Wat Lie Kiam Han Siauw Eng lantas menolong si nona, yang ia gendong pulang ke rumahnya. Kemudian Auwyang Kongcu dikejar, tetapi ia licin dan dapat meloloskan diri. Liok Koay juga tidak mengejar dengan berpisahan, karena mereka ketahui, kalau bertempur satu lawan satu, pihaknya tidak sanggup. Tapi mereka terus melakukan penyeledikan. Inilah tidak sukar, sebab rombongannya Auwyang Kongcu gampang dikenali dari dandanan mereka yang serba putih itu. Begitulah mereka menguntit hingga di onghu, istananya Chao Wang itu.
Diwaktu gelap, gampang sekali untuk melihat pakaian rombongan Auwyang Kongcu, maka Lam Hie Jin dan Han Po Kie lantas melakukan penyerangan. Mereka kaget dengar teriakan Kwee Ceng. Empat yang lainnya turut heran juga. Merekan lantas mengawasi, mereka dapat lihat dengan tegas: Bwee Tiauw Hong si Mayat Besi telah bersilat dengan cambuknya, dia sepertinya duduk bersilat di pundaknya Kwee Ceng. Rupanya bocah itu berada dibawah pengaruh orang. Karena ini tanpa bersangsi lagi, Han Siauw Eng maju menyerang si Mayat Besi yang ia sangat benci itu, sedang Coan Kim Hoat maju untuk menolong muridnya.
Pheng Lian Houw semua heran atas datangnya enam orang itu, apapula mereka itu lantas menyerang Auwyang Kongcu, menyerang si Mayat Besi juga. Lian Houw lantas menggulingkan tubuh, keluar dari gelangan. Kemudian ia berteriak: “Semua berhenti! Aku hendak bicara!” Teriakannya nyaring sekali, menulikan telinga.
Nio Cu Ong bersama See Thong Thian mendahulukan mundur.
Kwa Tin Ok, yang dengar teriakan hebat itu, percaya orang adalah orang lihay, maka ia pun teriaki saudara-saudaranya: “Shatee dan citmoay, tahan dulu!”
Dua saudara itu menurut, begitupun yang lainnya, mereka semua mundur.
Tiauw Hong pun sudah berhenti bersilat, ia hanya bernapas memburu.
Oey Yong sudah lantas menghampiri murid ayahnya itu. “Kali ini kau telah berjasa!” katanya. Tapi kepada Kwee Ceng ia memberi tanda dengan gerakan tangan, agar sahabatnya itu melemparkan tubuh orang.
Kwee Ceng mengerti, untuk mengalihkan perhatian si Mayat Besi, ia memberi keterangan atas pertanyaan orang tadi. Akhirnya ia berkata: “Nah, kau ingatlah baik-baik!” Berbareng dengan itu, dengan mengerahkan tenaga, ia melemparkan tubuh si nyonya sampai jauhnya setombak lebih, ia sendiri segera lompat mundur. Hanya, belum lagi ia menaruh kaki di tanah, cambuk perak yang gemerlapan sudah lantas menyambar kepadanya. Cambuk itu ada banyak gaetannya.
“Celaka!” teriak Han Po Kie, yang menyaksikan bahaya mengancam muridnya. Tanpa ayal lagi ia menyerang dengan Kim-liong-pian, cambuknya, si Naga Emas. Maka kedua cambuk itu beradu keras. Ia kaget, telapak tangannya sakit. Cambuknya terlepas, terlibat dan tertarik cambuk Bwee Tiauw Hong. Ia menyerang Kwee Ceng ketika tubuhnya dilemparkan. Ketika ia jatuh ke tanah, lebih dahulu ia menampa dengan tangannya, habis itu ia duduk dengan hati-hati.
Ia ketahui datangnya Kanglam Liok Koay begitu lekas ia dengar suaranya Kwa Tin Ok. Ia mendongkol berbareng khawatir. Ia pikir: “Aku cari mereka ke mana-mana, hari ini mereka mengantarkan diri. Coba bukannya hari ini, pasti aku bersyukur sangat kepada Langit dan Bumi. Sekarang ini aku lagi dikurung oleh musuh, aku hampir tidak dapat bertahan, jika aku mesti tambah musuh dalam dirinya Tujuh Manusia Aneh ini, pastilah aku bakal binasa….” Ia lantas mengertak gigi. Ia lantas mengambil keputusan: “Nio Lao Koay beramai tak ada permusuhan dengan aku, maka hari ini baiklah aku terbinasa bersama-sama dengan Cit Koay saja!” Ia cekal keras cambuknya, ia memasang kuping, dengar gerak-geriknya Cit Koay. Ia tahu orang muncul berenam, ia heran: “Dari Cit Koay cuma muncul yang enam, entah yang satunya lagi bersembunyi di mana…?” Ia tidak tahu yang Siauw Bie To Thio A Seng telah terbinasa di tangan suaminya.
Liok Koay bersama rombongannya Nio Cu Ong berdiam semua, mereka pun memernahkan diri di jarak tujuh tombak dari wanita kosen itu yang cambuknya sangat lihay.
“Anak Ceng, kenapa mereka bertempur?” Cu Cong berbisik kepada muridnya. “Kau sendiri, mengapa kau bantu perempuan siluman itu?”
“Mereka hendak membunuh aku, dia menolong,” jawab Kwee Ceng.
Biauw Ciu Sie-seng heran.
“Aku minta kau memberitahukan nama kamu?!” Nio Cu Ong menegur Kanglam Liok Koay. “Tengah malam buta, kau lancang masuk ke dalam istana, kamu hendak berbuat apa?”
“Aku she Kwa,” menyahut Tin Ok. “Kami bersaudara bertujuh orang. Orang Kangouw menyebut kami Kanglam Cit Koay.”
“Oh, Kanglam Cit Koay!” kata Pheng Lian Houw. “Sudah lama aku mengagumi nama kamu!”
See Thong Thian tapinya berteriak: “Bagus! Cit Koay telah datang sendiri! Aku orang she See hendak belajar kenal, untuk melihat Cit Koay yang namanya demikian besar, kepandaian sebenarnya bagaimana!”
Thong Thian gusar karena ia ingat penghinaan yang diterima empat muridnya. Ia lantas lompat ke depan Pheng Lian Houw.
Auwyang Kongcu berdiam sambil bersiap. Ia bermusuh dengan Liok Koay dan Bwee Tiauw Hong, yang satu merusak usahanya, yang lain membinasakan muridnya atau gundiknya tersayang. Inilah saatnya untuk turun tangan.
See Thong Thian maju sambil mengawasi keenam Manusia Aneh itu. Ia dapatkan Kwa Tin Ok cacat mata dan kakinya, Han Siauw Eng satu nona yang manis, Coan Kim Hoat kurus kering, Han Po Kie kate dampak dan gemuk, sedang Cu Cong lemah lembut bukan seperti orang Rimba Persilatan. Cuma Lam San Ciauw-cu Lam Hie Jin, yang romannya gagah. Karena itu, segera ia serang si Tukang Kayu dari gunung Lam San itu.
Lam Hie Jin menancap pikulannya, tanpa bersuara, ia menangkis serangan. Ia lihay akan tetapi baru beberapa jurus, tahulah ia bahwa ia bukan tandingan musuh she See itu. Karena ini, Han Siauw Eng lantas maju dengan pedangnya dan Coan Kim Hoat dengan dacinnya.
Pheng Lian Houw tidak berdiam saja melihat kawannya dikerubuti, sambil berseru keras, ia lompat maju rintangi Coan Kim Hoat, yang senjatanya luar biasa itu hendak dirampasnya. Tapi Kim Hoat lihay, gerakannya aneh, ia serang musuh ini hingga si musuh kaget dan mesti berkelit dengan lompatan jungkir balik “Ular naga membalik tubuh.”
“Eh, senjata apa ini?” dia tanya, heran, sesudah berkelit ke kiri dan ke kanan. “Ini toh barang yang diperantikan menimbang di pasar tetapi kau pakai untuk menyerang orang!” Coan Kim Hoat mendongkol dan menyahut: “Dacin ini untuk menimbang kau, babi!”
Lian Houw murka dikatakan babi, lantas ia menyerang dengan hebat, hingga ia membikin Kim Hoat terdesak.
Meyaksikan saudara keenamnya itu kewalahan, Han Po Kie berlompat maju. Cambuknya kena dirampas Bwee Tiauw Hong tetapi ia punyakan kepalannya.
SeeThong Thian dan Pheng Lian Houw benar lihay, walaupun mereka dikepung, mereka masih menang diatas angin. Karena ini, Kwa Tin Ok dan Cu Cong lantas maju, untuk membantu saudara-saudaranya, dengan begitu, mereka jadi bertempur dalam dua rombongan dengan masing-masing tiga lawan satu. Kali ini pihak Liok Koay yang menang di atas angin.
Pertempuran di antara Oey Yong dan Hauw Thong Hay juga berjalan dengan seru. Sebenarnya Thong Hay lebih lihay tapi kalah gesit dan ia pun jeri dengan baju lapis si nona, ia tidak berani menghajar tubuhnya. Karena ini Oey Yong yang dapat mendesak, hingga lawannya itu main mundur.
Auwyang Kongcu telah memasang mata, ia ketahui pihaknya keteter, maka ia lantas mengambil keputusan: “Baiklah aku binasakan dulu beberapa manusia jahat. Si wanita siluman, bagaimanapun tidak dapat kabur, bisa dibereskan belakangan…” Segera ia lompat ke samping Kwa Tin Ok. Ia bergerak dengan jurus “Sekejap seribu lie” dari ilmu silatnya Sin To Soat-san-ciang. Ia pun lantas membentak: “Kamu usilan, bangsat buta, maka kau rasailah lihaynya kongcumu!” Lalu tangannya kanannya meninju.
Kwa Tin Ok mendengar suara angin di kanan, ia menangkis dengan ujung tongkatnya, tetapi ia kebogehan, sebab serangan datang dalam rupa tangan kiri lawan. Ia lantas saja berkelit dengan mendak, berbareng dengan mana, ia menyerang pula dengan jurusnya “Arhat menunjuk pengaruh”.
Auwyang Kongcu menyingkir dari serangan itu, tetapi ia bukannya menyingkir untuk berlari, hanya lompat kepada Lam Hie Jin, yang ia terus serang, hingga Hie Jin terkejut dan mesti berbalik melayani.
Melayani Hie Jin pun Auwyang Kongcu pun tidak mau mengulur tempo, ia lantas tinggalkan musuh ini, untuk menyerang yang lain. Begitu ia berkelahi, hingga ia menempur Liok Koay dengan bergantian. Maka teranglah, ia tengah mengganggu musuh-musuhnya itu, hingga Pheng Lian Houw dan See Thong Thian jadi dapat bernapas.
Suasana kembali terbalik, Liok Koay yang mulai keteter pula.
Nio Cu Ong sementara itu terus memasang matanya terhadap Kwee Ceng, maka tempo ia menginsyafi aksinya Auwyang Kongcu itu, ia lantas lompat kepada bocah itu sambil ulur tangannya, ia menjambret dengan kedua tangannya.
Kwee Ceng bukan tandingan jago ini, dalam beberapa jurus saja ia sudah terdesak, malah lekas juga dadanya kena dicengkram. Dengan tangan kanannya, Cu Ong menjambak ke arah perut, untuk membikin pecah perut orang, supaya ia bisa menghisap darah anak muda itu.
Dalam saat berbahaya itu, Kwee Ceng membela diri. Ia mengkeratkan perutnya, hingga terdengar suara robek dari bajunya, hingga belasan bungkusan obatnya kena disambar musuh.
Nio Cu Ong dapat mencium bau obat, ia masuki semua bungkusan itu ke dalam sakunya, setelah mana kembali ia menjambak.
Kwee Ceng berontak sekuat-kuatnya, ia dapat meloloskan diri, terus ia lari ke arah Bwee Tiauw Hong sambil berteriak: “Tolong aku!”
Girang Tiauw Hong mendengar suara orang. Ia memang ingin meminta beberapa keterangan pula kepada anak muda itu.
“Kau peluk aku! Jangan takuti Lao Kaoy!” ia menyahuti.
Kwee Ceng tahu, satu kali ia peluk wanita itu, ia tidak bakal lolos pula, karena itu, ia tidak berani menghampiri, ia hanya lari berputaran dekat di sekitarnya.
Nio Cu Ong memburu, hingga ia memasuki kalangan sambaran cambuknya si wanita kosen, sembari mengejar, ia waspada terhadap nyonya itu terutama terhadap cambuknya.
Bwee Tiauw Hong sendiri memperhatikan suaranya Kwee Ceng, gerak-geriknya, maka juga mendadak saja ia gerakkan cambuknya, untuk merabu kaki si anak muda!
Oey Yong melayani Hauw Thong Hay dengan selalu memperhatikan Kwee Ceng. Ia terkejut ketika Kwee Ceng kena dijambret Nio Cu Ong, untuk menolong sudah tidak keburu lagi. Sekarang ia melihat kawannya terancam cambuk Tiauw Hong, ia dapat menolong, maka dengan meninggalkan Thong Hay, ia lompat ke arah cambuk! Ia tidak takut cambuk itu, meskipun ia tahu, kecuali ayahnya, sukar dicari orag yang bisa mengalahkannya. Ia pun bukannya hendak menangkis, hanya berlompat ke atas cambuk di mana ia menggulingkan tubuhnya.
Kwee Ceng tertolong dari bahaya tetapi sekarang Oey Yong yang kena kelibat cambuk, yang terus ditarik Bwee Tiauw Hong. Atas itu Oey Yong lantas berseru: “Bwee Jiak Hoak, beranikah kau melukai aku?!”
Kaget Tiauw Hong mengenali suaranya Oey Yong, hingga bermandikan peluh dingin. Dia pun berpikir: “Cambukku banyak gaetannya, sekarang aku lukai budak ini, bagaimana suhu dapat mengampuni aku? Tapi sudah terlanjur, baiklah aku habiskan dia dulu!” Maka dia terus menarik, hingga ia dapat cekal tubuh si nona, diletakkan di tanah. Ia percaya tubuh si nona itu sudah tercengkeram pelbagai gaetan cambuknya.
Justru itu Oey Yong tertawa geli. Ia memakai lapisan joan-wie-kah, tubuhnya tidak terluka, melainkan baju luarnya dan dalamnya pada robek. Dengan jenaka ia berkata: “Kau merusak pakaianku, aku minta ganti!”
Tiauw Hong melongo. Dari suaranya ia dapat tahu nona itu tidak kesakitan. Dengan tiba-tiba ia ingat, maka katanya dalam hati: “Ah, tentu saja baju lapis berduri dari suhu telah diberikan padanya!” Ia lantas menyahut: “Ya, encimu ini yang salah, nanti aku pasti mengganti bajumu…”
Oey Yong lantas menggapai Kwee Ceng.
Anak muda itu menghampiri, ia berdiri jauhnya tujuh atau delapan kaki dari Tiauw Hong. Sekarang ia tidak dihampiri Nio Cu Ong, yang jeri cambuknya si wanita lihay itu.
Kanglam Liok Koay sekarang berkelahi dengan mengumpulkan diri, saling membelakangi, dengan begitu mereka dapat melayani See Thong Thian, Pheng Lian Houw, Hauw Thong Hay dan Auwyang Kongcu berempat. Thong Hay ditinggalkan Oey Yong, ia lantas membantu kawannya. Inilah cara berkelahi yang Liok Koay baru pahamkan dan melatih selama mereka berdiam di gurun pasir. Dengan begitu, mereka tidak usah repot-repot menjaga punggung mereka. Meski begini, mereka keteter juga.
Han Po Kie terluka pundaknya, ia berkelahi terus. ia takut keluar dari kalangan, khawatir nanti benteng perlawanannya itu menjadi dobol. Ia berkelahi sambil menggertak gigi, sebab Pheng Lian Houw yang lihay sudah cecar padanya.
Kwee ceng lihat gurunya yang nomor tiga itu terancam bahaya, melupakan segalanya, ia lari menghampiri, terus serang bebokong Pheng Lian Houw dengan jurusnya, “Membuka mega untuk menolak rembulan.”
“Hm!” Pheng Lian Houw mengasih dengar suara hidung. Ia berkelit, lantas memutar tubuh untuk membalas menyerang.
Justru itu terlihat muncul dari gombolan pohon bunga, sambil berlari-lari mendatangi, dia berseru: “Semua suhu, ayahku ada urusan penting untuk mana ia minta bantuan kamu! Lekas!”
Orang itu mengenakan kopiah emas, kopiahnya miring. Ialah siauw-ongya Wanyen Kang, si pangeran muda.
Pheng Lian Houw semua menjadi bingung. Masing-¬masing mereka lantas berpikir: “Ongya adalah yang mengundang kami semua, sekarang dia ada punya urusan penting, cara bagaimana aku tidak pergi membantu dia?” Karena ini, mereka lantas lompat mundur, keluar dari gelanggang.
“Ibuku telah dibawa buron penjahat,” Wanyen Kang beritahu dengan perlahan. “Ayah minta semua suhu membantu mencari, untuk menolong. Tidak nanti kami berani melupakan budi suhu semua!”
Pangeran ini datang secara kesusu, malampun gelap, ia tidak dapat melihat Bwee Tiauw Hong, yang numprah di tanah.
“Onghui dibawa lari, inilah hebat!” pikir Lian Houw semua. “Kalau begitu, apa perlunya kami berdiam di dalam istana?” Mereka juga menduga: “Pasti Liok Koay ini lagi menjalankan siasat memancing harimau turun dari gunung, untuk melibat kami semua. dilain pihak, kawannya pergi menculik onghui!” Karena ini tanpa sangsi lagi, mereka lari mengikuti Wanyen Kang, meninggalkan musuh-musuh mereka.
Nio Cu Ong berlari paling belakang, ia pergi dengan perasaan sangat tidak puas. Ia ingat Kwee Ceng darah siapa ia belum sempat hisap. Justru itu, Kwee Ceng teriakin dia: “Eh, kau pulangin obatku!” Dalam sengitnya, ia menimpuk dengan senjata rahasianya, yaitu paku Cu-ngo Touw-kut-teng.
Cu Cong lompat maju, dengan kipasnya ia sampok paku itu, sesudah jatuh ia pungut, terus dibawa ke hidungnya, untuk dicium. “Oh, paku beracun Cu-ngo Touw-kut-teng! Inilah paku yang asal menemui darah lantas menutup tenggorakan orang hingga orang mati seketika!”
Nio Cu Ong tercengang mengetahui orang kenal pakunya itu.
“Apa?” dia menanya seraya ia merandak, tubuhnya pun diputar.
Cu Cong lari menghampiri, dengan tangan kirinya ia angsurkan paku itu. “Ini , aku kembalikan pada kau, tuan!” katanya sembari tertawa.
Cu Ong pun ulur tangannya untuk menyambut. Ia tidak jeri karena ia tahu orang kalah daripadanya.
Cu Cong dapat lihat ujung baju orang penuh rumput dan debu, ia gunakan tangan bajunya untuk menyapu.
“Siapa sudi kau mengambil hatiku?!” Cu Ong membentak, terus ia putar tubuhnya untuk berlalu.
Kwee Ceng menjadi masgul sekali. “Dengan begitu saja kita pulang…” katanya menyesal. Satu malaman ia menempuh bahaya, kesudahannya obat tak didapatkan juga. Untuk menggunakan kekerasan, harapannya tidak ada.
“Mari kita pulang!” mengajak Tin Ok selagi muridnya ragu-ragu. Ia pun mendahului lompat ke tembok, maka lima saudaranya lantas menyusul.
“Bagaimana dia, toako?” Han Siauw Eng tanya sambil menunjuk Tiauw Hong.
“Kita telah memberikan janji kepada Ma Totiang, biar kita mengasih ampun padanya,” sahut kakak tertua itu.
Oey Yong tertawa haha-hihi, ia tidak memberi hormat kepada Liok Koay. Ia pun lompat ke tembok, naik ke ujung lainnya.
“Adik kecil, mana suhu?” Tiauw Hong tanya nona itu.
“Ayahku?” balik tanya Oey Yong masih tertawa. “Tentu sekali ayah berada di pulau Thoa Hoa To! Tidak pernah ayah meninggalkan rumah! Ada apa kau menanyakannya?”
Tiauw Hong menjadi sangat gusar, hingga napasnya memburu. Ia tahu tidak bisa berbuat apa-¬apa. Setelah berhenti sejenak, ia kata pula: “Kau toh yang membilangnya kalau suhu datang ke mari!”
Oey Yong tertawa pula. “Tanpa aku dustakan kau, mana kau mau lepaskan dia?” Dengan “dia” ia maksudkan Kwee Ceng.
Tiauw Hong murka bukan kepalang, dengan kedua tangannya ia menekan tanah, lantas bangkit berdiri, lalu dengan terhuyung-huyung, ia menubruk kepada si nona. Ia telah keliru menyakinkan ilmu silat dala, akibatnya kedua kakinya mati, dan makin ia memaksakan diri, makin pendek napasnya. Tapi kali ini, ia lupa segalanya.
Oey Yong terkejut, lekas lompat turun ke lain sebelah, untuk lari menghilang.
Tiba-tiba Tiauw Hong sadar. “Eh, mengapa aku bisa jalan?” tanyanya pada diri sendiri. Justru ia sadar, mendadak roboh pula, kedua kakinya lemas dan kaku. Ia pun pingsan.
Gampang sekali kalau Liok Koay hendak merampas jiwa orang akan tetapi untuk menepati janji kepada Ma Giok, mereka tidak mau turun tangan, maka itu mereka berlalu. Mereka ajak Kwee Ceng bersama.
“Eh, anak Ceng, kenapa kau berada disini?” kemudian Han Siauw Eng menanya.
Kwee Ceng menjawab gurunya dengan tuturkan semua pengalaman, sampai ia berikhtiar menolongi Ong Cie It.
“Kalau begitu, mari kita tolong Ong Totiang!” Cu Cong mengajak.
Yo Tiat Sim girang bukan main dapat menemukan istrinya, malah ia dapat menolong juga, ia pondong erat-erat istrinya ketika ia lari keluar dengan melompati tembok istana.
Di bawah tembok, Liam Cu menantikan ayahnya dengan pikiran tegang. Ia tidak sabaran dan cemas juga. Ia heran ketika ia lihat ayahnya kembali dengan memondong seorang wanita.
“Ayah, siapa ini?” ia lantas tanya.
“Inlah ibumu!” sahut ayah itu. “Mari lekas kita menyingkir!”
Liam Cu kaget dan heran. “Ibuku?” ia menegasi.
“Perlahan!” Tiat Sim mengasih ingat. “Sebentar kita bicara.” Ia sudah lantas lari.
Kira-kira serintasan, Pauw Sek Yok tersadar. Ketika itu fajar sudah menyingsing, di antara cahaya pagi remang-remang, ia lihat orang yang memondongnya, suami yang ia buat pikiran siang dan malam. Ia heran hingga menyangka sedang bermimpi. Ia ulur tangannya, meraba muka suaminya.
“Toako, apakah aku juga sudah mati?” ia tanya. Ia percaya suaminya itu sudah meninggal dunia.
Tiat Sim girang hingga mengucurkan air mata. “Kita tidak kurang suatu apapun….” sahutnya halus. Ia berhenti dengna tiba-tiba sebab kupingnya segera dengar suara berisik teriakan-teriakan dan melihat cahaya terang banyak obor. Satu barisan serdadu lari mendatangi. Ia dengar nyata: “Jangan kasih lolos penjahat yang menculik onghui!”
Tiat Sim menjadi kecil hatinya. Ia melihat kesekelilingnya, tidak dapatkan tempat untuk menyembunyikan diri. Di dalam hatinya ia kata: Thian mengasihani aku hingga hari ini aku dapat bertemu istriku kembali, kalau sekarang akan terbinasa, tak usah aku menyesal…!” Lantas ia kata pada anaknya: “Liam Cu, anakku, kau peluklah ibumu…!”
Sejenak terbayanglah di mata Pauw Sek Yok pengalaman delapan belas tahun yang lampau, peristiwa di dusun Gu-kee-cun di kota Lim-an, di kampung halamannya itu. Ia dipondong oleh suaminya dan dibawa lari sekuat-kuatnya, di dalam gelap petang mereka dikejar tentara. Delapanbelas tahun lamanya mereka telah berpisah, ia berduka dan terhina saking terpaksa, atau sekarang, baru saja ia bertemu kembali dengan suaminya, peristiwa dahulu bakal terulang pula. Maka ia rangkul leher suaminya, tidak mau melepaskannya.
Menampak tentara pengejar datang semakin dekat, Yo Tiat Sim menjadi nekat. daripada terhina ia rela terbinasa dalam pertempuran. Dari itu ia paksa melepaskan rangkulan istrinya ia serahkan kepada anak gadisnya. Ia lantas lari memapaki tentara pengejarnya. Dalam dua tiga gebrak saja, ia telah dapat merampas sebatang tombak. Senjata ini membangunkan semangatnya, ia bagaikan harimau tumbuh sayap.
Opsir yang memimpin pasukan itu bernama Thung Couw Tek, dia kena ditusuk pahanya hingga ia terjungkal dari kudanya, atas mana tentaranya lantas kabur serabutan. Tanpa pemimpinnya, mereka ketakutan.
Lega juga hatinya Tiat Sim yang mengetahui pasukan itu tidak dipimpin oleh opsir yang kosen, ia pun menyesal tidak sempat merampas kuda musuh. Tidak ayal lagi, ia ajak istri dan anaknya lari terus.
Setelah terang tanah, Pauw Sek Yok dapatkan suaminya berdarah di sana sini. Ia menjadi kaget sekali. “Kau terluka?” ia tanya.
Di tanya begitu, tiba-tiba saja Tiat Sim merasakan sakit pada belakang telapak tangannya. baru sekarang ia ingat tadi telah disambar sepuluh jari tangan Wanyen Kang, hingga tangannya itu mengeluarkan darah, karena repot melarikan diri, ia tidak merasakan, lupa sakitnya. Sekarang merasakan kedua lengannya sakit dan sukar digerakkan.
Pauw Sek Yok lantas balut tangan suaminya.
Waktu itu kembali terdengar suara sangat berisik, lalu terlihat debu mengepul dan mengulak. Itulah tandanya pasukan besar lagi mendatangi.
“Sudahlah, tak usah dibalut….!” kata Tiat Sim sambil menyeringai. Ia lantas menoleh kepada gadisnya dan berkata: “Anak, kau menyingkirlah seorang diri! Ibumu dan aku akan berdiam disini….”
Liam Cu tidak menangis, hatinya tegang sekali. Ia menginsyafi bahaya, tapi ia menjadi tenang. Ia angkat kepalanya. “Biarlah kita bertiga mati bersama!” katanya gagah.
Sek Yok heran, ia mengawasi nona itu. “Dia…dia mengapa adalah anak kita?” dia tanya.
Tiat Sim hendak menjawab istrinya tetapi tentara itu sudah semakin mendekat, dilain jurusan ia melihat datangnya dua imam yang satu berkumis dan rambutnya ubanan, wajahnya sangat berwelas asih, yang lain kumisnya abu-abu, sikapnya gagah, dibelakangnya tergendol sebatang pedang. Melihat mereka itu, Yo Tiat Sim tercengang, lantas ia sadar. Dalam kegirangan, ia berseru menyapa salah satu imam itu: “Khu Totiang, hari ini kembali aku bertemu denganmu!”
Imam itu memang Tiang Cun Cu Khu Cie Kee serta saudara seperguruannya, Tan Yang Cu Ma Giok. Mereka hendak menempati janji dengan Giok Yang Cu Ong Cie It, akan bertemu di kota raja, guna membicarakan urusan pibu dengan pihak Kanglam Liok Koay. berdua mereka datang dengan terburu-¬buru, di luar dugaan di sini mereka bertemu dengan Yo Tiat Sim suami-istri. Khu Cie Kee telah sempurna Iweekangnya, maka sekalipun telah bertambah delapan belas tahun umurnya, wajahnya tetap seperti dahulu, cuma rambutnya yang berubah. Karena itu ia tidak lantas mengenal waktu ia dipanggil dan melihat Tiat Sim, hingga ia mengawasi saja.
Tiat Sim bisa menduga orang lupa padanya, ia berkata: “Apakah totiang masih ingat peristiwa delapan belas tahun yang lampau di dusun Gu-kee-cun di Lim¬an, tatkala selagi kita minum arak menumpas musuh?”
“Jadinya tuan….!” menegaskan imam itu.
“Aku yang rendah Yo Tiat Sim,” Tiat Sim berkata cepat. “Semoga totiang tidak kurang suatu apapun.”
Habis berkata, orang she Yo itu lantas menjatuhkan diri berlutut di depan orang suci itu.
Tiang Cun Cu lekas membalas hormat, tetapi ia tetap ragu-ragu. Setelah hampir duapuluh tahun, disebabkan penderitaannya, Tiat Sim berubah roman dan suaranya juga.
Orang she Yo ini bisa mengerti kesangsian si imam. Di lain pihak hatinya tegang melihat tentara pengejar semakin dekat. Mendadak ia gerakkan tombaknya dan menikam imam itu dengan tipu tombaknya. Ia pun berseru: “Khu Totiang, kau telah melupakan aku tetapi kau tentu tidak dapat melupakan ilmu tombak dari keluarga Yo!”
Tiang Cun Cu terkejut ia mundur. Ia lantas mengenal ilmu tombaknya Keluarga Yo, maka sekarang ia ingat betul peristiwa delapanbelas tahun dulu ketika mencoba ilmu silat orang. Ia menjadi girang bercampur terharu dapat bertemu kenalan lama ini. “Oh, Yo Laotee!” katanya. “Kau masih hidup….!”
Tiat Sim tarik pulang tombaknya. Ia tidak sahuti imam itu, hanya lantas ia kata: “Totiang, tolonglah aku!”
Imam itu bisa mengerti keadaan orang. Ia menoleh ke arah tentara pengajar. Lantas ia tertawa. “Suheng, hari ini kembali aku mesti membuka pantangan membunuh!” katanya, kepada saudara seperguruannya. “Aku harap kau tidak gusari aku!”
Ma Giok mengerti, ia menjawab: “Kurangilah pembunuhan! Gertak saja meraka!”
Khu Cie Kee tertawa nyaring dan lama, lantas ia maju ke arah tentara itu, yang sudah sampai, malah mendapatkan dia menghalang-halangi, mereka itu terus menerjang dengan bengis. Dengan hanya mementang kedua tangannya, ia menarik roboh dua serdadu berkuda, terus ia timpuki ke serdadu yang lainnya. Maka lagi dua serdadu roboh pingsan.
Luar biasa sebatnya imam ini, dengan cara itu ia robohkan lagi delapan serdadu, delapan-delapannya ia timpuki bergantian kepada kawan mereka, maka lagi-lagi ada delapan serdadu yang terguling. Kejadian ini membikin kaget serdadu-serdadu yang lainnya, mereka lantas putar kuda mereka, untuk lari balik.
Belum lagi semua serdadu kabur, di antara mereka muncul seorang yang tubuhnya besar dan kekar, yang kepalanya licin mengkilap. Dia membentak: “Darimana datangnya si bulu campur aduk ini!” Lantas tubuhnya mencelat ke depan Tiang Cun Cu, yang terus ia serang.
Kata-kata “bulu campur aduk” itu adalah hinaan untuk si imam. Tiang Cun Cu tidak menghiraukan itu, hanya melihat orang demikian lincah, ia hendak menguji tangan orang. Ia tangkis seragan itu.
Kedua tangan beradu dengan keras dan bersuara nyaring, habis itu keduanya mundur sendirinya masing-masing tiga tindak.
Khu Cie Kee heran hingga ia kata di dalam hatinya: “Kenapa di sini ada orang begini lihay?”
Selagi si imam ini terheran-heran, adalah Kwie-bun Liong Ong – demikian si lanang itu – merasakan tangannya sakit, hingga ia kaget berabreng mendongkol, maka sekali ia maju menyerang.
Kali ini Khu Tiang Cun tidak berani bergerak sembarangan, dengan sabar ia melayani, sesudah belasan jurus, tangannya menyampok kepala orang hingga di kepalanya See Thong Thian bertapak lima jari berwarna merah.
Orang she See ini insyaf, dengan tangan kosong ia tidak bisa berbuat apa-apa, lantas ia meraba pada pinggangnya di mana ia selipkan genggamannya yang berupa pengayuh besi yang berat, dengan itu ia menyerang pula, menghajar pundak si imam dengan jurusnya “Souw Cin menggendol pedang”.
Khu Cie Kee tetap bertangan kosong, setelah berkelit, ia membalas menyerang. Ia bersedia melayani musuh yang bersenjata. Adalah masksudnya, untuk merampas senjata lawan. Tetapi See Thong Thian telah latihan beberapa puluh tahun, tak gampang senjatanya dapat dirampas. Sebaliknya, dia bergerak dengan gesit sekali.
Tiang Cun Cu heran juga atas kegagahan orang, hingga ia ingin tanya she dan namanya lawan ini. Hanya, belum sampai ia membuka mulutnya, dari belakang ia dengar pertanyaan yang nyaring sekali: “Kau ada totiang mana dari Coan Cin Kauw?” Ia lantas berlompat, untuk menoleh, hingga ia melihat empat orang berdiri berendeng.
Itulah Nio Cu Ong bersama Pheng Lian Houw, Auwyang Kongcu dan Hauw Thong Hay yang telah lantas dapat menyusul See Thong Thian.
Khu Cie Kee lantas mengangguk kepada mereka itu seraya memberikan penyahutannya: “Pinto she Khu. Pinto mohon tanya nama mulia dari tuan-tuan.”
Nama Tiang Cun Cu kesohor sekali di Selatan dan Utara, maka itu Pheng Lian Houw berempat saling mengawasi, hati mereka berkata: “Pantaslah dia bernama besar, dia memang gagah.” Pheng Lian Houw sendiri berpikir lebih jauh: “Kita sudah melukakan Ong Cie It, itu artinya ganjalan dengan Coan Cin Kauw, sekarang kita bertemu sama Khu Cie Kee, baiklah ia sekalian dibunuh saja! Ini adalah ketika yang paling baik untuk mengangkat nama kita!” Karena berpikir begini, la lantas berseru: “Mari maju berbareng!” Ia pun lantas mengeluarkan sepasang poan-koan-pitnya, ia terus terjang imam itu. Ia menerjang sambil berlompat. Ia tahu lawan lihay, maka itu lantas menotok kedua jalan darah kin-jie dan pek-hay-hiat.
Khu Cie Kee tidak heran yang orang lantas menerjang kepadanya, ia cuma berpikir, “Si kate ini galak sekali! Dia pun agaknya lihay!” Ia lantas menghunus pedangnya, tetapi ia berkelit dari serangan orang, sebaliknya, ia menikam ke pinggangnya See Thong Thian. Ketika ia telah menarik pulang pedangnya, ia meneruskan menikam jalan darah ciang-bun-hiat di iganya Hauw Thong Hay.
Jadi dengan sekali bergerak, imam ini telah melayani tiga lawan. Inilah cara berkelahi yang langka.
Hampir saja Hauw Thong Hay terkena pedang, syukur ia keburu berkelit, tetapi ia kena disusuli, kempolannya kena didupak si imam. Pheng Lian Houw dan See Thong Thian lantas menyerang, Nio Cu Ong menyusul mengepung. Orang she Nio ini terperanjat untuk kehebatannya si imam.
Auwyang Kongcu melihat bagaimana si imam ini dilibat See Thong Thian dan Pheng Lian Houw dan bagaimana Nio Cu Ong merangsak dari kirinya, ia pun lantas menggunakan untuk mengeroyok. Dengan tangan kiri hanya mengancam, ia menotok dengan kipasnya di tangan kanan, mengarah tiga jalan darah hong-bwee, ceng-cok dan pwee-sim di punggung si imam.
Kelihatannya Khu Cie Kee sudah sangat terdesak, ketiga jalan darahnya itu bakal menjadi sasaran kipas yang istimewa, mendadak bayangan berkelebat si samping si kongcu, lalu kipasnya kena ditahan.
Itulah Ma Giok yang membantu saudaranya. Imam ini heran mendapatkan munculnya begitu banyak orang pandai, yang terus mengeroyok saudaranya, sedangkan ia tidak mengerti, Auwyang Kongcu pun menyerang secara membokong, maka terpaksa ia lompat maju untuk menghalangi.
Auwyang Kongcu lihat berkelebatnya bayangan, sambil menarik pulang kipasnya, yang hendak dirampas, ia memandang bayangan itu, seorang imam berusia lanjut, ubanan rambut dan kumisnya. Ia lantas menduga kepada anggota Coan Cin Kauw yang tertua. Ia pun lompat ke belakang.
“Tuan-tuan siap?” tanya Ma Giok. “Kita tidak kenal satu dengan lain, ada salah paham apakah di antara kita? Aku minta sukalah tuan-tuan menjelaskannya.”
Imam ini berbicara dengan sabar sekali, suaranya halus, tidak keras dan mengagetkan seperti suaranya Pheng lian Houw, tetapi pada itu ada nada yang mengandung pengaruh, hingga dengan sendirinya orang-orang yang lagi bertempur itu pada lompat mundur, terus mengawasi orang suci ini.
“Apaha she totiang yang mulia?” Auwyang Kongcu bertanya.
“Pinto berasal dari keluarga Ma,” Ma Giok menyahut, tetap sabar.
“Oh, kiranya Tan Yang Cinjin Ma Totiang!” berkata Pheng Lian Houw, suaranya tetap keras. “Maaf, maaf!”
“Pengetahuan pinto tentang agamaku masih terlalu sedikit, sebutan Cinjin itu tidak berani pinto terima,” menolak Ma Giok.
Pheng Lian Houw mencoba bersikap halus, tetapi di dalam hatinya, ia berpikir: “Kita telah bentrok dengan pihak Coan Cin Kauw, di belakang hari pastilah sukar untuk menyelesaikan masalah ini, sekarang dua anggota utama dari mereka berada disini, baiklah kita berlima mengepung mereka untuk membinasakannya. Perkara di belakang ada soal lain. Hanya, apakah di sini masih ada lain-lain saudaranya….?” Ia lantas melihat ke sekitarnya. Di situ cuma tertampak Yo Tiat Sim sekeluarga bertiga jiwa. Maka ia lantas berkata: “Nama Coan Cin Kauw sangat kesohor, kami sangat mengaguminya. Mana lagi lima saudara totiang? Silahkan minta mereka itu sudi menemui kami.” Itulah kata-kata pancingan.
“Nama kami kosong belaka, cuma untuk ditertawakan tuan-tuan,” menyahut Ma Giok. “Kami bertujuh saudara tinggal di beberapa propinsi, sukar kami datang berkumpul. Kali ini kami datang ke Tiong-touw untuk mencari Ong Sutee, baru saja kami mendapat tahu alamatnya, justru kami hendak menjenguk dia, di sini kebetulan kita bertemu sama tuan-tuan. Ilmu silat di kolong langit ini banyak perbedaannya tetapi asal mulanya adalah satu, maka bagaimana pula jikalau kita mengikat persahabatan?”
Imam ini jujur, tidak menduga bahwa orang lagi memancing.
Pheng Lian Houw girang sekali. Orang cuma berdua dan mereka belum sempat menemui Ong Cie It. Maka boleh ia mengeroyok. Tapi ia masih tertawa, ia berkata: “Totiang berdua tidak mencela kami, bagus sekali. Aku she Sam dan namaku Hek Miauw.”
Ma Giok dan Khu Cie Kee heran, mereka pikirkan siapa Sam Hek Miauw ini, yang namanya aneh. Nama itu berarti Tiga Kucing Hitam. Sama sekali mereka belum pernah mendengar. Orang ini toh lihay….
Pheng Lian Houw selipkan senjatanya di pinggang, ia menghampirkan Ma Giok.
“Ma Totiang, aku merasa beruntung dengan pertemuan ini,” katanya seraya mengangsurkan tangannya, berjabat tangan, tapi telapak tangannya dibalik ke bawah.
Ma Giok menyangka orang bermaksud baik, ia pun mengulurkan tangannya, buat menyambuti. Ia merasa orang memegang keras sekali, ia berpikir; “Kau hendak uji tenagaku, baiklah!” Ia tersenyum, sembari tenaganya dikerahkan. Tiba-tiba ia merasakan lima jari tangannya sakit, seperti tertusuk jarum. Saking kaget, ia lantas menarik pulang tangannya.
Pheng Lian Houw tertawa sambil mencelat mundur setombak lebih.
Ma Giok melihat telapakan tangannya, lima jari berlobang kecil masing-masing dan bergaris hitam.
Ketika tadi Pheng Lian Houw menyelipkan senjatanya, berbareng ia menarik keluar senjata rahasianya, ban Tok-hoan-taya, yang tipis seperti benang tetapi disitu ada lima batang jarum, yang telah dipakaikan racun yang keras sekali, siapa terluka hingga di dagingnya, dalam tempo enam jam dia bakal terbinasa. Ia sengaja memakai nama Sam Hek Miauw, untuk membuat Ma Giok memikirkan, selagi orang tidak bercuriga, ia gunakan jarum jahatnya itu. Ketika Ma Giok insyaf telah dicurangi dan hendak menyerang, si licik sudah lompat mundur.
Khu Cie Kee heran melihat saudaranya berjabat tangan tapi sudah lantas menyerang. “Kenapa?” tanyanya.
“Jahanam licik, dia telah melukai aku dengan racun!” menyahut Ma Giok, yang berlompat maju, untuk menyerang pula.
Khu Cie Kee kenal baik kakak seperguruannya ini, yang sangat sabar, beberapa puluh tahun tidak pernah berkelahi, sekarang ia menyerang dengan “Sam Hoa Cie Teng Ciang-hoat”, ilmu pukulan paling lihay dari kaumnya, ia mengerti sebabnya kegusaran itu. Maka ia pun menggerakkan pedangnya, lompat maju ke depan Pheng Lian Houw, untuk menerjang.
Pheng Lian Houw sempat mencabut poan-koan¬pitnya, menangkis, beruntun dua tikaman, terus ia membalas satu kali. Ia tidak tahu, tangan kirinya Tiang Cun Cu lihay seperti tangan kanannya yang memegang pedang. Imam ini menyambut poan-koan-pit, yang ia sambar ujungnya, terus menggentak ke samping seraya berseru: “Lepas!”
Pheng Lian Houw pun seorang jago, senjatanya tidak terlepas, ia lawan keras dengan keras, waktu ia mengerahkan tenaga dan menarik, hebat kesudahannya, poan-koan-pitnya itu terputus menjadi dua potong!
“Bagus!” Khu Cie Kee memuji, tetapi ia terus menyerang pula dengan dua tangannya.
Pheng Lian Houw segera main mundur, karena merasakan tangan kanannya kesemutan, hingga hatinya menjadi gentar.
Di lain pihak, See Thong Thia dan Nio Cu Ong maju memegat Ma Giok, sedang Auwyang Kongcu dan Hauw Thian Hay segera membantu Pheng Lian Houw.
Khu Cie Kee heran kenapa mendadak berkumpul orang-orang tangguh ini. Ia ingat, semenjak menempur Kanglam Cit Koay, sudah delapan tahun belum pernah ia menemui tandingan. Karena ini, ia bersilat dengan sungguh-sungguh.
Dikepung bertiga, Khu Cie Kee tidak jatuh di bawah angin, tidak demikian dengan kakak seperguruannya. Tangan Ma Giok menjadi bengkak dan hitam, rasannya kaku dan gatal. Itulah tanda bekerjanya racun dahsyat. Inilah tidak disangka imam itu, yang menduga kepada racun biasa. Makin ia bergerak, jalan darahnya makin cepat. Karena menginsyafi bahaya, segera ia menjatuhkan diri untuk duduk bersemadhi, guna mencegah ransakan racun, sedang dengan tangan kirinya melindungi diri.
Nio Cu Ong menyerang terus dengan senjatanya yang merupakan gunting panjang dan See Thong Thian dengan pengayuh besinya. Maka itu, selang beberapa puluh jurus, Ma Giok terancam bahaya. Ia mesti melawan musuh di luar dan di dalam tubuhnya.
Khu Cie Kee heran melihat kelakuan kakaknya itu, seperti dari embun-embunannya terlihat mengepul hawa seperti uap. Hendak ia menolong tetapi tidak sanggup, ketiga musuhnya mendesak. Benar Hauw Thong Hay rada lemah tetapi Auwyang Kongcu lebih gagah daripada Pheng Lian Houw. Karena hatinya khawatir, ia kena terdesak.
Yo Tiat Sim tahu ilmu silatnya tidak berarti, akan tetapi melihat kedua imam itu terancam bahaya, ia maju menyerang Auwyang Kongcu, ia arah punggungnya.
“Saudara Yo, jangan maju!” mencegah Khu Cie Kee. “Percuma kau mengantarkan jiwa….”
Belum habis ucapan imam ini, Auwyang Kongcu sudah menendang patah tombak orang dengan kaki kirinya dan kaki kanannya mendupak roboh orang she Yo itu.
Adalah waktu itu, dari kejauhan terdengar lari mendatanginya beberapa ekor kuda, yang datang itu adalah Wanyen Lieh bersama Wanyen Kang.
Wanyen Lieh melihat istrinya duduk di tengah, ia girang, segera ia menghampiri. Justru itu sebatang golok menyambar kepadanya. Syukur ia keburu berkelit. Ia segera mendapatkan, penyerangnya itu seorang nona dengan baju merah, yang goloknya lihaui. Nona itu segera dikepung pengikut-pengikutnya.
Wanyen Kang heran nampak gurunya dikepung, ia lantas berteriak: “Semua berhenti! Tuan-tuan berhenti!”
Pangeran ini mesti berteriak beberapa kali, barulah Pheng Lian Houw semua berlompat mundur.
Wanyen Kang segera menghampiri gurunya, untuk memberi hormat.
“Suhu, mari teecu mengajar kenal,” katanya kemudian. “Ini beberapa cianpwee Rimba Persilatan yang diundang ayahku.”
“Hm!” bersuara imam itu, yang segera menghampiri kakaknya, yang sudah tidak berkelahi lagi. Ia terkejut melihat tangan kanan kakaknya menjadi hitam sampai di lengan.
“Ha, racun begini lihay!” serunya. Lantas ia berpaling kepada Pheng Lian Houw, akan perdengarkan suaranya yang keren: “Keluarkan obat pemunahnya!”
Pheng Lian Houw sangsi, ia melihat orang segera sampai pada ajalnya.
Ma Giok sendiri mengempos terus semangatnya, ia berhasil mencegah menjalarnya racun itu, yang perlahan-lahan mulai turun.
Wanyen Kang lari kepada ibunya, ia berkata: “Ma, akhirnya kita dapat cari kau!” Tapi pauw Sek Yok berkata dengan keras: “Untuk menghendaki aku kembali ke istana, tidak dapat!”
Wanyen Kang dan Wanyen Lieh menjadi heran. “Apa?!” kata mereka.
Pauw Sek Yok menunjuk kepada Yo Tiat Sim, ia kata nyaring: “Suamiku masih belum mati, meski ia pergi ke ujung langit dan pangkal laut, akan aku ikuti dia!”
Wanyen Lieh heran tetapi ia dapat segera menoleh kepada Nio Cu Ong. Ia mengasih tanda dengan tekukan mulutnya.
Nio Cu Ong mengerti, sekejap saja ia telah menyerang Yo Tiat Sim dengan tiga batang pakunya.
Khu Cie Kee yang waspada dapat melihat serangan orang she Yo itu, ia menjadi kaget. Ia tidak mempunyai senjata rahasia untuk mencegah paku itu. Tiat Sim tentu tak dapat berkelit. Tapi ia tidak putus asa. Ia menyambar satu serdadu di dekatnya, tubuh orang itu ia lemparkan ke arah antara paku dan Tiat Sim.
Segera terdengar jeritannya serdadu yang menjadi korban ketiga batang paku itu.
Melihat itu Nio Cu Ong menjadi gusar, ia lompat kepada si imam untuk menerjang.
Pheng Lian Houw dapat melihat suasana. Ia memang tidak sudi menyerahkan obat pemunahnya. Tidak ayal ia berlompat kepada pauw Sek Yok, untuk menangkap onghui yang dicari Wanyen Lieh itu.
Khu Cie Kee melihat sepak terjang orang itu, ia pun lompat menyerang, mulanya menikam Nio Cu Ong, lalu membabat si orang she Pheng itu. Mereka ini berdua terpaksa lompat mundur.
Khu Cie Kee segera menghadapi Wanyen Kang, ia bentak: “Anak tidak tahu apa-apa, kau mengaku penjahat sebagai ayahmu selama delapan belas tahun, hari ini kau bertemu ayahmu yang sejati, kenapa kau masih tidak hendak mengenalinya?!”
Wanyen Kang memang telah mendengar keterangan ibunya, ia percaya itu delapan bagian, sekarang ia dengar perkataan gurunya, ia lantas menoleh kepada Yo Tiat Sim. Ia melihat seorang dengan pakaian tua dan pecah, pakaian itu kotor dengan tanah. Kemudian ia berpaling kepada Wanyen Lieh, tampak orang tampan dengan pakaian indah. Maka dua orang itu beda bagaikan langit dengan bumi. Ia lantas berpikir: “Mustahilkah aku meninggalkan kekayaan dan kemulian untuk mengikuti seorang melarat, untuk hidup merantau? Tidak, berlaksa kali tidak!” Maka ia lantas berseru, “Suhu, jangan dengar ocehan iblis ini! Suhu, tolonglah ibuku!”
Khu Cie Kee menjadi sangat mendongkol. “Kau sesat, kau tidak sadar, kau kalah dengan binatang!” Ia mendamprat.
Pheng Lian Houw melihat guru dan murid bentrok, mereka perkeras serangan mereka.
Wanyen Kang juga mendapatkan gurunya dalam bahaya tetapi ia berdiam saja.
Imam itu menjadi sangat murka. “Binatang, lihat aku!” dia membentak.
Wanyen Kang berdiam, hatinya ciut. Ia memang paling takut pada gurunya. Maka ia berharap Pheng Lian Houw semua memperoleh kemenangan, supaya gurunya terbinasakan, dengan begitu ia akan selamat untuk selanjutnya.
Tidak lama, lengan kanan Khu Cie Kee kena ditusuk ujung gunting Nio Cu Ong, lukanya tidak hebat tetapi mengeluarkan darah.
Ma Giok melihat bahaya mengancam, ia mengeluarkan sebiji liu-seng, ia sulut itu, lalu melemparkannya, maka suatu sinar api biru lantas meluncur ke udara. Itulah pertanda di antara kaum Coan Cin Pay.
“Imam tua itu mencari kawan!” berseru Pheng Lian Houw, lantas ia meninggalkan Khu Cie Kee untuk menyerang Ma Giok. Ia lantas dibantu See Thong Thian.
Baru mereka ini bergebrak satu kali, di jurusan Barat Laut terlihat meluncurnya satu sinar biru juga.
“Ong sutee di arah kiri sana!” berseru Khu Cie Kee girang. Ia geser pedangnya ke tangan kiri terus ia menyerang hebat, hingga ia dapat membuka jalan.
“Ke sana!” berseru Ma Giok yang menunjuk ke arah Barat Laut.
Yo Tiat Sim bersama Liam Cu, putrinya dengan melindungi Pauw Sek Yok, lari ke arah yang ditunjuk itu, di belakang mereka, Ma Giok menyusul. Imam ini sudah berlompat bangun.
Khu Cie Kee perlihatkan kepandaiannya, ia menghalangi di belakang. See Thong Thian berniat mencekuk Pauw Sek Yok, ia berlompat ke depan, tetapi semua percobaannya sia-sia belaka, ia dirintangi kalau bukan oleh Khu Cie Kee tentu oleh Ma Giok.
Tidak lama tibalah mereka di hotel kecil di mana Ong Cie It mengambil tempat.
Khu Cie Kee heran bukan main. “Kenapa Ong Sutee masih belum menyambut?” ia berpikir. Ia baru berpikir atau ia segera melihat munculnya adik seperguruannya itu, yang jalan dibantu tongkat.
Dua-dua pihak terkejut. Mereka sama-sama tidak menyangka, dari kaum Coan Cin pay, sekarang terluka justru mereka yang paling tangguh.
“Mundur ke dalam hotel!” Khu Cie Kee lantas berseru.
“Serahkan onghui baik-baik, aku nanti ampunkan kamu semua!” Wanyen Lieh berseru.
“Siapa menghendaki pengampunan kau bangsat anjing dari negara Kim?!” mendamprat Tiang Cun Cu. Sembari membuka mulutnya, imam ini terus membikin perlawanan dengan hebat, hingga mau tidak mau, Pheng Lian Houw semua mengaguminya.
Yo Tiat Sim menyaksikan pertempuran itu, ia anggap tidak seharusnya Khu Cie Kee bertiga menjadi korbannya, maka tiba-tiba saja ia tarik tangan Sek Yok, untuk pergi keluar, sambil ia berseru: “Semua berhenti! Di sinilah ajal kami!”
Di tangannya Tiat Sim mencekal tombaknya, dengan itu ia lantas tikam ulu hatinya, maka ia roboh dengan berlumuran darah.
Sek Yok tidak berduka karenanya, ia juga tubruk suaminya, ia tertawa menyeringai, terus ia cabut tombak itu dari tubuh suaminya, untuk gagangnya ditancap ke tanah. Ia menghadap Wanyen Kang seraya berkata: “Anak, masih kau tidak percaya ayahmu yang sejati ini?” Tapi ia tidak menanti jawaban, segera setelah perkataan itu, ia tubrukkan dirinya ke ujung tombak itu, maka ia pun roboh dengan mandi darah.
Kejadian ini sangat hebat, semua orang tidak menduganya, maka juga pertempuran berhenti sendirinya.
Wanyen Kang sangat kaget, sambil menjerit: “Ibu!” ia lari menolong ibunya. Ia lantas menangis melihat dada ibunya tertancap tombak.
Khu Cie Kee lantas memeriksa luka kedua orang itu, ia putus asa.
Wanyen Kang memeluki ibunya, dan Liam Cu ayahnya. Keduanya menggerung-gerung.
“Saudara Yo,” berkata Tiang Cun Cu pada Tiat Sim. “Kau hendak memesan apa? Kau bilanglah padaku, nanti aku lakukan semua itu.”
Belum lagi Tiat Sim sempat menjawab, orang pada menoleh ke arah mereka, karena mereka mendengar tindakan dari banyak kaki orang. Segera mereka melihat datangnya Kanglam Liok Koay bersama Kwee Ceng.
Enam Manusia aneh itu melihat See Thong Thian beramai, mereka menduga bakal terjadi pertempuran lagi, mereka lantas menyiapkan senjata mereka masing-masing. ketika mereka sudah datang dekat, mereka menjadi heran. Di sana ada dua orang terluka dan masing-masing tengah dipeluki dan yang lainnya mengawasi dengan roman tidak wajar.
Kwee Ceng kenali Yo Tiat Sim, segera ia menghampiri. “Paman Yo, kau kenapa?” tanyanya.
Napasnya Tiat Sim sudah lemah, ia kenali anak muda itu, ia tersenyum. “Dahulu hari ayahmu dan aku telah berjanji, kalau kami mendapat anak lelaki dan perempuan, kami akan berbesan, tetapi juga anak pungutku ini ada seperti anakku sendiri….” Ia menoleh kepada Khu Cie Kee, akan meneruskan; “Totiang, tolong kau rekoki perjodohan ini, aku mati pun akan meram.”
“Tenangkan hatimu, saudara Yo,” menyahut si imam ini.
Pauw Sek Yok rebah di samping suaminya, tangan kirinya mencekal erat tangan suaminya, agaknya ia takut sekali suaminya pergi. Ia seperti sudah tidak ingat apa-apa akan tetapi samar-samar ia masih dapat dengar pesan suaminya. Tiba-tiba ia angkat tangannya, untuk merogoh sakunya, darimana ia keluarkan sebilah pisau belati: “Ini buktinya….” katanya, lalu ia tersenyum dan berhenti jalan napasnya.
Khu Cie Kee menyambut pisau itu. Ia kenal pisau yang dulu hari ia berikan di Gu-kee-cun, Lim-an. Pada pisau terukir terang dua huruf “Kwee Ceng”
Yo Tiat Sim pun kata pada anak muda itu: “Masih ada sebilah lagi, ditangan ibumu. Dengan mengingat ayahmu, aku minta baik-baiklah kau perlakukan anakku ini.”
“Aku nanti urus semua, tenangkan dirimu,” janji pula Khu Cie Kee.
Yo Tiat Sim benar-benar merapatkan kedua matanya dengan tentram.
Kwee Ceng berduka sekali berbareng pusing kepala. “Yong-jie begitu baik terhadapku, mana bisa aku menikah dengan orang lain?” katanya dalam hati. Lalu ia menjadi kaget, ia berpikir pula: “Kenapa aku melupakan putri Gochin? Khan Agung telah jodohkan putrinya itu kepadaku! Ini……ini….bagaimana….?”
Selama hari-hari belakangan ini, Kwee Ceng sering ingat tuli tetapi tidak sedikitpun putri Gochin.
Cu Cong beramai berdiam saja atas pesan Tiat Sim itu. Memang mereka tidak berniat menolak pesan terakhir itu tetapi mereka tidak jelas duduknya hal, mereka tidak berani berlaku lancang.
Wanyen Lieh telah mesti menghadapi kejadian hebat itu, ia berduka bukan main. Ia lantas saja memutar tubuhnya, untuk meninggalkan tempat itu. Sejak ia mengambil pauw Sek Yok menjadi istrinya, ia telah mencoba segala daya untuk merebut cinta nyonya itu, tetapi ia tidak berhasil sepenuhnya. Selama belasan tahun, Pauw Sek Yok tidak pernah melupakan Yo Tiat Sim, suaminya.
Menampak pangeran itu berlalu, See Thong Thian beramai segera ngeloyor pergi juga, disebabkan ragu-¬ragu untuk menempur pula ketiha imam dari Coan Cin Pay, sudah mereka itu cukup tangguh, sekarang di samping mereka itu ada Kanglam Liok Koay. Khu Cie Kee dapat melihat orang hendak angkat kaki. “He, Sam Hek Miauw, tinggalkan obatmu!” ia membentak.
Pheng Lian Cu menoleh, ia tertawa lebar. “Cecu kamu she Pheng!” sahutnya. “Akulah kaum kangouw julukan Cian ciu Jin-touw! Kau keliru lihat, Khu Totiang?”
Gentar juga Khu Cie Kee. “Pantaslah ia lihay sekali,” pikirnya. Tapi kakaknya terancam bahaya. Maka ia kata: “Tidak peduli kau seribu tangan atau selaksa tangan, obat itu kau mesti tinggalkan! Jangan harap kau bisa meloloskan diri!”
Imam ini mengejek dengan selaksa tangan, sebab julukan “Cian Ciu” dari Pheng Lian Houw berarti “seribu tangan.”
Lantas Khu Cie Kee lompat menyerang.
Pheng Lian Houw mempunyai tinggal sebatang poan-koan-pit tetapi ia tidak takut, ia menyambut serangan itu, hingga mereka bertempur pula.
Cu Cong melihat Ma Giok duduk bersemedhi, napasnya lagi diempos, sedang sebelah tangan orang hitam legam, ia tanya imam itu kena dapat luka.
“Dia berjabat tangan denganku, siapa tahu dia menggunakan jarum beracun,” menyahut imam itu. Dengan “dia” ia maksudkan Pheng Lian Houw.
“Baiklah, itu tidak berarti!” kata Biauw Ciu Sie-seng si pelajar Tangan Lihay. Ia terus berpaling kepada kakaknya dan berkata; “Toako, mari kasih aku satu biji leng-jie!”
Kwa Tin Ok tidak mengerti maksud orang tetapi ia berikan barang yang diminta. Leng-jie itu ialah lengkak beracun.
Cu Cong mengawasi dua orang yang lagi bertempur itu, ia tidak ungkulan memisahkan mereka, maka itu ia kata pula kepada kakaknya; “Toako, mari kita pisahkan mereka itu, aku ada daya untuk menolong Ma totiang.”
Kwa Tin Ok si Kelelawar Hitam tahu adiknya itu sangat cerdik, ia mengangguk.
Si pelajar Tangan Lihay itu lantas saja berseru: “Kiranya di sana Cian Ciu Jin-touw Pheng Cecu! Kita ada orang sendiri, lekas berhenti berkelahi, aku hendak bicara!” Ia mengatakan demikian tetapi ia tarik tangan kakaknya, maka berdua berbareng mereka menyerbu kepada dua orang yang asyik bertempur itu. Yang satu memegang kipas, yang lain tongkat, dengan itu mereka memisahkan.
Khu Cie Kee dan Pheng Lian Houw heran mendengar perkataan orang yang bilang mereka semua adalah “orang sendiri”. Mereka suka memisah diri dulu, untuk mendengar penjelasan.
Dengan tertawa manis, Cu Cong menghadapi Pheng Lian Houw. Ia kata: “Kami Kanglam Cit Koay dengan Tiang Cun Cu Khu Cie Kee telah bentrok pada delapan belas tahun yang lampau, itu waktu lima saudara kami telah terluka parah, tetapi Khu totiang pun terluka oleh kami. Urusan itu sampai sekarang masih belum dapat di….” Ia lantas menoleh kepada Khu Cie Kee, untuk menanya; “Bukankah benar begitu, totiang?”
Tiang cun Cu mendongkol sekali. Ia menduga orang hendak membuat perhitungan disaat ia menghadapi musuh berbahaya. Maka ia menjawab dengan nyaring: “Tidak salah! Habis kau mau apa?!”
“Tetapi kita pun ada punya sangkutan sama See Liong Ong,” berkata Cu Cong. “Aku dengar See Liong Ong bersahabat sangat erat dengan Pheng Ceecu, karena kami mendapat salah dari See Liong Ong, kami jadi turut bersalah terhadap ceecu…”
“Haha…tidak berani aku menerima itu!” tertawa Pheng Lian Houw.
Cu Cong tertawa, ia berkata pula: “Karena Pheng Ceecu dengan Khu Totiang serta Kanglam Cit Koay ada bermusuhan, bukankah kamu kedua pihak adalah orang sendiri? Maka itu, perlu apa kamu bertarung lagi? Dengan begitu, bukankan aku dengan Pheng Ceecu pun ada orang sendiri? Mari, mari kita mengikat persahabatan!”
Si pelajar Tangan Lihay mengulur tangan, menarik tangannya orang she Pheng itu.
Pheng Lian Houw cerdik, ia curiga kata¬-kata tidak karuan juntrungan dari Cu Cong. Bukankah Coan Cin pay telah menolong murid Kanglam Cit Koay? Tidakkah berarti mereka berdua bersahabat? “Tidak, aku tidak dapat diakali, obatku tidak boleh diperdayakan!” Tapi melihat orang mengulurkan tangan, lekas-lekas ia selipkan senjatanya, berbareng ia keluarkan ban beracunnya.
“Saudara Cu, hati-hati!” Khu Cie Kee memberi ingat. Ia terkejut.
Cu Cong berpura-pura tidak mendengar, ia ulur terus tangannya, kelingkingnya ditekuk. Dengan begitu ia telah membangkol ban orang.
Pheng Lian Houw tidak merasakan apa-apa, ia berjabat tangan dengan si pelajar.
Keduanya lantas mengerahkan tenaga masing-¬masing.
Mendadak Pheng Lian Houw merasakan tangannya sakit sekali, lekas-lekas ia menarik tangannya, untuk dilihat. Betapa kagetnya, telapak tangannya telah berlubang tiga, darahnya yang mengalir berwarna hitam. Ia merasakan gatal, gatal-gatal enak, sakitnya lenyap. Tapi ia orang yang lihay, ia insyaf bahwa ia telah kena racun yang jahat. Makin tidak sakit, makin hebat racun itu. Ia juga merasa lukanya kaku. Ia kaget berbareng gusar, ia juga tidak mengerti kenapa ia sudah kena dicurangi. Ketika ia angkat kepalanya, ia dapatkan Cu Cong berdiri di belakangnya Khu Cie Kee, tangan kirinya mengangkat ban beracunnya yang dijepit dengan dua jari, tangan kanannya menunjuki sebuah lengkak hitam, ujung yang tajam dari buah itu penuh darah.
Kanglam Cit Koay yang nomor dua ini bergelar si Pelajar Tangan Lihay, maka tangannya itu benar-¬benar lihay sekali. Ketika ia mau berjabat tangan, dia sudah siapkan lengkaknya, tempo kedua tangan nempel satu sama lain, ia gaet ban tangan orang dan ujung lengkaknya bekerja!
Bukan main murkanya Pheng Lian Houw, ia berlompat untuk menerjang.
“Kau mau apa?!” membentak Khu Cie Kee, yang melintangkan pedangnya.
Cu Cong segera berkata: “Pheng Ceecu, lengkak ini adalah lengkak kakakku, senjata rahasia yang istimewa, siapa terluka, biar pandai mengukir langit, ia tidak bakal hidup lebih daripada tiga jam!”
Pheng Lian Houw merasakan tangannya kaku, ia percaya keterangan itu, maka tanpa merasa, dahinya mengeluarkan keringat dingin.
“Kau mempunyai jarum beracunmu, aku mempunyai ini lengkakku yang beracun juga,” berkata pula Cu Cong. “Kedua racun beda sifatnya, maka beda juga obatnya. Marilah kita bersahabat, kita saling menukar obat. Akur?”
Belum lagi Pheng Lian Houw menyahut, See Thong Thian sudah majukan diri seraya berkata: “Bagus! Kau keluarkan obatmu!”
“Toako, berikan dia obat itu!” Cu Cong bilang pada kakaknya.
Kwa Tin Ok merogoh dua bungkusan kecil dari sakunya, Cu Cong menyambut.
Khu Cie Kee segera melangkah di tengah. “Saudara Cu, jangan kena terperdaya!” ia memberi ingat. “Mesti dia yang menyerahkan dulu obatnya!”
Cu Cong tertawa. “Perkataan laki-laki mesti dibuktikan dengan kepercayaan,” ia kata. “Aku tidak khawatir dia tidak memberikannya.”
Pheng Lian Houw merogoh sakunya. Mendadak mukanya menjadi pucat. “Celaka!” serunya perlahan sekali. “Obatku lenyap…!”
Melihat orang ayal-ayalan, Khu Cie Kee murka. “Hm, kau masih mainkan tipu iblismu!” ia membentak. “Saudara Cu, jangan berikan!”
Cu Cong tertawa, ia berkata pula: “Kau ambillah! Kita bangsa orang budiman, kata-kata kita ada seumpama kuda dicambuk lari, aku bilang kasih tentu mesti dikasihkan!”
See Thong Thian tahu tangan orang lihay, ia tidak berani menyambut dengan tangan, sebagai ganti tangannya, ia lonjorkan senjata pengayuhnya.
Cu Cong meletakkan obat di atas pengayuh itu dan See Thong Thian menariknya, untuk menjumput itu.
Orang heran dengan kejadian ini. Mengapa Cu Cong memberikan obatnya? Kenapa ia tidak memaksa supaya pihak sana yang memberikan obatnya terlebih dahulu?
See Thong Thian masih menyangsikan obatnya tulen, ia kata: “Kanglam Cit Koay adalah orang-orang kenamaan, tidak dapat ia mencelakai orang dengan obat palsu!”
Cu Cong tertawa. “Tidak nanti, tidak nanti!” ia berkata seraya dengan perlahan-lahan mengasihkan lengkaknya kepada Kwa Tin Ok, kemudian dari sakunya ia keluarkan beberapa rupa barang ialah sapu tangan, kim-cie-piauw, beberapa potong perak hancur serta sebuah pie-yan-hu putih.
Pheng Lian Houw melihat semua barang itu, ia melengak. Itulah semua barang kepunyaannya. Ia heran kenapa semua itu ada di tangan orang. Ia tidak menyangka, selagi berjabat tangan, Cu Cong telah perlihatkan kepandaiannya.
Cu Cong buka tutupnya pie-yan-hu itu, yang di dalamnya terbagi dua. di situ ada obat bubuk masing¬-masing berwarna merah dan abu-abu.
“Bagaimana ini dipakainya?” tanya Pheng Lian Houw.
“Yang merah untuk dimakan, yang abu-abu untuk dibeboreh,” sahut ceecu itu terpaksa.
Cu Cong menoleh kepada Kwee Ceng. “Lekas ambil air! Juga dua buah mangkok!” ia menyuruh.
Bocah itu lari ke dalam hotel, untuk mengambil mangkok dan air, maka sebentar kemudian ia sudah mulai merawat Ma Giok. Mangkok yang satunya ia mau kasihkan kepada Pheng Lian Houw.
“Tunggu dulu!” mencegah Cu Cong. “Kasihkan pada Ong totiang!”
Kwee Ceng melengak tetapi ia serahkan mangkok itu. Ong Cie it juga heran.
“Eh, bagaimana dipakainya dua bungkus obat kamu ini?” See Thong Thian menanya. Ia tidak sabaran.
“Tunggu sebentar, jangan kesusu!” Cu Cong bilang. “Baru satu jam tiga perempat menit, dia tidak bakal mati….” Sembari berkata, Cu Cong mengeluarkan dari sakunya belasan bungkus obat.
Melihat itu Kwee Ceng girang bukan buatan. “Itulah obatnya Ong Totiang!” ia berseru. Ia lantas menyambut semua obat itu, ia bukai bungkusannya dan letaki di depan Ong Cie It. Ia kata: “Totiang, pilihlah sendiri mana yang kau butuhkan.”
Ong Cie It mengawasi semua obat itu, ia menjumput gu-cit, dan tiga lainnya, terus masukkan ke dalam mulutnya, untuk dikunyah, lalu disusuli dengan air.
Nio Cu Ong mendongkol berbareng mengagumi sang lawan. “Begini lihay si pelajar jorok ini,” pikirnya. “Ia cuma ngebuti bajuku, obat itu sudah lantas pindah ke tangannya…”
Karena gusar, ia memutar tubuh mencabut guntingnya. “Mari, mari! Mari kita mengadu senjata!” ia menantang.
“Mengadu senjata?” Cu Cong tertawa. “Oh, sungguh-sungguh aku tidak sanggup menandinginya!”
Khu Cie Kee pun menyela, “Tuan ini adalah Ceecu Pheng Lian Houw, tetapi tuan-tuan yang lainnya belum kami kenal…”
See Thong Thian dengan suaranya yang serak, memperkenalkan kawan-kawannya.
“Bagus!” seru Tiang Cun Cu. “Di sini telah berkumpul semua orang Rimba Persilatan yang kenamaan. Sayangnya selagi kita belum memperoleh keputusan menang dan kalah, kedua belah pihak ada orang-orangnya yang terluka. Aku pikir baiklah kita menjanjikan lain hari untuk bertemu pula.”
“Begitu paling baik!” Pheng Lian Houw menyahut. “Sebelum menemui Coan Cin Cit Cu, mati pun kita tak dapat memeramkan mata! Tentang harinya, silakan Khu Totiang yang menetapkan sendiri.”
Khu Cie Kee tahu lukanya Ma Giok dan Ong Cie It memerlukan rawatan beberapa bulan, sedang saudara-saudaranya yang lain terpencar kelilingan, sukar mencari mereka itu dalam waktu yang pendek, karenanya menyahut: “Baiklah setengah tahun kemudian dihari Pwee gwee Tiong Ciu, kita berkumpul sambil memandangi si Putri Malam sembari meyakinkan juga ilmu silat. Bagaimana penglihatan Pheng Ceecu?”
Pheng Lian Houw setuju dengan pilihan hari itu, pertengahan musim rontok. Ia mengetahui dengan baik, kalau Coan Cin Cit Cu kumpul semua, dengan mereka dibantu oleh Kanglam Cit Koay, jumlah mereka pun menjadi terlebih besar, karena mana pihaknya sendiri perlu mencari kawan. Selama setangah tahun, pasti ia sempat mencarinya. Kebetulan Chao Wang menghendaki mereka pergi ke Kanglam untuk mancuri surat wasiatnya Gak Hui, bolehlah mereka kedua pihak sekalian bertemu di sana. Maka itu, ia pun berkata: “Khu Totiang, sungguh pandai kau memilih hari Pwee gwee Tiong Ciu itu! Karena itu aku anggap kita pun baik sekali memilih juga tempat yang tepat! Aku memikir kepada kampung halaman dari Kanglam Cit Hiap!”
“Bagus, bagus!” menyahuti Khu Cie Kee. “Baiklah, bila tiba waktunya, kita boleh berkumpul di lauwteng Yan Ie Lauw di tengah telaga Lam Ouw di Kee-hin. Aku menganggap tidaklah suatu halangan jikalau tuan-¬tuan mengundang beberapa sahabatmu.”
“Baiklah, begini ketetapan kita!” kata Pheng Lian Houw singkat.
“Pheng Ceecu,” berkata Cu Cong setelah kepastian itu. “Dua bungkus obat di tanganmu itu, yang putih untuk dimakan, yang kuning untuk dipakai di luar.”
Selama itu tangan kanan Pheng Lian Houw sudah kaku sebagian, selama berbicara dengan Khu Cie Kee, ia menahan sakit, maka itu begitu mendengar perkataan Cu Cong, tidak berayal sedetik juga, ia lantas makan obat yang putih itu.
Kwa Tin Ok dengan suaranya yang dingin berkata,” Pheng Ceecu, dalam tempo tujuh kali tujuh, empatpuluh sembilan hari kau mesti pantang minum arak! Kau pun mesti memantang paras elok! Kalau tidak nanti di harian Pwee gwee Tiong Ciu di Yan Ie Lauw kita tidak bakal kekurangan cecu satu orang, hingga karenanya pastilah lenyap kegembiraan kami!”
Pheng Lian Houw merasa bahwa ia diejek, tetapi karena orang bermaksud baik, ia tidak menunjuk kemurkaan. “Terima kasih untuk perhatianmu!” ia bilang. Ia sungkan menyebutkan kebaikan hati orang.
See Thong Thian sudah lantas menolongi kawan itu memakai obat luar, habis mana ia mempepayang untuk diajak berlalu.
Wanyen Kang berlutut di tanah, ia paykui empat kali kepada mayat ibunya, kemudian ia paykui beberapa kali kepada Khu Cie Kee, gurunya itu, habis itu tampa mengucap sepatah kata, ia berlalu dengan mengangkat kepala.
“Eh, Kang-jie, apakah artinya itu?!” sang guru menanya, membentak.
Wanyen Kang tidak menyahut, ia juga tidak berjalan bersama rombongannya Pheng Lian Houw, ia hanya mengambil sebuah tikungan di pojok jalan.
Khu Cie Kee terdiam. Tetapi ia segera sadar, maka itu ia terus memberi hormat kepada Kwa Tin Ok beramai seraya berkata: “Jikalau hari ini kami tidak mendapat pertolongan Liok Hiap, pastilah kami bertiga sudah kehilangan jiwa. Mengenai muridku, yang tidak ada sekelingking murid Liok Hiap, untuk pertemuan nanti di Cui Siang Lauw di Kee-hin, disini aku menyatakan taklukku.”
Kanglam Liok Koay senang mendengar perkataan si imam, dengan begitu tidak sia-sialah yang mereka telah membuat tempo delapanbelas tahun di gurun pasir. Kwa Tin Ok lantas menjawab dengan merendah.
Sampai di situ, selesai sudah pembicaraan mereka. Ma Giok dan Ong Cie It lantas dipepayang masuk ke dalam rumah penginapan. Coan Kim Hoat pergi membeli peti mati untuk merawat jenazah Yo Tiat Sim dan Pauw Sek Yok, suami istri.
Khu Cie Kee bersusah hati melihat Bok Liam Cu yang sangat berduka itu.
“Nona, bagaimana hidupnya ayahmu selama beberapa tahun ini?” ia menanya.
“Selama belasan tahun ayah telah mengajak aku merantau ke Timur dan ke Barat,” menyahut si nona. “Belum pernah kami berdiam di suatu tempat lamanya sepuluh hari atau setengah bulan. Ayah membilang, dia hendak mencari satu orang…. seorang engko she Kwee…..”
Perlahan sekali suara si nona, kepalanya pun tunduk. Ia likat.
Khu Cie Kee menoleh ke arah Kwee Ceng. “Bagaimana caranya ayahmu mendapatkan kau?” ia tanya si nona pula.
“Aku ada orang asal Gu-kee-cun di Lim-an,” Liam Cu menyahut pula. “Sejak kecil aku tidak mempunyai ayah dan ibu, aku tinggal menumpang sama seorang bibiku. Bibi tidak perlakukan baik padaku, demikian pada suatu hari ia telah memukul aku serta tidak memberikan aku nasi untuk berdahar, selagi aku menangis di depan pintu, lewatlah ayah angkatku ini. Ia merasa kasihan padaku, ia bicara sama pamanku, lalu ia ambil aku sebagai anak pungut. Demikian aku diajak merantau, diajari ilmu silat. Untuk mencari engko she Kwee itu, aku turut ayah merantau. Aku mesti sering melakukan pertempuran, karena ayah telah mengibarkan benderanya, bendera untuk pibu guna mencari pasangan….”
“Nah, inilah soalnya,” berkata Khu Cie Kee. “Baiklah kau mengerti, ayahmu itu bukan she Bok, dia she Yo. Selanjutnya kau memakai she Yo juga.”
“Tidak, aku bukan she Yo, baik aku tetap she Bok,” berkata si nona itu. Ia bersangsi.
“Kenapa? Apakah kau tidak percaya aku?” tanya si imam.
“Bukan aku tidak percaya, aku cuma ingin tetap memakai she Bok.”
Melihat orang berkukuh, imam itu tidak memaksa. Bukankah orang baru saja kehilangan ayahnya dan hatinya sangat berduka? Ia tidak tahu, didalam hatinya, Liam Cu sudah menyerahkan diri kepada Wanyen Kang. Kalau Wanyen kang itu berayah she Yo, dia pun she Yo juga, maka kalau ia memakai she Yo, mana bisa mereka menikah? Ong Cie It sementara itu merasakan satu kesangsian. Setelah makan dan pakai obat, ia merasa segar, sembari rebah di pembaringan, ia mendengar pembicaraan saudaranya dan nona itu. Ia ingat bagaimana si nona bertanding sama Wanyen Kang.
“Eh,” tanyanya,” Kau bilang kau diajari silat oleh ayahmu, kenapa buktinya kau lebih gagah daripada ayahmu itu?”
“Itulah disebabkan pada suatu hari ketika aku berumur tigabelas tahun, aku bertemu seorang berilmu, Liam Cu menyahut. “Untuk tiga hari lamanya dia ajarkan aku ilmu silat. Sayang otakku buta, tidak dapat aku mewariskan semua pelajaran yang diajarkannya…” kata si nona pula.
“Jikalau ia cuma mengajarkan tiga hari, kenapa kau jauh lebih lihay daripada ayahmu?” imam itu menanya pula. “Siapakah orang berilmu itu?”
“Maaf, totiang, bukannya aku berani mendusta, sebenarnya aku telah mengangkat sumpah, dari itu tidak berani aku menyebutkan namanya.”
Ong Cie It berdiam, ia tidak menanya lebih jauh. Tapi ia berpikir terus, ia mengingat-ingat ilmu silatnya si nona selama dia melayani Wanyen Kang. Sekian lama ia masih tidak mengingatnya, ia tidak dapat mengenali. Hal ini membuatnya bertambah heran.
“Khu Suko,” akhirnya ia tanya kakaknya, “Bukankah kau telah mengajari Wanyen Kang selama delapan atau sembilan tahun?
“Tepatnya sembilan tahun enam bulan,” menjawab Khu Cie kee. “Ah, aku tidak sangka sekali bocah itu tidak berbudi….”
“Ah, benar-benar aneh?” Cit It bilang.
Cie Kee heran. “Kenapa?” tanyanya.
Cit It diam, ia tidak memberi jawaban.
“Khu Totiang,” Tin Ok menanya. “Bagaimana caranya kau dapat mencari turunan Yo Toako itu?”
“Itu terjadi secara kebetulan,” sahut Tian Cun Cu. “Semenjak kita membuat perjanjian, aku pergi kemana-mana mancari turunan kedua keluarga Yo dan Kwee itu. Selama beberapa tahun, aku tidak memperoleh hasil. Karena ini aku merasa bahwa dalam halnya pibu, pihak kami pastilah kalah. Tapi aku tidak putus asa. Aku mencari terus. Kembali aku balik ke Gu-kee-cun. Pada suatu hari aku melihat beberapa hamba negeri pergi ke rumahnya saudara Yo itu, mereka mengangkut pergi semua barang perabotan rumah tangga. Aku heran, lantas aku menguntit mereka. Di luar dugaan mereka, aku mendapat dengar pembicaraan mereka. Nyatanya mereka bukanlah sembarang orang. Merekalah pengikut-pengikut pangeran Chao Wang dari negara Kim, mereka sengaja datang untuk mengangkut isi rumah saudara Yo. Mereka bilang, tidak boleh ada barang yang kurang, tak terkecuali bangku, meja dan tombak serta luku juga. Oleh karena itu aku heran, aku jadi curiga, maka aku menguntit mereka terus sampai di Tiongtouw.”
Mendengar sampai disitu, Kwee Ceng sadar. Selama berdiam di dalam gedung Pangeran Chao Wang, ia pernah melihat kamarnya Pauw Sek Yok serta perlengkapannya. Ia heran seorang istri Pangeran, tetapi perlengkapan rumahnya sangat miskin….
Khu Cie Kee melanjutkan keterangannya: “Malamnya aku pergi memasuki gedung pangeran itu. Untuk memastikan apa perlunya barang-barang demikian diangkut jauh-jauh, dibawa ke istana. Setelah aku memperoleh kenyataan, aku menjadi sangat gusar berbareng berduka dan terharu sekali. Ternyata Pauw Sek Yok, istri saudara Yo itu, sudah menjadi onghui, menjadi istri Pangeran Chao Wang. Saking murkanya, aku berniat membunuh Sek Yok itu. Kemudian aku mengubah pikiranku. Segera aku mendapat kenyataan, Sek Yok tinggal di sebuah rumah batu yang kecil, di situ ia memeluki dan mengusap-usap tombaknya saudara Yo, semalam¬-malaman ia menangis saja. Teranglah ia tidak dapat melupakan suaminya. Karena itu, aku batal membunuhnya. Kemudian aku mendapat keterangan, putranya Pangeran Chao Wang itu adalah putranya saudara Yo. Lewat lagi beberapa tahun, setelah usianya Wanyen Kang bertambah, aku mulai memberikan dia pelajaran ilmu silat.”
“Mungkinkah itu binatang sampai sebegitu jauh belum mengetahui asal-usulnya sendiri?” Tin Ok menanya.
“Tentang itu pernah aku mencoba mencari tahu,” berkata Khu Cie Kee. “Aku mendapat kenyataan ia telah terpengaruh harta dan kemuliaan, karena itu, aku tidak lantas membeberkan rahasianya. Aku pikir hendak menunggu sampai ia bertemu dan pibu sama Kwee Sie-heng, baru aku hendak mengakurkan mereka, untuk kemudian menolong ibunya, pernahkan mereka di suatu tempat tersembunyi. Aku tidak sangka sama sekali, sebenarnya saudara Yo masih hidup, malah bersama-sama saudaraku, kita kena terpedaya hingga beginilah pengalaman kami yang pahit. Ah…!”
Mendengar itu, Bok Liam Cu menangis seraya menutupi mukanya.
Kwee Ceng lantas turut bicara, menuturkan bagaimana dia bertemu sama Yo Tiat Sim, dan bagaimana mereka bertemu juga sama Pauw Sek Yok pada malam itu.
Semau orang lantas memuji Pauw Sek Yok, yang ternoda saking terpaksa, tetapi akhirnya dia berkorban untuk kehormatan cinta suci terhadap suaminya.
Setelah itu, pembicaraan mereka beralih kepada soal bertanding nanti di bulan kedelapan.
“Seluruh anggota Coan Cin Pay bakal hadir, apalagi yang dibuat khawatir?” berkata Cu Cong.
“Aku berkhawatir mereka mengundang banyak kawan hingga jumlah kita menjadi terlebih sedikit,” Ma Giok mengutarakan kekhawatirannya.
“Bisakah mereka mengundang banyak orang pandai?” Cie Kee bertanya.
“Bukan begitu, sutee,” berkata Tan Yang Cu seraya menghela napas. “Selama beberapa tahun ini aku benar telah memperoleh banyak kemajuan, hingga kau dapat memancarkan pengaruh partai kita, akan tetapi di sebelah itu, jangan kita melupakan, tidak dapat kita bertemberang dan menuruti adat muda…”
Cie Kee tertawa. “Jadi kita harus ketahui, bahwa diluar langit ada yang terlebih tinggi, di atas orang pandai ada lagi orang yang terlebih pandai?” katanya.
“Memang begitu. Lihat saja beberapa orang tadi, bukankah mereka itu tak ada dibawahan kita? Coba mereka dapat mengundang lagi beberapa orang, maka dalam pertemuan di Yan Ie Lauw sukar ditentukan dari sekarang, siapa bakal kalah, siapa bakal menang….” jawab Ma Giok lagi.
“Tapi mungkinkah kita Coan Cin Pay bakal roboh di tangannya beberapa jahanam itu?” Khu Cie Kee menegasi.
“Segala apa tak dapat diduga, saudaraku. Buktinya kejadian tadi. Kalau tidak ada Kwa Toako dan Cu Jieko datang membantu, bukankah akan runtuh nama baik kita yang sejak beberapa puluh tahun? Tidakkah kita bertiga bakal kehilangan nyawa kita disini?” kata Ma Giok.
Tin Ok dan Cu Cong lekas-lekas merendahkan diri. “Mereka itu telah menggunakan akal muslihat,” kata mereka. “Kemenangan mereka itu tak dapat dibuat sebutan.”
Ma Giok menghela napas. “Memang kita harus berhati-hati,” katanya. “Lihat saja Ciu Susiok kita. Ia telah mewariskan kepandaian guru kita, kepandaiannya sepuluh lipat melebihi kita, tetapi ia terlalu mengandalkan diri, sampai sekarang sudah belasan tahun, tak diketahui dimana adanya dia. Maka itu Ciu Susiok itu harus dijadikan contoh.”
Mendengar perkataan kakaknya ini, Cie Kee berdiam.
Kanglam Liok Koay tidak mengetahui yang Coan Cin Cit Cu masih mempunyai susiok, paman guru, mereka heran, tetapi mereka tidak berani menanyakan keterangan.
Ong Cie It sendiri membungkam selama dua saudaranya itu berbicara.
Kemudian Khu Cie Kee melirik kepada Kwee Ceng dan Bok Liam Cu. “Kwa Toako,” katanya tertawa. “Tidak kecewa murid yang kau pimpin itu. Yo Sutee mendapatkan baba mantu seperti ini, ia mati pun meram….”
Merah mukanya Liam Cu, ia berbangkit, sembari tunduk ia berjalan untuk keluar.
Ong Cie It dapat melihat caranya orang berbangkit dan bertindak, mendadak berkelebatlah suatu ingatan di otaknya, sebab sekali ia turun dari atas pembaringannya dan sebelah tangannya melayang ke pundak orang.
Hebat serangan mendadak ini, tatkala si nona sadar, pundaknya sudah kena ditekan, percuma ia hendak mempertahankan diri, ia terhuyung ngusruk. Tapi tangan kiri Cit It menyusul, sebelum ia jatuh, dia sudah dapat ditolong. Dia heran dan kaget, dengan mendelong ia mengawasi imam itu.
Ong Cie It lantas tertawa. “Jangan kaget, Nona,” katanya. “Aku sedang menguji kepandaianmu. Bukankah itu orang yang berilmu yang mengajari kau ilmu silat cuma tiga hari mempunyakan hanya sembilan jari tangan dan dandannya sebagai pengemis?”
Nona Bok menjadi terlebih heran lagi. “Eh, mengapakah totiang ketahui itu?” dia balik menanya.
Cit It tertawa pula. “Kiu Cie Sin Kay Ang Locianpwee itu memang aneh sepak terjangnya,” ia berkata, menerangkan. “Dia mirip dengan naga sakti yang nampak kepalanya tetapi tidak ekornya. Kau telah mendapat pengajaran dari dia, Nona, kau beruntung sekali. Sebenarnya sangat sukar mendapatkan seperti kau.”
“Hanya sayang guruku itu tidak mempunyai tempo yang luang, dia cuma bisa mengajari tiga hari lamanya,” menambahkan si nona.
“Apakah kau tidak kenal kecukupan, Nona?” Ong Cie It menegaskan. “Kau tahu, pengajarannya itu tiga hari melebihi pengajaran lain orang sepuluh tahun!”
“Totiang benar juga,” kata Liam Cu, yang terus berdiam tapi cuma sejenak, terus ia menanya: “Apakah totiang ketahui dimana adanya Ang Locianpwee itu sekarang?”
Cit It tertawa pula. “Perkataanmu menyulitkan aku, Nona!” ia berkata. “Adalah pada duapuluh tahun yang lampau aku menemui dia di puncak gunung Hoa San, habis itu aku tidak melihat dan mendengarnya pula.”
Liam Cu merasa kecewa, perlahan-lahan ia bertindak keluar.
“Ong Totiang, siapakah itu Ang Locianpwee?” Han Siauw Eng menanya. Sejak tadi si nona sudah tertarik hatinya mendengar disebutnya orang itu yang ada dari tingkat lebih tinggi dan tua (locianpwee).
Imam she Ong itu tersenyum, ia balik ke pembaringannya.
“Han Lie-hiap,” Ong Cie It menanya, “Pernahkah kau mendengar sebutan Tong Shia See Tok, Lam Tee Pak Kay dan Tiong Sin Thong?”
Nona Han itu berpikir. “Rasanya pernah aku mendengar tetapi aku tidak tahu apa artinya itu semua.”
Tiba-tiba Kwa Tin Ok memotong: “Ang Locianpwee itu bukankah Pak Kay dari Lam Tee Pak Kay itu?”
“Benar,” Ong Cie It memberikan jawabannya. “Tiong Sin Thong itu adalah almarhum Ong Cinjin yang menjadi guru kami.”
Kanglam Liok Koay kagum mendengar si orang she Ang sama tersohornya dengan gurunya Coan Cin Cit Cu.
Khu Cie Kee menoleh kepada Kwee Ceng, sembari tertawa ia berkata: “Bakal istrimu itu muridnya Kiu Cie Sin Kay yang ternama besar, di belakang hari siapa yang nanti berani menghinamu?”
Muka Kwee Ceng menjadi merah, berniat membantah tetapi ia tidak dapat membuka mulutnya.
“Ong Totiang,” kemudian Han Siauw Eng menanya pula. “Kau cuma menekan pundaknya si nona, cara bagaimana kau lantas bisa mendapat tahu dialah muridnya Kiu Cie Sin Kay itu?”
Selagi Cie It belum menyahut, Cie Kee menggapai kepada Kwee Ceng, siapa sudah lantas datang menghampiri. Mendadak saja ia menekan pundak si anak muda.
Kwee Ceng pernah mendapat pelajaran rahasia ilmu dalam dari Ma Giok, pelajaran yang disebut Hian¬bun Ceng-cong, ia juga telah makan darahnya ular, tenaga dalamnya kokoh sekali, dari itu tidaklah ia roboh tertekan si imam.
Khu Cie Kee tertawa. “Anak yang baik!” katanya seraya mengangkat tekanannya.
Kwee Ceng tidak berani melawan lebih jauh tenaga dalam si imam itu tapi justru itu, ia ditekan pula. Kali ini, tidak ampun lagi, ia roboh terjengkang, sebab ia tidak bersiaga. Tapi ia tidak roboh terguling, begitu pula tangannya mengenakan tanah, ia sudah berlompat berdiri pula.
Menyaksikan itu, semua orang tertawa.
“Anak Ceng,” Cu Cong lantas berkata, “Khu Totiang telah memberikan kau pelajaran, kau ingatlah baik-¬baik.”
Kwee Ceng menyahuti sambil mengangguk.
“Han Lie-hiap,” Khu Cie Kee berkata pula, sekarang kepada Han Siauw Eng, “Siapa pun yang mempelajari ilmu silat, jikalau ia ditekan, mesti ia roboh terjengkang, cuma ilmu silat Kiu Cie Sin Kay yang tidak mempan tekanan, paling-paling orang terhuyung ke depan. Sebab ini kepandaian Ang Locianpwee itu banyak yang bertentangan sama ilmu silat kebanyakan.”
Liok Koay kagum untuk pengetahuan luas dari kaum Coan Cin Pay itu.
“Apakah Ong Totiang pernah melihat Kiu Cie Sin Kay bersilat?” Cu Cong tanya.
“Pada duapuluh tahun dulu itu,” menyahut Ong Cie It, “Kiu Cie Sin Kay telah berkumpul berlima bersama Oey Yok Su di puncak gunung Hoa San, di mana mereka merundingkan ilmu silat pedang, karena aku senantiasa mendampingi guruku, aku jadi dapat mendengar penguraiannya Kiu Cie Sin Kay itu.”
“Bukankah Oey Yok Su itu adalah Tong Shia dari Tong Shia See Tok?” Tin Ok tanya pula.
“Benar,” menjawab Tiang Cun, yang terus berpaling pada Kwee ceng sambil tertawa mengatakan: “Syukur Ma Suko telah ajarkan kau ilmu silat tetapi di antara kamu belum ada hubungan murid dan guru, jikalau tidak, mungkin terbit salah paham. Kau mesti terlebih rendah tingkatannya daripada bakal istrimu itu, dengan begitu seumurmu, tidak nanti kau dapat menanjak naik….”
Kwee ceng jengah, mukanya merah. “Tidak dapat aku menikah dengannya,” katanya.
Khu Cie Kee heran, hingga air mukanya berubah. “Kenapakah?” tanyanya.
Han Siauw Eng menyayangi muridnya itu, ia merasa kasihan, ia mewakili menyahut. “Kami cuma ketahui turunan Yo toako adalah anak laki-laki, maka itu selama di Mongolia anak Ceng ini sudah bertunangan. Oleh Khan besar dari Mongolia, Jenghiz Khan, ia telah diangkat menjadi Kim-to Hu-ma.”
Mendengar keterangan itu, Khu Cie Kee tertawa dingin. “Bagus betul!” katanya. “Orang adalah satu putri, pantaslah dia beda daripada yang lain. Tetapi disini adalah mengenai pesan orang tua mereka. Adakah kamu tidak memerdulikan itu?!”
Kwee Ceng menjadi ketakutan, ia lantas saja menekuk lututnya. “Teecu belum pernah sekali juga bertemu sama ayahku almarhum,” ia berkata, “Dari itu tidak tahu teecu tentang pesan ayahku itu. Sukalah Totiang memberi petunjuk?”
Cie Kee tertawa. “Ya, kau tidak dapat dipersalahkan!” katanya. Tadi ia tak ingat akan hal ini. Habis itu lalu ia menutur kejadian pada delapanbelas tahun yang lampau di Gu-kee-cun, bagaimana ia berkenalan sama Kwee Siauw Thian dan Yo Tiat Sim, bagaimana ia sudah pukul mundur musuh, bagaimana ia menyusul dua orang itu hingga jadi bentrok sama Kanglam Cit Koay, dengan kesudahannya dibuat perjanjian pibu antara keturunan Siauw Thian dan Tiat Sim itu.
Kwee Ceng lantas saja menangis. Baru sekarang ia ketahui jelas tentang dirinya sendiri. Ia berduka untuk sakit hati ayahnya, sakit hati mana belum terbalas. Karena ini juga ia menjadi ingat baik-baik budi semua gurunya.
Han Siauw Eng menghibur muridnya, ia kata: “Sudah lumrah, laki-laki mempunyai tiga istri serta empat gundik, maka itu belakang hari bolehlah kau memberitahukan kepada Khan yang agung halnya kau akan menikah dua istri. Ini toh untuk kebaikan kedua pihak, bukan?”
Kwee Ceng menepas air matanya. “Aku juga tidak akan menikahi Putri Gochin!” katanya.
Nona guru itu menjadi terkejut dan heran. “Kenapakah?” tanyanya.
“Aku tidak senang ia menjadi istriku,” Kwee Ceng menyahut dengan terus terang.
“Bukankah kau kenal ia dengan baik dan pernah bergaul rapat?” Siauw Eng menanya pula.
“Ya, tetapi aku pandang ia sebagai adik saja, sebagai sahabat. Aku tidak ingin menikah dengannya.”
Khu Cie Kee menjadi girang mendengar itu. “Anak yang baik, kau bersemangat!” pujinya. “Peduli apa dia Khan yang agung atau tuan putri, kau baiklah turut pesan ayahmu almarhum dan paman Yo-mu itu, kau menikah dengan nona barusan!”
Kwee Ceng menggeleng kepala. “Aku juga tidak akan nikahi nona ini,” katanya.
Semua orang menjadi heran, tidak tahu mereka apa yang dipikirkan pemuda ini.
“Apakah kau telah mempunyai nona lain yang kau penujui?” tanya Siauw Eng perlahan. Dasar wanita, nona Han ini dapat menyelami hati orang.
Muka Kwee Ceng menjadi merah, dia berdiam sejenak, baru ia mengangguk.
Han Po Kie dan Khu Cie Kee terperanjat. “Siapakah nona itu?!” tanya mereka keras.
Kwee Ceng mengasih dengar suaranya perlahan, ia tidak menjawab.
Sedeik itu, Han Siauw Eng lantas ingat Oey Yong, yang ia telah perhatikan ketika malam itu bertempur dengan Bwee Tiauw Hong dan Auwyang Kongcu beramai di dalam istana pangeran. Ia ketahui nona itu berkulit putih bersih dan cantik menarik.
“Bukankah kau maksudkan si nona baju putih?” ia tegaskan muridnya itu.
Kwee Ceng tidak menjawab tetapi mukanya menjadi merah.
“Siapakah dia itu?” Khu Cie Kee tanya si nona Han.
“Aku dengar Bwee Tiauw Hong memanggil ia sumoay dan kepada ayahnya suhu…” menjawab Siauw Eng perlahan sekali. (Sumoay = adik seperguruan wanita dan suhu = suhu)
Dua-dua Kwa Tin Ok dan Khu Cie Kee terperanjat, hingga mereka berlompat bangun. “Mustahilkah ia putrinya Oey Yok Su?” tanya mereka berbareng.
Siauw Eng tarik tangan muridnya, “Anak Ceng, apakah nona itu she Oey?” ia menanya perlahan.
Kwee Ceng mengangguk. “Ya,” sahutnya, perlahan juga.
Mendapat jawaban itu, Han Siauw Eng tergugup.
“Apakah ayahnya yang jodohkan kau dengan putrinya?” tanya Cu Cong.
“Aku belum pernah bertemu dengan ayahnya dan tidak tahu siapa itu ayahnya,” si murid menjawab.
“Kalau begitu, kamu jadi mufakat berdua saja?” Cu Cong menanya pula.
Kwee Ceng tidak mengerti jelas, ia membuka lebar matanya tanpa menjawab.
“Bukankah dia mengatakan mesti menikah dengamu dan kau membilang akan nikahi dia?”
“Tidak pernah dikatakan begitu…” sahut Kwee Ceng, yang terus berdiam, tetapi sesaat kemudian ia menambahkan: “Tidak usahlah itu dijelaskan lagi. Aku tidak dapat tidak mempunyai dia dan dia juga tidak dapat tidak mempunyai aku, hati kita sama mengetahuinya….”
Han Po Kie belum pernah mengenal asmara, mendengar itu ia menjadi tidak puas. “Habis bagaimana jadinya!” ia membentak.
Cu Cong lain lagi. Berkata ini guru yang nomor dua: “Kau tahu tidak, ayahnya nona itu adalah satu iblis besar, yang kalau membunuh orang tidak pernah mengicap matanya? Jikalau ia ketahui kau secara diam-diam mencuri hati anak gadisnya, apa kau sangka masih mempunyai jiwamu? Bwee Tiauw Hong belum mewariskan satu persepuluh dari kepandaian gurunya itu, dia sudah sangat lihay, maka jikalau tuan dari Pulau Tho Hoa To itu hendak membunuh kau, siapa yang dapat menolonginya?”
“Yong-jie demikian baik, aku pikir…. aku pikir ayahnya tak mungkin bukan orang baik-baik,” berkata si murid perlahan.
“Angin busuk!” membentak Po Kie, yang tetap murka. “Kau mesti bersumpah bahwa untuk selanjutnya kau tidak akan bertemu pula dengan nona itu!”
Kanglam Liok Koay sangat membenci Hek Hong Saing Sat yang telah membinasakan Siauw Mie To Thio A Seng si Buddha Tertawa, dengan sendirinya mereka jadi membenci juga guru orang itu.
Kwee Ceng menjadi susah hati. Di satu pihak adalah guru-gurunya telah melepas budi banyak kapadanya, dilain pihak cinta sejati. Ia pikir, kalau seumurnya ia tidak dapat bertemu lagi Oey Yong, apakah artinya hidupnya – buat apa ia menjadi manusia? Ia jujur dan polos, dari itu halus sekali perasaannya. Ketika ia melihat guru--gurunya mengawasi dengan bengis, hancur rasa hatinya. Ia lantas menekuk lutut, air matanya turun mengalir di kedua pipinya.
Han Po Kie lantas maju setindak. “Lekas bicara!” ia membentak.
Belum lagi Kwee Ceng menyahut, di luar jendela sudah terdengar suara wanita muda: “Kenapa kamu main paksa orang?!” Tercenganglah Tin Ok semua. Sedang begitu, si nona itu telah berkata pula: “Engko Ceng, lekas keluar!”
Kwee ceng kenal suara Oey Yong, ia kaget dan berbareng heran. Ia lantas bangkit dan memburu keluar. Di depan berdiri si nona cantik, tangan kirinya memegang pelana kuda Han-hiat Po-ma.
Kuda merah itu meringkik panjang, ketika melihat anak muda ini, lalu kedua kaki depannya diangkat, untuk berjingkrakan.
Han Po Kie bersama Cu Cong dan Coan Kim Hoat memburu keluar, diikuti Khu Cie Kee berempat.
Menampak ketiga guru itu, Kwee Ceng menunjuk kepada si nona seraya berkata; “Sam-suhu, inilah dia si nona, dia bukan siluman!”
Oey Yong menjadi gusar. “Hai, orang kate terokmok yang menyebalkan untuk dilihat, kenapa kau berani memaki aku perempuan siluman?!” dia menanya sambil membentak. Dia pun segera menuding Cu Cong tanpa menanti lagi jawaban Ma Ong Sin si Malaikat Raja Kuda, untuk menambahkan: “Ada lagi kau, pelajar iblis yang jorok kotor, kenapa kau mencaci ayahku? Kenapa kau katakan ayahku iblis besar yang membunuh orang tidak mengicap mata?!”
Biauw Ciu Sie-seng si Pelajar Tangan Lihay sabar, ia tidak sudi melayani seorang nona, ia tersenyum. Ia mesti akui nona ini sangat cantik, seumurnya belum pernah ia lihat lain nona yang melebihkannya, jadi tidaklah heran Kwee Ceng menjadi jatuh hati kepada si nona.
Tapi beda dengan kakaknya yang kedua ini, Han Po Kie gusar bukan main, sampai kumisnya bangun berdiri. “Pergi kau! Lekas kau pergi!” ia mengusir.
Bukannya si nona Oey itu pergi, ia justru menepuk-¬nepuk tangan, ia bernyanyi; “Hai, labu parang! Hai, bola kulit bundar! Ditendang satu kali, lalu bergelindingan!”
“Jangan nakal, Yong-jie!” kata Kwee Ceng lekas mencegah. “Ini guruku….”
Han Po Kie maju, ia mengulurkan tangan akan menolak si nona itu untuk diangkat pergi.
Masih Oey Yong bernyanyi: “Labu parang! Bola kulit bundar!” Ia pun mundur dari tangannya si kate terokmok itu, hanya sambil mundur, mendadak tangannya menyambar pinggang Kwee Ceng, terus ia bawa lompat, maka sedetik kemudian, keduanya sudah bercokol di atas kuda merah, tempo mana si nona itu mengedut tali les, Han-hiat Po-ma membuka tindakan lebar dan kabur!
Han Po Kie boleh sangat gesit dan sebat tetapi tidak sanggup menyandak kuda jempolan itu.
Ketika kemudian Kwee Ceng menoleh ke belakang, wajah Po Kie semua terlihat hanya samar-¬samar saja, lantas bergelempang hitam, terus lenyap, saking keras larinya si kuda merah itu!
Oey Yong mencekal les dengan tangan kanan, tangan kirinya memegang tangan si anak muda, hatinya berdenyut keras, walaupun belum lama mereka berpisahan, Kwee Ceng sendiri bingung sekali. Berat untuknya perpisahan secara demikian dari keenam gurunya, sebaliknya, pepat juga hatinya mengingat gurunya itu hendak memisahkan dari pacarnya. Mana bisa ia tunduk kepada mereka?
Kabur kira-kira satu jam lamanya, Han-hiat Po-ma telah terpisah duaratus lie dari kota Yan-khia. Sampai disitu barulah Oey Yong menarik tali les kudanya, untuk mengasih kudanya berhenti. Lantas ia lompat turun dari binatanang, diturut oleh pemuda pujaannya. Kuda itu menggosok-gosok lehernya ke pinggang si anak muda, menandakan kelulutannya.
Sepasang muda-mudi ini berpegagan tangan, mereka berhadapan tanpa mengucapkan sepatah kata. Banyak yang mereka ingin ucapkan, tetapi mereka tidak tahu harus bagaimana memulainya. Cuma hati mereka yang berbicara satu pada lain……….
Beberapa saat kemudian, baru Oey Yong melepaskan tangannya dari tangan Kwee Ceng. Ia merogoh kantung kulit di pelana, menarik keluar sepotong sapu tangan, terus pergi ke tepi kali kecil di dekatnya, untuk mencelup saputangan itu, kemudian kembali ke pemudannya.
“Kau pakailah ini,” katanya perlahan, meminta orang menyusut mukannya yang keringatan.
Kwee Ceng berdiri bengong, agaknya ia berpikir keras sekali. Ia tidak menyambut saputangan itu, hanya sekonyong-konyong ia berkata, keras; “Yong.jie, tidak dapat kita berbuat begini….”
Pemudi itu terperanjat, ia menatap, “Apa katamu?” tanyanya.
“Kita harus kembali,” Kwee Ceng bilang. “Kita mesti menemui guruku semua…!”
Kembali Oey Yong terperanjat. “Kembali?” ia menegasi. “Kita kembali bersama?”
“Benar!” sahut pemuda itu. “Hendak aku mencekal tanganmu, kepada guruku semua dan Ma Totiang beramai ingin aku mengatakan; ‘Inilah Yong-jie! Dia bukan siluman perempuan!’” Sembari berkata begitu, ia menarik tangan yang putih mulus dan lemas dari si nona, kemudian ia angkat kepalanya, untuk mengawasi wajah orang. Ia agaknya hendak mengatakan pula; “Suhu, budi kamu besar laksana gunung, walaupun tubuhku hancur luluh, sukar aku membalasnya…Tapi, tapi Yong-jie bukannya siluman, dialah satu nona yang baik sekali…” ia hendak omong banyak, tapi cuma sampai di situ, berhentilah pikirannya melamun.
Mulanya Oey Yong tersenyum, ia anggap orang jenaka sekali, tetapi kemudian hatinya tergerak. Ia lantas berkata: “Engko Ceng, semua gurumu sangat benci aku, percuma kau omong banyak dengan mereka. Sudahlah, jangan engkau kembali! Mari kita pergi ke sebuah gunung sunyi, atau ke sebuah pulau mencil di laut, supaya mereka itu selama umurnya tidak dapat mencari kita….”
Kwee Ceng tetap menatap. “Yong-jie,” katanya, suaranya mantap, “Tidak dapat tidak, kita mesti kembali.”
“Tapi mereka itu hendak memisahkan kita, nanti kita tidak bakal bertemu pula,” kata si nona pula.
“Biar mati, kita tidak bakal berpisah!” si pemuda memastikan.
Semangat Oey Yong terbangun, kalau tadi hatinya berdebaran, sekarang hatinya menjadi mantap.
“Benar!” pikirnya. “Paling banyak kita mati! Mustahil ada yang lebih hebat dari kematian?” Maka ia kata: “Engko ceng, untuk selama-lamanya aku akan dengar perkataanmu! Sampai mati juga kita tidak akan berpisah!”
“Memang!” sahut si anak muda. “Aku sudah bilang, kau adalah satu nona yang manis!”
Nona itu tertawa. Ia merogoh pula kantong kulitnya, sekarang mengeluarkan sepotong besar daging mentah, ia gulung dengan lumpur, terus ia tambus. Ia menyalakan api dengan kayu kering.
“Biarlah si kuda lecil merah beristirahat,” kata pula si nona. “Habis beristirahat baru kita kembali.”
Kwee Ceng mengangguk, hatinya puas.
Tidak lama kemudian keduanya mulai menggayem daging tambus itu, kuda mereka juga sudah kenyang makan rumput. Sebentar kemudian, dengan menaiki kuda, mereka ambil jalan dari mana tadi mereka datang. Di waktu lohor, mereka tiba di hotel. Turun dari kudanya, Kwee Ceng pegang tangannya Oey Yong untuk diajak masuk ke dalam.
Pelayan hotel girang melihat kembalinya si anak muda, ia menyambut dengan wajah berseri-seri. Ia pernah menerima persen dari Kwee Ceng.
“Kau baik, Tuan?” tegurnya. “Mereka itu sudah berangkat pergi. Tuan ingin dahar apa, silakan sebutkan.” katanya.
Tapi Kwee Ceng terperanjat. “Mereka sudah pergi?” ia mengulangi. “Adakah pesanannya?”
“Tidak, mereka menuju ke Selatan, perginya sudah selang dua jam.” jawab si jongos.
“Mari kita susul mereka!” Kwee Ceng mengajak kekasihnya.
Oey Yong menurut, maka mereka tinggalkan rumah penginapan itu, mereka kaburkan kuda mereka ke arah yang disebutkan si pelayan itu, yang heran menampak orang pergi secara demikian kesusu. Di sepanjang jalan mereka memasang mata. Sampai sore, mereka tidak dapat menemukan Kanglan Liok Koay.
“Mungkin suhu telah mengambil lain jalan,” kata Kwee Ceng. Ia membalikkan kudanya.
Han-hiat Po-ma kuat sekali, walaupun penunggangnya dua orang, ia dapat lari tak kurang cepatnya, ia tidak menjadi lelah. Hanya sampai cuaca gelap, mereka tetap tidak melihat Kanglam Liok Koay atau ketiga orang Coan Cin Pay. Kwee Ceng menjadi masgul.
Oey Yong menghibur. Katanya: “Di harian Tiong Ciu mereka bakal berkumpul di Yan Ie Liauw di Kee-hin, di sana kau pasti bakal dapat menemukan mereka.”
“Untuk sampai kepada hari raya Tiong Ciu, temponya masih setengah tahun lagi,” kata si anak muda, lesu.
Tapi si nona tertawa manis. “Selama setangah tahun kita toh dapat pesiar ke segala tempat kenamaan!” katanya. “Apakah itu tidak terlebih bagus?”
Mau tidak mau, Kwee Ceng menyatakan setuju. Hatinya menjadi lega juga.
Keduanya lantas memasuki dusun, mencari penginapan, guna melewatkan sang malam.
Besoknya Kwee Ceng membeli seekor kuda putih yang besar, supaya Oey Yong dapat menaiki kuda merah kecil itu seorang diri. Tidak leluasa untuk mereka terus menunggang seekor kuda.
Oey Yong tidak dapat menampik kehendak pemudanya itu.
Demikian dengan merendengkan kuda, mereka berjalan perlahan-lahan, untuk menikmati keindahan sang malam. Mereka pergi tanpa tujuan. sering mereka turun dan duduk saling menyender di tempat yang sepi. Kalau singgah dan bermalam, mereka pun menyewa sebuah kamar. Hati mereka lapang, tidak ada pikiran yang bukan-bukan yang menyandingi mereka. Mereka melainkan memikirkan pesiar dan terbukalah hati mereka.
Pada suatu hari tibalah meteka di Barat perbatasan antara Liongkeng-hu dan Tayleng di sebelah timur kota raja. Ketika itu sudah mendekati hari raya Toan-yang, hawa udara mulai panas. Dahi Oey Yong telah berkeringatan. Selagi mereka hendak cari tempat untuk meneduh, si nona mendengar suara mengericiknya air . Ia lantas larikan kudanya ke arah suara itu. Girangnya ia mendapatkan sebuah kali kecil, sampai ia berseru.
Kwee Ceng mengasih kudanya lari menyusul.
Kali itu berair bening, hingga nampak dasarnya. Di kedua tepinya ada tumbuh banyak pohon yang-liu, yang cabang dan daunnya meroyot ke air. Di dalam air pun terlihat sejumlah ikan berenang pergi datang.
Oey Yong gembira sekali, hingga ia membuka pakaian luarnya, lalu terjun ke air.
Kwee Ceng terkejut, hingga ia menjerit. Ia lari ke tepian, hatinya lega. Segera ia melihat si nona berenang di dalam air, menangkap dua ekor ikan yang panjangnya kira-kira satu kaki, ketika diangkat ke muka air, ekor kedua ikan itu bergerak-gerak, begitupun kepalanya.
“Sambut!” si nona berseru, kedua tangannya terayun.
Kwee Ceng lantas menyambut, memegang kedua ikan itu, tetapi saking licinnya, ikan itu melejit dan lolos, jatuh ke tanah, di mana keduanya berloncatan.
Oey Yong tertawa geli. “Engko Ceng, mari turun, kita berenang!” ia memanggil.
Kwee Ceng tidak bisa berenang, ia menggeleng kepala. Ia besar di gurun pasir.
“Turunlah, nanti aku ajari!” kata si nona.
Pemuda ini menjadi tertarik, ia pun membuka baju luarnya, lalu turun ke kali. Ia tidak menerjun seperti si nona, tetapi ia turun dengan perlahan-lahan, tangannya pun diulurkan. Si nona jail sekali, ia menghampiri, tahu-tahu ia telah merabuh kaki orang, maka tidak ayal lagi, tubuh Kwee Ceng terpelanting. Ia kaget, karenanya, ia menegak air! Oey Yong lekas pegangi tangan orang, ia menertawai.
“Begini menggerakkan tangan,” si nona benar-benar lantas mengajari. Ia pun membilangi, mesti menahan napas dan mata dapat dirapati atau dimeleki.
Untuk Kwee Ceng, pelajaran berenang itu gampang sekali. Dengan dapat mengatur napasnya, dengan cepat ia telah dapat mengerti. Demikian ia bisa berenang hilir mudik dan selulup timbul. Tentu sekali, ia menjadi bertambah gembira, sedang kawannya demikian manis dan lincah.
Tidak puas dengan mandi di satu tempat saja, mereka berenang mudik, sampai kuping mereka mendapat dengar suara air nyaring. Kemudian ternyata, di Selatan itu ada air terjun yang yang tingginya lebih daripada sepuluh tombak, bagaikan rantai perak, air meluncur turun.
“Engko Ceng,” kata si nona sangat bergembira, “Mari kita mendaki air tumpah itu!”
“Baik, mari kita mencoba!” Kwee Ceng menyambut. “Kau pakailah baju lapismu!”
“Tidak usah!” menyahut si nona. “Mari kita mulai!”.
Kata-kata itu disusul sama gerakan tubuh yang lincah, berbareng dengan mana, si pemuda pun menggerakkan kaki tangannya. Tapi air deras sekali, keduanya gagal. Beberapa kali mereka mencoba, tetapi mereka tidak berhasil.
Kwee Ceng penasaran sekali. “Baiklah kita beristirahat, besok kita coba pula!” katanya pada kawannya.
“Baik!” tertawa Oey Yong. Ia pun penasaran.
Besoknya percobaan diulangi, kali ini mereka dapat naik hingga setombak lebih. Hati mereka menjadi besar, mereka mencoba terus. Inilah latihan bagus bagi mereka, yang ilmunya ringan tubuh sudah sempurna. Latihan ini terus dilakukan, maka juga di hari kedelapan, Kwee Ceng bisa sampai puncak air terjun itu, dengan menyambar dan menarik tangan orang, ia membantu Oey Yong naik juga.
Bukan main girangnya muda mudi ini.
“Mari kita turun pula!” Kwee Ceng mengajak. Lalu keduanya menyebur mengikuti air tumpah itu.
Demikian mereka berlatih, naik dan turun. Dalam sepuluh hari, Kwee Ceng dapat berenang dengan baik walaupun ia masih kalan lincah dari si nona, ialah untuk menangkap ikan, ia tak dapat menyaingi. Puaslah hati sepasang anak muda ini, maka di hari kesebelas baru mereka melanjutkan perjalanan ke Selatan. Sampai di hulu sungai Tiang Kang, hari mulai sore. Terbuka hati Kwee Ceng menyaksikan kebesaran sungai itu, yang airnya terus mengalir, gelombangnya saling susun.
“Kau mau berenang, engko ceng?” tanya si nona. “Marilah!”
“Baik!” sahut si anak muda. Dan ia lompat turun dari kuda putihnya, yang tepuk kempolannya. “Kau tidak punya guna, pergilah!” Ia pun melepaskan tali les. Dilain pihak, ia menghampiri kuda merah.
Kapan kuda merah itu ditepuk, dengan berani dia terjun ke sungai, sembari terjun ia meringkik keras dan panjang, terus ia berenag pergi.
Kwee Ceng dan Oey Yong pun segera terjun, untuk menyusul. Pandai berenangnya kuda merah itu, dia mendahului di muka.
Di tempat dimana mereka terjun ini tidak ada lain orang, dengan begitu mereka tidak menarik perhatian siapapun.
Belum begitu lama, tiba-tiba cuaca menjadi gelap. Sebab mega sudah lantas bergumpal-gumpal, langit menjadi mendung. Lalu kemudian terdengar suara guntur saling susul dan terlihat kilat menyambar-¬nyambar.
“Takutkah kau, Yong-jie?” Kwee Ceng tanya.
“Ada bersama-sama kau, aku tidak takut!” menjawab si nona tertawa.
Pemuda itu tersenyum.
Di bawah hujan besar, mereka berenang terus hingga di lain tepi di mana mereka mendarat. Mereka menanti sampai air langit itu berhenti turun, ketika itu tibalah sang malam dan rembulan memancarkan sinarnya di langit yang bersih. Mendung sirna, mega berkumpul lenyap.
Kwee Ceng mencari kayu kering, untuk menyalakan api ungun, di situ mereka memanggang pakaian hingga kering, kemudian keduanya rebah tidur di udara terbuka. Mereka polos, mereka tidak ingat apapun.
Keduanya sadar besoknya fajar, tempo mereka dengar suara ayam berkeruyuk dari sebuah rumah tak jauh dari tepi sungai.
“Aku lapar!” berkata Oey Yong, yang menguap. Ia bangkit, lari ke rumah tadi, sebentar kemudian, ia sudah lari balik, bersama seekor ayam jago yang besar di tangannya.
“Mari kita pergi ke sana, supaya pemilik rumah tidak melihat kita,” Kwee Ceng mengajak.
Si nona mengangguk, lantas mereka berjalan sampai sejauh satu lie kira-kira. Kuda merah terus mengikuti mereka. Disini Oey Yong sembelih ayam itu, lalu di cuci bersih, kemudian ia gulung dengan lumpur, untuk ditambus. Maka dilain saat matanglah ayam itu, rontok bulu dan kulitnya, terlihatlah dagingnya yang gemuk. Disaat si nona hendak membeset ayam itu, tiba-tiba ia dengar suara dari belakangnya; “Besetlah menjadi tiga potong, pahanya kasih aku!”
Kedua muda-mudi itu terkejut. Bukankah kuping mereka lihay? Kenapa mereka tidak dengar berkelisiknya orang, hingga orang tahu-tahu sudah berada dibelakang mereka? Mereka memutar tubuh dengan cepat. Maka terlihatlah seorang pengemis usia pertengahan, pakaiannya banyak tambalan, cuma anehnya, bahannya semua tersulam, hingga mirip pakaian pengemis di atas pentas. Dia pun memegang sebatang tongkat yang mirip batu pualam, sedang dipunggungnya tergemblok sebuah cupu-cupu besar yang merah warnanya. Wajah orang tampak acuh tak acuh wajar sekali.
Belum lagi si muda-mudi itu menyahut, mereka suka membagi ayam atau tidak, si pengemis sudah lantas menjatuhkan diri duduk di hapadan mereka, tangannya meraba punggungnya, untuk mengambil cupu-cupunya itu, yang tutupnya ia terus buka, itu juga tersiarlah harumnya arak. Dia menggelogoki arak itu beberapa ceglokan, terus ia mengangsurkan kepada si anak muda.
“Eh, bocah, kau minumlah!” katanya.
Sebenarnya Kwee Ceng tidak puas untuk kelakuan orang yang tak hormat itu, tetapi karena tingkah laku itu aneh, tidak berani berlaku kasar. “Aku tidak minum arak, lojinkee, kau minumlah sendiri!” sahutnya hormat.
“Dan kau nona kecil, kau minum arak atau tidak?” si pengemis itu menanya Oey Yong.
Si nona tidak menyahut, ia cuma menggelengkan kepalanya. Tapi sangat jeli matanya, dalam sesaat ia telah dapat melihat jeriji tangan si pengemis yang memegang tempat araknya. Untuk terkejutnya, jeriji itu cuma sembilan, lenyap satu dari lima jeriji tangan kanan! Ia lantas ingat kata-kata Ong Cie It dan Khu Cie Kee perihal Kiu Cie Sin Kay, si Pengemis Aneh Berjeriji Sembilan.
“Benarkah di kolong langit ini ada peristiwa begini kebetulan?” ia tanya diri sendiri. “Baiklah aku dengar suaranya.”
Nona ini tertawa di dalam hati apabila ia sudah mengawasi wajah si pengemis yang terus memandang ayamnya, hidung dia itu bergerak-gerak, mulutnya berkelemikan tanda mengilar. Tetapi ia tidak memikir untuk menjaili orang, maka ia lantas besat ayamnya dibagi dua, yang separuh ia sodorkan pada orang tua itu. Pengemis itu menyambut seperti menyambar dan terus menggayem. Sangat bernafsu ia mendaharnya hingga lekas juga paha ayam itu termakan habis! Tulang-tulang ayam itu ia semburkan.
“Sungguh lezat! Sungguh lezat!” ia memuji berulang-ulang. “Biar aku si leluhur pengemis, tidak bisa aku mematangi ayam selezat ini!”
Oey Yong tertawa, ia menyodorkan pula sepotong lainnya.
“Ah, mana dapat!” pengemis itu menolak. “Kamu berdua belum makan….” Mulutnya mengatakan begitu, tetapi tangannya menyambut, maka dilain saat, habis sudah sebelah ayam tambus itu! Lantas ia menepuk¬-nepuk perutnya. “Hai, perutku, perutku!” ia mengoceh seorang diri, “Bukankah jarang sekali kau gegares ayam begini lezat?”
Mau tidak mau, si nona tertawa geli.
Pengemis itu merogoh ke sakunya, mengeluarkan sepotong besar perak, yang mana ia sodorkan kepada Kwee Ceng. “Bocah, kau ambillah ini!” katanya.
Pemuda itu menggeleng kepalanya. “Kami menganggap kau sebagai sahabat, kami tidak menginginkan uang,” jawabnya.
Pengemus itu menyeringai, agaknya ia likat. “Inilah sulit,” katanya. “Meskipun aku pengemis, tidak biasa aku menerima budi orang sedikitpun juga.”
“Apakah artinya seekor ayam?” berkata Kwee Ceng tertawa. “Lagian, ayam ini pun kami dapatkan dengan jalan tangan panjang, tanpa perkenan dari pemiliknya….”
Pengemis itu tertawa terbahak-bahak. “Ah, anak muda, tabiatmu sama dengan tabiatku!” katanya. “Mari, mari bilang aku, kau ada niat apa, kau kasih aku dengar!”
Belum lagi si pemuda menyahut, Oey Yong sudah mendahului. “Aku masih punya beberapa macam sayuran untuk kau cobai, lojinkee!” katanya manis. “Maukah kau turut kami pergi ke pasar di sana?”
Pengemis itu nampaknya sangat girang. “Bagus, bagus!” ia menyahut.
“Lojinkee she apa?” Kwee Ceng menanya.
“Aku she Ang, anak yang ketujuh,” menjawab pengemis itu. “Maka kamu berdua, anak-anak, kau panggil saja aku Ang Cit Kong.”
“Ha, benar saja dia!” kata Oey Yong di dalam hatinya. “Tapi dia masih begini muda, cara bagaimana dia sama kesohornya dengan Coan Cin Cit Cu?....” Walaupun ia memikir demikian, Oey Yong tidak bilang apapun. Bertiga mereka sudah lantas berjalan menuju ke Selatan, di mana ada sebuha dusun namanya Kiang-bio-tin. Lantas saja mereka mencari pondokan.
“Kamu berdua menanti sebentar, aku hendak membeli bumbu,” kata Oey Yong, yang terus pergi meninggalkan mereka.
Ang Cit Kong mengawasi belakang si nona, lalu ia tertawa. Ia kata kepada Kwee Ceng, “Adakah dia itu istrimu?”
Merah mukanya Kwee Ceng, sulit untuk ia mengiakan atau menyangkal. Ang Cit Kong tidak menanya pula, dia tertawa, lalu ia duduk nyender di kursinya, matanya meram melek.
Tidak lama Oey Yong kembali dengan sayuran dan bumbunya, ia pergi ke dapur untuk masak. Kwee Ceng hendak membantu, sembari tertawa, pemuda ini ditolaknya.
Selang setengah jam, Ang Cit Kong menguap. Segera ia mengendus-endus. “Ah, harum sekali!” katanya. “Masakan apakah itu, ah?!” Ia melongok ke arah dapur, lehernya diulur panjang-panjang.
Melihat tingkah laku orang, Kwee Ceng tertawa di dalam hati.
Bau wanginya barang hidangan mendesak, tetapi Oey Yong belum juga muncul. Si pengemis jadi serba salah, ia bangun, ia duduk, bangun pula, duduk kembali.
“Kau tahu tabiatku?” katanya pada Kwee Ceng, yang ia awasi. “Mulutku aneh, asal aku merasa makanan lezat, lantas aku lupa segalanya!” Kali ini ia tidak likat-likat lagi. Ia perlihatkan tangan kanannya, ia menambahkan: “Orang dahulu bilang, jari telunjuk dapat bergerak, inilah benar. Aku, asal aku melihat orang dahar makanan lezat jeriji telunjukku ini lantas bergerak-gerak tak hentinya, maka satu kali, sangking sengit, aku bacok kutung padanya….”
“Oh….!” Kwee Ceng berseru.
Tapi si pengemis tertawa. Katanya pula; “Meski jari tanganku lenyap, tabiatku tetap ada tak berubah…!”
Baru itu waktu Oey Yong muncul bersama sebuah penampan, di atas itu ada dua mangkok nasi, berasnya putih, secawan arak serta dua mangkok sayuran. Dua magkok sayuran itu lantas dipindahkan ke meja.
Kwee Ceng merasakan bau harum, tanda lezatnya masakan itu. Masih ada semangkok masakan daging yang menyiarkan bau lebih harum lagi. Semangkok yang lainnya pula masakan rebung campur-campur, kuahnya hijau.
Oey Yong mengisikan cawan, di depan si pengemis.
“Cit Kong, mari cobai masakanku!” katanya sembari tertawa.
Tanpa ditawarkan sampai dua kali, Cit Kong sudah lantas menenggak araknya, lalu ia menyumpit dua potong bakso di masukkan ke dalam mulutnya, terus ia menggayem, dengan asyik sekali, tandanya bakso itu sangat lezat. “Ah, aku tahu!” katanya kemudian. “Bakso ini adalah campuran daging kambing, daging babi, daging kerbau, dan daging…..daging….” Dan ia tidak dapat menyebutkan itu.
“Kalau kau bisa membeda, betul kau lihay, Cit Kong!” Oey Yong tertawa. Tapi belum ia berhenti tertawa, si pengemis itu sudah berseru: “Itulah daging mencak dicampur daging kelinci!”
Si nona bertepuk tangan. “Bagus! Bagus!” pujinya. “Kau sungguh lihay!”
Kwee Ceng sebaliknya mendoleng. “Hebat Yong¬jie!” pikirnya. “Bagaimana dapat ia memasak semua ini?”
Ang Cit Kong girang bukan main, ia menjepit pula dua buah engtoh yang dimasak bersama sayur kuwah hijau itu. “Aku tahu, inilah sup daun teratai campur rebung campur engtoh!” katanya. Ia masuki engtoh itu ke dalam mulutnya dan mengunyah. Mendadak ia mengasih dengar suara “Ah!” berulang-ulang.
Kwee Ceng heran. Ia menduga, engtoh itu tentu lezat sekali.
“Ah, nona kecil, aku takluk padamu!” kata Ang Cit Kong kemudian, sesudah menguyah. “Pada sepuluh tahun yang lampau, pernah aku makan makanan ini di dapurnya kaisar akan tetapi rasanya tidak selezat ini!”
Oey Yong tertawa. “Cit Kong,” katanya, “Coba bilang, di dapur kaisar ada makanan apa lainnya yang lezat, ingin aku mempelajarinya, supaya aku bisa memasak untukmu…”
Tapi tak sempat si pengemis berbicara, ia repot dengan baksonya, dengan sayurnya, maka dilain saat, semua makanan itu tinggal dua persepuluh bagian. Baru kemudian ia berkata; “Di dapur kaisar tidak ada barang makanan yang dapat melebihkan masakanmu ini!”
Kwee Ceng heran, “Eh, Cit Kong, apakah kaisar telah mengundang kau berjamu?” tanyanya.
Cit Kong tertawa tergelak-gelak. “Betul, kaisar telah mengundang aku!” jawabnya. “Cuma kaisar sendiri tidak dapat mengetahuinya! Selama tiga bulan aku sembunyi di atas penglari dapur kaisar, semua barang hidangan kaisar telah aku coba satu demi satu, mana yang lezat, aku hajar habis, mana yang tidak lezat, aku biarkan si kaisar yang gegares! Koki dan lainnya semua heran, mereka sampai mengatakan di dapurnya itu muncul dewa si rase besar!”
Dua-duanya Kwee Ceng dan Oey Yong bersenyum, di dalam hati mereka berkata: “Ini orang sangat doyan makan, mulutnya besar, tapi nyalinya pun gede…!”
“Eh, bocah!” tertawa pula si pengemis. “Kepandaian masak istrimu ini nomor satu di kolong langit! Seumurmu, kau sangat berbahagia! Sungguh heran, kenapa semasa aku muda, aku tidak pernah bertemu nona semacam dia….?”
Kwee Ceng tertawa, begitu pun Oey Yong. keduanya lantas dahar, Si nona perutnya kecil, sudah cukup ia makan satu mangkok. Kwee Ceng sebaliknya menghabisi sampai empat mangkok, sayurannya tidak perhatikan. Sayurannya telah dikonpa si pengemis!
Habis meludaskan semangkok sayur, Ang Cit Kong mengusap-usap perutnya. “Eh, anak-anak, aku tahu kau mengerti ilmu silat,” katanya tiba-tiba. “Dan kau bocah perempuan, kau masaki aku barang hidangan lezat, aku tahu, kau tidak mengandung maksud baik! Kau tentunya menghendaki aku mengajarkan kau beberapa jurus! Baiklah, tidak apa! Aku telah merasai hidangan lezat, tidak enak jikalau aku tidak mengajari kau! Mari, ikut aku!”
Ia berbangkit, ia gendol cupu-cupunya, ia cekal tongkatnya, lantas ia berjalan keluar.
Tanpa bilang apa-apa, sepasang muda-mudi itu mengikuti, sampai di sebuah rimba.
“Kau ingin mempelajari apa?” Cit Kong tanya Kwee Ceng.
Pemuda itu berpikir; “Banyak sekali macamnya ilmu silat di kolong langit ini. Kalau aku menginginkan sesuatu, benarkah kau sanggup mengajarinya?” selagi si pemuda berpikir, Oey Yong mendahului.
“Cit Kong, kepandaian dia ini tidak melebihkan aku,” katanya. “Dia sering marah-marah, ingin sekali dia menandingi aku!”
“Eh, kapan aku pernah marah terhadapmu…?” tanya Kwee Ceng.
Oey Yong mengedipkan mata pada pemudanya itu. Kwee Ceng lantas menutup mulut.
Cit Kong tertawa, ia berkata: “Aku lihat gerak kaki tanganmu, kau mesti mempunyai latihan dari beberapa puluh tahun, maka kenapa kau tidak sanggup melawan dia? Sekarang hayo kamu berdua bertempur, aku mau lihat!”
Oey Yong jalan beberapa tindak. “Engko Ceng, mari!” ia memanggil.
Pemuda itu bersangsi.
“Jikalau kau tidak pertontonkan kepandaianmu, mana bisa lojinkee mengajarimu?” si nona berkata. “Marilah!”
Kwee Ceng pikir si nona itu benar juga, maka lantas ia kata pada si pengemis: “Apa yang pernah aku pelajari tidak sempurna, aku minta sukalah lojinkee memberi petunjuk.”
Cit Kong tersenyum. “Mengajari sedikit tidak apa, mengajar banyak, itu lain!” katanya.
Mendengar itu, Kwee Ceng melengak. Ia heran. Justru itu Oey Yong berteriak. “Awas!” seraya tangannya menyambar! Ia terkejut, lekas-lekas ia menangkis. Tetapi si nona lihay sekali, ia menarik tangannya, kakinya menggantikan merabuh ke bawah.
“Bagus nona cilik!” berseru Ang Cit Kong. “Kau lihay!”
Si nona tidak melayani pujian itu, hanya seperti berbisik ia kata kepada Kwee Ceng: “Mari bertempur sungguh-sungguh….”
Kwee Ceng menurut, ia berkelahi dengan bersemangat. Ia keluarkan ilmu silat ajaran Lam Hie Jin, yaitu Lam San Ciang-hiat.Hebat permainannya ini disebabkan, sesudah meminum darah ular, tenaganya bertambah beberapa kali lipat.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA
Diwaktu gelap, gampang sekali untuk melihat pakaian rombongan Auwyang Kongcu, maka Lam Hie Jin dan Han Po Kie lantas melakukan penyerangan. Mereka kaget dengar teriakan Kwee Ceng. Empat yang lainnya turut heran juga. Merekan lantas mengawasi, mereka dapat lihat dengan tegas: Bwee Tiauw Hong si Mayat Besi telah bersilat dengan cambuknya, dia sepertinya duduk bersilat di pundaknya Kwee Ceng. Rupanya bocah itu berada dibawah pengaruh orang. Karena ini tanpa bersangsi lagi, Han Siauw Eng maju menyerang si Mayat Besi yang ia sangat benci itu, sedang Coan Kim Hoat maju untuk menolong muridnya.
Pheng Lian Houw semua heran atas datangnya enam orang itu, apapula mereka itu lantas menyerang Auwyang Kongcu, menyerang si Mayat Besi juga. Lian Houw lantas menggulingkan tubuh, keluar dari gelangan. Kemudian ia berteriak: “Semua berhenti! Aku hendak bicara!” Teriakannya nyaring sekali, menulikan telinga.
Nio Cu Ong bersama See Thong Thian mendahulukan mundur.
Kwa Tin Ok, yang dengar teriakan hebat itu, percaya orang adalah orang lihay, maka ia pun teriaki saudara-saudaranya: “Shatee dan citmoay, tahan dulu!”
Dua saudara itu menurut, begitupun yang lainnya, mereka semua mundur.
Tiauw Hong pun sudah berhenti bersilat, ia hanya bernapas memburu.
Oey Yong sudah lantas menghampiri murid ayahnya itu. “Kali ini kau telah berjasa!” katanya. Tapi kepada Kwee Ceng ia memberi tanda dengan gerakan tangan, agar sahabatnya itu melemparkan tubuh orang.
Kwee Ceng mengerti, untuk mengalihkan perhatian si Mayat Besi, ia memberi keterangan atas pertanyaan orang tadi. Akhirnya ia berkata: “Nah, kau ingatlah baik-baik!” Berbareng dengan itu, dengan mengerahkan tenaga, ia melemparkan tubuh si nyonya sampai jauhnya setombak lebih, ia sendiri segera lompat mundur. Hanya, belum lagi ia menaruh kaki di tanah, cambuk perak yang gemerlapan sudah lantas menyambar kepadanya. Cambuk itu ada banyak gaetannya.
“Celaka!” teriak Han Po Kie, yang menyaksikan bahaya mengancam muridnya. Tanpa ayal lagi ia menyerang dengan Kim-liong-pian, cambuknya, si Naga Emas. Maka kedua cambuk itu beradu keras. Ia kaget, telapak tangannya sakit. Cambuknya terlepas, terlibat dan tertarik cambuk Bwee Tiauw Hong. Ia menyerang Kwee Ceng ketika tubuhnya dilemparkan. Ketika ia jatuh ke tanah, lebih dahulu ia menampa dengan tangannya, habis itu ia duduk dengan hati-hati.
Ia ketahui datangnya Kanglam Liok Koay begitu lekas ia dengar suaranya Kwa Tin Ok. Ia mendongkol berbareng khawatir. Ia pikir: “Aku cari mereka ke mana-mana, hari ini mereka mengantarkan diri. Coba bukannya hari ini, pasti aku bersyukur sangat kepada Langit dan Bumi. Sekarang ini aku lagi dikurung oleh musuh, aku hampir tidak dapat bertahan, jika aku mesti tambah musuh dalam dirinya Tujuh Manusia Aneh ini, pastilah aku bakal binasa….” Ia lantas mengertak gigi. Ia lantas mengambil keputusan: “Nio Lao Koay beramai tak ada permusuhan dengan aku, maka hari ini baiklah aku terbinasa bersama-sama dengan Cit Koay saja!” Ia cekal keras cambuknya, ia memasang kuping, dengar gerak-geriknya Cit Koay. Ia tahu orang muncul berenam, ia heran: “Dari Cit Koay cuma muncul yang enam, entah yang satunya lagi bersembunyi di mana…?” Ia tidak tahu yang Siauw Bie To Thio A Seng telah terbinasa di tangan suaminya.
Liok Koay bersama rombongannya Nio Cu Ong berdiam semua, mereka pun memernahkan diri di jarak tujuh tombak dari wanita kosen itu yang cambuknya sangat lihay.
“Anak Ceng, kenapa mereka bertempur?” Cu Cong berbisik kepada muridnya. “Kau sendiri, mengapa kau bantu perempuan siluman itu?”
“Mereka hendak membunuh aku, dia menolong,” jawab Kwee Ceng.
Biauw Ciu Sie-seng heran.
“Aku minta kau memberitahukan nama kamu?!” Nio Cu Ong menegur Kanglam Liok Koay. “Tengah malam buta, kau lancang masuk ke dalam istana, kamu hendak berbuat apa?”
“Aku she Kwa,” menyahut Tin Ok. “Kami bersaudara bertujuh orang. Orang Kangouw menyebut kami Kanglam Cit Koay.”
“Oh, Kanglam Cit Koay!” kata Pheng Lian Houw. “Sudah lama aku mengagumi nama kamu!”
See Thong Thian tapinya berteriak: “Bagus! Cit Koay telah datang sendiri! Aku orang she See hendak belajar kenal, untuk melihat Cit Koay yang namanya demikian besar, kepandaian sebenarnya bagaimana!”
Thong Thian gusar karena ia ingat penghinaan yang diterima empat muridnya. Ia lantas lompat ke depan Pheng Lian Houw.
Auwyang Kongcu berdiam sambil bersiap. Ia bermusuh dengan Liok Koay dan Bwee Tiauw Hong, yang satu merusak usahanya, yang lain membinasakan muridnya atau gundiknya tersayang. Inilah saatnya untuk turun tangan.
See Thong Thian maju sambil mengawasi keenam Manusia Aneh itu. Ia dapatkan Kwa Tin Ok cacat mata dan kakinya, Han Siauw Eng satu nona yang manis, Coan Kim Hoat kurus kering, Han Po Kie kate dampak dan gemuk, sedang Cu Cong lemah lembut bukan seperti orang Rimba Persilatan. Cuma Lam San Ciauw-cu Lam Hie Jin, yang romannya gagah. Karena itu, segera ia serang si Tukang Kayu dari gunung Lam San itu.
Lam Hie Jin menancap pikulannya, tanpa bersuara, ia menangkis serangan. Ia lihay akan tetapi baru beberapa jurus, tahulah ia bahwa ia bukan tandingan musuh she See itu. Karena ini, Han Siauw Eng lantas maju dengan pedangnya dan Coan Kim Hoat dengan dacinnya.
Pheng Lian Houw tidak berdiam saja melihat kawannya dikerubuti, sambil berseru keras, ia lompat maju rintangi Coan Kim Hoat, yang senjatanya luar biasa itu hendak dirampasnya. Tapi Kim Hoat lihay, gerakannya aneh, ia serang musuh ini hingga si musuh kaget dan mesti berkelit dengan lompatan jungkir balik “Ular naga membalik tubuh.”
“Eh, senjata apa ini?” dia tanya, heran, sesudah berkelit ke kiri dan ke kanan. “Ini toh barang yang diperantikan menimbang di pasar tetapi kau pakai untuk menyerang orang!” Coan Kim Hoat mendongkol dan menyahut: “Dacin ini untuk menimbang kau, babi!”
Lian Houw murka dikatakan babi, lantas ia menyerang dengan hebat, hingga ia membikin Kim Hoat terdesak.
Meyaksikan saudara keenamnya itu kewalahan, Han Po Kie berlompat maju. Cambuknya kena dirampas Bwee Tiauw Hong tetapi ia punyakan kepalannya.
SeeThong Thian dan Pheng Lian Houw benar lihay, walaupun mereka dikepung, mereka masih menang diatas angin. Karena ini, Kwa Tin Ok dan Cu Cong lantas maju, untuk membantu saudara-saudaranya, dengan begitu, mereka jadi bertempur dalam dua rombongan dengan masing-masing tiga lawan satu. Kali ini pihak Liok Koay yang menang di atas angin.
Pertempuran di antara Oey Yong dan Hauw Thong Hay juga berjalan dengan seru. Sebenarnya Thong Hay lebih lihay tapi kalah gesit dan ia pun jeri dengan baju lapis si nona, ia tidak berani menghajar tubuhnya. Karena ini Oey Yong yang dapat mendesak, hingga lawannya itu main mundur.
Auwyang Kongcu telah memasang mata, ia ketahui pihaknya keteter, maka ia lantas mengambil keputusan: “Baiklah aku binasakan dulu beberapa manusia jahat. Si wanita siluman, bagaimanapun tidak dapat kabur, bisa dibereskan belakangan…” Segera ia lompat ke samping Kwa Tin Ok. Ia bergerak dengan jurus “Sekejap seribu lie” dari ilmu silatnya Sin To Soat-san-ciang. Ia pun lantas membentak: “Kamu usilan, bangsat buta, maka kau rasailah lihaynya kongcumu!” Lalu tangannya kanannya meninju.
Kwa Tin Ok mendengar suara angin di kanan, ia menangkis dengan ujung tongkatnya, tetapi ia kebogehan, sebab serangan datang dalam rupa tangan kiri lawan. Ia lantas saja berkelit dengan mendak, berbareng dengan mana, ia menyerang pula dengan jurusnya “Arhat menunjuk pengaruh”.
Auwyang Kongcu menyingkir dari serangan itu, tetapi ia bukannya menyingkir untuk berlari, hanya lompat kepada Lam Hie Jin, yang ia terus serang, hingga Hie Jin terkejut dan mesti berbalik melayani.
Melayani Hie Jin pun Auwyang Kongcu pun tidak mau mengulur tempo, ia lantas tinggalkan musuh ini, untuk menyerang yang lain. Begitu ia berkelahi, hingga ia menempur Liok Koay dengan bergantian. Maka teranglah, ia tengah mengganggu musuh-musuhnya itu, hingga Pheng Lian Houw dan See Thong Thian jadi dapat bernapas.
Suasana kembali terbalik, Liok Koay yang mulai keteter pula.
Nio Cu Ong sementara itu terus memasang matanya terhadap Kwee Ceng, maka tempo ia menginsyafi aksinya Auwyang Kongcu itu, ia lantas lompat kepada bocah itu sambil ulur tangannya, ia menjambret dengan kedua tangannya.
Kwee Ceng bukan tandingan jago ini, dalam beberapa jurus saja ia sudah terdesak, malah lekas juga dadanya kena dicengkram. Dengan tangan kanannya, Cu Ong menjambak ke arah perut, untuk membikin pecah perut orang, supaya ia bisa menghisap darah anak muda itu.
Dalam saat berbahaya itu, Kwee Ceng membela diri. Ia mengkeratkan perutnya, hingga terdengar suara robek dari bajunya, hingga belasan bungkusan obatnya kena disambar musuh.
Nio Cu Ong dapat mencium bau obat, ia masuki semua bungkusan itu ke dalam sakunya, setelah mana kembali ia menjambak.
Kwee Ceng berontak sekuat-kuatnya, ia dapat meloloskan diri, terus ia lari ke arah Bwee Tiauw Hong sambil berteriak: “Tolong aku!”
Girang Tiauw Hong mendengar suara orang. Ia memang ingin meminta beberapa keterangan pula kepada anak muda itu.
“Kau peluk aku! Jangan takuti Lao Kaoy!” ia menyahuti.
Kwee Ceng tahu, satu kali ia peluk wanita itu, ia tidak bakal lolos pula, karena itu, ia tidak berani menghampiri, ia hanya lari berputaran dekat di sekitarnya.
Nio Cu Ong memburu, hingga ia memasuki kalangan sambaran cambuknya si wanita kosen, sembari mengejar, ia waspada terhadap nyonya itu terutama terhadap cambuknya.
Bwee Tiauw Hong sendiri memperhatikan suaranya Kwee Ceng, gerak-geriknya, maka juga mendadak saja ia gerakkan cambuknya, untuk merabu kaki si anak muda!
Oey Yong melayani Hauw Thong Hay dengan selalu memperhatikan Kwee Ceng. Ia terkejut ketika Kwee Ceng kena dijambret Nio Cu Ong, untuk menolong sudah tidak keburu lagi. Sekarang ia melihat kawannya terancam cambuk Tiauw Hong, ia dapat menolong, maka dengan meninggalkan Thong Hay, ia lompat ke arah cambuk! Ia tidak takut cambuk itu, meskipun ia tahu, kecuali ayahnya, sukar dicari orag yang bisa mengalahkannya. Ia pun bukannya hendak menangkis, hanya berlompat ke atas cambuk di mana ia menggulingkan tubuhnya.
Kwee Ceng tertolong dari bahaya tetapi sekarang Oey Yong yang kena kelibat cambuk, yang terus ditarik Bwee Tiauw Hong. Atas itu Oey Yong lantas berseru: “Bwee Jiak Hoak, beranikah kau melukai aku?!”
Kaget Tiauw Hong mengenali suaranya Oey Yong, hingga bermandikan peluh dingin. Dia pun berpikir: “Cambukku banyak gaetannya, sekarang aku lukai budak ini, bagaimana suhu dapat mengampuni aku? Tapi sudah terlanjur, baiklah aku habiskan dia dulu!” Maka dia terus menarik, hingga ia dapat cekal tubuh si nona, diletakkan di tanah. Ia percaya tubuh si nona itu sudah tercengkeram pelbagai gaetan cambuknya.
Justru itu Oey Yong tertawa geli. Ia memakai lapisan joan-wie-kah, tubuhnya tidak terluka, melainkan baju luarnya dan dalamnya pada robek. Dengan jenaka ia berkata: “Kau merusak pakaianku, aku minta ganti!”
Tiauw Hong melongo. Dari suaranya ia dapat tahu nona itu tidak kesakitan. Dengan tiba-tiba ia ingat, maka katanya dalam hati: “Ah, tentu saja baju lapis berduri dari suhu telah diberikan padanya!” Ia lantas menyahut: “Ya, encimu ini yang salah, nanti aku pasti mengganti bajumu…”
Oey Yong lantas menggapai Kwee Ceng.
Anak muda itu menghampiri, ia berdiri jauhnya tujuh atau delapan kaki dari Tiauw Hong. Sekarang ia tidak dihampiri Nio Cu Ong, yang jeri cambuknya si wanita lihay itu.
Kanglam Liok Koay sekarang berkelahi dengan mengumpulkan diri, saling membelakangi, dengan begitu mereka dapat melayani See Thong Thian, Pheng Lian Houw, Hauw Thong Hay dan Auwyang Kongcu berempat. Thong Hay ditinggalkan Oey Yong, ia lantas membantu kawannya. Inilah cara berkelahi yang Liok Koay baru pahamkan dan melatih selama mereka berdiam di gurun pasir. Dengan begitu, mereka tidak usah repot-repot menjaga punggung mereka. Meski begini, mereka keteter juga.
Han Po Kie terluka pundaknya, ia berkelahi terus. ia takut keluar dari kalangan, khawatir nanti benteng perlawanannya itu menjadi dobol. Ia berkelahi sambil menggertak gigi, sebab Pheng Lian Houw yang lihay sudah cecar padanya.
Kwee ceng lihat gurunya yang nomor tiga itu terancam bahaya, melupakan segalanya, ia lari menghampiri, terus serang bebokong Pheng Lian Houw dengan jurusnya, “Membuka mega untuk menolak rembulan.”
“Hm!” Pheng Lian Houw mengasih dengar suara hidung. Ia berkelit, lantas memutar tubuh untuk membalas menyerang.
Justru itu terlihat muncul dari gombolan pohon bunga, sambil berlari-lari mendatangi, dia berseru: “Semua suhu, ayahku ada urusan penting untuk mana ia minta bantuan kamu! Lekas!”
Orang itu mengenakan kopiah emas, kopiahnya miring. Ialah siauw-ongya Wanyen Kang, si pangeran muda.
Pheng Lian Houw semua menjadi bingung. Masing-¬masing mereka lantas berpikir: “Ongya adalah yang mengundang kami semua, sekarang dia ada punya urusan penting, cara bagaimana aku tidak pergi membantu dia?” Karena ini, mereka lantas lompat mundur, keluar dari gelanggang.
“Ibuku telah dibawa buron penjahat,” Wanyen Kang beritahu dengan perlahan. “Ayah minta semua suhu membantu mencari, untuk menolong. Tidak nanti kami berani melupakan budi suhu semua!”
Pangeran ini datang secara kesusu, malampun gelap, ia tidak dapat melihat Bwee Tiauw Hong, yang numprah di tanah.
“Onghui dibawa lari, inilah hebat!” pikir Lian Houw semua. “Kalau begitu, apa perlunya kami berdiam di dalam istana?” Mereka juga menduga: “Pasti Liok Koay ini lagi menjalankan siasat memancing harimau turun dari gunung, untuk melibat kami semua. dilain pihak, kawannya pergi menculik onghui!” Karena ini tanpa sangsi lagi, mereka lari mengikuti Wanyen Kang, meninggalkan musuh-musuh mereka.
Nio Cu Ong berlari paling belakang, ia pergi dengan perasaan sangat tidak puas. Ia ingat Kwee Ceng darah siapa ia belum sempat hisap. Justru itu, Kwee Ceng teriakin dia: “Eh, kau pulangin obatku!” Dalam sengitnya, ia menimpuk dengan senjata rahasianya, yaitu paku Cu-ngo Touw-kut-teng.
Cu Cong lompat maju, dengan kipasnya ia sampok paku itu, sesudah jatuh ia pungut, terus dibawa ke hidungnya, untuk dicium. “Oh, paku beracun Cu-ngo Touw-kut-teng! Inilah paku yang asal menemui darah lantas menutup tenggorakan orang hingga orang mati seketika!”
Nio Cu Ong tercengang mengetahui orang kenal pakunya itu.
“Apa?” dia menanya seraya ia merandak, tubuhnya pun diputar.
Cu Cong lari menghampiri, dengan tangan kirinya ia angsurkan paku itu. “Ini , aku kembalikan pada kau, tuan!” katanya sembari tertawa.
Cu Ong pun ulur tangannya untuk menyambut. Ia tidak jeri karena ia tahu orang kalah daripadanya.
Cu Cong dapat lihat ujung baju orang penuh rumput dan debu, ia gunakan tangan bajunya untuk menyapu.
“Siapa sudi kau mengambil hatiku?!” Cu Ong membentak, terus ia putar tubuhnya untuk berlalu.
Kwee Ceng menjadi masgul sekali. “Dengan begitu saja kita pulang…” katanya menyesal. Satu malaman ia menempuh bahaya, kesudahannya obat tak didapatkan juga. Untuk menggunakan kekerasan, harapannya tidak ada.
“Mari kita pulang!” mengajak Tin Ok selagi muridnya ragu-ragu. Ia pun mendahului lompat ke tembok, maka lima saudaranya lantas menyusul.
“Bagaimana dia, toako?” Han Siauw Eng tanya sambil menunjuk Tiauw Hong.
“Kita telah memberikan janji kepada Ma Totiang, biar kita mengasih ampun padanya,” sahut kakak tertua itu.
Oey Yong tertawa haha-hihi, ia tidak memberi hormat kepada Liok Koay. Ia pun lompat ke tembok, naik ke ujung lainnya.
“Adik kecil, mana suhu?” Tiauw Hong tanya nona itu.
“Ayahku?” balik tanya Oey Yong masih tertawa. “Tentu sekali ayah berada di pulau Thoa Hoa To! Tidak pernah ayah meninggalkan rumah! Ada apa kau menanyakannya?”
Tiauw Hong menjadi sangat gusar, hingga napasnya memburu. Ia tahu tidak bisa berbuat apa-¬apa. Setelah berhenti sejenak, ia kata pula: “Kau toh yang membilangnya kalau suhu datang ke mari!”
Oey Yong tertawa pula. “Tanpa aku dustakan kau, mana kau mau lepaskan dia?” Dengan “dia” ia maksudkan Kwee Ceng.
Tiauw Hong murka bukan kepalang, dengan kedua tangannya ia menekan tanah, lantas bangkit berdiri, lalu dengan terhuyung-huyung, ia menubruk kepada si nona. Ia telah keliru menyakinkan ilmu silat dala, akibatnya kedua kakinya mati, dan makin ia memaksakan diri, makin pendek napasnya. Tapi kali ini, ia lupa segalanya.
Oey Yong terkejut, lekas lompat turun ke lain sebelah, untuk lari menghilang.
Tiba-tiba Tiauw Hong sadar. “Eh, mengapa aku bisa jalan?” tanyanya pada diri sendiri. Justru ia sadar, mendadak roboh pula, kedua kakinya lemas dan kaku. Ia pun pingsan.
Gampang sekali kalau Liok Koay hendak merampas jiwa orang akan tetapi untuk menepati janji kepada Ma Giok, mereka tidak mau turun tangan, maka itu mereka berlalu. Mereka ajak Kwee Ceng bersama.
“Eh, anak Ceng, kenapa kau berada disini?” kemudian Han Siauw Eng menanya.
Kwee Ceng menjawab gurunya dengan tuturkan semua pengalaman, sampai ia berikhtiar menolongi Ong Cie It.
“Kalau begitu, mari kita tolong Ong Totiang!” Cu Cong mengajak.
Yo Tiat Sim girang bukan main dapat menemukan istrinya, malah ia dapat menolong juga, ia pondong erat-erat istrinya ketika ia lari keluar dengan melompati tembok istana.
Di bawah tembok, Liam Cu menantikan ayahnya dengan pikiran tegang. Ia tidak sabaran dan cemas juga. Ia heran ketika ia lihat ayahnya kembali dengan memondong seorang wanita.
“Ayah, siapa ini?” ia lantas tanya.
“Inlah ibumu!” sahut ayah itu. “Mari lekas kita menyingkir!”
Liam Cu kaget dan heran. “Ibuku?” ia menegasi.
“Perlahan!” Tiat Sim mengasih ingat. “Sebentar kita bicara.” Ia sudah lantas lari.
Kira-kira serintasan, Pauw Sek Yok tersadar. Ketika itu fajar sudah menyingsing, di antara cahaya pagi remang-remang, ia lihat orang yang memondongnya, suami yang ia buat pikiran siang dan malam. Ia heran hingga menyangka sedang bermimpi. Ia ulur tangannya, meraba muka suaminya.
“Toako, apakah aku juga sudah mati?” ia tanya. Ia percaya suaminya itu sudah meninggal dunia.
Tiat Sim girang hingga mengucurkan air mata. “Kita tidak kurang suatu apapun….” sahutnya halus. Ia berhenti dengna tiba-tiba sebab kupingnya segera dengar suara berisik teriakan-teriakan dan melihat cahaya terang banyak obor. Satu barisan serdadu lari mendatangi. Ia dengar nyata: “Jangan kasih lolos penjahat yang menculik onghui!”
Tiat Sim menjadi kecil hatinya. Ia melihat kesekelilingnya, tidak dapatkan tempat untuk menyembunyikan diri. Di dalam hatinya ia kata: Thian mengasihani aku hingga hari ini aku dapat bertemu istriku kembali, kalau sekarang akan terbinasa, tak usah aku menyesal…!” Lantas ia kata pada anaknya: “Liam Cu, anakku, kau peluklah ibumu…!”
Sejenak terbayanglah di mata Pauw Sek Yok pengalaman delapan belas tahun yang lampau, peristiwa di dusun Gu-kee-cun di kota Lim-an, di kampung halamannya itu. Ia dipondong oleh suaminya dan dibawa lari sekuat-kuatnya, di dalam gelap petang mereka dikejar tentara. Delapanbelas tahun lamanya mereka telah berpisah, ia berduka dan terhina saking terpaksa, atau sekarang, baru saja ia bertemu kembali dengan suaminya, peristiwa dahulu bakal terulang pula. Maka ia rangkul leher suaminya, tidak mau melepaskannya.
Menampak tentara pengejar datang semakin dekat, Yo Tiat Sim menjadi nekat. daripada terhina ia rela terbinasa dalam pertempuran. Dari itu ia paksa melepaskan rangkulan istrinya ia serahkan kepada anak gadisnya. Ia lantas lari memapaki tentara pengejarnya. Dalam dua tiga gebrak saja, ia telah dapat merampas sebatang tombak. Senjata ini membangunkan semangatnya, ia bagaikan harimau tumbuh sayap.
Opsir yang memimpin pasukan itu bernama Thung Couw Tek, dia kena ditusuk pahanya hingga ia terjungkal dari kudanya, atas mana tentaranya lantas kabur serabutan. Tanpa pemimpinnya, mereka ketakutan.
Lega juga hatinya Tiat Sim yang mengetahui pasukan itu tidak dipimpin oleh opsir yang kosen, ia pun menyesal tidak sempat merampas kuda musuh. Tidak ayal lagi, ia ajak istri dan anaknya lari terus.
Setelah terang tanah, Pauw Sek Yok dapatkan suaminya berdarah di sana sini. Ia menjadi kaget sekali. “Kau terluka?” ia tanya.
Di tanya begitu, tiba-tiba saja Tiat Sim merasakan sakit pada belakang telapak tangannya. baru sekarang ia ingat tadi telah disambar sepuluh jari tangan Wanyen Kang, hingga tangannya itu mengeluarkan darah, karena repot melarikan diri, ia tidak merasakan, lupa sakitnya. Sekarang merasakan kedua lengannya sakit dan sukar digerakkan.
Pauw Sek Yok lantas balut tangan suaminya.
Waktu itu kembali terdengar suara sangat berisik, lalu terlihat debu mengepul dan mengulak. Itulah tandanya pasukan besar lagi mendatangi.
“Sudahlah, tak usah dibalut….!” kata Tiat Sim sambil menyeringai. Ia lantas menoleh kepada gadisnya dan berkata: “Anak, kau menyingkirlah seorang diri! Ibumu dan aku akan berdiam disini….”
Liam Cu tidak menangis, hatinya tegang sekali. Ia menginsyafi bahaya, tapi ia menjadi tenang. Ia angkat kepalanya. “Biarlah kita bertiga mati bersama!” katanya gagah.
Sek Yok heran, ia mengawasi nona itu. “Dia…dia mengapa adalah anak kita?” dia tanya.
Tiat Sim hendak menjawab istrinya tetapi tentara itu sudah semakin mendekat, dilain jurusan ia melihat datangnya dua imam yang satu berkumis dan rambutnya ubanan, wajahnya sangat berwelas asih, yang lain kumisnya abu-abu, sikapnya gagah, dibelakangnya tergendol sebatang pedang. Melihat mereka itu, Yo Tiat Sim tercengang, lantas ia sadar. Dalam kegirangan, ia berseru menyapa salah satu imam itu: “Khu Totiang, hari ini kembali aku bertemu denganmu!”
Imam itu memang Tiang Cun Cu Khu Cie Kee serta saudara seperguruannya, Tan Yang Cu Ma Giok. Mereka hendak menempati janji dengan Giok Yang Cu Ong Cie It, akan bertemu di kota raja, guna membicarakan urusan pibu dengan pihak Kanglam Liok Koay. berdua mereka datang dengan terburu-¬buru, di luar dugaan di sini mereka bertemu dengan Yo Tiat Sim suami-istri. Khu Cie Kee telah sempurna Iweekangnya, maka sekalipun telah bertambah delapan belas tahun umurnya, wajahnya tetap seperti dahulu, cuma rambutnya yang berubah. Karena itu ia tidak lantas mengenal waktu ia dipanggil dan melihat Tiat Sim, hingga ia mengawasi saja.
Tiat Sim bisa menduga orang lupa padanya, ia berkata: “Apakah totiang masih ingat peristiwa delapan belas tahun yang lampau di dusun Gu-kee-cun di Lim¬an, tatkala selagi kita minum arak menumpas musuh?”
“Jadinya tuan….!” menegaskan imam itu.
“Aku yang rendah Yo Tiat Sim,” Tiat Sim berkata cepat. “Semoga totiang tidak kurang suatu apapun.”
Habis berkata, orang she Yo itu lantas menjatuhkan diri berlutut di depan orang suci itu.
Tiang Cun Cu lekas membalas hormat, tetapi ia tetap ragu-ragu. Setelah hampir duapuluh tahun, disebabkan penderitaannya, Tiat Sim berubah roman dan suaranya juga.
Orang she Yo ini bisa mengerti kesangsian si imam. Di lain pihak hatinya tegang melihat tentara pengejar semakin dekat. Mendadak ia gerakkan tombaknya dan menikam imam itu dengan tipu tombaknya. Ia pun berseru: “Khu Totiang, kau telah melupakan aku tetapi kau tentu tidak dapat melupakan ilmu tombak dari keluarga Yo!”
Tiang Cun Cu terkejut ia mundur. Ia lantas mengenal ilmu tombaknya Keluarga Yo, maka sekarang ia ingat betul peristiwa delapanbelas tahun dulu ketika mencoba ilmu silat orang. Ia menjadi girang bercampur terharu dapat bertemu kenalan lama ini. “Oh, Yo Laotee!” katanya. “Kau masih hidup….!”
Tiat Sim tarik pulang tombaknya. Ia tidak sahuti imam itu, hanya lantas ia kata: “Totiang, tolonglah aku!”
Imam itu bisa mengerti keadaan orang. Ia menoleh ke arah tentara pengajar. Lantas ia tertawa. “Suheng, hari ini kembali aku mesti membuka pantangan membunuh!” katanya, kepada saudara seperguruannya. “Aku harap kau tidak gusari aku!”
Ma Giok mengerti, ia menjawab: “Kurangilah pembunuhan! Gertak saja meraka!”
Khu Cie Kee tertawa nyaring dan lama, lantas ia maju ke arah tentara itu, yang sudah sampai, malah mendapatkan dia menghalang-halangi, mereka itu terus menerjang dengan bengis. Dengan hanya mementang kedua tangannya, ia menarik roboh dua serdadu berkuda, terus ia timpuki ke serdadu yang lainnya. Maka lagi dua serdadu roboh pingsan.
Luar biasa sebatnya imam ini, dengan cara itu ia robohkan lagi delapan serdadu, delapan-delapannya ia timpuki bergantian kepada kawan mereka, maka lagi-lagi ada delapan serdadu yang terguling. Kejadian ini membikin kaget serdadu-serdadu yang lainnya, mereka lantas putar kuda mereka, untuk lari balik.
Belum lagi semua serdadu kabur, di antara mereka muncul seorang yang tubuhnya besar dan kekar, yang kepalanya licin mengkilap. Dia membentak: “Darimana datangnya si bulu campur aduk ini!” Lantas tubuhnya mencelat ke depan Tiang Cun Cu, yang terus ia serang.
Kata-kata “bulu campur aduk” itu adalah hinaan untuk si imam. Tiang Cun Cu tidak menghiraukan itu, hanya melihat orang demikian lincah, ia hendak menguji tangan orang. Ia tangkis seragan itu.
Kedua tangan beradu dengan keras dan bersuara nyaring, habis itu keduanya mundur sendirinya masing-masing tiga tindak.
Khu Cie Kee heran hingga ia kata di dalam hatinya: “Kenapa di sini ada orang begini lihay?”
Selagi si imam ini terheran-heran, adalah Kwie-bun Liong Ong – demikian si lanang itu – merasakan tangannya sakit, hingga ia kaget berabreng mendongkol, maka sekali ia maju menyerang.
Kali ini Khu Tiang Cun tidak berani bergerak sembarangan, dengan sabar ia melayani, sesudah belasan jurus, tangannya menyampok kepala orang hingga di kepalanya See Thong Thian bertapak lima jari berwarna merah.
Orang she See ini insyaf, dengan tangan kosong ia tidak bisa berbuat apa-apa, lantas ia meraba pada pinggangnya di mana ia selipkan genggamannya yang berupa pengayuh besi yang berat, dengan itu ia menyerang pula, menghajar pundak si imam dengan jurusnya “Souw Cin menggendol pedang”.
Khu Cie Kee tetap bertangan kosong, setelah berkelit, ia membalas menyerang. Ia bersedia melayani musuh yang bersenjata. Adalah masksudnya, untuk merampas senjata lawan. Tetapi See Thong Thian telah latihan beberapa puluh tahun, tak gampang senjatanya dapat dirampas. Sebaliknya, dia bergerak dengan gesit sekali.
Tiang Cun Cu heran juga atas kegagahan orang, hingga ia ingin tanya she dan namanya lawan ini. Hanya, belum sampai ia membuka mulutnya, dari belakang ia dengar pertanyaan yang nyaring sekali: “Kau ada totiang mana dari Coan Cin Kauw?” Ia lantas berlompat, untuk menoleh, hingga ia melihat empat orang berdiri berendeng.
Itulah Nio Cu Ong bersama Pheng Lian Houw, Auwyang Kongcu dan Hauw Thong Hay yang telah lantas dapat menyusul See Thong Thian.
Khu Cie Kee lantas mengangguk kepada mereka itu seraya memberikan penyahutannya: “Pinto she Khu. Pinto mohon tanya nama mulia dari tuan-tuan.”
Nama Tiang Cun Cu kesohor sekali di Selatan dan Utara, maka itu Pheng Lian Houw berempat saling mengawasi, hati mereka berkata: “Pantaslah dia bernama besar, dia memang gagah.” Pheng Lian Houw sendiri berpikir lebih jauh: “Kita sudah melukakan Ong Cie It, itu artinya ganjalan dengan Coan Cin Kauw, sekarang kita bertemu sama Khu Cie Kee, baiklah ia sekalian dibunuh saja! Ini adalah ketika yang paling baik untuk mengangkat nama kita!” Karena berpikir begini, la lantas berseru: “Mari maju berbareng!” Ia pun lantas mengeluarkan sepasang poan-koan-pitnya, ia terus terjang imam itu. Ia menerjang sambil berlompat. Ia tahu lawan lihay, maka itu lantas menotok kedua jalan darah kin-jie dan pek-hay-hiat.
Khu Cie Kee tidak heran yang orang lantas menerjang kepadanya, ia cuma berpikir, “Si kate ini galak sekali! Dia pun agaknya lihay!” Ia lantas menghunus pedangnya, tetapi ia berkelit dari serangan orang, sebaliknya, ia menikam ke pinggangnya See Thong Thian. Ketika ia telah menarik pulang pedangnya, ia meneruskan menikam jalan darah ciang-bun-hiat di iganya Hauw Thong Hay.
Jadi dengan sekali bergerak, imam ini telah melayani tiga lawan. Inilah cara berkelahi yang langka.
Hampir saja Hauw Thong Hay terkena pedang, syukur ia keburu berkelit, tetapi ia kena disusuli, kempolannya kena didupak si imam. Pheng Lian Houw dan See Thong Thian lantas menyerang, Nio Cu Ong menyusul mengepung. Orang she Nio ini terperanjat untuk kehebatannya si imam.
Auwyang Kongcu melihat bagaimana si imam ini dilibat See Thong Thian dan Pheng Lian Houw dan bagaimana Nio Cu Ong merangsak dari kirinya, ia pun lantas menggunakan untuk mengeroyok. Dengan tangan kiri hanya mengancam, ia menotok dengan kipasnya di tangan kanan, mengarah tiga jalan darah hong-bwee, ceng-cok dan pwee-sim di punggung si imam.
Kelihatannya Khu Cie Kee sudah sangat terdesak, ketiga jalan darahnya itu bakal menjadi sasaran kipas yang istimewa, mendadak bayangan berkelebat si samping si kongcu, lalu kipasnya kena ditahan.
Itulah Ma Giok yang membantu saudaranya. Imam ini heran mendapatkan munculnya begitu banyak orang pandai, yang terus mengeroyok saudaranya, sedangkan ia tidak mengerti, Auwyang Kongcu pun menyerang secara membokong, maka terpaksa ia lompat maju untuk menghalangi.
Auwyang Kongcu lihat berkelebatnya bayangan, sambil menarik pulang kipasnya, yang hendak dirampas, ia memandang bayangan itu, seorang imam berusia lanjut, ubanan rambut dan kumisnya. Ia lantas menduga kepada anggota Coan Cin Kauw yang tertua. Ia pun lompat ke belakang.
“Tuan-tuan siap?” tanya Ma Giok. “Kita tidak kenal satu dengan lain, ada salah paham apakah di antara kita? Aku minta sukalah tuan-tuan menjelaskannya.”
Imam ini berbicara dengan sabar sekali, suaranya halus, tidak keras dan mengagetkan seperti suaranya Pheng lian Houw, tetapi pada itu ada nada yang mengandung pengaruh, hingga dengan sendirinya orang-orang yang lagi bertempur itu pada lompat mundur, terus mengawasi orang suci ini.
“Apaha she totiang yang mulia?” Auwyang Kongcu bertanya.
“Pinto berasal dari keluarga Ma,” Ma Giok menyahut, tetap sabar.
“Oh, kiranya Tan Yang Cinjin Ma Totiang!” berkata Pheng Lian Houw, suaranya tetap keras. “Maaf, maaf!”
“Pengetahuan pinto tentang agamaku masih terlalu sedikit, sebutan Cinjin itu tidak berani pinto terima,” menolak Ma Giok.
Pheng Lian Houw mencoba bersikap halus, tetapi di dalam hatinya, ia berpikir: “Kita telah bentrok dengan pihak Coan Cin Kauw, di belakang hari pastilah sukar untuk menyelesaikan masalah ini, sekarang dua anggota utama dari mereka berada disini, baiklah kita berlima mengepung mereka untuk membinasakannya. Perkara di belakang ada soal lain. Hanya, apakah di sini masih ada lain-lain saudaranya….?” Ia lantas melihat ke sekitarnya. Di situ cuma tertampak Yo Tiat Sim sekeluarga bertiga jiwa. Maka ia lantas berkata: “Nama Coan Cin Kauw sangat kesohor, kami sangat mengaguminya. Mana lagi lima saudara totiang? Silahkan minta mereka itu sudi menemui kami.” Itulah kata-kata pancingan.
“Nama kami kosong belaka, cuma untuk ditertawakan tuan-tuan,” menyahut Ma Giok. “Kami bertujuh saudara tinggal di beberapa propinsi, sukar kami datang berkumpul. Kali ini kami datang ke Tiong-touw untuk mencari Ong Sutee, baru saja kami mendapat tahu alamatnya, justru kami hendak menjenguk dia, di sini kebetulan kita bertemu sama tuan-tuan. Ilmu silat di kolong langit ini banyak perbedaannya tetapi asal mulanya adalah satu, maka bagaimana pula jikalau kita mengikat persahabatan?”
Imam ini jujur, tidak menduga bahwa orang lagi memancing.
Pheng Lian Houw girang sekali. Orang cuma berdua dan mereka belum sempat menemui Ong Cie It. Maka boleh ia mengeroyok. Tapi ia masih tertawa, ia berkata: “Totiang berdua tidak mencela kami, bagus sekali. Aku she Sam dan namaku Hek Miauw.”
Ma Giok dan Khu Cie Kee heran, mereka pikirkan siapa Sam Hek Miauw ini, yang namanya aneh. Nama itu berarti Tiga Kucing Hitam. Sama sekali mereka belum pernah mendengar. Orang ini toh lihay….
Pheng Lian Houw selipkan senjatanya di pinggang, ia menghampirkan Ma Giok.
“Ma Totiang, aku merasa beruntung dengan pertemuan ini,” katanya seraya mengangsurkan tangannya, berjabat tangan, tapi telapak tangannya dibalik ke bawah.
Ma Giok menyangka orang bermaksud baik, ia pun mengulurkan tangannya, buat menyambuti. Ia merasa orang memegang keras sekali, ia berpikir; “Kau hendak uji tenagaku, baiklah!” Ia tersenyum, sembari tenaganya dikerahkan. Tiba-tiba ia merasakan lima jari tangannya sakit, seperti tertusuk jarum. Saking kaget, ia lantas menarik pulang tangannya.
Pheng Lian Houw tertawa sambil mencelat mundur setombak lebih.
Ma Giok melihat telapakan tangannya, lima jari berlobang kecil masing-masing dan bergaris hitam.
Ketika tadi Pheng Lian Houw menyelipkan senjatanya, berbareng ia menarik keluar senjata rahasianya, ban Tok-hoan-taya, yang tipis seperti benang tetapi disitu ada lima batang jarum, yang telah dipakaikan racun yang keras sekali, siapa terluka hingga di dagingnya, dalam tempo enam jam dia bakal terbinasa. Ia sengaja memakai nama Sam Hek Miauw, untuk membuat Ma Giok memikirkan, selagi orang tidak bercuriga, ia gunakan jarum jahatnya itu. Ketika Ma Giok insyaf telah dicurangi dan hendak menyerang, si licik sudah lompat mundur.
Khu Cie Kee heran melihat saudaranya berjabat tangan tapi sudah lantas menyerang. “Kenapa?” tanyanya.
“Jahanam licik, dia telah melukai aku dengan racun!” menyahut Ma Giok, yang berlompat maju, untuk menyerang pula.
Khu Cie Kee kenal baik kakak seperguruannya ini, yang sangat sabar, beberapa puluh tahun tidak pernah berkelahi, sekarang ia menyerang dengan “Sam Hoa Cie Teng Ciang-hoat”, ilmu pukulan paling lihay dari kaumnya, ia mengerti sebabnya kegusaran itu. Maka ia pun menggerakkan pedangnya, lompat maju ke depan Pheng Lian Houw, untuk menerjang.
Pheng Lian Houw sempat mencabut poan-koan¬pitnya, menangkis, beruntun dua tikaman, terus ia membalas satu kali. Ia tidak tahu, tangan kirinya Tiang Cun Cu lihay seperti tangan kanannya yang memegang pedang. Imam ini menyambut poan-koan-pit, yang ia sambar ujungnya, terus menggentak ke samping seraya berseru: “Lepas!”
Pheng Lian Houw pun seorang jago, senjatanya tidak terlepas, ia lawan keras dengan keras, waktu ia mengerahkan tenaga dan menarik, hebat kesudahannya, poan-koan-pitnya itu terputus menjadi dua potong!
“Bagus!” Khu Cie Kee memuji, tetapi ia terus menyerang pula dengan dua tangannya.
Pheng Lian Houw segera main mundur, karena merasakan tangan kanannya kesemutan, hingga hatinya menjadi gentar.
Di lain pihak, See Thong Thia dan Nio Cu Ong maju memegat Ma Giok, sedang Auwyang Kongcu dan Hauw Thian Hay segera membantu Pheng Lian Houw.
Khu Cie Kee heran kenapa mendadak berkumpul orang-orang tangguh ini. Ia ingat, semenjak menempur Kanglam Cit Koay, sudah delapan tahun belum pernah ia menemui tandingan. Karena ini, ia bersilat dengan sungguh-sungguh.
Dikepung bertiga, Khu Cie Kee tidak jatuh di bawah angin, tidak demikian dengan kakak seperguruannya. Tangan Ma Giok menjadi bengkak dan hitam, rasannya kaku dan gatal. Itulah tanda bekerjanya racun dahsyat. Inilah tidak disangka imam itu, yang menduga kepada racun biasa. Makin ia bergerak, jalan darahnya makin cepat. Karena menginsyafi bahaya, segera ia menjatuhkan diri untuk duduk bersemadhi, guna mencegah ransakan racun, sedang dengan tangan kirinya melindungi diri.
Nio Cu Ong menyerang terus dengan senjatanya yang merupakan gunting panjang dan See Thong Thian dengan pengayuh besinya. Maka itu, selang beberapa puluh jurus, Ma Giok terancam bahaya. Ia mesti melawan musuh di luar dan di dalam tubuhnya.
Khu Cie Kee heran melihat kelakuan kakaknya itu, seperti dari embun-embunannya terlihat mengepul hawa seperti uap. Hendak ia menolong tetapi tidak sanggup, ketiga musuhnya mendesak. Benar Hauw Thong Hay rada lemah tetapi Auwyang Kongcu lebih gagah daripada Pheng Lian Houw. Karena hatinya khawatir, ia kena terdesak.
Yo Tiat Sim tahu ilmu silatnya tidak berarti, akan tetapi melihat kedua imam itu terancam bahaya, ia maju menyerang Auwyang Kongcu, ia arah punggungnya.
“Saudara Yo, jangan maju!” mencegah Khu Cie Kee. “Percuma kau mengantarkan jiwa….”
Belum habis ucapan imam ini, Auwyang Kongcu sudah menendang patah tombak orang dengan kaki kirinya dan kaki kanannya mendupak roboh orang she Yo itu.
Adalah waktu itu, dari kejauhan terdengar lari mendatanginya beberapa ekor kuda, yang datang itu adalah Wanyen Lieh bersama Wanyen Kang.
Wanyen Lieh melihat istrinya duduk di tengah, ia girang, segera ia menghampiri. Justru itu sebatang golok menyambar kepadanya. Syukur ia keburu berkelit. Ia segera mendapatkan, penyerangnya itu seorang nona dengan baju merah, yang goloknya lihaui. Nona itu segera dikepung pengikut-pengikutnya.
Wanyen Kang heran nampak gurunya dikepung, ia lantas berteriak: “Semua berhenti! Tuan-tuan berhenti!”
Pangeran ini mesti berteriak beberapa kali, barulah Pheng Lian Houw semua berlompat mundur.
Wanyen Kang segera menghampiri gurunya, untuk memberi hormat.
“Suhu, mari teecu mengajar kenal,” katanya kemudian. “Ini beberapa cianpwee Rimba Persilatan yang diundang ayahku.”
“Hm!” bersuara imam itu, yang segera menghampiri kakaknya, yang sudah tidak berkelahi lagi. Ia terkejut melihat tangan kanan kakaknya menjadi hitam sampai di lengan.
“Ha, racun begini lihay!” serunya. Lantas ia berpaling kepada Pheng Lian Houw, akan perdengarkan suaranya yang keren: “Keluarkan obat pemunahnya!”
Pheng Lian Houw sangsi, ia melihat orang segera sampai pada ajalnya.
Ma Giok sendiri mengempos terus semangatnya, ia berhasil mencegah menjalarnya racun itu, yang perlahan-lahan mulai turun.
Wanyen Kang lari kepada ibunya, ia berkata: “Ma, akhirnya kita dapat cari kau!” Tapi pauw Sek Yok berkata dengan keras: “Untuk menghendaki aku kembali ke istana, tidak dapat!”
Wanyen Kang dan Wanyen Lieh menjadi heran. “Apa?!” kata mereka.
Pauw Sek Yok menunjuk kepada Yo Tiat Sim, ia kata nyaring: “Suamiku masih belum mati, meski ia pergi ke ujung langit dan pangkal laut, akan aku ikuti dia!”
Wanyen Lieh heran tetapi ia dapat segera menoleh kepada Nio Cu Ong. Ia mengasih tanda dengan tekukan mulutnya.
Nio Cu Ong mengerti, sekejap saja ia telah menyerang Yo Tiat Sim dengan tiga batang pakunya.
Khu Cie Kee yang waspada dapat melihat serangan orang she Yo itu, ia menjadi kaget. Ia tidak mempunyai senjata rahasia untuk mencegah paku itu. Tiat Sim tentu tak dapat berkelit. Tapi ia tidak putus asa. Ia menyambar satu serdadu di dekatnya, tubuh orang itu ia lemparkan ke arah antara paku dan Tiat Sim.
Segera terdengar jeritannya serdadu yang menjadi korban ketiga batang paku itu.
Melihat itu Nio Cu Ong menjadi gusar, ia lompat kepada si imam untuk menerjang.
Pheng Lian Houw dapat melihat suasana. Ia memang tidak sudi menyerahkan obat pemunahnya. Tidak ayal ia berlompat kepada pauw Sek Yok, untuk menangkap onghui yang dicari Wanyen Lieh itu.
Khu Cie Kee melihat sepak terjang orang itu, ia pun lompat menyerang, mulanya menikam Nio Cu Ong, lalu membabat si orang she Pheng itu. Mereka ini berdua terpaksa lompat mundur.
Khu Cie Kee segera menghadapi Wanyen Kang, ia bentak: “Anak tidak tahu apa-apa, kau mengaku penjahat sebagai ayahmu selama delapan belas tahun, hari ini kau bertemu ayahmu yang sejati, kenapa kau masih tidak hendak mengenalinya?!”
Wanyen Kang memang telah mendengar keterangan ibunya, ia percaya itu delapan bagian, sekarang ia dengar perkataan gurunya, ia lantas menoleh kepada Yo Tiat Sim. Ia melihat seorang dengan pakaian tua dan pecah, pakaian itu kotor dengan tanah. Kemudian ia berpaling kepada Wanyen Lieh, tampak orang tampan dengan pakaian indah. Maka dua orang itu beda bagaikan langit dengan bumi. Ia lantas berpikir: “Mustahilkah aku meninggalkan kekayaan dan kemulian untuk mengikuti seorang melarat, untuk hidup merantau? Tidak, berlaksa kali tidak!” Maka ia lantas berseru, “Suhu, jangan dengar ocehan iblis ini! Suhu, tolonglah ibuku!”
Khu Cie Kee menjadi sangat mendongkol. “Kau sesat, kau tidak sadar, kau kalah dengan binatang!” Ia mendamprat.
Pheng Lian Houw melihat guru dan murid bentrok, mereka perkeras serangan mereka.
Wanyen Kang juga mendapatkan gurunya dalam bahaya tetapi ia berdiam saja.
Imam itu menjadi sangat murka. “Binatang, lihat aku!” dia membentak.
Wanyen Kang berdiam, hatinya ciut. Ia memang paling takut pada gurunya. Maka ia berharap Pheng Lian Houw semua memperoleh kemenangan, supaya gurunya terbinasakan, dengan begitu ia akan selamat untuk selanjutnya.
Tidak lama, lengan kanan Khu Cie Kee kena ditusuk ujung gunting Nio Cu Ong, lukanya tidak hebat tetapi mengeluarkan darah.
Ma Giok melihat bahaya mengancam, ia mengeluarkan sebiji liu-seng, ia sulut itu, lalu melemparkannya, maka suatu sinar api biru lantas meluncur ke udara. Itulah pertanda di antara kaum Coan Cin Pay.
“Imam tua itu mencari kawan!” berseru Pheng Lian Houw, lantas ia meninggalkan Khu Cie Kee untuk menyerang Ma Giok. Ia lantas dibantu See Thong Thian.
Baru mereka ini bergebrak satu kali, di jurusan Barat Laut terlihat meluncurnya satu sinar biru juga.
“Ong sutee di arah kiri sana!” berseru Khu Cie Kee girang. Ia geser pedangnya ke tangan kiri terus ia menyerang hebat, hingga ia dapat membuka jalan.
“Ke sana!” berseru Ma Giok yang menunjuk ke arah Barat Laut.
Yo Tiat Sim bersama Liam Cu, putrinya dengan melindungi Pauw Sek Yok, lari ke arah yang ditunjuk itu, di belakang mereka, Ma Giok menyusul. Imam ini sudah berlompat bangun.
Khu Cie Kee perlihatkan kepandaiannya, ia menghalangi di belakang. See Thong Thian berniat mencekuk Pauw Sek Yok, ia berlompat ke depan, tetapi semua percobaannya sia-sia belaka, ia dirintangi kalau bukan oleh Khu Cie Kee tentu oleh Ma Giok.
Tidak lama tibalah mereka di hotel kecil di mana Ong Cie It mengambil tempat.
Khu Cie Kee heran bukan main. “Kenapa Ong Sutee masih belum menyambut?” ia berpikir. Ia baru berpikir atau ia segera melihat munculnya adik seperguruannya itu, yang jalan dibantu tongkat.
Dua-dua pihak terkejut. Mereka sama-sama tidak menyangka, dari kaum Coan Cin pay, sekarang terluka justru mereka yang paling tangguh.
“Mundur ke dalam hotel!” Khu Cie Kee lantas berseru.
“Serahkan onghui baik-baik, aku nanti ampunkan kamu semua!” Wanyen Lieh berseru.
“Siapa menghendaki pengampunan kau bangsat anjing dari negara Kim?!” mendamprat Tiang Cun Cu. Sembari membuka mulutnya, imam ini terus membikin perlawanan dengan hebat, hingga mau tidak mau, Pheng Lian Houw semua mengaguminya.
Yo Tiat Sim menyaksikan pertempuran itu, ia anggap tidak seharusnya Khu Cie Kee bertiga menjadi korbannya, maka tiba-tiba saja ia tarik tangan Sek Yok, untuk pergi keluar, sambil ia berseru: “Semua berhenti! Di sinilah ajal kami!”
Di tangannya Tiat Sim mencekal tombaknya, dengan itu ia lantas tikam ulu hatinya, maka ia roboh dengan berlumuran darah.
Sek Yok tidak berduka karenanya, ia juga tubruk suaminya, ia tertawa menyeringai, terus ia cabut tombak itu dari tubuh suaminya, untuk gagangnya ditancap ke tanah. Ia menghadap Wanyen Kang seraya berkata: “Anak, masih kau tidak percaya ayahmu yang sejati ini?” Tapi ia tidak menanti jawaban, segera setelah perkataan itu, ia tubrukkan dirinya ke ujung tombak itu, maka ia pun roboh dengan mandi darah.
Kejadian ini sangat hebat, semua orang tidak menduganya, maka juga pertempuran berhenti sendirinya.
Wanyen Kang sangat kaget, sambil menjerit: “Ibu!” ia lari menolong ibunya. Ia lantas menangis melihat dada ibunya tertancap tombak.
Khu Cie Kee lantas memeriksa luka kedua orang itu, ia putus asa.
Wanyen Kang memeluki ibunya, dan Liam Cu ayahnya. Keduanya menggerung-gerung.
“Saudara Yo,” berkata Tiang Cun Cu pada Tiat Sim. “Kau hendak memesan apa? Kau bilanglah padaku, nanti aku lakukan semua itu.”
Belum lagi Tiat Sim sempat menjawab, orang pada menoleh ke arah mereka, karena mereka mendengar tindakan dari banyak kaki orang. Segera mereka melihat datangnya Kanglam Liok Koay bersama Kwee Ceng.
Enam Manusia aneh itu melihat See Thong Thian beramai, mereka menduga bakal terjadi pertempuran lagi, mereka lantas menyiapkan senjata mereka masing-masing. ketika mereka sudah datang dekat, mereka menjadi heran. Di sana ada dua orang terluka dan masing-masing tengah dipeluki dan yang lainnya mengawasi dengan roman tidak wajar.
Kwee Ceng kenali Yo Tiat Sim, segera ia menghampiri. “Paman Yo, kau kenapa?” tanyanya.
Napasnya Tiat Sim sudah lemah, ia kenali anak muda itu, ia tersenyum. “Dahulu hari ayahmu dan aku telah berjanji, kalau kami mendapat anak lelaki dan perempuan, kami akan berbesan, tetapi juga anak pungutku ini ada seperti anakku sendiri….” Ia menoleh kepada Khu Cie Kee, akan meneruskan; “Totiang, tolong kau rekoki perjodohan ini, aku mati pun akan meram.”
“Tenangkan hatimu, saudara Yo,” menyahut si imam ini.
Pauw Sek Yok rebah di samping suaminya, tangan kirinya mencekal erat tangan suaminya, agaknya ia takut sekali suaminya pergi. Ia seperti sudah tidak ingat apa-apa akan tetapi samar-samar ia masih dapat dengar pesan suaminya. Tiba-tiba ia angkat tangannya, untuk merogoh sakunya, darimana ia keluarkan sebilah pisau belati: “Ini buktinya….” katanya, lalu ia tersenyum dan berhenti jalan napasnya.
Khu Cie Kee menyambut pisau itu. Ia kenal pisau yang dulu hari ia berikan di Gu-kee-cun, Lim-an. Pada pisau terukir terang dua huruf “Kwee Ceng”
Yo Tiat Sim pun kata pada anak muda itu: “Masih ada sebilah lagi, ditangan ibumu. Dengan mengingat ayahmu, aku minta baik-baiklah kau perlakukan anakku ini.”
“Aku nanti urus semua, tenangkan dirimu,” janji pula Khu Cie Kee.
Yo Tiat Sim benar-benar merapatkan kedua matanya dengan tentram.
Kwee Ceng berduka sekali berbareng pusing kepala. “Yong-jie begitu baik terhadapku, mana bisa aku menikah dengan orang lain?” katanya dalam hati. Lalu ia menjadi kaget, ia berpikir pula: “Kenapa aku melupakan putri Gochin? Khan Agung telah jodohkan putrinya itu kepadaku! Ini……ini….bagaimana….?”
Selama hari-hari belakangan ini, Kwee Ceng sering ingat tuli tetapi tidak sedikitpun putri Gochin.
Cu Cong beramai berdiam saja atas pesan Tiat Sim itu. Memang mereka tidak berniat menolak pesan terakhir itu tetapi mereka tidak jelas duduknya hal, mereka tidak berani berlaku lancang.
Wanyen Lieh telah mesti menghadapi kejadian hebat itu, ia berduka bukan main. Ia lantas saja memutar tubuhnya, untuk meninggalkan tempat itu. Sejak ia mengambil pauw Sek Yok menjadi istrinya, ia telah mencoba segala daya untuk merebut cinta nyonya itu, tetapi ia tidak berhasil sepenuhnya. Selama belasan tahun, Pauw Sek Yok tidak pernah melupakan Yo Tiat Sim, suaminya.
Menampak pangeran itu berlalu, See Thong Thian beramai segera ngeloyor pergi juga, disebabkan ragu-¬ragu untuk menempur pula ketiha imam dari Coan Cin Pay, sudah mereka itu cukup tangguh, sekarang di samping mereka itu ada Kanglam Liok Koay. Khu Cie Kee dapat melihat orang hendak angkat kaki. “He, Sam Hek Miauw, tinggalkan obatmu!” ia membentak.
Pheng Lian Cu menoleh, ia tertawa lebar. “Cecu kamu she Pheng!” sahutnya. “Akulah kaum kangouw julukan Cian ciu Jin-touw! Kau keliru lihat, Khu Totiang?”
Gentar juga Khu Cie Kee. “Pantaslah ia lihay sekali,” pikirnya. Tapi kakaknya terancam bahaya. Maka ia kata: “Tidak peduli kau seribu tangan atau selaksa tangan, obat itu kau mesti tinggalkan! Jangan harap kau bisa meloloskan diri!”
Imam ini mengejek dengan selaksa tangan, sebab julukan “Cian Ciu” dari Pheng Lian Houw berarti “seribu tangan.”
Lantas Khu Cie Kee lompat menyerang.
Pheng Lian Houw mempunyai tinggal sebatang poan-koan-pit tetapi ia tidak takut, ia menyambut serangan itu, hingga mereka bertempur pula.
Cu Cong melihat Ma Giok duduk bersemedhi, napasnya lagi diempos, sedang sebelah tangan orang hitam legam, ia tanya imam itu kena dapat luka.
“Dia berjabat tangan denganku, siapa tahu dia menggunakan jarum beracun,” menyahut imam itu. Dengan “dia” ia maksudkan Pheng Lian Houw.
“Baiklah, itu tidak berarti!” kata Biauw Ciu Sie-seng si pelajar Tangan Lihay. Ia terus berpaling kepada kakaknya dan berkata; “Toako, mari kasih aku satu biji leng-jie!”
Kwa Tin Ok tidak mengerti maksud orang tetapi ia berikan barang yang diminta. Leng-jie itu ialah lengkak beracun.
Cu Cong mengawasi dua orang yang lagi bertempur itu, ia tidak ungkulan memisahkan mereka, maka itu ia kata pula kepada kakaknya; “Toako, mari kita pisahkan mereka itu, aku ada daya untuk menolong Ma totiang.”
Kwa Tin Ok si Kelelawar Hitam tahu adiknya itu sangat cerdik, ia mengangguk.
Si pelajar Tangan Lihay itu lantas saja berseru: “Kiranya di sana Cian Ciu Jin-touw Pheng Cecu! Kita ada orang sendiri, lekas berhenti berkelahi, aku hendak bicara!” Ia mengatakan demikian tetapi ia tarik tangan kakaknya, maka berdua berbareng mereka menyerbu kepada dua orang yang asyik bertempur itu. Yang satu memegang kipas, yang lain tongkat, dengan itu mereka memisahkan.
Khu Cie Kee dan Pheng Lian Houw heran mendengar perkataan orang yang bilang mereka semua adalah “orang sendiri”. Mereka suka memisah diri dulu, untuk mendengar penjelasan.
Dengan tertawa manis, Cu Cong menghadapi Pheng Lian Houw. Ia kata: “Kami Kanglam Cit Koay dengan Tiang Cun Cu Khu Cie Kee telah bentrok pada delapan belas tahun yang lampau, itu waktu lima saudara kami telah terluka parah, tetapi Khu totiang pun terluka oleh kami. Urusan itu sampai sekarang masih belum dapat di….” Ia lantas menoleh kepada Khu Cie Kee, untuk menanya; “Bukankah benar begitu, totiang?”
Tiang cun Cu mendongkol sekali. Ia menduga orang hendak membuat perhitungan disaat ia menghadapi musuh berbahaya. Maka ia menjawab dengan nyaring: “Tidak salah! Habis kau mau apa?!”
“Tetapi kita pun ada punya sangkutan sama See Liong Ong,” berkata Cu Cong. “Aku dengar See Liong Ong bersahabat sangat erat dengan Pheng Ceecu, karena kami mendapat salah dari See Liong Ong, kami jadi turut bersalah terhadap ceecu…”
“Haha…tidak berani aku menerima itu!” tertawa Pheng Lian Houw.
Cu Cong tertawa, ia berkata pula: “Karena Pheng Ceecu dengan Khu Totiang serta Kanglam Cit Koay ada bermusuhan, bukankah kamu kedua pihak adalah orang sendiri? Maka itu, perlu apa kamu bertarung lagi? Dengan begitu, bukankan aku dengan Pheng Ceecu pun ada orang sendiri? Mari, mari kita mengikat persahabatan!”
Si pelajar Tangan Lihay mengulur tangan, menarik tangannya orang she Pheng itu.
Pheng Lian Houw cerdik, ia curiga kata¬-kata tidak karuan juntrungan dari Cu Cong. Bukankah Coan Cin pay telah menolong murid Kanglam Cit Koay? Tidakkah berarti mereka berdua bersahabat? “Tidak, aku tidak dapat diakali, obatku tidak boleh diperdayakan!” Tapi melihat orang mengulurkan tangan, lekas-lekas ia selipkan senjatanya, berbareng ia keluarkan ban beracunnya.
“Saudara Cu, hati-hati!” Khu Cie Kee memberi ingat. Ia terkejut.
Cu Cong berpura-pura tidak mendengar, ia ulur terus tangannya, kelingkingnya ditekuk. Dengan begitu ia telah membangkol ban orang.
Pheng Lian Houw tidak merasakan apa-apa, ia berjabat tangan dengan si pelajar.
Keduanya lantas mengerahkan tenaga masing-¬masing.
Mendadak Pheng Lian Houw merasakan tangannya sakit sekali, lekas-lekas ia menarik tangannya, untuk dilihat. Betapa kagetnya, telapak tangannya telah berlubang tiga, darahnya yang mengalir berwarna hitam. Ia merasakan gatal, gatal-gatal enak, sakitnya lenyap. Tapi ia orang yang lihay, ia insyaf bahwa ia telah kena racun yang jahat. Makin tidak sakit, makin hebat racun itu. Ia juga merasa lukanya kaku. Ia kaget berbareng gusar, ia juga tidak mengerti kenapa ia sudah kena dicurangi. Ketika ia angkat kepalanya, ia dapatkan Cu Cong berdiri di belakangnya Khu Cie Kee, tangan kirinya mengangkat ban beracunnya yang dijepit dengan dua jari, tangan kanannya menunjuki sebuah lengkak hitam, ujung yang tajam dari buah itu penuh darah.
Kanglam Cit Koay yang nomor dua ini bergelar si Pelajar Tangan Lihay, maka tangannya itu benar-¬benar lihay sekali. Ketika ia mau berjabat tangan, dia sudah siapkan lengkaknya, tempo kedua tangan nempel satu sama lain, ia gaet ban tangan orang dan ujung lengkaknya bekerja!
Bukan main murkanya Pheng Lian Houw, ia berlompat untuk menerjang.
“Kau mau apa?!” membentak Khu Cie Kee, yang melintangkan pedangnya.
Cu Cong segera berkata: “Pheng Ceecu, lengkak ini adalah lengkak kakakku, senjata rahasia yang istimewa, siapa terluka, biar pandai mengukir langit, ia tidak bakal hidup lebih daripada tiga jam!”
Pheng Lian Houw merasakan tangannya kaku, ia percaya keterangan itu, maka tanpa merasa, dahinya mengeluarkan keringat dingin.
“Kau mempunyai jarum beracunmu, aku mempunyai ini lengkakku yang beracun juga,” berkata pula Cu Cong. “Kedua racun beda sifatnya, maka beda juga obatnya. Marilah kita bersahabat, kita saling menukar obat. Akur?”
Belum lagi Pheng Lian Houw menyahut, See Thong Thian sudah majukan diri seraya berkata: “Bagus! Kau keluarkan obatmu!”
“Toako, berikan dia obat itu!” Cu Cong bilang pada kakaknya.
Kwa Tin Ok merogoh dua bungkusan kecil dari sakunya, Cu Cong menyambut.
Khu Cie Kee segera melangkah di tengah. “Saudara Cu, jangan kena terperdaya!” ia memberi ingat. “Mesti dia yang menyerahkan dulu obatnya!”
Cu Cong tertawa. “Perkataan laki-laki mesti dibuktikan dengan kepercayaan,” ia kata. “Aku tidak khawatir dia tidak memberikannya.”
Pheng Lian Houw merogoh sakunya. Mendadak mukanya menjadi pucat. “Celaka!” serunya perlahan sekali. “Obatku lenyap…!”
Melihat orang ayal-ayalan, Khu Cie Kee murka. “Hm, kau masih mainkan tipu iblismu!” ia membentak. “Saudara Cu, jangan berikan!”
Cu Cong tertawa, ia berkata pula: “Kau ambillah! Kita bangsa orang budiman, kata-kata kita ada seumpama kuda dicambuk lari, aku bilang kasih tentu mesti dikasihkan!”
See Thong Thian tahu tangan orang lihay, ia tidak berani menyambut dengan tangan, sebagai ganti tangannya, ia lonjorkan senjata pengayuhnya.
Cu Cong meletakkan obat di atas pengayuh itu dan See Thong Thian menariknya, untuk menjumput itu.
Orang heran dengan kejadian ini. Mengapa Cu Cong memberikan obatnya? Kenapa ia tidak memaksa supaya pihak sana yang memberikan obatnya terlebih dahulu?
See Thong Thian masih menyangsikan obatnya tulen, ia kata: “Kanglam Cit Koay adalah orang-orang kenamaan, tidak dapat ia mencelakai orang dengan obat palsu!”
Cu Cong tertawa. “Tidak nanti, tidak nanti!” ia berkata seraya dengan perlahan-lahan mengasihkan lengkaknya kepada Kwa Tin Ok, kemudian dari sakunya ia keluarkan beberapa rupa barang ialah sapu tangan, kim-cie-piauw, beberapa potong perak hancur serta sebuah pie-yan-hu putih.
Pheng Lian Houw melihat semua barang itu, ia melengak. Itulah semua barang kepunyaannya. Ia heran kenapa semua itu ada di tangan orang. Ia tidak menyangka, selagi berjabat tangan, Cu Cong telah perlihatkan kepandaiannya.
Cu Cong buka tutupnya pie-yan-hu itu, yang di dalamnya terbagi dua. di situ ada obat bubuk masing¬-masing berwarna merah dan abu-abu.
“Bagaimana ini dipakainya?” tanya Pheng Lian Houw.
“Yang merah untuk dimakan, yang abu-abu untuk dibeboreh,” sahut ceecu itu terpaksa.
Cu Cong menoleh kepada Kwee Ceng. “Lekas ambil air! Juga dua buah mangkok!” ia menyuruh.
Bocah itu lari ke dalam hotel, untuk mengambil mangkok dan air, maka sebentar kemudian ia sudah mulai merawat Ma Giok. Mangkok yang satunya ia mau kasihkan kepada Pheng Lian Houw.
“Tunggu dulu!” mencegah Cu Cong. “Kasihkan pada Ong totiang!”
Kwee Ceng melengak tetapi ia serahkan mangkok itu. Ong Cie it juga heran.
“Eh, bagaimana dipakainya dua bungkus obat kamu ini?” See Thong Thian menanya. Ia tidak sabaran.
“Tunggu sebentar, jangan kesusu!” Cu Cong bilang. “Baru satu jam tiga perempat menit, dia tidak bakal mati….” Sembari berkata, Cu Cong mengeluarkan dari sakunya belasan bungkus obat.
Melihat itu Kwee Ceng girang bukan buatan. “Itulah obatnya Ong Totiang!” ia berseru. Ia lantas menyambut semua obat itu, ia bukai bungkusannya dan letaki di depan Ong Cie It. Ia kata: “Totiang, pilihlah sendiri mana yang kau butuhkan.”
Ong Cie It mengawasi semua obat itu, ia menjumput gu-cit, dan tiga lainnya, terus masukkan ke dalam mulutnya, untuk dikunyah, lalu disusuli dengan air.
Nio Cu Ong mendongkol berbareng mengagumi sang lawan. “Begini lihay si pelajar jorok ini,” pikirnya. “Ia cuma ngebuti bajuku, obat itu sudah lantas pindah ke tangannya…”
Karena gusar, ia memutar tubuh mencabut guntingnya. “Mari, mari! Mari kita mengadu senjata!” ia menantang.
“Mengadu senjata?” Cu Cong tertawa. “Oh, sungguh-sungguh aku tidak sanggup menandinginya!”
Khu Cie Kee pun menyela, “Tuan ini adalah Ceecu Pheng Lian Houw, tetapi tuan-tuan yang lainnya belum kami kenal…”
See Thong Thian dengan suaranya yang serak, memperkenalkan kawan-kawannya.
“Bagus!” seru Tiang Cun Cu. “Di sini telah berkumpul semua orang Rimba Persilatan yang kenamaan. Sayangnya selagi kita belum memperoleh keputusan menang dan kalah, kedua belah pihak ada orang-orangnya yang terluka. Aku pikir baiklah kita menjanjikan lain hari untuk bertemu pula.”
“Begitu paling baik!” Pheng Lian Houw menyahut. “Sebelum menemui Coan Cin Cit Cu, mati pun kita tak dapat memeramkan mata! Tentang harinya, silakan Khu Totiang yang menetapkan sendiri.”
Khu Cie Kee tahu lukanya Ma Giok dan Ong Cie It memerlukan rawatan beberapa bulan, sedang saudara-saudaranya yang lain terpencar kelilingan, sukar mencari mereka itu dalam waktu yang pendek, karenanya menyahut: “Baiklah setengah tahun kemudian dihari Pwee gwee Tiong Ciu, kita berkumpul sambil memandangi si Putri Malam sembari meyakinkan juga ilmu silat. Bagaimana penglihatan Pheng Ceecu?”
Pheng Lian Houw setuju dengan pilihan hari itu, pertengahan musim rontok. Ia mengetahui dengan baik, kalau Coan Cin Cit Cu kumpul semua, dengan mereka dibantu oleh Kanglam Cit Koay, jumlah mereka pun menjadi terlebih besar, karena mana pihaknya sendiri perlu mencari kawan. Selama setangah tahun, pasti ia sempat mencarinya. Kebetulan Chao Wang menghendaki mereka pergi ke Kanglam untuk mancuri surat wasiatnya Gak Hui, bolehlah mereka kedua pihak sekalian bertemu di sana. Maka itu, ia pun berkata: “Khu Totiang, sungguh pandai kau memilih hari Pwee gwee Tiong Ciu itu! Karena itu aku anggap kita pun baik sekali memilih juga tempat yang tepat! Aku memikir kepada kampung halaman dari Kanglam Cit Hiap!”
“Bagus, bagus!” menyahuti Khu Cie Kee. “Baiklah, bila tiba waktunya, kita boleh berkumpul di lauwteng Yan Ie Lauw di tengah telaga Lam Ouw di Kee-hin. Aku menganggap tidaklah suatu halangan jikalau tuan-¬tuan mengundang beberapa sahabatmu.”
“Baiklah, begini ketetapan kita!” kata Pheng Lian Houw singkat.
“Pheng Ceecu,” berkata Cu Cong setelah kepastian itu. “Dua bungkus obat di tanganmu itu, yang putih untuk dimakan, yang kuning untuk dipakai di luar.”
Selama itu tangan kanan Pheng Lian Houw sudah kaku sebagian, selama berbicara dengan Khu Cie Kee, ia menahan sakit, maka itu begitu mendengar perkataan Cu Cong, tidak berayal sedetik juga, ia lantas makan obat yang putih itu.
Kwa Tin Ok dengan suaranya yang dingin berkata,” Pheng Ceecu, dalam tempo tujuh kali tujuh, empatpuluh sembilan hari kau mesti pantang minum arak! Kau pun mesti memantang paras elok! Kalau tidak nanti di harian Pwee gwee Tiong Ciu di Yan Ie Lauw kita tidak bakal kekurangan cecu satu orang, hingga karenanya pastilah lenyap kegembiraan kami!”
Pheng Lian Houw merasa bahwa ia diejek, tetapi karena orang bermaksud baik, ia tidak menunjuk kemurkaan. “Terima kasih untuk perhatianmu!” ia bilang. Ia sungkan menyebutkan kebaikan hati orang.
See Thong Thian sudah lantas menolongi kawan itu memakai obat luar, habis mana ia mempepayang untuk diajak berlalu.
Wanyen Kang berlutut di tanah, ia paykui empat kali kepada mayat ibunya, kemudian ia paykui beberapa kali kepada Khu Cie Kee, gurunya itu, habis itu tampa mengucap sepatah kata, ia berlalu dengan mengangkat kepala.
“Eh, Kang-jie, apakah artinya itu?!” sang guru menanya, membentak.
Wanyen Kang tidak menyahut, ia juga tidak berjalan bersama rombongannya Pheng Lian Houw, ia hanya mengambil sebuah tikungan di pojok jalan.
Khu Cie Kee terdiam. Tetapi ia segera sadar, maka itu ia terus memberi hormat kepada Kwa Tin Ok beramai seraya berkata: “Jikalau hari ini kami tidak mendapat pertolongan Liok Hiap, pastilah kami bertiga sudah kehilangan jiwa. Mengenai muridku, yang tidak ada sekelingking murid Liok Hiap, untuk pertemuan nanti di Cui Siang Lauw di Kee-hin, disini aku menyatakan taklukku.”
Kanglam Liok Koay senang mendengar perkataan si imam, dengan begitu tidak sia-sialah yang mereka telah membuat tempo delapanbelas tahun di gurun pasir. Kwa Tin Ok lantas menjawab dengan merendah.
Sampai di situ, selesai sudah pembicaraan mereka. Ma Giok dan Ong Cie It lantas dipepayang masuk ke dalam rumah penginapan. Coan Kim Hoat pergi membeli peti mati untuk merawat jenazah Yo Tiat Sim dan Pauw Sek Yok, suami istri.
Khu Cie Kee bersusah hati melihat Bok Liam Cu yang sangat berduka itu.
“Nona, bagaimana hidupnya ayahmu selama beberapa tahun ini?” ia menanya.
“Selama belasan tahun ayah telah mengajak aku merantau ke Timur dan ke Barat,” menyahut si nona. “Belum pernah kami berdiam di suatu tempat lamanya sepuluh hari atau setengah bulan. Ayah membilang, dia hendak mencari satu orang…. seorang engko she Kwee…..”
Perlahan sekali suara si nona, kepalanya pun tunduk. Ia likat.
Khu Cie Kee menoleh ke arah Kwee Ceng. “Bagaimana caranya ayahmu mendapatkan kau?” ia tanya si nona pula.
“Aku ada orang asal Gu-kee-cun di Lim-an,” Liam Cu menyahut pula. “Sejak kecil aku tidak mempunyai ayah dan ibu, aku tinggal menumpang sama seorang bibiku. Bibi tidak perlakukan baik padaku, demikian pada suatu hari ia telah memukul aku serta tidak memberikan aku nasi untuk berdahar, selagi aku menangis di depan pintu, lewatlah ayah angkatku ini. Ia merasa kasihan padaku, ia bicara sama pamanku, lalu ia ambil aku sebagai anak pungut. Demikian aku diajak merantau, diajari ilmu silat. Untuk mencari engko she Kwee itu, aku turut ayah merantau. Aku mesti sering melakukan pertempuran, karena ayah telah mengibarkan benderanya, bendera untuk pibu guna mencari pasangan….”
“Nah, inilah soalnya,” berkata Khu Cie Kee. “Baiklah kau mengerti, ayahmu itu bukan she Bok, dia she Yo. Selanjutnya kau memakai she Yo juga.”
“Tidak, aku bukan she Yo, baik aku tetap she Bok,” berkata si nona itu. Ia bersangsi.
“Kenapa? Apakah kau tidak percaya aku?” tanya si imam.
“Bukan aku tidak percaya, aku cuma ingin tetap memakai she Bok.”
Melihat orang berkukuh, imam itu tidak memaksa. Bukankah orang baru saja kehilangan ayahnya dan hatinya sangat berduka? Ia tidak tahu, didalam hatinya, Liam Cu sudah menyerahkan diri kepada Wanyen Kang. Kalau Wanyen kang itu berayah she Yo, dia pun she Yo juga, maka kalau ia memakai she Yo, mana bisa mereka menikah? Ong Cie It sementara itu merasakan satu kesangsian. Setelah makan dan pakai obat, ia merasa segar, sembari rebah di pembaringan, ia mendengar pembicaraan saudaranya dan nona itu. Ia ingat bagaimana si nona bertanding sama Wanyen Kang.
“Eh,” tanyanya,” Kau bilang kau diajari silat oleh ayahmu, kenapa buktinya kau lebih gagah daripada ayahmu itu?”
“Itulah disebabkan pada suatu hari ketika aku berumur tigabelas tahun, aku bertemu seorang berilmu, Liam Cu menyahut. “Untuk tiga hari lamanya dia ajarkan aku ilmu silat. Sayang otakku buta, tidak dapat aku mewariskan semua pelajaran yang diajarkannya…” kata si nona pula.
“Jikalau ia cuma mengajarkan tiga hari, kenapa kau jauh lebih lihay daripada ayahmu?” imam itu menanya pula. “Siapakah orang berilmu itu?”
“Maaf, totiang, bukannya aku berani mendusta, sebenarnya aku telah mengangkat sumpah, dari itu tidak berani aku menyebutkan namanya.”
Ong Cie It berdiam, ia tidak menanya lebih jauh. Tapi ia berpikir terus, ia mengingat-ingat ilmu silatnya si nona selama dia melayani Wanyen Kang. Sekian lama ia masih tidak mengingatnya, ia tidak dapat mengenali. Hal ini membuatnya bertambah heran.
“Khu Suko,” akhirnya ia tanya kakaknya, “Bukankah kau telah mengajari Wanyen Kang selama delapan atau sembilan tahun?
“Tepatnya sembilan tahun enam bulan,” menjawab Khu Cie kee. “Ah, aku tidak sangka sekali bocah itu tidak berbudi….”
“Ah, benar-benar aneh?” Cit It bilang.
Cie Kee heran. “Kenapa?” tanyanya.
Cit It diam, ia tidak memberi jawaban.
“Khu Totiang,” Tin Ok menanya. “Bagaimana caranya kau dapat mencari turunan Yo Toako itu?”
“Itu terjadi secara kebetulan,” sahut Tian Cun Cu. “Semenjak kita membuat perjanjian, aku pergi kemana-mana mancari turunan kedua keluarga Yo dan Kwee itu. Selama beberapa tahun, aku tidak memperoleh hasil. Karena ini aku merasa bahwa dalam halnya pibu, pihak kami pastilah kalah. Tapi aku tidak putus asa. Aku mencari terus. Kembali aku balik ke Gu-kee-cun. Pada suatu hari aku melihat beberapa hamba negeri pergi ke rumahnya saudara Yo itu, mereka mengangkut pergi semua barang perabotan rumah tangga. Aku heran, lantas aku menguntit mereka. Di luar dugaan mereka, aku mendapat dengar pembicaraan mereka. Nyatanya mereka bukanlah sembarang orang. Merekalah pengikut-pengikut pangeran Chao Wang dari negara Kim, mereka sengaja datang untuk mengangkut isi rumah saudara Yo. Mereka bilang, tidak boleh ada barang yang kurang, tak terkecuali bangku, meja dan tombak serta luku juga. Oleh karena itu aku heran, aku jadi curiga, maka aku menguntit mereka terus sampai di Tiongtouw.”
Mendengar sampai disitu, Kwee Ceng sadar. Selama berdiam di dalam gedung Pangeran Chao Wang, ia pernah melihat kamarnya Pauw Sek Yok serta perlengkapannya. Ia heran seorang istri Pangeran, tetapi perlengkapan rumahnya sangat miskin….
Khu Cie Kee melanjutkan keterangannya: “Malamnya aku pergi memasuki gedung pangeran itu. Untuk memastikan apa perlunya barang-barang demikian diangkut jauh-jauh, dibawa ke istana. Setelah aku memperoleh kenyataan, aku menjadi sangat gusar berbareng berduka dan terharu sekali. Ternyata Pauw Sek Yok, istri saudara Yo itu, sudah menjadi onghui, menjadi istri Pangeran Chao Wang. Saking murkanya, aku berniat membunuh Sek Yok itu. Kemudian aku mengubah pikiranku. Segera aku mendapat kenyataan, Sek Yok tinggal di sebuah rumah batu yang kecil, di situ ia memeluki dan mengusap-usap tombaknya saudara Yo, semalam¬-malaman ia menangis saja. Teranglah ia tidak dapat melupakan suaminya. Karena itu, aku batal membunuhnya. Kemudian aku mendapat keterangan, putranya Pangeran Chao Wang itu adalah putranya saudara Yo. Lewat lagi beberapa tahun, setelah usianya Wanyen Kang bertambah, aku mulai memberikan dia pelajaran ilmu silat.”
“Mungkinkah itu binatang sampai sebegitu jauh belum mengetahui asal-usulnya sendiri?” Tin Ok menanya.
“Tentang itu pernah aku mencoba mencari tahu,” berkata Khu Cie Kee. “Aku mendapat kenyataan ia telah terpengaruh harta dan kemuliaan, karena itu, aku tidak lantas membeberkan rahasianya. Aku pikir hendak menunggu sampai ia bertemu dan pibu sama Kwee Sie-heng, baru aku hendak mengakurkan mereka, untuk kemudian menolong ibunya, pernahkan mereka di suatu tempat tersembunyi. Aku tidak sangka sama sekali, sebenarnya saudara Yo masih hidup, malah bersama-sama saudaraku, kita kena terpedaya hingga beginilah pengalaman kami yang pahit. Ah…!”
Mendengar itu, Bok Liam Cu menangis seraya menutupi mukanya.
Kwee Ceng lantas turut bicara, menuturkan bagaimana dia bertemu sama Yo Tiat Sim, dan bagaimana mereka bertemu juga sama Pauw Sek Yok pada malam itu.
Semau orang lantas memuji Pauw Sek Yok, yang ternoda saking terpaksa, tetapi akhirnya dia berkorban untuk kehormatan cinta suci terhadap suaminya.
Setelah itu, pembicaraan mereka beralih kepada soal bertanding nanti di bulan kedelapan.
“Seluruh anggota Coan Cin Pay bakal hadir, apalagi yang dibuat khawatir?” berkata Cu Cong.
“Aku berkhawatir mereka mengundang banyak kawan hingga jumlah kita menjadi terlebih sedikit,” Ma Giok mengutarakan kekhawatirannya.
“Bisakah mereka mengundang banyak orang pandai?” Cie Kee bertanya.
“Bukan begitu, sutee,” berkata Tan Yang Cu seraya menghela napas. “Selama beberapa tahun ini aku benar telah memperoleh banyak kemajuan, hingga kau dapat memancarkan pengaruh partai kita, akan tetapi di sebelah itu, jangan kita melupakan, tidak dapat kita bertemberang dan menuruti adat muda…”
Cie Kee tertawa. “Jadi kita harus ketahui, bahwa diluar langit ada yang terlebih tinggi, di atas orang pandai ada lagi orang yang terlebih pandai?” katanya.
“Memang begitu. Lihat saja beberapa orang tadi, bukankah mereka itu tak ada dibawahan kita? Coba mereka dapat mengundang lagi beberapa orang, maka dalam pertemuan di Yan Ie Lauw sukar ditentukan dari sekarang, siapa bakal kalah, siapa bakal menang….” jawab Ma Giok lagi.
“Tapi mungkinkah kita Coan Cin Pay bakal roboh di tangannya beberapa jahanam itu?” Khu Cie Kee menegasi.
“Segala apa tak dapat diduga, saudaraku. Buktinya kejadian tadi. Kalau tidak ada Kwa Toako dan Cu Jieko datang membantu, bukankah akan runtuh nama baik kita yang sejak beberapa puluh tahun? Tidakkah kita bertiga bakal kehilangan nyawa kita disini?” kata Ma Giok.
Tin Ok dan Cu Cong lekas-lekas merendahkan diri. “Mereka itu telah menggunakan akal muslihat,” kata mereka. “Kemenangan mereka itu tak dapat dibuat sebutan.”
Ma Giok menghela napas. “Memang kita harus berhati-hati,” katanya. “Lihat saja Ciu Susiok kita. Ia telah mewariskan kepandaian guru kita, kepandaiannya sepuluh lipat melebihi kita, tetapi ia terlalu mengandalkan diri, sampai sekarang sudah belasan tahun, tak diketahui dimana adanya dia. Maka itu Ciu Susiok itu harus dijadikan contoh.”
Mendengar perkataan kakaknya ini, Cie Kee berdiam.
Kanglam Liok Koay tidak mengetahui yang Coan Cin Cit Cu masih mempunyai susiok, paman guru, mereka heran, tetapi mereka tidak berani menanyakan keterangan.
Ong Cie It sendiri membungkam selama dua saudaranya itu berbicara.
Kemudian Khu Cie Kee melirik kepada Kwee Ceng dan Bok Liam Cu. “Kwa Toako,” katanya tertawa. “Tidak kecewa murid yang kau pimpin itu. Yo Sutee mendapatkan baba mantu seperti ini, ia mati pun meram….”
Merah mukanya Liam Cu, ia berbangkit, sembari tunduk ia berjalan untuk keluar.
Ong Cie It dapat melihat caranya orang berbangkit dan bertindak, mendadak berkelebatlah suatu ingatan di otaknya, sebab sekali ia turun dari atas pembaringannya dan sebelah tangannya melayang ke pundak orang.
Hebat serangan mendadak ini, tatkala si nona sadar, pundaknya sudah kena ditekan, percuma ia hendak mempertahankan diri, ia terhuyung ngusruk. Tapi tangan kiri Cit It menyusul, sebelum ia jatuh, dia sudah dapat ditolong. Dia heran dan kaget, dengan mendelong ia mengawasi imam itu.
Ong Cie It lantas tertawa. “Jangan kaget, Nona,” katanya. “Aku sedang menguji kepandaianmu. Bukankah itu orang yang berilmu yang mengajari kau ilmu silat cuma tiga hari mempunyakan hanya sembilan jari tangan dan dandannya sebagai pengemis?”
Nona Bok menjadi terlebih heran lagi. “Eh, mengapakah totiang ketahui itu?” dia balik menanya.
Cit It tertawa pula. “Kiu Cie Sin Kay Ang Locianpwee itu memang aneh sepak terjangnya,” ia berkata, menerangkan. “Dia mirip dengan naga sakti yang nampak kepalanya tetapi tidak ekornya. Kau telah mendapat pengajaran dari dia, Nona, kau beruntung sekali. Sebenarnya sangat sukar mendapatkan seperti kau.”
“Hanya sayang guruku itu tidak mempunyai tempo yang luang, dia cuma bisa mengajari tiga hari lamanya,” menambahkan si nona.
“Apakah kau tidak kenal kecukupan, Nona?” Ong Cie It menegaskan. “Kau tahu, pengajarannya itu tiga hari melebihi pengajaran lain orang sepuluh tahun!”
“Totiang benar juga,” kata Liam Cu, yang terus berdiam tapi cuma sejenak, terus ia menanya: “Apakah totiang ketahui dimana adanya Ang Locianpwee itu sekarang?”
Cit It tertawa pula. “Perkataanmu menyulitkan aku, Nona!” ia berkata. “Adalah pada duapuluh tahun yang lampau aku menemui dia di puncak gunung Hoa San, habis itu aku tidak melihat dan mendengarnya pula.”
Liam Cu merasa kecewa, perlahan-lahan ia bertindak keluar.
“Ong Totiang, siapakah itu Ang Locianpwee?” Han Siauw Eng menanya. Sejak tadi si nona sudah tertarik hatinya mendengar disebutnya orang itu yang ada dari tingkat lebih tinggi dan tua (locianpwee).
Imam she Ong itu tersenyum, ia balik ke pembaringannya.
“Han Lie-hiap,” Ong Cie It menanya, “Pernahkah kau mendengar sebutan Tong Shia See Tok, Lam Tee Pak Kay dan Tiong Sin Thong?”
Nona Han itu berpikir. “Rasanya pernah aku mendengar tetapi aku tidak tahu apa artinya itu semua.”
Tiba-tiba Kwa Tin Ok memotong: “Ang Locianpwee itu bukankah Pak Kay dari Lam Tee Pak Kay itu?”
“Benar,” Ong Cie It memberikan jawabannya. “Tiong Sin Thong itu adalah almarhum Ong Cinjin yang menjadi guru kami.”
Kanglam Liok Koay kagum mendengar si orang she Ang sama tersohornya dengan gurunya Coan Cin Cit Cu.
Khu Cie Kee menoleh kepada Kwee Ceng, sembari tertawa ia berkata: “Bakal istrimu itu muridnya Kiu Cie Sin Kay yang ternama besar, di belakang hari siapa yang nanti berani menghinamu?”
Muka Kwee Ceng menjadi merah, berniat membantah tetapi ia tidak dapat membuka mulutnya.
“Ong Totiang,” kemudian Han Siauw Eng menanya pula. “Kau cuma menekan pundaknya si nona, cara bagaimana kau lantas bisa mendapat tahu dialah muridnya Kiu Cie Sin Kay itu?”
Selagi Cie It belum menyahut, Cie Kee menggapai kepada Kwee Ceng, siapa sudah lantas datang menghampiri. Mendadak saja ia menekan pundak si anak muda.
Kwee Ceng pernah mendapat pelajaran rahasia ilmu dalam dari Ma Giok, pelajaran yang disebut Hian¬bun Ceng-cong, ia juga telah makan darahnya ular, tenaga dalamnya kokoh sekali, dari itu tidaklah ia roboh tertekan si imam.
Khu Cie Kee tertawa. “Anak yang baik!” katanya seraya mengangkat tekanannya.
Kwee Ceng tidak berani melawan lebih jauh tenaga dalam si imam itu tapi justru itu, ia ditekan pula. Kali ini, tidak ampun lagi, ia roboh terjengkang, sebab ia tidak bersiaga. Tapi ia tidak roboh terguling, begitu pula tangannya mengenakan tanah, ia sudah berlompat berdiri pula.
Menyaksikan itu, semua orang tertawa.
“Anak Ceng,” Cu Cong lantas berkata, “Khu Totiang telah memberikan kau pelajaran, kau ingatlah baik-¬baik.”
Kwee Ceng menyahuti sambil mengangguk.
“Han Lie-hiap,” Khu Cie Kee berkata pula, sekarang kepada Han Siauw Eng, “Siapa pun yang mempelajari ilmu silat, jikalau ia ditekan, mesti ia roboh terjengkang, cuma ilmu silat Kiu Cie Sin Kay yang tidak mempan tekanan, paling-paling orang terhuyung ke depan. Sebab ini kepandaian Ang Locianpwee itu banyak yang bertentangan sama ilmu silat kebanyakan.”
Liok Koay kagum untuk pengetahuan luas dari kaum Coan Cin Pay itu.
“Apakah Ong Totiang pernah melihat Kiu Cie Sin Kay bersilat?” Cu Cong tanya.
“Pada duapuluh tahun dulu itu,” menyahut Ong Cie It, “Kiu Cie Sin Kay telah berkumpul berlima bersama Oey Yok Su di puncak gunung Hoa San, di mana mereka merundingkan ilmu silat pedang, karena aku senantiasa mendampingi guruku, aku jadi dapat mendengar penguraiannya Kiu Cie Sin Kay itu.”
“Bukankah Oey Yok Su itu adalah Tong Shia dari Tong Shia See Tok?” Tin Ok tanya pula.
“Benar,” menjawab Tiang Cun, yang terus berpaling pada Kwee ceng sambil tertawa mengatakan: “Syukur Ma Suko telah ajarkan kau ilmu silat tetapi di antara kamu belum ada hubungan murid dan guru, jikalau tidak, mungkin terbit salah paham. Kau mesti terlebih rendah tingkatannya daripada bakal istrimu itu, dengan begitu seumurmu, tidak nanti kau dapat menanjak naik….”
Kwee ceng jengah, mukanya merah. “Tidak dapat aku menikah dengannya,” katanya.
Khu Cie Kee heran, hingga air mukanya berubah. “Kenapakah?” tanyanya.
Han Siauw Eng menyayangi muridnya itu, ia merasa kasihan, ia mewakili menyahut. “Kami cuma ketahui turunan Yo toako adalah anak laki-laki, maka itu selama di Mongolia anak Ceng ini sudah bertunangan. Oleh Khan besar dari Mongolia, Jenghiz Khan, ia telah diangkat menjadi Kim-to Hu-ma.”
Mendengar keterangan itu, Khu Cie Kee tertawa dingin. “Bagus betul!” katanya. “Orang adalah satu putri, pantaslah dia beda daripada yang lain. Tetapi disini adalah mengenai pesan orang tua mereka. Adakah kamu tidak memerdulikan itu?!”
Kwee Ceng menjadi ketakutan, ia lantas saja menekuk lututnya. “Teecu belum pernah sekali juga bertemu sama ayahku almarhum,” ia berkata, “Dari itu tidak tahu teecu tentang pesan ayahku itu. Sukalah Totiang memberi petunjuk?”
Cie Kee tertawa. “Ya, kau tidak dapat dipersalahkan!” katanya. Tadi ia tak ingat akan hal ini. Habis itu lalu ia menutur kejadian pada delapanbelas tahun yang lampau di Gu-kee-cun, bagaimana ia berkenalan sama Kwee Siauw Thian dan Yo Tiat Sim, bagaimana ia sudah pukul mundur musuh, bagaimana ia menyusul dua orang itu hingga jadi bentrok sama Kanglam Cit Koay, dengan kesudahannya dibuat perjanjian pibu antara keturunan Siauw Thian dan Tiat Sim itu.
Kwee Ceng lantas saja menangis. Baru sekarang ia ketahui jelas tentang dirinya sendiri. Ia berduka untuk sakit hati ayahnya, sakit hati mana belum terbalas. Karena ini juga ia menjadi ingat baik-baik budi semua gurunya.
Han Siauw Eng menghibur muridnya, ia kata: “Sudah lumrah, laki-laki mempunyai tiga istri serta empat gundik, maka itu belakang hari bolehlah kau memberitahukan kepada Khan yang agung halnya kau akan menikah dua istri. Ini toh untuk kebaikan kedua pihak, bukan?”
Kwee Ceng menepas air matanya. “Aku juga tidak akan menikahi Putri Gochin!” katanya.
Nona guru itu menjadi terkejut dan heran. “Kenapakah?” tanyanya.
“Aku tidak senang ia menjadi istriku,” Kwee Ceng menyahut dengan terus terang.
“Bukankah kau kenal ia dengan baik dan pernah bergaul rapat?” Siauw Eng menanya pula.
“Ya, tetapi aku pandang ia sebagai adik saja, sebagai sahabat. Aku tidak ingin menikah dengannya.”
Khu Cie Kee menjadi girang mendengar itu. “Anak yang baik, kau bersemangat!” pujinya. “Peduli apa dia Khan yang agung atau tuan putri, kau baiklah turut pesan ayahmu almarhum dan paman Yo-mu itu, kau menikah dengan nona barusan!”
Kwee Ceng menggeleng kepala. “Aku juga tidak akan nikahi nona ini,” katanya.
Semua orang menjadi heran, tidak tahu mereka apa yang dipikirkan pemuda ini.
“Apakah kau telah mempunyai nona lain yang kau penujui?” tanya Siauw Eng perlahan. Dasar wanita, nona Han ini dapat menyelami hati orang.
Muka Kwee Ceng menjadi merah, dia berdiam sejenak, baru ia mengangguk.
Han Po Kie dan Khu Cie Kee terperanjat. “Siapakah nona itu?!” tanya mereka keras.
Kwee Ceng mengasih dengar suaranya perlahan, ia tidak menjawab.
Sedeik itu, Han Siauw Eng lantas ingat Oey Yong, yang ia telah perhatikan ketika malam itu bertempur dengan Bwee Tiauw Hong dan Auwyang Kongcu beramai di dalam istana pangeran. Ia ketahui nona itu berkulit putih bersih dan cantik menarik.
“Bukankah kau maksudkan si nona baju putih?” ia tegaskan muridnya itu.
Kwee Ceng tidak menjawab tetapi mukanya menjadi merah.
“Siapakah dia itu?” Khu Cie Kee tanya si nona Han.
“Aku dengar Bwee Tiauw Hong memanggil ia sumoay dan kepada ayahnya suhu…” menjawab Siauw Eng perlahan sekali. (Sumoay = adik seperguruan wanita dan suhu = suhu)
Dua-dua Kwa Tin Ok dan Khu Cie Kee terperanjat, hingga mereka berlompat bangun. “Mustahilkah ia putrinya Oey Yok Su?” tanya mereka berbareng.
Siauw Eng tarik tangan muridnya, “Anak Ceng, apakah nona itu she Oey?” ia menanya perlahan.
Kwee Ceng mengangguk. “Ya,” sahutnya, perlahan juga.
Mendapat jawaban itu, Han Siauw Eng tergugup.
“Apakah ayahnya yang jodohkan kau dengan putrinya?” tanya Cu Cong.
“Aku belum pernah bertemu dengan ayahnya dan tidak tahu siapa itu ayahnya,” si murid menjawab.
“Kalau begitu, kamu jadi mufakat berdua saja?” Cu Cong menanya pula.
Kwee Ceng tidak mengerti jelas, ia membuka lebar matanya tanpa menjawab.
“Bukankah dia mengatakan mesti menikah dengamu dan kau membilang akan nikahi dia?”
“Tidak pernah dikatakan begitu…” sahut Kwee Ceng, yang terus berdiam, tetapi sesaat kemudian ia menambahkan: “Tidak usahlah itu dijelaskan lagi. Aku tidak dapat tidak mempunyai dia dan dia juga tidak dapat tidak mempunyai aku, hati kita sama mengetahuinya….”
Han Po Kie belum pernah mengenal asmara, mendengar itu ia menjadi tidak puas. “Habis bagaimana jadinya!” ia membentak.
Cu Cong lain lagi. Berkata ini guru yang nomor dua: “Kau tahu tidak, ayahnya nona itu adalah satu iblis besar, yang kalau membunuh orang tidak pernah mengicap matanya? Jikalau ia ketahui kau secara diam-diam mencuri hati anak gadisnya, apa kau sangka masih mempunyai jiwamu? Bwee Tiauw Hong belum mewariskan satu persepuluh dari kepandaian gurunya itu, dia sudah sangat lihay, maka jikalau tuan dari Pulau Tho Hoa To itu hendak membunuh kau, siapa yang dapat menolonginya?”
“Yong-jie demikian baik, aku pikir…. aku pikir ayahnya tak mungkin bukan orang baik-baik,” berkata si murid perlahan.
“Angin busuk!” membentak Po Kie, yang tetap murka. “Kau mesti bersumpah bahwa untuk selanjutnya kau tidak akan bertemu pula dengan nona itu!”
Kanglam Liok Koay sangat membenci Hek Hong Saing Sat yang telah membinasakan Siauw Mie To Thio A Seng si Buddha Tertawa, dengan sendirinya mereka jadi membenci juga guru orang itu.
Kwee Ceng menjadi susah hati. Di satu pihak adalah guru-gurunya telah melepas budi banyak kapadanya, dilain pihak cinta sejati. Ia pikir, kalau seumurnya ia tidak dapat bertemu lagi Oey Yong, apakah artinya hidupnya – buat apa ia menjadi manusia? Ia jujur dan polos, dari itu halus sekali perasaannya. Ketika ia melihat guru--gurunya mengawasi dengan bengis, hancur rasa hatinya. Ia lantas menekuk lutut, air matanya turun mengalir di kedua pipinya.
Han Po Kie lantas maju setindak. “Lekas bicara!” ia membentak.
Belum lagi Kwee Ceng menyahut, di luar jendela sudah terdengar suara wanita muda: “Kenapa kamu main paksa orang?!” Tercenganglah Tin Ok semua. Sedang begitu, si nona itu telah berkata pula: “Engko Ceng, lekas keluar!”
Kwee ceng kenal suara Oey Yong, ia kaget dan berbareng heran. Ia lantas bangkit dan memburu keluar. Di depan berdiri si nona cantik, tangan kirinya memegang pelana kuda Han-hiat Po-ma.
Kuda merah itu meringkik panjang, ketika melihat anak muda ini, lalu kedua kaki depannya diangkat, untuk berjingkrakan.
Han Po Kie bersama Cu Cong dan Coan Kim Hoat memburu keluar, diikuti Khu Cie Kee berempat.
Menampak ketiga guru itu, Kwee Ceng menunjuk kepada si nona seraya berkata; “Sam-suhu, inilah dia si nona, dia bukan siluman!”
Oey Yong menjadi gusar. “Hai, orang kate terokmok yang menyebalkan untuk dilihat, kenapa kau berani memaki aku perempuan siluman?!” dia menanya sambil membentak. Dia pun segera menuding Cu Cong tanpa menanti lagi jawaban Ma Ong Sin si Malaikat Raja Kuda, untuk menambahkan: “Ada lagi kau, pelajar iblis yang jorok kotor, kenapa kau mencaci ayahku? Kenapa kau katakan ayahku iblis besar yang membunuh orang tidak mengicap mata?!”
Biauw Ciu Sie-seng si Pelajar Tangan Lihay sabar, ia tidak sudi melayani seorang nona, ia tersenyum. Ia mesti akui nona ini sangat cantik, seumurnya belum pernah ia lihat lain nona yang melebihkannya, jadi tidaklah heran Kwee Ceng menjadi jatuh hati kepada si nona.
Tapi beda dengan kakaknya yang kedua ini, Han Po Kie gusar bukan main, sampai kumisnya bangun berdiri. “Pergi kau! Lekas kau pergi!” ia mengusir.
Bukannya si nona Oey itu pergi, ia justru menepuk-¬nepuk tangan, ia bernyanyi; “Hai, labu parang! Hai, bola kulit bundar! Ditendang satu kali, lalu bergelindingan!”
“Jangan nakal, Yong-jie!” kata Kwee Ceng lekas mencegah. “Ini guruku….”
Han Po Kie maju, ia mengulurkan tangan akan menolak si nona itu untuk diangkat pergi.
Masih Oey Yong bernyanyi: “Labu parang! Bola kulit bundar!” Ia pun mundur dari tangannya si kate terokmok itu, hanya sambil mundur, mendadak tangannya menyambar pinggang Kwee Ceng, terus ia bawa lompat, maka sedetik kemudian, keduanya sudah bercokol di atas kuda merah, tempo mana si nona itu mengedut tali les, Han-hiat Po-ma membuka tindakan lebar dan kabur!
Han Po Kie boleh sangat gesit dan sebat tetapi tidak sanggup menyandak kuda jempolan itu.
Ketika kemudian Kwee Ceng menoleh ke belakang, wajah Po Kie semua terlihat hanya samar-¬samar saja, lantas bergelempang hitam, terus lenyap, saking keras larinya si kuda merah itu!
Oey Yong mencekal les dengan tangan kanan, tangan kirinya memegang tangan si anak muda, hatinya berdenyut keras, walaupun belum lama mereka berpisahan, Kwee Ceng sendiri bingung sekali. Berat untuknya perpisahan secara demikian dari keenam gurunya, sebaliknya, pepat juga hatinya mengingat gurunya itu hendak memisahkan dari pacarnya. Mana bisa ia tunduk kepada mereka?
Kabur kira-kira satu jam lamanya, Han-hiat Po-ma telah terpisah duaratus lie dari kota Yan-khia. Sampai disitu barulah Oey Yong menarik tali les kudanya, untuk mengasih kudanya berhenti. Lantas ia lompat turun dari binatanang, diturut oleh pemuda pujaannya. Kuda itu menggosok-gosok lehernya ke pinggang si anak muda, menandakan kelulutannya.
Sepasang muda-mudi ini berpegagan tangan, mereka berhadapan tanpa mengucapkan sepatah kata. Banyak yang mereka ingin ucapkan, tetapi mereka tidak tahu harus bagaimana memulainya. Cuma hati mereka yang berbicara satu pada lain……….
Beberapa saat kemudian, baru Oey Yong melepaskan tangannya dari tangan Kwee Ceng. Ia merogoh kantung kulit di pelana, menarik keluar sepotong sapu tangan, terus pergi ke tepi kali kecil di dekatnya, untuk mencelup saputangan itu, kemudian kembali ke pemudannya.
“Kau pakailah ini,” katanya perlahan, meminta orang menyusut mukannya yang keringatan.
Kwee Ceng berdiri bengong, agaknya ia berpikir keras sekali. Ia tidak menyambut saputangan itu, hanya sekonyong-konyong ia berkata, keras; “Yong.jie, tidak dapat kita berbuat begini….”
Pemudi itu terperanjat, ia menatap, “Apa katamu?” tanyanya.
“Kita harus kembali,” Kwee Ceng bilang. “Kita mesti menemui guruku semua…!”
Kembali Oey Yong terperanjat. “Kembali?” ia menegasi. “Kita kembali bersama?”
“Benar!” sahut pemuda itu. “Hendak aku mencekal tanganmu, kepada guruku semua dan Ma Totiang beramai ingin aku mengatakan; ‘Inilah Yong-jie! Dia bukan siluman perempuan!’” Sembari berkata begitu, ia menarik tangan yang putih mulus dan lemas dari si nona, kemudian ia angkat kepalanya, untuk mengawasi wajah orang. Ia agaknya hendak mengatakan pula; “Suhu, budi kamu besar laksana gunung, walaupun tubuhku hancur luluh, sukar aku membalasnya…Tapi, tapi Yong-jie bukannya siluman, dialah satu nona yang baik sekali…” ia hendak omong banyak, tapi cuma sampai di situ, berhentilah pikirannya melamun.
Mulanya Oey Yong tersenyum, ia anggap orang jenaka sekali, tetapi kemudian hatinya tergerak. Ia lantas berkata: “Engko Ceng, semua gurumu sangat benci aku, percuma kau omong banyak dengan mereka. Sudahlah, jangan engkau kembali! Mari kita pergi ke sebuah gunung sunyi, atau ke sebuah pulau mencil di laut, supaya mereka itu selama umurnya tidak dapat mencari kita….”
Kwee Ceng tetap menatap. “Yong-jie,” katanya, suaranya mantap, “Tidak dapat tidak, kita mesti kembali.”
“Tapi mereka itu hendak memisahkan kita, nanti kita tidak bakal bertemu pula,” kata si nona pula.
“Biar mati, kita tidak bakal berpisah!” si pemuda memastikan.
Semangat Oey Yong terbangun, kalau tadi hatinya berdebaran, sekarang hatinya menjadi mantap.
“Benar!” pikirnya. “Paling banyak kita mati! Mustahil ada yang lebih hebat dari kematian?” Maka ia kata: “Engko ceng, untuk selama-lamanya aku akan dengar perkataanmu! Sampai mati juga kita tidak akan berpisah!”
“Memang!” sahut si anak muda. “Aku sudah bilang, kau adalah satu nona yang manis!”
Nona itu tertawa. Ia merogoh pula kantong kulitnya, sekarang mengeluarkan sepotong besar daging mentah, ia gulung dengan lumpur, terus ia tambus. Ia menyalakan api dengan kayu kering.
“Biarlah si kuda lecil merah beristirahat,” kata pula si nona. “Habis beristirahat baru kita kembali.”
Kwee Ceng mengangguk, hatinya puas.
Tidak lama kemudian keduanya mulai menggayem daging tambus itu, kuda mereka juga sudah kenyang makan rumput. Sebentar kemudian, dengan menaiki kuda, mereka ambil jalan dari mana tadi mereka datang. Di waktu lohor, mereka tiba di hotel. Turun dari kudanya, Kwee Ceng pegang tangannya Oey Yong untuk diajak masuk ke dalam.
Pelayan hotel girang melihat kembalinya si anak muda, ia menyambut dengan wajah berseri-seri. Ia pernah menerima persen dari Kwee Ceng.
“Kau baik, Tuan?” tegurnya. “Mereka itu sudah berangkat pergi. Tuan ingin dahar apa, silakan sebutkan.” katanya.
Tapi Kwee Ceng terperanjat. “Mereka sudah pergi?” ia mengulangi. “Adakah pesanannya?”
“Tidak, mereka menuju ke Selatan, perginya sudah selang dua jam.” jawab si jongos.
“Mari kita susul mereka!” Kwee Ceng mengajak kekasihnya.
Oey Yong menurut, maka mereka tinggalkan rumah penginapan itu, mereka kaburkan kuda mereka ke arah yang disebutkan si pelayan itu, yang heran menampak orang pergi secara demikian kesusu. Di sepanjang jalan mereka memasang mata. Sampai sore, mereka tidak dapat menemukan Kanglan Liok Koay.
“Mungkin suhu telah mengambil lain jalan,” kata Kwee Ceng. Ia membalikkan kudanya.
Han-hiat Po-ma kuat sekali, walaupun penunggangnya dua orang, ia dapat lari tak kurang cepatnya, ia tidak menjadi lelah. Hanya sampai cuaca gelap, mereka tetap tidak melihat Kanglam Liok Koay atau ketiga orang Coan Cin Pay. Kwee Ceng menjadi masgul.
Oey Yong menghibur. Katanya: “Di harian Tiong Ciu mereka bakal berkumpul di Yan Ie Liauw di Kee-hin, di sana kau pasti bakal dapat menemukan mereka.”
“Untuk sampai kepada hari raya Tiong Ciu, temponya masih setengah tahun lagi,” kata si anak muda, lesu.
Tapi si nona tertawa manis. “Selama setangah tahun kita toh dapat pesiar ke segala tempat kenamaan!” katanya. “Apakah itu tidak terlebih bagus?”
Mau tidak mau, Kwee Ceng menyatakan setuju. Hatinya menjadi lega juga.
Keduanya lantas memasuki dusun, mencari penginapan, guna melewatkan sang malam.
Besoknya Kwee Ceng membeli seekor kuda putih yang besar, supaya Oey Yong dapat menaiki kuda merah kecil itu seorang diri. Tidak leluasa untuk mereka terus menunggang seekor kuda.
Oey Yong tidak dapat menampik kehendak pemudanya itu.
Demikian dengan merendengkan kuda, mereka berjalan perlahan-lahan, untuk menikmati keindahan sang malam. Mereka pergi tanpa tujuan. sering mereka turun dan duduk saling menyender di tempat yang sepi. Kalau singgah dan bermalam, mereka pun menyewa sebuah kamar. Hati mereka lapang, tidak ada pikiran yang bukan-bukan yang menyandingi mereka. Mereka melainkan memikirkan pesiar dan terbukalah hati mereka.
Pada suatu hari tibalah meteka di Barat perbatasan antara Liongkeng-hu dan Tayleng di sebelah timur kota raja. Ketika itu sudah mendekati hari raya Toan-yang, hawa udara mulai panas. Dahi Oey Yong telah berkeringatan. Selagi mereka hendak cari tempat untuk meneduh, si nona mendengar suara mengericiknya air . Ia lantas larikan kudanya ke arah suara itu. Girangnya ia mendapatkan sebuah kali kecil, sampai ia berseru.
Kwee Ceng mengasih kudanya lari menyusul.
Kali itu berair bening, hingga nampak dasarnya. Di kedua tepinya ada tumbuh banyak pohon yang-liu, yang cabang dan daunnya meroyot ke air. Di dalam air pun terlihat sejumlah ikan berenang pergi datang.
Oey Yong gembira sekali, hingga ia membuka pakaian luarnya, lalu terjun ke air.
Kwee Ceng terkejut, hingga ia menjerit. Ia lari ke tepian, hatinya lega. Segera ia melihat si nona berenang di dalam air, menangkap dua ekor ikan yang panjangnya kira-kira satu kaki, ketika diangkat ke muka air, ekor kedua ikan itu bergerak-gerak, begitupun kepalanya.
“Sambut!” si nona berseru, kedua tangannya terayun.
Kwee Ceng lantas menyambut, memegang kedua ikan itu, tetapi saking licinnya, ikan itu melejit dan lolos, jatuh ke tanah, di mana keduanya berloncatan.
Oey Yong tertawa geli. “Engko Ceng, mari turun, kita berenang!” ia memanggil.
Kwee Ceng tidak bisa berenang, ia menggeleng kepala. Ia besar di gurun pasir.
“Turunlah, nanti aku ajari!” kata si nona.
Pemuda ini menjadi tertarik, ia pun membuka baju luarnya, lalu turun ke kali. Ia tidak menerjun seperti si nona, tetapi ia turun dengan perlahan-lahan, tangannya pun diulurkan. Si nona jail sekali, ia menghampiri, tahu-tahu ia telah merabuh kaki orang, maka tidak ayal lagi, tubuh Kwee Ceng terpelanting. Ia kaget, karenanya, ia menegak air! Oey Yong lekas pegangi tangan orang, ia menertawai.
“Begini menggerakkan tangan,” si nona benar-benar lantas mengajari. Ia pun membilangi, mesti menahan napas dan mata dapat dirapati atau dimeleki.
Untuk Kwee Ceng, pelajaran berenang itu gampang sekali. Dengan dapat mengatur napasnya, dengan cepat ia telah dapat mengerti. Demikian ia bisa berenang hilir mudik dan selulup timbul. Tentu sekali, ia menjadi bertambah gembira, sedang kawannya demikian manis dan lincah.
Tidak puas dengan mandi di satu tempat saja, mereka berenang mudik, sampai kuping mereka mendapat dengar suara air nyaring. Kemudian ternyata, di Selatan itu ada air terjun yang yang tingginya lebih daripada sepuluh tombak, bagaikan rantai perak, air meluncur turun.
“Engko Ceng,” kata si nona sangat bergembira, “Mari kita mendaki air tumpah itu!”
“Baik, mari kita mencoba!” Kwee Ceng menyambut. “Kau pakailah baju lapismu!”
“Tidak usah!” menyahut si nona. “Mari kita mulai!”.
Kata-kata itu disusul sama gerakan tubuh yang lincah, berbareng dengan mana, si pemuda pun menggerakkan kaki tangannya. Tapi air deras sekali, keduanya gagal. Beberapa kali mereka mencoba, tetapi mereka tidak berhasil.
Kwee Ceng penasaran sekali. “Baiklah kita beristirahat, besok kita coba pula!” katanya pada kawannya.
“Baik!” tertawa Oey Yong. Ia pun penasaran.
Besoknya percobaan diulangi, kali ini mereka dapat naik hingga setombak lebih. Hati mereka menjadi besar, mereka mencoba terus. Inilah latihan bagus bagi mereka, yang ilmunya ringan tubuh sudah sempurna. Latihan ini terus dilakukan, maka juga di hari kedelapan, Kwee Ceng bisa sampai puncak air terjun itu, dengan menyambar dan menarik tangan orang, ia membantu Oey Yong naik juga.
Bukan main girangnya muda mudi ini.
“Mari kita turun pula!” Kwee Ceng mengajak. Lalu keduanya menyebur mengikuti air tumpah itu.
Demikian mereka berlatih, naik dan turun. Dalam sepuluh hari, Kwee Ceng dapat berenang dengan baik walaupun ia masih kalan lincah dari si nona, ialah untuk menangkap ikan, ia tak dapat menyaingi. Puaslah hati sepasang anak muda ini, maka di hari kesebelas baru mereka melanjutkan perjalanan ke Selatan. Sampai di hulu sungai Tiang Kang, hari mulai sore. Terbuka hati Kwee Ceng menyaksikan kebesaran sungai itu, yang airnya terus mengalir, gelombangnya saling susun.
“Kau mau berenang, engko ceng?” tanya si nona. “Marilah!”
“Baik!” sahut si anak muda. Dan ia lompat turun dari kuda putihnya, yang tepuk kempolannya. “Kau tidak punya guna, pergilah!” Ia pun melepaskan tali les. Dilain pihak, ia menghampiri kuda merah.
Kapan kuda merah itu ditepuk, dengan berani dia terjun ke sungai, sembari terjun ia meringkik keras dan panjang, terus ia berenag pergi.
Kwee Ceng dan Oey Yong pun segera terjun, untuk menyusul. Pandai berenangnya kuda merah itu, dia mendahului di muka.
Di tempat dimana mereka terjun ini tidak ada lain orang, dengan begitu mereka tidak menarik perhatian siapapun.
Belum begitu lama, tiba-tiba cuaca menjadi gelap. Sebab mega sudah lantas bergumpal-gumpal, langit menjadi mendung. Lalu kemudian terdengar suara guntur saling susul dan terlihat kilat menyambar-¬nyambar.
“Takutkah kau, Yong-jie?” Kwee Ceng tanya.
“Ada bersama-sama kau, aku tidak takut!” menjawab si nona tertawa.
Pemuda itu tersenyum.
Di bawah hujan besar, mereka berenang terus hingga di lain tepi di mana mereka mendarat. Mereka menanti sampai air langit itu berhenti turun, ketika itu tibalah sang malam dan rembulan memancarkan sinarnya di langit yang bersih. Mendung sirna, mega berkumpul lenyap.
Kwee Ceng mencari kayu kering, untuk menyalakan api ungun, di situ mereka memanggang pakaian hingga kering, kemudian keduanya rebah tidur di udara terbuka. Mereka polos, mereka tidak ingat apapun.
Keduanya sadar besoknya fajar, tempo mereka dengar suara ayam berkeruyuk dari sebuah rumah tak jauh dari tepi sungai.
“Aku lapar!” berkata Oey Yong, yang menguap. Ia bangkit, lari ke rumah tadi, sebentar kemudian, ia sudah lari balik, bersama seekor ayam jago yang besar di tangannya.
“Mari kita pergi ke sana, supaya pemilik rumah tidak melihat kita,” Kwee Ceng mengajak.
Si nona mengangguk, lantas mereka berjalan sampai sejauh satu lie kira-kira. Kuda merah terus mengikuti mereka. Disini Oey Yong sembelih ayam itu, lalu di cuci bersih, kemudian ia gulung dengan lumpur, untuk ditambus. Maka dilain saat matanglah ayam itu, rontok bulu dan kulitnya, terlihatlah dagingnya yang gemuk. Disaat si nona hendak membeset ayam itu, tiba-tiba ia dengar suara dari belakangnya; “Besetlah menjadi tiga potong, pahanya kasih aku!”
Kedua muda-mudi itu terkejut. Bukankah kuping mereka lihay? Kenapa mereka tidak dengar berkelisiknya orang, hingga orang tahu-tahu sudah berada dibelakang mereka? Mereka memutar tubuh dengan cepat. Maka terlihatlah seorang pengemis usia pertengahan, pakaiannya banyak tambalan, cuma anehnya, bahannya semua tersulam, hingga mirip pakaian pengemis di atas pentas. Dia pun memegang sebatang tongkat yang mirip batu pualam, sedang dipunggungnya tergemblok sebuah cupu-cupu besar yang merah warnanya. Wajah orang tampak acuh tak acuh wajar sekali.
Belum lagi si muda-mudi itu menyahut, mereka suka membagi ayam atau tidak, si pengemis sudah lantas menjatuhkan diri duduk di hapadan mereka, tangannya meraba punggungnya, untuk mengambil cupu-cupunya itu, yang tutupnya ia terus buka, itu juga tersiarlah harumnya arak. Dia menggelogoki arak itu beberapa ceglokan, terus ia mengangsurkan kepada si anak muda.
“Eh, bocah, kau minumlah!” katanya.
Sebenarnya Kwee Ceng tidak puas untuk kelakuan orang yang tak hormat itu, tetapi karena tingkah laku itu aneh, tidak berani berlaku kasar. “Aku tidak minum arak, lojinkee, kau minumlah sendiri!” sahutnya hormat.
“Dan kau nona kecil, kau minum arak atau tidak?” si pengemis itu menanya Oey Yong.
Si nona tidak menyahut, ia cuma menggelengkan kepalanya. Tapi sangat jeli matanya, dalam sesaat ia telah dapat melihat jeriji tangan si pengemis yang memegang tempat araknya. Untuk terkejutnya, jeriji itu cuma sembilan, lenyap satu dari lima jeriji tangan kanan! Ia lantas ingat kata-kata Ong Cie It dan Khu Cie Kee perihal Kiu Cie Sin Kay, si Pengemis Aneh Berjeriji Sembilan.
“Benarkah di kolong langit ini ada peristiwa begini kebetulan?” ia tanya diri sendiri. “Baiklah aku dengar suaranya.”
Nona ini tertawa di dalam hati apabila ia sudah mengawasi wajah si pengemis yang terus memandang ayamnya, hidung dia itu bergerak-gerak, mulutnya berkelemikan tanda mengilar. Tetapi ia tidak memikir untuk menjaili orang, maka ia lantas besat ayamnya dibagi dua, yang separuh ia sodorkan pada orang tua itu. Pengemis itu menyambut seperti menyambar dan terus menggayem. Sangat bernafsu ia mendaharnya hingga lekas juga paha ayam itu termakan habis! Tulang-tulang ayam itu ia semburkan.
“Sungguh lezat! Sungguh lezat!” ia memuji berulang-ulang. “Biar aku si leluhur pengemis, tidak bisa aku mematangi ayam selezat ini!”
Oey Yong tertawa, ia menyodorkan pula sepotong lainnya.
“Ah, mana dapat!” pengemis itu menolak. “Kamu berdua belum makan….” Mulutnya mengatakan begitu, tetapi tangannya menyambut, maka dilain saat, habis sudah sebelah ayam tambus itu! Lantas ia menepuk¬-nepuk perutnya. “Hai, perutku, perutku!” ia mengoceh seorang diri, “Bukankah jarang sekali kau gegares ayam begini lezat?”
Mau tidak mau, si nona tertawa geli.
Pengemis itu merogoh ke sakunya, mengeluarkan sepotong besar perak, yang mana ia sodorkan kepada Kwee Ceng. “Bocah, kau ambillah ini!” katanya.
Pemuda itu menggeleng kepalanya. “Kami menganggap kau sebagai sahabat, kami tidak menginginkan uang,” jawabnya.
Pengemus itu menyeringai, agaknya ia likat. “Inilah sulit,” katanya. “Meskipun aku pengemis, tidak biasa aku menerima budi orang sedikitpun juga.”
“Apakah artinya seekor ayam?” berkata Kwee Ceng tertawa. “Lagian, ayam ini pun kami dapatkan dengan jalan tangan panjang, tanpa perkenan dari pemiliknya….”
Pengemis itu tertawa terbahak-bahak. “Ah, anak muda, tabiatmu sama dengan tabiatku!” katanya. “Mari, mari bilang aku, kau ada niat apa, kau kasih aku dengar!”
Belum lagi si pemuda menyahut, Oey Yong sudah mendahului. “Aku masih punya beberapa macam sayuran untuk kau cobai, lojinkee!” katanya manis. “Maukah kau turut kami pergi ke pasar di sana?”
Pengemis itu nampaknya sangat girang. “Bagus, bagus!” ia menyahut.
“Lojinkee she apa?” Kwee Ceng menanya.
“Aku she Ang, anak yang ketujuh,” menjawab pengemis itu. “Maka kamu berdua, anak-anak, kau panggil saja aku Ang Cit Kong.”
“Ha, benar saja dia!” kata Oey Yong di dalam hatinya. “Tapi dia masih begini muda, cara bagaimana dia sama kesohornya dengan Coan Cin Cit Cu?....” Walaupun ia memikir demikian, Oey Yong tidak bilang apapun. Bertiga mereka sudah lantas berjalan menuju ke Selatan, di mana ada sebuha dusun namanya Kiang-bio-tin. Lantas saja mereka mencari pondokan.
“Kamu berdua menanti sebentar, aku hendak membeli bumbu,” kata Oey Yong, yang terus pergi meninggalkan mereka.
Ang Cit Kong mengawasi belakang si nona, lalu ia tertawa. Ia kata kepada Kwee Ceng, “Adakah dia itu istrimu?”
Merah mukanya Kwee Ceng, sulit untuk ia mengiakan atau menyangkal. Ang Cit Kong tidak menanya pula, dia tertawa, lalu ia duduk nyender di kursinya, matanya meram melek.
Tidak lama Oey Yong kembali dengan sayuran dan bumbunya, ia pergi ke dapur untuk masak. Kwee Ceng hendak membantu, sembari tertawa, pemuda ini ditolaknya.
Selang setengah jam, Ang Cit Kong menguap. Segera ia mengendus-endus. “Ah, harum sekali!” katanya. “Masakan apakah itu, ah?!” Ia melongok ke arah dapur, lehernya diulur panjang-panjang.
Melihat tingkah laku orang, Kwee Ceng tertawa di dalam hati.
Bau wanginya barang hidangan mendesak, tetapi Oey Yong belum juga muncul. Si pengemis jadi serba salah, ia bangun, ia duduk, bangun pula, duduk kembali.
“Kau tahu tabiatku?” katanya pada Kwee Ceng, yang ia awasi. “Mulutku aneh, asal aku merasa makanan lezat, lantas aku lupa segalanya!” Kali ini ia tidak likat-likat lagi. Ia perlihatkan tangan kanannya, ia menambahkan: “Orang dahulu bilang, jari telunjuk dapat bergerak, inilah benar. Aku, asal aku melihat orang dahar makanan lezat jeriji telunjukku ini lantas bergerak-gerak tak hentinya, maka satu kali, sangking sengit, aku bacok kutung padanya….”
“Oh….!” Kwee Ceng berseru.
Tapi si pengemis tertawa. Katanya pula; “Meski jari tanganku lenyap, tabiatku tetap ada tak berubah…!”
Baru itu waktu Oey Yong muncul bersama sebuah penampan, di atas itu ada dua mangkok nasi, berasnya putih, secawan arak serta dua mangkok sayuran. Dua magkok sayuran itu lantas dipindahkan ke meja.
Kwee Ceng merasakan bau harum, tanda lezatnya masakan itu. Masih ada semangkok masakan daging yang menyiarkan bau lebih harum lagi. Semangkok yang lainnya pula masakan rebung campur-campur, kuahnya hijau.
Oey Yong mengisikan cawan, di depan si pengemis.
“Cit Kong, mari cobai masakanku!” katanya sembari tertawa.
Tanpa ditawarkan sampai dua kali, Cit Kong sudah lantas menenggak araknya, lalu ia menyumpit dua potong bakso di masukkan ke dalam mulutnya, terus ia menggayem, dengan asyik sekali, tandanya bakso itu sangat lezat. “Ah, aku tahu!” katanya kemudian. “Bakso ini adalah campuran daging kambing, daging babi, daging kerbau, dan daging…..daging….” Dan ia tidak dapat menyebutkan itu.
“Kalau kau bisa membeda, betul kau lihay, Cit Kong!” Oey Yong tertawa. Tapi belum ia berhenti tertawa, si pengemis itu sudah berseru: “Itulah daging mencak dicampur daging kelinci!”
Si nona bertepuk tangan. “Bagus! Bagus!” pujinya. “Kau sungguh lihay!”
Kwee Ceng sebaliknya mendoleng. “Hebat Yong¬jie!” pikirnya. “Bagaimana dapat ia memasak semua ini?”
Ang Cit Kong girang bukan main, ia menjepit pula dua buah engtoh yang dimasak bersama sayur kuwah hijau itu. “Aku tahu, inilah sup daun teratai campur rebung campur engtoh!” katanya. Ia masuki engtoh itu ke dalam mulutnya dan mengunyah. Mendadak ia mengasih dengar suara “Ah!” berulang-ulang.
Kwee Ceng heran. Ia menduga, engtoh itu tentu lezat sekali.
“Ah, nona kecil, aku takluk padamu!” kata Ang Cit Kong kemudian, sesudah menguyah. “Pada sepuluh tahun yang lampau, pernah aku makan makanan ini di dapurnya kaisar akan tetapi rasanya tidak selezat ini!”
Oey Yong tertawa. “Cit Kong,” katanya, “Coba bilang, di dapur kaisar ada makanan apa lainnya yang lezat, ingin aku mempelajarinya, supaya aku bisa memasak untukmu…”
Tapi tak sempat si pengemis berbicara, ia repot dengan baksonya, dengan sayurnya, maka dilain saat, semua makanan itu tinggal dua persepuluh bagian. Baru kemudian ia berkata; “Di dapur kaisar tidak ada barang makanan yang dapat melebihkan masakanmu ini!”
Kwee Ceng heran, “Eh, Cit Kong, apakah kaisar telah mengundang kau berjamu?” tanyanya.
Cit Kong tertawa tergelak-gelak. “Betul, kaisar telah mengundang aku!” jawabnya. “Cuma kaisar sendiri tidak dapat mengetahuinya! Selama tiga bulan aku sembunyi di atas penglari dapur kaisar, semua barang hidangan kaisar telah aku coba satu demi satu, mana yang lezat, aku hajar habis, mana yang tidak lezat, aku biarkan si kaisar yang gegares! Koki dan lainnya semua heran, mereka sampai mengatakan di dapurnya itu muncul dewa si rase besar!”
Dua-duanya Kwee Ceng dan Oey Yong bersenyum, di dalam hati mereka berkata: “Ini orang sangat doyan makan, mulutnya besar, tapi nyalinya pun gede…!”
“Eh, bocah!” tertawa pula si pengemis. “Kepandaian masak istrimu ini nomor satu di kolong langit! Seumurmu, kau sangat berbahagia! Sungguh heran, kenapa semasa aku muda, aku tidak pernah bertemu nona semacam dia….?”
Kwee Ceng tertawa, begitu pun Oey Yong. keduanya lantas dahar, Si nona perutnya kecil, sudah cukup ia makan satu mangkok. Kwee Ceng sebaliknya menghabisi sampai empat mangkok, sayurannya tidak perhatikan. Sayurannya telah dikonpa si pengemis!
Habis meludaskan semangkok sayur, Ang Cit Kong mengusap-usap perutnya. “Eh, anak-anak, aku tahu kau mengerti ilmu silat,” katanya tiba-tiba. “Dan kau bocah perempuan, kau masaki aku barang hidangan lezat, aku tahu, kau tidak mengandung maksud baik! Kau tentunya menghendaki aku mengajarkan kau beberapa jurus! Baiklah, tidak apa! Aku telah merasai hidangan lezat, tidak enak jikalau aku tidak mengajari kau! Mari, ikut aku!”
Ia berbangkit, ia gendol cupu-cupunya, ia cekal tongkatnya, lantas ia berjalan keluar.
Tanpa bilang apa-apa, sepasang muda-mudi itu mengikuti, sampai di sebuah rimba.
“Kau ingin mempelajari apa?” Cit Kong tanya Kwee Ceng.
Pemuda itu berpikir; “Banyak sekali macamnya ilmu silat di kolong langit ini. Kalau aku menginginkan sesuatu, benarkah kau sanggup mengajarinya?” selagi si pemuda berpikir, Oey Yong mendahului.
“Cit Kong, kepandaian dia ini tidak melebihkan aku,” katanya. “Dia sering marah-marah, ingin sekali dia menandingi aku!”
“Eh, kapan aku pernah marah terhadapmu…?” tanya Kwee Ceng.
Oey Yong mengedipkan mata pada pemudanya itu. Kwee Ceng lantas menutup mulut.
Cit Kong tertawa, ia berkata: “Aku lihat gerak kaki tanganmu, kau mesti mempunyai latihan dari beberapa puluh tahun, maka kenapa kau tidak sanggup melawan dia? Sekarang hayo kamu berdua bertempur, aku mau lihat!”
Oey Yong jalan beberapa tindak. “Engko Ceng, mari!” ia memanggil.
Pemuda itu bersangsi.
“Jikalau kau tidak pertontonkan kepandaianmu, mana bisa lojinkee mengajarimu?” si nona berkata. “Marilah!”
Kwee Ceng pikir si nona itu benar juga, maka lantas ia kata pada si pengemis: “Apa yang pernah aku pelajari tidak sempurna, aku minta sukalah lojinkee memberi petunjuk.”
Cit Kong tersenyum. “Mengajari sedikit tidak apa, mengajar banyak, itu lain!” katanya.
Mendengar itu, Kwee Ceng melengak. Ia heran. Justru itu Oey Yong berteriak. “Awas!” seraya tangannya menyambar! Ia terkejut, lekas-lekas ia menangkis. Tetapi si nona lihay sekali, ia menarik tangannya, kakinya menggantikan merabuh ke bawah.
“Bagus nona cilik!” berseru Ang Cit Kong. “Kau lihay!”
Si nona tidak melayani pujian itu, hanya seperti berbisik ia kata kepada Kwee Ceng: “Mari bertempur sungguh-sungguh….”
Kwee Ceng menurut, ia berkelahi dengan bersemangat. Ia keluarkan ilmu silat ajaran Lam Hie Jin, yaitu Lam San Ciang-hiat.Hebat permainannya ini disebabkan, sesudah meminum darah ular, tenaganya bertambah beberapa kali lipat.


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar