sebagai kepala pengemis, dialah penakluk ular yang nomor satu. Demikian tongkatnya bergerak-gerak, bukan cuma menyerang lawan tetapi juga menghamtam kedua ular berbisa itu. Hanya dengan kelicikannya, Auwyang Hong saban-saban dapat menolong ularnya. Ia menjadi sengit, diam-¬diam ia mengutuk pangcu dari Kay Pang itu, yang kelihayannya mesti ia akui.
Kwee Ceng menonton dengan pikirannya bingung. Mau ia membantu gurunya tetapi tidak mempunyai kesanggupan. Bukankah musuh itu sangat lihay? Mana dapat ia menyelak di antara mereka berdua.
Tapi Auwyang Hong juga insyaf bahaya yang mengancam. Perlahan-lahan ia merasakan tubuhnya berhawa panas. Yang hebat hanya ia merasakan badan perahu, yang tinggal sebelah itu, mulai tenggelam. Penyerangan lawan dahsyat sekali, kalau ia tidak keluarkan kepandaiannya, bisa-bia ia terbinasa di tangan si pengemis tua ini. Maka ia lantas menukar siasat. Tangan kanannya, yang memegang tongkat, ia tarik, dan tangan kirinya dipakai menyapu.
Dengan tongkatnya Ang Cit Kong mengejar tongkat lawan, dengan tangan kiri menangkis sapuan tangan kiri lawannya. Atau mendadak tangan kiri Auwyang Hong dikelitkan, diputar, untuk secepat kilat dipakai menyerang pula ke arah pelipis kanan dari musuhnya!
See Tok menggunakan tipu silat Kim Coa Kun atau Kuntauw Ular Emas. Itulah siasat ilmu silatnya yang istimewa. Bahkan ia hendak mengandalkan ini ilmu pada pertemuan yang kedua kali nanti di Hoa San, untuk menundukkan semua lawannya. Keistimewaannya ialah selagi dipakai menyerang, tangannya dapat diputar balik, untuk dipakai menyerang pula secara dahsyat diluar dugaan lawan. Begitulah, ia menggunakan tipu silatnya terhadap Pak Kay. Ia percaya si pengemis tidak kenal ilmu silatnya.
Memang, mulanya Ang Cit Kong tidak kenal Kim Coa Kun, ia pun melihatnya secara kebetulan, yaitu di Poo¬eng, Auwyang Kongcu menggunakan itu terhadap Kwee Ceng. Sebabnya Cit Kong tidak menghadari pestanya Lee Seng beramai itulah karena ia lagi memikir keras tipu silat untuk memecahkan ilmu Kim Coa Kun itu. Maka, kali ini, melihat Auwyang Hong menggunakan tipu ilmu silat ini lagi, Cit Kong sudah siap sedia. Dengan menggunakan tipu silat Kim-na-ciu, menangkap tangan, ia mengulur tangannya untuk menjambret.
Inilah Auwyang Hong tidak sangka, ia terkejut sambil berlompat mundur. Justru itu ada jatuh segumpal api, yang menyambar dirinya. Cit Kong juga terkejut, dia terus melompat mundur. Sekarang dia dapat melihat tegas, yang jatuh itu adalah kain layar yang termakan api.
Di dalam keadaan biasa, tidak nanti Auwyang Hong kena ketungkup, tetapi barusan ia sedang kaget dan heran sebab ilmu silatnya kena dipecahkan lawan, ia juga baru menaruh kaki, sedang jatuhnya layar secara tiba-tiba, maka tidak berdayalah ia untuk menyingkir.
Dalam kagetnya itu, Auwyang Hong tidak menjadi gugup atau bingung. Ia lantas menggunakan tongkatnya, menyingkap kain layar. Lacur untuknya, tongkatnya terhalang tiang layar, tidak dapat ia gerakkan. Baru setelah itu ia menghela napas dan mengeluh:
"Habis sudah, hari ini aku mesti pulang ke langit…"
Sekonyong-konyong ia menampak sinar terang. Tadinya ia berada dalam gelap gulita. Ketika ia awasi, melihat Ang Cit Kong tengah menggunakan tongkatbya menyontek menyingkap layar.
Pak Kay adalah seorang yang berperangai halus dan murah hati, walaupun ia sangat benci See Tok untuk kelicikan dan keganasannya, ia masih tidak tega menonton orang mampus terbakar. Maka tanpa banyak pikir, ia memberikan pertolongannya.
Auwyang Hong telah terbakar pakaiannya, rambutnya dan alisnya. Ia berlompat, terus menjatuhkan diri, bergulingan di lantai perahu. Dengan caranya ini ia hendak membikin api padam. Selagi ia bergulingan itu, mendadak perahu miring, lalu rantai jankar jatuh menimpa ke arahnya.
Cit Kong kaget hingga ia menjerit, terus ia berlompat menyambar jangkar itu. Celaka untuknya, jangkar itu merah marong bekas terbakar, ketika kena terpegang, kontan tangannya terbakar hangus, tetapi ia masih sempat melemparkannya ke laut. Hanya, selagi menolong ini dan hendak lompat ke laut, mendadak ia merasakan punggungnya berikut pundaknya menjadi kaku. Untuk sesaat ia melengak, tak tahu apa sebabnya itu. Atau tiba-tiba ia ingat sesuatu, yang berkelebat di otaknya. Segera ia menoleh ke belakang. Di dalam hatinya ia berkata: "Aku telah tolongi See Tok, mustahilkah ia menggunakan tongkat ularnya mencelakaiku?" Ia berpaling, justru tongkat bambu berkelebat di depan matanya, kedua mulutnya ular penuh darah hidup, kepalanya sedang digoyang¬-goyang. Bukan main murkanya Ang Cit Kong, kedua tangannya segera melayang ke arah Auwyang Hong.
See Tok dapat berkelit, maka itu, sebatang tiang layar dibelakangnya terhajar keras, menjadi patah dan roboh karenanya. Cit Kong tidak berhenti sampai di situ, ia menyerang terus. Auwyang Hong melihat orang seperti kalap, ia tidak mau melawan berkelahi, ia lebih banyak berkelit sambil berlompatan.
"Suhu! Suhu!" Kwee Ceng berteriak-teriak melihat kelakuan gurunya itu. Ia pun merayap naik ke perahu besar.
Adalah di saat itu, Ang Cit Kong terhuyung-huyung. Ia merasakan kepalanya pusing, ia tak ingat apapun. Auwyang Hong berlompat maju, dengan sebelah tangannya ia menghajar punggung si raja pengemis. Hebat serangannya ini. Dalam keadaan seperti itu, Ang Cit Kong tidak bisa mempertahankan dirinya. Ia lantas saja roboh sambil muntahkan darah segar.
Kiu Cie Sin Kay Ang Cit Kong sangat kesohor kegagahannya, Auwyang Hong ketahui dengan baik, hajarannya tidak dapat segera menghabiskan jiwa orang, dan ia ketahui juga, kalau nanti Ang Cit Kong sembuh dari lukanya, pembalasan tak akan ada habisnya, maka itu, sudah kepalang, ia mengambil sikap: "Berkasihan tidak menurunkan tangan, menurunkan tangan tidak berkasihan". Ia lantas berlompat maju, dengan kakinya ia menjejak punggung orang!
Kwee Ceng baru saja naik dari perahunya ketika ia menyaksikan keganasan See Tok terhadap gurunya, tidak sempat ia maju lebih jauh untuk menolong, karena tidak ada jalan lain, ia menyerang dengan kedua tangannya dengan pukulan "Sepasang naga mengambil air". Ia menyerang ke punggung bagian pinggang.
Auwyang Hong tahu si bocah lihay, ia tidak memandang hebat. Ia gerakkan tangan kiri menangkis, dengan tangan kanannya ia membalas menyerang. Di sebelah itu, kakinya terus menginjak Ang Cit Kong!
Kwee Ceng kaget hingga ia melupakan segalanya, ia berlompat menubruk Auwyang Hong, batang lehernya ia rangkul. Tapi justru ini, ia membuat dirinya kosong, maka enak saja rusuknya kena dihajar si Bisa dari Barat.
Dalam keadaan rapat seperti ini, tidak leluasa Auwyang Hong menyerang, tetapi dasar ia lihay, serangan itu hebat, hanya syukur untuk Kwee Ceng, tenaga dalamnya telah mempunyai dasar, maka ia tidak segera roboh, dia cuma merasakan sakit sekali dan separuh tubuhnya hampir kaku. Karena ini dia menjadi nekat, ia perkeras rangkulannya, mencekik leher orang.
Oleh karena perlawanan Kwee Ceng ini, tendangan Auwyang Hong kepada Ang Cit Kong menjadi batal, sebab untuk membela diri, ia mesti segera menarik pulang kakinya itu. Tapi ia tidak sanggup menggunakan kuntauw Kodok atau Ular Emas, mereka terlalu rapat, maka ia cuma dapat menyerang muka orang. Kwee Ceng berkelit setiap kali ia dipukul. Untuk menangkis, ia tidak mampu, lantaran kedua tangannya lagi digunakan dengan sekuat tenaganya. Ia bisa berkelit di atas kepalanya ¬tidak bisa ia dibawah rusuknya. Maka lagi-lagi See Tok menyikut.
Kwee Ceng berkelit ke kanan, dengan begitu ia terpaksa melepaskan tangan kirinya, tetapi ia tidak berhenti berdaya, dengan lekas ia menggunakan ilmu gulat bangsa Mongolia. Tangannya ditelesupkan antara iga dan lengan musuh, diulur untuk membangkol batang leher.
Auwyang Hong lihay tetapi sekarang ia merasakan sakit. Ia mengerti si anak muda menggunakan tiou silat apa, hanya celakanya untuk dia, ia tidak mengerti caranya untuk menolong diri, dari itu ia cuma bisa menggunakan kepalan tangannya meninju ke belakang.
Melihat ini Kwee Ceng menjadi sangat girang. Segera ia melepaskan cekikannya, dengan tangan kanan, tangan ditelesupkan seperti tangan kiri taidi - kalau tadi di sebelah kiri, sekarang di sebelah kanan. Kembali ia membangko leher orang, berbareng dengan mana ia berseru mengerahkan tenaganya. Dengan menggunakan dua tangan berbareng, ia menjadi berbahaya sekali. Ini dia yang dinamakan tipu "Menjirat mematahkan gunung". Dalam halnya Auwyang Hong, dia terancam patah leher….
Cerdik sekali Auwyang Hong. Ia pun bertindak dengan sebat. Ia mengasih turun kepalanya, nelusup ke selangkangan si anak muda sembari berbuat begitu ia juga meninju dengan kepalan kiri. Ia tidak mau mengasih ketika orang sempat mengerahkan tenaganya.
Sebelum ia kena ditinju, Kwee Ceng telah menyambar tangan kiri si jago yang berbisa itu. Ia tetap merapatkan tubuhnya kepada tubuh musuh, ia mencoba terus menggunakan ilmu gulatnya. Ia menginsyafi, satu kali mereka renggang, ia bisa susah. Pula, dengan berkelahi rapat, ia dapat mencegah musuh mencelaki gurunya.
Oey Yong bingung sekali. Di satu pihak ia Ang Cit Kong rebah di pinggir perahu, separuh tubuhnya berada di luar perahu, di lain pihak terlihat Kwee Ceng lagi bergulat mati-matian terhadap Auwyang Hong, keduanya bergulingan, tubuh mereka sudah tererap api. Karena ini dengan pengayuh ia mengahajar Auwyang Kongcu. Walaupun dia telah terluka tangan kirinya, pemuda she Auwyang ini tetap kosen. Ia berkelit ke kiri, sambil berkelit, tangannya menyambar lengan si nona. Oey Yong berkelit sambil menekan perahu, hingga perahu itu menjadi miring.
Auwyang Kongcu tidak bisa berenang, miringnya perahu membikin tubuhnya terhuyung. Untuk menetapkan diri, ia batal menyerang terus kepada si nona. Menggunakan saat perahu miring itu, Oey Yong terjun ke air. Ia pandai berenang, ia tidak takut. Hanya dengan beberapa kali menggunakan tangannya, tubuhnya sudah nyelosor ke perahu besar. Perahu itu tinggal separuh, sekarang separuh tubuh itu sudah kelam separuhnya lagi. Dengan gampang si nona naik ke parhu besar itu. Di situ ada sebuah tempuling, ia sambar itu hendak membantu Kwee Ceng.
Auwyang Hong dan si anak muda masih berkutat bergulingan, bergantian di bawah dan di atas, kemudian karena ia lebih hilay, Auwyang Hong terus berada di sebelah atas. Dalam keadaan seperti itu, Kwee Ceng terus mengendalikan kedua tangan musuh, supaya musuh tidak dapat menyerang.
Adalah di saat itu, Oey Yong berlompat maju sambil menikam. Hebat Auwyang Hong. Ia mendapat tahu ada serangan di belakangnya, ia berkelit seraya mengerahkan tenaganya mengangkat tinggi tubuh Kwee Ceng, memakai si anak muda sebagai tameng. Oey Yong mengubah serangannya, kali ini kepala See Tok. Jago tua itu bisa berkelit, bahkan terus-terusan ia mengegos ke kiri dan ke kanan, menyingkir dari ujung tempuling.
Tiga kali oey Yong menikam dengan sia-sia, yang keempat kalinya, tempulingnya nancap di lantai perahu, hingga abunya mengepul naik mengenai matanya, ia kelilipan dan matanya mengeluarkan air. Ia mengucak matanya itu. Justru itu ia merasakan kakinya sakit, tubuhnya limbung, malah terus ia roboh. Sebab Auwyang Hong telah sapu kakinya selagi ia tidak melihat.
Si nona roboh terus menggulingkan diri, buat berlompat bangun. Karena robohnya itu, rambutnya kena kesambar api. Ia maju pula, untuk mengulangi serangannya. Atau mendadak Kwee Ceng berseru¬:
"Tolongi suhu dulu! Tolongi suhu dulu!"
Oey Yong mengerti tugasnya, ia lantas lari kepada Ang Cit Kong, ia tubruk tubuh orang, untuk dipeluk, setelah mana ia terjun ke air. Dengan menyeburkan diri, ia lantas merasakan tubuhnya adem, tak sepanas seperti tadi. Ia berenang sambil menggendong gurunya, ia menuju ke perahu kecil. Auwyang Kongcu berdiri di atas perahu kecil itu, sebelah tangannya mengangkat pengayuh.
"Lepaskan si pengemis tua! Cuma kau sendiri yang boleh naik!" demikian teriaknya dengan mengancam.
Sebelah tangan Oey Yong masih memegangi tempulingnya. "Baiklah, mari kita bertempur di dalam air!" ia pun berseru, menjawab ancaman itu. Ia menyambar pinggiran perahu, menggoyangnya.
Auwyang Kongcu kaget dan ketakutan melihat perahu tergoncang keras. Kalau perahu terbalik dan karam, celakalah dia.
"Jangan, jangann goncang!" ia berteriak-teriak seraya keras memegangi perahu. "Nanti perahu ini karam…"
Oey Yong tertawa. "Lekas tarik guruku naik!" ia menitah. "Hati-hati! Jikalau kau main gila, aku nanti lelapkan kau di dalam air selama tiga jam!"
Auwyang Kongcu tidak berdaya, terpaksa ia memegang bebokongnya Ang Cit Kong, mengangkatnya naik ke perahu.
"Nah, beginilah baru anak manis!" berkata Oey Yong tertawa.
Sebenarnya Oey Yong hendak kembali ke perahu besar, untuk menolong Kwee Ceng, atau mendadak ia mendengar satu suara nyaring sekali, lalu melihat gelombang besar dan tinggi medampar ke arahnya. Ia lantas memutar tubuhnya, habis itu ia berbalik pula, rambutnya di depan mukanya tersingkap ke belakang. Ia berdiri tercengang kapan ia sudah memandang ke depan.
Gelombang berputar seperti usar-usaran air, di situ tidak terlihat lagi perahu besar yang tinggal separuh tadi, dengan begitu, lenyap juga Kwee Ceng dan Auwyang Hong yang tengah bergulat.
Oey Yong baru sadar ketika air asin menyambar masuk ke dalam mulutnya. Tadinya ia seperti lupa akan dirinya sebab hatinya mencelos mendapatkan pemuda pujaannya lenyap. Ia lantas melihat ke sekelilingnya. Di situ ia tidak nampak apapun kecuali perahu kecil. Rupanya semua sudah ditelan sang laut.
Oey Yong selulup, ia berenang ke arah air berputar itu. Ia tidak jeri untuk tenaga besar dari usar-usaran air itu, ia dapat mempertahankan diri dari sedotan yang keras. Di situ ia selulup ubak-ubakan, mencari Kwee Ceng. Lama ia berputaran, Kwee Ceng tidak nampak, Auwyang Hong pun tidak ada. Maka maulah ia menduga, kedua orang itu telah kena terbawa perahu sampai di dasar laut............
Lama-lama lelah juga Oey Yong. Tapi ia masih belum putus asa, bahkan penasaran. Maka ia mencari terus. Ia sangat mengharap-harapkan nanti dapat menemukan si anak muda. Diam-diam ia mengharap bantuan Thian, mengasihani dia. Tapi masih sia-sia belaka usahanya itu. Saking letih, ia muncul ke muka air. Ia berenang ke perahu kecil. Didalam hatinya ia berjanji, sebentar ia akan menyelam lagi, untuk mencari terlebih jauh.
Auwyang Kongcu melihat si nona menghampiri, ia mengulur tangannya membantu naik ke perahu. Ia pun sangat berkhawatir atas lenyapnya pamannya itu.
"Apakah kau melihat pamanku? Apakah kau melihat pamanku?" demikian pertanyaannya berulang-ulang.
Oey Yong tidak menyahut, bahkan ia tak sadarkan diri sebab begitu lekas juga ia merasai matanya gelap.
Beberapa lama si nona pingsan, ia tidak ketahu. Ketika ia siuman, ia merasakan tubuhnya enteng, bagaikan melayang-layang di antara mega, kupingnya pun mendengar suara angin mendesir-desir. Lekas¬ ia memusatkan pikirannya, kemudian ia menggerakkan tubuhnya, untuk berduduk. Maka sekarang bisalah ia melihat ke sekitarnya. Ia masih berada di atas perahu kecil, perahu itu hanyut mengikuti aliran gelombang. Auwyang Kongcu tidak mengerti urusan mengemudikan perahu, maka ia membiarkan perahunya berlayar sendirinya…. Pula, entah berapa jauh sudah terpisahnya perahu dengan tempat karamnya perahu besar.
Bukan main berduka dan sakitnya hati Oey Yong. Ia percaya ia tidak bakal bertemu pula dengan Kwee Ceng. Mendadak saja ia pingsan lagi. Auwyang Kongcu duduk diam dengan sebelah tangannya keras-keras memegangi perahu, yang terombang-ambing itu.
Lewat sekian lama, Oey Yong sadar dengan sendirinya. Ia benar-benar putus asa, hingga tawar untuk hidup lebih lama lagi. Ketika ia menoleh kepada Auwyang Kongcu timbullah rasa muak dan bencinya. Pemuda itu lagi memperlihatkan roman ketakutan.
"Mana bisa aku mati bersama-sama binatang ini?" pikir si nona sesaat kemudian. Maka ia segera berlompat bangun.
"Lekas lompat ke laut!" ia membentak bengis.
Auwyang Kongcu kaget bukan main. "Apa?!" dia menanya.
"Lompat ke laut!" sahut Oey Yong dengan bentakannya. "Kau tidak mau lompat? Baik! Akan aku balikkan perahu ini!"
Lantas si nona lompat ke kanannya, maka kontan perahu itu miring ke kanan, dari situ ia lompat pula ke kiri, membuatnya perahu turut miring ke kiri, bahkan miringnya terlebih hebat.
Auwyang Kongcu ketakutan, ia menjerit keras. Senang Oey Yong mendengar teriakan itu, sengaja ia menggoncang pula perahu itu lagi. Dalam takutnya, Auwyang Kongcu masih dapat berpikir. Biar bagaimana, ia pun seorang lihay. Terpaksa ia mengambil tindakan. Setiap kali si nona lompat ke kanan, ia lompat ke kiri, demikian sebaliknya. Ia senantiasa mengimbangi nona itu.
Oey Yong kewalahan, tidak dapat ia menggoda terlebih jauh. "Baik!" katanya kemudian. "Hendak aku membocorkan perahu, ingin aku lihat, kau bisa bikin apa!" Ia menghunus pisau belatinya, ia lompat ke tengah¬ perahu.
Justru itu, Oey Yong melihat Ang Cit Kong lagi rebah tengkurup tanpa bergerak. Ia menjadi kaget sekali. Baru sekarang ia ingat pula akan gurunya. Segera ia mendekati, memasang kupingnya. Ia mendengar suara napas perlahan, hatinya menjadi sedikit lega. Ia lantas mengangkat bangun tubuh orang, untuk dibalik, hingga ia dapat melihat wajah gurunya.
Muka Cit Kong sangat pucat, dadanya bergerak turun naik perlahan-lahan, jantungnya berdenyutan perlahan juga, tanda dari kelemahannya. Keras keinginan si nona untuk menolong gurunya, ia tak pedulikan lagi Auwyang Kongcu. Ia lantas membukai baju gurunya, memeriksa lukanya. Tiba-tiba saja perahu itu bergerak keras.
"Tepian! Tepian!" Auwyang Kongcu pun berseru-seru kegirangan.
Oey Yong segera menoleh. Ia melihat pepohonan yang lebat. Perahunya sudah berhenti bergerak. Perahu kandas di tepian pulau yang berpasir. Masih jauh ke darat, tetapi air ke arah sana dangkal sekali, dasarnya tampak. Mungkin dalamnya tak sebatas dada.
Dalam girangnya Auwyang Kongcu lompat turun dari perahu. Ia lantas jalan beberapa tindak. Tiba-tiba ia berpaling kepada Oey Yong, terus ia berjalan kembali.
Oey Yong melihat pada tulang belikat kanan dari gurunya ada tapak tangan yang hitam, tapak itu dalam membekas di daging, seperti bekas dibakar. Di sekitar itu ada tanda hangus. Ia kaget sekali.
"Kenapa sehebat ini tangannya See Tok?" ia menanya di dalam hatinya.
Ia melihat punggung sebelah kanan dan leher, di sana ada dua lubang kecil sekali, hampir tak terlihat. Ia meraba dengan jari tangannya, ia merasakan sakit seperti terkena hawa panas, lekas-lekas ia menarik pulang tangannya.
"Suhu, bagaimana?" ia menanya.
Ang Cit Kong bersuara, "Hm!" perlahan, ia tidak menyahut.
"Eh, mari keluarkan obat pemunahmu!" Oey Yong tegur Auwyang Kongcu.
Pemuda itu menggerakkan kedua tangannya, tanda putus asa. "Semua obat ada di tangan pamanku," sahutnya.
"Aku tidak percaya!" berkata si noa.
"Kau geledah saja!" Auwyang Kongcu menyerah. Ia buka bajunya, ia keluarkan semua isi sakunya.
Oey Yong mengawasi dengan melongo. "Nah, mari bantu aku mengangkat guruku ke darat!" ia berkata kemudian.
Auwyang Kongcu menurut. Maka Ang Cit Kong lantas dikasih bangun, untuk dapat didukung. Kedua muda-¬mudi itu memasang pundak masing-masing, menahan si orang tua. Kemudian Oey Yong memegang tangan kiri Auwyang Kongcu untuk tangan mereka saling disilang, hingga si orang tua dapat duduk di tangan mereka yang terpalang melintang. Hati Oey Yong cemas sekali. Ia merasakan tubuh gurunya gemetar.
Auwyang Kongcu sebaliknya girang. Ia merasakan tangan yang halus dan empuk memegang erat-erat tangannya. Ini kejadian yang sekalipun di dalam mimpinya ia tidak berani mengharapkan. Maka ia amat menyesal cepat sekali mereka sudah tiba di darat.
Sambil berdongko dan membungkuk, Oey Yong menurunkan gurunya. "Lekas ambil papan perahu!" ia menitahkan Auwyang Kongcu. "Jaga jangan basah!"
Habis menurunkan Ang Cit Kong, Auwyang Kongcu membawa tangan ke bibirnya, ia berdiri menjublak. Itulah bagian tangan yang sejak tadi dipegang erat-erat oleh tangan yang halus dan empuk dari si nona. Karena itu, ia seperti tidak mendengar perkataan si nona. Syukur untuknya, Oey Yong tidak menyangka jelek terhadapnya, cuma sambil mendelik si nona mengulang perintahnya.
Dengan cepat Auwyang Kongcu mengambil papan. Waktu itu Oey Yong telah tengkurapkan tubuh gurunya di rumput yang empuk, ia mencoba meringankan sakitnya. Maka diam-diam pemuda ini dapat lari ke tanjakan yang tinggi. Sembari lari ia menanya dirinya sendiri: "Tempat apakah ini?" Ketika ia sudah melihat ke sekelilingnya, ia kaget berbareng girang.
Itulah sebuah pulau kecil, yang lebat dengan pepohonan, hingga ia tidak tahu, pulau itu ada penghuninya atau tidak. Ia kaget ketika mengingat, kalau pulau itu kosong, darimana mereka dapat makanan dan pakaian, dimana mereka bisa bernaung? Ia girang ketika ingat bahwa ia berada berduaan sama si nona manis, sedang si pengemis tua, ia percaya sukar dapat ditolong lagi.
"Sama si cantik aku berdiam di sini, pulau kosong pun bagaikan sorga!" pikirnya. "Kalau toh aku mesti mati dalam sehari atau semalam, aku puas…"
Seking girangnya, ia berjingkrakan seperti orang menari. Hanya ia kaget tatkala angkat tangan kanannya. Baru sekarang ia ingat lengannya itu telah patah. Karena ini lekas-lekas ia menggunakan lengan kirinya mematahkan dua cabang pohon, ia pun merobek ujung bajunya. Maka dilain saat ia sudah dapat menggantung tangannya itu.
Hati Oey Yong tidak tentram tetapi ia menyilangkan kedua tangannya, ia menelad Cit Kong untuk menjura ke arah utara. Pak Kay menghela napas panjang, dari wajahnya nampak letih sekali, tetapi ia bersemangat, tanda dari riang hatinya.
Oey Yong mempepayang, membantu gurunya merebahkan diri. "Sekarang kau menjadi Pangcu, dengan begitu aku menjadi tianglo," kata Cit Kong. "Tianglo masih dihormati oleh Pangcu tetapi dalam urusan besar dan penting, tianglo tunduk kepada titah pangcu. Ini aturan yang menjadi pesan Couwsu-ya, yang sekali-sekali tak dapat disangkal. Asal tongkat Lek-tiok-thung ini berada di tanganmu, begitu kau memberikan titah maka semua pengemis di negeri kita ini mesti menerima dan menurut segala titah."
Oey Yong masgul berbareng gugup, ia bingung. Apa artinya guru ini dengan tiba-tiba mewariskan kedudukan raja pengemis padanya? Mana ada alasannya? Tapi gurunya tengah terluka parah, ia pun sudah memberikan janjinya, tidak dapat ia menampik. Penampikan berarti menambah susah hati gurunya. Ia juga memikir: "Kita sekarang berada di pulau kosong… di bulan dan tahun kapan kita dapat kembali ke tanah Tionggoan? Laginya, engko Ceng sudah meninggal dunia, aku tidak ingin hidup lebih lama… Sekarang suhu menyuruh aku mengepalai pengemis dari seluruh negeri…" Maka ia menjadi berdiam saja.
Ang Cit Kong berkata pula; "Tahun ini tanggal limabelas bulan tujuh adalah tanggal rapat besar setahun sekali yang bakal diadakan di kota Gakyang di tepi telaga Tong Teng Ouw, di sana akan berkumpul semua kepala pengemis dari pelbagai tempat. Rapat itu diutamakan untuk semua pemimpin mendengar aku menunjuk bakal gnatiku sebagai Pangcu, siapa sangka sekarang aku terbengkalai di sini. Kau telah menjadi penggantiku, kau dapat pergi ke sana memegang pemimpin. Dengan kau mencekal dan membawa tongkat ini, semua saudara akan segera mengerti maksudku. Di dalam urusan Kay Pang, keempat tianglo lainnya akan membantu kamu, maka tak usahlah aku memesan banyak. Hanya aku menyesal sekali, tanpa sebab dan secara begini mendadak aku memaksakan kau, satu nona yang manis, merendahkan diri masuk ke dalam kalangan bangsa pengemis…."
Walaupun ia mengucap demikian, Pak Kay toh tertawa girang. Tapi, karena tertawanya itu, ia merasakan lukanya nyeri, setelah meringis, ia batuk-batuk tak henti-hentinya. Oey Yong mengusap-usap punggung gurunya.
"Aku si pengemis tua benar-benar sudah tak punya guna," kata Cit Kong setelah berhenti batuk-batuk. "Karena aku tidak tahu kapan bakal berpulang ke lain dunia, mesti aku lekas-lekas menurunkan ilmu silat Pa-kauw-pang kepadamu…!"
Sudah puluhan macam ilmu silat didapat Oey Yong dari gurunya ini, belum pernah ia mendengar Pa-kauw¬pang, yang berarti ilmu silat pentungan menghajar anjing. Ia memikir-mikir, kenapa tak enak sekali disebutnya nama ilmu silat itu - mementung anjing….
"Bagaimana galaknya seekor anjing, dia dapat dihajar mampus dengan sebuah kepalan," ia berpikir pula, "Maka itu, untuk apa mesti mempelajari pula ilmu silat menemplang anjing? Tapi suhu bicara dengan sikap begini sungguh-sungguh, baiklah aku menurut…" Maka mengangguklah ia, bersedia menerima warisan ilmu silat yang ia anggap aneh itu.
Ang Cit Kong mengawasi muridnya, ia tertawa. "Meskipun kau menjadi Pangcu, kau tak usah mengubah macam atau dandanmu, tak usah mengubah tabiat atau sifatmu," berkata ia menjelaskan. "Kau doyan guyon bergurau, tetap kau boleh berpesta pora dengan kenakalanmu itu! Kami bangsa pengemis, justru paling kemaruk sama kemerdekaan dan kebebasan, sebab tanpa kebebasan, tak dapat kami menjadi pengemis. Kalau tidak demikian, kenapa kita tidak menjadi saja pembesar negeri atau seoarng hartawan? Nampaknya kau tidak puas dengan Pa-kauw-pang, benarkah? Kau bilanglah terus terang!"
Oey Yong tersenyum. "Muridmu sebenarnya memikirkan berapa ketangguhannya seekor anjing.." ia menyahut. "Muridmu memikir untuk apa mesti diciptakan semacam ilmu silat.."
"Sekerang kau telah menjadi kepala pengemis, kau harus memikir sebagai pengemis juga!" katanya. "Tapi pakaianmu indah, romanmu mentereng sebagai nona hartawan, kalau ada anjing melihat, mesti anjing itu mengangguk-angguk dan menggoyang-goyang ekor terhadapmu. Dengan begitu, apa perlunya menghajar anjing itu? Tetapi kalau si pengemis tulen bertemu sama anjing, hebatlah akibatnya, sungguh menyedihkan! Bukankah pepatah kuno ada membilang, 'Seorang miskin melarat tanpa pentungan dia diperhina oleh anjing'? Kau belum pernah menjadi seorang miskin, kau tidak mengerti kesengsaraannya si miskin."
Mendengar itu Oey Yong tertawa seraya bertepuk tangan. "Suhu, kali ini kau keliru!" katanya gembira.
Cit Kong heran, ia melengak. "Kenapa keliru?" tanyanya.
"Ketika pada bulan ketiga yang baru lalu ini aku minggat dari Tho Hoa To dan aku pergi ke Utara, di sana aku telah menyamar sebagai pengemis!" sahut si nona. "Disepanjang jalan ada saja anjing yang menggonggong dan mengikutiku, hendak menggigit, selalu aku hajar dia dengan dupakan, lantas dia lari sambil menggoyang-goyang ekornya!"
"Ya, itu benar," berkata Ang Cit Kong. "Hanya kalau anjing sangat galak hingga sukar ditendang, tidak dapat tidak, tongkat harus dipakai untuk mementungnya!"
Si nona menjadi berpikir. "Di mana ada anjing demikian galak dan hebat?" Tapi hanya sejenak, lantas ia insyaf. Maka ia menambahkan: "Benar! Manusia jahat pun sama dengan anjing galak!"
Cit Kong tersenyum. "Kau sungguh cerdas!" pujinya. "Jikalau…." Ia sebenarnya hendak menyebut Kwee Ceng pasti tidak dapat menebak, tetapi ia berduka, ia batal melanjutkannya. Ia bahkan terus berdiam.
Oey Yong dapat menerka hati orang, ia berpura-pura tidak tahu. ia pun sangat berduka.
"Pa-kauw-pang terdiri dari tigapuluh enam jurus," kemudian Cit Kong berkata pula, memberi penjelasan. "Itu ilmu silat yang diciptakan sendiri oleh Couwsa¬ya. Sampai sebegitu jauh, menurut aturan dan kebiasaan, ilmu silat ini cuma diajari dan diwariskan kepada Pangcu, tidak kepada orang yang kedua. Katanya dulu Pangcu yang nomor sebelas, waktu ia berada di gunung Pak Kouw San, ia telah dikepung banyak orang kosen, dengan sepasang kepalannya, ia telah menghajar mati lima di antaranya. Ketika itu, ia menggunakan ilmu silat Pa-kauw-pang."
Oey Yong tertarik, tetapi ia menghela napas. "Suhu," tanyanya, "Ketika di perahu besar itu kau menempur See Tok Auwyang Hong, kenapa kau tidak menggunakan ilmu silatmu?"
"Menggunakan ilmu silat ini adalah urusan besar dari Partai kita," menyahut sang guru. "Sekalipun aku tidak menggunakan, See Tok tak dapat mengalahkan aku! Siapa sangka dia sangat hina dina, aku sudah tolong, dia justru membokong menyerang punggungku…"
Diwaktu mengucap demikian, wajah Pak Kay muram. Oey Yong dapat menduga kemendongkolan dan kemasgulan gurunya, hendak ia menyimpang pembicaraan.
"Suhu," ia berkata, "Sekarang kau ajarkanlah ilmu silat tongkat itu kepada Yong-jie, sesudah Yong-jie bisa, nanti Yong-jie pakai untuk membunuh See Tok guna membalaskan sakit hati suhu!"
Cit Kong tertawa tawar. Ia menumput sebatang cabang kering, setelah mana mulutnya membaca, tangannya digerak-gerakkan. Ia tetap rebah tetapi dapat menjalankan tigapuluh enam jurus dari Pa-kauw¬pang itu. Yang mana kurang jelas, ia menambahkan dengan keterangannya. Dengan cara itu ia menurunkan ilmu silat mementung anjing itu. Ia tahu Oey Yonng cerdas sekali, ia mengajari dengan sungguh-sungguh. Dilain pihak ia khawatir umurnya tidak panjang lagi…..
Nama ilmu silat pentungan itu tak sedap didengarnya, tetapi ilmu silatnya sendiri lihay, banyak perubahannya, kalau tidak, tidak nanti ilmu itu menjadi ilmu istimewa dalam Kay Pang dan diwariskan secara turun temurun. Maka itu, mesti Oey Yong cerdas luar biasa dan ia dapat menjalankan, tak semuanya segera ia dapat menangkap maksudnya. Habis memberi pelajaran, Cit Kong menghela napas, ia bermandikan keringat.
"Aku mengajari kau terlalu singkat," ia berkata, "Itu tidak bagus. Sebenarnya, tidak dapat aku mengajari lebih jauh…" Mendadak ia menjerit, "Aduh!" dan tubuhnya roboh rebah.
Oey Yong kaget, ia berlompat menubruk. "Suhu!" ia memanggil. Ia pun mengasih bangun.
Tangan dan kaki Cit Kong dingin, napasnya jalan sangat perlahan. Nampaknya ia tidak dapat ditolong pula…
Selama beberapa hari ini hebat penderitaan si nona, maka ia mendekam di tubuh gurunya, ia menangis tanpa dapat mengeluarkan suara. Ia masih dapat mendengar denyutan jantung gurunya. Lantas ia menggunakan kedua tangannya, memegang kedua bagian rusuk, untuk membantu sang guru bernapas. Saat itu saat genting untuk gurunya, ia mendengar satu suara perlahan di belakangnya. lantas sebuah tangan diangsurkan ke lengannya.
Dalam kedukaan dan kekhawatiran, Oey Yong cuma ingat menolong gurunya, maka itu tahu ia kapannya Auwyang Kongcu masuk ke dalam gua, hingga ia seperti lupa yang di belakangnya ada seekor anjing yang galak.
"Berat sakitnya suhu, lekas kau pikirkan daya untuk menolong," ia berkata pada pemuda itu. Ia berpaling, mengawasi dengan air mata berlinang-linang.
Melihat roman orang yang sangat menyedihakan itu, Auwyang Kongcu merasa kasihan. Ia berjongkok untuk melihat Ang Cit Kong, kulit mukanya pucat dan kedua matanya terbalik. Melihat keadaan orang, ia justru menjadi girang sekali. Ia berdampingan sama si nona, ia mendapat cium bau harum dari tubuh si nona, sedang mukanya kena rambut orang. Betapa menyenangkan?
Kembali pemuda ini tidak dapat mengendalikan diri. Kalau tadi ia cuma menyentuh lengan si nona, sekarang ia mengulur tangan kirinya merangkul pinggang orang. Oey Yong terkejut, ia menyikut dengan meninju, si anak muda berkelit, ia berlompat bangun. Auwyang Kongcu jeri kepada Ang Cit Kong, sekarang ia mendapatkan orang tengah rebah sebagai mayat, hatinya menjadi besar. Kalau tadinya ia takut menggunakan kekerasan terhadap Oey Yong, sekarang ia berani. Hendak ia memaksa. Maka ia berlompat ke mulut gua, untuk menghalang. Ia tertawa.
"Adik yang baik," katanya manis, "Terhadap orang lain aku tak biasanya menggunakan kekerasan, tetapi kau begini cantik manis, kau botoh sekali, tidak dapat aku menguati hati lagi. Marilah, adik, kau mengasihkan aku satu cium…" Sembari mengucap demikian, pemuda itu mementang tangan kirinya, ia maju setindak demi setindak.
Hatinya Oey Yong bergoncang keras. "Ancaman bencana atas diriku hari ini berlipat sepuluh kali daripada ancamana bahaya semasa aku berada di istana Chao Wang," berpikir si nona ini. "Kalau tidak dapat membinasakan dia, aku mesti membunuh diri. Hanya, mana aku puas…?" Hanya dengan satu kali menggerakkan tangan, Oey Yong sudah siap dengan tempuling dan jarumnya.
Auwyang Kongcu lantas tersenyum. Ia lantas meloloskan bajunya, untuk dipakai sebagai cambuk lemas. Kembali ia maju dua tindak.
Oey Yong berdiri diam, matanya mengawasi tajam. Ia menanti orang mengangkat kaki. Belum lagi kaki itu diturunkan ke tanah, tiba-tiba ia melompat ke kiri. Menampak itu, Auwyang Kongcu meneruskan berlompat ke kiri juga, untuk merintangi si nona. Tapi justru itu Oey Yong mengayunkan tangannya. Lihay si anak muda, dia menggerakkan sabuk bajunya, menangkis serangan jarum. Tapi si nona pun lihay, ia memang menggunakan siasat, maka tengah pemuda itu membela diri, ia berlompat, melesat ke luar gua!
Auwyang Kongcu benar-benar lihay, walaupun dia repot, toh dapat berlaku gesit luar biasa. Dia berlompat untuk menyusul, maka itu tengah lari, Oey Yong mendengar desiran angin di belakangnya. Itulah desiran pukulan ke arah punggung. Ia tidak takut, sebaliknya, ia menjadi girang. Bukankah ia memakai baju lapis berduri? Bukankah ia pun sudah nekat? Ia tidak takut mati, asal ia dapat melukai musuh. Maka itu, ia tidak mau menangkis, hanya memutar tubuhnya untuk membarengi menyerang!
Auwyang Kongcu tidak berniat membinasakan si nona, kalau ia menyerang, hanya mengancam, ia hendak menggoda saja, maka ketika serangan itu datang, ia batal menyerang terus, ia menangkis serangan itu, lalu ia melompat lebih jauh, untuk mendahului tiba di mulut gua.
Oey Yong berkelahi seperti kalap. Ia menyerang tanpa mengingat pembelaan diri. Dengan begini, kegagahannya seperti tambah satu kali lipat.
Adalah maksud Auwyang Kongcu membuat si nona itu letih, tetapi sekarang ia mesti menghadapi serangan bertubi-tubi, terpaksa ia mesti melayani juga. Di dalam keadaan seperti itu, walaupun ia lebih kosen, toh kewalahan juga, kesatu ia memang tidak berniat mengambil nyawa si noa, kedua ia mesti berkelahi dengan sebelah tangan, sedang tangan yang lain lagi sakit. Pertempuran telah berlangsung kira-kira enampuluh jurus ketika mendadak Oey Yong menubruk, sambil menubruk, ia menimpuk dengan jarumnya.
Auwyang Kongcu repot menangkis jarum, untuk itu ia mesti mengebas dengan sabuk bajunya. Disamping itu, hebat tubrukkan Oey Yong, yang menikam ke arah tangan kanannya yang sakit itu. Hendak ia menangkis pula dengan tangan kirinya tetapi sudah tidak keburu, ujung tempuling telah mengenai lukanya.
Tapi juga Oey Yong tidak dapat bergirang karena hasil tikamannya. Baru ia menikam merasakan tangannya kesemutan, terus senjatanya terlepas jatuh ke tanah. Sebab di luar sangkaannya, walaupun dia kena ditikam, Auwyang Kongcu mengubah tangkisannya menjadi totokan kepada lengan nona itu dan tepat totokannya itu. Si nona kaget, ia berlari terus. Ia lari sembari membungkuk.
Auwyang Kongcu tidak hendak melepaskan bakal mangsanya ini. Ia berlompat dengan pesat, ia juga membungkuk, tangan kirinya dilonjorkan ke depan, untuk menotok kaki orang, yang lagi diangkat untuk berlari. Ia berhasil, dua kali ia dapat menotok jitu, mulanya di jalan darah koanciong-hiat di kaki kiri si nona, kemudian di jalan darah tiongtouw-hiat di kaki kanan. Maka tak ayal lagi, baru bertindak dua kali, nona itu sudah lantas terguling roboh!
Sekali lagi Auwyang Kongcu berlompat, bahkan dia mendahului, untuk membeber bajunya, hingga si nona terjatuh di atas hamparan baju itu. Pemuda itu pun menggoda, sembari tertawa ia berkata:
"Ah, jangan sampai kau merasa nyeri!"
Oey Yong mendapat pelajaran langsung dari ayahnya, Auwyang Kongcu mewariskan kepandaian pamannya, yang menyayang ia sebagai anak sendiri, maka itu mereka sama-sama mempunyai kepandaian yang lihay. Oey Yok Su gagah, begitu juga dengan Auwyang Hong, bahkan mereka berdua ini berimbang. Dengan demikian, pemuda dan pemudi ini seharusnya sama kosennya juga. Tapi toh Oey Yong kalah! Kenapa? Waktu itu ada terselip selisih usia dan waktu latihan. Oey Yong baru berumur limabelas tahun, Auwyang Kongcu sudah lebih dari tigapuluh tahun, maka itu, perbedaan waktu belajar mereka adalah kira-kira duapuluh tahun. Benar Oey Yong mendapat pelajaran juga dari Ang Cit Kong tetapi belum lama dan latihannya belum sempurna. Karenanya, walaupun si pemuda terluka tangannya, ia tetap lebih unggul.
Oey Yong kaget tetapi pikirannya tidak kacau. Begitu ia jatuh, ia berbalik sambil menimpuk dengan jarumnya. Kemudian ia gerakkan tubuhnya untuk berlompat bangun. Tidak beruntung untuknya, kedua kakinya tidak mau menurut perintah, maka tidak dapat ia berlompat bangun untuk berlari. Ia baru bergerak sedikit ia terguling pula.
Ketika itu Auwyang Kongcu mengulur sebelah tangan dengan maksud mengasih bangun. Dalam murkanya, Oey Yong meninju dengan tangan kirinya. Tapi si anak muda dapat melihat serangan itu, dengan leluasa menyambut dengan tangan kirinya, dengan totokan, maka matilah tangan kiri si nona, seperti tangan kanannya yang ditotok juga, hingga kaki tangannya tak dapat bergerak semua. Ia mirip orang yang dibelenggu.
Bukan main panasnya hati nona ini, ia sangat menyesal yang barusan ia tidak membunuh diri saja, hingga sekarang jadi kena tertawan. Ia ada begitu murka dan mendongkol. Mendadak ia merasakan matanya gelap dan kepalanya pusing, seketika itu juga ia rebah tak sadarkan dirinya.
"Jangan takut, jangan takut," berkata Auwyang Kongcu sambil tertawa, suaranya halus. Ia bertindak seraya mengulur tangan, berniat memondong nona itu. Tetapi mendadak
"Kau mau hidup atau mati?!" demikian satu suara keras dan kejam, suara dingin yang disusul tertawa ejekan.
Pemuda itu terperanjat, dengan cepat ia menoleh. Betapa kagetnya, melihat Ang Cit Kong berdiri di mulut gua, tangannya memegang tongkat, matanya melirik tajam. Disaat itu pada otaknya berkelebat penuturan pamannya hal Ong Tiong Yang berpura-pura mati untuk mengalahkan lawannya.
"Hai, kiranya si pengemis tua ini berpura-pura mampus!" pikirnya. "Ah, habislah aku hari ini!" Ia ketahui baik sekali kegagahan Ang Cit Kong, ia putus asa. Tanpa berpikir lagi, ia menekuk kedua kakinya sambil berlutut ia berkata: "Aku cuma bermain-¬main saja sama adik Oey, tidak ada niatku untuk berbuat jahat terhadapnya…."
"Hm!" Pak Kay mengasih dengar suara bengis. "Bangsat bau, masih kau tidak hendak menotok bebas jalan darahnya? Apakah aku si orang tua harus turun tangan?"
Auwyang Kongcu jeri. "Ya, ya," ia menyahut seraya terus menotok kaki tangannya si nona.
"Satu kali lagi kau menginjak gua ini, jangan kau sesalkan aku!" Ang Cit Kong mengancam. "Lekas pergi!" Sembari berkata begitu, jago tua itu bertindak ke samping.
Keponakan See Tok bagaikan menerima putusan pengampunan, cepat-cepat ia ngeloyor pergi.
Oey Yong tak tahu apa yang sudah terjadi, ketika ia sadar, ia sadar dengan perlahan-lahan. Ia membuka kedua matanya seraya merasa bagaikan tengah bermimpi. Ang Cit kong tidak dapat berdiri lama-lama, ia roboh dengan sendirinya. Melihat gurunya jatuh, Oey Yong kaget. Ia lupa pada tangan atau kakinya bekas ditotok, ia menekan tanah untuk berlompat bangun, menghampiri gurunya, segera ia pegangi untuk dikasih bangun. Ia melihat mulut gurunya berlumuran darah, sebab ternyata tiga buah giginya sudah copot bekas kebentur tanah. Ia menjadi sangat berduka.
"Suhu!" ia memanggil.
Ang Cit Kong sadar, ia pegang ketiga buah giginya itu, terus tertawa. "Gigiku, gigiku!" katanya. "Kau tidak mensia-siakan aku! Kau telah membuat aku si pengemis tua dapat mencicip segala macam barang hidangan paling lezat dan sedap di kolong langit ini! Sekarang aku si pengemis sudah sampai pada usiaku, kau telah mendahului meninggalkan aku…!"
Memang hebat sekali lukanya Pak Kay kali ini, cuma saking kuat tubuhnya, ia tidak mati lantas di bawah tangan jahat dari Auwyang Hong. Celaka untuknya, ia tidak dapat obat untuk mengobati luka-lukanya, luka racun ular dan gempuran kuntauw Kodok yang dahsyat. Cit Kong melihat kedukaan muridnya.
"Selama napasku masih ada, jahanam itu tidak akan berani datang mengganggumu lagi," ia menghibur si nona.
Tapi Oey Yong memikir lain. "Kita berada di dalam gua, memang jahanam itu tidak berani masuk ke mari," demikian pikirnya. "Tetapi bagaimana dengan makan dan minum kita?"
Cit Kong pun sudah merasakan lapar. Ia melihat si nona tunduk saja. "Bukankah kau sedang memikirkan daya mencari makanan?" ia menanya. Oey Yong tidak menjawab, ia hanya mengangguk. "Mari kau pepayang aku ke pesisir untuk menjemur di matahari," menyuruh orang tua itu.
Oey Yong cerdik sekali, ia lantas mengerti maksud orang. "Bagus!" serunya kegirangan. Ia pun tertawa. "Kita menangkap ikan!"
Maka bukan lagi ia pepayang gurunya itu, ia menggendong, cuma jalannya perlahan-lahan. Hari ini cuaca terang berderang, angin meniup halus. Begitu berjodoh sinar matahari, Ang Cit Kong merasa segar, hingga semangatnya jadi terbangun. Ia pun melihat Auwyang Kongcu lagi berdiri di tempat jauh dari mereka, ketika pemuda itu mendapatkan mereka keluar dan mengawasi dirinya, dia bertindak pergi lebih jauh sedikit. Rupanya ia jeri. Dari tempat jauh ia terus mengawasi.
Cit Kong dan Oey Yong berduka, hati mereka berpikir: "Jahanam itu sangat cerdas, lama-lama pasti dia dapat mengetahui keadaan kita yang tidak berdaya…" Karena itu, mereka pun membawa sikap tenang.
Auwyang Kongcu pun agaknya lega melihat ia tidak dihampiri. Oey Yong sudah lantas bekerja. Lebih dulu ia pernahkan Ang Cit Kong, supaya gurunya dapat duduk sambil menyender pada sebuah batu besar, kemudian ia mencari cabang pohon yang panjang untuk dijadikan joran. Talinya ia mencari babakan pohon, ia menekuk sebatang jarum hingga ujungnya bengkok. Sebagai umpan, ia mencari udang di tepian. Maka tak lama kemudian, ia sudah mulai memancing.
Satu jam dipakai untuk memancing, akhirnya si nona memperoleh tiga ekor ikan, cukuplah untuk mereka berdua menangsal perut. Ikan itu dipanggang seperti biasa kaum pengemis memanggang ayam. Setelah beristirahat sebentar, Cit Kong mengajari Pak¬kauw-pang. Ia memberi petunjuk sambil duduk menyender terus cuma tangannya digerak-gerakkan. Tapi ini pun menolong banyak untuk si nona yang otaknya terang, hingga dia dapat mengerti lebih banyak.
Demikian mendekati sore, Oey Yong telah dapat menjalankan ilmu tongkat itu dengan baik, hingga tinggal berlatih terus untuk memahirkannya. Sesudah hilang letihnya, Oey Yong membuka baju luarnya, terus nyebur ke laut membersihkan tubuh. Ia berenang pergi datang hingga ia ingat suatu cerita dongeng jaman Tong katanya di dalam laut ada istana raja naga serta putrinya yang elok sekali.
"Mungkin engko Ceng telah pergi ke sana?" ia ngelamun.
Karena ini ia lantas menyelam. Tiba-tiba ia merasakan kakinya sakit, lekas-lekas ia menarik pulang. Ia mendapat kenyataan kakinya dijepit sesuatu. Ia tidak kaget, ia menduga kepada simpling atau kerang besar. Ia lantas membungkuk, untuk melihat. Baru sekarang ia terkejut. Kakinya dijempit simping yang besar sekali, yang beratnya mungkin duaratus kati. Sia-sia ia menarik kakinya, sia-sia ia mencoba memengkang membuka kedua batok simping itu. Bahkan kakinya dijepit semakin keras, sampai ia merasakan sakit sekali. Saking kerasnya ia berkutatan, dua kali ia kena menenggak air laut asin.
Tentu sekali nona ini menjadi sangat penasaran. Tidak ikhlas ia mati di tangan binatang laut, walaupun sebenarnya ia bersedia mati bersama gurunya andaikata tetap mereka tak berdaya untuk berlalu dari pulau kosong itu. Ia memikir akal. Ia mencoba memungut batu ketoki batok simping itu. Ini pun tidak memberi hasil. Batoknya simping telalu keras dan batunya terlalu kecil.
Sekali lagi ia menenggak air. Baru sekarang ia ingat suatu akal. Maka ia lepaskan batunya, sebagai gantinya ia meraup pasir, ia kasih masuk di sela-sela mulut simping. Nyata binatang laut itu takut sekali pasir, begitu dia merasakan pasir masuk ke dalam mulutnya, dia pentang mulutnya.
Begitu merasakan jepitan kendor, lekas Oey Yong menarik keras kakinya. Kali ini bebaslah ia, maka terus saja ia berenang untuk muncul di muka air. Paling dulu, ia membuang napas, untuk melegakan diri.
Cit kong di darat berkhawatir melihat si nona menyelam demikian lama, ia menduga muridnya menghadapi bahaya. Ia menyesal tidak dapat bergerak hingga tak bisa menolong. Ia hanya bisa mengawasi ke laut dengan jantung berdenyutan. Akhirnya muncul juga si nona, maka legalah hatinya guru ini, sampai ia bersorak.
Oey Yong tidak naik ke darat, sesudah mengulapkan tangan kepada gurunya itu, ia selulup pula. Ia telah mendapat satu pikiran. Ia pergi ke tempat tadi, tapi sekarang sudah bersiap. Ia turun di dekat simping itu tanpa si simping dapat mencakop dirinya. Nyata binatang itu nempel batoknya dengan batu karang, dia jadi tidak bisa berenang pergi.
Si nona mencoba menggempur karang itu, setelah berhasil, ia memegang simping dari bawah, terus ia bawa naik ke atas. Ia menampah seraya kakinya menjejak dasar laut, terus berenang ke tempat yang dangkal. Di sini simping itu tak berdaya lagi. Hanya saking beratnya binatang laut itu, tidak kuat Oey Yong mengangkat dibawa ke gua, maka ia mengambil saja batu besar ia pakai mennghajar batoknya. Hanya dengan beberapa kali hajaran, remuklah batok simping itu.
Puas hatinya si nona, yang kakinya sakit bekas dijepit. Bahkan malam itu bersama gurunya ia bisa menangsal perut secara memuaskan karena adanya daging simping yang lezat sekali.
Besok paginya, Ang Cit Kong merasai sakit pada tubuhnya berkurang. Ia mencoba memainkan napasnya, ia merasakan lega. Tanpa merasa ia berseru dengan girangnya.
Oey Yong terbangun untuk segera duduk. "Suhu, kenapa?" ia menanya, kaget.
"Setelah tidur semalaman, aku merasai lukaku mendingan," sahut sang guru. "Sakitnya tidak sehebat kemarin."
Oey Yong menjadi girang. "Mungkin ini disebabkan guru makan daging simping!" katanya.
Maka berlari-larilah ia keluar gua, ke tepi laut, untuk memotong sisa daging simping itu. Saking kegirangan, ia sampai lupa Auwyang Kongcu. Ia baru memotong dua keping tatkala ia melihat bayangan orang mendekati perlahan-lahan ke arahnya. Ia kaget tetapi ia mengerti ancaman bahaya. Baru sekarang ia ingat keponakannya See Tok itu. Diam-diam ia memungut batok simping, lalu dengan sekonyong-konyong menimpuk ke belakang, tubuhnya sendiri terus berlompat setombak lebih hingga ia berada di pinggiran air.
Auwyang Kongcu dapat berkelit. Dia tidak gusar, sebaliknya ia tertawa. Sekian lama pemuda ini tidak pergi jauh, terutama ia memperhatikan gerak-¬gerik Ang Cit Kong, hingga timbullah kecurigaannya bahwa raja pengemis itu tidak berdaya, tak dapat berjalan karena lukanya yang hebat. Meski begitu, ia tidak mempunyai nyali yang cukup besar untuk menyerbu ke dalam gua. Maka ia terus memasang mata.
Pagi itu ia melihat Oey Yong keluar sendirian, pergi ke pasir, ia mengikuti. Ia girang bukan main, ia anggap dikaruniai sesuatu yang baik sekali oleh Thian. Maka ia menghampiri si nona sambil berindap-indap. Hanya sayang, bayangannya telah menggagalkan maksudnya.
"Adik yang baik, jangan pergi!" ia berkata dengan manis. "Aku hendak bicara denganmu!"
"Orang tidak menggubrismu, apa perlunya kau menggerembengi orang?" si nona menanya. "Apakah kau tidak tahu malu?"
Melihat orang tidak gusar, senang hatinya Auwyang Kongcu. Ia jadi semakin berani. Ia mendekati pula dua tindak. Lagi-lagi ia tertawa.
"Semuanya dasar kau!" katanya. "Siapa suruh kau begini cantik dan manis, hingga kau membikin hati orang terbetot keras?"
Oey Yong tertawa. "Aku bilang tidak menggubrismu, tetap aku tidak mau memperdulikan!" katanya. "Percuma saja kau mengambil-ambil hatiku, membaiki padaku!"
Pemuda itu maju lagi satu tindak. "Ah, aku tidak percaya!" katanya, tertawa. "Hendak aku mencobanya!"
Tiba-tiba si nona memperlihatkan roman keren. "Satu tindak lagi kau maju, aku akan minta suhu menghajarmu!" ia mengancam.
"Sudahlah!" tertawa si anak muda, membelar. "Apakah si pengemis tua masih dapat berjalan? Apakah tidak baik jikalau aku menggendong dia?"
Oey Yong terkejut, ia mundur dua tindak. ia khawatir. Ia takut kalau pemuda ceriwis ini mengetahui gurunya sudah tidak berdaya.
Auwyang Kongcu tertawa pula. "Jikalau kau ingin terjun ke laut, nah terjunlah!" katanya. "Akan aku menunggu kau di darat! Marilah kita lihat, kau yang dapat berdiam lebih lama di dalam air atau aku yang di daratan."
"Baiklah!" si nona berseru. "Kau menghina aku, untuk selamanya aku tidak sudi bergaul denganmu!"
Nona ini lantas memutar tubuhnya, untuk lari, baru tiga tindak, ia roboh terguling seraya menjerit "Aduh!" karena kakinya kena menginjak batu dan terpeleset.
Keponakan Auwyang Hong benar-benar licin. Ia khawatir si nona menggunakan tipu untuk menyerangnya dengan jarum tatkala ia berlompat menubruk, maka sebelum maju ia membuka dulu baju luarnya, dipakai sebagai senjata pelindung diri. Ia bertindak perlahan-lahan.
"Jangan mendekat!" membentak si nona. Ia bangun, untuk bertindak pula, baru satu tindak, ia roboh kembali. Bahkan kali ini ia terguling hingga separuh tubuhnya rebah di air, ia bagaikan pingsan. Tubuhnya tidak bergerak lagi.
"Budak, kau sangat licik tidak nanti aku kasih diriku diperdayakan!" kata Auwyang Kongcu dalam hatinya. Ia berdiri seraya mengawasi.
Ada seketika sehirupan teh, masih si nona tidak berkutik, tubuhnya dari kepala sampai di dada masuk ke dalam air.
"Ah, dia benar-benar telah pingsan," pikir si kongcu kemudian. "Jikalau aku tidak tolongi dia, mungkin dia mati kelelap, sayang begini cantik dan manis…."
Ia lantas bertindak maju, memegang kaki orang. Ia terperanjat ketika sudah menarik, ia merasakan nona dingin sekali seperti membeku. Ia lekas-lekas membungkuk, untuk memeluk tubuh orang, niatnya untuk diangkat ke darat. Baru saja ia merangkul ketika kedua tangan si nona memeluk kedua kakinya seraya nona itu membentak,
"Turunlah kau!"
Dalam keadaan seperti itu, Auwyang Kongcu tidak berdaya lagi, maka terceburlah ia ke laut bersama¬-sama si nona, yang berseru sambil membetot membuang dirinya ke laut. Bukan kepalang kagetnya Auwyang Kongcu, hatinya terkesiap. Biarpun ia terlebih kosen daripada si nona, di dalam air, habislah dayanya. Ia menyesal walaupun sangat berhati-hati, masih kena diperdaya si nona yang cerdik. Maka pikirnya: "Habislah aku kali ini…"
Oey Yong yang telah berhasil dengan tipu dayanya, dengan hati sangat bernafsu ia menarik orang ke tengah, ke tempat yang lebih dalam. Percuma si anak muda mencoba berontak, ia kena teseret ke tengah. Ia telah dijambak pada kepalanya, kepala itu dibeleseki di dalam air.
Berulang-ulang pemuda itu menenggak air laut, mulanya masih terdengar suara gelogokan di tenggorokan, habis itu ia mati daya, cuma tangan dan kakinya yang menjambret-jambret dan menendang-nendang, rupanya untuk menjambret atau menendang si nona tetapi ia tidak berhasil. Sebab Oey Yong tahu diri, dia sudah menjauhkan dirinya.
Selang sesaat, Auwyang Kongcu merasakan kakinya menginjak tanah. Ia sudah minum banyak air tetapi ia belum pingsan, ia masih ingat akan dirinya. Dasar ia lihay, pikirannya tidak menjadi kacau. Selama di tengah air, karena tidak bisa berenang ia tidak dapat berbuat apa-apa, akan tetapi selekasnya merasa menginjak dasar laut, mendadak ia membungkuk, untuk memegang dasar laut itu, ia menahan napas. Ia berhasil mengerahkan tenaga dalamnya. Ia lantas menduga-duga yang mana arah darat, tetapi di dalam air, ia tidak dapat mengenali timur atau barat, selatan atau utara. Ia mencoba berjalan juga, tangannya mencekal sebuah batu besar. Ia bertindak cepat ke arah dasar laut yang tinggi, yang menanjak.
Oey Yong melepaskan cekalannya sesudah orang kena dilelapkan dan kelabakan tidak karuan, ia muncul di muka air, akan tetapi menanti sekian lama tidak melihat orang timbul, ia menjadi heran. Lekas-lekas ia selulup pula.
Ia dapat menentang matanya di dalam iar, dari itu ia dapat melihat orang sedang bertindak ke arah darat. Ia terperanjat saking heran dan kagumnya. Tak ayal lagi ia berenang, menyusul. Ia menggerakkan tangan dan kakinya tanpa bersuara, setelah datang dekat, ia menikam dengan tempulingnya.
Kebetulan Auwyang Kongcu lagi mempercepat tindakannya, ia lolos dari tikaman itu. Sementara itu, ia sudah tiba di tempat yang dangkal, ia dapat berdiri dengan kepala di luar air. Ia melepaskan pegangannya, ia membuka kedua matanya, dan menghela napas, melegakan hatinya.
Oey Yong pun menghela napas. Ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi terhadap anak muda itu, terpaksa ia selulup pergi.
Auwyang Kongcu merayap naik ke darat, ia merasakan kupingnya pengang dan matanya kabur, tetapi ia masih ingat untuk lekas rebah tengkurap di tanah, untuk mengundal ke luar air dari dalam perutnya. Habis itu ia merasakan lemah sekali, seperti baru sembuh dari semacam penyakit yang berat. Terus ia beristirahat. Tentu sekali, hatinya menjadi mendongkol dan panas, hingga muncullah niatnya yang kejam.
"Biar aku mampusi dulu si pengemis bangkotan!" demikian keputusannya. "Hendak aku lihat, budak itu nanti menurut padaku atau tidak!"
Walaupun ia telah berkeputusan demikian, Auwyang Kongcu tidak segera turun tangan untuk mewujudkannya. Ia masih sangat lelah maka ia beristirahat terus. Ia menjalankan napasnya, untuk meluruskan pernapasannya.
Sesudah berselang lama, baru ia berbangkit bangun, akan mencari sebatang pohon yang kuat, yang ia patahkan, untuk dipakai sebagai senjata, untuk menotok jalan darah. Tiba di dekat gua, ia bertindak dengan hati-hati. Biar bagaimana, ia masih jeri terhadap pengemis tua inu. Di mulut gua ia memasang kupingnya. Ia tidak dapat mendengar suara apapun. Ia masih menanti beberapa saat, baru ia bertindak masuk. Tidak berani ia masuk langsung, ia mepet-¬mepet di pinggiran, majunya setindak demi setindak.
Sekarang ia bisa melihat Pak Kay lagi duduk bersila menghadap matahari, orang tua itu lagi berlatih dengan ilmu dalamnya, dilihat dari air mukanya yang segar, ia seperti tidak tengah menderita luka parah.
"Baiklah aku mencoba dulu, untuk mengetahui dia dapat berjalan atau tidak," berpikir si anak muda, yang sangat berhati-hati. Setelah diperdayakan Oey Yong, ia menjadi semakin cerdik.
"Paman Ang!" ia berseru. "Celaka! celaka…!"
Ang Cit Kong dapat mendengar teriakan itu, ia sudah lantas membuka matanya. "Ada apa?" ia menanya.
"Adik Oey mengejar kelinci, dia terjatuh ke dalam jurang…!" ia menyahut, suaranya dibikin tak lancar. "Dia terluka parah, sampai tak dapat bangun!"
Nampaknya Ang Cit Kong kaget. "Lekas tolong dia!" dia berseru.
Mendengar perkataan orang itu, girangnya Auwyang Kongcu bukan kepalang. Ia mengerti, kalau pengemis tua itu tidak dapat berjalan, mestinya ia sendiri sudah berlompat bangun dan berlari pergi, guna menolong nona itu. Maka ia bertindak maju di mulut gua seraya sembari tertawa lebar ia berkata:
"Dia telah menggunakan seribu satu akal untuk mencelakaiku, mana sudi aku menolong dia? Pergi kau sendiri yang menolongnya?!"
Ang Cit Kong terperanjat. Kata-kata si anak muda dan sikapnya itu menandakan bahwa orang tak jeri lagi kepadanya.
"Rupanya ia telah metahui kepandaianku sudah musnah," pikirnya. "Ini tandanya telah habis lelakon hidupku…!"
Tapi Pak Kay tidak hendak menyerah dengan begitu saja, maka ia bersiap sedia untuk mati bersama. Diam¬-diam ia mencoba mengumpul tenaganya di tangan, untuk menghajar dengan sekali pukul. Kesudahannya ia kaget sekali. Begitu bertenaga, ia merasakan luka si punggungnya sakit, semua tulang-tulangnya seperti hendak buyar belarakan. Sementara itu ia melihat Auwyang Kongcu mendatangi sambil memperlihatkan muka menyeringai. Tanpa merasa ia menghela napas panjang, lantas ia meramkan kedua matanya untuk menantikan kebinasaannya….
Ketika itu Oey Yong di dalam air telah berpikir, menduga bahwa selanjutnya makin sukar melayani Auwyang Kongcu, yang mestinya jadi semakin licin. Ia selulup beberapa tombak jauhnya, baru ia muncul di muka air. Ketika ia melihat daratan, itulah bukan tempat dimana tadi ia telah bergulat sama Auwyang Kongcu. Di sini pepohonannya lebih lebat. Tiba-tiba saja ia dapat ingat pulaunya sendiri, maka ia berpikir:
"Alangkah baiknya kalau aku dapat cari tempat bersembunyi, untuk aku berdiam bersama suhu sambil merawatnya, tentulah si bangsat tidak gampang¬-gampang dapat mencari kita…"
Habis berpikir, si nona mendarat. Ia tidak berani lantas jalan begitu saja, ia berjalan di sepanjang tepian. Ia khawatir nanti ketemu sama keponakannya Auwyang Hong.
"Coba dulu aku tidak terlalu gemar memain dan aku pelajari ilmu Kie-bun Ngo-heng, sekarang tentulah dapat aku melayani bangsat itu," pikirnya pula. Ia seperti ngelamun. "Ah, sayang ayah telah menyerahkan peta Tho Hoa To kepadanya! Jahanam itu sangat cerdas, tentu ia pun dapat memaham peta itu.
Berjalan seperti melamun, Oey Yong kurang memperhatikan jalanan yang dilalui. Tiba-tiba ia keserimpat oyot rotan dan terhuyung karenanya. Berbareng dengan itu di kepalanya terdengar bunyi sesuatu yang disusul sama meluruk jatuhnya butir-¬butir tanah keras seperti batu. Segera ia lompat nyamping, terus ia angkat kepalanya, memandang ke atas. Apa yang ia saksikan membuatnya kaget sekali, hingga jantungnya berdenyutan.
Di atas itu, yang merupakan lamping, ada sebuah batu besar. Batu itu seperti merongkong sebelah, nampaknya seperti bergoyangan, hingga sembarang waktu bisa jatuh ke bawah. Pelurukan batu barusan datangnya dari bawah batu besar itu. Di batu itu pun ada melibat banyak pohon rotan, satu di antaranya ialah yang meroyot ke bawah, yang barusan kena ia injak sehingga ia keserimpat. Hancur remuk tubuhnya, andaikata batu itu jatuh dan menimpa padanya….
Masih Oey Yong mendongak mengawasi, sampai kagetnya lenyap. Ia heran atas keletakannya batu itu. Itu pengaruh sang alam. Hanya dengan disentil sekali saja mungkin batu itu jatuh ambruk. Entah sudah berapa puluh tahun batu itu bercokol di tepi jurang itu.
Sampai di situ, batal Oey Yong maju terus. Ia sekarang berjalan kembali. Ingin ia melihat gurunya. Ia belum berjalan jauh ketika mendadak ia mendapat satu pikiran.
"Yang Maha Kuasa hendak membinasakan jahanam itu maka juga telah diciptakan ini batu luar biasa," demikian pikirnya. "Kenapa aku jadi setolol ini?"
Girang luar biasa nona ini hingga ia berjingkrakan jungkir balik dua kali. Ia lantas lari kembali ke tempat batu tadi, ia memasang mata memperhatikan keletakannya. Di samping itu ada banyak pohon yang besar dan tinggi. Kalau orang berlompat menyingkir, paling jauh juga orang dapat berlompat empat atau lima kaki. Kalau batu jatuh, burung sekalipun tak keburu terbang menyingkir….
Segera nona ini mengeluarkan pisau belatinya, yang panjang empat dim kira-kira. Itulah pisau peranti menyembelih ayam atau memotong daging. Ia cekal itu di tangan kanan, lantas bertindak turun ke lembah. Ia perdatakan tujuh atau delapan oyot rotan yang melibat batu besar itu, ia tidak mengganggunya, hanya ia memotong putus beberapa puluh oyot lainnya. Ia bekerja cepat, saban-saban ia menahan napas dan menghela. Ia pun berlaku hati-hati, supaya ia tidak usah membikin batu itu kena tertarik. Karena ia mesti mengutungi puluhan oyot, ia menjadi mandi keringat. Kemudian, setelah mengumpulkan semua oyot, agak tak kentara sudah diputuskan, baru ia bertindak pergi. Ia mencoba mengingat baik-baik tempat ini. Ia berjalan sambil bernyanyi dengan perlahan, suatu tanda ia merasa puas sekali.
Selagi mendekati gua, si nona tidak melihat Auwyang Kongcu. Ia berjalan terus. Sekonyong-konyong ia mendengar suara tertawa panjang dan nyaring yang keluar dari dalam gua. Ia kenali suaranya si anak muda, yang mana disusul sama kata-katanya yang nyaring:
"Kau sombongkan kepandaianmu yang lihay, sekarang kau roboh di tangan kongcumu? Kau takluk tidak? Baiklah, karena aku berkasihan usiamu yang sudah lanjut, aku menyerah untuk kau menyerang dulu tiga kali! Bagaimana?"
Takutnya Oey Yong bukan main. Ia insyaf bahaya yang mengancam gurunya. Tetapi Ia cerdik luar biasa. Disaat berbahya seperti itu, ia mendapat akal.
"Ayah, ayah!" ia berteriak-teriak. "Kenapa kau datang ke mari? Eh, kau juga Auwyang Peehu? Kenapa kau pun datang?"
Nyaring suara si nona, suara itu terdengar sampai di dalam gua. Auwyang Kongcu tengah mempermainkan Ang Cit Kong, yang hendak dibinasakannya, dia menjadi kaget sekali mendengar suara si nona.
"Ah, kenapa pamanku bisa datang bersama-sama Oey Lao Shia?" pikirnya. Ia sangat bersangsi, hingga ia memikir pula: "Jangan ini pun main gilanya si budak cilik. Ia hendak menolongi pengemis bangkotan ini, dia menipu aku supaya aku keluar…. Tapi tak apa, baik aku melihat dulu, pengemis ini toh tak bakal lolos dari tanganku!" Maka ia bertindak keluar dari gua.
Oey Yong berada di tepian, di pasir. "Ayah! Ayah!" suaranya terdengar, tangannya diulap-¬ulapkan.
Auwyang Kongcu memandang jauh. Ia tidak melihat siapapun di antara mereka apa pula Oey Yok Su atau pamannya. Maka ia tertawa terbahak-bahak.
"Adikku, kau memancing aku supaya menemani kau?" katanya. "Kau lihat, bukankah aku sudah keluar?"
Si nona menoleh, ia tertawa, matanya pun memain. "Siapa kesudian mendustai kau?" katanya manis. Dan ia lari di sepanjang pasir.
Auwyang Kongcu tertawa. "Kali ini aku telah bersiaga," katanya. "Jikalau kau memikir untuk menyeret pula aku ke laut, marilah kita mencoba-coba!"
Sembari berkata, pemuda ini lari mengejar. Hebat ilmu meringankan tubuhnya, sebentar saja dia sudah datang dekati si nona.
"Celaka…" mengeluh Oey Yong. "Kalau aku tidak keburu sampai di batu itu, pasti dia bakal dapat menawan aku…" Maka ia lari terus sekuatnya.
Lagi beberapa puluh tombak, Auwyang Kongcu telah datang semakin dekat. Oey Yong lari ke kiri, mendekati laut, tinggal lagi beberapa kaki. Benar-benar Auwyang Kongcu menjadi cerdik, tidak mau ia mendekati.
"Baiklah, mari kita main petak umpat!" katanya tertawa. Ia maju pula, ia waspada.
Oey Yong menghentikan tindakannya, ia juga tertawa. "Di depan sana ada seekor harimau galak," katanya, "Jikalau kau tetap menyusulku, kau nanti diterkam dan digegares olehnya!"
"Aku sendiri pun harimau!" tertawa si anak muda. Ia tidak percaya perkataan orang. "Aku pun hendak mencaplok dirimu!"
Oey Yong tertawa, tanpa menyahuti ia lari pula. Demikian mereka main lari-larian atau kejar-kejaran hingga mereka datang dekat ke batu separuh tergantung itu. Di sini Oey Yong lari makin keras. Ia harus menang tempo.
"Mari!" ia menantang. Dan ia berlompat pesat ke arah depan batu.
Hanya sekelebatan, ia merasa melihat bayangan orang di pesisir. Tapi ia lagi menghadapi saat tegang itu, biar pun ia heran, ia tidak sempat mencari tahu. Ia lari terus sampai di tempat oyot rotan tadi. Dengan tiga kali lompatan, tibalah ia di lembah.
"Mana si harimau?" tanya Auwyang Kongcu mengejek. Ia pun menambah pesat larinya, sehingga ia juga tiba di depan lembah.
Sekonyong-konyong pemuda ini mendengar suara berkeresek di atasan kepalanya, suaranya disusul sambaran angin. Ia lantas mengangkat kepalanya, mendongak untuk melihat. Bukan main kagetnya. Ia menampak sebuah batu besar jatuh ke arahnya. Tidak ada jalan lain. Ia berlompat ke samping. Ia lompat tanpa melihat lagi arahnya. Ia terkejut ketika ia merasakan tubuhnya membentur sebuah pohon, yang terus patah dan bagian patahannya melukai punggungnya. Lupa ia pada rasa sakit, ia cuma ingat menyingkir, menyingkir…. Ia mencoba berlompat pula….
Disaat seperti itu, Auwyang Kongcu sudah seperti pingsan, tetapi ia masih merasakan ada tangan yang kuat yang menyambar menjambak batang lehernya, terus ditarik. Meski begitu, jatuhnya batu cepat luar biasa, ia masih ketimpa juga, maka robohlah ia dibarengi jeritannya yang hebat sekali, debu dan batu pun muncrat! Debu itu mengepul bagaikan uap.
Oey Yong melihat jebakannya telah memberi hasil, ia girang berbareng kaget. Ia tidak menyangka bahwa jatuhnya batu demikian hebat. Ia menjatuhkan diri ke tanah, duduk menumprah seraya meletakkan kedua tangannya di atas kepala. Ia baru mengangkat kepala dan membuka matanya ketika mendengar sirapnya suara nyaring dan berisik. Samar-samar menampak dua tubuh orang berdiri di sisi batu besar. Seperti orang lagi bermimpi, ia mengucak-ucak kedua matanya. Lalu ia mengawasi pula, dengan perhatian dipusatkan. Tidak salah, di situ ada dua orang lain, bahkan orang itu ialah Auwyang Hong dan Kwee Ceng! Si anak muda yang tidak dapat dilupakannya….
"Engko Ceng!" akhirnya ia berseru seraya berlompat bangun.
Kwee Ceng juga tidak menyangka di tempat itu dapat menemukan kekasihnya, ia juga berlompat menubruk, merangkul erat-erat si nona. Hingga keduanya lupa bahwa di samping mereka berada musuh besar!
Auwyang Hong dan Kwee Ceng tenggelam terbawa perahu mereka yang masuk ke dasar laut terbawa oleh usar-usaran air. Memang perahu itu, yang tinggal sebelah, telah kemasukan banyak air. Segera juga mulut dan hidung mereka menyedot air asin, hingga keduanya menjadi kaget. Mereka menginsyafi bahaya. Karena itu mereka tidak berkutat terlebih jauh, sama¬-sama melepaskan tangan mereka, sebaliknya dipakai menekap hidung dan kuping. Mereka pun terbawa arus hingga jauh.
Ketika Kwee Ceng timbul di muka air, untuk bernapas, ia melihat jagat gelap, perahu kecil entah pergi ke mana. Ia menjerit-jerit, tidak ada yang menyahuti, meskipun sebenarnya Oey Yong tengah mencari-cari padanya. Damparan gelombang sangat berisik, angin juga tak kurang ributnya.
Selagi Kwee Ceng berteriak-teriak, ia merasa ada yang menarik kakinya yang kiri, atau dilain saat muncullah Auwyang Hong di sisinya. Dia ini tidak pandai berenang, maka itu, kecebur di laut, ia habis daya. Syukur dia dapat mencekal kakinya si anak muda, dia terus tidak mau melepaskannya, bahkan ia memegang juga kaki yang kanan. Sia-sia Kwee Ceng meronta-ronta. Mereka berkutat pula, hingga mereka tenggelam kembali. Tak lama, keduanya mengambang lagi.
"Lepaskan tanganmu!" Kwee Ceng berseru. "Aku tidak akan tinggalkan kau!"
Auwyang Hong tidak mau melepaskannya, baru sesaat kemudian, ia melepaskan kaki yang sebelah. Rupanya ia ingat, dengan bergulat terus, mereka bakal mati bersama. Kwee Ceng lantas berenang, sembari berenang ia mengangkat sedikit rusuk jago tua itu. Untung untuk mereka, tidak lama mereka membentur sepotong balok, maka si anak muda berpegang pada balok itu. Dengan begitu tak usah ia memakai banyak tenaga lagi.
"Lekas peluk balok ini!" ia berteriak. "Jangan lepas!"
Auwyang Hong menurut. Bukan main girangnya pemuda ini. Mereka terombang-ambing di laut sehingga sang fajar datang. Sekarang ternyata balok itu ada patahan tiang layar mereka. Hanya melihat kelilingan, mereka tak nampak perahu.
Auwyang Hong sangat berduka. Tongkatnya pun sudah lenyap, hingga ia menjadi sangat berkhawatir.
"Kalau ada ikan cucut di sini, mana bisa aku melawan seperti Ciu Pek Thong…?" pikirnya. "Ketika itu ada aku yang menolong dia, tetapi sekarang, siapa yang menolongi aku…?"
Mereka lapar dan berdahaga. Syukur, untuk dahar mereka bisa mengunyah ikan mentah. Kalau ada ikan yang lewat disampingnya, Kwee Ceng menikam dengan pisau belatinya, dan Auwyang Hong menghajar dengan tangannya. Hebat rasanya untuk menggerogoti ikan mentah itu.
Sekarangb mereka tidak bergulat lagi. Maka hari itu, sampailah mereka di tepian pulau di mana Cit Kong, Oey Yong dan Auwyang Kongcu telah tiba. Mereka mendarat untuk beristirahat. Tiba-tiba mereka mendengar suara orang berbicara sambil tertawa-¬tawa. Keduanya heran, Auwyang Hong yang berlompat paling dulu melihat orangnya. Tepat ia melihat batu lagi jatuh turun dan keponakannya lagi terancam, maka ia melesat menyambar keponakannya. Ia masih terlambat, sebab kesudahannya kedua kaki Auwyang Kongcu kena tertindih batu raksasa itu, anak muda itu menjerit untuk terus pingsan.
Untuk sejenak Auwyang Hong memandang sekelilingnya, setelah merasa pasti tidak ada ancaman bahaya lainnya, ia menghampiri keponakannya. Ia mendapat kenyataan sang keponakan cuma pingsan, maka hatinya menjadi sedikit lega. Ketika mencoba mendorong batu, ia tidak berhasil, tidak peduli tenaganya besar luar biasa.
"Paman…" memanggil keponakannya perlahan, setelah ia sadar, sedang pamannya lagi membungkuk.
"Tahan sakit," menyahut paman itu. Ia lalu memeluk, untuk menarik.
Auwyang Kongcu menjerit, kembali pingsan. Hebat tarikan itu sedang kaki tidak bergeming. Paman itu menjublak.
"Mana suhu?" tanya Kwee Ceng, yang menarik tangan Oey Yong. Ia seperti tidak ingat itu paman dan keponakannya.
"Di sana," sahut si nona, tangannya menunjuk.
Lega hatinya si anak muda. Selagi ia mau minta si nona mengajak pergi kepada gurunya, ia mendengar jeritan Auwyang Kongcu. Dasar hatinya mulia, ia menjadi tidak tega.
"Mari aku bantu padamu!" ia berkata kepada Auwyang Hong.
Oey Yong menarik tangan pemuda itu. "Mari kita lihat suhu!" ia mengajak. "Kita jangan pedulikan manusia jahat!"
Auwyang Hong tidak tahu bahwa batu besar itu jatuh karena ulahnya si nona, meski begitu ia gusar mendengar perkataan orang. Ia pun mengingat sesuatu akan mendengar Ang Cit Kong masih hidup serta berada di tempat itu. Ia membiarkan orang pergi, kepada keponakannya ia berbisik.
"Kau tahan sabar, aku nanti cari akal untuk menolongmu." Ia berlompat naik ke atas pohon, mengawasi ke arah muda-¬mudi itu pergi. Panas hatinya menyaksikan orang jalan rapat asyik sekali. "Jikalau aku tidak dapat menyiksa kamu berdua bangsat cilik hingga kau mati tidak hidup juga tidak, percuma aku disebut See Tok!" katanya dalam hati dengan sengit sekali. Habis itu ia lompat turun dari pohon, untuk menguntit.
Kwee Ceng berdua bersama Oey Yong berjalan terus sampai di mulut gua. Mereka tidak tahu bahwa mereka ada yang membayangi.
"Suhu!" memanggil si anak muda.
Cit Kong kelihatan lagi menyender di batu, matanya tertutup rapat, mukanya sangat pucat. Karena di ganggu Auwyang Kongcu, penyakitnya yang baru baikan kumat pula. Karena itu ia berdiam saja mendengar panggilan muridnya. Kwee Ceng dan Oey Yong menghampiri, yang satunya membuka kancing baju, yang lainnya menguruti tangan dan kakinya.
Akhirnya Ang Cit Kong membuka mata. Melihat Kwee Ceng, ia segera mengenalinya, ia girang. Ia tersenyum.
"Anak Ceng, kau pun datang!" katanya lemah.
Kwee Ceng hendak menyahuti gurunya tatkala ia terkejut mendengar suara nyaring dibelakangnya:
"Pengemis tua, aku juga datang!"
Itulah suaranya Auwyang Hong, yang telah menguntit sampai di luar gua. Kwee Ceng bangun memutar tubuh dan berlompat maju, ia menghalang di pintu dengan sikapnya "Sin liong pa bwee" atau "Naga sakti menggoyang ekornya". Oey Yong sendiri menyambar tongkat gurunya terus ia berlompat ke samping pemudanya.
Auwyang Hong tertawa "Pengemis bangkotan, keluar!" katanya nyaring. "Jikalau kau tidak keluar, nanti aku yang masuk ke dalam!"
Kwee Ceng menoleh kepada Oey Yong dan mengedipkan mata, maksudnya memberitahu, apapun yang bakal terjadi, hendak ia membela gurunya.
Auwyang Hong tidak memperoleh jawaban, ia tertawa lalu ia mju. Atas itu tanpa bersangsi lagi, Kwee Ceng menyerang. Inilah See Tok telah duga, malah ia menerka juga orang akan menggunakan Hang Liong Sip¬pat Ciang, dari itu ia sudah bersiaga untuk itu. Ia berkelit dengan berlompat ke kanan. Tapi di sini ia dipapaki tongkat, kelihatannya tongkat menyontek ke atas, tidak tahunya menyapu ke bawah berulang-ulang, hingga ia tidak dapat menduga tepat arah serangan orang. Diam-diam hatinya terkesiap. Ia lantas melindungi dirinya, untuk mencegah serangan apapun. Tapi hebat tongkat itu, tongkatnya Oey Yong. paling akhir ujung tongkat mencari jalan darah di pinggang.
Saking kaget, Auwyang Hong berlompat mundur, segera ia melirik. Ia tidak menyangka si nona menjadi begini lihay. Oey Yong mendapat hati melihat musuh mundur.. Ia telah menggunakan tipu-tipu dari Pa-kauw-pang, yang ia belum dapat menguasai dengan mahir. Sebaliknya See Tok belum pernah melihat ilmu silat itu.
"Hm!" berseru si Bisa dari Barat sambil ia berlompat maju, tangannya diulur untuk merampas tongkat si nona.
Oey Yong dapat berkelit, ketika ia dirangsak, masih ia bisa menyingkir dari pelbagai serangan. Kwee Ceng girang berbareng heran menyaksikan ilmu silat kawannya. Ia tidak menonton lebih lama, ia lantas maju, untuk menyerang dari samping.
Auwyang Hong menjadi sangat gusar, ia berlompat mundur, lalu ia berdongko, menyusul itu kedua tangannya menyerang dengan berbareng hingga anginnya berdesir. Hebat serangan itu, serangan menurut Kuntauw Kodok. Debu pun sampai kena dibikin terbang.
Kwee Ceng melihat ancaman bahaya, dengan cepat ia menolak pundaknya Oey Yong - orang yang diserang itu - hingga si nona terhuyung, tetapi dengan begitu ia terhindar dari bahaya.
Auwyang Hong penasaran, ia maju dua tindak, kembali menolak dengan sepasang tangannya. Memang hebat Kuntauw Kodok dari See Tok ini, sebagaimana ternyata, Ang Cit Kong yang begitu lihay cuma bisa bertarung seri dengannya.
Segera juga Kwee Ceng dan Oey Yong kena didesak mundur, sebab mereka main berkelit saja. Auwyang Hong dapat memasuki gua. Ketika ia menyerang gagal ke kiri, ia menghantam pinggiran gua hingga batu dan tanahnya gugur. Setelah itu ia menyerang dengan tangan kanannya ke arah Ang Cit Kong.
Pak Kay sedang menutup mata ketika ia mendengar desiran angin dari pukulan-pukulan yang dahsyat itu, lantas ia membuka matanya.
"Ilmu silat yang bagus sekali!" pujinya. "Tangan yang hebat!"
Muka Auwyang Hong menjadi merah, ia merasa diejek. Bukankah ia sedang melayani segala bocah? Maka tangannya itu tak dapat diteruskan.
"Guruku menolong jiwamu, kau sekarang hendak mencelakai guruku? Oey Yong berteriak. "Sungguh kau tidak mempunyai muka?!"
Batal menyerang, Auwyang Hong menolak dengan perlahan tubuhnya si Pengemis dari Utara. Ia merasakan dada dan daging yang lembek, hingga dada itu kentop. Biasanya, ditekan begitu, tubuh seorang ahli silat mesti membal untuk melawan, tapi ini sebaliknya, maka tahulah See Tok bahwa kepandaian orang telah lenyap. Ia lantas membungkuk, berniat mengangkat tubuhnya si pengemis.
"Kamu membantu aku menolong keponakanku, maka aku beri ampun jiwanya ini penegemis tua!" ia berkata bengis. Ia mengancam si pemuda dan pemudi.
"Thian yang menurunkan batu itu menindih dia, kau melihatnya dengan matamu sendiri!" berkata Oey Yong, menyahuti. "Siapa sanggup menolong dia? Jikalau kau berbuat jahat, nanti Thian pun melemparkan batu besar itu untuk menindih padamu sampai mampus!"
Auwyang Hong angkat tubuhnya Ang Cit Kong tinggi-¬tinggi, ia mengancam hendak melemparkannya.
Kwee Ceng sangat mulia hatinya, ia tidak tahu bahwa orang lagi menggertak. "Lekas turunkan guruku!" ia berseru. "Nanti kita bantu kau!"
Sebenarnya Auwyang Hong ingin lekas-lekas menolong keponakannya, tetapi ia tidak sudi kentarakan itu, ia justru membawa aksi. Kemudian ia menurunkan tubuh Cit Kong dan meletakkannya dengan baik.
"Untuk membantu kau menolongi dia tidaklah sukar!" berkata Oey Yong. Ia masih penasaran, ia menyebutnya Auwyang Kongcu dengan "dia". Tetapi kita harus membuat dulu tiga perjanjian!"
"Eh, budak perempuan, kesulitan apa lagi kau hendak mengajukannya?!" See Tok mendongkol.
"Sesudah kami membantu kau menolongi keponakanmu, kita tinggal bersama-sama di pulau ini," menjawab Oey Yong. "Selama itu kau tidak boleh mengganggu kami guru dan murid bertiga!"
Auwyang Hong terus mengangguk, karena ia sudah lantas ingat keponakannya tidak bisa berenang, untuk dapat pulang ke daratan, mereka mengandalkan bantuan tiga orang ini.
"Baik!" ia memberikan janjinya. "Selama berada di pulau ini, aku pasti tidak akan turun tangan terhadap kamu, tetapi nanti di daratan, itu sukar untuk membilangnya…"
"Sampai itu waktu, biarnya kau tidak turun tangan, kami yang bakal turun tangan terhadapmu!" kata Oey Yong menantang. "Sekarang yang kedua. Ayahku telah menjodohkan aku dengan dia, kau melihatnya sendiri, kau mendengarnya sendiri juga, maka itu kalau di belakang hari keponakanmu itu menggerembengi pula padaku, ia lah binatang yang tak mirip-miripnya sekalipun dengan anjing babi!"
"Hm!" terdengar suara tawar dari See Tok. "Baiklah, tetapi ini pun terbatas selama kita berada di pulau ini, seberlalunya kita dari sini, kita lihat saja nanti!"
Oey Yong tersenyum. "Sekarang syarat yang ketiga!" ia berkata pula. "Kami akan membantu kau dengan sungguh-sungguh akan tetapi umpama kata Thian hendak mengantarkan jiwa keponakanmu itu pulang ke alam baka, itu bukannya tenaga manusia yang dapat mencegahnya, maka itu kau tidak boleh menimbulkan lain urusan lagi!"
Kedua mata Auwyang Hong mendelik dan berputar. "Jikalau keponakanku sampai mati, si pengemis tua jangan harap dapat hidup lebih lama!" katanya bengis. "Budak cilik, jangan kau ngaco belo lebih lama! lekas kau tolongi keponakanku!"
Habis berkata, jago dari Barat ini lantas lompat keluar dari gua, berlari-lari keras ke arah lembah.
Kwee Ceng hendak lompat menyusul tetapi si nona tarik tangannya. "Engko Ceng," ia berkata, memesan, "Kalau sebentar See Tok membantu mendorong batu besar itu, kau gunakan saat itu untuk membokongnya biar habis jiwanya!"
"Cara membokong itu bukan cara terhormat," berkata Kwee Ceng.
"Dia bikin celaka suhu, adalah itu caranya terhormat?" tanya si nona. Agaknya ia mendelu.
"Tetapi kita telah mengeluarkan kata-kata, harus kita pegang itu," Kwee Ceng mengasih mengerti. "Sekarang kita tolong dulu keponakannya, nanti di belakang hari kita mencari jalan untuk membuat pembalasan."
Mendengar itu, si nona tertawa. "Baiklah," katanya. "Kau seorang nabi, suka aku mendengar kata-katamu!"
Setelah memesan gurunya untuk menanti, kedua muda-mudi ini lari ke lembah. Di sana mereka mendengar Auwyang Kongcu merintih, suaranya sangat mengenaskan, menandakan ia sangat menderita.
"Lekas, lekas!" Auwyang Hong memanggil seraya membentak.
Kwee Ceng dan Oey Yong lantas mendekati batu, memasang kuda-kuda. Auwyang Hong sendiri sudah bersiap terlebih dulu. Dengan satu tanda, berbareng enam buah tangan memegang batu dan menolaknya. Auwyang Hong adalah yang berseru;
“Angkat!"
Ditolak oleh enam tangan yang kuat, batu itu tergerak, tetapi cuma sebentar, sehabisnya tenaga orang, batu itu jatuh pula, pulang ke tempat asalnya.
"Aduh!" menjerit Auwyang Kongcu yang tak sempat menarik kedua kakinya. Ia ketimpa pula, lantas ia pingsan kembali.
Auwyang Hong kaget, ia berdongkol melihat keponakannya, napas siapa empas-empis selekasnya dia sadar pula, dia menahan sakit hingga ia menggigit keras bibirnya, sampai bibirnya mengeluarkan darah.
See Tok menjadi sangat bingung. Terang sudah tenaga mereka bertiga tidak cukup kuat mengangkat batu raksasa itu. Lama-lama keponakannya bisa mati karena sakitnya. Ia menjadi lebih bingung lagi ketika ia merasakan kakinya dingin, ketika mengangkat sebelah kakinya, nyata sepatunya sudah basah, tanah pasir yang ia injak kerendam air. Air laut pasang, yang naik sampai ke lembah itu.
"He, budak cilik!" See Tok membentak Nona Oey. "Jikalau kau hendak menolongi jiwa gurumu, lekas kau tolong keponakanku ini!"
Oey Yong lagi berpikir keras ketika ia ditegur itu. Batu begitu berat, di pulau ini tidak ada orang lain yang dapat membantu. Bagaimana? Ia mendongkol atas teguran itu.
"Coba kalau guruku tidak terluka, pasti dia dapat membantu!" katanya. "Ilmu luar dari guruku lihay sekali, tenaganya besar luar biasa, dengan kita berempat bekerja sama, mestinya batu ini dapat digeser. Sekarang…" Ia angkat kedua tangannya, ia menggoyang-¬goyangkannya, tanda ia putus asa.
Auwyang Hong tidak senang mendengar itu tetapi itulah kenyataan, ia tidak bisa bilang apapun. Ia pikir, memang benar kalau Ang Cit Kong tidak terluka, pengemis itu pasti dapat membantu mereka. Maka maulah ia memikir itu adalah takdir, kebetulan keponakannya bercelaka, kebetulan Pak Kay terluka…
"Paman," terdengar suaranya Auwyang Kongcu perlahan. "Kau hajar saja aku supaya lantas mati…" "Aku….aku tidak dapat bertahan lagi…."
Auwyang Hong mengawasi, lantas ia mencabut pisau belatinya. "Kau tahan sakit sedikit," katanya seraya terus menggigit gigi. "Tanpa sepasang kakimu, kau masih dapat hidup…!" Ia maju mendekati, hendak menguntungi kedua kaki orang.
"Paman, paman!" berteriak-teriak si keponakan. "Jangan, jangan! Lebih baik kau tolong aku dengan membunuh saja…!"
Marah paman itu. "Percuma aku mendidik kau beberapa tahun, kenapa kau tidak mempunyai semangat laki-laki?!" bentaknya.
Keponakan itu menutup mulutnya, dengan kedua tangannya ia mendekap dadanya. Dengan begitu ia mencoba menahan sakit. Menyaksikan itu, hati Oey Yong lemas juga. Ia lantas berpikir pula, hingga ia ingat cara ayahnya bekerja di Tho Hoa To waktu ayahnya mengangkat batu dengan balok.
"Tunggu!" ia berkata kepada Auwyang Hong. "Kalau kau kutungi kedua kakinya, apakah itu bukan berarti kau mengantarkan jiwanya? Aku mempunyai satu daya, entah berhasil atau tidak, mari kita coba dulu."
"Lekas bilang, lekas bilang, apa itu?" See Tok lantas mendesak. "Nona yang baik, kali ini tentulah kau berhasil…"
"Hm," pikir Oey Yong. "Kau sangat ingin menolongi keponakanmu, sekarang kau tidak mencaci dan membentak-bentak aku pula, bahkan memanggil aku nona yang baik." Ia lantas tersenyum, terus ia berkata: "Baiklah! Sekarang kau mesti dengar titahku. Lekas kau keset pohon itu, kau membuatnya dadung yang panjang untuk menarik batu besar…"
"Siapakah yang menariknya?" Auwyang Hong memotong. Ia heran. Bukankah mendorong dan menarik sama saja sebab mereka tetap bertiga?
"Kita bekerja seperti di perahu ketika mengangkat jangkar," Oey Yong bilang.
Auwyang Hong mengerti, tiba-tiba ia jadi mendapat harapan. "Cocok, cocok!" katanya. "Kita menarik sambil berputaran!"
Kwee Ceng tidak tahu caranya Oey Yong akan bekerja, begitu mendengar si nona minta babakan pohon untuk diambil tali seratnya, ia lantas saja mengeluarkan pisau, terus bekerja memotong babakan pohon.
Auwyang Hong dan Oey Yong juga turut bekerja. Tidak lama mereka sudah mendapatkan beberapa puluh lembar babakan yang panjang. Auwyang Hong bekerja sambil mengawasi keponakannya, tiba-tiba ia menghela napas dan berkata dengan putus asa:
"Sudahlah, tak usah kita memotong lebih jauh…."
"Kenapa?" tanya Oey Yong heran. "Kenapa tidak jadi?"
See Tok menunjuk ke arah keponakannya. Oey Yong dan Kwee Ceng mengawasi. Mereka melihat air pasang telah naik hingga tubuh Auwyang Kongcu sudah kerendam separuhnya. Maka jangan kata membikin tambang, memotong babakan saja sudah tidak keburu…. Auwyang Kongcu sendiri berdiam, ia tidak bergerak, tidak bersuara.
"Jangan putus asa!" kata nona Oey kemudian. "Lekas potong terus!"
Auwyang Hong si iblis yang biasanya malang-¬melintang, mendengar suara si nona, sudah lantas bekerja pula. Ia bekerja dengan cepat sekali. Oey Yong sendiri lompat dari atas pohon, ia lari kepada Auwyang Kongcu. Ia angkat tubuh orang, ia mengganjalnya dengan satu batu besar. Secara begini, pemuda itu tidak kerendam mukanya, maka dapatlah ia bernapas terus.
"Adik yang baik, terima kasih banyak-banyak untuk pertolonganmu," berkata Auwyang Kongcu dengan perlahan. "Aku tidak bakal hidup lebih lama pula, akan tetapi melihat kau begini sungguh-sungguh menolongku, kalau aku nanti mati, aku mati senang…."
"Jangan mengucap terima kasih padaku," kata Oey Yong yang karena jujurnya merasa jengah dengan sendirinya. "Kau terjebak karena aku yang mengaturnya, kau tahu?"
"Hus, jangan omong keras-keras!" mencegah Auwyang Kongcu. "Kalau pamanku mendengar, dia tidak akan melepaskanmu! Sudah sedari siang-¬siang aku dapat mengetahui perbuatanmu ini, tetapi terbinasa di tanganmu, sedikit juga aku tidak menyesal…."
Oey Yong menghela napas, hatinya berpikir; "Meski orang ini menjemukan tetapi terhadapku dia tidak buruk…" Ia lantas kembali ke bawah pohon, untuk mulai bekerja. Ia melara, membuatnya sebuah dadung kasar. Ini rupanya belum cukup kuat, maka empat helai itu ia melaranya pula menjadi satu helai yang besar.
Auwyang Hong bersama Kwee Ceng tidak hentinya memotong babakan pohon, untuk diambil seratnya, dan si nona pun tak henti-hentinya melara. Semua bekerja cepat dan sungguh-sungguh. Mereka mesti berlomba sama sair pasang. Air baru saja naik, tak gampang-gampang lekas surut.
Belum Oey Yong dapat melara kira-kira setombak panjangnya, air sudah naik hingga dipinggir mulutnya Auwyang Kongcu, setelah ia dapat lagi beberapa kaki, air itu sampai di pinggiran bibir, ya, ke bibir, hingga dilain saat terlihat saja liang hidungnya si anak muda.
Menampak itu Auwyang Hong lompat turun dari atas pohon. "Menyingkirlah kamu!" katanya pada Kwee Ceng dan Oey Yong. "Aku hendak bicara sama keponakanku. Kamu sudah berbuat apa yang kamu bisa, aku mengerti kebaikanmu ini."
Kwee Ceng pun merasa bahwa harapan sudah lenyap, ia lompat turun, dengan jalan berendeng sama si nona, ia bertindak pergi jauhnya lebih dari sepuluh tombak.
"Mari kita pergi ke belakang batu besar itu, kita mencuri dengar perkataannya," bisik Oey Yong si cerdik.
"Urusan toh tidak mengenai kita?" berkata si anak muda. "Laginya si tua bangka yang lihay itu tentu mengetahuinya…."
"Semampusnya keponakannya itu, mungkin dia akan mengganggu suhu," kata Oey Yong. "Kalau kita ketahui niatnya, dapat kita bersiaga. Umpama kata si tua bangka beracun itu memergoki kita, kita bilang saja kita kembali untuk mengambil selamat berpisah dari keponakannya itu…"
Kwee Ceng mengangguk. Ia anggap alasan itu tepat. Bersama-sama mereka lantas jalan terus, memutar dengan diam-diam, selekasnya mereka tak nampak lagi oleh Auwyang Hong, mereka menghampiri ke arah batu. Tentu sekali mereka tak sudi memperdengarkan tindakan kaki mereka.
Tepat mereka sampai, mereka dapat mendengar kata-¬katanya Auwyang Hong: "Kau pergilah dengan baik, aku mengerti maksud hatimu. Kau berkeinginan menikahi putri Oey Lao Shia sebagai istrimu, pasti aku akan membikin keinginanmu itu terkabul."
Kedua muda-mudi di belakang batu itu heran bukan main. "Dia bakal segera mampus, cara bagaimana keinginan itu dapat dikabulkan?" mereka berpikir. "Apakah artinya kata-kata si tua bangka berbisa ini?"
Mereka memasang kuping terlebih jauh, setelah mana mereka jadi kaget dan gusar, punggung mereka dialiri peluh dingin. Auwyang Hong itu berkata: "Akan aku bunuh putrinya Oey Lao Shia, nanti aku masukkan tubuhnya dalam satu liang kubur bersamamu! Bukankah semua orang mesti mati? Kau dan dia tak dapat hidup bersama, tetapi mati dapat dikubur menjadi satu, kau tentu merasa puas juga…" Mulutnya Auwyang Kongcu telah kerendam air, tidak dapat ia menjawab.
Oey Yong memencet tangannya Kwee Ceng, yang ia tarik, dengan perlahan ia bertindak. Maka bersama¬-sama mereka menyingkir dari situ. Auwyang Hong tengah berduka sangat, ia tidak mendengar suara apapun.
Tiba di tempat dimana mereka sudah berpisah cukup jauh, Kwee Ceng berkata dengan sengit. "Yong-jie, lebih baik kita hampiri si bisa bangkotan itu untuk mengadu jiwa dengannya!"
"Bertempur sama dia, kita melawan dengan kecerdikan, tidak dengan tenaga," menyahut si nona tenang.
"Bagaimana caranya?"
"Aku lagi memikirkannya." Mereka jalan terus, sampai di tikungan. Di situ si nona melihat gombolan pohon gelaga. "Jikalau dia tidak jahat dan kejam, aku dapat jalan untuk menolong keponakannya itu," berkata Oey Yong.
Kwee Ceng heran. "Bagaimana?" dia tanya.
Oey Yong menghampiri gombolan gelaga itu, ia memotong sebatang, di antaranya lalu ia angkat, dimasukkan ke dalam mulutnya, untuk menyedot dan bernapas.
"Bagus!" Kwee Ceng bertepuk tangan. "Oh, Yong-jie yang baik bagaimana kau dapat memikirkan ini? Bagaimana sekarang, kita menolongi atau jangan?"
Oey Yong memainkan bibirnya. "Tentu aku tidak sudi menolong dia!" sahutnya. "Si tua bangka berbisa itu hendak membunuhku, biarlah dia coba membunuhnya! Aku tidak takut!"
Kwee Ceng heran, ia berdiam diri. Si nona mengawasi, lalu ia tarik tangan orang. "Engko Ceng," katanya halus, "Mustahilkah kau menghendaki aku menolong manusia jahat itu? Adakah kau berkhawatir untuk keselamatanku? Jikalau kita menolong dia, belum tentu dua manusia jahat itu dapat berbuat baik kepada kita…"
"Memang kau benar," berkata Kwee Ceng. "Memang aku memikirkan kau dan suhu. Aku pikir si tua bangka berbisa ada satu pemimpin partai, mestinya perkataannya dapat dipercaya juga…"
Oey Yong mengambil keputusan dengan cepat. "Baik, marilah kita menolongi dia!" katanya. "Habis itu, kita lihat saja nanti. Kita boleh jalan setindak demi setindak."
Keduanya lantas jalan balik, mereka putarkan batu raksasa itu. Sekarang Auwyang Hong berdiri di dalam air, sebelah tangannya memegangi keponakannya. Ia melihat dua orang muda itu menghampiri, matanya lantas bersinar, sikapnya mengancam.
"Aku menyuruh kamu pergi, buat apa kamu kembali?!" tanyanya bengis.
Oey Yong menghampirkan sepotong batu, di situ ia berduduk. "Aku datang untuk melihat dia sudah mampus atau belum?" ia menyahut sembari tertawa geli.
"Habis kalau mati bagaimana, kalau hidup bagaimana?!" tanya See Tok, tetap bengis, panas hatinya.
Si nona menghela napas. "Kalau ia sudah mati, sayang, tidak ada daya lagi…" sahutnya.
Auwyang Hong heran, hingga ia berjingkrak. "Oh, nona yang baik," serunya. "Dia…dia masih belum mati! Benarkah kau ada punya daya? Lekas bicara!"
Oey Yong menyodorkan batang gelaganya. "Kau masukkan ini ke mulutnya, dia tentu tidak mati," sahutnya enteng.
Auwyang Hong girang, ia menyambut, ia lompat pula kepada keponakannya. Dengan cepat ia masukkan batang gelaga itu ke dalam mulut keponakannya, hingga batang itu merupakan semacam pipa.
Keadaan Auwyang Kongcu sedang hebatnya, tetapi ia masih dapat mendengar pembicaraan di antara si nona dan pamannya, begitu pipa dimasukkan ke dalam mulutnya, ia telan air yang terakhir di mulutnya, lalu ia dapat bernapas seperti biasa. Ia girang hingga sesaat melupakan kakinya yang sakit.
"Lekas!" berseru Auwyang Hong. "Lekas kita melanjutkan membuat dadung itu!"
"Paman Auwyang," berkata si nona, sebelum ia menyambut ajakan itu, “bukankah kau memikir membunuhku untuk dikorbankan demi keponakanmu ini?"
See Tok melengak. "Kenapa ia dengar pembicaraanku barusan?" pikirnya.
Oey Yong masih tertawa, ia berkata pula: "Kau hendak membunuhku, kalau maksudmu kesampaian, habis itu Thian sangat membenci kejahatanmu, kepada kau diturunkan sesuatu malapetaka, siapakah nanti yang menolongmu?"
Auwyang Hong sangat membutuhkan bantuan orang, ia tidak mengambil peduli gangguan itu, dengan berlagak tuli dengkak, ia lari ke darat, ke bawah pohon untuk mulai lagi memotongi babakan pohon.
Si nona tidak mengganggu terlebih jauh, ia pun mengajak Kwee Ceng untuk bekerja pula. Mereka sama-sama melara setelah babakan didapat cukup banyak. Masih kira-kira satu jam melara beberapa kali, ia menghampirkan dadung, baru mereka berhasil merampungkan sehelai dadung yang panjangnya tiga puluh tombak lebih. Sementara itu kepalanya Auwyang Kongcu sudah mulai kerendam air, hingga tampak tinggal pipa gelaga itu.
Auwyang Hong berkhawatir, beberapa kali ia menyampirkan, memeriksa nadi keponakannya. Hatinya lega, nadi itu tetap berjalan baik. Ia pun menjadi terlebih lega telah sesaat kemudian ternyata, air pasang sudah tiba saatnya surut pula, maka dilain detik, kepala si anak muda mulai tertampak pula.
"Cukuplah sudah!" terdengar suara Oey Yong keras habis ia mengulur-ulur dadung buatannya itu. "Sekarang aku membutuhkan tiga batang kayu besar untuk dipakai sebagai alat putaran."
Auwyang Hong bersangsi. Mereka tidak mempunyai kampak atau golok, bagaimana mereka bisa mendapatkan potongan-potongan kayu yang dibutuhkan?
"Bagaimana itu harus dibuatnya?" ia menanya.
"Kau tak usah ambil tahu caranya, kau cari kayunya saja!" membentak si nona.
See Tok berkhawatir juga nona itu benar-benar murka dan nantinya tidak sudi membantu terlebih jauh, lantas ia pergi menghampiri pepohonan. Ia pilih yang batangnya tidak terlalu besar, ia berjongkok di situ, ia pegang pohon dengan kedua tangannya, lalu sambil mengerahkan tenaga dari Kuntauw Kodok, ia coba mendorong pohon itu. Nyata ia berhasil! Maka ia lantas bekerja terus, merobohkan semuanya tiga buah pohon.
Kwee Ceng dan Oey Yong mengulurkan lidahnya menyaksikan tenaga orang yang besar itu. Auwyang Hong masih bekerja. Ia mencari sebuah batu besar dan lancip, ia menggunakannya untuk membabat berulang-ulang, memutuskan semua cabang kecil dari ketiga batang pohon itu, setelah semuanya merupakan sebagai potongan balok, terus ia menyerahkan itu kepada si nona.
Oey Yong dan Kwee Ceng menyambuti. "Begini," kata si nona kepada kawannya. Ia pun lantas bekerja.
Kwee Ceng membantu tanpa banyak omong. Oey Yong mengikat ketiga batang balok itu satu kepada lain, ia mengikat erat-erat, meninggalkan tiga ujung yang panjang. Kemudian selebihnya dadung ia bawa ke batu besar itu, untuk melibatnya dibagian tengahnya, lalu ujung itu diikatkan ke balok-balok yang sudah dipasang dan terikat rapi.
Ketiga potong balok itu diikat di seputarnya sebuah pohon cemara tua yang besar sekali, yang tumbuh di sebelah kanan batu raksasa itu. Besarnya pohon mungkin tak terpeluk lima atau enam orang.
"Bukankah pohon cemara tua ini dapat melayani batu besar itu?" kemudian si nona tanya si Bisa dari Barat.
Auwyang Hong mengangguk. Sekarang ia mengerti sudah maksudnya nona itu. Tapi Oey Yong masih kurang puas, ia menyuruh si tua bangka berbisa membuat lagi dadung yang lebih kecil, untuk dipakai mengikat lebih jauh ketiga potongan balok itu, supaya kekuatannya bertambah.
"Nona yang baik, kau sungguh cerdik!" akhirnya See Tok memuji. "Inilah yang dibilang keluarga pintar luar biasa, - ada ayahnya, ada putrinya!"
"Tapi mana bisa aku dapat menandingi keponakanmu itu?" berkata Oey Yong tertawa. "ah, marilah kita mulai menarik memutar!"
Auwyang Hong menurut, begitu juga dengan Kwee Ceng, maka setelah memegang masing-masing ujungnya ketiga balok itu, mereka lantas saja menolak dengan mengeluarkan tenaga mereka. Perlahan tetapi pasti, batu itu bergerak berkisar sedikit.
Sementara itu dengan lewatnya sang waktu - matahari sudah doyong ke darat - air pun telah surut habis, hingga sekarang Auwyang Kongcu terlihat duduk mendeprok di tanah yang merupakan lumpur berpasir. Ia mendelong mengawasi batu besar itu, yang bergeraknya sangat ayal, nampaknya ia bergelisah dan bergirang……
Batang pohon cemara tua dan besar itu bagaikan dilindas balok-balok, yang berputar di sekitarnya berputar tak hentinya. Dengan babakan runtuh, batang itu menjadi terlebih licin dan berputarnya balok-balok tak seberat semula.
Auwyang Hong tidak percaya Thian, malaikat atau iblis, tetapi sekarang diam-diam ia memuji supaya mereka diberikan tambahan tenaga, supaya batu raksasa itu dapat terangkat cukup tinggi hingga kedua kaki keponakannya tak tertindih lebih lama lagi. Asal batu itu dapat terangkat, Auwyang Kongcu bisa diangkat untuk disingkirkan.
Tengah mereka mendorong mendadak terdengar satu suara keras dan nyaring, hingga ketiganya kaget dan lompat minggir. Nyata dadung di tengah terputus, maka dengan sendirinya batu besar itu balik pada kedudukannya yang lama. Mereka sendiri, apabila tidak berlompat pasti terkena balok-balok itu. Auwyang Hong menjadi sangat lesu, air mukanya tak enak dilihat. Oey Yong pun masgul bukan main. Ini ia tak sangka.
"Marilah kita membikin lagi dadung yang lebih kasar," kata Kwee Ceng kemudian. Ia tidak melihat lain jalan. "Kita memakai dua rangkap."
Auwyang Hong menggeleng kepala. "Sulit," katanya. "Kita bertiga tidak berdaya…."
"Kalau saja ada yang membantu…." Kwee Ceng berkata sambil ngelamun.
Mendengar itu, Oey Yong melengak, lalu mendadak ia berjingkrak seraya menepuk-nepuk tangan.
"Akur! Akur!" serunya. "Ada orang yang membantu….!"
Kwee Ceng heran, ia girang. "Yong-jie," katanya, "Benarkah ada orang yang membantui?"
"Ah, sayang engko Auwyang mesti menderita lagi satu hari…" berkata si nona. "Ia mesti menanti sampai besok diwaktu air pasang barulah ia lolos dari penderitaannya ini…."
Auwyang Hong heran begitu pun Kwee Ceng. Keduanya mengawasi nona itu. Mereka berpikir hingga di dalam hatinya mereka menanya: "Mustahilkah besok di waktu air pasang ada orang yang datang membantu?"
Oey Yong tidak memperdulikan mereka itu. "Setelah bekerja keras seharian, aku lapar!" katanya, tertawa. "Mari kita mencari makanan dulu baru kita bicara lagi."
"Nona," akhirnya Auwyang Hong menanya, " Kau bilang besok bakal ada orang datang membantu, apakah artinya pembilanganmu itu?"
"Besok pada waktu begini, batu yang menindih tubuh saudara Auwyang bakal disingkirkan," menyahut si nona. "Inilah adalah rahasia alam, tak dapat aku membocorkannya…."
Melihat orang bicara secara demikian sungguh-¬sungguh, Auwyang Hong menjadi separuh percaya dan separuh tidak. Pula, ia tidak mempercayai, ia pun tidak mempunyai daya lain. Maka terpaksa ia berdiam saja menemani keponakannya itu.
Oey Yong bersama Kwee Ceng sudah lantas pergi memburu beberapa ekor kelinci, yang seekor mereka matangi, untuk dibagi kepada Auwyang Hong dan keponakannya itu.
Mereka sendiri berdahar bertiga bersama Ang Cit Kong di dalam gua. Sembari berdahar mereka dapat pasang omong tentang segala kejadian sejak mereka berpisahan. Si pemuda girang sekali mendapat penjelasan bahwa Auwyang Kongcu roboh karena jebakan si nona.
Kemudian malam itu ketiganya tidur nyenyak. Mereka percaya Auwyang Hong tidak bakal datang mengganggu sebab See Tok mengharap-harapkan sangat bantuan mereka guna menolong keponakannya. Mereka menyalakan api ungun di mulut gua untuk mencegah masuknya binatang liar.
Besoknya fajar, baru Kwee Ceng membuka matanya, ia dapat melihat satu bayangan orang berkelebat di muka gua. Ketika ia berlompat bangun, ia mendapatkan Auwyang Hong.
"Apakah nona Oey sudah bangun?" menanya Auwyang Hong perlahan.
Oey Yong tersadar, selagi Kwee Ceng berlompat bangun, kapan ia dengar suaranya musuh ia pejamkan pula matanya dan menperdengarkan gerosan napasnya untuk berpura-pura tidur nyenyak.
"Belum," Kwee Ceng menyahut, perlahan. "Ada apa?"
"Kalau sebentar dia sudah bangun, minta dia datang untuk menolong orang," menyahuti See tok.
"Baik," menjawab Kwee Ceng.
Dari dalam, Cit Kong menyambar: "Aku telah kasih dia minum arak yang wangi bernama Mabok Seratus Hari di dalam tempo tiga bulan mungkin dia tak akan bangun…!"
Auwyang Hong melengak justru mana Pak Kay tertawa terbahak-bahak, maka taulah bahwa ia tengah digoda. Ia mendongkol bukan main tetapi ia ngeloyor pergi.
Oey Yong melompat bangun, ia pun tertawa. "Kalau bukan sekarang kita goda dia, kita hendak tunggu kapan lagi?" katanya.
Dengann ayal-ayalan nona itu menyisir rambutnya dan merapikan pakaiannya, habis itu ia membawa joran untuk pergi memancing ikan, memburu kelinci, yang semuanya dimatangi untuk mereka sarapan pagi. Selama itu Auwyang Hong telah datang tujuh atau depalan kali, ia bergelisah seperti semut di atas kuali panas.
"Yong-jie," menanya Kwee Ceng, "Benarkah sebentar diwaktu air pasang bakal datang orang membantu kita?"
"Kau percayakah bakal datang pembantu?" si nona balik menanya, tertawa.
"Aku tidak percaya." sahut si anak muda.
"Aku juga tidak percaya!" Dan si nona tertawa pula.
Kwee Ceng tercengang. "Jadinya kau sengaja mempermainkan si tua bangka berbisa itu?"
"Bukan seluruhnya aku mendustai dia," sahut si nona. "Diwaktu air pasang, aku mempunyai daya untuk menolong keponakannya itu."
Kwee Ceng tahu kekasihnya cerdik sekali, ia tidak menanya lebih jauh. Oey Yong lantas ajak pemuda itu pergi ke pinggir laut mencari pelbagai macam batok kerang. Nona Oey tidak mempunyai kawan semenjak kecil, ia biasa main-main seorang diri, sekarang ia mendapat Kwee Ceng sebagai teman, ia gembira bukan main. Begitulah diajaknya pemuda itu berlomba mendapatkan banyak lokan yang bagus-bagus. Dalam tempo yang pendek, mereka mendapatkan banyak, saking gembira, saban-saban terdengar suara tertawa mereka. Sesaat itu mereka seperti lupa bahwa mereka berada di pulau kosong di mana jiwa mereka terancam bahaya maut………
"Eh, engko Ceng, rambutmu kusut, mari aku tolong sisirkan," kata si nona kemudian.
Kwee Ceng menurut, mereka duduk berduaan. Dari sakunya, Oey Yong mengeluarkan sisir yang terbuat dari batu giok bersalut emas. Ia membuka rambut orang dan menyisirnya dengan perlahan-lahan.
"Bagaimana dayanya untuk mengusir See Tok dan keponakannya itu?" ia bertanya sambil tangannya bekerja. "Kalau mereka itu sudah tidak ada, kita bertiga dapat berdiam dengan aman di sini. Tidakkah itu bagus?"
"Tapi aku memikirkan ibuku serta enam guruku," menyahut Kwee Ceng.
"Ah, ya, masih ada ayahku juga…" menambah si nona. Ia berhenti sebentar, lalu ia berkata pula: "Entah bagaimana dengan enci Bok sekarang….. Suhu telah menyuruh aku menjadi Pangcu dari Kay Pang, karena itu aku pun jadi memikirkan itu kawanan pengemis…………."
Kwee Ceng tertawa. "Maka itu aku pikir lebih baik kita pikirkan daya untuk berlalu dari sini…." katanya.
Oey Yong sudah selesai menyisiri, lalu ia mengondekan rambut pemuda itu.
"Yong-jie, kau menyisiri rambutku, kau mirip ibuku," kata Kwee Ceng.
"Kalau begitu, panggilah aku ibu!" Oey Yong tertawa.
Si anak muda diam saja, lantas si nona mengitik. "Kau memanggil atau tidak?" nona itu pun menanya. Kwee Ceng kaget kegelian, ia berjingkrak bangun, maka kacaulah pula kondenya.
"Kau tidak mau memanggil, ya sudah saja!" berkata Oey Yong tertawa. "Memang siapa yang sangat menginginkan itu? Kau tahu, di belakang hari tentu bakal ada orang yang memanggil ibu kepadaku. Nah, kau duduklah!"
Kwee Ceng duduk pula, untuk si nona mengondekan pula rambutnya. "Engko Ceng," si nona menanya pula, "Bagaimana tentang melahirkan anak. Tahukah kau?"
"Tahu."
"Coba bilang."
"Orang menikah menjadi suami istri, itu artinya mendapat anak."
"Hal itu pun aku tahu. Hanya bagaimana sebenarnya?"
"Sampai sebegitu jauh, aku tidak tahu. Cobalah kau bilang."
"Aku juga tidak tahu. Pernah aku tanya ayah, ayah bilang…."
Kwee Ceng hendak menanya jelas ketika mereka mendadak mendengar suara seperti cecer pecah di belakang mereka:
"Urusan mendapat anak itu nanti juga kamu mendapat tahu sendiri! Sekarang air pasang mau naik pula!"
Keduanya terkejut. Mereka tidak menyangka Auwyang Hong - orang yang membuka suara nyaring itu - telah tahu-tahu berada di antara mereka. Muka Oey Yong pun menjadi merah. Kwee Ceng menyusul kawannya itu. Auwyang Kongcu tertindih batu sehari semalam, ia payah bukan main.
"Nona Oey,!" berkata Auwyang Hong, suaranya keren. Ia pun menyusul mereka ini. "Kau yang bilang diwaktu air pasang bakal ada orang datang membantu kita. Urusan ini mengenai jiwa manusia, bukan urusan main-main!"
"Ayahku pandai ilmu meramal, putrinya pasti mengerti juga ilmu itu tiga bagian," menyahut si nona. "Apakah artinya baru ilmu meramalkan?"
Auwyang Hong memang ketahui baik kepandaiannya Oey Yok Su. "Jadi ayahmu yang bakal datang?" dia menegaskan. "Bagus!"
"Hm!" si nona mendengarkan suara tawar. "Untuk urusan remeh ini kenapa aku mesti sampai mengganggu ayahku? Laginya, jikalau ayah dapat melihatmu, mana dia sudi mengasih ampun? Apakah yang kau buat girang?" Disenggapi begitu, Auwyang Hong bungkam. "Engko Ceng," berkata si nona, tanpa menggubris pula See Tok, "Coba kau tolong mencari bongkot pohon, semakin banyak semakin bagus. Pula pilihlah yang besar-besar."
Si anak muda bersedia untuk bekerja, ia lantas pergi. Oey Yong lantas bekerja, melara dadung dan menyambung yang putus kemarin.
Auwyang Hong tidak dapat berdiri diam saja, ia tanya nona itu apa benar Oey Yok Su bakal datang. Sia-sia belaka ia menanya sampai beberapa kali, Oey Yong malah bernyanyi-nyanyi perlahan, tangannya terus bekerja. Karenanya ia terpaksa ngeloyor pergi, untuk membantu Kwee Ceng mencari balok. Ia dapat melihat Kwee Ceng merobohkan pohon dengan serangan Hang Liong Sip-pat Ciang, dengan dua kali hajaran saja dia dapat mematahkan batang sebesar mangkok.
"Hebat bocah ini," memikir See Tok. "Dia pun hapal Kiu Im Cin-keng, kalau dia terus dikasih tinggal hidup, di belakang hari dia bakal menjadi bahaya untuk pihakku…"
Maka berpikirlah ia, keponakannya ketolongan atau tidak, pemuda ini harus disingkirkan. Habis itu ia bekerja, membuatnya Kwee Ceng heran dan kagum. Ia berdiri di antara dua pohon, begitu ia menggerakkan tangannya kedua pihak, dua pohon roboh patah dengan berbareng.
"Paman Auwyang," Kwee Ceng menanya, "Sampai kapan aku dapat mencapai ilmu seperti yang dipunyakan kau ini?"
Wajah Auwyang Hong bermuram durja, di dalam hatinya, ia kata: "Tunggu sampai kau menitis pula…" Ia tidak memberikan jawaban pada pemuda itu.
Setelah memperoleh belasan potong balok, Kwee Ceng dan See Tok membawa semua kepada Oey Yong. Matanya See Tok kemudian diarahkan ke tengah laut. Ia mau melihat ada perahu datang atau tidak. Ketika itu air mulai naik. Terang sekali ia sudah tidak sabaran sekali, maka juga ia mengajak si nona dan pemuda lekas bekerja.
Kali ini Oey Yong mengikat potongan-potongan balok itu ke batu. Ia pakai balok-balok itu untuk meminjam tenaga mengambangnya. Setelah itu, dengan dadung yang terikat rapi pula pada pohon besar, mereka mulai lagi dengan usahanya mendorong mutar ujung-ujung balok yang diikat pada pohon itu.
Percobaan si nona memberi hasil yang menyenangkan, dengan dibantu tenaga mengambangnya balok-balok itu, batu besar itu dapat terangkat hanya dengan beberapa putaran.
Auwyang Hong menyuruh muda-mudi itu menahan kuat-kuat, ia sendiri lari ke batu. Air telah pasang, maka untuk menolongi keponakannya, ia mesti menahan napas untuk selulup. Tidak sukar untuknya memondong Auwyang Kongcu, buat dibawa ke darat.
Kegirangannya Kwee Ceng tidak terhingga besarnya dimana pertolongan mereka telah berhasil, tanpa merasa ia bersorak-sorai, kemudian ia tarik tangan Oey Yong, diseret berlari-lari ke gua mereka tanpa memperdulikan lagi paman dan keponakannya itu.
"Adik Yong, pantas atau tidak aku bersorak?" tanya Kwee Ceng. "Hatimu lega atau tidak?"
"Aku hanya lagi memikirkan tiga soal yang aku merasakan kesulitannya," menyahut si nona.
"Kau sangat cerdas, kau pasti mempunyai dayanya," berkata pula Kwee Ceng. "Soal-soal apakah itu?"
Oey Yong menyebut-nyebut kesulitan tetapi ditanya begitu, ia bersenyum. Hanya, belum lagi ia memberikan jawabannya kedua alisnya dikerutkan.
"Soal yang pertama tidak apa," berkata Ang Cit Kong yang semenjak tadi berdiam saja. "Yang kedua dan yang ketiga memang sulit sekali, sungguh itu dapat membuat orang tidak berdaya……."
Kwee Ceng menjadi heran. "Eh, mengapakah suhu mendapat tahu?" katanya. "Apakah itu?"
"Aku dapat menerka pikirannya Yong-jie," menyahut sang guru. "Yang pertama-tama yaitu dengan cara bagaimana dia dapat mengobati lukaku. Di sini tak ada tabib, tak ada obat, aku si pengemis tua menyerah saja kepada takdir. Lihat saja, aku bakal mati atau bisa hidup terus… Yang kedua bagaimana caranya melawan Auwyang Hong si licin dan berbisa itu. Dia suka berbalik pikir, maka dia tak dapat dipercaya segala pembilangannya. Dia sangat lihay, kamu berdua tidak bisa menempur padanya. Yang ketiga ialah soal bagaimana kita bisa dapat pulang ke daratan. Benar bukan, Yong-jie?"
Nona itu mengangguk. "Benar!" sahutnya. "Ini soal sangat penting untuk kita, bagaikan bencana di depan mata. Aku memikir jalan untuk dapat mengendalikan si tua bangka berbisa itu, walaupun tidak sempurna, asal dia dapat dibikin tidak berani memandang sebelah mata kepada kita."
"Melihat keadaan, sekarang ini kita mesti melawan si bisa bangkotan itu dengan otak bukannya dengan tenaga," berkata Ang Cit Kong. "Hanya dia sangat cerdik dan licin, inilah kesulitannya. Sukar dia dapat diperdayakan…"
Oey Yong berdiam, ia berpikir. Kwee Ceng pun tidak berdaya. Ang Cit Kong berpikir keras sekali, ia merasakan dadanya sakit, karena itu ia lalu batuk-batuk. Nona Oey kaget, lekas-lekas ia pegangi gurunya, untuk dikasih rebah.
Disaat itu, mendadak gua menjadi gelap, ada bayangan hitam yang mengalinginya. Si nonalah yang paling dulu mengangkat kepala. Ia melihat Auwyang Hong berdiri tegar seraya memondong keponakannya. Dengan suara serak tetapi bengis, See Tok membentak:
"Kamu semua keluar! Serahkan gua ini padaku aku merawat keponakanku!"
Kwee Ceng gusar hingga ia berlompat bangun. "Di sini ada guruku!" ia berseru.
Auwyang Hong mengasih dengar suara dingin: "Sekalipun Giok Hong Taytee yang tinggal disini, dia juga mesti keluar!"
Kwee Ceng bertambah gusar, tetapi Oey Yong lekas menarik tangan bajunya, kemudian si nona memondong tubuh gurunya, dibawa keluar dari gua itu. Selagi lewat di samping Auwyang Hong, Cit Kong menyeringai.
"Sungguh gagah, sungguh angker!" ia menyindir.
Mata Auwyang Hong mencilak. Kalau ia menyerang, segera Ang Cit Kong akan terbinasa, entah kenapa ia merasakan suatu pengaruh aneh, maka lekas-lekas ia berpaling ke arah lain, untuk menyingkir dari mata tajam si pengemis. Walaupun begitu, mulutnya membilang:
"Sebentar kamu membawakan makanan untuk kami berdua. Dan kau, dua makhluk cilik, jikalau kamu main gila dengan makanan itu, hati-hati jiwamu bertiga!"
Ketiganya berjalan terus, hati mereka panas. Kwee Ceng sangat mendongkol, ia mengutuk tak hentinya. Pak Kay dapat menutup mulut, demikian juga Oey Yong. Hanya nona ini bekerja otaknya.
"Kamu tunggu sebentar di sini, aku akan mencari tempat yang baru," kata Kwee Ceng kemudian.


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar