ILMU CIAN-CU CIAT-HU-CIU
Dia berlari dengan lincah. Berlari terus menerus tanpa henti sampai sekitar empat puluh li. Sama sekali tak terdengar dia menghela napas. Bu Kie amat kagum dengan kemahiran ilmu meringankan tubuh si nona ini. Tapi dia merasa tidak enak hati.
“Ehh, berhenti dulu!” katanya, “Kau beristirahatlah!”
Nona itu tertawa, lalu menyahut, “Siapa eh, eh? Apakah aku tidak punya nama?”
“Kau tidak mau memberi-tahu namamu, apa yang dapat kulakukan? Kau menghendaki aku memanggilmu si nona jelek, tapi aku merasa kau indah dilihat...”
Nona itu tertawa, lalu berhenti berlari. Dia menyingkap rambutnya. “Baiklah, sekarang aku memberi-tahu padamu!” katanya. “Tak apa aku bilang padamu. Aku dipanggil Cu-jie.”
“Cu-jie...! Cu-jie...!” kata Bu Kie. “Sungguh benar-benar satu anak mustika!”
“Fui!” nona itu meludah. “Namaku bukan Cu dari Tin-cu yang berarti mutiara, tetapi Cu dari Cian-cu, yaitu laba-laba!”
Bu Kie tercengang. “Mana ada orang yang pakai huruf Cu untuk namanya?” katanya. Dia merasa heran nona itu memakai nama Cu sehingga panggilannya menjadi Cu-jie (anak Cu atau si Cu).
“Tetapi justru itulah namaku!” kata si nona. “Umpama kata kau takut, nah, tak usahlah kau memanggilku!”
“Apakah itu nama pemberian ayahmu?” Bu Kie bertanya.
“Jika ayahku yang memberikan, apakah kau pikir aku akan suka menerimanya?” balas si nona. “Ibu yang memberikannya. Ibu mengajarkan ilmu silat Cian-cu Ciat-hu-ciu, maka dia bilang sebaiknya aku memakai nama ini.”
Terkesiap Bu Kie mendengar disebutnya ilmu silat Cian-cu Ciat-hu-ciu itu.
“Sejak kecil aku mempelajari ilmu itu,” si nona menjelaskan tanpa diminta. “Tetapi sampai sekarang aku belum dapat menyempurnakannya. Kalau aku sudah mahir maka kita tidak usah takut kepada Bi-coat Suthay pendeta wanita bangsat itu. Maukah kau melihatnya?”
Sembari berkata demikian Cu-jie merogoh ke dalam sakunya untuk menarik keluar sebuah kotak dari emas yang terus dibuka tutupnya dan di dalamnya terlihat dua ekor laba-laba yang tubuhnya berkotak-kotak. Punggung laba-laba itu bertitik-titik belang, bertotolan seperti bunga sulaman. Yang paling aneh, biasanya laba-laba berkaki delapan maka kedua binatang ini masing-masing berkaki dua belas. Bu Kie terkejut. Mendadak dia ingat Tok-kang, Kitab Racun karangan Ong Lan Kouw. Di dalam kitab itu antaranya ada ditulis: ‘Laba-laba itu ada yang belang. Itulah yang beracun sekali. Laba-laba dengan sepuluh kaki adalah yang paling beracun tidak ada bandingan, siapa kena digigit dia tak akan ketolongan lagi’.
Tetapi ini laba-laba berkaki dua belas. Pasti lebih beracun dari pada yang kakinya sepuluh. Sebab itu di dalam kitab tersebut tidak ada disebut-sebut. Si nona tertawa melihat kawannya ketakutan.
“Kau adalah seorang ahli, tentu kau tahu kegunaan laba-laba mustika ini!” ia berkata, “Kau tunggu sebentar!”
Ia menyimpan kotaknya lantas berlari menghampiri sebuah pohon besar dan melompat naik ke atasnya. Di situ ia berdiam lama pada cabang yang tertinggi sambil memandang sekitarnya. Ia seperti sedang melihat-lihat atau mencari sesuatu. Sesudah itu ia melompat turun lagi.
“Mari kita pergi lagi barang selintasan,” katanya. “Perlahan-lahan saja kita bicara tentang laba-laba.“
Ia kembali menarik kereta saljunya. Dia berlari-lari kira-kira tujuh atau delapan li hingga tiba di sebuah lembah. Di sini dia menurunkan Bu Kie dari kereta istimewanya itu dan sebagai gantinya dia memuat beberapa buah batu besar, lalu dia kembali menarik sambil berlari-lari. Akhirnya dia berlari ke tepi jurang. Di situ dia berhenti, kemudian keretanya dilepaskan sehingga kereta itu berikut batunya terjun ke dalam jurang yang dalam sambil mengeluarkan suara berisik.
Bu Kie menjadi sangat heran dan dia mengawasi kelakuan nona itu. Ketika dia melihat ke salju, tempat yang tadi menjadi jalan mereka, ia mendapatkan dua baris tapak kereta salju itu. Dengan kecerdasannya dia lantas mengerti, maka di dalam hatinya dia berkata, “Nona ini amat cerdik. Apa bila Biat-coat Suthay menyusul kita, setibanya di sini tentu dia bakal menyangka bahwa kita jatuh mati ke dalam jurang.”
Cu-jie segera kembali. “Mari naik ke atas punggungku!” katanya kepada kawannya sesudah berjongkok di depan Bu Kie.
“Kau hendak menggendong aku?” tanya Bu Kie, “Tubuhku berat, kau bakal sangat letih.”
Nona itu mengawasi, matanya melotot. “Kalau aku letih aku pasti bisa tahu,” ujarnya.
Bu Kie terdiam. Ia lantas naik ke punggung nona itu, kedua tangannya merangkul leher si nona perlahan-lahan tanpa bertenaga. “Apakah kau takut aku akan mati tercekik jika merangkul aku keras-keras?” kata nona itu sambil tertawa. “Kau merangkul begini pelan dan kakimu menjepit dengan enteng sekali, kau membuat leherku geli saja!”
Melihat kepolosan si nona, Bu Kie yang juga polos menjadi girang. Ia lalu merangkul erat-erat dan kedua kakinya menjepit dengan keras. Tiba-tiba saja si nona bergerak melompat naik ke atas pohon. Pohon itu mengarah ke arah barat dan di sana terdapat barisan pohon lainnya. Bagaikan kera gesit dengan cepat nona itu berlompatan dari pohon yang satu ke pohon yang lain, untuk jauh meninggalkan tempat di mana mereka barusan singgah.
Bu Kie kagum bukan main. Nona itu bertubuh kecil, tetapi kuat sekali. Tubuhnya dapat dibawa berlompatan dan berlari-lari dengan ringan. Sesudah melewati sekitar delapan puluh pohon, barulah nona itu melompat turun sekarang berada di pinggir sebuah gunung. Di situ Bu Kie diturunkan dengan hati-hati.
“Di sini kita membangun gubuk kerbau!” kata nona itu tertawa, “Tempat ini amat baik!”
“Gubuk kerbau?” Bu Kie heran, “Untuk apa gubuk kerbau?”
Si nona tertawa. “Memang gubuk kerbau!” katanya. “Gubuk untuk menempatkan seekor kerbau yang besar! Bukankah kau bernama A Gu, si kerbau?”
Bu Kie tersentak, lalu dia pun tertawa. Nona itu sedang bergurau. Memang namanya A Gu yang berarti kerbau.
“Kalau begitu tak usahlah,” katanya. “Empat atau lima hari lagi kakiku sudah banyak sembuh. Aku dapat berjalan meski pun dipaksakan...”
“Hm, dipaksakan!” kata si nona tersenyum. “Kau sudah jelek tak keruan, kalau nanti kaki kerbaumu pincang, apa itu bagus dilihat?”
Habis berkata si nona kembali bekerja. Dengan cabang pohon yang berdaun dia menyapu salju di batu gunung. Mengertilah Bu Kie bahwa si nona amat memperhatikannya. Kata-kata inilah yang menjadi buktinya: ‘...kalau nanti kaki kerbaumu pincang, apa itu bagus dilihat?’ Tanpa terasa hatinya tergerak. Ia pun lantas mendengar nona itu bernyanyi perlahan, bernyanyi sambil bekerja. Tanpa banyak membuang waktu dia sudah selesai membangun gubuk yang beratap alang-alang. Gubuk itu cukup besar untuk mereka berdua bernaung di dalamnya.
Tetapi Cu-jie masih terus bekerja. Sekarang tak hentinya ia mengangkut salju. Ia menutup gubuk dari atas atap, lalu di sekitar bagian bawahnya. Di lain saat dari tempat jauh gubuk itu sudah tidak kelihatan lagi kecuali hanya sebagai gundukan salju. Kembali Bu Kie menjadi kagum. Habis bekerja Cu-jie mengeluarkan sapu tangan untuk menyusut keringat. Setelah bekerja begitu berat tubuhnya kepanasan sehingga ia mengeluarkan peluh. Namun ia tidak duduk beristirahat.
“Kau tunggu di sini!” katanya. “Aku hendak pergi mencari makanan!”
“Kau beristirahat dulu,” kata Bu Kie. “Aku belum lapar, kau boleh menunggu sebentar lagi. Sekarang kau sudah terlalu letih.”
Nona itu mengawasi. “Jika kau hendak memperlakukanku dengan baik maka kau harus sungguh-sungguh baik,” katanya. “Manis di mulut saja buat apa?” Dia lantas berlari pergi memasuki hutan.
Bu Kie terpaksa berdiam. Ia merebahkan dirinya di batu gunung yang terkurung gubuknya itu. Sekarang dia memiliki kesempatan untuk memikirkan kelakuan si nona yang polos itu, yang suaranya halus dan gerak-geriknya genit. Saking polosnya nona itu gampang marah. Mestinya gerak-gerik itu dimiliki seorang nona cantik, tetapi dia berwajah jelek sekali. Tapi ia lantas ingat kata-kata ibunya di saat hendak menghembuskan napas terakhir. Kata ibu: ‘Wanita itu makin cantik semakin pandai pula menipu orang, maka terhadap wanita cantik kau harus semakin berhati-hati menjaga diri!’.
“Cu-jie jelek, tetapi dia baik sekali,” pikirnya. “Aku mempunyai niat mengambil dia sebagai kawan hidupku, tapi dia mempunyai pacar sendiri sehingga tidak menaruh hati padaku...”
Tanpa terasa lama juga Bu Kie berpikir. Ia lantas melihat si nona kembali dengan tangan menenteng dua ekor ayam hutan. Tanpa bicara nona itu bekerja membuat api, membakar ayam sehingga tercium bau wangi yang membangkitkan selera makan.
“Mari makan!” kata si nona akhirnya. Ia memberikan satu ekor kepada kawannya.
Tanpa sungkan Bu Kie makan ayam itu. Ia pun makan dengan cepat.
“Ini masih ada,” kata si nona sambil tertawa. Ia melemparkan sisa dua potong kaki ayam.
Bu Kie malu hati. Dia hendak menolak, tetapi si nona menjadi marah. “Kalau mau makan, makanlah!” katanya ketus. “Siapa yang berpura-pura baik terhadapku, lain di mulut lain di hati, nanti aku tikam tubuhnya hingga berlubang!”
Tanpa banyak bicara Bu Kie menyantap paha ayam itu. Kemudian, untuk mencuci mulut dia menggunakan salju tebal sebagai air dan lengan tangan bajunya lalu menyusut kering mulutnya berikut mukanya. Pada saat itu kebetulan Cu-jie sedang berpaling. Ketika melihat muka orang, dia tersentak kemudian mengawasi. Bu Kie merasa heran sekaligus curiga.
“Kenapa?” dia bertanya.
“Berapa usiamu?” tanya si nona tanpa menjawab.
“Baru dua puluh tahun tepat.”
“Ah, kau hanya lebih tua dua tahun dari pada aku. Tapi mengapa kumismu sudah tumbuh begitu panjang?”
Bu Kie tertawa. “Sejak kecil aku hidup sendirian di gunung,” sahutnya. “Aku tidak pernah bertemu dengan orang, karena itu aku tidak berpikir untuk mencukurnya.”
Cu-jie merogoh sakunya untuk mengeluarkan sebilah pisau kecil yang bergagang emas.
“Mari!” katanya. Sambil memegangi muka orang dia lantas mulai mencukur.
Bu Kie diam saja. Ia merasa pisau yang tajam itu mencukur kumisnya. Ia merasakan juga tangan yang halus dan lemas dari si nona. Tanpa terasa hatinya menjadi dag-dig-dug... Sesudah mencukur kumis dan janggut, Cu-jie terus mencukur tenggorokan. Tiba-tiba saja dia tertawa dan berkata,
“Asal aku menggunakan sedikit saja tenaga, aku bisa memotong lehermu ini, maka terbanglah jiwamu! Kau takut tidak?”
“Mati atau hidup, aku terserah kepadamu, nona,” sahut Bu Kie. “Kalau mati di tanganmu, menjadi setan pun aku senang!”
Cu-jie membalik pisaunya dan menekan keras ke leher. Mendadak dia membentak, “Nih, jadilah kau setan yang senang!”
Bu Kie kaget, ia tak sempat melawan. Tetapi ia tak merasakan sakit, maka ia tersenyum.
“Senangkah kau?” tanya si nona tertawa.
Pemuda itu tertawa, ia mengangguk. Baru ia tahu sudah dipermainkan. Habis mencukuri muka orang, Cu-jie mengawasi. Untuk beberapa lama ia hanya bengong saja, lalu terdengar helaan napasnya.
“Ehh, kau kenapa?” tanya Bu Kie heran.
Nona itu tidak menyahut. Dia lantas memotong rambut orang untuk dibikin sedikit pendek, setelah itu dia membuat konde. Sebagai tusuk kondenya dia meraut cabang pohon. Walau pun pakaiannya butut, setelah dirias begitu Bu Kie tampak cakap dan gagah. Lagi-lagi si nona menghela napas.
“Gu-koko,” katanya perlahan dan kagum. “Aku tidak menyangka sebenarnya kau berwajah begini tampan...” Nona itu tentu menyesali wajahnya sendiri, maka Bu Kie cepat menyahut,
“Di dunia ini, dalam sesuatu yang bagus suka mengeram sesuatu yang jelek. Burung merak begitu indah bulunya, tapi nyalinya beracun. Jengger burung bu-yan merah pun bagus sekali, tapi racunnya bukan main. Demikian pula binatang lainnya. Misalnya ular, bagus dilihat namun jahatnya berlebihan. Wajah tampan apa faedahnya? Yang penting hatinya baik.”
Mendengar itu si nona tertawa dingin. “Hati baik apa faedahnya?” tanyanya. “Coba kau jelaskan!”
Ditanya begitu, Thio Bu Kie tidak segera dapat menjawab. Dia tersentak sejenak. “Siapa berhati baik, dia tidak dapat melukai orang,” katanya kemudian.
“Tidak mencelakai orang apakah kebaikannya?” tanya Cu-jie.
“Kalau kau tidak membunuh orang maka hatimu menjadi tenang,” Bu Kie menjelaskan.
“Jika aku tidak mencelakai orang maka hatiku justru tidak tenang,” kata si nona. “Jika aku mencelakai orang hingga hebatnya bukan kepalang barulah hatiku tenang dan girang.”
Bu Kie menggelengkan kepala. “Itu artinya kau merampas peri keadilan!” katanya.
Si nona tertawa dingin. “Kalau bukan untuk mencelakai orang, lalu apa gunanya aku belajar ilmu Cian-cu Ciat-hu-ciu?” katanya. “Mengapa aku mesti menyiksa diri hingga menderita tak habisnya? Apa itu untuk main-main saja?”
Habis berkata dia mengeluarkan kotak kemalanya, membuka tutupnya dan memasukkan kedua telunjuknya ke dalam kotak tersebut. Sepasang laba-laba belang di dalam kotak bergerak perlahan-lahan, lalu mereka menggigit kedua telunjuk itu. Si nona menarik napas dalam-dalam, kedua lengannya gemetar tanda bahwa ia mengerahkan tenaga dalamnya melawan isapan laba-laba itu. Kalau si laba-laba mengisap darah si nona, maka si nona menyedot racun kedua binatang itu agar masuk ke dalam darahnya.
Bu Kie terus mengawasi. Dia melihat wajah si nona bersungguh-sungguh dan pada kedua pelipisnya muncul warna hitam. Nona itu lantas menggertak gigi, tanda bahwa dia menahan sakit. Sejenak kemudian dari hidungnya keluar keringat menetes.
Sekian lama Cu-jie melatih ilmu itu. Setelah kedua laba-laba itu puas mengisap darahnya, keduanya lantas melepaskan gigitannya dan merebahkan diri untuk terus tidur pulas. Cahaya hitam pada pelipis Cu-jie lenyap dengan cepat, kulitnya menjadi segar kembali. Ia menghela napas.
Bu Kie merasakan hawa napas itu berbau harum, hanya bedanya dia merasa kepalanya pusing mau pingsan. Tanda bahwa hawa itu beracun hebat. Cu-jie yang tadinya meram kini membuka kedua matanya. Dia tersenyum.
“Sampai bagaimana latihan itu baru sempurna?” tanya Bu Kie.
“Setiap laba-laba ini,” sahut si nona, “tubuhnya dari belang mesti menjadi hitam, dari hitam menjadi putih. Dengan begitu habislah racunnya lantas mati dengan sendirinya. Racunnya masuk dalam telunjukku. Untuk menjadi sempurna aku mesti menghabiskan seribu laba-laba. Untuk mencapai puncak kesempurnaan, walau pun sudah menghabiskan lima ribu sampai selaksa ekor masih belum cukup.”
Bu Kie menjadi heran, hatinya merasa jeri. “Dari mana didapatkan begitu banyak laba-laba belang?” tanyanya.
“Di satu pihak dia mesti dipelihara supaya dia dapat beternak,” sahut Cu-jie, “Di lain pihak dia mesti dicari di tempat kehidupannya.”
Bu Kie menghela napas. “Di kolong langit terdapat banyak sekali ilmu kepandaian, mengapa mesti meyakinkan ilmu yang begitu beracun?” katanya.
Si nona tertawa dingin, “Memang amat banyak ilmu kepandaian di kolong langit ini, tetapi tak ada satu pun yang bisa melawan Ciat-hu-ciu ini,“ katanya. “Jangan kau anggap tenaga dalammu sudah mahir. Jika nanti aku telah berhasil melatih, tak akan kau dapat bertahan untuk satu tusukan saja dari telunjukku ini!”
Sambil bicara si nona menusuk batang pohon di dekatnya. Karena dia belum mahir benar dengan ilmunya, maka jarinya hanya masuk setengah dim.
“Kenapa ibumu mengajarkan ilmu ini?” tanya Bu Kie pula. Dia heran. “Apakah ibumu pun mempelajarinya juga?”
Mendengar ibunya disebut, mata Cu-jie menyorot tajam dan bengis bagaikan seekor raja hutan hendak menerkam manusia. Dia lalu berkata nyaring.
“Siapa mempelajari Cian-cu Ciat-hu-ciu ini, setelah menghabiskan delapan ratus ekor hingga tubuhnya penuh dengan racun, maka romannya akan berubah, dan sesudah seribu ekor, romannya akan bertambah jelek. Ketika ibu bertemu dengan ayahku, ia telah menghabiskan hampir lima ratus ekor. Ia kuatir ayah tidak akan menyukainya karena romannya sangat jelek, maka ia terpaksa menghentikan latihannya. Akhirnya dia menjadi wanita tanpa tenaga, tenaganya lenyap, umpama kata ia tak sanggup menyembelih seekor ayam. Benar ia menjadi cantik, tapi ia pun lantas dihina madunya serta kakakku. Ia tak dapat melawan hingga akhirnya ia membuang jiwanya. Maka... hmm! Apa gunanya paras elok? Ibuku seorang wanita yang sangat cantik dan halus, tapi ayahku menikah lagi karena tidak mendapat anak laki-laki...”
Sinar mata Bu Kie menyapu wajah nona itu. “Jadi kau... kau mempelajari ilmu...“ katanya perlahan.
“Benar!” si nona menyahut cepat. “Karena belajar ilmu ini maka romanku jadi jelek begini sehingga laki-laki tak berbudi itu tidak memperdulikan aku lagi. Jika nanti pelajaranku selesai, aku akan mencarinya. Kalau di sisinya tidak ada lain wanita, ya sudah saja...”
“Kau toh belum menikah dengannya?” tanya Bu Kie. “Bukankah di antara kalian juga tidak ada janji ikatan jodoh? Hanya...hanya...”
“Bicaralah terus terang!” kata si nona. “Takut apa? Bukankah kau hendak berkata bahwa aku mencintai dia sepihak saja? Apa salahnya itu? Aku telah mencintai dia, maka aku melarang dia mempunyai pacar lain! Dia tak berbudi, biarlah nanti dia merasakan telunjukku ini, telunjuk Cian-cu Ciat-hu-ciu!”
Bu Kie tersenyum. Dia tak mau beradu omong lagi. Dalam hatinya dia merasa bahwa Cu-jie bertabiat luar biasa sekali. Jika baik dia sangat baik, tapi selagi marah dia sangat galak dan tidak mengenal aturan. Ia jadi teringat akan kata-kata guru besarnya, paman gurunya yang pertama dan ke dua, bahwa di rimba persilatan ada perbedaan antara yang sesat dan yang lurus, maka ia percaya Cian-cu Ciat-hu-ciu adalah pelajaran sesat, bahwa ibunya Cu-jie mungkin seorang sebangsa siluman. Karena ini tanpa terasa ia menjadi rada jeri terhadap si nona...
Cu-jie tidak tahu apa yang dipikirkan Bu Kie. Dia berlari-lari keluar dan ke dalam, mondar mandir, memetik berbagai macam bunga. Maka di lain saat gubuk mereka telah terpajang rapih, menarik hati untuk dipandang.
“Cu-jie,” kata Bu Kie, “Sesudah sakit kakiku sembuh, nanti aku akan pergi mencari daun obat-obatan untuk mengobati bengkak mukamu yang beracun itu...”
Mendengar itu si nona tampak ketakutan. “Tidak, tidak!” katanya. “Setelah menyiksa diri sekian lama barulah kuperoleh kepandaian seperti ini! Apakah kau hendak memusnahkan kepandaianku?”
“Bukan begitu!” katanya cepat. “Mungkin kita dapat memikirkan semacam obat. Dengan memakai obat itu kepandaianmu tak usah lenyap, tapi racun di muka saja yang hilang tak berbekas.”
“Tidak bisa!” si nona berkata lagi. “Kalau ada semacam obat atau cara, mustahil ibuku tak tahu! Kepandaian ini adalah kepandaian turunan. Kupikir, yang bisa berbuat itu mungkin hanya Tiap-kok Ie-sian Ouw Ceng Gu yang ilmu pengobatannya amat lihay, tapi sayang beberapa tahun yang lalu dia telah meninggal dunia.”
“Kau kenal Ouw Ceng Gu?” tanya Bu Kie.
Cu-jie mementang matanya, ia nampak heran. “Apa?” katanya. “Apakah aneh jika tahu tentang dia? Nama Tiap-kok Ie-sian toh memenuhi seluruh negara! Siapakah yang tidak tahu?” Dia menghela napas lalu berkata lagi. “Taruh kata dia masih hidup, tapi apakah gunanya itu? Dialah yang dijuluki ‘Melihat kematian tak mau menolong’!”
Bu Kie tidak berkata apa-apa, akan tetapi di dalam hatinya ia berkata “Nona ini amat baik padaku, aku mesti membalas kebaikannya. Dia tidak tahu semua kepandaian Tiap-kok Ie-sian telah diwariskan kepadaku. Baiklah, sekarang aku tidak usah bilang apa-apa padanya, hanya di belakang hari nanti akan aku upayakan untuk mengobati mukanya ini supaya dia kaget dan girang!” Sementara itu langit sudah gelap, keduanya lantas rebah bersandar di batu gunung untuk tidur. Bu Kie dapat pulas, tetapi pada tengah malam dia terbangun dengan tiba-tiba karena telinganya mendengar suara isak tertahan. Ketika dia membuka mata, kawannya sedang menangis sedih. Dia mengulur tangan meraba pundak nona itu, menepuk dua kali.
“Jangan nangis, Cu-jie,” dia menghibur. “Jangan bersusah hati...”
Akan tetapi justru karena ditegur, Cu-jie tidak mampu menahan kedukaannya lagi. Dengan menyenderkan kepala di pundak orang dia menangis meng-gerung-gerung.
“Kau kenapa Cu-jie?” tanya Bu Kie perlahan. “Ada apa? Apakah kau teringat pada ibumu? Benarkah?”
Cu-jie menggangguk perlahan. “Ibu sudah menutup mata,“ katanya. “Aku jadi sebatang kara. Siapapun tidak menyukai aku... siapapun tidak mau berlaku baik padaku...”
Bu Kie menggunakan tangan bajunya untuk menyeka air mata nona ini.
“Aku menyukai kau, aku dapat berlaku baik padamu,” sahut Cu-jie. “Orang yang kucintai tidak pedulikan aku, dia memukul aku, dia pun menggigit aku...”
“Lupakan laki-laki tidak berbudi itu,” kata Bu Kie. “Aku akan menikah dengan kau, seumur hidupku nanti aku akan memperlakukan kau dengan baik.”
“Tidak! Tidak bisa!” Cu-jie berseru. “Aku tak dapat melupakan dia! Kalau satu kali lagi kau menganjurkan aku melupakan dia, untuk selamanya aku tidak akan peduli lagi padamu!”
Bu Kie heran, malu dan jengah. Syukurlah cuaca amat gelap, jika tidak maka akan terlihat mukanya yang merah. Keduanya berdiam.
“A Gu-koko, apakah kau marah padaku?” nona itu kemudian bertanya.
“Aku tidak marah, aku hanya menyesalkan diriku sendiri,“ jawabnya. “Tidak selayaknya aku bicara seperti barusan kepadamu.”
“Tidak, tidak begitu. Kau bilang kau suka menikah denganku, seumur hidupmu kau hendak memperlakukan aku dengan baik. Aku senang mendengar kata-katamu itu. Coba kau ulangi sekali lagi.”
Tapi Bu Kie menjadi tidak senang. “Kau tidak dapat melupakan orang itu, perlu apa aku bicara lagi?” katanya.
Cu-jie mencekal tangan Bu Kie, lalu berkata dengan suara lemah lembut. “A Gu-koko, kau jangan marah. Aku mengaku bersalah. Jika kau benar-benar menikah denganku, aku bisa membutakan kedua matamu, bahkan mungkin juga aku akan mengambil jiwamu.”
Bu Kie kaget. “Apa katamu?” dia menegas.
“Sesudah kedua matamu buta maka kau tidak akan bisa lagi melihat romanku yang jelek,” katanya perlahan “Kau tak akan bisa lagi memandang wajah nona Ciu dari Go-bi-pay yang cantik manis. Andai kata sesudah buta kau masih juga belum dapat melupakan dia, maka aku akan membinasakan kau kemudian mengambil jiwa sendiri.“
Dia memberi jawaban yang hebat itu dengan suara tenang-tenang saja seolah apa yang dikatakannya adalah hal yang wajar. Waktu mendengar ‘nona Ciu dari Go-bi-pay’, jantung Bu Kie memukul lebih keras. Baru saja Cu-jie selesai bicara, mendadak di kejauhan terdengar suara seorang tua.
“Nona Ciu dari Go-bi-pay mempunyai hubungan apa dengan kalian berdua?”
Cu-jie melompat bangun. “Biat-coat Suthay!” bisiknya.
Biar pun dia hanya berbisik tetapi perkataannya sudah didengar oleh orang itu yang lantas saja menjawab.
“Benar, ini Biat-coat Suthay.”
Waktu orang itu bicara yang pertama kali, dia masih berada jauh, tapi waktu bicara ke dua kali, dia sudah berada di samping gubuk. Cu-jie mengenal bahaya. Sebenarnya dia ingin kabur dengan mendukung Bu Kie, namun sudah tidak keburu lagi. Sesaat kemudian orang itu membentak dengan suara dingin.
“Ayo keluar! Apa kalian mau bersembunyi seumur hidup?”
Sambil memapah dan memegang tangan Bu Kie, Cu-jie menyingkap tirai rumput di depan gubuknya kemudian bertindak keluar. Dalam jarak sekitar setombak dari gubuknya, berdiri seorang pendeta tua yang rambutnya putih dan memang bukan lain dari pada Ciang-bun-jin Go-bi-pay Biat-coat Suthay. Dari kejauhan datang dua belas orang yang lantas berdiri berjejer di kedua samping pendeta wanita itu. Mereka adalah murid-murid Go-bi-pay, empat nikouw (pendeta wanita), empat orang wanita biasa dan empat laki-laki yang berdiri di barisan belakang dan di antaranya terdapat Teng Bin Kun dan Ciu Cie Jiak.
Selama beberapa turunan, yang memegang tampuk pimpinan Go-bi-pay selalu wanita dan murid lelaki tidak pernah diberikan pelajaran ilmu silat yang paling tinggi sehingga oleh karenanya, kedudukan murid lelaki lebih rendah dari pada murid wanita. Tanpa mengeluarkan sepatah katapun, dengan sorot mata dingin Biat-coat Suthay menatap Cu-jie.
Mengingat kebinasaan Kie Siauw Hu, Bu Kie sangat berkuatir. Sambil menyandarkan diri pada punggung Cu-jie, diam-diam dia mengambil keputusan bahwa jika si pendeta wanita menyerang, walau pun mesti binasa dia akan mengadu jiwa. Beberapa saat kemudian Biat-coat menoleh ke arah Teng Bin Kun. Seraya mengeluarkan suara di hidung dia bertanya,
“Apakah budak kecil ini?”
“Benar!” jawab sang murid.
Tiba-tiba...
“Krak...! Krak...!“
Cu-jie mengeluarkan suara kesakitan, tulang kedua pergelangan tangannya patah dan dia pun rebah dalam keadaan pingsan. Bu Kie sendiri terpaku dan ternganga. Dia hanya melihat berkelebatnya bayangan warna abu-abu dan tahu-tahu Cu-jie sudah terguling. Dengan kecepatan luar biasa dia menyerang, lalu dengan kecepatan luar biasa pula dia balik ke tempatnya semula, di mana dia kembali berdiri tegak bagaikan pohon tua di tengah malam yang sunyi itu. Gerakan yang secepat itu sudah mengaburkan pandang mata Bu Kie yang terkesima dan hanya bisa mengawasi tanpa berdaya. Sesudah memperlihatkan kepandaiannya, dengan sorot mata bengis Biat-coat mengawasi Bu Kie.
“Pergi!” bentaknya.
Ciu Cie Jiak maju setindak kemudian berkata seraya membungkuk. “Suhu, dia tidak dapat berjalan, mungkin kedua tulang betisnya patah.”
“Buatlah dua buah soat-kio (semacam kereta salju tak beroda) untuk membawa mereka,” sang guru memerintah.
Murid-murid itu mengiyakan dan kecuali Teng Bin Kun yang belum sembuh dari lukanya, mereka segera melakukan apa yang diperintah. Sesudah selesai, dua orang murid wanita lalu mengangkat Cu-jie dan menaruhnya di kereta yang satu, sedang dua orang murid pria menaruh Bu Kie di kereta yang lain. Sambil menyeret kedua kereta itu, mereka mengikuti Biat-coat ke arah barat. Dengan penuh kekuatiran, Bu Kie memasang kuping untuk mendengarkan gerak gerik Cu-jie. Sesudah melalui belasan li barulah dia mendengar rintihan si nona.
“Cu-jie bagaimana keadaanmu?” tanyanya dengan suara nyaring. “Apakah kau mendapat luka dalam?”
“Dia mematahkan pergelangan tanganku, tapi aku tidak luka dalam,” jawabnya.
“Bagus,” kata Bu Kie, “Gunakan siku kiri untuk membentur lengan kananmu, tiga cun lima hun di bawah tekukan lengan. Sesudah itu pergunakan siku kananmu untuk membentur lengan kiri, tiga cun lima hun di bawah tekukan lengan. Dengan berbuat begitu maka rasa sakit akan berkurang.”
Sebelum Cu-jie menjawab, Biat-coat sudah mengeluarkan suara. “Ihh...!” dan dia mengawasi Bu Kie dengan mata mendelik. “Bocah! Rupanya kau mengerti ilmu ketabiban,“ katanya. “Siapa namamu?”
“Aku she Can, namaku A Gu,” jawab Bu Kie.
“Siapakah gurumu?” tanya pula si nenek.
“Guruku tabib kampungan,” Bu Kie menerangkan. “Biar kuberi-tahu, Suthay takkan mengenal namanya.”
Biat-coat mengeluarkan suara di hidung dan tidak mendesak lagi. Sampai fajar menyingsing barulah rombongan itu mengaso sambil makan makanan kering, Cie Jiak membawa beberapa bakpauw, lalu diberikan kepada Bu Kie serta Cu-jie. Melihat Bu Kie yang sesudah dicukur berubah menjadi pemuda tampan, diam-diam dia merasa heran dan kagum.
Sesudah mengaso kurang lebih dua jam barulah mereka meneruskan perjalanan ke arah barat. Sesudah berjalan tiga hari Bu Kie menarik kesimpulan bahwa dalam perjalanan itu rombongan Go-bi-pay punya tugas yang amat penting. Baik saat berjalan mau pun waktu mengaso semua orang tutup mulut, kecuali sangat perlu. Mereka seolah manusia gagu. Tetapi tugas apakah yang hendak ditunaikan mereka? Bu Kie tidak dapat menjawab. Selama beberapa hari tulang betis Bu Kie yang patah sudah bersambung lagi seperti sedia kala sehingga sebenarnya dia sudah dapat berjalan lagi. Tapi dia sendiri tidak memperlihatkan kesembuhannya, malah dia sering merintih untuk mengelabui Biat-coat. Dia tengah menunggu kesempatan baik untuk kabur bersama Cu-jie. Kesempatan itu belum datang karena mereka masih berjalan di tanah datar sehingga sebelum kabur jauh dia tentu sudah dibekuk lagi. Maka itu dia bersabar terus. Pada waktu mengaso dia mengobati luka Cu-jie dan Biat-coat pun tidak menghalanginya.
Setelah berselang dua hari lagi, suatu lohor rombongan Biat-coat tiba di gurun pasir. Selagi enak berjalan, terdengar suara derap kuda mendekat dari sebelah barat. Biat-coat cepat-cepat memberi perintah dengan gerakan tangan dan semua murid segera menyembunyikan diri di belakang bukit pasir. Dua di antaranya menghunus pedang pendek dan mengarahkan ujungnya ke arah punggung Bu Kie dan Cu-jie. Sudah jelas mereka hendak menyerang musuh dan kalau dua tawanan itu berani berteriak maka kedua pedang pendek itu pasti digunakan.
Tak lama kemudian kuda-kuda itu mendekat. Begitu melihat tapak-tapak kaki, para penunggang kuda segera menahan tunggangannya. Tiba-tiba Ceng-she Suthay mengangkat hud-tim (kebutan yang dapat digunakan sebagai senjata), maka dengan serentak sebelas murid Go-bi-pay melompat keluar dari belakang bukit pasir. Bu Kie mengawasi dan melihat empat penunggang kuda yang kesemuanya mengenakan jubah warna putih. Sambil membentak keras mencabut senjata dan pertempuran lantas terjadi.
“Semua siluman dari Mo-kauw satu pun tak boleh dikasih lolos!” teriak Ceng-she.
Walau pun dikepung musuh yang berjumlah lebih besar tetapi keempat orang itu melawan dengan gagahnya. Tetapi kedua belas murid Go-bi-pay yang kali ini mengikut Biat-coat ke See-hek adalah murid pilihan. Baru bertempur tujuh delapan jurus, tiga anggota Mo-kauw sudah roboh dari tunggangannya, sedangkan yang keempat coba melarikan diri sesudah melukai seorang murid Go-bi. Namun baru saja kabur beberapa tombak, dia kena dicandak Ceng-hian.
“Turun kau!” bentak si nikouw seraya mengebut betis kiri orang itu dengan hudtim-nya.
Ia menangkis dengan goloknya. Bagaikan kilat Ceng-hian mengubah pukulannya dan mengebut kepala musuh. Pukulan yang hebat itu hampir tepat pada sasarannya sehingga orang itu lantas terguling dari kudanya. Tapi orang itu alot dan nekat. Dalam keadaan luka berat dia masih bisa balas menyerang dengan tujuan untuk mati bersama musuhnya. Sambil mementang kedua tangannya dia menubruk. Untung saja Ceng-hian keburu berkelit dan mengebut dadanya. Pada saat itulah tiga ekor merpati putih terbang dari sangkarnya yang tergantung di leher kuda.
“Jangan main gila!” bentak Ceng-hian seraya mengibas lengan jubahnya dan tiga butir thie-lian-ciu (biji teratai besi) menyambar ke arah tiga burung itu. Dua di antaranya jatuh, tapi yang satu dapat terbang terus karena si jubah putih berhasil memukul sebutir thie-lian-ciu dengan busur besinya. Semua murid Go-bi langsung menimpuk dengan senjata rahasia mereka, namun burung itu sudah terbang jauh.
Ceng-hie mengibas tangan kirinya dan empat murid lelaki lalu menyeret keempat musuh yang roboh itu, tapi kemudian berdiri tegak di hadapan kakak seperguruannya. Selama pertempuran Biat-coat hanya mengawasi sebagai penonton. Dia pun tak bergerak ketika murid-muridnya menimpuk burung dengan senjata rahasia.
“Terhadap Cu-jie dia turun tangan sendiri, suatu tanda bahwa dia memandang tinggi pada Cu-jie,” kata Bu Kie dalam hatinya. “Mungkin sekali karena patahnya tulang pergelangan tangan Teng Bin Kun. Kalau mau, dengan mudah dia dapat membinasakan merpati yang ketiga. Lalu mengapa dia diam saja?”
Padahal waktu itu Ceng-hie, Ceng-hian dan murid utama lainnya sudah mendapat nama besar di rimba persilatan. Satu orang saja cukup untuk menghadapi gelombang besar. Maka itu Biat-coat tidak perlu turun tangan sendiri dalam menghadapi beberapa murid Mo-kauw. Bahwa Ceng-hie dan Ceng-hien sudah turun ke dalam gelanggang, pada hakekatnya berarti memandang tinggi beberapa musuh itu. Sementara itu salah seorang murid wanita sudah menjemput dua bangkai merpati itu lalu mencopot sebuah bumbung kecil yang melekat pada kaki seekor burung. Ia mengeluarkan segulung kertas dari bumbung dan menyerahkannya kepada Ceng-hie yang lalu membuka dan membacanya.
“Suhu,” kata Ceng-hie. “Mo-kauw sudah tahu rencana untuk mengepung dan membasmi Kong-beng-teng. Surat ini adalah untuk meminta bantuan dari Peh-bie-kauw.”
Sesudah berkata begitu dia lantas membaca surat yang satunya lagi. “Isinya sama juga,” katanya. “Sungguh sayang yang seekor dapat meloloskan diri.”
“Sayang apa?” kata sang guru dengan suara dingin. “Semakin banyak mereka berkumpul semakin baik lagi. Tak usah berabe mencari mereka di berbagai tempat.”
Bu Kie terkejut mendengar disebutkannya nama ‘Peh-bie-kauw’. “Kauwcu Peh-bie-kauw adalah kakek luarku,“ pikirnya. “Hm! Nenek bangkotan itu sungguh sombong, belum tentu dia dapat melawan Gwa-kong.”
Semula Bu Kie menunggu kesempatan untuk kabur bersama Cu-jie. Tetapi sekarang dia membatalkan niatnya sebab ingin menyaksikan keramaian yang bakal terjadi.
“Siapa lagi yang kalian undang?” Ceng-hie bertanya kepada keempat tawanannya dengan suara bengis. “Mengapa kalian tahu bahwa enam partai akan membasmi Mo-kauw?”
Keempat orang itu tertawa terbahak dengan muka menyeramkan. Sehabis tertawa mereka roboh serentak dan tidak berkutik lagi. Semua murid Go-bi terkejut, dua di antaranya membungkuk untuk menyelidiki.
“Suci!” teriak mereka. “Semua sudah mati!”
Sambil mengawasi muka empat mayat itu Ceng-hian berkata dengan nada marah. “Mereka makan racun. Racun itu sangat hebat.”
“Geledah badannya!” Ceng-hie memerintah.
Empat murid lelaki segera membungkuk dan menggerakkan tangan merogoh saku mayat.
“Hati-hati!” kata Ciu Cie Jiak. “Di dalam saku mungkin tersembunyi racun.”
Keempat laki-laki itu terkejut. Mereka segera merobek saku mayat-mayat dengan menggunakan golok dan benar saja, di setiap saku terdapat seekor ular kecil yang amat beracun. Tanpa peringatan nona Ciu tentu mereka sudah binasa.
“Hari ini untuk pertama kali kalian berurusan dengan orang-orang agama siluman,” kata Biat-coat dengan suara dingin. “Mereka berempat hanyalah orang-orang yang tidak ternama, tetapi sudah begitu beracun. Jika bertemu dengan jago-jago Mo-kauw, apakah kalian masih bisa pulang ke Go-bi dengan masih bernapas?” dia mengeluarkan suara di hidung dan berkata pula, “Ceng-hie kau sudah cukup tua, tetapi kau masih tetap sembrono. Kau masih kalah dari Cie Jiak.”
Paras muka murid itu berubah merah dan dia membungkuk untuk menerima teguran sang guru. Malam itu mereka bermalam di gurun pasir dengan menyalakan sebuah api unggun yang cukup besar. Dengan bergiliran mereka membuat penjagaan, karena mereka tahu bahwa daerah itu adalah tempat keluar masuknya orang Mo-kauw.
Kira-kira tengah malam dari kejauhan terdengar keleneng unta yang mendatangi ke arah mereka. Semua orang tersadar dan segera bersiap sedia. Suara keleneng itu semula datang dari arah barat daya, tapi sesaat kemudian suaranya berpindah ke barat laut, beberapa saat kemudian muncul di sebelah timur laut. Semua murid Go-bi heran tak kepalang. Bagaimana bisa begitu? Biar bagaimana pun juga seekor unta tak akan bisa berlari secepat itu, sebentar ke barat, sebentar ke timur dan sebagainya. Suara keleneng makin nyaring, tanda unta itu sudah dekat. Mendadak suara itu terdengar gencar sekali, seperti juga binatang itu kabur dengan kecepatan luar biasa. Orang-orang Go-bi yang baru sekali ini menjelajah lautan pasir menjadi bingung dan kuatir.
“Sahabat! Perlihatkan dirimu!” teriak Biat-coat. “Permainan gilamu bukan perbuatan orang berilmu.“
Suara yang disertai Iweekang itu menempuh jarak beberapa li dan benar saja, sesudah si nenek berteriak maka suara keleneng tidak terdengar lagi. Sampai pagi tidak terjadi sesuatu yang luar biasa. Malamnya sekitar tengah malam, suara keleneng terdengar lagi, sebentar jauh sebentar dekat, sebentar di sana, sebentar di sini. Biat-coat berteriak lagi. Kali ini teriakannya tidak mempan lagi. Suara keleneng tidak menghiraukannya. Selang beberapa lama, sesudah puas mengganggu suara itu tiba-tiba saja menghilang.
Bu Kie dan Cu-jie saling mengawasi sambil tersenyum. Biar pun tidak dapat memecahkan keanehan suara itu, mereka tahu bahwa semua itu adalah perbuatan orang pentolan Mo-kauw. Melihat orang-orang Go-bi menjadi kebingungan sangat menyenangkan hati mereka.
Dengan rasa mendongkol Biat-coat merebahkan diri untuk mengaso. Tak lama kemudian suara keleneng terdengar lagi, namun orang-orang Go-bi tidak memperdulikannya. Selang beberapa lama suara itu menuju ke utara lantas menghilang. Si unta rupanya tahu bahwa gangguannya tidak digubris lagi.
Pada keesokan paginya semua orang berkemas untuk berangkat. Sekonyong-konyong Bu Kie dan Cu-jie mengeluarkan suara tertahan karena di dekat mereka nampak berbaring satu orang tak dikenal yang sedang menggeros. Tubuh orang itu dari kepala sampai ke kakinya tertutup selimut seolah-olah sesosok mayat.
Semua murid Go-bi terkesiap. Guru mereka memiliki kepandaian yang amat tinggi. Setiap desiran angin, bahkan jatuhnya selembar daun, tak akan lolos dari pendengarannya. Mana bisa seorang manusia menyatroni tanpa diketahui? Di lain saat dua murid Go-bi sudah menghunus pedang dan mendekati orang itu.
“Siapa kau?!” bentaknya.
Tetapi orang itu terus saja mendengkur. Dengan ujung pedang, salah seorang menyontek selimut dan nampaklah yang sedang tidur pulas ternyata seorang pria yang mengenakan jubah panjang. Ceng-hie maklum bahwa orang yang mempunyai nyali begitu besar tentulah bukan orang sembarangan. Dia maju setindak kemudian bertanya,
“Siapa tuan? Perlu apa tuan datang ke sini?”
Tapi pria itu tetap tidak mempedulikan bahkan suara dengkurnya semakin keras. Melihat lagak orang itu yang dianggap amat kurang ajar, darah Ceng-hian lantas naik. Dengan marah dia mengangkat hudtim lalu menghantam pinggangnya.
“Wirrrrr...!”
Semua orang terkesiap dan mendongak ke atas. Apa yang terjadi? Entah bagaimana hudtim Ceng-hian Suthay tahu-tahu terbang ke atas, terbang lurus sampai tingginya belasan tombak. Tiba-tiba terdengar teriakan Biat-coat.
“Ceng-hian, awas!”
Hampir berbarengan dengan teriakan itu, tubuh si jubah panjang melesat beberapa tombak jauhnya dan sungguh hebat, Ceng-hian sudah tertawan! Sambil mendukung tawanannya, lelaki itu lari bagaikan terbang. Ceng-hie beserta seorang saudari seperguruannya yang bernama Souw Bong Ceng cepat menghunus senjata dan segera mengejar. Namun gerakan orang itu cepat luar biasa dan dalam sekejap sudah lari jauh. Seraya mengeluarkan siulan yang sangat nyaring Biat-coat turut mengejar sambil menggenggam Ie-thian-kiam. Kepandaian Ciang-bun-jin dari Go-bi-pay tentu saja lain dari pada yang lain. Hanya dalam beberapa saat saja Biat-coat sudah melewati kedua muridnya dan di lain detik sinar hijau dari Ie-thian-kiam menyambar punggung si jubah panjang.
Akan tetapi orang itu mempunyai kegesitan yang menakjubkan. Bagaikan kilat dia mampu menyelamatkan diri dari tikaman yang dahsyat itu. Biar pun sedang mendukung Ceng-hian tetapi kecepatan lari si jubah panjang ternyata tak kalah dari pengejarnya. Bukan itu saja, bahkan dia seakan seperti ingin memperlihatkan kepandaiannya karena sebaliknya dari pada kabur terus, dia lari berputaran, memutari murid-murid Go-bi-pay yang menonton dengan mulut ternganga. Beberapa kali Biat-coat menikam, tapi tikamannya s
elalu jatuh di tempat kosong. Sesudah main kejar-kejaran barulah hudtim Ceng-hian jatuh ke tanah.
Saat itu Ceng-hie dan Souw Bong Ceng berhenti mengejar dan bersama saudari saudara seperguruannya, mereka mengawasi kejar-kajaran itu sambil menahan napas. Kedua tokoh itu berlari bagaikan terbang menggunakan ilmu ringan badan. Betapa tinggi ilmu mereka dapatlah dibayangkan dengan melihat kenyataan bahwa debu dan pasir yang tidak beterbangan akibat injakan kaki mereka. Dengan hati berdebar murid-murid Go-bi mengawasi Ceng-hian yang dibawa lari tanpa berkutik. Semua orang tahu bahwa kakak seperguruannya mempunyai kepandaian tinggi dan sudah mewarisi sebagian besar ilmu guru mereka. Cara bagaimana ia bisa dibekuk begitu mudah dan sudah ditawan hingga sedikit pun tak berdaya?
Sebenarnya mereka ingin sekali mencegat musuh yang sedang dikejar itu. Tetapi mereka tak berani karena kuatir dimarahi sang guru, sebab bantuan tersebut berarti akan memerosotkan nama besar Biat-coat Suthay. Karena itulah mereka hanya menonton dengan mata terbelalak. Dalam sekejap si jubah panjang dan Biat-coat sudah membuat tiga putaran.
Sungguh pun si nenek telah mengeluarkan seluruh kepandaiannya namun dia tetap tidak dapat menyusul musuh. Jarak antara mereka tidak berubah, Biat-coat masih ketinggalan beberapa kaki di belakang si jubah panjang. Dengan mengingat bahwa orang itu berlarian sambil mendukung Ceng-hian yang beratnya kira-kira seratus kati, maka dapatlah ditarik kesimpulan bahwa dalam ilmu ringan badan dia masih lebih unggul satu tingkat dari pada si nenek tua.
Setelah menonton beberapa lama, Bu Kie menarik ujung baju Cu-jie seraya berbisik, “Mari kita kabur.”
“Tidak, keramaian ini harus ditonton sampai habis,” jawab si nona.
Pada waktu mereka lari pada putaran keempat, orang itu tiba-tiba memutar badan lantas melemparkan Ceng-hian ke arah gurunya. Karena merasa ada sambaran angin yang amat dahsyat, cepat Biat-coat menghentikan tindakannya kemudian mengerahkan tenaga Cian-kin (Tenaga seribu kati). Sambil mengerahkan Iweekang kemudian dia menyambut tubuh muridnya. Orang itu tertawa terbahak.
“Enam partai besar mau mengepung dan membasmi Kong-beng-teng!” katanya. “Ha-ha-ha...! Mungkin tak begitu gampang!” Sehabis berkata begitu dia lari ke jurusan utara.
Waktu kejar-kejaran tadi debu dan pasir sama sekali tidak bergerak. Namun sekarang, di jalan yang dilaluinya tampak pasir kuning mengepul ke atas seolah seekor naga kuning yang menutupi bayangannya. Seluruh murid Go-bi segera menghampiri dan berdiri di sekitar guru mereka. Paras muka Biat-coat merah padam. Tanpa mengeluarkan satu patah kata pun dia berdiri tegak sambil mendukung Ceng-hian.
“Ceng-hian Suci...!“ mendadak Souw Bong Ceng berseru.
Ternyata Ceng-hian sudah tak bernyawa lagi, mukanya kuning dan pada tenggorokannya terdapat luka. Semua murid wanita lantas menangis.
“Kenapa menangis?!” bentak sang guru. “Kubur dia!”
Semua orang segera berhenti menangis kemudian mengubur jenasah Ceng-hian. Setelah penguburan selesai, sambil membungkuk Ceng-hie bertanya,
“Suhu, siapakah manusia siluman itu? Kami harus mengenal dia untuk membalas sakit hati Ceng-hian Sumoay.”
“Kalau tak salah dia adalah Ceng-ek Hok-ong (Raja kelelawar bersayap hijau), salah seorang raja (Ong) dari Mo-kauw,” jawabnya dengan suara dingin. “Sudah lama kudengar bahwa ilmu ringan badan orang itu tiada bandingannya di dunia. Nama besarnya ternyata bukan omong kosong. Kepandaiannya lebih tinggi dari pada aku.“
Sejak menyaksikan kekejaman Biat-coat Suthay, Bu Kie sangat membenci nikouw tua ini. Tetapi sekarang dia merasa kagum dan harus mengakui bahwa dia masih kalah jauh dari si nenek. Dalam menghadapi kecelakaan nenek itu masih dapat berlaku begitu tenang dan masih bisa memuji kepandaian musuhnya. Sikap itu adalah sesuai dengan kedudukannya sebagai pemimpin tertinggi sebuah partai persilatan besar.
“Hm...! Dia sama sekali tidak berani mengadu tangan dengan Suhu dan terus lari ngiprit,” kata Teng Bin Kun dengan suara marah yang dibuat-buat. “Enghiong (orang gagah) macam apa dia?”
Sang guru mengeluarkan suara di hidung. Tiba-tiba tangannya melayang dan menggaplok mulut perempuan she Teng itu.
“Aku tidak dapat menyusul dia dan tidak dapat menolong jiwa Ceng-hian,” kata Biat-coat. “Jadi dialah yang menang. Siapa menang siapa kalah semua orang tahu. Nama enghiong diberikan orang lain. Apakah kita bisa memberi julukan Enghiong kepada diri sendiri?”
Selebar muka Teng Bun kemerah-merahan saking malunya. Dia lalu membungkuk seraya berkata,
“Murid salah, murid sudah tahu kesalahan sendiri.”
“Suhu, siapa itu Ceng-ek Hok-ong?” tanya Ceng-hie. “Bolehkah Suhu memberi penjelasan kepada kami?”
Biat-coat tak menjawab. Ia mengibaskan tangannya sebagai perintah agar rombongannya meneruskan perjalanan. Sesudah toa-suci mereka membentur tembok, murid-murid yang lain tentu saja tak berani banyak bicara. Mereka segera berjalan dengan hati duka. Malam itu mereka menginap di samping sebuah bukit pasir dan membuat sebuah perapian yang besar. Bagaikan patung Biat-coat memandang api yang berkobar-kobar. Bu Kie mengerti bahwa nenek itu bersusah hati.
Go-bi-pay adalah sebuah partai persilatan yang namanya tersohor di kolong langit. Kali ini dengan membawa jago-jago partai tersebut Biat-coat menjelajahi wilayah barat (See-hek). Tapi sebelum bertempur, seorang muridnya yang berkepandaian tinggi sudah mesti mengorbankan jiwa. Bukankah kejadian itu menyedihkan dan memalukan? Melihat guru mereka belum tidur, semua murid juga tak berani tidur. Kurang lebih satu jam mereka duduk tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Tiba-tiba Biat-coat mendorong dengan kedua tangannya dan...
“Bettt...!“ api yang berkobar-kobar itu padam.
Bu Kie terkejut. “Tenaga dalam Lo-ni itu sungguh hebat,” pikirnya.
Sekarang mereka berada dalam kegelapan, tapi tak satu pun berani bergerak. Gurun pasir itu sunyi bagaikan kuburan, sedangkan sinar rembulan yang remang-remang memberikan pemandangan yang mendukakan hati. Melihat keadaan begitu dalam hati Bu Kie muncul rasa kasihan.
“Apakah nama Go-bi-pay akan hancur di wilayah barat?” dia bertanya dalam hati. “Apakah rombongan jago-jago ini akan terbasmi musnah semua?”
Tiba-tiba Biat-coat membentak, “Padamlah api siluman! Musnahlah api iblis!” Setelah berdiam sejenak dia berkata lagi dengan suara perlahan, “Mo-kauw (agama iblis) memandang api sebagai nabi dan memuja api sebagai malaikat. Sesudah Yo Po Thian, Beng-cun Kauwcu atau pemimpin agama meninggal dunia, Mo-kauw tidak mempunyai Kauwcu lagi. Kedua Kong-beng Sucia, keempat Hu-kauw Hoat-ong serta kelima Ciang-kiesu yaitu Kin, Bok, Sui, Hwee dan Touw semuanya ingin merebut kedudukan pemimpin sehingga mereka jadi bermusuhan dan saling membunuh. Karena adanya kejadian itu maka Mo-kauw menjadi lemah. Mungkin memang sudah ditakdirkan bahwa partai yang lurus bersih akan menjadi makmur, sedangkan kaum siluman dan kaum sesat akan musnah. Jika saja di Mo-kauw tidak terjadi perpecahan, tidak begitu gampang orang bisa menggempurnya.”
Beng-cun Kauwcu (Pemimpin Agama), Kong-beng Sucia (Utusan terang benderang), Hu-kauw Hoat-ong (Raja Pelindung Agama), Ciang-kiesu (Utusan yang memegang bendera), nama-nama itu adalah pangkat-pangkat dalam Beng-kauw atau agama terang, tapi orang-orang luar menyebutnya sebagai Mo-kauw atau agama siluman. Bendera Ciang-kiesu ada lima, yaitu Kim (emas), Bok (kayu), Sui (air), Hwee (api), dan Touw (tanah).
Sejak Bu Kie tahu bahwa ibunya berasal dari kalangan Beng-kauw, sebenarnya dia ingin tahu lebih jauh mengenai perkumpulan itu. Akan tetapi ayah dan ibunya justru tidak ingin mengingat hal itu. Maka setiap kali dia menanyakan, kedua orang tuanya selalu kaget dan memperlihatkan rasa tidak senang. Ayah angkatnya pun tidak memberi keterangan. Maka itu sampai sekarang dia masih belum tahu apa sebenarnya Mo-kauw. Waktu dia ikut Thay-suhu Thio Sam Hong, orang tua itu juga sangat membenci Mo-kauw. Setiap kali nama agama itu dia sebutkan, si kakek selalu memberi nasihat dan peringatan keras bahwa dia tidak boleh dekat-dekat dengan orang Mo-kauw.
Belakangan dia bertemu dengan Ouw Ceng Gu, Ong Lan Kouw, Siang Gie Cun, Cie Tat, Cu Goan Ciang serta yang lainnya dan mereka itu adalah anggota-anggota Mo-kauw. Dia mendapat kenyataan bahwa mereka tidak jahat tapi memiliki cara yang tidak biasa. Oleh karenanya mau tidak mau dia harus menarik kesimpulan bahwa lagak lagu orang-orang itu agak aneh dan sulit dimengerti orang luar. Sekarang, demi mendengar peraturan Biat-coat semangatnya lantas bangun dan dia segera memasang kuping dengan penuh perhatian. Biat-coat meneruskan penuturannya.
“Dari satu ke lain keturunan, seorang Beng-cun Kauwcu memegang serupa benda yang merupakan semacam tanda kekuasaan. Benda itu dinamakan Seng-hwee-leng (tanda kekuasaan Api Nabi). Tapi pada waktu Kauwcu turunan ke tiga puluh satu memegang pimpinan, entah mengapa Seng-hwee-leng itu hilang. Maka itu Kauwcu-kauwcu yang belakangan sudah tidak punya tanda kekuasaan, walau pun dia masih memiliki kekuasaan sebagai pimpinan tertinggi. Yo Po Thian mati mendadak, entah diracuni entah dibunuh orang, tak seorang pun yang tahu jelas. Dalam kalangan Mo-kauw lantas saja terjadi kekalutan. Karena mati mendadak, Yo Po Thian tidak sempat menunjuk ahli warisnya. Dalam Mo-kauw terdapat banyak sekali orang pandai sehingga yang pantas menjadi Kauwcu sedikitnya ada lima atau enam orang, dan salah satu namanya Wi It Siauw bergelar Ceng-ek Hok-ong.”
Murid-murid Go-bi saling mengawasi. Nama Ceng-ek Hok-ong Wi It Siauw belum pernah didengar mereka. Setelah berdiam sejenak barulah Biat-coat berkata lagi,
“Orang ini belum pernah datang ke Tiong-goan. Sepak terjang orang-orang Mo-kauw aneh dan sembunyi-sembunyi sehingga walau pun kepandaiannya amat tinggi tetapi namanya tidak dikenal di daerah Tiong-goan. Tetapi Peh-bie Eng-ong In Tian Ceng dan Kim-mo Say-ong Cia Sun sudah kalian kenal, bukan?”
Bu Kie terkejut sedangkan Cu Ji mengeluarkan seruan tertahan. Biat-coat melirik mereka dengan sorot mata tajam.
“Suhu, apakah kedua orang itu anggota Mo-kauw?” tanya Ceng-hie dengan suara heran.
“Keempat raja (ong) dari Mo-kauw adalah Cie (ungu), Peh (putih), Kim (kuning emas) dan Ceng (hijau),” menerangkan sang guru. “Peh-bie seorang raja dan Ceng-ek pun seorang raja. Ceng-ek berkedudukan paling rendah, tetapi kepandaiannya sudah disaksikan. Maka itu betapa tinggi kepandaian Peh-bie dan Kim-mo dapatlah ditaksir-taksir. Karena merasa sakit hati Kim-mo Say-ong menjadi seperti orang gila dan melakukan perbuatan-perbuatan durhaka. Pada dua puluh tahun berselang, dengan mendadak dia membunuh orang yang tidak berdosa. Sekarang orang tidak tahu ke mana dia pergi dan menjadi sebuah teka-teki di rimba persilatan. Mengenai In Thian Ceng, sesudah gagal dalam merebut pimpinan Mo-kauw, dalam gusarnya dia mendirikan Peh-bie-kauw. Dia kena penyakit ingin menjadi pemimpin agama. Semula kita menduga bahwa sesudah meninggalkan Mo-kauw, In Thian Ceng putus hubungan dengan Kong-beng-teng. Tidak dinyana, ketika menghadapi bahaya Kong-beng-teng masih sudi meminta pertolongan Peh-bie-kauw.”
Mendengar itu Bu Kie menjadi bingung dan berduka. Dia tahu bahwa sepak terjang ayah angkatnya dan kakek luarnya aneh-aneh dan sesat sehingga mereka dibenci orang-orang dari partai lurus bersih. Tapi dia sama sekali belum pernah menduga bahwa kedua orang tua itu adalah Hu-kauw Hoat-ong dari Mo-kauw. Sementara itu Biat-coat Suthay sudah melanjutkan penuturannya.
“Menurut perhitungan, usaha enam partai untuk membasmi Kong-beng-teng pasti akan berhasil. Biar pun semua siluman bersatu padu, kita tak usah khawatir. Tapi dalam pertempuran, pihak kita tentu akan menderita kerusakan besar juga. Maka itu aku berharap supaya kalian semua mempunyai tekad yang teguh untuk berkelahi secara mati-matian. Pada saat menghadapi musuh sedikit pun kalian tidak boleh punya rasa takut sehingga dapat menurunkan keangkeran Go-bi-pay.”
Semua murid Go-bi segera bangun berdiri kemudian membungkuk sebagai tanda bahwa mereka berjanji akan memenuhi harapan sang guru.
“Tinggi rendahnya ilmu silat seseorang tergantung kepada bakatnya dan segalanya tidak dapat dipaksakan,” kata Biat-coat. “Sebab itu kalian tidak boleh mentertawakan Ceng-hian yang sebelum bertempur sudah binasa di tangan siluman itu. Apakah tujuan belajar ilmu silat? Bukankah tujuannya adalah untuk membasmi yang jahat sebaliknya menolong yang lemah? Sekarang enam buah partai besar, Siauw-lim, Bu-tong, Go-bi, Kun-lun, Khong-tong dan Hoa-san, berusaha untuk memupus Mo-kauw. Apa kita akan hidup atau mati, sudah tak dihiraukan lagi oleh Go-bi-pay. Ceng-hian berangkat paling dulu. Mungkin sekali korban kedua adalah gurumu sendiri...”
Semua murid Go-bi membungkuk. Di bawah sorotan sinar rembulan yang remang-remang muka setiap orang kelihatan pucat pasi. Biat-coat menghela napas, kemudian berkata lagi.
“Di dunia ini siapa yang bisa hidup abadi? Manusia mana yang bisa hidup terus menerus? Apa yang diharapkan ialah biarlah sesudah mati, kita masih mempunyai turunan, anak cucu kita masih hidup terus. Maka itu aku kuatir kalian semua mati dan hanya aku si tua yang hidup terus, hidup sebatang kara, hidup kesepian di dunia ini. Huh-huh...! Tetapi kalau sampai terjadi begitu, aku pun harus menerimanya dengan rela. Bukankah pada seratus tahun yang lalu di dunia tidak ada partai yang dinamakan Go-bi-pay? Asal kita berkelahi secara gagah, meski pun terbasmi habis, kita tidak usah menyesal.”
Mendengar perkataan sang guru, darah semua murid Go-bi bergolak-golak. Dengan serentak mereka menghunus senjata lalu berteriak,
“Kami bersumpah akan berkelahi mati-matian!”
Biat-coat tertawa tawar. “Bagus! Kalian mengasolah,” katanya.
Mendengar itu Bu Kie merasa kagum. Sebagian besar murid Go-bi-pay adalah wanita, tapi dalam menghadapi bahaya mereka tidak menunjukkan rasa keder sedikit pun jua.
Kalau didengar dari kata-kata Biat-coat Suthay, kekuatan Mo-kauw bukan main besarnya. Perkataan itu sebenarnya harus diucapkan si Nikouw tua waktu mau berangkat ke See-hek. Tetapi waktu itu mungkin dia tidak menduga bahwa sesudah terbit perpecahan ternyata Mo-kauw masih dapat bersatu padu dalam menghadapi musuh dari luar. Munculnya Ceng-ek Hok-ong membuktikan bahwa di kalangan Mo-kauw masih terdapat kerja sama. Sesudah berdiam beberapa saat, Biat-coat berkata lagi,
“Kalau Ceng-ek Hok-ong datang, mungkin Peh-bie Eng-ong dan Kim-mo Say-ong akan ikut datang juga. Cie-san Liong-ong (Rajawali baju ungu) dan kelima Ciang-kiesu pun bisa turut datang. Jika menurut rencana semula, paling dulu enam partai besar akan membinasakan Kong-beng Sucia Yo Siauw, sesudah itu barulah kita membasmi siluman-siluman lainnya. Tetapi sungguh tak dinyana bahwa kali ini hitung-hitungan Sin Kie Sian-seng dari Hoa-san-pay melesat jauh. Ha-ha...! Semua salah.“
“Apakah Cie-san Liong-ong siluman jahat?” tanya Ceng-hie.
Sang guru menggelengkan kepala. “Entahlah, aku pun hanya mengenal nama,” jawabnya. “Sepanjang keterangan, sesudah gagal menduduki kursi Kauwcu, dia pergi ke luar lautan dan memutuskan hubungan dengan Mo-kauw. Alangkah baiknya bagi pihak kita kalau dia masih mempertahankan sikapnya. Di antara empat raja Mo-kauw dia menduduki tempat yang tertinggi sehingga dengan sendirinya dia merupakan musuh yang berat. Dalam Mo-kauw terdapat dua orang Kong-beng Sucia, di samping Yo Siauw masih ada seorang Su-cia lainnya. Semenjak dahulu ada Kong-beng Sucia kiri dan Kong-beng Sucia kanan, dan kedudukan dua orang ini lebih tinggi dari pada keempat Hu-kauw Hoat-ong. Yo Siauw adalah Kong-beng Cu-su (Kong-beng Sucia kiri), tapi she dan nama Kong-beng Yo-su (Kong-beng Sucia kanan) tidak pernah diketahui siapa pun. Kong-bun dari Siauw-lim-pay dan Song Wan Kiauw Song-tayhiap adalah orang yang memiliki pengalaman sangat luas. Tapi mereka pun tidak tahu siapa adanya Kong-beng Yo-su. Kini tujuan kita adalah menyerang Yo Siauw. Dalam pertempuran berhadapan, segalanya akan diputuskan oleh kepandaian ilmu silat dari kedua belah pihak. Tapi yang sangat aku kuatirkan adalah waktu menghajar Yo Siauw diam-diam Kong-beng Yo-su melepaskan anak panah gelap.”
Murid-murid Go-bi mendengar penjelasan itu dengan hati berdebar, bahkan beberapa di antaranya menengok ke belakang seolah-olah kuatir Cie-san Liong-ong dan Kong-beng Yo-su menyerang mendadak.
“Yo Siauw sudah mencelakaikan Kie Siauw Hu, Wi It Siauw sudah membinasakan Ceng-hian,” kata pula Biat-coat dengan suara menyeramkan. “Permusuhan antara Go-bi-pay dan Mo-kauw sangat dalam. Go-bi dan Mo-kauw tidak dapat berdiri bersama di dunia ini. Murid mana yang kelak menjadi ahli waris Go-bi-pay akan diputuskan dalam pertempuran akan datang. Andai kata ada murid laki-laki yang tanpa menghiraukan keselamatan jiwa sendiri secara kebetulan bisa membinasakan salah satu Hu-kauw Hoat-ong, maka aku... aku bersedia melanggar kebiasaan kita yang sudah berjalan hampir seratus tahun lamanya...“
Kedua mata Biat-coat memandang ke tempat jauh. “Semenjak Kwee-couwsu mendirikan partai kita, Ciang-bun dari Go-bi-pay selalu dipegang seorang wanita,“ katanya dengan suara perlahan. “Jangankan laki-laki, wanita yang sudah menikah pun tidak dapat menjadi Ciang-bun-jin. Tapi waktu partai menghadapi bahaya besar aku tidak dapat mengkukuhi lagi kebiasaan lama. Sekarang siapa saja, tidak peduli lelaki atau perempuan, yang berjasa besar akan menjadi ahli waris partai kita.”
Semua murid Go-bi menundukkan kepala. Tidak ada seorang pun yang buka mulut. Di hati mereka merasa sangat tidak enak karena sang guru memberi pesan di hari kemudian sehingga seolah-olah guru mendapat firasat bahwa dia takkan kembali ke Tiong-goan dengan bernyawa. Tiba-tiba Biat-coat tertawa terbahak-bahak, suaranya yang nyaring menempuh jarak jauh di gurun pasir yang sunyi itu. Semua murid Go-bi terbangun bulu romanya, mereka kaget bercampur heran.
“Tidurlah!” bentak Biat-coat seraya mengibas tangan jubahnya.
Seperti biasa, Ceng-hie segera mengatur penjaga malam.
“Tak usah,” kata sang guru.
Ceng-hie terkejut tetapi dia tak berani membantah. Karena yang akan datang adalah jago tingkatan tinggi, jaga malam juga tiada gunanya. Kalau Ceng-ek Hok-ong atau orang yang sepantarnya datang menyatroni, jaga malam atau tidak jaga malam tidak ada bedanya. Malam itu lewat tanpa sesuatu yang luar biasa dan pada keesokan paginya, rombongan Go-bi meneruskan perjalanan. Kira-kira tengah hari mereka melalui seratus li lebih. Langit cerah dan matahari memancarkan sinarnya yang gilang gemilang sehingga biar pun waktu itu sudah musim dingin, orang-orang Go-bi merasakan hawa hangat.
Selagi enak berjalan, dari arah barat laut terdengar suara bentrokan senjata. Tanpa menunggu perintah Ceng-hie, semua mempercepat tindakan menuju ke arah suara itu. Tidak lama kemudian lapat-lapat mereka melihat bayangan beberapa orang yang sedang bertempur. Sesudah lebih dekat, mereka mendapat kenyataan bahwa tiga orang Tojin (imam) memegang senjata-senjata aneh tengah mengepung seorang lelaki setengah tua. Tiga Tojin itu mengenakan jubah panjang warna putih dan pada tangan jubah sebelah kiri terdapat sulaman obor berwarna merah dengan demikian dia adalah orang Mo-kauw. Laki-laki yang sedang dikepung bersenjatakan pedang panjang dan meski pun satu melawan tiga, dia tidak jatuh di bawah angin.
Waktu itu Bu Kie sudah sembuh, tetapi dia tetap berlagak belum dapat berjalan dan terus duduk di atas kereta salju. Dengan rasa kagum dia mengawasi. Sambil membentak keras orang itu memutar badan dan pedangnya menyambar tepat di dada salah seorang Tojin. Para murid Go-bi bersorak sorai. Di antara sorakan itu Bu Kie pun mengeluarkan seruan tertahan karena dia bisa mengenal bahwa tikaman itu adalah Sun-siu Tiu-couw (dengan menuruti aliran sungai mendorong perahu), satu pukulan dahsyat dari Bu-tong Kiam-hoat, dan lelaki setengah tua itu dari Bu-tong Liok-hiap In Lie Heng.
Rombongan Bu Kie terus menonton tanpa memberi bantuan. Melihat datangnya bantuan dan seorang kawannya roboh, kedua Tojin yang masih mengepung menjadi ciut nyalinya. Sesudah bertempur beberapa jurus lagi, sambil berteriak keras mereka lari berpencaran, satu ke selatan dan satu ke utara. In Lie Heng mengejar musuh yang lari ke selatan dan karena larinya lebih cepat maka dalam sekejap bisa menyusul lalu menghantam punggung Tojin itu dengan telapak tangannya. Si Tojin memutar tubuh lantas melawan dengan nekat. Dilihat dari cara berkelahinya yang tak mempedulikan keselamatan diri sendiri, tampaknya dia bertujuan binasa ber-sama.
Sementara itu tojin yang kabur ke jurusan utara semakin lama makin jauh. Untuk merobohkan musuh yang berkelahi seperti harimau edan, In Lie Heng masih memerlukan waktu sehingga biar bagaimana pun juga dia takkan bisa menyusul tojin yang lari ke utara itu.
Murid-murid Go-bi yang sangat membenci orang-orang Mo-kauw, memandang Ceng-hie dengan harapan kakak seperguruan itu akan memberi perintah supaya mereka memberi bantuan. Beberapa murid wanita yang bersahabat dengan Kie Siauw Hu tahu bahwa In Lie Heng bekas tunangan Nona Kie. Sesudah Kie Siauw Hu binasa gara-gara perbuatan Kong-beng Sucia Yo Siauw, mereka lebih simpati pada Bu-tong Liok-hiap.
Tapi Ceng-hie sangsi. Di rimba persilatan Bu-tong Liok-hiap berkedudukan tinggi. Setiap bantuan yang diberikan tanpa diminta, berarti melanggar tata kehormatan. Maka itu, setelah berpikir sejenak dia mengambil keputusan untuk tidak membantu. Dia lebih suka siluman itu meloloskan diri dari pada melakukan perbuatan tak pantas terhadap In Liok-hiap.
Pada saat itu sekonyong-konyong di angkasa berkelebat sehelai sinar hijau, sinar pedang yang terbang dari tangan In Lie Heng. Dengan kecepatan yang tidak mungkin dilukiskan, senjata itu menyambar punggung Tojin yang sedang kabur. Si tojin sendiri bukan tak tahu bahwa punggungnya disambar pedang, tapi karena cepatnya senjata itu, dia tidak keburu berkelit sehingga di lain detik, ulu hatinya toblos.
Tapi dia masih terus berlari sejauh dua tombak barulah dia roboh binasa. Setelah menembus ulu hati si Tojin, pedang itu sendiri masih terbang kurang lebih tiga tombak kemudian menancap di pasir! Demikian lihainya Bu-tong Liok-hiap In Lie Heng.
Semua murid Go-bi mengawasi kejadian itu dengan mata terbelalak dan mulut ternganga. Mereka tidak dapat mengeluarkan suara. Pada waktu semua mata ditujukan lagi ke gelanggang pertempuran, Tojin yang barusan berkelahi nekat sekarang badannya bergoyang-goyang laksana orang mabuk. In Lie Heng tidak memperdulikannya lagi dan dengan tenang berjalan ke arah rombongan Go-bi. Baru dia berjalan beberapa tindak, Tojin bekas lawannya roboh binasa.
Kini barulah murid-murid Go-bi bersorak-sorai, bahkan Biat-Coat Suthay sendiri manggut-manggutkan kepalanya sebagai tanda pujian. Namun di lain saat paras muka si nenek kelihatan berduka dan dia menghela napas. Dia merasa iri karena Bu-tong mempunyai murid-murid yang berkepandaian tinggi, sedangkan Go-bi-pay tak satu pun yang memuaskan hatinya. Sesaat dia ingat Kie Siauw Hu yang bernasib malang dan tidak bisa menikah dengan pria segagah Lie Heng. Mengingat murid itu, dia lebih sakit hati terhadap Mo-kauw yang telah mencelakakan Nona Kie. Dalam alam pikir Biat-coat, Kie Siauw Hu dibinasakan oleh Yo Siauw dan bukan olehnya sendiri.
Bibir Bu Kie sudah bergerak untuk memanggil ‘Liok-susiok’, tapi bibir itu rapat kembali. Di antara paman-pamannya, In Lie Heng-lah yang paling erat hubungan dengan mendiang ayahnya dan selama ia berada di Bu-tong-san, paman keenam itu selalu memperlakukan dia dengan penuh kecintaan. Dengan hati berdebar-debar, dia mengawasi pamannya yang tidak pernah dilihat selama delapan tahun. Ia mendapat kenyataan Lie Heng sudah kelihatan lebih tua, rambut pada kedua pelipisnya telah dauk (putih kelabu). Mungkin sekali kebinasaan Kie Siauw Hu memberi pukulan hebat kepadanya. Di dalam hatinya Bu Kie ingin sekali melompat dan memeluk orang yang dicintainya itu. Akan tetapi dia menahan hati karena merasa bahwa kalau dia berbuat begitu maka bakal menghadapi banyak kejadian yang tidak enak. Sementara itu In Lie Heng sudah menghampiri Biat-coat Suthay. Seraya memberi hormat dia berkata,
“Dengan memimpin saudara-saudara seperguruan serta murid-murid turunan ketiga yang semuanya berjumlah tiga puluh dua orang, Toa-suheng Boanpwe sudah tiba di pinggir It-sian-hiap. Atas titah Toa-suheng, Boanpwe datang kemari menyambut kalian.”
“Bagus!” kata Biat-coat. “Kiranya rombongan Bu-tong-pay datang lebih dulu. Apakah kalian sudah bertempur dengan pihak siluman?”
“Sudah tiga kali kami bentrok dengan rombongan dua bendera. Bendera Bok dan Bendera Hwee,” jawabnya. “Kami berhasil menewaskan beberapa siluman, tapi Cit-sute Boh Seng Kok terluka.”
Biat-coat mengangguk. Ia mengerti meskipun Lie Heng menjawab dengan tenang, tetapi ketiga pertempuran itu tentulah pertempuran yang sangat hebat. Ia pun mendapat kenyataan bahwa pihak musuh sangat lihai. Lima pendekar Bu-tong yang berkepandaian tinggi ternyata masih belum dapat mengambil jiwa Ciang-kiesu dan malah Cit-hiap Boh Seng Kok terluka.
“Apakah kalian pernah menyelidiki kekuatan Kong-beng-teng?” tanya pula Biat-coat.
“Sepanjang pendengaran kami, Peh-bie-kauw, Kiu-tok-hwee dan cabang-cabang lain Mo-kauw sudah datang membantu,” jawabnya. “Kata orang, Cie-san Liong-ong dan Ceng-ek Hok-ong juga datang kemari.”
Biat-coat terkejut, “Cie-san Liong-ong juga datang?” dia menegas. Sambil bicara mereka berjalan dengan perlahan, diikuti dari kejauhan murid-murid Go-bi.
Sesudah bercakap-cakap sekitar setengah jam, Lie Heng mengangkat kedua tangannya untuk berpamitan dengan mengatakan bahwa dia harus menghubungi pihak Hoa-san-pay.
“In Liok-hiap,” kata Ceng-hie, “Setelah berjalan jauh mestinya kau lapar. Lebih baik makan dulu.”
In Lie Heng tidak berlaku sungkan. “Terima kasih, baiklah,“ katanya sambil mengangguk.
Murid-murid wanita Go-bi lantas mengeluarkan makanan kering. Beberapa di antara mereka membuat dapur, menyalakan api dan memasak air. Makanan mereka sendiri amat sederhana, tetapi kepada In Lie Heng, mereka ingin menyediakan santapan yang sebaik-baiknya. Semua kecintaan itu telah diunjuk karena mereka ingat Kie Siauw Hu yang telah tiada. In Lie Heng pun mengerti apa yang dipikirkan mereka. Dengan mata merah dan suara terharu, dia berkata,
“Terima kasih atas kebaikan Suci dan Sumoay.”
Sekonyong-konyong Cu-jie berkata, “In Liok-hiap, aku ingin mencari keterangan mengenai seseorang. Apa boleh?”
Dengan tangan memegang semangkok mie kuah In Lie Heng menengok ke arah si nona, kemudian berkata dengan suara manis.
“Bolehkah aku tahu she dan nama yang mulia dari Siauw-sumoay? Hal apa yang mau ditanyakan? Asal aku tahu, tentu akan kuberi-tahukan.”
“Aku bukan orang Go-bi-pay,” jawabnya. “Aku malah lawan mereka dan sudah ditangkap oleh mereka. Sekarang aku menjadi tawanan Nikouw tua itu.”
Mendengar jawaban itu, In Lie Heng yang semula menduga murid Go-bi-pay, jadi tercengang. Tapi karena nona itu sangat polos dan berterus terang, dia merasa suka kepadanya.
“Apakah kau anggota Mo-kauw?” tanyanya.
“Juga bukan!” jawab Cu-jie. “Aku malah musuh Mo-kauw.”
In Lie Heng jadi bingung, tapi dia tak punya waktu untuk bicara panjang lebar. Sebagai penghargaan terhadap pihak tuan rumah, dia memandang kepada Ceng-hie dengan sorot mata bertanya.
“Keterangan apa yang ingin kau dapatkan dari In Liok-hiap?” kata Ceng-hie.
“Pertanyaanku adalah ini: Apakah Suheng-mu Thio Cui San Thio Ngo-hiap juga datang di It-sian-hiap?” tanya Cu-jie.
“Perlu apa kau bertanya begitu?” menegas In Lie Heng.
Paras muka Cu-jie bersemu merah. “Aku ingin mencari tahu, apakah putera Thio Ngo-hiap yang bernama Bu Kie juga datang kemari,” katanya dengan suara perlahan.
Bu Kie terkejut, “Apakah Cu-jie sudah tahu siapa adanya aku?” tanyanya dalam hati.
“Apa kau bicara sungguh-sungguh?” tanya pula In Lie Heng.
“Sungguh-sungguh,” jawabnya. “Aku tidak berani main-main terhadap In Liok-hiap.”
“Sudah sepuluh tahun Ngoko meninggal dunia,” kata In Lie Heng dengan suara perlahan. “Apakah nona benar-benar tidak tahu?”
Cu-jie melompat bangun. “Ahh!” serunya. “Thio Ngo-hiap sudah meninggal dunia...! Kalau begitu, dia... dia... menjadi anak yatim.”
“Apakah nona mengenal keponakanku Bu Kie?” tanya In Lie Heng.
“Lima tahun yang lampau aku pernah bertemu dengannya di rumah Tiap-kok Ie-sian Ouw Ceng Gu,” jawab si nona. “Tapi sekarang aku tidak tahu di mana dia berada.”
“Atas titah Suhu aku pun pergi ke Ouw-tiap-kok untuk menemui Bu Kie,“ kata In Lie Heng. “Akan tetapi suami isteri Ouw Ceng Gu sudah dibinasakan orang dan Bu Kie tak ketahuan ke mana perginya. Lama juga aku menyelidiki tanpa hasil. Belakangan... hai! Tak dinyana... tak dinyana...” Dia tidak dapat meneruskan perkataannya, sedangkan paras mukanya berubah sedih.
“Ada apa?” tanya si nona tergesa-gesa. “Apa yang kau dengar?”
Dengan perasaan heran, In Liok-hiap menatap wajah Cu-jie. “Nona,” katanya. “Mengapa kau menaruh perhatian begitu besar? Apakah keponakanku sahabat atau musuhmu?”
Cu-jie memandang ke tempat jauh. Beberapa saat kemudian dia berkata dengan suara perlahan.
“Aku mengajak dia pergi ke pulau Leng-coa-to...”
“Leng-coa-to?” potong Lie Heng. “Pernah apa nona dengan Gin-yap Sian-seng dan Kim-hoa Popo?”
Si nona tidak menjawab. Dia melamun dan bagaikan orang linglung berkata lagi pada diri sendiri.
“Dia bukan saja menolak, tetapi juga memukul, mencaci dan bahkan menggigit tanganku hingga berdarah...“ telapak tangan kirinya mengusap-usap belakang tangan kanannya. “Tetapi... tetapi.. aku tidak bisa melupakannya. Aku bukan mau mencelakainya, aku ingin mengajak dia ke Leng-coa-to agar bisa menerima pelajaran ilmu silat yang tinggi dari Popo. Aku ingin berusaha mengusir racun dingin Hian-beng Sin-ciang yang mengeram di tubuhnya. Tetapi dia garang luar biasa. Dia menganggap maksudku yang begini baik sebagai niat jahat.”
Bu Kie kaget tak kepalang. Baru sekarang ia tahu bahwa Cu-jie adalah A-Iee yang pernah memegangi lengannya dalam pertemuan di Ouw-tiap-kok. Baru sekarang dia tahu bahwa kecintaan yang tidak bisa dilupakan oleh si nona adalah dirinya sendiri. Bu Kie mengawasi muka Cu-jie. Pada roman yang jelek itu tak ada bekas-bekas dari kecantikan yang dulu. Tapi waktu melihat sinar mata si nona, lapat-lapat dia ingat sinar mata A-Iee.
“Kalau begitu dia murid Kim-hoa Popo,” kata Biat-coat Suthay dengan suara dingin. “Kim-hoa Popo pun bukan orang dari partai lurus bersih. Tapi sekarang kita tak boleh menanam terlalu banyak permusuhan dan untuk sementara waktu, kita tahan saja dia.”
“Nona,” kata Lie Heng. “Ternyata kau mempunyai maksud baik terhadap keponakanku,. Hanya sayang dia tipis rejeki. Beberapa hari berselang aku bertemu dengan Sian-seng Ho Thay Ciong, Ciang-bun-jin dari Kun-lun-pay. Dari orang tua itu aku mendapat tahu bahwa pada empat tahun berselang, karena terpeleset Bu Kie jatuh ke jurang yang dalamnya berlaksa tombak. Hai...! Kecintaan antara aku dan mendiang ayahnya bagaikan kecintaan antara tangan dan kaki. Tapi di luar dugaan langit tidak melindungi orang baik...”
“Brukk!” Cu-jie jatuh terjengkang.
Buru-buru Ciu Cie Jiak membangunkannya dan setelah mengurut dadanya beberapa saat, barulah si nona tersadar. Tidak kepalang sedihnya hati Bu Kie. In Lie Heng dan Cu-jie begitu berduka karena mencintainya, tetapi dia sendiri harus berlaku begitu tega dan tidak mau memperkenalkan dirinya. Pada saat itu beberapa tetes air mata jatuh di belakang tangannya. Dia mengangkat kepala dan orang yang menangis ialah Ciu Cie Jiak. Dengan hati tersayat dia teringat kejadian di tengah sungai Han-sui.
“Rupanya dia belum melupakan pertemuan di sungai itu,” katanya dalam hati.
Sementara itu sambil mengertak gigi Cu-jie bertanya lagi, “In Liok-hiap, apakah Bu Kie dicelakai oleh Ho Thay Ciong?”
“Bukan,” jawabnya. “Sepanjang keterangan yang kudapat, Bu Liat dari Cu-bu Lian-hoan-chung menyaksikan dengan mata sendiri terpelesetnya dan jatuhnya keponakanku. Cu Tiang Leng, seorang ternama di rimba persilatan, juga turut mati.”
Si nona menghela napas lalu terduduk.
“Nona, bolehkan aku tahu she dan namamu yang mulia?” tanya Bu-tong Liok-hiap.
Cu-jie menggelengkan kepala. Mendadak dia membanting diri di pasir lantas menangis menggerung-gerung.
“Nona, tak usah kau begitu bersedih,” Lie Heng membujuk. “Andai kata keponakanku tidak mati di jurang, dia juga tidak bisa lolos dari kebinasaan karena racun dingin itu. Hai... mati jatuh dengan badan remuk lebih baik dari pada mati disiksa racun.”
“Lebih cepat anak itu mati memang lebih baik,” sela Biat-coat. “Kalau dia hidup terus, hanya akan menjadi bibit penyakit.”
“Bangsat tua! Kau jangan bicara sembarangan!” bentak Cu-jie.
Mendengar guru mereka dicaci, tentu saja murid-murid Go-bi marah. Empat lima orang segera menghunus pedang. Namun tanpa menghiraukan ancaman itu Cu-jie terus mencaci.
“Bangsat tua! Ayah Bu Kie adalah Suheng dari In Liok-hiap. Apakah ayahnya tidak cukup baik?”
Biat-coat tidak menjawab, dia hanya tersenyum dingin.
“Ayahnya memang dari partai yang lurus bersih,” kata Ceng-hie. “Tapi bagaimana dengan ibunya? Keturunan perempuan siluman dari Mo-kauw memang tidak bisa menjadi lain dari pada bibit penyakit.”
“Perempuan siluman dari Mo-kauw?” menegas Cu-jie. “Siapakah ibunya Bu Kie?”
Murid-murid Go-bi tertawa geli. Bu Kie merasa dadanya hendak meledak. Kalau tekadnya menyembunyikan diri kurang kuat, tentu dia sudah melompat dan mencaci orang yang menghina mendiang ibunya. Selebar mukanya merah padam, air matanya berlinang-linang, tapi dengan sekuat tenaga dia mempertahankan diri. Sebagai manusia yang tidak kejam, mendengar pertanyaan Cu-jie, dengan suara perlahan Ceng-hie menjawab,
“Isteri Thio Ngo-hiap adalah anaknya In Thian Ceng dari Peh-bie-kauw. Dia bernama In So So...”
“Ahh!” teriak Cu-jie. Wajahnya berubah pucat.
“Akibat menikah dengan perempuan siluman itu maka nama Thio Ngo-hiap hancur sehingga akhirnya dia bunuh diri di Bu-tong-san,” Ceng-hie menerangkan. “Kejadian itu diketahui orang sedunia. Apakah nona tidak tahu?”
“Tidak...“ jawabnya dengan mata terbelalak. “Aku tinggal di Leng-coa-to, aku tidak tahu kejadian di rimba persilatan wilayah Tiong-goan. Tapi di manakah adanya In So So sekarang?”
“Dia bunuh diri bersama Thio Ngo-hiap,“ jawabnya.
Cu-jie melompat bagaikan dipagut ular. “Jadi dia... dia sudah mati?” teriaknya.
“Kau mengenal In So So?” tanya Ceng-hie dengan suara heran.
Saat itu di sebelah timur laut sekonyong-konyong terlihat sinar api yang berwarna biru.
“Celaka!” seru In Lie Heng. “Keponakan Ceng Su dikepung musuh.“ Ia memutar badan dan memberi hormat kepada Biat-coat dan yang lain-lain, kemudian dengan tergesa-gesa lari ke jurusan sinar api itu.
Dengan sekali mengibas tangan, murid-murid Go-bi segera mengikuti di belakang In Liok-hiap. Ketika sudah mendekat, mereka mendapat kenyataan ada seorang pemuda yang mengenakan pakaian sasterawan sedang dikepung oleh tiga orang. Ketiga orang itu, bersenjata golok, memakai tudung dan mengenakan pakaian kacung atau pesuruh. Sesudah menyaksikan beberapa gerakan, murid-murid Go-bi merasa heran karena meski pun nampak seperti pesuruh, ternyata mereka berkepandaian tinggi, lebih tinggi dari pada tojin-tojin yang dirobohkan In Lie Heng. Pemuda yang bersenjata pedang panjang itu sudah jatuh di bawah angin, namun pembelaannya sangat kuat sehingga sedikitnya untuk sementara dia masih dapat mempertahankan diri.
Tidak jauh dari gelanggang pertempuran berdiri enam orang yang memakai jubah panjang warna kuning dengan sulaman obor merah pada tangan jubah. Tanda bahwa mereka adalah anggota Mo-kauw. Melihat kedatangan In Lie Heng serta rombongan Go-bi, seorang kate gemuk dari keenam penonton itu berteriak,
“In Lie Heng heng-te (persaudaraan), kalian gagal! Larilah! Kami akan melindungi dari belakang.”
“Houw-touw-kie (Bendera tanah tebal) memang paling sombong!” teriak salah seorang dari ketiga pesuruh itu. “Orang she Gan! Kau saja yang kabur lebih dulu.”
Ceng-hie mengeluarkan suara di hidung. “Kebinasaan sudah berada di atas kepalamu tapi kau masih bertengkar dengan kawan sendiri,” katanya.
“Suci, siapakah mereka?” tanya Ciu Cie Jiak.
“Yang mengenakan pakaian pesuruh adalah budak-budak In Thian Ceng,” jawabnya. “Mereka bernama In Bu Hok, In Bu Lok dan In Bu Siu.”
“Budak?” menegas nona Ciu dengan suara heran. “Tapi mengapa... mengapa... “
“Mereka bukan orang biasa, dulu mereka adalah perampok-perampok besar,” sang kakak menerangkan. “Enam orang yang memakai jubah warna kuning adalah anggota-anggota Houw-touw-kie dari Mo-kauw. Siluman kate gemuk itu mungkin sekali Gan Hoan, Ciang-kiesu dari Houw-touw-kie. Menurut Suhu, kelima Ciang-kiesu telah bentrok dengan Kauwcu Peh-bie-kauw lantaran berebut kedudukan...”
“Brettt!”
Tiba-tiba terdengar suara dan tangan baju pemuda yang terkepung robek karena bacokan In Bu Siu. Sambil bersiul nyaring In Lie Heng melompat dan pedangnya membabat golok In Bu Lok.
“Trangg...!”
Golok itu melengkung. Dengan kaget In Bu Lok melompat mundur. Bagaikan kilat tiba-tiba Cu-jie melompat dan dengan menunjuk tangan kanan dia menotok punggung In Bu Lok. Hampir berbareng, bagaikan kilat pula dia melompat balik ke tempat semula. In Bu Lok berkepandaian tinggi. Tetapi karena dia sedang kaget dan juga karena gerakan si nona cepat bukan main, maka totokan itu tepat pada sasarannya. Di lain saat badannya kaku dan mukanya bersemu hitam. In Bu Hok dan In Bu Siu terkesiap. Serentak mereka mendekati Bu Lok. Sekonyong-konyong mereka mengawasi Cu-jie dengan mata membelalak.
“Lee-siocia...!” teriaknya dengan suara tergugu.
“Hm! Kalian masih mengenal aku?” kata si nona.
Semua orang yang menyaksikan itu dengan hati berdebar-debar. Mereka menduga bahwa kedua orang itu akan segera menyerang Cu-jie. Akan tetapi di luar dugaan, tanpa mengeluarkan sepatah pun kata mereka segera memondong mayat kawannya lalu lari ke jurusan utara. Perubahan yang sungguh tak dinyana-nyana. Dengan sekali mengibas tangan si kate gemuk memegang sehelai bendera besar berwarna kuning. Perbuatan itu segera diturut oleh kelima kawannya. Sambil memutar-mutar bendera, perlahan-lahan mereka mundur ke arah utara.
Semua murid Go-bi mengawasi dengan perasaan heran. Mendadak dua murid lelaki melompat lantas mengejar dengan senjata terhunus. Tubuh In Lie Heng berkelebat dan dalam sekejap dia sudah melewati kedua murid Go-bi itu. Dengan sekali dorong, kedua orang itu terhuyung ke belakang beberapa tindak dan muka mereka lantas berubah merah.
“Jiwi Sute, balik!” bentak Ceng-hie. “In Liok-hiap bermaksud baik, Houw-touw-kie tak boleh dikejar.”
“Beberapa hari berselang, bersama Boh Cit-te aku mengejar Liat-hwee-kie (Bendera api hebat),” menerangkan Lie Heng. “Tapi hampir saja kami celaka. Sebagian rambut dan alis Boh Cit-te terbakar.“
Seraya berkata begitu dia menggulung tangan baju kiri dan lengannya terlihat bekas terbakar. Kedua murid Go-bi itu manggut-manggutkan kepala dengan perasaan jengah. Sementara itu, sambil menatap wajah Cu-jie dengan sorot mata dingin, Biat-coat Suthay bertanya,
“Cian-cu Ciat-hu-ciu, bukan?”
“Belum sempurna,” jawab si nona.
“Mengapa kau membunuh dia?” tanya pula si nenek.
“Bukan urusanmu,” kata si gadis acuh tak acuh. “Aku ingin membunuh, aku lantas membunuh.”
Biat-coat menggerakkan tangannya dan hampir berbareng dia sudah mencabut pedang Ceng-hie.
“Cringg...!”
Cu-jie cepat melompat ke belakang dengan paras muka pucat. Mengapa? Karena dengan kecepatan luar biasa Biat-coat membabat telunjuk kanan si nona dengan pedang Ceng-hie, gerakannya sedemikian cepat sehingga tak dapat dilihat nyata oleh siapa pun juga. Namun di luar dugaan telunjuk si nona tertutup bida (pelindung) jari yang terbuat dari baja murni dan karena pedang yang digunakan Biat-coat bukan Ie-thian kam, maka senjata itu tak dapat memutuskannya. Dengan mendongkol si nenek melontarkan senjata itu kepada Ceng-hie dan sambil mengeluarkan suara di hidung dia berkata,
“Kali ini kau masih mujur, lain kali jangan sampai kau jatuh lagi ke tanganku.“
Sikap itu adalah sesuai dengan kedudukannya sebagai seorang Ciang-bun-jin dari sebuah partai besar. Setelah gagal dalam serangannya terhadap seorang yang tingkatannya lebih rendah, dia sungkan menyerang untuk kedua kalinya.
Mengingat bantuan Cu-jie kepada pihaknya dan kecintaan nona itu kepada Bu Kie, In Lie Heng jadi merasa kasihan dan segera berkata,
“Susiok, dengan tidak disengaja anak itu telah mempelajari ilmu sesat. Kita harus memberi kesempatan agar dia belajar pada guru yang lurus bersih. Hmm..., kurasa betapa baiknya jika dia berguru kepada Thie-khim Sian-seng.” Dia menarik tangan pemuda yang tadi dikepung dan berkata, “Ceng Su, lekaslah memberi hormat kepada Suthay dan para paman.”
Pemuda itu segera maju mendekat dan berlutut di hadapan Biat-coat, tapi pada waktu dia hendak menjalankan peradatan besar di hadapan Ceng-hie dan yang lain-lain, para murid Go-bi itu menolak dan membalas hormat.
Pada waktu itu Thio Sam Hong sudah berusia lebih dari seratus tahun dan kalau dihitung-hitung tingkatannya lebih tinggi beberapa tingkat dari pada Biat-coat. Akan tetapi karena pernah bertunangan dengan Kie Siauw Hu maka kedudukan In Lie Heng jadi lebih rendah setingkat dari pada Biat-coat. Jika sebagai pendiri Bu-tong-pay, Thio Sam Hong direndengi dengan pendiri Go-bi-pay, Kwee Siang, maka menurut pantas mestinya Biat-coat lah yang memanggil ‘Susiok’ kepada In Lie Heng.
Namun sebegitu jauh Bu-tong dan Go-bi tidak berani menerima panggilan dengan melihat usia masing-masing saja. Tapi meski pun begitu murid-murid Go-bi tidak berani menerima panggilan ‘paman’ dari sasterawan muda itu. Sesudah menyaksikan kegagahan pemuda itu, sekarang dengan perasaan kagum semua orang mengawasi paras mukanya yang tampan dan angker.
“Ceng Su adalah putera tunggal Toa-suko,” In Liok-hiap memperkenalkan pemuda itu yang juga adalah keponakannya.
“Aha!” Ceng-hie berseru. “Semenjak beberapa lama aku memang sudah mendengar nama besarnya Giok-bin Beng-siang. Di kalangan Kangouw semua orang memuji Song Siauw-hiap sebagai seorang ksatria yang berhati mulia. Aku pun merasa beruntung bahwa di hari ini aku bisa bertemu dengannya.” (Giok-bin: muka yang putih seperti batu pualam. Beng-siang-kun: seorang ksatria yang pandai pada jaman Liat-kok). Semua orang mengawasi pemuda tampan itu dengan perasaan lebih kagum. Memang sudah lama mereka mendengar nama cemerlang dari Giok-bin Beng-siang Ceng Su.
Cu-jie yang berdiri di samping Bu Kie tiba-tiba berbisik, “A Gu, dia jauh lebih tampan dari pada kau.”
“Tentu saja. Perlu apa dikatakan lagi?” kata Bu Kie.
“A Gu,” si nona berkata lagi. “Coba kau lihat. Nona Ciu-mu sedang memandangi kau tak sudah-sudahnya”.
Perkataan itu diucapkan sangat perlahan, namun Ciu Cie Jiak rupanya mendengar karenanya cepat-cepat melengos.
Sementara itu sesudah bercakap-cakap beberapa saat, In Lie Heng berkata, “Cu-jie, mari kita berangkat.”
“Menurut rencana, hari ini kira-kira tengah hari rombongan Khong-tong-pay akan tiba di sekitar tempat ini,” kata Ceng Su. “Tetapi sampai sekarang mereka belum muncul. Aku kuatir terjadi sesuatu yang tidak enak.”
“Ya, aku pun merasa kuatir,” kata sang paman. “Kini kita sudah berada di daerah musuh.”
“Menurut pendapatku, lebih baik kita menuju ke barat bersama rombongan Go-bi-pay,” kata pemuda itu. “Mungkin sekali pada jarak kurang lebih lima belas li kita akan bertemu dengan musuh.”
“Kenapa Song Siauw-hiap bisa mengatakan begitu?” tanya Ceng-hie dengan heran.
“Aku hanya menebak-nebak,” jawabnya.
Ceng-hie mengetahui bahwa ayah pemuda itu, Song Wan Kiauw, bukan hanya tinggi ilmu silatnya, tapi juga paham ilmu Kie-bun dan ilmu perang sehingga sebagai putera seorang berilmu, pemuda itu pun tentu bukan sembarang orang. Karena berpikir demikian, dia tidak bertanya lagi.
“Baiklah,” kata In Lie Heng. “Memang paling baik jika kita jalan bersama para Cianpwe dari Go-bi-pay.”
Mendengar perkataan In Lie Heng, Biat-coat Suthay berkata dalam hatinya. “Sudah kira-kira tiga puluh tahun Thio Sam Hong tak menghiraukan segala urusan dunia sehingga pada hakekatnya tugas Ciang-bun-jin Bu-tong-pay dipikul seluruhnya oleh Song Wan Kiauw. Kalau melihat gelagatnya, jabatan Ciang-bun-jin Bu-tong-pay kelak akan diduduki Song Siauw-hiap. Sekarang saja sang paman sudah menuruti kemauan si keponakan!”
Tetapi sesungguhnya hal itu sudah terjadi karena In Lie Heng bertabiat halus dan sedapat mungkin sungkan membantah kemauan orang lain. Demikianlah kedua murid Bu-tong lalu berjalan bersama rombongan Go-bi. Sesudah melalui kurang lebih lima belas li, di depan mereka terbentang sebuah bukit pasir. Melihat Ceng Su berlari-lari mendaki bukit itu, Ceng-hie segera mengibaskan tangannya dan dua murid Go-bi lantas mengejar dari belakang sehingga tiga orang itu tiba di atas bukit hampir berbareng. Dan hampir berbareng pula dia mengeluarkan teriakan kaget karena di sebelah barat itu kelihatan menggeletak belasan mayat.
Mendengar teriakan mereka, semua orang memburu ke atas. Mereka mendapat kenyataan bahwa semua korban binasa akibat pukulan hebat, ada yang batok kepalanya hancur, ada yang badannya melesak dan sebagainya. In Lie Heng yang mempunyai paling banyak pengalaman di dunia Kangouw lantas berkata,
“Rombongan Po-yang-pang dari propinsi Kang-say musnah sudah. Mereka dihancurkan Kie-bhok-kie (Bendera balok besar) dari Mo-kauw.”
Biat-coat mengerutkan alisnya, “Kenapa Po-yang-pang datang ke sini?” tanyanya dengan suara kurang senang. “Apakah diundang oleh partaimu?” Si nenek merasa dongkol sebab partai lurus bersih biasanya memandang rendah berbagai golongan/ perkumpulan (pang-hwee) di dunia Kangouw dan dia segan untuk bercampur dengan ‘pang-pang’ itu.
“Tidak, kami tidak mengundangnya,” jawab Lie Heng. “Tetapi Lauw-pangcu dari Po-yang-pang telah diakui sebagai murid Khong-tong-pay. Mereka rupanya ingin membantu perguruan.”
Biat-coat mengeluarkan suara di hidung dan tidak mengatakan apa-apa lagi. Sesudah mayat-mayat dikuburkan, seorang murid lelaki Go-bi-pay, she Wie, yang merasa kagum akan jitunya tebakan Song Ceng Su, bertanya,
“Saudara Song, apakah kita bakal bertemu dengan musuh?”
Pemuda itu tidak langsung menjawab. Sambil mengawasi kuburan-kuburan yang berderet, dia mengasah otak. Sekonyong-konyong kuburan yang paling barat membuka dan seorang lelaki melompat keluar. Bagaikan kilat dia menawan murid Go-bi she Wie itu lalu kabur. Semua orang terkesiap, bahkan beberapa murid wanita mengeluarkan teriakan terkejut. Di lain detik Biat-coat, In Lie Heng, Song Ceng Su serta Ceng-hie mengejar dengan senjata terhunus. Selang beberapa saat, sesudah dapat menetapkan hatinya barulah para murid Go-bi sadar bahwa orang itu adalah Ceng-ek Hok-ong.
Dengan mengenakan pakaian anggota Po-yang-pang dia menahan napas lantas berlagak mati. Murid-murid Go-bi yang mengubur mayat, yang tidak memeriksa dengan teliti, kena dikibuli. Sesudah menahan korbannya si Raja kelelawar kabur, tetapi dia tidak kabur terus. Seperti orang mengejek dia lari berputaran, membuat sebuah lingkaran. Waktu baru mengundak, Biat-coat berempat lari berendeng. Tapi sesudah melalui satu putaran terlihatlah tinggi rendah kepandaian mereka, dengan dua orang lebih dahulu dan dua orang lebih belakang. Biat-coat dan In Lie Heng di sebelah depan, Ceng-hie dan Ceng Su mengikuti dari belakang. Tapi sesudah dua putaran, Ceng Su makin mendekati Biat-coat dan In Lie Heng, sedangkan Ceng-hie ketinggalan makin jauh. Dari sini dapatlah dilihat bahwa pemuda itu benar-benar lihay dan meski pun usianya masih muda, dia sudah memiliki lweekang yang tinggi.
Tapi ilmu ringan Ceng-ek Hok-ong tiada bandingannya di rimba persilatan. Biar pun mendukung manusia, dia tetap belum dapat disusul. Sesudah dua putaran, tiba-tiba Ceng Su berhenti mengejar dan berteriak,
“Tio Leng Cu Susiok, Uy Kio Bu Susiok, pergilah ke kedudukan Lee-wie dan memotong larinya musuh! Sun Liang Tin Susiok, Lie Beng Hee Susiok, cegatlah musuh dari kedudukan Cin-wie...!”
Bagaikan seorang panglima dia berteriak-teriak memberi perintah kepada belasan murid Go-bi untuk mencegat musuh dengan mengambil kedudukan Pat-kwa. Orang Go-bi yang kehilangan pimpinan, menuruti semua perintah itu, yang dikeluarkan dengan suara angker. Karena adanya pencegatan yang amat rapat, sekarang Ceng-ek Hok-ong tidak bisa lari berputaran lagi dengan leluasa. Seraya tertawa nyaring dia melemparkan tawanannya ke tengah udara kemudian kabur ke tempat lain. Biat-coat melompat lantas kedua tangannya menyangga tubuh muridnya yang melayang jatuh. Di lain saat sayup-sayup terdengar suara si Raja kelelawar,
“Hah... hah...! Di antara orang muda banyak yang lihay. Dengan mempunyai murid yang lihay itu, Biat-coat Loni sungguh tidak boleh dibuat permainan.“ Dengan berkata begitu dia memuji kepandaian Song Ceng Su.
Sementara itu Biat-coat berdiri terpaku dengan muka pucat pasi bagaikan kertas, karena murid yang dipeluknya ternyata sudah binasa dengan luka bekas gigitan di lehernya. Dengan hati penuh duka, tanpa mengeluarkan sepatah katapun semua orang berdiri di sekitar Biat-coat. Sesudah lewat beberapa lama, In Lie Heng berkata dengan suara lirih,
“Menurut kata orang, Ceng-ek Hok-ong selalu menghisap darah manusia. Ternyata cerita itu bukan omong kosong belaka.”
Biat-coat Suthay malu, marah dan sakit hati. Sejak menjadi Ciang-bun-jin Go-bi-pay baru kali ini dia mendapat pukulan demikian hebat. Dengan beruntun dua orang muridnya dibinasakan musuh tanpa dia bisa berbuat apa pun. Setelah berdiri bengong beberapa lama, dia menatap Ceng Su dan bertanya,
“Bagaimana kau tahu nama murid-muridku?”
“Tadi Ceng-hie Susiok telah memperkenalkan mereka kepada teecu,” jawabnya.
“Hm... sekali mendengar dan tak lupa lagi!” kata si nenek dengan suara perlahan. “Go-bi-pay mana punya orang sepandai itu?”
Malam itu pada waktu mengaso dengan sikap hormat Ceng Su menghampiri Biat-coat lalu berkata sambil membungkuk,
“Cianpwe, bolehkah Boanpwe memohon sesuatu yang tidak pantas?”
“Kalau kau tahu tidak pantas, tak perlu kau buka mulut,” kata si nenek dengan tawar.
“Ya,” kata pemuda itu bertindak mundur kemudian duduk di samping In Lie Heng.
Murid-murid Go-bi merasa sangat heran. Mereka tidak tahu apa yang hendak diminta oleh pemuda itu. Sebagai seorang yang berwatak sangat tidak sabaran, Teng Bin Kun segera mendekati dan bertanya,
“Saudara Song, apa yang hendak kau minta?”
“Waktu mengajar ilmu pedang, ayahku pernah mengatakan bahwa pada jaman ini orang palilng lihay Kiam-hoatnya di dunia adalah Sucouw kami, sedang yang kedua Biat-coat Cianpwe. Kiam-hoat Bu-tong dan Go-bi masing-masing mempunyai keunggulan dan kekurangan. Misalnya saja pukulan Chiu-hwie Ngo-hian (Tangan menyapu lima kali tetabuhan) dari Bu-tong hampir sama dengan Ceng-lo Siauw-san (Kudung tipis dan kipas kecil) dari Go-bi-pay. Tetapi jika Chiu-hwie Ngo-hian dikirim menggunakan tenaga yang besar maka kelincahannya berkurang dan tidak dapat menyamai Ceng-lo Siauw-san yang tetap bisa mempertahankan kecepatannya.“
Seraya berkata begitu dia menghunus pedang lantas menjalankan kedua jurus itu. Tetapi waktu menjalankan Ceng-lo Siauw-san, gerakannya sangat tidak sempurna.
“Salah,” kata Teng Bin Kun sambil tersenyum. Ia mengambil pedang yang dicekal pemuda itu. “Pergelangan tanganmu masih sakit sehingga tak bisa mengeluarkan banyak tenaga,” katanya. “Tapi kau lihatlah aku memberi contoh.”
Pemuda itu mengawasi dengan penuh perhatian. Sesudah Teng Bin Kun selesai dengan jurus itu, sambil menghela napas dia berkata,
”Ayahku sering berkata bahwa dia merasa menyesal belum bisa menyaksikan ilmu pedang gurumu. Hari ini Boanpwe merasa sangat beruntung bisa mendapat kesempatan menyaksikan jurus Ceng-lo Siauw-san dari Teng Susiok. Sebenarnya Boanpwe ingin memohon petunjuk-petunjuk Suthay mengenai beberapa hal dalam kiam-hoat. Tapi karena Boanpwe bukan murid Go-bi, maka tak dapat Boanpwe buka mulut.”
Meski pun berada di tempat yang agak jauh, Biat-coat mendengar pembicaraan itu. Bahwa dia dianggap sebagai jago pedang nomor dua di dunia, sudah menggirangkan hatinya. Di jaman itu memang Thio Sam Hong dipandang sebagai gunung Thay-san atau bintang Pak-tauw di dunia persilatan dan dia dikagumi oleh semua orang. Biat-coat sendiri belum pernah mempunyai niat untuk menandingi guru besar itu sehingga pendapat kalangan Bu-tong bahwa dia merupakan ahli pedang nomor dua sudah amat memuaskan hatinya. Ia merasa dongkol setelah melihat jurus Ceng-lo Siauw-san yang barusan dijalankan Teng Bin Kun sebab jurus itu masih jauh dari sempurna. Masa Go-bi Kiam-hoat hanya sebegitu?
Karena itu dia segera menghampiri dan tanpa mengeluarkan sepatah katapun dia mengambil pedang yang dipegang Teng Bin Kun. Sesudah mengangkat pedang itu sampai merata dengan hidungnya, tangannya menggetar dan ujung pedang segera mengeluarkan suara.
“Ungg...! Ungg...!“
Dari kanan ke kiri dan dari kiri ke kanan, sembilan kali ia membolang-balingkan senjata itu dengan kecepatan luar biasa. Meski pun cepat tetapi gerakan pedang dapat dilihat dengan nyata sekali. Para murid Go-bi mengawasi dengan mata membelalak.
“Sungguh indah!” teriak In Lie Heng.
Song Ceng Su sendiri memperhatikan setiap gerakan sambil menahan napas. Dia kagum bercampur kaget. Dengan memberi pujian tadi sebenarnya dia hanya ingin menyenangkan hati si nenek. Namun di luar dugaan, Nikouw tua itu benar-benar lihay dan dia merasa takluk. Maka itu dengan setulus hati dia segera memohon beberapa petunjuk lain.
Kini Biat-coat berlaku royal. Semua pertanyaan dijawabnya dan dijelaskan se-terangnya, sedangkan di mana perlu nenek itu bersilat untuk memberi contoh-contoh. Semua murid Go-bi memperhatikan itu tanpa berkedip. Banyak di antaranya, bahkan ada yang sudah mengikuti sang guru selama belasan tahun, tapi belum pernah melihat Kiam-hoat yang lihay itu dari gurunya.
Cu-jie dan Bu Kie berdiri di luar lingkaran penonton. Tiba-tiba si nona berkata, “Gu-koko, kalau aku bisa mempunyai ilmu ringan badan setinggi Ceng-ek Hok-ong, biar pun mati aku rela.”
“Apa gunanya memiliki ilmu yang sesat?” kata Bu Kie. “Menurut kata In Liok-hiap, setiap kali setelah mempergunakan ilmunya maka Wie It Siauw harus membunuh manusia. Perlu apa mempunyai ilmu siluman?”
“Dalam pertempuran manusia saling membunuh, bila tidak membunuh tentu dibunuh,” kata Cu-jie. “Wie It Siauw lihay dan dia berhasil membunuh murid Go-bi. Kalau dia kurang lihay, bukankan dia sendiri yang bakal dibunuh oleh si nikow tua? Di mataku tak ada perbedaan antara partai lurus bersih dan golongan yang dikatakan sesat.”
Bu Kie tidak mengatakan apa-apa lagi. Sekonyong-konyong sebatang pedang berkeredepan di udara. Pedang itu adalah senjata Song Ceng Su yang kena dilontarkan oleh Biat-coat dengan pukulan Kiauw-jiak Yu-liong (Gesit bagaikan naga). Semua orang mendongak dan memandangi senjata itu. Tiba-tiba mata mereka melihat sinar api yang berwarna kuning di sudut timur laut yang jauhnya kira-kira belasan li. Dalam usaha untuk membasmi Mo-kauw, enam buah partai besar telah bersepakat menggunakan anak panah api dengan enam macam warna sebagai tanda. Anak panah yang bersinar kuning itu adalah tanda dari Khong-tong-pay.
“Khong-tong-pay bertemu dengan musuh,” kata In Lie Heng. “Mari kita membantu.”
Mereka segera memburu ke jurusan itu. Tapi biar pun sudah melalui belasan li, apa yang ditemukan hanyalah pasir kuning belaka.
“Apakah itu adalah Un-locianpwe dari Khong-tong-pay?” teriak In Lie Heng. “Apakah Kouw-locianpwe?” Teriakan itu menempuh jarak yang jauh, tapi tidak mendapat jawaban.
Sekonyong-konyong di sebelah barat muncul sinar kuning.
“Ahh! Mereka pindah ke barat,” kata Ceng-hie. Dengan tergesa-gesa mereka memburu ke jurusan barat.
Tapi sesudah berlari-lari beberapa lama mereka tetap tidak menemui manusia. Di tempat itu mereka hanya menemukan potongan bambu dan kertas yang hancur terbakar sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa anak panah api itu telah dilepaskan dari tempat tersebut. Semua orang jadi bingung dan mencoba memecahkan teka-teki ini.
“Cianpwe, kita kena diakali,” tiba-tiba saja Song Ceng Su berkata, “Lihatlah! Di atas pasir hanya terdapat tapak kaki seorang manusia. Kalau benar kawan-kawan Khong-tong-pay bertemu dengan musuh, tentu yang kita lihat sedikitnya tapak empat atau lima orang.” Mendadak Song Ceng Su ingat sesuatu. “Celaka!” dia mengeluh, “Khong-tong-pay benar-benar diserang musuh. Ikutilah aku.“ Sehabis berkata begitu dia segera berlari-lari ke arah barat daya.
“Bagaimana kau tahu bahwa Khong-tong-pay bertemu musuh?” tanya In Lie Heng yang berlari bersama dengan keponakannya.
“Anak panah api itu bukannya palsu,” jawabnya. “Anak panah api yang dipergunakan keenam partai hanya dapat dibuat oleh tukang-tukang yang pandai dari Tiong-goan. Anak panah begitu tidak bisa dibuat oleh tukang-tukang daerah See-hek.”
“Apakah kau ingin mengatakan bahwa seorang murid Khong-tong kena tangkap dan anak panah api itu dirampas dari tangannya?” tanya sang paman pula.
“Benar,” jawabnya. “Sementara itu pihak siluman sudah memancing kita ke timur laut dan kemudian ke barat untuk membuat kita lelah. Menurut pendapatku, mereka berkumpul di barat daya.”
Biat-coat berada dalam jarak kurang lebih dua langkah dari mereka. Dia dapat menangkap pembicaraan mereka. Ia mengangguk seraya berkata,
“Kurasa tebakanmu tidak meleset.”
Kecuali Biat-coat, In Lie Heng, Song Ceng Su serta beberapa murid yang berkepandaian tinggi, murid-murid Go-bi yang lainnya sudah amat letih. Setelah melalui sekian li, di atas sebuah bukit pasir yang menghadang di depan mendadak kelihatan seseorang yang berdiri dan seorang lainnya rebah di pasir. Biat-coat lantas mempercepat langkahnya dan sesudah dekat, dia mendapat kenyataan bahwa kedua orang itu tidak lain dari Bu Kie dan Cu-jie. Dalam keadaan sibuk ternyata orang Go-bi tidak memperhatikan kedua tawanan itu lagi, yang entah bagaimana bisa berada di depan.
“Mengapa kau berada di sini?” tanya Biat-coat. Di hatinya dia merasa sangat heran. Apakah kedua setan kecil ini bisa berjalan lebih cepat?
Cu-jie menyengir. “Anak panah api itu terang-terang digunakan memancing musuh,” jawabnya. “Biar pun orang-orang Go-bi tidak sadar, tetapi kukira bocah she Song itu dapat menebaknya. Aku menduga pada akhirnya kalian semua tentu akan ke sini. Gu-koko, bukankah benar begitu?”
Bu Kie mengangguk. “Kami sudah berada di sini lama sekali,” katanya sambil tersenyum. “Kalian sangat capai bukan?”
“Setan kecil!” bentak Biat-coat. “Kalau kau sudah menduga begitu mengapa tidak cepat-cepat memberi-tahu kepada kami?”
“Eh-eh, kenapa kau marah?” kata si nona. “Mengapa kau tidak minta pendapatku? Andai kata aku memberi-tahu kepada kau, tentu tak akan percaya. Kau tentu lebih suka berlari-larian ke sana-sini.”
Biat-coat marah, tapi dia tak bisa mengatakan apa pun dan dia pun tak bisa menghajar nona itu tanpa alasan. Pada saat itulah di sebelah barat daya seolah-olah terdengar suara bentrokan senjata yang sangat banyak.
“Perlu apa kau marah terhadapku?” kata Cu-jie. “Kawan-kawanmu sedang menghadapi bahaya.”
Biat-coat dan yang lainnya tidak lagi mempedulikan Cu-jie yang berlidah tajam dan dengan tergesa-gesa mereka menuju ke arah barat daya. Semakin dekat suara pertempuran makin hebat. Di antara bentrokan senjata terdengar juga teriakan dari orang-orang yang terluka. Beberapa saat kemudian mereka terkesiap karena dari jauh mereka melihat pertempuran besar-besaran. Masing-masing pihak mempunyai kekuatan beberapa ratus orang dan mereka sedang bertempur mati-matian.
“Pihak musuh terdiri dari bendera-bendera Lian-hwee, Swie-kim (Emas murni) dan Ang-sui (Air besar),” kata In Lie Heng. “Khong-tong-pay telah berada di sini. Hoa-san-pay dan Kun-lun-pay juga sudah tiba. Tiga bendera melawan tiga partai, Su-jie mari kita ikut menyerbu.“ Sambil berkata begitu dia mengibaskan pedangnya yang mengeluarkan suara mengaung.
“Tunggu dulu,” kata Ceng Su. “Kita tunggu sampai datangnya para paman dari Go-bi-pay.”
Seumur hidup Bu Kie belum pernah menyaksikan pertempuran demikian besar dan demikian hebat. Dengan hati sedih dia mengawasi manusia saling membunuh. Di dalam hati kecilnya Bu Kie tidak mengharapkan kemenangan pihak mana pun juga karena pihak yang satu adalah partai mendiang ayahnya sedang pihak yang lain adalah golongan mendiang ibunya. Selagi menunggu murid-murid Go-bi yang ketinggalan di belakang, tiba-tiba saja Ceng Su menuding ke arah timur.
“Liok-siok, lihatlah!” katanya. “Di sebelah sana terdapat sejumlah besar musuh yang sedang menunggu untuk menerjang sewaktu-waktu.”
Bu Kie mengawasi ke arah yang ditunjuk Ceng Su. Benar saja, pada jarak beberapa puluh tombak dari gelanggang pertempuran terlihat tiga pasukan berkuda, setiap pasukan terdiri dari seratus orang lebih. Mereka semua berbaris dengan rapi dan siap untuk segera menerjang. Pada saat itu kedua belah pihak tengah berperang dengan kekuatan yang hampir imbang. Kalau ketiga pasukan berkuda itu menyerbu, orang-orang Khong-tong, Hoa-san dan Kun-lun pasti akan kewalahan. Tapi mengapa mereka tidak lantas menyerang? Biat-coat dan Lie Heng heran bercampur kuatir.
“Mengapa mereka belum juga bergerak?” tanya si nenek kepada Ceng Su.
Pemuda itu hanya menggeleng-gelengkan kepala. “Entahlah,” jawabnya. “Aku tidak dapat menebak.”
Mendadak Cu-jie tertawa geli. “Mengapa kau tidak dapat menebak?” tanyanya, “Bukankah hal itu terang benderang bagaikan siang?”
Paras muka Ceng Su berubah merah tapi dia membungkam. Sebenarnya Biat-coat ingin sekali meminta pendapat Cu-jie, tetapi dia merasa tak enak untuk membuka mulut. Tetapi In Lie Heng yang sabar dan pengalamannya luas itu berkata,
“Aku mohon petunjuk nona.”
“Ketiga pasukan itu mestinya pasukan Peh-bie-kauw,” terang si nona. “Biar pun Peh-bie-kauw merupakan cabang dari Mo-kauw, tetapi pihak Peh-bie telah bentrok dengan Ciang-kiesu dari lima bendera Mo-kauw. Karena itu, andai kata kalian dapat membasmi musuh, diam-diam In Thian Ceng akan merasa girang, sebab dengan demikian dia memiliki kesempatan untuk menduduki kursi Kauwcu dari Mo-kauw.”
Biat-coat dan Ceng Su lantas saja tersadar. “Terima kasih atas petunjuk nona,” kata Bu-tong Liok-hiap.
Ketika itu murid-murid Go-bi sudah menyusul dan mereka berdiri di belakang Biat-coat.
“Song Siauw-hiap,” kata Ceng-hie, “Kami tak bisa menandingimu dalam mengatur barisan, maka sekarang kau harus memimpin kami dan kami akan menaati semua perintah. Demi kepentingan bersama, jangan kau berlaku sungkan.”
“Liok-siok,” kata pemuda itu tergugu, “Mana siauwtit sanggup menerima kedudukan ini...”
“Sudahlah!” kata Biat-coat. “Jangan rewel dengan segala adat istiadat kosong.”
Ceng Su mengangguk dan dengan mata tajam dia memperhatikan jalannya pertempuran. Ketika itu Kun-lun-pay berada di atas angin. Pertempuran antara Hoa-san-pay dan Ang-sui-kie kira-kira berimbang, sedangkan Khong-tong-pay makin lama tampak semakin terdesak. Rombongan partai itu telah terkurung oleh orang-orang Liat-hwee-kie yang mulai membasmi dengan sepuas hati.
“Mari kita terjang Swie-kim-kie dari tiga arah,” kata Ceng Su. “Dengan memimpin beberapa paman, Suthay menyerang dari tenggara. Liok-siok menyerbu dari barat, sementara Ceng-hie Susiok dan Boanpwe sendiri akan menerjang dari barat daya...”
“Tapi keadaan Kun-lun-pay tidak perlu ditolong,” kata Ceng-hie dengan hati heran. “Yang sedang menghadapi bencana adalah Khong-tong-pay.”
“Kun-lun-pay sudah berada di atas angin dan jika kita membantu, dalam sekejap kita akan bisa membasmi seluruh Swie-kim-kie,” terang Ceng Su. “Setelah Swie-kim-kie dikalahkan maka dua bendera lainnya akan mundur sendirinya. Sebaliknya, kalau kita menolong Khong-tong, kita harus melakukan pertempuran hebat dan lama. Bagaimana kalau dalam kesempatan itu, Peh-bie-kauw menyerbu dan mengurung dari berbagai jurusan?”
“Song Siauw-hiap benar,” kata Ceng-hie yang lantas membagi murid-murid Go-bi menjadi tiga rombongan.
Sambil menarik kereta salju Bu Kie, Cu-jie berkata, “Mari kita berangkat sekarang.”
Keberangkatan mereka sempat dilihat Song Ceng Su yang lantas saja mengejar. Sambil menghadang di tengah jalan dengan melintangkan pedangnya, dia membentak,
“Nona, jangan pergi dulu!”
“Mengapa kau mencegat kami?” tanya si nona.
“Asal-usulmu sangat mengherankan, kau tidak bisa pergi begitu saja,” jawabnya.
“Ada sangkut pautkah asal-usulku dengan pribadimu?” tanya Cu-jie dengan suara tawar.
Biat-coat yang ingin menerjang musuh selekas mungkin menjadi sangat tidak sabaran dan dengan sekali berkelebat nenek itu telah berhadapan dengan Cu-jie. Hampir berbareng dia menotok jalan darah si nona di bagian punggung, pinggang dan betis. Tanpa bisa melawan Cu-jie roboh di pasir. Sesudah itu, seraya mengibaskan pedangnya si nenek berteriak,
“Hari ini kita membuka larangan membunuh untuk membasmi bersih kawanan siluman!”
Bersama In Lie Heng dan Ceng-hie yang masing-masing memimpin rombongan murid Go-bi, dia pun lantas terjun ke dalam pertempuran melawan Swie-kim-kie. Di bawah pimpinan Ho Thay Ciong dan Pan Siok Ham, rombongan Kun-lun-pay berada di atas angin. Maka itu penyerbuan Go-bi dan Bu-tong segera menghancurkan garis pembelaan Swie-kim-kie. Dengan kepandaiannya yang amat tinggi Biat-coat mengamuk bagaikan harimau gila. Tak seorang pun mampu melawan dalam tiga jurus. Dia menerjang berputar-putar, pedangnya berkelebat kian kemari dan dalam sekejap, tujuh anggota Mo-kauw binasa di bawah pedangnya.
Melihat kehebatan si nenek, Ciang-kiesu Swie-kim-kie yang bernama Chung Ceng segera menghampiri sambil memutar toya Long-gee-pang (toya bergigi serigala). Sekarang Biat-coat baru tertahan. Sesudah bertanding belasan jurus, seraya menggertak gigi nenek itu mencecar musuhnya dengan jurus-jurus Go-bi Kiam-hoat yang semakin lama jadi semakin gencar. Tapi Chung Ceng bukan orang sembarangan. Sedikitnya untuk sementara waktu dia masih dapat melayani pemimpin Go-bi-pay itu.
Banyak jago Mo-kauw yang berkepandaian tinggi, tetapi dalam menghadapi In Lie Heng, Ceng-hie, Song Ceng Su, Ho Thay Ciong dan Pan Siok Ham yang merupakan ahli silat kelas utama, mereka tidak bisa berbuat banyak. Dalam beberapa saat saja sudah banyak anggota Mo-kauw yang roboh tanpa bernapas. Melihat kerusakan pihaknya, bagai orang kalap Chung Ceng mengirim tiga pukulan berantai sehingga mau tak mau Biat-coat terpaksa mundur selangkah. Chung Ceng terus mendesak dan mengirim pukulan yang ke empat ke arah batok kepala si nenek Biat-coat seraya menotok toya musuh dengan jurus Sun-sui Tui-couw (dengan mengikuti aliran air, mendorong perahu). Di luar dugaan, pemimpin Swie-kim-kie itu memiliki Iweekang dan Gwakang yang sangat tinggi. Melihat sambaran pedang musuh, sambil membentak keras dia melawan dengan toyanya.
“Prakk!”
Pedang Biat-coat patah menjadi tiga potong. Meski pun kaget tapi selangkah pun si nenek tidak mundur. Tangan kanannya meraba ke belakang dan menghunus Ie-thian-kiam yang bukan saja membabat putus Long-gee-pang, tetapi juga membabat somplak sebagian batok kepala Chung Ceng yang langsung roboh tanpa bersuara lagi. Bukan main kagetnya para anggota Swie-kim-kie. Akan tetapi di lain saat mereka segera berteriak keras kemudian mereka pun mengamuk. Biat-coat dan Ceng Su semula menduga bahwa begitu Chung Ceng berhasil dirobohkan maka pasukan Swie-kim-kie akan lari lintang pukang dan pasukan Ang-sui serta Liat-hwee pun akan mengundurkan diri. Tak disangka, sebaliknya dari pada kabur, mereka sekarang berkelahi dengan nekat. Dalam sekejap saja murid-murid Kun-lun dan Go-bi menjadi korban. Mendadak terdengar teriakan pasukan Ang-sui-kie,
“Chung-kiesu telah berpulang ke alam baka. Swie-kim dan Liat-hwee mundur! Ang-sui-kie melindungi diri dari belakang!”
Hampir berbareng dengan teriakan itu pasukan Liat-hwee-kie mulai bergerak mundur ke arah barat, tapi orang-orang Swie-kim-kie masih terus bertempur. Orang itu berteriak pula,
“Ini adalah perintah dari Ang-sui-kie. Para anggota Swie-kim-kie, mundurlah! Usaha membalas sakit hati Chung-kiesu dapat dilaksanakan di hari nanti.”
“Saudara-saudara Ang-sui-kie, mundurlah!” seorang Swie-kim-kie balas berteriak. “Tolong balaskan sakit hati kami. Tapi kami ingin hidup dan mati bersama Chung-kiesu.”
Mendadak dari pasukan Ang-sui-kie muncul sehelai bendera hitam dan seorang berteriak dengan suara lantang,
“Saudara-saudara Swie-kim-kie, Ang-sui-kie pasti akan membalas sakit hatimu.”
Pada waktu itu sisa pasukan Swie-kim-kie hanya tinggal kira-kira tujuh puluh orang saja. Dengan serentak dia berteriak,
“Thung-kiesu, terima kasih!”
Bendera-bendera Ang-sui-kie lantas bergerak dan pasukan itu mulai mundur ke arah barat sambil dilindungi sekitar dua puluh orang yang mencekal bumbung yang mengeluarkan cahaya keemasan. Melihat gerakan mundur yang amat rapi itu, orang-orang Hoa-san dan Khong-tong tak berani mengejar dan mereka lalu bantu mengepung sisa Swie-kim-kie.....
“Ehh, berhenti dulu!” katanya, “Kau beristirahatlah!”
Nona itu tertawa, lalu menyahut, “Siapa eh, eh? Apakah aku tidak punya nama?”
“Kau tidak mau memberi-tahu namamu, apa yang dapat kulakukan? Kau menghendaki aku memanggilmu si nona jelek, tapi aku merasa kau indah dilihat...”
Nona itu tertawa, lalu berhenti berlari. Dia menyingkap rambutnya. “Baiklah, sekarang aku memberi-tahu padamu!” katanya. “Tak apa aku bilang padamu. Aku dipanggil Cu-jie.”
“Cu-jie...! Cu-jie...!” kata Bu Kie. “Sungguh benar-benar satu anak mustika!”
“Fui!” nona itu meludah. “Namaku bukan Cu dari Tin-cu yang berarti mutiara, tetapi Cu dari Cian-cu, yaitu laba-laba!”
Bu Kie tercengang. “Mana ada orang yang pakai huruf Cu untuk namanya?” katanya. Dia merasa heran nona itu memakai nama Cu sehingga panggilannya menjadi Cu-jie (anak Cu atau si Cu).
“Tetapi justru itulah namaku!” kata si nona. “Umpama kata kau takut, nah, tak usahlah kau memanggilku!”
“Apakah itu nama pemberian ayahmu?” Bu Kie bertanya.
“Jika ayahku yang memberikan, apakah kau pikir aku akan suka menerimanya?” balas si nona. “Ibu yang memberikannya. Ibu mengajarkan ilmu silat Cian-cu Ciat-hu-ciu, maka dia bilang sebaiknya aku memakai nama ini.”
Terkesiap Bu Kie mendengar disebutnya ilmu silat Cian-cu Ciat-hu-ciu itu.
“Sejak kecil aku mempelajari ilmu itu,” si nona menjelaskan tanpa diminta. “Tetapi sampai sekarang aku belum dapat menyempurnakannya. Kalau aku sudah mahir maka kita tidak usah takut kepada Bi-coat Suthay pendeta wanita bangsat itu. Maukah kau melihatnya?”
Sembari berkata demikian Cu-jie merogoh ke dalam sakunya untuk menarik keluar sebuah kotak dari emas yang terus dibuka tutupnya dan di dalamnya terlihat dua ekor laba-laba yang tubuhnya berkotak-kotak. Punggung laba-laba itu bertitik-titik belang, bertotolan seperti bunga sulaman. Yang paling aneh, biasanya laba-laba berkaki delapan maka kedua binatang ini masing-masing berkaki dua belas. Bu Kie terkejut. Mendadak dia ingat Tok-kang, Kitab Racun karangan Ong Lan Kouw. Di dalam kitab itu antaranya ada ditulis: ‘Laba-laba itu ada yang belang. Itulah yang beracun sekali. Laba-laba dengan sepuluh kaki adalah yang paling beracun tidak ada bandingan, siapa kena digigit dia tak akan ketolongan lagi’.
Tetapi ini laba-laba berkaki dua belas. Pasti lebih beracun dari pada yang kakinya sepuluh. Sebab itu di dalam kitab tersebut tidak ada disebut-sebut. Si nona tertawa melihat kawannya ketakutan.
“Kau adalah seorang ahli, tentu kau tahu kegunaan laba-laba mustika ini!” ia berkata, “Kau tunggu sebentar!”
Ia menyimpan kotaknya lantas berlari menghampiri sebuah pohon besar dan melompat naik ke atasnya. Di situ ia berdiam lama pada cabang yang tertinggi sambil memandang sekitarnya. Ia seperti sedang melihat-lihat atau mencari sesuatu. Sesudah itu ia melompat turun lagi.
“Mari kita pergi lagi barang selintasan,” katanya. “Perlahan-lahan saja kita bicara tentang laba-laba.“
Ia kembali menarik kereta saljunya. Dia berlari-lari kira-kira tujuh atau delapan li hingga tiba di sebuah lembah. Di sini dia menurunkan Bu Kie dari kereta istimewanya itu dan sebagai gantinya dia memuat beberapa buah batu besar, lalu dia kembali menarik sambil berlari-lari. Akhirnya dia berlari ke tepi jurang. Di situ dia berhenti, kemudian keretanya dilepaskan sehingga kereta itu berikut batunya terjun ke dalam jurang yang dalam sambil mengeluarkan suara berisik.
Bu Kie menjadi sangat heran dan dia mengawasi kelakuan nona itu. Ketika dia melihat ke salju, tempat yang tadi menjadi jalan mereka, ia mendapatkan dua baris tapak kereta salju itu. Dengan kecerdasannya dia lantas mengerti, maka di dalam hatinya dia berkata, “Nona ini amat cerdik. Apa bila Biat-coat Suthay menyusul kita, setibanya di sini tentu dia bakal menyangka bahwa kita jatuh mati ke dalam jurang.”
Cu-jie segera kembali. “Mari naik ke atas punggungku!” katanya kepada kawannya sesudah berjongkok di depan Bu Kie.
“Kau hendak menggendong aku?” tanya Bu Kie, “Tubuhku berat, kau bakal sangat letih.”
Nona itu mengawasi, matanya melotot. “Kalau aku letih aku pasti bisa tahu,” ujarnya.
Bu Kie terdiam. Ia lantas naik ke punggung nona itu, kedua tangannya merangkul leher si nona perlahan-lahan tanpa bertenaga. “Apakah kau takut aku akan mati tercekik jika merangkul aku keras-keras?” kata nona itu sambil tertawa. “Kau merangkul begini pelan dan kakimu menjepit dengan enteng sekali, kau membuat leherku geli saja!”
Melihat kepolosan si nona, Bu Kie yang juga polos menjadi girang. Ia lalu merangkul erat-erat dan kedua kakinya menjepit dengan keras. Tiba-tiba saja si nona bergerak melompat naik ke atas pohon. Pohon itu mengarah ke arah barat dan di sana terdapat barisan pohon lainnya. Bagaikan kera gesit dengan cepat nona itu berlompatan dari pohon yang satu ke pohon yang lain, untuk jauh meninggalkan tempat di mana mereka barusan singgah.
Bu Kie kagum bukan main. Nona itu bertubuh kecil, tetapi kuat sekali. Tubuhnya dapat dibawa berlompatan dan berlari-lari dengan ringan. Sesudah melewati sekitar delapan puluh pohon, barulah nona itu melompat turun sekarang berada di pinggir sebuah gunung. Di situ Bu Kie diturunkan dengan hati-hati.
“Di sini kita membangun gubuk kerbau!” kata nona itu tertawa, “Tempat ini amat baik!”
“Gubuk kerbau?” Bu Kie heran, “Untuk apa gubuk kerbau?”
Si nona tertawa. “Memang gubuk kerbau!” katanya. “Gubuk untuk menempatkan seekor kerbau yang besar! Bukankah kau bernama A Gu, si kerbau?”
Bu Kie tersentak, lalu dia pun tertawa. Nona itu sedang bergurau. Memang namanya A Gu yang berarti kerbau.
“Kalau begitu tak usahlah,” katanya. “Empat atau lima hari lagi kakiku sudah banyak sembuh. Aku dapat berjalan meski pun dipaksakan...”
“Hm, dipaksakan!” kata si nona tersenyum. “Kau sudah jelek tak keruan, kalau nanti kaki kerbaumu pincang, apa itu bagus dilihat?”
Habis berkata si nona kembali bekerja. Dengan cabang pohon yang berdaun dia menyapu salju di batu gunung. Mengertilah Bu Kie bahwa si nona amat memperhatikannya. Kata-kata inilah yang menjadi buktinya: ‘...kalau nanti kaki kerbaumu pincang, apa itu bagus dilihat?’ Tanpa terasa hatinya tergerak. Ia pun lantas mendengar nona itu bernyanyi perlahan, bernyanyi sambil bekerja. Tanpa banyak membuang waktu dia sudah selesai membangun gubuk yang beratap alang-alang. Gubuk itu cukup besar untuk mereka berdua bernaung di dalamnya.
Tetapi Cu-jie masih terus bekerja. Sekarang tak hentinya ia mengangkut salju. Ia menutup gubuk dari atas atap, lalu di sekitar bagian bawahnya. Di lain saat dari tempat jauh gubuk itu sudah tidak kelihatan lagi kecuali hanya sebagai gundukan salju. Kembali Bu Kie menjadi kagum. Habis bekerja Cu-jie mengeluarkan sapu tangan untuk menyusut keringat. Setelah bekerja begitu berat tubuhnya kepanasan sehingga ia mengeluarkan peluh. Namun ia tidak duduk beristirahat.
“Kau tunggu di sini!” katanya. “Aku hendak pergi mencari makanan!”
“Kau beristirahat dulu,” kata Bu Kie. “Aku belum lapar, kau boleh menunggu sebentar lagi. Sekarang kau sudah terlalu letih.”
Nona itu mengawasi. “Jika kau hendak memperlakukanku dengan baik maka kau harus sungguh-sungguh baik,” katanya. “Manis di mulut saja buat apa?” Dia lantas berlari pergi memasuki hutan.
Bu Kie terpaksa berdiam. Ia merebahkan dirinya di batu gunung yang terkurung gubuknya itu. Sekarang dia memiliki kesempatan untuk memikirkan kelakuan si nona yang polos itu, yang suaranya halus dan gerak-geriknya genit. Saking polosnya nona itu gampang marah. Mestinya gerak-gerik itu dimiliki seorang nona cantik, tetapi dia berwajah jelek sekali. Tapi ia lantas ingat kata-kata ibunya di saat hendak menghembuskan napas terakhir. Kata ibu: ‘Wanita itu makin cantik semakin pandai pula menipu orang, maka terhadap wanita cantik kau harus semakin berhati-hati menjaga diri!’.
“Cu-jie jelek, tetapi dia baik sekali,” pikirnya. “Aku mempunyai niat mengambil dia sebagai kawan hidupku, tapi dia mempunyai pacar sendiri sehingga tidak menaruh hati padaku...”
Tanpa terasa lama juga Bu Kie berpikir. Ia lantas melihat si nona kembali dengan tangan menenteng dua ekor ayam hutan. Tanpa bicara nona itu bekerja membuat api, membakar ayam sehingga tercium bau wangi yang membangkitkan selera makan.
“Mari makan!” kata si nona akhirnya. Ia memberikan satu ekor kepada kawannya.
Tanpa sungkan Bu Kie makan ayam itu. Ia pun makan dengan cepat.
“Ini masih ada,” kata si nona sambil tertawa. Ia melemparkan sisa dua potong kaki ayam.
Bu Kie malu hati. Dia hendak menolak, tetapi si nona menjadi marah. “Kalau mau makan, makanlah!” katanya ketus. “Siapa yang berpura-pura baik terhadapku, lain di mulut lain di hati, nanti aku tikam tubuhnya hingga berlubang!”
Tanpa banyak bicara Bu Kie menyantap paha ayam itu. Kemudian, untuk mencuci mulut dia menggunakan salju tebal sebagai air dan lengan tangan bajunya lalu menyusut kering mulutnya berikut mukanya. Pada saat itu kebetulan Cu-jie sedang berpaling. Ketika melihat muka orang, dia tersentak kemudian mengawasi. Bu Kie merasa heran sekaligus curiga.
“Kenapa?” dia bertanya.
“Berapa usiamu?” tanya si nona tanpa menjawab.
“Baru dua puluh tahun tepat.”
“Ah, kau hanya lebih tua dua tahun dari pada aku. Tapi mengapa kumismu sudah tumbuh begitu panjang?”
Bu Kie tertawa. “Sejak kecil aku hidup sendirian di gunung,” sahutnya. “Aku tidak pernah bertemu dengan orang, karena itu aku tidak berpikir untuk mencukurnya.”
Cu-jie merogoh sakunya untuk mengeluarkan sebilah pisau kecil yang bergagang emas.
“Mari!” katanya. Sambil memegangi muka orang dia lantas mulai mencukur.
Bu Kie diam saja. Ia merasa pisau yang tajam itu mencukur kumisnya. Ia merasakan juga tangan yang halus dan lemas dari si nona. Tanpa terasa hatinya menjadi dag-dig-dug... Sesudah mencukur kumis dan janggut, Cu-jie terus mencukur tenggorokan. Tiba-tiba saja dia tertawa dan berkata,
“Asal aku menggunakan sedikit saja tenaga, aku bisa memotong lehermu ini, maka terbanglah jiwamu! Kau takut tidak?”
“Mati atau hidup, aku terserah kepadamu, nona,” sahut Bu Kie. “Kalau mati di tanganmu, menjadi setan pun aku senang!”
Cu-jie membalik pisaunya dan menekan keras ke leher. Mendadak dia membentak, “Nih, jadilah kau setan yang senang!”
Bu Kie kaget, ia tak sempat melawan. Tetapi ia tak merasakan sakit, maka ia tersenyum.
“Senangkah kau?” tanya si nona tertawa.
Pemuda itu tertawa, ia mengangguk. Baru ia tahu sudah dipermainkan. Habis mencukuri muka orang, Cu-jie mengawasi. Untuk beberapa lama ia hanya bengong saja, lalu terdengar helaan napasnya.
“Ehh, kau kenapa?” tanya Bu Kie heran.
Nona itu tidak menyahut. Dia lantas memotong rambut orang untuk dibikin sedikit pendek, setelah itu dia membuat konde. Sebagai tusuk kondenya dia meraut cabang pohon. Walau pun pakaiannya butut, setelah dirias begitu Bu Kie tampak cakap dan gagah. Lagi-lagi si nona menghela napas.
“Gu-koko,” katanya perlahan dan kagum. “Aku tidak menyangka sebenarnya kau berwajah begini tampan...” Nona itu tentu menyesali wajahnya sendiri, maka Bu Kie cepat menyahut,
“Di dunia ini, dalam sesuatu yang bagus suka mengeram sesuatu yang jelek. Burung merak begitu indah bulunya, tapi nyalinya beracun. Jengger burung bu-yan merah pun bagus sekali, tapi racunnya bukan main. Demikian pula binatang lainnya. Misalnya ular, bagus dilihat namun jahatnya berlebihan. Wajah tampan apa faedahnya? Yang penting hatinya baik.”
Mendengar itu si nona tertawa dingin. “Hati baik apa faedahnya?” tanyanya. “Coba kau jelaskan!”
Ditanya begitu, Thio Bu Kie tidak segera dapat menjawab. Dia tersentak sejenak. “Siapa berhati baik, dia tidak dapat melukai orang,” katanya kemudian.
“Tidak mencelakai orang apakah kebaikannya?” tanya Cu-jie.
“Kalau kau tidak membunuh orang maka hatimu menjadi tenang,” Bu Kie menjelaskan.
“Jika aku tidak mencelakai orang maka hatiku justru tidak tenang,” kata si nona. “Jika aku mencelakai orang hingga hebatnya bukan kepalang barulah hatiku tenang dan girang.”
Bu Kie menggelengkan kepala. “Itu artinya kau merampas peri keadilan!” katanya.
Si nona tertawa dingin. “Kalau bukan untuk mencelakai orang, lalu apa gunanya aku belajar ilmu Cian-cu Ciat-hu-ciu?” katanya. “Mengapa aku mesti menyiksa diri hingga menderita tak habisnya? Apa itu untuk main-main saja?”
Habis berkata dia mengeluarkan kotak kemalanya, membuka tutupnya dan memasukkan kedua telunjuknya ke dalam kotak tersebut. Sepasang laba-laba belang di dalam kotak bergerak perlahan-lahan, lalu mereka menggigit kedua telunjuk itu. Si nona menarik napas dalam-dalam, kedua lengannya gemetar tanda bahwa ia mengerahkan tenaga dalamnya melawan isapan laba-laba itu. Kalau si laba-laba mengisap darah si nona, maka si nona menyedot racun kedua binatang itu agar masuk ke dalam darahnya.
Bu Kie terus mengawasi. Dia melihat wajah si nona bersungguh-sungguh dan pada kedua pelipisnya muncul warna hitam. Nona itu lantas menggertak gigi, tanda bahwa dia menahan sakit. Sejenak kemudian dari hidungnya keluar keringat menetes.
Sekian lama Cu-jie melatih ilmu itu. Setelah kedua laba-laba itu puas mengisap darahnya, keduanya lantas melepaskan gigitannya dan merebahkan diri untuk terus tidur pulas. Cahaya hitam pada pelipis Cu-jie lenyap dengan cepat, kulitnya menjadi segar kembali. Ia menghela napas.
Bu Kie merasakan hawa napas itu berbau harum, hanya bedanya dia merasa kepalanya pusing mau pingsan. Tanda bahwa hawa itu beracun hebat. Cu-jie yang tadinya meram kini membuka kedua matanya. Dia tersenyum.
“Sampai bagaimana latihan itu baru sempurna?” tanya Bu Kie.
“Setiap laba-laba ini,” sahut si nona, “tubuhnya dari belang mesti menjadi hitam, dari hitam menjadi putih. Dengan begitu habislah racunnya lantas mati dengan sendirinya. Racunnya masuk dalam telunjukku. Untuk menjadi sempurna aku mesti menghabiskan seribu laba-laba. Untuk mencapai puncak kesempurnaan, walau pun sudah menghabiskan lima ribu sampai selaksa ekor masih belum cukup.”
Bu Kie menjadi heran, hatinya merasa jeri. “Dari mana didapatkan begitu banyak laba-laba belang?” tanyanya.
“Di satu pihak dia mesti dipelihara supaya dia dapat beternak,” sahut Cu-jie, “Di lain pihak dia mesti dicari di tempat kehidupannya.”
Bu Kie menghela napas. “Di kolong langit terdapat banyak sekali ilmu kepandaian, mengapa mesti meyakinkan ilmu yang begitu beracun?” katanya.
Si nona tertawa dingin, “Memang amat banyak ilmu kepandaian di kolong langit ini, tetapi tak ada satu pun yang bisa melawan Ciat-hu-ciu ini,“ katanya. “Jangan kau anggap tenaga dalammu sudah mahir. Jika nanti aku telah berhasil melatih, tak akan kau dapat bertahan untuk satu tusukan saja dari telunjukku ini!”
Sambil bicara si nona menusuk batang pohon di dekatnya. Karena dia belum mahir benar dengan ilmunya, maka jarinya hanya masuk setengah dim.
“Kenapa ibumu mengajarkan ilmu ini?” tanya Bu Kie pula. Dia heran. “Apakah ibumu pun mempelajarinya juga?”
Mendengar ibunya disebut, mata Cu-jie menyorot tajam dan bengis bagaikan seekor raja hutan hendak menerkam manusia. Dia lalu berkata nyaring.
“Siapa mempelajari Cian-cu Ciat-hu-ciu ini, setelah menghabiskan delapan ratus ekor hingga tubuhnya penuh dengan racun, maka romannya akan berubah, dan sesudah seribu ekor, romannya akan bertambah jelek. Ketika ibu bertemu dengan ayahku, ia telah menghabiskan hampir lima ratus ekor. Ia kuatir ayah tidak akan menyukainya karena romannya sangat jelek, maka ia terpaksa menghentikan latihannya. Akhirnya dia menjadi wanita tanpa tenaga, tenaganya lenyap, umpama kata ia tak sanggup menyembelih seekor ayam. Benar ia menjadi cantik, tapi ia pun lantas dihina madunya serta kakakku. Ia tak dapat melawan hingga akhirnya ia membuang jiwanya. Maka... hmm! Apa gunanya paras elok? Ibuku seorang wanita yang sangat cantik dan halus, tapi ayahku menikah lagi karena tidak mendapat anak laki-laki...”
Sinar mata Bu Kie menyapu wajah nona itu. “Jadi kau... kau mempelajari ilmu...“ katanya perlahan.
“Benar!” si nona menyahut cepat. “Karena belajar ilmu ini maka romanku jadi jelek begini sehingga laki-laki tak berbudi itu tidak memperdulikan aku lagi. Jika nanti pelajaranku selesai, aku akan mencarinya. Kalau di sisinya tidak ada lain wanita, ya sudah saja...”
“Kau toh belum menikah dengannya?” tanya Bu Kie. “Bukankah di antara kalian juga tidak ada janji ikatan jodoh? Hanya...hanya...”
“Bicaralah terus terang!” kata si nona. “Takut apa? Bukankah kau hendak berkata bahwa aku mencintai dia sepihak saja? Apa salahnya itu? Aku telah mencintai dia, maka aku melarang dia mempunyai pacar lain! Dia tak berbudi, biarlah nanti dia merasakan telunjukku ini, telunjuk Cian-cu Ciat-hu-ciu!”
Bu Kie tersenyum. Dia tak mau beradu omong lagi. Dalam hatinya dia merasa bahwa Cu-jie bertabiat luar biasa sekali. Jika baik dia sangat baik, tapi selagi marah dia sangat galak dan tidak mengenal aturan. Ia jadi teringat akan kata-kata guru besarnya, paman gurunya yang pertama dan ke dua, bahwa di rimba persilatan ada perbedaan antara yang sesat dan yang lurus, maka ia percaya Cian-cu Ciat-hu-ciu adalah pelajaran sesat, bahwa ibunya Cu-jie mungkin seorang sebangsa siluman. Karena ini tanpa terasa ia menjadi rada jeri terhadap si nona...
Cu-jie tidak tahu apa yang dipikirkan Bu Kie. Dia berlari-lari keluar dan ke dalam, mondar mandir, memetik berbagai macam bunga. Maka di lain saat gubuk mereka telah terpajang rapih, menarik hati untuk dipandang.
“Cu-jie,” kata Bu Kie, “Sesudah sakit kakiku sembuh, nanti aku akan pergi mencari daun obat-obatan untuk mengobati bengkak mukamu yang beracun itu...”
Mendengar itu si nona tampak ketakutan. “Tidak, tidak!” katanya. “Setelah menyiksa diri sekian lama barulah kuperoleh kepandaian seperti ini! Apakah kau hendak memusnahkan kepandaianku?”
“Bukan begitu!” katanya cepat. “Mungkin kita dapat memikirkan semacam obat. Dengan memakai obat itu kepandaianmu tak usah lenyap, tapi racun di muka saja yang hilang tak berbekas.”
“Tidak bisa!” si nona berkata lagi. “Kalau ada semacam obat atau cara, mustahil ibuku tak tahu! Kepandaian ini adalah kepandaian turunan. Kupikir, yang bisa berbuat itu mungkin hanya Tiap-kok Ie-sian Ouw Ceng Gu yang ilmu pengobatannya amat lihay, tapi sayang beberapa tahun yang lalu dia telah meninggal dunia.”
“Kau kenal Ouw Ceng Gu?” tanya Bu Kie.
Cu-jie mementang matanya, ia nampak heran. “Apa?” katanya. “Apakah aneh jika tahu tentang dia? Nama Tiap-kok Ie-sian toh memenuhi seluruh negara! Siapakah yang tidak tahu?” Dia menghela napas lalu berkata lagi. “Taruh kata dia masih hidup, tapi apakah gunanya itu? Dialah yang dijuluki ‘Melihat kematian tak mau menolong’!”
Bu Kie tidak berkata apa-apa, akan tetapi di dalam hatinya ia berkata “Nona ini amat baik padaku, aku mesti membalas kebaikannya. Dia tidak tahu semua kepandaian Tiap-kok Ie-sian telah diwariskan kepadaku. Baiklah, sekarang aku tidak usah bilang apa-apa padanya, hanya di belakang hari nanti akan aku upayakan untuk mengobati mukanya ini supaya dia kaget dan girang!” Sementara itu langit sudah gelap, keduanya lantas rebah bersandar di batu gunung untuk tidur. Bu Kie dapat pulas, tetapi pada tengah malam dia terbangun dengan tiba-tiba karena telinganya mendengar suara isak tertahan. Ketika dia membuka mata, kawannya sedang menangis sedih. Dia mengulur tangan meraba pundak nona itu, menepuk dua kali.
“Jangan nangis, Cu-jie,” dia menghibur. “Jangan bersusah hati...”
Akan tetapi justru karena ditegur, Cu-jie tidak mampu menahan kedukaannya lagi. Dengan menyenderkan kepala di pundak orang dia menangis meng-gerung-gerung.
“Kau kenapa Cu-jie?” tanya Bu Kie perlahan. “Ada apa? Apakah kau teringat pada ibumu? Benarkah?”
Cu-jie menggangguk perlahan. “Ibu sudah menutup mata,“ katanya. “Aku jadi sebatang kara. Siapapun tidak menyukai aku... siapapun tidak mau berlaku baik padaku...”
Bu Kie menggunakan tangan bajunya untuk menyeka air mata nona ini.
“Aku menyukai kau, aku dapat berlaku baik padamu,” sahut Cu-jie. “Orang yang kucintai tidak pedulikan aku, dia memukul aku, dia pun menggigit aku...”
“Lupakan laki-laki tidak berbudi itu,” kata Bu Kie. “Aku akan menikah dengan kau, seumur hidupku nanti aku akan memperlakukan kau dengan baik.”
“Tidak! Tidak bisa!” Cu-jie berseru. “Aku tak dapat melupakan dia! Kalau satu kali lagi kau menganjurkan aku melupakan dia, untuk selamanya aku tidak akan peduli lagi padamu!”
Bu Kie heran, malu dan jengah. Syukurlah cuaca amat gelap, jika tidak maka akan terlihat mukanya yang merah. Keduanya berdiam.
“A Gu-koko, apakah kau marah padaku?” nona itu kemudian bertanya.
“Aku tidak marah, aku hanya menyesalkan diriku sendiri,“ jawabnya. “Tidak selayaknya aku bicara seperti barusan kepadamu.”
“Tidak, tidak begitu. Kau bilang kau suka menikah denganku, seumur hidupmu kau hendak memperlakukan aku dengan baik. Aku senang mendengar kata-katamu itu. Coba kau ulangi sekali lagi.”
Tapi Bu Kie menjadi tidak senang. “Kau tidak dapat melupakan orang itu, perlu apa aku bicara lagi?” katanya.
Cu-jie mencekal tangan Bu Kie, lalu berkata dengan suara lemah lembut. “A Gu-koko, kau jangan marah. Aku mengaku bersalah. Jika kau benar-benar menikah denganku, aku bisa membutakan kedua matamu, bahkan mungkin juga aku akan mengambil jiwamu.”
Bu Kie kaget. “Apa katamu?” dia menegas.
“Sesudah kedua matamu buta maka kau tidak akan bisa lagi melihat romanku yang jelek,” katanya perlahan “Kau tak akan bisa lagi memandang wajah nona Ciu dari Go-bi-pay yang cantik manis. Andai kata sesudah buta kau masih juga belum dapat melupakan dia, maka aku akan membinasakan kau kemudian mengambil jiwa sendiri.“
Dia memberi jawaban yang hebat itu dengan suara tenang-tenang saja seolah apa yang dikatakannya adalah hal yang wajar. Waktu mendengar ‘nona Ciu dari Go-bi-pay’, jantung Bu Kie memukul lebih keras. Baru saja Cu-jie selesai bicara, mendadak di kejauhan terdengar suara seorang tua.
“Nona Ciu dari Go-bi-pay mempunyai hubungan apa dengan kalian berdua?”
Cu-jie melompat bangun. “Biat-coat Suthay!” bisiknya.
Biar pun dia hanya berbisik tetapi perkataannya sudah didengar oleh orang itu yang lantas saja menjawab.
“Benar, ini Biat-coat Suthay.”
Waktu orang itu bicara yang pertama kali, dia masih berada jauh, tapi waktu bicara ke dua kali, dia sudah berada di samping gubuk. Cu-jie mengenal bahaya. Sebenarnya dia ingin kabur dengan mendukung Bu Kie, namun sudah tidak keburu lagi. Sesaat kemudian orang itu membentak dengan suara dingin.
“Ayo keluar! Apa kalian mau bersembunyi seumur hidup?”
Sambil memapah dan memegang tangan Bu Kie, Cu-jie menyingkap tirai rumput di depan gubuknya kemudian bertindak keluar. Dalam jarak sekitar setombak dari gubuknya, berdiri seorang pendeta tua yang rambutnya putih dan memang bukan lain dari pada Ciang-bun-jin Go-bi-pay Biat-coat Suthay. Dari kejauhan datang dua belas orang yang lantas berdiri berjejer di kedua samping pendeta wanita itu. Mereka adalah murid-murid Go-bi-pay, empat nikouw (pendeta wanita), empat orang wanita biasa dan empat laki-laki yang berdiri di barisan belakang dan di antaranya terdapat Teng Bin Kun dan Ciu Cie Jiak.
Selama beberapa turunan, yang memegang tampuk pimpinan Go-bi-pay selalu wanita dan murid lelaki tidak pernah diberikan pelajaran ilmu silat yang paling tinggi sehingga oleh karenanya, kedudukan murid lelaki lebih rendah dari pada murid wanita. Tanpa mengeluarkan sepatah katapun, dengan sorot mata dingin Biat-coat Suthay menatap Cu-jie.
Mengingat kebinasaan Kie Siauw Hu, Bu Kie sangat berkuatir. Sambil menyandarkan diri pada punggung Cu-jie, diam-diam dia mengambil keputusan bahwa jika si pendeta wanita menyerang, walau pun mesti binasa dia akan mengadu jiwa. Beberapa saat kemudian Biat-coat menoleh ke arah Teng Bin Kun. Seraya mengeluarkan suara di hidung dia bertanya,
“Apakah budak kecil ini?”
“Benar!” jawab sang murid.
Tiba-tiba...
“Krak...! Krak...!“
Cu-jie mengeluarkan suara kesakitan, tulang kedua pergelangan tangannya patah dan dia pun rebah dalam keadaan pingsan. Bu Kie sendiri terpaku dan ternganga. Dia hanya melihat berkelebatnya bayangan warna abu-abu dan tahu-tahu Cu-jie sudah terguling. Dengan kecepatan luar biasa dia menyerang, lalu dengan kecepatan luar biasa pula dia balik ke tempatnya semula, di mana dia kembali berdiri tegak bagaikan pohon tua di tengah malam yang sunyi itu. Gerakan yang secepat itu sudah mengaburkan pandang mata Bu Kie yang terkesima dan hanya bisa mengawasi tanpa berdaya. Sesudah memperlihatkan kepandaiannya, dengan sorot mata bengis Biat-coat mengawasi Bu Kie.
“Pergi!” bentaknya.
Ciu Cie Jiak maju setindak kemudian berkata seraya membungkuk. “Suhu, dia tidak dapat berjalan, mungkin kedua tulang betisnya patah.”
“Buatlah dua buah soat-kio (semacam kereta salju tak beroda) untuk membawa mereka,” sang guru memerintah.
Murid-murid itu mengiyakan dan kecuali Teng Bin Kun yang belum sembuh dari lukanya, mereka segera melakukan apa yang diperintah. Sesudah selesai, dua orang murid wanita lalu mengangkat Cu-jie dan menaruhnya di kereta yang satu, sedang dua orang murid pria menaruh Bu Kie di kereta yang lain. Sambil menyeret kedua kereta itu, mereka mengikuti Biat-coat ke arah barat. Dengan penuh kekuatiran, Bu Kie memasang kuping untuk mendengarkan gerak gerik Cu-jie. Sesudah melalui belasan li barulah dia mendengar rintihan si nona.
“Cu-jie bagaimana keadaanmu?” tanyanya dengan suara nyaring. “Apakah kau mendapat luka dalam?”
“Dia mematahkan pergelangan tanganku, tapi aku tidak luka dalam,” jawabnya.
“Bagus,” kata Bu Kie, “Gunakan siku kiri untuk membentur lengan kananmu, tiga cun lima hun di bawah tekukan lengan. Sesudah itu pergunakan siku kananmu untuk membentur lengan kiri, tiga cun lima hun di bawah tekukan lengan. Dengan berbuat begitu maka rasa sakit akan berkurang.”
Sebelum Cu-jie menjawab, Biat-coat sudah mengeluarkan suara. “Ihh...!” dan dia mengawasi Bu Kie dengan mata mendelik. “Bocah! Rupanya kau mengerti ilmu ketabiban,“ katanya. “Siapa namamu?”
“Aku she Can, namaku A Gu,” jawab Bu Kie.
“Siapakah gurumu?” tanya pula si nenek.
“Guruku tabib kampungan,” Bu Kie menerangkan. “Biar kuberi-tahu, Suthay takkan mengenal namanya.”
Biat-coat mengeluarkan suara di hidung dan tidak mendesak lagi. Sampai fajar menyingsing barulah rombongan itu mengaso sambil makan makanan kering, Cie Jiak membawa beberapa bakpauw, lalu diberikan kepada Bu Kie serta Cu-jie. Melihat Bu Kie yang sesudah dicukur berubah menjadi pemuda tampan, diam-diam dia merasa heran dan kagum.
RENCANA MENYERBU MO-KAUW
Sesudah mengaso kurang lebih dua jam barulah mereka meneruskan perjalanan ke arah barat. Sesudah berjalan tiga hari Bu Kie menarik kesimpulan bahwa dalam perjalanan itu rombongan Go-bi-pay punya tugas yang amat penting. Baik saat berjalan mau pun waktu mengaso semua orang tutup mulut, kecuali sangat perlu. Mereka seolah manusia gagu. Tetapi tugas apakah yang hendak ditunaikan mereka? Bu Kie tidak dapat menjawab. Selama beberapa hari tulang betis Bu Kie yang patah sudah bersambung lagi seperti sedia kala sehingga sebenarnya dia sudah dapat berjalan lagi. Tapi dia sendiri tidak memperlihatkan kesembuhannya, malah dia sering merintih untuk mengelabui Biat-coat. Dia tengah menunggu kesempatan baik untuk kabur bersama Cu-jie. Kesempatan itu belum datang karena mereka masih berjalan di tanah datar sehingga sebelum kabur jauh dia tentu sudah dibekuk lagi. Maka itu dia bersabar terus. Pada waktu mengaso dia mengobati luka Cu-jie dan Biat-coat pun tidak menghalanginya.
Setelah berselang dua hari lagi, suatu lohor rombongan Biat-coat tiba di gurun pasir. Selagi enak berjalan, terdengar suara derap kuda mendekat dari sebelah barat. Biat-coat cepat-cepat memberi perintah dengan gerakan tangan dan semua murid segera menyembunyikan diri di belakang bukit pasir. Dua di antaranya menghunus pedang pendek dan mengarahkan ujungnya ke arah punggung Bu Kie dan Cu-jie. Sudah jelas mereka hendak menyerang musuh dan kalau dua tawanan itu berani berteriak maka kedua pedang pendek itu pasti digunakan.
Tak lama kemudian kuda-kuda itu mendekat. Begitu melihat tapak-tapak kaki, para penunggang kuda segera menahan tunggangannya. Tiba-tiba Ceng-she Suthay mengangkat hud-tim (kebutan yang dapat digunakan sebagai senjata), maka dengan serentak sebelas murid Go-bi-pay melompat keluar dari belakang bukit pasir. Bu Kie mengawasi dan melihat empat penunggang kuda yang kesemuanya mengenakan jubah warna putih. Sambil membentak keras mencabut senjata dan pertempuran lantas terjadi.
“Semua siluman dari Mo-kauw satu pun tak boleh dikasih lolos!” teriak Ceng-she.
Walau pun dikepung musuh yang berjumlah lebih besar tetapi keempat orang itu melawan dengan gagahnya. Tetapi kedua belas murid Go-bi-pay yang kali ini mengikut Biat-coat ke See-hek adalah murid pilihan. Baru bertempur tujuh delapan jurus, tiga anggota Mo-kauw sudah roboh dari tunggangannya, sedangkan yang keempat coba melarikan diri sesudah melukai seorang murid Go-bi. Namun baru saja kabur beberapa tombak, dia kena dicandak Ceng-hian.
“Turun kau!” bentak si nikouw seraya mengebut betis kiri orang itu dengan hudtim-nya.
Ia menangkis dengan goloknya. Bagaikan kilat Ceng-hian mengubah pukulannya dan mengebut kepala musuh. Pukulan yang hebat itu hampir tepat pada sasarannya sehingga orang itu lantas terguling dari kudanya. Tapi orang itu alot dan nekat. Dalam keadaan luka berat dia masih bisa balas menyerang dengan tujuan untuk mati bersama musuhnya. Sambil mementang kedua tangannya dia menubruk. Untung saja Ceng-hian keburu berkelit dan mengebut dadanya. Pada saat itulah tiga ekor merpati putih terbang dari sangkarnya yang tergantung di leher kuda.
“Jangan main gila!” bentak Ceng-hian seraya mengibas lengan jubahnya dan tiga butir thie-lian-ciu (biji teratai besi) menyambar ke arah tiga burung itu. Dua di antaranya jatuh, tapi yang satu dapat terbang terus karena si jubah putih berhasil memukul sebutir thie-lian-ciu dengan busur besinya. Semua murid Go-bi langsung menimpuk dengan senjata rahasia mereka, namun burung itu sudah terbang jauh.
Ceng-hie mengibas tangan kirinya dan empat murid lelaki lalu menyeret keempat musuh yang roboh itu, tapi kemudian berdiri tegak di hadapan kakak seperguruannya. Selama pertempuran Biat-coat hanya mengawasi sebagai penonton. Dia pun tak bergerak ketika murid-muridnya menimpuk burung dengan senjata rahasia.
“Terhadap Cu-jie dia turun tangan sendiri, suatu tanda bahwa dia memandang tinggi pada Cu-jie,” kata Bu Kie dalam hatinya. “Mungkin sekali karena patahnya tulang pergelangan tangan Teng Bin Kun. Kalau mau, dengan mudah dia dapat membinasakan merpati yang ketiga. Lalu mengapa dia diam saja?”
Padahal waktu itu Ceng-hie, Ceng-hian dan murid utama lainnya sudah mendapat nama besar di rimba persilatan. Satu orang saja cukup untuk menghadapi gelombang besar. Maka itu Biat-coat tidak perlu turun tangan sendiri dalam menghadapi beberapa murid Mo-kauw. Bahwa Ceng-hie dan Ceng-hien sudah turun ke dalam gelanggang, pada hakekatnya berarti memandang tinggi beberapa musuh itu. Sementara itu salah seorang murid wanita sudah menjemput dua bangkai merpati itu lalu mencopot sebuah bumbung kecil yang melekat pada kaki seekor burung. Ia mengeluarkan segulung kertas dari bumbung dan menyerahkannya kepada Ceng-hie yang lalu membuka dan membacanya.
“Suhu,” kata Ceng-hie. “Mo-kauw sudah tahu rencana untuk mengepung dan membasmi Kong-beng-teng. Surat ini adalah untuk meminta bantuan dari Peh-bie-kauw.”
Sesudah berkata begitu dia lantas membaca surat yang satunya lagi. “Isinya sama juga,” katanya. “Sungguh sayang yang seekor dapat meloloskan diri.”
“Sayang apa?” kata sang guru dengan suara dingin. “Semakin banyak mereka berkumpul semakin baik lagi. Tak usah berabe mencari mereka di berbagai tempat.”
Bu Kie terkejut mendengar disebutkannya nama ‘Peh-bie-kauw’. “Kauwcu Peh-bie-kauw adalah kakek luarku,“ pikirnya. “Hm! Nenek bangkotan itu sungguh sombong, belum tentu dia dapat melawan Gwa-kong.”
Semula Bu Kie menunggu kesempatan untuk kabur bersama Cu-jie. Tetapi sekarang dia membatalkan niatnya sebab ingin menyaksikan keramaian yang bakal terjadi.
“Siapa lagi yang kalian undang?” Ceng-hie bertanya kepada keempat tawanannya dengan suara bengis. “Mengapa kalian tahu bahwa enam partai akan membasmi Mo-kauw?”
Keempat orang itu tertawa terbahak dengan muka menyeramkan. Sehabis tertawa mereka roboh serentak dan tidak berkutik lagi. Semua murid Go-bi terkejut, dua di antaranya membungkuk untuk menyelidiki.
“Suci!” teriak mereka. “Semua sudah mati!”
Sambil mengawasi muka empat mayat itu Ceng-hian berkata dengan nada marah. “Mereka makan racun. Racun itu sangat hebat.”
“Geledah badannya!” Ceng-hie memerintah.
Empat murid lelaki segera membungkuk dan menggerakkan tangan merogoh saku mayat.
“Hati-hati!” kata Ciu Cie Jiak. “Di dalam saku mungkin tersembunyi racun.”
Keempat laki-laki itu terkejut. Mereka segera merobek saku mayat-mayat dengan menggunakan golok dan benar saja, di setiap saku terdapat seekor ular kecil yang amat beracun. Tanpa peringatan nona Ciu tentu mereka sudah binasa.
“Hari ini untuk pertama kali kalian berurusan dengan orang-orang agama siluman,” kata Biat-coat dengan suara dingin. “Mereka berempat hanyalah orang-orang yang tidak ternama, tetapi sudah begitu beracun. Jika bertemu dengan jago-jago Mo-kauw, apakah kalian masih bisa pulang ke Go-bi dengan masih bernapas?” dia mengeluarkan suara di hidung dan berkata pula, “Ceng-hie kau sudah cukup tua, tetapi kau masih tetap sembrono. Kau masih kalah dari Cie Jiak.”
Paras muka murid itu berubah merah dan dia membungkuk untuk menerima teguran sang guru. Malam itu mereka bermalam di gurun pasir dengan menyalakan sebuah api unggun yang cukup besar. Dengan bergiliran mereka membuat penjagaan, karena mereka tahu bahwa daerah itu adalah tempat keluar masuknya orang Mo-kauw.
Kira-kira tengah malam dari kejauhan terdengar keleneng unta yang mendatangi ke arah mereka. Semua orang tersadar dan segera bersiap sedia. Suara keleneng itu semula datang dari arah barat daya, tapi sesaat kemudian suaranya berpindah ke barat laut, beberapa saat kemudian muncul di sebelah timur laut. Semua murid Go-bi heran tak kepalang. Bagaimana bisa begitu? Biar bagaimana pun juga seekor unta tak akan bisa berlari secepat itu, sebentar ke barat, sebentar ke timur dan sebagainya. Suara keleneng makin nyaring, tanda unta itu sudah dekat. Mendadak suara itu terdengar gencar sekali, seperti juga binatang itu kabur dengan kecepatan luar biasa. Orang-orang Go-bi yang baru sekali ini menjelajah lautan pasir menjadi bingung dan kuatir.
“Sahabat! Perlihatkan dirimu!” teriak Biat-coat. “Permainan gilamu bukan perbuatan orang berilmu.“
Suara yang disertai Iweekang itu menempuh jarak beberapa li dan benar saja, sesudah si nenek berteriak maka suara keleneng tidak terdengar lagi. Sampai pagi tidak terjadi sesuatu yang luar biasa. Malamnya sekitar tengah malam, suara keleneng terdengar lagi, sebentar jauh sebentar dekat, sebentar di sana, sebentar di sini. Biat-coat berteriak lagi. Kali ini teriakannya tidak mempan lagi. Suara keleneng tidak menghiraukannya. Selang beberapa lama, sesudah puas mengganggu suara itu tiba-tiba saja menghilang.
Bu Kie dan Cu-jie saling mengawasi sambil tersenyum. Biar pun tidak dapat memecahkan keanehan suara itu, mereka tahu bahwa semua itu adalah perbuatan orang pentolan Mo-kauw. Melihat orang-orang Go-bi menjadi kebingungan sangat menyenangkan hati mereka.
Dengan rasa mendongkol Biat-coat merebahkan diri untuk mengaso. Tak lama kemudian suara keleneng terdengar lagi, namun orang-orang Go-bi tidak memperdulikannya. Selang beberapa lama suara itu menuju ke utara lantas menghilang. Si unta rupanya tahu bahwa gangguannya tidak digubris lagi.
Pada keesokan paginya semua orang berkemas untuk berangkat. Sekonyong-konyong Bu Kie dan Cu-jie mengeluarkan suara tertahan karena di dekat mereka nampak berbaring satu orang tak dikenal yang sedang menggeros. Tubuh orang itu dari kepala sampai ke kakinya tertutup selimut seolah-olah sesosok mayat.
Semua murid Go-bi terkesiap. Guru mereka memiliki kepandaian yang amat tinggi. Setiap desiran angin, bahkan jatuhnya selembar daun, tak akan lolos dari pendengarannya. Mana bisa seorang manusia menyatroni tanpa diketahui? Di lain saat dua murid Go-bi sudah menghunus pedang dan mendekati orang itu.
“Siapa kau?!” bentaknya.
Tetapi orang itu terus saja mendengkur. Dengan ujung pedang, salah seorang menyontek selimut dan nampaklah yang sedang tidur pulas ternyata seorang pria yang mengenakan jubah panjang. Ceng-hie maklum bahwa orang yang mempunyai nyali begitu besar tentulah bukan orang sembarangan. Dia maju setindak kemudian bertanya,
“Siapa tuan? Perlu apa tuan datang ke sini?”
Tapi pria itu tetap tidak mempedulikan bahkan suara dengkurnya semakin keras. Melihat lagak orang itu yang dianggap amat kurang ajar, darah Ceng-hian lantas naik. Dengan marah dia mengangkat hudtim lalu menghantam pinggangnya.
“Wirrrrr...!”
Semua orang terkesiap dan mendongak ke atas. Apa yang terjadi? Entah bagaimana hudtim Ceng-hian Suthay tahu-tahu terbang ke atas, terbang lurus sampai tingginya belasan tombak. Tiba-tiba terdengar teriakan Biat-coat.
“Ceng-hian, awas!”
Hampir berbarengan dengan teriakan itu, tubuh si jubah panjang melesat beberapa tombak jauhnya dan sungguh hebat, Ceng-hian sudah tertawan! Sambil mendukung tawanannya, lelaki itu lari bagaikan terbang. Ceng-hie beserta seorang saudari seperguruannya yang bernama Souw Bong Ceng cepat menghunus senjata dan segera mengejar. Namun gerakan orang itu cepat luar biasa dan dalam sekejap sudah lari jauh. Seraya mengeluarkan siulan yang sangat nyaring Biat-coat turut mengejar sambil menggenggam Ie-thian-kiam. Kepandaian Ciang-bun-jin dari Go-bi-pay tentu saja lain dari pada yang lain. Hanya dalam beberapa saat saja Biat-coat sudah melewati kedua muridnya dan di lain detik sinar hijau dari Ie-thian-kiam menyambar punggung si jubah panjang.
Akan tetapi orang itu mempunyai kegesitan yang menakjubkan. Bagaikan kilat dia mampu menyelamatkan diri dari tikaman yang dahsyat itu. Biar pun sedang mendukung Ceng-hian tetapi kecepatan lari si jubah panjang ternyata tak kalah dari pengejarnya. Bukan itu saja, bahkan dia seakan seperti ingin memperlihatkan kepandaiannya karena sebaliknya dari pada kabur terus, dia lari berputaran, memutari murid-murid Go-bi-pay yang menonton dengan mulut ternganga. Beberapa kali Biat-coat menikam, tapi tikamannya s
elalu jatuh di tempat kosong. Sesudah main kejar-kejaran barulah hudtim Ceng-hian jatuh ke tanah.
Saat itu Ceng-hie dan Souw Bong Ceng berhenti mengejar dan bersama saudari saudara seperguruannya, mereka mengawasi kejar-kajaran itu sambil menahan napas. Kedua tokoh itu berlari bagaikan terbang menggunakan ilmu ringan badan. Betapa tinggi ilmu mereka dapatlah dibayangkan dengan melihat kenyataan bahwa debu dan pasir yang tidak beterbangan akibat injakan kaki mereka. Dengan hati berdebar murid-murid Go-bi mengawasi Ceng-hian yang dibawa lari tanpa berkutik. Semua orang tahu bahwa kakak seperguruannya mempunyai kepandaian tinggi dan sudah mewarisi sebagian besar ilmu guru mereka. Cara bagaimana ia bisa dibekuk begitu mudah dan sudah ditawan hingga sedikit pun tak berdaya?
Sebenarnya mereka ingin sekali mencegat musuh yang sedang dikejar itu. Tetapi mereka tak berani karena kuatir dimarahi sang guru, sebab bantuan tersebut berarti akan memerosotkan nama besar Biat-coat Suthay. Karena itulah mereka hanya menonton dengan mata terbelalak. Dalam sekejap si jubah panjang dan Biat-coat sudah membuat tiga putaran.
Sungguh pun si nenek telah mengeluarkan seluruh kepandaiannya namun dia tetap tidak dapat menyusul musuh. Jarak antara mereka tidak berubah, Biat-coat masih ketinggalan beberapa kaki di belakang si jubah panjang. Dengan mengingat bahwa orang itu berlarian sambil mendukung Ceng-hian yang beratnya kira-kira seratus kati, maka dapatlah ditarik kesimpulan bahwa dalam ilmu ringan badan dia masih lebih unggul satu tingkat dari pada si nenek tua.
Setelah menonton beberapa lama, Bu Kie menarik ujung baju Cu-jie seraya berbisik, “Mari kita kabur.”
“Tidak, keramaian ini harus ditonton sampai habis,” jawab si nona.
Pada waktu mereka lari pada putaran keempat, orang itu tiba-tiba memutar badan lantas melemparkan Ceng-hian ke arah gurunya. Karena merasa ada sambaran angin yang amat dahsyat, cepat Biat-coat menghentikan tindakannya kemudian mengerahkan tenaga Cian-kin (Tenaga seribu kati). Sambil mengerahkan Iweekang kemudian dia menyambut tubuh muridnya. Orang itu tertawa terbahak.
“Enam partai besar mau mengepung dan membasmi Kong-beng-teng!” katanya. “Ha-ha-ha...! Mungkin tak begitu gampang!” Sehabis berkata begitu dia lari ke jurusan utara.
Waktu kejar-kejaran tadi debu dan pasir sama sekali tidak bergerak. Namun sekarang, di jalan yang dilaluinya tampak pasir kuning mengepul ke atas seolah seekor naga kuning yang menutupi bayangannya. Seluruh murid Go-bi segera menghampiri dan berdiri di sekitar guru mereka. Paras muka Biat-coat merah padam. Tanpa mengeluarkan satu patah kata pun dia berdiri tegak sambil mendukung Ceng-hian.
“Ceng-hian Suci...!“ mendadak Souw Bong Ceng berseru.
Ternyata Ceng-hian sudah tak bernyawa lagi, mukanya kuning dan pada tenggorokannya terdapat luka. Semua murid wanita lantas menangis.
“Kenapa menangis?!” bentak sang guru. “Kubur dia!”
Semua orang segera berhenti menangis kemudian mengubur jenasah Ceng-hian. Setelah penguburan selesai, sambil membungkuk Ceng-hie bertanya,
“Suhu, siapakah manusia siluman itu? Kami harus mengenal dia untuk membalas sakit hati Ceng-hian Sumoay.”
“Kalau tak salah dia adalah Ceng-ek Hok-ong (Raja kelelawar bersayap hijau), salah seorang raja (Ong) dari Mo-kauw,” jawabnya dengan suara dingin. “Sudah lama kudengar bahwa ilmu ringan badan orang itu tiada bandingannya di dunia. Nama besarnya ternyata bukan omong kosong. Kepandaiannya lebih tinggi dari pada aku.“
Sejak menyaksikan kekejaman Biat-coat Suthay, Bu Kie sangat membenci nikouw tua ini. Tetapi sekarang dia merasa kagum dan harus mengakui bahwa dia masih kalah jauh dari si nenek. Dalam menghadapi kecelakaan nenek itu masih dapat berlaku begitu tenang dan masih bisa memuji kepandaian musuhnya. Sikap itu adalah sesuai dengan kedudukannya sebagai pemimpin tertinggi sebuah partai persilatan besar.
“Hm...! Dia sama sekali tidak berani mengadu tangan dengan Suhu dan terus lari ngiprit,” kata Teng Bin Kun dengan suara marah yang dibuat-buat. “Enghiong (orang gagah) macam apa dia?”
Sang guru mengeluarkan suara di hidung. Tiba-tiba tangannya melayang dan menggaplok mulut perempuan she Teng itu.
“Aku tidak dapat menyusul dia dan tidak dapat menolong jiwa Ceng-hian,” kata Biat-coat. “Jadi dialah yang menang. Siapa menang siapa kalah semua orang tahu. Nama enghiong diberikan orang lain. Apakah kita bisa memberi julukan Enghiong kepada diri sendiri?”
Selebar muka Teng Bun kemerah-merahan saking malunya. Dia lalu membungkuk seraya berkata,
“Murid salah, murid sudah tahu kesalahan sendiri.”
“Suhu, siapa itu Ceng-ek Hok-ong?” tanya Ceng-hie. “Bolehkah Suhu memberi penjelasan kepada kami?”
Biat-coat tak menjawab. Ia mengibaskan tangannya sebagai perintah agar rombongannya meneruskan perjalanan. Sesudah toa-suci mereka membentur tembok, murid-murid yang lain tentu saja tak berani banyak bicara. Mereka segera berjalan dengan hati duka. Malam itu mereka menginap di samping sebuah bukit pasir dan membuat sebuah perapian yang besar. Bagaikan patung Biat-coat memandang api yang berkobar-kobar. Bu Kie mengerti bahwa nenek itu bersusah hati.
Go-bi-pay adalah sebuah partai persilatan yang namanya tersohor di kolong langit. Kali ini dengan membawa jago-jago partai tersebut Biat-coat menjelajahi wilayah barat (See-hek). Tapi sebelum bertempur, seorang muridnya yang berkepandaian tinggi sudah mesti mengorbankan jiwa. Bukankah kejadian itu menyedihkan dan memalukan? Melihat guru mereka belum tidur, semua murid juga tak berani tidur. Kurang lebih satu jam mereka duduk tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Tiba-tiba Biat-coat mendorong dengan kedua tangannya dan...
“Bettt...!“ api yang berkobar-kobar itu padam.
Bu Kie terkejut. “Tenaga dalam Lo-ni itu sungguh hebat,” pikirnya.
Sekarang mereka berada dalam kegelapan, tapi tak satu pun berani bergerak. Gurun pasir itu sunyi bagaikan kuburan, sedangkan sinar rembulan yang remang-remang memberikan pemandangan yang mendukakan hati. Melihat keadaan begitu dalam hati Bu Kie muncul rasa kasihan.
“Apakah nama Go-bi-pay akan hancur di wilayah barat?” dia bertanya dalam hati. “Apakah rombongan jago-jago ini akan terbasmi musnah semua?”
Tiba-tiba Biat-coat membentak, “Padamlah api siluman! Musnahlah api iblis!” Setelah berdiam sejenak dia berkata lagi dengan suara perlahan, “Mo-kauw (agama iblis) memandang api sebagai nabi dan memuja api sebagai malaikat. Sesudah Yo Po Thian, Beng-cun Kauwcu atau pemimpin agama meninggal dunia, Mo-kauw tidak mempunyai Kauwcu lagi. Kedua Kong-beng Sucia, keempat Hu-kauw Hoat-ong serta kelima Ciang-kiesu yaitu Kin, Bok, Sui, Hwee dan Touw semuanya ingin merebut kedudukan pemimpin sehingga mereka jadi bermusuhan dan saling membunuh. Karena adanya kejadian itu maka Mo-kauw menjadi lemah. Mungkin memang sudah ditakdirkan bahwa partai yang lurus bersih akan menjadi makmur, sedangkan kaum siluman dan kaum sesat akan musnah. Jika saja di Mo-kauw tidak terjadi perpecahan, tidak begitu gampang orang bisa menggempurnya.”
Beng-cun Kauwcu (Pemimpin Agama), Kong-beng Sucia (Utusan terang benderang), Hu-kauw Hoat-ong (Raja Pelindung Agama), Ciang-kiesu (Utusan yang memegang bendera), nama-nama itu adalah pangkat-pangkat dalam Beng-kauw atau agama terang, tapi orang-orang luar menyebutnya sebagai Mo-kauw atau agama siluman. Bendera Ciang-kiesu ada lima, yaitu Kim (emas), Bok (kayu), Sui (air), Hwee (api), dan Touw (tanah).
Sejak Bu Kie tahu bahwa ibunya berasal dari kalangan Beng-kauw, sebenarnya dia ingin tahu lebih jauh mengenai perkumpulan itu. Akan tetapi ayah dan ibunya justru tidak ingin mengingat hal itu. Maka setiap kali dia menanyakan, kedua orang tuanya selalu kaget dan memperlihatkan rasa tidak senang. Ayah angkatnya pun tidak memberi keterangan. Maka itu sampai sekarang dia masih belum tahu apa sebenarnya Mo-kauw. Waktu dia ikut Thay-suhu Thio Sam Hong, orang tua itu juga sangat membenci Mo-kauw. Setiap kali nama agama itu dia sebutkan, si kakek selalu memberi nasihat dan peringatan keras bahwa dia tidak boleh dekat-dekat dengan orang Mo-kauw.
Belakangan dia bertemu dengan Ouw Ceng Gu, Ong Lan Kouw, Siang Gie Cun, Cie Tat, Cu Goan Ciang serta yang lainnya dan mereka itu adalah anggota-anggota Mo-kauw. Dia mendapat kenyataan bahwa mereka tidak jahat tapi memiliki cara yang tidak biasa. Oleh karenanya mau tidak mau dia harus menarik kesimpulan bahwa lagak lagu orang-orang itu agak aneh dan sulit dimengerti orang luar. Sekarang, demi mendengar peraturan Biat-coat semangatnya lantas bangun dan dia segera memasang kuping dengan penuh perhatian. Biat-coat meneruskan penuturannya.
“Dari satu ke lain keturunan, seorang Beng-cun Kauwcu memegang serupa benda yang merupakan semacam tanda kekuasaan. Benda itu dinamakan Seng-hwee-leng (tanda kekuasaan Api Nabi). Tapi pada waktu Kauwcu turunan ke tiga puluh satu memegang pimpinan, entah mengapa Seng-hwee-leng itu hilang. Maka itu Kauwcu-kauwcu yang belakangan sudah tidak punya tanda kekuasaan, walau pun dia masih memiliki kekuasaan sebagai pimpinan tertinggi. Yo Po Thian mati mendadak, entah diracuni entah dibunuh orang, tak seorang pun yang tahu jelas. Dalam kalangan Mo-kauw lantas saja terjadi kekalutan. Karena mati mendadak, Yo Po Thian tidak sempat menunjuk ahli warisnya. Dalam Mo-kauw terdapat banyak sekali orang pandai sehingga yang pantas menjadi Kauwcu sedikitnya ada lima atau enam orang, dan salah satu namanya Wi It Siauw bergelar Ceng-ek Hok-ong.”
Murid-murid Go-bi saling mengawasi. Nama Ceng-ek Hok-ong Wi It Siauw belum pernah didengar mereka. Setelah berdiam sejenak barulah Biat-coat berkata lagi,
“Orang ini belum pernah datang ke Tiong-goan. Sepak terjang orang-orang Mo-kauw aneh dan sembunyi-sembunyi sehingga walau pun kepandaiannya amat tinggi tetapi namanya tidak dikenal di daerah Tiong-goan. Tetapi Peh-bie Eng-ong In Tian Ceng dan Kim-mo Say-ong Cia Sun sudah kalian kenal, bukan?”
Bu Kie terkejut sedangkan Cu Ji mengeluarkan seruan tertahan. Biat-coat melirik mereka dengan sorot mata tajam.
“Suhu, apakah kedua orang itu anggota Mo-kauw?” tanya Ceng-hie dengan suara heran.
“Keempat raja (ong) dari Mo-kauw adalah Cie (ungu), Peh (putih), Kim (kuning emas) dan Ceng (hijau),” menerangkan sang guru. “Peh-bie seorang raja dan Ceng-ek pun seorang raja. Ceng-ek berkedudukan paling rendah, tetapi kepandaiannya sudah disaksikan. Maka itu betapa tinggi kepandaian Peh-bie dan Kim-mo dapatlah ditaksir-taksir. Karena merasa sakit hati Kim-mo Say-ong menjadi seperti orang gila dan melakukan perbuatan-perbuatan durhaka. Pada dua puluh tahun berselang, dengan mendadak dia membunuh orang yang tidak berdosa. Sekarang orang tidak tahu ke mana dia pergi dan menjadi sebuah teka-teki di rimba persilatan. Mengenai In Thian Ceng, sesudah gagal dalam merebut pimpinan Mo-kauw, dalam gusarnya dia mendirikan Peh-bie-kauw. Dia kena penyakit ingin menjadi pemimpin agama. Semula kita menduga bahwa sesudah meninggalkan Mo-kauw, In Thian Ceng putus hubungan dengan Kong-beng-teng. Tidak dinyana, ketika menghadapi bahaya Kong-beng-teng masih sudi meminta pertolongan Peh-bie-kauw.”
Mendengar itu Bu Kie menjadi bingung dan berduka. Dia tahu bahwa sepak terjang ayah angkatnya dan kakek luarnya aneh-aneh dan sesat sehingga mereka dibenci orang-orang dari partai lurus bersih. Tapi dia sama sekali belum pernah menduga bahwa kedua orang tua itu adalah Hu-kauw Hoat-ong dari Mo-kauw. Sementara itu Biat-coat Suthay sudah melanjutkan penuturannya.
“Menurut perhitungan, usaha enam partai untuk membasmi Kong-beng-teng pasti akan berhasil. Biar pun semua siluman bersatu padu, kita tak usah khawatir. Tapi dalam pertempuran, pihak kita tentu akan menderita kerusakan besar juga. Maka itu aku berharap supaya kalian semua mempunyai tekad yang teguh untuk berkelahi secara mati-matian. Pada saat menghadapi musuh sedikit pun kalian tidak boleh punya rasa takut sehingga dapat menurunkan keangkeran Go-bi-pay.”
Semua murid Go-bi segera bangun berdiri kemudian membungkuk sebagai tanda bahwa mereka berjanji akan memenuhi harapan sang guru.
“Tinggi rendahnya ilmu silat seseorang tergantung kepada bakatnya dan segalanya tidak dapat dipaksakan,” kata Biat-coat. “Sebab itu kalian tidak boleh mentertawakan Ceng-hian yang sebelum bertempur sudah binasa di tangan siluman itu. Apakah tujuan belajar ilmu silat? Bukankah tujuannya adalah untuk membasmi yang jahat sebaliknya menolong yang lemah? Sekarang enam buah partai besar, Siauw-lim, Bu-tong, Go-bi, Kun-lun, Khong-tong dan Hoa-san, berusaha untuk memupus Mo-kauw. Apa kita akan hidup atau mati, sudah tak dihiraukan lagi oleh Go-bi-pay. Ceng-hian berangkat paling dulu. Mungkin sekali korban kedua adalah gurumu sendiri...”
Semua murid Go-bi membungkuk. Di bawah sorotan sinar rembulan yang remang-remang muka setiap orang kelihatan pucat pasi. Biat-coat menghela napas, kemudian berkata lagi.
“Di dunia ini siapa yang bisa hidup abadi? Manusia mana yang bisa hidup terus menerus? Apa yang diharapkan ialah biarlah sesudah mati, kita masih mempunyai turunan, anak cucu kita masih hidup terus. Maka itu aku kuatir kalian semua mati dan hanya aku si tua yang hidup terus, hidup sebatang kara, hidup kesepian di dunia ini. Huh-huh...! Tetapi kalau sampai terjadi begitu, aku pun harus menerimanya dengan rela. Bukankah pada seratus tahun yang lalu di dunia tidak ada partai yang dinamakan Go-bi-pay? Asal kita berkelahi secara gagah, meski pun terbasmi habis, kita tidak usah menyesal.”
Mendengar perkataan sang guru, darah semua murid Go-bi bergolak-golak. Dengan serentak mereka menghunus senjata lalu berteriak,
“Kami bersumpah akan berkelahi mati-matian!”
Biat-coat tertawa tawar. “Bagus! Kalian mengasolah,” katanya.
Mendengar itu Bu Kie merasa kagum. Sebagian besar murid Go-bi-pay adalah wanita, tapi dalam menghadapi bahaya mereka tidak menunjukkan rasa keder sedikit pun jua.
GADIS LENG-COA-TO
Kalau didengar dari kata-kata Biat-coat Suthay, kekuatan Mo-kauw bukan main besarnya. Perkataan itu sebenarnya harus diucapkan si Nikouw tua waktu mau berangkat ke See-hek. Tetapi waktu itu mungkin dia tidak menduga bahwa sesudah terbit perpecahan ternyata Mo-kauw masih dapat bersatu padu dalam menghadapi musuh dari luar. Munculnya Ceng-ek Hok-ong membuktikan bahwa di kalangan Mo-kauw masih terdapat kerja sama. Sesudah berdiam beberapa saat, Biat-coat berkata lagi,
“Kalau Ceng-ek Hok-ong datang, mungkin Peh-bie Eng-ong dan Kim-mo Say-ong akan ikut datang juga. Cie-san Liong-ong (Rajawali baju ungu) dan kelima Ciang-kiesu pun bisa turut datang. Jika menurut rencana semula, paling dulu enam partai besar akan membinasakan Kong-beng Sucia Yo Siauw, sesudah itu barulah kita membasmi siluman-siluman lainnya. Tetapi sungguh tak dinyana bahwa kali ini hitung-hitungan Sin Kie Sian-seng dari Hoa-san-pay melesat jauh. Ha-ha...! Semua salah.“
“Apakah Cie-san Liong-ong siluman jahat?” tanya Ceng-hie.
Sang guru menggelengkan kepala. “Entahlah, aku pun hanya mengenal nama,” jawabnya. “Sepanjang keterangan, sesudah gagal menduduki kursi Kauwcu, dia pergi ke luar lautan dan memutuskan hubungan dengan Mo-kauw. Alangkah baiknya bagi pihak kita kalau dia masih mempertahankan sikapnya. Di antara empat raja Mo-kauw dia menduduki tempat yang tertinggi sehingga dengan sendirinya dia merupakan musuh yang berat. Dalam Mo-kauw terdapat dua orang Kong-beng Sucia, di samping Yo Siauw masih ada seorang Su-cia lainnya. Semenjak dahulu ada Kong-beng Sucia kiri dan Kong-beng Sucia kanan, dan kedudukan dua orang ini lebih tinggi dari pada keempat Hu-kauw Hoat-ong. Yo Siauw adalah Kong-beng Cu-su (Kong-beng Sucia kiri), tapi she dan nama Kong-beng Yo-su (Kong-beng Sucia kanan) tidak pernah diketahui siapa pun. Kong-bun dari Siauw-lim-pay dan Song Wan Kiauw Song-tayhiap adalah orang yang memiliki pengalaman sangat luas. Tapi mereka pun tidak tahu siapa adanya Kong-beng Yo-su. Kini tujuan kita adalah menyerang Yo Siauw. Dalam pertempuran berhadapan, segalanya akan diputuskan oleh kepandaian ilmu silat dari kedua belah pihak. Tapi yang sangat aku kuatirkan adalah waktu menghajar Yo Siauw diam-diam Kong-beng Yo-su melepaskan anak panah gelap.”
Murid-murid Go-bi mendengar penjelasan itu dengan hati berdebar, bahkan beberapa di antaranya menengok ke belakang seolah-olah kuatir Cie-san Liong-ong dan Kong-beng Yo-su menyerang mendadak.
“Yo Siauw sudah mencelakaikan Kie Siauw Hu, Wi It Siauw sudah membinasakan Ceng-hian,” kata pula Biat-coat dengan suara menyeramkan. “Permusuhan antara Go-bi-pay dan Mo-kauw sangat dalam. Go-bi dan Mo-kauw tidak dapat berdiri bersama di dunia ini. Murid mana yang kelak menjadi ahli waris Go-bi-pay akan diputuskan dalam pertempuran akan datang. Andai kata ada murid laki-laki yang tanpa menghiraukan keselamatan jiwa sendiri secara kebetulan bisa membinasakan salah satu Hu-kauw Hoat-ong, maka aku... aku bersedia melanggar kebiasaan kita yang sudah berjalan hampir seratus tahun lamanya...“
Kedua mata Biat-coat memandang ke tempat jauh. “Semenjak Kwee-couwsu mendirikan partai kita, Ciang-bun dari Go-bi-pay selalu dipegang seorang wanita,“ katanya dengan suara perlahan. “Jangankan laki-laki, wanita yang sudah menikah pun tidak dapat menjadi Ciang-bun-jin. Tapi waktu partai menghadapi bahaya besar aku tidak dapat mengkukuhi lagi kebiasaan lama. Sekarang siapa saja, tidak peduli lelaki atau perempuan, yang berjasa besar akan menjadi ahli waris partai kita.”
Semua murid Go-bi menundukkan kepala. Tidak ada seorang pun yang buka mulut. Di hati mereka merasa sangat tidak enak karena sang guru memberi pesan di hari kemudian sehingga seolah-olah guru mendapat firasat bahwa dia takkan kembali ke Tiong-goan dengan bernyawa. Tiba-tiba Biat-coat tertawa terbahak-bahak, suaranya yang nyaring menempuh jarak jauh di gurun pasir yang sunyi itu. Semua murid Go-bi terbangun bulu romanya, mereka kaget bercampur heran.
“Tidurlah!” bentak Biat-coat seraya mengibas tangan jubahnya.
Seperti biasa, Ceng-hie segera mengatur penjaga malam.
“Tak usah,” kata sang guru.
Ceng-hie terkejut tetapi dia tak berani membantah. Karena yang akan datang adalah jago tingkatan tinggi, jaga malam juga tiada gunanya. Kalau Ceng-ek Hok-ong atau orang yang sepantarnya datang menyatroni, jaga malam atau tidak jaga malam tidak ada bedanya. Malam itu lewat tanpa sesuatu yang luar biasa dan pada keesokan paginya, rombongan Go-bi meneruskan perjalanan. Kira-kira tengah hari mereka melalui seratus li lebih. Langit cerah dan matahari memancarkan sinarnya yang gilang gemilang sehingga biar pun waktu itu sudah musim dingin, orang-orang Go-bi merasakan hawa hangat.
Selagi enak berjalan, dari arah barat laut terdengar suara bentrokan senjata. Tanpa menunggu perintah Ceng-hie, semua mempercepat tindakan menuju ke arah suara itu. Tidak lama kemudian lapat-lapat mereka melihat bayangan beberapa orang yang sedang bertempur. Sesudah lebih dekat, mereka mendapat kenyataan bahwa tiga orang Tojin (imam) memegang senjata-senjata aneh tengah mengepung seorang lelaki setengah tua. Tiga Tojin itu mengenakan jubah panjang warna putih dan pada tangan jubah sebelah kiri terdapat sulaman obor berwarna merah dengan demikian dia adalah orang Mo-kauw. Laki-laki yang sedang dikepung bersenjatakan pedang panjang dan meski pun satu melawan tiga, dia tidak jatuh di bawah angin.
Waktu itu Bu Kie sudah sembuh, tetapi dia tetap berlagak belum dapat berjalan dan terus duduk di atas kereta salju. Dengan rasa kagum dia mengawasi. Sambil membentak keras orang itu memutar badan dan pedangnya menyambar tepat di dada salah seorang Tojin. Para murid Go-bi bersorak sorai. Di antara sorakan itu Bu Kie pun mengeluarkan seruan tertahan karena dia bisa mengenal bahwa tikaman itu adalah Sun-siu Tiu-couw (dengan menuruti aliran sungai mendorong perahu), satu pukulan dahsyat dari Bu-tong Kiam-hoat, dan lelaki setengah tua itu dari Bu-tong Liok-hiap In Lie Heng.
Rombongan Bu Kie terus menonton tanpa memberi bantuan. Melihat datangnya bantuan dan seorang kawannya roboh, kedua Tojin yang masih mengepung menjadi ciut nyalinya. Sesudah bertempur beberapa jurus lagi, sambil berteriak keras mereka lari berpencaran, satu ke selatan dan satu ke utara. In Lie Heng mengejar musuh yang lari ke selatan dan karena larinya lebih cepat maka dalam sekejap bisa menyusul lalu menghantam punggung Tojin itu dengan telapak tangannya. Si Tojin memutar tubuh lantas melawan dengan nekat. Dilihat dari cara berkelahinya yang tak mempedulikan keselamatan diri sendiri, tampaknya dia bertujuan binasa ber-sama.
Sementara itu tojin yang kabur ke jurusan utara semakin lama makin jauh. Untuk merobohkan musuh yang berkelahi seperti harimau edan, In Lie Heng masih memerlukan waktu sehingga biar bagaimana pun juga dia takkan bisa menyusul tojin yang lari ke utara itu.
Murid-murid Go-bi yang sangat membenci orang-orang Mo-kauw, memandang Ceng-hie dengan harapan kakak seperguruan itu akan memberi perintah supaya mereka memberi bantuan. Beberapa murid wanita yang bersahabat dengan Kie Siauw Hu tahu bahwa In Lie Heng bekas tunangan Nona Kie. Sesudah Kie Siauw Hu binasa gara-gara perbuatan Kong-beng Sucia Yo Siauw, mereka lebih simpati pada Bu-tong Liok-hiap.
Tapi Ceng-hie sangsi. Di rimba persilatan Bu-tong Liok-hiap berkedudukan tinggi. Setiap bantuan yang diberikan tanpa diminta, berarti melanggar tata kehormatan. Maka itu, setelah berpikir sejenak dia mengambil keputusan untuk tidak membantu. Dia lebih suka siluman itu meloloskan diri dari pada melakukan perbuatan tak pantas terhadap In Liok-hiap.
Pada saat itu sekonyong-konyong di angkasa berkelebat sehelai sinar hijau, sinar pedang yang terbang dari tangan In Lie Heng. Dengan kecepatan yang tidak mungkin dilukiskan, senjata itu menyambar punggung Tojin yang sedang kabur. Si tojin sendiri bukan tak tahu bahwa punggungnya disambar pedang, tapi karena cepatnya senjata itu, dia tidak keburu berkelit sehingga di lain detik, ulu hatinya toblos.
Tapi dia masih terus berlari sejauh dua tombak barulah dia roboh binasa. Setelah menembus ulu hati si Tojin, pedang itu sendiri masih terbang kurang lebih tiga tombak kemudian menancap di pasir! Demikian lihainya Bu-tong Liok-hiap In Lie Heng.
Semua murid Go-bi mengawasi kejadian itu dengan mata terbelalak dan mulut ternganga. Mereka tidak dapat mengeluarkan suara. Pada waktu semua mata ditujukan lagi ke gelanggang pertempuran, Tojin yang barusan berkelahi nekat sekarang badannya bergoyang-goyang laksana orang mabuk. In Lie Heng tidak memperdulikannya lagi dan dengan tenang berjalan ke arah rombongan Go-bi. Baru dia berjalan beberapa tindak, Tojin bekas lawannya roboh binasa.
Kini barulah murid-murid Go-bi bersorak-sorai, bahkan Biat-Coat Suthay sendiri manggut-manggutkan kepalanya sebagai tanda pujian. Namun di lain saat paras muka si nenek kelihatan berduka dan dia menghela napas. Dia merasa iri karena Bu-tong mempunyai murid-murid yang berkepandaian tinggi, sedangkan Go-bi-pay tak satu pun yang memuaskan hatinya. Sesaat dia ingat Kie Siauw Hu yang bernasib malang dan tidak bisa menikah dengan pria segagah Lie Heng. Mengingat murid itu, dia lebih sakit hati terhadap Mo-kauw yang telah mencelakakan Nona Kie. Dalam alam pikir Biat-coat, Kie Siauw Hu dibinasakan oleh Yo Siauw dan bukan olehnya sendiri.
Bibir Bu Kie sudah bergerak untuk memanggil ‘Liok-susiok’, tapi bibir itu rapat kembali. Di antara paman-pamannya, In Lie Heng-lah yang paling erat hubungan dengan mendiang ayahnya dan selama ia berada di Bu-tong-san, paman keenam itu selalu memperlakukan dia dengan penuh kecintaan. Dengan hati berdebar-debar, dia mengawasi pamannya yang tidak pernah dilihat selama delapan tahun. Ia mendapat kenyataan Lie Heng sudah kelihatan lebih tua, rambut pada kedua pelipisnya telah dauk (putih kelabu). Mungkin sekali kebinasaan Kie Siauw Hu memberi pukulan hebat kepadanya. Di dalam hatinya Bu Kie ingin sekali melompat dan memeluk orang yang dicintainya itu. Akan tetapi dia menahan hati karena merasa bahwa kalau dia berbuat begitu maka bakal menghadapi banyak kejadian yang tidak enak. Sementara itu In Lie Heng sudah menghampiri Biat-coat Suthay. Seraya memberi hormat dia berkata,
“Dengan memimpin saudara-saudara seperguruan serta murid-murid turunan ketiga yang semuanya berjumlah tiga puluh dua orang, Toa-suheng Boanpwe sudah tiba di pinggir It-sian-hiap. Atas titah Toa-suheng, Boanpwe datang kemari menyambut kalian.”
“Bagus!” kata Biat-coat. “Kiranya rombongan Bu-tong-pay datang lebih dulu. Apakah kalian sudah bertempur dengan pihak siluman?”
“Sudah tiga kali kami bentrok dengan rombongan dua bendera. Bendera Bok dan Bendera Hwee,” jawabnya. “Kami berhasil menewaskan beberapa siluman, tapi Cit-sute Boh Seng Kok terluka.”
Biat-coat mengangguk. Ia mengerti meskipun Lie Heng menjawab dengan tenang, tetapi ketiga pertempuran itu tentulah pertempuran yang sangat hebat. Ia pun mendapat kenyataan bahwa pihak musuh sangat lihai. Lima pendekar Bu-tong yang berkepandaian tinggi ternyata masih belum dapat mengambil jiwa Ciang-kiesu dan malah Cit-hiap Boh Seng Kok terluka.
“Apakah kalian pernah menyelidiki kekuatan Kong-beng-teng?” tanya pula Biat-coat.
“Sepanjang pendengaran kami, Peh-bie-kauw, Kiu-tok-hwee dan cabang-cabang lain Mo-kauw sudah datang membantu,” jawabnya. “Kata orang, Cie-san Liong-ong dan Ceng-ek Hok-ong juga datang kemari.”
Biat-coat terkejut, “Cie-san Liong-ong juga datang?” dia menegas. Sambil bicara mereka berjalan dengan perlahan, diikuti dari kejauhan murid-murid Go-bi.
Sesudah bercakap-cakap sekitar setengah jam, Lie Heng mengangkat kedua tangannya untuk berpamitan dengan mengatakan bahwa dia harus menghubungi pihak Hoa-san-pay.
“In Liok-hiap,” kata Ceng-hie, “Setelah berjalan jauh mestinya kau lapar. Lebih baik makan dulu.”
In Lie Heng tidak berlaku sungkan. “Terima kasih, baiklah,“ katanya sambil mengangguk.
Murid-murid wanita Go-bi lantas mengeluarkan makanan kering. Beberapa di antara mereka membuat dapur, menyalakan api dan memasak air. Makanan mereka sendiri amat sederhana, tetapi kepada In Lie Heng, mereka ingin menyediakan santapan yang sebaik-baiknya. Semua kecintaan itu telah diunjuk karena mereka ingat Kie Siauw Hu yang telah tiada. In Lie Heng pun mengerti apa yang dipikirkan mereka. Dengan mata merah dan suara terharu, dia berkata,
“Terima kasih atas kebaikan Suci dan Sumoay.”
Sekonyong-konyong Cu-jie berkata, “In Liok-hiap, aku ingin mencari keterangan mengenai seseorang. Apa boleh?”
Dengan tangan memegang semangkok mie kuah In Lie Heng menengok ke arah si nona, kemudian berkata dengan suara manis.
“Bolehkah aku tahu she dan nama yang mulia dari Siauw-sumoay? Hal apa yang mau ditanyakan? Asal aku tahu, tentu akan kuberi-tahukan.”
“Aku bukan orang Go-bi-pay,” jawabnya. “Aku malah lawan mereka dan sudah ditangkap oleh mereka. Sekarang aku menjadi tawanan Nikouw tua itu.”
Mendengar jawaban itu, In Lie Heng yang semula menduga murid Go-bi-pay, jadi tercengang. Tapi karena nona itu sangat polos dan berterus terang, dia merasa suka kepadanya.
“Apakah kau anggota Mo-kauw?” tanyanya.
“Juga bukan!” jawab Cu-jie. “Aku malah musuh Mo-kauw.”
In Lie Heng jadi bingung, tapi dia tak punya waktu untuk bicara panjang lebar. Sebagai penghargaan terhadap pihak tuan rumah, dia memandang kepada Ceng-hie dengan sorot mata bertanya.
“Keterangan apa yang ingin kau dapatkan dari In Liok-hiap?” kata Ceng-hie.
“Pertanyaanku adalah ini: Apakah Suheng-mu Thio Cui San Thio Ngo-hiap juga datang di It-sian-hiap?” tanya Cu-jie.
“Perlu apa kau bertanya begitu?” menegas In Lie Heng.
Paras muka Cu-jie bersemu merah. “Aku ingin mencari tahu, apakah putera Thio Ngo-hiap yang bernama Bu Kie juga datang kemari,” katanya dengan suara perlahan.
Bu Kie terkejut, “Apakah Cu-jie sudah tahu siapa adanya aku?” tanyanya dalam hati.
“Apa kau bicara sungguh-sungguh?” tanya pula In Lie Heng.
“Sungguh-sungguh,” jawabnya. “Aku tidak berani main-main terhadap In Liok-hiap.”
“Sudah sepuluh tahun Ngoko meninggal dunia,” kata In Lie Heng dengan suara perlahan. “Apakah nona benar-benar tidak tahu?”
Cu-jie melompat bangun. “Ahh!” serunya. “Thio Ngo-hiap sudah meninggal dunia...! Kalau begitu, dia... dia... menjadi anak yatim.”
“Apakah nona mengenal keponakanku Bu Kie?” tanya In Lie Heng.
“Lima tahun yang lampau aku pernah bertemu dengannya di rumah Tiap-kok Ie-sian Ouw Ceng Gu,” jawab si nona. “Tapi sekarang aku tidak tahu di mana dia berada.”
“Atas titah Suhu aku pun pergi ke Ouw-tiap-kok untuk menemui Bu Kie,“ kata In Lie Heng. “Akan tetapi suami isteri Ouw Ceng Gu sudah dibinasakan orang dan Bu Kie tak ketahuan ke mana perginya. Lama juga aku menyelidiki tanpa hasil. Belakangan... hai! Tak dinyana... tak dinyana...” Dia tidak dapat meneruskan perkataannya, sedangkan paras mukanya berubah sedih.
“Ada apa?” tanya si nona tergesa-gesa. “Apa yang kau dengar?”
Dengan perasaan heran, In Liok-hiap menatap wajah Cu-jie. “Nona,” katanya. “Mengapa kau menaruh perhatian begitu besar? Apakah keponakanku sahabat atau musuhmu?”
Cu-jie memandang ke tempat jauh. Beberapa saat kemudian dia berkata dengan suara perlahan.
“Aku mengajak dia pergi ke pulau Leng-coa-to...”
“Leng-coa-to?” potong Lie Heng. “Pernah apa nona dengan Gin-yap Sian-seng dan Kim-hoa Popo?”
Si nona tidak menjawab. Dia melamun dan bagaikan orang linglung berkata lagi pada diri sendiri.
“Dia bukan saja menolak, tetapi juga memukul, mencaci dan bahkan menggigit tanganku hingga berdarah...“ telapak tangan kirinya mengusap-usap belakang tangan kanannya. “Tetapi... tetapi.. aku tidak bisa melupakannya. Aku bukan mau mencelakainya, aku ingin mengajak dia ke Leng-coa-to agar bisa menerima pelajaran ilmu silat yang tinggi dari Popo. Aku ingin berusaha mengusir racun dingin Hian-beng Sin-ciang yang mengeram di tubuhnya. Tetapi dia garang luar biasa. Dia menganggap maksudku yang begini baik sebagai niat jahat.”
Bu Kie kaget tak kepalang. Baru sekarang ia tahu bahwa Cu-jie adalah A-Iee yang pernah memegangi lengannya dalam pertemuan di Ouw-tiap-kok. Baru sekarang dia tahu bahwa kecintaan yang tidak bisa dilupakan oleh si nona adalah dirinya sendiri. Bu Kie mengawasi muka Cu-jie. Pada roman yang jelek itu tak ada bekas-bekas dari kecantikan yang dulu. Tapi waktu melihat sinar mata si nona, lapat-lapat dia ingat sinar mata A-Iee.
“Kalau begitu dia murid Kim-hoa Popo,” kata Biat-coat Suthay dengan suara dingin. “Kim-hoa Popo pun bukan orang dari partai lurus bersih. Tapi sekarang kita tak boleh menanam terlalu banyak permusuhan dan untuk sementara waktu, kita tahan saja dia.”
“Nona,” kata Lie Heng. “Ternyata kau mempunyai maksud baik terhadap keponakanku,. Hanya sayang dia tipis rejeki. Beberapa hari berselang aku bertemu dengan Sian-seng Ho Thay Ciong, Ciang-bun-jin dari Kun-lun-pay. Dari orang tua itu aku mendapat tahu bahwa pada empat tahun berselang, karena terpeleset Bu Kie jatuh ke jurang yang dalamnya berlaksa tombak. Hai...! Kecintaan antara aku dan mendiang ayahnya bagaikan kecintaan antara tangan dan kaki. Tapi di luar dugaan langit tidak melindungi orang baik...”
“Brukk!” Cu-jie jatuh terjengkang.
Buru-buru Ciu Cie Jiak membangunkannya dan setelah mengurut dadanya beberapa saat, barulah si nona tersadar. Tidak kepalang sedihnya hati Bu Kie. In Lie Heng dan Cu-jie begitu berduka karena mencintainya, tetapi dia sendiri harus berlaku begitu tega dan tidak mau memperkenalkan dirinya. Pada saat itu beberapa tetes air mata jatuh di belakang tangannya. Dia mengangkat kepala dan orang yang menangis ialah Ciu Cie Jiak. Dengan hati tersayat dia teringat kejadian di tengah sungai Han-sui.
“Rupanya dia belum melupakan pertemuan di sungai itu,” katanya dalam hati.
Sementara itu sambil mengertak gigi Cu-jie bertanya lagi, “In Liok-hiap, apakah Bu Kie dicelakai oleh Ho Thay Ciong?”
“Bukan,” jawabnya. “Sepanjang keterangan yang kudapat, Bu Liat dari Cu-bu Lian-hoan-chung menyaksikan dengan mata sendiri terpelesetnya dan jatuhnya keponakanku. Cu Tiang Leng, seorang ternama di rimba persilatan, juga turut mati.”
Si nona menghela napas lalu terduduk.
“Nona, bolehkan aku tahu she dan namamu yang mulia?” tanya Bu-tong Liok-hiap.
Cu-jie menggelengkan kepala. Mendadak dia membanting diri di pasir lantas menangis menggerung-gerung.
“Nona, tak usah kau begitu bersedih,” Lie Heng membujuk. “Andai kata keponakanku tidak mati di jurang, dia juga tidak bisa lolos dari kebinasaan karena racun dingin itu. Hai... mati jatuh dengan badan remuk lebih baik dari pada mati disiksa racun.”
“Lebih cepat anak itu mati memang lebih baik,” sela Biat-coat. “Kalau dia hidup terus, hanya akan menjadi bibit penyakit.”
“Bangsat tua! Kau jangan bicara sembarangan!” bentak Cu-jie.
Mendengar guru mereka dicaci, tentu saja murid-murid Go-bi marah. Empat lima orang segera menghunus pedang. Namun tanpa menghiraukan ancaman itu Cu-jie terus mencaci.
“Bangsat tua! Ayah Bu Kie adalah Suheng dari In Liok-hiap. Apakah ayahnya tidak cukup baik?”
Biat-coat tidak menjawab, dia hanya tersenyum dingin.
“Ayahnya memang dari partai yang lurus bersih,” kata Ceng-hie. “Tapi bagaimana dengan ibunya? Keturunan perempuan siluman dari Mo-kauw memang tidak bisa menjadi lain dari pada bibit penyakit.”
“Perempuan siluman dari Mo-kauw?” menegas Cu-jie. “Siapakah ibunya Bu Kie?”
Murid-murid Go-bi tertawa geli. Bu Kie merasa dadanya hendak meledak. Kalau tekadnya menyembunyikan diri kurang kuat, tentu dia sudah melompat dan mencaci orang yang menghina mendiang ibunya. Selebar mukanya merah padam, air matanya berlinang-linang, tapi dengan sekuat tenaga dia mempertahankan diri. Sebagai manusia yang tidak kejam, mendengar pertanyaan Cu-jie, dengan suara perlahan Ceng-hie menjawab,
“Isteri Thio Ngo-hiap adalah anaknya In Thian Ceng dari Peh-bie-kauw. Dia bernama In So So...”
“Ahh!” teriak Cu-jie. Wajahnya berubah pucat.
“Akibat menikah dengan perempuan siluman itu maka nama Thio Ngo-hiap hancur sehingga akhirnya dia bunuh diri di Bu-tong-san,” Ceng-hie menerangkan. “Kejadian itu diketahui orang sedunia. Apakah nona tidak tahu?”
“Tidak...“ jawabnya dengan mata terbelalak. “Aku tinggal di Leng-coa-to, aku tidak tahu kejadian di rimba persilatan wilayah Tiong-goan. Tapi di manakah adanya In So So sekarang?”
“Dia bunuh diri bersama Thio Ngo-hiap,“ jawabnya.
Cu-jie melompat bagaikan dipagut ular. “Jadi dia... dia sudah mati?” teriaknya.
“Kau mengenal In So So?” tanya Ceng-hie dengan suara heran.
Saat itu di sebelah timur laut sekonyong-konyong terlihat sinar api yang berwarna biru.
“Celaka!” seru In Lie Heng. “Keponakan Ceng Su dikepung musuh.“ Ia memutar badan dan memberi hormat kepada Biat-coat dan yang lain-lain, kemudian dengan tergesa-gesa lari ke jurusan sinar api itu.
Dengan sekali mengibas tangan, murid-murid Go-bi segera mengikuti di belakang In Liok-hiap. Ketika sudah mendekat, mereka mendapat kenyataan ada seorang pemuda yang mengenakan pakaian sasterawan sedang dikepung oleh tiga orang. Ketiga orang itu, bersenjata golok, memakai tudung dan mengenakan pakaian kacung atau pesuruh. Sesudah menyaksikan beberapa gerakan, murid-murid Go-bi merasa heran karena meski pun nampak seperti pesuruh, ternyata mereka berkepandaian tinggi, lebih tinggi dari pada tojin-tojin yang dirobohkan In Lie Heng. Pemuda yang bersenjata pedang panjang itu sudah jatuh di bawah angin, namun pembelaannya sangat kuat sehingga sedikitnya untuk sementara dia masih dapat mempertahankan diri.
Tidak jauh dari gelanggang pertempuran berdiri enam orang yang memakai jubah panjang warna kuning dengan sulaman obor merah pada tangan jubah. Tanda bahwa mereka adalah anggota Mo-kauw. Melihat kedatangan In Lie Heng serta rombongan Go-bi, seorang kate gemuk dari keenam penonton itu berteriak,
“In Lie Heng heng-te (persaudaraan), kalian gagal! Larilah! Kami akan melindungi dari belakang.”
“Houw-touw-kie (Bendera tanah tebal) memang paling sombong!” teriak salah seorang dari ketiga pesuruh itu. “Orang she Gan! Kau saja yang kabur lebih dulu.”
Ceng-hie mengeluarkan suara di hidung. “Kebinasaan sudah berada di atas kepalamu tapi kau masih bertengkar dengan kawan sendiri,” katanya.
“Suci, siapakah mereka?” tanya Ciu Cie Jiak.
“Yang mengenakan pakaian pesuruh adalah budak-budak In Thian Ceng,” jawabnya. “Mereka bernama In Bu Hok, In Bu Lok dan In Bu Siu.”
“Budak?” menegas nona Ciu dengan suara heran. “Tapi mengapa... mengapa... “
“Mereka bukan orang biasa, dulu mereka adalah perampok-perampok besar,” sang kakak menerangkan. “Enam orang yang memakai jubah warna kuning adalah anggota-anggota Houw-touw-kie dari Mo-kauw. Siluman kate gemuk itu mungkin sekali Gan Hoan, Ciang-kiesu dari Houw-touw-kie. Menurut Suhu, kelima Ciang-kiesu telah bentrok dengan Kauwcu Peh-bie-kauw lantaran berebut kedudukan...”
“Brettt!”
Tiba-tiba terdengar suara dan tangan baju pemuda yang terkepung robek karena bacokan In Bu Siu. Sambil bersiul nyaring In Lie Heng melompat dan pedangnya membabat golok In Bu Lok.
“Trangg...!”
Golok itu melengkung. Dengan kaget In Bu Lok melompat mundur. Bagaikan kilat tiba-tiba Cu-jie melompat dan dengan menunjuk tangan kanan dia menotok punggung In Bu Lok. Hampir berbareng, bagaikan kilat pula dia melompat balik ke tempat semula. In Bu Lok berkepandaian tinggi. Tetapi karena dia sedang kaget dan juga karena gerakan si nona cepat bukan main, maka totokan itu tepat pada sasarannya. Di lain saat badannya kaku dan mukanya bersemu hitam. In Bu Hok dan In Bu Siu terkesiap. Serentak mereka mendekati Bu Lok. Sekonyong-konyong mereka mengawasi Cu-jie dengan mata membelalak.
“Lee-siocia...!” teriaknya dengan suara tergugu.
“Hm! Kalian masih mengenal aku?” kata si nona.
Semua orang yang menyaksikan itu dengan hati berdebar-debar. Mereka menduga bahwa kedua orang itu akan segera menyerang Cu-jie. Akan tetapi di luar dugaan, tanpa mengeluarkan sepatah pun kata mereka segera memondong mayat kawannya lalu lari ke jurusan utara. Perubahan yang sungguh tak dinyana-nyana. Dengan sekali mengibas tangan si kate gemuk memegang sehelai bendera besar berwarna kuning. Perbuatan itu segera diturut oleh kelima kawannya. Sambil memutar-mutar bendera, perlahan-lahan mereka mundur ke arah utara.
Semua murid Go-bi mengawasi dengan perasaan heran. Mendadak dua murid lelaki melompat lantas mengejar dengan senjata terhunus. Tubuh In Lie Heng berkelebat dan dalam sekejap dia sudah melewati kedua murid Go-bi itu. Dengan sekali dorong, kedua orang itu terhuyung ke belakang beberapa tindak dan muka mereka lantas berubah merah.
“Jiwi Sute, balik!” bentak Ceng-hie. “In Liok-hiap bermaksud baik, Houw-touw-kie tak boleh dikejar.”
“Beberapa hari berselang, bersama Boh Cit-te aku mengejar Liat-hwee-kie (Bendera api hebat),” menerangkan Lie Heng. “Tapi hampir saja kami celaka. Sebagian rambut dan alis Boh Cit-te terbakar.“
Seraya berkata begitu dia menggulung tangan baju kiri dan lengannya terlihat bekas terbakar. Kedua murid Go-bi itu manggut-manggutkan kepala dengan perasaan jengah. Sementara itu, sambil menatap wajah Cu-jie dengan sorot mata dingin, Biat-coat Suthay bertanya,
“Cian-cu Ciat-hu-ciu, bukan?”
“Belum sempurna,” jawab si nona.
“Mengapa kau membunuh dia?” tanya pula si nenek.
“Bukan urusanmu,” kata si gadis acuh tak acuh. “Aku ingin membunuh, aku lantas membunuh.”
Biat-coat menggerakkan tangannya dan hampir berbareng dia sudah mencabut pedang Ceng-hie.
“Cringg...!”
Cu-jie cepat melompat ke belakang dengan paras muka pucat. Mengapa? Karena dengan kecepatan luar biasa Biat-coat membabat telunjuk kanan si nona dengan pedang Ceng-hie, gerakannya sedemikian cepat sehingga tak dapat dilihat nyata oleh siapa pun juga. Namun di luar dugaan telunjuk si nona tertutup bida (pelindung) jari yang terbuat dari baja murni dan karena pedang yang digunakan Biat-coat bukan Ie-thian kam, maka senjata itu tak dapat memutuskannya. Dengan mendongkol si nenek melontarkan senjata itu kepada Ceng-hie dan sambil mengeluarkan suara di hidung dia berkata,
“Kali ini kau masih mujur, lain kali jangan sampai kau jatuh lagi ke tanganku.“
Sikap itu adalah sesuai dengan kedudukannya sebagai seorang Ciang-bun-jin dari sebuah partai besar. Setelah gagal dalam serangannya terhadap seorang yang tingkatannya lebih rendah, dia sungkan menyerang untuk kedua kalinya.
BENG-KAUW DIKEPUNG LIMA PERGURUAN
Mengingat bantuan Cu-jie kepada pihaknya dan kecintaan nona itu kepada Bu Kie, In Lie Heng jadi merasa kasihan dan segera berkata,
“Susiok, dengan tidak disengaja anak itu telah mempelajari ilmu sesat. Kita harus memberi kesempatan agar dia belajar pada guru yang lurus bersih. Hmm..., kurasa betapa baiknya jika dia berguru kepada Thie-khim Sian-seng.” Dia menarik tangan pemuda yang tadi dikepung dan berkata, “Ceng Su, lekaslah memberi hormat kepada Suthay dan para paman.”
Pemuda itu segera maju mendekat dan berlutut di hadapan Biat-coat, tapi pada waktu dia hendak menjalankan peradatan besar di hadapan Ceng-hie dan yang lain-lain, para murid Go-bi itu menolak dan membalas hormat.
Pada waktu itu Thio Sam Hong sudah berusia lebih dari seratus tahun dan kalau dihitung-hitung tingkatannya lebih tinggi beberapa tingkat dari pada Biat-coat. Akan tetapi karena pernah bertunangan dengan Kie Siauw Hu maka kedudukan In Lie Heng jadi lebih rendah setingkat dari pada Biat-coat. Jika sebagai pendiri Bu-tong-pay, Thio Sam Hong direndengi dengan pendiri Go-bi-pay, Kwee Siang, maka menurut pantas mestinya Biat-coat lah yang memanggil ‘Susiok’ kepada In Lie Heng.
Namun sebegitu jauh Bu-tong dan Go-bi tidak berani menerima panggilan dengan melihat usia masing-masing saja. Tapi meski pun begitu murid-murid Go-bi tidak berani menerima panggilan ‘paman’ dari sasterawan muda itu. Sesudah menyaksikan kegagahan pemuda itu, sekarang dengan perasaan kagum semua orang mengawasi paras mukanya yang tampan dan angker.
“Ceng Su adalah putera tunggal Toa-suko,” In Liok-hiap memperkenalkan pemuda itu yang juga adalah keponakannya.
“Aha!” Ceng-hie berseru. “Semenjak beberapa lama aku memang sudah mendengar nama besarnya Giok-bin Beng-siang. Di kalangan Kangouw semua orang memuji Song Siauw-hiap sebagai seorang ksatria yang berhati mulia. Aku pun merasa beruntung bahwa di hari ini aku bisa bertemu dengannya.” (Giok-bin: muka yang putih seperti batu pualam. Beng-siang-kun: seorang ksatria yang pandai pada jaman Liat-kok). Semua orang mengawasi pemuda tampan itu dengan perasaan lebih kagum. Memang sudah lama mereka mendengar nama cemerlang dari Giok-bin Beng-siang Ceng Su.
Cu-jie yang berdiri di samping Bu Kie tiba-tiba berbisik, “A Gu, dia jauh lebih tampan dari pada kau.”
“Tentu saja. Perlu apa dikatakan lagi?” kata Bu Kie.
“A Gu,” si nona berkata lagi. “Coba kau lihat. Nona Ciu-mu sedang memandangi kau tak sudah-sudahnya”.
Perkataan itu diucapkan sangat perlahan, namun Ciu Cie Jiak rupanya mendengar karenanya cepat-cepat melengos.
Sementara itu sesudah bercakap-cakap beberapa saat, In Lie Heng berkata, “Cu-jie, mari kita berangkat.”
“Menurut rencana, hari ini kira-kira tengah hari rombongan Khong-tong-pay akan tiba di sekitar tempat ini,” kata Ceng Su. “Tetapi sampai sekarang mereka belum muncul. Aku kuatir terjadi sesuatu yang tidak enak.”
“Ya, aku pun merasa kuatir,” kata sang paman. “Kini kita sudah berada di daerah musuh.”
“Menurut pendapatku, lebih baik kita menuju ke barat bersama rombongan Go-bi-pay,” kata pemuda itu. “Mungkin sekali pada jarak kurang lebih lima belas li kita akan bertemu dengan musuh.”
“Kenapa Song Siauw-hiap bisa mengatakan begitu?” tanya Ceng-hie dengan heran.
“Aku hanya menebak-nebak,” jawabnya.
Ceng-hie mengetahui bahwa ayah pemuda itu, Song Wan Kiauw, bukan hanya tinggi ilmu silatnya, tapi juga paham ilmu Kie-bun dan ilmu perang sehingga sebagai putera seorang berilmu, pemuda itu pun tentu bukan sembarang orang. Karena berpikir demikian, dia tidak bertanya lagi.
“Baiklah,” kata In Lie Heng. “Memang paling baik jika kita jalan bersama para Cianpwe dari Go-bi-pay.”
Mendengar perkataan In Lie Heng, Biat-coat Suthay berkata dalam hatinya. “Sudah kira-kira tiga puluh tahun Thio Sam Hong tak menghiraukan segala urusan dunia sehingga pada hakekatnya tugas Ciang-bun-jin Bu-tong-pay dipikul seluruhnya oleh Song Wan Kiauw. Kalau melihat gelagatnya, jabatan Ciang-bun-jin Bu-tong-pay kelak akan diduduki Song Siauw-hiap. Sekarang saja sang paman sudah menuruti kemauan si keponakan!”
Tetapi sesungguhnya hal itu sudah terjadi karena In Lie Heng bertabiat halus dan sedapat mungkin sungkan membantah kemauan orang lain. Demikianlah kedua murid Bu-tong lalu berjalan bersama rombongan Go-bi. Sesudah melalui kurang lebih lima belas li, di depan mereka terbentang sebuah bukit pasir. Melihat Ceng Su berlari-lari mendaki bukit itu, Ceng-hie segera mengibaskan tangannya dan dua murid Go-bi lantas mengejar dari belakang sehingga tiga orang itu tiba di atas bukit hampir berbareng. Dan hampir berbareng pula dia mengeluarkan teriakan kaget karena di sebelah barat itu kelihatan menggeletak belasan mayat.
Mendengar teriakan mereka, semua orang memburu ke atas. Mereka mendapat kenyataan bahwa semua korban binasa akibat pukulan hebat, ada yang batok kepalanya hancur, ada yang badannya melesak dan sebagainya. In Lie Heng yang mempunyai paling banyak pengalaman di dunia Kangouw lantas berkata,
“Rombongan Po-yang-pang dari propinsi Kang-say musnah sudah. Mereka dihancurkan Kie-bhok-kie (Bendera balok besar) dari Mo-kauw.”
Biat-coat mengerutkan alisnya, “Kenapa Po-yang-pang datang ke sini?” tanyanya dengan suara kurang senang. “Apakah diundang oleh partaimu?” Si nenek merasa dongkol sebab partai lurus bersih biasanya memandang rendah berbagai golongan/ perkumpulan (pang-hwee) di dunia Kangouw dan dia segan untuk bercampur dengan ‘pang-pang’ itu.
“Tidak, kami tidak mengundangnya,” jawab Lie Heng. “Tetapi Lauw-pangcu dari Po-yang-pang telah diakui sebagai murid Khong-tong-pay. Mereka rupanya ingin membantu perguruan.”
Biat-coat mengeluarkan suara di hidung dan tidak mengatakan apa-apa lagi. Sesudah mayat-mayat dikuburkan, seorang murid lelaki Go-bi-pay, she Wie, yang merasa kagum akan jitunya tebakan Song Ceng Su, bertanya,
“Saudara Song, apakah kita bakal bertemu dengan musuh?”
Pemuda itu tidak langsung menjawab. Sambil mengawasi kuburan-kuburan yang berderet, dia mengasah otak. Sekonyong-konyong kuburan yang paling barat membuka dan seorang lelaki melompat keluar. Bagaikan kilat dia menawan murid Go-bi she Wie itu lalu kabur. Semua orang terkesiap, bahkan beberapa murid wanita mengeluarkan teriakan terkejut. Di lain detik Biat-coat, In Lie Heng, Song Ceng Su serta Ceng-hie mengejar dengan senjata terhunus. Selang beberapa saat, sesudah dapat menetapkan hatinya barulah para murid Go-bi sadar bahwa orang itu adalah Ceng-ek Hok-ong.
Dengan mengenakan pakaian anggota Po-yang-pang dia menahan napas lantas berlagak mati. Murid-murid Go-bi yang mengubur mayat, yang tidak memeriksa dengan teliti, kena dikibuli. Sesudah menahan korbannya si Raja kelelawar kabur, tetapi dia tidak kabur terus. Seperti orang mengejek dia lari berputaran, membuat sebuah lingkaran. Waktu baru mengundak, Biat-coat berempat lari berendeng. Tapi sesudah melalui satu putaran terlihatlah tinggi rendah kepandaian mereka, dengan dua orang lebih dahulu dan dua orang lebih belakang. Biat-coat dan In Lie Heng di sebelah depan, Ceng-hie dan Ceng Su mengikuti dari belakang. Tapi sesudah dua putaran, Ceng Su makin mendekati Biat-coat dan In Lie Heng, sedangkan Ceng-hie ketinggalan makin jauh. Dari sini dapatlah dilihat bahwa pemuda itu benar-benar lihay dan meski pun usianya masih muda, dia sudah memiliki lweekang yang tinggi.
Tapi ilmu ringan Ceng-ek Hok-ong tiada bandingannya di rimba persilatan. Biar pun mendukung manusia, dia tetap belum dapat disusul. Sesudah dua putaran, tiba-tiba Ceng Su berhenti mengejar dan berteriak,
“Tio Leng Cu Susiok, Uy Kio Bu Susiok, pergilah ke kedudukan Lee-wie dan memotong larinya musuh! Sun Liang Tin Susiok, Lie Beng Hee Susiok, cegatlah musuh dari kedudukan Cin-wie...!”
Bagaikan seorang panglima dia berteriak-teriak memberi perintah kepada belasan murid Go-bi untuk mencegat musuh dengan mengambil kedudukan Pat-kwa. Orang Go-bi yang kehilangan pimpinan, menuruti semua perintah itu, yang dikeluarkan dengan suara angker. Karena adanya pencegatan yang amat rapat, sekarang Ceng-ek Hok-ong tidak bisa lari berputaran lagi dengan leluasa. Seraya tertawa nyaring dia melemparkan tawanannya ke tengah udara kemudian kabur ke tempat lain. Biat-coat melompat lantas kedua tangannya menyangga tubuh muridnya yang melayang jatuh. Di lain saat sayup-sayup terdengar suara si Raja kelelawar,
“Hah... hah...! Di antara orang muda banyak yang lihay. Dengan mempunyai murid yang lihay itu, Biat-coat Loni sungguh tidak boleh dibuat permainan.“ Dengan berkata begitu dia memuji kepandaian Song Ceng Su.
Sementara itu Biat-coat berdiri terpaku dengan muka pucat pasi bagaikan kertas, karena murid yang dipeluknya ternyata sudah binasa dengan luka bekas gigitan di lehernya. Dengan hati penuh duka, tanpa mengeluarkan sepatah katapun semua orang berdiri di sekitar Biat-coat. Sesudah lewat beberapa lama, In Lie Heng berkata dengan suara lirih,
“Menurut kata orang, Ceng-ek Hok-ong selalu menghisap darah manusia. Ternyata cerita itu bukan omong kosong belaka.”
Biat-coat Suthay malu, marah dan sakit hati. Sejak menjadi Ciang-bun-jin Go-bi-pay baru kali ini dia mendapat pukulan demikian hebat. Dengan beruntun dua orang muridnya dibinasakan musuh tanpa dia bisa berbuat apa pun. Setelah berdiri bengong beberapa lama, dia menatap Ceng Su dan bertanya,
“Bagaimana kau tahu nama murid-muridku?”
“Tadi Ceng-hie Susiok telah memperkenalkan mereka kepada teecu,” jawabnya.
“Hm... sekali mendengar dan tak lupa lagi!” kata si nenek dengan suara perlahan. “Go-bi-pay mana punya orang sepandai itu?”
Malam itu pada waktu mengaso dengan sikap hormat Ceng Su menghampiri Biat-coat lalu berkata sambil membungkuk,
“Cianpwe, bolehkah Boanpwe memohon sesuatu yang tidak pantas?”
“Kalau kau tahu tidak pantas, tak perlu kau buka mulut,” kata si nenek dengan tawar.
“Ya,” kata pemuda itu bertindak mundur kemudian duduk di samping In Lie Heng.
Murid-murid Go-bi merasa sangat heran. Mereka tidak tahu apa yang hendak diminta oleh pemuda itu. Sebagai seorang yang berwatak sangat tidak sabaran, Teng Bin Kun segera mendekati dan bertanya,
“Saudara Song, apa yang hendak kau minta?”
“Waktu mengajar ilmu pedang, ayahku pernah mengatakan bahwa pada jaman ini orang palilng lihay Kiam-hoatnya di dunia adalah Sucouw kami, sedang yang kedua Biat-coat Cianpwe. Kiam-hoat Bu-tong dan Go-bi masing-masing mempunyai keunggulan dan kekurangan. Misalnya saja pukulan Chiu-hwie Ngo-hian (Tangan menyapu lima kali tetabuhan) dari Bu-tong hampir sama dengan Ceng-lo Siauw-san (Kudung tipis dan kipas kecil) dari Go-bi-pay. Tetapi jika Chiu-hwie Ngo-hian dikirim menggunakan tenaga yang besar maka kelincahannya berkurang dan tidak dapat menyamai Ceng-lo Siauw-san yang tetap bisa mempertahankan kecepatannya.“
Seraya berkata begitu dia menghunus pedang lantas menjalankan kedua jurus itu. Tetapi waktu menjalankan Ceng-lo Siauw-san, gerakannya sangat tidak sempurna.
“Salah,” kata Teng Bin Kun sambil tersenyum. Ia mengambil pedang yang dicekal pemuda itu. “Pergelangan tanganmu masih sakit sehingga tak bisa mengeluarkan banyak tenaga,” katanya. “Tapi kau lihatlah aku memberi contoh.”
Pemuda itu mengawasi dengan penuh perhatian. Sesudah Teng Bin Kun selesai dengan jurus itu, sambil menghela napas dia berkata,
”Ayahku sering berkata bahwa dia merasa menyesal belum bisa menyaksikan ilmu pedang gurumu. Hari ini Boanpwe merasa sangat beruntung bisa mendapat kesempatan menyaksikan jurus Ceng-lo Siauw-san dari Teng Susiok. Sebenarnya Boanpwe ingin memohon petunjuk-petunjuk Suthay mengenai beberapa hal dalam kiam-hoat. Tapi karena Boanpwe bukan murid Go-bi, maka tak dapat Boanpwe buka mulut.”
Meski pun berada di tempat yang agak jauh, Biat-coat mendengar pembicaraan itu. Bahwa dia dianggap sebagai jago pedang nomor dua di dunia, sudah menggirangkan hatinya. Di jaman itu memang Thio Sam Hong dipandang sebagai gunung Thay-san atau bintang Pak-tauw di dunia persilatan dan dia dikagumi oleh semua orang. Biat-coat sendiri belum pernah mempunyai niat untuk menandingi guru besar itu sehingga pendapat kalangan Bu-tong bahwa dia merupakan ahli pedang nomor dua sudah amat memuaskan hatinya. Ia merasa dongkol setelah melihat jurus Ceng-lo Siauw-san yang barusan dijalankan Teng Bin Kun sebab jurus itu masih jauh dari sempurna. Masa Go-bi Kiam-hoat hanya sebegitu?
Karena itu dia segera menghampiri dan tanpa mengeluarkan sepatah katapun dia mengambil pedang yang dipegang Teng Bin Kun. Sesudah mengangkat pedang itu sampai merata dengan hidungnya, tangannya menggetar dan ujung pedang segera mengeluarkan suara.
“Ungg...! Ungg...!“
Dari kanan ke kiri dan dari kiri ke kanan, sembilan kali ia membolang-balingkan senjata itu dengan kecepatan luar biasa. Meski pun cepat tetapi gerakan pedang dapat dilihat dengan nyata sekali. Para murid Go-bi mengawasi dengan mata membelalak.
“Sungguh indah!” teriak In Lie Heng.
Song Ceng Su sendiri memperhatikan setiap gerakan sambil menahan napas. Dia kagum bercampur kaget. Dengan memberi pujian tadi sebenarnya dia hanya ingin menyenangkan hati si nenek. Namun di luar dugaan, Nikouw tua itu benar-benar lihay dan dia merasa takluk. Maka itu dengan setulus hati dia segera memohon beberapa petunjuk lain.
Kini Biat-coat berlaku royal. Semua pertanyaan dijawabnya dan dijelaskan se-terangnya, sedangkan di mana perlu nenek itu bersilat untuk memberi contoh-contoh. Semua murid Go-bi memperhatikan itu tanpa berkedip. Banyak di antaranya, bahkan ada yang sudah mengikuti sang guru selama belasan tahun, tapi belum pernah melihat Kiam-hoat yang lihay itu dari gurunya.
Cu-jie dan Bu Kie berdiri di luar lingkaran penonton. Tiba-tiba si nona berkata, “Gu-koko, kalau aku bisa mempunyai ilmu ringan badan setinggi Ceng-ek Hok-ong, biar pun mati aku rela.”
“Apa gunanya memiliki ilmu yang sesat?” kata Bu Kie. “Menurut kata In Liok-hiap, setiap kali setelah mempergunakan ilmunya maka Wie It Siauw harus membunuh manusia. Perlu apa mempunyai ilmu siluman?”
“Dalam pertempuran manusia saling membunuh, bila tidak membunuh tentu dibunuh,” kata Cu-jie. “Wie It Siauw lihay dan dia berhasil membunuh murid Go-bi. Kalau dia kurang lihay, bukankan dia sendiri yang bakal dibunuh oleh si nikow tua? Di mataku tak ada perbedaan antara partai lurus bersih dan golongan yang dikatakan sesat.”
Bu Kie tidak mengatakan apa-apa lagi. Sekonyong-konyong sebatang pedang berkeredepan di udara. Pedang itu adalah senjata Song Ceng Su yang kena dilontarkan oleh Biat-coat dengan pukulan Kiauw-jiak Yu-liong (Gesit bagaikan naga). Semua orang mendongak dan memandangi senjata itu. Tiba-tiba mata mereka melihat sinar api yang berwarna kuning di sudut timur laut yang jauhnya kira-kira belasan li. Dalam usaha untuk membasmi Mo-kauw, enam buah partai besar telah bersepakat menggunakan anak panah api dengan enam macam warna sebagai tanda. Anak panah yang bersinar kuning itu adalah tanda dari Khong-tong-pay.
“Khong-tong-pay bertemu dengan musuh,” kata In Lie Heng. “Mari kita membantu.”
Mereka segera memburu ke jurusan itu. Tapi biar pun sudah melalui belasan li, apa yang ditemukan hanyalah pasir kuning belaka.
“Apakah itu adalah Un-locianpwe dari Khong-tong-pay?” teriak In Lie Heng. “Apakah Kouw-locianpwe?” Teriakan itu menempuh jarak yang jauh, tapi tidak mendapat jawaban.
Sekonyong-konyong di sebelah barat muncul sinar kuning.
“Ahh! Mereka pindah ke barat,” kata Ceng-hie. Dengan tergesa-gesa mereka memburu ke jurusan barat.
Tapi sesudah berlari-lari beberapa lama mereka tetap tidak menemui manusia. Di tempat itu mereka hanya menemukan potongan bambu dan kertas yang hancur terbakar sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa anak panah api itu telah dilepaskan dari tempat tersebut. Semua orang jadi bingung dan mencoba memecahkan teka-teki ini.
“Cianpwe, kita kena diakali,” tiba-tiba saja Song Ceng Su berkata, “Lihatlah! Di atas pasir hanya terdapat tapak kaki seorang manusia. Kalau benar kawan-kawan Khong-tong-pay bertemu dengan musuh, tentu yang kita lihat sedikitnya tapak empat atau lima orang.” Mendadak Song Ceng Su ingat sesuatu. “Celaka!” dia mengeluh, “Khong-tong-pay benar-benar diserang musuh. Ikutilah aku.“ Sehabis berkata begitu dia segera berlari-lari ke arah barat daya.
“Bagaimana kau tahu bahwa Khong-tong-pay bertemu musuh?” tanya In Lie Heng yang berlari bersama dengan keponakannya.
“Anak panah api itu bukannya palsu,” jawabnya. “Anak panah api yang dipergunakan keenam partai hanya dapat dibuat oleh tukang-tukang yang pandai dari Tiong-goan. Anak panah begitu tidak bisa dibuat oleh tukang-tukang daerah See-hek.”
“Apakah kau ingin mengatakan bahwa seorang murid Khong-tong kena tangkap dan anak panah api itu dirampas dari tangannya?” tanya sang paman pula.
“Benar,” jawabnya. “Sementara itu pihak siluman sudah memancing kita ke timur laut dan kemudian ke barat untuk membuat kita lelah. Menurut pendapatku, mereka berkumpul di barat daya.”
Biat-coat berada dalam jarak kurang lebih dua langkah dari mereka. Dia dapat menangkap pembicaraan mereka. Ia mengangguk seraya berkata,
“Kurasa tebakanmu tidak meleset.”
Kecuali Biat-coat, In Lie Heng, Song Ceng Su serta beberapa murid yang berkepandaian tinggi, murid-murid Go-bi yang lainnya sudah amat letih. Setelah melalui sekian li, di atas sebuah bukit pasir yang menghadang di depan mendadak kelihatan seseorang yang berdiri dan seorang lainnya rebah di pasir. Biat-coat lantas mempercepat langkahnya dan sesudah dekat, dia mendapat kenyataan bahwa kedua orang itu tidak lain dari Bu Kie dan Cu-jie. Dalam keadaan sibuk ternyata orang Go-bi tidak memperhatikan kedua tawanan itu lagi, yang entah bagaimana bisa berada di depan.
“Mengapa kau berada di sini?” tanya Biat-coat. Di hatinya dia merasa sangat heran. Apakah kedua setan kecil ini bisa berjalan lebih cepat?
Cu-jie menyengir. “Anak panah api itu terang-terang digunakan memancing musuh,” jawabnya. “Biar pun orang-orang Go-bi tidak sadar, tetapi kukira bocah she Song itu dapat menebaknya. Aku menduga pada akhirnya kalian semua tentu akan ke sini. Gu-koko, bukankah benar begitu?”
Bu Kie mengangguk. “Kami sudah berada di sini lama sekali,” katanya sambil tersenyum. “Kalian sangat capai bukan?”
“Setan kecil!” bentak Biat-coat. “Kalau kau sudah menduga begitu mengapa tidak cepat-cepat memberi-tahu kepada kami?”
“Eh-eh, kenapa kau marah?” kata si nona. “Mengapa kau tidak minta pendapatku? Andai kata aku memberi-tahu kepada kau, tentu tak akan percaya. Kau tentu lebih suka berlari-larian ke sana-sini.”
Biat-coat marah, tapi dia tak bisa mengatakan apa pun dan dia pun tak bisa menghajar nona itu tanpa alasan. Pada saat itulah di sebelah barat daya seolah-olah terdengar suara bentrokan senjata yang sangat banyak.
“Perlu apa kau marah terhadapku?” kata Cu-jie. “Kawan-kawanmu sedang menghadapi bahaya.”
Biat-coat dan yang lainnya tidak lagi mempedulikan Cu-jie yang berlidah tajam dan dengan tergesa-gesa mereka menuju ke arah barat daya. Semakin dekat suara pertempuran makin hebat. Di antara bentrokan senjata terdengar juga teriakan dari orang-orang yang terluka. Beberapa saat kemudian mereka terkesiap karena dari jauh mereka melihat pertempuran besar-besaran. Masing-masing pihak mempunyai kekuatan beberapa ratus orang dan mereka sedang bertempur mati-matian.
“Pihak musuh terdiri dari bendera-bendera Lian-hwee, Swie-kim (Emas murni) dan Ang-sui (Air besar),” kata In Lie Heng. “Khong-tong-pay telah berada di sini. Hoa-san-pay dan Kun-lun-pay juga sudah tiba. Tiga bendera melawan tiga partai, Su-jie mari kita ikut menyerbu.“ Sambil berkata begitu dia mengibaskan pedangnya yang mengeluarkan suara mengaung.
“Tunggu dulu,” kata Ceng Su. “Kita tunggu sampai datangnya para paman dari Go-bi-pay.”
Seumur hidup Bu Kie belum pernah menyaksikan pertempuran demikian besar dan demikian hebat. Dengan hati sedih dia mengawasi manusia saling membunuh. Di dalam hati kecilnya Bu Kie tidak mengharapkan kemenangan pihak mana pun juga karena pihak yang satu adalah partai mendiang ayahnya sedang pihak yang lain adalah golongan mendiang ibunya. Selagi menunggu murid-murid Go-bi yang ketinggalan di belakang, tiba-tiba saja Ceng Su menuding ke arah timur.
“Liok-siok, lihatlah!” katanya. “Di sebelah sana terdapat sejumlah besar musuh yang sedang menunggu untuk menerjang sewaktu-waktu.”
Bu Kie mengawasi ke arah yang ditunjuk Ceng Su. Benar saja, pada jarak beberapa puluh tombak dari gelanggang pertempuran terlihat tiga pasukan berkuda, setiap pasukan terdiri dari seratus orang lebih. Mereka semua berbaris dengan rapi dan siap untuk segera menerjang. Pada saat itu kedua belah pihak tengah berperang dengan kekuatan yang hampir imbang. Kalau ketiga pasukan berkuda itu menyerbu, orang-orang Khong-tong, Hoa-san dan Kun-lun pasti akan kewalahan. Tapi mengapa mereka tidak lantas menyerang? Biat-coat dan Lie Heng heran bercampur kuatir.
“Mengapa mereka belum juga bergerak?” tanya si nenek kepada Ceng Su.
Pemuda itu hanya menggeleng-gelengkan kepala. “Entahlah,” jawabnya. “Aku tidak dapat menebak.”
Mendadak Cu-jie tertawa geli. “Mengapa kau tidak dapat menebak?” tanyanya, “Bukankah hal itu terang benderang bagaikan siang?”
Paras muka Ceng Su berubah merah tapi dia membungkam. Sebenarnya Biat-coat ingin sekali meminta pendapat Cu-jie, tetapi dia merasa tak enak untuk membuka mulut. Tetapi In Lie Heng yang sabar dan pengalamannya luas itu berkata,
“Aku mohon petunjuk nona.”
“Ketiga pasukan itu mestinya pasukan Peh-bie-kauw,” terang si nona. “Biar pun Peh-bie-kauw merupakan cabang dari Mo-kauw, tetapi pihak Peh-bie telah bentrok dengan Ciang-kiesu dari lima bendera Mo-kauw. Karena itu, andai kata kalian dapat membasmi musuh, diam-diam In Thian Ceng akan merasa girang, sebab dengan demikian dia memiliki kesempatan untuk menduduki kursi Kauwcu dari Mo-kauw.”
Biat-coat dan Ceng Su lantas saja tersadar. “Terima kasih atas petunjuk nona,” kata Bu-tong Liok-hiap.
Ketika itu murid-murid Go-bi sudah menyusul dan mereka berdiri di belakang Biat-coat.
“Song Siauw-hiap,” kata Ceng-hie, “Kami tak bisa menandingimu dalam mengatur barisan, maka sekarang kau harus memimpin kami dan kami akan menaati semua perintah. Demi kepentingan bersama, jangan kau berlaku sungkan.”
“Liok-siok,” kata pemuda itu tergugu, “Mana siauwtit sanggup menerima kedudukan ini...”
“Sudahlah!” kata Biat-coat. “Jangan rewel dengan segala adat istiadat kosong.”
Ceng Su mengangguk dan dengan mata tajam dia memperhatikan jalannya pertempuran. Ketika itu Kun-lun-pay berada di atas angin. Pertempuran antara Hoa-san-pay dan Ang-sui-kie kira-kira berimbang, sedangkan Khong-tong-pay makin lama tampak semakin terdesak. Rombongan partai itu telah terkurung oleh orang-orang Liat-hwee-kie yang mulai membasmi dengan sepuas hati.
“Mari kita terjang Swie-kim-kie dari tiga arah,” kata Ceng Su. “Dengan memimpin beberapa paman, Suthay menyerang dari tenggara. Liok-siok menyerbu dari barat, sementara Ceng-hie Susiok dan Boanpwe sendiri akan menerjang dari barat daya...”
“Tapi keadaan Kun-lun-pay tidak perlu ditolong,” kata Ceng-hie dengan hati heran. “Yang sedang menghadapi bencana adalah Khong-tong-pay.”
“Kun-lun-pay sudah berada di atas angin dan jika kita membantu, dalam sekejap kita akan bisa membasmi seluruh Swie-kim-kie,” terang Ceng Su. “Setelah Swie-kim-kie dikalahkan maka dua bendera lainnya akan mundur sendirinya. Sebaliknya, kalau kita menolong Khong-tong, kita harus melakukan pertempuran hebat dan lama. Bagaimana kalau dalam kesempatan itu, Peh-bie-kauw menyerbu dan mengurung dari berbagai jurusan?”
“Song Siauw-hiap benar,” kata Ceng-hie yang lantas membagi murid-murid Go-bi menjadi tiga rombongan.
Sambil menarik kereta salju Bu Kie, Cu-jie berkata, “Mari kita berangkat sekarang.”
Keberangkatan mereka sempat dilihat Song Ceng Su yang lantas saja mengejar. Sambil menghadang di tengah jalan dengan melintangkan pedangnya, dia membentak,
“Nona, jangan pergi dulu!”
“Mengapa kau mencegat kami?” tanya si nona.
“Asal-usulmu sangat mengherankan, kau tidak bisa pergi begitu saja,” jawabnya.
“Ada sangkut pautkah asal-usulku dengan pribadimu?” tanya Cu-jie dengan suara tawar.
Biat-coat yang ingin menerjang musuh selekas mungkin menjadi sangat tidak sabaran dan dengan sekali berkelebat nenek itu telah berhadapan dengan Cu-jie. Hampir berbareng dia menotok jalan darah si nona di bagian punggung, pinggang dan betis. Tanpa bisa melawan Cu-jie roboh di pasir. Sesudah itu, seraya mengibaskan pedangnya si nenek berteriak,
“Hari ini kita membuka larangan membunuh untuk membasmi bersih kawanan siluman!”
Bersama In Lie Heng dan Ceng-hie yang masing-masing memimpin rombongan murid Go-bi, dia pun lantas terjun ke dalam pertempuran melawan Swie-kim-kie. Di bawah pimpinan Ho Thay Ciong dan Pan Siok Ham, rombongan Kun-lun-pay berada di atas angin. Maka itu penyerbuan Go-bi dan Bu-tong segera menghancurkan garis pembelaan Swie-kim-kie. Dengan kepandaiannya yang amat tinggi Biat-coat mengamuk bagaikan harimau gila. Tak seorang pun mampu melawan dalam tiga jurus. Dia menerjang berputar-putar, pedangnya berkelebat kian kemari dan dalam sekejap, tujuh anggota Mo-kauw binasa di bawah pedangnya.
Melihat kehebatan si nenek, Ciang-kiesu Swie-kim-kie yang bernama Chung Ceng segera menghampiri sambil memutar toya Long-gee-pang (toya bergigi serigala). Sekarang Biat-coat baru tertahan. Sesudah bertanding belasan jurus, seraya menggertak gigi nenek itu mencecar musuhnya dengan jurus-jurus Go-bi Kiam-hoat yang semakin lama jadi semakin gencar. Tapi Chung Ceng bukan orang sembarangan. Sedikitnya untuk sementara waktu dia masih dapat melayani pemimpin Go-bi-pay itu.
Banyak jago Mo-kauw yang berkepandaian tinggi, tetapi dalam menghadapi In Lie Heng, Ceng-hie, Song Ceng Su, Ho Thay Ciong dan Pan Siok Ham yang merupakan ahli silat kelas utama, mereka tidak bisa berbuat banyak. Dalam beberapa saat saja sudah banyak anggota Mo-kauw yang roboh tanpa bernapas. Melihat kerusakan pihaknya, bagai orang kalap Chung Ceng mengirim tiga pukulan berantai sehingga mau tak mau Biat-coat terpaksa mundur selangkah. Chung Ceng terus mendesak dan mengirim pukulan yang ke empat ke arah batok kepala si nenek Biat-coat seraya menotok toya musuh dengan jurus Sun-sui Tui-couw (dengan mengikuti aliran air, mendorong perahu). Di luar dugaan, pemimpin Swie-kim-kie itu memiliki Iweekang dan Gwakang yang sangat tinggi. Melihat sambaran pedang musuh, sambil membentak keras dia melawan dengan toyanya.
“Prakk!”
Pedang Biat-coat patah menjadi tiga potong. Meski pun kaget tapi selangkah pun si nenek tidak mundur. Tangan kanannya meraba ke belakang dan menghunus Ie-thian-kiam yang bukan saja membabat putus Long-gee-pang, tetapi juga membabat somplak sebagian batok kepala Chung Ceng yang langsung roboh tanpa bersuara lagi. Bukan main kagetnya para anggota Swie-kim-kie. Akan tetapi di lain saat mereka segera berteriak keras kemudian mereka pun mengamuk. Biat-coat dan Ceng Su semula menduga bahwa begitu Chung Ceng berhasil dirobohkan maka pasukan Swie-kim-kie akan lari lintang pukang dan pasukan Ang-sui serta Liat-hwee pun akan mengundurkan diri. Tak disangka, sebaliknya dari pada kabur, mereka sekarang berkelahi dengan nekat. Dalam sekejap saja murid-murid Kun-lun dan Go-bi menjadi korban. Mendadak terdengar teriakan pasukan Ang-sui-kie,
“Chung-kiesu telah berpulang ke alam baka. Swie-kim dan Liat-hwee mundur! Ang-sui-kie melindungi diri dari belakang!”
Hampir berbareng dengan teriakan itu pasukan Liat-hwee-kie mulai bergerak mundur ke arah barat, tapi orang-orang Swie-kim-kie masih terus bertempur. Orang itu berteriak pula,
“Ini adalah perintah dari Ang-sui-kie. Para anggota Swie-kim-kie, mundurlah! Usaha membalas sakit hati Chung-kiesu dapat dilaksanakan di hari nanti.”
“Saudara-saudara Ang-sui-kie, mundurlah!” seorang Swie-kim-kie balas berteriak. “Tolong balaskan sakit hati kami. Tapi kami ingin hidup dan mati bersama Chung-kiesu.”
Mendadak dari pasukan Ang-sui-kie muncul sehelai bendera hitam dan seorang berteriak dengan suara lantang,
“Saudara-saudara Swie-kim-kie, Ang-sui-kie pasti akan membalas sakit hatimu.”
Pada waktu itu sisa pasukan Swie-kim-kie hanya tinggal kira-kira tujuh puluh orang saja. Dengan serentak dia berteriak,
“Thung-kiesu, terima kasih!”
Bendera-bendera Ang-sui-kie lantas bergerak dan pasukan itu mulai mundur ke arah barat sambil dilindungi sekitar dua puluh orang yang mencekal bumbung yang mengeluarkan cahaya keemasan. Melihat gerakan mundur yang amat rapi itu, orang-orang Hoa-san dan Khong-tong tak berani mengejar dan mereka lalu bantu mengepung sisa Swie-kim-kie.....
OBJEK WISATA MANCA NEGARA



































Tidak ada komentar:
Posting Komentar