Justru itu Kwee Ceng mengajukan diri. "Biarlah murid yang maju lebih dulu!".
Liok Seng Hong menjadi tidak enak hati mendengar Tiauw Hong menentang Liok Koay dan Liok Koay menyambutnya. Ingin ia mengajukan diri sebagai penengah tetapi tidak dapat menghampiri mereka, ia pun tidak mempunyai cukup pengaruh. Maka itu, mendengar suaranya Kwee Ceng, satu pikiran berkelebat di otaknya.
"Tuan-tuan, tahan dulu!" dia mencegah. "Aku minta sukalah kau dengar dulu padaku. Bukankah diantara kalian sudah ada yang meninggal? Maka itu menurutku, pertempuranan ini baiknya dibatasi menang dan kalah dengan saling towel saja, jangan ada yang saling melukai. Liok Koay melawan satu, walau itu sudah seharusnya, aku anggap masihlah kurang adil. Maka itu, aku minta biarlah Bwee Suci main-main saja dengan Kwee Laotee. Setujukah kalian?"
Bwee Tiauw Hong tertawa dingin. "Mana dapat aku menempur segala bocah tak bernama?" katanya.
Tapi Kwee Ceng berani, katanya dengan nyaring, "Suamimu aku yang membunuh, apa sangkut pautnya dengan semua suhuku?"
Tiba-tiba saja Tiauw Hong menjadi gusar sekali.
"Betul!" serunya. "Mari aku bunuh dulu dirimu, bangsat cilik!" Dengan mendengar suara orang, ia ketahui di mana beradanya orang, segera ulur tangan kirinya ke batok kepala si bocah.
Kwee Ceng berkelit. katanya dengan nyaring: "Bwee Cianpwee, ketika dulu itu aku kesalahan membinasakan Tan Cianpwee, disebabkan usiaku yang muda dan aku belum tahu apa-apa, tetapi untuk itu aku berani bertanggung jawab, maka kamu berurusanlah denganku, aku tidak akan melarikan diri! Bagaimana jikalau dibelakang hari kau masih mencari keenam guruku?"
"Benarkah kau demikian laki-laki, hingga kau tidak bakal kabur?" menegaskan Tiauw Hong.
"Pasti tidak!" jawab si anak muda mantap.
"Baiklah, ganjalanku dengan Kanglam Liok Koay aku bikin habis! Mari bocah, kau turut aku!"
"Bwee Suci!" Oey Yong berteriak. "Dia pun laki-laki sejati! Kau nanti ditertawakan orang-orang kangouw!"
"Apa?" tanya Tiauw Hong gusar.
"Dia ahli waris satu-satunya dari Kanglam Liok Koay!" kata si nona. "Sekarang kepandaiannya Kanglam Liok Koay tidak sama lagi seperti dulu, maka jikalau mereka hendak mengambil nyawamu, gampangnya sama seperti mereka membalikkan telapak tangan! Hari ini mereka memberi ampun dirimu, itu artinya mereka telah memberi muka, tetapi kau tidak tahu selatan, kau masih membuka mulut besar!"
"Fui! Aku menghendaki diampuni mereka? Eh, Liok Koay, benarkah kau telah memperoleh kemajuan besar? Mari, kita coba-coba!"
"Perlu apa sampai mereka sendiri turun tangan?" berkata pula Oey Yong. "Sekalipun muridnya seorang diri, kau tidak dapat memenangkannya!"
Tiauw Hong bergusar hingga ia berkoakan. "Jikalau dalam tiga jurus aku tidak dapat membikin dia mampus, di sini juga aku akan membenturkan diriku hingga binasa!" teriaknya.
Si Mayat Besi ingat pertempurannya sama Kwee Ceng di dalam istana, ia tahu baik kepandaian orang, ia hanya tidak mendapat tahu, sesudah berselang beberapa bulan, pemuda ini telah mendapat didikan Kiu Cie Sin Kay dan kepandaiannya telah maju pesat sekali.
"Baiklah!" tertawa Oey Yong. "Semua orang di sini menjadi saksinya! Tiga jurus terlalu sedikit, aku beri batas sampai sepuluh jurus!"
"Tidak," berkata Kwee Ceng. "Aku akan menemani cianpwee main-main limabelas jurus!"
"Sekarang mintalah Liok Suko serta tetamu dengan siapa suci datang bersama untuk tolong menghitungnya!" berkata Oey Yong pula.
Tiauw Hong heran. "Siapa yang menemani aku datang ke mari?" tanyanya. "Aku datang seorang diri. Perlu apa aku memakai kawan?"
"Habis itu siapa di belakang suci?" Oey Yong tanya.
Dengan tiba-tiba Tiauw Hong menyambar ke belakang, cepatnya bukan main.
Orang tidak melihat si baju hijau berkelit, tahu-tahu dia telah lolos dari sambaran itu. Sampai itu waktu, anehnya, ia masih terus membungkam. Tiauw Hong tidak menyerang pula tetapi ia lantas merasakan sesuatu. Ketika itu malam ia melayani Auwyang Kongcu bertempur diwaktu ia mendengar suara seruling, yang membebaskan ia dari kurungan barisan ular, ia telah menghaturkan terima kasih ke tengah udara, sebab ia tak tahu siapa si peniup suling yang membantunya itu. Sejak itu ia merasakan ada suatu apa di belakangnya, sia-sia belaka segala pertanyaannya dan sambarannya, ia tidak mendapatkan hasil, sampai ia mau merasa mungkin ia kurang sehat, hingga mau ia menerka kepada hantu. Sekarang, mendengar perkataan Oey Yong itu, ia tidak ragu-ragu lagi. Tentu saja ia menjadi kaget sekali.
"Kau siapa?!" ia tanya, suaranya menggetar. "Mau apa kau selalu mengikutiku?!"
Orang itu tidak menjawab, ia seperti tidak mendengar.
Tiauw Hong lompat menubruk. Kembali ia gagal. Nampaknya orang itu tidak bergerak tetapi ia tidak kena diserang.
Semau orang menjadi kaget dan heran. Pastilah orang itu lihay luar biasa.
Liok Seng Hong sudah lantas menegur, katanya, "Tuan, dari tempat yang jauh kau datang kemari, aku belum sempat menyambutnya, silahkan duduk! Maukah Tuan minum arak?"
Kembali si baju hijau tidak menyahut, bahkan ia membalikkan tubuhnya, untuk berlalu.
"Kaukah yang meniup seruling menolongku?" tanya Tiauw Hong.
Orang heran. Tiauw Hong ditolong orang itu? Orang pun heran, lihay sebagai dianya, si Mayat Besi ini tidak ketahui orang sudah berlalu.
"Bwee Suci, orang itu sudah pergi?" Oey Yong memberitahu.
"Dia sudah pergi?" Tiauw Hong heran.
"Ya, dia sudah pergi," menerangkan Oey Yong. "Pergi kau susul dia, jangan kau main galak-galak di sini!"
Tiauw Hong menjublak sekian lama, wajahnya berubah-ubah. Nampaknya ia berduka. Lalu mendadak dia berseru,: "Bocah she Kwee, kau sambutlah!" Lalu dua tangannya bergerak, sepuluh jari tangannya nampak seperti api yang marong. Toh ia tidak menyerang.
"Aku di sini," Kwee Ceng menjawab.
Baru saja ia mendengar "Aku" tangan kanan Tiauw Hong sudah berkelebat menyusul mana tangan kirinya, dengan lima jarinya, menyambar ke muka orang.
Kwee ceng lihat serangan itu, ia mengegos tubuhnya, sembari berkelit, ia menyerang dengan tangan kirinya.
Tiauw Hong dapat mendengar suara serangan, ia hendak menangkis tapi sudah tidak keburu, dengan mendatangkan suara, pundaknya kena dihajar hingga ia mundur tiga tindak. Karena ia telah diserang dengan salah satu jurus dari Hang Liong Sip-pat Ciang. Tapi ia lihay luar biasa, lekas sekali ia berbalik dan tangannya menyambar.
Inilah Kwee Ceng tidak sangka dan ia menjadi kaget sekali, tapi sia-sia, karena segera ia telah kena dicekal lengan kanannya pada tiga jalan darah Iwee-kwan, gwa-kwan dan hwee-cong. Sebenarnya ia senantiasa siap sedia dan berjaga-jaga, ia mendengar keterangan guru-gurunya tentang lihaynya Kiu Im Pek-ku Jiauw, sekarang toh ia kena tercekal. Ia menjerit celaka, separuh tubuhnya menjadi lemas. Disaat berbahaya itu ia masih ingat untuk berdaya. Ia tekuk dua jeriji tangan kanannya, jeriji telunjuk dan tengah, dengan itu ia menyerang ke dada lawannya. Seharusnya serangan itu disusul dengan serangan tangan kiri tetapi tangan kirinya itu tercekal lawan, terpaksa ia mennggunakan sebelah tangan saja. Ini pun ada suatu jurus dari Hang Liong Sip-pat Ciang.
Bwee Tiauw Hong dapat mendengar serangan ini, yang anginnya luar biasa. Ia tidak menangkis, ai berkelit, tidak urung ia kena terhajar juga, hanya sebab ia berkelit itu, yang menjadi sasaran ke pundaknya. Ia merasakan dorongan yang keras sekali, hingga terpaksa ayun tangannya melepas cekalan.
Kwee Ceng menyerang seraya berbareng mencoba menarik diri, untuk meloloskan tangannya yang dicekal, karena dilepaskan, tubuhnya terpental. Sebaliknya tubuh si Mayat Besi terdampar karena serangannya itu. Maka keduanya sama-sama terhuyung mundur, punggung mereka masing-masing mengenai pilar.
Besar dan tangguh pilar itu, benturan tidak menyebabkannya patah atau roboh, akan tetapi akibat benturan membuatnya genteng dan batu pecah dan meluruk jatuh.
Banyak chungteng menjadi kaget, sambil berteriakan mereka lari keluar.
Kanglam Liok Koay saling mengawasi, mereka heran juga girang.
"Darimana anak Ceng mendapatkan pelajaran ini?" mereka saling menanya di dalam hati. Han Po Kie sampai melirik kepada Oey Yong, karena ia menduga mestilah si nona yang mengajarinya.
Pertempuran sudah berjalan terus. Kedua pihak sama-sama mengeluarkan kepandaiannya. Tiauw Hong berkelahi dengan sengit, karena ia gusar dan penasaran. Kwee Ceng berlaku gesit dan waspada. Si Mayat Besi berlompatan ke delapan penjuru, angin menyambar-nyambar.
Kwee Ceng ingat pelajaran Ang Cit Kong tentang ilmu "Lok Eng Ciang", ia tetap bersilat dengan Hang Liong Sip-pat Ciang, ia putar balik semua lima belas jurusnya. Ia berhasil dengan cara berkelahi ini. Bukan limabelas, bahkan sudah hampir limapuluh jurus. Tiauw Hong masih belum berhasil merobohkan atau menawan lawannya seperti bermula tadi. Bahkan untuk mendesak saja ia tak sanggup.
Oey Yong menonton dengan tertawa atau tersenyum-senyum, mukanya yang boto menjadi manis sekali. Sedang Kanglam Liok Koay berdiri terbengong-bengong. Liok Seng hong pun mnejublak bersama putranya.
"Hebat kemajuan Bwee Suci ini," tuan rumah berpikir, "Kalau aku mesti melawan dia, dalam sepuluh jurus saja pastilah aku telah kehilangan jiwaku… Tapi ini Kwee laotee yang masih begini muda, kenapa dia begini lihay? Oh, sungguh mataku kabur! Syukur aku perlakukan dia dengan hormat, tidak sampai aku berlaku tak kurang hormat terhadapnya…"
Sampai di situ Oey Yong berseru, "Bwee Suci, sudah enam puluh jurus lebih! Masihkah kau tidak mau menyerah?"
Tiauw Hong mendongkol bukan kepalang. Dengan latihannya beberapa puluh tahun, ia tidak sanggup menjatuhkan satu bocah. Lantaran ini, ia tidak ambil mumat suaranya Oey Yong, bahkan sebaliknya, ia menyerang dengan lebih hebat, sambarannya dilakukan saling susul dengan cepat luar biasa. Ia tidak merasa dengan begitu ia nyata kalah imbangan. Bukankah kedua matanya buta? Bukankah karena kemurkaannya, ia jadi tidak dapat memusatkan pikiran? Di pihak lain, Kwee Ceng awas kedua matanya, lincah tubuhnya. Pemuda ini telah menghisap darah ular dan memperoleh Hang Liong Sip-pat Ciang.
Pertempuran berlanjut sampai seratus jurus lebih. Setelah ini, Wee Tiauw Hong dapat juga berpikir. Ia mulai meraba-raba ilmu silat lawannya yang cilik ini. Ia merasa tidak dapat ia menyerang dari dekat. Maka ia menjauhkan diri dari Kwee ceng setombak lebih. Ingin ia membuatnya lawan itu letih.
Memang juga disebabkan usianya muda dan latihannya belum sempurna, lama-lama Kwee Ceng berkurang kelincahannya.
Oey Yong tahu kawannya bisa celaka, maka ia berteriak-teriak pula: "Bwee Suci, seratus jurus sudah lewat! Sudah hampir duaratus jurus! Apakah kau tetap tidak hendak menyerah?!"
Tiauw Hong berlagak tuli, ia menyerang tak hentinya.
Bingung juga Oey Yong, tetapi dasar licik, segera ia mendapat akal.
"Engko Ceng, lihat aku!" ia memanggil. Ia melompat ke depan pilar.
Dua kali Kwee Ceng berkelit, untuk menjauhkan diri, mendengar suara Oey Yong, ia menoleh. Begitu melihat orang lari memutari pilar, ia sadar. Maka ia pun lompat ke pilar itu.
Tiauw Hong mengetahui kemana orang menyingkir, ia lompat menyusul.
Tepat di dekat pilar, Kwee Ceng berkelit, lari ke belakang pilar itu. Ia baru berkelit, sambarannya Tiauw Hong sudah tiba, tepat lima jarinya nancap di pilar itu, yang disangka tubuh musuh. Bukankah ia cuma mengandalkan suara angin?
Kwee Ceng tidak cuma bersembunyi, ia pun membalas menyerang. Tapi hebat tenaga menolak dari Tiauw Hong, meski si Mayat Besi terpental, ia pun mesti mundur juga. Lima jarinya Tiauw Hong terlepas dari pilar.
Tiauw Hong bertambah gusar, saking sebatnya, ia sudah berlompat pula untuk menyerang lagi. Hebat untuk Kwee Ceng yang belum sempat memperbaiki diri, kendati dia dapat berkelit, tidak urung bajunya kena kesambar hingga robek dan lengannya kena terlanggar. Syukur untuknya, ia tidak terluka. Ia menjadi gentar hatinya. Tapi ia melawan terus, malah ia membalas menyerang. Habis itu baru ia melompat pula mundur ke belakang pilar itu. Sengaja ia mengasih dengar suara, hingga Tiauw Hong menyambar pula. Kali ini lima jari si Mayat Besi kemabli nancap di pilar itu.
Barulah kali ini Kwee Ceng tidak menyerang.
"Bwee Cianpwee," ia berkata, "Kepandaianku tidak dapat melayani kau, sukalah kau menaruh belas kasihan padaku."
Dengan kata-katanya ini, si bocah telah memberi muka. Ia tidak kalah, mungkin ia lebih ungggul. Dengan mengandalkan pilar, ia toh tak bakalan kalah. Tapi ia suka mengalah.
Bwee Tiauw Hong menyahut dengan dingin: "Jikalau kita mengadu kepandaian, setelah tiga jurus aku tidak dapat mengalahkan kau, seharusnya aku mesti menyerah. Tapi sekarang kita bukan lagi mengadu kepandaian, aku hanya hendak menuntut balas, meski aku sudah kalah bertaruh, toh aku mau berkelahi terus! Tidak dapat tidak, mesti aku membunuh kau!"
Kata-kata ini disusul dengan serangan saling susul, dengan tangan kiri tiga kali, tangan kanan tiga kali juga, semuanya mengenai pilar, sembari menyerang secara hebat, dia berseru. Serangannya yang terakhir adalah dua tangan berbareng, hebat kesudahannya, dengan menerbitkan suara nyaring, pilar itu patah bagian tengahnya!
Semua hadirin adalah orang-orang lihay, walaupun mereka kaget, mereka toh dapat menolong diri. Semuanya lantas melompat keluar. Koan Eng lompat setelah ia sambar ayahnya, yang ia pondong. Boleh dibilang sekejap saja, runtuhlah sebagian ruangan itu.
Celaka untuk Toan Tayjin, si komandan tentara, ia tidak keburu, maka ia ketimpa dan ketindihan kedua kakinya. Ia menjerit-jerit meminta tolong.
Wanyen Kang lantas maju untuk menolong, dalam kekacauan itu, hendaknya keduanya lantas melarikan diri, akan tetapi disaat mereka memutar tubuh, mendadak mereka merasakan punggung mereka kaku, tak tahu mereka siapa yang sudah menotoknya.
Bwee Tiauw Hong sendiri memperhatikan Kwee ceng seorang. Diwaktu si anak muda lompat, ia pun lompat menyusul, maka itu setibanya mereka di depan, yaitu di luar ruangan, di mana cahaya rembulan guram, keduanya sudah bertempur pula. Anginnya gerak-gerik mereka berdesiran, dan tulang-tulang Bwee Tiauw Hong berbunyi berperetekan. Perempuan ini jauh lebih hebat daripada di dalam tadi.
Kali ini Kwee Ceng terdesak betul-betul. Segera ia mengalami ancaman bahaya tendangan si Mayat Besi. Kaki kanan wanita lihay itu bergerak, menyambar ke arah kaki lawan. Kalau tendangan ini mengenai tepat, pasti patahlah kaki si anak muda. Tapi Tiauw Hong tidak menendang terus, baru setengah jalan, ia sudah menarik pulang, diganti dengan uluran tangan kiri ke arah kaki kiri lawannya.
Koan Eng kaget ia menjerit, "Hati-hati!" Ia ingat, itulah serangan berbahaya yang ia peroleh dari Wanyen Kang, hingga ia kena dikalahkan pangeran itu.
Dalam bahaya seperti itu, Kwee Ceng menggerakkan tangan kirinya menangkis tangan Tiauw Hong. Ia masih cukup gesit tetapi tenaganya sudah berkurang. Tiauw Hong lihay sekali, begitu kedua tangan bentrok, ia mengerti kurangnya tenaga si bocah. Ia lantas memutar tangannya, tiga jerijinya, kelingking, manis dan tengah sudah lantas menggurat ke belakang telapak tangan lawan. Kwee Ceng menginsyafi ancaman itu, ia menyerang dengan tangan kanannya, hebat sekali. Kalau lawan tidak menyingkir, mereka akan bercelaka dua-duanya!
Tiauw Hong berkelit lompat ke samping, terus ia tertawa panjang.
Kwee Ceng merasakan panas dan sakit sekali pada belakang tangannya, ketika ia melihat, ada tiga guratan yang tidak mengeluarkan darah. Itulah luka yang membikin ia merasa sakit, berwarna hitam. Mendadak ia ingat sembilan buah tengkorak yang Tiauw Hong meninggalkannya di puncak gunung Mongolia dan Ma Giok membilangnya, tangan itu ada racunnya. Ia menjadi kaget sekali.
"Yong-jie, aku terkena racun!" katanya pada kekasihnya. tapi, tanpa menanti jawaban, ia berlompat menyerang Tiauw Hong, kedua tangannya dikasih bekerja. Ia cuma tahu perlu membekuk wanita lihay ini, untuk memaksa ia mengeluarkan obat pemunahnya, tanpa itu jiwanya tidak akan ketolongan lagi…
Tiauw Hong merasakan sambaran angin, ia melompat berkelit.
Oey Yong, begitupun yang lainnya, mendengar suara Kwee Ceng, menjadi kaget sekali. Boleh dibilang serempak, dimulai dari Kwa Tin Ok, mereka itu lompat maju mengurung si Mayat Besi.
"Bwee, Suci!" Oey Yong berteriak. "Kau sudah kalah, kenapa kau masih bertempur terus? Lekas kau keluarkan obat pemunahnya untuk menolong dia!"
Tiauw Hong tidak menjawab, ia lebih perhatikan serangan lawan. Ia girang sekali, di dalam hatinya ia kata: "Semakin kau mengeluarkan tenaga, semakin hebat bekerjanya racun! Taruh kata hari ini aku terbinasa di sini, aku toh sudah berhasil membalaskan sakit hati suamiku!"
Kwee ceng mulai merasakan matanya kabur dan kepalanya pusing, seluruh tubuhnya terasa tidak enak, bahkan lengan kirinya lemas, hingga ia mulai berpikir untuk tidak berkelahi lebih jauh. Itulah tanda bekerjanya racun. Coba ia tidak minum darah ular, mungkin ia sudah lantas roboh binasa.
Oey Yong melihat wajah orang tidak wajar. "Engko Ceng, lekas mundur!" ia berteriak. Ia pun hendak menerjang.
Terbangun semangatnya Kwee Ceng mendengar suara si nona, ia menyerang dengan tangan kirinya. Ia menggunakan jurus ke sebelas dari Hang Liong Sip¬pat Ciang yang dinamakan "Menunggang enam naga". Lengannya bergerak lambat.
Oey Yong semua dapat melihat serangan itu. Disaat itu mereka jusru hendak menyerang. Perlahan serangan Kwee Ceng itu, Bwee Tiauw Hong tidak menangkis atau berkelit. Jitu serangan itu, pundak si Mayat Besi menjadi sasaran. Mendadak saja ia jatuh berguling.
Inilah diluar dugaan. Sebabnya ialah, karena serangan datangnya perlahan, Tiauw Hong tidak mendengarnya. Dia mengandalkan kupingnya saja sebab matanya tidak dapat melihat.
Oey Yong tercengang, tetapi Han Po Kie, Lam Hie Jin dan Coan Kim Hoat sudah lantas lompat menubruk, dengan niat membekuk si Mayat Besi.
Tiauw Hong lihay sekali. Dengan gerakkan kedua tangannya, ia berontak. Po Kie dan Kim Hoat kena dibikin mental. Lalu sebelah tangannya meneruskan menyambar Hie Jin. Atas ini, si orang she Lam membuat diri jatuh bergulingan.
Cepat sekali Tiauw Hong lompat bangun. Justru ia hendak menaruh kakinya, tinjunya Kwee Ceng tiba dipunggungnya. Hebat serangan itu, sekali lagi ia roboh. Juga tinju itu datang tanpa suara. Hanya karena serangan tidak keras, ia tidak terluka.
Setelah dua kali menyerang, Kwee Ceng terhuyung, ia roboh dengan sendirinya. ia roboh di samping Tiauw Hong. Oey Yong lompat mengasih bangun padanya.
Tiauw Hong mendengar suara orang di dekatnya, tanpa ayal lagi, tangannya menyambar, lima jari tangannya bekerja. habis itu, ia mendi kaget. Lima jeriji tangannya dirasakan gatal sekali. Ia baru sadar, telah kena tubuh Oey Yong, tangannya menancap di baju lapis joan-wie-kah dari si nona. Dalam kagetnya ia lompat dalam gerakan "Ikan gabus melentik".
Justru itu terdengar seorang berseru: "Ini untukmu!"
Cu Cong mendengar suara itu, ia segera menoleh, terlihatlah menyambar suatu barang ke arah Bwee Tiauw Hong, siapa sudah lantas menangkis. Tepat tangkisannya itu, barang itu mengeluarkan suara keras, rusak dan jatuh. Nyata itu adalah sebuah kursi.
Menyusul terdengar angin dari datangnya suatu barang lain, yang terlebih besar. Kali ini si Mayat Besi mengulur tangan kirinya, menangkap. Dan ia kena pegang suatu barang lebar dan licin. Sebab itulah sebuah meja yang berada di samping Cu Cong, yang patah kakinya tertimpa pilar. Penyerangnya pun Cu Cong sendiri. Habis itu Tiauw Hong menendang meja itu. Berbareng dengan itu, Cu Cong, mengulur tangan kanannya, memasuki tiga benda bergerak ke leher bajunya si wanita lihay.
Tiauw Hong kaget hingga ia menggigil. Ia merasakan barang yang hawanya dingin nelusup ke dadanya. Ia menduga senjata rahasia yang aneh atau permainan ilmu dukun. Ia lantas merogoh, untuk menangkapnya. Ia kena pegang beberapa ekor ikan emas. Tapi yang membuatnya kaget luar biasa ialah tangannya tidak dapat meraba botol obat di dalam sakunya, obatnya lenyap berbareng bersama pisau belatinya serta kitab Kiu Im Cin-keng. Ia sampai berdiri berjublak saja.
Si cerdik Cu Cong sudah menggunakan tiga ekor ikan emas itu untuk menyimpangkan perhatian Bwee Tiauw Hong yang lihay. Itulah ikan-ikan emas, yang lolos dari jambangannya sebab jambangannya pecah ketimpa runtuhan. Diwaktu memasuki ikan itu ke leher baju, ia sekalian menyambar isi saku orang. Setelah itu dengan cepat ia membuka tutup botol kecil itu, yang dibawanya ke hidungnya Tin Ok, "Bagaimana?" tanyanya.
"Untuk dimakan dan ditarohkan, inilah obatnya!" berkata saudara tua itu, yang ahli dalam pemakaian obat beracun.
Tiauw Hong dapat mendengar pembicaraan orang, ia sadar, dengan berlompat, ia menerjang. Tapi ia disambut tongkatnya Tin Ok, cambuknya Han Po Kie, dacinnya Coan Kim Hoat dan pikulannya Lam Hie Jin. Ia hendak mengeluarkan cambuknya sendiri ia batalkan dengan mendadak karena pedangnya Han Siauw Eng menikam ke arah dadanya.
"Kasih dia makan, torehkan padanya!" kata Cu Cong pada Oey Yong, ia serahkan obat pemunah racun itu. Dilain pihak, ia sesapkan pisau belatinya si Mayat Besi kepada muridnya seraya memberitahukan: "Ini pisau kepunyaanmu." Setelah itu, dengan mainkan kipas besinya, ia membantu saudara-saudaranya mengepung musuh yang lihay itu.
Habet pertempuran itu, karena berselang sepuluh tahun, Kanglam Liok Koay telah memperoleh kemajuan pesat.
Seng Hong dan anaknya heran menyaksikan pertempuran itu. Mereka beranggapan, "Tiauw Hong benar-benar lihay, tetapi pun jago-jago Kanglam itu tidak bernama kosong." Tapi Seng Hong sudah lantas berseru: "Tuan-tuan, berhenti dulu! Mari dengar aku!"
Orang lagi bertarung hebat, tidak ada yang pedulikan teriakan itu, mereka itu bertarung terus.
Tidak lama sehabisnya makan obat, Kwee Ceng mulai sadar. racun itu menyerang cepat tetapi perginya cepat juga. Lukanya masih menimbulkan rasa sakit tapi tidak mengganggu gerakan lengan kirinya yang terluka itu. Maka itu setelah memasukkan piasu belati ke dalam sakunya, ia berlompat bangun dari rangkulannya Oey Yong. Ia maju ke gelanggang pertempuran, untuk berkelahi pula. Seperti tadi, ia menyerang dengan gerakan perlahan, pada saatnya baru ia mengerahkan tenaganya.
Tiauw Hong repot melayani musuh-musuhnya, ia juga tidak mendengar sambaran angin dari serangan si anak muda, tahu-tahui ia sudah kena terhajar. Kembali ia roboh. Justru itu senjatanya Po Kie dan Hie Jin turun ke arah tubuhnya.
"Suhu, ampunkan dia!" berseru Kwee Ceng, yang menangkis sejata kedua gurunya itu. Liok Koay menurut, mereka lantas berlompat mundur.
Tiauw Hong masih hendak membela diri, ia bersiap sedia dengan cambuknya, cambuk Tok-liong-pian yang beracun.
Kwee Ceng tidak menyerang lebih jauh, ia hanya berkata pada wanita lihay itu: "Hari ini baiklah pertempuran diakhiri secara baik! Kami tiak hendak membikin susah padamu, kau pergilah!"
Tiauw Hong suka menyimpan cambuknya.
"Kau kembalikan kitabku!" katanya.
Cu Cong melengak. "Aku tidak mengambil kitabmu!" katanya. "Kau tahu sendiri, tidak pernah Kanglam Liok Koay berdusta!"
Ia tidak tahu kertas kulit manusia di luar pisau belati adalah rahasia Kiu Im Cin-keng.
Tiauw Hong tahu Kanglam Cit Koay jujur, karena ini ia mau percaya kitabnya pastilah telah terjatuh selagi ia bertempur, dari itu ia lantas berdongkol dan meraba-¬raba ke tanah. Sekian lama ia bekerja, tidak berhasil mendapatkan barang yang dicarinya.
Menyaksikan orang rape-rape itu, semua orang merasa kasihan juga. Tidakkah ia buta walaupun ia sangat lihay?
Seng Hong lantas saja berkata: "Suci, di sini benar-¬benar tidak ada barangmu! Mungkin kau kena bikin hilang di tengah jalan…"
Tiauw Hong tidak menjawab, ia pun tidak berhenti bekerja.
Sekonyong-koyong banyak orang berkelebat, lalu di hadapan mereka muncul pula si baju hijau, yang gerakan tubuhnya bagaikan kilat. Tahu-tahu dia sudah mencekal punggung Bwee Tiauw Hong, yang terus diangkat, untuk dibawa pergi. Perginya pun lenyapnya dalam sekejap, lenyap di antara pepohonan di luar Kwie-in-chung itu.
Begitu lihaynya si Mayat Besi, ia tidak berdaya.
Semua orang melongo, mereka saling memandang. Sunyi si sekitar mereka, kecuali suara gelombang, yang nanti terdengar, nanti tidak….
Masih selewat sekian lama, barulah Kwa Tin Ok memecahkan kesunyian. Ia berkata kepada tuan rumah: "Murid kami telah menempur wanita jahat itu, karena kami merusak rumahmu, tuan, kami sangat menyesal."
"Jangan berucap demikian, tayhiap," Seng Hong berkata, "Justru aku girang sekali tayhiap semua serta muridmu datang ke mari. Justru aku hendak menghaturkan terima kasihku, sebab kalau tidak, mungkin rumahku ini bakal ludas."
"Aku minta sukalah semua tuan duduk beristirahat," Koan Eng menimpali ayahnya dengan sikap yang ramah tamah. "Saudara Kwee, apakah lukamu tidak sakit?"
"Tidak," sahut Kwee Ceng. Tapi, baru ia menutup mulutnya, tiba-tiba terlihat si baju hijau bersama Bwee Tiauw Hong, datangnya tidak nampak.
Bwee Tiauw Hong berdiri dengan menolak pinggang, ia berkata dengan nyaring, "Eh, bocah she Kwee, kau sudah menghajarku dengan Hang Liong Sip-pat Ciang ajarannya Ang Cit Kong, karena mataku buta, aku tidak dapat melihat semua gerakanmu! Aku tidak ambil mumat, tetapi jikalau hal ini tersiar di kalangan kangouw, sampai ada yang membilang Bwee Tiauw Hong tidak sanggup melawan muridnya si pengemis, bukankah itu akan meruntuhkan nama guruku dari pulau Tho Hoa To? Maka itu mari, mari kita mencoba sekali lagi!"
Kwee Ceng berlaku sabar dan jujur.
"Sebenarnya aku bukanlah tandinganmu," ia berkata, "Dengan mengandalkan matamu yang tidak dapat melihat, aku dapat melindungi jiwaku. Aku sudah menyerah sejak-sejak siang."
"Hang Liong Sip-pat Ciang terdiri dari delapanbelas jurus, kenapa kau tidak menggunakan itu semuanya?" Tiauw Hong tanya.
"Oleh karena sifatku tolo….." sahut Kwee Ceng. Justru itu Oey Yong memberi tanda supaya ia jangan membuka rahasia, tetapi ia berkata terus, "Ang Locianpwee cuma ajarkan aku limabelas jurus."
"Bagus!" kata Tiauw Hong pula. "Kau cuma bisa limabelas jurus, Bwee Tiauw Hong telah jatuh di tanganmu! Apakah benar Ang Cit Kong, si pengemis tua bangkotan itu demikian lihay? Tidak, tidak bisa, kau mesti mencoba bertempur pula denganku!"
Orang menjadi heran dan cemas. Nyata Tiauw Hong bukan hendak membalas sakit hati saja. Di sini ada bibit bentrokan di antara Oey Yok Su dan Ang Cit Kong.
Kwee Ceng masih berlaku sabar. Ia kata, "Nona Oey yang begitu muda masih bukan tandinganku, apapula kau? Ilmu silat dari Tho Hoa To adalah ilmu silat yang paling kukagumi…"
"Eh, Bwee Suci, kau masih hendak membilang apa lagi?" Oey Yong tanya. "Mustahilkah di kolong langit ini ada orang yang terlebih lihay daripada ayahku?"
"Tidak bisa, kita mesti bertempur satu kali lagi!" Tiauw Hong berkukuh. Ia tutup perkataannya itu dengan sambaran tangannya.
Kwee Ceng berkelit. Sampai di situ ia habis sabarnya.
"Kalau begitu, silahkan Bwee Cianpwee memberikan pengajaran padaku!" katanya. Ia lantas menyerang dengan hebat, suara anginnya mendesir.
Tiauw Hong mengancam dengan cengkeramannya.
"Kau gunakan serangan yang tak ada suaranya!" kata wanita kosen ini. "Dengan pukulanmu yang bersuara itu, kau bukan tandinganku!"
Kwee Ceng berlompat beberapa tindak.
"Guruku she Kwa yang besar budinya tidak leluasa matanya," berkata Kwee Ceng, "Kalau lain orang menggunakan tinju tak bersuara menghina dia, aku mestinya sangat membenci lawannya, karena itu, mana dapat aku berlaku demikian terhadapmu? Tadi aku telah tergores racunmu, untuk membela diri aku menggunakan tinju tanpa suara. Kalau sekarang kita bertempur pula dengan aku menggunai caraku itu, aku tidak berlaku secara terhormat."
Mendengar suara orang bersungguh-sungguh, hati Tiauw Hong tergerak juga. "Ini anak muda baik hatinya," ia berpikir. Tapi ia membentak: "Aku menitahkan kau berkelahi dengan tinjumu tanpa suara, aku ada punya caraku untuk memecahkannya! Perlu apa kau banyak rewel seperti wanita tua?!"
Kwee Ceng melirik kepada si baju hijau, ia berpikir; "Mungkinkah dalam sekejap saja ia telah mengajarkan wanita ini ilmu memecahkan pukulanku tanpa bersuara itu?" Tapi karena orang sangat mendesak, ia menyahut: " Baiklah, Bwee Cianpwee, aku akan mencoba melayani kau lagi limabelas jurus!"
Pemuda itu memikir untuk mengulangi limabelas jurus itu, umpama kata ia tidak bisa menghajarnya, ia pun dapat membela diri. Ia lantas melompat maju, ia mulai menyerang dengan perlahan. Justru itu segera ia mendengar suara "Ser" di sampingnya, ia dapatkan tangannya Tiauw Hong sudah menbangkol ke arah lengannya, orang seperti melihat gerakan tangannya - tangan kiri yang dipakai untuk menyerang itu, terus ia menggeser ke kiri, dari sini mengulangi serangan, tetap dengan cara ayal-ayalan.
Kembali ia menjadi heran. Baru tangannya dikeluarkan, Tiauw Hong seperti sudah mengetahui serangannya itu, ia mendahului menyerang - cepat melawan lambat. Ia berkelit, ia kurang sebat, hampir ia kena dijambret. Segera ia lompat mundur.
"Aneh ia tahu aku bakal menyerang, sekarang ia dapat mendahuluku, inilah terlebih aneh pula…." berpikir anak muda ini. Ia lantas menyerang untuk ketiga kalinya dan dengan "Hang Liong Ya Hui" atau "Naga Menyesal", pukulannya yang paling lihay.
Kembali terdengar suara "Ser" seperti tadi, kembali tangan berkuku dari Tiauw Hong sudah menyambar ke lengan penyerangnya.
Pengalaman membuat Kwee Ceng cerdik. Ia menduga kepada suara "Ser" itu. Ia lalu menyerang pula untuk keempat kalinya, sembari menyerang ia melirik kepada si orang berbaju hijau itu. Sekarang ia melihat nyata orang menyentil sebutir batu kecil, batu mana melesat ke udara, suara ser-nya terdengar pula.
"Ah, benar-benar dialah yang memberi petunjuk!" pikirnya. "Hanya kenapa ia kenal ilmu silatku ini? Kenapa ia tahu ke mana tinjuku bakal menuju…?" Ia berpikir terus, hingga ia ingat: "Ya, aku ingat sekarang. Tempo hari Yong-jie bertempur sama Nio Cu Ong, Ang Cit Kong saban-saban memecahkan dulu rahasia pukulannya Cu Ong itu, sekarang orang itu menggunakan cara itu…. Baiklah setelah limajurus, aku mengaku kalah…."
Pertempuran itu berlangsung terus, selalu Kwe Ceng menjadi pihak si penyerang. Kemudian terdengar tiga kali suara ser- ser, ialah sentilannya si baju hijau, atas itu, dari pihak diserang, Tiauw Hong berbalik menjadi pihak penyerang. Tiga kali beruntun ia menyerang, Kwee Ceng bisa membebaskan diri, lalu dua kali ia membalas.
Sekarang para penonton pun dapat melihat si baju hijau itu memberi petunjuk kepada Bwee Tiauw Hong, mereka heran. Pertempuran sendiri berjalan bertambah hebat, anginnya berdesir-desir, saban¬-saban tercampur suara ser itu.
Oey Yong benar-benar cerdik, ia segera dapat memikir akal. Dia-diam ia memungut hancuran bata, lantas ia menelad orang. Ia berlaku licin, ada kalanya ia menyerang ke udara, ke tempat kosong, di lain saat, ia serang lansung batunya si baju hijau. Dengan ini ia hendak membikin kacau Tiauw Hong. Tapi hebat si baju hijau, kapan batunya kena terpukul, batu itu justru mengasih dengar suara lebih nyaring, petunjuknya tidak terganggu.
Tuan rumah ayah dan anak dan Kanglam Liok Koay heran. Kenapa sentilan itu demikian lihay? Panah peluru pun tidak sehebat itu! Bukankah celaka kalau orang kena tersentil?
Oey Yong berhenti mengacau, ia menjublak mengawasi si baju hijau.
Di gelanggang pertempuran, Kwee Ceng sudah lantas kena terdesak, serangannya si Mayat Besi menjadi lebih berbahaya.
Tiba-tiba ada terdengar dua suara nyaring, lalu terlihat dua butir batu menyerang ke udara - yang di depan rada kendor, yang di belakangnya lebih cepat, lantas yang di depan itu kena disusul, kena diserang, maka terdengarlah suara beradunya kedua batu itu, yang memancarkan lelatu api hancurannya terbang berhamburan. Justru itu, Tiauw Hong lompat kepada lawannya untuk menubruk, sedang Kwee Ceng berlompat untuk menyingkir.
Sekonyong-konyong Oey Yong menjerit, "Ayah!" lalu ia lari ke arah si baju hijau itu, yang ia terus tubruk untuk memernahkan diri dalam rangkulan orang itu. Ia menangis terus ia berkata: "Ayah, kenapa, kenapa muka ayah berubah menjadi begini rupa…?"
Itulah kejadian diluar dugaan, karenanya si baju hijau itu berdiri menjublak
Kwee Ceng lekas berpaling, ia dapatkan Tiauw Hong berdiri di hadapannya, kupingnya lagi dipasang untuk mendengar suara ser seperti tadi. Inilah saatnya, ia tak mau kasih lewat, maka ia ulur tangannya perlahan-lahan ke arah pundak wanita lihay itu. Hanya ketika ia menepuk, ia menggunakan tenaga seluruhnya. Ia menyerang dengan tangan kanan yang segera disusul dengan tangan kiri!
Tidak lama kemudian, Bwee Tiauw Hong roboh berjumpalitan, terus rebah, tak dapat bangkit lagi!
Seng Hong mendengar Oey Yong memanggil ayah, hanya sejenak ia berdiam, lalu ia menjadi kaget berbareng girang, sampai ia melupakan kakinya yang sakit, ia mencelat dengan niat melompat kepada si baju hijau. Tapi celaka untuknya, ia terguling di tempat kosong.
Si baju hijau lantas merangkul Oey Yong dengan sebelah tangannya, tangannya yang lain dibawa ke mukanya, di situ ia menarik kulit mukanya, maka di lain saat ia telah memperlihatkan muka yang lain. Nyatalah ia memakai topeng kulit yang tipis sekali.
Belum kering airmata Oey Yong ia berseru kegirangan, dia merampas topeng kulit itu untuk dipakai di mukanya, kemudian merangkul ayahnya lagi, sembari memeluk leher orang dia tertawa dan berjingkrakan. Sebab baju hijau yang aneh kelakuannya, yang luar biasa sebat gerakan tubuhnya, adalah Oey Yok Su, tocu pemilik dari Tho Hoa To, pulau bunga Tho.
"Ayah, kenapa kau datang ke mari?" kemudian si anak menanya. "Tadi si tua bangka she Kiu mencaci kau, kenapa kau tidak memberi hajaran?"
"Kenapa aku datang ke mari?" balik menanya si ayah, romannya keren. "Aku justru mencari kau!"
Oey Yong girang bukan kepalang.
"Ayah, maksud hatimu telah kesampaian!" serunya. "Bagus! Bagus!" ia menepuk tangan.
"Maksud hati apakah?!" berkata si ayah. "Apakah untuk mencari kau si budak!"
Oey Yong terharu hatinya. Ia tahu ayahnya pernah mengangkat sumpah yang berat, mengambil ketetapan akan berdiam terus di Tho Hoa To untuk meyakinkan Kiu Im Cin-keng, supaya ia menjadi jago yang tak ada tandingannya di kolong langit ini, maka bukan main menyesalnya ketika ia mendapat kenyataan sebagian dari kitabnya itu dicuri Tan Hian Hong dan Bwee Tiauw Hong, kedua muridnya. Tentu sekali dengan lenyapnya kitab itu menggagalkan peryakinannya. Dalam murkanya ia bersumpah tidak akan meninggalkan pulaunya. Tapi anak daranya itu nakal, anak itu buron, untuk mencari si anak, dia telah melangggar sumpahnya sendiri, dia meninggalkan pulaunya.
"Ayah," berkata si anak kemudian, "Ayah, selanjutnya aku akan menjadi anak yang baik, yang sampai matipun nanti mendengar katamu."
Mendapatkan putrinya tidak kurang suatu apapun, Oey Yok Su sangat girang, sekarang ia mendengar janji anaknya itu, hatinya menjadi lega sekali.
"Kau pimpin bangun sucimu," ia memerintah.
Oey Yong mengasih bangun Bwee Tiauw Hong.
Koan Eng pun segera mengangkat bangun ayahnya, mereka berdua mengasih hormat kepada guru atau kakek gurunya.
Oey Yok Su menghela napas.
"Seng Honh, kau baik sekali, kau bangun," katanya. "Dulu hari itu aku sudah keburu nafsu, aku telah berbuat tidak pantas terhadapmu…."
Sang murid menangis sesenggukan.
"Apakah guru baik?" tanyanya dengan susah.
"Syukur aku tidak mati karena orang membikin aku mendongkol," sahut gurunya itu.
Oey Yong memandang ayahnya, ia tertawa nakal.
"Toh ayah maksudnya bukan aku?" katanya.
"Kau pun termasuk sebagiannya!" kata ayah itu. "Hm!"
Anak itu mengulur panjang lidahnya.
"Ayah, mari aku ajar kau kenal dengan beberapa sahabat!" katanya kemudian. "Inilah Kanglam Liok Koay yang kesohor dalam dunia kangouw, merekalah gurunya engko Ceng."
Oey Yok membuka lebar matanya, ia tidak perdulikan Liok Koay. "Aku tidak mau ketemu orang luar!" katanya kaku.
Kanglam Liok Koay tidak puas atas keangkuhan orang itu, tetapi karena orang terlalu besar namanya, mereka terpaksa diam.
Kemudian Oey Yok Su berkata kepada anaknya: "Kau ada barang apa hendak dibawa pulang! Pergilah lekas ambil, mari kita pulang bersama!"
"Tidak ada apa-apa," sahut si anak tertawa. "Ada juga hendak dipulangi kepada Liok Suko." Ia merogoh sakunya, mengeluarkan obat Kiu-hoa Giok-louw-wan, yang ia terus angsurkan kepada Seng Hong. Ia kata, "Suko, terimalah kembali obatmu ini. Tidak gampang untuk membikin ini, bersama engko Ceng aku telah menerima dua butir, itu pun sudah cukup, aku bersyukur sekali."
Seng Hong tidak menyambuti, ia hanya berkata pada gurunya: "Hari ini teecu bertemu guru, hatiku girang bukan main. Obat ini hendak aku menghaturkan kepada suhu. Umpama suhu sudi berdiam di rumahku ini untuk beberapa waktu, aku terlebih-lebih…."
Oey Yok Su tidak menjawab, hanya ia menunjuk kepada Koan Eng.
"Inikah anakmu?" tanyanya.
"Ya," sahut sang murid.
Tanpa dititah lagi, Koan Eng memberi hormat pula dengan paykui empat kali seraya berkata; "Cucu murid memberi hormat kepada sucouw!"
"Sudahlah!" kata kakek guru itu, ia bukannya memimpin orang bangun, ia justru menyambar ke punggung, mencekal bajunya, untuk mengangkat tubuhnya, lalu dengan tangannya yang lain ia memukul ke arah pundak.
Seng Hong kaget sekali.
"Suhu, ini anakku satu-satunya…." ia kata.
Hajaran Oey Yok Su ini membuatnya Koan Eng jumpalitan, terpelanting tujuh atau delapan tindak, lalu terjungkal.
"Kau baik," ia terus berkata kepada muridnya. "Kau tidak mewariskan kepandaiamu kepadanya! Adakah ia murid dari Hoat Hoa Cong?"
Hati Seng Hong lega. Ia tahu guru itu lagi menguji anaknya.
"Tidak berani teecu melanggar aturan suhu," ia berkata cepat. "Tanpa ijin dari suhu, tidak berani teecu mengajarkan kepandaian suhu kepada lain orang. Memang anak ini adalah muridnya Kouw Bok Taysu dari Hoat Hoa Cong…"
"Hm!" kata guru yang bengis itu. "Kuow Bok dengan kepandaiannya semacam ini berani menyebutkan dirinya Taysu! Mulai besok kau sendiri yang mengajarkan anakmu ini!"
"Taysu" itu berarti guru besar.
Bukan main girangnya Seng Hong. "Lekas kau menghaturkan terima kasih kepada sucouw!" ia menyuruh kepada anaknya.
Koan Eng tahu diri, lekas-lekas ia memberi hormat pula, dengan berlutut empat kali lagi.
Oey Yok Su tidak melihat lagi kepada ini cucu murid, ia pun tidak memperdulikannya.
Melihat sikap gurunya ini, Seng Hong berdiam. Sebenarnya ia girang bukan main. Ia menyesal tidak dapat mengajari sendiri pada putranya ini, sampai ia kirim putranya itu pada lain guru. Dengan tidak mewariskan kepandaiannya kepada anaknya, ia kecewa sekali. Maka perkenana suhunya ini membikin ia bersyukur.
"Siapa kesudian obatmu ini!" kata si guru, yang mendelik kepada muridnya. "Kau ambillah ini!"
Oey Yok Su menggerakkan tangannya, dua lembar kertas putih lantas terbang ke arah muridnya itu.
Jarak di antara guru dan murid itu ada setombak lebih tetapi kertas itu melayang bagaikan layangan ke arah si murid, yang menyambutnya.
Menyaksikan itu, Kanglam Liok Koay kagum sekali.
Pun Oey Yong sangat puas.
"Engko Ceng, bagaimana kau lihat kepandaian ayahku ini?" ia berbisik kepada Kwee Ceng.
"Ayahmu hebat sekali," sahut si engko Ceng. "Yong-jie, kalau kau sudah pulang nanti, jangan kau termaha memain saja, kau mesti belajar dengan sungguh-sungguh."
"Kau toh turut bersama!" kata si nona, cemas hatinya. "Mustahilkah kau tidak turut?"
"Aku hendak mengikuti suhuku," sahut Kwee Ceng. "Lewat sedikit waktu, aku akan pergi menjengukmu."
Oey Yong menjadi sangat gelisah. "Tidak! Tidak!" katanya. "Aku tidak mau berpisah denganmu!"
Kwee ceng menyeringai. Sebenarnya ia pun berat berpisahan dari si nona.
Seng Hong sendiri lantas membeber kertas, ia melihat banyak huruf-hurufnya. Koan Eng lekas mengambil api, untuk menyuluhi, maka ayahnya segera dapat kenyataan, itulah pengajaran ilmu silat. Ayah ini pun masih mengenali tulisan tangan gurunya, yang sudah duapuluh tahun tak nampak. Huruf-huruf gurunya itu masih tetap bagus dan keren. Di lembar pertama, di sebelah kanan, yang paling atas, ada empat huruf "Sauw yap twie hoat". Jadi itulah ilmu menendang. Ia tahu, itulah ilmu yang bersama "Lok Eng Ciang" menjadi keistimewaan gurunya. Dari enam murid, tidak ada satupun yang diwariskan ilmu itu. Coba dulu ia dapatkan ilmu itu, alangkah girangnya, tetapi pun sekarang, ia pun sekarang masih bisa mengajari anaknya. Maka ia simpan baik-baik kertas itu, kepada gurunya ia memberi hormat sambil menghanturkan terima kasih.
"Ilmu tendangan ini tidak sama dengan pengajaranku dulu”, Oey Yok Su memberitahu. "Jalannya mirip tetapi di mulai dengan latihan tenaga dalam. Kau menyakinkan ini sambil duduk bersemadhi, selang lima enam tahun, kau nanti dapat berjalan tanpa bantuan tongkat!"
Seng Hong girang dan terharu, ia sangat bersyukur.
"Kakimu tidak dapat diobati lagi, bersilat di bawah pun kau tidak dapat," berkata si guru itu, "Tetapi jikalau kau bersungguh-sungguh mengikuti pelajaranku ini yang baru, kau nanti dapat berjalan tak sulit seperti orang yang kakinya tak bercacad. Ah…." Ia menyesal yang dulu hari, karena menuruti hawa amarahnya, ia sudah siksa keempat muridnya tanpa mereka itu bersalah dosa. Tapi dasar beradat keras, ia tidak sudi akui kekeliruannya itu. Hanya ia memesan: "Pergilah kau cari tiga adik seperguruanmu dan kau ajari mereka ilmu ini…"
Seng Hong menyahut "ya", lalu ia menambahkan: "Tentang sutee Leng Hong Kiok, tak pernah teecu mendengarnya. Tetapi kedua sutee Boe dan Phang, sudah lama mereka itu menutup mata…"
Oey Yok Su bersedih, lalu sinar matanya yang tajam itu beralih kepada Bwee Tiauw Hong. Lain orang melihat sinar mata itu, mereka terkejut. Syukur Tiauw Hong sendiri tidak melihatnya.
"Tiauw Hong!" berkata guru itu dingin, "Kau sebenarny terlalu jahat, tapi kau juga telah menderita hebat. Tapi si tua bangka she Kiu ngoceh menyumpahi aku mati, kau mengucurkan air mata, kau juga hendak menuntut balas untukku, maka itu, dengan memandang beberapa tetes air matamu, suka aku membiarkan kau hidup beberapa tahun lagi."
Tiauw Hong tidak menyangka gurunya dengan begitu gampang saja memberi ampun padanya, saking girang, ia lantas menjatuhkan diri ke tanah, untuk memberi hormat, menghanturkan terima kasih.
"Baik,baik," kata guru itu yang dengan perlahan menepuk punggungnya tiga kali.
Tiauw Hong merasakan sakit tidak terkira, hampir ia pingsan, dengan suara menggetar ia memohon: "Suhu, teecu ketahui kedosaanku tak terampunkan, maka itu teecu mohon sekarang juga kau menghukum mati, tetapi bebaskanlah teecu dari siksaan Hu-kut-ciam….."
Hu-kut-ciam adalah jarum rahasia yang ditusukkan ke tulang-tulang. Tentang ini Tiauw Honjg pernah mendengar dari Btan Hian Hong. Katanya itulah senjata rahasia guru mereka, bahwa asal tubuh lawan kena ditepuk perlahan, jarum itu akan masuk ke dalam daging dan nancap di sambungan tulang-tulang, sakitnya bukan main, sebab jarumnya dipakaikan racun. Katanya pula, lambat jalannya racun itu, maka setiap hari enam kali orang akan tersiksa racun hebat, lalu selang lima bulan barulah sang kematian datang. Semakin lihay ilmu silat orang, semakin hebat penderitaannya.
Mengetahui ini, Tiauw Hong putus asa, maka itu habis mengeluh, mendadak ia menggerakkan cambuknya menghajar kepalanya sendiri, untuk menghabiskan jiwanya. Tapi Oey Yok Su sangat lihay, belum orang tahu apa-apa, cambuk itu sudah kena dia rampas. Dengan dingin guru ini berkata: "Kenapa tergesa-gesa? Untuk mati tidaklah gampang!"
Mendengar perkataan gurunya, Tiauw Hong menduga ia bakal disiksa, supaya ia menderita, karenanya ia menoleh kepada Kwee Ceng, samil tertawa meringis ia kata: "Aku berterima kasih kau telah membunuh suamiku, dengan begitu lelaki busuk itu dapat kematiannya dengan enak sekali!"
Oey Yok Su tidak pedulikan apa yang muridnya itu bilang, ia hanya kata: "Jarum Huu-kut-ciam ini baru bekerja sesudah lewat satu tahun, selama tempo satu tahun ini , aku berikan tiga macam tugas yang kau mesti rampungkan, habis itu kau boleh datang ke pulau Tho Hoa To untuk menemuiku, aku mempunyai daya untuk mencabut jarum itu."
Girang Tiauw Hong mendengar gurunya ini.
"Biar mesti menerjang api berkobar, teecu nanti lalukan titah suhu itu!" ia berkata.
Tapi gurunya mengasih dengar suara dingin sekali ketika ia berkata; "Taukah kau apa yang hendak aku menitahkan kau melakukannya hingga kau dapat menerimanya begini cepat?"
Tiauw Hong tidak berani menyahuti, ia menunduk saja.
Oey Yok Su segera memberitahukan tiga syaratnya itu.
"Yang pertama," demikian katanya, "Kiu Im Cin¬keng yang kau bikin lenyap itu mesti cari dan mendapatinya kembali untuk dikembalikan padaku! Jikalau kitab itu dapat dilihat orang lain, dia mesti dibinasakan! Seorang yang melihat, seorang yang dibunuh, seratus orang melihat, seratus orang juga yang mesti dibunuh! Umapama kau cuma membunuh sembilanpuluh sembilan orang, jangan kau kembali padaku!"
Bergidik orang yang mendengar syarat itu. Kanglam Liok Koay berpikir: "Orang menyebutnya Oey Yok Su sebagai Tong Shia, si Sesat dari Timur, kelakuannya ini benar-benar sesat sekali…."
"Sekarang yang kedua," Oey Yok Su berkata pula, "Tiga saudaramu Boe, Phang dan Kiok telah menderita karena perbuatanmu, sekarang kau pergi cari Leng Hong, setelah itu kau cari tahu dua saudara Boe dan Phang itu ada mempunyai turunan atau tidak, semua turunan mereka itu kau bawa ke Kwie-in-chung ini, serahkan kepada Seng Hong, supaya ia yang mengurusnya."
Tiauw Hong memberikan janjinya.
Seng Hong pun berpikir, dapat ia berbuat untuk syarat yang kedua itu tetapi sebab ia kenal baik adat gurunya itu, ia berdiam saja.
Oey Yok Su angkat kepalanya mendongak ke langit, mengawasi bintang-bintang.
"Kitab Kiu Im Cin-keng itu kamulah yang mengambilnya sendiri," ia berkata pula. "Ilmu dalam kitab itu aku tidak mengajarkan kamu, kamu sendiri yang mempelajarinya. Kamu tahu apa yang harus kau perbuat?" ia berdiam sejenak. "Nah, inilah yang ketiga."
Tiauw Hong tidak segera dapat menerka apa maksud gurunya, sekian lama ia berpikir keras. Akhirnya ia sadar juga. Maka dengan suara menggetar ia kata: "Sesudah teecu berhasil membereskan yang pertama dan yang kedua itu, teecu ketahui bagaimana harus menghabiskan sendiri kedua ilmu Kiu Im Pek-kut Ciauw serta Cwie-sim-ciang yang teecu berhasil meyakinkannya.
Kwee Ceng tidak mengerti, ia tarik tangan bajunya Oey Yong, dengan sinar matanya memain, ia tanya si nona.
Oey Yong agaknya merasa berat tetapi dengan tangan kanannya ia membacok ke tangan kirinya. Melihat ini, pemuda itu mengerti, di dalam hatinya ia berkata: "Oh, kiranya dia hendak mengutungi tangannya sendiri. Bwee Tiauw Hong ini memang jahat sekali, hanya setelah ia insyaf, kenapa ia mesti dihukum secara demikian hebat? Mesti aku minta Yong-jie memohonkan ampun…"
Tengah pemuda ini berpikir demikian, Oey Yok Su berpaling padanya seraya menggapai. "Kaukah yang bernama Kwee Ceng?" ia menanya.
Kwee Ceng segera maju memberi hormat sambil menjura.
"Teecu Kwee Ceng menghadap Oey Locianpwee," katanya hormat.
"Tan Hian Hong yang menjadi murid kepalaku, kau yang membinasakan, kepandaianmu bukan main," kata Oey Yok Su.
Kwee Ceng terperanjat. Suara tak berkesan baik untunya. Tapi ia lekas menjawab: "Ketika itu teecu masih muda sekali dan belum tahu apa-apa, teecu kena tertangkap oleh Tan Cianpwee, dalam ketakutan dan bingung, teecu kesalahan tangan telah membinasakannya…."
"Hm!" Oey Yok Su memperdengarkan suara yang dingin. "Tan Hian Hong memang benar adalah murid murtad dari kalanganku, tetapi untuk membinasakannya, adalah hak kami. Apakah murid-¬murid dari Tho Hoa To boleh di bunuh orang luar?!"
Kwee Ceng tidak dapat menjawab, ia diam.
"Ayah," Oey Yong berkata, "Ketika itu dia baru berumur enam tahu, tahu apa dia?"
Oey Yok Su tidak melayani putrinya, ia seperti tidak mendengar perkataan orang.
"Si pengemis tua she Ang itu biasanya tidak suka menerima murid," katanya sejenak kemudian. "Tetapi sekarang ia mengajarkan kau Hang Ling Sip-pat Ciang sampai limabelas jurus, tentu kau punya sifat-sifat baik yang melebihi orang lain. Kalau tidak demikian, pasti kau bujuk dia dengan akal, yang membuat hatinya girang, hingga ia suka menurunkan kepandaiannya. Kau telah menggunakan kepandaian si pengemis tua untuk merobohkan - hm,hm! Kalau nanti si pengemis itu bertemu dengan aku, bukankah ia bakal banyak bacot?"
Kembali Oey Yong memotong perkataan ayahnya.
"Ayah, memang benar ada digunai bujukan!" katanya sambil tertawa. "Tetapi bukan dia yang mengakalinya, hanya aku! Dia seorang yang polos, jangan ayah berlaku galak dan membuatnya ketakutan."
Oey Yok Su tidak melayani gadisnya. Sebenarnya semenjak istrinya menutup mata, ia sangat menyayangi gadisnya ini, karena itu anaknya menjadi manja. Demikian sudah terjadi, karena ditegur ayahnya, Oey Yong minggat. Tadinya Oey Yok Su menyangka, sebagai seorang wanita, setelah buron, anaknya bakal menderita sekali, siapa tahu, anak itu sehat dan tetap manja seperti biasa. Melihat anak itu agak rapat sekali pergaulannya sama Kwee Ceng, padahal dia kurang rapat dengan ayahnya sendiri, ia menjadi tidak puas. Maka itu, ia kata pula pada si anak muda: "Dengan si pengemis tua mengajarkan kau ilmu silat, kau terang sudah menertawakan partaiku tidak ada orangnya, bahwa setiap muridku tidak punya guna…"
Oey Yong bisa menerka hati ayahnya, yang tidak senang Tiauw Hong dikalahkan dengan Hang Liong Sip-pat Ciang, kembali ia menyela: "Ayah, siapakah bilang partai Tho Hoa To tidak ada orangnya? Dia ini beruntung sebab mata Bwee Suci buta! Nanti aku bikin ayah puas!" Ia lantas lompat ke depan seraya berseru, "Mari, mari! Nanti aku gunakan kebisaan biasa saja yang ayah ajarkan aku melayani kepandaian istimewa Ang Cit Kong!" Ia menantang Kwee ceng, ia tahu kepandaiannya sudah maju jauh sekali hingga hampir seimbang dengannya, kalau dalam beberapa puluh jurus mereka berdua bertanding seri, itu saja sudah cukup untuk membikin puas ayahnya.
Kwee Ceng dapat mengerti maskud si nona, justru Oey Yong tidak bilang apapun, ia menerima tantangan. Tetapi ia kata: "Biasanya aku kalah dari kau, baik aku biarkan kau menghajarku dengan beberapa gebukan lagi!" Bahkan ia ayun tangan kanannya seraya melompat maju.
"Lihat tanganku!" Oey Yong pun berseru seraya ia membacok dengan tangannya.
Itulah bacokan dari samping, dengan satu jurus dari ilmu silat Lok Eng Ciang.
Kwee Ceng melayani dengan Hnag Liong Sip-pat Ciang, tetapi ia menyayangi Oey Yong, maka ia tidak berkelahi dengan sungguh-sungguh, di lain pihak, Lok Eng Ciang memang lihay, maka setelah banyak jurus, beberapa kali ia kena dihajar, malah untuk memuaskan ayahnya, si nona menggunakan tenaga keras. Oey Yong benar berbuat demikian karena ia tahu tubuh sahabatnya itu kuat.
"Kau masih tidak mau menyerah!" Oey Yong berseru sambil menerjang tidak hentinya.
Kwee Ceng tidak menyahut, ia hanya berkelahi terus. Didesak, ia membela diri.
Disaat itu, mendadak Oey Yok Su mencelat ke arah mereka berdua. Hebat gerakkannya, orang sampai tidak melihatnya, tahu-tahu kedua tanganya sudah diulur, dipakai menyambar masing-masing leher baju kedua bocah itu, lalu ia menggentak, melemparkan mereka. Oey Yong disambar dengan tangan kiri, dia dilempar asal saja. Kwee Ceng dicekal dengan tangan kanan, tangan itu dikerahkan tenaganya, maksudnya supaya si bocah roboh terbanting.
Kwee Ceng tidak berdaya atas sambaran itu, tubuhnya terlempar dingin kebelakang, akan tetapi ketika ia jatuh, kakinya turun lebih dulu, begitu kakinya mengenai tanah, ia seperti menancap diri, ia tidak roboh terguling.
Sebenarnya kalau bocah ini roboh dan mukanya babak belur atau ia tidak dapat bangun lagi, itulah untungnya, tetapi sekarang, melihat ketangguhan kuda-kudanya itu, Oey Yok Su menjadi panas hatinya.
"Hai, kamu bermain sandiwara untuk aku menontonnya?!" dia berseru. "Aku tidak mempunyai murid, mari, kau mencoba-coba menyambut beberapa jurus!"
Kwee Ceng terkejut, lekas ia menjura memberi hormat.
"Biarpun teecu bernyali sebesar langit, tidak mungkin teecu berani melayani locianpwee," katanya hormat.
"Hm, melayani aku!" kata Oey Yok Su tertawa dingin. "Kau tidak tepat, bocah! Aku akan berdiri di sini tanpa bergerak, kau boleh menyerangku dengan Hang Liong Sip-pat Ciang! Asal aku berkelit atau menangkis, anggap saja kalah!"
"Teecu tidak berani," Kwee Ceng berkata pula.
"Tidak berani kau juga mesti beranikan!" mendesak Oey Yok Su.
Kwee Ceng menjadi serba salah. "Kelihatannya tidak dapat aku tidak melayaninya," pikirnya. "Apa boleh buat. Dia tentu hendak meminjam tenagaku, untuk membikin aku roboh beberapa kali…?"
"Lekas kau menyerang!" Oey Yok Su mendesak. Ia dapat kenyataan, walaupun bersangsi, orang sudah mempunyai niat. "Jikalau tidak, aku akan menghajarmu!"
"Karena locianpwe menitahkannya, teecu tidak berani membantah," menyahut Kwee Ceng kemudian. Ia terus membungkuk seraya memutar tangannya melingkar. Ia cuma memakai tenaga enam bagian. Sebabnya ialah kesatu khawatir nanti melukai ayah kekasihnya dan kedua, umpama ia dibikin terjungkal, robohnya tidak hebat. Ia menyerang ke dada. Tapi aneh, ketika mengenai sasaran, tangannya licin, lewat dengan begitu saja.
"Apa? Kau tidak melihat mata padaku?!" menegur Oey Yok Su. "Apakah kau takut aku tidak sanggup bertahan untuk pukulanmu? Benarkah?"
"Teecu tidak berani," menyahut si anak muda. Ia lantas menyerang untuk kedua kalinya. Sekarang ia tidak menahan lagi tenaganya. Serangannya dibarengi sama dikeluarkannya napas. Dengan tangan kiri ia mengancam, tangan kanan menyerang perut.
"Nah, ini baru pukulan benar," berkata Oey Yok Su.
Kwee Ceng kaget bukan main. Serangannya hebat tetapi tidak mengenai sasaran. Sebaliknya tangannya seperti kena disedot, begitu keras hingga tangannya terasa copot. Ia merasakan sakit bukan kepalang.
"Teecu kurang ajar, harap locianpwee memaafkan," ia berkata. Tangannya sementara itu sudah tidak diangkat.
Kanglam Liok Koay heran, kaget dan khawatir. Sungguh hebat Tong Shia ini, tanpa berkelit tanpa menangkis, ia membikin lengan Kwee Ceng mati kutu.
"Kau pun rasai tanganku!" mendadak Oey Yok Su berseru. "Biarlah kau ketahui, yang mana yang lebih lihay, Hang Liong Sip-pat Ciang dari si pengemis tua atau kepandaian dari Tho Hoa To!"
Belum berhenti suara itu, angin sudah menyambar, Kwee Ceng menahan sakit, ia mencelat, maksudnya untuk berkelit. Di luar tahunya, belum tinju orang sampai, telah didului gaetan kaki, maka sedetik itu juga, robohlah Kwee Ceng.
Oey Yong kaget.
"Jangan, ayah!" ia menjerit seraya melompat menubruk Kwee Ceng, di atas tubuh siapa ia mendekam.
Oey Yok Su menyerang terus, tetapi melihat anaknya, tinjunya diubah menjadi cengkeraman dan menjambak baju anak itu, diangkat, kemudian tangan kirinya mengganti menyerang terus.
Kanglam Liok Koay kaget sekali. Mereka tahu itulah pukulan kematian. Maka mereka maju dengan berbareng, untuk menolong murid mereka. Coan Kim Hoat berada paling depan, dengan dacinnya ia menghajar lengan kiri Tong Shia.
Oey Yok Su meletakkan gadisnya di samping. Ia seperti tidak mengambil tahu serangan Kim Hoat yang disusul pedangnya Han Siauw Eng. Ketika kedua serangan itu mengenai sasaran, mendadak saja dacin dan pedang patah menjadi empat potong!
Oey Yong lantas saja menangis.
"Ayah, kau bunuhlah dia!" dia berteriak. "Untuk selamanya aku tidak mau pula bertemu denganmu….!" Tanpa menoleh lagi, ia lari ke arah telaga dan terjun!
"Byur!" air itu berbunyi dan gusar berbareng. Ia tahu putrinya itu pandai berenang dan selulup, semenjak kecil putrinya biasa mandi di Tang Hay, tidak mendarat selama satu hari dan satu malam, akan tetapi kali ini sang putri bakal pergi entah untuk berapa lama, mungkin untuk tidak bertemu pula seperti kata si anak, maka itu dalam kagetnya, ia memburu ke tepi telaga, berdiri bengong mengawasi telaga itu.
Sampai sekian lama barulah Tong Shia si Sesat dari Timur itu berpaling, ia lihat Cu Cong tengah menolong Kwee Ceng dengan menyambungi tangannya. Mendadak ia menumpahkan hawa amarahnya terhadap mereka.
"Lekas kamu bertujuh membunuh diri!" ia membentak, suaranya dingin. "Tak usah sampai aku turun tangan hingga kau menjadi menderita!"
Kwa Tin Ok mengangkat tongkatnya.
"Satu laki-laki tidak takut mampus!" dia kata dengan nyaring. "Apapula penderitaan!"
"Kanglam Liok Koay sudah pulang ke kampung asalnya," Cu Cong pun berkata. "Kalau sekarang kita mengubur tulang-tulang kita di telaga Thay Ouw ini, apakah lagi yang diberati?"
Lantas mereka berenam, dengan senjata di tangan atau tangan kosong, memernahkan diri untuk melawan jago dari Laut Timur itu.
Kwee Ceng jadi berpikir keras. Ia tahu keenam gurunya tidak bakalan sanggup melawan Oey Yok Su. Ia tidak ingin, karena urusannya sendiri, mereka itu mengantar jiwa sia-sia. Maka itu ia lantas melompat untuk menyelak.
"Tan Hian Hong terbinasa di tangan teecu sendiri!" ia berseru, "Kematiannya pun tidak ada sangkut pautnya dengan semua guruku ini! Aku sendiri yang akan mengganti jiwanya!" Ia tahu gurunya yang nomor satu serta yang nomor tiga dan yang nomor tujuh beradat keras, kalau ia mati, mereka itu tentu nekat, maka itu ia menambahkan, "Tapi sakit hati ayahku masih belum terbalas, maka itu apakah locianpwee suka memberi tempo satu bulan kepadaku? Selewat tigapuluh hari teecu bakal datang sendiri ke pulau Tho Hoa To untuk menerima binasa!"
Berat pikirannya Oey Yok Su, karena ia ingat anaknya, hawa amarahnya lantas turut menjadi kendor. Tanpa membilang apapun, ia mengebas tangannya, memutar tubuh, terus ngeloyor pergi.
Kanglam Liok Koay heran, kenapa kata-kata muridnya itu dapat membikin jago Tang Hay itu mengangkat kaki. Mereka curiga, maka itu mereka tetap memasang mata. Tapi benar-benar orang telah pergi.
Seng Hong pun menjublak sekian lama. Kemudian barulah ia mengundang semua tamunya kembali ke dalam.
Bwee Tiauw Hong tertawa mendadak, ia mengebasi tangan bajunya, lalu tubuhnya mencelat setombak lebih, ketika tubuhnya diputar, ia pun lenyap dalam gelap gulita.
"Bwee Suci, bawalah muridmu!" Seng Hong berteriak.
Tidak ada jawaban, sekitar mereka tetap sunyi, maka teranglah sudah, si Mayat Besi pun telah pergi jauh.
Sampai di situ Liok Koan Eng mengasih bangun Wanyen Kang. Tapi orang berdiam saja. Sebab ia telah terkena totokan, tinggal kedua matanya saja yang dapat bergerak-gerak.
"Aku telah terima baik permintaan gurumu, kau pergilah!" berkata Seng Hong. Tapi ia tak dapat membebaskan dari totokan, karena bukanlah totokan dari partainya, kalau ia berbuat demikian, ia jadi berlaku tidak manis terhadap si penotok. Ia mengawasi semua tetamunya, hendak berbicara.
Justru itu Cu Cong menghampiri Wanyen Kang, tanpa membilang apa-apa, ia totok pangeran itu beberapa kali. Sebat totokannya itu, di pinggang beberapa kali disusul sama tepukan beberapa kali di punggung.
Melihat itu Seng ong kagum. "Dia lihay sekali," pikirnya mengenai Cu Cong. "Wanyen Kang bukan sembarang orang tetapi ia dapat ditotok tanpa berbuat apa-apa." Ia tidak tahu, Cu Cong dapat menotok dengan hasil bagus, karena keadaan lagi kacau sekali.
Wanyen Kang merasa sangat malu, tanpa memberi hormat, tanpa membilang apapun, ia angkat kaki.
"Orang ini siapa`" berkata Cu Cong. "Kau bawalah dia pergi!" Ia pun lantas membebaskan Toan Tayjin.
Komandan tentara itu menduga jiwanya bakal hilang, maka itu bukan main girangnya ia ditolong dan dimerdekakan juga. Dengan tergesa¬-gesa ia memberi hormat.
"Enghiong, untuk budi pertolonganmu ini, aku Toan Thian Tek tidak akan melupakan sekali pun sampai akhir ajalku!" katanya.
Kapan Kwee Ceng mendapat dengar itu nama Toan Thian Tek, ia terkejut dan tercengang. Nama itu seperti mengaung di kupingnya.
"Kau…kau bernama Toan Thian Tek?" ia menanya.
"Benar," komandan itu menyahut. "Enghiong kecil, kau punya pengajaran apa untukku?"
"Bukankah delapanbelas tahun yang lampau selama di Lim-an, kau menjadi opsir tentara?" Kwee Ceng menanya pula.
"Benar, enghiong kecil. Bagaimana kau tahu?" kembali Thian Tek menyahut. Kemudian ia memandang pada Koan Eng, sebab barusan ia mendengar keterangan Seng Hong bahwa pemuda itu muridnya Kouw Bok Taysu. Ia berkata: "Aku adalah keponakan yang tidak menyucikan diri dari Kouw Bok Taysu, karenanya kita menjadi orang sendiri, Haha!" Ia senang sekali, tertawa girang.
Kwee Ceng tidak menanya pula, ia hanya menoleh kepada tuan rumah.
"Liok Chungcu," katanya. "Aku yang rendah memohon pinjam ruangan belakang dari rumahmu ini."
"Tentu saja boleh," sahut Seng Hong.
Kwee Ceng mengucap terima kasih, lalu ia tuntun Toan Thian Tek, buat diajak ke belakang. Cepat tindakannya itu.
Kanglam Liok Koay saling memandang, di dalam hatinya masing-masing mereka berkata: "Thian sungguh adil, Siapa nyana justru di sini kita dapat menemui si manusia jahat! Coba bukan dia menyebut namanya sendiri, siapa yang tahu dialah yang dicari ubak-ubakan dan jauh laksaan lie selama tujuh tahun…..?"
Liok Seng Hong dan putranya serta Wanyen Kang tidak mengerti, mereka mengikuti si anak muda. Tiba di ruang belakang, di sana api dipasang terang-terang.
"Aku pinjam pit dan kertas," Kwee Ceng memohon pula.
Seorang bujang sudah lantas menyerahkan perabot tulis yang di minta itu. Kwee Ceng segera menulis di atas sehelai kertas, bunyinya: "sincie dari ayah almarhum, Kwee Siauw Thian." Semua huruf itu besar-besar, lantas di taruh di tengah-tengah ruangan.
Sampai sebegeitu jauh Toan Thian Tek tidak tahu apa yang hendak perbuat orang, lekas ia membaca nama Kwee Siauw Thian, barulah ia kaget hingga umpama kata semangatnya terbang. Ia segera melihat ke selilingnya, lalu ia menjadi terlebih kaget lagi. Ia seperti terkurung Kanglam Liok Koay yang semuanya beroman keren. Tanpa merasa, celananya basah. Lebih-lebih ia tidak dapat melupakan Han Po Kie, si kate gemuk, yang matanya tajam itu. tadi karena kaget dan ketakutan, ia tidak memperhatikannya. Sekarang tubuhnya bergemetaran.
Tiba-tiba tangannya Kwee Ceng terangkat dan turun dengan cepat. Satu suara nyaring menyusul itu. Itulah pecahnya sebuah meja di depan mereka.
"Bilanglah, kau mau mampus cepat dan senang atau kau menghendaki tubuhmu dibikin berkeping-keping hingga kau merasakan penderitaan?!" berkata si anak muda, suaranya bengis. Ia berbicara seraya mengawasi tajam musuh besarnya itu.
Sampai di situ Toan Thian Tek merasa bahwa ia tidak bakal hidup pula. "Memang benar ayahmu itu akulah yang membunuhnya," ia berkata. "Tetapi aku diperintah oleh atasanku, aku tak bisa berbuat lain."
Matanya Kwee Ceng bersinar, biji mata itu seperti mau melompat keluar. "Siapakah itu yang memerintah kau?!" ia tanya. "Siapa mengirim kau untuk membinasakan ayahku! Lekas bilang!"
"Liok-ongya Wanyen Lieh, putra keenam dari negera Kim!" sahut Toan Thian Tek.
Mendengar itu Wanyen Kang terkejut. "Apa kau bilang?" dia menanya.
Toan Thian Tek memang mengharap-harap dapat menyeret orang, supaya dosanya menjadi ringan. Maka itu ia lantas membeber, membuka rahasia bagaimana hari itu Wanyen Lieh tertarik pada Pauw Sek Yok, istri Yo Tiat Sim, untuk mendapatkannya, orang bekerja sama dengan tentara kerajaan Song, dusun Gu-kee-cung didatangi, diserbu, kedua keluarga Yo dan Kwee dibikin celaka. Tapi dengan berpura-pura baik hati, dia sendiri menolong Pauw Sek Yok. Hanya kemudian ia berpisah dari ibunya Kwee Ceng itu dalam kekalutan tentara, ia kabur pulang ke Lim-an. Kemudian dengan perlahan-¬lahan ia mendapat kenaikan pangkat sampai pada pangkatnya yang sekarang. Ia menutur jelas perasaannya itu. Diakhirnya ia berlutut di depan Kwee Ceng.
"Kwee Enghiong, Kwee Tayjin," ia berkata, "Hamba yang rendah menerima titah orang, bukan dosaku…." Ia pun mengangguk-angguk di meja sincie dari Kwee Siauw Thian. "Kwee Looya," ia berkata pula, "Arwahmu di langit mengerti, orang yang membikin celaka keluargamu, ialah musuhmu Wanyen Lieh adanya, si pangeran keenam, bukannya aku yang berjiwa semut. Kwee Looya, hari ini putramu sudah menjadi begini besar dan gagah, kau tentunya girang dan puas, maka itu aku mohon dengan perlindunganmu, supaya sukalah putramu ini memberi ampun pada jiwa anjingku ini…."
Selagi orang mengoceh, mendadak Wanyen Kang lompat, menghajar batok kepalanya, yang lantas saja hancur pecah, tubuhnya roboh dan jiwanya melayang.
Kwee Ceng mendekam di tanah, ia menangis tersedu¬-sedu. Baru sekarang Seng Hong mengerti jelas, maka bersama anaknya ia menjalankan kehormatan di depan sincie, perbuatannya ini diturut oleh Kanglam Liok Koay. Juga Wanyen Kang turut memberi hormat, beberapa kali ia mengangguk-angguk, kemudian ia berkata: "Saudara Kwee, baru sekarang aku ketahui…. Wanyen Lieh adalah musuh besarmu. Tadinya aku tidak ketahui peristiwa ini, aku telah melakukan segala apa yang bertentangan, sungguh aku berdosa. namaku, Yo Kang," menyahut Wanyen Kang.
"Bagus!" kata Kwee Ceng. "Dengan begini barulah kau menjadi laki-laki sejati! Besok aku hendak pergi ke Pak-hia, untuk membunuh Wanyen Lieh, kau hendak turut atau tidak?"
Yo Kang tidak lantas bisa memberikan jawaban. Ia ingat budinya pangeran Kim itu yang telah merawat semenjak kecil. Kapan ia lihat sinar matanya pemuda she Kwee itu, yang agaknya kurang puas, ia menyahut juga: "Siauwtee akan iku toako menuntut balas!" Yo Kang menyebut dirinya siauwtee (adik) dan memanggilnya toako (kakak), sedang tadi ia hampir memanggil ayah angkat diwaktu menyebutkan namanya Wanyen Lieh.
Kwee Ceng girang sekali. "Bagus saudara!" berseru dia. "Almarhum ayahmu dan ibuku pun pernah membilangi aku bahwa dulu ayahmu dan ayahku telah membuat perjanjian untuk kita mengangkat saudara. Aku ingin mewujudkan pesan itu, bagaimana pikiranmu?"
"Itulah yang aku harap," menyahut Yo Kang. Lantas keduanya menjalankan kehormatan di depan sincie, untuk mengangkat saudara.
Sampai di situ, bereslah segalanya, maka tuan rumah mempersilahkan semua tamu beristirahat. Besoknya pagi, Kanglam Liok Koay pamitan dari tuan rumah dengan mengajak Kwee Ceng dan Yo Kang.
Seng Hong membekalkan sesuatu kepada tetamunya, ia antar sampai di luar rumahnya.
Kwee Ceng memberitahukan gurunya bahwa bersama Yo Kang ia hendak pergi ke Utara untuk membunuh Wanyen Lieh, ia minta petunjuk dari mereka.
"Janji di harian Tiong Ciu masih lama, karena kami tidak punya urusan apa-apa, mari kami antar kamu," kata Kwa Tin Ok.
"Begitupun baik," menyatakan Cu Cong dan yang lainnya.
Kwee Ceng bukannya menampik tetapi ia menegaskan sebenarnya tidak perlu gurunya turut dia. Ia kata ilmu silatnya Wanyen Lieh biasa saja, dengan adanya Yo Kang sebagai pembantu, ia sudah merasa cukup. Ia sebaliknya memperingatkan bahwa guru-gurunya baru saja kembali, sudah seharusnya mereka beristirahat di kampung halaman. Ia pun tidak berani membikin pusing gurunya, yang budinya sangat besar sekali.
Kanglam Liok Koay memikir alasan muridnya ini pantas, mereka tidak memaksa untuk turut, mereka jadi memberikan pesan saja.
"Janji untuk pergi ke Thoa Hoa To tidak usah kau penuhi," kata Han Siauw Eng kemudian. Ia memesan begini sebab ia tahu muridnya jujur dan khawatir muridnya pergi ke pulau Tho Hoa To sedang Tong Sia Oey Yok Su itu telengas dan tabiatnya sangat aneh.
"Jikalau teecu tidak pergi, apakah itu bukan berarti tidak menepati janji?" tanya si murid.
"Sama hantu itu mana dapat kita bicara perihal kepercayaan!" kata Yo Kang. "Toako, kau terlalu kukuh!"
Tapi Kwa Tin Ok berpikir lain. Atas suaranya Yo Kang itu ia memperdengarkan "Hm!" kemudian ia bilang: "Anak Ceng, kata-kata kami bangsa laki-laki tidak boleh dibuat permainan! Sekarang ini bulan enam tanggal lima, nanti pada bulan tujuh tanggal satu kita bertemu di Cui Sian Lauw di Kee-hin, dari sana kita boleh berangkat bersama-sama ke Tho Hoa To. Sekarang pergilah kau menaiki kuda merahmu menuju Pak-khia untuk mencari balas. syukurlah jikalau kau berhasil, kalau tidak, kita boleh minta bantuan semua totiang dari Coan Cin Pay. Mereka adalah orang-orang yang memuliakan kebajikan, pastilah mereka tidak akan menapik permohonan kita."
Kwee Ceng sangat bersyukur akan semua gurunya begitu bersungguh-sungguh, ia menghanturkan terima kasih seraya menjatuhkan diri berlutut di tanah.
"Adik angkatmu adalah dari keluarga agung, aku mesti hati-hati," Lam Hie Jin memesan.
Kwee Ceng tidak mengerti, ia mengawasi.
Cu Cong tertawa, ia pun berkata: "Putrinya Oey Yok Su beda dari ayahnya, kami selanjutnya jangan membikin ia mendongkol pula. Benar bukan, shatee?"
Han Po Kie membuat main kumisnya. "Anak busuk itu mengatai aku di labu, rupanya dialah yang paling cantik!" kata si kate terokmok ini, yang akhirnya tertawa sendiri.
Hatinya Kwee Ceng menjadi lega sekali. Itu artinya gurunya tidak membenci pula Oey Yong. Hanya kapan ia ingat si nona, yang entah dimana adanya, ia jadi berduka.
"Nah, anak Ceng, kau lekas pergi lekas kembali!" berkata Coan Kim Hoat. "Kami menanti kabar baik dari kau di Kee-hin!"
Sampai disitu, kanglam Liok Koay lantas berangkat.
Kwee Ceng berdiri di tepi jalanan sambil memegangi les kudanya, ia mengawasi sampai semua gurunya sudah tidak nampak lagi, baru ia menoleh kepada Yo Kang sambil berkata, "Yo hiantee, kudaku ini bisa lari keras, untuk ke Pak-khia pergi dan pulang, cukup dengan belasan hari, maka itu marilah aku temani kau jalan-jalan dulu untuk beberapa hari."
Yo Kang menurut, mereka melakukan perjalanan dengan perlahan-lahan. Kalut pikiran Yo Kang. Ia membayangakan baru berselang sebulan ia hidup mewah dan mulia, datang ke Kanglam dengan diiringi secara besar. Bagaimana agung kedudukannya utusan dari negara Kim yang tangguh itu. Sekarang? Sekarang ia menuju ke kota raja seorang diri, dalam keadaan sangat sepi. Tidakkah ia tengah bermimpi dan impiannya itu buyar dengan tiba-tiba?
Kwee Ceng dapat melihat perubahan roman orang itu, ia hanya menyangka orang tengah berduka karena mengingat ayah ibunya. Ia lantas menghibur.
Tengah hari itu mereka tiba di Lie-yang. Lantas mencari tempat pemondokan. Seorang pelayan penginapan menghampiri mereka.
"Apakah tuan-tuan adalah tuan Kwee dan tuan Yo?" dia menanya sembari memberi hormat dan tertawa. "Barang santapan sudah siap, silahkan tuan-tuan turut aku pergi bersantap dulu."
Dua-dua pemuda itu terkejut.
"Kenapa kau mengenal kami?" tanya Yo Kang.
"Aku menerima pesan, tuan-tuan," sahut pelayan itu, sambil tertawa. "Tadi seorang tuan datang padaku mengasih tahu perihal datangnya tuan¬-tuan. Aku diberi lukisan tentang roman dan potongan tubuh tuan-tuan." Semabri berkata, ia menuntun kuda orang untuk dirawat.
"Sungguh baik tuan dari Kwie-in-chung itu," Kwee Ceng memuji.
Mereka duduk di meja menghadapi masakan pilihan yang mahal harganya, begitu pun araknya. Kwee Ceng mendapati masakan ayam yang ia paling doyan. Mereka bersantap dengan bernafsu, habis dahar mereka hendak membayar.
"Tidak usah tuan-tuan, semuanya sudah dibayar," si pelayan menerangkan.
Kwee Ceng tertawa, ia memberi upah pelayan itu, yang mengucap terima kasih berulang-ulang dan dengan hormat mengantar keluar.
Di tengah jalan, Kwee Ceng memuji pula Liok Chungcu, tetapi Yo Kang, yang masih mendongkol bekas dikalahkan dan ditawan, mengatakan,: "Teranglah ia menggunai muslihat ini untuk membaiki semua orang gagah, pantas dia menjadi kepala di Thay Ouw!"
"Hiantee, bukankah chungcu itu paman gurumu?" tanya Kwee Ceng heran.
"Benar Bwee Tiauw Hong pernah mengajarkan ilmu silat pada saya tetapi dia bukanlah guruku," menjawab orang yang ditanya. "Coba aku mengetahui mereka itu ada dari golongan sesat, aku tidak sudi belajar, hingga tak usahlah hari ini aku mengalami kejadian ini….."
Kwee Ceng jadi semakin heran.
"Hiantee, bagaimana sebenarnya?" ia menanya.
Yo Kang merasa kelepasan omong, mukanya menjadi merah.
"Aku merasa Kiu Im Pek-kut Jiauw bukanlah pelajaran murni," ia menyahut.
"Kau benar, hiantee," Kwee Ceng mengangguk. "Tian Cun Cinjin lihay sekali, ia pun dari kalangan ilmu silat sejati, kalau kau menghanturkan maaf padanya, tentulah ia dapat memaafkanmu." Yo Kang berdiam.
Malam itu mereka tiba di Kim-tan, di sana pun ada pelayan penginapan yang menyambutnya, yang menyiapkan barang makanan dan penginapan tanpa bayaran, sebab sudah ada yang memesan dan membayarinya. Mereka menerima itu tanpa banyak bertanya-tanya.
Kemudian, beruntun tiga hari, mereka mendapat pengalaman serupa. Mereka menjadi heran sekali hingga mereka menyangsikan chungcu dari Kwie-in¬chung. Tatkala mereka melewati Ko-yu dan masih ada serupa penyambutan, dengan menyindir Yo Kang berkata: "Hendak aku melihat sampai di mana Kwie-in¬chung akan mengantar tetamunya…."
Kwee Ceng lebih curiga lagi, sebab pada setiap barang santapan tentu ada satu dua rupa santapan yang paling ia gemari, kalau itu adalah perbuatan Liok Koan Eng, sungguh luar biasa. Habis bersantap, ia kata: "Hiantee, nanti aku jalan lebih dulu, untuk mencari tahu." Yo Kang menurut, ia membiarkan orang melarikan kudanya seorang diri.
Beruntun tiga perhentian telah dilewati, setibanya di Po-eng, tidak ada lagi penyambutan serupa itu. Sengaja Kwee Ceng memilih penginapan yang paling besar serta minta kamar yang paling mewah juga. Sore itu, selagi ia berada di dalam kamarnya, ia dengar suara kuda dilarikan, kelenengannya berbunyi nyaring. Penunggang kuda itu berhenti di depan penginapan, dia masuk ke dalam, lantas memesan makanan untuk besok, katanya untuk tuan Kwee dan tuan Yo.
Kwee Ceng telah menduga kepada Oey Yong, tetapi mendengar suara orang, ia heran juga. Ia girang sekali. Ia tak mau lantas menemui. Ia hendakmain¬-main. Maka ia menunggu sampai jam dua, diam-diam keluar dari kamarnya. Ia naik ke atas genting, terus ke kamarnya si nona. Tiba-tiba tampak bayangan orang berkelebat, malah ia kenali Oey Yong adanya.
"Heran, malam-malam begini ia hendak kemana?" pikirnya. Ia menguntit.
Oey Yong lari ke luar kota. Ia tidak tahu ada yang membayanginya. Ia pergi ke tepi sebuah kali kecil. Dibawah satu pohon yangliu ia duduk numprah. Dari sakunya ia keluarkan serupa barang, terus ia buat main di tangannya, tubuhnya dibungkukkan.
Malam itu terang bulan, angin berdesir, meniup daun-¬daun yangliu dan juga ikat pinggangnya si nona. Air kali mengalir terus. Di sana sini terdengar suara rupa-¬rupa serangga.
"Ini engko Ceng…. ini Yong-jie…" terdengar nona itu mengoceh sendirian.
Heran Kwee Ceng. Ia berindap-indap, menghampiri ke belakang orang. Di bawah terangnya sinar rembulan, ia melihat tegas dua buah boneka, satu laki-¬laki dan satu perempuan, keduanya gemuk dan mungil. Itulah boneka buatan Bu-sek yang kesohor, juga kesohor di Thay Ouw. Ia menjadi ketarik. maju lagi beberapa tindak. Di depan boneka itu ditaruh beberapa mangkok dan cawan kecil, yang berisi macam-macam bunga.
Kembali terdengar suara perlahan dan halus dari nona itu; "Mangkok ini engko Ceng yang dahar, cawan ini Yong-jie. Semua ini Yong-jie yang masak sendiri. Enak tidak?"
"Enak! Enak sekali!" Kwee Ceng menyahut.
Oey Yong terperanjat, ia menoleh dengan cepat. Lalu tertawa, memperlihatkan wajahnya yang manis. Dengan gesit ia melompat menghanpiri anak muda itu.
Mereka lalu duduk di bawah pohon di tepi kali itu. Lantas mereka berbicara dengan asyik mengenai urusan mereka sejak perpisahan beberapa hari itu, tetapi yang mereka rasakan seperti sudah bulanan atau tahunan. Si nona saban-saban tertawa, hingga si pemuda menjadi berdiam saja. Katanya dalam hati: "Yong-jie begini mencintaiku, kalau di belakang hari kita tidak hidup bersama, bagaimana rasanya…?"
Ketika malam itu Oey Yong menceburkan diri, ia bersembunyi lama, sesudah menduga ayahnya telah pergi, barulah ia kembali ke Kwie-in-chung. Ia girang akan mendapatkan pemuda pujaannya tak kurang suatu apapun. Ia menyesal juga telah berlaku keras terhadap ayahnya. Ia terus menyembunyikan diri. Ketika besoknya pagi, ia lihat Kwee Ceng berangkat berdua dengan Yo Kang, ia lantas mendahului, untuk seterusnya saban-saban ia memesan barang makanan dan rumah penginapan. Ia tahu barang santapan yang digemari Kwee Ceng, selalu menyelipkan satu atau dua rupa. Tentu saja ia tidak tahu Kwee Ceng curiga dan lantas mendahului, hingga ia kepergok. Tapi ini cuma membuatnya gembira sekali.
Asyik mereka ngobrol, sampai jauh malam, sampai si nona datang kantuknya, tanpa merasa ia kepulasan di pangkuan anak muda itu. Kwee Ceng khawatir orang sadar, ia tidak berani bergerak, ia diam menyenderkan diri di bongkol pohon yangliu. Tanpa merasa, ia pun ketiduran. Ketika itu ada di bulan keenam, hawa malam sejuk, sedang rembulan bercahaya terus.
Kwee Ceng yang sadar paling dulu tatkala kupingnya mendengar burung-burung berkicau, membuka matanya, ia mendapatkan sang fajar sudah mulai menyingsing. Ia pun dapat mencium semerbaknya bunga-bunga.
Oey Yong tidur nyenyak, napasnya berjalan perlahan. Ia mengerutkan alisnya, tapi mukanya dadu, mulutnya yang mungil tersenyum, nampak manis sekali. Rupanya ia tengah bermimpi.
"Biarlah ia tidur terus, aku tidak boleh mengganggunya," Kwee Ceng berpikir.
Pemuda ini mengawasi muka orang, ia ingin menghitung bulu alisnya yang bagus dari si nona itu tatkala mendadak mendengar suara orang lain, datangnya kira-kira dua tombak lebih di sebelah kirinya.
"Telah aku ketahui kamarnya nona Thia itu, kamarnya di dalam taman yang letaknya di belakang rumah gadai Tong Jin," demikian suara itu.
"Baiklah, nanti malam kita bekerja," kata suara lain, terang suara orang tua.
Mereka bicara dengan perlahan, tetapi di pagi yang sunyi itu nyata terdengarnya. Kwee Ceng terperanjat. Ia menyangka pada penjahat tukang petik bunga, yang gemar mengganggu kesucian kaum wanita. Ingin ia melihat mereka. Tiba-tiba Oey Yong mencelat bangun.
"Engko Ceng, hayo tangkap aku!" katanya. Terus ia lari ke sebuah pohon besar.
Kwee Cneg dapat menerka maksud si nona cerdik ini, ia lantas mengejar, malah sambil tertawa geli, bagaikan tengah bermain petak umpet. Hanya larinya dibikin berat, seperti larinya orang yang tidak mengerti ilmu silat.
Dua orang itu terkejut, mereka tidak menyangka di pagi hari itu sudah ada orang lain di situ, bahkan dekat mereka, tetapi ketika mereka melihat dua muda-mudi, yang main lari-larian, mereka tidak curiga. Hanya karena itu, mereka lantas ngeloyor pergi.
Kwee Ceng dan Oey Yong melihat belakang orang, yang pakaiannya compang-camping, tanda dandanan pengemis. Mereka menanti sampai orang pergi cukup jauh, si nona tanya si pemuda, apa maunya dua orang itu mencari nona Thia.
"Kebanyakan maksudnya tidak baik. Kita menolong orang, baik atau tidak?" kata Kwee Ceng.
"Memang baik sekali. Cuma kita tidak tahu dua pengemis itu orang-orangnya Ang Cit Kong atau bukan." kata si nona.
"Aku rasa bukan," jawab si pemuda.
Mereka lantas pulang ke penginapan untuk bersantap, habis itu mereka pergi pesiar, sampai ke kota barat. Di situ mereka mendapatkan rumah gadai Tong Jin, dengan huruf-huruf yang tinggi dan besar. Benar di belakang situ ada sebuah taman serta lauwtengnya yang tinggi, yang dialingi kere bambu bercat hijau. Memandang lauwteng itu mereka tersenyum, lantas mereka berjalan terus, akan pesiar ke lain bagian kota. Sorenya mereka pulang, untuk bersantap, kemudian beristirahat di kamar masing-masing.
Lewat sedikit satu jam, keduanya keluar dari kamar, lari ke kota barat. Mereka melompati taman, hingga mereka dapat memandang lauwteng dimana ada sinar api. Mereka terus naik ke atas lauwteng, menyangkel di payon, mengintip ke dalam. Hawa malam panas, jendela tidak ditutup. Apa yang mereka lihat membikin mereka terperanjat.
Di dalam kamar itu ada tujuh orang, semuanya wanita. Seorang nona umur delapan atau sembilanbelas tahun, yang cantik, lagi membaca buku di terangnya lampu. Mungkin dia si nona Thia, Thia Toa siocia yang dimaksudkan kedua pengemis itu. Enam lainnya dandan sebagai budak, tetapi mereka pada mencekal senjata, tiga memegang golok, tiga lainnya masing-masing pedang, sepasang roda serta sebatang tongkat besar yang panjang.
Melihat keadaan mereka itu, Kwee Ceng dan Oey Yong menduga si nona lihay. Sekarang keduannya berpikir lain. Hendak mereka menonton dulu. Mesti ada apa-apa yang aneh mengenai si nona dan si pengemis. Tidak lama mereka mengintai, mereka mendengar satu suara di luar pekarangan. Oey Yong tarik tangan Kwee Ceng, diajak bersembunyi.
Segera mereka melihat dua bayangan, yang benar ada dari si pengemis tadi. Mereka langsung ke bawah lauwteng dimana mereka memperdengarkan siulan perlahan.
"Orang-orang gagah dari Kay Pang di sana?" menanya satu budak seraya menyingkap kere. "Silahkan naik."
Dua pengemis itu menggenjot tubuh mereka untuk naik lauwteng. Si nona sudah lantas menyambut. Ia memberi hormat sambil menanyakan she dan nama kedua tetamunya itu.
"Aku yang rendah she Lee," menyahuti si pengemis tua. "Ini keponakan muridku, Ie Tiauw Hin."
Melihat muka orang yang penuh luka, Nona Thia mengingat sesuatu. "Bukankah locianpwee Hang Liong Ciu Lee Seng?" ia menanya.
"Tajam matamu, nona!" tertawa si pengemis. "Aku yang rendah dan gurumu, Ceng Ceng Sanjin, pernah berjodoh bertemu satu kali, walaupun kita tidak bersahabat rapat, kita saling menghormati."
Mendengar nama Ceng Ceng Sanjin, Kwee Ceng ingat Sun Put Jie Sun Siang-kouw, salah satu dari Coan Cin Cit Cu. Karenanya, nona Thia ini bukanlah orang luar.
"Locianpwee baik sekali hendak menolong, boanpwee sangat bersyukur," berkata pula si nona. "Di dalam segala hal, boanpwee akan mendengar kata locianpwee."
"Nona seorang terhormat, kalau kau dipandang lebih banyak oleh binatang itu, sudah hebat," berkata Hang Liong Ciu Lee Seng si Penakluk Naga.
Mendengar itu merah mukanya si nona.
"Sekarang, silahkan nona beristirahat di kamar ibumu, di sini jangan ditinggalkan beberapa pelayanmu ini," Lee Seng memberi petunjuk. "Aku yang rendah mempunyai daya untuk menghadapi binatang itu."
"Boanpwee tidak gagah, tetapi boanpwee tidak jeri terhadap binatang itu," berkata si nona. "Loacianpwee hendak bertanggungjawab sendiri, sungguh aku malu…."
"Jangan berkata demikian, nona," berkata pula Lee Seng. "Ang Pangcu kami bersahabat kental dengan Ong Tiong Yang Cinjin dari Coan Cin Pay, dengan begitu kita seperti orang sendiri."
Sebenarnya nona Thia ingin sekali mencoba ilmu silatnya, tetapi menampak mata tajam dari Lee Seng, ia tidak berani membantah, maka lantas memberi hormat.
"Baiklah, aku menurut locianpwee," bilangnya. Lantas ia turun dari lauwteng.
Lee Seng segera menghampiri pembaringan si nona, menyingkap kelambunya. Pembaringan itu indah segalanya, tetapi ia naik ke atas itu tanpa membuka sapatu lagi, tak peduli sepatu dan pakaiannya dekil, ia terus merebahkan diri.
"Pergi kau turun," ia menitahkan Ie Tiauw Hin, "Ramai¬-ramai kamu menjaga di bawah. Tanpa titahku, aku larang kamu lancang turun tangan!" Tiauw Hin menurut, ia lantas berlalu.
Lee Seng menutup diri dengan selimut indah, ia suruh budak-budak menurunkan kelambu dan juga memadamkan api. Kemudian barulah mereka mengundurkan diri.
Oey Yong tertawa di dalam hatinya menyaksikan kelakuan Lee Seng itu. "Semua orang Kay Pang telah meneladani tingkah pola pemimpinnya," semua suka berbuat jenaka, tidak peduli di tempat apapun."
Karena sudah tahu ada penjagaan, nona ini bersama Kwee Ceng mendekam terus di bawah payon, berdiam menanti dengan mulut bungkam.
Lantas terdengar suara kentongan orang ronda tanda jam tiga. Menyusul terdengar suara membeletuknya batu masuk ke dalam taman. Itulah batu tanda menanya dari orang yang biasa keluar malam.
Oey Yong menarik ujung baju Kwe Ceng untuk memberitahu. Hanya sebentar, di luar tembok terlihat melompat masuknya tujuh atau delapan orang, yang semuanya lompat lebih jauh naik ke atas lauwteng. Mereka itu menyalakan api sebentar, habis itu mereka menuju ke pembaringan.
Hanya sejenak itu, Oey Yong telah dapat melihat mukanya orang-orang itu. Dua yang menjadi kepala adalah orang-orangnya Auwyang Kongcu, yaitu dua pria yang biasa membawa-bawa galah panjang peranti menggiring ular. Enam yang lain adalah murid-murid wanita Auwyang Kongcu. Si dua pria berdiri di kiri kanan pembaringan, empat wanita menungkrup tubuh Lee Seng dengan sehelai selimut lebar. Lalu dua yang lain mementang sebuah kantung besar ke dalam tubuh Lee Seng dibelesaki, lalu karung itu di ikat kuat-kuat. Semua mereka bekerja sebat sekali, seperti sudah terlatih mahir, tanpa ada yang bersuara. Dua wanita menggendong kantung itu, lantas mereka lompat turun dari lauwteng.
Kwee Ceng hendak bangkit, untuk menyusul, Oey Yong mencegah. "Biarkan orang-orang Kay Pang jalan lebih dulu," si nona membisiki.
Kwee Ceng menurut, ia mengawasi. Kantung berisi manusia itu digotong berdelapan. Di belakang mereka mengiringi lebih dari sepuluh orang lainnya, mereka mencekal tongkat bambu, rupanya mereka adalah orang-orang Kay Pang.
Menanti sampai orang sudah berpisah beberapa tombak dari mereka, baru Oey Yong dan Kwee Ceng keluar dari tempat persembunyian, untuk menguntit. Seorang pengemis berjalan di paling belakang.
Kedua rombongan itu menuju ke luar kota, pergi ke sebuah rumah besar. Rombongan Auwyang Kongcu terus masuk ke dalam rumah, rombongan pengemis lantas memencarkan diri mengurung.
Oey Yong menarik tangan Kwee Ceng, diajak ke belakang, mereka melompat tembok masuk ke pekarangan dalam.
Sekarang ketahuan rumah besar itu adalah rumah keluarga Lauw, di pendopo ada sejumlah sincie, dan ada pian-pian yang besar memutar nama-nama almarhum yang dihormati itu, semunya pernah memangku pangkat. Pendopo diterangi lima batang lilin besar. Duduk di tengah ada satu orang, yang tangannya mengipas perlahan-lahan. Menduga ialah Auwyang Kongcu, Oey Yong dan Kwee Ceng berlaku hati-hati. Mereka bersembunyi dan mengintai di bawah jendela, hati mereka menduga-duga, apa Lee Seng sanggup melayani pemuda yang lihay itu.
Sebentar kemudian muncullah delapan penggotong kantung manusia itu. "Kongcu, nona Thia sudah disambut!" kata satu di antaranya.
Auwyang Kongcu tertawa dingin, bukannya menyambut orangnya, ia hanya memandang ke luar pendopo seraya berkata: "Sahabat, setelah dengan baik hati kamu datang berkunjung kemari, kenapa kamu tidak masuk saja untuk minum teh?"
"Hebat orang ini," pikir Kwee Ceng.
Orang-orang Kay Pang tetap bersembunyi. Tanpa tanda dari Lee Seng, tidak berani mereka lancang bertindak.
Auwyang Kongcu tidak berkata pula, hanya ia memandang kepada kantung. "Aku tidak sangka si nona Thia begini gampang diundang!" katanya. Ia bertindak menghampiri, perlahan tindakannya. Ketika ia mengibaskan kipasnya, kipas itu tertutup rapat merupakan sepotong besi mirip dengan pit (alat tulis tionghoa)
Kwee Ceng dan Oey Yong terkejut. Mereka menduga orang sudah ketahui musuhlah yang berada di dalam kantung itu. Diam-diam mereka menyiapkan kong¬piauw, bersedia menolongi Lee Seng.
Mendadak terdengar suara sar-ser dari jendela, lalu dua batang panah tangan menyambar ke arah Auwyang Kongcu. Rupanya orang-orang Kay Pang sudah merasakan pemimpim mereka terancam bahaya.
Auwyang Kongcu membawa tangan kirinya ke samping lantas telunjuk dan jari tengahnya menjepit, sebatang panah tangan itu patah seketika.
Orang-orang Kay Pang terkejut, malah Ie Tiauw Hin lantas berseru: "Paman Lee, keluarlah!"
Menyambut seruan itu, tiba-tiba terdengar suara memberebet pecahnya kantung, lantas dua batang golok menyambar, disusul bergelinding keluarnya tubuh Lee Seng, tangan siapa terus memegangi kantung sebagai daya pembelaan diri. Sesudah itu pengemis ini berlompat berdiri.
Lee Seng ketahui Auwyang Kongcu lihay, ia menggunakan akalnya ini, untuk membokong, tapi ternyata ia gagal.
Auwyang Kongcu bebas dari sambaran golok, bukannya kaget, ia justru tertawa. "Si nona cantik berubah menjadi pengemis tua, sungguh ilmu sulap kantong yang jempolan!" katanya tertawa.
Lee Seng tidak menggubris ejekan itu. "Selama tiga hari, tempat ini beruntun kehilangan empat nona-nona, bukankah itu perbuatan bagus dari kau, tuan yang terhormat?" ia balas mengejek.
Kongcu itu tertawa pula. "Kota Po-eng ini kota melarat miskin, kenapa orang-orang polisi dapat berubah menjadi segala tukang minta-minta?" ia berkata dengan ejekan.
Lee Seng pun tidak menjadi gusar. "Sebenarnya aku pun tidak mengemis nasi di sini," menyahut Lee Seng, "Tetapi kemarin ini aku mendengar cerita beberapa pengemis cilik tentang lenyapnya dari beberapa nona cantik manis, karenanya timbullah kegembiraan aku si pengemis tua, maka aku datang melongok!"
Dengan ogah-ogahan Auwyang Kongcu berkata: "Sebenarnya beberapa nona itu tidak cantik luar biasa, kalau kau menginginkannya, dengan memandang mukamu, sukalah aku membayarnya pulang!" Ia pun terus mengebasi tangannya, maka beberapa murid perempuannya lantas masuk ke dalam untuk mengajak keluar empat nona. Mereka ini kusut pakaiannya, kucal romannya, semuanya pada menangis.
Murka Lee Seng menyaksikan keadaannya keempat nona itu. "Tuan yang terhormat, apakah shemu yang mulia dan namamu yang besar?" ia menanya. "Murid siapakah kau ini?"
Auwyang Kongcu tetap acuh tak acuh. "Aku she Auwyang. Saudara, kau ada pengajaran apakah untukku?"
"Mari kita main-main!" Lee Seng berkata keras.
"Tidak ada yang terlbeih baik dari itu!" kata si anak muda menyambut. "Silahkan kau mulia dulu!"
"Bagus!" seru Lee Seng, yang segera menggerakkan tangan kanannya. Tapi belum sempat ia menyerang, di depan matanya berkelebat satu bayangan putih dan angin pun mendesir. Ia menjadi sangat kaget, ia mencelat. Tidak urung, lehernya terlanggar juga satu jari tangan. Syukur ia cukup sebat, kalau tidak, lehernya bisa tercekuk!
Lee Seng ini berkedudukan tinggi di dalam partainya, Kay Pang, Partai Pengemis, dia lihay. Semua pengemis di empat propinsi Ouwlam dan Ouwpak serta Ciat-kang dan Kangsouw tunduk dibawah perintahnya. Siapa tahu dalam satu gebrak saja, hampir celaka. Maka mukanya menjadi merah. Begitu ia hendak memutar tubuh, tangannya sudah mendahului melayang.
"Dia juga mengerti Hang Liong Sip-pat Ciang, "Oey Yong berbisik pada Kwee Ceng. Dan si anak muda mengangguk.
Auwyang Kongcu tidak berani menangkis serangan itu, yang ia lihat hebat sekali. Selagi berkelit, Lee Seng memutar tubuhnya. Lantas pengemis maju satu tindak, kedua tangannya di angkat ke depan dada, untuk kembali menyerang, menyusul penyerangannya yang gagal itu.
"Itulah jurus dari ilmu silat Po-giok-kun," Kwee Ceng berbisik pada kekasihnya.
Si nona pun mengangguk.
Mendapat kenyataan orang lihay, Auwyang Kongcu tidak berani berlaku acuh tak acuh seperti semula lagi. Ia selipkan kipasnya dipinggang, setelah berkelit, ia membalas menyerang, menghajar pundak orang.
Lee Seng menangkis, terus ia menyerang pula, tetap dengan satu jurus dari Po-giok-kun.
Kali ini Auwyang Kongcu memperlihatkan kepandaiannya. Ia menangkis dengan tangan kiri, sembari menangkis tubuhnya mencelat ke samping lawan, terus ke belakang lawan. Luar biasa gesit gerakkannya itu. Maka juga segera ia dapat menyerang ke arah punggung lawan.
Kwee Ceng dan Oey Yong terkejut. "Inilah serangan yang sukar di tangkis…!" kata mereka dalam hati, kaget.
Ketika itu orang-orangnya Lee Seng, yang tadinya mengurung di luar, sudah pada masuk ke dalam. Mereka melihat pemimpin mereka terancam bahaya, di antaranya ada yang berniat membantu.
Lee Seng sendiri merasakan ancaman bahaya. Desiran angin sudah mengenai bajunya. Tapi ia pun gesit sekali. Ia memutar tubuhnya sambil menangkis. Kembali ia menggunakan ilmu silat Hang Liong Sip-pat Ciang, jurus "Naga Sakti menggoyang ekor".
Auwyang Kongcu tidak berani menangkis serangan itu, ia melenggakkan tubuh, terus melompat mundur.
"Sungguh berbahaya!" kata Lee Seng dalam hatinya. Sekarang dia sudah memutar tubuh, untuk menghadapi pula lawannya. Tapi segera ternyata, dalam ilmu silat ia kalah unggul, selama tigapuluh jurus lebih, saban-saban ia terancam bahaya. Syukur untuknya ia selalu ketolong sama jurusnya "Sin liong pa bwee" - "Naga Sakti memgoyang ekor itu" itu.
"Rupanya Ang Cit Kong baru mengajari ia satu jurus pembela diri," Oey Yong berbisik pada Kwee Ceng.
Anak muda ini mengangguk. Ia lantas ingat lelakonnya sendiri ketika melayani Nio Cu Ong dengan "Hang liong yu hui" atau "Naga menyesal". Mengingat ini, ia jadi sangat bersyukur kepada Ang Cit Kong. Lee Seng yang menjadi salah satu pemimpin baru diajari satu jurus yang lihay itu, ia sendiri dalam tempo satu bulan sudah dapat limabelas jurus.
Pertempuran itu berjalan terus. Auwyang Kongcu mendesak lawannya hingga dipojok. Lee Seng sudah berpengalaman, ia dapat menerka maksud lawannya. Maka ia lantas berdaya akan menggerakkan diri, guna kembali ke tengah ruangan. Sekonyong-konyong Auwyang Kongcu tertawa lama, selagi tertawa kepalannya menyambar, tepat menggenai janggut lawannya itu.
Lee Seng terkejut, ia mengulur tangan, untuk membalas, tetapi telah kena didului. Tangan kiri Auwyang Kongcu sudah menemui pula sasarannya. Habis itu beruntun tiga empat kali lagi ia kena tertinju pula, kepalanya dan dadanya. Ia menjadi sakit, kepalanya pusing, ia terhuyung dan roboh.
Beberapa pengemis berlompat maju untuk menolong pemimpinnya, tetapi Auwyang Kongcu menyambar dua orang, ia angkat dengan membentrokkan kepalanya satu dengan lain, yang lain-lainnya menjadi keder.
"Kau kira aku ini siapa yang dapat terjebak kaum bangsa pengemis busuk?!" berkata Auwyang Kongcu tertawa mengejek. Ia terus menepuk kedua tangannya, maka dari dalam lantas keluar dua murid wanitanya, mendorong tubuhnya seorang nona yang tertelikung kedua tangannya, yang romannya kucal sekali. Dialah si nona Thia yang hendak dilindungi oleh kawanan pengemis itu. Semua orang terkejut, tak terkecuali Oey Yong dan Kwee Ceng.
Auwyang Kongcu mengebaskan tangannya, nona Thia dibawa masuk. Dengan roman sangat bangga ia berkata: "Selagi si pengemis tua nelusup masuk ke dalam kantong, aku yang rendah menanti di bawah lauwteng, lantas aku mengundang nona Thia, terus aku pulang lebih dalu untuk menunggu kamu di sini!"
Semua pengemis itu terbengong, mereka saling mangawasi. Mereka benar-benar roboh.
Auwyang Kongcu mengipasi dirinya, ia tertawa ketika berkata: "Nama Partai Pengemis sangat kesohor sehingga nama itu membuatnya orang tertawa hingga giginya copot! Apa yang dinamakan ilmu silat mencuri ayam dan meraba-raba anjing, apa yang disebut pukulan mengemis nasi dan menangkap ular, semua itu telah dikeluarkan! Dibelakang hari, masihkah kau berani usilan urusan kongcu kamu? Sekarang aku memberi ampun jiwa pengemis bangkotan, asal aku dapat meminjam dia punya kedua cahaya terang sebagai tanda mata…!"
Sembari berkata begitu, pemuda ini mengulur tangannya, untuk dengan kedua jerijinya mencongkel mata orang yang ia menyebutnya "Cahaya terang" Kalau mata Lee Seng kena dicongkel, butalah dia.
"Tahan!" mendadak terdengar satu seruan, disusul seseorang melompat masuk ke dalam ruangan, terus menolak ke arah Auwyang Kongcu.
Pemuda ini terperanjat, ia merasakan sambaran angin hingga terhuyung. Inilah hebat sebab semenjak ia keluar dari wilayah Barat, sering menghadapi lawan yang berat tetapi belum pernah seberat ini. Ketika ia melihat orangnya, ia menjadi heran sekali. Sebab orang itu si anak muda bernama Kwee Ceng, dengan siapa ia pernah hadir bersama dalam pestanya Chao Wang. Ia tahu orang ini berkepandaian biasa saja. Kenapa ia sekarang menjadi begini lihay.
"Kau sesat dan buruk, bukannya kau mencoba mengubah kelakuan, kau justru mencelaki orang!" orang itu menegur. "Apakah kau benar-benar tidak melihat mata pada semua orang gagah di kolong langit ini?" Dia memang Kwee Ceng, yang melihat saat untuk tak berdiam lebih lama pula.
Auwyang Kongcu melirik, ia tertawa. "Jadi kaukah si orang gagah di kolong langit ini?" dia mengejek.
"Aku yang muda tidak berani menyebut diriku orang gagah," Kwee Ceng merendah, "Aku hanya hendak membesarkan nyaliku untuk memberi nasehat kepada kau, kongcu. Aku minta sukalah kau memerdekakan nona Thia, habis itu lekas-lekas kau pulang ke Wilayah Barat!"
Auwyang Kongcu tertawa pula. "Jikalau aku tidak sudi dengar nasehatmu, sabahat cilik?" dia menanya.
Belum lagi Kwee Ceng menyahut, Oey Yong dari luar jendela telah mendahului. Katanya; "Engo Ceng, kau hajarlah telur busuk ini!"
Auwyang Ongcu terperanjat. Ia dengar suara orang dan mengenali. "Nona Oey!" ia lantas berkata, "Kau menghendaki aku memerdekakan Nona Thia, ini tidak susah, asal kau sendiri yang sudi ikut denganku! Jikalau kau sudi, bukan hanya Nona Thia, juga wanita-wanita disampingku, akan aku merdekakan semuanya! Bahkan aku akan berjanji, selanjutnya di belakang hari aku tidak akan cari lain wanita lagi! Tidakkah ini bagus?"
"Itu bagus!" menyahut Oey Yong, yang lompat masuk sambil tertawa, "Kita pergi ke Wilayah Barat untuk pesiar, sungguh menarik! engko Ceng, bukankah bagus begitu?"
Belum lagi Kwee Ceng menyahut, Auwyang Kongcu sudah mendahului. "Aku hanya menghendaki kau sendiri," katanya. "Buat apa bocah busuk ini turut bersama?!"
Mendadak Oey Yong menjadi gusar, tangannya menyambar. "Kau berani memaki dia?!" serunya. "Kaulah si bocah busuk!"
Auwyang Kongcu kesemsem melihat Oey Yong datang dengan senyuman berseri-seri, orang nampaknya boto dan manis sekali, maka itu ia berlaku ceriwis, ia tidak menyangka si nona bisa gusar secara tiba-¬tiba. Ia pun tidak bersiaga, maka "Plok!" pipi kirinya kena ditampar. Sebab si nona menggunakan jurus dari "Lok Eng Ciang" yang lihay itu. Beruntung untuknya, si nona tidak menggunakan seluruh tenaganya, ia hanya merasa pipinya itu panas dan sakit.
"Fui!" berseru si kongcu yang menjadi penasaran, seraya tangannya menjambak ke dada si nona.
Oey Yong tidak mau menyingkir dari tangan si pemuda, sebaliknya dengan kedua tangannya menyerang ke arah kepala orang.
Auwyang Kongcu adalah pemuda ceriwis, melihat nona itu menangkis tanpa berkelit, ia girang bukan main. Begitulah tanpa pedulikan kepalanya, ia mengulur terus tangannya. Hanya ketika jari tangannya mengenai dada orang, ia kaget sekali. Tangannya terasa tertusuk dan sakit.
"Oh!" ia menjerit. "Dia mengenakan baju lapis berduri"
Baru sekarang ia ingat. Maka syukur untuknya, karena berlaku ceriwis, ia tidak menjambak keras, cuma meraba. Karena ini ia lekas-lekas menangkis kedua tangan si nona.
"Tidak gampang kau menghajarku!" kata Oey Yong tertawa. "Cuma aku yang berhak menghajar kau, sebaliknya tidak!"
Auwyang Kongcu kewalahan, karena ini tumplak kedongkolannya terhadap Kwee Ceng, yang berdiam saja mengawasi aksi mereka berdua.
"Biarlah aku mampuskan dulu bocah ini, supaya dia mati hatinya!" pikirnya. Dengan "dia" ia maksudkan si nona manis itu. Ia mengawasi Oey Yong tetapi kakinya bergerak menyentil ke belakang di mana Kwee Ceng berdiri, mengarah dada si anak muda. Itulah tendangannya yang lihay, ajarannya SeeTok Auwyang Hong, pamannya yang kesohor itu.
Kwee Ceng seperti terbokong, tidak dapat ia mengelakkan diri. Tapi ia tak sudi mandah saja dihajar, ia segera membalas menyerang. Jadi keras lawan keras. Maka berbareng dua-dua serangan mereka berhasil. Yang satu tertendang kempungannya, yang lain terhajar pahanya yang dipakai menendang. Kedua merasakan sangat sakit. Akan tetapi dua-duanya penasaran, maka itu, bukannya mereka mundur, mereka malah maju pula. Karena itu keduanya jadi bertempur.
Semua orang Kay Pang heran, apapula mereka mengenal pukulan Kwee Ceng. "Itulah jurus istimewa dari Lee Seng yang biasa dipakai untuk menolong diri…." kata mereka. "Kenapa dia pun mengerti dan gerakannya cepat melebihkan Lee Seng?"
Kwee Ceng memang menyerang dengan "Sin liong bwee". Dilain pihak sudah ada beberapa pengemis yang menolong Lee Seng, maka itu, pemimpin pengemis itu pun bisa menyaksikan pertempuran, hingga ia pun heran.
"Hang Liong Sip-pat Ciang itu adalah ilmu rahasia Ang Pangcu ynag tidak sembarangan diturunkan," memikir pemimpin pengemis ini, "Aku sudah berjasa untuk partai, aku cuma diajarkan satu jurus, tetapi anak muda ini lain, agaknya ia mengerti banyak. Mungkinkah ia telah dapat mewariskan semua?"
Juga Auwyang Kongcu heran bukan main. Baru berselang dua bulan pemuda ini telah maju demikian pesat.
Cepat sekali mereka sudah bertempur empatpuluh jurus. Kwee Ceng gunakan semua limabelas jurusnya Hang Liong Sip-pat Ciang, ia telah memutar balik itu. Dasar kalah jauh dari Auwyang Kongcu, ia tidak dapat merobohkannya, ia cuma dapat bertahan. Maka itu, lewat lagi belasan jurus, ia kewalahan. Auwyang Kongcu berlaku sangat gesit, berlompatan ke segela penjuru, tinjunya saban-saban menyambar. Satu kali Kwee Ceng kena didupak kempolannya hingga ia terhuyung. Syukur ia tangguh, tidak dapat celaka. Ia melawan terus, mengulangi jurus¬-jurusnya.
Untuk sementara ini Auwyang Kongcu tidak berani mendesak, berselang lagi sepuluh jurus lebih, setelah ia memahami ilmu silat orang, baru ia merangsak pula. Karena ini ia mulai mencari lowongan untuk turun tangan.
Kwee Ceng sudah habis menjalankan limabelas jurus, ia lantas memulai lagi pula dari seperti semula. Inilah ketika justru ditunggu Auwyang Kongcu. Kongcu ini lantas mendahului menyambar ke pundak lawan.
Kaget sekali Kwee Ceng. Tidak ada jalan untuk melindungi diri dengan limabelas jurusnya. Disaat sangat berbahaya itu, ia berlaku nekat. Ia menubruk seraya menepuk tangan lawan. Itulah ilmu silat menurut caranya sendiri. Ini justru diluar terkaan Auwyang Kongcu yang menjadi kaget, karena ia tidak menyangka bakal disambut secara demikian. Tidak ampun lagi, lengannya kena dihajar. Bahna kaget, ia lompat mundur ke belakang beberapa tindak. Syukur untuknya, ia hanya merasakan sakit, tulang lengannya tidak patah atau remuk.
Kwee Ceng girang melihat hasilnya, yang diluar dugaannya. Ia bahkan jadi insyaf akan dapat diputarbalikkannya ilmu silat itu tanpa menurut aturan. Ia hanya menginsyafi, karena belum terlatih, tenaganya jadi berkurang. Tidak demikian, celakalah tangannya pemuda dari Wilayah Barat itu. Karena ini, hendak ia mencoba terus.
Sekali lagi mereka bergerak, selagi Kwee Ceng hendak mencoba, Auwyang Kongcu sebaliknya penasaran dan hendak menuntut balas. Kesudahannya, pemuda she Auwyang ini menjadi heran sekali. Ia mendapat kenyataan, disebelah jurus-jurus yang biasa, lawannya mempunyai tiga jurus tambahan lainnnya, hingga sulit dia memberi hajaran tepat seperti tadi. Sekarang ini Kwee Ceng dapat menutup kempolan kirinya dan pinggang kanannya, dua lowongan yang diarah oleh lawan.
Kwee Ceng berkelahi dengan bernapsu, ia mengulangi dan mengulangi tambahan tiga jurusnya itu hingga ia seperti telah membikin lengkap delapanbelas jurus Hang Liong Sip-pat Ciang. Ia pun menjadi semakin hapal, pertempuran itu seperti merupakan latihan.
Segera Auwyang Kongcu melayani dengan sabar, gerakannya jadi rada kendor. Ia memikir hendak menanti musuhnya itu letih. Dangan berkelahi secara begini, berbareng ia memahami pula cara berkelahinya musuh. Ia cerdik, belum lama ia sudah dapat melihat kekosongan musuhnya. Atas ini, ia tidak mau mensia-siakan waktu, mendadak ia mengirim serangan. Dengan tangan kiri menggertak dengan menjambak, diam-diam kakinya melayang naik! Kwee Ceng terkejut. Sulit ia menangkis atau berkelit.
Oey Yong menonton dengan waspada, ia melihat pemudanya terancam bahaya, karena ia senantiasa siap sedia, segera mengayun sebelah tanganya, maka tujuh atau delapan jarum kongcian menyambar Auwyang Kongcu.
Kaget pemuda dari Wilayah Barat itu, tetapi ia masih sempat menebas dengan kipasnya. Hanya selagi ia merasa berhasil menyingkirkan semua jarum, kakinya toh terasa sakit dengan mendadak, seperti ada benda yang menancap di jalan darahnya. Karena ini, meskipun tendangannya mengenai sasaran, kenanya tidak hebat. Dengan kaget ia melompat mundur.
"Tikus mana membokong kongcumu!" ia membentak. "Kalau kau berani, mari berlaku terus terang…."
Belum lagi pemuda ini menutup mulutnya, satu benda berkelebat menyambar, sia-sia belaka ia berkelit, tahu-tahu mulutnya kemasukan barang yang memberi rasa sari asin dan keras. Ia kaget dan gusar, lekak melepehkannya. Untuk kemendongkolannya, ia melihat sepotong tulang ayam. Karena ia tahu darimana datangnya sambaran, ia lantas angkat kepalanya, dongak melihat ke penglari.
Justru ia mengangkat kepala, ada debu yang meluruk jatuh. Ia melompat ke samping, terus ia dongak lagi, seraya membuka mulutnya untuk mendamprat. Kali ini belum sempat ia bersuara, mulutnya kembali kemasukan tulang - tulang kaki ayam, maka juga giginya kebentur hingga merasakan sakit!
Bukan alang kepalang mendongkolnya pemuda ini, yang seumurnya belum pernah ada orang menghina atau mempermainkan secara demikian. Lekas-lekas ia membuang tulang dari mulutnya. Diwaktu itu melihat berkelebatnya bayangan, yang melompat turun. Dalam murkanya, ia pun berlompat untuk memapakinya, menyerang bayangan itu. Tapi heran, bukannnya dapat menyerang, ia justru kena memegang barang. Ketika ia melihat barang itu, mendongkolnya bukan kepalang. Dua potong ceker ayam yang besar, yang sudah tidak ada dagingnya!
Berbareng dengan itu, di atas terdengar suara orang tertawa lebar disusul dengan pertanyaan, "Bagaimana? Bagaimana dengan ilmu silat mencuri ayam dan meraba-raba anjing dari si pengemis tua?"
Kapan Kwee Ceng dan Oey Yong mendengar suara itu, keduanya girang bukan main. "Cit Kong!" mereka berseru tanpa tertahan lagi.
Semua orang lantas mengangkat kepala, maka di atas itu mereka lihat Ang Cit Kong tengah duduk dengan enteng sekali, mulutnya lagi menggerogoti paha ayam berikut dadanya, yang dipegangi sebelah tangannya.
Mengenali orang tua itu, hati Auwyang Kongcu menjadi dingin sekali. "Ang Siepee di sana?" ia berkata, "Di sini titjie memberi hormat!" Benar-benar ia lantas menekuk kedua lututnya dan mengangguk-angguk.
"Oh, kau mengenal si pengemis tua?" tanya Ang Cit Kong seraya terus mengganyam ayamnya. Ia menanya acuh tak acuh.
"Memang pernah titjie bertemu sama Ang siepee," menyahut Auwyang Kongcu, yang menyebut dirinya titjie, keponakan. "Titjie ada punya mata tetapi titjie tidak mengenal gunung Tay San, seharusnya titjie mati saja. Dahulu titjie sudah lantas mengirim pesuruh burung ke Barat, memohon petunjuk dari pamanku, setelah itu barulah titjie mengetahui siepee. Pamanku itu memesan, apabila titjie bertemu sama siepee, mesti titjie menyampaikan hormatnya seraya mengharap kesehatan siepee."
"Si Racun Tua itu pandai sekali berpura-puar!" berkata Ang Cit Kong, yang menyebut si racun Tua kepada See Tok Auwyang Hong. "Dia pun banyak mulutnya! Aku si pengemis tua, dapat aku mencuri, dapat aku gegares, tetapi aku tidak merampas anak dara orang, maka kenapa aku bolehnya tidak sehat? Bukankah pamanmu tidak sakit dan tidak tumbuhan juga?"
Auwyang Kongcu malu dan jengah, ia menyahut sembarangan saja.
"Barusan aku mendengar kata-katamu," berkata lagi Ang Cit Kong. "Bukankah kau menyebut-nyebut tentang ilmu silat mencuri ayam dan meraba-raba anjing, tentang pukulan mengemis nasi dan menangkap ular? Bukankah kau sangat memandang enteng kepada semua ilmu silat itu?"
Di dalam hatinya Auwyang Kongcu kata, "Aku tidak menyangka bahwa dia telah bersembunyi di atas penglari…" Tapi toh ia menyahut, "Siepee, aku mohon sukalah siepee memaafkan keponakanmu ini. Tadi aku telah mengoceh tidak karuan karena aku tidak mengetahui ketua Partai lo-enghiong ini justru siepee adanya…"
Ang Cit Kong tertawa ngakak, selagi tertawa, tubuhnya melompat turun. "Kau menyebut dia lo-enghiong, tetapi tidak sanggup melawan kau, maka itu kaulah si enghong!" berkata ketua pengemis itu. "Apakah kau tidak malu? Haha-haha!" Enghiong ialah pendekar dan lo-enghiong adalah pendekar tua.
Auwyang Kongcu malu sekali, hatinya mendongkol bukan main, tetapi ia insyaf bukanlah tandingannya, tidak berani ia turun tangan, tidak berani ia lancang mulut, maka ia terpaksa merendahkan diri.
"Kau mengandalkan ilmu silatnya si Racun Tua, kau datang ke Tionggoan, ke tenggara ini untuk malang melintang! Hm! Hm! Tapi ketahui olehmu, selama si pengemis belum mampus, aku khawatir kau tidak akan mendapatkan tempatmu di sini!" berkata pula si pengemis tua itu.
Auwyang Kongcu terus mesti mengendalikan diri. "Siepee bersama pamanku ada sama kesohornya, maka itu aku menurut saja segala perintah siepee," ia berkata, merendah.
"Bagus, ya!" berseru Cit Kong. "Kau maksudkan aku si besar menghina si kecil, si tua menghina kamu si anak muda?"
Auwyang Kongcu tidak membuka suara, ia melawan diam.
"Dibawah perintahku si pengemis tua," berkata Cit Kong, "Meski benar ada si pengemis besar, si pengemis pertengahan dan si pengemis kecil, mereka itu bukanlah murid-muridku! sekalipun ini si orang she Lee, dia barulah belajar serupa ilmu silatku yang kasar, ia masih bukan muridku yang dapat menjadi ahli warisku! Bukankah kau memandang enteng ilmu silatku mencuri ayam dan meraba anjing? Bukankah aku si pengemis bangkotan omong besar, apabila aku hendak mengangkat satu murid langsung, belum tentu ia seperti kau!"
"Itu sudah sewajarnya," menyahut Auwyang Kongcu.
"Di mulut kau mengatakan begini, di dalam hatimu kau mencaci aku," kata pula Ang Cit Kong.
"Keponakanmu tidak berani," membilang Auwyang Kongcu.
"Cit Kong jangan percaya obrolannya!" Oey Yong menyelak. "Di dalam hatinya dia memang sedang mencaci kau, malah mencaci lebih hebat sekali!"
"Bagus ya, bocah ini berani mencaci aku!" seru Cit Kong dengan gusar.
Mendadak ia mengulur tangannya, bagaikan kilat, kipas di tangan si anak muda telah kena dirampas, hingga orang melengak. Dia membeber kipas itu, di situ terlihat lukisan beberapa tangkai bunga bouwtan serta tulisannya Cie Hie dari jaman Song Utara, di samping mana ada lagi sebaris tulisan, bunyinya "Pek To San Cu", artinya tuan dari Pek To San. Itu tulisan Auwyang Kongcu sendiri.
"Hm!" Cit Kong memperdengarkan suara dingin. Kemudian ia menanya Oey Yong: "Bagaimana kau lihat ini beberapa huruf?"
Sepasang alis mata si nona terangkat. Ia menjawab: "Sungguh menyebalkan! Itu mirip tulisannya kuasa dari toko penukar uang perak!"
Auwyang Kongcu biasa mengagulkan diri sebagai pemuda yang pandai ilmu silat dan ilmu surat, sekarang ia mendengar celaan Oey Yong, ia mendongkol bukan main, dengan mata melotot ia memandang si nona. Tapi ia melihat wajah orang yang terang, yang seperti tertawa bukannya tertawa, ia menjadi tercengang.
Ang Cit Kong membeber kipas di telapak tangannya yang satu, ia bawa itu ke mulutnya untuk dipakai menyusuti beberapa kali. Ia baru saja habis menggerogoti ayam, di bibirnya masih berlepotan minyak, maka bisa di mengerti kalau kipas indah itu bukannya menjadi kipas lagi, setelah mana ia merangkap jari-jari tangannya, kipas itu teremas menjadi sehelai kertas rongsokan, kemudian melemparkannya!
Untuk lain orang kejadian itu bukan berarti apa-apa, untuk Auwyang Kongcu, itu hebat sekali. Kipas yang menjadi senjatanya untuk bertempur, tulang-tulangnya terbuat dari baja pilihan, dengan diremas, baja itu turut menjadi tidak karuan. Hanya di sebelah itu, ia pun kagum tenaga besar dari si pengemis tua, yang dengan gampang saja dapat meremas remuk!
"Jikalau aku sendiri yang melawan kau, sampai mampus juga kau tentu tidak puas," berkata Ang Cit Kong. "Maka sekarang juga hendak aku mengangkat seoarng murid supaya segera dia melawan kau….."
Benar-benar Auwyang Kongcu penasaran, dengan berani ia pun berkata, "Saudara ini barusan telah bertempur beberapa puluh jurus denganku, jikalau siepe tidak turun tangan, sudah tentu keponakanmu yang beruntung memperoleh kedudukan di atas angin." Sembar tertawa, ia menunjuk kepada Kwee Ceng.
Cit Kong mendongak ke langit, ia tertawa terbahak¬-bahak. "Anak Ceng, adakah kau muridku?" ia menanya.
Kwee Ceng ingat itu hari ia berlutut kepada orang tua ini, untuk memberi hormat tetapi si orang tua dengan tersipu-sipu membalas berlutut dan mengangguk¬-angguk kepadanya, maka itu ia lekas-lekas menjawab: "Aku yang muda tidak mempunyai rejeki untuk menjadi muridmu."
"Nah, kau dengar, bukan?" berkata Cit Kong kepada pemuda she Auwyang itu.
Auwyang Kongcu menjadi heran sekali. "Pengemis bangka ini pastilah tidak memperdaya orang," pikirnya. "Habis bocah ini, darimanakah dia mendapatkan kepandaiannya?"
Cit Kong tidak mengambil tahu apa yang orang pikir. Ia memandang Kwee Ceng. "Sekarang hendak aku mengambil kau sebagai murid, kau senang atau tidak?" dia tanya. "Apakah kau tidak mencela aku si pengemis tua? Apakah enak mendengarnya kau kalau orang katakan gurumu adalah aku si pengemis tua?"
Tapi Kwee Ceng girang bukan kepalang, lantas saja ia menjatuhkan diri di depan si raja pengemis itu, untuk paykui delapan kali.
"Hai, anak tolo!" kata si guru, "Mengapa kau tidak memanggil suhu?"
"Sebenarnya teecu sudah mempunyai enam guru, maka itu teecu pikir…." Untuk sejenak bocah ini merandak, ia bersangsi. "Teecu memikir untuk menanyakan dulu pikirannya keenam guruku…"
"Benar-benar!" berkata Ang Cit Kong. "Seorang kuncu memang tidak melupakan asal usulnya! Baiklah, sekarang aku mengajarkan kau dulu dengan tiga jurus."
Lalu di depan Auwyang Kongcu sendiri, Cit Kong mengajarkan Kwee Ceng sisanya tiga jurus lagi Hang Liong Sip-pat Ciang. Sudah tentu ketiga jurus itu beda dengan tiga jurus ciptaan Kwee Ceng sendiri.
Cit Kong tunggu sampai Kwee Ceng sudah dapat menghapalkan tiga jurus itu, baru ia kata: "Baik, anak yang baik, cukup sudah! Sekarang kau tolong aku mengajar adat bandit cabul ini!"
Kwee Ceng memang sangat sebal terhadap pemuda ceriwis dan jumawa, tanpa membilang apa-¬apa lagi, ia lansung meninju.
Auwyang Kong tidak takut, ia pun lagi mendongkol, maka habis berkelit, lantas ia balas menyerang, maka kembali di situ keduanya bertarung.
Rahasianya Hang Liong Sip-pat Ciang adalah tenaga yang dikerahkan di satu saat, tentang ilmu silatnya sendiri sangatlah sederhana, dipelajarinya pun gampang, yang sulit adalah melatihnya hingga mahir. Orang-orang seperti Nio Cu Ong, Bwee Tiauw Hong dan Auwyang Kongcu, itu bukanlah tandingan Kwee ceng, tetapi kenapa ia sanggup melayani mereka bertiga? Itulah rahasianya. Pula kali ini. Auwyang Kongcu menghadapi sendiri si pengemis tua mengajar Kwee Ceng, kalau perlu ia dapat menyangkoknya, tetapi sekarang setelah bergebrak, ia merasa kesulitan.
Sekarang Kwee Ceng dapat menggunakan delapanbelas jurus, ia dapat menyambung itu kepala dengan buntut dan buntut dengan kepala. Karena ia telah pandai menjalankan limabelas jurus, mendapat tambahan tiga jurus yang terakhir ini, tenaganya lantas saja bertambah.
Auwyang Kongcu melayani bekas tandingannya ini dengan bersungguh-sungguh, dia sudah menggunakan empat macam ilmu silat, tapi cuma dapat berimbang saja - mereka ini jadi sama tangguhnya, sedang tadinya ia terlebih unggul. Sesudah lewat lagi beberapa jurus tanpa hasil, ia menjadi bingung.
"Jikalau hari ini aku tidak memperlihatkan ilmu silat istimewa dari keluargaku, pasti sekali sukar untuk merebut kemenangan." ia berpikir. "Semenjak masih kecil aku telah dididik pamanku, kenapa aku tidak dapat merobohkan muridnya si pengemis tua ini -murid yang baru saja diberi pengajaran? Tidakkah dengan begitu aku akan meruntuhkan kesohoran dari pamanku di tangannya si pengemis bangkotan ini?" Karena ini, mendadak ia mengirim tinjunya yang hebat.
Melihat serangan itu, Kwee Ceng segera menangkis. Tapi mendadak ia seperti kehilangan tangan lawan, yang menjadi lemas dengan sekonyong-konyong, atau dilain saat "Plok!" batang lehernya kena ditinju tanpa ia dapat berdaya. Ia menjadi kaget sekali, sambil tunduk ia lompat, tangannya membalas menyambar.
Auwyang Kongcu berkelit sambil menggeser kaki, sambil berkelit, ia juga menyerang. Kali ini Kwee Ceng tidak berani menangkis, ia berkelit dengan cepat. Tapi aneh gerakan tangan kongcu ini, entah bagaimana, tangannya seperti menuju ke kiri, tahunya ke kanan, maka "Plok!" lagi sekali tangannya ini mengenai pundak. Hebat untuk Kwee Ceng, lekas juga ia terhajar untuk ketiga kalinya.
"Anak Ceng, tahan!" berkata Ang Cit Kong. "Hitunglah kau yang kalah satu kali ini."
Kwee Ceng menurut, ia melompat keluar gelanggang. Ia merasakan sakit pada tempat-tempat yang terpukul, tapi ia pun memberi hormat pada lawannya seraya berkata: "Benar kau lihay, aku bukanlah tandinganmu."
Auwyang Kongcu puas sekali, ia lantas melirik Oey Yong.
Ang Cit Kong lantas berkata: "Si Racun tua setiap hari memelihara ular, ini ilmu silatnya Kulit Ular Emas tentulah ia ciptakan dari tubuhnya ular berbisa. Kau beruntung sekali, karena sekarang aku si pengemis tua belum dapat memikir daya untuk memecahkannya. Nah, kau pergilah baik-baik."
Auwyang Kongcu tercekat hatinya. Ia pikir: "Paman telah pesan wanta-wanti padaku, kalau bukan menghadapi bencana kematian, tidak boleh aku menggunakan silatnya yang diberi nama Kim Coa Kun, Kuntauw Ular Emas, sekarang si pengemis tua mengetahuinya, apabila pamanku mengetahui juga, aku bisa di hukum berat."
Karena ini lenyaplah kepuasan hatinya. Ia memberi hormat kepada Ang Cit Kong, lantas ia bertindak keluar dari rumah itu.
"Eh, tunggu dulu, hendak aku bicara denganmu!" Oey Yong mencegah.
Auwyang Kongcu menghentikan tindakannya, ia menoleh. Oey Yong memberi hormat dan menjura kepada Ang Cit Kong. "Cit Kong," katanya, "Baiklah hari ini kau menerima dua murid. Kau sekarang berat sebelah, aku tidak mau mengerti!"
Ang Cit Kong menggeleng kepala tetapi ia tertawa. "Sebenarnya aku telah melanggar aturan dengan menerima murid," katanya. "Maka itu tidak dapat dalam satu hari aku melanggar pula aturan dengan menerima dua murid. Ayahmu sendiri sangat lihay, mana dapat ia membiarkan kau mengangkat aku si pengemis tua menjadi gurumu…"
Oey Yong menunjukkan rupa kaget dan sadar. "Oh, kau jeri terhadap ayahku!" katanya.
Cit Kong kena dibikin panas hatinya. "Takut?" katanya, "Hm! Baiklah, aku terima kau sebagai murid! Mustahil Oey Lao Shia di Bangkotan Tersesat nanti gegares tubuhku!"
Oey Yong girang, ia tertawa. "Baiklah, satu patah menjadi kepastian" ujarnya. "Jangan kau menyesali! Suhu, kamu kaum pengemis, bagaimana caranya kamu menangkap ular? Coba suhu mengajariku."
OBJEK WISATA MANCA NEGARA
Liok Seng Hong menjadi tidak enak hati mendengar Tiauw Hong menentang Liok Koay dan Liok Koay menyambutnya. Ingin ia mengajukan diri sebagai penengah tetapi tidak dapat menghampiri mereka, ia pun tidak mempunyai cukup pengaruh. Maka itu, mendengar suaranya Kwee Ceng, satu pikiran berkelebat di otaknya.
"Tuan-tuan, tahan dulu!" dia mencegah. "Aku minta sukalah kau dengar dulu padaku. Bukankah diantara kalian sudah ada yang meninggal? Maka itu menurutku, pertempuranan ini baiknya dibatasi menang dan kalah dengan saling towel saja, jangan ada yang saling melukai. Liok Koay melawan satu, walau itu sudah seharusnya, aku anggap masihlah kurang adil. Maka itu, aku minta biarlah Bwee Suci main-main saja dengan Kwee Laotee. Setujukah kalian?"
Bwee Tiauw Hong tertawa dingin. "Mana dapat aku menempur segala bocah tak bernama?" katanya.
Tapi Kwee Ceng berani, katanya dengan nyaring, "Suamimu aku yang membunuh, apa sangkut pautnya dengan semua suhuku?"
Tiba-tiba saja Tiauw Hong menjadi gusar sekali.
"Betul!" serunya. "Mari aku bunuh dulu dirimu, bangsat cilik!" Dengan mendengar suara orang, ia ketahui di mana beradanya orang, segera ulur tangan kirinya ke batok kepala si bocah.
Kwee Ceng berkelit. katanya dengan nyaring: "Bwee Cianpwee, ketika dulu itu aku kesalahan membinasakan Tan Cianpwee, disebabkan usiaku yang muda dan aku belum tahu apa-apa, tetapi untuk itu aku berani bertanggung jawab, maka kamu berurusanlah denganku, aku tidak akan melarikan diri! Bagaimana jikalau dibelakang hari kau masih mencari keenam guruku?"
"Benarkah kau demikian laki-laki, hingga kau tidak bakal kabur?" menegaskan Tiauw Hong.
"Pasti tidak!" jawab si anak muda mantap.
"Baiklah, ganjalanku dengan Kanglam Liok Koay aku bikin habis! Mari bocah, kau turut aku!"
"Bwee Suci!" Oey Yong berteriak. "Dia pun laki-laki sejati! Kau nanti ditertawakan orang-orang kangouw!"
"Apa?" tanya Tiauw Hong gusar.
"Dia ahli waris satu-satunya dari Kanglam Liok Koay!" kata si nona. "Sekarang kepandaiannya Kanglam Liok Koay tidak sama lagi seperti dulu, maka jikalau mereka hendak mengambil nyawamu, gampangnya sama seperti mereka membalikkan telapak tangan! Hari ini mereka memberi ampun dirimu, itu artinya mereka telah memberi muka, tetapi kau tidak tahu selatan, kau masih membuka mulut besar!"
"Fui! Aku menghendaki diampuni mereka? Eh, Liok Koay, benarkah kau telah memperoleh kemajuan besar? Mari, kita coba-coba!"
"Perlu apa sampai mereka sendiri turun tangan?" berkata pula Oey Yong. "Sekalipun muridnya seorang diri, kau tidak dapat memenangkannya!"
Tiauw Hong bergusar hingga ia berkoakan. "Jikalau dalam tiga jurus aku tidak dapat membikin dia mampus, di sini juga aku akan membenturkan diriku hingga binasa!" teriaknya.
Si Mayat Besi ingat pertempurannya sama Kwee Ceng di dalam istana, ia tahu baik kepandaian orang, ia hanya tidak mendapat tahu, sesudah berselang beberapa bulan, pemuda ini telah mendapat didikan Kiu Cie Sin Kay dan kepandaiannya telah maju pesat sekali.
"Baiklah!" tertawa Oey Yong. "Semua orang di sini menjadi saksinya! Tiga jurus terlalu sedikit, aku beri batas sampai sepuluh jurus!"
"Tidak," berkata Kwee Ceng. "Aku akan menemani cianpwee main-main limabelas jurus!"
"Sekarang mintalah Liok Suko serta tetamu dengan siapa suci datang bersama untuk tolong menghitungnya!" berkata Oey Yong pula.
Tiauw Hong heran. "Siapa yang menemani aku datang ke mari?" tanyanya. "Aku datang seorang diri. Perlu apa aku memakai kawan?"
"Habis itu siapa di belakang suci?" Oey Yong tanya.
Dengan tiba-tiba Tiauw Hong menyambar ke belakang, cepatnya bukan main.
Orang tidak melihat si baju hijau berkelit, tahu-tahu dia telah lolos dari sambaran itu. Sampai itu waktu, anehnya, ia masih terus membungkam. Tiauw Hong tidak menyerang pula tetapi ia lantas merasakan sesuatu. Ketika itu malam ia melayani Auwyang Kongcu bertempur diwaktu ia mendengar suara seruling, yang membebaskan ia dari kurungan barisan ular, ia telah menghaturkan terima kasih ke tengah udara, sebab ia tak tahu siapa si peniup suling yang membantunya itu. Sejak itu ia merasakan ada suatu apa di belakangnya, sia-sia belaka segala pertanyaannya dan sambarannya, ia tidak mendapatkan hasil, sampai ia mau merasa mungkin ia kurang sehat, hingga mau ia menerka kepada hantu. Sekarang, mendengar perkataan Oey Yong itu, ia tidak ragu-ragu lagi. Tentu saja ia menjadi kaget sekali.
"Kau siapa?!" ia tanya, suaranya menggetar. "Mau apa kau selalu mengikutiku?!"
Orang itu tidak menjawab, ia seperti tidak mendengar.
Tiauw Hong lompat menubruk. Kembali ia gagal. Nampaknya orang itu tidak bergerak tetapi ia tidak kena diserang.
Semau orang menjadi kaget dan heran. Pastilah orang itu lihay luar biasa.
Liok Seng Hong sudah lantas menegur, katanya, "Tuan, dari tempat yang jauh kau datang kemari, aku belum sempat menyambutnya, silahkan duduk! Maukah Tuan minum arak?"
Kembali si baju hijau tidak menyahut, bahkan ia membalikkan tubuhnya, untuk berlalu.
"Kaukah yang meniup seruling menolongku?" tanya Tiauw Hong.
Orang heran. Tiauw Hong ditolong orang itu? Orang pun heran, lihay sebagai dianya, si Mayat Besi ini tidak ketahui orang sudah berlalu.
"Bwee Suci, orang itu sudah pergi?" Oey Yong memberitahu.
"Dia sudah pergi?" Tiauw Hong heran.
"Ya, dia sudah pergi," menerangkan Oey Yong. "Pergi kau susul dia, jangan kau main galak-galak di sini!"
Tiauw Hong menjublak sekian lama, wajahnya berubah-ubah. Nampaknya ia berduka. Lalu mendadak dia berseru,: "Bocah she Kwee, kau sambutlah!" Lalu dua tangannya bergerak, sepuluh jari tangannya nampak seperti api yang marong. Toh ia tidak menyerang.
"Aku di sini," Kwee Ceng menjawab.
Baru saja ia mendengar "Aku" tangan kanan Tiauw Hong sudah berkelebat menyusul mana tangan kirinya, dengan lima jarinya, menyambar ke muka orang.
Kwee ceng lihat serangan itu, ia mengegos tubuhnya, sembari berkelit, ia menyerang dengan tangan kirinya.
Tiauw Hong dapat mendengar suara serangan, ia hendak menangkis tapi sudah tidak keburu, dengan mendatangkan suara, pundaknya kena dihajar hingga ia mundur tiga tindak. Karena ia telah diserang dengan salah satu jurus dari Hang Liong Sip-pat Ciang. Tapi ia lihay luar biasa, lekas sekali ia berbalik dan tangannya menyambar.
Inilah Kwee Ceng tidak sangka dan ia menjadi kaget sekali, tapi sia-sia, karena segera ia telah kena dicekal lengan kanannya pada tiga jalan darah Iwee-kwan, gwa-kwan dan hwee-cong. Sebenarnya ia senantiasa siap sedia dan berjaga-jaga, ia mendengar keterangan guru-gurunya tentang lihaynya Kiu Im Pek-ku Jiauw, sekarang toh ia kena tercekal. Ia menjerit celaka, separuh tubuhnya menjadi lemas. Disaat berbahaya itu ia masih ingat untuk berdaya. Ia tekuk dua jeriji tangan kanannya, jeriji telunjuk dan tengah, dengan itu ia menyerang ke dada lawannya. Seharusnya serangan itu disusul dengan serangan tangan kiri tetapi tangan kirinya itu tercekal lawan, terpaksa ia mennggunakan sebelah tangan saja. Ini pun ada suatu jurus dari Hang Liong Sip-pat Ciang.
Bwee Tiauw Hong dapat mendengar serangan ini, yang anginnya luar biasa. Ia tidak menangkis, ai berkelit, tidak urung ia kena terhajar juga, hanya sebab ia berkelit itu, yang menjadi sasaran ke pundaknya. Ia merasakan dorongan yang keras sekali, hingga terpaksa ayun tangannya melepas cekalan.
Kwee Ceng menyerang seraya berbareng mencoba menarik diri, untuk meloloskan tangannya yang dicekal, karena dilepaskan, tubuhnya terpental. Sebaliknya tubuh si Mayat Besi terdampar karena serangannya itu. Maka keduanya sama-sama terhuyung mundur, punggung mereka masing-masing mengenai pilar.
Besar dan tangguh pilar itu, benturan tidak menyebabkannya patah atau roboh, akan tetapi akibat benturan membuatnya genteng dan batu pecah dan meluruk jatuh.
Banyak chungteng menjadi kaget, sambil berteriakan mereka lari keluar.
Kanglam Liok Koay saling mengawasi, mereka heran juga girang.
"Darimana anak Ceng mendapatkan pelajaran ini?" mereka saling menanya di dalam hati. Han Po Kie sampai melirik kepada Oey Yong, karena ia menduga mestilah si nona yang mengajarinya.
Pertempuran sudah berjalan terus. Kedua pihak sama-sama mengeluarkan kepandaiannya. Tiauw Hong berkelahi dengan sengit, karena ia gusar dan penasaran. Kwee Ceng berlaku gesit dan waspada. Si Mayat Besi berlompatan ke delapan penjuru, angin menyambar-nyambar.
Kwee Ceng ingat pelajaran Ang Cit Kong tentang ilmu "Lok Eng Ciang", ia tetap bersilat dengan Hang Liong Sip-pat Ciang, ia putar balik semua lima belas jurusnya. Ia berhasil dengan cara berkelahi ini. Bukan limabelas, bahkan sudah hampir limapuluh jurus. Tiauw Hong masih belum berhasil merobohkan atau menawan lawannya seperti bermula tadi. Bahkan untuk mendesak saja ia tak sanggup.
Oey Yong menonton dengan tertawa atau tersenyum-senyum, mukanya yang boto menjadi manis sekali. Sedang Kanglam Liok Koay berdiri terbengong-bengong. Liok Seng hong pun mnejublak bersama putranya.
"Hebat kemajuan Bwee Suci ini," tuan rumah berpikir, "Kalau aku mesti melawan dia, dalam sepuluh jurus saja pastilah aku telah kehilangan jiwaku… Tapi ini Kwee laotee yang masih begini muda, kenapa dia begini lihay? Oh, sungguh mataku kabur! Syukur aku perlakukan dia dengan hormat, tidak sampai aku berlaku tak kurang hormat terhadapnya…"
Sampai di situ Oey Yong berseru, "Bwee Suci, sudah enam puluh jurus lebih! Masihkah kau tidak mau menyerah?"
Tiauw Hong mendongkol bukan kepalang. Dengan latihannya beberapa puluh tahun, ia tidak sanggup menjatuhkan satu bocah. Lantaran ini, ia tidak ambil mumat suaranya Oey Yong, bahkan sebaliknya, ia menyerang dengan lebih hebat, sambarannya dilakukan saling susul dengan cepat luar biasa. Ia tidak merasa dengan begitu ia nyata kalah imbangan. Bukankah kedua matanya buta? Bukankah karena kemurkaannya, ia jadi tidak dapat memusatkan pikiran? Di pihak lain, Kwee Ceng awas kedua matanya, lincah tubuhnya. Pemuda ini telah menghisap darah ular dan memperoleh Hang Liong Sip-pat Ciang.
Pertempuran berlanjut sampai seratus jurus lebih. Setelah ini, Wee Tiauw Hong dapat juga berpikir. Ia mulai meraba-raba ilmu silat lawannya yang cilik ini. Ia merasa tidak dapat ia menyerang dari dekat. Maka ia menjauhkan diri dari Kwee ceng setombak lebih. Ingin ia membuatnya lawan itu letih.
Memang juga disebabkan usianya muda dan latihannya belum sempurna, lama-lama Kwee Ceng berkurang kelincahannya.
Oey Yong tahu kawannya bisa celaka, maka ia berteriak-teriak pula: "Bwee Suci, seratus jurus sudah lewat! Sudah hampir duaratus jurus! Apakah kau tetap tidak hendak menyerah?!"
Tiauw Hong berlagak tuli, ia menyerang tak hentinya.
Bingung juga Oey Yong, tetapi dasar licik, segera ia mendapat akal.
"Engko Ceng, lihat aku!" ia memanggil. Ia melompat ke depan pilar.
Dua kali Kwee Ceng berkelit, untuk menjauhkan diri, mendengar suara Oey Yong, ia menoleh. Begitu melihat orang lari memutari pilar, ia sadar. Maka ia pun lompat ke pilar itu.
Tiauw Hong mengetahui kemana orang menyingkir, ia lompat menyusul.
Tepat di dekat pilar, Kwee Ceng berkelit, lari ke belakang pilar itu. Ia baru berkelit, sambarannya Tiauw Hong sudah tiba, tepat lima jarinya nancap di pilar itu, yang disangka tubuh musuh. Bukankah ia cuma mengandalkan suara angin?
Kwee Ceng tidak cuma bersembunyi, ia pun membalas menyerang. Tapi hebat tenaga menolak dari Tiauw Hong, meski si Mayat Besi terpental, ia pun mesti mundur juga. Lima jarinya Tiauw Hong terlepas dari pilar.
Tiauw Hong bertambah gusar, saking sebatnya, ia sudah berlompat pula untuk menyerang lagi. Hebat untuk Kwee Ceng yang belum sempat memperbaiki diri, kendati dia dapat berkelit, tidak urung bajunya kena kesambar hingga robek dan lengannya kena terlanggar. Syukur untuknya, ia tidak terluka. Ia menjadi gentar hatinya. Tapi ia melawan terus, malah ia membalas menyerang. Habis itu baru ia melompat pula mundur ke belakang pilar itu. Sengaja ia mengasih dengar suara, hingga Tiauw Hong menyambar pula. Kali ini lima jari si Mayat Besi kemabli nancap di pilar itu.
Barulah kali ini Kwee Ceng tidak menyerang.
"Bwee Cianpwee," ia berkata, "Kepandaianku tidak dapat melayani kau, sukalah kau menaruh belas kasihan padaku."
Dengan kata-katanya ini, si bocah telah memberi muka. Ia tidak kalah, mungkin ia lebih ungggul. Dengan mengandalkan pilar, ia toh tak bakalan kalah. Tapi ia suka mengalah.
Bwee Tiauw Hong menyahut dengan dingin: "Jikalau kita mengadu kepandaian, setelah tiga jurus aku tidak dapat mengalahkan kau, seharusnya aku mesti menyerah. Tapi sekarang kita bukan lagi mengadu kepandaian, aku hanya hendak menuntut balas, meski aku sudah kalah bertaruh, toh aku mau berkelahi terus! Tidak dapat tidak, mesti aku membunuh kau!"
Kata-kata ini disusul dengan serangan saling susul, dengan tangan kiri tiga kali, tangan kanan tiga kali juga, semuanya mengenai pilar, sembari menyerang secara hebat, dia berseru. Serangannya yang terakhir adalah dua tangan berbareng, hebat kesudahannya, dengan menerbitkan suara nyaring, pilar itu patah bagian tengahnya!
Semua hadirin adalah orang-orang lihay, walaupun mereka kaget, mereka toh dapat menolong diri. Semuanya lantas melompat keluar. Koan Eng lompat setelah ia sambar ayahnya, yang ia pondong. Boleh dibilang sekejap saja, runtuhlah sebagian ruangan itu.
Celaka untuk Toan Tayjin, si komandan tentara, ia tidak keburu, maka ia ketimpa dan ketindihan kedua kakinya. Ia menjerit-jerit meminta tolong.
Wanyen Kang lantas maju untuk menolong, dalam kekacauan itu, hendaknya keduanya lantas melarikan diri, akan tetapi disaat mereka memutar tubuh, mendadak mereka merasakan punggung mereka kaku, tak tahu mereka siapa yang sudah menotoknya.
Bwee Tiauw Hong sendiri memperhatikan Kwee ceng seorang. Diwaktu si anak muda lompat, ia pun lompat menyusul, maka itu setibanya mereka di depan, yaitu di luar ruangan, di mana cahaya rembulan guram, keduanya sudah bertempur pula. Anginnya gerak-gerik mereka berdesiran, dan tulang-tulang Bwee Tiauw Hong berbunyi berperetekan. Perempuan ini jauh lebih hebat daripada di dalam tadi.
Kali ini Kwee Ceng terdesak betul-betul. Segera ia mengalami ancaman bahaya tendangan si Mayat Besi. Kaki kanan wanita lihay itu bergerak, menyambar ke arah kaki lawan. Kalau tendangan ini mengenai tepat, pasti patahlah kaki si anak muda. Tapi Tiauw Hong tidak menendang terus, baru setengah jalan, ia sudah menarik pulang, diganti dengan uluran tangan kiri ke arah kaki kiri lawannya.
Koan Eng kaget ia menjerit, "Hati-hati!" Ia ingat, itulah serangan berbahaya yang ia peroleh dari Wanyen Kang, hingga ia kena dikalahkan pangeran itu.
Dalam bahaya seperti itu, Kwee Ceng menggerakkan tangan kirinya menangkis tangan Tiauw Hong. Ia masih cukup gesit tetapi tenaganya sudah berkurang. Tiauw Hong lihay sekali, begitu kedua tangan bentrok, ia mengerti kurangnya tenaga si bocah. Ia lantas memutar tangannya, tiga jerijinya, kelingking, manis dan tengah sudah lantas menggurat ke belakang telapak tangan lawan. Kwee Ceng menginsyafi ancaman itu, ia menyerang dengan tangan kanannya, hebat sekali. Kalau lawan tidak menyingkir, mereka akan bercelaka dua-duanya!
Tiauw Hong berkelit lompat ke samping, terus ia tertawa panjang.
Kwee Ceng merasakan panas dan sakit sekali pada belakang tangannya, ketika ia melihat, ada tiga guratan yang tidak mengeluarkan darah. Itulah luka yang membikin ia merasa sakit, berwarna hitam. Mendadak ia ingat sembilan buah tengkorak yang Tiauw Hong meninggalkannya di puncak gunung Mongolia dan Ma Giok membilangnya, tangan itu ada racunnya. Ia menjadi kaget sekali.
"Yong-jie, aku terkena racun!" katanya pada kekasihnya. tapi, tanpa menanti jawaban, ia berlompat menyerang Tiauw Hong, kedua tangannya dikasih bekerja. Ia cuma tahu perlu membekuk wanita lihay ini, untuk memaksa ia mengeluarkan obat pemunahnya, tanpa itu jiwanya tidak akan ketolongan lagi…
Tiauw Hong merasakan sambaran angin, ia melompat berkelit.
Oey Yong, begitupun yang lainnya, mendengar suara Kwee Ceng, menjadi kaget sekali. Boleh dibilang serempak, dimulai dari Kwa Tin Ok, mereka itu lompat maju mengurung si Mayat Besi.
"Bwee, Suci!" Oey Yong berteriak. "Kau sudah kalah, kenapa kau masih bertempur terus? Lekas kau keluarkan obat pemunahnya untuk menolong dia!"
Tiauw Hong tidak menjawab, ia lebih perhatikan serangan lawan. Ia girang sekali, di dalam hatinya ia kata: "Semakin kau mengeluarkan tenaga, semakin hebat bekerjanya racun! Taruh kata hari ini aku terbinasa di sini, aku toh sudah berhasil membalaskan sakit hati suamiku!"
Kwee ceng mulai merasakan matanya kabur dan kepalanya pusing, seluruh tubuhnya terasa tidak enak, bahkan lengan kirinya lemas, hingga ia mulai berpikir untuk tidak berkelahi lebih jauh. Itulah tanda bekerjanya racun. Coba ia tidak minum darah ular, mungkin ia sudah lantas roboh binasa.
Oey Yong melihat wajah orang tidak wajar. "Engko Ceng, lekas mundur!" ia berteriak. Ia pun hendak menerjang.
Terbangun semangatnya Kwee Ceng mendengar suara si nona, ia menyerang dengan tangan kirinya. Ia menggunakan jurus ke sebelas dari Hang Liong Sip¬pat Ciang yang dinamakan "Menunggang enam naga". Lengannya bergerak lambat.
Oey Yong semua dapat melihat serangan itu. Disaat itu mereka jusru hendak menyerang. Perlahan serangan Kwee Ceng itu, Bwee Tiauw Hong tidak menangkis atau berkelit. Jitu serangan itu, pundak si Mayat Besi menjadi sasaran. Mendadak saja ia jatuh berguling.
Inilah diluar dugaan. Sebabnya ialah, karena serangan datangnya perlahan, Tiauw Hong tidak mendengarnya. Dia mengandalkan kupingnya saja sebab matanya tidak dapat melihat.
Oey Yong tercengang, tetapi Han Po Kie, Lam Hie Jin dan Coan Kim Hoat sudah lantas lompat menubruk, dengan niat membekuk si Mayat Besi.
Tiauw Hong lihay sekali. Dengan gerakkan kedua tangannya, ia berontak. Po Kie dan Kim Hoat kena dibikin mental. Lalu sebelah tangannya meneruskan menyambar Hie Jin. Atas ini, si orang she Lam membuat diri jatuh bergulingan.
Cepat sekali Tiauw Hong lompat bangun. Justru ia hendak menaruh kakinya, tinjunya Kwee Ceng tiba dipunggungnya. Hebat serangan itu, sekali lagi ia roboh. Juga tinju itu datang tanpa suara. Hanya karena serangan tidak keras, ia tidak terluka.
Setelah dua kali menyerang, Kwee Ceng terhuyung, ia roboh dengan sendirinya. ia roboh di samping Tiauw Hong. Oey Yong lompat mengasih bangun padanya.
Tiauw Hong mendengar suara orang di dekatnya, tanpa ayal lagi, tangannya menyambar, lima jari tangannya bekerja. habis itu, ia mendi kaget. Lima jeriji tangannya dirasakan gatal sekali. Ia baru sadar, telah kena tubuh Oey Yong, tangannya menancap di baju lapis joan-wie-kah dari si nona. Dalam kagetnya ia lompat dalam gerakan "Ikan gabus melentik".
Justru itu terdengar seorang berseru: "Ini untukmu!"
Cu Cong mendengar suara itu, ia segera menoleh, terlihatlah menyambar suatu barang ke arah Bwee Tiauw Hong, siapa sudah lantas menangkis. Tepat tangkisannya itu, barang itu mengeluarkan suara keras, rusak dan jatuh. Nyata itu adalah sebuah kursi.
Menyusul terdengar angin dari datangnya suatu barang lain, yang terlebih besar. Kali ini si Mayat Besi mengulur tangan kirinya, menangkap. Dan ia kena pegang suatu barang lebar dan licin. Sebab itulah sebuah meja yang berada di samping Cu Cong, yang patah kakinya tertimpa pilar. Penyerangnya pun Cu Cong sendiri. Habis itu Tiauw Hong menendang meja itu. Berbareng dengan itu, Cu Cong, mengulur tangan kanannya, memasuki tiga benda bergerak ke leher bajunya si wanita lihay.
Tiauw Hong kaget hingga ia menggigil. Ia merasakan barang yang hawanya dingin nelusup ke dadanya. Ia menduga senjata rahasia yang aneh atau permainan ilmu dukun. Ia lantas merogoh, untuk menangkapnya. Ia kena pegang beberapa ekor ikan emas. Tapi yang membuatnya kaget luar biasa ialah tangannya tidak dapat meraba botol obat di dalam sakunya, obatnya lenyap berbareng bersama pisau belatinya serta kitab Kiu Im Cin-keng. Ia sampai berdiri berjublak saja.
Si cerdik Cu Cong sudah menggunakan tiga ekor ikan emas itu untuk menyimpangkan perhatian Bwee Tiauw Hong yang lihay. Itulah ikan-ikan emas, yang lolos dari jambangannya sebab jambangannya pecah ketimpa runtuhan. Diwaktu memasuki ikan itu ke leher baju, ia sekalian menyambar isi saku orang. Setelah itu dengan cepat ia membuka tutup botol kecil itu, yang dibawanya ke hidungnya Tin Ok, "Bagaimana?" tanyanya.
"Untuk dimakan dan ditarohkan, inilah obatnya!" berkata saudara tua itu, yang ahli dalam pemakaian obat beracun.
Tiauw Hong dapat mendengar pembicaraan orang, ia sadar, dengan berlompat, ia menerjang. Tapi ia disambut tongkatnya Tin Ok, cambuknya Han Po Kie, dacinnya Coan Kim Hoat dan pikulannya Lam Hie Jin. Ia hendak mengeluarkan cambuknya sendiri ia batalkan dengan mendadak karena pedangnya Han Siauw Eng menikam ke arah dadanya.
"Kasih dia makan, torehkan padanya!" kata Cu Cong pada Oey Yong, ia serahkan obat pemunah racun itu. Dilain pihak, ia sesapkan pisau belatinya si Mayat Besi kepada muridnya seraya memberitahukan: "Ini pisau kepunyaanmu." Setelah itu, dengan mainkan kipas besinya, ia membantu saudara-saudaranya mengepung musuh yang lihay itu.
Habet pertempuran itu, karena berselang sepuluh tahun, Kanglam Liok Koay telah memperoleh kemajuan pesat.
Seng Hong dan anaknya heran menyaksikan pertempuran itu. Mereka beranggapan, "Tiauw Hong benar-benar lihay, tetapi pun jago-jago Kanglam itu tidak bernama kosong." Tapi Seng Hong sudah lantas berseru: "Tuan-tuan, berhenti dulu! Mari dengar aku!"
Orang lagi bertarung hebat, tidak ada yang pedulikan teriakan itu, mereka itu bertarung terus.
Tidak lama sehabisnya makan obat, Kwee Ceng mulai sadar. racun itu menyerang cepat tetapi perginya cepat juga. Lukanya masih menimbulkan rasa sakit tapi tidak mengganggu gerakan lengan kirinya yang terluka itu. Maka itu setelah memasukkan piasu belati ke dalam sakunya, ia berlompat bangun dari rangkulannya Oey Yong. Ia maju ke gelanggang pertempuran, untuk berkelahi pula. Seperti tadi, ia menyerang dengan gerakan perlahan, pada saatnya baru ia mengerahkan tenaganya.
Tiauw Hong repot melayani musuh-musuhnya, ia juga tidak mendengar sambaran angin dari serangan si anak muda, tahu-tahui ia sudah kena terhajar. Kembali ia roboh. Justru itu senjatanya Po Kie dan Hie Jin turun ke arah tubuhnya.
"Suhu, ampunkan dia!" berseru Kwee Ceng, yang menangkis sejata kedua gurunya itu. Liok Koay menurut, mereka lantas berlompat mundur.
Tiauw Hong masih hendak membela diri, ia bersiap sedia dengan cambuknya, cambuk Tok-liong-pian yang beracun.
Kwee Ceng tidak menyerang lebih jauh, ia hanya berkata pada wanita lihay itu: "Hari ini baiklah pertempuran diakhiri secara baik! Kami tiak hendak membikin susah padamu, kau pergilah!"
Tiauw Hong suka menyimpan cambuknya.
"Kau kembalikan kitabku!" katanya.
Cu Cong melengak. "Aku tidak mengambil kitabmu!" katanya. "Kau tahu sendiri, tidak pernah Kanglam Liok Koay berdusta!"
Ia tidak tahu kertas kulit manusia di luar pisau belati adalah rahasia Kiu Im Cin-keng.
Tiauw Hong tahu Kanglam Cit Koay jujur, karena ini ia mau percaya kitabnya pastilah telah terjatuh selagi ia bertempur, dari itu ia lantas berdongkol dan meraba-¬raba ke tanah. Sekian lama ia bekerja, tidak berhasil mendapatkan barang yang dicarinya.
Menyaksikan orang rape-rape itu, semua orang merasa kasihan juga. Tidakkah ia buta walaupun ia sangat lihay?
Seng Hong lantas saja berkata: "Suci, di sini benar-¬benar tidak ada barangmu! Mungkin kau kena bikin hilang di tengah jalan…"
Tiauw Hong tidak menjawab, ia pun tidak berhenti bekerja.
Sekonyong-koyong banyak orang berkelebat, lalu di hadapan mereka muncul pula si baju hijau, yang gerakan tubuhnya bagaikan kilat. Tahu-tahu dia sudah mencekal punggung Bwee Tiauw Hong, yang terus diangkat, untuk dibawa pergi. Perginya pun lenyapnya dalam sekejap, lenyap di antara pepohonan di luar Kwie-in-chung itu.
Begitu lihaynya si Mayat Besi, ia tidak berdaya.
Semua orang melongo, mereka saling memandang. Sunyi si sekitar mereka, kecuali suara gelombang, yang nanti terdengar, nanti tidak….
Masih selewat sekian lama, barulah Kwa Tin Ok memecahkan kesunyian. Ia berkata kepada tuan rumah: "Murid kami telah menempur wanita jahat itu, karena kami merusak rumahmu, tuan, kami sangat menyesal."
"Jangan berucap demikian, tayhiap," Seng Hong berkata, "Justru aku girang sekali tayhiap semua serta muridmu datang ke mari. Justru aku hendak menghaturkan terima kasihku, sebab kalau tidak, mungkin rumahku ini bakal ludas."
"Aku minta sukalah semua tuan duduk beristirahat," Koan Eng menimpali ayahnya dengan sikap yang ramah tamah. "Saudara Kwee, apakah lukamu tidak sakit?"
"Tidak," sahut Kwee Ceng. Tapi, baru ia menutup mulutnya, tiba-tiba terlihat si baju hijau bersama Bwee Tiauw Hong, datangnya tidak nampak.
Bwee Tiauw Hong berdiri dengan menolak pinggang, ia berkata dengan nyaring, "Eh, bocah she Kwee, kau sudah menghajarku dengan Hang Liong Sip-pat Ciang ajarannya Ang Cit Kong, karena mataku buta, aku tidak dapat melihat semua gerakanmu! Aku tidak ambil mumat, tetapi jikalau hal ini tersiar di kalangan kangouw, sampai ada yang membilang Bwee Tiauw Hong tidak sanggup melawan muridnya si pengemis, bukankah itu akan meruntuhkan nama guruku dari pulau Tho Hoa To? Maka itu mari, mari kita mencoba sekali lagi!"
Kwee Ceng berlaku sabar dan jujur.
"Sebenarnya aku bukanlah tandinganmu," ia berkata, "Dengan mengandalkan matamu yang tidak dapat melihat, aku dapat melindungi jiwaku. Aku sudah menyerah sejak-sejak siang."
"Hang Liong Sip-pat Ciang terdiri dari delapanbelas jurus, kenapa kau tidak menggunakan itu semuanya?" Tiauw Hong tanya.
"Oleh karena sifatku tolo….." sahut Kwee Ceng. Justru itu Oey Yong memberi tanda supaya ia jangan membuka rahasia, tetapi ia berkata terus, "Ang Locianpwee cuma ajarkan aku limabelas jurus."
"Bagus!" kata Tiauw Hong pula. "Kau cuma bisa limabelas jurus, Bwee Tiauw Hong telah jatuh di tanganmu! Apakah benar Ang Cit Kong, si pengemis tua bangkotan itu demikian lihay? Tidak, tidak bisa, kau mesti mencoba bertempur pula denganku!"
Orang menjadi heran dan cemas. Nyata Tiauw Hong bukan hendak membalas sakit hati saja. Di sini ada bibit bentrokan di antara Oey Yok Su dan Ang Cit Kong.
Kwee Ceng masih berlaku sabar. Ia kata, "Nona Oey yang begitu muda masih bukan tandinganku, apapula kau? Ilmu silat dari Tho Hoa To adalah ilmu silat yang paling kukagumi…"
"Eh, Bwee Suci, kau masih hendak membilang apa lagi?" Oey Yong tanya. "Mustahilkah di kolong langit ini ada orang yang terlebih lihay daripada ayahku?"
"Tidak bisa, kita mesti bertempur satu kali lagi!" Tiauw Hong berkukuh. Ia tutup perkataannya itu dengan sambaran tangannya.
Kwee Ceng berkelit. Sampai di situ ia habis sabarnya.
"Kalau begitu, silahkan Bwee Cianpwee memberikan pengajaran padaku!" katanya. Ia lantas menyerang dengan hebat, suara anginnya mendesir.
Tiauw Hong mengancam dengan cengkeramannya.
"Kau gunakan serangan yang tak ada suaranya!" kata wanita kosen ini. "Dengan pukulanmu yang bersuara itu, kau bukan tandinganku!"
Kwee Ceng berlompat beberapa tindak.
"Guruku she Kwa yang besar budinya tidak leluasa matanya," berkata Kwee Ceng, "Kalau lain orang menggunakan tinju tak bersuara menghina dia, aku mestinya sangat membenci lawannya, karena itu, mana dapat aku berlaku demikian terhadapmu? Tadi aku telah tergores racunmu, untuk membela diri aku menggunakan tinju tanpa suara. Kalau sekarang kita bertempur pula dengan aku menggunai caraku itu, aku tidak berlaku secara terhormat."
Mendengar suara orang bersungguh-sungguh, hati Tiauw Hong tergerak juga. "Ini anak muda baik hatinya," ia berpikir. Tapi ia membentak: "Aku menitahkan kau berkelahi dengan tinjumu tanpa suara, aku ada punya caraku untuk memecahkannya! Perlu apa kau banyak rewel seperti wanita tua?!"
Kwee Ceng melirik kepada si baju hijau, ia berpikir; "Mungkinkah dalam sekejap saja ia telah mengajarkan wanita ini ilmu memecahkan pukulanku tanpa bersuara itu?" Tapi karena orang sangat mendesak, ia menyahut: " Baiklah, Bwee Cianpwee, aku akan mencoba melayani kau lagi limabelas jurus!"
Pemuda itu memikir untuk mengulangi limabelas jurus itu, umpama kata ia tidak bisa menghajarnya, ia pun dapat membela diri. Ia lantas melompat maju, ia mulai menyerang dengan perlahan. Justru itu segera ia mendengar suara "Ser" di sampingnya, ia dapatkan tangannya Tiauw Hong sudah menbangkol ke arah lengannya, orang seperti melihat gerakan tangannya - tangan kiri yang dipakai untuk menyerang itu, terus ia menggeser ke kiri, dari sini mengulangi serangan, tetap dengan cara ayal-ayalan.
Kembali ia menjadi heran. Baru tangannya dikeluarkan, Tiauw Hong seperti sudah mengetahui serangannya itu, ia mendahului menyerang - cepat melawan lambat. Ia berkelit, ia kurang sebat, hampir ia kena dijambret. Segera ia lompat mundur.
"Aneh ia tahu aku bakal menyerang, sekarang ia dapat mendahuluku, inilah terlebih aneh pula…." berpikir anak muda ini. Ia lantas menyerang untuk ketiga kalinya dan dengan "Hang Liong Ya Hui" atau "Naga Menyesal", pukulannya yang paling lihay.
Kembali terdengar suara "Ser" seperti tadi, kembali tangan berkuku dari Tiauw Hong sudah menyambar ke lengan penyerangnya.
Pengalaman membuat Kwee Ceng cerdik. Ia menduga kepada suara "Ser" itu. Ia lalu menyerang pula untuk keempat kalinya, sembari menyerang ia melirik kepada si orang berbaju hijau itu. Sekarang ia melihat nyata orang menyentil sebutir batu kecil, batu mana melesat ke udara, suara ser-nya terdengar pula.
"Ah, benar-benar dialah yang memberi petunjuk!" pikirnya. "Hanya kenapa ia kenal ilmu silatku ini? Kenapa ia tahu ke mana tinjuku bakal menuju…?" Ia berpikir terus, hingga ia ingat: "Ya, aku ingat sekarang. Tempo hari Yong-jie bertempur sama Nio Cu Ong, Ang Cit Kong saban-saban memecahkan dulu rahasia pukulannya Cu Ong itu, sekarang orang itu menggunakan cara itu…. Baiklah setelah limajurus, aku mengaku kalah…."
Pertempuran itu berlangsung terus, selalu Kwe Ceng menjadi pihak si penyerang. Kemudian terdengar tiga kali suara ser- ser, ialah sentilannya si baju hijau, atas itu, dari pihak diserang, Tiauw Hong berbalik menjadi pihak penyerang. Tiga kali beruntun ia menyerang, Kwee Ceng bisa membebaskan diri, lalu dua kali ia membalas.
Sekarang para penonton pun dapat melihat si baju hijau itu memberi petunjuk kepada Bwee Tiauw Hong, mereka heran. Pertempuran sendiri berjalan bertambah hebat, anginnya berdesir-desir, saban¬-saban tercampur suara ser itu.
Oey Yong benar-benar cerdik, ia segera dapat memikir akal. Dia-diam ia memungut hancuran bata, lantas ia menelad orang. Ia berlaku licin, ada kalanya ia menyerang ke udara, ke tempat kosong, di lain saat, ia serang lansung batunya si baju hijau. Dengan ini ia hendak membikin kacau Tiauw Hong. Tapi hebat si baju hijau, kapan batunya kena terpukul, batu itu justru mengasih dengar suara lebih nyaring, petunjuknya tidak terganggu.
Tuan rumah ayah dan anak dan Kanglam Liok Koay heran. Kenapa sentilan itu demikian lihay? Panah peluru pun tidak sehebat itu! Bukankah celaka kalau orang kena tersentil?
Oey Yong berhenti mengacau, ia menjublak mengawasi si baju hijau.
Di gelanggang pertempuran, Kwee Ceng sudah lantas kena terdesak, serangannya si Mayat Besi menjadi lebih berbahaya.
Tiba-tiba ada terdengar dua suara nyaring, lalu terlihat dua butir batu menyerang ke udara - yang di depan rada kendor, yang di belakangnya lebih cepat, lantas yang di depan itu kena disusul, kena diserang, maka terdengarlah suara beradunya kedua batu itu, yang memancarkan lelatu api hancurannya terbang berhamburan. Justru itu, Tiauw Hong lompat kepada lawannya untuk menubruk, sedang Kwee Ceng berlompat untuk menyingkir.
Sekonyong-konyong Oey Yong menjerit, "Ayah!" lalu ia lari ke arah si baju hijau itu, yang ia terus tubruk untuk memernahkan diri dalam rangkulan orang itu. Ia menangis terus ia berkata: "Ayah, kenapa, kenapa muka ayah berubah menjadi begini rupa…?"
Itulah kejadian diluar dugaan, karenanya si baju hijau itu berdiri menjublak
Kwee Ceng lekas berpaling, ia dapatkan Tiauw Hong berdiri di hadapannya, kupingnya lagi dipasang untuk mendengar suara ser seperti tadi. Inilah saatnya, ia tak mau kasih lewat, maka ia ulur tangannya perlahan-lahan ke arah pundak wanita lihay itu. Hanya ketika ia menepuk, ia menggunakan tenaga seluruhnya. Ia menyerang dengan tangan kanan yang segera disusul dengan tangan kiri!
Tidak lama kemudian, Bwee Tiauw Hong roboh berjumpalitan, terus rebah, tak dapat bangkit lagi!
Seng Hong mendengar Oey Yong memanggil ayah, hanya sejenak ia berdiam, lalu ia menjadi kaget berbareng girang, sampai ia melupakan kakinya yang sakit, ia mencelat dengan niat melompat kepada si baju hijau. Tapi celaka untuknya, ia terguling di tempat kosong.
Si baju hijau lantas merangkul Oey Yong dengan sebelah tangannya, tangannya yang lain dibawa ke mukanya, di situ ia menarik kulit mukanya, maka di lain saat ia telah memperlihatkan muka yang lain. Nyatalah ia memakai topeng kulit yang tipis sekali.
Belum kering airmata Oey Yong ia berseru kegirangan, dia merampas topeng kulit itu untuk dipakai di mukanya, kemudian merangkul ayahnya lagi, sembari memeluk leher orang dia tertawa dan berjingkrakan. Sebab baju hijau yang aneh kelakuannya, yang luar biasa sebat gerakan tubuhnya, adalah Oey Yok Su, tocu pemilik dari Tho Hoa To, pulau bunga Tho.
"Ayah, kenapa kau datang ke mari?" kemudian si anak menanya. "Tadi si tua bangka she Kiu mencaci kau, kenapa kau tidak memberi hajaran?"
"Kenapa aku datang ke mari?" balik menanya si ayah, romannya keren. "Aku justru mencari kau!"
Oey Yong girang bukan kepalang.
"Ayah, maksud hatimu telah kesampaian!" serunya. "Bagus! Bagus!" ia menepuk tangan.
"Maksud hati apakah?!" berkata si ayah. "Apakah untuk mencari kau si budak!"
Oey Yong terharu hatinya. Ia tahu ayahnya pernah mengangkat sumpah yang berat, mengambil ketetapan akan berdiam terus di Tho Hoa To untuk meyakinkan Kiu Im Cin-keng, supaya ia menjadi jago yang tak ada tandingannya di kolong langit ini, maka bukan main menyesalnya ketika ia mendapat kenyataan sebagian dari kitabnya itu dicuri Tan Hian Hong dan Bwee Tiauw Hong, kedua muridnya. Tentu sekali dengan lenyapnya kitab itu menggagalkan peryakinannya. Dalam murkanya ia bersumpah tidak akan meninggalkan pulaunya. Tapi anak daranya itu nakal, anak itu buron, untuk mencari si anak, dia telah melangggar sumpahnya sendiri, dia meninggalkan pulaunya.
"Ayah," berkata si anak kemudian, "Ayah, selanjutnya aku akan menjadi anak yang baik, yang sampai matipun nanti mendengar katamu."
Mendapatkan putrinya tidak kurang suatu apapun, Oey Yok Su sangat girang, sekarang ia mendengar janji anaknya itu, hatinya menjadi lega sekali.
"Kau pimpin bangun sucimu," ia memerintah.
Oey Yong mengasih bangun Bwee Tiauw Hong.
Koan Eng pun segera mengangkat bangun ayahnya, mereka berdua mengasih hormat kepada guru atau kakek gurunya.
Oey Yok Su menghela napas.
"Seng Honh, kau baik sekali, kau bangun," katanya. "Dulu hari itu aku sudah keburu nafsu, aku telah berbuat tidak pantas terhadapmu…."
Sang murid menangis sesenggukan.
"Apakah guru baik?" tanyanya dengan susah.
"Syukur aku tidak mati karena orang membikin aku mendongkol," sahut gurunya itu.
Oey Yong memandang ayahnya, ia tertawa nakal.
"Toh ayah maksudnya bukan aku?" katanya.
"Kau pun termasuk sebagiannya!" kata ayah itu. "Hm!"
Anak itu mengulur panjang lidahnya.
"Ayah, mari aku ajar kau kenal dengan beberapa sahabat!" katanya kemudian. "Inilah Kanglam Liok Koay yang kesohor dalam dunia kangouw, merekalah gurunya engko Ceng."
Oey Yok membuka lebar matanya, ia tidak perdulikan Liok Koay. "Aku tidak mau ketemu orang luar!" katanya kaku.
Kanglam Liok Koay tidak puas atas keangkuhan orang itu, tetapi karena orang terlalu besar namanya, mereka terpaksa diam.
Kemudian Oey Yok Su berkata kepada anaknya: "Kau ada barang apa hendak dibawa pulang! Pergilah lekas ambil, mari kita pulang bersama!"
"Tidak ada apa-apa," sahut si anak tertawa. "Ada juga hendak dipulangi kepada Liok Suko." Ia merogoh sakunya, mengeluarkan obat Kiu-hoa Giok-louw-wan, yang ia terus angsurkan kepada Seng Hong. Ia kata, "Suko, terimalah kembali obatmu ini. Tidak gampang untuk membikin ini, bersama engko Ceng aku telah menerima dua butir, itu pun sudah cukup, aku bersyukur sekali."
Seng Hong tidak menyambuti, ia hanya berkata pada gurunya: "Hari ini teecu bertemu guru, hatiku girang bukan main. Obat ini hendak aku menghaturkan kepada suhu. Umpama suhu sudi berdiam di rumahku ini untuk beberapa waktu, aku terlebih-lebih…."
Oey Yok Su tidak menjawab, hanya ia menunjuk kepada Koan Eng.
"Inikah anakmu?" tanyanya.
"Ya," sahut sang murid.
Tanpa dititah lagi, Koan Eng memberi hormat pula dengan paykui empat kali seraya berkata; "Cucu murid memberi hormat kepada sucouw!"
"Sudahlah!" kata kakek guru itu, ia bukannya memimpin orang bangun, ia justru menyambar ke punggung, mencekal bajunya, untuk mengangkat tubuhnya, lalu dengan tangannya yang lain ia memukul ke arah pundak.
Seng Hong kaget sekali.
"Suhu, ini anakku satu-satunya…." ia kata.
Hajaran Oey Yok Su ini membuatnya Koan Eng jumpalitan, terpelanting tujuh atau delapan tindak, lalu terjungkal.
"Kau baik," ia terus berkata kepada muridnya. "Kau tidak mewariskan kepandaiamu kepadanya! Adakah ia murid dari Hoat Hoa Cong?"
Hati Seng Hong lega. Ia tahu guru itu lagi menguji anaknya.
"Tidak berani teecu melanggar aturan suhu," ia berkata cepat. "Tanpa ijin dari suhu, tidak berani teecu mengajarkan kepandaian suhu kepada lain orang. Memang anak ini adalah muridnya Kouw Bok Taysu dari Hoat Hoa Cong…"
"Hm!" kata guru yang bengis itu. "Kuow Bok dengan kepandaiannya semacam ini berani menyebutkan dirinya Taysu! Mulai besok kau sendiri yang mengajarkan anakmu ini!"
"Taysu" itu berarti guru besar.
Bukan main girangnya Seng Hong. "Lekas kau menghaturkan terima kasih kepada sucouw!" ia menyuruh kepada anaknya.
Koan Eng tahu diri, lekas-lekas ia memberi hormat pula, dengan berlutut empat kali lagi.
Oey Yok Su tidak melihat lagi kepada ini cucu murid, ia pun tidak memperdulikannya.
Melihat sikap gurunya ini, Seng Hong berdiam. Sebenarnya ia girang bukan main. Ia menyesal tidak dapat mengajari sendiri pada putranya ini, sampai ia kirim putranya itu pada lain guru. Dengan tidak mewariskan kepandaiannya kepada anaknya, ia kecewa sekali. Maka perkenana suhunya ini membikin ia bersyukur.
"Siapa kesudian obatmu ini!" kata si guru, yang mendelik kepada muridnya. "Kau ambillah ini!"
Oey Yok Su menggerakkan tangannya, dua lembar kertas putih lantas terbang ke arah muridnya itu.
Jarak di antara guru dan murid itu ada setombak lebih tetapi kertas itu melayang bagaikan layangan ke arah si murid, yang menyambutnya.
Menyaksikan itu, Kanglam Liok Koay kagum sekali.
Pun Oey Yong sangat puas.
"Engko Ceng, bagaimana kau lihat kepandaian ayahku ini?" ia berbisik kepada Kwee Ceng.
"Ayahmu hebat sekali," sahut si engko Ceng. "Yong-jie, kalau kau sudah pulang nanti, jangan kau termaha memain saja, kau mesti belajar dengan sungguh-sungguh."
"Kau toh turut bersama!" kata si nona, cemas hatinya. "Mustahilkah kau tidak turut?"
"Aku hendak mengikuti suhuku," sahut Kwee Ceng. "Lewat sedikit waktu, aku akan pergi menjengukmu."
Oey Yong menjadi sangat gelisah. "Tidak! Tidak!" katanya. "Aku tidak mau berpisah denganmu!"
Kwee ceng menyeringai. Sebenarnya ia pun berat berpisahan dari si nona.
Seng Hong sendiri lantas membeber kertas, ia melihat banyak huruf-hurufnya. Koan Eng lekas mengambil api, untuk menyuluhi, maka ayahnya segera dapat kenyataan, itulah pengajaran ilmu silat. Ayah ini pun masih mengenali tulisan tangan gurunya, yang sudah duapuluh tahun tak nampak. Huruf-huruf gurunya itu masih tetap bagus dan keren. Di lembar pertama, di sebelah kanan, yang paling atas, ada empat huruf "Sauw yap twie hoat". Jadi itulah ilmu menendang. Ia tahu, itulah ilmu yang bersama "Lok Eng Ciang" menjadi keistimewaan gurunya. Dari enam murid, tidak ada satupun yang diwariskan ilmu itu. Coba dulu ia dapatkan ilmu itu, alangkah girangnya, tetapi pun sekarang, ia pun sekarang masih bisa mengajari anaknya. Maka ia simpan baik-baik kertas itu, kepada gurunya ia memberi hormat sambil menghanturkan terima kasih.
"Ilmu tendangan ini tidak sama dengan pengajaranku dulu”, Oey Yok Su memberitahu. "Jalannya mirip tetapi di mulai dengan latihan tenaga dalam. Kau menyakinkan ini sambil duduk bersemadhi, selang lima enam tahun, kau nanti dapat berjalan tanpa bantuan tongkat!"
Seng Hong girang dan terharu, ia sangat bersyukur.
"Kakimu tidak dapat diobati lagi, bersilat di bawah pun kau tidak dapat," berkata si guru itu, "Tetapi jikalau kau bersungguh-sungguh mengikuti pelajaranku ini yang baru, kau nanti dapat berjalan tak sulit seperti orang yang kakinya tak bercacad. Ah…." Ia menyesal yang dulu hari, karena menuruti hawa amarahnya, ia sudah siksa keempat muridnya tanpa mereka itu bersalah dosa. Tapi dasar beradat keras, ia tidak sudi akui kekeliruannya itu. Hanya ia memesan: "Pergilah kau cari tiga adik seperguruanmu dan kau ajari mereka ilmu ini…"
Seng Hong menyahut "ya", lalu ia menambahkan: "Tentang sutee Leng Hong Kiok, tak pernah teecu mendengarnya. Tetapi kedua sutee Boe dan Phang, sudah lama mereka itu menutup mata…"
Oey Yok Su bersedih, lalu sinar matanya yang tajam itu beralih kepada Bwee Tiauw Hong. Lain orang melihat sinar mata itu, mereka terkejut. Syukur Tiauw Hong sendiri tidak melihatnya.
"Tiauw Hong!" berkata guru itu dingin, "Kau sebenarny terlalu jahat, tapi kau juga telah menderita hebat. Tapi si tua bangka she Kiu ngoceh menyumpahi aku mati, kau mengucurkan air mata, kau juga hendak menuntut balas untukku, maka itu, dengan memandang beberapa tetes air matamu, suka aku membiarkan kau hidup beberapa tahun lagi."
Tiauw Hong tidak menyangka gurunya dengan begitu gampang saja memberi ampun padanya, saking girang, ia lantas menjatuhkan diri ke tanah, untuk memberi hormat, menghanturkan terima kasih.
"Baik,baik," kata guru itu yang dengan perlahan menepuk punggungnya tiga kali.
Tiauw Hong merasakan sakit tidak terkira, hampir ia pingsan, dengan suara menggetar ia memohon: "Suhu, teecu ketahui kedosaanku tak terampunkan, maka itu teecu mohon sekarang juga kau menghukum mati, tetapi bebaskanlah teecu dari siksaan Hu-kut-ciam….."
Hu-kut-ciam adalah jarum rahasia yang ditusukkan ke tulang-tulang. Tentang ini Tiauw Honjg pernah mendengar dari Btan Hian Hong. Katanya itulah senjata rahasia guru mereka, bahwa asal tubuh lawan kena ditepuk perlahan, jarum itu akan masuk ke dalam daging dan nancap di sambungan tulang-tulang, sakitnya bukan main, sebab jarumnya dipakaikan racun. Katanya pula, lambat jalannya racun itu, maka setiap hari enam kali orang akan tersiksa racun hebat, lalu selang lima bulan barulah sang kematian datang. Semakin lihay ilmu silat orang, semakin hebat penderitaannya.
Mengetahui ini, Tiauw Hong putus asa, maka itu habis mengeluh, mendadak ia menggerakkan cambuknya menghajar kepalanya sendiri, untuk menghabiskan jiwanya. Tapi Oey Yok Su sangat lihay, belum orang tahu apa-apa, cambuk itu sudah kena dia rampas. Dengan dingin guru ini berkata: "Kenapa tergesa-gesa? Untuk mati tidaklah gampang!"
Mendengar perkataan gurunya, Tiauw Hong menduga ia bakal disiksa, supaya ia menderita, karenanya ia menoleh kepada Kwee Ceng, samil tertawa meringis ia kata: "Aku berterima kasih kau telah membunuh suamiku, dengan begitu lelaki busuk itu dapat kematiannya dengan enak sekali!"
Oey Yok Su tidak pedulikan apa yang muridnya itu bilang, ia hanya kata: "Jarum Huu-kut-ciam ini baru bekerja sesudah lewat satu tahun, selama tempo satu tahun ini , aku berikan tiga macam tugas yang kau mesti rampungkan, habis itu kau boleh datang ke pulau Tho Hoa To untuk menemuiku, aku mempunyai daya untuk mencabut jarum itu."
Girang Tiauw Hong mendengar gurunya ini.
"Biar mesti menerjang api berkobar, teecu nanti lalukan titah suhu itu!" ia berkata.
Tapi gurunya mengasih dengar suara dingin sekali ketika ia berkata; "Taukah kau apa yang hendak aku menitahkan kau melakukannya hingga kau dapat menerimanya begini cepat?"
Tiauw Hong tidak berani menyahuti, ia menunduk saja.
Oey Yok Su segera memberitahukan tiga syaratnya itu.
"Yang pertama," demikian katanya, "Kiu Im Cin¬keng yang kau bikin lenyap itu mesti cari dan mendapatinya kembali untuk dikembalikan padaku! Jikalau kitab itu dapat dilihat orang lain, dia mesti dibinasakan! Seorang yang melihat, seorang yang dibunuh, seratus orang melihat, seratus orang juga yang mesti dibunuh! Umapama kau cuma membunuh sembilanpuluh sembilan orang, jangan kau kembali padaku!"
Bergidik orang yang mendengar syarat itu. Kanglam Liok Koay berpikir: "Orang menyebutnya Oey Yok Su sebagai Tong Shia, si Sesat dari Timur, kelakuannya ini benar-benar sesat sekali…."
"Sekarang yang kedua," Oey Yok Su berkata pula, "Tiga saudaramu Boe, Phang dan Kiok telah menderita karena perbuatanmu, sekarang kau pergi cari Leng Hong, setelah itu kau cari tahu dua saudara Boe dan Phang itu ada mempunyai turunan atau tidak, semua turunan mereka itu kau bawa ke Kwie-in-chung ini, serahkan kepada Seng Hong, supaya ia yang mengurusnya."
Tiauw Hong memberikan janjinya.
Seng Hong pun berpikir, dapat ia berbuat untuk syarat yang kedua itu tetapi sebab ia kenal baik adat gurunya itu, ia berdiam saja.
Oey Yok Su angkat kepalanya mendongak ke langit, mengawasi bintang-bintang.
"Kitab Kiu Im Cin-keng itu kamulah yang mengambilnya sendiri," ia berkata pula. "Ilmu dalam kitab itu aku tidak mengajarkan kamu, kamu sendiri yang mempelajarinya. Kamu tahu apa yang harus kau perbuat?" ia berdiam sejenak. "Nah, inilah yang ketiga."
Tiauw Hong tidak segera dapat menerka apa maksud gurunya, sekian lama ia berpikir keras. Akhirnya ia sadar juga. Maka dengan suara menggetar ia kata: "Sesudah teecu berhasil membereskan yang pertama dan yang kedua itu, teecu ketahui bagaimana harus menghabiskan sendiri kedua ilmu Kiu Im Pek-kut Ciauw serta Cwie-sim-ciang yang teecu berhasil meyakinkannya.
Kwee Ceng tidak mengerti, ia tarik tangan bajunya Oey Yong, dengan sinar matanya memain, ia tanya si nona.
Oey Yong agaknya merasa berat tetapi dengan tangan kanannya ia membacok ke tangan kirinya. Melihat ini, pemuda itu mengerti, di dalam hatinya ia berkata: "Oh, kiranya dia hendak mengutungi tangannya sendiri. Bwee Tiauw Hong ini memang jahat sekali, hanya setelah ia insyaf, kenapa ia mesti dihukum secara demikian hebat? Mesti aku minta Yong-jie memohonkan ampun…"
Tengah pemuda ini berpikir demikian, Oey Yok Su berpaling padanya seraya menggapai. "Kaukah yang bernama Kwee Ceng?" ia menanya.
Kwee Ceng segera maju memberi hormat sambil menjura.
"Teecu Kwee Ceng menghadap Oey Locianpwee," katanya hormat.
"Tan Hian Hong yang menjadi murid kepalaku, kau yang membinasakan, kepandaianmu bukan main," kata Oey Yok Su.
Kwee Ceng terperanjat. Suara tak berkesan baik untunya. Tapi ia lekas menjawab: "Ketika itu teecu masih muda sekali dan belum tahu apa-apa, teecu kena tertangkap oleh Tan Cianpwee, dalam ketakutan dan bingung, teecu kesalahan tangan telah membinasakannya…."
"Hm!" Oey Yok Su memperdengarkan suara yang dingin. "Tan Hian Hong memang benar adalah murid murtad dari kalanganku, tetapi untuk membinasakannya, adalah hak kami. Apakah murid-¬murid dari Tho Hoa To boleh di bunuh orang luar?!"
Kwee Ceng tidak dapat menjawab, ia diam.
"Ayah," Oey Yong berkata, "Ketika itu dia baru berumur enam tahu, tahu apa dia?"
Oey Yok Su tidak melayani putrinya, ia seperti tidak mendengar perkataan orang.
"Si pengemis tua she Ang itu biasanya tidak suka menerima murid," katanya sejenak kemudian. "Tetapi sekarang ia mengajarkan kau Hang Ling Sip-pat Ciang sampai limabelas jurus, tentu kau punya sifat-sifat baik yang melebihi orang lain. Kalau tidak demikian, pasti kau bujuk dia dengan akal, yang membuat hatinya girang, hingga ia suka menurunkan kepandaiannya. Kau telah menggunakan kepandaian si pengemis tua untuk merobohkan - hm,hm! Kalau nanti si pengemis itu bertemu dengan aku, bukankah ia bakal banyak bacot?"
Kembali Oey Yong memotong perkataan ayahnya.
"Ayah, memang benar ada digunai bujukan!" katanya sambil tertawa. "Tetapi bukan dia yang mengakalinya, hanya aku! Dia seorang yang polos, jangan ayah berlaku galak dan membuatnya ketakutan."
Oey Yok Su tidak melayani gadisnya. Sebenarnya semenjak istrinya menutup mata, ia sangat menyayangi gadisnya ini, karena itu anaknya menjadi manja. Demikian sudah terjadi, karena ditegur ayahnya, Oey Yong minggat. Tadinya Oey Yok Su menyangka, sebagai seorang wanita, setelah buron, anaknya bakal menderita sekali, siapa tahu, anak itu sehat dan tetap manja seperti biasa. Melihat anak itu agak rapat sekali pergaulannya sama Kwee Ceng, padahal dia kurang rapat dengan ayahnya sendiri, ia menjadi tidak puas. Maka itu, ia kata pula pada si anak muda: "Dengan si pengemis tua mengajarkan kau ilmu silat, kau terang sudah menertawakan partaiku tidak ada orangnya, bahwa setiap muridku tidak punya guna…"
Oey Yong bisa menerka hati ayahnya, yang tidak senang Tiauw Hong dikalahkan dengan Hang Liong Sip-pat Ciang, kembali ia menyela: "Ayah, siapakah bilang partai Tho Hoa To tidak ada orangnya? Dia ini beruntung sebab mata Bwee Suci buta! Nanti aku bikin ayah puas!" Ia lantas lompat ke depan seraya berseru, "Mari, mari! Nanti aku gunakan kebisaan biasa saja yang ayah ajarkan aku melayani kepandaian istimewa Ang Cit Kong!" Ia menantang Kwee ceng, ia tahu kepandaiannya sudah maju jauh sekali hingga hampir seimbang dengannya, kalau dalam beberapa puluh jurus mereka berdua bertanding seri, itu saja sudah cukup untuk membikin puas ayahnya.
Kwee Ceng dapat mengerti maskud si nona, justru Oey Yong tidak bilang apapun, ia menerima tantangan. Tetapi ia kata: "Biasanya aku kalah dari kau, baik aku biarkan kau menghajarku dengan beberapa gebukan lagi!" Bahkan ia ayun tangan kanannya seraya melompat maju.
"Lihat tanganku!" Oey Yong pun berseru seraya ia membacok dengan tangannya.
Itulah bacokan dari samping, dengan satu jurus dari ilmu silat Lok Eng Ciang.
Kwee Ceng melayani dengan Hnag Liong Sip-pat Ciang, tetapi ia menyayangi Oey Yong, maka ia tidak berkelahi dengan sungguh-sungguh, di lain pihak, Lok Eng Ciang memang lihay, maka setelah banyak jurus, beberapa kali ia kena dihajar, malah untuk memuaskan ayahnya, si nona menggunakan tenaga keras. Oey Yong benar berbuat demikian karena ia tahu tubuh sahabatnya itu kuat.
"Kau masih tidak mau menyerah!" Oey Yong berseru sambil menerjang tidak hentinya.
Kwee Ceng tidak menyahut, ia hanya berkelahi terus. Didesak, ia membela diri.
Disaat itu, mendadak Oey Yok Su mencelat ke arah mereka berdua. Hebat gerakkannya, orang sampai tidak melihatnya, tahu-tahu kedua tanganya sudah diulur, dipakai menyambar masing-masing leher baju kedua bocah itu, lalu ia menggentak, melemparkan mereka. Oey Yong disambar dengan tangan kiri, dia dilempar asal saja. Kwee Ceng dicekal dengan tangan kanan, tangan itu dikerahkan tenaganya, maksudnya supaya si bocah roboh terbanting.
Kwee Ceng tidak berdaya atas sambaran itu, tubuhnya terlempar dingin kebelakang, akan tetapi ketika ia jatuh, kakinya turun lebih dulu, begitu kakinya mengenai tanah, ia seperti menancap diri, ia tidak roboh terguling.
Sebenarnya kalau bocah ini roboh dan mukanya babak belur atau ia tidak dapat bangun lagi, itulah untungnya, tetapi sekarang, melihat ketangguhan kuda-kudanya itu, Oey Yok Su menjadi panas hatinya.
"Hai, kamu bermain sandiwara untuk aku menontonnya?!" dia berseru. "Aku tidak mempunyai murid, mari, kau mencoba-coba menyambut beberapa jurus!"
Kwee Ceng terkejut, lekas ia menjura memberi hormat.
"Biarpun teecu bernyali sebesar langit, tidak mungkin teecu berani melayani locianpwee," katanya hormat.
"Hm, melayani aku!" kata Oey Yok Su tertawa dingin. "Kau tidak tepat, bocah! Aku akan berdiri di sini tanpa bergerak, kau boleh menyerangku dengan Hang Liong Sip-pat Ciang! Asal aku berkelit atau menangkis, anggap saja kalah!"
"Teecu tidak berani," Kwee Ceng berkata pula.
"Tidak berani kau juga mesti beranikan!" mendesak Oey Yok Su.
Kwee Ceng menjadi serba salah. "Kelihatannya tidak dapat aku tidak melayaninya," pikirnya. "Apa boleh buat. Dia tentu hendak meminjam tenagaku, untuk membikin aku roboh beberapa kali…?"
"Lekas kau menyerang!" Oey Yok Su mendesak. Ia dapat kenyataan, walaupun bersangsi, orang sudah mempunyai niat. "Jikalau tidak, aku akan menghajarmu!"
"Karena locianpwe menitahkannya, teecu tidak berani membantah," menyahut Kwee Ceng kemudian. Ia terus membungkuk seraya memutar tangannya melingkar. Ia cuma memakai tenaga enam bagian. Sebabnya ialah kesatu khawatir nanti melukai ayah kekasihnya dan kedua, umpama ia dibikin terjungkal, robohnya tidak hebat. Ia menyerang ke dada. Tapi aneh, ketika mengenai sasaran, tangannya licin, lewat dengan begitu saja.
"Apa? Kau tidak melihat mata padaku?!" menegur Oey Yok Su. "Apakah kau takut aku tidak sanggup bertahan untuk pukulanmu? Benarkah?"
"Teecu tidak berani," menyahut si anak muda. Ia lantas menyerang untuk kedua kalinya. Sekarang ia tidak menahan lagi tenaganya. Serangannya dibarengi sama dikeluarkannya napas. Dengan tangan kiri ia mengancam, tangan kanan menyerang perut.
"Nah, ini baru pukulan benar," berkata Oey Yok Su.
Kwee Ceng kaget bukan main. Serangannya hebat tetapi tidak mengenai sasaran. Sebaliknya tangannya seperti kena disedot, begitu keras hingga tangannya terasa copot. Ia merasakan sakit bukan kepalang.
"Teecu kurang ajar, harap locianpwee memaafkan," ia berkata. Tangannya sementara itu sudah tidak diangkat.
Kanglam Liok Koay heran, kaget dan khawatir. Sungguh hebat Tong Shia ini, tanpa berkelit tanpa menangkis, ia membikin lengan Kwee Ceng mati kutu.
"Kau pun rasai tanganku!" mendadak Oey Yok Su berseru. "Biarlah kau ketahui, yang mana yang lebih lihay, Hang Liong Sip-pat Ciang dari si pengemis tua atau kepandaian dari Tho Hoa To!"
Belum berhenti suara itu, angin sudah menyambar, Kwee Ceng menahan sakit, ia mencelat, maksudnya untuk berkelit. Di luar tahunya, belum tinju orang sampai, telah didului gaetan kaki, maka sedetik itu juga, robohlah Kwee Ceng.
Oey Yong kaget.
"Jangan, ayah!" ia menjerit seraya melompat menubruk Kwee Ceng, di atas tubuh siapa ia mendekam.
Oey Yok Su menyerang terus, tetapi melihat anaknya, tinjunya diubah menjadi cengkeraman dan menjambak baju anak itu, diangkat, kemudian tangan kirinya mengganti menyerang terus.
Kanglam Liok Koay kaget sekali. Mereka tahu itulah pukulan kematian. Maka mereka maju dengan berbareng, untuk menolong murid mereka. Coan Kim Hoat berada paling depan, dengan dacinnya ia menghajar lengan kiri Tong Shia.
Oey Yok Su meletakkan gadisnya di samping. Ia seperti tidak mengambil tahu serangan Kim Hoat yang disusul pedangnya Han Siauw Eng. Ketika kedua serangan itu mengenai sasaran, mendadak saja dacin dan pedang patah menjadi empat potong!
Oey Yong lantas saja menangis.
"Ayah, kau bunuhlah dia!" dia berteriak. "Untuk selamanya aku tidak mau pula bertemu denganmu….!" Tanpa menoleh lagi, ia lari ke arah telaga dan terjun!
"Byur!" air itu berbunyi dan gusar berbareng. Ia tahu putrinya itu pandai berenang dan selulup, semenjak kecil putrinya biasa mandi di Tang Hay, tidak mendarat selama satu hari dan satu malam, akan tetapi kali ini sang putri bakal pergi entah untuk berapa lama, mungkin untuk tidak bertemu pula seperti kata si anak, maka itu dalam kagetnya, ia memburu ke tepi telaga, berdiri bengong mengawasi telaga itu.
Sampai sekian lama barulah Tong Shia si Sesat dari Timur itu berpaling, ia lihat Cu Cong tengah menolong Kwee Ceng dengan menyambungi tangannya. Mendadak ia menumpahkan hawa amarahnya terhadap mereka.
"Lekas kamu bertujuh membunuh diri!" ia membentak, suaranya dingin. "Tak usah sampai aku turun tangan hingga kau menjadi menderita!"
Kwa Tin Ok mengangkat tongkatnya.
"Satu laki-laki tidak takut mampus!" dia kata dengan nyaring. "Apapula penderitaan!"
"Kanglam Liok Koay sudah pulang ke kampung asalnya," Cu Cong pun berkata. "Kalau sekarang kita mengubur tulang-tulang kita di telaga Thay Ouw ini, apakah lagi yang diberati?"
Lantas mereka berenam, dengan senjata di tangan atau tangan kosong, memernahkan diri untuk melawan jago dari Laut Timur itu.
Kwee Ceng jadi berpikir keras. Ia tahu keenam gurunya tidak bakalan sanggup melawan Oey Yok Su. Ia tidak ingin, karena urusannya sendiri, mereka itu mengantar jiwa sia-sia. Maka itu ia lantas melompat untuk menyelak.
"Tan Hian Hong terbinasa di tangan teecu sendiri!" ia berseru, "Kematiannya pun tidak ada sangkut pautnya dengan semua guruku ini! Aku sendiri yang akan mengganti jiwanya!" Ia tahu gurunya yang nomor satu serta yang nomor tiga dan yang nomor tujuh beradat keras, kalau ia mati, mereka itu tentu nekat, maka itu ia menambahkan, "Tapi sakit hati ayahku masih belum terbalas, maka itu apakah locianpwee suka memberi tempo satu bulan kepadaku? Selewat tigapuluh hari teecu bakal datang sendiri ke pulau Tho Hoa To untuk menerima binasa!"
Berat pikirannya Oey Yok Su, karena ia ingat anaknya, hawa amarahnya lantas turut menjadi kendor. Tanpa membilang apapun, ia mengebas tangannya, memutar tubuh, terus ngeloyor pergi.
Kanglam Liok Koay heran, kenapa kata-kata muridnya itu dapat membikin jago Tang Hay itu mengangkat kaki. Mereka curiga, maka itu mereka tetap memasang mata. Tapi benar-benar orang telah pergi.
Seng Hong pun menjublak sekian lama. Kemudian barulah ia mengundang semua tamunya kembali ke dalam.
Bwee Tiauw Hong tertawa mendadak, ia mengebasi tangan bajunya, lalu tubuhnya mencelat setombak lebih, ketika tubuhnya diputar, ia pun lenyap dalam gelap gulita.
"Bwee Suci, bawalah muridmu!" Seng Hong berteriak.
Tidak ada jawaban, sekitar mereka tetap sunyi, maka teranglah sudah, si Mayat Besi pun telah pergi jauh.
Sampai di situ Liok Koan Eng mengasih bangun Wanyen Kang. Tapi orang berdiam saja. Sebab ia telah terkena totokan, tinggal kedua matanya saja yang dapat bergerak-gerak.
"Aku telah terima baik permintaan gurumu, kau pergilah!" berkata Seng Hong. Tapi ia tak dapat membebaskan dari totokan, karena bukanlah totokan dari partainya, kalau ia berbuat demikian, ia jadi berlaku tidak manis terhadap si penotok. Ia mengawasi semua tetamunya, hendak berbicara.
Justru itu Cu Cong menghampiri Wanyen Kang, tanpa membilang apa-apa, ia totok pangeran itu beberapa kali. Sebat totokannya itu, di pinggang beberapa kali disusul sama tepukan beberapa kali di punggung.
Melihat itu Seng ong kagum. "Dia lihay sekali," pikirnya mengenai Cu Cong. "Wanyen Kang bukan sembarang orang tetapi ia dapat ditotok tanpa berbuat apa-apa." Ia tidak tahu, Cu Cong dapat menotok dengan hasil bagus, karena keadaan lagi kacau sekali.
Wanyen Kang merasa sangat malu, tanpa memberi hormat, tanpa membilang apapun, ia angkat kaki.
"Orang ini siapa`" berkata Cu Cong. "Kau bawalah dia pergi!" Ia pun lantas membebaskan Toan Tayjin.
Komandan tentara itu menduga jiwanya bakal hilang, maka itu bukan main girangnya ia ditolong dan dimerdekakan juga. Dengan tergesa¬-gesa ia memberi hormat.
"Enghiong, untuk budi pertolonganmu ini, aku Toan Thian Tek tidak akan melupakan sekali pun sampai akhir ajalku!" katanya.
Kapan Kwee Ceng mendapat dengar itu nama Toan Thian Tek, ia terkejut dan tercengang. Nama itu seperti mengaung di kupingnya.
"Kau…kau bernama Toan Thian Tek?" ia menanya.
"Benar," komandan itu menyahut. "Enghiong kecil, kau punya pengajaran apa untukku?"
"Bukankah delapanbelas tahun yang lampau selama di Lim-an, kau menjadi opsir tentara?" Kwee Ceng menanya pula.
"Benar, enghiong kecil. Bagaimana kau tahu?" kembali Thian Tek menyahut. Kemudian ia memandang pada Koan Eng, sebab barusan ia mendengar keterangan Seng Hong bahwa pemuda itu muridnya Kouw Bok Taysu. Ia berkata: "Aku adalah keponakan yang tidak menyucikan diri dari Kouw Bok Taysu, karenanya kita menjadi orang sendiri, Haha!" Ia senang sekali, tertawa girang.
Kwee Ceng tidak menanya pula, ia hanya menoleh kepada tuan rumah.
"Liok Chungcu," katanya. "Aku yang rendah memohon pinjam ruangan belakang dari rumahmu ini."
"Tentu saja boleh," sahut Seng Hong.
Kwee Ceng mengucap terima kasih, lalu ia tuntun Toan Thian Tek, buat diajak ke belakang. Cepat tindakannya itu.
Kanglam Liok Koay saling memandang, di dalam hatinya masing-masing mereka berkata: "Thian sungguh adil, Siapa nyana justru di sini kita dapat menemui si manusia jahat! Coba bukan dia menyebut namanya sendiri, siapa yang tahu dialah yang dicari ubak-ubakan dan jauh laksaan lie selama tujuh tahun…..?"
Liok Seng Hong dan putranya serta Wanyen Kang tidak mengerti, mereka mengikuti si anak muda. Tiba di ruang belakang, di sana api dipasang terang-terang.
"Aku pinjam pit dan kertas," Kwee Ceng memohon pula.
Seorang bujang sudah lantas menyerahkan perabot tulis yang di minta itu. Kwee Ceng segera menulis di atas sehelai kertas, bunyinya: "sincie dari ayah almarhum, Kwee Siauw Thian." Semua huruf itu besar-besar, lantas di taruh di tengah-tengah ruangan.
Sampai sebegeitu jauh Toan Thian Tek tidak tahu apa yang hendak perbuat orang, lekas ia membaca nama Kwee Siauw Thian, barulah ia kaget hingga umpama kata semangatnya terbang. Ia segera melihat ke selilingnya, lalu ia menjadi terlebih kaget lagi. Ia seperti terkurung Kanglam Liok Koay yang semuanya beroman keren. Tanpa merasa, celananya basah. Lebih-lebih ia tidak dapat melupakan Han Po Kie, si kate gemuk, yang matanya tajam itu. tadi karena kaget dan ketakutan, ia tidak memperhatikannya. Sekarang tubuhnya bergemetaran.
Tiba-tiba tangannya Kwee Ceng terangkat dan turun dengan cepat. Satu suara nyaring menyusul itu. Itulah pecahnya sebuah meja di depan mereka.
"Bilanglah, kau mau mampus cepat dan senang atau kau menghendaki tubuhmu dibikin berkeping-keping hingga kau merasakan penderitaan?!" berkata si anak muda, suaranya bengis. Ia berbicara seraya mengawasi tajam musuh besarnya itu.
Sampai di situ Toan Thian Tek merasa bahwa ia tidak bakal hidup pula. "Memang benar ayahmu itu akulah yang membunuhnya," ia berkata. "Tetapi aku diperintah oleh atasanku, aku tak bisa berbuat lain."
Matanya Kwee Ceng bersinar, biji mata itu seperti mau melompat keluar. "Siapakah itu yang memerintah kau?!" ia tanya. "Siapa mengirim kau untuk membinasakan ayahku! Lekas bilang!"
"Liok-ongya Wanyen Lieh, putra keenam dari negera Kim!" sahut Toan Thian Tek.
Mendengar itu Wanyen Kang terkejut. "Apa kau bilang?" dia menanya.
Toan Thian Tek memang mengharap-harap dapat menyeret orang, supaya dosanya menjadi ringan. Maka itu ia lantas membeber, membuka rahasia bagaimana hari itu Wanyen Lieh tertarik pada Pauw Sek Yok, istri Yo Tiat Sim, untuk mendapatkannya, orang bekerja sama dengan tentara kerajaan Song, dusun Gu-kee-cung didatangi, diserbu, kedua keluarga Yo dan Kwee dibikin celaka. Tapi dengan berpura-pura baik hati, dia sendiri menolong Pauw Sek Yok. Hanya kemudian ia berpisah dari ibunya Kwee Ceng itu dalam kekalutan tentara, ia kabur pulang ke Lim-an. Kemudian dengan perlahan-¬lahan ia mendapat kenaikan pangkat sampai pada pangkatnya yang sekarang. Ia menutur jelas perasaannya itu. Diakhirnya ia berlutut di depan Kwee Ceng.
"Kwee Enghiong, Kwee Tayjin," ia berkata, "Hamba yang rendah menerima titah orang, bukan dosaku…." Ia pun mengangguk-angguk di meja sincie dari Kwee Siauw Thian. "Kwee Looya," ia berkata pula, "Arwahmu di langit mengerti, orang yang membikin celaka keluargamu, ialah musuhmu Wanyen Lieh adanya, si pangeran keenam, bukannya aku yang berjiwa semut. Kwee Looya, hari ini putramu sudah menjadi begini besar dan gagah, kau tentunya girang dan puas, maka itu aku mohon dengan perlindunganmu, supaya sukalah putramu ini memberi ampun pada jiwa anjingku ini…."
Selagi orang mengoceh, mendadak Wanyen Kang lompat, menghajar batok kepalanya, yang lantas saja hancur pecah, tubuhnya roboh dan jiwanya melayang.
Kwee Ceng mendekam di tanah, ia menangis tersedu¬-sedu. Baru sekarang Seng Hong mengerti jelas, maka bersama anaknya ia menjalankan kehormatan di depan sincie, perbuatannya ini diturut oleh Kanglam Liok Koay. Juga Wanyen Kang turut memberi hormat, beberapa kali ia mengangguk-angguk, kemudian ia berkata: "Saudara Kwee, baru sekarang aku ketahui…. Wanyen Lieh adalah musuh besarmu. Tadinya aku tidak ketahui peristiwa ini, aku telah melakukan segala apa yang bertentangan, sungguh aku berdosa. namaku, Yo Kang," menyahut Wanyen Kang.
"Bagus!" kata Kwee Ceng. "Dengan begini barulah kau menjadi laki-laki sejati! Besok aku hendak pergi ke Pak-hia, untuk membunuh Wanyen Lieh, kau hendak turut atau tidak?"
Yo Kang tidak lantas bisa memberikan jawaban. Ia ingat budinya pangeran Kim itu yang telah merawat semenjak kecil. Kapan ia lihat sinar matanya pemuda she Kwee itu, yang agaknya kurang puas, ia menyahut juga: "Siauwtee akan iku toako menuntut balas!" Yo Kang menyebut dirinya siauwtee (adik) dan memanggilnya toako (kakak), sedang tadi ia hampir memanggil ayah angkat diwaktu menyebutkan namanya Wanyen Lieh.
Kwee Ceng girang sekali. "Bagus saudara!" berseru dia. "Almarhum ayahmu dan ibuku pun pernah membilangi aku bahwa dulu ayahmu dan ayahku telah membuat perjanjian untuk kita mengangkat saudara. Aku ingin mewujudkan pesan itu, bagaimana pikiranmu?"
"Itulah yang aku harap," menyahut Yo Kang. Lantas keduanya menjalankan kehormatan di depan sincie, untuk mengangkat saudara.
Sampai di situ, bereslah segalanya, maka tuan rumah mempersilahkan semua tamu beristirahat. Besoknya pagi, Kanglam Liok Koay pamitan dari tuan rumah dengan mengajak Kwee Ceng dan Yo Kang.
Seng Hong membekalkan sesuatu kepada tetamunya, ia antar sampai di luar rumahnya.
Kwee Ceng memberitahukan gurunya bahwa bersama Yo Kang ia hendak pergi ke Utara untuk membunuh Wanyen Lieh, ia minta petunjuk dari mereka.
"Janji di harian Tiong Ciu masih lama, karena kami tidak punya urusan apa-apa, mari kami antar kamu," kata Kwa Tin Ok.
"Begitupun baik," menyatakan Cu Cong dan yang lainnya.
Kwee Ceng bukannya menampik tetapi ia menegaskan sebenarnya tidak perlu gurunya turut dia. Ia kata ilmu silatnya Wanyen Lieh biasa saja, dengan adanya Yo Kang sebagai pembantu, ia sudah merasa cukup. Ia sebaliknya memperingatkan bahwa guru-gurunya baru saja kembali, sudah seharusnya mereka beristirahat di kampung halaman. Ia pun tidak berani membikin pusing gurunya, yang budinya sangat besar sekali.
Kanglam Liok Koay memikir alasan muridnya ini pantas, mereka tidak memaksa untuk turut, mereka jadi memberikan pesan saja.
"Janji untuk pergi ke Thoa Hoa To tidak usah kau penuhi," kata Han Siauw Eng kemudian. Ia memesan begini sebab ia tahu muridnya jujur dan khawatir muridnya pergi ke pulau Tho Hoa To sedang Tong Sia Oey Yok Su itu telengas dan tabiatnya sangat aneh.
"Jikalau teecu tidak pergi, apakah itu bukan berarti tidak menepati janji?" tanya si murid.
"Sama hantu itu mana dapat kita bicara perihal kepercayaan!" kata Yo Kang. "Toako, kau terlalu kukuh!"
Tapi Kwa Tin Ok berpikir lain. Atas suaranya Yo Kang itu ia memperdengarkan "Hm!" kemudian ia bilang: "Anak Ceng, kata-kata kami bangsa laki-laki tidak boleh dibuat permainan! Sekarang ini bulan enam tanggal lima, nanti pada bulan tujuh tanggal satu kita bertemu di Cui Sian Lauw di Kee-hin, dari sana kita boleh berangkat bersama-sama ke Tho Hoa To. Sekarang pergilah kau menaiki kuda merahmu menuju Pak-khia untuk mencari balas. syukurlah jikalau kau berhasil, kalau tidak, kita boleh minta bantuan semua totiang dari Coan Cin Pay. Mereka adalah orang-orang yang memuliakan kebajikan, pastilah mereka tidak akan menapik permohonan kita."
Kwee Ceng sangat bersyukur akan semua gurunya begitu bersungguh-sungguh, ia menghanturkan terima kasih seraya menjatuhkan diri berlutut di tanah.
"Adik angkatmu adalah dari keluarga agung, aku mesti hati-hati," Lam Hie Jin memesan.
Kwee Ceng tidak mengerti, ia mengawasi.
Cu Cong tertawa, ia pun berkata: "Putrinya Oey Yok Su beda dari ayahnya, kami selanjutnya jangan membikin ia mendongkol pula. Benar bukan, shatee?"
Han Po Kie membuat main kumisnya. "Anak busuk itu mengatai aku di labu, rupanya dialah yang paling cantik!" kata si kate terokmok ini, yang akhirnya tertawa sendiri.
Hatinya Kwee Ceng menjadi lega sekali. Itu artinya gurunya tidak membenci pula Oey Yong. Hanya kapan ia ingat si nona, yang entah dimana adanya, ia jadi berduka.
"Nah, anak Ceng, kau lekas pergi lekas kembali!" berkata Coan Kim Hoat. "Kami menanti kabar baik dari kau di Kee-hin!"
Sampai disitu, kanglam Liok Koay lantas berangkat.
Kwee Ceng berdiri di tepi jalanan sambil memegangi les kudanya, ia mengawasi sampai semua gurunya sudah tidak nampak lagi, baru ia menoleh kepada Yo Kang sambil berkata, "Yo hiantee, kudaku ini bisa lari keras, untuk ke Pak-khia pergi dan pulang, cukup dengan belasan hari, maka itu marilah aku temani kau jalan-jalan dulu untuk beberapa hari."
Yo Kang menurut, mereka melakukan perjalanan dengan perlahan-lahan. Kalut pikiran Yo Kang. Ia membayangakan baru berselang sebulan ia hidup mewah dan mulia, datang ke Kanglam dengan diiringi secara besar. Bagaimana agung kedudukannya utusan dari negara Kim yang tangguh itu. Sekarang? Sekarang ia menuju ke kota raja seorang diri, dalam keadaan sangat sepi. Tidakkah ia tengah bermimpi dan impiannya itu buyar dengan tiba-tiba?
Kwee Ceng dapat melihat perubahan roman orang itu, ia hanya menyangka orang tengah berduka karena mengingat ayah ibunya. Ia lantas menghibur.
Tengah hari itu mereka tiba di Lie-yang. Lantas mencari tempat pemondokan. Seorang pelayan penginapan menghampiri mereka.
"Apakah tuan-tuan adalah tuan Kwee dan tuan Yo?" dia menanya sembari memberi hormat dan tertawa. "Barang santapan sudah siap, silahkan tuan-tuan turut aku pergi bersantap dulu."
Dua-dua pemuda itu terkejut.
"Kenapa kau mengenal kami?" tanya Yo Kang.
"Aku menerima pesan, tuan-tuan," sahut pelayan itu, sambil tertawa. "Tadi seorang tuan datang padaku mengasih tahu perihal datangnya tuan¬-tuan. Aku diberi lukisan tentang roman dan potongan tubuh tuan-tuan." Semabri berkata, ia menuntun kuda orang untuk dirawat.
"Sungguh baik tuan dari Kwie-in-chung itu," Kwee Ceng memuji.
Mereka duduk di meja menghadapi masakan pilihan yang mahal harganya, begitu pun araknya. Kwee Ceng mendapati masakan ayam yang ia paling doyan. Mereka bersantap dengan bernafsu, habis dahar mereka hendak membayar.
"Tidak usah tuan-tuan, semuanya sudah dibayar," si pelayan menerangkan.
Kwee Ceng tertawa, ia memberi upah pelayan itu, yang mengucap terima kasih berulang-ulang dan dengan hormat mengantar keluar.
Di tengah jalan, Kwee Ceng memuji pula Liok Chungcu, tetapi Yo Kang, yang masih mendongkol bekas dikalahkan dan ditawan, mengatakan,: "Teranglah ia menggunai muslihat ini untuk membaiki semua orang gagah, pantas dia menjadi kepala di Thay Ouw!"
"Hiantee, bukankah chungcu itu paman gurumu?" tanya Kwee Ceng heran.
"Benar Bwee Tiauw Hong pernah mengajarkan ilmu silat pada saya tetapi dia bukanlah guruku," menjawab orang yang ditanya. "Coba aku mengetahui mereka itu ada dari golongan sesat, aku tidak sudi belajar, hingga tak usahlah hari ini aku mengalami kejadian ini….."
Kwee Ceng jadi semakin heran.
"Hiantee, bagaimana sebenarnya?" ia menanya.
Yo Kang merasa kelepasan omong, mukanya menjadi merah.
"Aku merasa Kiu Im Pek-kut Jiauw bukanlah pelajaran murni," ia menyahut.
"Kau benar, hiantee," Kwee Ceng mengangguk. "Tian Cun Cinjin lihay sekali, ia pun dari kalangan ilmu silat sejati, kalau kau menghanturkan maaf padanya, tentulah ia dapat memaafkanmu." Yo Kang berdiam.
Malam itu mereka tiba di Kim-tan, di sana pun ada pelayan penginapan yang menyambutnya, yang menyiapkan barang makanan dan penginapan tanpa bayaran, sebab sudah ada yang memesan dan membayarinya. Mereka menerima itu tanpa banyak bertanya-tanya.
Kemudian, beruntun tiga hari, mereka mendapat pengalaman serupa. Mereka menjadi heran sekali hingga mereka menyangsikan chungcu dari Kwie-in¬chung. Tatkala mereka melewati Ko-yu dan masih ada serupa penyambutan, dengan menyindir Yo Kang berkata: "Hendak aku melihat sampai di mana Kwie-in¬chung akan mengantar tetamunya…."
Kwee Ceng lebih curiga lagi, sebab pada setiap barang santapan tentu ada satu dua rupa santapan yang paling ia gemari, kalau itu adalah perbuatan Liok Koan Eng, sungguh luar biasa. Habis bersantap, ia kata: "Hiantee, nanti aku jalan lebih dulu, untuk mencari tahu." Yo Kang menurut, ia membiarkan orang melarikan kudanya seorang diri.
Beruntun tiga perhentian telah dilewati, setibanya di Po-eng, tidak ada lagi penyambutan serupa itu. Sengaja Kwee Ceng memilih penginapan yang paling besar serta minta kamar yang paling mewah juga. Sore itu, selagi ia berada di dalam kamarnya, ia dengar suara kuda dilarikan, kelenengannya berbunyi nyaring. Penunggang kuda itu berhenti di depan penginapan, dia masuk ke dalam, lantas memesan makanan untuk besok, katanya untuk tuan Kwee dan tuan Yo.
Kwee Ceng telah menduga kepada Oey Yong, tetapi mendengar suara orang, ia heran juga. Ia girang sekali. Ia tak mau lantas menemui. Ia hendakmain¬-main. Maka ia menunggu sampai jam dua, diam-diam keluar dari kamarnya. Ia naik ke atas genting, terus ke kamarnya si nona. Tiba-tiba tampak bayangan orang berkelebat, malah ia kenali Oey Yong adanya.
"Heran, malam-malam begini ia hendak kemana?" pikirnya. Ia menguntit.
Oey Yong lari ke luar kota. Ia tidak tahu ada yang membayanginya. Ia pergi ke tepi sebuah kali kecil. Dibawah satu pohon yangliu ia duduk numprah. Dari sakunya ia keluarkan serupa barang, terus ia buat main di tangannya, tubuhnya dibungkukkan.
Malam itu terang bulan, angin berdesir, meniup daun-¬daun yangliu dan juga ikat pinggangnya si nona. Air kali mengalir terus. Di sana sini terdengar suara rupa-¬rupa serangga.
"Ini engko Ceng…. ini Yong-jie…" terdengar nona itu mengoceh sendirian.
Heran Kwee Ceng. Ia berindap-indap, menghampiri ke belakang orang. Di bawah terangnya sinar rembulan, ia melihat tegas dua buah boneka, satu laki-¬laki dan satu perempuan, keduanya gemuk dan mungil. Itulah boneka buatan Bu-sek yang kesohor, juga kesohor di Thay Ouw. Ia menjadi ketarik. maju lagi beberapa tindak. Di depan boneka itu ditaruh beberapa mangkok dan cawan kecil, yang berisi macam-macam bunga.
Kembali terdengar suara perlahan dan halus dari nona itu; "Mangkok ini engko Ceng yang dahar, cawan ini Yong-jie. Semua ini Yong-jie yang masak sendiri. Enak tidak?"
"Enak! Enak sekali!" Kwee Ceng menyahut.
Oey Yong terperanjat, ia menoleh dengan cepat. Lalu tertawa, memperlihatkan wajahnya yang manis. Dengan gesit ia melompat menghanpiri anak muda itu.
Mereka lalu duduk di bawah pohon di tepi kali itu. Lantas mereka berbicara dengan asyik mengenai urusan mereka sejak perpisahan beberapa hari itu, tetapi yang mereka rasakan seperti sudah bulanan atau tahunan. Si nona saban-saban tertawa, hingga si pemuda menjadi berdiam saja. Katanya dalam hati: "Yong-jie begini mencintaiku, kalau di belakang hari kita tidak hidup bersama, bagaimana rasanya…?"
Ketika malam itu Oey Yong menceburkan diri, ia bersembunyi lama, sesudah menduga ayahnya telah pergi, barulah ia kembali ke Kwie-in-chung. Ia girang akan mendapatkan pemuda pujaannya tak kurang suatu apapun. Ia menyesal juga telah berlaku keras terhadap ayahnya. Ia terus menyembunyikan diri. Ketika besoknya pagi, ia lihat Kwee Ceng berangkat berdua dengan Yo Kang, ia lantas mendahului, untuk seterusnya saban-saban ia memesan barang makanan dan rumah penginapan. Ia tahu barang santapan yang digemari Kwee Ceng, selalu menyelipkan satu atau dua rupa. Tentu saja ia tidak tahu Kwee Ceng curiga dan lantas mendahului, hingga ia kepergok. Tapi ini cuma membuatnya gembira sekali.
Asyik mereka ngobrol, sampai jauh malam, sampai si nona datang kantuknya, tanpa merasa ia kepulasan di pangkuan anak muda itu. Kwee Ceng khawatir orang sadar, ia tidak berani bergerak, ia diam menyenderkan diri di bongkol pohon yangliu. Tanpa merasa, ia pun ketiduran. Ketika itu ada di bulan keenam, hawa malam sejuk, sedang rembulan bercahaya terus.
Kwee Ceng yang sadar paling dulu tatkala kupingnya mendengar burung-burung berkicau, membuka matanya, ia mendapatkan sang fajar sudah mulai menyingsing. Ia pun dapat mencium semerbaknya bunga-bunga.
Oey Yong tidur nyenyak, napasnya berjalan perlahan. Ia mengerutkan alisnya, tapi mukanya dadu, mulutnya yang mungil tersenyum, nampak manis sekali. Rupanya ia tengah bermimpi.
"Biarlah ia tidur terus, aku tidak boleh mengganggunya," Kwee Ceng berpikir.
Pemuda ini mengawasi muka orang, ia ingin menghitung bulu alisnya yang bagus dari si nona itu tatkala mendadak mendengar suara orang lain, datangnya kira-kira dua tombak lebih di sebelah kirinya.
"Telah aku ketahui kamarnya nona Thia itu, kamarnya di dalam taman yang letaknya di belakang rumah gadai Tong Jin," demikian suara itu.
"Baiklah, nanti malam kita bekerja," kata suara lain, terang suara orang tua.
Mereka bicara dengan perlahan, tetapi di pagi yang sunyi itu nyata terdengarnya. Kwee Ceng terperanjat. Ia menyangka pada penjahat tukang petik bunga, yang gemar mengganggu kesucian kaum wanita. Ingin ia melihat mereka. Tiba-tiba Oey Yong mencelat bangun.
"Engko Ceng, hayo tangkap aku!" katanya. Terus ia lari ke sebuah pohon besar.
Kwee Cneg dapat menerka maksud si nona cerdik ini, ia lantas mengejar, malah sambil tertawa geli, bagaikan tengah bermain petak umpet. Hanya larinya dibikin berat, seperti larinya orang yang tidak mengerti ilmu silat.
Dua orang itu terkejut, mereka tidak menyangka di pagi hari itu sudah ada orang lain di situ, bahkan dekat mereka, tetapi ketika mereka melihat dua muda-mudi, yang main lari-larian, mereka tidak curiga. Hanya karena itu, mereka lantas ngeloyor pergi.
Kwee Ceng dan Oey Yong melihat belakang orang, yang pakaiannya compang-camping, tanda dandanan pengemis. Mereka menanti sampai orang pergi cukup jauh, si nona tanya si pemuda, apa maunya dua orang itu mencari nona Thia.
"Kebanyakan maksudnya tidak baik. Kita menolong orang, baik atau tidak?" kata Kwee Ceng.
"Memang baik sekali. Cuma kita tidak tahu dua pengemis itu orang-orangnya Ang Cit Kong atau bukan." kata si nona.
"Aku rasa bukan," jawab si pemuda.
Mereka lantas pulang ke penginapan untuk bersantap, habis itu mereka pergi pesiar, sampai ke kota barat. Di situ mereka mendapatkan rumah gadai Tong Jin, dengan huruf-huruf yang tinggi dan besar. Benar di belakang situ ada sebuah taman serta lauwtengnya yang tinggi, yang dialingi kere bambu bercat hijau. Memandang lauwteng itu mereka tersenyum, lantas mereka berjalan terus, akan pesiar ke lain bagian kota. Sorenya mereka pulang, untuk bersantap, kemudian beristirahat di kamar masing-masing.
Lewat sedikit satu jam, keduanya keluar dari kamar, lari ke kota barat. Mereka melompati taman, hingga mereka dapat memandang lauwteng dimana ada sinar api. Mereka terus naik ke atas lauwteng, menyangkel di payon, mengintip ke dalam. Hawa malam panas, jendela tidak ditutup. Apa yang mereka lihat membikin mereka terperanjat.
Di dalam kamar itu ada tujuh orang, semuanya wanita. Seorang nona umur delapan atau sembilanbelas tahun, yang cantik, lagi membaca buku di terangnya lampu. Mungkin dia si nona Thia, Thia Toa siocia yang dimaksudkan kedua pengemis itu. Enam lainnya dandan sebagai budak, tetapi mereka pada mencekal senjata, tiga memegang golok, tiga lainnya masing-masing pedang, sepasang roda serta sebatang tongkat besar yang panjang.
Melihat keadaan mereka itu, Kwee Ceng dan Oey Yong menduga si nona lihay. Sekarang keduannya berpikir lain. Hendak mereka menonton dulu. Mesti ada apa-apa yang aneh mengenai si nona dan si pengemis. Tidak lama mereka mengintai, mereka mendengar satu suara di luar pekarangan. Oey Yong tarik tangan Kwee Ceng, diajak bersembunyi.
Segera mereka melihat dua bayangan, yang benar ada dari si pengemis tadi. Mereka langsung ke bawah lauwteng dimana mereka memperdengarkan siulan perlahan.
"Orang-orang gagah dari Kay Pang di sana?" menanya satu budak seraya menyingkap kere. "Silahkan naik."
Dua pengemis itu menggenjot tubuh mereka untuk naik lauwteng. Si nona sudah lantas menyambut. Ia memberi hormat sambil menanyakan she dan nama kedua tetamunya itu.
"Aku yang rendah she Lee," menyahuti si pengemis tua. "Ini keponakan muridku, Ie Tiauw Hin."
Melihat muka orang yang penuh luka, Nona Thia mengingat sesuatu. "Bukankah locianpwee Hang Liong Ciu Lee Seng?" ia menanya.
"Tajam matamu, nona!" tertawa si pengemis. "Aku yang rendah dan gurumu, Ceng Ceng Sanjin, pernah berjodoh bertemu satu kali, walaupun kita tidak bersahabat rapat, kita saling menghormati."
Mendengar nama Ceng Ceng Sanjin, Kwee Ceng ingat Sun Put Jie Sun Siang-kouw, salah satu dari Coan Cin Cit Cu. Karenanya, nona Thia ini bukanlah orang luar.
"Locianpwee baik sekali hendak menolong, boanpwee sangat bersyukur," berkata pula si nona. "Di dalam segala hal, boanpwee akan mendengar kata locianpwee."
"Nona seorang terhormat, kalau kau dipandang lebih banyak oleh binatang itu, sudah hebat," berkata Hang Liong Ciu Lee Seng si Penakluk Naga.
Mendengar itu merah mukanya si nona.
"Sekarang, silahkan nona beristirahat di kamar ibumu, di sini jangan ditinggalkan beberapa pelayanmu ini," Lee Seng memberi petunjuk. "Aku yang rendah mempunyai daya untuk menghadapi binatang itu."
"Boanpwee tidak gagah, tetapi boanpwee tidak jeri terhadap binatang itu," berkata si nona. "Loacianpwee hendak bertanggungjawab sendiri, sungguh aku malu…."
"Jangan berkata demikian, nona," berkata pula Lee Seng. "Ang Pangcu kami bersahabat kental dengan Ong Tiong Yang Cinjin dari Coan Cin Pay, dengan begitu kita seperti orang sendiri."
Sebenarnya nona Thia ingin sekali mencoba ilmu silatnya, tetapi menampak mata tajam dari Lee Seng, ia tidak berani membantah, maka lantas memberi hormat.
"Baiklah, aku menurut locianpwee," bilangnya. Lantas ia turun dari lauwteng.
Lee Seng segera menghampiri pembaringan si nona, menyingkap kelambunya. Pembaringan itu indah segalanya, tetapi ia naik ke atas itu tanpa membuka sapatu lagi, tak peduli sepatu dan pakaiannya dekil, ia terus merebahkan diri.
"Pergi kau turun," ia menitahkan Ie Tiauw Hin, "Ramai¬-ramai kamu menjaga di bawah. Tanpa titahku, aku larang kamu lancang turun tangan!" Tiauw Hin menurut, ia lantas berlalu.
Lee Seng menutup diri dengan selimut indah, ia suruh budak-budak menurunkan kelambu dan juga memadamkan api. Kemudian barulah mereka mengundurkan diri.
Oey Yong tertawa di dalam hatinya menyaksikan kelakuan Lee Seng itu. "Semua orang Kay Pang telah meneladani tingkah pola pemimpinnya," semua suka berbuat jenaka, tidak peduli di tempat apapun."
Karena sudah tahu ada penjagaan, nona ini bersama Kwee Ceng mendekam terus di bawah payon, berdiam menanti dengan mulut bungkam.
Lantas terdengar suara kentongan orang ronda tanda jam tiga. Menyusul terdengar suara membeletuknya batu masuk ke dalam taman. Itulah batu tanda menanya dari orang yang biasa keluar malam.
Oey Yong menarik ujung baju Kwe Ceng untuk memberitahu. Hanya sebentar, di luar tembok terlihat melompat masuknya tujuh atau delapan orang, yang semuanya lompat lebih jauh naik ke atas lauwteng. Mereka itu menyalakan api sebentar, habis itu mereka menuju ke pembaringan.
Hanya sejenak itu, Oey Yong telah dapat melihat mukanya orang-orang itu. Dua yang menjadi kepala adalah orang-orangnya Auwyang Kongcu, yaitu dua pria yang biasa membawa-bawa galah panjang peranti menggiring ular. Enam yang lain adalah murid-murid wanita Auwyang Kongcu. Si dua pria berdiri di kiri kanan pembaringan, empat wanita menungkrup tubuh Lee Seng dengan sehelai selimut lebar. Lalu dua yang lain mementang sebuah kantung besar ke dalam tubuh Lee Seng dibelesaki, lalu karung itu di ikat kuat-kuat. Semua mereka bekerja sebat sekali, seperti sudah terlatih mahir, tanpa ada yang bersuara. Dua wanita menggendong kantung itu, lantas mereka lompat turun dari lauwteng.
Kwee Ceng hendak bangkit, untuk menyusul, Oey Yong mencegah. "Biarkan orang-orang Kay Pang jalan lebih dulu," si nona membisiki.
Kwee Ceng menurut, ia mengawasi. Kantung berisi manusia itu digotong berdelapan. Di belakang mereka mengiringi lebih dari sepuluh orang lainnya, mereka mencekal tongkat bambu, rupanya mereka adalah orang-orang Kay Pang.
Menanti sampai orang sudah berpisah beberapa tombak dari mereka, baru Oey Yong dan Kwee Ceng keluar dari tempat persembunyian, untuk menguntit. Seorang pengemis berjalan di paling belakang.
Kedua rombongan itu menuju ke luar kota, pergi ke sebuah rumah besar. Rombongan Auwyang Kongcu terus masuk ke dalam rumah, rombongan pengemis lantas memencarkan diri mengurung.
Oey Yong menarik tangan Kwee Ceng, diajak ke belakang, mereka melompat tembok masuk ke pekarangan dalam.
Sekarang ketahuan rumah besar itu adalah rumah keluarga Lauw, di pendopo ada sejumlah sincie, dan ada pian-pian yang besar memutar nama-nama almarhum yang dihormati itu, semunya pernah memangku pangkat. Pendopo diterangi lima batang lilin besar. Duduk di tengah ada satu orang, yang tangannya mengipas perlahan-lahan. Menduga ialah Auwyang Kongcu, Oey Yong dan Kwee Ceng berlaku hati-hati. Mereka bersembunyi dan mengintai di bawah jendela, hati mereka menduga-duga, apa Lee Seng sanggup melayani pemuda yang lihay itu.
Sebentar kemudian muncullah delapan penggotong kantung manusia itu. "Kongcu, nona Thia sudah disambut!" kata satu di antaranya.
Auwyang Kongcu tertawa dingin, bukannya menyambut orangnya, ia hanya memandang ke luar pendopo seraya berkata: "Sahabat, setelah dengan baik hati kamu datang berkunjung kemari, kenapa kamu tidak masuk saja untuk minum teh?"
"Hebat orang ini," pikir Kwee Ceng.
Orang-orang Kay Pang tetap bersembunyi. Tanpa tanda dari Lee Seng, tidak berani mereka lancang bertindak.
Auwyang Kongcu tidak berkata pula, hanya ia memandang kepada kantung. "Aku tidak sangka si nona Thia begini gampang diundang!" katanya. Ia bertindak menghampiri, perlahan tindakannya. Ketika ia mengibaskan kipasnya, kipas itu tertutup rapat merupakan sepotong besi mirip dengan pit (alat tulis tionghoa)
Kwee Ceng dan Oey Yong terkejut. Mereka menduga orang sudah ketahui musuhlah yang berada di dalam kantung itu. Diam-diam mereka menyiapkan kong¬piauw, bersedia menolongi Lee Seng.
Mendadak terdengar suara sar-ser dari jendela, lalu dua batang panah tangan menyambar ke arah Auwyang Kongcu. Rupanya orang-orang Kay Pang sudah merasakan pemimpim mereka terancam bahaya.
Auwyang Kongcu membawa tangan kirinya ke samping lantas telunjuk dan jari tengahnya menjepit, sebatang panah tangan itu patah seketika.
Orang-orang Kay Pang terkejut, malah Ie Tiauw Hin lantas berseru: "Paman Lee, keluarlah!"
Menyambut seruan itu, tiba-tiba terdengar suara memberebet pecahnya kantung, lantas dua batang golok menyambar, disusul bergelinding keluarnya tubuh Lee Seng, tangan siapa terus memegangi kantung sebagai daya pembelaan diri. Sesudah itu pengemis ini berlompat berdiri.
Lee Seng ketahui Auwyang Kongcu lihay, ia menggunakan akalnya ini, untuk membokong, tapi ternyata ia gagal.
Auwyang Kongcu bebas dari sambaran golok, bukannya kaget, ia justru tertawa. "Si nona cantik berubah menjadi pengemis tua, sungguh ilmu sulap kantong yang jempolan!" katanya tertawa.
Lee Seng tidak menggubris ejekan itu. "Selama tiga hari, tempat ini beruntun kehilangan empat nona-nona, bukankah itu perbuatan bagus dari kau, tuan yang terhormat?" ia balas mengejek.
Kongcu itu tertawa pula. "Kota Po-eng ini kota melarat miskin, kenapa orang-orang polisi dapat berubah menjadi segala tukang minta-minta?" ia berkata dengan ejekan.
Lee Seng pun tidak menjadi gusar. "Sebenarnya aku pun tidak mengemis nasi di sini," menyahut Lee Seng, "Tetapi kemarin ini aku mendengar cerita beberapa pengemis cilik tentang lenyapnya dari beberapa nona cantik manis, karenanya timbullah kegembiraan aku si pengemis tua, maka aku datang melongok!"
Dengan ogah-ogahan Auwyang Kongcu berkata: "Sebenarnya beberapa nona itu tidak cantik luar biasa, kalau kau menginginkannya, dengan memandang mukamu, sukalah aku membayarnya pulang!" Ia pun terus mengebasi tangannya, maka beberapa murid perempuannya lantas masuk ke dalam untuk mengajak keluar empat nona. Mereka ini kusut pakaiannya, kucal romannya, semuanya pada menangis.
Murka Lee Seng menyaksikan keadaannya keempat nona itu. "Tuan yang terhormat, apakah shemu yang mulia dan namamu yang besar?" ia menanya. "Murid siapakah kau ini?"
Auwyang Kongcu tetap acuh tak acuh. "Aku she Auwyang. Saudara, kau ada pengajaran apakah untukku?"
"Mari kita main-main!" Lee Seng berkata keras.
"Tidak ada yang terlbeih baik dari itu!" kata si anak muda menyambut. "Silahkan kau mulia dulu!"
"Bagus!" seru Lee Seng, yang segera menggerakkan tangan kanannya. Tapi belum sempat ia menyerang, di depan matanya berkelebat satu bayangan putih dan angin pun mendesir. Ia menjadi sangat kaget, ia mencelat. Tidak urung, lehernya terlanggar juga satu jari tangan. Syukur ia cukup sebat, kalau tidak, lehernya bisa tercekuk!
Lee Seng ini berkedudukan tinggi di dalam partainya, Kay Pang, Partai Pengemis, dia lihay. Semua pengemis di empat propinsi Ouwlam dan Ouwpak serta Ciat-kang dan Kangsouw tunduk dibawah perintahnya. Siapa tahu dalam satu gebrak saja, hampir celaka. Maka mukanya menjadi merah. Begitu ia hendak memutar tubuh, tangannya sudah mendahului melayang.
"Dia juga mengerti Hang Liong Sip-pat Ciang, "Oey Yong berbisik pada Kwee Ceng. Dan si anak muda mengangguk.
Auwyang Kongcu tidak berani menangkis serangan itu, yang ia lihat hebat sekali. Selagi berkelit, Lee Seng memutar tubuhnya. Lantas pengemis maju satu tindak, kedua tangannya di angkat ke depan dada, untuk kembali menyerang, menyusul penyerangannya yang gagal itu.
"Itulah jurus dari ilmu silat Po-giok-kun," Kwee Ceng berbisik pada kekasihnya.
Si nona pun mengangguk.
Mendapat kenyataan orang lihay, Auwyang Kongcu tidak berani berlaku acuh tak acuh seperti semula lagi. Ia selipkan kipasnya dipinggang, setelah berkelit, ia membalas menyerang, menghajar pundak orang.
Lee Seng menangkis, terus ia menyerang pula, tetap dengan satu jurus dari Po-giok-kun.
Kali ini Auwyang Kongcu memperlihatkan kepandaiannya. Ia menangkis dengan tangan kiri, sembari menangkis tubuhnya mencelat ke samping lawan, terus ke belakang lawan. Luar biasa gesit gerakkannya itu. Maka juga segera ia dapat menyerang ke arah punggung lawan.
Kwee Ceng dan Oey Yong terkejut. "Inilah serangan yang sukar di tangkis…!" kata mereka dalam hati, kaget.
Ketika itu orang-orangnya Lee Seng, yang tadinya mengurung di luar, sudah pada masuk ke dalam. Mereka melihat pemimpin mereka terancam bahaya, di antaranya ada yang berniat membantu.
Lee Seng sendiri merasakan ancaman bahaya. Desiran angin sudah mengenai bajunya. Tapi ia pun gesit sekali. Ia memutar tubuhnya sambil menangkis. Kembali ia menggunakan ilmu silat Hang Liong Sip-pat Ciang, jurus "Naga Sakti menggoyang ekor".
Auwyang Kongcu tidak berani menangkis serangan itu, ia melenggakkan tubuh, terus melompat mundur.
"Sungguh berbahaya!" kata Lee Seng dalam hatinya. Sekarang dia sudah memutar tubuh, untuk menghadapi pula lawannya. Tapi segera ternyata, dalam ilmu silat ia kalah unggul, selama tigapuluh jurus lebih, saban-saban ia terancam bahaya. Syukur untuknya ia selalu ketolong sama jurusnya "Sin liong pa bwee" - "Naga Sakti memgoyang ekor itu" itu.
"Rupanya Ang Cit Kong baru mengajari ia satu jurus pembela diri," Oey Yong berbisik pada Kwee Ceng.
Anak muda ini mengangguk. Ia lantas ingat lelakonnya sendiri ketika melayani Nio Cu Ong dengan "Hang liong yu hui" atau "Naga menyesal". Mengingat ini, ia jadi sangat bersyukur kepada Ang Cit Kong. Lee Seng yang menjadi salah satu pemimpin baru diajari satu jurus yang lihay itu, ia sendiri dalam tempo satu bulan sudah dapat limabelas jurus.
Pertempuran itu berjalan terus. Auwyang Kongcu mendesak lawannya hingga dipojok. Lee Seng sudah berpengalaman, ia dapat menerka maksud lawannya. Maka ia lantas berdaya akan menggerakkan diri, guna kembali ke tengah ruangan. Sekonyong-konyong Auwyang Kongcu tertawa lama, selagi tertawa kepalannya menyambar, tepat menggenai janggut lawannya itu.
Lee Seng terkejut, ia mengulur tangan, untuk membalas, tetapi telah kena didului. Tangan kiri Auwyang Kongcu sudah menemui pula sasarannya. Habis itu beruntun tiga empat kali lagi ia kena tertinju pula, kepalanya dan dadanya. Ia menjadi sakit, kepalanya pusing, ia terhuyung dan roboh.
Beberapa pengemis berlompat maju untuk menolong pemimpinnya, tetapi Auwyang Kongcu menyambar dua orang, ia angkat dengan membentrokkan kepalanya satu dengan lain, yang lain-lainnya menjadi keder.
"Kau kira aku ini siapa yang dapat terjebak kaum bangsa pengemis busuk?!" berkata Auwyang Kongcu tertawa mengejek. Ia terus menepuk kedua tangannya, maka dari dalam lantas keluar dua murid wanitanya, mendorong tubuhnya seorang nona yang tertelikung kedua tangannya, yang romannya kucal sekali. Dialah si nona Thia yang hendak dilindungi oleh kawanan pengemis itu. Semua orang terkejut, tak terkecuali Oey Yong dan Kwee Ceng.
Auwyang Kongcu mengebaskan tangannya, nona Thia dibawa masuk. Dengan roman sangat bangga ia berkata: "Selagi si pengemis tua nelusup masuk ke dalam kantong, aku yang rendah menanti di bawah lauwteng, lantas aku mengundang nona Thia, terus aku pulang lebih dalu untuk menunggu kamu di sini!"
Semua pengemis itu terbengong, mereka saling mangawasi. Mereka benar-benar roboh.
Auwyang Kongcu mengipasi dirinya, ia tertawa ketika berkata: "Nama Partai Pengemis sangat kesohor sehingga nama itu membuatnya orang tertawa hingga giginya copot! Apa yang dinamakan ilmu silat mencuri ayam dan meraba-raba anjing, apa yang disebut pukulan mengemis nasi dan menangkap ular, semua itu telah dikeluarkan! Dibelakang hari, masihkah kau berani usilan urusan kongcu kamu? Sekarang aku memberi ampun jiwa pengemis bangkotan, asal aku dapat meminjam dia punya kedua cahaya terang sebagai tanda mata…!"
Sembari berkata begitu, pemuda ini mengulur tangannya, untuk dengan kedua jerijinya mencongkel mata orang yang ia menyebutnya "Cahaya terang" Kalau mata Lee Seng kena dicongkel, butalah dia.
"Tahan!" mendadak terdengar satu seruan, disusul seseorang melompat masuk ke dalam ruangan, terus menolak ke arah Auwyang Kongcu.
Pemuda ini terperanjat, ia merasakan sambaran angin hingga terhuyung. Inilah hebat sebab semenjak ia keluar dari wilayah Barat, sering menghadapi lawan yang berat tetapi belum pernah seberat ini. Ketika ia melihat orangnya, ia menjadi heran sekali. Sebab orang itu si anak muda bernama Kwee Ceng, dengan siapa ia pernah hadir bersama dalam pestanya Chao Wang. Ia tahu orang ini berkepandaian biasa saja. Kenapa ia sekarang menjadi begini lihay.
"Kau sesat dan buruk, bukannya kau mencoba mengubah kelakuan, kau justru mencelaki orang!" orang itu menegur. "Apakah kau benar-benar tidak melihat mata pada semua orang gagah di kolong langit ini?" Dia memang Kwee Ceng, yang melihat saat untuk tak berdiam lebih lama pula.
Auwyang Kongcu melirik, ia tertawa. "Jadi kaukah si orang gagah di kolong langit ini?" dia mengejek.
"Aku yang muda tidak berani menyebut diriku orang gagah," Kwee Ceng merendah, "Aku hanya hendak membesarkan nyaliku untuk memberi nasehat kepada kau, kongcu. Aku minta sukalah kau memerdekakan nona Thia, habis itu lekas-lekas kau pulang ke Wilayah Barat!"
Auwyang Kongcu tertawa pula. "Jikalau aku tidak sudi dengar nasehatmu, sabahat cilik?" dia menanya.
Belum lagi Kwee Ceng menyahut, Oey Yong dari luar jendela telah mendahului. Katanya; "Engo Ceng, kau hajarlah telur busuk ini!"
Auwyang Ongcu terperanjat. Ia dengar suara orang dan mengenali. "Nona Oey!" ia lantas berkata, "Kau menghendaki aku memerdekakan Nona Thia, ini tidak susah, asal kau sendiri yang sudi ikut denganku! Jikalau kau sudi, bukan hanya Nona Thia, juga wanita-wanita disampingku, akan aku merdekakan semuanya! Bahkan aku akan berjanji, selanjutnya di belakang hari aku tidak akan cari lain wanita lagi! Tidakkah ini bagus?"
"Itu bagus!" menyahut Oey Yong, yang lompat masuk sambil tertawa, "Kita pergi ke Wilayah Barat untuk pesiar, sungguh menarik! engko Ceng, bukankah bagus begitu?"
Belum lagi Kwee Ceng menyahut, Auwyang Kongcu sudah mendahului. "Aku hanya menghendaki kau sendiri," katanya. "Buat apa bocah busuk ini turut bersama?!"
Mendadak Oey Yong menjadi gusar, tangannya menyambar. "Kau berani memaki dia?!" serunya. "Kaulah si bocah busuk!"
Auwyang Kongcu kesemsem melihat Oey Yong datang dengan senyuman berseri-seri, orang nampaknya boto dan manis sekali, maka itu ia berlaku ceriwis, ia tidak menyangka si nona bisa gusar secara tiba-¬tiba. Ia pun tidak bersiaga, maka "Plok!" pipi kirinya kena ditampar. Sebab si nona menggunakan jurus dari "Lok Eng Ciang" yang lihay itu. Beruntung untuknya, si nona tidak menggunakan seluruh tenaganya, ia hanya merasa pipinya itu panas dan sakit.
"Fui!" berseru si kongcu yang menjadi penasaran, seraya tangannya menjambak ke dada si nona.
Oey Yong tidak mau menyingkir dari tangan si pemuda, sebaliknya dengan kedua tangannya menyerang ke arah kepala orang.
Auwyang Kongcu adalah pemuda ceriwis, melihat nona itu menangkis tanpa berkelit, ia girang bukan main. Begitulah tanpa pedulikan kepalanya, ia mengulur terus tangannya. Hanya ketika jari tangannya mengenai dada orang, ia kaget sekali. Tangannya terasa tertusuk dan sakit.
"Oh!" ia menjerit. "Dia mengenakan baju lapis berduri"
Baru sekarang ia ingat. Maka syukur untuknya, karena berlaku ceriwis, ia tidak menjambak keras, cuma meraba. Karena ini ia lekas-lekas menangkis kedua tangan si nona.
"Tidak gampang kau menghajarku!" kata Oey Yong tertawa. "Cuma aku yang berhak menghajar kau, sebaliknya tidak!"
Auwyang Kongcu kewalahan, karena ini tumplak kedongkolannya terhadap Kwee Ceng, yang berdiam saja mengawasi aksi mereka berdua.
"Biarlah aku mampuskan dulu bocah ini, supaya dia mati hatinya!" pikirnya. Dengan "dia" ia maksudkan si nona manis itu. Ia mengawasi Oey Yong tetapi kakinya bergerak menyentil ke belakang di mana Kwee Ceng berdiri, mengarah dada si anak muda. Itulah tendangannya yang lihay, ajarannya SeeTok Auwyang Hong, pamannya yang kesohor itu.
Kwee Ceng seperti terbokong, tidak dapat ia mengelakkan diri. Tapi ia tak sudi mandah saja dihajar, ia segera membalas menyerang. Jadi keras lawan keras. Maka berbareng dua-dua serangan mereka berhasil. Yang satu tertendang kempungannya, yang lain terhajar pahanya yang dipakai menendang. Kedua merasakan sangat sakit. Akan tetapi dua-duanya penasaran, maka itu, bukannya mereka mundur, mereka malah maju pula. Karena itu keduanya jadi bertempur.
Semua orang Kay Pang heran, apapula mereka mengenal pukulan Kwee Ceng. "Itulah jurus istimewa dari Lee Seng yang biasa dipakai untuk menolong diri…." kata mereka. "Kenapa dia pun mengerti dan gerakannya cepat melebihkan Lee Seng?"
Kwee Ceng memang menyerang dengan "Sin liong bwee". Dilain pihak sudah ada beberapa pengemis yang menolong Lee Seng, maka itu, pemimpin pengemis itu pun bisa menyaksikan pertempuran, hingga ia pun heran.
"Hang Liong Sip-pat Ciang itu adalah ilmu rahasia Ang Pangcu ynag tidak sembarangan diturunkan," memikir pemimpin pengemis ini, "Aku sudah berjasa untuk partai, aku cuma diajarkan satu jurus, tetapi anak muda ini lain, agaknya ia mengerti banyak. Mungkinkah ia telah dapat mewariskan semua?"
Juga Auwyang Kongcu heran bukan main. Baru berselang dua bulan pemuda ini telah maju demikian pesat.
Cepat sekali mereka sudah bertempur empatpuluh jurus. Kwee Ceng gunakan semua limabelas jurusnya Hang Liong Sip-pat Ciang, ia telah memutar balik itu. Dasar kalah jauh dari Auwyang Kongcu, ia tidak dapat merobohkannya, ia cuma dapat bertahan. Maka itu, lewat lagi belasan jurus, ia kewalahan. Auwyang Kongcu berlaku sangat gesit, berlompatan ke segela penjuru, tinjunya saban-saban menyambar. Satu kali Kwee Ceng kena didupak kempolannya hingga ia terhuyung. Syukur ia tangguh, tidak dapat celaka. Ia melawan terus, mengulangi jurus¬-jurusnya.
Untuk sementara ini Auwyang Kongcu tidak berani mendesak, berselang lagi sepuluh jurus lebih, setelah ia memahami ilmu silat orang, baru ia merangsak pula. Karena ini ia mulai mencari lowongan untuk turun tangan.
Kwee Ceng sudah habis menjalankan limabelas jurus, ia lantas memulai lagi pula dari seperti semula. Inilah ketika justru ditunggu Auwyang Kongcu. Kongcu ini lantas mendahului menyambar ke pundak lawan.
Kaget sekali Kwee Ceng. Tidak ada jalan untuk melindungi diri dengan limabelas jurusnya. Disaat sangat berbahaya itu, ia berlaku nekat. Ia menubruk seraya menepuk tangan lawan. Itulah ilmu silat menurut caranya sendiri. Ini justru diluar terkaan Auwyang Kongcu yang menjadi kaget, karena ia tidak menyangka bakal disambut secara demikian. Tidak ampun lagi, lengannya kena dihajar. Bahna kaget, ia lompat mundur ke belakang beberapa tindak. Syukur untuknya, ia hanya merasakan sakit, tulang lengannya tidak patah atau remuk.
Kwee Ceng girang melihat hasilnya, yang diluar dugaannya. Ia bahkan jadi insyaf akan dapat diputarbalikkannya ilmu silat itu tanpa menurut aturan. Ia hanya menginsyafi, karena belum terlatih, tenaganya jadi berkurang. Tidak demikian, celakalah tangannya pemuda dari Wilayah Barat itu. Karena ini, hendak ia mencoba terus.
Sekali lagi mereka bergerak, selagi Kwee Ceng hendak mencoba, Auwyang Kongcu sebaliknya penasaran dan hendak menuntut balas. Kesudahannya, pemuda she Auwyang ini menjadi heran sekali. Ia mendapat kenyataan, disebelah jurus-jurus yang biasa, lawannya mempunyai tiga jurus tambahan lainnnya, hingga sulit dia memberi hajaran tepat seperti tadi. Sekarang ini Kwee Ceng dapat menutup kempolan kirinya dan pinggang kanannya, dua lowongan yang diarah oleh lawan.
Kwee Ceng berkelahi dengan bernapsu, ia mengulangi dan mengulangi tambahan tiga jurusnya itu hingga ia seperti telah membikin lengkap delapanbelas jurus Hang Liong Sip-pat Ciang. Ia pun menjadi semakin hapal, pertempuran itu seperti merupakan latihan.
Segera Auwyang Kongcu melayani dengan sabar, gerakannya jadi rada kendor. Ia memikir hendak menanti musuhnya itu letih. Dangan berkelahi secara begini, berbareng ia memahami pula cara berkelahinya musuh. Ia cerdik, belum lama ia sudah dapat melihat kekosongan musuhnya. Atas ini, ia tidak mau mensia-siakan waktu, mendadak ia mengirim serangan. Dengan tangan kiri menggertak dengan menjambak, diam-diam kakinya melayang naik! Kwee Ceng terkejut. Sulit ia menangkis atau berkelit.
Oey Yong menonton dengan waspada, ia melihat pemudanya terancam bahaya, karena ia senantiasa siap sedia, segera mengayun sebelah tanganya, maka tujuh atau delapan jarum kongcian menyambar Auwyang Kongcu.
Kaget pemuda dari Wilayah Barat itu, tetapi ia masih sempat menebas dengan kipasnya. Hanya selagi ia merasa berhasil menyingkirkan semua jarum, kakinya toh terasa sakit dengan mendadak, seperti ada benda yang menancap di jalan darahnya. Karena ini, meskipun tendangannya mengenai sasaran, kenanya tidak hebat. Dengan kaget ia melompat mundur.
"Tikus mana membokong kongcumu!" ia membentak. "Kalau kau berani, mari berlaku terus terang…."
Belum lagi pemuda ini menutup mulutnya, satu benda berkelebat menyambar, sia-sia belaka ia berkelit, tahu-tahu mulutnya kemasukan barang yang memberi rasa sari asin dan keras. Ia kaget dan gusar, lekak melepehkannya. Untuk kemendongkolannya, ia melihat sepotong tulang ayam. Karena ia tahu darimana datangnya sambaran, ia lantas angkat kepalanya, dongak melihat ke penglari.
Justru ia mengangkat kepala, ada debu yang meluruk jatuh. Ia melompat ke samping, terus ia dongak lagi, seraya membuka mulutnya untuk mendamprat. Kali ini belum sempat ia bersuara, mulutnya kembali kemasukan tulang - tulang kaki ayam, maka juga giginya kebentur hingga merasakan sakit!
Bukan alang kepalang mendongkolnya pemuda ini, yang seumurnya belum pernah ada orang menghina atau mempermainkan secara demikian. Lekas-lekas ia membuang tulang dari mulutnya. Diwaktu itu melihat berkelebatnya bayangan, yang melompat turun. Dalam murkanya, ia pun berlompat untuk memapakinya, menyerang bayangan itu. Tapi heran, bukannnya dapat menyerang, ia justru kena memegang barang. Ketika ia melihat barang itu, mendongkolnya bukan kepalang. Dua potong ceker ayam yang besar, yang sudah tidak ada dagingnya!
Berbareng dengan itu, di atas terdengar suara orang tertawa lebar disusul dengan pertanyaan, "Bagaimana? Bagaimana dengan ilmu silat mencuri ayam dan meraba-raba anjing dari si pengemis tua?"
Kapan Kwee Ceng dan Oey Yong mendengar suara itu, keduanya girang bukan main. "Cit Kong!" mereka berseru tanpa tertahan lagi.
Semua orang lantas mengangkat kepala, maka di atas itu mereka lihat Ang Cit Kong tengah duduk dengan enteng sekali, mulutnya lagi menggerogoti paha ayam berikut dadanya, yang dipegangi sebelah tangannya.
Mengenali orang tua itu, hati Auwyang Kongcu menjadi dingin sekali. "Ang Siepee di sana?" ia berkata, "Di sini titjie memberi hormat!" Benar-benar ia lantas menekuk kedua lututnya dan mengangguk-angguk.
"Oh, kau mengenal si pengemis tua?" tanya Ang Cit Kong seraya terus mengganyam ayamnya. Ia menanya acuh tak acuh.
"Memang pernah titjie bertemu sama Ang siepee," menyahut Auwyang Kongcu, yang menyebut dirinya titjie, keponakan. "Titjie ada punya mata tetapi titjie tidak mengenal gunung Tay San, seharusnya titjie mati saja. Dahulu titjie sudah lantas mengirim pesuruh burung ke Barat, memohon petunjuk dari pamanku, setelah itu barulah titjie mengetahui siepee. Pamanku itu memesan, apabila titjie bertemu sama siepee, mesti titjie menyampaikan hormatnya seraya mengharap kesehatan siepee."
"Si Racun Tua itu pandai sekali berpura-puar!" berkata Ang Cit Kong, yang menyebut si racun Tua kepada See Tok Auwyang Hong. "Dia pun banyak mulutnya! Aku si pengemis tua, dapat aku mencuri, dapat aku gegares, tetapi aku tidak merampas anak dara orang, maka kenapa aku bolehnya tidak sehat? Bukankah pamanmu tidak sakit dan tidak tumbuhan juga?"
Auwyang Kongcu malu dan jengah, ia menyahut sembarangan saja.
"Barusan aku mendengar kata-katamu," berkata lagi Ang Cit Kong. "Bukankah kau menyebut-nyebut tentang ilmu silat mencuri ayam dan meraba-raba anjing, tentang pukulan mengemis nasi dan menangkap ular? Bukankah kau sangat memandang enteng kepada semua ilmu silat itu?"
Di dalam hatinya Auwyang Kongcu kata, "Aku tidak menyangka bahwa dia telah bersembunyi di atas penglari…" Tapi toh ia menyahut, "Siepee, aku mohon sukalah siepee memaafkan keponakanmu ini. Tadi aku telah mengoceh tidak karuan karena aku tidak mengetahui ketua Partai lo-enghiong ini justru siepee adanya…"
Ang Cit Kong tertawa ngakak, selagi tertawa, tubuhnya melompat turun. "Kau menyebut dia lo-enghiong, tetapi tidak sanggup melawan kau, maka itu kaulah si enghong!" berkata ketua pengemis itu. "Apakah kau tidak malu? Haha-haha!" Enghiong ialah pendekar dan lo-enghiong adalah pendekar tua.
Auwyang Kongcu malu sekali, hatinya mendongkol bukan main, tetapi ia insyaf bukanlah tandingannya, tidak berani ia turun tangan, tidak berani ia lancang mulut, maka ia terpaksa merendahkan diri.
"Kau mengandalkan ilmu silatnya si Racun Tua, kau datang ke Tionggoan, ke tenggara ini untuk malang melintang! Hm! Hm! Tapi ketahui olehmu, selama si pengemis belum mampus, aku khawatir kau tidak akan mendapatkan tempatmu di sini!" berkata pula si pengemis tua itu.
Auwyang Kongcu terus mesti mengendalikan diri. "Siepee bersama pamanku ada sama kesohornya, maka itu aku menurut saja segala perintah siepee," ia berkata, merendah.
"Bagus, ya!" berseru Cit Kong. "Kau maksudkan aku si besar menghina si kecil, si tua menghina kamu si anak muda?"
Auwyang Kongcu tidak membuka suara, ia melawan diam.
"Dibawah perintahku si pengemis tua," berkata Cit Kong, "Meski benar ada si pengemis besar, si pengemis pertengahan dan si pengemis kecil, mereka itu bukanlah murid-muridku! sekalipun ini si orang she Lee, dia barulah belajar serupa ilmu silatku yang kasar, ia masih bukan muridku yang dapat menjadi ahli warisku! Bukankah kau memandang enteng ilmu silatku mencuri ayam dan meraba anjing? Bukankah aku si pengemis bangkotan omong besar, apabila aku hendak mengangkat satu murid langsung, belum tentu ia seperti kau!"
"Itu sudah sewajarnya," menyahut Auwyang Kongcu.
"Di mulut kau mengatakan begini, di dalam hatimu kau mencaci aku," kata pula Ang Cit Kong.
"Keponakanmu tidak berani," membilang Auwyang Kongcu.
"Cit Kong jangan percaya obrolannya!" Oey Yong menyelak. "Di dalam hatinya dia memang sedang mencaci kau, malah mencaci lebih hebat sekali!"
"Bagus ya, bocah ini berani mencaci aku!" seru Cit Kong dengan gusar.
Mendadak ia mengulur tangannya, bagaikan kilat, kipas di tangan si anak muda telah kena dirampas, hingga orang melengak. Dia membeber kipas itu, di situ terlihat lukisan beberapa tangkai bunga bouwtan serta tulisannya Cie Hie dari jaman Song Utara, di samping mana ada lagi sebaris tulisan, bunyinya "Pek To San Cu", artinya tuan dari Pek To San. Itu tulisan Auwyang Kongcu sendiri.
"Hm!" Cit Kong memperdengarkan suara dingin. Kemudian ia menanya Oey Yong: "Bagaimana kau lihat ini beberapa huruf?"
Sepasang alis mata si nona terangkat. Ia menjawab: "Sungguh menyebalkan! Itu mirip tulisannya kuasa dari toko penukar uang perak!"
Auwyang Kongcu biasa mengagulkan diri sebagai pemuda yang pandai ilmu silat dan ilmu surat, sekarang ia mendengar celaan Oey Yong, ia mendongkol bukan main, dengan mata melotot ia memandang si nona. Tapi ia melihat wajah orang yang terang, yang seperti tertawa bukannya tertawa, ia menjadi tercengang.
Ang Cit Kong membeber kipas di telapak tangannya yang satu, ia bawa itu ke mulutnya untuk dipakai menyusuti beberapa kali. Ia baru saja habis menggerogoti ayam, di bibirnya masih berlepotan minyak, maka bisa di mengerti kalau kipas indah itu bukannya menjadi kipas lagi, setelah mana ia merangkap jari-jari tangannya, kipas itu teremas menjadi sehelai kertas rongsokan, kemudian melemparkannya!
Untuk lain orang kejadian itu bukan berarti apa-apa, untuk Auwyang Kongcu, itu hebat sekali. Kipas yang menjadi senjatanya untuk bertempur, tulang-tulangnya terbuat dari baja pilihan, dengan diremas, baja itu turut menjadi tidak karuan. Hanya di sebelah itu, ia pun kagum tenaga besar dari si pengemis tua, yang dengan gampang saja dapat meremas remuk!
"Jikalau aku sendiri yang melawan kau, sampai mampus juga kau tentu tidak puas," berkata Ang Cit Kong. "Maka sekarang juga hendak aku mengangkat seoarng murid supaya segera dia melawan kau….."
Benar-benar Auwyang Kongcu penasaran, dengan berani ia pun berkata, "Saudara ini barusan telah bertempur beberapa puluh jurus denganku, jikalau siepe tidak turun tangan, sudah tentu keponakanmu yang beruntung memperoleh kedudukan di atas angin." Sembar tertawa, ia menunjuk kepada Kwee Ceng.
Cit Kong mendongak ke langit, ia tertawa terbahak¬-bahak. "Anak Ceng, adakah kau muridku?" ia menanya.
Kwee Ceng ingat itu hari ia berlutut kepada orang tua ini, untuk memberi hormat tetapi si orang tua dengan tersipu-sipu membalas berlutut dan mengangguk¬-angguk kepadanya, maka itu ia lekas-lekas menjawab: "Aku yang muda tidak mempunyai rejeki untuk menjadi muridmu."
"Nah, kau dengar, bukan?" berkata Cit Kong kepada pemuda she Auwyang itu.
Auwyang Kongcu menjadi heran sekali. "Pengemis bangka ini pastilah tidak memperdaya orang," pikirnya. "Habis bocah ini, darimanakah dia mendapatkan kepandaiannya?"
Cit Kong tidak mengambil tahu apa yang orang pikir. Ia memandang Kwee Ceng. "Sekarang hendak aku mengambil kau sebagai murid, kau senang atau tidak?" dia tanya. "Apakah kau tidak mencela aku si pengemis tua? Apakah enak mendengarnya kau kalau orang katakan gurumu adalah aku si pengemis tua?"
Tapi Kwee Ceng girang bukan kepalang, lantas saja ia menjatuhkan diri di depan si raja pengemis itu, untuk paykui delapan kali.
"Hai, anak tolo!" kata si guru, "Mengapa kau tidak memanggil suhu?"
"Sebenarnya teecu sudah mempunyai enam guru, maka itu teecu pikir…." Untuk sejenak bocah ini merandak, ia bersangsi. "Teecu memikir untuk menanyakan dulu pikirannya keenam guruku…"
"Benar-benar!" berkata Ang Cit Kong. "Seorang kuncu memang tidak melupakan asal usulnya! Baiklah, sekarang aku mengajarkan kau dulu dengan tiga jurus."
Lalu di depan Auwyang Kongcu sendiri, Cit Kong mengajarkan Kwee Ceng sisanya tiga jurus lagi Hang Liong Sip-pat Ciang. Sudah tentu ketiga jurus itu beda dengan tiga jurus ciptaan Kwee Ceng sendiri.
Cit Kong tunggu sampai Kwee Ceng sudah dapat menghapalkan tiga jurus itu, baru ia kata: "Baik, anak yang baik, cukup sudah! Sekarang kau tolong aku mengajar adat bandit cabul ini!"
Kwee Ceng memang sangat sebal terhadap pemuda ceriwis dan jumawa, tanpa membilang apa-¬apa lagi, ia lansung meninju.
Auwyang Kong tidak takut, ia pun lagi mendongkol, maka habis berkelit, lantas ia balas menyerang, maka kembali di situ keduanya bertarung.
Rahasianya Hang Liong Sip-pat Ciang adalah tenaga yang dikerahkan di satu saat, tentang ilmu silatnya sendiri sangatlah sederhana, dipelajarinya pun gampang, yang sulit adalah melatihnya hingga mahir. Orang-orang seperti Nio Cu Ong, Bwee Tiauw Hong dan Auwyang Kongcu, itu bukanlah tandingan Kwee ceng, tetapi kenapa ia sanggup melayani mereka bertiga? Itulah rahasianya. Pula kali ini. Auwyang Kongcu menghadapi sendiri si pengemis tua mengajar Kwee Ceng, kalau perlu ia dapat menyangkoknya, tetapi sekarang setelah bergebrak, ia merasa kesulitan.
Sekarang Kwee Ceng dapat menggunakan delapanbelas jurus, ia dapat menyambung itu kepala dengan buntut dan buntut dengan kepala. Karena ia telah pandai menjalankan limabelas jurus, mendapat tambahan tiga jurus yang terakhir ini, tenaganya lantas saja bertambah.
Auwyang Kongcu melayani bekas tandingannya ini dengan bersungguh-sungguh, dia sudah menggunakan empat macam ilmu silat, tapi cuma dapat berimbang saja - mereka ini jadi sama tangguhnya, sedang tadinya ia terlebih unggul. Sesudah lewat lagi beberapa jurus tanpa hasil, ia menjadi bingung.
"Jikalau hari ini aku tidak memperlihatkan ilmu silat istimewa dari keluargaku, pasti sekali sukar untuk merebut kemenangan." ia berpikir. "Semenjak masih kecil aku telah dididik pamanku, kenapa aku tidak dapat merobohkan muridnya si pengemis tua ini -murid yang baru saja diberi pengajaran? Tidakkah dengan begitu aku akan meruntuhkan kesohoran dari pamanku di tangannya si pengemis bangkotan ini?" Karena ini, mendadak ia mengirim tinjunya yang hebat.
Melihat serangan itu, Kwee Ceng segera menangkis. Tapi mendadak ia seperti kehilangan tangan lawan, yang menjadi lemas dengan sekonyong-konyong, atau dilain saat "Plok!" batang lehernya kena ditinju tanpa ia dapat berdaya. Ia menjadi kaget sekali, sambil tunduk ia lompat, tangannya membalas menyambar.
Auwyang Kongcu berkelit sambil menggeser kaki, sambil berkelit, ia juga menyerang. Kali ini Kwee Ceng tidak berani menangkis, ia berkelit dengan cepat. Tapi aneh gerakan tangan kongcu ini, entah bagaimana, tangannya seperti menuju ke kiri, tahunya ke kanan, maka "Plok!" lagi sekali tangannya ini mengenai pundak. Hebat untuk Kwee Ceng, lekas juga ia terhajar untuk ketiga kalinya.
"Anak Ceng, tahan!" berkata Ang Cit Kong. "Hitunglah kau yang kalah satu kali ini."
Kwee Ceng menurut, ia melompat keluar gelanggang. Ia merasakan sakit pada tempat-tempat yang terpukul, tapi ia pun memberi hormat pada lawannya seraya berkata: "Benar kau lihay, aku bukanlah tandinganmu."
Auwyang Kongcu puas sekali, ia lantas melirik Oey Yong.
Ang Cit Kong lantas berkata: "Si Racun tua setiap hari memelihara ular, ini ilmu silatnya Kulit Ular Emas tentulah ia ciptakan dari tubuhnya ular berbisa. Kau beruntung sekali, karena sekarang aku si pengemis tua belum dapat memikir daya untuk memecahkannya. Nah, kau pergilah baik-baik."
Auwyang Kongcu tercekat hatinya. Ia pikir: "Paman telah pesan wanta-wanti padaku, kalau bukan menghadapi bencana kematian, tidak boleh aku menggunakan silatnya yang diberi nama Kim Coa Kun, Kuntauw Ular Emas, sekarang si pengemis tua mengetahuinya, apabila pamanku mengetahui juga, aku bisa di hukum berat."
Karena ini lenyaplah kepuasan hatinya. Ia memberi hormat kepada Ang Cit Kong, lantas ia bertindak keluar dari rumah itu.
"Eh, tunggu dulu, hendak aku bicara denganmu!" Oey Yong mencegah.
Auwyang Kongcu menghentikan tindakannya, ia menoleh. Oey Yong memberi hormat dan menjura kepada Ang Cit Kong. "Cit Kong," katanya, "Baiklah hari ini kau menerima dua murid. Kau sekarang berat sebelah, aku tidak mau mengerti!"
Ang Cit Kong menggeleng kepala tetapi ia tertawa. "Sebenarnya aku telah melanggar aturan dengan menerima murid," katanya. "Maka itu tidak dapat dalam satu hari aku melanggar pula aturan dengan menerima dua murid. Ayahmu sendiri sangat lihay, mana dapat ia membiarkan kau mengangkat aku si pengemis tua menjadi gurumu…"
Oey Yong menunjukkan rupa kaget dan sadar. "Oh, kau jeri terhadap ayahku!" katanya.
Cit Kong kena dibikin panas hatinya. "Takut?" katanya, "Hm! Baiklah, aku terima kau sebagai murid! Mustahil Oey Lao Shia di Bangkotan Tersesat nanti gegares tubuhku!"
Oey Yong girang, ia tertawa. "Baiklah, satu patah menjadi kepastian" ujarnya. "Jangan kau menyesali! Suhu, kamu kaum pengemis, bagaimana caranya kamu menangkap ular? Coba suhu mengajariku."


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar