ads

Kamis, 20 Agustus 2020

Pendekar Pemanah Rajawali Jilid 004

Enam tahun sudah tujuh saudara ini merantau di gurun pasir tanpa ada hasilnya, sekarang mereka dapati titik terang, mereka jadi bersemangat, mereka tak hendak melepaskannya dengan begitu saja.

“Marilah kita tanya bocah itu!” Siauw Eng mengusulkan.

Han Po Kie mempunyai kuda yang paling gesit, ia mendahului berlari menghampiri kawanan bocah itu yang telah kembali bergumul. Ia berteriak-teriak menyuruh mereka berhenti berkelahi, tetapi ia tidak dipedulikan, maka ia turun dari kudanya, dan kemudian ia langsung tarik beberapa bocah dan balangkan mereka ke pinggiran.

Tusaga lihat orang kuat, ia tak berani berkelahi terus Tapi ia tuding Tuli dan menantang: “Dua ekor anjing cilik, jikalau kau berani, besok kita bertempur pula disini!”

“Baik, besok kita bertempur pula disini!” Tuli terima tantangan itu. Ia sudah lantas memikir, kalau sebentar ia pulang, hendak ia meminta bantuan Ogatai, kakaknya yang nomor tiga, dengan siapa ia paling erat hubungannya, sedang kakaknya itupun kuat. Ia percaya Ogatai akan suka membantu.

Kwee ceng dengan muka berlumuran darah, mengulurkan tangannya pada Cu Cong. “Kembalikan!” katanya. Dengan berani ia minta belatinya kembali.

“Gampang untuk pulangi padamu!” kata Cu Cong sambil tertawa, seraya tangannya mencekal belati orang. “Tapi kau mesti omong dulu biar terang, darimana kau peroleh belati ini?”

Dengan tangan bajunya Kwee ceng susuti darah yang masih mengalir dari hidungnya. “Ibuku yang berikan padaku,” sahutnya.

“Apakah she ayahmu?” Cu Cong tanya pula.

Bocah itu melengak. Ia tak punya ayah, tak dapat ia menjawab. Kemudian ia menggeleng kepalanya.

Cit Koay lihat orang rada tolol, mereka menjadi putus asa.

“Apakah kau she Yo?” Coan Kim Hoat menanya. Ia penasaran. Kwee menggeleng-gelengkan kepalanya pula.

Kanglam Cit Koay paling menjunjung kehormatan, mereka pegang satu kepercayaan sekalipun terhadap satu bocah, maka itu Cu Cong lantas serahkan belati itu kembali kepada Kwee Ceng, sedang Han Siauw Eng keluarkan sapu tangannya, untuk susuti orang punya darah di hidung.

“Pergilah kau pulang,” katanya dengan halus dan ramah. “Lain kali jangan kau berkelahi pula.”

Lantas Cit Koay berangkat, akan susul rombongan kalifah yang mereka ikuti. Kwee Ceng menjublak mengawasi orang pergi.

“Kwee Ceng, mari pulang!” Tuli lantas mengajak.

Cit Koay belum jalan jauh. Tin Ok mempunyai kuping paling lihay pendengarannya dibandingkan dengan saudara-saudaranya, ia dengar panggilan “Kwee Ceng” dari Tuli, mendadak tubuhnya menggetar, tanpa bersangsi pula, ia putar kudanya akan kembali kepada si bocah.

“Eh, anak, apakah kau bernama Kwee Ceng?” ia tanya dengan sabar.

Kwee Ceng menberikan penyahutan yang membenarkan.

Bukan kepalang girangnya Tin Ok. “Siapakah nama ibumu?” tanya pula, cepat.

“Ibu…. ibu….” Kwee Ceng menjawab.

Tin Ok menggaruk-garuk kepalanya. “Mari antar aku kepada ibumu, Maukah kau?” ia tanya lagi.

“Ibuku tidak ada disini,” bocah itu menjawab.

Tin Ok dengar suara yang tak simpatik. Kemudian dia berkata kepada adiknya paling kecil, “Cit moay, kaulah yang tanya dia.”

Siauw Eng lompat turun dari kudanya dan ia menghampiri bocah itu. “Mana ayahmu?” dia tanya, suaranya tetap ramah. “Orang telah mencelakai ayahku hingga binasa,” sahut bocah itu. “Nanti kalau aku sudah besar, hendak aku cari musuh itu untuk membalaskan sakit hati ayahku!”

“Siapakah nama ayahmu?” Siauw Eng tanya pula. Ia bernafsu, hingga suaranya sedikit menggetar.

Kwee Ceng menggoyang kepala.

“Siapa nama orang yang membunuh ayahmu?!” Tin Ok turut tanya, suaranya dingin.

Sambil kertak gigi, Kwee Ceng jawab: “Dia bernama Toan Thian Tek!”

Memang Lie Peng telah memberitahukan kepada anaknya itu she dan namanya Thian Tek, malah roman mukanya dan potongan tubuhnya.

Nyonya Kwee tahu, sewaktu-waktu jiwanya terancam bahaya, maka itu ia telah berikan penjelasan kepada anaknya, supaya apabila ada terjadi sesautu atas dirinya, putranya sudah tahu segala sesuatu. Ia pun telah memberitahukan berulangkali, hingga Kwee Ceng ingat semua itu.

Cit Koay girang bukan kepalang, si nona Han sampai berseru, sedang Kwa Tin Ok memuji kepada Thian. Lucunya adalah Thio A Seng, yang sudah rangkul Lam Hie Jin, sementara si cebol Han Po Kie jumpalitan di atas kudanya.

Tuli dan Kwee Ceng mengawasi, mereka merasa lucu dan heran.

“Adik kecil, mari duduk, mari kita bicara perlahan-¬lahan…” nona Han berkata dengan suaranya yang tetap ramah.

“Mari pulang!” mengajak Tuli, Ia hendak cari kakaknya yang ketiga, untuk ajak saudaranya itu besok membantu melawan Tusaga.

“Aku mau pulang,” Kwee ceng berkata kepada Han Siauw Eng. Ia tarik tangannya Tuli dan ia putar tubuhnya, berjalan pergi.

“Eh, eh, tunggu dulu,” Po Kie memanggil. “Kau tak dapat pergi! Biarkan sahabatmu pulang lebih dulu..!

Melihat sikap orang yang luar biasa, dua bocah itu menjadi takut, mereka lantas lari.

Po Kie berlompat, untuk sambar pundaknya Kwee Ceng.

“Shatee, jangan semberono!” Cu Cong cegah adiknya yang nomor tiga itu. Ia pun bergerak, untuk halangi tangan adiknya.

Po Kie heran, ia batal membekuk bocah itu.

Cu Cong lari untuk susul kedua bocah itu, ia lantas jemput tiga butir batu kecil. “Aku akan main sulap untuk kamu!” katanya sembari tertawa, sikapnya manis.

Tuli dan Kwee Ceng berhenti berlari, mereka berdiam mengawasi.

Cu Cong genggam ketiga batu itu di telapak tangan kanannya. “Menghilang!” ia berseru. Kapan ia membuka kepalan tangannya, batu itu telah lenyap.

Kedua bocah itu heran, mereka mendelong.

“Nelusup masuk!” seru Cu Cong, yang tepuk kopiahnya. Terus ia buka kopiahnya itu, di dalam situ ada tiga butir batu itu.

“Bagus!” seru Tuli dan Kwee Ceng. Tanpa merasa, mereka menjadi tertarik.

Waktu itu terdengar suara belibis mendatangi, lalu tertampak burungnya terbang mendatangi dalam dua rombongan, datangnya dari utara.

“Akan aku suruh toako main sulap,” katanya, yang dapat pikiran baru. Ia lantas rogoh keluar sepotong sapu tangan, yang mana ia kasihkan kepada Tuli, sambil menunjuk kepada Kwa Tin Ok, ia kata: “Kau tutup matanya.”

Tuli menurut, ia ikat matanya orang she Kwa itu. “Mau main petak umpat?” tanyanya tertawa.

“Bukan,” sahut Cu Cong. “Tanpa mata, ia dapat panah burung belibis itu.” Ia terus serahkan gendewa dan anak panah kepada kakaknya.

“Aku tidak percaya,” kata Tuli.

Waktu itu kedua rombongan belibis sudah terbang mendekat, Cu Cong menimpuk dengan tiga butir batunya, membuat burung-burung itu menjadi kaget, yang jadi pemimpinnya berbunyi. Justru karena burung itu berbunyi dan hendak merubah tujuan, panahnya Tin Ok sudah meleset, jitu sekali, burung itu terpanah batang lehernya dan bersama anak panahnya, jatuh ke tanah.

“Bagus! Bagus!” Tuli dan Kwee Ceng berseru dengan gembira. Mereka pun lari untuk pungut burung itu, hendak diserahkan pada Kwa Tin Ok. Mereka sangat kagum.

“Tadi mereka bertujuh atau berdelapan mengerubuti kamu berdua,” berkata Cu Cong. “Coba kamu ada punya kepandaian, kamu tidak usah takut lagi kepada mereka.”

“Besok kita bakal berkelahi pula, aku akan minta bantuan kakakku,” kata Tuli.

“Minta bantuan kakakmu?” kata Cu Cong. “Hm, itulah tidak ada faedahnya. Aku akan ajari kau sedikit kepandaian, aku tanggung besok kamu bakal dapat kalahkan mereka.”

“Kami berdua dapat kalahkan mereka berdelapan?” tegaskan Tuli.

“Ya!” Cu Cong beri kepastian.

Tuli girang sekali. “Baik! Nah, kau ajarkanlah aku!”

Cu Cong awasi Kwee Ceng, yang berdiri diam saja, dia agaknya tidak tertarik.

“Apakah kau tidak ingin belajar?” ia tanya bocah itu.

“Ibuku bilang, tidak boleh aku berkelahi,” Kwee Ceng menjawab. “Kalau aku belajar kepandaian untuk memukul orang, ibu tentu tidak senang.”

“Hm, bocah bernyali kecil!” kata Po Kie perlahan.

“Habis, kenapa tadi kamu berkelahi?” Cu Cong tanya lagi.

“Mereka itu yang serang kami duluan.” jawab Kwee Ceng lagi.

Tin Ok campur bicara, suaranya tetap dingin: “Kalau kau bertemu dengan nama Toan Thian Tek, musuhmu itu, habis bagaimana?!” ia tanya.

Kedua mata Kwee Ceng bersinar. “Akan aku bunuh dia, untuk balaskan dendam ayahku!” sahutnya.

“Ayahmu pandai silat, dia masih dapat dibunuh musuhnya,” Ton Ok kata pula. “Kau tidak belajar ilmu kepandaian, bagaimana kau dapat membalas dendam?”

Kwee Ceng tercengang. Kemudian air matanya mengalir keluar.

Cu Cong menunjuk ke gunung di sebelah kiri. “Kalau kau hendak belajar kepandaian guna menuntut balas untuk ayahmu,” ia bilang. “Sebentar tengah malam kau pergi ke sana untuk cari kami. Cuma kamu sendiri yang boleh datang, kau tidak boleh beritahukan kepada orang lain. Kau berani tidak? Apakah kau takut setan?”

Kwee Ceng masih berdiri menjublak.

“Kau ajarakan aku saja!” Tuli bilang.

Tiba-tiba Cu Cong tarik tangannya bocah itu, kakinya menggaet.

Tuli rubuh seketika. Ia merayap bangun dengan murka.”Kenapa kau serang aku?” tegurnya.

“Ini dia yang dibilang ilmu kepandaian,” Cu Cong tertawa. “Mengertikah kau?”

Nyata Tuli sangat cerdas, segera ia mengerti. Ia manggut-manggut. “Coba ajarkan aku pula,” ia minta.

Cu Cong menyambar dengan kepalannya, Tuli berkelit ke kiri. Tapi di sini ia dipapaki tangan kiri si penyerang, tepat kena hidungnya, tapi Cuma nempel, kepalan kiri itu segera ditarik pulang.

Bukan kepalang girangnya putra Temuchin itu. “Bagus! bagus!” ia berseru. “Kau ajari aku lagi!”

Cu Cong mendak, mendongkol, lalu ia seruduk pinggang orang. Tampa ampun Tuli berguling, tapi belum sempat ia terbanting ke tanah, Coan Kim Hoat sudah sambar tubuhnya, untuk di kasih tetap berdiri .

“Paman, ajari aku pula!” seru Tuli. Ia girang luar biasa.

“Sekarang kau pelajari dulu tiga jurus ini,” kata Cu Cong sambil tertawa. “Kalau kau sudah bisa, orang dewasa juga nanti tidak gampang kalahkan kau. Cukup sudah!” Ia lantas berpaling kepada Kwee Ceng, akan tanya, “Apakah kau pun sudah mengerti?” Kwee Ceng hanya menjublak, ia menggeleng kepala.

Cit Koay hilang kegembiraannya melihat Tuli demikian cerdas tapi bocah she Kwee ini begitu tolol. Siauw Eng sampai menghela napas dan air matanya berlinang.

“Sudah, kita jangan terlalu capekan hati sekarang,” kata Kim Hoat kemudian. “Paling benar kita sambut ibu dan anak ini pulang ke Kanglam, kita serahkan mereka kepada Khu Totiang. Dalam hal janji pibu, kita menyerah kalah saja…”

“Anak ini rendah bakatnya, tak berbakat belajar silat,” bilang Cu Cong.

“Ya, aku lihat dia tidak punya kekerasan hati,” kata Po Kie. “Ia bakal gagal…”

Dalam dialek orang Kanglam, Cit Koay berdamai.

“Nach, pergilah kamu!” kata Siauw Eng akhirnya. Ia ulurkan tangan kepada kedua bocah itu, atas mana Tuli tarik tangan Kwee Ceng untuk diajak pergi, ia sendiri sangat kegirangan.

Selama mereka itu berbicara, Cuma Lam San Ciauw-cu Lam Hie Jin si Tukang Kayu dari Lam San, Gunung Selatan yang berdiam saja.

“Eh, sietee, apa katamu?” Tin Ok tegur adiknya yang keempat itu.

“Baik,” sahut Lam Hie Jin.

“Apa yang baik?” menegaskan Cu Cong.

“Anak itu baik,” jawab adik keempatnya itu.

“Beginilah biasanya sieko!” kata Siauw Eng, tak sabaran. “Susah sekali untuk sieko membuka mulut emasnya, tak hendak ia mengatakannya lebih sepatah kata!”

Hie Jin tertawa. “Di waktu kecil, aku tolol sekali,” katanya. Lam San Ciauw-cu memang pendiam, untuk mengeluarkan sepatah kata, ia memikirkan dahulu, maka itu asal ia membuka mulut, kata-katanya tentu tepat. Karena itu juga, enam saudaranya biasa hargakan pikirannya. Sekarang mendengar keterangannya itu, mereka bagaikan mendapat sinar terang.

“Kalau begitu, kita tunggu sampai nanti malam,” kata Cu Cong kemudian. “Kita lihat dia berani atau tidak datang seorang diri.”

“Kebanyakan ia tidak berani,” kata Kim Hoat. “Baik aku cari tahu dulu tempat tinggalnya.” Dan ia lompat turun dari kudanya, dari jauh ia mengikuti Kwee Ceng dan Tuli. Ia lihat mereka masuk ke dalam tenda.

Malam itu Cit Koay berkumpul di atas bukit. Mereka menanti sampai tengah malam, sampai bintang-¬bintang mulai menggeser, tak ada bayangan Kwee Ceng si bocah itu. Cu Cong lantas saja menghela napas.

“Kanglam Cit Koay sudah malang melintang seumur hidupnya, kali ini mereka rubuh di tangannya satu imam…!” katanya masgul.

Selagi tujuh saudara itu berduka, tiba-tiba Po Kie berseru tertahan: “Eh..!” dan tangannya pun menunjuk ke depan di mana ada gombolan pohon, “Apa itu?” katanya.

Ketika itu sang rembulan yang terang sudah sampai di tengah-tengah langit, sinarnya sampai kepada rumput tabal di mana ada tiga tumpuk benda putih yang nampaknya aneh.

Coan Kim Hoat lompat menghampiri benda itu, maka ia kenali itu sekumpulan tengkorak, yang bertumpuk rapi dalam tiga tumpukan. “Entah bocah nakal siapa sudah bermain di sini, tengkorak orang diatur begini…” katanya. “Eh… apakah ini? Jieko, mari!”

Suaranya kedengaran sangat terkejut, maka kecuali Kwa Tin Ok, yang lima saudara lainnya lantas menghampiri saudara she Coan itu. “Lihat!” katanya lagi kemudian, yang sodorkan sebuah tengkorak kepada Cu Cong.

Cu Cong dapatkan lima liang di embun-embunan tengkorak itu, romannya seperti bekas jari tangan. Ia ulur tangannya, tepat lima jarinya masuk ke dalam semua liang itu. Jadi itu bukanlah pekerjaan bocah cilik. Ia pungut dua tengkorak lainnya, di situpun kedapatan masing-masing lima jari tangan yang sama. Ia jadi heran dan sangsi.

“Mustahil benar ada orang membuat liang ini dengan jeriji tangannya?” ia kata dalam hatinya. Ia tak berani utarakan kesangsiannya ini.

“Mungkinkah disini ada hantu gunung?” tanya Siauw Eng. “Hantu tukang geregas manusia…”

“Benar, itulah siluman,” Po Kie membenarkan adiknya itu.

“Tetapi kenapa tengkorak-tengkorak ini diatur begini rapi?” Kim Hoat tanya. Saudara ini bersangsi.

Kwa Tin Ok dengar saudara-saudaranya itu berbicara. Tiba-tina ia lompat mendekati mereka itu. “Bagaimana itu diatur rapinya?” tanyanya.

“Semuanya terdiri dari tiga tumpuk, teratur sebagai segi tiga, dan tiap tumpukan sembilan tengkorak.” Coan Kim Hoat kasih keterangan pada kakaknya yang tak dapat melihat itu.

“Benarkah itu terbagi pula dalam tiga tingkat?” Tin Ok tanya. “Tingkat yang bawah lima, tingkat tengah tiga dan tingkat atas satu buah?”

“Eh, toako!” seru Kim Hoat heran. “Kenapa toako ketahui itu?”

Tin Ok perlihatkan roman cemas. Ia tidak menjawab. Hanya segera berkata: “Lekas jalan seratus tindak, ke arah timur utara dan barat utara! Lihat ada apakah di sana!”

Menampak sikap luar biasa dari saudara tua itu, yang biasanya sangat tabah, enam adik angkat itu lekas bekerja, yang tiga pergi ke timur utara, yang tiga lagi ke barat utara.

“Disini pun ada tumpukan tengkorak!” begitu suaranya Han Siauw Eng di timur utara dan Thi A Seng di barat utara.

Kwa Tin Ok lari ke arah barat utara itu. “Inilah saat mati hidup kita, jangan bersuara keras,” katanya, suaranya perlahan tetapi nadanya tegas.

Thio A Seng bertiga terkejut. Tin Ok lantas lari ke arah timur utara ke Han Siauw Eng, ia pun cegah mereka bertiga omong keras-keras.

“Siluman atau musuh?” tanya Cu Cong.

“Mataku buta, kakiku pincang, semua itu adalah hadiah mereka…” sahut kakak tertua ini.

A Seng bertiga lari berkumpul sama kakak mereka itu, mereka dengar perkataan si kakak, mereka semuanya jadi heran.

Tin Ok angkat saudara sama enam orang itu, cinta mereka bagaikan cintanya saudara kandung, meski begitu, ia paling benci orang menyebut cacadnya itu. Semua saudaranya sangka, cacadnya itu disebabkan kecelakaan semenjak kecil, tidak ada yang berani menanyakan, sekarang barulah mereka itu ketahui, itu adalah perbuatan musuh. Tin Ok Demikian lihay, ia toh kalah, dari situ bisa diduga betapa lihaynya musuh itu.

“Apakah tumpukan disini pun tiga?” tanya Tin Ok.

“Benar,” sahut Siauw Eng.

“Dan setiap tumpukan terdiri dari sembilan tengkorak?” sekali ini Tin Ok menanya perlahan sekali.

Nona Han menghitung. “Yang satu sembilan,” jawabnya kemudian, “Yang satunya delapan…”

“Coba hitung yang sebelah sana, lekas!” kata Tin Ok mendesak sekali.

Siauw Eng lari ke barat utara, sambil membungkuk ia menghitung dengan lekas, lalu dengan lekas pula ia lari balik.

“Yang di sana setiap tumpukannya tujuh tengkorak,” ia beritahu.

“Kalau begitu, mereka akan segera kembali!” kata Tin Ok, kembali dengan suara perlahan.

Enam saudara itu mengawasi dengan melengak, mereka menantikan penjelasan.

“Merekalah Tong Sie dan Tiat Sie,” Tin Ok bilang.

Cu Cong terkejut hingga ia berjingkrak. “Bukankah Tong Sie dan Tat Sie sudah lama mati?” dia tanya. “Kenapa mereka masih ada di dunia ini?”

“Aku juga menyangka mereka sudah mati, kiranya mereka sembunyi disini dan secara diam-diam tengah meyakinkan ilmu Kiu Im Pek-kut Jiauw,” kata Tin Ok. “Saudara-saudara lekas naik ke kudamu masing-¬masing, segera kabur ke selatan, sekali-kali jangan kamu kembali! Sesudah kabur seribu lie, tunggu aku selama sepuluh hari, jika aku tidak datang menyusul, kamu tidak usah menunggu lebih lama lagi…!”

“Toako, apakah katamu?” tanya Siauw Eng gelisah. “Kita sudah minum arak bercampur darah, kita sudah bersumpah untuk hidup atau mati bersama, maka itu kenapa kau anjurkan kita lari menyingkir?”

Tin Ok goyang tangannya berulang-ulang. “Lekas pergi, lekas pergi!” katanya mendesak. “Lambat sedikit sudah tidak keburu lagi!”

Han Po Kie menjadi gusar. “Apakah kau sangka kita orang-orang yang tidak berbudi?!” dia tanya membentak.

“Mereka berdua lihay luar biasa,” Tin Ok bilang, “Mereka sekarang lagi meyakinkan ilmu Kiu im Pek¬kut Jiauw itu, walaupun mereka belum dapat merampunginya, mereka toh sudah paham delapan atau sembilan bagian, sekalipun kita bertujuh, kita pasti bukan tandingan mereka. Kenapa kita mesti antar jiwa sia-sia?”

Enam saudara itu ketahui kakak mereka ini beradat tinggi, belum pernah ia puji kepandaian lain orang, sekali pula Khu Cie Kee yang lihay, dia berani lawan, tetapi sekarang ia jeri terhadap dua orang itu, Tong Sie si Mayat Perunggu dan Tiat Sie si mayat Besi, mereka mau percaya sang kakak tidaklah tengah berdusta. Tentu saja, karenanya mereka menjadi ragu-ragu.

“Kalau begitu, marilah kita pergi sama-sama,” Kim Hoat mengajak.

Tin Ok tidak setuju, dengan dingin ia berkata: “Mereka sudah celakai aku seumur hidup, sakit hati ini tak dapat tidak dibalas!”

Lam Hie Jin segera campur bicara. “Ada rejeki kita mencicipi bersama, ada kesusahan kita derita bersama juga!” katanya. Ia omong singkat tetapi kata-katanya sangat tepat yang tak dapat diubah lagi.

Tin Ok menjadi diam dan berpikir. Sadarlah ia bahwa saudara-saudaranya itu sudah berkeputusan bulat. Dia akhirnya menghela napas. “Baiklah kalau begitu,” katanya kemudian. “Aku cuma minta kalian semua suka berlaku hati-hati. Tong Sie itu ialah pria dan Tat Sie itu wanita, mereka berdua itu adalah suami-istri. Sekarang ini tak ada tempo untuk menjelaskan tentang mereka, Cuma hendak aku pesan masing-masing jagalah diri dengan hati-hati dari cengkraman mereka. Liok-tee, coba jalan seratus tindak ke selatan, lihat benar atau tidak di sana ada sebuah peti mati.”

Coan Kim Hoat, adik yang nomor enam, segera lari ke arah selatan. Setelah seratus tindak, ia tidak lihat peti mati yang disebutkan kakaknya itu, ia Cuma nampak ujungnya sebuah batu lempangan muncul dari dalam tanah, batu itu kotor dengan tanah dan ketutupan rumput hijau. Ia tarik batu itu tetapi tidak bergeming. Dengan menggapai, ia panggil saudara-¬saudaranya yang mengawasi ke arahnya.

Mereka itu segera saja menghampiri. Thio A Seng, Lam Hie Jin dan Han Po Kie, setelah melihat batu itu, bantu saudaranya untuk mencabut. Sekarang barulah papan batu itu dapat disingkirkan. Di bawah sinar rembulan, di bawah batu itu tertampak sebuat peti mati bercorak kotak atau peti batu dan di dalam situ rebah dua mayat.

Kwa Tin Ok, setelah ia diberitahukan adanya kedua mayat itu, sudah lantas lompat turun ke dalam peti mati yang besar itu.

“Musuhku itu bakal lekas datang kemari untuk melatih ilmu silatnya itu, sebagai alatnya kedua mayat ini,” berkata ia, “Maka itu sekarang hendak aku sembunyi di sini, untuk bokong mereka. Saudara-saudara pergi ambil tempat berlindung di empat penjuru, jaga supaya mereka tidak dapat ketahui. Kamu mesti menunggu sampai aku telah tidak dapat bertahan, baru kamu keluar untuk mengepung mereka, waktu itu jangan kamu main kasihan-kasihan lagi. Cara membokong ini bukanlah cara yang benar akan tetapi musuh terlalu tangguh dan telangas, tanpa cara ini jiwa kita bertujuh bakalan tidak dapat ditolongi lagi!” Tin Ok omong dengan perlahan-lahan, tapi kata¬-katanya ditandaskan. Semua saudaranya itu menyahuti dengan janji akan mentaati.

“Musuh itu sangat cerdik dan getap,” Tin Ok berkata pula dengan pesannya, “Sedikit saja ada kelisikan, mereka bakal dapat tahu. Sekarang tutuplah papan batu ini, Cuma tinggali sedikit liang kecil untuk aku bernapas.

Enam saudara itu menurut, mereka lantas bekerja. Perlahan-lahan mereka tutup peti mayat yang istimewa itu. Kemudian, siapkan masing-¬masing senjatanya, mereka berpencar ke empat penjuru sembunyi sambil memasang mata. Di situ ada banyak pepohonan dan rumput tebal.

Han Siauw Eng adalah orang yang hatinya paling khawatir dan paling heran pula. Semenjak ia kenal kakaknya yang tertua itu, baru pertama kali ia dapatkan sikap yang tegang sekali dari kakaknya. Ia sembunyi di samping Cu Cong, maka itu sambil berbisik ia tanya ini kakak nomor dua: “Jieko, Tong Sie dan Tiat Sie itu makhluk macam apa?”

“Merekalah yang di dalam dunia kang-ouw kesohor sebagai Hek Hong Siang Sat,” sahut sang kakak dengan perlahan. “Di masanya mereka itu malang-¬melintang di utara, kau masih kecil sekali citmoay, maka itu kau tidak tahu tentang mereka. Dua orang itu sangat kejam, ilmu silat mereka lihay sekali, baik di Jalan Hitam, maupun di Jalan Putih, siapa dengar mereka, hatinya ciut. Bukan sedikit orang gagah yang roboh di tangan mereka itu.”

“Kenapakah mereka itu tak hendak dikepung beramai-ramai?” Siauw Eng tanya pula.

“Menurut mendiang guru,” Cu Cong menerangkan pula, “Orang-orang gagah dari Selatan dan Utara Sungai Besar pernah tiga kali mengadakan perhimpunan besar di gunung Heng San, lalu beruntun tiga tahun mereka mencoba mengepung Hek Hong Siang Sat, mereka itu dapat lolos. Begitu lihat banyak orang, mereka lantas sembunyikan diri, setelah orang bubaran, mereka muncul pula. Setahu bagaimana, belakangan orang tidak lihat lagi bekas-bekas tapak mereka, maka beberapa tahun kemudian orang anggap, karena dosa kejahatannya sudah meluap, mereka itu telah menemui ajalnya. Tidak disangka-¬sangka sekarang, di tempat belukar seperti ini, kita menemui mereka itu.”

“Apakah nama mereka itu?” Siauw Eng masih menanya.

“Yang pria, disebut Tong Sie, si Mayat Perunggu, bernama Tan Hian Hong,” sahut kakak keduanya itu. “Dia berparas muka semu kuning hangus seperti perunggu, pada wajahnya itu tak pernah tampak tanda kemurkaan atau tertawa, dia beroman seperti mayat saja, maka itu orang juluki dia Tong Sie.”

“Kalau begitu yang wanita, Tiat Sie itu, mestinya berkulit hitam legam?”

“Tidak salah! Dia she Bwee, namanya Tiauw Hong.”

“Toako menyebut ilmu Kiu Im Pek-kut Jiauw, ilmu apakah itu?” tanya adiknya lagi.

“Tentang ilmu itu belum pernah aku mendengarnya,” jawab sang kakak.

Siauw Eng diam sejenak. Lalu ia menyambung lagi, “Kenapa toako tak pernah sebut-sebut itu? Mustahilkah…”

Nona ini berhenti berbicara dengan tiba-tiba, sebab Cu Cong mendekap mulutnya yang kecil mungil itu.

“Sstt!” berbisik sang kakak itu seraya tangannya menunjuk ke bawah bukit.

Siauw Eng segera memasang matanya ke arah tempat ynag ditunjuk itu. Di bawah terangnya sinar rembulan, ia tampak seuatu benda hitam lagi bergerak-gerak cepat di atas tanah berpasir.

“Sungguh memalukan,” ia mengeluh di dalam hatinya, “Kiranya jieko waspada sekali, sambil memberi keterangan padaku, ia terus pasang matanya.”

Sebentar saja benda itu sudah datang semakin dekat. Maka sekarang tampaklah dengan nyata: Itulah dua orang, yang berjalan rapat satu dengan lain, hingga mereka merupakan sebagai satu bayangan yang besar.

Enam saudara dari Kanglam itu menahan napas, semuanya bersiap sedia. Cu Cong cekal kipasnya peranti menotok jalan darah. Siauw Eng tancap pedangnya ke tanah, guna cegah sinarnya berkilauan.

Sekarang terdengar suara pasir disebabkan tindakan kaki, suara itu menyebabkan ketegangan di hati ke enam bersaudara itu.

Kapan sebentar kemudian tindakan kaki tak menerbitkan suara pula, di atas bukit itu tertampak dua orang bagai bayangan, berdiri diam. Dilihat dari kepalanya, yang memakai kopiah kulit, yang satu mirip orang Mongol. Yang kedua yang rambutnya panjang melambai-lambai ditiup angin, adalah seorang wanita.

“Mestinya dia Tong Sie dan Tiat Sie,” pikir Siauw Eng. “Sekarang ingin aku saksikan bagaimana mereka melatih diri….”

Si wanita sudah lantas berjalan mengitari si pria, nyata terdengar buku tulang-tulangnya bersuara meretek, mengikuti jalannya, dari lambat menjadi cepat, suaranya semakin keras.

Enam saudara itu menjadi heran. “Tenaga dalamnya begitu hebat, pantas toako memuji mereka,” pikir mereka.

Wanita itu menggerakkan kedua tangannya, diulur dan ditarik, saban-saban terdengar suara mereteknya. Rambutnya pun mengikuti bergerak-gerak juga.

Siauw Eng bernyali besar tetapi ia toh menggigil pula.

Tiba-tiba si wanita itu angkat tangan kanannya, disusul sama tangan kirinya menyerang dada si pria.

Heran enam saudara itu. “Dapatkah si pria, dengan darah dagingnya manusia, bertahan terhadap serangan itu?” tanya mereka di dalam hati.

Selagi begitu, si wanita sudah menyerang pula ke perut, beruntun hingga tujuh kali, setiap serangan bertambah cepat, bertambah hebat. Tapi si pria mirip mayat, tubuhnya tidak bergeming, tak bersuara. Tepat sampai pukulan yang ke sembilan, wanita itu lompat mencelat, jumpalitan, kepala di bawah, kaki di atas, tangan kirinya menyambar kopiah si pria, tangan kanannya, dengan lima jari, mencengkeram ke ubun-ubun si pria.

Hampir Siauw Eng menjerit karena kagetnya. Si wanita sebaliknya tertawa besar dan panjang, kapan tangan kanannya di tarik, lima jarinya berlumuran darah pula. Sembari mengawasi tangannya itu, ia masih tertawa. Tiba-tiba saja ia menoleh ke arah Siauw Eng, hingga si nona dapat nampak wajah orang – satu wajah hitam manis, usianya ditaksir kira-kira empatpuluh tahun. Hanya aneh, walaupun ia tertawa, mukanya tidak tersenyum.

Sekarang enam saudara itu ketahui, si pria bukan Tong Sie, si suami, hanya seorang yang lain, yang rupanya ditangkap untuk dijadikan bahan atau korban latihan Kiu Im Pek-kut Jiauw, Cengkeraman Tulang Putih. Maka terang sudah, wanita itu adalah Tiat Sie Bwee Tiauw Hong, si Mayat Besi, sang istri. dengan sendirinya mereka menjadi membenci kekejaman wanita itu.

Seberhentinya tertawa, Tiauw Hong geraki kedua tangannya, untuk merobek membuka pakaian korbannya. di Utara ini, dimana hawa udara sangat dingin, orang memakai baju kulit, tetapi sekarang, gampang saja si wanita ini menelanjangi pria itu, tubuh siapa lalu ia letaki di tanah. habis itu, dengan rangkap kedua tangannya, si wanita itu berjinjit, berlompatan mengitari korbannya itu. Diwaktu melompat, dia tidak tekuk dengkulnya, tidak membungkuk tubuhnya. Dia lompat tingginya beberapa kaki, lempang jegar.

Disamping heran dan gusar, enam saudara itu merasa kagum.

Wanita itu berhenti berlompatan dan berputaran sesudah ia berpekik keras dan panjang sambil ia lompat tinggi berjumpalitan dua kali, ia turun di sisi mayat, dua tangannya dipakai menjambak dada dan perut mayat itu, untuk menarik keluar isi perut orang. Di bawah sinar rembulan, wanita itu memeriksa, lalau ia membuangnya setiap isi perut itu, paru-paru dan jantung, yang semuanya telah tak utuh lagi.

Nyatalah, dengan sembilan kali serangannya – Kiu im – wanita ini membikin rusak isi perut pria itu, dan ia memeriksa, membuktikan sampai di mana hasil latihannya itu.

Bukan kepalang gusarnya Siauw Eng. ia dapat menduga, tumpukan tengkorak itu terang adalah korban-korbannya wanita kejam ini. Tanpa merasa, ia cabut pedangnya, hendak ia menerjang wanita itu.

Disaat berbahaya itu, Cu Cong tarik si nona dan menggoyangi tangannya. Saudara yang kedua ini telah berpikir: “Tiat Sie sendirian, biar dia lihay, kalau dikepung bertujuh, kita pasti dapat melawan. Kalau dia terbunuh lebih dahulu, jadi lebih gampang untuk melayani Tong Sie. Kalau mereka ada berdua, tak dapat mereka layani…..Tapi, siapa tahu Tong Sie bersembunyi? siapa tahu kalau dia muncul mendadak, untuk membokong kita? Toako telah memikir jauh, baiklah kita taati pesannya. Biar toako yang mendahului…”

Habis memeriksa isi perut mayat, Tiat Sie nampaknya puas, ia lantas duduk numprah di tanah. Dengan menghadapi rembulan, ia tarik napasnya keluar masuk, untuk melatih tenaga dalamnya. Ia duduk dengan membelakangi Cu Cong dan Siauw Eng, nampak nyata bokongnya bergerak-gerak.

“Kalau sekarang aku tikam dia, sembilan puluh sembilan persen, aku dapat tublas tembus bebokongnya! pikir si nona Han. “Hanya kalau aku gagal, akibatnya mesti hebat sekali……………”

Karenanya ia ragu-ragu, ia bergemetar sendiri. Tegang hatinya.

Cu Cong pun sama tegangnya sampai ia menahan napasnya.

Habis melatih napasnya, Bwee Tiauw Hong bangkit berdiri. Ia lantas seret mayat korbannya, dibawa ke peti mayat di mana Kwa Tin Ok umpatkan diri. Ia membungkuk, untuk angkat tutup peti mati istimewa itu.

Enam saudara itu bersiap. Begitu tutup dibuka, hendak mereka menerjang berbareng.

Tiba-tiba Bwee Tiauw Hong mendengar berkelisiknya daun pohon di sebelah belakangnya. Perlahan sekali suara itu, seperti desairnya angin. ia toh berpaling dengan segera. ia dapat lihat seperti bayangannya satu kepala orang di atas pohon. Tak ayal lagi, berbareng dengan pekiknya, ia lompat ke arah pohon itu.

Itulah Ma Ong Sin Han Po Kie yang sembunyi di pohon itu. Ia bertubuh kate, ia percaya dengan sembunyi di atas pohon, ia tak bakal dapat dilihat. Ia hendak berlompat turun ketika tubuhnya bergerak bangun, ia tidak sangka, ia dapat dipergoki wanita lihay itu yang segera menerjang ke arahnya. Tanpa sangsi ia kerahkan tenaganya, akan sambut wanita itu dengan cambuknya Kim-liong-pian. Ia mengarah ke lengan.

Bwee Tiauw Hong tidak berkelit atau menangkis, sebaliknya, ia papaki cambuk itu, untuk terus disambar, dicekal dan dibarengi ditarik dengan keras!

Po Kie merasakan satu tenaga keras menarik, tetapi ia juga bertenaga besar, ia juga balik menarik. Mengikuti tarikan orang, atau lebih benar mengikuti cambuk Naga Emas. Bwee Tiauw Hong menyambar dengan tangannya yang kiri, yang cepat bagaikan angin, anginnya pun tiba lebih dahulu. Po Kie menginsyafi bahaya, ia lepaskan cambuknya, terus ia lompat berjumpalitan. Tiauw Hong tidak hendak memberi lolos, lima jari tangannya menyambar ke arah bebokong si cebol itu. Po Kie merasakan angin dingin di pundaknya, sekali lagi ia enjot tubuhnya, untuk meleset ke depan.

Di saat itu, di bawah pohon, Lam Hie Jin dengan Touw-kut-cui, Bor Menembuskan Tulang, dan Coan Kim Hoat dengan sepasang panah tangannya, menyambar ke arah musuh itu. Tiauw Hong ketahui itu, seperti juga sebuah kipas besi, ia menyambok dengan tangannya yang kiri, hingga kedua senjata rahasia itu jatuh ke tanah, sedang di lain pihak, tangan kanannya telah merobek baju Po Kie di bagian bebokongnya!

Po Kie menekan tanah dengan kaki kiri, ia enjot tubuhnya, loncat pula. Tetapi Tiauw Hong, yang sangat gesit, sudah lompat hingga di depannya dan sambil menanya: “Kau siapa?! Perlu apa kau datang kemari?!” sepasang tangannya sudah mampir di pundak orang, hingga PO Kie merasakan sakit sekali, sebab sepuluh kukunya telah nancap di dagingnya. Dia menjadi kesakitan, kaget dan gusar, dia angkat kakinya, menendang ke arah perut. Hebat kesudahan tendangan ini. Tendangan seperti mengenai papan batu, di antara suara keras, kaki itu terseleo tekukannya, sakitnya luar biasa, sampai ke ulu hati, ia roboh hampir pingsan, hanya dasar jago, dia masih bisa menggulingkan diri, menyingkir jauh.

Tiauw Hong sangat lihay, dan gesit sekali, masih dia lompat, untuk menendang bebokong musuh gelapnya, hanya di saat itu, sebuah kayu pikulan yang hitam menyambar dari samping, mengarah kakinya. Batal menyerang, dia lompat mundur satu tindak. Hanya kali ini, dengan lihay mata jelinya kupingnya, dia segera mengerti bahwa dia telah berada dalam kepungan.

Satu pelajar yang memegang kipas totokan dan satu nona yang bersenjatakan pedang, menyerang dari kanannya, sedang dari kirinya datang serangan golok dari seseorang yang bertubuh jangkung gemuk serta seorang kurus dengan senjata yang neh, sementara penyerang dengan kayu pikulan itu adalah seorang desa. ia menjadi heran dan gentar pula. Semua penyerang itu tidak dikenalnya dan mereka agaknya lihay. Maka ia lantas berpikir: “Mereka banyak, aku sendirian, baiklah aku robohkan dulu beberapa diantaranya.” Demikian, dengan satu kali meleset, ia menyambar ke mukanya Siauw Eng!

Cu Cong melihat ancaman bahaya adiknya itu, ia menyerang jalan darah kiok-tie-hiat dari musuh lihay itu. Tapi Tiat Sie si Myata Besi benar-benar lihay, malah aneh juga, sebab ia tidak pedulikan totokan itu, dia teruskan sambarannya kepada nona Han itu.

Dengan satu gerakan “Pek louw heng kang” atau “ Embun putih melintangi sungai”, Siauw Eng membabat tangan musuh, atas mana, dengan putar ugal-ugalan tangannya, Bwee Tiauw Hong dengan berani berbalik menyambar pedang. Dia agaknya tidak takut senjata tajam itu. Siauw Eng menjadi terkejut, cepat-cepat ia melompat mundur.

Disaat itu, dengan perdengarkan suara membeletak, kipas Cu Cong telah mengenai tepat sasarannya, jalan darah kiok-tie-hiat. Biasanya, siapa terkena totokan itu, segera tangannya kaku dan mati. Cu Cong tahu ia telah dapat menghajar sasarannya, hatinya girang sekali. Justru bergirang itu, tahu-tahu tangan musuh berkelebat, menyambar ke kepalanya!

Bukan main kagetnya Manusia Aneh yang kedua ini. Dengan perlihatkan kegesitannya, lompat melesat, untuk membebaskan diri dari sambaran itu. Ia lolos tetapi kegetnya tak kepalang, herannya bukan buatan.

“Mungkin ia tidak mempunyai jalan darah?” pikirnya.

Ketika itu, Han Po Kie sudah jemput cambuknya, dengan bekersama dengan kelima saudaranya, ia maju pula, mengepung musuh yang lihay itu, maka juga pedang dan golok semua seperti merabu Bwee Tiauw Hong. Akan tetapi si Mayat Besi tak jeri, dia seperti tidak menghiraukan enam rupa senjata musuh itu, ia terus melawan dengan sepasang tangannya yang berdarah daging!

Dengan kuku-kukunya yang seperti gaetan besi, Bwee Tiauw Hong main sambar musuh, untuk merampas senjata, guna mencengkeram daging. Menyaksikan itu, enam Manusia Aneh itu menjadi ingat semua tengkorak yang berliangkan bekas jari tangan itu, dengan sendirinya hati mereka menjadi gentar. Mereka juga mendapatkan tubuh orang seperti besi kuatnya

Dua kali bandulan timbangan Coan Kim Hoat mengenai bebokongnya Tiat Sie dan satu kali kayu pikulannya Kanglam Liok Koay menyambar paha, tetapi Bwee Tiauw Hong agaknya tidak terluka, sedang seharusnya dia mesti patah atau remuk tulang-tulangnya. Karena ini, teranglah orang telah punya Kim-ciong-tiauw – Kurungan Loncang Emas, dan Tiat-pou-san – Baju Besi, dua macam ilmu kedot.

Kecuali golok lancipnya dari Thio A Seng dan pedang tajam dari Han Siauw Eng, semua senjata lainnya, berani Tiat Sie sambut dengan tubuhnya yang tangguh itu.

Lagi sesaat, Coan Kim Hoat berlaku rada ayal, tidak ampun lagi bahu kirinya kena dicengkeram Bwee Tiauw Hong. Lima Manusia aneh lainnya kaget, mereka menyerang dengan berbareng guna menolong saudara mereka. Tapi si Mayat Besi sudah berhasil, tak saja bajunya Kim Hoat robek, sepotong dagingnya pun kena tercukil dan dia berdarah-darah.

Cu Cong jadi berpikir, ia menduga-duga dimana kelemahan musuh lihay itu. Ia tahu betul, siapa punya ilmu kedot, ia mesti mempunyai suatu anggota kelemahannya. Karena ini ia berlompatan, menyerang sambil mencari-cari. Di batok kepala ia totok jalan darah pek-hoay, di tenggorokan jalan darah hoan-kiat, sedang di perut jalan darah cee-cun dan di bebokong jalan darah bwee-liong, demikian pun jalan darah lainnya. Ia sudah menotok belasan kali, tidak juga ada hasilnya, hingga ia menjadi berpikir keras.

Bwee Tiauw Hong dapat menerka maksud orang. Dia berseru: “Siucay rudin, ketahui olehmu, pada nyonya besarmu tidak ada bagian yang lemah, semua anggota tubuh telah terlatih sempurna!” Dan tangannya menyambar lengan si pelajar itu!

Cu Cong terkejut, baiknya ia gesit dan cerdik, tak tunggu tibanya cengkeraman, ia mendahului menotok telapak tangan orang.

Tiauw Hong kena cekal barang keras, ia heran, justru itu Cu Cong bebaskan diri.

Manusia Aneh yang kedua itu menyingkir beberapa tindak, untuk lihat lengannya. Di sana terpeta tapak lima jari tangan, melihat mana, ia menjadi terkesiap hatinya. Syukur ia keburu membela dirinya, kalau tidak, celakalah ia. Ia menjadi bersangsi. Dipihaknya, sudah ada tiga yang kena tangan lihay si Mayat Besi. Coba Tong Sie si Mayat Perunggu muncul, tidakkah mereka bertujuh saudara bakal roboh semuanya?

Thio A Seng, Han Po Kie dan Coan Kim Hoat sudah lantas mulai tersengal-sengal napasnya, jidat mereka bermandikan peluh. Tinggal Lam Hie Jin yang masih dapat bertahan demikian juga dengan Lam Siauw Eng – Hie Jin karena tenaga dalamnya sempurna, Siauw Eng lantaran kegesitan tubuhnya. Dipihak sana, Tiauw Hong malah bertambah gagah nampaknya.

Satu kali Cu Cong kebetulan menoleh ke arah tumpukan tengkorak, ia dapat lihat cahaya putih dari tengkorak-tengkorak itu. Tiba-tiba ia bergidik, tetapi tiba-tiba juga, ia jadi ingat sesuatu. Segera ia melompat, untuk lari ke arah peti mati, di mana Kwa Tin Ok lagi sembunyikan diri, sembari berlari, ia berteriak: “Semua lekas menyingkir!”

Lima saudara itu mengerti teriakan itu, mereka lantas berkelahi sambil mundur.

“Dari mana munculnya segala orang hutan yang hendak mencurangi nyonya besarmu!” kata Tiauw Hong dengan ejekannya. “Sekarang sudah terlambat untuk kamu melarikan diri…!” segera ia merangsak.

Lam Hie Jin bersama Coan Kim Boat dan Han Siauw Eng mencoba merintangi musuh ini, selagi begitu Cu Cong bersama Thio A Seng dan Han Po Kie, yang sudah lantas lari ke peti mati, sudah lantas kerahkan tenaga mereka, untuk angkat papan batu tutup dari peti mati itu. Mereka menggesernya ke samping.

Hebat Bwee Tiauw Hong, ia dapat menyambar kayu pikulan dari Lam Hie Jin. Ia menggunai tangan kirinya, maka itu dengan tangan kanannya, ia sambar sepasang mata lawannya itu.

Disaat itu, Cu Cong berteriak keras: “Lekas turun menyerang!” Dengan tangan kanan ia menunjuk ke atas, kedua matanya mengawasi ke langit, dengan tangan kirinya, yang diangkat tinggi, ia menggapai¬-gapai. Itulah teriakan dan tanda untuk kawannya yang sembunyi di dalam peti mati, supaya kawan itu segera turun tangan.

Bwee Tiauw Hong heran, tanpa merasa ia angkat kepalanya, memandang ke atas. Ia melainkan hanya lihat rembulan, ia tak tampak manusia seorang juga.

“Di depan tujuh tindak!” Cu Cong teriak pula.

Kwa Tin Ok di dalam peti mati telah siap sedia, segera kedua tangannya diayunkan, dengan begitu enam buah senjata rahasianya sudah lantas menyerang ke tempat tujuh tindak, sasarannya adalah tiga bagian atas, tengah dan bawah. Pun, sambil berseru keras, ia turut lompat keluar dari dalam peti mati. Maka itu, ia sudah lantas bekerja sama dengan enam saudaranya itu.

Bwee Tiauw Hong sendiri sudah lantas perdengarkan jeritan hebat dan menggiriskan. Nyata kedua matanya telah menjadi korban tok-leng, senjata rahasianya Tin Ok itu. Empat yang lain, yang mengenai dada dan paha, tidak memberi hasil, empat¬empatnya jatuh menggeletak di tanah.

Bwee Tiauw Hong merasakan sangat sakit dan juga menjadi sangat gusar, tanpa hiraukan sakitnya itu, ia menggempur terus dengan kedua tangannya kepada Kwa Tin Ok, akan tetapi Tin Ok telah segara berkelit ke samping. Dengan menerbitkan suara keras, batu telah kena terhajar hancur. Dalam murkanya, Tiauw Hong terus menendang papan batu yang menghalangi di depannya, papan batu itu terpatah menjadi dua tanpa ampun lagi!

Kanglam Cit Koay menyaksikan itu, hati mereka menggetar. Untuk sesaat mereka tidak menyerang pula.

Bwee Tiauw Hong telah kehilangan penglihatan kedua matanya, maka itu sekarang ia berkelahi secara kalap, ia bersilat ke empat penjuru, kedua tangannya menyambar berulang-ulang.

Cu Cong tidak buka suara, dengan tangannya ia memberi tanda kepada saudara-saudaranya menjauhkan diri dari orang kalap itu, dari itu, dari jauh-¬jauh, mereka menyaksikan lebih jauh bagaimana Mayat Besi menyambar pepohonan dan batu yang melintang di depannya, ia membuatnya pohon-pohon rubuh dan batu hancur tertendang.

Selang sekian lama, Tiauw Hong merasa matanya keras. Ia rupanya menginsyafi yang ia telah terkena senjata rahasia yang ada racunnya.

“Kamu siapa?!” ia berteriak dengan pertanyaannya. “Lekas kasih tahu! Kalau nyonya besarmu mati, ia akan mati dengan puas!”

Cu Cong menggoyang tangan kepada kakak tertuanya, untuk kakak itu jangan membuka suara. Ia ingin si Mayat Besi mati sendirinya karena bekerjanya racun senjata rahasia itu. Baharu dua kali ia menggoyangkan tangannya, ia jadi terperanjat sendirinya. Kakak itu buta, mana dapat ia melihat tandanya itu?

Benar saja, Tin Ok sudah perdengarkan suaranya yang dingin itu. “Apakah kau masih ingat Hui-thian Sin Liong Kwa Pek Shia atau Hui-thian Pian-hok Kwa Tin Ok?” demikian tanyanya.

Bwee Tiauw Hong melengak dan lalu tertawa panjang. “Hai, bocah kiranya kau belum mampus?” tanya dia. “Jadinya kau datang untuk menuntut balas untuk Hui-thian Sin Liong?”

“Tidak salah!” jawab Tin Ok. “Kau juga belum mampus, bagus!”

Tiauw Hong menghela napas, ia berdiam.

Tujuh saudara itu mengawasi, mereka berdiam tetapi siap sedia. Ketika itu angin dingin meniup membuat orang mengkirik.

“Toako awas!” sekonyong-konyong Cu Cong dan Coan Kim Hoat berseru.

Belum habis peringatan kedua saudara itu, Tin Ok sudah merasakan sambaran angin ke arah dadanya, dengan menukikkan tongkat besinya ke tanah, tubuhnya lalu meleset naik ke atas pohon.

Bwee Tiauw Hong tubruk sasaran kosong, karenanya tubuhnya maju terus, merangkul pohon besar di belakang Tin Ok tadi, batang pohon besar itu tercengkeram sepuluh jarinya, menampak mana, enam Manusia Aneh itu bergidik sendirinya. Coba Tin Ok yang terkena rangkul, masihkah ia mempunyakan nyawa?

Gagal serangan itu, Bwee Tiauw Hong berpekik keras, suaranya tajam dan terdengar jauh.

“Celaka, dia lagi memanggil Tong Sie, suaminya…” kata Cu Cong dalam hatinya. Lalu ia meneruskan dengan seruannya: ”Lekas bereskan dia!” Ia pun mendahulukan, dengan kerahkan tenaga di tangannya, ia serang bebokongnya si Mayat Besi. Ia menepuk keras.

Thio A Seng menyerang dengan salah satu potong papan batu yang tadi ditendang patah Bwee Tiauw Hong. Ia pilih batok kepala musuh sebagai sasarannya.

Tiat Sie buta sekarang, ia pun belum pernah meyakinkan ilmu mendengar suara seperti Kwa Tin Ok, akan tetapi kupingnya terang, sambaran angin papan batu itu pun keras, ia dengar angin itu, maka itu, ia segera berkelit ke samping. Ia dapat menghindar dari batu tetapi tidak serangannya Cu Cong. Ia menjadi kaget apabila ia merasakan bebokongnya sakit sampai jauh di ulu hatinya. Tidak peduli ia kebal tetapi serangan Biauw Ciu Sie-seng hebat bukan main, ia tergempur di bagian dalam.

Setelah hasilnya yang pertama ini, Cu Cong tidak berhenti sampai di situ. Segera menyusul serangannya yang kedua. Kali ini ia gagal, ia malah mesti lompat menyingkir. Rupanya Tiauw Hong telah dapat menduga, ia mendahulukan menyambar. tentu saja Manusia Aneh yang kedua ini tidak sudi menjadi korban.

Hampir berbareng dengan itu, dari kejauhan terdengar pekik nyaring seperti pekikan Tiauw Hong barusan. Pekikan itu membuat hati orang terkesiap. lalu menyusul pekik yang kedua, yang terlebih nyaring lagi, tanda bahwa orang yang memperdengarkan itu telah datang lebih dekat.

Kanglam Cit Koay terkejut. “Hebat larinya orang itu!” kata beberapa diantaranya.

Han Siauw Eng lompat ke samping, untuk memandang ke bawah bukit. Ia tampak satu bayangan hitam lari mendatangi dengan cepat sekali. Sembari mendatangi, bayangan itu masih berpekik-pekik.

Ketika itu Bwee Tiauw Hong sudah tidak mengamuk seorang diri lagi, ia berdiri diam dengan sikapnya yang siap sedia, napasnya diempos, guna mencegah racun di matanya dapat menjalar. Dengan sikapnya ini ia menantikan suaminya, untuk tolongi dia sambil membasmi musuh….

Cu Cong segera geraki tangannya ke arah Coan Kim Hoat, lalu berdua mereka lompat ke gombolan rumput. Cu Cong ambil sikapnya ini untuk bersedia membokong musuh. Ia percaya Tong Sie terlebih lihay daripada Tiat Sie, dari itu, ia terpaksa menggunai akal ini.

Waktu itu Siauw Eng telah kasih dengar suara kaget. Ia tampak sekarang, di depan bayangan yang berpekikan tak hentinya itu, ada satu bayangan lain, yang kecil dan kate. Karena tubuhnya kecil, bayangan ini tadi tidak kelihatan. Ia lantas lari turun ke arah orang bertubuh kecil dan kate itu, sebab ia segera menduga kepada Kwee Ceng. Ia khawatir berbareng girang. Ia khawatir keselamatannya bocah itu, ia girang yang orang telah menepati janji. Dan ia kemudia berlari, untuk memapaki, guna menyambut bocah itu.

Selagi dua orang ini mendatangi dekat satu dengan lain, Tong Sie si Mayat Perunggu pun telah mendatangi semakin dekat kepada Kwee ceng. Ia dapat berlari dengan cepat luar biasa.

“Inilah hebat…” pikir Siauw Eng. “Aku bukan tandingan Tong Sie….tapi mana dapat aku tidak menolong bocah itu?” Maka terpaksa ia cepatkan tindakannya, terpaksa ia berteriak: “Bocah, lekas lari, lekas lari!”

Kwee Ceng dengar suara itu, ia lihat si nona, ia menjadi kegirangan hingga ie berseru. ia tidak tahu, di belakangnya tangan maut menghampiri.

Siauw Mie To Thio A Seng telah menaruh hati kepada Han Siauw Eng sejak beberapa tahun, sampai sebegitu jauh belum pernah ia berani mengutarakan rasa hatinya itu, sekarang ia lihat si nona Han terancam bahaya, ia kaget dan khawatir, dengan melupakan bahaya, ia lari turun, niatnya mendahului nona itu, untuk memberi tahu supaya, habis menolong orang, segera menyingkir.

Lam Hie Jin semua memasang mata ke bawah bukit, mereka siap dengan senjata rahasia masing-masing, untuk menolongi Siauw Eng dan A Seng.

Siauw Eng sampai kepada Kwee Ceng, tanpa bilang suatu apapun, ia sambar bocah itu, terus ia memutar tubuh, guna lari balik, mendaki bukit. Tiba-tiba ia merasa tangannya enteng, berbareng dengan itu, Kwee Ceng pun menjerit kaget! Bocah itu telah dirampas Tan Hian Hong, bayangan yang mengejar itu.

Dengan kegesitannya, Siauw Eng lompat ke samping, dari situ ia menyerang dengan pedangnya ke iga kiri si Mayat Perunggu, tetapi ia gagal, ia susul dengan tikaman ke arah mata. Dengan beruntun ia mainkan jurus “Hong Hong tiam tauw” – Burung Hong menggoyang kepala, dan “Wat Lie Kiam-hoat” ¬ilmu pedang gadis Wat.

Tan Hian Hong mengempit Kwee Ceng dengan lengan kirinya, ia kasih lewat ujung pedang, lalu dengan sikut kanannya, ia menyampok, setelah pedang itu berpindah arah, ia meneruskan menyambar si nona dengan jurus “Sun swi twi couw” – Menolak Perahu Mengikuti Air. Sia-sia Siauw Eng tarik pedangnya, untuk diteruskan dipakai membabat, tanganya Hian Hong mendahulukan menepuk pundaknya, hingga seketika ia roboh ke tanah.

Tan Hian Hong tidak berhenti sampai disitu, ia memburu dan ulur tangannya yang terbuka ke ubun-¬ubun nona Han. Ia bergerak dalam jurus Kiu Im Pek-kut Jiauw yang lihay untuk meremukkan batok kepala orang.

Thio A Seng sudah maju tinggal beberapa tindak lagi, ia melihat ancaman bahaya terhadap si nona yang ia sayangi, ia lompat kepada si nona, mengahalangi serangan, tetapi justru karena ini, bebokongnya mewakilkan Siauw Eng kena dijambret, hingga lima jarinya si Mayat Perunggu masuk ke dalam dagingnya. Ia menjerit keras tetapi pedangnya dikerjakan untuk dipakai menikam ke dada lawan! Hanya, kapan Hian Hong mengempos semangatnya, pedang itu meleset. Berbareng dengan itu, si Mayat Perunggu lemparkan tubuh musuhnya.

Cu Cong bersama Coan Kim Hoat, Lam Hie Jin dan Han Po Kie lantas lari menyusul tubuh saudaranya itu.

“Hai, perempuan bangsat, bagaimana kau?!” terdengar teriakan Hian Hong.

Tiauw Hong tengah memegang pohon besar, ia menyahut dengan keras: “Lelaki bangsat, sepasang mataku dirusak oleh mereka itu! kalau kau kasih lolos satu saja diantara tiga ekor anjing itu, aku adu jiwa denganmu!”

“Bangsat perempuan, legakan hatimu!” sahut Tan Hian Hong. “Satu juga tidak bakal lolos!” sambil mengucap begitu, ia serang Han Siauw Eng dengan kedua tangannya.

Dengan gerakannya “Lay louw ta Kun” atau “Keledai malas bergulingan”, Siauw Eng buang diri dengan bergulingan, dengan begitu ia bisa menyingkir beberapa tindak, hingga ia bebas dari bahaya.

“Kau masih mikir untuk menyingkir?” tanya Hian Hong.

Thio A Seng rebah di tanah dengan terluka parah, menampak nona Han dalam bahaya, ia menahan sakit, ia kerahkan semua tenaganya, ia menerjang musuh.

Hian Hong lihay sekali, batal meneruskan serangannya kepada Siauw Eng, ia papaki kakinya Thio A Seng itu, lima jarinya masuk ke dalam daging betis, maka itu, tak dapat Siauw Mie To bertahan lagi, setelah satu jeritan keras, ia jatuh pingsan.

Justru itu, Siauw Eng lepas dari marabahaya, sambil lompat bangun, ia menyerang musuhnya. Tapi sekarang ia menginsyafi lihaynya musuh, ia tak mau berkelahi secara rapat, saban kali si Mayat Perunggu hendak menjambak, ia jauhkan diri, ia berputaran.

Di waktu itu, Lam Hie Jin dan yang lainnya telah tiba, malah Cu Cong bersama Coan Kim Hoat mendahului menyerang dengan senjata rahasia.

Tan Hian Hong kaget dan heran akan menyaksikan semua musuhnya demikian lihay, ia menduga-duga siapa mereka dan kenapa mereka itu muncul di gurun pasir ini. Akhirnya ia berteriak: “Eh, perempuan bangsat, makhluk-makhluk ini orang-orang macam apakah?!”

Bwe Tiauw Hong sahuti suaminya itu: “Mereka itu adalah saudaranya Hui-thian Sin Liong dan konconya Hui Thian Phian-hok!”

“Oh!” berseru Hian Hong. Lantas ia mendamprat: “Bagus betul, bangsat anjing, kiranya kau belum mampus! Jadinya kamu datang kemari untuk mengantarkan nyawa kamu!”

Tapi ia juga khawatirkan keselamatan istrinya, ia lalu menanya: “Eh, perempuan bangsat, bagaimana dengan lukamu? Apakah luka itu menghendaki jiwa kecilmu yang busuk itu?!”

Bwee Tiauw Hong menyahuti suaminya dengan mendongkol: “Lekas bunuh mereka! Nyonya besarmu tidak bakalan mampus!”

Hian Hong tahu luka istrinya itu berat, kalau tidak, tidak nanti ia pegang pohon saja dan tidak datang membantu. Istri itu sengaja pentang mulut besar. Ia khawatir tetapi ia dapat menghampiri istrinya itu. Cu Cong berlima telah kurung padanya, sedang yang satunya lagi, yaitu Kwa Tin Ok, berdiri diam sambil menanti saatnya. Ia lantas lepaskan Kwee Ceng, yang ia lempar ke tanah, meneruskan gerakan tangan kirinya itu, ia serang Coan Kim Hoat.

Kim Hoat kaget melihat Kwee Ceng dilempar. Bocah itu dalam bahaya. Karena itu, sambil berkelit, ia terus melompat menyambar tubuh Kwee Ceng, dengan lompat berjumpalit, ia menyingkir setombak lebih. Gerakannya yang dinamakan “Leng miauw pok cie” atau “Kucing gesit menerkam tikus”, untuk menolongi diri berbareng menolong orang.

Hian Hong kagum hingga ia memuji di dalam hatinya. tapi ia telengas, makin lihay musuh, makin keras niatnya untuk membinasakan mereka, apalagi sekarang ini latihannya ilmu yang baru, Kiu Im Pek-kut Jiauw, sudah selesai delapan atau sembilan bagian. Tiba-tiba ia berpekik, kedua tangannya bekerja, meninju dan menyambar.

Kelima Manusia Aneh dari Kanglam itu menginsyafi bahaya, karenanya mereka berkelahi dengan waspada, tak sudi mereka merapatkan diri. Maka itu kurungan mereka menjadi semakin lebar. Setelah berselang begitu lama, Han Po Kie tunjukkan keberaniannya. Ia menyerang dengan Teetong Pian¬hoat, yaitu ilmu bergulingan di tanah, guna menggempur kaki lawan.

Dengan cara ini, perhatian tan Hian Hong terbagi. Karena ini, satu kali ia kena dihajar kayu pikulan Lam Hie Jin, hingga bebokongnya berbunyi bergedebuk. Walaupun merasakan sakit, tapi ia tidak terluka, dia hanya terteriak menjerit-jerit, berbareng dengan itu, tangannya menyambar penyerangnya itu.

Belum lagi Hie Jin menarik pulang senjatanya, sambaran itu sudah sampai kepadanya, terpaksa ia melenggakkan tubuhnya.

Lihay tangannya Hian Hong itu. Diwaktu dipakai menyambar, buku-buku tulangnya memperdengarkan suara berkeretekan, lalu tangannya itu seperti terulur menjadi lebih panjang dari biasanya. berbareng dengan itu juga tercium bau bacin.

Hie Jin kaget sekali. Selagi ia dapat mencium bau itu, tangan musuh yang berwarna biru sudah mendekati alisnya, atau sekarang tangan itu – atau lebih benar lima jarinya – sudah mendekati ubun-¬ubun! Dalam keadaan sangat berbahya itu, ia gunakan Kim-na-hoat, ilmu menangkap tangan, untuk diputar ke kiri.

Berbareng dengan itu, Cu Cong pun merangsak ke belakang Tong Sie, si Mayat Perunggu itu, tangan kanannya yang keras seperti besi, diulur, guna mencekik leher musuh. Karena tangan kanannya itu terangkat, dengan sendirinya dadanya menjadi terbuka. Ia tidak menghiraukan lagi hal ini karena adiknya terancam dan adiknya itu perlu ditolong.

Sekonyong-konyong saja guntur berbunyi sangat nyaring, lalu dengan tiba-tiba juga, mega hitam menutup sang putri malam, hingga semua orang tidak dapat melihat sekalipun lima jari tangannya di depan mata!

Di dalam gelap gulita itu, orang dengar suara merekek dua kali dan suara “Duk!” satu kali, tanda tenaga diadu. Itulah Tan Hian Hong, yang telah pertunjuki tenaganya yang menyebabkan Hie in patah bahu kirinya, sedang sikutnya yang kiri menghajar dadanya Cu Cong.

Rasa sakit tiba-tiba membuat Cu Cong meringis dan tangannya yang dipakai mencekik leher musuh terlepas sendirinya, sebab tubuhnya terpental rubuh saking kerasnya serangan sikut itu.

Hian Hong sendiri bukannya tidak menderita karenanya, sebab tadi hampir-hampir ia tak dapat bernapas, setelah bebas, ia lompat ke samping, mengatur napasnya.

“Semua renggang!” teriak Han Po Kie dalam gelap gulita itu.

“Citmoay, kau bagaimana…”

“Jangan bersuara!” menjawab Siauw Eng, si adik yang ketujuh itu. Dan ia lari ke samping beberapa tindak.

Kwa Tin Ok dengari segala gerak-gerik, ia menjadi heran sekali. “Jitee, kau bagaimana?” ia terpaksa bertanya.

“Sekarang ini langit gelap sekali, siapa pun tidak dapat melihat,” Coan Kim Hoat memberitahu.

Mendengar itu, Hui Thian Pian-hok si Kelelawar Terbangkan Langit itu menjadi girang luar biasa. “Thian membantu aku!” ia memuji dalam hatinya.

Diantara tujuh Manusia Aneh, tiga sudah terluka parah, itu artinya Kanglam Cit Koay telah kalah besar, maka syukur untuknya, sang guntur menyebabkan langit menjadi gelap gulita, sang hujan pun turun menyusul. Semua orang berhenti bertempur karenanya, tidak ada satu pun yang berani mendahului bergerak.

Kwa Tin Ok berdiam, dengan lihaynya pendengarannya itu, walaupun ada suara hujan, samar-samar ia masih mendengar suara napas orang. Dengan waspada ia pasang terus kupingnya. Ia dengar suara napas di sebelah kiri, berjarak delapan atau sembilan tindak darinya. Ia merasa pasti, itu bukan napas saudara angkatnya, lantas ia ayunkan kedua tangannya, terbangkan enam batang tok-leng, diarahkan ke tiga penjuru.

Tan Hian Hong adalah orang yang diserang. Si Mayat Perunggu lihay sekali. Ia dengar sambaran angin, ia segera menunduk. Dua batang tok-leng lewat di atas kepalanya. Empat yang lain tepat mengenai tubuhnya, tetapi ia kebal seperti istrinya, ia tidak terluka, hanya merasa sangat sakit. Karena serangan tok-leng ini, ia menjadi tahu di mana adanya si penyerang, musuhnya itu. Ia lompat ke arah musuh itu, kedua tangannya dipakai untuk menyambar. Ia tidak kasih dengar suara apa-apa.

Tin ok dengar suara angin, ia lantas berkelit, sambil berkelit, ia menghajar dengan tongkatnya.

Dengan begitu, di tempat gelap gulita itu, dua orang ini bertempur. Satu dengan yang lain tidak dapat melihat, hanya mengandalkan pendengaran, mereka mendengari suara sambaran angin.

Han Po Kie bersama Han Siauw Eng dan Coan Kim Hoat, yang ketahui kakaknya tengah bertenpur, sudah lantas kasih dengar seruan mereka berulang-ulang, untuk menganjurkan kakak itu, guna mencoba mengacaukan pikiran musuh. Disamping itu dengan meraba-raba, mereka pun menolong tiga saudara mereka yang terluka.

Pertempuran Hian Hong dengan Tin Ok hebat dengan cepat telah berlalu dua sampai tigapuluh jurus. Untuk Han Po Kie beramai, rasanya pertempuran itu berjalan sudah lama, disebabkan ketegangan dan kecemasan. Ingin mereka membantui saudara mereka itu tetapi mereka tidak dapat melihat.

Tiba-tiba Hian Hong menjerit aneh. Dua kali ia terhajar tongkat, suara terhajarnya terdengar nyata. Mendengar itu, Po Kie semua girang. Itulah tandanya kakak mereka mulai berhasil.

Selagi orang kegirangan, mendadak kilat menyambar, memperlihatkan sinar terang.

Coan Kim Hoat terkejut, ia berseru: “Toako, awas!”

Hian Hong sangat lihay dan gesit, selagi Kim Hoat bersuara, tubuhnya sudah mencelat maju, untuk mendesak Kwa Tin Ok. Ia tidak hiraukan tongkat lawan, yang kembali mampir di tubuhnya yang kebal itu. Tongkat itu ia papaki dengan pundaknya yang kiri, tangannya sendiri diputar ke atas, guna menangkap tongkat musuh itu. Berbareng dengan gerakan tangan kiri ini, tangan kanannya menjambak ke depan. Sinar kilat sudah lenyap tetapi sambaran itu telah mengenai sasarannya.

Tin Ok kaget tidak kepalang, ia melompat mundur. Gerakannya itu terhalang, karena bajunya kena terjambak dan robek karenanya. Hian Hong lanjuti serangannya tanpa berlengah sedetikpun, dengan mengepal lima jari tangannya, lengannya itu terulur panjang.

Telak serangan itu, tubuh Tin Ok terhuyung. tapi ia belum bebas bahaya. Tongkatnya yang terampas Hian Hong dipakai menyerang ia dalam rupa timpukan!

Bukan main girangnya si Mayat Perunggu, ia tertawa sambil berlenggak, ia berpekik secara aneh.

Justru itu, kilat berkelebat pula, maka juga Han Po Kie menjadi kaget sekali. ia melihat bagaimana tongkat kakaknya itu, yang digunai Hian Hong, tengah menyambar ke kakaknya yang tubuhnya terhuyung. Syukur dalam kagetnya itu, ia masih ingat untuk segera menyerang dengan cambuknya, mencegah dan melibat tongkat itu.

“Sekarang hendak aku mengambil nyawa anjingmu, manusia cebol terokmok!” berseru Hian Hong, yang lihat aksinya si orang she Han, yang menolong kakanya. Ia lantas lompat kearah si cebol. Tapi kakinya terserimpat, seperti ada tangan yang menyambar merangkul. Orang itu bertubuh kecil.

Dugaannya tidak keliru, orang itu Kwee Ceng! Segera ia menunduk, sambar bocah itu.

“Lepaskan aku!” menjerit Kwee Ceng.

“Hm!” Hian Hong kasih dengar suaranya yang seram.

Tetapi tiba-tiba Tan Hian Hong perdengarkan jeritan yang hebat sekali, tubuhnya roboh terjengkang. Ia terkena bagian tubuhnya yang terpenting, ialah kelemahannya. Ia melatih diri dengan sempurnya, ia menjadi tidak mempan barang tajam, kecuali pusarnya itu. Lebih celaka lagi, ia terkena pisau Khu Cie Kee, yang tajamnya bahkan sanggup mengutung emas dan batu kemala. Diwaktu bertempur ia selalu melindungi perutnya, tetapi sekarang selagi mencekuk satu bocah, ia lupa. Ini dia yang dibilang “Orang yang pandai berenang mati tenggelam, di tanah rata kereta rubuh ringsak”. Sebagai jago is binasa di tangan bocah yang tidak mengerti ilmu silat.

Bwee Tiauw Hong si Mayat Besi mendengar jeritan suaminya, dari atas bukit ia lari menghampiri. Satu kali ia kena injak tempat kosong, ia terjeblos dan roboh terguling-guling. Tetapi ia bertubuh kuat, berurat tembaga bertulang besi, ia tidak terluka. Segera ia tiba di samping suaminya.

“Lelaki bangsat, kau kenapa?” ia tanya. Tak pernah ia lupai kebiasaannya membawa-bawa “bangsat”, sebagaimana juga kebiasaan suaminya.

“Celaka, perempuan bangsat….” sahut Hian Hong lemah. “Lekas kau lari…!”

Kwee Ceng dengar pembicaraan itu. Setelah menikam dan terlepas dari cekukan, ia bersembunyi di pinggiran. Ia takut bukan main.

Sang istri gertak giginya. “Akan aku balaskan sakit hatimu!” ia berseru.

“Kitab itu telah aku bakar…” kata Hian Hong, suaranya terputus-putus. “Rahasianya… di dadaku…” Ia tak dapat bernapas terus, tulang-tulangnya lantas meretak berulang-ulang.

Tiauw Hong tahu, disaat hendak menghembuskan napas terakhir, suaminya itu telah membuyarkan tenaga dalamnya. Itulah siksaan hebat. ia tak dapat mengawasi suaminya itu tersiksa begitu rupa. Maka juga, ia kuatkan hatinya lalu dengan tiba-tiba, ia hajar batok kepala suaminya. Maka sejenak itu, habislah nyawa jago itu.

Istri ini lantas meraba ke dada orang, untuk mengambil kitab yang dikatakan suaminya itu, ialah kitab Kiu Im Cin Keng bagian rahasianya.

Tan Hian Hong dan Bwee Tiauw Hong ini asalnya adalah saudara satu perguruan, mereka adalah murid-¬murid Tocu Oey Yok Su, pemilik dari pulau Tho Hoa To di Tang Hay, Laut Timur.

Oey Yok Su adalah pendiri dari suatu kaum persilatan sendiri, kepandaiannya itu ia ciptakan dan yakinkan di pulau Tho Hoa To itu. Sejak ia berhasil menyempurnakan ilmu kepandaiannya, tidak pernah ia pergi meninggalkan pulaunya itu. Karena ini, untuk di daratan Tionggoan, sedikit orang yang ketahui kelihayannya, maka juga ia kalah terkenal dari kaum Coan Cin Kauw yang kenamaan di Kwantong dan Kwansee dan Toan Sie yang kesohor di Selatan (Thian Lam).

Dua saudara seperguruan itu terlibat api asmara sebelum mereka lulus. Mereka insyaf, kalau rahasia mereka ketahuan, mereka bakal dihukum mati dengan disiksa. Maka itu pada suatu malam gelap buta, mereka naik sebuah perahu kecil, kabur ke pulau Heng To di sebelah selatan, dari mana mereka menyingkir lebih jauh ke Lengpo di propinsi Ciatkang.

Tan Hian Hong tahu, ilmu silatnya cukup untuk membela diri tetapi tak dapat digunai untuk menjagoi, sekalian buron, maka ia tak berbuat kepalang tanggung, ia curi kitab Kiu Im Cin Keng dari gurunya, untuk mana ia nyelusup masuk ke kamar gurunya itu.

Kapan Oey Yok Su ketahui perbuatannya kedua murid itu, ia murka bukan main. Tapi ia telah bersumpah tidak akan meninggalkan Thoa Hoa To, terpaksa ia membiarkan saja, hanya saking murkanya, lain-lain muridnya menjadi korban. Semua muridnya itu ia putuskan urat-uratnya, hingga mereka menjadi manusia-manusia cacad seumur hidup, lalu ia usir mereka dari pulaunya.

Hian Hong dan Tiauw Hong menyembunyikan diri untuk meyakinkan Kiu Im Cin Keng. Dengan begini mereka bikin diri mereka menjadi jago. Belum pernah ada orang yang sanggup robohkan mereka. Sebaliknya, mereka telah minta banyak korban, apapula makin lama mereka jadi makin telangas.

Pada waktu suami istri kejam ini dikeroyok orang-¬orang gagah dari pelbagai partai persilatan di utara Sungai Besar. Medan pertempuran ada di atas gunung Heng San. Dua kali mereka mendapat kemenangan, baru ketiga kalinya, mereka kena dilukai, hingga mereka kabur untuk sembunyikan diri. Kekalahan ini disebabkan terlalu banyak pengepungnya. Mereka sembunyikan diri sampai belasan tahun, tidak ada kabar ceritanya, hingga orang percaya mereka sudah mati karena luka-lukanya. Tidak tahunya, mereka terus menyakinkan Kiu Im Cin Keng bagian “Kiu Im Pek Kut Jiauw” atau “Cengkeraman Tulang Putih” dan “Cui Sim Ciang” atau “ Tangan Peremuk Hati”.

Aneh tabiat Hian Hong, walaupun pada istrinya, ia tidak hendak beri lihat kitab Kiu Im Cin Keng itu, biar bagaimana Tiauw Hong memohonnya, ia tidak ambil peduli, setelah ia sendiri berhasil mempelajarinya, baru ia turunkan kepandaian itu kepada istrinya. Ketika istrinya desak, Hian Hong menjawab: “Sebenarnya kitab ini terdiri dari dua bagian. Saking tergesa-gesa, aku dapat curi cuma sebagian, bagian bawah. Justru di bagian atas adalah pelajaran pokok dasarnya. berbahaya meyakinkan bagian bawah tanpa bagian atas. dari itu, biar aku yakinkan sendiri dulu. Kalau tidak, kau bisa celaka. Kau tahu, kepandaian yang kita dapat dari suhu masih belum cukup untuk pelajari bagian bawah ini. Maka itu, aku mesti teliti.”

Tiauw Hong percaya pada suaminya, ia tidak memaksa lebih jauh. Sekarang, disaat dia hendak menutup mata, Hian Hong suka serahkan kitabnya itu pada istrinya. Tapi bukan kitabnya sendiri yang dia telah bakar, hanya singkatannya atau rahasia pokoknya.

Tiauw Hong lantas raba dada suaminya, ia tidak dapatkan apa-apa. Ia heran hingga ia diam menjublak. Tentu saja, ia menjadi penasaran, maka ia hendak memeriksa terlebih jauh. Sayang ia tidak sempat mewujudkan niatnya itu. Sebab Han Po kie bersama Siauw Eng dan Coan Kim Hoat, membarengi berkelebatnya kilat, hingga mereka bisa melihat musuh, sudah lantas maju menyerang.

Repot juga Tiauw Hong, yang kedua matanya sudah buta. Ia sekarang hanya mengandalkan pada kejelian kupingnya, kepada gerak-gerik angin. Ia tahu orang serang padanya, ia melawan dengan mainkan tipu-tipu Kim-na-hoat, ilmu Menyambar dan Menangkap. Adalah keinginannya ilmu ini agar musuh berkelahi rapat.

Ketiga Manusia Aneh ini menjadi cemas, bukan saja mereka tidak dapat mendesak, mereka sendiri menghadapi ancaman. Di dalam hatinya, Po Kie berkata: “Celaka betul! Bertiga kita lawan satu wanita buta, tidak berhasil, runtuhlah nama Kanglam Cit Koay…” Maka itu, ia berpikir keras. Setelah itu mendadak ia menyerang hebat kepada bebokong lawannya. Ia ambil kedudukan di belakang musuhnya itu.

Terdesak juga Tiauw Hong diserang hebat dari belakang. Ketika ini digunai Siauw Eng akan menikam dengan pedangnya dan Kim Hoat dengan dacinnya. Hebat pengepungan ini.

Sekonyong-konyong datang angin besar, membawa mega hitam dan tebal, membuat langit menjadi gelap ¬gulita. Saking hebatnya, pasir dan batu pada beterbangan.

Kim Hoat bertiga terpaksa lompat mundur, untuk terus mendekam. Bisa celaka mereka dirabu pasir dan batu itu. Syukur, angin tidak mengganas terlalu lama. Hujan pun berhenti perlahan-lahan. Malah dilain saat, dengan terbangnya sang mega, si putri malam pun mulai mengintai pula dan muncul lagi.

Han Po Kie yang paling dulu lompat bangun, tetapi segera ia menjerit heran.

Bwee Tiauw Hong lenyap, juga mayatnya Tan Hian Hong. Masih rebah tengkurap adalah Kwa Tin Ok, Cu Cong, lam Hie Jin dan Thio A Seng, empat saudaranya itu. Kwee Ceng mulai muncul dari belakang batu dimana ia tadi bersembunyi.

Semua orang basah kuyup pakaiannya.

Dibantu oleh Siauw Eng dan Po Kie, Coan Kim Hoat lantas tolong saudara-saudaranya yang terluka. Lam Hie Jin patah lengannya, syukur ia tidak terluka dalam. Syukur Tin Ok dan Cu Cong lihay ilmu dalamnya, walaupun mereka terhajar Tong Sie, si Mayat Perunggu, luka mereka tidak parah. Adalah Thio A Seng, yang tercengkeram Kiu Im Pek-kut Jiauw, lukanya berbahaya, jiwanya terancam. Enam saudaranya sangat berduka, karena sangat eratnya pergaulan mereka, lebih-lebih Han Siauw Eng, yang tahu kakak angkatnya yang kelima ini menaruh cinta, sedang ia pun ada menaruh hati. Ia lantas peluk A Seng dengan menangis tersedu sedan.

Thio A Seng adalah Siauw Mie To, si Buddha Tertawa, walaupun lagi menghadapi bahaya maut, ia masih dapat tersenyum. Ia ulur tangannya, mengusap-usap rambut adik angkatnya. “Jangan menangis, jangan menangis, aku baik-baik aja…” ia menghibur.

“Ngoko, aku mau menikah denganmu, menjadi istrimu! Kau setuju, bukan?” kata nona Han itu tanpa malu-malu.

A Seng tertawa, tapi lukanya mendatangkan rasa sakit, terus ia berjengit, hampir ia tak sadarkan diri.

“Ngoko, legakan hatimu,” kata pula si nona. “Aku telah jadi orangnya keluarga Thio, seumurku, aku tidak akan menikah dengan orang lain…. kalau nanti aku mati, aku akan selalu bersamamu…”

A Seng masih dengar suara tu, ia tersenyum pula, hingga dua kali. “Citmoay, biasanya aku perlakukan kau tidak manis…” katanya. Masih dapat ia mengatakan demikian.

Siauw Eng menangis. “Kau justru perlakukan aku baik, baik sekali, ini aku ketahui,” katanya.

Tin Ok terharu sekali, begitupun dengan yang lainnya. Mereka pada melinangkan air mata.

“Kau datang kemari, kau tentu hendak berguru pada kami?” Cu Cong tanya Kwee Ceng, yang telah mendekati mereka.

Bocah itu menyahut, “Ya!”

“Kalau begitu, selanjutnya kau mesti dengar perkataan kami,” kata Cu Cong pula.

Kwee Ceng mengangguk.

“Kami tujuh saudara adalah gurumu semua,” kata Cu Cong. “Ini gurumu yang kelima bakal pulang ke langit, mari kau hunjuk hormatmu padanya.”

Meski masih kecil, Kwee Ceng sudah mengerti banyak, maka itu, ia jatuhkan diri di depan tubuh A Seng, untuk bersujud sambil mengangguk berulangkali.

Thio A Seng tersenyum meringis. “Cukup…” katanya. Ia menahan sakit. “Anak yang baik, sayang aku tidak dapat memberi pelajaran padamu…. Sebenarnya sia-sia saja kau berguru padaku. Aku sangat bodoh, aku pun malas kecuali tenagaku yang besar…. Coba dulu aku rajin belajar, tidak nanti aku antarkan jiwa disini…..” Tiba-tiba kedua matanya berbalik, ia menarik napas, tapi masih meneruskan kata-katanya: “Bakatmu tidak bagus, perlu kau belajar rajin dan ulet, jika kau alpa dan malas, kau lihat contohnya gurumu ini….”

Masih A Seng hendak berkata pula, tenaganya sudah habis, maka Siauw Eng pasang kupingnya dekatkan ke mulut kakak angkatnya. Si nona masih dengar: “Ajarilah anak ini dengan baik-baik, jaga supaya ia jangan kalah dengan itu… imam…”

“Jangan khawatir,” Siauw Eng menjawab. “Legakan hatimu, kau pergilah dengan tenang… Kita Kanglam Cit Koay, tidak akan kalah…!”

A Seng tertawa, perlahan sekali, habis itu berhentilah ia bernapas…..

Enam saudara itu menangis menggerung-gerung, kesedihan mereka bukan main. Walaupun semuanya bertabiat aneh, mereka tetap manusia biasa, mereka juga saling menyinta. Dengan masih menangis, mereka menggali liang, untuk mengubur jenazah saudaranya ditempat itu. Sebagai nisan, mereka mendirikan satu batu besar.

Waktu itu, cuaca sudah terang, Coan Kim Hoat dan Han PO Kie lantas turun gunung untuk cari mayatnya si Mayat Perunggu serta Bwee Tiauw Hong, si Mayat Besi. Mereka mencari dengan sia-sia. Habis hujan lebat, di tanah berpasir mesti ada tapak kaki tetapi ini tidak. Entah kemana perginya Tiauw Hong beserta mayat suaminya itu. “Di tempat begini, wanita itu tidak akan kabur jauh,” kata Cu Cng sekembalinya kedua saudara itu. “Sekarang mari kita antar anak ini dan kita pun merawat diri, kemudian kau, shatee, lioktee dan citmoay, coba kau pergi mencari pula.”

Pikiran ini disetujui, maka habis mengucurkan airmata di depan kuburan A Seng, mereka pun turun dari gunung. Mereka jalan belum jauh terdengar menderunya binatang liar, yang terus terdengar berulang-ulang.

Po Kie keprak kudanya, maka itu kuda berlompat ke depan. Lari serintasan, binatang itu berhenti dengan tiba-tiba, tak mau maju walaupun dipaksa majikannya. Po Kie menjadi heran, ia memasang mata ke depan.

Di sana tampak serombongan orang serta dua ekor macam tutul menoker-noker pada tanah. Itulah sebabnya kenapa kuda si kate tidak berani maju terus. Tidak ayal lagi, Po Kie lompat turun dari kudanya, dengan cekal Kim-kiong-pian, ia maju ke arah mereka. Segera ia dapat tahu perbuatannya itu macan tutul.

Dua ekor macan tutul itu telah dapat mengorek satu mayat, malah jago Kanglam ini kenali itu mayatnya Tan Hian Hong, yang terluka dari leher sampai di perutnya, seluruhnya berlumuran darah, seperti ada dagingnya yang orang telah potong.

Heran Po Kie. Ia berpikir: “Dia mati di atas gunung, kenapa mayatnya ada di sini? Siapakah orang-orang itu? Apakah maksudnya maka itu mayat diganggu?”

Coan Kim Hoat semua telah datang menyusul, maka mereka pun saksikan mayatnya Hian Hong itu. Mereka menjadi heran sekali. Diam-diam mereka bergidik menyaksikan musuh tangguh. Coba tidak ada Kwee Ceng, bagaimana jadinya dengan mereka.

Kedua macan tutul itu sudah mulai gerogoti mayatnya Hian Hong.

“Tarik macan itu!” kata satu anak kecil yang menunggang kuda, yang berada di antara rombongan orang tadi. Ia menitahkan orangnya, yang menjadi tukang pelihara macan tutul itu. Tempo ia lihat Kwee Ceng, dia membentak: “Hai, kau sembunyi di sini! Kenapa kau tidak berani membantu Tuli bertarung? Makhluk tidak punya guna!”

Bocah itu Tusaga, putranya Sangum.

“Eh, kamu mengepung pula Tuli?” tanya Kwee Ceng, yang agaknya kaget. “Di mana dia?”

Tusaga perlihatkan roman tembereng dan puas. “Aku tuntun macan tutulku menyuruhnya gegaresi dia!” sahutnya. “Kau lekas menyerah! Kalau tidak, kau pun bakal digegaren macanku!” ia mengancam tetapi ia tak berani dekati musuhnya, jerih ia menampak Kanglam Cit Koay. Kalau tidak, tentulah Kwee Ceng telah dihajarnya.

Kwee ceng terkejut, “Mana Tuli?!” ia tanya.

“Macan tutulku telah gegares Tuli!” sahut Tusaga berteriak. Ia lantas ajak pemelihara macan tutul itu berlalu.

“Tuan muda, dialah putranya Khan besar Temuchin!” berkata itu tukang rawat macan tutul, maksudnya memberitahu. Tusaga ayun cambuknya, menghajar kepala orang itu. “Takut apa!” teriaknya. “Kenapa tadi ia serang aku! Lekas!”

Dengan terpaksa, tukang rawat macan tutul itu turut perintah. Satu tukang rawat macan tutul yang lainnya ketakutan, ia berkata, “Akan aku laporkan kepada Khan besar!”

Tusaga hendak mencegah tapi sudah kasep. Dengan mendongkol ia berkata: “Biarlah! Mari kita hajar Tuli dulu! Hendak aku lihat, apa nanti paman Temuchin bisa bikin!”

Kwee ceng jeri kepada macan tutul tetapi ia ingat keselamatan Tuli. “Suhu, dia hendak suruh macan itu makan kakak angkatku, hendak aku menyuruh kakak angkatku lari,” ia kata kepada Siauw Eng.

“Jikalau kau pergi, kau sendiri bakalan digegares macan itu,” kata guru itu. “Tak takutkah kau?”

“Aku takut…” sahut murid ini.

“Jadi kau batal pergi?” tanya gurunya lagi.

Kwee Ceng bersangsi sebentar, ia menyahut: “Aku mau pergi!” Benar-benar ia lantas lari.

Cu Cong rebah di bebokongnya unta karena lukanya, ia kagumi bocah itu. Ia berkata kepada saudara-saudaranya: “Bocah ini bebal tetapi dialah orang segolongan dengan kita!”

“Matamu tajam, jieko,” kata Siauw Eng. “Mari kita bantu dia!”

Coan Kim Hoat lantas memesan: “Bocah galak itu memelihara macan tutul, ia mungkin putranya pangeran atau raja muda, kita harus berhati-hati. Kita tak boleh membuat onar, ingat, tiga dari kita terluka…”

Po Kie manggut, ia lantas saja lari menyusul Kwee Ceng, setelah menyandak, ia ulur tangannya, akan cekuk bocah itu, untuk terus dipanggul!

Tetap tubuh Kwee Ceng di atas pundak orang, ia seperti lagi menunggang kuda, yang larinya sangat pesat, sebentar kemudian tibalah di satu tempat, dimana tampak Tuli sedang dikurung oleh belasan orang. Dia orang turut perintah Tusaga, putra Temuchin Cuma dikurung, tidak lantas dikeroyok.

Sebenarnya Tuli rajin melatih diri menuruti ajarannya Cu Cong, ia pun sangat berani, ketika besoknya pagi ia tidak ketemu Kwee Ceng, tanpa minta bantuan Ogotai, kakaknya, seorang diri ia pergi memenuhi janji kepada Tusaga untuk bertempur.

Tusaga datang dalam jumlah belasan, heran dia melihat Tuli sendirian. Tapi ia tidak peduli, pertempuran lantas dimulai. Hebat Tuli, gunakan jurus ajaran Cu Cong, ia bikin musuh-¬musuhnya rubuh satu demi satu. Ia tidak tahu, jurus itu adalah jurus pojok dari “Khong Khong Kun”, ilmu silat tangan kosong.

Tusaga penasaran, sebab dua kali ia rubuh mencium tanah dan hidungnya kena diberi bogem mentah dua kali juga, saking murkanya, ia lantas lari pulang untuk mengambil macan tutul ayahnya. Tuli yang sedang kegirangan tidak menyangka musuhnya itu bakalan minta bantuan binatang liar.

“Tuli! Tuli! Lekas lari, lekas!” Kwee Ceng berteriak¬-teriak sebelum ia datang mendekat. “Tusaga bawa macan tutul!”

Tuli kaget, hendak lari, tapi ia lagi dikurung. Sementara itu Han Po Kie dapat candak Tusaga dan melambainya.

Kanglam Cit Koay dapat lantas mencegah Tusaga apabila mereka kehendaki itu, tetapi mereka tidak mau berbuat onar, sekalian mereka ingin saksikan sepak terjang Tuli dan Kwee Ceng.

Waktu itu ada beberapa kuda dilarikan keras ke arah mereka, salah satu penunggangnya berteriak-¬teriak. “Jangan lepaskan macan tutul! Jangan lepaskan macan tutul!”

Segera terlihat Mukhali berempat, yang dengan laporannya si tukang pelihara macan tutul, tanpa perkenan dari Temuchin lagi, mereka lantas datang menyusul.

Waktu itu Temuchin bersama Wang Khan, Jamukha, dan Sangum tengah menemani dua saudara Wanyen di tenda mereka, mereka terkejut mendengar laporan si tukang pelihara macan, semua lantas lari keluar tenda naik kuda. Wang Khan mendahului perintah satu pengiringnya: “Lekas sampaikan titahku, cegah cucuku main gila!“

Pengiring itu segera kabur dengan kudanya.

Wanyen Yung Chi kecewa gagal menyaksikan orang diadu dengan binatang, ia masgul, sekarang ia dengar berita ini, kegembiraannya terbangun secara tiba-tiba, “Mari kita lihat!“ katanya.

Wanyen Lieh pun gembira tetapi ia tidak perlihatkan itu pada wajahnya. Ia pikir: “Jikalau anaknya Sangum membinasakan anaknya Temuchin, kedua mereka bakal jadi bentrok, dan inilah untungnya negaraku, negara Kim yang besar!” Ia terus kisiki pengiringnya, yang lantas berlalu dengan cepat.

Wang Khan semua iringi kedua saudara Wanyen itu. Mereka jalan baru satu lie lebih, di depan mereka tampak beberapa serdadu Kim tengah berkelahi sama pengiring Khan ini yang tadi diberikan titah. Sebabnya adalah serdadu-serdadu Kim itu menghalang-halangi orang menjalankan tugas, sedang si petugas tidak berani abaikan kewajibannya.

Dua saudara Wanyen itu lantas memerintah serdadu-serdadunya berhenti berkelahi. Mereka bilang: “Kami tengah berdiam disini, orang ini tidak ada matanya, dia terjang kami!”

Pengiringnya Wang Khan itu mendongkol dan tidak mau mengerti. Ia pun tidak karu-karuan dicegat dan dikeroyok. Ia kata dengan sengit: “Aku toh ada di sebelah depan kamu dan kamu di belakang aku…!”

Dua saudara Wanyen itu tidak inginkan mereka adu mulut. “Berangkat!” mereka menitah.

Jamukha lihat itu semua, ia menduga peristiwa itu terjadi karena polahnya dua Wanyen ini, ia jadi waspada.

Tidak lama tibalah mereka di depan rombongan Tusaga. Dua ekor macan tutul sudah lepas dari ikatan pada lehernya, keempat kakinya tengah menoker-noker dan mulutnya meraung-raung tidak hentinya. Di depan mereka berdiri dua bocah Tuli dan Kwee Ceng.

Temuchin dan keempat pahlawannya segera siapkan panah mereka, diarahkan kepada dua binatang liar itu. Temuchin ketahui baik, binatang itu kesayangan Sangum, yang ditangkap sedari masih kecil dipelihara dan dididik dengan susah payah hingga jadi besar dan dapat mengerti, dari itu asal putranya tidak terancam tidak mau ia memanah macan itu.

Tusaga lihat datangnya banyak orang dan kakek beserta ayahnya juga berada bersama, ia jadi semakin girang, berulang-ulang ia suruh macannya lekas menyerang.

Wang Khan murka melihat kelakuan cucunya itu, disaat ia hendak mencegah, lalu terdengar suara kuda mendatangi dari arah belakang. Sebentar saja kuda itu, seekor kuda merah, tiba diantara mereka. Penunggangnya seorang wanita usia pertengahan yang memakai mantel kulit indah dan menggendong anak perempuan yang elok romannya, dia adalah istri Temuchin atau ibunya Tuli. Ia lantas lompat turun dari kudanya.

Nyonya Temuchin tengah pasang omong dengan istrinya Sangum di tenda mereka, tempo ia dengar perkara putranya, ia khawatir keselamatan putranya, maka ia lantas menyusul. Anak perempuan yang ia bawa itu adalah putrinya, Gochin Baki.

“Lepas panah!” Yulun Eke segera memerintah. Ia sangat khawatir melihat putranya terancam macan tutul itu. Gochin sebaliknya segera hampiri kakaknya. Ia baru berusia empat tahun, romannya cantik dan manis, ia belum tahu bahaya. ia tertawa haha-hihi. Kemudian ia ulurkan tangannya, berniat mengusap-usap kepalanya seekor macan tutul.

Macan itu lagi bersiap-siap, melihat orang datang dekat, segera ia berlompat menubruk.

Semua orang kaget, sedang Temuchin tidak berani melepaskan anak panahnya, khawatir kena putrinya. Keempat pahlawannya lempar panah mereka dan menghunus golok untuk maju menyerang.

Dalam saat mengancam itu, Kwee Ceng lompat, ia tubruk Gochin, ia peluk, menjatuhkan diri, meski demikian, kuku macan telah mampir dipundaknya.

Di antara empat pahlawan, Boroul yang bertubuh kate dan kecil yang paling gesit, ia maju di paling depan, karena itu kupingnya mendengar beberapa kali suara angin menyambar, menyusul kedua macan itu rubuh berbareng, rubuh telentang tidak berkutik lagi. Ia menjadi heran, apapula ini, kedua binatang itu berlubang masing-masing di kedua pelipisnya, darimana darah mengucur keluar. Terang itu adalah kerjaan orang yang lihay. Kapan ia berpaling ke arah darimana suara angin itu datang menyambar, tampak enam orang Han, pria dan wanita, lagi mengawasi dengan sikapnya yang tenang sekali. Ia lantas menduga siapa mereka itu.

Yulun Eke peluki putrinya, yang ia ambil dari rangkulan Kwee ceng. Anak itu menangis karena kaget, maka ia dihibur ibunya, yang juga terus tarik Tuli, untuk dirangkul dengan tangannya yang lain.

Sangum sangat murka. “Siapa yang membunuh macanku?!” ia tanya dengan bengis. Semua orang berdiam. Walaupun kejadian berlaku di depan mata mereka, tidak ada seorang jua yang ketahui siapa si penyerang gelap itu. Boroul sendiri tutup mulut.

“Sudahlah saudara Sangum!” berkata Temuchin sambil tertawa. “Nanti aku ganti kau empat macan tutul yang paling jempolan ditambah sama delapan pasang burung elang.”

Sangum masih mendongkol, ia membungkam.

Wang Khan gusar, ia mendamprat Tusaga. Cucu ini didamprat di depan orang banyak, ia penasaran, keluarlah alemannya, ia terus menangis sambil bergulingan di tanah, ia tidak pedulikan walaupun kakeknya menitahkan ia berhenti menangis.

Diam-diam Jamukha kisiki Temuchin apa yang tadi terjadi di tengah jalan antara pengiringnya Wang Khan dan serdadu-serdadu Kim.

Panas hatinya Temuchin. Ia menginsyafi peranan kedua saudara Wanyen itu. Di dalam hatinya, ia kata: “Kamu hendak bikin kita cedera, kita justru hendak berserikat untuk menghadapi kamu!” Maka ia hampiri Tusaga, untuk dikasih bangun dengan dipeluk. Anak itu mencoba meronta tetapi tidak berhasil.

Sambil tertawa, Temuchin hampiri Wang Khan dan kata: “Ayah ini adalah permainan anak-anak, tak usah diperpanjang. Aku lihat anak ini berbakat baik, aku berniat menjodohkan dia dengan anakku, bagaimana menurutmu?”

Wang Khan girang, ia lihat, meskipun masih kecil, Gochin sudah cantik, setelah dewasa, mesti dia jadi elok sekali. Ia tertawa dan menyahut: “Mustahil aku tidak setuju? Marilah kita tambah erat persaudaraan kita. Cucuku yang perempuan hendak aku jodohkan dengan Juji, putramu yang sulung, Kau setujukah?”

Dengan girang, Temuchin kata sama Sangum. “Saudara, sekarang kita menjadi besan!”

Sangum itu angkuh, ia sangat bangga untuk keturunannya, terhadap Temuchin ia dengki dan memandang enteng, tak senang ia berbesan dengannya, akan tetapi disitu ada putusan ayahnya, terpaksa ia menyambut sambil tertawa.

Wanyen Lieh menjadi sangat tidak puas. Gagallah tipu dayanya. Selagi ia berpaling, lihat rombongan Kwa Tin Ok, dan Cu Cong rebah di atas unta. Ia terperanjat dan heran sekali. “Eh, kenapa ini beberapa Manusia Aneh berada disini?” katanya dalam hatinya.

Tin Ok rombongan tidak mau menarik perhatian orang, mereka berdiri jauh-jauh. Mereka tidak lihat Wanyen Lieh, itulah kebetulan bagi pangeran ini yang lantas ngeloyor pergi duluan.

Temuchin tahu enam orang itulah yang menolong putranya, ia suruh Boroul memberi hadiah bulu dan emas, sedang Kwee Ceng, yang ia usap-usap kepalanya, ia puji untuk keberaniannya.

Tuli tunggu sampai Wang Khan semuanya sudah berlalu, ia tutur kepada ayahnya kenapa berkelahi dengan Tusaga, ia pun bicara hal Kanglam Cit Koay ( yang sekarang menjadi Kanglam Liok Koay sebab jumlah mereka telah berkurang satu).

Temuchin berpikir sebentar, terus ia kata pada Coan Kim Hoat, “Baik kamu berdiam di sini mengajari ilmu silat kepada putraku. Berapa kamu menghendaki gaji?”

Coan Kim Hoat senang dengan tawaran itu. Mereka memang lagi pikirkan tenpat untuk bisa mendidik Kwee Ceng. Ia lantas menyahut: “Khan yang besar sudi terima kami, itu pun sudah bagus, mana kami berani minta gaji besar? Terserah kepada Khan sendiri berapa sudi membayar.”

Temuchin girang, ia suruh Boroul layani enam orang itu, untuk diberi tempat, habis itu ia larikan kudanya, untuk susul kedua saudara Wanyen, guna mengadakan perjamuan perpisahan.

Kanglam Liok Koay jalan perlahan-lahan, untuk merundingkan urusan mereka.

“Mayat Tan Hian Hong dipotong dada dan perutnya, entah itu perbuatan kawan atau lawan…” kata Han Po Kie.

“Itulah aneh, aku tak dapat menerkanya,” bilang Tin Ok. “Yang paling perlu ialah mencari tahu dimana beradanya Tiat Sie.”

“Memang selama ia belum disingkirkan, kita selalu terancam bahaya,” menyatakan Cu Cong.

“Sakit hatinya ngoko mesti dibalas!” kata Siauw Eng.

Karena ini kemudian Po Kie bersama Siauw Eng dan Kim Hota lantas pergi mencari. Mereka mencari bukan hanya disekitar tempat itu, malah diteruskan hingga beberapa hari, mereka tidak peroleh hasil.

“Wanita itu rusak matanya terkena tok-leng toako, mestinya racun senjata itu bekerja, maka mungkin ia mampus di dalam selat!” kata Po Kie kemudian sepulangnya mereka.

Dugaan ini masuk akal. tapi Tin Ok tetap khawatir, ia baru merasa tentram kalau sudah dengan tangannya sendiri bisa raba mayatnya Tiat Sie si Mayat Besi itu. Ia menginsyafi lihaynya Bwee Tiauw ong. Tentang perasaannya ini ia tidak utarakan, ia khawatir saudara-saudaranya susah hati.

Sejak itu Kanglam Liok Koay menetap di gurun pasir, ajari ilmu silat kepada Kwee Ceng dan Tuli yang juga diajari ilmu perang. Dan Jebe bersama boroul turut memberi petunjuk juga. Hanya kalau malam, Kwee Ceng dipanggil belajar sendirian untuk diajari ilmu pedang, senjata rahasia dan ilmu meringankan tubuh. Sebab diwaktu siang mereka diajar menunggang kuda, main panah dan ilmu tombak.

Kwee Ceng bebal, namun di sisi lain ada sifatnya yang baik. Ia tahu ia mesti membalas sakit hati ayahnya, untuk itu ilmu silat penting, dari itu, ia belajar dengan rajin sekali. Untuk itu ia dapatlah disebut pisau tumpul kalau digosok terus bisa menjadi tajam.

Cu Cong bersama Coan Kim Hoat dan Han Siauw Eng mengajarakan ilmu kegesitan, kemajuannya sedikit, tapi ajarannya Han Po Kie dan Lam Hie Jin tentang pokok dasar silat, ia mengerti dengan cepat, malah ia segera dapatkan maknanya itu.

Sang tempo berjalan dengan pesat, sepuluh tahun sudah lewat. Sekarang Kwee Ceng telah menjadi anak tanggung berumur enam belas tahun. Dua tahun lagi akan tiba saatnya janji pibu, adu kepandaian. Maka Kanglam Liok Koay perhebat pengajarannya, hingga untuk sementara muridnya dilarang belajar naik kuda dan memanah, siang malam terus belajar silat tangan kosong dan pedang.

Angin mulai reda, salju yang turun secara besar¬besaran baru berhenti, walaupun demikian untuk daerah di gurun pasir utara, hawa udara masih dingin. Dalam iklim demikian, pada harian Ceng Beng, Kanglam Liok Koay membawa barang-barang sembahyangan ke kuburannya thio A Seng, untuk sembahyangi saudara yang sudah beristirahat untuk selamanya di alam baka itu. Kwee Ceng juga diajak bersama.

Tempat kediaman bangsa Mongol tidak tetap, maka itu untuk pergi ke kuburan, rombongan ini mesti melarikan kuda mereka setengah harian, baru mereka tiba. Mereka atur barang sembahyangan, pasang hio, lalu pai-kui. Malah Siauw Eng berkata dalam hatinya: “Ngo-ko, belasan tahun kami didik anak ini, sayang dia bebal, dia tidak dapat terima semua pengajaran kita, mohon bantuan kau, untuk lindungidia, biarlah tahun lusa, dalam pertandingan di Kee-hin, dia tidak sampai memalukan nama kita Kanglam Cit Koay!”

Sepuluh tahun enam saudara itu tinggal di utara, rambut dan kumis jenggot mereka sudah mulai berwarna abu-abu, tapi Siauw Eng, walaupun ia tidak secantik dulu, masih ada sisa keelokannya, ia tetap menarik hati.

Di situ ada tulang-tulang yang berserakan, Cu Cong jadi seperti melamun. Ia ingat pada Bwee Tiauw Hong, yang sia-sia saja dicari, orangnya tidak ketemu, mayatnya juga tidak ada. Kalau tidak mati, si Mayat Besi mestinya tak bisa bersembunyi terus -menerus. Kemana perginya wanita siluman itu?

Dalam sepuluh tahun itu, kepandaian Liok Koay juga bertambah. Umpamanya Tin Ok, ia utamakan “Hok Mo Thung-hoat”, ilmu tongkatnya, “Tongkat Menakluk Iblis”. Ia bersiap sedia menyambut Tiauw Hong.

Lam Hie Jin paling menyanyangi Kwee Ceng, si bebal tapi rajin. Ia ingat, dulu ia pun ulet seprti bocah ini. Kali ini, ia tampak kemajuan Kwee Ceng, yang membuat ia girang. Habis pai-kui, Kwee Ceng bangkit, ia kena injak sebuah batu kecil, ia terpeleset, tapi cepat sekali, ia dapat imbangi tubuhnya, dia tak jadi jatuh. Ia tersenyum kepada Kim Hoat, yang melihatnya.

“Mari!” katanya seraya ia lompat dengan tangan kiri melindungi diri, tangan kanan ia sampok pundak muridnya itu.

Kwee Ceng terkejut tapi ia dapat menangkis, hanya ketika ia geraki tangannya itu, lekas ia kasih turun pula!

Menampak itu, Hie Jin tersenyum. Sekarang ia meninju ke dada.

“Coba kau kasih lihat kebiasaanmu, kau layani sie¬suhu berlatih,” Shiuw Eng menganjurkan. “Kau kasih ngo-suhu lihat padamu!”

“Sie-suhu” yaitu guru keempat dan “ngo-suhu” guru ke lima.

Baru sekarang Kwee Ceng mengerti, serangannya Hie Jin pun dibatalkan ditengah jalan, untuk tukar itu dengan sambaran tangan kiri ke pinggang. kali ini si murid melompat mundur. Ia berlaku cepat, tapi Hie Jin lebih cepat pula, dengan satu enjotan tubuh, guru yang keempat ini sudah menyusul dan tangan kanannya kembali menjambak pundak. dengan, Kwee Ceng berkelit.

“Balas menyerang, anak tolo!” Po Kie berseru. “Kenapa mau diserang terus?”

Anjuran ini diturut, Kwee Ceng membalas. Ia gunakan ajaran Lo Han Kun, ilmu silat “Tangan Arhat” dari guru she Han itu, yaitu bagian Kay San Ciang-hoat. Membuka Gunung. Ia pun dapat menempur dengan seru.

Selang beberapa jurus, dengan satu tolakan, Kwee Ceng dibikin terpental dan jatuh, tapi begitu jatuh, ia lompat bangun pula, cuma mukanya yang merah.

Hie Jin segera kasih mengerti bagian kelemahannya.

Selagi guru itu berbicara, tiba-tiba terdengar dua kali suara tertawa, yang datangnya dari pepohonan lebat disamping mereka. Cu Cong dan Kim Hoat terperanjat. “Siapa?!” mereka tanya. Mereka pun lompat untuk cegah jalanan orang buat lari turun.

Orang yang tertawa itu tidak lari, ia justru muncul dari tempatnya persembunyiannya, hingga tampak nyata satu nona elok dengan muka putih potongan telur dan kedua pipinya bersemu merah. Masih ia tersenyum. “Engko Ceng, apakah kau kena dihajar suhu?” ia tanya.

Mukanya Kwee Ceng menjadi merah. “Siapa suruh kau datang ke mari?” ia menegur.

Nona itu tertawa. “Aku senang melihat kau dihajar!” sahutnya.

Kalau Kwee Ceng likat, si nona polos dan jenaka. ia pun bukan lain daripada Gochin Baki, putrinya Temuchin, yang bersama Tuli dan pemuda she Kwee ini, usianya tak berjauhan serta biasa mereka bergaul, main bersama-sama. Ia sangat disayang ayah ibunya, ia rada manja, sedang Kwee Ceng jujur dan rada tolol.

Sering Kwee Ceng digoda, sampai mereka bentrok, tapi tak lama mereka akur pula, selamanya si nona mengaku yang salah dan rela minta maaf. Demikian mereka hidup rukun seperti saudara saja, sedang ibunya Gochin, yang ingat budi Kwee Ceng telah menolongi putrinya, perlakukan ia dengan baik, dia dan ibunya sering diantarkan pakaian dan binatang ternak, pergaualan kedua anak muda itu juga tidak dilarang.

Hari itu Gochin tahu Kwee Ceng hendak pergi pai¬bong (sembahyang kuburan), ia pergi dulu dengan menunggang kuda, ia sembunyi di antara pepohonan lebat, hingga ia saksikan segalanya. Sengaja sampai Kwee Ceng rubuh, baru ia muncul untuk menggoda anak muda itu.

Kwee Ceng malu, kurang senang dan berbareng girang.

“Apakah kau tidak senang aku datang?” tanya si nona dengan tertawa. “Baiklah, nanti aku pulang…!” Ia bicara bebas, meskipun disana ada enam orang lainnya.

“Oh, tidak, tidak!” kata Kwee Ceng lekas. “Kita pulang bersama.”

Gochin tertawa, tak jadi pergi.

Senang Cu Cong menyaksikan eratnya hubungan anak-anak ini, mereka tersenyum.

“Mana orang yang ikut denganmu?” tiba-tiba Tin Ok tanya si putri.

Gochin melengak. “Siapa?” ia tanya. “Aku datang sendirian.“

“Bukankah kakakmu pun datang, dia dibelakangmu, untuk bergurau?”

“Kakak tidak datang! Benar aku datang sendirian.”

“Liok-tee, coba lihat!” Tin Ok minta. Dengan tongkatnya ia menunjuk ke pepohonan lebat di belakang kuburan.

Coan Kim Hoat pergi memeriksa. “Disini tidak ada orang,” katanya.

“Terang sekali aku dengar suara dua orang!” Tin Ok berkukuh. Tadi dengar tertawanya Gochin, menyusul suaranya seorang lain. Ia sangka orang itu adalah kawannya si nona, ia tidak perhatikan. Sekarang benar tidak ada orang disitu, ia menjadi heran. Ia lantas berpikir.

“He, tengkorak hilang satu!” tiba-tiba Kim Hoat berseru.

Dengan berlari-lari, semua orang hampiri saudara she Coan itu. Memang telah lenyap sebuah tengkorak, masih ada bekasnya di salju. Mesti baru saja ada orang mencurinya. Kembali orang heran, kaget dan curiga. Kim Hoat menjelaskan semuanya kepada Tin Ok.

“Cegat ke empat penjuru!” seru toako ini, kakak tertua. Ia sendiri mendahului lari turun gunung, saudara-saudaranya menyusul, sembari lari, ia pasang kuping.

“Disana ada tindakan kaki kuda, lekas susul!” toako ini menitah, tongkatnya menuju ke selatan. Maka saudara-saudara yang lain pun pada mengejar ke arah selatan.

“Apakah aku yang salah?” tanya Gochin pada si anak muda, perlahan bicaranya.

“Ini bukan urusanmu,”sahut Kwee Ceng. “Rupanya telah datang musuh yang lihay”.

Si nona ulur lidahnya.

Tidak lama dari itu muncul beberapa puluh penunggnag kuda, semuanya orang Mongol, yang dikepalai oleh satu pekhu-thio, pemimpin satu eskadron. Melihat tuan putrinya, dia lompat turun dari kudanya, untuk memberi hormat.

“Tuan putri, Kha Khan titahkan aku menyambut,” katanya.

“Untuk apa?” tanya si putri, keningnya mengerut.

“Ada datang utusan Wang Khan.” sahut perwira itu.

Tidak senang si nona mendengar itu, ia lantas menjadi gusar. “Aku tak mau pulang!” katanya sengit.

Pekhu-thio itu menjadi serba salah. Ia memberi hormat pula dan katanya: ”Kalau tuan putri tidak pulang, Kha Khan bakal hukum hambamu ini…”

Gochin dijodohkan dengan Tusaga, cucu Wang Khan, tapi ia erat bergaul dengan Kwee Ceng, meski tidak ada soal asmara, ia toh berat nanti akan berpisah sama anak muda ini. Sebaliknya, tak senang ia menikah sama Tusaga, yang sombong dan galak itu. Maka tak mau ia pulang.

Siauw Eng tidak turut saudara-saudaranya pergi. Ia lihat itu semua. Ia kata pada Kwee Ceng: “Anak Ceng, pergi kau temani tuan putri pulang.” Tanpa tunggu jawaban, ia larikan kudanya pergi menyusul saudara-¬saudaranya.

Gochin masih bersangsi sesaat, akhirnya ia pulang juga. Tak mau ia menentang ayahnya.

Wang Khan itu mengantar panjar, Temuchin ingin putrinya temui si utusan.

Kwee Ceng tidak mengantar terus sampai di tenda Temuchin, ia balik ke tendanya sendiri, di mana ia tinggal bersama ibunya. Ia berduka, maka ia duduk diam saja. Ketika Lie Peng, ibunya, bertanya, ia tetap membungkam.

Waktu itu terdengar suara tetabuhan, itulah tanda penyambutan pada utusan Wang Khan. Baru sekarang Lie Peng dapat mendugai hal putranya ini. Ia lantas menghibur: “Tuan putri baik sekali sama kau, tetapi kita tetap orang Han, maka itu tepat kalau ia dijodohkan sama cucunya Wang Khan…”

“Ibu, aku bukan pikirkan itu,” Kwee Ceng akhirnya mau juga buka mulutnya. “Hanya Tusaga itu kasar dan kejam, menikah sama dia, tuan putri bakal sengsara…”

Lie Peng tahu baik hati anaknya itu, ia menghela napas. “Habis apa daya kita sekarang?” katanya.

Kwee Ceng berdiam terus sampai habis bersantap malam, setelah mana ia pergi ke tenda gurunya, yang semuanya sudah pulang. Mereka itu sia-sia belaka menyusul penunggang kuda atau pencuri tengkorak itu. Kim Hoat lantas ajari muridnya jurus-jurus dari Tiang Kun, habis berlatih, muridnya pulang, untuk naik pembaringan tanpa salin pakaian lagi.

Lapat-lapat Kwee Ceng dengar tetabuhan, ia tidur terus sampai pulas. Kira-kira tengah malam, ia mendusin dengan terperanjat. Ia dengar tanda tiga kali tepuk tangan. Ia lantas bangun, ia bertindak ke tendanya menyingkap dengan hati-hati. Untuk kagetnya, di antara sinar rembulan, tampak tengkorak tepat di jalanan di muka kemahnya. Ia pun dapat lihat tegas lima liang pada tengkorak itu.

“Musuh datang cari musuh…” pikirnya. “Suhu tidak ada di sini, seorang diri mana aku sanggup melawan? Bagaimana kalau musuh menerjang ke dalam tenda untuk melukai ibuku?”

Ia ambil keputusan dengan cepat. Ia lebih dulu ambil goloknya. lalu ia singkap tenda dengan tiba-¬tiba, untuk lompat keluar, segera dupak tengkorak itu hingga mental jauh beberapa tembok. Untuk lindungi diri, ia putar goloknya. Setelah itu, dengan siap sedia, ia memandang ke sekitarnya. Di sebelah kiri di bawah pohon tampak seorang berdiri diam, mukanya tidak kelihatan. Dia cuma kata: “Kalau kau berani, mari turut aku?!”. Dia bicara dalam bahasa Tionghoa, bajunya gerombongan, tangan bajunya lebar. Itu bukan dandanan orang Mongolia.

“Siapa kau?” tanya Kwee Ceng. “Mau apa kau cari aku?”

“Kau Kwee Ceng?!” orang itu tegasi.

“Habis kau mau apa?!” tanya Kwee Ceng.

“Mana pisau belatimu yang tajam mempan besi? Mari kasih aku lihat!”

Tiba-tiba ia melompat mencelat, sampai di sisi anak muda, kakinya menendang jatuh golok orang, menyusul sebelah tangannya menekan ke dada orang.

Sebat gerakan orang itu, sampai Kwee Ceng tidak bisa lindungi goloknya. Tapi ia sempat berkelit, tangan kanannya menyambar lengan orang itu, tangan kirinya menyerang sikut. Inilah jurus “Orang-orang patah bahunya” salah satu dari jurus ilmu silat, “Membagi urat memisah Tulang”. Kalau orang itu kena diserang, tanpa ampun lagi, bahu kanannya mesti patah, terlepas sambungan sikutnya.

Ilmu silat ini Kwee Ceng dapatkan dari Cu Cong dan Cu Cong mengutamakan ini karena ia pikir, cuma dengan ilmu ini ia nanti sanggup layani Kiu Im Pek-kut Ciauw dari Bwee Tiauw Hong yang sewaktu-waktu lambat atau cepat, bakal mencari dirinya. Ilmu ini pun baru ia ciptakan sendiri, sebab tadinya ia tidak pikirkan untuk pelajarai itu. Ia melatih bersama Coan Kim Hoat. Sebagai Biauw Ciu Si-seng, si pelajar Tangan Lihay, ia bisa asah otaknya menciptakan ilmu silat itu. dan sekarang Kwee Ceng menggunakan itu untuk melawan musuhnya.

Orang itu terperanjat, untuk membebaskan diri, ia lekas serang mukanya Kwee Ceng. Ia bukannya meloloskan diri hanya menyerang. Maka kagetlah Kwee Ceng, yang lain hendak membikin patah lengan musuh; terpaksa ia lepaskan kedua tangannya dan mencelat mundur. Meski begitu, dia masih merasa sakit terkena sambaran angin serangan lawan.

Setelah itu Kwee Ceng lihat imam muda yang mukanya bersih dan tampan, yang usianya delapan atau sembilanbelas tahun. Ia pun dengar si imam atau tosu, mengatakannya dengan perlahan: “Tak kecewa pelajarannya, tidak sia-sia pengajarannya Kanglam Liok Koay selama sepuluh tahun…”

“Kau siapa?!” tegur Kwee Ceng, yang masih berjaga-jaga. “Untuk apakah kau mencari aku?”

“Mari kita berlatih pula!” kata si imam, yang tidak gubris perkataan orang. Ia pun terus menyerang tanpa tunda kata-katanya itu.

Kwee Ceng menanti tidak bergeming, ketika tangan imam itu sudah hampir sampai dadanya, ia mengegos ke kiri, tangan kiri menyambar lengan si imam dan tangan kanan menyambar ke batang leher. Kalau ia berhasil, akan copotlah batang leher si imam itu. Jurus ini oleh Cu Cong dengan lucu dinamakan “Sembari tertawa dan berbicara melepaskan rahang”.

Imam itu kenali serangan berbahaya, ia bebaskan diri pula.

Setelah belasan jurus, melihat keringan tubuh orang, yang dapat bergerak-gerak dengan pesat sekali, Kwee Ceng segera mengerti bahwa imam ini ada terlebih pandai daripadanya. Keinsyafan ini, ditambah sama kekhawatirannya akan muncul Bwee Tiauw Hong, membuat hatinya gentar, maka juga, tempo kakinya lawan melayang, kempolan kanannya kena didupak. Syukur kuda-kudanya kuat dan tendangan tak hebat, ia cuma terhuyung, tidak terluka. Karena ini, ia lantas kurung diri dengan rapat, hingga ia menjadi terdesak. Disaat kewalahan, tiba-¬tiba ia dengar seruan dari belakangnya: “Serang bagian bawahannya!”

Dengan tiba-tiba bangkitlah semangatnya Kwee Ceng. Ia kenali suara sam-suhu, gurunya yang ketiga yaitu Han Po Kie. Ia lantas menggeser ke kanan untuk terus menoleh. Untuk kegirangannya, ia tampak keenam suhunya itu telah hadir semua. Saking memusatkan perhatian pada lawan, ia sampai tidak ketahui munculnya keenam gurunya itu. Segera, menuruti petunjuk Po Kie, ia mulai menyerang bawah.

Imam itu lincah gerakannya, tetapi lemah bagian bawahnya, dan ini terlihat tegas oleh Kanglam Liok Koay, maka itu Po Kie sadarkan muridnya. Karena ini, lantas saja si imam berbalik terdesak, hingga terpaksa ia main mundur.

Kwee Ceng merangsak maju, sampai ia lihat lawannya terhuyung, tidak tempo lagi, kedua kakinya saling sambar dengan tipunya Lian-hoan Wan-yoh-twie – kaki Burung Wanyoh Berantai. Ia sampai tidak menyangka bahwa musuhnya bakal menggunakan akal.

“Awas!” teriak po Kie dan Siauw Eng yang terkejut.

Kwee Ceng kurang pengalaman, meskipun ia telah diperingatkan, sudah terlambat, kaki kanannya kena dicekal lawan, terus disempar, tak ampun lagi, tubuhnya melayang, dengan suara keras, jatuh celentang, hingga ia merasakan sakit sekali. Saking gesitnya, ia dapat lantas lompat bangun dengan gerakannya “Ikan Tambra Meletik”. Ia hendak maju pula tetapi ke enam gurunya sudah mulai kurung si imam muda.

Tosu itu tidak bersiap untuk memberikan perlawanan, ia juga tidak menunjukkan tanda hendak menerobos keluar dari kurungan, sebaliknya dengan rangkap kedua tangan, ia memberi hormat kepada Kanglam Liok Koay. Ia kata: “Teecu In Cie Peng, atas titah guruku Tiang Cun Cu Khu Totiang, teecu datang untuk memujikan suhu semua sehat-sehat!” Lantas ia berlutut untuk mengangguk-angguk.

Cu Cong berenam sangsi, mereka tidak mengulurkan tangan untuk mengasih bangun, maka itu si imam bangkit sendiri untuk terus merogoh ke dalam sakunya guna menarik keluar sesampul surat, yang mana dengan kedua tangannya, ia angsurkan kepada enam manusia aneh itu – tegasnya kepada Cu Cong.

“Mari kita bicara di dalam,” kata Kwa Tin Ok, yang dengar suara tindakan kaki mendatangi, hingga ia menduga kepada serdadu peronda bangsa Monglia.

Tanpa sangsi, In Cie Peng turut masuk.

Coan Kim Hoat menyulut lilin.

Tenda itu berperabot buruk. Di situ Cu Cong tinggal berlima, karena Siauw Eng tidur di kemahnya seorang wanita Mongolia. Melihat itu, Cie Peng mengerti orang hidup bukan main sederhananya. ia menjura ketika ia mulai berkata: “Suhu berlima banyak cape! Guruku sangat bersyukur, dia titahkan teecu datang kemari untuk menghanturkan banyak-banyak terima kasih”.

“Hm!” Tin Ok perdengarkan suara tawar, karena ia pikir: “Kalau kau datang dengan maksud baik, mengapa kau robohkan anak Ceng? Bukankah kau sengaja datang untuk pertunjuki pengaruh sebelum tiba saatnya bertanding?”

Cu Cong telah membuka sampul dan membaca suratnya. Khu Cie Kee memperingatkan bahwa sepuluh tahun sudah berlalu sejak perpisahan mereka di Kanglam dan dia turut berduka cita atas meninggalnya Thio A Seng. Ia memberitahu bahwa pada sembilan tahun yang lalu ia telah berhasil mencari turunan Yo Tiat Sim.

Mengetahui ini, Tin Ok semua terperanjat. Coan Cin Kauw banyak pengikutnya, yang tersebar luas di seluruh negara, tetapi buat cari satu nyonya yang lenyap, benar-benar sulit. Tidak dinyana, Cie Kee begitu cepat menemui nyonya itu serta anaknya. Mereka sendiri menemui Kwee Ceng secara kebetulan.

Surat itu diakhiri dengan pemberitahuan bahwa dua tahun lagi, mereka bakal bertemu di Cui Sian lauw di Kee-hin, disaat bunga-bunga mekar.

“Memang ini tulisannya Khu Totiang,” kata Cu Cong akhirnya.

“Anak turunan she Yo itu bernama Yo Kang?” Tin Ok bertanya.

“Benar,” sahut Cie Peng.

“Dia toh adik seperguruanmu?” Tin Ok menegaskan.

“Dia kakak seperguruanku,” sahut pula tosu she In itu. “Walaupun usiaku lebih tua, diwaktu memasuki perguruan, kakakku itu mendahului dua tahun.”

Dingin hatinya Kanglam Cit Koay mendengar keterangan itu. Kwee Ceng kalah oleh In Cie Peng, satu sutee, bagaimana pula ia dapat melayani Yo Kang, sang suheng? Pula heran, Khu Cie Kee tahu jelas tentang mereka, hal mereka dapatkan Kwee Ceng, hal kematiannya Thio A Seng, dan hal sekarang mereka berdiam di padang gurun ini…. Sebaliknya, mereka sendiri tidak tahu apapun perihal imam itu! Inilah tanda mereka sudah berada di bawah angin.

“Apakah barusan kau layani dia untuk mencoba¬-coba?” Tin Ok tanya pula, suaranya dingin.

“Teecu tidak berani,” jawab Cie Peng, yang khawatir oleh sikap orang.

“Sekarang kau sampaikanlah kepada gurumu itu,” bilang Tin Ok, “Walaupun Kanglam Liok Koay tidak punya guna, perjanjian di Cui Sian Lauw tidak bakal digagalkan, jadi dia tidak usah khawatir apa pun. Bilang bahwa kami tidak usah membalas dengan surat.”

Cie Peng likat, hingga ia berdiam saja.

“Ach ya, apa perlunya kau ambil itu tengkorak manusia!” Tin Ok tanya pula.

Cie Peng diam. Tak sangka ia bakal ditanyakan tentang tengkorak itu. Ia diperintah gurunya pergi ke utara untuk menyampaikan surat, ia dipesan untuk sekalian selidiki Kwee Ceng, tentang sifatnya dan ilmu silatnya. Khu Cie Kee memperhatikan putra sahabatnya, ia bermaksud baik, tetapi muridnya ini menyeleweng sedikit, walaupun ia tidak bermaksud jahat. Setibanya di Mongolia, di tepi sungai Onon, Cie Peng tidak segera menemui Kanglam Liok Koay, hanya ia mencuri lihat Kwee Ceng berlatih, malah ia menguntit juga orang pay-bong terhadap Thio A Seng hingga ia saksikan semuanya, tetapi ia dipergoki oleh Tin Ok dan kabur. Coba ia lari tanpa sebat tengkorak, yang ia lihat aneh, tidak nanti ia menerbitkan kecurigaan.

“Apakah kau ada punya hubungan sama Hek Hong Siang Sat?” tanya Tin Ok sebab orang diam saja. “Atau kau tertawakan Kanglam Cit Koay yang satu diantaranya binasa di bawah cengkeraman Kiu Im Pek-kut Jiauw?”

Baru Cie Peng menjawab: “Teecu ambil tengkorak itu untuk dibuat main, tak ada maksud lainnya. Tentang Hek Hong Siang Sat dan Kiu Im Pek¬ku Jiauw, teecu tidak tahu-menahu…”

“Hm!” bersuara Tin Ok yang terus berdiam.

Cie Peng jadi jengah. “Teecu mohon diri,” katanya kemudian.

Tin Ok antar orang sampai di muka tenda. Cie Peng sekali lagi memberi hormat. Mendadak orang she Kwa ini berseru: “Kau pun jumpalitan!” dan tangan kirinya menyambar ujung baju orang di betulan dada.

Saking kaget, Cie Peng geraki kedua tangannya, untuk membebaskan diri. Inilah hebatnya, coba dia diam saja, dia Cuma akan jungkir balik. Kali ini ia membangkitkan amarahnya tetuanya Liok Koay. Tin Ok angkat tubuh orang dan membanting. maka jatuhlah ia dengan hebat, bebokongnya sakit, sampai sekian lama, baru ia bisa merayap bangun, untuk dengan terpincang-pincang ngeloyor pergi…..

“Imam cilik itu tak tahu adat, tepat toako ajar adat padanya,” kata Po Kie.

Tin Ok berdiam, selang sesaat ia menghela napas. Semua saudaranya mengerti kedukaan toako ini, mereka turut masgul pula.

“Ya, apa boleh buat….” kata Hie Jin kemudian.

“Benar, sieko,” Siauw Eng bilang. “Kita bertujuh saudara sudah puas berkelana, banyak pengalaman, baik pun yang berbahaya, kita belum pernah mengkerat atau mundur!”

Tin Ok mengangguk. “Sekarang pergilah kau pulang dan tidur,” katanya pada Kwee Ceng. “Besok akan aku ajarkan kau senjata rahasia.”

Cu Cong semua gegutan. Hebat senjata rahasia tok-leng dari kakaknya ini. Senjata itu adalah senjata rahasia istimewa penjaga diri sejak si kakak tak dapat melihat matahari, tak pernah dipakai kecuali disaat genting, pula tak pernah diwariskan kepada lain orang, tapi sekarang hendak siturunkan kepada murid ini.

“Anak Ceng, lekas menghaturkan terima kasih kepada toa-suhu,” Siauw Eng ajari muridnya itu.

OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar