ads

Selasa, 01 September 2020

Pendekar Pemanah Rajawali Jilid 005

Kwee Ceng mengucap terima kasih sambil berlutut dan mengangguk, habis itu baru ia mengundurkan diri.

Tin Ok menghela napas pula perlahan. Ia sangsi apa Kwee Ceng dapat wariskan kepandaiannya itu dengan sempurna.

Semenjak itu, semakin rajin guru ini mengajari muridnya. Adalah kehendak mereka agar si murid maju cepat. Mereka khawatir kalah berlomba dengan Khu Cie Kee menampak kemajuannya In Cie Peng itu. Akan tetapi sulit bagi mereka untuk mewujudkan kehendak itu. Sekalipun seorang yang berotak cemerlang sulit untuk dibikin maju dalam tempo yang pendek, apa pula Kwee Ceng yang bebal, yang lambat kesadarannya, malah makin didesak, ia membuatnya semakin banyak kesalahan.

Pagi itu Siauw Eng ajari Kwee Ceng ilmu pedang Wat Lie Kiam dijurus keempat yang bernama “Di cabang pohon menyerang lutung putih”. Untuk itu perlu orang berlompat tinggi dan jumpalitan. Murid ini mencoba berlompat, selama tujuh atau delapan kali, ia selalu gagal, percuma gurunya ajari mesti begini mesti begitu. Siauw Eng menjadi sangat berduka, hingga ia berlinang air mata, dengan lemparkan pedangnya, ia tinggalkan muridnya.

Kwee Ceng terperanjat, ia menyusul, memanggil¬-manggil, tapi gurunya berjalan terus. Ia menjadi masgul sekali, hingga ia berdiri menjublak. Ia tahu semua gurunya ingin ia maju, maka itu, ia mejadi sangat menyesal. ia menjadi gelisah menampak guru¬-gurunya mulai perlihatkan roman tidak puas. ia masih berdiam tatkala dari belakang, ia dengar teriakannya putri Gochin: “Engko Ceng, mari lekas, mari lekas!”

Kapan ini bocah menoleh, ia tampak putri itu yang duduk di atas seekor kuda, mengasih lihat roman cemas berbareng gembira. “Ada apa?” ia tanya.

“Mari lekas lihat!” sahut putri Temuchin itu. “Banyak burung rajawali lagi bertarung!”

“Aku lagi berlatih,” Kwee Ceng beritahu.

Putri itu tertawa. “Apakah kau tidak dapat melatih dengan baik dan kembali dimarahin gurumu?” dia tanya.

Kwee Ceng jujur, ia mengangguk.

Putri itu masih tertawa. “Hebat pertarungan itu!” ia kata pula mendesak. “Mari lekas lihat!”.

“Aku tidak mau,” sahut Kwee Ceng. Ia ingat perlakuannya Siauw Eng barusan, ia berduka sekali, lenyap kegembiraannya.

Akhirnya si putri menjadi tidak sabaran. “Aku sendiri sampai tidak melihat, karena aku datang untuk mengajak kau!” katanya. “Kalau tetap kau tidak hendak pergi melihat, selanjutnya kau jangan pedulikan aku lagi!”

“Pergi kau kembali dan melihatnya sendiri,” Kwee Ceng bilang. “Bukankah sama kalau kau menceritakannya kepadaku?”

Gochin lompat turun dari kudanya. “Sudahlah, kau tidak mau pergi, aku juga tidak mau pergi…” bilangnya sambil cemberut. “Aku tidak tahu, rajawali yang hitam yang menang atau yang putih…”

“Apakah itu sepasang rajawali putih yang besar yang berkelahi?” Kwee Ceng tanya.

“Benar! Kawanan si hitam banyak tapi si putih lihay, sudah enam atau tujuh ekor si hitam yang mampus…” Mendengar itu, hati Kwee Ceng tertarik juga. “Mari!” katanya, dan ia tarik tangan si tuan putri, buat diajak naik bersama ke atas kudanya, guna kabur ke kaki lembah di mana terlihat belasan ekor rajawali hitam tengah mengurung dan menyerang rajawali putih, hingga sayap mereka pada rontok berhamburan.

Rajawali putih lebih besar dan patuknya terlebih kuat, hebat setiap patukan dan cengkeramannya. Demikian seekor musuhnya yang terlambat berkelit, kena disambarnya, lalu bangkainya jatuh di depan Gochin.

Sebentar saja sudah banyak penduduk yang datang melihat pertempuran rajawali itu, malah Temuchin yang mendengar kabar itu juga turut muncul. Ia datang dengan mengajak Ogotai dan Tuli.

Sering Kwee Ceng, Gochin dan Tuli main-main bersama di lembah itu, hampir setiap hari tampak sepasang burung rajawali putih itu, terhadap burung itu mereka mendapat kesan yang baik, maka itu tidak heran kalau sekarang mereka mengharap kemenangan si putih hingga mereka berteriak-¬teriak memberi semangat si putih. Kata mereka itu saling ganti: “Hayo putih, patuk padanya! Awas di kiri, ada musuh, lekas berbalik! Bagus! Bagus! Kejar padanya! Kejar!”

Lagi dua ekor rajawali hitam jatuh mati, tetapi sepasang rajawali putih juga telah mendapat luka, bulunya yang putih ternoda darahnya yang merah.

Seekor rajawali hitam yang tubuhnya lebih besar daripada yang lainnya, lantas berbunyi berulang-ulang, lalu kira-kira sepuluh kawannya terbang pergi, tinggal lagi tiga, yang masih bertempur dengan seru. Menampak itu, semua penonton bersorak-sorai. Habis itu, tiga ekor si hitam lantas kabur, satu si putih mengejar.

Habis pertarungan itu, orang banyak hendak bubaran, justru itu, di udara terdengar riuh suara burung tadi, lalu tertampak belasan si hitam terbang kembali, ke jurang, menerjang si putih yang lagi berdiri sambil merapikan bulunya.

“Bagus!” berseru Temuchin, yang menyaksikan siasat perang si hitam.

Hebat si putih, dia melawan sebisanya, dia matikan satu musuhnya, tetapi akhirnya ia jatuh karena luka-¬lukanya. Sudah begitu, kira-kira sepuluh ekor musuhnya itu masih menyerbu terus.

Kwee Ceng bertiga, Tuli dan Gochin menjadi kaget dan cemas, malah Gochin lantas menangis. “Ayah, lekas panah!” ia teriaki ayahnya.

Temuchin sebaliknya berkata kepada Ogotai dan Tuli: “Si rajawali hitam menang perang, mereka itu menggunakan siasat, maka ingatlah kamu!”

Dua putra itu mengangguk

Habis membunuh si putih, kawanan si hitam terbang ke arah sebelah liang di atas jurang, dari liang itu tampak munculnya dua kepala anak rajawali putih yang mencoba membuat perlawanan.

“Ayah, masih kau tidak mau memanah?” tanya Gochin sambil menangis.

Temuchin tertawa, segera ia siapkan panahnya, terus ia menarik, lalu anak panahnya nancap di badannya seekor rajawali hitam itu, yang rubuh terbinasa dengan segera.

Riuh tempik sorak memuji Khan yang besar itu.

“Coba kau memanah!” kata Temuchin seraya menyerahkan panahnya kepada Ogotai.

Putra itu menurut, ia memanah, ia merubuhkan seekor rajawali hitam itu.

Tuli pun mencoba, dan ia juga berhasil merubuhkan seekor. Setelah itu, semua sisa burung rajawali hitam itu terbang kabur.

Panglima-panglima Temuchin lantas turut memanah, tetapi burung-burung hitam itu sudah terbang tinggi, sulit untuk mengenai mereka. Pun burung itu dapat menyampok anak panah.

“Siapa yang dapat memanah burung itu, ia akan mendapat hadiah!” Temuchin berseru.

Jebe si Jago Panah berdiri di samping Temuchin, ia berniat pertontonkan ilmu panahnya Kwee Ceng, ia turunkan panahnya, ia dekati Kwee Ceng untuk menyerahkan panahnya itu. “Kau berlutut! Kau panah lehernya burung itu!” ia menyuruh dengan suara perlahan.

Kwee Ceng ambil panah itu, ia tekuk sebelah kakinya, dengan tangan kiri memegang busur dan tangan kanan mencekal anak panah berikut talinya, ia lantas menarik hingga busur itu, atau tangannya menjadi melengkung. Busur itu beratnya dua ratus kati tapi ia dapat menariknya, karena setelah sepuluh tahun berguru kepada Kanglam Liok Koay, tenaganya menjadi besar sekali.

Dua ekor burung rajawali hitam terbang berendeng, datangnya dari arah kiri. Tidak tempo lagi, Kwee Ceng menarik tangan kanannya, menarik habis hingga busur itu melengkung sepenuhnya, sembari menarik, ia mengincar.

“Ser!” demikian anak panah menyambar, dan seekor rajawali rubuh, sia-sia ia mencoba berkelit. Tepat ia terpanah batang lehernya. Tapi anak panah itu tembus, terus menyambar perutnya rajawali yang kedua, yang jadi rubuh bersama di sampingnya si tukang panah.

Menampak itu, orang banyak bersorak dengan pujiannya. Itulah yang dibilang, sekali memanah dua ekor burung. Dan karena ini, sisa burung yang lainnya terbang kabur, tidak lagi berputaran di atas jurang.

“Serahkan burung itu kepada ayahku!” Gochin berbisik di kupingnya Kwee Ceng.

Si anak muda menurut, ia memungut dua bangkai burung itu, ia lari kepada Temuchin, tekuk sebuah lututnya, kedua tangannya diangkat tinggi, untuk persembahkan burung itu.

Seumurnya Temuchin paling menyukai panglima yang gagah perkasa dan orang kosen, sekarang ia saksikan Kwee Ceng serta sikapnya itu, ia menjadi girang sekali.

Harus diketahui, untuk di utara ini, burung rajawali besar luar biasa, kalau sepasang sayapnya direntangkan, lebar panjangnya sampai setombak lebih, bulu sayapnya pun kuat bagaikan besi, kapan ia menyambar ke bawah, dapat cekuk seekor kuda kecil atau kambing besar, malah adakalanya harimau atau macan tutul pun mesti lari dari burung ini.

Sekarang bocah ini bisa memanah sekaligus dua ekor, hebat!

Temuchin suruh pengiringnya ambil burung itu. “Anak yang baik, kau hebat!” katanya pada si bocah.

“Guruku yang mengajari,“ sahut Kwee Ceng yang tidak hendak mensia-siakan Jebe, gurunya.

Temuchin tertawa pula. “Gurunya Jebe, muridnya juga Jebe!” pujinya. Di dalam bahasa Mongol, “Jebe” itu berarti “ahli panah yang lihay atau dewa panah”

Tuli hendak bantu adik angkatnya itu, ia kata kepada ayahnya, “Ayah tadi bilang, siapa yang berhasil memanah, dia bakal dihadiahkan sesuatu, sekarang saudaraku ini memanah sekaligus dua ekor, ayah hendak menghadiahkan dia apa?”

“Apa pun boleh!” sahut ayahnya itu, yang terus tanya Kwee Ceng, “Kau menghendaki apa?”

Tuli girang sekali. “Benarkah barang apa pun boleh?” ia tegaskan ayahnya.

“Apakah aku dapat mendustai anak-anak?” ayahnya itu tertawa.

Semua orang mengawasi Kwee Ceng, sebab heran mereka atas sikapnya Khan mereka itu. Ingin mereka mengetahui apa yang si bocah bakal minta.

“Khan yang agung telah perlakukan aku begini baik, ibuku pun telah punya segalanya, karena itu tidak usahlah aku diberikan apa-apa lagi,” berkata Kwee Ceng dengan jawabannya.

Temuchin tertawa lebar. “Kau anak yang berbakti, dalam segala hal kau lebih dulu ingat ibumu!” katanya. “Kau sendiri, apakah yang kau kehendaki? Kau sebutkan saja, jangan takut!”

Kwee Ceng perdengarkan suara perlahan, dengan kedua kakinya ia berlutut di depan kudanya khan yang besar itu. Ia berkata: “Aku sendiri tidak menghendaki apa-apa, aku hendak mewakilkan seseorang mohon suatu hal…”

“Apakah itu?” tanya Temuchin.

“Tusaga, cucunya Wang Khan itu busuk dan jahat,” ia berkata. “Kalau Putri Gochin dinikahkan dengannya, dibelakang hari mestinya tuan putri menderita, maka itu aku mohon dengan sangat supaya janganlah tuan putri dijodohkan dengan dia itu” sambungnya kemudian.

Melengak Temuchin mendengar permintaan itu, lalu akhirnya tertawa terbahak.

“Sungguh ucapan kanak-kanak!” katanya. “Mana dapat. Baiklah, hendak aku menghadiahkan kau serupa mustika!” Ia loloskan golok pendek di pinggangnya, ia sodorkan itu pada si bocah.

Semua panglima menjadi kagum dan memuji, agaknya mereka sangat ketarik hati. Golok pendek itu adalah goloknya khan mereka sendiri, golok mustika yang pernah dipakai membinasakan banyak musuh. Coba khan itu tidak terlanjur melepas kata, tidak mungkin serahkan goloknya.

Kwee Ceng menghaturkan terima kasih, ia sambuti golok itu, yang sarungnya terbuat dari emas dan gagang golok berukir emas berkepala harimau, ditabur sepotong batu kumala hitam, dimana ada terukir pula kata-kata: “Golok pribadi Khan Temuchin”. Di sebelah itu masih ada ukiran dua baris kata-kata, bunyinya: “Membunuh musuh dan memusnahkan musuh bagai menyembelih harimau dan kambing”.

Temuchin berkata, “Musuh-musuhku tak usahlah aku sendiri yang membunuhnya, kau anak kecil, kaulah yang mewakilkan aku membunuh mereka!”

Belum lagi Kwee Ceng sahuti si khan, mendadak Gochin menangis, terus ia lompat naik ke atas kudanya lantas kasih kabur!

Temuchin keras bagaikan berhati besi akan tetapi menyaksikan putrinya yang paling ia sayangi itu begitu bersusah hati, hatinya menjadi lemah, maka ia menghela napas. Terus ia putar kudanya, untuk pulang ke kemahnya.

Semua panglima dan pangeran mengikuti dari jauh¬jauh.

Kwee Ceng tunggu sampai orang sudah pergi semua, ia hunus golok pendek itu dan melihat sinarnya yang tajam, yang seperti mendatangkan hawa dingin adem. Pada golok itu berpeta tanda darah, yang menyatakan entah berapa banyak korban yang telah dimakan. habis membuat main itu golok, ia masuki ke dalam sarungnya. Kemudian ia cabut pedangnya sendiri, untuk melatih Wat Lie Kiam-hoat. Ia masih tidak berhasil menyempurnakan jurus “Di cabang pohon menyerang lutung putih”. Kalau ia tidak melompat terlalu rendah ia tentu tak keburu menggerakkan pedangnya. Ia menahan sabar, ia mencoba pula, ia malah makin gagal, hingga ia bermandikan keringat. Tengah berlatih, ia dengar suara berkelengannya kuda, tampak Gochin lari mendatangi dengan kudanya.

Putri itu tiba terus lompat turun dari kudanya, terus rebahkan diri di atas rumput, sebelah tangannya dipakai untuk menunjang kepalanya. Ia tidak ganggu Kwee Ceng, yang lagi berlatih, hanya ia menonton. Hanya ketika ia saksikan kawan itu sangat mengeluarkan tenaga, ia berkata: “Sudah, engko Ceng, jangan berlatih terus, mari beristirahat!”

“Kau jangan ganggu aku, aku tidak punya waktu untuk temani kau berbicara,” kata Kwee Ceng.

Gochin berdiam, lalu tertawa mengawasi kawannya. Ia menanti sekian lama, lalu mengeluarkan sapu tangannya, yang kedua ujungnya ia gumpal masing-masing, lalu timpuki itu kepada si anak muda. “Kau susutlah peluhmu!” katanya.

Kwee Ceng bersuara perlahan, agaknya ia terkejut, tetapi ia antap sapu tangan jatuh di sampingnya, ia sendiri terus berlatih.

Gochin terus mengawasi, sampai satu kali ia angkat kepalanya, ia dengar suara berisik dari kedua anak burung rajawali putih di atas tebing, menyusul mana segera terdengar suara yang keras tetapi agak hebat dari si rajawali putih besar yang terbang datang. Dialah burung tadi, yang mengejar kawanan burung hitam itu, yang rupanya baru kembali. Dia rupanya bermata tajam, ia sudah lantas ketahui pasangannya mati. Ia lantas terbang berputaran, suaranya sedih.

Kwee Ceng berhenti berlatih, ia mengawasi burung itu.

“Engko Ceng, lihat bagaimana harus dikasihani burung itu…” berkata Gochin.

“Pasti ia sangat berduka,” sahut si engko Ceng itu.

Sekali lagi burung besar itu perdengarkan suara nyaring, terus ia terbang ke atas seperti memasuki mega.

“Mau apa ia terbang ke atas?” tanya tuan putri itu.

Belum berhenti suaranya Gochin, burung itu sudah terbang turun pula, sangat cepat, tujuannya ke jurang, atau tahu-tahu ia telah serbu batu gunung yang besar, maka di detik lain, ia sudah roboh tidak bernyawa lagi!

Kwee Ceng dan Gochin terkejut sekali. Mereka menjerit dan sama-sama mencelat. Untuk sejenak itu, keduanya terdiam.

“Sungguh harus dihormati! Sungguh harus dihormati!” tiba-tiba mereka dengar satu suara nyaring di belakang mereka, hingga mereka menjadi heran, lekas-lekas keduanya berpaling. Mereka melihat tosu atau imam, yang berkumis abu-abu tetapi mukanya merah dadu, yang tangannya mencekal hudtim atau kebutan pertapa, yang aneh dandanannya, sebab ia telah membuat tiga konde kecil di atas kepalanya, beroman sebagai huruf “pin”, sedang jubahnya bersih sekali, tidak ada abunya sedikit juga, tidak biasanya untuk orang yang berada di gurun pasir. Dan ia pun berbicara dalam bahasa Tionghoa.

Gochin tidak mengerti bahasa itu. Ia pun sudah lantas menoleh pula, memandang ke atas tebing, dan segera ia berkata: “Bagaimana dengan kedua anak burung itu? Bapak dan ibunya telah mati…”

Sarang di liang atas tebing itu sukar dipanjat orang, kedua burung itu masih kecil, belum bisa terbang, cara bagaimana mereka bisa mencari makan? Bukankah mereka itu bakal mati kelaparan….?

Kwee Ceng menjublak sekian lama, baru ia buka suara. “Kecuali orang bersayap dan dapat terbang naik ke atas sana, baru anak-anak burung itu dapat di tolong…” katanya. Ia pegang pula pedangnya dan mulai lagi dengan latihannya. Ia masih saja tidak berhasil melatih jurus keempat yang baru diajari gurunya.

Tiba-tiba terdengar suara dingin di belakangnya, “Dengan belajar secara demikian, seratus tahun lagi juga tidak bakal berhasil!”

Kwee Ceng berhenti bersilat, ia menoleh. Ia awasi imam berkonde tiga itu. Ia menjadi tidak senang. “Apa katamu?” ia tanya.

Si imam tersenyum, ia tidak menyahuti, hanya mendadak ia maju mendekati, lalu Kwee Ceng merasai bahunya kaku, lalu dengan satu kelebatan, pedangnya telah pindah tangan kepada si imam itu.

Pernah Kwee Ceng diajari gurunya yang kedua, Cu Cong, ilmu dengan tangan kosong merampas senjata musuh, akan tetapi ia belum dapat menyakinkan itu dengan sempurnya, belum ia menginsyafi gayanya, maka itu, kagum ia untuk lihaynya ini imam, gerakannya tidak kelihatan. Mana bisa ia membela diri atau berkelit? Berbareng dengan itu, ia berkhawatir untuk Gochin. Maka segera ia melompat ke depan tuan putri itu, ia hunus golok hadiahnya Temuchin, untuk bersiap melindungi putri ini.

“Lihat biar tegas!” bersuara si imam itu, yang tidak pedulikan sikapnya, hanya ia mencelat ke atas, hingga tahu-tahu ia sudah jalankan jurus yang Kwee Ceng tak sanggup pelajari itu, sedang turunnya si imam adalah sangat cepat tetapi tenang. Bocah ini berdiri melengak, mulutnya terbuka lebar.

Si imam lempar pedangnya ke tanah, ia tertawa.

“Burung rajawali putih itu harus dihormati, turunannya pun tak boleh tak ditolongi!” ia berkata, setelah mana, ia lompat untuk lari ke jurang, untuk mendaki dengan cepat, gerakannya bagai lutung atau kera. Ia berlari dengan kaki, menjambret dan merembet dengan tangan, sebentar kemudian, ia sudah mencapai hingga di atas jurang, di dekat liang yang merupakan sarang burung rajawali putih itu.

Hati Kwee Ceng dan Gochin berdenyut keras tak hentinya. Mereka kagum, heran dan khawatir untuk keselamatan si imam. Jurang itu tinggi, tebing dan semua batunya licin. Hancur-luluhlah kalau orang jatuh dari atasnya. Di atas tebing itu si imam tampak menjadi kecil tubuhnya.

“Bagaimana?” tanya Gochin yang memeramkan matanya.

“Hampir tiba!” sahut Kwee Ceng. “Bagus! Bagus..!“

Gochin kasih turun kedua tangannya, ia melihat si imam lompat ke liang, tubuhnya seperti terpelanting jatuh, hingga ia menjerit kaget. Akan tetapi si imam tiba dengan selamat, dan dengan ulur kedua tangannya, ia mulai menangkap dua anak rajawali itu, untuk kemudian dimasukkan ke dalam sakunya, dilain saat, ia sudah mulai turun pula. Dia Tiba di bawah dengan tak kalah cepatnya sewaktu ia mendaki.

Kwee Ceng dan Gochin lari menghampiri, si imam merogoh keluar kedua anak burung itu, mengangsurkan seraya ia tanya Gochin, “Bisakah kamu merawat anak-anak burung ini?”

“Bisa, bisa, bisa!” sahut si putri dengan cepat seraya menyambuti.

“Hati-hati, jangan sampai tanganmu kena dipatuk!” memperingati si imam. “Burung ini kecil akan tetapi patokannya sakit sekali.”

Gochin loloskan benang ikatan rambutnya, dengan itu ia ikat kaki kedua burung itu. Ia girang bukan main. “Aku nanti ambilkan daging untuk memeliharanya!”

“Eh, tunggu dulu!” kata si imam. “Kau mesti berjanji padaku satu hal, baru aku serahkan burung ini padamu!”

“Apakah itu?” si putri tanya.

“Aku ingin kau tidak beritahu siapapun juga bahwa aku telah mendaki jurang itu dan mengambil anak burung ini,” kata si imam.

“Baik,” sahut si nona. “Hal itu sebenarnya sulit juga, tapi biarlah aku tidak menyebutkannya.”

Si imam ini tertawa, ia berkata: “Kalau nanti sepasang anak burung ini menjadi besar, mereka bakal menjadi sangat kuat dan galak, maka itu diwaktu mengasih makannya kau mesti hati-hati.”

“Aku tahu,” sahut Gochin, yang girangnya bukan main. Ia kata kepada Kwee Ceng: “Engko Ceng, burung ini kita bagi seorang seekor, akan tetapi sekarang akulah yang bawa dulu, untuk memeliharanya. Akur?”

Kwee Ceng mengangguk. Gochin lantas lompat naik ke atas kudanya dan kabur pergi.

Kwee Ceng bengong mengawasi tuan putri itu, lalu di lain pihak ia kagumi si imam ini yang demikian lihay, pandai mainkan jurusnya yang sulit itu. Ia menjadi seperti kehilangan semangat.

Si imam konde tiga itu pungut pedangnya untuk dikembalikan kepada pemiliknya, habis itu ia memutar tubuhnya sembari tertawa, untuk berlalu.

“To… totiang, jangan pergi dulu…!” Kwee Ceng berkata, agaknya ia baru sadar, hingga susah ia membuka mulutnya.

“Kenapa?” si imam tanya. Ia tertawa pula.

Bocah ini menggaruk-garuk kepalanya, rupanya sulit ia berbicara. tapi Cuma sejenak, lantas ia jatuhkan diri berlutut di depan si imam dan manggut-manggut, entah sampai berapa puluh kali.

“Eh, untuk apa kau pay-kui terhadapku?” si imam tanya, tertawa.

Mendadak Kwee Ceng mengucurkan air mata. Ia lihat si imam demikian sabar dan ramah, ia seperti menghadapi sanaknya yang terdekat. “Totiang, aku sangat bebal…” ia kata kemudian. “Aku belajar rajin dan ulet akan tetapi tetap aku tidak dapat belajar dengan sempurna hingga karenanya aku membuat keenam guruku menjadi tidak senang…”

“Habis, apakah yang kau kehendaki?” tanya si imam, tetap tertawa.

“Siang dan malam aku berlatih, tetap aku gagal…” Kwee Ceng berkata pula.

“Apakah kau ingin petunjukku?” imam itu tanya lagi.

“Benar!” Dan Kwee Ceng mendekam pula, mengangguk-angguk lagi.

“Aku lihat kau jujur dan bersungguh hati, begini saja,” kata si imam. “Tiga hari lagi bulan pertengahan, selagi rembulan terang menderang, aku nantikan kau di atas puncak. Tapi kau tidak boleh beritahu hal ini kepada siapapun juga!” Ia menunjuk ke puncak yang ia sebutkan.

Kwee Ceng menjadi bingung. “Aku… aku… tidak dapat mendaki…!” katanya.

Si imam sudah lantas berjalan, ia tidak memperdulikannya lagi, ia jalan terus.

“Kalau begini, sengaja totiang hendak menyulitkan aku,” pikir Kwee Ceng, “Terang dia tidak ingin mengajari aku…” Cuma sesaat ia berpikir pula: “Aku toh bukannya tidak punya guru yang pandai? Di depan mataku toh ada enam guru yang bersungguh-sungguh mengajari aku? Dasar aku yang tolol! Apa daya sekarang? Meski totiang lihay sekali, mana dapat aku mewariskan kapandaiannya itu? Percuma aku belajar dengannya…”

Bocah ini menjadi tawar hatinya. Tapi matanya masih mengawasi ke puncak. Lalu ia ingat pula pelajarannya, maka terus ia berlatih lagi. Ia baru pulang sesudah matahari turun dari gunung dan ia rasai perutnya lapar.

Tiga hari telah lewat. Hari itu Han Po Kie ajarkan muridnya ilmu cambuk Kim-liong-pian. Senjata lemas itu beda dengan golok atau lainnya senjata tajam, kalau tenaga latihannya kurang orang tak akan terlukai kerenanya, sebaliknya, dia sendiri yang bisa bercelaka. Demikian sudah terjadi, satu kali Kwee Ceng salah menggeraki tangannya dan cambuknya mengenai kepalanya sendiri!

Po Kie menjadi mendongkol, ia sentil kupingnya si murid itu, yang kepalanya telah menjelut!

Kwee Ceng tutup mulut, ia belajar terus.

Melihat orang bersungguh hati, lenyap rasa dongkolnya Po Kie. Ia membiarkan saja walaupun si murid lagi-lagi membuat beberapa kesalahan.

Po Kie mengajari lima jurus, setelah pesan si murid belajar terus dengan sungguh-sungguh, ia meninggalkan pergi dengan menunggang kudanya.

Benar-benar sukar ilmu cambuk itu, Kwee Ceng menjadi korban, hingga ia menjadi babak-belur. Kepalanya dan jidatnya benjut, lengan dan kakinya matang biru. Saban salah menarik, ujung cambuk mengenai diri sendiri. Maka itu akhirnya, dengan merasa sakit dan letih, ia rebahkan diri di rumput dan kepulasan. Ia mendusin sesudah rembulan muncul. Ia merasakan sakit pada tubuhnya, tapi ia memandang ke atas bukit. Ia ingat janjinya si imam.

“Dia bisa mendaki, mustahil aku tidak!” akhirnya ia kata dengan penasaran. Dan ia lari ke kaki jurang, untuk mulai mendaki. Ia jambret setiap oyot rotan, ia naik seperti merayap. Ia bisa naik setinggi enam atau tujuh belas tombak, lalu ia berdiam. Jalan naik lebih jauh batu melulu, seperti tembok yang licin.

“Mesti dapat!” ia keraskan hatinya. Dan ia mencoba. Ia cari lubang atau sela batu, untuk dipegang, untuk ia menindak. Satu kali ia terpeleset, hampir cekalannya terlepas, hampir ia terjatuh! Kapan ia memandang ke bawah, ia merasa ngeri bukan main. Sekarang, naik tak dapat, turun pun sukar!

Kwee Ceng menghela napas. Tiba-¬tiba ia ingat perkataan gurunya yang keempat: “Di kolong langit ini tidak ada urusan yang sukar, asal hati orang kuat!”. Maka ia kertak gigi. ia sekarang dapat akal, ia pakai golok pendeknya, untuk mencokel batu, guna menancap itu untuk dipakai sabagai alat pegangan, buat dijadikan tempat injakan. ia merayap tetapi ia dapat maju setindak demi setindak, sangat ayal. Ia telah mesti menggunai tenaga terlalu besar, baru manjat dua tombak, kepalanya sudah pusing, kaki tangannya lemas. Maka ia diam mendekam, ia bernapas dengan perlahan-lahan.

Setahu berapa banyak liang lagi harus dibikin untuk dapat naik ke atas. Kwee Ceng tidak memperdulikannya. Setelah cukup beristirahat, ia mulai pula mencongkel batu. Baru ia mulai, atau mendadak ia dengar suara orang tertawa diatasnya. Ia heran, ia pun tidak berani dongak, untuk melihatnya. Heranya, tiba-tiba ada sehelai dadung meroyot turun, ujungnya berdiam tepat di depannya! “Ikat pinggangmu, nanti aku tarik kau naik!” begitu suara terdengar. Ia kenali suaranya si imam konde tiga. Tiba-tiba ia menjadi girang sekali, hingga semangatnya terbangun pula. Tanpa banyak pikir, ia simpan goloknya, sambil sebelah tangan terus pegangi liang batu, dengan tangan kanannya ia libat pinggangnya, mengikat keras.

“Apakah kau telah selesai mengikat?” tanya si imam dari atas.

“Sudah!” sahut si bocah.

“Sudah atau belum?” tanya lagi suara di atas. Rupanya ia tidak dengar jawabannya si bocah. Tiba-¬tiba ia tertawa, lalu menambahkan: “Ah, aku lupa! Suaramu tidak cukup keras, tak sampai ke atas sini. Kalau kau sudah mengikat rapi, kau tariklah dadung ini, tiga kali!”

Kwee Ceng menurut, ia membetot tiga kali. Habis itu mendadak ikatan pada pinggangnya menjadi keras, segera tubuhnya terangkat, hingga terlepaslah pegangannya pada batu dan injakan kakinya juga. Ia terkejut juga, tetapi ia tahu lagi diangkat naik. Hanya untuk herannya, baru ia terangkat naik, tiba-tiba ia sudah sampai di atas, berdiri tepat di depannya si imam!

Bukan main ia girang dan bersyukur, tak tempo lagi ia tekuk lututnya, untuk pay-kui, guna menghaturkan terima kasih, akan tetapi si imam cekal tangannya, untuk ditarik, sambil tertawa, imam itu berkata: “Kemarin kau telah pay-kui padaku seratus kali, sudah cukup, sudah cukup! Bagus, anak bagus, kau punya semangat!”

Puncak gunung itu boleh dibilang datar, di situ ada sebuah batu besar yang rata, yang penuh dengan salju.

“Duduklah di sana!” kata si imam.

“Biar teecu berdiri saja menemani suhu,” Kwee Ceng bilang.

“Kau bukan kaumku, aku bukan gurumu,” kata si imam. “Kau juga bukan muridku. Kau duduklah!”

Dengan hati bingung, Kwee Ceng berduduk.

“Keenam gurumu itu semua orang-orang Rimba Persilatan kenamaan,” kata si imam, “Walaupun kita tidak kenal satu sama lain akan tetapi kita saling menghormati. Untuk kau, asal kau dapat pelajarakan kepandaian satu saja dari enam gurumu itu, kau sudah bisa tonjolkan diri di muka umum. Kau bukannya tidak rajin belajar, kenapa selama sepuluh tahun ini kemajuanmu tidak banyak? Tahukah kau sebabnya?”

“Itulah karena dasarku yang bebal, biar suhu semua bersungguh-sungguh mengajarainya, aku tidak bisa peroleh kemajuan,” Kwee Ceng menjawab.

“Itulah tidak benar seluruhnya!” jawab si imam dengan tertawa. “Inilah dia yang dibilang, mengajar tak jelas caranya dan yang belajar tak menginsyafi jalannya…”

“Kalau begitu, aku mohon su…su…eh totiang, sudi mengajarinya,” Kwee Ceng memohon.

“Bicara tentang umumnya ilmu silat, sebenarnya sudah jarang orang Rimba Persilatan yang sepandai kau,” menerangkan si imam pula, “Kau baru belajar silat, lantas kau dijatuhkan si imam muda, ini pun satu pukulan untukmu, kau lantas merasa pelajaranmu tak ada faedahnya. Hahaha, kau ternyata keliru!”

Kwee Ceng heran. Kenapa imam ini ketahui urusan kekalahannya itu?

“Imam itu memang daripada kau, ia sebenarnya telah menggunakan akal,” berkata si imam, “Coba kamu bertempur secara biasa, belum tentu ia dapat menangkan kau. Disamping itu kepandaian keenam gurumu tak ada dibawah aku, dari itu tidak dapat aku ajarkan kau ilmu silat!”

Kwee Ceng heran berbareng putus asa.

“Ketujuh gurumu telah bertaruh sama orang,” kembali si imam berkata, “Kalau aku ajarkan kau ilmu silat dan kemudian gurumu tahu, mereka pasti menjadi tidak senang. Mereka adalah orang-¬orang terhormat, dalam hal pertaruhan, mana mereka mau berlaku curang?”

“Pertaruhan apakah itu totiang?” tanya Kwee Ceng.

“Rupanya gurumu belum memberi keterangan padamu, karena itu, sekarang baiklah kau tidak usah menanyakan. Nanti dua tahun lagi, mereka akan memberitahukan padamu. Sekarang begini saja. Kesungguhan hatimu rupanya membuatnya kita berjodoh. Akan aku ajarkan kau ilmu mengendalikan napas, duduk, jalan dan tidur…”

Kwee Ceng heran bukan main. “Ilmu bernapas, duduk, jalan dan tidur..?” pikirnya. “Begitu aku terlahir, aku hampir bisa semua itu sendirinya. Perlu apa kau mengajarinya pula…?” Ia tapinya tutup mulut.

“Kau singkirkan salju di atas batu itu,” kata si imam. “Kau tidur di situ,” lanjutnya kemudian.

Kwee Ceng menjadi semakin heran, tetapi ia menurut, dengan kedua tangannya, ia singkirkan salju itu, habis itu ia terus rebahkan diri di atasnya.

Si imam mengawasi. “Untuk tidur caramu ini, buat apa aku mengajarinya?” katanya. “Aku ada punya empat perkataan, kau ingat baik-baik. Inilah dia: Sue teng cek ceng bong, Tee hie cek kie oen, Sim soe cek cin hoat, Yang seng cek im siauw.”

Kwee Ceng menurut, ia ingat itu dan mengulanginya sampai beberapa kali. Ia ingat terus, tetapi ia tak tahu apa arti sebenarnya. Ia hanya tahu itu berarti: “Pikiran tenang, perasaan terlupa, tubuh kosong, hawa berjalan, hati mati, semangat hidup, yang bangun, im hapus.

Imam itu berkata pula, menerangkan: “Sebelum tidur, orang mesti kosongkan otaknya, jangan pikirkan apapun, barulah naik pembaringan dan rebah miring, napas kasih jalan perlahan-lahan, semangat jangan goncang, jangan ngawur. Nah, begini, kau mesti bernapas.”

Lantas si imam mengajari caranya napas disedot masuk dan keluar sambil bersemadhi. “Sekarang duduklah dan mulai!” katanya pula.

Kwee Ceng menurut mulai mencoba. Mulanya, pikirannya goncang, ada saja yang ia ingat, tetapi ia lawan, ia coba lupai segala apaoun. Lama-lama ia menjadi tenang juga. Hanya, selang satu jam, ia rasai kaki tangannya kaku dan kesemutan.

Si imam bersila di depannya, buka mata. “Sekarang kau rebahlah,” katanya.

Kwee Ceng menurut pula. Ia rebah hingga ia tidur pulas tanpa merasa, akhirnya ia sadar, fajar sudah menyingsing.

“Sekarang kau pulang, sebentar lagi malam datang.” kata si imam, dan ia kerek turun tubuh bocah itu.

Kwee Ceng menurut, maka seterusnya setiap malam ia datang pada si imam, yang kerek ia naik, untuk ia belajar napas, duduk, tidur dan jalan. Selanjutnya ia merasakan suatu keanehan. Si imam tidak ajari ia ilmu lainnya, toh kapan di waktu siang ia berlatih silat, ia rasai tubuhnya jadi ringan sekali dan gesit. Selang setengah tahun, ia lantas dapat lakukan apa-apa yang tadinya ia tidak sanggup lakukan.

Kanglam Liok Koay melihat kemajuan itu, girang sekali. Mereka menyangka kemajuan muridnya ini berkat kerajinan dan keuletannya.

Keanehan lain yang nyata, Kwee Ceng merasa dapat mendaki jurang lebih tinggi dan lebih gampang, baru di bagian yang licin, si imam kerek dirinya.

Satu tahun telah berlalu dengan cepat, maka beberapa bulan lagi akan tibalah saat pibu. Kanglam Liok Koay merasa gembira. Mereka percaya muridnya bakal menang. Mereka juga girang akan lekas kembali ke Kanglam. Maka itu, setiap hari mereka omongkan hal pibu dan bakal pulang.

Pada suatu pagi, Hie Jin kata pada muridnya: “Anak Ceng, selama ini kau belajar mainkan senjata saja, mungkin kau kurang leluasa dengan tangan kosongmu, dari itu mari kau coba-coba.”

Kwee Ceng mengangguk. Ia lantas turut pergi ke tempat berlatih. Hie in sedang hendak mulai berlatih sama muridnya itu ketika kelihatan debu mengepul jauh di sebelah depan dan terdengar berisik suara kuda dan orang. Itulah segerombolan kuda, yang lari larat, dan si penggembala, orang-orang Mongol, repot mengendalikan. Baru semua kuda dapat dibikin tenang dan berkumpul, mendadak dari arah barat datang seekor kuda kecil merah marong, kuda itu menyerbu ke rombongan kuda banyak itu, menggigit dan menyentil, hingga kuda ini menjadi kacau pula. Setelah itu, kuda itu lari pula ke utara dan lenyap. Tapi dia tidak pergi lama, kembali terlihat mendatangi, kembali mengacau rombongan kuda tadi.

Kawanan penggembala itu menjadi dongkol, tapi mereka tidak bisa berbuat apapun. Mereka hendak tangkap kuda merah itu, tetapi tak dapat karena kuda itu lari kabur, lalu berdiri diam di tempat jauh seraya perdengarkan meringkiknya berulang-ulang, rupanya ia puas sudah mengacau….

Liok Koay dan Kwee Ceng heran. Mereka pun kagumi kuda merah itu. Malah Han Po Kie segera hampiri rombongan penggembala itu, tanya kuda itu kepunyaan siapa. Ia penggemar kuda, kudanya sendiri jempolan, tetapi masih kalah jauh dengan kuda merah itu.

“Setahu darimana keluarganya kuda kecil ini,” sahut seorang penggembala. “Baru beberapa hari yang lalu kami lihat dia, kami mencoba menangkap tetapi gagal, dia menjadi penasaran terhadap kami, lau terus-terusan ia mengacau. Dia sangat cerdik dan gesit.”

“Itu bukan kuda,” kata satu penggembala.

“Habis apakah itu?” tanya Po Kie.

“Kuda turunan naga dari langit, dia tidak dapat diganggu!” jawab penggembala itu kemudian.

Seorang penggembala lain tertawa. “Siapa bilang naga bisa menjadi kuda?” katanya. “Ngaco belo!”

“Kau tahu apa, anak kecil? Sudah puluhan tahun aku menggembala kuda, tidak pernah aku lihat kuda semacam ini!” Ia belum tutup mulutnya, kuda merah itu sudah datang menyerbu pula.

Han Po Kie segera bertindak. ia memang seorang ahli kuda, tahu ia sifat atau kebiasaannya hewan itu. Orang Mongol sendiri kagum padanya. Begitulah ia lari ke tempat dimana kuda itu bakal mundur. Tepat dugaannya. Kuda itu lari ke arahnya. Ia kate, ia seperti berada di bawahnya perut hewan itu. tapi ia tak kasih dirinya dilompati, sebaliknya ialah yang melompat ke bebokong kuda itu. Ia kate tapi ia dapat melompat tinggi. Segera ia berada di atas punggung kuda. Ia sudah pandai, ia percaya bakal berhasil, siapa tahu, belum ia sempat mendudukinya, kuda itu sudah lewati dia, hingga ia jatuh ke tanah, cuma tak sampai terguling, ia jatuh sambil berdiri. Ia menjadi dongkol. lantas ia lari mengejar.

Hebat larinya kuda itu, dia tak tercandak, hanya disaat ia lari lewat, tiba-tiba dari samping ada satu orang yang lompat menyambar kepadanya, memegang surinya. Dia kaget, dia lompat dan lari, karena mana, dia kena bawa orang yang menyambarnya itu, sebab orang itu tidak mau melepas cekalannya.

Semua penggembala menjadi terkejut, mereka berteriak. kanglam Liok Koay pun terkejut, karena itu adalah Kwee Ceng yang menyambar kuda itu. Disamping itu mereka heran kapan bocah ini pelajari sifatnya hewan, dan kapan ia mempelajari keng-sin-sut, ilmu meringankan tubuh.

“Selama satu tahun ini, kemajuan anak Ceng sangat pesat,” kata Siauw Eng. “Mungkinkah ia dipayungi ayahnya almarhum? Mungkinkah ngo-ko…?”

Nona ini tidak tahu, kepandaian Kwee Ceng itu adalah hasil ajaran si imam konde tiga, karena ketekunan Kwee Ceng sendiri yang bebal tapi rajin dan ulet. Setiap malam ia naik turun jurang, tanpa ia merasa, ia tengah meyakinkan ilmu ringan tubuh yang sangat lihay, yaitu “Kim-gan-kang” atau ilmu “Burung Welilis Emas.” Dia cuma tahu si imam konde tiga itu sangat baik hati suka memberi pengajaran kepadanya hingga ia dapat bersemadhi…

Selagi Liok Koay bicarakan muridnya, tahu-tahu si murid sudah kembali bersama kuda merah itu, yang terus angkat kedua kaki depannya, untuk berdiri, kemudian ia meyentil dengan kedua kaki belakangnya. Kwee Ceng tidak rubuh karenanya, ia memegangi dengan keras, kedua kakinya menjepit. Po Kie pun segera ajar dia bagaimana harus membikin jinak kuda. Masih saja kuda itu berjingkrakan, ingin menjungkirkan penunggangnya.

Si penggembala, yang percaya kuda itu adalah turunan naga, sudah lantas berlutut dan memuji supaya janganlah Tuhan bergusar karena kudanya itu dipermainkan…

Siauw Eng pun lantas berteriak, “Anak Ceng, lekas turun. Kasih sam-suhu gantikan kau!”

“Jangan!” teriak Po Kie, mencegah. “Kalau digantikan, dia bakal gagal!” Ia tahu, kalau seorang dapat menakluki kuda binal, kuda itu bakal tunduk untuk selama-lamanya kepada penakluk itu.

Kuda itu masih berjingkrakan, rupanya ingin dia membikin penunggangnya jungkir balik, tetapi Kwee Ceng terus memegang erat-erat, malah kemudian, bocah ini memeluk ke leher, tenaganya dikerahkan, makin lama makin keras pelukan itu. Akhirnya, kuda itu sukar bernapas, lalu ia berhenti meronta-ronta, dia berdiri diam!

“Bagus! Bagus!” seru Po Kie. “Dia berhasil”

Kwee Ceng khawatir kuda itu bakal lari atau kabur, ia tidak mau lantas turun.

“Cukup sudah!” Po Kie bilang pada muridnya. “Kau turun! Dia sudah tunduk kepadamu, walaupun kau usir, dia tidak akan lari!”

Mendengar itu barulah Kwee Ceng lompat turun. Kuda itu benar tidak lari, sebaliknya, dia jilati belakang telapak tangan si bocah, dia jadi jinak sekali.

Menampak itu, dari kaget dan heran, orang menjadi tertawa!

Satu penggembala dekati kuda itu, ia dipersen jentilan hingga ia terjungkal!

Kwee Ceng lantas tuntun kuda itu ke sisi instal, untuk gosoki keringatnya, membersihkan badannya.

Liok Koay tidak suruh muridnya itu berlatih lebih jauh, dengan masing-masing mereka merasa heran, mereka masuk ke kemah mereka.

Tengah hari, habis bersantap, Kwee Ceng pergi ke kemah gurunya.

“Anak Ceng, ingin aku lihat seberapa jauh kau punya ilmu Kay-san-ciang,” berkata Coan Kim Hoat pada muridnya itu.

“Disini?” sang murid tegaskan.

“Ya. Di mana saja orang bisa menghadapi musuh, maka orang mesti siap akan bertempur di kamar yang kecil.” Kata-kata itu disusul sama ancaman tangan kiri dan tinju kepalan kanan.

Kwee Ceng menangkis dan berkelit, malah terus sampai tiga kali, setelah diserang untuk keempat kalinya, ia membalas. Kim Hoat menyerang dengan hebat, malah ia terus gunai jurusnya “Masuk ke dalam gua harimau”. Ia mengarah ke dada. Ini bukan jurus latihan, tapi serangan benar-benar yang berbahaya.

Kwee Ceng mundur, hingga bebokongnya nempel sama tenda. Ia kaget sekali. Tentu saja, hendak ia membela diri. Ia putar tangan kirinya, guna menyingkirkan dua tangan gurunya itu. Akan tetapi hebat serangan si guru, Cuma tempo ia menggenai dada muridnya, ia rasai dada muridnya itu lembek seperti kapuk, lalu tangannya kena dihalau!

Untuk sejenak Kwee Ceng tercengang, tapi segera ia berlutut di depan gurunya itu.” Teecu salah, silahkan liok-suhu menghukum,” ia menyerah. Ia takut sekali, tak tahu ia bersalah apa maka gurunya serang ia secara demikian telengas.

Tin Ok semua bangkit, mereka semua menunjuk roman bengis.

“Secara diam-diam kau turut orang lain belajar silat, kenapa kau tidak beritahu itu pada kita?!” tegur Cu Cong. “Coba tidak liok-suhu mencoba padamu, kau tentu tetap hendak menyembunyikannya, bukan?!”

“Cuma guru Jebe mengajari teecu main panah dan tombak,” Kwee Ceng menjawab. Ia omong dengan sebenarnya. Si imam konde tiga tidak ajarkan ia ilmu silat, cuma ilmu semadhi, sedang ilmu meringankan tubuh, diajarkan diluar tahunya.

“Masih kau berdusta?!” Cu Cong bentak pula.

Kwee Ceng menangis, air matanya mengucur keluar. “Suhu semua memperlakukan teecu sebagai anak, mana berani teecu berdusta?” sahutnya.

“Habis darimana kau dapat kepandaian tenaga dalam?!” Cu Cong masih bertanya. “Apakah kau hendak andalkan gurumu yang lihay itu maka kau jadi tidak pandang lagi kami berenam?! Hm!”

“Tenaga dalam?” Kwee Ceng melengak. “Sedikit pun teecu tidak mengerti itu.”

“Fui!” seru Cu Cong sambil ia ulurkan tangannya ke jalan darah hian-kee-hiat di bawah tulang iga. Siapa terkena itu, ia mesti pingsan.

Kwee Ceng tidak berkelit atau menangkis, ketika totokannya Cu Cong mengenai, dagingnya bergerak sendirinya, membikin totokan itu kena dikemampingkan. Si bocah Cuma merasakan sakit, ia tak kurang suatu apapun.

Cu Cong tidak menggunai tenaga sepenuhnya, tapi ia terkejut dan heran.

“Nah, apakah ini bukannya tenaga dalam!” serunya.

Kwee Ceng terkejut. “Adakah ini hasil latihannya totiang?” ia tanya pada dirinya sendiri. Lalu ia mengasih keterangan: “Selama dua tahun ini, ada orang yang setiap malam mengajari teecu bagaimana harus menyedot napas, duduk bersila dan tidur, teecu anggap ajaran itu menarik hati, teecu ikuti ia belajar terus. Sama sekali ia tidak ajarkan ilmu silat pada teecu. Cuma ia pesan supaya teecu jangan memberitahukan hal itu pada siapa pun. Teecu anggap hal ini bukan perbuatan busuk, teecu juga tidak mensia-siakan pelajaranku, dari itu teecu tidak memberitahukan kepada suhu semua.” Ia lantas mengangguk-angguk dan menambahkan: “Teecu tahu teecu bersalah, lain kali teecu tidak berani pergi bermain pula…”

Enam guru itu saling pandang. Terang murid ini tidak berdusta.

“Apakah kau tidak tahu, pelajaranmu itu bukan tenaga dalam?” tanya Siauw Eng yang menegaskan. Tenaga dalam itu adalah Iweekang (laykang).

“Benar-benar teecu tidak tahu kalau itu adalah pelajaran tenaga dalam,” Kwee Ceng menyahut. “Dia suruh teecu duduk, untuk menarik dan mengeluarkan napas dengan perlahan-lahan, selama itu, tidak boleh teecu pikirkan apapun juga. Mulanya sulit, tetapi kemudian teecu merasakan hawa panas keluar masuk, dan ini menarik hati…”

Liok Koay heran berbareng girang di dalam hati. Tidak mereka sangka, muridnya ini telah dapatkan Iweekang sedemikian rupa.

Kwee Ceng jujur, hatinya bersih, dari itu, ia dapat meyakinkan Iweekang lebih cepat dari siapapun juga.

“Siapa yang ajarkan kau ilmu itu?” Cu Cong tanya. “Di mana dia mengajarkannya?”

“Dia tidak mau beritahu she dan nama atau gelarannya pada teecu, dia juga larang teecu memanggil suhu padanya,” Kwee Ceng jawab. “Malah dia suruh teecu bersumpah untuk tidak menjelaskan roman tubuh dan wajahnya.”

Liok Koay semakin heran, mereka menjadi curiga. Mulanya mereka menyangka Kwee Ceng cuma bertemu orang pandai, tapi kalau begini, mesti ada sebab lainnya lagi. Sebab apakah itu?

“Nah, pergilah kau!” kata Cu Cong kemudian.

“Selanjutnya teecu tidak berani pergi bermain-main pula dengan dia,” kata Kwee Ceng.

“Tidak apa-apa, kau boleh pergi main seperti biasa,” kata Cu Cong. “Kami tidak persalahkan padamu, asal kau tidak beritahukan dia bahwa kami telah ketahui urusan ini.”

“Baik, suhu,” kata Kwee Ceng, yang terus undurkan diri. Ia girang gurunya tidak marah. Setibanya di kemah, di sana Gochin sudah menanti, di sampingnya ada dua ekor rajawali putih. Kedua burung itu telah besar dengan cepat, berdiri di tanah, keduanya melebihkan tingginya tuan putri itu.

“Lekas, telah setengah harian aku menunggu kau!” kata putri itu.

Seekor rajawali angkat kakinya dan pentang sayapnya, terus ia terbang mencablok di pundaknya Kwee Ceng.

Dengan berpegangan tangan, dua kawan ini lari ke tegalan, untuk bermain dengan burung mereka.

Di dalam kemah, Liok Koay berbicara. “Dia ajarkan ilmu kepada anak Ceng, dia tentu tidak bermaksud buruk,” Siauw Eng mengutarakan pikirannya.

“Hanya kenapa dia tidak menghendaki kita mendapat tahu?” tanya Kim Hoat. “Kenapa pada anak Ceng juga ia tidak menjelaskan hal Iweekang itu?”

“Mungkin dia adalah kenalan kita,” Cu Cong bilang.

“Kenalan?” ulangi Siauw Eng, “Kalau dia bukan sahabat, tentulah ia itu musuh…”

Kim Hoat berpikir. “Di antara kenalan kita, rasanya tak ada yang berkepandaian seperti dia….” katanya.

“Kalau dia musuh, nah untuk apakah ia mengajari anak Ceng?” Siauw Eng tanya pula.

“Siapa tahu kalau dia tidak tengah mengatur daya upaya busuk?” kata Tin Ok dingin.

Semua saudara itu terkejut.

“Kalau begitu, baiklah sebentar malam aku dan liok¬tee pergi ikuti anak Ceng untuk lihat orang itu,” kata Cu Cong kemudian.

Tin Ok berlima mengangguk.

Malam itu Cu Cong dan Kim Hoat menanti di luar kemah ibunya Kwee Ceng.

“Ibu, aku hendak pergi!” begitu terdengar suara sang murid, lalu ia lari keluar, cepat larinya. Kedua guru itu segera menguntit dari kejauhan. Syukur di tanah datar itu tak ada sesuatu rintangan, maka itu, mereka dapat terus memasang mata. Mereka sendiri tidak khawatir nanti terlihat si murid, yang larinya benar pesat sekali. Sampai di lembah, masih si murid lari terus.

Ketika itu, dengan ilmunya maju pesat, Kwee Ceng dapat mendaki jurang tanpa bantuan lagi. tentu saja, Cu Cong dan Kim Hoat heran bukan main. Mereka menanti, sampai Tin Ok berempat datang menyusul. Mereka ini berbekal senjata, khawatir nanti ketemu musuh lihay. Cu Cong ceritakan halnya Kwee Ceng naik ke atas jurang.

Siauw Eng dongak, ia lihat mega hitam, ia gegetun.

“Mari kita sembunyi disini, tunggu sampai mereka turun,” Tin Ok mengatur.

Mereka lantas ambil tempatnya masing-masing. Siauw Eng berpikir keras. Suasana malam ini mengingati ia malam itu tempo mereka mengepung Hek Hong Siang Sat dengan kesudahannya Thio A Seng menutup mata untuk selamanya. Ia menjadi sangat berduka.

Sang waktu lewat detik demi detik, di atas jurang tidak terdengar gerak apapun juga. Tanpa terasa, sang fajar telah menyingsing, sang matahari sudah keluar, puncak jurang tetap sunyi senyap, malah Kwee Ceng tak tampak turun. Tak tampak juga orang yang dikatakan gurunya itu.

Lagi satu jam mereka menanti dengan sia-sia, akhirnya Cu Cong mengusulkan naik ke atas guna melihat.

“Bisakah kita naik?” Kim Hoat tanya.

“Belum tentu, kita coba saja,” sahut kakak yang kedua itu.

Cu Cong terus lari pulang ke kemah untuk ambil dadung, dua buah kampak serta beberapa puluh potong paku besar. Tempo mereka mulai menanjak, mereka gunai paku itu, mereka saling menarik. Setelah bermandikan keringat, keduanya tiba juga di atas. Segera juga mereka berseru karena kagetnya.

Di samping batu besar ada teratur sembilan buah tengkorak putih, di bawah lima, di tengah tiga di atas satu, tepat dengan pengaturan Hek Hong Siang Sat dahulu. Semua tengkorak itu pun ada lubangnya, bekas totokan jari tangan, seperti terkorak kena pisau tajam. Di pinggiran lubang itu ada tanda hitam, diperkirakan sisa racun.

Keduanya kebat-kebit hatinya. Yang aneh, di situ tak ada orang, entah kemana perginya Kwee Ceng serta orang yang dikatakan gurunya. Maka lekas-lekas mereka turun pula, hati mereka tegang dan cemas.

Po Kie semua heran, mereka lantas tanya ada apa dan kenapa dengan kedua saudara itu.

“Bwee Tiauw Hong!” sahut Cu Cong, masih tegang hatinya.

Empat saudara itu terperanjat.

“Anak Ceng?” tanya Siauw Eng.

“Entahlah,” sahut Kim Hoat, “Mungkin mereka turun dari sebelah…” Ia lalu menjelaskan apa yang mereka lihat di atas sana.

“Belasan tahun cape lelah kita, siapa tahu, kita memelihara harimau untuk meninggalkan bahaya di kemudian hari,” kata Tin Ok masgul.

“Anak Ceng jujur dan polos, dia bukan manusia yang tak berbudi,” kata Siauw Eng, sangsi.

“Habis kenapa ia ikuti si siluman itu selama dua tahun dan ia menutup mulut terus?” tanya Tin Ok.

“Apakah toako mau artikan si perempuan siluman buta itu hendak pinjam tangan anak ceng untuk mencelakai kita?” tanya Po Kie.

“Mestinya begitu,” sahut Cu Cong, yang akur sama kakaknya.

“Taruh kata anak Ceng mengandung maksud tidak baik, dia dapat berpura-rupa sedemikian rupa,” Siauw Eng tetap bersangsi.

“Mungkin siluman perempuan itu anggap waktunya belum tiba dan dia belum menjelaskan sesuatu kenapa anak ceng…” Kim Hoat pun mengutarakan dugaannya.

“Tubuh anak Ceng sudah cukup enteng, Iweekangnya sudah punya dasar, tetapi ilmu silatnya masih kalah jauh dengan kita, kenapa si perempuan siluman itu tidak ajarkan dia ilmu silat?” tanya Po Kie. ia pun heran.

“Perempuan siluman itu hendak pakai tangannya si Ceng, mana dia begitu baik hati hendak menurunkan kepandaiannya?” kata Tin Ok. “Bukankah suaminya terbinasa di tangannya si Ceng?”

Semua orang berdiam, mereka menggigil dengan sendirinya. Hebat ancaman bahaya yang mereka khawatirkan itu.

Tin Ok menghajar tanah dengan tongkatnya.

“Sekarang mari kita pulang!” ia mengajak. “Kita berpura-pura tidak tahu, kita tunggu si Ceng datang pada kita, lalu tiba-tiba kita hajar dia hingga cacat. Biar pun ia lihay, mustahil kita berenam kalah…”

Siauw Eng kaget, “Anak Ceng hendak dibikin cacat?!” serunya. “Habis bagaimana dengan janji pibu?”

“Lebih penting nyawa kita atau pibu itu?” tanya Tin Ok.

Si nona berdiam begitupun yang lainnya.

“Tidak bisa!” seru Hie Jin kemudian.

“Tidak bisa apa?” tanya Po Kie.

“Dia tak dapat dibikin cacat!” jawab Hie Jin.

“Tidak dapat?” Po Kie tegaskan pula.

Hie Jin mengangguk.

“Aku setuju sama sie-ko,” bilang Siauw Eng. “Lebih dulu kita mesti mencari kepastian, baru kita pikir pula.”

“Tapi urusan ini sangat penting. “ Cu Cong peringati, “Kalau kita salah tindak karena kita merasa kasihan terhadapnya, tak dapat diduga bagaimana hebatnya bencana yang bakalan terjadi. Bagaimana kalau tindakan kita bocor?”

“Memang inilah berbahaya,” kata Kim Hoat.

“Samtee, bagaimana kau?” tanya Tin Ok.

Po Kie bersangsi, akan tetapi kapan ia saksikan air mata adiknya, ia lantas tetapkan hatinya. “Aku di pihak sietee,” jawabnya.

Dari enam bersaudara itu, tiga setuju Kwee Ceng dibikin cacad dan tiga tidak, maka akhirnya, Cu Cong menghela napas. “Coba ngotee ada di sini, kita pasti akan memperoleh putusan, salah satu pihak tentulah lebih satu suara.”

Mendengar disebut-sebutnya A Seng, berhneti mengucur air mata Siauw Eng. Ia kata: “Sakit hati ngoko mana dapat tidak dibalaskan! Toako, kami dengar titahmu!”

“Baiklah!” kata toako itu. “Mari kita pulang dulu!”

Di dalam kemah, mereka masih ragu-¬ragu, hati mereka tidak tenang. Maka Tin Ok bilang: “Kalau benar ia datang, jietee sama lioktee, kamu halangi mereka, nanti aku yang turun tangan!”

Demikian mereka bersiap sedia.

Tin Ok bersama Cu Cong dan Coan Kim hoat bukan bangsa sembrono akan tetapi menyaksikan keanehan Kwee Ceng dan di atas jurang kedapatan itu sembilan tengkorak dari Bwee Tiauw Hong, kepercayaan mereka bahwa Bwee Tiauw Hong adalah orang yang mengajari Iweekang kepada murid mereka.

Nyatanya, tidaklah demikian duduknya hal. Kapan tadi malam Kwee Ceng tiba di atas jurang, si imam sudah menantikan dia, hanya si imam ini segera menunjuk seraya berkata: “Kau lihat, apakah itu?”

Di bawah sinar rembulan guram, Kwee Ceng lihat sembilan tengkorak. Tentu saja ia menjadi kaget. “Adakah ini diatur oleh Hek Hong Saing Sat?” ia tanya.

“Eh, kau pun kenal Hek Hong Siang Sat?” si imam tanya, heran.

Kwee Ceng mengangguk. Ia tuturkan hal pertempuran gurunya semua dengan Hek Hong Siang Sat itu dengan kesudahan gurunya yang kelima terbinasa. ia pun kasih tahu bagaimana dengan cara kebetulan ia dapat menikam mati pada Tan Hian Hong.

Si imam itu tertawa. “Kiranya si Mayat Perunggu yang lihay itu terbinasa di tanganmu!” katanya.

“Tetapi totiang, adakah si Mayat Besi itu datang? Apakah totiang dapat lihat padanya?” tanya Kwee Ceng.

“Aku belum lama sampai disini,” sahut si imam. “Tempo aku sampai, tumpukan ini sudah ada. Tadinya aku menyangka ini permainan gila dari muridnya Oey Yok Su dari Tho Hoa To. Tanghay. Kalau begitu, tentulah si Mayat Besi datang untuk mencari guru¬gurumu itu.”

“Dia telah buta kedua matanya kena dihajar toasuhu, kami tidak takut,” kata Kwee ceng.

Si imam jumput satu tengkorak, ia periksa itu, lalu ia menggeleng-geleng kepala. “Orang ini hebat ilmu silatnya,” katanya kemudian. “Aku khawatir gurumu itu bukan tandingannya. Umpama kata aku pun membantu pihakmu, masih belum tentu kita menang.”

Si imam bicara dengan sungguh-sungguh, Kwee Ceng kaget dan heran.

“Pada belasan tahun dulu dia masih belum buta, dia masih tidak dapat lawan tujuh guruku,” ia bilang. “Dan sekarang kita ada berdelapan….”

“Sebelum kau datang, aku pun telah memikirkannya,” berkata si imam. “Tidak dapat aku menduga sampai dimana lihaynya jeriji-jeriji tangannya itu, maka sekarang kita harus mengerti, setelah toh dia datang untuk mencari, dia mestinya ada punya andalan”.

“Sebenarnya mau apa dia menyusun tengkorak¬-tengkorak di sini?” Kwee Ceng tanya. “Apakah bukan sengaja dia hendak membikin kita tahu dan bersiap sedia?”

“Aku pikir tidak demikian. Tengkorak ini ada hubungannya sama Kiu Im Pek-ku iauw, maka itu aku percaya, dia rupanya menyangka orang tak bakal datang ke tempat ini, siapa tahu, kita justru biasa datang kemari hingga kita mempergokinya.”

Hati Kwee ceng menjadi tidak tenang. “Kalau begitu baiklah aku lekas pulang untuk memberitahukan guru-guruku,” katanya.

“Baiklah,” sahut si imam. “Sekalian kau bilang bahwa ada satu sahabat memesan dengan bahwa lebih baik mereka menyingkir dari dia, untuk mereka memikirkan daya perlawanannya. Tak dapat dia dilawan keras.”

Kwee ceng terima pesan itu, lantas ia hendak berlalu, tiba-tiba si imam sambar pinggangnya, dipondong diajak berlompat ke belakang batu besar, keduanya berjongkok. kaget bocah ini, ia hendak menanyakan sebabnya, mulutnya didului dibekap, diajak mendekam.

“Jangan bersuara,” bisik si imam yang terus mengintai.

Dalam herannya, Kwee Ceng berdiam dan turut mengintai juga.

Orang tidak usah menanti terlalu lama akan lantas terlihat berkelebatnya bayangan, disusul munculnya satu tubuh, yang dibawah sinar rembulan tampak nyata. Itulah Tiat-sie Bwee Tiauw Hong si Mayat Besi dengan rambutnya yang panjang riap-¬riapan. Entah bagaimana dia naiknya, padahal belakang jurang itu tebingnya lebih terjal daripada bagian depan.

Kwee Ceng terkejut ketika Bwee Tiauw Hong memutar tubuh, matanya memandang ke tempat sembunyi mereka. Tapi si Mayat Besi tidak lihat siapapun, dia terus dududk bersila di atas batu di mana biasa si anak muda bersemadhi. Di situ ia lantas meyakinkan ilmu dalamnya. Melihat ini insyaflah Kwee Ceng akan pentingnya ilmu yang si imam ajarkan padanya, ia sangat bersyukur pada si imam konde tiga yang tidak dikenal ini.

Berselang sesaat, tubuh Bwee Tiauw Hong perdengarkan suara meretek, mulanya perlahan, lalu menjadi nyaring seperti meletusnya suara kacang goreng yang digoreng terlalu matang. Cuma suara yang terdengar, tubuhnya sendiri tidak bergerak, Kwee Ceng heran walaupun ia tidak mengerti latihan orang yang luar biasa itu.

Tak lama, dari keras dan nyaring, suara mereteknya Tiauw Hong menjadi kendor, lalu berhenti. Habis itu, dia bangkit berdiri, tangan kirinya menarik sesuatu dari pinggang. Kwee Ceng hanya lihat berkelebatnya sinar putih perak dari suatu benda seperti ular panjang. Ia terkejut pula. Sekarang ia melihat nyata itulah joan pian, cambuk lemas putih yang mengkilap. Kim-liong¬pian dari Han Po Kie panjang Cuma enam kaki, cambuk ini berlipat sepuluh kali. Mungkin enam tombak. Cambuk ini terus dicekal di tengah kedua tangan, sambil tertawa, Tiauw Hong lantas bersilat. Hebat bergeraknya cambuk lemas itu, cepatnya luar biasa. Yang hebat adalah tempo cambuk dipegang ujungnya dengan sebelah tangan kanan, ujungnya yang lain menghajar batu besar!

Kwee Ceng dibikin kaget sama ujung cambuk yang menyambar ke arahnya. Ia lihat tegas, ujung itu ada punya belasan gaetan yang tajam. Ia tidak takut, untuk bela diri, ia cabut pisaunya yang tajam, untuk dipakai menangkis. Belum lagi kedua senjatanya beradu, ia rasakan lengannya sakit sekali, lengan itu orang kasih paksa turun sedang bebokongnya ditekan supaya ia mendekam pula. Ia bergerak tanpa ia merasa.

Sekejap saja, ujung cambuk lewat di atasan kepalanya!

Anak tanggung ini mengeluarkan peluh dingin. “Kalau totiang tidak tolong aku, habis hancur kepalaku…” pikirnya.

Setelah matanya buta, Bwee Tiauw Hong sengaja meyakinkan cambuk lemas. Kupingnya menjadi terang sekali, sedikit saja suara berkelisik, ia dapat dengar. Dalam jarak enam tombak, sukar orang lolos dari cambuknya yang panjang itu, yang ia telah latih dengan sempurna..

Dengan ketakutan, Kwee Ceng mendekam, napasnya ia tahan.

Habis berlatih, Tiauw Hong simpan cambuknya itu. Sekarang ia keluarkan sesuatu dari sakunya, lalu tangannya meraba-raba. Ia berdiam, seperti lagi memikirkan sesuatu. Ketika ia bangkit, bikin gerakan seperti berlatih silat. Ia kembali meraba barangnya itu , lagi ia berpikir. Beberapa kali ia berbuat begitu, baru ia simpan pula barangnya itu. Akhirnya ia ankat kaki, berlalu dari belakang jurang darimana ia datang tadi.

Kwee Ceng menghela napas lega. Ia bangkit.

“Mari kita ikuti dia, entah ia bakal kasih pertunjukkan apalagi,” berkata si imam, lantas bangun. Malah ia sambar pinggang bocah itu, turun dari belakang jurang. Kwee Ceng dapat kenyataan, dibagian belakang ini, orang pun bisa naik dengan melapati di oyot rotan. Cara ini telah digunakan si Mayat Besi.

Setibanya mereka di bawah, terlihat Tiauw Hong berada jauh di arah utara. Si imam kempit Kwee Ceng, ia lari menyusul. Dan Kwee Ceng merasakan dirinya seperti dibawa terbang. Lama mereka berlari, langit mulai terang, Tiauw Hong tiba di tempat di mana banyak kemah, ia menghilang. Si imam mencoba mengikuti terus, walaupun mesti menyingkir dari serdadu-serdadu penjaga.

Di tengah-tengah ada kemah terbesar, tendanya berwarna kuning, si imam mendekam, lalu ia dan Kwee Ceng menyingkap tenda, melihat ke dalam.

Justru itu terlihat satu orang dengan goloknya membacok seseorang, yang rubuh dengan segera dan binasa, rubuhnya ke dekat tenda di mana dua orang itu tengah mengintai.

Kwee Ceng kenal si terbunuh itu adalah pengiringnya Temuchin, ia menjadi heran. Ia singkap lebih tinggi tenda, untuk melihat tegas si pembunuh, yang kebetulan menoleh, ternyata Sangum, putra Wang Khan. Dia itu sudah lantas susuti goloknya pada sepatu.

“Sekarang kau tidak akan sangsi pula, bukan?” berkata Sangum itu.

Di situ ada satu orang lagi, lalu berkata, ”Saudara angkatku Temuchin pintar dan gagah, belum tentu kau akan berhasil.”

Sangum tertawa dingin, dia berkata “Jikalau kau menyayangi kakak angkatmu, nah, pergilah kau melaporkannya!”

Orang itu menyahut “Kau adalah adik angkatku, ayahmu juga perlakukan aku baik sekali, sudah tentu aku tidak bakal sia-siakan kamu!”

Kwee Ceng kenal orang itu adalah saudara angkat sehidup semati dari Temuchin, yaitu Jamukha, ia menjadi heran sekali. Pikirnya “Mustahilkah mereka bersekutu untuk mencelakai Khan yang agung? Bagaimana ini bisa terjadi?”

Lalu terdengar seorang lain “Setelah kita berhasil, maka semua ternak, perempuan dan harta Temuchin jatuh ke tangan Sangum, semua bawahannya untuk Jamukha, dan dari pihak kami negara Kim yang besar, Jamukha bakal diangkat menjadi Tin Pak Ciauw-touw-su.”

Pangkat itu adalah pangkat tertinggi untuk wilayah utara dengan tugas memanggil menakluk dan menghukum pemberontak.

Kwee Ceng tidak melihat tegas muka orang itu, karena orang itu berdiri membelakanginya, maka ia menggeser dan melihat dari samping, ia seperti mengenalinya. Orang itu memakai jubah bulu yang mahal, dandannya mewah. Ia tak usah mengingat lama, “Ah,,,, pangeran keenam dari negara Kim!”

Jamukha tertarik dengan janji itu, ia berkata: “Asal saja ayah angkatku Wang Khan memberikan titahnya, aku tentu menurut.”

Sangum menjadi girang sekali “Berapa susahnya ayahku memberi titah? Sebentar akan aku minta titahnya, pasti ia memberikannya!”

Wanyen Lieh, si putra Raja Kim yang keenam itu, berkata “Negeriku yang besar bakal lantas berangkat ke Selatan untuk menumpas kerajaan Song, kamu berdua masing-masing boleh memimpin duapuluh ribu serdadu untuk membantu, setelah berhasil, kamu bakal dapat hadiah lagi!”

Sangum girang sekali, ia berkata “Kabarnya negara di Selatan itu adalah negara yang indah permai, tanahnya penuh dengan emas dan perempuannya bagaikan bunga-bunga, jika Tuan Pangeran mengajak kita bersaudara pergi ke sana, sungguh bagus sekali!”

Wanyen Lieh tersenyum “Sekarang tolong kedua tuan kasih tahu, bagaimana cara menghadapi Temuchin?”.

Selagi Kwee Ceng memasang kuping, si imam menarik ujung bajunya, ia menoleh, si imam menunjuk ke belakang. Ia lantas berbalik. Terlihat Bwee Tiauw Hong sedang membekuk satu orang, rupanya sedang menanyakan sesuatu.

“Apapun yang dia lakukan, sementara ini guru-guruku tidak menghadapi bahaya,” Kwee Ceng berpikir. “Biar aku dengar persekutuan mereka ini yang hendak mencelakai Khan yang agung.” Maka itu ia mendekam terus seraya memasang kuping.

Terdengar Sangum berkata “Temuchin itu telah jodohkan putrinya kepada putraku, baru saja ia kirim utusan untuk membicarakan hari pernikahan.” Dia menunjuk orangnya Temuchin yang telah ia binasakan itu. Dan lanjutnya kemudian “Aku sudah lantas kirim orang untuk memberi balasan, aku minta besok datang sendiri berembuk bersama ayahku. Aku percaya ia bakal datang dan tentunya tanpa membawa banyak pengiring, saat itu kita sembunyikan orang disepanjang jalan. Temuchin boleh mepunyai tiga kepala dan enam tangan, ia takkan lolos dari jaring perangkapku ini! Ha-ha-haha!”

Kwee Ceng kaget dan marah besar. Ia tidak sangka ada orang sedemikian jahat, yang hendak membinasakan saudara angkatnya sendiri. Ia masih hendak mendengar lebih jauh ketika si imam menekannya untuk lebih mendekam, menyusul Tiauw Hong berkelebat lewat, di tangannya ada orang yang dikempitnya. Sekejap saja, si Mayat Besi sudah lewat jauh.

Si imam tarik tangan si bocah, meninggalkan kemah beberapa puluh tindak, lalu ia berbisik “Tiauw Hong cari orang untuk menanyakan tempat kediaman gurumu. Mari lekas, kalau terlambat bisa gagal!”

Kwee Ceng terpaksa menurut, maka bersama-sama mereka lari pesat, menuju kemahnya Kanglam Liok Koay. Ketika itu hari telah siang. Di sini si imam berkata “Sebenarnya tidak ada niat perlihatkan diri, akan tetapi urusan begini penting, bahaya tengah mengancam, tidak dapat aku tinggal diam lebih lama lagi. Pergilah kau masuk ke dalam, bilang pada gurumu bahwaTan-yang-cu Ma Goik mohon bertemu sama Kanglam Liok Koay.”

Dua tahun Kwee Ceng ikuti imam ini, baru sekarang ia mengetahui namanya. Cuma ia tetap belum tahu, siapa imam ini yang semestinya lihay. Ia mengangguk, lalu lari ke dalam kemah. “Suhu!” ia berseru lalu menyingkap tenda. Baru saja ia memanggil itu, mendadak dua tangannya sakit, kena pukulan orang, disusul sakit di kakinya yang kena ditendang, iapun rubuh, sebatang tongkat melayang ke kepalanya! Bukan main kagetnya, karena penyerangnya itu Kwa Tin Ok, gurunya yang nomor satu. Ia meramkan mata, untuk menantikan kebinasaannya.

Terdengar suara senjata bentrok, satu orang melompat kepada anak tanggung itu. Kwee Ceng segera kenali gurunya yang ketujuh, ialah Han Siauw Eng, siapa terus berseru “Toako, tahan!”. Pedang guru itu telah terpental.

Tin Ok menghela napas, ia tancap tongkapnya. “Citmoay, hatimu lemah sekali!” katanya perlahan.

Sekarang Kwee Ceng melihat, orang yang menyambar tangannya adalah Cu Cong dan Coan Kim Hoat. Ia menjadi sangat bingung.

“Mana dia gurumu yang mengajarkan kau ilmu dalam?!” tanya Tin Ok kemudian dengan dingin.

“Dia ada di luar, dia mohon bertemu sama suhu semua,” sahut Kwee Ceng.

Bukan main kagetnya Tin Ok berenam! Bagaimana mungkin Bwee Tiauw Hong datang diwaktu siang hari bolong? Maka bersama-sama mereka lompat keluar tenda. Di bawah terangnya sinar matahari, tampak seorang imam tua, Bwee Tiauw Hong sendiri tidak ada bayangannya sekalipun.

“Mana itu siluman perempuan” Cu Cong bentak muridnya.

“Teecu telah lihat dia tadi, mungkin sebentar lagi bakal datang kemari,” sahut itu murid.

Kanglam Liok Koay berdiam, lalu mereka mengawasi Ma Giok, mereka berenam menjadi ragu-¬ragu.

Imam itu bertindak maju, ia menjura “Sudah lama pinto mengagumi tuan-tuan, sekarang kita dapat bertemu, sungguh pinto merasa sangat beruntung,”.

Cu Cong lepaskan tangan Kwee Ceng, yang masih di peganginya. Ia membalas hormat. Lantas berkata “Tidak berani memohon tanya gelaran totiang.”

Sekarang Kwee Ceng ingat, ia lantas berkata: “Inilah Tan-yang-cu Ma Goik Ma Totiang.”

Liok Koay heran, mereka terperanjat. Mereka tahu Ma Giok itu adalah murid kepala dari Ong Tiong Yang, yang menjadi kauwcu atau kepala agama dari Coan Cin Kauw. Setelah wafatnya Ong Tiong Yang, dengan sendirinya dia menjadi pengganti kepala agama itu. Tiang Cun Cu Khu Cie Kee adalah adik seperguruan dari Ma Giok ini. Dia biasanya berdiam di dalam kelentengnya, jarang sekali ia membuat perjalanan, dari itu, dalam hal nama ia kalah terkenal dengan Khu Cie Kee, sedang tentang ilmu silatnya, tidak ada orang yang tahu.

“Kiranya ciang-kauw dari Coan Cin Kauw!” berkata Tin Ok. “Maafkan kami! Entah ada pengajaran apa dari ciang-kauw maka telah datang ke gurun Utara ini? Adakah kiranya berhubungan sama janji suteemu mengenai pibu di Kee-hin nanti?”

“Suteeku itu adalah seorang pertapa, tetapi ia masih gemar sekali dalam urusan pertaruhan,” kata Ma Giok, “Mengenai tabiatnya itu, yang bertentangan dengan agama kami, sudah beberapa kali pinto menegurnya. Mengenai pertaruhan itu sendiri, pinto tidak ingin memcampurinya. Kedatanganku ini adalah untuk urusan lain. Pertama-tama pinto ingin bicara tentang anak ini. Pinto bertemu dengannya pada dua tahun yang lalu, pinto lihat dia polos dan jujur, dengan lancang pinto ajari dia cara membantu panjang umur. Pinto belum dapat perkenan tuan-tuan, maka sekarang pinto mohon tuan-tuan tidak berkecil hati.”

Liok Koay heran tetapi tidak dapat mereka tidak mempercayainya. Coan Kim Hoat lantas saja lepaskan cekalannya kepada muridnya itu.

Siauw Eng menjadi girang sekali. “Adakah totiang ini yang ajarkan kamu ilmu?” ia tanya muridnya. “Kenapa kau tidak hendak memberitahukannya dari siang-siang, hingga kami menjadi keliru menyangka terhadapmu?” Ia mengusap-usap rambut muridnya itu, nampaknya ia sangat menyayangi.

“Totiang larang aku bicara,” Kwee Ceng menjawab.

“Pinto biasa berkelana, tidak suka orang mengetahu tentang diriku,” Ma Giok berkata. “Itulah sebabnya walaupun pinto berada dekat dengan tuan-¬tuan pinto tidak membuat kunjungan. Tentang ini pinto pun mohon maaf.” Ia lantas menjura pula.

Kanglam Liok Koay membalas hormat. Mereka lihat orang alim sekali, beda daripada saudara-saudaranya, kesan mereka lantas berubah.

Disaat enam saudara ini hendak tanyakan hal Bwee Tiauw Hong, justru itu terdengar suara tindakannya banyak kuda, lalu tampak beberapa penunggang kuda tengah mendatangi ke arah kemahnya Temuchin. Kwee Ceng menjadi sangat bingung. tahulah ia, itu adalah orang-orangnya Sangum, yang hendak memancing Temuchin.

“Toasuhu, aku pergi sebentar, nanti aku akan kembali!” kata ini anak muda dalam bingung dan khawatirnya.

“Jangan, jangan pergi!” mencegah Tin Ok. “Kau berdiam bersama kami.” Tin Ok mencegah karena ia menyesal atas perbuatannya yang sembrono tadi. ia menjadi sangat menyayangi murid ini, karena mana, ia jadi berkhawatir untuk ancaman bahaya dari Bwee Tiauw Hong. Bagaimana kalau si Mayat Besi datang dengan tiba-tiba?

Kwee Ceng semakin bingung. Ia masih bicara sama guru itu tapi si guru sudah lantas bicara sama Ma Giok tentang pertempuran mereka melawan Hek Hong Siang Sat. Terpaksa ia berdiam, hatinya berdenyutan.

Segera setelah itu, terdengar pula congklangnya kuda, kapan Kwee Ceng menoleh, ia tampak datangnya Gochin. Putri itu menghentikan kudanya dalam jarak belasan tindak, lantas ia menggapai berulang-¬ulang.

Kwee Ceng takut pada gurunya, tidak berani menghampiri, ia hanya menggapai, minta si tuan putri datang lebih dekat.

Gochin menghampiri. kelihatan kedua matanya merah dan bendul, rupanya ia baru habis menangis. Setelah datang dekat, ia berkata dengan suara mendumal “Ayahku…. ayahku ingin aku menikah sama Tusaga…” Lalu air matanya turun pula.

Kwee Ceng tidak sahuti putri itu, ia hanya kata: “Lekas kau pergi kepada Khan yang agung, bilang Sangum bersama Jamukha lagi mengatur tipu daya untuk membinasakan Khan!”

Gochin terkejut. “Benarkah itu?” tanyanya.

“Tentu saja benar!” sahut Kwee Ceng. “Aku dengar sendiri persekutuan mereka itu! Lekas kau pergi kepada ayahmu!”

Gochin menjadi tegang hatinya tetapi ia tertawa. “Baik!” katanya. Ia putar kudanya, untuk segera dikasih lari.

Kwee Ceng heran. “Ayahnya hendak dibikin celaka orang, kenapa dia girang?” ia tanya dirinya sendiri. Lalu ia ingat sesuatu “Ah! dengan begini bukankah ia jadi tidak bakal menikah sama Tusaga?” Maka ia pun girang. Ia memang sayangi Gochin sebagai adik kandungnya!.

Saat itu terdengar suara Ma Giok. “Pinto bukan hendak menangi lain orang dengan merendahkan diri sendiri, sebenarnya Bwee Tiauw Hong itu telah jadi sangat lihay. Dia sekarang telah dapat mewariskan kepandaiannya Tocu Oey Yok Su dari Tho Hoa To, Tanghay. ilmunya Kiu Im Pek-kut Jiauw sudah terlatih sempurna, sedang cambuknya luar biasa. Kalau kita bekerjasama berdelapan, kita tidak bakal kalah, tetapi untuk singkirkan dia, jangan harap malah mungkin bakal rugi sendiri…”

“Habis apa sakit hatinya ngoko dan toako mesti dibiarkan tak terbalas?” kata Siauw Eng yang selalu ingat Thio A Seng.

“Sejak dahulu kala, permusuhan harus dilenyapkan, jangan diperhebat,” Ma Giok bilang. “Tuan-tuan telah binasakan suaminya, bukankah berarti sakit hati itu telah terbalas? Dia sebatang kara, dia pun buta matanya, dia harus dikasihani.”

Liok Koay berdiam. “Dia melatih diri secara hebat, setiap tahun ia telah bunuh berapa banyak orang yang tidak berdosa,” kata Po Kie kemudian, “Maka itu totiang, dapatkah kau membiarkannya saja?”

“Sekarang dia mencari kami, bukan kami yang mencari dia,” Cu Cong berkata pula.

“Taruh sekarang kita menyingkir dari dia,” Coan Kim Hoat menyambung, “Kalau benar dia hendak menuntut balas, untuk selanjutnya tak dapat kita tidak berjaga-jaga. Ini sulit!”

“Untuk itu pinto telah dapat pikir suatu jalan untuk menghindarkannya,” berkata Ma Giok. “Jalan ini sempurna, asal tuan-tuan suka berlaku murah dan suka mengasihani dia untul membuka satu jalan baru untuknya.”

Cu Cong semua berdiam, mereka awasi kakak mereka, untuk dengar putusan si kakak.

“Kami Kanglam Cit Koay biasa sembrono, kami Cuma gemar berkelahi,” kata Tin Ok kemudian. “Kalau totiang sudi menunjuki suatu jalan terang, kami pasti akan bersyukur. Silahkan totiang bicara.”

Tin Ok mengerti, imam ini bukan melulu memintakan ampun untuk Bwee Tiauw Hong, akan tetapi mencoba melindungi mereka juga. Selama sepuluh tahun ini, entah bagaimana kemajuan si Mayat Besi. Suara kakaknya ini membikin heran saudara-saudaranya yang lain.

“Kwa tayhiap berhati mulia, Thian tentu akan memberkahi,” kata Ma Giok seraya mengangguk. “Satu hal hendak pinto memberitahukannya. Turut pikiranku, selama sepuluh tahun ini, mungkin sekali Bwee Tiauw Hong telah dapat pengajaran baru dari Oey Yok Su….

Cu Cong semua terkejut. “Hek Hong Siang Sat adalah murid-murid murtad dari Oey Yok Yu, cara bagaimana dia dapat ajarakan pula ilmu?” ia tanya.

“Itulah memang benar,” berkata Ma Giok, “Hanya setelah mendengar Kwa tayhiap berusan perihal pertempuran pada belasan tahun yang sudah lalu itu, pinto dapat menyatakan kepandaiannya Bwee Tiauw Hong telah maju pesat seklai, tanpa dapat penunjuk dari guru yang lihay, dengan belajar sendiri, tidak nanti ia dapat peroleh itu. Umpama kata sekarang kita dapat singkirkan Bwee Tiauw Hong, kemudian Oey Yok Su mendapat tahu, bagaimana nanti…?”

Tin Ok semua berdiam. Mereka pernah mendengar perihal kepandaian Oey Yok Su itu, mereka masih kurang percaya sepenuhnya. Mereka menyangka orang bicara secara dilebih-lebihkan. tapi aneh kenapa Ma Giok ini nampaknya jeri kepada pemilik pulau Tho Hoa To itu?

“Totiang benar,” Cu Cong berkata kemudian. “Silahkan totiang beri petunjuk kepada kami.”

“Pinto harap tuan-tuan tidak menertawainya,” Ma Giok minta.

“Harap totiang tidak terlalu merendah,” kata Cu Cong. “Ada siapakah yang tidak menghormati Cit Cu?” “Cit Cu” dimaksudkan tujuh persaudaraan Tiang Cun Cu.

“Bersyukur kepada guru kami, memang Cit Cu ini ada juga nama kosongnya di dalam dunia kangouw,” kata Ma Giok. “Pinto percaya, terhadap kami dari Coan Cin Kauw, mungkin Bwee Tiauw Hong tidak berani lancang turun tangan. Karena ini juga, pinto hendak menggunakan akal untuk membikin ia kabur…” Lantas imam itu tuturkan tipu muslihatnya.

Sebenarnya Tin Ok tidak sudi mengalah, tetapi untuk memberi muka kepada Ma Giok, terpaksa mereka menurut. Maka itu, habis bersantap, mereka sama-sama mandaki jurang. Ma Giok dan Kwee Ceng yang jalan di muka, Tin Ok berenam jalan di belakang Kwee Ceng, murid mereka. Mereka dapat lihat cara naiknya ma Giok. Mereka percaya, imam ini tidak ada di sebawahannya Khu Cie Kee, Cuma tabiatnya saja kedua saudara seperguruan berbeda.

Setibanya Ma Giok dan Kwee Ceng di atas, mereka lantas kasih turun dadung mereka, untuk membantu menggerek naik Kanglam Liok Koay.

Sesampai di atas, enam saudara itu segera dapat melihat tumpukan tengkorak Bwee Tiauw Hong. Sekarang baru mereka percaya.

Lantas semua orang duduk bersamedhi, sambil beristirahat, mereka menantikan sang sore. Dengan lewatnya sang waktu, cuaca mulai menjadi guram, lalu perlahan-lahan menjadi gelap. Masih mereka menantikan, hingga tibanya tengah malam.

“Eh, mengapa dia masih belum datang?” tanya Po Kie, mulai habis sabarnya.

“Ssstt! Dia datang…!” kata Tin Ok.

Semua orang berdiam, hati mereka berdenyut. Kesunyian yang mencekam di atas jurang itu.

Sebenarnya Tiauw Hong masih jauh tetapi kuping lihay dari Tin Ok sudah mendengarnya.

Sungguh gesit si Mayat Besi ini. Dia muncul dalam rupa seperti segumpal asap hitam. Dia terlihat nyata di bawah sinar rembulan. Setibanya di kaki jurang, ia lantas mulai mendaki. Ia seperti tidak menggunakan kaki, Cuma kedua tangannya. Dia seperti naik di tangga saja.

Cu Cong semua mejadi kagum. Kapan Cu Cong berpaling pada Coan kim Hoat dan Han Siauw Eng, wajah mereka nampak tegang. Ia percaya, wajahnya sendiri tentu begitu juga.

Tiauw Hong tiba di atas. Di bebokongnya ia menggendol satu orang, yang lemas, entah mayat atau orang hidup.

Kwee Ceng terkejut kekita melihat pakaian orang itu, kulit burung tiauw yang putih. Itulah Gochin Baki, putrinya Temuchin, kawan kesayangannya. Tak dapat dicegah lagi, mulutnya bergerak, suaranya terdengar. tapi disaat itu juga, Cu Cong bekap mulutnya, seraya guru yang kedua ini berkata terus: “Kalau Bwee Tiauw Hong, si wanita siluman itu terjatuh ke dalam tanganku, - aku Khu Cie Kee – pasti aku tidak akan mau sudah saja!”

Tiauw Hong dengar seruan kaget dan suara Kwee Ceng, ia heran, sekarang ia dengar suara orang bicara dan menyebut-nyebut Khu Cie Kee dan namanya juga, ia menjadi lebih kaget. Ia lantas saja bersembunyi di samping batu untuk memasang telinga.

Ma Giok semua melihat tingkah laku si Mayat Besi ini, di dalam hati mereka tertawa. Cuma Kwee Ceng yang hatinya tergoncang, memikirkan keselamatan Gochin.

“Bwee Tiauw Hong mengatur tulang-tulang di sini, sebentar lagi bakal datang,” kata Han Po Kie. “Kita tunggu saja.”

Tiauw Hong sembunyi tanpa berani berkutik. Ia tidak tahu ada berapa orang lihay yang bersembunyi di situ. “Dia memang banyak kejahatannya,” ia dengar suaranya Han Siauw Eng, “Tapi karena Coan Cit Kauw mengutamakan wales asih, baiklah ia diberi jalan baru….”

Cu Cong tertawa. “Ceng Ceng San-jin sangat murah hati, pantas suhu pernah bilang kau gampang untuk mencapai kesempurnaan!” katanya. Siauw Eng juga bicara sebagai juga ia adalah Ceng Ceng San-jin.

Kauwcu Ong Tiong Yang punya tujuh murid yang mendapat nama baik, tentang mereka itu, tidak seorang juga kaum kangouw yang tidak mengetahuinya. Murid kepala, si toa-suheng, Tan-yang-cu Ma Giok. Yang kedua adalah Tiang-cin¬cu Tam Cie Toan, yang ketiga Tiang-sen-cu Lauw Cie Hian. Yang keempat ialah Tang Cun Cu Khu Cie Kee, yang kelima Giok-yang-cu Ong Cie It. Yang keenam Kong-leng-cu Cek Tay Thong. Dan yang terakhir adalah Ceng Ceng San-jin Sun Put Jie, istrinya Ma Giok sebelum Ma Giok sucikan diri.

“Tam Suko, bagaimana pikiranmu?” tanya Siauw Eng. Ia tanya Hie Jin, yang disini menyamar sebagai Tam Cie Toan.

“Dia berdosa tak terampunkan!” sahut Hie Jin sebagai Cie Toan.

“Tam Suko,” berkata Cu Cong, “Selama ini kau maju pesat dalam ilmu Cie-pit-kang, kalau si siluman perempuan datang, kau yang turun tangan, supaya kami yang menjadi saudara-saudaramu dapat membuka mata kami. Akur?”

Hie in sengaja menyahut: “Lebih baik minta Ong Sutee yang punya kaki besinya, antarkan dia pergi ke sorga di Barat…”

Dalam Coan Cin Cit Cu, Khu Cie Kee yang namanya paling tersohor, yang kedua adalah Ong Cie It, yang mendapat julukan Thie Kak Sian si Dewa Kaki Besi, karena lihay tendangannya dan pernah ia bertaruh mendaki jurang yang tinggi hingga ia dapat menaklukkan beberapa puluh orang gagah di Utara. Sembilan tahun ia mengeram di dalam gua, untuk menyakinkan kekuatan kakinya. Cie Kee sendiri memujinya.

Demikian mereka ini berbicara, seperti sandiwara. Cuma Tin Ok yang bungkam, karena ia khawatir suaranya dikenali Bwee Tiauw Hong. Pembicaraan itu membikin gentar si Mayat Besi, hingga ia berpikir: “Coan Cin Cit Cu telah berkumpul semua, kepandaian mereka juga maju pesat, kalau aku terlihat mereka, mana bisa aku hidup lebih lama?”

Cu Cong berkata pula: “Malam ini gelap sekali sampai lima jari tangan sukar terlihat, kalau kita turun tangan, baik semua berlaku hati-hati. Kita mesti mencegah si siluman perempuan itu meloloskan diri!”

Girang Tiauw Hong mendengar itu. “Syukur langit gelap,” katanya dalam hati. “Kalau tidak, dengan mata mereka yang lihay, mereka tentu dapat melihat aku. Berterima kasih kepada Langit dan Bumi sang rembulan tidak muncul!”

Kwee ceng sendiri mengawasi Gochin, perlahan-¬lahan si nona membuka matanya. Ia menjadi lega hatinya. Itu tandanya jiwa si nona tidak dalam bahaya. ia lantas menggoyang tangan, untuk mencegah si nona itu berbicara. Tapi Si nona tidak mengerti. “Engko Ceng lekas tolong aku!” ia berteriak.

Kwee Ceng menjadi sangat bingung. “Jangan bicara!” katanya. Tapi dia toh bicara dengan suara keras!

Kagetnya Tiauw Hong tidak kalah dengan kagetnya si anak muda. Segera ia totok urat gagu si tuan putri itu. Ia lalu menjadi heran dan curiga.

“Cie Peng, apakah kau yang barusan bicara?” tanya Coan Kim kepada muridnya, yang disamarkan sebagai In Cie Peng.

Kwee Ceng tahu peranannya. “Barusan teecu seperti dengar suara wanita,” ia menyahut.

Tiba-tiba Tiauw Hong teringat sesuatu. “Coan Cin Cit Cu ada disini semua? Benarkah begini kebetulan? Bukankah orang lagi menghina aku karena buta dan sengaja mereka mengatur sandiwara?” ia mulai gerakkan tubuhnya.

Ma Giok kasih lihat gerakan si Mayat Besi itu, mengertilah ia bahwa orang mulai curiga. Ia menjadi berkhawatir. Kalau terjadi pertempuran, pihaknya tak usah takut, Cuma dikhawatirkan keselamatan Kwee Ceng dan Gochin. Dipihak Liok Koay juga mungkin bakal ada yang celaka.

Cu Cong mengawasi gerak-geriknya Bwee Tiauw Hong, ia lihat bahaya mengancam, segera ia berkata dengan nyaring: “Toa suko, bagaimana dengan meyakinkan pelajaran yang suhu ajarkan beberapa tahun ini, Kim-kwan Giok-cauw ie-sie Koat? Pastilah kau telah memperoleh kemajuan. Coba kau tunjukkan pada kami.”

Ma Giok tahu Cu Cong ingin perlihatkan kepandaiannya guna menaklukkan Bwe Tiauw Hong, ia lantas menjawab: “Sebenarnya walaupun aku menjadi saudara yang tertua, lantaran aku bebal, tak dapat aku lawan kau, saudara-saudaraku. Apa yang aku dapat dari guru kita, dalam sepuluh tahun tidak ada dua….

Imam ini bicara secara merendah akan tetapi ia gunakan tenaga dalamnya, sehingga suaranya nyaring luar biasa, terdengar sampai jauh, berkumandang di dalam lembah.

Bwee Tiauw Hong mengkerat mendengar suara orang itu. Perlahan-lahan ia kembali ke tempat sembunyinya.

Ma Giok lihat kelakuan orang, ia berkata pula: “Kabarnya Bwee Tiauw Hong telah buta kedua matanya, kalau benar, ia harus dikasihani juga, seandainya ia menyesal dan suka mengubah kesalahannya yang dulu-dulu dan tidak tidak lagi mencelakai orang-orang yang tidak bersalah serta tidak akan mengganggu pula kepada Kanglam Liok Koay, baiklah kita beri ampun kepadanya. Khu Sutee, kau bersahabat erat dengan Kanglam Liok Koay, pergi kau menemui mereka, untuk mohon mereka jangan membuat perhitungan pula dengan dia. Aku pikir, kedua pihak baiklah menyudahi urusan mereka.”

“Itu perkara gampang,” sahut Cu Cong. “Penyelesaiannya berada di pihak Bwee Tiauw Hong sendiri, asal dia suka mengubah perbuatannya….”

Tiba-tiba terdengar suara dingin dari belakang batu: “Terima kasih untuk kebaikan Coan Cin Cit Cu! Aku, Bwee Tiauw Hong ada di sini!”

Semua orang terperanjat sangking herannya. Mereka duga Tiauw Hong jeri dan bakal menyingkirkan diri secara diam-diam, tidak tahunya dia bernyali besar, dia malah menghampiri mereka.

Tiauw Hong berkata pula: “Aku adalah seorang wanita, tidak berani aku memohon pengajaran dari totiang semua, tapi telah lama aku dengar ilmu silat Ceng Ceng San-jin, ingin aku mohon pengajaran…” Habis berkata, ia berdiri, siap sedia dengan cambuknya yang panjang itu.

Kwee Ceng lihat Gochin rebah di tanah, tubuhnya diam saja, ia khawatir. Memang persahabatannya erat sekali dengan putri serta Tuli. Maka sekarang, tanpa pedulikan lihaynya Bwee Tiauw Hong, ia melompat kepada kawannya itu, untuk mengasih bangun padanya. Tahu-tahu tangan kirinya si Mayat Besi sudah lantas menyambar dan mencekal tangan kirinya. Tentu saja, ia tinggal diam. Di satu pihak ia lemparkan tubuh Gochin kepada Siauw Eng, dilain pihak ia gerakkan tangan kirinya, untuk berkelit. Ia dapat lolos. Tapi Tiauw Hong benar-benar lihay, ia menyambar pula, kali ini ia memegang nadi orang, maka anak muda itu menjadi mati kutu. “Siapa kau?” tanya si buta.

Cu Cong memberi tanda dengan tangan kepada muridnya itu, atas mana Kwee Ceng segera memberikan penyahutan: “Teecu adalah In Cie Peng, murid dari Tiang Cun Cin-jin.”

Tiauw Hong segera berpikir: “Muridnya begini muda tetapi tenaga dalamnya sudah bagus sekali, ia dapat meloloskan diri dari tanganku. Baiklah aku menyingkir dari mereka…” Dengan perdengarkan suara, “Hm!” ia lepaskan cekalannya.

Kwee Ceng lantas lari menjauhkan diri, apabila ia lihat tangannya, di situ ada petahan lima jari tangan, dagingnya melesak ke dalam. Coba si Mayat Besi tidak jeri, mungkin tangannya itu sudah tidak dapat ditolong lagi….

Oleh karena ini, Tiauw Hong pun tidak berani mengulang tantangannya untuk mencoba menempur Sun Put Jie. Tapi ia ingat sesuatu, maka ia tanya Ma Giok: “Ma totiang, timah dan air perak disimpan denagn hati-hati, apakah artinya itu?”

Ma Giok menyahut “Timah itu sifatnya berat, diumpamakan dengan rasa hati. Itu artinya, rasa hati harus dikendalikan, dengan berdiam, peryakinan berhasil.”

Tiauw Hong tanya pula: “Nona muda dan anak muda, apakah artinya itu?”

Pertanyaan itu membuat Ma Giok terkejut. Itu bukanlah pertanyaan biasa. Kata-kata itu istilah dalam kalangan agama To Kauw. Maka ia lantas membentak: “Silumanm, kau hendak mendapatkan pelajaran sejati? Lekas pergi!”

Tiauw Hong tertawa lebar. “Terima kasih atas petunjukmu, totiang!” katanya. Terus ia berlompat, cambuknya digerakkan melilit batu, ia menarik dan tubuhnya mencelat, ia melompat ke arah jurang, gerakannya sangat enteng dan pesat, hingga semua orang merasa kagum.

Di lain pihak, orang berlega hati melihat perginya wanita bagaikan siluman itu. Ma Giok segera totok sadar Gochin yang diletakkan di atas batu untuk beristirahat.

“Sepuluh tahun ia tak tampak, tidak disangka si Mayat Besi telah jadi begini lihay,” berkata Cu Cong. “Coba totiang tidak membantu kami, sudah tentu kami sukar lolos dari nasib celaka.”

“Jangan begitu,” berkata Ma Giok, yang keningnya berkerut, suatu tanda bahwa ia ada mendukakan apa-apa.

“Totiang, apabila kau memerlukan sesuatu, walupun kami tidak punya guna, kami bersedia untuk menerima titah-titahmu,” Cu Cong tawarkan diri. Ia lihat imam itu berduka. “Harap totiang jangan segan-segan menitah kami.”

“Oleh karena kurang pikir, sejenak barusan pinto telah kena tipu wanita yang sangat licin itu,” kata si imam setelah menghela napas panjang.

Cu Cong semua terkejut. “Adakah totiang dilukai senjata rahasia?” mereka tanya.

“Bukan,” sahut imam itu. “Hanya tadi ketika ia tanya padaku, tanpa berpikir lagi, pinto telah menjawab. Pinto khawatir jawaban itu nanti menjadi bahaya di belakang hari…”

Cu Cong semua memperhatikan, mereka tidak mengerti.

“Ilmunya si Mayat Besi ini, Gwa¬mui atau ilmu luar, telah berada di atas pinto dan saudara-saudara,” sahut si imam kemudian, “Walaupun Khu Sutee dan Ong Sutee berada di sini, belum tentu kita dapat menang. Hanya dalam Iweekang, atau ilmu dalam, dia belum menemui jalannya yang benar. Setahu darimana, dia rupanya telah dapat cari jalan itu, hanya karena tidak ada orang yang tunjuki, dia belum berhasil menyakinkannya. Tadi ia menanyakan jalan itu kepada pinto. Mestinya itu adalah jalan yang ia belum dapat tangkap artinya. Benar pinto telah baru menjawab sekali, akan tetapi itu satu juga bisa membantu banyak padanya untuk ia peroleh kemajuan…”

“Harap saja ia insyaf dan tidak nanti melakukan pula kejahatan,” kata Siauw Eng separuh menghibur.

“Harap saja begitu. Kalau dia tambah lihay dan tetap ia berbuat jahat, jadi lebih sukar untuk ditaklukkan. Ah, dasar aku yang semberono, aku tidak curiga….!”

Selagi Ma Giok mengatakan demikian, Gochin perdengarkan suara, lalu ia sadar. Terus ia angkat tubuhnya, duduk di atas batu. Ia rupanya sadar seluruhnya, karena ia lantas berkata kepada Kwee Ceng: “Engko Ceng, ayahku tidak percaya keteranganku, ayah sudah ajak orang pergi ke Wang Khan…”

Kwee Ceng kaget. “Kenapa Khan tidak percaya kepadamu?” ia tanya.

“Ketika aku beritahukan bahwa kedua paman Sangum dan Jamukha hendak membikin ayah celaka, ayah tertawa terbahak-bahak. Ayah bilang, lantaran aku tidak sudi menikah denagn Tusaga, aku jadi hendak memperdayainya. Aku telah jelaskan bahwa hal itu kau dengar dengan kupingmu sendiri, ayah malah jadi semakin tidak percaya. Ayah bilang, sepulangnya nanti, ia hendak menghukum kamu. Ayah pergi dengan mengajak ketiga kakakku serta belasan pengiring. Karena itu aku segera berangkat untuk mencarimu, tetapi di tengah jalan aku dibekuk perempuan buta itu. Adakah dia yang membawa aku menemuimu?”

Putri ini tak sadar akan bahaya yang mengancam dirinya, maka itu Cu Cong dan yang lainnya kata dalam hati mereka: “Coba tidak ada kita disini, tentulah batok kepalamu sudah berlobang lima jari tangan…”

“Sudah berapa lama Khan pergi?” tanya Kwee Ceng yang hatinya cemas.

“Sudah sekian lama,” sahut Gochin. “Mereka menunggang kuda pilihan. Tidak lama lagi tentulah mereka akan sampai di tempat Wang Khan. Engko Ceng, Sangum dan Jamukha bakal mencelakai ayah, bagaimana sekarang?” Lantas saja ia menangis.

Kwee Ceng menjadi bingung. Inilah pertama kali ia menghadapi persoalan sulit.

“Anak Ceng lekas kau pergi!” kata Cu Cong. “Kau pakai kuda merahmu itu untuk menyusul Khan yang agung! Biarpun ia tidak mempercayaimu, seharusnya mengirim orang mencari keterangan terlebih dahulu. Dan kau, tuan putri, lekas kau pergi kepada kakakmu Tuli, untuk minta ia lekas siapkan tentara guna segera pergi menyusul dan menolongi ayahmu!”

Kwee Ceng menginsyafi keadaan, tanpa ayal lagi, ia mendahului turun dari atas jurang, sedang Ma Giok dengan mengikat tubuh Gochin, telah turunkan tuan putri itu.

Setibanya di lembah. Kwee Ceng kabur ke kemah di mana ia ambil kudanya, guna dikasih lari sekeras-kerasnya. Ia khawatir Temuchin keburu sampai di tempat Wang Khan dan itu artinya bahaya untuk Khan yang maha agung itu. Di lain pihak ia menjadi girang sekali, ia puas benar dengan kuda yang larinya sangat pesat, apapula di tanah rata. Pernah ia mencoba menahan, untuk berjalan perlahan-lahan, ia khawatir hewan itu terlalu letih, tetapi si kuda tidak mau berhenti, terus lari, nampaknya ia tidak takut capek.

Selang dua jam, baru kuda itu mau juga diistirahatkan sebentar, habis itu, ia kabur lagi. Sesudah lari lagi satu jam, tibalah Kwee Ceng di tempat datar dimana kedapatan tiga baris tentera yang jumlahnya mungkin tiga ribu jiwa. Dari benderanya ketahuan, itulah pasukan Wang Khan, yang siap sedia dengan panah dan golok terhunus.

Di dalam hati Kwee Ceng mengeluh. Terang Temuchin telah lewat di situ, dan itu berarti, jalan pulang dari Khan agung itu telah terpegat. Karena ini, ia keprak kudanya untuk kasih lari lewat tentara itu. Ketika si opsir dapat ketahui dan berseru, untuk mencegah, ia sudah lewat jauh!

Di tengah jalan Kwee Ceng tidak berani berlambat, malah tiga penjagaan telah ia lewati. Maka itu kemudian ia sudah mulai dapat melihat bendera yang besar dari Temuchin. Setelah ia mendatangi lebih dekat, tampak rombongan dari belasan orang yang tengah maju terus, keprak kudanya, untuk tiba di samping khan.

“Kha Khan, lekas kembali!” ia berteriak. “Jangan pergi lebih jauh!”

Temuchin heran, ia tahan kudanya, “Ada apa?” ia menanya.

“Ada bahaya,” sahut Kwee Ceng, yang terus tuturkan persekutuannya Wanyen Lieh. Ia pun beritahukan perihal tentera pencegat di belakang mereka.

Dengan roman bersangsi, Temuchin awasi bocah tanggung ini. Ia pun berpikir: “Memang Sangum tidak akur dengan aku, tetapi ayah angkatku, Wang Khan, tengah mengandali tenagaku. Saudaraku Jamukha sangat baik, kita sehidup semati, apa mungkin ia hendak mencelaki aku?”

Kwee Ceng tahu khan itu bersangsi, ia berkata “Kha Khan, cobalah kirim orang untuk periksa benar atau tidak ada tentara pencegat jalan!”

Biar bagaimana, Temuchin adalah seorang yang teliti. Ia pun berpendirian, “Lebih baik terpedaya satu kali tetapi jangan mati konyol!” Maka ia terus berpaling pada Ogotai, putranya yang kedua itu dan Chilaun, panglimanya, untuk mengatakan: “Lekas kamu pergi menyelediki!”

Dua orang itu sudah lantas lari balik.

Temuchin memandang ke sekelilingnya. “Naik ke bukit itu!” Ia kasih perintah. “Siap sedia!”

Dalam keadaan seperti itu, khan ini tidak jeri. Ia pun ada bersama orang-orangnya yang gagah, malah mereka ini tahu tugasnya, begitu naik ke atas bukit, mereka lantas menggali lobang dan memindahkan batu, buat berjaga-jaga diri dari serangan anak panah.

Tak lama dari selatan terlihat debu mengepul naik, disusul sama munculnya satu pasukan tentara terdiri dari beberapa ribu jiwa. Paling depan pasukan itu terlihat Ogotai dan Chilaun lari kabur mendatangi.

Jebe sangat awas, ia melihat tentara itu tengah mengejar. “Benar-benar pasukannya Wang Khan!” ia berseru.

Segera terlihat pula, pasukan pengejar itu memecah diri dalam jumlah ratusan jiwa, mereka ambil sikap mengurung, memegat Ogotai dan Chilaun, siapa sudah lari terus, tubuhnya mendekam di punggung kuda, cambuknya dipecut berulang-ulang.

“Anak Ceng, mari kita sambut mereka!” Jebe berteriak. Dan ia keprak kudanya, diturut oleh muridnya.

Hebat lari kudanya kwee Ceng, mendahului gurunya, ia tiba lebih dahulu kepada Ogotai dan Chilaun, terus ia gunakan panah, tiga anak panahnya melesat, tiga pengejar terdepan rubuh dari kuda mereka. Cepat luar biasa, ia menyusul dengan anak panahnya yang keempat.

Jebe lebih lihay daripada muridnya ini, ia turut memanah berulang-ulang, sejumlah serdadu musuh rubuh terguling. Akan tetapi musuh berjumlah besar, mereka maju bagaikan gelombang!

Ogotai dan Chilaun telah tahan kuda mereka dan berbalik, mereka sekarang turut menyerang dengan panah mereka, sembari menyerang mereka mundur ke bukit dimana Temuchin menanti. Di sini khan itu bersama Borchu, Juji dan lainnya, sudah lantas memanah juga. Panah mereka tidak pernah gagal, dengan begitu pihak pengejar dapat tertahan.

Temuchin naik ke tempat yang lebih tinggi, memandang jauh ke empat penjuru. Ia menyaksikan tentara Wang Khan tengah mendatangi dari empat jurusan. Kemudian dalam sebuah pasukan ia melihat seorang yang menunggang seekor kuda yang besar, yang ditawungi bendera kuning yang besar juga. Orang itu Sangum, putranya Wang Khan. Ia lantas saja berpikir. Ia anggap ia mesti menang waktu, dengan memperlambat segalanya. Sendirian saja, sukar ia menerobos kurungan, Tuli sendiri belum tentu tepat datangnya, karena ada kemungkinan tentaranya tak mau dengar putra yang masih muda itu.

“Adik Sangum, aku minta kau datang ke mari untuk bicara!” ia teriaki saudara angkatnya.

Dengan diiringi pasukan pengawal, Sangum mendekati bukit. Beberapa puluh tentara lain pun melindunginya, siap sedia tameng besi mereka guna menangkis panah gelap. Ia berlaku jumawa. Ketika ia buka mulutnya, ia pun nyata sekali kepuasannya. “Temuchin, lekas menyerah!” demikian ia berteriak.

Temuchin tidak menyahuti, ia hanya menanya: “Apakah salahku terhadap ayahku Wang Khan, maka kau bawa pasukanmu untuk menyerang aku?”

OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar