ads

Selasa, 20 Oktober 2020

Pendekar Pemanah Rajawali Jilid 010

Oey Yong melayani pelbagai serangan, setelah itu, ia keluarkan kepandaian ciptaan Oey Yok Su, ayahnya, yaitu “Lok Eng Ciang”. Dengan begitu tenaganya lantas memain di delapan penjuru, bagaikan badai mengamuk rimba pohon tho. Kwee Ceng kontan menjadi repot, selagi ia kelabakan, empat kali ia terhajar punggungnya. Habis itu si nona lompat keluar dari gelanggang, dia tertawa.

“Yong-jie, kau lihay!” Kwee Ceng memuji. Ia tidak gusar atau malu, sebaliknya ia girang sekali. Ia tidak dihajar keras oleh si nona.

Ketika itu Ang Cit Kong berkata dengan dingin kepada si nona, “Ayahmu ada mempunyai kepandaian tinggi sekali, kenapa kau masih menghendaki aku mengajari dia?”

Oey Yong terkejut, “Eh, kenapa dia mengenali ilmu silat ayahku ini, yang ayah ciptakan sendiri?” pikirnya. Lantas ia menanya: “Cit Kong, kenalkah kau ayahku?”

“Tentu saja!” sahut si pengemis, temberang. “Dia Tong Shia dan aku Pak Kay! Selama beberapa tahun, entah kita sudah bertempur beberapa puluh kali!”

Oey Yong heran. Ia berpikir pula : “Dia pernah berkelahi sama ayahku dan dia masih belum mati, sungguh dia berkepandaian tinggi.” Lalu ia menanya pula: “Lojinkee, bagaimana kau mengenali aku?”

“Pergilah kau kacakan dirimu!” sahut pengemis itu. “Kau lihat alismu, matamu, tidakkah itu mirip dengan alis dan mata ayahmu? Mulanya aku tidak mengenali kau, aku cuma merasa seperti mengenal, setelah melihat ilmu silatmu barusan – hm! Walaupun aku belum pernah melihatnya, tapi aku tahu betul, ilmu itu cuma dapat dibetelori oleh ayahmu itu yang licin bagai iblis!”

Oey Yong tidak gusar ayahnya dikatakan sebagai iblis, sebaliknya ia tertawa. “Bukankah lojinkee hendak membilang ayahku sangat lihay?” ia menanya.

“Memang ia lihay,” sahut Ang Cit Kong dingin. “Tetapi dia bukanlah yang nomor satu di kolong langit ini!”

Oey Yong bertepuk tangan, gembira sekali dia. “Kalau begitu adalah lojinkee yang nomor satu!” serunya.

“bukan,” berkata si pengemis, mengaku. “Pada lebih daripada duapuluh tahun yang lampau, kita, ialah Tong Shia, See Tok, Lam Tee, Pak Kay dan Tiong Sin Thong berlima berkumpul di atas puncak gunung Hoa San, kita membicarakan tentang ilmu silat bertangan kosong dan menggunakan pedang, kita telah bertanding selama tujuh hari tujuh malam, kesudahannya ternyata Tiong Sin Thong yang paling lihay, kita berempat mengakui dia adalah yang nomor satu di kolong langit ini.”

“Siapa itu Tong Sin Thong?” Oey Yong menanya.

“Apakah ayahmu tidak pernah omong tentang dia?” tanya si pengemis.

“Tidak. Bahkan ayah mendamprat aku, dia tidak menyukai aku, dari itu aku minggat. Untuk selanjutnya ayah tidak menghendaki aku lagi…” kata si gadis dengan sedih.

“Ha, siluman tua itu!” Ang Cit Kong memaki. “Benar-¬benar dia sesat!”

Oey Yong memperlihatkan roman tidak senang. “Aku melarang kau memaki ayahku!” ia berkata.

Ang Cit Kong tertawa terkakak. “Sayang sekali orang mencela aku si pengemis melarat, tidak ada wanita yang sudi menikah denganku,” katanya, “Kalau tidak, dengan adanya kau yang begini manis, pastilah tidak rela aku mengusir kau buron…”

Oey Yong pung tertawa. “Itu pasti, lojinkee! Dengan kau mengusir aku, siapa nanti yang masak kau sayur?”

Pengemis itu menghela napas. “Kau benar, kau benar,” ujarnya. Ia berhenti sejenak, lalu ia meneruskan; “Tiong Sin Thong itu ada kauwcu, kepala dari Coan Cin Kauw, namanya Ong Tiong Yang. Setelah ia menutup mata, sekarang sukar dibilang, siapakah dikolong langit ini menggantikan dia sebagai yang nomor satu…”

“Coan Cin Kauw, lojinkee bilang? Ah, bukankah disana masih ada si imam she Khu dan she Ong? Bukankah mereka itu lihay ilmu silatnya?” tanya Oey Yong lagi.

“Mereka itu murid-muridnya Ong Tiong Yang. Aku dengar dari tujuh muridnya, Khu Cie Kee adalah yang paling lihay, tetapi walaupun demikian dia tidak dapat menandingi paman gurunya, Ciu Pek Thong.” jawab Cit Kong.

Mendengar disebut nama Ciu Pek Thong itu, Oey Yong terperanjat, hendak ia bicara tapi mendadak ia mengurungkannya.

Sejak tadi Kwee Ceng hanya memasang kuping saja, sekarang ia menyelak. “Oh, kiranya Ma Totiang masih mempunyai paman guru…” katanya.

“Ciu Pek Thong itu bukannya imam dari Coan Cin Kauw,” Cit Kong memberi keterangan. “Dia orang biasa, yang tidak memegang agama. Ilmu silatnya itu diajarkan sendiri oleh Ong Tiong Yang. Ah, bukankah ayahmu tidak menyukai ini bocah tolol yang menjadi kawanmu?”

Pengemis ini mengatakan Kwee Ceng, inilah yang tidak disangka-sangka si anak muda. Ia menjadi bungkam. Oey Yong tidak menjadi gusar, ia malah tertawa. “Ayahku belum pernah melihat dia,” ia menyahut. “Jikalau lojinkee sudi memberi pelajaran padanya, dengan memandang kau, pastilah ayahku nanti menyukai dia.”

“Hai, iblis cilik!” seru si pengemis. “Kepandaian ayahmu belum kau dapatkan satu bagian saja, tetapi mata iblisnya kau telah wariskan semuanya! Aku tidak senang diumpak-umpak orang dipakaikan kopiah tinggi, aku si pengemis tua juga tidak pernah menerima murid, maka siapakah kesudian bocah tolol ini sebagai murid? Hanyalah kau sendiri yang memandangnya dia sebagai mustika!”

Sehabis berkata begitu, Ang Cit Kong bangkit, dengan membawa tongkatnya, dia ngeloyor pergi.

Kwee Ceng heran, dia berdiri menjublak mengawasi kepergian orang tua itu. “Yong-jie,” katanya selang sesaat, “Tabiat locianpwee ini sungguh luar biasa.”

“Sebenarnya ia seorang yang baik hati!” menyahuti Oey Yong, yang kupingnya sangat terang, hingga ia dapat mendengar satu suara sangat perlahan di atas pohon di samping mereka, hingga ia menduga kepada si pengemis aneh itu. “Dia juga terlebih lihay daripada ayahku…”

Kwee Ceng memperlihatkan roman aneh. “Kau belum pernah menyaksikan kepandaiannya, mengapa kau bisa bilang begitu?”

“Aku dengar itu dari ayahku,” jawab Oey Yong.

“Apakah kata ayahmu?” tanya si pemuda lebih lanjut.

“Ayahku bilang, sekarang ini, orang yang kepandaiannya lihay yang dapat memenangkan ayah cuma tinggal Ang Cit Kong seorang. Sayang orang tua itu tidak tentu tempat kediamannya, tidak dapat kita sering berkumpul dengannya untuk meyakinkan ilmu.” sahut si nona.

Dugaan si nona tepat, Ang Cit Kong tidak berlalu terus. Setelah tak nampak oleh Kwee Ceng dan si nona, lekas-lekas ia kembali. Ia jalan mutar, terus ia lompat naik ke atas pohon, ia bisa mendengar pembicaraan muda-mudi itu. Ia pun puas mendengar suaranya Oey Yok Su seperti dikatakan si nona.

“Pada wajahnya Oey Yok Su tidak pernah mengagumi aku, siapa tahu di dalam hatinya dia memandang hormat,” pikirnya. Dan ia puas sekali. Ia tidak tahu Oey Yong mengarang cerita.

“Sayang belum berarti aku menuntut pelajaran dari ayahku,” Oey Yong berkata pula, ia bersandiwara terus. “Mengenai itu aku harus menyesalkan diri sendiri. Kenapa dulu aku gemar main-main saja, tidak mau aku belajar dengan rajin. Sekarang kebetulan sekali kita bertemu dengan Ang Cit Kong, asal dia suka memberikan satu-dua pelajaran, bukankah itu lebih baik daripada pengajaran ayahku sendiri? Menyesal aku telah keterlepasan omong, aku menyebabkan locianpwee itu tidak senang hati….” Habis berkata begitu, ia lantas menangis.

Kwee Ceng menghibur kekasihnya itu, tetapi justru itu, dari berpura-pura, Oey Yong menjadi menangis sungguhan.

Ang Cit Kong di atas pohon melihat dan mendengar semua itu, hatinya tertarik. Oey Yong menangis tersedu-sedu.

“Pernah aku dengar ayah bilang,” katanya kemudian, “Kiu Cie Sin Kay mempunyai semacam ilmu silat yang di kolong langit ini tidak ada saingannya, yang sejak jaman dahulu senantiasa menjagoi sendiri, sampaipun Ong Tiong Yang jeri juga terhadapnya. Ilmu silat itu dinamakan……dinamakan…..Ah, aku lupa, sedang barusan aku ingat….. Sebenarnya, ingin aku minta diajari ilmu silat itu, namanya….namanya….Ah, aku lupa lagi!”

Ang Cit Kong masih tidak sadar bahwa orang tengah mengepul terus, ia tidak dapat mengendalikan diri dari atas pohon, hingga ia langsung berseru: “Itulah Hang Liong Sip-pat Ciang!” Dan ia pun lompat turun dari pohon tempat bersembunyinya.

Oey Yong pura-pura terkejut, tapi ia girang bukan kepalang. “Benar, benar, ah , kenapa aku tidak ingat itu?” dia berseru. “Ayah sering sekali menyebut ilmu silat itu, dia kata itulah ilmu yang ia paling malui….”

“Kiranya ayahmu itu masih suka omong terus ¬terang!” Ang Cit Kong berkata. “Aku tadinya menyangka, semenjak meninggalnya Ong Tiong Yang, dia menganggap dirinya sebagai orang kosen nomor satu di dalam dunia ini…!” Dia memandang Kwee Ceng, terus ia berkata, “Eh, bocah, bakatmu kalah dengan bocah perempuan ini, itulah sebabnya kenapa kau tidak dapat menandinginya. Eh, nona cilik, pergilah kau pulang ke pondokmu!”

Oey Yong tahu si pengemis hendak memberi pelajaran pada Kwee Ceng, ia girang bukan main, lantas ia lari pulang.

Lantas Ang Cit Kong memandang tajam pada si anak muda. “Lekas kau berlutut dan mengangkat sumpah!” Katanya, bengis. “Tanpa perkenan dariku, aku larang kau mewariskan kepandaian yang aku ajarkan ini kepada lain orang, termasuk juga itu istrimu yang licin bagai iblis cilik!”

Kwee Ceng menjadi bingung. “Kalau Yong-jie memintanya, mana dapat aku menolak?” ia berpikir. Karena ini, ia berkata: “Cit Kong, aku tak ingin belajar! Biarlah dia tetap jauh terlebih gagah daripada aku…”

Cit Kong heran. “Eh, kenapa begitu?” dia menegaskan.

“Sebab kalau dia minta aku mengajarinya,” sahut Kwee Ceng, “Apabila aku tidak suka mengajarinya, aku jadi berlaku tidak pantas terhadapnya. Sebaliknya jikalau aku meluluskan permintaannya dan mengajarinya, aku malu terhadap kau, aku jadi melanggar sumpahku.”

Mendengar keterangan ini, Ang Cit Kong tertawa lebar. “Anak tolol, matamu tajam, hatimu baik!” katanya. “Kau jujur sekali! Sekarang begini saja, aku ajarkan kau jurus Kang Liong Yoe Hoei. Aku tahu Oey Yok Su itu sangat angkuh, seumpama kata ia sangat mengagumi mengajarkan ini, tidak nanti dia menjadi tidak tahu malu dengan mencuri mempelajari kepandaianku yang istimewa ini…”

Setelah mengatakan begitu, Ang Cit Kong lantas menekuk kakinya yang kiri, tangan kanannya ditarik mutar sebagai lingkaran, lalu mendadak ia majukan itu ke depan. Kesudahannya sebuah pohon di depannya itu patah batangnya, roboh dengan berisik sekali.

Kwee Ceng terperanjat kagum. Ia tidak sangka tolakan tangan demikian perlahan akibatnya sehebat itu. Itulah emposan tenaga dalam yang sangat besar.

“Pohon ini adalah benda yang tidak bergerak-¬gerak!” Cit Kong menerangkan, “Kalau manusia, dia pasti dapat mundur berkelit. Mempelajari ilmu pukulan ini, sukarnya ialah mencegah agar lawan tidak dapat mundur, supaya dia itu tidak bisa berkelit, kalau cegahan itu dapat dilakukan, dia pasti bakal roboh seperti pohon ini.”

Sekali lagi si pengemis menjalankan pukulannya itu, sampai dua kali, ia sekalian mengajarkan emposan pernapasannya. Untuk ini ia mesti menggunakan tempo cukup lama. Sebabnya ialah bakat yang kurang dari Kwee Ceng, yang otaknya bebal, hingga ia selamanya mesti belajar lama barulah ingat dan hapal. begitulah, selang dua jam barulah ia mengerti betul.

Cit Kong berkata: “Perempuan cilik itu, permainan silatnya lebih banyak gertakannya daripada pukulan yang sebenar-benarnya, kalau kau bertanding dengannya dan repot membela diri, pasti sekali kau dipermainkan dia. Kau boleh gesit dan lincah, kau tetap tidak nanti dapat menangi dia. Kau boleh menduga pukulannya yang benar-benar, kenyataannya ialah gertakan belaka. Saban-saban dia bisa membikin kau tidak dapat menerka.”

Kwee Ceng mengangguk-angguk.

“Karenanya jikalau kau ingin memecahkan ilmu silatnya itu,” Cit Kong membeber rahasia terlebih jauh, “Jangan kau usil pukulannya itu gertakan atau benar-¬benar, kau tunggu pukulannya tiba, palsu atau benar, kau sambut dengan Kang Liong Yoe Hoei. Apabila dia melihat seranganmu itu, mesti ia menangkis, asal dia menangkis, kalahlah dia!”

“Kemudian bagaimana!” Kwee Ceng tanya.

“Kemudian bagaimana?!” si pengemis mengulangi. “Ha, anak tolol! Dia ada punya berapa banyak kepandaian hingga ia sanggup melawan ini pukulan yang aku ajarkan kau?”

Si pemuda tak berani mananya lagi, ia terus berlatih. Ia pilih sebuah pohon yang kecil, ia hajar itu. Ia kena menghajar dengan tepat, tetapi pohon itu tidak roboh, melainkan bergoyang-goyang.

“Anak tolol!” mendamprat si pengemis. “Mau apa kau menggoyang-goyang pohon itu?! Kau hendak menangkap bajing atau mau memetik buah cemara?!”

Mukanya Kwee Ceng menjadi merah, ia tertawa menyeringai.

“Sudah aku bilang, kau mesti bikin lawan tidak dapat mundur, tidak bisa berkelit!” Ang Cit Kong berkata pula. “Pukulan barusan tepat tetapi kurang bertenaga, dengan pohon bergoyang, tenagamu menjadi buyar. Mestinya pohon dihajar tanpa bergoyang, baru ia dapat dibikin patah.”

Kali ini Kwee Ceng sadar. “Jadinya aku mesti sebat sekali supaya lawan tak keburu bersiaga,” katanya.

“Memang! Apa mesti disebutkan pula?!” sembrot si pengemis.

Anak muda ini berdiam, ia berlatih pula. Untuk beberapa puluh kali ia memukul, pohon masih bergoyang-goyang. Ia tidak menjadi bosan, ia tidak berputus asa, terus ia mencoba. barulah hatinya menjadi terbuka ketika kemudian bergoyangnya pohon perlahan sekali. Itu tandanya ia peroleh kemajuan. Sementara itu tangannya telah jadi bengkak dan merah, tetapi ia tidak pedulikan, masih ia berlatih terus.

Ang Cit Kong tidak sabaran, ia duduk menyender, lalu pulas, menggeros keras.

Ulet si anak muda, segera juga ia bisa bikin pohon tidak bergoyang. Ia jadi semakin bersemangat. Kembali ia memukul. Diakhirnya, robohlah pohon itu, terpatah dua! Hampir ia bersorak.

“Bagus!” begitu terdengar suaranya Oey Yong, yang terlihat mendatangi dengan perlahan-lahan, tangannya membawa kotak makanan. Cit Kong belum membuka matanya, hidungnya sudah mencium bau wangi makanan.

“Harum! Harum!” katanya seraya ia berlompat bangun, segera ia membuka tutup kotak hingga ia lihat ayam panggang dan bebek serta setumpuk lumpia. tanpa diundang lagi, ia menyambar dengan tangan kiri dan kanan, memasukkan ayam dan bebek itu bergantian ke mulutnya untuk digeragoti. “Lezat! Lezat!” ia memuji, tapi karena mulutnya penuh, tak nyata pujiannya itu.

Ketika sebentar kemudian ayam dan bebek itu habis, tinggal tulang-tulangnya saja, baru ia ingat Kwee Ceng belum dahar. Agaknya ia jengah sendiri. Tapi lekas ia berkata: “Mari, mari! Lumpia ini pun lezat….! Lebih lezat dari bebek…!”

Kwee Ceng dan Oey Yong tidak menjadi tidak senang, malah si nona tertawa.

“Cit Kong, kau belum dahar masakanku yang paling jempol!” kata si nona.

Si pengemis menjadi mengilar. “Msakan apa itu? Masakan apa itu?” ia menanya, mendesak.

“Tidak dapat aku sebutkan semua itu sekarang,” menjawab si nona. “Ada peecay goreng, ada tauwhu tim, ada juga sup daging!”

Cit Kong menjadi semakin ngilar. “Bagus, bagus!” katanya. “Sudah aku bilang, kau memang anak manis! Apa boleh aku pergi membelikan peecay dan tauwhu sekarang?”

“Tak usah, Cit Kong. Kau yang beli pun tidak cocok sama pilihanku!”

“Ya, benar-benar, mana orang lain dapat memilih seperti kau sendiri!”

Nona Oey itu lantas memutar haluan. “Barusan aku lihat dia menghajar pohon patah dan roboh, sekarang ia lebih lihay dariku!” katanya mengenai Kwee Ceng.

Si pengemis itu menggeleng-geleng kepalanya. “Tidak, tidak!” katanya cepat. “Pukulan apa itu, pohon bergoyang-goyang dan melengkung? Mestinya sekali pukul pohon patah dan runtuh!”

“Toh pukulannya barusan sudah hebat, aku tentu tidak sanggup menahannya,” kata pula si nona. “Dasar kau yang berat sebelah! Kalau nanti ia menghina aku, bagaimana?”

Cit Kong hendak mengambil hati orang yang pandai masak itu, ia tidak menjadi kurang senang yang ia disesalkan. “Habis kau mau apa?” tanya.

“Kau mesti ajarkan aku ilmu, yang dapat menandingi dia,” kata si nona. “Sesudah aku paham, aku nanti masaki kau barang hidangan.”

“Baiklah! Dia baru belajar serupa ilmu, tidak sukar untuk menangi dia. Nanti aku ajari kau Yang Siang Hoei.” Baru ia tutup mulutnya, sudah ia berlompat, untuk terus bersilat. Kedua tangan bajunya yang lebar berkibar-kibar, tubuhnya berlompatan ke Timur dan Barat, pesat gerakannya.

Diam-diam Oey Yong perhatikan sesuatu gerakan orang, maka tempo Cit Kong berhenti bersilat, ia sudah ingat separuhnya, selebihnya ia minta penjelasannya. Dasar ia berotak terang, belum dua jam, ia sudah mengerti seanteronya, dapat ia jalankan ilmu silatnya itu, tinggal memahirkan latihannya saja.

Yang Siang Hoei atau Burung Walet Terbang Berpasangan, terdiri dari tigapuluh enam jurus, gerakannya mirip dengan burung walet terbang menari-nari. Beda adalah Kang Liong Yoe Hoei, atau Naga Menyesal, yang singkat saja, tetapi untuk Kwee Ceng merupakan pelajaran yang sulit.

Habis berlatih, Oey Yong tertawa. “Engko Ceng, sekarang aku lebih menang pula daripada kau!” katanya gembira. “Sekarang aku mau pergi beli sayur!” Dan lantas dia lari pergi.

“Bocah itu cerdik melebihi kau seratus lipat!” kata Cit Kong pada si anak muda seberlalunya si nona jenaka itu.

“Memang. Barusan aku melihat lojinkee bersilat, mataku kabur, aku cuma ingat tiga empat jurus.”

Cit Kong tertawa, tanpa membilang apa-apa, dia pulang ke pondokan. Kwee Ceng berdiam, ia mengikuti pulang.

Malam itu Oey Yong benar memasakkan peecay goreng dan tim tauwhu, peecaynya dimasak dengan minyak ayam dicampur ceker bebek, sedang tauwhunya dicampuri ham. Maka puaslah Cit Kong menangsel perutnya. Habis bersantap, ia heran melihat muda-mudi itu tidur terpisah kamar.

“Apa? Apakah kamu belum menikah?” dia menegaskan.

Oey Yong tukang bergurau, tetapi ditanya begitu, merah mukanya, hingga di antara cahaya api, dia tampak makin cantik.

“Awas Cit Kong!” dia mengancam, “Kalau kau ngaco lagi, besok aku tidak akan masaki kau makanan yang lezat!”

“Apa, eh? Apakah aku ngomong salah?” tanya si pengemis, kaget. Tapi segera ia mendusin, “Ah, aku tolol betul! Bukankah kamu baru mengikat janji sendiri, belum lagi mendapat perkenan orang tua kamu, belum ada rekokan comblang? Jangan takut, aku si pengemis yang nanti jadi comblangnya! Jikalau ayahmu tidak mau menerima, nona, nanti aku tempur dia! Biar kita bertempur lagi tujuh hari tujuh malam, biar sampai ada yang mampus dan hidup!”

Senang hatinya Oey Yong, sembari bersenyum ia memasuki kamarnya.

Besoknya pagi-pagi Kwee Ceng sudah pergi ke rimba untuk meyakinkan pukulan Kang Liong Yoe Hoei, yang sebenarnya adalah satu jurus dari Hang Liong Sip-pat Ciang, ilmu silat Menaklukkan Naga. Hanya kali ini ia berlatih kosong, tidak lagi ia menghajar pohon, sebab ia khawatir merusak pohon kayu penduduk situ. Baru menghajar duapuluh lebih kali, ia sudah mandi keringat. Tetapi ia girang sekali, sebab ia telah memperoleh kemajuan. Selagi ia beristirahat, tiba-tiba ia dengar suara orang di luar rimba.

“Suhu, kali ini mungkin kita telah melalui tigapuluh lie lebih!” demikian pendengarannya. Terang orang itu adalah murid berbicara sama gurunya. “Nyatanya ilmu lari kamu telah ada kemajuan,” menjawab seorang yang lain.

Kwee Ceng lantas saja kaget. Ia kenali suara orang yang belakangan ini. Ia pun lantas melihat orangnya – berempat – ialah Kaoy Nio Cu Ong, si tua tetapi romannya tetap muda. Ia mengeluh, lantas saja ia kabur mengambil arah ke penginapan.

Juga Nio Cu Ong sudah lantas melihat dan mengenali pemuda itu. “Kau hendak kemana?!” dia membentak seraya terus mengejar.

Tiga yang lain benar adalah murid-muridnya Soam Sian Loa Kaoy, mereka lantas turut memburu, malah dengan berpencaran, untuk memegat dan mengurung.

Kwee Ceng lari terus. Ia mengerti, asal ia dapat keluar dari rimba, dekat sudah ia dengan pondokannya. Tapi ia dapat dipegat murid kepala musuhnya itu.

“Bangsat cilik, tekuk lututmu!” membentak pemegat itu, yang terus menyerang.

Kwee Ceng menekuk kaki kirinya, tangan kanannya diputar, lalu ia menolak. Itulah jurus Kang Liong Yoe Hoei yang baru saja ia pelajari.

Murid Nio Cu Ong itu hendak menjambak, karena ditolak, hendak ia menangkis. Inilah hebat untuknya. Segera ia terserang hingga lengannya itu patah dan tubuhnya terpental enam tujuh kaki, roboh tak sadarkan diri. Sekalipun ia berkelit, belum tentu ia bebas.

Kwee Ceng sendiri heran. Sebenarnya ia memakai tenaganya cuma lima bagian, tapi akibatnya dahsyat sekali. Untuk sejenak ia tercengang, ketika ia mendusin, lekas ia lari pula.

Nio Cu Ong melihat muridnya dirobohkan, ia kaget berbareng gusar, dia mengejar terus. Tepat dimuka rimba, ia dapat memegat.

Kwee Ceng kaget dan khawatir, sebab si musuh tangguh menghalangi di tengah jalan. Hampir tanpa berpikir, ia tekuk lagi kaki kirinya, tangannya dilingkarkan, lalu ia menolak dengan keras. Kembali ia menggunakan jurus Naga Menyesal itu.

Soam Sian Loa Koay terperanjat. Ia tidak kenal pukulan itu, yang nampaknya hebat, terpaksa ia berkelit dengan menjatuhkan diri ke tanah dan bergulingan. Dengan begitu ia bebas, tapi justru itu, Kwee Ceng dapat menerobos untuk lari terus. Ketika ia lompat bangun, dengan niat mengejar terus, ia dapatkan bocah itu sudah tiba di muka pondokan.

“Yong-jie! Yong-jie!” Kwee Ceng berteriak. “Lekas minta Cit Kong tolong aku!”

Oey Yong dapat mendengar teriakan itu, ia muncul dengan lantas. Segera ia melihat Nio Cu Ong.

“Eh, kenapa siluman bangkotan ini berada di sini?” pikirnya. “Bagus ia datang, hendak aku menguji Yan Siang Hoei!” Terus ia berteriak; “Engko Ceng, jangan takut! Lawan dulu padanya, nanti aku bantu kau!”

Kwee Ceng cemas hatinya, karena ia tahu Nio Cu Ong lihay dan Oey Yong belum tahu apa-apa. Tapi tidak sempat ia berpikir lama, musuhnya sudah menyandak. Ia memutar tubuhnya, kembali ia menyerang dengan pukulan Kang Liong Yoe Hoei.

Nio Cu Ong lompat ke samping, kali ini ia kurang sebat, meski ia bebas, tangan kanannya terserempet juga, hingga ia merasakan sakit dan panas. Ia menjadi heran luar biasa. Baru beberapa bulan mereka berpisah, bocah ini telah menjadi demikian lihay. Ia menduga itulah disebabkan Kwee Ceng minum darah ular. Ingat ini, ia menjadi tambah mendongkol.

Kwee Ceng lihat orang berkelit, ia menyusul serangannya, dengan pukulan yang serupa. Nio Cu Ong cerdas dan lihay, segera ia mendapat kenyataan, pukulan orang hanya serupa, maka setelah berkelit pula, dia tertawa dan berkata; “Ha, bocah, kau mempunyai cuma satu jurus ini?”

Kwee Ceng polos, ia tidak tahu orang memancing dia. “Ya,” jawabnya. “Toh kau tidak mampu menangkis!” Ia lantas menyerang pula.

Nio Cu Ong lompat. Sekarang tahu ia bagaimana harus mengelakkan diri. Tiga kali lagi ia diserang, tiga kali ia berkelit, di samping itu, ia membalas menyerang. Kwee Ceng gagal berulang-¬ulang, ia menjadi repot.

Oey Yong menonton pertempuran itu, ia melihat kawannya terdesak. “Engko Ceng, nanti aku lawan dia!” ia berseru. Ia berlompat ke arah dua orang itu, tubuhnya melayang bagaikan seekor burung walet. Begitu tiba, kepalan kiri dan kaki kanannya segera dikasih bekerja dengan berbareng.

Nio Cu Ong berlompat mundur, habis itu ia membalas menyerang.

Kwee Ceng lantas mengundurkan diri, lalu ia berdiri menonton.

Oey Yong menggunakan Yang Siang Hoei dengan baik, tetapi dasar masih baru dan ia pun kalah Iweekang, ia tidak berdaya merobohkan jago tua itu, sebaliknya hampir-hampir ia kena dihajar beberapa kali oleh lawannya, syukur ia memakai tameng joan-wie-kah. Habis tigapuluh enam jurus, ia pun terdesak.

Dua muridnya Nio Cu Ong menolong kakak seperguruannya, yang mereka pepayang, mereka menonton pertempuran itu, mendapatkan guru mereka unggul, mereka berteriak-teriak menganjurkan guru mereka itu. Kwee Ceng khawatir kekasihnya itu, terpaksa hendak ia maju membantu.

Justru itu ia dengar suara nyaring dari Ang Cit Kong, yang berada di aling jendela: “Dia bakal menggunakan jurus Anjing Galak Memegat Jalan!”

Oey Yong mendengar itu, ia melengak. Ia melihat Nio Cu Ong memasang kuda-kuda terpentang dan kedua tangan dikasih rata. Ia kenal sikap jurus Harimau Galak Memegat Jalan. Ia tertawa di dalam hatinya. Kiranya Cit Kong tukar ‘Harimau’ dengan ‘Anjing’. Ia hanya heran kenapa Cit Kong dapat membeda niat orang. Ia lantas membela diri.

Kembali Cit Kong berseru: “Dia bakal menggunakan Ular Bau Mengambil Air!”

Oey Yong sangat cerdas, lantas ia mengetahui, tentulah itu dimaksudkan jurus Naga Hijau Menyedot Air. Jurus itu lihay di depan, kosong di belakang. Karenanya dengan lincah ia lompat nyamping, terus ke belakang lawannya.

Nio Cu Ong benar-benar menyerang dengan pukulan Naga Hijau Menyedot Air itu. Tentu saja ia gagal, karena si nona sudah mendahului menghalau diri. Malah ia jadi terluang punggungnya. Syukur ia lihay, dapat ia berkelit dari serangan si nona. Segera ia memandang ke arah jendela rumah penginapan.

“Orang pandai siapa di situ? Mengapa kau tidak mau memperlihatkan diri?” dia berseru dengan pertanyaan.

Ang Cit Kong dengar suara menantang itu, ia membungkam.

Oey Yong ada tulang punggungnya, ia jadi berani sekali. Ia menerjang. Dalam murkanya Nio Cu Ong melawan dengan bengis, ia menggunakan pukulan-¬pukulan yang membinasakan. Tentu sekali, si nona segera terdesak pula.

“Jangan takut!” terdengar pula teriakannya Cit Kong. “Dia bakal menggunakan Pukulan si Kunyuk Kempolan Biru Manjat Pohon!”

Oey Yong tertawa cekikikkan, ia lantas mendahului menyerang dengan tinjunya.

Nio Cu Ong benar-benar hendak menyerang dengan jurusnya yang disebut Cit Kong itu, hanya si pengemis aneh itu sengaja tukar namanya jurus itu, yang sebenarnya Kera Sakti Manjat Pohon. Melihat ia diserang, terpaksa ia membatalkan niatnya untuk membela diri, guna menukar jurus. Karena ia tahu, percuma ia melanjutkan serangannya dengan tipu silat itu. Dasar ia lebih lihay, tidak sukar untuk ia menolong dirinya. Hanya ia jadi semakin heran. Ia tanya dirinya, “Kenapa orang itu ketahui aku bakal menyerang dengan jurusku?”

Oey Yong menyerang terus. Nio Cu Ong membela diri, habis mana, dia lompat pula keluar kalangan. Ia berteriak ke arah pondokan: “Saudara yang baik, jikalau kau tetap tidak hendak memperlihatkan diri, jangan menyesal apabila aku tidak berlaku murah hati lagi!”

Di mulutnya Som Sian Lao Koay mengatakan demikian, tangannya bekerja. Ia maju menyerang Oey Yong, hebat serangannya, maka dalam beberapa jurus saja, si nona terdesak pula.

Cit Kong tidak bersuara, ia pun tidak muncul.

Kwee Ceng melihat kekasihnya terdesak dan kelabakan hingga ia mesti main berkelit saja, lantas maju untuk membantu. Segera ia menyerang dengan pukulan Naga Menyesal!

Nio Cu Ong tahu hebatnya jurus itu, ia lompat mencelat.

“Hajar padanya, engko Ceng!” Oey Yong menganjurkan. “Serang terus-terusan hingga tiga kali beruntun!”

Habis menganjurkan, nona itu memutar tubuhnya, lari ke dalam pondo. Kwee Ceng menuruti anjuran pacarnya, ia memasang kuda-kuda. Ia menunggu io Cu Ong merangsak, ia hendak menyambutnya.

Som Sian Loa Koay menjadi gusar berbareng mendelu, pun ia merasa lucu juga. Dalam hatinya ia berkata: “Setahu darimana bocah ini dapat pelajari jurusnya ini…Toh ia cuma mempunyai satu jurus….” Walaupun begitu, ia tidak berani keras lawan keras, bahkan tidak berani ia datang mendekati.

Karena terpisah cukup jauh, Kwee Ceng tidak bisa menyerang. Dengan begitu, pertempuran jadi mandek, mereka berdiri berhadapan saja.

“Anak tolol, awas!” io Cu Ong berteriak kemudian, terus ia berlompat, untuk menyerang.

Kwee Ceng menanti, lantas ia menyambut dengan serangannnya. Tapi orang she Nio itu menggunakan akal. Dia tidak menyerang terus. Belum lagi tubuhnya datang dekat, tangannya sudah terayun, lalu tiga batang jarum Touw¬kut-ciam menyerang si anak muda di tiga jurusan, atas, tengah dan bawah!

Kwee Ceng melihat bahaya, terpaksa ia batalkan serangannya, ia terus berkelit.

Ketika ini digunai Nio Cu Ong berlompat maju, tangannya menyambar ke batang leher orang, menjambak leher baju.

Kwee Ceng terdesak, ia menyundul dengan kepalanya. Tapi Nio Cu Ong benar-benar lihay, si anak muda merasakan seperti membentur kapas. Nio Cu Ong puas sekali, hendak ia menghajar anak muda itu.

Kali ini Oey Yong muncul dengan tiba-tiba. “Siluman tua, lihat apa ini?!” dia berteriak.

Nio Cu Ong kenal orang licin, lebih dulu ia pencet jalan darah Kin-ceng-hiat dari Kwee Ceng, baru ia menoleh kepada si nona nakal. Dia lantas mendapatkan Oey Yong menghampiri dengan tindakan perlahan-lahan, tangannya mencekal sebuah tongkat bambu warna hijau seperti kumala huicui. Untuk kagetnya, dia mengenali tongkat itu hingga ia berseru tertahan: “Ang…Ang Pangcu!”

Oey Yong tidak meladeni, hanya dia membentak: “Masih kau tidak hendak melepaskan tanganmu?!”

Jinak agaknya si jago ini, ia segera melepaskan cekalannya kepada Kwee Ceng. Sejak tadi ia sudah heran, kenapa Oey Yong ada yang mengajari cara bagaimana harus melawan dia dan niat penyerangannya dibeber. Ia menduga kepada Ang Cit Kong, tapi ragu-ragu, sebab sudah belasan tahun Ang Cit Kong tidak pernah terlihat di dunia kangouw. Sekarang ia lihat tongkat si kepala pengemis, kagetnya bukan main.

Oey Yong mendekati, ia terus memegangi tongkat dengan kedua tangannya. Ia berkata pula dengan membentak: “Cit Kong bilang bahwa ia sudah perdengarkan suaranya tetapi kau bernyali besar, kau tetap berani main gila disini! Maka Cit Kong tanya, kenapa kau berani berlaku kurang ajar begini?!”

Nio Cu Ong sudah lantas menekuk lututnya. “Dengan sesungguhnya aku yang rendah tidak tahu Pangcu ada disini,” katanya dengan hormat, “Kalau aku yang rendah tahu, aku tidak berani berbuat salah terhadap Pangcu.”

Oey Yong heran. “Dia sangat lihay, kenapa dia takut Cit Kong begini rupa? Kenapa dia pun memanggil Ang Pangcu?” Tapi, pada parasnya, ia tetap berlaku keren. “Taukah kau apa dosamu?”

“Nona tolong sampaikan kepada Pangcu, bahwa Nio Cu Ong sudah menginsyafi kesalahannya dan minta Ang Pangcu sukalah mengasih ampun,” berkata Som Sian Lao Koay.

“Ingat olehmu!” berkata si nona, “Mulai hari ini sampai seterusnya, untuk selamanya tidak boleh kau mengganggu kami berdua!”

“Aku yang rendah tadinya tidak tahu apa-apa,” menyahut Nio Cu Ong. “Aku tidak mengandung maksud sengaja, maka itu aku minta sukalah jiwi memaafkan.”

Dengan “jiwi” – “tuan berdua” dimaksudkan Kwee Ceng dan si nona.

Oey Yong menjadi sangat puas, ia tersenyum, lantas ia tarik tangannya Kwee Ceng, diajak ngeloyor pergi, masuk ke dalam rumah penginapan. Di dalam pondok Ang Cit Kong tengah duduk menghadapi empat mangkok besar terisi barang hidangan, tangan kirinya mengangkat cawan arak, tangan kanannya mencekal sumpit, mulutnya menggayem dan mencegluk air kata-kata.

“Cit Kong!” kata si nona tertawa. “Dia berlutut, sama sekali dia tidak berani berkutik!” Ia pun sampaikan permohonannya Nio Cu Ong.

Cit Kong menoleh kepada Kwee Ceng, “Pergi kau hampiri dia, kau hajar serintasan, tidak nanti dia berani melawan!” katanya.

Kwee Ceng melongok di jendela. Ia lihat Nio Cu Ong terus berlutut di antara panasnya matahari, dua muridnya pun berlutut di belakangnya, roman mereka itu runtuh sekali. Ia menjadi tidak tega. “Cit Kong, kasihlah dia ampun,” katanya.

“Hai, makhluk tidak tahu diri!” membentak si pengemis. “Orang hajar padamu, kau tidak mampu melawan, aku si tua bangka menolongmu, sekarang kau mintakan ampun untuknya! Apakah artinya ini?!”

Ditegur begitu, Kwee Ceng berdiri diam. Ia tidak sangka si pengemis, yang biasanya jenaka dan manis budi, sekarang menjadi galak begini.

Oey Yong tertawa, dia datang sama tengah. “Cit Kong, nanti aku yang hajar dia!” katanya.

Dan lantas ia bertindak keluar dengan masih membawa tongkat istimewa itu. Ia hampiri Nio Cu Ong, yang berlutut tanpa bergeming, wajahnya nampak ketakutan. Oey Yong lantas menegur: “Cit Kong bilang kau jahat, hari ini sebenarnya kau mesti disembelih, tetapi syukur ada aku punya engko Ceng yang hatinya murah, dia telah mintakan ampun untukmu, ia memohon lama juga barulah Cit Kong meluluskannya.”

Kata-kata itu ditutup dengan diangkatnya tongkat, dihajarkan ke kempolan orang.

“Nah, kau pergilah!” akhirnya si nona mengusir.

Nio Cu Ong tidak segera mengangkat kaki, ia hanya memandang ke arah jendela. “Ang Pangcu, aku ingin bertemu padamu, untuk menghaturkan terima kasih kau tidak membunuh aku,” katanya.

Dari dalam pondokan tidak ada terdengar suara apa-apa.

Nio Cu Ong terus bertekuk lutut.

Sampai sekian lama, barulah Kwee Ceng muncul. Ia menggoyang-goyang tangan, ia berkata dengan perlahan: “Cit Kong lagi tidur, kau jangan bikin berisik disini!”

Baru sekarang Nio Cu Ong bangkit, ia mendelik kepada muda-mudi itu, lalu ngeloyor pergi dengan mengajak ketiga muridnya.

Oey Yong dan Kwee Ceng membiarkan orang melotot, bersama-sama mereka balik ke dalam pondok. Benar-benar Cit Kong terlihat lagi menggeros dengan kepalanya diletaki di atas meja. Si nona pegang pundak orang, ia menggoyang-goyang.

“Cit Kong, Cit Kong,” katanya. “Tongkat bambu mustikamu ini sangat besar pengaruhnya, jikalau kau tidak pakai, kau berikan saja padaku! Bolehkah!”

Cit Kong mengangkat kepalanya, ia menguap, ia pun mengulet. “Enak saja kau membuka suaramu!” katanya tertawa. “Bendaku ini adalah alat peranti mencari makan dari kakekmu. Seorang pengemis tanpa tongkat pemukul anjing mana bisa jadi pengemis?”

Oey Yong bermanja. “Ilmu silatmu sudah sangat lihay, orang jeri padamu, habis untuk apa kau menghendaki tongkat ini?” dia mendesak.

“Hai, budak tolol!” tertawa si pengemis. “Sekarang lekas kau masak beberapa rupa barang hidangan yang lezat, nanti aku cerita perlahan-lahan padamu.”

Oey Yong menurut, lantas pergi ke dapur. Ia menyiapkan tiga rupa masakan. Apabila sudah selesai, ia bawa keluar.

Cit Kong memegang cawan araknya dengan tangan kanan, tangan kirinya memegang sepotong ham, yang ia gerogoti. Ia mengunyah perlahan-lahan. “Makhluk di dalam dunia ini tidak ada yang tidak berkumpul dengan seterunya,” ia berkata kemudian. “Hartawan yang kemaruk uang satu rombongan, orang Rimba Hijau tukang membegal atau merampok satu rombongan juga. Demikian kami si tukang minta-minta, kami pun berkumpul dalam satu golongan….”

“Aku tahu sudah, aku tahu sudah!” Oey Yong memotong seraya ia menepuk-nepuk tangan. “Tadi Nio Cu Ong memanggil kau Pangcu, kau jadinya adalah pemimpin dari tukang minta-minta!”

Cerdik nona ini, ia lantas dapat menerka.

“Benar!” Cit Kong mengaku. “Kami bangsa pengemis biasa orang hinakan, bisa digigit anjing, apabila kami tidak bersatu, mana dapat kami hidup? Maka juga ini sebatang tongkat serta ini sebuah cupu-¬cupu, semenjak jaman Cian Tong Ngo tay sampai hari ini, sudah beberapa ratus tahun, selamanya dipegang oleh orang yang menjadi Pangcu, pemimpin kepala, jadi inilah mirip dengan capnya seorang kaisar atau capnya satu pembesar negeri.”

Mendengar itu, Oey Yong meleletkan lidahnya. “Syukur kau tidak mengasihkan padaku!” katanya.

“Kenapa?” Cit Kong tertawa.

“Jikalau semua pengemis di kolong langit ini pada mencari aku, aku mengurus mereka, apakah itu tidak cade?” sahutnya.

Cit Kong tertawa pula. Ia gerogoti pula sepotong ceker. Ia berkata pula: “Rakyat negeri di Utara diurus oleh negeri Kim, rakyat negeri di Selatan diurus oleh kerajaan Song, tetapi pengemis di kolong langit ini..?” “Tidak peduli mereka yang dari Selatan atau Utara, semua mereka diurus oleh kau, lojinkee!” Oey Yong mendahului.

Ang Cit Kong tertawa terbahak, ia mengangguk.

“Pantaslah itu siluman bangkotan she Nio sangat jeri padamu!” si nona menyambung. “Kalau semua pengemis di kolong langit ini mencari dia, untuk mengganggu, nah, bukan main sulitnya dia! Umpama satu pengemis menangkap seekor tuma itu ditaruh di lehernya, tidakkah ia bakal mampus kegatalan?”

Kwee Ceng tertawa.

Ang Cit Kong tidak gusar, ia malah turut tertawa.

“Tetapi,” menjelaskan si raja pengemis kemudian, “Dia takut aku bukannya karena itu…”

“Habis karena apa?” tanya Oey Yong.

“Kejadian itu kira-kira duapuluh tahun yang lampau. Hari itu aku bertemu dengannya di Kwan-gwa, kebetulan ia tengah melakukan satu pekerjaan buruk dan aku pergoki dia…”

“Pekerjaan buruk apakah itu?” tanya si nona.

Cit Kong agaknya bersangsi tetapi ia menerangkan juga: “Siluman tua itu percaya kepada omongan sesat tentang memetik bunga untuk menambah tenaga atau panjang umur, dia lantas cari banyak nona-nona untuk dirusak kesuciannya…”

“Apakah itu yang dinamakan merusak kesucian nona-nona?” tanya si nona kembali.

Oey Yong polos, ia belum mengetahui tentang hal kesucian yang dirusak itu. Ketika ia dilahirkan, ibunya lantas menutup mata disebabkan sukar melahirkan, dari itu semenjak bayi ia dirawat oleh ayahnya, kemudian terjadi Oey Yok Su murka besar disebabkan Tan Hian Hong dan Bwee Tiauw Hong, kedua muridnya itu, yang memainkan lelakon asmara dan minggat, saking kalapnya, dia putuskan urat-urat semua muridnya yang lainnya, yang ia pun usir pergi dari pulau Tho Hoa To, maka di pulau itu tinggal beberapa bujang tua, hingga si nona belum pernah dengar soal pemuda dan pemudi dewasa. begitulah sampai usianya limabelas tahun, ia tetap gelap mengenai hal itu. Kalau toh ia suka sama Kwee Ceng, karena perasaannya yang wajar, perasaan yang ia rasakan manis, apabila mereka berpisahan, segera ia merasa sunyi seorang diri. Tapi ia tahu, kalau orang menjadi suami-istri, orang tidak bakal berpisahan pula seumur hidupnya, maka itu ia anggap Kwee Ceng sudah menjadi suaminya; lain daripada itu, ia gelap.

Untuk sejenak itu, Cit Kong pun sulit atas pertanyaan si nona, hingga ia tidak lantas memberikan jawabannya.

“Setelah satu nona dirusak kesuciannya, apakah dia lantas dibunuh?” Oey Yong tanya pula.

“Bukannya begitu,” Cit Kong tertawa. “Wanita yang diperhina secara demikian, hebatnya melebihi daripada dibunuh. Maka juga ada pembilangan, ‘Hilang kesucian urusan besar, mata kelaparan urusan kecil’”

“Habis, apakah dia dihajar kempolannya?” si nona tanya pula.

“Cis!” berludah Cit Kong tetapi dia tertawa. “Bukannya begitu, budak! Baiklah kau pulang untuk menanyakan keterangan ibumu!”

“Ibu sudah lama tutup mata.” sahut si nona.

“Oh….” si pengemis melengak. “Nanti saja, kapan tibanya kamu berdua merayakan pernikahan, kau bakal mengerti sendiri.”

Muka si nona menjadi merah, ia memonyongi mulutnya. “Sudahlah jikalau kau tidak sudi menerangkan!” katanya. Samar-samar ia mulai mengerti duduknya hal. Ia menanya pula: “Habis bagaimana sesudah kau pergoki si siluman bangkotan itu berbuat buruk?”

Lega si pengemis mendengar orang bicara dari lain soal.

“Pasti sekali aku urus dia!” ia menyahut, “Orang she Nio itu telah kena aku bekuk, aku hajar dia, aku paksa ia mengantar pulang semua nona-nona itu kerumahnya masing-masing. Lain dari itu aku paksa ia mengankat sumpah bahwa dilain waktu dia tidak lagi berbuat sejahat itu, dan aku ancam, apabila aku mempergokinya pula, ia bakal mati tidak, hidup pun tidak!”

“Oh, kiranya demikian!”

Kemudian, habis bersantap, Oey Yong berkata, “Cit Kong, kalau sekarang kau kasihkan tongkatmu kepadaku, aku juga tidak sudi menerimanya, hanya masih ada satu soal. Bukankah kita tidak bakal berdiam bersama-sama untuk selama-lamanya? Bagaimana kalau dilain waktu kami berdua bertemu pula sama siluman she Nio itu dan dia membilangnya padaku, ‘He, budak yang baik, dulu hari kau mengandalkan Ang Pangcu, kau menghanjar aku dengan tongkatnya, sekarang aku hendak membalas sakit hati!’ Kalau sampai terjadi begitu, bagaimana kami harus berbuat?”

Ang Cit Kong tertawa. “Ha! Kau sebenarnya menghendaki aku mengajari pula lain ilmu silat kepada kau berdua! Kau kira aku tidak tahu? sekarang pergilah kau masak syaur lagi, bikinlah banyakan, kau boleh percaya Cit Kong tidak nanti membikin kau kecele!”

Oey Yong menjadi sangat girang, ia sambar tangannya si pengemis, untuk dibawa ke rimba tadi.

Ang Cit Kong mengajarkan pula jurus yang baru kepada Kwee ceng, yaitu jurus kedua dari Hang Liong Sip-pat Ciang, namanya “Hoei Liong Thay Thian” atau “Naga Terbang ke Langit”. Jurus ini mewajibkan Kwee Ceng lompat tinggi sekali, lalu dari atas ia menyerang turun, hingga tenaganya menjadi luar biasa besar. Untuk ini, Kwee Ceng memerlukan tempo tiga hari, baru ia dapat melatih dengan baik. Selama tiga hari itu, Oey Yong sendiri sudah mendapatkan pelajaran lain, ialah untuk dengan tempuling ngo-bje-cie memecahkan sebatang golok. Semenatar itu Ang Cit Kong sendiri telah menikmati belasan macam makanan lezat dari si nona.

Demikianlah hari-hari lewat. Tidak sampai satu bulan, Cit Kong sudah wariskan limabelas jurus dari Hang Liong Sip-pat Ciang, dari “Naga Menyesal” sampai pada “Liong Thian Ie Ya” atau “Naga bertempur di tanah datar”.

Ilmu silat Cit Kong ciptakan sendiri setelah ia memahami kitab “Ya Keng”, jurusnya terbatas sekali tetapi kegunaannya besar, sebab setiap jurusnya hebat. Hanya ketika dulu di puncak Hoa San ia mengadu silat sama Oey Yok Su beramai, ilmu ini belum ia pelajari habis, meski begitu, Ong Tiong Yang toh memuji ilmunya itu. Cit Kong menyesal yang ia belum sempat menyelesaikan itu, kalau tidak, mungkin ialah yang menjadi pemenang nomor satu.

Mulanya dia hendak mengajari Kwee Ceng dua tiga jurus saja, untuk si anak muda menjaga diri, tetapi masakan Oey Yong hebat sekali, setiap hari ditukar dengan hari lewat hari, kejadian ia mewariskan limabelas jurus itu. Maka dalam tempo satu bulan itu, Kwee Ceng telah seperti salin rupa. Oey Yong sendiri telah memperoleh beberapa jurus yang luar biasa, yang campur aduk!

Pada suatu pagi sehabis sarapan, Cit Kong berkata kepada kedua bocah itu; “Eh, anak-anak, kita sudah berkumpul sebulan lamanya, sudah tiba waktunya kita berpisahan.”

“Oh, tidak!” Oey Yong mencegah. “Aku masih mempunyai beberapa macam masakan yang hendak aku bikin untuk suguhkan kepada kau, lojinkee!”

“Ingat, anak, di kolong langit ini tidak ada pesta yang tidak bubar. Kau tahu biasanya aku si tua bangka belum pernah mengajari orang lebih daripada tiga hari, tetapi terhadap kamu, aku telah memakai tempo satu bulan, kalau mesti tambah hari lagi, oh itulah hebat sekali!” kata si pengemis.

“Kenapa begitu, Cit Kong?” tanya si nona heran.

“Dengan begitu, habislah semua kepandaianku diturunkan kepada kamu!” sahut si raja pengemis.

Oey Yong tersenyum tetapi ia kata: “Cit Kong, orang baik mesti sekali berbuat baik seterusnya berbuat baik hingga diakhirnya. Jikalau kau ajarkan semua delapanbelas jurus dari Hang Liong Sip-pat Ciang kepadanya, bukankah itu baik sekali?”

“Fui!” si pengemis berseru. “Ya, buat kamu baik, tetapi aku si pengemis tidak!”

Oey Yong menjadi bingung. Ia lantas memikirkan daya apa untuk menahan orang tua itu, akan tetpai belum ia dapat pikiran, Cit Kong telah menggendol cupu-cupunya dan mengangkat tongkatnya ngeloyor pergi, jalannya sambil menyeret sepatunya…..

Kwee Ceng menjadi bingung juga, ia lari menyusul. Hebat Cit Kong sebentar saja ia telah lenyap di dalam rimba.

“Cit Kong! Cit Kong!” Kwee Ceng menyusul dan berteriak-teriak. Tidak ada jawaban.

Oey Yong juga menyusul, ia pun memanggil-¬manggil. Tapi ia pun tidak peroleh penyahutan.

Tapi belum lama, terlihatlah suatu bayangan dan Cit Kong muncul dengan tiba-tiba.

“Ha, kamu berdua budak busuk, mau apa kamu melibat aku?” ia menanya, agaknya ia mendongkol. “Apakah kau masih minta aku mengajari silat? Oh, itulah sukar di atas sukar!”

“Lojinkee sudah mengajarkan banyak, teecu telah puas,” berkata Kwee Ceng, yang menyebut dirinya teecu atau murid. “Tidak nanti teecu berlaku temaha, cuma teecu belum dapat membalas budimu yang besar sekali.” Ia lantas jatuhkan dirinya, berlutut, untuk paykui kepada itu guru sembatan.

“Ha, tahan!” mendadak si pengemis berseru. “Aku mengajarkan kau silat sebab aku gegaras sayur masakan dia itu, untuk itu, pengajaranku itulah bayaranku! Di antara kita tidak ada soal guru dengan murid!” Mendadak ia pun berlutut, membalas hormatnya si anak muda.

Kwee Ceng kaget sekali, hendak ia paykui pula, untuk membalas, tetapi ia tidak dapat berbuat begitu, tiba-tiba saja si pengemis mengulurkan tangannya dan ia kena ditotok jalan darah dirusuknya hingga ia berdiri dengann kedua kaki ditekuk, tak dapat ia menggerakkan tubuhnya!

Cit Kong mengangguk sampai empat kali, guna membalas penghormatan orang, baru ia menotok pula membebaskan jalan darah orang. Ia kata: “Ingat, sekarang jangan kau mengatakan sudah memberi hormat padaku, bahwa kaulah muridku!”

Kwee Ceng berdiam, tidak berani ia membuka mulut lagi. Sekarang ia menginsyafi benar-benar tabiat kukoay bin aneh dari si raja pengemis yang berjeriji sembilan itu.

Cit Kong lantas memutar tubuhnya, untuk mengangkat kaki, atau mendadak ia bersuara “Ih!” lantas ia membungkuk, tangannya diulurkan ke tanah, di antara rumput, dua jarinya menjepit seekor ular hijau panjangnya dua kaki.

“Ular!” Oey Yong menjerit kapan si pengemis angkat tangannya. Cuma sebegitu ia berseru, atau pundaknya telah ditolak Ang Cit Kong hingga ia terpental jauhnya setombak lebih!

Menyusul itu terdengar pula beberapa suara rumput bergerak-gerak, lalu terlihatlah beberapa ekor ular lainnya. Dengan menggerakkan tongkat, Ang Cit Kong singkirkan binatang berbisa itu, untuk setiap kemplangan, tongkatnya mengenai tepat di kepala ular, yang terus mati.

Kalau tadinya ia kaget, sekarang Oey Yong kegirangan hingga ia berseru memuji. Tengah ia tertawa, di belakangnya muncul dua ekor ular yang lain, yang menyambar sambil membuka bacotnya, untuk menggigit.

“Lari!” Ang Cit Kong berseru. Tapi sudah terlambat, si nona telah kena disambar dan digigit. Ular itu kecil tubuhnya tetapi hebat bisanya, cuma tergigit satu kali, celakalah orang, apapula sekarang menyambar sekali dua.

Ang Cit Kong pun kaget. Kupingnya segera mendengar suara lain, yang terlebih berisik, ketika ia mengawasi, tampak nyelosornya sekumpulan ular di tempat kira-kira sepuluh tombak dari mereka. Tidak ayal lagi, ia sambar pinggang Kwee Ceng, ia cekuk pundak Oey Yong, terus ia berlompat, lari keluar dari rimba itu. Dia lari terus kembali ke tempat penginapan. Setibanya di muka pondokan, pengemis itu awasi muka si nona, lantas hatinya menjadi lega. Nona itu tak kurang suatu apapun, dia seperti biasa.

“Bagaimana kau merasakan?” ia menanya, hatinya girang.

Oey Yong tertawa. “Tidak apa-apa!” sahutnya wajar.

Tapi Kwee Ceng melihat ular tadi masih menyantel di badan kekasihnya, dia kaget, dia ulur tangannya, untuk menangkap ular itu, untuk disingkirkan. “Jangan!” Cit Kong berseru pula saking kagetnya.

Tapi tangan Kwee Ceng telah kena menjambret ular itu, yang kepalanya mengeluarkan darah. Binatang itu tidak bergerak lagi, dia sudah mati! Mulanya Ang Cit Kong tercengang, tetapi dengan lekas ia sadar sendiri. “Tidak salah lagi!” katanya. “Tentulah joan¬wie-kah ayahmu telah diwariskan kepadamu!” Memang ulat itu menggigit joan-wie-kah, kepalanya pecah, lalu binasa.

Selagi Kwee Ceng menyambar seekor ular, banyak yang lainnya lagi keluar dari rimba. Cit Kong sendiri segera mengeluarkan obat hitam dari sakunya, ia masukkan itu ke dalam mulutnya untuk dikunyah. dari dalam rimba masih saja terlihat ular yang keluar, ratusan bahkan ribuan.

Maka Kwee Ceng berseru; “Cit Kong, mari lekas pergi!”

Cit Kong tidak menjawab, ia menurunkan cupu-cupu dari punggungnya, dia membuka sumpalnya, untuk menuang isinya ke dalam mulut, dicampur sama obat tadi, kemudian ia menyembur ke arah ula-r¬ular itu, ke kiri dan kanan, hingga mereka bertiga terintang semburan arak. Sejumlah ular, yang mencium bau arak campur obat lantas rebah tak bergerak, yang lainnya tak berani maju lebih jauh, tapi karena yang dibelakang masih banyak dan maju terus, mereka jadi kacau sendirinya. Oey Yong gembira menyaksikan ular-ular itu bergumulan, ia menepuk-¬nepuk tangan.

Selagi si nona ini kegirangan, dari dalam rimba terdengar suara berisik, lalu terlihat tiga orang pria yang pakaiannya putih semua, dengan tangan mencekal masing-masing sepotong pentungan dua tombak lebih panjangnya, berseru-seru mengusir semua ular itu, pentungannya dipakai mengancam, mirip lagaknya bocah angon lagi menggembala kerbau atau kambing.

Mual rasanya akan menyaksikan ujal-ujalan semua ular itu.

Ang Cit Kong menangkap seekor ular, yang ia sontek dengan tongkatnya. Dengan dua jari kiri ia jepit leher ular itu, dengan kelingking kanan ia menggurat perutnya ular hingga pecah berlobang, untuk mengasih keluar nyalinya.

“Lekas telan ini! Jangan kena kegigit, sangat pahit!” ia berkata kepada si nona.

Oey Yong menurut, ia lantas telan nyali ular itu. Menyusul itu, ia merasa enak dan segar sekali.

“Eh, engko Ceng, kau juga hendak makan nyali ular?” dia menanya.

Kwee Ceng menggelengkan kepala. Ia sudah mengghirup darah ular, ia tidak mempan racun ular itu, malah tidak ada ular yang berani menggigitnya, cuma Ang Cit Kong dan si nona yang tadinya diarah.

“Cit Kong, ular ini mesti ada yang piara,” berkata Oey Yong.

Pak Kay mengangguk. Dengan wajah murka, ia mengawasi ketiga orang serba putih itu, yang sebaliknya pun murka melihat orang bunuh ularnya dan dimakan nyalinya, malah habis membereskan ular-ularnya, mereka maju menghampiri.

“He, kamu tiga ekor iblis, apakah kamu sudah tidak menghendaki lagi jiwamu?!” yang satu menegur dengan bengisnya.

“Tepat!” berseru Oey Yong dengan jawabannya. “Kamu tiga ekor iblis, apakah kamu sudah tidak menghendaki jiwa kamu?!”

“Bagus!” berseru Cit Kong seraya menepuk pundak si nona. Ia memuji pembalasan si nona, yang mulutnya lihay itu.

Tiga orang itu menjadi bertambah gusar, satu yang kulit mukanya putih dan usia pertengahan sudah lantas lompat, menyodok si nona dengan pentungannya. Melihat sambaran angin, bukan sembarang kepandaian.

Cit Kong berlaku sebat, ia melonjorkan tongkatnya, menyambut serangan itu. Dengan begitu Oey Yong jadi luput dari bahaya.

Penyerang itu lantas menjadi kaget, tidak saja pentungannya mandek, pula tak dapat ia menarik pulang. Pentungan itu menempel seperti terpantek pada tongkat si pengemis. Maka ia lantas mengempos semangatnya.

“Kau pergilah!” berseru Ang Cit Kong selagi orang menarik keras, tangannya digentak.

Maka terjengkanglah orang itu, terlempar ke dalam barisan ularnya, pentungannya hancur menjadi puluhan potong pendek. Dia rupanya telah memakan obat pemunah, ular tak berani gigit padanya.

Dua orang yang lain terkejut, mereka mundur dengan seketika.

“Bagaimana, toako?” mereka menanya pada kawannya yang roboh itu. Orang itu lompat bangun dengan gerakannya “Ikan gabus melentik”. Akan tetapi dia terbanting keras, belum sampai bangun berdiri, dia sudah jatuh pula, kembali menimpa ularnya, hingga seperti tadi, ada belasan ular yang mampus ketindihan. Maka kawannya, yang mukanya putih, menyodorkan pentungannya, membantu dia bangun.

Sekarang mereka bertiga itu tidak berani menyerang lagi, bahkan mereka lantas masuk ke dalam kalangan ular mereka.

“Siapa kamu!” kemudian tanya orang yang barusan terjungkal itu. “Kalau kau laki-laki, sebutkan nama kamu!”

Ang Cit Kong tertawa terbahak-bahak, ia tidak menyahuti.

“Kamu orang-orang macam apa?!” Oey Yong sebaliknya menanya. “Kenapa kau menggiring begini banyak ular berbisa untuk mencelakai orang?!”

Tiga orang itu saling mengawasi, selagi satu diantaranya hendak menyahut, dari dalam rimba tertampak munculnya seorang yang berdandan sebagai pelajar yang putih mulus bajunya. Dia berjalan perlaha-lahan, tangannya mengerjakan kipasnya. Ia berjalan di antara banyak ular itu, yang pada menyingkir sendirinya.

Kwee Ceng dan Oey Yong sudah lantas mengenal orang itu Auwyang Kongcu, sancu atau pemilik gunung Pek To San. Herannya ular-ular itu menyingkir darinya.

Tiga pengiring itu menghampiri si anak muda, untuk berbicara, lantas tangannya menunjuk ke ular-ular yang tak berkutik itu, rupanya mereka mengadu.

Pemuda itu agaknya terperanjat, tapi lekas ia menjadi tenang pula. Dia maju menghampir Ang Cit Kong bertiga, dia memberi hormat sambil mengangguk, kemudian dia tertawa dan berkata: “Beberapa sahabatku ini telah berlaku kurang ajar kepada locinpwee, untuk itu aku menghanturkan maaf.” Terus ia memandang Oey Yong, untuk meneruskan: “Kiranya nona ada di sini. Sungguh sengsara aku mencarimu…”

Oey Yong tidak mengambil mumat pemuda itu, ia hanya menoleh kepada si pengemis. “Cit Kong, orang inilah telur busuk yang paling besar!” ia memberitahu. “Kau baiklah menghajar adat padanya!”

Ang Cit Kong mengangguk, terus ia memandang si anak muda, romannya bengis. “Untuk mengangon ular ada tempatnya, ada batasnya, ada waktunya, ada aturannya juga!” katanya. “Kau andalkan pengaruh siapa maka kau jadi begini gila-gilaan?!”

“Semua ular ini datang dari tempat yang jauh sekali, semuanya sangat lapar, mereka jadi tidak dapat memakai aturan lagi,” menyahut si pemuda.

“Berapa banyak orang telah kamu bikin celaka?” Cit Kong menegur pula.

“Kami menggembala di tanah belukar, belum pernah kami mencelakai orang,” menyahut si anak muda.

“Hm!” Cit Kong mengejek. “Belum pernah mencelakai orang! Kau toh si orang she Auwyang?”

“Benar!” dia menjawab. “Kiranya nona ini telah memberitahukan padamu. Kau siapa, lojinkee?” dia balik menanya.

Oey Yong mendahului si pengemis. “Namamu yang busuk! Siapa yang sudi menyebutnya!” kata dia. “Namanya locinpwee ini tidak usah diberitahukan kepadamu, cuma bakal membikin kau kaget!”

Auwyang Kongcu itu tidak gusar, dia melirik si nona sambil tersenyaum.

“Kau anaknya Auwyang Hong, bukankah?” Ang Cit Kong tanya.

Belum si anak muda menyahut, tiga kawannya sudah gusar duluan. “Pengemis bangkotan tidak karuan, bagaimana besar nyalimu berani menyebut nama sancu kami?!” mereka menegur.

Ang Cit Kong tertawa lebar.

“Lain orang boleh tidak menyebutnya tetapi aku boleh!” katanya. mendadak orang tua itu mencelat ke arah tiga orang itu dan tahu-tahu “Plak-plok!” muka mereka kena ditampar datang-pergi, setelah itu dengan menekan tongkatnya, ia lompat balik ke tempatnya berdiri tadi.

“Kepandainmu ini, Cit Kong, kau belum ajari aku!” berkata Oey Yong, seperti ia tidak menggubris peristiwa.

Cit Kong bukan saja menggaplok, ia juga membuatnya terlepas sambungan baham orang.

Auwyang Kongcu terperanjat, lekas-lekas ia menolong tiga orang itu. “Apakah cinpwee mengenal pamanku?” ia tanya Cit Kong, sekarang sikapnya hormat.

“Oh, kau jadi keponakannya Auwyang Hong!” berkata Cit Kong. “Sudah berselang duapuluh tahun aku tidak pernah bertemu pula sama si racun tua bangkamu itu! Apakah dia belum mampus?”

Panas hatinya si anak muda, tetapi melihat orang lihay dan orangpun seperti mengenal baik pamannya, ia mau percaya, pengemis ini ada orang tingkat atasan yang lihay. Maka berkatalah ia: “Pamanku sering bilang, sebelum sahabat-sahabatnya pada habis mati terlebih dulu, dia masih belum ingin pulang ke langit…”

Ang Cit Kong tertawa berlengak. “Anak yang baik, pandai kau mencaci orang dengan jalan mutar-balik!” katanya. “Aku hendak tanya kau, perlu apa kau membawa-bawa sekalian mustikamu ini?” Ia maksudkan semua ular itu.

“Biasanya aku yang muda tinggal di barat,” Auwyang Kongcu menyahut, “Tapi kali ini aku berangkat ke Tionggoan untuk belajar berkenalan, lantaran iseng – kesepian di tengah jalan, sekalian aku membawa mereka ini untuk main-main saja.”

“Terang-terang kau mendusta!” Oey Yong menyemprot. “Ada demikian banyak wanita yang menemani kau, kau masih bilang iseng kesepian!”

Pemuda itu menggoyang kipasnya hingga dua kali, matanya menatap si nona, lalu ia tersenyum, lantas ia bersenandung: “Duka hatiku, maka kenapa tidak ada lain orang? Karena kau, aku jadi bersenandung hingga kini!” Ia mengambil syair dari Sie Keng, Kitab Syair, yang ia campur aduk.

Oey Yong tidak gusar, ia sebaliknya tertawa. “Aku tidak membutuhkan kau mengambil-ambil hatiku!” ia menanggapi. “Lebih baik tak perlulah kau memikirkan aku!”

Pikiran si anak muda bagaikan melayang, tak tahu ia harus membilang apa….

Ang Cit Kong lantas menegur; “Kau paman dan keponakan, kamu malang melintang di Barat, di sana tidak ada orang yang mengendalikan kamu, jikalau di Tionggoan kau masih hendak berbuat seperti di sana, kau janganlah mimpi di musim rontok! Dengan memandang pamanmu, aku tidak ingin berpandangan cupat seperti kau, maka lekaslah kau pergi!”

Auwyang Kongcu mendongkol bukan main, tetapi untuk melawan ia tidak ungkulan, cuma untuk berlalu begitu saja, ia tidak puas. Maka akhirnya ia berkata; “Di sini aku yang muda meminta diri. Umpama kata dalam beberapa tahun ini cianpwee tidak dapat sesuatu sakit keras dan juga tidak menemui bahaya apa-apa, aku undang cianpwee suka berkunjung ke Pek To San untuk berdiam beberapa hari di sana.”

Ang Cit Kong tertawa.

“Nyata kau telah menantang aku!” katanya. “Tapi aku si pengemis bangkotan tidak biasanya main janji-¬janji! Pamanmu tidak takut padaku, aku juga tidak takut pamanmu! Pada duapuluh tahun yang sudah, kita sudah mengadu kepandaian, kita adalah setengah kati sama dengan delapan tail, jadi tidak usahlah kita bertempur pula!” Tiba-tiba ia menambahkan, dengan membentak bengis; “Masih kau tidak hendak menyingkir jauh-jauh!”

Auwyang Kongcu terperanjat, hatinya pun berpikir; “Kepandaian pamanku belum separuhnya aku wariskan, orang tua ini rupanya tidak mendusta, aku mana sanggup menjadi tandingannya….” karenanya segera ia menjura, setelah melirik mendelik kepada Oey Yong, lantas ia mengundurkan diri masuk ke dalam rimba.

Ketiga pengangon ular itu sudah lantas mengasih dengar suaranya, bersiul secara aneh. Dengan itu mereka mengusir ular. Maka juga semua binatang berbisa itu membalik tubuhnya, mengesor kembali ke dalam hutan. Sebentar saja, bersihlah tempat itu dari semua binatang berbisa itu, tinggal tanahnya yang penuh lendir yang licin mengkilap.

“Cit Kong belum pernah aku melihat ular demikan banyak,” berkata Oey Yong. “Benarkah ular itu dipiara mereka?”

Cit kong tidak lantas menyahut, dia hanya membuka mulut cupu-cupunya untuk menenggak arak beberapa gelogokan, kemudian dengan tangan bajunya dia menyusuti peluh di dahinya. Ia pun menghela napas panjang. Baru setelah itu ia mengatakannya berulang-ulang: “Sungguh berbahaya! Sungguh berbahaya…!”

“Eh, Cit Kong, kenapakah?” tanya kedua pemuda-¬pemudi itu heran.

“Untuk sejenak aku dapat mengusir ular itu,” menyahut si pengemis kemudian: “Umpama kata tadi benar-benar semuanya menerjang, cara bagaimana ribuan binatang itu dapat ditangkis? Syukur bocah itu belum tahu apa-apa, mereka tidak mengetahui asal-usulku, mereka jadi kena kugertak. Coba si racun tua bangkotan itu ada di sini, oh, anak-¬anak, kamu bisa celaka….”

“Jikalau kami tidak sanggup melawan, kami kabur!” berkata si Oey Yong.

Cit Kong tertawa. “Aku si pengemis tua, aku tidak takut dia!” katanya. “Tetapi kamu berdua, meski kamu ingin menyingkir, kamu tidak bakal lolos dari tangannya si racun bangkotan itu….”

“Siapakah paman orang itu? Benarkah dia demikian lihay?” tanya Oey Yong.

“Kau sangka ia tidak lihay? Apakah aku belum pernah dengar disebut-sebutnya Tong Shia See Tok, Lam Tee pak Kay dan Tiong Sin Thong?”

Tentang nama-nama itu Oey Yong pernah mendengarnya dari omongan Khu Cie Kee denagn Ong Cie It, sekarang mendengar perkataan pengemis, hatinya girang.

“Aku tahu, aku tahu!” sahutnya. “Kau sendiri, lojinkee, adalah Pak Kay, dan kauwcu dari Coan Cin Kauw ialah Tiong Sin Thong.”

“Benar! Adakah ini ayahmu yang membilang? Ayahmu itu Tong Shia dan Auwyang Hong itulah See Tok! Orang yang nomor satu paling pandai di kolong langit ini yaitu Ong Cinjin itu sudah meninggal dunia, maka sekarang tinggal kita berempat yang kepandaiannya rata-rata setengah kati sama dengan delapan tail, hingga kita jadi saling memalui! Ayahmu lihay tidak? Aku sendiri si pengemis lihay tidak?”

Oey Yong mengasih dengar suara perlahan, agaknya ia berpikir.

“Ayahku orang baik-baik, mengapa dia dipanggil Tong Shia?” ia tanya kemudian.

Ang Cit Kong tertawa. “Dia seorang yang kukuh dan licin, dia dari kaum kiri, mustahilkah dia bukannya si sesat?” dia menyahut. “Bicara dari hal ilmu silat, Coan Cin Kuaw adalah yang sejati, terhadapnya aku si pengemis tua takluk benar-benar dari mulut ke hati.” Ia menoleh kepada Kwee Ceng, untuk menegaskan; “Kau telah belajar ilmu dari Coan Cin Kauw, bukankah?”

“Totiang Ma Goik telah mengajarkan teecu selama dua tahun,” sahut si anak muda hormat.

“Nah, itu dianya, kalau tidak, tidak nanti dalam tempo pendek satu bulan kau dapat mempelajari Hang Liong Sip-pat Ciang dariku.”

“Habis, siapakah itu Lam Tee?” tanya Oey Yong.

“Dialah satu hongya, seorang kaisar,” sahut Cit Kong.

Kwee Ceng dan Oey Yong heran. “Eh, seorang kaisar demikian lihay ilmu silatnya?” mereka menegasi.

“Memang ia seorang kaisar, tetapi dalam hal kepandaiannya, ayahmu dan aku jeri tiga bagian terhadapnya,” sahut si pengemis mengaku. “Api dari Selatan mengalahkan Emas dari Barat, maka dialah si penakluk dari si bisa bangkotan Auwyang Hong itu.”

Kedua muda-mudi ini kurang mengerti, tetapi mereka diam saja, sebab mereka lantas mendapatkan si pengemis menjublak, hingga mereka tidak berani menanya lebih jauh.

Cit Kong masih memandangi mega, agaknya ia berpikir keras, alisnya sampai dikerutkan. Nampaknya ia tengah menghadapi satu soal besar yang ia tak mendapatkan pemecahannya. Tanpa mengucapkan sepatah kata, ia berjalan pulang ke pondok. Mendadak saja terdengar suara memberebet, ternyata bajunya kena langgar paku di pintu dan sobek.

“Aih!” seru Oey Yong, yang mengikuti, tetapi si pengemis sendiri seperti tidak mengetahui hal itu. Maka si nona berkata, “Nanti aku tambalkan!” Lantas dia cari nyonya pemilik pondok, untuk pinjam benang dan jarum, terus ia jahiti baju sobek itu.

Cit Kong masih menjublak ketika ia lihat jarum di tangannya si nona, tiba-tiba saja dia rampas jarum itu, lantas dia membawa lari ke luar. Oey Yong dan Kwee Ceng heran, mereka lari mengikuti.

Sesampainya si luar, Cit kong mengebas tangannya yang memegang jarum itu, lalu terlihat satu sinar berkeredep. Nyata jarum itu telah dipakai menimpuk!

Oey Yong mengawasi jarum meluncur, lalu jatuh, nancap di tanah. Dan nancapnya dengan menikam seekor walang. Saking kagum, dia bersorak. Cit Kong mengeluarkan napas lega.

“Berhasil! Berhasil!” katanya. “Ya, beginilah….”

Oey Yong dan Kwee Ceng tercengang mengawasi pengemis itu.

Ang Cit Kong berkata; “Auwyang Hong si tua bangka beracun itu paling gemar memelihara ular dan ulat berbisa, semua binatang jahat itu dapat mendengarkan segala titahnya. Itulah usaha yang bukan gampang.” Ia berhenti sebentar, lalu ia menambahkan: “Aku rasa juga ini bocah she Auwyang bukannya makhluk yang baik, jikalau nanti ia bertemu pamannya, mungkin ia menghasut yang bukan-bukan, maka itu berbahayalah kalau kita bertemu pamannya, jadi aku si pengemis tua tidak dapat tidak mesti aku mempunyai suatu senjata untuk melawannya mengalahkan segala binatang berbisa itu!”

Oey Yong bertepuk tangan. “Jadi kau hendak menggunakan jarum untuk menikam nancap setiap ular berbisa itu di tanah!” katanya.

Ang Cit kong membuka lebar matanya terhadap si nona. “Ah, kau iblis cilik yang licin!” ujarnya. “Orang baru menyebut bagian atas, kau sudah lantas dapat mengetahui bagian bawahnya!”

“Bukankah kau telah mempunyakan obat yang lihay?” Oey Yong tanya, “Bukankah kapan obat itu dicampur arak, asal kau menyemburnya, ular berbisa itu tidak berani datang dekati padamu?”

“Daya itu cuma dapat dipakai sementara,” Ang Cit Kong memberi keterangan. “Sudah, kau jangan ngoceh saja, jangan mengganggu aku, hendak aku melatih diri dalam ilmu ‘Boan-thian hoa ie’. Aku hendak mendapatkan kepastian bagaimana kesudahannya ilmu itu kalau memakai jarum….”

“Kalau begitu, nanti aku menolong kau membeli jarum,” berkata si nona, yang terus lari keluar.

Ang Cit Kong menghela napas. Katanya seorang diri; “Sudah ada si tua bangkanya yang cerdik licin bagaikan iblis, sekarang ada gadisnya yang serupa cerdik licinnya!”

“Tidak lama, Oey Yong telah kembali dari pasar, dari keranjang sayurannya ia mengasih keluar dua bungkus besar jarum menjahit.

“Semua jarum di kota ini telah kau beli hingga habis!” kata dia sambil tertawa. “Maka besok semua orang laki-laki di sini bakal digeremberengi hingga mati oleh istrinya!” katanya kemudian.

“Bagaimana begitu?” Kwee Ceng tanya.

“Sebab mereka bakal dicaci tidak punya guna! Sebab kalau mereka pergi ke pasar, mereka tidak mampu membeli jarum!” sahut si nona. “Sebatang pun tidak ada!” kata si nona sambil tertawa.

Ang Cit Kong tertawa tergelak. “Dasar aku si pengemis tua yang cerdik!” katanya. “Aku tidak menghendaki istri, supaya aku tak usah disiksa perempuan! Nah, mari kita berlatih! Dua bocah, bukankah kau ingin aku si pengemis tua mengajarkan kau menggunakan senjata rahasia? Apakah kamu sanggup?”

Oey Yong tertawa, dia mengikuti di belakang pengemis itu.

“Cit Kong, aku tidak mau belajar!” kata Kwee Ceng sebaliknya.

Ang Cit Kong heran. “Kenapa, eh?” dia tanya.

“Lojinkee sudah mengajari aku banyak ilmu, dalam sesaat ini aku tidak sanggup mempelajarinya semua,” Kwee Ceng mengaku.

Ang Cit Kong melengak, tetapi sebentar saja, ia sudah mengerti. Ia tahu orang jujur dan tidak serakah banyak macam pelajaran, alasan saja dia membilang tidak sanggup belajar lebih jauh.

“Ah, anak ini baik hatinya,” ia memuji di dalam hati. Ia lantas tarik tangannya Oey Yong, “Mari kita saja yang berlatih.”

Kwee Ceng tidak mengikuti, ia hanya pergi ke belakang bukit, di mana seorang diri dia meyakinkan terus lima belas jurusnya, ilmu silat Hang Liong Sip-pat Ciang itu. Ia merasakan dapat kemajuan, hatinya girang bukan main.

Berselang sepuluh hari, selesai sudah Oey Yong mempelajari “Boan-thian Hoa Ie Teng Kim-ciam”, ialah ilmu menimpuk dengan jarum, dengan sekali mengayun tangan, ia dapat melepaskan belasan batang jarum, cuma ia belum dapat memisahkan semua itu ke setiap jalan darah yang ia arah.

Pada suatu hari habis berlatih, Cit Kong tidur menggeros di bawah sebuah pohon cemara. Oey Yong membiarkannya. Tahu, mereka segera bakal berpisah, ia lari ke pasar membeli beberapa rupa barang serta bumbunya. Ia ingin memasak beberapa rupa barang hidangan yang lezat untuk si pengemis. Di tengah jalan pulang, sambil menentengnya dengan tangan kiri, tangan kanannya saban-saban diayun, berlatih kosong dengan timpukannya.

Ketika hampir sampai di tempat penginapan, kupingnya mendengar kelenengan kuda yang nyaring. Ia lantas menoleh. Ia tampak seekor kuda dikasih lari mendatangi, malah penunggangnya lantas ia kenali, Bok Liam Cu, anak gadisnya Yo Tiat Sim. Ia berdiri diam, mengawasi dengan bengong, hatinya pepat. Ia tahu nona itu ada punya hubungan jodoh dengan Kwee Ceng. Ia memikir juga, “Apa baiknya wanita ini maka enam guru engko Ceng dan imam-imam dari Coan Cin Pay hendak memaksa engko Ceng menikah dengannya?” Memikir begini, dasar masih kekanak-kanakkan, ia menuruti hati panasnya. “Baik aku hajar ia untuk melampiaskan hatiku!” pikirnya pula.

Lantas ia bertindak memasuki penginapan. Ia lihat Bok Liam Cu duduk seorang diri di sebuah meja, romannya berduka sekali, seoarng pelayan sedang menanya dia hendak dahar apa. Dia memesan semangkok mie dan enam kati daging.

“Apa enaknya daging matang?” kata Oey Yong.

Liam Cu menoleh, ia tercengang. Ia kenal nona yang bersama Kwee Ceng naik seekor kuda di Pakhia. Ia lantas berbangkit.

“Oh, adik pun ada di sini?” katanya. “Silahkan duduk!”

“Mana itu semua imam?” tanya Oey Yong. “Mana si kate terokmok, si pelajar jorok? Kemana perginya mereka semua?”

“Aku sendiri saja,” menyahut Liam Cu. “Aku tidak bersama Khu Totiang beramai.”

Oey Yong jeri terhadap Khu Cie Kee beramai itu, maka mendengar jawaban si nona itu, hatinya girang, sembari tertawa ia mengawasi nona itu. Ia mendapatkan orang mengenakan pakaian berkabung, pada rambut di ujung kupingnya ada sekuntum bunga putih dari wol. Dia nampak lebih kurus, mengharukan, tetapi justru itu, wajahnya lebih menarik hati. Di pinggang si nona itu pun ada sebatang belati. Ia ingat: “Itulah pisau yang menjadi tanda perjodohannya dengan engko Ceng, pemberian ayah mereka masing-masing…” Maka ia berkata; “Enci, bolehkah aku pinjam melihat pisau belatimu itu?”

Itulah pisau Pauw Sek Yok keluarkan disaat dia hendak melepaskan napasnya yang terakhir, dengan dia dan suaminya telah meninggal dunia, pantaslah pisau itu telah jatuh di tangan Bok Liam Cu. Mulanya Bok Liam Cu tidak berniat mengasihkan, sebab ia dapatkan air muka Oey Yong luar biasa, tetapi karena Oey Yong mendekati perlahan-lahan seraya mengulurkan tangannya, ia tidak dapat menolak. Ia mengasigkan sekalian bersama sarungnya.

Oey Yong lihat ada ukiran nama Kwee Ceng pada pisau itu. Lantas ia berpikir, “Inilah barangnya engko Ceng, mana dapat diberikan padanya?” Ia mencabut pisau itu, sinarnya berkilat, hawanya dingin. “Sungguh pisau yang bagus!” pujinya. Ia masukkan pisau itu ke dalam sarungnya, terus ke dalam sakunya sendiri. “Akan aku kembalikan ini pada engko Ceng,” katanya.

“Apa?!” tanya Liam Cu tercengang.

“Disini terukir nama engko Ceng, pasti ini adalah pisaunya,” berkata Oey Yong. “Sebentar bertemu dengannya, hendak aku memulanginya.”

Liam Cu gusar. “Ini warisan satu-satunya dari ayah ibuku, mana dapat aku berikan padamu?!” katanya keras. “Lekas pulangkan padaku!” Ia pun segera bangkit.

“Kalau kau bisa, ambilah!” sahut Oey Yong, yang terus lari keluar. Ia tahu Cit Kong sedang tidur dan Kwee Ceng lagi di belakang bukit berlatih sendiri.

Liam Cu mengubar, hatinya cemas. Ia tahu, sekali dia menunggang kuda merahnya, nona itu bakal lolos.

Oey Yong lari berliku-liku, sampai di bawah sebuah pohon yang besar, ia berdiri diam. Ia lihat di sekitar situ tidak ada lain orang. Sembari tertawa, ia berkata: “Jikalau kau dapat mengalahkan aku, segera aku pulangi pisau ini!”

“Adik, jangan main-main,” kata Liam Cu sabar setelah ia menyandak. “Melihat pisau itu, aku seperti melihat ayah ibuku, kenapa kau hendak mengambilnya?”

“Siapa adikmu?!” bentak si nona Oey, terus ia menyerang.

Liam Cu kaget, ia berkelit, tetapi Oey Yong lihay, “Buk! Buk!” dua kali dia kena dihajar iganya. Dia menjadi gusar sekali, lantas ia membalas menyerang, hebat.

“Oey Yong tertawa, “Ilmu silat Po-giok-kun, apa anehnya!” katanya, mengejek.

Liam Cu heran, “Inilah tipu silat ajaran Ang Cit Kong, kenapa dia dapat tahu?” pikirnya. Ia menjadi lebih heran ketika nona itu menyerang pula, ia justru menggunakan ilmu silat yang sama. “Tahan!” ia berseru seraya lompat mundur. “Siapa yang ajari kau ilmu silatmu ini?”

“Aku yang menciptakan sendiri!” sahut Oey Yong, tertawa. “Inilah ilmu yang kasar, tidak ada keanehannya!” Perkataannya itu disusul sama dua serangannya, kembali jurus-jurus dari Po-giok-kun itu – Kepalan Memecahkan Kumala.

Liam Cu semakin heran. “Apakah kau mengenal Ang Cit Kong?” ia menanya, sambil menangkis.

“Dia sahabat kekalku, tentu saja aku kenal!” Oey Yong tertawa. “Kau gunakan ilmu silat pengajarannya, aku menggunakan ciptaanku sendiri, coba lihat, bisa tidak aku mengalahkan kau!”

Nona ini tertawa tetapi serangannya terus bertambah dahsyat. Tentu saja Liam Cu tidak sanggup menandingi. Sudah kepandaian warisan ayahnya sendiri, dia juga dapat didikan Ang Cit Kong. Sebentar saja nona Bok kena terhajar pundaknya, tempo ia terpukul juga pinggang kanannya, ia roboh seketika. Sudah begitu, Oey Yong menghunus pisau belatinya, ia bulang-balingkan itu di muka orang, saban-saban hampir mengenakan kulit wajahnya.

Liam Cu menutup matanya, ia tidak merasakan luka, cuma angin dingin meniup kulit mukanya itu. Satu kali ia membuka matanya, ia lihat pisau berkelebat, cuma berkelebat saja. Ia menjadi mendongkol. “Mau bunuh, bunuhlah, buat apa kau menggertak pula!” ia membentak.

“Kita tidak bermusuhan, buat apa aku membunuh kau?” kata Oey Yong tertawa. “Kau dengar aku, kau mengangkat sumpah, lantas aku akan memerdekakanmu!”

Liam Cu beradat keras, ia tidak sudi menyerah.

“Kalau kau berani, kau bunuhlah!” ia menantang. “Untuk kau minta sesuatu dari aku, bermimpi pun jangan kau harap!”

Oey Yong menghela napas, tetapi ia berkata dengan nyaring, “Nona begini elok, mati muda, sungguh kecewa.”

Liam Cu meramkan mata dan menulikan kupingnya, dia berdiam saja.

Hening sejenak, lalu ia mendengar nona itu berkata: “Engko Ceng baik denganku, biar dia menikah denganmu, tidak nanti ia mencintainya…”

Ia menjadi heran, segera ia membuka matanya. “Apa kau bilang?” ia menanya.

“Kau tidak mau mengangkat sumpah, tidak apa,” kata Oey Yong, tanpa menjawab. “Biar bagaimana, dia tidak bakal menikah padamu, inilah aku tahu pasti!”

“Sebenarnya siapa yang baik padamu?” tanya Liam Cu semakin heran. “Kau bilang aku hendak menikah dengan siapa?”

“Dengan engko Ceng – Kwee Ceng!” Oey Yong jelaskan.

“Oh, dia!” kata Liam Cu. “Bilanglah, kau menghendaki aku bersumpah apa?”

“Aku ingin kau bersumpah dengan berat, biar bagaimana, kau tidak bakal menikah dengan engko Ceng!” sahut Oey Yong.

Akhirnya Liam Cu tertawa. “Biarpun kau ancam aku dengan goloku di leher, aku tidak akan menikah dengan dia!” katanya.

Oey Yong girang mendadak. “Benar?” tanyanya. “Kenapa begitu?”

“Benar ayah angkatku telah memberikan pesannya yang terakhir, aku telah dijodohkan dengannya, sebenarnya,” sahut Liam Cu, yang lalu meneruskan dengan perlahan sekali; “Sebenarnya ayah angkatku itu pelupaan, dia lupa aku telah dijodohkan kepada orang lain…”

Oey Yong menjadi girang sekali. “Oh, maaf!” katanya. “Aku telah menyangka keliru terhadapmu….”

Ia lantas menotok nona itu, membebaskan dari totokannya tadi, terus ia menguruti tangan dan kakinya. Sembari berbuat begitu, ia menegaskan: “Enci, kau telah berjodoh dengan siapa?”

Muka Liam Cu menjadi merah. “Orang itu pernah kau melihatnya,” sahutnya.

Oey Yong berpikir. “Orang mana yang pernah aku lihat?” ia tanya. “Mana ada lain pemuda yang sembabat untuk dipasangi denganmu, enci?”

Mau tidak mau, nona Bok itu tertawa. “Apakah di kolong langit ini cuma ada satu engko Cengmu yang paling baik?” dia membalas menanya.

Oey Yong tertawa. “Enci,” katanya, “Kau tidak sudi menikah dengannya, apakah karena kau menganggap dia terlalu tolol?”

“Siapa yang bilang engko Kwee itu tolol?” Liam Cu membaiki. “Yang benar dia sangat polos dan wajar, bahkan hatinya yang mulia aku sangat mengaguminya.”

Oey Yong heran. “Habis kenapa kau tidak sudi menikah dengannya walaupun kau diancam dengan golok di leher?” tanyanya pula.

Melihat orang pun polos, Liam Cu mencekal tangannya erat-erat. “Adikku,” katanya, “Di dalam hatimu sudah ada engko Kwee itu, umpama kata dilain waktu kau bertemu lain orang yang berlaksa kali lipat menangkan dia, kau tidak akan mencintai lain orang, bukankah?”

Oey Yong mengangguk, “Sudah pasti,” sahutnya. “Cuma tidak ada orang yang melebihkan dia!”

Liam Cu tertawa. “Kalau engko Kwee itu mendengar pujianmu ini, entah berapa besar kegirangannya,” katanya. “Kau tahu, hari itu saat ayah angkatku mengajak ke Pakhia, di mana kita pibu, di sana telah ada orang yang mengalahkan aku…”

Oey Yong lantas saja sadar. “Oh, aku tahu sekarang!” serunya. “Orang yang kau buat pikiran itu adalah si pangeran muda Wanyen Kang!”

“Dia boleh menjadi pangeran, dia boleh menjadi pengemis, di hatiku cuma ada dia seorang,” Liam Cu mengaku. “Dia boleh menjadi orang baik, dia boleh menjadi orang jahat, di dalam hatiku tetap ada dia seorang!” Perlahan suara nona Bok, tetapi tetap nadanya.

Oey Yong mengangguk, ia membalas mencekal erat tangan orang. Mereka berdua berendeng di bawah pohon itu, hati mereka bersatu padu.

Cuma sebentar Oey Yong berpikir, ia pulangi piasu orang. “Ini aku kembalikan,” katanya.

Liam Cu sebaliknya menolak. Katanya, “Ini kepunyaan engko Cengmu itu, ini harus menjadi kepunyaanmu.”

Bukan kepalang girangnya Oey Yong. Ia simpan pula pisau itu.

“Enci, kau baik sekali!” katanya, bersyukur. Ia lantas berniat memberikan sesuatu tetapi ia tidak ingat punya barang yang berharga untuk tanda mata. Maka ia menanya: “Enci, kau datang ke Selatan ini seorang diri untuk urusan apakah? Maukah kau menerima bantuan adikmu ini?”

Mukanya Liam Cu bersemu merah. “Tidak ada urusan yang penting,” sahutnya.

“Kalau begitu, mari aku mengajak kau menemui Ang Cit Kong,” kata Oey Yong.

Liam Cu menjadi sangat girang. “Cit Kong ada disini?” tanyanya cepat.

Oey Yong mengangguk, lantas ia lompat bangun seraya menarik tangan orang.

Justru itu di atas pohon terdengar suara berkeresek, lalu terjatuh selembar kulit kayu, disusul berkelebat bayangan seorang, yang berlompatan di atas pohon-pohon di dekat situ, lantas lenyap. Dengan heran Oey Yong jumput babakan pohon itu, di situ ia lihat sebaris huruf bertuliskan jarum, bunyinya, “Dua nona yang baik sekali! Yong-jie, apabila kau main gila pula, Cit Kong ingin menggaplokmu beberapa kali!” Di bawah itu tidak ada tanda tangannya, cuma gambaran sebuah cupu-cupu. Tahulah ia, itu perbuatannya Ang Cit Kong, maka tahu juga ia, segala sepak terjangnya sudah ketahuan si kepala pengemis itu. ia jengah sendiri. Tapi ia ajak Liam Cu ke rimba, di sana ia tak tampak Cit Kong. terpaksa mereka balik ke pondokan.

Kwee Ceng sudah kembali dari belakang bukit, heran ia melihat Oey Yong bergandengan tangan bersama Liam Cu.

“Enci Bok, apakah kau melihat guruku beramai?” ia tanya.

“Aku telah berpisah dari gurumu itu,” menjawab Liam Cu. “Mereka telah berjanji untuk bertemu pula di Yan Ie Lauw di Kee-hin pada Pee Gwee Tiong Ciu.”

“Baik-baikkah mereka semua?” tanyannya.

“Jangan kuatir, Kwee Sieheng,” sahut Liam Cu tersenyum. “Mereka semua tidak mendongkol karena perbuatanmu itu.”

Tidak lega hatinya Kwee Ceng, yang menyangka gurunya semua pasti gusar sekali. Karena ini ia menjadi tidak bernapsu dahar dan minum, ia duduk berdiam saja.

Liam Cu sebaliknya menanya Oey Yong cara bagaimana mereka bertemu dengan Ang Cit Kong. Oey Yong memberikan keterangan dengan jelas.

“Kau sangat beruntung, adikku,” kata Liam Cu, seraya menghela napas. “Kau dapat berkumpul begitu lama bersama dia, sedang aku sendiri, bertemu pun susah.”

“Tapi diam-diam ia melindungimu, Enci,” Oey Yong menghibur. “Kalau tadi aku benar-benar mencelakai kau, dia tentu bakal turun tangan menolongmu.”

Liam Cu mengangguk, ia membenarkan.

Kwee Ceng mendengar pembicaraan orang, ia heran. “Yong-jie, bagaimana?” tanya. “Kenapa kau hendak mencelakai enci Bok?”

Oey Yong menoleh sambil tersenyum. “Tidak dapat aku menerangkan kepadamu,” sahutnya.

“Dia takut…dia takut….” kata Liam Cu tertawa. Ia pun likat, ia tidak berani bicara terus.

Oey Yong mengitik, “Kau berani menceritakan atau tidak?” katanya.

Liam Cu mengulurkan lidahnya. “Mana aku berani?” sahutnya. “Maukah aku bersumpah?”

“Cis!” Oey Yong berludah. Tapi mukanya kembali menjadi merah. Ia malu sendiri ketika ingat tadi sudah memaksa nona itu bersumpah untuk dinikahi Kwee Ceng.

Kwee Ceng tidak tahu hati orang tapi ia senang melihat mereka rukun sekali.

Habis bersantap bertiga mereka pergi ke rimba berjalan-jalan. Di sini Oey Yong tanya bagaimana caranya Liam Cu bertemu dengan Ang Cit Kong hingga ia diajarkan silat.

“Waktu itu aku masih kecil,” menyahut Liam Cu bercerita. “Pada suatu hari ayah ajak aku pergi ke Pian-liang, di sana kita ambil tempat di penginapan. Itu hari aku keluar untuk main-main di depan pintu, aku lihat dua orang pengemis rebah di tanah, tubuh mereka berlumuran darah bekas bacokan, tidak ada orang yang memperdulikan, rupanya mereka jijik atau jeri….”

“Aku mengerti,” memotong Oey Yong, “Kau tentu baik hati, kau rawat mereka.”

“Aku tidak bisa mengobati mereka tetapi karena kasihan, aku pepayang mereka ke kamar ayah, aku cuci lukanya dan membalutnya,” Liam Cu melanjutkan. “Ketika ayah pulang dan aku tuturkan apa yang aku lakukan, ayah menghela napas dan memujiku. Ia pun kata, dulu juga istrinya murah hati seperti aku. Kemudian ayah memberikan beberapa tail perak kepada kedua pengemis itu, untuk membeli obat. Mereka menerima seraya mengucap terima kasih dan lantas pergi. Selang beberapa bulan, kami tiba di Sin-yang. Kebetulan sekali, aku bertemu kedua pengemis itu, waktu itu luka mereka sudah sembuh. Mereka mengajak aku ke sebuah kuil rusak, di sana aku bertemu sama Ang Cit Kong. Dia memujiku, lantas ia mengajari ilmu silat Po-giok-kun itu. Baru tiga hari, aku sudah dapat memahami. Dihari keempat, aku pergi ke kuil tua itu, ternyata lojinkee sudah pergi, dan selanjutnya aku tidak pernah bertemu lagi dengannya.”

Oey Yong ketarik hatinya. “Cit Kong telah mengajarkan banyak padaku, Enci,” ia berkata. “Kalau kau suka, aku nanti turunkan beberapa di antaranya padamu. Mari kita berdiam di sini untuk belasan hari. Umpama kata Cit Kong ketahui perbuatanku, tidak nanti ia gusar.”

“Terima kasih adik,” kata Liam Cu. “Sekarang ini aku ada punya urusan sangat penting, tidak ada tempo luangku. Nanti saja, biarnya kau tidak mengajari, aku sendiri yang akan minta padamu.”

Sabar dan lembut kelihatannya Liam Cu dari luar, tetapi sekali ia berkata, ia membuatnya orang bungkam. Begitulah Oey Yong, tadinya ia ingin menanya keterangan, lalu ia batal sendirinya.

Pagi itu Liam Cu pergi seorang diri, ia pulang di waktu sore, romannya gembira. Oey Yong lihat itu, ia pura-pura pilon.

Malam itu berdua mereka tidur dalam satu kamar. Oey Yong naik lebih dulu ke atas pembaringannya. Diam-diam mencuri lihat orang duduk menghadapai lampu seraya menunjang dagu, seperti lagi berpikir keras. Ia menutup matanya rapat-rapat, untuk berpura-¬pura pulas.

Berselang beberapa saat, Liam Cu mengeluarkan serupa barang dari buntalannya, dengan lembut barang itu di ciumi berulang-ulang, dibuatnya main di tangannya, dipandangi lama. Samar-samar Oey Yong melihat seperti sepotong sapu tangan sulam.

Tiba-tiba Liam berbalik, tangannya mengebaskan barang di tangannya itu.

Oey Yong kaget, lekas-lekas ia meram. Ketika ia mendengar siuran angin perlahan-lahan, ia membuka matanya sedikit, mengintai. Ia dapatkan Liam Cu jalan mundar-mandir di depan pembaringan, lengannya dilibatkan barang yang tadinya dia buat main itu. Nyatalah itu adalah juwiran jubahnya Wanyen Kang, yang didapat pada harian mereka pibu. Nona Bok tersenyum, rupanya dia membayangkan kejadian di hari itu dan hatinya berbunga, begitulah satu kali ia menendang, lain kali kepalanya melayang, alisnya bergerak-gerak.

Oey Yong terus berpura pulas tapi setiap waktu ia mengintai. Ia lihat orang datang dekat sekali padanya dan menatap mukanya. Ia mendengar orang menghela napas dan berkata dengan perlahan: “Kau cantik sekali….” Mendadak nona itu membalikkan tubuh, ia pergi ke pintu dan membukanya, dilain saat ia sudah berada di luar, melompati tembok pekarangan dan pergi…..”

Oey Yong heran bukan main. Ia lompat turun, lantas ia keluar, menyusul. Ia lihat orang lari ke arah Barat. Ia menguntit. Tentu saja ia berhasil, karena ia dapat berlari dengan cepat. Ia hanya menjaga agar tidak diketahui nona she Bok itu.

Liam Cu pergi ke pasar, menaiki sebuah rumah, sesudah melihat keempat penjuru, dia pergi ke Selatan dimana ada sebuah lauwteng paling tinggi. Setiap hari Oey Yong pergi berbelanja ke pasar, ia tahu itulah rumah keluarga Chio, hartawan terbesar di tempat itu. Ia menjadi heran dan menduga-duga apa mungkin Liam Cu membutuhkan uang.

Sebentar saja keduanya sudah sampai di samping rumah keluarga Chio itu. Dari situ terlihat di depan rumah ada sinar terang dari dua buah lentera besar, yang bertuliskan huruf-huruf air emas: “Utusan Negara Kim”. Di bawah itu, di muka pintu, ada berjaga-jaga empat serdadu Kim dengan tangannya mencekal golok.

Liam Cu pergi ke belakang dimana keadaan sunyi, tapi ia masih mencoba menimpuk dengan batu, mencari tahu di situ ada orang yang jaga atau tidak. Setelah itu ia lompati tembok masuk ke pekarangan dalam. Ia jalan di antara pohon-pohon bunga, di gunung palsu.

Oey Yong terus menguntit.

Liam Cu pergi ke jendela sebuah kamar timur, di situ di kertas jendela terlihat bayangan seorang lelaki, yang tengah berjalan mondar-mandir. Si nona menjublak mengawasi bayangan orang itu.

Oey Yong menduga, tapi tidak sabaran.

“Baik aku masuk dari lain sebelah, aku totok roboh orang itu, supaya ia kaget,” pikirnya. Ia anggap nona Bok terlalu ragu-ragu. Disaat ia hendak membuka jendela, untuk lompat masuk, ia dengar pintu dibuka, lalu seorang bertindak masuk. Orang itu memberi kabar bahwa menurut warta, utusan raja yang bakal menyambut yaitu Toan Ciangkun yang berpangkat komandan tentara, akan tiba lusa.

Orang di dalam itu menyahut, lalu si pembawa kabar mengundurkan diri pula.

“Terang ini adalah utusan negara Kim, kalau beitu enci Bok punya maksud lain,” Oey Yong berpikir, “Aku tidak boleh sembrono.” Ia lantas membasahkan kertas jendela, buat membikin sebuah lobang kecil, untuk mengintai ke dalam. Ia heran berbareng gembira. Orang di dalam kamar itu adalah si pangeran muda Wanyen Kang, tangannya memegang serupa benda hitam yang tengah dibuat main sembari ia jalan mundar-mandir, matanya mengawasi wuwungan, entah apa yang dipikirkannya. Ketika pangeran itu mendekati api, Oey Yong melihat tegas barang itu adalah kepala tombak yang sudah karatan, masih ada sisa sedikit gagangnya.

Nona Oey ini tidak tahu tombak itu adalah tombak warisan Yo Tiat Sim, ayahnya si pangeran, ia hanya menduga, Liam Cu tentu ada hubungannya dengan itu. Ia tertawa di dalam hatinya dan berpikir: “Kamu lucu! Yang satu membuat main juwiran jubah, yang lain membuat main ujung tombak! Kamu berada begini dekat satu sama lain, kenapa kamu bagaikan terpisah antara ujung dunia?”. Tanpa merasa, ia tertawa.

Wanyen Kang dapat dengar suara itu, ia terperanjat. “Siapa?!” ia menanya seraya mengebas mati api lilin.

Oey Yong tidak menyahut, hanya ia melompat kepada Liam Cu, sebelum nona Bok mendusin, ia sudah ditotok hingga tidak dapat bergerak lagi. Baru setelah itu sembari tertawa ia berkata: “Enci, jangan khawatir, jangan sibuk! Nanti aku antarkan kau kepada kekasihmu!”

Wanyen Kang telah membuka pintu untuk keluar ketika ia mendengar suara tertawa satu nona sambil terus berkata: “Inilah kekasihmu datang, lekas menyambut dia!” Ia terkejut, tapi ia mesati menantang kedua tangannya, karena ada tubuh yang ditolak kepadanya, hingga ia mesti memeluk orang itu juga. Itulah tubuh yang lemas. Si nona tadi lompat ke tembok, sembari tertawa, dia berkata pula: “Enci, bagaimana nanti kau membalas budiku?” Sesaat kemudian, suara itu lenyap, lenyap bersama orangnya.

Disaat itu juga, tubuh yang lemah itu bergerak, jatuh ke lantai.

Wanyen Kang heran, ia kaget hingga ia mundur. Ia khawatir sudah melukai orang.

Apakah kau masih ingat aku?” ia dapat jawaban, yang perlahan sekali.

Ia kenal suara itu, ia terperanjat. “Kau?” katanya. “Oh!”

“Memang aku,” sahut Liam Cu.

“Apakah ada orang lain bersamamu?” tanya sang pangeran lagi.

“Yang tadi itu adalah sahabatku yang nakal dan jahil, dia menguntit aku di luar tahuku.” jawab sang nona.

Wanyen Kang masuk ke dalam, ia menyalakan api. “Nona mari masuk!” ia mengundang.

Liam Cu bertindak masuk sambil bertunduk, terus ia duduk di sebuah kursi. Ia tunduk terus dan membungkam, cuma hatinya berdebaran.

Wanyen Kang mengawasi orang yang agaknya kaget dan girang, mukanya sebentar pias sebentar merah. Itulah kelikatannya seorang nona. tentu saja hatinya pun memukul.

“Ada apa malam-malam kau datang mencariku?” ia menanya akhirnya. Liam Cu tidak menyahut.

Wanyen Kang ingat kematian hebat dari ayah dan ibunya, tanpa merasa ia menjadi mengasihani nona ini.

“Adik,” katanya kemudian, “Karena ayahmu telah menutup mata, selanjutnya kau baik tinggal bersamaku. Nanti kuanggap kau sebagai adik kandungku.”

“Aku adalah anak angkat ayah, bukan anak kandung…” kata Liam Cu. Wanyen Kang sadar. “Dia bicara terhadapku,” pikirnya. “Diantara kita jadinya tidak ada hubungan darah….” Ia ulur tangannya, mencekal tangan kanan si nona. Ia tersenyum.

Liam Cu merah mukanya, ia berontak perlahan tetapi tangannya tak terlepaskan. Ia tunduk , ia membiarkan tangannya itu terus dipegang. Hati Wanyen Kang berdebaran. Ia ulur tangan kirinya, dan merangkul leher si nona.

“Inilah untuk ketiga kalinya aku memeluk kau,” ia berbisik di kuping orang. “Yang pertama di gelanggang pibu, yang kedua kali di luar kamar. Adalah kali ini kita ada bersama tanpa orang ketiga….”

Liam Cu mengasih dengar suara perlahan, hatinya berdebar bukan main. “Kenapa kau mencariku?” ia mendengar pula si pangeran bertanya.

“Semenjak dari kota raja aku mengikuti kau,” menyahut si nona. “Setaip malam aku mengawasi tubuhmu dari antara jendela, aku tidak berani…” “Aku tidak mempunyai ayah dan ibu lagi, jangan kau sia-¬siakan aku…” kata pula Liam Cu kemudian, suaranya sangat perlahan.

Pangeran itu mengusap-usap rambut orang yang bagus.

“Kau jangan khawatir,” katanya. “Untuk selama-¬lamanya aku adalah kepunyaanmu dan kau pun untuk selama-lamanya kepunyaanku. Tidakkah itu bagus?”

Liam Cu puas sekali, ia mendongak menatap wajah pemuda itu. Ia mengangguk.

“Pasti aku akan nikahi kau,” katanya. “Kalau di belakang hari aku mensia-siakan kau, biar aku terbinasa di antara bacokan-bacokan golok, biar aku mati tidak utuh!” bersumpah sang pemuda.

Liam Cu menangis saking terharu. “Meski aku adalah seorang nona kangouw, aku bukannya satu manusia rendah,” ia berkata. “Jikalau kau benar mencintai aku, kau juga mesti menghargainya. Seumurku, aku tidak berpikiran lain, meskipun leherku ditandalkan golok, pasti aku akan mengikuti kau.” Perlahan suara si nona tetapi tetap.

Mau tidak mau, Wanyen Kang jadi menaruh hormat. “Adikku, kau baik sekali,” ia berkata.

Terbuka hati Liam Cu, ia tertawa. Ia kata: Aku akan menantikan kau di rumah ayah angkatku di Gu-kee¬cun di Liam-an, sembarang waktu kau boleh kirim orang perantaranmu melamar diriku….” Ia berhenti sebentar, baru ia meneruskan: “Selama kau tidak datang, seumurku aku akan menantikan kau!”

“Jangan sangsi, adikku,” kata Wanyen Kang. “Setelah selesai tugasku, nanti menyambutmu untuk kita menikah.”

Liam Cu tertawa, ia memutar tubuhnya, bertindak keluar.

“Jangan lantas pergi, adikku!” Wanyen Kang memanggil. “Mari kita beromong-omong dulu….”

Nona itu berpaling tetapi tindakannya tak dihentikan.

Wanyen Kang mengantar dengan matanya sampai orang melompati tembok, ia berdiri menjublak, kemudian barulah ia balik ke kamarnya. Ia lihat tombaknya dimana masih ada air mata si nona. Ia merasakan dirinya sedang bermimpi.

Oey Yong pulang ke pondokannya terus tidur. Ia puas karena ia merasa sudah melakukan sesuatu perbuatan yang baik. Begitulah, ia tidur dengan nyenyak. Ketika besok paginya ia mendusin, ia tuturkan pada Kwee Ceng apa yang ia lakukan itu. Si anak muda pun senang. Keduanya lantas sarapan, terus mereka memasang omong. Tunggu punya tunggu, sampai bersantap tengah hari, Liam Cu masih belum kembali.

“Baiklah kita tidak usah menantikan dia, kita berangkat sekarang!” Oey Yong mengajak akhirnya.

Kwee Ceng setuju.

Mereka pergi ke pasar, untuk membeli seekor keledai, di waktu mereka mulai berangkat, sengaja mereka memutar ke rumah keluarga Chio, di sana sudah tidak ada lagi lentara tanda dari peruntusan negara Kim. Rupanya Wanyen Kang sudah berangkat. Hal ini melegakan hati kedua anak muda itu.

Dalam perjalanan ini, Oey Yong menyamar sebagai seorang pemuda, senang ia berpesiar. Mengikuti saluran sungai Oen Ho, mereka menuju ke Selatan. Kuda mereka kuat jalannya, keledai yang mereka beli pun cukup tangguh, dengan begitu, walaupun tidak terburu-buru, mereka juga dapat berjalan lekas.

Pada suatu hari mereka tiba di Gie-hin, suatu tempat pembuatan barang tembikar yang kesohor, di situ mereka menyaksikan aneka warna barang-barang itu. Inilah pemandangan yang lain dengan pemandangan di lain-lain tempat.

Jalan lebih jauh ke Timur, tak lama tibalah mereka di telaga Thay Ouw, pusat tumpahnya air dari tiga kota Timur dan Selatan. Luasnya telaga sekitar lima ratus lie, maka itu dinamakan Ngo Ouw atau Danau Lima.

Hati Kwee Ceng tertarik. Belum pernah ia melihat air seluas itu. Ia berdiri berendeng bersama Oey Yong di tepian, tangan mereka berpegangan satu pada lain. Tanpa merasa ia berseru kegirangan.

“Mari kita main-main di air,” Oey Yong mengajak.

Pemuda itu setuju, mereka hampiri perkampungan nelayan, di sebuah rumah mereka menitipkan kuda dan keledai, lalu mereka meminjam sebuah perahu kecil, hingga di lain saat mereka sudah mengayuh di permukaan air, meluncurkan perahu itu, meninggalkan tepian. Dari perahu, mereka sekarang dapat melihat sekitarnya, yang agaknya jadi terlebih luas lagi.

Rambut dan baju Oey Yong dipermainkan angin keras. Ia gembira sekali, sambil tertawa ia berkata: “Dulu hari Hoan Tayhu telah menaiki perahu bersama¬ See Sie pesiar di Danau Lima ini, dia sungguh cerdik sekali. Mati tua disini bukankah ada lebih menang daripada seumur tahun repot sebagai pembesar negeri?”

Kwee Ceng tidak tahu riwayatnya Hoan Tayhu itu. “Yong-jie, coba kau tuturkan tentang Hoan Tayhu dan See Sie itu,” ia minta.

Oey Yong suka memberikan keterangan. Maka ia menutur tentang Hoan Tayhu atau Menteri Hoan itu yang bernama Lee, yang pandai, hingga ia berhasil membantu Raja Wat menuntut balas membangun negara, tetapi sesuadah berhasil, ia kenal batas, dia mengundurkan diri bersama-sama See Sie, hidup dalam kesunyian dan ketenangan di telaga Thay Ouw ini. Pandai ia menutur hingga pemudanya menjadi kesemsem saking tertarik harinya.

“Benar-benar Hoan Lee itu cerdik,” kata si pemuda kemudian, “Tidaklah demikian dengan Ngouw Cu Sih dan Bun Ciong, sampai hari ajalnya mereka masih bekerja setia untuk negara. Sukar dicari orang-orang seperti mereka itu.”

“Memang!” berkata si nona. “Ini dia yang disebut, ‘Negara adil, tak berubah, itulah kegagahan, negara buruk, sampai mati tak berubah, itulah kegagahan.’”

Kwee Ceng tidak mengerti, “Apakah artinya itu?” ia menanya.

“Itu artinya, di dalam negeri bijaksana, kau menjadi pembesar negeri, kau tetap tidak berubah kejujuranmu semenjak bermula, di dalam negara buruk, kau berkorban jiwa raga, kau tetap tidak merusak kehormatan dirimu, itu pun satu laki-laki sejati.”

Kwee Ceng mengangguk. “Yong-jie, cara bagaimana maka kau dapat memikir demikian?” ia bertanya pula.

“Aha!” Oey Yong tertawa. “Kalau aku yang dapat memikir begitu, bukankah aku telah berubah menjadi nabi? Itulah ujar-ujarnya Nabi Khong Hu-cu, diwaktu aku masih kecil, ayah paksa aku membacanya.”

“Sungguh banyak aku tidak mengerti,” Kwee Ceng menghela napas. “Coba aku bersekolah, pastilah aku ketahui itu semua.”

“Sebaliknya aku menyesal telah belajar surat,” berkata Oey Yong. “Coba ayah tidak memaksa aku bersekolah, melukis, menabuh khim, hanya aku dibiarkan meyakinkan ilmu silat, pasti kita tak usah takut Bwee Tiauw Hong dan si siluman bangkotan she Nio itu!”

Asyik mereka pasang omong tanpa merasa perahu mereka sudah meninggalkan tepian belasan lie. Di dekat mereka, melihat sebuah perahu kecil dimana seorang nelayan bercokol di kepala perahunya sedang mengail ikan sambil kepalanya ditundukkan, hingga dia nampak seperti lukisan gambar saja. Mereka bicara terus, ketika mereka berpaling kepada si nelayan, dia tetap duduk tak bergerak.

“Sungguh dia sabar dan ulet sekali!” kata Oey Yong tertawa. Kemudian di antara desiran angin dia bernyanyi, dari gembira menjadi sedih. Sebab ia menyanyikan “Syair Naga Air”. Ia bernyanyi baru separuh, tiba-tiba terdengar sambutan yang serupa, yang kemudian ternyata adalah suara si tukang pancing ikan itu.

Oey Yong terbengong.

“Eh, kau kenapakah?” tanya Kwee Ceng heran.

“Itu nyanyian yang sering dinyanyikan ayahku,” menyahut si nona. “Aku heran seorang tukang pancing di sini pun dapat menyanyikan itu dan suaranya pun bersemangat tetapi pun bernada duka. Mari kita lihat.”

Mereka mengayuh, menghampiri tukang pancing itu, siapa justru telah berhenti memancing dan menyimpan pancingnya serta ia mengayuh perahunya pergi.

Ketika kendaraan air mereka berpisah beberapa tombak lagi, tukang pancing itu terdengar berkata: “Di tengah telaga bertemu sama sepasang tetamu mulia, aku girang sekali! Sudikah kalau aku mengundang kalian bersama minum arak?”

“Cuma kami khawatir mengganggu lotiang,” Oey Yong menyahut. Ia heran untuk kata-kata rapi dari si tukang pancing itu.

“Tidak sama sekali, malah aku bergirang. Silahkan!” dia itu mengundang pula.

Dengan beberapa kali mengayuh pula, Oey Yong merapatkan perahunya kepada perahu si nelayan, bersama Kwee Ceng ia pindah perahu, habis menambat perahunya sendiri kepada perahu orang, mereka memberi hormat. Nelayan itu membalas sambil duduk terus.

“Maaf, jiwi, kakiku sakit, tidak dapat aku bangun berdiri.” katanya.

“Jangan merendah, lotiang,” berkata muda-mudi itu.

Mereka mendapatkan orang berusia empatpuluh lebih, mukanya kurus, mirip orang yang lagi menderita sakit berat, tubuhnya jangkung, meski duduk, ia jauh lebih tinggi dari Kwee Ceng. Ia tidak sendirian. Di buntut perahu ada satu kacung lagi mengipasi perapian, dimana ia tengah memanasi arak.

Oey Yong perkenalkan she mereka, bahwa saking gembira mereka bermain perahu. Ia memohon maaf yang mereka sudah mengganggu ketentraman si nelayan.

“Kau merendah,” kata si nelayan tertawa. “Aku she Liok. Apa jiwi berdua baru pertama kali ini pesiar di telaga ini?”

“Benar,” sahut Kwee Ceng.

Kedua pemuda ini – sebab Oey Yong menyamar – lantas diundang minum dan dahar sayur mayur yang terdiri dari empat rupa. Mereka mengucap terima kasih, mereka minum dan dahar bersama. Nyata araknya wangi dan sayurnya pun lezat, mesti itu masakan orang hartawan.

“Siauwko, kau muda sekali, tapi pandai kau menyanyikan syair Naga Air itu,” si orang she Liok itu memuji.

“Lotiang pun sama juga,” Oey Yong membalasi.

Keduanya lantas bicara hal syair itu, dua-duanya gembira. Kwee Ceng tidak mengerti hal syair, ia membungkam, cuma kagum.

Ketika itu terlihat mega berkumpul. Si orang she Liok itu mengundang kedua tetamunya berkunjung ke rumahnya, untuk berdiam beberapa hari. Ia kata rumahnya itu di tepi telaga.

“Bagaimana, engko Ceng?” Oey Yong tanya kawannya.

Belum lagi Kwee Ceng menyahut, si orang she Liok itu sudah berkata pula bahwa rumahnya dekat dan di sana ada puncak yang indah. “Jiwi tengah pesiar, maka itu, jangan kau menampik,” ia mendesak.

“Kalau begitu, Yong-jie, mari kita membikin berabe tuan Liok!” akhirnya Kwee Ceng menjawab kekasihnya. Ia pun mengucapkan terima kasih.

Si orang she Liok itu girang, ia terus menyuruh kacungnya mengayuh. Sampai di tepian, langit mulai gelap, Kwee Ceng kata ia hendak membayar pulang dulu perahunya, sedang di rumah si tukang perahu ada kuda dan keledainya, hendak binatang itu dititipkan terus.

“Tidak usah,” kata si orang she Liok mencegah. “Disini semua kenal aku, hal itu biar dia saja yang mengurusinya.” Dia menunjuk kacungnya.

“Kudaku nakal,” kata Kwee Ceng.

“Kalau begitu baiklah, nanti aku menanti di gubukku,” kata si orang she Liok itu. Dia tertawa, lantas dia mengayuh perahunya, lenyap di antara pohon-pohon yangliu. Tapi kacungnya ikut Kwee Ceng dan Oey Yong memulangi perahu dan mengambil kuda serta keledai mereka. Kemudian mereka mesti berjalan berliku-liku sampai di rumah si orang she Liok, yang merupakan suatu rumah besar dengan pekarangan yang lebar luas. Untuk tiba di muka pekarangan, mereka mesti melintasi dulu sebuah jembatan tunggu. Muda mudi itu saling mengawasi, kagum karena rumah orang itu.

Di muka pintu, kedua tetamu ini disambut seorang muda umur duapuluh lebih yang membawa empat budak. Ia kata diutus ayahnya untuk menyambut. Kwee Ceng membalas hormat, mengucap terima kasih. Ia melihat pemuda itu mengenakan jubah panjang, wajahnya mirip ayahnya, cuma tubuhnya besar dan kekar. Ia lantas minta belajar kenal.

Pemuda itu menyebutkan namanya, Koan Eng.

Sembari berbicara mereka bertindak masuk, memasuki hingga tiga ruangan. Kedua tetamu ini menjadi terlebih kagum. Rumah itu indah tiang-¬tiangnya terukir.

“Lekas silahkan tetamu masuk!” lantas terdengar suaranya si orang she Liok, yang berada di ruang belakang.

“Ayahku terganggu kakinya, sekarang ia menanti di kamar tulis Timur,” Koan Eng memberitahu.

Mereka melintasi pintu angin, lantas mereka lihat pintu kamar tulis yang dipentang. Di dalam situ si nelayan duduk di atas pembaringan. Sekarang ia tidak dandan lagi sebagai tukang pancing, hanya mengenakan pakaian pelajar atau sastrawan, tangannya mencekal kipas. Ia menyambut dengan gembira, sambil tersenyum, ia pun lantas mengundang duduk. Koan Eng tidak berani duduk bersama, ia berdiri di samping.

Dua tetamu itu mengagumi kamar tulis itu, yang banyak kitabnya serta juga rupa-rupa barang kuno, tetapi Oey Yong terbengong ketika ia melihat sepasang lian di tembok, bunyinya “Dalam tumpukan pakaian menyimpan pedang mustika” dan “Dalam suara seruling dan tambur ada tetamu tua”. Ia heran untuk kata-katanya. Itu kata-kata yang suka disenandungkan ayahnya. Di bawah lian itu tertulis nama penulisnya berikut keterangannya: “Coretan Ngo Ouw Hoat-jin selama dalam sakitnya”. Kata-kata “Ngo Ouw Hoat-jin” itu berarti “Orang tapakdaksa dari Thay Ouw”. Ia menduga, si orang tapakdaksa itu tentulah tuan rumah she Liok ini. Bukankah ia lagi menderita sakit kaki?

Tuan rumah heran. “Bagaimana pandanganmu tentang lian itu, laotee?” ia menanya.

“Kalau aku mengaco, harap chung-cu tidak buat kecil hati,” sahut Oey Yong. Ia sekarang memanggil “chung-cu” = tuan rumah. Ia kata lian itu mengandung kemurkaan dan penasaran, sedang tulisannya bagus dan keren. Ia anggap orang telah menyimpan pedangnya untuk hidup menyendiri di tempat sepi. Mendengar itu, tuan rumah menghela napas, ia berdiam.

“Aku masih muda dan tidak tahu apa-apa, aku telah sembarangan omong, harap chung-cu suka memaafkan,” berkata Oey Yong.

“Jangan mengucap demikian, Oey Laotee,” berkata Liok Chung-cu. “Apa yang tersimpan di dalam hatiku berulah hari ini dapat dilihat orang seorang sebagai kau, maka bisalah dibilang, kaulah orang yang paling mengenal aku selama hidupku ini.” Lalu ia menoleh kepada putranya, menyuruh lekas menyiapkan barang hidangan.

Oey Yong dan Kwee Ceng meminta tuan rumah jangan membikin berabe tetapi tuan rumah yang muda sudah lantas mengundurkan diri.

“Laotee, pandanganmu tajam, kau mestinya dari keluarga terpelajar, mungkin ayahmu seorang sastrawan besar,” berekat tuan rumah. “Entah siapa ayahmu itu, bolehkah aku mengetahui nama besarnya yang mulia?”

“Aku tidak mengerti apa-apa, chung-cu terlalu memuji,” menyahut Oey Yong. “Ayahku cuma membuka rumah perguruan di kampung halaman.”

Tuan rumah itu menghela napas. “Orang terpelajar tak menemui nasibnya yang baik, sejak dahulu hingga sekarang sama saja,” katanya. “Oey Laotee, kita ada bagaikan sahabat lama, maka itu aku ingin minta kau melukis sesuatu untukku, sebagai tanda peringatan. Sudikah kau meluluskannya?”

Oey Yong tersenyum. “Oh, chung-cu!” katanya. “Coretan buruk, cuma-cuma akan membikin kotor mata chung-chu saja!” Mengetahui orang suka meluluskan, tuan rumah menjadi sangat girang, ia suruh kacungnya lekas menyediakan perabot tulis. Si kacung sendiri yang menggosokan baknya.

Oey Yong tidak menampik lagi, cuma berpikir sebentar, lantas ia melukiskan gambarnya seorang pelajar usia pertengahan lagi berdiri di latar tengah sedang berdongak sambil menghela napas memandangi si putri malam yang cahayanya terang permai, pelajar itu agaknya kesepian, tetapi tangannya dia memegangi gagang pedang, romannya keren. Di samping lukisan itu dituliskan syair: “Siauw Tiong San” dari Gak Hui. Sebagai tanda tangan ia menyebutkan dirinya si anak muda she Oey.

Liok Chung-chu girang sekali, ia memuji dan mengucapkan terima kasih. Ia senang dengan gambar itu.

Habis bersantap, mereka kembali ke kamar tulis, akan pasang omong pula. Tuan rumah menyebutkan halnya kedua gua Thio Kong dan Sian Koan. Ia minta kedua tetamunya tinggal beberapa hari lagi untuk menjenguk kedua gua itu.

“Sekarang silahkan jiwi beristirahat,” kata tuan rumah akhirnya.

Kwee Ceng dan Oey Yong mengucap terima kasih, mereka bangkit, mengikuti kedua bujang yang membawa lentera, mengantar ke kamar yang telah disediakan untuk mereka. Selagi lewat di ambang pintu, Oey Yong mendongak, maka terkejutlah ia nampak di atas pintu ada delapan lembar besi merupakan patkwa. Tapi ia tidak bilang apapun, ia mengikuti terus pengantarnya itu.

Kamar yang disediakan diperaboti lengkap, pembaringannya dua. Kedua bujang menyediakan teh, ketika hendak mengundurkan diri mereka memberitahu apabila perlu apa-apa, kedua tetamunya boleh membunyikan kelenengan, yang diikat di pinggiran pembaringan. Kemudian mereka memesan agar diwaktu malam jangan kedua tetamunya itu pergi keluar.

“Engko Ceng, lihat, tempat apa ini,” berbisik Oey Yong setelah kedua bujang menutup pintu kamar dan berlalu. “Kenapa kita dilarang keluar di waktu malam?”

“Rumah ini luas sekali pekarangannya, berliku-liku juga, mungkin dikhawatirkan kita kesasar,” sahut Kwee Ceng.

“Bagaimana engko lihat tuan rumah kita?” si nona menanya pula.

“Dia mirip perwira yang telah mengundurkan diri!” jawab si anak muda.

“Tidak salah! Dia tentu mengerti ilmu silat, bahkan lihay. Kau lihat tidak tadi itu patkwa besi di atas pintu kamar tulis?”

“Patkwa besi? Apakah itu?” tanya si pemuda.

“Itu senjata yang menjadi alat untuk meyakinkan ilmu Pek-khong-ciang, latihan memukul udara kosong. Ayah pernah ajarkan aku ilmu itu, aku bosan, selang beberapa bulan, aku mengapalkannya siapa tahu, di sini aku melihat alat itu…”

“Kelihatannya Liok Chung-cu tidak bermaksud jahat, maka itu apabila dia tidak membilang sesuatu apa, kita baik perpura-pura pilon.”

Oey Yong tersenyum, lalu tangannya mengebas ke lilin, memadamkan api.

“Tanganmu sungguh lihay!” Kwee Ceng memuji perlahan. “Yong-jie, adakah ini Pek-khong-ciang?”

“Cuma sebegini pelajaranku,” Oey Yong tertawa. “Ini ada untuk main-main, buat dipakai menyerang orang, tidak dapat.”

Sampai di sini, keduanya tidur.

Mereka belum puas ketika kuping mereka dapat menangkap suara bagaikan orang meniup terompet kulit keong, terdengarnya samar-samar, tandanya jauh suara itu, kemudian datang suara yang menyambutnya, tanda terompet itu dibunyikan bukan oleh satu orang. Suara menyambut itu pun samar-¬samar.

“Engko Ceng, mari kita lihat,” Oey Yong mengajak, suaranya perlahan. Ia heran sebab terompet itu terang saling sahutan.

“Lebih baik kita jangan keluar, khawatir terbit gara-¬gara.” sahut si pemuda.

“Siapa bilang untuk menerbitkan gara-gara? Aku mengatakan untuk melihat.” jawab si nona bersikeras.

Kwee Ceng terpaksa menurut, maka dengan hati-hati keduanya membuka jendela, untuk melongok dulu keluar. Di paseban terlihat beberapa orang dengan lentera, beberapa lagi pergi datang, agaknya repot. Di atas genteng pun ada tiga empat orang lagi mendekam. Di antara terangnya lentera, terlihat nyata orang pada membekal senjata tajam. Tidak lama, semua orang itu pergi keluar.

Oey Yong heran, ingin ia mencari tahu, dari itu ia tarik tangan Kwee Ceng pergi ke jendela sebelah barat. Di luar situ tidak ada orang, keduanya lompat keluar. Kerena kegesitannya, mereka tak terlihat orang-orang di atas genting itu.

Dengan memberi tanda dengan tangannya, si nona mengajak kawannya jalan mutar ke belakang. Jalanan di situ dari timur belok ke barat, berliku-liku. Heran setiap paseban di tikungan, modelnya sama. Maka dalam beberapa belokan saja, tak dapat dibedakan lagi mana timur mana barat, mana selatan mana utara. Tapi si nona lihay, ia maju terus dengan cepat, tidak pernah ia bersangsi. Pernah nampaknya di depan tidak ada jalanan tetapi ia menobloskan gunung-gunungan.

Heran Kwee Ceng setibanya mereka di sebuah lorong yang agaknya buntu tetapi belakangnya pintu angin nyata ada sebuah tempat tenang dan indah, hingga ia kata pada kawannya: “Yong-jie, rumah ini aneh, cara bagaimana kau kenal semua jalanan?”

Oey Yong tidak menjawab, dengan tangannya ia memberi tanda supaya si pemuda tutup mulut. Mereka melalui beberapa tikungan, baru mereka tiba di tembok belakang. Di situ si nona menekuk-nekuk tangannya, ia maju beberapa tindak, kemudian Kwee Ceng dengar ia menyebutnya perlahan: “Cit satu…tun tiga…ie lima…hiu tujuh…kun….” yang ia tak mengerti, akhirnya si nona kata sembari tersenyum: “Cuma di sini ada jalan keluar, yang lainnya penuh dengan alat rahasia.” Habis berkata, ia lompat naik ke tembok. Kwee Ceng lantas mengikuti.

“Pekarangan ini diatur menurut patkwa,” Oey Yong memberi keterangan. “Inilah keahlian ayahku. Liok Chung-cu bisa menyulitkan orang lain, tidak aku!” Dan ia agaknya puas sekali.

Keduanya naik di tanjakan bukit kecil di belakang, memandang ke arah timur, mereka melihat sebarisan lentera obor yang menuju ke tepi telaga. Oey Yong memberi tanda, ia lari ke arah timur itu, kawannya mengikuti terus. Lantas mereka sembunyi di belakang batu besar, mengintai ke tepian. Di situ berbaris perahu-perahu nelayan, orang semua menaiki itu. Sejenak saja, semua api dipadamkan.

Oey Yong berdua menunggu naiknya rombongan paling belakang, di dalam gelap gulita mereka keluar dari tempat persembunyiannya, lari ke sebuah perahu yang paling besar, lompat naik ke gubuk perahu. Gesit dan enteng tubuh mereka, perbuatannya itu tidak ada yang ketahui. Mereka lantas mengintai di sela-sela gubuk. Segera ternyata, duduk di dalam perahu ada si chung-cu muda, Liok Koan Eng.

Semua perahu itu berlayar baru satu lie kira-kira, dari tengah telaga terdengar suara terompet. Dari perahu besar itu terlihat keluar seseorang, dia terus meniup terompet sebagai balasan. Perahu berlayar terus.

Selang beberapa lie lagi, terlihat di sebelah depan berbaris perahu kecil berjalan bagaikan kawanan semut, atau titik-titik di atas kertas putih, entah berapa jumlahnya.

Tukang terompet di perahu besar meniup pula terompetnya, tiga kali, lantas perahu kecil segera datang menghampiri dari pelbagai penjuru.

Oey Yong dan Kwee Ceng heran betul. Agaknya bakal ada pertempuran, tetapi Koan Eng tetap tenang sikapnya, tak seperti lagi mengahadapi musuh besar.

Lekas sekali semua perahu sudah datang dekat, dari setiap perahu lompat pindah satu orang, dua orang, tiga empat orang, tak tentu, di dalam, mereka memberi hormat kepada Koan Eng, terus mereka duduk, sikapnya tetap menghormat, duduknya rapi. Tempat duduknya seperti sudah diatur, sebab ada yang datang duluan duduknya di belakang atau di tengah, ada yang datang belakangan justru duduk di kursi kepala. Sebentar saja, semua sudah duduk. Mereka kelihatan keren, bukan seperti nelayan.

“Thio Toako, apa kabarmu?” tanya Liok Koan Eng seraya ia mengangkat tangannya. Ia memecahkan kesunyian setelah semua orang sudah duduk rapi itu.

Seorang yang kurus tubuhnya bangkit. Ia menyahuti: “Peruntusan negara Kim itu sudah mengatur sebentar pagi-pagi akan melewati telaga dan Toan Cie-hui akan tiba lagi dua jam. Dengan alasan menyambut peruntusan itu, di sepanjang jalan Cie-hui itu sudah memeras harta benda. Ini pun sebabnya dia datang terlambat.”

“Berapa banyak hasilnya?”

“Setiap kota ada bingkisan. Serdadu-¬serdadunya pun merampas di perkampungan. Aku lihat, waktu turun ke perahu, pengikutnya menurunkan duapuluh peti lebih yang semua nampaknya sangat berat.”

“Berapa banyak tentaranya?” Koan Eng menanya pula.

“Dua ribu serdadu berkuda. Yang naik perahu semuanya adalah serdadu berjalan kaki. Karena perahu tidak banyak, yang ketinggalan ada sekitar seribu jiwa.”

“Saudara semua, bagaimana pikiranmu?” Koan Eng tanya para hadiran.

“Kami menanti titah siauw chung-cu!” ia mendapat jawaban serempak.

Koan Eng lantas bersidakep tangan, lalu ia berkata: “Semua itu keringat darah rakyat, semuanya harta tak halal. Karena mereka lewat di sini, kalau kita tak ambil, kita menentang wet Tuhan! Mari kita ambil semuanya, nati separuhnya kita amalkan kepada rakyat jelata, yang separuhnya kita bagi rata antara semua markas!”

“Bagus!” semua hadirin setuju.

Baru sekarang Oey Yong berdua ketahui, semua orang itu adalah kepala-kepala perampok dan Koan Eng rupanya adalah pemimpin umumnya!

“Kita tidak dapat berayal lagi, mari segera kita turun tangan!” berkata Koan Eng lagi. “Thio Toako, tolong bawa lima buah perahu untuk membikin penyelidikan di depan!”

Si orang kurus menerima titah itu, ia berlalu paling dulu.

Setelah itu Koan Eng mengatur barisannya, siapa yang jadi pelopor, siapa penyambut atau pembantu, siapa mesti jadi “siluman air”, akan selulup di dalam air untuk memahat perahu-perahu musuh, dan siapa mesti jadi tukang angkut harta. Bahkan ditetapkan siapa mesti membekuk si kepala pasukan musuh. Dia kelihatan lemah tetapi rapi pengaturannya. Maka itu, Kwee Ceng berdua bertambah kagum.

Disaat orang hendak mulai berangkat, seorang hadirin bangkit dan berkata dengan suara dingin: “Kita yang bekerja tanpa modal ini, sudah cukup kalau kita makan dari kaum pedagang kaya raya, tetapi dengan menempur pembesar dan tentara negeri, apa selanjutnya kita masih bisa berdiam di telaga ini?”

Kwee Ceng dan Oey Yong mengawasi orang itu, yang suaranya mereka rasa mengenalinya. Tidak usah mereka memandang lama, lantas mereka kenali orang ini ialah Toat-pek-pian Ma Ceng Hiong, salah satu dari keempat Hong Ho Su Koay, Empat Iblis dari sungai Hong Ho, muridnya See Thong Thian. Maka heran mereka, kenapa iblis itu nelusup di antara kawanan dari Thay Ouw itu.

Wajahnya Liok Koan Eng menjadi merah padam. Belum lagi ia membuka suara, sudah ada dua tiga orang yang menegur Ceng Hiong itu.

“Ma Toako baru datang, tidak heran kau tidak ketahui aturan kami di sini,” kata Koan Eng mencoba bersikap sabar. “Bagi kami, satu kali semua orang sudah mengambil keputusan, kami mesti bekerja, biar kami semua ludas, kami tidak menyesal!”

“Baiklah!” kata Ceng Hiong. “Kamu lakuan usahamu, aku tidak dapat mencampuri air keruh kamu!” Ia terus memutar tubuhnya, berniat berlalu.

Dua orang, yang tubuhnya besar, melintang di mulut perahu. “Ma Toako!” kata mereka keras. “Kau sudah bersumpah memotong kepala ayam! Sumpah kita adalah, rejeki sama dicicipi, bencana sama diderita!”

Ma Ceng Hiong tidak menggubris cegahan itu. “Minggir!” ia membentak, kedua tangannya dikebaskan.

Sebagai kesudahannya, dua orang tinggi besar itu roboh terpelanting.

Disaat iblis ini hendak bertindak, ia merasakan sambaran angin pada punggungnya. Segera ia berkelit ke samping, tangan kirinya mencabut semacam pusut ia membalas menyerang dengan tikaman.

Penyerang yang gesit itu adalah Liok Koan Eng. Dia menangkis, kakinya dimajukan, tangan kanannya menyerang terus. Maka “Duk!” punggung Ceng Hiong kena terhajar hingga dia menjerit keras, memuntahkan darah, tubuhnya terus roboh binasa seketika.

“Bagus!” berseru semua hadirin, diantara siapa ada yang sambar tubuh Ceng Hiong itu, untuk digayor ke tengah telaga!

“Semua saudara, berebutlah maju!” Koan Eng menyerukan tanpa menghiraukan lagi apa yang ia barusan lakukan.

Semua orang menyahut, lantas semua kembali ke perahu masing-masing.

Sebentar kemudian, semua kendaraan air itu sudah menuju ke timur. Perahu besar Koan Eng mengiringi dari belakang. Tidak lama terlihatlah jauh di sebelah depan beberapa puluh buah perahu besar, yang apinya terang-terang, tengah menuju ke barat.

Di antara perahu kecil lantas terdengar suara terompet keong.

Kwee Ceng dan Oey Yong memasang mata. Mereka tidak usah menanti lama atau kedua pihak perahu sudah datang dekat satu pada lain, lantas terdengar suara bentakan-bentakan disusul mana beradunya senjata atau tubuh yang kecemplung ke muka air.

Selang tidak lama, di pihak perahu tentara terlihat api berkobar, hingga seluruh telaga menjadi merah marong.

OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar