TERBUKA BELANGNYA
Mendadak Gouw Kin Co berteriak, “Kouw-heng, sekarang kau boleh turun tangan!”
Kouw Beng Louw, Ciang-kie Hu-su dari Swie-kim-kie segera berlari mendekati tungku dan dia menggores dada Gouw Kin Co dengan goloknya. Semua orang terkesiap dan menggeluarkan seruan tertahan. Darah lantas mengucur dari dada Gouw Kin Co yang telanjang dan jatuh di atas To-liong-to.
“Ces...! Ces...!”
Jatuhnya darah mengeluarkan suara diikuti dengan naiknya uap putih dari badan golok.
“Selesai!” teriak Gouw Kin Co pula. Dia mundur beberapa langkah lalu jatuh duduk di atas tanah.
Dua potongan golok sudah tersambung dan semua mata ditujukan ke arah To-liong-to. Kini semua orang baru sadar bahwa di dalam tekadnya menyambung golok mustika itu, Gouw Kin Co sudah lebih dahulu mengadakan persetujuan dengan Kouw Beng Louw untuk menggunakan darahnya sendiri kalau dengan cara yang biasa menemui kegagalan. Menggunakan darah manusia dikenal sebagai satu cara di jaman purba untuk melumerkan logam yang tidak bisa dilumerkan dengan api biasa.
Menurut cerita, dalam usaha membuat sepasang pedang mustika, dulu sepasang suami isteri Kan Ciang dan Bok Yo mengorbankan jiwa dengan melompat ke dalam tungku.
Dengan rasa haru Bu Kie menubruk bawahannya itu kemudian memeriksa lukanya. Luka itu tidak berbahaya, ia segera mengeluarkan obat dan menaburnya di dada Gouw Kin Co.
“Gouw-heng, mengapa kau berbuat begini?” katanya dengan suara parau. “Golok itu bisa disambung atau tidak, sama sekali tak menjadi soal. Buat apa kau menyakiti diri sendiri?”
Melihat sang pemimpin tidak mempedulikan Seng-hwee-leng atau To-liong-to malah lebih dahulu memeriksa lukanya, Gouw Kin Co merasa sangat berterima kasih.
“Ini hanya luka di kulit,” katanya. “Kauwcu tidak usah kuatir.“
Dia bangun berdiri lalu mengambil To-liong-to. Ternyata dua potong golok itu tersambung dengan sempurna dan pada sambungannya hanya terlihat satu garis tanda bekas darah. Dengan rasa bangga dia menyerahkan kepada Bu Kie yang baru saja mengambil kembali keempat ‘leng’ yang tadi digunakan untuk menjepit potongan golok. Keempat ‘leng’ itu tak kurang sesuatu apa pun. Setelah mengawasi golok mustika itu beberapa saat lamanya, Bu Kie menyabetkannya ke arah sepasang tombak Mongol.
“Takk!”
Dua tombak itu putus menjadi empat potong. Para hadirin bersorak sorai. Sementara itu Gouw Kin Co memegang dua potong Ie-thian-kiam dengan mata merenung. Di depan matanya terbayang mendiang Cung Ceng, Ciang-kiesu Swee-kim-kie dan puluhan saudara lain yang dibinasakan pedang ini. Perlahan-lahan air matanya mengalir turun.
“Kauwcu,” katanya dengan suara perlahan. “Pedang ini sudah mengambil jiwa Cung-toako dan banyak saudara lain. Gouw Kin Co membencinya sampai ke tulang-tulang. Menyesal sekali aku tidak sanggup menyambungnya kembali dan untuk itu aku bersedia menerima hukuman.“ Sehabis berkata begitu dia menangis tersenguk-senguk.
“Gouw-heng sama sekali tidak berdosa,” kata Bu Kie dengan suara lemah lembut. “Hal itu hanya menunjukkan ‘gie-hie’ Gouw-heng yang amat tebal.“ Bu Kie mengambil dua potong pedang itu dari tangan Gouw Kin Co lalu menghampiri rombongan Go-bi-pay. “Ceng-hui! Pedang ini adalah milik Go-bi-pay,” katanya. “Kuminta Suthay suka mengambilnya untuk kemudian diserahkan kepada Ciu... kepada Song-hujin.“
Ceng-hui mengambilnya tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Untuk beberapa lama Bu Kie mencekal To-liong-to sambil mengerutkan alis. Akhirnya dia berpaling kepada Kong-bun dan berkata,
“Hong-thio, golok ini didapat oleh Gie-huku. Kini Gie-hu sudah menjadi pendeta murid Siauw-lim. Sudah sepantasnya jika To-liong-to disimpan Siauw-lim-pay.”
Kong-bun menggoyang-goyangkan tangan. “Golok itu sudah menemukan majikannya,” katanya. “Thio-kauwcu telah merebut kembali To-liong-to dari berlaksa tentara dan hal ini disaksikan semua orang. Belakangan Gouw-toako menyambungnya kembali dengan mengucurkan darah sendiri. Di samping itu segenap anggota rimba persilatan sudah mengangkat Thio-kauwcu sebagai Bu-lim Beng-cu. Baik dilihat dari sudut kepandaian dan kebijaksanaan, mau pun dari sudut kebajikan dan kedudukan yang tinggi, To-liong-to harus berada di tangan Thio-kauwcu. Menurut pendapat lolap hal ini adalah yang paling adil.”
Semua orang menyetujui pendapat Kong-bun dan beramai-ramai mendesak agar Bu Kie sudi menerimanya. Karena tidak bisa menolak lagi, mau tak mau Bu Kie menggantungkan To-liong-to di pinggangnya.
“Apa bila dengan golok ini aku bisa menguasai enghiong Rimba Persilatan untuk mengusir Tat-cu, aku akan merasa girang sekali,” pikirnya.
Semua orang merasa girang. Banyak yang lantas mengucapkan kata yang dikenal sejak seratus tahun yang lalu. 'Bu lim cie cun, po to to liong, hauw leng thian hee, boh kam put ciong!' atau ‘yang mulia dalam rimba persilatan ialah golok mustika To-liong. Memerintah di kolong langit, tak ada yang berani tidak menurut’. Sebenarnya di sebelah bawah masih ada perkataan ‘Ie thian put cut, swee ie ceng hong?’ yang berarti ‘kalau Ie-thian-kiam tidak keluar, siapakah yang berani mengadu ketajaman dengan dengannya?’ Tetapi melihat Ie-thian-kiam sudah tidak bisa disambung lagi, orang-orang yang menghafal tidak menyebutkan lagi delapan kata-kata yang terakhir.
Pihak yang merasa paling puas karena rusaknya Ie-thian-kiam adalah anggota-anggota Swie-kim-kie. Sebagaimana diketahui banyak orang, ketua bendera itu sudah dibinasakan menggunakan pedang mustika tersebut.
Sesudah penyambungan golok selesai, sejumlah anggota Ang-sui-kie menggotong keluar sebuah kuali besar dari dalam kuil dan setelah mengisi minyak dalam kuali itu lantas menaruhnya di atas tungku. Minyak panas itu akan digunakan untuk menyemprot tentara Mongol jika mereka menyerang lagi. Sore itu, kecuali tentara Ngo-heng-kie dan sejumlah pendeta Siauw-lim yang berjaga-jaga di luar, semua orang bersantap di dalam kuil. Sesudah makan Bu Kie segera memanjat satu pohon besar dan mengamat-amati gerakan musuh di kaki gunung. Ia melihat tentara Mongol berpencaran di sana sini di seputar gunung dan asap putih mengepul di berbagai tempat yang merupakan suatu tanda bahwa serdadu-serdadu itu sedang menanak nasi. Bu Kie melompat turun dari pohon.
“Wie-heng,” katanya kepada Wie It Siauw. “Nanti saat menjelang malam kau selidiki keadaan musuh kalau-kalau mereka hendak menyerang di waktu malam.”
Wie it Siauw mengiyakan dan segera berlalu.
“Kauwcu,” kata Yo Siauw, “Menurut pendapatku, sesudah dihajar di depan gunung hari ini, Tat-cu tidak akan menyerang lagi. Yang harus kita jaga adalah bokongan dari gunung.”
“Benar,” kata Bu Kie. “Mari kita mengamati dari atas bukit.“
Bersama Yo Siauw, Hoan Yauw dan Gan Hoan, dia segera berangkat ke bukit di belakang gunung di mana Cia Sun pernah dipenjarakan.
“Aku ikut!” kata Tio Beng.
Dari puncak bukit mereka memandang ke bawah. Keadaan tenang-tenang saja, sama sekali tak ada petunjuk atau tanda-tanda dari gerakan tentara. Sambil mengusap-usap tiga batang siong yang dirobohkannya, Bu Kie ingat pengalamannya yang sangat hebat. Tiba-tiba saja di dalam otaknya teringat pesan sang Gie-hu.
“Ah, hampir aku lupa,” katanya dalam hati. “Gie-hu berpesan agar aku memeriksa keadaan di dalam lubang.”
Batu penutup lubang masih belum dikembalikan ke tempat asalnya. Dia segera melompat turun. Ternyata dasar lubang itu merupakan sebuah kamar dengan garis tengah kira-kira satu tombak. Cuaca mulai gelap dan keadaan di lubang lebih gelap lagi. Bu Kie mengeluarkan bibit api untuk menerangi keadaan lubang. Dengan bantuan sinar api ia melihat empat gambar di empat penjuru dinding batu. Gambar-gambar itu dilukis menggunakan potongan batu tajam, sederhana tapi cukup jelas.
Gambar sebelah timur memperlihatkan dua wanita, yang satu tidur di tanah dan yang lainnya menotok wanita yang tidur dengan jari tangan kirinya, sedangkan tangan kanan merogoh saku wanita yang sedang tidur itu. Di sisi gambar terdapat tulisan yang berbunyi: ‘Mengambil obat’. Gambar sebelah selatan menunjukkan sebuah gambar kapal dan seorang wanita yang melemparkan seorang wanita lain ke kapal itu. Pada samping gambar terdapat tulisan: ‘Mengusir’.
Bu Kie mengeluarkan keringat dingin. “Benar-benar begitu kejadiannya!” pikirnya. “Cie Jiak menotok jalan darah Beng-moay dan mencuri Sip-hiong Joan-kin-san untuk meracuni Gie-hu dan aku. Sesudah itu dia melemparkan Beng-moay ke kapal Persia. Tapi mengapa dia tidak membunuhnya? Hmm... ya! Kalau dibunuh, dia tidak bisa menimpakan dosa di atas pundak Beng-moay. Kalau begitu Piauw-moay pun dicelakai olehnya.”
Di bawah gambar itu dilukis dua orang lelaki. Yang satu sedang tidur pulas dan yang lain, yang berambut panjang, tengah memasang kuping. Bu Kie kaget. Sekarang dia sadar bahwa semua perbuatan Cie Jiak diketahui ayah angkatnya.
“Gie-hu sungguh bisa menahan sabar dan di pulau itu dia sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa dia sudah tahu pengkhianatan Cie Jiak,” katanya dalam hati. “Gie-hu memang harus berlaku begitu. Ketika itu dia dan aku sudah menelan Sip-hiang Joan-kin-san dan jiwa kami berada dalam tangan Cie Jiak. Tak heran kalau Gie-hu menuduh Beng-moay dengan sungguh-sungguh. Dia tahu aku seorang jujur. Kalau aku ragu maka rahasia bisa bocor.”
Pada gambar ketiga di sebelah barat, tampak Cia Sun yang sedang duduk dan dibokong dari belakang oleh Cie Jiak, sementara dari luar menerobos masuk sejumlah anggota Kay-pang. Gambar ini sama dengan apa yang terlihat dalam arak-arakan di kota raja. Baru saja Bu Kie ingin memeriksa gambar keempat, api padam.
“Beng-moay, kemari!” serunya. “Aku pinjam api.”
Tio Beng melompat turun. Gambar yang keempat memperlihatkan dibawanya Cia Sun oleh belasan pria, sedang di kejauhan dari belakang pohon mengintip seorang wanita muda. Lukisan keempat gambar itu sangat baik, tapi kecuali muka Cia Sun, muka lainnya tidak menyerupai orang-orang itu. Bu Kie mengerti bahwa hal itu sudah terjadi karena Cia Sun buta sejak puluhan tahun berselang sehingga belum pernah melihat muka orang-orang yang dilukisnya. Sambil menuding wanita muda yang bersembunyi di balik pohon, Bu Kie bertanya,
“Siapa wanita itu? Kau atau Cie Jiak?”
“Aku,” jawabnya. “Seng Kun merampas Cia-tayhiap dari tangan orang-orang Kay-pang lalu mengirimnya ke Siauw-lim-si. Tapi dia sendiri membuat tanda-tanda Beng-kauw sehingga kau mengejar tanda-tanda itu dalam sebuah lingkaran besar. Sering aku ingin merebut Cia-tayhiap tetapi selalu tidak kesampaian. Belakangan aku mencoba juga, tapi gagal dan aku hanya dapat mengambil segenggam rambut Cia-tayhiap untuk dijadikan barang bukti guna mencegah pernikahanmu dengan Cie Jiak. Saat melakukan itu aku merasa tak enak hati dan merasa bersalah terhadapmu.”
Bu Kie memandang si nona dengan mata merenung. Selama beberapa bulan nona yang ayu ini jauh lebih kurus, pipinya agak pucat dan dia merasa sangat kasihan. Tiba-tiba dia memeluk erat-erat.
“Beng-moay... aku yang bersalah.“
Karena pelukan itu api segera padam dan goa itu gelap gulita.
“Beng-moay,” kata Bu Kie pula. “Apa bila kau kurang pintar, kemungkinan besar aku telah membunuhmu. Kalau sampai terjadi begitu...”
Si nona tertawa. “Apa kau tega mengambil jiwaku?” tanyanya. “Pada waktu kau bertemu dengan aku di kota raja, mengapa kau tidak segera membunuh?”
Bu Kie menghela napas. “Beng-moay, rasa cintaku terhadapmu membuat aku tidak berdaya,” katanya. “Jika Piauw-moay benar-benar dibinasakan olehmu, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Tetapi sekarang semuanya jelas. Di samping rasa menyesal untuk Cie Jiak, aku harus mengakui bahwa diam-diam aku merasa girang.”
Mendengar pengakuan yang sangat tulus, hati si nona menjadi girang bukan main. Dia segera menyusupkan kepalanya di dada yang lebar. Lama mereka berada dalam keadaan begitu tanpa mengucapkan sepatah katapun! Akhirnya Tio Beng menengadah. Ia melihat bulan seperti sisir tergantung di sebelah timur, sedangkan keadaan di sekitar sunyi bagaikan kuburan. Ia tahu Yo Siauw, Hoan Yauw dan Gan Hoan sudah menyingkir ke tempat lain supaya tidak mengganggu mereka.
“Bu Kie Koko,” kata si nona, “Apa kau masih ingat pertemuan kita di Lek-liu-chung? Kita bersama jatuh ke dalam penjara di bawah tanah. Bukankah kejadian itu menyerupai kejadian sekarang ini?”
Bu Kie tertawa. Dia mencekal kaki kiri Tio Beng lalu melepaskan sepatunya. Tio Beng tertawa geli.
“Kau tak tahu malu!” bentaknya, “Lelaki menghina perempuan!”
“Engkau bukan perempuan biasa. Akal bulusmu terlalu banyak, sepuluh lelaki belum tentu bisa menandingi kau seorang.”
“Aku yang rendah ini tidak sanggup menerima pujian terlalu tinggi dari Thio-kauwcu yang mulia.”
Sampai di situ mereka terbahak-bahak. Kata-kata itu telah diucapkan pada waktu berada di lubang jebakan di Lek-liu-chung. Kalau dulu mereka berhadapan sebagai musuh, sekarang sebagai kekasih. Mendadak sayup-sayup terdengar bentakan-bentakan, satu tanda terjadinya pertempuran. Mereka memasang kuping.
“Mari kita lihat!” kata Bu Kie sambil memegang tangan Tio Beng.
Dengan sekali menggenjot tubuh, mereka telah berada di muka bumi. Di tempat kejauhan mereka melihat tiga bayangan manusia berlari ke jurusan timur dengan kecepatan luar biasa. Dilihat dari gerakan-gerakan dan cara berlarinya, ketiga orang itu adalah ahli-ahli silat kelas satu. Yo Siauw muncul dan dia mendekati Bu Kie lalu berkata,
“Mereka bukan orang kita.”
“Yo-cosu,” kata Bu Kie. “Kau tinggal di sini bersama Hoan-yusu. Aku kuatir pihak musuh menggunakan siasat memancing harimau keluar dari gunung. Aku mau coba menyelidiki mereka.”
Yo Siauw menerima perintah itu dengan membungkuk. Bu Kie segera memeluk pinggang Tio Beng dengan sebelah tangannya, kemudian sambil menjejak bumi dia mengeluarkan ilmu meringankan tubuh.
Tiga bayangan di depan ternyata sedang kejar-kejaran, satu kabur dua mengejar. Bu Kie menambah tenaga, kakinya bekerja semakin cepat hingga Tio Beng merasa seperti dibawa terbang dengan menunggang awan. Setelah mengejar satu li lebih dengan bantuan cahaya bulan yang remang-remang, mereka mengenali bahwa kedua orang yang mengejar itu bukan lain adalah Lok Thung Kek dan Ho Pit Ong.
Mendadak Ho Pit Ong menimpuk dengan poan-koan-pitnya yang berujung patok burung. Orang yang dikejar cepat melompat ke samping sambil menangkis senjata musuh dengan pedangnya. Dengan sedikit keterlambatan itu, Lok Thung Kek sudah berhasil menyandak kemudian menikam dengan tongkatnya yang bercagak seperti tanduk menjangan. Orang itu menghindar dan membalas dengan pukulan telapak tangan.
Bu Kie dan Tio Beng mengeluarkan seruan tertahan. Dia adalah Ciu Cie Jiak! Wajahnya pucat seperti kertas dan rambutnya terurai. Segera Bu Kie menarik tangan Tio Beng dan bersembunyi di belakang pohon. Sesudah menyambut pit-nya yang jatuh, Ho Pit Ong segera merangsek dan mengepung Cie Jiak bersama kakak seperguruannya.
“Setan tua!” bentak Cie Jiak. “Untuk apa kau mengejar aku?”
“Hari ini Thio Bu Kie merebut To-liong-to dan Ie-thian-kiam,” kata Lok Thung Kek. “Dengan mata sendiri kami melihat bahwa pit-kip ilmu silat yang terdapat di kedua senjata itu sudah tidak ada lagi. Pit-kip itu pasti berada di tangan Song-hujin.”
Bu Kie terkejut.
“Pit-kip memang ada,” jawab Cie Jiak. “Tetapi sesudah latihanku selesai dan berhasil, aku segera membakarnya.”
Ho Pit Ong mengeluarkan suara di hidung. “Enak saja menggoyang lidah!” katanya. “To-liong-to dan Ie-thian-kiam dikenal sebagai yang paling mulia di rimba persilatan. Semua ahli silat di kolong langit ingin sekali mendapatkannya. Mana bisa pit-kip di kedua senjata itu dapat dipelajari dalam waktu singkat? Meski pun tinggi tetapi ilmu Song-hujin belum mencapai puncak tertinggi. Jika Song-hujin telah selesai dalam latihan semua pelajaran yang tertera di dalam pit-kip itu, maka dalam sekejap mata kau bisa mengambil jiwa kami berdua. Mengapa kau main kejar-kejaran?”
“Kalau kau tak percaya, terserah,” kata Cie Jiak. “Aku tak punya waktu bicara lama-lama.“ Seraya berkata begitu dia melompat untuk lari.
“Tahan!” bentak Lok Thung Kek. Dengan bersamaan kedua kakek itu menyerang dari kiri kanan.
Cie Jiak memutar pedangnya bagaikan kitiran dan menyambut serangan-serangan Hian-beng Jie-lo. Di siang hari Bu Kie sudah menyaksikan Cie Jiak menggunakan cambuk dan kini dengan rasa kagum dia menonton silat pedang indah. Walau pun dikeroyok Iweekang yang lebih kuat, tapi sesudah belasan jurus mungkin sekali mereka sudah dijatuhkan.
“Sungguh sayang,” kata Bu Kie dalam hati. “Kalau Cie Jiak bersenjata Ie-thian-kiam, Hian-beng Jie-lo tak akan bisa berbuat banyak. Dengan pedang biasa dia kalah Iweekang dan kalah ulet. Paling banyak dia bisa mempertahankan diri dalam dua ratus jurus.”
Sesudah lewat beberapa jurus lagi Cie Jiak mengeluarkan pukulan-pukulan aneh. Bu Kie tahu bahwa itulah usahanya untuk melarikan diri. Dengan serangan nekat-nekatan itu jika nasib sedang baik memang Cie Jiak bisa berhasil. Tapi salah sedikit saja dia bisa celaka. Perlahan Bu Kie keluar dari tempat persembunyiannya dan mendekati gelanggang pertempuran. Kalau perlu dia mau menolong.
Seraya membentak keras mendadak Cie Jiak mengirim tiga tikaman berantai kepada Lok Thung Kek. Karena sedikit terlambat maka tikaman ketiga merobek baju hingga pundak si kakek turut tergores pedang. Pada saat itu Ho Pit Ong mendadak menimpuk punggung Cie Jiak dengan kedua pit-nya.
Dalam menghadapi musuh, kalau tidak terpaksa Ho Pit Ong belum pernah menggunakan timpukan itu. Namun sekarang, karena kuatir datangnya bala bantuan musuh yang dapat menggagalkan usaha merebut pit-kip, dia menggunakan pukulan yang diberi nama Siang-ho Lee-kong (sepasang burung ho berbunyi di angkasa). Begitu kedua poan-koan pit yang ditimpuk beradu di udara dengan mengeluarkan suara nyaring dan satu di atas dan satu di bawah, kedua pit lantas menyambar kepala dan pinggang Cie Jiak.
Di lain pihak, begitu merasakan sambaran angin di punggungnya, Cie Jiak berkelit. Tapi di luar dugaan, sesudah bentrok di udara kedua pit itu mengubah arah serangan. Wanita itu dapat menolong diri dari pit yang menyerang kepala, tapi tak keburu mengelak dari pit yang menyambar pinggang. Pada detik yang sangat berbahaya Bu Kie cepat melompat dan menjambret pit itu sambil menangkis timpukan Ho Pit Ong dengan sebelah tangan yang lain. Cie Jiak yang mengira bakal mati sudah memejamkan kedua matanya.
Selagi Bu Kie menangkis serangan Ho Pit Ong, tangan Lok Thung Kek menyambar dan menjambret perut Cie Jiak. Itulah Hian-beng Sin-ciang yang menggetarkan rimba persilatan. Begitu kena, napas Cie Jiak terasa sesak dan dia pun roboh. Semua peristiwa itu terjadi dalam sekejap mata. Dengan kaget Bu Kie melemparkan Poan-koan-pit Ho Pit Ong, mendukung pinggang Cie Jiak dan melompat satu tombak lebih jauhnya.
“Hian-beng Jie-lo,” bentaknya. “Kau sungguh tak tahu malu!”
Lok Thung Kek tertawa terbahak-bahak. “Kukira siapa, tidak tahunya Thio Toa-kauwcu,” katanya dengan suara mengejek. “Di mana Kuncu-ku? Ke mana kau bawa Kuncu?”
Tio Beng menghampiri kemudian mengambil Cie Jiak dari tangan Bu Kie. Dia tertawa dan berkata,
”Lok Sian-seng, siang malam kau tidak bisa melupakan aku. Apa kau tidak takut jika ayahku marah?”
“Perempuan siluman!” bentak si kakek dengan marah. “Huh! Kau coba merenggangkan aku dengan Sute-ku. Kami telah memutuskan semua hubungan dengan ayahmu. Jie Lam Ong marah atau tidak, tak ada sangkut pautnya dengan kami lagi.”
Bu Kie menatap wajah kedua kakek itu dengan darah meluap. Mendengar cacian terhadap Tio Beng dan melihat pukulan terhadap Cie Jiak, dia langsung teringat perbuatan mereka terhadap dirinya di waktu dia masih kecil.
“Beng-moay,” katanya. “Kau mundurlah. Hari ini mereka akan kuberi pelajaran.”
Melihat Bu Kie bertangan kosong, Lok Thung Kek segera menyimpan senjatanya. Bu Kie maju selangkah kemudian membentak,
“Sambutlah!”
Dia memukul dengan Lok-ciak-hwee, dengan mendorong dua telapak tangannya. Pukulan yang dikirim dengan gerakan perlahan itu adalah Thay-kek-kun-hoat, tapi pada sepasang tangannya tersembunyi tenaga Kiu-yang Sin-kang. Dia sudah mengambil keputusan menggunakan tenaga Sun-yang (panas) yang paling murni untuk menghadapi tenaga Sun-im (dingin) dari Hian-beng Sin-ciang.
Pada jaman sekarang Thay-kek-kun sudah menjadi ilmu silat yang biasa saja. Tetapi pada akhir kerajaan Goan, waktu baru digubah oleh Thio Sam Hong, di rimba persilatan jarang sekali terlihat ilmu tersebut.
Karena khawatir Bu Kie menyembunyikan sesuatu di balik pukulan yang enteng dan lemas itu, Thung Kek tak berani menyambut dan dia pun melompat ke samping. Bu Kie memutar tubuh sambil mengirim pukulan kedua kepada Ho Pit Ong. Beberapa kali Bu Kie pernah bertempur dengan Hian-beng Jie-lo dan dia pun tahu bahwa kepandaiannya melebihi kedua kakek itu. Tapi kedua lawan itu bukan orang sembarangan. Dia tidak boleh terlalu sembrono atau memandang enteng. Kesalahan kecil berakibat hebat.
Dengan menggunakan Thay-kek-kun-hoat yang mengirim pukulan dalam bentuk lingkaran, dia berada dalam kedudukan tegak lurus dengan garis pembelaan yang hampir tidak bisa ditembus. Pada hakekatnya Thay-kek-kun-hoat ialah ilmu silat yang mengerahkan tenaga. Pada lingkaran-lingkaran Thay kek itu ia menyelipkan tenaga Kiu-yang Sin-kang sehingga hawa panas yang murni menekan hawa dingin dari Hian-beng Sin-ciang.
Makin lama gerakan-gerakan Bu Kie makin lancar. Ia mengerti bahwa kedua kakek itu adalah jago-jago yang jarang tandingannya di dunia. Sesudah merobohkan mereka, tak mudah ia bisa bertemu lagi dengan lawan yang setimpal, yang bisa digunakan sebagai kawan berlatih silat. Maka itu ia tidak mau tergesa-gesa. Sesudah bertempur lebih dari seratus jurus, secara kebetulan waktu menengok ia melihat tubuh Tio Beng gemetaran dan hampir tidak kuat menyangga tubuh Cie Jiak lagi.
“Celaka!” dia mengeluh. “Cie Jiak kena pukulan Hian-beng Sin-ciang, sedangkan yang dia latih adalah tenaga dingin. Tenaga dingin ditambah lagi dengan tenaga dingin yang sangat beracun, maka Beng-moay juga kena akibatnya sehingga tidak bisa tahan lagi.”
Buru-buru ia menambah tenaga dengan pukulan-pukulan hebat. Ia mencoba menindih Lok Thung Kek. Si kakek bisa menangkap maksudnya, maka sambil berkelit ia berseru,
“Sute! Berkelahi dengan siasat gerilya. Perempuan she Ciu itu sudah hampir mampus, jadi jangan biarkan dia menolong.”
“Baik,” jawab Ho Pit Ong sambil melompat keluar dari gelanggang, lalu menjemput kedua pit-nya dan menyerang dengan kedua senjata itu.
Bu Kie mendongkol. Ia merangsek sambil mengirim pukulan geledek yang disertai dengan sepuluh bagian tenaga Kiu-yang Sin-kang hingga napas Ho Pit Ong menjadi sesak. Tanpa mempedulikan keselamatan Sute-nya, Lok Thung Kek segera mengeluarkan toyanya dan menikam pinggang Bu Kie dengan senjata itu. Biar pun menggunakan senjata Hian-beng Jie-lo tetap tidak dapat merobohkan Bu Kie, tapi dengan senjata sedikitnya untuk sementara waktu mereka bisa mempertahankan diri.
Di lain pihak, dalam menghadapi senjata Bu Kie segera menukar ilmu silat. Sekarang dia menggunakan Liong-jiauw Kin-na-chiu (Silat cakar naga) yang diturunkan oleh Kong-seng Seng-ceng.
“Sungguh bagus Liong-jiauwmu!” seru Lok Thung Kek. “Sebentar lagi dapat dipergunakan untuk menggali.”
“Menggali lubang?” tanya Ho Pit Ong.
Lok Thung Kek tertawa nyaring, “Ya, menggali lubang untuk menguburkan Ciu-kouwnio,” jawabnya.
Karena bicara, maka pemusatan tenaga si kakek terpecah. Mendadak Bu Kie menendang lutut kirinya. Dia marah lalu menyerang bagaikan angin dan hujan. Sambil bertempur Bu Kie menengok beberapa kali. Gemetar tubuh Cie Jiak dan Tio Beng semakin hebat.
“Beng-moay, bagaimana?” tanyanya.
“Dingin luar biasa!” jawabnya.
Bu Kie terkesiap. Sesudah berpikir sejenak dia mengerti sebabnya. Tak salah lagi, karena baik hati Tio Beng mengerahkan Iweekang dan mencoba membantu Cie Jiak untuk melawan hawa dingin. Tetapi lantaran tenaga dalamnya masih rendah, sebaliknya dari berhasil dia sendiri malah diserang hawa dingin. Bu Kie segera menyerang sehebatnya untuk menjatuhkan lawan secepat mungkin. Tapi kini Hian-beng Jie-lo menukar siasat. Mereka terus mundur dengan berpencar dan menyerang balik kalau Bu Kie mencoba mendekati Cie Jiak dan Tio Beng. Bu Kie bingung.
“Beng-moay!” teriaknya. “Lepaskan Ciu-kouwnio!”
“Aku... aku... tidak bisa!”
“Mengapa?”
“Punggungnya menempel keras di telapak tanganku,” dia bicara dengan gigi gemeretukan dan tubuh bergoyang-goyang.
Bu Kie jadi lebih bingung.
“Thio-kauwcu,” kata Lok Thung Kek. “Ciu-kouwnio berhati kejam, ia mengirim hawa dingin ke tubuh Kuncu Nio-nio. Kuncu Nio-nio menghadapi bahaya, apakah tidak baik kalau kita berdamai saja?”
“Berdamai bagaimana?”
“Kita hentikan dahulu pertempuran ini. Kami akan mengambil dua jilid kitab yang berada pada Ciu-kouwnio, sementara itu kau bebas untuk menolong Kuncu.”
Bu Kie mengeluarkan suara di hidung. Dia tidak dapat menyetujui usul itu. Ilmu silat Hian-beng Jie-lo sangat tinggi. Apa bila memperoleh kedua kitab itu kepandaian mereka akan mencapai tingkat yang tak akan bisa ditaklukkan siapa pun juga. Dia menengok dan melihat muka Tio Beng yang putih kini berubah menjadi hijau, ada pun parasnya menunjukkan penderitaan hebat. Dia mengerti bahwa dia tak boleh berpikir lebih lama lagi. Tiba-tiba dia melompat mundur, mencekal telapak kanan si nona dengan tangan kirinya dan mengirim Kiu-yang Cin-khie.
“Serang!” teriak Lok Thung Kek.
Sebatang tongkat dan dua poan-koan pit segera menghantam bagaikan hujan dan angin. Begitu mendapat aliran hawa Kiu-yang Cin-khie, Tio Beng yang darahnya hampir membeku lantas merasakan kehangatan yang sangat nyaman.
Bu Kie mengerahkan seluruh tenaganya dan melawan dengan nekat. Tetapi dengan cepat dia merasa tidak tahan karena dia harus menggunakan sebagian besar tenaga dalamnya untuk menekan hawa dingin Hian-beng Sin-ciang dari kedua kakek dan Kiu-im dari Ciu Cie Jiak, dan bersamaan itu dia harus menggunakan Iweekang untuk melayani dua jago kelas utama.
Sesudah bertempur beberapa lama, kaki celana di bagian lututnya dirobek dengan Poan-koan-pit dan darah mulai mengucur. Ia terdesak dan menghadapi bencana. Sekali lagi dia mengerahkan seluruh Iweekang dan berteriak memanggil Yo Siauw dan kawan-kawannya. Tapi di lain saat dia mendengar bentakan-bentakan Yo Siauw dan Hoan Yauw disertai suara beradunya senjata. Dia tahu bahwa mereka pun dikepung musuh.
Karena kuatir datangnya bala bantuan, Hian-beng Jie-lo memperhebat serangan. Sambil menggeram Lok Thung Kek mengirim tiga serangan berantai ke arah mata Bu Kie. Dengan telapak tangan Bu Kie berhasil menangkis serangan lawan. Tiba-tiba Ho Pit Ong menggulingkan diri di tanah dan menotok pinggangnya dengan Poan-koan-pit kiri. Bu Kie tak keburu berkelit, karena itu ia terpaksa mengerahkan Kian-kun Tay-lo-ie untuk memindahkan totokan. Tetapi karena si kakek menggunakan Iweekang yang sangat dahsyat, dia tidak bisa memastikan akan berhasil.
“Takk!”
Pinggangnya tergetar, tapi heran... dia tidak merasa sakit. Di lain detik dia mengerti bahwa totokan itu jatuh pada To-liong-to yang tergantung di pinggangnya. Dalam pertempuran Bu Kie biasanya tidak menggunakan senjata. Paling banter ia menggunakan Seng-hwee-leng. Ia tak pernah membawa senjata sehingga ia sama sekali tak ingat bahwa sebatang golok mustika tergantung di pinggangnya.
Sekarang dia sadar dan girang. Sambil membentak keras dia menendang dan Ho Pit Ong buru-buru mundur bagaikan kilat. Bu Kie menghunus To-liong-to lantas membabat tongkat Lok Thung Kek yang menyambar dada.
“Srett!”
Kepala menjangan tongkat itu putus kemudian jatuh di tanah.
“Celaka!” seru si tua.
Dua pit Ho Pit Ong menikam bersamaan dan sekali lagi Bu Kie membabat dengan To-liong-to. Hampir bersamaan dua Poan-koan-pit berubah menjadi empat potong. Semangat Bu Kie terbangun dan memutar golok mustika itu seperti kitiran sehingga Hian-beng Jie-lo tidak berani mendekati lagi. Di bawah perlindungan To-liong-to, sekarang Bu Kie bisa menggunakan seluruh Kiu-yang Cin-khie untuk menekan hawa dingin. Dalam beberapa saat saja hawa dingin beracun dari Hian-beng Sin-ciang yang mengeram dalam tubuh Tio Beng dan Ciu Cie Jiak terusir semuanya menjadi bersih.
Setelah racun Hian-beng Sin-ciang punah seluruhnya, tanpa diketahui Bu Kie terjadi satu perkembangan baru. Apa bila dua hawa ‘im’ (dingin) dan ‘yang’ (panas) bertempur dalam tubuh manusia, maka yang lebih kuat selalu memunahkan yang lebih lemah. Demikianlah, sesudah hawa Hian-beng Sin-ciang terusir, Kiu-yang Cin khie lalu menekan tenaga Kiu-im yang dimiliki Cie Jiak.
Setelah mendapatkan Kiu-im Cin-keng yang disembunyikan dalam Ie-thian-kiam, Cie Jiak berlatih diam-diam dengan tergesa-gesa. Karena kuatir diketahui Cia Sun dan Bu Kie, dia hanya berani berlatih di waktu malam dan karena waktu sudah mendesak, dia tak sempat mempelajari dasar-dasar kitab ilmu silat itu sehingga terpaksa memilih ilmu rendah yang lebih mudah dilatih, di antaranya Kiu-im Pek-kut-jiauw.
Dahulu kitab jilid kedua Kiu-im Cin-keng dicuri Tan Hian Hong dan Bwee Tiauw Hong (keduanya murid Oey Yok Su) dari tangan Tong-sia Oey Yok Su, dan apa yang dipelajari kedua murid murtad itu juga Kiu-im Pek-kut-jiauw. Dapat dimengerti bahwa ilmu yang dilatih tergesa-gesa tak bisa mempunyai dasar Iweekang yang kuat, maka begitu bertemu lawan tangguh tenaga dalamnya akan tertindih.
Setelah kena racun Hian-beng Sin-ciang, Cie Jiak lalu memasukkan hawa beracun itu ke tubuh Tio Beng dalam usaha mengusir racun itu dari tubuhnya. Sesudah Bu Kie menolong barulah dia merasa nyaman. Tetapi baru saja dia mau melepaskan diri dari telapak tangan Tio Beng, semacam tenaga yang amat kuat menyedot dan dia tak bisa melepaskan diri. Tadi Tio Beng yang tidak bisa melepaskan diri dari punggungnya, akan tetapi sekarang dia sendiri yang tidak bisa memberontak dari telapak tangan Tio Beng. Ini terjadi karena adanya perbedaan kekuatan tenaga.
Bu Kie terus mengirim Kiu-yang Cin khie karena dia masih merasakan adanya perlawanan hawa dingin yang keluar dari telapak tangan Tio Beng. Dia hanya menduga bahwa racun Hian-beng Sin-ciang belum terusir semuanya. Dia tidak tahu bahwa hawa dingin itu adalah Kiu-im Cin-khie dari Cie Jiak. Makin lama Kiu-im Cin-khie yang didapat Cie Jiak dengan susah payah makin berkurang. Cie Jiak mengeluh tetapi dia tidak berani buka suara, sebab sekali bicara dia akan muntah darah. Untung sesudah keadaan badannya pulih kembali, Tio Beng tertawa dan berkata,
“Bu Kie Koko, aku sudah sembuh. Sekarang boleh kau layani kedua tua bangka itu!”
“Baiklah!” kata Bu Kie sambil menarik kembali tenaga dalamnya.
Cie Jiak seperti orang yang baru mendapat pengampunan. Setelah tenaga menyedot hilang, dia merasa hawa racun Hian-beng Sin-ciang telah terusir dari tubuhnya tapi tenaga dalamnya sendiri berkurang banyak. Selama satu dua detik dia mengawasi Bu Kie yang tengah memutar golok dan menyerang Hian-beng Jie-lo dengan hebatnya. Mendadak dia mementang lima jari tangannya yang lalu ditancapkan ke batok kepala Tio Beng.
“Aduh!” teriak nona Tio.
“Krekk!”
Totokan dan teriakan itu disertai dengan suara patahnya tulang. Yang patah adalah tulang-tulang jari tangan Cie Jiak yang segera kabur secepatnya. Bu Kie terkesiap. Dia menengok dan berseru,
“Beng-moay...”
Si nona meraba kepalanya dengan tangan gemetar. Bu Kie melompat mundur dan dengan tangan kanan memutar golok, ia meraba kepala Tio Beng dengan tangan kirinya. Ia merasa lega karena biar pun tangannya menyentuh darah yang basah lengket tetapi batok kepala nona Tio tidak menderita kerusakan.
“Beng-moay, jangan takut!” katanya. “Hanya luka di kulit.”
Gagalnya serangan Ciu Cie Jiak dan patahnya jari-jari tangannya adalah karena di tubuh Tio Beng masih terdapat Kiu-yang Cin-khie, sedangkan tenaga dalam Cie Jiak telah berkurang banyak.
Sambil bertempur Bu Kie merasa bahwa dengan menggunakan golok mustika itu biar pun menang namun kemenangan itu bukan kemenangan gemilang.
“Yo-cosu! Hoan-yusu! Bagaimana keadaan kalian?” teriaknya.
“Tiga sudah roboh, masih ada tujuh,” jawab Hoan Yauw. “Kauwcu tidak usah kuatir!”
Mendengar jawaban yang dilakukan dengan Iweekang kuat. Bu Kie tahu bahwa keadaan mereka memang tidak usah dikuatirkan. Dia segera menyerahkan To-liong-to kepada Tio Beng kemudian memindahkan pukulan Ho Pit Ong ke arah lain dengan Kian-kun Tay-lo-ie tingkat ketujuh.
Kian-kun Tay-lo-ie tingkat ketujuh adalah ilmu yang sangat sulit dan tidak boleh digunakan sembarangan. Jika salah sedikit saja maka ilmu itu bisa membakar diri orang yang menggunakannya. Maka itulah pada saat mesti menolong Tio Beng dan Cie Jiak dari hawa dingin, biar pun keadaannya berbahaya dia tidak berani menggunakan ilmu tersebut.
Hian-beng Jie-lo adalah tokoh-tokoh kelas utama, Kian-kun Tay-lo-ie tingkat rendah takkan berhasil terhadap mereka. Kini sesudah selesai menolong Tio Beng dan Cie Jiak, barulah dia berani menggunakan ilmu tersebut.
“Plakk!”
Pukulan Ho Pit Ong pindah arah dan menghantam pundak Lok Thung Kek. Lok Thung Kek terkejut.
“Sute, mengapa kau berbuat begini?” tanyanya dengan marah.
Ho Pit Ong orang yang otaknya tumpul dan dalam setiap urusan dia harus berpikir cukup lama sebelum bisa menangkap artinya. Dalam kejadian ini dia merasa heran dan bingung biar pun dalam hati tahu bahwa Bu Kie yang melakukannya. Dia berpendapat bahwa jalan satu-satunya untuk mendapatkan maaf dari Suheng-nya adalah menyerang musuh sehebat-hebatnya. Demikianlah, dia segera menendang dengan seluruh tenaganya.
Bu Kie mengibaskan tangan kirinya dan tendangan itu menyambar tan-tian (bawah pusar) Lok Thung Kek. Tan-tian adalah pusat penting dalam tubuh manusia untuk mengerahkan hawa. Lok Thung Kek terkesiap. Secepat kilat dia berkelit dan membentak,
“Sute, apa kau gila?”
“Benar Ho Sian-seng!” seru Tio Beng. “Lekas bekuk Suheng-mu yang berdosa dan cabul! Ayahku akan memberi hadiah besar kepadamu.”
Bu Kie merasa geli dalam hati. Semula dia ingin menggunakan Kian-kun Tay-lo-ie untuk menuntun serangan Ho Pit Ong ke arah Lok Thung Kek dan Lok Thung Kek ke arah Ho Pit Ong. Tetapi setelah mendengar Tio Beng, dia hanya menuntun pukulan-pukulan Ho Pit Ong ke arah Lok Thung Kek, ada pun terhadap Lok Thung Kek dia tetap melayani dengan Thay-kek-kun.
“Ho Sian-seng, kau tak usah kuatir,” katanya. “Kita berdua pasti bisa menumpas manusia she Lok ini. Jie Lam Ong akan mengangkat kau sebagai... sebagai...”
“Ho Sian-seng!” Tio Beng memotong. “Pangkatmu sudah ada di sini.” Dia merogoh saku lantas mengeluarkan segulung kertas dan mengibas-ngibaskannya. “Dengarlah!” teriaknya pula. “Kau akan dianugerahi pangkat Thay-goan Hu-kok Yang Wie Tay-ciang-kun.”
Saat itu pukulan Bu Kie menolak Lok Thung Kek ke samping kiri. Secara kebetulan selagi terhuyung si tua dipapaki oleh pukulan Ho Pit Ong yang arahnya dituntun dengan Kian-kun Tay-lo-ie hingga kakek she Lok itu tergencet di antara dua pukulan yang menyambar dari kiri kanan.
Selama puluhan tahun Lok Thung Kek dan Ho Pit Ong tak pernah berpisah. Mereka saling menyayangi bagaikan saudara kandung sendiri. Lok Thung Kek tidak percaya bahwa adik seperguruannya akan menjual dia, akan tetapi setelah lima kali beruntun diserang dengan pukulan yang membinasakan, dia menjadi kalap.
“Binatang!” teriaknya. “Tak kusangka karena pangkat kau melupakan gie-khie.”
Ho Pit Ong kebingungan. “Aku... aku...” katanya dengan suara terputus-putus.
“Benar, Ho Sian-seng,” sambung Tio Beng. “Kau berbuat begitu karena terpaksa, kau akan menjadi Hu-kok Yang Wie Tay-ciang-kun.”
Selagi si nona bicara, Bu Kie mengerahkan sepuluh bagian tenaganya. Begitu pukulan Ho Pit Ong menyambar, dia mengalihkan dengan Kian-kun Tay-lo-ie dan...
“Plakk!”
Pukulan itu jatuh tepat di pundak Lok Thung Kek. Lok Thung Kek balas memukul dan beberapa gigi Ho Pit Ong yang masih tersisa rontok. Sebagai seorang tua Ho Pit Ong amat menyayangi beberapa giginya, maka dapat dimengerti kalau darahnya segera meluap.
“Suko! Kau keterlaluan,” bentaknya. “Aku memukul kau tanpa sengaja.”
“Omong kosong!” teriak Lok Thung Kek.
Biar pun berkepandaian tinggi namun Hian-beng Jie-lo tidak mengenal Kian-kun Tay-lo-ie tingkat ketujuh. Dalam silat Tiong-goan memang ada ilmu ‘meminjam tenaga’ dan ‘empat tahil memukul ribuan kati’, tapi orang yang berkepandaian seperti mereka tidak gampang diserang ilmu begitu. Karena itulah Lok Thung Kek sama sekali tak pernah mengira bahwa serangan-serangan adik seperguruannya adalah karena perbuatan Bu Kie. Di dalam hati Ho Pit Ong tahu bahwa Bu Kie lah yang main gila.
“Setan! Kurang ajar kau!” cacinya.
“Benar, tidak usah panggil dia suko lagi!” sambung Tio Beng. “Memang dia setan!”
Pada saat itu Bu Kie menarik pukulan Ho Pit Ong ke pipi Lok Thung Kek yang begitu kena lantas menjadi bengkak.
“Bu Kie Koko, mari kita membantu Yo-cosu,” kata Tio Beng.
Melihat kalapnya Lok Thung Kek, Bu Kie tahu bahwa siasatnya sudah berhasil. “Ho Sian-seng, aku serahkan penjahat cabul ini kepadamu,” katanya seraya melompat keluar dari gelanggang pertempuran.
“Ho Sian-seng,” kata Tio Beng. “Sesudah membekuk suko-mu, kau boleh meminjam pit-kip To-liong-to selama sebulan.”
Sesudah Bu Kie dan Tio Beng berlalu, kedua kakek itu bertempur sampai keduanya terluka. Ho Pit Ong mencoba membersihkan diri, tetapi Lok Thung Kek tidak bisa percaya sehingga akhirnya mereka menjadi musuh.
Dengan mengikuti suara beradunya senjata, Bu Kie dan Tio Beng pergi menuju ke tempat pertempuran Yo Siauw dan kawan-kawannya. Di atas tanah menggeletak lima mayat, Yo Siauw melayani tiga orang, Hoan Yauw dan Gan Hoan bertanding dengan seorang lawan. Di antara kelima musuh itu yang paling berat adalah lawan Hoan Yauw. Meski memiliki kepandaian tinggi, Hoan Yauw tidak bisa berbuat banyak dan hanya lebih unggul sedikit dalam pukulan-pukulan.
Bu Kie tidak turun tangan melainkan hanya menonton. Beberapa saat kemudian Yo Siauw merobohkan satu orang lawan. Melihat bahaya, dua lawan Yo Siauw lantas kabur diturut oleh lawannya Gan Hoan. Selagi musuhnya lari, Gan Hoan melepaskan pasir beracun dan sambil berteriak kesakitan orang itu roboh binasa. Di lain saat hanya lawan Hoan Yauw yang masih berkelahi dengan mati-matian.
“Saudara, kulihat kau seorang gagah,” kata Hoan Yauw. “Lebih baik kau menyerah saja.”
“Apakah manusia yang menyerah kepada musuh masih bisa disebut orang gagah?!” tanya orang itu dengan marah.
“Benar,” kata Bu Kie seraya maju ke depan dan menyabet beberapa kali dengan To-liong-to. Berbareng dengan sabetan-sabetan itu, di tengah udara berterbangan rambut manusia. “Hoan-heng, lepaskan dia!” kata Bu Kie sambil tersenyum.
Karena merasa dingin orang itu mengusap kepala dan mukanya. Tiba-tiba dia berdiri terpaku dengan mulut ternganga. Ternyata sebagian rambut dan jenggotnya terpapas habis. Ia menyoja kepada Bu Kie dan berkata,
“Aku takluk dan rela menerima segala hukuman.”
Bu Kie tertawa. “Saudara boleh berlalu,” katanya.
Orang itu menghela napas, memutar tubuh lalu meninggalkan tempat itu.
“Apa mereka semua busu gedung Jie Lam Ong?” tanya Bu Kie kepada Tio Beng. “Siapa dia?”
“Dia adalah pemimpin wie-su (pengawal) dari kakakku,” jawabnya. “Namanya Kiu-jian-kun (silat si jenggot) Louw Sian Kek. Saat ini dialah jago utama di gedung ayahku.“
“Kini si jenggot jadi janggut licin,” kata Yo Siauw sambil tertawa. “Rasanya dia tidak dapat tinggal lebih lama lagi di gedung Ong-hu.”
Selagi mereka bicara, sejumlah pendeta Siauw-lim dan anggota Beng-kauw memburu ke tempat pertempuran Hian-beng Jie-lo. Melihat datangnya banyak orang, kedua kakek itu lantas berlalu sambil terus bertempur di sepanjang jalan. Setibanya di kuil Siauw-lim-si, Bu Kie segera memeriksa luka Tio Beng yang sama sekali tidak berbahaya. Tiba-tiba Bu Kie teringat, kemudian dia pun berkata,
“Beng-moay, kebetulan kau membawa kertas sehingga Lok Thung Kek percaya.”
Si nona tertawa manis. Ia merogoh sakunya lalu mengeluarkan segabung kertas tipis dan melambai-lambaikannya di muka Bu Kie.
“Coba kau tebak, kertas apa ini?” katanya.
Bu Kie tertawa. “Kalau kau yang suruh, biar seumur hidup aku tidak akan bisa menebak,” jawabnya.
Kertas itu terdiri dari dua gabung. Si nona segera memecahnya lalu menaruh dua gabung itu di kedua telapak tangannya.
Bu Kie mengawasi. Yang dilihat seperti kertas itu ternyata bukan kertas tapi sutera setipis sayap tonggeret. Di atas lembaran-lembaran sutera itu terdapat huruf-huruf yang sangat halus. Dia menjemput gabungan yang satu. Pada halaman depan terdapat tulisan ‘Bu Bok Ie Su’ (kitab peninggalan Gak Hui). Lembaran-lembaran sutera itu memang bukan lain dari pada kitab, dan di dalam kitab itu terdapat ilmu perang yang serba lengkap. Dia mengambil kitab yang lain, yang di atasnya tertulis ‘Kiu Im Cin Keng’ (kitab ilmu silat Kiu-im). Kitab itu berisi bermacam-macam ilmu silat yang aneh-aneh dan pada halaman-halaman terakhir terdapat pelajaran Kiu-im pek kui jiauw, Cui sim ciang, dan sebagainya. Bu Kie meneliti itu semua dengan jantung bergetar.
“Dari... dari mana... kau... kau mendapatkan ini?” tanyanya dengan suara terputus-putus.
“Selagi dia (maksudnya Ciu Cie Jiak) tidak bisa bergerak, aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang baik itu,” jawabnya. “Aku tak sudi belajar ilmu-ilmu beracun, sebaiknya kitab ini dibakar saja. Perlu apa ditinggalkan di dunia untuk mencelakai manusia?”
Bu Kie membalik-balik beberapa lembaran cin-keng. Ia mendapat kenyataan bahwa isinya sangat dalam dan tidak bisa lantas dipecahkan olehnya. Di samping itu ia mendapat bukti bahwa bagian depan bukan terdiri dari ilmu silat kelas rendah.
“Beng-moay, kau salah,” katanya. “Kiu-im Cin-keng berisi ilmu-ilmu yang amat tinggi. Apa bila dipelajari dan dilatih menurut aturan, maka dalam waktu sepuluh atau dua puluh tahun orang akan memperoleh hasil menakjubkan. Memang, kalau orang tergesa-gesa dan mempelajari kulit-kulitnya saja yang memberi hasil cepat, dia akan memperoleh ilmu-ilmu yang sifatnya beracun.“ Ia terdiam sejenak kemudian berkata lagi, “Cici yang mengenakan baju kuning itu mempunyai ilmu silat yang sejalan dengan Ciu-kouwnio. Tapi pukulan dan gerakannya memperlihatkan ilmu yang lurus bersih. Tak salah lagi, dia pun mendapatkan ilmunya dari Kiu-im Cin-keng.”
“Bu Kie Koko,” kata Tio Beng. “Cici baju kuning itu mengatakan di belakang gunung Cong-lam-san terdapat kuburan mayat hidup, burung rajawali sakti dan pasangan pendekar tak muncul lagi dalam dunia Kangouw. Apa artinya ini?”
Bu Kie menggelengkan kepalanya. “Aku tidak tahu,” jawabnya. “Nanti kita tanyakan kepada Thay-suhu.”
Sesudah bercakap-cakap beberapa lama, karena musuh tidak membuat gerakan apa-apa, semua orang lantas pergi tidur.
Pada keesokan paginya Bu Kie memanjat pohon besar untuk menyelidiki keadaan musuh. Dia mendapat kenyataan bahwa jumlah musuh bertambah kira-kira selaksa orang dan dilihat dari gerakannya, mereka sedang mempersiapkan gerakan baru. Di antara gerakan-gerakan bendera dan serdadu, sayup-sayup terdengar bunyi terompet yang tak henti-hentinya. Persiapan tentara Goan itu sudah membuat hati orang gagah merasa keder.
“Beng-moay...“ kata Bu Kie sesudah turun dari pohon.
“Hemm... ada apa?” tanya si nona.
“Tidak apa-apa... aku hanya ingin memanggil namamu.“
Sebetulnya Bu Kie ingin meminta pikiran gadis yang pintar itu dalam usaha mengundurkan musuh. Tetapi pada saat itu dia ingat bahwa Tio Beng adalah seorang puteri Mongol yang karena cinta sudah mengkhianati orang tuanya sendiri. Kalau sekarang dia minta si nona menelurkan siasat untuk membasmi bangsanya sendiri, dia menganggap permintaannya agak keterlaluan.
Akan tetapi dengan melihat paras muka Bu Kie dan nada suaranya, Tio Beng bisa membaca isi hati si pemuda.
“Bu Kie Koko, aku merasa berterima kasih bahwa kau dapat mengerti kesukaranku,” katanya. “Dalam hal ini sebaiknya aku tidak bicara banyak.”
Dengan perasaan masgul Bu Kie masuk ke kamarnya. Dia mengasah otak, tetapi setelah beberapa lama belum juga mendapatkan jalan yang baik. Dalam pekatnya malam dia membalik lembaran kedua kitab yang diberikan Tio Beng. Sesudah Kiu-im Cin-keng, tanpa sengaja dia membaca kalimat ‘terkepung di gunung Gu-tauw-san’ dalam Bu-bok le-su. Dia kaget dan membaca terus. Ternyata di bagian itu Gak Hui menceritakan pengalamannya waktu ia bersama bala tentaranya dikepung tentara Kim yang berjumlah besar di gunung Gu-tauw-san, cara bagaimana ia menjalankan siasat menggeret musuh dari dalam dan luar sehingga mereka memperoleh kemenangan besar. Tiba-tiba Bu Kie menepuk meja.
“Langit membantu aku,” serunya.
Biar pun keadaan Siauw-sit-san sekarang berbeda dengan keadaan Gu-tauw-san dahulu, ia merasa masih bisa jalan untuk mendapatkan kemenangan. Makin lama ia kelihatan semakin gembira.
“Gak Bu Bok sungguh manusia luar biasa,” katanya seorang diri. “Dalam keadaan begitu berbahaya, seorang manusia takkan bisa berdaya lagi... Memang... memang ilmu perang seperti ilmu silat. Kita harus mendapat petunjuk dari orang pandai...“
Ia mencelupkan telunjuknya di air teh lalu membuat peta bumi di atas meja. Ia tahu bahwa keadaan amat berbahaya, tapi ia yakin bahwa dengan bantuan Tuhan, Siauw-lim-si masih dapat ditolong. Dalam perang, yang berjumlah kecil sukar melawan musuh yang berjumlah besar. Oleh karena itu di dalam peperangan ini ia tak boleh mengadu kekuatan, tak boleh mengadakan pertempuran berhadap-hadapan. Tak lama kemudian ia sudah punya gambaran jelas tentang apa yang harus dilakukannya. Tanpa menyia-nyiakan waktu, ia segera pergi ke Tay-hiong Po-thian dan minta Kong-bun Hong-thio mengumpulkan para orang gagah. Sesudah semua enghiong berkumpul, Bu Kie berkata dengan suara nyaring.
“Sekarang tentara Tat-cu sudah berkumpul di kaki gunung dan mungkin mereka akan segera menyerang. Meski kemarin kita mendapat kemenangan kecil dan sudah menurunkan semangat musuh, tapi kalau mereka menyerang lagi dengan mati-matian, kita yang berjumlah lebih kecil akan sukar melawan mereka yang berjumlah amat besar.“ Ia berdiam sejenak, kedua matanya yang amat tajam menyapu seluruh ruangan. “Aku hanyalah seorang yang tidak punya kemampuan, tetapi atas kecintaan kalian sudah mengangkat aku sebagai Bu-lim Bengcu sehingga untuk sementara waktu aku terpaksa menerima pengangkatan itu,” katanya pula. “Hari ini kita bersama-sama akan membasmi musuh. Demi kepentingan kita bersama, kuminta kalian suka mentaati segala perintah.”
Pidato pendek itu disambut dengan sorak sorai gegap gempita. Semua orang berjanji akan menuruti segala perintah Bengcu. Bu Kie girang.
“Terima kasih!” katanya. “Nah, marilah kita mulai. Gouw Kin Co!”
Begitu namanya dipanggil, pemimpin Swie-kim-kie itu segera maju lantas memberi hormat dengan membungkuk.
“Aku tugaskan kau dan saudara-saudara dari benderamu untuk mempertahankan undang-undang ketentaraan,” kata Bu Kie. “Siapa pun juga yang tidak mentaati perintah harus mendapat hukuman mati dengan timpukan tombak dan kapak Swie-kim-kie. Peraturan ini berlaku untuk semua orang, tidak terkecuali tetua dari agama kita dan tetua rimba persilatan.”
“Baik!” kata Gouw Kin Co seraya merogoh saku dan mengeluarkan bendera putih kecil.
Dalam rimba persilatan, nama Gouw Kin Co belum begitu dikenal. Akan tetapi pada waktu diadakan pameran kekuatan Ngo-heng-kie, semua orang tahu bahwa bendera putih tak boleh dibuat permainan. Orang yang ditimpuk dengan bendera itu berarti diserang dengan lima ratus anak panah dan lima ratus kapak pendek. Walau pun mempunyai kemampuan tinggi, dia tidak usah berharap bisa lolos dari serangan itu.
Bu Kie mengeluarkan perintah tersebut karena pada halaman pertama dari Bu-bok Ie-su dia membaca nasihat sebagai berikut. ‘Dalam memimpin tentara, yang terpenting adalah peraturan yang keras’. Bu Kie tahu bahwa para Enghiong dalam rimba persilatan biasanya amat bangga dengan kepandaian sendiri dan tak sudi tunduk di bawah perintah orang. Mana kala kebiasaan itu dipraktekkan dalam menghadap tentara Goan, maka mereka semua akan musnah. Sehabis mengeluarkan titah pertama, sambil menuding tembok di luar ruang musyawarah Bu Kie berkata lagi,
“Bagi para enghiong yang memiliki ilmu ringan tubuh tinggi dan bisa melompati tembok itu, kuminta supaya memperlihatkan kepandaian.”
Banyak orang yang lantas merasa kurang puas, bahkan di antara para Cianpwe ada yang mendongkol karena merasa bahwa dengan mengajukan pertanyaan itu, Bu Kie telah menghina mereka. Selagi orang saling mengawasi, Thio Siong Kee segera maju dan berkata,
“Aku bisa!”
Dengan sekali menjejak bumi ia melompati tembok yang tinggi itu. Tee-in-ciong dari Bu-tong-pay sudah tersohor di kolong langit. Bagi Thio Siong Kee, melompati tembok itu sama mudahnya membalik tangan. Sesudah Thio Siong Kee, dengan beruntun Jie Lian Ciu, In Lie Heng, Yo Siauw, Wie It Siauw, In Ya Ong dan lain-lain memperlihatkan kepandaiannya. Contoh itu segera diturut orang-orang gagah dari partai lainnya. Dalam sekejap sudah empat ratus orang lebih yang berhasil melompati tembok itu. Yang lain tidak mencoba karena rupa-rupanya tidak ungkulan.
Para enghiong yang menghadiri pertemuan itu rata-rata mempunyai kepandaian istimewa. Ilmu meringankan tubuh hanya merupakan salah satu cabang dari ilmu silat yang banyak ragamnya. Sering kejadian bahwa seorang yang mempunyai ilmu luar biasa ternyata ilmu ringan tubuhnya tidak terlampau tinggi. Dalam dunia persilatan ada kalanya seorang tokoh menggunakan seluruh hidupnya untuk melatih jari tangannya saja. Karena itulah tinggi rendah dalam ilmu mengentengkan tubuh bukan menjadi ukuran dari tinggi rendahnya kepandaian orang yang tersangkut, hal ini diketahui oleh semua ahli silat. Dengan demikian orang-orang yang tidak mampu melompati tembok itu sama sekali tidak merasa malu.
Bu Kie mendapat kenyataan bahwa di antara empat ratus orang itu, pendeta Siauw-lim-si berjumlah kurang lebih sembilan puluh orang.
“Nama besar Siauw-lim-si memang bukan nama kosong,” katanya dalam hati. “Dalam ilmu ringan tubuh saja, tokoh-tokoh Siauw-lim-si berjumlah lebih besar dari partai lain.”
“Jie Jie-pek, Thio Sie-pek, In Liok-siok, aku minta kalian bertiga memimpin para enghiong yang berhasil melompati tembok,” kata Bu Kie. “Kalian harus memancing musuh dengan berlagak seperti orang yang melarikan diri dari kuil ini. Apa bila musuh berhasil dipancing dan mereka mengejar kalian, maka hasil itu merupakan pahala nomor pertama. Sesudah kalian lari, sampai di belakang gunung kalian harus...”
Petunjuk selanjutnya diberikan dengan bisik-bisik saja dan tidak dapat didengar orang lain.
“Ku-ku,” kata Bu Kie selanjutnya. “Kau bersama Yo-cosu, Hoan-yusu dan Wie Hok-ong, empat orang kuminta membantu aku. Kita mengambil kedudukan di tengah-tengah guna mengawasi jalan pertempuran dan memberi bantuan kepada yang memerlukannya.”
Dengan ringkas namun tegas Bu Kie mengeluarkan berbagai perintah. Siapa yang harus bersembunyi untuk memotong jalan musuh, siapa yang harus melindungi bagian belakang pasukan sendiri, bagaimana harus menyerang dari depan, bagaimana harus menyerang dari samping dan sebagainya. Begitu melihat kepandaian pemimpinnya, Yo Siauw merasa takluk dan kagum sekali. Dia tidak tahu bahwa semua pengaturan itu berdasarkan siasat dalam Bu-bok Ie-su. Akhirnya Bu Kie berkata.
“Kong-bun Hong-thio dan Kong-tie Seng-ceng, aku minta kalian berdua memimpin para enghiong dari Go-bi-pay untuk menolong orang-orang yang terluka dan menguburkan yang mengorbankan jiwa.”
Sebagaimana diketahui, rombongan Go-bi tidak mempunyai pemimpin karena Cie Jiak tak berada di situ. Lantaran ada ganjalan, Bu Kie merasa tak enak untuk memerintah mereka. Karena itu dia meminta bantuan Kong-bun dan Kong-tie, dua orang tua yang mempunyai nama besar dan kedudukan tinggi. Dia merasa bahwa tindakannya itu tidak akan ditentang murid-murid Go-bi. Benar saja, semua anggota Go-bi-pay segera menerimanya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Di luar dugaan Kong-bun dan Kong-tie saling pandang kemudian saling mengangguk.
“Lo-ceng sangat takluk dengan kepandaian Bengcu,” kata Kong-bun sambil membungkuk. “Sebetulnya lo-ceng tidak boleh mengeluarkan bantahan terhadap pengaturan Bengcu, tapi lantaran terpaksa kami berdua ingin memohon sesuatu.”
“Hong-thio tak usah berlaku sungkan,” kata Bu Kie. “Katakanlah apa yang dipikirkan Hong-thio.”
“Kami berdua hanya mohon agar kami diperbolehkan menjaga kuil ini,” kata Kong-bun.
Bu Kie mengerutkan kening. Setelah berpikir sejenak dia dapat menangkap latar belakang permintaan itu. Siasat yang akan dijalankan adalah tipu meninggalkan Siauw-lim-si, berlagak kabur ke belakang gunung untuk memancing musuh kemudian membasminya. Tapi hal ini didasarkan siasat Gak Hui waktu jenderal itu terkepung di Gu-tauw-san. Namun keadaan Gu-tauw-san tidak sama dengan Siauw-sit-san. Gu-tauw-san adalah sebuah gunung yang gundul, tidak ada sesuatu yang berharga.
Di Siauw-sit-san berdiri kuil Siauw-lim-si yang usianya ribuan tahun, sebuah pusat agama Buddha yang suci. Ada kemungkinan bahwa kalau kuil itu ditinggalkan tanpa terjaga, maka tentara musuh akan merusaknya bahkan mungkin akan membakarnya. Lantaran itulah Kong-bun dan Kong-tie minta permisi untuk menjaganya. Mereka bertekad untuk mati hidup bersama di kuil Siauw-lim-si.
“Baiklah,” kata Bu Kie sambil mengangguk. “Aku merasa sangat kagum akan tekad Jie-wi Taysu. Kalian boleh menjaga kuil ini.”
Para enghiong merasa heran. Mulanya mereka menyangka bahwa Bu Kie akan menolak permintaan itu. Melihat pemimpin mereka diijinkan menjaga kuil, sejumlah murid Siauw-lim lantas ingin mengikuti jejak itu.
“Undang-undang ketentaraan keras dan harus dipatuhi!” Kong-bun berteriak dengan suara keras. “Murid partai kami yang berani membantah akan segera dicoret namanya sebagai murid Siauw-lim-pay.”
“Hari ini dengan bersatu padu saudara-saudara wilayah Tiong-goan melayani Tat-cu,” kata Bu Kie. “Kuminta para Suhu bersedia mengurus tambur dan lonceng yang membangunkan semangat dan menggetarkan seluruh kuil.“
Dengan darah bergolak para enghiong mengusap-usap senjata mereka.
Sebagai tindakan pertama, hampir berbarengan dengan komando Hee Yam, para anggota Liat-hwee-kie mengeluarkan kayu bakar dan rumput yang segera ditumpuk di samping kuil kemudian dibakar. Dalam sekejap api berkobar-kobar.
Mendengar suara tambur dan melihat berkobarnya api, tentara Goan yang berada di kaki gunung lantas menduga bahwa orang-orang Siauw-lim-si sudah membakar kuil dan hendak segera kabur.
Dengan sekali mengibaskan tangan Jie Lian Ciu memimpin seratus lima puluh orang lebih yang berlari ke bawah melalui sebelah kiri Siauw-sit-san. Sebelum mereka tiba di lereng, tentara musuh mulai menyerang ke atas sambil bersorak sorai. Para orang gagah segera lari berpencaran agar tentara Goan tidak dapat membasmi mereka dengan anak panah.
Rombongan kedua yang dipimpin Thio Siong Kee diikuti rombongan ketiga di bawah pimpinan In Lie Heng dengan beruntun muncul kemudian berlarian ke bawah, setiap orang menggendong bungkusan besar yang berisi papan, seprei atau selimut tebal. Para serdadu Goan mengira mereka adalah orang-orang yang kabur dengan penuh ketakutan sambil membawa sedikit bekal yang masih dapat dibawa. Padahal bungkusan-bungkusan itu adalah tameng untuk melindungi diri dari anak panah Mongol yang sangat lihay. Setelah mengawasi beberapa lama pemimpin tentara Goan lantas memerintahkan selaksa serdadu mengejar dan selaksa lainnya tetap menjaga kedudukan mereka.
“Yo-cosu, pemimpin tentara Tat-cu seorang pandai,” kata Bu Kie. “Dia tidak mengerahkan seluruh tentaranya.”
“Benar,” jawab Yo Siauw. “Kewaspadaan itu bisa membahayakan kita.”
Tiba-tiba dari kaki gunung terdengar bunyi terompet berulang-ulang dan dua ribu tentara berkuda Goan mulai menerjang ke atas dari kiri dan kanan. Dengan mata tanpa berkedip Bu Kie mengawasi majunya musuh. Jalan di gunung penuh bahaya dan berliku-liku, tapi kuda-kuda Mongol yang terlatih bisa maju terus tanpa menemui banyak kesukaran. Begitu rombongan musuh terdepan mendekati pendopo kuil. Bu Kie memberi isyarat dengan mengibaskan tangannya. Hampir berbareng pasukan Liat-hwee-kie bergerak dan bersembunyi di rumput-rumput tinggi. Pada saat musuh berada dalam jarak kurang lebih seratus tombak, Hee Yam segera memberi komando.
Minyak segera menyembur dan anak panah api menyambar. Kuda-kuda berjingkrak keras, tentara Goan berteriak-teriak, seluruh pasukan berubah kalut, banyak kuda dan manusia roboh tergelincir ke bawah gunung dengan badan berkobar-kobar. Tetapi tentara Goan memang tentara jempolan. Pasukan depan terpukul namun pasukan belakang tak bergeming. Dengan rapi mereka turun dari tunggangannya kemudian menerjang ke atas dengan berjalan kaki. Liat-hwee-kie terus menyemprotkan minyak dan api. Beberapa ratus musuh binasa, tapi yang lainnya merangsek terus.
Melihat itu bendera lain dari Beng-kauw segera membantu. Ang-sui-kie menyemburkan air beracun ada pun Houw-touw-kie melepaskan pasir beracun. Agaknya kedua bendera hendak menghancurkan pasukan Goan. Dengan nekat beberapa ratus orang menyerang terus, tapi dengan tidak berapa sukar mereka dibasmi pasukan Swie-kim-kie dan Kie-bhok-kie.
Sekonyong-konyong di kaki gunung terdengar suara tambur yang amat hebat. Dalam sesaat lima ribu tentara musuh bergerak dengan bentuk seperti kipas sambil membawa tameng-tameng besar. Dengan adanya tameng-tameng itu maka air dan pasir beracun tidak dapat berbuat banyak.
Kie-bhok-kie segera turun tangan dengan melontarkan balok-balok besar. Tetapi usaha itu pun hanya membuat beberapa lubang pada barisan musuh yang lekas dapat menutupnya kembali. Melihat keadaan itu, Kong-bun segera berkata,
“Thio-kauwcu, harap kau dan yang lain-lain lekas mundur untuk melindungi tenaga inti dari rimba persilatan kita. Meski pun hari ini kita menderita kekalahan tapi di kemudian hari kita akan bisa bergerak lagi.”
Bu Kie tidak menyahut. Dengan rasa kuatir dia mengawasi pasukan tengah dari pasukan musuh. Mendadak dia melihat di bawah sehelai bendera terdapat seorang panglima yang menunggang seekor kuda tinggi besar dan mengenakan pakaian perang kuning berkilauan seperti emas. Panglima ini kelihatannya sangat angker, tapi karena teraling topi, mukanya tidak kelihatan tegas. Bu Kie menengok kepada Gouw Kin Co dan berkata,
“Gouw Kin Co, kau serang panglima itu.”
“Baik!” jawabnya sambil mengibaskan bendera putih dan menerjang ke bawah.
Seratus batang tombak menyambar, kemudian seratus anggota Swie-kim-kie menyerbu ke arah perwira dan serdadu yang berada di seputar jenderal itu.
“Wie Hok-ong,” kata pula Bu Kie. “Mari kita bekuk panglima itu. Yo-cosu dan Hoan-yusu, kalian berdua melindungi kami.”
Ketiga pemimpin Beng-kauw itu girang. Mereka kagum akan tindakan sang Kauwcu yang berani dan tepat itu.
Bu Kie dan Wie It Siauw adalah jago ilmu ringan tubuh yang sulit dicari tandingannya pada jaman itu. Dengan berbareng mereka berkelebat dan bagaikan berkeredepnya dua sinar kilat, tahu-tahu mereka sudah berada di barisan tameng. Dengan mudah mereka memukul jatuh semua anak panah, kemudian dengan sekali menotol tameng musuh dengan ujung kaki, maka robohlah tameng-tameng yang membentang seolah sebuah dinding besi itu.
Tentara Goan terkejut dan marah. Sambil berteriak-teriak mereka mengepung ketua penyerang itu. Tapi Bu Kie dan Wie It Siauw bukan jago biasa. Dengan gerakan luar biasa dan ketabahan luar biasa, mereka melewati rimba golok dan tombak. Dalam sekejap mereka sudah menghampiri si panglima.
Jenderal itu menikam dengan tombaknya. Bu Kie berkelit menangkap gagang tombak dan menariknya hingga panglima perang itu terhuyung ke depan. Wie It Siauw melompat lantas mencengkeram batang lehernya. Tetapi panglima itu juga bukan sembarang orang. Dengan tangan kiri dia menghunus pedang dan membabat.
Bu Kie mengegos dan menangkap pergelangan tangan musuh yang memegang pedang, kemudian menariknya dari atas kuda. Pasukan pengawal mengeluarkan teriakan tertahan dan dengan mati-matian mereka mencoba menolong, tapi mereka ditahan Yo Siauw dan Hoan Yauw.
“Berangkat!” kata Bu Kie dengan suara girang.
Wie It Siauw segera menotok jalan darah tawanannya, menggendong kemudian kabur ke atas gunung, ke tempat yang sepi. Melihat jenderal mereka tertawan, sambil berteriak-teriak tentara Goan mengejar. Namun tentu saja mereka bukan tandingan Wie Hok-ong yang berlari seperti kera di antara batu-batu cadas dan tempat yang tak mungkin dilewati manusia biasa. Melihat kawannya berhasil, Bu Kie segera mengajak Yo Siauw dan Hoan Yauw kembali ke atas gunung.
Sesudah berada di tempat aman, Wie It Siauw sengaja memperlihatkan kepandaiannya. Sambil berlari dia melemparkan tubuh panglima itu. Tentara Goan berteriak kaget karena menduga pemimpin mereka bakal jatuh dengan tubuh hancur luluh. Tetapi selagi tubuh itu melayang ke bawah, Wie Hok-ong menyusul lantas menyangganya dengan kedua tangan. Setelah mengulangi permainan berbahaya itu beberapa kali, dia tiba di puncak.
“Yo-cosu!” teriaknya. “Jual beli datang!” seraya berteriak dia melontarkan tubuh si panglima ke arah Yo Siauw yang lalu menyambut dengan satu gerakan yang amat indah.
Yo Siauw membuka topi tawanannya. Panglima yang berparas tampan mengawasi dengan mata mendelik dan alis berdiri. Mendadak Tio Beng berteriak.
“Koko!”
Ia menubruk dan memeluk jenderal itu yang ternyata bukan lain Ong Po Po, kakak si nona. Kejadian yang tidak disangka-sangka. Alis Bu Kie berkerut. Dia menghampiri kemudian mendukung Ong Po Po sambil berkata,
“Maaf.“ Sesudah itu lalu diserahkan kepada Kong-bun dan Kong-tie.
“Taysu, dengan menahan dia sebagai tanggungan, maka Siauw-lim-si bisa diselamatkan,” bisiknya. “Tapi dia mempunyai hubungan dengan aku, maka kuharap Jiewie Taysu jangan mencelakainya.”
Kedua pendeta itu girang, lalu mengambil dua batang golok yang kemudian ditandalkan di leher Ong Po Po.
“Tentara Mongol, dengarlah!” teriak Yo Siauw. “Siauw Ong-ya kalian jatuh ke tangan kami. Mundurlah supaya kalian tidak mencelakai jiwanya!”
Ban-hu-thio yang memimpin selaksa tentara itu kaget bercampur bingung. Kalau panglima itu benar-benar binasa maka Jie Lam Ong akan marah besar dan mungkin seluruh pasukan akan mendapat hukuman mati. Karena itu, sesudah berpikir beberapa saat dia segera mengeluarkan titah menarik mundur semua tentara.
Selagi para enghiong bersorak sorai penuh kegirangan, di kaki gunung sekonyong-konyong terdengar suara tambur yang bergemuruh dan tampak sejumlah anak panah api menyambar ke tengah udara. Hampir berbareng di empat penjuru terdengar teriakan-teriakan yang seolah-olah menggetarkan seluruh Siauw-sit-san.
“Kauwcu, bala bantuan datang!” kata Yo Siauw dengan girang.
Bu Kie mengangguk. “Bala bantuan datang!” teriaknya. “Terjang musuh!”
Perintah itu disambut dengan sorak sorai. “Para enghiong, dengarlah!” teriak pula Bu Kie. “Lebih dahulu binasakan perwira kemudian baru serdadu.”
Karena tahu datangnya bala bantuan Siauw-lim-si, tentara Goan yang baru saja mendapat perintah mundur, lantas merosot semangatnya. Karena itu begitu diterjang para enghiong, mereka menjadi kalut dan kabur ke bawah gunung dengan kalang kabut.
Sesampainya di lereng Bu Kie melihat bendera-bendera Beng-kauw. Di sebelah selatan terdapat sehelai bendera besar dengan huruf ‘Cie’, ada pun di sebelah utara bendera lain dengan huruf ‘Siang’. Ia tahu bahwa yang datang menolong adalah Cie Tat dan Siang Gie Cun.
Dua panglima yang semula berada di daerah Hway-ho itu secara kebetulan datang ke Ho-lam selatan. Begitu mendapat warta dari Put-thay Hwesio, mereka segera menggerakkan seluruh tentara dan menyusul siang malam hingga dalam waktu dua hari mereka tiba di Siauw-sit-san.
Pasukan Cie Tat dan Siang Gie Cun terdiri dari orang-orang yang sangat berpengalaman dan gagah berani. Karena jumlah mereka lebih besar, maka sesudah bertempur beberapa gebrakan mereka berhasil memberi pukulan hebat kepada selaksa tentara Goan yang menjaga di kaki gunung dan lantas lari lintang pukang ke jurusan barat.
Seperti yang diketahui Bu Kie sendiri telah menetapkan satu siasat. Dengan mengerahkan orang-orang yang mahir dalam ilmu ringan tubuh, dia hendak memancing tentara musuh ke selat gunung yang terletak di sebelah barat Siauw-sit-san. Tiga penjuru selat itu tertutup lereng gunung yang seperti dinding terjal.
Jie Lian Ciu beserta kawan-kawannya berhasil memancing musuh ke selat itu. Ban-hu-thio yang memimpin selaksa tentara juga tahu bahayanya selat tersebut. Tetapi karena musuh berjumlah sangat kecil, hanya beberapa ratus orang, maka menurut pendapatnya dia masih mampu melayani biar pun diserang pasukan yang bersembunyi. Maka itu tanpa sangsi lagi dia segera memerintahkan tentaranya mengejar terus.
Setibanya di lereng, Jie Lian Ciu dan kawan-kawannya segera memanjat ke atas menggunakan tambang-tambang yang sudah disediakan dan tergantung di lereng itu. Tapi mereka adalah ahli-ahli silat jempolan sehingga tanpa menemui banyak kesukaran dapat merayap terus ke atas. Sebaliknya pihak tentara Goan yang mengenakan pakaian perang yang sangat berat tentu saja tidak bisa berbuat begitu.
Begitu masuk di selat dan melihat gerakan musuh, barulah Ban-hu-thio dan tentara Goan insyaf bahwa mereka sudah terjebak. Cepat-cepat dia memerintahkan tentaranya mundur. Tetapi sudah terlanjur! Api, pasir beracun dan anak panah menyambar-nyambar. Hampir berbareng pasukan Kie-bhok-kie juga melontarkan balok-balok besar ke mulut selat yang lantas tertutup rapat.
Tidak lama kemudian barisan Goan kedua yang juga terdiri dari selaksa orang dan dikejar pasukan Cie Tat serta Siang Gie Cun tiba di situ. Karena mulut selat sudah tertutup maka mereka kabur ke empat penjuru.
“Sungguh sayang!” kata Bu Kie kepada Cie Tat.
Jika sudah diatur terlebih dahulu maka barisan Goan yang kedua itu tentu bisa dipancing masuk ke dalam selat hingga seluruh barisan yang terdiri dari dua laksa jiwa bisa dimusnahkan sekaligus. Akan tetapi Bu Kie sudah puas dengan hasil yang diperoleh. Dia sama sekali tidak pernah menduga bahwa bala bantuan bisa datang begitu cepat. Waktu mengatur siasat tujuannya hanyalah menyelamatkan kuil Siauw-lim-si.
Sementara itu Cie Tat segera memerintahkan tentaranya memperkuat penutup selat dengan batu-batu besar dan menitahkan sepasukan anak panah memanjat ke atas lereng untuk memanah musuh dari atas. Tentara Goan yang sudah tak bisa membela diri makin kalang kabut. Sambil sesambat dan berteriak-teriak, mereka lari seperti gila, mencari perlindungan di antara batu-batu dan pohon-pohon.
Tidak lama kemudian Siang Gie Cun dan tentaranya tiba. Pertemuan dengan Bu Kie menimbulkan kegirangan besar. Ia seorang yang beradat berangasan. Begitu tahu musuh terkepung di selat, dia lantas berteriak,
“Singkirkan semua balok dan batu! Biar kuhajar semua Tat-cu!”
“Perlu apa kau menggunakan tenaga?” kata Cie Tat sambil tertawa. “Di selat tiada air dan tiada makanan. Dalam tiga empat hari mereka akan mati sendiri.”
Siang Gie Cun tersenyum dan tidak berkata apa-apa lagi. Apa yang dapat dilakukan Cie Tat dan Siang Gie Cun adalah memerintahkan tentaranya membasmi bagian musuh yang kedua, yang lari berpencaran ke bawah gunung.
Sesudah musuh kabur semua, atas permintaan Tio Beng, Bu Kie melepaskan Ong Po Po sambil memerintahkan Gouw Kin Co serta sejumlah anggota Swie-kim-kie mengantarnya sampai lima puluh lie. Sesudah lima puluh lie, Tio Beng sendiri mengantar lagi sepuluh lie dan berulang-ulang mohon maaf. Namun Ong Po Po tidak meladeni adiknya hingga si nona kembali ke Siauw-sit-san dengan rada berduka dan masgul.
Malam itu di kaki Siauw-sit-san diadakan pesta besar tanda gembira sehubungan dengan kemenangan besar. Para enghiong sudah berhari-hari hanya makan santapan ciacay pada malam itu dapat makan minum sepuas hati. Selagi bersantap Cie Tat menuang secawan arak dan mempersembahkannya kepada Bu Kie.
“Kauwcu, aku memberi selamat dengan secawan arak ini!” katanya.
Bu Kie menyambut dan menceguk isinya.
“Kauwcu, mula-mula aku hanya merasa takluk akan pribudi dan ilmu silatmu yang sangat tinggi,” kata pula Cie Tat. “Tetapi di luar dugaan Kauwcu pun mahir dalam ilmu perang dan dapat menggunakan siasat perang seperti malaikat. Ini merupakan keuntungan agama kita dan keberuntungan untuk segenap rakyat.”
Bu Kie tertawa terbahak. “Cie-toako,” katanya, “Jangan kau memuji aku. Kemenangan hari ini diperoleh berkat kedatangan jie-wi Toako yang sangat cepat dan juga peninggalan Gak Bu-bok. Dalam perang ini siauwte tidak punya pahala apa-apa.”
“Peninggalan Gak Bu-bok?” menegas Cie Tat. “Bolehkah Kauwcu memberi penjelasan?”
Bu Kie merogoh saku dan mengeluarkan Bu-bok Ie-su. Ia membalik lembarannya sampai bagian terkepung di Gu-tauw-san lalu menyerahkannya kepada Cie Tat. Setelah membaca Cie Tat kaget campur girang. Ia menghela napas kemudian berkata,
“Perhitungan Bu Bok tidak akan dapat ditandingi manusia mana pun di jaman ini. Kalau sekarang Gak Bu-bok masih hidup dan memimpin kita, Tat-cu pasti bisa diusir balik ke padang pasir.“ Sehabis berkata begitu, dengan sikap hormat dia mengembalikan kitab itu kepada sang kauwcu.
Tapi Bu Kie tidak menyambut. “Hari ini baru aku tahu apa artinya ‘bu lim cie cun, po to to liong, hauw leng thian hee, boh kam put ciong’,” katanya. “Apa yang dikatakan ‘bu lim cie cun' (yang termulia dalam rimba persilatan) bukan To-liong-to. Yang termulia dalam rimba persilatan adalah kitab perang Gak Bu-bok yang disembunyikan dalam golok itu. Dengan kitab itu orang bisa mengalahkan musuh sehingga akhirnya dia bisa ‘hauw leng thian hee, boh kam put ciong’. Cie-toako, kini aku mengambil keputusan untuk menghadiahkan kitab ini kepadamu dengan harapan supaya kau dapat mewujudkan cita-cita ‘hoan-ngo-ho-san’ (kembalikan sungai dan gunungku) dari Gak Bu-bok.“
Hoan-ngo-ho-san adalah cita-cita yang termasyur dari Gak Hui. Cie Tat terkejut. “Orang bawahanmu sama sekali tidak punya kebajikan dan kepandaian mana berani menerima hadiah Kauwcu sedemikian besar?” katanya sambil membungkuk.
“Cie-toako, harap jangan menolak. Demi kepentingan umat manusia di kolong langit, aku serahkan kitab ini kepadamu.”
Cie Tat tak bisa mengucapkan sepatah katapun. Kedua tangannya yang memegang Bu-bok Ie-su kelihatan gemetar.
“Dalam kata yang terkenal itu masih terdapat dua baris terakhir yang berbunyi, ‘Ie thian put cut, swee ie ceng hong’,” kata pula Bu Kie. “Sekarang Ie-thian-kiam patah dua, tetapi aku percaya di kemudian hari pedang itu akan tersambung lagi. Di dalam pedang tersebut disembunyikan sejilid kitab ilmu silat yang sangat lihay. Aku mengerti maksudnya. Kitab perang Gak Bu-bok adalah untuk mengusir Tat-cu. Sesudah Tat-cu diusir pergi, maka seseorang berkuasa di negara kita. Kalau Kaisar itu ternyata seorang penjahat yang sewenang-wenang hingga rakyat menderita, maka seorang enghiong akan tampil ke muka dan membinasakan kaisar durjana itu dengan Ie-thian Po-kiam. Meski pun dia berkuasa, belum tentu dia bisa menangkis tekanan Ie-thian-kiam. Cie Toako, kuharap kau ingat perkataanku ini.”
Bulu roma Cie Tat bangun semua sedangkan keringat membasahi pakaiannya. Dia tidak berani menolak lagi dan berkata sambil menjura,
“Bawahanmu tidak bisa berbuat lain kecuali menerima perintah Kauwcu.“ Dia menaruh kitab itu di meja, berlutut empat kali kemudian berlutut di hadapan Bu Kie sebagai pernyataan terima kasih.
Sejak saat itu Bu-bok Ie-su menjadi milik Cie Tat. Di kemudian hari benar saja dialah yang berhasil mengalahkan tentara Goan dan mengusirnya sampai keluar dari daerah Tiongkok hingga nama besarnya menggetarkan seluruh wilayah di sebelah utara padang pasir.
Sejak perang di Siauw-sit-san, banyak orang gagah di Tiong-goan mempersatukan diri dengan Beng-kauw. Setiap perintah Bu Kie ditaati semua orang. Selama ratusan tahun Beng-kauw dianggap agama iblis. Tapi di luar dugaan sekarang Beng-kauw menjadi pemimpin dari para orang gagah di seluruh Tiongkok dalam usaha merebut kembali negara dari tangan bangsa lain.
Di belakang hari hati Cu Goan Ciang bercabang dan dengan tipu muslihat dia naik ke atas tahta kaisar. Tapi adalah sebuah kenyataan bahwa yang membantu dia merebut Tiongkok adalah orang-orang Beng-kauw dan mungkin itulah sebabnya mengapa dia menggunakan perkataan ‘Beng’ (terang) untuk nama kerajaannya. Dua ratus tujuh puluh tahun kerajaan Beng berkuasa di Tiongkok dan asal mula berdirinya kerajaan tersebut adalah usaha Beng-kauw.
Malam itu semua orang makan minum sepuas hati. Pada keesokan harinya mereka minta diri dari Kong-bun dan Kong-tie. Melihat keadaan Go-bi-pay yang berantakan dan tidak memiliki pemimpin, juga mengingat keadaan Song Ceng Su yang terus berada di dalam tandu, Bu Kie tidak sampai hati. Dia menghampiri rombongan partai itu kemudian berkata kepada Ceng-hui.
“Bolehkah aku menengok keadaan Song-toako?”
“Kau tidak usah berlagak baik hati!” jawabnya dengan ketus.
Si sembrono Ciu Tian lantas naik darah. “Kurang ajar!” cacinya. “Dengan mengingat kecintaan masa lalu Kauwcu kami telah mengobati lukanya. Sesungguhnya manusia yang mengkhianati orang tua yang gagah itu boleh dibinasakan oleh siapa pun.”
Ceng-hui menjebikan bibir. Ia ingin balas mencaci, tapi karena kuatir dihajar, sebisanya ia menahan nafsu amarah.
“Semenjak dulu Ciang-bun-jin Go-bi-pay adalah gadis yang putih bersih seperti es dan batu Giok,” katanya dengan suara dingin. “Kalau Ciu Ciang-bun bukan seorang gadis baik, bagaimana dia bisa menjadi pemimpin partai kami? Hm...! Adanya manusia seperti Song Ceng Su di partai kami benar-benar sudah menodai nama baiknya Ciu Ciang-bun. Lie-sutit, Liong-sutit, pulangkan saja manusia itu ke Bu-tong-pay!”
Dua pemikul tandu lantas mengiyakan. Mereka memikul tandu yang berisi Song Ceng Su, lalu menaruhnya di hadapan Jie Lian Ciu dan menyingkir. Semua orang kaget.
“Apa...?!” tanya Jie Jie-hiap. “Bukankah dia suami Ciang-bun-jinmu?”
“Heiii!” bentak Ceng-hui dengan nada mendongkol. “Manusia macam dia mana dipandang mata oleh pemimpin kami? Karena perbuatan si bocah Thio Bu Kie barulah Ciu Ciang-bun memancing bocah she Song itu yang rela menyamar sebagai suami. Siapa duga... siapa duga... Huh! Huh...! Kalau tahu bakal terjadi kejadian ini, perlu apa Ciu Ciang-bun menodai namanya sendiri...?”
Bu Kie tak bisa sabar lagi. “Kalau begitu dia bukan Song-hujin?” tanyanya.
Ceng-hui menengok dan membentak. “Aku tidak bicara denganmu!”
Pada saat itu Song Ceng Su yang rebah di tandu bergerak lantas berkata dengan suara di tenggorokan.
“Apa Thio Bu Kie sudah... dibunuh...?”
“Jangan mimpi kau!” ejek Ceng-hui. “Maut sudah berada di atas kepalamu dan kau masih membayang-bayangkan paras cantik.”
Melihat Ceng-hui sukar diajak bicara, In Lie Heng segera bertanya kepada seorang murid Go-bi-pay lainnya.
“Lie-sumoay, bagaimanakah kejadian sebenarnya?”
Yang ditanya adalah seorang setengah tua bernama Lie Beng Hee, sahabat mendiang Kie Siauw Hu. Mendengar pertanyaan itu, dia lalu berkata,
“Ceng-hui Suci, In Liok-hiap bukan orang luar, bolehkah Siauw-moay menceritakan apa yang terjadi?”
“Hal ini tidak ada sangkut pautnya dengan orang luar atau bukan orang luar, dan lebih-lebih harus dijelaskan kepada orang luar. Ciu Ciang-bun adalah wanita suci, putih bersih yang tidak punya hubungan apa pun dengan pengkhianat she Song ini. Bukankah dengan mata sendiri kita semua melihat Siu-kiong-seh di lengan Ciu Ciang-bun? Kenyataan ini harus diumumkan kepada kawan-kawan rimba persilatan, demi nama baik Ciu Ciang-bun, demi Go-bi-pay...”
Mendengar kata Ceng-hui yang bicara tanpa juntrungan itu, In Lie Heng segera berkata kepada Lie Beng Hee,
“Lie-sumoay, kalau begitu aku harap kau suka bicara bagaimana Song-sutit masuk ke dalam partai kalian dan hubungan apa yang terdapat antara dia dan Ciu Ciang-bun? Hal ini akan aku laporkan kepada guruku. Hal ini kuanggap penting untuk kedua partai kita. Kita harus menjaga dan memelihara keakuran antara Go-bi-pay dan Bu-tong-pay!”
Lie Beng Hee menghela napas panjang. “Orang seperti Song Siauw-hiap memang sukar dicari,” katanya dengan suara perlahan. “Hanya sayang karena gara-gara mabuk cinta, dia terjerumus ke dalam jurang kehinaan. Mungkin sekali Ciu Ciang-bun telah menjanjikan bahwa sesudah Thio Bu Kie dibunuh mati, yaitu setelah membalas dendam karena bocah she Thio kabur dari upacara pernikahan, dia akan menikah dengan Song Siauw-hiap. Itulah sebabnya mengapa Song Siauw-hiap rela masuk ke dalam partai kami dan meminta ilmu silat istimewa dari pemimpin kami. Dalam Eng-hiong Tay-hwee mendadak Ciu Ciang-bun mengakui dirinya sebagai Song-hujin, sebagai isteri dari Song Siauw-hiap. Ketika itu semua murid Go-bi merasa kaget dan heran. Sebagaimana kalian tahu, hari itu Ciu Ciang-bun berhasil merobohkan semua orang gagah...”
“Jangan sembarangan!” gerutu Ciu Tian. “Dia menang karena Thio-kauwcu mengalah.”
Lie Beng Gee tidak meladeni tetapi bicara terus. “Kemenangan itu sangat menggirangkan kami semua, tetapi di dalam hati kami merasa kurang puas karena perkataan ‘Song-hujin’ itu! Malam harinya kami menanyakan Ciu Ciang-bun maksud dari sikapnya. Ciu Ciang-bun menggulung lengan baju kirinya dan memperlihatkan lengannya. ‘Semua kemari’, katanya dengan suara menyeramkan.
Kami semua menghampiri dan dengan mata sendiri kami melihat sebutir Siu-kiong-seh di lengannya masih tetap merah seperti sedia kala. Itu buktinya bahwa dia masih seorang gadis suci dan bersih. ‘Aku mengakui diri sebagai Song-hujin untuk menjalankan tipuku’, katanya. ‘Aku ingin membangkitkan kedongkolan si bocah she Thio agar dia tidak dapat memusatkan seluruh semangatnya dan aku dapat menjatuhkan dia dalam Pibu. Bocah itu kepandaiannya tinggi dan sebenarnya aku takkan bisa menang. Demi kepentingan partai kita, namaku tidak ada artinya’. Itulah kata yang diucapkan Ciu Ciang-bun.“ Dalam memberi penjelasan Lie Beng Hee bicara keras-keras supaya dapat didengar semua orang.
Sesudah berdiam sejenak dia berkata pula, “Murid-murid partai kami, baik wanita mau pun pria kecuali yang menjadi pendeta sebenarnya tak dilarang untuk menikah, untuk berumah tangga. Tetapi semenjak jaman Kwee Su-couw, ilmu silat yang tertinggi hanya diturunkan kepada seorang gadis yang masih suci. Pada saat mengangkat guru lengan murid wanita dimasukkan Siu-kiong-seh oleh mendiang Suhu. Setahun sekali Suhu memeriksa lengan semua murid wanita yang telah dimasukkan Siu-kiong-seh. Tahun itu lengan Kie-suci juga diperiksa...!”
Dia tidak bisa meneruskan kata-katanya dan mukanya bersemu dadu. Dia sudah berusia lanjut, namun dia masih merasa jengah untuk menyebutkan hubungan antara Yo Siauw dan Kie Hu yang mengakibatkan terhapusnya Siu-kiong-seh.
Sebagaimana diketahui, In Lie Heng sudah menikah dengan Yo Put Hwie (puteri Yo Siauw dan Kie Siauw Hu) dan pernikahan itu sangat beruntung. Tetapi mendengar penuturan Lie Beng Hee, In Liok-hiap ingat nasib mendiang tunangannya itu dan tanpa terasa dia menengok ke arah Yo Siauw dengan air mata berlinang. Begitu menengok, seketika itu pula dia langsung melengos karena dia melihat air mata yang turun perlahan di kedua pipi mertuanya.
Siu-kiong-seh ialah semacam papir yang dimasukkan ke dalam lengan seorang gadis dan menjadi tanda dari kesucian gadis itu. Begitu menikah, titik Siu-kiong-seh yang berwarna merah terang lantas hilang.
Kouw Beng Louw, Ciang-kie Hu-su dari Swie-kim-kie segera berlari mendekati tungku dan dia menggores dada Gouw Kin Co dengan goloknya. Semua orang terkesiap dan menggeluarkan seruan tertahan. Darah lantas mengucur dari dada Gouw Kin Co yang telanjang dan jatuh di atas To-liong-to.
“Ces...! Ces...!”
Jatuhnya darah mengeluarkan suara diikuti dengan naiknya uap putih dari badan golok.
“Selesai!” teriak Gouw Kin Co pula. Dia mundur beberapa langkah lalu jatuh duduk di atas tanah.
Dua potongan golok sudah tersambung dan semua mata ditujukan ke arah To-liong-to. Kini semua orang baru sadar bahwa di dalam tekadnya menyambung golok mustika itu, Gouw Kin Co sudah lebih dahulu mengadakan persetujuan dengan Kouw Beng Louw untuk menggunakan darahnya sendiri kalau dengan cara yang biasa menemui kegagalan. Menggunakan darah manusia dikenal sebagai satu cara di jaman purba untuk melumerkan logam yang tidak bisa dilumerkan dengan api biasa.
Menurut cerita, dalam usaha membuat sepasang pedang mustika, dulu sepasang suami isteri Kan Ciang dan Bok Yo mengorbankan jiwa dengan melompat ke dalam tungku.
Dengan rasa haru Bu Kie menubruk bawahannya itu kemudian memeriksa lukanya. Luka itu tidak berbahaya, ia segera mengeluarkan obat dan menaburnya di dada Gouw Kin Co.
“Gouw-heng, mengapa kau berbuat begini?” katanya dengan suara parau. “Golok itu bisa disambung atau tidak, sama sekali tak menjadi soal. Buat apa kau menyakiti diri sendiri?”
Melihat sang pemimpin tidak mempedulikan Seng-hwee-leng atau To-liong-to malah lebih dahulu memeriksa lukanya, Gouw Kin Co merasa sangat berterima kasih.
“Ini hanya luka di kulit,” katanya. “Kauwcu tidak usah kuatir.“
Dia bangun berdiri lalu mengambil To-liong-to. Ternyata dua potong golok itu tersambung dengan sempurna dan pada sambungannya hanya terlihat satu garis tanda bekas darah. Dengan rasa bangga dia menyerahkan kepada Bu Kie yang baru saja mengambil kembali keempat ‘leng’ yang tadi digunakan untuk menjepit potongan golok. Keempat ‘leng’ itu tak kurang sesuatu apa pun. Setelah mengawasi golok mustika itu beberapa saat lamanya, Bu Kie menyabetkannya ke arah sepasang tombak Mongol.
“Takk!”
Dua tombak itu putus menjadi empat potong. Para hadirin bersorak sorai. Sementara itu Gouw Kin Co memegang dua potong Ie-thian-kiam dengan mata merenung. Di depan matanya terbayang mendiang Cung Ceng, Ciang-kiesu Swee-kim-kie dan puluhan saudara lain yang dibinasakan pedang ini. Perlahan-lahan air matanya mengalir turun.
“Kauwcu,” katanya dengan suara perlahan. “Pedang ini sudah mengambil jiwa Cung-toako dan banyak saudara lain. Gouw Kin Co membencinya sampai ke tulang-tulang. Menyesal sekali aku tidak sanggup menyambungnya kembali dan untuk itu aku bersedia menerima hukuman.“ Sehabis berkata begitu dia menangis tersenguk-senguk.
“Gouw-heng sama sekali tidak berdosa,” kata Bu Kie dengan suara lemah lembut. “Hal itu hanya menunjukkan ‘gie-hie’ Gouw-heng yang amat tebal.“ Bu Kie mengambil dua potong pedang itu dari tangan Gouw Kin Co lalu menghampiri rombongan Go-bi-pay. “Ceng-hui! Pedang ini adalah milik Go-bi-pay,” katanya. “Kuminta Suthay suka mengambilnya untuk kemudian diserahkan kepada Ciu... kepada Song-hujin.“
Ceng-hui mengambilnya tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Untuk beberapa lama Bu Kie mencekal To-liong-to sambil mengerutkan alis. Akhirnya dia berpaling kepada Kong-bun dan berkata,
“Hong-thio, golok ini didapat oleh Gie-huku. Kini Gie-hu sudah menjadi pendeta murid Siauw-lim. Sudah sepantasnya jika To-liong-to disimpan Siauw-lim-pay.”
Kong-bun menggoyang-goyangkan tangan. “Golok itu sudah menemukan majikannya,” katanya. “Thio-kauwcu telah merebut kembali To-liong-to dari berlaksa tentara dan hal ini disaksikan semua orang. Belakangan Gouw-toako menyambungnya kembali dengan mengucurkan darah sendiri. Di samping itu segenap anggota rimba persilatan sudah mengangkat Thio-kauwcu sebagai Bu-lim Beng-cu. Baik dilihat dari sudut kepandaian dan kebijaksanaan, mau pun dari sudut kebajikan dan kedudukan yang tinggi, To-liong-to harus berada di tangan Thio-kauwcu. Menurut pendapat lolap hal ini adalah yang paling adil.”
Semua orang menyetujui pendapat Kong-bun dan beramai-ramai mendesak agar Bu Kie sudi menerimanya. Karena tidak bisa menolak lagi, mau tak mau Bu Kie menggantungkan To-liong-to di pinggangnya.
“Apa bila dengan golok ini aku bisa menguasai enghiong Rimba Persilatan untuk mengusir Tat-cu, aku akan merasa girang sekali,” pikirnya.
Semua orang merasa girang. Banyak yang lantas mengucapkan kata yang dikenal sejak seratus tahun yang lalu. 'Bu lim cie cun, po to to liong, hauw leng thian hee, boh kam put ciong!' atau ‘yang mulia dalam rimba persilatan ialah golok mustika To-liong. Memerintah di kolong langit, tak ada yang berani tidak menurut’. Sebenarnya di sebelah bawah masih ada perkataan ‘Ie thian put cut, swee ie ceng hong?’ yang berarti ‘kalau Ie-thian-kiam tidak keluar, siapakah yang berani mengadu ketajaman dengan dengannya?’ Tetapi melihat Ie-thian-kiam sudah tidak bisa disambung lagi, orang-orang yang menghafal tidak menyebutkan lagi delapan kata-kata yang terakhir.
Pihak yang merasa paling puas karena rusaknya Ie-thian-kiam adalah anggota-anggota Swie-kim-kie. Sebagaimana diketahui banyak orang, ketua bendera itu sudah dibinasakan menggunakan pedang mustika tersebut.
Sesudah penyambungan golok selesai, sejumlah anggota Ang-sui-kie menggotong keluar sebuah kuali besar dari dalam kuil dan setelah mengisi minyak dalam kuali itu lantas menaruhnya di atas tungku. Minyak panas itu akan digunakan untuk menyemprot tentara Mongol jika mereka menyerang lagi. Sore itu, kecuali tentara Ngo-heng-kie dan sejumlah pendeta Siauw-lim yang berjaga-jaga di luar, semua orang bersantap di dalam kuil. Sesudah makan Bu Kie segera memanjat satu pohon besar dan mengamat-amati gerakan musuh di kaki gunung. Ia melihat tentara Mongol berpencaran di sana sini di seputar gunung dan asap putih mengepul di berbagai tempat yang merupakan suatu tanda bahwa serdadu-serdadu itu sedang menanak nasi. Bu Kie melompat turun dari pohon.
“Wie-heng,” katanya kepada Wie It Siauw. “Nanti saat menjelang malam kau selidiki keadaan musuh kalau-kalau mereka hendak menyerang di waktu malam.”
Wie it Siauw mengiyakan dan segera berlalu.
“Kauwcu,” kata Yo Siauw, “Menurut pendapatku, sesudah dihajar di depan gunung hari ini, Tat-cu tidak akan menyerang lagi. Yang harus kita jaga adalah bokongan dari gunung.”
“Benar,” kata Bu Kie. “Mari kita mengamati dari atas bukit.“
Bersama Yo Siauw, Hoan Yauw dan Gan Hoan, dia segera berangkat ke bukit di belakang gunung di mana Cia Sun pernah dipenjarakan.
“Aku ikut!” kata Tio Beng.
Dari puncak bukit mereka memandang ke bawah. Keadaan tenang-tenang saja, sama sekali tak ada petunjuk atau tanda-tanda dari gerakan tentara. Sambil mengusap-usap tiga batang siong yang dirobohkannya, Bu Kie ingat pengalamannya yang sangat hebat. Tiba-tiba saja di dalam otaknya teringat pesan sang Gie-hu.
“Ah, hampir aku lupa,” katanya dalam hati. “Gie-hu berpesan agar aku memeriksa keadaan di dalam lubang.”
Batu penutup lubang masih belum dikembalikan ke tempat asalnya. Dia segera melompat turun. Ternyata dasar lubang itu merupakan sebuah kamar dengan garis tengah kira-kira satu tombak. Cuaca mulai gelap dan keadaan di lubang lebih gelap lagi. Bu Kie mengeluarkan bibit api untuk menerangi keadaan lubang. Dengan bantuan sinar api ia melihat empat gambar di empat penjuru dinding batu. Gambar-gambar itu dilukis menggunakan potongan batu tajam, sederhana tapi cukup jelas.
Gambar sebelah timur memperlihatkan dua wanita, yang satu tidur di tanah dan yang lainnya menotok wanita yang tidur dengan jari tangan kirinya, sedangkan tangan kanan merogoh saku wanita yang sedang tidur itu. Di sisi gambar terdapat tulisan yang berbunyi: ‘Mengambil obat’. Gambar sebelah selatan menunjukkan sebuah gambar kapal dan seorang wanita yang melemparkan seorang wanita lain ke kapal itu. Pada samping gambar terdapat tulisan: ‘Mengusir’.
Bu Kie mengeluarkan keringat dingin. “Benar-benar begitu kejadiannya!” pikirnya. “Cie Jiak menotok jalan darah Beng-moay dan mencuri Sip-hiong Joan-kin-san untuk meracuni Gie-hu dan aku. Sesudah itu dia melemparkan Beng-moay ke kapal Persia. Tapi mengapa dia tidak membunuhnya? Hmm... ya! Kalau dibunuh, dia tidak bisa menimpakan dosa di atas pundak Beng-moay. Kalau begitu Piauw-moay pun dicelakai olehnya.”
Di bawah gambar itu dilukis dua orang lelaki. Yang satu sedang tidur pulas dan yang lain, yang berambut panjang, tengah memasang kuping. Bu Kie kaget. Sekarang dia sadar bahwa semua perbuatan Cie Jiak diketahui ayah angkatnya.
“Gie-hu sungguh bisa menahan sabar dan di pulau itu dia sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa dia sudah tahu pengkhianatan Cie Jiak,” katanya dalam hati. “Gie-hu memang harus berlaku begitu. Ketika itu dia dan aku sudah menelan Sip-hiang Joan-kin-san dan jiwa kami berada dalam tangan Cie Jiak. Tak heran kalau Gie-hu menuduh Beng-moay dengan sungguh-sungguh. Dia tahu aku seorang jujur. Kalau aku ragu maka rahasia bisa bocor.”
Pada gambar ketiga di sebelah barat, tampak Cia Sun yang sedang duduk dan dibokong dari belakang oleh Cie Jiak, sementara dari luar menerobos masuk sejumlah anggota Kay-pang. Gambar ini sama dengan apa yang terlihat dalam arak-arakan di kota raja. Baru saja Bu Kie ingin memeriksa gambar keempat, api padam.
“Beng-moay, kemari!” serunya. “Aku pinjam api.”
Tio Beng melompat turun. Gambar yang keempat memperlihatkan dibawanya Cia Sun oleh belasan pria, sedang di kejauhan dari belakang pohon mengintip seorang wanita muda. Lukisan keempat gambar itu sangat baik, tapi kecuali muka Cia Sun, muka lainnya tidak menyerupai orang-orang itu. Bu Kie mengerti bahwa hal itu sudah terjadi karena Cia Sun buta sejak puluhan tahun berselang sehingga belum pernah melihat muka orang-orang yang dilukisnya. Sambil menuding wanita muda yang bersembunyi di balik pohon, Bu Kie bertanya,
“Siapa wanita itu? Kau atau Cie Jiak?”
“Aku,” jawabnya. “Seng Kun merampas Cia-tayhiap dari tangan orang-orang Kay-pang lalu mengirimnya ke Siauw-lim-si. Tapi dia sendiri membuat tanda-tanda Beng-kauw sehingga kau mengejar tanda-tanda itu dalam sebuah lingkaran besar. Sering aku ingin merebut Cia-tayhiap tetapi selalu tidak kesampaian. Belakangan aku mencoba juga, tapi gagal dan aku hanya dapat mengambil segenggam rambut Cia-tayhiap untuk dijadikan barang bukti guna mencegah pernikahanmu dengan Cie Jiak. Saat melakukan itu aku merasa tak enak hati dan merasa bersalah terhadapmu.”
Bu Kie memandang si nona dengan mata merenung. Selama beberapa bulan nona yang ayu ini jauh lebih kurus, pipinya agak pucat dan dia merasa sangat kasihan. Tiba-tiba dia memeluk erat-erat.
“Beng-moay... aku yang bersalah.“
Karena pelukan itu api segera padam dan goa itu gelap gulita.
“Beng-moay,” kata Bu Kie pula. “Apa bila kau kurang pintar, kemungkinan besar aku telah membunuhmu. Kalau sampai terjadi begitu...”
Si nona tertawa. “Apa kau tega mengambil jiwaku?” tanyanya. “Pada waktu kau bertemu dengan aku di kota raja, mengapa kau tidak segera membunuh?”
Bu Kie menghela napas. “Beng-moay, rasa cintaku terhadapmu membuat aku tidak berdaya,” katanya. “Jika Piauw-moay benar-benar dibinasakan olehmu, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Tetapi sekarang semuanya jelas. Di samping rasa menyesal untuk Cie Jiak, aku harus mengakui bahwa diam-diam aku merasa girang.”
Mendengar pengakuan yang sangat tulus, hati si nona menjadi girang bukan main. Dia segera menyusupkan kepalanya di dada yang lebar. Lama mereka berada dalam keadaan begitu tanpa mengucapkan sepatah katapun! Akhirnya Tio Beng menengadah. Ia melihat bulan seperti sisir tergantung di sebelah timur, sedangkan keadaan di sekitar sunyi bagaikan kuburan. Ia tahu Yo Siauw, Hoan Yauw dan Gan Hoan sudah menyingkir ke tempat lain supaya tidak mengganggu mereka.
“Bu Kie Koko,” kata si nona, “Apa kau masih ingat pertemuan kita di Lek-liu-chung? Kita bersama jatuh ke dalam penjara di bawah tanah. Bukankah kejadian itu menyerupai kejadian sekarang ini?”
Bu Kie tertawa. Dia mencekal kaki kiri Tio Beng lalu melepaskan sepatunya. Tio Beng tertawa geli.
“Kau tak tahu malu!” bentaknya, “Lelaki menghina perempuan!”
“Engkau bukan perempuan biasa. Akal bulusmu terlalu banyak, sepuluh lelaki belum tentu bisa menandingi kau seorang.”
“Aku yang rendah ini tidak sanggup menerima pujian terlalu tinggi dari Thio-kauwcu yang mulia.”
Sampai di situ mereka terbahak-bahak. Kata-kata itu telah diucapkan pada waktu berada di lubang jebakan di Lek-liu-chung. Kalau dulu mereka berhadapan sebagai musuh, sekarang sebagai kekasih. Mendadak sayup-sayup terdengar bentakan-bentakan, satu tanda terjadinya pertempuran. Mereka memasang kuping.
“Mari kita lihat!” kata Bu Kie sambil memegang tangan Tio Beng.
Dengan sekali menggenjot tubuh, mereka telah berada di muka bumi. Di tempat kejauhan mereka melihat tiga bayangan manusia berlari ke jurusan timur dengan kecepatan luar biasa. Dilihat dari gerakan-gerakan dan cara berlarinya, ketiga orang itu adalah ahli-ahli silat kelas satu. Yo Siauw muncul dan dia mendekati Bu Kie lalu berkata,
“Mereka bukan orang kita.”
“Yo-cosu,” kata Bu Kie. “Kau tinggal di sini bersama Hoan-yusu. Aku kuatir pihak musuh menggunakan siasat memancing harimau keluar dari gunung. Aku mau coba menyelidiki mereka.”
Yo Siauw menerima perintah itu dengan membungkuk. Bu Kie segera memeluk pinggang Tio Beng dengan sebelah tangannya, kemudian sambil menjejak bumi dia mengeluarkan ilmu meringankan tubuh.
Tiga bayangan di depan ternyata sedang kejar-kejaran, satu kabur dua mengejar. Bu Kie menambah tenaga, kakinya bekerja semakin cepat hingga Tio Beng merasa seperti dibawa terbang dengan menunggang awan. Setelah mengejar satu li lebih dengan bantuan cahaya bulan yang remang-remang, mereka mengenali bahwa kedua orang yang mengejar itu bukan lain adalah Lok Thung Kek dan Ho Pit Ong.
Mendadak Ho Pit Ong menimpuk dengan poan-koan-pitnya yang berujung patok burung. Orang yang dikejar cepat melompat ke samping sambil menangkis senjata musuh dengan pedangnya. Dengan sedikit keterlambatan itu, Lok Thung Kek sudah berhasil menyandak kemudian menikam dengan tongkatnya yang bercagak seperti tanduk menjangan. Orang itu menghindar dan membalas dengan pukulan telapak tangan.
Bu Kie dan Tio Beng mengeluarkan seruan tertahan. Dia adalah Ciu Cie Jiak! Wajahnya pucat seperti kertas dan rambutnya terurai. Segera Bu Kie menarik tangan Tio Beng dan bersembunyi di belakang pohon. Sesudah menyambut pit-nya yang jatuh, Ho Pit Ong segera merangsek dan mengepung Cie Jiak bersama kakak seperguruannya.
“Setan tua!” bentak Cie Jiak. “Untuk apa kau mengejar aku?”
“Hari ini Thio Bu Kie merebut To-liong-to dan Ie-thian-kiam,” kata Lok Thung Kek. “Dengan mata sendiri kami melihat bahwa pit-kip ilmu silat yang terdapat di kedua senjata itu sudah tidak ada lagi. Pit-kip itu pasti berada di tangan Song-hujin.”
Bu Kie terkejut.
“Pit-kip memang ada,” jawab Cie Jiak. “Tetapi sesudah latihanku selesai dan berhasil, aku segera membakarnya.”
Ho Pit Ong mengeluarkan suara di hidung. “Enak saja menggoyang lidah!” katanya. “To-liong-to dan Ie-thian-kiam dikenal sebagai yang paling mulia di rimba persilatan. Semua ahli silat di kolong langit ingin sekali mendapatkannya. Mana bisa pit-kip di kedua senjata itu dapat dipelajari dalam waktu singkat? Meski pun tinggi tetapi ilmu Song-hujin belum mencapai puncak tertinggi. Jika Song-hujin telah selesai dalam latihan semua pelajaran yang tertera di dalam pit-kip itu, maka dalam sekejap mata kau bisa mengambil jiwa kami berdua. Mengapa kau main kejar-kejaran?”
“Kalau kau tak percaya, terserah,” kata Cie Jiak. “Aku tak punya waktu bicara lama-lama.“ Seraya berkata begitu dia melompat untuk lari.
“Tahan!” bentak Lok Thung Kek. Dengan bersamaan kedua kakek itu menyerang dari kiri kanan.
Cie Jiak memutar pedangnya bagaikan kitiran dan menyambut serangan-serangan Hian-beng Jie-lo. Di siang hari Bu Kie sudah menyaksikan Cie Jiak menggunakan cambuk dan kini dengan rasa kagum dia menonton silat pedang indah. Walau pun dikeroyok Iweekang yang lebih kuat, tapi sesudah belasan jurus mungkin sekali mereka sudah dijatuhkan.
“Sungguh sayang,” kata Bu Kie dalam hati. “Kalau Cie Jiak bersenjata Ie-thian-kiam, Hian-beng Jie-lo tak akan bisa berbuat banyak. Dengan pedang biasa dia kalah Iweekang dan kalah ulet. Paling banyak dia bisa mempertahankan diri dalam dua ratus jurus.”
Sesudah lewat beberapa jurus lagi Cie Jiak mengeluarkan pukulan-pukulan aneh. Bu Kie tahu bahwa itulah usahanya untuk melarikan diri. Dengan serangan nekat-nekatan itu jika nasib sedang baik memang Cie Jiak bisa berhasil. Tapi salah sedikit saja dia bisa celaka. Perlahan Bu Kie keluar dari tempat persembunyiannya dan mendekati gelanggang pertempuran. Kalau perlu dia mau menolong.
Seraya membentak keras mendadak Cie Jiak mengirim tiga tikaman berantai kepada Lok Thung Kek. Karena sedikit terlambat maka tikaman ketiga merobek baju hingga pundak si kakek turut tergores pedang. Pada saat itu Ho Pit Ong mendadak menimpuk punggung Cie Jiak dengan kedua pit-nya.
Dalam menghadapi musuh, kalau tidak terpaksa Ho Pit Ong belum pernah menggunakan timpukan itu. Namun sekarang, karena kuatir datangnya bala bantuan musuh yang dapat menggagalkan usaha merebut pit-kip, dia menggunakan pukulan yang diberi nama Siang-ho Lee-kong (sepasang burung ho berbunyi di angkasa). Begitu kedua poan-koan pit yang ditimpuk beradu di udara dengan mengeluarkan suara nyaring dan satu di atas dan satu di bawah, kedua pit lantas menyambar kepala dan pinggang Cie Jiak.
Di lain pihak, begitu merasakan sambaran angin di punggungnya, Cie Jiak berkelit. Tapi di luar dugaan, sesudah bentrok di udara kedua pit itu mengubah arah serangan. Wanita itu dapat menolong diri dari pit yang menyerang kepala, tapi tak keburu mengelak dari pit yang menyambar pinggang. Pada detik yang sangat berbahaya Bu Kie cepat melompat dan menjambret pit itu sambil menangkis timpukan Ho Pit Ong dengan sebelah tangan yang lain. Cie Jiak yang mengira bakal mati sudah memejamkan kedua matanya.
Selagi Bu Kie menangkis serangan Ho Pit Ong, tangan Lok Thung Kek menyambar dan menjambret perut Cie Jiak. Itulah Hian-beng Sin-ciang yang menggetarkan rimba persilatan. Begitu kena, napas Cie Jiak terasa sesak dan dia pun roboh. Semua peristiwa itu terjadi dalam sekejap mata. Dengan kaget Bu Kie melemparkan Poan-koan-pit Ho Pit Ong, mendukung pinggang Cie Jiak dan melompat satu tombak lebih jauhnya.
“Hian-beng Jie-lo,” bentaknya. “Kau sungguh tak tahu malu!”
Lok Thung Kek tertawa terbahak-bahak. “Kukira siapa, tidak tahunya Thio Toa-kauwcu,” katanya dengan suara mengejek. “Di mana Kuncu-ku? Ke mana kau bawa Kuncu?”
Tio Beng menghampiri kemudian mengambil Cie Jiak dari tangan Bu Kie. Dia tertawa dan berkata,
”Lok Sian-seng, siang malam kau tidak bisa melupakan aku. Apa kau tidak takut jika ayahku marah?”
“Perempuan siluman!” bentak si kakek dengan marah. “Huh! Kau coba merenggangkan aku dengan Sute-ku. Kami telah memutuskan semua hubungan dengan ayahmu. Jie Lam Ong marah atau tidak, tak ada sangkut pautnya dengan kami lagi.”
Bu Kie menatap wajah kedua kakek itu dengan darah meluap. Mendengar cacian terhadap Tio Beng dan melihat pukulan terhadap Cie Jiak, dia langsung teringat perbuatan mereka terhadap dirinya di waktu dia masih kecil.
“Beng-moay,” katanya. “Kau mundurlah. Hari ini mereka akan kuberi pelajaran.”
Melihat Bu Kie bertangan kosong, Lok Thung Kek segera menyimpan senjatanya. Bu Kie maju selangkah kemudian membentak,
“Sambutlah!”
Dia memukul dengan Lok-ciak-hwee, dengan mendorong dua telapak tangannya. Pukulan yang dikirim dengan gerakan perlahan itu adalah Thay-kek-kun-hoat, tapi pada sepasang tangannya tersembunyi tenaga Kiu-yang Sin-kang. Dia sudah mengambil keputusan menggunakan tenaga Sun-yang (panas) yang paling murni untuk menghadapi tenaga Sun-im (dingin) dari Hian-beng Sin-ciang.
Pada jaman sekarang Thay-kek-kun sudah menjadi ilmu silat yang biasa saja. Tetapi pada akhir kerajaan Goan, waktu baru digubah oleh Thio Sam Hong, di rimba persilatan jarang sekali terlihat ilmu tersebut.
Karena khawatir Bu Kie menyembunyikan sesuatu di balik pukulan yang enteng dan lemas itu, Thung Kek tak berani menyambut dan dia pun melompat ke samping. Bu Kie memutar tubuh sambil mengirim pukulan kedua kepada Ho Pit Ong. Beberapa kali Bu Kie pernah bertempur dengan Hian-beng Jie-lo dan dia pun tahu bahwa kepandaiannya melebihi kedua kakek itu. Tapi kedua lawan itu bukan orang sembarangan. Dia tidak boleh terlalu sembrono atau memandang enteng. Kesalahan kecil berakibat hebat.
Dengan menggunakan Thay-kek-kun-hoat yang mengirim pukulan dalam bentuk lingkaran, dia berada dalam kedudukan tegak lurus dengan garis pembelaan yang hampir tidak bisa ditembus. Pada hakekatnya Thay-kek-kun-hoat ialah ilmu silat yang mengerahkan tenaga. Pada lingkaran-lingkaran Thay kek itu ia menyelipkan tenaga Kiu-yang Sin-kang sehingga hawa panas yang murni menekan hawa dingin dari Hian-beng Sin-ciang.
Makin lama gerakan-gerakan Bu Kie makin lancar. Ia mengerti bahwa kedua kakek itu adalah jago-jago yang jarang tandingannya di dunia. Sesudah merobohkan mereka, tak mudah ia bisa bertemu lagi dengan lawan yang setimpal, yang bisa digunakan sebagai kawan berlatih silat. Maka itu ia tidak mau tergesa-gesa. Sesudah bertempur lebih dari seratus jurus, secara kebetulan waktu menengok ia melihat tubuh Tio Beng gemetaran dan hampir tidak kuat menyangga tubuh Cie Jiak lagi.
“Celaka!” dia mengeluh. “Cie Jiak kena pukulan Hian-beng Sin-ciang, sedangkan yang dia latih adalah tenaga dingin. Tenaga dingin ditambah lagi dengan tenaga dingin yang sangat beracun, maka Beng-moay juga kena akibatnya sehingga tidak bisa tahan lagi.”
Buru-buru ia menambah tenaga dengan pukulan-pukulan hebat. Ia mencoba menindih Lok Thung Kek. Si kakek bisa menangkap maksudnya, maka sambil berkelit ia berseru,
“Sute! Berkelahi dengan siasat gerilya. Perempuan she Ciu itu sudah hampir mampus, jadi jangan biarkan dia menolong.”
“Baik,” jawab Ho Pit Ong sambil melompat keluar dari gelanggang, lalu menjemput kedua pit-nya dan menyerang dengan kedua senjata itu.
Bu Kie mendongkol. Ia merangsek sambil mengirim pukulan geledek yang disertai dengan sepuluh bagian tenaga Kiu-yang Sin-kang hingga napas Ho Pit Ong menjadi sesak. Tanpa mempedulikan keselamatan Sute-nya, Lok Thung Kek segera mengeluarkan toyanya dan menikam pinggang Bu Kie dengan senjata itu. Biar pun menggunakan senjata Hian-beng Jie-lo tetap tidak dapat merobohkan Bu Kie, tapi dengan senjata sedikitnya untuk sementara waktu mereka bisa mempertahankan diri.
Di lain pihak, dalam menghadapi senjata Bu Kie segera menukar ilmu silat. Sekarang dia menggunakan Liong-jiauw Kin-na-chiu (Silat cakar naga) yang diturunkan oleh Kong-seng Seng-ceng.
“Sungguh bagus Liong-jiauwmu!” seru Lok Thung Kek. “Sebentar lagi dapat dipergunakan untuk menggali.”
“Menggali lubang?” tanya Ho Pit Ong.
Lok Thung Kek tertawa nyaring, “Ya, menggali lubang untuk menguburkan Ciu-kouwnio,” jawabnya.
Karena bicara, maka pemusatan tenaga si kakek terpecah. Mendadak Bu Kie menendang lutut kirinya. Dia marah lalu menyerang bagaikan angin dan hujan. Sambil bertempur Bu Kie menengok beberapa kali. Gemetar tubuh Cie Jiak dan Tio Beng semakin hebat.
“Beng-moay, bagaimana?” tanyanya.
“Dingin luar biasa!” jawabnya.
Bu Kie terkesiap. Sesudah berpikir sejenak dia mengerti sebabnya. Tak salah lagi, karena baik hati Tio Beng mengerahkan Iweekang dan mencoba membantu Cie Jiak untuk melawan hawa dingin. Tetapi lantaran tenaga dalamnya masih rendah, sebaliknya dari berhasil dia sendiri malah diserang hawa dingin. Bu Kie segera menyerang sehebatnya untuk menjatuhkan lawan secepat mungkin. Tapi kini Hian-beng Jie-lo menukar siasat. Mereka terus mundur dengan berpencar dan menyerang balik kalau Bu Kie mencoba mendekati Cie Jiak dan Tio Beng. Bu Kie bingung.
“Beng-moay!” teriaknya. “Lepaskan Ciu-kouwnio!”
“Aku... aku... tidak bisa!”
“Mengapa?”
“Punggungnya menempel keras di telapak tanganku,” dia bicara dengan gigi gemeretukan dan tubuh bergoyang-goyang.
Bu Kie jadi lebih bingung.
“Thio-kauwcu,” kata Lok Thung Kek. “Ciu-kouwnio berhati kejam, ia mengirim hawa dingin ke tubuh Kuncu Nio-nio. Kuncu Nio-nio menghadapi bahaya, apakah tidak baik kalau kita berdamai saja?”
“Berdamai bagaimana?”
“Kita hentikan dahulu pertempuran ini. Kami akan mengambil dua jilid kitab yang berada pada Ciu-kouwnio, sementara itu kau bebas untuk menolong Kuncu.”
Bu Kie mengeluarkan suara di hidung. Dia tidak dapat menyetujui usul itu. Ilmu silat Hian-beng Jie-lo sangat tinggi. Apa bila memperoleh kedua kitab itu kepandaian mereka akan mencapai tingkat yang tak akan bisa ditaklukkan siapa pun juga. Dia menengok dan melihat muka Tio Beng yang putih kini berubah menjadi hijau, ada pun parasnya menunjukkan penderitaan hebat. Dia mengerti bahwa dia tak boleh berpikir lebih lama lagi. Tiba-tiba dia melompat mundur, mencekal telapak kanan si nona dengan tangan kirinya dan mengirim Kiu-yang Cin-khie.
“Serang!” teriak Lok Thung Kek.
Sebatang tongkat dan dua poan-koan pit segera menghantam bagaikan hujan dan angin. Begitu mendapat aliran hawa Kiu-yang Cin-khie, Tio Beng yang darahnya hampir membeku lantas merasakan kehangatan yang sangat nyaman.
Bu Kie mengerahkan seluruh tenaganya dan melawan dengan nekat. Tetapi dengan cepat dia merasa tidak tahan karena dia harus menggunakan sebagian besar tenaga dalamnya untuk menekan hawa dingin Hian-beng Sin-ciang dari kedua kakek dan Kiu-im dari Ciu Cie Jiak, dan bersamaan itu dia harus menggunakan Iweekang untuk melayani dua jago kelas utama.
Sesudah bertempur beberapa lama, kaki celana di bagian lututnya dirobek dengan Poan-koan-pit dan darah mulai mengucur. Ia terdesak dan menghadapi bencana. Sekali lagi dia mengerahkan seluruh Iweekang dan berteriak memanggil Yo Siauw dan kawan-kawannya. Tapi di lain saat dia mendengar bentakan-bentakan Yo Siauw dan Hoan Yauw disertai suara beradunya senjata. Dia tahu bahwa mereka pun dikepung musuh.
Karena kuatir datangnya bala bantuan, Hian-beng Jie-lo memperhebat serangan. Sambil menggeram Lok Thung Kek mengirim tiga serangan berantai ke arah mata Bu Kie. Dengan telapak tangan Bu Kie berhasil menangkis serangan lawan. Tiba-tiba Ho Pit Ong menggulingkan diri di tanah dan menotok pinggangnya dengan Poan-koan-pit kiri. Bu Kie tak keburu berkelit, karena itu ia terpaksa mengerahkan Kian-kun Tay-lo-ie untuk memindahkan totokan. Tetapi karena si kakek menggunakan Iweekang yang sangat dahsyat, dia tidak bisa memastikan akan berhasil.
“Takk!”
Pinggangnya tergetar, tapi heran... dia tidak merasa sakit. Di lain detik dia mengerti bahwa totokan itu jatuh pada To-liong-to yang tergantung di pinggangnya. Dalam pertempuran Bu Kie biasanya tidak menggunakan senjata. Paling banter ia menggunakan Seng-hwee-leng. Ia tak pernah membawa senjata sehingga ia sama sekali tak ingat bahwa sebatang golok mustika tergantung di pinggangnya.
Sekarang dia sadar dan girang. Sambil membentak keras dia menendang dan Ho Pit Ong buru-buru mundur bagaikan kilat. Bu Kie menghunus To-liong-to lantas membabat tongkat Lok Thung Kek yang menyambar dada.
“Srett!”
Kepala menjangan tongkat itu putus kemudian jatuh di tanah.
BU-BOK IE-SU
“Celaka!” seru si tua.
Dua pit Ho Pit Ong menikam bersamaan dan sekali lagi Bu Kie membabat dengan To-liong-to. Hampir bersamaan dua Poan-koan-pit berubah menjadi empat potong. Semangat Bu Kie terbangun dan memutar golok mustika itu seperti kitiran sehingga Hian-beng Jie-lo tidak berani mendekati lagi. Di bawah perlindungan To-liong-to, sekarang Bu Kie bisa menggunakan seluruh Kiu-yang Cin-khie untuk menekan hawa dingin. Dalam beberapa saat saja hawa dingin beracun dari Hian-beng Sin-ciang yang mengeram dalam tubuh Tio Beng dan Ciu Cie Jiak terusir semuanya menjadi bersih.
Setelah racun Hian-beng Sin-ciang punah seluruhnya, tanpa diketahui Bu Kie terjadi satu perkembangan baru. Apa bila dua hawa ‘im’ (dingin) dan ‘yang’ (panas) bertempur dalam tubuh manusia, maka yang lebih kuat selalu memunahkan yang lebih lemah. Demikianlah, sesudah hawa Hian-beng Sin-ciang terusir, Kiu-yang Cin khie lalu menekan tenaga Kiu-im yang dimiliki Cie Jiak.
Setelah mendapatkan Kiu-im Cin-keng yang disembunyikan dalam Ie-thian-kiam, Cie Jiak berlatih diam-diam dengan tergesa-gesa. Karena kuatir diketahui Cia Sun dan Bu Kie, dia hanya berani berlatih di waktu malam dan karena waktu sudah mendesak, dia tak sempat mempelajari dasar-dasar kitab ilmu silat itu sehingga terpaksa memilih ilmu rendah yang lebih mudah dilatih, di antaranya Kiu-im Pek-kut-jiauw.
Dahulu kitab jilid kedua Kiu-im Cin-keng dicuri Tan Hian Hong dan Bwee Tiauw Hong (keduanya murid Oey Yok Su) dari tangan Tong-sia Oey Yok Su, dan apa yang dipelajari kedua murid murtad itu juga Kiu-im Pek-kut-jiauw. Dapat dimengerti bahwa ilmu yang dilatih tergesa-gesa tak bisa mempunyai dasar Iweekang yang kuat, maka begitu bertemu lawan tangguh tenaga dalamnya akan tertindih.
Setelah kena racun Hian-beng Sin-ciang, Cie Jiak lalu memasukkan hawa beracun itu ke tubuh Tio Beng dalam usaha mengusir racun itu dari tubuhnya. Sesudah Bu Kie menolong barulah dia merasa nyaman. Tetapi baru saja dia mau melepaskan diri dari telapak tangan Tio Beng, semacam tenaga yang amat kuat menyedot dan dia tak bisa melepaskan diri. Tadi Tio Beng yang tidak bisa melepaskan diri dari punggungnya, akan tetapi sekarang dia sendiri yang tidak bisa memberontak dari telapak tangan Tio Beng. Ini terjadi karena adanya perbedaan kekuatan tenaga.
Bu Kie terus mengirim Kiu-yang Cin khie karena dia masih merasakan adanya perlawanan hawa dingin yang keluar dari telapak tangan Tio Beng. Dia hanya menduga bahwa racun Hian-beng Sin-ciang belum terusir semuanya. Dia tidak tahu bahwa hawa dingin itu adalah Kiu-im Cin-khie dari Cie Jiak. Makin lama Kiu-im Cin-khie yang didapat Cie Jiak dengan susah payah makin berkurang. Cie Jiak mengeluh tetapi dia tidak berani buka suara, sebab sekali bicara dia akan muntah darah. Untung sesudah keadaan badannya pulih kembali, Tio Beng tertawa dan berkata,
“Bu Kie Koko, aku sudah sembuh. Sekarang boleh kau layani kedua tua bangka itu!”
“Baiklah!” kata Bu Kie sambil menarik kembali tenaga dalamnya.
Cie Jiak seperti orang yang baru mendapat pengampunan. Setelah tenaga menyedot hilang, dia merasa hawa racun Hian-beng Sin-ciang telah terusir dari tubuhnya tapi tenaga dalamnya sendiri berkurang banyak. Selama satu dua detik dia mengawasi Bu Kie yang tengah memutar golok dan menyerang Hian-beng Jie-lo dengan hebatnya. Mendadak dia mementang lima jari tangannya yang lalu ditancapkan ke batok kepala Tio Beng.
“Aduh!” teriak nona Tio.
“Krekk!”
Totokan dan teriakan itu disertai dengan suara patahnya tulang. Yang patah adalah tulang-tulang jari tangan Cie Jiak yang segera kabur secepatnya. Bu Kie terkesiap. Dia menengok dan berseru,
“Beng-moay...”
Si nona meraba kepalanya dengan tangan gemetar. Bu Kie melompat mundur dan dengan tangan kanan memutar golok, ia meraba kepala Tio Beng dengan tangan kirinya. Ia merasa lega karena biar pun tangannya menyentuh darah yang basah lengket tetapi batok kepala nona Tio tidak menderita kerusakan.
“Beng-moay, jangan takut!” katanya. “Hanya luka di kulit.”
Gagalnya serangan Ciu Cie Jiak dan patahnya jari-jari tangannya adalah karena di tubuh Tio Beng masih terdapat Kiu-yang Cin-khie, sedangkan tenaga dalam Cie Jiak telah berkurang banyak.
Sambil bertempur Bu Kie merasa bahwa dengan menggunakan golok mustika itu biar pun menang namun kemenangan itu bukan kemenangan gemilang.
“Yo-cosu! Hoan-yusu! Bagaimana keadaan kalian?” teriaknya.
“Tiga sudah roboh, masih ada tujuh,” jawab Hoan Yauw. “Kauwcu tidak usah kuatir!”
Mendengar jawaban yang dilakukan dengan Iweekang kuat. Bu Kie tahu bahwa keadaan mereka memang tidak usah dikuatirkan. Dia segera menyerahkan To-liong-to kepada Tio Beng kemudian memindahkan pukulan Ho Pit Ong ke arah lain dengan Kian-kun Tay-lo-ie tingkat ketujuh.
Kian-kun Tay-lo-ie tingkat ketujuh adalah ilmu yang sangat sulit dan tidak boleh digunakan sembarangan. Jika salah sedikit saja maka ilmu itu bisa membakar diri orang yang menggunakannya. Maka itulah pada saat mesti menolong Tio Beng dan Cie Jiak dari hawa dingin, biar pun keadaannya berbahaya dia tidak berani menggunakan ilmu tersebut.
Hian-beng Jie-lo adalah tokoh-tokoh kelas utama, Kian-kun Tay-lo-ie tingkat rendah takkan berhasil terhadap mereka. Kini sesudah selesai menolong Tio Beng dan Cie Jiak, barulah dia berani menggunakan ilmu tersebut.
“Plakk!”
Pukulan Ho Pit Ong pindah arah dan menghantam pundak Lok Thung Kek. Lok Thung Kek terkejut.
“Sute, mengapa kau berbuat begini?” tanyanya dengan marah.
Ho Pit Ong orang yang otaknya tumpul dan dalam setiap urusan dia harus berpikir cukup lama sebelum bisa menangkap artinya. Dalam kejadian ini dia merasa heran dan bingung biar pun dalam hati tahu bahwa Bu Kie yang melakukannya. Dia berpendapat bahwa jalan satu-satunya untuk mendapatkan maaf dari Suheng-nya adalah menyerang musuh sehebat-hebatnya. Demikianlah, dia segera menendang dengan seluruh tenaganya.
Bu Kie mengibaskan tangan kirinya dan tendangan itu menyambar tan-tian (bawah pusar) Lok Thung Kek. Tan-tian adalah pusat penting dalam tubuh manusia untuk mengerahkan hawa. Lok Thung Kek terkesiap. Secepat kilat dia berkelit dan membentak,
“Sute, apa kau gila?”
“Benar Ho Sian-seng!” seru Tio Beng. “Lekas bekuk Suheng-mu yang berdosa dan cabul! Ayahku akan memberi hadiah besar kepadamu.”
Bu Kie merasa geli dalam hati. Semula dia ingin menggunakan Kian-kun Tay-lo-ie untuk menuntun serangan Ho Pit Ong ke arah Lok Thung Kek dan Lok Thung Kek ke arah Ho Pit Ong. Tetapi setelah mendengar Tio Beng, dia hanya menuntun pukulan-pukulan Ho Pit Ong ke arah Lok Thung Kek, ada pun terhadap Lok Thung Kek dia tetap melayani dengan Thay-kek-kun.
“Ho Sian-seng, kau tak usah kuatir,” katanya. “Kita berdua pasti bisa menumpas manusia she Lok ini. Jie Lam Ong akan mengangkat kau sebagai... sebagai...”
“Ho Sian-seng!” Tio Beng memotong. “Pangkatmu sudah ada di sini.” Dia merogoh saku lantas mengeluarkan segulung kertas dan mengibas-ngibaskannya. “Dengarlah!” teriaknya pula. “Kau akan dianugerahi pangkat Thay-goan Hu-kok Yang Wie Tay-ciang-kun.”
Saat itu pukulan Bu Kie menolak Lok Thung Kek ke samping kiri. Secara kebetulan selagi terhuyung si tua dipapaki oleh pukulan Ho Pit Ong yang arahnya dituntun dengan Kian-kun Tay-lo-ie hingga kakek she Lok itu tergencet di antara dua pukulan yang menyambar dari kiri kanan.
Selama puluhan tahun Lok Thung Kek dan Ho Pit Ong tak pernah berpisah. Mereka saling menyayangi bagaikan saudara kandung sendiri. Lok Thung Kek tidak percaya bahwa adik seperguruannya akan menjual dia, akan tetapi setelah lima kali beruntun diserang dengan pukulan yang membinasakan, dia menjadi kalap.
“Binatang!” teriaknya. “Tak kusangka karena pangkat kau melupakan gie-khie.”
Ho Pit Ong kebingungan. “Aku... aku...” katanya dengan suara terputus-putus.
“Benar, Ho Sian-seng,” sambung Tio Beng. “Kau berbuat begitu karena terpaksa, kau akan menjadi Hu-kok Yang Wie Tay-ciang-kun.”
Selagi si nona bicara, Bu Kie mengerahkan sepuluh bagian tenaganya. Begitu pukulan Ho Pit Ong menyambar, dia mengalihkan dengan Kian-kun Tay-lo-ie dan...
“Plakk!”
Pukulan itu jatuh tepat di pundak Lok Thung Kek. Lok Thung Kek balas memukul dan beberapa gigi Ho Pit Ong yang masih tersisa rontok. Sebagai seorang tua Ho Pit Ong amat menyayangi beberapa giginya, maka dapat dimengerti kalau darahnya segera meluap.
“Suko! Kau keterlaluan,” bentaknya. “Aku memukul kau tanpa sengaja.”
“Omong kosong!” teriak Lok Thung Kek.
Biar pun berkepandaian tinggi namun Hian-beng Jie-lo tidak mengenal Kian-kun Tay-lo-ie tingkat ketujuh. Dalam silat Tiong-goan memang ada ilmu ‘meminjam tenaga’ dan ‘empat tahil memukul ribuan kati’, tapi orang yang berkepandaian seperti mereka tidak gampang diserang ilmu begitu. Karena itulah Lok Thung Kek sama sekali tak pernah mengira bahwa serangan-serangan adik seperguruannya adalah karena perbuatan Bu Kie. Di dalam hati Ho Pit Ong tahu bahwa Bu Kie lah yang main gila.
“Setan! Kurang ajar kau!” cacinya.
“Benar, tidak usah panggil dia suko lagi!” sambung Tio Beng. “Memang dia setan!”
Pada saat itu Bu Kie menarik pukulan Ho Pit Ong ke pipi Lok Thung Kek yang begitu kena lantas menjadi bengkak.
“Bu Kie Koko, mari kita membantu Yo-cosu,” kata Tio Beng.
Melihat kalapnya Lok Thung Kek, Bu Kie tahu bahwa siasatnya sudah berhasil. “Ho Sian-seng, aku serahkan penjahat cabul ini kepadamu,” katanya seraya melompat keluar dari gelanggang pertempuran.
“Ho Sian-seng,” kata Tio Beng. “Sesudah membekuk suko-mu, kau boleh meminjam pit-kip To-liong-to selama sebulan.”
Sesudah Bu Kie dan Tio Beng berlalu, kedua kakek itu bertempur sampai keduanya terluka. Ho Pit Ong mencoba membersihkan diri, tetapi Lok Thung Kek tidak bisa percaya sehingga akhirnya mereka menjadi musuh.
Dengan mengikuti suara beradunya senjata, Bu Kie dan Tio Beng pergi menuju ke tempat pertempuran Yo Siauw dan kawan-kawannya. Di atas tanah menggeletak lima mayat, Yo Siauw melayani tiga orang, Hoan Yauw dan Gan Hoan bertanding dengan seorang lawan. Di antara kelima musuh itu yang paling berat adalah lawan Hoan Yauw. Meski memiliki kepandaian tinggi, Hoan Yauw tidak bisa berbuat banyak dan hanya lebih unggul sedikit dalam pukulan-pukulan.
Bu Kie tidak turun tangan melainkan hanya menonton. Beberapa saat kemudian Yo Siauw merobohkan satu orang lawan. Melihat bahaya, dua lawan Yo Siauw lantas kabur diturut oleh lawannya Gan Hoan. Selagi musuhnya lari, Gan Hoan melepaskan pasir beracun dan sambil berteriak kesakitan orang itu roboh binasa. Di lain saat hanya lawan Hoan Yauw yang masih berkelahi dengan mati-matian.
“Saudara, kulihat kau seorang gagah,” kata Hoan Yauw. “Lebih baik kau menyerah saja.”
“Apakah manusia yang menyerah kepada musuh masih bisa disebut orang gagah?!” tanya orang itu dengan marah.
“Benar,” kata Bu Kie seraya maju ke depan dan menyabet beberapa kali dengan To-liong-to. Berbareng dengan sabetan-sabetan itu, di tengah udara berterbangan rambut manusia. “Hoan-heng, lepaskan dia!” kata Bu Kie sambil tersenyum.
Karena merasa dingin orang itu mengusap kepala dan mukanya. Tiba-tiba dia berdiri terpaku dengan mulut ternganga. Ternyata sebagian rambut dan jenggotnya terpapas habis. Ia menyoja kepada Bu Kie dan berkata,
“Aku takluk dan rela menerima segala hukuman.”
Bu Kie tertawa. “Saudara boleh berlalu,” katanya.
Orang itu menghela napas, memutar tubuh lalu meninggalkan tempat itu.
“Apa mereka semua busu gedung Jie Lam Ong?” tanya Bu Kie kepada Tio Beng. “Siapa dia?”
“Dia adalah pemimpin wie-su (pengawal) dari kakakku,” jawabnya. “Namanya Kiu-jian-kun (silat si jenggot) Louw Sian Kek. Saat ini dialah jago utama di gedung ayahku.“
“Kini si jenggot jadi janggut licin,” kata Yo Siauw sambil tertawa. “Rasanya dia tidak dapat tinggal lebih lama lagi di gedung Ong-hu.”
Selagi mereka bicara, sejumlah pendeta Siauw-lim dan anggota Beng-kauw memburu ke tempat pertempuran Hian-beng Jie-lo. Melihat datangnya banyak orang, kedua kakek itu lantas berlalu sambil terus bertempur di sepanjang jalan. Setibanya di kuil Siauw-lim-si, Bu Kie segera memeriksa luka Tio Beng yang sama sekali tidak berbahaya. Tiba-tiba Bu Kie teringat, kemudian dia pun berkata,
“Beng-moay, kebetulan kau membawa kertas sehingga Lok Thung Kek percaya.”
Si nona tertawa manis. Ia merogoh sakunya lalu mengeluarkan segabung kertas tipis dan melambai-lambaikannya di muka Bu Kie.
“Coba kau tebak, kertas apa ini?” katanya.
Bu Kie tertawa. “Kalau kau yang suruh, biar seumur hidup aku tidak akan bisa menebak,” jawabnya.
Kertas itu terdiri dari dua gabung. Si nona segera memecahnya lalu menaruh dua gabung itu di kedua telapak tangannya.
Bu Kie mengawasi. Yang dilihat seperti kertas itu ternyata bukan kertas tapi sutera setipis sayap tonggeret. Di atas lembaran-lembaran sutera itu terdapat huruf-huruf yang sangat halus. Dia menjemput gabungan yang satu. Pada halaman depan terdapat tulisan ‘Bu Bok Ie Su’ (kitab peninggalan Gak Hui). Lembaran-lembaran sutera itu memang bukan lain dari pada kitab, dan di dalam kitab itu terdapat ilmu perang yang serba lengkap. Dia mengambil kitab yang lain, yang di atasnya tertulis ‘Kiu Im Cin Keng’ (kitab ilmu silat Kiu-im). Kitab itu berisi bermacam-macam ilmu silat yang aneh-aneh dan pada halaman-halaman terakhir terdapat pelajaran Kiu-im pek kui jiauw, Cui sim ciang, dan sebagainya. Bu Kie meneliti itu semua dengan jantung bergetar.
“Dari... dari mana... kau... kau mendapatkan ini?” tanyanya dengan suara terputus-putus.
“Selagi dia (maksudnya Ciu Cie Jiak) tidak bisa bergerak, aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang baik itu,” jawabnya. “Aku tak sudi belajar ilmu-ilmu beracun, sebaiknya kitab ini dibakar saja. Perlu apa ditinggalkan di dunia untuk mencelakai manusia?”
Bu Kie membalik-balik beberapa lembaran cin-keng. Ia mendapat kenyataan bahwa isinya sangat dalam dan tidak bisa lantas dipecahkan olehnya. Di samping itu ia mendapat bukti bahwa bagian depan bukan terdiri dari ilmu silat kelas rendah.
“Beng-moay, kau salah,” katanya. “Kiu-im Cin-keng berisi ilmu-ilmu yang amat tinggi. Apa bila dipelajari dan dilatih menurut aturan, maka dalam waktu sepuluh atau dua puluh tahun orang akan memperoleh hasil menakjubkan. Memang, kalau orang tergesa-gesa dan mempelajari kulit-kulitnya saja yang memberi hasil cepat, dia akan memperoleh ilmu-ilmu yang sifatnya beracun.“ Ia terdiam sejenak kemudian berkata lagi, “Cici yang mengenakan baju kuning itu mempunyai ilmu silat yang sejalan dengan Ciu-kouwnio. Tapi pukulan dan gerakannya memperlihatkan ilmu yang lurus bersih. Tak salah lagi, dia pun mendapatkan ilmunya dari Kiu-im Cin-keng.”
“Bu Kie Koko,” kata Tio Beng. “Cici baju kuning itu mengatakan di belakang gunung Cong-lam-san terdapat kuburan mayat hidup, burung rajawali sakti dan pasangan pendekar tak muncul lagi dalam dunia Kangouw. Apa artinya ini?”
Bu Kie menggelengkan kepalanya. “Aku tidak tahu,” jawabnya. “Nanti kita tanyakan kepada Thay-suhu.”
Sesudah bercakap-cakap beberapa lama, karena musuh tidak membuat gerakan apa-apa, semua orang lantas pergi tidur.
Pada keesokan paginya Bu Kie memanjat pohon besar untuk menyelidiki keadaan musuh. Dia mendapat kenyataan bahwa jumlah musuh bertambah kira-kira selaksa orang dan dilihat dari gerakannya, mereka sedang mempersiapkan gerakan baru. Di antara gerakan-gerakan bendera dan serdadu, sayup-sayup terdengar bunyi terompet yang tak henti-hentinya. Persiapan tentara Goan itu sudah membuat hati orang gagah merasa keder.
“Beng-moay...“ kata Bu Kie sesudah turun dari pohon.
“Hemm... ada apa?” tanya si nona.
“Tidak apa-apa... aku hanya ingin memanggil namamu.“
Sebetulnya Bu Kie ingin meminta pikiran gadis yang pintar itu dalam usaha mengundurkan musuh. Tetapi pada saat itu dia ingat bahwa Tio Beng adalah seorang puteri Mongol yang karena cinta sudah mengkhianati orang tuanya sendiri. Kalau sekarang dia minta si nona menelurkan siasat untuk membasmi bangsanya sendiri, dia menganggap permintaannya agak keterlaluan.
Akan tetapi dengan melihat paras muka Bu Kie dan nada suaranya, Tio Beng bisa membaca isi hati si pemuda.
“Bu Kie Koko, aku merasa berterima kasih bahwa kau dapat mengerti kesukaranku,” katanya. “Dalam hal ini sebaiknya aku tidak bicara banyak.”
Dengan perasaan masgul Bu Kie masuk ke kamarnya. Dia mengasah otak, tetapi setelah beberapa lama belum juga mendapatkan jalan yang baik. Dalam pekatnya malam dia membalik lembaran kedua kitab yang diberikan Tio Beng. Sesudah Kiu-im Cin-keng, tanpa sengaja dia membaca kalimat ‘terkepung di gunung Gu-tauw-san’ dalam Bu-bok le-su. Dia kaget dan membaca terus. Ternyata di bagian itu Gak Hui menceritakan pengalamannya waktu ia bersama bala tentaranya dikepung tentara Kim yang berjumlah besar di gunung Gu-tauw-san, cara bagaimana ia menjalankan siasat menggeret musuh dari dalam dan luar sehingga mereka memperoleh kemenangan besar. Tiba-tiba Bu Kie menepuk meja.
“Langit membantu aku,” serunya.
Biar pun keadaan Siauw-sit-san sekarang berbeda dengan keadaan Gu-tauw-san dahulu, ia merasa masih bisa jalan untuk mendapatkan kemenangan. Makin lama ia kelihatan semakin gembira.
“Gak Bu Bok sungguh manusia luar biasa,” katanya seorang diri. “Dalam keadaan begitu berbahaya, seorang manusia takkan bisa berdaya lagi... Memang... memang ilmu perang seperti ilmu silat. Kita harus mendapat petunjuk dari orang pandai...“
Ia mencelupkan telunjuknya di air teh lalu membuat peta bumi di atas meja. Ia tahu bahwa keadaan amat berbahaya, tapi ia yakin bahwa dengan bantuan Tuhan, Siauw-lim-si masih dapat ditolong. Dalam perang, yang berjumlah kecil sukar melawan musuh yang berjumlah besar. Oleh karena itu di dalam peperangan ini ia tak boleh mengadu kekuatan, tak boleh mengadakan pertempuran berhadap-hadapan. Tak lama kemudian ia sudah punya gambaran jelas tentang apa yang harus dilakukannya. Tanpa menyia-nyiakan waktu, ia segera pergi ke Tay-hiong Po-thian dan minta Kong-bun Hong-thio mengumpulkan para orang gagah. Sesudah semua enghiong berkumpul, Bu Kie berkata dengan suara nyaring.
“Sekarang tentara Tat-cu sudah berkumpul di kaki gunung dan mungkin mereka akan segera menyerang. Meski kemarin kita mendapat kemenangan kecil dan sudah menurunkan semangat musuh, tapi kalau mereka menyerang lagi dengan mati-matian, kita yang berjumlah lebih kecil akan sukar melawan mereka yang berjumlah amat besar.“ Ia berdiam sejenak, kedua matanya yang amat tajam menyapu seluruh ruangan. “Aku hanyalah seorang yang tidak punya kemampuan, tetapi atas kecintaan kalian sudah mengangkat aku sebagai Bu-lim Bengcu sehingga untuk sementara waktu aku terpaksa menerima pengangkatan itu,” katanya pula. “Hari ini kita bersama-sama akan membasmi musuh. Demi kepentingan kita bersama, kuminta kalian suka mentaati segala perintah.”
Pidato pendek itu disambut dengan sorak sorai gegap gempita. Semua orang berjanji akan menuruti segala perintah Bengcu. Bu Kie girang.
“Terima kasih!” katanya. “Nah, marilah kita mulai. Gouw Kin Co!”
Begitu namanya dipanggil, pemimpin Swie-kim-kie itu segera maju lantas memberi hormat dengan membungkuk.
“Aku tugaskan kau dan saudara-saudara dari benderamu untuk mempertahankan undang-undang ketentaraan,” kata Bu Kie. “Siapa pun juga yang tidak mentaati perintah harus mendapat hukuman mati dengan timpukan tombak dan kapak Swie-kim-kie. Peraturan ini berlaku untuk semua orang, tidak terkecuali tetua dari agama kita dan tetua rimba persilatan.”
“Baik!” kata Gouw Kin Co seraya merogoh saku dan mengeluarkan bendera putih kecil.
Dalam rimba persilatan, nama Gouw Kin Co belum begitu dikenal. Akan tetapi pada waktu diadakan pameran kekuatan Ngo-heng-kie, semua orang tahu bahwa bendera putih tak boleh dibuat permainan. Orang yang ditimpuk dengan bendera itu berarti diserang dengan lima ratus anak panah dan lima ratus kapak pendek. Walau pun mempunyai kemampuan tinggi, dia tidak usah berharap bisa lolos dari serangan itu.
Bu Kie mengeluarkan perintah tersebut karena pada halaman pertama dari Bu-bok Ie-su dia membaca nasihat sebagai berikut. ‘Dalam memimpin tentara, yang terpenting adalah peraturan yang keras’. Bu Kie tahu bahwa para Enghiong dalam rimba persilatan biasanya amat bangga dengan kepandaian sendiri dan tak sudi tunduk di bawah perintah orang. Mana kala kebiasaan itu dipraktekkan dalam menghadap tentara Goan, maka mereka semua akan musnah. Sehabis mengeluarkan titah pertama, sambil menuding tembok di luar ruang musyawarah Bu Kie berkata lagi,
“Bagi para enghiong yang memiliki ilmu ringan tubuh tinggi dan bisa melompati tembok itu, kuminta supaya memperlihatkan kepandaian.”
Banyak orang yang lantas merasa kurang puas, bahkan di antara para Cianpwe ada yang mendongkol karena merasa bahwa dengan mengajukan pertanyaan itu, Bu Kie telah menghina mereka. Selagi orang saling mengawasi, Thio Siong Kee segera maju dan berkata,
“Aku bisa!”
Dengan sekali menjejak bumi ia melompati tembok yang tinggi itu. Tee-in-ciong dari Bu-tong-pay sudah tersohor di kolong langit. Bagi Thio Siong Kee, melompati tembok itu sama mudahnya membalik tangan. Sesudah Thio Siong Kee, dengan beruntun Jie Lian Ciu, In Lie Heng, Yo Siauw, Wie It Siauw, In Ya Ong dan lain-lain memperlihatkan kepandaiannya. Contoh itu segera diturut orang-orang gagah dari partai lainnya. Dalam sekejap sudah empat ratus orang lebih yang berhasil melompati tembok itu. Yang lain tidak mencoba karena rupa-rupanya tidak ungkulan.
Para enghiong yang menghadiri pertemuan itu rata-rata mempunyai kepandaian istimewa. Ilmu meringankan tubuh hanya merupakan salah satu cabang dari ilmu silat yang banyak ragamnya. Sering kejadian bahwa seorang yang mempunyai ilmu luar biasa ternyata ilmu ringan tubuhnya tidak terlampau tinggi. Dalam dunia persilatan ada kalanya seorang tokoh menggunakan seluruh hidupnya untuk melatih jari tangannya saja. Karena itulah tinggi rendah dalam ilmu mengentengkan tubuh bukan menjadi ukuran dari tinggi rendahnya kepandaian orang yang tersangkut, hal ini diketahui oleh semua ahli silat. Dengan demikian orang-orang yang tidak mampu melompati tembok itu sama sekali tidak merasa malu.
Bu Kie mendapat kenyataan bahwa di antara empat ratus orang itu, pendeta Siauw-lim-si berjumlah kurang lebih sembilan puluh orang.
“Nama besar Siauw-lim-si memang bukan nama kosong,” katanya dalam hati. “Dalam ilmu ringan tubuh saja, tokoh-tokoh Siauw-lim-si berjumlah lebih besar dari partai lain.”
“Jie Jie-pek, Thio Sie-pek, In Liok-siok, aku minta kalian bertiga memimpin para enghiong yang berhasil melompati tembok,” kata Bu Kie. “Kalian harus memancing musuh dengan berlagak seperti orang yang melarikan diri dari kuil ini. Apa bila musuh berhasil dipancing dan mereka mengejar kalian, maka hasil itu merupakan pahala nomor pertama. Sesudah kalian lari, sampai di belakang gunung kalian harus...”
Petunjuk selanjutnya diberikan dengan bisik-bisik saja dan tidak dapat didengar orang lain.
“Ku-ku,” kata Bu Kie selanjutnya. “Kau bersama Yo-cosu, Hoan-yusu dan Wie Hok-ong, empat orang kuminta membantu aku. Kita mengambil kedudukan di tengah-tengah guna mengawasi jalan pertempuran dan memberi bantuan kepada yang memerlukannya.”
Dengan ringkas namun tegas Bu Kie mengeluarkan berbagai perintah. Siapa yang harus bersembunyi untuk memotong jalan musuh, siapa yang harus melindungi bagian belakang pasukan sendiri, bagaimana harus menyerang dari depan, bagaimana harus menyerang dari samping dan sebagainya. Begitu melihat kepandaian pemimpinnya, Yo Siauw merasa takluk dan kagum sekali. Dia tidak tahu bahwa semua pengaturan itu berdasarkan siasat dalam Bu-bok Ie-su. Akhirnya Bu Kie berkata.
“Kong-bun Hong-thio dan Kong-tie Seng-ceng, aku minta kalian berdua memimpin para enghiong dari Go-bi-pay untuk menolong orang-orang yang terluka dan menguburkan yang mengorbankan jiwa.”
Sebagaimana diketahui, rombongan Go-bi tidak mempunyai pemimpin karena Cie Jiak tak berada di situ. Lantaran ada ganjalan, Bu Kie merasa tak enak untuk memerintah mereka. Karena itu dia meminta bantuan Kong-bun dan Kong-tie, dua orang tua yang mempunyai nama besar dan kedudukan tinggi. Dia merasa bahwa tindakannya itu tidak akan ditentang murid-murid Go-bi. Benar saja, semua anggota Go-bi-pay segera menerimanya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Di luar dugaan Kong-bun dan Kong-tie saling pandang kemudian saling mengangguk.
“Lo-ceng sangat takluk dengan kepandaian Bengcu,” kata Kong-bun sambil membungkuk. “Sebetulnya lo-ceng tidak boleh mengeluarkan bantahan terhadap pengaturan Bengcu, tapi lantaran terpaksa kami berdua ingin memohon sesuatu.”
“Hong-thio tak usah berlaku sungkan,” kata Bu Kie. “Katakanlah apa yang dipikirkan Hong-thio.”
“Kami berdua hanya mohon agar kami diperbolehkan menjaga kuil ini,” kata Kong-bun.
Bu Kie mengerutkan kening. Setelah berpikir sejenak dia dapat menangkap latar belakang permintaan itu. Siasat yang akan dijalankan adalah tipu meninggalkan Siauw-lim-si, berlagak kabur ke belakang gunung untuk memancing musuh kemudian membasminya. Tapi hal ini didasarkan siasat Gak Hui waktu jenderal itu terkepung di Gu-tauw-san. Namun keadaan Gu-tauw-san tidak sama dengan Siauw-sit-san. Gu-tauw-san adalah sebuah gunung yang gundul, tidak ada sesuatu yang berharga.
Di Siauw-sit-san berdiri kuil Siauw-lim-si yang usianya ribuan tahun, sebuah pusat agama Buddha yang suci. Ada kemungkinan bahwa kalau kuil itu ditinggalkan tanpa terjaga, maka tentara musuh akan merusaknya bahkan mungkin akan membakarnya. Lantaran itulah Kong-bun dan Kong-tie minta permisi untuk menjaganya. Mereka bertekad untuk mati hidup bersama di kuil Siauw-lim-si.
“Baiklah,” kata Bu Kie sambil mengangguk. “Aku merasa sangat kagum akan tekad Jie-wi Taysu. Kalian boleh menjaga kuil ini.”
Para enghiong merasa heran. Mulanya mereka menyangka bahwa Bu Kie akan menolak permintaan itu. Melihat pemimpin mereka diijinkan menjaga kuil, sejumlah murid Siauw-lim lantas ingin mengikuti jejak itu.
“Undang-undang ketentaraan keras dan harus dipatuhi!” Kong-bun berteriak dengan suara keras. “Murid partai kami yang berani membantah akan segera dicoret namanya sebagai murid Siauw-lim-pay.”
“Hari ini dengan bersatu padu saudara-saudara wilayah Tiong-goan melayani Tat-cu,” kata Bu Kie. “Kuminta para Suhu bersedia mengurus tambur dan lonceng yang membangunkan semangat dan menggetarkan seluruh kuil.“
Dengan darah bergolak para enghiong mengusap-usap senjata mereka.
BERHASIL MENGUSIR TAT-CU
Sebagai tindakan pertama, hampir berbarengan dengan komando Hee Yam, para anggota Liat-hwee-kie mengeluarkan kayu bakar dan rumput yang segera ditumpuk di samping kuil kemudian dibakar. Dalam sekejap api berkobar-kobar.
Mendengar suara tambur dan melihat berkobarnya api, tentara Goan yang berada di kaki gunung lantas menduga bahwa orang-orang Siauw-lim-si sudah membakar kuil dan hendak segera kabur.
Dengan sekali mengibaskan tangan Jie Lian Ciu memimpin seratus lima puluh orang lebih yang berlari ke bawah melalui sebelah kiri Siauw-sit-san. Sebelum mereka tiba di lereng, tentara musuh mulai menyerang ke atas sambil bersorak sorai. Para orang gagah segera lari berpencaran agar tentara Goan tidak dapat membasmi mereka dengan anak panah.
Rombongan kedua yang dipimpin Thio Siong Kee diikuti rombongan ketiga di bawah pimpinan In Lie Heng dengan beruntun muncul kemudian berlarian ke bawah, setiap orang menggendong bungkusan besar yang berisi papan, seprei atau selimut tebal. Para serdadu Goan mengira mereka adalah orang-orang yang kabur dengan penuh ketakutan sambil membawa sedikit bekal yang masih dapat dibawa. Padahal bungkusan-bungkusan itu adalah tameng untuk melindungi diri dari anak panah Mongol yang sangat lihay. Setelah mengawasi beberapa lama pemimpin tentara Goan lantas memerintahkan selaksa serdadu mengejar dan selaksa lainnya tetap menjaga kedudukan mereka.
“Yo-cosu, pemimpin tentara Tat-cu seorang pandai,” kata Bu Kie. “Dia tidak mengerahkan seluruh tentaranya.”
“Benar,” jawab Yo Siauw. “Kewaspadaan itu bisa membahayakan kita.”
Tiba-tiba dari kaki gunung terdengar bunyi terompet berulang-ulang dan dua ribu tentara berkuda Goan mulai menerjang ke atas dari kiri dan kanan. Dengan mata tanpa berkedip Bu Kie mengawasi majunya musuh. Jalan di gunung penuh bahaya dan berliku-liku, tapi kuda-kuda Mongol yang terlatih bisa maju terus tanpa menemui banyak kesukaran. Begitu rombongan musuh terdepan mendekati pendopo kuil. Bu Kie memberi isyarat dengan mengibaskan tangannya. Hampir berbareng pasukan Liat-hwee-kie bergerak dan bersembunyi di rumput-rumput tinggi. Pada saat musuh berada dalam jarak kurang lebih seratus tombak, Hee Yam segera memberi komando.
Minyak segera menyembur dan anak panah api menyambar. Kuda-kuda berjingkrak keras, tentara Goan berteriak-teriak, seluruh pasukan berubah kalut, banyak kuda dan manusia roboh tergelincir ke bawah gunung dengan badan berkobar-kobar. Tetapi tentara Goan memang tentara jempolan. Pasukan depan terpukul namun pasukan belakang tak bergeming. Dengan rapi mereka turun dari tunggangannya kemudian menerjang ke atas dengan berjalan kaki. Liat-hwee-kie terus menyemprotkan minyak dan api. Beberapa ratus musuh binasa, tapi yang lainnya merangsek terus.
Melihat itu bendera lain dari Beng-kauw segera membantu. Ang-sui-kie menyemburkan air beracun ada pun Houw-touw-kie melepaskan pasir beracun. Agaknya kedua bendera hendak menghancurkan pasukan Goan. Dengan nekat beberapa ratus orang menyerang terus, tapi dengan tidak berapa sukar mereka dibasmi pasukan Swie-kim-kie dan Kie-bhok-kie.
Sekonyong-konyong di kaki gunung terdengar suara tambur yang amat hebat. Dalam sesaat lima ribu tentara musuh bergerak dengan bentuk seperti kipas sambil membawa tameng-tameng besar. Dengan adanya tameng-tameng itu maka air dan pasir beracun tidak dapat berbuat banyak.
Kie-bhok-kie segera turun tangan dengan melontarkan balok-balok besar. Tetapi usaha itu pun hanya membuat beberapa lubang pada barisan musuh yang lekas dapat menutupnya kembali. Melihat keadaan itu, Kong-bun segera berkata,
“Thio-kauwcu, harap kau dan yang lain-lain lekas mundur untuk melindungi tenaga inti dari rimba persilatan kita. Meski pun hari ini kita menderita kekalahan tapi di kemudian hari kita akan bisa bergerak lagi.”
Bu Kie tidak menyahut. Dengan rasa kuatir dia mengawasi pasukan tengah dari pasukan musuh. Mendadak dia melihat di bawah sehelai bendera terdapat seorang panglima yang menunggang seekor kuda tinggi besar dan mengenakan pakaian perang kuning berkilauan seperti emas. Panglima ini kelihatannya sangat angker, tapi karena teraling topi, mukanya tidak kelihatan tegas. Bu Kie menengok kepada Gouw Kin Co dan berkata,
“Gouw Kin Co, kau serang panglima itu.”
“Baik!” jawabnya sambil mengibaskan bendera putih dan menerjang ke bawah.
Seratus batang tombak menyambar, kemudian seratus anggota Swie-kim-kie menyerbu ke arah perwira dan serdadu yang berada di seputar jenderal itu.
“Wie Hok-ong,” kata pula Bu Kie. “Mari kita bekuk panglima itu. Yo-cosu dan Hoan-yusu, kalian berdua melindungi kami.”
Ketiga pemimpin Beng-kauw itu girang. Mereka kagum akan tindakan sang Kauwcu yang berani dan tepat itu.
Bu Kie dan Wie It Siauw adalah jago ilmu ringan tubuh yang sulit dicari tandingannya pada jaman itu. Dengan berbareng mereka berkelebat dan bagaikan berkeredepnya dua sinar kilat, tahu-tahu mereka sudah berada di barisan tameng. Dengan mudah mereka memukul jatuh semua anak panah, kemudian dengan sekali menotol tameng musuh dengan ujung kaki, maka robohlah tameng-tameng yang membentang seolah sebuah dinding besi itu.
Tentara Goan terkejut dan marah. Sambil berteriak-teriak mereka mengepung ketua penyerang itu. Tapi Bu Kie dan Wie It Siauw bukan jago biasa. Dengan gerakan luar biasa dan ketabahan luar biasa, mereka melewati rimba golok dan tombak. Dalam sekejap mereka sudah menghampiri si panglima.
Jenderal itu menikam dengan tombaknya. Bu Kie berkelit menangkap gagang tombak dan menariknya hingga panglima perang itu terhuyung ke depan. Wie It Siauw melompat lantas mencengkeram batang lehernya. Tetapi panglima itu juga bukan sembarang orang. Dengan tangan kiri dia menghunus pedang dan membabat.
Bu Kie mengegos dan menangkap pergelangan tangan musuh yang memegang pedang, kemudian menariknya dari atas kuda. Pasukan pengawal mengeluarkan teriakan tertahan dan dengan mati-matian mereka mencoba menolong, tapi mereka ditahan Yo Siauw dan Hoan Yauw.
“Berangkat!” kata Bu Kie dengan suara girang.
Wie It Siauw segera menotok jalan darah tawanannya, menggendong kemudian kabur ke atas gunung, ke tempat yang sepi. Melihat jenderal mereka tertawan, sambil berteriak-teriak tentara Goan mengejar. Namun tentu saja mereka bukan tandingan Wie Hok-ong yang berlari seperti kera di antara batu-batu cadas dan tempat yang tak mungkin dilewati manusia biasa. Melihat kawannya berhasil, Bu Kie segera mengajak Yo Siauw dan Hoan Yauw kembali ke atas gunung.
Sesudah berada di tempat aman, Wie It Siauw sengaja memperlihatkan kepandaiannya. Sambil berlari dia melemparkan tubuh panglima itu. Tentara Goan berteriak kaget karena menduga pemimpin mereka bakal jatuh dengan tubuh hancur luluh. Tetapi selagi tubuh itu melayang ke bawah, Wie Hok-ong menyusul lantas menyangganya dengan kedua tangan. Setelah mengulangi permainan berbahaya itu beberapa kali, dia tiba di puncak.
“Yo-cosu!” teriaknya. “Jual beli datang!” seraya berteriak dia melontarkan tubuh si panglima ke arah Yo Siauw yang lalu menyambut dengan satu gerakan yang amat indah.
Yo Siauw membuka topi tawanannya. Panglima yang berparas tampan mengawasi dengan mata mendelik dan alis berdiri. Mendadak Tio Beng berteriak.
“Koko!”
Ia menubruk dan memeluk jenderal itu yang ternyata bukan lain Ong Po Po, kakak si nona. Kejadian yang tidak disangka-sangka. Alis Bu Kie berkerut. Dia menghampiri kemudian mendukung Ong Po Po sambil berkata,
“Maaf.“ Sesudah itu lalu diserahkan kepada Kong-bun dan Kong-tie.
“Taysu, dengan menahan dia sebagai tanggungan, maka Siauw-lim-si bisa diselamatkan,” bisiknya. “Tapi dia mempunyai hubungan dengan aku, maka kuharap Jiewie Taysu jangan mencelakainya.”
Kedua pendeta itu girang, lalu mengambil dua batang golok yang kemudian ditandalkan di leher Ong Po Po.
“Tentara Mongol, dengarlah!” teriak Yo Siauw. “Siauw Ong-ya kalian jatuh ke tangan kami. Mundurlah supaya kalian tidak mencelakai jiwanya!”
Ban-hu-thio yang memimpin selaksa tentara itu kaget bercampur bingung. Kalau panglima itu benar-benar binasa maka Jie Lam Ong akan marah besar dan mungkin seluruh pasukan akan mendapat hukuman mati. Karena itu, sesudah berpikir beberapa saat dia segera mengeluarkan titah menarik mundur semua tentara.
Selagi para enghiong bersorak sorai penuh kegirangan, di kaki gunung sekonyong-konyong terdengar suara tambur yang bergemuruh dan tampak sejumlah anak panah api menyambar ke tengah udara. Hampir berbareng di empat penjuru terdengar teriakan-teriakan yang seolah-olah menggetarkan seluruh Siauw-sit-san.
“Kauwcu, bala bantuan datang!” kata Yo Siauw dengan girang.
Bu Kie mengangguk. “Bala bantuan datang!” teriaknya. “Terjang musuh!”
Perintah itu disambut dengan sorak sorai. “Para enghiong, dengarlah!” teriak pula Bu Kie. “Lebih dahulu binasakan perwira kemudian baru serdadu.”
Karena tahu datangnya bala bantuan Siauw-lim-si, tentara Goan yang baru saja mendapat perintah mundur, lantas merosot semangatnya. Karena itu begitu diterjang para enghiong, mereka menjadi kalut dan kabur ke bawah gunung dengan kalang kabut.
Sesampainya di lereng Bu Kie melihat bendera-bendera Beng-kauw. Di sebelah selatan terdapat sehelai bendera besar dengan huruf ‘Cie’, ada pun di sebelah utara bendera lain dengan huruf ‘Siang’. Ia tahu bahwa yang datang menolong adalah Cie Tat dan Siang Gie Cun.
Dua panglima yang semula berada di daerah Hway-ho itu secara kebetulan datang ke Ho-lam selatan. Begitu mendapat warta dari Put-thay Hwesio, mereka segera menggerakkan seluruh tentara dan menyusul siang malam hingga dalam waktu dua hari mereka tiba di Siauw-sit-san.
Pasukan Cie Tat dan Siang Gie Cun terdiri dari orang-orang yang sangat berpengalaman dan gagah berani. Karena jumlah mereka lebih besar, maka sesudah bertempur beberapa gebrakan mereka berhasil memberi pukulan hebat kepada selaksa tentara Goan yang menjaga di kaki gunung dan lantas lari lintang pukang ke jurusan barat.
Seperti yang diketahui Bu Kie sendiri telah menetapkan satu siasat. Dengan mengerahkan orang-orang yang mahir dalam ilmu ringan tubuh, dia hendak memancing tentara musuh ke selat gunung yang terletak di sebelah barat Siauw-sit-san. Tiga penjuru selat itu tertutup lereng gunung yang seperti dinding terjal.
Jie Lian Ciu beserta kawan-kawannya berhasil memancing musuh ke selat itu. Ban-hu-thio yang memimpin selaksa tentara juga tahu bahayanya selat tersebut. Tetapi karena musuh berjumlah sangat kecil, hanya beberapa ratus orang, maka menurut pendapatnya dia masih mampu melayani biar pun diserang pasukan yang bersembunyi. Maka itu tanpa sangsi lagi dia segera memerintahkan tentaranya mengejar terus.
Setibanya di lereng, Jie Lian Ciu dan kawan-kawannya segera memanjat ke atas menggunakan tambang-tambang yang sudah disediakan dan tergantung di lereng itu. Tapi mereka adalah ahli-ahli silat jempolan sehingga tanpa menemui banyak kesukaran dapat merayap terus ke atas. Sebaliknya pihak tentara Goan yang mengenakan pakaian perang yang sangat berat tentu saja tidak bisa berbuat begitu.
Begitu masuk di selat dan melihat gerakan musuh, barulah Ban-hu-thio dan tentara Goan insyaf bahwa mereka sudah terjebak. Cepat-cepat dia memerintahkan tentaranya mundur. Tetapi sudah terlanjur! Api, pasir beracun dan anak panah menyambar-nyambar. Hampir berbareng pasukan Kie-bhok-kie juga melontarkan balok-balok besar ke mulut selat yang lantas tertutup rapat.
Tidak lama kemudian barisan Goan kedua yang juga terdiri dari selaksa orang dan dikejar pasukan Cie Tat serta Siang Gie Cun tiba di situ. Karena mulut selat sudah tertutup maka mereka kabur ke empat penjuru.
“Sungguh sayang!” kata Bu Kie kepada Cie Tat.
Jika sudah diatur terlebih dahulu maka barisan Goan yang kedua itu tentu bisa dipancing masuk ke dalam selat hingga seluruh barisan yang terdiri dari dua laksa jiwa bisa dimusnahkan sekaligus. Akan tetapi Bu Kie sudah puas dengan hasil yang diperoleh. Dia sama sekali tidak pernah menduga bahwa bala bantuan bisa datang begitu cepat. Waktu mengatur siasat tujuannya hanyalah menyelamatkan kuil Siauw-lim-si.
Sementara itu Cie Tat segera memerintahkan tentaranya memperkuat penutup selat dengan batu-batu besar dan menitahkan sepasukan anak panah memanjat ke atas lereng untuk memanah musuh dari atas. Tentara Goan yang sudah tak bisa membela diri makin kalang kabut. Sambil sesambat dan berteriak-teriak, mereka lari seperti gila, mencari perlindungan di antara batu-batu dan pohon-pohon.
Tidak lama kemudian Siang Gie Cun dan tentaranya tiba. Pertemuan dengan Bu Kie menimbulkan kegirangan besar. Ia seorang yang beradat berangasan. Begitu tahu musuh terkepung di selat, dia lantas berteriak,
“Singkirkan semua balok dan batu! Biar kuhajar semua Tat-cu!”
“Perlu apa kau menggunakan tenaga?” kata Cie Tat sambil tertawa. “Di selat tiada air dan tiada makanan. Dalam tiga empat hari mereka akan mati sendiri.”
Siang Gie Cun tersenyum dan tidak berkata apa-apa lagi. Apa yang dapat dilakukan Cie Tat dan Siang Gie Cun adalah memerintahkan tentaranya membasmi bagian musuh yang kedua, yang lari berpencaran ke bawah gunung.
Sesudah musuh kabur semua, atas permintaan Tio Beng, Bu Kie melepaskan Ong Po Po sambil memerintahkan Gouw Kin Co serta sejumlah anggota Swie-kim-kie mengantarnya sampai lima puluh lie. Sesudah lima puluh lie, Tio Beng sendiri mengantar lagi sepuluh lie dan berulang-ulang mohon maaf. Namun Ong Po Po tidak meladeni adiknya hingga si nona kembali ke Siauw-sit-san dengan rada berduka dan masgul.
Malam itu di kaki Siauw-sit-san diadakan pesta besar tanda gembira sehubungan dengan kemenangan besar. Para enghiong sudah berhari-hari hanya makan santapan ciacay pada malam itu dapat makan minum sepuas hati. Selagi bersantap Cie Tat menuang secawan arak dan mempersembahkannya kepada Bu Kie.
“Kauwcu, aku memberi selamat dengan secawan arak ini!” katanya.
Bu Kie menyambut dan menceguk isinya.
“Kauwcu, mula-mula aku hanya merasa takluk akan pribudi dan ilmu silatmu yang sangat tinggi,” kata pula Cie Tat. “Tetapi di luar dugaan Kauwcu pun mahir dalam ilmu perang dan dapat menggunakan siasat perang seperti malaikat. Ini merupakan keuntungan agama kita dan keberuntungan untuk segenap rakyat.”
Bu Kie tertawa terbahak. “Cie-toako,” katanya, “Jangan kau memuji aku. Kemenangan hari ini diperoleh berkat kedatangan jie-wi Toako yang sangat cepat dan juga peninggalan Gak Bu-bok. Dalam perang ini siauwte tidak punya pahala apa-apa.”
“Peninggalan Gak Bu-bok?” menegas Cie Tat. “Bolehkah Kauwcu memberi penjelasan?”
Bu Kie merogoh saku dan mengeluarkan Bu-bok Ie-su. Ia membalik lembarannya sampai bagian terkepung di Gu-tauw-san lalu menyerahkannya kepada Cie Tat. Setelah membaca Cie Tat kaget campur girang. Ia menghela napas kemudian berkata,
“Perhitungan Bu Bok tidak akan dapat ditandingi manusia mana pun di jaman ini. Kalau sekarang Gak Bu-bok masih hidup dan memimpin kita, Tat-cu pasti bisa diusir balik ke padang pasir.“ Sehabis berkata begitu, dengan sikap hormat dia mengembalikan kitab itu kepada sang kauwcu.
Tapi Bu Kie tidak menyambut. “Hari ini baru aku tahu apa artinya ‘bu lim cie cun, po to to liong, hauw leng thian hee, boh kam put ciong’,” katanya. “Apa yang dikatakan ‘bu lim cie cun' (yang termulia dalam rimba persilatan) bukan To-liong-to. Yang termulia dalam rimba persilatan adalah kitab perang Gak Bu-bok yang disembunyikan dalam golok itu. Dengan kitab itu orang bisa mengalahkan musuh sehingga akhirnya dia bisa ‘hauw leng thian hee, boh kam put ciong’. Cie-toako, kini aku mengambil keputusan untuk menghadiahkan kitab ini kepadamu dengan harapan supaya kau dapat mewujudkan cita-cita ‘hoan-ngo-ho-san’ (kembalikan sungai dan gunungku) dari Gak Bu-bok.“
Hoan-ngo-ho-san adalah cita-cita yang termasyur dari Gak Hui. Cie Tat terkejut. “Orang bawahanmu sama sekali tidak punya kebajikan dan kepandaian mana berani menerima hadiah Kauwcu sedemikian besar?” katanya sambil membungkuk.
“Cie-toako, harap jangan menolak. Demi kepentingan umat manusia di kolong langit, aku serahkan kitab ini kepadamu.”
Cie Tat tak bisa mengucapkan sepatah katapun. Kedua tangannya yang memegang Bu-bok Ie-su kelihatan gemetar.
“Dalam kata yang terkenal itu masih terdapat dua baris terakhir yang berbunyi, ‘Ie thian put cut, swee ie ceng hong’,” kata pula Bu Kie. “Sekarang Ie-thian-kiam patah dua, tetapi aku percaya di kemudian hari pedang itu akan tersambung lagi. Di dalam pedang tersebut disembunyikan sejilid kitab ilmu silat yang sangat lihay. Aku mengerti maksudnya. Kitab perang Gak Bu-bok adalah untuk mengusir Tat-cu. Sesudah Tat-cu diusir pergi, maka seseorang berkuasa di negara kita. Kalau Kaisar itu ternyata seorang penjahat yang sewenang-wenang hingga rakyat menderita, maka seorang enghiong akan tampil ke muka dan membinasakan kaisar durjana itu dengan Ie-thian Po-kiam. Meski pun dia berkuasa, belum tentu dia bisa menangkis tekanan Ie-thian-kiam. Cie Toako, kuharap kau ingat perkataanku ini.”
Bulu roma Cie Tat bangun semua sedangkan keringat membasahi pakaiannya. Dia tidak berani menolak lagi dan berkata sambil menjura,
“Bawahanmu tidak bisa berbuat lain kecuali menerima perintah Kauwcu.“ Dia menaruh kitab itu di meja, berlutut empat kali kemudian berlutut di hadapan Bu Kie sebagai pernyataan terima kasih.
Sejak saat itu Bu-bok Ie-su menjadi milik Cie Tat. Di kemudian hari benar saja dialah yang berhasil mengalahkan tentara Goan dan mengusirnya sampai keluar dari daerah Tiongkok hingga nama besarnya menggetarkan seluruh wilayah di sebelah utara padang pasir.
********
Sejak perang di Siauw-sit-san, banyak orang gagah di Tiong-goan mempersatukan diri dengan Beng-kauw. Setiap perintah Bu Kie ditaati semua orang. Selama ratusan tahun Beng-kauw dianggap agama iblis. Tapi di luar dugaan sekarang Beng-kauw menjadi pemimpin dari para orang gagah di seluruh Tiongkok dalam usaha merebut kembali negara dari tangan bangsa lain.
Di belakang hari hati Cu Goan Ciang bercabang dan dengan tipu muslihat dia naik ke atas tahta kaisar. Tapi adalah sebuah kenyataan bahwa yang membantu dia merebut Tiongkok adalah orang-orang Beng-kauw dan mungkin itulah sebabnya mengapa dia menggunakan perkataan ‘Beng’ (terang) untuk nama kerajaannya. Dua ratus tujuh puluh tahun kerajaan Beng berkuasa di Tiongkok dan asal mula berdirinya kerajaan tersebut adalah usaha Beng-kauw.
********
Malam itu semua orang makan minum sepuas hati. Pada keesokan harinya mereka minta diri dari Kong-bun dan Kong-tie. Melihat keadaan Go-bi-pay yang berantakan dan tidak memiliki pemimpin, juga mengingat keadaan Song Ceng Su yang terus berada di dalam tandu, Bu Kie tidak sampai hati. Dia menghampiri rombongan partai itu kemudian berkata kepada Ceng-hui.
“Bolehkah aku menengok keadaan Song-toako?”
“Kau tidak usah berlagak baik hati!” jawabnya dengan ketus.
Si sembrono Ciu Tian lantas naik darah. “Kurang ajar!” cacinya. “Dengan mengingat kecintaan masa lalu Kauwcu kami telah mengobati lukanya. Sesungguhnya manusia yang mengkhianati orang tua yang gagah itu boleh dibinasakan oleh siapa pun.”
Ceng-hui menjebikan bibir. Ia ingin balas mencaci, tapi karena kuatir dihajar, sebisanya ia menahan nafsu amarah.
“Semenjak dulu Ciang-bun-jin Go-bi-pay adalah gadis yang putih bersih seperti es dan batu Giok,” katanya dengan suara dingin. “Kalau Ciu Ciang-bun bukan seorang gadis baik, bagaimana dia bisa menjadi pemimpin partai kami? Hm...! Adanya manusia seperti Song Ceng Su di partai kami benar-benar sudah menodai nama baiknya Ciu Ciang-bun. Lie-sutit, Liong-sutit, pulangkan saja manusia itu ke Bu-tong-pay!”
Dua pemikul tandu lantas mengiyakan. Mereka memikul tandu yang berisi Song Ceng Su, lalu menaruhnya di hadapan Jie Lian Ciu dan menyingkir. Semua orang kaget.
“Apa...?!” tanya Jie Jie-hiap. “Bukankah dia suami Ciang-bun-jinmu?”
“Heiii!” bentak Ceng-hui dengan nada mendongkol. “Manusia macam dia mana dipandang mata oleh pemimpin kami? Karena perbuatan si bocah Thio Bu Kie barulah Ciu Ciang-bun memancing bocah she Song itu yang rela menyamar sebagai suami. Siapa duga... siapa duga... Huh! Huh...! Kalau tahu bakal terjadi kejadian ini, perlu apa Ciu Ciang-bun menodai namanya sendiri...?”
Bu Kie tak bisa sabar lagi. “Kalau begitu dia bukan Song-hujin?” tanyanya.
Ceng-hui menengok dan membentak. “Aku tidak bicara denganmu!”
Pada saat itu Song Ceng Su yang rebah di tandu bergerak lantas berkata dengan suara di tenggorokan.
“Apa Thio Bu Kie sudah... dibunuh...?”
“Jangan mimpi kau!” ejek Ceng-hui. “Maut sudah berada di atas kepalamu dan kau masih membayang-bayangkan paras cantik.”
Melihat Ceng-hui sukar diajak bicara, In Lie Heng segera bertanya kepada seorang murid Go-bi-pay lainnya.
“Lie-sumoay, bagaimanakah kejadian sebenarnya?”
Yang ditanya adalah seorang setengah tua bernama Lie Beng Hee, sahabat mendiang Kie Siauw Hu. Mendengar pertanyaan itu, dia lalu berkata,
“Ceng-hui Suci, In Liok-hiap bukan orang luar, bolehkah Siauw-moay menceritakan apa yang terjadi?”
“Hal ini tidak ada sangkut pautnya dengan orang luar atau bukan orang luar, dan lebih-lebih harus dijelaskan kepada orang luar. Ciu Ciang-bun adalah wanita suci, putih bersih yang tidak punya hubungan apa pun dengan pengkhianat she Song ini. Bukankah dengan mata sendiri kita semua melihat Siu-kiong-seh di lengan Ciu Ciang-bun? Kenyataan ini harus diumumkan kepada kawan-kawan rimba persilatan, demi nama baik Ciu Ciang-bun, demi Go-bi-pay...”
Mendengar kata Ceng-hui yang bicara tanpa juntrungan itu, In Lie Heng segera berkata kepada Lie Beng Hee,
“Lie-sumoay, kalau begitu aku harap kau suka bicara bagaimana Song-sutit masuk ke dalam partai kalian dan hubungan apa yang terdapat antara dia dan Ciu Ciang-bun? Hal ini akan aku laporkan kepada guruku. Hal ini kuanggap penting untuk kedua partai kita. Kita harus menjaga dan memelihara keakuran antara Go-bi-pay dan Bu-tong-pay!”
Lie Beng Hee menghela napas panjang. “Orang seperti Song Siauw-hiap memang sukar dicari,” katanya dengan suara perlahan. “Hanya sayang karena gara-gara mabuk cinta, dia terjerumus ke dalam jurang kehinaan. Mungkin sekali Ciu Ciang-bun telah menjanjikan bahwa sesudah Thio Bu Kie dibunuh mati, yaitu setelah membalas dendam karena bocah she Thio kabur dari upacara pernikahan, dia akan menikah dengan Song Siauw-hiap. Itulah sebabnya mengapa Song Siauw-hiap rela masuk ke dalam partai kami dan meminta ilmu silat istimewa dari pemimpin kami. Dalam Eng-hiong Tay-hwee mendadak Ciu Ciang-bun mengakui dirinya sebagai Song-hujin, sebagai isteri dari Song Siauw-hiap. Ketika itu semua murid Go-bi merasa kaget dan heran. Sebagaimana kalian tahu, hari itu Ciu Ciang-bun berhasil merobohkan semua orang gagah...”
“Jangan sembarangan!” gerutu Ciu Tian. “Dia menang karena Thio-kauwcu mengalah.”
Lie Beng Gee tidak meladeni tetapi bicara terus. “Kemenangan itu sangat menggirangkan kami semua, tetapi di dalam hati kami merasa kurang puas karena perkataan ‘Song-hujin’ itu! Malam harinya kami menanyakan Ciu Ciang-bun maksud dari sikapnya. Ciu Ciang-bun menggulung lengan baju kirinya dan memperlihatkan lengannya. ‘Semua kemari’, katanya dengan suara menyeramkan.
Kami semua menghampiri dan dengan mata sendiri kami melihat sebutir Siu-kiong-seh di lengannya masih tetap merah seperti sedia kala. Itu buktinya bahwa dia masih seorang gadis suci dan bersih. ‘Aku mengakui diri sebagai Song-hujin untuk menjalankan tipuku’, katanya. ‘Aku ingin membangkitkan kedongkolan si bocah she Thio agar dia tidak dapat memusatkan seluruh semangatnya dan aku dapat menjatuhkan dia dalam Pibu. Bocah itu kepandaiannya tinggi dan sebenarnya aku takkan bisa menang. Demi kepentingan partai kita, namaku tidak ada artinya’. Itulah kata yang diucapkan Ciu Ciang-bun.“ Dalam memberi penjelasan Lie Beng Hee bicara keras-keras supaya dapat didengar semua orang.
Sesudah berdiam sejenak dia berkata pula, “Murid-murid partai kami, baik wanita mau pun pria kecuali yang menjadi pendeta sebenarnya tak dilarang untuk menikah, untuk berumah tangga. Tetapi semenjak jaman Kwee Su-couw, ilmu silat yang tertinggi hanya diturunkan kepada seorang gadis yang masih suci. Pada saat mengangkat guru lengan murid wanita dimasukkan Siu-kiong-seh oleh mendiang Suhu. Setahun sekali Suhu memeriksa lengan semua murid wanita yang telah dimasukkan Siu-kiong-seh. Tahun itu lengan Kie-suci juga diperiksa...!”
Dia tidak bisa meneruskan kata-katanya dan mukanya bersemu dadu. Dia sudah berusia lanjut, namun dia masih merasa jengah untuk menyebutkan hubungan antara Yo Siauw dan Kie Hu yang mengakibatkan terhapusnya Siu-kiong-seh.
Sebagaimana diketahui, In Lie Heng sudah menikah dengan Yo Put Hwie (puteri Yo Siauw dan Kie Siauw Hu) dan pernikahan itu sangat beruntung. Tetapi mendengar penuturan Lie Beng Hee, In Liok-hiap ingat nasib mendiang tunangannya itu dan tanpa terasa dia menengok ke arah Yo Siauw dengan air mata berlinang. Begitu menengok, seketika itu pula dia langsung melengos karena dia melihat air mata yang turun perlahan di kedua pipi mertuanya.
Siu-kiong-seh ialah semacam papir yang dimasukkan ke dalam lengan seorang gadis dan menjadi tanda dari kesucian gadis itu. Begitu menikah, titik Siu-kiong-seh yang berwarna merah terang lantas hilang.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA

































