ads

Jumat, 18 September 2020

Pendekar Pemanah Rajawali Jilid 007

Kwee Ceng gelagapan. Justru itu dua kali iganya kena dihajar, sebab si kongcu sudah tidak menyia-nyiakan kesempatan yang baik itu.

Kena dihajar demikian, pemuda kita merasa kegelapan mata. Tidak sempat ia mengempos semangatnya. Bagus untuknya, selama dua tahun ia telah memperoleh latihan tenaga dalam dari Tang Yang Cu Ma Giok, walaupun ia dihajar hebat, ia tidak terluka, tidak patah tulang-tulang rusuknya, ia cuma merasakan sangat sakit. Dalam pada itu, ia sadar akan dirinya, maka tidak membuat tempo lagi, ia melakukan pembalasan, dengan tendangan beruntun Wanyoh Lian-hoan-twie, maka dalam sekejap saja, ia dapat menendang terus-terusan sembilan kali, semuanya cepat dan hebat. Inilah pelajaran yang ia wariskan dari Ma Ong Sin Han Po Kie si Malaikat Raja Kuda, dengan ilmu mana Han Po Kie pernah robohkan beberapa jago dari Selatan dan Utara. Hanya sampai sebegitu jauh, Kwee Ceng belum mendapatkan kesempurnaannya.

Kongcu itu menjadi repot, ia berkelit dan berlompatan tiada hentinya. Tujuh tendangan ia bisa kasih lolos, tetapi yang kedelapan dan kesembilan, telah mengenakan kempolannya kiri dan kanan. Syukur untuknya, karena berbarang ia berkelit, ia tak sampai tertendang roboh, ia cuma terjerunuk.

Karena ini keduanya menjadi terpisah. Kwee Ceng lantas aja singkirkan jubah sulam yang menungkrup kepalanya itu. Ia menjadi kaget dan mendongkol. Pertempuran itu merupakan satu pengalaman luar biasa untuknya. Mulanya di Mongolia ia menghadapi orang-orang jujur, lalu perlahan-lahan ia melihat perubahan. Ia merasa asing untuk kelakuan curang.

Kongcu itu kena tertendang, ia menjadi gusar sekali, maka dia segera maju seraya tangan kirinya dipakai menyerang ke pundaknya si pemuda.

Kwee Ceng menangkis, atau ia menjadi kaget. Tiba¬-tiba saja ia merasakan sakit pada dadanya. Karena ini ketika ia didesak, ia kewalahan, maka tempo kakinya disambar, terdengar suara “Bruk!” ia roboh memegang tanah!

Semua pengiringnya si kongcu lantas bertepuk tangan dan tertawa.

Kongcu itu tepuki kempolannya yang penuh debu, ia tertawa tawar. “Dengan kepandaian begini kau hendak mencari balas untuk orang lain?” ia mengejek. “Hm, baik kau pulang dulu untuk belajar lagi sama gurumu sedikitnya duapuluh tahun!”

Kwee Ceng tidak menyahut, ia hanya menjalankan napasnya, hingga ia merasakan sakit di dadanya berkurang. Ia melompat bangun ketika melihat orang kembali hendak ngeloyor pergi.

“Lihat kepalan!” ia berseru sambil menyerang.

Dengan mendak, kongcu itu berkelit. Kwee Ceng tidak berhenti sampai disitu, tangan kirinya menyambar ke muka orang. Si kongcu menangkis. Kedua tangan lantas bentrok, mereka saling menolak. Kelihatan nyata, tenaga dalam Kwee Ceng terlatih besar tetapi si kongcu menang latihan ilmu silatnya. Maka itu mereka menjadi berimbang.

Kwee Ceng menyedot napas, ia hendak mengerahkan tenaganya, selagi begitu ia masih tetap menolak. Tiba-tiba ia rasai tenaga lawan lenyap, tak sempat ia menahan dirinya, tubuhnya terhuyung ke depan. Ketika ia bisa menahan dirinya, dari belakangnya datang serangan. Ia sudah terjerunuk melewati lawannya, dalam keadaan sulit itu, ia menangkis dari belakang, tubuhnya sekalian diputar.

“Kau pergi!” berseru si kongcu, yang tangannya menolak keras.

Tidak dapat Kwee Ceng bertahan, ia rubuh ngusruk, tetapi sikutnya mengenai tanah, dengan cepat ia mencelat bangun, kakinya dibarengi dipakai menendang dada lawannya. Ia berlaku sangat sebat, ia ingin membalas, untuk mencari kemenangan.

Kongcu itu dapat berkelit, hanya setelah itu, ia didesak oleh si pemuda yang bersilat dengan “Hun-kin Co-kut Ciu” yaitu ilmu silat untuk memisah otot-otot dan tulang.

Kongcu ini pernah juga menyakinkan Hun-kin Co-ku Ciu hanya pelajarannya beda daripada pelajaran Kwee Ceng yang didapat dari Biauw Ciu Sie-seng Cu Cong, maka itu, ia membela diri dengan berlaku hati-hati. Habis itu, keduanya bertempur terus. Selama tujuhpuluh jurus, mereka berimbang dengan ketangguhannya.

Menampak demikian si kongcu menggunakan akal.

Kwee Ceng tidak tahu lawannya memancing lagi, ia lantas menyerang. Ia hendak menotok jalan darah hian-kie-hiat. Tiba-tiba ia ingat bahwa tidak bermusuhan sama si kongcu, ia lantas geser incarannya ke sisi sasanan semula. Maka adalah diluar dugaannya ketika si kongcu, yang menangkis dengan tangan kiri, sudah membarengi menyerang dengan tangan kanan ke arah pinggang, malah tinjuan itu dilakukan saling susul hingga tiga kali.

Kwee Ceng berkelit, dengan menggeser pinggangnya, lalu ia membalas. Ketika ini digunakan si kongcu, untuk memegang tangan orang yang kanan itu, buat terus ditarik dengan kaget sambil berbareng kakinya dipakai menjejak paha si pemuda. Maka tidak ampun lagi, pemuda itu terguling jatuh.

Bok Ek menonton dari bawah benderanya. Lukanya telah dibalut rapi oleh putrinya. mendapatkan tiga kali Kwee Ceng roboh, ia lantas maju, untuk mengasih bangun. Ia tahu sekarang, pemuda itu bukan lawan si kongcu, yang menang seurat. Ia pun kata: “Lao-tee, mari kita pergi, jangan kita layani segala manusia hina!”

Kwee Ceng roboh dengan mata kabur dan kepala pusing, ia menjadi gusar sekali, maka setelah dikasih bangun, ia lepaskan diri dari tangan Bok Ek, ia maju pula, untuk menyerang.

“Eh, kau masih belum takluk?” berkata si kongcu, seraya mundur.

Kwee Ceng tidak menyahut, hanya ia merangsak.

“Jikalau kau tetap ganggu aku, jangan salahkan aku berlaku kejam!” kongcu itu mengancam.

“Kau pulangi sepatu orang!” bentak Kwee Ceng. “Kalau tidak, aku tidak mau mengerti!” Kongcu itu tertawa melihat orang berkukuh, romannya ketolol-tololan. “Bukankah nona itu bukan adikmu?” ia bertanya, “Kenapa kau seperti hendak mengadu jiwa memaksa aku menjadi toakomu!”

“Kurang ajar!” mencaci Kwee Ceng. “Aku tidak kenal dia, siapa bilang dia adikku!” Ia gusar sebab kongcu itu ejek dia sebagai toaku, ipar. Itulah cacian di antara orang Pakhia, tetapi ia tidak tahu, ia cuma mendongkol. Karena dicaci begitu, ia ditertawai sekalian pengikut si kongcu.

Si kongcu sendiri merasa lucu berbareng mendeluh. “Tolol, awas!” ia berseru seraya menyerang.

Kwee Ceng melawan, mereka menjadi bergumul pula. Kali ini pemuda ini berlaku waspada, tidak lagi ia kena dipancing. ia kalah pandai tapi ia bersemangat, maka kewalahan juga si kongcu.

Pertempuran seru itu ditonton semakin banyak orang. Bok Ek jadi merasa tidak enak hati. Ia tahu, kalau datang polisi, ia bisa dapat susah, sedikitnya ia bakal diseret ke kantor pembesar setempat. Ia juga khawatir banyaknya orang, antara siapa ia tampak beberapa yang matanya tajam dan air mukanya luar biasa, ada juga yang membekal senjata. Di sebelah mereka, yang bicarakan silat kedua anak muda itu, ada yang bertaruh untuk siapa yang bakal menang.

Dengan perlahan-lahan Bok Ek menggeser ke tempat pengiring-pengiringnya si kongcu, segera ia lihat, diantara mereka itu ada tiga orang yang menarik perhatiannya. Yang satu adalah satu pendeta bangsa Tibet, tubuhnya besar, kopiahnya disalut emas, jubahnya merah dan gerombongan. Dia berdiri tegar hingga ia melebihkan tingginya semua orang. Orang yang kedua sudah lanjut usianya, sebab rambutnya sudah putih semua, tubuhnya sedang saja, hanya mukanya bercahaya segar, dan tidak keriputan. Dia pun bermata tajam. Karena romannya yang luar biasa itu, tak bisa diduga usianya yang tepat. Orang yang ketiga bertubuh kate dan kecil, nampaknya sangat gesit, mukanya pun bersinar merah, matanya mencorong tajam. Maka juga, mengawasi mereka, tukang jual silat ini terkejut hatinya.

“Leng Tie Siangjin,” berkata satu pengiring, “Baik kau maju dan hajar bocah itu, kalau mereka bertempur terus dan siauw-ongya salah tangan hingga ia terluka, hilanglah jiwa kami semua…”

Itulah si pendeta Tibet yang ditegur. Dia tersenyum, dia tidak menjawab. Adalah si rambut ubanan yang berkata sambil tertawa: “Paling juga kakimu dikemplang patah! Mustahil ongya hendak menghendaki jiwamu?”

Bok Ek terperanjat. Orang disebutnya siauw-ongya dan ongya, pangeran muda dan pangeran. Kalau begitu, benar juga, bencana akan datang kalau sampai siauw-ongya itu terluka. Tidakkah di antara pengiring-¬pengiringnya si siauw-ongya adalah orang-orang yag gagah dan lihay?”

“Jangan takut!” berkata si orang kate dan kecil. “Siauw-ongya lebih lihay daripada lawannya itu!”

Orang ini kate dan kecil akan tetapi suaranya mengejutkan. Suara itu nyaring, hingga beberapa orang disampingnya menjadi terkejut, semua pada berpaling memandang dia, yang matanya bersinar, hingga mereka lekas-lekas melengos.

Si rambut putih tertawa, dia pun berkata: “Siauw¬ongya telah belajar ilmu silat belasan tahun, kecewa kalau itu tidak dipertontonkan di muka orang banyak. Dia tentu tidak senang ada orang yang membantu padanya…”

“Eh, saudara Nio, coba bilang,” berkata si kate kecil, “Ilmu silat siauw-ongya itu dari partai mana?” Kali ini ia berbicara dengan perlahan.

Si rambut putih tertawa. “Haouw Laotee, kau lagi uji mataku, bukan?” ia berkata. “Kalau mataku tidak salah, itulah ilmu silatnya kaum agama Coan Cin Kauw.”

“Sungguh begitu, sungguh aneh!” kata si kate kecil itu. “Bukankah kaum Coan Cin Kauw itu bangsa aneh? Kenapa mereka justru mewariskan kepandaiannya pada siauw-ongya…?”

“Ongya pandai bergaul, siapa saja tak dapat ia undang?” kata pula si rambut ubanan itu. “Umpama kau sendiri, Haouw Laotee. Kau biasa menjagoi di dua propinsi Shoatang dan Shoasay, kenapa kau juga berada di istana ongya?”

Si kate kecil itu mengangguk.

Si ubanan sudah lantas mengawasi kedua anak muda yang lagi bertempur itu. Ia dapatkan Kwee Ceng berubah silatnya, gerakannya jadi ayal tapi tubuhnya terjaga rapat, sia-sia saja beberapa kali siauw-ongya menyerang padanya.

“Haouw Laotee, coba lihat, dari partai mana asalnya ilmu silat si bocah itu?” ia tanya.

“Kelihatannya kepandaiannya itu kacau, dia tentu bukan satu gurunya,” sahut si kate kecil itu kemudian.

“Pheng Ceecu benar,” berkata seorang di pinggiran, “Bocah ini adalah muridnya Kanglam Cit Koay.”

Bok Ek pandang orang itu, yang mukanya kurus dan sinarnya biru, di jidatnya ada tiga tahi lalatnya. Ia kata di dalam hatinya: “Dia memanggil Pheng Ceecu, mungkinkah si kate kecil ini adalah kepala berandal? Nama Kanglam Cit Koay sudah lama tidak terdengar, apa benar mereka masih hidup?”

Selagi Bok Ek berpikir, si muka biru dan kurus itu sudah berlompatan maju ke tengah kalangan seraya ia berseru: “Hai bocah, kau ke sini!” Dia pun menarik keluar sebatang kongce atau cagak dari dalam sakunya.

Orang banyak terkejut, ada yang berteriak. Bok Ek pun tidak kurang kagetnya, tapi ia segera bersiap, untuk membantu Kwee Ceng. Tentu saja ia tidak kenal si orang ini, Sam-tauw-kauw Hauw Thong Hay, paman gurunya Hong Ho Su Koay.

Hauw Thong Hay bukan menyerang Kwee Ceng, dia hanya maju ke antara orang banyak, di antara siapa ada satu anak muda yang tubuhnya kurus lemah, yang pakaiannya compang-camping, kapan anak itu dapat lihat dia, dia menjerit “Ayo!” seraya terus memutar tubuh, untuk angkat langkah panjang. Thong Hay mengejar terus, ia diikuti empat orang lainnya yang bukan lain daripada Hong Ho Su Koay.

Kwee Ceng sedang bertempur, ia heran atas itu suara bentakan, kapan ia lihat siapa yang dikejar Thong Hay, ia terkejut. Pemuda dengan pakaian tidak karuan itu adalah Oey Yong, sahabat barunya. Karena ini, ia sudah lantas kena ditendang si kongcu.

“Tahan dulu!” ia berseru seraya lompat keluar kalangan. “Aku hendak pergi sebentar, segera aku kembali!”

“Lebih baik kau mengaku kalah!” mengejek si kongcu.

Kwee Ceng tidak berniat berkelahi terus, pikirannya lagi kusut, ia khawatir keselamatannya Oey Yong, tetapi justru ia hendak melompat lari, tiba-tiba tampak sahabatnya itu lari mendatangi, sepatu kulitnya diseret hingga berisik kedengarannya. Dia pun terus tertawa. Di belakangnya tampak Thong Hay tengah mengejar, mulutnya mencaci kalang kabut, setelah datang dekat, berulang-ulang ia tikam bebokong orang yang ia kejar itu!

Oey Yong sangat lincah, selalu dapat ia kelit tubuhnya.

Kongce itu ada cagak tiga, semuanya tajam, di bawah cahaya matahari, sinarnya berkilauan, sinar itu ditimpali tiga gelangnya yang bergerak dan berbunyi nyaring setiap kali digerakkan. tapi senjata itu tidak dihiraukan Oey Yong. Ia nyelusup sana dan nyelusup sini di antara orang banyak.

Segera juga orang banyak tertawa riuh. Mukanya Hauw Thong Hay, pada pipinya yang kiri dan kanan, tambah tanda tapak lima jari tangan, tanda arang hitam. Terang sudah dia telah kena ditampar oleh lawannya yang licin itu.

“Mari! Mari!” Oey Yong menantang, setiap kali ia dapat pisahkan diri jauh-jauh dari lawannya, yang ia tinggalkan lalu ia berdiri diam, menoleh dan mengejek, tangannya menggapai berulang-ulang.

“Jikalau aku tidak berhasil menggeset kulitmu dan mematahkan tulang-tulangmu, aku Sam-tauw-kauw tidak sudi menjadi manusia!” Thong Hay sesumbar. Ia berteriakan, ia mengejar.

Oey Yong menanti sampai orang sudah datang dekat, kembali ia lari. Kelakuannya ini, ditimpali sama kalapnya Thong Hay, membuat orang banyak tertawa riuh.

Dalam saat itu, terlihatlah datang memburunya tiga orang yang napasnya tersengal-sengal. Merekalah tiga Siluman dari Hong Ho. Song-bun-hu Cian Ceng Kian, Siluman yang keempat, tidak tampak.

Waktu itu barulah Kwee Ceng menginsyafi bahwa sebenarnya Oey Yong itu lihay ilmu silatnya, waktu itu di hutan cemara Hek-siong-lim di Kalgan sudah menggantung Hong Ho Su Koay di atas pohon dan memancing Hauw Thong Hay.

“Bagus perbuatannya,” ia pikir.

Kelakuan Hauw Thong Hay itu, yang dipermainkan Oey Yong, menyebabkan rombongan Leng Tie Siangjin memperbincangkannya.

Leng Tie itu adalah paderi dari Tibet, dari partai Cong Gee, keistimewaannya ialah ilmu Tay-ciu-in, Tapak Tangan yang lihay, kawannya yang ubanan tapi mukanya tampak segar bagai muka anak kecil, adalah Nio Cu Ong, ketua dari partai Tiang Pek Pay dari Gunung Tiang Pek San. Ia tetap awet muda sebab sejak masih kecil ia doyan makan jinsom serta lainnya pohon obat, hingga ia dijuluki Som Sian Lao Koay, Dewa Jinsom-Siluman Tua. Julukan ini harus dipecah dua: Siapa yang menghormati dia, memanggilnya Som Sian, Dewa Jinsom, dan siapa bukan orang-orang partainya, dibelakangnya, menyebut ia Lao Koay, si Siluman Tua.

Dan orang yang matanya tajam bagaikan kilat itu adalah orang yang sangat terkenal di Tionggoan, namanya Pheng Lian Houw, julukannya Cian-ciu Jin Touw, Pembunuh Sribu Tangan. Di selatan dan utara Sungai Besar, sekalipun wanita umumnya kenal namanya itu, dan anak-anak yang lagi nangis, kalu ditakut-takuti; “Peng Lian Houw datang!” tentulah berhenti tangisnya.

Berkatalah Som Sian Lao Koay Nio Cu Ong: “Selama aku di Kwan-gwa, telah aku dengar nama besar dari Kwie Bun Liong Ong, ia lihay sekali, kenapa adik seperguruannya begini tidak punya guna, sampai satu bocah pun dia tidak sanggup layani?”

Pheng Lian Houw mengkerutkan keningnya, dia bungkam. Dia bersahabat erat dengan Kwie-bun Liong Ong See Thong Thian si Raja Naga Pintu Iblis, sering mereka “bekerja tanpa modal”, dan ia tahu baik Houw Thong Hay lihay, maka kenapa hari ini orang she Hauw itu jadi demikian tidak berdaya?

Selagi Oey Yong permainkan Hauw Thong Hay, pertempuran di antara Kwee Ceng dan si siauw-ongya, pangeran muda, telah berhenti. Siauw-ongya telah robohkan Kwee Ceng lima-enam kali, dia sangat letih, tangan dan kakinya dirasakan ngilu, dia pun dahaga dan lapar, dengan sapu tangannya, ia susuti peluhnya.

Dipihak lain, Bok Ek telah kasih turun bendera Pi¬bu Ciauw-cin, ia hampiri Kwee Ceng untuk dihibur, diajak pulang ke penginapannya, untuk beristirahat. Tapi, belum keburu mereka berangkat, mereka sudah dengar ramainya tindakan kaki serta berisiknya gelang konce, lalu terlihat Oey Yong berlari-lari kembali dengan tetap dikejar oleh Hauw Thong Hay. Tangannya Oey Yong sambil mengibar-ibarkan dua potong kain. Hauw Thong Hay sebaliknya, pakaiannya menjadi tidak karuan macam: Baju di dadanya robek putus, hingga kelihatan baju dalamnya yang putih. Jauh di belakang mereka terlihat Gouw Ceng Liat serta Ma Ceng Hiong, yang satu bersenjatakan tombak, yang lainnya ruyung, lari mendatangi dengan napas memburu. Ketika mereka ini datang dekat, Oey Yong dan Hauw Thong Hay sudah lenyap pula.

Para penonton heran juga merasa lucu, mereka tertarik untuk menonton terus. Justru itu, mereka lantas dengar bentakan-bentakan riuh yang datang dari arah barat, lalu mereka tampak belasan orang polisi serta pengiring, dengan cambuk di tangan, lagi menyerang kalang-kabut ke kira dan ke kanan, kepada orang banyak, yang mereka usir pergi. Maka itu, orang banyak itu lantas saja mundur ke kedua pinggir jalan. Menyusul rombongan hamba-hamba galak itu, terlihatlah enam orang menggotong sebuah joli besar yang indah.

“Ong-hui datang! Ong-hui datang!” pengikut¬-pengikutnya si siauw-ongya berseru berulang-ulang setelah mereka melihat joli itu.

Siauw-ongya lantas mengerutkan keningnya.

“Rewel!” ia menggerutu. “Siapakah telah pergi membawa berita kepada ong-hui!?”

Tidak ada yang berani menjawab. Segera juga joli telah sampai di lapangan pibu, semua pengikut maju untuk memberi hormat.

Dari dalam joli, yang tertutup rapat, lantas terdengar suaranya seorang wanita, suara yang halus: “Kenapa berkelahi? Baju luar pun tidak dipakai! Nanti masuk angin!”

Bok Ek dapat mendengar tegas sekali suara itu, hatinya tercekat. Suara itu seperti mengaung di kupingnya, ia diam sambil berpikir keras.

“Kenapa suara ini sama suaranya orangku ini?” katanya di dalam hatinya. Tiba-tiba ia tertawa sendiri. Ia berpikir pula: “Orang ini adalah onghui dari negeri Kim, aku pikir istriku, apakah aku sudah pikun? Sungguh gila untuk mikir yang tidak-tidak…”

Tidak dapat ia lantas melenyapkan pikirannya itu, maka ia bertindak, untuk mendekati joli indah itu. Kebetulan waktu itu, dari dalam joli diulur keluar sebelah tangan yang putih dan halus, yang memegang sapu tangan putih, dengan apa mukanya si siauw-ongya disusut, untuk singkirkan peluh dan debunya, sembari berbuat begitu, si wanita masih mengucapkan beberapa kata-kata, yang halus dan perlahan, hingga si penjual silat ini tak dapat mendengarnya dengan tegas. Mungkin si saiuw-ongya ditegur dan dihibur oleh onghui ini, selir seorang pangeran atau raja.

“Ibu, aku senang bermain-main,” terdengar suara pangeran muda itu. “Tidak apa-apa…”

“Lekas pakai bajumu, mari kita pulang bersama!” kata si onghui kembali.

Kembali si Bok Ek terperanjat. “Benarkah di kolong langit ini ada dua orang yang suaranya sangat mirip satu dengan lainnya?” ia menanya dalam hatinya, yang terus berdebaran.

Satu pengiring menjumput jubah sulam dari siauw¬ongya, sembari berbuat begitu, ia pandang Kwee Ceng dengan bengis dan memdamprat: “Binatang cilik! Lihat, kau telah bikin kotor jubah ini!”

Satu pengiring lain, yang tangannya mencekal cambuk, terus saja menghajar ke arah kepala si anak muda, Kwee Ceng berkelit, sebelah tangannya diangkat, untuk menangkap lengan orang, berbareng dengan satu kakinya menyapu. Tidak ampun lagi, pengiring itu roboh terguling. Tapi Kwee Ceng tidak berhenti sampai disitu, ia rampas cambuk orang itu, guna dipakai menyabet hingga tiga kali.

“Siapa suruh kau menganiaya rakyat jelata!” ia menegur.

Orang senang melihat kejadian itu. Belasan serdadu maju, menolong kawannya, mereka mulai menyerang Kwee Ceng, satu demi satu, mereka ditangkap si anak muda, lalu dilemparkan saling susul.

Siauw-ongya menjadi gusar. “Kau masih berani main gila?!” tegurnya. Ia terus lompat, untuk tolong dua serdadu yang dilemparkan paling belakang, ia tendang itu anak muda.

Kwee Ceng berkelit, lalu ia menyerang. Dengan begitu, keduanya jadi bertempur lagi.

“Jangan! Jangan berkelahi!” onghui berseru mencegah.

Terhadap ibunya, siauw-ongya itu agaknya tidak takut, malah ia seperti termanjakan. Ia berkelahi terus, sembari berkelahi, ia menyahut “Tidak, ibu , tidak dapat tidak, ini hari aku mesti labrak dia ini!”

Setelah belasan jurus, siauw-ongya itu berkelahi dengan hebat sekali, rupanya ia hendak banggakan kegagahannya di depan ibunya. Kwee Ceng lantas terdesak lagi, dua kali ia kena dibikin memegang tanah.

Selama itu, Bok Ek tidak pedulikan segala apa disekitarnya, sepasang matanya terus diarahkan kepada joli indah itu. Maka tempo tenda tersingkap, ia dapat melihat satu wajah dengan sepasang mata jeli dan rambut yang bagus, sinar mata itu ayu sekali, mengawasi kedua anak muda yang lagi bertarung. Mengawasi mata orang itu, Bok Ek berdiri menjublak bagaikan patung.

Kwee Ceng dirobohkan dua kali, dia bukan menyerah kalah, ia menjadi lebih kosen, maka kali ini, ia tidak dapat dirobohkan pula. Ia bertubuh kuat, dapat melayani pukulan berulang-ulang kepada tubuhnya. Ia pun menang ‘kang-lat’ atau tenaga latihan, ia menjadi ulet sekali.

Waktu itu, Oey Yong dan Thong Hay telah berlari¬-lari balik, sekarang di rambutnya Sam-tauw-kauw, Ular Naga Kepala Tiga itu, ada ditancapkan cauw-piauw atau tanda barang hendak dijual, dengan begitu berarti, Thong Hay hendak menjual kepalanya itu! Ia hanya tidak tahu bahwa ia telah dipermainkan oleh Oey Yong, lawannya yang lincah dan licik itu. Di belakang mereka tidak tampak dua Siluman, mungkin mereka telah kena dirobohkan pemuda itu.

Nio Cu Ong bertiga menjadi heran, hingga mereka menduga-duga, Oey Yong itu sebenarnya orang macam apa.

Selagi bertempur, lengan Kwee Ceng kena dihajar satu kali, lalu ia membalas memukul paha siauw¬ongya. Mereka jadi semakin sengit berkelahi. Kwee Ceng berkelahi dengan ilmu silat Hun-kin Co-ku-hoat, untuk merabu otot dan tulang musuh, siauw-ongya sebaliknya dengan Kim-na-ciu, ilmu menangkap yang terdiri ari tujuh puluh dua jurus. Maka itu, kedua-¬duanya saling terancam hilang jiwa atau terluka parah. Karena ini Leng Tie Siangjin dan Nio Cu Ong lantas menyiapkan senjata rahasia mereka, untuk menolong apabila siauw-ongya benar-benar terancam jiwanya. Mereka adalah orang-orang tua yang kosen, sungkan mereka mengepung Kwee Ceng, sebaliknya mereka merasa, kapan perlu, bisa mereka mencegah Kwee Ceng menurunkan tangan jahat terhadap si pangeran muda.

Makin lama Kwee Ceng makin gagah. Ini tidak heran ia biasa hidup di tanah gurun. Sebaliknya siauw-ongya biasa hidup di istana, manja dan kalah ulet, maka ia lantas terdesak.

Satu kali Kwee Ceng menyambar ke muka siauw¬ongya. Siauw-ongya berkelit, terus ia membalas meninju. Atas itu, Kwee Ceng mendahului, dengan tangan kanannya, ia membentur sikut kanan si pemuda agung, berbareng dengan itu, ia maju, tangan kirinya membangkol tangan lawan, lalu tangan kanannya diteruskan untuk memegang leher lawan. Siauw-ongya terkejut, ia membalas membangkol dan memegang leher lawannya itu. Maka keduanya menjadi berkutat, yang satu hendak mematahkan tangan, yang lain hendak mencekik.

Semua orang kaget, onghui sampai berparas pucat, separuh mukanya keluar dari tenda. Putrinya Bok Ek, yang tadinya numprah di tanah, lompat bangun, parasnya pun pucat.

Disaat itu terdengar suara menggelepok. Nyata muka Kwee Ceng kena digaplok, sebab siauw-ongya merubah siasat. Keras pukulan itu, Kwee Ceng merasakan matanya berkunang-kunang dan kepalanya pusing. Tapi ia masih sadar, sambil berseru, ia sambar bajunya siuaw-ongya, terus ia kerahkan tenaganya, ia angkat tubuh siauw-ongya, untuk dilemparkan. Ia telah menggunai ilmu silat bangsa Mongolia, yang ia peroleh dari Jebe.

Siauw-ongya dilemparkannya, tapi sebelum tubuhnya dilepas, ia sudah berdaya, dengan cepat ia ayun tubuhnya itu, Kedua tangannya menyambar tanah, dengan begitu, ia tidak terbanting. Habis itu sama sebatnya, ia menyambar kedua kaki lawannya itu, ia menarik keras, maka Kwee Ceng kena ditarik roboh hingga saling tindih, hanya siauw-ongya berada disebelah atas. Dia ini sebat, dia lompat, tangannya menyambar tombak di tangan seorang serdadu yang berada dekat dengannya, dengan tombak itu, segera ia menikam Kwee Ceng.

Dengan menggulingkan tubuh, Kwee Ceng menghindarkan diri, tapi ia didesak, ia dikam terus, lagi dua kali, terpaksa ia kembali bergulingan, hingga sukar untuk ia melompat bangun, terpaksa sambil bergulingan, ia layani tombak musuhnya itu. Karena didesak tak hentinya, ia berguling hingga ke dekat tiang bendera Pibu Tiauw-cin. Di sini ia gunakan kesempatan, sambar tiang itu, terus ia pakai menangkis, kemudian ia berlompat bangun, untuk melakukan penyerangan balasan. Maka sekarang mereka bertempur dengan senjata, meskipun Kwee Ceng hanya tiang bendera.

Tiang bendera itu terlalu panjang, kurang tepat untuk Kwee Ceng, yang bersilat denagn tipu Hang Mo Thung-hoat, pengajaran dari gurunya yang pertama, Hek Pian-hok Kwa Tin Ok si Kelelawar Hitam, akan tetapi, ia dapat mainkan itu dengan baik. Siauw-ongya tidak kenal permainan silat lawannya itu, ia lantas saja kena didesak hingga ia mesti selalu membela diri.

Bok Ek tetap perhatikan ilmu silat tombak dari siauw-ongya, makin lama ia menjadi makin heran. Itulah terang Yo Kee Ciang-hoat, ilmu tombak Keluarga Yo, ilmu mana diturunkan hanya kepada anak laki-laki, tidak kepada anak perempuan. Yang mengerti ilmu itu, untuk bagian Selatan Tionggoan saja sudah jarang, maka heran kenapa di negara Kim ada yang dapat memainkannya? Ia terus mengawasi, sampai akhirnya ia merasa sedih sendiri, tidak dapat ia mencegah mengucurnya air mata.

Nona Bok pun memperhatikan jalannya pertempuran, ia juga agaknya berpikir keras.

Akhirnya terdengar teriakan onghui: “Berhenti! Berhenti! Jangan berkelahi lagi!” Karena nyonya agung itu mendapatkan putranya telah bermandikan keringat.

Mendengar suara onghui, Peng Lian Houw bertindak ke dalam kalangan. ia segera gerakkan tangan kirinya, untuk menyampok tiang bendera. Kwee Ceng merasakan telapak tangannya sakit, tiang bendera terlepas dari cekalannya, mental ke udara, hingga benderanya berkibar-kibar bagus.

Anak muda itu terkejut. Seumurnya kecuali Bwee Tiauw Hong, belum pernah ia menemui tandingan selihay ini. Belum sempat ia memandang orang, atau satu pukulan telah menjurus ke mukanya. Ia berkelit dengan cepat, tetapi tidak urung, lengannya kena terhajar. Tidak ampun lagi, ia terguling roboh.

Setelah merobohkan bocah itu, Pheng Lian Houw berpaling kepada si pangeran muda dan berkata sambil tertawa: “Siauw-ongya, akan aku bereskan dia ini, supaya dia jangan mengganggu terlebih jauh…” Sembari berkata, ia maju ke Kwee Ceng, ia ulur tangan kanannya ke arah kepala orang, justru si anak muda lagi merayap bangun.

Kwee Ceng kaget, lebih-lebih ia tahu, kedua tangannya sakit. Untuk tolongi dirinya, ia memaksa menangkis juga.

Disaat anak muda ini terancam bahaya maut, sekonyong-konyong datang teriakan dari kerumunan orang banyak: “Perlahan!” Lalu terlihat melesatnya satu bayangan abu-abu perak disusul serangan semacam senjata, yang terus melibat tangan si orang she Pheng itu, hingga serangan itu batal. Tetapi Lian Houw tidak diam saja, ia segera menarik pulang tangannya, begitu keras, hingga senjata yang melibatnya terputus.

Orang yang baru datang itu agaknya terperanjat, hingga ia tercengang, tetapi lekas ia sambar Kwee Ceng, pinggangnya ia peluk, setelah itu lompat mundur.

Sekarang orang bisa lihat, dia adalah satu tojin atau imam usia pertengahan, jubahnya warna abu-abu, tangannya mencekal sebatang hudtim atau kebutan, hanya kebutan itu tinggal sepotong, sepotong yang lain masih melibat ditangan Lian Houw. Ia terus mengawasi Lian Houw kemudian berkata: “Tuan, adakah kau Pheng Cecu yang namanya sangat tersohor? Hari ini aku dapat bertemu denganmu, sungguh aku merasa sangat girang!”

“Tidak berani aku menerima namaku yang rendah dijunjung sedemikian tinggi olehmu,” sahut Lian Houw. “Aku mohon ketahui gelaran suci dari totiang.”

Semua orang lantas mengawasi imam itu, yang romannya tampan, kumis dan janggutnya terbelah tiga. Kaos kakinya yang putih serta sepatunya yang abu-abu bersih sekali. Ia tidak menjawab, hanya Ia ulur kakinya, untuk dimajukan satu tindak, lalu ia menarik pulang, tetapi karena injakan atau tindakannya itu, di tanah lalu tertapak dalam. Sedang di tanah utara ini, tanah kering dan keras.

Melihat tapak sepatu itu, Peng Lian Houw terperanjat. “Jadi totiang adalah Thie Kak Sian Giok Yang Cu Ong Cinjin?” ia menanya.

Imam itu menjura. “Teecu terlalu memuji kepadaku,” ia menyahut. “Memang benar, pinto adalah Ong Cie It. Tidak berani pinto menerima itu sebutan cinjin.”

Peng Lian Houw, begitu juga Som Sian Lao Koay, Nio Cu Ong dan Leng Tie Siangjin mengawasi imam itu, yang mereka tahu namanya tidak kalah daripada Tiang Cun Cu Khu Cie Kee. Sudah lama mereka ketahui hal imam ini, baru sekarang mereka menemui sendiri orangnya. Mereka dapatkan orang sungguh alim dan agung. Coba tadi mereka tidak telah menyaksikan gerakan yang gesit dan melihat itu tapak kaki, tidak nanti mereka mau percaya dia adalah Thie Kak Sian Giok Yang Cu si Dewa Kaki Besi yang pernah menaklukkan jago-jago di Utara.

Ong Cie It tersenyum, terus ia menunjuk pada Kwee Ceng dan berkata: “Pinto tidak kenal anak ini, hanya karena kemuliaan hatinya dan kegagahannya barusan, hatiku menjadi sangat tertarik, maka itu dengan besarkan nyali, pinto mohon Pheng Ceecu memberi ampun kepada jiwanya.”

Melihat sikap orang yang demikian hormat, sedang orang pun dari Coan Cin Kauw, Peng Lian Houw suka berbuat baik, maka itu sambil membalas hormat, memberikan persetujuannya.

Ong Cie It menjura pula seraya menghanturkan terima kasih, ketika ia memutar tubuh, ia menghadapi si siauw-ongya dengan wajahnya keren sekali.

“Siapakah namamu?” ia menanya bengis, “Siapakah gurumu?!” Siauw-ongya itu telah merasa kurang enak hati. Sebenarnya ia sudah memikir untuk berlalu, tetapi ia terlambat. Ia berdiri diam dan menyahut: “Namaku Wanyen Kang. Nama guruku tidak dapat aku beritahukan padamu.”

“Bukankah gurumu ada tanda tahi lalat merah pada pipinya yang kiri?” Ong Cit It tanya pula.

Wanyen Kang tertawa hihi-hihi, hendak ia menjawab secara jenaka, atau mendadak matanya si imam bersinar tajam bagaikan kilat, maka hatinya terkesiap, batal ia untuk main gila. Ia lantas mengangguk.

“Memang telah aku duga, kau adalah muridnya Khu Suhengku itu,” berkata Ong Cinjin. “Hm, bagus benar perbuatanmu ya? Pada mula kali gurumu hendak mengajarkan silat padamu, apakah ia telah bilang padamu? Apakah pesannya?”

Wanyen Kang perlihatkan roman cemas. Ia dapat lihat suasana buruk.

“Anak, lekas pulang!” demikain terdengar suara ibunya dari dalam joli.

Anak ini dapat dengar panggilan itu, justru berbareng dengan itu, ia mendapat satu pikiran. Ia insyaf, kalau gurunya ketahui perbuatannya, inilah hebat. Maka itu, lekas ia ubah sikapnya. Dengan sabar, ia berkata: “Totiang kenal guruku itu, terang totiang adalah satu cianpwee, oleh karena itu boanpwe mohon sukalah totiang datang ke rumahku, untuk boanpwe nanti mendengar segala pengajaranmu.”

Dengan lantas siauw-ongya ini membahasakan diri “boanpwe”, orang dari tingkat lebih rendah, karena ia tahu lagi berhadapan dengan satu cianpwee, orang yang tingkat derajatnya lebih tua.

“Hm!” Ong Cie It perdengarkan suaranya.

Wanyen Kang benar-benar cerdik, tanpa tunggu orang buka mulut lagi, ia sudah lantas menjura kepada Kwee Ceng, sembari tersenyum, ia berkata: “Saudara Kwee, kalau kita tidak bertempur, pasti kita tidak kenal satu sama lain. Ilmu silat kau saudara, aku sangat mengaguminya. Maka itu, aku pun minta suka kau bersama totiang berkunjung ke rumahku. Sukalah kau kalau kita mengikat persahabatan?”

Kwee Ceng tidak menjawab, ia hanya menunjuk kepada Bok Ek dan gadisnya serta bertanya: “Bagaimana urusan jodohmu dengan nona itu?”

Wanyen Kang menjadi likat. “Hal itu perlahan-lahan saja kita bicarakan,” katanya.

Mendengar itu, Bok Ek tarik tangannya Kwee Ceng. “Engko Kwee kecil, mari kita pulang!” berkata ia. “Buat apa kau layani pula manusia hina dina ini?”

Wanyen Kang dengar suara orang menghina itu, ia tidak menjadi gusar, ia hanya menjura pula kepada Ong Cie It seraya berkata: “Totiang, bownpwe menantikan segala kehormatan atas kedatangan totiang ke rumahku. Totiang tanyakan saja istananya Chao Wang.”

Habis berkata begitu, ia sambar les dari seekor kuda pilihan yang satu pengiringnya bawakan, ia lompat naik ke atas kuda itu, kemudian lari di antara orang banyak, hingga mereka itu berlari-¬lari untuk menyingkir dari bahaya kena diterjang kuda.

Ong Cie It mendongkol melihat sikap keagung-¬agungan itu. Tapinya ia berkata kepada Kwee ceng, “Engko kecil, kau turut aku,”

“Aku hendak menantikan dulu sahabatku…” Kwee ceng menjawab.

Belum berhenti suaranya bocah ini, Oey Yong muncul dari kerumunan orang banyak, lantas ia berkata sambil tertawa “Aku tidak kenapa-kenapa! Sebentar aku pergi mencari padamu…!” Baru ia mengucap, kemudian ia menyelinap di antara orang banyak itu. Ia memang bertubuh kecil dan lincah.

Di lain pihak, lantas terlihat Sam-tauw-kauw Hauw Thong Hay lari mendatangi.

Melihat si Ular Naga Kepala Tiga ini, Kwee Ceng tertawa di dalam hati. Tapi ia pun cerdik, ia lantas menjatuhkan diri di depan Ong Cinjin. “Totiang, banyak-banyak terima kasih,” ia berkata.

Ong Cie It tidak bilang apapun, ia cekal tangan si bocah, untuk diajak pergi, hingga dilain saat mereka sudah metinggalkan orang banyak dan menuju keluar kota.

Cepat tindakan si imam, sebentar saja mereka sudah berada diluar kota. Selang lagi beberapa lie, tibalah mereka di belakang sebuah puncak buklit. Di sini si imam berjalan semakin cepat. Memang ia hendak menguji enteng tubuhnya si bocah.

Sampai sebegitu jauh, Kwee Ceng dapat mengikuti dengan baik si imam itu. Ia sudah belajar lari keras, tubuhnya enteng, dan dibawah pimpinan Tan Yang Cu Ma Giok, ia dapat manjat puncak, maka itu, ia bisa berlari tanpa napasnya memburu atau hatinya berdenyutan.

Ong Cie It cekal tangan orang, ia lari terus-¬terusan, tiba-tiba ia melepaskannya. Ia terperanjat dan mengawasi bocah itu.

“Dasarmu tidak jelek!” ia berkata dalam herannya itu. “Kenapa kau tidak dapat mengalahkan dia itu?”

Kwee Ceng tidak tahu bagaimana harus menjawab, ia cuma tertawa saja.

“Siapakah gurumu?” Ong Cinjin menanya lagi.

Kwee Cneg tahu di antara adik seperguruan dari ma Giok ada yang bernama Ong Cie It, ialah imam, ia tidak mau mendusta. Ia menyebutkan Kanglam Cit Koay dan Ma Giok.

Mendengar itu Ong Cie It menjadi girang sekali. “Toasuko telah ajarkan kau ilmu silat, bagus!” katanya. “Sekarang aku tidak usah mengkhawatirkan apa-apa lagi!”

Kwee Ceng heran, ia mengawasi imam itu.

“Dengan siapa tadi kau bertempur, setahuku yang dipanggil siauw-ongya Wanyen Kang itu adalah muridnya suhengku Tiang Cun Cu, kau tahu atau tidak?” bertanya si imam.

Bocah itu tercengang. “Apa?” dia menanya. “Aku tidak tahu…”

Ma Giok mengajarkan Kwee Ceng tanpa penjelasan, bocah ini menjadi tidak tahu tentang ilmu silat kaum Coan Cin Kauw, sekarang setelah mendengar pertanyaannya Ong Cie It, ia menjadi ingat kepada pertempurannya sama In Cie Peng hingga ia ingat juga, ilmu silat Wanyen Kang sama dengan ilmu silatnya In Cie Peng itu. Ia lantas menundukkan kepala.

“Teecu tidak tahu siauw-ongya itu adalah muridnya Khu Totiang, teecu telah berlaku kurang ajar, teecu mohon totiang suka memberi maaf,” ia memohon.

Ong Cie It tertawa bergelak.

“Hatimu mulia, aku suka sekali! Mustahil aku nanti persalahkan kau!” ia berkata. Kemudian ia meneruskan dengan sikapnya sungguh-sungguh “Kami kaum Coan Cin Kauw punya aturan yang keras, kalau ada murid yang bersalah, dia dapat dihukum berat, tetapi tidak nanti dilindungi atau dieloni. Siauw-ongya itu sombong dan ceriwis, nanti aku suka minta toasuko menghukum padanya!”

“Asal ia suka menikah dengan nona Bok, baiklah totiang memberi ampun padanya,” berkata Kwee Ceng, yang tidak mendendam, hatinya masih ingin merekoki jodohnya nona Bok.

Ong Cie It menggeleng kepala, ia tidak bilang suatu apa, di dalam hatinya ia suka bocah ini yang jujur dan hatinya pemurah. kemudian setelah berpikir, ia berkata-kata seorang diri: “Toasuko biasanya benci kejahatan sebagai musuh besarnya, dia lebih-lebih membenci bangsa Kim, maka itu kenapa dia mengajari silat kepada satu pangeran Kim? Sungguh membikin pusing kepala…” Terus ia mengawasi Kwee Ceng dan berkata pula: “Khu Toasuko telah menjanjikan bertemu di Yan-khia, dalam beberapa hari ini tentu ia bakal tiba, maka setelah bertemu dengannya, aku akan menanya jelas segalanya. Toasuka telah menerima satu murid she Yo, dia kata hendak ajak muridnya itu pergi ke Kee-hin untuk dicoba pibu denganmu. Entah bagaimana kepandaiannya murid she Yo itu, nanti kau jangan khawatir. Di sini ada aku, tidak nanti aku bikin kau memdapat susah….”

Kwee Ceng telah terima titah gurunya untuk sebelum tanggal duapuluh empat bulan tiga sampai di Kee-hin, Ciat-kang untuk apa ia dimestikan pergi ke Kee.hin itu, gurunya tidak memberikan keterangan apa-apa, maka itu ia heran atas kata-katanya imam ini.

“Totiang, pibu apakah itu?” ia bertanya.

Ong Cie It dapat menduga, ia menghela napas. “Gurumu belum membilang apapun kepadamu, tak baik aku mewakilkan mereka memberi keterangan,” ia menjawab.

Ong Cie It ketahui maksudnya Kanglam Cit Koay. Dia telah mendengar lelakonnya kedua keluarga Yo dan Kwee itu, bahwa dalam pibu, Kanglam Cit Koay pasti menghendaki kemenangan, maka itu tidak heran Tujuh Manusia Aneh dari Kanglam itu tidak mau menjelaskan sesuatu kepada Kwee Ceng, maksudnya pasti untuk mencegah Kwee Ceng menjadi susah hati hingga peryakinan ilmu silatnya menjadi terganggu. Atau mungkin disebabkan musuh adalah turunan sahabat ayahnya, Kwee Ceng itu nanti berkelahi tidak dengan sungguh-sungguh dan karenanya menjadi tidak memperoleh kemenangan.

Kwee Ceng juga tidak berani menanya apa-apa lagi, dia cuma manggut-manggut.

“Sekarang mari kita lihat orang she Bok dan gadisnya,” berkata Ong Cie It kemudian. “Nonan itu bertabiat keras, aku khawatir dia nanti menerbitkan bencana jiwa…”

Kwee Ceng terkejut. ia menjadi ingat kepada nona itu. Maka keduanya lantas berjalan dengan cepat ke kota barat, terus ke rumah penginapan Kho Seng di jalan besar utama. Baru mereka sampai di depan pintu, dari dalam hotel sudah muncul beberapa pengiring dengan pakaian seragam bersulam, semua lantas memberi hormat kepada Ong Cinjin seraya berkata: “Kami diperintahkan siauw-ongya mengundang totiang serta Tuan Kwee menghadiri pesta di gedung kami.” Mereka lantas menyerahkan sehelai kartu nama di atas mana ada tertera: “Hormat dari teecu Wanyen Kang.”

“Sebentar kita datang,” berkata Ong Cie It.

“Dan ini kue-kue dan bebuahan, siauw-ongya minta totiang dan Tuan Kwee sudi menerimanya,” berkata pula si pengiring. “Dimana totiang dan Tuan Kwee tinggal? Nanti kami pergi mengantarkan ke sana.”

Beberapa pengiring lainnya lantas maju untuk mengasih lihat barang antaran mereka, yang terdiri dari duabelas, isinya semua adalah makanan dan bebuahan yang istimewa.

“Oey Yong suka dahar makanan semacam ini, baik aku tinggalkan untuk dia,” Kwee Ceng berpikir. Ia polos, ia bersedia menerima antaran itu.

Ong Cie It tak berkesan baik terhadap Wanyen Kang, hendak ia menampik, akan tetapi kapan ia melihat sikap Kwee Ceng, ia lantas terima. Ia tersenyum, di dalam hatinya ia berkata: “Dasar bocah! Dia tidak harus dipersalahkan.”

Habis menerima antaran itu, Ong Cie It menanyakan keterangan kamarnya Bok Ek, lalu ia terus masuk ke dalam kamar orang, ia dapatkan she Bok itu sedang rebah dengan muka pucat dan di tepi pembaringan, gadisnya duduk sambil menangis. Kapan mereka lihat tetamu, si nona bangkit berdiri, Bok Ek sendiri bangkit duduk di atas pembaringan.

Ong Cinjin periksa lukanya Bok Ek, yang setiap belakang telapak tangannya bertanda lima lobang jari tangan, hingga nampak tulang-tulangnya dan kedua lengannya bengkak besar. Luka itu telah ditorehkan obat, tetapi mungkin khawatir menjadi nowa, sudah tidak dibalut.

“Aneh,” pikir Ong Cie It. “Ilmu silat Wanyen Kang terang adalah ajarannya toasuko, maka darimana dia dapatkan ilmu pukulan jahat ini? Pada ini mesti ada rahasianya…?” Lantas ia pandang si nona dan menanya: “Nona, siapakah namamu?”

Nona itu menunduk. “Namaku Bok Liam Cu,” ia menyahut perlahan.

“Luka ayahmu ini tak enteng, dia perlu dirawat baik-¬baik,” kata Cie It, yang terus merogoh sakunya, untuk mengeluarkan uang perak dua potong, yang mana ia letakkan di atas meja, seraya menambahkan “Besok aku akan datang untuk menjenguk lagi.” Lalu menanti jawaban si nona, ia tarik tangan Kwee Ceng meninggalkan hotel.

Di luar hotel, mereka dipapaki empat pengiring, setelah mereka itu memberi hormat, yang satunya memberitahukan bahwa siauw-ongya mereka lagi menantikan di gedung dan imam serta bocah itu diundang ke sana.

Ong Cie It mengangguk.

“Totiang, kau tunggu sebentar,” berkata Kwee Ceng, yang terus lari masuk pula ke dalam hotel, ke dalam kamar di mana ada bingkisan kue dan buah dari Wanyen Kang. Ia pilih empat rupa kue, ia bungkus dengan sapu tangan, sesudah masukkannya ke dalam saku, ia lari pula ke luar, untuk bersama si imam pergi mengikuti keempat pengiring itu pergi ke onghu, gedungnya Wanyen Kang.

Tiba di muka gedung, atau lebih tepat istana, Kwee Ceng paling dulu lihat dua lembar bendera berkibar di tiang yang tinggi, di kiri dan di kanan pintu ada nongkrong masing-masing seekor cio-say, atau singa batu, yang romannya bengis. Undakan tangga dari batu putih semua, dipasang terus sampai di thia depan. Di pintu besar ada dituliskan tiga huruf besar air emas, bunyinya: “Chao Wang Hu” atau istana pangeran Chao Wang.

Kwee Ceng tahu, Chao Wang itu adalah Wanyen Lieh, putra keenam dari raja Kim. Maka tanpa merasa, hatinya tercekat.

“Mungkinkah si pangeran muda itu adalah putranya Wanyen Lieh?” ia kata dalam hati. “Wanyen Lieh mengenali aku, kalau di sini aku bertemu dengannya, inilah cade….”

Selagi si bocah terbenam dalam keragu-raguan, lantas ia dengar ramainya suara tetabuhan, yang rupanya diperdengarkan untuk menyambut ia dan Ong Cie It, menyusul mana ia tampak si siauw-ongya keluar menyambut, pakaiannya jubah merah dengan gioktay atau ikat pinggang kumala, sedang kepalanya ditutupi kopiah emas.

Melihat dandanan pangeran itu, Ong Cie It mengkerutkan keningnya. ia diam saja, ia turut dipimpin ke dalam thia, dimana ia lantas dipersilahkan duduk di kursi atas.

“Totiang bersama saudara Kwee sudi datang kemari, sungguh aku merasa sangat beruntung!” berkata tuan rumah yang muda ini.

Ong Cie It tidak puas, bahkan ia mendongkol. Pangeran itu tidak berlutut didepannya dan tidak juga memanggil susiok atau paman guru kepadanya.

“Sudah berapa lama kau ikuti gurumu belajar silat?” ia tanya.

“Mana boanpwe mengerti ilmu silat?” sahut Wanyen Kang sambil tertawa. “Aku ikut suhu dua tahun lamanya, selama itu aku main-main kucing kaki tiga hingga aku membikinnya totiang dan saudara Kwee menertawakan aku.”

“Hm!” Ong Cie It kasih dengar suaranya. “Walaupun ilmu silat Coan Cin kauw tidak tinggi tetapi ilmu itu bukannya ilmu kucing kaki tiga! Gurumu bakal tiba di sini, kau tahu tidak?”

“Guruku ada di sini, apakah totiang ingin bertemu dengannya?” Wanyen Kang balas menanya.

Ong Cie It menjadi heran sekali. “Ada di mana ia sekarang?” ia tanya.

Wanyen Kang menepuk tangan dua kali. “Siapkan meja santapan!” ia memberi perintah kepada pengiringnya.

Pengiring itu berlalu untuk menyampaikan titah lebih jauh.

Wanyen Kang sudah lantas ajak kedua tetamunya pergi ke hoa-thia, mereka melintasi sebuah lorong, mengitari lauwteng yang indah, hingga mereka mesti jalan sekian lama. Selama itu, Kwee Ceng dapak menyaksikan keindahan istana, sampai ia merasakan matanya berkunang-kunang. Hatinya pun tidak tentram, tidak tahu ia mesti bersikap bagaimana andaikata ia bertemu dengan Wanyen Lieh. Setibanya di hoa-thia, di sana sudah menantikan enam-tujuh orang, yang tubuhnya jangkung dan kate tidak rata, di antara siapa yang kepalanya benjut tiga, yaitu Sam-tauw-kauw Hauw Thong Hay. Dia itu mengawasi anak muda kita ini dengan sorot mata bengis! Biar bagaimana, Kwee Ceng terkejut juga hingga ia pernahkan dirinya dekat sekali dengan si imam.

Wanyen Kang girang ketika ia kata pada Ong Cie It “Totiang, beberapa tuan ini sudah lama mengagumi kau dan semuanya merasa sangat ingin bertemu denganmu!” Ia lantas menunjuk Peng Lian Houw dan berkata “Inilah Pheng Cecu, kedua pihak sudah saling mengenal.”

Kedua orang itu saling memberi hormat.

“Dan ini adalah Som Sian Lao Koay Nio Cu Ong, locianpwe dari Tiang Pek San,” Wanyen Kang memperkenalkan pula orang yang rambutnya putih tapi mukanya segar bagai muka seorang bocah.

Ong Cie It heran hingga ia berpikir: “Kenapa Siluman Tua ada disini juga?”

io Cu Ong sudah lantas memberi hormat dan berkata: “Di sini lohu dapat bertemu sama Thie Kak Sian Ong Cinjin, maka tidaklah kecewa yang lohu sudah datang ke Tionggoan ini.” Dan lantas ia perkenalkan paderi di sampingnya, katanya: “Ini adalah Leng Tie Siangjin, ahli Tay-ciu-in dari partai Bit Cong Tibet. Kami berdua, satu dari timur utara, satu lagi dari barat selatan, dari empat ribu lie, maka pertemuan ini benar-benar jodoh!”

Ong Cie It memberi hormat kepada paderi dari Tibet itu dengan menjura dan si paderi membalasnya seraya menakopi kedua tangannya.

Justru itu seorang yang suaranya serak terdengar berkata nyaring: “Kiranya Kanglam Cit Koay didukung dari belakang oleh Coan Cin Pay, maka juga mereka menjadi begini malang melintang.”

Ong Cie It awasi orang yang pentang bacot itu, kepala siapa lanang, tidak ada selembar rambutnya, matanya merah, biji matanya menonjol keluar. Dengan melihat roman orang saja, ia sudah lantas mengenalinya.

“Bukankah tuan adalah Kwie-bun Liong Ong See Locianpwee?” ia bertanya.

“Benar!” sahut orang itu, suaranya menandakan kemarahannya, “Kiranya kau masih kenal aku!”

Cie It heran, hingga kata dalam hati kecilnya “Kita ada bagaikan air kali dan air sungai yang tidak saling menerjang, kapan dan di dalam hal apa aku pernah berbuat salah terhadapnya?” Ia menunjuki sikap sabar, ia berkata “Nama besar dari See Locianpwee memang telah lama aku pangeni.”

Orang she See ini tidak ambil mumat sikap orang yang halus itu, ia tengah diliputi kemarahan besar. Memangnya dia bertabiat keras. Dia bernama Thong Thian dan gelarannya, Kwie-bun Liong Ong ialah Raja Naga dari Pintu Iblis. Dia banyak lebih lihay daripada Hauw Thong Hay, adik seperguruannya. Sebab tabiatnya itu, di waktu mengajari silat, ia tetap berangasan dan galak. Inilah sebabnya kenapa murid--muridnya tidak dapat wariskan tiga bagian saja dari sepuluh ilmu kepandaiannya, tidak heran kalau Hong Ho Su Koay gagal mengepung Kwee Ceng. Thong Thian gusar bukan main waktu ia dengar kekalahan empat muridnya itu, ia hajar mereka, dia mendamprat habis-habisan. Sesudah itu ia kirim Hauw Thong Hay untuk menuntut balas, supaya Kwee Ceng dibekuk. Celakanya Thong Hay telah kena dipermainkan oleh Oey Yong, hingga adik seperguruan ini juga gagal. Karena ini, tak terkira gusarnya Thong Thian, maka juga, sekalipun di depan orang banyak, tak dapat ia mengatasi diri, tak peduli ia bahwa perbuatannya melanggar adat sopan santun. Demikian ia ulur sebelah tangannya, akan jambak Kwee Ceng.

Bocah itu mundur, sedang Ong Cie It segera maju, untuk menghalang di depannya.

“Bagus! benar-benar kau melindungi binatang cilik ini!” ia berseru, tangannya terus menyambar si imam.

Melihat orang demikian galak, Ong Cie It tidak dapat mundur, maka ia pun angkat tangannya, untuk menangkis.

Disaat kedua tangan hampir bentrok, dari samping mereka tiba-tiba muncul satu orang, tangan kirinya menyambar lengan See Thong Thian, tangan kanannya menyambar lengan Ong Cinjin, terus ia mengibas keluar, maka dengan berbareng, dua orang itu dapat dipisahkan, diundurkan satu dari yang lain.

See Thong Thian dan Ong Cie It terperanjat. Mereka bukan sembarang orang, maka mereka heran ada orang yang dapat pisahkan mereka secara demikian gampang. Tanpa merasa keduanya lantas mengawasi si pemisah itu, seoarng dengan jubah putih, sikapnya tenang sekali, umurnya ditaksir tigapuluh lima atau tigapuluh enam tahun, alisnya panjang hingga ujungnya mengenai rambut di pelipisnya, romannya tampan, hingga ia mirip dengan sastrawan, siucay. Dandanannya, seumumnya, seperti dandanan seorang bangsawan.

Segera juga Wanyen Kang menghampiri, sembari tertawa ia berkata “Tuan ini adalah Auwyang Kongcu, sancu dari Pek To San dari pegunungan Kun Lun San di Tibet. Dia belum pernah datang ke Tionggoan, ini adalah pertama kalinya ia bertemu sama tuan-tuan!”

Ong Cie It dan Kwee Ceng yang belum pernah melihat sancu- pemilik bukit dari Pek To San itu, juga Nio Cu Ong dan Peng Lian Houw serta lainnya hadir di situ. Dan semua mereka kagum akan caranya sancu ini datang menengah. Mereka belum pernah mendengar nama Pek To San – Bukit Unta Putih itu.

Auwyang Kongcu ini sudah lantas rankap kedua tangannya, terus ia berkata “Sebenarnya aku telah mesti siang-siang tiba di kota Yankhia ini, sayang di tengah jalan aku mendapatkan satu urusan penting dan karenanya menjadi terlambat beberapa hari. Untuk itu aku mohon tuan-tuan suka memaafkannya.”

Kwee Ceng tidak kenal sancu ini, tetapi mendengar nama bukit Pek To San itu, ia lantas ingat kepada si nona-nona serba putih yang di tengah jalan sudah mencoba merampas kudanya. Ia menjadi menduga-duga: “Mungkinkah enam guruku sudah bertempur dengan dia ini?”

Ong Cie It pandai berpikir, ia tidak unjuk kemurkaan. Ia mengerti, semua hadirin di situ ada bangsa lihay, percuma kalau ia melayani mereka. Maka ia lantas pandang tuan rumah.

“Mana gurumu?” ia tanya. “Kenapa tidak kau minta ia keluar?”

“Ya,” sahut Wanyen Kang dengan sederhana. Lantas ia berpaling kepada pengiringnya dan memrintah dengan singkat “Undang suhu!”

Pengiring itu sudah lantas mengundurkan diri.

Cie It merasakan hatinya lega. Ia telah berpikir: “Dengan adanya Khu Suheng disini, musuh boleh tambah lagi, masih dapat kami membela diri…”

Tidak lama lantas terdengar tindakan sepatu, lalu di depan pintu thia terlihat seseorang bertubuh gemuk yang mengenakan seragam baju sulam, suatu tanda ia adalah seorang opsir. Dia berjanggut lebat, usianya empat puluh lebih, romannya sangat keren.

“Suhu!” Wanyen Kang lantas memanggil. “Totiang ini hendak bertemu sama suhu, malah ia sudah menanyakan beberapa kali…”

Melihat orang itu dan mendengar perkataan si pangeran, hatinya Ong Cie It menjadi panas sekali. Ia telah berpikir: “Bocah binatang ini, kau permainkan aku..!” Tapi ia mencoba untuk mengendalikan diri.

“Untuk urusan apakah kau hendak bertemu sama aku, imam?” si opsir menanya, sikapnya jumawa. “Adalah sudah biasa bagi aku, paling tidak senang terhadap segala paderi, imam atau paderi perempuan!”

Dengan paksakan diri, Ong Cinjin tertawa. “Tayjin hendak memohon derma,” ia berkata. “Ingin aku minta buat banyaknya seribu tail perak!”

Heran opsir itu atas permintaan derma tersebut. Ia bernama Thung Couw Tek, kepala barisan pengiring dari Wanyen Lieh di masa Wanyen Kang masih muda sekali, pernah ia ajarkan ilmu silat kepada pangeran itu, karenanya ia dipanggil guru. Yang lain-lain pun turut memanggil guru padanya.

“Itulah selayaknya,” berkata Wanyen Kang, yang mendahului gurunya itu. Ia lantas kata pada pengiringnya “Lekas kau siapkan uang itu, sebentar kau antarkan ke hotelnya totiang.”

Thung Couw Tek celangap, ia mengawasi imam itu, dari kepala ke kaki, dari kaki ke kepala. Tidak dapat ia menduga, imam ini orang macam apa.

“Tuan-tuan, silahkan duduk!” Wanyen Kang mengundang. “Totiang baru pertama ini tiba disini, silakan duduk di kursi kepala.”

Ong Cie It merendahkan diri tetapi ia didesak terus, akhirnya ia duduk juga di kursi pertama itu. Setelah tiga edaran arak, ia berkata: “Sekarang ini telah hadir banyak cianpwee kaum Rimba Persilatan, maka bolehlah kita bicara dari hal keadilan. Tentang si orang she Bok ayah dan anak itu, bagaimana urusannya itu harus diatur?”

Mendengar pertanyaan itu, semua mata diarahkan kepada Wanyen Kang.

Pangeran itu mengisikan sebuah cangkir, ia bangkit untuk bawa itu kepada Ong Cie It seraya berkata “Silahkan totiang keringkan dalu cawan ini. Tentang itu, bagaimana juga hendak diaturnya, boanpwe selalu bersedia menuruti.”

Cie It heran hingga ia tercengang. ia tidak sangka pangeran ini dapat bersikap demikian. Ia lantas hirup arak itu. Ia berkata kemudian “Bagus! Sekarang baik si orang she Bok itu diundang kemari, kita membicarakan urusannya.”

“Bagus begitu,” menyahut Wanyen Kang. “Aku minta saudara Kwee saja yang pergi mengundang tuan Bok itu.”

Ong Cie It menagngguk dan Kwee Ceng segera bangkit, pergi ke hotel dimana Bok Ek dan gadisnya menumpang. Tiba di sana, ia menjadi heran. Ayah dan anak dara itu tidak ada di kamarnya, barang-¬barangnya pun telah dibawa pergi. Ketika jongos ditanya, jawabannya adalah Bok Ek dan gadisnya itu ada yang undang sudah pergi entah ke mana, uang sewa kamar pun sudah dibayar lunas.

Kwee Ceng heran. Ia tanya jongos, siapa itu yang mengundang. Jongos itu tidak dapat memberikan keterangan. Maka terpaksa pemuda ini pulang ke onghu dengan tangan hampa.

Sambil tertawa, Wanyen Kang sambut tetamunya. “Banyak cape, tuan Kwee!” katanya. “Mana tuan Bok itu?”

“Ia telah pergi, entah kemana,” sahut Kwee Ceng, yang terus tuturkan kepergiannya Bok Ek serta anaknya itu.

“Oh, aku menyesal…” berkata Wanyen Kang cepat. Terus ia menoleh pada pengiringnya, untuk memerintah: “Kau lekas ajak orang pergi mencari tuan Bok dan putrinya itu, dia mesti dapat diundang datang kemari!”

Pengiring itu menyahut, terus undurkan diri.

Ong Cie It menjadi bungkam, tetapi ia curiga. Akhirnya, ia berkata “Tidak peduli orang bermain sandiwara apa, urusan toh akan ketahuan akhirnya!”

“Totiang benar,” berkata Wanyen Kang sembari tertawa.

Sementara itu Thung Couw Tek heran dan mendongkol. Tidak karu-karuan cukongnya kehilangan uang seribu tail perak. ia penasaran sekali, selagi si pangeran berlaku manis, si imam bersikap seperti tidak tahu aturan. Akhirnya ia menegur “Eh, tosu, kau asal kuil mana? Kenapa kau datang kemari untuk main gila?!”

Ong Cie It tidak menyahut, ia hanya balik bertanya: “Jenderal, kau ada asal negara mana? Kau mengandal apa kau datang kemari dan menjadi pembesar negeri?”

Couw Tek gusar sekali. Bukankah ia orang Han yang bekerja pada bangsa Kim? Kenapa ia mesti ditanya lagi kalau bukan orang hendak menghina padanya? Ia justru paling tidak senang orang menyebut-nyebut kebangsaannya. Ia memang tidak puas dengan kedudukannya. Ia anggap dirinya gagah, ia sudah bekerja mati-matian untuk negara Kim, tetapi pemerintah Kim tidak pernah mengijinkan ia memimpin pasukan tentara sendiri. Sudah duapuluh tahun ia bekerja, pangkatnya bukan kecil tetapi ia tetap ditempatkan di onghu. Maka juga perkataannya Ong Cie It membikin ia merasa tersinggung. Lantas ia lompat bangun, walaupun di depannya ada Nio Cu Ong dan Auwyang Kongcu, ia ulur tangannya meninju muka Ong Cinjin!

Cie It tertawa. “Kau tidak hendak memberitahu pun tidak apa, ciangkun,” ia berkata, “Maka perlu apa kau gusar dan menggunakan kekerasan?” Ia angkat sumpitnya untuk menjempit kepalan orang.

Kepalan Couw Tek kena tertahan, tak dapat ia meneruskan meninju.

“Imam siluman, kau menggunaikan ilmumu!” ia membentak, kaget dan gusar menjadi satu. Dia terus menarik pulang tangannya, tetapi tidak berhasil. Maka mukanya menjadi merah, dia jengah sekali.

“Jangan gusar, ciangkun,” berkata Nio Cu Ong, yang berada di sampingnya. “Baiklah ciangkun duduk dan keringkan arakmu!” Ia ulur tangannya, tekan pundak si jenderal.

Thie Kak Sian Giok Yang Cu tahu, sumpitnya dapat mempengaruhi Couw Tek tetapi tidak si orang she Nio ini, maka selagi orang menekan pundak si jenderal itu, cepat luar biasa, ia melepaskan jepitannya, sumpit itu terus ia pakai menyambar sepotong paha ayam, yang segera dibawa masuk ke dalam mulutnya she Thung itu, disuapi dengan paksa!

Couw Tel menjadi gelagapan, selagi mulutnya tersumpel, tubuhnya jatuh terduduk di kursi akibat tekanan Nio Cu Ong. Ia malu bukan main, ia sangat mendongkol, maka ketika ia bangkit pula, terus lari ke dalam.

Menyaksikan kejadian itu, semua hadirin tertawa.

“Coan Cin Pay berpengaruh di Selatan dan Utara, sungguh namanya bukan kosong belaka!” berkata See Thong Thian. “Aku hendak memohon sesuatu kepada totiang, sudikah totiang meluluskannya?”

“Tidak berani aku menerima pujianmu, See Locianpwe,” berkata Giok Yang Cu. “Silakan locianpwe mengatakannya.”

“Pihak kami tidak ada sangkutannya sama Coan Cin Pay,” berkata Kwie-bun Liong Ong, “Maka itu aku mohon keterangan, kenapa pihakmu berdiri sepenuhnya dibelakang Kanglam Cit Koay dan dengan begitu menyusahkan pihakku? Walaupun Coan Cin Pay banyak anggotanya dan sangat berpengaruh, aku yang bodoh tidak merasa takut.”

“See Locianpwe, pada ini terang ada salah mengerti,” berkata Giok Yang Cu. “Pinto tahu tentang Kanglam Cit Koay, tetapi dengan mereka itu, tidak satu pun yang pinto kenal, hanya salah satu suhengku ada punya sangkutan dengan mereka. Maka itu sama sekali tidak ada soal pihakku membantu Kanglam Cit Koay menghadapi Hong Ho Su Koay.”

“Bagus, kalau begitu!” berseru See Thong Thian. “Sekarang kau serahkan ini bocah kepadaku!” ia lantas berbangkit, akan ulur sebelah tangannya, guna menjambak batang lehernya Kwee Ceng.

Ong Cie It mengerti, bocah itu tidak bakal lolos dari jambakan itu, sedikitnya ia tentu terluka enteng, maka itu, ia lekas berbangkit, untuk menghalang, lengan kirinya berbareng dipakai membentur bocah itu, hingga tubuhnya Kwee Ceng tertolak mental. Menyusul itu jambakannya si orang she See itu mengenai kursi yang diduduki Kwee Ceng, hingga kursi itu tercengkeram rusak seraya menerbitkan suara keras.

Jambakan itu adalah jambakan dari Gwa-kang, ilmu Bagian Luar, hebatnya tak sama dengan Kiu-im Pek-ku Jiauw dari Hek Hong Siang Sat akan tetapi toh tidak kalah.

“Hau, kau lindungi bocah ini?” menegur Thong Thian karena kegagalannya itu.

“Sabar, locianpwe,” berkata Cie It tenang. “Anak ini pinto yang bawa datang ke istana ini, maka itu sudah selayaknya kalau nanti pinto membawanya keluar secara baik-baik. Kalau benar saudara tidak sudi melepaskannya, tidak dapatkah kau mencari ia dilain hari?”

Auwyang Kongcu lantas campur bicara. “Bagaimana caranya bocah ini mendapat salah dari saudara See?” dia tanya. “Coba jelaskan duduknya hal, supaya kita dapat menimbangnya.”

Sebelum menjawab, See Thong Thian telah berpikir: “Imam ini lihay tak ada di bawahku, kalau ia ngotot, bocah ini pasti tidak bisa dibiarkan tinggal tetap di sini. Untuk melayani dia, aku mesti dapat satu pembantu yang lihay…” Maka itu, ia lantas duduk pula, cawannya ia hirup kering. Kemudian ia berkata: “Sebenarnya aku tidak bermusuh langsung dengan anak she Kwee ini. Aku ada punya empat murid tolol, mereka turut Yang Mulia Chao Wang pergi ke Mongolia untuk suatu urusan, selagi mereka berkerja dan nampaknya bakal berhasil, tiba-tiba mereka diganggu oleh bocah ini. Yang Mulia Chao Wang menjadi sangat gusar karenanya. Coba tuan-tuan pikir, kalau satu bocah begini tidak dapat dibereskan, cara bagaimana kami bisa lakukan usaha yang besar?”

Kata-kata itu berpengaruh untuk para hadirin itu. Kecuali Cie It dan Kwee Ceng, mereka adalah orang-¬orang undangan Wanyen Lieh, yang diundang dengan kehormatan dan bingkisan berarti. Dengan lantas mereka itu memikir untuk menahan si bocah, guna diserahkan pada Chao Wang.

Diam-diam Cie It bingung juga mendapatkan semua mata diarahkan kepada Kwee Ceng. Ia lantas memikirkan daya untuk meloloskan diri bocah itu. Ia bingung sebab musuh tangguh semuanya. Sejak turun gunung, ia pernah menghadapi pelbagai pertempuran tetapi tidak seperti ini kali, bahkan ia berbareng mesti melindungi satu bocah. Ia lihat, jalan yang terbuka ialah memperlambat tempo sambil mencoba mencari tahu sikap sebenarnya dari para hadirin.

“Nama besar dari tuan-tuan telah lama pinto buat pangenan,” ia berkata, “Hari ini pinto berjodoh bertemu sama tuan-tuan, itulah hal yang sangat menggembirakan pinto. Tentang bocah ini,” ia menambahkan, seraya menunjuk Kwee Ceng, “Ia muda dan tidak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi, ia mendapat salah dari Yang Mulia Chao Wang, pinto tidak dapat bilang apapun. Tuan-tuan berniat menahan dia, ini juga pinto tidak dapat menentang. Cuma lebih dulu daripada itu, dengan membesarkan nyali, pinto minta tuan-tuan mempertunjukkan dulu ilmu kepandaian, supaya bocah ini dapat melihatnya, supaya nanti ia jangan mengatakan pinto tidak sudi melindunginya, sedang sebenarnya pinto tidak sanggup berbuat demikian….”

Hauw Thong Hay sudah menahan sabar sekian lama, mendengar perkatannya Giok Yang Cu, ia mendahului bangkit, untuk singsatkan bajunya.

“Biarlah aku yang belajar kenal lebih dulu denganmu,” ia berkata, menentang si imam.

“Kebiasaanku tidak berarti, mana berani pinto mengadu kepandaian dengan tuan-tuan,” Ong Cie It berkata pula.

“Maka itu saudara Hauw, aku minta sukalah kau mempertunjukkan sesuatu agar pinto dapat pentang mataku, sekalian untuk memberi pengajaran kepada bocah ini, supaya ia insyaf bahwa di luar langit ada langit lainnya, di atas orang pandai ada pula yang terlebih pandai lagi, supaya selanjutnya dibelakang hari, dia jangan berani pula banyak tingkah!”

Hauw Thong Hay mendongkol sekali. Ia tahu orang mengejek padanya tetapi tidak tahu ia bagaimana harus memberikan jawaban. Perkataan orang diatur dengan halus.

See Thong Thian juga berpikir: “Imam-imam dari Coan Cin Pay tidak dapat dibuat permainan, memang lebih baik tidak usah bertempur dengannya.” Maka ia lantas awasi Thong Hay dan berkata kepadanya: “Sutee, coba kau perlihatkan Soat-lie May Jin, untuk minta Ong Cinjin memberi pengajaran padamu!”

“Itulah aku tidak berani,” Cie It membilang keras.

Ketika itu hujan salju masih belum berhenti, Hauw Thong Hay sudah lantas pergi ke lataran dimana dengan kedua tangannya ia menumpuk salju sampai tingginya tiga kaki, untuk membikin padat, ia menginjak-injak, habis itu, ia mundur tiga tindak, lalu mendadak ia lompat maju, kepala di bawah kaki di atas, kepala itu nuncap melesak ke dalam tumpukan salju itu, sampai sebatas dada.

Kwee Ceng heran. ia tidak tahu ilmu silat apa itu, meski ia tahu namanya seperti telah disebutkan See Thong Thian, yaitu “Soat-lie May Jin” atau “Mengubur orang di dalam salju”

See Thong Thian lantas berkata pada pengiring-¬pengiringnya Wanyen Kang: “Tolong tuan-tuan membikin padat dan keras salju disekitarnya Tuan Huaw!”

Kawanan pengiring itu girang sekali, dengan bergembira mereka luluskan permintaan itu.

Sebenarnya See Thong Thian bersama-sama Hauw Thong Hay telah menjagoi di sungai Hong Ho, mereka pandai berenang dan tahan selulup lama, karena ini Thong Hay dapat nyelusup ke dalam salju, untuk mana ia mesti menahan napas.

Orang semua heran dan kagum, tetapi mereka terus minum arak.

Selang sekian lama. barulah dua tangan Thong Hay bergerak, tubuhnya ikut, lalu sejenak saja, ia sudah keluar dari salju dan berdiri tegak.

Saking kagum, Kwee Ceng yang polos memuji sambil bertepuk tangan.

Thong Hay melirik bocah itu, lalu ia kembali ke kursinya.

“Kasar kepandaiannya suteeku ini, ia hanya mendatangkan tertawaan…” berkata See Thong Thian, yang sembari bicara mengulurkan tangannya ke piring kwaci, untuk menjumput, setelah mana jari tangannya yang tengah disentilkan tak hentinya, maka biji kwaci itu meluncur ke tembok putih di hoa-thia itu, nancap di tembok merupakan satu huruf “Yauw”. Jarak ke tembok ada kira-kira tiga tembok, biji kwaci enteng, tetapi biji kwaci itu dapat disentilkan sedemikian rupa, itulah bukti dari tenaga dalam yang terlatih sempurna.

Kata Ong Cie It dalam hatinya: “Tidak heran Kwie¬bun Liong Ong menjagoi sungai Hong Ho, dia memang lihay sekali.”

Di tembok sekarang terlihat lagi dua huruf, “Bu” dan “Yang”, maka itu dapat diduga See Thong Thian hendak menuliskan empat huruf “yauw bu yang wie” yang artinya menentang pengaruh atau menjagoi.

Menyaksikan itu Peng Lian Houw manjadi bertangan gatal. Ia berkata, “See toako, kepandaianmu ini membuatnya aku takluk sekali! Kita biasa berkerjasama, maka setelah totiang ini hendak menguji kepandaian kita, aku pun dengan meminjam pengaruhmu, ingin mempertunjukkan sesuatu…” Ia lantas saja lompat ke tengah ruangan itu.

Ketika itu See Thong Thian benar-benar telah membuat huruf “Wie” yang terakhir, akan tetapi baru huruf selesai separuhnya, Peng Lian Houw sudah memegat meluncurnya biji-biji kwaci itu, mulanya ia merintangi , lalu semua biji beruntun dikasih masuk ke dalam mulutnya, atas mana, mulutnya itu sudah lantas kermak-kermik, seperti burung menyisit, kwaci itu ia makan isinya dan kulitnya dilepehkan!

“Bagus!” orang banyak berseru memuji. “Ah, aku tidak sanggup memakan lebih jauh!” berseru Peng Lian Houw, yang terus aja lompat balik ke kursinya.

Setelah itu barulah See Thong Thian rampungkan huruf “Wie” itu.

Gangguannya Peng Lian Houw itu tidak membuat Thong Thian kecil hati, dia malah tersenyum. Persahabatan mereka adalah dari persahabatan dua tigapuluh tahun, mereka telah mengenal baik satu dengan lain. kemudian Thong Thian menoleh kepada Auwyang Kongcu, untuk mengatakan: “Auwyang Kongcu hendak mempertunjukan apa untuk kami dapat membuka mata kami?”

Kongcu itu dengar suara orang ada mengandung nada menyindir, dia berdiam saja. Ia tunggu sampai pelayan membawa datang tambahan barang makanan dan semua sumpit bekas ditukar dengan yang baru, sumpit bekas itu ia ambil dari tangannya si pelayan. Segera setalah memegang, ia ayun tangannya, lantas semua sumpit – dua puluh pasang – terlempar ke salju dan nancap. Apa yang luar biasa, semua sumpit nancap rapi merupakan empat tangkai bunga bwee!

Kwee ceng dan Wanyen Kang kurang mengerti ilmu kepandaian itu, tidak demikian dengan Ong Cie It, See Thong Thian dan lainnya yang lihay, maka mereka ini diam-diam terkejut. Malah Ong Cie It segera berpikir: “Kenapa orang-orang lihay ini dapat berkumpul di sini? Biasanya, untuk menemui satu saja sudah sukar! Apakah tak boleh jadi bahwa mereka mengandung sesuatu maksud?”

Selagi si imam berpikir, Som Sian Lao Koay Nio Cu Ong bangkit sambil tertawa, ia pergi ke samping tambur batu di depan hoa-thia itu, ulur tangannya yang kanan ke pinggang batu, begitu ia kerahkan tenaganya, batu itu kena terangkat, sedang beratnya batu ada tujuh atau delapan puluh kati. Batu itu segera diapungkan, terlepas dari tangan dan mencelat naik dua tombak tingginya. Sebelum batu itu turun, dua batu lagi diangkat dan diapungkan seperti yang pertama.

Dan ketika batu yang pertama turun, ia tanggapi dengan dahi, maka batu itu lantas diam di dahinya. Lalu menyusul batu yang kedua dan yang ketiga, ketiganya menjadi saling susul. Dengan rangkapkan kedua tangannya, memberi hormat kepada orang banyak, Cu Ong jalan perlahan-lahan ke tengah latar. Dengan satu lompatan, ia tiba diatasnya pelatok-¬pelatok sumpit Auwyang Kongcu tadi, berdiri di atasnya lantas bersilat, memainkan ilmu silat “Yan Ceng Kun.” Ia menjunjung tiga buah batu yang beratnya rua ratus kati lebih, tapi barang berat itu tidak mengurangi kegesitannya, dan setiap tindakan kakinya tidak pernah meleset dari ujung sumpit. Baru setelah habis semua jurus itu, ia lompat turun dari pelatok sumpit, dan setelah turunkan ketiga batu itu, ia kembali ke kursinya. Ia mengasih lihat senyuman, tidak ada tanda bahwa ia merasa letih.

Adalah biasa untuk tukang-tukang dangsu mempertunjukan permainan batu seperti Nio Cu Ong ini, hanya yang istimewa, ini dimainkan di atas pelatok sumpit dan sumpitnya tidak ada yang patah atau miring karena ketindihan tubuh dan batu yang berat itu.

Kwee Ceng kagum bukan main, ia memuji tak henti-¬hentinya. Kelihatan pesta bakal ditutup sampai disitu. Pelayan-pelayan telah datang dengan baskom yang terisi air hangat, untuk semua tamu membersihkan tangan.

“Cuma Leng Siangjin yang belum mengasih lihat kepandaiannya,” Cie It berpikir. “Mungkin sehabis dia, mereka ini bakal turun tangan…”

Maka itu si imam segera melirik paderi dari Tibet itu.

Leng Tie Siangjin mencuci tangan seperti yang lain-¬lain, sikapnya wajar saja, hanya selagi yang lain-lain selesai, ia masih merendam kedua tangannya di dalam baskom. Hal ini dapat dilihat semua orang, mereka menjadi heran. Mereka justru menantikan tanda dari paderi itu untuk bergerak.

Selang beberapa saat, Ong Cie It dan Auwyang Kongcu adalah yang paling dulu menampak perubahan. Baskomnya si paderi mengeluarkan uap. Yang lain-lain baru dapat melihat setelah uap itu nampak semakin nyata, mirip asap, kemudian terdengar suara perlahan dari air bergolak.

Selagi semua orang heran dan kagum, Ong Cie It terperanjat. “Hebat tenaga dalamnya paderi ini,” katanya dalam hati. “Aku tidak boleh berlambat lagi, aku mesti mendahului turun tangan terhadap dia…”

Tengah semua mata diarahkan kepada Leng Tie Siangjin, Ong Cie It cenderung tubuhnya melewati dua orang, tangannya menyambar kepada Wanyen Kang, yang duduk berselang, ia menangkap nadinya siauw-ongya itu, terus diangkat, digeser ke depannya.

Orang lantas melihat kejadian ini, mereka heran. Kemudian, untuk kagetnya, mereka lihat pangeran itu ditotok hingga menjadi tak berdaya lagi. Kemudian lagi si imam taruh tangan kirinya di punggung pangeran itu. See Thong Thian semua kaget berbareng gusar tetapi mereka tak segera dapat berdaya.

Dengan tangan kanannya, Ong Cinjin angkat poci arak, terus ia berkata: “Barusan aku saksikan kepandaian mengagumkan dari tuan-tuan, maka dengan ini aku hendak menghormati kamu dengan secawan arak.” Ia tidak berbangkit tapi dapat menuangkan arak ke dalam cawannya semua orang. Asal tangannya digerakkan, arak meluncur keluar dari mulut poci, turun ke dalam cawan, mengisi hingga penuh, tidak ada arak yang berceceran.

Leng Tie Siangjin beramai menginsyafi tenaga dalam yang terlatih baik dari imam ini, maka itu, asal tangan kirinya digerakkan, celakalah Wanyen Kang. Mereka insyaf juga, Ong Cinjin berbuat begini tentulah disebabkan dia sendirian saja.

Paling akhir Ong Cie It isikan cawannya Kwee Ceng serta cawannya sendiri, kemudian ia letaki poci arak, untuk angkat cawannya yang ia hirup kering. Habis itu ia berbicara,

“Pinto tidak berselisih, tidak bermusuhan dengan tuan-tuan,” katanya, “Pinto juga tidak bersanak tidak bersahabat dengan anak ini, cuma pinto merasa suka kepadanya karena dia berhati polos dan pemurah, ia bersemangat. Maka itu dengan memandang kepada mukaku, pinto minta sukalah tuan-tuan melepaskan dia hari ini.”

Semua orang berdiam. Mereka berdiam sejak Wanyen Kang dicekuk.

“Jikalau tuan-tuan memberi ampun kepada anak ini,” berkata pula Ong Cie It, yang menanti jawaban, “Maka pinto juga akan bebaskan siauw-ongya. Siauw-ongya adalah seumpama cabang emas daun kumala, ini anak sebaliknya adalah satu anak rakyat jelata, dari itu jikalau mereka ditukar guling, tidakkah siauw-ongya rugi? Bagaimana?”

“Ong Totiang, kau baik sekali!” berkata Nio Cu Ong tertawa. “Baiklah, beginilah kita mengambil keputusan.”

Tanpa bersangsi sedikit juga, dengan sikutnya Ong Cie It bentur pinggangnya Wanyen Kang, maka pangeran itu bebas dari totokan, terus dikembalikan ke kursinya. Ia percaya semua jago itu, tidak peduli mereka licin atau licik. Habis itu ia mengangguk kepada semua orang, lalu ia tarik tangannya Kwee Ceng untuk diajak pergi. Masih ia mengucapkan “Ijinkanlah kami mengundurkan diri. Sampai bertemu pula!”

Semua orang mengawasi dengan air muka guram. Bukankah ikan telah masuk ke dalam jala tetapi dapat lolos pula? Tidakkah itu sayang?

Wanyen Kang telah lantas dapat menenangkan hatinya. Sambil tersenyum, ia kata kepada Ong Cinjin: “Totiang, apabila ada tempo luang, silahkan sembarang waktu datang untuk pasang omong di sini, supaya aku yang lebih muda dapat banyak pengajaran.” Ia lantas bangkit, dengan sikapnya yang menghormat, ia mengantarkan keluar.

“Hm!” bersuara si imam, yang terus bilang “Urusan kita telah selesai, maka itu mesti ada harinya yang kita nanti bertemu pula!”

Setibanya mereka di pintu hoa-thia, tiba-tiba Leng Tie Siangjin berbicara. “Totiang sangat lihay, kau membuat orang sangat kagum!” demikian katanya. Ia merangkapkan kedua tangannya, untuk memberi hormat, akan tetapi ketika ia buka kedua tangannya itu, siuran angin hebat menyambar ke arah si imam!

“Celaka!” Ong Cie It berseru di dalam hatinya ia lekas-lekas angkat kedua tangannya untuk membalas hormat. Ia kerahkan tenaga untuk memecahkan serangan hebat itu.

Sebat luar biasa, Leng Tie Siangjin mengubah tenaga dalamnya menjadi tenaga luar, tangan kanannya diulur, untuk menyambar lengannya Ong Cie It. tetapi si imam pun tidak diam saja, ia menyambuti dengan sama kerasnya, karena ia telah lantas dapat melihat sambaran itu, ia pun berbalik menyambar lengan lawan.

Cuma hanya sekali bentrok, kedua tangan sama-¬sama ditarik pulang.

“Sungguh aku takluk, aku takluk!” berkata Leng Tie Siangjin yang air mukanya berubah, seraya melompat mundur.

Ong Cie It tersenyum, ia bertanya: “Nama Taysu bersemarak dalam dunia kangouw, mengapa kata-¬katanya tidak masuk hitungan?”

Leng Tie menjadi gusar. “Aku bukan hendak menahan ini bocah she Kwee, aku hanya hendak menahan kau…” katanya, tapi belum dapat ia meneruskan, lantas saja ia muntah darah. Sebab bentrokan itu membuat ia terluka. Coba ia berlaku tenang dan mainkan napasnya, darahnya itu tidak nanti menyemprot keluar, tetapi ia diejek si imam, ia tidak dapat mengendalikan diri.

Ong Cie It segera tarik tangan Kwee Ceng, buat diajak berlalu dengan cepat-cepat dari istana itu.

See Thong Thian beramai tidak berani mencegah, bukan saja memang mereka seudah berjanji, contoh dalam dirinya Leng Tie Siangjin juga membikin hati mereka gentar. Imam ini benar-benar tidak dapat dibuat permainan, tidak berani mereka merintangi.

Sesudah belasan tombak keluar dari pintu istana, setelah melintasi sebuah tikungan dan melihat di belakangnya tidak ada orang yang menyusul, dengan perlahan Giok Yang Cu berkata kepada bocah yang ia tuntun itu: “Kau gendong aku sampai di rumah penginapan…"

Kwee Ceng kaget sekali. Ia dengar suara orang sangat lemah, seperti kehabisan napas. Ia juga lantas dapat melihat roman pucat dari si imam.

“Adakah totiang terluka?” tanyanya heran.

Ong Cie It mengangguk, lalu tiba-tiba saja tubuhnya terhuyung.

Kwee Ceng mengerti, maka lantas saja ia membungkuk di depan si imam, menggendongnya, dibawa pergi dengan cepat. Ia mau mampir di sebuah hotel yang pertama diketemukan, tetapi Cie It bilang dengan perlahan: “Cari… cari tempat yang sepi dan hotel kecil…”

Kwee Ceng menurut, ia maju terus, sambil berlari-¬lari. Ia tahu imam ini khawatir nanti disusul musuh, ia terluka dan ia sendiri tidak punya guna, mereka bisa terancam bahaya. Ia tidak tahu jalanan, ia pilih yang sepi saja. Sementara itu ia merasakan napas si imam semakin mendesak. Syukur ia lantas dapat cari sebuah hotel yang kecil dan jorok, tetapi tanpa pedulikan itu, ia memasukinya. Setibanya di dalam, ia segera turunkan imam itu di atas pembaringan.

“Lekas…lekas cari sebuah jambangan besar…” berkata Ong Cie It. “Kau isikan penuh air bersih…”

“Untuk apakah itu, totiang?” Kwee Ceng tanya.

Cie It tidak menyahut, ia hanya memberi tanda dengan tangannya, supaya bocah itu lekas pergi.

Kwee Ceng menurut. Ia cari orang hotel, dengan sepotong perak di atas meja seraya minta lekas disediakan jambangan. Ia juga memberi persen kepada si jongos. Maka itu jongos kegirangan, cepat-¬cepat ia sediakan barang yang diminta itu, yang diletakkan di cimche, terus diisi air dingin.

Kwee Ceng lari ke dalam kamar untuk memberi kabar.

“Bagus, anak yang baik!” berkata Ong Cie It. “Sekarang pondong aku, kau letakkan aku di dalam jambangan itu. Kau larang orang lain datang mendekat…”

Kwee Ceng tidak mengerti tetapi ia menurut, masukkan tubuh orang ke dalam jambangan hingga sebatas leher, sedang jongos ia pesan untuk melarang siapa saja masuk ke cimche itu.

Ong Cie It merendam di dalam jambangan seraya memeramkan kedua matanya, dengan tenang ia mainkan napasnya.

Kira-kira semakanan nasi, air jambangan yang bersih bening itu berubah menjadi hitam. Di pihak lain, kulit muka si imam dari pucat pasi berubah menjadi bersemu dadu.

“Coba bantu aku bangun, air ini tukar dengan yang bersih,” ia minta kepada Kwee Ceng.

Permintaan itu diturut, maka sebentar kemudian, Cie It sudah berendam pula di dalam air yang baru.

Sekarang barulah Kwee Ceng tahu orang tengah mengerahkan tenaga dalamnya, untuk menyembuhkan diri dari luka di dalam akibat pertempuran dahsyat dengan Leng Tie Siangjin. Imam ini umpama kata cuma menang seurat.

Kwee Ceng melayani terus sampai ia tukar air tujuh kali, baru air itu tak lagi berubah hitam, Giok Yang Cu tertawa dan berkata: “Sudah tidak ada bahaya lagi!”

Dengan pegangi pinggiran jambangan, ia dapat merayap keluar. Tapi ia menghela napas ketika ia berkata pula: “Paderi dari Tibet itu sangat berbahaya!”

Kwee Ceng lega, ia girang sekali. “Apakah tangannya paderi Tibet itu ada racunnya?” ia tanya.

“Benar,” sahut Cie It. “Itulah racun dari Cu-see¬ciang. Ilmu semacam itu, Tangan Pasir Merah sering aku menemukan tetapi tidak ada yang lihay seperti ini. Hari ini hampir aku kehilangan jiwa…”

“Totiang ingin dahar apa? Nanti aku pergi belikan,” Kwee Ceng tanya kemudian.

Cie It pinjam perabot tulis pada tuan rumah, ia menulis sehelai surat obat. “Aku telah bebas dari bahaya jiwa,” berkata si imam itu. “Tetapi hawa racun di dalam tubuh belum bersih betul, jikalau dalam duabelas jam itu tak disingkirkan, akibatnya akan menyebabkan cacad seumur hidup. Sekarang kau tolong aku lekas membeli obat.”

Kwee Ceng mengerti, ia pergi sambil terus berlari. Di jalan perapatan ia lihat rumah obat yang pertama, segera mampir dan serahkan resepnya.

“Sayang tuan,” kata pelayan setelah membaca surat obat itu, “Kebetulan saja obat hiat-kat, gu-cit, bek-yo dan hitam baru habis.”

Tanpa minta penjelasan, Kwee Ceng samber resepnya, lari ke rumah obat yang lain. Di sini ia diberi tahu, empat rupa obat itu tidak ada. Makanya ia mesti pergi ke lain toko obat lagi. Herannya, tujuh atau delapan rumah obat semua kehabisan empat rupa bahan obat itu. Ia menjadi bingung dan mendongkol. Malah didua tiga rumah obat yang terbesar, obat-obatan itu masih tidak kedapatan, katanya baru saja ada orang yang borong.

“Akun mengerti sekarang,” kata bocah ini kemudian. “Tentulah orang dari istana Chao Wang yang memborong semua obat itu, sebab mereka tahu Ong Cinjin pasti membutuhkannya. Sungguh jahat!”

Dengan masgul, bocah ini lari pulang ke hotel, kepada Ong Cie It ia tuturkan kegagalannya.

Imam itu menghela napas, wajahnya menjadi guram.

Kwee Ceng sangat jujur dan hatinya lemah, ia lantas taruh kepalanya di atas meja dan menangis. Ia putus asa.

Ong Cie It tertawa. “Jiwa manusia sudah ditakdirkan,” ia berkata, “Kematian pun tidak harus disayangkan. Lagian belum tentu aku bakal mati, maka itu kenapa kau menangis?” Lalu dengan suara halus ia bernyanyi.

Kwee Ceng heran, ia mengawasi.

Cit It tertawa pula, terus ia duduk bersemadhi di atas pembaringan.

Bocah ini tidak berani mengganggu, diam-diam ia keluar dari kamar. “Kenapa aku tidak mau pergi ke tempat yang berdekatan,” pikirnya kemudian. “Di sana belum tentu obat itu telah orang beli juga…”

Ingat begini, hatinya lega. Maka ia mau tanya jongos, di dekat-dekat dimana ada toko obat. Justru ia mau cari jongos, jongos datang dengan cepat menyerahkan sepucuk surat kepadanya. Surat itu dialamatkan kepadanya.

Surat itu bagus tulisannya dan kertasnya berbau harum. Ia heran. “Siapa yang mengirim surat ini?” ia menanya dalam hatinya. Ia terus robek sampul surat, untuk dibaca isinya. Surat itu berbunyi singkat saja

“Aku menunggu kau di telaga di luar kota barat, jauhnya kira-kira sepuluh lie. Ada urusan penting yang hendak aku damaikan. Lekas datang!”

Surat itu tidak memakai tanda-tanda hanya lukisan gambar dari satu pengemis bocah. Untuk kegirangannya Kwee Ceng kenali romannya Oey Yong, yang tersenyum berseri-seri.

“Siapa bawa surat ini?” ia tanya jongos. Ia girang berbareng heran.

“Seorang gelandangan di jalan besar,” sahut jongos itu.

Kwee Ceng masuk ke dalam kamar Cie It, ia lihat imam itu lagi melatih kaki dan tangannya. Ia lantas kasih tahu bahwa ia mau pergi beli obat ditempat lain.

“Kita dapat pikir ini, kenapa mereka tidak?” berkata si imam. “Tidak usahlah kau pergi.”

Kwee Ceng tidak menjadi putus asa, ia ingin mencoba. Ia ingat Oey Yong cerdik sekali, mungkin ia dapat berunding dengan temannya itu. Maka itu ia beritahu bahwa ia ingin menemui sahabatnya itu. Ia pun beri lihat suratnya Oey Yong itu.

Ong Cie It berpikir. “Cara bagaimana kau kenal anak itu?” ia tanya.

Kwee ceng tuturkan pertemuannya sama Oey Yong, hingga mereka menjadi sahabat.

“Aku telah saksikan caranya ia mempermainkan Sam-tauw-kauw Hauw Thong Hay,” berkata Ong Cinjin. “Dia luar biasa gerak tubuhnya. Kau harus berhati-hati,” ia pesan. “Di dalam ilmu kepandaian, dia jauh terlebih lihay daripada kau. Aku lihat padanya seperti ada terselip sifat-sifat kesesatan, hanya aku tidak tahu pasti apa itu…”

“Kita bersahabat sangat erat, sehidup semati, tidak nanti ia celakai kau,” menyatakan Kwee Ceng, yang percaya betul sahabatnya itu.

Ong Cinjin menghela napas. “Baru berapa lama kamu bersahabat?” katanya. “Mana itu dapat disebut persahataban sehidup semati? Jangan kau pandang enteng dia sebagai bocah! Kau tahu, jikalau ia hendak mencelakai padamu, kau tentu tidak dapat layani dia….”

Di dalam hatinya, Kwee Ceng berpikir “Totiang bilang begini sebab ia belum tahu sifatnya Oey Hiantee…” Ia menyebutnya “Oey Hiantee” = “adik she Oey”, tanda ia sangat percaya pada Oey Yong. Lantas ia tuturkan perihal kebaikan sahabatnya itu.

Ong Cinjin tertawa. “Baik, kau pergilah lekas!” katanya. “Semua anak muda berkelakuan seperti kamu. Tanpa mengalami sesuatu, tidak tambah kecerdikan kamu…”

Imam ini tetap percaya Oey Yong bukan orang dari golongan yang sadar.

Kwee Ceng tidak bilang apa-apa lagi, ia masuki resep ke dalam sakunya, lantas berlalu dari hotel. Ia lari keluar kota barat tanpa menghiraukan salju berterbangan menyampok mukanya. Disekitarnya yang luas, tampak segala apa putih meletak, disana tidak ada tapak-tapak manusia. Sesudah hampir sepuluh lie, ia lihat sinar terang dari air telaga. Karena hawa udara tidak sangat dingin, telaga itu tidak membeku, salju jatuh ke air, lantas lumer. Adalah di tepian, di pepohonan, salju melulu yang tampak.

Memandang ke sekitarnya, bocah ini menjadi heran. Tidak ada bayangan orang sekalipun.

“Apa mungkin dia sia-sia menanti aku dan dia lantas pergi duluan?” ia berpikir. Tapi ia buka mulutnya, akan perdengarkan suara nyaring: “Oey Hiantee! Oey Hiantee!”

Tidak ada jawaban, cuma dua ekor burung air yang terbang gelapakan di telaga.

“Oey Hiantee! Oey Hiantee!” ia memanggil pula, dengan hati masgul. Tapi ia masih dapat berpikir; “Mungkin ia belum datang, maka baiklah aku menunggu disini…”

Maka ia lantas menantikan sambil ia pandangi keindahan telaga di musim salju itu.

Belum terlalu lama atau dari tengah telaga terdengar suara tertawa halus, kapan Kwee Ceng menoleh, ia lihat sebuah perahu muncul dari bagian telaga yang lebat dengan pepohonan. Itulah sebuah perahu kecil dengan penumpangnya, yang duduk di belakang perahu, ada satu nona, yang rambutnya panjang meroyot melewati pundak, bajunya putih mulus, rambutnya di bagian atas ada pitanya dari emas, hingga emas itu bercahaya di antara sinar putih dari salju.

Kwee Ceng mengawasi dengan menjublak. Ia dapatkan si nona bagaikan bidadari. Orang berumur belum lima atau enambelas tahun, kulitnya putih halus, romannya cantik sekali dan manis, mukanya dadu segar. Ia lantas berpaling ke lain jurusan, tidak berani ia mengawasi terus-terusan. Ia pun bertindak dari tepian.

Si nona mengayuh perahunya sampai ke pinggir telaga. “Kwee Koko, mari naik ke perahu!” tiba-tiba dia memanggil. Dia menyebutnya “Kwee Koko” = “Engko Kwee”. Kwee Ceng terkejut. Ia dipanggil selagi ia menoleh ke lain jurusan. Begitu ia menoleh, tampak satu wajah yang manis sekali, sedang tangan baju orang memain di antara sampokan angin. Ia berdiri menjublak bagaikan orang yang tengah bermimpi, kemudian ia kucak-kucak matanya dengan kedua tangannya.

“Bagaimana, eh, engko Kwee,” berkata pula si nona. “Apakah kau tidak kenal aku?”

Kwee Ceng perhatikan suara orang. Itulah suaranya Oey Yong, sahabat eratnya, sahabat sehidup semiati…….. !

Tapi sahabatnya itu adalah seorang pemuda dengan muka kotor dan pakaian compang-camping…. Kenapa sekarang tercipta menjadi seorang bidadari?

Dalam kesangsiannya, bocah ini mengawasi dengan mendelong.

Nona itu tertawa. “Aku adalah Oey Hianteemu!” ia berkata. “Benarkah kau telah tidak kenali aku?”

Oleh karena ia menatap, Kwee Ceng kenali roman mukanya Oey Yong yang alisnya lentik dan mulutnya mungil, cuma dandannya lain. “Kau…kau….” katanya perlahan.

Oey Yong tertawa pula. “Sebenarnya aku adalah seorang wanita,” ia berkata pula. “Siapa suruh kau panggil aku Oey Hiantee dan Oey Hiantee tak sudahnya? Ayolah lekas naik ke perahu ini!”

Kwee Ceng sadar, ia enjot tubuhnya, lompat ke perahu itu. “Oey Hiantee…!” katanya.

Oey Yong tidak menyahut, hanya kayuh perahunya ke telaga. lantas sajikan bekalannya, barang makanan dan arak.

“Kita duduk disini, dahar dan minum arak sambil memandangi sang salju, bagus bukan?” katanya merdu.

Kwee Ceng mencoba menenangkan diri. “Ah…aku tolol sekali!” katanya kemudian. “Sampai sebegitu jauh, aku sangka kau adalah seorang pria! Selanjutnya tidak dapat aku panggil lagi kau Oey Hiantee….”

Oey Yong tertawa. “Kau juga jangan panggil aku Oey Hian-moay,” ia berkata. “Aku dipanggil Yong-jie. Ayahpun selalu memanggil aku begitu.”

Dengan sendirinya nona ini tidak menghendaki di panggil “Oey Hian-moay” = “adik Oey” dan menghendaki disebut namanya saja. “Yong-jie” berarti “anak Yong”.

Tiba-tiba Kwee Ceng ingat sesuatu. “Aku membekali kau tiamsim!” katanya seraya terus kasih keluar tiamsim yang ia bawa dari istananya Wanyen Kang. Cuma sekarang tiamsim itu sudah pusak-pesok tiada karuan.

Oey Yong mengawasi macamnya tiamsim yang tidak karuan itu, ia tertawa.

Merah mukanya Kwee Ceng, ia jengah. “Tiamsim ini tak dapat dimakan…” katanya. Ia ambil itu, untuk dilemparkan ke air.

Oey Yong sambar tiamsim itu. “Aku bisa makan!” katanya. “Aku doyan!”

Selagi si bocah tercengang, Oey Yong sudah menggayem tiamsim itu.

Kwee Ceng mengawasi, sampai ia mendadak menjadi heran sekali. Oey Yong dahar tiamsim itu, lantas perlahan-lahan matanya menjadi merah, lalu air matanya perlahan-lahan mengalir turun…

“Begitu aku dilahirkan, aku sudah tidak punya ibu,” berkata Oey Yong yang dapat membade pikiran sahabatnya. “Seumurku, belum pernah ada orang yang ingat aku seperti kau ini…”

Air matanya mengalir deras, ia keluarkan sapu tangannya yang putih bersih.

Kwee Ceng menyangka orang hendak menyusuti air matanya, tak tahunya dengan cara hati-hati nona itu bungkus sisa tiamsim yang kemudian ia masukkan ke dalam sakunya. “Aku akan dahar ini perlahan-lahan…” katanya, dan kali ini ia tertawa.

Benar-benar aneh kelakuan bocah wanita ini, Kwee Ceng asing betul dengan tingkah lakunya ini “Oey Hiantee”.

“Bilangnya ada urusan penting yang kau hendak bicarakan dengan aku, urusan apakah itu?” kemudian ia tanya. Ia sudah lantas ingat surat si nona dan untuk apa ia datang ke telaga ini.

Oey Yong tertawa ketika ia menyahut “Aku panggil kau datang kemari untuk memberitahukan padamu bahwa aku bukannya Oey Hianteemu, hanya Yong-jie. Apa ini bukannya urusan penting?”

Kwee Ceng tersenyum. Orang benar-benar jenaka. “Kau begitu manis untuk dipandang, kenapa kau menyamar sebagai penemis?” ia tanya.

Oey Yong melengos ke samping. “Kau bilang aku manis dipandang?” ia tanya.

“Manis sekali!” sahut si anak muda. “Kau mirip dengan bidadari dari puncak gunung salju!” Ia menghela napas.

Oey Yong tertawa pula. “Pernahkah kau melihat bidadari?” tanyanya.

“Aku belum pernah lihat. Kalau aku dapat menemui, mana aku masih hidup lagi…?”

Oey Yong heran. “Eh, kenapa begitu?” ia menegaskan.

“Sebab pernah aku dengar cerita orang-¬orang tua, siapa dapat melihat bidadari, dia tidak bakal kembali ke tanah datar, untuk selamanya ia akan duduk bengong saja di gunung salju, lalu lewat beberapa hari, dia akan mati beku….”

Oey Yong tertawa pula. “Sekarang kau melihat aku, kau bakal bengong saja atau tidak?” tanyanya kemudian.

Mukanya Kwee Ceng menjadi merah. “Kita toh sahabat-sahabat kekal, kita lain…”

Oey Yong menganggguk. Lalu ia berkata dengan sungguh-sungguh: “Aku tahu kau baik hati dengan sesungguhnya, terhadap aku, tidak peduli aku pria ataupun wanita, biarpun aku bagus atau jelek.” Ia berhenti sebentar. “Dengan dandananku ini, kalau orang bersikap baik terhadap aku, apakah anehnya? Diwaktu aku menjadi pengemis, kau baik sekali dengan aku, nah itu barulah sahabat sejati.” Ia rupanya sangat girang, sembari tertawa ia kata pula “Aku ingin bernyanyi untukmu, sukakah kau mendengarnya?”

“Apakah tidak boleh besok saja kau bernyanyi?” Kwee Ceng minta. “Sekarang ini aku mesti pergi beli obat untuk Ong Totiang.”

Kwee Ceng lantas tuturkan tentang adu kepandaian di istana Chao Wang, sampai Ong Cie It, yang melindunginya, mendapat luka parah, bahwa sia-sia belaka ia mencari obat.

Oey Yong mengawasi, ia tertawa. “Aku pun heran sekali menyaksikan kau lari mondar-mandir di jalan besar dan memasuki rumah obat dari yang satu ke yang lain, entah kau bikin apa, tidak tahunya kau hendak membeli obat,” katanya.

Kwee Ceng menduga, selagi ia lari mondar-mandir, Oey Yong tentu telah mengintai tetapi ia tidak tahu, kalau tidak, niscaya nona itu tidak ketahui ia tinggal di hotel mana.

“Oey Hiantee,” katanya kemudian, “Apakah boleh pinjam kuda merahmu yang kecil untuk aku pergi membeli obat?”

Oey Yong menatap. “Ketahuilah!” katanya. “Kesatu, aku bukannya si Oey Hiantee! Kedua, kuda merah yang kecil itu adalah kepunyaanmu! Apakah kau sangka benar-benar aku menghendaki kudamu itu? Aku hanya menguji hatimu. Ketiga, di tempat sekitar ini, belum tentu kau dapat mencari obat itu…!”

Kwee Ceng berdiam, hatinya pepat. Ia bingung sekali. Dugaan si nona nyata cocok betul dengan dugaannya Ong Cie It.

Oey Yong tertawa. “Sekarang aku nyanyi, kau dengar!” dia kata. Lalu kedua bibirnya yang merah tergerak terbuka, segera lidahnya bergerak, memperdengarkan nyanyiannya yang halus dan merdu.

Kwee Ceng mendengarkan dengan hati kesengsem walaupun tidak mengerti jelas artinya nyanyian itu, hatinya menjadi goncang. Seumurnya belum pernah ia peroleh pengalaman ini.

“Inilah nyanyian Sui Ho Sian dari Sin Tayjin,” kata Oey Yong perlahan. “Bagaimana menurutmu, bagus atau tidak?”

“Aku kurang mengerti tetapi kedengarannya menarik hati,” Kwee Ceng menjawab. “Siapa itu Sin Tayjin?”

“Dialah Sin Kee Cie,” sahut Oey Yong. “Menurut ayahku dialah pembesar jempolan yang menyinta negara dan rakyat. Ketika dulu Tionggoan Utara jatuh ke tangan bangsa Kim dan Gak Bu Bok terbinasa di tangan dorna, tinggal Sin Tayjin sendiri yang masih berdaya untuk merampas pulang daerah-¬daerah yang hilang itu.”

Kwee Ceng tahu kekejaman bangsa Kim dari penuturan ibunya, karena ia hidup di Mongolia, ia kurang tahu. Ia kata: “Belum pernah aku pergi ke Tionggoan, maka hal ini baik nanti saja perlahan-lahan kau tuturkan padaku. Sekarang kita mesti pikirkan daya mencari obat untuk Ong Totiang.”

“Kau dengar aku,” kata Oey Yong. “Kita pesiar dulu disini, tak usah kau cemas tidak karuan.”

“Ong Totiang bilang, kalau dalam tempo dua belas jam ia tidak dapat obat, ia bisa celaka,” Kwee Ceng jelaskan.

“Aku tanggung, kau akan dapatkan obat itu,” si nona bilang.

Mendengar si nona bicara dengan sungguh¬-sungguh dan juga percaya memang dia lebih pandai dan cerdik daripada dirinya, Kwee Ceng dapat juga melegakan hati.

“Mungkin ia tidak akan membikin gagal,” pikirnya. Maka ia lantas layani si cantik itu minum arak dan dahar makanan sambil ngobrol.

Dengan gembira dan menarik hati, Oey Yong tuturkan bagaimana caranya ia menggangtung Hong Ho Su Koay, bagaimana ia ganggu Hauw Thong Hay sampai si Ular Naga Kepala Tiga itu mendongkol bukan main.

“Bagus!” seru Kwee Ceng saking gembira.

“Memang bagus!” kata si nona. Dan keduanya bertepuk tangan.

Tanpa terasa sang waktu telah berlalu, Oey Yong lihat bagaimana secara perlaha-lahan sang mega atau kabut mulai menutupi air telaga yang putih. Dengan perlahan sekali ia ulur tangannya, ia genggam tangan Kwee Ceng, sembari berbuat begitu ia berkata perlahan: “Sekarang aku tidak takut apapun…!”

“Kenapa?” menanya si anak muda dengan heran.

“Taruh ayah tidak menginginkan aku, tentunya sudi aku ikut kau, bukankah?” si nona tanya tanpa ia menyahut pertanyaan orang.

“Pasti!” jawab Kwee Ceng sungguh-sungguh. “Aku sendiri belum pernah gembira seperti sekarang ini!”

Oey Yong membawa tubuhnya mendekati dada si pemuda dan menempelkannya, maka Kwee Ceng lantas saja merasakan terkurung bau harum, bau yang meliputi juga antero telaga, seluruh langit dan bumi……

Tanpa mengucap sepatah kata, keduanya saling berpegang tangan…..

Setelah sekian lama, tiba-tiba Oey Yong menghela napas. “Tempat ini sungguh indah, sayang kita bakal meninggalkannya…” katanya.

“Kenapa begitu?” Kwee Ceng tanya. Ia heran.

“Bukankah kita harus mencari obat untuk menolong Ong Totiang?” sahut si nona.

Kwee Ceng sadar, ia menjadi girang sekali. “Ah, ke mana kita mencarinya?”

“Ke manakah perginya itu beberapa rupa obat yang dibutuhkan, yang tidak berada di rumah-rumah obat?” Oey Yong menanya.

“Tentulah semua itu dibeli oleh orangnya Chao Wang,” menyahut Kwee Ceng.

“Benar!” berkata si nona.

“Tetapi tidak dapat kita pergi ke sana!” Kwee Ceng bilang. “Pergi ke sana artinya kita mengantar jiwa…”

“Habis apakah kau tega membiarkan Ong Totiang menjadi cacad seumur hidup?” Oey Yong tanya. “Jangan-jangan, karena lukanya itu berubah menjadi berbahaya, ia pun bisa hilang jiwanya….”

Darahnya Kwee Ceng bergolak. “Baik, aku akan pergi!” ia bilang. “Tapi kau jangan turut…”

“Jangan turut? Kenapa?” tanya si nona.

Kwee Ceng berdiam. Ia tidak punya alasan untuk kata-katanya itu.

Oey Yong mengawasi. “Engko yang baik,” katanya perlahan. “Kau kasihanilah aku. Umpama kata kau menemui bencana, apakah kau sangka aku dapat hidup seorang diri saja?”

Kwee Ceng menjadi sangat bersyukur dan bergirang. “Baiklah!” katanya kemudian. “Mari kita pergi bersama!”

Keduanya lantas mengayuh, membuat perahu ke pinggir, setelah mendarat mereka menuju langsung ke istana Chao Wang, ke arah belakang. Mereka memasuki pekarangan dengan melompati tembok.

“Engko Ceng, sempurna sekali ilmu ringan tubuhmu!” Oey Yong memuji selagi si anak muda mendekam di kaki tembok untuk memasang kuping dan mata.

Mendengar pujian itu, Kwee Ceng gembira bukan main. Merdu sekali suara si nona. Tak lama, mereka mendapat dengar tindakan kaki dibarengi suara bicara sambil tertawa. Mereka menutup mulut.

“Siauw-ongya mengurung si nona di sini, kau tahu untuk apa?” terdengar seorang menanya. “Siauw¬ongya” itu ialah pangeran muda.

“Buat apa lagi!” tertawa orang yang kedua. “Si nona demikian cantik! Sejak kau dilahirkan, pernahkah kau melihat nona secantik itu?”

Oey Yong berlaku tenang. Ia kenal dua orang itu, dua dari keempat Hong Ho Su Koay, yaitu Sim Ceng Kong dan Ma Ceng Hiong. Mereka ini sebaliknya tidak mengenalinya, yang telah dandan sebagai asalnya, seorang gadis. Hanya melihat Kwee Ceng, mereka tercengang, lantas mereka seraya angkat tangan. Tapi sejenak itu, tidak dapat mereka menyerang dengan golok dan cambuk mereka. Tiba-¬tiba saja iga mereka kaku. Karena dengan kesebatannya yang luar biasa, Oey Yong sudah totok mereka.

Kwee Ceng kagum bukan main. Ia berada di samping si gadis tapi ia tak sempat melihat gerakan tangan orang. Mendadak ia ingat kejadian di rumah makan di Kalgan, waktu kawanan nona-nona serba putih hendak merampas kudanya, tahu-tahu mereka itu roboh tak berkutik.

“Pastilah mereka telah terkena tangan lihay dari si Yong ini,” pikirnya lebih jauh.

“Eh, kau pikirkan apa?” menegur si nona sambil tertawa menampak orang termenung. Ia lantas saja tarik Sim Ceng Kong dan Ma Ceng Hiong ke belakang pot-pot kembang, untuk disembunyikan, kemudian ia tarik tangan si pemuda, untuk menyusul si pengurus.

Di depan Hoa Cui Kok, Oey Yong tolak tubuh si pengurus, lalu ia masuk, bersama Kwee Ceng lantas lompat naik ke payon, mengintai dari jendela, hinngga mereka dapat melihat jelas ke dalam.

Terang sekali ruang dalam itu di mana ada sebuah meja penuh dengan pelbagai barang hidangan dan arak, tetapi yang membuat Kwee ceng terperanjat adalah ketika matanya bentrok sama hadirin yang duduk mengitari meja itu, sampai hatinya berdenyutan. Ia lihat dan mengenal Auwyang Kongcu dari pek To San, Kwie-bun Liong-ong See Thong Thian, Sam¬tauw-kauw Hauw Thong Hay, Som Sian Lao-koay Nio Cu Ong dan Cian-ciu Jin-touw Pheng Lian Houw. Menemani mereka itu, duduk di sebelah bawah adalah Chao Wang Wanyen Lieh, Liok-hong-cu atau pangeran keenam dari negara Kim. Duduk di samping, di atas kursi tay-su-ie yang besar dan tebal amparnya, Tay-cu-in Leng Tie Siangjin, kedua mata siapa terbuka sedikit dan mukanya bagaikan kertas kuning, suatu tanda lukanya tak enteng.

Diam-diam Kwee Ceng girang sekali, ia berkata di dalam hatinya: “Kau hendak mencelakai Ong Totiang, kau juga dapat merasakan enak….”

Si pengurus bertindak masuk untuk terus berlutut di depan Nio Cu Ong, kedua tangannya mempersembahkan suratnya siauw-ongya.

Nio Cu Ong menyambut, ia baca surat itu, terus ia awasi si pembawa surat, kemudian ia angsurkan surat itu kepada Wanyen Lieh. “Ongya, benarkah ini tulisannya siauw-ongya?” ia tanya.

Chao Wang membaca surat itu, ia mengangguk. “Benar,” katanya. “Berikanlah dia obat itu.”

Nio Cu Ong menoleh kepada kacung di sisinya. “Tadi siauw-ongya ada mengirimkan empat macam rupa obat,” katanya. “Kau ambilkan masing-masing itu satu tail, berikan kepada koankee ini.”

Bocah itu menyahut, lalu ia ajak si koankee atau pengurus itu mengundurkan diri. Kwee Ceng berbisik di kupingnya Oey Yong: “Mari kita pergi, lekas! Semua mereka itu sangat lihay!”

Oey Yong tertawa perlahan, ia menggeleng kepala. Oleh karena ia menggoyang kepalanya, rambut si nona mengenai muka si pemuda, hingga Kwee Ceng merasa gatal dari muka terus ke hatinya.

Pemuda ini tidak hendak berbantahan, ia hanya lantas gerakkan tubuhnya melompat turun. Baru bergerak, si nona sambar tangannya, untuk ditahan. Untuk itu, nona itu mesti menyantel keras kedua kakinya pada payon, habis mana perlahan-¬lahan ia kasih turun tubuh si pemuda.

Kwee Ceng terkejut, di dalam hatinya ia kata, “Ah, aku semberono sekali. Tidakkah ini berbahaya? Bukankah orang-orang di dalam itu lihay semua? Jikalau aku berlompat mundur, bagaimana mereka tidak dapat memergokinya?” ia insyaf, dasar baru masuk dalam dunia kangouw, ia kurang berpengalaman. Lantas ia ikuti si pengurus dan kacung itu. Satu kali ia menoleh ke belakang, Oey Yong masih belum turun, masih bergelantungan nona itu mengawasi ke dalam ruangan.

Oey Yong tidak segera berangkat. Untuk mencari tahu orang di dalam ketahui tentang dirinya atau tidak, ia mengintai terus. Ia lakukan itu setelah ia lihat Kwee Ceng pergi belasan tembok jauhnya. Ketika ia mengawasi ke dalam, sinar matanya bentrok sama sinar mata tajam dari Pheng Lian Houw, yang kebetulan berpaling. Ia tidak berani mengawasi terus, ia hanya memasang kuping.

Seorang yang suaranya serak, berkata; “Saudara¬-saudara, bagaimana pandangan kamu mengenai Ong Cie It? Adakah ia datang dengan maksud sengaja atau itu cuma kebetulan saja?”

“Peduli ia datang dengan sengaja atau bukan!” berkata seseorang, yang suaranya nyaring dan keras sekali. “Dia telah merasai tangannya Leng Tie Siangjin, jika tidak mampus, sedikitnya ia mesti cacad seumur hidup!”

Oey Yong lantas mengawasi pula. Ia dapatkan orang itu adalah Pheng Lian Houw yang matanya tajam, yang tubuhnya kate dan kecil.

Seorang yang suaranya tedas sekali, berkata sambil tertawa; “Selama aku berada di wilayah Barat, aku pernah dengar namanya Coan Cin Cit Cu yang kesohor itu, sekarang terbukti mereka benar-benar lihay, coba Leng Tie Siangjin tidak menghadiahkan dia pukulan Tay-ciu-in, pastilah hari ini kita roboh di tangan mereka.”

Seorang yang suaranya keras tetapi dalam berkata; “Auwyang Kongcu, janganlah kau menempeli emas di mukamu….. Kita berdua pihak sama-sama nampak kerugian, siapa juga tidak ada yang menang…”

Orang yang dipanggil Auwyang Kongcu itu berkata pula: “Biar bagaimana, kalau ia tidak kehilangan jiwanya, dia bakal bercacad. Siangjin cuma perlu beristirahat sekian waktu.”

Sampai di situ, tuan rumah mempersilahkan tetamunya mengeringi arak mereka.

Habsi itu terdengar seseorang berkata: “Tuan-tuan telah memerlukan datang dari tempat yang jauh, atas itu siauw-ong sangat berterima kasih. Sungguh inilah keberuntungan dari Negara Kim yang tuan-tuan telah dapat diundang!”

“Dia tentulah Chao Wang Wanyen Lieh,” pikir Oey Yong.

Atas kata-kata itu, beberapa orang perdengarkan suara yang merendah.

Setelah itu, terdengar pula suaranya Chao Wang: “Leng Tie Siangjin adalah paderi suci mulia dari Tibet, Nio Losianseng adalah guru silat kenamaan Kwan¬gwa, Auwyang Kongcu biasa hidup berbahagia di wilayah Barat dan belum pernah datang ke Tionggoan. Pheng Ceecu jago dari Tionggoan dan See Pangcu jago dari sungai Hong Hoo. Dari lima tuan-tuan, satu saja sudi datang membantu, pasti usaha besar dari Negara Kim bakal berhasil, apapula sekarang lima-¬limanya telah datang semua. Hahahaha!”

Agaknya bukan main gembiranya pangeran itu.

“Jikalau ongya ada titah apa-apa, pasti kami akan lakukan itu dengan sepenuh tenaga kami,” berkata Nio Cu Ong sambil tertawa. “Apa yang dikhawatirkan adalah tenagaku tidak cukup nanti dan mensia-siakan kepercayaan ongya yang dilimpahkan kepada kami. Jikalau itu sampai terjadi, pastilah kami akan kehilangan muka.” Ia pun lantas tertawa.

Kelima orang itu adalah bangsa jago dari beberapa puluh tahun, maka itu meskipun mereka bicara secara merendah, masih tetap tak hilang sifat jumawanya.

Chao Wang mengangkat pula cawannya, mempersilahkan mereka minum. Terus ia kata: “Siauw-ong telah mengundang tuan-tuan, pasti sekali siauw-ong akan menaruh kepercayaan kepada tuan-¬tuan, urusan bagaimanapun besarnya, tidak akan siauw-ong sembunyikan, dilain pihak, apabila tuan-tuan telah ketahui segala apa, aku percaya tidak akan tuan-tuan beritahukan itu kepada orang lain, untuk mencegah pihak yang bersangkutan nanti mendapat ketahui dan dapat bersiap sedia….”

Semua orang itu mengerti maksudnya pangeran ini, yang mempercayai mereka tetapi secara tidak langsung masih memesan untuk mereka menyimpan rahasia itu.

“Baik Ongya tetapkan hati, kami tidak akan membikin rahasia bocor,” kata mereka. Dengan sendirinya mereka itu tegang hatinya. Mereka percaya, Chao Wang bakal percayakan mereka satu rahasia besar.

“Di tahun Thian-hwee ketika Sri Baginda Thay Cong dari Negara Kim,” berkata pula Chao Wang kemudian, “Itulah tahun Soan-hoo ketujuh dari Kaisar Hiw Cong dari Keluarga Tio. Ketika itu dua Panglima besar kami ienmeho dan Kanlipu telah pimpin angkatan perangnya menerjang kerajaan Song, mereka berhasil menawan kedua Kaisar Hwie Cong dan Kim Cong dari kerajaan musuh itu. Sejak jaman dahulu, belum pernah negeri kami sekuat itu, walaupun demikian, sampai sekarang ini, Keluarga Tio itu yang tetap duduk sebagai raja di Hangciu. Tahukah tuan-tuan sebab dari pada itu?”

Semua orang terdiam. Mereka heran raja muda itu membicarakan urusan negera. Cuma Nio Cu Ong yang lantas memohon penjelasan.

“Dunia telah ketahui kerajaan kami telah berulang-ulang kalah di tangan Gak Hui, tentang ini tak usah disembunyikan lagi,” berkata pula Chao Wang. “Wunchu, panglima kami, pandai mengatur tentara, akan tetapi menghadapi Gak Hui, dia selamanya kena dipecundangi. Benar kemudian Gak Hui dapat dibinasakan Cin Kwee yang dititahkan pemerintah kami, akan tetapi tenaga kami sudah lemah, kami tidak sanggup lagi berperang ke Selatan. Atas ini, aku tidak puas, tanpa mengukur tenaga sendiri, ingin aku mendirikan suatu jasa besar untuk negaraku. Untuk ini, tidak dapat tidak, aku mebutuhkan bantuan tuan-tuan.”

Orang saling memandang, bagi mereka belum jelas maskudnya raja muda ini. Mereka bukan orang peperangan tukang merobohkan atau merampas kota.

Chao Wang tampaknya sangat puas den bernafsu ketika ia berbicara pula, suaranya sedikit menggetar. Katanya: “Baru beberapa bulan yang lalu, diluar dugaanku, aku telah dapat menemui sebuah surat peninggalan pemerintahku yang dulu. Itulah suratnya Gak Hui yang bunyinya luar biasa. Selang beberapa bulan, barulah aku dapat terka maksudnya surat itu. Gak Hui menulis itu ketika ia dipenjarakan. Rupanya ia mengerti bahwa ia tidak bakal hidup lebih lama lagi, tetapi ia sangat mencintai negaranya, maka ia tinggalkan warisannya itu. Itulah surat yang merupakan rahasia ilmu perang, bagaimana harus mendidik tentara dan berperang. Ia mengharapkan warisannya itu terjatuh di dalam tangan seorang yang nanti bisa pakai itu untuk melawan negara Kim. Tapi Cin Kwee menjaga keras sekali, sampai hari matinya Gak Hui, surat itu tidak dapat diberikan kepada orang luar.”

Para hadiran sangat tertarik hatinya, sampai mereka melupakan arak dan barang hidangan mereka. Oey Yong pun ketarik hatinya.

“Gak Hui mengetahui warisan itu tidak dapat diloloskan, ia terus simpan itu ditubuhnya,” Chao Wang melanjutkan. “Sebagai gantinya, ia meninggalkan sepucuk surat warisan, yang bunyinya tidak keruan junterungannya. Cin Kwee mempunyai kepandaian sebagai conggoan, ia masih tidak dapat menangkap artinya surat wasiat itu, maka surat itu dikirim ke negriku. Selama beberapa puluh tahun, surat itu disimpan di dalam istana. Dipihak kami juga tidak ada yang bisa mengartikan surat itu, orang hanya menduga, saking berduka dan penasaran, disaat-saat kematiannya, Gak Hui menulis ngaco belo. Tidak tahunya, itu adalah sebuah teka-teki istimewa.”

Orang heran tetapi sekarang mereka memuji kecerdikan Chao Wang itu.

“Gak Hui begitu pandai, kalau kita bisa dapatkan surat warisan ilmu perangnya itu, bukankah gampang untuk negaraku mempersatukan benua ini?” berkata Chao Wang.

Mendengar itu barulah semua orang dapat menerka maksudnya pangeran ini. Mereka pada berkata dalam hati masing-masing. “Kiranya Chao Wang mengundang kita untuk minta menjadi pembongkar kuburan…”

“Turut dugaanku semula, surat wasiat itu mestinya dibawa Gak Hui ke dalam liang kubur,” Chao Wang berkata pula. Ia berdiam sebentar, agaknya ia berpaling. “Tapi….Tuan-tuan adalah orang-orang gagah, mustahil aku nanti meminta tuan-tuan mencuri dengan membongkar kuburan? Di samping itu, ada satu keberatan lainnya. Gak Hui itu memang musuh negaraku, tetapi ia adalah orang gagah dan setia, satu pencinta negara, siapa pun menghormatinya, dari itu, cara bagaimana aku berani mengganggu kuburannya? Karena ini, aku lantas memikirkannya terlebih jauh. Aku pun telah membongkar surat-surat kerajaan Song, yang telah dikirim semenjak dulu-dulu. Diakhirnya, aku telah berhasil memperoleh suatu sumber lain. Ketika itu Gak Hui menjalankan hukuman mati di paseban Hong Po Teng, dia dikubur di tepinya jembatan Ciong An Kio di dekat paseban itu, baru kemudian kaisar Song Hauw Cong memindahkan kuburannya ke tepi telaga See Ouw, dimana pun didirikan sebuah rumah abu untuknya. Dilain pihak, pakaian dan kopiahnya Gak Hui disimpan di tempat lain, di kota raja Lim¬an. Karena itu tidak gampang untuk mencari surat wasiat itu. Sekarang ada rahasia yang tidak boleh didengar orang lain, atau orang nanti mendahului kita mengambilnya. Harus diketahui di wilayah Selatan ada banyak sekali orang-orang gagah. Maka itu, setelah memikir lama, tidak ada jalan bagiku kecuali mengundang tuan-tuan, yang terhitung orang-orang Rimba Persilatan kelas satu.”

Mendengar ini, para hadiran pada mengangguk.

“Pernah aku menduga, mungkin surat wasiat itu telah diambil orang lain,” Wanyen Lieh berkata lebih jauh. “Bukankah pakaiannya Gak Hui itu telah dipindahkan? Ada kemungkinan, selama perpindahan itu, suratnya diambil orang. Hanya kalau surat itu sampai ada yang ambil, orang itu mesti mengerti kepentingannya. Siapa yang menghormati Gak Hui, dia tentu tidak berani menggangu pakaiannya. Aku percaya, belum ada orang lain yang mengetahuinya. Kalau kita sudah sampai di sana, aku percaya, kita bakal dapatkan surat itu. Memang, kalau dikata sukar, sukarnya bukan main, akan tetapi di mata orang lihay, gampangnya bukan buatan. Sebenarnya surat wasiat itu disimpan di…..”

Baru Chao Wang mengucapkan sampai di situ, tiba-¬tiba pintu ruang ada yang tabrak hingga terbuka terpentang, lalu seseorang terlihat menebros masuk, matanya bengkak dan mukanya matang biru. Dia lantas lari ke Nio Cu Ong. “Suhu…!” dia berseru, lantas suaranya tertahan. Segera orang kenal, dia adalah kacung yang tadi Nio Cu Ong titahkan pergi mengambil obat……

Kwee Ceng telah terus ikut si pengurus bersama si kacung pergi untuk mengambil obat. Jalanan ada berliku-liku. Selama itu ia masih terus mengancam si pengurus, yang khawatir nanti jatuh atau main gila. Akhirnya mereka tiba di tempatnya Nio Cu Ong. Kacung itu membuka pintu, ia masuk ke dalam dan menyulut lilin.

Begitu ia berada di dalam kamar, Kwee Ceng lihat obat-obatan memenuhi meja, pembaringan dan lantai. Di situ pun ada banyak botol dan guci, besar dan kecil. Rupanya Nio Cu Ong gemar sekali membuat obat-¬obatan.

Kacung itu rupanya mengerti obat-obatan, ia sudah lantas mengambil kertas, untuk menjumput empat rupa obat yang dibungkus masing-masing. Terus ia serahkan pada si koanke. Tapi Kwee Ceng yang tak tahan sabar, sudah lantas mengulur tangannya, sambut obat-obatan itu, tanpa pedulikan si koanke, bertindak untuk pergi lebih dulu. Si koankee itu cerdik, walaupun ia telah terluka, pikirannya bekerja. ia sengaja jalan perlahan. Ia tunggu sampai Kwee Ceng dan si kacung sudah keluar dari kamar, dengan sebat ia tiup padam api lilin, segera ia sambar daun pintu, untuk digabruki dan dikunci, menyusul mana ia berteriak-teriak: “Ada penjahat! Ada penjahat!“

Kwee Ceng terkejut, ia memutar tubuh, mencoba membuka pintu tetapi sia-sia belaka, ia sudah ketinggalan. Ia gusar dan terburu nafsu, selagi begitu si kacung sambar bungkusan obat di tangannya, bungkusan mana terus dilemparkan ke empang di dekat mereka.

Kacung itu adalah muridnya Nio Cu Ong, dia masih kecil tetapi cerdik, mendegar teriakannya si koanke, dia menjadi kaget dan heran, kemudian dia menjadi curiga, maka ia rampas obat itu dan dibuang.

Dalam gusarnya, kwee Ceng kerahkan tenaganya menghajar pula pintu kamar. Kali ini daun pintu dapat digempur terbuka. Dalam sengitnya, ia serang si koanke yang segera roboh tanpa dapat membuka suara. Tempo Kwee Kwee Ceng menoleh, si kacung sudah lari. Dalam murkanya, ia lompat untuk mengejar, segera ia berada di belakang kacung itu, pundaknya ia jambret.

Kacung itu dapat dengar suara menyambar, ia berkelit sambil mendak, lalu seraya memutar tubuh, ia membalas menyerang dengan sapuan kakinya.

Kwee Ceng jadi tambah penasaran, setelah berkelit, ia menyerang dengan hebat. Dua kali kacung itu kena dihajar mukanya, cuma sebab ia masih keburu membuang mukanya, dia tak sampai roboh. Adalah kemudian, setelah kepalanya disampok, dia roboh pingsan.

Dengan satu dupakan, Kwee Ceng bikin tubuh si kacung terlempar ke tempat tumbuh rumput didekatnya, habis itu ia lari ke dalam kamar. Ia lantas menyalakan api. Terlihat si koanke masih rebah tanpa berkutik. Ia mengawasi obat, ia menjadi bingung. tadi ketika si kacung mengambil obat, dia tidak perhatikan darimana orang mengambilnya. Pun nama obat yang tertempel di peles obat tidak dapat ia baca, sebab itu ditulis dalam huruf-huruf Nuchen. Tapi ia mesti bekerja cepat, tidak bisa ia memikir lama-lama.

“Tadi kacung ini berdiri di dekat sini, baik aku ambil semua obat ini, sebentar Ong Totiang yang pilih sendiri,” pikirnya kemudian. Maka ia lantas ambil kertas, ia membungkus setiap obat.

Karena ia bekerja cepat, tanpa sengaja Kwee Ceng kena langgar sebuah keranjang di sampingnya. Ketika itu jatuh ke lantai, tutupnya terbuka. Betapa kagetnya, ia lihat isi keranjang adalah sebuah ular besar yang tubuhnya merah mulus. Malah ular itu segera menyambar!

Kwee Ceng kaget, syukur ia masih sempat melompat. Sekarang ia dapat melihat dengan tegas, tubuh ular sebesar cangkir, separuh tubuhnya masih ada di dalam keranjang, jadi belum ketahuan berapa panjangnya tubuh ular itu. Yang aneh adalah itu warna merah mulus. Lidah ular, yang diulur keluar, bercabang dua, lidah itu bergerak-gerak tak hentinya.

Selagi mundur, Kwee Ceng membentur meja, lilin di atas meja roboh dan padam, maka ruangan menjadi gelap-gulita. Tapi obat telah didapat, ia lantas lari ke pintu untuk mengangkat kaki. Tiba-tiba ia merasakan kakinya disambar dan dipeluk, mirip dengan libatan dadung/tali, saking kaget, ia melompat untuk meloloskan diri. Tapi ia dapat berhasil. Sebaliknya ia lantas merasakan barang adem mengenai lengannya. Kembali ia menjadi kaget. Ia tahu sekarang ia telah dililit ular. Tapi ia tak hilang akal, dengan tangan kirinya ia cabut golok emas hadiah Jenghiz Khan. Disaat itu, ia merasakan bau obat tercampur bau amis menyambar hidungnya, mukanya terasa dingin. Itulah ular yang telah menjilati mukanya!

Sekali lagi ia kaget tak terkira! Tak sempat ia menghunus goloknya, dengan tangan kirinya ia sambar leher ular untuk dipencet.

Ular itu agaknya kaget, dia bertenaga besar, sebelum lehernya tercekik, ia pentang mulutnya, untuk mencoba menggigit muka Kwee Ceng. Dilain pihak, ia melibat dengan mengerahkan tenaganya, hingga Kwee Ceng lantas merasa tubuhnya terlilit keras, sampai napasnya mulai sesak bahkan tenaga tangan kirinya mulai berkurang. Baunya ular itu sangat mengganggu pernapasan si anak muda, hingga ia menjadi mual, hendak muntah. Sejenak kemudian, ia kehabisan tenaga, ia seperti hendak pingsan, cekikan tangan kirinya terlepas sendirinya…..

Adalah disaat itu dilain pihak si kacung telah sadar dari pingsannya. Dia mendapatkan kamar gelap sekali. Dia tahu, orang jahat itu tentu telah kabur. Maka tidak ayal lagi, ia lari keluar dari kamar, kabur kepada gurunya itu.

Oey Yong terkejut akan mendengar keterangan si kacung, dengan gerakan “Burung meliwis turun di pasir datar”, dengan enteng sekali, ia lompat turun. ia menaruh kaki tanpa menerbitkan suara. Meski begitu, tak urung ia telah kepergok. Inilah sebabnya, segera setelah keterangan si kacung, semua orang menjadi curiga. Mereka memang semuanya orang-orang lihay. Sejenak saja tubuh io Cu Ong sudah mencelat keluar, bahkan segera ia menghadang si nona. Dia lantas menegur; “Siapa kau?”

Oey Yong menginsyafi bahaya. Ia tahu orang lihay. Disamping dia ini, masih ada yang lainnya. Maka ia hendak menggunakan akal. Untuk ini ia cerdik sekali. Tiba-tiba saja ia tertawa dengan manis.

“Bunga bwee ini indah sekali, maukah kau memetiknya setangkai untukku?” ia berkata kepada orang she Nio itu, jago dari Kwan-gwa.

Nio Cu Ong tercengang. Tidak ia sangka bakal menghadapi seorang gadis, yang begitu cantik manis, suaranya halus dan merdu. Tanpa merasa ia mengulurkan tangannya, memetik setangkai bunga, terus diangsurkan kepada si nona.

Oey Yong menyambut. “Loya-cu, terim kasih!” katanya, kembali tertawa dengan suaranya yang halus merdu itu.

Di ambang pintu berkumpul semua orang lainnya, mereka berdiri mengawasi kedua orang itu. Ketika Oey Yong lantas memutar tubuhnya, untuk berlalu.

“Ongya,” Pheng Lian Houw menanya, “Adakah nona ini, nona dari istana ini?”

“Bukan,” menjawab Wanyen Lieh sambil menggelengkan kepala.

Hanya dengan menjejak dengan kakinya yang kiri, Lian ouw sudah mencelat ke depan si nona.

“Tunggu nona!” katanya, “Aku pun akan memetik setangkai bunga untukmu…!” Terus ia ulur tangannya yang kanan, hendak menangkap lengan orang, tetapi sebat luar biasa, ia ubah tujuan, untuk meraba buah dada si nona.

Oey Yong kaget bukan main. Ia sebenarnya hendak berpura-pura tidak mengerti ilmu silat. ia gagal. Lian Houw, sebagai jago di antara berandal di Hoopak, adalah sangat tajam matanya dan cerdik. Tidak bisa lain, ia gerakkan tangan kanannya, jari tangannya menyambut tangan jago itu.

Lian Houw terperanjat waktu ia merasakan getaran di jalan darahnya koik-tie-hiat, lekas-lekas ia menarik pulang tangannya, dengan begitu dia dapat lolos dari bahaya. Dia menjadi heran, nona demikian muda tetapi demikian lihay, dia pun tak kenal ilmu silat si nona itu. Tentu saja ia tidak ketahui kepandaian Oey Yong dapatkan sebagai warisan, namanya Totokan Bunga Anggrek.

Yang lain-lain pun terkejut dan heran.

“Nona, kau she apa?” Lian Houw lantas menanya, “Siapakah gurumu?”

“Bukankah bunga bwee ini permai sekali?” tanya Oey Yong sambil tertawa. Ia terus berlagak pilon, ia tidak menunjukkan kagetnya tadi. “Bukankah kau menghendaki aku menancapnya di dalam pot?”

Sikap ini kembali membuat orang heran dan menjadi menduga-duga.

“Kau dengar apa tidak, apa yang kami tanya?” Lian Houw menegur. Ia tidak sabaran, dia lantas menunjukkan kesembronoannya dengan campur bicara. “Apakah itu yang kau bicarakan?” balik tanya Oey Yong, tertawa.

Justru itu, Pheng Lian Houw dapat mengenali si nona ini adalah si nona yang diwaktu siangnya sudah mempermainkan Hauw Thong Hay, cuma waktu itu orang menyamar menjadi satu bocah dekil.

“Lao Houw, apakah kau tidak kenal nona ini?” ia tanya sahabatnya. Ia tertawa.

Thong hay tercengang. Lantas ia awasi si nona, dari atas sampai bawah dan sebaliknya. Cepat sekali, ia mengenalinya. Mendadak saja hawa amarahnya meluap.

“Ha, anak busuk!” dia mendamprat. Dia pun terus pentang kedua tangannya untuk menubruk.

Dengan berkelit ke samping, Oey Yong bebaskan dirinya. Tapi di sini ia dipapaki See Thong Thian, yang tubuhnya tahu-tahu berkelebat dan tangannya menyambar ke lengan. “Kau hendak lari ke mana?” menegur Kwie-bun Liong Ong.

Oey Yong terkejut. Ia tidak menyangka lengannya bisa disambar secara demikian. Tapi ia tidak gugup, ia pun tidak kekurangan akal. Dengan dua jari dari tangan kirinya ia menotok kedua mata si orang she See itu.

Hebat See Thong Thian itu, hampir tak nampak bagaimana ia geraki tangannya, juga tangan kiri si nona sudah lantas kena dia cekal.

“Tidak tahu malu!” mendamprat Oey Yong, yang kaget sekali.

“Tidak tahu malu apa?!” balik tanya See Thong Thian.

“Tua bangka menghina anak kecil! Laki-laki menghina anak perempuan!” Oey Yong menyahuti.

See Thong Thian terperanjat. Dia memang seorang tua dan kenamaan juga. Memang, dengan perbuatannya ini, terang dia telah menghina anak kecil, seorang anak perempuan…..

“Masuk ke dalam!” katanya seraya kendorkan cekalannya.

Oey Yong tahu tidak dapat ia menolak, ia lantas turut masuk.

“Nanti aku bikin dia bercacad dulu baru kita bicara!” kata Hauw Thong Hay, yang ada sangat mendongkol. Dia terus maju, untuk menanyakan kata-katanya itu.

“Tanyakan dulu, siapa gurunya dan siapa yang menitah datang ke mari!” berkata Pheng Lian Houw.

Hauw Thong Hay tidak pedulikan jago dari Hoopak itu, sebelah tangannya sudah lantas melayang.

Oey Yong berkelit. “Benar-benarkah kau hendak menurunkan tangan?” ia menanya.

“Aku hendak cegah kau melarikan diri!” jawab Thong Hay. Dia paling takut si nona minggat, karena terang sudah, dia bakalan tidak dapat mengejar….

“Jikalau kau benar hendak adu kepandaian dengan aku, baiklah!” kata Oey Yong yang sikapnya sabar tapi rada mengejek. Ia terus mengisikan enam buah cawan arak di atas meja. Cawan yang satu ia letakkan di batok kepalanya dan dua yang lain ia cekal di antara kedua tangannya. Lantas ia menantang: “Beranikah kau mencontoh aku ini?”

“Setan alas!” berseru orang she See itu, jago tunggal dari sungai Hong Hoo.

Oey Yong tidak mengambil mumat, ia memandang kepada orang banyak. Ia kata, “Aku tidak bermusuhan dengan tuan ini, bagaimana jadinya apabila aku keliru menggerakkan tangan dan kena melukainya?”

Thong Hay maju setindak, kedua matanya terbuka lebar. “Kau dapat melukakan aku? Kau?” katanya sengit.

Kembali Oey Yong tidak mengambil mumat. Ia kata pula, “Dengan cara begini hendak aku mengadu kepandaian dengannya! Siapa yang araknya tumpah lebih dahulu, dialah yang kalah? Akurkah kau?”

Nona ini menggunakan kecerdikan. Ia tahu bahwa ia tidak bakal meloloskan diri dari orang-orang lihay ini. Sekalipun terhadap Hauw Thong Hay, ia menang cuma sebab ia andalkan kegesitan dan kelincahannya. Ia percaya, dengan bergurau secara demikian, ia bakal dapat lolos.

OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar