ads

Jumat, 23 Oktober 2026

To Liong To 40 (TAMAT)

DIKEJAR DOSA

“Demikianlah, In Liok-hiap,” Lie Beng Hee berkata lagi. “Hanya karena Ciang-bun-jin ingin membangkitkan kedongkolan Thio-kauwcu dan Siong Siauw-hiap mabuk cinta, maka terjadilah peristiwa yang tidak kita inginkan. Aku hanya mengharap agar Song Siauw-hiap bisa sembuh kembali. Kumohon In Liok-hiap suka bicara baik-baik di hadapan Thio Cinjin dan Song-tayhiap agar kerukunan antara kita tidak dirugikan.”

“Memang aku harus berbuat begitu,” kata In Lie Heng. “Tetapi sutit-ku itu seorang berdosa yang pantas dihukum mati. Perbuatannya sungguh memalukan partai kami. Aku harap dia mati sendiri terlebih cepat.“

Pada hakekatnya In Lie Heng adalah seorang mulia yang berhati lemah. Tetapi darahnya meluap mengingat perbuatan Song Ceng Su di dalam mencelakakan Boh Seng Kok.

Selagi bercakap-cakap di kejauhan mendadak terdengar teriakan ketakutan yang nyaring dan tajam. Itulah teriakan Cie Jiak. Entah bahaya apa yang sedang dihadapinya, tapi teriakannya sangat menyeramkan dan membangunkan bulu roma.

Semua orang terkesiap. Hampir berbareng mereka berpaling ke arah teriakan itu. Bu Kie, Ceng-hui, Lie Beng Hee dan sejumlah orang lantas berlarian ke jurusan teriakan itu. Karena kuatir Cie Jiak bertemu dengan musuh tangguh atau binatang buas, Bu Kie segera mengempos semangatnya dan dalam sekejap dia sudah melewati hutan. Satu bayangan hijau mendekat dan bayangan itu ialah Cie Jiak. Bu Kie menyambutnya dan bertanya,

“Cie Jiak, ada apa?”

“Setan... ada setan mengejar aku!” jawabnya sambil menubruk dan memeluk Bu Kie. Dia menggigil hingga giginya bergemerutuk.

Karena kasihan Bu Kie membiarkan dirinya dipeluk. Dia menepuk-nepuk pundak Cie Jiak dan menenteramkannya.

“Jangan takut, mana ada setan? Apa yang kau lihat?”

Muka dan kedua lengan Cie Jiak belepotan darah akibat tergores duri, sedang pakaiannya robek di sana sini. Separuh tangan kiri bajunya terobek putus hingga lengannya yang putih terbuka dan pada lengan itu terlihat satu titik merah yang terang bagaikan giok. Itulah titik Siu-kiong-seh, tanda dari seorang gadis yang masih suci. Kini Bu Kie mendapat kepastian bahwa apa yang dikatakan Lie Beng Hee adalah sebuah kebenaran. Sesaat di dalam otaknya berkelebat macam-macam pikiran.

Dia pernah mengatakan kepadaku bahwa pada saat dipenjara Kaypang kesuciannya dinodai Song Ceng Su dan dia telah hamil, pikirnya. Tapi waktu aku memeriksa nadinya, aku tidak mendapatkan tanda kehamilan. Pada waktu itu aku menyangsikan ketepatan pemeriksaanku, ternyata dia menipu aku. Semua pengakuannya dusta belaka. Di lain saat dia berkata kepada dirinya sendiri, “Thio Bu Kie, ohh Thio Bu Kie! Ciu-kouwnio adalah musuh yang sudah membinasakan piauw-moaymu. Biar pun dia masih gadis atau sudah menikah, apa hubungannya dengan dirimu?”

Bu Kie menggigit bibir dan mengeraskan hati. Tetapi karena si nona menggigil maka dia tidak tega menolaknya. Sementara itu sesudah bersandar di dada Bu Kie beberapa lama, Cie Jiak lebih tenang.

“Bu Kie Koko, apa benar kau?” tanyanya dengan suara parau.

“Benar aku, apa yang kau lihat? Mengapa kau begitu ketakutan?”

Mendengar pertanyaan Bu Kie, nona Ciu gemetaran lagi dan... “Uaah...!” dia menangis keras.

Beberapa saat kemudian Yo Siauw, Wie It Siauw, Ceng-hui, In Lie Heng dan yang lain-lain tiba di situ. Melihat Cie Jiak sedang menangis dan memeluk Bu Kie, mereka saling memberi isyarat lalu menyingkir.

Orang-orang Beng-kauw, Bu-tong dan Go-bi-pay sangat mengharap Cie Jiak dan Bu Kie dapat akur kembali dan terangkap menjadi suami isteri. Mereka mengharap begitu karena Tio Beng pernah menyakiti hati mereka, lagi pula nona itu adalah puteri seorang Mongol. Mereka kuatir pernikahan antara Bu Kie dan Tio Beng akan merugikan usaha besar. Sesudah menangis beberapa lama, tanpa menoleh Cie Jiak bertanya,

“Bu Kie Koko, apa ada yang mengejar?”

“Tidak ada! Siapa yang mengejar kau? Apakah Hian-beng Jie-lo?”

“Bukan... bukan... lihatlah yang terang. Apakah benar tidak ada manusia... bukan... bukan manusia... apakah tidak ada sesuatu yang mengejar kemari...”

Bu Kie tertawa. “Jika ada yang mengejar pada siang hari bolong, masa tidak kulihat?” katanya dengan suara lemah lembut. “Cie Jiak, selama beberapa hari ini kau terlalu letih. Mungkin matamu kabur hingga kau salah lihat!”

“Tidak mungkin! Tiga kali kulihat dia,” jawabnya.

“Apa yang kau lihat sampai tiga kali?” tanya Bu Kie.

Sambil memegang kedua lengan Bu Kie erat-erat dan sesudah mengumpulkan seluruh keberaniannya, Cie Jiak menengok ke belakang kemudian buru-buru memutar kepalanya lagi ke arah Bu Kie. Melihat wajah pemuda itu yang penuh kekuatiran, tiba-tiba rasa terharu yang tiada taranya bergelombang di hati si nona. Tenaganya habis dan dia roboh ke tanah. “Bu Kie Koko...“ katanya dengan suara sesambat yang diliputi penyesalan hebat. “Aku... aku sudah menipu kau habis-habisan. Akulah yang mencuri Ie-thian-kiam dan To-liong-to. Aku... aku yang membunuh In... In-kouwnio. Aku pula yang... yang menotok jalan darah Cia-tayhiap. Aku tak pernah menikah dengan Song Ceng Su. Dalam hatiku hanya... hanya terdapat... kau seorang...”

“Aku sudah tahu semua itu. Tapi mengapa kau berbuat begitu?”

“Kau tidak tahu apa yang dikatakan mendiang guruku di atas menara di Ban-hoat-si. Dia memberi-tahu rahasia Ie-thian-kiam dan To-liong-to kepadaku. Dia memaksa aku bersumpah, bahwa setelah aku berhasil mencuri pedang dan golok mustika itu, aku harus mengangkat derajat Go-bi-pay. Dia memaksa aku bersumpah, bahwa aku akan berlagak baik terhadapmu, tetapi tidak boleh mencintai kau dengan sesungguhnya...”

Dengan rasa kasihan Bu Kie mengusap tangan si nona. Di hadapan matanya terbayang bagaimana dengan tangannya sendiri Biat-coat Suthay membinasakan Kie Siauw Hu. Bagaimana di padang pasir Nikouw tua itu bersumpah hendak memusnahkan Beng-kauw, bagaimana ia membunuh anggota-anggota Swie-kim-kie dengan Ie-thian-kiam dan bagaimana di Ban-hoat-si nenek itu lebih suka binasa dari pada menerima pertolongannya. Peristiwa-peristiwa itu membuktikan kebencian Biat-coat Suthay terhadap Beng-kauw adalah kebencian yang sangat mendalam.

Ciu Cie Jiak adalah ahli waris si nenek yang sudah menerima pesan terakhir. Maka dia percaya bahwa perbuatan Ciu Cie Jiak yang berdosa dilakukan atas anjuran Biat-coat. Bu Kie adalah seorang yang mudah memaafkan dan tidak bisa menaruh dendam. Ia ingat pula bahwa dalam pertempuran di Kong-beng-teng melawan suami isteri Ho Thay Ciong dan dua tetua Hoa-san-pay jika tidak dapat pertolongan si nona mungkin sekali dia sudah binasa. Sebagai seorang yang berhati mulia, pertolongan itu menonjol ke depan hingga segala dosa nona Ciu makin kecil. Rasa kasihannya lantas bertambah besar.

“Cie Jiak,” katanya dengan suara halus. “Bilanglah apa yang kau lihat. Kenapa kau begitu ketakutan?”

Tiba-tiba si nona melompat bangun. “Tidak! Aku tidak akan memberi-tahu kepadamu,” katanya dengan napas memburu. “Aku dikejar setan penasaran... aku berdosa dan pantas mendapat pembalasan. Hari ini aku sudah mengakui semua di hadapanmu. Aku... aku tak akan bisa hidup lama di dunia...“ Sehabis berkata begitu dia lari ke bawah gunung.

Bu Kie mengawasi dengan mulut ternganga. “Setan penasaran?” tanyanya dalam hati. “Apakah ini adalah perbuatan orang Kay-pang yang mencoba membalas sakit hati dengan menyamar sebagai setan?”

Nona Ciu berlari ke rombongan Go-bi-pay. Lie Beng Hee buru-buru mengambil baju lantas menyerahkannya kepada sang pemimpin. Sesudah memakai baju itu untuk melapisi baju yang rombeng, Cie Jiak segera berbicara kepada murid Go-bi dengan suara perlahan dan mereka menjawab dengan manggut-manggutkan kepala.

“Kita berangkat sekarang,” kata Bu Kie.

Mendadak dia melihat Cie Jiak menghampiri Kong-bun dan bicara bisik-bisik. Paras muka pendeta itu mendadak berubah, dia kelihatannya kaget dan menggeleng-gelengkan kepala seperti orang tidak percaya akan sesuatu. Setelah bicara lagi beberapa patah, sekonyong-konyong nona Ciu berlutut dan merangkap kedua tangan, sedang bibirnya bergerak-gerak seperti orang berdoa atau meminta sesuatu. Di lain pihak dengan paras muka angker Kong-bun pun mengucap sesuatu.

“Heran...!” kata Ciu Tian. “Kauwcu kau harus mencegah.”

“Mencegah apa?” tanya Bu Kie.

“Kelihatannya Ciu-kouwnio mau menjadi Nikouw,” jawabnya,

“Kalau dia masuk di pintu kosong (menjadi pendeta), maka runyamlah untuk Kauwcu.“

Yo Siauw tertawa geli. “Andai kata benar Ciu-kouwnio jadi Nikouw (pendeta perempuan),” katanya. “Mana bisa dia mengangkat hwesio (pendeta lelaki) Siauw-lim sebagai guru?”

Si sembrono menabok mulutnya sendiri. “Benar! Kau benar! Aku yang tolol,” katanya.

“Tetapi apa yang diminta Ciu-kouwnio dari Kong-bun? Yang satu Ciang-bun Siauw-lim-pay dan yang lain Ciang-bun Go-bi-pay. Mereka sederajat dan setingkat, Ciu-kouwnio tak perlu berlutut.”

Di lain saat Cie Jiak sudah bangun berdiri. Paras mukanya kelihatan tenang seperti orang yang baru dihibur hatinya.

“Sudahlah,” kata Bu Kie. “Jangan mengurusi urusan orang lain.” Ia menengok ke belakang dan berkata pula, “Beng-moay, mari kita berangkat.”

Tiba-tiba dia terkejut sebab Tio Beng tidak berada di sampingnya, sedangkan biasanya nona Tio tidak pernah berada jauh dari dirinya,

“Mana Tio-kouwnio?” tanyanya. Mendadak keringat dingin keluar dari dahinya. “Celaka!” ia mengeluh. “Mungkin Beng-moay kabur karena melihat Cie Jiak memeluk aku.”

Dengan tergesa-gesa dia memerintahkan sejumlah orang untuk pergi mencari Tio Beng. Selagi orang repot, Hee Yam, Ciang-kiesu Liat-hwee-kie datang dan berkata.

“Melaporkan kepada Kauwcu, aku melihat Tio-kouwnio turun gunung!”

Bu Kie amat berduka. “Tanpa mempedulikan segalanya Beng-moay telah mengikuti aku,” katanya. “Dalam mengikuti aku dia sudah merasakan banyak penderitaan. Mana bisa aku menyia-nyiakannya?”

Dia berpaling kepada Yo Siauw dan berkata, “Yo-heng, segala urusan aku serahkan kepadamu. Aku hendak meninggalkan kalian untuk sementara waktu.”

Sesudah meminta diri dari Kong-bun dan lain-lain dia berkata kepada Cie Jiak. “Cie Jiak, baik-baiklah menjaga diri. Di hari kemudian kita akan bertemu lagi.“

Si nona tidak menjawab. Dia menunduk dan manggut-manggutkan kepalanya, sedangkan air matanya jatuh menetes di tanah.

Dengan ilmu mengentengkan tubuh Bu Kie turun gunung. Di sepanjang jalan dia melewati para enghiong yang hendak pulang, akan tetapi di antara mereka tidak terdapat Tio Beng. Sesudah mengejar tiga puluh li lebih, siang mulai berganti malam dan jalan mulai sepi. Tiba-tiba dia berkata pada dirinya sendiri, “Beng-moay seorang cerdik. Tidak mungkin dia mengambil jalan besar. Apa bila dia menggunakan jalan ini tentu aku sudah menyusul. Apakah dia masih bersembunyi di gunung?”

Setelah berpikir demikian dia segera kembali ke atas kemudian lari berputar-putar dengan kadang-kadang naik ke pohon tinggi. Namun yang terlihat hanyalah gunung, lorong dan kawanan gagak yang pulang ke sarang. Dia pergi ke belakang gunung, tapi yang dicari tetap tidak kelihatan bayangannya.

“Beng-moay,” katanya dalam hati. “Biar pun aku harus mengitari bumi dan menjelajahi samudera, aku akan mencari kau.”

Sesudah mengambil keputusan, hatinya jadi lebih tenang. Dia memanjat pohon lalu merebahkan diri pada salah satu cabang yang melintang. Sesudah bercapai lelah seharian suntuk, tak lama kemudian dia pun tertidur. Kira-kira tengah malam kupingnya yang tajam mendadak menangkap suara langkah yang amat enteng. Dia lantas tersadar dan membuka matanya. Bulan sisir sudah condong ke barat dan memancarkan sinarnya yang remang-remang. Dia melihat seseorang sedang berjalan di tanjakan ke jurusan selatan.

Apa bila dilihat dari pakaiannya, dia adalah seorang wanita yang bertubuh kurus kecil dan langsing. Bu Kie girang, hampir-hampir dia berteriak, “Beng-moay!” Tapi sebelum memanggil dia sudah melihat perbedaan antara wanita itu dengan Tio Beng. Dia bertubuh lebih jangkung dari nona Tio dan ilmu pengenteng badannya juga berbeda. Bu Kie heran dan bertanya kepada diri sendiri.

“Siapa dia? Perlu apa malam-malam jalan sendirian?”

Sebenarnya dia tak ingin mencampuri urusan orang lain. Tapi di lain saat dia ingat bahwa mungkin sekali dari wanita itu dia bisa mencari keterangan mengenai nona Tio.

“Kalau ternyata dia tidak punya sangkut paut dengan Beng-moay, aku pun bisa menyingkir tanpa diketahui,” pikirnya. Sesudah berpikir demikian dia segera turun dari pohon. Dengan hati-hati menguntit dari jauh.

Memang kurang pantas menguntit wanita yang tidak dikenal di tengah malam buta, karena itu dia menjaga jangan sampai diketahui. Ternyata wanita yang mengenakan baju hitam itu menuju ke arah Siauw-lim-si.

“Apa maunya dia?” tanya Bu Kie dalam hati.

“Aku sudah diangkat sebagai Bu-lim Bengcu. Kalau dia mengandung maksud kurang baik terhadap Siauw-lim, aku tak bisa tidak mencampuri.”

Dia berhenti sejenak lalu memasang kuping. Keadaan di seputarnya sunyi senyap. Wanita itu tidak punya kawan dan dia pun merasa lega. Selama kurang lebih satu jam si baju hitam tidak pernah menengok ke belakang. Dengan melihat punggung serta gerak-geriknya, Bu Kie merasa bahwa dia sudah pernah bertemu dengan wanita itu.

“Apa Bu Beng Eng Kouwnio? Apa Teng Bin Kun?” dia menduga-duga.

Tak lama kemudian kuil Siauw-lim-si sudah berada di depan mata. Setelah itu dia mendaki kuil dengan tindakan lebih perlahan. Dia berlaku sangat hati-hati. Sekonyong-konyong dari dalam terdengar suara bergemuruh yang keluar dari tenggorokan ratusan manusia.

“Ehh...“ kata Bu Kie dalam hati. “Mengapa di tengah malam buta begitu banyak pendeta membaca kitab suci? Ada apa?”

Mendengar suara orang berdoa, wanita tersebut berjalan makin perlahan. Setelah maju beberapa tombak lagi, dia tiba di samping Tay-hiong Po-thian. Mendadak terdengar suara langkah yang amat enteng dan dia mendekam di antara rumput-rumput tinggi. Beberapa saat kemudian empat pendeta bersenjata golok dan Sian-thung keluar meronda. Ternyata Siauw-lim-si tetap waspada. Sesudah keempat pendeta itu lewat, wanita itu melompat keluar dari tempat sembunyinya lalu menghampiri jendela, Lompatan serta gerakannya mengunjuk bahwa dia memiliki ilmu ringan badan kelas satu,

“Dia tidak membekal senjata, mungkin dia tidak mengandung maksud jelek,” pikir Bu Kie.

Karena ingin melihat muka wanita itu, kalau-kalau benar dia mengenalinya, Bu Kie lantas mengambil jalan memutar kemudian menempatkan diri di sudut barat laut Tay-hiong Po-thian. Dia mengerti bahwa kedudukannya sangat tidak enak. Kalau ternyata diketahui pendeta Siauw-lim maka dia akan hilang muka karena seorang yang berkedudukan tinggi seperti dirinya memang tidak pantas mengintip-ngintip di tengah malam buta. Maka dia bergerak dengan sangat hati-hati.

Dari sela-sela jendela dia mengawasi ke dalam. Di ruangan itu terdapat ratusan pendeta yang sebaris demi sebaris bersila di atas tikar. Di antara mereka ada yang memegang peralatan sembahyang, ada pula yang berdoa sambil merangkap kedua tangan. Rupanya mereka sedang mengadakan sembahyang untuk roh dari orang yang baru meninggal dunia.

“Benar,” kata Bu Kie dalam hati. “Dalam Eng-hiong Tay-hwee banyak orang binasa, sedang dalam peperangan melawan tentara Goan juga banyak yang mengorbankan jiwa. Berdasarkan welas asih mereka mengadakan sembahyang besar untuk menuntun roh-roh ke sorga.”

Upacara sembahyangan itu dipimpin Kong-bun Taysu sendiri, Di samping Kong-bun terdapat seorang wanita muda. Begitu melihat wajahnya, Bu Kie terkejut karena dia bukan lain dari pada Ciu Cie Jiak. Bu Kie menghela napas. “Sembahyang ini tentu diadakan atas permintaan Cie Jiak pada tadi siang,” pikirnya. “Dia merasa berdosa dan menyesal karena banyak orang yang tak berdosa binasa di tangannya.”

Dengan matanya yang tajam dia mengawasi leng-pay (papan dengan tulisan nama orang yang disembahyangi) di atas meja. Tiba-tiba saja air matanya mengucur sebab di leng-pay itu tertulis huruf-huruf ini: ‘Tempat yang suci dari pendekar wanita In Lee’.

Di antara suara ketukan bok-hie Cie Jiak berlutut di depan meja sembahyang dan berkata dengan suara perlahan. Sayup-sayup Bu Kie menangkap perkataan begini, “In-kouwnio... kau yang sudah berada di langit... mengasolah dengan tenang... jangan ganggu aku...”

Jantung Bu Kie bergetar lebih keras. “Piauw-moay yang telah dibinasakan Cie Jiak bernasib malang,” katanya dalam hati. “Tapi penderitaan Cie Jiak mungkin lebih hebat dari pada Piauw-moay sendiri.”

Tiba-tiba dia ingat doa yang diucapkan para anggota Beng-kauw pada waktu mereka menghadapi bencana di Kong-beng-teng.

“Hidup apa senangnya, mati apa susahnya? Kasihan manusia di dunia, banyak yang menderita. Kasihan manusia di dunia, banyak yang menderita!”

Perlahan-lahan Cie Jiak bangun berdiri, tubuhnya agak miring dan mukanya menghadap ke arah timur. Mendadak paras mukanya berubah dan dia menjerit.

“Kau... kau lagi!”

Jeritan itu nyaring dan tajam hingga menindih suara lonceng di ruangan sembahyang. Bu Kie terkesiap kemudian menengok ke jurusan itu. Dia melihat kertas jendela berlubang dan pada lubang itu terdapat muka seorang wanita yang penuh dengan tanda bekas luka, goresan-goresan senjata yang panjang. Ia menggigil dan mengeluarkan teriakan tertahan. Muka itu bukan lain dari pada In Lee yang sudah mati!

Bu Kie ingin menghampiri, tetapi kedua lututnya lemas sehingga dia hanya berdiri terpaku. Di lain saat muka itu menghilang dan Cie Jiak roboh terjengkang. Sekarang Bu Kie tidak peduli lagi segalanya.

“Cu-jie! Cu-jie...! Apa benar kau?” teriaknya. Teriakan itu menggetarkan seluruh lembah tetapi tidak ada yang menjawab.

Sesudah menenteramkan hatinya dia segera mengejar mengikuti jalan yang tadi dilewati wanita itu, namun apa yang dilihatnya hanya bulan sisir dan bayangan pohon. Dia tidak percaya setan. Akan tetapi dalam keadaan begitu, keringat dingin mengucur dan bulu romanya bangun semua.

“Benar, benar dia,” katanya dalam hati. “Tak mengherankan waktu aku melihat punggung dan gerak geriknya, aku merasa seperti telah mengenalnya. Apakah benar karena mati penasaran rohnya tidak berpulang ke alam baka? Apakah benar rohnya tahu bahwa di Siauw-lim-si sedang diadakan sembahyangan dan dia datang untuk menerima doa-doa?”

Sementara itu sejumlah pendeta sudah keluar untuk menyelidiki. Mereka kaget campur heran ketika melihat Bu Kie. Seorang pendeta tua memberi hormat dan berkata.

“Karena tidak tahu Kauwcu datang berkunjung, kami tak keburu menyambut. Mohon Kauwcu sudi memaafkan.”

Bu Kie membalas hormat kemudian masuk ke dalam ruang sembahyang. Cie Jiak belum tersadar dari pingsannya. Bu Kie menghampiri lalu memijit bibir dan mengurut punggung si nona. Beberapa saat kemudian Cie Jiak sadar. Dia melompat dan memeluk Bu Kie seraya berteriak.

“Setan...!”

“Aku pun heran,” kata Bu Kie. “Tapi kau tidak usah takut. Di sini banyak pendeta suci dan mereka pasti bisa menyingkirkan segala setan penasaran.”

Atas dorongan rasa takut yang luar biasa nona Ciu menjadi kalap dan memeluk Bu Kie di hadapan orang banyak. Sesudah Bu Kie bicara dia tersadar dan mukanya bersemu merah. Dia melepaskan pelukannya tetapi tubuhnya masih gemetaran dan mencekal kedua tangan Bu Kie sekencang-kencangnya. Sesudah memberi hormat kepada Kong-bun, Bu Kie memberi-tahu adanya muka yang penuh tanda bekas luka di jendela timur. Tapi Kong-bun dan yang lain tidak melihatnya.

“Bu Kie... Thio-kauwcu,” kata Cie Jiak, “yang kulihat adalah dia.”

Bu Kie lantas menyahut. “Aku... aku pun melihat dia,” katanya akhirnya.

Si nona menggigil. “Kau... kau juga melihatnya?” dia menegas.

Bu Kie mengangguk.

“Siapakah yang kau lihat?”

“In-kouwnio, Cu-jie, Piauw-moayku.”

Nona Ciu mengeluarkan seruan, tubuhnya bergoyang-goyang, kedua matanya meram dan dia pingsan lagi. Bu Kie cepat mencekal tangannya hingga dia tidak sampai roboh. Sesaat kemudian dia tersadar pula.

“Yang kulihat adalah Cu-jie,” kata Bu Kie. “Tapi dia bukan setan... dia manusia biasa.”

“Bukan setan? Apa benar?”

“Aku sudah menguntitnya sampai di sini. Tindakannya adalah tindakan manusia biasa, bukan setan,” Bu Kie berkata begitu terutama untuk menghibur Cie Jiak. Di dalam hati dia sendiri tidak percaya apa yang dikatakannya.

“Apa sungguh-sungguh dia bukan setan?” si nona bertanya lagi.

Bu Kie menengok ke arah Kong-bun kemudian berkata, “Hong-thio, ada sesuatu yang aku kurang mengerti. Aku mohon petunjuk Hong-thio. Sesudah manusia mati, apa benar ada roh atau setannya?”

Sesudah berpikir beberapa saat, Kong-bun menjawab, “Urusan mengenai alam baka sangat sukar dijelaskan. Segalanya di dunia ini merupakan kekosongan. Apa lagi roh atau setan?”

“Akan tetapi kenapa Taysu mengadakan upacara sembahyang besar ini? Bukankah untuk menyembahyangi roh?”

“Siancay! Sebenarnya roh tidak usah diseberangi. Sembahyang dilakukan bertujuan menenteramkan hati manusia. Yang harus diseberangi adalah manusia hidup.”

Bu Kie tersadar. Dia cepat menyoja dan berkata sambil membungkuk, “Terima kasih atas petunjuk Taysu. Pada tengah malam buta aku mengganggu kalian. Kumohon Taysu suka memaafkan.”

“Thio-kauwcu adalah Toa-in-jin (penolong besar) kami. Sudah beberapa kali Thio-kauwcu membebaskan Siauw-lim-si dari bencana. Kauwcu tidak usah berlaku sungkan.”

Setelah berpamitan dengan Kong-bun dan para pendeta, Bu Kie berkata kepada Cie Jiak.

“Mari kita jalan.”

Si nona kelihatan bersangsi!

“Kalau begitu kita berpisah di sini saja,“ kata pula Bu Kie yang lalu bertindak keluar.

Cie Jiak mengawasi tindakan pemuda itu. Ia tahu bahwa jika sekarang mereka berpisah, belum tentu akan bisa bertemu lagi.

Tiba-tiba dia berseru, “Bu Kie Koko... aku ikut!“ Dia mengejar dan meninggalkan kuil Siauw-lim-si berendeng pundak dengan Bu Kie.

Sesudah terpisah dari kuil sejauh beberapa puluh tombak, si nona memegang tangan Bu Kie. Pemuda itu tahu bahwa dia masih ketakutan, tapi sebagai manusia biasa, memegang tangan seorang wanita cantik dan mencium aroma harum menimbulkan perasaan yang sukar dilukiskan. Mereka berjalan tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Sesudah melalui beberapa lie, si nona menghela napas.

“Bu Kie Koko,” katanya. “Hari itu waktu kita pertama bertemu di sungai Han-sui, jiwaku ditolong Thio Cinjin. Kalau tahu aku harus mengalami begini banyak penderitaan, betapa baiknya jika aku mati di hari itu.”

Bu Kie tidak menyahut. Tiba-tiba dia ingat pula doa Beng-kauw. Tanpa terasa dia berkata dengan suara perlahan.

“Hidup apa senangnya, mati apa susahnya? Kasihan manusia dalam dunia, banyak yang menderita. Kasihan manusia dalam dunia, banyak yang menderita!”

Tangan Cie Jiak gemetar. “Aku tahu, Thio Cinjin bermaksud baik mengirim aku ke Go-bi,” katanya. “Tapi keadaan sekarang tentu akan lain sekali andai kata dia menerimaku sebagai murid Bu-tong, Hai...! In-su (guruku yang besar budinya) pun sangat baik padaku. Dia... dia memaksa aku untuk bersumpah berat, dia memaksa aku membenci Beng-kauw dan membenci kau, tapi di dalam hatiku. . . “

Bu Kie sangat terharu. Dia mengerti segala penderitaan si nona dan segala perbuatannya yang berdosa sebagian besar karena gara-gara Biat-coat Suthay. Mengingat itu, rasa kasihannya bertambah. Angin malam bersilir dengan perlahan mengantarkan harumnya bunga ke hidung dua orang muda ini. Waktu itu adalah permulaan musim panas. Langit bertabur bintang dan di antara keindahan dan keharuman sang malam, Bu Kie mendengar pengakuan rasa cinta dari seorang wanita cantik. Jantungnya berdebar keras.

“Bu Kie Koko,” kata pula Cie Jiak.

“Pada waktu kita hendak menjalankan upacara pernikahan di Hauw-cu, begitu melihat Tio Kuncu kau lantas kabur. Apa kau sungguh-sungguh sangat mencintainya?”

“Justru inilah keterangan yang sudah lama ingin kuberikan kepadamu,” jawabnya.

Sesaat mereka tiba di dekat tenda-tenda Beng-kauw. Bu Kie menuntun Cie Jiak ke sebuah batu besar di tepi jalan lalu duduk dengan berendeng pundak. Bu Kie menceritakan sebab musabab dari kaburnya. Dia kabur bukan semata karena kecantikan Tio Beng, tapi karena melihat rambut Cia Sun yang dipegang nona Tio. Sesudah Bu Kie selesai bertutur, Cie Jiak tidak mengatakan apa pun.

“Cie Jiak, apa kau marah kepadaku?” tanya Bu Kie.

Si nona menangis. “Aku banyak melakukan perbuatan berdosa, aku hanya boleh menyalahkan diriku sendiri,” jawabnya. “Mana boleh aku marah kepadamu?” Tiba-tiba dia mendongak. “Bu Kie Koko,” katanya. “Aku ingin mengajukan satu pertanyaan dan kuharap kau menjawab dengan setulus hati.”

“Katakanlah!”

“Aku tahu di dunia banyak wanita yang mencintai kau dengan segenap jiwa dan raga. Yang satu Siauw Ciauw. Dia sudah ke Persia. Yang satu lagi Tio-kouwnio. Yang ketiga dia...“ Dia hendak menyatakan In-kouwnio tetapi perkataan itu tidak bisa keluar dari mulutnya. Sesudah berdiam sejenak dia berkata lagi, “Kecuali Siauw Ciauw. kami bertiga pernah berbuat sesuatu yang tidak baik padamu. Tapi andai kata kami berempat berada di sini, siapakah yang benar-benar kau cintai?”

Bu Kie tertegun. Beberapa saat kemudian barulah dia bisa membuka mulut. “Aku... aku...”

Pada saat mengarungi lautan bersama-sama Cie Jiak, Tio Beng, In Lee, dan Siauw Ciauw, pertanyaan itu sering muncul di hatinya. Dia sendiri tidak bisa menjawabnya. Untuk mengelakkan soal itu, dia sering berkata pada diri sendiri bahwa sebelum orang Mongol diusir dari tahta kerajaan, tidak pantas bila dia memikirkan soal kawin.

Tapi ada juga kalanya, di hati kecilnya dia membayangkan alangkah beruntungnya kalau dia dapat menikah dengan keempat gadis itu sekaligus. Jaman itu adalah akhir kerajaan Goan. Pada jaman itu tiga empat isteri atau gundik dipandang lumrah.

Beng-kauw berasal dari Persia. Menurut ajaran Beng-kauw seseorang harus berhemat sehingga, di antara penganut agama jarang sekali yang memiliki lebih dari satu isteri.

Bu Kie pun menganggap bahwa dia sudah boleh merasa beruntung kalau dapat menikah dengan salah seorang dari keempat gadis itu. Dia merasa bahwa kalau sesudah menikah dengan salah seorang dia masih mengambil gundik, dia berbuat tak pantas terhadap isteri yang seperti dewi itu.

Demikianlah pada waktu yang lalu persoalan itu sering memusingkan kepala.

BANGKIT DARI KUBUR

Belakangan Siauw Ciauw pergi ke Persia, kemudian In Lee dibunuh orang. Semua orang menduga bahwa pembunuh nona In adalah Tio Beng. Oleh sebab itu menurut kepantasan maka pilihannya jatuh kepada Cie Jiak. Di luar dugaan, timbulah gelombang yang akhimya berakibat kaburnya Tio Beng dan diajukan pertanyaan sulit oleh nona Ciu. Melihat Bu Kie tidak menjawab, Cie Jiak lantas berkata.

“Pertanyaanku hanya andai-andai saja. Sekarang kau tidak usah memilih lagi. Siauw Ciauw telah menjadi Kauwcu di Persia sedangkan aku... aku telah mencelakai In-kouwnio. Di antara kami berempat, secara wajar pilihanmu seharusnya jatuh pada Tio-kouwnio. Aku hanya ingin bertanya. Andai kata kami berempat bebas dari kesalahan atau ganjalan dan sekarang berada di sini semua, siapa di antara kami yang akan kau pilih?”

“Cie Jiak, pertanyaan itu sebenarnya sudah lama mengganggu pikiranku. Hari ini baru aku tahu siapa yang kucintai.”

“Siapa? Tio-kouwnio?”

“Hari ini aku tidak berhasil mencari dia. Di dalam hati aku kepingin mati. Apa bila aku tidak bisa bertemu lagi dengan dia, kurasa aku pun tidak akan bisa hidup lama di dunia. Waktu Siauw Ciauw pergi, aku pun berduka. Perbuatanmu juga amat mendukakan aku. Tapi Cie Jiak, aku tidak boleh mendustai kau. Apa bila aku tidak bisa bertemu dengan Beng-moay, aku lebih suka mati. Cie Jiak, perasaan hatiku ini belum pernah aku uraikan kepada orang lain.”

“Hari itu di kota raja, waktu aku melihat kau menemui dia di rumah makan, aku tahu kepada siapa kau berikan cintamu. Tapi aku masih terus bermimpi. Kuduga bahwa setelah aku... aku... menikah denganmu, kau bisa berubah pikiran. Tetapi... aku hanya mendustai diriku sendiri!”

“Cie Jiak, aku selalu menghargai dan menghormat padamu. Aku merasa berterima kasih terhadap In Piauw-moay, aku menyayang Siauw Ciauw. Tapi hanya kepada Tio-kouwnio aku menaruh cintaku. Cintaku terhadap dia adalah cinta yang tercetak di jantung dan terukir di tulang.”

“Ya... cinta yang tercetak di jantung dan terukir di tulang... Cinta yang tercetak di jantung dan terukir di tulang...“ Cie Jiak mengulang dengan suara perlahan. Ia berdiam sejenak, kemudian menambahkan, “Bu Kie Koko, cintaku kepadamu juga cinta yang tercetak di jantung dan terukir di tulang, apa kau tahu?”

Bu Kie sangat terharu. Sambil mencekal tangan si nona ia berkata, “Cie Jiak, aku tidak bisa merasakan perasaan hatimu. Aku tidak tahu dengan cara bagaimana aku harus membalas kecintaanmu. Aku... aku berlaku sangat tidak pantas terhadapmu.”

“Tidak! Kau selalu berbuat kebaikan terhadapku. Apa kau tidak tahu? Sekarang aku mau tanya. Apa bila kau tidak bisa mencari Tio-kouwnio, jika dia dibunuh orang atau andai kata dia berubah pikiran, kau... apa yang akan kau perbuat?”

“Entahlah! Tetapi biar bagaimana pun juga di atas ada langit di bawah ada bumi. Aku akan mencari dia dengan segala tenaga yang kumiliki.”

Si nona menghela napas. “Dia tidak akan berubah pikiran,” katanya. “Jika benar kau ingin menemui dia, hal itu bisa terjadi dengan mudah sekali.”

Bu Kie kaget bercampur girang. Dia melompat bangun. “Di mana dia?” tanyanya. “Cie Jiak, lekas bilang.”

Nona Ciu mengawasi wajah Bu Kie yang penuh kegirangan. “Terhadap aku kau tidak akan memperlihatkan cinta yang begitu besar,” katanya. “Kalau kau ingin tahu di mana adanya Tio-kouwnio, lebih dulu kau harus mengabulkan satu permintaanku. Tanpa meluluskan permintaanku, jangan harap kau bisa bertemu lagi dengan dia!”

“Permintaan apa?”

“Sekarang permintaan itu belum dapat kupikirkan. Namun setelah kudapat, aku akan beri-tahu kau. Tapi kau tidak usah kuatir. Permintaanku tidak akan melanggar ‘Hiap-gie’ (ksatrian), juga takkan menodai nama baik Beng-kauw mau pun namamu sendiri, bahkan permintaan itu akan bermanfaat bagi usahamu yang besar. Tetapi mungkin sekali tugas yang terdapat dalam permintaan itu tidak akan mudah dikerjakan.”

Bu Kie tercengang. Si nona ternyata telah mencontoh Tio Beng pada waktu nona Tio mengajukan tiga permintaan kepadanya. Dia tidak bisa lantas menjawab sehingga untuk beberapa saat dia hanya menatap muka Cie Jiak dengan mulut ternganga.

“Terserah padamu kalau kau tidak suka meluluskan,” kata pula si nona. “Tapi seorang laki-laki harus bisa menjaga kepercayaan. Apa bila kau sudah mengiyakan, maka di belakang hari kau tidak boleh mangkir janji.”

“Kau kata parmintaan itu tidak melanggar ‘hiap-gie’, juga tidak menodai nama Beng-kauw dan namaku sendiri bahkan bermanfaat bagi usaha besar. Bukankah begitu?”

“Benar.”

“Baiklah. Jika memang benar tidak melanggar ‘hiap-gie’ dan kalau tidak merugikan usaha besar, aku meluluskan.“ Usaha besar ialah usaha untuk merobohkan kerajaan Goan.

“Mari kita bersumpah dengan saling menepuk tangan,“ kata Cie Jiak seraya mengeluarkan tangan kanannya.

Bu Kie tahu bahwa begitu lekas ia menepuk telapak tangan Cie Jiak, ia seperti diikat rantai besar. Nona Ciu sungguh hebat. Ia halus dan lemah lembut tetapi caranya lebih keras dari Tio Beng. Perlahan-lahan ia angkat tangannya, tapi tidak lantas menepuk.

Si nona tersenyum, “Begitu kau menepuk, seketika kau akan bisa bertemu dengan kekasihmu,” katanya.

Darah Bu Kie bergolak. Tanpa berpikir lagi ia menepuk tangan Cie Jiak tiga kali. Nona Ciu tertawa.

“Coba kau lihat, siapakah yang berada di dalam sana?” katanya sambil menyingkap ranting-ranting pohon berdaun rindang yang berada di belakangnya.

“Beng-moay!” teriak Bu Kie.

“Ihh...!”

Tiba-tiba di tempat yang jauhnya beberapa tombak terdengar suara seorang perempuan. Biar pun hanya perlahan tapi suara itu didengar Bu Kie. Ia terkesiap dan rupa-rupa ingatan berkelebat di otaknya. Tetapi ia tidak sempat memikirkan hal lain kecuali menarik tangan Tio-beng. Sekali lagi ia terkejut sebab tangan si nona kaku. Kini ia sadar bahwa Tio Beng telah ditangkap dan jalan darahnya ditotok oleh Cie Jiak yang lalu menyembunyikannya di tempat itu. Ia mulai mengurut punggung nona Tio agar darahnya bisa mengalir lagi sebagaimana biasa.

Nona Tio mengawasi Bu Kie dengan sorot mata penuh cinta dan rasa bahagia. Ia sudah mendengar pembicaraan Bu Kie dengan Cie Jiak. Ia sudah tahu bahwa pemuda itu mencintainya dengin cinta yang tercetak di jantung dan terukir di tulang. Mendadak Cie Jiak membungkuk dan bicara bisik-bisik di kuping Bu Kie yang lalu menjawab dengan bisik-bisik pula. Di luar dugaan tiba-tiba saja nona Ciu marah besar.

“Thio Bu Kie!” bentaknya. “Kau sama sekali tidak memandang mata padaku! Kau lihatlah! Sesudah kena racun, apa perempuan she Tio itu masih bisa hidup terus?”

Hati Bu Kie mencelos. “Dia... dia... kena racun? Kau yang meracuni?” tanyanya kemudian.

Bu Kie membungkuk lalu membuka kelopak mata kiri Tio Beng. Sesaat itu mendadak dia merasa punggungnya kesemutan. Dia ditotok Cie Jiak!

“Celaka!” ia mengeluh dan tubuhnya bergoyang-goyang.

Karena memiliki Iwekang yang sangat kuat, biar pun tertotok ia tidak lantas roboh. Cepat-cepat ia mengerahkan tenaga dalam untuk melancarkan jalan darahnya. Tetapi Cie Jiak tidak tinggal diam. Bagaikan kilat ia mengirim lima totokan ke lima ‘hiat’ besar, yaitu di pundak dan di punggung. Meski pun lihay namun Bu Kie tidak kuat melawan enam totokan itu. Maka dia pun roboh terjengkang. Mendadak sinar hijau berkelebat dan Cie Jiak sudah menodong dadanya dengan pedang.

“Thio Bu Kie, hari ini kuambil jiwamu!” bentaknya. “Aku tidak peduli setan In Lee terus mengganggu aku. Aku tidak bisa hidup lebih lama lagi. Marilah kita mati bersama!” Seraya berkata begitu dia mengayun pedang menikam Bu Kie.

“Tahan!” mendadak terdengar teriakan seorang wanita. “Cie Jiak, aku belum mati.”

Cie Jiak menengok. Seorang wanita baju hitam melompat keluar dari alang-alang lantas menotok punggungnya. Cie Jiak berkelit dan wanita itu memutar tubuh hingga mukanya kena sinar rembulan. Muka itu sangat cantik tapi di muka yang ayu itu terdapat goresan-goresan bekas luka. Bu Kie mengenali bahwa dia itu bukan lain dari pada In Lee. Bengkak-bengkak di muka nona In sudah hilang dan biar pun terdapat tanda bekas luka tapi kecantikan si nona tidak berkurang. Bu Kie teringat pada gadis cilik yang mengikuti Kim-hoa Popo dan yang pertama kali ditemuinya di Ouw-tiap-kok.

Sesudah berkelit Cie Jiak segera menuding dada Bu Kie dengan pedangnya. “Kalau kau maju setindak lagi, aku ambil jiwanya,” dia mengancam.

Benar saja In Lee tidak berani bergerak! “Apa belum cukup kau melakukan perbuatan jahat?” katanya dengan suara bingung.

“Kau ini manusia atau setan?” tanya nona Ciu.

“Tentu saja manusia,” jawabnya.

Mendadak Bu Kie berteriak, “Cu-jie!” Dia melompat lantas memeluknya. “Ohh, Cu-jie! Kau membuat aku sangat menderita!” katanya dengan suara parau.

Dipeluk begitu, In Lee tidak bisa berkutik lagi. Cie Jiak tertawa geli. Sesudah memasukkan pedang ke sarungnya, dia berkata.

“Huh-huh! Menyamar jadi setan untuk menakut-nakuti aku. Kalau aku tidak menggunakan siasat, tentu kau belum mau keluar.“ Sehabis berkata demikian dia menghampiri Tio Beng lantas membuka jalan darah nona Tio!

Tio Beng menghela napas. Sesudah menjadi tawanan Cie Jiak, dia menjadi girang karena mendengar pengakuan Bu Kie! Tapi baru saja girang dia sudah kuatir lagi karena munculnya nona In.

“Lepaskan aku!” kata In Lee. “Tio-kouwnio dan Ciu-kouwnio berada di sini. Apa kau tidak malu!”

Bu Kie tersenyum. “Melihat kau hidup kembali, aku jadi kegirangan,” katanya. “Tapi... tapi bagaimana bisa jadi begini?”

In Lee menarik tangan pemuda itu hingga muka Bu Kie menghadap rembulan. Sejenak dia mengawasi dan mendadak menjewer kuping orang.

“Aduh! Mengapa kau menjewer kupingku?” teriak Bu Kie.

“Tiu-pat-koay,” kata si nona, kau betul-betul pantas dicincang dengan laksaan golok! Kau menggunakan nama Can A Gu untuk menipuku, menyuruh aku membuka rahasia hatiku. Kau mau bikin aku malu di hadapan banyak orang. Kau... kau mengubur aku hidup-hidup. Sungguh celaka! Karena kau, aku sangat menderita.“ Sehabis berkata begitu ia memukul dada Bu Kie tiga kali.

Bu Kie tidak mengerahkan Kiu-yang Sinkang. Dia rela menerima pukulan itu. “Piauw-moay,” katanya sambil tertawa. “Sungguh mati kukira kau sudah meninggal dunia. Aku mencucurkan banyak air mata. Bagaimana kau bisa hidup kembali? Lo-thian-ya (Langit) benar-benar mempunyai mata.”

“Lo-thian-ya punya mata, tapi kau tidak punya mata, Tiu-pat-koay. Kau murid Tiap-kok Ie sian, masa tidak tahu bedanya orang sudah mati atau belum mati? Aku tidak percaya! Kau tentu mencela mukaku yang bengkak-bengkak hingga sebelum aku putus jiwa, kau mengubur aku. Kau tak lebih tak kurang dari pada setan berumur pendek yang tidak punya hati!”

Bu Kie menyeringai. “Kau boleh mencaci sepuas hati,” katanya. “Waktu itu aku memang gila. Melihat mukamu berlepotan darah, napasmu berhenti dan jantungmu tidak berdetak, aku lantas menarik kesimpulan bahwa kau sudah tidak dapat ditolong lagi...”

In Lee melompat dan mencoba menjewer kuping kanannya. Bu Kie berkelit dan sambil menyoja dia berkata.

“Piauw-moay yang baik, ampunilah aku!”

“Tidak! Aku takkan mengampuni kau! Hari itu entah bagaimana aku tersadar. Di seputarku dingin sekali, semua potongan-potongan batu. Kalau kau mau mengubur aku hidup-hidup, perlu apa kau membuat lubang tertutup batu? Bukankah lebih baik jika kau menguruk aku dengan tanah supaya aku tidak bisa bernapas, supaya aku mati sungguhan?”

“Terima kasih kepada langit dan bumi!” kata Bu Kie. “Sungguh mujur hari itu aku menutup lubang dengan batu-batu.“ Seraya berkata begitu tanpa terasa dia melirik Cie Jiak.

“Aku larang kau melihat dia!” bentak In Lee dengan marah.

“Mengapa?” tanya Bu Kie.

“Sebab dialah pembunuh yang membunuhku,” jawabnya.

“Kau masih hidup kau tidak dapat mengatakan Ciu-kouwnio sebagai pembunuh,” sela Tio Beng.

“Aku sudah mati satu kali. Jadi dia tetap pembunuh!” Sambil berkata begitu In Lee menatap Cie Jiak dengan sorot mata yang dingin seakan-akan menembus ke ulu hati Cie Jiak dan membuat tubuh Cie Jiak menjadi gemetar karenanya.

“Piauw-moay yang baik!” kata Bu Kie untuk menghilangkan kekakuan suasana di saat itu. “Kau sudah pulang dari pulau karang itu dengan selamat, kami merasa bersyukur dan girang melebihi perasaan girang kalau memperoleh hadiah yang tak ternilai harganya, maka sekarang aku ingin mohon kepadamu, maukah engkau duduk dengan tenang untuk saling menceritakan pengalaman selama ini?”

Muka In Lee berubah waktu mendengar perkataan Bu Kie. Dia malah tertawa dingin sekali dengan wajah yang memancarkan perasaan tidak senangnya.

“Engkau menggunakan perkataan kami?” kata In Lee kemudian. “Aku ingin bertanya dulu. Dengan perkataan kami, ‘KAMI’ yang engkau maksud itu meliputi siapa-siapa saja?”

“Di sini hanya ada empat orang, maka dengan sendirinya meliputi aku bersama nona Ciu dan nona Tio. Entah apakah mereka pun senang untuk mendengarkan pengalaman yang menarik di pulau karang yang engkau alami itu...”

“In-kouwnio,” Cie Jiak telah memotong perkataan Bu Kie. “Waktu itu memang timbul maksud jahatku hingga mencelakaimu. Tapi sesudah itu siang malam aku selalu tersiksa oleh penyesalan-penyesalan yang tak berkesudahan, bahkan dalam mimpi pun aku selalu merasa tidak aman dan dikejar perasaan menyesal dan takut. Kalau tidak, tentu aku pun tak akan ketakutan setengah mati waktu hari itu mendadak melihat engkau di tengah rimba itu...! Tapi sekarang terhindarlah segala dosaku sesudah melihat engkau masih sehat dan selamat tanpa kurang sesuatu apa pun juga. Thian yang maha pengasih menjadi saksi, aku sangat bersyukur melihat engkau dalam keadaan selamat dan sehat seperti sekarang...!”

In Lee tidak menyahut. Tampaknya dia berpikir sejenak, dan akhirnya menganggukkan kepala perlahan-lahan beberapa kali.

“Ya...! Memang dapat diterima akal sehat. Sesungguhnya peristiwa itu terjadi karena engkau dikuasai nafsu jahat sehingga engkau melakukannya di luar kesadaranmu. Sesungguhnya aku ingin mencarimu untuk membuat perhitungan. Tapi kini biarlah, anggap saja sudah selesai dan di antara kita sudah tidak terdapat sakit hati dan dendam.”

Mendengar perkataan In Lee, tiba-tiba Cie Jiak berdiri lalu berlutut di hadapan In Lie dengan air mata bercucuran dan berlinang membasahi pipinya. Dia meratap dengan suara yang menyayat, mengandung perasaan syukur dan terharu bercampur juga dengan perasaan dukanya.

“Nona In... ohh nona In... aku benar-benar terlalu jahat, aku terlalu jahat memperlakukan dirimu beberapa saat yang lalu, akulah manusia yang terkutuk...“ ratapnya dan dia berkata begitu sambil berlutut hingga menimbulkan kesan yang amat mengharukan, terlebih lagi dia juga menangis terisak-isak.

Suara In Lee tadi terdengar demikian ramah dan lembut. Dia berkata dengan penuh rasa persahabatan membuat Cie Jiak terharu sekali. Dia menangis sampai tubuhnya gemetaran. Biasanya In Lee memiliki watak yang keras dan kukuh, pendirian dan hatinya tidak mudah berubah. Akan tetapi begitu melihat Cie Jiak rela berlutut sambil menangis dan mengakui kesalahan yang pernah dilakukannya, hati In Lee jadi lemas dan kemarahan di hatinya mencair. Segera dia membangunkan Cie Jiak sambil berkata,

“Ciu-cici, semuanya sudah lewat dan berlalu, tak usah disinggung lagi karena kita tidak perlu mempercakapkan persoalan yang tak ada artinya. Memang aku pun tidak mengalami kecelakaan apa-apa, dan juga tidak jadi mati...”

In Lee membimbing Cie Jiak duduk berendeng di sampingnya, lalu dia membetulkan rambutnya yang agak kusut, disusul dengan kata-katanya,

“Semula mukaku bengkak dan mengerikan sekali, tapi karena pedangmu sangat dahsyat, darah yang mengandung racun mengalir keluar, bengkak mukaku lantas berangsur-angsur kempis dan lenyaplah bengkak pada mukaku.“ Sambil berkata begitu In Lee tersenyum ramah sekali, tidak memancarkan sikap permusuhan lagi dengan Cie Jiak.

Cie Jiak jadi terharu sekali. Dia sangat menyesal hingga tidak tahu harus mengucapkan kata-kata apa untuk menyahuti perkataan In Lee, dan akhirnya Cie Jiak hanya berdiam diri saja.

“Pada waktu itu aku bersama Gie-hu dan Cie Jiak masih tinggal cukup lama di atas pulau karang,” kata Bu Kie memecahkan suasana hening. “Sesudah engkau keluar dari kubur, apakah engkau tidak melihat kami?”

Tiba-tiba muka In Lee berubah lagi, sekarang memancarkan kemarahan yang sangat dan mendadak dia mendengus lalu mengeluarkan suara tertawa dingin.

“Hm, tidak melihat kalian?” tanyanya dengan suara yang sinis dan mengejek. “Justru aku yang tidak sudi menemui kau! Huh! Huh! Bisik-bisikmu yang ditujukan kepada nona Ciu... betapa mesranya, betapa hangatnya dan penuh kasih sayang, tentu saja aku tidak bisa menyaksikan dengan hati yang dingin, di mana perasaanku terbakar oleh kemarahan dan mendongkol. Hmm, bukankah di saat itu engkau berkata, ‘Selanjutnya aku akan lebih mencintaimu, lebih sayang dan memanjakanmu, mana bisa kubiarkan engkau menderita lagi’. Huh, bukankah begitu kata-kata yang kau ucapkan?” Dengan sengaja In Lee meniru suara Bu Kie pada saat mengucapkan isi hatinya ketika dibuai cinta kasih dengan Cie Jiak waktu berada di pulau karang dulu.”

Kemudian In Lee menyusul dengan menirukan suara Cie Jiak, “’Apa bila aku berbuat sesuatu yang salah, apakah engkau akan menghajar, memaki dan membunuh?’ Pada saat itu engkau berkata lagi. 'Sejak kecil aku telah kehilangan bimbingan orang tua, siapa berani menjamin pada suatu waktu aku tak akan melakukan sesuatu yang khilap? Cie Jiak, engkau adalah isteriku yang amat kucintai, melebihi cintaku pada diriku sendiri. Andai kata benar kau melakukan suatu kesalahan, betapa pun aku tak akan tega untuk menghukum dirimu dan biarlah sekarang Sang Rembulan menjadi saksi, dengan alasan apa pun juga aku tentu tak akan tega untuk menghukummu’. Bukankah begitu? Alangkah mesranya! Alangkah mesranya!”

Ternyata semua percakapan yang begitu mesra antara Bu Kie dan Cie Jiak waktu di pulau karang didengar seluruhnya oleh In Lee. Tentu saja muka Cie Jiak seketika berubah merah padam. Dia merasa amat malu sehingga dia menundukkan kepala dalam-dalam.

Sedangkan Bu Kie juga merasa sangat malu dan dengan sendirinya menjadi kikuk. Bu Kie berusaha menguasai goncangan hatinya, lalu melirik Tio Beng. Dia melihat wajah gadis itu pucat pasi diliputi kemarahan yang sangat, maka dia segera mengulurkan tangannya dan memegang tangan si gadis.

Di luar dugaan tiba-tiba Tio Beng membalikkan tangannya, kemudian dengan sengit kedua kuku jarinya yang panjang dan tajam itu menusuk punggung tangan Bu Kie. Karena kaget dan kesakitan Bu Kie cepat menarik kembali tangannya. Dia hanya meringis tetapi tidak berani bergerak atau menjerit.

Pada saat itu In Lee mengeluarkan sepotong papan kayu yang lantas diangsurkan ke hadapan Bu Kie, disusul dengan perkataannya yang dingin.

“Lihatlah yang jelas, benda apakah ini?”

Mata Bu Kie terpentang lebar-lebar mengawasi benda itu dan hatinya kembali tergoncang keras karena ternyata di atas papan kayu itu terukir tulisan yang sangat dikenalnya.

‘Kuburan isteriku yang tercinta, In Lee alias Cu-jie, suami Tio Bu Kie’.

Itulah papan kuburan yang dibuat oleh Bu Kie di depan kuburan In Lee tempo hari waktu berada di pulau karang. Dengan sikap yang ganas dan bercampur perasaan mendongkol In Lee berkata lagi,

“Ketika itu aku sudah merangkak keluar dari liang kubur dan melihat tulisan papan ini, aku bingung karenanya. Aneh, jadi setan cilik Thio Bu Kie yang membuatnya... Sungguh membuat aku tak mengerti. Kemudian, setelah mendengar percakapan kalian barulah aku mengerti duduknya persoalan... Rupanya Can A Gu itu sama dengan Thio Bu Kie dan Thio Bu Kie itu tidak lain adalah Can A Gu. Setan cilik, selama itu engkau telah menipuku mentah-mentah, memperdayakan diriku...“ Sesudah berkata begitu dengan sengit In Lee menggebrakkan papan kayu itu yang dikeprukkan di atas kepala Bu Kie.

“Pletak!” Papan itu pecah menjadi beberapa potong.

“Mengapa sedikit-sedikit kau main pukul?” tegur Tio Beng marah dengan muka memancarkan perasaan tidak senang. “Mengapa tidak hujan tidak angin selalu main pukul seenakmu?”

“Ha-ha-ha,” In Lee tertawa dengan suara keras mengandung ejekan. Dia memperhatikan wajah Tio Beng segera berubah merah ketika dia berkata,

“Yang kupukul adalah dia, tapi kau yang merasa sakit, bukan?”

“Dia hanya mengalah padamu. Jangan engkau tidak kenal gelagat!“ bentak Tio Beng tidak mau kalah dengan perasaan mendongkol dan suara sengit.

“Aku tidak tahu gelagat? Ya, ya sekarang aku tahu. Tetapi percayalah, engkau tidak perlu kuatir bahwa kelak aku akan bersaing dengan kau untuk memperebutkan Tiu-pat-koay ini,” kata In Lee diiringi suara tawanya yang keras. “Di batinku hanya terukir seorang yang pernah kukenal, yang sangat kucintai, yaitu Thio Bu Kie cilik yang pernah menggigit tanganku di Ouw-tiap-kok. Mengenai Tiu-pat-koay yang ada di sini, baik dia bernama Can A Gu mau pun dia menamakan dirinya Thio Bu Kie, aku tidak mau peduli. Sedikit pun aku tidak senang atau pun mencintainya.” Dia lalu berpaling dan berkata dengan suara yang lemah lembut kepada Bu Kie. “Engko A Gu, selamanya kau sangat baik kepadaku, selamanya engkau memperlakukan aku dengan baik dan aku benar-benar amat berterima kasih sekali..., namun sayang sekali hatiku sudah kuserahkan bulat-bulat kepada Bu Kie cilik yang kejam dan bengis itu, sedangkan engkau... bukan... bukan dia. Engkau bukan Bu Kie cilik yang kucintai itu...!”

Tentu saja Bu Kie jadi heran. Sudah jelas dia adalah Thio Bu Kie, mengapa sekarang In Lee mengatakannya bahwa dia bukan Thio Bu Kie? Bukankah dia yang pernah menggigit tangan In Lee waktu di Ouw-tiap-kok dulu?

Dengan sorot mata yang ramah dan lembut sekali In Lee menatap kepada Bu Kie dengan sikap termangu dan tertegun. Tiba-tiba saja sinar matanya dalam sekejap berubah bersinar sangat aneh, diiringi kepalanya yang digeleng-gelengkan.

“Engko A Gu, engkau tidak mengerti. Dahulu ketika di gurun pasir di daerah barat engkau pernah berjanji sehidup semati dengan aku, dan di pulau karang itu pun engkau amat setia dan berbakti, memperlakukan aku dengan baik sekali... Ya... kau adalah seorang pemuda yang baik! Hanya saja ingin kukatakan kepadamu bahwa hatiku sudah lama kuserahkan kepada si Bu Kie cilik itu, maka aku ingin pergi mencarinya... aku ingin mencarinya...“

Setelah memandang Bu Kie sejenak, In Lee memutar tubuhnya kemudian melangkah perlahan dengan sikap yang lesu.

Mendadak Bu Kie sadar. Rupanya yang benar-benar dicintai Piauw-moaynya itu adalah Thio Bu Kie dalam khayalan belaka, yaitu Thio Bu Kie yang terukir dalam sanubarinya, di dasar hatinya yang suci yang pernah dikenalnya di Ouw-tiap-kok dulu, bukan Thio Bu Kie yang sebenarnya, yang kini berada di hadapannya. Ya, bukan Bu Kie yang berbudi pekerti baik dan bijaksana ini, tetapi adalah Bu Kie cilik yang licik, yang bengis dan jahat.

Saat itu bermacam perasaan muncul di hati Bu Kie dan dia hanya duduk tertegun sambil memandangi bayangan sang Piauw-moay yang pergi dengan langkah-langkah kaki yang lesu, yang lambat laun akhirnya lenyap dari pandangan mata tertelan kegelapan sang malam. Bu Kie yakin dan juga merasa kasihan kepada Piauw-moaynya karena In Lee tentu akan tetap teringat kepada pemuda tanggung yang pernah dikenalnya di Ouw-tiap-kok itu. Dia pasti akan mencari Bu Kie 'khayalan' itu. Sekali pun seumur hidupnya tidak akan berhasil dicapainya, tapi bayangan Bu Kie khayalan itu sudah terukir dalam hingga meresap di dasar kalbu dan hatinya yang suci.

Cie Jiak menghela napas menyesal. Ia jadi berpikir bahwa semua itu adalah kesalahannya sehingga dia membuat pikiran In Lee menjadi tidak waras. Tetapi Bu Kie malah berpikir lain.

“Dia memang memiliki pikiran yang kurang waras, itu adalah dosa dan kesalahanku yang tidak berampun! Kini dia menjadi seorang gadis dengan alam pikiran yang tidak normal...! Tapi mungkin dia lebih bahagia dan senang bila dibandingkan dengan orang yang berotak waras.”

Dan yang dipikirkan Tio Beng berbeda lagi. In Lee telah muncul tiba-tiba dan telah pergi lagi begitu saja, hal ini membuat hatinya amat lega. Tetapi bagaimana dengan Ciu Cie Jiak? In Lee tidak jadi mati. Cia Sun juga selamat tidak kurang suatu apapun, kitab militer dalam To-liong-to dan kitab silat dalam Ie-thian-kiam sudah diberikan semua kepada Bu Kie. Kalau dinilai sekarang, kesalahan-kesalahan yang dilakukan Cie Jiak beberapa saat yang lalu boleh dibilang tidak memiliki arti apa-apa lagi.

Sudah tentu Song Ceng Su membinasakan Boh Seng Kok karena jatuh cinta kepadanya. Tetapi itu adalah perbuatan Song Ceng Su sendiri. Sebelumnya Cie Jiak sama sekali tidak tahu menahu akan peristiwa itu, juga tidak pernah meminta kepada Song Ceng Su untuk melakukan perbuatan itu. Terlebih lagi di antara dia dengan Bu Kie memang pernah ada ikatan tali perkawinan, di luar dari hubungan lainnya. Setelah semuanya berdiam diri tenggelam dalam alam pikiran masing-masing, tiba-tiba Cie Jiak bangkit berdiri sambil berkata,

“Mari kita segera berangkat!”

“Berangkat ke mana?” tanya Tio Beng heran.

“Ke Siauw-lim-si,” sahut Cie Jiak. “Tadi aku melihat Pheng Hwesio tergesa-gesa datang hendak mencari Kauwcu-nya. Agaknya di Beng-kauw terjadi persoalan yang gawat sekali...“

Bu Kie terkejut mendengar berita itu. “Celaka, jangan sampai aku melalaikan urusan besar agama karena terlampau tenggelam dalam urusan pribadi,” pikir Bu Kie dengan hati diliputi penyesalan. Maka dia pun segera mengajak Tio Beng dan Cie Jiak untuk berangkat. Tidak berselang lama mereka pun tiba di tempat tinggal rombongan Beng-kauw.

Memang Yo-cosu Yo Siauw, Pheng Eng Giok dan Hoan Yauw serta yang lainnya sedang sibuk mencari-cari ke mana perginya sang kauwcu. Maka mereka menjadi gembira dan bersyukur ketika melihat Bu Kie telah kembali dalam keadaan sehat dan selamat. Tetapi mereka pun jadi heran waktu melihat Cie Jiak dan Tio Beng ikut bersama Kauwcu mereka.

Meiihat sikap rekan-rekannya itu memperlihatkannya sikap yang lesu dan tidak bersemangat, segera Bu Kie dapat menduganya bahwa telah terjadi sesuatu hal yang tidak baik. Cepat-cepat dia bertanya.

"Pheng Taisu, ada urusan apakah engkau mencariku?"

Sebelum Pheng Eng Gie menjawab, Cie Jiak segera menarik tangan Tio Beng, diajak menyingkir. Tio Beng mengetahui maksud Cie Jiak, yang tidak mau mendengar rahasia dalam Beng kauw, dia mengikuti saja tanpa mengucapkan suatu apapun juga.

Yo Siauw dan Hoan Yauw menjadi terheran-heran melihat kelakuan kedua gadis itu. Dulu waktu di Ho Cin, waktu sang Kauwcu hendak menikah, keduanya itu saling cakar-cakaran dan saling pukul-pukulan, aneh sekali.... mengapa kini mereka tampaknya demikian rukun, bagaikan saudara kandung saja ! Entah dengan mempergunakan cara apa sang Kauwcu telah berhasil merujukkan kedua gadis itu?

Setelah Cie Jiak dan Tio Beng pergi, Pheng Eng Giok lalu berkata, "Lapor kepada Kauw-cu, kita telah mengalami kekalahan besar di Ho Ciu, kita telah menderita kerugian yang sangat besar dan Han Sian Tong telah gugur."

"Hah ?" berseru Bu Kie kaget dan berduka.

“Kini pimpinan sementara didaerah dipegang oleh Cu Goan Ciang, kedua saudara Cie Tat dan Siang Gie It dan Co Cun juga telah pergi membantu, begitu pula Han lim jie". Pheng Eng Giok melanjutkan laporannya. "Situasi agak penting, mohon Kauwcu mengatur seperlunya".

Segera Bu Kie menanyakan lebih jauh peristiwa yang terjadi di medan pertempuran akhir-akhir ini. Waktu mereka tengah berunding tiba-tiba In Ya Ong telah datang dan berkata:

"Lapor kepada Kauwcu, Kay pang mengirimkan orang membawa berita bahwa si jahanam Tan Yoe Liang itu sudah diketahui jejaknya".

"Di mana dia ?" tanya Bu Kie.

"Keparat itu ternyata telah berhasil menyelusup kedalam pasukan yang dipimpin saudara Cie Siu Hwe, kabarnya saudara Cie sangat percaya dan sayang kepadanya," sahut In Ya Ong.

"Jika demikian, tentu kita yakin sulit untuk mengambil tindakan..." ujar Bu Kie. "Harap Koko mengirimkan orang untuk memberikan bisikan kepada saudara Cie, bahwa keparat Tan Yoe Liang itu sangat licik dan kejam, jangan-jangan akan timbul bibit bencana bila terlalu mempercayai dia maka paling baik jika bisa menjauhi dia..."

"Yang terbaik adalah sekali tabas membinasakan she Tan itu, urusan menjadi beres!" ujar In Ya Ong.

"Baiklah, urusan itu biar kuselesaikan," kata In Ya Ong waktu melihat Bu Kie dan yang lainnya berdiam diri dalam keadaan bimbang.

Disaat itu tiba-tiba sekali datang kurir yang membawa surat kilat dari Cie Siu Hwee. "Celaka, kita kena didahului dia ... " kata Yo Siauw mengerutkan alisnya.

Waktu Bu Kie membaca surat itu, ternyata merupakan sepucuk surat yang bunyinya sangat panjang lebar, dimana Cie Siu Hwee melaporkan bahwa Tao Yoe Liang telah mengakui berbuat dosa dan salah kepada sang Kauwcu. Ia menyadarinya jika dosanya terlampau besar maka dia rela untuk masuk menjadi anggauta Beng kauw dan ia berjanji pula untuk merobah kesalahannya yang lalu dengan berjuang membantu Beng kauw, asalkan sang Kauwcu memberikan kesempatan kepadanya untuk memperbaikinya. Bu Kie menyerahkan surat itu kepada Yo Siauw dan kemudian kepada semua rekan-rekannya untuk dibaca bergilir.

o0o^d!w^o0o

DENGAN sengit In Ya Ong kemudian berkata, “Cie Hiantee terlalu mempercayai orang itu, kelak pasti akan merasakan getahnya.”

“Ya, keparat Tan Yoe Liang benar-benar licin, bahkan sangat licin sekali,” kata Yo Siauw. “Tetapi kita sekarang ini berada dalam keadaan serba sulit, karena tentu tidak dapat kita membinasakan Tan Yoe Liang sekarang ini, karena kuatir kalau-kalau menimbulkan salah paham pahlawan-pahlawan seluruh negeri,” kata Yo Siauw.

“Tepat!” angguk Bu Kie. “Pheng Tatsu, kau sangat akrab dengan Cie Hiantee, silakan kau mencari dia, kesempatan untuk menasehati dia agar lebih waspada terhadap tipu muslihat Tan Yoe Liang jadi lebih luas dengan terjalinnya hubungan baik di antara mereka berdua... dan jangan sekalai-sekali Cie Hiantee itu menyerahkan kekuasaan kepadanya.” Pheng Eng Giok menerima tugas itu.

Namun Cie Siu Hwe merupakan orang yang sulit sekali dinasehati, tidak mau memperhatikan nasehat Pheng Eng Giok sehingga dia telah dicelakai Tan Yoe Liang dan melayang jiwanya di tangan orang she Tan tersebut. Setelah melakukan perebutan kekuasaan, Tan Yoe Liang memimpin tentaranya bergerak di wilayah Barat dan bertempur sendiri dengan pasukan Beng Kauw di daerah Timur dan mengangkat dirinya sebagai Han ong, walaupun akhirnya ia berhasil dikalahkan di Hoa Yang Ouw dan terbinasa, namun banyak para pahlawan Beng Kauw telah menjadi korban.

Malamnya Bu Kie telah berunding lebih mendalam dengan Yo Siauw dan tokoh-tokoh Beng Kauw lainnya untuk membagi tugas pergi membantu pasukan-pasukan Beng Kauw yang lemah di berbagai daerah. Dia sendiri sudah terlalu lama tidak bertemu dengan Thio Sam Hong, maka Bu Kie sangat rindu sekali terhadap orang tua itu. Keesokan harinya dia segera mendahului berangkat ke Bu tong san bersama Tio Beng, Jie Lian Cu, Thio Siong Kee dan Song Ceng Su. Dalam rombongan itu turut pula Ciu Cie Jiak yang karena merasa berdosa terhadap kedurhakaan Song Ceng Su itu, maka dia ingin pergi menghadap Thio Sam Hong untuk menerima hukuman dari pendiri partai Bu tong pay itu. Murid-murid Go bie pay segera mengiringinya ke Bu tong san. Jarak antara Siauw lim sie dan Bu tong san tidak terlalu jauh, karena itu tidak berselang lama tibalah mereka di pegunungan yang indah itu. Bu Kie ikut Jie Lian Cu, In Lee Heng dan Siongkee ke dalam untuk menemui Thio Sam Hong, lalu memberi hormat juga kepada Song Wan Kiauw dan Jie Tay Giam. Mendengar putranya dibawa pulang, dengan geram Song Wan Kiauw meloloskan pedang dan memburu keluar.

“Di mana binatang durhaka itu?” bentak Wan Kiauw setelah tiba di ruangan depan.

Waktu melihat putranya rebah di atas usungan, kepalanya juga penuh dibalut dengan kain putih, tanpa bicara lagi pedangnya terus ditusukkan, tapi mendadak tangannya terasa lemas, tusukkannya tidak meluncur terus, tertahan di tengah udara karena dia jadi tidak tega untuk meneruskan tusukannya. Di saat seperti itu, teringatlah dia akan cinta kasih antara seorang ayah dan anaknya, hubungan baik antara saudara seperguruan, yaitu Boh Seng Kok almarhum. Sungguh kacau dan rumit pikirannya di saat itu. Mendadak dia telah menarik kembali pedangnya bahkan mata pedang itu telah dibaliknya, ditikamkan ke arah perutnya sendiri. Tetapi sekali jambret, Bu Kie dapat merampas pedang sang Supeh, disertai juga dengan seruan,

“Janganlah berbuat nekad seperti itu!” katanya. “Urusan ini biarlah diputuskan Taysuhu saja....”

Thio Sam Hong menghela napas, dia telah berkata dengan suara yang berat mengandung kemurkaan, penyesalan dan kedukaan yang dalam.

“Sungguh tidak beruntung sekali Bu tong pay ternyata memiliki murid yang durhaka seperti ini....”

Dan setelah berkata begitu, dia menoleh kepada Song Wan Kiauw. Katanya dengan suara nyaring, “Wan Kiauw, bukan hanya kau seorang yang tidak bahagia, kamipun merasa sedih dan menyesal sekali. Anak durhaka dan pengkhianat seperti ini lebih baik tidak ada.” Dan menyusul dengan perkataannya itu maka tangan kanannya telah bergerak.

“Plakkk!” dada Song Ceng Su telah dipukulnya satu kali.

Tetapi pukulan itu sangat hebat sekali, tenaga pukulan pendiri Bu tong pay itu sangat dahsyat sekali, seketika itu juga isi perut Song Ceng Su hancur remuk dan napasnya telah putus di saat itu juga.

“Suhu...!” dengan menangis Song Wan Kiauw telah berlutut di hadapan gurunya. “Tecu tidak bisa mengajar anak sehingga mengakibatkan kematian Cittee, sungguh Tecu merasa berdosa...!”

Thio Sam Hong membangunkan murid tertua itu, katanya dengan kepala mengangguk penuh kedukaan, “Ya, peristiwa ini memang merupakan kesalahanmu, maka Ciangbunjin Bu tong pay mulai hari ini kuserahkan kepada Lian Cu. Kau boleh menggunakan pikiranmu untuk menghayati Tay kek Kun hoat agar kepandaianmu menjadi lebih sempurna sedangkan urusan untuk umum perguruan kita kau tidak perlu mengurus dan memusingkannya....”

Song Wan Kiauw menerima keputusan itu sambil mengucapkan terima kasih. Menyaksikan betapa kerasnya Thio Sam Hong mengatur rumah tangganya membinasakan Song Ceng Su dan memecat Song Wan Kiauw sebagai ahli waris, semua orang merasa kaget dan tertegun karenanya. Waktu Thio Sam Hong mengetahui hasil Eng Hiong Tay Hwee serta pergerakan Beng Kauw melawan tentara Mongol, dia sangat memuji Bu Kie.

Sejak semula Ciu Cie Jiak berdiri di samping namun sekejappun juga Thio Sam Hong tidak pernah menoleh untuk memandangnya. Setelah mayat Song Ceng Su dibawa pergi oleh petugas kuil, mendadak Thio Sam Hong meloloskan pedang Song Wan Kiauw yang dipergunakan untuk menuding Cie Jiak disertai kata-katanya yang angker,

“Nona Cie sebagai ketua Go bie pay, sudah berapa banyak ilmu pedang Biat Coat Suthay yang kau pelajari?”

Cie Jiak terkejut tapi cepat-cepat dia menjawab dengan sikap yang hormat, “Yang telah berhasil dipahami oleh Boanpwe baru tiga bagian dari kepandaian Insu,” sahutnya.

“Mendiang Kwee Liehiap mendirikan Go bie pay dengan harapan agar kelak murid-muridnya dapat mengangkat nama harum Go bie pay di kalangan Kangouw serta menjadi manusia baik, tetapi kau hanya memiliki tiga bagian dari ilmu kepandaian Biat Coat Suthay, lalu berdasarkan apa kau sanggup mengembangkan Go bie pay?” tegur Thio Sam Hong pula. “Kau kini telah memperoleh sedikit ilmu silat keji malang melintang menjagoi Eng Hiong Tay Hwee, apakah selanjutnya anak murid Go bie pay belajar juga kepandaianmu yang keji itu?”

Setelah berdiam diri sejenak untuk mengatur pernapasannya yang sangat memburu, Thio Sam Hong telah melanjutkan perkataannya, “Kwee Liehiap pernah menanam budi kepadaku, maka aku tidak rela menyaksikan Go bie pay yang didirikan dengan susah payah itu akan hancur begitu saja.”

“Teguran Thio Cinjin memang tepat,” sahut Cie Jiak sambil menunduk. “Boanpwe sudah lama mengatur sebuah rencana.”

“Rencana apa?” tanya Thio Sam Hong.

Cie Jiak tidak menjawab pertanyaan Thio Sam Hong, tapi berpaling kepada Bu Kie, katanya, “Thio Kauwcu, dulu ketika kau bertempur dengan jago-jago Lak Toa Pay di Kong Bong Teng, kalau tidak salah pernah kudengar engkau mengatakan bahwa engkau bukan murid Bu tong pay, benarkah itu?”

Bu Kie tidak mengetahui sebenarnya ke arah mana pertanyaan itu dimaksudkan Cie Jiak, tetapi dia menjawab juga. “Mendiang ayahku adalah murid Bu tong pay, dan Tay Suhu pernah mengajarkan Tay Kek Kun Hoan kepadaku, maka jika aku mengaku murid Bu tong pay, kiranya masih boleh juga.”

“Pernah kudengar lagi, katanya gurumu yang pertama adalah Cia Tayhiap. Dia adalah murid Hun Goen Pie Ek Jiu Kun, sedangkan kau yang Sin Kangmu adalah diperoleh dari kitab peninggalan Tat Mo Couwsu, Kian Kau Tay Lo Ie Sin Hoat dipelajari dari kitab wasiat Kauwcu Beng Kauw yang lalu. Padahal orang persilatan, di mana kita paling mengutamakan perbedaan aliran mana yang kau anut,” kata Cie Jiak sambil mengawasi Bu Kie dalam-dalam.

“Apa yang aku pelajari terlalu banyak dan ruwet, kalau bicara yang benar, aku tidak termasuk anak murid suatu golongan,” sahut Bu Kie.

Segera Cie Jiak bertanya kepada Thio Sam Hong, “Thio Cin Jin, apa yang dikatakannya itu benar atau tidak?” sambil mengawasi Thio Sam Hong.

“Benar!” sahut Thio Sam Hong sambil mengangguk. “Sesungguhnya memang begitu. Keadaan seperti Bu Kie sangat jarang terjadi di kalangan Bu Lim. Itu adalah karena banyaknya penemuan-penemuan aneh dan diperolehnya semua,” dan kemudian Thio Sam Hong menghela napas, dalam waktu beberapa detik itu, ia teringat pengalaman-pengalaman di masa lalu waktu Bu Kie masih kecil.

Mendadak Cie Jiak meloloskan potongan It Thian Kiam dari pinggangnya, tangannya menarik rambutnya yang panjang, ditariknya ke arah depan, sekali tebas putuslah rambut itu. Karenanya semua orang jadi kaget dan bingung, mereka memandang tidak mengerti. Di saat itu Cie Jiak telah berkata dengan suara yang nyaring sekali.

“Dosa-dosaku terlalu besar, sudah lama aku berniat untuk memotong rambut menggunduli kepala, kembali kepada Sang Budha maka dari itu Thio Kauwcu bukankah engkau telah pernah berjanji padaku bahwa satu permintaanku yang harus kau laksanakan tanpa dapat menolaknya. Benar tidak?”

“Benar!” sahut Bu Kie. “Hanya apabila hal itu harus merupakan hal yang tidak mengingkari perbuatan kaum Hiap gie, menguntungkan pergerakan Nasional dan tidak merusak nama baik Beng Kauw dan pribadi, bukankah begitu?”

“Ya....” angguk Cie Jiak. “Jika demikian seorang laki-laki sejati sekali berkata harus ditepati terlebih lagi di hadapan Tay Suhu dan para paman gurumu, kelak kau jangan menjilat ludahmu sendiri.”

Melihat si gadis berbicara dengan sikap bersungguh-sungguh Bu Kie jadi terharu, tanpa berpikir panjang lagi ia telah berkata, “Ya, silakan kau sebutkan permintaan itu.”

Cie Jiak menoleh kepada Thio Sam Hong, katanya dengan suara nyaring, “Thio Cinjin, aku mohon memakai ruang pendopomu sebentar.”

Segera dia membuka buntalannya dan mengeluarkan dua potong Leng Pay (papan sembahyang) yang sepotong bertuliskan “Tempat abu Pendiri Go bie pay. Kwee Siang Kwee Liehiap” dan yang lainnya lagi bertuliskan “Tempat abu ketua Go bie pay angkatan ketiga, Biat Coat Suthay”.

Dengan hormat sekali Cie Jiak telah meletakkan Leng pay itu di atas meja sembahyang dan melihat itu, Thio Sam Hong bersama Song Wan Kiauw, Thio Bu Kie dan yang lain-lainnya ikut memberi hormat. Kemudian Cie Jiak meloloskan Tiat Cie Goan atau Cincin Besi yang dipergunakannya, dan berkata kepada Bu Kie.

“Thio Bu Kie, Thio Kauwcu selaku Ciang bunjin dari Go bie pay angkatan keempat Ciu Cie Jiak dengan ini menyerahkan jabatan ketua kepadamu.”

Mendengar itu semua orang jadi tertegun kaget, memandang tidak percaya apa yang tengah terjadi itu. Maka itu terdengar lagi suara Cie Jiak. “Tetapi kau masih tetap merangkap menjadi Kauwcu Beng Kauw, pemimpin para patriot untuk mengusir penjajah. Sejak kini, setiap anak murid Go bie pay tunduk dibawah perintahmu!”

“Hei...ini...ini mana boleh terjadi?” cepat-cepat Bu Kie ingin membantahnya.

“Mengapa?” tanya Cie Jiak. “Go bie pay di dirikan Kwee Liehiap yang cukup dihormati setiap orang gagah bukan? Dengan diangkatnya kau menjadi Cian bunjin, kiranya tidaklah merendahkan harga dirimu.”

Bu Kie jadi serba salah, dia memandang Thio Sam Hong dengan sorot mata mohon diberikan pertolongan untuk menghadapi urusan yang demikian mendadak. Tidak terduga, Thio Sam Hong justru telah tertawa terbahak-bahak sambil berkata,

“Nona Ciu, kau benar-benar hebat, karena berdasarkan tindakanmu ini, tidak sia-sialah Biat Coat Suthay menyerahkan Ciang bunjin kepadamu!. Kalau Go bie pay diserahkan dibawah pimpinan Bu Kie, soal perkembangannya tidak usah diragukan lagi.”

Walaupun peristiwa itu diluar dugaan semua orang, tetapi Bu Kie memang tidak termasuk suatu golongan atau aliran, kalau menerima jabatan ketua Go bie pay, tidaklah melanggar peraturan Kangouw. Sebaliknya hal itu justru memang besar manfaatnya bagi gerakan Nasional, untuk keutuhan dari persatuan dan kesatuan dan juga tidak merugikan nama baik Beng Kauw dan juga tidak merusak nama pribadi Bu Kie, maka terdengarlah Thio Sam Hong telah berkata lagi.

“Anakku Bu Kie jika kau sudah pernah berjanji dengan anak Ciu, janganlah engkau mengingkarinya...!”

Lalu Ciu Cie Jiak mengeluarkan sejilid kitab tipis bersama-sama kedua It Thian Kiam diserahkan kepada Bu Kie diiringi perkataannya. “Ini adalah kita inti ilmu Go Bie Pay kita yang ditulis oleh Kwee Liehiap, harap kau menerimanya dengan baik dan hormat...!”

Terpaksa Bu Kie menurut tidak membantah lagi, dia menerima kitab itu, kitab ilmu silat ajaran Go Bie Pay dan kedua potong It Thian kiam diterimanya juga berikut cincin besi tanda sebagai kekuasaan tertinggi seorang Ciang Bun Jin Go Bie Pay dari tangan Cie Jiak, lalu Bu Kie memberi hormat di hadapan Leng pay menyusul mana Cie Jiak memimpin Ciang Bun Jin angkatan kelima yang baru ini. Begitu pula Thio Sam Hong dan yang lain-lainnya berturut-berturut telah memberikan ucapan selamat.

Sejak saat itulah Ciu Cie Jiak telah memotong rambutnya menjadi seorang nikouw, tidak mengurus soal-soal keduniawian lagi. Bu Kie segera perintahkan Ceng Hui memimpin anak murid Go Bie Pay kembali ke Go Bie San, dia sendiri memohon diri dan meminta Thio Sam hong dan yang lain-lainnya menuju ke Ho Ciu bersama Tio Beng untuk melakukan inspeksi atas pergerakan Beng Kauw.

Sepanjang perjalanannya dia menerima berita kemenangan serta mendengar diperbagai tempat daerah lain banyak timbul pergolakan dari kaum patriot, di daerah Kang Soh ada Thio Su seng, didaerah Tay Ciu ada Poe Kok Tia walaupun tidak termasuk dibawah panji Beng Kauw, tapi adalah merupakan rekan seperguruan yang satu tujuan, yaitu melawan dan berusaha mengusir tentara Mongolia. Dengan seorang kawan Bu Kie melakukan perjalanan yang menggembirakan, justru kawan sejalannya itu adalah Tio Beng. Dan yang lebih menggembirakan sekali justru dia mendengar usaha pergerakan nasional banyak memperoleh kemajuan maka dia yakin bahwa pembebasan tanah air sudah dekat berakhir.

Dia berpikir juga bahwa berhasilnya pergerakan itu tentu saja dibebaskan faktor utamanya dimana terpimpin dengan baik maka dia mengharapkan selanjutnya seluruh negeri akan aman dan damai abadi rakyat sejahtera dan hidup tentram bahagia. Dengan demikian, barulah tidak percuma dan sisa-sisa perjuangannya selama beberapa tahun ini. Karena tak ingin menerbitkan keonaran maka sepanjang jalan dia tak menemui pemimpinan pasukan Beng Kauw hanya diam-diam menyelidiki dan lihat aktif laskar Beng Kauw sangat baik tak mengganggu rakyat dimana-dimana terdengar pujian-pujian kebijaksanaan jendral Cu Goan Ciang dan penglima Cie.

o0o^d!w^o0o

Malamnya Theng Ho mengadakan pesta meriah untuk menghormati kedatangan pucuk pimpinan itu, sejenak kemudian baru Cu Gaon Ciang datang tergesa-gesa bersama beberapa perwira tinggi yang lainnya terus memberi hormat di hadapan Bu Kie, meminta maaf atas keteledoran mereka menyambut.

Bu Kie cepat-cepat membangunkan orang-orangnya itu dan memuji kemenangan-kemenangan yang dicapai Cu Goan Ciang. Dengan sangat hormat Cu Goan Ciang menuangkan tiga cawan arak berturut-berturut untuk menyuguhkan sang Kauwcu lalu menyuguhkan pula kepada Tio Beng. Kemudian mereka membicarakan perkembangan situasi dimedan perang yang sangat menguntungkan Beng Kauw itu, tiba-tiba tampak panglima Liauw Eng Tiong masuk tergesa-tergesa, lebih dulu memberi hormat kepada sang Kauwcu, lalu berbisik kepada Coa Goan Ciang,

“Sudah dapat kami tangkap...!”

“Bagus!” sahut Cu Goan Ciang.

Saat itulah tiba-tiba terdengar suara teriakan penasaran seorang diluar dan mendengar suaranya, segera Bu kie mengenali suara Han Lian Jie. Dia heran dan bertanya,

“Ada apakah sesungguhnya yang terjadi didiri Han Hian te?”

“Lapor kepada Kauwcu,” sahut Cu Goan Ciang, “Han Sim Jie telah bersekutu dengan musuh bermaksud mendobrak, maka dia telah diringkus.”

“Ha?” berseru Bu Kie terkejut. “Cepat bawa dia kemari, biar kutanya sendiri kepadanya.”

Belum selesai ucapannya itu, mendadak kepalanya terasa pusing, matanya berkunang-kunang gelap dan kemudian Bu Kie tidak sadarkan diri lagi. Waktu Bu Kie tersadar kembali, ternyata dia merasakan tangannya telah di borgol dengan alat belenggu yang sangat kuat. Keadaan sekitanya gelap, telah membuat Bu Kie jadi terkejut. Dia merasakan kepalanya tersandar sesuatu yang lunak halus, ternyata Tio Beng juga telah ditawan bersamanya disitu, hanya gadis itu belum lagi tersadar. Berpikir sejenak, segera tersadarlah Bu Kie bahwa secara diam-diam Cu Goan Ciang telah menaruh obat tidur di dalam minuman mereka. Ternyata jendral kepercayaannya itu telah menyeleweng. Sedikit mengerahkan tenaga dalamnya, Bu Kie merasakan tak ada perobahan sesuatu dalam tenaga saktinya itu. Di saat itu tiba-tiba Bu Kie mendengar seseorang berkata,

“Cu Taoko, babat rumput harus keakar-keakarnya, jangan sampai kita tinggal bibit bencana di kemudian hari,” dan itulah suaranya Cie Tat.

“Tetapi bangsat kecil ini adalah atasan kita janganlah kita lupa dan ingkar terhadap kawan,” terdengar suara Cu Goan Ciang yang menyahuti ragu-ragu.

Tiba-tiba Gie Coan ikut berbicara, “Jika Cu Taoko kuatir terjadi sesuatu dalam pasukannya, lebih baik turun tangan secara diam-diam agar tak merugikan nama baik Taoko.”

“Jika demikian pendapat saudara-saudara Cie dan Siang, baiklah aku menurut saja,” sahut Cu Goan Ciang.

“Hanya bangsat cilik ini agak berjasa bagi agama kita, rahasianya ini jangan sampai diketahui orang lain...”

Setelah bicara begitu, ketiga orang tersebut segera keluar kamar. Bu Kie menarik napas sedih, dia merasa berduka mendengar percakapan itu. Dia meraba pinggangnya, bersyukur potongan In Thian Kiam masih ada, segera dia akan menggunakan ilmu Kiam Kun Tay Lo Ie Sin kang dan meloloskan pedang patah itu untuk memotong belenggu besi, lalu menyadarkan Tio Beng yang diajak melarikan diri dari tempat itu.

Sambil melarikan diri, bermacam-bermacam perasaan bergolak di hati Bu Kie, dan dia benar-benar gusar melihat pengkhianatan Cu Goen Ciang, yang lupa budi dan mengkhianatinya. Tetapi Cie Tat dan Ciang Gie Cun yang sangat erat sekali hubungannya, demi kedudukan dan kejayaan sendiri, rela mengkhianatinya juga, hal ini benar-benar melukai hati Bu Kie.

“Mereka memiliki tugas memimpin dalam menghadapi musuh penjajah, kalau aku pergi membunuhnya mungkin pasukan pergerakan akan berantakan dan kemungkinan gerakan Nasional akan gagal berantakan...!” berpikiri Bu Kie. “Memang aku Thio Bu Kie juga tidak terlalu memikirkan keuntungan pribadi. Wahai Cie Taoko, Siang Taoko, kalau terlalu memandang rendah kepadaku!”

o0o^d!w^o0o

Sesampainya diluar kota, Bu Kie lalu menulis sepucuk surat panjang lebar, dia menyerahkan jabatan Bengcu dari Beng Kauw kepada Yo Siauw. Tetapi mengenai apa yang didengarnya di Ho ciu itu sehuruf pun tidak disinggungnya sudah tentu dia tidak menduga bahwa yang di maksudkan oleh Siang Gie Cun dan Tat sebenarnya adalah Han Lim Jie.

Mengenai kedatangan Bu Kie di Ho Ciu sama sekali tidak diketahui mereka berdua. Semua itu hanya merupakan tipu muslihat dari Cu Goan Ciang belaka. Soalnya karena Cu Goan Ciang ingin menjadi kaisar bercita-bercita untuk duduk disinggasana menjadi raja, maka dia telah menjalankan tipu muslihatnya. Kalau sampai Beng Kauw menang dan berhasil tentu saja Bu Kie yang jelas menjadi kaisar karena dia merupakan puncak pimpinan dari gerakan itu.

Sengaja Cu Goan Ciang telah meminumkan obat tidur yang dicampurkan dalam arak Bu Kie dan Tio Beng, mengaturnya demikian rupa agar seluruh percakapannya dengan Cie Tat dan Siang Gie Cun di dengar Bu Kie, sehingga menimbulkan salah paham diantara mereka. Putus asa dan menyesal Bu Kie tentu akan mengasingkan diri. Cu Goan Ciang cukup hebat dan mengenal akan kelihaian Bu Kie dalam ilmu silat, untuk membinasakannya, dia tidak berani karena jika sampai akal muslihatnya itu bocor, berarti dia menghadapi bahaya yang sangat besar. Tapi berbicara tentang kecerdasan serta tipu daya jauh diatas Bu Kie.

Dia kenal jiwa Bu Kie seorang patriot, mengutamakan kepentingan negara diatas segalanya, hubungan dengan Cie Tat dan Siang Gie Coan bagaikan saudara kandung, asal percakapan mereka itu didengar Bu Kie, pasti Bu Kie akan meninggalkan tempat itu secara diam-diam.

Ternyata yang direncanakan Cu Goan Ciang berjalan lancar. Sedangkan soal Han Lim Jie bersekutu dengan musuh dan bermaksud memberontak, jelas itu hanya fitnah belaka. Soalnya sejak gurunya Han San Tong anak buah Han San Tong telah mengangkat Han Lim Jie sebagai pengganti ayahnya sedangkan Cu Goan Ciang Cie Tat dan Siang Gie Coan malah hanya menjadi bawahannya.

Cu Goan Ciang telah memalsukan surat bukti Han Lim Jie bersekutu dengan musuh, dia berhasil pula membeli seorang pelayan kepercayaan Han Lim Jie pura-pura melaporkan hal itu kepada Cie Tat nan Siang It Cun. Karena percaya Cie Tat dan Siang Gie Cun untuk membasmi Han Lim Jie, sehingga Cu Goan Ciang malah berpura-berpura mencegahnya, setelah didesak berulang kali barulah kemudian dia mengijinkan untuk menghukum Han Lim Jie.

Dia sengaja mengurung Bu Kie di tempat yang mudah untuk meloloskan diri dan begitu Bu Kie sudah pergi, Cu Goan Ciang segera perintahkan perwiranya, yaitu Lauw Eng tong, menenggelamkan Han Lim Jie kedasar sungai. Sungguh hasil yang diperolehnya memuaskan hati Cu Goan Ciang, karena sekali tepuk dua lalat yang terbinasa, tipu muslihatnya itu telah berhasil dengan baik sekali dan tak seorangpun yang mengetahui muslihat Cu Goan Ciang itu.

Kemudian walaupun Yo Siauw menggantikan Bu Kie menjadi Kauwcu Beng Kauw, namun Cu Goan Ciang sudah tumbuh sudah mengembangkan sayapnya. Kekuatannya sudah terpupuk pula Yo Siauw tua, jelas tak bisa berbuat untuk saling rebut kedudukan kaisar dengan Cu Goan Ciang. Akhirnya tercapai juga cita-cita Cu Goan Ciang, dimana Cu Goan Ciang berhasil duduk di singgasana menjadi kaisar yaitu kaisar yang di kenal sebagai Beng Taiciauw pendiri dinasti Beng.

o0o^d!w^o0o

Kembali waktu Bu Kie tengah menulis surat panjang lebar untuk Yo Siauw. Tio Beng melihat Mauwpit (pena tulis tiong hoa) ditangan Bu Kie itu masih basah dan belum diletakkan, sikap Bu Kie juga lesu dan mukanya muram, maka katanya.

“Engko Bu Kie, kau pernah berjanji akan melakukan tiga pekerjaan untukku. Soal pertama meminjamkan To Liong To kepadaku, itupun sudah tercapai. Kedua dilarang menikah dengan nona Ciu, juga sudah dilaksanakan. Dan kini tinggal soal yang ketiga... jangan kau melanggar janjimu sendiri...”

“Hah?” Bu Kie terkejut. “Ahh, kembali engkau mengeluarkan pikiran-pikiran sintingmu!”

“Engko Bu Kie,” tertawa Tio Beng dengan riang. “Aku berpikir, karena alisku ini terlalu tipis dan buruk bentuknya, aku mohon engkau mau menambahkannya dengan melukisnya, agar lebih tebal. Dengan pit itu engkau bisa melukiskannya untuk memperindah! Bukankah soal itu tidak melanggar peraturan Hiapgie dari pada kaum Bu lim!”

Bu Kie tertawa, sahutnya sambil menatap mesra sekali. “Oh, baiklah sayang... mulai sekarang sampai dunia berakhir, setiap hari aku akan melukis alismu itu, agar kau tampak semakin cantik!” Dan kedua muda mudi itu telah tertawa dengan suara yang renyai, mengandung kebahagiaan.

Bunga ditelaga berwarna putih.
Teratai dan burung Hian selalu saling bertentangan
tempat beradanya.
Kesatria menang melawan penjajah.
Rakyat tersenyum bahagia.
Bayi menangis lincah dan bebas.
Tanah yang gersang memerah kembali.
Pohon-pohon tumbuh dengan daunnya yang rindang subur.
Semua tersenyum, sambil berseru, “Bebas!”

Dan para pahlawan, kembali kerumah masing-masing...

TAMAT


OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar