Sangum pun menjawab dengan pertanyaan “Adakah sejak jaman dahulu kala bangsa Mongol tinggal pada masing-masing sukunya, ternak kambing dan kerbau adalah kepunyaan bersama, tetapi kau kenapa, kau langgar aturan leluhur kita? Kenapa kau hendak persatukan semua suku?”
“Bangsa Mongolia telah diperhina oleh negara Kim, negara itu menghendaki kita setiap tahun membayar upeti beberapa laksa ekor kerbau, kambing dan kuda, adakah itu selayaknya?” Temuchin balik tanya. “Asal saja kuta bangsa Mongolia tidak saling menyerang, kenapa kita mesti takuti bangsa Kim itu?”
Kata-kata ini tajam, ketika orang-orang Sangum mendengar, hati mereka goncang. Mereka setujui perkataan itu.
Temuchin lanjuti perkataannya: “Bangsa Mongolia bangsa orang-tentara yang pandai, kenapa kita tidak mengambil emas, perak dan permata bangsa Kim? Kenapa kita mesti tiap tahun membayar upeti terhadap mereka? Kita bangsa Mongolia diantaranya ada yang rajin memelihara kerbau dan kambing, ada juga yang malas dan cuma doyan gegares! Kenapa mereka yang rajin mengasih makan mereka yang malas? Kenapa kita tidak hendak memberikan lebih banyak kerbau dan kambing kepada yang rajin? Kenapa kita tidak mau membiarkan si malas itu mati kelaparan?”
Dijaman dahulu bangsa Mongolia hidup dalam suatu keluarga atau suku, ternaknya adalah kepunyaan bersama, kemudian karena tenaga pertumbuhan mereka bertambah dan adanya pemakaian alat-alat dari besi, perlahan-lahan sifat itu berubah, kebanyakan bangsa penggembala itu memakai cara sendiri-sendiri. Temuchin sengaja singgung sifat itu, membuat tentara Sangum menyetujuinya, diam-diam mereka itu pada mengangguk.
Sangum mengerti orang lagi menghasut tentaranya. “Jikalau kau tidak mau menyerah!” ia membentak, “Asal aku menuding dengan cambukku ini, laksanaan anak panah bakal dilepaskan terhadap dirimu! Jikalau itu sampai terjadi, jangan kau berpikir untuk hidup lebih lama lagi!”
Kwee Ceng menjadi cemas sekali. Keadaan sangat mendesak dan sulit. Bagaimana bahaya dapat dihindarkan? Selagi ia berpikir, terlihat penunggang kuda di kaki bukit. Penunggang kuda itu dandanannya sebagai panglima perang, di sebelahnya baju lapis, ia mengenakan juga mantel bulu kulit binatang tiauw yang mahal. Di tangannya panglima itu sebatang golok besar. Dengan aksi ia larikan kudanya mondar-mandir. Kwee Ceng kenal panglima yang masih muda itu, Tusaga adanya, putra Sangum, ia pernah berkelahi waktu kecil. Ia lantas ingat sesuatu, maka ia jepit kudanya, ia kasih lari turun gunung, untuk menghampiri pemuda itu.
Celaka untuk Tusaga, begitu kena di cekal, ia mati kutu, tidak dapat memberontak, maka ketika Kwee Ceng menarik, tubuhnya diangkat dari kudanya.
Selagi Kwee ceng hendak geser pemuda itu, ia dengar suara angin senjata mengaung dari arah belakangnya. Cepat ia berpaling, dan tangan kirinya menangkis. Sepasang tombak terpental ke udara. Segera ia bentur perut kudanya dengan dengkul kanan. Kudanya mengerti, lantas lari mendaki bukit. Dia dapat lari tak kalah pesatnya seperti waktu turun tadi.
“Lepas panah!” orang-orangnya Sangum berteriak.
Kwee Ceng tidak takut, ia pegang tubuh Tusaga, dipakai menjadi tameng. Menampak itu, tidak ada satu serdadu pun yang berani memanah, mereka khawatir nanti kena memanah pemimpin mereka yang muda itu.
Dengan tidak kurang suatu apa pun Kwee Ceng tiba di samping Temuchin. Ia lempar tubuh Tusaga ke tanah, ke dekatnya khan yang agung.
Bukan main girangnya Temuchin. Ia segera menuding dada Tusaga dengan ujung tombaknya, ia teriaki Sangum “Lekas kau suruh semua orangmu mundur seratus tombak!”
Sangum murka berbareng bingung. Ia kaget dan tidak menyangka putranya dapat ditawan musuh selagi berada dalam lindungan tentaranya yang berjumlah besar itu. ia tidak bisa berbuat lain daripada keluarkan titahnya untuk pasukan itu mundur seratus tombak. Mereka Cuma mundur, tapi pengurungan tidak dibubarkan, malah kereta besar dikitarkan diseputar bukit itu, dalam tujuh dan delapan lapis!
Temuchin puji Kwee Ceng, yang diperintah gunai dadung, untuk ringkus Tusaga.
Tiga kali Sangum mengirim utusan, meminta putranya dimerdekakan, supaya Temuchin menyerah, nanti jiwanya Temuchin akan diberi ampun, katanya. tapi tiga-tiga kalinya, Temuchin usir utusan itu.
Tanpa terasa, langit telah menjadi gelap. Temuchin khawatir Sangum menyerbu, ia kasih perintah orang-¬orangnya terus memasang mata.
Kira-kira tengah malam, seseorang dengan pakaian putih muncul di kaki bukit. ia lantas berteriak: “Di sini Jamukha! Aku ingin bicara dengan saudara Temuchin!”
“Kau naiklah kemari!” Temuchin menjawab
Jamukha mendaki dengan perlahan-lahan. Temuchin berdiri menantikan dengan romannya yang angker. Ia maju mendekati, ingin ia memeluk. Adalah adat istiadat bangsa Mongolia akan saudara muda memeluk dan merangkul saudara tuanya.
Temuchin hunus goloknya. “Adakah kau masih anggap aku sebagai kakak angkatmu?” ia menegur.
Jamukha menghela napas. Ia lantas duduk bersila. “Kakak kau telah menjadi Khan yang agung, kenapa kau masih berambekan besar sekali?” ia tanya. “Kenapa kau bercita-cita mempersatukan bangsa Mongolia?”
“Kau sebenarnya menghendaki apa?” Temuchin tanya.
“Pelbagai kepala suku pada bilang bahwa leluhur kita sudah turun temurun beberapa ratus tahun hidup secara begini, maka itu kenapa khan yang agung Temuchin hendak mengubahnya? Tuhan juga tidak memperkenankan itu,” kata Jamukha.
“Apakah kau masih ingat cerita tentang leluhur kita Maral Goa?” Temuchin tanya. “Lima putra mereka tidak hidup rukun, ia masaki daging kambing kepada mereka, mereka juga masing-masing diberikan seorang sebatang anak panah, ia suruh masing-masing mematahkannya. Dengan gampang mereka itu melakukannya. Lalu ia berikan mereka lima batang anak panah yang digabung menjadi satu, kembali ia menitahkan mereka untuk mematahkannya. Bergantian mereka berlima mencoba mematahkan anak panah itu, mereka gagal. Ingatkah apa pesan leluhur kita itu?” Dengan perlahan Jamukha mengatakan: “Jikalau kamu masing-masing bercerai-berai, kamu menjadi seperti anak panah ini, yang gampang sekali orang siapapun dapat mematahkannya; jikalau kamu berpadu hati bersatu tenaga, kamu menjadi seperti lima batang anak panah yang digabung menjadi satu ini, yang tak dapat dipatahkan siapapun juga!”
“Kau masih ingat itu, bagus!” seru Temuchin. “Kemudian bagaimana?”
“Kemudian mereka berlima bersatu padu bekerja sama, mereka menjadi leluhur kita bangsa Mongolia!” sahut Jamukha.
“Benar begitu!” kata Temuchin. “Kita juga adalah orang-orang gagah, kenapa kita tidak hendak mempersatukan bangsa Monglia kita? Kita harus saling kepruk, kita bersatu hati bekerja sama untuk memusnahkan bangsa Kim!”
Jamukha terkejut. “Negeri Kim itu banyak tentaranya dan banyak panglima perangnya, emasnya tersebar di seluruh negaranya, rangsumnya bertumpuk bagaikan gunung, cara bagaimana bangsa Mongolia bisa main gila terhadapnya?”
“Hm!” Temuchin mengejek. “Jadi kau suka kita semua diperhina dan ditindih bangsa Kim itu?”
“Mereka pun tidak menghina dan menindih kita,” kata Jamukha. “Raja Kim itu telah anugerahkan pangkat Ciauwtouwusu padamu.”
Temuchin menjadi mendongkol. “Mulanya aku juga menyangka raja Kim itu baik hati,” katanya. “Siapa tahu permintaannya kepada kita makin lama jadi makin hebat! Sudah minta kerbau dan kambing, dia minta kuda, dan sekarang dia menghendaki orang-tentara kita membantu berperang!”
“Wang Khan dan Sangum tidak ingin memberontak terhadap negara Kim itu,!” kata Jamukha pula.
“Berontak? Hm! Berontak!” seru Temuchin menghina. “Dan bagaimana dengan kau sendiri?”
“Aku datang untuk meminta kau jangan gusar, kakak. Aku minta supaya kau kasih pulang Tusaga kepada Sangum. Aku tanggung Sangum nanti melepaskan kau pulang dengan selamat!”
“Aku tidak percaya Sangum! Aku juga tidak percaya kau!”
“Sangum bilang, kalau satu putranya terbinasa, dia bakal melahirkan dua putra lagi! Kalau satu Temuchin terbinasa, untuk selamanya tidak bakal ada Temuchin lagi! Jikalau kau tidak merdekakan Tusaga, kau bakal tak dapat melihat lagi matahari besok!”
Temuchin membacok ke udara. “Aku lebih suka binasa dalam perang, daripada aku menyerah!” serunya.
Jamukha bangkit berdiri. “Kita membagi-bagikan kerbau dan kambing rampasan kepada tentara, kau mengatakannya itu milik mereka pribadi, bukannya milik bersama. Mengenai itu, semua kepala suku mengatakan kau berlaku buruk, tak tepat dengan pengajaran leluhur kita!”
Temuchin berseru: “Akan tetapi pasukan yang muda-muda senang dengan caraku itu!”
“Baiklah saudara Temuchin,” kata Jamukha. “Harap kau tidak mengatakannya aku tidak berbudi!”
Temuchin lantas keluarkan satu bungkusan kecil dari dalam sakunya, ia lemparkan ke depan Jamukha. Ia bilang: “Inilah tanda mata ketika angkat saudara untuk ketiga kalinya, sekarang kau terimalah kembali! Besok kau membawa golokmu untuk berperang di sini!” Sembari berkata begitu, ia gerakkan tangannya seperti hendak membacok batang lehernya. Ia tambahkan. “Yang dibunuh itu adalah musuh, bukan kakak angkatmu!”
Jamukha jemput bungkusan kecil itu. Ia pun keluarkan satu kantung kulit kecil dari sakunya, tanpa bilang apa-apa, ia letakkan di samping kakinya Temuchin, lalu ia memutar tubuhnya turun dari bukit itu.
Temuchin mengawasi belakang orang, sekian lama ia diam saja. Ia ada sangat berduka. Sungguh tidak ia sangka, saudara angkat itu yang bagaikan saudara kandungnya bisa berubah sedemikian rupa, hingga membaliki belakang kepadanya. Lalu dengan perlahan-lahan ia buka kantung kulit itu, keluarkan isinya, kepala panah dan biji piesek yang diwaktu muda mereka sering membuat main. Segera terbayang di hadapan matanya saat dahulu ketika mereka sama-sama bermain di es. Ia menghela napas. Dengan goloknya ia mencongkel sebuah liang di tanah, di situ ia pendam barang tanda mata dari adik angkatnya itu.
Kwee Ceng di samping mengawasi dengan perasaan berat. Ia mengerti, apa yang Temuchin pendam itu adalah persahabatan yang ia paling hargakan….
Habis menguruk tanah dengan kedua tangannya, Temuchin bangun berdiri. Ia memandag ke depan. Nampak api dinyalakan tentara Sangum dan Jamukha, yang menerangi tanah datar seperti juga banyak bintang di langit. Ia berdiam sekian lama, kemudaian berpaling, dapatkan Kwee Ceng berdiri diam di sampingnya.
“Apakah kau takut?” ia tanya.
“Aku tengah memikirkan ibuku,” Kwee Ceng menyahut.
“Kau orang gagah yang baik sekali,” Temuchin memuji. Ia menunjuk kepada api di kejauhan itu, lanjutnya “Mereka itu juga orang-¬orang gagah! Kami bangsa Mongolia punya begini banyak orang gagah, sayang kami saling bunuh satu sama lain! Coba semua dapat berserikat menjadi satu…” Ia memandang ke ujung langit, lalu menambahkan pula; “….kita pasti dapat membuat seluruh dunia, membuat seluruh dua menjadi ladang tempat kita menggembala ternak kita!”
Kagum Kwee Ceng mendengar cita-cita dari Khan yang agung ini. Ia lantas berkata “Khan yang agung, kita bisa menang perang, tidak nanti kita dapat dikalahkan Sangum yang berhati kecil dan hina dina itu!”
Temuchin pun menjadi bersemangat. “Benar!” sambutnya. “Mari kita ingat pembicaraan kita malam ini! Selanjutnya aku pandang kau sebagai anak kandungku!” Dan ia rangkul si anak muda!
Sementara itu, cuaca sudah mulai terang. Di dalam pasukannya Sangum dan Jamukha segera terdengar suara terompet.
“Bala bantuan tidak datang. Hari ini kita akan mati perang di gunung ini!” kata Temuchin.
Ini waktu terlihat tentara musuh sudah mulai bergerak, rupanya mereka hendak memulai penyerbuan.
Temuchin bersama ketiga putra dan semua panglimanya mendekam di belakang tumpukan tanah, anak panah diarahkan ke setiap jalanan di gunung itu, yang akan dilewati musuh.
Tidak berapa lama, sebuah bendera kuning muncul dari dalam pasukan Sangum. Di bawah bendera itu ada tiga orang yang menuju ke sisi gunung. Mereka itu adalah, di kiri Sangum, di kanan Jamukha, dan di tengah-tengah adalah Chao Wang Wanyen Lieh, putra keenam dari raja Kim. Pangeran Kim ini memakai kopiah dan jubah perang bersalut emas, tangan kirinya mencekal tameng untuk pencegah panah.
“Temuchin, apakah kau hendak memberontak terhadap negara Kim yang agung?!” tanya pangeran.
Juji, putra sulung Temuchin, tujukan panahnya dan memanah pangeran itu. Di belakang pangeran ini segera muncul satu orang, menyambuti anak panah itu dengan tangannya. Dia sangat gesit dan gapa.
Wanyen Lieh lantas saja berseru dengan titahnya: “Tolong Tusaga! Bekuk Temuchin!”
Atas titah itu, empat orang berlompat maju, lari mendaki ke atas gunung.
Kwee Ceng terperanjat menyaksikan kegesitan empat orang itu. Mereka itu menggunakan ilmu meringankan tubuh. Jadi mereka adalah orang-orang Rimba Persilatan, bukan tentara biasa.
Setibanya empat orang itu di tengah jalan, dipapaki hujan panah oleh Jebe dan Borchu beramai, tetapi dengan tamengnya, mereka halau setiap anak panah itu.
Kwee Ceng jadi berkhawatir, “Kita di sini adalah tentara semua, kita bukannya tandingan jago-jago Rimba Persilatan itu…” pikirnya. “Bagaimana sekarang?”
Satu di antara empat orang itu, pemuda dengan pakaian hitam sudah sampai di atas gunung. Dia dirintangi oleh Ogotai yang bersenjatakan sebatang golok besar. Dia ayun tangannya, lantas sebatang panah tangan menyambar ke batang lehernya putra Temuchin itu, disusul sama bacokan goloknya. Berbareng dengan itu, berkelebatlah sebatang golok putih mengkilap, menikam dari samping lengan penyerang itu. Dia terkejut, sambil kelit lengannya, ia melompat mundur. Ia melihat di depannya berdiri anak muda dengan alis gompiak dan mata besar, yang mencekal pedang. Pemuda ini menghadang di depan Ogotai. Dia heran dalam rombongan Temuchin ada orang yang pandai ilmu pedang.
“Kau siapa?” dia menegur. “Beritahu she dan namamu!” Dia bicara dalam bahasa Tionghoa.
“Aku Kwee Ceng!” sahut anak muda itu.
“Tidak pernah aku dengar namamu! Lekas kau menyerah!” kata orang itu sombong.
Kwee Ceng sementara itu telah melihat, tiga kawannya orang ini sudah tiba di atas gunung dan tengah bertempur dengan Chilaun, Boroul dan lainnya. Dilain pihak orang-orangnya Sangum hendak bergerak pula.
Mukhali lantas saja tandalkan goloknya di leher Tusaga. “Siapa berani maju!” ia berteriak. “Akan aku penggal!”
Sangum menjadi khawatir dan bingung. “Tuan pangeran, titahkanlah mereka turun!” ia memohon kepada Wanyen Lieh. “Mari kita berpikir cara lain, jangan sampai anakku terbinasa…!”
“Tetapkan hatimu, anakmu tak bakal terbinasa!” kata Wanyen Lieh sambil tertawa.
Orang-orang Sangum tidak berani naik, sedang empat orangnya Wanyen Lieh itu melanjutkan pertempuran.
Kwee Ceng gunakan ilmu pedang Wat Lie Kiam ajaran Han Siauw Eng, ia layani musuh yang bersenjatakan golok itu. Segera ia dapat kenyataan, berat tangannya lawan itu, yang goloknya tebal, benar-¬benar musuh ini bukan sembarang orang. Ia tidak mengerti cara bersilatnya orang, sedang dari enam gurunya pernah ia dengar pelbagai macam ilmu silat. Orang ini mengancam ke kanan, tiba-tiba ancamannya itu berubah di tengah jalan, menjadi bacokan ke kiri………
Mau tidak mau, Kwee Ceng main mundur. Ia teringat ajaran gurunya yang kesatu: “Di waktu bertempur mesti mempengaruhi orang tetapi jangan kasih diri kena dipengaruhi. “Sekarang aku main menangkis aja, apakah itu bukan berarti aku kena didesak?” karena ini, ketika datang bacokan, ia tidak mundur lagi, sebaliknya menyambut seraya tekuk kaki kanan dan tangan kiri bersiap sedia. Keras sekali, tangan kanannya, pedangnya membalas menikam lurus.
Terkejut juga musuh menyaksikan orang nekat, bersedia ingin celaka bersama, ia lantas tarik pulang goloknya. Kwee Ceng lihat ini adalah kesempatan baik segera menikam pula, ketika musuh berkelit, ia mengirim serangan beruntun. Terus ia bersilat dengan Wat Lie Kiam-hoat. Kali ini, membuat lawannya repot.
Dipihak lain, tiga kawannya musuh itu sudah berhasil merubuhkan empat atau lima lawannya, satu di antaranya melihat ia terdesak, dengan bawa tombaknya, melompat menghampiri. “Toasuko, mari aku bantu kau!” dia berteriak.
“Kau lihat saja dari samping, lihat kepandaiannya toasukomu!” berseru orang yang bergenggaman golok itu, yang dipanggil toasuko atau kakak seperguruan yang tertua. Dia ini menganggap dirinya adalah tertua kaum Rimba Persilatan, sebab ia adalah orang undangan Wanyen Lieh, untuk itu telah mengeluarkan banyak uang, sedang hari ini adalah yang pertama kalinya ia muncul di medan pertempuran. Tentu saja di hadapan ribuan serdadu, ia malu mengaku kalah terhadap adik seperguruannya itu. Memangnya di antara empat saudara seperguruan ini ada perbedaan tabiat atau sikap, masing-masing tidak sudi mengalah.
Kwee ceng memanfaatkan ketika orang bicara, ia tekuk kaki kirinya dan menikam dari bawah ke atas. Itulah gerakan “Kie hong teng kauw” atau “Burung hong bangkit dan ular naga mencelat”. Musuh kaget dan melompat berkelit, tidak urung tangan bajunya yang kiri telah kena tersontek robek.
“Lihat kepandaiannya toasuko!” berseru saudaranya yang memegang tombka itu sambil tertawa.
Waktu itu Temuchin telah dilindungi dengan dikurung oleh Jebe dan lainnya yang belum terluka, sikap garang mereka membuat dua musuh lainnya yang memegang ruyung besi dan sepasang kampak pendek, tidak berani sembarangan maju. Mereka dengar suara jiesuko, saudara yang kedua, maka mereka anggap baiklah menonton kakak mereka yang kesatu. Mereka percaya musuh tidak bakal lolos lagi. Mereka hampiri jiesuko, berdiri berendeng bertiga, menonton pertempuran sang kakak tertua.
Sebelum berkelahi terus, si pemegang golok itu melompat keluar kalangan. “Kau muridnya siapa?!” ia tegur Kwee Ceng. “Kenapa kau datang kemari meantarkan jiwamu?!”
Kwee Ceng lintangi pedangnya, ia bersikap tenang. “Teecu adalah murid Kanglam Cit Koay,” ia menjawab dengan terus terang. “Teecu mohon tanya suwie empunya she dan nama yang besar?” ia terus berbalik menanya empat orang itu. “Suwie” ialah “keempat tuan”.
Orang itu menoleh kepada ketiga saudaranya. Lalu ia berpaling pula, katanya: “Tentang nama kami berempat, taruh kami mengatakannya, kau satu anak kecil tentulah tak dapat mengetahuinya. Lihat golokku!” Ia lantas menyerang.
Kwee Ceng sudah tempur orang, ia merasa orang ini lebih terlatih daripadanya, akan tetapi ia adalah murid tujuh guru, telah banyak pengetahuannya, dan ilmun pedangnya pun sudah dapat mendesak musuh ini, maka itu ia melawan dengan berani, bukan mundur, ia mencoba mendesak terus.
Sebentar saja, tigapuluh jurus telah lewat.
Puluhan ribu serdadu musuh, juga Temuchin semua, berdiam menyaksikan pertempuran itu. Tidak terkecuali adik seperguruannya si toasuko. Ia cemas juga setelah banyak jurus, ia masih belum bisa berbuat apapun. Akhirnya, ia menjadi nekat. Demikian satu kali, dengan bengis ia membacok melintang.
Kwee Ceng lihat pinggangnya terancam tebasan, ia mendahului menikam ke arah lengan musuhnya. Musuh itu menjadi girang melihat lawan tidak berkelit hanya membalas menyerang. Di dalam hatinya ia berkata: “Belum lagi pedangmu tiba, golokku sudah mengenai tubuhmu.” ia menebas terus tanpa membuat perubahan.
Tenang adanya sikap Kwee Ceng, jeli matanya, sebat tangannya. Ia tunggu sampai ujung golok hampir mampir di pedangnya, mendadak ia mengegos sedikit, sedang tangan kanannya menikam terus ke dada lawannya!
Bukan main kagetnya si toasuko. Sambil berteriak, ia lepas dan lemparkan pedangnya, sebagai gantinya, dengan tangan kosong ia sampok pedang si anak muda. Keras sampokan ini, pedang Kwee Ceng terlepas dan jatuh ke tanah. Ia tertolong jiwanya tetapi pedangnya toh mampir juga di tangannya, maka tangan itu bercucuran darah!
“Sayang!” kata Kwee Ceng di dalam hati. Cuma karena kurang pengalaman, ia gagal, sedang sebenarnya, dengan sedikit lebih sebat saja, ia akan dapat tancapkam pedangnya di dada lawannya itu. Selagi musuh lompat mundur, ia jumput golok musuh yang jatuh di dekatnya.
Hampir bersamaan ada angin menyambar di belakangnya.
“Awas!” Jebe teriaki muridnya.
Kwee Ceng dengar pemberian peringatan itu, tanpa membalik tubuh lagi, sambil mendak sedikit, ia mendupak ke belakang. Tepat dupakannya ini, membuat tombak musuh terpental, setelah itu sambil memutar tubuh, ia membacok ke arah lengan musuh. Kali ini ia gunakan bacokan ajaran Lam Hie Jin, yaitu jurus “Burung walet masuk ke sarangnya” dari tipu silat “Lam Sam Too-hoat” – ilmu pedang Lam San.
“Bagus!” seru lawan yang bersenjatakan tombak itu, yang membokong. Setelah berkelit dari bacokan, ia menikam ke dada pula.
Kembali Kwee Ceng bebaskan diri dengan kelitan “Dalam mabuk meloloskan sepatu”, untuk membarengi membalas menyerang, sambil melayangkan kaki kanannya ke bahu musuh.
Penyerang bertombak ini menggunakan waktunya yang baik. Ia lihat Kwee Ceng lihay dengan ilmu pedangnya, setelah pedang orang terlepas, ia membokong. Ia tidak sangka si anak muda luas pengetahuannya dan gesit, tikamannya itu dapat dihalau dan ia ditendang, terpaksa ia menarik pulang serangannya. Tapi ia penasaran, maju lagi, hingga ia melayani musuh muda ini. Ia penasaran sebab ia tahu, dengan tombaknya sudah punya pengalaman dua puluh tahun…………
Kwee Ceng berkelahi sambil matanya melitah dan otaknya bekerja. ia tahu musuh ingin menerbangkan goloknya, bahwa musuh itu ingin memperlekas kemenangannya.
Maka ia melawannya dengan sabar dan hati-hati. Tapi ini bukan berarti ia berlaku kendor. Ia tetap berlaku cepat dan keras, seperti tadi melawan si toasuko, ia mencoba mendesak, guna mempengaruhi musuh. Karena ini ia tampaknya jadi semakin lihay, sehingga ia membuatnya si toasuko heran. Si toasuko ini tadinya menyangka orang hanya lihay dengan pedangnya, tak tahunya, goloknya sama aja.
Lagi beberapa lama, Kwee Ceng dapatkan musuh mulai ayal gerakannya. ia lantas menantikan satu tikaman. Turut kebiasaan, ia mestinya menyampok tombak seraya membarengi membacok. Tiba-tiba ia merasa tenaga musuh berkurang, maka itu, ia batal membacok, ia terus memapas ke sepanjang batang tombak, ke arah jari tangan musuh itu. Celaka kalau musuh itu tidak lepaskan cekalannya.
Musuh itu terkejut, lantas mendahului lompat mundur.
Menghadapi lawan yang menggunakan tombak, Kwee Ceng punya satu keuntungan. ia telah dipertaruhkan akan bertempur sama anaknya Yo Tiat Sim, karena Tiat Sim adalah keturunan kaum keluarga Yo yang terkenal ilmu tombaknya keluarga Yo, yaitu Yo Kee Chio-hoat, maka Lam Hie Jin sengaja ajarkan muridnya ini tipu golok melawan tombak. Kebetulan sekali, sekarang Kwee Ceng ada kesempatan menggunakan ilmu goloknya yang istimewa itu dan ia berhasil. Apa yang tidak disangka, ilmu ini bukan digunakan di Kee-hi hanya di sini.
Setelah dapat merampas tombak musuh, Kwee Ceng lempar goloknya ke bawah gunung. Ia lantas berdiri diam mengawasi keempat musuhnya itu.
Musuh yang keempat, yang paling muda, tidak tahan sabaran, dengan putar kampaknya, ia maju menyerang, mulutnya pun perdengarkan seruan. ia agaknya penasaran mereka kalah dari satu bocah. Karena ia menggunakan senjata pendek, harus berkelahi rapat, baru ia bisa mengenai musuh, demikian pikirnya, dia mencoba merapatkan Kwee Ceng. Tapi pemuda kita, dengan tombaknya, membuat orang kewalahan, sia-sia saja dia itu mencoba berulang-ulang.
Sesudah lewat beberapa jurus, Kwee Ceng menggunakan tipu. Dengan cara biasa, tidak dapat rubuhkan atau melukai musuhnya. Ia berhasil. Musuh tidak menduga jelek, ia mendesak, sambil membentak, ia lompat menubruk, sepasang kampaknya turun dengan berbareng.
Kwee Ceng angkat tombaknya untuk menangkis. Hebat kampaknya itu, gagang tombak kalah dan kena terkampak patah hingga menjadi tiga potong. Disaat kemenangannya itu, musuh hendak mengulangi kampakannya. Diluar dugaan, baru ia kerahkan tenaga, tiba-tiba perutnya merasa sakit. Tanpa ia ketahui, sebelah kaki Kwee Ceng telah melayang ke perutnya, malah ia terdumpak mental. Berbareng ia mental, tangan kirinya membalik, mengampak ke arah kepalanya sendiri.
Melihat bahaya itu, si saudara yang ketiga melompat dengan ruyung besinya, hajar kampak di tangan kiri itu, maka di antara satu suara nyaring, kampak itu terlepas dan terpental, si pemiliknya sendiri jatuh numprah. Syukur untuknya, ia tertolong dari bahaya maut. Tapi ia bertabiat keras, ia gusar dan penasaran, ia lompat bangun untuk merangsak pula, mulutnya berteriak tak henti-henti.
Kwee Ceng tidak punya senjata, ia melawan dengan ilmu silat tangan kosong melawan senjata. Segera ia dikepung oleh musuhnya yang ketiga, yang bersenjatakan ruyung besi itu.
Melihat orang main keroyok, tentara Mongolia di kaki gunung menjadi tidak senang, mereka ribut dengan mencaci maki dua pengeroyok itu. Bangsa Mongolia adalah bangsa yang polos dan memuja orang gagah, maka itu tidak puas mereka menyaksikan empat orang mengepung bergantian kepada satu musuh, apapula satu musuh itu bertangan kosong.
Sampai disitu, Boroul dan Jebe maju untuk membantu Kwee Ceng. Karena majunya mereka berdua, dua musuh lainnya turut maju juga. Berat untuk Jebe berdua, mereka adalah tentara biasa, mereka bukan orang kaum Rimba Persilatan, repot mereka menghadapi musuh-musuhnya yang lihay itu. Lekas juga senjata mereka dirampas musuh.
Kwee Ceng lihat Boroul terancam bahaya, ia melompat kepada toasuheng yang bersenjatakan golok sebatang, untuk menghajar punggungnya, ketika si orang Hwee menebas tangannya, ia segera tarik pulang tangannya itu untuk terus dipakai menyikut si jiesuheng, hingga dengan begitu ia pun dapat menolongi Jebe.
Orang itu rupanya satu pikiran, mereka lantas meluruk anak muda she Kwee ini, mereka tidak menghiraukan lagi Jebe berdua.
Segera juga Kwee Ceng terancam bahaya, karena tidak mempunya senjata, terpaksa ia melawan dengan kelincahannya, main berkelit dengan mengegos tubuh atau berlompatan.
“Ini golok!” teriak Borchu seraya ia melemparkan goloknya.
Disaat Kwee Ceng hendak sambut golok itu, ia diserang oleh musuhnya yang menggenggam ruyung besi hingga golok Borchu kena disampok mental, sedang musuh yang memegang sepasang kampak membarengi mengampak juga. Dia ini sakit hati kena didupak tadi.
Kwee Ceng berkelit dengan berlompat, atau sebatang golok melayang ke arahnya. Ia masih sempat berkelit pula seraya ia angkat kakinya yang kiri untuk menendang musuh yang memegang kampak yang berada paling dekat dengannya. Hanya ketika itu, ia dibarengi musuh yang mencekal ruyung besi, maka tidak ampun lagi, paha kanannya kena dihajar. ia merasakan sangat sakit, matanya pun kabur, hampir ia rubuh pingsan. Syukur untuknya, tulang pahanya itu tidak patah, tetapi gerakannya menjadi lambat, ia lantas kena ditubruk musuh yang bersenjatakan kampak, yang telah melepaskan kampaknya itu. Karena ini, ia roboh bersama-sama musuh itu, yang tak sudi melepaskan pelukannya.
Kwee Ceng insyaf ia berada dalam bahaya, sekejab itu ia ingat ibunya, tujuh gurunya, Tuli dan Gochin, lalu semangatnya bangun, maka ia jambak dada musuh, dengan kerahkan semua tenaganya, ia angkat tubuh orang ke atasan tubuhnya sendiri, dengan begitu ia pakai musuh sebagai tameng.
Benar saja ketiga musuh lainnya berhenti menyerang karena mereka khawatir mencelakai kawan sendiri.
Kwee Ceng tetap bertahan secara demikian, hanya sekarang ia ubah caranya mencekal. dengan sebelah tangan ia memencet nadi musuh, untuk membikin dia itu tak dapat bergerak, dengan tangan yang lainnya, ia mencekik tenggorokan. Ia tidak pedulikan orang menendangi pundak atau kakinya. ia berpikir “Biar aku mati, asal aku pun telah membunuh seorang musuh!”
Jebe berdua yang tadi telah terpukul mundur, maju pula untuk membantu kawannya.
“Kamu pegat mereka, nanti aku bunuh ini bocah haram!” kata si suheng yang memegang golok sebatang kepada dua saudaranya, habis mana ia terus bekerja.
Kwee Ceng kaget, ia merasakan sakit pada pundaknya, terpaksa ia menggulingkan tubuh sekitar dua tombak, habis mana ia lompat bangun, untuk berdiri. Musuhnya yang ia cekik, telah rebah diam karena pingsan. Baru ia berdiri dengan niat melawan musuh, akan tetapi kaki kanannya sangat sakit, sekali lagi ia roboh.
Musuh sudah lantas tiba. Dalam keadaan sangat berbahaya itu, Kwee Ceng ingat ia ada punya joan¬pian atau cambuk lemas pembela dirinya, cepat ia lepaskan dari pinggangnya, lalu dengan menggulingkan tubuh, ia menangkis, kemudian selanjutnya, ia melakukan perlawanan dengan terus main bergulingan dengan ilmu silatnya “Kim Liong Pian-hoat” atau “Ilmu cambuk lemas naga emas”
Musuh yang pingsan telah sadar, ia ingin membalas sakit hatinya, ia lompat bangun, untuk membantu saudaranya. Tak lama, mereka pun dibantu oleh dua saudara yang lain, yang telah berhasil memukul mundur Jebe berdua. Kwee Ceng kembali dikepung berempat.
Selagi Kwee Ceng terancam bahaya, di bawah bukit, pasukan tentara kacau sendirinya, lalu tampak enam orang bergerak dengan lincah mengacau barisan itu, terus mereka berenam lari naik ke atas gunung.
Matanya Jebe sangat tajam, ia lantas kenali enam orang itu. “Kwee Ceng, gurumu datang!”, ia berseru.
Kwee Ceng sudah letih betul, kedua matanya pun sudah mulai kabur, begitu mendengar teriakan itu, semangatnya terbangun, terus ia melawan dengan hebat.
Cu Cong dan Coan Kim Hoat lari paling depan, segera tampak murid mereka dalam bahaya. Kim Hoat melompat maju, dengan dacinnya ia rabu empat batang senjata musuh. “Tidak tahu malu!” ia membentak.
Empat musuh itu segera melompat mundur, tangan mereka kesemutan bekas rabuhan senjata aneh dari orang yang baru datang ini. Mereka merasa bahwa dalam tenaga dalam, kalah jauh.
Cu Cong melompat maju, membantu muridnya bangun. Waktu itu, Tin Ok bersama yang lainnya telah tiba.
“Bandit-bandit tidak tahu malu, pergi kamu!” Kim Hoat mengusir.
Si toasuheng yang bersenjatakan golok menebali muka. Ia tahu pihaknya tak berdaya tetapi mereka malu untuk lari turun gunung, mereka malu bertemu sama pangeran keenam.
“Liok-wie, adakah kamu Kanglam Liok Koay?” ia tanya enam orang itu.
“Tidak salah!” sahut Cu Cong tertawa. “Siapakah tuan berempat?”
“Kami adalah empat muridnya Kwie-bun Liong Ong,” sahut si toasuheng.
Kwa Tin OK dan Cu Cong mulanya menyangka orang adalah orang-orang yang tak bernama, sebab mereka itu main keroyok, maka terkejutlah mereka mengetahui empat orang itu adalah murid-,muridnya Kwie-bun Liong Ong.
“Pasti kamu berdusta!” bentak Tin Ok. “Kwie-bun Liong Ong bernama besar, mana bisa murid-muridnya berbangsa tak berguna seperti kamu!”
“Siapa berdusta!” berseru orang yang dicekik Kwee Ceng tadi, yang masih merasakan sakit pada tenggorokannya, “Inilah toasuheng kami, Toan-hun-to Sim Ceng Kong! Ini jiesuheng Tiwi-beng-chiop Gouw Ceng Liat! Ini samsuheng Toat-pek-pian Ma Ceng Hiong! Dan aku sendiri, Song-bun-hu Cian Ceng Kian!”
“Kedengarannya kamu tidak berdusta,” berkata Tin Ok pula, “Benarlah kau adalah Hong Ho Su Koay! Kamu cukup ternama, kenapa kamu merendahkan diri begini rupa, empat orang bersaudara mengepung satu musuh, seorang bocah! Dia muridku!”
Gouw Ceng Liat membelar. “Siapa bilang kami berempat mengepung satu orang?!” katanya, “Bukankah di sini ada banyak orang Mongolia yang membantunya?”
Cian Ceng Kong pun tanya Ma Ceng Hiong: “Samsuheng, orang buta dan pengkor ini berlagak, siapakah dia?”
Ceng Kong menanya perlahan sekali, tetapi Kwa Tin Ok dapat mendengarnya, ia menjadi mendongkol. Tiba-tiba ia menekan dengan tongkatnya, tubuhnya terus mencelat, sebelah tangannya menyambar, maka tidak ampun lagi, punggung Ceng Kong kena dijambak, terus dilemparkan ke bawah gunung! Tiga pengepung lainnya menjadi kaget, mereka maju untuk menolong, tetapi mereka tidak berdaya, malah sebaliknya, cepat luar biasa, satu demi satu, mereka juga kena dilempar-lemparkan si Kelelawar Terbangkan Langit!
Tentara Mongolia di atas bukit bersorak-sorai menyaksikan keempat saudara itu, yaitu Hong Ho Su Koay, merayap bangun dengan muka penuh debu dan seluruh badan dan pinggangnya sakit bekas jatuh terbanting dan bergeluntungan. Syukur mereka tidak patah tangan dan kaki atau singkal batang lehernya.
Waktu itu terlihat debu mengepul naik, tanda datangnya ribuan serdadu, maka itu, menampak demikian, tentaranya Sangum menjadi kecil hatinya.
Temuchin menampak datangnya bala bantuan, mengetahui Jamukha lihay dan Sangum hanya mengandal kepintaran ayahnya, ia menunjuk ke kiri ke pasukannya Sangum itu seraya berseru: “Mari menerjang ke sini!”
Jebe berempat dengan Borchu, Juji dan Jagatai sudah lantas mendahulukan menerjang ke bawah, darimana terdengar seruannya bala bantuan.
Mukhali kaburkan kudanya sambil memeluk Tusaga, batang leher siapa ia tandalkan goloknya, sembari turut menerjang, ia berteriak-teriak: “Lekas buka jalan! Lekas buka jalan!”
Sangum menyaksikan musuh menerobos turun, ia hendak memegat, tapi tampak putranya berada di bawah ancama maut, putranya tak berkutik, ia menjadi tergugu, hingga tak tahu ia harus mengambil tindakan apa.
Sementara itu rombongan Temuchin sudah sampai di bawah bukit, malah Jebe sudah lantas saja turun tangan, dengan mengincar Sangum, ia memanah.
Sangum terperanjat, ia berkelit ke kiri, tidak urung pipi kanannya kena tertancap anak panah, maka tak ampun lagi, ia rubuh terjungkal dari kudanya. Tentu saja, karenanya, tentaranya menjadi kaget dan kalut.
Temuchin ajak rombongannya kabur terus. Ada beberapa ratus musuh yang mengejar, akan tetapi mereka dirintangi panahnya Jebe dan Borchu, sembari menyingkir menoleh ke belekang dan saban-saban menyerang dengan panah mereka.
Kanglam Liok Koay turut mundur dengan Lam Hie Jin yang memondong Kwee Ceng.
Sesudah melalui beberapa lie, rombongan ini bertemu bala bantuan, barisannya Tuli, putra keempat Temuchin, mereka lantas menggabungkan diri.
Tuli masih muda, walaupun ia pangeran, kepala-kepala suku dan panglima-panglima Temuchin tidak suka mendengar titahnya, dari itu, ia datang cuma bersama beberapa ribu serdadu anak-anak muda, hanya ia telah didulukan Kanglam Liok Koay. Tapi ia cerdik, ia tahu jumlah musuh terlebih besar, ia perintahkan semua serdadu mengikat cabang pohon diekor masing-masing kuda mereka, sehingga nampak debu membumbung besar dan musuh menyangka bala bantuan lawan berjumlah besar sekali. Di tengah jalan pulang, Temuchin bertemu bersama Gochin, yang datang bersama sejumlah serdadu. Putri ini girang bukan main melihat ayahnya semua tidak kurang suatu apa pun.
Malam itu Temuchin membuat pesta dengan semua panglima dan tentaranya diberi hadiah. Hanya semua orang menjadi heran, hatinya mendongkol, melihat Tusaga diundang duduk bersama di meja pesta, dan diperlakukan sebagai tamu agung.
Temuchin hanturkan tiga cawan arak kepada putra Sangum itu.
“Aku tidak bermusuh dengan ayah Wang Khan dan saudaraku Sangum,” ia berkata kepada putranya Sangum itu, “Maka itu aku persilahkan kau pulang untuk menyampaikan maafku. Aku pun akan mengantar bingkisan kepada ayah dan saudara angkatku itu, yang aku minta supaya tidak menjadi berkecil hati.”
Tusaga girang bukan main. Bukankah ia telah tidak dibunuh? Maka ia berjanji akan meyampaikan permohonan maaf dari Temuchin itu.
Semua orang menjadi bertambah heran dan mendongkol menyaksikan Khan mereka yang besar menjadi demikian lemah dan jeri terhadap Wang Khan, tetapi terpaksa mereka berdiam saja.
Besok harinya Temuchin kirim sepuluh serdadu mengiringi Tusaga pulang, berbareng dengan itu ia mengirimkan dua buah kereta yang berisikan emas dan kulit tiauw.
Tiga hari sepulangnya Tusaga itu, Temuchin kumpulkan tentaranya. Dengan mendadak ia perintahkan mereka itu kumpulkan tentara mereka.
“Sekarang juga kita menyerang Wang Khan!” demikian titahnya.
Heran semua panglima itu, mereka melongo.
“Wang Khan banyak tentaranya, serdadu kita sedikit, tak dapat kita melawan dia dengan terang-terangan,” menjelaskan Temuchin. “Kita mesti membokong! Aku bebaskan Tusaga dan mengirim bingkisan, itulah untuk membuatnya tidak bersiaga.
Baru semua panglima itu sadar, mereka jadi sangat mengagumi Khan mereka itu. Segera mereka bertindak maju dalam tiga pasukan.
Wang Khan dan Sangum dilain pihak girang melihat Tusaga pulang dengan selamat dan Temuchin pun mengirim bingkisan, mereka menyangka Temuchin jeri, mereka tidak bercuriga, maka di dalam tendanya, mereka jamu Wanyen Lieh dan Jamukha, yang mereka layani dengan hormat. Adalah tengah mereka berpesta malam ketika mendadak datang serangan Temuchin. Mereka menjadi kacau, tanpa berdaya mereka pada melarikan diri.
Wang Khan bersama Sangum kabur ke barat. Di sana mereka kemudian terbinasa di tangan bangsa Naiman dan Liauw Barat. Tusaga terbinasa terinjak-injak kuda tentara.
Hong Ho Su Koay, Empat Siluman dari sungai Hong Ho, yang bisa menerobos kepungan melindungi Wanyen Lieh kabur pulang ke Tiongtouw (Pakkhia).
Jamukha kehilangan tentaranya, dia lari ke gunung Tannu, di sana selagi ia dahar daging kambing, dia ditawan oleh tentara pengiringnya, terus dibawa kepada Temuchin.
Temuchin terima tawanan itu, tetapi ia gusar, ia berseru “Serdadu pengiring pemberontak dan berkhianat kepada majikan! Apakah gunanya akan mengasih hidup kepada orang-orang tak berbudi begini?” Di depan Jamukha sendiri, ia perintahkan hukum mati kelima pengiring itu. Kepada Jamukha, yang ia awasi, ia kata: “Apakah tetap kita menjadi sahabat-sahabat kekal?”
Jemukha mengucurkan air mata. “Meskipun saudara suka memberi ampun padaku, aku sendiri tidak mempunyai muka akan hidup lebih lama pula di dalam dunia ini,” ia menyahut. “Saudara, aku minta sudilah kau memberi kematian tak mengucurkan darah padaku, supaya rohku tidak mengikuti darahku dan meninggalkan tubuh ragaku….”
Temuchin berdiam sekian lama. “Baiklah,” berkata ia kemudian. “Akan aku menghadiahkan kau kematian tak mengalirkan darah, nanti aku kubur kau di tempat di mana dahulu hari, semasa kecil, kita bermain bersama…”
Jemukha memberi hormat sambil berlutut, habis itu ia putar tubuhnya untuk bertindak keluar kemah.
Besoknya Temuchin mengadakan rapat besar di datar sungai Onon. Ketika itu namanya telah naik tinggi sekali, maka rakyat dan tentara dari pelbagai suku tak ada yang tak tunduk kepadanya, semuanya menyanjung. Maka di dalam rapat besar itu ia telah diangkat menjadi Kha Khan, atau Khan terbesar dari Mongolia, dengan gelaran Jenghiz Khan, artinya Khan yang besar dan gagah bagaikan pengaruhnya lautan besar.
Di sini Jenghiz Khan membagi hadiah besar. Empat pahlawannya yakni Mukhali, Borchu, Boroul dan Chiluan serta Jebe, Jelmi dan Subotai, diangkat menjadi cian-hu-thio, semacam kapten dari seribu serdadu. Kwee Ceng yang dianggap jasanya paling istimewa, dijadikan cian-hu-thio juga. Maka anehlah satu bocah umur belasan tahun, pangkatnya sama dengan satu pahlawan panglima yang berjasa.
Dalam pesta itu Jenghiz Khan minum banyak arak hadiah dari pelbagai panglimanya, dalam keadaan seperti itu, ia berkata kepada Kwee Ceng: “Anak yang baik, aku akan menghadiahkan pula kepadamu sesuatu yang aku paling hargakan!”
Kwee Ceng sudah lantas berlutut untuk menghanturkan terima kasih.
“Aku serahkan Putri Gochin kepadamu!” berkata Jenghiz Khan. “Mulai besok kau adalah Kim-to Hu¬ma!”.
Semua panglima bersorak, lalu mereka memberi selamat kepada Kwee Ceng. Mereka juga berseru “Kim-to Hu-ma! Kim-to Hu-ma! Bagus! Bagus!”
“Kim-to Hu-ma” itu berarti menantu raja golok emas.
Tuli sangat girang sehingga ia merangkul Kwee Ceng erat-erat, tak mau ia lekas-lekas melepaskannya. Si anak muda sebaliknya berdiam, tubuhnya terpaku, mulutnya bungkam. Ia menyukai Gochin, tetapi sebagai adik, bukan sebagai kekasih. Ia lagi mengutamakan ilmu silat, tak memikirkan soal lainnya apa lagi jodoh, soal asmara. Maka ia kaget mendengar hadiah Khan yang maha besar itu. Selagi ia tercengang, semua orang tertawa padanya, menggoda.
Setelah pesta bubar, Kwee Ceng lantas cari ibunya, tuturkan hadiah dari Jenghiz Khan itu.
Liep Peng terdiam, ia pun bingung. “Coba undang gurumu semua!” titahnya kemudian.
Kanglam Liok Koay lantas datang. Ketika mereka mendengar hal pertunangan itu, mereka girang, mereka lantas memberi selamat kepada nyonya Kwee itu. Bukankah murid mereka sangat dihargai oleh Khan dan peruntungannya bagus sekali?
Lie Peng berdiam sebentar, lalu tiba-tiba ia berlutut di depan enam manusia aneh itu, sehingga mereka itu menjadi heran.
“Ada apa, enso?” mereka tanya. “Kenapa enso menjalankan kehormatan besar ini? Harap enso lekas bangun!”
“Aku sangat bersyukur suhu semua sudah didik anakku ini sehingga ia menjadi seorang yang berharga,” berkata nyonya ini. “Budi ini tak dapat aku balas walaupun tubuhku hancur lebur. Hanya sekarang ada satu hal sulit untuk mana aku mohon pertimbangan dan keputusan suhu semua.”
Lie Peng tuturkan keputusan suaminya almarhum dengan Yo Tiat Sim, yang tunangkan anak-anak mereka sebelum lahir.
“Maka itu, kendati kedudukan anakku mulia sekali, mana dapat ia menjadi hu-ma?” kata si nyonya kemudian. “Kalau aku menyangkal janji ini, aku malu sekali. Bagaimana nanti suamiku dan aku menemui paman Yo dan istrinya di dunia baka?”
Mengdengar keterangan ini, Kanglam Liok Koay tertawa.
Lie Peng heran, ia mengawasi mereka.
“Orang she Yo itu benar telah memperoleh keturunan tetapi bukannya perempuan, melainkan pria,” Cu Cong kasih keterangan.
“Bagaimana suhu ketahui itu?” menanya Lie Peng kaget.
“Seorang sahabat di Tionggoan mengabarkan kami dengan sepucuk surat,” menerangkan Cu Cong lebih jauh. “Sahabat itu pun mengharap kami mengajak anak Ceng ke sana untuk menemui putranya orang she Yo itu, untuk mereka menguji kepandaian silat mereka.”
Mendengar itu, Lie Peng sangat girang. Ia setuju anaknya diajak pergi. Ia berharap, sekalian anaknya mencari Toan Thian Thek, guna menuntut balas. Sepulangnya dari perjalanan itu, baru Kwee Ceng nanti menikah dengan Gochin.
Setelah mendapat keputusan, Kwee Ceng menghadap Jenghiz Khan, untuk memberitahukan tentang niat perjalanannya itu.
“Bagus, kau pergilah!” Khan itu setuju. “Sekalian kau pulang nanti bawalah juga kepalanya Wanyen Lieh, putra keenam raja Kim! Untuk melakukan pekerjaan besar itu, berapa banyak pengiring yang kau butuhkan?”
“Anak akan pergi bersama keenam guruku, tak usah anak membawa pengiring,” sahut Kwee Ceng. Ia anggap dengan pergi bersama guru-gurunya, ia tentu bakal berhasil, sedang membawa pengiring, yang tidak mengerti ilmu meringankan tubuh, menambah berabe saja. Ia senang sekali dengan perkataan Khan ini, untuk membinasakan Wanyen Lieh. Memang semenjak kecil ia telah diempos ibunya, yang sangat membenci bangsa Kim.
Jenhiz Khan menerima baik, ia berpesan pula “Sekarang ini kuda kita belum terpelihara gemuk dan tentara kita belum terlatih sempurna, kita belum dapat menandingi negara Kim, maka itu kau harus bekerja baik-baik supaya kau tidak meninggalkan ¬bekas!”
Kwee Ceng memberikan janjinya.
Jenghis Khan lantas hadiahkan baba mantu itu uang emas tigapuluh tael, untuk ongkos di jalan, sedang Kanglam Liok Koay dipersen barang-barang emas dan berharga bekas rampasan dari Wang Khan.
Di hari ketiga, setelah pamitan dari ibunya dengan kedua mengucurkan air mata, Kwee Ceng berangkat bersama guru-gurunya. Lebih dahulu mereka sambangi kuburan Thio A Seng, untuk ambil selamat berpisah dari rohnya guru almarhum itu. Lalu tujuan mereka adalah selatan.
Baru mereka jalan sepuluh lie lebih, di atasan kepala mereka terlihat dua ekor burung rajawali kepala putih terbang berputaran, lalu terlihat Tuli datang bersama Gochin dengan dua saudara itu merendengi kuda mereka. Tuli memberi bingkisan sepotong baju bulu tiauw yang mahal, barang rampasan dari Wang Khan.
Gochin datang menemui bakal suaminya itu, akan tetapi ia tidak dapat berbicara, cuma kulit mukanya menjadi bersemu merah.
“Adikku, kau bicaralah dengannya, aku tak akan mendengarkan!” berkata Tuli sambil tertawa, terus ia larikan kudanya, untuk menjauhkan diri.
Gochin menoleh, ia masih belum dapat bicara. Selang beberapa lama, barulah ia pesan: “Kau segeralah pulang…..”
Kwee Ceng mengangguk. “Ada pesan lagi?” ia bertanya.
Gochin menggelengkan kepalanya.
Kwee Ceng dekati putri itu, ia pondong tubuhnya, terus ia bawa kepada Tuli. Lalu ia pun saling rangkul dengan Tuli itu, habis mana ia larikan kudanya guna menyusul keenam gurunya, yang sudah berjalan jauh juga.
Gochin melongo, hatinya menjadi tawar. Ia dapatkan sikap Kwee Ceng sama seperti biasa, bukan sebagai satu tunangan. Saking masgul, ia hajar kudanya hingga binatang itu lari berjimpratan.
Kwee Ceng sendiri berjalan terus, keenam gurunya ajak dia menuju ke timur selatan, siang jalan, malam singgah. Segera juga mereka melintasi tanah datar gurun pasir. Pada suatu hari hampir tiba di Hek Sui Ho, tak jauh lagi dari Kalgan, Kwee Ceng lantas merasakan suasana lain. Belum pernah ia melintas dari gurun, sekarang ia mulai tiba di Tionggoan, ia dapatkan pemandangan mata yang lain. Tanpa merasa, ia gencet perut kudanya, membikin kudanya itu lari pesat. Maka lekas sekali tibalah ia di Hek Sui o, disebuah rumah makan di tepi jalanan.
Kwee Ceng merasa kasihan melihat kudanya yang kecil itu lari demikian keras hingga bermandikan keringat, ia ambil sabuk menyusuti. Tiba-tiba saja ia menjadi kaget. Sabuk itu menjadi merah seluruhnya. Ketika ia meraba kudanya, tangannya itu juga menjadi merah, penuh dengan darah. Hampir ia mengucurkan air mata saking menyesal sudah menyiksa kudanya itu. Tidakkah kuda itu bercelaka diluar keinginannya? Maka ia rangkul leher kuda itu, untuk menghibur.
Kuda itu sebaliknya nampak segar bugar, tidak ada tanda-tandanya terluka.
Kwee Ceng menoleh, mengawasi jalan besar darimana tadi ia datang. Ia mengharap segera tiba gurunya yang ketiga, Han Po Kie, supaya guru itu suka tolong mengobati kudanya itu. Ia tidak melihat guru-gurunya, yang ketinggalan jauh, maka berulangkali ia menoleh dan menoleh pula.
Masih enam guru itu tak nampak, sebaliknya, kupingnya bocah ini mendengar mengalunnya kelenengan unta. Ketika ia perhatikan, lihat mendatanginya empat ekor unta bulu putih, yang penunggangnya pun berpakaian serba putih. Mereka itu pria semua.
Belum pernah Kwee ceng melihat unta-unta yang begitu bagus. Ia pun menjadi tertarik dan heran akan mendapatkan keempat penunggangnya semua masih muda-muda, mungkin baru berumur duapuluh dua atau duapuluh tiga tahun, dan semuanya pun beroman tampan.
Setibanya di depan restauran, keempat penunggang unta itu melompat turun, mereka terus bertindak ke dalam rumah makan. Dari gerak-geriknya, terang mereka itu mengerti ilmu silat. Disamping pakaian mereka yang putih, di leher mereka itu terlihat bulu rase.
Seorang pemuda melihat Kwee Ceng mengawasi, ia menjadi likat, wajahnya pun bersemu dadu, lekas-lekas ia tunduk. Adalah satu kawannya menjadi tidak senang.
“Eh, bocah kau awasi apa?” ia menegur.
Kwee Ceng terperanjat, lekas-lekas ia melengos. Ia lantas mendengar mereka itu berbicara satu sama lain, entah apa yang mereka bicarakan, habis itu mereka tertawa riuh. Ia malu sendiri. tentu orang tengah menertawakannya. Ia sempat berpikir untuk menukar tempat singgahnya. Syukur unttuknya, ia dapatkan tibanya Han Po Kie. Ia lari kepada gurunya itu, terus beritahukan hal kudanya mengeluarkan keringat darah.
“Begitu?” tanya guru itu heran. Ia dekati kuda Kwee Ceng, ia raba punduknya kuda itu, setelah mana, ia bawa tangannya yang berlepotan darah itu ke arah matahari. Ia mengawasi sekian lama, lalu tiba-tiba ia tertawa lebar.
“Ini bukannya darah, inilah keringat!” serunya.
Kwee Ceng tercengang. “Keringat?” ia menanya. “Ada keringat merah?”
Po Kie tidak sahuti muridnya itu, hanya dengan bersemangat ia berkata “Anak Ceng, kau telah dapatkan han-hiat po-ma, yang untuk seribu tahun sukar didapatkan!”
Kwee Ceng heran dan girang. Ia girang sebab kudanya tidak terluka. Ia heran akan mendengar halnya han-hiat po-ma, ialah kuda istimewa dengan keringat seperti darah.
“Suhu, kenapa dia mengeluarkan keringat bagaikan darah?” ia menegasi.
“Dulu pernah aku dengar keterangan guruku, almarhum,” sahut Po Kie. “Turut katanya guruku itu, di tanah barat, yaitu di daerah Ferghana, ada kedapatan sebangsa kuda liar biasa, yang disebut kuda langit, punduk kuda itu mengeluarkan keringat merah seperti darah, bahwa kuda itu keras larinya, satu hari dapat menempuh jarak seribu lie. Tentu itu baru cerita saja, belum pernah ada yang melihat buktinya.”
Selagi guru dan murid ini berbicara, rombongan Tin Ok tiba. Mereka lantas beritahukan tentang kuda berkeringat merah itu.
Cu Cong adalah seorang sastrawan, ia luas pengetahuannya.
“Tentang itu ada ditulis jelas dalam Kitab Hikayat dan Kitab Jaman Han,” berkata Cu Cong. “Ketika dahulu hari itu bangsawan Pok-bong-houw Thio Kian diutus ke Tanah Barat, di Ferghana dia telah melihat seekor kuda han-hiat po-ma itu, sekembali ke negerinya, ia memberitahukan kepada rajanya, Kaisar Han Bu Tee. Kaisar menjadi kagum, ingin ia mempunyai kuda itu, terus ia kirim utusan membawa emas seribu kati serta seekor kuda-kudaan emas, sebesar kuda biasa, ke Barat itu, untuk dipakai menukar dengan kuda istimewa itu. Raja Ferghana menolak permintaan itu, dia mengatakan “Kuda itu adalah kuda pusaka negara Ferghana, jadi kuda itu tidak dapat dihadiahkan kepada bangsa Han.” Utusan Han itu menjadi gusar, mengumbar tabiatnya, ia hajar rusak kuda emas itu, terus ia pulang. Raja Ferghan pun gusar, dia perintah menawan utusan itu, terus dibunuh, emas dan kuda emas itu dirampas.
Kwee Ceng berseru heran.
Cu Cong menghirup air tehnya.
“Kemudian bagaimana?” tanya murid itu.
Dipihak lain, keempat pemuda serba putih itu juga memperhatikan cerita itu.
“Shatee,” tanya Cu Cong sehabis ia minum pula tehnya, “Kau ahli pemelihara kuda, tahukah kau darimana asalnya po-ma?”
“Menurut keterangan guruku, po-ma terlahir dari perkawinan kuda rumahan dengan kuda liar!” sahut Po Kie.
“Benar!” berkata Cu Cong. “Menurut kitab, di negara Ferghana itu ada sebuah gunung di dalam mana kedapatan sebangsa kuda liar, yang dapat lari seperti terbang, hingga orang liar tidak dapat mengejarnya. Tapi orang Ferghana telah mendapat satu akal bagus. Pada suatu malam musim semi, mereka lepas satu ekor kuda betina yang berwarna lima di kaki gunung. Kuda liar itu kena pincuk, dia kawin dengan kuda pancingan itu, ketika kemudian kuda biang itu mendapat anak, anak kuda itulah po-ma tersebut. Anak Ceng, mungkin sekali kudamu itu adalah keturunan dari kuda Ferghana itu.
“Bagaimana dengan Kaisar Han Bu Tee itu, apa dia mau sudah saja?” menanya Han Siauw Eng, yang tertarik dengan cerita kakak angkatnya itu.
“Mana mau dia sudah begitu saja,” kata Cu Cong. “Dia lantas perintah Jenderal Lie Kong mengepalai beberapa laksa serdadu pergi ke Ferghana untuk mendapatkan kuda itu. Untuk itu, Lie Kong diangkat menjadi jenderal istimewa. Tapi Ferghana adalah negara gurun pasir, tak ada rangsum dan air disana, selama perjalanan banyak tentara binasa sebelum mencapai tempat tujuan, pasukan tentara itu tinggal hanya tiga bagian. Lie Kong kalah orang, ia terpaksa mundur ke Tun-hong, darisana ia meminta rajanya mengirim pula bala bantuan. Raja gusar, ia kirim utusan membawa pedang, ke kota Gak-bun¬kwan, untuk menjaga. Utusan itu diberi tugas dan kekuasaan: Panglima atau serdadu mana saja yang pergi berperang benani memasuki kota Gak-bun-kwan itu, dia mesti dihukum mati! Lie Kong menjadi serba salah, terpaksa ia menunda di Tun-hong itu.”
Ketika itu terdengar pula kelenengan unta, lalu tertampak datangnya lagi empat penunggang unta seperti empat yang pertama itu. Melihat mereka itu, yang masuk ke dalam restauran, Kwee Ceng heran. Mereka itu muda dan tampan dan pakaiannya serba putih seperti rombongan pertama. Dan mereka dua rombongan lantas duduk bersama-sama.
Cu Cong melanjuti ceritanya: “Kaisar Han Bu Tee tidak puas, ia merasa malu. Dengan kalah perang, ia khawatir bangsa lain memandang enteng bangsa Han. Maka ia mengerahkan pula lebih daripada duapuluh laksa serdadu, ia siapkan serbau, kuda dan rangsum tak terhingga banyaknya. Masih ia khawatir tentaranya itu belum cukup, ia menambah dengan semua orang hukuman, pamong praja rendah, baba-baba mantu dan kaum pedagang, yang dijadikan serdadu, hingga negara menjadi gempar. Pula dua ahli kuda diberi pangkat tinggi, satu menjadi Kie-ma Kawm-oet, yang lainnya menjadi Cit-ma Kauw-oet, tugasnya nanti sesudah Ferghana dipukul pecah mereka mesti memilih kuda jempolan. Lioktee, kerajaan Han itu mengutamakan tani dan sebaliknya memandang enteng bangsa saudagar, kalau kau hidup di jaman Kaisar Han Bu Tee, apeslah kau, sebaliknya dengan shatee, dia bisa memangku pangkat! Ha ha ha!”
“Dan baba-baba mantu itu, apakah salahnya mereka?” Siauw Eng menanya.
“Siapa miskin dan tak punya sandaran, siapa sudi dipungut mantu?” Cu Cong menjawab. “Kali ini Lie Kong memimpin angkatan perang yang besar itu. Untuk lebih daripada empatpuluh hari, ia kurung dan serang kota musuh. Banyak panglima musuh binasa. Akhirnya kaum ningrat Ferghana menjadi ketakutkan, mereka berontak, rajanya dibunuh, kepala raja diserahkan. Mereka mohon menakluk. Mereka pun serahkan kuda yang diperebutkan itu. Lie Kong pulang dengan kemenangan besar, raja sangat girang, dia di anugrahkan menjadi bangsawan Hay-see-houw. Tentara yang lainnya pun turut kenaikan pangkat. untuk seekor kuda po-ma itu, entah berapa banyak jiwa sudah melayang, setahu berapa banyak uang sudah dikorbankan. Kaisar mengadakan satu pesta besar, ia perintah mengarang syair untuk memuji kuda langit itu, yang dianggap melainkan naga yang pantas menjadi kawannya….”
Mendengar cerita itu, delapan pemuda itu mengawasi kudanya Kwee Ceng, agaknya mereka sangat tertarik.
Cu Cong berkata pula: “Kuda langit menjadi kuda jempolan sebab perkawinannya dengan kuda liar, Kaisar Bu Han Tee sudah kerahkan kekuatan seluruh negeri untuk mendapatkan beberapa ekor kuda itu tapi kemudian ia tidak mendapatkan kuda liar, maka selang beberapa turunan, semua kuda itu tak lagi menjadi po¬ma dan keringatnya pun tidak merah…”
Habis Cu Cong bercerita, mereka melanjuti memasang omong sambil dahar mie.
Delapan pemuda itu duduk jauh-jauh, mereka kasak-kusuk tetapi kupingnya Kwa Tin Ok lihay, ia dapat mendengar jelas pembicaraan mereka.
“Kalau kita hendak rampas kuda itu, cukup dengan satu kali turun tangan,” berakta satu pemuda, “Satu kali kita sudah naik atas punggung kuda itu, siapa dapat mengubarnya?”
“Tapi disini ada banyak orang lain dan ia pun ada kawan-kawannya…” kata seorang yang lain.
“Jikalau kawannya berani membantui, kita bunuh saja semua!” kata seorang lagi.
Hu Thian Pian-hk Kwa Tin Ok menjadi heran sekali. “Mereka berdelapan wanita semuanya, mengapa mereka jadi begini galak dan telengas?” tanyanya dalam hati. Ia berdiam saja, ia sengaja berpaling ke luar rumah makan. dengan begitu delapan pemuda itu menjadi tidak curiga.
“Setelah mendapatkan kuda jempolan ini, kita menghadiahkannya kepada San-cu,” berkata seorang pula. “Dengan menungggang kuda ini, San-cu pergi ke kota raja, tentunya dia menjadi semakin terang mukanya! Pasti seklai Som Sian lao Koay dari Tiang Pek San dan Leng Tie Sianjin jago Bit Cong Pay dari Tibet tak dapat menangkan keagungannya…!”
Tin Ok berpikir. Ia pernah dengar namanya Leng Tie siangkin, seorang paderi kenamaan dari Tibet itu, tetapi tak tahu ia perihal Som Sian Lao Koay. Ia terus memasang kupingnya.
“Dalam beberapa hari ini di tengah jalan kita menemui tak sedikit sahabat dari Jalan Hitam,” berkata seorang muda yang lainnya lagi, “Katanya mereka adalah bawahannya Cian-ciu jin-touw Peng Lian Houw. Mereka itu tentu hendak berkumpul juga di kota raja, maka kalau mereka dapat lihat kuda ini, mana kita dapat kebagian?”
Tentang Peng Lian Houw ini Tin Ok ketahui dengan baik. Dialah kepala penjahat paling berpengaruh untuk wilayah Hopak dan Shoasay, yang sangat kejam, maka juga dia dapat gelarannya itu, “Pembunuh Ribuan Jiwa”. Maka ia berpikir, “Orang lihay itu pergi ke kota raja, mereka hendak bikin apa di sana? Delapan wanita ini, siapakah mereka?”
Mendengar terlebih jauh, Tin Ok mendapat kepastian mereka itu hendak merampas kudanya Kwee Ceng. Mereka hendak pergi lebih dulu, guna memegat di tengah jalan.
Habis mengambil keputusan, delapan pemuda itu, yang Tin Ok mengatakan pemudi-pemudi, lalu berkasak-kusuk tentang asmara, mereka pun bergurau. Ada yang kata “San-cu paling sukai kamu!” Ada yang membilang, “Diwaktu begini tentulah San-cu lagi menantikanmu!” maka ia menjadi mengerutkan keningnya, ia menajdi sebal….
“Kalau kita menghadiahkan kuda ini kepada San-cu, coba kau terka, San-vu bakal menghadiahkan apa kepada kita?” berkata satu orang, yang kembali ke urusan kuda.
Yang seorang tertawa dan berkata: “ Pasti San-cu menghendaki kau menemani ia tidur untuk beberapa malam…!
“Kurang ajar!” membentak kawan yang digoda itu dan hendak mencubit. Yang lain-lain lantas tertawa geli.
“Kira-kira, hati-hatilah!” seorang memperingatkan. “Jangan kita membocorkan rahasia sendiri…!”
“Wanita itu membawa pedang, dia tentu mengerti ilmu silat,” kata satu orang. “Dia juga cantik sekali, coba dia lebih muda sepuluh tahun, barulah anadikata heran San-cu melihat dia dan menjadi kerindu-rinduan…”
Tin Ok tahu Siauw Eng yang menjadi bulan-¬bulanan, ia mendongkol. ia percaya orang yang dipanggil “San-cu” itu atau “majikan gunung” mestilah bukan orang baik-baik.
“Awas, jangan kau mencari muka dari San-cu dan hendak mati-matian mencarikan nona manis untuknya…!” memperingati satu kawan.
Orang itu tertawa, ia tidak menyahuti.
“Kita harus berhati-hati,” berkata pula seorang yang lain. “Kali ini kita datang ke Tionggoan untuk mengangkat nama, guna menaklukkan orang kosen, supaya orang-orang kosen di kolong langit ini tahu kegagahan kita dari Pek To San, maka itu kita harus waspada, jangan seperti Hong Ho Su Koay yang sial dangkalan itu, yang menyebabkan orang tertawa hingga giginya copot!”
Tin Ok tidak tahu Pek To San itu, yang berarti Gunung Unta Putih, dari mana partainya, akan tetapi mendengar disebutnya Hong Ho Su Koay – Empat Siluman dari sungai Hong Ho, ia teringat kepada mereka yang mengeroyok Kwee Ceng.
Seorang berkata pula: “Menurut katanya San-cu, Hong Ho Su Koay adalah murid-murid paling disayangi oleh Kwie-bun Liong Ong, untuk di Liongsee dan Tiong-ciu, namanya sangat kesohor, sangat aneh mereka kabarnya roboh ditangan bocah berumur belasan tahun…”
Satu kawannya menyahut: “Ada orang bilang bocah itu pandai ilmu silat Kiu-im Pek-kut Jiauw, karena tubuh Hong Ho Su Koay itu masing-masing meninggalkan bekas cengkeraman…”
“Maka hati-hatilah kau!” tertawa satu kawannya, “Supaya kau jangan sampai kena dijambak bocah itu!”
“Cis!” sang kawan berludah.
Kembali mereka itu tertawa.
Mendengar pembicaraan itu, Tin Ok mendongkol juga merasa lucu. “Sungguh pesat sekali tersiar di dunia kangouw!” katanya. “Hanya tidak tepat berita anak ceng mengerti Kiu-im Pek-kut Jiauw. Ilmu itu mana dapat dikuasai tanpa belajar belasan tahun? Anak umur belasan tahun mana mempunyakan ilmu silat itu?”
Diam-diam Tin Ok puas murid mereka dapat mengalahkan Hong Ho Su Koay, maka tidaklah kecewa didikan mereka selama sepuluh tahun lebih ini.
Habis dahar mie, delapan pemuda itu berlalu dengan cepat bersama untanya.
Tin Ok tunggu sampai mereka pergi jauh, kemudian tanya adiknya yang kedua: “Jietee, bagaimana kau lihat kepandaiannya delapan wanita itu?”
“Wanita?” Cu Cong mengulangi dengan heran sebelum ia menjawab.
“Habis?” sang kakak membalasi.
“Oh, mereka menyamar demikian sempurna!” berkata Cu Cong. “Nampaknya mereka luar biasa, kayanya mengerti ilmu silat, namun kelihatan tidak mengerti…”
“Apakah pernah kau dengar tentang Pek To San?” Tin Ok tanya pula.
“Tidak,” sahut Cu Cong setelah berpikir sejenak.
Tin Ok lantas tuturkan apa yang ia dengar barusan. Cu Cong semua tertawa. Besar nyali mereka berani berniat menggempur gunung Tay San….
“Perkara kecil niat mereka merampas kuda anak Ceng,” Tin Ok berkata pula. “Yang penting harus diperhitungakan bahwa ada banyak orang gagah hendak berkumpul di kota raja. Mungkin ada gerakan rahasia. Aku pikir tak dapat kita membiarkannya saja, perlu kita mencari tahu.”
“Tetapi janji pibu di Kee-hin bakal tiba harinya, tidak dapat kita main ayal-ayalan,” Coan Kim Hoat memperingati.
Mereka itu berdiam, merasa sulit juga.
“Kalau begitu, biarlah anak Ceng berangkat lebih dahulu!” Lam Hie Jin menyarankan.
“Apakah sieko maksudkan biar anak Ceng pergi seorang diri ke Kee-hin? Kita menyusul dia sesudah kita menyelidiki warta perihal orang-orang gagah yang berkumpul di kota raja?” Siauw Eng menegaskan.
Lam Hie Jin mengangguk.
“Benar,” Cu Cong menyatakan setuju. “Biar anak Ceng berjalan seorang diri, untuk mencari pengalaman.”
Mendengar itu Kwee Ceng merasa tidak puas. Tidak menggembirakan berjalan seorang diri. Ia utarakan perasaannya itu.
“Orang begini besar masih bersifat kebocahan!” Tin Ok menegur.
Siauw Eng lantas membujuk: “Kau pergi lebih dahulu kesana. Tak sampai satu bulan, kami akan menyusul. Seandainya di hari pibu kita tidak dapat kumpul semua berenam, satu atau dua tentulah dapat tiba untuk mengurus kamu. Jangan kau khawatir.”
Dengan terpaksa Kwee Ceng memberikan persetujuannya.
“Delapan wanita itu hendak merampas kudamu,” Tin Ok pesan, “Pergi kau ambil jalan kecil, untuk mendahului mareka. Kudamu keras larinya, mereka tak mungkin bisa menyusul. Kau mempunyai urusan penting, jagalah supaya kau jangan terganggu urusan tak berguna.”
“Umpama benar mereka main gila, Kanglam Cit Koay tidak akan melepaskan mereka!” berkata Han Po Kie. Dia tetap menyebut diri Cit Koay meskipun sudah belasan tahun semenjak meninggalnya Thio A Seng, hingga sekarang mereka tinggal berenam (Liok Koay). Itulah tandanya ia tidak bisa melupakan saudara angkatnya itu.
Habis bersantap, Kwee Ceng lantas memberi hormat kepada keenam gurunya, untuk mengucapkan selamat jalan.
Liok Koay lega melepaskan muridnya ini, yang kelihatan sudah dapat diandalkan menyaksikan perlawanannya terhadap Hong Ho Su Koay. Memang perlu murid ini membuat perjalanan sendiri, pengalaman tak dapat diajarkan. Mereka itu pada memesan, paling belakang pesan Hie Jin singkat saja: “Jikalau tidak ungkulan, menyingkir!” Pesan ini diberikan sebab ia melihat, melayani Empat Siluman dari Hong Ho, muridnya ini ngotot dan membahayakan diri sendiri.
“Memang,” berkata Coan Kim Hoat, “Ilmu silat tidak ada batasnya, di luar gunung ada gunung lain yang lebih tinggi, di sebelah orang ada lagi lain orang yang lebih pandai, biarpun kau sangat lihay, tidak dapat kau menjagoi sendiri di kolong langit. Maka ingatlah pesa gurumu yang keempat ini.
Kwee Ceng mengangguk. Ia payku kepada enam gurunya itu, lantas ia menuju ke selatan. Belum ada dua lie, sudah menghadapi jalan cabang dua. Ia turuti pesan Tin Ok, ia ambil jalan kecil. Jalanan ini lebih jauh, sebab kecil dan berliku-liku, di sini sangat sedikit orang berlalu lintas. Jalanan pun sukar, banyak kolar dan pasirnya, ada pepohonan kecil yang liar. Untungnya ia menunggang kuda dan kudanya pun dapat lari pesat.
Sekitar tujuh atau delapan lie, Kwee Ceng tiba di jalanan pegunungan yang sulit dan berbahaya, jalanan sempit dan banyak batu besarnya, mau tidak mau, ia berlaku hati-hati. Ia pun meraba ganggang pedangnya.
“Kalau sam-suhu melihat sikapku nini, dia pasti akan marah…” pikirnya.
Selagi jalan terus, di sebuah tikungan, Kwee Ceng terkejut. Di depan ada tiga nona dengan pakaian serba putih, ketiganya bercokol di atas punggung unta. Mereka itu melintag di tengah jalan. Dari jauh-jauh, ia tahan kudanya, hatinya pun tercekat. “Numpag jalan!” ia lantas berkata, suaranya nyaring.
Ketiga nona itu tertawa bergelak. “Adik kecil, takut apa?” kata satu diantaranya. “Lewat saja! Kami pun tidak gegares padamu!”
Kwee Ceng jengah, mukanya terasa panas. Ia sangsi. Bicara dulu atau menerjang saja?
“Kudamu bagus, mari kasih aku lihat!” kata satu nona lain. Ia mengasih dengar nada bicara seperti anak kecil.
Tentu saja tak puas Kwee Ceng diperlakukan demikian. Ia mengawasi jalanan yang sempit itu. Di tempat begitu, tak dapat bertempur. Maka ia lantas ambil keputusan. Ia tarik les kudanya, kedua kakinya menjepit, kudanya kaget, lalu lari dengan tiba-tiba. ia seperti hendak menerjang ketiga orang itu.
“Awas! Buka jalan!” ia berseru seraya hunus pedangnya.
Pesat lari kudanya, sebentar saja ia sudah datang dekat.
Satu nona lompat turun dari untanya, seraya ulur tangannya, maksudnya hendak menyambar les kuda, untuk tahan kuda itu. Tapi Kwee Ceng membentak, kudanya berbenger, terus melompat tinggi, melompati tiga nona itu!
Ketiga nona itu terkejut, Kwee Ceng sendiri tidak tak terkecuali, saking heran atas lihaynya kuda itu, pengalaman ini luar biasa. Belum sempat ia menoleh ke belakang, ia sudah mendengar bentakan ketiga nona itu, tepat waktu ia menoleh, ia lihat menyambarnya barang berkilauan. Ia berlaku hati-hati, ia khawatir senjata rahasia itu ada racunnya, ia menyambut dengan kopiahnya, yang ia lekas cabut.
“Bagus!” memuji dua nona.
Kwee Ceng periksa kopiahnya. Nyata dua senjata rahasia itu adalah gin-so atau torak terbuat dari perak yang indah, ujungnya tajam, tajam juga kedua pinggirannya.
“Kamu telengas hendak mengambil jiwaku,” pikir si anak muda dengan mendongkol. “Bukankah kita tidak kenal satu sama lain dan tidak bermusuhan?” Tapi ia tidak mau membalas, tak sudi melayani, gin-so itu ia masukkan sakunya. Ia hanya dapat lihat, gin-so bertabur emas yang merupakan unta-unta kecil.
Sampai disitu, pemuda ini larikan lagi kudanya. Ia tidak menaruh perhatian ketika ia mendengar dua ekor burung dara terbang lewat di atas kepalanya, dari utara ke selatan. Ia hanya khawatir nanti ada yang halangan pula. Tidak sampai satu jam, ia sudah melalui seratus lie lebih. Ia singgah sebentar, terus jalan pula. belum sore sudah tiba di Kalgan. ia percaya ketiga nona tadi tidak bakal dapat menyusul, sebab jarak mereka ada seperjalanan tiga hari…….
Kalgan adalah kota hidup lalu-lintas antara selatan dan utara, penduduknya padat, perdagangannya ramai. Di situ terutama terdapat banyak kulit dan bulu binatang, yang datangnya dari berbagai tempat. Di sini Kwee Ceng turun dari kudanya, berjalan seraya menuntun binatang ini, matanya menoleh ke kiri-kanan. Belum pernah ia melihat kota seramai ini. Kebetulan tiba di depan restoran, ia merasa lapar, maka ia tambat kudanya di luar, ia masuk ke dalam, mencari tempat duduk. Ia minta sepiring daging kerbau dan dua kati mie. Seorang diri ia dahar dengan bernafsu. Ia tidak pakai sumpit, kebiasaan orang Mongolia, memakai tangan.
Tengah bersantap, mendengar suara kerisik di luar rumah makan. Ia ingat kudanya, cepat lompat bangun melongok keluar. Ia dapatkan kudanya sedang makan rumput dengan tenang. Yang membikin banyak berisik adalah dua jongos terhadap seorang pemuda yang tubuhnya kurus dan pakaiannya butut.
Pemuda itu berumur lima atau enambelas tahun, kepalanya ditutup dengan kopiah kulit yang sudah pecah dan hitam dekil, mukanya pun hitam mehongan, hingga tidak terlihat tegas wajahnya. Di utara, sekalipun di musim semi, hawa udara dingin, dan pemuda ini tidak memakai sepatu. Teranglah ia seorang melarat. Di tangannya mencekal sepotong bakpauw. Ia mengawasi kedua jongos dengan tertawa, hingga terlihat dua baris giginya yang putih, rata, gigi bagus itu tak sebanding sama dandannya yang compang-camping itu.
“Mau apa lagi?!” menegur satu jongos, “Kenapa kau tidak mau lantas pergi?!”
“Baiklah, pergi ya pergi…” kata pemuda itu seraya ia putar tubuhnya.
“Eh, lepas bakpauw itu!” menitah jongos yang satunya.
Pemuda itu dengan bakpauwnya yang sekarang tertanda tapak tangan, hitam dan kotor. Tentu saja kue itu tak bakalan laku dijual.
Jongos itu menjadi gusar. Ser! kepalannya melayang. pemuda itu mendak, kepalan lewat diatasan kepalanya.
Kwee Ceng menjadi kasihan. ia tahu orang tentu sudah lapar. “Jangan!” ia cegah si jongos. “Aku yang membayar.” Ia jumput bakpauw itu, ia sodorkan kepada si pemuda.
Pemuda itu menyambut. “Makhluk yang harus dikasihani, ini aku bagi kau!” berkata ia. Dan ia lemparkan itu kepada seekor anjing buduk di depan pintu.
Anjing itu, seekor anjing kecil, menubruk dengan kegirangan, terus ia gegares bakpauw itu.
“Sayang…sayang…” kata satu jongos. “Bakpauw yang lezat dikasih ke anjing….”
Kwee Ceng pun heran, tetapi ia diam saja, ia balik ke mejanya untuk melanjutkan bersantap. Pemuda itu mengikuti ke dalam, ia mengawasi anak muda kita
Kwee Ceng lihat kelakuan orang, ia menjadi malu hati. “Mari dahar bersama!” ia mengundang.
“Baik!” tertawa pula pemuda itu. “Aku sendirian tidak gembira, aku memang lagi mencari kawan.” Ia bicara dengan lidah Selatan. Kwee Ceng mengerti omongan orang. Bukankah ibunya berasal dari Lim-an, Cit-kang, dan ia biasa dengar ibunya bicara? Ia malah girang mendengar lagu suara orang sekampung.
Pemuda itu menghampiri, untuk duduk bersama.
Kwee ceng teriaki jongos, meminta tambahan makanan. Jongos itu melayani dengan ogah-ogahan, sebab ia lihat pakaian orang yang butut dan kotor itu.
“Apakah kau sangka aku melarat dan jadinya tak pantas aku dahar barang makananmu?” si pemuda tegur jongos itu, yang ia lihat lagak lagunya. “Aku khawatir, meski kau menyuguhkan makananmu yang paling jempol, bagiku itu rasanya masih kurang cocok.” lanjutnya lagi.
“Apa?!” sahut jongos itu tawar, “Coba lojinkee menyebutkannya, pasti kami dapat membuatnya! Hanya aku khawatir, habis kau dahar, kau tidak punya uang untuk membayar!”
Dengan sengaja ia menyebut “lojinkee” atau orang tua yang dihormati, untuk menyindir.
Pemuda itu mengawasi Kwee Ceng. “Tidak peduli aku dahar berapa banyak, maukah kau yang mentraktir?” tanyanya.
“Pasti!” sahut Kwee Ceng tanpa berpikir lagi. Ia menoleh kepada si jongos, serta memerintahkan: “Potongi aku sekati daging kerbau serta setengah kati hati daging kambing!” Ia telah hidup terlalu lama di Mongolia hingga tahunya, makanan yang paling lezat di kolong langit ini adalah daging kerbau dan kambing. Ia menoleh pula kepada si anak muda: “Kita minum arak atau tidak?” ia tanya.
“Kita jangan repoti mendahar daging, baik kita makan bebuahan dulu!” sahut si anak muda. Ia lantas kata pada jongos: “Eh, kawan, lebih dulu kau sediakan empat rupa buah kering dan empat rupa buah segar, dua yang asam manis, dua yang manis bermadu.”
Jongos itu heran hingga ia terperanjat. Ia tidak menyangka orang omong demikian takabur.
“Toaya menghendaki buah apa yang segar bermadu?” tanyanya, suaranya tawar.
“Rumah makanmu ini rumah makan kecil dan tempatmu ini tempat melarat, pasti tidak dapat kamu menyediakan barang bagus,” berkata si anak muda. “Sekarang begini saja! Empat rupa buah kering itu leeci, lengkeng, co dan ginheng. Buah yang segar yaitu kau cari yang baru dipetik, yang asam aku ingin buah ento harum, dan kiang-sie-bwee. Entah disini ada yang jual atau tidak? Yang manis bermadu? Ialah jeruk tiauw-hoa-kim-kie, anggur hiangyoh, buah tho-tong-songtiauw dan buah lay-hauwlongkun….”
Mendengar itu, jongos itu menjadi melongo. Sekarang ia tak berani lagi memandang enteng kepada anak muda ini.
Si anak muda berkata pula; “Untuk teman arak, di sini tidak ada ikan dan udang segar, maka kau sajikan saja delapan rupa barang hidangan yang biasa!”
Jongos itu mengawasi. “Sebenarnya tuan-tuan ingin dahar masakan apa?” ia tanya.
“Ah, tidak dijelaskan, tidak beres!” berkata si anak muda itu. “Delapan rupa masakan itu puyuh asap, ceker bebek goreng, lidah ayam cah, soto manjangan keekangyauw, soto burung wanyoh, bakso kelinci, paha mencak dan kaki babi hong.”
Mendengari itu mulutnya si jongos ternganga.
“Delapan masakan itu mahal harganya,” katanya kemudian. “Untuk ceker bebek dan lidah ayam saja kita membutuhkan beberapapuluh ekor ayam….
Si anak muda menunjuk Kwee Ceng. “Tuan ini yang mentraktir, apakah kau kira dia tidak kuat membayarnya?” tanyanya.
Jongos mengawasi pemuda kita, yang dandannya indah dan malah mengenakan bulu tiauw, nampak bukan orang sembarang.
“Baiklah,” sahutnya kemudian. “Apakah sudah cukup semua ini?”
“Habis itu, kau sajikan lagi duabelas rupa untuk teman nasi,” berkata pula si anak muda. “Lainnya ialah delapan rupa tiamsim. Nah, sebegitu dulu!”
Jongos itu berlalu dengan cepat, ia khawatir orang nanti minta pula makanan lainnya. Setelah pesan koki, baru ia keluar pula. Sekarang ia tanya tetamunya, hendak minum arak apa. Ia kata, ada arak Pek-hun-ciu simpanan sepuluh tahun, apa boleh ia menyediakan dulu dua poci?
“Baiklah!” sahut si anak muda yang mengenal arak tak banyak cerewet.
Tidak terlalu lama, semua buah yang diminta telah disajikan saling susul-menyusul.
Kwee ceng cobai itu semua, satu demi satu, dan ia merasakan kelezatan yang dulu-dulunya belum pernah merasakan.
Sembari dahar bebuahan, si anak muda bercerita banyak, tentang segala apa di Kanglam. Kwee ceng tertarik hatinya. Orang bicara rapi, enak didengarnya. Rupanya luas pengetahuannya. Ia percaya, anak muda itu lebih pintar daripada gurunya yang kedua.
“Aku menyangka ia cuma miskin, tak tahunya dia terpelajar tinggi,” katanya dalam hati.
Selang kira-kira setengah jam, datanglah barang hidangan, yang mesti disajikan atas dua meja disambung menjadi satu.
Anak muda itu minum sedikit sekali. Barang hidangan yang ia pilih, Cuma dahar beberapa sumpitan. Sembari berdahar, ia sekarang banyak bertanya kepada Kwee Ceng, yang mengaku datang dari padang pasir. Kwee Ceng ingat pesan gurunya, ia tidak berani bicara terlalu banyak, ia jadi Cuma bicara tentang memburu binatang liar, memanah burung rajawali, menunggang kuda dan menggembala kambing. tapi si anak muda sangat tertarik hatinya, hingga ia tertawa dan bertepuk tangan.
Kwee Ceng sendiri sangat gembira berkumpul bersama kawan baru ini. Di gurun pasir ia bergaul erat sekali dengan Tuli dan Gochin, toh masih ada perbedaannya, Tuli sering mendampingi ayahnya. Gochin benar baik tetapi putri itu kadang-¬kadang manja sekali dan tidak sudi mengalah, maka sering mereka bertengkar. Maka itu, bicara lebih jauh, ia pun suka omong lebih banyak, kecuali hal ia mengerti silat dan mempunyai hubungan erat dengan Temuchin. Satu kali, saking gembira, ia cekal tangan si anak muda, untuk dipegang keras-keras. Hanya aneh, tangan itu ia rasai halus sekali. Si anak muda pun tersenyum dan menunduk.
Pernah Kwee Ceng menatap muka si anak muda, walaupun mehongan, kult muka itu agaknya halus dan bersemu putih, tetapi tentang ini, ia tidak memperhatikan.
“Sudah terlalu lama kita bicara, hidangan keburu dingin,” kata si anak muda seraya tarik tangannya. “Nasi pun sudah dingin…”
“Benar,” sahut Kwee ceng, sadar. “Baik suruh panasi lagi…”
“Tidak usahlah, terlalu panas pun tidak dapat didahar,” kata si anak muda, yang lalu memanggil jongos, menyuruh menukar hidangan yang terlalu dingin dengan yang baru! Jongos dan kuasa rumah menjadi heran. Seumurnya, baru kali ini mereka mendapat tamu seaneh ini. Tapi mereka ikuti kehendak itu.
Kwee Ceng pun diam saja, ia tidak pikirkan harganya barang makanan itu.
Sesudah makanan siap semua, anak muda itu dahar lagi sedikit saja, lalu ia mengatakan sudah cukup. Menyaksikan itu, si jongos katakan Kwee ceng dalam hatinya: “Dasar kau, bocah tolol! Bocah hina ini permainkan padamu!”
Kapan kuasa restoran sudah berhitungan, harganya semua buah dan makanan itu berjumlah tigaratus sembilan tail, tujuh chie empat hun. Untuk membayar itu, Kwee Ceng mengeluarkan dua potong emas, untuk ditukar dengan limaratus tael perak. Sehabis membayar, Kwee ceng pun kasih persen sepuluh tael hingga kuasa restoran dan jongos itu menjadi girang, dengan kelakuan sangat menghormat, mereka mengantar keluar kedua tamunya itu.
Di luar salju memenuhi jalan besar.
“Aku telah mengganggu kamu, ijinkan aku pamitan,” si anak muda meminta diri seraya memberi hormat.
Kwee Ceng berhati mulia, melihat pakaian orang yang tipis dan pecah, ia loloskan baju kulit tiauwnya, ia kerobongi itu di tubuh si anak muda. Ia kata: “Saudara, kita baru ketemu tetapi kita sudah seperti ¬sahabat kekal, maka aku minta sukalah kau pakai baju ini!” Tidak Cuma baju, ia pun memberikan uang. Ia masih punya sisa empat potong emas, yang tiga ia sisipkan ke dalam saku baju tiauw itu.
Si anak muda tidak mengucap terima kasih, ia pakai baju itu, terus negeloyor pergi. Adalah setelah jalan beberapa tindak, ia baru menoleh ke belakang, tampak Kwee Ceng lagi berdiri bengong dengan tangan memegangi les kuda merahnya, sepertinya pemuda itu kehilangan sesuatu. ia lantas saja angkat tangannya, menggapai.
Kwee Ceng lihat itu panggilan, ia menghampiri dengan cepat. “Saudaraku, apakah kau masih kekurangan sesuatu?” ia menanya. Ia sebenarnya memanggil adik (hiantee).
Anak muda itu tersenyum. “Aku masih belum belajar kenal she dan nama kakak yang mulia,” ia menyahut.
Kwee ceng pun tertawa. “Benar, benar!” katanya. “aku pun sampai lupa! Aku she Kwee, namaku Ceng. Kau sendiri hiantee?”
“Aku she Oey, namaku pun satu, Yong,” jawab anak muda itu.
“Sekarang hiantee hendak pergi kemana?” Kwee ceng bertanya. “Umpama kata hiantee hendak kembali ke Kanglam, bagaimana apabila kita jalan bersama?”
Oey Yong menggeleng kepala. “Aku tidak berniat pulang ke Selatan,” sahutnya. “Tapi toako, aku merasa lapar pula…” ia menambahkan.
“Baiklah, mari aku temani lagi kau bersantap,” jawab Kwee ceng, yang tidak merasa aneh atau mendongkol.
Kali ini Oey Yong yang mengajak kawannya itu. Ia pilih rumah makan yang paling besar dan kenamaan untuk kota Kalgan, yaitu Restoran Tiang Keng Lauw, yang bangunannya juga mencontoh model restoran besar dari Pian Liang, ibukota dahulu. Hanya kali ini ia tidak meminta banyak macam makanan, cuma empat rupa serta sepoci teh Liong-ceng.
Di sini kembali mereka pasang omong.
Kapan Oey Yong dengar Kwee ceng omong perihal dua ekor burung rajawali putih, ia menjadi tertarik hatinya.
“Justru sekarang tidak tahu aku mesti pergi ke mana, baik besok aku pergi saja ke Mongolia,” ia kata. “Di sana aku cari dan tangkap dua anak burung itu untuk aku buat main.”
“Hanya sukar untuk mencari anaknya,” Kwee ceng beritahu.
“Tapi kau toh dapat menemukannya,” berkata si anak muda.
Kwee Ceng tidak dapat menjawab, ia pun menemuinya burung itu secara kebetulan.
“Eh, hiantee, rumahmu di mana?” ia tanya. “Kenapa kau tidak pulang saja?”
Tiba-tiba saja mata Oey Yong menjadi merah. “Ayahku tidak menginginkan aku…” ia menyahut.
“Kenapa begitu?” Kwee Ceng tanya.
“Ayahku larang aku pergi pesiar, aku justru mau pergi,” sahut Oey Yong. “Ayah damprat aku. Karena itu malam-malam aku minggat….”
“Sekarang pasti ayahmu tengah memikirkan kau,” Kwee ceng berkata pula. “Dan ibumu?”
“Ibuku sudah meninggal dunia. Aku tidak punya ibu sejak masih kecil…”
“Kalau begitu, habis pesiar, kau mesti pulang.” kata Kwee ceng lagi.
Oey Yong menangis. “Ayahku tidak menginginkan aku lagi…” katanya.
“Ah, tak mungkin,” Kwee Ceng bilang.
“kalau begitu, kenapa ayah tidak mencariku?” kata si anak muda lagi.
“Mungkin ia mencari, Cuma tidak ketemu…” Kwee ceng mencoba menghibur.
Oey Yong tertawa. “Kalau begitu, baiklah, habis pesiar aku pulang!” katanya. “Cuma aku mesti dapati dulu dua ekor anak rajawali putih…”
Selagi kedua pemuda ini bicara dengan asyik, di tangga lauwteng terdengar suara langkah kaki, lalu tampak muncul tiga orang, dua kacung yang mengiringi pemuda dengan baju sulam yang indah. tampan sekali, wajahnya terang, usianya barangkali baru delapan atau sembilanbelas tahun. Ia memandang Kwee Ceng dan Oey Yong. Melihat pakaian yang kotor, ia mengerutkan kening, lantas ia menunjuk meja yang terpisah jauh. Kedua kacungnya menghampiri meja yang ditunjuk itu, mengatur mangkok dan sepasang sumpit yang ia bawa dari rumah. Mangkok dan sumpit yang mana disimpan dalam sebuah kotak. Jongos juga segera repot melayani tamu baru ini.
Kwee Ceng mengawasi sebentar, lantas ia tidak pedulikan lagi tamu itu. Ia kembali mengobrol bersama sahabat barunya itu.
Belum lama, di bawah lauwteng terdengar suara kuda meringkik, disusul beberapa kali bentakan dari beberapa orang. Ia ingat akan kudanya, maka ia lari ke jendela untuk melongok ke bawah. Ia melihat beberapa orang dengan pakaian serba putih tengah mengurung kudanya, hendak ditangkap, tetapi kuda itu berjingkrakan, hingga ia tak dapat didekati. Ia menjadi gusar sekali, terutama ketika ia kenali orang-orang itu adalah delapan penunggang unta yang memang berniat merampas kudanya. Ia hanya heran kenapa orang dapat menyusul demikian cepat. Lantas ia berseru: “Di siang bolong kamu berani merampas kudaku?” Lantas ia lari turun dari lauwteng. Setibanya di depan rumah makan, ia dapatkan delapan orang berpakaian putih itu sedang rebah tanpa berkutik. Ia menjadi heran sekali, sehingga ia berdiri menjublak.
Tiba-tiba Kwee Ceng sadar. Ia merasakan ada tangan yang lemas memegang tangannya. Ketika ia menoleh, ternyata Oey Yong, entah kapan telah turun dari lauwteng.
“Jangan pedulikan mereka, mari kita naik lagi ke lauwteng!” berkata sahabat barunya ini.
“Mereka ini hendak merampas kudaku,” kata Kwee Ceng. “Entah kenapa, mereka pada rubuh sendirinya….”
Meski ia mengucap demikian, Kwee ceng menurut, ia memutar tubuhnya. Demikian juga si anak muda itu.
Justru mereka memutar tubuh, si pemuda tampan dan berpakaian mewah itu juga telah berada di depan, malah ia sudah lantas membungkuk melihat delapan pemudi yang menyamar sebagai pemuda-pemuda itu, kemudian ia mengawasi kedua anak muda itu, sinar matanya menandakan sangat heran.
Oey Yong tarik tangannya Kwee ceng, untuk naik tangga, kemudian sembari tertawa manis, ia tuangkan air teh di cawan pemuda itu.
“Toako, kudamu itu bagus sekali!” katanya memuji.
Kwee Ceng hendak sahuti sahabatnya ketika tatkala dengar ramai suara kelengan unta di depan rumah makan, ia pergi ke jendela diikuti Oey Yong, mereka melongok ke bawah, melihat delapan nona serba putih itu berlalu dengan unta mereka, salah satu nona menoleh ke belakang, ia memandang Kwee Ceng dengan sinar matanya yang tajam, tanda kemurkaan, sepasang alisnya pun terbangun. Tiba-tiba saja ia ayun tangannya yang kanan, dua potong ginso menyambar ke loteng.
Cepat-cepat Kwee Ceng cabuti kopiahnya, menyambut torak perak itu. Akan tetapi si pemuda tampan dan berpakaian mewah itu telah mendului, dengan menyentil dua kali, dua batang senjata rahasia yang bersinar emas berkilauan itu melayang, lalu di antara dua kali suara tintong, ginso itu jatuh bareng bersama senjata penyerangnya. kedua kacung lantas pungut empat senjata rahasia itu, diserahkan kepada si pemuda, yang menyambut seraya memasukkannya ke dalam saku. Habis itu, ia lantas bertindak naik di tangga lauwteng, menghampirkan Kwee Ceng, segera memberi hormat sambil berjura.
“Aku mohon tanya she dan nama mulia dari toako,” ia minta.
Kwee ceng cepat-cepat membalas hormat. “Siauwte she Kwee, bernama ceng,” ia menyahut. “Kongcu ada pengajaran apakah?” lanjutnya.
“Apakah saudara Kwee datang dari pulau Tho Hoa To dari Tang-hay?” pemuda itu menanya. “Aku mohon tanya, ada urusan apakah saudara datang ke mari?”
Ditanya begitu, Kwee melengak. “Siauwtee datang dari gurun pasir utara,” ia menyahut. “Belum pernah siauwtee pergi ke pulau Tho Hoa To. Barusan kongcu membantu, aku sangat berterima kasih.”
Kongcu itu berkata: “Saudara Kwee tak hendak mengenalkan diri, nah di sini saja kita berpisahan, sampai nanti kita bertemu pula!” Lalu ia menjura dalam sekali.
Kwee ceng lekas-lekas membalas, di waktu mana ia merasakan sambaran angin. Kongcu itu telah mengibaskan tangannya, ujung tangan bajunya menjurus ke matanya.
Inilah Kwee ceng tidak sangka. Sembari memberi hormat orang menyerang secara hebat sekali. Celaka kalau ia kena tersampok. Maka ia lantas tunduk, untuk masuki kepalanya ke selangkangannya, guna terus lompat berjumpalitan. Meski begitu, pundaknya kena tersambar juga, hingga terbit satu suara nyaring dan ia merasakan sakit ngilu pada pundaknya. Karena ini, diwaktu ia sudah taruh kakinya, ia kaget dan gusar dengan berbareng.
“Kau…kau….”
Tapi si kongcu pegat ia, sembari tertawa, ia kata: Aku cuma mencoba ilmu kepandaianmu, saudara Kwee. Ilmu totok kau lihay sekali, tapi ilmu silatmu tangan kosong biasa saja. Maaf…!” Kembali ia menjura.
Kwee ceng khawatir orang nanti bokong pula padanya, ia mundur setindak.
Oey Yong agaknya kaget, tubuhnya bergeser, tangannya menjatuhkan sebatang sumpit ke kaki kongcu, disaat kongcu itu mengangkat tubuhnya habis menjura, Oey Yong pun telah dapat menjumput sumpitnya itu. Si kongcu rupanya jijik untuk pakaian kotor anak muda ini, ia mundur satu tindak, kepada Kwee Ceng ia tersenyum, terus ia putar tubuhnya untuk bertindak ke tangga lauwteng.
“Ini untuk kau…” kata Oey Yong dengan perlahan, tangannya disodorkan.
Kwee Ceng melihat telapak tangan anak muda ini, ia tercengang. Di tangan kawan ini terlihat dua potong tusuk konde emas serta dua potong ginso, yang bergemerlapan kuning dan putih. Itulah ginso yang tadi si kongcu simpan dalam sakunya. Entah kapan sahabat ini mengambilnya. Ia tercengang sebentar lantas ia ingat, ia mengerti. Ia sambut tusuk konde emas dan ginso itu.
“Kongcu, kau lupakan barangmu ini!” ia panggil si pemuda yang seperti anak bangsawan itu.
Kongcu itu menghentikan tindakannya, ia berpaling.
Kwee Ceng angsurkan kedua barang emas dan perak itu.
Menampak barangnya itu, kongcu terkejut sehingga air mukanya berubah, cepat luar biasa tangannya menyambar ke arah Kwee ceng, lima jarinya yang kuat seperti kuku garuda menyambar.
Kwee Ceng kaget tidak terkira. Dari gerakannya saja, ia sudah dapat menduga orang bergerak dengan ilmu silat Kiu-im Pek-kut Jiauw seperti keenam gurunya sering menuturkan kepadanya. Maka ia menduga, adakah kongcu ini sekaum dengan Tiat Sie Bwee Tiauw Hong si Mayat Besi? Ia menginsyafi hebatnya cengkeraman Tulang Putih itu, sebab masih ada bekas cengkeramannya Bwee Tiauw Hong dulu hari pada lengannya, cuma ia dapat membedakannya, sambaran kongcu ini kalah jauhnya dengan sambaran si Mayat Besi. Tidak berani ia menangkis atau menyambut cengkeraman itu, belum ia terjambak, empat senjata di tangannya sudah lantas mencelat. cepat luar biasa ia telah kerahkan tenaganya.
Kongcu itu terkejut. Ia dapatkan, belum lagi serangannya mengenai, empat senjata itu sudah menyambar ke arahnya. ia juga dapat lihat anak muda itu berdiri tegar ditempatnya. Dengan terpaksa ia sambut empat potong benda itu. Setelah menatap, ia memutar tubuhnya terus menuruni tangga.
Ketika Kwee Ceng kembali ke kursinya, Oey Yong sahabatnya itu mengawasi sambil tertawa geli.
“Kenapa barang itu berada di tanganmu?” ia menanya, heran.
“Dia membikinnya jatuh selagi dia menjura kepadamu, lantas aku jumput!” sahut Oey Yong masih tertawa.
Kwee Ceng jujur, ia tidak menduga orang mendusta.
“Toako, kenapa rombongan wanita itu mencoba merampas kudamu?” kemudian Oey Yong menanya.
“Sebab kudaku adalah han-hiat-po-ma,” jawab Kwee Ceng, yang terus tuturkan perihal kuda itu sampai ia bertemu rombongan si wanita itu, yang menyamar sebagai pemuda-pemuda dan menunggang unta. Kemudian ia melanjuti: “Entah siapa yang membantuku diam-diam dengan merobohkan mereka. Kalau tidak tentulah mesti terjadi pertempuran hebat…”
Oey Yong masih tersenyum.
“Kudaku itu lari cepat sekali, sebenarnya aku telah mendahului mereka seperjalanan tiga hari, entah kenapa, mereka dapat menyusul…” Kwee Ceng kemudian mengutarakan keheranannya. “Sungguh memusingkan kepala..”
“Aku lihat di antara mereka ada yang memegang sepasang burung dara,” kata Oey Yong.
Tiba-tiba Kwee ceng menepuk meja. “Ya, aku ingat sekarang!” ia kata pula separuh berseru. “waktu itu aku lihat terbangnya dua ekor burung di atas kepala. Rupanya tiga wanita itu melepaskan burung itu untuk memberi kabar kepada lima kawannya, untuk mereka memegat atau mengawasi aku, dari itu, mereka gampang saja mencariku.”
Setelah itu, Oey Yong tanya tentang tenaga larinya kuda merah itu dan Kwee ceng menuturkannya dengan jelas. Ia kelihatannya menjadi kagum sekali. Ia keringkan secawan teh, lalu ia tertawa.
“Toako,” katanya, “Hendak aku meminta sesuatu yang berharga darimu, apa kau sudi mengabulkannya?” dia bertanya.
“Kenapa tidak?” Kwee Ceng menjawab.
“Sebenarnya aku suka sekali dengan kudamu itu,” menerangkan Oey Yong.
“Baik, hiantee, aku hadiahkan itu padamu!” kata Kwee Ceng tanpa ragu-ragu.
Oey Yong terperanjat. Sebenarnya ia main-main saja. Bukankah mereka baru pertama bertemu? Ia malah mengharap jawaban si pemuda adalah penolakan. Ia lantas mendekam di meja, terus terdengar tangisannya sesegukan.
Sekarang adalah giliran Kwee Ceng yang menjadi heran. “Hiantee, kau kenapakah?” ia menanya cepat. “Apakah kau kurang sehat?”
Oey Yong angkat kepalanya, ia mengawasi si pemuda. Mukanya penuh air mata. Tapi sekarang ia tidak menangis, sebaliknya ia tertawa. Air matanya itu yang mengalir di kedua belah pipinya, menyebabkan mehongan luntur, hingga tampak dua baris kulitnya yang putih mulus.
“Toako, marilah kita pergi!” ia mengajak. Kwee Ceng menurut. Bersama-sama mereka turun dari lauwteng. Lebih dulu ia membayar uang makan, baru ia tuntun kudanya. Ia pesan kepada kudanya: “Aku haturkan kau kepada sahabatku yang baik, maka baik-baiklah kau mendengar katanya, jangan kau bawa adatmu.” Kemudian sembari menoleh kepada si anak muda, ia mepersilakan: “Hiantee, kau naiklah!”
Sebenarnya kuda itu tak dapat ditunggangi orang lain, akan tetapi ia sekarang tidak membangkang.
Oey Yong naik kuda itu. Kwee Ceng menyerahkan les kuda itu, ia terus tepuk kempolan kudanya itu. Dengan lantas kuda itu berlari pergi.
Pemuda itu menanti sampai orang tidak terlihat lagi, baru ia melihat langit. Ia mendapatkan sang malam bakal lekas tiba. Karena ini, ia lantas pergi mencari rumah penginapan. Ketika disaat ia hendak memadamkan api, untuk rebahkan diri, tiba-tiba ia dengar ketokan pada pintu.
“Siapa?” ia tanya heran.
“Satu sahabat,” sahut suara di luar, suaranya parau.
Kwee Ceng turun dari pembaringan, ia membuka pintu. Di antara cahaya lilin, ia tampak lima orang berdiri di depannya. Setelah ia mengenali orang, ia terkejut bukan main. Empat di antaranya ada membawa golok dan ruyung. Mereka itulah Hong Ho Su Koay. Dua orang yang ke lima, yang usianya kurang lebih lima puluh tahun, tubuhnya kurus, mukanya lonjong, di jidatnya ada tiga kutil besar, romannya sangat tidak mengasih untuk diawasi.
Si kurus sudah lantas tertawa tawar, tanpa bilang suatu apa, ia membuka tindakan lebar akan memasuki kamar orang, akan terus mencokol di atas pembaringan, sambil melirik, ia awasi tuan rumah.
Kwee Ceng pun mengawasi, hingga ia melihat tegas, muka orang ada tanda bekas luka-luka senjata tajam, hingga dia itu tak dapat melihat lepas ke depan.
Toan-hu-to Sim Ceng Kong si Golok Memutus Roh, dengan dingin, lantas berkata: “Inilah paman guru kami, Sam-tauw-kauw Hauw Thong Hay yang sangat ternama! Lekas kau berlutut!”
Kwee Ceng mengerti bahwa ia telah terkurung, bahwa Hong Ho Su Koay saja sudah bukan tandingannya, apapula mereka dibantu oleh paman gurunya itu, yang julukannya pun berarti si Ular Naga Kepala Tiga.
“Tuan-tuan ada punya urusan apa?” ia tanya sambil menjura.
“Mana guru-guru kamu?” Hauw Thong hay menanya.
“Guruku tidak ada di sini,” sahut Kwee Ceng.
“Ah! Kalau begitu aku memberi padamu untuk hidup lagi setengah harian!” kata Ular Naga Kepala Tiga itu. “Sekarang hendak kau memberi pengajaran kepadamu, agar orang tidak nanti mengatakan Sam-tauw-kauw menghina anak kecil. Besok tengah hari aku menantikan di rimba Hek-siong¬lim di luar kota, kau datang ke sana bersama semua gurumu!” Habis berkata, ia bangkit, tanpa menanti penyahutan Kwee Ceng, ia sudah ngeloyor keluar. Sesampai di luar, ia suruh Twie-beng-chio Gouw Ceng Liat si Tombak Mengejar Jiwa menutup pintu, hingga terdengar suara membeletok.
Kwee Ceng memadamkan api, terus ia duduk numprah di atas pembaringan. Kemudian memandang ke jendela, tampak bayangan orang mondar-mandir. Rupanya orang telah menjaga ia di luar kamar. Ia masih berdiam saja. Selang tidak lama, ia dapat dengar apa-apa di atas genting. Itulah suara ketokan beberapa kali, disusul sama bentakan: “Bocah, jangan kau memikir untuk kabur, engkongmu menunggu kau disini!”
Jadi terang dia telah dikurung keras. Dia lantas rebahkan dirinya, niatnya untuk tidur tanpa menghiraukan segala apa. Tapi ia tidak dapat pulas, ia mesti gulak-galik saja.
Besok pagi, jongos muncul dengan air cuci muka dan tiamsim, untuk sarapan. Di belakang jongos itu terlihat Cian Ceng Kian dengan sepasang kampaknya.
“Suhu semua berada di tempat jauh, dapatkah mereka menolongu,” Kwee Ceng berpikir. “Sudah terang aku tidak dapat lolos, baiklah aku mati bertempur!”
Oleh karena berpikir begini, hatinya menjadi mantap. Ia lantas saja bercokol di atas pembaringan, untuk bersemadhi menuruti ajarannya Ma Giok. Ia bersemadhi hingga tengah hari, baru ia bangkit turun.
“Mari kita pergi!” ia kata kepada Cian Ceng Kian.
Mereka jalan berendeng, menuju ke arah barat, sampai sepuluh lie lebih. Di sana ada sebuah rimba besar, yang menutupi matahari. Seram suasana di situ. Di sini Ceng Kian tinggalkan si pemuda, untuk dengan cepat bertindak ke sebelah dalam rimba.
Kwee ceng loloskan joan-pian, cambuk lemasnya. Ia berlaku tenang, setindak demi setindak, ia maju. Ia menjaga diri dari bokongan di kiri atau kanannya. Satu lie sudah ia berjalan, ia tidak bertemu dengan musuhnya. Tiba-tiba iateringat pesan gurunya yang keempat: “Jikalau tidak ungkulan, lari!” Maka ia berpikir: “Sekarang tidak ada orang mengawasi aku, rimba pun lebat, kenapa aku tidak hendak sembunyikan diri?” Maka hendak ia segera mewujudkan pikirannya ini. Tapi tiba-tiba.
“Bocah haram! Anak campuran! Anak jadah!” demikian ia dengar makian hebat.
Sambil berlompat, Kwee Ceng putar cambuknya, untuk melindungi diri. Akan tetapi tidak ada serangan terhadapnya. Sambil berdiri diam, ia angkat kepalanya, memandang ke arah dari mana cacian itu datang. Lantas ia berdiri menjublak!
Di atas empat pohon di dekatnya, tampak Hong Ho Su Koay tergantung masing-masing di sebuah cabang besar, kaki dan tangan mereka terbelenggu, tubuh mereka bergelantungan, sia-sia saja mereka mencoba meronta-ronta, melainkan mulut mereka yang dapat di pentang lebar-lebar. Mereka mencaci kalang-kabu ketika mereka tampak si pemuda musuhnya itu.
Kwee Ceng heran bukan kepalang, akan tetapi ia tertawa. “Apakah kau tengah main ayunan di sini?” dia bertanya. “Sungguh menggembirkan, bukan? Nah sampai bertemu pula! Sampai bertemu pula! Maaf, tidak dapat aku menemani kalian lama-lama…!”
Sim Ceng Kong berempat mencaci maki pula, semakin hebat. Mereka malu untuk minta tolong. Di samping itu mereka heran sekali kenapa paman guru mereka Hauw Thong Hay, tidak lekas kembali. Selagi Kwee ceng bertindak, hampir ia lenyap dari pandangan mata, tiba-tiba Toat-pek-pian, Ma Ceng Hiong si Cambuk Perampas Roh, berubah pikiran. Ia takut mati, maka ia lupa akan malunya.
“Kwee Enghiong, kami menyerah kalah!” dia berteriak. “Aku mohon sukalah kau membebaskan kami!”
Kwee Ceng sudah lantas berpikir: “Sebenarnya aku tidak bermusuhan dengan mereka, adalah mereka yang memusuhi aku, apa perlunya membiarkan mereka mati sengsara di sini?” Dengan cepat ia mengambil keputusan, terus ia kembali dengan berlompatan, ia kasih turun mereka itu satu per satu. Pantas Hong Ho Su Koay tidak sanggup berontak melepaskan diri, alat menggantungnya itu adalah tambang kulit yang kuat. Ia pun mengutanginya itu dengan golok emasnya.
Sesudah empat Siluman itu direbahkan di tanah, pemuda itu totok mereka bergantian, maka mereka itu lantas saja tidak dapat geraki kaki dan tangan mereka, habis mana barulah ia putuskan belengguan mereka itu. Sambil tertawa, ia berkata: “dua belas jam lagi baru kamu dapat pulang tenaga dalam dan merdeka. Sebetulnya, siapakah yang menggantung kamu di sini?”
“Kau masih berpura-pura!” membentak Cian Ceng Kian mendongkol. “Kalau bukan kau, siapa lagi?”
Kwee Ceng heran. Ia lantas angkat kaki, meninggalkan mereka. Ia heran orang menuduh padanya, tetapi ia mengerti, mesti ada orang yang sudah menolongnya. Di mana di situ tidak ada Hauw Thong Hay, ia khawatir paman guru mereka itu nanti keburu kembali, maka ia pikir, mesti ia lekas menyingkir. Ia lari keluar rimba, balik ke kota, malah di sini ia segera membeli seekor kuda untuk melanjuti perjalanannya ke selatan.
“Siapakah itu orang secara diam-diam menolongaku?” ia berpikir di sepanjang jalan. Keanehan itu tak dapat ia melupakannya. “Hong Ho Su Koay lihay tetapi mereka dapat digantung, teranglah lawannya itu mesti jauh lebih lihay daripada mereka. Yang hebat mereka sampai tidak melihat, hingga mereka menyangka aku. Herannya, ke mana perginya Hauw Thong Hay si Ular Naga itu? dia tidak tampak sekalipun bayangannya?”
Kwee Ceng terus melakukan perjalan. Pada suatu hari, tibalah ia di Tiongtouw, kota raja Tay Kim Kok, negara Kim (Kin) yang besar, yang paling ramai dan indah, sampai tidak dapat dilawan oleh Pian-liang, kota raja yang lama dari kerajaan Song, atau Lim-an, kota raja yang baru. Ia besar di gurun pasir, belum pernah ia menyaksikan suasana kota besar, yang indah lauwteng dan rangonnya, yang permai sero-seronya, sedang kereta-kereta bagus dengan semua kuda pilihannya mondar-mandir di jalan-jalan besar. Di pelbagai rumah minum ia pun dengar suara tertawa, merdunya bunyi tetabuan. Semua itu ia saksikan diwaktu siang berderang. Untuk bersantap, ia sampai tidak berani memilih restoran yang mentereng, ia cari sebuah restoran yang kecil. habis dahar, ia berjalan-jalan, baru berhenti ketika di sebelah depannya terdengar sorak-sorai yang ramai, ada berkumpul sejumlah orang. Ia mendekat. Ia menyelak di antara banyak orang itu, untuk melihat ke sebelah dalam.
Orang banyak itu mengurung sebuah tanah lapang, di situ ada dipancar bendera suram, dasarnya putih, ada sulaman empat huruf besar: “Pi Bu Ciauw Cin”. Artinya: mencari jodoh dengan jalan pibu atau mengadu kepandaian. Di bawah bendera itu ada satu nona dengan baju merah tengah bertempur sama seorang pria, yang tubuhnya jangkung dan besar, bertempur dengan seru sekali. Heran Kwee Ceng apabila ia saksikan ilmu silat si nona itu. Ia berpikir: “Dia lihay, kenapa dia munculkan diri di tempat umum seperti ini?”
Selang lagi beberapa jurus, nona itu menggunakan akal. Si pria dapat melihat lowongan, ia menjadi kegirangan, lantas menyerang dengan kedua tangannya, ke arah dada. Nona itu tidak mengambil sikap menangkis, atau berkelit. Pria itu tidak sampai hati, batal meninju, hanya mengubah kepalannya menjadi tangan terbuka, ia menolak ke arah pundak.
Luar biasa gesitnya nona itu, ia berkelit dengan mendak, kedua kakinya bergerak saling susul-¬menyusul, membawa tubuhnya melejit ke samping ke belakang penyerangnya, tangan kirinya diayunkan, “Buk!” punggung si pria kena terhajar, sampai terjerunuk ke depan, roboh ke tanah, hanya syukur, setelah memegang tanah, dia dapat menahan diri dan mengerahkan tenaga, untuk berlompat bangun. Muka pemuda itu menjadi merah, dengan kemalu-maluan ia menyelinap di antara orang banyak. Syukur untuknya, ia tadi berkasihan terhadap si nona, maka sekarang si nona tidak menghajar hebat kepadanya.
Para penonton lantas saja bertampik sorak.
Nona itu singkap naik rambut yang turun ke dahinya, lalu mundur ke bawah bendera.
Kwee Ceng pandang nona itu, cantik sekali, umurnya mungkin baru tujuh atau delapanbelas tahun, sikapnya pun berpengaruh. Mendadak ia ingat sesuatu, hingga ia berpikir: “Kenapa aku seperti kenal dia? seperti aku pernah bertemu dengannya, entah dimana…?” kemudian ia tersenyum sendiri, ia ingat: “Baru sekarang kau tiba di Tionggoan, kapan aku pernah bertemu orang lain? Aku tadinya menyangka, nona-nona serba putih dan menunggang unta itu sudah elok semua, aku pikir kenapa ada demikian banyak wanita cantik, siapa tahu nona ini melebihi mereka…. Dasar aku kurang berpengalaman! Rupanya di Tionggoan ini dimana-mana wanitanya cantik semua, maka tak usahlah aku menjadi heran…”
Pemuda ini polos, hatinya masih terbuka, maka itu, walaupun ia telah melihat wajah-wajah yang cantik manis, hatinya tidak tergiur. Maka itu ia lantas memandang ke kiri dan kanannya.
Si nona lantas bicara perlahan sama seorang yang berdiri di dekatnya, pria itu mengangguk, terus ia mengangguk keempat penjuru seraya berkata: “Aku yang rendah bernama Bok Ek, aku lewat di tempat tuan-tuan tidak dengan maksud mencari nama atau mencari uang, hanya guna anakku ini. Anakku sudah dewasa usianya, ia masih belum ketemu jodohnya, maka itu sekarang aku mencarikan jodoh. Adalah keinginanku, pasangan anakku tidak usah berharta, cukup asal ia satu pria sejati yang mengerti ilmu silat. Karena ini dengan beranikan diri, aku mancarikan jadoh dengan jalan pibu ini. Siapa yang usianya di bawah tiga puluh tahun dan belum menikah, asal ia bisa menyerang anakku dengan satu kepalannya atau kakinya, akan aku rangkap jodoh anakku ini dengan jodohnya. Kami berdua, ayah dan anak, sudah membuat perjalanan dari selatan hingga utara, sudah melintas tiga belas propinsi, akan tetapi kami masih belum menemukan jodoh, sebab rupanya, mereka yang gagah sudah pada menikah atau mereka yang muda sungkan hatinya?” Ia berhenti sebentar, lagi ia menjura kepada orang banyak, baru ia menambahkan: “Kota Pakhia ini adalah tempat rebahnya harimau atau tempat sembunyi naga, disini mesti banyak orang berilmu dan gagah, oleh karena itu, aku harap tuan-tuan memaafkannya kalau ada kata-kataku yang tidak tepat. Tuan-tuan, perkenankanlah kami undurkan diri, pulang ke rumah penginapan guna beristirahat, besok kami datang lagi ke mari untuk melayani tuan-tuan.”
Habis mengucap, sekali lagi mengangguk, lalu ia cabut benderanya, bendera Pi Bu Ciauw Cin. Tiba-tiba saja.
“Tunggu dulu!”
Itulah suara berbareng, yang datangnya dari sebelah kiri dan kanan, dari mana lantas terlihat dua orang berlompatan ke dalam kalangan.
Orang banyak lantas mengawasi, akhirnya mereka semua tertawa geli. Yang muncul dari sebelah timur itu adalah seorang tua dengan tubuh terokmok, mukanya penuh berewokan, kumisnya sudah ubanan separuh lebih, dan umurnya juga sudah lewat lebih dari setengah abad. Yang datang dari barat itu lebih lucu pula. Dialah satu paderi yang kepalanya licin lanang!
“Eh, kamu tertawakan apa?” tanya si tua itu kepada orang banyak, yang ia awasi. “Bukankah dia mau adu kepandaian untuk mencari suami? Nah, aku masih belum menikah! Mustahilkah aku tidak cocok?”
Si paderi itu awasi si tua, ia tertawa. “Oh, kakek-¬kakek!” katanya. “Taruh kata kau menang, apakah kau tidak kasihan terhadap si nona yang masih demikan remaja bagaikan sekuntum bunga? Apakah setelah kau menikah kau hendak membuatnya ia menjadi janda?”
Orang tua itu menjadi gusar. “Habis kau, apakah kau mau dengan datang kemari?” ia menegur.
Paderi itu tersenyum. “Setelah aku mendapatkan istri begini cantik, aku akan segera pulang menjadi orang biasa lagi!” sahutnya.
Mendengar itu, kembali riuhlah tawa orang banyak.
Si nona menjadi mendongkol. Ia merasa bagaimana orang hendak mempermainkan dirinya, wajahnya menjadi merah, sepasang alisnya terbangun, matanya bersorot tajam. Ia lantas loloskan mantelnya, berniat menghajar kedua manusia ceriwis itu.
Bok Ek tarik tangan gadisnya. “Tenang, nanti aku yang melayani mereka,” ia membujuk.
Si empe dan paderi masih adu omong terus, mereka jadi sengit sekali. Disamping mereka, para penonton juga tak henti-hentinya tertawa. Tidakkah pemandangan itu sangat lucu?
“Saudara-saudara, nah kamu pibulah terlebih dulu!” satu penonton yang membuka mulut. “Nanti, siapa yang menang, ia yang maju melawan si nonan manis!”
“Bagus!” berseru si paderi, yang agaknya tidak menghiraukan ejekan orang banyak itu. “Aki-aki, mari kita berdua main-main…!”
Paderi ini menantang, tetapi, belum lagi ia peroleh jawaban, sebelah tangannya sudah melayang.
Si empe-empe berkelit, segera balas menyerang. Maka dengan itu, keduanya menjadi bertempur.
Kwee Ceng menonton. Ia dapatkan si paderi bersilat dengan jurus-jurus Lo Han Kun dari ilmu silat Siauw Lim Pay, sedang si empe menggunakan ilmu silat Ngo Heng Kun. Jadi keduanya dari golongan Gawkang, ilmu Bagian Luar. Si paderi dapat berlompat dan mendekam dengan cepat, lincah gerakannya. Si empek sebaliknya tenang tegar, jangan pandang usianya yang tua, tenaganya sebenarnya masih besar.
Satu kali si paderi dapat merapatkan diri, kepalannya menghajar tiga kali beruntun, ke arah pinggang lawannya. Si empek kuat sekali, ia terima serangan tanpa berkelit atau menangkis, tapi berbareng dengan itu, ia angkat tinggi tangan kanannya, untuk dikasih turun ke arah kepala lawannya, bagaikan martil, kepalannya menumbuk kepala licin mengkilap dari si paderi. Tak tahan paderi itu, segera ia jatuh duduk, numprah di tanah. Ia berdiam tidak lama, mendadak ia tarik keluar sebatang golok kayto dari dalam jubahnya, dengan itu ia membabat kakinya si tua!
“Celaka!” berteriak orang banyak.
Si tua dapat menolong diri dengan berlompat berkelit, berbareng dengan mana, tangannya meraba ke pinggang, untuk mengasih keluar sepotong thiephie atau ruyung besi. Kiranya mereka sama-sama membekal senjata. Sekarang mereka melangsungkan pertandingan dengan golok dan ruyung.
“Bagus! Bagus!” teriak orang banyak berulangkali. Hanya sambil berseru-seru, mereka pada mengundurkan diri setindak demi setindak. Hebat menyambar-nyambarnya golok kayto dan ruyung besi, takut mereka nanti kena terserempet….
“Tuan-tuan, tahan!” Bok Ek berseru seraya menghampiri. “Di sini adalah kota raja, tidak dapat kita sembarang menggunakan senjata tajam!”
Dua orang itu lagi bertempur seru sekali, mereka tidak memperdulikan seruan itu.
Melihat ia tidak dihiraukan, tiba-tiba Bok Ek menyerbu. Dengan satu dupakan, ia membuat golok kayto terpental tinggi dan dengan sambaran tangan ia rampas ruyungnya si empek-empek, kemudian selagi golok turun, ia hajar itu dengan ruyung sehingga golok itu patah dua!
Para penonton kagum, mereka bersorak. Tapi itu belum semua, dalam sengitnya, Bok Ek cekal kedua ujung ruyung, ia lantas menekuk, maka ruyung itu menjadi bengkok melengkung, hingga sudah tentu saja selanjutnya tak dapat digunakan lagi!
Si tua dan si paderi tercengang, mereka menjadi kuncup hatinya, tanpa membilang suatu apa lagi, keduanya nyelusup diantara orang banyak, angkat kaki!
Kwee Ceng mengawasi Bok Ek, yang tubuhnya sedikit bongkok tetapi badannya lebar dan kekar, tanda dari tenaganya yang besar, Cuma rambut dekat kedua samping kupingnya sudah berwarna kelabu dan kulit mukanya berkerenyut dan waktu itu wajahnya guram. Dilihat dari roman, ia mungkin telah berusia hampir enam puluh.
“Besok kita pulang ke selatan…” berkata dia dengan masgul. Dia pun menghela napas.
“Ya,” menyahut si nona, yang diajak bicara.
Sampai disitu, penonton hendak bubaran. Bukankah pibu telah berakhir? Tapi justru itu, mereka dengar suara kelenengan kuda, hingga mereka pada menoleh, Kwee Ceng pun tak terkecuali.
Ke situ datang satu kongcu atau pemuda sambil diiringi beberapa puluh pengikut. Suara kelenengan itu datang dari rombongan itu. Kapan Kwee Ceng telah melihat si koncu, lekas-lekas ia sembunyikan diri di antara orang banyak itu. Ia kenali si kongcu yang ia telah ketemukan di rumah makan di Kalgan.
Kongcu itu melihat bendera Pi Bu Ciauw Cin, ia lantas awasi si nona baju merah, terus ia loncat dari kudanya, sembari tersenyum, ia masuk ke dalam kalangan.
“Apakah nona yang mengadakan pibu untuk mencari jodoh?” ia menanya sambil memberi hormat.
Nona itu dengan wajah bersemu merah, melengos, tidak menyahut. Adalah Bok Ek, yang menghampiri pemuda itu, untuk memberi hormat.
“Aku yang rendah she Bok. Kongcu ada keperluan apakah?” ia menanya.
“Bagaimana aturan atau syarat-syaratnya pibu perjodohan ini?” menanya si pemuda.
Bok Ek memberikan keterangannya.
“Kalau begitu, hendak aku mencoba-coba,” kata si pemuda.
“Ah, kongcu bergurau!” berkata Bok Ek tertawa. Lagi-lagi ia memberi hormat.
“Kenapa begitu?” si pemuda menegaskan.
“Kami adalah orang kangouw, mana berani kami beradu tangan sama kongcu?” menyahut Bok Ek. “Lagian ini bukannya cuma soal menang atau kalah, ini mengenai hari kemudian dari anakku. Aku minta kongcu sudi memaafkan aku.”
Pemuda itu mengawasi si nona. “Sudah berapa lama sejak kamu mengadakan pibu ini?” ia tanya pula.
“Sampai sebegitu jauh sudah satu tahun lebih dan kami telah menjelajahi tiga belas propinsi,” menjawab Bok Ek dengan sebenarnya. Pemuda itu tampaknya heran.
“Apakah mungkin belum pernah ada orang yang dapat menangkan dia?” ia menegaskan. “Ah, aku tidak percaya!” Ia tunjuk si nona.
Bok Ek tersenyum. “Sebabnya mungkin, orang yang pandai silat itu sudah menikah atau ia sungkan beradu tangan dengan anakku,” ia menerangkan.
“Kalau begitu, mari, mari!” berkata si pemuda, menantang. Ia bertindak ke tengah kalangan.
Diam-diam girang hatinya Bok Ek. Ia dapatkan orang, muda dan tampan. Si nona agaknya kagumi pemuda itu. Ia tahu, di dalam tiga belas propinsi, belum pernah ia bertemu pemuda semacam ini. Maka ia loloskan mantelnya, hampiri si pemuda untuk memberi hormat.
Pemuda itu membalas hormat, ia tersenyum. “Silakan mulai, nona!” ia kata.
“Silakan kongcu membuka dulu bajumu,” berkata nona itu.
“Tidak usah,” menyahuti si kongcu.
Para penonton pada berkata dalam hatinya, “Si nona lihay sekali, sebentar kau nanti merasai…” Tapi ada juga yang berpikir: “Bok Ek ayah dan anak adalah orang kangouw, masa mereka berani bikin malu satu kongcu? Tentu si kongcu bakal dibikin mundur teratur, supaya ia tidak hilang mukanya…”
“Silahkan, kongcu!” berkata si nona.
Kali ini kongcu itu sudah tidak sungkan lagi. Tiba-¬tiba ia memutar ke kanan, hingga bajunya yang panjang dan tangan bajunya juga turut bergerak, lalu tangan kirinya menyambar ke pundak si nona.
Terkejut si nona menyaksikan gerakan yang luar biasa itu. Sambil mendak, ia nyelusup di bawah ujung bajunya pemuda itu. Di luar dugaan, orang ini sangat gesit. Sekarang ujung baju dari tangan kanan si pemuda yang menyusul menyambar. Sukar untuk menyingkir dari serangan susulan itu, maka si nona menjejak tanah untuk mencelat mundur.
“Bagus!” berseru si kongcu. Ia lantas merangsak, tidak menunggu kedua kaki si nona keburu menginjak tanah, ia mengebut pula.
Nona itu tidak melompat mundur, ia hanya berjumpalitan, maka itu ketika si kongcu datang dekat, sebelah kakinya menjejak ke arah hidung si kongcu.
Untuk membebaskan diri, kongcu itu lompat ke kanan. maka barenglah mereka menurunkan tubuh.
Penonton semua kagum, untuk lihaynya si kongcu dan untuk kelincahan si nona. Mereka itu sama-sama lincah.
Si nona dengan wajah merah, mulai membalas menyerang. Sekarang si kongcu yang main berkelit. Menjadi menarik menyaksikan baju indah si kongcu bagaikan bercahaya, dan baju si nona seperti mega bermain.
Kwee Ceng pun kagum. Pemuda-pemudi itu berimbang usianya, mereka tampan dan elok, mereka pun pandai silat, sungguh cocok apabila mereka menjadi pasangan hidup, menjadi suami-istri. Karena ini tidak lagi ia benci si kongcu untuk kelakuannya di rumah makan baru-baru ini, sekarang ia mengharap akan kemenangan si kongcu.
Pertandingan itu berjalan terus dengan seru, sampai tiba-tiba orang dengar suara “bret!” robek. Nyata si nona dapat menjambret ujung baju si kongcu dan ia menariknya, sebab si kongcu juga membetot, ujung baju itu putus dengan menerbitkan suara nyaring itu. Si nona lantas lompat mundur jauh-jauh, tangannya mengibaskan baju rampasannya itu!
“Tunggu dulu!” Bok Ek segera kasih dengar suaranya. “Kongcu, silahkan kau loloskan bajumu, untuk kamu menentukan kemenangan terakhir!”
Kongcu itu muram wajahnya, kedua tangannya bergerak, maka robeklah kancing-kancing bajunya, jatuh di tanah. Ia bukan membuka dengan baik, ia hanya menyobeknya!
Satu pengiring lari menghampiri membantu meloloskan baju itu.
Sekarang terlihat kongcu ini dengan pakaian dalamnya dari sutera hijau muda yang indah, yang pinggangnya dilibat dengan sabuk hijau. Ia nampak semakin tampan. Bercahaya wajahnya yang putih dan bibirnya yang merah.
Tanpa berkata apa-apa, kongcu ini mulai menyerang. Ia menggunakan tangan kirinya, anginnya menyambar keras. Melihat itu si nona, Bok Ek dan Kwee Ceng terperanjat. Mereka tidak sangka, kongcu ini demikian lihay.
Setelah menyaksikan lagi sekian lama, Kwee Ceng jadi berpikir: “Ilmu silatnya mirip betul sama ilmu silatnya In Cie Peng, si imam muda, yang malam itu menempurku. Apakah boleh jadi mereka berasal dari satu perguruan?”
Sekarang si kongcu tidak mau mengalah lagi, karena sukar untuk si nona membalas mendesak, malah untuk merapatkan saja sulit.
“Kongcu ini lebih lihay daripada In Cie Peng, si nona bukan tandingannya,” berpikir Kwee Ceng setelah ia menyaksikan terlebih jauh. “Pasti jodoh mereka bakal terangkap…”
Bok Ek pun girang melihat jalannya pertempuran ini, malah ia lantas berseru: “Anak Liam, sudah tak usah kau melawan lebih lama lagi, kongcu menang jauh daripadamu…!”
Tapi orang lagi bertempur hebat sekali, sedang si kongcu kata di dalam hatinya,: “Kalau sekarang aku hendak robohkan kau, gampang sekali, Cuma aku tidak tega…”
Benar saja, ketika tangan kirinya menyambar, tangan kiri si nona kena dicekal. Ia tahu si nona bakal mengibas keluar, selagi si nona mengerahkan tenaganya, ia sekalian menolak seraya cekalannya itu dilepaskan. Maka tidak ampun lagi, nona itu rubuh terjengkang. Hanya, belum lagi tubuh orang mengenai tanah, tangan kanan si kongcu sudah menyambar, merangkul, hingga si nona manis lantas berada di dalam pelukannya.
Orang banyak bertempik sorak, tapi ada juga yang menggerutu.
Si nona menjadi sangat malu. “Lekas lepaskan aku!” ia minta, suaranya perlahan.
Si kongcu tertawa. “Kau panggil engko padaku, nanti aku lepas kau!” sahutnya.
Nona itu mendongkol. Itu permintaann ceriwis. Ia lantas berontak. Tapi sia-sia saja, ia malah terpeluk semakin keras.
Bok Ek lantas maju. “Kongcu sudah menang, tolong kau lepaskan anakku,” ia minta.
Pemuda itu tertawa lebar, ia masih belum mau melepaskan pelukannya. Dalam sengitnya, si nona menjejak.
Kongcu itu melepaskan tangannya yang kanan, tangan itu dipakai menangkis dan menangkap kaki orang, dengan begitu, tetap ia memegang tubuh di nona.
Nona ini penasaran, ia berontak sekuat tenaga, akhirnya ia bebas, ia jatuh terduduk di tanah. Ia menjadi malu sekali, ia tunduk, sembari tunduk, ia raba kaos kakinya yang putih. Sebab sepatunya telah terlepas.
Kongcu itu berdiri sambil tertawa haha-hihi, tangannya mencekali sepatu orang, yang ia bawa ke hidungnya!
Melihat itu, beberapa penonton bangsa bergajul, lantas saja berseru-seru, “Harum! Harum!”
“Kau she apa kongcu?” Bok Ek menanya. Ia tertawa, ia tidak menghiraukan sikap ceriwis si pemuda.
Kongcu itu pun tertawa.
“Tidak usah bicara lagi!” katanya, seraya ia putar tubuhnya untuk minta jubah sulamnya dari pengiringnya. Ia menoleh kepada si nona, sepatu itu ia masuki ke dalam sakunya.
“Kami tinggal di Hotel Ko Seng di jalan utama kota barat,” berkata Bok Ek, “Mari kita pergi sama-sama ke sana untuk berbicara.”
“Aku tidak sempat,” berkata si anak muda. “Apakah yang hendak dibicarakan?” tanyanya kemudian.
Bok Ek heran, air mukanya sampai berubah. “Kau toh telah mengalahkan anakku!” ia kata. “Aku telah melepas kata, maka itu tentu saja aku hendak jodohkan anakku ini denganmu. Ini adalah urusan seumur hidup, mana bisa kita memandang enteng?”
Kongcu itu melengak, ia tertawa besar. “Bukankah kita main-main dengan ilmu silat?” katanya. “Tidakkah itu sangat menarik hati? Tentang perjodohan, terima kasih banyak!”
Mukanya Bok Ek menjadi pucat, ia sampai berdiam saja.
“Kau…! Kau…!” katanya kemudian seraya menuding.
Pengiring si kongcu tertawa dingin dan menyela, “Kau kira kongcu kami ini bangsa apa? Kongcu kami bersanak dengan kamu orang kangouw tukang jual silat dari kelas tiga rendah empat bawah? Hm! Pergilah kau tidur dengan mimpimu di siang bolong!”
Bukan main gusarnya Bok Ek, tangannya melayang, maka pengiring itu berkoak kesakitan, mulutnya mengeluarkan darah, beberapa giginya rontok, seketika ia roboh di tanah, terus pingsan!
Kongcu itu tidak ambil peduli kejadian itu, ia suruh pengiring lainnya metolong, ia sendiri menghampirkan kuda.
“Jadi kau sengaja mengganggu kami?!” berteriak Bok Ek.
Kongcu itu tetap tidak mengambil mumat, ia injak sanggurdi dengan sebelah kakinya.
Bok Ek habis sabar, dengan tangan kirinya ia cekal lengan kiri pemuda itu. “Baik!” serunya. “Anakku pun tidak akan nikah dengan kau, manusia hina dina! Kembalikan sepatu anakku!”
Kongcu itu mengawasi, ia tertawa. “Sepatu ini toh anakmu yang dengan suka sendiri menghanturkannya kepadaku,” ia menyahut. “Ada apa sangkut pautnya denganmu?”
Ia terus gerakkan tangan kirinya itu dan terlepaslah cekalan Bok Ek.
“Akan aku adu jiwa!” berteriak ayah yang dipermainkan itu seraya ia lompat berjingkrak, kedua tangannya digerakkan berbareng, untuk menyerang kedua pelipis orang. Itulah jurus “Ciong kouw cie beng” atau “Gembreng dan tambur ditabuh berbareng.”
Kongcu ini berkelit sambil menjajak sanggurdinya, maka tubuhnya lantas mencelat ke tengah kalangan.
“Jikalau aku hajar roboh dirimu, orang tua, kau tentunya tidak bakal memaksa aku nikahi anakmu, bukan?” katanya sambil tertawa mengejek.
Kecuali bangsa bergajul, semua penonton menjadi panas hatinya, dari berkesan baik mereka menjadi jemu dan benci. Kongcu ini terang selain ceriwis pun kurang ajar dan keterlaluan. Cuma mereka bisa mendelu saja, tidak ada yang berani membuka mulut.
Bok Ek sudah lantas lompat untuk menerjang pemuda itu.
Kongcu itu mengetahui orang seperti kalap, bahwa serangannya itu sangat berbahaya, maka dengan sebat ia berkelit, sesudah mana dari samping, tangan kirinya membalas menyerang perut dengan jurusnya “Tok coa sim hiat” yaitu “Ular berbisa mencari lubang.”
Bok Ek berkelit ke kanan, dari situ ia menyerang pula, dua jari tangannya mencari pundak bagian yang kosong. Itulah salah satu jurus “Eng Jiauw Kun” atau “Kuku Garuda” dari ilmu silat Utara.
Kongcu itu lihay, agaknya dengan gampang saja ia mendak sedikit, lalu ia lolos dari bahaya, menyusul itu, tidak kelihatan ia menarik pulang tangan kirinya atau tangan kanannya sudah melakukan penyerangan pembalasan. Tangan kirinya itu telah diangkat ke depan mukanya, dalam sikap “Touw in hoat jit” atau “Nyelusup ke mega menukar matahari”, guna melindungi mukanya.
Bok Ek tarik lengan kirinya, dilain pihak ia menyerang dengan tangan kanannya. Untuk membalas serangan dengan serangan, dengan tidak kalah sebatnya. Ketika lawan itu berkelit, ia mendesak, menyerang lagi, kali ini dengan kedua tangannya, ke arah kedua belah pipi. Inilah pukulan “Wie Hok Hong cu” atau “Malaikat Wie Hok mempersembahkan toya”.
Kongcu itu tidak memandang enteng kepada musuh ini, ia hanya tidak menyangka semua serangan lawan sedemikian berbahayanya, maka ia tidak mau main acuh tak acuh lagi, ia membalas dengan sama hebatnya. mendadak saja kedua tangannya bergerak, menyambar kedua tangan Bok Ek itu, pada bagian belakang telapak tangan, menyusul ia menarik tubuhnya, mencelat mundur, sepuluh jarinya berubah menjadi merah semuanya. Para penonton berseru kaget. Sebab belakang telapak tangan dari Bok Ek telah berlumuran darah!
Si nona menjadi kaget berbareng gusar, ia memburu ayahnya, untuk menolong. Ia robek ujung baju si ayah, guna dipakai membalut lukanya.
Bok Ek tolak mundur anaknya. “Kau minggir!” katanya sengit. “Hari ini aku mesti mengadu jiwa dengannya, atau aku tidak hendak berhenti!”
Wajah si nona guram, ia memandang tajam kepada si pemuda. Tiba-tiba tangannya merogoh ke sakunya, mengasih keluar sebuah pisau belati dengan apa ia terus tublas dadanya sendiri.
Bok Ek kaget bukan main, lupa kepada tangannya yang sakit, ia tangkis tublasan itu, maka sekarang ia terluka anaknya itu, sebab si nona tidak keburu membatalkan tikamannya.
Para penonton menjadi mendongkol berbarang berduka. Inilah mereka tidak sangka. Mereka pun tidak berani campur tangan.
Adalah Kwee Ceng yang tidak dapat melihat terlebih jauh. Selagi si kongcu hendak naik kudanya, ia bertindak ke dalam kalangan, ia berseru. “Halo, sahabat! Perbuatanmu ini tidak tepat!”
Kongcu itu berpaling, kapan ia lihat anak muda kita, ia tercengang. Tapi cuma sebentar saja, terus ia tertawa. “Habis kau mau apa!” ia menantang. “Bagaimana baru tepat?”
Semua pengiring si kongcu tertawa ramai. Mereka lihat roman orang yang ketolol-tololan, dan lagu suaranya pun beda dari lagu suara mereka, sikap dan lagu suara itu telah diajoki kongcu mereka. Tentu saja mereka menganggap itu lucu.
Kwee Ceng melongo sebentar. Ia tidak lantas menginsyafi orang lagi permainkan dirinya.
“Kau harus menikah baik-baik dengan nona ini!” ia menjawab kongcu itu.
Si kongcu miringkan kepalanya, ia tertawa haha¬hihi. “Jikalau aku tidak sudi nikahi dia?” dia tanya.
“Jikalau kau tidak sudi menikah dengannya, apa perlunya kau maju dalam pertandingan?” Kwee Ceng tanya. “Apakah kau tidak melihat bendera mereka yang menjelaskan pibu untuk pernikahan?”
Kongcu itu tidak menjawab, ia hanya mengawasi dengan tajam. “Sebenarnya kau hendak main gila denganku atau bagaimana?” kemudian dia bertanya tegas.
Kwee ceng tidak menjawab, ia balik bertanya. “Nona ini cantik dan ilmu silatnya pun sempurna, kenapa kau tidak sudi menikah dengannya? Jikalau kau tidak hendak menikah sama nona macam begini, di belakang hari ke mana lagi kau hendak mencarinya?”
“Eh, kau tidak mengerti urusan, bicara denganmu sia-sia saja!” kata si kongcu. “Kau sebenarnya murid siapa? Kau memanggil apa kepada Oey Yok Su dari pulau Tho Hoa To?”
Kwee Ceng menggoyangkan kepalanya. “Siapa guruku, tak dapat aku beritahu padamu!” ia jawab. “Aku tidak tahu Oey Yok Su itu orang macam apa.”
“Habis, siapa yang ajarkan kau ilmu menotok istimewa dari pulau Tho Hoa To it?” si kongcu masih menanya.
“Ilmu menotok jalan darahku itu adalah guruku yang kedua yang mengajarkannya,” menjawab Kwee Ceng.
“Siapa itu gurumu yang kedua?” tanya kongcu itu kemudian.
“Aku tidak mau memberitahu” jawab Kwee Ceng pula.
“Baiklah, masa bodoh!” berkata pemuda itu yang lantas memutar tubuhnya.
Kwee Ceng ulur tangannya untuk mencegah. “Eh, kenapa kau hendak pergi pula?” ia menanya.
“Habis kenapa?” kata si kongcu lagi.
“Bukankah aku telah beri nasehat kepadamu untuk kau nikahi nona ini?” kata Kwee Ceng.
Kongcu itu tertawa dingin, dia buka tindakannya yang lebar, untuk berjalan pergi.
Sampai di situ, Bok Ek hampairi anak muda ini. Sejak tadi ia mendengari orang pasang omong, disamping ia mendongkol terhadap si kongcu, tahu bahwa anak muda ini baik hatinya dan berpihak padanya. Ia Cuma merasa orang masih terlalu muda dan belum mengenal dunia.
“Saudara kecil, jangan kau ladeni dia!” dia berkata. “Asal nyawaku masih ada, sakit hati ini tidak dapat tidak dilampiaskan!” Terus ia kata dengan suara nyaring: “Anak muda, kau tinggalkan she dan namamu!”
Kongcu itu berpaling, ia tertawa. “Aku sudah bilang, tidak dapat aku memanggil mertua kepadamu, maka kenapa kau begini melit hendak mengetahui she dan namaku?” ia bertanya.
Kwee Ceng menjadi habis sabar, ia melompat kepada pemuda itu. “Kalau begitu, kau kembalikan sepatunya si nona!” ia membentak.
Kongcu itu menatap. “Kau gemar campur urusan bukan urusanmu!” ia berkata. “Bukankah kau menaruh hati kepada nona itu?”
“Bukan!” jawab Kwee Ceng, yang menggeleng kepalanya. “Sebenarnya kau hendak kembalikan sepatu itu atau tidak?”
Dengan mendadak saja anak muda ini menggerakkan kedua tangannya, mencekal kedua nadi si kongcu. Ia telah gunakan salah satu tipu dari ilmu silat Kim-na-ciu, yang semuanya terdiri dari tujuh puluh dua jurus. Ilmu silat itu adalah untuk menangkap tangan lawan.
Kongcu itu terkejut berbareng gusar. Ia berontak tetapi tidak berdaya. “Kau mau mampus?!” tanyanya, sebelah kakinya menendang ke bawah perut si anak muda.
Kwee Ceng tidak menangkis atau berkelit, dengan sebat ia tarik tangannya kongcu itu, hingga orang terlempar tubuhnya, dengan begitu, ia bebas dari tendangan orang itu.
Kongcu itu enteng sekali tubuhnya, walaupun ia telah terlempar, ia Cuma terpelanting, tidak sampai mencium tanah. Hanya dengan begitu, ia telah kalah satu babak. Ia menjadi gusar sekali.
“Kau sudah bosan hidup, bocah?” ia berseru.
Kwee Ceng mengawasi, ia menggeleng kepala. “Buat apakah aku bertempur denganmu?” ia berkata, “Kau tidak mau nikahi dia, sudah saja, kau kembalikan sepatunya itu!”
Orang banyak menyangka pemuda ini hendak membela keadilan, mereka tidak ayana, akhirnya cuma sebegitu saja sikapnya. Mereka yang gemar menonton menjadi kecele.
Kongcu ini jeri juga terhadap Kwee Ceng, bahwa orang tidak ingin berkelahi, itu cocok dengan keinginannya, akan tetapi ia dipaksa menyerahkan sepatu si nona, mana dapat ia mengalah. Tidakkah ia berada di hadapan orang banyak? Maka itu seraya menyingkap jubahnya, ia memutar tubuh, mulutnya mengasih dengar tertawa dingin.
“Apakah kau hendak pergi?” menegur Kwee Ceng seraya menyambar jubah orang itu.
Si kongcu lantas menggunakan ketikanya. Ia berkelit, jubahnya itu dilayangkan sekali, dipakai menungkrap kepala orang.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA
“Bangsa Mongolia telah diperhina oleh negara Kim, negara itu menghendaki kita setiap tahun membayar upeti beberapa laksa ekor kerbau, kambing dan kuda, adakah itu selayaknya?” Temuchin balik tanya. “Asal saja kuta bangsa Mongolia tidak saling menyerang, kenapa kita mesti takuti bangsa Kim itu?”
Kata-kata ini tajam, ketika orang-orang Sangum mendengar, hati mereka goncang. Mereka setujui perkataan itu.
Temuchin lanjuti perkataannya: “Bangsa Mongolia bangsa orang-tentara yang pandai, kenapa kita tidak mengambil emas, perak dan permata bangsa Kim? Kenapa kita mesti tiap tahun membayar upeti terhadap mereka? Kita bangsa Mongolia diantaranya ada yang rajin memelihara kerbau dan kambing, ada juga yang malas dan cuma doyan gegares! Kenapa mereka yang rajin mengasih makan mereka yang malas? Kenapa kita tidak hendak memberikan lebih banyak kerbau dan kambing kepada yang rajin? Kenapa kita tidak mau membiarkan si malas itu mati kelaparan?”
Dijaman dahulu bangsa Mongolia hidup dalam suatu keluarga atau suku, ternaknya adalah kepunyaan bersama, kemudian karena tenaga pertumbuhan mereka bertambah dan adanya pemakaian alat-alat dari besi, perlahan-lahan sifat itu berubah, kebanyakan bangsa penggembala itu memakai cara sendiri-sendiri. Temuchin sengaja singgung sifat itu, membuat tentara Sangum menyetujuinya, diam-diam mereka itu pada mengangguk.
Sangum mengerti orang lagi menghasut tentaranya. “Jikalau kau tidak mau menyerah!” ia membentak, “Asal aku menuding dengan cambukku ini, laksanaan anak panah bakal dilepaskan terhadap dirimu! Jikalau itu sampai terjadi, jangan kau berpikir untuk hidup lebih lama lagi!”
Kwee Ceng menjadi cemas sekali. Keadaan sangat mendesak dan sulit. Bagaimana bahaya dapat dihindarkan? Selagi ia berpikir, terlihat penunggang kuda di kaki bukit. Penunggang kuda itu dandanannya sebagai panglima perang, di sebelahnya baju lapis, ia mengenakan juga mantel bulu kulit binatang tiauw yang mahal. Di tangannya panglima itu sebatang golok besar. Dengan aksi ia larikan kudanya mondar-mandir. Kwee Ceng kenal panglima yang masih muda itu, Tusaga adanya, putra Sangum, ia pernah berkelahi waktu kecil. Ia lantas ingat sesuatu, maka ia jepit kudanya, ia kasih lari turun gunung, untuk menghampiri pemuda itu.
Celaka untuk Tusaga, begitu kena di cekal, ia mati kutu, tidak dapat memberontak, maka ketika Kwee Ceng menarik, tubuhnya diangkat dari kudanya.
Selagi Kwee ceng hendak geser pemuda itu, ia dengar suara angin senjata mengaung dari arah belakangnya. Cepat ia berpaling, dan tangan kirinya menangkis. Sepasang tombak terpental ke udara. Segera ia bentur perut kudanya dengan dengkul kanan. Kudanya mengerti, lantas lari mendaki bukit. Dia dapat lari tak kalah pesatnya seperti waktu turun tadi.
“Lepas panah!” orang-orangnya Sangum berteriak.
Kwee Ceng tidak takut, ia pegang tubuh Tusaga, dipakai menjadi tameng. Menampak itu, tidak ada satu serdadu pun yang berani memanah, mereka khawatir nanti kena memanah pemimpin mereka yang muda itu.
Dengan tidak kurang suatu apa pun Kwee Ceng tiba di samping Temuchin. Ia lempar tubuh Tusaga ke tanah, ke dekatnya khan yang agung.
Bukan main girangnya Temuchin. Ia segera menuding dada Tusaga dengan ujung tombaknya, ia teriaki Sangum “Lekas kau suruh semua orangmu mundur seratus tombak!”
Sangum murka berbareng bingung. Ia kaget dan tidak menyangka putranya dapat ditawan musuh selagi berada dalam lindungan tentaranya yang berjumlah besar itu. ia tidak bisa berbuat lain daripada keluarkan titahnya untuk pasukan itu mundur seratus tombak. Mereka Cuma mundur, tapi pengurungan tidak dibubarkan, malah kereta besar dikitarkan diseputar bukit itu, dalam tujuh dan delapan lapis!
Temuchin puji Kwee Ceng, yang diperintah gunai dadung, untuk ringkus Tusaga.
Tiga kali Sangum mengirim utusan, meminta putranya dimerdekakan, supaya Temuchin menyerah, nanti jiwanya Temuchin akan diberi ampun, katanya. tapi tiga-tiga kalinya, Temuchin usir utusan itu.
Tanpa terasa, langit telah menjadi gelap. Temuchin khawatir Sangum menyerbu, ia kasih perintah orang-¬orangnya terus memasang mata.
Kira-kira tengah malam, seseorang dengan pakaian putih muncul di kaki bukit. ia lantas berteriak: “Di sini Jamukha! Aku ingin bicara dengan saudara Temuchin!”
“Kau naiklah kemari!” Temuchin menjawab
Jamukha mendaki dengan perlahan-lahan. Temuchin berdiri menantikan dengan romannya yang angker. Ia maju mendekati, ingin ia memeluk. Adalah adat istiadat bangsa Mongolia akan saudara muda memeluk dan merangkul saudara tuanya.
Temuchin hunus goloknya. “Adakah kau masih anggap aku sebagai kakak angkatmu?” ia menegur.
Jamukha menghela napas. Ia lantas duduk bersila. “Kakak kau telah menjadi Khan yang agung, kenapa kau masih berambekan besar sekali?” ia tanya. “Kenapa kau bercita-cita mempersatukan bangsa Mongolia?”
“Kau sebenarnya menghendaki apa?” Temuchin tanya.
“Pelbagai kepala suku pada bilang bahwa leluhur kita sudah turun temurun beberapa ratus tahun hidup secara begini, maka itu kenapa khan yang agung Temuchin hendak mengubahnya? Tuhan juga tidak memperkenankan itu,” kata Jamukha.
“Apakah kau masih ingat cerita tentang leluhur kita Maral Goa?” Temuchin tanya. “Lima putra mereka tidak hidup rukun, ia masaki daging kambing kepada mereka, mereka juga masing-masing diberikan seorang sebatang anak panah, ia suruh masing-masing mematahkannya. Dengan gampang mereka itu melakukannya. Lalu ia berikan mereka lima batang anak panah yang digabung menjadi satu, kembali ia menitahkan mereka untuk mematahkannya. Bergantian mereka berlima mencoba mematahkan anak panah itu, mereka gagal. Ingatkah apa pesan leluhur kita itu?” Dengan perlahan Jamukha mengatakan: “Jikalau kamu masing-masing bercerai-berai, kamu menjadi seperti anak panah ini, yang gampang sekali orang siapapun dapat mematahkannya; jikalau kamu berpadu hati bersatu tenaga, kamu menjadi seperti lima batang anak panah yang digabung menjadi satu ini, yang tak dapat dipatahkan siapapun juga!”
“Kau masih ingat itu, bagus!” seru Temuchin. “Kemudian bagaimana?”
“Kemudian mereka berlima bersatu padu bekerja sama, mereka menjadi leluhur kita bangsa Mongolia!” sahut Jamukha.
“Benar begitu!” kata Temuchin. “Kita juga adalah orang-orang gagah, kenapa kita tidak hendak mempersatukan bangsa Monglia kita? Kita harus saling kepruk, kita bersatu hati bekerja sama untuk memusnahkan bangsa Kim!”
Jamukha terkejut. “Negeri Kim itu banyak tentaranya dan banyak panglima perangnya, emasnya tersebar di seluruh negaranya, rangsumnya bertumpuk bagaikan gunung, cara bagaimana bangsa Mongolia bisa main gila terhadapnya?”
“Hm!” Temuchin mengejek. “Jadi kau suka kita semua diperhina dan ditindih bangsa Kim itu?”
“Mereka pun tidak menghina dan menindih kita,” kata Jamukha. “Raja Kim itu telah anugerahkan pangkat Ciauwtouwusu padamu.”
Temuchin menjadi mendongkol. “Mulanya aku juga menyangka raja Kim itu baik hati,” katanya. “Siapa tahu permintaannya kepada kita makin lama jadi makin hebat! Sudah minta kerbau dan kambing, dia minta kuda, dan sekarang dia menghendaki orang-tentara kita membantu berperang!”
“Wang Khan dan Sangum tidak ingin memberontak terhadap negara Kim itu,!” kata Jamukha pula.
“Berontak? Hm! Berontak!” seru Temuchin menghina. “Dan bagaimana dengan kau sendiri?”
“Aku datang untuk meminta kau jangan gusar, kakak. Aku minta supaya kau kasih pulang Tusaga kepada Sangum. Aku tanggung Sangum nanti melepaskan kau pulang dengan selamat!”
“Aku tidak percaya Sangum! Aku juga tidak percaya kau!”
“Sangum bilang, kalau satu putranya terbinasa, dia bakal melahirkan dua putra lagi! Kalau satu Temuchin terbinasa, untuk selamanya tidak bakal ada Temuchin lagi! Jikalau kau tidak merdekakan Tusaga, kau bakal tak dapat melihat lagi matahari besok!”
Temuchin membacok ke udara. “Aku lebih suka binasa dalam perang, daripada aku menyerah!” serunya.
Jamukha bangkit berdiri. “Kita membagi-bagikan kerbau dan kambing rampasan kepada tentara, kau mengatakannya itu milik mereka pribadi, bukannya milik bersama. Mengenai itu, semua kepala suku mengatakan kau berlaku buruk, tak tepat dengan pengajaran leluhur kita!”
Temuchin berseru: “Akan tetapi pasukan yang muda-muda senang dengan caraku itu!”
“Baiklah saudara Temuchin,” kata Jamukha. “Harap kau tidak mengatakannya aku tidak berbudi!”
Temuchin lantas keluarkan satu bungkusan kecil dari dalam sakunya, ia lemparkan ke depan Jamukha. Ia bilang: “Inilah tanda mata ketika angkat saudara untuk ketiga kalinya, sekarang kau terimalah kembali! Besok kau membawa golokmu untuk berperang di sini!” Sembari berkata begitu, ia gerakkan tangannya seperti hendak membacok batang lehernya. Ia tambahkan. “Yang dibunuh itu adalah musuh, bukan kakak angkatmu!”
Jamukha jemput bungkusan kecil itu. Ia pun keluarkan satu kantung kulit kecil dari sakunya, tanpa bilang apa-apa, ia letakkan di samping kakinya Temuchin, lalu ia memutar tubuhnya turun dari bukit itu.
Temuchin mengawasi belakang orang, sekian lama ia diam saja. Ia ada sangat berduka. Sungguh tidak ia sangka, saudara angkat itu yang bagaikan saudara kandungnya bisa berubah sedemikian rupa, hingga membaliki belakang kepadanya. Lalu dengan perlahan-lahan ia buka kantung kulit itu, keluarkan isinya, kepala panah dan biji piesek yang diwaktu muda mereka sering membuat main. Segera terbayang di hadapan matanya saat dahulu ketika mereka sama-sama bermain di es. Ia menghela napas. Dengan goloknya ia mencongkel sebuah liang di tanah, di situ ia pendam barang tanda mata dari adik angkatnya itu.
Kwee Ceng di samping mengawasi dengan perasaan berat. Ia mengerti, apa yang Temuchin pendam itu adalah persahabatan yang ia paling hargakan….
Habis menguruk tanah dengan kedua tangannya, Temuchin bangun berdiri. Ia memandag ke depan. Nampak api dinyalakan tentara Sangum dan Jamukha, yang menerangi tanah datar seperti juga banyak bintang di langit. Ia berdiam sekian lama, kemudaian berpaling, dapatkan Kwee Ceng berdiri diam di sampingnya.
“Apakah kau takut?” ia tanya.
“Aku tengah memikirkan ibuku,” Kwee Ceng menyahut.
“Kau orang gagah yang baik sekali,” Temuchin memuji. Ia menunjuk kepada api di kejauhan itu, lanjutnya “Mereka itu juga orang-¬orang gagah! Kami bangsa Mongolia punya begini banyak orang gagah, sayang kami saling bunuh satu sama lain! Coba semua dapat berserikat menjadi satu…” Ia memandang ke ujung langit, lalu menambahkan pula; “….kita pasti dapat membuat seluruh dunia, membuat seluruh dua menjadi ladang tempat kita menggembala ternak kita!”
Kagum Kwee Ceng mendengar cita-cita dari Khan yang agung ini. Ia lantas berkata “Khan yang agung, kita bisa menang perang, tidak nanti kita dapat dikalahkan Sangum yang berhati kecil dan hina dina itu!”
Temuchin pun menjadi bersemangat. “Benar!” sambutnya. “Mari kita ingat pembicaraan kita malam ini! Selanjutnya aku pandang kau sebagai anak kandungku!” Dan ia rangkul si anak muda!
Sementara itu, cuaca sudah mulai terang. Di dalam pasukannya Sangum dan Jamukha segera terdengar suara terompet.
“Bala bantuan tidak datang. Hari ini kita akan mati perang di gunung ini!” kata Temuchin.
Ini waktu terlihat tentara musuh sudah mulai bergerak, rupanya mereka hendak memulai penyerbuan.
Temuchin bersama ketiga putra dan semua panglimanya mendekam di belakang tumpukan tanah, anak panah diarahkan ke setiap jalanan di gunung itu, yang akan dilewati musuh.
Tidak berapa lama, sebuah bendera kuning muncul dari dalam pasukan Sangum. Di bawah bendera itu ada tiga orang yang menuju ke sisi gunung. Mereka itu adalah, di kiri Sangum, di kanan Jamukha, dan di tengah-tengah adalah Chao Wang Wanyen Lieh, putra keenam dari raja Kim. Pangeran Kim ini memakai kopiah dan jubah perang bersalut emas, tangan kirinya mencekal tameng untuk pencegah panah.
“Temuchin, apakah kau hendak memberontak terhadap negara Kim yang agung?!” tanya pangeran.
Juji, putra sulung Temuchin, tujukan panahnya dan memanah pangeran itu. Di belakang pangeran ini segera muncul satu orang, menyambuti anak panah itu dengan tangannya. Dia sangat gesit dan gapa.
Wanyen Lieh lantas saja berseru dengan titahnya: “Tolong Tusaga! Bekuk Temuchin!”
Atas titah itu, empat orang berlompat maju, lari mendaki ke atas gunung.
Kwee Ceng terperanjat menyaksikan kegesitan empat orang itu. Mereka itu menggunakan ilmu meringankan tubuh. Jadi mereka adalah orang-orang Rimba Persilatan, bukan tentara biasa.
Setibanya empat orang itu di tengah jalan, dipapaki hujan panah oleh Jebe dan Borchu beramai, tetapi dengan tamengnya, mereka halau setiap anak panah itu.
Kwee Ceng jadi berkhawatir, “Kita di sini adalah tentara semua, kita bukannya tandingan jago-jago Rimba Persilatan itu…” pikirnya. “Bagaimana sekarang?”
Satu di antara empat orang itu, pemuda dengan pakaian hitam sudah sampai di atas gunung. Dia dirintangi oleh Ogotai yang bersenjatakan sebatang golok besar. Dia ayun tangannya, lantas sebatang panah tangan menyambar ke batang lehernya putra Temuchin itu, disusul sama bacokan goloknya. Berbareng dengan itu, berkelebatlah sebatang golok putih mengkilap, menikam dari samping lengan penyerang itu. Dia terkejut, sambil kelit lengannya, ia melompat mundur. Ia melihat di depannya berdiri anak muda dengan alis gompiak dan mata besar, yang mencekal pedang. Pemuda ini menghadang di depan Ogotai. Dia heran dalam rombongan Temuchin ada orang yang pandai ilmu pedang.
“Kau siapa?” dia menegur. “Beritahu she dan namamu!” Dia bicara dalam bahasa Tionghoa.
“Aku Kwee Ceng!” sahut anak muda itu.
“Tidak pernah aku dengar namamu! Lekas kau menyerah!” kata orang itu sombong.
Kwee Ceng sementara itu telah melihat, tiga kawannya orang ini sudah tiba di atas gunung dan tengah bertempur dengan Chilaun, Boroul dan lainnya. Dilain pihak orang-orangnya Sangum hendak bergerak pula.
Mukhali lantas saja tandalkan goloknya di leher Tusaga. “Siapa berani maju!” ia berteriak. “Akan aku penggal!”
Sangum menjadi khawatir dan bingung. “Tuan pangeran, titahkanlah mereka turun!” ia memohon kepada Wanyen Lieh. “Mari kita berpikir cara lain, jangan sampai anakku terbinasa…!”
“Tetapkan hatimu, anakmu tak bakal terbinasa!” kata Wanyen Lieh sambil tertawa.
Orang-orang Sangum tidak berani naik, sedang empat orangnya Wanyen Lieh itu melanjutkan pertempuran.
Kwee Ceng gunakan ilmu pedang Wat Lie Kiam ajaran Han Siauw Eng, ia layani musuh yang bersenjatakan golok itu. Segera ia dapat kenyataan, berat tangannya lawan itu, yang goloknya tebal, benar-¬benar musuh ini bukan sembarang orang. Ia tidak mengerti cara bersilatnya orang, sedang dari enam gurunya pernah ia dengar pelbagai macam ilmu silat. Orang ini mengancam ke kanan, tiba-tiba ancamannya itu berubah di tengah jalan, menjadi bacokan ke kiri………
Mau tidak mau, Kwee Ceng main mundur. Ia teringat ajaran gurunya yang kesatu: “Di waktu bertempur mesti mempengaruhi orang tetapi jangan kasih diri kena dipengaruhi. “Sekarang aku main menangkis aja, apakah itu bukan berarti aku kena didesak?” karena ini, ketika datang bacokan, ia tidak mundur lagi, sebaliknya menyambut seraya tekuk kaki kanan dan tangan kiri bersiap sedia. Keras sekali, tangan kanannya, pedangnya membalas menikam lurus.
Terkejut juga musuh menyaksikan orang nekat, bersedia ingin celaka bersama, ia lantas tarik pulang goloknya. Kwee Ceng lihat ini adalah kesempatan baik segera menikam pula, ketika musuh berkelit, ia mengirim serangan beruntun. Terus ia bersilat dengan Wat Lie Kiam-hoat. Kali ini, membuat lawannya repot.
Dipihak lain, tiga kawannya musuh itu sudah berhasil merubuhkan empat atau lima lawannya, satu di antaranya melihat ia terdesak, dengan bawa tombaknya, melompat menghampiri. “Toasuko, mari aku bantu kau!” dia berteriak.
“Kau lihat saja dari samping, lihat kepandaiannya toasukomu!” berseru orang yang bergenggaman golok itu, yang dipanggil toasuko atau kakak seperguruan yang tertua. Dia ini menganggap dirinya adalah tertua kaum Rimba Persilatan, sebab ia adalah orang undangan Wanyen Lieh, untuk itu telah mengeluarkan banyak uang, sedang hari ini adalah yang pertama kalinya ia muncul di medan pertempuran. Tentu saja di hadapan ribuan serdadu, ia malu mengaku kalah terhadap adik seperguruannya itu. Memangnya di antara empat saudara seperguruan ini ada perbedaan tabiat atau sikap, masing-masing tidak sudi mengalah.
Kwee ceng memanfaatkan ketika orang bicara, ia tekuk kaki kirinya dan menikam dari bawah ke atas. Itulah gerakan “Kie hong teng kauw” atau “Burung hong bangkit dan ular naga mencelat”. Musuh kaget dan melompat berkelit, tidak urung tangan bajunya yang kiri telah kena tersontek robek.
“Lihat kepandaiannya toasuko!” berseru saudaranya yang memegang tombka itu sambil tertawa.
Waktu itu Temuchin telah dilindungi dengan dikurung oleh Jebe dan lainnya yang belum terluka, sikap garang mereka membuat dua musuh lainnya yang memegang ruyung besi dan sepasang kampak pendek, tidak berani sembarangan maju. Mereka dengar suara jiesuko, saudara yang kedua, maka mereka anggap baiklah menonton kakak mereka yang kesatu. Mereka percaya musuh tidak bakal lolos lagi. Mereka hampiri jiesuko, berdiri berendeng bertiga, menonton pertempuran sang kakak tertua.
Sebelum berkelahi terus, si pemegang golok itu melompat keluar kalangan. “Kau muridnya siapa?!” ia tegur Kwee Ceng. “Kenapa kau datang kemari meantarkan jiwamu?!”
Kwee Ceng lintangi pedangnya, ia bersikap tenang. “Teecu adalah murid Kanglam Cit Koay,” ia menjawab dengan terus terang. “Teecu mohon tanya suwie empunya she dan nama yang besar?” ia terus berbalik menanya empat orang itu. “Suwie” ialah “keempat tuan”.
Orang itu menoleh kepada ketiga saudaranya. Lalu ia berpaling pula, katanya: “Tentang nama kami berempat, taruh kami mengatakannya, kau satu anak kecil tentulah tak dapat mengetahuinya. Lihat golokku!” Ia lantas menyerang.
Kwee Ceng sudah tempur orang, ia merasa orang ini lebih terlatih daripadanya, akan tetapi ia adalah murid tujuh guru, telah banyak pengetahuannya, dan ilmun pedangnya pun sudah dapat mendesak musuh ini, maka itu ia melawan dengan berani, bukan mundur, ia mencoba mendesak terus.
Sebentar saja, tigapuluh jurus telah lewat.
Puluhan ribu serdadu musuh, juga Temuchin semua, berdiam menyaksikan pertempuran itu. Tidak terkecuali adik seperguruannya si toasuko. Ia cemas juga setelah banyak jurus, ia masih belum bisa berbuat apapun. Akhirnya, ia menjadi nekat. Demikian satu kali, dengan bengis ia membacok melintang.
Kwee Ceng lihat pinggangnya terancam tebasan, ia mendahului menikam ke arah lengan musuhnya. Musuh itu menjadi girang melihat lawan tidak berkelit hanya membalas menyerang. Di dalam hatinya ia berkata: “Belum lagi pedangmu tiba, golokku sudah mengenai tubuhmu.” ia menebas terus tanpa membuat perubahan.
Tenang adanya sikap Kwee Ceng, jeli matanya, sebat tangannya. Ia tunggu sampai ujung golok hampir mampir di pedangnya, mendadak ia mengegos sedikit, sedang tangan kanannya menikam terus ke dada lawannya!
Bukan main kagetnya si toasuko. Sambil berteriak, ia lepas dan lemparkan pedangnya, sebagai gantinya, dengan tangan kosong ia sampok pedang si anak muda. Keras sampokan ini, pedang Kwee Ceng terlepas dan jatuh ke tanah. Ia tertolong jiwanya tetapi pedangnya toh mampir juga di tangannya, maka tangan itu bercucuran darah!
“Sayang!” kata Kwee Ceng di dalam hati. Cuma karena kurang pengalaman, ia gagal, sedang sebenarnya, dengan sedikit lebih sebat saja, ia akan dapat tancapkam pedangnya di dada lawannya itu. Selagi musuh lompat mundur, ia jumput golok musuh yang jatuh di dekatnya.
Hampir bersamaan ada angin menyambar di belakangnya.
“Awas!” Jebe teriaki muridnya.
Kwee Ceng dengar pemberian peringatan itu, tanpa membalik tubuh lagi, sambil mendak sedikit, ia mendupak ke belakang. Tepat dupakannya ini, membuat tombak musuh terpental, setelah itu sambil memutar tubuh, ia membacok ke arah lengan musuh. Kali ini ia gunakan bacokan ajaran Lam Hie Jin, yaitu jurus “Burung walet masuk ke sarangnya” dari tipu silat “Lam Sam Too-hoat” – ilmu pedang Lam San.
“Bagus!” seru lawan yang bersenjatakan tombak itu, yang membokong. Setelah berkelit dari bacokan, ia menikam ke dada pula.
Kembali Kwee Ceng bebaskan diri dengan kelitan “Dalam mabuk meloloskan sepatu”, untuk membarengi membalas menyerang, sambil melayangkan kaki kanannya ke bahu musuh.
Penyerang bertombak ini menggunakan waktunya yang baik. Ia lihat Kwee Ceng lihay dengan ilmu pedangnya, setelah pedang orang terlepas, ia membokong. Ia tidak sangka si anak muda luas pengetahuannya dan gesit, tikamannya itu dapat dihalau dan ia ditendang, terpaksa ia menarik pulang serangannya. Tapi ia penasaran, maju lagi, hingga ia melayani musuh muda ini. Ia penasaran sebab ia tahu, dengan tombaknya sudah punya pengalaman dua puluh tahun…………
Kwee Ceng berkelahi sambil matanya melitah dan otaknya bekerja. ia tahu musuh ingin menerbangkan goloknya, bahwa musuh itu ingin memperlekas kemenangannya.
Maka ia melawannya dengan sabar dan hati-hati. Tapi ini bukan berarti ia berlaku kendor. Ia tetap berlaku cepat dan keras, seperti tadi melawan si toasuko, ia mencoba mendesak, guna mempengaruhi musuh. Karena ini ia tampaknya jadi semakin lihay, sehingga ia membuatnya si toasuko heran. Si toasuko ini tadinya menyangka orang hanya lihay dengan pedangnya, tak tahunya, goloknya sama aja.
Lagi beberapa lama, Kwee Ceng dapatkan musuh mulai ayal gerakannya. ia lantas menantikan satu tikaman. Turut kebiasaan, ia mestinya menyampok tombak seraya membarengi membacok. Tiba-tiba ia merasa tenaga musuh berkurang, maka itu, ia batal membacok, ia terus memapas ke sepanjang batang tombak, ke arah jari tangan musuh itu. Celaka kalau musuh itu tidak lepaskan cekalannya.
Musuh itu terkejut, lantas mendahului lompat mundur.
Menghadapi lawan yang menggunakan tombak, Kwee Ceng punya satu keuntungan. ia telah dipertaruhkan akan bertempur sama anaknya Yo Tiat Sim, karena Tiat Sim adalah keturunan kaum keluarga Yo yang terkenal ilmu tombaknya keluarga Yo, yaitu Yo Kee Chio-hoat, maka Lam Hie Jin sengaja ajarkan muridnya ini tipu golok melawan tombak. Kebetulan sekali, sekarang Kwee Ceng ada kesempatan menggunakan ilmu goloknya yang istimewa itu dan ia berhasil. Apa yang tidak disangka, ilmu ini bukan digunakan di Kee-hi hanya di sini.
Setelah dapat merampas tombak musuh, Kwee Ceng lempar goloknya ke bawah gunung. Ia lantas berdiri diam mengawasi keempat musuhnya itu.
Musuh yang keempat, yang paling muda, tidak tahan sabaran, dengan putar kampaknya, ia maju menyerang, mulutnya pun perdengarkan seruan. ia agaknya penasaran mereka kalah dari satu bocah. Karena ia menggunakan senjata pendek, harus berkelahi rapat, baru ia bisa mengenai musuh, demikian pikirnya, dia mencoba merapatkan Kwee Ceng. Tapi pemuda kita, dengan tombaknya, membuat orang kewalahan, sia-sia saja dia itu mencoba berulang-ulang.
Sesudah lewat beberapa jurus, Kwee Ceng menggunakan tipu. Dengan cara biasa, tidak dapat rubuhkan atau melukai musuhnya. Ia berhasil. Musuh tidak menduga jelek, ia mendesak, sambil membentak, ia lompat menubruk, sepasang kampaknya turun dengan berbareng.
Kwee Ceng angkat tombaknya untuk menangkis. Hebat kampaknya itu, gagang tombak kalah dan kena terkampak patah hingga menjadi tiga potong. Disaat kemenangannya itu, musuh hendak mengulangi kampakannya. Diluar dugaan, baru ia kerahkan tenaga, tiba-tiba perutnya merasa sakit. Tanpa ia ketahui, sebelah kaki Kwee Ceng telah melayang ke perutnya, malah ia terdumpak mental. Berbareng ia mental, tangan kirinya membalik, mengampak ke arah kepalanya sendiri.
Melihat bahaya itu, si saudara yang ketiga melompat dengan ruyung besinya, hajar kampak di tangan kiri itu, maka di antara satu suara nyaring, kampak itu terlepas dan terpental, si pemiliknya sendiri jatuh numprah. Syukur untuknya, ia tertolong dari bahaya maut. Tapi ia bertabiat keras, ia gusar dan penasaran, ia lompat bangun untuk merangsak pula, mulutnya berteriak tak henti-henti.
Kwee Ceng tidak punya senjata, ia melawan dengan ilmu silat tangan kosong melawan senjata. Segera ia dikepung oleh musuhnya yang ketiga, yang bersenjatakan ruyung besi itu.
Melihat orang main keroyok, tentara Mongolia di kaki gunung menjadi tidak senang, mereka ribut dengan mencaci maki dua pengeroyok itu. Bangsa Mongolia adalah bangsa yang polos dan memuja orang gagah, maka itu tidak puas mereka menyaksikan empat orang mengepung bergantian kepada satu musuh, apapula satu musuh itu bertangan kosong.
Sampai disitu, Boroul dan Jebe maju untuk membantu Kwee Ceng. Karena majunya mereka berdua, dua musuh lainnya turut maju juga. Berat untuk Jebe berdua, mereka adalah tentara biasa, mereka bukan orang kaum Rimba Persilatan, repot mereka menghadapi musuh-musuhnya yang lihay itu. Lekas juga senjata mereka dirampas musuh.
Kwee Ceng lihat Boroul terancam bahaya, ia melompat kepada toasuheng yang bersenjatakan golok sebatang, untuk menghajar punggungnya, ketika si orang Hwee menebas tangannya, ia segera tarik pulang tangannya itu untuk terus dipakai menyikut si jiesuheng, hingga dengan begitu ia pun dapat menolongi Jebe.
Orang itu rupanya satu pikiran, mereka lantas meluruk anak muda she Kwee ini, mereka tidak menghiraukan lagi Jebe berdua.
Segera juga Kwee Ceng terancam bahaya, karena tidak mempunya senjata, terpaksa ia melawan dengan kelincahannya, main berkelit dengan mengegos tubuh atau berlompatan.
“Ini golok!” teriak Borchu seraya ia melemparkan goloknya.
Disaat Kwee Ceng hendak sambut golok itu, ia diserang oleh musuhnya yang menggenggam ruyung besi hingga golok Borchu kena disampok mental, sedang musuh yang memegang sepasang kampak membarengi mengampak juga. Dia ini sakit hati kena didupak tadi.
Kwee Ceng berkelit dengan berlompat, atau sebatang golok melayang ke arahnya. Ia masih sempat berkelit pula seraya ia angkat kakinya yang kiri untuk menendang musuh yang memegang kampak yang berada paling dekat dengannya. Hanya ketika itu, ia dibarengi musuh yang mencekal ruyung besi, maka tidak ampun lagi, paha kanannya kena dihajar. ia merasakan sangat sakit, matanya pun kabur, hampir ia rubuh pingsan. Syukur untuknya, tulang pahanya itu tidak patah, tetapi gerakannya menjadi lambat, ia lantas kena ditubruk musuh yang bersenjatakan kampak, yang telah melepaskan kampaknya itu. Karena ini, ia roboh bersama-sama musuh itu, yang tak sudi melepaskan pelukannya.
Kwee Ceng insyaf ia berada dalam bahaya, sekejab itu ia ingat ibunya, tujuh gurunya, Tuli dan Gochin, lalu semangatnya bangun, maka ia jambak dada musuh, dengan kerahkan semua tenaganya, ia angkat tubuh orang ke atasan tubuhnya sendiri, dengan begitu ia pakai musuh sebagai tameng.
Benar saja ketiga musuh lainnya berhenti menyerang karena mereka khawatir mencelakai kawan sendiri.
Kwee Ceng tetap bertahan secara demikian, hanya sekarang ia ubah caranya mencekal. dengan sebelah tangan ia memencet nadi musuh, untuk membikin dia itu tak dapat bergerak, dengan tangan yang lainnya, ia mencekik tenggorokan. Ia tidak pedulikan orang menendangi pundak atau kakinya. ia berpikir “Biar aku mati, asal aku pun telah membunuh seorang musuh!”
Jebe berdua yang tadi telah terpukul mundur, maju pula untuk membantu kawannya.
“Kamu pegat mereka, nanti aku bunuh ini bocah haram!” kata si suheng yang memegang golok sebatang kepada dua saudaranya, habis mana ia terus bekerja.
Kwee Ceng kaget, ia merasakan sakit pada pundaknya, terpaksa ia menggulingkan tubuh sekitar dua tombak, habis mana ia lompat bangun, untuk berdiri. Musuhnya yang ia cekik, telah rebah diam karena pingsan. Baru ia berdiri dengan niat melawan musuh, akan tetapi kaki kanannya sangat sakit, sekali lagi ia roboh.
Musuh sudah lantas tiba. Dalam keadaan sangat berbahaya itu, Kwee Ceng ingat ia ada punya joan¬pian atau cambuk lemas pembela dirinya, cepat ia lepaskan dari pinggangnya, lalu dengan menggulingkan tubuh, ia menangkis, kemudian selanjutnya, ia melakukan perlawanan dengan terus main bergulingan dengan ilmu silatnya “Kim Liong Pian-hoat” atau “Ilmu cambuk lemas naga emas”
Musuh yang pingsan telah sadar, ia ingin membalas sakit hatinya, ia lompat bangun, untuk membantu saudaranya. Tak lama, mereka pun dibantu oleh dua saudara yang lain, yang telah berhasil memukul mundur Jebe berdua. Kwee Ceng kembali dikepung berempat.
Selagi Kwee Ceng terancam bahaya, di bawah bukit, pasukan tentara kacau sendirinya, lalu tampak enam orang bergerak dengan lincah mengacau barisan itu, terus mereka berenam lari naik ke atas gunung.
Matanya Jebe sangat tajam, ia lantas kenali enam orang itu. “Kwee Ceng, gurumu datang!”, ia berseru.
Kwee Ceng sudah letih betul, kedua matanya pun sudah mulai kabur, begitu mendengar teriakan itu, semangatnya terbangun, terus ia melawan dengan hebat.
Cu Cong dan Coan Kim Hoat lari paling depan, segera tampak murid mereka dalam bahaya. Kim Hoat melompat maju, dengan dacinnya ia rabu empat batang senjata musuh. “Tidak tahu malu!” ia membentak.
Empat musuh itu segera melompat mundur, tangan mereka kesemutan bekas rabuhan senjata aneh dari orang yang baru datang ini. Mereka merasa bahwa dalam tenaga dalam, kalah jauh.
Cu Cong melompat maju, membantu muridnya bangun. Waktu itu, Tin Ok bersama yang lainnya telah tiba.
“Bandit-bandit tidak tahu malu, pergi kamu!” Kim Hoat mengusir.
Si toasuheng yang bersenjatakan golok menebali muka. Ia tahu pihaknya tak berdaya tetapi mereka malu untuk lari turun gunung, mereka malu bertemu sama pangeran keenam.
“Liok-wie, adakah kamu Kanglam Liok Koay?” ia tanya enam orang itu.
“Tidak salah!” sahut Cu Cong tertawa. “Siapakah tuan berempat?”
“Kami adalah empat muridnya Kwie-bun Liong Ong,” sahut si toasuheng.
Kwa Tin OK dan Cu Cong mulanya menyangka orang adalah orang-orang yang tak bernama, sebab mereka itu main keroyok, maka terkejutlah mereka mengetahui empat orang itu adalah murid-,muridnya Kwie-bun Liong Ong.
“Pasti kamu berdusta!” bentak Tin Ok. “Kwie-bun Liong Ong bernama besar, mana bisa murid-muridnya berbangsa tak berguna seperti kamu!”
“Siapa berdusta!” berseru orang yang dicekik Kwee Ceng tadi, yang masih merasakan sakit pada tenggorokannya, “Inilah toasuheng kami, Toan-hun-to Sim Ceng Kong! Ini jiesuheng Tiwi-beng-chiop Gouw Ceng Liat! Ini samsuheng Toat-pek-pian Ma Ceng Hiong! Dan aku sendiri, Song-bun-hu Cian Ceng Kian!”
“Kedengarannya kamu tidak berdusta,” berkata Tin Ok pula, “Benarlah kau adalah Hong Ho Su Koay! Kamu cukup ternama, kenapa kamu merendahkan diri begini rupa, empat orang bersaudara mengepung satu musuh, seorang bocah! Dia muridku!”
Gouw Ceng Liat membelar. “Siapa bilang kami berempat mengepung satu orang?!” katanya, “Bukankah di sini ada banyak orang Mongolia yang membantunya?”
Cian Ceng Kong pun tanya Ma Ceng Hiong: “Samsuheng, orang buta dan pengkor ini berlagak, siapakah dia?”
Ceng Kong menanya perlahan sekali, tetapi Kwa Tin Ok dapat mendengarnya, ia menjadi mendongkol. Tiba-tiba ia menekan dengan tongkatnya, tubuhnya terus mencelat, sebelah tangannya menyambar, maka tidak ampun lagi, punggung Ceng Kong kena dijambak, terus dilemparkan ke bawah gunung! Tiga pengepung lainnya menjadi kaget, mereka maju untuk menolong, tetapi mereka tidak berdaya, malah sebaliknya, cepat luar biasa, satu demi satu, mereka juga kena dilempar-lemparkan si Kelelawar Terbangkan Langit!
Tentara Mongolia di atas bukit bersorak-sorai menyaksikan keempat saudara itu, yaitu Hong Ho Su Koay, merayap bangun dengan muka penuh debu dan seluruh badan dan pinggangnya sakit bekas jatuh terbanting dan bergeluntungan. Syukur mereka tidak patah tangan dan kaki atau singkal batang lehernya.
Waktu itu terlihat debu mengepul naik, tanda datangnya ribuan serdadu, maka itu, menampak demikian, tentaranya Sangum menjadi kecil hatinya.
Temuchin menampak datangnya bala bantuan, mengetahui Jamukha lihay dan Sangum hanya mengandal kepintaran ayahnya, ia menunjuk ke kiri ke pasukannya Sangum itu seraya berseru: “Mari menerjang ke sini!”
Jebe berempat dengan Borchu, Juji dan Jagatai sudah lantas mendahulukan menerjang ke bawah, darimana terdengar seruannya bala bantuan.
Mukhali kaburkan kudanya sambil memeluk Tusaga, batang leher siapa ia tandalkan goloknya, sembari turut menerjang, ia berteriak-teriak: “Lekas buka jalan! Lekas buka jalan!”
Sangum menyaksikan musuh menerobos turun, ia hendak memegat, tapi tampak putranya berada di bawah ancama maut, putranya tak berkutik, ia menjadi tergugu, hingga tak tahu ia harus mengambil tindakan apa.
Sementara itu rombongan Temuchin sudah sampai di bawah bukit, malah Jebe sudah lantas saja turun tangan, dengan mengincar Sangum, ia memanah.
Sangum terperanjat, ia berkelit ke kiri, tidak urung pipi kanannya kena tertancap anak panah, maka tak ampun lagi, ia rubuh terjungkal dari kudanya. Tentu saja, karenanya, tentaranya menjadi kaget dan kalut.
Temuchin ajak rombongannya kabur terus. Ada beberapa ratus musuh yang mengejar, akan tetapi mereka dirintangi panahnya Jebe dan Borchu, sembari menyingkir menoleh ke belekang dan saban-saban menyerang dengan panah mereka.
Kanglam Liok Koay turut mundur dengan Lam Hie Jin yang memondong Kwee Ceng.
Sesudah melalui beberapa lie, rombongan ini bertemu bala bantuan, barisannya Tuli, putra keempat Temuchin, mereka lantas menggabungkan diri.
Tuli masih muda, walaupun ia pangeran, kepala-kepala suku dan panglima-panglima Temuchin tidak suka mendengar titahnya, dari itu, ia datang cuma bersama beberapa ribu serdadu anak-anak muda, hanya ia telah didulukan Kanglam Liok Koay. Tapi ia cerdik, ia tahu jumlah musuh terlebih besar, ia perintahkan semua serdadu mengikat cabang pohon diekor masing-masing kuda mereka, sehingga nampak debu membumbung besar dan musuh menyangka bala bantuan lawan berjumlah besar sekali. Di tengah jalan pulang, Temuchin bertemu bersama Gochin, yang datang bersama sejumlah serdadu. Putri ini girang bukan main melihat ayahnya semua tidak kurang suatu apa pun.
Malam itu Temuchin membuat pesta dengan semua panglima dan tentaranya diberi hadiah. Hanya semua orang menjadi heran, hatinya mendongkol, melihat Tusaga diundang duduk bersama di meja pesta, dan diperlakukan sebagai tamu agung.
Temuchin hanturkan tiga cawan arak kepada putra Sangum itu.
“Aku tidak bermusuh dengan ayah Wang Khan dan saudaraku Sangum,” ia berkata kepada putranya Sangum itu, “Maka itu aku persilahkan kau pulang untuk menyampaikan maafku. Aku pun akan mengantar bingkisan kepada ayah dan saudara angkatku itu, yang aku minta supaya tidak menjadi berkecil hati.”
Tusaga girang bukan main. Bukankah ia telah tidak dibunuh? Maka ia berjanji akan meyampaikan permohonan maaf dari Temuchin itu.
Semua orang menjadi bertambah heran dan mendongkol menyaksikan Khan mereka yang besar menjadi demikian lemah dan jeri terhadap Wang Khan, tetapi terpaksa mereka berdiam saja.
Besok harinya Temuchin kirim sepuluh serdadu mengiringi Tusaga pulang, berbareng dengan itu ia mengirimkan dua buah kereta yang berisikan emas dan kulit tiauw.
Tiga hari sepulangnya Tusaga itu, Temuchin kumpulkan tentaranya. Dengan mendadak ia perintahkan mereka itu kumpulkan tentara mereka.
“Sekarang juga kita menyerang Wang Khan!” demikian titahnya.
Heran semua panglima itu, mereka melongo.
“Wang Khan banyak tentaranya, serdadu kita sedikit, tak dapat kita melawan dia dengan terang-terangan,” menjelaskan Temuchin. “Kita mesti membokong! Aku bebaskan Tusaga dan mengirim bingkisan, itulah untuk membuatnya tidak bersiaga.
Baru semua panglima itu sadar, mereka jadi sangat mengagumi Khan mereka itu. Segera mereka bertindak maju dalam tiga pasukan.
Wang Khan dan Sangum dilain pihak girang melihat Tusaga pulang dengan selamat dan Temuchin pun mengirim bingkisan, mereka menyangka Temuchin jeri, mereka tidak bercuriga, maka di dalam tendanya, mereka jamu Wanyen Lieh dan Jamukha, yang mereka layani dengan hormat. Adalah tengah mereka berpesta malam ketika mendadak datang serangan Temuchin. Mereka menjadi kacau, tanpa berdaya mereka pada melarikan diri.
Wang Khan bersama Sangum kabur ke barat. Di sana mereka kemudian terbinasa di tangan bangsa Naiman dan Liauw Barat. Tusaga terbinasa terinjak-injak kuda tentara.
Hong Ho Su Koay, Empat Siluman dari sungai Hong Ho, yang bisa menerobos kepungan melindungi Wanyen Lieh kabur pulang ke Tiongtouw (Pakkhia).
Jamukha kehilangan tentaranya, dia lari ke gunung Tannu, di sana selagi ia dahar daging kambing, dia ditawan oleh tentara pengiringnya, terus dibawa kepada Temuchin.
Temuchin terima tawanan itu, tetapi ia gusar, ia berseru “Serdadu pengiring pemberontak dan berkhianat kepada majikan! Apakah gunanya akan mengasih hidup kepada orang-orang tak berbudi begini?” Di depan Jamukha sendiri, ia perintahkan hukum mati kelima pengiring itu. Kepada Jamukha, yang ia awasi, ia kata: “Apakah tetap kita menjadi sahabat-sahabat kekal?”
Jemukha mengucurkan air mata. “Meskipun saudara suka memberi ampun padaku, aku sendiri tidak mempunyai muka akan hidup lebih lama pula di dalam dunia ini,” ia menyahut. “Saudara, aku minta sudilah kau memberi kematian tak mengucurkan darah padaku, supaya rohku tidak mengikuti darahku dan meninggalkan tubuh ragaku….”
Temuchin berdiam sekian lama. “Baiklah,” berkata ia kemudian. “Akan aku menghadiahkan kau kematian tak mengalirkan darah, nanti aku kubur kau di tempat di mana dahulu hari, semasa kecil, kita bermain bersama…”
Jemukha memberi hormat sambil berlutut, habis itu ia putar tubuhnya untuk bertindak keluar kemah.
Besoknya Temuchin mengadakan rapat besar di datar sungai Onon. Ketika itu namanya telah naik tinggi sekali, maka rakyat dan tentara dari pelbagai suku tak ada yang tak tunduk kepadanya, semuanya menyanjung. Maka di dalam rapat besar itu ia telah diangkat menjadi Kha Khan, atau Khan terbesar dari Mongolia, dengan gelaran Jenghiz Khan, artinya Khan yang besar dan gagah bagaikan pengaruhnya lautan besar.
Di sini Jenghiz Khan membagi hadiah besar. Empat pahlawannya yakni Mukhali, Borchu, Boroul dan Chiluan serta Jebe, Jelmi dan Subotai, diangkat menjadi cian-hu-thio, semacam kapten dari seribu serdadu. Kwee Ceng yang dianggap jasanya paling istimewa, dijadikan cian-hu-thio juga. Maka anehlah satu bocah umur belasan tahun, pangkatnya sama dengan satu pahlawan panglima yang berjasa.
Dalam pesta itu Jenghiz Khan minum banyak arak hadiah dari pelbagai panglimanya, dalam keadaan seperti itu, ia berkata kepada Kwee Ceng: “Anak yang baik, aku akan menghadiahkan pula kepadamu sesuatu yang aku paling hargakan!”
Kwee Ceng sudah lantas berlutut untuk menghanturkan terima kasih.
“Aku serahkan Putri Gochin kepadamu!” berkata Jenghiz Khan. “Mulai besok kau adalah Kim-to Hu¬ma!”.
Semua panglima bersorak, lalu mereka memberi selamat kepada Kwee Ceng. Mereka juga berseru “Kim-to Hu-ma! Kim-to Hu-ma! Bagus! Bagus!”
“Kim-to Hu-ma” itu berarti menantu raja golok emas.
Tuli sangat girang sehingga ia merangkul Kwee Ceng erat-erat, tak mau ia lekas-lekas melepaskannya. Si anak muda sebaliknya berdiam, tubuhnya terpaku, mulutnya bungkam. Ia menyukai Gochin, tetapi sebagai adik, bukan sebagai kekasih. Ia lagi mengutamakan ilmu silat, tak memikirkan soal lainnya apa lagi jodoh, soal asmara. Maka ia kaget mendengar hadiah Khan yang maha besar itu. Selagi ia tercengang, semua orang tertawa padanya, menggoda.
Setelah pesta bubar, Kwee Ceng lantas cari ibunya, tuturkan hadiah dari Jenghiz Khan itu.
Liep Peng terdiam, ia pun bingung. “Coba undang gurumu semua!” titahnya kemudian.
Kanglam Liok Koay lantas datang. Ketika mereka mendengar hal pertunangan itu, mereka girang, mereka lantas memberi selamat kepada nyonya Kwee itu. Bukankah murid mereka sangat dihargai oleh Khan dan peruntungannya bagus sekali?
Lie Peng berdiam sebentar, lalu tiba-tiba ia berlutut di depan enam manusia aneh itu, sehingga mereka itu menjadi heran.
“Ada apa, enso?” mereka tanya. “Kenapa enso menjalankan kehormatan besar ini? Harap enso lekas bangun!”
“Aku sangat bersyukur suhu semua sudah didik anakku ini sehingga ia menjadi seorang yang berharga,” berkata nyonya ini. “Budi ini tak dapat aku balas walaupun tubuhku hancur lebur. Hanya sekarang ada satu hal sulit untuk mana aku mohon pertimbangan dan keputusan suhu semua.”
Lie Peng tuturkan keputusan suaminya almarhum dengan Yo Tiat Sim, yang tunangkan anak-anak mereka sebelum lahir.
“Maka itu, kendati kedudukan anakku mulia sekali, mana dapat ia menjadi hu-ma?” kata si nyonya kemudian. “Kalau aku menyangkal janji ini, aku malu sekali. Bagaimana nanti suamiku dan aku menemui paman Yo dan istrinya di dunia baka?”
Mengdengar keterangan ini, Kanglam Liok Koay tertawa.
Lie Peng heran, ia mengawasi mereka.
“Orang she Yo itu benar telah memperoleh keturunan tetapi bukannya perempuan, melainkan pria,” Cu Cong kasih keterangan.
“Bagaimana suhu ketahui itu?” menanya Lie Peng kaget.
“Seorang sahabat di Tionggoan mengabarkan kami dengan sepucuk surat,” menerangkan Cu Cong lebih jauh. “Sahabat itu pun mengharap kami mengajak anak Ceng ke sana untuk menemui putranya orang she Yo itu, untuk mereka menguji kepandaian silat mereka.”
Mendengar itu, Lie Peng sangat girang. Ia setuju anaknya diajak pergi. Ia berharap, sekalian anaknya mencari Toan Thian Thek, guna menuntut balas. Sepulangnya dari perjalanan itu, baru Kwee Ceng nanti menikah dengan Gochin.
Setelah mendapat keputusan, Kwee Ceng menghadap Jenghiz Khan, untuk memberitahukan tentang niat perjalanannya itu.
“Bagus, kau pergilah!” Khan itu setuju. “Sekalian kau pulang nanti bawalah juga kepalanya Wanyen Lieh, putra keenam raja Kim! Untuk melakukan pekerjaan besar itu, berapa banyak pengiring yang kau butuhkan?”
“Anak akan pergi bersama keenam guruku, tak usah anak membawa pengiring,” sahut Kwee Ceng. Ia anggap dengan pergi bersama guru-gurunya, ia tentu bakal berhasil, sedang membawa pengiring, yang tidak mengerti ilmu meringankan tubuh, menambah berabe saja. Ia senang sekali dengan perkataan Khan ini, untuk membinasakan Wanyen Lieh. Memang semenjak kecil ia telah diempos ibunya, yang sangat membenci bangsa Kim.
Jenhiz Khan menerima baik, ia berpesan pula “Sekarang ini kuda kita belum terpelihara gemuk dan tentara kita belum terlatih sempurna, kita belum dapat menandingi negara Kim, maka itu kau harus bekerja baik-baik supaya kau tidak meninggalkan ¬bekas!”
Kwee Ceng memberikan janjinya.
Jenghis Khan lantas hadiahkan baba mantu itu uang emas tigapuluh tael, untuk ongkos di jalan, sedang Kanglam Liok Koay dipersen barang-barang emas dan berharga bekas rampasan dari Wang Khan.
Di hari ketiga, setelah pamitan dari ibunya dengan kedua mengucurkan air mata, Kwee Ceng berangkat bersama guru-gurunya. Lebih dahulu mereka sambangi kuburan Thio A Seng, untuk ambil selamat berpisah dari rohnya guru almarhum itu. Lalu tujuan mereka adalah selatan.
Baru mereka jalan sepuluh lie lebih, di atasan kepala mereka terlihat dua ekor burung rajawali kepala putih terbang berputaran, lalu terlihat Tuli datang bersama Gochin dengan dua saudara itu merendengi kuda mereka. Tuli memberi bingkisan sepotong baju bulu tiauw yang mahal, barang rampasan dari Wang Khan.
Gochin datang menemui bakal suaminya itu, akan tetapi ia tidak dapat berbicara, cuma kulit mukanya menjadi bersemu merah.
“Adikku, kau bicaralah dengannya, aku tak akan mendengarkan!” berkata Tuli sambil tertawa, terus ia larikan kudanya, untuk menjauhkan diri.
Gochin menoleh, ia masih belum dapat bicara. Selang beberapa lama, barulah ia pesan: “Kau segeralah pulang…..”
Kwee Ceng mengangguk. “Ada pesan lagi?” ia bertanya.
Gochin menggelengkan kepalanya.
Kwee Ceng dekati putri itu, ia pondong tubuhnya, terus ia bawa kepada Tuli. Lalu ia pun saling rangkul dengan Tuli itu, habis mana ia larikan kudanya guna menyusul keenam gurunya, yang sudah berjalan jauh juga.
Gochin melongo, hatinya menjadi tawar. Ia dapatkan sikap Kwee Ceng sama seperti biasa, bukan sebagai satu tunangan. Saking masgul, ia hajar kudanya hingga binatang itu lari berjimpratan.
Kwee Ceng sendiri berjalan terus, keenam gurunya ajak dia menuju ke timur selatan, siang jalan, malam singgah. Segera juga mereka melintasi tanah datar gurun pasir. Pada suatu hari hampir tiba di Hek Sui Ho, tak jauh lagi dari Kalgan, Kwee Ceng lantas merasakan suasana lain. Belum pernah ia melintas dari gurun, sekarang ia mulai tiba di Tionggoan, ia dapatkan pemandangan mata yang lain. Tanpa merasa, ia gencet perut kudanya, membikin kudanya itu lari pesat. Maka lekas sekali tibalah ia di Hek Sui o, disebuah rumah makan di tepi jalanan.
Kwee Ceng merasa kasihan melihat kudanya yang kecil itu lari demikian keras hingga bermandikan keringat, ia ambil sabuk menyusuti. Tiba-tiba saja ia menjadi kaget. Sabuk itu menjadi merah seluruhnya. Ketika ia meraba kudanya, tangannya itu juga menjadi merah, penuh dengan darah. Hampir ia mengucurkan air mata saking menyesal sudah menyiksa kudanya itu. Tidakkah kuda itu bercelaka diluar keinginannya? Maka ia rangkul leher kuda itu, untuk menghibur.
Kuda itu sebaliknya nampak segar bugar, tidak ada tanda-tandanya terluka.
Kwee Ceng menoleh, mengawasi jalan besar darimana tadi ia datang. Ia mengharap segera tiba gurunya yang ketiga, Han Po Kie, supaya guru itu suka tolong mengobati kudanya itu. Ia tidak melihat guru-gurunya, yang ketinggalan jauh, maka berulangkali ia menoleh dan menoleh pula.
Masih enam guru itu tak nampak, sebaliknya, kupingnya bocah ini mendengar mengalunnya kelenengan unta. Ketika ia perhatikan, lihat mendatanginya empat ekor unta bulu putih, yang penunggangnya pun berpakaian serba putih. Mereka itu pria semua.
Belum pernah Kwee ceng melihat unta-unta yang begitu bagus. Ia pun menjadi tertarik dan heran akan mendapatkan keempat penunggangnya semua masih muda-muda, mungkin baru berumur duapuluh dua atau duapuluh tiga tahun, dan semuanya pun beroman tampan.
Setibanya di depan restauran, keempat penunggang unta itu melompat turun, mereka terus bertindak ke dalam rumah makan. Dari gerak-geriknya, terang mereka itu mengerti ilmu silat. Disamping pakaian mereka yang putih, di leher mereka itu terlihat bulu rase.
Seorang pemuda melihat Kwee Ceng mengawasi, ia menjadi likat, wajahnya pun bersemu dadu, lekas-lekas ia tunduk. Adalah satu kawannya menjadi tidak senang.
“Eh, bocah kau awasi apa?” ia menegur.
Kwee Ceng terperanjat, lekas-lekas ia melengos. Ia lantas mendengar mereka itu berbicara satu sama lain, entah apa yang mereka bicarakan, habis itu mereka tertawa riuh. Ia malu sendiri. tentu orang tengah menertawakannya. Ia sempat berpikir untuk menukar tempat singgahnya. Syukur unttuknya, ia dapatkan tibanya Han Po Kie. Ia lari kepada gurunya itu, terus beritahukan hal kudanya mengeluarkan keringat darah.
“Begitu?” tanya guru itu heran. Ia dekati kuda Kwee Ceng, ia raba punduknya kuda itu, setelah mana, ia bawa tangannya yang berlepotan darah itu ke arah matahari. Ia mengawasi sekian lama, lalu tiba-tiba ia tertawa lebar.
“Ini bukannya darah, inilah keringat!” serunya.
Kwee Ceng tercengang. “Keringat?” ia menanya. “Ada keringat merah?”
Po Kie tidak sahuti muridnya itu, hanya dengan bersemangat ia berkata “Anak Ceng, kau telah dapatkan han-hiat po-ma, yang untuk seribu tahun sukar didapatkan!”
Kwee Ceng heran dan girang. Ia girang sebab kudanya tidak terluka. Ia heran akan mendengar halnya han-hiat po-ma, ialah kuda istimewa dengan keringat seperti darah.
“Suhu, kenapa dia mengeluarkan keringat bagaikan darah?” ia menegasi.
“Dulu pernah aku dengar keterangan guruku, almarhum,” sahut Po Kie. “Turut katanya guruku itu, di tanah barat, yaitu di daerah Ferghana, ada kedapatan sebangsa kuda liar biasa, yang disebut kuda langit, punduk kuda itu mengeluarkan keringat merah seperti darah, bahwa kuda itu keras larinya, satu hari dapat menempuh jarak seribu lie. Tentu itu baru cerita saja, belum pernah ada yang melihat buktinya.”
Selagi guru dan murid ini berbicara, rombongan Tin Ok tiba. Mereka lantas beritahukan tentang kuda berkeringat merah itu.
Cu Cong adalah seorang sastrawan, ia luas pengetahuannya.
“Tentang itu ada ditulis jelas dalam Kitab Hikayat dan Kitab Jaman Han,” berkata Cu Cong. “Ketika dahulu hari itu bangsawan Pok-bong-houw Thio Kian diutus ke Tanah Barat, di Ferghana dia telah melihat seekor kuda han-hiat po-ma itu, sekembali ke negerinya, ia memberitahukan kepada rajanya, Kaisar Han Bu Tee. Kaisar menjadi kagum, ingin ia mempunyai kuda itu, terus ia kirim utusan membawa emas seribu kati serta seekor kuda-kudaan emas, sebesar kuda biasa, ke Barat itu, untuk dipakai menukar dengan kuda istimewa itu. Raja Ferghana menolak permintaan itu, dia mengatakan “Kuda itu adalah kuda pusaka negara Ferghana, jadi kuda itu tidak dapat dihadiahkan kepada bangsa Han.” Utusan Han itu menjadi gusar, mengumbar tabiatnya, ia hajar rusak kuda emas itu, terus ia pulang. Raja Ferghan pun gusar, dia perintah menawan utusan itu, terus dibunuh, emas dan kuda emas itu dirampas.
Kwee Ceng berseru heran.
Cu Cong menghirup air tehnya.
“Kemudian bagaimana?” tanya murid itu.
Dipihak lain, keempat pemuda serba putih itu juga memperhatikan cerita itu.
“Shatee,” tanya Cu Cong sehabis ia minum pula tehnya, “Kau ahli pemelihara kuda, tahukah kau darimana asalnya po-ma?”
“Menurut keterangan guruku, po-ma terlahir dari perkawinan kuda rumahan dengan kuda liar!” sahut Po Kie.
“Benar!” berkata Cu Cong. “Menurut kitab, di negara Ferghana itu ada sebuah gunung di dalam mana kedapatan sebangsa kuda liar, yang dapat lari seperti terbang, hingga orang liar tidak dapat mengejarnya. Tapi orang Ferghana telah mendapat satu akal bagus. Pada suatu malam musim semi, mereka lepas satu ekor kuda betina yang berwarna lima di kaki gunung. Kuda liar itu kena pincuk, dia kawin dengan kuda pancingan itu, ketika kemudian kuda biang itu mendapat anak, anak kuda itulah po-ma tersebut. Anak Ceng, mungkin sekali kudamu itu adalah keturunan dari kuda Ferghana itu.
“Bagaimana dengan Kaisar Han Bu Tee itu, apa dia mau sudah saja?” menanya Han Siauw Eng, yang tertarik dengan cerita kakak angkatnya itu.
“Mana mau dia sudah begitu saja,” kata Cu Cong. “Dia lantas perintah Jenderal Lie Kong mengepalai beberapa laksa serdadu pergi ke Ferghana untuk mendapatkan kuda itu. Untuk itu, Lie Kong diangkat menjadi jenderal istimewa. Tapi Ferghana adalah negara gurun pasir, tak ada rangsum dan air disana, selama perjalanan banyak tentara binasa sebelum mencapai tempat tujuan, pasukan tentara itu tinggal hanya tiga bagian. Lie Kong kalah orang, ia terpaksa mundur ke Tun-hong, darisana ia meminta rajanya mengirim pula bala bantuan. Raja gusar, ia kirim utusan membawa pedang, ke kota Gak-bun¬kwan, untuk menjaga. Utusan itu diberi tugas dan kekuasaan: Panglima atau serdadu mana saja yang pergi berperang benani memasuki kota Gak-bun-kwan itu, dia mesti dihukum mati! Lie Kong menjadi serba salah, terpaksa ia menunda di Tun-hong itu.”
Ketika itu terdengar pula kelenengan unta, lalu tertampak datangnya lagi empat penunggang unta seperti empat yang pertama itu. Melihat mereka itu, yang masuk ke dalam restauran, Kwee Ceng heran. Mereka itu muda dan tampan dan pakaiannya serba putih seperti rombongan pertama. Dan mereka dua rombongan lantas duduk bersama-sama.
Cu Cong melanjuti ceritanya: “Kaisar Han Bu Tee tidak puas, ia merasa malu. Dengan kalah perang, ia khawatir bangsa lain memandang enteng bangsa Han. Maka ia mengerahkan pula lebih daripada duapuluh laksa serdadu, ia siapkan serbau, kuda dan rangsum tak terhingga banyaknya. Masih ia khawatir tentaranya itu belum cukup, ia menambah dengan semua orang hukuman, pamong praja rendah, baba-baba mantu dan kaum pedagang, yang dijadikan serdadu, hingga negara menjadi gempar. Pula dua ahli kuda diberi pangkat tinggi, satu menjadi Kie-ma Kawm-oet, yang lainnya menjadi Cit-ma Kauw-oet, tugasnya nanti sesudah Ferghana dipukul pecah mereka mesti memilih kuda jempolan. Lioktee, kerajaan Han itu mengutamakan tani dan sebaliknya memandang enteng bangsa saudagar, kalau kau hidup di jaman Kaisar Han Bu Tee, apeslah kau, sebaliknya dengan shatee, dia bisa memangku pangkat! Ha ha ha!”
“Dan baba-baba mantu itu, apakah salahnya mereka?” Siauw Eng menanya.
“Siapa miskin dan tak punya sandaran, siapa sudi dipungut mantu?” Cu Cong menjawab. “Kali ini Lie Kong memimpin angkatan perang yang besar itu. Untuk lebih daripada empatpuluh hari, ia kurung dan serang kota musuh. Banyak panglima musuh binasa. Akhirnya kaum ningrat Ferghana menjadi ketakutkan, mereka berontak, rajanya dibunuh, kepala raja diserahkan. Mereka mohon menakluk. Mereka pun serahkan kuda yang diperebutkan itu. Lie Kong pulang dengan kemenangan besar, raja sangat girang, dia di anugrahkan menjadi bangsawan Hay-see-houw. Tentara yang lainnya pun turut kenaikan pangkat. untuk seekor kuda po-ma itu, entah berapa banyak jiwa sudah melayang, setahu berapa banyak uang sudah dikorbankan. Kaisar mengadakan satu pesta besar, ia perintah mengarang syair untuk memuji kuda langit itu, yang dianggap melainkan naga yang pantas menjadi kawannya….”
Mendengar cerita itu, delapan pemuda itu mengawasi kudanya Kwee Ceng, agaknya mereka sangat tertarik.
Cu Cong berkata pula: “Kuda langit menjadi kuda jempolan sebab perkawinannya dengan kuda liar, Kaisar Bu Han Tee sudah kerahkan kekuatan seluruh negeri untuk mendapatkan beberapa ekor kuda itu tapi kemudian ia tidak mendapatkan kuda liar, maka selang beberapa turunan, semua kuda itu tak lagi menjadi po¬ma dan keringatnya pun tidak merah…”
Habis Cu Cong bercerita, mereka melanjuti memasang omong sambil dahar mie.
Delapan pemuda itu duduk jauh-jauh, mereka kasak-kusuk tetapi kupingnya Kwa Tin Ok lihay, ia dapat mendengar jelas pembicaraan mereka.
“Kalau kita hendak rampas kuda itu, cukup dengan satu kali turun tangan,” berakta satu pemuda, “Satu kali kita sudah naik atas punggung kuda itu, siapa dapat mengubarnya?”
“Tapi disini ada banyak orang lain dan ia pun ada kawan-kawannya…” kata seorang yang lain.
“Jikalau kawannya berani membantui, kita bunuh saja semua!” kata seorang lagi.
Hu Thian Pian-hk Kwa Tin Ok menjadi heran sekali. “Mereka berdelapan wanita semuanya, mengapa mereka jadi begini galak dan telengas?” tanyanya dalam hati. Ia berdiam saja, ia sengaja berpaling ke luar rumah makan. dengan begitu delapan pemuda itu menjadi tidak curiga.
“Setelah mendapatkan kuda jempolan ini, kita menghadiahkannya kepada San-cu,” berkata seorang pula. “Dengan menungggang kuda ini, San-cu pergi ke kota raja, tentunya dia menjadi semakin terang mukanya! Pasti seklai Som Sian lao Koay dari Tiang Pek San dan Leng Tie Sianjin jago Bit Cong Pay dari Tibet tak dapat menangkan keagungannya…!”
Tin Ok berpikir. Ia pernah dengar namanya Leng Tie siangkin, seorang paderi kenamaan dari Tibet itu, tetapi tak tahu ia perihal Som Sian Lao Koay. Ia terus memasang kupingnya.
“Dalam beberapa hari ini di tengah jalan kita menemui tak sedikit sahabat dari Jalan Hitam,” berkata seorang muda yang lainnya lagi, “Katanya mereka adalah bawahannya Cian-ciu jin-touw Peng Lian Houw. Mereka itu tentu hendak berkumpul juga di kota raja, maka kalau mereka dapat lihat kuda ini, mana kita dapat kebagian?”
Tentang Peng Lian Houw ini Tin Ok ketahui dengan baik. Dialah kepala penjahat paling berpengaruh untuk wilayah Hopak dan Shoasay, yang sangat kejam, maka juga dia dapat gelarannya itu, “Pembunuh Ribuan Jiwa”. Maka ia berpikir, “Orang lihay itu pergi ke kota raja, mereka hendak bikin apa di sana? Delapan wanita ini, siapakah mereka?”
Mendengar terlebih jauh, Tin Ok mendapat kepastian mereka itu hendak merampas kudanya Kwee Ceng. Mereka hendak pergi lebih dulu, guna memegat di tengah jalan.
Habis mengambil keputusan, delapan pemuda itu, yang Tin Ok mengatakan pemudi-pemudi, lalu berkasak-kusuk tentang asmara, mereka pun bergurau. Ada yang kata “San-cu paling sukai kamu!” Ada yang membilang, “Diwaktu begini tentulah San-cu lagi menantikanmu!” maka ia menjadi mengerutkan keningnya, ia menajdi sebal….
“Kalau kita menghadiahkan kuda ini kepada San-cu, coba kau terka, San-vu bakal menghadiahkan apa kepada kita?” berkata satu orang, yang kembali ke urusan kuda.
Yang seorang tertawa dan berkata: “ Pasti San-cu menghendaki kau menemani ia tidur untuk beberapa malam…!
“Kurang ajar!” membentak kawan yang digoda itu dan hendak mencubit. Yang lain-lain lantas tertawa geli.
“Kira-kira, hati-hatilah!” seorang memperingatkan. “Jangan kita membocorkan rahasia sendiri…!”
“Wanita itu membawa pedang, dia tentu mengerti ilmu silat,” kata satu orang. “Dia juga cantik sekali, coba dia lebih muda sepuluh tahun, barulah anadikata heran San-cu melihat dia dan menjadi kerindu-rinduan…”
Tin Ok tahu Siauw Eng yang menjadi bulan-¬bulanan, ia mendongkol. ia percaya orang yang dipanggil “San-cu” itu atau “majikan gunung” mestilah bukan orang baik-baik.
“Awas, jangan kau mencari muka dari San-cu dan hendak mati-matian mencarikan nona manis untuknya…!” memperingati satu kawan.
Orang itu tertawa, ia tidak menyahuti.
“Kita harus berhati-hati,” berkata pula seorang yang lain. “Kali ini kita datang ke Tionggoan untuk mengangkat nama, guna menaklukkan orang kosen, supaya orang-orang kosen di kolong langit ini tahu kegagahan kita dari Pek To San, maka itu kita harus waspada, jangan seperti Hong Ho Su Koay yang sial dangkalan itu, yang menyebabkan orang tertawa hingga giginya copot!”
Tin Ok tidak tahu Pek To San itu, yang berarti Gunung Unta Putih, dari mana partainya, akan tetapi mendengar disebutnya Hong Ho Su Koay – Empat Siluman dari sungai Hong Ho, ia teringat kepada mereka yang mengeroyok Kwee Ceng.
Seorang berkata pula: “Menurut katanya San-cu, Hong Ho Su Koay adalah murid-murid paling disayangi oleh Kwie-bun Liong Ong, untuk di Liongsee dan Tiong-ciu, namanya sangat kesohor, sangat aneh mereka kabarnya roboh ditangan bocah berumur belasan tahun…”
Satu kawannya menyahut: “Ada orang bilang bocah itu pandai ilmu silat Kiu-im Pek-kut Jiauw, karena tubuh Hong Ho Su Koay itu masing-masing meninggalkan bekas cengkeraman…”
“Maka hati-hatilah kau!” tertawa satu kawannya, “Supaya kau jangan sampai kena dijambak bocah itu!”
“Cis!” sang kawan berludah.
Kembali mereka itu tertawa.
Mendengar pembicaraan itu, Tin Ok mendongkol juga merasa lucu. “Sungguh pesat sekali tersiar di dunia kangouw!” katanya. “Hanya tidak tepat berita anak ceng mengerti Kiu-im Pek-kut Jiauw. Ilmu itu mana dapat dikuasai tanpa belajar belasan tahun? Anak umur belasan tahun mana mempunyakan ilmu silat itu?”
Diam-diam Tin Ok puas murid mereka dapat mengalahkan Hong Ho Su Koay, maka tidaklah kecewa didikan mereka selama sepuluh tahun lebih ini.
Habis dahar mie, delapan pemuda itu berlalu dengan cepat bersama untanya.
Tin Ok tunggu sampai mereka pergi jauh, kemudian tanya adiknya yang kedua: “Jietee, bagaimana kau lihat kepandaiannya delapan wanita itu?”
“Wanita?” Cu Cong mengulangi dengan heran sebelum ia menjawab.
“Habis?” sang kakak membalasi.
“Oh, mereka menyamar demikian sempurna!” berkata Cu Cong. “Nampaknya mereka luar biasa, kayanya mengerti ilmu silat, namun kelihatan tidak mengerti…”
“Apakah pernah kau dengar tentang Pek To San?” Tin Ok tanya pula.
“Tidak,” sahut Cu Cong setelah berpikir sejenak.
Tin Ok lantas tuturkan apa yang ia dengar barusan. Cu Cong semua tertawa. Besar nyali mereka berani berniat menggempur gunung Tay San….
“Perkara kecil niat mereka merampas kuda anak Ceng,” Tin Ok berkata pula. “Yang penting harus diperhitungakan bahwa ada banyak orang gagah hendak berkumpul di kota raja. Mungkin ada gerakan rahasia. Aku pikir tak dapat kita membiarkannya saja, perlu kita mencari tahu.”
“Tetapi janji pibu di Kee-hin bakal tiba harinya, tidak dapat kita main ayal-ayalan,” Coan Kim Hoat memperingati.
Mereka itu berdiam, merasa sulit juga.
“Kalau begitu, biarlah anak Ceng berangkat lebih dahulu!” Lam Hie Jin menyarankan.
“Apakah sieko maksudkan biar anak Ceng pergi seorang diri ke Kee-hin? Kita menyusul dia sesudah kita menyelidiki warta perihal orang-orang gagah yang berkumpul di kota raja?” Siauw Eng menegaskan.
Lam Hie Jin mengangguk.
“Benar,” Cu Cong menyatakan setuju. “Biar anak Ceng berjalan seorang diri, untuk mencari pengalaman.”
Mendengar itu Kwee Ceng merasa tidak puas. Tidak menggembirakan berjalan seorang diri. Ia utarakan perasaannya itu.
“Orang begini besar masih bersifat kebocahan!” Tin Ok menegur.
Siauw Eng lantas membujuk: “Kau pergi lebih dahulu kesana. Tak sampai satu bulan, kami akan menyusul. Seandainya di hari pibu kita tidak dapat kumpul semua berenam, satu atau dua tentulah dapat tiba untuk mengurus kamu. Jangan kau khawatir.”
Dengan terpaksa Kwee Ceng memberikan persetujuannya.
“Delapan wanita itu hendak merampas kudamu,” Tin Ok pesan, “Pergi kau ambil jalan kecil, untuk mendahului mareka. Kudamu keras larinya, mereka tak mungkin bisa menyusul. Kau mempunyai urusan penting, jagalah supaya kau jangan terganggu urusan tak berguna.”
“Umpama benar mereka main gila, Kanglam Cit Koay tidak akan melepaskan mereka!” berkata Han Po Kie. Dia tetap menyebut diri Cit Koay meskipun sudah belasan tahun semenjak meninggalnya Thio A Seng, hingga sekarang mereka tinggal berenam (Liok Koay). Itulah tandanya ia tidak bisa melupakan saudara angkatnya itu.
Habis bersantap, Kwee Ceng lantas memberi hormat kepada keenam gurunya, untuk mengucapkan selamat jalan.
Liok Koay lega melepaskan muridnya ini, yang kelihatan sudah dapat diandalkan menyaksikan perlawanannya terhadap Hong Ho Su Koay. Memang perlu murid ini membuat perjalanan sendiri, pengalaman tak dapat diajarkan. Mereka itu pada memesan, paling belakang pesan Hie Jin singkat saja: “Jikalau tidak ungkulan, menyingkir!” Pesan ini diberikan sebab ia melihat, melayani Empat Siluman dari Hong Ho, muridnya ini ngotot dan membahayakan diri sendiri.
“Memang,” berkata Coan Kim Hoat, “Ilmu silat tidak ada batasnya, di luar gunung ada gunung lain yang lebih tinggi, di sebelah orang ada lagi lain orang yang lebih pandai, biarpun kau sangat lihay, tidak dapat kau menjagoi sendiri di kolong langit. Maka ingatlah pesa gurumu yang keempat ini.
Kwee Ceng mengangguk. Ia payku kepada enam gurunya itu, lantas ia menuju ke selatan. Belum ada dua lie, sudah menghadapi jalan cabang dua. Ia turuti pesan Tin Ok, ia ambil jalan kecil. Jalanan ini lebih jauh, sebab kecil dan berliku-liku, di sini sangat sedikit orang berlalu lintas. Jalanan pun sukar, banyak kolar dan pasirnya, ada pepohonan kecil yang liar. Untungnya ia menunggang kuda dan kudanya pun dapat lari pesat.
Sekitar tujuh atau delapan lie, Kwee Ceng tiba di jalanan pegunungan yang sulit dan berbahaya, jalanan sempit dan banyak batu besarnya, mau tidak mau, ia berlaku hati-hati. Ia pun meraba ganggang pedangnya.
“Kalau sam-suhu melihat sikapku nini, dia pasti akan marah…” pikirnya.
Selagi jalan terus, di sebuah tikungan, Kwee Ceng terkejut. Di depan ada tiga nona dengan pakaian serba putih, ketiganya bercokol di atas punggung unta. Mereka itu melintag di tengah jalan. Dari jauh-jauh, ia tahan kudanya, hatinya pun tercekat. “Numpag jalan!” ia lantas berkata, suaranya nyaring.
Ketiga nona itu tertawa bergelak. “Adik kecil, takut apa?” kata satu diantaranya. “Lewat saja! Kami pun tidak gegares padamu!”
Kwee Ceng jengah, mukanya terasa panas. Ia sangsi. Bicara dulu atau menerjang saja?
“Kudamu bagus, mari kasih aku lihat!” kata satu nona lain. Ia mengasih dengar nada bicara seperti anak kecil.
Tentu saja tak puas Kwee Ceng diperlakukan demikian. Ia mengawasi jalanan yang sempit itu. Di tempat begitu, tak dapat bertempur. Maka ia lantas ambil keputusan. Ia tarik les kudanya, kedua kakinya menjepit, kudanya kaget, lalu lari dengan tiba-tiba. ia seperti hendak menerjang ketiga orang itu.
“Awas! Buka jalan!” ia berseru seraya hunus pedangnya.
Pesat lari kudanya, sebentar saja ia sudah datang dekat.
Satu nona lompat turun dari untanya, seraya ulur tangannya, maksudnya hendak menyambar les kuda, untuk tahan kuda itu. Tapi Kwee Ceng membentak, kudanya berbenger, terus melompat tinggi, melompati tiga nona itu!
Ketiga nona itu terkejut, Kwee Ceng sendiri tidak tak terkecuali, saking heran atas lihaynya kuda itu, pengalaman ini luar biasa. Belum sempat ia menoleh ke belakang, ia sudah mendengar bentakan ketiga nona itu, tepat waktu ia menoleh, ia lihat menyambarnya barang berkilauan. Ia berlaku hati-hati, ia khawatir senjata rahasia itu ada racunnya, ia menyambut dengan kopiahnya, yang ia lekas cabut.
“Bagus!” memuji dua nona.
Kwee Ceng periksa kopiahnya. Nyata dua senjata rahasia itu adalah gin-so atau torak terbuat dari perak yang indah, ujungnya tajam, tajam juga kedua pinggirannya.
“Kamu telengas hendak mengambil jiwaku,” pikir si anak muda dengan mendongkol. “Bukankah kita tidak kenal satu sama lain dan tidak bermusuhan?” Tapi ia tidak mau membalas, tak sudi melayani, gin-so itu ia masukkan sakunya. Ia hanya dapat lihat, gin-so bertabur emas yang merupakan unta-unta kecil.
Sampai disitu, pemuda ini larikan lagi kudanya. Ia tidak menaruh perhatian ketika ia mendengar dua ekor burung dara terbang lewat di atas kepalanya, dari utara ke selatan. Ia hanya khawatir nanti ada yang halangan pula. Tidak sampai satu jam, ia sudah melalui seratus lie lebih. Ia singgah sebentar, terus jalan pula. belum sore sudah tiba di Kalgan. ia percaya ketiga nona tadi tidak bakal dapat menyusul, sebab jarak mereka ada seperjalanan tiga hari…….
Kalgan adalah kota hidup lalu-lintas antara selatan dan utara, penduduknya padat, perdagangannya ramai. Di situ terutama terdapat banyak kulit dan bulu binatang, yang datangnya dari berbagai tempat. Di sini Kwee Ceng turun dari kudanya, berjalan seraya menuntun binatang ini, matanya menoleh ke kiri-kanan. Belum pernah ia melihat kota seramai ini. Kebetulan tiba di depan restoran, ia merasa lapar, maka ia tambat kudanya di luar, ia masuk ke dalam, mencari tempat duduk. Ia minta sepiring daging kerbau dan dua kati mie. Seorang diri ia dahar dengan bernafsu. Ia tidak pakai sumpit, kebiasaan orang Mongolia, memakai tangan.
Tengah bersantap, mendengar suara kerisik di luar rumah makan. Ia ingat kudanya, cepat lompat bangun melongok keluar. Ia dapatkan kudanya sedang makan rumput dengan tenang. Yang membikin banyak berisik adalah dua jongos terhadap seorang pemuda yang tubuhnya kurus dan pakaiannya butut.
Pemuda itu berumur lima atau enambelas tahun, kepalanya ditutup dengan kopiah kulit yang sudah pecah dan hitam dekil, mukanya pun hitam mehongan, hingga tidak terlihat tegas wajahnya. Di utara, sekalipun di musim semi, hawa udara dingin, dan pemuda ini tidak memakai sepatu. Teranglah ia seorang melarat. Di tangannya mencekal sepotong bakpauw. Ia mengawasi kedua jongos dengan tertawa, hingga terlihat dua baris giginya yang putih, rata, gigi bagus itu tak sebanding sama dandannya yang compang-camping itu.
“Mau apa lagi?!” menegur satu jongos, “Kenapa kau tidak mau lantas pergi?!”
“Baiklah, pergi ya pergi…” kata pemuda itu seraya ia putar tubuhnya.
“Eh, lepas bakpauw itu!” menitah jongos yang satunya.
Pemuda itu dengan bakpauwnya yang sekarang tertanda tapak tangan, hitam dan kotor. Tentu saja kue itu tak bakalan laku dijual.
Jongos itu menjadi gusar. Ser! kepalannya melayang. pemuda itu mendak, kepalan lewat diatasan kepalanya.
Kwee Ceng menjadi kasihan. ia tahu orang tentu sudah lapar. “Jangan!” ia cegah si jongos. “Aku yang membayar.” Ia jumput bakpauw itu, ia sodorkan kepada si pemuda.
Pemuda itu menyambut. “Makhluk yang harus dikasihani, ini aku bagi kau!” berkata ia. Dan ia lemparkan itu kepada seekor anjing buduk di depan pintu.
Anjing itu, seekor anjing kecil, menubruk dengan kegirangan, terus ia gegares bakpauw itu.
“Sayang…sayang…” kata satu jongos. “Bakpauw yang lezat dikasih ke anjing….”
Kwee Ceng pun heran, tetapi ia diam saja, ia balik ke mejanya untuk melanjutkan bersantap. Pemuda itu mengikuti ke dalam, ia mengawasi anak muda kita
Kwee Ceng lihat kelakuan orang, ia menjadi malu hati. “Mari dahar bersama!” ia mengundang.
“Baik!” tertawa pula pemuda itu. “Aku sendirian tidak gembira, aku memang lagi mencari kawan.” Ia bicara dengan lidah Selatan. Kwee Ceng mengerti omongan orang. Bukankah ibunya berasal dari Lim-an, Cit-kang, dan ia biasa dengar ibunya bicara? Ia malah girang mendengar lagu suara orang sekampung.
Pemuda itu menghampiri, untuk duduk bersama.
Kwee ceng teriaki jongos, meminta tambahan makanan. Jongos itu melayani dengan ogah-ogahan, sebab ia lihat pakaian orang yang butut dan kotor itu.
“Apakah kau sangka aku melarat dan jadinya tak pantas aku dahar barang makananmu?” si pemuda tegur jongos itu, yang ia lihat lagak lagunya. “Aku khawatir, meski kau menyuguhkan makananmu yang paling jempol, bagiku itu rasanya masih kurang cocok.” lanjutnya lagi.
“Apa?!” sahut jongos itu tawar, “Coba lojinkee menyebutkannya, pasti kami dapat membuatnya! Hanya aku khawatir, habis kau dahar, kau tidak punya uang untuk membayar!”
Dengan sengaja ia menyebut “lojinkee” atau orang tua yang dihormati, untuk menyindir.
Pemuda itu mengawasi Kwee Ceng. “Tidak peduli aku dahar berapa banyak, maukah kau yang mentraktir?” tanyanya.
“Pasti!” sahut Kwee Ceng tanpa berpikir lagi. Ia menoleh kepada si jongos, serta memerintahkan: “Potongi aku sekati daging kerbau serta setengah kati hati daging kambing!” Ia telah hidup terlalu lama di Mongolia hingga tahunya, makanan yang paling lezat di kolong langit ini adalah daging kerbau dan kambing. Ia menoleh pula kepada si anak muda: “Kita minum arak atau tidak?” ia tanya.
“Kita jangan repoti mendahar daging, baik kita makan bebuahan dulu!” sahut si anak muda. Ia lantas kata pada jongos: “Eh, kawan, lebih dulu kau sediakan empat rupa buah kering dan empat rupa buah segar, dua yang asam manis, dua yang manis bermadu.”
Jongos itu heran hingga ia terperanjat. Ia tidak menyangka orang omong demikian takabur.
“Toaya menghendaki buah apa yang segar bermadu?” tanyanya, suaranya tawar.
“Rumah makanmu ini rumah makan kecil dan tempatmu ini tempat melarat, pasti tidak dapat kamu menyediakan barang bagus,” berkata si anak muda. “Sekarang begini saja! Empat rupa buah kering itu leeci, lengkeng, co dan ginheng. Buah yang segar yaitu kau cari yang baru dipetik, yang asam aku ingin buah ento harum, dan kiang-sie-bwee. Entah disini ada yang jual atau tidak? Yang manis bermadu? Ialah jeruk tiauw-hoa-kim-kie, anggur hiangyoh, buah tho-tong-songtiauw dan buah lay-hauwlongkun….”
Mendengar itu, jongos itu menjadi melongo. Sekarang ia tak berani lagi memandang enteng kepada anak muda ini.
Si anak muda berkata pula; “Untuk teman arak, di sini tidak ada ikan dan udang segar, maka kau sajikan saja delapan rupa barang hidangan yang biasa!”
Jongos itu mengawasi. “Sebenarnya tuan-tuan ingin dahar masakan apa?” ia tanya.
“Ah, tidak dijelaskan, tidak beres!” berkata si anak muda itu. “Delapan rupa masakan itu puyuh asap, ceker bebek goreng, lidah ayam cah, soto manjangan keekangyauw, soto burung wanyoh, bakso kelinci, paha mencak dan kaki babi hong.”
Mendengari itu mulutnya si jongos ternganga.
“Delapan masakan itu mahal harganya,” katanya kemudian. “Untuk ceker bebek dan lidah ayam saja kita membutuhkan beberapapuluh ekor ayam….
Si anak muda menunjuk Kwee Ceng. “Tuan ini yang mentraktir, apakah kau kira dia tidak kuat membayarnya?” tanyanya.
Jongos mengawasi pemuda kita, yang dandannya indah dan malah mengenakan bulu tiauw, nampak bukan orang sembarang.
“Baiklah,” sahutnya kemudian. “Apakah sudah cukup semua ini?”
“Habis itu, kau sajikan lagi duabelas rupa untuk teman nasi,” berkata pula si anak muda. “Lainnya ialah delapan rupa tiamsim. Nah, sebegitu dulu!”
Jongos itu berlalu dengan cepat, ia khawatir orang nanti minta pula makanan lainnya. Setelah pesan koki, baru ia keluar pula. Sekarang ia tanya tetamunya, hendak minum arak apa. Ia kata, ada arak Pek-hun-ciu simpanan sepuluh tahun, apa boleh ia menyediakan dulu dua poci?
“Baiklah!” sahut si anak muda yang mengenal arak tak banyak cerewet.
Tidak terlalu lama, semua buah yang diminta telah disajikan saling susul-menyusul.
Kwee ceng cobai itu semua, satu demi satu, dan ia merasakan kelezatan yang dulu-dulunya belum pernah merasakan.
Sembari dahar bebuahan, si anak muda bercerita banyak, tentang segala apa di Kanglam. Kwee ceng tertarik hatinya. Orang bicara rapi, enak didengarnya. Rupanya luas pengetahuannya. Ia percaya, anak muda itu lebih pintar daripada gurunya yang kedua.
“Aku menyangka ia cuma miskin, tak tahunya dia terpelajar tinggi,” katanya dalam hati.
Selang kira-kira setengah jam, datanglah barang hidangan, yang mesti disajikan atas dua meja disambung menjadi satu.
Anak muda itu minum sedikit sekali. Barang hidangan yang ia pilih, Cuma dahar beberapa sumpitan. Sembari berdahar, ia sekarang banyak bertanya kepada Kwee Ceng, yang mengaku datang dari padang pasir. Kwee Ceng ingat pesan gurunya, ia tidak berani bicara terlalu banyak, ia jadi Cuma bicara tentang memburu binatang liar, memanah burung rajawali, menunggang kuda dan menggembala kambing. tapi si anak muda sangat tertarik hatinya, hingga ia tertawa dan bertepuk tangan.
Kwee Ceng sendiri sangat gembira berkumpul bersama kawan baru ini. Di gurun pasir ia bergaul erat sekali dengan Tuli dan Gochin, toh masih ada perbedaannya, Tuli sering mendampingi ayahnya. Gochin benar baik tetapi putri itu kadang-¬kadang manja sekali dan tidak sudi mengalah, maka sering mereka bertengkar. Maka itu, bicara lebih jauh, ia pun suka omong lebih banyak, kecuali hal ia mengerti silat dan mempunyai hubungan erat dengan Temuchin. Satu kali, saking gembira, ia cekal tangan si anak muda, untuk dipegang keras-keras. Hanya aneh, tangan itu ia rasai halus sekali. Si anak muda pun tersenyum dan menunduk.
Pernah Kwee Ceng menatap muka si anak muda, walaupun mehongan, kult muka itu agaknya halus dan bersemu putih, tetapi tentang ini, ia tidak memperhatikan.
“Sudah terlalu lama kita bicara, hidangan keburu dingin,” kata si anak muda seraya tarik tangannya. “Nasi pun sudah dingin…”
“Benar,” sahut Kwee ceng, sadar. “Baik suruh panasi lagi…”
“Tidak usahlah, terlalu panas pun tidak dapat didahar,” kata si anak muda, yang lalu memanggil jongos, menyuruh menukar hidangan yang terlalu dingin dengan yang baru! Jongos dan kuasa rumah menjadi heran. Seumurnya, baru kali ini mereka mendapat tamu seaneh ini. Tapi mereka ikuti kehendak itu.
Kwee Ceng pun diam saja, ia tidak pikirkan harganya barang makanan itu.
Sesudah makanan siap semua, anak muda itu dahar lagi sedikit saja, lalu ia mengatakan sudah cukup. Menyaksikan itu, si jongos katakan Kwee ceng dalam hatinya: “Dasar kau, bocah tolol! Bocah hina ini permainkan padamu!”
Kapan kuasa restoran sudah berhitungan, harganya semua buah dan makanan itu berjumlah tigaratus sembilan tail, tujuh chie empat hun. Untuk membayar itu, Kwee Ceng mengeluarkan dua potong emas, untuk ditukar dengan limaratus tael perak. Sehabis membayar, Kwee ceng pun kasih persen sepuluh tael hingga kuasa restoran dan jongos itu menjadi girang, dengan kelakuan sangat menghormat, mereka mengantar keluar kedua tamunya itu.
Di luar salju memenuhi jalan besar.
“Aku telah mengganggu kamu, ijinkan aku pamitan,” si anak muda meminta diri seraya memberi hormat.
Kwee Ceng berhati mulia, melihat pakaian orang yang tipis dan pecah, ia loloskan baju kulit tiauwnya, ia kerobongi itu di tubuh si anak muda. Ia kata: “Saudara, kita baru ketemu tetapi kita sudah seperti ¬sahabat kekal, maka aku minta sukalah kau pakai baju ini!” Tidak Cuma baju, ia pun memberikan uang. Ia masih punya sisa empat potong emas, yang tiga ia sisipkan ke dalam saku baju tiauw itu.
Si anak muda tidak mengucap terima kasih, ia pakai baju itu, terus negeloyor pergi. Adalah setelah jalan beberapa tindak, ia baru menoleh ke belakang, tampak Kwee Ceng lagi berdiri bengong dengan tangan memegangi les kuda merahnya, sepertinya pemuda itu kehilangan sesuatu. ia lantas saja angkat tangannya, menggapai.
Kwee Ceng lihat itu panggilan, ia menghampiri dengan cepat. “Saudaraku, apakah kau masih kekurangan sesuatu?” ia menanya. Ia sebenarnya memanggil adik (hiantee).
Anak muda itu tersenyum. “Aku masih belum belajar kenal she dan nama kakak yang mulia,” ia menyahut.
Kwee ceng pun tertawa. “Benar, benar!” katanya. “aku pun sampai lupa! Aku she Kwee, namaku Ceng. Kau sendiri hiantee?”
“Aku she Oey, namaku pun satu, Yong,” jawab anak muda itu.
“Sekarang hiantee hendak pergi kemana?” Kwee ceng bertanya. “Umpama kata hiantee hendak kembali ke Kanglam, bagaimana apabila kita jalan bersama?”
Oey Yong menggeleng kepala. “Aku tidak berniat pulang ke Selatan,” sahutnya. “Tapi toako, aku merasa lapar pula…” ia menambahkan.
“Baiklah, mari aku temani lagi kau bersantap,” jawab Kwee ceng, yang tidak merasa aneh atau mendongkol.
Kali ini Oey Yong yang mengajak kawannya itu. Ia pilih rumah makan yang paling besar dan kenamaan untuk kota Kalgan, yaitu Restoran Tiang Keng Lauw, yang bangunannya juga mencontoh model restoran besar dari Pian Liang, ibukota dahulu. Hanya kali ini ia tidak meminta banyak macam makanan, cuma empat rupa serta sepoci teh Liong-ceng.
Di sini kembali mereka pasang omong.
Kapan Oey Yong dengar Kwee ceng omong perihal dua ekor burung rajawali putih, ia menjadi tertarik hatinya.
“Justru sekarang tidak tahu aku mesti pergi ke mana, baik besok aku pergi saja ke Mongolia,” ia kata. “Di sana aku cari dan tangkap dua anak burung itu untuk aku buat main.”
“Hanya sukar untuk mencari anaknya,” Kwee ceng beritahu.
“Tapi kau toh dapat menemukannya,” berkata si anak muda.
Kwee Ceng tidak dapat menjawab, ia pun menemuinya burung itu secara kebetulan.
“Eh, hiantee, rumahmu di mana?” ia tanya. “Kenapa kau tidak pulang saja?”
Tiba-tiba saja mata Oey Yong menjadi merah. “Ayahku tidak menginginkan aku…” ia menyahut.
“Kenapa begitu?” Kwee Ceng tanya.
“Ayahku larang aku pergi pesiar, aku justru mau pergi,” sahut Oey Yong. “Ayah damprat aku. Karena itu malam-malam aku minggat….”
“Sekarang pasti ayahmu tengah memikirkan kau,” Kwee ceng berkata pula. “Dan ibumu?”
“Ibuku sudah meninggal dunia. Aku tidak punya ibu sejak masih kecil…”
“Kalau begitu, habis pesiar, kau mesti pulang.” kata Kwee ceng lagi.
Oey Yong menangis. “Ayahku tidak menginginkan aku lagi…” katanya.
“Ah, tak mungkin,” Kwee Ceng bilang.
“kalau begitu, kenapa ayah tidak mencariku?” kata si anak muda lagi.
“Mungkin ia mencari, Cuma tidak ketemu…” Kwee ceng mencoba menghibur.
Oey Yong tertawa. “Kalau begitu, baiklah, habis pesiar aku pulang!” katanya. “Cuma aku mesti dapati dulu dua ekor anak rajawali putih…”
Selagi kedua pemuda ini bicara dengan asyik, di tangga lauwteng terdengar suara langkah kaki, lalu tampak muncul tiga orang, dua kacung yang mengiringi pemuda dengan baju sulam yang indah. tampan sekali, wajahnya terang, usianya barangkali baru delapan atau sembilanbelas tahun. Ia memandang Kwee Ceng dan Oey Yong. Melihat pakaian yang kotor, ia mengerutkan kening, lantas ia menunjuk meja yang terpisah jauh. Kedua kacungnya menghampiri meja yang ditunjuk itu, mengatur mangkok dan sepasang sumpit yang ia bawa dari rumah. Mangkok dan sumpit yang mana disimpan dalam sebuah kotak. Jongos juga segera repot melayani tamu baru ini.
Kwee Ceng mengawasi sebentar, lantas ia tidak pedulikan lagi tamu itu. Ia kembali mengobrol bersama sahabat barunya itu.
Belum lama, di bawah lauwteng terdengar suara kuda meringkik, disusul beberapa kali bentakan dari beberapa orang. Ia ingat akan kudanya, maka ia lari ke jendela untuk melongok ke bawah. Ia melihat beberapa orang dengan pakaian serba putih tengah mengurung kudanya, hendak ditangkap, tetapi kuda itu berjingkrakan, hingga ia tak dapat didekati. Ia menjadi gusar sekali, terutama ketika ia kenali orang-orang itu adalah delapan penunggang unta yang memang berniat merampas kudanya. Ia hanya heran kenapa orang dapat menyusul demikian cepat. Lantas ia berseru: “Di siang bolong kamu berani merampas kudaku?” Lantas ia lari turun dari lauwteng. Setibanya di depan rumah makan, ia dapatkan delapan orang berpakaian putih itu sedang rebah tanpa berkutik. Ia menjadi heran sekali, sehingga ia berdiri menjublak.
Tiba-tiba Kwee Ceng sadar. Ia merasakan ada tangan yang lemas memegang tangannya. Ketika ia menoleh, ternyata Oey Yong, entah kapan telah turun dari lauwteng.
“Jangan pedulikan mereka, mari kita naik lagi ke lauwteng!” berkata sahabat barunya ini.
“Mereka ini hendak merampas kudaku,” kata Kwee Ceng. “Entah kenapa, mereka pada rubuh sendirinya….”
Meski ia mengucap demikian, Kwee ceng menurut, ia memutar tubuhnya. Demikian juga si anak muda itu.
Justru mereka memutar tubuh, si pemuda tampan dan berpakaian mewah itu juga telah berada di depan, malah ia sudah lantas membungkuk melihat delapan pemudi yang menyamar sebagai pemuda-pemuda itu, kemudian ia mengawasi kedua anak muda itu, sinar matanya menandakan sangat heran.
Oey Yong tarik tangannya Kwee ceng, untuk naik tangga, kemudian sembari tertawa manis, ia tuangkan air teh di cawan pemuda itu.
“Toako, kudamu itu bagus sekali!” katanya memuji.
Kwee Ceng hendak sahuti sahabatnya ketika tatkala dengar ramai suara kelengan unta di depan rumah makan, ia pergi ke jendela diikuti Oey Yong, mereka melongok ke bawah, melihat delapan nona serba putih itu berlalu dengan unta mereka, salah satu nona menoleh ke belakang, ia memandang Kwee Ceng dengan sinar matanya yang tajam, tanda kemurkaan, sepasang alisnya pun terbangun. Tiba-tiba saja ia ayun tangannya yang kanan, dua potong ginso menyambar ke loteng.
Cepat-cepat Kwee Ceng cabuti kopiahnya, menyambut torak perak itu. Akan tetapi si pemuda tampan dan berpakaian mewah itu telah mendului, dengan menyentil dua kali, dua batang senjata rahasia yang bersinar emas berkilauan itu melayang, lalu di antara dua kali suara tintong, ginso itu jatuh bareng bersama senjata penyerangnya. kedua kacung lantas pungut empat senjata rahasia itu, diserahkan kepada si pemuda, yang menyambut seraya memasukkannya ke dalam saku. Habis itu, ia lantas bertindak naik di tangga lauwteng, menghampirkan Kwee Ceng, segera memberi hormat sambil berjura.
“Aku mohon tanya she dan nama mulia dari toako,” ia minta.
Kwee ceng cepat-cepat membalas hormat. “Siauwte she Kwee, bernama ceng,” ia menyahut. “Kongcu ada pengajaran apakah?” lanjutnya.
“Apakah saudara Kwee datang dari pulau Tho Hoa To dari Tang-hay?” pemuda itu menanya. “Aku mohon tanya, ada urusan apakah saudara datang ke mari?”
Ditanya begitu, Kwee melengak. “Siauwtee datang dari gurun pasir utara,” ia menyahut. “Belum pernah siauwtee pergi ke pulau Tho Hoa To. Barusan kongcu membantu, aku sangat berterima kasih.”
Kongcu itu berkata: “Saudara Kwee tak hendak mengenalkan diri, nah di sini saja kita berpisahan, sampai nanti kita bertemu pula!” Lalu ia menjura dalam sekali.
Kwee ceng lekas-lekas membalas, di waktu mana ia merasakan sambaran angin. Kongcu itu telah mengibaskan tangannya, ujung tangan bajunya menjurus ke matanya.
Inilah Kwee ceng tidak sangka. Sembari memberi hormat orang menyerang secara hebat sekali. Celaka kalau ia kena tersampok. Maka ia lantas tunduk, untuk masuki kepalanya ke selangkangannya, guna terus lompat berjumpalitan. Meski begitu, pundaknya kena tersambar juga, hingga terbit satu suara nyaring dan ia merasakan sakit ngilu pada pundaknya. Karena ini, diwaktu ia sudah taruh kakinya, ia kaget dan gusar dengan berbareng.
“Kau…kau….”
Tapi si kongcu pegat ia, sembari tertawa, ia kata: Aku cuma mencoba ilmu kepandaianmu, saudara Kwee. Ilmu totok kau lihay sekali, tapi ilmu silatmu tangan kosong biasa saja. Maaf…!” Kembali ia menjura.
Kwee ceng khawatir orang nanti bokong pula padanya, ia mundur setindak.
Oey Yong agaknya kaget, tubuhnya bergeser, tangannya menjatuhkan sebatang sumpit ke kaki kongcu, disaat kongcu itu mengangkat tubuhnya habis menjura, Oey Yong pun telah dapat menjumput sumpitnya itu. Si kongcu rupanya jijik untuk pakaian kotor anak muda ini, ia mundur satu tindak, kepada Kwee Ceng ia tersenyum, terus ia putar tubuhnya untuk bertindak ke tangga lauwteng.
“Ini untuk kau…” kata Oey Yong dengan perlahan, tangannya disodorkan.
Kwee Ceng melihat telapak tangan anak muda ini, ia tercengang. Di tangan kawan ini terlihat dua potong tusuk konde emas serta dua potong ginso, yang bergemerlapan kuning dan putih. Itulah ginso yang tadi si kongcu simpan dalam sakunya. Entah kapan sahabat ini mengambilnya. Ia tercengang sebentar lantas ia ingat, ia mengerti. Ia sambut tusuk konde emas dan ginso itu.
“Kongcu, kau lupakan barangmu ini!” ia panggil si pemuda yang seperti anak bangsawan itu.
Kongcu itu menghentikan tindakannya, ia berpaling.
Kwee Ceng angsurkan kedua barang emas dan perak itu.
Menampak barangnya itu, kongcu terkejut sehingga air mukanya berubah, cepat luar biasa tangannya menyambar ke arah Kwee ceng, lima jarinya yang kuat seperti kuku garuda menyambar.
Kwee Ceng kaget tidak terkira. Dari gerakannya saja, ia sudah dapat menduga orang bergerak dengan ilmu silat Kiu-im Pek-kut Jiauw seperti keenam gurunya sering menuturkan kepadanya. Maka ia menduga, adakah kongcu ini sekaum dengan Tiat Sie Bwee Tiauw Hong si Mayat Besi? Ia menginsyafi hebatnya cengkeraman Tulang Putih itu, sebab masih ada bekas cengkeramannya Bwee Tiauw Hong dulu hari pada lengannya, cuma ia dapat membedakannya, sambaran kongcu ini kalah jauhnya dengan sambaran si Mayat Besi. Tidak berani ia menangkis atau menyambut cengkeraman itu, belum ia terjambak, empat senjata di tangannya sudah lantas mencelat. cepat luar biasa ia telah kerahkan tenaganya.
Kongcu itu terkejut. Ia dapatkan, belum lagi serangannya mengenai, empat senjata itu sudah menyambar ke arahnya. ia juga dapat lihat anak muda itu berdiri tegar ditempatnya. Dengan terpaksa ia sambut empat potong benda itu. Setelah menatap, ia memutar tubuhnya terus menuruni tangga.
Ketika Kwee Ceng kembali ke kursinya, Oey Yong sahabatnya itu mengawasi sambil tertawa geli.
“Kenapa barang itu berada di tanganmu?” ia menanya, heran.
“Dia membikinnya jatuh selagi dia menjura kepadamu, lantas aku jumput!” sahut Oey Yong masih tertawa.
Kwee Ceng jujur, ia tidak menduga orang mendusta.
“Toako, kenapa rombongan wanita itu mencoba merampas kudamu?” kemudian Oey Yong menanya.
“Sebab kudaku adalah han-hiat-po-ma,” jawab Kwee Ceng, yang terus tuturkan perihal kuda itu sampai ia bertemu rombongan si wanita itu, yang menyamar sebagai pemuda-pemuda dan menunggang unta. Kemudian ia melanjuti: “Entah siapa yang membantuku diam-diam dengan merobohkan mereka. Kalau tidak tentulah mesti terjadi pertempuran hebat…”
Oey Yong masih tersenyum.
“Kudaku itu lari cepat sekali, sebenarnya aku telah mendahului mereka seperjalanan tiga hari, entah kenapa, mereka dapat menyusul…” Kwee Ceng kemudian mengutarakan keheranannya. “Sungguh memusingkan kepala..”
“Aku lihat di antara mereka ada yang memegang sepasang burung dara,” kata Oey Yong.
Tiba-tiba Kwee ceng menepuk meja. “Ya, aku ingat sekarang!” ia kata pula separuh berseru. “waktu itu aku lihat terbangnya dua ekor burung di atas kepala. Rupanya tiga wanita itu melepaskan burung itu untuk memberi kabar kepada lima kawannya, untuk mereka memegat atau mengawasi aku, dari itu, mereka gampang saja mencariku.”
Setelah itu, Oey Yong tanya tentang tenaga larinya kuda merah itu dan Kwee ceng menuturkannya dengan jelas. Ia kelihatannya menjadi kagum sekali. Ia keringkan secawan teh, lalu ia tertawa.
“Toako,” katanya, “Hendak aku meminta sesuatu yang berharga darimu, apa kau sudi mengabulkannya?” dia bertanya.
“Kenapa tidak?” Kwee Ceng menjawab.
“Sebenarnya aku suka sekali dengan kudamu itu,” menerangkan Oey Yong.
“Baik, hiantee, aku hadiahkan itu padamu!” kata Kwee Ceng tanpa ragu-ragu.
Oey Yong terperanjat. Sebenarnya ia main-main saja. Bukankah mereka baru pertama bertemu? Ia malah mengharap jawaban si pemuda adalah penolakan. Ia lantas mendekam di meja, terus terdengar tangisannya sesegukan.
Sekarang adalah giliran Kwee Ceng yang menjadi heran. “Hiantee, kau kenapakah?” ia menanya cepat. “Apakah kau kurang sehat?”
Oey Yong angkat kepalanya, ia mengawasi si pemuda. Mukanya penuh air mata. Tapi sekarang ia tidak menangis, sebaliknya ia tertawa. Air matanya itu yang mengalir di kedua belah pipinya, menyebabkan mehongan luntur, hingga tampak dua baris kulitnya yang putih mulus.
“Toako, marilah kita pergi!” ia mengajak. Kwee Ceng menurut. Bersama-sama mereka turun dari lauwteng. Lebih dulu ia membayar uang makan, baru ia tuntun kudanya. Ia pesan kepada kudanya: “Aku haturkan kau kepada sahabatku yang baik, maka baik-baiklah kau mendengar katanya, jangan kau bawa adatmu.” Kemudian sembari menoleh kepada si anak muda, ia mepersilakan: “Hiantee, kau naiklah!”
Sebenarnya kuda itu tak dapat ditunggangi orang lain, akan tetapi ia sekarang tidak membangkang.
Oey Yong naik kuda itu. Kwee Ceng menyerahkan les kuda itu, ia terus tepuk kempolan kudanya itu. Dengan lantas kuda itu berlari pergi.
Pemuda itu menanti sampai orang tidak terlihat lagi, baru ia melihat langit. Ia mendapatkan sang malam bakal lekas tiba. Karena ini, ia lantas pergi mencari rumah penginapan. Ketika disaat ia hendak memadamkan api, untuk rebahkan diri, tiba-tiba ia dengar ketokan pada pintu.
“Siapa?” ia tanya heran.
“Satu sahabat,” sahut suara di luar, suaranya parau.
Kwee Ceng turun dari pembaringan, ia membuka pintu. Di antara cahaya lilin, ia tampak lima orang berdiri di depannya. Setelah ia mengenali orang, ia terkejut bukan main. Empat di antaranya ada membawa golok dan ruyung. Mereka itulah Hong Ho Su Koay. Dua orang yang ke lima, yang usianya kurang lebih lima puluh tahun, tubuhnya kurus, mukanya lonjong, di jidatnya ada tiga kutil besar, romannya sangat tidak mengasih untuk diawasi.
Si kurus sudah lantas tertawa tawar, tanpa bilang suatu apa, ia membuka tindakan lebar akan memasuki kamar orang, akan terus mencokol di atas pembaringan, sambil melirik, ia awasi tuan rumah.
Kwee Ceng pun mengawasi, hingga ia melihat tegas, muka orang ada tanda bekas luka-luka senjata tajam, hingga dia itu tak dapat melihat lepas ke depan.
Toan-hu-to Sim Ceng Kong si Golok Memutus Roh, dengan dingin, lantas berkata: “Inilah paman guru kami, Sam-tauw-kauw Hauw Thong Hay yang sangat ternama! Lekas kau berlutut!”
Kwee Ceng mengerti bahwa ia telah terkurung, bahwa Hong Ho Su Koay saja sudah bukan tandingannya, apapula mereka dibantu oleh paman gurunya itu, yang julukannya pun berarti si Ular Naga Kepala Tiga.
“Tuan-tuan ada punya urusan apa?” ia tanya sambil menjura.
“Mana guru-guru kamu?” Hauw Thong hay menanya.
“Guruku tidak ada di sini,” sahut Kwee Ceng.
“Ah! Kalau begitu aku memberi padamu untuk hidup lagi setengah harian!” kata Ular Naga Kepala Tiga itu. “Sekarang hendak kau memberi pengajaran kepadamu, agar orang tidak nanti mengatakan Sam-tauw-kauw menghina anak kecil. Besok tengah hari aku menantikan di rimba Hek-siong¬lim di luar kota, kau datang ke sana bersama semua gurumu!” Habis berkata, ia bangkit, tanpa menanti penyahutan Kwee Ceng, ia sudah ngeloyor keluar. Sesampai di luar, ia suruh Twie-beng-chio Gouw Ceng Liat si Tombak Mengejar Jiwa menutup pintu, hingga terdengar suara membeletok.
Kwee Ceng memadamkan api, terus ia duduk numprah di atas pembaringan. Kemudian memandang ke jendela, tampak bayangan orang mondar-mandir. Rupanya orang telah menjaga ia di luar kamar. Ia masih berdiam saja. Selang tidak lama, ia dapat dengar apa-apa di atas genting. Itulah suara ketokan beberapa kali, disusul sama bentakan: “Bocah, jangan kau memikir untuk kabur, engkongmu menunggu kau disini!”
Jadi terang dia telah dikurung keras. Dia lantas rebahkan dirinya, niatnya untuk tidur tanpa menghiraukan segala apa. Tapi ia tidak dapat pulas, ia mesti gulak-galik saja.
Besok pagi, jongos muncul dengan air cuci muka dan tiamsim, untuk sarapan. Di belakang jongos itu terlihat Cian Ceng Kian dengan sepasang kampaknya.
“Suhu semua berada di tempat jauh, dapatkah mereka menolongu,” Kwee Ceng berpikir. “Sudah terang aku tidak dapat lolos, baiklah aku mati bertempur!”
Oleh karena berpikir begini, hatinya menjadi mantap. Ia lantas saja bercokol di atas pembaringan, untuk bersemadhi menuruti ajarannya Ma Giok. Ia bersemadhi hingga tengah hari, baru ia bangkit turun.
“Mari kita pergi!” ia kata kepada Cian Ceng Kian.
Mereka jalan berendeng, menuju ke arah barat, sampai sepuluh lie lebih. Di sana ada sebuah rimba besar, yang menutupi matahari. Seram suasana di situ. Di sini Ceng Kian tinggalkan si pemuda, untuk dengan cepat bertindak ke sebelah dalam rimba.
Kwee ceng loloskan joan-pian, cambuk lemasnya. Ia berlaku tenang, setindak demi setindak, ia maju. Ia menjaga diri dari bokongan di kiri atau kanannya. Satu lie sudah ia berjalan, ia tidak bertemu dengan musuhnya. Tiba-tiba iateringat pesan gurunya yang keempat: “Jikalau tidak ungkulan, lari!” Maka ia berpikir: “Sekarang tidak ada orang mengawasi aku, rimba pun lebat, kenapa aku tidak hendak sembunyikan diri?” Maka hendak ia segera mewujudkan pikirannya ini. Tapi tiba-tiba.
“Bocah haram! Anak campuran! Anak jadah!” demikian ia dengar makian hebat.
Sambil berlompat, Kwee Ceng putar cambuknya, untuk melindungi diri. Akan tetapi tidak ada serangan terhadapnya. Sambil berdiri diam, ia angkat kepalanya, memandang ke arah dari mana cacian itu datang. Lantas ia berdiri menjublak!
Di atas empat pohon di dekatnya, tampak Hong Ho Su Koay tergantung masing-masing di sebuah cabang besar, kaki dan tangan mereka terbelenggu, tubuh mereka bergelantungan, sia-sia saja mereka mencoba meronta-ronta, melainkan mulut mereka yang dapat di pentang lebar-lebar. Mereka mencaci kalang-kabu ketika mereka tampak si pemuda musuhnya itu.
Kwee Ceng heran bukan kepalang, akan tetapi ia tertawa. “Apakah kau tengah main ayunan di sini?” dia bertanya. “Sungguh menggembirkan, bukan? Nah sampai bertemu pula! Sampai bertemu pula! Maaf, tidak dapat aku menemani kalian lama-lama…!”
Sim Ceng Kong berempat mencaci maki pula, semakin hebat. Mereka malu untuk minta tolong. Di samping itu mereka heran sekali kenapa paman guru mereka Hauw Thong Hay, tidak lekas kembali. Selagi Kwee ceng bertindak, hampir ia lenyap dari pandangan mata, tiba-tiba Toat-pek-pian, Ma Ceng Hiong si Cambuk Perampas Roh, berubah pikiran. Ia takut mati, maka ia lupa akan malunya.
“Kwee Enghiong, kami menyerah kalah!” dia berteriak. “Aku mohon sukalah kau membebaskan kami!”
Kwee Ceng sudah lantas berpikir: “Sebenarnya aku tidak bermusuhan dengan mereka, adalah mereka yang memusuhi aku, apa perlunya membiarkan mereka mati sengsara di sini?” Dengan cepat ia mengambil keputusan, terus ia kembali dengan berlompatan, ia kasih turun mereka itu satu per satu. Pantas Hong Ho Su Koay tidak sanggup berontak melepaskan diri, alat menggantungnya itu adalah tambang kulit yang kuat. Ia pun mengutanginya itu dengan golok emasnya.
Sesudah empat Siluman itu direbahkan di tanah, pemuda itu totok mereka bergantian, maka mereka itu lantas saja tidak dapat geraki kaki dan tangan mereka, habis mana barulah ia putuskan belengguan mereka itu. Sambil tertawa, ia berkata: “dua belas jam lagi baru kamu dapat pulang tenaga dalam dan merdeka. Sebetulnya, siapakah yang menggantung kamu di sini?”
“Kau masih berpura-pura!” membentak Cian Ceng Kian mendongkol. “Kalau bukan kau, siapa lagi?”
Kwee Ceng heran. Ia lantas angkat kaki, meninggalkan mereka. Ia heran orang menuduh padanya, tetapi ia mengerti, mesti ada orang yang sudah menolongnya. Di mana di situ tidak ada Hauw Thong Hay, ia khawatir paman guru mereka itu nanti keburu kembali, maka ia pikir, mesti ia lekas menyingkir. Ia lari keluar rimba, balik ke kota, malah di sini ia segera membeli seekor kuda untuk melanjuti perjalanannya ke selatan.
“Siapakah itu orang secara diam-diam menolongaku?” ia berpikir di sepanjang jalan. Keanehan itu tak dapat ia melupakannya. “Hong Ho Su Koay lihay tetapi mereka dapat digantung, teranglah lawannya itu mesti jauh lebih lihay daripada mereka. Yang hebat mereka sampai tidak melihat, hingga mereka menyangka aku. Herannya, ke mana perginya Hauw Thong Hay si Ular Naga itu? dia tidak tampak sekalipun bayangannya?”
Kwee Ceng terus melakukan perjalan. Pada suatu hari, tibalah ia di Tiongtouw, kota raja Tay Kim Kok, negara Kim (Kin) yang besar, yang paling ramai dan indah, sampai tidak dapat dilawan oleh Pian-liang, kota raja yang lama dari kerajaan Song, atau Lim-an, kota raja yang baru. Ia besar di gurun pasir, belum pernah ia menyaksikan suasana kota besar, yang indah lauwteng dan rangonnya, yang permai sero-seronya, sedang kereta-kereta bagus dengan semua kuda pilihannya mondar-mandir di jalan-jalan besar. Di pelbagai rumah minum ia pun dengar suara tertawa, merdunya bunyi tetabuan. Semua itu ia saksikan diwaktu siang berderang. Untuk bersantap, ia sampai tidak berani memilih restoran yang mentereng, ia cari sebuah restoran yang kecil. habis dahar, ia berjalan-jalan, baru berhenti ketika di sebelah depannya terdengar sorak-sorai yang ramai, ada berkumpul sejumlah orang. Ia mendekat. Ia menyelak di antara banyak orang itu, untuk melihat ke sebelah dalam.
Orang banyak itu mengurung sebuah tanah lapang, di situ ada dipancar bendera suram, dasarnya putih, ada sulaman empat huruf besar: “Pi Bu Ciauw Cin”. Artinya: mencari jodoh dengan jalan pibu atau mengadu kepandaian. Di bawah bendera itu ada satu nona dengan baju merah tengah bertempur sama seorang pria, yang tubuhnya jangkung dan besar, bertempur dengan seru sekali. Heran Kwee Ceng apabila ia saksikan ilmu silat si nona itu. Ia berpikir: “Dia lihay, kenapa dia munculkan diri di tempat umum seperti ini?”
Selang lagi beberapa jurus, nona itu menggunakan akal. Si pria dapat melihat lowongan, ia menjadi kegirangan, lantas menyerang dengan kedua tangannya, ke arah dada. Nona itu tidak mengambil sikap menangkis, atau berkelit. Pria itu tidak sampai hati, batal meninju, hanya mengubah kepalannya menjadi tangan terbuka, ia menolak ke arah pundak.
Luar biasa gesitnya nona itu, ia berkelit dengan mendak, kedua kakinya bergerak saling susul-¬menyusul, membawa tubuhnya melejit ke samping ke belakang penyerangnya, tangan kirinya diayunkan, “Buk!” punggung si pria kena terhajar, sampai terjerunuk ke depan, roboh ke tanah, hanya syukur, setelah memegang tanah, dia dapat menahan diri dan mengerahkan tenaga, untuk berlompat bangun. Muka pemuda itu menjadi merah, dengan kemalu-maluan ia menyelinap di antara orang banyak. Syukur untuknya, ia tadi berkasihan terhadap si nona, maka sekarang si nona tidak menghajar hebat kepadanya.
Para penonton lantas saja bertampik sorak.
Nona itu singkap naik rambut yang turun ke dahinya, lalu mundur ke bawah bendera.
Kwee Ceng pandang nona itu, cantik sekali, umurnya mungkin baru tujuh atau delapanbelas tahun, sikapnya pun berpengaruh. Mendadak ia ingat sesuatu, hingga ia berpikir: “Kenapa aku seperti kenal dia? seperti aku pernah bertemu dengannya, entah dimana…?” kemudian ia tersenyum sendiri, ia ingat: “Baru sekarang kau tiba di Tionggoan, kapan aku pernah bertemu orang lain? Aku tadinya menyangka, nona-nona serba putih dan menunggang unta itu sudah elok semua, aku pikir kenapa ada demikian banyak wanita cantik, siapa tahu nona ini melebihi mereka…. Dasar aku kurang berpengalaman! Rupanya di Tionggoan ini dimana-mana wanitanya cantik semua, maka tak usahlah aku menjadi heran…”
Pemuda ini polos, hatinya masih terbuka, maka itu, walaupun ia telah melihat wajah-wajah yang cantik manis, hatinya tidak tergiur. Maka itu ia lantas memandang ke kiri dan kanannya.
Si nona lantas bicara perlahan sama seorang yang berdiri di dekatnya, pria itu mengangguk, terus ia mengangguk keempat penjuru seraya berkata: “Aku yang rendah bernama Bok Ek, aku lewat di tempat tuan-tuan tidak dengan maksud mencari nama atau mencari uang, hanya guna anakku ini. Anakku sudah dewasa usianya, ia masih belum ketemu jodohnya, maka itu sekarang aku mencarikan jodoh. Adalah keinginanku, pasangan anakku tidak usah berharta, cukup asal ia satu pria sejati yang mengerti ilmu silat. Karena ini dengan beranikan diri, aku mancarikan jadoh dengan jalan pibu ini. Siapa yang usianya di bawah tiga puluh tahun dan belum menikah, asal ia bisa menyerang anakku dengan satu kepalannya atau kakinya, akan aku rangkap jodoh anakku ini dengan jodohnya. Kami berdua, ayah dan anak, sudah membuat perjalanan dari selatan hingga utara, sudah melintas tiga belas propinsi, akan tetapi kami masih belum menemukan jodoh, sebab rupanya, mereka yang gagah sudah pada menikah atau mereka yang muda sungkan hatinya?” Ia berhenti sebentar, lagi ia menjura kepada orang banyak, baru ia menambahkan: “Kota Pakhia ini adalah tempat rebahnya harimau atau tempat sembunyi naga, disini mesti banyak orang berilmu dan gagah, oleh karena itu, aku harap tuan-tuan memaafkannya kalau ada kata-kataku yang tidak tepat. Tuan-tuan, perkenankanlah kami undurkan diri, pulang ke rumah penginapan guna beristirahat, besok kami datang lagi ke mari untuk melayani tuan-tuan.”
Habis mengucap, sekali lagi mengangguk, lalu ia cabut benderanya, bendera Pi Bu Ciauw Cin. Tiba-tiba saja.
“Tunggu dulu!”
Itulah suara berbareng, yang datangnya dari sebelah kiri dan kanan, dari mana lantas terlihat dua orang berlompatan ke dalam kalangan.
Orang banyak lantas mengawasi, akhirnya mereka semua tertawa geli. Yang muncul dari sebelah timur itu adalah seorang tua dengan tubuh terokmok, mukanya penuh berewokan, kumisnya sudah ubanan separuh lebih, dan umurnya juga sudah lewat lebih dari setengah abad. Yang datang dari barat itu lebih lucu pula. Dialah satu paderi yang kepalanya licin lanang!
“Eh, kamu tertawakan apa?” tanya si tua itu kepada orang banyak, yang ia awasi. “Bukankah dia mau adu kepandaian untuk mencari suami? Nah, aku masih belum menikah! Mustahilkah aku tidak cocok?”
Si paderi itu awasi si tua, ia tertawa. “Oh, kakek-¬kakek!” katanya. “Taruh kata kau menang, apakah kau tidak kasihan terhadap si nona yang masih demikan remaja bagaikan sekuntum bunga? Apakah setelah kau menikah kau hendak membuatnya ia menjadi janda?”
Orang tua itu menjadi gusar. “Habis kau, apakah kau mau dengan datang kemari?” ia menegur.
Paderi itu tersenyum. “Setelah aku mendapatkan istri begini cantik, aku akan segera pulang menjadi orang biasa lagi!” sahutnya.
Mendengar itu, kembali riuhlah tawa orang banyak.
Si nona menjadi mendongkol. Ia merasa bagaimana orang hendak mempermainkan dirinya, wajahnya menjadi merah, sepasang alisnya terbangun, matanya bersorot tajam. Ia lantas loloskan mantelnya, berniat menghajar kedua manusia ceriwis itu.
Bok Ek tarik tangan gadisnya. “Tenang, nanti aku yang melayani mereka,” ia membujuk.
Si empe dan paderi masih adu omong terus, mereka jadi sengit sekali. Disamping mereka, para penonton juga tak henti-hentinya tertawa. Tidakkah pemandangan itu sangat lucu?
“Saudara-saudara, nah kamu pibulah terlebih dulu!” satu penonton yang membuka mulut. “Nanti, siapa yang menang, ia yang maju melawan si nonan manis!”
“Bagus!” berseru si paderi, yang agaknya tidak menghiraukan ejekan orang banyak itu. “Aki-aki, mari kita berdua main-main…!”
Paderi ini menantang, tetapi, belum lagi ia peroleh jawaban, sebelah tangannya sudah melayang.
Si empe-empe berkelit, segera balas menyerang. Maka dengan itu, keduanya menjadi bertempur.
Kwee Ceng menonton. Ia dapatkan si paderi bersilat dengan jurus-jurus Lo Han Kun dari ilmu silat Siauw Lim Pay, sedang si empe menggunakan ilmu silat Ngo Heng Kun. Jadi keduanya dari golongan Gawkang, ilmu Bagian Luar. Si paderi dapat berlompat dan mendekam dengan cepat, lincah gerakannya. Si empek sebaliknya tenang tegar, jangan pandang usianya yang tua, tenaganya sebenarnya masih besar.
Satu kali si paderi dapat merapatkan diri, kepalannya menghajar tiga kali beruntun, ke arah pinggang lawannya. Si empek kuat sekali, ia terima serangan tanpa berkelit atau menangkis, tapi berbareng dengan itu, ia angkat tinggi tangan kanannya, untuk dikasih turun ke arah kepala lawannya, bagaikan martil, kepalannya menumbuk kepala licin mengkilap dari si paderi. Tak tahan paderi itu, segera ia jatuh duduk, numprah di tanah. Ia berdiam tidak lama, mendadak ia tarik keluar sebatang golok kayto dari dalam jubahnya, dengan itu ia membabat kakinya si tua!
“Celaka!” berteriak orang banyak.
Si tua dapat menolong diri dengan berlompat berkelit, berbareng dengan mana, tangannya meraba ke pinggang, untuk mengasih keluar sepotong thiephie atau ruyung besi. Kiranya mereka sama-sama membekal senjata. Sekarang mereka melangsungkan pertandingan dengan golok dan ruyung.
“Bagus! Bagus!” teriak orang banyak berulangkali. Hanya sambil berseru-seru, mereka pada mengundurkan diri setindak demi setindak. Hebat menyambar-nyambarnya golok kayto dan ruyung besi, takut mereka nanti kena terserempet….
“Tuan-tuan, tahan!” Bok Ek berseru seraya menghampiri. “Di sini adalah kota raja, tidak dapat kita sembarang menggunakan senjata tajam!”
Dua orang itu lagi bertempur seru sekali, mereka tidak memperdulikan seruan itu.
Melihat ia tidak dihiraukan, tiba-tiba Bok Ek menyerbu. Dengan satu dupakan, ia membuat golok kayto terpental tinggi dan dengan sambaran tangan ia rampas ruyungnya si empek-empek, kemudian selagi golok turun, ia hajar itu dengan ruyung sehingga golok itu patah dua!
Para penonton kagum, mereka bersorak. Tapi itu belum semua, dalam sengitnya, Bok Ek cekal kedua ujung ruyung, ia lantas menekuk, maka ruyung itu menjadi bengkok melengkung, hingga sudah tentu saja selanjutnya tak dapat digunakan lagi!
Si tua dan si paderi tercengang, mereka menjadi kuncup hatinya, tanpa membilang suatu apa lagi, keduanya nyelusup diantara orang banyak, angkat kaki!
Kwee Ceng mengawasi Bok Ek, yang tubuhnya sedikit bongkok tetapi badannya lebar dan kekar, tanda dari tenaganya yang besar, Cuma rambut dekat kedua samping kupingnya sudah berwarna kelabu dan kulit mukanya berkerenyut dan waktu itu wajahnya guram. Dilihat dari roman, ia mungkin telah berusia hampir enam puluh.
“Besok kita pulang ke selatan…” berkata dia dengan masgul. Dia pun menghela napas.
“Ya,” menyahut si nona, yang diajak bicara.
Sampai disitu, penonton hendak bubaran. Bukankah pibu telah berakhir? Tapi justru itu, mereka dengar suara kelenengan kuda, hingga mereka pada menoleh, Kwee Ceng pun tak terkecuali.
Ke situ datang satu kongcu atau pemuda sambil diiringi beberapa puluh pengikut. Suara kelenengan itu datang dari rombongan itu. Kapan Kwee Ceng telah melihat si koncu, lekas-lekas ia sembunyikan diri di antara orang banyak itu. Ia kenali si kongcu yang ia telah ketemukan di rumah makan di Kalgan.
Kongcu itu melihat bendera Pi Bu Ciauw Cin, ia lantas awasi si nona baju merah, terus ia loncat dari kudanya, sembari tersenyum, ia masuk ke dalam kalangan.
“Apakah nona yang mengadakan pibu untuk mencari jodoh?” ia menanya sambil memberi hormat.
Nona itu dengan wajah bersemu merah, melengos, tidak menyahut. Adalah Bok Ek, yang menghampiri pemuda itu, untuk memberi hormat.
“Aku yang rendah she Bok. Kongcu ada keperluan apakah?” ia menanya.
“Bagaimana aturan atau syarat-syaratnya pibu perjodohan ini?” menanya si pemuda.
Bok Ek memberikan keterangannya.
“Kalau begitu, hendak aku mencoba-coba,” kata si pemuda.
“Ah, kongcu bergurau!” berkata Bok Ek tertawa. Lagi-lagi ia memberi hormat.
“Kenapa begitu?” si pemuda menegaskan.
“Kami adalah orang kangouw, mana berani kami beradu tangan sama kongcu?” menyahut Bok Ek. “Lagian ini bukannya cuma soal menang atau kalah, ini mengenai hari kemudian dari anakku. Aku minta kongcu sudi memaafkan aku.”
Pemuda itu mengawasi si nona. “Sudah berapa lama sejak kamu mengadakan pibu ini?” ia tanya pula.
“Sampai sebegitu jauh sudah satu tahun lebih dan kami telah menjelajahi tiga belas propinsi,” menjawab Bok Ek dengan sebenarnya. Pemuda itu tampaknya heran.
“Apakah mungkin belum pernah ada orang yang dapat menangkan dia?” ia menegaskan. “Ah, aku tidak percaya!” Ia tunjuk si nona.
Bok Ek tersenyum. “Sebabnya mungkin, orang yang pandai silat itu sudah menikah atau ia sungkan beradu tangan dengan anakku,” ia menerangkan.
“Kalau begitu, mari, mari!” berkata si pemuda, menantang. Ia bertindak ke tengah kalangan.
Diam-diam girang hatinya Bok Ek. Ia dapatkan orang, muda dan tampan. Si nona agaknya kagumi pemuda itu. Ia tahu, di dalam tiga belas propinsi, belum pernah ia bertemu pemuda semacam ini. Maka ia loloskan mantelnya, hampiri si pemuda untuk memberi hormat.
Pemuda itu membalas hormat, ia tersenyum. “Silakan mulai, nona!” ia kata.
“Silakan kongcu membuka dulu bajumu,” berkata nona itu.
“Tidak usah,” menyahuti si kongcu.
Para penonton pada berkata dalam hatinya, “Si nona lihay sekali, sebentar kau nanti merasai…” Tapi ada juga yang berpikir: “Bok Ek ayah dan anak adalah orang kangouw, masa mereka berani bikin malu satu kongcu? Tentu si kongcu bakal dibikin mundur teratur, supaya ia tidak hilang mukanya…”
“Silahkan, kongcu!” berkata si nona.
Kali ini kongcu itu sudah tidak sungkan lagi. Tiba-¬tiba ia memutar ke kanan, hingga bajunya yang panjang dan tangan bajunya juga turut bergerak, lalu tangan kirinya menyambar ke pundak si nona.
Terkejut si nona menyaksikan gerakan yang luar biasa itu. Sambil mendak, ia nyelusup di bawah ujung bajunya pemuda itu. Di luar dugaan, orang ini sangat gesit. Sekarang ujung baju dari tangan kanan si pemuda yang menyusul menyambar. Sukar untuk menyingkir dari serangan susulan itu, maka si nona menjejak tanah untuk mencelat mundur.
“Bagus!” berseru si kongcu. Ia lantas merangsak, tidak menunggu kedua kaki si nona keburu menginjak tanah, ia mengebut pula.
Nona itu tidak melompat mundur, ia hanya berjumpalitan, maka itu ketika si kongcu datang dekat, sebelah kakinya menjejak ke arah hidung si kongcu.
Untuk membebaskan diri, kongcu itu lompat ke kanan. maka barenglah mereka menurunkan tubuh.
Penonton semua kagum, untuk lihaynya si kongcu dan untuk kelincahan si nona. Mereka itu sama-sama lincah.
Si nona dengan wajah merah, mulai membalas menyerang. Sekarang si kongcu yang main berkelit. Menjadi menarik menyaksikan baju indah si kongcu bagaikan bercahaya, dan baju si nona seperti mega bermain.
Kwee Ceng pun kagum. Pemuda-pemudi itu berimbang usianya, mereka tampan dan elok, mereka pun pandai silat, sungguh cocok apabila mereka menjadi pasangan hidup, menjadi suami-istri. Karena ini tidak lagi ia benci si kongcu untuk kelakuannya di rumah makan baru-baru ini, sekarang ia mengharap akan kemenangan si kongcu.
Pertandingan itu berjalan terus dengan seru, sampai tiba-tiba orang dengar suara “bret!” robek. Nyata si nona dapat menjambret ujung baju si kongcu dan ia menariknya, sebab si kongcu juga membetot, ujung baju itu putus dengan menerbitkan suara nyaring itu. Si nona lantas lompat mundur jauh-jauh, tangannya mengibaskan baju rampasannya itu!
“Tunggu dulu!” Bok Ek segera kasih dengar suaranya. “Kongcu, silahkan kau loloskan bajumu, untuk kamu menentukan kemenangan terakhir!”
Kongcu itu muram wajahnya, kedua tangannya bergerak, maka robeklah kancing-kancing bajunya, jatuh di tanah. Ia bukan membuka dengan baik, ia hanya menyobeknya!
Satu pengiring lari menghampiri membantu meloloskan baju itu.
Sekarang terlihat kongcu ini dengan pakaian dalamnya dari sutera hijau muda yang indah, yang pinggangnya dilibat dengan sabuk hijau. Ia nampak semakin tampan. Bercahaya wajahnya yang putih dan bibirnya yang merah.
Tanpa berkata apa-apa, kongcu ini mulai menyerang. Ia menggunakan tangan kirinya, anginnya menyambar keras. Melihat itu si nona, Bok Ek dan Kwee Ceng terperanjat. Mereka tidak sangka, kongcu ini demikian lihay.
Setelah menyaksikan lagi sekian lama, Kwee Ceng jadi berpikir: “Ilmu silatnya mirip betul sama ilmu silatnya In Cie Peng, si imam muda, yang malam itu menempurku. Apakah boleh jadi mereka berasal dari satu perguruan?”
Sekarang si kongcu tidak mau mengalah lagi, karena sukar untuk si nona membalas mendesak, malah untuk merapatkan saja sulit.
“Kongcu ini lebih lihay daripada In Cie Peng, si nona bukan tandingannya,” berpikir Kwee Ceng setelah ia menyaksikan terlebih jauh. “Pasti jodoh mereka bakal terangkap…”
Bok Ek pun girang melihat jalannya pertempuran ini, malah ia lantas berseru: “Anak Liam, sudah tak usah kau melawan lebih lama lagi, kongcu menang jauh daripadamu…!”
Tapi orang lagi bertempur hebat sekali, sedang si kongcu kata di dalam hatinya,: “Kalau sekarang aku hendak robohkan kau, gampang sekali, Cuma aku tidak tega…”
Benar saja, ketika tangan kirinya menyambar, tangan kiri si nona kena dicekal. Ia tahu si nona bakal mengibas keluar, selagi si nona mengerahkan tenaganya, ia sekalian menolak seraya cekalannya itu dilepaskan. Maka tidak ampun lagi, nona itu rubuh terjengkang. Hanya, belum lagi tubuh orang mengenai tanah, tangan kanan si kongcu sudah menyambar, merangkul, hingga si nona manis lantas berada di dalam pelukannya.
Orang banyak bertempik sorak, tapi ada juga yang menggerutu.
Si nona menjadi sangat malu. “Lekas lepaskan aku!” ia minta, suaranya perlahan.
Si kongcu tertawa. “Kau panggil engko padaku, nanti aku lepas kau!” sahutnya.
Nona itu mendongkol. Itu permintaann ceriwis. Ia lantas berontak. Tapi sia-sia saja, ia malah terpeluk semakin keras.
Bok Ek lantas maju. “Kongcu sudah menang, tolong kau lepaskan anakku,” ia minta.
Pemuda itu tertawa lebar, ia masih belum mau melepaskan pelukannya. Dalam sengitnya, si nona menjejak.
Kongcu itu melepaskan tangannya yang kanan, tangan itu dipakai menangkis dan menangkap kaki orang, dengan begitu, tetap ia memegang tubuh di nona.
Nona ini penasaran, ia berontak sekuat tenaga, akhirnya ia bebas, ia jatuh terduduk di tanah. Ia menjadi malu sekali, ia tunduk, sembari tunduk, ia raba kaos kakinya yang putih. Sebab sepatunya telah terlepas.
Kongcu itu berdiri sambil tertawa haha-hihi, tangannya mencekali sepatu orang, yang ia bawa ke hidungnya!
Melihat itu, beberapa penonton bangsa bergajul, lantas saja berseru-seru, “Harum! Harum!”
“Kau she apa kongcu?” Bok Ek menanya. Ia tertawa, ia tidak menghiraukan sikap ceriwis si pemuda.
Kongcu itu pun tertawa.
“Tidak usah bicara lagi!” katanya, seraya ia putar tubuhnya untuk minta jubah sulamnya dari pengiringnya. Ia menoleh kepada si nona, sepatu itu ia masuki ke dalam sakunya.
“Kami tinggal di Hotel Ko Seng di jalan utama kota barat,” berkata Bok Ek, “Mari kita pergi sama-sama ke sana untuk berbicara.”
“Aku tidak sempat,” berkata si anak muda. “Apakah yang hendak dibicarakan?” tanyanya kemudian.
Bok Ek heran, air mukanya sampai berubah. “Kau toh telah mengalahkan anakku!” ia kata. “Aku telah melepas kata, maka itu tentu saja aku hendak jodohkan anakku ini denganmu. Ini adalah urusan seumur hidup, mana bisa kita memandang enteng?”
Kongcu itu melengak, ia tertawa besar. “Bukankah kita main-main dengan ilmu silat?” katanya. “Tidakkah itu sangat menarik hati? Tentang perjodohan, terima kasih banyak!”
Mukanya Bok Ek menjadi pucat, ia sampai berdiam saja.
“Kau…! Kau…!” katanya kemudian seraya menuding.
Pengiring si kongcu tertawa dingin dan menyela, “Kau kira kongcu kami ini bangsa apa? Kongcu kami bersanak dengan kamu orang kangouw tukang jual silat dari kelas tiga rendah empat bawah? Hm! Pergilah kau tidur dengan mimpimu di siang bolong!”
Bukan main gusarnya Bok Ek, tangannya melayang, maka pengiring itu berkoak kesakitan, mulutnya mengeluarkan darah, beberapa giginya rontok, seketika ia roboh di tanah, terus pingsan!
Kongcu itu tidak ambil peduli kejadian itu, ia suruh pengiring lainnya metolong, ia sendiri menghampirkan kuda.
“Jadi kau sengaja mengganggu kami?!” berteriak Bok Ek.
Kongcu itu tetap tidak mengambil mumat, ia injak sanggurdi dengan sebelah kakinya.
Bok Ek habis sabar, dengan tangan kirinya ia cekal lengan kiri pemuda itu. “Baik!” serunya. “Anakku pun tidak akan nikah dengan kau, manusia hina dina! Kembalikan sepatu anakku!”
Kongcu itu mengawasi, ia tertawa. “Sepatu ini toh anakmu yang dengan suka sendiri menghanturkannya kepadaku,” ia menyahut. “Ada apa sangkut pautnya denganmu?”
Ia terus gerakkan tangan kirinya itu dan terlepaslah cekalan Bok Ek.
“Akan aku adu jiwa!” berteriak ayah yang dipermainkan itu seraya ia lompat berjingkrak, kedua tangannya digerakkan berbareng, untuk menyerang kedua pelipis orang. Itulah jurus “Ciong kouw cie beng” atau “Gembreng dan tambur ditabuh berbareng.”
Kongcu ini berkelit sambil menjajak sanggurdinya, maka tubuhnya lantas mencelat ke tengah kalangan.
“Jikalau aku hajar roboh dirimu, orang tua, kau tentunya tidak bakal memaksa aku nikahi anakmu, bukan?” katanya sambil tertawa mengejek.
Kecuali bangsa bergajul, semua penonton menjadi panas hatinya, dari berkesan baik mereka menjadi jemu dan benci. Kongcu ini terang selain ceriwis pun kurang ajar dan keterlaluan. Cuma mereka bisa mendelu saja, tidak ada yang berani membuka mulut.
Bok Ek sudah lantas lompat untuk menerjang pemuda itu.
Kongcu itu mengetahui orang seperti kalap, bahwa serangannya itu sangat berbahaya, maka dengan sebat ia berkelit, sesudah mana dari samping, tangan kirinya membalas menyerang perut dengan jurusnya “Tok coa sim hiat” yaitu “Ular berbisa mencari lubang.”
Bok Ek berkelit ke kanan, dari situ ia menyerang pula, dua jari tangannya mencari pundak bagian yang kosong. Itulah salah satu jurus “Eng Jiauw Kun” atau “Kuku Garuda” dari ilmu silat Utara.
Kongcu itu lihay, agaknya dengan gampang saja ia mendak sedikit, lalu ia lolos dari bahaya, menyusul itu, tidak kelihatan ia menarik pulang tangan kirinya atau tangan kanannya sudah melakukan penyerangan pembalasan. Tangan kirinya itu telah diangkat ke depan mukanya, dalam sikap “Touw in hoat jit” atau “Nyelusup ke mega menukar matahari”, guna melindungi mukanya.
Bok Ek tarik lengan kirinya, dilain pihak ia menyerang dengan tangan kanannya. Untuk membalas serangan dengan serangan, dengan tidak kalah sebatnya. Ketika lawan itu berkelit, ia mendesak, menyerang lagi, kali ini dengan kedua tangannya, ke arah kedua belah pipi. Inilah pukulan “Wie Hok Hong cu” atau “Malaikat Wie Hok mempersembahkan toya”.
Kongcu itu tidak memandang enteng kepada musuh ini, ia hanya tidak menyangka semua serangan lawan sedemikian berbahayanya, maka ia tidak mau main acuh tak acuh lagi, ia membalas dengan sama hebatnya. mendadak saja kedua tangannya bergerak, menyambar kedua tangan Bok Ek itu, pada bagian belakang telapak tangan, menyusul ia menarik tubuhnya, mencelat mundur, sepuluh jarinya berubah menjadi merah semuanya. Para penonton berseru kaget. Sebab belakang telapak tangan dari Bok Ek telah berlumuran darah!
Si nona menjadi kaget berbareng gusar, ia memburu ayahnya, untuk menolong. Ia robek ujung baju si ayah, guna dipakai membalut lukanya.
Bok Ek tolak mundur anaknya. “Kau minggir!” katanya sengit. “Hari ini aku mesti mengadu jiwa dengannya, atau aku tidak hendak berhenti!”
Wajah si nona guram, ia memandang tajam kepada si pemuda. Tiba-tiba tangannya merogoh ke sakunya, mengasih keluar sebuah pisau belati dengan apa ia terus tublas dadanya sendiri.
Bok Ek kaget bukan main, lupa kepada tangannya yang sakit, ia tangkis tublasan itu, maka sekarang ia terluka anaknya itu, sebab si nona tidak keburu membatalkan tikamannya.
Para penonton menjadi mendongkol berbarang berduka. Inilah mereka tidak sangka. Mereka pun tidak berani campur tangan.
Adalah Kwee Ceng yang tidak dapat melihat terlebih jauh. Selagi si kongcu hendak naik kudanya, ia bertindak ke dalam kalangan, ia berseru. “Halo, sahabat! Perbuatanmu ini tidak tepat!”
Kongcu itu berpaling, kapan ia lihat anak muda kita, ia tercengang. Tapi cuma sebentar saja, terus ia tertawa. “Habis kau mau apa!” ia menantang. “Bagaimana baru tepat?”
Semua pengiring si kongcu tertawa ramai. Mereka lihat roman orang yang ketolol-tololan, dan lagu suaranya pun beda dari lagu suara mereka, sikap dan lagu suara itu telah diajoki kongcu mereka. Tentu saja mereka menganggap itu lucu.
Kwee Ceng melongo sebentar. Ia tidak lantas menginsyafi orang lagi permainkan dirinya.
“Kau harus menikah baik-baik dengan nona ini!” ia menjawab kongcu itu.
Si kongcu miringkan kepalanya, ia tertawa haha¬hihi. “Jikalau aku tidak sudi nikahi dia?” dia tanya.
“Jikalau kau tidak sudi menikah dengannya, apa perlunya kau maju dalam pertandingan?” Kwee Ceng tanya. “Apakah kau tidak melihat bendera mereka yang menjelaskan pibu untuk pernikahan?”
Kongcu itu tidak menjawab, ia hanya mengawasi dengan tajam. “Sebenarnya kau hendak main gila denganku atau bagaimana?” kemudian dia bertanya tegas.
Kwee ceng tidak menjawab, ia balik bertanya. “Nona ini cantik dan ilmu silatnya pun sempurna, kenapa kau tidak sudi menikah dengannya? Jikalau kau tidak hendak menikah sama nona macam begini, di belakang hari ke mana lagi kau hendak mencarinya?”
“Eh, kau tidak mengerti urusan, bicara denganmu sia-sia saja!” kata si kongcu. “Kau sebenarnya murid siapa? Kau memanggil apa kepada Oey Yok Su dari pulau Tho Hoa To?”
Kwee Ceng menggoyangkan kepalanya. “Siapa guruku, tak dapat aku beritahu padamu!” ia jawab. “Aku tidak tahu Oey Yok Su itu orang macam apa.”
“Habis, siapa yang ajarkan kau ilmu menotok istimewa dari pulau Tho Hoa To it?” si kongcu masih menanya.
“Ilmu menotok jalan darahku itu adalah guruku yang kedua yang mengajarkannya,” menjawab Kwee Ceng.
“Siapa itu gurumu yang kedua?” tanya kongcu itu kemudian.
“Aku tidak mau memberitahu” jawab Kwee Ceng pula.
“Baiklah, masa bodoh!” berkata pemuda itu yang lantas memutar tubuhnya.
Kwee Ceng ulur tangannya untuk mencegah. “Eh, kenapa kau hendak pergi pula?” ia menanya.
“Habis kenapa?” kata si kongcu lagi.
“Bukankah aku telah beri nasehat kepadamu untuk kau nikahi nona ini?” kata Kwee Ceng.
Kongcu itu tertawa dingin, dia buka tindakannya yang lebar, untuk berjalan pergi.
Sampai di situ, Bok Ek hampairi anak muda ini. Sejak tadi ia mendengari orang pasang omong, disamping ia mendongkol terhadap si kongcu, tahu bahwa anak muda ini baik hatinya dan berpihak padanya. Ia Cuma merasa orang masih terlalu muda dan belum mengenal dunia.
“Saudara kecil, jangan kau ladeni dia!” dia berkata. “Asal nyawaku masih ada, sakit hati ini tidak dapat tidak dilampiaskan!” Terus ia kata dengan suara nyaring: “Anak muda, kau tinggalkan she dan namamu!”
Kongcu itu berpaling, ia tertawa. “Aku sudah bilang, tidak dapat aku memanggil mertua kepadamu, maka kenapa kau begini melit hendak mengetahui she dan namaku?” ia bertanya.
Kwee Ceng menjadi habis sabar, ia melompat kepada pemuda itu. “Kalau begitu, kau kembalikan sepatunya si nona!” ia membentak.
Kongcu itu menatap. “Kau gemar campur urusan bukan urusanmu!” ia berkata. “Bukankah kau menaruh hati kepada nona itu?”
“Bukan!” jawab Kwee Ceng, yang menggeleng kepalanya. “Sebenarnya kau hendak kembalikan sepatu itu atau tidak?”
Dengan mendadak saja anak muda ini menggerakkan kedua tangannya, mencekal kedua nadi si kongcu. Ia telah gunakan salah satu tipu dari ilmu silat Kim-na-ciu, yang semuanya terdiri dari tujuh puluh dua jurus. Ilmu silat itu adalah untuk menangkap tangan lawan.
Kongcu itu terkejut berbareng gusar. Ia berontak tetapi tidak berdaya. “Kau mau mampus?!” tanyanya, sebelah kakinya menendang ke bawah perut si anak muda.
Kwee Ceng tidak menangkis atau berkelit, dengan sebat ia tarik tangannya kongcu itu, hingga orang terlempar tubuhnya, dengan begitu, ia bebas dari tendangan orang itu.
Kongcu itu enteng sekali tubuhnya, walaupun ia telah terlempar, ia Cuma terpelanting, tidak sampai mencium tanah. Hanya dengan begitu, ia telah kalah satu babak. Ia menjadi gusar sekali.
“Kau sudah bosan hidup, bocah?” ia berseru.
Kwee Ceng mengawasi, ia menggeleng kepala. “Buat apakah aku bertempur denganmu?” ia berkata, “Kau tidak mau nikahi dia, sudah saja, kau kembalikan sepatunya itu!”
Orang banyak menyangka pemuda ini hendak membela keadilan, mereka tidak ayana, akhirnya cuma sebegitu saja sikapnya. Mereka yang gemar menonton menjadi kecele.
Kongcu ini jeri juga terhadap Kwee Ceng, bahwa orang tidak ingin berkelahi, itu cocok dengan keinginannya, akan tetapi ia dipaksa menyerahkan sepatu si nona, mana dapat ia mengalah. Tidakkah ia berada di hadapan orang banyak? Maka itu seraya menyingkap jubahnya, ia memutar tubuh, mulutnya mengasih dengar tertawa dingin.
“Apakah kau hendak pergi?” menegur Kwee Ceng seraya menyambar jubah orang itu.
Si kongcu lantas menggunakan ketikanya. Ia berkelit, jubahnya itu dilayangkan sekali, dipakai menungkrap kepala orang.


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar