KEMBALI MENANTANG KIM-KONG HOK-MO-COAN
Beberapa kali Cie Jiak menantang tanpa mendapat jawaban. Tidak ada yang tahu bahwa Bu Kie terluka karena menarik kembali tenaganya sendiri. Para hadirin hanya menganggap bahwa nyonya itu lebih tinggi ilmunya dan bahwa dia sudah mengampuni jiwa Bu Kie. Apa yang diketahui orang hanyalah bahwa Cie Jiak sudah merobohkan tiga tokoh kelas utama di rimba persilatan sehingga karenanya orang-orang yang tadinya masih berniat mengukur tenaga kini sudah mengurungkan niatnya. Sesudah Cie Jiak menunggu beberapa lama lagi, si pendeta tua dari Tat-mo-tong maju ke depan dan berkata seraya merangkap kedua tangannya.
“Song-hujin, Ciang-bun-jin Go-bi-pay memiliki ilmu silat nomor satu di kolong langit. Siapa yang tidak mufakat?” Pendeta itu mengajukan pertanyaan ini tiga kali beruntun tanpa mendapat tantangan. “Kalau begitu,” kata si pendeta akhirnya. “Sesuai dengan persetujuan yang sudah dicapai, Kim-mo Say-ong Cia Sun diserahkan kepada pertimbangan Song-hujin. Selain itu, siapa pun juga yang sekarang memegang To-liong-to harus menyerahkan kepada Song-hujin. Hal ini pun telah disetujui segenap orang gagah dan tidak dapat dibantah lagi.”
Pada saat si pendeta bicara, Bu Kie sedang mengerahkan Kiu-yang Cin-khie dan seluruh semangat pikirannya berada dalam ‘kekosongan’. Mendadak kupingnya menangkap kata-kata Kim-mo Say-ong Cia Sun,
“Hm, diserahkan kepada pertimbangan Song-hujin...” Bu Kie terkejut sehingga hampir saja dia muntah darah lagi.
Tio Beng yang terus waspada melihat perubahan pada paras muka pemuda itu dan dia mengerti sebab musababnya.
“Kita boleh merasa girang kalau Gie-hu diserahkan kepada pertimbangan Ciu-cici. Dia tidak tega membinasakan kau dan ini membuktikan bahwa dia masih mencintai kau. Dia masih mengharapkan pemulihan hubungan denganmu, maka dia pasti tidak akan mencelakai Gie-hu. Legakanlah hatimu,” Bu Kie menyetujui pendapat itu dan ketenangannya pulih.
Sementara itu matahari telah tenggelam di langit barat dan seluruh lapangan mulai diliputi kegelapan malam.
“Kim-mo Say-ong Cia Sun dipenjarakan di belakang gunung,” kata pula si pendeta Tat-mo-tong. “Karena sekarang sudah malam dan kalian telah lapar, maka besok tengah hari kita berkumpul kembali di sini dan lolap akan mengantarkan Song-hujin ke penjara untuk melepaskan Cia Sun. Besok kita akan menyaksikan ilmu silat Song-hujin yang tidak ada tandingannya di kolong langit.”
Bu Kie, Yo Siauw dan Hoan Yauw memandang Tio Beng. Di dalam hati mereka memuji tebakan si nona yang sangat tepat. Serombongan pendeta Siauw-lim itu ternyata sudah menetapkan siasat untuk mencelakakan jago-jago nomor satu. Biar pun berkepandaian tinggi Cie Jiak tentu tidak bisa melawan Touw-ok bertiga. Mungkin sekali nyonya muda itu akan membuang jiwa dalam pertempuran. Sementara itu Cie Jiak kembali ke gubuk Go-bi-pay dan menengok suaminya.
Setelah berdiam sejenak si pendeta lantas berkata lagi. “Para enghiong, dengarlah! Kalian datang berkunjung di kuil kami dan kalian adalah tamu kami yang terhormat. Jika di antara kalian terdapat ganjalan, dengan memandang muka kami yang tipis kami harap janganlah kalian coba membereskan ganjalan itu di tempat ini. Sesudah makan malam kalian boleh berjalan-jalan di segala tempat, kecuali tempat untuk menyimpan kitab-kitab yang terletak di belakang kuil kami.”
Sesudah itu semua orang bubar dari lapangan dan kembali ke tempat peristirahatan. Bu Kie didukung Hoan Youw dan rombongan Beng-kauw pulang ke pesanggrahan mereka. Bu Kie terluka berat, akan tetapi setelah menelan sembilan butir pil buatannya sendiri dan sesudah mengerahkan hawa Kiu-yang, sekitar tengah malam, sehabis memuntahkan darah hitam, lukanya sembuh total.
Yo Siauw, Hoan Yauw, Jie Lian Ciu, In Lie Heng dan lain-lain semuanya kaget bercampur girang. Mereka memuji Iweekang Bu Kie yang sangat luar biasa. Apa bila orang lain yang terluka begitu berat, walau pun diobati tabib yang paling pandai sedikitnya dia harus beristirahat selama satu dua bulan. Sehabis makan dua mangkok nasi dan mengaso lagi, Bu Kie bangkit dan berkata,
“Aku mau keluar sebentar.“
Dia seorang Kauwcu, maka meski pun dia tidak memberi-tahu maksudnya, tetapi tidak ada seorang pun yang berani bertanya.
“Kau baru sembuh, harus berhati-hati,” kata In Lie Heng.
Bu Kie mengangguk. Melihat paras muka Tio Beng yang mengunjuk kekuatiran besar dia tersenyum, seperti juga dia mau mengatakan, “Jangan kuatir!”
Dia keluar dari pesanggrahan dan menengadah. Rembulan memancarkan sinarnya yang gilang gemilang dan langit terang dengan bintang-bintang. Di luar kuil dia bertemu dengan seorang Tie-kek-ceng.
“Aku ingin bertemu dengan Ciang-bun-jin dari Go-bi-pay,” katanya. “Kumohon Taysu suka mengantar.”
Melihat orang yang bicara adalah Kauwcu Beng-kauw, pendeta itu membungkuk dan mengiyakan. Dia lalu berjalan ke arah barat dan setelah melalui satu li, dia menuding serentengan gubuk seraya berkata,
“Itulah tempat Go-bi-pay. Lelaki dan perempuan tidak boleh bertemu sembarangan, Siauw-ceng hanya bisa mengantar sampai di sini.“
Sesungguhnya apa yang dtakuti olehnya adalah pertempuran antara Bu Kie dan Cie Jiak. Kalau terjadi begitu, dia bisa terbawa-bawa.
“Jika kau memberi-tahu hal ini kepada orang lain maka banyak orang bakal kaget,” kata Bu Kie sambil tersenyum. “Bagaimana kalau aku menotok jalan darahmu supaya kau menunggu aku di sini?”
“Siauw-ceng akan tutup mulut,” kata si pendeta dengan tergesa-gesa. “Kauwcu tidak usah kuatir.“ Dia memutar tubuh lalu berjalan cepat-cepat.
Bu Kie mendekati gubuk-gubuk itu. Mendadak dua bayangan berkelebat dan dua pendeta wanita mencekal pedang terhunus sudah menghadang di depannya. “Siapa?!” bentak salah seorang.
“Beng-kauw Kauwcu Thio Bu Kie,“ jawabnya. “Aku minta bertemu dengan Song-hujin.”
Kedua nikouw itu terkesiap. “Thio... Thio-kauwcu tunggu... aku akan melaporkan dahulu,” kata yang satu dengan suara gemetar. Dia memutar tubuh dan setelah berjalan beberapa tindak dia lalu meniup suitan bambu.
Hari ini adalah hari kegemilangan Go-bi-pay. Di hadapan ribuan enghiong Ciang-bun-jin Go-bi-pay telah megalahkan tiga tokoh utama pada jaman ini. Inilah sebuah peristiwa besar yang pertama kali terjadi semenjak Go-bi-pay didirikan. Tetapi sesudah membunuh dua pemimpin Kay-pang, menjatuhkan dua pendekar Bu-tong dan melukai Kauwcu dari Beng-kauw, kini Go-bi-pay mempunyai banyak musuh. Lagi pula sesudah merebut gelar jago silat nomor satu di kolong langit, Cie Jiak sudah membuat iri hati entah berapa banyak orang.
Maka itulah malam ini Go-bi-pay membuat penjagaan yang amat keras. Hampir berbareng dengan tanda pendeta wanita itu dari empat penjuru muncul empat puluh orang lebih yang mencekal pedang terhunus. Bu Kie tenang-tenang saja. Dia berdiri tegak dengan menaruh kedua tangannya di belakang. Pendeta wanita yang tadi meniup suitan segera masuk ke dalam untuk memberi laporan. Beberapa saat kemudian dia keluar kembali dan berkata.
“Ciang-bun-jin kami mengatakan bahwa karena laki-laki dan perempuan tidak boleh bertemu begitu saja di tengah malam buta, maka Ciang-bun-jin kami mempersilakan Thio-kauwcu balik kembali.”
“Aku mengerti ilmu ketabiban dan aku hendak mencoba mengobati Song Ceng Su Siauw-hiap,” kata Bu Kie. “Aku tidak mengandung maksud lain.”
Pendeta itu kelihatannya terkejut. Dia segera masuk lagi dan sesudah agak lama barulah dia keluar lagi.
“Ciang-bun-jin mengundang Thio-kauwcu masuk,“ katanya.
Sesudah menepuk-nepuk pinggangnya untuk memperlihatkan bahwa dia tidak membawa senjata, Bu Kie segera mengikuti pendeta wanita itu masuk ke dalam. Setibanya di ruang tengah dia melihat Cie Jiak sedang duduk termenung sambil menopang dagu. Mendengar langkah kaki, nyonya itu tidak menengok atau berkisar. Sehabis menuang teh kemudian menaruh cangkir di depan Bu Kie, pendeta wanita yang mengantar Bu Kie lalu meninggalkan ruangan tersebut. Di bawah cahaya lilin, untuk beberapa saat Bu Kie memandang bekas tunangannya yang mengenakan baju warna hijau. Di antara kesunyian itu suasana diliputi dengan kenangan-kenangan masa lalu, dan seketika Bu Kie merasa sangat berduka.
“Bagaimana dengan luka Song-suko?” tanyanya. “Boleh aku menengoknya?”
Cie Jiak tetap tidak menengok. “Tulang kepalanya hancur,” jawabnya dengan suara dingin. “Lukanya sangat berat. Rasanya dia tidak bisa hidup lagi. Entahlah apa dia bisa melewati malam ini.”
“Kau tahu bahwa ilmu ketabibanku tidaklah terlalu jelek. Aku bersedia menolongnya sedapat mungkin.”
“Mengapa kau mau menolong dia?”
Bu Kie terkejut. Beberapa saat kemudian barulah dia menjawab. “Aku bersalah kepadamu dan aku merasa sangat malu. Apa lagi hari ini kau sudah menaruh belas kasihan padaku dan mengampuni jiwaku. Adalah sepantasnya jika aku pun berusaha menolong Song-suko.”
“Kaulah yang lebih dahulu mengampuni jiwaku. Apakah kau kira aku tidak tahu? Jika kau berhasil menolong Song-toako, balasan budi apa yang kau minta?”
“Satu jiwa ditukar dengan satu jiwa. Aku datang untuk minta kau menolong Gie-hu.”
Cie Jiak menuding ke dalam. “Dia berada di situ,” katanya.
Ketika Bu Kie menolak pintu kamar, kamar itu tampak gelap gulita. Dia segera mengambil ciak-tay, tempat menancap lilin. Cie Jiak tetap tidak bergerak. Bu Kie menyingkap kelambu. Dia melihat Song Ceng Su dalam keadaan pingsan, napasnya lemah, kedua matanya melotot dan paras mukanya amat menakutkan. Dia lalu memeriksa nadi. Ketukan nadinya kalut, sebentar cepat sebentar perlahan. Kulit tubuhnya dingin dan memang benar, jika tidak keburu ditolong maka dia sukar melewati malam ini.
Perlahan dia meraba batok kepala Ceng Su. Dia mendapat kenyataan bahwa pada bagian depan dan bagian belakang kepala ada empat potong tulang yang hancur. Pukulan Song-hong Koan-nyie yang dikirim Jie Lian Ciu disertai sepuluh bagian tenaga dalam. Apa bila Song Ceng Su sendiri tidak mempunyai Iweekang yang kuat maka sejak awal dia sudah binasa.
Bu Kie lalu menutup kelambu, menaruh ciak-tay di meja dan duduk di kursi bambu sambil mengasah otak untuk mencari jalan guna mengobatinya. Sebagai murid Tiap-kok Ie-sian, kepandaiannya dalam ilmu ketabiban sudah jarang ada tandingannya. Tapi luka Ceng Su terlampau berat sehingga dia sama sekah tidak punya pegangan. Sesudah duduk di situ sekitar semakanan nasi, dia berjalan keluar dan berkata,
“Song-hujin, aku tidak bisa mengatakan apakah aku akan berhasil dalam usaha mengobati Song-suko. Apakah kau suka mengijinkan untuk aku mencoba-coba?”
“Kalau kau tidak bisa menolong maka di dunia tidak ada orang lain yang akan bisa menolong.”
“Andai kata aku berhasil, wajah dan ilmu silatnya mungkin tidak dapat pulih seperti sedia kala.”
“Kau bukan dewa. Aku tahu kau akan berusaha sedapat mungkin untuk menolong jiwanya agar kau dapat menjadi kun-ma (suami seorang puteri raja muda) dengan tidak usah malu sendiri.“
Jantung Bu Kie berdetak kencang. Dia sama sekali tidak mempunyai maksud begitu, tapi merasa tidak enak untuk bertengkar dengan tunangannya. Maka dia kembali ke kamar Ceng-su, membuka selimut dan menotok delapan ‘hiat’ pada tubuh pemuda itu. Kemudian dengan hati-hati dia mengangkat tangan yang tulang-tulangnya hampir patah atau hancur dan akhirnya melabur tulang-tulang itu dengan semacam koyo hitam yang dikoreknya dari sebuah kotak emas.
Koyo itu Hek-giok Toan-siok-ko, koyo untuk mengobati tulang patah dari Siauw-lim-bun di See-hek. Sebagaimana diketahui, koyo itu diberikan Tio Beng untuk mengobati Jie Thay Giam dan In Lie Heng dan sekarang masih ada lebihnya. Sesudah itu dengan secepat mungkin Bu Kie segera mengerahkan Kiu-yang Cin-khie dan mengirim hawa yang hangat ke dalam otak Song Ceng Su.
Setelah tulangnya disambung dan kepalanya dilabur obat, paras muka Song Ceng Su tak berubah menjadi lebih jelek. Bu Kie amat girang dan dalam hatinya timbul harapan besar. Bu Kie sendiri baru saja terluka, maka sehabis mengerahkan Iweekang, napasnya lantas tersengal-sengal. Untuk beberapa lama ia berdiri di depan ranjang sambil menenteramkan jalan pernapasannya. Sesudah itu ia meninggalkan Song Ceng Su dan menaruh ciak-tay di atas meja. Dari sinar lilin ia melihat muka Cie Jiak yang pucat pasi. Di luar terdengar suara langkah kaki. Ia tahu suara tindakan murid Go-bi pay yang berjaga malam.
“Song-suko mungkin sekali bisa ditolong,” kata Bu Kie. “Legakanlah hatimu.”
“Kau tidak punya pegangan pasti dalam menolong dia, aku pun tak punya pegangan pasti dalam menolong Cia-tayhiap,” kata Cie Jiak.
Bu Kie tahu bahwa apa yang dikatakan Cie Jiak memang sebenarnya. Meski dibantu dua jago Go-bi-pay, Cie Jiak belum tentu berhasil. Bahkan mungkin dia membuang jiwa.
“Apa kau tahu di mana Gie-hu dipenjarakan dan bagaimana penjagaannya?” tanyanya.
“Tidak,” jawabnya. “Penjagaan apa yang diatur Siauw-lim-pay?”
Bu Kie segera menceritakan apa yang diketahuinya berikut segala pengalamannya dalam pertempuran melawan tiga pendeta Siauw-lim.
“Kalau kau tidak berhasil aku pun lebih tidak akan berhasil,” kata Cie Jiak sesudah Bu Kie selesai menutur.
“Cie Jiak,” kata Bu Kie dengan bernafsu, “Kalau kita berdua bekerja sama, kita pasti akan berhasil. Dengan tenaga Sun-yang (keras) aku melibat cambuk ketiga pendeta itu, sedang kau sendiri bisa menerjang dengan tenaga Im-jiu (lembek). Begitu kau menerobos masuk ke dalam Kim-kong Hok-mo-coan, kita lantas menyerang dari dalam dan dari luar dan kita pasti akan berhasil.”
Cie Jiak tertawa dingin. “Dulu kita pernah memadu janji untuk menjadi suami isteri,” kata si nyonya. “Kini jiwa suamiku berada dalam bahaya. Hari ini aku mengampuni jiwamu. Orang luar tentu akan bilang bahwa aku berbuat begitu karena aku sukar melupakan kecintaan. Tapi apa bila kau meminta bantuan dalam memukul Kim-kong Hok-mo-coan, orang-orang gagah di kolong langit tentu akan mencaci aku sebagai perempuan yang tak tahu malu.”
“Peduli apa omongan orang luar?” kata Bu Kie. “Kita hanya perlu menanyakan hati sendiri, apakah di antara kita ada yang berbuat sesuatu yang memalukan atau tidak.”
“Bagaimana kalau setelah bertanya kepada hati sendiri kemudian aku merasa bahwa aku telah berbuat sesuatu yang memalukan?” kata Cie Jiak.
Bu Kie tertegun. “Kau... kau...“ katanya.
“Thio-kauwcu,” potong Cie Jiak. “Bahwa kini kita berdua berada bersama di tengah malam buta, sudah sangat tidak pantas. Thio-kauwcu, kau pergilah!”
Bu Kie menyoja sambil membungkuk, “Song-hujin, semenjak kecil kau berlaku sangat baik kepadaku,” katanya. “Kumohon kali ini kau suka berbuat baik lagi kepadaku. Selama Thio Bu Kie masih hidup, dia takkan melupakan budimu yang sangat besar.”
Cie Jiak bungkam. Ia tidak menjawab ‘ya’ atau ‘tidak’. Ia pun tidak pernah menengok sehingga Bu Kie tidak bisa melihat paras mukanya. Baru saja Bu Kie mau memohon lagi, nyonya muda itu tiba-tiba berteriak,
“Ceng-hui Suci, antarkan tamu kita!”
Pintu terbuka dan Ceng-hui Suthay berdiri di ambang pintu dengan menggenggam pedang terhunus. Dengan mata berapi-api pendeta wanita itu mengawasi Bu Kie. Mendadak Bu Kie menekuk kedua kakinya kemudian berlutut. Ia menyampingkan segala perasaan malu sebab mati hidupnya sang ayah angkat tergantung atas kemauan Cie Jiak untuk memberi pertolongan. Sesudah memanggutkan kepala empat kali ia berkata,
“Song-hujin, aku mohon belas kasihanmu.”
Cie Jiak tetap duduk bagaikan patung.
“Thio Bu Kie, Ciang-bun-jin menyuruh kau pergi!” bentak Ceng-hui. “Jika kau masih rewel, kau benar-benar manusia rendah yang tidak mengenal malu!” Dia mencaci begitu karena menduga Bu Kie minta menikah dengan Cie Jiak sesudah Song Ceng Su mati.
Bu Kie menghela napas. Dia bangkit dan segera berjalan keluar. Setibanya di gubuk Beng-kauw, Tio Beng menyambutnya dengan berkata.
“Song Ceng Su dapat ditolong, bukan? Kau jadi orang mulia dengan menggunakan Hek-giok Toan-siok-ko dariku.”
“Beng-moay, kau sungguh pintar! Tetapi aku tidak bisa mengatakan, apa dia bisa ditolong atau tidak.”
“Hm... Kau coba menolong Song Ceng Su untuk ditukar dengan Cia-tayhiap. Bu Kie Koko, makin lama otakmu semakin tidak beres!”
“Mengapa begitu? Aku tidak mengerti maksudmu.”
“Dengan seluruh kepandaianmu kau berusaha menolong Song Ceng Su. Itu berarti bahwa sedikit pun kau tidak ingat lagi kecintaan Ciu-cici. Coba pikir, bagaimana dia tidak dongkol?”
Bu Kie terkejut. Dia tak dapat menjawab perkataan si nona. Jangan jangan Cie Jiak merasa senang kalau suaminya binasa. Tapi dia lalu teringat perkataan nyonya itu. ‘Aku tahu kau akan berusaha sedapat mungkin untuk menolong jiwanya agar kau dapat menjadi kun-ma dengan tidak usah malu sendiri’. Kata-kata itu menunjukkan bahwa di dalam hati Cie Jiak merasa mendongkol.
Melihat Bu Kie bungkam, Tio Beng berkata lagi. “Apa kau merasa menyesal sudah menolong jiwa Song Ceng Su?” Sehabis bertanya demikian, tanpa menunggu jawaban dia pun masuk ke dalam.
Bu Kie duduk di atas batu. Sambil memandang rembulan pikirannya melayang ke masa lalu. Ia ingat bahwa sebelum satu tahun sesudah meninggalkan Peng-hwee-to, kedua orang tuanya meninggal dunia. Semenjak itu dia hampir selalu diliputi kedukaan. Berulang kali ia mencoba berbuat kebaikan, tapi akibatnya jadi sebaliknya.
“Ah... kalau tahu akhirnya bakal begini lebih baik tinggal terus di Peng-hwee-to dan hidup tenteram bersama ayah ibu dan Gie-hu,” katanya dalam hati.
Pada keesokan paginya para enghiong kembali berkumpul di lapangan yang kemarin. Kali ini pendeta Tat-mo-tong yang berlaku sebagai juru bicara tanpa minta permisi dari Kong-tie.
“Para enghiong, dengarlah!” serunya. “Dalam pibu kemarin Song-hujin dari Go-bi-pay memperoleh kemenangan terakhir hingga sebagaimana yang sudah disetujui bersama, hari ini kami mengundangnya untuk pergi ke belakang gunung guna melepaskan Kim-mo Say-ong Cia Sun. Mari.“ Sehabis berkata begitu ia berjalan lebih dahulu sebagai penunjuk jalan, diikuti rombongan Go-bi-pay dan lain-lain.
Melihat Cie Jiak tidak mengenakan pakaian berkabung, Bu Kie pun tahu bahwa jiwa Song Ceng Su dapat dikatakan sudah tertolong.
Setibanya di puncak bukit, si pendeta Tat-mo-tong segera berkata. “Ini penjara di bawah tanah di antara ketiga pohon siong. Penjaga penjara ketiga tetua dari partai kami. Sesudah mengalahkan ketiga tetua kami, Song-hujin boleh mengambil Cia Sun.”
Melihat paras muka Bu Kie yang kebingungan, Yo Siauw berbisik, “Kauwcu tidak usah kuatir, Wie Hok-ong dan Swee Put Tek sudah mempersiapkan Ngo-heng-kie di kaki bukit. Kalau Go-bi-pay tidak mau menyerahkan Cia Sun, kita memakai kekerasan.”
Alis Bu Kie berkerut. “Tindakan itu melanggar persetujuan kita akan kehilangan kepercayaan,” katanya.
“Untuk menolong Cia Say-ong, kita tidak bisa terlalu memperhatikan hal yang demikian,” kata Yo Siauw.
“Musuh Cia-tayhiap terlampau banyak,” sela Tio Beng. “Kita harus menjaga juga senjata gelap.”
“Benar,” kata Bu Kie. “Hoan-yusu, Tiat-koan Totiang, Ciu-heng, Pheng Taysu, aku minta kalian berdiri di empat sudut dan menjaga serangan gelap.”
“Bu Kie Koko,” bisik nona Tio. “Aku ingin mengajukan sebuah usul. Kalau ada orang yang mempergunakan senjata rahasia, kita menggunakan kesempatan itu untuk merampas Cia-tayhiap. Dengan demikian tidak seorang pun bisa mengatakan bahwa kita melanggar janji. Jika tak ada yang membokong, sebaiknya Yo-cosu memerintahkan salah seorang melepaskan senjata rahasia agar di dalam kekalutan kita bisa turun tangan.”
Yo Siauw tertawa. “Bagus! Siasat itu benar-benar lihay,“ katanya. Ia segera berlalu untuk mengatur persiapaan.
Bu Kie merasa siasat itu bukan cara seorang ksatria. Tetapi untuk menolong jiwa ayah angkatnya, ia tidak bisa terlampau menghiraukan soal itu lagi. Diam-diam ia merasa sangat berterima kasih terhadap Tio Beng.
“Beng-moay dan Yo-cosu adalah orang-orang pandai pada jaman ini,” katanya dalam hati. “Sungguh beruntung aku bisa mendapat bantuan mereka.”
Sementara itu Ciu Cie Jiak telah maju menghampiri ketiga pohon siong kemudian berkata sambil membungkuk.
“Sam-wi adaiah tetua Siauw-lim-pay yang memiliki kepandaian amat tinggi! Jika sendirian aku melawan Sam-wi, aku bukan saja berlaku tidak adil, tapi juga tidak menghormati kalian.”
“Song-hujin boleh mengambil pembantu,” jawab si pendeta Tat-mo-tong.
“Karena mengalahnya para enghiong, secara kebetulan aku dapat merebut kemenangan,” kata Cie Jiak. “Dalam mendapat kemenangan itu aku mengandalkan ilmu silat mendiang guruku, Biat-coat Suthay. Jika tiga lawan tiga biar pun menang, kemenangan itu belumlah cukup untuk memperlihatkan hasil yang jerih payah mendiang guruku dalam mengajarku. Kalau satu lawan tiga, aku berlaku kurang hormat terhadap tuan rumah. Begini saja. Aku akan minta bantuan seorang bocah yang kemarin jatuh di tanganku dan yang lukanya sampai sekarang belum sembuh betul. Dahulu bocah itu pernah muntah darah karena dipukul Siansu (mendiang guruku). Kejadian ini diketahui semua orang. Dengan meminta bantuannya aku tidak merugikan nama baik Siansu.”
Mendengar itu Bu Kie girang sekali. “Betul saja dia meluluskan permohonanku,” katanya dalam hati.
Sementara itu Cie Jiak sudah berseru, “Thio Bu Kie, kau keluarlah!”
Kecuali Yo Siauw serta beberapa pemimpin lainnya, para anggota Beng-kauw tidak tahu mau diapakan Kauwcu mereka. Mereka merasa sangat marah, tetapi di luar dugaan sang Kauwcu kelihatan girang dan menghampiri dengan paras muka berseri-seri. Sambil menyoja Bu Kie segera berkata.
“Terima kasih atas belas kasihan Song-hujin yang kemarin sudah mengampuni jiwaku.“ Untuk menebus dosa masa lalu dan demi menolong ayah angkatnya, dia sudah mengambil keputusan untuk menelan segala hinaan.
“Karena lukamu belum pulih, aku pun tidak sungguh-sungguh mengharap bantuanmu,” kata Cie Jiak.
“Aku hanya menanti perintah,” jawab Bu Kie.
Dengan sekali menggerakkan tangan kanannya Cie Jiak membuat belasan lingkaran kecil dan besar dengan cambuknya. Hampir berbareng dia membalik tangan kirinya dan tahu-tahu dia sudah memegang sebilah golok pendek yang bersinar hijau. Kemarin para orang gagah telah menyaksikan kelihayan cambuk. Mereka tidak pernah menduga bahwa jago betina ini juga akan mempergunakan senjata lainnya. Kedua senjata itu sangat berlainan sifatnya, yang satu panjang yang lain pendek, yang satu lemas yang lain keras.
Bahwa Cie Jiak dapat menggunakan kedua senjata itu dengan berbareng merupakan bukti bahwa dia betul-betul mempunyai kepandaian tinggi. Semangat para enghiong terbangun dan mereka akan menyaksikan sebuah pertempuran yang luar biasa.
Bu Kie segera merogoh saku dan mengeluarkan dua batang Seng-hwee-leng. Dia maju ke gelanggang. Tiba-tiba tindakannya limbung dan ia sengaja batuk-batuk seperti orang yang masih menderita luka berat. Ia bertekad untuk menyerahkan semua jasa kepada Cie Jiak. Perlahan Touw-ok bertiga mengangkat tambang mereka, siap sedia menyambut serangan lawan. Cie Jiak mendekati Bu Kie lantas berbisik,
“Kau pernah bersumpah membalas sakit hati Piauw-moaymu. Kalau si pembunuh ternyata ayah angkatmu, apakah kau masih mau menolong dia?”
Bu Kie terkejut, “Kadang-kadang Gie-hu terserang penyakit kalap dan dia bisa melakukan perbuatan yang sebenarnya tidak diinginkan olehnya,” jawabnya.
Pada saat itu pula di lereng bukit sekonyong-konyong terdengar suara khim dan seruling. Bu Kie girang sekali. Di lain saat dengan diiringi tiga suara tali khim empat nona yang mengenakan baju putih dan masing-masing memegang satu khim muncul di puncak bukit. Beberapa detik kemudian dengan iringan suara seruling, empat gadis berbaju hitam yang masing-masing membawa sebatang seruling, memperlihatkan diri. Delapan wanita muda itu lantas berdiri di delapan penjuru dan mulai memperdengarkan sebuah lagu yang sangat merdu.
Di antara iringan lagu itu seorang gadis cantik yang mengenakan baju warna kuning muda perlahan-lahan mendaki puncak bukit. Benar saja, wanita itu bukan lain dari pada si nona baju kuning yang pernah ditemui Bu Kie di antara orang-orang Kay-pang di Louw-liong. Begitu melihat mereka, Pangcu Kay-pang Su Hong Sek lantas memburu, menubruk dan memeluk si baju kuning,
“Yo-cici!” teriaknya. “Tetua dan Liong-tauw kami dibinasakan orang.” Ia menuding Cie Jiak dan berteriak pula. “Dari Go-bi-pay dan Siauw-lim-pay yang turun tangan jahat.”
Si baju kuning manggut-manggut. “Aku sudah tahu,” katanya. “Hm... Kiu-im Pek-kut-jiauw (cengkeraman tulang putih dari kitab Kiu-im Cin-keng) belum tentu merupakan ilmu yang paling tinggi.“
Munculnya si baju kuning menarik perhatian semua orang dan ucapan itu didengar semua kuping. Para enghiong yang berusia lanjut dan berpengalaman amat terkejut, di dalam hati mereka bertanya-tanya, “Kiu-im Pek-kut-jiauw? Apakah Kiu-im Pek-kut-jiauw yang pada seabad yang lalu dikenal sebagai ilmu silat sangat jahat dan hilang dari rimba persilatan?”
Sementara itu dengan bergandengan tangan si baju kuning dan Su Hong Sek menuju ke rombongan Kay-pang. Nona aneh itu kemudian duduk di sebuah batu besar.
“Siapakah wanita itu?” tanya Cie Jiak.
“Aku baru pernah bertemu sekali,” jawab Bu Kie. “Aku tahu nama dan asal usulnya.”
“Dia she Yo?”
“Kau tidak salah.”
Cie Jiak mengeluarkan suara di hidung. “Mulailah!” katanya seraya mengedut cambuknya yang lantas menyambar Touw-ok dan dengan menuruti gerakan itu tubuhnya melesat ke atas, kemudian hinggap di antara tiga pohon siong.
Serangan dan lompatan yang sangat cepat dan indah itu mengagumkan semua orang. Di lain saat cambuknya sudah beradu dengan tambang Touw-lan. Touw-ok dan Touw-ciat buru-buru mengangkat senjata mereka lalu menyerang dari kanan kiri. Bu Kie segera melompat untuk menolong, tapi begitu kakinya hinggap di tanah, tubuhnya terhuyung-huyung. Banyak orang mengeluarkan seruan tertahan. Mereka menduga pemuda itu sudah tidak punya tenaga untuk berkelahi.
Mereka tidak tahu bahwa Bu Kie sedang menggunakan ilmu Seng-hwee-leng yang sangat aneh. Selagi terhuyung Seng-hwee-leng menghantam dada Touw-lan yang ‘terikat’ dengan cambuk Cie Jiak hingga sukar membela diri. Melihat bahaya, Touw-ok dan Touw-ciat lantas merubah arah serangannya terhadap Cie Jiak dan kedua tambang menyambar Bu Kie seperti dua ekor naga. Sekali lagi semua orang terkesiap.
Pada detik yang sangat berbahaya itu Bu Kie segera menggulingkan diri ke arah Touw-ok yang menyambutnya dengan totokan jari ke arah pundak. Dengan Kian-kun Tay-lo-ie, Bu Kie memunahkan totokan dan hampir berbarengan tubuhnya bergulingan ke jurusan Touw-ciat.
Demikianlah Bu Kie terus menggunakan ilmu Seng-hwee-leng yang aneh. Dia bergulingan ke sana sini. Dia terlihat bingung, repot dan terdesak, tapi dia selalu dapat meloloskan diri dari bencana pada detik terakhir serangan berbahaya.
Sesudah lewat puluhan jurus, orang gagah yang berpengalaman mulai merasa bahwa Bu Kie sedang menggunakan ilmu silat yang luar biasa, sebangsa ilmu Cui-pat-sian (Delapan dewa mabuk). Tapi ilmu itu jauh lebih sukar dan mengandung perubahan yang lebih sulit dari pada segala ilmu yang dikenal di wilayah Tiong-goan.
Andai kata silat Persia kuno itu digunakan melawan seorang dari ketiga tetua Siauw-lim, maka dengan mudah Bu Kie bisa memperoleh kemenangan. Pada hakekatnya kekuatan ketiga ketua itu terletak pada kerja sama mereka yang sangat erat. Setelah bersama mempelajari Kim-kong Hok-mo-coan selama puluhan tahun, pikiran mereka terjalin menjadi satu. Bila yang satu menghadapi bahaya maka dua orang lainnya segera membantu secara wajar. Maka itulah sesudah bertempur kira-kira dua puluh jurus, Bu Kie belum juga bisa mendapat kemajuan.
Pada dasarnya sebagian kecil silat Seng-hwee-leng termasuk ilmu sesat, sedangkan Kim-kong Hok-mo-coan berdasarkan ilmu Sang Buddha untuk menaklukkan segala yang sesat. Dengan demikian sesudah bertempur beberapa lama, sifat iblis dari ilmu Seng-hwee-leng mulai mempengaruhi Bu Kie.
Di bawah tekanan ilmu yang bersih suci, pikiran Bu Kie mulai kalut. Tanpa diketahui para hadirin dia menghadapi bencana. Andai kata tidak terpukul, dalam seratus jurus lagi dia bakal roboh sendiri. Bahwa Beng-kauw sering dinamakan orang sebagai ‘Agama Iblis’ (Mo-kauw), bukan sama sekali tidak beralasan, sedang ilmu silat Seng-hwee-leng adalah gubahan ‘Si orang tua dari pegunungan’, si raja iblis yang bisa membunuh manusia tanpa berkedip.
Pada waktu meyakinkan ilmu itu Bu Kie tidak melihat dan tidak merasakan apa pun. Tetapi sekarang dalam menghadapi musuh berat yang mempergunakan ilmu lurus bersih, bagian yang berbahaya dari ilmu tersebut mulai menonjolkan diri. Tiba-tiba dia tertawa berkakakan yang bernada ‘iblis’ dan membangunkan bulu roma. Begitu suara tertawanya lenyap, dari dalam tanah di antara ketiga pohon siong mendadak terdengar suara orang menghafalkan kitab Buddha.
Bu Kie kaget sekali. Ia mengenal bahwa yang menghafalkan kitab ayah angkatnya. Ia mengerti bahwa sedari dipenjarakan, setiap hari orang tua itu mendengarkan hafalan kitab suci yang dilakukan tiga pendeta Siauw-lim. Sang ayah angkat pernah menolak melarikan diri dengan alasan dia punya dosa yang terlampau besar.
“Apakah setelah mendengarkan pembacaan kitab suci selama beberapa bulan, Gie-hu jadi sadar?” tanya Bu Kie dalam hati.
Sementara itu tekanan tambang ketiga pendeta mulai berkurang. Cia Sun menghafal terus. Bu Kie belum menyelami inti sari dari pelajaran Buddha. Tetapi kata-kata yang diucapkan Cia Sun bisa dimengerti dan kira-kira berarti begini: ‘Segala sesuatu di dalam dunia merupakan kekosongan. Aku sama sekali tidak memikirkan badanku atau badan orang lain. Kalau ada orang membunuh aku atau menyembelih aku, aku pun tak merasa gusar, karena aku tidak menganggap tubuhku sebagai milik sendiri’.
“Apakah sesudah berdiam di sini beberapa bulan Gie-hu benar-benar sudah mencapai tingkat yang bebas dari rasa kaget, rasa takut dan kuatir?” tanya Bu Kie dalam hati. “Apakah dia memang benar-benar ingin menasihati agar tidak memikirkan lagi keselamatannya dan tidak usah menolong lagi jiwanya?”
Ilmu Kim-kong Hok-mo-coan bersumber dan digubah dari kitab suci Kim-kong-keng. Pada tingkat yang tertinggi kitab itu tidak membedakan lagi antara kau dengan aku, antara hidup dengan mati, segalanya yang dialami di dunia ini dipandang sebagai suatu khayal atau kekosongan.
Biar pun ilmu batinnya tinggi tetapi pada waktu berhadapan dengan lawan, ketiga pendeta Siauw-lim masih memiliki keinginan untuk menindih lawan dan memperoleh kemenangan. Mereka bisa melupakan soal mati atau hidup, tetapi belum bisa membedakan perbedaan antara kau dan aku. Itulah sebabnya mengapa mereka belum mencapai puncak tertinggi dari Kim-kong Hok-mo-coan dan kekuatan Lingkaran (Coan) itu belum mempunyai tenaga sepenuhnya. Selama beberapa bulan ini yang didengar Cia Sun bukan lain dari hafalan Kim-kong-keng semata.
Sementara itu sambil bertempur Bu Kie memikirkan hafalan ayah angkatnya dan sedikit banyak dia dapat menangkap arti Kim-kong-keng. Karena masuknya pengaruh pelajaran Buddha, maka perlahan-lahan pengaruh iblis di alam pikirannya berkurang. Dengan berkurangnya pengaruh iblis itu kelancaran silat Seng-hwee-leng turut berkurang. Tiba-tiba pundaknya tersabet tambang. Tanpa terasa Bu Kie mengerahkan Kian-kun Tay-lo-ie Sin-kang dan Kiu-yang Sin-kang untuk memunahkan pukulan itu.
"Hm...! Sesudah aku tidak berhasil dengan ilmu Seng-hwee-leng, mengapa aku tidak mencoba Kian-kun dan Kiu-yang?" pikirnya. Dia melirik dan mendapat kenyataan bahwa Cie Jiak memperlihatkan gejala kalah.
"Sudahlah!" Bu Kie mengambil keputusan. “Jika sekarang aku tidak mengeluarkan semua tenaga, begitu Cie Jiak kalah, Gie-hu tidak akan dapat ditolong.”
Berpikir begitu, sambil membentak keras ia segera menyerang dengan Kian-kun Tay-lo-ie. Biar pun Cia Sun masih terus menghafal Kim-kong-keng, tapi ia tidak bisa memperhatikan lagi sebab seluruh semangatnya ditumplekkan pada Kian-kun Tay-lo-ie. Dengan gerakan kilat ia menyambut dan menerima pukulan-pukulan ketiga lawan agar Cie Jiak mendapat kesempatan menerobos masuk ke dalam lingkaran. Karena adanya serangan hebat yang disertai Iweekang dahsyat, ketiga ketua Siauw-lim juga lantas menambah Iweekang untuk melawannya.
Semua orang melihat perubahan itu. Makin lama pertempuran makin hebat. Perlahan-lahan di atas kepala ketiga pendeta muncul uap putih, tanda pengerahan tenaga dalam sepenuhnya. Di atas kepala Bu Kie juga nampak uap air, tetapi uap itu halus dan tidak buyar seolah selembar benang. Inilah bukti bahwa Iweekang Bu Kie lebih tinggi dari pada tenaga dalam ketiga lawannya.
Para enghiong menyaksikan kejadian itu dengan perasaan kagum. Kemarin Bu Kie terluka berat. Siapa nyana dalam waktu semalaman ia sudah sembuh total! Iweekang pemuda itu sungguh-sungguh telah mencapai tingkat yang tak dapat diukur lagi. Sekarang semua orang tahu bahwa tadi ia hanya berlagak payah.
Selama pertempuran itu Cie Jiak belum pernah benar-benar mengadu tenaga. Dia hanya berkelahi dari luar lingkaran tambang. Dia baru menerjang bila terdapat lowongan dan dia buru-buru melompat mundur kalau mendapat serangan balasan. Cara berkelahi itu segera memperlihatkan perbedaan antara kepandaiannya dan kepandaian Bu Kie. Para hadirin lantas saling mengutarakan pendapat.
“Kata orang ilmu silat kauwcu dari Beng-kauw tiada tandingannya di dunia ini! Sekarang aku mengakui bahwa nama besar itu bukan nama kosong belaka!"
“Kemarin dia sengaja mengalah terhadap Song-hujin. Inilah yang dinamakan laki-laki sejati sungkan berkelahi melawan wanita."
“Bukan begitu! Dahulu Song-hujin adalah tunangan Thio-kauwcu! Apa kau tidak tahu? Ini yang dinamakan golok tua masih ingat kecintaan lama.”
Dan banyak lagi pendapat lainnya. Setelah bertempur setengah jam lagi, paras muka ketiga pendeta Siauw-lim berubah merah dan jubah pertapaan mereka melembung seperti ditiup angin dari sebelah dalam. Di lain pihak pakaian Bu Kie masih tetap seperti biasa.
Pada waktu itu Kiu-yang Cin-khie di tubuh Bu Kie sudah jauh lebih kuat dari pada beberapa waktu berselang. Kekuatan itu ditambah lagi dengan latihan pernapasan Thay-kek-kun yang diturunkan Thio Sam Hong. Dengan demikian Bu Kie memiliki keuletan yang luar biasa. Ia masih bisa bertanding satu atau dua jam lagi tanpa merasa lelah. Inilah keuntungan yang hendak dimanfaatkan olehnya. Ia mengambil keputusan bertempur dalam jangka panjang sampai ketiga lawannya kecapaian.
Ketiga pendeta itu juga tahu kenyataan tersebut. Mereka maklum bahwa perkelahian yang lama akan merugikan pihaknya. Karena itu beberapa saat kemudian, seraya membentak keras mereka lalu memperhebat serangan! Ketiga tambang berkelebat seperti kilat dalam macam-macam serangan dan tenaga.
Bu Kie kaget sekali. Ia mengempos semangat dan menyambut setiap serangan. “Biar pun ilmu silat Cie Jiak luar biasa, tetapi dia belum berlatih cukup sehingga kerja sama dengan dia tidak dapat menyamai kerja sama dengan Gwa-kong dan Yo-cosu,” pikirnya. “Dengan sendirian aku tidak akan bisa mempertahankan diri. Rasanya aku bakal kalah lagi dan hari ini tidak akan bisa menolong Gie-hu. Hai...! Bagaimana baiknya?”
Karena pikirannya bingung tenaganya berkurang. Ketiga pendeta tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Mereka menyerang dengan hebatnya. Tiba-tiba saja satu ingatan berkelebat di otak Bu Kie. Ia ingat cinta ayah angkatnya di Peng-hwee-to. Ia ingat bahwa demi kepentingan dirinya orang tua itu rela menceburkan diri ke dunia Kangouw dan menghadapi berbagai bahaya. Pada detik itu juga ia sudah mengambil keputusan apa bila sang Gie-hu tidak dapat ditolong, ia sendiri sungkan hidup sendirian di dunia ini.
Selagi otaknya bekerja tahu-tahu tambang Touw-lan menyambar punggungnya. Mendadak ia mengeluarkan pukulan aneh. Ia mengangkat tangan kiri, membiarkan tambang memukul lengan dan memunahkan tenaga pukulannya itu dengan Kian-kun Tay-lo-ie, berbareng ia menangkis tambang Touw-ok dan Touw-ciat dengan Seng-hwee-leng yang digenggam dalam tangan kanannya. Bagaikan seekor burung tubuhnya tiba-tiba melesat ke atas dan dengan sekali memutar di tengah udara ia sudah melibat tambang Touw-lan di pohon siong yang didudukinya.
Itulah perbuatan yang tak pernah diduga orang. Setelah melibat, Bu Kie menarik tambang itu kuat-kuat. Tak kepalang kagetnya Touw-lan yang lantas menarik tambangnya dengan sekuat tenaga.
Sebagaimana diketahui, batang pohon siong itu telah dilubangi oleh ketiga pendeta untuk digunakan sebagai tempat duduk. Karena itu meski pun besar tetapi kekuatannya kurang. Maka begitu ditarik oleh Bu-Kie dan Touw-lan segera terdengar satu suara.
“Krekek!”
Batang itu patah dan pohonnya roboh. Bu Kie menggunakan kesempatan itu sebaik-baiknya. Selagi Touw-ok dan Touw-ciat tertegun, kedua tangannya mendorong pohon yang diduduki Touw-ok dengan seluruh tenaganya. Pohon itu kalah kuat dan lantas patah. Diiringi suara bergemuruh kedua pohon itu jatuh menimpa pohon yang diduduki Touw-ciat, dan menendang pohon ketiga itu yang sesudah bergoyang-goyang lantas turut roboh. Keadaan berubah jadi gempar. Suara robohnya pohon bercampur dengan teriakan-teriakan para hadirin.
Secepat kilat Bu Kie menimpuk Touw-ok dan Touw-ciat dengan kedua Seng-hwee-leng. Meski berkepandaian tinggi kedua pendeta itu jadi bingung karena harus menyelamatkan diri dari tindihan batang pohon sekaligus dari sambaran Seng-hwee-leng. Di lain detik Bu Kie menggulingkan diri lantas masuk ke dalam lingkaran Kim-kong Hok-mo-coan dengan melewati kolong batang pohon yang sedang roboh. Dengan sekali mendorong, dia sudah menggeser batu yang menutup lubang penjara.
“Gie-hu, lekas keluar!” teriaknya. Karena kuatir ayah angkatnya menolak, tanpa menanti jawaban tangannya mencengkeram baju orang tua itu lalu mengangkatnya ke atas.
Pada detik itu pula tambang Touw-ok dan Touw-ciat menyambar. Buru-buru Bu Kie melepaskan ayah angkatnya, kemudian mengambil dua Seng-hwee-leng dari sakunya dan menimpuk. Begitu menimpuk kedua tangannya langsung menangkap ujung tambang yang menyambar.
Baru saja kedua pendeta itu hendak mengerahkan Iweekang untuk membetot tambang mereka, kedua Seng-hwee-leng sudah hampir menyentuh muka. Karena terpaksa mereka melepaskan tambang dan melompat mundur menyelamatkan jiwa dari timpukan itu. Hampir berbareng dengan mundurnya Touw-ok dan Touw-ciat, Touw-lan telah menerjang dengan tangan kirinya menghantam dada Bu Kie.
“Cie Jiak, tahan dia!” teriak Bu Kie sambil melompat ke samping dengan mendukung Cia Sun.
Kalau ia bisa membawa keluar ayah angkatnya dari kalangan ketiga pohon siong, ia sudah berhasil dalam usahanya. Cie Jiak kelihatan sangsi.
“Anakku Bu Kie,” kata Cia Sun. “Dosaku sangat besar dan dengan mempelajari kitab suci di tempat ini, hatiku merasa tenang. Apa gunanya kau menolong aku?” Sehabis berkata ia coba memberontak.
Bu Kie tahu ayah angkatnya berkepandaian tinggi dan kalau orang tua itu tidak mau pergi ia sukar membantah. Maka itu ia lantas berkata.
“Gie-hu, anak mohon maaf!” Hampir berbareng jari tangannya menotok beberapa ‘hiat’ sehingga Kim-mo Say-ong tidak bisa bergerak lagi.
Karena kelambatan sedetik dua detik, ketiga pendeta sudah keburu datang dan menyerang.
“Lepaskan dia!” bentak Touw-ok.
Pukulan ketiga pendeta itu hebat bukan main. Sebelum pukulannya sampai tekanan angin sudah menindih dari empat penjuru. Bu Kie terpaksa melepaskan lagi ayah angkatnya dan menangkis pukulan itu.
“Cie Jiak, lekas bawa Gie-hu!” serunya.
Dengan menggerakkan kedua tangannya kian kemari, Bu Kie menahan pukulan ketiga lawannya. Itulah ilmu Kian-kun Tay-lo-ie yang paling tinggi. Iweekang pemuda ini bergerak kian kemari dengan berbareng menahan dan menyedot tenaga pukulan ketiga pendeta. Dalam menggunakan ilmu itu Bu Kie harus mengerahkan seluruh tenaga dalamnya karena adu tenaga ini jauh lebih berat dari pada adu Iweekang satu lawan satu. Karena tangkisan itu maka ketiga pendeta jadi ‘terikat’ sehingga tidak bisa memperhatikan Cia Sun lagi.
Bu Kie tahu bahwa ia tidak bisa mempertahankan diri dalam waktu lama. Tapi ia pun tidak memerlukan waktu yang lama. Begitu Cie Jiak membawa ayah angkatnya ke tempat yang aman maka ia bisa segera berusaha meloloskan diri. Sekarang Cie Jiak tidak sangsi lagi. Ia melompat mendekati Cia Sun.
“Fui... perempuan hina...!“ bentak Kim-mo Say-ong. Ia tak bisa melanjutkan kata-katanya karena ‘hiat’ dagunya sudah keburu ditotok.
“Manusia she Cia!” Cie Jiak balas membentak. “Aku mau menolong, mengapa kau malah mencaci. Dosamu amat besar dan sekarang jiwamu berada di tanganku. Apa kau kira aku tak bisa mengambil jiwamu?” Setelah berkata begitu ia mengangkat tangan kanannya, mementang lima jari dan bergerak untuk menepuk batok kepala Cia Sun.
“Cie Jiak! Jangan...!” teriak Bu Kie dengan suara parau.
Ketiga pendeta Siauw-lim sedikit pun tidak punya niat mencelakakan Bu Kie. Tetapi pertandingan itu adalah adu tenaga mati atau hidup. Kedua belah pihak mempergunakan koat (teori) ‘menempel’, maka sebelum ada yang kalah, masing-masing sukar melepaskan ‘tempelan’ itu. Begitu Bu Kie berteriak dengan hati mencelos, hawa tulennya berkurang dan ia segera merasakan tindihan tenaga lawan yang menyerang bagai gelombang. Cepat-cepat ia mengempos semangat mempertahankan diri. Tetapi Cie Jiak tidak turun tangan. Sambil melirik Bu Kie ia tertawa dingin.
“Thio Bu Kie,” katanya. “Hari itu ketika di kota Hauw-cu kau meninggalkan aku dari upacara pernikahan. Apakah kau pernah berpikir bahwa kau akan menemui kejadian hari ini?”
Bu Kie bingung dan karena kebingungan itu ia menghadapi bencana. Keringat mengucur dari tubuhnya.
Melihat keadaan Bu Kie, Yo Siauw, Hoan Yauw, Wie It Siauw, Swee Put Tek, Jie Lian Ciu, In Lie Hong dan yang lain-lain kaget tak kepalang. Mereka adalah orang yang memiliki ‘gie-khie’ (rasa persahabatan) sangat tinggi. Untuk menolong sang Kauwcu mereka rela mengorbankan jiwa. Tetapi mereka tahu bahwa lweekang mereka kalah jauh dari orang yang sedang bertanding itu. Kalau mereka menyerang, dengan mudah ketiga pendeta itu bisa mengalihkan tenaga serangan ke tubuh Bu Kie sehingga sebaliknya dari membantu mereka malah berbalik menekan si pemuda.
Tong Bun Liang, Cong Wie Hiap dan Siang Keng Cie dari Khong-tong Ngo-lo yang pernah ditolong Bu Kie juga turut bingung. Di antara kesunyian yang penuh ketegangan sekonyong-konyong terdengarlah seruan Kong-tie,
“Sam-wi Susiok, Thio-kauwcu pernah melepas budi kepada partai kita. Melukai dia adalah put-gie (melupakan persahabatan). Mohon Sam-wi Susiok menaruh belas kasihan.”
Mendengar seruan itu orang Beng-kauw merasa amat berterima kasih. Pada hakekatnya seruan Kong-tie tidak ada gunanya dan tidak perlu karena kedua belah pihak tidak dapat menangkapnya dan karena kedua belah pihak memang berniat saling mencelakai. Dalam adu tenaga itu mereka seolah menunggang harimau dan sukar untuk turun lagi.
Tiba-tiba Wie It Siauw melompat dan tahu-tahu dia sudah berhadapan dengan Ciu Cie Jiak. Tapi dalam jarak setombak dia berdiri terpaku. Jari-jari tangan Cie Jiak sudah hampir menyentuh batok kepala Cia Sun sehingga jika dia bergerak, tentu jari tangan itu akan menoblos batok kepala. Dan apa bila Cia Sun binasa, Bu Kie juga akan menemui ajalnya.
Pada detik itu seluruh lapangan sunyi senyap bagai di kuburan dan semua manusia seperti patung batu. Tiba-tiba kesunyian dipecahkan suara tawa Ciu Tan yang sambil tertawa berjalan mendekati gelanggang pertandingan. Yo Siauw terkejut.
“Ciu-heng, jangan sembrono!” teriaknya.
Tapi si sembrono tidak meladeni dan berjalan terus. “Sam-wi Taysu,” katanya seraya tertawa ha-ha hi-hi sesudah berhadapan dengan ketiga pendeta itu. “Apa kau pernah makan daging anjing?” Ia merogoh saku, lalu mengeluarkan sepotong lutut anjing yang memang sudah dimasak dan menggoyang-goyangkan di depan muka Touw-ok.
Ciu Tian sangat doyan arak dan daging. Selama tinggal beberapa lama di Siauw-lim dia terpaksa makan makanan cia-cay (tidak berjiwa). Kemarin diam-diam dia menangkap seekor anjing lalu memasak dagingnya. Sepotong lutut anjing yang tidak habis masih disimpan dalam sakunya. Karena terpaksa dia sekarang menggunakan lutut anjing untuk memecahkan pemusatan semangat tiga pendeta itu. Kalau pendeta itu bergusar, Bu Kie akan mendapat kemenangan.
Melihat begitu Yo Siauw dan kawannya jadi girang sekali. Tapi ketiga tetua Siauw-lim itu tidak menggubris. Ciu Tian segera memasukkan lutut anjing itu ke mulutnya.
“Aduh, wangi benar!” katanya. “Sam-wi Toa-hwesio, apa kalian tidak mau turut mencoba?” Dia mencabut lutut itu dari mulutnya lalu menyodorkannya ke mulut Touw-ok.
Beberapa orang lantas berteriak, “Hei! Gila! Mundur kau...!”
Tetapi baru saja lutut anjing menyentuh bibir Touw-ok, lengan Ciu Tian langsung gemetar, separuh tubuhnya kesemutan dan makanan itu jatuh ke tanah. Kiranya seluruh badan Touw-ok diliputi lweekang yang bisa memukul balik setiap tenaga yang datang dari luar.
“Aduh! Aduh! Sungguh hebat!” teriak Ciu Tian, “Kalau kau tidak mau makan daging anjing ya sudah! Perlu apa kau melontarkannya hingga kotor begini! Ganti! Hayo aku minta ganti!” Dia berteriak sambil mementang-mentang tangan.
Tapi ilmu kepandaian ketiga pendeta itu benar-benar tinggi. Mereka tetap tidak dapat diganggu. Mendadak si sembrono menghunus golok pendek.
“Hei! Kau dengarlah!” teriaknya. “Apa bila kau tetap tidak mau makan daging anjing maka aku akan mengadu jiwa denganmu.“ Seraya berkata begitu ia menggores mukanya sendiri yang lantas mengucurkan darah.
Semua orang terkesiap tetapi ketiga pendeta itu seperti berada di dunia lain.
“Sudahlah,” teriak pula Ciu Tian dengan suara parau. “Toa-hwesio, apa bila kau tidak mau mengganti daging anjingku, biarlah aku binasa di hadapanmu.“ Ia mengangkat tangan dan mengacungkan golok di ulu hatinya.
Itulah Ciu Tian! Gila-gilaan yang berjiwa ‘tiong-gie’ (Setia kepada raja dan sahabat). Untuk menolong Kauwcu-nya, dia rela bunuh diri untuk mengacaukan pemusatan pikiran ketiga pendeta itu. Pada detik terakhir satu bayangan kuning, menyambar bagaikan kilat, berkelebat dan merampas golok di tangan Ciu Tian. Sehabis menolong si sembrono tubuh orang itu melesat lagi, mementang lima jari tangan kanan yang lalu ditancapkan ke kepala Cie Jiak.
Dalam serangan itu dia menggunakan gerakan yang menyerupai gerakan Song Ceng Su waktu pemuda itu membinasakan tetua kaypang. Waktu diserang jari-jari tangan Cie Jiak hanya terpisah satu kaki dari batok kepala Cia Sun. Tetapi karena serangan itu datang dengan kecepatan luar biasa, dia tidak keburu lagi turun tangan jahat terhadap Cia Sun dan untuk menolong jiwa sendiri, dia terpaksa menangkis.
Kekuatan Iweekang Bu Kie tidak kalah dari ketiga lawannya. Ia hanya kalah dalam ilmu ‘melupakan segalanya’. Ia belum bisa menulikan kuping dan membutakan mata terhadap segala sesuatu. Sebab itulah ancaman Cie Jiak terhadap Cia Sun dan gangguan Ciu Tian terhadap ketiga pendeta memecahkan pemusatan pikirannya. Ia sudah pusing dan beberapa detik lagi ia akan muntah darah. Syukur beribu syukur pada saat yang amat berbahaya, bayangan kuning yang bukan lain dari pada nona baju kuning itu menolong Ciu Tian dan Cia Sun.
Begitu hatinya mantap, Iweekang Bu Kie lantas bertambah sehingga pertandingan jadi berimbang lagi. Sebenarnya bertambahnya Iweekang Bu Kie membuat dirinya bisa balas menyerang, tapi sesudah Iweekang-nya bertambah, Bu Kie tidak balas menyerang melainkan hanya mempertahankan diri. Inilah kesempatan yang paling baik untuk menyudahi keadaan ‘menunggang harimau’ dari kedua belah pihak. Dengan kata lain perubahan tenaga dalam itu merupakan kesempatan untuk masing-masing menarik lweekang dan menghentikan pertandingan.
Ketiga pendeta yang perasaannya dapat dihubungkan satu sama lain tanpa bicara (secara telepati) itu lantas menarik sebagian tenaga mereka. Bu Kie girang dan segera ikut menarik sebagian Iweekang-nya. Demikianlah, sebagian demi sebagian kedua belah pihak mengurangi tenaga dalam mereka dan kira-kira seminuman teh, pertandingan sudah dapat dihentikan. Empat jago itu tertawa terbahak. Bu Kie menyoja sampai kedua tangannya menyentuh bumi dan ketiga pendeta itu membalas hormat dengan merangkap kedua tangan mereka.
Ketika itu si baju kuning sudah bertempur hebat dengan Ciu Cie Jiak. Meski pun Cie Jiak menggunakan dua senjata dan lawannya bertangan kosong, dia tampak keteter. Ilmu silat si baju kuning menyerupai ilmu Cie Jiak. Perbedaannya hanya terletak pada cara bergeraknya, si baju kuning lurus bersih sedang Cie Jiak ‘sesat bernada iblis’. Kalau mau diperumpamakan, yang satu bagaikan dewi sedangkan yang lain bagaikan setan.
Dengan sekali lirik Bu Kie maklum bahwa si baju kuning lebih unggul dan ayah angkatnya berada dalam keadaan selamat. Dalam pertempuran itu si baju kuning tidak lantas turunkan pukulan yang memutuskan. Ia seakan-akan hendak menunjukkan kepada lawannya bahwa kepandaian lawannya masih terlampau cetek. Jika mau, dalam beberapa gebrakan saja ia sudah bisa merobohkan Cie Jiak.
“Thio-kauwcu,” kata Touw-ok. “Meski pun kau tidak dapat menangkan kami bertiga tetapi kami juga tidak bisa menangkan kau. Cia-kiesu, sekarang kau boleh pergi ke mana suka!” Sehabis berkata begitu ia lantas membuka jalan darah Cia Sun yang tertotok. “Cia-kiesu,” katanya pula. “Letakkanlah golokmu dan jadilah manusia yang baik. Pintu agama Buddha terbuka lebar. Di dunia tidak ada manusia yang tidak bisa diseberangkan. Beberapa hari kau dan aku sama-sama tinggal di puncak bukit ini. Hal ini juga merupakan jodoh.”
Cia Sun bangun berdiri, “Sang Buddha welas asih,” katanya. “Cia Sun sangat berterima kasih kepada Sam-wi Taysu yang sudah memberi petunjuk ke jalan terang.”
Sekonyong-konyong terdengar bentakan nyaring dan tahu-tahu si baju kuning merampas cambuk Cie Jiak. Setelah itu ia menyikut dada lawan yang lantas tidak bisa bergerak lagi. Sambil mementangkan jari tangan kanannya di atas kepala Cie Jiak ia membentak,
“Apakah kau ingin merasakan enaknya Kiu-im Pek-kut-jiauw?”
Cie Jiak meramkan matanya dan menunggu kebinasaan. Walau pun kedua matanya buta, Cia Sun tahu apa yang sedang terjadi. Ia maju beberapa tindak dan berkata sambil menyoja,
“Nona sudah menolong jiwa kami ayah dan anak, dan kami merasa berhutang budi. Apa bila Ciu-kouwnio tidak sadar dan terus melakukan perbuatan yang tidak pantas, ia akan mendapat pembalasan yang setimpal. Tetapi sekarang aku mohon nona suka mengampuninya.”
“Kim-mo Say-ong bisa berubah cepat sekali,” kata si baju kuning sambil meloncat mundur.
Bu Kie menghampiri dan mencekal tangan ayah angkatnya. Baru saja ia mengajak orang tua itu berlalu, tiba-tiba Cia Sun berkata,
“Tahan dulu!” Sehabis berkata begitu dia menuding seorang pendeta tua dari rombongan Siauw-lim-pay, “Hun-goan Pek-lek-chiu Seng Kun, keluar kau!” bentaknya keras. “Biarlah di hadapan para enghiong kita membuat perhitungan!”
Semua orang terkejut sekali dan menengok ke arah yang dituding Cia Sun. Pendeta yang mukanya jelek dan punggungnya bongkok itu mengenakan jubah compang-camping dan sedikit pun tidak menyerupai Seng Kun. Baru saja Bu Kie hendak memberi-tahu hal itu kepada ayah angkatnya, Cia Sun telah berkata,
“Seng Kun, kau bisa mengubah muka, tapi kau tak bisa mengubah suara. Begitu mendengar batukmu, aku tahu kau siapa!”
Si tua menyeringai, “Manusia buta, kau jangan bicara sembarangan!” katanya.
Begitu mendengar suaranya, Bu Kie lantas mengenali bahwa dia itu memang benar Seng Kun. Waktu berada dalam karung di atas Kong-beng-teng, ia pernah mendengar pembicaraan manusia jahat ini. Ia segera melompat mencegat jalan mundur musuh besar ini.
“Goan-tin Taysu, Seng Kun Cianpwe,” katanya. “Seorang laki-laki harus berani berterus terang. Mengapa kau menyembunyikan mukamu dari orang banyak?”
Dengan menyamar, selama beberapa tahun Seng Kun bersembunyi di Siauw-lim-si. Beberapa tahun pula ia mengatur siasat dan mengumpulkan kaki tangan untuk merebut kekuasaan. Menurut rencananya, hari ini ia akan mengadu domba para orang gagah, mencari tahu di mana adanya To-liong-to, membinasakan Cia Sun, hingga akhirnya merampas kedudukan Hong-thio Siauw-lim-si, sesudah membunuh Kong-beng dan Kong-tie Seng-ceng.
Akan tetapi di luar semua perhitungannya, muncullah si baju kuning. Waktu nona she Yo itu merobohkan Cie Jiak, hatinya mencelos dan tanpa terasa ia batuk sewajarnya. Apa mau dikata suara batuk itu didengar dan dikenali Cia Sun. Melihat Bu Kie memotong jalan mundurnya, ia pun tahu semua rencananya sudah hancur.
“Para pendeta Siauw-lim, dengarlah!” teriaknya. “Mo-kauw mengacau tempat yang suci ini dan menghina partai kita. Hajar mereka! Bunuh mereka!”
Kaki tangan Seng Kun lantas menghunus senjata dan bergerak untuk menyerang. Selama beberapa hari Kong-tie terus menahan sabar dan sangat berduka. Dia memikirkan keselamatan Suheng-nya yang telah jatuh ke tangan kaum pemberontak. Sekarang begitu mendengar perintah Seng Kun, dia tahu banyak orang akan mengorbankan jiwa. Dia menganggap keselamatan Kong-bun seorang adalah soal kecil jika dibandingkan dengan keselamatan ribuan manusia. Karena itu dia lantas berteriak,
“Tahan! Murid Siauw-lim tidak boleh bergerak. Dengarlah! Kong-bun Hong-thio jatuh ke tangan pengkhianat Goan-tin. Cepat bekuk dia! Sesudah itu barulah kita menolong Hong-thio.”
Dalam sekejap keadaan berubah kalut.
Kaki tangan Seng Kun ciut nyalinya. Di antara kekalutan itu Bu Kie melihat Cie Jiak duduk di tanah sambil menundukkan kepala. Dia merasa tidak tega lalu menghampiri, kemudian coba membangunkannya. Tapi Cie Jiak mengibaskan tangannya dan cepat kembali ke rombongan Go-bi-pay.
Sementara itu Cia Sun bicara dengan nyaring, “Segala kejadian yang terjadi hari ini adalah gara-gara Seng Kun dan aku. Karena itu segala urusan, segala hutang piutang haruslah dibereskan kami berdua. Suhu, semua kepandaianku diberikan suhu. Seng Kun, seluruh keluargaku dibinasakan olehmu. Jadi kau adalah guruku dan musuhku. Hari ini kita selesaikan perhitungan di antara kita.”
Melihat usahanya menjadi Hong-thio Siauw-lim-si gagal, dalam hati Seng Kun muncul siasat lain.
“Cia Sun banyak dosanya hingga jika tidak bisa mengalahkannya, aku bisa menumplekkan semua dosa di atas kepalanya,” pikirnya. “Semua kepandaiannya didapat dari aku dan kedua matanya buta. Mustahil aku tidak bisa merobohkannya.“ Sesudah berpikir demikian dia segera membentak,
“Cia Sun, banyak orang gagah binasa di tanganmu. Hari ini bersama iblis-iblis Mo-kauw kau mencoba mengacau tempat suci ini. Biar bagaimana pun juga aku berkewajiban membersihkan rumah tanggaku sendiri dan menghukum murid durjana.” Dengan tindakan lebar dia lalu menghampiri Cia Sun.
“Para enghiong, dengarkan perkataanku!” teriak Cia Sun. “Memang ilmu silat Cia Sun didapat dari Seng Kun. Tapi karena memperkosa isteriku tidak ada kesempatan, Seng Kun membunuh ayah, ibu, isteri dan anakku. Sekarang aku mau tanya, apakah pantas atau tidak jika aku mencari dia untuk membalas sakit hati?”
Pertanyaan itu disambut dengan teriakan bergemuruh, “Pantas! Pantas!”
Di antara teriakan itu Seng Kun mengirim pukulan ke kepala Cia Sun. Cia Sun mengegos dan...
“Plakk!” Pukulan itu jatuh di pundaknya.
“Seng Kun,” katanya. “Dulu waktu kau mengajarkan pukulan Tiang-hong Keng-thian (Bianglala membentang langit), kau memakai Hun-goan It-khie-kang untuk melukai musuh. Mengapa tadi kau tidak mengerahkan lweekang itu? Apakah lantaran kau terlalu tua dan tidak bisa mengeluarkannya lagi?”
Memang tadi Seng Kun tidak mengeluarkan Hun-goan It-khie-kang dan sebabnya begini. Dia tahu bahwa Cia Sun mempunyai kepandaian tinggi sehingga pukulan pertama itu lebih banyak gertakan untuk menjajal. Di luar dugaan Cia Sun tidak berkelit. Karena dia tidak menggunakan lweekang maka Cia Sun tidak terluka. Tanpa mengeluarkan sepatah pun kata Seng Kun mengirim pukulan kedua. Cia Sun hanya mengegos, ia belum membalas. Begitu tangannya memukul angin, Seng Kun mengirim tendangan berantai yang tepat di bawah rusuk. Tendangan itu disertai tenaga dalam hebat hingga tubuh Cia Sun bergoyang dan muntah darah.
“Gie-hu, balaslah! Mengapa Gie-hu tidak mau membalas?” teriak Bu Kie.
Cia Sun tertawa getir, “Dia guruku,” jawabnya. “Sebagai murid aku pantas menerima satu pukulan dan dua tendangan.“ Tiba-tiba dia mengirim pukulan geledek.
Mereka lantas bertempur mati-matian. Cia Sun tidak bisa melihat, tetapi dia tidak perlu mempergunakan matanya dalam bertempur melawan Seng Kun. Sebagai murid dia paham semua ilmu silat gurunya. Sesudah pukulan ini, dia tahu persis pukulan apa yang bakal menyusul.
Perbedaan di antara mereka banyak terletak di tenaga dalam. Cia Sun lebih muda belasan tahun hingga dalam tenaga ia lebih kuat dan lebih ulet. Di samping itu ia pernah melatih diri di pulau Peng-hwee-to yang sangat dingin. Latihan di tengah hawa dingin banyak manfaatnya. Maka sesudah bertanding seratus jurus, ia belum jatuh di bawah angin. Setelah pertempuran mencapai lebih dari dua ratus jurus, Cia Sun berteriak keras sambil mengirim tinjunya.
“Cit-siang-kun!” seru Siang Cie, tetua Khong-tong-pay.
Melihat pukulan Cia Sun, semua tetua Khong-tong-pay kaget campur heran. Kitab Cit-siang dicuri dari Khong-tong-pay. Tapi sekarang pukulan yang dikeluarkan Cia Sun jauh lebih dahsyat dari apa yang dapat dikeluarkan para tetua Khong-tong-pay sendiri. Begitu Cia Sun menggunakan Cit-siang-kun, Seng Kun mundur berulang hingga terdengar sorak sorai gegap gempita. Permusuhan guru dan murid ini dan perbuatan Seng Kun banyak diketahui orang. Maka biarpun Cia Sun banyak dosa dan sering membunuh orang, tapi simpati para hadirin tetap diberikan kepada dirinya dan semua berharap ia mendapat kemenangan.
Selagi orang lain girang Bu Kie justru kaget dan kuatir. “Celaka,” dia mengeluh. “Seng Kun mempergunakan Siauw-lim Kiu-yang-kang yang didapat sesudah berguru kepada Kong-kian Seng-ceng. Gie-hu belum mengenal ilmu ini.”
Ketika melatih Cit-siang-kun, Seng Kun melakukannya dengan tergesa-gesa hingga dia luka dalam. Hal ini diketahui oleh Seng Kun. Dia berlagak keteter dengan mengeluarkan Siauw-lim Kiu-yang-kang. Setiap kali Cia Sun memukul, dia segera menangkis. Dengan Kiu-yang-kang dia memunahkan tujuh bagian tenaga pukulannya dan memulangkan yang tiga bagian ke tubuh Cia Sun. Demikianlah, di luar kelihatannya Cia Sun berada di atas angin, namun sebenarnya makin lama lukanya makin hebat.
Bukan main bingungnya Bu Kie. Selama puluhan tahun ayah angkatnya mencari kesempatan membalas sakit hati. Tetapi sekarang sesudah mendapat kesempatan, sang Gie-hu berbalik menghadapi maut. Dia tahu bahwa dalam puluhan gebrakan lagi sang ayah angkat akan muntah darah kemudian binasa.
“Goan-tin,” kata Kong-tie dengan suara dingin. “Apakah Suheng-ku mengajarkan Kiu-yang-kang kepadamu supaya kau menggunakannya untuk mencelakai manusia?”
Seng Kun tertawa dingin. “In-su binasa di bawah pukulan Cit-siang-kun,” jawabnya. “Hari ini aku akan membalaskan sakit hati In-su!”
“Binatang Seng Kun!” tiba-tiba Tio Beng berteriak. “Kiu-yang-kang Kong-kian Seng-ceng lebih kuat dari yang dimiliki olehmu. Mengapa dia tidak bisa bertahan terhadap Cit-siang-kun? Kong-kian Taysu kau celakai. Kaulah yang menipunya, membujuk agar dia suka mendamaikan permusuhanmu dengan Cia-tayhiap. Kau menipunya supaya dia menerima pukulan tanpa membalas. Huh huh...! Lihat! Lihat! Siapa yang berdiri di belakangmu dengan muka berlumuran darah? Kong-kian Seng-ceng! Ya memang Kong-kian Seng-ceng yang berdiri di belakangmu.”
Seng Kun tahu bahwa Tio Beng dusta. Tapi karena dia memang berdosa, perkataan itu membangunkan bulu romanya. Tiba-tiba pukulan menyambar. Ia menangkis dan membalas. Tubuhnya bergoyang dan sekali ini ia tidak mundur. Ternyata dalam seramnya, ia tidak bisa menggunakan Siauw-lim Kiu-yang-kang. Ia merasa darah di dadanya bergolak. Buru-buru ia menggunakan siasat berlari-larian di seputar Cia Sun sambil menentramkan jalan pernapasannya.
“Kong-kian Seng-ceng, jangan lepaskan dia,” nona Tio berteriak. “Tiup belakang lehernya. Benar! Kau mati di tangan murid, dia juga harus mampus di tangan muridnya. Ini hal yang dinamakan membayar hutang. Langit ada matanya.”
Jantung Seng Kun berdenyut lebih keras. Mendadak dia merasa lehernya ditiup angin. Di puncak itu memang banyak angin, namun bagi Seng Kun usapan angin itu menyeramkan hatinya. Melihat perubahan sikap Seng Kun, Tio Beng lantas berteriak,
“Ha-ha...! Seng Kun, coba tengok dan lihatlah siapa di belakangmu! Kau tidak berani? Lihatlah bayangan hitam di atas bumi. Kenapa di atas bumi terdapat tiga bayangan manusia sedangkan yang berkelahi hanya dua orang?”
Mendadak tinju Cia Sun menyambar. Seng Kun tidak keburu mengerahkan Kiu-yang-kang, ia menangkis dengan lweekang biasa. Begitu kedua tangan bentrok, tubuh keduanya bergoyang dan terhuyung beberapa langkah. Sekarang barulah Seng Kun dapat melihat bahwa ‘bayangan manusia’ ketiga sebenarnya bayangan dari batang pohon siong yang patah.
Melihat lihainya si murid, makin lama Seng Kun semakin bingung. Menurut pendapatnya, jika mau meloloskan diri maka satu-satunya jalan adalah menjatuhkan Cia Sun. Tiba-tiba bayangan batang pohon memberi ilham kepadanya. Dengan langkah tidak bersuara, dia mundur dua langkah ke arah batang pohon. Cia Sun merangsek, dia mundur lagi. Dia memancing lawan mendekati pohon.
“Gie-hu, hati-hati di bawah kaki!” teriak Bu Kie.
Cia Sun terkejut dan cepat dia melompat ke samping. Tapi karena keterlambatan itu Seng Kun mendapat kesempatan baik. Dia segera mengirim pukulan yang tak bersuara ke dada dan begitu telapak tangannya menyentuh dada, dia mengeluarkan lweekang sekuatnya hingga tanpa ampun lagi Cia Sun roboh terjengkang! Dengan girang Seng Kun melompat dan menendang kepala muridnya. Pada detik terakhir Cia Sun menggulingkan diri lantas melompat bangun. Mulutnya mengeluarkan darah dan mukanya menakutkan. Sambil berdiri tegak perlahan-lahan Seng Kun mengirim pukulan.
Sebagaimana diketahui, Cia Sun dapat menangkis setiap pukulan dengan mengandalkan kupingnya. Ketika serangan Seng Kun berupa pukulan tak bersuara dia pun tidak berdaya. Sekali lagi pundaknya kena dipukul. Ia menghadapi bencana. Banyak orang berteriak mencaci Seng Kun yang licik, tapi manusia itu tidak meladeni. Pakaian Bu Kie basah keringat. Ia mencekal tangan Tio Beng dan berkata dengan suara gemetar.
“Beng-moay, tolong lekas mencari jalan.”
“Apa kau setuju mempergunakan senjata rahasia membutakan kedua mata manusia itu?” tanya nona Tio.
Bu Kie menggelengkan kepala. “Biar pun mesti mati, Gie-hu tidak akan suka jika aku melakukan perbuatan itu,” jawabnya.
Sementara itu perlahan cuaca berubah gelap. Tiba-tiba terdengar teriakan, “Thian-kauw makan matahari! Thian-kauw makan matahari!”
Bu Kie cepat menengadah. Ia melihat matahari somplak separuh. Gerhana matahari. Keadaan berubah menjadi kalut. Sebagian orang mendongak ke atas, sebagian menonton pertempuran dan sebagian berlutut ke arah matahari sambil manggutkan kepala.
“Bangsat Seng Kun!” caci Tio Beng. “Kau terlalu jahat hingga Lo-thian-ya (langit) sendiri tidak bisa mengampuni kau lagi. Lihatlah! Langit mengunjuk keangkerannya untuk menumpas kau. Hari ini kau pasti mampus, rohmu akan dilemparkan ke gunung golok dan digodok dalam kuali minyak mendidih dan sepanjang masa kau tidak akan bisa dilahirkan lagi di dunia!”
Melihat perubahan di langit dan makin lama cuaca semakin gelap, Seng Kun yang memang sudah goncang hatinya jadi ketakutan. Dia menyerang mati-matian dengan maksud mencari lowongan untuk kabur. Tetapi Cia Sun yang bertekad membalas sakit hatinya, tidak mempedulikan apa pun dan terus mendesak dengan hebatnya hingga dia tidak mendapat kesempatan untuk meloloskan diri.
Sekonyong-konyong terdengar berkokoknya ayam jago di bukit. Beberapa saat kemudian seluruh permukaan matahari ditutup bayangan rembulan. Keadaan berubah gelap gulita. Di tempat jauh terdengar geram pekik dan jeritan bermacam binatang buas dicampur dengan menyalaknya kawanan anjing. Keadaan benar-benar menyeramkan.
Orang-orang yang berada di situ adalah jago rimba persilatan, tak urung bulu roma mereka bangun. Gerhana matahari sekali ini memang luar biasa, langit gelap gulita seperti malam. Dengan adanya perubahan alam ini Seng Kun yang matanya terang menjadi gelap seperti buta. Dengan hati keder dia menggunakan siasat mundur, tapi Cia Sun tidak memberi hati. Beberapa saat kemudian dia berteriak
“Aduh!”, karena dadanya kena pukulan Cit-siang-kun yang hebat.
Tapi dia memang bukan manusia bodoh. Sesudah kena pukulan hebat dia mundur sambil mengubah caranya berkelahi. Sekarang dia gunakan Siauw-kin Na-chiu, yaitu ilmu mencengkeram, memiting, membanting dan sebagainya dalam perkelahian rapat. Dengan ilmu itu dia tidak perlu menggunakan mata.
Sambil menggeram Cia Sun pun melawan dengan ilmu yang serupa. Dalam kegelapan para hadirin hanya mendengar suara bentrokan tangan yang nyaring dahsyat.
Bu Kie mendengarkan dengan hati berdebar. Ia tidak bisa membantu dan juga tidak bisa melihat jalan perkelahian.
Dengan mendengar teriakan ‘Thian-kauw makan matahari’ Cia Sun tahu apa yang terjadi. Dia sendiri sudah buta selama lebih dari dua puluh tahun. Dia sudah biasa dengan kebutaan itu dan kupingnya sedikit banyak dapat menggantikan peranan mata. Di lain pihak Seng Kun belum pernah bertempur dalam kegelapan total, dalam keadaan di mana kedua matanya tidak dapat digunakan. Cia Sun tahu bahwa selama keadaan gelap total maka dia berada di atas angin. Ia tidak boleh membuang waktu, maka ia segera menyerang dengan sehebatnya, dengan seluruh kepandaian dan tenaganya. Waktu Seng Kun menyerang dengan Siauw-kin Na-chiu, ia pun segera menggunakan ilmu tersebut.
Sesudah beberapa gebrakan, tiba-tiba saja Cia Sun mementangkan kedua tangannya dan mencoba menjepit iga musuh. Seng Kun girang bukan main.
“Kena!” dia berteriak sambil menusuk kedua mata Cia Sun dengan dua jari tangannya. Itu adalah pukulan Siang-liong Chiu-cu (Sepasang naga berebut mutiara).
Pukulan ini tidak luar biasa, tapi bila digunakan dalam Siauw-kin Na-chiu maka bahayanya amat besar. Jika musuh mengegos, si penyerang bisa mengirim pukulan susulan dengan tangan kirinya dan kedua pukulan itu pasti akan menghantam kepala. Tapi di luar dugaan Cia Sun tidak berkelit.
“Kena!” dia pun membentak sambil menusuk mata Seng Kun dengan pukulan Siang-liong Chiu-cu juga.
Pada detik kedua jarinya amblas di mata Cia Sun, hati Seng Kun mencelos karena tanpa dapat tercegah lagi, kedua matanya pun kena tusukan jari. Ketika itu matahari mulai mengintip dan di antara cuaca remang-remang para hadirin bisa melihat kedua lawan itu sekarang berdiri bagaikan patung dengan mata mengucurkan darah. Kini Seng Kun sudah menjadi orang buta, sedangkan Cia Sun yang memang telah buta, hanya mendapat luka biasa.
“Enak menjadi orang buta?” tanya Cia Sun dengan suara dingin dan hampir berbareng dia menghantam dengan tinjunya.
Pukulan Cit-siang-kun kena tepat di dada Seng Kun. Dengan tinju kirinya Cia Sun segera mengirim tonjokkan kedua. Seng Kun terhuyung, tubuhnya membentur batang siong dan mulutnya muntahkan darah.
“Segalanya ada balasan! Siancai...! Siancai...!” seru Touw-ok.
Cia Sun terkejut. Tinjunya yang sudah terangkat segera diturunkan lagi,
“Sebenarnya aku ingin menghadiahkan kau dengan tiga belas pukulan Cit-siang-kun,” katanya. “Tapi karena sekarang ilmu silatmu sudah musnah dan kau sudah menjadi orang cacat, maka aku tidak bisa turunkan sebelas pukulan lagi.”
Melihat Cia Sun mendapat kemenangan para hadirin bersorak sorai. Tiba-tiba Cia Sun bersila di tanah dan tulangnya mengeluarkan suara peratak perotok. Bu Kie langsung terkesiap. Dia tahu ayah angkatnya sedang membalik aliran hawanya untuk memusnahkan kepandaiannya sendiri.
“Gie-hu, jangan!” teriaknya.
Dia memburu. Tapi baru saja dia menempelkan telapak tangannya di punggung sang ayah angkat untuk mengirim Kiu-yang cin khie, Cia Sun melompat bangun dan memukul dadanya sendiri hingga muntah darah. Cepat Bu Kie mencekal tangan orang tua itu. Dengan hati mencelos dia mendapat kenyataan sang Gie-hu sudah tidak bertenaga lagi. Semua ilmu silatnya musnah dan sukar dipulihkan lagi.
“Seng Kun,” kata Cia Sun. “Kau sudah membinasakan semua keluargaku. Tetapi hari ini aku sudah membalas sakit hati dengan membutakan kedua matamu dan memusnahkan ilmu silat suhu. Ilmu silatku kudapatkan darimu, maka hari ini aku memusnahkannya dan memulangkannya kepadamu. Mulai saat ini antara kita berdua tidak ada sangkutan lagi. Semua budi dan semua sakit hati sudah dibayar lunas. Selamanya kau tak akan bisa melihat aku, sedangkan aku pun tidak akan bisa melihat mukamu lagi.”
Seng Kun menutup mata dengan kedua tangan dan tidak mengeluarkan sepatah katapun. Para orang gagah saling pandang. Mereka tak nyana bahwa permusuhan guru murid itu akan berakhir begini. Sementara itu Cia Sun bicara dengan suara nyaring,
“Aku Cia Sun berdosa besar dan aku sama sekali tidak menduga bahwa aku bisa hidup sampai hari ini. Sekarang jika di antara para enghiong ada yang sanak keluarganya binasa olehku, boleh maju untuk mengambil jiwaku. Bu Kie, kau jangan merintangi, juga tidak boleh membalas sakit hati supaya kau tidak menambah dosaku.”
Dengan air mata berlinang si anak mengangguk. Untuk beberapa saat seluruh lapangan sunyi senyap. Sesudah melihat apa yang terjadi, banyak yang menganggap bahwa turun tangan terhadap Cia Sun waktu itu bukan perbuatan seorang ksatria. Tiba-tiba seorang laki-laki maju dan berkata,
“Cia Sun, ayahku, Cie-tin Cin-lam Khu Lo Hiong binasa di tanganmu. Aku ingin membalas sakit hatinya.”
“Benar, Khu-heng boleh turun tangan,” jawabnya.
Orang she Khu itu segera menghunus golok. Bukan main bingungnya Bu Kie. Dia serba salah. Tubuhnya gemetar dan tanpa terasa dia maju beberapa langkah.
“Anak Bu Kie!” bentak sang Gie-hu, “Bila kau merintangi, berarti kau anak yang tidak berbakti. Sesudah aku mati, kau boleh periksa penjara di dalam tanah dan kau akan tahu segalanya.”
Orang she Khu itu mengangkat goloknya sampai di batas dada. Tiba-tiba air matanya mengucur. Dia meludahi muka Cia Sun dan berkata dengan suara parau,
“Di waktu hidup Sian-hu (mendiang ayah) seorang gagah. Jika rohnya melihat, dia tentu tidak setuju kalau aku membinasakan seorang buta yang tidak mampu melawan lagi...“ Goloknya jatuh dan sambil mendekap muka dengan kedua tangannya, dia lari balik ke orang banyak.
Seorang wanita setengah tua maju dan berkata, “Cia Sun, aku ingin membalas sakit hati kakakku. Im-yang Pan-koan Cin Peng Hui.“ Ia mendekat, meludahi, lantas berlalu sambil menangis.
Melihat ayah angkatnya dihina tanpa bergerak, hati Bu Kie bagai disayat pisau. Di rimba persilatan hidup atau mati dipandang urusan kecil. Yang dianggap urusan besar adalah hinaan. Kata orang, ‘Orang gagah boleh dibunuh, tidak boleh dihina’. Meludahi muka adalah salah satu hinaan terhebat, tapi Cia Sun menelannya dengan segala kerelaan. Ini merupakan bukti bahwa dia sungguh-sungguh merasa menyesal akan perbuatannya yang lalu.
Demikianlah, seorang demi seorang maju menghampiri untuk membalas sakit hati sanak keluarganya. Ada yang meludahi, ada yang menggaplok, ada yang mencaci. Cia Sun menerima itu semua dengan kepala menunduk dan mulut bungkam. Sesudah tiga puluh orang lebih melampiaskan ganjalannya, majulah seorang imam berjenggot panjang.
“Pinto membuktikan bahwa Cia-tayhiap sesungguhnya orang mulia. Pinto sendiri pernah membinasakan banyak orang, baik orang-orang dari jalan putih mau pun jalan hitam. Apa bila Pinto membalas sakit hati terhadap Cia-tayhiap, orang lain juga tentu akan mencari Pinto membalas dendam sakit hati mereka.“ Sesudah berkata demikian dia menghunus pedang, lalu mementil badan pedang yang lantas patah jadi dua dan melemparkan gagang senjata itu di tanah. Sesudah memberi hormat dengan membungkuk, dia pun berlalu sambil menundukkan kepala.
Para hadirin mengutarakan pendapat mereka dengan bisik-bisik. Nama Thay-hie-cu tidak banyak dikenal orang. Tak dinyana dia mempunyai kepandaian tinggi. Apa yang sangat mempengaruhi orang adalah sikapnya dan dada yang lapang. Sesudah mendengar teguran Thay-hie cu, rasanya tidak akan ada lagi orang yang menghina Cia Sun. Tapi di luar dugaan dari rombongan Go-bi-pay keluarlah seorang pendeta tua yang menghampiri Cia Sun dan berkata,
“Kau sudah membunuh suamiku, tetapi cukuplah jika aku meludahi mukamu.” Dia lantas menyemburkan ludahnya ke muka Cia Sun.
Orang yang berkuping tajam bisa mendengar bahwa dalam semburan ludah itu mengandung sesuatu. Cia Sun juga tahu sebatang paku menyambar. Dia tidak berkelit melainkan hanya berkata di dalam hati, “Kalau aku mati sekarang, aku mati agak terlambat.” Pada saat yang amat genting mendadak tubuh si baju kuning melesat dan tangan bajunya menggulung senjata rahasia itu.
“Suthay, siapa namamu?!” bentaknya.
Nikouw it terkesiap, “Aku Ceng-ciauw,” jawabnya.
“Hm... Ceng-ciauw... Ceng-ciauw! Siapakah suamimu sebelum kau menjadi pendeta? Dan dengan bagaimana Cia-tayhiap membinasakannya?”
“Perlu apa kau bertanya begitu melit?”
“Cia-tayhiap menyesal akan perbuatannya di masa lalu. Kalau yang maju adalah orang yang benar-benar mau membalas sakit hati ayah atau sanak lain, biar pun dicincang Cia-tayhiap akan menerima dengan rela dan orang luar tidak boleh mencampuri. Tetapi mana kala yang turun tangan manusia yang mau memancing ikan di air keruh, yang mau membunuh untuk menutup mulut orang, maka siapa pun boleh mencampuri.”
“Dengan Cia-tayhiap aku tidak punya permusuhan. Perlu apa aku membunuh orang untuk menutup...“ Ceng-ciauw tidak meneruskan perkataannya! Ia tahu dalam kaget dan takutnya ia kesalahan omong. Paras mukanya pucat pasi dan ia melirik kepada Ciu Cie Jiak.
“Benar!” kata si baju kuning. “Dengan Cia-tayhiap kau tidak mempunyai permusuhan. Apa kau membunuh orang untuk menutup mulutnya? Hmm... dua belas pendeta wanita Go-bi-pay dari tingkatan Ceng, yaitu Ceng-hoat, Ceng-hie, Ceng-ciauw dan sebagainya, semua menjadi pendeta sedari masih gadis. Dari mana datangnya suami?”
Tanpa menjawab Ceng-ciauw balik kerombongannya.
“Mana boleh kau berlalu begitu saja?!” bentak si baju kuning sambil melompat.
Dengan beberapa lompatan dia sudah mencegat nikouw itu. Dia menotok pinggang sambil menendang sehingga Ceng-ciauw lantas roboh. Si baju kuning tertawa dingin.
“Ciauw-kouwnio, tidaklah gampang membunuh orang untuk menutup mulutnya!” katanya.
“Jangan omong kosong kau!” Cie Jiak berkata dengan suara dingin. “Memang Ceng-ciauw suci mau membalas sakit hatinya.” Ia mengibaskan tangannya dan berkata lagi. “Banyak murid partai lurus bersih tidak dapat membedakan lagi mana yang lurus mana pula yang sesat dan sudah rela bersatu padu dengan kawanan siluman. Go-bi-pay tidak boleh turut masuk di air kotor. Hayo kita pulang!”
Semua murid Go-bi lantas bersiap-siap untuk berangkat. Beberapa di antara mereka mengawasi Ceng-ciauw yang rebah di tanah. Mereka tidak tahu apa Ciang-bun-jin akan menolong atau akan membiarkan saja saudara seperguruannya yang roboh itu.
Sementara itu terdengar bentakan Kong-tie, “Goan-tin! Lekas perintahkan kaki tanganmu melepaskan Hong-thio! Apa bila terjadi sesuatu yang tidak diharapkan maka dosamu akan menjadi lebih besar lagi.”
Seng Kun tertawa getir. “Urusan sudah terlanjur sampai di sini, biarlah kita mati bersama,” katanya. “Andai kata mau, sekarang aku pun tak bisa lagi menolong si hwesio tua Kong-bun. Apa kau buta? Apa kau tidak melihat sinar api?”
Kong-tie terkejut. Ia mengawasi ke bawah bukit dan benar saja di kuil Siauw-lim-si terlihat api berkobar.
“Celaka! Tat-mo-tong terbakar!” serunya. “Lekas padamkan api!”
Semua pendeta Siauw-lim yang berada di situ langsung bergerak turun bukit guna memadamkan api. Tiba-tiba terlihat semburan air yang panjang laksana naga putih dan tidak lama kemudian api sudah dapat dikuasai. Kong-tie merangkap kedua tangannya,
“Kuil kami terbebas dari kemusnahan.”
Beberapa saat kemudian tampak dua pendeta mendaki bukit dengan berlarian. Begitu tiba di depan Kong-tie, salah seorang di antara mereka langsung berkata,
“Melaporkan kepada Susiok-couw. Kaki tangan Goan-tin membakar Tat-mo-tong. Syukur beribu syukur, para enghiong dari Ang-sui-kie keburu menolong dan sekarang sudah dipadamkan.”
Kong-tie menghampiri Bu Kie lalu merangkap kedua tangannya. “Bahwa kuil Siauw-lim-si terbebas dari kemusnahan adalah karena pertolongan Thio-kauwcu yang sangat besar,” katanya. “Semua anggota Siauw-lim tak akan melupakan budi yang sangat besar ini.”
Bu Kie membalas hormat. “Hal ini hanya sepantasnya saja, jadi Taysu tidak perlu berkata begitu,” jawabnya.
“Kong-bun Suheng dikurung di Tat-mo-ih oleh murid-murid itu,” kata pula Kong-tie. “Walau pun kebakaran sudah dipadamkan tapi aku masih belum tahu nasib Suheng. Thio-kauwcu dan yang lain tunggulah sebentaran di sini, lolap ingin pergi menyelidiki.”
Seng Kun tertawa terbahak. “Tubuh Kong-bun dilabur minyak kerbau dan minyak babi,” katanya. “Begitu api berkobar, seketika itu pula tamatlah riwayatnya. Memang Ang-sui-kie bisa menolong Tat-mo-ih, tetapi tidak akan mampu menolong Si tua.”
“Jika Ang-sui-kie tak bisa, masih ada Houw-touw-kie!” kata seseorang yang sedang mendaki puncak bukit. Orang itu adalah Hoan Yauw.
Ia muncul bersama Gan Hoan (Ciang-kiesu Houw-touw-kie) dan seorang pendeta tua yang dipapah. Orang-orang tahu bahwa pendeta yang dipapah itu bukan lain Hong-thio Seng-ceng. Mereka mendapat luka dan pakaian mereka terbakar di sana sini.
Kong-tie segera memburu lalu memeluk Suheng-nya, “Suheng...!“ katanya dengan suara parau. ”Sute-mu tidak punya kebecusan dan berdosa besar.”
Kong-bun tersenyum. “Jika Hoan-sicu dan Gan-sicu tidak keburu muncul dari terowongan, aku tidak akan bisa bertemu lagi dengan kau dalam keadaan bernapas,” katanya.
“Kepandaian Houw-touw-kie dalam membuat terowongan tak ada bandingannya di dunia,” kata Kong-tie dengan suara kagum dan berterima kasih. Dia lalu berpaling kepada kedua penolongnya dan membungkuk. “Hoan-sicu,” katanya, “Lo-ceng pernah berlaku tak pantas terhadapmu dan aku harap kau sudi memaafkan. Sekarang Lo-ceng ingin membatalkan perjanjian bertemu di Ban-hoat-si. Lo-ceng tidak berani pergi ke situ.”
Dalam rimba persilatan, tidak menepati janji dipandang sebagai sebuah hal yang jauh lebih memalukan dari pada kalah berkelahi. Bahwa Kong-tie rela menarik kembali janjinya dan menyerah kalah merupakan bukti bahwa dia merasa sangat berhutang budi kepada Hoan Yauw. Kedua tokoh itu memang saling menghargai. Mulai dari waktu itu mereka menjadi sahabat karib.
Dalam usaha busuknya Seng Kun membuat rencana yang diperhitungkan masak-masak. Sebelum pembukaan Eng-hiong Tay-hwee ia berhasil membokong Kong-bun dengan satu totokan, kemudian mempenjarakan pemimpin itu di ruangan Tat-mo-ih yang diisi dengan rumput, kayu kering dan bahan yang gampang dimakan api. Ruang itu kemudian dijaga kaki tangannya yang setia.
Dengan Kong-bun sebagai tanggungan ia berhasil menundukkan Kong-tie. Ia mengancam bahwa jika Kong-tie membantah perintahnya maka Kong-bun akan segera dibakar. Sesudah usahanya gagal, ia memberi isyarat agar kaki tangannya segera membakar Tat-mo-ih. Ia berharap kawan-kawannya bisa menolong dirinya selagi para enghiong dan para pendeta berusaha memadamkan api.
Tetapi terjadi sesuatu yang tidak pernah diduga olehnya. Begitu tiba di kaki gunung Sauw-sit-san, sebelum bertemu dengan Bu Kie, Yo Siauw memerintahkan Houw-touw-kie membuat terowongan ke kuil Siauw-lim-si. Tujuannya untuk menolong Cia Sun. Namun belakangan ternyata Cia Sun tidak dipenjarakan di dalam kuil. Penukaran patung Tat-mo Couwsu di Tat-mo-ih juga dilakukan oleh orang2 Houw-touw-kie.
Waktu topeng Seng Kun terlucut, Tio Beng dan Yo Siauw lantas bisa menduga apa yang akan terjadi. Sesudah berunding mereka minta Hoan Yauw memimpin Ang-sui dan Houw-touw-kie untuk memadamkan kebakaran dan menolong Kong-bun di Tat-mo-ih.
Karena kurang rapinya persiapan, maksud menolong dapat tercapai tetapi Houw-touw-kie harus menderita kerusakan dan ketiga anggotanya mengorbankan jiwa. Kalau Hoan Yauw dan Gan Hoan tidak menggunakan terowongan waktu kabur dengan membawa Kong-bun, maka mereka bertiga pun akan binasa.
Kebakaran itu hanya merusak Tat-mo-ih dan beberapa bangunan lain. Tay-hiong Po-thian, Cong-keng-kok, Lo-han-tong dan gedung-gedung lainnya dapat diselamatkan.
Setelah diskusi dengan Kong-tie, Kong-bun segera mengeluarkan perintah agar semua kaki tangan Seng Kun dipenjarakan di belakang kuil menanti keputusan. Seng Kun sudah tinggal lama di Siauw-lim-si dan teman-temannya berjumlah tidak sedikit. Tetapi melihat kepala mereka dirobohkan dan Hong-thio sudah tertolong, maka orang-orang itu tidak berani melawan. Di bawah pimpinan Siu-co Lo-han-tong mereka digiring turun bukit.
Setelah itu barulah Bu Kie mendapat kenyataan bahwa dalam kekalutan Cie Jiak bersama rombongannya sudah berlalu dari Siauw-sit-san dengan meninggalkan Ceng-ciauw yang masih rebah di tanah. Bu Kie menghampiri si baju kuning dan sambil menyoja dia berkata,
“Dua kali Thio Bu Kie menerima pertolongan cici. Untuk itu aku hanya bisa menghaturkan banyak terima kasih. Di samping itu aku mohon tanya she dan nama cici yang mulia, supaya siang malam aku bisa mengingatnya.”
Si nona tersenyum. Dia menjawab dengan kata-kata yang merupakan sajak.
“Di belakang gunung Ciong-lam-san,
terdapat kuburan Mayat Hidup,
Burung Rajawali sakti dan pasangan pendekar
tak muncul lagi dalam dunia Kangouw.“
Seraya berkata begitu dia membalas hormat, kemudian dia menggapaikan tangan ke arah delapan pengiringnya. Sesaat kemudian dia turun bukit bersama delapan wanita baju putih dan hitam itu.
Bu Kie memburu, “Cici tahan dulu!” serunya.
Si nona tidak meladeni dan berjalan terus.
“Yo-cici! Yo-cici!” panggil Su Heng Sek.
“Segala urusan Kay-pang kumohon bantuan kauwcu,” kata si baju kuning sambil berjalan terus.
“Bu Kie menerima perintah.”
“Terima kasih!” Perkataan ‘terima kasih’ itu terdengar sangat jauh karena si nona sudah menggunakan ilmu mengentengkan tubuh.
Sesudah itu Bu Kie mendekati Cia Sun. “Gie-hu,” panggilnya. Air matanya mengucur.
“Anak edan,” kata sang Gie-hu sambil tertawa. “Atas petunjuk Sam-wi Ko-ceng sekarang aku baru sadar. Segala hutang-hutangku sudah dibereskan. Sesungguhnya kau harus girang. Kenapa kau berduka? Karena ilmu silatku musnah? Apakah kau ingin aku menggunakan lagi ilmu itu untuk melakukan perbuatan berdosa?”
“Gie-hu benar,” kata si anak dengan suara perlahan.
Cia Sun lalu menghampiri Kong-bun dan berlutut. “Teecu berdosa besar dan mohon agar Hong-thio sudi menerima teecu sebagai murid,” katanya.
Sebelum Kong-bun menjawab, Touw-ok sudah cepat mendahului, “Mari! Biar Lo-ceng saja yang mengambil kau sebagai murid.”
“Teecu tidak berani mengharap begitu besar,” kata Cia Sun.
Cia Sun berkata begitu sebab jika ia mengangkat Kong-bun sebagai guru maka ia berada di tingkatan ‘goan’, sedang jika ia mengambil Touw-ok sebagai guru maka dia menduduki tingkatan ‘Kong’ yang sama tinggi dengan Kong-bun dan Kong-tie.
“Fui!” bentak Touw-ok. “Kong kosong. Goan juga sama kosongnya. Kau sungguh tolol!”
Cia Sun tertegun, tapi ia lantas sadar. “Guru kosong, murid kosong, tak ada dosa, tak ada mulia, tak ada jasa,” katanya.
Touw-ok tertawa terbahak. “Sekarang kau sudah menjadi anak murid kami,” katanya. “Kau tidak usah mengubah nama. Kau mengerti maksudku?”
“Mengerti,” jawabnya. “Segalanya hanya merupakan bayangan kosong. Jangankan nama, tubuh pun pada hakekatnya tak ada.”
Cia Sun orang yang ‘bun-bu-coan-cay’ (paham ilmu surat dan silat). Sesudah mendapat petunjuk Touw-ok, ia segera dapat menangkap inti sari dari pelajaran sang Buddha. Belakangan ia menjadi seorang pendeta suci.
Bu Kie menyaksikan dan mendengar itu semua dengan rasa girang bercampur duka.
“Mari!” kata Touw-ok akhirnya sambil menuntun tangan Cia Sun dan bersama dua saudara seperguruannya, ia lantas turun bukit. Kong-bun, Kong-tie, Bu Kie dan yang lain-lain memberi hormat dengan membungkuk.
Tiga puluh tahun yang lalu Kim-mo Say-ong melakukan perbuatan yang menggemparkan dunia Kangouw. Sekarang ia masuk di ‘pintu kosong’. Mengingat itu semua orang menghela napas dengan rasa terharu. Sesudah ketiga pendeta dan Cia Sun berlalu, sambil merangkap dua tangannya Kong-bun berkata.
“Kami merasa malu karena sehubungan dengan terjadinya pengkhianatan maka kami tak bisa melayani para enghiong-ya secara pantas. Sekarang kita berkumpul. Entah kapan kita bisa berkumpul lagi. Mengingat itu kami memberanikan diri untuk mengundang kalian guna mengaso sehari dua hari di kuil kami.”
Bersama tuan rumah, para tetamu kembali ke kuil Siauw-lim-si di mana sudah disediakan makanan cia-cay. Sesudah itu diadakan upacara sembahyangan untuk roh orang gagah yang membuang jiwa dalam pertempuran.
Bagi Bu Kie, selesainya Eng-hiong Tay-hwee belum berarti hilangnya banyak tanda tanya dalam hati. Masih banyak hal-hal yang belum terang baginya. Cia Sun sudah berlalu sebelum memberi keterangan. Bu Kie merasa bahwa ada banyak pertanyaan yang belum terjawab, mempunyai sangkut paut dengan Cie Jiak. Ia seorang mulia dan ia masih belum melupakan kecintaan dahulu. Maka ia menghibur diri dengan berpikir bahwa soal itu sebaiknya tak usah diselidiki terlalu mendalam supaya nama Cie Jiak jangan menjadi lebih rusak.
Sesudah bersantap Bu Kie pergi ke tempat Kaypang untuk membicarakan soal-soal partai pengemis dengan Su Hong Sek dan para Tianglo. Selagi berunding, terdengar Swee Put Tek menerobos masuk kemudian berkata.
“Kauwcu, Bu-tong Sie-hiap datang berkunjung. Dia mengatakan ada urusan penting yang hendak dibicarakan.”
Bu Kie terkejut. “Apakah ada sesuatu yang terjadi atas diri Thay-suhu?” tanyanya dalam hati. Cepat ia keluar menyambut. Sesudah memberi hormat dengan berlutut, hatinya lega karena melihat paras muka Thio Siong Kee tenang-tenang saja.
“Apa Thay-suhu baik?” tanyanya.
“Tak kurang suatu apa,” jawabnya. “Di Bu-tong-san aku mendapat warta bahwa dua laksa tentara Goan sedang menuju ke Siauw-lim-si dengan maksud yang tak baik terhadap Eng-hiong Tay-hwee. Maka itu aku cepat datang ke sini.”
“Mari kita beritahu Hong-thio,” kata Bu Kie.
Mereka segera pergi ke ruangan belakang dan menemui Kong-bun. Sesudah berpikir sejenak, Kong-beng berkata,
“Soal ini sangat besar. Kita harus berdiskusi dengan para orang gagah.“ Dia segera memerintahkan membunyikan lonceng dan mengumpulkan semua orang di Tay-hiong Po-thian.
Mendengar laporan Thio Siong Kee semua orang terkejut dan beberapa di antara mereka lantas mengutarakan pikiran. Yang berdarah panas mengusulkan agar mereka turun gunung melabrak tentara musuh, sedangkan yang lebih tenang mengatakan bahwa gerakan tentara Goan belum tentu ditujukan kepada Siauw-lim-si.
“Aku mengerti bahasa Mongol,” kata Thio Siong Kee. “Aku mendengar dengan kupingku sendiri bahwa pasukan itu mau menyerang Siauw-lim-si.”
“Menurut pendapatku, tentara kerajaan menyerang karena menduga bahwa berkumpul kita di sini mempunyai tujuan untuk merusak mereka,” kata Kong-bun.
“Kita paham ilmu silat dan kita tidak takut kawanan Tat-cu. Musuh datang harus disambut, air datang harus dibendung. Kita tidak usah takut...“ Belum lagi Kong-bun selesai bicara, beberapa orang bertepuk tangan untuk menyatakan persetujuannya. Sesudah sambutan mereda Kong-bun segera melanjutkan, “Akan tetapi kita orang rimba persilatan biasa bertempur satu lawan satu. Kita berkelahi dengan tangan kosong atau dengan senjata rahasia! Kita belum punya pengalaman berkelahi menggunakan senjata panjang seperti tombak dan sebagainya. Oleh karena itu menurut pikiran lolap, sebaiknya para enghiong bubar dan pulang ke tempat masing-masing.”
Mendengar saran itu untuk beberapa saat semua orang bungkam.
“Aku sendiri tidak setuju,” kata Bu Kie. “Pertama, jika kita bubar Tat-cu akan mengatakan bahwa kita takut terhadap mereka. Kedua, bagaimana dengan para suhu yang tinggal di kuil ini?”
Kong-bun tersenyum. “Kalau tentara Goan melihat bahwa yang berada di sini hanya para pendeta dan bukan orang-orang kangouw, mereka tidak akan berbuat apa-apa,” katanya.
Semua orang mengerti bahwa Kong-bun berkata begitu karena tidak mau menyeret orang. Para tamu datang atas undangan Siauw-lim-si. Kong-bun tak mau mereka mengorbankan jiwa gara-gara Siauw-lim-si. Tapi orang yang berada di situ adalah lelaki sejati. Mana bisa mereka mundur menghadapi musuh?
“Di hadapan Hong-thio dan para enghiong, aku yang rendah sebenarnya tak boleh banyak mulut,” kata Yo Siauw. “Tetapi pada hakekatnya setiap orang yang berada di sini memiliki kewajiban melawan musuh. Menurut pikiranku, sebaiknya kita segera mencari daya untuk memancing Tat-cu ke satu tempat di mana kita bisa menggempur mereka. Sedapat mungkin janganlah kuil yang bersejarah ini dijadikan medan perang.”
Semua orang lantas menyetujui usul itu. Tiba-tiba di luar terdengar suara kaki kuda yang dikaburkan secepatnya kemudian berhenti di depan kuil. Beberapa saat kemudian masuk dua orang memakai seragam partai dengan diantar seorang Tie-kek-ceng. Dari pakaiannya mereka ternyata anggota Beng-kauw. Sesudah keduanya memberi hormat, salah seorang berkata,
“Melaporkan kepada Kauwcu bahwa pasukan depan Tat-cu yang berjumlah lima ribu orang tengah menerjang ke Siauw-lim-si. Mereka mengatakan bahwa para suhu telah mengumpulkan orang untuk melakukan pemberontakan. Mereka sesumbar mau menginjak Siauw-lim-si sampai rata dan mereka mau membinasakan setiap kepala...“ Ia berhenti di tengah jalan.
Kong-bun tersenyum. “Kau mau mengatakan kepala gundul bukan?” tanyanya. “Tak usah ragu. Katakanlah segala perkataan yang harus dikatakan.”
Orang itu mengangguk. “Di sepanjang jalan kami melihat kenyataan bahwa sudah banyak pendeta yang dibinasakan oleh Tat-cu,” katanya pula. “Tat-cu mengatakan begini, ‘Kepala gundul bukan orang baik. Siapa yang membawa senjata harus dibunuh!’. Itulah pendirian pasukan Tat-cu.”
Semua orang meluap darahnya. Banyak yang berteriak dan mengusulkan supaya turun gunung menggempur musuh. Semenjak orang Mongol berkuasa di Tiongkok, para pencinta negeri di segenap rimba persilatan memang menganggap penjajah sebagai musuh dan dengan caranya sendiri mereka berusaha mengusir penjajah. Gerakan Beng-kauw merupakan sebuah usaha mereka. Melihat besi sedang panas, Bu Kie cepat-cepat berkata dengan suara lantang.
“Saudara-saudara! Hari ini kesempatan paling bagus untuk memperlihatkan bahwa saudara adalah lelaki sejati yang bisa berkorban demi kepentingan negara. Nama Siauw-lim Eng-hiong Tay-hwee akan tercatat dalam buku sejarah dan akan diingat orang untuk selama-lamanya.”
Pidato bersemangat itu disambut dengan sorak sorai gegap gempita.
“Sekarang biarlah kita minta Kong-bun Hong-thio memegang pimpinan,” kata Bu Kie. “Kami dari Beng-kauw akan mentaati semua perintah.”
“Mana bisa begitu?” kata Kong-bun seraya merangkap kedua tangnnya. “Walau pun benar kami pernah belajar dan mengerti sedikit ilmu silat, tapi kami sama sekali tidak mengenal ilmu perang. Semenjak beberapa tahun lalu Beng-kauw sudah memulai usaha besar dan hal ini diketahui semua orang. Menurut pendapat lolap, hanya tentara Beng-kauw yang akan dapat melawan tentara Tat-cu. Maka itu lolap mengusulkan untuk mengangkat Thio-kauwcu sebagai Bu-lim Bengcu (kepala perserikatan rimba persilatan) dan memimpin kita dalam peperangan melawan Tat-cu.”
Sebelum Bu Kie membuka mulut, para hadirin sudah menyambut usul itu dengan tepuk tangan dan sorakan. Meski pun Bu Kie masih muda dan sepak terjangnya dalam rimba persilatan belum cukup untuk menaklukkan hati orang, akan tetapi ilmu silatnya yang amat tinggi telah disaksikan segenap orang gagah. Di samping itu panglima-panglima tentara Beng-kauw seperti Han San Tong. Cie Siu Hwee, Cu Goan Ciang dan lain-lain sudah mendapat kemenangan dalam peperangan di sepanjang sungai Hway-ho di Holam, Ouw-pak dan sebagainya. Karena itu para orang gagah yakin bahwa selain Beng-kauw tidak ada partai yang lebih cocok untuk memimpin pertempuran dan memegang komando sebagai Bengcu.
“Tanggung jawab seorang Bengcu berat luar biasa,” kata Bu Kie dengan suara merendah. “Aku tak punya cukup kemampuan dan kuminta kalian suka memilih lain orang yang lebih pandai.”
Sekonyong-konyong terdengar suara ribut yang bergemuruh dan di lain saat dua orang anggota Swie-kim-kie menerobos masuk ke ruangan musyawarah.
“Tentara Mongol sudah menerjang ke gunung ini!” teriak salah seorang.
Sampai di situ Bu Kie tidak dapat berlaku sungkan lagi. “Swie-kim-kie, Ang-Sui-kie maju di muka untuk menyambut musuh!” katanya dengan suara angker. “Ciu Tian Sian-seng, Tiat-koan Totiang, kalian berdua bantu mereka dengan masing-masing membawa satu bendera.”
Ciu Tian dan Tiat-koan Tojin membungkuk dan segera berlalu untuk menjalankan tugas.
“Swee Put Tek Suhu,” kata pula Bu Kie. “Aku minta kau segera pergi ke berbagai tempat yang berdekatan untuk meminta bala bantuan dengan membawa Seng-hwee-leng sebagai tanda kepercayaan.“
Tanpa menyia-nyiakan waktu Swee Put Tek segera berangkat. Para enghiong yang berada di situ rata-rata berkepandaian tinggi, tapi mereka tenaga yang belum terlatih dalam peperangan. Sesudah Bu Kie mengeluarkan beberapa perintah, mereka segera menghunus senjata dan bergerak untuk menyambut musuh.
“Kauwcu,” bisik Yo Siauw, “Jika mereka tidak dipimpin, sekali gebrak saja bakal dipukul hancur.”
Bu Kie mengangguk. Ia segera keluar lebih dulu dan pergi ke pendopo di depan kuil untuk mengamat-amati musuh. Ia menyadari bahwa pasukan Mongol yang di depan, terdiri dari seribu jiwa lebih sudah tiba di lereng gunung. Tapi mereka sudah dipukul mundur pasukan Swie-kim-kie yang menggunakan senjata gendewa dan anak panah serta tombak di sebelah bawah gunung yang lebih jauh. Dia melihat pasukan demi pasukan Mongol merayap naik dengan teratur. Pada jaman itu keangkeran tentara Mongol tidak bisa menyamai jaman Genghis Khan. Tetapi biar bagaimana pun juga tentara pilihan Mongol masih tetap merupakan tentara yang tidak ada tandingannya.
Selagi Bu Kie mengasah otak untuk memundurkan tentara musuh di sebelah kiri tiba-tiba terdengar teriakan yang dibarengi dengan munculnya sejumlah pendeta wanita dan lelaki muda yang berlarian ke atas gunung. Mereka adalah rombongan Go-bi-pay. Tak salah lagi, dalam perjalanan pulang mereka bertemu dengan tentara Mongol yang memukul mereka balik ke atas gunung.
Di lain saat Bu Kie dan kawan-kawannya melihat Ciu Cie Jiak, Ceng-hui, Ceng-ciauw dan beberapa pendeta lain berkelahi sambil mundur dengan tubuh berlumuran darah. Tak jauh dari situ belasan pria yang memikul tandu sedang dikepung sejumlah serdadu Mongol. Berulang kali Cie Jiak dan kawannya menerjang hingga berhasil membinasakan puluhan serdadu musuh, tetapi mereka belum berhasil menolong kawan-kawan yang terkepung.
“Celaka!” seru Bu Kie. “Yang berada di dalam tandu pasti Song-suko!” Dia berpaling dan berseru. “Liat-hwee-kie melindungi dari kedua sisi, Pheng Suhu dan Hoan Yo Jie-su ikut aku!“ Seraya memberi perintah dia berlari dan menerjang musuh.
Dua serdadu memapak. Dengan tombak rampasan dia menerjang pasukan musuh diikuti Yo Siauw, Hoan Yauw dan Pheng Eng Giok. Sesudah mengamuk beberapa lama Hoan Yauw berhadapan dengan seorang Sip-hu-thio (pangkat perwira Mongol). Dengan sekali pukul dia menghancurkan kepala perwira itu dan sesudah merobohkan beberapa musuh dia berhasil merampas orang yang terluka parah dan rebah dalam sebuah tandu. Dia cepat menggendongnya lalu kabur ke tempat yang lebih aman. Sementara itu dengan muka penuh darah Cie Jiak menerjang lagi ke arah pasukan musuh.
“Cie Jiak, lekas balik! Song-toako sudah tertolong!” teriak Bu Kie.
Cie Jiak tidak meladeni, dia terus menyerang dengan cambuknya. Namun karena jalan di gunung sangat sempit dan penuh dengan manusia, maka terjangannya tidak berhasil. Beberapa saat kemudian Bu Kie melihat dua murid Go-bi-pay yang memikul sebuah tandu yang lain sedang dikepung musuh.
“Apakah Song-suko berada di tandu itu?” tanya Bu Kie dalam hati.
Ia segera menghampiri dengan berlari. Tapi saat masih terpisah setombak lebih dari tandu itu, kedua murid Go-bi kena bacokan golok dan anak panah. Mereka lantas menggelinding ke bawah gunung bersama tandu yang dipikulnya. Bu Kie terkejut. Ia melompat dan menggunakan tombak yang dipegang tangan kirinya untuk menahan tergelincirnya tandu. Ia melihat orang yang berada di tandu itu dibungkus kain putih dan hanya kelihatan mukanya. Memang orang itu bukan lain Song Ceng Su.
Ia segera melemparkan senjatanya lantas mendukung Ceng Su. Ia merasa heran karena tubuhnya berat luar biasa dan sesudah mendukungnya ia menyentuh sesuatu yang keras. Rupanya dalam kain putih yang membungkus tubuh Ceng Su terdapat satu benda yang berat dan keras. Tapi saat itu ia tidak sempat berpikir panjang lagi.
Karena kuatir menggetarkan tulang-tulang kepala Ceng Su yang belum lama disambung, ia tidak berani bertempur dengan serdadu-serdadu yang mencegatnya dan hanya berkelit ke sana sini sambil berlari menggunakan ilmu meringankan tubuh. Untung tak lama kemudian ia bertemu dengan Thio Siong Kee dan In Lie Heng yang lalu melindungi dari serangan musuh.
Sementara itu pasukan Mongol yang lainnya dengan kekuatan beberapa ratus orang mulai merangsek ke atas.
“Liat-hwee-kie turun tangan!” teriak Pheng Eng Giok.
Tentara Liat-hwee-kie segera menyemprotkan minyak tanah sambil melepaskan panah api hingga dua ratus lebih serdadu Mongol yang berada di depan segera terbakar dan yang lainnya terpaksa mundur. Di lain pihak Ang-sui-kie yang menyemburkan air beracun berhasil mematikan serangan musuh. Dengan menggunakan kesempatan baik para orang gagah turut menerjang dan membasmi musuh sepuas hati.
Melihat gelagat yang tidak baik, Ban-hu-thio yang memimpin tentara Mongol buru-buru memerintahkan membunyikan genderang untuk menarik mundur pasukan. Di lain saat pasukan depan Mongol sudah berubah menjadi pasukan belakang dan dengan teratur mereka segera mundur ke bawah gunung di bawah perlindungan tentara yang bersenjata anak panah. Melihat itu Pheng Eng Giok menghela napas lantas berkata,
“Tentara Mongol benar-benar bukan tentara sembarangan. Mereka kalah tapi tidak menjadi kalut.”
Sesampainya di kaki gunung tentara Mongol diatur seperti kipas dan membuat persiapan untuk beristirahat. Setelah musuh menghentikan serangan Bu Kie segera mengeluarkan perintah.
“Swie-kim, Ang-sui dan Liat-hwee, tiga bendera menjaga tempat-tempat penting. Kie-bhok dan Houw-touw-kie menebang pohon dan membuat benteng untuk menahan terjangan musuh selanjutnya.”
Kelima bendera itu segera berpencar untuk melakukan tugas. Pertempuran itu telah memberi pelajaran sekaligus membuka mata para orang gagah dari rimba persilatan. Kini mengertilah mereka bahwa perang tidak sama dengan pertandingan satu lawan satu atau pertempuran antara beberapa orang yang biasanya terjadi di kalangan Kangouw.
Kini mereka mengakui bahwa Iweekang, Gwakang, senjata rahasia dan ilmu silat tinggi dari seseorang tidak banyak artinya dalam peperangan, di mana beribu atau puluhan ribu manusia bertempur besar-besaran. Sekarang mereka yakin bahwa tanpa bantuan Ngo-heng-kie, hari itu mereka semua terhitung kuil Siauw-lim tentu sudah musnah. Tanpa Ngo-heng-kie mereka tak akan bisa melawan dua laksa serdadu Mongol yang terlatih baik.
Sesudah musuh mundur semua, Bu Kie meletakkan Song Ceng Su di tanah dan meraba dadanya. Pemuda she Song itu ternyata masih bernapas. Ia menengok untuk memanggil Cie Jiak, tapi nyonya itu tak kelihatan batang hidungnya.
“Mana Song-hujin?” tanyanya kepada beberapa murid Go-bi-pay yang berada di situ.
Mereka semua hanya menggeleng-gelengkan kepala. Karena repot melawan musuh, para enghiong pun tidak memperhatikan nyonya muda itu.
Karena kuatir kalau-kalau Song Ceng Su terluka, Bu Kie segera membuka kain putih yang membungkus tubuhnya. Bungkusan itu tidak kurang dari tiga lapis. Begitu lapisan ketiga terbuka, terdengar suara kerontangan dan empat potong senjata jatuh di tanah. Bu Kie terkesiap.
“To-liong-to! Ie-thian-kiam!” teriaknya.
Mendengar teriakan itu semua orang memburu. Di atas tanah menggeletak dua potong Ie-thian-kiam dan dua potong To-liong-to.
Bu Kie mengambil salah sepotong To-liong-to. Dia berdiri terpaku dan sepasang matanya mengeluarkan sinar kedukaan. Dia ingat bahwa ayah ibunya meninggal karena golok mustika ini. Dia ingat bahwa selama lebih dari dua puluh tahun banyak orang bermusuhan, berkelahi dan kehilangan jiwa gara-gara golok ini. Ia ingat pula bahwa berkumpulnya para enghiong di kuil Siauw-lim-si juga disebabkan oleh To-liong-to. Sekarang golok itu muncul dalam keadaan patah dua dan tidak ada gunanya lagi.
Ia mengangkat potongan itu dan menyadari bahwa di tengahnya berlubang. Ie-thian-kiam pun demikian. Mungkin sekali dalam lubang itu telah disembunyikan sesuatu, tapi isinya sudah diambil orang. Yo Siauw menghela napas panjang,
“Kauwcu!” katanya. “Sudah lama sekali aku mencoba memecahkan teka teki sumber ilmu silat Ciu-kouwnio, dan sekarang aku bisa mengatakan bahwa ilmu Ciu-kouwnio didapat dari pedang dan golok ini.”
Bu Kie bukan orang tolol. Dia pun bisa meraba kejadian yang sesungguhnya. Sekarang dia dapat membayangkan bahwa malam itu ketika berada di pulau kecil, Cie Jiaklah yang sudah mencuri Ie-thian kiam dan To-liong-to.
Entah dengan cara bagaimana ia menyingkirkan Tio Beng, lalu membinasakan In Lee dan saling membacok kedua senjata itu hingga Ie-thian-kiam dan To-liong-to yang tersohor patah dua-duanya. Setelah itu ia mengambil pit-kip (kitab ilmu) yang disembunyikan dalam kedua senjata itu dan melatih diri secara diam-diam. Makin lama Bu Kie berpikir semakin jelas pula duduk persoalannya.
“Benar,” katanya dalam hati. “Di pulau itu pada waktu aku mencoba mengusir racun dari tubuhnya dengan menggunakan Kiu-yang Sing kang aku merasakan munculnya semacam tenaga luar biasa yang melawan Sinkang-ku. Belakangan tenaga itu jadi lebih kuat. Hai... karena tergesa-gesa ia tidak mempelajari dasar-dasar Iweekang yang sejati tetapi melatih diri dengan ilmu luar yang beracun, yang dapat memberi hasil dalam waktu singkat. Sungguh sayang...”
Selagi Bu Kie termenung, Gouw Kin Co Ciang-kiesu Swie-kim-kie mendekat dan berkata seraya membungkuk.
“Kauwcu, dahulu aku pernah menjadi pandai besi (tukang besi). Aku dapat membuat bermacam-macam senjata. Mungkin pedang dan golok mustika itu masih dapat disambung. Apakah Kauwcu setuju kalau aku mencobanya?”
Yo Siauw girang, “Ilmu membuat pedang dari Gouw-kiesu tiada bandingannya di kolong langit,” katanya. “Kauwcu boleh mengijinkannya.”
Bu Kie mengangguk. “Baiklah,” katanya. “Memang sangat sayang kalau kedua senjata ini tidak bisa digunakan lagi. Gouw-kiesu, kau cobalah.”
“Hee-heng,” kata Gouw Kin Co kepada Hee Yam, Ciang-kiesu Liat-hwee-kie. “Membuat pedang dan golok mempunyai kaitan erat dengan api. Dalam hal ini aku memerlukan bantuanmu. Untuk sementara mungkin Tat-cu tidak berani segera menyerang lagi. Bagaimana jika kita mencoba sekarang juga?”
Hee Yam tertawa. “Mufakat,” jawabnya. “Soal api memang bidangku.”
Kedua pemimpin bendera itu lantas membuat persiapan. Mereka membuat sebuah tungku yang sangat tinggi dan pada tungku itu hanya terbuka satu lubang yang panjangnya belum cukup satu kaki. Dalam Liat-hwee-kie selalu tersedia macam-macam bahan bakar, maka dalam waktu singkat api berkobar-kobar.
Dengan penuh perhatian Gouw Kin Co mengawasi api dalam tungku. Di atas tanah berjejer belasan golok. Sesudah api berubah warnanya dia mengambil beberapa batang golok lalu memasukkannya ke dalam tungku untuk menilai ‘sifat’ api. Beberapa saat kemudian api yang tadinya berwarna hijau berubah menjadi putih. Ia segera mengambil jepitan baja, menjepit dua potongan To-liong-to, menyambungnya satu dengan yang lain, kemudian memasukkannya ke dalam tungku.
Dengan rasa kagum semua orang menyaksikan cara kerja pandai besi itu. Dia tidak memakai baju dan keringat mengucur terus dari tubuhnya yang berotot. Hawa panas dari tungku itu hebat bukan main dan bunga api yang selalu muncrat keluar jatuh di tubuhnya. Tapi ia seolah-olah tidak merasakan semua itu. Dengan menumpahkan seluruh perhatian, ia berdiri laksana patung dengan kedua tangan memegang jepitan baja yang menjepit dua potong To-liong-to.
Tiba-tiba dua anggota Liat-hwee-kie yang memompa Hong-shia (Alat berbentuk kotak untuk memompa angin ke dalam tungku) roboh pingsan. Hee Yam dan Ciang-kie Hu-su (wakil pemimpin) Liat-hwee-kie melompat lalu menyeret kedua orang korban, kemudian mereka sendiri yang menggantikannya. Mereka adalah orang-orang yang mempunyai lweekang kuat. Begitu Hong-shia ditarik, api segera berkobar makin besar. Selang beberapa lama tiba-tiba Gouw Kin Co berseru,
“Gagal!”
Dia melompat mundur dengan paras muka pucat. Kedua jepitan baja yang dipegangnya mulai melumer tapi To-liong-to masih tidak bergeming.
“Kauwcu, anak buahmu tidak punya kebecusan,” katanya dengan suara memohon maaf. “Nama besar To-liong-to benar-benar bukan nama kosong.”
Hee Yam dan Ciang-kie Hu-su Liat-hwee-kie juga ikut mundur. Kini pakaian mereka basah keringat.
“Bu Kie Koko,” tiba-tiba Tio Beng berkata, “Bukankah Seng-hwee-leng juga logam mustika dan bahkan tidak dapat diputuskan oleh To-liong-to?”
“Benar!” kata Bu Kie. “Hampir aku lupa.“
Dia mempunyai enam Seng-hwee-leng, tapi yang satu sudah diberikan kepada Swee Put Tek untuk memanggil bala bantuan. Dia segera merogoh saku dan mengeluarkan kelima batang ‘leng’ yang lalu diserahkan kepada Gouw Kin Co.
“Kalau golok dan pedang itu sukar disambung, Gouw-heng tidak usah memaksakan diri,” katanya. “Seng-hwee-leng adalah mustika dari agama kita, maka sebisa mungkin jangan sampai rusak.”
Gouw Kin Co menyambut dan menelitinya sambil mengerutkan alis.
“Apa bila Gouw-heng tidak punya pegangan sebaiknya jangan menempuh bahaya,” kata Bu Kie.
“Seng-hwee-leng ini terbuat dari emas putih, besi Hian-tiat, pasir Kim-kong serta bahan istimewa lain,” terang Gouw Kin Co. “Benda yang luar biasa ini tak akan bisa dilumerkan dengan api. Yang tak dapat aku pikirkan adalah bagaimana Seng-hwee-leng dulu dibuat.”
“Sudahlah, untuk apa Gouw-heng memikirkan soal itu,” kata Hee Yam. “Paling baik kita segera mencoba.”
Gouw Kin Co mengangguk, “Kauwcu tidak usah kuatir,” katanya. “Biar pun api yang dibuat Hee-heng sangat hebat tetapi kulit Seng-hwee-leng tidak akan rusak.“
Sehabis berkata begitu dia menjepit sepotong To-liong-to dengan dua ‘leng’ dan potongan yang lain dengan dua ‘leng’ pula. Kemudian dengan dua jepitan baja yang baru ia menjepit keempat ‘leng’ itu yang lantas dimasukkan ke dalam tungku. Seperti tadi, gas memompa angin dilakukan Hee Yam dan Ciang-kie Hu-su dari Liat-hwee-kie. Makin lama api berkobar makin tinggi. Selang setengah jam Gouw Kin Co, Hee Yam dan Ciang-kie Hu-su sudah kelihatan payah sekali dan hampir tidak bisa mempertahankan diri lagi dari serangan hawa panas.
Melihat itu Hoan Yauw memberi isyarat kepada Ciu Tian dengan lirikan mata dan gerakan tangan. Bersamaan mereka segera melompat menggantikan pekerjaan Hee Yam dan kawannya. Begitu angin di Hong-shia dipompa dua tenaga baru yang memiliki Iweekang amat tinggi, api yang berwarna putih segera menghembus ke atas.
“Song-hujin, Ciang-bun-jin Go-bi-pay memiliki ilmu silat nomor satu di kolong langit. Siapa yang tidak mufakat?” Pendeta itu mengajukan pertanyaan ini tiga kali beruntun tanpa mendapat tantangan. “Kalau begitu,” kata si pendeta akhirnya. “Sesuai dengan persetujuan yang sudah dicapai, Kim-mo Say-ong Cia Sun diserahkan kepada pertimbangan Song-hujin. Selain itu, siapa pun juga yang sekarang memegang To-liong-to harus menyerahkan kepada Song-hujin. Hal ini pun telah disetujui segenap orang gagah dan tidak dapat dibantah lagi.”
Pada saat si pendeta bicara, Bu Kie sedang mengerahkan Kiu-yang Cin-khie dan seluruh semangat pikirannya berada dalam ‘kekosongan’. Mendadak kupingnya menangkap kata-kata Kim-mo Say-ong Cia Sun,
“Hm, diserahkan kepada pertimbangan Song-hujin...” Bu Kie terkejut sehingga hampir saja dia muntah darah lagi.
Tio Beng yang terus waspada melihat perubahan pada paras muka pemuda itu dan dia mengerti sebab musababnya.
“Kita boleh merasa girang kalau Gie-hu diserahkan kepada pertimbangan Ciu-cici. Dia tidak tega membinasakan kau dan ini membuktikan bahwa dia masih mencintai kau. Dia masih mengharapkan pemulihan hubungan denganmu, maka dia pasti tidak akan mencelakai Gie-hu. Legakanlah hatimu,” Bu Kie menyetujui pendapat itu dan ketenangannya pulih.
Sementara itu matahari telah tenggelam di langit barat dan seluruh lapangan mulai diliputi kegelapan malam.
“Kim-mo Say-ong Cia Sun dipenjarakan di belakang gunung,” kata pula si pendeta Tat-mo-tong. “Karena sekarang sudah malam dan kalian telah lapar, maka besok tengah hari kita berkumpul kembali di sini dan lolap akan mengantarkan Song-hujin ke penjara untuk melepaskan Cia Sun. Besok kita akan menyaksikan ilmu silat Song-hujin yang tidak ada tandingannya di kolong langit.”
Bu Kie, Yo Siauw dan Hoan Yauw memandang Tio Beng. Di dalam hati mereka memuji tebakan si nona yang sangat tepat. Serombongan pendeta Siauw-lim itu ternyata sudah menetapkan siasat untuk mencelakakan jago-jago nomor satu. Biar pun berkepandaian tinggi Cie Jiak tentu tidak bisa melawan Touw-ok bertiga. Mungkin sekali nyonya muda itu akan membuang jiwa dalam pertempuran. Sementara itu Cie Jiak kembali ke gubuk Go-bi-pay dan menengok suaminya.
Setelah berdiam sejenak si pendeta lantas berkata lagi. “Para enghiong, dengarlah! Kalian datang berkunjung di kuil kami dan kalian adalah tamu kami yang terhormat. Jika di antara kalian terdapat ganjalan, dengan memandang muka kami yang tipis kami harap janganlah kalian coba membereskan ganjalan itu di tempat ini. Sesudah makan malam kalian boleh berjalan-jalan di segala tempat, kecuali tempat untuk menyimpan kitab-kitab yang terletak di belakang kuil kami.”
Sesudah itu semua orang bubar dari lapangan dan kembali ke tempat peristirahatan. Bu Kie didukung Hoan Youw dan rombongan Beng-kauw pulang ke pesanggrahan mereka. Bu Kie terluka berat, akan tetapi setelah menelan sembilan butir pil buatannya sendiri dan sesudah mengerahkan hawa Kiu-yang, sekitar tengah malam, sehabis memuntahkan darah hitam, lukanya sembuh total.
Yo Siauw, Hoan Yauw, Jie Lian Ciu, In Lie Heng dan lain-lain semuanya kaget bercampur girang. Mereka memuji Iweekang Bu Kie yang sangat luar biasa. Apa bila orang lain yang terluka begitu berat, walau pun diobati tabib yang paling pandai sedikitnya dia harus beristirahat selama satu dua bulan. Sehabis makan dua mangkok nasi dan mengaso lagi, Bu Kie bangkit dan berkata,
“Aku mau keluar sebentar.“
Dia seorang Kauwcu, maka meski pun dia tidak memberi-tahu maksudnya, tetapi tidak ada seorang pun yang berani bertanya.
“Kau baru sembuh, harus berhati-hati,” kata In Lie Heng.
Bu Kie mengangguk. Melihat paras muka Tio Beng yang mengunjuk kekuatiran besar dia tersenyum, seperti juga dia mau mengatakan, “Jangan kuatir!”
Dia keluar dari pesanggrahan dan menengadah. Rembulan memancarkan sinarnya yang gilang gemilang dan langit terang dengan bintang-bintang. Di luar kuil dia bertemu dengan seorang Tie-kek-ceng.
“Aku ingin bertemu dengan Ciang-bun-jin dari Go-bi-pay,” katanya. “Kumohon Taysu suka mengantar.”
Melihat orang yang bicara adalah Kauwcu Beng-kauw, pendeta itu membungkuk dan mengiyakan. Dia lalu berjalan ke arah barat dan setelah melalui satu li, dia menuding serentengan gubuk seraya berkata,
“Itulah tempat Go-bi-pay. Lelaki dan perempuan tidak boleh bertemu sembarangan, Siauw-ceng hanya bisa mengantar sampai di sini.“
Sesungguhnya apa yang dtakuti olehnya adalah pertempuran antara Bu Kie dan Cie Jiak. Kalau terjadi begitu, dia bisa terbawa-bawa.
“Jika kau memberi-tahu hal ini kepada orang lain maka banyak orang bakal kaget,” kata Bu Kie sambil tersenyum. “Bagaimana kalau aku menotok jalan darahmu supaya kau menunggu aku di sini?”
“Siauw-ceng akan tutup mulut,” kata si pendeta dengan tergesa-gesa. “Kauwcu tidak usah kuatir.“ Dia memutar tubuh lalu berjalan cepat-cepat.
Bu Kie mendekati gubuk-gubuk itu. Mendadak dua bayangan berkelebat dan dua pendeta wanita mencekal pedang terhunus sudah menghadang di depannya. “Siapa?!” bentak salah seorang.
“Beng-kauw Kauwcu Thio Bu Kie,“ jawabnya. “Aku minta bertemu dengan Song-hujin.”
Kedua nikouw itu terkesiap. “Thio... Thio-kauwcu tunggu... aku akan melaporkan dahulu,” kata yang satu dengan suara gemetar. Dia memutar tubuh dan setelah berjalan beberapa tindak dia lalu meniup suitan bambu.
Hari ini adalah hari kegemilangan Go-bi-pay. Di hadapan ribuan enghiong Ciang-bun-jin Go-bi-pay telah megalahkan tiga tokoh utama pada jaman ini. Inilah sebuah peristiwa besar yang pertama kali terjadi semenjak Go-bi-pay didirikan. Tetapi sesudah membunuh dua pemimpin Kay-pang, menjatuhkan dua pendekar Bu-tong dan melukai Kauwcu dari Beng-kauw, kini Go-bi-pay mempunyai banyak musuh. Lagi pula sesudah merebut gelar jago silat nomor satu di kolong langit, Cie Jiak sudah membuat iri hati entah berapa banyak orang.
Maka itulah malam ini Go-bi-pay membuat penjagaan yang amat keras. Hampir berbareng dengan tanda pendeta wanita itu dari empat penjuru muncul empat puluh orang lebih yang mencekal pedang terhunus. Bu Kie tenang-tenang saja. Dia berdiri tegak dengan menaruh kedua tangannya di belakang. Pendeta wanita yang tadi meniup suitan segera masuk ke dalam untuk memberi laporan. Beberapa saat kemudian dia keluar kembali dan berkata.
“Ciang-bun-jin kami mengatakan bahwa karena laki-laki dan perempuan tidak boleh bertemu begitu saja di tengah malam buta, maka Ciang-bun-jin kami mempersilakan Thio-kauwcu balik kembali.”
“Aku mengerti ilmu ketabiban dan aku hendak mencoba mengobati Song Ceng Su Siauw-hiap,” kata Bu Kie. “Aku tidak mengandung maksud lain.”
Pendeta itu kelihatannya terkejut. Dia segera masuk lagi dan sesudah agak lama barulah dia keluar lagi.
“Ciang-bun-jin mengundang Thio-kauwcu masuk,“ katanya.
Sesudah menepuk-nepuk pinggangnya untuk memperlihatkan bahwa dia tidak membawa senjata, Bu Kie segera mengikuti pendeta wanita itu masuk ke dalam. Setibanya di ruang tengah dia melihat Cie Jiak sedang duduk termenung sambil menopang dagu. Mendengar langkah kaki, nyonya itu tidak menengok atau berkisar. Sehabis menuang teh kemudian menaruh cangkir di depan Bu Kie, pendeta wanita yang mengantar Bu Kie lalu meninggalkan ruangan tersebut. Di bawah cahaya lilin, untuk beberapa saat Bu Kie memandang bekas tunangannya yang mengenakan baju warna hijau. Di antara kesunyian itu suasana diliputi dengan kenangan-kenangan masa lalu, dan seketika Bu Kie merasa sangat berduka.
“Bagaimana dengan luka Song-suko?” tanyanya. “Boleh aku menengoknya?”
Cie Jiak tetap tidak menengok. “Tulang kepalanya hancur,” jawabnya dengan suara dingin. “Lukanya sangat berat. Rasanya dia tidak bisa hidup lagi. Entahlah apa dia bisa melewati malam ini.”
“Kau tahu bahwa ilmu ketabibanku tidaklah terlalu jelek. Aku bersedia menolongnya sedapat mungkin.”
“Mengapa kau mau menolong dia?”
Bu Kie terkejut. Beberapa saat kemudian barulah dia menjawab. “Aku bersalah kepadamu dan aku merasa sangat malu. Apa lagi hari ini kau sudah menaruh belas kasihan padaku dan mengampuni jiwaku. Adalah sepantasnya jika aku pun berusaha menolong Song-suko.”
“Kaulah yang lebih dahulu mengampuni jiwaku. Apakah kau kira aku tidak tahu? Jika kau berhasil menolong Song-toako, balasan budi apa yang kau minta?”
“Satu jiwa ditukar dengan satu jiwa. Aku datang untuk minta kau menolong Gie-hu.”
Cie Jiak menuding ke dalam. “Dia berada di situ,” katanya.
Ketika Bu Kie menolak pintu kamar, kamar itu tampak gelap gulita. Dia segera mengambil ciak-tay, tempat menancap lilin. Cie Jiak tetap tidak bergerak. Bu Kie menyingkap kelambu. Dia melihat Song Ceng Su dalam keadaan pingsan, napasnya lemah, kedua matanya melotot dan paras mukanya amat menakutkan. Dia lalu memeriksa nadi. Ketukan nadinya kalut, sebentar cepat sebentar perlahan. Kulit tubuhnya dingin dan memang benar, jika tidak keburu ditolong maka dia sukar melewati malam ini.
Perlahan dia meraba batok kepala Ceng Su. Dia mendapat kenyataan bahwa pada bagian depan dan bagian belakang kepala ada empat potong tulang yang hancur. Pukulan Song-hong Koan-nyie yang dikirim Jie Lian Ciu disertai sepuluh bagian tenaga dalam. Apa bila Song Ceng Su sendiri tidak mempunyai Iweekang yang kuat maka sejak awal dia sudah binasa.
Bu Kie lalu menutup kelambu, menaruh ciak-tay di meja dan duduk di kursi bambu sambil mengasah otak untuk mencari jalan guna mengobatinya. Sebagai murid Tiap-kok Ie-sian, kepandaiannya dalam ilmu ketabiban sudah jarang ada tandingannya. Tapi luka Ceng Su terlampau berat sehingga dia sama sekah tidak punya pegangan. Sesudah duduk di situ sekitar semakanan nasi, dia berjalan keluar dan berkata,
“Song-hujin, aku tidak bisa mengatakan apakah aku akan berhasil dalam usaha mengobati Song-suko. Apakah kau suka mengijinkan untuk aku mencoba-coba?”
“Kalau kau tidak bisa menolong maka di dunia tidak ada orang lain yang akan bisa menolong.”
“Andai kata aku berhasil, wajah dan ilmu silatnya mungkin tidak dapat pulih seperti sedia kala.”
“Kau bukan dewa. Aku tahu kau akan berusaha sedapat mungkin untuk menolong jiwanya agar kau dapat menjadi kun-ma (suami seorang puteri raja muda) dengan tidak usah malu sendiri.“
Jantung Bu Kie berdetak kencang. Dia sama sekali tidak mempunyai maksud begitu, tapi merasa tidak enak untuk bertengkar dengan tunangannya. Maka dia kembali ke kamar Ceng-su, membuka selimut dan menotok delapan ‘hiat’ pada tubuh pemuda itu. Kemudian dengan hati-hati dia mengangkat tangan yang tulang-tulangnya hampir patah atau hancur dan akhirnya melabur tulang-tulang itu dengan semacam koyo hitam yang dikoreknya dari sebuah kotak emas.
Koyo itu Hek-giok Toan-siok-ko, koyo untuk mengobati tulang patah dari Siauw-lim-bun di See-hek. Sebagaimana diketahui, koyo itu diberikan Tio Beng untuk mengobati Jie Thay Giam dan In Lie Heng dan sekarang masih ada lebihnya. Sesudah itu dengan secepat mungkin Bu Kie segera mengerahkan Kiu-yang Cin-khie dan mengirim hawa yang hangat ke dalam otak Song Ceng Su.
Setelah tulangnya disambung dan kepalanya dilabur obat, paras muka Song Ceng Su tak berubah menjadi lebih jelek. Bu Kie amat girang dan dalam hatinya timbul harapan besar. Bu Kie sendiri baru saja terluka, maka sehabis mengerahkan Iweekang, napasnya lantas tersengal-sengal. Untuk beberapa lama ia berdiri di depan ranjang sambil menenteramkan jalan pernapasannya. Sesudah itu ia meninggalkan Song Ceng Su dan menaruh ciak-tay di atas meja. Dari sinar lilin ia melihat muka Cie Jiak yang pucat pasi. Di luar terdengar suara langkah kaki. Ia tahu suara tindakan murid Go-bi pay yang berjaga malam.
“Song-suko mungkin sekali bisa ditolong,” kata Bu Kie. “Legakanlah hatimu.”
“Kau tidak punya pegangan pasti dalam menolong dia, aku pun tak punya pegangan pasti dalam menolong Cia-tayhiap,” kata Cie Jiak.
Bu Kie tahu bahwa apa yang dikatakan Cie Jiak memang sebenarnya. Meski dibantu dua jago Go-bi-pay, Cie Jiak belum tentu berhasil. Bahkan mungkin dia membuang jiwa.
“Apa kau tahu di mana Gie-hu dipenjarakan dan bagaimana penjagaannya?” tanyanya.
“Tidak,” jawabnya. “Penjagaan apa yang diatur Siauw-lim-pay?”
Bu Kie segera menceritakan apa yang diketahuinya berikut segala pengalamannya dalam pertempuran melawan tiga pendeta Siauw-lim.
“Kalau kau tidak berhasil aku pun lebih tidak akan berhasil,” kata Cie Jiak sesudah Bu Kie selesai menutur.
“Cie Jiak,” kata Bu Kie dengan bernafsu, “Kalau kita berdua bekerja sama, kita pasti akan berhasil. Dengan tenaga Sun-yang (keras) aku melibat cambuk ketiga pendeta itu, sedang kau sendiri bisa menerjang dengan tenaga Im-jiu (lembek). Begitu kau menerobos masuk ke dalam Kim-kong Hok-mo-coan, kita lantas menyerang dari dalam dan dari luar dan kita pasti akan berhasil.”
Cie Jiak tertawa dingin. “Dulu kita pernah memadu janji untuk menjadi suami isteri,” kata si nyonya. “Kini jiwa suamiku berada dalam bahaya. Hari ini aku mengampuni jiwamu. Orang luar tentu akan bilang bahwa aku berbuat begitu karena aku sukar melupakan kecintaan. Tapi apa bila kau meminta bantuan dalam memukul Kim-kong Hok-mo-coan, orang-orang gagah di kolong langit tentu akan mencaci aku sebagai perempuan yang tak tahu malu.”
“Peduli apa omongan orang luar?” kata Bu Kie. “Kita hanya perlu menanyakan hati sendiri, apakah di antara kita ada yang berbuat sesuatu yang memalukan atau tidak.”
“Bagaimana kalau setelah bertanya kepada hati sendiri kemudian aku merasa bahwa aku telah berbuat sesuatu yang memalukan?” kata Cie Jiak.
Bu Kie tertegun. “Kau... kau...“ katanya.
“Thio-kauwcu,” potong Cie Jiak. “Bahwa kini kita berdua berada bersama di tengah malam buta, sudah sangat tidak pantas. Thio-kauwcu, kau pergilah!”
Bu Kie menyoja sambil membungkuk, “Song-hujin, semenjak kecil kau berlaku sangat baik kepadaku,” katanya. “Kumohon kali ini kau suka berbuat baik lagi kepadaku. Selama Thio Bu Kie masih hidup, dia takkan melupakan budimu yang sangat besar.”
Cie Jiak bungkam. Ia tidak menjawab ‘ya’ atau ‘tidak’. Ia pun tidak pernah menengok sehingga Bu Kie tidak bisa melihat paras mukanya. Baru saja Bu Kie mau memohon lagi, nyonya muda itu tiba-tiba berteriak,
“Ceng-hui Suci, antarkan tamu kita!”
Pintu terbuka dan Ceng-hui Suthay berdiri di ambang pintu dengan menggenggam pedang terhunus. Dengan mata berapi-api pendeta wanita itu mengawasi Bu Kie. Mendadak Bu Kie menekuk kedua kakinya kemudian berlutut. Ia menyampingkan segala perasaan malu sebab mati hidupnya sang ayah angkat tergantung atas kemauan Cie Jiak untuk memberi pertolongan. Sesudah memanggutkan kepala empat kali ia berkata,
“Song-hujin, aku mohon belas kasihanmu.”
Cie Jiak tetap duduk bagaikan patung.
“Thio Bu Kie, Ciang-bun-jin menyuruh kau pergi!” bentak Ceng-hui. “Jika kau masih rewel, kau benar-benar manusia rendah yang tidak mengenal malu!” Dia mencaci begitu karena menduga Bu Kie minta menikah dengan Cie Jiak sesudah Song Ceng Su mati.
Bu Kie menghela napas. Dia bangkit dan segera berjalan keluar. Setibanya di gubuk Beng-kauw, Tio Beng menyambutnya dengan berkata.
“Song Ceng Su dapat ditolong, bukan? Kau jadi orang mulia dengan menggunakan Hek-giok Toan-siok-ko dariku.”
“Beng-moay, kau sungguh pintar! Tetapi aku tidak bisa mengatakan, apa dia bisa ditolong atau tidak.”
“Hm... Kau coba menolong Song Ceng Su untuk ditukar dengan Cia-tayhiap. Bu Kie Koko, makin lama otakmu semakin tidak beres!”
“Mengapa begitu? Aku tidak mengerti maksudmu.”
“Dengan seluruh kepandaianmu kau berusaha menolong Song Ceng Su. Itu berarti bahwa sedikit pun kau tidak ingat lagi kecintaan Ciu-cici. Coba pikir, bagaimana dia tidak dongkol?”
Bu Kie terkejut. Dia tak dapat menjawab perkataan si nona. Jangan jangan Cie Jiak merasa senang kalau suaminya binasa. Tapi dia lalu teringat perkataan nyonya itu. ‘Aku tahu kau akan berusaha sedapat mungkin untuk menolong jiwanya agar kau dapat menjadi kun-ma dengan tidak usah malu sendiri’. Kata-kata itu menunjukkan bahwa di dalam hati Cie Jiak merasa mendongkol.
Melihat Bu Kie bungkam, Tio Beng berkata lagi. “Apa kau merasa menyesal sudah menolong jiwa Song Ceng Su?” Sehabis bertanya demikian, tanpa menunggu jawaban dia pun masuk ke dalam.
Bu Kie duduk di atas batu. Sambil memandang rembulan pikirannya melayang ke masa lalu. Ia ingat bahwa sebelum satu tahun sesudah meninggalkan Peng-hwee-to, kedua orang tuanya meninggal dunia. Semenjak itu dia hampir selalu diliputi kedukaan. Berulang kali ia mencoba berbuat kebaikan, tapi akibatnya jadi sebaliknya.
“Ah... kalau tahu akhirnya bakal begini lebih baik tinggal terus di Peng-hwee-to dan hidup tenteram bersama ayah ibu dan Gie-hu,” katanya dalam hati.
*********
Pada keesokan paginya para enghiong kembali berkumpul di lapangan yang kemarin. Kali ini pendeta Tat-mo-tong yang berlaku sebagai juru bicara tanpa minta permisi dari Kong-tie.
“Para enghiong, dengarlah!” serunya. “Dalam pibu kemarin Song-hujin dari Go-bi-pay memperoleh kemenangan terakhir hingga sebagaimana yang sudah disetujui bersama, hari ini kami mengundangnya untuk pergi ke belakang gunung guna melepaskan Kim-mo Say-ong Cia Sun. Mari.“ Sehabis berkata begitu ia berjalan lebih dahulu sebagai penunjuk jalan, diikuti rombongan Go-bi-pay dan lain-lain.
Melihat Cie Jiak tidak mengenakan pakaian berkabung, Bu Kie pun tahu bahwa jiwa Song Ceng Su dapat dikatakan sudah tertolong.
Setibanya di puncak bukit, si pendeta Tat-mo-tong segera berkata. “Ini penjara di bawah tanah di antara ketiga pohon siong. Penjaga penjara ketiga tetua dari partai kami. Sesudah mengalahkan ketiga tetua kami, Song-hujin boleh mengambil Cia Sun.”
Melihat paras muka Bu Kie yang kebingungan, Yo Siauw berbisik, “Kauwcu tidak usah kuatir, Wie Hok-ong dan Swee Put Tek sudah mempersiapkan Ngo-heng-kie di kaki bukit. Kalau Go-bi-pay tidak mau menyerahkan Cia Sun, kita memakai kekerasan.”
Alis Bu Kie berkerut. “Tindakan itu melanggar persetujuan kita akan kehilangan kepercayaan,” katanya.
“Untuk menolong Cia Say-ong, kita tidak bisa terlalu memperhatikan hal yang demikian,” kata Yo Siauw.
“Musuh Cia-tayhiap terlampau banyak,” sela Tio Beng. “Kita harus menjaga juga senjata gelap.”
“Benar,” kata Bu Kie. “Hoan-yusu, Tiat-koan Totiang, Ciu-heng, Pheng Taysu, aku minta kalian berdiri di empat sudut dan menjaga serangan gelap.”
“Bu Kie Koko,” bisik nona Tio. “Aku ingin mengajukan sebuah usul. Kalau ada orang yang mempergunakan senjata rahasia, kita menggunakan kesempatan itu untuk merampas Cia-tayhiap. Dengan demikian tidak seorang pun bisa mengatakan bahwa kita melanggar janji. Jika tak ada yang membokong, sebaiknya Yo-cosu memerintahkan salah seorang melepaskan senjata rahasia agar di dalam kekalutan kita bisa turun tangan.”
Yo Siauw tertawa. “Bagus! Siasat itu benar-benar lihay,“ katanya. Ia segera berlalu untuk mengatur persiapaan.
Bu Kie merasa siasat itu bukan cara seorang ksatria. Tetapi untuk menolong jiwa ayah angkatnya, ia tidak bisa terlampau menghiraukan soal itu lagi. Diam-diam ia merasa sangat berterima kasih terhadap Tio Beng.
“Beng-moay dan Yo-cosu adalah orang-orang pandai pada jaman ini,” katanya dalam hati. “Sungguh beruntung aku bisa mendapat bantuan mereka.”
Sementara itu Ciu Cie Jiak telah maju menghampiri ketiga pohon siong kemudian berkata sambil membungkuk.
“Sam-wi adaiah tetua Siauw-lim-pay yang memiliki kepandaian amat tinggi! Jika sendirian aku melawan Sam-wi, aku bukan saja berlaku tidak adil, tapi juga tidak menghormati kalian.”
“Song-hujin boleh mengambil pembantu,” jawab si pendeta Tat-mo-tong.
“Karena mengalahnya para enghiong, secara kebetulan aku dapat merebut kemenangan,” kata Cie Jiak. “Dalam mendapat kemenangan itu aku mengandalkan ilmu silat mendiang guruku, Biat-coat Suthay. Jika tiga lawan tiga biar pun menang, kemenangan itu belumlah cukup untuk memperlihatkan hasil yang jerih payah mendiang guruku dalam mengajarku. Kalau satu lawan tiga, aku berlaku kurang hormat terhadap tuan rumah. Begini saja. Aku akan minta bantuan seorang bocah yang kemarin jatuh di tanganku dan yang lukanya sampai sekarang belum sembuh betul. Dahulu bocah itu pernah muntah darah karena dipukul Siansu (mendiang guruku). Kejadian ini diketahui semua orang. Dengan meminta bantuannya aku tidak merugikan nama baik Siansu.”
Mendengar itu Bu Kie girang sekali. “Betul saja dia meluluskan permohonanku,” katanya dalam hati.
Sementara itu Cie Jiak sudah berseru, “Thio Bu Kie, kau keluarlah!”
Kecuali Yo Siauw serta beberapa pemimpin lainnya, para anggota Beng-kauw tidak tahu mau diapakan Kauwcu mereka. Mereka merasa sangat marah, tetapi di luar dugaan sang Kauwcu kelihatan girang dan menghampiri dengan paras muka berseri-seri. Sambil menyoja Bu Kie segera berkata.
“Terima kasih atas belas kasihan Song-hujin yang kemarin sudah mengampuni jiwaku.“ Untuk menebus dosa masa lalu dan demi menolong ayah angkatnya, dia sudah mengambil keputusan untuk menelan segala hinaan.
“Karena lukamu belum pulih, aku pun tidak sungguh-sungguh mengharap bantuanmu,” kata Cie Jiak.
“Aku hanya menanti perintah,” jawab Bu Kie.
Dengan sekali menggerakkan tangan kanannya Cie Jiak membuat belasan lingkaran kecil dan besar dengan cambuknya. Hampir berbareng dia membalik tangan kirinya dan tahu-tahu dia sudah memegang sebilah golok pendek yang bersinar hijau. Kemarin para orang gagah telah menyaksikan kelihayan cambuk. Mereka tidak pernah menduga bahwa jago betina ini juga akan mempergunakan senjata lainnya. Kedua senjata itu sangat berlainan sifatnya, yang satu panjang yang lain pendek, yang satu lemas yang lain keras.
Bahwa Cie Jiak dapat menggunakan kedua senjata itu dengan berbareng merupakan bukti bahwa dia betul-betul mempunyai kepandaian tinggi. Semangat para enghiong terbangun dan mereka akan menyaksikan sebuah pertempuran yang luar biasa.
Bu Kie segera merogoh saku dan mengeluarkan dua batang Seng-hwee-leng. Dia maju ke gelanggang. Tiba-tiba tindakannya limbung dan ia sengaja batuk-batuk seperti orang yang masih menderita luka berat. Ia bertekad untuk menyerahkan semua jasa kepada Cie Jiak. Perlahan Touw-ok bertiga mengangkat tambang mereka, siap sedia menyambut serangan lawan. Cie Jiak mendekati Bu Kie lantas berbisik,
“Kau pernah bersumpah membalas sakit hati Piauw-moaymu. Kalau si pembunuh ternyata ayah angkatmu, apakah kau masih mau menolong dia?”
Bu Kie terkejut, “Kadang-kadang Gie-hu terserang penyakit kalap dan dia bisa melakukan perbuatan yang sebenarnya tidak diinginkan olehnya,” jawabnya.
Pada saat itu pula di lereng bukit sekonyong-konyong terdengar suara khim dan seruling. Bu Kie girang sekali. Di lain saat dengan diiringi tiga suara tali khim empat nona yang mengenakan baju putih dan masing-masing memegang satu khim muncul di puncak bukit. Beberapa detik kemudian dengan iringan suara seruling, empat gadis berbaju hitam yang masing-masing membawa sebatang seruling, memperlihatkan diri. Delapan wanita muda itu lantas berdiri di delapan penjuru dan mulai memperdengarkan sebuah lagu yang sangat merdu.
Di antara iringan lagu itu seorang gadis cantik yang mengenakan baju warna kuning muda perlahan-lahan mendaki puncak bukit. Benar saja, wanita itu bukan lain dari pada si nona baju kuning yang pernah ditemui Bu Kie di antara orang-orang Kay-pang di Louw-liong. Begitu melihat mereka, Pangcu Kay-pang Su Hong Sek lantas memburu, menubruk dan memeluk si baju kuning,
“Yo-cici!” teriaknya. “Tetua dan Liong-tauw kami dibinasakan orang.” Ia menuding Cie Jiak dan berteriak pula. “Dari Go-bi-pay dan Siauw-lim-pay yang turun tangan jahat.”
Si baju kuning manggut-manggut. “Aku sudah tahu,” katanya. “Hm... Kiu-im Pek-kut-jiauw (cengkeraman tulang putih dari kitab Kiu-im Cin-keng) belum tentu merupakan ilmu yang paling tinggi.“
Munculnya si baju kuning menarik perhatian semua orang dan ucapan itu didengar semua kuping. Para enghiong yang berusia lanjut dan berpengalaman amat terkejut, di dalam hati mereka bertanya-tanya, “Kiu-im Pek-kut-jiauw? Apakah Kiu-im Pek-kut-jiauw yang pada seabad yang lalu dikenal sebagai ilmu silat sangat jahat dan hilang dari rimba persilatan?”
Sementara itu dengan bergandengan tangan si baju kuning dan Su Hong Sek menuju ke rombongan Kay-pang. Nona aneh itu kemudian duduk di sebuah batu besar.
“Siapakah wanita itu?” tanya Cie Jiak.
“Aku baru pernah bertemu sekali,” jawab Bu Kie. “Aku tahu nama dan asal usulnya.”
“Dia she Yo?”
“Kau tidak salah.”
Cie Jiak mengeluarkan suara di hidung. “Mulailah!” katanya seraya mengedut cambuknya yang lantas menyambar Touw-ok dan dengan menuruti gerakan itu tubuhnya melesat ke atas, kemudian hinggap di antara tiga pohon siong.
Serangan dan lompatan yang sangat cepat dan indah itu mengagumkan semua orang. Di lain saat cambuknya sudah beradu dengan tambang Touw-lan. Touw-ok dan Touw-ciat buru-buru mengangkat senjata mereka lalu menyerang dari kanan kiri. Bu Kie segera melompat untuk menolong, tapi begitu kakinya hinggap di tanah, tubuhnya terhuyung-huyung. Banyak orang mengeluarkan seruan tertahan. Mereka menduga pemuda itu sudah tidak punya tenaga untuk berkelahi.
Mereka tidak tahu bahwa Bu Kie sedang menggunakan ilmu Seng-hwee-leng yang sangat aneh. Selagi terhuyung Seng-hwee-leng menghantam dada Touw-lan yang ‘terikat’ dengan cambuk Cie Jiak hingga sukar membela diri. Melihat bahaya, Touw-ok dan Touw-ciat lantas merubah arah serangannya terhadap Cie Jiak dan kedua tambang menyambar Bu Kie seperti dua ekor naga. Sekali lagi semua orang terkesiap.
Pada detik yang sangat berbahaya itu Bu Kie segera menggulingkan diri ke arah Touw-ok yang menyambutnya dengan totokan jari ke arah pundak. Dengan Kian-kun Tay-lo-ie, Bu Kie memunahkan totokan dan hampir berbarengan tubuhnya bergulingan ke jurusan Touw-ciat.
Demikianlah Bu Kie terus menggunakan ilmu Seng-hwee-leng yang aneh. Dia bergulingan ke sana sini. Dia terlihat bingung, repot dan terdesak, tapi dia selalu dapat meloloskan diri dari bencana pada detik terakhir serangan berbahaya.
Sesudah lewat puluhan jurus, orang gagah yang berpengalaman mulai merasa bahwa Bu Kie sedang menggunakan ilmu silat yang luar biasa, sebangsa ilmu Cui-pat-sian (Delapan dewa mabuk). Tapi ilmu itu jauh lebih sukar dan mengandung perubahan yang lebih sulit dari pada segala ilmu yang dikenal di wilayah Tiong-goan.
Andai kata silat Persia kuno itu digunakan melawan seorang dari ketiga tetua Siauw-lim, maka dengan mudah Bu Kie bisa memperoleh kemenangan. Pada hakekatnya kekuatan ketiga ketua itu terletak pada kerja sama mereka yang sangat erat. Setelah bersama mempelajari Kim-kong Hok-mo-coan selama puluhan tahun, pikiran mereka terjalin menjadi satu. Bila yang satu menghadapi bahaya maka dua orang lainnya segera membantu secara wajar. Maka itulah sesudah bertempur kira-kira dua puluh jurus, Bu Kie belum juga bisa mendapat kemajuan.
ANTARA KAWAN DAN LAWAN
Pada dasarnya sebagian kecil silat Seng-hwee-leng termasuk ilmu sesat, sedangkan Kim-kong Hok-mo-coan berdasarkan ilmu Sang Buddha untuk menaklukkan segala yang sesat. Dengan demikian sesudah bertempur beberapa lama, sifat iblis dari ilmu Seng-hwee-leng mulai mempengaruhi Bu Kie.
Di bawah tekanan ilmu yang bersih suci, pikiran Bu Kie mulai kalut. Tanpa diketahui para hadirin dia menghadapi bencana. Andai kata tidak terpukul, dalam seratus jurus lagi dia bakal roboh sendiri. Bahwa Beng-kauw sering dinamakan orang sebagai ‘Agama Iblis’ (Mo-kauw), bukan sama sekali tidak beralasan, sedang ilmu silat Seng-hwee-leng adalah gubahan ‘Si orang tua dari pegunungan’, si raja iblis yang bisa membunuh manusia tanpa berkedip.
Pada waktu meyakinkan ilmu itu Bu Kie tidak melihat dan tidak merasakan apa pun. Tetapi sekarang dalam menghadapi musuh berat yang mempergunakan ilmu lurus bersih, bagian yang berbahaya dari ilmu tersebut mulai menonjolkan diri. Tiba-tiba dia tertawa berkakakan yang bernada ‘iblis’ dan membangunkan bulu roma. Begitu suara tertawanya lenyap, dari dalam tanah di antara ketiga pohon siong mendadak terdengar suara orang menghafalkan kitab Buddha.
Bu Kie kaget sekali. Ia mengenal bahwa yang menghafalkan kitab ayah angkatnya. Ia mengerti bahwa sedari dipenjarakan, setiap hari orang tua itu mendengarkan hafalan kitab suci yang dilakukan tiga pendeta Siauw-lim. Sang ayah angkat pernah menolak melarikan diri dengan alasan dia punya dosa yang terlampau besar.
“Apakah setelah mendengarkan pembacaan kitab suci selama beberapa bulan, Gie-hu jadi sadar?” tanya Bu Kie dalam hati.
Sementara itu tekanan tambang ketiga pendeta mulai berkurang. Cia Sun menghafal terus. Bu Kie belum menyelami inti sari dari pelajaran Buddha. Tetapi kata-kata yang diucapkan Cia Sun bisa dimengerti dan kira-kira berarti begini: ‘Segala sesuatu di dalam dunia merupakan kekosongan. Aku sama sekali tidak memikirkan badanku atau badan orang lain. Kalau ada orang membunuh aku atau menyembelih aku, aku pun tak merasa gusar, karena aku tidak menganggap tubuhku sebagai milik sendiri’.
“Apakah sesudah berdiam di sini beberapa bulan Gie-hu benar-benar sudah mencapai tingkat yang bebas dari rasa kaget, rasa takut dan kuatir?” tanya Bu Kie dalam hati. “Apakah dia memang benar-benar ingin menasihati agar tidak memikirkan lagi keselamatannya dan tidak usah menolong lagi jiwanya?”
Ilmu Kim-kong Hok-mo-coan bersumber dan digubah dari kitab suci Kim-kong-keng. Pada tingkat yang tertinggi kitab itu tidak membedakan lagi antara kau dengan aku, antara hidup dengan mati, segalanya yang dialami di dunia ini dipandang sebagai suatu khayal atau kekosongan.
Biar pun ilmu batinnya tinggi tetapi pada waktu berhadapan dengan lawan, ketiga pendeta Siauw-lim masih memiliki keinginan untuk menindih lawan dan memperoleh kemenangan. Mereka bisa melupakan soal mati atau hidup, tetapi belum bisa membedakan perbedaan antara kau dan aku. Itulah sebabnya mengapa mereka belum mencapai puncak tertinggi dari Kim-kong Hok-mo-coan dan kekuatan Lingkaran (Coan) itu belum mempunyai tenaga sepenuhnya. Selama beberapa bulan ini yang didengar Cia Sun bukan lain dari hafalan Kim-kong-keng semata.
Sementara itu sambil bertempur Bu Kie memikirkan hafalan ayah angkatnya dan sedikit banyak dia dapat menangkap arti Kim-kong-keng. Karena masuknya pengaruh pelajaran Buddha, maka perlahan-lahan pengaruh iblis di alam pikirannya berkurang. Dengan berkurangnya pengaruh iblis itu kelancaran silat Seng-hwee-leng turut berkurang. Tiba-tiba pundaknya tersabet tambang. Tanpa terasa Bu Kie mengerahkan Kian-kun Tay-lo-ie Sin-kang dan Kiu-yang Sin-kang untuk memunahkan pukulan itu.
"Hm...! Sesudah aku tidak berhasil dengan ilmu Seng-hwee-leng, mengapa aku tidak mencoba Kian-kun dan Kiu-yang?" pikirnya. Dia melirik dan mendapat kenyataan bahwa Cie Jiak memperlihatkan gejala kalah.
"Sudahlah!" Bu Kie mengambil keputusan. “Jika sekarang aku tidak mengeluarkan semua tenaga, begitu Cie Jiak kalah, Gie-hu tidak akan dapat ditolong.”
Berpikir begitu, sambil membentak keras ia segera menyerang dengan Kian-kun Tay-lo-ie. Biar pun Cia Sun masih terus menghafal Kim-kong-keng, tapi ia tidak bisa memperhatikan lagi sebab seluruh semangatnya ditumplekkan pada Kian-kun Tay-lo-ie. Dengan gerakan kilat ia menyambut dan menerima pukulan-pukulan ketiga lawan agar Cie Jiak mendapat kesempatan menerobos masuk ke dalam lingkaran. Karena adanya serangan hebat yang disertai Iweekang dahsyat, ketiga ketua Siauw-lim juga lantas menambah Iweekang untuk melawannya.
Semua orang melihat perubahan itu. Makin lama pertempuran makin hebat. Perlahan-lahan di atas kepala ketiga pendeta muncul uap putih, tanda pengerahan tenaga dalam sepenuhnya. Di atas kepala Bu Kie juga nampak uap air, tetapi uap itu halus dan tidak buyar seolah selembar benang. Inilah bukti bahwa Iweekang Bu Kie lebih tinggi dari pada tenaga dalam ketiga lawannya.
Para enghiong menyaksikan kejadian itu dengan perasaan kagum. Kemarin Bu Kie terluka berat. Siapa nyana dalam waktu semalaman ia sudah sembuh total! Iweekang pemuda itu sungguh-sungguh telah mencapai tingkat yang tak dapat diukur lagi. Sekarang semua orang tahu bahwa tadi ia hanya berlagak payah.
Selama pertempuran itu Cie Jiak belum pernah benar-benar mengadu tenaga. Dia hanya berkelahi dari luar lingkaran tambang. Dia baru menerjang bila terdapat lowongan dan dia buru-buru melompat mundur kalau mendapat serangan balasan. Cara berkelahi itu segera memperlihatkan perbedaan antara kepandaiannya dan kepandaian Bu Kie. Para hadirin lantas saling mengutarakan pendapat.
“Kata orang ilmu silat kauwcu dari Beng-kauw tiada tandingannya di dunia ini! Sekarang aku mengakui bahwa nama besar itu bukan nama kosong belaka!"
“Kemarin dia sengaja mengalah terhadap Song-hujin. Inilah yang dinamakan laki-laki sejati sungkan berkelahi melawan wanita."
“Bukan begitu! Dahulu Song-hujin adalah tunangan Thio-kauwcu! Apa kau tidak tahu? Ini yang dinamakan golok tua masih ingat kecintaan lama.”
Dan banyak lagi pendapat lainnya. Setelah bertempur setengah jam lagi, paras muka ketiga pendeta Siauw-lim berubah merah dan jubah pertapaan mereka melembung seperti ditiup angin dari sebelah dalam. Di lain pihak pakaian Bu Kie masih tetap seperti biasa.
Pada waktu itu Kiu-yang Cin-khie di tubuh Bu Kie sudah jauh lebih kuat dari pada beberapa waktu berselang. Kekuatan itu ditambah lagi dengan latihan pernapasan Thay-kek-kun yang diturunkan Thio Sam Hong. Dengan demikian Bu Kie memiliki keuletan yang luar biasa. Ia masih bisa bertanding satu atau dua jam lagi tanpa merasa lelah. Inilah keuntungan yang hendak dimanfaatkan olehnya. Ia mengambil keputusan bertempur dalam jangka panjang sampai ketiga lawannya kecapaian.
Ketiga pendeta itu juga tahu kenyataan tersebut. Mereka maklum bahwa perkelahian yang lama akan merugikan pihaknya. Karena itu beberapa saat kemudian, seraya membentak keras mereka lalu memperhebat serangan! Ketiga tambang berkelebat seperti kilat dalam macam-macam serangan dan tenaga.
Bu Kie kaget sekali. Ia mengempos semangat dan menyambut setiap serangan. “Biar pun ilmu silat Cie Jiak luar biasa, tetapi dia belum berlatih cukup sehingga kerja sama dengan dia tidak dapat menyamai kerja sama dengan Gwa-kong dan Yo-cosu,” pikirnya. “Dengan sendirian aku tidak akan bisa mempertahankan diri. Rasanya aku bakal kalah lagi dan hari ini tidak akan bisa menolong Gie-hu. Hai...! Bagaimana baiknya?”
Karena pikirannya bingung tenaganya berkurang. Ketiga pendeta tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Mereka menyerang dengan hebatnya. Tiba-tiba saja satu ingatan berkelebat di otak Bu Kie. Ia ingat cinta ayah angkatnya di Peng-hwee-to. Ia ingat bahwa demi kepentingan dirinya orang tua itu rela menceburkan diri ke dunia Kangouw dan menghadapi berbagai bahaya. Pada detik itu juga ia sudah mengambil keputusan apa bila sang Gie-hu tidak dapat ditolong, ia sendiri sungkan hidup sendirian di dunia ini.
Selagi otaknya bekerja tahu-tahu tambang Touw-lan menyambar punggungnya. Mendadak ia mengeluarkan pukulan aneh. Ia mengangkat tangan kiri, membiarkan tambang memukul lengan dan memunahkan tenaga pukulannya itu dengan Kian-kun Tay-lo-ie, berbareng ia menangkis tambang Touw-ok dan Touw-ciat dengan Seng-hwee-leng yang digenggam dalam tangan kanannya. Bagaikan seekor burung tubuhnya tiba-tiba melesat ke atas dan dengan sekali memutar di tengah udara ia sudah melibat tambang Touw-lan di pohon siong yang didudukinya.
Itulah perbuatan yang tak pernah diduga orang. Setelah melibat, Bu Kie menarik tambang itu kuat-kuat. Tak kepalang kagetnya Touw-lan yang lantas menarik tambangnya dengan sekuat tenaga.
Sebagaimana diketahui, batang pohon siong itu telah dilubangi oleh ketiga pendeta untuk digunakan sebagai tempat duduk. Karena itu meski pun besar tetapi kekuatannya kurang. Maka begitu ditarik oleh Bu-Kie dan Touw-lan segera terdengar satu suara.
“Krekek!”
Batang itu patah dan pohonnya roboh. Bu Kie menggunakan kesempatan itu sebaik-baiknya. Selagi Touw-ok dan Touw-ciat tertegun, kedua tangannya mendorong pohon yang diduduki Touw-ok dengan seluruh tenaganya. Pohon itu kalah kuat dan lantas patah. Diiringi suara bergemuruh kedua pohon itu jatuh menimpa pohon yang diduduki Touw-ciat, dan menendang pohon ketiga itu yang sesudah bergoyang-goyang lantas turut roboh. Keadaan berubah jadi gempar. Suara robohnya pohon bercampur dengan teriakan-teriakan para hadirin.
Secepat kilat Bu Kie menimpuk Touw-ok dan Touw-ciat dengan kedua Seng-hwee-leng. Meski berkepandaian tinggi kedua pendeta itu jadi bingung karena harus menyelamatkan diri dari tindihan batang pohon sekaligus dari sambaran Seng-hwee-leng. Di lain detik Bu Kie menggulingkan diri lantas masuk ke dalam lingkaran Kim-kong Hok-mo-coan dengan melewati kolong batang pohon yang sedang roboh. Dengan sekali mendorong, dia sudah menggeser batu yang menutup lubang penjara.
“Gie-hu, lekas keluar!” teriaknya. Karena kuatir ayah angkatnya menolak, tanpa menanti jawaban tangannya mencengkeram baju orang tua itu lalu mengangkatnya ke atas.
Pada detik itu pula tambang Touw-ok dan Touw-ciat menyambar. Buru-buru Bu Kie melepaskan ayah angkatnya, kemudian mengambil dua Seng-hwee-leng dari sakunya dan menimpuk. Begitu menimpuk kedua tangannya langsung menangkap ujung tambang yang menyambar.
Baru saja kedua pendeta itu hendak mengerahkan Iweekang untuk membetot tambang mereka, kedua Seng-hwee-leng sudah hampir menyentuh muka. Karena terpaksa mereka melepaskan tambang dan melompat mundur menyelamatkan jiwa dari timpukan itu. Hampir berbareng dengan mundurnya Touw-ok dan Touw-ciat, Touw-lan telah menerjang dengan tangan kirinya menghantam dada Bu Kie.
“Cie Jiak, tahan dia!” teriak Bu Kie sambil melompat ke samping dengan mendukung Cia Sun.
Kalau ia bisa membawa keluar ayah angkatnya dari kalangan ketiga pohon siong, ia sudah berhasil dalam usahanya. Cie Jiak kelihatan sangsi.
“Anakku Bu Kie,” kata Cia Sun. “Dosaku sangat besar dan dengan mempelajari kitab suci di tempat ini, hatiku merasa tenang. Apa gunanya kau menolong aku?” Sehabis berkata ia coba memberontak.
Bu Kie tahu ayah angkatnya berkepandaian tinggi dan kalau orang tua itu tidak mau pergi ia sukar membantah. Maka itu ia lantas berkata.
“Gie-hu, anak mohon maaf!” Hampir berbareng jari tangannya menotok beberapa ‘hiat’ sehingga Kim-mo Say-ong tidak bisa bergerak lagi.
Karena kelambatan sedetik dua detik, ketiga pendeta sudah keburu datang dan menyerang.
“Lepaskan dia!” bentak Touw-ok.
Pukulan ketiga pendeta itu hebat bukan main. Sebelum pukulannya sampai tekanan angin sudah menindih dari empat penjuru. Bu Kie terpaksa melepaskan lagi ayah angkatnya dan menangkis pukulan itu.
“Cie Jiak, lekas bawa Gie-hu!” serunya.
Dengan menggerakkan kedua tangannya kian kemari, Bu Kie menahan pukulan ketiga lawannya. Itulah ilmu Kian-kun Tay-lo-ie yang paling tinggi. Iweekang pemuda ini bergerak kian kemari dengan berbareng menahan dan menyedot tenaga pukulan ketiga pendeta. Dalam menggunakan ilmu itu Bu Kie harus mengerahkan seluruh tenaga dalamnya karena adu tenaga ini jauh lebih berat dari pada adu Iweekang satu lawan satu. Karena tangkisan itu maka ketiga pendeta jadi ‘terikat’ sehingga tidak bisa memperhatikan Cia Sun lagi.
Bu Kie tahu bahwa ia tidak bisa mempertahankan diri dalam waktu lama. Tapi ia pun tidak memerlukan waktu yang lama. Begitu Cie Jiak membawa ayah angkatnya ke tempat yang aman maka ia bisa segera berusaha meloloskan diri. Sekarang Cie Jiak tidak sangsi lagi. Ia melompat mendekati Cia Sun.
“Fui... perempuan hina...!“ bentak Kim-mo Say-ong. Ia tak bisa melanjutkan kata-katanya karena ‘hiat’ dagunya sudah keburu ditotok.
“Manusia she Cia!” Cie Jiak balas membentak. “Aku mau menolong, mengapa kau malah mencaci. Dosamu amat besar dan sekarang jiwamu berada di tanganku. Apa kau kira aku tak bisa mengambil jiwamu?” Setelah berkata begitu ia mengangkat tangan kanannya, mementang lima jari dan bergerak untuk menepuk batok kepala Cia Sun.
“Cie Jiak! Jangan...!” teriak Bu Kie dengan suara parau.
Ketiga pendeta Siauw-lim sedikit pun tidak punya niat mencelakakan Bu Kie. Tetapi pertandingan itu adalah adu tenaga mati atau hidup. Kedua belah pihak mempergunakan koat (teori) ‘menempel’, maka sebelum ada yang kalah, masing-masing sukar melepaskan ‘tempelan’ itu. Begitu Bu Kie berteriak dengan hati mencelos, hawa tulennya berkurang dan ia segera merasakan tindihan tenaga lawan yang menyerang bagai gelombang. Cepat-cepat ia mengempos semangat mempertahankan diri. Tetapi Cie Jiak tidak turun tangan. Sambil melirik Bu Kie ia tertawa dingin.
“Thio Bu Kie,” katanya. “Hari itu ketika di kota Hauw-cu kau meninggalkan aku dari upacara pernikahan. Apakah kau pernah berpikir bahwa kau akan menemui kejadian hari ini?”
Bu Kie bingung dan karena kebingungan itu ia menghadapi bencana. Keringat mengucur dari tubuhnya.
Melihat keadaan Bu Kie, Yo Siauw, Hoan Yauw, Wie It Siauw, Swee Put Tek, Jie Lian Ciu, In Lie Hong dan yang lain-lain kaget tak kepalang. Mereka adalah orang yang memiliki ‘gie-khie’ (rasa persahabatan) sangat tinggi. Untuk menolong sang Kauwcu mereka rela mengorbankan jiwa. Tetapi mereka tahu bahwa lweekang mereka kalah jauh dari orang yang sedang bertanding itu. Kalau mereka menyerang, dengan mudah ketiga pendeta itu bisa mengalihkan tenaga serangan ke tubuh Bu Kie sehingga sebaliknya dari membantu mereka malah berbalik menekan si pemuda.
Tong Bun Liang, Cong Wie Hiap dan Siang Keng Cie dari Khong-tong Ngo-lo yang pernah ditolong Bu Kie juga turut bingung. Di antara kesunyian yang penuh ketegangan sekonyong-konyong terdengarlah seruan Kong-tie,
“Sam-wi Susiok, Thio-kauwcu pernah melepas budi kepada partai kita. Melukai dia adalah put-gie (melupakan persahabatan). Mohon Sam-wi Susiok menaruh belas kasihan.”
Mendengar seruan itu orang Beng-kauw merasa amat berterima kasih. Pada hakekatnya seruan Kong-tie tidak ada gunanya dan tidak perlu karena kedua belah pihak tidak dapat menangkapnya dan karena kedua belah pihak memang berniat saling mencelakai. Dalam adu tenaga itu mereka seolah menunggang harimau dan sukar untuk turun lagi.
Tiba-tiba Wie It Siauw melompat dan tahu-tahu dia sudah berhadapan dengan Ciu Cie Jiak. Tapi dalam jarak setombak dia berdiri terpaku. Jari-jari tangan Cie Jiak sudah hampir menyentuh batok kepala Cia Sun sehingga jika dia bergerak, tentu jari tangan itu akan menoblos batok kepala. Dan apa bila Cia Sun binasa, Bu Kie juga akan menemui ajalnya.
Pada detik itu seluruh lapangan sunyi senyap bagai di kuburan dan semua manusia seperti patung batu. Tiba-tiba kesunyian dipecahkan suara tawa Ciu Tan yang sambil tertawa berjalan mendekati gelanggang pertandingan. Yo Siauw terkejut.
“Ciu-heng, jangan sembrono!” teriaknya.
Tapi si sembrono tidak meladeni dan berjalan terus. “Sam-wi Taysu,” katanya seraya tertawa ha-ha hi-hi sesudah berhadapan dengan ketiga pendeta itu. “Apa kau pernah makan daging anjing?” Ia merogoh saku, lalu mengeluarkan sepotong lutut anjing yang memang sudah dimasak dan menggoyang-goyangkan di depan muka Touw-ok.
Ciu Tian sangat doyan arak dan daging. Selama tinggal beberapa lama di Siauw-lim dia terpaksa makan makanan cia-cay (tidak berjiwa). Kemarin diam-diam dia menangkap seekor anjing lalu memasak dagingnya. Sepotong lutut anjing yang tidak habis masih disimpan dalam sakunya. Karena terpaksa dia sekarang menggunakan lutut anjing untuk memecahkan pemusatan semangat tiga pendeta itu. Kalau pendeta itu bergusar, Bu Kie akan mendapat kemenangan.
Melihat begitu Yo Siauw dan kawannya jadi girang sekali. Tapi ketiga tetua Siauw-lim itu tidak menggubris. Ciu Tian segera memasukkan lutut anjing itu ke mulutnya.
“Aduh, wangi benar!” katanya. “Sam-wi Toa-hwesio, apa kalian tidak mau turut mencoba?” Dia mencabut lutut itu dari mulutnya lalu menyodorkannya ke mulut Touw-ok.
Beberapa orang lantas berteriak, “Hei! Gila! Mundur kau...!”
Tetapi baru saja lutut anjing menyentuh bibir Touw-ok, lengan Ciu Tian langsung gemetar, separuh tubuhnya kesemutan dan makanan itu jatuh ke tanah. Kiranya seluruh badan Touw-ok diliputi lweekang yang bisa memukul balik setiap tenaga yang datang dari luar.
“Aduh! Aduh! Sungguh hebat!” teriak Ciu Tian, “Kalau kau tidak mau makan daging anjing ya sudah! Perlu apa kau melontarkannya hingga kotor begini! Ganti! Hayo aku minta ganti!” Dia berteriak sambil mementang-mentang tangan.
Tapi ilmu kepandaian ketiga pendeta itu benar-benar tinggi. Mereka tetap tidak dapat diganggu. Mendadak si sembrono menghunus golok pendek.
“Hei! Kau dengarlah!” teriaknya. “Apa bila kau tetap tidak mau makan daging anjing maka aku akan mengadu jiwa denganmu.“ Seraya berkata begitu ia menggores mukanya sendiri yang lantas mengucurkan darah.
Semua orang terkesiap tetapi ketiga pendeta itu seperti berada di dunia lain.
“Sudahlah,” teriak pula Ciu Tian dengan suara parau. “Toa-hwesio, apa bila kau tidak mau mengganti daging anjingku, biarlah aku binasa di hadapanmu.“ Ia mengangkat tangan dan mengacungkan golok di ulu hatinya.
Itulah Ciu Tian! Gila-gilaan yang berjiwa ‘tiong-gie’ (Setia kepada raja dan sahabat). Untuk menolong Kauwcu-nya, dia rela bunuh diri untuk mengacaukan pemusatan pikiran ketiga pendeta itu. Pada detik terakhir satu bayangan kuning, menyambar bagaikan kilat, berkelebat dan merampas golok di tangan Ciu Tian. Sehabis menolong si sembrono tubuh orang itu melesat lagi, mementang lima jari tangan kanan yang lalu ditancapkan ke kepala Cie Jiak.
Dalam serangan itu dia menggunakan gerakan yang menyerupai gerakan Song Ceng Su waktu pemuda itu membinasakan tetua kaypang. Waktu diserang jari-jari tangan Cie Jiak hanya terpisah satu kaki dari batok kepala Cia Sun. Tetapi karena serangan itu datang dengan kecepatan luar biasa, dia tidak keburu lagi turun tangan jahat terhadap Cia Sun dan untuk menolong jiwa sendiri, dia terpaksa menangkis.
Kekuatan Iweekang Bu Kie tidak kalah dari ketiga lawannya. Ia hanya kalah dalam ilmu ‘melupakan segalanya’. Ia belum bisa menulikan kuping dan membutakan mata terhadap segala sesuatu. Sebab itulah ancaman Cie Jiak terhadap Cia Sun dan gangguan Ciu Tian terhadap ketiga pendeta memecahkan pemusatan pikirannya. Ia sudah pusing dan beberapa detik lagi ia akan muntah darah. Syukur beribu syukur pada saat yang amat berbahaya, bayangan kuning yang bukan lain dari pada nona baju kuning itu menolong Ciu Tian dan Cia Sun.
Begitu hatinya mantap, Iweekang Bu Kie lantas bertambah sehingga pertandingan jadi berimbang lagi. Sebenarnya bertambahnya Iweekang Bu Kie membuat dirinya bisa balas menyerang, tapi sesudah Iweekang-nya bertambah, Bu Kie tidak balas menyerang melainkan hanya mempertahankan diri. Inilah kesempatan yang paling baik untuk menyudahi keadaan ‘menunggang harimau’ dari kedua belah pihak. Dengan kata lain perubahan tenaga dalam itu merupakan kesempatan untuk masing-masing menarik lweekang dan menghentikan pertandingan.
Ketiga pendeta yang perasaannya dapat dihubungkan satu sama lain tanpa bicara (secara telepati) itu lantas menarik sebagian tenaga mereka. Bu Kie girang dan segera ikut menarik sebagian Iweekang-nya. Demikianlah, sebagian demi sebagian kedua belah pihak mengurangi tenaga dalam mereka dan kira-kira seminuman teh, pertandingan sudah dapat dihentikan. Empat jago itu tertawa terbahak. Bu Kie menyoja sampai kedua tangannya menyentuh bumi dan ketiga pendeta itu membalas hormat dengan merangkap kedua tangan mereka.
Ketika itu si baju kuning sudah bertempur hebat dengan Ciu Cie Jiak. Meski pun Cie Jiak menggunakan dua senjata dan lawannya bertangan kosong, dia tampak keteter. Ilmu silat si baju kuning menyerupai ilmu Cie Jiak. Perbedaannya hanya terletak pada cara bergeraknya, si baju kuning lurus bersih sedang Cie Jiak ‘sesat bernada iblis’. Kalau mau diperumpamakan, yang satu bagaikan dewi sedangkan yang lain bagaikan setan.
Dengan sekali lirik Bu Kie maklum bahwa si baju kuning lebih unggul dan ayah angkatnya berada dalam keadaan selamat. Dalam pertempuran itu si baju kuning tidak lantas turunkan pukulan yang memutuskan. Ia seakan-akan hendak menunjukkan kepada lawannya bahwa kepandaian lawannya masih terlampau cetek. Jika mau, dalam beberapa gebrakan saja ia sudah bisa merobohkan Cie Jiak.
“Thio-kauwcu,” kata Touw-ok. “Meski pun kau tidak dapat menangkan kami bertiga tetapi kami juga tidak bisa menangkan kau. Cia-kiesu, sekarang kau boleh pergi ke mana suka!” Sehabis berkata begitu ia lantas membuka jalan darah Cia Sun yang tertotok. “Cia-kiesu,” katanya pula. “Letakkanlah golokmu dan jadilah manusia yang baik. Pintu agama Buddha terbuka lebar. Di dunia tidak ada manusia yang tidak bisa diseberangkan. Beberapa hari kau dan aku sama-sama tinggal di puncak bukit ini. Hal ini juga merupakan jodoh.”
Cia Sun bangun berdiri, “Sang Buddha welas asih,” katanya. “Cia Sun sangat berterima kasih kepada Sam-wi Taysu yang sudah memberi petunjuk ke jalan terang.”
Sekonyong-konyong terdengar bentakan nyaring dan tahu-tahu si baju kuning merampas cambuk Cie Jiak. Setelah itu ia menyikut dada lawan yang lantas tidak bisa bergerak lagi. Sambil mementangkan jari tangan kanannya di atas kepala Cie Jiak ia membentak,
“Apakah kau ingin merasakan enaknya Kiu-im Pek-kut-jiauw?”
Cie Jiak meramkan matanya dan menunggu kebinasaan. Walau pun kedua matanya buta, Cia Sun tahu apa yang sedang terjadi. Ia maju beberapa tindak dan berkata sambil menyoja,
“Nona sudah menolong jiwa kami ayah dan anak, dan kami merasa berhutang budi. Apa bila Ciu-kouwnio tidak sadar dan terus melakukan perbuatan yang tidak pantas, ia akan mendapat pembalasan yang setimpal. Tetapi sekarang aku mohon nona suka mengampuninya.”
“Kim-mo Say-ong bisa berubah cepat sekali,” kata si baju kuning sambil meloncat mundur.
Bu Kie menghampiri dan mencekal tangan ayah angkatnya. Baru saja ia mengajak orang tua itu berlalu, tiba-tiba Cia Sun berkata,
“Tahan dulu!” Sehabis berkata begitu dia menuding seorang pendeta tua dari rombongan Siauw-lim-pay, “Hun-goan Pek-lek-chiu Seng Kun, keluar kau!” bentaknya keras. “Biarlah di hadapan para enghiong kita membuat perhitungan!”
Semua orang terkejut sekali dan menengok ke arah yang dituding Cia Sun. Pendeta yang mukanya jelek dan punggungnya bongkok itu mengenakan jubah compang-camping dan sedikit pun tidak menyerupai Seng Kun. Baru saja Bu Kie hendak memberi-tahu hal itu kepada ayah angkatnya, Cia Sun telah berkata,
“Seng Kun, kau bisa mengubah muka, tapi kau tak bisa mengubah suara. Begitu mendengar batukmu, aku tahu kau siapa!”
Si tua menyeringai, “Manusia buta, kau jangan bicara sembarangan!” katanya.
Begitu mendengar suaranya, Bu Kie lantas mengenali bahwa dia itu memang benar Seng Kun. Waktu berada dalam karung di atas Kong-beng-teng, ia pernah mendengar pembicaraan manusia jahat ini. Ia segera melompat mencegat jalan mundur musuh besar ini.
“Goan-tin Taysu, Seng Kun Cianpwe,” katanya. “Seorang laki-laki harus berani berterus terang. Mengapa kau menyembunyikan mukamu dari orang banyak?”
Dengan menyamar, selama beberapa tahun Seng Kun bersembunyi di Siauw-lim-si. Beberapa tahun pula ia mengatur siasat dan mengumpulkan kaki tangan untuk merebut kekuasaan. Menurut rencananya, hari ini ia akan mengadu domba para orang gagah, mencari tahu di mana adanya To-liong-to, membinasakan Cia Sun, hingga akhirnya merampas kedudukan Hong-thio Siauw-lim-si, sesudah membunuh Kong-beng dan Kong-tie Seng-ceng.
Akan tetapi di luar semua perhitungannya, muncullah si baju kuning. Waktu nona she Yo itu merobohkan Cie Jiak, hatinya mencelos dan tanpa terasa ia batuk sewajarnya. Apa mau dikata suara batuk itu didengar dan dikenali Cia Sun. Melihat Bu Kie memotong jalan mundurnya, ia pun tahu semua rencananya sudah hancur.
“Para pendeta Siauw-lim, dengarlah!” teriaknya. “Mo-kauw mengacau tempat yang suci ini dan menghina partai kita. Hajar mereka! Bunuh mereka!”
Kaki tangan Seng Kun lantas menghunus senjata dan bergerak untuk menyerang. Selama beberapa hari Kong-tie terus menahan sabar dan sangat berduka. Dia memikirkan keselamatan Suheng-nya yang telah jatuh ke tangan kaum pemberontak. Sekarang begitu mendengar perintah Seng Kun, dia tahu banyak orang akan mengorbankan jiwa. Dia menganggap keselamatan Kong-bun seorang adalah soal kecil jika dibandingkan dengan keselamatan ribuan manusia. Karena itu dia lantas berteriak,
“Tahan! Murid Siauw-lim tidak boleh bergerak. Dengarlah! Kong-bun Hong-thio jatuh ke tangan pengkhianat Goan-tin. Cepat bekuk dia! Sesudah itu barulah kita menolong Hong-thio.”
Dalam sekejap keadaan berubah kalut.
TUTUP BUKU UTANG PIUTANG
Kaki tangan Seng Kun ciut nyalinya. Di antara kekalutan itu Bu Kie melihat Cie Jiak duduk di tanah sambil menundukkan kepala. Dia merasa tidak tega lalu menghampiri, kemudian coba membangunkannya. Tapi Cie Jiak mengibaskan tangannya dan cepat kembali ke rombongan Go-bi-pay.
Sementara itu Cia Sun bicara dengan nyaring, “Segala kejadian yang terjadi hari ini adalah gara-gara Seng Kun dan aku. Karena itu segala urusan, segala hutang piutang haruslah dibereskan kami berdua. Suhu, semua kepandaianku diberikan suhu. Seng Kun, seluruh keluargaku dibinasakan olehmu. Jadi kau adalah guruku dan musuhku. Hari ini kita selesaikan perhitungan di antara kita.”
Melihat usahanya menjadi Hong-thio Siauw-lim-si gagal, dalam hati Seng Kun muncul siasat lain.
“Cia Sun banyak dosanya hingga jika tidak bisa mengalahkannya, aku bisa menumplekkan semua dosa di atas kepalanya,” pikirnya. “Semua kepandaiannya didapat dari aku dan kedua matanya buta. Mustahil aku tidak bisa merobohkannya.“ Sesudah berpikir demikian dia segera membentak,
“Cia Sun, banyak orang gagah binasa di tanganmu. Hari ini bersama iblis-iblis Mo-kauw kau mencoba mengacau tempat suci ini. Biar bagaimana pun juga aku berkewajiban membersihkan rumah tanggaku sendiri dan menghukum murid durjana.” Dengan tindakan lebar dia lalu menghampiri Cia Sun.
“Para enghiong, dengarkan perkataanku!” teriak Cia Sun. “Memang ilmu silat Cia Sun didapat dari Seng Kun. Tapi karena memperkosa isteriku tidak ada kesempatan, Seng Kun membunuh ayah, ibu, isteri dan anakku. Sekarang aku mau tanya, apakah pantas atau tidak jika aku mencari dia untuk membalas sakit hati?”
Pertanyaan itu disambut dengan teriakan bergemuruh, “Pantas! Pantas!”
Di antara teriakan itu Seng Kun mengirim pukulan ke kepala Cia Sun. Cia Sun mengegos dan...
“Plakk!” Pukulan itu jatuh di pundaknya.
“Seng Kun,” katanya. “Dulu waktu kau mengajarkan pukulan Tiang-hong Keng-thian (Bianglala membentang langit), kau memakai Hun-goan It-khie-kang untuk melukai musuh. Mengapa tadi kau tidak mengerahkan lweekang itu? Apakah lantaran kau terlalu tua dan tidak bisa mengeluarkannya lagi?”
Memang tadi Seng Kun tidak mengeluarkan Hun-goan It-khie-kang dan sebabnya begini. Dia tahu bahwa Cia Sun mempunyai kepandaian tinggi sehingga pukulan pertama itu lebih banyak gertakan untuk menjajal. Di luar dugaan Cia Sun tidak berkelit. Karena dia tidak menggunakan lweekang maka Cia Sun tidak terluka. Tanpa mengeluarkan sepatah pun kata Seng Kun mengirim pukulan kedua. Cia Sun hanya mengegos, ia belum membalas. Begitu tangannya memukul angin, Seng Kun mengirim tendangan berantai yang tepat di bawah rusuk. Tendangan itu disertai tenaga dalam hebat hingga tubuh Cia Sun bergoyang dan muntah darah.
“Gie-hu, balaslah! Mengapa Gie-hu tidak mau membalas?” teriak Bu Kie.
Cia Sun tertawa getir, “Dia guruku,” jawabnya. “Sebagai murid aku pantas menerima satu pukulan dan dua tendangan.“ Tiba-tiba dia mengirim pukulan geledek.
Mereka lantas bertempur mati-matian. Cia Sun tidak bisa melihat, tetapi dia tidak perlu mempergunakan matanya dalam bertempur melawan Seng Kun. Sebagai murid dia paham semua ilmu silat gurunya. Sesudah pukulan ini, dia tahu persis pukulan apa yang bakal menyusul.
Perbedaan di antara mereka banyak terletak di tenaga dalam. Cia Sun lebih muda belasan tahun hingga dalam tenaga ia lebih kuat dan lebih ulet. Di samping itu ia pernah melatih diri di pulau Peng-hwee-to yang sangat dingin. Latihan di tengah hawa dingin banyak manfaatnya. Maka sesudah bertanding seratus jurus, ia belum jatuh di bawah angin. Setelah pertempuran mencapai lebih dari dua ratus jurus, Cia Sun berteriak keras sambil mengirim tinjunya.
“Cit-siang-kun!” seru Siang Cie, tetua Khong-tong-pay.
Melihat pukulan Cia Sun, semua tetua Khong-tong-pay kaget campur heran. Kitab Cit-siang dicuri dari Khong-tong-pay. Tapi sekarang pukulan yang dikeluarkan Cia Sun jauh lebih dahsyat dari apa yang dapat dikeluarkan para tetua Khong-tong-pay sendiri. Begitu Cia Sun menggunakan Cit-siang-kun, Seng Kun mundur berulang hingga terdengar sorak sorai gegap gempita. Permusuhan guru dan murid ini dan perbuatan Seng Kun banyak diketahui orang. Maka biarpun Cia Sun banyak dosa dan sering membunuh orang, tapi simpati para hadirin tetap diberikan kepada dirinya dan semua berharap ia mendapat kemenangan.
Selagi orang lain girang Bu Kie justru kaget dan kuatir. “Celaka,” dia mengeluh. “Seng Kun mempergunakan Siauw-lim Kiu-yang-kang yang didapat sesudah berguru kepada Kong-kian Seng-ceng. Gie-hu belum mengenal ilmu ini.”
Ketika melatih Cit-siang-kun, Seng Kun melakukannya dengan tergesa-gesa hingga dia luka dalam. Hal ini diketahui oleh Seng Kun. Dia berlagak keteter dengan mengeluarkan Siauw-lim Kiu-yang-kang. Setiap kali Cia Sun memukul, dia segera menangkis. Dengan Kiu-yang-kang dia memunahkan tujuh bagian tenaga pukulannya dan memulangkan yang tiga bagian ke tubuh Cia Sun. Demikianlah, di luar kelihatannya Cia Sun berada di atas angin, namun sebenarnya makin lama lukanya makin hebat.
Bukan main bingungnya Bu Kie. Selama puluhan tahun ayah angkatnya mencari kesempatan membalas sakit hati. Tetapi sekarang sesudah mendapat kesempatan, sang Gie-hu berbalik menghadapi maut. Dia tahu bahwa dalam puluhan gebrakan lagi sang ayah angkat akan muntah darah kemudian binasa.
“Goan-tin,” kata Kong-tie dengan suara dingin. “Apakah Suheng-ku mengajarkan Kiu-yang-kang kepadamu supaya kau menggunakannya untuk mencelakai manusia?”
Seng Kun tertawa dingin. “In-su binasa di bawah pukulan Cit-siang-kun,” jawabnya. “Hari ini aku akan membalaskan sakit hati In-su!”
“Binatang Seng Kun!” tiba-tiba Tio Beng berteriak. “Kiu-yang-kang Kong-kian Seng-ceng lebih kuat dari yang dimiliki olehmu. Mengapa dia tidak bisa bertahan terhadap Cit-siang-kun? Kong-kian Taysu kau celakai. Kaulah yang menipunya, membujuk agar dia suka mendamaikan permusuhanmu dengan Cia-tayhiap. Kau menipunya supaya dia menerima pukulan tanpa membalas. Huh huh...! Lihat! Lihat! Siapa yang berdiri di belakangmu dengan muka berlumuran darah? Kong-kian Seng-ceng! Ya memang Kong-kian Seng-ceng yang berdiri di belakangmu.”
Seng Kun tahu bahwa Tio Beng dusta. Tapi karena dia memang berdosa, perkataan itu membangunkan bulu romanya. Tiba-tiba pukulan menyambar. Ia menangkis dan membalas. Tubuhnya bergoyang dan sekali ini ia tidak mundur. Ternyata dalam seramnya, ia tidak bisa menggunakan Siauw-lim Kiu-yang-kang. Ia merasa darah di dadanya bergolak. Buru-buru ia menggunakan siasat berlari-larian di seputar Cia Sun sambil menentramkan jalan pernapasannya.
“Kong-kian Seng-ceng, jangan lepaskan dia,” nona Tio berteriak. “Tiup belakang lehernya. Benar! Kau mati di tangan murid, dia juga harus mampus di tangan muridnya. Ini hal yang dinamakan membayar hutang. Langit ada matanya.”
Jantung Seng Kun berdenyut lebih keras. Mendadak dia merasa lehernya ditiup angin. Di puncak itu memang banyak angin, namun bagi Seng Kun usapan angin itu menyeramkan hatinya. Melihat perubahan sikap Seng Kun, Tio Beng lantas berteriak,
“Ha-ha...! Seng Kun, coba tengok dan lihatlah siapa di belakangmu! Kau tidak berani? Lihatlah bayangan hitam di atas bumi. Kenapa di atas bumi terdapat tiga bayangan manusia sedangkan yang berkelahi hanya dua orang?”
Mendadak tinju Cia Sun menyambar. Seng Kun tidak keburu mengerahkan Kiu-yang-kang, ia menangkis dengan lweekang biasa. Begitu kedua tangan bentrok, tubuh keduanya bergoyang dan terhuyung beberapa langkah. Sekarang barulah Seng Kun dapat melihat bahwa ‘bayangan manusia’ ketiga sebenarnya bayangan dari batang pohon siong yang patah.
Melihat lihainya si murid, makin lama Seng Kun semakin bingung. Menurut pendapatnya, jika mau meloloskan diri maka satu-satunya jalan adalah menjatuhkan Cia Sun. Tiba-tiba bayangan batang pohon memberi ilham kepadanya. Dengan langkah tidak bersuara, dia mundur dua langkah ke arah batang pohon. Cia Sun merangsek, dia mundur lagi. Dia memancing lawan mendekati pohon.
“Gie-hu, hati-hati di bawah kaki!” teriak Bu Kie.
Cia Sun terkejut dan cepat dia melompat ke samping. Tapi karena keterlambatan itu Seng Kun mendapat kesempatan baik. Dia segera mengirim pukulan yang tak bersuara ke dada dan begitu telapak tangannya menyentuh dada, dia mengeluarkan lweekang sekuatnya hingga tanpa ampun lagi Cia Sun roboh terjengkang! Dengan girang Seng Kun melompat dan menendang kepala muridnya. Pada detik terakhir Cia Sun menggulingkan diri lantas melompat bangun. Mulutnya mengeluarkan darah dan mukanya menakutkan. Sambil berdiri tegak perlahan-lahan Seng Kun mengirim pukulan.
Sebagaimana diketahui, Cia Sun dapat menangkis setiap pukulan dengan mengandalkan kupingnya. Ketika serangan Seng Kun berupa pukulan tak bersuara dia pun tidak berdaya. Sekali lagi pundaknya kena dipukul. Ia menghadapi bencana. Banyak orang berteriak mencaci Seng Kun yang licik, tapi manusia itu tidak meladeni. Pakaian Bu Kie basah keringat. Ia mencekal tangan Tio Beng dan berkata dengan suara gemetar.
“Beng-moay, tolong lekas mencari jalan.”
“Apa kau setuju mempergunakan senjata rahasia membutakan kedua mata manusia itu?” tanya nona Tio.
Bu Kie menggelengkan kepala. “Biar pun mesti mati, Gie-hu tidak akan suka jika aku melakukan perbuatan itu,” jawabnya.
Sementara itu perlahan cuaca berubah gelap. Tiba-tiba terdengar teriakan, “Thian-kauw makan matahari! Thian-kauw makan matahari!”
Bu Kie cepat menengadah. Ia melihat matahari somplak separuh. Gerhana matahari. Keadaan berubah menjadi kalut. Sebagian orang mendongak ke atas, sebagian menonton pertempuran dan sebagian berlutut ke arah matahari sambil manggutkan kepala.
“Bangsat Seng Kun!” caci Tio Beng. “Kau terlalu jahat hingga Lo-thian-ya (langit) sendiri tidak bisa mengampuni kau lagi. Lihatlah! Langit mengunjuk keangkerannya untuk menumpas kau. Hari ini kau pasti mampus, rohmu akan dilemparkan ke gunung golok dan digodok dalam kuali minyak mendidih dan sepanjang masa kau tidak akan bisa dilahirkan lagi di dunia!”
Melihat perubahan di langit dan makin lama cuaca semakin gelap, Seng Kun yang memang sudah goncang hatinya jadi ketakutan. Dia menyerang mati-matian dengan maksud mencari lowongan untuk kabur. Tetapi Cia Sun yang bertekad membalas sakit hatinya, tidak mempedulikan apa pun dan terus mendesak dengan hebatnya hingga dia tidak mendapat kesempatan untuk meloloskan diri.
Sekonyong-konyong terdengar berkokoknya ayam jago di bukit. Beberapa saat kemudian seluruh permukaan matahari ditutup bayangan rembulan. Keadaan berubah gelap gulita. Di tempat jauh terdengar geram pekik dan jeritan bermacam binatang buas dicampur dengan menyalaknya kawanan anjing. Keadaan benar-benar menyeramkan.
Orang-orang yang berada di situ adalah jago rimba persilatan, tak urung bulu roma mereka bangun. Gerhana matahari sekali ini memang luar biasa, langit gelap gulita seperti malam. Dengan adanya perubahan alam ini Seng Kun yang matanya terang menjadi gelap seperti buta. Dengan hati keder dia menggunakan siasat mundur, tapi Cia Sun tidak memberi hati. Beberapa saat kemudian dia berteriak
“Aduh!”, karena dadanya kena pukulan Cit-siang-kun yang hebat.
Tapi dia memang bukan manusia bodoh. Sesudah kena pukulan hebat dia mundur sambil mengubah caranya berkelahi. Sekarang dia gunakan Siauw-kin Na-chiu, yaitu ilmu mencengkeram, memiting, membanting dan sebagainya dalam perkelahian rapat. Dengan ilmu itu dia tidak perlu menggunakan mata.
Sambil menggeram Cia Sun pun melawan dengan ilmu yang serupa. Dalam kegelapan para hadirin hanya mendengar suara bentrokan tangan yang nyaring dahsyat.
Bu Kie mendengarkan dengan hati berdebar. Ia tidak bisa membantu dan juga tidak bisa melihat jalan perkelahian.
Dengan mendengar teriakan ‘Thian-kauw makan matahari’ Cia Sun tahu apa yang terjadi. Dia sendiri sudah buta selama lebih dari dua puluh tahun. Dia sudah biasa dengan kebutaan itu dan kupingnya sedikit banyak dapat menggantikan peranan mata. Di lain pihak Seng Kun belum pernah bertempur dalam kegelapan total, dalam keadaan di mana kedua matanya tidak dapat digunakan. Cia Sun tahu bahwa selama keadaan gelap total maka dia berada di atas angin. Ia tidak boleh membuang waktu, maka ia segera menyerang dengan sehebatnya, dengan seluruh kepandaian dan tenaganya. Waktu Seng Kun menyerang dengan Siauw-kin Na-chiu, ia pun segera menggunakan ilmu tersebut.
Sesudah beberapa gebrakan, tiba-tiba saja Cia Sun mementangkan kedua tangannya dan mencoba menjepit iga musuh. Seng Kun girang bukan main.
“Kena!” dia berteriak sambil menusuk kedua mata Cia Sun dengan dua jari tangannya. Itu adalah pukulan Siang-liong Chiu-cu (Sepasang naga berebut mutiara).
Pukulan ini tidak luar biasa, tapi bila digunakan dalam Siauw-kin Na-chiu maka bahayanya amat besar. Jika musuh mengegos, si penyerang bisa mengirim pukulan susulan dengan tangan kirinya dan kedua pukulan itu pasti akan menghantam kepala. Tapi di luar dugaan Cia Sun tidak berkelit.
“Kena!” dia pun membentak sambil menusuk mata Seng Kun dengan pukulan Siang-liong Chiu-cu juga.
Pada detik kedua jarinya amblas di mata Cia Sun, hati Seng Kun mencelos karena tanpa dapat tercegah lagi, kedua matanya pun kena tusukan jari. Ketika itu matahari mulai mengintip dan di antara cuaca remang-remang para hadirin bisa melihat kedua lawan itu sekarang berdiri bagaikan patung dengan mata mengucurkan darah. Kini Seng Kun sudah menjadi orang buta, sedangkan Cia Sun yang memang telah buta, hanya mendapat luka biasa.
“Enak menjadi orang buta?” tanya Cia Sun dengan suara dingin dan hampir berbareng dia menghantam dengan tinjunya.
Pukulan Cit-siang-kun kena tepat di dada Seng Kun. Dengan tinju kirinya Cia Sun segera mengirim tonjokkan kedua. Seng Kun terhuyung, tubuhnya membentur batang siong dan mulutnya muntahkan darah.
“Segalanya ada balasan! Siancai...! Siancai...!” seru Touw-ok.
Cia Sun terkejut. Tinjunya yang sudah terangkat segera diturunkan lagi,
“Sebenarnya aku ingin menghadiahkan kau dengan tiga belas pukulan Cit-siang-kun,” katanya. “Tapi karena sekarang ilmu silatmu sudah musnah dan kau sudah menjadi orang cacat, maka aku tidak bisa turunkan sebelas pukulan lagi.”
Melihat Cia Sun mendapat kemenangan para hadirin bersorak sorai. Tiba-tiba Cia Sun bersila di tanah dan tulangnya mengeluarkan suara peratak perotok. Bu Kie langsung terkesiap. Dia tahu ayah angkatnya sedang membalik aliran hawanya untuk memusnahkan kepandaiannya sendiri.
“Gie-hu, jangan!” teriaknya.
Dia memburu. Tapi baru saja dia menempelkan telapak tangannya di punggung sang ayah angkat untuk mengirim Kiu-yang cin khie, Cia Sun melompat bangun dan memukul dadanya sendiri hingga muntah darah. Cepat Bu Kie mencekal tangan orang tua itu. Dengan hati mencelos dia mendapat kenyataan sang Gie-hu sudah tidak bertenaga lagi. Semua ilmu silatnya musnah dan sukar dipulihkan lagi.
“Seng Kun,” kata Cia Sun. “Kau sudah membinasakan semua keluargaku. Tetapi hari ini aku sudah membalas sakit hati dengan membutakan kedua matamu dan memusnahkan ilmu silat suhu. Ilmu silatku kudapatkan darimu, maka hari ini aku memusnahkannya dan memulangkannya kepadamu. Mulai saat ini antara kita berdua tidak ada sangkutan lagi. Semua budi dan semua sakit hati sudah dibayar lunas. Selamanya kau tak akan bisa melihat aku, sedangkan aku pun tidak akan bisa melihat mukamu lagi.”
Seng Kun menutup mata dengan kedua tangan dan tidak mengeluarkan sepatah katapun. Para orang gagah saling pandang. Mereka tak nyana bahwa permusuhan guru murid itu akan berakhir begini. Sementara itu Cia Sun bicara dengan suara nyaring,
“Aku Cia Sun berdosa besar dan aku sama sekali tidak menduga bahwa aku bisa hidup sampai hari ini. Sekarang jika di antara para enghiong ada yang sanak keluarganya binasa olehku, boleh maju untuk mengambil jiwaku. Bu Kie, kau jangan merintangi, juga tidak boleh membalas sakit hati supaya kau tidak menambah dosaku.”
Dengan air mata berlinang si anak mengangguk. Untuk beberapa saat seluruh lapangan sunyi senyap. Sesudah melihat apa yang terjadi, banyak yang menganggap bahwa turun tangan terhadap Cia Sun waktu itu bukan perbuatan seorang ksatria. Tiba-tiba seorang laki-laki maju dan berkata,
“Cia Sun, ayahku, Cie-tin Cin-lam Khu Lo Hiong binasa di tanganmu. Aku ingin membalas sakit hatinya.”
“Benar, Khu-heng boleh turun tangan,” jawabnya.
Orang she Khu itu segera menghunus golok. Bukan main bingungnya Bu Kie. Dia serba salah. Tubuhnya gemetar dan tanpa terasa dia maju beberapa langkah.
“Anak Bu Kie!” bentak sang Gie-hu, “Bila kau merintangi, berarti kau anak yang tidak berbakti. Sesudah aku mati, kau boleh periksa penjara di dalam tanah dan kau akan tahu segalanya.”
Orang she Khu itu mengangkat goloknya sampai di batas dada. Tiba-tiba air matanya mengucur. Dia meludahi muka Cia Sun dan berkata dengan suara parau,
“Di waktu hidup Sian-hu (mendiang ayah) seorang gagah. Jika rohnya melihat, dia tentu tidak setuju kalau aku membinasakan seorang buta yang tidak mampu melawan lagi...“ Goloknya jatuh dan sambil mendekap muka dengan kedua tangannya, dia lari balik ke orang banyak.
Seorang wanita setengah tua maju dan berkata, “Cia Sun, aku ingin membalas sakit hati kakakku. Im-yang Pan-koan Cin Peng Hui.“ Ia mendekat, meludahi, lantas berlalu sambil menangis.
Melihat ayah angkatnya dihina tanpa bergerak, hati Bu Kie bagai disayat pisau. Di rimba persilatan hidup atau mati dipandang urusan kecil. Yang dianggap urusan besar adalah hinaan. Kata orang, ‘Orang gagah boleh dibunuh, tidak boleh dihina’. Meludahi muka adalah salah satu hinaan terhebat, tapi Cia Sun menelannya dengan segala kerelaan. Ini merupakan bukti bahwa dia sungguh-sungguh merasa menyesal akan perbuatannya yang lalu.
Demikianlah, seorang demi seorang maju menghampiri untuk membalas sakit hati sanak keluarganya. Ada yang meludahi, ada yang menggaplok, ada yang mencaci. Cia Sun menerima itu semua dengan kepala menunduk dan mulut bungkam. Sesudah tiga puluh orang lebih melampiaskan ganjalannya, majulah seorang imam berjenggot panjang.
“Pinto membuktikan bahwa Cia-tayhiap sesungguhnya orang mulia. Pinto sendiri pernah membinasakan banyak orang, baik orang-orang dari jalan putih mau pun jalan hitam. Apa bila Pinto membalas sakit hati terhadap Cia-tayhiap, orang lain juga tentu akan mencari Pinto membalas dendam sakit hati mereka.“ Sesudah berkata demikian dia menghunus pedang, lalu mementil badan pedang yang lantas patah jadi dua dan melemparkan gagang senjata itu di tanah. Sesudah memberi hormat dengan membungkuk, dia pun berlalu sambil menundukkan kepala.
Para hadirin mengutarakan pendapat mereka dengan bisik-bisik. Nama Thay-hie-cu tidak banyak dikenal orang. Tak dinyana dia mempunyai kepandaian tinggi. Apa yang sangat mempengaruhi orang adalah sikapnya dan dada yang lapang. Sesudah mendengar teguran Thay-hie cu, rasanya tidak akan ada lagi orang yang menghina Cia Sun. Tapi di luar dugaan dari rombongan Go-bi-pay keluarlah seorang pendeta tua yang menghampiri Cia Sun dan berkata,
“Kau sudah membunuh suamiku, tetapi cukuplah jika aku meludahi mukamu.” Dia lantas menyemburkan ludahnya ke muka Cia Sun.
Orang yang berkuping tajam bisa mendengar bahwa dalam semburan ludah itu mengandung sesuatu. Cia Sun juga tahu sebatang paku menyambar. Dia tidak berkelit melainkan hanya berkata di dalam hati, “Kalau aku mati sekarang, aku mati agak terlambat.” Pada saat yang amat genting mendadak tubuh si baju kuning melesat dan tangan bajunya menggulung senjata rahasia itu.
“Suthay, siapa namamu?!” bentaknya.
Nikouw it terkesiap, “Aku Ceng-ciauw,” jawabnya.
“Hm... Ceng-ciauw... Ceng-ciauw! Siapakah suamimu sebelum kau menjadi pendeta? Dan dengan bagaimana Cia-tayhiap membinasakannya?”
“Perlu apa kau bertanya begitu melit?”
“Cia-tayhiap menyesal akan perbuatannya di masa lalu. Kalau yang maju adalah orang yang benar-benar mau membalas sakit hati ayah atau sanak lain, biar pun dicincang Cia-tayhiap akan menerima dengan rela dan orang luar tidak boleh mencampuri. Tetapi mana kala yang turun tangan manusia yang mau memancing ikan di air keruh, yang mau membunuh untuk menutup mulut orang, maka siapa pun boleh mencampuri.”
“Dengan Cia-tayhiap aku tidak punya permusuhan. Perlu apa aku membunuh orang untuk menutup...“ Ceng-ciauw tidak meneruskan perkataannya! Ia tahu dalam kaget dan takutnya ia kesalahan omong. Paras mukanya pucat pasi dan ia melirik kepada Ciu Cie Jiak.
“Benar!” kata si baju kuning. “Dengan Cia-tayhiap kau tidak mempunyai permusuhan. Apa kau membunuh orang untuk menutup mulutnya? Hmm... dua belas pendeta wanita Go-bi-pay dari tingkatan Ceng, yaitu Ceng-hoat, Ceng-hie, Ceng-ciauw dan sebagainya, semua menjadi pendeta sedari masih gadis. Dari mana datangnya suami?”
Tanpa menjawab Ceng-ciauw balik kerombongannya.
“Mana boleh kau berlalu begitu saja?!” bentak si baju kuning sambil melompat.
Dengan beberapa lompatan dia sudah mencegat nikouw itu. Dia menotok pinggang sambil menendang sehingga Ceng-ciauw lantas roboh. Si baju kuning tertawa dingin.
“Ciauw-kouwnio, tidaklah gampang membunuh orang untuk menutup mulutnya!” katanya.
“Jangan omong kosong kau!” Cie Jiak berkata dengan suara dingin. “Memang Ceng-ciauw suci mau membalas sakit hatinya.” Ia mengibaskan tangannya dan berkata lagi. “Banyak murid partai lurus bersih tidak dapat membedakan lagi mana yang lurus mana pula yang sesat dan sudah rela bersatu padu dengan kawanan siluman. Go-bi-pay tidak boleh turut masuk di air kotor. Hayo kita pulang!”
Semua murid Go-bi lantas bersiap-siap untuk berangkat. Beberapa di antara mereka mengawasi Ceng-ciauw yang rebah di tanah. Mereka tidak tahu apa Ciang-bun-jin akan menolong atau akan membiarkan saja saudara seperguruannya yang roboh itu.
Sementara itu terdengar bentakan Kong-tie, “Goan-tin! Lekas perintahkan kaki tanganmu melepaskan Hong-thio! Apa bila terjadi sesuatu yang tidak diharapkan maka dosamu akan menjadi lebih besar lagi.”
Seng Kun tertawa getir. “Urusan sudah terlanjur sampai di sini, biarlah kita mati bersama,” katanya. “Andai kata mau, sekarang aku pun tak bisa lagi menolong si hwesio tua Kong-bun. Apa kau buta? Apa kau tidak melihat sinar api?”
Kong-tie terkejut. Ia mengawasi ke bawah bukit dan benar saja di kuil Siauw-lim-si terlihat api berkobar.
“Celaka! Tat-mo-tong terbakar!” serunya. “Lekas padamkan api!”
Semua pendeta Siauw-lim yang berada di situ langsung bergerak turun bukit guna memadamkan api. Tiba-tiba terlihat semburan air yang panjang laksana naga putih dan tidak lama kemudian api sudah dapat dikuasai. Kong-tie merangkap kedua tangannya,
“Kuil kami terbebas dari kemusnahan.”
Beberapa saat kemudian tampak dua pendeta mendaki bukit dengan berlarian. Begitu tiba di depan Kong-tie, salah seorang di antara mereka langsung berkata,
“Melaporkan kepada Susiok-couw. Kaki tangan Goan-tin membakar Tat-mo-tong. Syukur beribu syukur, para enghiong dari Ang-sui-kie keburu menolong dan sekarang sudah dipadamkan.”
Kong-tie menghampiri Bu Kie lalu merangkap kedua tangannya. “Bahwa kuil Siauw-lim-si terbebas dari kemusnahan adalah karena pertolongan Thio-kauwcu yang sangat besar,” katanya. “Semua anggota Siauw-lim tak akan melupakan budi yang sangat besar ini.”
Bu Kie membalas hormat. “Hal ini hanya sepantasnya saja, jadi Taysu tidak perlu berkata begitu,” jawabnya.
“Kong-bun Suheng dikurung di Tat-mo-ih oleh murid-murid itu,” kata pula Kong-tie. “Walau pun kebakaran sudah dipadamkan tapi aku masih belum tahu nasib Suheng. Thio-kauwcu dan yang lain tunggulah sebentaran di sini, lolap ingin pergi menyelidiki.”
Seng Kun tertawa terbahak. “Tubuh Kong-bun dilabur minyak kerbau dan minyak babi,” katanya. “Begitu api berkobar, seketika itu pula tamatlah riwayatnya. Memang Ang-sui-kie bisa menolong Tat-mo-ih, tetapi tidak akan mampu menolong Si tua.”
“Jika Ang-sui-kie tak bisa, masih ada Houw-touw-kie!” kata seseorang yang sedang mendaki puncak bukit. Orang itu adalah Hoan Yauw.
Ia muncul bersama Gan Hoan (Ciang-kiesu Houw-touw-kie) dan seorang pendeta tua yang dipapah. Orang-orang tahu bahwa pendeta yang dipapah itu bukan lain Hong-thio Seng-ceng. Mereka mendapat luka dan pakaian mereka terbakar di sana sini.
Kong-tie segera memburu lalu memeluk Suheng-nya, “Suheng...!“ katanya dengan suara parau. ”Sute-mu tidak punya kebecusan dan berdosa besar.”
Kong-bun tersenyum. “Jika Hoan-sicu dan Gan-sicu tidak keburu muncul dari terowongan, aku tidak akan bisa bertemu lagi dengan kau dalam keadaan bernapas,” katanya.
“Kepandaian Houw-touw-kie dalam membuat terowongan tak ada bandingannya di dunia,” kata Kong-tie dengan suara kagum dan berterima kasih. Dia lalu berpaling kepada kedua penolongnya dan membungkuk. “Hoan-sicu,” katanya, “Lo-ceng pernah berlaku tak pantas terhadapmu dan aku harap kau sudi memaafkan. Sekarang Lo-ceng ingin membatalkan perjanjian bertemu di Ban-hoat-si. Lo-ceng tidak berani pergi ke situ.”
Dalam rimba persilatan, tidak menepati janji dipandang sebagai sebuah hal yang jauh lebih memalukan dari pada kalah berkelahi. Bahwa Kong-tie rela menarik kembali janjinya dan menyerah kalah merupakan bukti bahwa dia merasa sangat berhutang budi kepada Hoan Yauw. Kedua tokoh itu memang saling menghargai. Mulai dari waktu itu mereka menjadi sahabat karib.
********
Dalam usaha busuknya Seng Kun membuat rencana yang diperhitungkan masak-masak. Sebelum pembukaan Eng-hiong Tay-hwee ia berhasil membokong Kong-bun dengan satu totokan, kemudian mempenjarakan pemimpin itu di ruangan Tat-mo-ih yang diisi dengan rumput, kayu kering dan bahan yang gampang dimakan api. Ruang itu kemudian dijaga kaki tangannya yang setia.
Dengan Kong-bun sebagai tanggungan ia berhasil menundukkan Kong-tie. Ia mengancam bahwa jika Kong-tie membantah perintahnya maka Kong-bun akan segera dibakar. Sesudah usahanya gagal, ia memberi isyarat agar kaki tangannya segera membakar Tat-mo-ih. Ia berharap kawan-kawannya bisa menolong dirinya selagi para enghiong dan para pendeta berusaha memadamkan api.
Tetapi terjadi sesuatu yang tidak pernah diduga olehnya. Begitu tiba di kaki gunung Sauw-sit-san, sebelum bertemu dengan Bu Kie, Yo Siauw memerintahkan Houw-touw-kie membuat terowongan ke kuil Siauw-lim-si. Tujuannya untuk menolong Cia Sun. Namun belakangan ternyata Cia Sun tidak dipenjarakan di dalam kuil. Penukaran patung Tat-mo Couwsu di Tat-mo-ih juga dilakukan oleh orang2 Houw-touw-kie.
Waktu topeng Seng Kun terlucut, Tio Beng dan Yo Siauw lantas bisa menduga apa yang akan terjadi. Sesudah berunding mereka minta Hoan Yauw memimpin Ang-sui dan Houw-touw-kie untuk memadamkan kebakaran dan menolong Kong-bun di Tat-mo-ih.
Karena kurang rapinya persiapan, maksud menolong dapat tercapai tetapi Houw-touw-kie harus menderita kerusakan dan ketiga anggotanya mengorbankan jiwa. Kalau Hoan Yauw dan Gan Hoan tidak menggunakan terowongan waktu kabur dengan membawa Kong-bun, maka mereka bertiga pun akan binasa.
Kebakaran itu hanya merusak Tat-mo-ih dan beberapa bangunan lain. Tay-hiong Po-thian, Cong-keng-kok, Lo-han-tong dan gedung-gedung lainnya dapat diselamatkan.
BU-LIM BENGCU
Setelah diskusi dengan Kong-tie, Kong-bun segera mengeluarkan perintah agar semua kaki tangan Seng Kun dipenjarakan di belakang kuil menanti keputusan. Seng Kun sudah tinggal lama di Siauw-lim-si dan teman-temannya berjumlah tidak sedikit. Tetapi melihat kepala mereka dirobohkan dan Hong-thio sudah tertolong, maka orang-orang itu tidak berani melawan. Di bawah pimpinan Siu-co Lo-han-tong mereka digiring turun bukit.
Setelah itu barulah Bu Kie mendapat kenyataan bahwa dalam kekalutan Cie Jiak bersama rombongannya sudah berlalu dari Siauw-sit-san dengan meninggalkan Ceng-ciauw yang masih rebah di tanah. Bu Kie menghampiri si baju kuning dan sambil menyoja dia berkata,
“Dua kali Thio Bu Kie menerima pertolongan cici. Untuk itu aku hanya bisa menghaturkan banyak terima kasih. Di samping itu aku mohon tanya she dan nama cici yang mulia, supaya siang malam aku bisa mengingatnya.”
Si nona tersenyum. Dia menjawab dengan kata-kata yang merupakan sajak.
“Di belakang gunung Ciong-lam-san,
terdapat kuburan Mayat Hidup,
Burung Rajawali sakti dan pasangan pendekar
tak muncul lagi dalam dunia Kangouw.“
Seraya berkata begitu dia membalas hormat, kemudian dia menggapaikan tangan ke arah delapan pengiringnya. Sesaat kemudian dia turun bukit bersama delapan wanita baju putih dan hitam itu.
Bu Kie memburu, “Cici tahan dulu!” serunya.
Si nona tidak meladeni dan berjalan terus.
“Yo-cici! Yo-cici!” panggil Su Heng Sek.
“Segala urusan Kay-pang kumohon bantuan kauwcu,” kata si baju kuning sambil berjalan terus.
“Bu Kie menerima perintah.”
“Terima kasih!” Perkataan ‘terima kasih’ itu terdengar sangat jauh karena si nona sudah menggunakan ilmu mengentengkan tubuh.
Sesudah itu Bu Kie mendekati Cia Sun. “Gie-hu,” panggilnya. Air matanya mengucur.
“Anak edan,” kata sang Gie-hu sambil tertawa. “Atas petunjuk Sam-wi Ko-ceng sekarang aku baru sadar. Segala hutang-hutangku sudah dibereskan. Sesungguhnya kau harus girang. Kenapa kau berduka? Karena ilmu silatku musnah? Apakah kau ingin aku menggunakan lagi ilmu itu untuk melakukan perbuatan berdosa?”
“Gie-hu benar,” kata si anak dengan suara perlahan.
Cia Sun lalu menghampiri Kong-bun dan berlutut. “Teecu berdosa besar dan mohon agar Hong-thio sudi menerima teecu sebagai murid,” katanya.
Sebelum Kong-bun menjawab, Touw-ok sudah cepat mendahului, “Mari! Biar Lo-ceng saja yang mengambil kau sebagai murid.”
“Teecu tidak berani mengharap begitu besar,” kata Cia Sun.
Cia Sun berkata begitu sebab jika ia mengangkat Kong-bun sebagai guru maka ia berada di tingkatan ‘goan’, sedang jika ia mengambil Touw-ok sebagai guru maka dia menduduki tingkatan ‘Kong’ yang sama tinggi dengan Kong-bun dan Kong-tie.
“Fui!” bentak Touw-ok. “Kong kosong. Goan juga sama kosongnya. Kau sungguh tolol!”
Cia Sun tertegun, tapi ia lantas sadar. “Guru kosong, murid kosong, tak ada dosa, tak ada mulia, tak ada jasa,” katanya.
Touw-ok tertawa terbahak. “Sekarang kau sudah menjadi anak murid kami,” katanya. “Kau tidak usah mengubah nama. Kau mengerti maksudku?”
“Mengerti,” jawabnya. “Segalanya hanya merupakan bayangan kosong. Jangankan nama, tubuh pun pada hakekatnya tak ada.”
Cia Sun orang yang ‘bun-bu-coan-cay’ (paham ilmu surat dan silat). Sesudah mendapat petunjuk Touw-ok, ia segera dapat menangkap inti sari dari pelajaran sang Buddha. Belakangan ia menjadi seorang pendeta suci.
Bu Kie menyaksikan dan mendengar itu semua dengan rasa girang bercampur duka.
“Mari!” kata Touw-ok akhirnya sambil menuntun tangan Cia Sun dan bersama dua saudara seperguruannya, ia lantas turun bukit. Kong-bun, Kong-tie, Bu Kie dan yang lain-lain memberi hormat dengan membungkuk.
Tiga puluh tahun yang lalu Kim-mo Say-ong melakukan perbuatan yang menggemparkan dunia Kangouw. Sekarang ia masuk di ‘pintu kosong’. Mengingat itu semua orang menghela napas dengan rasa terharu. Sesudah ketiga pendeta dan Cia Sun berlalu, sambil merangkap dua tangannya Kong-bun berkata.
“Kami merasa malu karena sehubungan dengan terjadinya pengkhianatan maka kami tak bisa melayani para enghiong-ya secara pantas. Sekarang kita berkumpul. Entah kapan kita bisa berkumpul lagi. Mengingat itu kami memberanikan diri untuk mengundang kalian guna mengaso sehari dua hari di kuil kami.”
Bersama tuan rumah, para tetamu kembali ke kuil Siauw-lim-si di mana sudah disediakan makanan cia-cay. Sesudah itu diadakan upacara sembahyangan untuk roh orang gagah yang membuang jiwa dalam pertempuran.
Bagi Bu Kie, selesainya Eng-hiong Tay-hwee belum berarti hilangnya banyak tanda tanya dalam hati. Masih banyak hal-hal yang belum terang baginya. Cia Sun sudah berlalu sebelum memberi keterangan. Bu Kie merasa bahwa ada banyak pertanyaan yang belum terjawab, mempunyai sangkut paut dengan Cie Jiak. Ia seorang mulia dan ia masih belum melupakan kecintaan dahulu. Maka ia menghibur diri dengan berpikir bahwa soal itu sebaiknya tak usah diselidiki terlalu mendalam supaya nama Cie Jiak jangan menjadi lebih rusak.
Sesudah bersantap Bu Kie pergi ke tempat Kaypang untuk membicarakan soal-soal partai pengemis dengan Su Hong Sek dan para Tianglo. Selagi berunding, terdengar Swee Put Tek menerobos masuk kemudian berkata.
“Kauwcu, Bu-tong Sie-hiap datang berkunjung. Dia mengatakan ada urusan penting yang hendak dibicarakan.”
Bu Kie terkejut. “Apakah ada sesuatu yang terjadi atas diri Thay-suhu?” tanyanya dalam hati. Cepat ia keluar menyambut. Sesudah memberi hormat dengan berlutut, hatinya lega karena melihat paras muka Thio Siong Kee tenang-tenang saja.
“Apa Thay-suhu baik?” tanyanya.
“Tak kurang suatu apa,” jawabnya. “Di Bu-tong-san aku mendapat warta bahwa dua laksa tentara Goan sedang menuju ke Siauw-lim-si dengan maksud yang tak baik terhadap Eng-hiong Tay-hwee. Maka itu aku cepat datang ke sini.”
“Mari kita beritahu Hong-thio,” kata Bu Kie.
Mereka segera pergi ke ruangan belakang dan menemui Kong-bun. Sesudah berpikir sejenak, Kong-beng berkata,
“Soal ini sangat besar. Kita harus berdiskusi dengan para orang gagah.“ Dia segera memerintahkan membunyikan lonceng dan mengumpulkan semua orang di Tay-hiong Po-thian.
Mendengar laporan Thio Siong Kee semua orang terkejut dan beberapa di antara mereka lantas mengutarakan pikiran. Yang berdarah panas mengusulkan agar mereka turun gunung melabrak tentara musuh, sedangkan yang lebih tenang mengatakan bahwa gerakan tentara Goan belum tentu ditujukan kepada Siauw-lim-si.
“Aku mengerti bahasa Mongol,” kata Thio Siong Kee. “Aku mendengar dengan kupingku sendiri bahwa pasukan itu mau menyerang Siauw-lim-si.”
“Menurut pendapatku, tentara kerajaan menyerang karena menduga bahwa berkumpul kita di sini mempunyai tujuan untuk merusak mereka,” kata Kong-bun.
“Kita paham ilmu silat dan kita tidak takut kawanan Tat-cu. Musuh datang harus disambut, air datang harus dibendung. Kita tidak usah takut...“ Belum lagi Kong-bun selesai bicara, beberapa orang bertepuk tangan untuk menyatakan persetujuannya. Sesudah sambutan mereda Kong-bun segera melanjutkan, “Akan tetapi kita orang rimba persilatan biasa bertempur satu lawan satu. Kita berkelahi dengan tangan kosong atau dengan senjata rahasia! Kita belum punya pengalaman berkelahi menggunakan senjata panjang seperti tombak dan sebagainya. Oleh karena itu menurut pikiran lolap, sebaiknya para enghiong bubar dan pulang ke tempat masing-masing.”
Mendengar saran itu untuk beberapa saat semua orang bungkam.
“Aku sendiri tidak setuju,” kata Bu Kie. “Pertama, jika kita bubar Tat-cu akan mengatakan bahwa kita takut terhadap mereka. Kedua, bagaimana dengan para suhu yang tinggal di kuil ini?”
Kong-bun tersenyum. “Kalau tentara Goan melihat bahwa yang berada di sini hanya para pendeta dan bukan orang-orang kangouw, mereka tidak akan berbuat apa-apa,” katanya.
Semua orang mengerti bahwa Kong-bun berkata begitu karena tidak mau menyeret orang. Para tamu datang atas undangan Siauw-lim-si. Kong-bun tak mau mereka mengorbankan jiwa gara-gara Siauw-lim-si. Tapi orang yang berada di situ adalah lelaki sejati. Mana bisa mereka mundur menghadapi musuh?
“Di hadapan Hong-thio dan para enghiong, aku yang rendah sebenarnya tak boleh banyak mulut,” kata Yo Siauw. “Tetapi pada hakekatnya setiap orang yang berada di sini memiliki kewajiban melawan musuh. Menurut pikiranku, sebaiknya kita segera mencari daya untuk memancing Tat-cu ke satu tempat di mana kita bisa menggempur mereka. Sedapat mungkin janganlah kuil yang bersejarah ini dijadikan medan perang.”
Semua orang lantas menyetujui usul itu. Tiba-tiba di luar terdengar suara kaki kuda yang dikaburkan secepatnya kemudian berhenti di depan kuil. Beberapa saat kemudian masuk dua orang memakai seragam partai dengan diantar seorang Tie-kek-ceng. Dari pakaiannya mereka ternyata anggota Beng-kauw. Sesudah keduanya memberi hormat, salah seorang berkata,
“Melaporkan kepada Kauwcu bahwa pasukan depan Tat-cu yang berjumlah lima ribu orang tengah menerjang ke Siauw-lim-si. Mereka mengatakan bahwa para suhu telah mengumpulkan orang untuk melakukan pemberontakan. Mereka sesumbar mau menginjak Siauw-lim-si sampai rata dan mereka mau membinasakan setiap kepala...“ Ia berhenti di tengah jalan.
Kong-bun tersenyum. “Kau mau mengatakan kepala gundul bukan?” tanyanya. “Tak usah ragu. Katakanlah segala perkataan yang harus dikatakan.”
Orang itu mengangguk. “Di sepanjang jalan kami melihat kenyataan bahwa sudah banyak pendeta yang dibinasakan oleh Tat-cu,” katanya pula. “Tat-cu mengatakan begini, ‘Kepala gundul bukan orang baik. Siapa yang membawa senjata harus dibunuh!’. Itulah pendirian pasukan Tat-cu.”
Semua orang meluap darahnya. Banyak yang berteriak dan mengusulkan supaya turun gunung menggempur musuh. Semenjak orang Mongol berkuasa di Tiongkok, para pencinta negeri di segenap rimba persilatan memang menganggap penjajah sebagai musuh dan dengan caranya sendiri mereka berusaha mengusir penjajah. Gerakan Beng-kauw merupakan sebuah usaha mereka. Melihat besi sedang panas, Bu Kie cepat-cepat berkata dengan suara lantang.
“Saudara-saudara! Hari ini kesempatan paling bagus untuk memperlihatkan bahwa saudara adalah lelaki sejati yang bisa berkorban demi kepentingan negara. Nama Siauw-lim Eng-hiong Tay-hwee akan tercatat dalam buku sejarah dan akan diingat orang untuk selama-lamanya.”
Pidato bersemangat itu disambut dengan sorak sorai gegap gempita.
“Sekarang biarlah kita minta Kong-bun Hong-thio memegang pimpinan,” kata Bu Kie. “Kami dari Beng-kauw akan mentaati semua perintah.”
“Mana bisa begitu?” kata Kong-bun seraya merangkap kedua tangnnya. “Walau pun benar kami pernah belajar dan mengerti sedikit ilmu silat, tapi kami sama sekali tidak mengenal ilmu perang. Semenjak beberapa tahun lalu Beng-kauw sudah memulai usaha besar dan hal ini diketahui semua orang. Menurut pendapat lolap, hanya tentara Beng-kauw yang akan dapat melawan tentara Tat-cu. Maka itu lolap mengusulkan untuk mengangkat Thio-kauwcu sebagai Bu-lim Bengcu (kepala perserikatan rimba persilatan) dan memimpin kita dalam peperangan melawan Tat-cu.”
Sebelum Bu Kie membuka mulut, para hadirin sudah menyambut usul itu dengan tepuk tangan dan sorakan. Meski pun Bu Kie masih muda dan sepak terjangnya dalam rimba persilatan belum cukup untuk menaklukkan hati orang, akan tetapi ilmu silatnya yang amat tinggi telah disaksikan segenap orang gagah. Di samping itu panglima-panglima tentara Beng-kauw seperti Han San Tong. Cie Siu Hwee, Cu Goan Ciang dan lain-lain sudah mendapat kemenangan dalam peperangan di sepanjang sungai Hway-ho di Holam, Ouw-pak dan sebagainya. Karena itu para orang gagah yakin bahwa selain Beng-kauw tidak ada partai yang lebih cocok untuk memimpin pertempuran dan memegang komando sebagai Bengcu.
“Tanggung jawab seorang Bengcu berat luar biasa,” kata Bu Kie dengan suara merendah. “Aku tak punya cukup kemampuan dan kuminta kalian suka memilih lain orang yang lebih pandai.”
Sekonyong-konyong terdengar suara ribut yang bergemuruh dan di lain saat dua orang anggota Swie-kim-kie menerobos masuk ke ruangan musyawarah.
“Tentara Mongol sudah menerjang ke gunung ini!” teriak salah seorang.
Sampai di situ Bu Kie tidak dapat berlaku sungkan lagi. “Swie-kim-kie, Ang-Sui-kie maju di muka untuk menyambut musuh!” katanya dengan suara angker. “Ciu Tian Sian-seng, Tiat-koan Totiang, kalian berdua bantu mereka dengan masing-masing membawa satu bendera.”
Ciu Tian dan Tiat-koan Tojin membungkuk dan segera berlalu untuk menjalankan tugas.
“Swee Put Tek Suhu,” kata pula Bu Kie. “Aku minta kau segera pergi ke berbagai tempat yang berdekatan untuk meminta bala bantuan dengan membawa Seng-hwee-leng sebagai tanda kepercayaan.“
Tanpa menyia-nyiakan waktu Swee Put Tek segera berangkat. Para enghiong yang berada di situ rata-rata berkepandaian tinggi, tapi mereka tenaga yang belum terlatih dalam peperangan. Sesudah Bu Kie mengeluarkan beberapa perintah, mereka segera menghunus senjata dan bergerak untuk menyambut musuh.
“Kauwcu,” bisik Yo Siauw, “Jika mereka tidak dipimpin, sekali gebrak saja bakal dipukul hancur.”
Bu Kie mengangguk. Ia segera keluar lebih dulu dan pergi ke pendopo di depan kuil untuk mengamat-amati musuh. Ia menyadari bahwa pasukan Mongol yang di depan, terdiri dari seribu jiwa lebih sudah tiba di lereng gunung. Tapi mereka sudah dipukul mundur pasukan Swie-kim-kie yang menggunakan senjata gendewa dan anak panah serta tombak di sebelah bawah gunung yang lebih jauh. Dia melihat pasukan demi pasukan Mongol merayap naik dengan teratur. Pada jaman itu keangkeran tentara Mongol tidak bisa menyamai jaman Genghis Khan. Tetapi biar bagaimana pun juga tentara pilihan Mongol masih tetap merupakan tentara yang tidak ada tandingannya.
Selagi Bu Kie mengasah otak untuk memundurkan tentara musuh di sebelah kiri tiba-tiba terdengar teriakan yang dibarengi dengan munculnya sejumlah pendeta wanita dan lelaki muda yang berlarian ke atas gunung. Mereka adalah rombongan Go-bi-pay. Tak salah lagi, dalam perjalanan pulang mereka bertemu dengan tentara Mongol yang memukul mereka balik ke atas gunung.
Di lain saat Bu Kie dan kawan-kawannya melihat Ciu Cie Jiak, Ceng-hui, Ceng-ciauw dan beberapa pendeta lain berkelahi sambil mundur dengan tubuh berlumuran darah. Tak jauh dari situ belasan pria yang memikul tandu sedang dikepung sejumlah serdadu Mongol. Berulang kali Cie Jiak dan kawannya menerjang hingga berhasil membinasakan puluhan serdadu musuh, tetapi mereka belum berhasil menolong kawan-kawan yang terkepung.
“Celaka!” seru Bu Kie. “Yang berada di dalam tandu pasti Song-suko!” Dia berpaling dan berseru. “Liat-hwee-kie melindungi dari kedua sisi, Pheng Suhu dan Hoan Yo Jie-su ikut aku!“ Seraya memberi perintah dia berlari dan menerjang musuh.
Dua serdadu memapak. Dengan tombak rampasan dia menerjang pasukan musuh diikuti Yo Siauw, Hoan Yauw dan Pheng Eng Giok. Sesudah mengamuk beberapa lama Hoan Yauw berhadapan dengan seorang Sip-hu-thio (pangkat perwira Mongol). Dengan sekali pukul dia menghancurkan kepala perwira itu dan sesudah merobohkan beberapa musuh dia berhasil merampas orang yang terluka parah dan rebah dalam sebuah tandu. Dia cepat menggendongnya lalu kabur ke tempat yang lebih aman. Sementara itu dengan muka penuh darah Cie Jiak menerjang lagi ke arah pasukan musuh.
“Cie Jiak, lekas balik! Song-toako sudah tertolong!” teriak Bu Kie.
Cie Jiak tidak meladeni, dia terus menyerang dengan cambuknya. Namun karena jalan di gunung sangat sempit dan penuh dengan manusia, maka terjangannya tidak berhasil. Beberapa saat kemudian Bu Kie melihat dua murid Go-bi-pay yang memikul sebuah tandu yang lain sedang dikepung musuh.
“Apakah Song-suko berada di tandu itu?” tanya Bu Kie dalam hati.
Ia segera menghampiri dengan berlari. Tapi saat masih terpisah setombak lebih dari tandu itu, kedua murid Go-bi kena bacokan golok dan anak panah. Mereka lantas menggelinding ke bawah gunung bersama tandu yang dipikulnya. Bu Kie terkejut. Ia melompat dan menggunakan tombak yang dipegang tangan kirinya untuk menahan tergelincirnya tandu. Ia melihat orang yang berada di tandu itu dibungkus kain putih dan hanya kelihatan mukanya. Memang orang itu bukan lain Song Ceng Su.
Ia segera melemparkan senjatanya lantas mendukung Ceng Su. Ia merasa heran karena tubuhnya berat luar biasa dan sesudah mendukungnya ia menyentuh sesuatu yang keras. Rupanya dalam kain putih yang membungkus tubuh Ceng Su terdapat satu benda yang berat dan keras. Tapi saat itu ia tidak sempat berpikir panjang lagi.
Karena kuatir menggetarkan tulang-tulang kepala Ceng Su yang belum lama disambung, ia tidak berani bertempur dengan serdadu-serdadu yang mencegatnya dan hanya berkelit ke sana sini sambil berlari menggunakan ilmu meringankan tubuh. Untung tak lama kemudian ia bertemu dengan Thio Siong Kee dan In Lie Heng yang lalu melindungi dari serangan musuh.
Sementara itu pasukan Mongol yang lainnya dengan kekuatan beberapa ratus orang mulai merangsek ke atas.
“Liat-hwee-kie turun tangan!” teriak Pheng Eng Giok.
Tentara Liat-hwee-kie segera menyemprotkan minyak tanah sambil melepaskan panah api hingga dua ratus lebih serdadu Mongol yang berada di depan segera terbakar dan yang lainnya terpaksa mundur. Di lain pihak Ang-sui-kie yang menyemburkan air beracun berhasil mematikan serangan musuh. Dengan menggunakan kesempatan baik para orang gagah turut menerjang dan membasmi musuh sepuas hati.
Melihat gelagat yang tidak baik, Ban-hu-thio yang memimpin tentara Mongol buru-buru memerintahkan membunyikan genderang untuk menarik mundur pasukan. Di lain saat pasukan depan Mongol sudah berubah menjadi pasukan belakang dan dengan teratur mereka segera mundur ke bawah gunung di bawah perlindungan tentara yang bersenjata anak panah. Melihat itu Pheng Eng Giok menghela napas lantas berkata,
“Tentara Mongol benar-benar bukan tentara sembarangan. Mereka kalah tapi tidak menjadi kalut.”
Sesampainya di kaki gunung tentara Mongol diatur seperti kipas dan membuat persiapan untuk beristirahat. Setelah musuh menghentikan serangan Bu Kie segera mengeluarkan perintah.
“Swie-kim, Ang-sui dan Liat-hwee, tiga bendera menjaga tempat-tempat penting. Kie-bhok dan Houw-touw-kie menebang pohon dan membuat benteng untuk menahan terjangan musuh selanjutnya.”
Kelima bendera itu segera berpencar untuk melakukan tugas. Pertempuran itu telah memberi pelajaran sekaligus membuka mata para orang gagah dari rimba persilatan. Kini mengertilah mereka bahwa perang tidak sama dengan pertandingan satu lawan satu atau pertempuran antara beberapa orang yang biasanya terjadi di kalangan Kangouw.
Kini mereka mengakui bahwa Iweekang, Gwakang, senjata rahasia dan ilmu silat tinggi dari seseorang tidak banyak artinya dalam peperangan, di mana beribu atau puluhan ribu manusia bertempur besar-besaran. Sekarang mereka yakin bahwa tanpa bantuan Ngo-heng-kie, hari itu mereka semua terhitung kuil Siauw-lim tentu sudah musnah. Tanpa Ngo-heng-kie mereka tak akan bisa melawan dua laksa serdadu Mongol yang terlatih baik.
Sesudah musuh mundur semua, Bu Kie meletakkan Song Ceng Su di tanah dan meraba dadanya. Pemuda she Song itu ternyata masih bernapas. Ia menengok untuk memanggil Cie Jiak, tapi nyonya itu tak kelihatan batang hidungnya.
“Mana Song-hujin?” tanyanya kepada beberapa murid Go-bi-pay yang berada di situ.
Mereka semua hanya menggeleng-gelengkan kepala. Karena repot melawan musuh, para enghiong pun tidak memperhatikan nyonya muda itu.
Karena kuatir kalau-kalau Song Ceng Su terluka, Bu Kie segera membuka kain putih yang membungkus tubuhnya. Bungkusan itu tidak kurang dari tiga lapis. Begitu lapisan ketiga terbuka, terdengar suara kerontangan dan empat potong senjata jatuh di tanah. Bu Kie terkesiap.
“To-liong-to! Ie-thian-kiam!” teriaknya.
Mendengar teriakan itu semua orang memburu. Di atas tanah menggeletak dua potong Ie-thian-kiam dan dua potong To-liong-to.
Bu Kie mengambil salah sepotong To-liong-to. Dia berdiri terpaku dan sepasang matanya mengeluarkan sinar kedukaan. Dia ingat bahwa ayah ibunya meninggal karena golok mustika ini. Dia ingat bahwa selama lebih dari dua puluh tahun banyak orang bermusuhan, berkelahi dan kehilangan jiwa gara-gara golok ini. Ia ingat pula bahwa berkumpulnya para enghiong di kuil Siauw-lim-si juga disebabkan oleh To-liong-to. Sekarang golok itu muncul dalam keadaan patah dua dan tidak ada gunanya lagi.
Ia mengangkat potongan itu dan menyadari bahwa di tengahnya berlubang. Ie-thian-kiam pun demikian. Mungkin sekali dalam lubang itu telah disembunyikan sesuatu, tapi isinya sudah diambil orang. Yo Siauw menghela napas panjang,
“Kauwcu!” katanya. “Sudah lama sekali aku mencoba memecahkan teka teki sumber ilmu silat Ciu-kouwnio, dan sekarang aku bisa mengatakan bahwa ilmu Ciu-kouwnio didapat dari pedang dan golok ini.”
Bu Kie bukan orang tolol. Dia pun bisa meraba kejadian yang sesungguhnya. Sekarang dia dapat membayangkan bahwa malam itu ketika berada di pulau kecil, Cie Jiaklah yang sudah mencuri Ie-thian kiam dan To-liong-to.
Entah dengan cara bagaimana ia menyingkirkan Tio Beng, lalu membinasakan In Lee dan saling membacok kedua senjata itu hingga Ie-thian-kiam dan To-liong-to yang tersohor patah dua-duanya. Setelah itu ia mengambil pit-kip (kitab ilmu) yang disembunyikan dalam kedua senjata itu dan melatih diri secara diam-diam. Makin lama Bu Kie berpikir semakin jelas pula duduk persoalannya.
“Benar,” katanya dalam hati. “Di pulau itu pada waktu aku mencoba mengusir racun dari tubuhnya dengan menggunakan Kiu-yang Sing kang aku merasakan munculnya semacam tenaga luar biasa yang melawan Sinkang-ku. Belakangan tenaga itu jadi lebih kuat. Hai... karena tergesa-gesa ia tidak mempelajari dasar-dasar Iweekang yang sejati tetapi melatih diri dengan ilmu luar yang beracun, yang dapat memberi hasil dalam waktu singkat. Sungguh sayang...”
Selagi Bu Kie termenung, Gouw Kin Co Ciang-kiesu Swie-kim-kie mendekat dan berkata seraya membungkuk.
“Kauwcu, dahulu aku pernah menjadi pandai besi (tukang besi). Aku dapat membuat bermacam-macam senjata. Mungkin pedang dan golok mustika itu masih dapat disambung. Apakah Kauwcu setuju kalau aku mencobanya?”
Yo Siauw girang, “Ilmu membuat pedang dari Gouw-kiesu tiada bandingannya di kolong langit,” katanya. “Kauwcu boleh mengijinkannya.”
Bu Kie mengangguk. “Baiklah,” katanya. “Memang sangat sayang kalau kedua senjata ini tidak bisa digunakan lagi. Gouw-kiesu, kau cobalah.”
“Hee-heng,” kata Gouw Kin Co kepada Hee Yam, Ciang-kiesu Liat-hwee-kie. “Membuat pedang dan golok mempunyai kaitan erat dengan api. Dalam hal ini aku memerlukan bantuanmu. Untuk sementara mungkin Tat-cu tidak berani segera menyerang lagi. Bagaimana jika kita mencoba sekarang juga?”
Hee Yam tertawa. “Mufakat,” jawabnya. “Soal api memang bidangku.”
Kedua pemimpin bendera itu lantas membuat persiapan. Mereka membuat sebuah tungku yang sangat tinggi dan pada tungku itu hanya terbuka satu lubang yang panjangnya belum cukup satu kaki. Dalam Liat-hwee-kie selalu tersedia macam-macam bahan bakar, maka dalam waktu singkat api berkobar-kobar.
Dengan penuh perhatian Gouw Kin Co mengawasi api dalam tungku. Di atas tanah berjejer belasan golok. Sesudah api berubah warnanya dia mengambil beberapa batang golok lalu memasukkannya ke dalam tungku untuk menilai ‘sifat’ api. Beberapa saat kemudian api yang tadinya berwarna hijau berubah menjadi putih. Ia segera mengambil jepitan baja, menjepit dua potongan To-liong-to, menyambungnya satu dengan yang lain, kemudian memasukkannya ke dalam tungku.
Dengan rasa kagum semua orang menyaksikan cara kerja pandai besi itu. Dia tidak memakai baju dan keringat mengucur terus dari tubuhnya yang berotot. Hawa panas dari tungku itu hebat bukan main dan bunga api yang selalu muncrat keluar jatuh di tubuhnya. Tapi ia seolah-olah tidak merasakan semua itu. Dengan menumpahkan seluruh perhatian, ia berdiri laksana patung dengan kedua tangan memegang jepitan baja yang menjepit dua potong To-liong-to.
Tiba-tiba dua anggota Liat-hwee-kie yang memompa Hong-shia (Alat berbentuk kotak untuk memompa angin ke dalam tungku) roboh pingsan. Hee Yam dan Ciang-kie Hu-su (wakil pemimpin) Liat-hwee-kie melompat lalu menyeret kedua orang korban, kemudian mereka sendiri yang menggantikannya. Mereka adalah orang-orang yang mempunyai lweekang kuat. Begitu Hong-shia ditarik, api segera berkobar makin besar. Selang beberapa lama tiba-tiba Gouw Kin Co berseru,
“Gagal!”
Dia melompat mundur dengan paras muka pucat. Kedua jepitan baja yang dipegangnya mulai melumer tapi To-liong-to masih tidak bergeming.
“Kauwcu, anak buahmu tidak punya kebecusan,” katanya dengan suara memohon maaf. “Nama besar To-liong-to benar-benar bukan nama kosong.”
Hee Yam dan Ciang-kie Hu-su Liat-hwee-kie juga ikut mundur. Kini pakaian mereka basah keringat.
“Bu Kie Koko,” tiba-tiba Tio Beng berkata, “Bukankah Seng-hwee-leng juga logam mustika dan bahkan tidak dapat diputuskan oleh To-liong-to?”
“Benar!” kata Bu Kie. “Hampir aku lupa.“
Dia mempunyai enam Seng-hwee-leng, tapi yang satu sudah diberikan kepada Swee Put Tek untuk memanggil bala bantuan. Dia segera merogoh saku dan mengeluarkan kelima batang ‘leng’ yang lalu diserahkan kepada Gouw Kin Co.
“Kalau golok dan pedang itu sukar disambung, Gouw-heng tidak usah memaksakan diri,” katanya. “Seng-hwee-leng adalah mustika dari agama kita, maka sebisa mungkin jangan sampai rusak.”
Gouw Kin Co menyambut dan menelitinya sambil mengerutkan alis.
“Apa bila Gouw-heng tidak punya pegangan sebaiknya jangan menempuh bahaya,” kata Bu Kie.
“Seng-hwee-leng ini terbuat dari emas putih, besi Hian-tiat, pasir Kim-kong serta bahan istimewa lain,” terang Gouw Kin Co. “Benda yang luar biasa ini tak akan bisa dilumerkan dengan api. Yang tak dapat aku pikirkan adalah bagaimana Seng-hwee-leng dulu dibuat.”
“Sudahlah, untuk apa Gouw-heng memikirkan soal itu,” kata Hee Yam. “Paling baik kita segera mencoba.”
Gouw Kin Co mengangguk, “Kauwcu tidak usah kuatir,” katanya. “Biar pun api yang dibuat Hee-heng sangat hebat tetapi kulit Seng-hwee-leng tidak akan rusak.“
Sehabis berkata begitu dia menjepit sepotong To-liong-to dengan dua ‘leng’ dan potongan yang lain dengan dua ‘leng’ pula. Kemudian dengan dua jepitan baja yang baru ia menjepit keempat ‘leng’ itu yang lantas dimasukkan ke dalam tungku. Seperti tadi, gas memompa angin dilakukan Hee Yam dan Ciang-kie Hu-su dari Liat-hwee-kie. Makin lama api berkobar makin tinggi. Selang setengah jam Gouw Kin Co, Hee Yam dan Ciang-kie Hu-su sudah kelihatan payah sekali dan hampir tidak bisa mempertahankan diri lagi dari serangan hawa panas.
Melihat itu Hoan Yauw memberi isyarat kepada Ciu Tian dengan lirikan mata dan gerakan tangan. Bersamaan mereka segera melompat menggantikan pekerjaan Hee Yam dan kawannya. Begitu angin di Hong-shia dipompa dua tenaga baru yang memiliki Iweekang amat tinggi, api yang berwarna putih segera menghembus ke atas.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA



































Tidak ada komentar:
Posting Komentar