Kwee Ceng terus bergembira. Ia mematahkan secabang pohon, buat dicekal tangan kanan bagaikan pedang. Dengan begitu mereka mulai bertempur, mulanya perlahan-lahan. Terus Pek Thong memberikan keterangan, sampai adik angkatnya itu mengerti betul-betul. Dengan begitu, adik angkat itu dapat lagi semacam ilmu yang luar biasa.
Hari terus berjalan, setelah lewat beberapa hari pula, Pek Thong ajak adik angkatnya itu bergerbrak pula. Mereka berkelahi seperti empat orang. Dalam kegembiraannya, Pek Thong berkelahi sambil tertawa. Kwee Ceng sebaliknya repot, ia terdesak, maka kalau tangan kanannya kewalahan, tangan kirinya membantu, begitu sebaliknya. Kalau ia terdesak, mereka jadi seperti berkelahi bertiga. Tapi biar bagaimana, Kwee Ceng toh mengerti juga.
"Ah, kau tidak pakai aturan!" Pek Thong mentertawakan adiknya, yang berkelahi seperti sendiri itu.
Kwee Ceng tidak membilang apapun, hanya selang beberapa jurus, tiba-tiba ia lompat mundur, terus ia berdiam.
"Toako!" katanya, habis berpikir, "Aku ingat sesuatu…"
Pek Thong heran. "apakah itu?" dia menegasi.
"Kedua tangan toako menjadi seperti dua orang, kalau kedua tangan itu dipakai melawan satu orang, bukankah berarti dua lawan satu? Kita sekarang hanya main-main tetapi aku pikir itu dapat dipakai buat berkelahi benar-benar…"
Pek Thong tak usah berpikir lama untuk menyadari itu. Mendadak ia lompat keluar dari gua, dia menjambret cabang pohon, mematahkan dua batang. Habis itu ia jalan mondar-mandir di mulut gua, sambil tertawa terus.
"Toako, kau kenapa?" menegur Kwee Ceng heran. Kakak itu seperti edan. "Kau kenapakah?"
Pek Thong tidak menjawab, ia tertawa terus. Selang sekian lama, baru ia kata: "Adik, aku keluar dari gua!"
"Ya," Kwee Ceng menyahut, dia lompat ke mulut gua. "Nanti aku gantikan kau menjaga di sini. Asal jangan toako pergi jauh…."
Pek Thong tertawa, dia menyahut: "Sekarang ini kepandaianku yang nomor satu di kolong langit, perlu apa aku takut pula Oey Yok Su? Sekarang aku tinggal menantikan dia, untuk menghajarnya kalang-kabutan!"
Kwee Ceng heran.
"Toako, pastikah kau bakal menang?"
"Sebenarnya aku masih kalah seurat," sahut Pek Thong, "Tetapi sekarang aku dapat memecah diri, dengan dua lawan satu, di kolong langit ini tidak bakal ada lain orang yang dapat menangi aku! Oey Yok Su, Ang Cit Kong dan Auwyang Hong, boleh mereka lihay sekali, akan tetapi dapatkah mereka melayani dua Loo Boan Tong?"
Kwee Ceng girang. Beralasan perkataan kakak angkat ini.
"Adikku," kata pula Pek Thong, "Kau sudah mengerti ini ilmu memecah diri, untukmu tinggal latihan terlebih jauh untuk memahirkannya. Beberapa tahun kemudian, sesudah kau bisa meyakinkan seperti kakakmu ini, kau pasti akan tambah hebat!"
Girang dua saudara angkat ini. Bahkan Ciu Pek Thong mengharap munculnya Oey Yok Su, yang baru beberapa saat di muka ia takuti. Coba tidak Oey Yok Su mempunyai jalan rahasianya itu, yang menyesatkan orang, ia sudah pergi mencari.
Sore itu ketika si bujang tua datang membawa makanan, Pek Thong cekal tangan orang. "Pergi lekas panggil Oey Yok Su kemari, bilang di sini aku menantikan dia, suruh dia mencoba tanganku!"
Selama orang berbicara, bujang tua itu terus menggoyangkan kepala, ketika Pek Thong sudah habis bicara, baru ia sadar sendiri, "Aah, aku lupa dia tuli dan gagu!" katanya, berludah. Maka ia menoleh kepada Kwee Ceng: "Sore ini kita mesti dahar sampai kenyang!" Ia lantas membuka tutup makanan.
Kwee Ceng dapat mencium bau makanan yang sedap. Ketika ia sudah memeriksa, ia dapat kenyataan, di antara sayuran ada ayam tim yang ia doyan sekali. Ia jadi berpikir. Kemudian ia mencoba. Ia merasa itu seperti masakannya Oey Yong. Lantas hatinya berdebaran. Tahulah ia, itulah masakannya si nona untuknya. Ia lantas memperhatikan yang lainnya. Dari belasan bakpauw, ada satu yang ukirannya seperti buli-buli, rupanya itu sengaja dibikin dengan kuku tangan, ukirannya cetek, tidak gampang untuk melihat itu. Ia heran, maka ia jumput bakpauw itu, untuk dibelah dua. Di dalam situ ada sepotong lilin. Lekas¬ ia masuki ke sakunya selagi Pek Thong dan si bujang tidak memperhatikannya.
Kali ini dua orang itu dahar dengan masing-masing pikirannya. Pek Thong gembira karena berhasil menciptakan ilmu silat baru, sembari mencaplok, ia seperti bersilat. Kwee Ceng mengharapkan lekas dahar cukup supaya ia bisa baca suratnya Oey Yong. Ia percaya si nona punya kabar untuknya.
Akhirnya Pek Thong telah dahar habis bakpauwnya, lalu ia tenggak kuah supnya, habis itu si bujang berbenah dan berlalu.
Sampai di situ Kwee Ceng keluarkan lilinnya, untuk dipecahkan. Benar di dalamnya ada surat, dari Oey Yong. Si nona menulis:
"Engko Ceng, jangan khawatir. Ayah sudah baik lagi denganku. Kau tunggulah, perlahan-lahan aku nanti minta supaya ayah melepaskan kau." Habis membaca, surat itu dikasih lihat pada Pek Thong. Kakak itu tertawa.
"Di sini ada aku, dia tidak melepaskanmu pun tidak bisa!" katanya.
Ketika itu cuaca mulai gelap. Kwee Ceng duduk bersemadhi, tetapi ia senantiasa memikirkan Oey Yong, tidak bisa ia berdiam tenang. Selang sekian lama, baru ia merasa tentram. Tapi justru ia tenang, dapat berpkir bahwa untuk dapat memisahkan diri, ia mesti berkatih. Dengan kedua tangannya bergantian ia tutup kedua lubang hidungnya, untuk bikin napasnya pun menjadi dua….
Kira-kira satu jam dia melatih diri, Kwee Ceng merasakan mendapat kemajuan. Tiba-tiba ia mendengar suara mendesir keras, lekas-lekas ia membuka matanya. Cuaca sudah gelap tetapi di situ terlihat rambut dan kumis putih bergerak-gerak, maka ia mengawasi. Terlihatlah olehnya Ciu Pek Thong lagi melatih diri dengan ilmu silat Kong-beng-kun yang terdiri dari tujuhpuluh dua jurus. Kelihatannya setiap tangan dikeluarkan perlahan tetapi kesudahannya anginnya keras. Jadi itulah lemas memelihara kekerasan. Girang ia melihat kakaknya begitu hebat.
Selagi Kwee Ceng menonton lebih lanjut dengan gembira, tengah Ciu Pek Thong bersilat dengan asyik, mendadak orang tua itu menjerit, disusul sama satu suara bentrokan keras, sebab suatu benda panjang dan hitam terlempar dari tubuhnya si orang tua, membentur pohon. Nampaknya bendab itu seperti kena disambar.
Kwee Ceng terkejut. Ia lihat tubuh kakaknya terhuyung. Ia lompat menghampirkan. “Toako, ada apa?" dia menanya.
"Aku digigit ular berbisa!" sahut Pek thong.
Bukan main kagetnya Kwee Ceng. Ia tampak air muka kakaknya pias. Ia lantas mempepayang orang masuk ke gua. Ia merobek ujung bajunya, membalut keras paha kakaknya, bagian yang dipagut ular, guna mencegah bisa ular mengalir masuk ke dalam tubuh. Tempo menyalakan api, ia menjadi lebih kaget. Ia melihat betis yang menjadi bengkak.
"Di pulau ini tidak biasanya ada ular berbisa, entah darimana datangnya binatang ini," kata Pek Thong. Ia kenali ular hijau.
Kwee Ceng mendengar nyata suara kakaknya, jadi terlebih kaget lagi. Itu tanda hebatnya racun ular. Bagus, si kakak dapat mengendalikan napasnya, dia jadi masih dapat mempertahankan diri tanpa pingsan. Tanpa bersangsi ia membungkuk segera ia bawa mulutnya ke paha, ke tempat yang luka, menyedot darah yang telah kecampur racun ular itu.
Pek Thong terkejut melihat kelakuan adik angkatnya ini. "Jangan!" ia mencegah. "Ular orang, ia menyedot terus. Pek Thong bisa mati!"
Kwee Ceng hendak menolong jiwa orang, ia lupa kepada dirinya sendiri. Ia mencekal keras kaki orang, ia menyedot terus. Pek Thong hendak berontak buat melepaskan diri tetapi segeralah dia lelah, tubuhnya lemas, tak dapat bergeming lagi. Bahkan habis itu ia pingsan.
Kwee Ceng menyedot lamanya semakanan nasi, lantas ia lepehkan racun ular itu. Ia dapat menyedot pulang sebagian besar racun itu. Pek Thong pun kuat tubuhnya berkat ilmu dalamnya, selang sejam, ia siuman.
"Adik," dia berkata, "Hari ini kakakmu bakal pulang ke negeri baka, sebelum mati aku dapat mengangkat saudara sama seorang berbudi seperti kau, aku sangat girang…"
Kwee Ceng mengucurkan air mata. Pendek pergaulan mereka tetapi ia sangat ketarik sama orang tua ini, yang baik hati. Mereka sudah jadi seperti saudara kandung.
Pek Thong tertawa dalam kedukaan. "Bagian dari Kiu Im Cin-keng berada di dalam peti kecil, yang aku pendam di dalam tanah di atas biasa aku duduk numprah," Pek Thong berkata pula. "Sebenarnya aku hendak mewariskan kepada kau tetapi kau sudah mengisap racun ular, kau juga bakal tidak panjang umur…. Adikku, kita pulang ke dunia baka bersama-sama, dengan bergandeng tangan, kita tak usah khawatir kita tak punya kawan…."
Kwee Ceng terkejut mendengar kata-kata orang bahwa ia bakal mati. Ia justru merasakan tubuhnya sehat, tidak ada tanda-tanda yang luar biasa. Ia lantas pula nyalakan api, untuk periksa luka kakaknya itu. Bahan apinya itu tinggal separuh, maka ia berlaku sebat. Ia keluarkan dari sakunya surat dari Oey Yong, dia sulut itu, lantas ia memikirkan untuk mencari cabang dan daun kering diluar gua, untuk ia sekalian, kesudahannya ia terkejut. Tidak ada cabang atau daun kering di situ, rumput semuanya hijau dan segar.
Dalam bingung, ia merogoh pula sakunya, untuk mencari apa saja yang dapat dijadikan bahan api. Ia tidak dapatkan apa-apa kecuali sehelai benda kertas bukan kulit bukan, yang Bwee Tiauw Hong pakai membungkus pisau belati. Tanpa pikir panjang, ia keluarkan itu, untuk dibakar. Ia menyuluhi muka Pek Thong. Ia melihat tampang yang hitam gelap, tidak lagi roman segar sebagai bocah dari kakak angkatnya itu.
Melihat api, Pek Thong mengawasi Kwee Ceng. Ia tersenyum. Tapi melihat wajah orang, yang sehat seperti biasa ia heran. Tengah ia berpikir, ia melihat benda yang menyala di tangan si anak muda, ia menampak huruf-huruf. Baru ia melihat belasan huruf, lantas ia sampok api itu hingga padam, sesudah itu, ia menghela napas lega.
"Eh, adikku, kau pernah makan obat apa yang mujarab?" ia tanya. "Kau sudah menyedot racun ular tetapi racun ular itu tidak dapat mencelakai kau!"
Ditanya begitu, Kwee Ceng ingat halnya dulu ia bersama Ang Cit Kong dan Oey Yong bertemu banyak ular dalam rimba pohon cemara, bagaimana tidak ada ular yang berani menggigit dirinya, ketika kemudian Cit Kong minta keterangan padanya ia ingat pernah menghirup darah ularnya Nio Cu Ong. Maka ia lantas memberi keterangannya.
Pek Thong mengerti, lantas ia menunjuk barang seperti kertas atau kulit. "Jangan kau bakar itu!" katanya. "Itulah mustika…!"
Tidak sempat ia bicara lebih jauh, kembali Pek Thong pingsan. Sebenarnya ia hendak menjelaskan, benda itu memuat huruf-huruf yang merupakan Kiu Im Cin¬keng bagian bawah.
Dalam keget dan bingungnya Kwee ceng menguruti kakaknya. ia ingin menolong tetapi tidak ada hasilnya. Ia meraba paha orang, merasakan paha panas seperti api dan bengkaknya pun bertambah. Saking khawatir, ia lari ke luar gua, melompat naik ke pohon terus ia berkoak-koak: "Yong-jie" Yong-jie! Oey Tocu! Tolong! Tolong!"
Luas Tho Hoa To itu, Oey Yok Su entah ada di bagian mana, suara Kwee Ceng sia-sia belaka. Cuma datang sambutan kumandang koakannya itu di antara lembah.
Habis daya Kwee Ceng, ia lompat turun. Tetapi ia tidak putus asa. Mendadak ia ingat suatu hal. Ia pikir: "Ular beracun tidak berani menggigit aku, mungkin darahku bisa memunahkan racun ular." Begitu mengingat ini, ia bekerja. Ia ambil mangkok hijaunya Pek Thong, yang diperantikan menaruh teh, ia pun menghunus pisau belatinya. Tanpa sangsi lagi, ia potong lengannya, darahnya yang mengalir ia tadahkan dengan mangkok. Ia tunggu sampai darah habis mengucur keluar, terus ia letakkan tubuh Pek Thong di kakinya. Ia membuka mulut saudaranya, menggunakan tangan kiri lalu dengan tangan kanan ia menuang darahnya ke dalam mulut orang.
Anak muda ini telah mengeluarkan banyak darah, walaupun tubuhnya kuat, ia lelah juga, ia menjadi lemas. Menyender pada lamping gua, ia meram dan menjadi pulas. Ia baru sadar ketika merasa ada orang meraba lengan untuk membalut lukanya, ketika ia membuka mata, melihat Loo Boan Tong yang rambutnya melorot turun. Ia menjadi girang sekali.
"Kau…kau…baik?" serunya.
"Aku baik, adikku," sahut Pek thong. "Kau telah menolong aku, kau sampai mengorbankan dirimu."
Kwee Ceng mengawasi paha kakaknya, warna hitam sudah lenyap, tinggal warna merah dan bengkaknya.
Keduanya tidak banyak omong, bersama-sama mereka bersemadhi. Adalah setelah bersantap tengah hari, Ciu Pek Thong baru menanyakan halnya benda yang berupa kulit atau kertas itu yang ada huruf-hurufnya.
Kwee Ceng mesti mengingat-ingat dulu sebelumnya ia menjawab. Ia ingat itulah benda yang ia dapatkan dari gurunya yang nomor dua, Biauw-ciu Sie-seng Cu Cong, yang sebaliknya mendapatkan itu dari sakunya Bwee Tiauw Hong, ketika guru itu mencuri pisau belati orang, piasu belati mana dibungkus dengan kulit itu. Maka ia lantas menuturkan peristiwa di Kwie-in chung baru-baru ini.
Ciu pek Thong berpikir. Ia tidak mengerti kenapa Bwee Tiauw Hong mencatat Kiu Im Cin-keng di kulit itu.
"Toako, kau menyebutkannya itu barang berharga, apakah artinya?" tanya Kwee Ceng yang masih belum mengetahui itu adalah Kiu Im Cin-keng bagian bawah.
"Hendak aku memeriksa dulu baru aku bisa menjawab," menyahut Pek Thong. "Aku ingin membuktikan ini yang tulen atau yang palsu."
Pek Thong masih terbenam kesangsian. Bukankah orang Coan Cin Pay dilarang mempelajari Kiu Im Cin¬keng? Bukankah maksudnya Ong Tiong Yang mendapatkan itu guna menyingkirkan bencana di kemudian hari? Ia tidak berani melanggar pesan itu. Akan tetapi ia berpikir: "Bukankah aku tidak berniat mempelajarinya dan aku cuma hendak melihat saja?"
Ini pula sebabnya kenapa selama numprah di dalam gua itu, ia periksa Kiu Im Cin-keng bagian atas dan membacanya berulang-ulang hingga ia hapal di luar kepala. Bagian atas itu memuat ilmu silat tangan kosong dan pedang, tidak ada tipu atau rahasianya untuk mengalahkan lain orang, jadi sia-sia semua pelajaran itu apabila orang tidak mendapatkan bagian bawahnya.
Selama sepuluh tahun lebih, Pek Thong senantiasa memikirkan dan menduga-duga bagaimana isinya Kiu Im Cin-keng bagian bawah. Dasar kepandaiannya telah mencapai puncak dan ia pun sangat hapal Kiu Im Cin-keng bagian atas, maka begitu melihat bagian bawahnya, ia lantas mengerti hubungan keduanya. Sekarang ia berpikir keras, menyakinkan itu atau jangan? Ia tidak menghendaki menjadi jago nomor satu tetapi ia ingin mengetahui dasarnya ilmu silat, bagaimana lihaynya. Karena kesangsiannya, sebab masih terpengaruh pesan kakak seperguruannya, akhirnya ia masukkan kitab itu ke dalam sakunya dan tidur.
Tidak lama setelah mendusin, pek Thong ajak Kwee Ceng membantu menggali tanah di bagian tempat duduknya, mengeluarkan kitab simpanannya, untuk dihubungi dengan bagian bawahnya. Baru ia mengorek beberapa kali, dengan sebatang pohon yang dipakai sebagai alat penggali, mendadak ia berseru: "Benar! Benar! Inilah cara yang paling baik!" Ia lantas tertawa, agaknya ia girang luar biasa.
"Toako, kau bilang apa?" tanya Kwee Ceng mengangkat kepalanya.
Pek Thong tertawa pula, ia tidak menjawab. Ia sebenarnya ingat sesuatu. Katanya dalam hati: "Dia bukan orang Coan Cin Pay, aku ajari dia menurut bunyinya kitab, supaya ia mengerti semuanya, habis ia melatih itu, untuk aku melihat, tidakkah aku jadi dapat mencapai maksudku untuk melihatnya?"
Tapi sejenak kemudian, ia memikir lainnya. "Di dengar dari suaranya, ia jemu terhadap Kiu Im Cin-keng, yang ia namakan ilmu sesat, cuma ia keliru mengerti sebab ia melainkan menyaksikan Hek Hong Siang Sat, yang mengerti hanya bagian bawahnya. Ia tidak tahu bahwa bagian atasnya memuat cara-cara yang sehat. Karena Hek Hong Siang Sat tidak mengetahui bagian atasnya, mereka menjadi sesat. Baiklah aku mengatur begini, aku tidak mengasih keterangan padanya, nanti sesudah ia paham, baru aku mengasih tahu, biar ia kaget. Karena ia sudah mengerti ilmu itu, tidak dapat ia membuangnya pula! Tidakkah ini lucu?"
Setelah berpikir demikian, ia awasi Kwee Ceng. Ia berkata: "Adikku, selama aku berdiam di dalam gua ini, kecuali ilmu silat Kong-beng-kun serta cara berkelahi main-main itu, sebenarnya aku telah mendapatkan beberapa ilmu lain. Sekarang ini kita nganggur, bagimana jikalau aku mengajari pula padamu?" Ia bicara tanpa mengasih kentara apa-apa.
Kwee Ceng polos, ia girang. "Memang itu bagus!" jawabnya.
"Jangan kau kegirangan, kau telah kena terpedaya!" kata Pek Thong dalam hatinya. Ia segera mulai membacakan isinya Kiu Im Cin-keng bagian atas.
Kwee Ceng tidak cerdas, ada bagian-bagian yang tidak mengerti, ia menanyakan itu. Pek Thong berlaku sabar luar biasa untuk memberikan penjelasannya, sesudah itu, dari bagian atas ia menyambung ke bagian bawah. Cuma, untuk tidak membikin orang curiga, ia suka mengambiln jalan menyimpang.
Luar biasa caranya mengajar Ciu Pek Thong ini. Beda dari semua guru lainnya, ia tidak memberi penjelasan dengan gerakan tangan atau kaki, tetapi meski pun demikian, berkat bahan baik dari Kwee Ceng, yang pun bersungguh-sungguh, dan berkat kesabarannya sendiri, ia memperoleh hasil. Setelah Kwee Ceng mengerti, ia mencoba membandingkan itu dengan ilmu silat Coan Cin Pay.
Kwee Ceng tetap tidak mendusin bahwa ia sudah mendapatkan pelajaran dari Kiu Im Cin¬keng. Hal ini membuat Pek Thong sangat girang, walaupun tengah bermimpi, ia suka tertawa sendiri.
Selama beberapa hari ini, Oey Yong pun terus membikinkan Kwee Ceng beberapa rupa barang hidangan yang digemari si anak muda. Cuma ia tidak muncul menemui anaknya.
Kwee Ceng berlega hati, ia mantap belajar silat, hingga mendapat kemajuan hebat. Pada suatu hari Pek Thong mengajari ilmu mencengkram atau menjambak Kiu Im Pek-ku Jiauw. Sebagai sasarannya adalah tembok gua.
"Pusatkan perhatianmu! Gunakan sepuluh jarimu!" berkata si guru.
Kwee Ceng menurut. Selang beberapa kali, dia heran.
"Toako," katanya, "Aku lihat Bwee Tiauw Hong pernah mempelajari ilmu semacam ini, melainkan sasarannya manusia hidup, dengan jarinya ia mencengkram batok kepala orang, dia kejam sekali!"
Di dalam hatinya Pek Thong terkejut juga. Pikirnya: "Memang, Bwee Tiauw Hong itu mengambil jalan sesat, sebab ia tidak tahu bagian atasnya. Ia cuma turuti kitab bawah yang bunyinya: 'Diwaktu bertempur, dengan jari-jari tangan mencengkram batok kepala lawan.' Ia tentunya pikir, melatihnya pun mesti memakai manusia hidup. Dia mulai curiga, baiklah aku mengubahnya…" Maka sembari tertawa ia berkata: "Dia mempelajari ilmu sesat, dia beda dari kita kaum sejati. Baiklah, kita menunda mempelajari ilmu Kiu Im Sin-jiauw, aku nanti mengajari kau ilmu dalam." Sembari berkata begitu, ia berpikir: "Baik aku mengajari dulu bagian atas sampai dia hapal benar, kemudian baru bagian bawah. Kalau keduanya menemui runtunannya, tentulah ia tidak curiga lagi."
Kwee Ceng menurut, maka ia mulai dari bagian atas. Seperti biasa dengan pelajaran baru, Kwee Ceng selalu menemui kesulitan, tidak gampang ingat atau mengerti, karena ini, berulangkali ia meminta keterangan, dan saban-saban Ciu Pek Thong mesti menjelaskannya. Penjelasan ini sering sampai beberapa puluh kali, meski Kwee Ceng tidak dapat mengerti maksudnya, ia toh dapat membaca di luar kepala. Karena ini, mereka meminta tempo lagi beberapa hari, baru setelah itu, Kwee Ceng mulai melatih dengan tangan dan kakinya.
Sering Kwee ceng melihat kakaknya tersenyum atau tertawa sendiri, ia tidak curiga, sebab ia tahu kakak angkatnya ini memang nakal dan suka bergurau.
Kemudian pada suatu pagi, habis Kwee Ceng berlatih, bujang tua membawakan mereka makanan. Kali ini Kwee Ceng lantas dapat melihat sebuah bakpauw yang ada tandanya. Tidak menanti habis dahar, ia bawa bakpauw itu ke pepohonan yang lebat, untuk dibuka dan diperiksa isinya. Oey Yong menulis surat yang bunyinya membuat kaget. Nona itu menulis:
"Engko Ceng, See Tok datang melamar untuk keponakannya, ia hendak menjodohkannya denganku. Ayah sudah memberikan jawabannya….”
Sampai di situ surat itu. Rupanya belum selesai ditulis, surat itu telah dimasukkan ke dalam bakpauw. Itulah tandanya si nona sangat tergesa-gesa. Tidak salah lagi, jawabannya Oey Yok Su tentulah menerima lamaran itu, kalau tidak si nona tidak nanti menjadi bingung. Karena ini, ia pun menjadi bingung sekali.
Kwee Ceng tunggu sampai si bujang tua berbenah dan berlalu, ia perlihatkan suratnya Oey Yong kepada Pek Thong.
"Ayahnya sudah menerima baik, itu bagus. Ini tidak ada sangkut pautnya dengan kita!" kata sang kakak.
"Tidak, toako!" kata Kwee Ceng, tetap bingung. "Dia sudah berjanji menyerahkan dirinya padaku. Dia bisa menjadi gila!"
"Sesudah seseorang menikah, ada beberapa macam ilmu kepandaian yang tidak dapat dipelajari lagi lebih jauh," Pek Thong memperingatkan. "Umpama dua ilmu It-yang-cie dan Sun-yang-cie, keduanya mesti dipelajari oleh anak-anak jenaka. Adik, kau dengar aku, lebih baik kau jangan menginginkan istri…"
Kwee Ceng tidak menghiraukan nasehat itu. Karena kakak ini tidak sependapat dengannya, ia jadi semakin gelisah.
"Coba dulu aku tidak kehilangan tubuh perjakaku," kata pula Ciu Pek Thong, "Karena itu aku tidak bisa mempelajari ilmu It-yang-cie, mana bisa sekarang Oey Lao Shia mengurung aku di pulau iblis ini? Kau lihat sekarang, karena kau memikirkan istri, pemusatan pikiranmu jadi terpecah, pelajaranmu hari ini pastilah tidak dapat kau selesaikan. Kalau benar kau hendak menikahi putrinya Oey Lao Shia, putri yang cantik bagaikan bunga itu, ah, sayang, sungguh sayang…."
Tidak puas Kwee Ceng mendengar orang ngoceh tentang jeleknya mempunyai istri. "Aku nikahi dia atau tidak, itu urusan belakangan, toako!" katanya. "Sekarang kau tolong dulu dia!"
"See Tok itu ada yang sangat buruk, keponakannya juga pasti bukan orang baik," berkata Ciu Pek Thong. "Biarlah ia menikah sama putri yang licin dan buruk dari Oey Lao Shia, supaya dia tahu rasa! Bukankah itu bagus?"
Kwee Ceng menghela napas. Ia pergi ke rimba, di situ ia duduk menjublak. "Biar aku kesasar dan mati, mesti aku cari dia!" pikirnya mengambil keputusan. Karena ini, ia melompat bangun. Justru itu ia dapat mendengar dua kali pekiknya burung di tengah udara, lalu berkelebat dua bayangan putih, yang menyambar ke bawah. Bahkan segera ia mengenali dua burung rajawali, yang dibawa Tuli dari gurun pasir. Ia menjadi girang sekali. Ia lantas mengangkat melintang tangannya untuk burungnya itu mencelok.
Di kakinya burung yang lelaki ada terikat sebuah selubung bambu. Kwee ceng meloloskan ikatannya untuk diperiksa isinya, sehelai surat. Surat dari oey Yong. Si nona menulis bahwa ia sangat terancam, lantaran beberapa hari lagi See Tok bakal datang mengantarkan panjar, bahwa ia dijaga keras oleh ayahnya, sudah dilarang keluar rumah, tak boleh setengah tindakpun, ia pun dilarang memasak makanan lagi untuk si pemuda.
Maka itu, tulisnya lebih jauh, kalau sampai saatnya dan dia tidak bisa lolos lagi, ia hendak menghabiskan nyawanya. Dia larang si pemuda mencari dia disebabkan semua jalanan di Tho Hoa To penuh rahasia dan berbahaya.
Kwee Ceng bengong sekian lama, lantas ia menghunus pisau belatinya. Ia mengurat berulangkali di selebung bambu itu, mengukir delapan huruf, bunyinya: "Hidup bersama dalam sebuah rumah, mati bersama dalam sebuah liang." Ia ikat pula selubung pada kaki burungnya, lantas ia kibaskan tangannya.
Sepasang burung itu lantas pergi terbang, di udara mereka terbang berputaran, lalu terus menuju ke arah Utara.
Sekarang hati Kwee Ceng merasa lega, maka ia bersila untuk bersemadhi, guna meyakinkan ilmunya, sebentar kemudian ia menghampiri Ciu Pek Thong, guna mendengar pengajaran kakak angkatnya.
Lewat sepuluh hari, Oey Yong tidak memberi kabar apapun. Selama itu, Kwee Ceng telah berhasil menghapalkan kitab bagian atas. Karena ini, dalam girangnya, Pek Thong mulai mengajari kitab bagian bawah. Ia cuma mengajari serupa demi serupa, ia tidak menyuruh orang berlatih dulu menuruti itu. Ini untuk mencegah timbulnya kecurigaan si anak muda.
Kwee Ceng belajar dengan sungguh-sungguh. Setelah puluhan kali, ia berhasil mengingat di luar kepala isi kitab bagian bawah, maka berhasillah ia menguasai kedua bagian kitab itu.
Pada suatu malam, tengah rembulan terang benderang, Pek Thong ajak Kwee Ceng berlatih dengannya. Kesudahannya membuat ia girang sekali. Ia merasa bahwa telah maju pesat. Ia percaya, kalau nanti ia sudah dapat memahamkan isinya kitab, ia bakal lebih lihay daripada Oey Yok Su dan Ang Cit Kong.
Habis berlatih, keduanya beristirahat ngobrol. Lalu tiba-tiba mereka mendengar suara menggelesernya sesuatu di atas rumput. Kwee Ceng kenali suara itu.
"Ular!"
Pek Thong kaget hingga mukanya menjadi pucat, ia lompat untuk lari masuk ke dalam gua. Ia gagah tetapi menghadapi ular, ia merasa kepalanya sakit.
Kwee ceng pun tidak berdiam saja. Ia menggeser beberapa potong batu besar, untuk dilintangkan di mulut gua. Kemudian dia kata, "Toako, jangan bergerak, hendak aku melihat."
"Hati-hati," Pek Thong memesan. "Lekas kau kembali!"
Kwee Ceng berjalan ke arah dari mana suara ular datang. Setelah puluhan tindak, ia dapat melihat ularnya. Ia heran sekali. Di bawah cahaya rembulan, nampak ular dalam jumlah ribuan atau puluhan ribu, berbaris bagai satu pasukan tentara, menuju ke Utara. Penggembalanya ada beberapa pria dengan seragam putih, yang tangannya memegang galah panjang. Barisan ular ini lebih hebat daripada barisan ularnya Auwyang Kongcu.
"Mungkinkah See Tok sendiri yang datang ke mari?" si anak muda menanya diri sendiri. Ia kaget. Ia menyembunyikan tubuhnya di belakang pohon, lalu ia menguntit barisan ular itu. Syukkur untuknya, semua penggembala ular itu biasa saja kepandaiannya, mereka tidak ketahui dirinya ada yang mengikuti.
Di paling depan ada berjalan satu bujang gagu. Dialah yang memimpin. Di dalam rimba itu orang berjalan berliku-liku jauhnya kira-kira duapuluh lie, setelah melintasi sebuah bukit, tibalah mereka di sebuah tegalan luas dengan rumput hijaunya. Di Utara tegalan rumput itu ada rimba pohon bambu.
Setibanya di situ, semua ular tidak berjalan lebih jauh, bahkan dengan menuruti petunjuk galah penggembalanya, semua pada berdiam melingkar dengan rapi, kepala mereka diangkat tinggi.
Kwee Ceng berlaku waspada, tidak mau ia memperlihatkan dirinya. Ia nelusup ke Timur, yang merupakan rimba, dari situ ke Utara, ke hutan bambu. Di situ ia sembunyi sambil memasang kuping dan mata. Rimba itu sunyi. Ia bertindak secara enteng sekali. Di dalam rimba itu ada sebuah paseban yang terbuat dari bambu, menurut mereknya yang tergantung, namanya Cek Cui Teng. Di samping kedua mereka itu ada sepasang lian. Di dalam paseben ada meja dan kursi terbuat dari bambu, semua barang bikinan dari banyak tahun, bambunya sudah mengkilap, warnanya kuning muda. Sangat sunyi suasa di sekitar paseban itu.
Mengintai keluar, Kwee ceng melihat rombongan ular itu masih mendatang. Semua ular itu bukan ular hijau hanya ular yang kepalanya besar dan ekornya panjang, cahayanya kekuning-kuningan seperti emas. Habis ular kuning, baru ular hitam. Semua lidah mereka bergerak keluar masuk.
Semua ular terpecah ke Timur dan Barat, di tengahnya terbuka satu jalanan. Di situ terlihat beberapa puluh wanita dengan seragam putih dan tangan masing-masing mencekal tengloleng merah, bertindak dengan perlahan. Di belakang mereka berjalan satu orang dengan jubah terikat di pinggang, yang tangannya mengebas-ebas kipas. Dialah Auwyang Kongcu. Dia jalan di muka, sikapnya menghormat. Segera terdengar suaranya yang terang dan nyata; "Auwyang Sianseng dari Wilayah Barat datang menjenguk Oey Tocu dari Tho Hoa To!"
"Ah, benar-benar See Tok yang datang!" kata Kwee Ceng dalam hatinya. "Pantaslah rombongan ini begini besar dan agung-agungan sikapnya."
Memang, di belakangnya Auwyang Kongcu ada berjalan seorang lain, tubuhnya tinggi dan besar, yang pun berpakaian putih mulus. Kwee Ceng cuma dapat melihat belakang orang, tidak mukanya. Dia berhenti bertindak, begitupun Auwyang Kongcu selagi pemuda itu mengasih dengar suaranya.
Dari dalam hutan bambu lantas muncul dua orang. Melihat mereka itu, hampir Kwee Ceng menjerit. Itulah Oey Yok Su sendiri yang menuntun tangan putrinya, Oey Yong.
Auwyang Hong bertindak maju, ia menjura kepada Oey Yok Su, yang membalasinya. Auwyang Kongcu sendiri sudah lantas berlutut di depan pemilik dari Tho Hoa To itu, untuk memberi hormat sambil mengangguk empat kali. Ia kata: "Mantu yang tidak berharga menghadap gakhu tayjin, semoga gakhu tayjin sehat-sehat saja!" "Gakhu tayjin" itu berarti "Ayah mertua yang dihormati".
"Sudah, kau bangunlah!" kata Oey Yok Su, yang mengulurkan tangannya mengasih bangun pemuda itu, yang menyebut dirinya mantu dan memanggil orang sebagai mertuanya.
Auwyang Kongcu ketahui bahwa ia tentulah bakal diuji, maka itu ia sudah bersiap sedia. Ia mempertahankan diri begitu lekas tangan kirinya dipegang untuk untuk diangkat tetapi ketika ia bangkit, tubuhnya terhuyung juga hingga ia mengeluarkan seruan perlahan. Tubuhnya lantas berjumpalitan, kepala di atas, kakinya di bawah, jatuh ke tanah. Tapi Auwyang Hong sudah lantas menggerakkan tongkat di tangannya, ditempel pada punggung keponakannya itu, disontek dengan perlahan, maka kesudahannya sang keponakan dapat berjumpalitan pula, untuk berdiri tegar.
"Ha, bagus sekali, saudara Yok!" Auwyang Hong tertawa. "Kau membuat mantumu berjumpalitan sebagai tanda menghormat menghadapnya yang pertama kali?" Tidak sedap suaranya See Tok masuk ke dalam telinga Kwee Ceng.
"Dia telah menghina muridku yang buta matanya, aku ingin melihat sampai di mana kepandaiannya," menyahut Oey Yok Su.
Auwyang Hong tertawa lebar. "Bagaimana sekarang, apakah dia cocok untuk dipasangkan dengan putrimu?" dia menanya, sedangkan matanya melirik kepada Nona Oey, setelah mana ia mengasih dengar pujiannya: "Saudara, sungguh hebat! Beruntunglah kau yang telah mendapatkan putri yang begini cantik molek!" Ia lantas merogoh ke dalam sakunya, menarik keluar sebuah kotak, yang mana ia terus buka tutupnya, maka dari dalam itu memancar keluar cahaya terang indah. Di dalam kotak itu terletak empat mutiara sebesar buah lengkeng. Ia lantas menghadap Oey Yong, untuk berkata pula: "Ayahmu pernah malang melintang di kolong langit ini untuk banyak tahun, ada permata apakah yang aneh-aneh yang dia tidak pernah melihatnya? Maka itu ini bingkisanku berasal dari desa, sebagai hadiah pertemuan kita yang pertama ini, pastilah akan dibuat tertawaannya…!"
Sembari berkata begitu, See Tok mengangsurkan permata mulianya itu. Menampak itu, hatinya Kwee Ceng berdenyut keras. Katanya dalam hati: "Dia menerimanya atau tidak…?"
Segera juga terdengar suara tertawanya Oey Yong. "Terima kasih!" berkata si nona, yang mengulur tangannya menyambut hadiah itu.
Melihat kulit orang yang putih dan cantik itu, semangat Auwyang Kongcu meninggalkan tubuh raganya, sekarang ia mendengar tertawa orang yang manis merdu, goncangan hatinya bertambah hebat. Di dalam hatinya ia berpikir: "Ayahnya telah sudi menyerahkan dia kepadaku, maka sekarang sikapnya terhadapku beda banyak daripada dulu-dulu…."
Tengah pemuda ini tersengsam dan bagaikan bermimpi, mendadak ia melihat menyambarnya suatu cahaya kuning emas ke arahnya, saking kagetnya, ia menjerit, "Celaka!" Walaupun demikian, ia masih sempat melenggakkan tubuh, akan menjalankan tipu silat Tiat-poan-kio atau Jembatan Besi, hingga tubuhnya jadi terlentang lempang, untuk menyelamatkan diri.
"He, kau bikin apa?!" Oey Yok Su pun membentak seraya tangan kirinya mengibas, untuk membikin terdamparnya jarum emas dari putrinya, ialah orang yang menyerang Auwyang Kongcu dengan senjata rahasia itu, sedang tangan kanannya, ia menekan bahu putrinya.
Oey Yong lantas saja menjerit menangis. "Ayah. lebih baik kau bunuh saja aku!" demikian suaranya. "Tidak sudi aku menikah dengannya!"
Auwyang Hong tidak menjadi kaget menyaksikan itu semua. Dengan satu tangan ia menjejalkan mutiara ke dalam telapak tangan Oey Yong, dengan tangan lain ia sampok tangan Oey Yok Su yang ditekankan ke bahu putrinya.
"Putrimu tengah menguji keponakanku, kenapa kau memandangnya bersungguh-sungguh?" dia berkata sambil tertawa kepada tuan rumah.
Auwyang Kongcu sudah berdiri tegak pula akan tetapi ia merasakan sakit pada dadanya, maka tahulah dia telah terkena jarum rahasia itu. Dasar ia seorang yang berkepala besar, yang suka menang sendiri, ia menahan sakit, berpura-pura seperti tidak terjadi sesuatu, melainkan wajahnya tak dapat ia menenangkannya. Ia nampak jengah.
Auwyang Hong berkata pula sambil tertawa: "Saudara Yok, semenjak kita berpisah di gunung Hoa San sudah duapuluh tahun kita tidak pernah saling bertemu maka pertemuan ini sungguh membikin aku girang sekali. Saudara, setelah hari ini kau memandang mata kepadaku dengan menerima baik jodoh keponakanku dengan jodoh putrimu, maka selanjutnya apa juga titahmu, tidak nanti aku menolaknya!"
"Siapakah yang berani main gila terhadapmu, racun tua bangka?" menyahut Oey Yok Su. "Untuk duapuluh tahun kau berdiam diri di Wilayah Barat, kepandaian apa saja yang kau telah pahamkan, coba sekarang kau tunjukkan padaku."
Dasar sifatnya yang kekanak-kanakan, mendengar ayahnya hendak menyuruh orang mempertunjukkan kepandaiannya, Oey Yong menjadi tertarik, ia lantas berhenti menangis, ia menyender pada tubuh ayahnya, matanya diarahkan kepada Auwyang Hong, kepandaian siapa yang ia ingin saksikan.
See Tok si Racun Barat memegang sebatang tongkat berwarna putih, tongkat ini banyak tekukannya mirip dengan rotan. Ujung tongkat diukir sebuah kepala orang yang mulutnya tertawa. Di dalam mulutnya terlihat barisan gigi yang tajam dan putih bersih. Yang aneh adalah kepala tongkat itu ada menangkel melingkar dua ekor ular panjang, yang kulitnya berkilauan putih seperti perak. Kedua ular itu merayap turun naik.
Auwyang Hong tertawa ketika ia menjawab: "Dulu kepandaianku tidak dapat menyamakan kepandaianmu, sekarang setelah mensia-siakan selama duapuluh tahun, pasti sekali aku kalah jauh lebih banyak. Sekarang ini kita menjadi sanak, aku memikir untuk menumpang tinggal beberapa hari di pulau Tho Hoa To ini, untuk aku memperoleh kesempatan meminta pengajaran darimu."
Ketika pertama kali Auwyang Hong mengirim utusan kepada Oey Yok Su melamar Oey Yong, Oey Yok Su berpikir, dijamannya itu, orang yang dapat menandinginya sudah tidak seberapa lagi dan Auwyang Hong adalah salah satu diantaranya. Ia tahu putrinya sangat nakal, jikalau dia mendapat suami sembarangan, anaknya bakal menghina suaminya, dari itu senang ia melihat kepandaian Auwyang Kongcu yang berani melayani Bwee Tiauw Hong. Ia anggap, Auwyang Kongcu melebihkan Kwee Ceng yang menjadi pilihan putrinya sendiri, sedang di samping itu, ia sebal terhadap pemuda she Kwee itu. Inilah sebabnya dengan gampang ia menerima baik lamaran Auwyang Hong.
Tapi sekarang, mendengar suara See Tok, yang putar balik, merendah dan berjumawa, ia menjadi curiga. Ia menduga-duga apa mungkin Auwyang Hong telah pulih kesehatannya dan kepandaiannya setelah dulu ilmu kepandaiannya dipecahkan Ong Tiong Yang. Ia ketahui baik See Tok ini mulutnya tajam dan hatinya berbisa, licin dan licik. Tentu saja, ia tidak sudi mengalah, karena ia pun seorang yang besar kepala. Maka itu ia sudah lantas menarik keluar serulingnya sambil berkata: "Tetamu yang terhormat telah datang dari tempat yang jauh, baiklah aku bunyikan sebuah lagu untuk menyenangkan hati. Silakan duduk, sahabatku supaya kau dapat mendengarnya perlahan-lahan."
Auwyang Hong tersenyum. Ia bisa menerka tuan rumah hendak memperdengarkan lagu "Thian Mo Bu Kiok" atau "Lagu tarian hantu langit" untuk mempengaruhinya. Ia lantas mengibas dengan tangannya yang kiri, kemudian tigapuluh wanita berseragam putih, yang memegang tengloleng, bertindak maju sambil menekuk lutut, mereka memberi hormat pada tuan rumah. Ia lantas berkata: "Tigapuluh dua nona-nona ini adalah yang aku menitahkan murid-muridku mencari di pelbagai tempat, sebagai bingkisan yang tidak berharga, aku menghadiahkan mereka kepada kau, saudara Yok. Mereka ini pernah mendapat pengajaran guru-guru yang pandai, mereka dapat menari, bernyanyi dan menabuh khim secara lumayan. Hanya sayangnya mereka adalah nona-nona asal Wilayah Barat, kecantikan mereka kalah jauh dibandingkan dengan nona-nona dari Kanglam!"
Oey Yong memandang nona-nona itu. Mereka mempunyai kulit yang putih bersih, tubuh mereka tinggi dan besar. Wajah mereka berlainan, ada yang hidungnya mancung dan matanya dalam, sedang rambutnya kuning dan matanya biru. Mereka beda sekali dari nona-nona Tionggoan.
Auwyang Hong menepuk tangan tiga kali, lantas delapan nona-nona itu mengasih keluar alat-alat tetabuhan, sesaat kemudian mereka mulai memainkan lagu, diikuti dengan tarian dari duapuluh empat nona lainnya. Mereka berdiri lempang, lalu berputar ke kiri dan kanan, gerak-gerik mereka halus dan lembut. Ada kalanya mereka berdiri berbaris seperti tubuh seekor ular panjang, lalu jari tangan mereka dikutik-¬kutik.
Oey Yong ingat kepada ilmu silat "Kim Coa Kun" atau "Ular emas" dari Auwyang Kongcu, ia lantas melirik kepada pemuda itu. Justru itu ia mendapatkan orang tengah mengawasi dirinya. Ia menjadi sebal, maka lantas memikir jalan untuk menghajarnya pula. Ia menyesal sekali usahanya tadi sudah digagalkan ayahnya. Ia anggap lagak orang itu sangat menjemukan.
"Kalau aku berhasil membunuh dia, biar ayah maksa aku menikah, toh sudah tidak ada orangnya dengan siapa aku dapat menikah," demikian ia pikir pula. Karena ini puas hatinya, dengan sendirinya ia bersenyum.
Senang Auwyang Kongcu menampak senyuman si nona itu. Ia menduga hatinya si nona sudah berubah. Saking girangnya, sejenak ia melupakan rasa nyeri pada dadanya.
Nona-nona yang tengah menari itu, menjadi semakin cepat, tetapi tetap lembut gerak-geriknya. Dilain pihak orang-orang lelaki yang memegangi galah, si penggembala-penggembala ular, semua sudah menutup rapat-rapat mata mereka. Mereka takut, dengan menyaksikan tarian itu, hati mereka tidak cukup kuat untuk bertahan dan nanti runtuh…..
Oey Yok Su sendiri menonton dengan bersenyum berseri-seri, selang sekian lama barulah ia bawa serulingnya ke bibirnya, untuk meniup, mengasih dengar lagunya. Baru beberapa kali ia meniup, tarian si nona-nona tampaknya kacau. Dan tempo tuan rumah meniup terus, mereka menari menuruti iramanya seruling.
Auwyang Kongcu kaget bukan main. Ia pernah merasakan hebatnya lagu seruling orang. Kalau seruling berlangsung terus, bukannya saja si nona-noa bakal menari terus-menerus hingga mati, dia sendiri juga tidak akan luput turut menjadi korban juga. Mau tidak mau, ia berseru: "Paman….!"
Justru Auwyang Hong menepuk tangan, lantas seorang nona, dengan memegang tiat-ceng, atau alat tetabuhan yang bertali duabelas, maju menghampiri.
Ketika itu hatinya Auwayang Kongcu sudah goncang keras, sedang pria si tukang angon ular sudah mulai berlari-lari atau berlompatan di antara barisan ularnya.
Auwyang Hong lantas mementil alat tetabuhannya itu, ia mengasih dengar suara umpama kata: "Tombak¬-tombak emas saling beradu dan besi kaki kuda berketoprakan" Hanya beberapa kali saja suara itu terulang, lantas nada halus dari seruling kena dibikin buyar bebarapa bagian.
Oey Yok Su tertawa. "Mari, mari!" katanya. "Mari kita berdua bersama-sama memainkan lagu!"
Hebat kesudahan sambutannya Tong Shia si Sesat dari Timur. Mereka yang menari menjadi sangat kacau, gerak-geriknya seperti orang-orang edan.
"Semua menutup kuping!" berteriak Auwyang Hong menyaksikan kehebatan itu. "Nanti aku mainkan lagu bersama-sama Oey Tocu!"
Semua orang seperti kalap tetapi mereka mendengar suara majikan mereka, mengerti ancaman bahaya yang bakal datang, maka dalam ketakutannya, mereka pada merobek ujung baju untuk menggunakan robekan itu menyumbat kuping.
Auwyang Kongcu yang sudah cukup lihay turut juga menyumpal kupingnya. Menyaksikan kelakuan mereka itu, Oey Yong tertawa. Ia sendiri tidak terpengaruh suara kedua seruling dan tiat-ceng itu. Ia berkata: "Lain orang memainkan lagu-¬lagu, khawatir orang tidak dapat mendengarnya, tetapi kamu sebaliknya, semua justru menutupi kuping! Tidak, aku sendiri tidak sudi menyumbat kupingku!"
Oey Yok Su dapat mendengar perkataan putrinya, ia menegur: "Ilmu kepandaian mementil tiat-ceng dari pamanmu ini sangat kesohor di kolong langit, kau mempunyai kepandaian apa maka kau berani mendengarnya? Apakah kau kira dapat mencoba-coba?!"
Dari sakunya, ayah ini mengeluarkan sehelai sapu tangan, ia robek menjadi dua potong, terus ia pakai menyumpal kedua kuping anaknya.
Kwee Ceng menjadi heran sekali, hingga ia menjadi tertarik hatinya, ingin ia mendengar lagu tetabuhannya Auwyang Hong itu. Tanpa mengenal bahaya, ia justru maju beberapa tindak, supaya dapat mendengar dengan lebih nyata…..
Oey Yok Su perpaling kepada tetamunya. "Semua ularmu tentu tidak dapat menutup kuping," katanya. Ia menoleh kepada bujangnya yang gagu, ia mainkan kedua belah tangannya.
Bujang gagu itu mengerti, ia mengibas-ngibaskan tangannya kepada kawanan gembala ular itu, memberi tanda untuk mereka menyingkirkan diri. Mereka ini memang menghendaki itu. Tapi mereka mengawasi dulu majikan mereka, sampai Auwyang Hong memberi tanda sambil mengangguk, baru lekas-lekas mereka menggiring ular menyingkir dari situ, mengikuti petunjuk si bujang gagu.
"Jikalau aku tidak sanggup, sukalah saudara Yok mengalah sedikit," kata Auwyang Hong kemudian. Terus dengan kelima jari tangan kanannya, ia mulai mementil alat tetabuhannya.
Nyaring suara tiat-ceng itu. Kwee Ceng merasakan, setiap pentilan membuat hatinya goncang, dan selagi lagu bertambah cepat, goncangan hatinya bertambah cepat juga, dadanya bergerak-gerak, ia merasa tak enak sendiri. Ia terkejut, segera ia menginsyafinya. Katanya dalam hati: "Kalau suara jadi hebat, tidakkah hatiku pun akan goncang hingga mati?" Karena ini lekas-lekas ia menjatuhkan dirinya untuk duduk bersila, memusatkan pikirannya, mengempos tenaga dalamnya. Cuma sesaat saja, suara tiat-ceng tidak dapat lagi menggoncangkan hatinya.
Suara tiat-ceng benar-benar makin lama jadi makin keras, bagaikan tambur dan gembreng berbunyi berbareng, seperti laksaan ekor kuda bercongklang bersama. Atau dilain saat terdengar suara yang perlahan-lahan dan halus, suara dari seruling yang seperti menembusi suara tiat-ceng.
Mendadak Kwee Ceng merasa hatinya goncang dan mukanya panas. Ia lekas-lekas memusatkan pula perhatiannya, hingga hatinya menjadi tenang. Ia sekarang mendapat kenyataan, walaupun hebat suaranya tiat-ceng, suara itu tidak dapat menindih seruling, yang perlahan tetapi tegas. Maka juga heran, dua suara terdengar berbareng. Kalau suara tiat-ceng bagaikan pekiknya kera diatas gunung atau mengalunnya hantu iblis di tengah malam buta, suara seruling laksana bunyi burung hong atau kasak-kusuknya si nona manis di dalam kamar. Kedua suara itu tinggi dan rendah, keras dan perlahan, maju dan mundur, sama-sama tidak mau mengalah…..
Oey Yong ketarik hatinya, ia menonton sambil tertawa geli. Ia mengawasi orang memintil tiat-ceng dan meniup seruling. Lama-lama, ia pun merasa aneh. Lama-lama, wajah kedua orang yang tengah mengadu tetabuhan itu berubah menjadi bersungguh¬sungguh, menjadi tegang. Ia lantas melihat ayahnya dari duduk menjadi bangun berdiri, meniup serulingnya sambil bertindak ke delapan penjuru menuruti kedudukan pat-kwa, segi delapan. Ia tahu itulah dasar kedudukan ayahnya setiap waktu ayahnya melatih diri dalam ilmu dalam. Teranglah musuhnya lihay sekali maka ayahnya mengambil tindakan itu.
Kemudian si nona memandang ke arah Auwyang Hong. Juga jago dari Barat ini menunjukkan wajah dan sikap bersungguh-sungguh. Dari kepalanya terlihat hawa mengepul naik seperti uap, itulah hawa panas mengkedus yang keluar naik. Dengan kedua tangannya terus menerus mementil alat tetabuhannya, sampai ujung bajunya menerbitkan suara angin. Nyata sekali dia tidak berani berlaku alpa.
Kwee Ceng di tempat persembunyiannya memasang kuping, ia tidak mengerti apa hubungannya antara seruling dan tiat-ceng. Ia heran kenapa masing-masing suara alat tetabuhan itu dapat mempengaruhi orang menjadi tidak tenang. Di dalam ketenangan, perlahan-lahan ia dapat membedakan juga. Kedua suara itu seperti lagi serang, keras lawan lemah, lemah melawan keras. Sebentar kemudian, lantas ia mengerti seluruhnya.
"Tidak salah lagi, Oey Tocu dan Auwyang Hong tengah mengadu ilmu dalam mereka," pikirnya. Karena ini, ia lantas menutup rapat kedua matanya, ia mendengar terus dengan penuh perhatian.
Tadinya Kwee Ceng mesti mengeluarkan banyak tenaga melawan desakan tiat-ceng dan seruling, sekarang tidak demikian. Sekarang dengan tenang ia bisa mendengar kedua suara itu. Ia merasa bagaimana seruling seperti berkelit sana dan berkelit sini dari rangsakan tiat-ceng yang hebat, atau setiap kali ada lowongan, seruling lantas membalas menyerang. Satu kali ia mendengar, suara tiat-ceng menjadi lemah, sebaliknya seruling menjadi kuat.
Tiba-tiba Kwee Ceng ingat ajarannya Ciu Pek Thong "Keras tak dapat bertahan lama, lemah tak dapat menjaga terus." Ia lantas menduga, tiat-ceng bakal membalas menyerang. Benar-benar, berselang sesaat suara tiat-ceng menjadi keras pula. Ketika Kwee Ceng menghapali ajaran Ciu Pek Thong, ia tidak tahu bahwa itulah rahasia dari Kiu Im Cin-keng, dan ia pun tidak mengerti jelas maksudnya.
Baru sekarang ia merasakan ada hubungannya ajaran itu dengan pertarungan Oey Yok Su dan Auwyang Hong. Karena insyaf ini, ia menjadi girang sekali. Hanya ia masih belum mengerti akan jalannya pertempuran itu. Ada kalanya seruling dapat menghajar, ketika baik itu dilewatkan dengan begitu saja, demikian juga sebaliknya. Toh itu tidak mirip-¬miripnya dengan orang yang bersikap saling mengalah.
Mendengari terlebih jauh, Kwee Ceng jadi menanya dirinya sendiri; "Mungkinkah pengajaran Ciu Toako lebih lihay daripada kepandaian Oey Tocu dan Auwyang Hong? Mungkinkah mereka ini tidak dapat melihat cacad masing-masing sehingga kelemahan itu mereka sama-sama tidak dapat menggunakannya? Tapi heran! Kalau benar Ciu Toako lebih lihay, mestinya pada limabelas tahun yang lalu dia sudah dapat mencari Oey Tocu di sini untuk menghajarnya, tidak peduli pulau ini banyak terjaga dengan barisan sesat patkwa itu, tidak nanti ia membiarkan dirinya terkurung di dalam gua…."
Masih Kwee Ceng mendengar. Lagi-lagi ia mendapat kenyataan telah tiba saat yang sangat genting, hingga ada kemungkinan kali ini bakal datang keputusan siapa menang dan siapa kalah. Ia khawatir untuk Oey Tocu…
Justru waktu itu dari arah laut, dari tempat yang jauh, terdengar siulan panjang dan lama. Suara itu samar-¬samar tetapi toh Oey Yok Su dan Auwyang Hong terkejut hingga dengan sendirinya suara seruling dan tiat-ceng berubah menjadi kendor. Siulan pun terdengar semakin nyata. Itu tandanya orang semakin dekat.
Auwyang Hong mementil dua kali, keras sekali, suara tiat-ceng sampai terdengar seperti suara cita terobek. Habis itu, suara siulan terdengar bernada tinggi. Rupanya siulan dan tiat-ceng bentrok.
Tidak berapa lama, suara seruling dari Oey Yok Su pun nyebur dalam bentrokan siulan dan tiat-ceng itu. Maka selanjutnya, sering terdengar, siulan bentrok tiat¬ceng, siulan bentrok seruling, atau seruling bentrok tiat-ceng. Atau lagi, ketiganya bentrok berbareng.
Sekarang Kwee Ceng menduga pasti ada seseorang yang lihay telah datang ke pulau Tho Hoa To. Ia biasa main-main bertarung empat tangan dengan Ciu Pek Thong, karena itu ia dapat menbedakan suara bentrokan ketiga lawan ini: seruling, tiat-ceng dan siulan….
Setelah memperhatikan terlebih jauh. Kwee Ceng merasa orang yang bersiul itu sudah tiba di rimba. Ia mendengar lebih nyata siulan orang itu, yang tinggi dan rendah bergantian, yang selalu berlainan. Ketika ia merasa, bentrokan menjadi demikian hebat, saking kagumnya, tanpa merasa ia berseru: "Bagus!". Kemudian ia terkejut sendiri. Bukankah ia lagi bersembunyi? Ia lantas memikir untuk menyingkir. Tapi sudah kasep. Satu bayangan lantas berkelebat di depannya. Di situ berdiri Oey Yok Su.
"Anak yang baik, mari!" berkata Tocu dari Tho Hoa To itu.
Ketika itu semua tetabuhan sudah berhenti. Dengan membesarkan hati, Kwee Ceng ikut Tong Shia pergi ke paseban. Oey Yong tersumpal kupingnya, ia tidak mendengar seruan si anak muda, maka heran nampak munculnya pemuda itu. Ia pun menjadi sangat girang, maka ia lari memapaki, menyambar kedua tangan orang.
"Engko Ceng, akhirnya kau datang juga…!" serunya. Tapi ia girang bercampur sedih, tanpa merasa air matanya meleleh turun.
Melihat pemuda ini, panas hatinya Auwyang Kongcu. Maka, menyaksikan kelakuan si nona, ia panas berbareng gusar sekali. Tidak dapat ia mengendalikan diri, sambil berlompat ia menghajar kepala si anak muda.
"He, bocah busuk, kau pun datang ke mari!" ia mendamprat.
Kwee Cneg melihat datangnya serangan, dengan sebat ia berkelit. Sekarang ilmu silatnya sudah maju jauh, beda dengan waktu ia masih di rumah abu Keluarga Lauw di Poo-eng, dimana ia menempur pemuda she Auwyang. Ia tidak cuma berkelit, terus ia membalas menyerang. Dengan tangan kiri memainkan "Naga sakti menggoyang ekor", tangan kanan menggunakan "Naga Menyesal", dua-¬duanya merupakan jurus-jurus dari Hang Liong Sip-pat Ciang yang lihay. Sejurus saja sudah hebat, apapula dua jurus itu hampir berbareng.
Auwyang Kongcu terkejut merasakan tangan kiri orang tahu-tahu menekan iga kanannya. Ia mengerti lihaynya Hang Liong Sip-pang Ciang, yang cuma dapat diegos, tidak ditangkis, dari itu lekas-lekas ia menyingkir ke kiri. Celaka untuknya, karena berkelit, justru tangan yang lain dari lawannya tiba. Tidak ampun lagi, dada kirinya kena terpukul, bahkan sebuah tulangnya patah.
Sebenarnya Auwyang Kongcu sudah cukup lihay dan ia mengerti lihaynya lawan, ketika serangan sampai, ia mencoba berkelit pula. Kali ini ia berkelit dengan mengapungkan diri, berlompat tinggi naik ke atas pohon bambu, habis itu baru ia lompat turun. Tapi ia tidak bisa membebaskan diri. Ia turun dengan muka merah malu, dadanya juga dirasakan sakit. Ia bertindak dengan perlahan.
Menyaksikan perlawanan Kwee Ceng, Oey Yok Su dan Auwyang Hong heran berbareng murka. Oey Yong sebaliknya, nona ini bertepuk-tepuk tangan saking girangnya.
Sebenarnya, Kwee Ceng sendiri kurang mengerti. Inilah kemenangan di luar dugaannya. Ia bukan menginsyafi bahwa ia sudah maju jauh, ia menyangka si anak muda lawannya itu sudah beralpa atau kurang sebat bergeraknya hingga kena terhajar. Ia khawatir pemuda ini nanti menyerang pula secara kejam, ia mundur setindak sambil memasang mata, untuk bersiap-siap.
Auwyang Hong melirik pemuda itu dengan mata merah saking mendongkolnya. Kemudian ia berkata dengan nyaring: "Pengemis she Ang, aku beri selamat padamu yang sudah mendapatkan murid yang jempol!"
Oey Yong sudah membuka sumpalannya ketika ia mendengar suara Auwyang Hong itu, ia lantas mengetahui Ang Cit Kong telah tiba, maka itu, ia lupa segalanya dan lari ke arah rimba sambil memanggil¬-manggil: "Suhu! Suhu!" Ia kegirangan karena ia tahu bintang penolong sudah datang.
Mendengar suara putrinya itu, Oey Yok Su melengak. "Eh, mengapa anakku memanggil guru kepada si pengemis tua?" pikirnya.
Waktu itu sudah lantas terlihat munculnya Ang Cit Kong si ketua pengemis. Di punggungnya menggondol cupu-cupu merah, tangan kanannya memegang tongkat, tangan kirinya menuntuk Oey Yong. Ia berjalan sambil tertawa haha-hihi.
"Eh, Yong-jie, kau memanggil apa padanya?!" tanya Oey Yok Su gusar.
Bukannya ia lantas menjawab ayahnya, Oey Yong justu menuding Auwyang Kongcu dan berkata dengan sengit, "Ini manusia busuk sudah menghinaku, jikalau tidak ada lojinkee Ang Cit Kong yang menolong, sudah tentu semenjak lama kau tidak melihat Yong-jie, Ayah!"
"Jangan ngaco belo!" membentak Oey Yok Su, walaupun sebenarnya ia heran. "Dia toh anak baik-¬baik, cara bagaimana dia menghina padamu!"
"Jikalau Ayah tidak percaya, nanti aku tanyakan dia!" berkata si nona. Ia lantas mengawasi pemuda she Auwyang itu. Ia kata dengan keras; "Kau mesti lebih dulu mengangkat sumpah! Jikalau dalam jawabanmu kepada ayahku berdusta, kau nanti digigit mampus ular-ular di ujung tombak pamanmu itu!"
Mendengar itu Auwyang Kongcu kaget hingga mukanya pucat. Auwyang Hong tidak kurang kaget dan herannya. Jago dari Wilayah Barat ini kaget sebab ia ketahui dengan baik, dua ekor ular pada tongkatnya itu adalah ular-ular piarannya selama sepuluh tahun, yang ia piara sedari baru diteteskan hasil dari kawinan beberapa macam ular yang paling berbisa. Kalau dia menghukum bawahannya yang berkhianat atau orang yang paling ia benci, ia bisa menghukum dengan menggunakan kedua ularnya. Asal seorang digigit ularnya, lantas ia kegatalan luar biasa, dalam waktu yang pendek ia bakal mati, tidak ada pertolongan lagi sekalipun seandainya Auwyang Hong sendiri berbalik berkasihan dan hendak mengampuninya. Oey Yong menyebut ular itu karena ia menduga saja, sebab kedua binatang itu lain daripada yang lain, tidak tahunya, ia menyebut tepat pantangannya See Tok si Racun dari Barat itu.
"Terhadap pertanyaan gakhu tayjin, mana aku berani mendusta," Auwyang Kongcu menjawab. Ia telah terdesak si nona, ia pun tidak berani menyangkal.
"Cis!" berseru Oey Yong. "Jikalau kau berani mengaco belo, lebih dahulu aku akan gaplok kupingmu beberapa kali! Sekarang dengar pertanyaanku! Kita pernah bertemu di istana Chao Wang di Pak-khia, benar atau tidak?"
Auwyang Kongcu mengangguk. Tidak berani ia membuka suara. Hajaran Kwee Ceng membikin ia merasakan sangat nyeri. Kalau ia membuka mulutnya untuk berbicara, rasa sakitnya itu menghebat. Ia pun memangnya berkepala besar. Kalau ia merasa sakit, kepalanya pusing dan mengeluarkan peluh. Dengan tidak bersuara, ia dapat menahan napas, ia bisa menguatkan diri.
Oey Yong menanya pula; "Ketika itu kau ada bersama See Thong Thian, Pheng Lian Hauw, Nio Cu Ong dan Leng Tie Siangjin, bersama-sama kau mengepung aku satu orang. Benar atau tidak?"
Auwyang Kongcu berniat menyangkal ia bekerja sama dengan rombongannya See Thong Thian, bahwa bukan sengaja ia mengepung si nona, tetapi ketika ia paksa menyahut, lantas ia merasakan dadanya sakit, maka ia cuma bisa bilang; "Aku…aku tidak bekerja sama dengan mereka…"
"Baiklah, aku pun tidak memerlukan jawabanmu dengan mulut!" berkata Oey Yong. "Jikalau aku menanya kau cukup mengangguk atau menggeleng kepala. Sekarang kau dengar pertanyaanku: 'See Thong Thian bersama-sama Pheng Lian Houw, Nio Cu Ong dan Leng Tie Siangjin memusuhi aku. Benar tidak?'"
Auwyang Kongcu mengangguk. Ia menuruti kata-kata orang dan tidak berani membuka mulut.
"Mereka itu hendak membekuk aku tetapi mereka tidak berhasil," berkata Oey Yong pula. "Kemudian kau muncul. Benar tidak?"
Itulah hal yang sebenarnya, Auwyang Kongcu mengangguk.
"Ketika itu aku berada di ruang besar dari istana Chao Wang. Di situ aku sendirian saja, tidak ada siapapun yang membantuku, keadaanku sungguh menyedihkan. Ayahku pun tidak tahu bahaya yang mengancamku, ayah tidak dapat menolongku. Benar tidak?"
Auwyang Kongcu mengangguk dengan terpaksa. Ia tahu, pertanyaan kali ini dari si nona, yang membawa-bawa nama ayahnya, cuma untuk memancing kemurkaan si ayah. Setelah mendapat jawaban itu, Oey Yong tarik tangan ayahnya. Timbullah kemanjaannya.
"Ayah, kau lihat," katanya. "Kau sedikit juga tidak menyayangi anakmu….Kalau ibu masih hidup, tidak mungkin memperlakukan aku begini rupa…"
Mendengar orang menyebut istrinya, yang ia cintai, pilu hatinya Oey Yok Su. Ia ulur tangan kirinya merangkul putrinya.
Auwyang Hong sangat cerdas dan licin, ia melihat suasana buruk untuk pihaknya, maka belum lagi Oey Yong menanya pula, ia sudah mendahului.
"Nona Oey," ia berkata, "Begitu banyak orang Rimba Persilatan yang kenamaan hendak membekuk kau, karena lihay ilmu silat keluargamu, mereka tidak dapat berbuat sesuatu terhadapmu, bukankah?"
Oey Yong tertawa, dia mengangguk. Oey Yok Su pun tersenyum. Ia senang orang puji ilmu silatnya.
Auwyang Hong berpaling kepada tuan rumah, ia berkata: "Saudara Yok, keponakanku telah melihat putrimu demikian lihay, ia jadi sangat jatuh hati, inilah sebabnya kenapa sekarang kami datang kemari dengan tidak memperdulikan jalan jauh ribuan lie untuk meminangnya.
Oey Yok Su tertawa. "Ya, sudahlah!" katanya.
Auwyang Hong menoleh kepada Ang Cit Kong, ia berkata: "Saudara Cit, kami paman dan keponakan mengagumi orang-orang Tho Hoa To, kenapa kau sebaliknya lain pandanganmu? Kenapa kau berlaku sungguh-sungguh seperti bocah? Coba bukannya keponakanku itu panjang umurnya, pastilah siang-siang dia telah mati di bawah hujan jarum emas yang menjadi kepandaianmu yang istimewa…."
Dengan kata-katanya ini Auwyang Hong hendak menimbulkan urusan ketika dulu hari Ang Cit Kong menolong Auwyang Kongcu dari serbuan jarum rahasia Oey Yong, hanya See Tok telah membalik duduk perkaranya mungkin itu disebabkan Auwyang Kongcu telah membaliknya waktu melaporkan hal ini kepada pamannya.
Tapi Cit Kong adalah seorang polos dan sabar sekali, ia tidak mengambil mumat perkataan orang, bahkan tertawa lebar, malah dengan membuka tutup cupa-cupanya, ia menenggak isinya.
Tidak demikian dengan Kwee Ceng yang jujur, yang benci kedustaan. Anak muda ini lantas menyampur bicara.
"Sebenarnya Cit Kong yang menolong keponakanmu, kenapa sekarang kau bicara begini rupa?!" ia menegur.
Tapi Oey Yok Su membentak; "Kita lagi bicara, bagaimana kau bocah berani campur mulut?!"
Kwee Ceng penasaran, dengan nyaring ia kata kepada Oey Yong: "Yong-jie, kau beberlah urusannya Auwyang Kongcu merampas Nona Thia supaya ayahmu mendapat tahu!"
Oey Yong tidak meluluskan permintaan anak muda itu. Ia kenal baik sifat ayahnya. Ayahnya itu dijuluki Tong Shia si Sesat dari Timur, justru karena tabiatnya yang aneh itu. Ada kalanya Tong Shia membenarkan apa yang tidak benar dan sebaliknya. Maka ada kemungkinan, perbuatan ceriwis dan busuk dari Auwyang Kongcu dipandang sebagai perbuatan umum pemuda-pemuda doyan pelesiran. Ia pun ketahui baik ayahnya tak suka pemuda pujiannya itu. Maka ia menggunakan siasat. Ia lantas berpaling kepada Auwyang Kongcu.
"Bicaraku masih belum habis!" katanya. "Dulu di dalam istana Chao Wang, kau mengadu kepandaian denganku. Dengan sengaja kau menelikung kebelakang kedua tanganmu, kau bilang bahwa tanpa menggunakan tangan, kau bisa mengalahkan. Benar bukan?"
Auwyang Kongcu mengangguk membenarkan pertanyaan itu.
"Kemudian aku telah mengangkat lojinkee Ang Cit Kong menjadi guruku," berkata Oey Yong. "Lalu di Poo-eng kita mengadu silat untuk kedua kalinya. Waktu itu kau menyebut aku boleh menggunakan kepandaian yang diwariskan ayahku atau Ang Cit Kong, kau bilang aku boleh keluarkan berapa banyakpun, sebaliknya kau sendiri, kau cuma akan menggunakan semacam ilmu kepandaian warisan pamanmu dengan apa kau sanggup mengalahkan aku. Benar tidak?"
Mendengar itu Auwyang Kongcu berkata di dalam hatinya; "Semuanya itu ditetapkan olehmu sendiri, bukan ditetapkan olehku…"
Menampak orang bersangsi, Oey Yong mendesak. Ia kata: "Bukankah hari itu kita telah menetapkannya demikian baru kita bertempur?"
Mau tidak mau, Auwyang Kongcu mengangguk.
"Ayah, lihatlah!" berkata Oey Yong kepada ayahnya. "Dia tidak memandang mata kepada Cit Kong, dia juga tidak menghormati padamu! Dia mau bilang, Cit Kong dan ayah berdua kalah jauh dengan pamannya itu! Bukankah itu berarti, meski Cit Kong dan ayah berdua mengepung pamannya, masih tak dapat dikalahkan. Tapi ini aku tidak percaya!"
"Ah, budak cilik, jangan kau mainkan lidahmu!" berkata Oey Yok Su si ayah. "Diantara kaum persilatan di kolong langit ini, siapakah yang tidak kenal baik ilmu silatnya Tong Shia, See Tok, Lam Tee dan Pak Kay?"
Di mulutnya Oey Yok Su berkata demikian, di dalam hatinya ia mulai tidak puas terhadap Auwyang Kongcu, karena itu ia ingin hal pemuda itu jangan dibicarkan lagi. Ia lantas menoleh kepada Ang Cit Kong.
"Saudara Cit, kau datang berkunjung ke Tho Hoa To, ada urusan apakah?" ia menanya.
"Aku datang untuk memohon sesuatu dari kau," sahut Cit Kong singkat.
Cit Kong jenaka tetapi jujur dan polos dan benci sekali kejahatan, inilah Tong Shia ketahui baik. Karena ini, ia menghormati si raja pengemis ini. Ia pun ketahui, biasanya, kalau ada urusan, Cit Kong tentu mengerjakannya sendiri bersama-sama pengikut-pengikutnya dari Kay Pang, belum pernah ia memohon bantuan dari orang. Sekarang datang untuk memohon sesuatu, ia menjadi girang sekali. Lekas-¬lekas ia menjawab: "Persahabatan kita adalah persahabatan beberapa puluh tahun, saudara Cit, maka itu kalau ada titah dari kau, mana aku berani tidak menurutinya?"
"Ah, janganlah kau begitu menerima baik permohonanku," berkata Cit Kong. "Aku khawatir permohonanku ini untuk dilakukan…."
Oey Yok Su tertawa,: "Kalau urusan gampang tidak nanti saudara Cit sampai memikir untuk meminta bantuanku!"
Cit Kong tertawa seraya menepuk-nepuk tangannya. "Benar-benar!" katanya. "Kau barulah saudara yang sejati! Jadi kau pasti menerima baik?"
"Sepatah kata-kataku menjadi kepastian!" sahut Oey Yok Su, kembali cepat dan singkat. "Lompat ke api, terjun ke air, sama saja!"
Mendengar itu Auwyang Hong melintangkan tongkat ularnya. "Saudara Yok, tunggu dulu!" ia menyelak, "Perlu kita menanya dulu saudara Cit, urusan itu sebenarnya urusan apa?"
Ang Cit Kong tertawa. Ia berkata; "Racun tua bangka, ini urusan tidak ada sangkut pautnya dengan kau, jangan ikut campur! Lebih baik kau sedia-sedia dengan ususmu yang kosong untuk nanti kau menenggak arak kegirangan!"
Auwyang Hong heran. "Eh, minum arak kegirangan?" ia menanya.
"Tidak salah! Minum arak kegirangan!" memastikan Cit Kong. Dengan tangan kanannya ia menunjuk kepada Kwee Ceng dan Oey Yong bergantian. "Mereka berdua adalah murid-muridku, aku telah berikan janji kepada mereka untuk memohon kepada saudara Yok agar mereka dibiarkan menikah! Dan sekarang saudara Yok sudah menerima baik permohonanku!"
Kwee Ceng dan Oey Yong terperanjat girang, keduanya lantas saling memandang. Sebaliknya Auwyang Hong dan keponakan serta Oey Yok Su menjadi terkejut sekali.
"Saudara Cit, kau keliru!" Auwyang Hong cepat berkata. "Putri saudara Yok sudah dijodohkan dengan keponakanku dan hari ini aku datang ke Tho Hoa To untuk mengambil ketetapannya."
"Saudara Yok, benarkah itu?" tanya Cit Kong.
"Benar," menjawab Oey Yok Su. "Aku minta, saudara Cit jangan kau berkelakar denganku!"
Cit Kong memperlihatkan roman bersungguh-sungguh. "Siapa yang main-main dengan kamu?" dia berkata. "Kau menjodohkan seorang putrimu kepada dua keluarga. Apakah artinya ini?" Ia lantas menoleh kepada Auwyang Hong. Ia kata: "Akulah orang perantaraan dari Keluarga Kwee! Kau sendiri, mana orang perantaanmu?"
Auwyang Hong tidak menyangka bakal ditanya begitu rupa, dia tidak dapat menjawab, ia tercengang. Baru kemudian ia berkata; "Suadara Yok sudah menerima baik, aku pun sudah akur, maka itu, perlu apa lagi perantara?"
"Apakah kau ketahui masih ada satu orang yang tidak menerima baik?" Cit Kong tanya.
"Siapakah dia?!" Auwyang Hong menegaskan.
Ang Cit Kong menyahut: "Maafkan aku, itulah aku si pengemis tua!"
Auwyang Hong berdiam. Ia mengerti, tidak dapat ia tidak menempur pengemis ini, maka itu ia lantas memikirkan daya perlawanan.
Ang Cit Kong tertawa, ia berkata pula: "Keponakanmu tidak bagus kelakuannya, mana cocok dijodohkan dengan putri yang cantik manis dari saudara Yok ini? Umpama kata benar kamu berdua memaksa mereka menikah, habis bagaimana kalau mereka sendiri tidak akur, setiap hari mereka berkelahi? Apakah artinya itu?"
Tertarik hati Oey Yok Su mendengar perkataan pengemis itu, ia lantas melirik kepada putrinya. Ia mendapatkan Oey Yong, dengan sinar mata penuh kecintaan, lagi mengawasi Kwee Ceng. Sebaliknya melihat Kwee Ceng, timbul pula rasa jemunya.
Oey Yok Su ini seorang yang terang otaknya, pandai ilmu silat dan surat, pandai juga mainkan khim, menulis huruf-huruf dan melukis gambar. Sedari masih muda, semua sahabatnya orang-orang cerdik pandai. Pun istrinya serta putrinya ini, orang-¬orang pintar juga. Maka, mengingat anaknya yang cantik dan pintar itu mesti dipasangkan dengan Kwee Ceng yang krtolol-tololan itu, sungguh ia tidak mufakat. Dipadu dengan Auwyang Kongcu, Kwee Ceng kalah berlipat ganda. Maka itu, ia lebih penuju keponakannya See Tok itu. Tapi di situ ada Ang Cit Kong. Maka akhirnya, ia memikir satu jalan.
"Saudara Hong," katanya kemudian, "Keponakanmu terluka, baik kau obati dulu, urusan nanti kita damaikan lagi."
Inilah apa yang Auwyang Hong harap-harapkan, maka lantas ia menggapai pada keponakannya, lalu bersama-sama mereka masuk ke dalam hutan bambu. Lewat sesaat, mereka sudah kembali ke paseban. Auwyang Hong telah berhasil mengeluarkan jarum emas dan menyambung pula tangan keponakannya.
Oey Yok Su sudah lantas berbicara, katanya: "Anakku bertubuh lemah dan nakal, sebenarnya sulit untuk dia merawat seorang budiman, maka diluar dugaanku, saudara Cit dan saudara Hong telah memandang mukaku dan sama-sama melamarnya. Hal ini adalah suatu kehormatan untukku. Sebenarnya anakku ini sudah dijodohkan dengan pihak Auwyang tetapi sekarang ada titahnya saudara Cit, sukar aku tolak. Kejadian ini menyulitkan aku. Sekarang, aku pikir, baik diatur begini saja. Coba kedua saudara lihat, pemecahan ini dapat dilakukan atau tidak?"
"Lekas bilang, lekas bilang!" berkata Ang Cit Kong. "Aku, si pengemis tua paling tidak suka omong pakai segala aturan!"
Oey Yok Su tersenyum, ia berkata pula: "Sebenarnya anakku tidak mengerti apapun, akan tetapi meskipun demikian, aku masih mengharap dia menikah dengan seorang suami yang baik-baik. Auwyang Sieheng keponakan saudara Hong dan Kwee Sieheng murid pandai dari saudara Cit, kedua-duanya baik, sukar untuk memilihnya, tidak dapat aku membuang salah satunya, karena itu, aku pikir baiklah mereka diuji saja. Di sini aku mempunyai tiga macam syarat. Pendeknya siapa yang lulus, anakku akan dijodohkan dengannya, tidak nanti aku berlaku berat sebelah. Bagaimana, sahabat-¬sahabatku?"
Auwyang Hong sudah lantas bertepuk tangan. "Bagus, bagus!" serunya. "Cuma sekarang keponakanku sedang terluka, kalau buat adu silat, aku minta supaya ditunda sampai ia sembuh."
Mendengar itu, Ang Cit Kong berpikir: "Kau, si Oey tersesat, kau banyak akalnya, jikalau kau majukan ilmu surat, syair atau nyanyi, tentu muridku yang tolol gagal. Kau bilang kau tidak mau berat sebelah, sebenarnya pikiranmu sudah lain. Maka tidak ada lain jalan, baiklah aku ambil caraku!" Ia lantas tertawa sambil berlenggak, terus ia berkata: "Kita semua tukang silat, kalau kita tidak adu silat, apa kita mesti adu main gembul-gembulan? Keponakanmu terluka, kau sendiri tidak, marilah, mari kita berdua yang main-¬main lebih dulu!"
Begitu ia selesai bicara, tanpa menanti jawaban, Ang Cit Kong sudah lantas menyerang ke bahu orang.
Auwyang Hong berkelit, ia mundur. Ang Cit Kong meletakkan tongkat bambunya di meja kecil di sampingnya.
"Kau membalaslah!" ia menantang. Kembali ia menyerang, beruntun hingga tujuh jurus.
Auwyang Hong berkelit berulang-ulang, ke kiri dan ke kanan, habis tujuh serangan itu, dengan tangan kanannya ia menancap tongkatnya, sedang tangan kirinya membalas pula tujuh kali.
Oey Yok Su menyaksikan itu, ia bersorak memuji. Ia tidak mau memisahkan, karena ingin melihat kemajuan orang sesudah berselang duapuluh tahun semejak mereka mengadu kepandaian.
Ang Cit Kong dan Auwyang Hong adalah ketua-ketua partai, duapuluh tahun dulu mereka sudah lihay, habis menguji kepandaian di Hoa San, mereka masing-masing meyakinkan lebih jauh kepandaian mereka, bisa di mengerti yang mereka telah maju banyak. Maka sekarang, bertarung di Tho Hoa To, mereka beda jauh daripada waktu di Hoa San. Mereka saling serang dengan cepat sekali tetapi semua itu adalah permulaan saja, untuk saling menggertak.
Kwee Ceng menonton dengan perhatian sepenuhnya. Ia melihat gerakan kedua pihak sangat lincah. Untuk kegirangannya, ia mengerti semua jurus itu. Ia telah hapal kitab Kiu Im Cin-keng, sekarang ia mendapat kenyataan, semua gerak-gerik mirip sama kitab itu. Untuk menyaksikan ini, ia mimpi pun tidak. Semua yang ia lihat ini termuat dalam kitab bagian atas. Semua ilmu silat yang lihay. Tanpa disadari, ia menjadi gatal sendirinya.
Dengan cepat kedua jago itu sudah bertempur hingga tigaratus jurus lebih. Ang Cit Kong dan Auwyang Hong kagum sendiri, mereka saling memuji secara diam-diam.
Oey Yok Su yang menonton pun kagum, ia menghela napas. Di dalam hatinya ia berkata: "Aku berdiam di Tho Hoa To ini dengan melatih diri sungguh-sungguh, aku percaya setelah Ong Tiong Yang meninggal dunia, aku bakal jadi orang gagah nomor satu di kolong langit ini, siapa tahu sekarang si pengemis tua bangka ini dan si biang racun tua telah mengambil jalannya masing-masing yang hebat sekali!"
Auwyang Kongcu dan Oey Yong sama-sama tegang hatinya, mereka mengharapkan kemenangan pihaknya masing-masing. Mereka mengerti silat tetapi mereka tidak mengerti ilmu silat dua jago yang lagi bertarung itu. Sama-sama mereka terus mengawasi dengan perhatian penuh.
Satu kali Oey Yong melirik ke samping, lantas ia menjadi heran sendiri. Ia melihat bayangan orang di sampingnya, bayangan yang lagi bergerak-gerak, terutama kaki tangannya, seperti orang menari. Ia lantas menoleh, maka ia kenali, itulah bayangannya Kwee Ceng. Wajah si pemuda tegang dan seperti menjadi korban kegirangan luar biasa.
"Engko Ceng!" ia memanggil perlahan. Ia heran dan menjadi khawatir karenanya, apapula panggilannya itu tidak disahuti si anak muda, yang terus masih bergerak tak hentinya. Nyata sekali lagi bersilat seoarng diri.
Mau tidak mau, Oey Yong mengawasi. Lama juga ia meminta tempo, baru ia mengerti. Terang sekarang, Kwee Ceng berlatih silat menuruti gerak-geriknya kedua jago tua itu.
Perubahan terjadi dalam cara bertempurnya kedua jago itu. Kalau tadinya mereka berperang sebat sekali, sekarang mereka manjadi lambat, ada kalanya mereka menyerang dulu dengan dipikirkan lebih dahulu. Bahkan anehnya, ada kalanya, habis bergebrak, mereka sama-sama duduk bersila, untuk beristirahat, kemudian bangkit lagi, bertempur lagi. Mereka bukan seperti mengadu silat, bahkan juga bukan kedua saudara seperguruan lagi berlatih. Toh wajah mereka menunjukkan ketegangan yang bertambah-tambah.
Oey Yong berpaling kepada ayahnya, ia mendapatkan ayahnya bengong mengawasi kedua jago itu. Ayah ini nampaknya tegang hatinya.
Ketika nona ini menoleh kepada Auwyang Kongcu, ia mendapat kenyataan pemuda itu tenang seperti biasa, kipasnya dipakai mengipas perlahan-lahan.
Kwee Ceng berhenti bersilat, ia mengawasi kedua orang itu, lalu seperti lupa pada dirinya sendiri, ia bersorak dengan pujiannya.
"He, bocah tolol, kau mengerti apa?!" Auwyang Kongcu menegur, murka. "Apa perlunya kau membikin banyak berisik?!"
"Apa perlunya kau banyak rewel?!" Oey Yong balas menegur. "Kau pun mengerti apa?!"
Ditegur begitu, pemuda ini tertawa. "Bocah ini bergerak secara tolol!" dia berkata. "Dia masih sangat muda, mana dia tahu kepandaian istimewa dari pamanku?"
"Kau toh bukannya dia, mana kau ketahui dia mengerti atau tidak?!" Oey Yong menegur pula.
Selagi muda-mudi ini berselisih mulut, Oey Yok Su tidak mengambil mumat, dia tetap mengawasi sepak terjang dua sahabatnya. Kwee Ceng pun memperhatikan dengan diam-diam saja.
Gerakkannya Ang Cit Kong dan Auwyang Hong menjadi lebih lambat pula. Yang mengangkat tangan kirinya, dengan jari tengahnya dia menyentil perlahan batok kepalanya. Yang lainnya lagi, dengan kedua tangan di kuping, berjongkok di tanah dengan romannya lagi berpikir keras. Hanya sejenak kemudian, keduanya sama-sama berseru, terus mereka berlompat bangun untuk saling serang pula.
"Bagus! Bagus!" Kwee Ceng berseru-seru melihat serangan itu.
Habis itu, kedua lawan itu berpisah pula. Kembali mereka berpikir. Terang sudah, masing-masing seperti sudah mengetahui ilmu silat lawan, maka itu, perlu mereka memikirkan cara penyerangannya.
Duapuluh tahun sejak dua lawan ini berpisah sehabis bertempur di Hoa San, mereka masing-masing tinggal di Tionggan, satu yang lain di See Hek, Wilayah Barat. Sebegitu jauh tidak pernah mereka berhubungan satu dengan lain, sama-sama mereka meyakinkan lebih jauh ilmu silat mereka. Mereka pun tidak ketahui kemajuannya masing-masing. Sekarang ternyata, mereka sama gelapnya seperti duapuluh tahun dulu itu. Mereka mempunyai kepandaian, mereka pun sama-sama jeri. Dengan begitu, mereka membuang-buang tempo, sampai matahari mulai menyingsing di arah Timur.
Yang beruntung adalah Kwee Ceng, yang dapat memberi perhatian seluruhnya. Adakalanya ia memikir, pihak sana tentu bakal menyerang begini, tetapi buktinya, dugaannya penyerangan pihak lain dan ada terlebih sempurna dari apa yang ia pikir. Karena ini, ia menjadi mendapat tambahan kepandaian. Kejadian ini terulang banyak kali. Ia dapat menyangkok ilmu silatnya kedua jago tua itu.
Oey Yong mengawasi pemudanya itu, ia bertambah heran. "Baru belasan hari aku tidak lihat dia, mungkinkah dia telah dapat pelajaran silat dari malaikat?" berpikir nona ini. "Benarkah dia memperoleh kemajuan begini pesat? Kenapa ia agaknya girang sekali?" Ia baru berpikir begitu, ia menjadi khawatir. Katanya di dalam hatinya: "Apa mungkin engko Ceng mendadak pikirannya terganggu?"
Karena ini, ingin ia mendekati si anak muda, untuk menarik tangannya. Begitu berpikir, begitu ia bekerja.
Waktu itu, Kwee Ceng tengah meniru gerakkan Auwyang Hong, yang menyerang sambil memutar tubuhnya. Kelihatannya serangan itu sangat umum akan tetapi tenaga yang dikerahkan tak terkira. Maka itu tatkala tangannya si nona dapat memegang tangan si pemuda, mendadak ia merasa kena tertolak keras, dengan tiba-tiba saja ia mental tinggi seperti terbang.
Melihat itu, Kwee Ceng terkejut hingga ia menjerit tetapi tubuhnya terus melompat menyusul. Pinggang langsing Oey Yong dapat kena disambarnya, karena mana dapatlah ia menaruh kaki di atas wuwungan paseban dengan tidak kurang suatu apapun, di situ terus ia duduk.
Kwee Ceng sendiri, sebelum turut naik, telah menaruh tangannya di payon di mana ia menekan keras, hingga dilainnya saat dia jadi dapat duduk berendeng sama nona itu. Hingga dari situ, dengan memandang ke bawah, mereka dapat menonton pertaruhan.
Telah terjadi perubahan pula dalam caranya kedua jago itu bertempur. Sekarang terlihat Auwyang Hong bejongkok dengan kedua tangannya dikasih turun, hingga ia memperlihatkan sikapnya seekor kodok, sedang dari mulutnya kadang-kadang terdengar suara seperti suara kerbau. Lucu sikap itu hingga Oey Yong tertawa.
"Engko Ceng, dia bikin apakah itu?" dia berbisik. Tertawanya pun perlahan sekali.
"Aku tidak tahu," Kwee Ceng menyahut. Ia baru menjadi demikian atau tiba-tiba ia ingat kata-katanya Ciu Pek Thong tengan Ong Tiong Yang dengan pukulan jeriji It-yang-cie sudah memecahkan Kap-mo¬kang atau Ilmu Kodok dari Auwyang Hong. Maka ia lekas menambahkan; "Inilah semacam ilmu silat yang lihay sekali, namanya Ilmu Kodok!"
Oey Yong meresa lucu hingga ia bertepuk tangan. "Ya, sungguh mirip kodok buduk!" serunya.
Sementara itu Auwyang Kongcu telah melihat orang duduk berendeng dan bicara-bicara sambil tertawa dengan asyik, bukan main ia mendongkolnya. Ia menjadi sangat cemburu. Menuruti hatinya, hendak ia melompat naik ke atas, untuk menggusur Kwee Ceng. Celaka untuknya, ia merasakan dadanya masih sakit, hingga tidak dapat ia mengeluarkan tenaga. Ia mendengar Oey Yong menyebut-nyebut kodok buduk, hatinya bertambah panas, ia menyangka ialah yang dikatakan si kodok buduk yang mengharap mencaplok daging angsa kayangan.
Sekarang ia tidak dapat menguasai lagi dirinya, dengan tangan kanan menggenggam tiga biji torak Hui-yang Gin-so, ia bertindak perlahan-lahan memutar ke belakang paseban, lalu dengan diam-diam ia menyerang ke atas paseban, kepada sepasang muda-mudi itu. Ia dapat berbuat demikian dengan leluasa karena lain-lain orang tengah menonton pertempuran yang nampaknya lucu itu. Ia mengarah punggung Kwee Ceng.
Pemuda she Kwee ini tidak curiga apapun. Ia lagi asyik mengawasi pertempuran yang justru tiba disaatnya Ang Cit Kong, gurunya hendak menggunakan Hang Liong Sip-pat Ciang melayani Auwyang Hong.
Oey Yong tidak ketahui Pak Kay dan See Tok ini, dua orang paling kosen di jaman itu, tengah menghadapi pertempuran yang memutuskan, yang membahayakan salah satu diantaranya, karena itu ia masih dapat tertawa haha-hihi dan dengan tangannya tunjuk sana ¬sini. Secara kebetulan saja, ia melihat satu tubuh di luar paseban bambu. Dasar cerdik sekali, ia menyangka kalau-kalau Auwyang Kongcu main gila. Maka hendak ia memasang matanya.
Justru waktu itu ia mendengar desiran angin dari senjata rahasia, yang melesat ke arah punggung Kwee Ceng, sedang Kwee Ceng sendiri tidak mengetahui itu. Tidak sempat lagi ia menangkis, segera ia bergerak menubruk diri ke punggungnya si anak muda, dengan begitu tubuhnya mewakilkan anak muda itu menyambut serangan tiga biji Hui-ya Gin-so yang tepat mengenai punggungnya sendiri.
Nona ini mengenakan baju lapis joan-wie-kah, ia tidak terluka, cuma saking kerasnya serangan, ia merasakan nyeri juga. Dengan sebat ia memutar balik tangannya, menyambar ketiga biji torak, kemudian sembari tertawa ia berkata; "Kau menggaruki gatal dipunggungku, bukankah? Banyak¬-banyak terima kasih! Nah, ini aku kembalikan garukanmu!"
Auwyang Kongcu terperanjat, ia memasang matanya. Ia khawatir si nona benar-benar menyerang padanya. Ia tidak mau mempercayai si nona itu sudi dengan baik hati memulangkan toraknya. Hanya ia menanti dengan sia-sia. Si nona masih memegang senjata rahasianya itu, dia tidak mengayunkan tangannya.
Menampak demikian, kongcu ini segera menjejak tanah dengan kakinya yang kiri, mengapungkan diri berlompat ke atas pesaben bambu itu. Ia hendak membanggakan ringannya tubuh. Disitu ia berdiri di satu pojok, bajunya yang putih berkibaran di antara sampokannya angin, hingga nampak sikapnya yang bagus, bagaikan seorang suci.
"Sungguh bagus ilmu ringan tubuhmu!" Oey Yong berseru dengan pujiannya. Lalu dia maju setindak untuk berlompat naik ke atas pesaben, untuk menghampiri, mengembalikan torak orang.
Butek pikiran Auwyang Kongcu menyaksikan tangan si nona yang putih halus dan montok itu, putih bagaikan salju. Ia lantas mengulurkan tangannya, menyambut senjata rahasianya, sekalian ingin ia meraba tangan yang halus itu, tatkala tiba-tiba saja ia mendapat lihat sinar kuning keemas-emasan berkelebat di depan matanya. Dua kali sudah ia merasakan tangannya si nona, maka tanpa bersangsi pula, ia lompat berjumpalitan turun dari atas pesaben itu. Sambil berkelit secara demikian, ia juga mengibas-¬ngibaskan tangan bajunya, maka ia berhasil meruntuhkan jarum emasnya si nona.
Oey Yong tertawa terkekeh walaupun serangannya itu gagal. Ia tidak berhenti sampai di situ. Dengan sekonyong-konyong saja, ia menyerang pula dengan tiga biji toraknya si anak muda, untuk menghajar embun-embun pemuda itu.
"Jangan!" berseru Kwee Ceng kaget, menampak perbuatannya si nona itu, untuk dibawa lompat turun.
Belum lagi anak muda ini dapat menginjak tanah, kupingnya dapat mendengar satu suara nyaring, yang mana dengan suara cegahannya Oey Yok Su, "Saudara Hong, berlakulah murah hati!"
Kwee Ceng segera merasakan dorongan angin yang keras, bagaikan gunung roboh menguruk lautan, mengenai dadanya. Berbareng dengan itu, ia khawatir, Oey Yong nanti terluka, dari itu lekas-lekas ia mengerahkan tenaganya, menggunakan jurus "Melihat naga di sawah" dari Hang Liong Sip-pat Ciang. Dengan jurusnya itu ia menolak dorongan keras itu.
Dimana dua-dua pihak menggunakan tenaga besar, kedua tenaga itu bentrok keras sekali. Sebagai kesudahannya, Kwee Ceng tertolak mundur tujuh atau delapan tindak, karena pertahanannya tidak dapat mengalahkan Ilmu Silat Kodok dari Auwyang Hong yang lihay itu.
Lekas-lekas Kwee Ceng melepaskan tubuh Oey Yong , lekas-lekas juga ia memasang kuda-kudanya, guna melayani lebih jauh See Tok si Bisa dari Barat itu, yang sudah hendak menyerang lagi. Hanya belum lagi mereka bentrok pula, Ang Cit Kong berdua Oey Yok Su sudah berlompat maju menghalang di antara mereka.
"Sungguh malu," berkata Auwyang Hong. "Tak keburu aku menahan diri! Apakah si nona terluka?"
Sebenarnya Oey Yong kaget bukan main, tetapi mendengar pertanyaan orang itu, ia memaksakan diri tertawa.
"Ayahku berada disini, mana dapat kau melukakan aku?" katanya.
Oey Yok Su pun khawatir. Ia lantas cekal tangan anaknya itu. Ia menarik. "Apakah kau merasakan sesuatu yang beda pada tubuhmu?" tanyanya. "Lekas kau mainkan napasmu!"
Oey Yong menurut, lantas menarik dan mengeluarkan napas dengan beraturan. Ia tidak merasakan apapun yang mengganggu pernapasannya. Maka ia lantas tertawa seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Melihat itu, barulah hati Oey Yok Su lega. "Kedua pamanmu lagi berlatih silat di sini, kenapa kau main gila, budak?!" ayah ini menegur putrinya. "Kee-mo-kang dari Auwyang pepe hebat luar biasa, jikalau bukannya dia menaruh belas kasihan kepadamu, apakah kau kira sekarang masih mempunyai jiwamu? Coba kau lihat paseban itu!"
Oey Yong berpaling, melihat paseban seperti kata ayahnya. Diam-diam ia terperanjat. Paseban itu telah runtuh sebagian tiang bambunya, yang mendam ke dalam tanah, telah terbongkar tercabut dan remuk bekas kena hajaran Silat Kodok. Tanpa merasa, ia mengulur lidahnya.
Ilmu silat Kee-mo-kang dari Auwyang Hong itu dimulai dari mendiamkan diri disusul sama gerakan tubuhnya, ketika itu seluruh tenaganya telah dikerahkan, kalau ia diserang, segera ia dapat menolak balik serangan itu. Untuk menyerang pun ia mesti berdiam dulu, memasang kuda-kudanya yang aneh bagaikan kodok nongkrong. Barusan ia melayani Ang Cit Kong, ia bersiap dengan kuda-kudanya yang aneh itu, disaat ia hendak menyerang, mendadak Oey Yong pun berlompat turun sebab dipondong Kwee Ceng, jadi tepat si nona melintang di tengah.
Auwyanng Hong pun kaget melihat arah serangannya adalah si nona, ia hendak ambil sebagai istri dari keponakannya. Ia menginsyafi bahwa si nona terancam bahaya maut, jiwanya tak bakal tertolong lagi. Ia juga dapat mendengar cegahan Oey Yok Su. Begitulah ia mencoba menarik pulang pukulannya tetapi gagal, paseban kena terhajar runtuh, doronga tenaga itu berlangsung terus. Lalu mendadak ia merasakan ada satu tenaga lain yang menahannya. Ketika ia sudah berhenti menyerang, ia memasang mata tajam ke depan. Terlihat olehnya, penolong dari si nona adalah si pemuda Kwee Ceng. Diam-diam ia mengagumi Ang Cit Kong, katanya dalam hati: "Benar-benar lihay ini pengemis bangkotan, dia berhasil mengajari muridnya ilmu yang begini sempurna!"
Oey Yok Su pun berpikir melihat sepak terjang Kwee Ceng, yang selama di Kwie-in-chung pernah ia saksikan ilmu kepandaiannya. Katanya dalam hati: "Ini bocah tidak tahu tingginya langit tebalnya bumi, dia berani melayani Auwyang Hong, tidak memandang aku, tidakkah urat-urat dan tulang-¬tulangnya bakal putus dan remuk?" Ia mengatakan demikian karena tidak tahu, Kwee Ceng yang sekarang bukan lagi Kwee Ceng yang sama di Kwie¬in-chung itu.
Ia ketahui, barusan adalah Kwee Ceng yang sudah menolong putrinya, maka tanpa merasa kesannya yang kurang baik untuk pemuda itu menjadi berkurang tujuh atau delapan bagian. Bukankah bocah itu sudah berani berkorban untuk Oey Yong? Akhirnya ia berpikir: "Bocah ini jujur dan baik hatinya, walaupun tidak dapat aku nikahkan anakku kepadanya, mesti menghadiahkan sesuatu kepadanya." Selagi Tong Shia berpikir demikian, ia mendapat dengar suaranya Ang Cit Kong.
"Makhluk beracun bangkotan, sungguh kau hebat!" demikian Pak Kay, si Pengemis dari Utara. "Kita berdua belum ada yang kalah dan menang, mari kita bertempur pula!"
"Baik, bersedia aku melayani seorang budiman!" menjawab See Tok, si racun dari Barat.
Ang Cit Kong tertawa. "Aku bukannya seorang budiman, aku hanyalah pengemis!"
Dengan hanya sekali berlompat, raja pengemis ini sudah berada dalam gelanggang. Auwyang Hong juga hendak masuk ke dalam gelanggang itu tatkala Oey Yok Su mencegahnya seraya Tong Shia melonjorkan tangannya yang kiri.
"Tunggu dulu, saudara Cit dan saudara Hong!" katanya. "Kamu berdua sudah bertarung lebih daripada seribu jurus, kamu tetap belum memutuskan menang atau kalah, karena hari ini kamu berdua adalah tetamu-tetamu terhormat dari Tho Hoa To, lebih baik kamu berdua duduk minum beberapa cawan arak pilihan yang aku nanti menyediakannya. Saatnya merundingkan pedang di Hoa San akan tiba di depan mata, maka waktu itu bukan cuma kamu berdua yang bakal mengadu kepandaian, juga aku dan Toan Hong Ya akan bersama turun tangan! Bagaimana jikalau pertempuran hari ini disudahi sampai disini?"
"Baiklah!" menyahut Auwyang Hong tertawa, "Kalau kita bertempur pula, pastilah aku bakal kalah!"
Ang Cit Kong menarik pulang dirinya. Ia pun tertawa. "Si makhluk berbisa bangkotan dari Wilayah Barat lain mulut lain hatinya!" berkata dia. "Kau memang sudah sangat tersohor! Kau membilang bakal kalah, itu artinya kau bakal menang! Tidak, aku si pengemis tua tidak dapat mempercayainya!"
"Jikalau begitu, hendak aku mencoba pula kepandaianmu, saudara Cit!" Auwyang Hong menantang.
"Tidak ada yang terlebih baik daripada itu!" Ang Cit Kong menyambut. Dan ia pun bersiap pula.
"Sudahlah!" berkata Oey Yok Su tertawa, melihat orang hendak bertempur lagi. "Nyatalah kamu berdua hari ini datang ke Thoa Hoa To untuk mempertunjukkan kepandaian!"
Ang Cit Kong tertawa lebar. "Pantas kau menegurku, saudara Yok!" katanya. "Sebenarnya kami datang kemari untuk mengajukan lamaran, bukannya untuk mengadu kepandaian."
"Bukankah aku telah mengatakan hendak mengajukan tiga syarat untuk menguji kedua sieheng?" berkata pula Oey Yok Su. "Siapa yang lulus, dialah yang aku akan ambil sebagai menantuku, dan siapa yang jatuh, dia pun tidak bakal aku membuatnya pulang kecewa."
Cit Kong agaknya heran. "Apa?! Apakah kau masih mempunyai lain putri lagi?" tanyanya.
"Sekarang ini belum!" sahut Oey Yok Su tertawa. "Umpama kata aku lekas-lekas menikah pula dan mendapatkan satu anak perempuan, sekarang ini sudah tidak keburu lagi! Aku ini mengerti juga kasar-¬kasar tentang ilmu pengobatan dan meramalkan, maka itu sieheng yang mana yang tidak lulus, jikalau ia tidak mencelanya dan sudi mempelajari dia boleh memilih pelajaran yang mana ia penuju, nanti aku mengajarinya dengan sungguh-sungguh."
Ang Cit Kong memang tahu Oey Yok Su banyak pengetahuannya, ia anggap lumayan juga andaikata orang tak dapat menjadi menantunya tetapi dapat semacam kepandaian daripadanya untuk kepentingan seumur hidupnya.
Auwyang Hong melihat Cit Kong tidak segera menjawab, ia mendahului: "Baiklah begini keputusan kita! Sebenarnya saudara Yok sudah menerima baik keponakanku tetapi karena memandang mukanya saudara Cit, biarlah kedua bocah itu diuji pula! Aku lihat cara ini tidak sampai merenggangkan kerukunan."
Ia lantas berpaling kepada keponakannya, akan membilang: "Sebentar, apabila kau tidak sanggup melawan Kwee Sieheng, itu tandanya kau sendiri yang tidak punya guna, kau tidak dapat menyesalkan lain orang, kita semua mesti dengan gembira meminum arak kegirangan Kwee Sieheng itu! Jikalau kau memikir lainnya, hingga timbul lain kesulitan, bukan saja kedua locianpwee bakal tidak menerima kau, aku sendiri pun tidak gampang-gampang memberi ampun padamu!"
Ang Cit Kong tertawa berlenggak. "Makhluk berbisa bangkotan, teranglah sudah kau merasa sangat pasti untuk kemenangan pihakmu ini!" ia berkata. "Kata-katamu ini sengaja kau perdengarkan untuk kami mendengarnya, supaya kami tidak usah mengadu kepandaian lagi dan lantas saja menyerah kalah!"
Auwyang Hong tertawa pula. "Jikalau kau ketahui itu, bagus! Saudara Yok, silahkan kau menyebutkan syarat atau cara ujianmu itu!"
Oey Yok Su sudah berkeputusan akan menyerahkan gadisnya kepada Auwyang Kongcu, ia telah mengambil putusan akan mengajukan tiga soal yang mesti dapat dimenangkan calon baba mantunya. Tetapi, sedang ia memikir untuk membuka mulutnya, Ang Cit Kong mendahului.
"Main ujian? Itu pun baik!" kata Pak Kay. "Kita bangsa memainkan pukulan dan tendangan, maka itu saudara Yok, jikalau kau mengajukan syarat, mestilah itu mengenai ilmu silat. Umpama kata kau mengajukan urusan syair dan nyanyian, atau soal mantera dan melukis gambar dan lainnya, maka kami berdua terang-terang akan mengaku kalah saja, kami akan menepuk-nepuk kempolan kami dan mengangkat kaki, tak usah lagi mempertontonkan keburukan kami di depan kamu!"
"Itulah pasti!" Oey Yok Su memberikan kepastiannya. "Yang pertama-tama ialah mengadu silat…"
"Itulah tak dapat!" Auwyang Hong menyelak. "Sekarang ini keponakanku tengah terluka."
"Ini aku tahu," kata Oey Yok Su tertawa. "Aku juga tidak membiarkan kedua sieheng mengadu kepandaian di Tho Hoa To ini, sebab itu dapat merenggangkan kerukunan kedua pihak."
"Jadi bukannya mereka berdua mengadu silat?" Auwyang Hong menegaskan.
"Tidak salah!" sahut Oey Yok Su.
Auwyang Hong girang, ia tertawa. "Benar!" katanya. "Apakah kepala penguji hendak memperlihatkan beberapa jurus untuk setiap orang mencoba-coba jurus itu?"
"Itu juga bukan," Oey Yok Su menggeleng kepalanya.
"Dengan cara itu sudah dipertanggungjawabkan yang aku nanti tidak berlaku berat sebelah. Bukankah diwaktu menggerakkan tangan dapat orang membikin enteng atau berat sesuka hati? Saudara Hong, kepandaianmu dan sudara Cit sudah sampai dipuncaknya kemahiran dan barusan pun, sampai seribu jurus lebih, kamu masih sama tangguhnya. Sekarang baiklah kau mencoba Kwee Sieheng dan saudara Cit mencoba Auwyang Sieheng."
Mendengar itu Ang Cit Kong tertawa. "Cara ini tidak jelek!" bilangnya. "Mari, mari kita coba-¬coba!" sembari berkata, ia terus menggapai Auwyang Kongcu.
"Tunggu dulu!" berkata Oey Yok Su cepat. "Kita harus mengadakan aturannya. Pertama-tama; Auwyang Sieheng lagi terluka, tidak dapat mengempos semangatnya dan berkeras menggunakan tenaganya, dari itu kita harus menguji kepandaiannya tetapi bukan tenaganya. Kedua; kamu berempat harus bertempur di atas bambu, siapa yang lebih dulu jatuh ke tanah, dialah yang kalah. Dan yang ketiga; Siapa yang melukai pihak anak muda, dialah yang kalah."
Ang Cit Kong heran. "Melukai anak muda dihitung kalah?" dia bertanya.
"Demikian selayaknya!" menjawab Oey Yok Su. "Kamu berdua sangat lihay, jikalau tidak diadakan aturan semacam ini, sekali kamu turun tangan, apakah kedua sieheng masih ada nyawanya? Saudara Cit, asal kau membikin lecet saja kulitnya Auwyang Sieheng, kau teranggap kalah! Demikian juga dengan saudara Hong!"
Pak Kay menggaruk-garuk kepalanya. Tapi ia tertawa. "Oey Lao Shia si Sesat bangkotan benar-benar sangat ajaib bin aneh, bukan percuma namanya disohorkan!" katanya. "Pikir saja, siapa yang melukai musuh dia justru yang kalah! Aturan ini adalah aturan paling aneh sejak jaman purbakala! Tapi baiklah, mari kita bertindak menurut aturan ini!"
Oey Yok Su memberi tanda dengan kipas tangannya, keempat orang itu sudah lantas berlompat naik ke atas pohon, merupakan dua rombongan; Ang Cit Kong bersama Auwyang Kongcu di kanan, dan Auwyang Hong bersama Kwee Ceng di kiri.
Oey Yok Su masgul. Ia ketahui baik, Auwyang Kongcu lebih llihay daripada Kwee Ceng, benar pemuda itu terluka tetapi dengan mengadu ringan tubuh, dia masih terlebih unggul.
Oey Yok Su sudah lantas berseru; "Asal aku menghitung habis satu, dua dan tiga, kamu semua boleh mulai bertempur! Auwyang Sieheng dan Kwee Sieheng, siapa saja di antara kamu yang jatuh lebih dulu, dialah yang kalah!"
Mendengar begitu, Oey Yong berpikir keras, memikirkan daya untuk membantu Kwee Ceng. Ia bingung, Auwyang Hong sangat lihay, bagaimana ia dapat menyelak di antara mereka itu?
Segera Oey Yok Su menghitung: "Satu! Dua…! Tiga!"
Maka bergeraklah keempat orang di atas tiang bambu itu, bergerak-gerak bagaikan bayangan.
Oey Yong mengkhawatirkan Kwee Ceng, ia memasang mata. Ia melihat, cepat sekali sudah lewat belasan jurus. Ia menjadi heran, tidak kecuali Oey Yok Su, yang tidak menyangka pemuda itu demikian pesat kemajuannya.
"Aneh, mengapa dia masih belum kalah?" pikir Tong Sia si Sesat dari Timur.
Auwyang Hong sendiri sangat berduka, ia menjadi bergelisah sendiri, dengan sendirinya ia mulai gunakan tenaga, untuk mendesak. Ia heran dengan lihaynya si bocah. Dipihak lain, tidak dapat ia melukai si bocah. Tapi ia berpikir keras, maka lekas juga ia mendapat jalan. Dengan tiba-tiba saja ia menyapu dengan kedua kakinya untuk membikin lawannya roboh, begitu lekas serangan pertama gagal, ia mengulanginya saling susul, bertubi-tubi.
Diserang secara hebat berantai begitu, Kwee Ceng membuat perlawanan dengan Hang Liong Sip-pat Ciang jurus "Naga Terbang di Langit", tubuhnya beruulang-ulang berlompat, membal ke atas, sedang kedua tangannya, yang dibuka dan nampaknya tajam seperti golok atau gunting, senantiasa dipakai membabat ke arah kaki lawannya yang lihay itu. Ia jadi selalu berkelit sambil menyerang.
Hatinya Oey Yong berdebaran menyaksikan pertempuran dahsyat itu. Ketika ia melirik kepada Ang Cit Kong dan Auwyang Kongcu, ia mendapatkan cara mereka bertempur pun beda.
Auwyang Kongcu memperlihatkan kepandaian meringankan tubuhnya, ia berlari-lari ke Timur dan Barat, sama sekali ia tidak sudi berhadapan sama Ang Cit Kong untuk bertempur sekalipun satu jurus. Kalau Ang Cit Kong merangsak, ia lekas-lekas menyingkir.
"Binatang ini main menyingkir saja, ia memperlambat tempo," pikir Cit Kong. "Kwee Ceng sebaliknya tolol, dia melayani Auwyang Hong mengadu tenaga dan kepandaian, pasti dia bakal jatuh lebih dulu…"
Pengemis dari Utara ini segera berpikir. "Hm!" ia perdengarkan suara di hidungnya, lalu tiba-tiba saja ia lompat mencelat tinggi, menubruk kepada si anak muda, kedua tangannya diulur dengan sembilan jarinya dibuka merupakan cengkeraman ceker baja. Menampak demikian, Auwyang Kongcu terkejut. Segera ia menjejak dengan kaki kirinya, berkelit berlompat ke kanan.
Ang Cit Kong menubruk tempat kosong tetapi ia sudah dapat menduga orang bakal menyingkir ke kanan, maka juga dengan menjumpalitkan tubuhnya, ia mendahului lompat ke kanan, di sana segera ia bersiap dengan kedua tangan sambil ia berseru: "Biarlah aku kalah asal kau mampus lebih dulu!"
Auwyang Kongcu kaget bukan main, kaget karena gerakan orang yang sebat, yang seperti memegat jalannya, dan kaget untuk ancaman. Tidak berani ia menangkis serangan itu untuk membela dirinya. Di luar keinginannya, belum sempat ia memikirkan daya, kakinya sudah menginjak tempat kosong, maka terus saja ia jatuh. Ia telah memikir, kalahkah ia dalam pertandingan ini? Hanya ketika itu, Kwee Ceng pun jatuh di sampingnya!
Auwyang Hong telah berpikir keras karena sudah sekian lama ia tidak dapat merobohkan bocah lawannya. Kejadian ini membuatnya bergelisah. ia telah berpikir: “Jikalau aku mesti melayani dia sampai lebih daripada limapuluh jurus, ke mana perginya pamornya See Tok?" Karena ini ia mendesak, bagaikan kilat tangan kirinya menyambar ke belakang lehernya Kwee Ceng. Ia pun berseru: "Kau turunlah!"
Pemuda itu berkelit sambil mendak, tangan kirinya diulur, niatnya untuk menangkis, disaat mana, mendadak Auwyang Hong mengerahkan tenaganya. Ia menjadi kaget hingga ia menegur; "Kau…kau…." Ia hendak menanya: "Kenapa kau tidak menaati peraturan?" dan ia mengerahkan tenaganya. Atau mendadak Auwyang Hong tertawa dan menanya: "Aku kenapa?" Dengan mendadak juga ia membatalkan pengerahan tenaganya itu.
Kwee Ceng mengatur tenaganya, untuk melawan. Ia berkhawatir jago tua itu nanti menggunakan kuntauw kodoknya, ia takut nanti terluka di dalam. Siapa sangka tengah ia berkuat-kuat, tiba-tiba saja penyerangnya itu lenyap dari hadapannya. Di dalam latihan dan pengalaman, sudah tentu ia kalah jauh dibandingkan dengan See Tok, maka syukur untuknya, dari Ciu Pek Thong ia telah memperoleh ilmu silat "Kong Beng Kun" yang terdiri dari tujuhpuluh dua jurus itu, yang sifatnya dalam "keras ada kelembekannya", kalau tidak pastilah akan terjadi seperti di Kwie-in-chung tempo melayani Oey Yok Su, tangannya salah urat. Meski demikian, ia toh terjerumuk, kakinya limbung, tidak ampun lagi ia jatuh kepala di bawah, kaki di atas!
Kalau Auwyang Kongcu jatuh lurus, berdiri, Kwee Ceng menjadi terbalik. Keduanya jatuh berbareng. Tubuh mereka pun berada berdekatan. Auwyang Kongcu melihat tegas saingannya itu, mendadak saja timbul pikirannya yang sesat. Mendadak ia majukan kedua tangannya, untuk menekan kedua kaki Kwee Ceng, berbareng dengan mana, meminjam kaki orang, ia apungi tubuhnya naik. Dengan demikian, selagi ia mumbul, Kwee Ceng sendiri turun semakin cepat.
Oey Yong kaget tidak terkira. Itulah artinya Kwee Ceng pemuda pujaannya bakal kalah. Tanpa merasa, ia menjerit; "Ayo!"
Hampir berbareng dengan jeritan itu, terlebih tubuh Kwee Ceng berbalik mencelat ke atas, di lain pihak, tubuhnya Auwyang Kongcu turun pula, bahkan terus jatuh ke tanah. Di lain pihak lagi, Kwee Ceng telah tiba di atas pohon, berdiri di sebatang cabang, lalu dengan meminjam tenaga cabang itu ia mendekam!
Menyaksikan kejadian itu dari kaget bukan main, Oey Yong menjadi girang bukan kepalang. Sungguh-¬sungguh ia tidak mengerti kenapa bisa terjadi demikian rupa sedang pada Kwee Ceng ia tidak nampak sesuatu aksi. Bukankah pemuda itu terpisah hanya beberapa kaki lagi dari tanah?
Auwyang Hong dan Ang Cit Kong pun sudah sama-¬sama berlompat turun, Ang Cit Kong tertawa terbahak¬-bahak, berulang-ulang ia berseru: "Sungguh indah! Bagus!"
Parasnya See Tok, sebaliknya muram. "Saudara Cit, muridmu yang lihay ini campur aduk sekali ilmu kepandaiannya!" ia berkata, "Dia pun sampai dapat mempelajari ilmu gulat dari bangsa Mongolia!"
Ang Cit Kong tertawa. "Tetapi aku sendiri tidak becus ilmu gulat itu!" katanya, mengaku terus-terang. “Bukan aku yang mengajarkan dia, maka itu janganlah kau main gila denganku!"
Sebenarnya Kwee Ceng kaget sekali Auwyang Kongcu sudah menekan kakinya itu berbareng si kongcu sendiri mengapungkan diri. Dia mengerti, hebat kalau dia jatuh, sedang si kongcu itu bakal berada di atasnya. Itulah artinya ia kalah dan bercelaka. Disaat segenting itu, ia tidak menjadi gugup. Ia melihat kaki orang di depan mukanya, hebat luar biasa, ia menyambar dengan kedua tangannya, menarik dengan keras seraya tubuhnya pun diapungkan ke atas. Memang itulah ilmu gulat orang Mongolia, supaya sesudah roboh dapat berlompat. Itulah ilmu gulat yang tak ada bandingannya turun temurun.
Kwee Ceng menjadi besar di gurun pasir, sebelum ia berguru dengan Kanglam Cit Koay, ia sudah bergaul erat dengan Tuli dan lainnya bocah bangsa Mongolia, dengan sendirinya sering mereka adu gulat. Sekarang ia menghadapi bahaya, hampir tanpa berpikir, ia menggunakan ilmu kepandaiannya itu. Ia pun meminjam tenaga lawan sama seperti Auwyang Kongcu meminjam tenaganya. Dan ia memperoleh kemenangan!
"Kali ini Kwee Sieheng yang menang!" Oey Yok Su sudah lantas mengasih dengar putusannya. "Kau jangan bersusah hati, saudara Hong, jangan panas. Auwyang Sieheng lebih lihay, siapa tahu pertandingan kedua dan ketiga dia nanti yang menang?"
"Kalau begitu, silahkan saudara Yok menyebutkan acara pertandingan yang kedua," meminta Auwyang Hong.
"Pertandingan yang nomor dua dan nomor tiga ini adalah pertandingan secara bun," berkata Oey Yok Su. Cara "bun" ialah cara halus, tanpa kekerasan.
Mendengar ayahnya itu, Oey Yong menjerit. "Ayah, terang-terangan kau berat sebelah!" katanya. "Kenapa kau menggunakan cara bun? Ah, engko Ceng, sudahlah kau jangan mau bertanding pula!"
"Kau tahu apa?!" berkata sang ayah. "Dalam ilmu silat, kalau telah dicapai puncaknya kemahiran, apa orang akan terus main keras-kerasan saja? Acaraku yang kedua ini, kau tahu, adalah untuk meminta kedua sieheng mengenal sebuah lagu serulingku…."
Girang Auwyang Kongcu mendengar halnya acara itu. Katanya dalam hati: "Si tolol ini, apakah tahunya tentang ilmu tetabuhan? Kali ini pastilah aku yang bakal menang…"
Auwyang Hong tapinya berkata; "Anak-anak muda masih lemah sekali latihannya bersemedhi menenangkan hati, aku khawatir tidak dapat mereka bertahan dari lagumu, saudara Yok."
"Laguku lagu biasa saja, saudara Hong, jangan kau khawatir," Oey Yok Su menghibur. Lalu ia menghadapai Auwyang Kongcu dan Kwee Ceng, untuk berkata: "Kedua sieheng, silahkan kau masing¬masing mematahkan secabang pohon, setelah kalian mendengar suara laguku, lantas kamu menimpali dengan mengetok-ngetok batang pohon itu. Siapa yang dapat menimpali paling tepat, paling bagus, dialah yang menang."
Kwee Ceng maju menghampiri tuan rumah, ia menjura. "Oey tocu," katanya hormat. "Teecu ini sangat tolol, tentang ilmu tetabuhan teecu tidak tahu sama sekali, maka dalam pertandingan yang kedua ini teecu menyerah kalah saja…."
"Jangan kesusu, jangan kesusu!" Ang Cit Kong mencegah. "Biar bakal kalah, apakah halangannya mencoba dulu? Apakah kau khawatir nanti ditertawakan orang? Jangan takut!"
Mendengar perkataan gutunya, pikiran Kwee Ceng berubah. Ia pun melihat Auwyang Kongcu sudah mematahkan sebatang cabang, maka ia lantas mencari secabang yang lain.
Oey Yok Su tertawa, ia berkata, "Saudara Cit berada disini, sungguh siauwtee membuatnya kau nanti menertawainya!"
Pemilik Tho Hoa To ini sudah lantas membawa seruling ke bibirnya, maka sedetik kemudian, ia sudah mulai meniup.
Auwyang Kongcu memasang kuping mendengar irama, cuma sebentar, ia lantas menabuh cabang pohonnya, memperdengarkan suara seperti timpalan kecrek. Ia mengerti lagu, dapat menimpali dengan baik.
Sebaliknya Kwee Ceng agaknya bingung, ia angkat bambunya tetapi ia tidak mengetok, maka juga ketika serulingnya Oey Yok Su sudah berbunyi lamanya sehirupan teh, ia masih belum menimpali sekalipun….
Melihat itu Auwyang Hong dan keponakannya menjadi girang sekali. Mereka merasa pasti, kali ini mereka bakal menang. Bukankah acara yang ketiga pun acara bun? Mereka percaya, mereka bakal menang acara yang ketiga sekalipun….
Oey Yong sebaliknya, Ia sangat gelisah. Ia khawatir sekali Kwee Ceng kalah. Maka dengan jari tangannya yang kanan, ia menepuk-nepuk lengannya yang kiri. Ia berharap si anak muda melihatnya dan nanti mengikuti caranya. Tapi ia kecele, Kwee Ceng dongak mengawasi langit, berdiam saja, ia tak melihat pertandaannya itu….
Oey Yok Su masih meniup terus lagunya. Sejenak kemudian, mendadak Kwee Ceng menepuk batang bambunya. Ia menepuk di tengah-tengah antara bagian dua tepukan. Auwyang Kongcu tertawa terkekeh.
"Baru mengetok, dia sudah kalah!" pikir pemuda ini.
Kwee Ceng kembali menepuk lagi, kembali di bagian tengah seperti tadi. Ketika ia mengulangi sampai empat kali, semuanya tidak tepat.
Oey Yong menggeleng-geleng kepala. "Aku punya engko tolol ini tidak mengerti ilmu tetabuhan, tidak selayaknya ayah justru menguji dengan lagu!" katanya dalam hati. Sembari berpikir begitu, ia menoleh kepada ayahnya. Tapi herannya, ia menampak air muka ayahnya berubah. Ayah agaknya merasa aneh.
Kwee Ceng masih memperdengarkan pula kecrek bambunya, lantas terdengar irama seruling seperti rancu, hanya sebentar kemudian, irama itu balik kembali dengan rapi menuruti lagunya.
Masih saja Kwee Ceng menepuk, tetap sama caranya itu, di tengah-tengah di antara dua bagian kecrekan, hanya caranya sebentar cepat sebentar perlahan, sebentar mendahului, sebentar ketinggalan. Cara ini hampir-hampir mengacaukan lagunya Oey Yok Su.
Kejadian ini bukan cuma mengherankan pemilik pulau Tho Hoa To, yang perhatiannya menjadi tertarik sekali, juga Auwyang Hong dan Ang Cit Kong tidak mengerti. Mereka turut menjadi heran.
Tadi Kwee Ceng telah mendengar suara pertempuran di antara seruling, ceng dan siulan, tanpa merasa ia menginsyafi irama pertempuran istimewa itu, sekarang mendengar lagunya Oey Yok Su, mulanya ia memasang kuping dengan melongo, lalu akhirnya ia mengasih dengar suara bambunya untuk mengacau. Ia mengetok dengan keras, suaranya "Bung! Bung! Bung!"
Tidak peduli telah mahir ilmu menetapkan atau menenangkan hati dari Oey Yok Su, ia pun tergempur suara bambu itu, beberapa kali hampir ia membuat lagunya berbalik mengikuti suara kecrek istimewa dari Kwee Ceng: "Bung! Bung!"
Lantas Oey Yok Su mengasih bangun semangatnya. "Hebat kau, bocah!" pikirnya. Ia meniup pula serulingnya, sekarang dengan irama perlahan tetapi banyak perubahannya, selalu berganti tekukannya.
Auwyang Kongcu memasang kupingnya, untuk menangkap lagu itu, baru sesaat, tanpa merasa ia mengangkat bambunya, dengan sendirinya ia bergerak¬-gerak menari!
Auwyang Hong terkejut, ia menghela napas. Segera ia maju, untuk mencekal lengan keponakannya, menekan nadinya. Menyusul menggelarkan sapu tangan sutera, untuk menyumbat kuping orang, supaya Auwyang Kongcu tidak dapat mendengar lagu itu. Ketika kemudian si keponakan mulai tenang hatinya, baru ia lepaskan cekalan dan tekanannya itu.
Oey Yong sendiri tidak terganggu seruling ayahnya. Seperti sang ayah, ia sudah biasa mendengar lagu "Thia Mo Bu" atau "Tarian Hantu Langit". Ia hanya mengkhawatirkan Kwee Ceng, takut si anak muda tak dapat menenangkan diri, menetapkan hati, mempertahankan diri…………..
Kwee Ceng sudah duduk bersila di tanah, ia menenangkan diri dengan latihan tenaga dalam Coan Cin Kauw, dengan begitu ia menentang rayuan atau bujukan irama seruling yang menggoncangkan hati. Berbareng dengan itu, tak hentinya ia memperdengarkan kecrek bambunya, untuk mengacau lagu itu.
Tadi Oey Yok Su bertiga Ang Cit Kong dan Auwyang Hong, dengan lagu-lagu mereka telah mengadu irama, mereka dapat saling menyerang, saling membela diri, mereka tidak saja tak kena terbujuk atau terserang, sebaliknya mereka dapat menyerang. Sekarang Kwee Ceng kalah latihan tenaga dalam, ia tidak dapat menyerang, ia cuma bisa membela diri, malah rapat penjagaannya. Benar ia tidak bisa melakukan penyerangan membalas tetapi juga benar oey Yok Su tidak dapat menaklukkannya.
Selang sesaat kemudian, suara seruling semakin lama semakin perlahan dan halus, sampai sukar terdengarnya. mendengar itu, Kwee Ceng berhenti dengan ketokan bambunya, ia memasang kupingnya.
Justru inilah lihaynya Oek Yok Su. Makin perlahan suara seruling, makin besar tenaga menariknya. Begitu Kwee Ceng diam mendengarkan, bekerjalah pengaruh menarik itu. Irama seruling dan irama bambu bergabung menjadi satu, mestinya pemusatan pikiran si anak muda kena terbetot.
Tetapi Kwee Ceng lain daripada orang lain. Kalau orang lain, mestinya ia sudah runtuh, tak dapat meloloskan diri. Ia pernah meyakinkan ilmu saling serang dengan tangan sendiri, sebagimana telah lama berlatih dengan Ciu Pek Thong, maka itu, hatinya satu tetapi ia dapat memecah menjadi dua. Maka begitu ia mendengar suara aneh, yang membetot keras hatinya, ia memecah hatinya menjadi dua. Ia insyaf akan bahaya yang mengancam. Dengan demikian, sambil menetapkan hati, menenangkan diri, ia memperdengarkan pula suara sebatang bambunya yang ia pegang dengan tangan kiri, maka mendengung pulalah suara bung-bung.
Oey Yok Su menjadi terperanjat saking herannya. "Bocah ini mempunyai kepandaian luar biasa, tidak dapat dipandang enteng," pikirnya. Tapi ia penasaran, ia mencoba lagi. Tidak lagi ia berdiri diam, dengan mengangkat kakinya, ia bertindak dalam penjuru patkwa, delapan persegi, sembari jalan ia meniup terus serulingnya.
Kwee Ceng masih menepuk terus, kedua tangannya mengasih dengar tepukan yang berbeda, dengan begitu ia bagaikan dua orang yang menentang Oey Yok Su satu orang. Tenaganya pun bertambah dengan sendirinya.
Oey Yocu bukan sembarang orang, makin ditentang ia jadi makin gagah, lalu nada serulingnya menjadi tinggi dan rendah, makin luar biasa terdengarnya iramanya itu.
Kwee Ceng terus melawan, tetap ia mempertahankan diri, sampai mendadak ia dapat merasakan suara seruling itu seperti ada hawa dingin yang menyambar dirinya, bagaikan hawa dingin dari es membungkus dirinya. Tanpa merasa, ia mengigil.
Biasanya suara seruling halus dan lemah mengalun, panjang kali ini perubahannya menjadi keras, bagaikan penyerangan dahsyat, maka Kwee Ceng merasakan hawa dingin meresap ke tulang-tulangnya. lekas-lekas ia memusatkan pikirannya lagi, ia memecah dua pula. Ia mengingat kepada matahari panas terik tergnatung di udara, di waktu musim panas memukul besi, atau dengan tangan memegang obor besar memasuki dapur yang apinya marong dan panas sekali. Pemusatan perumpamaan ini berhasil mengurangi serangan hawa dingin itu.
Kembali Oey Yok Su menjadi heran. Ia melihatnya ditubuh sebelah kiri Kwee Ceng ada sifat dingin, sebaliknya di tubuh sebelah kanan tampak keringat keluar tanda dari hawa panas. Ia lantas merubah pula irama lagunya. Ia melenyapkan hawa dinginnya, mengganti dengan hawa panas dari musim panas.
Kwee Ceng terkejut karena perubahan itu, disaat ia hendak menentang lagi, suara batang bambunya sudah menjadi kacau dengan sendirinya.
Oey Yok Su menyaksikan itu, katanya dalam hatinya: "Kalau ia memaksa melawan, ia masih dapat bertahan sekian lama, hanya kalau ia tetap terserang terus hawa panas dan dingin bergantian, kesudahannya ia bakal sakit berat." Karena memikir demikian, ia berhenti meniup serulingnya, maka sedetik saja, iramanya seperti lenyap di rimba. Maka berhentilah lagu seruling itu.
Kwee Ceng segera mengerti orang telah mengalah terhadapnya, ia lantas berlompat bangun, memberi hormat kepada Oey Yok Su seraya menghaturkan terima kasih atas kebaikan hatinya, yang ia bahasakan "Oey Tocu."
Oey Yok Su heran hingga ia menduga; "Bocah ini masih sangat muda, siapa tahu ilmu dalamnya begini bagus. Mustahilkah sengaja ia memperlihatkan sikap ketolol-tololan padahal sebenarnya ia cerdas luar biasa? Jikalau tepat dugaanku, anakku mesti dijodohkan dengannya. Baiklah aku mencoba lagi!" Begitulah ia tersenyum.
"Kau baik sekali!" katanya manis. "Kau masih memanggil Oey Tocu kepadaku?"
Dengan pertanyaan itu Oey Yok Su hendak memberi tanda, "Dari tiga ujian, kau sudah lulus yang dua, karenanya sudah boleh kau mengubah panggilan menjadi gakhu tayjin." Arti "gakhu tayjin" ialah ayah mertua yang terhormat.
Kwee Ceng adalah seorang yang jujur dan polos, ia tidak mengerti kata-kata orang mengandung dua maksud, maka ia menjadi gugup.
"Aku…aku…" katanya, lalu ia tak dapat meneruskannya. Lalu matanya mengawasi kepada Oey Yong, untuk memohon bantuan si nona…..
Oey Yong girang bukan main. Ia lantas menekuk-¬nekuk jempol kanannya. Itu berarti anjuran untuk Kwee Ceng bertekuk lutut kepada Oey Yok Su.
Kebetulan Kwee Ceng mengerti tanda itu, tanpa bersangsi lagi ia menjatuhkan diri di depan tuan rumah sambil mengangguk sampai empat kali.
Meski ia mengulur tangannya kepada Auwyang Kongcu, guna menyingkirkan sumbatan di kuping anak muda itu sembari ia berkata; "Bicara dari hal tenaga dalam, Kwee Sieheng sangatlah mahir, akan tetapi ketika aku menguji dengan lagu, kaulah, Auwyang Sieheng, yang lebih mengerti…. Begini saja, acara nomor dua ini aku anggap seri. Sekarang hendak aku memulai dengan acara yang ketiga, supaya dengan ini didapat keputusan siapa di antara kedua sieheng, yang menang dan siapa yang kalah."
"Aku, akur!" Auwyang Hong cepat-cepat memberi persetujuannya. Ia tahu keponakannya sudah kalah, ia tidak menyangka Oey Yok Su si juru pemisah sudah berbuat berat sebelah.
Ang Cit Kong menyaksikan itu semua, ia cuma tersenyum, ia tidak memperdengarkan suaranya. Melainkan di dalam hatinya ia bilang: "Si Sesat bangkotan, jikalau kau suka menikahkan anakmu sama pemuda yang doyan berfoya-foya, orang lain boleh tidak mau tahu! Tetapi aku si pengemis tua, ingin sekali menempurmu. Sekarang aku berada sendirian saja, dua tanganku sanggup melayani empat buah tangan, biarlah, nanti aku mencari Toan Hongya dulu, untuk membantuku. Sampai waktu itu nanti jelaslah segalanya!"
Waktu itu Oey Yok Su sudah merogoh sakunya mengeluarkan sejilid buku yang bagian mukanya dilapisi cita merah, sembari berbuat begitu, ia berkata: "Bersama istriku aku Cuma mempunyai ini seorang anak perempuan, tidak beruntung istriku itu, ia menutup mata habis melahirkan anaknya ini, sekarang aku merasa beruntung saudara Cit dan saudara Hong memandang mata kepadaku, bersama-sama melamar gadisku ini. Jikalau istriku masih hidup, tentu ia girang sekali……….."
Merah matanya Oey Yong mendengar ayahnya menyebut-nyebut almarhum ibunya. "Buku ini ialah buku yang ditulis sendiri oleh istriku semasa hidupnya," Oey Yok Su berkata pula.
"Jadi inilah warisan dari hati dan darahnya… Sekarang aku minta kedua sieheng membaca buku ini, setelah selesai kau mesti membaca pula di luar kepala, siapa yang dapat menghapalnya lebih banyak, akan aku serahkan anakku kepadanya…"
Ia berhenti sebentar. Ia menoleh kepada Ang Cit Kong, ia mendapatkan Pak Kay tersenyum. Lalu ia meneruskan; "Menurut aturan, Kwee Sieheng sudah menang satu pertandingan, tetapi kitab ini ada sangkut pautnya dengan kehidupanku, dan istriku pun meninggal dunia karena kitab ini, maka sekarang hendak aku memuji di dalam hatiku supaya ialah sendiri yang nanti memilih baba mantunya, biar ia memayungi salah satu sieheng ini."
Sampai di situ habis sudah sabarnya Ang Cit Kong. Tadi ia masih dapat menguasai diri, dia hanya bersenyum. Sekarang tidak.
"Oey si bangkotan sesat!" ia berkata nyaring. "Siapa sudi mendengar obrolan setanmu panjang lebar? Terang kau mengetahui muridku tolol, dia tidak mengerti ilmu surat dan syair, sekarang kau suruh membaca dan menghapalnya di luar kepala, lalu kau menggertak dengan istrimu yang sudah mati! Sungguh kau tidak tahu malu!" Habis berkata, si pengemis mengibas tangannya, terus memutar tubuhnya untuk bertindak pergi.
Oey Yok Su tertawa dingin. "Saudara Cit!" ia berkata, "Jikalau kau datang ke Tho hoa To ini untuk banyak tingkah, mestinya kau belajar lagi ilmu silatmu beberapa tahun!"
Ang Cit Kong membalikkan tubuhnya, sepasang alisnya berbangkit. "Apa?!" tanyanya bengis.
"Kau tidak mengerti ilmu Kie-bun Ngo-heng, jikalau kau tidak dapat perkenan dari aku, jangan kau harap nanti dapat keluar dari pulau ini!" menjawab si tuan rumah.
"Akan aku melepaskan api membakar ludas semua bunga dan pohonmu yang bau!" Cit Kong berkata keras.
"Jikalau kau mempunyai kepandaian, cobalah kau bakar!" Oey Yok Su menentang.
Melihat kedua orang tua itu hendak berkelahi, Kwee Ceng maju ke tengah. "Oey Tocu! Ang Locianpwee!" ia berkata. "Biarlah nanti teecu mencoba bersama Auwyang toako membaca buku itu dan menghapalnya di luar kepala. Teecu memang bebal, umpama teecu kalah, itu sudah selayaknya…"
Oey Yok Su mendelik kepada si anak muda. "Kau memanggil apa kepada gurumu?!" ia menegur.
"Teecu baru saja mengangkat guru, oleh karena teecu masih belum memberitahukan kepada enam guruku, sekarang ini belum berani teecu merubah panggilan," Kwee Ceng memberi keterangan.
"Hah! Di mana sih ada sekian banyak kerewelan!" kata Tong Shia sebal.
Luas pengetahuan Oey Yok Su tetapi sepak terjangnya biasa menyalahi aturan atau kebiasaan, maka tidaklah ia puas mendapatkan pemuda itu demikian menjunjung peradatan.
"Bagus!" berseru Ang Cit Kong. "Aku masih belum terhitung gurumu! Kau sudi mendapat malu, terserah padamu! Silahkan, silahkan!"
Oey Yok Su tidak membilang apapun, hanya berpaling kepada anaknya. "Kau duduklah baik-baik, jangan kau main gila!" katanya. Ia memesan demikian, karena ia khawatir anak itu membantu Kwee Ceng.
Oey Yong tersenyum, ia tidak menyahut. Tapi ia berdiam dengan hatinya bekerja. Ia tahu kali ini pastilah Kwee Ceng bakal kalah, maka ia mengasah otaknya mencari jalan keluar untuk kabur bersama pemuda itu….
Oey Yok Su lantas menitahkan Kwee Ceng dan Auwyang Kongcu duduk berendeng di sebuah batu besar, ia berdiri di depan mereka, memegangi kitabnya, lalu diansurkan untuk mereka melihatnya, sebab mereka mesti membaca dengan berbareng.
Judul kitab "Kiu Im Cin-keng" Bagian Bawah, model hurufnya model Toan-jie. Begitu melihat itu, Auwyang Kongcu girang luar biasa. Ia berkata dalam hatinya: "Dengan segala macam akal aku memaksa Bwee Tiauw Hong menyerahkan kitab ini, siapa tahu sekarang mertuaku ini hendak berbuat baik kepadaku, ia membiarkan aku membaca kitab luar biasa ini!"
Kwee Ceng melihat enam huruf itu, tak sehuruf juga yang ia kenal. Ia berpikir: "Dia sengaja hendak membikin susah diriku! Surat yang berlugat-legot bagaikan cacing ini mana aku kenal? Biarlah, aku menyerah kalah…"
Ketika itu Oey Yok Su sudah mulai membalik kulitnya buku. Nyata huruf-huruf di dalamnya model huruf Kay-jie, huruf biasa dan huruf-hurufnya tertulis bagus sekali. Teranglah itu tulisan seorang wanita. Ketika ia sudah membaca baris pertama, hatinya goncang. Baris itu berbunyi: "Aturan dari langit, rusak itu berlebihan, tambalan tak kecukupan, maka kosong lebih menang daripada luber, tak cukup menang menang…. Semuanya itu sudah pernah ia mendengar dari Ciu Pek Thong, ia sudah menghapalnya. Maka ia lantas melihat lebih jauh. Betapa girangnya, semua itu adalah huruf-¬huruf yang sudah ia hapal benar.
Oey Yok Su menunggu sampai merasa orang sudah membaca habis, ia membalik pula halaman lainnya. Hal ini dilakukan terus selang sesaat. Hanya huruf-¬huruf itu makin lama makin tak lengkap susunannya, di bagian belakang menjadi kacau, sedang tulisannya sendiri makin lemah, seperti ditulis dengan kehabisan tenaga.
Terkesiap hati Kwee Ceng, karena sekarang ia ingat keterangan Ciu Pek Thong halnya Oey Hujin, yaitu istri Oey Yok Su, yang sudah menuliskan isi kitab secara dipaksakan, karena tubuhnya menjadi lemah, hingga diwaktu melahirkan Oey Yong, tenaganya habis dan meninggal dunia. Inilah kitab yang ditulis disaat-saat kematiannya nyonya itu.
"Mungkinkah Ciu Toako menitahkan aku menghapalkan isi kitab ini?" Kwee Ceng berpikir pula. "Adakah ini Kiu Im Cin-keng? Tidak, tidak mungkin! Kitab itu bagian bawahnya sudah dibikin lenyap oleh Bwee Tiauw Hong, bagaimana sekarang bisa berada di tangan Oey Yok Su?"
Oey Yok Su melihat orang bengong, ia menduga mestinya kepala pemuda ini sudah pusing. Ia tidak mengambil mumat, ia terus membalik-balik pelbagai halaman setelah temponya, ia merasa, orang sudah membaca habis.
Mulanya Auwyang Kongcu dapat membaca dengan baik, kemudian tiba kepada penjelasan cara melatihnya ilmu silat itu, ia bingung karena kata-¬katanya seperti terputar balik. Kemudian lagi, hatinya mencelos mendapatkan huruf-huruf yang berlompatan, hingga karangan tak lagi lancar. Di dalam hatinya ia menghela napas dan berkata: "Kiranya dia masih tidak hendak memperlihatkan kitab yang tulen…" Tapi ia dapat memikir sebaliknya; "Benar aku tidak dapat melihat isi kitab yang lengkap, tetapi toh aku jauh lebih banyak dapat mengingatnya daripada si tolol ini, maka dalam ujian ini pastilah aku yang bakal menang. Oh, si nona yang sangat cantik manis yang bagaikan putri kayangan ini, akhirnya bakal menjadi orangku juga…!"
Kwee Ceng juga melihat dan membaca setiap halaman yang dibalik terus oleh Oey Yok Su, ia mendapat kenyataan semua isinya itu sama seperti yang diajarkan Ciu Pek Thong, cuma bagian-bagian yang lompat saja yang tak terbaca tetapi ia tahu itu, sebab ia masih hapal semua ajaran kakak angkatnya si orang tua yang jenaka dan berandalan itu. Ia mengangkat kepalanya, memandang ke arah pohon, ia tidak dapat menduga apa hubungannya ajaran Ciu Pek Thong dengan kitab ini.
Tidak lama, setelah membalik halaman terakhir, Oey Yok Su mengawasi kedua pemuda itu.
"Nah, siapa yang hendak membaca terlebih dulu di luar kepala?" dia menanya.
Sebelum menjawab, Auwyang Kongcu sudah berpikir untuk jawaban itu. Pikirnya: "Isi kitab kacau sekali, sangat sukar untuk dihapalkannya, maka baiklah aku menggunakan ketika aku baru saja habis membaca akan menghapalnya, dengan begitu pastilah aku akan dapat membaca lebih banyak…" Ia mau mengartikan, kesalahannya pastilah lebih sedikit. Karenanya, segera ia menyahuti: "Aku yang menghapal lebih dulu!"
Oey Yok Su mengangguk. "Kau pergi ke ujung rimba ini, jangan kau mendengarkan dia lagi menghapal," ia menitahkan Kwee Ceng.
Kwee Ceng menurut, ia pergi jauhnya beberapa puluh tindak. Oey Yong menjadi girang sekali. Ia pikir inilah saatnya yang paling baik. Bukankah dengan begitu ia bisa mengajak si anak muda kabur bersama? Maka ia lantas angkat kaki, hendak bertindak perlahan-¬lahan menghampir pemuda itu. Akan tetapi mendadak:
"Yong-jie, mari!" memanggil Oey Yok Su. "Kau juga mendengarkan mereka membaca diluar kepala, supaya kau jangan mengatakan aku berat sebelah!"
Mencelos hatinya si nona. Katanya ayah itu adil, tetapi kenyataannya sangat berat sebelah untuknya. Bukankah ia jadi dicegah mendekati Kwee Ceng? maka ia berkata: "Ayah yang berat sebelah, tak usah ayah menyebutkan orang lain!"
Oey Yok Su tidak gusar, bahkan ia tertawa. "Tidak tahu aturan! Mari!" dia memanggil pula.
"Aku tidak mau datang!" sahut si anak, membelar. Di mulut ia mengucap demikian, tapi kakinya bertindak menghampiri. Ia cerdik sekali, ia tahu tabiat ayahnya, kalau si ayah berjaga-jaga, sulit ia kabur pula. Maka ia hendak memikir perlahan-¬lahan, mencari akal. Ketika ia sudah datang dekat, ia memandang Auwyang Kongcu sambil tertawa manis.
"Auwyang Toako, ada apakah sih bagusnya aku?" ia bertanya. "Kenapa kau begini sangat menyukaiku?"
Bukan main girangnya Auwyang Kongcu. Manis sekali si nona. Hingga hatinya berdenyutan. Ini ia tidak sangka.
"Adik, kau…." katanya sangat kegirangan, hingga ia seperti lupa ingatan, tak dapat ia meneruskan kata-katanya.
"Toako, janganlah kau terburu-buru hendak pulang ke See Hek," berkata pula Oey Yong, tetap dengan manis budi. "Kau diamlah di Tho Hoa To ini untuk beberapa hari lagi. Di See Hek itu sangat dingin, bukankah?"
"See Hek itu luas sekali wilayahnya," menyahut Auwyang Kongcu. "Memang di sana ada banyak daerah yang dingin tetapi ada juga yang hangat dan nyaman seperri Kanglam."
"Ah, aku tidak percaya!" berkata lagi si nona, yang membawa aksinya yang menggiurkan. Ia tertawa. "Kau memang paling suka memperdayakan orang!"
Auwyang Kongcu masih hendak melayani bicara, untuk membantah si nona, akan tetapi segera dihalangi oleh Auwyang Hong. See Tok sudah lantas dapat membade maksud Oey Yong si cerdik ini, bahwa sikap manisnya itu adalah daya belaka untuk mengacau otaknya Auwyang Kongcu, supaya pikirannya disesatkan ke lain soal, si keponakan jadi lupa kepada isinya kitab Kiu Im Cin-keng.
"Eh, anak!" demikian menegurnya. "Omongan yang tak perlu baiknya kau bicarakan perlahan-lahan nanti, mari belum kasep. Sekarang lekas kau membaca di luar kepala!"
Auwyang Kongcu terkejut. Memang, karena perhatiannya ditarik Oey Yong, ia dapat melupakan apa yang barusan dihapalnya. Dan benar-benar ada yang ia lupa. Maka lekas-lekas ia memusatkan pikirannya. Sesudah itu, barulah dengan perlahan-¬lahan mulai membaca. Ia berhasil membaca permulaannya, lantas melanjutkan. Tentu saja ia lupa di bagian-bagian yang penjelasan ilmu silatnya sulit, seperti Oey Hujin sendiri tidak ingat seanteronya.
Oey Yok Su tertawa ketika pemuda yang dipenujunya itu selesai membaca. "Kau telah dapat membaca banyak, bagus!" katanya. "Kwee sieheng, mari, sekarang giliranmu!"
Kwee Ceng bertindak menghampiri. Ia melihat Auwyang Kongcu kegirangan, ia kagum, di dalam hatinya ia kata:" Anak ini benar-benar lihay, sekali membaca saja sudah dapat menghapal di luar kepala sedang tulisan itu kacau balau. Benar-benar aku tidak sanggup, maka sekarang baiklah aku menghapal seperti yang Ciu Toako ajari."
Ang Cit Kong melihat sikap muridnya itu, ia tertawa. "Anak tolol, mereka itu sengaja hendak membikin kita bagus ditonton!" Ia berkata. "Baiklah kita mengaku kalah saja!"
"Memang aku pun sebenarnya tak dapat melawan Auwyang Toako," Kwee Ceng membilang.
Mendadak Oey Yong berlompat ke ke atas payon paseban, yang telah roboh sebagian, di sana ia berdiri seraya menghunus pisau belati, yang ia letakkan di depan dadanya. Ia berseru; "Ayah! Jikalau kau memaksa aku ikut si manusia busuk itu pergi ke See Hek, hari ini anakmu akan binasa di depanmu!"
Oey Yok Su kenal baik tabiat anaknya itu. "Letakkan senjatamu!" ia berkata, "Kita dapat berbicara dengan perlahan-lahan."
Sementara Auwyang Hong telah bekerja. Mendadak ia menekan tongkatnya ke tanah, segera terdengar satu suara aneh, terus dari tongkat itu melesat senjata gelap yang luar biasa, menyambar ke arah Oey Yong.
Hebat melesatnya senjata rahasia ini, belum Oey Yong menginsyafinya, pisau belati di tangannya sudah kena terhajar hingga terlepas dan jatuh ke tanah. Dilain pihak tubuh Oey Yok Su pun berkelebat, sedetik saja ia sudah sampai di atas paseban, dimana ia mengulur tangan merangkul pinggang putrinya.
"Benar-benarkah kau tidak sudi menikah?" katanya perlahan. "Baiklah! Mari kau berdiam di Tho Hoa To menemani ayahmu seumur hidup!"
Oey Yong meronta-ronta, ia menangis. "Ayah, kau tidak sayang Yong-jie, kau tidak sayang Yong-jie…!" katanya.
Menyaksikan itu, Ang Cit Kong tertawa berkakak. Ia tidak nyana Oey Yok Su, yang hatinya keras dan telangas, kewalahan melayani putrinya.
Selagi Ang Cit Kong berkpikir begitu, Auwyang Hong berpikir lain. Ia ini kata di dalam hatinya; "Baik aku menanti hingga sudah ada keputusan ujian ini, setelah itu hendak aku membikin habis pengemis tua serta si bocah she Kwee ini. Urusan lainnya pasti gampang diurus belakangan. Anak itu manja sekali, apa aku peduli?"
Karena ini, ia berkata: "Kwee Sieheng lihay sekali, kau sungguh pemuda gagah, maka di dalam ilmu surat kau tentu pandai juga. Saudara Yok, silahkan minta Kwee Sieheng mulai menghapal!"
Itulah kata-kata baik tetapi sebenarnya adalah desakan. "Baiklah," menyahut Oey Yok Su. "Yong-jie, kalau kau mengacau lagi, nanti kacau juga pikiran Kwee Sieheng."
Mendengar itu, benar-benar Oey Yong lantas menutup mulutnya. Auwyang Hong ingin sekali si anak muda mendapat malu, ia mendesak; "Kwee Sieheng, silahkan mulai! Kami ramai-ramai akan mendengar dengan perhatian pembacaanmu di luar kepala."
Muka Kwee Ceng merah seluruhnya.
"Mana dapat aku menghapal?" pikirnya pula. "Baik aku membaca ajarannya Ciu Toako…" Dan lantas ia membaca. Sebenarnya sudah beratus kali ia menghapal "Kiu Im Cin-keng", karena Ciu Pek Tong tak bosannya mengajari, dari itu, ia masih ingat dengan baik semuanya. Demikian kali ini, mulai dengan perlahan, ia menghapal terus, makin lama makin lancar, selama itu tak sepatah kata yang salah atau berlompatan.
Orang semua tercengang. Bukankah bocah ini baru melihat hanya satu kali kitab yang dijadikan ujian itu? Maka kesannya ialah: "Bocah ini cerdas sekali tetapi ia nampaknya tolol. Kiranya dia sebenarnya berotak sangat terang!"
Oey Yok Su heran, apa pula setelah Kwee ceng habis menghapal halaman keempat. Dapat kenyataan, kata-katanya si anak muda lebih rapi daripada kitabnya, seperti ditambahkan sepuluh lipat. Dan itulah memang bunyinya atau isi aslinya "Kiu Im Cin-keng". Karena ini, tanpa merasa ia mengeluarkan peluh dingin.
"Mustahilkah istriku yang telah menutup mata itu demikian cerdas hingga di alam baka dia dapat mengingat kitab yang asli dan dia telah mengajari semuanya kepada pemuda ini?" ia bertanya dalam hati. Selagi ia berpikir, kupingnya mendengar terus suara yang lancar dan terang dari Kwee Ceng, yang menghapal terus-terusan. Maka ia mau percaya benar-¬benar istrinya sudah mewariskannya kepada si anak muda. Ia lantas mengangkat kepalanya, mendongak ke langit, dari mulutnya terdengar suara tak tedas:
“A Heng, A Heng, sungguh kau sangat mencinta kepadaku, hingga kau pinjam mulutnya pemuda ini untuk mengajari aku Kiu Im Cin-keng…… Kenapa kau membiarkan aku tak dapat melihat pula wajahmu barang satu kali lagi? Setiap malam aku meniup serulingku, kau dengarkah itu?"
"A Heng" ialah nama kecil dari Oey Hujin, istri yang Oey Yok Su sangat mencintainya. Nama itu, sekalipun Oey Yong gadisnya, tidak tahu.
Orang banyak heran melihat sikap tocu dari Tho Hoa To ini, air mukanya berubah, air matanya mengembang, dan entah apa yang diucapkannya itu.
Cuma sebentar Oey Yok Su berada dalam keadaan yang luar biasa itu, mendadak ia kembali pada dirinya sendiri. Sekarang ia seperti bermuram durja. Ia mengibaskan tangannya, terus ia menanya Kwee Ceng dengan suara keras, sikapnya bengis: Apakah kitab Kiu Im Cin-keng yang lenyap di tangan Bwee Taiuw Hong terjatuh ke tanganmu?!"
Kwee Ceng terkejut, hatinya pun ciut. "Tee…teecu tidak tahu kitab Bwee Cianpwee itu terlenyap di mana…." sahutnya gugup, suaranya tak lancar. "Jikalau aku mendapat tahu, pasti sekali aku suka membantu mencarinya, untuk dikembalikan kepada tocu…"
Oey Yok Su mengawasi wajah orang dengan tajam, pada tidak nampak kepalsuan, maka maulah ia percaya orang tidak berdusta. Karenanya ia jadi percaya juga yang istrinya, dari dalam alam baka, sudah mewariskannya kepada pemuda ini.
"Baiklah, saudara Cit dan saudara Hong!" katanya kemudian, suaranya terang, "Ini baba mantu pilihan istriku almarhum, maka itu sekarang aku tidak dapat bilang apa-apa lagi. Anak, aku menjodohkan Yong-jie kepadamu, kau haruslah memperlakukan dia baik-baik. Yonng-jie telah termanjakan olehku, dari itu haruslah kau suka mengalah tiga bagian…."
Oey Yong girang bukan kepalang. Ia lantas saja tertawa. Sama sekali ia tidak menjadi likat karena keputusan itu.
"Ayah, bukankah aku anak baik?" ia berkata. "Siapa yang bilang aku telah termanjakan olehmu?"
Kwee Ceng benar tolol tetapi kali ini, tanpa menanti tanda pengajaran dari Oey Yong, sudah lantas ia menekuk lutut di hadapan Oey Yok Su, untuk paykui empat kali seraya memanggil: "Gakhu Tayjin!" Tapi, belum sempat ia bangkit, tiba-tiba Auwyang Kongcu membentak: "Tahan dulu!"
Ang Cit Kong girang bukan main, ia sampai ternganga, tetapi ketika ia mendengar suara Auwyang Kongcu, ia dapat berbicara.
"Apa?!" dia tanya. "Apakah kau belum juga menyerah?"
"Apa yang dibacakan saudara Kwee barusan jauh lebih banyak daripada isinya kitab ini," berkata Auwyang Kongcu. Ia pun rupanya menginsyafi itu. "Mestinya ia telah mendapatkan Kiu Im Cin-keng yang asli! Aku yang muda hendak membesarkan nyali, hendak aku menggeledah tubuhnya!"
"Oey Tocu sudah selesai menjodohkan putrinya, perlu apa kau menimbulkan kerewelan baru?!" Ang Cit Kong menegur. "Kau dengar apa kata pamanmu barusan?"
Matanya Auwyang Hong terbalik. "Aku Auwyang Hong, mana dapat diakali orang?" dia berkata dengan nyaring. Ia mau percaya tuduhan keponakannya dan merasa pasti di tubuh Kwee Ceng ada kitab "Kiu Im Cin-keng" yang asli, bahkan sekejap itu ingin ia merampas kitab itu, hingga ia melupakan Oey Yok Su yang sudah memutuskan pilihan baba mantunya.
Kwee Ceng tidak takut digeledah, dia lantas meloloskan ikat pinggangnya. "Auwyang Cianpwee, silahkan kau periksa!" ia menantang, ia berserah diri. Ia pun terus mengasih keluar segala isi sakunya, yang ia letakkan di atas batu.
Auwyang Hong mellihat semua barang itu adalah uang perak, sapu tangan, batu api dan lainnya, tidak ada kitab, maka ia mengulurkan tangannya ke tubuh si anak muda.
Oey Yok Su kenal baik si See Tok yang sangat licik dan telangas, di dalam murkanya yang sangat dapat menurunkan tangan jahat. Kalau si Bisa dari Barat ini keburu menurunkan tangan, walaupun ia lihay, tidak dapat mengobati menantunya itu. Maka ia hendak mencegah. Sambil batuk-batuk ia lonjorkan tangannya yang kiri, diletakkan di tulang punggung Auwyang Kongcu. Itulah tulang paling penting pada tubuh manusia, asal Tong Shia menurunkan tangannya yang lihay, habis sudah tulang itu, terbinasalah Auwyang Kongcu di situ juga.
Ang Cit Kong dapat melihat sepak terjang Oey Yok Su, ia dapat menduga maksud orang, ia tertawa di dalam hatinya. Pikirnya: "Oey Lao Shia benar-benar sangat memihak! Sekarang ia menyayangi baba mantunya, dia lantas melindungi muridku yang tolol ini…."
Sebenarnya Auwyang Hong juga berniat menggunakan pukulan kodoknya akan menghajar dengan meraba perutnya Kwee Ceng. Asal ia dapat menekan perut itu, selang tiga tahun, Kwee Ceng bakal dapat sakit dan akan mati karenanya. Tapi ia bermata awas, ia dapat melihat penjagaan Oey Yok Su itu, lantas ia membatalkan niatnya. Ia menggeledah tubuh Kwee Ceng, ia tidak mendapatkan barang lainnya. Ia berdiam sesaat. Ia tidak mempercayai almarhum Oey Hujin benar-benar mewariskan kitab itu dari alam baka, untuk memilih menantunya. Setelah itu, ia dapat memikir lainnya lagi.
"Anak ini tolol, memang tak mungkin ia mendusta. Kalau aku menanya padanya, mungkin sekali ia akan memberikan keterangan yang sebenarnya…" Maka ia gerakkan tongkat ularnya, hingga gelang emasnya berbunyi berkontrang, dua ekor ularnya melilit-lilit.
Menampak itu, Kwee Ceng dan Oey Yong mundur bersama. "Kwee Sieheng," Auwyang Hong menanya, suaranya tajam, "Dari manakah kau mempelajari isi kitab Kiu Im Cin-keng ini?"
"Aku ketahui tentang sejilid kitab Kiu Im Cin-keng akan tetapi belum pernah aku melihatnya," menyahut Kwee Ceng, jujur. "Kitab bagian atas ada pada Toako Ciu Pek Thong…"
Ang Cit Kong heran hingga ia menyelak. "Eh, eh, mengapa kau panggil toako kepada Pek Thong?" ia menanya.
"Ciu Toako telah mengangkat saudara dengan teecu," Kwee Ceng menyahut, kembali dengan sejujurnya.
"Yang satu tua bangka, yang lain muda belia, sungguh edan!" tertawa Ang Cit Kong. "Kacaulah aturan peradatan!"
"Kitab bagian bawah?" Auwyang Hong tanya pula.
"Kitab itu telah dibikin lenyap di telaga Thay Ouw, oleh Suci Bwee Tiauw Hong," Kwee Ceng menyahut pula. "Sekarang Bwee Suci sedang dititahkan gakhu untuk mencari kitab itu. Aku telah memikir, setelah memberitahukan kepada gakhu, ingin aku pergi membantu mencari."
Dengan keponakannya, Auwyang Hong saling memandang. "Kau belum pernah melihat Kiu Im Cin-keng, cara bagaimana kau dapat membacanya di luar kepala?" tanya pula Auwyang Hong, kali ini dengan bengis.
"Apakah yang aku baca barusan itu Kiu Im Cin-keng?" Kwee Ceng balik menanya. “Tidak, tidak bisa jadi! Itu Ciu Toako yang mengajari aku menghapalnya!"
Diam-diam Oey Yok Su menghela napas, kelihatannya ia putus asa. "Inilah seperti bicaranya hantu atau malaikat, sungguh sangat samar," pikirnya. "Rupanya benar anakku berjodoh dengan bocah ini, maka segala-galanya terjadi secara kebetulan sekali."
Selagi Tong Shia heran, Auwyang Hong melanjutkan pertanyaannya. "Sekarang ini di mana adanya Ciu Pek Thong?" demikian tanyanya.
Kwee Ceng hendak memberikan penyahutannya, ketika mertuanya memotong: "Anak Ceng, tidak usah kau banyak omong." Kemudian si Sesat dari Timur ini berpaling kepada Auwyang Hong untuk mengatakan "Ini urusan tidak berarti, buat apa dibicarakan panjang-panjang? Saudara Hong, saudara Cit, kita sudah duapuluh tahun tidak bertemu, marilah di pulauku ini kita minum puas-puas selama tiga hari!"
Oey Yong pun segera berkata: "Cit Kong-kong, nanti aku memasakkan kau beberapa rupa sayuran! Bunga teratai di sini bagus sekali, jikalau lembaran bunga itu dimasak ayam tim campur lengkak segar dan daun teratai, pastilah rasanya lezat sekali! Dan kau tentulah akan sangat menyukainya!"
Ang Cit Kong tertawa lebar. "Sekarang telah tercapailah maksud hatimu!" katanya. "Lihat, bagaimana girangmu!"
Digoda begitu, Oey Yong tertawa. "Cit Kong-kong, Auwyang Pepe, dan kau Auwyang Sieheng, silahkan!" ia lantas mengundang. Ia membawa sikap manis terhadap mereka semua, tak terkecuali Auwyang Kongcu.
Auwyang Hong menjura terhadap Oey Yok Su. "Saudara Yok, aku menerima baik kebaikan hatimu," ia berkata. "Saudara, di sini saja kita berpisahan…."
"Saudara Hong," menyahut si tuan rumah, "Kau datang dari tempat yang jauh dan aku belum melakukan kewajibanku sebagai sahabat, mana bisa enak hatiku?"
Sama sekali tidak ada niatnya Auwyang Hong, berdiam lebih lama lagi, karena ia telah putus asa. Sebenarnya ia datang bukan melulu untuk jodoh keponakannya, lebih daripada itu, sesudah pernikahannya sang keponakan ia hendak bekerja sama dengan Oey Yok Su mencari Kiu Im Cin-keng, kitab ajaib itu. Tidak demikian, sebagai ketua suatu partai, mana sudi ia sembarang menaruh kaki di Tionggoan? Pernikahan sudah gagal, ia pun lenyap harapannya, ia menjadi sangat tawar hatinya. Tetapi Auwyang Kongcu, si keponakan berpikir lain.
"Paman," kata Auwyang Kongcu, "Keponakanmu tidak punya guna, ia membikin kau malu, tetapi Oey Peehu telah menjanjikan hendak mengajari keponakanmu semacam ilmu kepandaian…."
Auwyang Hong mengasih dengar suara "Hm!" Ia tahu dengan baik belumlah padam cintanya si keponakan ini terhadap Oey Yong, maka si keponakan masih hendak mencari untuk bisa terus berdekatan dengan nona itu. Alasan belajar adalah alasan yang paling baik. Si keponakan menjadi mungkin mendapat ketika akan merayu-rayu hati Oey Yong hingga si nona akhirnya terjatuh juga ke dalam pelukannya…."
Oey Yok Su dilain pihak juga tidak puas hatinya. Ia telah memberikan janjinya itu karena ia percaya pasti Auwyang Kongcu bakal lulus, maka ia hendak menurunkan semacam pelajaran kepada Kwee Ceng, siapa tahu kesudahannya adalah kebalikan dugaannya itu, ialah Auwyang Kongcu yang jatuh.
"Auwyang Sieheng," ia lantas berkata, "Kepandaian pamanmu adalah yang terlihay di kolong langit ini, tidak ada lain orang yang dapat menandinginya, karena ini adalah warisan keluargamu, sebenarnya tak usah kau mencari dari lain kaum. Hanya apa yang dinamakan Co-to Pang-bun, yaitu ilmu golongan kiri atau sampingan, aku si tua masih juga mempunyai sedikit, maka jikalau sieheng tidak mencelanya, yang mana saja yang aku mengerti, aku suka mengajarkannya padamu."
Auwyang Kongcu sudah lantas berpikir; "Hendak aku memilih yang paling lama dipelajarinya, yang paling meminta waktu. Tocu ini kabarnya mengerti ilmu Ngo¬heng Ki-bun, baiklah aku minta ilmu itu yang tak ada keduanya dikolong langit ini, yang tentu tak habis dipelajari dalam sehari semalam…." Maka ia lantas menjura dan berkata: "Keponakanmu mengagumi ilmu Ngo-heng Ki-bun dari peehu, maka itu aku mohon kebaikan budi peehu untuk mengajariku ilmu itu."
Oey Yok Su berdiam, ia tidak lantas menjawab. Ia merasa sulit. Ngo-heng Ki-bun itu kepandaiannya yang paling utama, sekalipun kepada putrinya ia belum mewariskannya, maka cara bagaimana dapat ia menurunkannya kepada orang luar? Tetapi ia sudah mengeluarkan kata-katanya, tak dapat ia menyesal atau menarik pulang. Maka kemudian menyahutlah ia: "Ilmu Ki-bun itu menggenggam banyak sekali, kau hendak mempelajari yang mana?"
Auwyang Kongcu cuma mengutamakan dapat tinggal selama mungkin di pulau Tho Hoa To ini, maka ia menjawab; "Keponakanmu melihat jalanan di Tho Hoa To ini sangat berliku-liku, pepohonannya pun lebat sekali, aku menjadi sangat menganguminya, maka aku mohon peehu sukalah memperkenankan aku tinggal di sini untuk beberapa bulan. Dengan begitu maka keponakanmu dapat belajar dengan sabar."
Mendengar itu, air muka Oey Yok Su berubah. Ia segera melirik kepada Auwyang Hong. Di dalam hatinya, ia berpikir; "Jadi kau hendak menyelidiki rahasia pulauku ini! Sebenarnya, apakah maksudmu?"
Auwyang Hong sangat cerdik, mengertilah ia sudah akan keragu-raguannya tuan rumah. Maka lantas ia menegur keponakannya: "Kau sungguh tidak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi! Tho Hoa To ini tercipta setelah peehumu menghabiskan hati dan darahnya, pulau ini teratur begini sempurna, bahwa orang luar tidak berani menyerbunya semua mengandal kepada lihaynya ini, dari itu mana dapat peehumu membeberkan kepadamu?"
Oey Yok Su tahu orang menyindir, dengan dingin ia berkata: "Walaupun Tho Hoa To hanya sebuah bukit yang gundul, orang di kolong langit ini belum tentu ada yang sanggup mendatanginya untuk membikin celaka padaku Oey Yok Su!"
Auwyang Hong tertawa. "Aku kesalahan omong, saudara Yok, maaf!" ia memohon.
"Hai, saudara Racun, saudara Racun!" Ang Cit Kong tertawa dan turut berbicara. "Akalmu ini akal memancing kemarahan orang, kau menggunakannya dengan caramu yang kurang jujur!"
Oey Yok Su seperti habis akal, ia selipkan seruling kumalanya di leher bajunya. "Tuan-tuan, silahkan turut aku!" ia mengundang.
Maka berhentilah pembicaraan mereka. Auwyang Kongcu tahu tuan rumah murka, ia melirik kepada pamannya. Auwyang Hong mengangguk, lalu ia bertindak mengikuti tuan rumah. Yang lain-lainnya pun turut mengikutinya.
Jalanan berliku-liku, sekeluarnya dari rimba bambu itu, di depannya mereka terlihat sebuah empang teratai yang besar, yang bunga teratainya sedang mekar banyak, hingga di situ tersebarlah bau harum semerbak yang halus dari bunga yang indah dan bersih itu. Daun-daun teratai pun terampas luas dan lebar. Di tengah-tengah empang ada sebuah jalanan yang memotong untuk tiba di lain tepi, hingga dengan begitu pengempang itu menjadi terbelah dua.
Oey Yok Su berjalan di tengah pengempang itu, memimpin orang banyak ke sebuah rumah yang nampak terawat rapi sekali, yang tiang-tiangnya terbuat dari batang-batang atau bongkol pohon cemara yang tak dibuangi babakannya hingga nampak wajar. Di luar itu pun merambat pohon-pohon rotan yang beroyot. ketika itu ada di musim panas tetapi berada di dalam rumah itu, semua orang merasakan adem.
Oey Yok Su mempersilahkan keempat tetamunya masuk ke dalam kamar tulis dimana bujangnya yang gagu segera menyuguhkan teh, yang airnya berwarna hijau, tetapi setelah dihirup, teh itu dingin bagaikan salju, meresap hingga ke ulu hati.
Ang Cit Kong tertawa, ia berkata: "Orang bilang, sesudah tiga tahun menjadi pengemis, berpangkat pun dia tak sudi, tetapi, saudara Yok, jikalau aku dapat tinggal tiga tahun di dalam duniamu yang begini adem nyaman, menjadi pengemis pun tak sudilah aku!"
"Saudara Cit," menyahut Oey Yok Su, "Jikalau benar kau sudi tinggal untuk suatu waktu denganku di sini, supaya kita kakak beradik dapat minum arak dan mengobrol, itu sungguh hal yang aku memintanya pun tidak dapat."
Ketarik hatinya Ang Cit Kong mendengar suara orang yang sungguh-sungguh itu. Tetapi Auwyang Hong segera berkata; "Kamu kedua tuan, jikalau kau sampai tidak berkelahi, tak usah sampai dua bulan lamanya, pastilah kau berhasil menciptakan semacam ilmu pedang yang luar biasa gaib!"
"Ha, kau mengiri?" tanya Ang Cit Kong tertawa.
"Tapi aku bicara dari hal yang benar!" menyahut Auwyang Hong.
Kembali Ang Cit Kong tertawa. "Ini pun kata-katamu yang di hati lain di mulut lain!" bilangnya.
Dua orang ini tidak bermusuh besar tetapi mereka saling mendendam, di antaranya Auwyang Hong yang memikir dalam dan licik serta licik. Ang Cit Kong yang polos dan terbuka, kalau Cit Kong tidak memikir sesuatu, See Tok sebaliknya menyimpan maksud, sebelum Ang Cit Kong mampus di tangannya, tak mau ia sudah. Hanya ia, karena liciknya, wajahnya tidak kentarakan sesuatu. Demikian kali ini, apapun yang Cit Kong bilang, ia mengganda tertawa.
Oey Yok Su sudah menekan suatu bagian dari mejanya, lalu terlihat di tembok sebelah barat ada sebuah gambar san-sui atau panorama gunung dan air yang bergerak naik sendiri, lalu di situ tampak sebuah pintu rahasia. Ia mengulurkan tangannya ke dalam pintu itu, menarik keluar segulung kertas. Ia mengusap-usap beberapa kali, kemudian memandang Auwyang Kongcu seraya berkata: "Inilah peta lengkap dari Tho Hoa To. Di pulau ini ada jalanan rahasia, jalan keder menuruti jurus patkwa, dan semua itu tercatat di dalam peta ini, sekarang kau ambillah ini, kau mempelajari dengan seksama."
Mendengar itu, si pemuda hilang harapannya. Ia berharap dapat tinggal lebih lama di Tho Hoa To, siapa tahu hanya diberikan sehelai peta. Ia merasa gagal, tetapi meski demikian, ia menjura untuk menyambut peta itu.
Oey Yok Su tidak segera menyerahkan petanya itu. "Tunggu dulu!" katanya.
Auwyang Kongcu melengak, ia menarik pulang tangannya yang sudah diulur itu. "Setelah kau mendapatkan peta ini," berkata Oey Yok Su, "Kau mesti pergi ke Lim-an, dimana kau cari sebuah rumah penginapan atau kelenteng dimana kau dapat tinggal menumpang. Selang tiga bulan, aku nanti perintah orang untuk mengambil peta ini cuma diingat dalam hati, aku larang kau membuat salinannya!"
Mendengar itu, di dalam hatinya, si pemuda berkata: "Kau tidak mengijinkan aku tinggal di pulau ini, siapa sudi memperdulikan segala ilmu sesatmu? Bagaimana dalam tempo tiga bulan aku dapat menolongi kau menjagai kitabmu itu? Jikalau ada kerusakan atau kehilangan, siapa yang dapat bertanggung-jawab. Lebih baik aku tidak mengerjakannya!" Hampir ia menampik, ketika mendadak sebuah pikiran lain masuk ke dalam otaknya: "Dia kata hendak memerintah orang datang mengambilnya nanti, tentulah ia bakal mengutus gadisnya ini. Ini pun sesuatu yang baik untuk berada dekat si nona…." Maka ia lantas mengubah pula pikirannya, terus mengulur tangannya, menyambut peta itu, yang ia masukkan ke dalam sakunya.
Auwyang Hong segera mengangkat kedua tangannya, untuk pamitan. Oey Yok Su tidak menahan lagi, malah ia segera mengantarkannya hingga di muka pintu.
"Saudara Berbisa," berkata Ang Cit Kong. "Di akhir tahun kembali tiba saatnya perundingan ilmu pedang di gunung Hoa San, maka itu baik-baik saja kau memelihara dirimu, supaya nanti kita dapat bertempur secara hebat!"
Auwyang Hong menyahut dengan tawar. Katanya: "Menurutku baiklah kita tidak usah saling berebut lagi! Sekarang ini pun sudah ada ketentuannya siapa yang bakal menjadi orang yang ilmu silatnya paling lihay di kolong langit ini!"
"Eh, sudah ada orangnya?" menanya Ang Cit Kong heran. "Mungkinkah kau, saudara Beracun, sudah berhasil menciptakan semacam ilmu silat baru yang tak ada bandingannya lagi?"
Auwyang Hong tersenyum. "Apa sih kebisaan dan kebijakasaannya Auwyang Hong hingga dapat memperoleh gelaran orang yang ilmu silatnya nomor satu di kolong langit ini?" ia berkata, "Yang aku maksudkan ialah orang yang telah memberi pelajaran kepada Kwee Sieheng ini."
Mendengar itu, Ang Cit Kong tertawa. "Adakah kau maksudkan aku si pengemis bangkotan? Kalau benar, aku mesti memikir-mikirnya dulu! Kepandaian saudara Yok bertambah sekian hari, kau sendiri, saudara Berbisa, kau juga makin gagah dan panjang umur, sedang Toan Hongya itu aku percaya dia juga tidak akan mensia-siakan kepandaiannya, maka aku rasa, tinggallah aku si pengemis yang terbelakang."
"Tetapi, saudara Cit," berkata Auwyang Hong pula, "Di antara orang-orang yang pernah memberi pelajaran kepada Kwee Sieheng belum pasti kaulah yang terlihay….."
"Apa?!" menegaskan Ang Cit Kong. Ia baru mengucap sepatah itu, Oey Yok Su sudah memotong; "Ah, apakah kau maksudkan Loo Boan Tong Ciu Pek Thong si Bocah Bangkotan yang nakal?"
Pertanyaan ini diajukan kepada Auwyang Hong.
"Benar!" menyahut See Tok cepat. "Karena Loo Boan Tong sudah pandai ilmu Kiu Im Cin-keng, maka kita si Tong Shia, See Tok, Lam Tee dan Pak Kay, kita semua bukan lagi tandingan dia!"
"Hal itu belumlah pasti," berkata Tong Shia, "Kitab itu mati, ilmu silat itu hidup!"
Senang See Tok mendengar perkataan tuan rumah. Mulanya ia tidak puas, ialah ketika Tong Shia mencoba menyimpangkan pertanyaannya kepada Kwee Ceng tentang di mana adanya Ciu Pek Thong. Sekarang muncullah pula soalnya Ciu Pek Thong itu. Karena ia pandai bersandiwara, ia tidak menyatakan sesuatu pada wajahnya, bahkan sengaja dengan tawar ia berkata;
"Ilmu silat Coan Cin Pay lihay sekali, kita semua pernah belajar kenal dengannya, maka kalau Loo Boan Tong ditambah dengan Kiu Im Cin-keng, umpama kata Ong Tiong Yang hidup pula, belum tentu ia sanggup menandingi adik seperguruannya ini, jangan kata pula kita si tua bangka!"
"Mungkin Loo Boan Tong lihay melebihi aku tetapi tidak melebihi kau, saudara Hong," berkata Oey Yok Su. Ia tidak mau menyebutnya "Saudara Beracun" seperti Ang Cit Kkong. "Ini aku tahu pasti."
"Jangan kau merendah, saudara Yok," berkata See Tok. "Kita berdua adalah setengah kati sama dengan delapan tail. Kalau kau membilang seperti katamu barusan, maka teranglah ilmu silatnya Ciu Pek Thong tak dapat melampaui kau! Ini, aku khawatir….." Ia lantas berhenti, kepalanya digelengkan berulang-ulang.
Oey Yok Su bersenyum. "Lihat saja di Hoa San tahun depan!" katanya. "Di sana saudara Hong akan mengetahuinya sendiri!"
Auwyang Hong mengawasi, ia mengasih lihat roman sungguh-sungguh. "Saudara Yok, ilmu silatmu telah lama aku mengaguminya," katanya, "Akan tetapi jikalau kau bilang dapat mengalahkan Ciu Pek Thong, sungguh aku sangsi. Jangan kau memandang enteng kepada si tua bangka berandalan itu…"
Biar bagaimanapun, Oey Yok Su kena dipancing panas hatinya oleh See Tok. "Kau tahu, Loo Boan Tong berada di pulau Tho Hoa To ini!" katanya nyaring. "Sudah lima belas tahun lamanya aku mengurung dia!"
Mendengar itu, Auwyang Hong dan Ang Cit Kong terperanjat. Hanya si Bisa dari Barat sudah lantas tertawa bergelak.
"Saudara Yok gemar sekali bergurau," katanya.
"Mari!" berkata Oey Yok Su yang tidak sudi berbicara banyak lagi, tangannya pun menunjuk, bahkan dia berjalan di depan dengan tindakan yang cepat, hingga bagaikan terbang dia jalan molos di rimba bambu.
Ang Cit Kong mengikuti, sebelah tangannya menuntun Kwee ceng, sebelah yang lain Oey Yong. Auwyang Hong pun menarik tangan keponakannya. Semua mereka menggunakan ilmu meringankan tubuh.
Hanya sebentar, mereka sudah sampai di muka gua di mana Ciu Pek Thong dikurung, hanya setibanya disitu, Oey Yok Su menperdengarkan suara kaget. ia telah lihat rusaknya kawat-kawat kurungan di muka gua. Dengan satu enjotan ia lompat, ke muka gua yang segalanya sunyi dan tak nampak sekalipun bayangan si bocah bangkotan yang lucu itu.
Dengan kaki kirinya, Tong Shia menginjak tanah, tiba-tiba ia terperanjat. Ia merasakan kakinya seperti menginjak barang lembek dan tanah kosong. Tapi ia telah sempurna ilmu meringankan tubuhnya, maka lekas menyusullah kaki kanannya, hingga ia dapat berlompat, masuk ke dalam gua.
Sekarang ia melihat dengan tegas kosongnya gua. Tapi yang hebat adalah kakinya kembali menginjak tanah lembek dan kosong seperti tadi. Tentu sekali, tidak dapat ia menaruh kakinya. Maka ia lantas mengasih keluar serulingnya, menggunakan itu untuk menekan dan menolak tembok gua, dengan begitu tubuhnya pun melesat keluar.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA
Hari terus berjalan, setelah lewat beberapa hari pula, Pek Thong ajak adik angkatnya itu bergerbrak pula. Mereka berkelahi seperti empat orang. Dalam kegembiraannya, Pek Thong berkelahi sambil tertawa. Kwee Ceng sebaliknya repot, ia terdesak, maka kalau tangan kanannya kewalahan, tangan kirinya membantu, begitu sebaliknya. Kalau ia terdesak, mereka jadi seperti berkelahi bertiga. Tapi biar bagaimana, Kwee Ceng toh mengerti juga.
"Ah, kau tidak pakai aturan!" Pek Thong mentertawakan adiknya, yang berkelahi seperti sendiri itu.
Kwee Ceng tidak membilang apapun, hanya selang beberapa jurus, tiba-tiba ia lompat mundur, terus ia berdiam.
"Toako!" katanya, habis berpikir, "Aku ingat sesuatu…"
Pek Thong heran. "apakah itu?" dia menegasi.
"Kedua tangan toako menjadi seperti dua orang, kalau kedua tangan itu dipakai melawan satu orang, bukankah berarti dua lawan satu? Kita sekarang hanya main-main tetapi aku pikir itu dapat dipakai buat berkelahi benar-benar…"
Pek Thong tak usah berpikir lama untuk menyadari itu. Mendadak ia lompat keluar dari gua, dia menjambret cabang pohon, mematahkan dua batang. Habis itu ia jalan mondar-mandir di mulut gua, sambil tertawa terus.
"Toako, kau kenapa?" menegur Kwee Ceng heran. Kakak itu seperti edan. "Kau kenapakah?"
Pek Thong tidak menjawab, ia tertawa terus. Selang sekian lama, baru ia kata: "Adik, aku keluar dari gua!"
"Ya," Kwee Ceng menyahut, dia lompat ke mulut gua. "Nanti aku gantikan kau menjaga di sini. Asal jangan toako pergi jauh…."
Pek Thong tertawa, dia menyahut: "Sekarang ini kepandaianku yang nomor satu di kolong langit, perlu apa aku takut pula Oey Yok Su? Sekarang aku tinggal menantikan dia, untuk menghajarnya kalang-kabutan!"
Kwee Ceng heran.
"Toako, pastikah kau bakal menang?"
"Sebenarnya aku masih kalah seurat," sahut Pek Thong, "Tetapi sekarang aku dapat memecah diri, dengan dua lawan satu, di kolong langit ini tidak bakal ada lain orang yang dapat menangi aku! Oey Yok Su, Ang Cit Kong dan Auwyang Hong, boleh mereka lihay sekali, akan tetapi dapatkah mereka melayani dua Loo Boan Tong?"
Kwee Ceng girang. Beralasan perkataan kakak angkat ini.
"Adikku," kata pula Pek Thong, "Kau sudah mengerti ini ilmu memecah diri, untukmu tinggal latihan terlebih jauh untuk memahirkannya. Beberapa tahun kemudian, sesudah kau bisa meyakinkan seperti kakakmu ini, kau pasti akan tambah hebat!"
Girang dua saudara angkat ini. Bahkan Ciu Pek Thong mengharap munculnya Oey Yok Su, yang baru beberapa saat di muka ia takuti. Coba tidak Oey Yok Su mempunyai jalan rahasianya itu, yang menyesatkan orang, ia sudah pergi mencari.
Sore itu ketika si bujang tua datang membawa makanan, Pek Thong cekal tangan orang. "Pergi lekas panggil Oey Yok Su kemari, bilang di sini aku menantikan dia, suruh dia mencoba tanganku!"
Selama orang berbicara, bujang tua itu terus menggoyangkan kepala, ketika Pek Thong sudah habis bicara, baru ia sadar sendiri, "Aah, aku lupa dia tuli dan gagu!" katanya, berludah. Maka ia menoleh kepada Kwee Ceng: "Sore ini kita mesti dahar sampai kenyang!" Ia lantas membuka tutup makanan.
Kwee Ceng dapat mencium bau makanan yang sedap. Ketika ia sudah memeriksa, ia dapat kenyataan, di antara sayuran ada ayam tim yang ia doyan sekali. Ia jadi berpikir. Kemudian ia mencoba. Ia merasa itu seperti masakannya Oey Yong. Lantas hatinya berdebaran. Tahulah ia, itulah masakannya si nona untuknya. Ia lantas memperhatikan yang lainnya. Dari belasan bakpauw, ada satu yang ukirannya seperti buli-buli, rupanya itu sengaja dibikin dengan kuku tangan, ukirannya cetek, tidak gampang untuk melihat itu. Ia heran, maka ia jumput bakpauw itu, untuk dibelah dua. Di dalam situ ada sepotong lilin. Lekas¬ ia masuki ke sakunya selagi Pek Thong dan si bujang tidak memperhatikannya.
Kali ini dua orang itu dahar dengan masing-masing pikirannya. Pek Thong gembira karena berhasil menciptakan ilmu silat baru, sembari mencaplok, ia seperti bersilat. Kwee Ceng mengharapkan lekas dahar cukup supaya ia bisa baca suratnya Oey Yong. Ia percaya si nona punya kabar untuknya.
Akhirnya Pek Thong telah dahar habis bakpauwnya, lalu ia tenggak kuah supnya, habis itu si bujang berbenah dan berlalu.
Sampai di situ Kwee Ceng keluarkan lilinnya, untuk dipecahkan. Benar di dalamnya ada surat, dari Oey Yong. Si nona menulis:
"Engko Ceng, jangan khawatir. Ayah sudah baik lagi denganku. Kau tunggulah, perlahan-lahan aku nanti minta supaya ayah melepaskan kau." Habis membaca, surat itu dikasih lihat pada Pek Thong. Kakak itu tertawa.
"Di sini ada aku, dia tidak melepaskanmu pun tidak bisa!" katanya.
Ketika itu cuaca mulai gelap. Kwee Ceng duduk bersemadhi, tetapi ia senantiasa memikirkan Oey Yong, tidak bisa ia berdiam tenang. Selang sekian lama, baru ia merasa tentram. Tapi justru ia tenang, dapat berpkir bahwa untuk dapat memisahkan diri, ia mesti berkatih. Dengan kedua tangannya bergantian ia tutup kedua lubang hidungnya, untuk bikin napasnya pun menjadi dua….
Kira-kira satu jam dia melatih diri, Kwee Ceng merasakan mendapat kemajuan. Tiba-tiba ia mendengar suara mendesir keras, lekas-lekas ia membuka matanya. Cuaca sudah gelap tetapi di situ terlihat rambut dan kumis putih bergerak-gerak, maka ia mengawasi. Terlihatlah olehnya Ciu Pek Thong lagi melatih diri dengan ilmu silat Kong-beng-kun yang terdiri dari tujuhpuluh dua jurus. Kelihatannya setiap tangan dikeluarkan perlahan tetapi kesudahannya anginnya keras. Jadi itulah lemas memelihara kekerasan. Girang ia melihat kakaknya begitu hebat.
Selagi Kwee Ceng menonton lebih lanjut dengan gembira, tengah Ciu Pek Thong bersilat dengan asyik, mendadak orang tua itu menjerit, disusul sama satu suara bentrokan keras, sebab suatu benda panjang dan hitam terlempar dari tubuhnya si orang tua, membentur pohon. Nampaknya bendab itu seperti kena disambar.
Kwee Ceng terkejut. Ia lihat tubuh kakaknya terhuyung. Ia lompat menghampirkan. “Toako, ada apa?" dia menanya.
"Aku digigit ular berbisa!" sahut Pek thong.
Bukan main kagetnya Kwee Ceng. Ia tampak air muka kakaknya pias. Ia lantas mempepayang orang masuk ke gua. Ia merobek ujung bajunya, membalut keras paha kakaknya, bagian yang dipagut ular, guna mencegah bisa ular mengalir masuk ke dalam tubuh. Tempo menyalakan api, ia menjadi lebih kaget. Ia melihat betis yang menjadi bengkak.
"Di pulau ini tidak biasanya ada ular berbisa, entah darimana datangnya binatang ini," kata Pek Thong. Ia kenali ular hijau.
Kwee Ceng mendengar nyata suara kakaknya, jadi terlebih kaget lagi. Itu tanda hebatnya racun ular. Bagus, si kakak dapat mengendalikan napasnya, dia jadi masih dapat mempertahankan diri tanpa pingsan. Tanpa bersangsi ia membungkuk segera ia bawa mulutnya ke paha, ke tempat yang luka, menyedot darah yang telah kecampur racun ular itu.
Pek Thong terkejut melihat kelakuan adik angkatnya ini. "Jangan!" ia mencegah. "Ular orang, ia menyedot terus. Pek Thong bisa mati!"
Kwee Ceng hendak menolong jiwa orang, ia lupa kepada dirinya sendiri. Ia mencekal keras kaki orang, ia menyedot terus. Pek Thong hendak berontak buat melepaskan diri tetapi segeralah dia lelah, tubuhnya lemas, tak dapat bergeming lagi. Bahkan habis itu ia pingsan.
Kwee Ceng menyedot lamanya semakanan nasi, lantas ia lepehkan racun ular itu. Ia dapat menyedot pulang sebagian besar racun itu. Pek Thong pun kuat tubuhnya berkat ilmu dalamnya, selang sejam, ia siuman.
"Adik," dia berkata, "Hari ini kakakmu bakal pulang ke negeri baka, sebelum mati aku dapat mengangkat saudara sama seorang berbudi seperti kau, aku sangat girang…"
Kwee Ceng mengucurkan air mata. Pendek pergaulan mereka tetapi ia sangat ketarik sama orang tua ini, yang baik hati. Mereka sudah jadi seperti saudara kandung.
Pek Thong tertawa dalam kedukaan. "Bagian dari Kiu Im Cin-keng berada di dalam peti kecil, yang aku pendam di dalam tanah di atas biasa aku duduk numprah," Pek Thong berkata pula. "Sebenarnya aku hendak mewariskan kepada kau tetapi kau sudah mengisap racun ular, kau juga bakal tidak panjang umur…. Adikku, kita pulang ke dunia baka bersama-sama, dengan bergandeng tangan, kita tak usah khawatir kita tak punya kawan…."
Kwee Ceng terkejut mendengar kata-kata orang bahwa ia bakal mati. Ia justru merasakan tubuhnya sehat, tidak ada tanda-tanda yang luar biasa. Ia lantas pula nyalakan api, untuk periksa luka kakaknya itu. Bahan apinya itu tinggal separuh, maka ia berlaku sebat. Ia keluarkan dari sakunya surat dari Oey Yong, dia sulut itu, lantas ia memikirkan untuk mencari cabang dan daun kering diluar gua, untuk ia sekalian, kesudahannya ia terkejut. Tidak ada cabang atau daun kering di situ, rumput semuanya hijau dan segar.
Dalam bingung, ia merogoh pula sakunya, untuk mencari apa saja yang dapat dijadikan bahan api. Ia tidak dapatkan apa-apa kecuali sehelai benda kertas bukan kulit bukan, yang Bwee Tiauw Hong pakai membungkus pisau belati. Tanpa pikir panjang, ia keluarkan itu, untuk dibakar. Ia menyuluhi muka Pek Thong. Ia melihat tampang yang hitam gelap, tidak lagi roman segar sebagai bocah dari kakak angkatnya itu.
Melihat api, Pek Thong mengawasi Kwee Ceng. Ia tersenyum. Tapi melihat wajah orang, yang sehat seperti biasa ia heran. Tengah ia berpikir, ia melihat benda yang menyala di tangan si anak muda, ia menampak huruf-huruf. Baru ia melihat belasan huruf, lantas ia sampok api itu hingga padam, sesudah itu, ia menghela napas lega.
"Eh, adikku, kau pernah makan obat apa yang mujarab?" ia tanya. "Kau sudah menyedot racun ular tetapi racun ular itu tidak dapat mencelakai kau!"
Ditanya begitu, Kwee Ceng ingat halnya dulu ia bersama Ang Cit Kong dan Oey Yong bertemu banyak ular dalam rimba pohon cemara, bagaimana tidak ada ular yang berani menggigit dirinya, ketika kemudian Cit Kong minta keterangan padanya ia ingat pernah menghirup darah ularnya Nio Cu Ong. Maka ia lantas memberi keterangannya.
Pek Thong mengerti, lantas ia menunjuk barang seperti kertas atau kulit. "Jangan kau bakar itu!" katanya. "Itulah mustika…!"
Tidak sempat ia bicara lebih jauh, kembali Pek Thong pingsan. Sebenarnya ia hendak menjelaskan, benda itu memuat huruf-huruf yang merupakan Kiu Im Cin¬keng bagian bawah.
Dalam keget dan bingungnya Kwee ceng menguruti kakaknya. ia ingin menolong tetapi tidak ada hasilnya. Ia meraba paha orang, merasakan paha panas seperti api dan bengkaknya pun bertambah. Saking khawatir, ia lari ke luar gua, melompat naik ke pohon terus ia berkoak-koak: "Yong-jie" Yong-jie! Oey Tocu! Tolong! Tolong!"
Luas Tho Hoa To itu, Oey Yok Su entah ada di bagian mana, suara Kwee Ceng sia-sia belaka. Cuma datang sambutan kumandang koakannya itu di antara lembah.
Habis daya Kwee Ceng, ia lompat turun. Tetapi ia tidak putus asa. Mendadak ia ingat suatu hal. Ia pikir: "Ular beracun tidak berani menggigit aku, mungkin darahku bisa memunahkan racun ular." Begitu mengingat ini, ia bekerja. Ia ambil mangkok hijaunya Pek Thong, yang diperantikan menaruh teh, ia pun menghunus pisau belatinya. Tanpa sangsi lagi, ia potong lengannya, darahnya yang mengalir ia tadahkan dengan mangkok. Ia tunggu sampai darah habis mengucur keluar, terus ia letakkan tubuh Pek Thong di kakinya. Ia membuka mulut saudaranya, menggunakan tangan kiri lalu dengan tangan kanan ia menuang darahnya ke dalam mulut orang.
Anak muda ini telah mengeluarkan banyak darah, walaupun tubuhnya kuat, ia lelah juga, ia menjadi lemas. Menyender pada lamping gua, ia meram dan menjadi pulas. Ia baru sadar ketika merasa ada orang meraba lengan untuk membalut lukanya, ketika ia membuka mata, melihat Loo Boan Tong yang rambutnya melorot turun. Ia menjadi girang sekali.
"Kau…kau…baik?" serunya.
"Aku baik, adikku," sahut Pek thong. "Kau telah menolong aku, kau sampai mengorbankan dirimu."
Kwee Ceng mengawasi paha kakaknya, warna hitam sudah lenyap, tinggal warna merah dan bengkaknya.
Keduanya tidak banyak omong, bersama-sama mereka bersemadhi. Adalah setelah bersantap tengah hari, Ciu Pek Thong baru menanyakan halnya benda yang berupa kulit atau kertas itu yang ada huruf-hurufnya.
Kwee Ceng mesti mengingat-ingat dulu sebelumnya ia menjawab. Ia ingat itulah benda yang ia dapatkan dari gurunya yang nomor dua, Biauw-ciu Sie-seng Cu Cong, yang sebaliknya mendapatkan itu dari sakunya Bwee Tiauw Hong, ketika guru itu mencuri pisau belati orang, piasu belati mana dibungkus dengan kulit itu. Maka ia lantas menuturkan peristiwa di Kwie-in chung baru-baru ini.
Ciu pek Thong berpikir. Ia tidak mengerti kenapa Bwee Tiauw Hong mencatat Kiu Im Cin-keng di kulit itu.
"Toako, kau menyebutkannya itu barang berharga, apakah artinya?" tanya Kwee Ceng yang masih belum mengetahui itu adalah Kiu Im Cin-keng bagian bawah.
"Hendak aku memeriksa dulu baru aku bisa menjawab," menyahut Pek Thong. "Aku ingin membuktikan ini yang tulen atau yang palsu."
Pek Thong masih terbenam kesangsian. Bukankah orang Coan Cin Pay dilarang mempelajari Kiu Im Cin¬keng? Bukankah maksudnya Ong Tiong Yang mendapatkan itu guna menyingkirkan bencana di kemudian hari? Ia tidak berani melanggar pesan itu. Akan tetapi ia berpikir: "Bukankah aku tidak berniat mempelajarinya dan aku cuma hendak melihat saja?"
Ini pula sebabnya kenapa selama numprah di dalam gua itu, ia periksa Kiu Im Cin-keng bagian atas dan membacanya berulang-ulang hingga ia hapal di luar kepala. Bagian atas itu memuat ilmu silat tangan kosong dan pedang, tidak ada tipu atau rahasianya untuk mengalahkan lain orang, jadi sia-sia semua pelajaran itu apabila orang tidak mendapatkan bagian bawahnya.
Selama sepuluh tahun lebih, Pek Thong senantiasa memikirkan dan menduga-duga bagaimana isinya Kiu Im Cin-keng bagian bawah. Dasar kepandaiannya telah mencapai puncak dan ia pun sangat hapal Kiu Im Cin-keng bagian atas, maka begitu melihat bagian bawahnya, ia lantas mengerti hubungan keduanya. Sekarang ia berpikir keras, menyakinkan itu atau jangan? Ia tidak menghendaki menjadi jago nomor satu tetapi ia ingin mengetahui dasarnya ilmu silat, bagaimana lihaynya. Karena kesangsiannya, sebab masih terpengaruh pesan kakak seperguruannya, akhirnya ia masukkan kitab itu ke dalam sakunya dan tidur.
Tidak lama setelah mendusin, pek Thong ajak Kwee Ceng membantu menggali tanah di bagian tempat duduknya, mengeluarkan kitab simpanannya, untuk dihubungi dengan bagian bawahnya. Baru ia mengorek beberapa kali, dengan sebatang pohon yang dipakai sebagai alat penggali, mendadak ia berseru: "Benar! Benar! Inilah cara yang paling baik!" Ia lantas tertawa, agaknya ia girang luar biasa.
"Toako, kau bilang apa?" tanya Kwee Ceng mengangkat kepalanya.
Pek Thong tertawa pula, ia tidak menjawab. Ia sebenarnya ingat sesuatu. Katanya dalam hati: "Dia bukan orang Coan Cin Pay, aku ajari dia menurut bunyinya kitab, supaya ia mengerti semuanya, habis ia melatih itu, untuk aku melihat, tidakkah aku jadi dapat mencapai maksudku untuk melihatnya?"
Tapi sejenak kemudian, ia memikir lainnya. "Di dengar dari suaranya, ia jemu terhadap Kiu Im Cin-keng, yang ia namakan ilmu sesat, cuma ia keliru mengerti sebab ia melainkan menyaksikan Hek Hong Siang Sat, yang mengerti hanya bagian bawahnya. Ia tidak tahu bahwa bagian atasnya memuat cara-cara yang sehat. Karena Hek Hong Siang Sat tidak mengetahui bagian atasnya, mereka menjadi sesat. Baiklah aku mengatur begini, aku tidak mengasih keterangan padanya, nanti sesudah ia paham, baru aku mengasih tahu, biar ia kaget. Karena ia sudah mengerti ilmu itu, tidak dapat ia membuangnya pula! Tidakkah ini lucu?"
Setelah berpikir demikian, ia awasi Kwee Ceng. Ia berkata: "Adikku, selama aku berdiam di dalam gua ini, kecuali ilmu silat Kong-beng-kun serta cara berkelahi main-main itu, sebenarnya aku telah mendapatkan beberapa ilmu lain. Sekarang ini kita nganggur, bagimana jikalau aku mengajari pula padamu?" Ia bicara tanpa mengasih kentara apa-apa.
Kwee Ceng polos, ia girang. "Memang itu bagus!" jawabnya.
"Jangan kau kegirangan, kau telah kena terpedaya!" kata Pek Thong dalam hatinya. Ia segera mulai membacakan isinya Kiu Im Cin-keng bagian atas.
Kwee Ceng tidak cerdas, ada bagian-bagian yang tidak mengerti, ia menanyakan itu. Pek Thong berlaku sabar luar biasa untuk memberikan penjelasannya, sesudah itu, dari bagian atas ia menyambung ke bagian bawah. Cuma, untuk tidak membikin orang curiga, ia suka mengambiln jalan menyimpang.
Luar biasa caranya mengajar Ciu Pek Thong ini. Beda dari semua guru lainnya, ia tidak memberi penjelasan dengan gerakan tangan atau kaki, tetapi meski pun demikian, berkat bahan baik dari Kwee Ceng, yang pun bersungguh-sungguh, dan berkat kesabarannya sendiri, ia memperoleh hasil. Setelah Kwee Ceng mengerti, ia mencoba membandingkan itu dengan ilmu silat Coan Cin Pay.
Kwee Ceng tetap tidak mendusin bahwa ia sudah mendapatkan pelajaran dari Kiu Im Cin¬keng. Hal ini membuat Pek Thong sangat girang, walaupun tengah bermimpi, ia suka tertawa sendiri.
Selama beberapa hari ini, Oey Yong pun terus membikinkan Kwee Ceng beberapa rupa barang hidangan yang digemari si anak muda. Cuma ia tidak muncul menemui anaknya.
Kwee Ceng berlega hati, ia mantap belajar silat, hingga mendapat kemajuan hebat. Pada suatu hari Pek Thong mengajari ilmu mencengkram atau menjambak Kiu Im Pek-ku Jiauw. Sebagai sasarannya adalah tembok gua.
"Pusatkan perhatianmu! Gunakan sepuluh jarimu!" berkata si guru.
Kwee Ceng menurut. Selang beberapa kali, dia heran.
"Toako," katanya, "Aku lihat Bwee Tiauw Hong pernah mempelajari ilmu semacam ini, melainkan sasarannya manusia hidup, dengan jarinya ia mencengkram batok kepala orang, dia kejam sekali!"
Di dalam hatinya Pek Thong terkejut juga. Pikirnya: "Memang, Bwee Tiauw Hong itu mengambil jalan sesat, sebab ia tidak tahu bagian atasnya. Ia cuma turuti kitab bawah yang bunyinya: 'Diwaktu bertempur, dengan jari-jari tangan mencengkram batok kepala lawan.' Ia tentunya pikir, melatihnya pun mesti memakai manusia hidup. Dia mulai curiga, baiklah aku mengubahnya…" Maka sembari tertawa ia berkata: "Dia mempelajari ilmu sesat, dia beda dari kita kaum sejati. Baiklah, kita menunda mempelajari ilmu Kiu Im Sin-jiauw, aku nanti mengajari kau ilmu dalam." Sembari berkata begitu, ia berpikir: "Baik aku mengajari dulu bagian atas sampai dia hapal benar, kemudian baru bagian bawah. Kalau keduanya menemui runtunannya, tentulah ia tidak curiga lagi."
Kwee Ceng menurut, maka ia mulai dari bagian atas. Seperti biasa dengan pelajaran baru, Kwee Ceng selalu menemui kesulitan, tidak gampang ingat atau mengerti, karena ini, berulangkali ia meminta keterangan, dan saban-saban Ciu Pek Thong mesti menjelaskannya. Penjelasan ini sering sampai beberapa puluh kali, meski Kwee Ceng tidak dapat mengerti maksudnya, ia toh dapat membaca di luar kepala. Karena ini, mereka meminta tempo lagi beberapa hari, baru setelah itu, Kwee Ceng mulai melatih dengan tangan dan kakinya.
Sering Kwee ceng melihat kakaknya tersenyum atau tertawa sendiri, ia tidak curiga, sebab ia tahu kakak angkatnya ini memang nakal dan suka bergurau.
Kemudian pada suatu pagi, habis Kwee Ceng berlatih, bujang tua membawakan mereka makanan. Kali ini Kwee Ceng lantas dapat melihat sebuah bakpauw yang ada tandanya. Tidak menanti habis dahar, ia bawa bakpauw itu ke pepohonan yang lebat, untuk dibuka dan diperiksa isinya. Oey Yong menulis surat yang bunyinya membuat kaget. Nona itu menulis:
"Engko Ceng, See Tok datang melamar untuk keponakannya, ia hendak menjodohkannya denganku. Ayah sudah memberikan jawabannya….”
Sampai di situ surat itu. Rupanya belum selesai ditulis, surat itu telah dimasukkan ke dalam bakpauw. Itulah tandanya si nona sangat tergesa-gesa. Tidak salah lagi, jawabannya Oey Yok Su tentulah menerima lamaran itu, kalau tidak si nona tidak nanti menjadi bingung. Karena ini, ia pun menjadi bingung sekali.
Kwee Ceng tunggu sampai si bujang tua berbenah dan berlalu, ia perlihatkan suratnya Oey Yong kepada Pek Thong.
"Ayahnya sudah menerima baik, itu bagus. Ini tidak ada sangkut pautnya dengan kita!" kata sang kakak.
"Tidak, toako!" kata Kwee Ceng, tetap bingung. "Dia sudah berjanji menyerahkan dirinya padaku. Dia bisa menjadi gila!"
"Sesudah seseorang menikah, ada beberapa macam ilmu kepandaian yang tidak dapat dipelajari lagi lebih jauh," Pek Thong memperingatkan. "Umpama dua ilmu It-yang-cie dan Sun-yang-cie, keduanya mesti dipelajari oleh anak-anak jenaka. Adik, kau dengar aku, lebih baik kau jangan menginginkan istri…"
Kwee Ceng tidak menghiraukan nasehat itu. Karena kakak ini tidak sependapat dengannya, ia jadi semakin gelisah.
"Coba dulu aku tidak kehilangan tubuh perjakaku," kata pula Ciu Pek Thong, "Karena itu aku tidak bisa mempelajari ilmu It-yang-cie, mana bisa sekarang Oey Lao Shia mengurung aku di pulau iblis ini? Kau lihat sekarang, karena kau memikirkan istri, pemusatan pikiranmu jadi terpecah, pelajaranmu hari ini pastilah tidak dapat kau selesaikan. Kalau benar kau hendak menikahi putrinya Oey Lao Shia, putri yang cantik bagaikan bunga itu, ah, sayang, sungguh sayang…."
Tidak puas Kwee Ceng mendengar orang ngoceh tentang jeleknya mempunyai istri. "Aku nikahi dia atau tidak, itu urusan belakangan, toako!" katanya. "Sekarang kau tolong dulu dia!"
"See Tok itu ada yang sangat buruk, keponakannya juga pasti bukan orang baik," berkata Ciu Pek Thong. "Biarlah ia menikah sama putri yang licin dan buruk dari Oey Lao Shia, supaya dia tahu rasa! Bukankah itu bagus?"
Kwee Ceng menghela napas. Ia pergi ke rimba, di situ ia duduk menjublak. "Biar aku kesasar dan mati, mesti aku cari dia!" pikirnya mengambil keputusan. Karena ini, ia melompat bangun. Justru itu ia dapat mendengar dua kali pekiknya burung di tengah udara, lalu berkelebat dua bayangan putih, yang menyambar ke bawah. Bahkan segera ia mengenali dua burung rajawali, yang dibawa Tuli dari gurun pasir. Ia menjadi girang sekali. Ia lantas mengangkat melintang tangannya untuk burungnya itu mencelok.
Di kakinya burung yang lelaki ada terikat sebuah selubung bambu. Kwee ceng meloloskan ikatannya untuk diperiksa isinya, sehelai surat. Surat dari oey Yong. Si nona menulis bahwa ia sangat terancam, lantaran beberapa hari lagi See Tok bakal datang mengantarkan panjar, bahwa ia dijaga keras oleh ayahnya, sudah dilarang keluar rumah, tak boleh setengah tindakpun, ia pun dilarang memasak makanan lagi untuk si pemuda.
Maka itu, tulisnya lebih jauh, kalau sampai saatnya dan dia tidak bisa lolos lagi, ia hendak menghabiskan nyawanya. Dia larang si pemuda mencari dia disebabkan semua jalanan di Tho Hoa To penuh rahasia dan berbahaya.
Kwee Ceng bengong sekian lama, lantas ia menghunus pisau belatinya. Ia mengurat berulangkali di selebung bambu itu, mengukir delapan huruf, bunyinya: "Hidup bersama dalam sebuah rumah, mati bersama dalam sebuah liang." Ia ikat pula selubung pada kaki burungnya, lantas ia kibaskan tangannya.
Sepasang burung itu lantas pergi terbang, di udara mereka terbang berputaran, lalu terus menuju ke arah Utara.
Sekarang hati Kwee Ceng merasa lega, maka ia bersila untuk bersemadhi, guna meyakinkan ilmunya, sebentar kemudian ia menghampiri Ciu Pek Thong, guna mendengar pengajaran kakak angkatnya.
Lewat sepuluh hari, Oey Yong tidak memberi kabar apapun. Selama itu, Kwee Ceng telah berhasil menghapalkan kitab bagian atas. Karena ini, dalam girangnya, Pek Thong mulai mengajari kitab bagian bawah. Ia cuma mengajari serupa demi serupa, ia tidak menyuruh orang berlatih dulu menuruti itu. Ini untuk mencegah timbulnya kecurigaan si anak muda.
Kwee Ceng belajar dengan sungguh-sungguh. Setelah puluhan kali, ia berhasil mengingat di luar kepala isi kitab bagian bawah, maka berhasillah ia menguasai kedua bagian kitab itu.
Pada suatu malam, tengah rembulan terang benderang, Pek Thong ajak Kwee Ceng berlatih dengannya. Kesudahannya membuat ia girang sekali. Ia merasa bahwa telah maju pesat. Ia percaya, kalau nanti ia sudah dapat memahamkan isinya kitab, ia bakal lebih lihay daripada Oey Yok Su dan Ang Cit Kong.
Habis berlatih, keduanya beristirahat ngobrol. Lalu tiba-tiba mereka mendengar suara menggelesernya sesuatu di atas rumput. Kwee Ceng kenali suara itu.
"Ular!"
Pek Thong kaget hingga mukanya menjadi pucat, ia lompat untuk lari masuk ke dalam gua. Ia gagah tetapi menghadapi ular, ia merasa kepalanya sakit.
Kwee ceng pun tidak berdiam saja. Ia menggeser beberapa potong batu besar, untuk dilintangkan di mulut gua. Kemudian dia kata, "Toako, jangan bergerak, hendak aku melihat."
"Hati-hati," Pek Thong memesan. "Lekas kau kembali!"
Kwee Ceng berjalan ke arah dari mana suara ular datang. Setelah puluhan tindak, ia dapat melihat ularnya. Ia heran sekali. Di bawah cahaya rembulan, nampak ular dalam jumlah ribuan atau puluhan ribu, berbaris bagai satu pasukan tentara, menuju ke Utara. Penggembalanya ada beberapa pria dengan seragam putih, yang tangannya memegang galah panjang. Barisan ular ini lebih hebat daripada barisan ularnya Auwyang Kongcu.
"Mungkinkah See Tok sendiri yang datang ke mari?" si anak muda menanya diri sendiri. Ia kaget. Ia menyembunyikan tubuhnya di belakang pohon, lalu ia menguntit barisan ular itu. Syukkur untuknya, semua penggembala ular itu biasa saja kepandaiannya, mereka tidak ketahui dirinya ada yang mengikuti.
Di paling depan ada berjalan satu bujang gagu. Dialah yang memimpin. Di dalam rimba itu orang berjalan berliku-liku jauhnya kira-kira duapuluh lie, setelah melintasi sebuah bukit, tibalah mereka di sebuah tegalan luas dengan rumput hijaunya. Di Utara tegalan rumput itu ada rimba pohon bambu.
Setibanya di situ, semua ular tidak berjalan lebih jauh, bahkan dengan menuruti petunjuk galah penggembalanya, semua pada berdiam melingkar dengan rapi, kepala mereka diangkat tinggi.
Kwee Ceng berlaku waspada, tidak mau ia memperlihatkan dirinya. Ia nelusup ke Timur, yang merupakan rimba, dari situ ke Utara, ke hutan bambu. Di situ ia sembunyi sambil memasang kuping dan mata. Rimba itu sunyi. Ia bertindak secara enteng sekali. Di dalam rimba itu ada sebuah paseban yang terbuat dari bambu, menurut mereknya yang tergantung, namanya Cek Cui Teng. Di samping kedua mereka itu ada sepasang lian. Di dalam paseben ada meja dan kursi terbuat dari bambu, semua barang bikinan dari banyak tahun, bambunya sudah mengkilap, warnanya kuning muda. Sangat sunyi suasa di sekitar paseban itu.
Mengintai keluar, Kwee ceng melihat rombongan ular itu masih mendatang. Semua ular itu bukan ular hijau hanya ular yang kepalanya besar dan ekornya panjang, cahayanya kekuning-kuningan seperti emas. Habis ular kuning, baru ular hitam. Semua lidah mereka bergerak keluar masuk.
Semua ular terpecah ke Timur dan Barat, di tengahnya terbuka satu jalanan. Di situ terlihat beberapa puluh wanita dengan seragam putih dan tangan masing-masing mencekal tengloleng merah, bertindak dengan perlahan. Di belakang mereka berjalan satu orang dengan jubah terikat di pinggang, yang tangannya mengebas-ebas kipas. Dialah Auwyang Kongcu. Dia jalan di muka, sikapnya menghormat. Segera terdengar suaranya yang terang dan nyata; "Auwyang Sianseng dari Wilayah Barat datang menjenguk Oey Tocu dari Tho Hoa To!"
"Ah, benar-benar See Tok yang datang!" kata Kwee Ceng dalam hatinya. "Pantaslah rombongan ini begini besar dan agung-agungan sikapnya."
Memang, di belakangnya Auwyang Kongcu ada berjalan seorang lain, tubuhnya tinggi dan besar, yang pun berpakaian putih mulus. Kwee Ceng cuma dapat melihat belakang orang, tidak mukanya. Dia berhenti bertindak, begitupun Auwyang Kongcu selagi pemuda itu mengasih dengar suaranya.
Dari dalam hutan bambu lantas muncul dua orang. Melihat mereka itu, hampir Kwee Ceng menjerit. Itulah Oey Yok Su sendiri yang menuntun tangan putrinya, Oey Yong.
Auwyang Hong bertindak maju, ia menjura kepada Oey Yok Su, yang membalasinya. Auwyang Kongcu sendiri sudah lantas berlutut di depan pemilik dari Tho Hoa To itu, untuk memberi hormat sambil mengangguk empat kali. Ia kata: "Mantu yang tidak berharga menghadap gakhu tayjin, semoga gakhu tayjin sehat-sehat saja!" "Gakhu tayjin" itu berarti "Ayah mertua yang dihormati".
"Sudah, kau bangunlah!" kata Oey Yok Su, yang mengulurkan tangannya mengasih bangun pemuda itu, yang menyebut dirinya mantu dan memanggil orang sebagai mertuanya.
Auwyang Kongcu ketahui bahwa ia tentulah bakal diuji, maka itu ia sudah bersiap sedia. Ia mempertahankan diri begitu lekas tangan kirinya dipegang untuk untuk diangkat tetapi ketika ia bangkit, tubuhnya terhuyung juga hingga ia mengeluarkan seruan perlahan. Tubuhnya lantas berjumpalitan, kepala di atas, kakinya di bawah, jatuh ke tanah. Tapi Auwyang Hong sudah lantas menggerakkan tongkat di tangannya, ditempel pada punggung keponakannya itu, disontek dengan perlahan, maka kesudahannya sang keponakan dapat berjumpalitan pula, untuk berdiri tegar.
"Ha, bagus sekali, saudara Yok!" Auwyang Hong tertawa. "Kau membuat mantumu berjumpalitan sebagai tanda menghormat menghadapnya yang pertama kali?" Tidak sedap suaranya See Tok masuk ke dalam telinga Kwee Ceng.
"Dia telah menghina muridku yang buta matanya, aku ingin melihat sampai di mana kepandaiannya," menyahut Oey Yok Su.
Auwyang Hong tertawa lebar. "Bagaimana sekarang, apakah dia cocok untuk dipasangkan dengan putrimu?" dia menanya, sedangkan matanya melirik kepada Nona Oey, setelah mana ia mengasih dengar pujiannya: "Saudara, sungguh hebat! Beruntunglah kau yang telah mendapatkan putri yang begini cantik molek!" Ia lantas merogoh ke dalam sakunya, menarik keluar sebuah kotak, yang mana ia terus buka tutupnya, maka dari dalam itu memancar keluar cahaya terang indah. Di dalam kotak itu terletak empat mutiara sebesar buah lengkeng. Ia lantas menghadap Oey Yong, untuk berkata pula: "Ayahmu pernah malang melintang di kolong langit ini untuk banyak tahun, ada permata apakah yang aneh-aneh yang dia tidak pernah melihatnya? Maka itu ini bingkisanku berasal dari desa, sebagai hadiah pertemuan kita yang pertama ini, pastilah akan dibuat tertawaannya…!"
Sembari berkata begitu, See Tok mengangsurkan permata mulianya itu. Menampak itu, hatinya Kwee Ceng berdenyut keras. Katanya dalam hati: "Dia menerimanya atau tidak…?"
Segera juga terdengar suara tertawanya Oey Yong. "Terima kasih!" berkata si nona, yang mengulur tangannya menyambut hadiah itu.
Melihat kulit orang yang putih dan cantik itu, semangat Auwyang Kongcu meninggalkan tubuh raganya, sekarang ia mendengar tertawa orang yang manis merdu, goncangan hatinya bertambah hebat. Di dalam hatinya ia berpikir: "Ayahnya telah sudi menyerahkan dia kepadaku, maka sekarang sikapnya terhadapku beda banyak daripada dulu-dulu…."
Tengah pemuda ini tersengsam dan bagaikan bermimpi, mendadak ia melihat menyambarnya suatu cahaya kuning emas ke arahnya, saking kagetnya, ia menjerit, "Celaka!" Walaupun demikian, ia masih sempat melenggakkan tubuh, akan menjalankan tipu silat Tiat-poan-kio atau Jembatan Besi, hingga tubuhnya jadi terlentang lempang, untuk menyelamatkan diri.
"He, kau bikin apa?!" Oey Yok Su pun membentak seraya tangan kirinya mengibas, untuk membikin terdamparnya jarum emas dari putrinya, ialah orang yang menyerang Auwyang Kongcu dengan senjata rahasia itu, sedang tangan kanannya, ia menekan bahu putrinya.
Oey Yong lantas saja menjerit menangis. "Ayah. lebih baik kau bunuh saja aku!" demikian suaranya. "Tidak sudi aku menikah dengannya!"
Auwyang Hong tidak menjadi kaget menyaksikan itu semua. Dengan satu tangan ia menjejalkan mutiara ke dalam telapak tangan Oey Yong, dengan tangan lain ia sampok tangan Oey Yok Su yang ditekankan ke bahu putrinya.
"Putrimu tengah menguji keponakanku, kenapa kau memandangnya bersungguh-sungguh?" dia berkata sambil tertawa kepada tuan rumah.
Auwyang Kongcu sudah berdiri tegak pula akan tetapi ia merasakan sakit pada dadanya, maka tahulah dia telah terkena jarum rahasia itu. Dasar ia seorang yang berkepala besar, yang suka menang sendiri, ia menahan sakit, berpura-pura seperti tidak terjadi sesuatu, melainkan wajahnya tak dapat ia menenangkannya. Ia nampak jengah.
Auwyang Hong berkata pula sambil tertawa: "Saudara Yok, semenjak kita berpisah di gunung Hoa San sudah duapuluh tahun kita tidak pernah saling bertemu maka pertemuan ini sungguh membikin aku girang sekali. Saudara, setelah hari ini kau memandang mata kepadaku dengan menerima baik jodoh keponakanku dengan jodoh putrimu, maka selanjutnya apa juga titahmu, tidak nanti aku menolaknya!"
"Siapakah yang berani main gila terhadapmu, racun tua bangka?" menyahut Oey Yok Su. "Untuk duapuluh tahun kau berdiam diri di Wilayah Barat, kepandaian apa saja yang kau telah pahamkan, coba sekarang kau tunjukkan padaku."
Dasar sifatnya yang kekanak-kanakan, mendengar ayahnya hendak menyuruh orang mempertunjukkan kepandaiannya, Oey Yong menjadi tertarik, ia lantas berhenti menangis, ia menyender pada tubuh ayahnya, matanya diarahkan kepada Auwyang Hong, kepandaian siapa yang ia ingin saksikan.
See Tok si Racun Barat memegang sebatang tongkat berwarna putih, tongkat ini banyak tekukannya mirip dengan rotan. Ujung tongkat diukir sebuah kepala orang yang mulutnya tertawa. Di dalam mulutnya terlihat barisan gigi yang tajam dan putih bersih. Yang aneh adalah kepala tongkat itu ada menangkel melingkar dua ekor ular panjang, yang kulitnya berkilauan putih seperti perak. Kedua ular itu merayap turun naik.
Auwyang Hong tertawa ketika ia menjawab: "Dulu kepandaianku tidak dapat menyamakan kepandaianmu, sekarang setelah mensia-siakan selama duapuluh tahun, pasti sekali aku kalah jauh lebih banyak. Sekarang ini kita menjadi sanak, aku memikir untuk menumpang tinggal beberapa hari di pulau Tho Hoa To ini, untuk aku memperoleh kesempatan meminta pengajaran darimu."
Ketika pertama kali Auwyang Hong mengirim utusan kepada Oey Yok Su melamar Oey Yong, Oey Yok Su berpikir, dijamannya itu, orang yang dapat menandinginya sudah tidak seberapa lagi dan Auwyang Hong adalah salah satu diantaranya. Ia tahu putrinya sangat nakal, jikalau dia mendapat suami sembarangan, anaknya bakal menghina suaminya, dari itu senang ia melihat kepandaian Auwyang Kongcu yang berani melayani Bwee Tiauw Hong. Ia anggap, Auwyang Kongcu melebihkan Kwee Ceng yang menjadi pilihan putrinya sendiri, sedang di samping itu, ia sebal terhadap pemuda she Kwee itu. Inilah sebabnya dengan gampang ia menerima baik lamaran Auwyang Hong.
Tapi sekarang, mendengar suara See Tok, yang putar balik, merendah dan berjumawa, ia menjadi curiga. Ia menduga-duga apa mungkin Auwyang Hong telah pulih kesehatannya dan kepandaiannya setelah dulu ilmu kepandaiannya dipecahkan Ong Tiong Yang. Ia ketahui baik See Tok ini mulutnya tajam dan hatinya berbisa, licin dan licik. Tentu saja, ia tidak sudi mengalah, karena ia pun seorang yang besar kepala. Maka itu ia sudah lantas menarik keluar serulingnya sambil berkata: "Tetamu yang terhormat telah datang dari tempat yang jauh, baiklah aku bunyikan sebuah lagu untuk menyenangkan hati. Silakan duduk, sahabatku supaya kau dapat mendengarnya perlahan-lahan."
Auwyang Hong tersenyum. Ia bisa menerka tuan rumah hendak memperdengarkan lagu "Thian Mo Bu Kiok" atau "Lagu tarian hantu langit" untuk mempengaruhinya. Ia lantas mengibas dengan tangannya yang kiri, kemudian tigapuluh wanita berseragam putih, yang memegang tengloleng, bertindak maju sambil menekuk lutut, mereka memberi hormat pada tuan rumah. Ia lantas berkata: "Tigapuluh dua nona-nona ini adalah yang aku menitahkan murid-muridku mencari di pelbagai tempat, sebagai bingkisan yang tidak berharga, aku menghadiahkan mereka kepada kau, saudara Yok. Mereka ini pernah mendapat pengajaran guru-guru yang pandai, mereka dapat menari, bernyanyi dan menabuh khim secara lumayan. Hanya sayangnya mereka adalah nona-nona asal Wilayah Barat, kecantikan mereka kalah jauh dibandingkan dengan nona-nona dari Kanglam!"
Oey Yong memandang nona-nona itu. Mereka mempunyai kulit yang putih bersih, tubuh mereka tinggi dan besar. Wajah mereka berlainan, ada yang hidungnya mancung dan matanya dalam, sedang rambutnya kuning dan matanya biru. Mereka beda sekali dari nona-nona Tionggoan.
Auwyang Hong menepuk tangan tiga kali, lantas delapan nona-nona itu mengasih keluar alat-alat tetabuhan, sesaat kemudian mereka mulai memainkan lagu, diikuti dengan tarian dari duapuluh empat nona lainnya. Mereka berdiri lempang, lalu berputar ke kiri dan kanan, gerak-gerik mereka halus dan lembut. Ada kalanya mereka berdiri berbaris seperti tubuh seekor ular panjang, lalu jari tangan mereka dikutik-¬kutik.
Oey Yong ingat kepada ilmu silat "Kim Coa Kun" atau "Ular emas" dari Auwyang Kongcu, ia lantas melirik kepada pemuda itu. Justru itu ia mendapatkan orang tengah mengawasi dirinya. Ia menjadi sebal, maka lantas memikir jalan untuk menghajarnya pula. Ia menyesal sekali usahanya tadi sudah digagalkan ayahnya. Ia anggap lagak orang itu sangat menjemukan.
"Kalau aku berhasil membunuh dia, biar ayah maksa aku menikah, toh sudah tidak ada orangnya dengan siapa aku dapat menikah," demikian ia pikir pula. Karena ini puas hatinya, dengan sendirinya ia bersenyum.
Senang Auwyang Kongcu menampak senyuman si nona itu. Ia menduga hatinya si nona sudah berubah. Saking girangnya, sejenak ia melupakan rasa nyeri pada dadanya.
Nona-nona yang tengah menari itu, menjadi semakin cepat, tetapi tetap lembut gerak-geriknya. Dilain pihak orang-orang lelaki yang memegangi galah, si penggembala-penggembala ular, semua sudah menutup rapat-rapat mata mereka. Mereka takut, dengan menyaksikan tarian itu, hati mereka tidak cukup kuat untuk bertahan dan nanti runtuh…..
Oey Yok Su sendiri menonton dengan bersenyum berseri-seri, selang sekian lama barulah ia bawa serulingnya ke bibirnya, untuk meniup, mengasih dengar lagunya. Baru beberapa kali ia meniup, tarian si nona-nona tampaknya kacau. Dan tempo tuan rumah meniup terus, mereka menari menuruti iramanya seruling.
Auwyang Kongcu kaget bukan main. Ia pernah merasakan hebatnya lagu seruling orang. Kalau seruling berlangsung terus, bukannya saja si nona-noa bakal menari terus-menerus hingga mati, dia sendiri juga tidak akan luput turut menjadi korban juga. Mau tidak mau, ia berseru: "Paman….!"
Justru Auwyang Hong menepuk tangan, lantas seorang nona, dengan memegang tiat-ceng, atau alat tetabuhan yang bertali duabelas, maju menghampiri.
Ketika itu hatinya Auwayang Kongcu sudah goncang keras, sedang pria si tukang angon ular sudah mulai berlari-lari atau berlompatan di antara barisan ularnya.
Auwyang Hong lantas mementil alat tetabuhannya itu, ia mengasih dengar suara umpama kata: "Tombak¬-tombak emas saling beradu dan besi kaki kuda berketoprakan" Hanya beberapa kali saja suara itu terulang, lantas nada halus dari seruling kena dibikin buyar bebarapa bagian.
Oey Yok Su tertawa. "Mari, mari!" katanya. "Mari kita berdua bersama-sama memainkan lagu!"
Hebat kesudahan sambutannya Tong Shia si Sesat dari Timur. Mereka yang menari menjadi sangat kacau, gerak-geriknya seperti orang-orang edan.
"Semua menutup kuping!" berteriak Auwyang Hong menyaksikan kehebatan itu. "Nanti aku mainkan lagu bersama-sama Oey Tocu!"
Semua orang seperti kalap tetapi mereka mendengar suara majikan mereka, mengerti ancaman bahaya yang bakal datang, maka dalam ketakutannya, mereka pada merobek ujung baju untuk menggunakan robekan itu menyumbat kuping.
Auwyang Kongcu yang sudah cukup lihay turut juga menyumpal kupingnya. Menyaksikan kelakuan mereka itu, Oey Yong tertawa. Ia sendiri tidak terpengaruh suara kedua seruling dan tiat-ceng itu. Ia berkata: "Lain orang memainkan lagu-¬lagu, khawatir orang tidak dapat mendengarnya, tetapi kamu sebaliknya, semua justru menutupi kuping! Tidak, aku sendiri tidak sudi menyumbat kupingku!"
Oey Yok Su dapat mendengar perkataan putrinya, ia menegur: "Ilmu kepandaian mementil tiat-ceng dari pamanmu ini sangat kesohor di kolong langit, kau mempunyai kepandaian apa maka kau berani mendengarnya? Apakah kau kira dapat mencoba-coba?!"
Dari sakunya, ayah ini mengeluarkan sehelai sapu tangan, ia robek menjadi dua potong, terus ia pakai menyumpal kedua kuping anaknya.
Kwee Ceng menjadi heran sekali, hingga ia menjadi tertarik hatinya, ingin ia mendengar lagu tetabuhannya Auwyang Hong itu. Tanpa mengenal bahaya, ia justru maju beberapa tindak, supaya dapat mendengar dengan lebih nyata…..
Oey Yok Su perpaling kepada tetamunya. "Semua ularmu tentu tidak dapat menutup kuping," katanya. Ia menoleh kepada bujangnya yang gagu, ia mainkan kedua belah tangannya.
Bujang gagu itu mengerti, ia mengibas-ngibaskan tangannya kepada kawanan gembala ular itu, memberi tanda untuk mereka menyingkirkan diri. Mereka ini memang menghendaki itu. Tapi mereka mengawasi dulu majikan mereka, sampai Auwyang Hong memberi tanda sambil mengangguk, baru lekas-lekas mereka menggiring ular menyingkir dari situ, mengikuti petunjuk si bujang gagu.
"Jikalau aku tidak sanggup, sukalah saudara Yok mengalah sedikit," kata Auwyang Hong kemudian. Terus dengan kelima jari tangan kanannya, ia mulai mementil alat tetabuhannya.
Nyaring suara tiat-ceng itu. Kwee Ceng merasakan, setiap pentilan membuat hatinya goncang, dan selagi lagu bertambah cepat, goncangan hatinya bertambah cepat juga, dadanya bergerak-gerak, ia merasa tak enak sendiri. Ia terkejut, segera ia menginsyafinya. Katanya dalam hati: "Kalau suara jadi hebat, tidakkah hatiku pun akan goncang hingga mati?" Karena ini lekas-lekas ia menjatuhkan dirinya untuk duduk bersila, memusatkan pikirannya, mengempos tenaga dalamnya. Cuma sesaat saja, suara tiat-ceng tidak dapat lagi menggoncangkan hatinya.
Suara tiat-ceng benar-benar makin lama jadi makin keras, bagaikan tambur dan gembreng berbunyi berbareng, seperti laksaan ekor kuda bercongklang bersama. Atau dilain saat terdengar suara yang perlahan-lahan dan halus, suara dari seruling yang seperti menembusi suara tiat-ceng.
Mendadak Kwee Ceng merasa hatinya goncang dan mukanya panas. Ia lekas-lekas memusatkan pula perhatiannya, hingga hatinya menjadi tenang. Ia sekarang mendapat kenyataan, walaupun hebat suaranya tiat-ceng, suara itu tidak dapat menindih seruling, yang perlahan tetapi tegas. Maka juga heran, dua suara terdengar berbareng. Kalau suara tiat-ceng bagaikan pekiknya kera diatas gunung atau mengalunnya hantu iblis di tengah malam buta, suara seruling laksana bunyi burung hong atau kasak-kusuknya si nona manis di dalam kamar. Kedua suara itu tinggi dan rendah, keras dan perlahan, maju dan mundur, sama-sama tidak mau mengalah…..
Oey Yong ketarik hatinya, ia menonton sambil tertawa geli. Ia mengawasi orang memintil tiat-ceng dan meniup seruling. Lama-lama, ia pun merasa aneh. Lama-lama, wajah kedua orang yang tengah mengadu tetabuhan itu berubah menjadi bersungguh¬sungguh, menjadi tegang. Ia lantas melihat ayahnya dari duduk menjadi bangun berdiri, meniup serulingnya sambil bertindak ke delapan penjuru menuruti kedudukan pat-kwa, segi delapan. Ia tahu itulah dasar kedudukan ayahnya setiap waktu ayahnya melatih diri dalam ilmu dalam. Teranglah musuhnya lihay sekali maka ayahnya mengambil tindakan itu.
Kemudian si nona memandang ke arah Auwyang Hong. Juga jago dari Barat ini menunjukkan wajah dan sikap bersungguh-sungguh. Dari kepalanya terlihat hawa mengepul naik seperti uap, itulah hawa panas mengkedus yang keluar naik. Dengan kedua tangannya terus menerus mementil alat tetabuhannya, sampai ujung bajunya menerbitkan suara angin. Nyata sekali dia tidak berani berlaku alpa.
Kwee Ceng di tempat persembunyiannya memasang kuping, ia tidak mengerti apa hubungannya antara seruling dan tiat-ceng. Ia heran kenapa masing-masing suara alat tetabuhan itu dapat mempengaruhi orang menjadi tidak tenang. Di dalam ketenangan, perlahan-lahan ia dapat membedakan juga. Kedua suara itu seperti lagi serang, keras lawan lemah, lemah melawan keras. Sebentar kemudian, lantas ia mengerti seluruhnya.
"Tidak salah lagi, Oey Tocu dan Auwyang Hong tengah mengadu ilmu dalam mereka," pikirnya. Karena ini, ia lantas menutup rapat kedua matanya, ia mendengar terus dengan penuh perhatian.
Tadinya Kwee Ceng mesti mengeluarkan banyak tenaga melawan desakan tiat-ceng dan seruling, sekarang tidak demikian. Sekarang dengan tenang ia bisa mendengar kedua suara itu. Ia merasa bagaimana seruling seperti berkelit sana dan berkelit sini dari rangsakan tiat-ceng yang hebat, atau setiap kali ada lowongan, seruling lantas membalas menyerang. Satu kali ia mendengar, suara tiat-ceng menjadi lemah, sebaliknya seruling menjadi kuat.
Tiba-tiba Kwee Ceng ingat ajarannya Ciu Pek Thong "Keras tak dapat bertahan lama, lemah tak dapat menjaga terus." Ia lantas menduga, tiat-ceng bakal membalas menyerang. Benar-benar, berselang sesaat suara tiat-ceng menjadi keras pula. Ketika Kwee Ceng menghapali ajaran Ciu Pek Thong, ia tidak tahu bahwa itulah rahasia dari Kiu Im Cin-keng, dan ia pun tidak mengerti jelas maksudnya.
Baru sekarang ia merasakan ada hubungannya ajaran itu dengan pertarungan Oey Yok Su dan Auwyang Hong. Karena insyaf ini, ia menjadi girang sekali. Hanya ia masih belum mengerti akan jalannya pertempuran itu. Ada kalanya seruling dapat menghajar, ketika baik itu dilewatkan dengan begitu saja, demikian juga sebaliknya. Toh itu tidak mirip-¬miripnya dengan orang yang bersikap saling mengalah.
Mendengari terlebih jauh, Kwee Ceng jadi menanya dirinya sendiri; "Mungkinkah pengajaran Ciu Toako lebih lihay daripada kepandaian Oey Tocu dan Auwyang Hong? Mungkinkah mereka ini tidak dapat melihat cacad masing-masing sehingga kelemahan itu mereka sama-sama tidak dapat menggunakannya? Tapi heran! Kalau benar Ciu Toako lebih lihay, mestinya pada limabelas tahun yang lalu dia sudah dapat mencari Oey Tocu di sini untuk menghajarnya, tidak peduli pulau ini banyak terjaga dengan barisan sesat patkwa itu, tidak nanti ia membiarkan dirinya terkurung di dalam gua…."
Masih Kwee Ceng mendengar. Lagi-lagi ia mendapat kenyataan telah tiba saat yang sangat genting, hingga ada kemungkinan kali ini bakal datang keputusan siapa menang dan siapa kalah. Ia khawatir untuk Oey Tocu…
Justru waktu itu dari arah laut, dari tempat yang jauh, terdengar siulan panjang dan lama. Suara itu samar-¬samar tetapi toh Oey Yok Su dan Auwyang Hong terkejut hingga dengan sendirinya suara seruling dan tiat-ceng berubah menjadi kendor. Siulan pun terdengar semakin nyata. Itu tandanya orang semakin dekat.
Auwyang Hong mementil dua kali, keras sekali, suara tiat-ceng sampai terdengar seperti suara cita terobek. Habis itu, suara siulan terdengar bernada tinggi. Rupanya siulan dan tiat-ceng bentrok.
Tidak berapa lama, suara seruling dari Oey Yok Su pun nyebur dalam bentrokan siulan dan tiat-ceng itu. Maka selanjutnya, sering terdengar, siulan bentrok tiat¬ceng, siulan bentrok seruling, atau seruling bentrok tiat-ceng. Atau lagi, ketiganya bentrok berbareng.
Sekarang Kwee Ceng menduga pasti ada seseorang yang lihay telah datang ke pulau Tho Hoa To. Ia biasa main-main bertarung empat tangan dengan Ciu Pek Thong, karena itu ia dapat menbedakan suara bentrokan ketiga lawan ini: seruling, tiat-ceng dan siulan….
Setelah memperhatikan terlebih jauh. Kwee Ceng merasa orang yang bersiul itu sudah tiba di rimba. Ia mendengar lebih nyata siulan orang itu, yang tinggi dan rendah bergantian, yang selalu berlainan. Ketika ia merasa, bentrokan menjadi demikian hebat, saking kagumnya, tanpa merasa ia berseru: "Bagus!". Kemudian ia terkejut sendiri. Bukankah ia lagi bersembunyi? Ia lantas memikir untuk menyingkir. Tapi sudah kasep. Satu bayangan lantas berkelebat di depannya. Di situ berdiri Oey Yok Su.
"Anak yang baik, mari!" berkata Tocu dari Tho Hoa To itu.
Ketika itu semua tetabuhan sudah berhenti. Dengan membesarkan hati, Kwee Ceng ikut Tong Shia pergi ke paseban. Oey Yong tersumpal kupingnya, ia tidak mendengar seruan si anak muda, maka heran nampak munculnya pemuda itu. Ia pun menjadi sangat girang, maka ia lari memapaki, menyambar kedua tangan orang.
"Engko Ceng, akhirnya kau datang juga…!" serunya. Tapi ia girang bercampur sedih, tanpa merasa air matanya meleleh turun.
Melihat pemuda ini, panas hatinya Auwyang Kongcu. Maka, menyaksikan kelakuan si nona, ia panas berbareng gusar sekali. Tidak dapat ia mengendalikan diri, sambil berlompat ia menghajar kepala si anak muda.
"He, bocah busuk, kau pun datang ke mari!" ia mendamprat.
Kwee Cneg melihat datangnya serangan, dengan sebat ia berkelit. Sekarang ilmu silatnya sudah maju jauh, beda dengan waktu ia masih di rumah abu Keluarga Lauw di Poo-eng, dimana ia menempur pemuda she Auwyang. Ia tidak cuma berkelit, terus ia membalas menyerang. Dengan tangan kiri memainkan "Naga sakti menggoyang ekor", tangan kanan menggunakan "Naga Menyesal", dua-¬duanya merupakan jurus-jurus dari Hang Liong Sip-pat Ciang yang lihay. Sejurus saja sudah hebat, apapula dua jurus itu hampir berbareng.
Auwyang Kongcu terkejut merasakan tangan kiri orang tahu-tahu menekan iga kanannya. Ia mengerti lihaynya Hang Liong Sip-pang Ciang, yang cuma dapat diegos, tidak ditangkis, dari itu lekas-lekas ia menyingkir ke kiri. Celaka untuknya, karena berkelit, justru tangan yang lain dari lawannya tiba. Tidak ampun lagi, dada kirinya kena terpukul, bahkan sebuah tulangnya patah.
Sebenarnya Auwyang Kongcu sudah cukup lihay dan ia mengerti lihaynya lawan, ketika serangan sampai, ia mencoba berkelit pula. Kali ini ia berkelit dengan mengapungkan diri, berlompat tinggi naik ke atas pohon bambu, habis itu baru ia lompat turun. Tapi ia tidak bisa membebaskan diri. Ia turun dengan muka merah malu, dadanya juga dirasakan sakit. Ia bertindak dengan perlahan.
Menyaksikan perlawanan Kwee Ceng, Oey Yok Su dan Auwyang Hong heran berbareng murka. Oey Yong sebaliknya, nona ini bertepuk-tepuk tangan saking girangnya.
Sebenarnya, Kwee Ceng sendiri kurang mengerti. Inilah kemenangan di luar dugaannya. Ia bukan menginsyafi bahwa ia sudah maju jauh, ia menyangka si anak muda lawannya itu sudah beralpa atau kurang sebat bergeraknya hingga kena terhajar. Ia khawatir pemuda ini nanti menyerang pula secara kejam, ia mundur setindak sambil memasang mata, untuk bersiap-siap.
Auwyang Hong melirik pemuda itu dengan mata merah saking mendongkolnya. Kemudian ia berkata dengan nyaring: "Pengemis she Ang, aku beri selamat padamu yang sudah mendapatkan murid yang jempol!"
Oey Yong sudah membuka sumpalannya ketika ia mendengar suara Auwyang Hong itu, ia lantas mengetahui Ang Cit Kong telah tiba, maka itu, ia lupa segalanya dan lari ke arah rimba sambil memanggil¬-manggil: "Suhu! Suhu!" Ia kegirangan karena ia tahu bintang penolong sudah datang.
Mendengar suara putrinya itu, Oey Yok Su melengak. "Eh, mengapa anakku memanggil guru kepada si pengemis tua?" pikirnya.
Waktu itu sudah lantas terlihat munculnya Ang Cit Kong si ketua pengemis. Di punggungnya menggondol cupu-cupu merah, tangan kanannya memegang tongkat, tangan kirinya menuntuk Oey Yong. Ia berjalan sambil tertawa haha-hihi.
"Eh, Yong-jie, kau memanggil apa padanya?!" tanya Oey Yok Su gusar.
Bukannya ia lantas menjawab ayahnya, Oey Yong justu menuding Auwyang Kongcu dan berkata dengan sengit, "Ini manusia busuk sudah menghinaku, jikalau tidak ada lojinkee Ang Cit Kong yang menolong, sudah tentu semenjak lama kau tidak melihat Yong-jie, Ayah!"
"Jangan ngaco belo!" membentak Oey Yok Su, walaupun sebenarnya ia heran. "Dia toh anak baik-¬baik, cara bagaimana dia menghina padamu!"
"Jikalau Ayah tidak percaya, nanti aku tanyakan dia!" berkata si nona. Ia lantas mengawasi pemuda she Auwyang itu. Ia kata dengan keras; "Kau mesti lebih dulu mengangkat sumpah! Jikalau dalam jawabanmu kepada ayahku berdusta, kau nanti digigit mampus ular-ular di ujung tombak pamanmu itu!"
Mendengar itu Auwyang Kongcu kaget hingga mukanya pucat. Auwyang Hong tidak kurang kaget dan herannya. Jago dari Wilayah Barat ini kaget sebab ia ketahui dengan baik, dua ekor ular pada tongkatnya itu adalah ular-ular piarannya selama sepuluh tahun, yang ia piara sedari baru diteteskan hasil dari kawinan beberapa macam ular yang paling berbisa. Kalau dia menghukum bawahannya yang berkhianat atau orang yang paling ia benci, ia bisa menghukum dengan menggunakan kedua ularnya. Asal seorang digigit ularnya, lantas ia kegatalan luar biasa, dalam waktu yang pendek ia bakal mati, tidak ada pertolongan lagi sekalipun seandainya Auwyang Hong sendiri berbalik berkasihan dan hendak mengampuninya. Oey Yong menyebut ular itu karena ia menduga saja, sebab kedua binatang itu lain daripada yang lain, tidak tahunya, ia menyebut tepat pantangannya See Tok si Racun dari Barat itu.
"Terhadap pertanyaan gakhu tayjin, mana aku berani mendusta," Auwyang Kongcu menjawab. Ia telah terdesak si nona, ia pun tidak berani menyangkal.
"Cis!" berseru Oey Yong. "Jikalau kau berani mengaco belo, lebih dahulu aku akan gaplok kupingmu beberapa kali! Sekarang dengar pertanyaanku! Kita pernah bertemu di istana Chao Wang di Pak-khia, benar atau tidak?"
Auwyang Kongcu mengangguk. Tidak berani ia membuka suara. Hajaran Kwee Ceng membikin ia merasakan sangat nyeri. Kalau ia membuka mulutnya untuk berbicara, rasa sakitnya itu menghebat. Ia pun memangnya berkepala besar. Kalau ia merasa sakit, kepalanya pusing dan mengeluarkan peluh. Dengan tidak bersuara, ia dapat menahan napas, ia bisa menguatkan diri.
Oey Yong menanya pula; "Ketika itu kau ada bersama See Thong Thian, Pheng Lian Hauw, Nio Cu Ong dan Leng Tie Siangjin, bersama-sama kau mengepung aku satu orang. Benar atau tidak?"
Auwyang Kongcu berniat menyangkal ia bekerja sama dengan rombongannya See Thong Thian, bahwa bukan sengaja ia mengepung si nona, tetapi ketika ia paksa menyahut, lantas ia merasakan dadanya sakit, maka ia cuma bisa bilang; "Aku…aku tidak bekerja sama dengan mereka…"
"Baiklah, aku pun tidak memerlukan jawabanmu dengan mulut!" berkata Oey Yong. "Jikalau aku menanya kau cukup mengangguk atau menggeleng kepala. Sekarang kau dengar pertanyaanku: 'See Thong Thian bersama-sama Pheng Lian Houw, Nio Cu Ong dan Leng Tie Siangjin memusuhi aku. Benar tidak?'"
Auwyang Kongcu mengangguk. Ia menuruti kata-kata orang dan tidak berani membuka mulut.
"Mereka itu hendak membekuk aku tetapi mereka tidak berhasil," berkata Oey Yong pula. "Kemudian kau muncul. Benar tidak?"
Itulah hal yang sebenarnya, Auwyang Kongcu mengangguk.
"Ketika itu aku berada di ruang besar dari istana Chao Wang. Di situ aku sendirian saja, tidak ada siapapun yang membantuku, keadaanku sungguh menyedihkan. Ayahku pun tidak tahu bahaya yang mengancamku, ayah tidak dapat menolongku. Benar tidak?"
Auwyang Kongcu mengangguk dengan terpaksa. Ia tahu, pertanyaan kali ini dari si nona, yang membawa-bawa nama ayahnya, cuma untuk memancing kemurkaan si ayah. Setelah mendapat jawaban itu, Oey Yong tarik tangan ayahnya. Timbullah kemanjaannya.
"Ayah, kau lihat," katanya. "Kau sedikit juga tidak menyayangi anakmu….Kalau ibu masih hidup, tidak mungkin memperlakukan aku begini rupa…"
Mendengar orang menyebut istrinya, yang ia cintai, pilu hatinya Oey Yok Su. Ia ulur tangan kirinya merangkul putrinya.
Auwyang Hong sangat cerdas dan licin, ia melihat suasana buruk untuk pihaknya, maka belum lagi Oey Yong menanya pula, ia sudah mendahului.
"Nona Oey," ia berkata, "Begitu banyak orang Rimba Persilatan yang kenamaan hendak membekuk kau, karena lihay ilmu silat keluargamu, mereka tidak dapat berbuat sesuatu terhadapmu, bukankah?"
Oey Yong tertawa, dia mengangguk. Oey Yok Su pun tersenyum. Ia senang orang puji ilmu silatnya.
Auwyang Hong berpaling kepada tuan rumah, ia berkata: "Saudara Yok, keponakanku telah melihat putrimu demikian lihay, ia jadi sangat jatuh hati, inilah sebabnya kenapa sekarang kami datang kemari dengan tidak memperdulikan jalan jauh ribuan lie untuk meminangnya.
Oey Yok Su tertawa. "Ya, sudahlah!" katanya.
Auwyang Hong menoleh kepada Ang Cit Kong, ia berkata: "Saudara Cit, kami paman dan keponakan mengagumi orang-orang Tho Hoa To, kenapa kau sebaliknya lain pandanganmu? Kenapa kau berlaku sungguh-sungguh seperti bocah? Coba bukannya keponakanku itu panjang umurnya, pastilah siang-siang dia telah mati di bawah hujan jarum emas yang menjadi kepandaianmu yang istimewa…."
Dengan kata-katanya ini Auwyang Hong hendak menimbulkan urusan ketika dulu hari Ang Cit Kong menolong Auwyang Kongcu dari serbuan jarum rahasia Oey Yong, hanya See Tok telah membalik duduk perkaranya mungkin itu disebabkan Auwyang Kongcu telah membaliknya waktu melaporkan hal ini kepada pamannya.
Tapi Cit Kong adalah seorang polos dan sabar sekali, ia tidak mengambil mumat perkataan orang, bahkan tertawa lebar, malah dengan membuka tutup cupa-cupanya, ia menenggak isinya.
Tidak demikian dengan Kwee Ceng yang jujur, yang benci kedustaan. Anak muda ini lantas menyampur bicara.
"Sebenarnya Cit Kong yang menolong keponakanmu, kenapa sekarang kau bicara begini rupa?!" ia menegur.
Tapi Oey Yok Su membentak; "Kita lagi bicara, bagaimana kau bocah berani campur mulut?!"
Kwee Ceng penasaran, dengan nyaring ia kata kepada Oey Yong: "Yong-jie, kau beberlah urusannya Auwyang Kongcu merampas Nona Thia supaya ayahmu mendapat tahu!"
Oey Yong tidak meluluskan permintaan anak muda itu. Ia kenal baik sifat ayahnya. Ayahnya itu dijuluki Tong Shia si Sesat dari Timur, justru karena tabiatnya yang aneh itu. Ada kalanya Tong Shia membenarkan apa yang tidak benar dan sebaliknya. Maka ada kemungkinan, perbuatan ceriwis dan busuk dari Auwyang Kongcu dipandang sebagai perbuatan umum pemuda-pemuda doyan pelesiran. Ia pun ketahui baik ayahnya tak suka pemuda pujiannya itu. Maka ia menggunakan siasat. Ia lantas berpaling kepada Auwyang Kongcu.
"Bicaraku masih belum habis!" katanya. "Dulu di dalam istana Chao Wang, kau mengadu kepandaian denganku. Dengan sengaja kau menelikung kebelakang kedua tanganmu, kau bilang bahwa tanpa menggunakan tangan, kau bisa mengalahkan. Benar bukan?"
Auwyang Kongcu mengangguk membenarkan pertanyaan itu.
"Kemudian aku telah mengangkat lojinkee Ang Cit Kong menjadi guruku," berkata Oey Yong. "Lalu di Poo-eng kita mengadu silat untuk kedua kalinya. Waktu itu kau menyebut aku boleh menggunakan kepandaian yang diwariskan ayahku atau Ang Cit Kong, kau bilang aku boleh keluarkan berapa banyakpun, sebaliknya kau sendiri, kau cuma akan menggunakan semacam ilmu kepandaian warisan pamanmu dengan apa kau sanggup mengalahkan aku. Benar tidak?"
Mendengar itu Auwyang Kongcu berkata di dalam hatinya; "Semuanya itu ditetapkan olehmu sendiri, bukan ditetapkan olehku…"
Menampak orang bersangsi, Oey Yong mendesak. Ia kata: "Bukankah hari itu kita telah menetapkannya demikian baru kita bertempur?"
Mau tidak mau, Auwyang Kongcu mengangguk.
"Ayah, lihatlah!" berkata Oey Yong kepada ayahnya. "Dia tidak memandang mata kepada Cit Kong, dia juga tidak menghormati padamu! Dia mau bilang, Cit Kong dan ayah berdua kalah jauh dengan pamannya itu! Bukankah itu berarti, meski Cit Kong dan ayah berdua mengepung pamannya, masih tak dapat dikalahkan. Tapi ini aku tidak percaya!"
"Ah, budak cilik, jangan kau mainkan lidahmu!" berkata Oey Yok Su si ayah. "Diantara kaum persilatan di kolong langit ini, siapakah yang tidak kenal baik ilmu silatnya Tong Shia, See Tok, Lam Tee dan Pak Kay?"
Di mulutnya Oey Yok Su berkata demikian, di dalam hatinya ia mulai tidak puas terhadap Auwyang Kongcu, karena itu ia ingin hal pemuda itu jangan dibicarkan lagi. Ia lantas menoleh kepada Ang Cit Kong.
"Saudara Cit, kau datang berkunjung ke Tho Hoa To, ada urusan apakah?" ia menanya.
"Aku datang untuk memohon sesuatu dari kau," sahut Cit Kong singkat.
Cit Kong jenaka tetapi jujur dan polos dan benci sekali kejahatan, inilah Tong Shia ketahui baik. Karena ini, ia menghormati si raja pengemis ini. Ia pun ketahui, biasanya, kalau ada urusan, Cit Kong tentu mengerjakannya sendiri bersama-sama pengikut-pengikutnya dari Kay Pang, belum pernah ia memohon bantuan dari orang. Sekarang datang untuk memohon sesuatu, ia menjadi girang sekali. Lekas-¬lekas ia menjawab: "Persahabatan kita adalah persahabatan beberapa puluh tahun, saudara Cit, maka itu kalau ada titah dari kau, mana aku berani tidak menurutinya?"
"Ah, janganlah kau begitu menerima baik permohonanku," berkata Cit Kong. "Aku khawatir permohonanku ini untuk dilakukan…."
Oey Yok Su tertawa,: "Kalau urusan gampang tidak nanti saudara Cit sampai memikir untuk meminta bantuanku!"
Cit Kong tertawa seraya menepuk-nepuk tangannya. "Benar-benar!" katanya. "Kau barulah saudara yang sejati! Jadi kau pasti menerima baik?"
"Sepatah kata-kataku menjadi kepastian!" sahut Oey Yok Su, kembali cepat dan singkat. "Lompat ke api, terjun ke air, sama saja!"
Mendengar itu Auwyang Hong melintangkan tongkat ularnya. "Saudara Yok, tunggu dulu!" ia menyelak, "Perlu kita menanya dulu saudara Cit, urusan itu sebenarnya urusan apa?"
Ang Cit Kong tertawa. Ia berkata; "Racun tua bangka, ini urusan tidak ada sangkut pautnya dengan kau, jangan ikut campur! Lebih baik kau sedia-sedia dengan ususmu yang kosong untuk nanti kau menenggak arak kegirangan!"
Auwyang Hong heran. "Eh, minum arak kegirangan?" ia menanya.
"Tidak salah! Minum arak kegirangan!" memastikan Cit Kong. Dengan tangan kanannya ia menunjuk kepada Kwee Ceng dan Oey Yong bergantian. "Mereka berdua adalah murid-muridku, aku telah berikan janji kepada mereka untuk memohon kepada saudara Yok agar mereka dibiarkan menikah! Dan sekarang saudara Yok sudah menerima baik permohonanku!"
Kwee Ceng dan Oey Yong terperanjat girang, keduanya lantas saling memandang. Sebaliknya Auwyang Hong dan keponakan serta Oey Yok Su menjadi terkejut sekali.
"Saudara Cit, kau keliru!" Auwyang Hong cepat berkata. "Putri saudara Yok sudah dijodohkan dengan keponakanku dan hari ini aku datang ke Tho Hoa To untuk mengambil ketetapannya."
"Saudara Yok, benarkah itu?" tanya Cit Kong.
"Benar," menjawab Oey Yok Su. "Aku minta, saudara Cit jangan kau berkelakar denganku!"
Cit Kong memperlihatkan roman bersungguh-sungguh. "Siapa yang main-main dengan kamu?" dia berkata. "Kau menjodohkan seorang putrimu kepada dua keluarga. Apakah artinya ini?" Ia lantas menoleh kepada Auwyang Hong. Ia kata: "Akulah orang perantaraan dari Keluarga Kwee! Kau sendiri, mana orang perantaanmu?"
Auwyang Hong tidak menyangka bakal ditanya begitu rupa, dia tidak dapat menjawab, ia tercengang. Baru kemudian ia berkata; "Suadara Yok sudah menerima baik, aku pun sudah akur, maka itu, perlu apa lagi perantara?"
"Apakah kau ketahui masih ada satu orang yang tidak menerima baik?" Cit Kong tanya.
"Siapakah dia?!" Auwyang Hong menegaskan.
Ang Cit Kong menyahut: "Maafkan aku, itulah aku si pengemis tua!"
Auwyang Hong berdiam. Ia mengerti, tidak dapat ia tidak menempur pengemis ini, maka itu ia lantas memikirkan daya perlawanan.
Ang Cit Kong tertawa, ia berkata pula: "Keponakanmu tidak bagus kelakuannya, mana cocok dijodohkan dengan putri yang cantik manis dari saudara Yok ini? Umpama kata benar kamu berdua memaksa mereka menikah, habis bagaimana kalau mereka sendiri tidak akur, setiap hari mereka berkelahi? Apakah artinya itu?"
Tertarik hati Oey Yok Su mendengar perkataan pengemis itu, ia lantas melirik kepada putrinya. Ia mendapatkan Oey Yong, dengan sinar mata penuh kecintaan, lagi mengawasi Kwee Ceng. Sebaliknya melihat Kwee Ceng, timbul pula rasa jemunya.
Oey Yok Su ini seorang yang terang otaknya, pandai ilmu silat dan surat, pandai juga mainkan khim, menulis huruf-huruf dan melukis gambar. Sedari masih muda, semua sahabatnya orang-orang cerdik pandai. Pun istrinya serta putrinya ini, orang-¬orang pintar juga. Maka, mengingat anaknya yang cantik dan pintar itu mesti dipasangkan dengan Kwee Ceng yang krtolol-tololan itu, sungguh ia tidak mufakat. Dipadu dengan Auwyang Kongcu, Kwee Ceng kalah berlipat ganda. Maka itu, ia lebih penuju keponakannya See Tok itu. Tapi di situ ada Ang Cit Kong. Maka akhirnya, ia memikir satu jalan.
"Saudara Hong," katanya kemudian, "Keponakanmu terluka, baik kau obati dulu, urusan nanti kita damaikan lagi."
Inilah apa yang Auwyang Hong harap-harapkan, maka lantas ia menggapai pada keponakannya, lalu bersama-sama mereka masuk ke dalam hutan bambu. Lewat sesaat, mereka sudah kembali ke paseban. Auwyang Hong telah berhasil mengeluarkan jarum emas dan menyambung pula tangan keponakannya.
Oey Yok Su sudah lantas berbicara, katanya: "Anakku bertubuh lemah dan nakal, sebenarnya sulit untuk dia merawat seorang budiman, maka diluar dugaanku, saudara Cit dan saudara Hong telah memandang mukaku dan sama-sama melamarnya. Hal ini adalah suatu kehormatan untukku. Sebenarnya anakku ini sudah dijodohkan dengan pihak Auwyang tetapi sekarang ada titahnya saudara Cit, sukar aku tolak. Kejadian ini menyulitkan aku. Sekarang, aku pikir, baik diatur begini saja. Coba kedua saudara lihat, pemecahan ini dapat dilakukan atau tidak?"
"Lekas bilang, lekas bilang!" berkata Ang Cit Kong. "Aku, si pengemis tua paling tidak suka omong pakai segala aturan!"
Oey Yok Su tersenyum, ia berkata pula: "Sebenarnya anakku tidak mengerti apapun, akan tetapi meskipun demikian, aku masih mengharap dia menikah dengan seorang suami yang baik-baik. Auwyang Sieheng keponakan saudara Hong dan Kwee Sieheng murid pandai dari saudara Cit, kedua-duanya baik, sukar untuk memilihnya, tidak dapat aku membuang salah satunya, karena itu, aku pikir baiklah mereka diuji saja. Di sini aku mempunyai tiga macam syarat. Pendeknya siapa yang lulus, anakku akan dijodohkan dengannya, tidak nanti aku berlaku berat sebelah. Bagaimana, sahabat-¬sahabatku?"
Auwyang Hong sudah lantas bertepuk tangan. "Bagus, bagus!" serunya. "Cuma sekarang keponakanku sedang terluka, kalau buat adu silat, aku minta supaya ditunda sampai ia sembuh."
Mendengar itu, Ang Cit Kong berpikir: "Kau, si Oey tersesat, kau banyak akalnya, jikalau kau majukan ilmu surat, syair atau nyanyi, tentu muridku yang tolol gagal. Kau bilang kau tidak mau berat sebelah, sebenarnya pikiranmu sudah lain. Maka tidak ada lain jalan, baiklah aku ambil caraku!" Ia lantas tertawa sambil berlenggak, terus ia berkata: "Kita semua tukang silat, kalau kita tidak adu silat, apa kita mesti adu main gembul-gembulan? Keponakanmu terluka, kau sendiri tidak, marilah, mari kita berdua yang main-¬main lebih dulu!"
Begitu ia selesai bicara, tanpa menanti jawaban, Ang Cit Kong sudah lantas menyerang ke bahu orang.
Auwyang Hong berkelit, ia mundur. Ang Cit Kong meletakkan tongkat bambunya di meja kecil di sampingnya.
"Kau membalaslah!" ia menantang. Kembali ia menyerang, beruntun hingga tujuh jurus.
Auwyang Hong berkelit berulang-ulang, ke kiri dan ke kanan, habis tujuh serangan itu, dengan tangan kanannya ia menancap tongkatnya, sedang tangan kirinya membalas pula tujuh kali.
Oey Yok Su menyaksikan itu, ia bersorak memuji. Ia tidak mau memisahkan, karena ingin melihat kemajuan orang sesudah berselang duapuluh tahun semejak mereka mengadu kepandaian.
Ang Cit Kong dan Auwyang Hong adalah ketua-ketua partai, duapuluh tahun dulu mereka sudah lihay, habis menguji kepandaian di Hoa San, mereka masing-masing meyakinkan lebih jauh kepandaian mereka, bisa di mengerti yang mereka telah maju banyak. Maka sekarang, bertarung di Tho Hoa To, mereka beda jauh daripada waktu di Hoa San. Mereka saling serang dengan cepat sekali tetapi semua itu adalah permulaan saja, untuk saling menggertak.
Kwee Ceng menonton dengan perhatian sepenuhnya. Ia melihat gerakan kedua pihak sangat lincah. Untuk kegirangannya, ia mengerti semua jurus itu. Ia telah hapal kitab Kiu Im Cin-keng, sekarang ia mendapat kenyataan, semua gerak-gerik mirip sama kitab itu. Untuk menyaksikan ini, ia mimpi pun tidak. Semua yang ia lihat ini termuat dalam kitab bagian atas. Semua ilmu silat yang lihay. Tanpa disadari, ia menjadi gatal sendirinya.
Dengan cepat kedua jago itu sudah bertempur hingga tigaratus jurus lebih. Ang Cit Kong dan Auwyang Hong kagum sendiri, mereka saling memuji secara diam-diam.
Oey Yok Su yang menonton pun kagum, ia menghela napas. Di dalam hatinya ia berkata: "Aku berdiam di Tho Hoa To ini dengan melatih diri sungguh-sungguh, aku percaya setelah Ong Tiong Yang meninggal dunia, aku bakal jadi orang gagah nomor satu di kolong langit ini, siapa tahu sekarang si pengemis tua bangka ini dan si biang racun tua telah mengambil jalannya masing-masing yang hebat sekali!"
Auwyang Kongcu dan Oey Yong sama-sama tegang hatinya, mereka mengharapkan kemenangan pihaknya masing-masing. Mereka mengerti silat tetapi mereka tidak mengerti ilmu silat dua jago yang lagi bertarung itu. Sama-sama mereka terus mengawasi dengan perhatian penuh.
Satu kali Oey Yong melirik ke samping, lantas ia menjadi heran sendiri. Ia melihat bayangan orang di sampingnya, bayangan yang lagi bergerak-gerak, terutama kaki tangannya, seperti orang menari. Ia lantas menoleh, maka ia kenali, itulah bayangannya Kwee Ceng. Wajah si pemuda tegang dan seperti menjadi korban kegirangan luar biasa.
"Engko Ceng!" ia memanggil perlahan. Ia heran dan menjadi khawatir karenanya, apapula panggilannya itu tidak disahuti si anak muda, yang terus masih bergerak tak hentinya. Nyata sekali lagi bersilat seoarng diri.
Mau tidak mau, Oey Yong mengawasi. Lama juga ia meminta tempo, baru ia mengerti. Terang sekarang, Kwee Ceng berlatih silat menuruti gerak-geriknya kedua jago tua itu.
Perubahan terjadi dalam cara bertempurnya kedua jago itu. Kalau tadinya mereka berperang sebat sekali, sekarang mereka manjadi lambat, ada kalanya mereka menyerang dulu dengan dipikirkan lebih dahulu. Bahkan anehnya, ada kalanya, habis bergebrak, mereka sama-sama duduk bersila, untuk beristirahat, kemudian bangkit lagi, bertempur lagi. Mereka bukan seperti mengadu silat, bahkan juga bukan kedua saudara seperguruan lagi berlatih. Toh wajah mereka menunjukkan ketegangan yang bertambah-tambah.
Oey Yong berpaling kepada ayahnya, ia mendapatkan ayahnya bengong mengawasi kedua jago itu. Ayah ini nampaknya tegang hatinya.
Ketika nona ini menoleh kepada Auwyang Kongcu, ia mendapat kenyataan pemuda itu tenang seperti biasa, kipasnya dipakai mengipas perlahan-lahan.
Kwee Ceng berhenti bersilat, ia mengawasi kedua orang itu, lalu seperti lupa pada dirinya sendiri, ia bersorak dengan pujiannya.
"He, bocah tolol, kau mengerti apa?!" Auwyang Kongcu menegur, murka. "Apa perlunya kau membikin banyak berisik?!"
"Apa perlunya kau banyak rewel?!" Oey Yong balas menegur. "Kau pun mengerti apa?!"
Ditegur begitu, pemuda ini tertawa. "Bocah ini bergerak secara tolol!" dia berkata. "Dia masih sangat muda, mana dia tahu kepandaian istimewa dari pamanku?"
"Kau toh bukannya dia, mana kau ketahui dia mengerti atau tidak?!" Oey Yong menegur pula.
Selagi muda-mudi ini berselisih mulut, Oey Yok Su tidak mengambil mumat, dia tetap mengawasi sepak terjang dua sahabatnya. Kwee Ceng pun memperhatikan dengan diam-diam saja.
Gerakkannya Ang Cit Kong dan Auwyang Hong menjadi lebih lambat pula. Yang mengangkat tangan kirinya, dengan jari tengahnya dia menyentil perlahan batok kepalanya. Yang lainnya lagi, dengan kedua tangan di kuping, berjongkok di tanah dengan romannya lagi berpikir keras. Hanya sejenak kemudian, keduanya sama-sama berseru, terus mereka berlompat bangun untuk saling serang pula.
"Bagus! Bagus!" Kwee Ceng berseru-seru melihat serangan itu.
Habis itu, kedua lawan itu berpisah pula. Kembali mereka berpikir. Terang sudah, masing-masing seperti sudah mengetahui ilmu silat lawan, maka itu, perlu mereka memikirkan cara penyerangannya.
Duapuluh tahun sejak dua lawan ini berpisah sehabis bertempur di Hoa San, mereka masing-masing tinggal di Tionggan, satu yang lain di See Hek, Wilayah Barat. Sebegitu jauh tidak pernah mereka berhubungan satu dengan lain, sama-sama mereka meyakinkan lebih jauh ilmu silat mereka. Mereka pun tidak ketahui kemajuannya masing-masing. Sekarang ternyata, mereka sama gelapnya seperti duapuluh tahun dulu itu. Mereka mempunyai kepandaian, mereka pun sama-sama jeri. Dengan begitu, mereka membuang-buang tempo, sampai matahari mulai menyingsing di arah Timur.
Yang beruntung adalah Kwee Ceng, yang dapat memberi perhatian seluruhnya. Adakalanya ia memikir, pihak sana tentu bakal menyerang begini, tetapi buktinya, dugaannya penyerangan pihak lain dan ada terlebih sempurna dari apa yang ia pikir. Karena ini, ia menjadi mendapat tambahan kepandaian. Kejadian ini terulang banyak kali. Ia dapat menyangkok ilmu silatnya kedua jago tua itu.
Oey Yong mengawasi pemudanya itu, ia bertambah heran. "Baru belasan hari aku tidak lihat dia, mungkinkah dia telah dapat pelajaran silat dari malaikat?" berpikir nona ini. "Benarkah dia memperoleh kemajuan begini pesat? Kenapa ia agaknya girang sekali?" Ia baru berpikir begitu, ia menjadi khawatir. Katanya di dalam hatinya: "Apa mungkin engko Ceng mendadak pikirannya terganggu?"
Karena ini, ingin ia mendekati si anak muda, untuk menarik tangannya. Begitu berpikir, begitu ia bekerja.
Waktu itu, Kwee Ceng tengah meniru gerakkan Auwyang Hong, yang menyerang sambil memutar tubuhnya. Kelihatannya serangan itu sangat umum akan tetapi tenaga yang dikerahkan tak terkira. Maka itu tatkala tangannya si nona dapat memegang tangan si pemuda, mendadak ia merasa kena tertolak keras, dengan tiba-tiba saja ia mental tinggi seperti terbang.
Melihat itu, Kwee Ceng terkejut hingga ia menjerit tetapi tubuhnya terus melompat menyusul. Pinggang langsing Oey Yong dapat kena disambarnya, karena mana dapatlah ia menaruh kaki di atas wuwungan paseban dengan tidak kurang suatu apapun, di situ terus ia duduk.
Kwee Ceng sendiri, sebelum turut naik, telah menaruh tangannya di payon di mana ia menekan keras, hingga dilainnya saat dia jadi dapat duduk berendeng sama nona itu. Hingga dari situ, dengan memandang ke bawah, mereka dapat menonton pertaruhan.
Telah terjadi perubahan pula dalam caranya kedua jago itu bertempur. Sekarang terlihat Auwyang Hong bejongkok dengan kedua tangannya dikasih turun, hingga ia memperlihatkan sikapnya seekor kodok, sedang dari mulutnya kadang-kadang terdengar suara seperti suara kerbau. Lucu sikap itu hingga Oey Yong tertawa.
"Engko Ceng, dia bikin apakah itu?" dia berbisik. Tertawanya pun perlahan sekali.
"Aku tidak tahu," Kwee Ceng menyahut. Ia baru menjadi demikian atau tiba-tiba ia ingat kata-katanya Ciu Pek Thong tengan Ong Tiong Yang dengan pukulan jeriji It-yang-cie sudah memecahkan Kap-mo¬kang atau Ilmu Kodok dari Auwyang Hong. Maka ia lekas menambahkan; "Inilah semacam ilmu silat yang lihay sekali, namanya Ilmu Kodok!"
Oey Yong meresa lucu hingga ia bertepuk tangan. "Ya, sungguh mirip kodok buduk!" serunya.
Sementara itu Auwyang Kongcu telah melihat orang duduk berendeng dan bicara-bicara sambil tertawa dengan asyik, bukan main ia mendongkolnya. Ia menjadi sangat cemburu. Menuruti hatinya, hendak ia melompat naik ke atas, untuk menggusur Kwee Ceng. Celaka untuknya, ia merasakan dadanya masih sakit, hingga tidak dapat ia mengeluarkan tenaga. Ia mendengar Oey Yong menyebut-nyebut kodok buduk, hatinya bertambah panas, ia menyangka ialah yang dikatakan si kodok buduk yang mengharap mencaplok daging angsa kayangan.
Sekarang ia tidak dapat menguasai lagi dirinya, dengan tangan kanan menggenggam tiga biji torak Hui-yang Gin-so, ia bertindak perlahan-lahan memutar ke belakang paseban, lalu dengan diam-diam ia menyerang ke atas paseban, kepada sepasang muda-mudi itu. Ia dapat berbuat demikian dengan leluasa karena lain-lain orang tengah menonton pertempuran yang nampaknya lucu itu. Ia mengarah punggung Kwee Ceng.
Pemuda she Kwee ini tidak curiga apapun. Ia lagi asyik mengawasi pertempuran yang justru tiba disaatnya Ang Cit Kong, gurunya hendak menggunakan Hang Liong Sip-pat Ciang melayani Auwyang Hong.
Oey Yong tidak ketahui Pak Kay dan See Tok ini, dua orang paling kosen di jaman itu, tengah menghadapi pertempuran yang memutuskan, yang membahayakan salah satu diantaranya, karena itu ia masih dapat tertawa haha-hihi dan dengan tangannya tunjuk sana ¬sini. Secara kebetulan saja, ia melihat satu tubuh di luar paseban bambu. Dasar cerdik sekali, ia menyangka kalau-kalau Auwyang Kongcu main gila. Maka hendak ia memasang matanya.
Justru waktu itu ia mendengar desiran angin dari senjata rahasia, yang melesat ke arah punggung Kwee Ceng, sedang Kwee Ceng sendiri tidak mengetahui itu. Tidak sempat lagi ia menangkis, segera ia bergerak menubruk diri ke punggungnya si anak muda, dengan begitu tubuhnya mewakilkan anak muda itu menyambut serangan tiga biji Hui-ya Gin-so yang tepat mengenai punggungnya sendiri.
Nona ini mengenakan baju lapis joan-wie-kah, ia tidak terluka, cuma saking kerasnya serangan, ia merasakan nyeri juga. Dengan sebat ia memutar balik tangannya, menyambar ketiga biji torak, kemudian sembari tertawa ia berkata; "Kau menggaruki gatal dipunggungku, bukankah? Banyak¬-banyak terima kasih! Nah, ini aku kembalikan garukanmu!"
Auwyang Kongcu terperanjat, ia memasang matanya. Ia khawatir si nona benar-benar menyerang padanya. Ia tidak mau mempercayai si nona itu sudi dengan baik hati memulangkan toraknya. Hanya ia menanti dengan sia-sia. Si nona masih memegang senjata rahasianya itu, dia tidak mengayunkan tangannya.
Menampak demikian, kongcu ini segera menjejak tanah dengan kakinya yang kiri, mengapungkan diri berlompat ke atas pesaben bambu itu. Ia hendak membanggakan ringannya tubuh. Disitu ia berdiri di satu pojok, bajunya yang putih berkibaran di antara sampokannya angin, hingga nampak sikapnya yang bagus, bagaikan seorang suci.
"Sungguh bagus ilmu ringan tubuhmu!" Oey Yong berseru dengan pujiannya. Lalu dia maju setindak untuk berlompat naik ke atas pesaben, untuk menghampiri, mengembalikan torak orang.
Butek pikiran Auwyang Kongcu menyaksikan tangan si nona yang putih halus dan montok itu, putih bagaikan salju. Ia lantas mengulurkan tangannya, menyambut senjata rahasianya, sekalian ingin ia meraba tangan yang halus itu, tatkala tiba-tiba saja ia mendapat lihat sinar kuning keemas-emasan berkelebat di depan matanya. Dua kali sudah ia merasakan tangannya si nona, maka tanpa bersangsi pula, ia lompat berjumpalitan turun dari atas pesaben itu. Sambil berkelit secara demikian, ia juga mengibas-¬ngibaskan tangan bajunya, maka ia berhasil meruntuhkan jarum emasnya si nona.
Oey Yong tertawa terkekeh walaupun serangannya itu gagal. Ia tidak berhenti sampai di situ. Dengan sekonyong-konyong saja, ia menyerang pula dengan tiga biji toraknya si anak muda, untuk menghajar embun-embun pemuda itu.
"Jangan!" berseru Kwee Ceng kaget, menampak perbuatannya si nona itu, untuk dibawa lompat turun.
Belum lagi anak muda ini dapat menginjak tanah, kupingnya dapat mendengar satu suara nyaring, yang mana dengan suara cegahannya Oey Yok Su, "Saudara Hong, berlakulah murah hati!"
Kwee Ceng segera merasakan dorongan angin yang keras, bagaikan gunung roboh menguruk lautan, mengenai dadanya. Berbareng dengan itu, ia khawatir, Oey Yong nanti terluka, dari itu lekas-lekas ia mengerahkan tenaganya, menggunakan jurus "Melihat naga di sawah" dari Hang Liong Sip-pat Ciang. Dengan jurusnya itu ia menolak dorongan keras itu.
Dimana dua-dua pihak menggunakan tenaga besar, kedua tenaga itu bentrok keras sekali. Sebagai kesudahannya, Kwee Ceng tertolak mundur tujuh atau delapan tindak, karena pertahanannya tidak dapat mengalahkan Ilmu Silat Kodok dari Auwyang Hong yang lihay itu.
Lekas-lekas Kwee Ceng melepaskan tubuh Oey Yong , lekas-lekas juga ia memasang kuda-kudanya, guna melayani lebih jauh See Tok si Bisa dari Barat itu, yang sudah hendak menyerang lagi. Hanya belum lagi mereka bentrok pula, Ang Cit Kong berdua Oey Yok Su sudah berlompat maju menghalang di antara mereka.
"Sungguh malu," berkata Auwyang Hong. "Tak keburu aku menahan diri! Apakah si nona terluka?"
Sebenarnya Oey Yong kaget bukan main, tetapi mendengar pertanyaan orang itu, ia memaksakan diri tertawa.
"Ayahku berada disini, mana dapat kau melukakan aku?" katanya.
Oey Yok Su pun khawatir. Ia lantas cekal tangan anaknya itu. Ia menarik. "Apakah kau merasakan sesuatu yang beda pada tubuhmu?" tanyanya. "Lekas kau mainkan napasmu!"
Oey Yong menurut, lantas menarik dan mengeluarkan napas dengan beraturan. Ia tidak merasakan apapun yang mengganggu pernapasannya. Maka ia lantas tertawa seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Melihat itu, barulah hati Oey Yok Su lega. "Kedua pamanmu lagi berlatih silat di sini, kenapa kau main gila, budak?!" ayah ini menegur putrinya. "Kee-mo-kang dari Auwyang pepe hebat luar biasa, jikalau bukannya dia menaruh belas kasihan kepadamu, apakah kau kira sekarang masih mempunyai jiwamu? Coba kau lihat paseban itu!"
Oey Yong berpaling, melihat paseban seperti kata ayahnya. Diam-diam ia terperanjat. Paseban itu telah runtuh sebagian tiang bambunya, yang mendam ke dalam tanah, telah terbongkar tercabut dan remuk bekas kena hajaran Silat Kodok. Tanpa merasa, ia mengulur lidahnya.
Ilmu silat Kee-mo-kang dari Auwyang Hong itu dimulai dari mendiamkan diri disusul sama gerakan tubuhnya, ketika itu seluruh tenaganya telah dikerahkan, kalau ia diserang, segera ia dapat menolak balik serangan itu. Untuk menyerang pun ia mesti berdiam dulu, memasang kuda-kudanya yang aneh bagaikan kodok nongkrong. Barusan ia melayani Ang Cit Kong, ia bersiap dengan kuda-kudanya yang aneh itu, disaat ia hendak menyerang, mendadak Oey Yong pun berlompat turun sebab dipondong Kwee Ceng, jadi tepat si nona melintang di tengah.
Auwyanng Hong pun kaget melihat arah serangannya adalah si nona, ia hendak ambil sebagai istri dari keponakannya. Ia menginsyafi bahwa si nona terancam bahaya maut, jiwanya tak bakal tertolong lagi. Ia juga dapat mendengar cegahan Oey Yok Su. Begitulah ia mencoba menarik pulang pukulannya tetapi gagal, paseban kena terhajar runtuh, doronga tenaga itu berlangsung terus. Lalu mendadak ia merasakan ada satu tenaga lain yang menahannya. Ketika ia sudah berhenti menyerang, ia memasang mata tajam ke depan. Terlihat olehnya, penolong dari si nona adalah si pemuda Kwee Ceng. Diam-diam ia mengagumi Ang Cit Kong, katanya dalam hati: "Benar-benar lihay ini pengemis bangkotan, dia berhasil mengajari muridnya ilmu yang begini sempurna!"
Oey Yok Su pun berpikir melihat sepak terjang Kwee Ceng, yang selama di Kwie-in-chung pernah ia saksikan ilmu kepandaiannya. Katanya dalam hati: "Ini bocah tidak tahu tingginya langit tebalnya bumi, dia berani melayani Auwyang Hong, tidak memandang aku, tidakkah urat-urat dan tulang-¬tulangnya bakal putus dan remuk?" Ia mengatakan demikian karena tidak tahu, Kwee Ceng yang sekarang bukan lagi Kwee Ceng yang sama di Kwie¬in-chung itu.
Ia ketahui, barusan adalah Kwee Ceng yang sudah menolong putrinya, maka tanpa merasa kesannya yang kurang baik untuk pemuda itu menjadi berkurang tujuh atau delapan bagian. Bukankah bocah itu sudah berani berkorban untuk Oey Yong? Akhirnya ia berpikir: "Bocah ini jujur dan baik hatinya, walaupun tidak dapat aku nikahkan anakku kepadanya, mesti menghadiahkan sesuatu kepadanya." Selagi Tong Shia berpikir demikian, ia mendapat dengar suaranya Ang Cit Kong.
"Makhluk beracun bangkotan, sungguh kau hebat!" demikian Pak Kay, si Pengemis dari Utara. "Kita berdua belum ada yang kalah dan menang, mari kita bertempur pula!"
"Baik, bersedia aku melayani seorang budiman!" menjawab See Tok, si racun dari Barat.
Ang Cit Kong tertawa. "Aku bukannya seorang budiman, aku hanyalah pengemis!"
Dengan hanya sekali berlompat, raja pengemis ini sudah berada dalam gelanggang. Auwyang Hong juga hendak masuk ke dalam gelanggang itu tatkala Oey Yok Su mencegahnya seraya Tong Shia melonjorkan tangannya yang kiri.
"Tunggu dulu, saudara Cit dan saudara Hong!" katanya. "Kamu berdua sudah bertarung lebih daripada seribu jurus, kamu tetap belum memutuskan menang atau kalah, karena hari ini kamu berdua adalah tetamu-tetamu terhormat dari Tho Hoa To, lebih baik kamu berdua duduk minum beberapa cawan arak pilihan yang aku nanti menyediakannya. Saatnya merundingkan pedang di Hoa San akan tiba di depan mata, maka waktu itu bukan cuma kamu berdua yang bakal mengadu kepandaian, juga aku dan Toan Hong Ya akan bersama turun tangan! Bagaimana jikalau pertempuran hari ini disudahi sampai disini?"
"Baiklah!" menyahut Auwyang Hong tertawa, "Kalau kita bertempur pula, pastilah aku bakal kalah!"
Ang Cit Kong menarik pulang dirinya. Ia pun tertawa. "Si makhluk berbisa bangkotan dari Wilayah Barat lain mulut lain hatinya!" berkata dia. "Kau memang sudah sangat tersohor! Kau membilang bakal kalah, itu artinya kau bakal menang! Tidak, aku si pengemis tua tidak dapat mempercayainya!"
"Jikalau begitu, hendak aku mencoba pula kepandaianmu, saudara Cit!" Auwyang Hong menantang.
"Tidak ada yang terlebih baik daripada itu!" Ang Cit Kong menyambut. Dan ia pun bersiap pula.
"Sudahlah!" berkata Oey Yok Su tertawa, melihat orang hendak bertempur lagi. "Nyatalah kamu berdua hari ini datang ke Thoa Hoa To untuk mempertunjukkan kepandaian!"
Ang Cit Kong tertawa lebar. "Pantas kau menegurku, saudara Yok!" katanya. "Sebenarnya kami datang kemari untuk mengajukan lamaran, bukannya untuk mengadu kepandaian."
"Bukankah aku telah mengatakan hendak mengajukan tiga syarat untuk menguji kedua sieheng?" berkata pula Oey Yok Su. "Siapa yang lulus, dialah yang aku akan ambil sebagai menantuku, dan siapa yang jatuh, dia pun tidak bakal aku membuatnya pulang kecewa."
Cit Kong agaknya heran. "Apa?! Apakah kau masih mempunyai lain putri lagi?" tanyanya.
"Sekarang ini belum!" sahut Oey Yok Su tertawa. "Umpama kata aku lekas-lekas menikah pula dan mendapatkan satu anak perempuan, sekarang ini sudah tidak keburu lagi! Aku ini mengerti juga kasar-¬kasar tentang ilmu pengobatan dan meramalkan, maka itu sieheng yang mana yang tidak lulus, jikalau ia tidak mencelanya dan sudi mempelajari dia boleh memilih pelajaran yang mana ia penuju, nanti aku mengajarinya dengan sungguh-sungguh."
Ang Cit Kong memang tahu Oey Yok Su banyak pengetahuannya, ia anggap lumayan juga andaikata orang tak dapat menjadi menantunya tetapi dapat semacam kepandaian daripadanya untuk kepentingan seumur hidupnya.
Auwyang Hong melihat Cit Kong tidak segera menjawab, ia mendahului: "Baiklah begini keputusan kita! Sebenarnya saudara Yok sudah menerima baik keponakanku tetapi karena memandang mukanya saudara Cit, biarlah kedua bocah itu diuji pula! Aku lihat cara ini tidak sampai merenggangkan kerukunan."
Ia lantas berpaling kepada keponakannya, akan membilang: "Sebentar, apabila kau tidak sanggup melawan Kwee Sieheng, itu tandanya kau sendiri yang tidak punya guna, kau tidak dapat menyesalkan lain orang, kita semua mesti dengan gembira meminum arak kegirangan Kwee Sieheng itu! Jikalau kau memikir lainnya, hingga timbul lain kesulitan, bukan saja kedua locianpwee bakal tidak menerima kau, aku sendiri pun tidak gampang-gampang memberi ampun padamu!"
Ang Cit Kong tertawa berlenggak. "Makhluk berbisa bangkotan, teranglah sudah kau merasa sangat pasti untuk kemenangan pihakmu ini!" ia berkata. "Kata-katamu ini sengaja kau perdengarkan untuk kami mendengarnya, supaya kami tidak usah mengadu kepandaian lagi dan lantas saja menyerah kalah!"
Auwyang Hong tertawa pula. "Jikalau kau ketahui itu, bagus! Saudara Yok, silahkan kau menyebutkan syarat atau cara ujianmu itu!"
Oey Yok Su sudah berkeputusan akan menyerahkan gadisnya kepada Auwyang Kongcu, ia telah mengambil putusan akan mengajukan tiga soal yang mesti dapat dimenangkan calon baba mantunya. Tetapi, sedang ia memikir untuk membuka mulutnya, Ang Cit Kong mendahului.
"Main ujian? Itu pun baik!" kata Pak Kay. "Kita bangsa memainkan pukulan dan tendangan, maka itu saudara Yok, jikalau kau mengajukan syarat, mestilah itu mengenai ilmu silat. Umpama kata kau mengajukan urusan syair dan nyanyian, atau soal mantera dan melukis gambar dan lainnya, maka kami berdua terang-terang akan mengaku kalah saja, kami akan menepuk-nepuk kempolan kami dan mengangkat kaki, tak usah lagi mempertontonkan keburukan kami di depan kamu!"
"Itulah pasti!" Oey Yok Su memberikan kepastiannya. "Yang pertama-tama ialah mengadu silat…"
"Itulah tak dapat!" Auwyang Hong menyelak. "Sekarang ini keponakanku tengah terluka."
"Ini aku tahu," kata Oey Yok Su tertawa. "Aku juga tidak membiarkan kedua sieheng mengadu kepandaian di Tho Hoa To ini, sebab itu dapat merenggangkan kerukunan kedua pihak."
"Jadi bukannya mereka berdua mengadu silat?" Auwyang Hong menegaskan.
"Tidak salah!" sahut Oey Yok Su.
Auwyang Hong girang, ia tertawa. "Benar!" katanya. "Apakah kepala penguji hendak memperlihatkan beberapa jurus untuk setiap orang mencoba-coba jurus itu?"
"Itu juga bukan," Oey Yok Su menggeleng kepalanya.
"Dengan cara itu sudah dipertanggungjawabkan yang aku nanti tidak berlaku berat sebelah. Bukankah diwaktu menggerakkan tangan dapat orang membikin enteng atau berat sesuka hati? Saudara Hong, kepandaianmu dan sudara Cit sudah sampai dipuncaknya kemahiran dan barusan pun, sampai seribu jurus lebih, kamu masih sama tangguhnya. Sekarang baiklah kau mencoba Kwee Sieheng dan saudara Cit mencoba Auwyang Sieheng."
Mendengar itu Ang Cit Kong tertawa. "Cara ini tidak jelek!" bilangnya. "Mari, mari kita coba-¬coba!" sembari berkata, ia terus menggapai Auwyang Kongcu.
"Tunggu dulu!" berkata Oey Yok Su cepat. "Kita harus mengadakan aturannya. Pertama-tama; Auwyang Sieheng lagi terluka, tidak dapat mengempos semangatnya dan berkeras menggunakan tenaganya, dari itu kita harus menguji kepandaiannya tetapi bukan tenaganya. Kedua; kamu berempat harus bertempur di atas bambu, siapa yang lebih dulu jatuh ke tanah, dialah yang kalah. Dan yang ketiga; Siapa yang melukai pihak anak muda, dialah yang kalah."
Ang Cit Kong heran. "Melukai anak muda dihitung kalah?" dia bertanya.
"Demikian selayaknya!" menjawab Oey Yok Su. "Kamu berdua sangat lihay, jikalau tidak diadakan aturan semacam ini, sekali kamu turun tangan, apakah kedua sieheng masih ada nyawanya? Saudara Cit, asal kau membikin lecet saja kulitnya Auwyang Sieheng, kau teranggap kalah! Demikian juga dengan saudara Hong!"
Pak Kay menggaruk-garuk kepalanya. Tapi ia tertawa. "Oey Lao Shia si Sesat bangkotan benar-benar sangat ajaib bin aneh, bukan percuma namanya disohorkan!" katanya. "Pikir saja, siapa yang melukai musuh dia justru yang kalah! Aturan ini adalah aturan paling aneh sejak jaman purbakala! Tapi baiklah, mari kita bertindak menurut aturan ini!"
Oey Yok Su memberi tanda dengan kipas tangannya, keempat orang itu sudah lantas berlompat naik ke atas pohon, merupakan dua rombongan; Ang Cit Kong bersama Auwyang Kongcu di kanan, dan Auwyang Hong bersama Kwee Ceng di kiri.
Oey Yok Su masgul. Ia ketahui baik, Auwyang Kongcu lebih llihay daripada Kwee Ceng, benar pemuda itu terluka tetapi dengan mengadu ringan tubuh, dia masih terlebih unggul.
Oey Yok Su sudah lantas berseru; "Asal aku menghitung habis satu, dua dan tiga, kamu semua boleh mulai bertempur! Auwyang Sieheng dan Kwee Sieheng, siapa saja di antara kamu yang jatuh lebih dulu, dialah yang kalah!"
Mendengar begitu, Oey Yong berpikir keras, memikirkan daya untuk membantu Kwee Ceng. Ia bingung, Auwyang Hong sangat lihay, bagaimana ia dapat menyelak di antara mereka itu?
Segera Oey Yok Su menghitung: "Satu! Dua…! Tiga!"
Maka bergeraklah keempat orang di atas tiang bambu itu, bergerak-gerak bagaikan bayangan.
Oey Yong mengkhawatirkan Kwee Ceng, ia memasang mata. Ia melihat, cepat sekali sudah lewat belasan jurus. Ia menjadi heran, tidak kecuali Oey Yok Su, yang tidak menyangka pemuda itu demikian pesat kemajuannya.
"Aneh, mengapa dia masih belum kalah?" pikir Tong Sia si Sesat dari Timur.
Auwyang Hong sendiri sangat berduka, ia menjadi bergelisah sendiri, dengan sendirinya ia mulai gunakan tenaga, untuk mendesak. Ia heran dengan lihaynya si bocah. Dipihak lain, tidak dapat ia melukai si bocah. Tapi ia berpikir keras, maka lekas juga ia mendapat jalan. Dengan tiba-tiba saja ia menyapu dengan kedua kakinya untuk membikin lawannya roboh, begitu lekas serangan pertama gagal, ia mengulanginya saling susul, bertubi-tubi.
Diserang secara hebat berantai begitu, Kwee Ceng membuat perlawanan dengan Hang Liong Sip-pat Ciang jurus "Naga Terbang di Langit", tubuhnya beruulang-ulang berlompat, membal ke atas, sedang kedua tangannya, yang dibuka dan nampaknya tajam seperti golok atau gunting, senantiasa dipakai membabat ke arah kaki lawannya yang lihay itu. Ia jadi selalu berkelit sambil menyerang.
Hatinya Oey Yong berdebaran menyaksikan pertempuran dahsyat itu. Ketika ia melirik kepada Ang Cit Kong dan Auwyang Kongcu, ia mendapatkan cara mereka bertempur pun beda.
Auwyang Kongcu memperlihatkan kepandaian meringankan tubuhnya, ia berlari-lari ke Timur dan Barat, sama sekali ia tidak sudi berhadapan sama Ang Cit Kong untuk bertempur sekalipun satu jurus. Kalau Ang Cit Kong merangsak, ia lekas-lekas menyingkir.
"Binatang ini main menyingkir saja, ia memperlambat tempo," pikir Cit Kong. "Kwee Ceng sebaliknya tolol, dia melayani Auwyang Hong mengadu tenaga dan kepandaian, pasti dia bakal jatuh lebih dulu…"
Pengemis dari Utara ini segera berpikir. "Hm!" ia perdengarkan suara di hidungnya, lalu tiba-tiba saja ia lompat mencelat tinggi, menubruk kepada si anak muda, kedua tangannya diulur dengan sembilan jarinya dibuka merupakan cengkeraman ceker baja. Menampak demikian, Auwyang Kongcu terkejut. Segera ia menjejak dengan kaki kirinya, berkelit berlompat ke kanan.
Ang Cit Kong menubruk tempat kosong tetapi ia sudah dapat menduga orang bakal menyingkir ke kanan, maka juga dengan menjumpalitkan tubuhnya, ia mendahului lompat ke kanan, di sana segera ia bersiap dengan kedua tangan sambil ia berseru: "Biarlah aku kalah asal kau mampus lebih dulu!"
Auwyang Kongcu kaget bukan main, kaget karena gerakan orang yang sebat, yang seperti memegat jalannya, dan kaget untuk ancaman. Tidak berani ia menangkis serangan itu untuk membela dirinya. Di luar keinginannya, belum sempat ia memikirkan daya, kakinya sudah menginjak tempat kosong, maka terus saja ia jatuh. Ia telah memikir, kalahkah ia dalam pertandingan ini? Hanya ketika itu, Kwee Ceng pun jatuh di sampingnya!
Auwyang Hong telah berpikir keras karena sudah sekian lama ia tidak dapat merobohkan bocah lawannya. Kejadian ini membuatnya bergelisah. ia telah berpikir: “Jikalau aku mesti melayani dia sampai lebih daripada limapuluh jurus, ke mana perginya pamornya See Tok?" Karena ini ia mendesak, bagaikan kilat tangan kirinya menyambar ke belakang lehernya Kwee Ceng. Ia pun berseru: "Kau turunlah!"
Pemuda itu berkelit sambil mendak, tangan kirinya diulur, niatnya untuk menangkis, disaat mana, mendadak Auwyang Hong mengerahkan tenaganya. Ia menjadi kaget hingga ia menegur; "Kau…kau…." Ia hendak menanya: "Kenapa kau tidak menaati peraturan?" dan ia mengerahkan tenaganya. Atau mendadak Auwyang Hong tertawa dan menanya: "Aku kenapa?" Dengan mendadak juga ia membatalkan pengerahan tenaganya itu.
Kwee Ceng mengatur tenaganya, untuk melawan. Ia berkhawatir jago tua itu nanti menggunakan kuntauw kodoknya, ia takut nanti terluka di dalam. Siapa sangka tengah ia berkuat-kuat, tiba-tiba saja penyerangnya itu lenyap dari hadapannya. Di dalam latihan dan pengalaman, sudah tentu ia kalah jauh dibandingkan dengan See Tok, maka syukur untuknya, dari Ciu Pek Thong ia telah memperoleh ilmu silat "Kong Beng Kun" yang terdiri dari tujuhpuluh dua jurus itu, yang sifatnya dalam "keras ada kelembekannya", kalau tidak pastilah akan terjadi seperti di Kwie-in-chung tempo melayani Oey Yok Su, tangannya salah urat. Meski demikian, ia toh terjerumuk, kakinya limbung, tidak ampun lagi ia jatuh kepala di bawah, kaki di atas!
Kalau Auwyang Kongcu jatuh lurus, berdiri, Kwee Ceng menjadi terbalik. Keduanya jatuh berbareng. Tubuh mereka pun berada berdekatan. Auwyang Kongcu melihat tegas saingannya itu, mendadak saja timbul pikirannya yang sesat. Mendadak ia majukan kedua tangannya, untuk menekan kedua kaki Kwee Ceng, berbareng dengan mana, meminjam kaki orang, ia apungi tubuhnya naik. Dengan demikian, selagi ia mumbul, Kwee Ceng sendiri turun semakin cepat.
Oey Yong kaget tidak terkira. Itulah artinya Kwee Ceng pemuda pujaannya bakal kalah. Tanpa merasa, ia menjerit; "Ayo!"
Hampir berbareng dengan jeritan itu, terlebih tubuh Kwee Ceng berbalik mencelat ke atas, di lain pihak, tubuhnya Auwyang Kongcu turun pula, bahkan terus jatuh ke tanah. Di lain pihak lagi, Kwee Ceng telah tiba di atas pohon, berdiri di sebatang cabang, lalu dengan meminjam tenaga cabang itu ia mendekam!
Menyaksikan kejadian itu dari kaget bukan main, Oey Yong menjadi girang bukan kepalang. Sungguh-¬sungguh ia tidak mengerti kenapa bisa terjadi demikian rupa sedang pada Kwee Ceng ia tidak nampak sesuatu aksi. Bukankah pemuda itu terpisah hanya beberapa kaki lagi dari tanah?
Auwyang Hong dan Ang Cit Kong pun sudah sama-¬sama berlompat turun, Ang Cit Kong tertawa terbahak¬-bahak, berulang-ulang ia berseru: "Sungguh indah! Bagus!"
Parasnya See Tok, sebaliknya muram. "Saudara Cit, muridmu yang lihay ini campur aduk sekali ilmu kepandaiannya!" ia berkata, "Dia pun sampai dapat mempelajari ilmu gulat dari bangsa Mongolia!"
Ang Cit Kong tertawa. "Tetapi aku sendiri tidak becus ilmu gulat itu!" katanya, mengaku terus-terang. “Bukan aku yang mengajarkan dia, maka itu janganlah kau main gila denganku!"
Sebenarnya Kwee Ceng kaget sekali Auwyang Kongcu sudah menekan kakinya itu berbareng si kongcu sendiri mengapungkan diri. Dia mengerti, hebat kalau dia jatuh, sedang si kongcu itu bakal berada di atasnya. Itulah artinya ia kalah dan bercelaka. Disaat segenting itu, ia tidak menjadi gugup. Ia melihat kaki orang di depan mukanya, hebat luar biasa, ia menyambar dengan kedua tangannya, menarik dengan keras seraya tubuhnya pun diapungkan ke atas. Memang itulah ilmu gulat orang Mongolia, supaya sesudah roboh dapat berlompat. Itulah ilmu gulat yang tak ada bandingannya turun temurun.
Kwee Ceng menjadi besar di gurun pasir, sebelum ia berguru dengan Kanglam Cit Koay, ia sudah bergaul erat dengan Tuli dan lainnya bocah bangsa Mongolia, dengan sendirinya sering mereka adu gulat. Sekarang ia menghadapi bahaya, hampir tanpa berpikir, ia menggunakan ilmu kepandaiannya itu. Ia pun meminjam tenaga lawan sama seperti Auwyang Kongcu meminjam tenaganya. Dan ia memperoleh kemenangan!
"Kali ini Kwee Sieheng yang menang!" Oey Yok Su sudah lantas mengasih dengar putusannya. "Kau jangan bersusah hati, saudara Hong, jangan panas. Auwyang Sieheng lebih lihay, siapa tahu pertandingan kedua dan ketiga dia nanti yang menang?"
"Kalau begitu, silahkan saudara Yok menyebutkan acara pertandingan yang kedua," meminta Auwyang Hong.
"Pertandingan yang nomor dua dan nomor tiga ini adalah pertandingan secara bun," berkata Oey Yok Su. Cara "bun" ialah cara halus, tanpa kekerasan.
Mendengar ayahnya itu, Oey Yong menjerit. "Ayah, terang-terangan kau berat sebelah!" katanya. "Kenapa kau menggunakan cara bun? Ah, engko Ceng, sudahlah kau jangan mau bertanding pula!"
"Kau tahu apa?!" berkata sang ayah. "Dalam ilmu silat, kalau telah dicapai puncaknya kemahiran, apa orang akan terus main keras-kerasan saja? Acaraku yang kedua ini, kau tahu, adalah untuk meminta kedua sieheng mengenal sebuah lagu serulingku…."
Girang Auwyang Kongcu mendengar halnya acara itu. Katanya dalam hati: "Si tolol ini, apakah tahunya tentang ilmu tetabuhan? Kali ini pastilah aku yang bakal menang…"
Auwyang Hong tapinya berkata; "Anak-anak muda masih lemah sekali latihannya bersemedhi menenangkan hati, aku khawatir tidak dapat mereka bertahan dari lagumu, saudara Yok."
"Laguku lagu biasa saja, saudara Hong, jangan kau khawatir," Oey Yok Su menghibur. Lalu ia menghadapai Auwyang Kongcu dan Kwee Ceng, untuk berkata: "Kedua sieheng, silahkan kau masing¬masing mematahkan secabang pohon, setelah kalian mendengar suara laguku, lantas kamu menimpali dengan mengetok-ngetok batang pohon itu. Siapa yang dapat menimpali paling tepat, paling bagus, dialah yang menang."
Kwee Ceng maju menghampiri tuan rumah, ia menjura. "Oey tocu," katanya hormat. "Teecu ini sangat tolol, tentang ilmu tetabuhan teecu tidak tahu sama sekali, maka dalam pertandingan yang kedua ini teecu menyerah kalah saja…."
"Jangan kesusu, jangan kesusu!" Ang Cit Kong mencegah. "Biar bakal kalah, apakah halangannya mencoba dulu? Apakah kau khawatir nanti ditertawakan orang? Jangan takut!"
Mendengar perkataan gutunya, pikiran Kwee Ceng berubah. Ia pun melihat Auwyang Kongcu sudah mematahkan sebatang cabang, maka ia lantas mencari secabang yang lain.
Oey Yok Su tertawa, ia berkata, "Saudara Cit berada disini, sungguh siauwtee membuatnya kau nanti menertawainya!"
Pemilik Tho Hoa To ini sudah lantas membawa seruling ke bibirnya, maka sedetik kemudian, ia sudah mulai meniup.
Auwyang Kongcu memasang kuping mendengar irama, cuma sebentar, ia lantas menabuh cabang pohonnya, memperdengarkan suara seperti timpalan kecrek. Ia mengerti lagu, dapat menimpali dengan baik.
Sebaliknya Kwee Ceng agaknya bingung, ia angkat bambunya tetapi ia tidak mengetok, maka juga ketika serulingnya Oey Yok Su sudah berbunyi lamanya sehirupan teh, ia masih belum menimpali sekalipun….
Melihat itu Auwyang Hong dan keponakannya menjadi girang sekali. Mereka merasa pasti, kali ini mereka bakal menang. Bukankah acara yang ketiga pun acara bun? Mereka percaya, mereka bakal menang acara yang ketiga sekalipun….
Oey Yong sebaliknya, Ia sangat gelisah. Ia khawatir sekali Kwee Ceng kalah. Maka dengan jari tangannya yang kanan, ia menepuk-nepuk lengannya yang kiri. Ia berharap si anak muda melihatnya dan nanti mengikuti caranya. Tapi ia kecele, Kwee Ceng dongak mengawasi langit, berdiam saja, ia tak melihat pertandaannya itu….
Oey Yok Su masih meniup terus lagunya. Sejenak kemudian, mendadak Kwee Ceng menepuk batang bambunya. Ia menepuk di tengah-tengah antara bagian dua tepukan. Auwyang Kongcu tertawa terkekeh.
"Baru mengetok, dia sudah kalah!" pikir pemuda ini.
Kwee Ceng kembali menepuk lagi, kembali di bagian tengah seperti tadi. Ketika ia mengulangi sampai empat kali, semuanya tidak tepat.
Oey Yong menggeleng-geleng kepala. "Aku punya engko tolol ini tidak mengerti ilmu tetabuhan, tidak selayaknya ayah justru menguji dengan lagu!" katanya dalam hati. Sembari berpikir begitu, ia menoleh kepada ayahnya. Tapi herannya, ia menampak air muka ayahnya berubah. Ayah agaknya merasa aneh.
Kwee Ceng masih memperdengarkan pula kecrek bambunya, lantas terdengar irama seruling seperti rancu, hanya sebentar kemudian, irama itu balik kembali dengan rapi menuruti lagunya.
Masih saja Kwee Ceng menepuk, tetap sama caranya itu, di tengah-tengah di antara dua bagian kecrekan, hanya caranya sebentar cepat sebentar perlahan, sebentar mendahului, sebentar ketinggalan. Cara ini hampir-hampir mengacaukan lagunya Oey Yok Su.
Kejadian ini bukan cuma mengherankan pemilik pulau Tho Hoa To, yang perhatiannya menjadi tertarik sekali, juga Auwyang Hong dan Ang Cit Kong tidak mengerti. Mereka turut menjadi heran.
Tadi Kwee Ceng telah mendengar suara pertempuran di antara seruling, ceng dan siulan, tanpa merasa ia menginsyafi irama pertempuran istimewa itu, sekarang mendengar lagunya Oey Yok Su, mulanya ia memasang kuping dengan melongo, lalu akhirnya ia mengasih dengar suara bambunya untuk mengacau. Ia mengetok dengan keras, suaranya "Bung! Bung! Bung!"
Tidak peduli telah mahir ilmu menetapkan atau menenangkan hati dari Oey Yok Su, ia pun tergempur suara bambu itu, beberapa kali hampir ia membuat lagunya berbalik mengikuti suara kecrek istimewa dari Kwee Ceng: "Bung! Bung!"
Lantas Oey Yok Su mengasih bangun semangatnya. "Hebat kau, bocah!" pikirnya. Ia meniup pula serulingnya, sekarang dengan irama perlahan tetapi banyak perubahannya, selalu berganti tekukannya.
Auwyang Kongcu memasang kupingnya, untuk menangkap lagu itu, baru sesaat, tanpa merasa ia mengangkat bambunya, dengan sendirinya ia bergerak¬-gerak menari!
Auwyang Hong terkejut, ia menghela napas. Segera ia maju, untuk mencekal lengan keponakannya, menekan nadinya. Menyusul menggelarkan sapu tangan sutera, untuk menyumbat kuping orang, supaya Auwyang Kongcu tidak dapat mendengar lagu itu. Ketika kemudian si keponakan mulai tenang hatinya, baru ia lepaskan cekalan dan tekanannya itu.
Oey Yong sendiri tidak terganggu seruling ayahnya. Seperti sang ayah, ia sudah biasa mendengar lagu "Thia Mo Bu" atau "Tarian Hantu Langit". Ia hanya mengkhawatirkan Kwee Ceng, takut si anak muda tak dapat menenangkan diri, menetapkan hati, mempertahankan diri…………..
Kwee Ceng sudah duduk bersila di tanah, ia menenangkan diri dengan latihan tenaga dalam Coan Cin Kauw, dengan begitu ia menentang rayuan atau bujukan irama seruling yang menggoncangkan hati. Berbareng dengan itu, tak hentinya ia memperdengarkan kecrek bambunya, untuk mengacau lagu itu.
Tadi Oey Yok Su bertiga Ang Cit Kong dan Auwyang Hong, dengan lagu-lagu mereka telah mengadu irama, mereka dapat saling menyerang, saling membela diri, mereka tidak saja tak kena terbujuk atau terserang, sebaliknya mereka dapat menyerang. Sekarang Kwee Ceng kalah latihan tenaga dalam, ia tidak dapat menyerang, ia cuma bisa membela diri, malah rapat penjagaannya. Benar ia tidak bisa melakukan penyerangan membalas tetapi juga benar oey Yok Su tidak dapat menaklukkannya.
Selang sesaat kemudian, suara seruling semakin lama semakin perlahan dan halus, sampai sukar terdengarnya. mendengar itu, Kwee Ceng berhenti dengan ketokan bambunya, ia memasang kupingnya.
Justru inilah lihaynya Oek Yok Su. Makin perlahan suara seruling, makin besar tenaga menariknya. Begitu Kwee Ceng diam mendengarkan, bekerjalah pengaruh menarik itu. Irama seruling dan irama bambu bergabung menjadi satu, mestinya pemusatan pikiran si anak muda kena terbetot.
Tetapi Kwee Ceng lain daripada orang lain. Kalau orang lain, mestinya ia sudah runtuh, tak dapat meloloskan diri. Ia pernah meyakinkan ilmu saling serang dengan tangan sendiri, sebagimana telah lama berlatih dengan Ciu Pek Thong, maka itu, hatinya satu tetapi ia dapat memecah menjadi dua. Maka begitu ia mendengar suara aneh, yang membetot keras hatinya, ia memecah hatinya menjadi dua. Ia insyaf akan bahaya yang mengancam. Dengan demikian, sambil menetapkan hati, menenangkan diri, ia memperdengarkan pula suara sebatang bambunya yang ia pegang dengan tangan kiri, maka mendengung pulalah suara bung-bung.
Oey Yok Su menjadi terperanjat saking herannya. "Bocah ini mempunyai kepandaian luar biasa, tidak dapat dipandang enteng," pikirnya. Tapi ia penasaran, ia mencoba lagi. Tidak lagi ia berdiri diam, dengan mengangkat kakinya, ia bertindak dalam penjuru patkwa, delapan persegi, sembari jalan ia meniup terus serulingnya.
Kwee Ceng masih menepuk terus, kedua tangannya mengasih dengar tepukan yang berbeda, dengan begitu ia bagaikan dua orang yang menentang Oey Yok Su satu orang. Tenaganya pun bertambah dengan sendirinya.
Oey Yocu bukan sembarang orang, makin ditentang ia jadi makin gagah, lalu nada serulingnya menjadi tinggi dan rendah, makin luar biasa terdengarnya iramanya itu.
Kwee Ceng terus melawan, tetap ia mempertahankan diri, sampai mendadak ia dapat merasakan suara seruling itu seperti ada hawa dingin yang menyambar dirinya, bagaikan hawa dingin dari es membungkus dirinya. Tanpa merasa, ia mengigil.
Biasanya suara seruling halus dan lemah mengalun, panjang kali ini perubahannya menjadi keras, bagaikan penyerangan dahsyat, maka Kwee Ceng merasakan hawa dingin meresap ke tulang-tulangnya. lekas-lekas ia memusatkan pikirannya lagi, ia memecah dua pula. Ia mengingat kepada matahari panas terik tergnatung di udara, di waktu musim panas memukul besi, atau dengan tangan memegang obor besar memasuki dapur yang apinya marong dan panas sekali. Pemusatan perumpamaan ini berhasil mengurangi serangan hawa dingin itu.
Kembali Oey Yok Su menjadi heran. Ia melihatnya ditubuh sebelah kiri Kwee Ceng ada sifat dingin, sebaliknya di tubuh sebelah kanan tampak keringat keluar tanda dari hawa panas. Ia lantas merubah pula irama lagunya. Ia melenyapkan hawa dinginnya, mengganti dengan hawa panas dari musim panas.
Kwee Ceng terkejut karena perubahan itu, disaat ia hendak menentang lagi, suara batang bambunya sudah menjadi kacau dengan sendirinya.
Oey Yok Su menyaksikan itu, katanya dalam hatinya: "Kalau ia memaksa melawan, ia masih dapat bertahan sekian lama, hanya kalau ia tetap terserang terus hawa panas dan dingin bergantian, kesudahannya ia bakal sakit berat." Karena memikir demikian, ia berhenti meniup serulingnya, maka sedetik saja, iramanya seperti lenyap di rimba. Maka berhentilah lagu seruling itu.
Kwee Ceng segera mengerti orang telah mengalah terhadapnya, ia lantas berlompat bangun, memberi hormat kepada Oey Yok Su seraya menghaturkan terima kasih atas kebaikan hatinya, yang ia bahasakan "Oey Tocu."
Oey Yok Su heran hingga ia menduga; "Bocah ini masih sangat muda, siapa tahu ilmu dalamnya begini bagus. Mustahilkah sengaja ia memperlihatkan sikap ketolol-tololan padahal sebenarnya ia cerdas luar biasa? Jikalau tepat dugaanku, anakku mesti dijodohkan dengannya. Baiklah aku mencoba lagi!" Begitulah ia tersenyum.
"Kau baik sekali!" katanya manis. "Kau masih memanggil Oey Tocu kepadaku?"
Dengan pertanyaan itu Oey Yok Su hendak memberi tanda, "Dari tiga ujian, kau sudah lulus yang dua, karenanya sudah boleh kau mengubah panggilan menjadi gakhu tayjin." Arti "gakhu tayjin" ialah ayah mertua yang terhormat.
Kwee Ceng adalah seorang yang jujur dan polos, ia tidak mengerti kata-kata orang mengandung dua maksud, maka ia menjadi gugup.
"Aku…aku…" katanya, lalu ia tak dapat meneruskannya. Lalu matanya mengawasi kepada Oey Yong, untuk memohon bantuan si nona…..
Oey Yong girang bukan main. Ia lantas menekuk-¬nekuk jempol kanannya. Itu berarti anjuran untuk Kwee Ceng bertekuk lutut kepada Oey Yok Su.
Kebetulan Kwee Ceng mengerti tanda itu, tanpa bersangsi lagi ia menjatuhkan diri di depan tuan rumah sambil mengangguk sampai empat kali.
Meski ia mengulur tangannya kepada Auwyang Kongcu, guna menyingkirkan sumbatan di kuping anak muda itu sembari ia berkata; "Bicara dari hal tenaga dalam, Kwee Sieheng sangatlah mahir, akan tetapi ketika aku menguji dengan lagu, kaulah, Auwyang Sieheng, yang lebih mengerti…. Begini saja, acara nomor dua ini aku anggap seri. Sekarang hendak aku memulai dengan acara yang ketiga, supaya dengan ini didapat keputusan siapa di antara kedua sieheng, yang menang dan siapa yang kalah."
"Aku, akur!" Auwyang Hong cepat-cepat memberi persetujuannya. Ia tahu keponakannya sudah kalah, ia tidak menyangka Oey Yok Su si juru pemisah sudah berbuat berat sebelah.
Ang Cit Kong menyaksikan itu semua, ia cuma tersenyum, ia tidak memperdengarkan suaranya. Melainkan di dalam hatinya ia bilang: "Si Sesat bangkotan, jikalau kau suka menikahkan anakmu sama pemuda yang doyan berfoya-foya, orang lain boleh tidak mau tahu! Tetapi aku si pengemis tua, ingin sekali menempurmu. Sekarang aku berada sendirian saja, dua tanganku sanggup melayani empat buah tangan, biarlah, nanti aku mencari Toan Hongya dulu, untuk membantuku. Sampai waktu itu nanti jelaslah segalanya!"
Waktu itu Oey Yok Su sudah merogoh sakunya mengeluarkan sejilid buku yang bagian mukanya dilapisi cita merah, sembari berbuat begitu, ia berkata: "Bersama istriku aku Cuma mempunyai ini seorang anak perempuan, tidak beruntung istriku itu, ia menutup mata habis melahirkan anaknya ini, sekarang aku merasa beruntung saudara Cit dan saudara Hong memandang mata kepadaku, bersama-sama melamar gadisku ini. Jikalau istriku masih hidup, tentu ia girang sekali……….."
Merah matanya Oey Yong mendengar ayahnya menyebut-nyebut almarhum ibunya. "Buku ini ialah buku yang ditulis sendiri oleh istriku semasa hidupnya," Oey Yok Su berkata pula.
"Jadi inilah warisan dari hati dan darahnya… Sekarang aku minta kedua sieheng membaca buku ini, setelah selesai kau mesti membaca pula di luar kepala, siapa yang dapat menghapalnya lebih banyak, akan aku serahkan anakku kepadanya…"
Ia berhenti sebentar. Ia menoleh kepada Ang Cit Kong, ia mendapatkan Pak Kay tersenyum. Lalu ia meneruskan; "Menurut aturan, Kwee Sieheng sudah menang satu pertandingan, tetapi kitab ini ada sangkut pautnya dengan kehidupanku, dan istriku pun meninggal dunia karena kitab ini, maka sekarang hendak aku memuji di dalam hatiku supaya ialah sendiri yang nanti memilih baba mantunya, biar ia memayungi salah satu sieheng ini."
Sampai di situ habis sudah sabarnya Ang Cit Kong. Tadi ia masih dapat menguasai diri, dia hanya bersenyum. Sekarang tidak.
"Oey si bangkotan sesat!" ia berkata nyaring. "Siapa sudi mendengar obrolan setanmu panjang lebar? Terang kau mengetahui muridku tolol, dia tidak mengerti ilmu surat dan syair, sekarang kau suruh membaca dan menghapalnya di luar kepala, lalu kau menggertak dengan istrimu yang sudah mati! Sungguh kau tidak tahu malu!" Habis berkata, si pengemis mengibas tangannya, terus memutar tubuhnya untuk bertindak pergi.
Oey Yok Su tertawa dingin. "Saudara Cit!" ia berkata, "Jikalau kau datang ke Tho hoa To ini untuk banyak tingkah, mestinya kau belajar lagi ilmu silatmu beberapa tahun!"
Ang Cit Kong membalikkan tubuhnya, sepasang alisnya berbangkit. "Apa?!" tanyanya bengis.
"Kau tidak mengerti ilmu Kie-bun Ngo-heng, jikalau kau tidak dapat perkenan dari aku, jangan kau harap nanti dapat keluar dari pulau ini!" menjawab si tuan rumah.
"Akan aku melepaskan api membakar ludas semua bunga dan pohonmu yang bau!" Cit Kong berkata keras.
"Jikalau kau mempunyai kepandaian, cobalah kau bakar!" Oey Yok Su menentang.
Melihat kedua orang tua itu hendak berkelahi, Kwee Ceng maju ke tengah. "Oey Tocu! Ang Locianpwee!" ia berkata. "Biarlah nanti teecu mencoba bersama Auwyang toako membaca buku itu dan menghapalnya di luar kepala. Teecu memang bebal, umpama teecu kalah, itu sudah selayaknya…"
Oey Yok Su mendelik kepada si anak muda. "Kau memanggil apa kepada gurumu?!" ia menegur.
"Teecu baru saja mengangkat guru, oleh karena teecu masih belum memberitahukan kepada enam guruku, sekarang ini belum berani teecu merubah panggilan," Kwee Ceng memberi keterangan.
"Hah! Di mana sih ada sekian banyak kerewelan!" kata Tong Shia sebal.
Luas pengetahuan Oey Yok Su tetapi sepak terjangnya biasa menyalahi aturan atau kebiasaan, maka tidaklah ia puas mendapatkan pemuda itu demikian menjunjung peradatan.
"Bagus!" berseru Ang Cit Kong. "Aku masih belum terhitung gurumu! Kau sudi mendapat malu, terserah padamu! Silahkan, silahkan!"
Oey Yok Su tidak membilang apapun, hanya berpaling kepada anaknya. "Kau duduklah baik-baik, jangan kau main gila!" katanya. Ia memesan demikian, karena ia khawatir anak itu membantu Kwee Ceng.
Oey Yong tersenyum, ia tidak menyahut. Tapi ia berdiam dengan hatinya bekerja. Ia tahu kali ini pastilah Kwee Ceng bakal kalah, maka ia mengasah otaknya mencari jalan keluar untuk kabur bersama pemuda itu….
Oey Yok Su lantas menitahkan Kwee Ceng dan Auwyang Kongcu duduk berendeng di sebuah batu besar, ia berdiri di depan mereka, memegangi kitabnya, lalu diansurkan untuk mereka melihatnya, sebab mereka mesti membaca dengan berbareng.
Judul kitab "Kiu Im Cin-keng" Bagian Bawah, model hurufnya model Toan-jie. Begitu melihat itu, Auwyang Kongcu girang luar biasa. Ia berkata dalam hatinya: "Dengan segala macam akal aku memaksa Bwee Tiauw Hong menyerahkan kitab ini, siapa tahu sekarang mertuaku ini hendak berbuat baik kepadaku, ia membiarkan aku membaca kitab luar biasa ini!"
Kwee Ceng melihat enam huruf itu, tak sehuruf juga yang ia kenal. Ia berpikir: "Dia sengaja hendak membikin susah diriku! Surat yang berlugat-legot bagaikan cacing ini mana aku kenal? Biarlah, aku menyerah kalah…"
Ketika itu Oey Yok Su sudah mulai membalik kulitnya buku. Nyata huruf-huruf di dalamnya model huruf Kay-jie, huruf biasa dan huruf-hurufnya tertulis bagus sekali. Teranglah itu tulisan seorang wanita. Ketika ia sudah membaca baris pertama, hatinya goncang. Baris itu berbunyi: "Aturan dari langit, rusak itu berlebihan, tambalan tak kecukupan, maka kosong lebih menang daripada luber, tak cukup menang menang…. Semuanya itu sudah pernah ia mendengar dari Ciu Pek Thong, ia sudah menghapalnya. Maka ia lantas melihat lebih jauh. Betapa girangnya, semua itu adalah huruf-¬huruf yang sudah ia hapal benar.
Oey Yok Su menunggu sampai merasa orang sudah membaca habis, ia membalik pula halaman lainnya. Hal ini dilakukan terus selang sesaat. Hanya huruf-¬huruf itu makin lama makin tak lengkap susunannya, di bagian belakang menjadi kacau, sedang tulisannya sendiri makin lemah, seperti ditulis dengan kehabisan tenaga.
Terkesiap hati Kwee Ceng, karena sekarang ia ingat keterangan Ciu Pek Thong halnya Oey Hujin, yaitu istri Oey Yok Su, yang sudah menuliskan isi kitab secara dipaksakan, karena tubuhnya menjadi lemah, hingga diwaktu melahirkan Oey Yong, tenaganya habis dan meninggal dunia. Inilah kitab yang ditulis disaat-saat kematiannya nyonya itu.
"Mungkinkah Ciu Toako menitahkan aku menghapalkan isi kitab ini?" Kwee Ceng berpikir pula. "Adakah ini Kiu Im Cin-keng? Tidak, tidak mungkin! Kitab itu bagian bawahnya sudah dibikin lenyap oleh Bwee Tiauw Hong, bagaimana sekarang bisa berada di tangan Oey Yok Su?"
Oey Yok Su melihat orang bengong, ia menduga mestinya kepala pemuda ini sudah pusing. Ia tidak mengambil mumat, ia terus membalik-balik pelbagai halaman setelah temponya, ia merasa, orang sudah membaca habis.
Mulanya Auwyang Kongcu dapat membaca dengan baik, kemudian tiba kepada penjelasan cara melatihnya ilmu silat itu, ia bingung karena kata-¬katanya seperti terputar balik. Kemudian lagi, hatinya mencelos mendapatkan huruf-huruf yang berlompatan, hingga karangan tak lagi lancar. Di dalam hatinya ia menghela napas dan berkata: "Kiranya dia masih tidak hendak memperlihatkan kitab yang tulen…" Tapi ia dapat memikir sebaliknya; "Benar aku tidak dapat melihat isi kitab yang lengkap, tetapi toh aku jauh lebih banyak dapat mengingatnya daripada si tolol ini, maka dalam ujian ini pastilah aku yang bakal menang. Oh, si nona yang sangat cantik manis yang bagaikan putri kayangan ini, akhirnya bakal menjadi orangku juga…!"
Kwee Ceng juga melihat dan membaca setiap halaman yang dibalik terus oleh Oey Yok Su, ia mendapat kenyataan semua isinya itu sama seperti yang diajarkan Ciu Pek Thong, cuma bagian-bagian yang lompat saja yang tak terbaca tetapi ia tahu itu, sebab ia masih hapal semua ajaran kakak angkatnya si orang tua yang jenaka dan berandalan itu. Ia mengangkat kepalanya, memandang ke arah pohon, ia tidak dapat menduga apa hubungannya ajaran Ciu Pek Thong dengan kitab ini.
Tidak lama, setelah membalik halaman terakhir, Oey Yok Su mengawasi kedua pemuda itu.
"Nah, siapa yang hendak membaca terlebih dulu di luar kepala?" dia menanya.
Sebelum menjawab, Auwyang Kongcu sudah berpikir untuk jawaban itu. Pikirnya: "Isi kitab kacau sekali, sangat sukar untuk dihapalkannya, maka baiklah aku menggunakan ketika aku baru saja habis membaca akan menghapalnya, dengan begitu pastilah aku akan dapat membaca lebih banyak…" Ia mau mengartikan, kesalahannya pastilah lebih sedikit. Karenanya, segera ia menyahuti: "Aku yang menghapal lebih dulu!"
Oey Yok Su mengangguk. "Kau pergi ke ujung rimba ini, jangan kau mendengarkan dia lagi menghapal," ia menitahkan Kwee Ceng.
Kwee Ceng menurut, ia pergi jauhnya beberapa puluh tindak. Oey Yong menjadi girang sekali. Ia pikir inilah saatnya yang paling baik. Bukankah dengan begitu ia bisa mengajak si anak muda kabur bersama? Maka ia lantas angkat kaki, hendak bertindak perlahan-¬lahan menghampir pemuda itu. Akan tetapi mendadak:
"Yong-jie, mari!" memanggil Oey Yok Su. "Kau juga mendengarkan mereka membaca diluar kepala, supaya kau jangan mengatakan aku berat sebelah!"
Mencelos hatinya si nona. Katanya ayah itu adil, tetapi kenyataannya sangat berat sebelah untuknya. Bukankah ia jadi dicegah mendekati Kwee Ceng? maka ia berkata: "Ayah yang berat sebelah, tak usah ayah menyebutkan orang lain!"
Oey Yok Su tidak gusar, bahkan ia tertawa. "Tidak tahu aturan! Mari!" dia memanggil pula.
"Aku tidak mau datang!" sahut si anak, membelar. Di mulut ia mengucap demikian, tapi kakinya bertindak menghampiri. Ia cerdik sekali, ia tahu tabiat ayahnya, kalau si ayah berjaga-jaga, sulit ia kabur pula. Maka ia hendak memikir perlahan-¬lahan, mencari akal. Ketika ia sudah datang dekat, ia memandang Auwyang Kongcu sambil tertawa manis.
"Auwyang Toako, ada apakah sih bagusnya aku?" ia bertanya. "Kenapa kau begini sangat menyukaiku?"
Bukan main girangnya Auwyang Kongcu. Manis sekali si nona. Hingga hatinya berdenyutan. Ini ia tidak sangka.
"Adik, kau…." katanya sangat kegirangan, hingga ia seperti lupa ingatan, tak dapat ia meneruskan kata-katanya.
"Toako, janganlah kau terburu-buru hendak pulang ke See Hek," berkata pula Oey Yong, tetap dengan manis budi. "Kau diamlah di Tho Hoa To ini untuk beberapa hari lagi. Di See Hek itu sangat dingin, bukankah?"
"See Hek itu luas sekali wilayahnya," menyahut Auwyang Kongcu. "Memang di sana ada banyak daerah yang dingin tetapi ada juga yang hangat dan nyaman seperri Kanglam."
"Ah, aku tidak percaya!" berkata lagi si nona, yang membawa aksinya yang menggiurkan. Ia tertawa. "Kau memang paling suka memperdayakan orang!"
Auwyang Kongcu masih hendak melayani bicara, untuk membantah si nona, akan tetapi segera dihalangi oleh Auwyang Hong. See Tok sudah lantas dapat membade maksud Oey Yong si cerdik ini, bahwa sikap manisnya itu adalah daya belaka untuk mengacau otaknya Auwyang Kongcu, supaya pikirannya disesatkan ke lain soal, si keponakan jadi lupa kepada isinya kitab Kiu Im Cin-keng.
"Eh, anak!" demikian menegurnya. "Omongan yang tak perlu baiknya kau bicarakan perlahan-lahan nanti, mari belum kasep. Sekarang lekas kau membaca di luar kepala!"
Auwyang Kongcu terkejut. Memang, karena perhatiannya ditarik Oey Yong, ia dapat melupakan apa yang barusan dihapalnya. Dan benar-benar ada yang ia lupa. Maka lekas-lekas ia memusatkan pikirannya. Sesudah itu, barulah dengan perlahan-¬lahan mulai membaca. Ia berhasil membaca permulaannya, lantas melanjutkan. Tentu saja ia lupa di bagian-bagian yang penjelasan ilmu silatnya sulit, seperti Oey Hujin sendiri tidak ingat seanteronya.
Oey Yok Su tertawa ketika pemuda yang dipenujunya itu selesai membaca. "Kau telah dapat membaca banyak, bagus!" katanya. "Kwee sieheng, mari, sekarang giliranmu!"
Kwee Ceng bertindak menghampiri. Ia melihat Auwyang Kongcu kegirangan, ia kagum, di dalam hatinya ia kata:" Anak ini benar-benar lihay, sekali membaca saja sudah dapat menghapal di luar kepala sedang tulisan itu kacau balau. Benar-benar aku tidak sanggup, maka sekarang baiklah aku menghapal seperti yang Ciu Toako ajari."
Ang Cit Kong melihat sikap muridnya itu, ia tertawa. "Anak tolol, mereka itu sengaja hendak membikin kita bagus ditonton!" Ia berkata. "Baiklah kita mengaku kalah saja!"
"Memang aku pun sebenarnya tak dapat melawan Auwyang Toako," Kwee Ceng membilang.
Mendadak Oey Yong berlompat ke ke atas payon paseban, yang telah roboh sebagian, di sana ia berdiri seraya menghunus pisau belati, yang ia letakkan di depan dadanya. Ia berseru; "Ayah! Jikalau kau memaksa aku ikut si manusia busuk itu pergi ke See Hek, hari ini anakmu akan binasa di depanmu!"
Oey Yok Su kenal baik tabiat anaknya itu. "Letakkan senjatamu!" ia berkata, "Kita dapat berbicara dengan perlahan-lahan."
Sementara Auwyang Hong telah bekerja. Mendadak ia menekan tongkatnya ke tanah, segera terdengar satu suara aneh, terus dari tongkat itu melesat senjata gelap yang luar biasa, menyambar ke arah Oey Yong.
Hebat melesatnya senjata rahasia ini, belum Oey Yong menginsyafinya, pisau belati di tangannya sudah kena terhajar hingga terlepas dan jatuh ke tanah. Dilain pihak tubuh Oey Yok Su pun berkelebat, sedetik saja ia sudah sampai di atas paseban, dimana ia mengulur tangan merangkul pinggang putrinya.
"Benar-benarkah kau tidak sudi menikah?" katanya perlahan. "Baiklah! Mari kau berdiam di Tho Hoa To menemani ayahmu seumur hidup!"
Oey Yong meronta-ronta, ia menangis. "Ayah, kau tidak sayang Yong-jie, kau tidak sayang Yong-jie…!" katanya.
Menyaksikan itu, Ang Cit Kong tertawa berkakak. Ia tidak nyana Oey Yok Su, yang hatinya keras dan telangas, kewalahan melayani putrinya.
Selagi Ang Cit Kong berkpikir begitu, Auwyang Hong berpikir lain. Ia ini kata di dalam hatinya; "Baik aku menanti hingga sudah ada keputusan ujian ini, setelah itu hendak aku membikin habis pengemis tua serta si bocah she Kwee ini. Urusan lainnya pasti gampang diurus belakangan. Anak itu manja sekali, apa aku peduli?"
Karena ini, ia berkata: "Kwee Sieheng lihay sekali, kau sungguh pemuda gagah, maka di dalam ilmu surat kau tentu pandai juga. Saudara Yok, silahkan minta Kwee Sieheng mulai menghapal!"
Itulah kata-kata baik tetapi sebenarnya adalah desakan. "Baiklah," menyahut Oey Yok Su. "Yong-jie, kalau kau mengacau lagi, nanti kacau juga pikiran Kwee Sieheng."
Mendengar itu, benar-benar Oey Yong lantas menutup mulutnya. Auwyang Hong ingin sekali si anak muda mendapat malu, ia mendesak; "Kwee Sieheng, silahkan mulai! Kami ramai-ramai akan mendengar dengan perhatian pembacaanmu di luar kepala."
Muka Kwee Ceng merah seluruhnya.
"Mana dapat aku menghapal?" pikirnya pula. "Baik aku membaca ajarannya Ciu Toako…" Dan lantas ia membaca. Sebenarnya sudah beratus kali ia menghapal "Kiu Im Cin-keng", karena Ciu Pek Tong tak bosannya mengajari, dari itu, ia masih ingat dengan baik semuanya. Demikian kali ini, mulai dengan perlahan, ia menghapal terus, makin lama makin lancar, selama itu tak sepatah kata yang salah atau berlompatan.
Orang semua tercengang. Bukankah bocah ini baru melihat hanya satu kali kitab yang dijadikan ujian itu? Maka kesannya ialah: "Bocah ini cerdas sekali tetapi ia nampaknya tolol. Kiranya dia sebenarnya berotak sangat terang!"
Oey Yok Su heran, apa pula setelah Kwee ceng habis menghapal halaman keempat. Dapat kenyataan, kata-katanya si anak muda lebih rapi daripada kitabnya, seperti ditambahkan sepuluh lipat. Dan itulah memang bunyinya atau isi aslinya "Kiu Im Cin-keng". Karena ini, tanpa merasa ia mengeluarkan peluh dingin.
"Mustahilkah istriku yang telah menutup mata itu demikian cerdas hingga di alam baka dia dapat mengingat kitab yang asli dan dia telah mengajari semuanya kepada pemuda ini?" ia bertanya dalam hati. Selagi ia berpikir, kupingnya mendengar terus suara yang lancar dan terang dari Kwee Ceng, yang menghapal terus-terusan. Maka ia mau percaya benar-¬benar istrinya sudah mewariskannya kepada si anak muda. Ia lantas mengangkat kepalanya, mendongak ke langit, dari mulutnya terdengar suara tak tedas:
“A Heng, A Heng, sungguh kau sangat mencinta kepadaku, hingga kau pinjam mulutnya pemuda ini untuk mengajari aku Kiu Im Cin-keng…… Kenapa kau membiarkan aku tak dapat melihat pula wajahmu barang satu kali lagi? Setiap malam aku meniup serulingku, kau dengarkah itu?"
"A Heng" ialah nama kecil dari Oey Hujin, istri yang Oey Yok Su sangat mencintainya. Nama itu, sekalipun Oey Yong gadisnya, tidak tahu.
Orang banyak heran melihat sikap tocu dari Tho Hoa To ini, air mukanya berubah, air matanya mengembang, dan entah apa yang diucapkannya itu.
Cuma sebentar Oey Yok Su berada dalam keadaan yang luar biasa itu, mendadak ia kembali pada dirinya sendiri. Sekarang ia seperti bermuram durja. Ia mengibaskan tangannya, terus ia menanya Kwee Ceng dengan suara keras, sikapnya bengis: Apakah kitab Kiu Im Cin-keng yang lenyap di tangan Bwee Taiuw Hong terjatuh ke tanganmu?!"
Kwee Ceng terkejut, hatinya pun ciut. "Tee…teecu tidak tahu kitab Bwee Cianpwee itu terlenyap di mana…." sahutnya gugup, suaranya tak lancar. "Jikalau aku mendapat tahu, pasti sekali aku suka membantu mencarinya, untuk dikembalikan kepada tocu…"
Oey Yok Su mengawasi wajah orang dengan tajam, pada tidak nampak kepalsuan, maka maulah ia percaya orang tidak berdusta. Karenanya ia jadi percaya juga yang istrinya, dari dalam alam baka, sudah mewariskannya kepada pemuda ini.
"Baiklah, saudara Cit dan saudara Hong!" katanya kemudian, suaranya terang, "Ini baba mantu pilihan istriku almarhum, maka itu sekarang aku tidak dapat bilang apa-apa lagi. Anak, aku menjodohkan Yong-jie kepadamu, kau haruslah memperlakukan dia baik-baik. Yonng-jie telah termanjakan olehku, dari itu haruslah kau suka mengalah tiga bagian…."
Oey Yong girang bukan kepalang. Ia lantas saja tertawa. Sama sekali ia tidak menjadi likat karena keputusan itu.
"Ayah, bukankah aku anak baik?" ia berkata. "Siapa yang bilang aku telah termanjakan olehmu?"
Kwee Ceng benar tolol tetapi kali ini, tanpa menanti tanda pengajaran dari Oey Yong, sudah lantas ia menekuk lutut di hadapan Oey Yok Su, untuk paykui empat kali seraya memanggil: "Gakhu Tayjin!" Tapi, belum sempat ia bangkit, tiba-tiba Auwyang Kongcu membentak: "Tahan dulu!"
Ang Cit Kong girang bukan main, ia sampai ternganga, tetapi ketika ia mendengar suara Auwyang Kongcu, ia dapat berbicara.
"Apa?!" dia tanya. "Apakah kau belum juga menyerah?"
"Apa yang dibacakan saudara Kwee barusan jauh lebih banyak daripada isinya kitab ini," berkata Auwyang Kongcu. Ia pun rupanya menginsyafi itu. "Mestinya ia telah mendapatkan Kiu Im Cin-keng yang asli! Aku yang muda hendak membesarkan nyali, hendak aku menggeledah tubuhnya!"
"Oey Tocu sudah selesai menjodohkan putrinya, perlu apa kau menimbulkan kerewelan baru?!" Ang Cit Kong menegur. "Kau dengar apa kata pamanmu barusan?"
Matanya Auwyang Hong terbalik. "Aku Auwyang Hong, mana dapat diakali orang?" dia berkata dengan nyaring. Ia mau percaya tuduhan keponakannya dan merasa pasti di tubuh Kwee Ceng ada kitab "Kiu Im Cin-keng" yang asli, bahkan sekejap itu ingin ia merampas kitab itu, hingga ia melupakan Oey Yok Su yang sudah memutuskan pilihan baba mantunya.
Kwee Ceng tidak takut digeledah, dia lantas meloloskan ikat pinggangnya. "Auwyang Cianpwee, silahkan kau periksa!" ia menantang, ia berserah diri. Ia pun terus mengasih keluar segala isi sakunya, yang ia letakkan di atas batu.
Auwyang Hong mellihat semua barang itu adalah uang perak, sapu tangan, batu api dan lainnya, tidak ada kitab, maka ia mengulurkan tangannya ke tubuh si anak muda.
Oey Yok Su kenal baik si See Tok yang sangat licik dan telangas, di dalam murkanya yang sangat dapat menurunkan tangan jahat. Kalau si Bisa dari Barat ini keburu menurunkan tangan, walaupun ia lihay, tidak dapat mengobati menantunya itu. Maka ia hendak mencegah. Sambil batuk-batuk ia lonjorkan tangannya yang kiri, diletakkan di tulang punggung Auwyang Kongcu. Itulah tulang paling penting pada tubuh manusia, asal Tong Shia menurunkan tangannya yang lihay, habis sudah tulang itu, terbinasalah Auwyang Kongcu di situ juga.
Ang Cit Kong dapat melihat sepak terjang Oey Yok Su, ia dapat menduga maksud orang, ia tertawa di dalam hatinya. Pikirnya: "Oey Lao Shia benar-benar sangat memihak! Sekarang ia menyayangi baba mantunya, dia lantas melindungi muridku yang tolol ini…."
Sebenarnya Auwyang Hong juga berniat menggunakan pukulan kodoknya akan menghajar dengan meraba perutnya Kwee Ceng. Asal ia dapat menekan perut itu, selang tiga tahun, Kwee Ceng bakal dapat sakit dan akan mati karenanya. Tapi ia bermata awas, ia dapat melihat penjagaan Oey Yok Su itu, lantas ia membatalkan niatnya. Ia menggeledah tubuh Kwee Ceng, ia tidak mendapatkan barang lainnya. Ia berdiam sesaat. Ia tidak mempercayai almarhum Oey Hujin benar-benar mewariskan kitab itu dari alam baka, untuk memilih menantunya. Setelah itu, ia dapat memikir lainnya lagi.
"Anak ini tolol, memang tak mungkin ia mendusta. Kalau aku menanya padanya, mungkin sekali ia akan memberikan keterangan yang sebenarnya…" Maka ia gerakkan tongkat ularnya, hingga gelang emasnya berbunyi berkontrang, dua ekor ularnya melilit-lilit.
Menampak itu, Kwee Ceng dan Oey Yong mundur bersama. "Kwee Sieheng," Auwyang Hong menanya, suaranya tajam, "Dari manakah kau mempelajari isi kitab Kiu Im Cin-keng ini?"
"Aku ketahui tentang sejilid kitab Kiu Im Cin-keng akan tetapi belum pernah aku melihatnya," menyahut Kwee Ceng, jujur. "Kitab bagian atas ada pada Toako Ciu Pek Thong…"
Ang Cit Kong heran hingga ia menyelak. "Eh, eh, mengapa kau panggil toako kepada Pek Thong?" ia menanya.
"Ciu Toako telah mengangkat saudara dengan teecu," Kwee Ceng menyahut, kembali dengan sejujurnya.
"Yang satu tua bangka, yang lain muda belia, sungguh edan!" tertawa Ang Cit Kong. "Kacaulah aturan peradatan!"
"Kitab bagian bawah?" Auwyang Hong tanya pula.
"Kitab itu telah dibikin lenyap di telaga Thay Ouw, oleh Suci Bwee Tiauw Hong," Kwee Ceng menyahut pula. "Sekarang Bwee Suci sedang dititahkan gakhu untuk mencari kitab itu. Aku telah memikir, setelah memberitahukan kepada gakhu, ingin aku pergi membantu mencari."
Dengan keponakannya, Auwyang Hong saling memandang. "Kau belum pernah melihat Kiu Im Cin-keng, cara bagaimana kau dapat membacanya di luar kepala?" tanya pula Auwyang Hong, kali ini dengan bengis.
"Apakah yang aku baca barusan itu Kiu Im Cin-keng?" Kwee Ceng balik menanya. “Tidak, tidak bisa jadi! Itu Ciu Toako yang mengajari aku menghapalnya!"
Diam-diam Oey Yok Su menghela napas, kelihatannya ia putus asa. "Inilah seperti bicaranya hantu atau malaikat, sungguh sangat samar," pikirnya. "Rupanya benar anakku berjodoh dengan bocah ini, maka segala-galanya terjadi secara kebetulan sekali."
Selagi Tong Shia heran, Auwyang Hong melanjutkan pertanyaannya. "Sekarang ini di mana adanya Ciu Pek Thong?" demikian tanyanya.
Kwee Ceng hendak memberikan penyahutannya, ketika mertuanya memotong: "Anak Ceng, tidak usah kau banyak omong." Kemudian si Sesat dari Timur ini berpaling kepada Auwyang Hong untuk mengatakan "Ini urusan tidak berarti, buat apa dibicarakan panjang-panjang? Saudara Hong, saudara Cit, kita sudah duapuluh tahun tidak bertemu, marilah di pulauku ini kita minum puas-puas selama tiga hari!"
Oey Yong pun segera berkata: "Cit Kong-kong, nanti aku memasakkan kau beberapa rupa sayuran! Bunga teratai di sini bagus sekali, jikalau lembaran bunga itu dimasak ayam tim campur lengkak segar dan daun teratai, pastilah rasanya lezat sekali! Dan kau tentulah akan sangat menyukainya!"
Ang Cit Kong tertawa lebar. "Sekarang telah tercapailah maksud hatimu!" katanya. "Lihat, bagaimana girangmu!"
Digoda begitu, Oey Yong tertawa. "Cit Kong-kong, Auwyang Pepe, dan kau Auwyang Sieheng, silahkan!" ia lantas mengundang. Ia membawa sikap manis terhadap mereka semua, tak terkecuali Auwyang Kongcu.
Auwyang Hong menjura terhadap Oey Yok Su. "Saudara Yok, aku menerima baik kebaikan hatimu," ia berkata. "Saudara, di sini saja kita berpisahan…."
"Saudara Hong," menyahut si tuan rumah, "Kau datang dari tempat yang jauh dan aku belum melakukan kewajibanku sebagai sahabat, mana bisa enak hatiku?"
Sama sekali tidak ada niatnya Auwyang Hong, berdiam lebih lama lagi, karena ia telah putus asa. Sebenarnya ia datang bukan melulu untuk jodoh keponakannya, lebih daripada itu, sesudah pernikahannya sang keponakan ia hendak bekerja sama dengan Oey Yok Su mencari Kiu Im Cin-keng, kitab ajaib itu. Tidak demikian, sebagai ketua suatu partai, mana sudi ia sembarang menaruh kaki di Tionggoan? Pernikahan sudah gagal, ia pun lenyap harapannya, ia menjadi sangat tawar hatinya. Tetapi Auwyang Kongcu, si keponakan berpikir lain.
"Paman," kata Auwyang Kongcu, "Keponakanmu tidak punya guna, ia membikin kau malu, tetapi Oey Peehu telah menjanjikan hendak mengajari keponakanmu semacam ilmu kepandaian…."
Auwyang Hong mengasih dengar suara "Hm!" Ia tahu dengan baik belumlah padam cintanya si keponakan ini terhadap Oey Yong, maka si keponakan masih hendak mencari untuk bisa terus berdekatan dengan nona itu. Alasan belajar adalah alasan yang paling baik. Si keponakan menjadi mungkin mendapat ketika akan merayu-rayu hati Oey Yong hingga si nona akhirnya terjatuh juga ke dalam pelukannya…."
Oey Yok Su dilain pihak juga tidak puas hatinya. Ia telah memberikan janjinya itu karena ia percaya pasti Auwyang Kongcu bakal lulus, maka ia hendak menurunkan semacam pelajaran kepada Kwee Ceng, siapa tahu kesudahannya adalah kebalikan dugaannya itu, ialah Auwyang Kongcu yang jatuh.
"Auwyang Sieheng," ia lantas berkata, "Kepandaian pamanmu adalah yang terlihay di kolong langit ini, tidak ada lain orang yang dapat menandinginya, karena ini adalah warisan keluargamu, sebenarnya tak usah kau mencari dari lain kaum. Hanya apa yang dinamakan Co-to Pang-bun, yaitu ilmu golongan kiri atau sampingan, aku si tua masih juga mempunyai sedikit, maka jikalau sieheng tidak mencelanya, yang mana saja yang aku mengerti, aku suka mengajarkannya padamu."
Auwyang Kongcu sudah lantas berpikir; "Hendak aku memilih yang paling lama dipelajarinya, yang paling meminta waktu. Tocu ini kabarnya mengerti ilmu Ngo¬heng Ki-bun, baiklah aku minta ilmu itu yang tak ada keduanya dikolong langit ini, yang tentu tak habis dipelajari dalam sehari semalam…." Maka ia lantas menjura dan berkata: "Keponakanmu mengagumi ilmu Ngo-heng Ki-bun dari peehu, maka itu aku mohon kebaikan budi peehu untuk mengajariku ilmu itu."
Oey Yok Su berdiam, ia tidak lantas menjawab. Ia merasa sulit. Ngo-heng Ki-bun itu kepandaiannya yang paling utama, sekalipun kepada putrinya ia belum mewariskannya, maka cara bagaimana dapat ia menurunkannya kepada orang luar? Tetapi ia sudah mengeluarkan kata-katanya, tak dapat ia menyesal atau menarik pulang. Maka kemudian menyahutlah ia: "Ilmu Ki-bun itu menggenggam banyak sekali, kau hendak mempelajari yang mana?"
Auwyang Kongcu cuma mengutamakan dapat tinggal selama mungkin di pulau Tho Hoa To ini, maka ia menjawab; "Keponakanmu melihat jalanan di Tho Hoa To ini sangat berliku-liku, pepohonannya pun lebat sekali, aku menjadi sangat menganguminya, maka aku mohon peehu sukalah memperkenankan aku tinggal di sini untuk beberapa bulan. Dengan begitu maka keponakanmu dapat belajar dengan sabar."
Mendengar itu, air muka Oey Yok Su berubah. Ia segera melirik kepada Auwyang Hong. Di dalam hatinya, ia berpikir; "Jadi kau hendak menyelidiki rahasia pulauku ini! Sebenarnya, apakah maksudmu?"
Auwyang Hong sangat cerdik, mengertilah ia sudah akan keragu-raguannya tuan rumah. Maka lantas ia menegur keponakannya: "Kau sungguh tidak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi! Tho Hoa To ini tercipta setelah peehumu menghabiskan hati dan darahnya, pulau ini teratur begini sempurna, bahwa orang luar tidak berani menyerbunya semua mengandal kepada lihaynya ini, dari itu mana dapat peehumu membeberkan kepadamu?"
Oey Yok Su tahu orang menyindir, dengan dingin ia berkata: "Walaupun Tho Hoa To hanya sebuah bukit yang gundul, orang di kolong langit ini belum tentu ada yang sanggup mendatanginya untuk membikin celaka padaku Oey Yok Su!"
Auwyang Hong tertawa. "Aku kesalahan omong, saudara Yok, maaf!" ia memohon.
"Hai, saudara Racun, saudara Racun!" Ang Cit Kong tertawa dan turut berbicara. "Akalmu ini akal memancing kemarahan orang, kau menggunakannya dengan caramu yang kurang jujur!"
Oey Yok Su seperti habis akal, ia selipkan seruling kumalanya di leher bajunya. "Tuan-tuan, silahkan turut aku!" ia mengundang.
Maka berhentilah pembicaraan mereka. Auwyang Kongcu tahu tuan rumah murka, ia melirik kepada pamannya. Auwyang Hong mengangguk, lalu ia bertindak mengikuti tuan rumah. Yang lain-lainnya pun turut mengikutinya.
Jalanan berliku-liku, sekeluarnya dari rimba bambu itu, di depannya mereka terlihat sebuah empang teratai yang besar, yang bunga teratainya sedang mekar banyak, hingga di situ tersebarlah bau harum semerbak yang halus dari bunga yang indah dan bersih itu. Daun-daun teratai pun terampas luas dan lebar. Di tengah-tengah empang ada sebuah jalanan yang memotong untuk tiba di lain tepi, hingga dengan begitu pengempang itu menjadi terbelah dua.
Oey Yok Su berjalan di tengah pengempang itu, memimpin orang banyak ke sebuah rumah yang nampak terawat rapi sekali, yang tiang-tiangnya terbuat dari batang-batang atau bongkol pohon cemara yang tak dibuangi babakannya hingga nampak wajar. Di luar itu pun merambat pohon-pohon rotan yang beroyot. ketika itu ada di musim panas tetapi berada di dalam rumah itu, semua orang merasakan adem.
Oey Yok Su mempersilahkan keempat tetamunya masuk ke dalam kamar tulis dimana bujangnya yang gagu segera menyuguhkan teh, yang airnya berwarna hijau, tetapi setelah dihirup, teh itu dingin bagaikan salju, meresap hingga ke ulu hati.
Ang Cit Kong tertawa, ia berkata: "Orang bilang, sesudah tiga tahun menjadi pengemis, berpangkat pun dia tak sudi, tetapi, saudara Yok, jikalau aku dapat tinggal tiga tahun di dalam duniamu yang begini adem nyaman, menjadi pengemis pun tak sudilah aku!"
"Saudara Cit," menyahut Oey Yok Su, "Jikalau benar kau sudi tinggal untuk suatu waktu denganku di sini, supaya kita kakak beradik dapat minum arak dan mengobrol, itu sungguh hal yang aku memintanya pun tidak dapat."
Ketarik hatinya Ang Cit Kong mendengar suara orang yang sungguh-sungguh itu. Tetapi Auwyang Hong segera berkata; "Kamu kedua tuan, jikalau kau sampai tidak berkelahi, tak usah sampai dua bulan lamanya, pastilah kau berhasil menciptakan semacam ilmu pedang yang luar biasa gaib!"
"Ha, kau mengiri?" tanya Ang Cit Kong tertawa.
"Tapi aku bicara dari hal yang benar!" menyahut Auwyang Hong.
Kembali Ang Cit Kong tertawa. "Ini pun kata-katamu yang di hati lain di mulut lain!" bilangnya.
Dua orang ini tidak bermusuh besar tetapi mereka saling mendendam, di antaranya Auwyang Hong yang memikir dalam dan licik serta licik. Ang Cit Kong yang polos dan terbuka, kalau Cit Kong tidak memikir sesuatu, See Tok sebaliknya menyimpan maksud, sebelum Ang Cit Kong mampus di tangannya, tak mau ia sudah. Hanya ia, karena liciknya, wajahnya tidak kentarakan sesuatu. Demikian kali ini, apapun yang Cit Kong bilang, ia mengganda tertawa.
Oey Yok Su sudah menekan suatu bagian dari mejanya, lalu terlihat di tembok sebelah barat ada sebuah gambar san-sui atau panorama gunung dan air yang bergerak naik sendiri, lalu di situ tampak sebuah pintu rahasia. Ia mengulurkan tangannya ke dalam pintu itu, menarik keluar segulung kertas. Ia mengusap-usap beberapa kali, kemudian memandang Auwyang Kongcu seraya berkata: "Inilah peta lengkap dari Tho Hoa To. Di pulau ini ada jalanan rahasia, jalan keder menuruti jurus patkwa, dan semua itu tercatat di dalam peta ini, sekarang kau ambillah ini, kau mempelajari dengan seksama."
Mendengar itu, si pemuda hilang harapannya. Ia berharap dapat tinggal lebih lama di Tho Hoa To, siapa tahu hanya diberikan sehelai peta. Ia merasa gagal, tetapi meski demikian, ia menjura untuk menyambut peta itu.
Oey Yok Su tidak segera menyerahkan petanya itu. "Tunggu dulu!" katanya.
Auwyang Kongcu melengak, ia menarik pulang tangannya yang sudah diulur itu. "Setelah kau mendapatkan peta ini," berkata Oey Yok Su, "Kau mesti pergi ke Lim-an, dimana kau cari sebuah rumah penginapan atau kelenteng dimana kau dapat tinggal menumpang. Selang tiga bulan, aku nanti perintah orang untuk mengambil peta ini cuma diingat dalam hati, aku larang kau membuat salinannya!"
Mendengar itu, di dalam hatinya, si pemuda berkata: "Kau tidak mengijinkan aku tinggal di pulau ini, siapa sudi memperdulikan segala ilmu sesatmu? Bagaimana dalam tempo tiga bulan aku dapat menolongi kau menjagai kitabmu itu? Jikalau ada kerusakan atau kehilangan, siapa yang dapat bertanggung-jawab. Lebih baik aku tidak mengerjakannya!" Hampir ia menampik, ketika mendadak sebuah pikiran lain masuk ke dalam otaknya: "Dia kata hendak memerintah orang datang mengambilnya nanti, tentulah ia bakal mengutus gadisnya ini. Ini pun sesuatu yang baik untuk berada dekat si nona…." Maka ia lantas mengubah pula pikirannya, terus mengulur tangannya, menyambut peta itu, yang ia masukkan ke dalam sakunya.
Auwyang Hong segera mengangkat kedua tangannya, untuk pamitan. Oey Yok Su tidak menahan lagi, malah ia segera mengantarkannya hingga di muka pintu.
"Saudara Berbisa," berkata Ang Cit Kong. "Di akhir tahun kembali tiba saatnya perundingan ilmu pedang di gunung Hoa San, maka itu baik-baik saja kau memelihara dirimu, supaya nanti kita dapat bertempur secara hebat!"
Auwyang Hong menyahut dengan tawar. Katanya: "Menurutku baiklah kita tidak usah saling berebut lagi! Sekarang ini pun sudah ada ketentuannya siapa yang bakal menjadi orang yang ilmu silatnya paling lihay di kolong langit ini!"
"Eh, sudah ada orangnya?" menanya Ang Cit Kong heran. "Mungkinkah kau, saudara Beracun, sudah berhasil menciptakan semacam ilmu silat baru yang tak ada bandingannya lagi?"
Auwyang Hong tersenyum. "Apa sih kebisaan dan kebijakasaannya Auwyang Hong hingga dapat memperoleh gelaran orang yang ilmu silatnya nomor satu di kolong langit ini?" ia berkata, "Yang aku maksudkan ialah orang yang telah memberi pelajaran kepada Kwee Sieheng ini."
Mendengar itu, Ang Cit Kong tertawa. "Adakah kau maksudkan aku si pengemis bangkotan? Kalau benar, aku mesti memikir-mikirnya dulu! Kepandaian saudara Yok bertambah sekian hari, kau sendiri, saudara Berbisa, kau juga makin gagah dan panjang umur, sedang Toan Hongya itu aku percaya dia juga tidak akan mensia-siakan kepandaiannya, maka aku rasa, tinggallah aku si pengemis yang terbelakang."
"Tetapi, saudara Cit," berkata Auwyang Hong pula, "Di antara orang-orang yang pernah memberi pelajaran kepada Kwee Sieheng belum pasti kaulah yang terlihay….."
"Apa?!" menegaskan Ang Cit Kong. Ia baru mengucap sepatah itu, Oey Yok Su sudah memotong; "Ah, apakah kau maksudkan Loo Boan Tong Ciu Pek Thong si Bocah Bangkotan yang nakal?"
Pertanyaan ini diajukan kepada Auwyang Hong.
"Benar!" menyahut See Tok cepat. "Karena Loo Boan Tong sudah pandai ilmu Kiu Im Cin-keng, maka kita si Tong Shia, See Tok, Lam Tee dan Pak Kay, kita semua bukan lagi tandingan dia!"
"Hal itu belumlah pasti," berkata Tong Shia, "Kitab itu mati, ilmu silat itu hidup!"
Senang See Tok mendengar perkataan tuan rumah. Mulanya ia tidak puas, ialah ketika Tong Shia mencoba menyimpangkan pertanyaannya kepada Kwee Ceng tentang di mana adanya Ciu Pek Thong. Sekarang muncullah pula soalnya Ciu Pek Thong itu. Karena ia pandai bersandiwara, ia tidak menyatakan sesuatu pada wajahnya, bahkan sengaja dengan tawar ia berkata;
"Ilmu silat Coan Cin Pay lihay sekali, kita semua pernah belajar kenal dengannya, maka kalau Loo Boan Tong ditambah dengan Kiu Im Cin-keng, umpama kata Ong Tiong Yang hidup pula, belum tentu ia sanggup menandingi adik seperguruannya ini, jangan kata pula kita si tua bangka!"
"Mungkin Loo Boan Tong lihay melebihi aku tetapi tidak melebihi kau, saudara Hong," berkata Oey Yok Su. Ia tidak mau menyebutnya "Saudara Beracun" seperti Ang Cit Kkong. "Ini aku tahu pasti."
"Jangan kau merendah, saudara Yok," berkata See Tok. "Kita berdua adalah setengah kati sama dengan delapan tail. Kalau kau membilang seperti katamu barusan, maka teranglah ilmu silatnya Ciu Pek Thong tak dapat melampaui kau! Ini, aku khawatir….." Ia lantas berhenti, kepalanya digelengkan berulang-ulang.
Oey Yok Su bersenyum. "Lihat saja di Hoa San tahun depan!" katanya. "Di sana saudara Hong akan mengetahuinya sendiri!"
Auwyang Hong mengawasi, ia mengasih lihat roman sungguh-sungguh. "Saudara Yok, ilmu silatmu telah lama aku mengaguminya," katanya, "Akan tetapi jikalau kau bilang dapat mengalahkan Ciu Pek Thong, sungguh aku sangsi. Jangan kau memandang enteng kepada si tua bangka berandalan itu…"
Biar bagaimanapun, Oey Yok Su kena dipancing panas hatinya oleh See Tok. "Kau tahu, Loo Boan Tong berada di pulau Tho Hoa To ini!" katanya nyaring. "Sudah lima belas tahun lamanya aku mengurung dia!"
Mendengar itu, Auwyang Hong dan Ang Cit Kong terperanjat. Hanya si Bisa dari Barat sudah lantas tertawa bergelak.
"Saudara Yok gemar sekali bergurau," katanya.
"Mari!" berkata Oey Yok Su yang tidak sudi berbicara banyak lagi, tangannya pun menunjuk, bahkan dia berjalan di depan dengan tindakan yang cepat, hingga bagaikan terbang dia jalan molos di rimba bambu.
Ang Cit Kong mengikuti, sebelah tangannya menuntun Kwee ceng, sebelah yang lain Oey Yong. Auwyang Hong pun menarik tangan keponakannya. Semua mereka menggunakan ilmu meringankan tubuh.
Hanya sebentar, mereka sudah sampai di muka gua di mana Ciu Pek Thong dikurung, hanya setibanya disitu, Oey Yok Su menperdengarkan suara kaget. ia telah lihat rusaknya kawat-kawat kurungan di muka gua. Dengan satu enjotan ia lompat, ke muka gua yang segalanya sunyi dan tak nampak sekalipun bayangan si bocah bangkotan yang lucu itu.
Dengan kaki kirinya, Tong Shia menginjak tanah, tiba-tiba ia terperanjat. Ia merasakan kakinya seperti menginjak barang lembek dan tanah kosong. Tapi ia telah sempurna ilmu meringankan tubuhnya, maka lekas menyusullah kaki kanannya, hingga ia dapat berlompat, masuk ke dalam gua.
Sekarang ia melihat dengan tegas kosongnya gua. Tapi yang hebat adalah kakinya kembali menginjak tanah lembek dan kosong seperti tadi. Tentu sekali, tidak dapat ia menaruh kakinya. Maka ia lantas mengasih keluar serulingnya, menggunakan itu untuk menekan dan menolak tembok gua, dengan begitu tubuhnya pun melesat keluar.


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar