Rabu, 14 Oktober 2026

To Liong To 17

SEKALI MUSANG TETAP MUSANG

Latar belakang peristiwa itu tentu saja tak bisa ditembus Bu Kie. Sesudah mengasah otak beberapa lama tanpa hasil, dia segera menjumput buah tho hadiah si kera kemudian memasukkannya ke dalam mulut. Buah itu harum dan manis luar biasa, melebihi buah apa pun juga yang pernah dimakannya di lembah itu.

Sesudah perutnya kenyang, si bocah berpikir dalam hati. “Thay-suhu pernah mengatakan bahwa jika aku dapat memiliki Kiu-yang Sin-kang dari Siauw-lim, Bu-tong dan Go-bi, maka racun dingin dalam tubuhku mungkin bisa diusir keluar. Akan tetapi Sinkang dari ketiga partai itu hanya didapatkan dari kitab Kiu-yang Cin-keng. Mana kala kitab ini adalah benar kitab Kiu-yang Cin-keng dan aku bisa mempelajari semuanya, maka sinkang yang kumiliki akan melebihi Sinkang dari ketiga partai itu. Tetapi sudahlah! Perlu apa aku berpikir terlalu panjang. Di sini aku tidak punya pekerjaan, maka biarlah aku mempelajarinya. Andai kata kitab ini tidak berguna atau berbahaya, paling banyak aku mati.”

Berpikir begitu, dia lantas memasukkan jilid pertama ke dalam sakunya dan menaruh ketiga jilid lainnya di tanah yang kering kemudian menindihnya dengan batu yang besar. Ia berbuat begitu karena kuatir kalau kitab itu akan dicuri dan dirobek si kera yang nakal. Paling dahulu ia menghafal isi kitab, kemudian setindak demi setindak ia berlatih menurut pelajaran itu. Selama belajar ia masih ingat bahwa walau pun andai kata pelajaran itu bisa menghilangkan racun di dalam tubuhnya, ia akan tetap terkurung di lembah seumur hidup.

Maka itu ia belajar dan berlatih dengan pikiran tenang dan tidak tergesa-gesa, berhasil hari ini baik, berhasil besok pun baik juga. Tetapi karena ketenangan itulah ia justru mendapat kemajuan yang sangat pesat. Belum cukup empat bulan ia sudah dapat mempelajari ilmu-ilmu yang tertulis dalam jilid pertama.

Dahulu pada waktu Tat Mo Couwsu menggubah Kiu-im dan Kiu-yang Cin-keng, ia sengaja menggubahnya sedemikian rupa sehingga nilai kedua kitab itu sama tinggi dan yang satu menutup kekurangan dari yang lain. Kiu-yang mengutamakan latihan ilmu pernapasan dan cara memperpanjang umur, sedangkan Kiu-im mementingkan ilmu-ilmu silat yang dapat merobohkan lawan. Mengenai Iweekang, Kiu-yang lebih unggul, namun dalam jurus-jurus silat yang aneh dan luar biasa, Kiu-im-lah yang lebih lihai! Dahulu waktu Tauw Hian Hong dan Bwee Tiauw Hong mencuri jilid kedua dari Kiu-im Cin-keng, mereka berhasil mempelajari ilmu silat yang luar biasa, yang tidak terdapat pada Kiu-yang Cin-keng. Akan tetapi seseorang yang menyelami Kiu-yang Cin-keng dan sudah melatih diri menurut pelajaran itu sampai puncak yang tertinggi, maka orang itu tak akan dapat ditaklukkan dengan pukulan atau ilmu silat yang mana pun juga.

Sementara itu, setelah menyelesaikan latihan dari jilid yang pertama, Bu Kie memperoleh kenyataan bahwa ia sudah bisa hidup lebih lama dari pada batas waktu yang disebut oleh Ouw Ceng Gu. Sebaliknya dari pada binasa, bukan saja ia tetap sehat, tapi jangka waktu antara serangan racun dingin juga semakin panjang dan penderitaannya selama serangan makin lama makin berkurang. Ia mendapat kenyataan bahwa hawa dalam tubuhnya dapat mengalir leluasa. Sekarang ia hampir tidak sangsi lagi bahwa kitab itu benar Kiu-yang Cin-keng adanya. Kalau pun bukan, tetap saja tidak dapat disangkal bahwa pelajaran kitab itu mempunyai khasiat yang besar untuk kesehatan badan.

Karena sering kali makan daging kodok merah dan buah tho luar biasa yang dibawa oleh si kera putih, maka baru saja ia mempelajari sebagian kecil dari jilid kedua, racun dingin di tubuhnya sudah terusir seluruhnya. Pantasnya, sesudah racun dingin menghilang, jika terus makan daging kodok merah akan mengakibatkan keracunan lain. Tetapi syukur, berkat latihan Kiu-yang Cin-keng yang sudah agak maju dan berkat buah tho yang memiliki khasiat menolak racun, maka racun ‘panas’ dari daging kodok bukan saja tidak membahayakan, bahkan membantunya mempercepat bertambahnya Sinkang.

Setiap hari, di samping belajar dan berlatih serta bermain dengan kawanan kera, Bu Kie memetik buah untuk menangsal perut dan setiap kali mau makan, ia selalu membagi separuhnya kepada Cu Tiang Leng yang tinggal di luar terowongan. Ia hidup bebas serta riang gembira dan penuh kepuasan. Tetapi Cu Tiang Leng sendiri mengalami kesengsaraan yang tidak ringan. Dengan hidup dari belas kasihan Bu Kie, siang malam orang tua itu hanya berdiam di atas ‘panggung’ yang tertutup salju dan tiap bertemu dengan musim dingin, hebatnya penderitaan sukar dilukiskan dengan kalam (kata-kata).

Sesudah berlatih dengan pelajaran jilid ketiga, Bu Kie sudah tidak takut lagi dengan hawa dingin. Kalau lagi gembira ia terjun dan mandi di kolam dingin. Dengan mengalirnya hawa ‘murni’ di seluruh tubuhnya, begitu kulitnya tersentuh air dingin, secara wajar tubuhnya mengeluarkan tenaga menolak. Gigi kodok merah memang sangat tajam, tapi pada waktu itu tajamnya gigi tidak lagi mampu melukai badannya. Tapi semakin tinggi pelajaran Kiu-yang Cin-keng menjadi semakin sulit dan kemajuannya pun menjadi makin perlahan. Ia harus menggunakan waktu kurang lebih satu tahun untuk menyelami jilid ke tiga. Bahkan jilid yang terakhir, yakni jilid ke empat, memerlukan waktu dua tahun lebih.

Pada suatu malam Bu Kie membuka halaman terakhir dari kitab jilid terakhir. Dia merasa girang bercampur terharu. Sudah empat tahun lebih dia tinggal di lembah itu, dari bocah dia sudah menjadi pemuda yang bertubuh jangkung. Selama itu, mungkin sekali di dunia sudah terjadi perubahan-perubahan besar yang tidak diketahui olehnya. Dengan banyaknya memperoleh pengalaman pahit getir selama yang dirasakannya, maka penghidupan di lembah lebih nyaman bagi Bu Kie. Tidak ada hasrat untuk terjun ke dalam pergaulan, di mana Bu Kie mengganggap banyak manusia yang pandai berpura-pura dan dia lebih senang bergaul dengan kera-kera yang umumnya memiliki sifat yang polos, yang menyenangkan dan dapat diajak bermain sebagai kawan sejati.

Dengan Iweekang yang sangat dalam, Bu kie hidup di dunianya sendiri. Banyak masalah dan persoalan yang sebetulnya mengganggu hatinya. Sering Bu Kie terangsang oleh keinginan untuk terjun ke dunia persilatan lagi, ke dalam dunia pergaulan, tapi perasaan seperti itu ditindasnya. Dan banyak pula orang-orang yang berkenan di hatinya, yang memiliki budi kebaikan terhadap dirinya, tapi sayang sekali perasaan takut terhadap lingkungan pergaulan di antara manusia yang pandai berpura-pura itulah yang menyebabkan Bu Kie akhirnya memutuskan untuk tinggal selamanya di lembah ini.

Tetapi manusia memang sering mengalami peristiwa yang berlawanan dengan kehendak hatinya, yang berlawanan dengan keinginannya, yang bertentangan dengan kemauannya. Dan peristiwa yang terjadi itu memang sering kali terjadi di luar jangkauan dan kehendak manusia, akhirnya harus diakui yang menentukan adalah Thian (Tuhan) yang maha kuasa. Demikian juga yang terjadi pada diri Bu Kie. Walau pun dia sebenarnya bermaksud hidup tenang tenteram di lembah itu, hidup dengan penuh bahagia, jauh dari sifat buruk dan berpura-pura dari manusia yang pandai sekali bersandiwara dalam hidup ini, tetapi rupanya Thian menghendaki lain, sehingga akhirnya Bu Kie akan terlibat dalam beberapa peristiwa hebat yang akhirnya memaksa Bu Kie menyerah terhadap keadaan, yang akhirnya akan memaksa Bu Kie harus mengakui bahwa memang manusia hidup di dunia ini harus bermasyarakat.

Seperti diketahui, Bu Kie berada di lembah yang menyenangkan hatinya dengan ditemani oleh kawanan kera. Kawanan kera itu merupakan sahabat yang amat menyenangkan, di samping itu merupakan kawan yang memiliki sifat yang masih murni dan polos, bebeda dengan manusia yang pernah dikenal oleh Bu Kie, yang pandai sekali berpura-pura. Dalam setengah tahun ini, kalau hatinya senang, Bu Kie sering mengikuti kawanan kera memanjat lereng gunung yang curam dan bermain di sana sambil memandang lembah yang berada jauh di bawah. Dengan kepandaian yang kini dimilikinya, kalau mau dengan mudah ia akan dapat keluar dari kurungan itu. Ia dapat memanjat tebing yang tidak dapat dipanjat manusia lain. Tapi ia justru tidak mau.

Sesudah mendapat banyak pengalaman pahit getir dan bertemu dengan banyak manusia yang pandai berpura-pura, hatinya menjadi dingin. “Perlu apa aku masuk lagi ke dunia pergaulan untuk mencari kepusingan?” pikirnya. “Aku sudah merasa puas dengan hidup di sini sampai hari tua.” Pada hari itu, dengan Iweekang-nya yang sangat dalam ia mengorek sebuah lubang yang dalamnya kurang lebih 3 kaki di batu karang, di samping mulut terowongan. Sesudah itu ia membungkus keempat jilid Kiu-yang Sin-kang, In Keng dari Ouw Ceng Gu dan Tok Keng dari Ong Lan Kouw dengan menggunakan kain minyak yang dahulu dikeluarkan dari perut kera putih. Ia masukkan bungkusan kitab-kitab itu ke dalam lubang yang lantas ditutupnya dengan batu dan tanah.

“Karena jodoh yang sangat luar biasa, aku mendapatkan kitab itu dari perut seekor kera,“ katanya dalam hati. “Entah kapan dan entah siapa yang kelak akan datang lagi di sini dan menggali keluar kitab yang kutanam ini.“ Sambil mengerahkan Iweekang ia segera menulis enam huruf di atas batu dengan jarinya: ‘Tempat Thio Bu Kie menyimpan kitab’. Karena sibuknya, selama belajar dan berlatih dia sama sekali tidak merasa kesepian. Tapi pada malam itu, sesudah menyelesaikan pelajaran dengan hasil yang gilang gemilang, dia merasa hatinya amat kosong dan ingin sekali bertemu dengan seorang manusia lain untuk bercakap-cakap.

“Sekarang aku tidak usah takut kepada Cu-pekpek,” pikirnya. “Biarlah sekarang aku coba menemui dia.“

Setelah berpikir demikian ia lantas melompat naik ke lubang terowongan dan berlutut untuk mencoba merangkak masuk. Tetapi lubang itu ternyata terlalu kecil untuk badannya. Pada empat tahun yang lalu dia baru berusia lima belas tahun dan tubuhnya masih kurus kecil. Tapi sekarang dalam usia 19 tahun dia telah menjadi seorang dewasa dan badannya berubah banyak. Tetapi sesudah mendalami Kiu-yang Cin-keng, hal ini dapat diatasinya. Ia segera menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkan ilmu Siok-kut-kang (ilmu mengerutkan tulang). Dengan ilmu itu daging dan otot antara tulang-tulang akan mengerut hingga tulangnya bisa dikatakan berkumpul menjadi satu. Dengan demikian dia dapat masuk ke dalam terowongan.

Waktu ia tiba di mulut terowongan, Cu Tiang Leng sedang tidur pulas sambil bersandar di sebuah batu besar. Ia menepuk pundak orang tua itu yang lantas tersadar. Bukan main kagetnya Cu Tiang Leng. Ia melompat bangun dan sambil mengawasi Bu Kie dengan mata terbelalak, ia berkata dengan suara terputus-putus.

“Kau... kau...”

“Cu-pekpek,” kata Bu Kie seraya tersenyum. “Benar, aku Bu Kie.”

Cu Tiang Leng kaget campur girang, mendongkol campur benci. Setelah mengawasi beberapa lama, barulah ia berkata,

“Kau sudah besar sekali. Hm...! Mengapa selama bertahun-tahun kau tidak pernah keluar biar pun aku sudah berulang memohon?”

“Karena aku takut dipukul olehmu,” jawabnya.

Mendadak Cu Tiang Leng menyambar pundak Bu Kie dengan gerakan Kin-na-ciu. “Sekarang kau tidak takut lagi?!” bentaknya. Tiba-tiba ia merasa telapak tangannya panas, lengannya gemetar, dan terpaksa ia segera melepaskan cengkramannya. Walau pun begitu tetap saja dadanya sakit dan menyesak. Ia mundur beberapa tindak dan berkata dengan suara parau.

“Kau... ilmu apa itu?”

Sesudah memiliki Kiu-yang Sin-kang, inilah untuk pertama kalinya Bu Kie menjajalnya. Ia sendiri baru tahu hebatnya ilmu tersebut. Dengan hanya menggunakan dua bagian tenaga, Cu Tiang Leng seorang ahli silat kelas satu dapat dijatuhkan. Jika ia mengerahkan seluruh tenaga, mungkin sekali lengan orang tua itu patah. Ia girang bukan main dan sambil mengawasi muka si tua, ia bertanya seraya tersenyum,

“Cu-pekpek, bagaimana pendapatmu? Apakah ilmuku cukup lihay?”

“Ilmu apa itu?” Cu Tiang Leng mengulangi pertanyaannya.

“Aku pun tidak tahu, mungkin Kiu-yang Sin-kang,” jawabnya.

Cu Tiang Leng terkesiap. “Bagaimana kau bisa mendapatkan ilmu itu?” tanyanya pula.

Bu Kie berterus terang. Ia lalu menceritakan cara bagaimana ia mendapat kitab luar biasa itu dari perut seekor kera dan cara bagaimana ia kemudian mempelajarinya serta melatih diri. Penuturan itu membangkitkan rasa iri dan gusar di hati si tua.

“Empat tahun lebih aku menderita hebat di puncak ini, namun setan kecil ini berhasil mempelajari sinkang yang tiada tandingannya di dunia,” pikirnya.

Ia sama sekali tak ingat bahwa segala penderitaannya itu adalah akibat dari perbuatannya sendiri. Namun sebagai manusia palsu ia bukan saja dapat menindih amarahnya, tapi juga bisa memperlihatkan muka berseri-seri.

“Di mana adanya kitab itu?” tanyanya sambil tersenyum. “Apa boleh kulihat?”

“Boleh,” jawab Bu Kie. Ia menganggap bahwa meski pun bisa melihatnya tetapi si tua tak akan bisa menghafal isi kitab dalam waktu cepat. “Tapi aku telah memendamnya di dalam lubang, besok saja aku membawanya kemari.”

“Kau sudah begini besar, bagaimana kau bisa keluar dari lubang yang sempit itu?” tanya pula Cu Tiang Leng.

“Lubang itu sebenarnya tak terlalu sempit,” kata Bu Kie. “Dengan mengerutkan badan dan menggunakan sedikit tenaga maka aku bisa lewat.”

“Apakah aku pun dapat lewat di situ?” tanya si tua dengan mata menyala. “Bagaimana pendapatmu? Apakah bisa?”

Bu Kie manggutkan kepalanya. “Kurasa bisa,” jawabnya. “Besok boleh kau mencobanya. Setelah melewati terowongan terdapat sebuah lembah besar yang indah dengan buah-buahan yang dapat menangsal perut.”

Ia tahu bahwa dengan tenaga sendiri Cu Tiang Leng tidak akan bisa lewat di terowongan itu. Namun melihat sikap si tua yang sangat manis dan penuh dengan rasa menyesal, dia jadi kasihan lantas mengambil keputusan untuk memberi bantuan. Ia merasa bahwa dengan menggunakan sinkang akan dapat menggencet tulang pundak dada dan pinggul si tua supaya bisa lewat di terowongan yang sempit.

“Saudara kecil, kau betul-betul baik,” kata si tua. “Seorang kuncu memang tidak menaruh dendam. Aku pernah melakukan perbuatan yang sangat tidak pantas terhadapmu dan aku harap kau suka memaafkan.” Seraya berkata begitu ia menyoja sambil membungkuk.

Buru-buru Bu Kie membalas hormat. “Cu-pekpek jangan kau memakai terlampau banyak peradatan,” katanya. “Besok kita bersama akan mencari daya upaya untuk dapat keluar dari kurungan ini.”

Cu Tiang Leng menjadi girang bukan kepalang. “Apakah masih ada jalan untuk keluar dari sini?” tanyanya.

“Kawanan kera bisa keluar masuk, maka kita pun pasti bisa,” jawabnya.

Untuk beberapa saat Cu Tiang Leng menatap Bu Kie. “Tetapi... tetapi mengapa kau tidak mencoba meloloskan diri terlebih dulu dan menunggu sampai sekarang?” tanyanya.

Bu Kie tersenyum, “Sebegitu jauh aku tidak berani mencoba keluar dari sini karena kuatir dihina orang lagi,” jawabnya. “Tapi sekarang mungkin aku tidak perlu merasa kuatir lagi. Di samping itu aku pun ingin menengok Thay-suhu, para Supek dan Susiok.”

Si tua berkakakan sambil menepuk-nepuk tangannya. “Bagus! Bagus!”

Sambil mengunjuk kegirangan ia mundur satu dua tindak. Tiba-tiba kakinya menginjak tempat kosong. Tubuhnya limbung dan... jatuh ke bawah!

Bu Kie mencelos hatinya. Ia melompat ke pinggir tebing lantas berteriak, “Cu-pekpek! Cu-pekpek...!”

Dari bawah terdengar suara rintihan perlahan. Bu Kie girang. Dia mendapat kenyataan bahwa Cu Tiang Leng jatuh di atas sebuah pohon Siong yang terpisah hanya beberapa tombak dari atas tebing. Rupanya si tua mendapat luka yang agak berat karena badannya rebah di cabang tanpa bergerak. Dengan kepandaian yang sekarang dimilikinya, dia dapat menolong orang tua itu. Dengan mudah ia bisa melompat turun kemudian melompat naik dengan mendukung tubuh si tua. Demikianlah, sambil menyedot napas panjang-panjang, ia melompat turun ke arah cabang yang sebesar lengan.

Tidak dinyana, pada waktu telapak kakinya hanya terpisah kira-kira setengah kaki, cabang itu mendadak jatuh ke bawah! Meski pun memiliki Sinkang yang luar biasa, Bu Kie adalah seorang manusia biasa dan bukan seekor burung yang bisa terbang kian kemari di udara. Ia terkesiap dan badannya meluncur ke bawah...! Di lain detik, selagi tubuhnya melayang jatuh, ia sadar. “Sungguh celaka! Sekali lagi aku diakali oleh bangsat tua Cu Tiang Leng! Cabang itu dipegang olehnya dan pada saat aku hampir hinggap di atasnya, ia lalu melepaskannya.” Tapi sadarnya sudah terlambat.

Memang benar jatuhnya Bu Kie adalah akibat permainan gila dari si tua. Sesudah berdiam empat tahun lebih di atas ‘panggung’, dia sudah mengenal setiap pohon, setiap rumput dan setiap batu di sekitar tempat itu. Dengan berlagak jatuh dan berlagak terluka, dia telah menghitung pasti bahwa Bu Kie yang hatinya lemah akan menolong dan benar saja akal busuknya ternyata berhasil. Dia tertawa terbahak-bahak dengan girangnya, kemudian naik ke atas dengan memanjat sebatang oyot yang terdapat pada siong itu.

“Dulu aku gagal untuk menembus terowongan itu,” katanya dalam hati. “Mungkin tulangku patah karena aku terburu nafsu dan menggunakan tenaga terlalu besar. Badan setan kecil itu lebih besar dari pada tubuhku, tetapi dia bisa keluar masuk. Kalau dia bisa aku pun pasti bisa. Sesudah mengambil Kiu-yang Cin keng aku bisa mencari jalan pulang dari lembah ini. Perlahan aku akan mempelajari isi kitab dan melatih diri hingga aku menjadi seorang ahli silat yang tiada tandingannya di dunia ini. Ha-ha...! Ha-ha-ha...!”

Makin dipikir dia menjadi makin girang dan dengan bibir tersungging senyuman, dia masuk ke terowongan itu. Setelah merangkak beberapa lama, tibalah dia di bagian terowongan di mana pada empat tahun berselang tulangnya patah. Dalam usahanya untuk menerobos terowongan itu, pikiran Cu Tiang Leng hanya dikuasai oleh sebuah pendapat, yaitu Bu Kie bertubuh lebih besar dari padanya sehingga kalau Bu Kie bisa, dia pun bisa. Pendapat itu pada hakekatnya tidak salah. Tapi ada sesuatu yang tidak diketahui olehnya. Dia tidak tahu bahwa sesudah menyelami Kiu-yang Cin-keng, Bu Kie mempunyai ilmu yang luar biasa, yaitu Siok-kut-kang yang dapat mengerutkan tulang-tulang.

Sambil mengerahkan jalan pernapasannya, sejengkal demi sejengkal ia merangkak maju. Tanpa banyak susah dia bisa maju sekitar setombak lebih jauh dari pada tempat terdahulu. Tapi dia mandek sampai di situ. Meski pun sudah mengeluarkan banyak tenaga, dia tetap tidak bisa maju. Ia mengerti bahwa jika menggunakan tenaga Iweekang, hasilnya akan sama saja dengan kejadian empat tahun berselang dan tulangnya bakalan patah lagi. Maka, setelah mengasah otak, ia segera melepaskan sisa hawa yang terdapat di dalam dadanya. Benar saja badannya lebih kecil dua dim sehingga ia bisa maju lagi kira-kira tiga kaki.

Sampai di situ ia terpaksa mandek lagi karena lubang yang terbuka masih terlampau kecil untuk tubuhnya yang sudah sangat diperkecil. Lebih celaka lagi, karena di dadanya sudah terdapat hawa udara, dia pun merasa sesak napas dan jantungnya berdebar keras. Di lain saat kedua matanya berkunang-kunang. Dia mengenal bahaya. Dia segera mengambil keputusan untuk mundur. Tapi ternyata dia tidak bisa mundur lagi!

Pada waktu maju dia dapat mempergunakan tenaga dengan bantuan kedua kakinya yang menendang dinding batu yang tidak rata. Tapi dalam usahanya untuk mundur kembali, dia tidak punya pegangan yang dapat digunakan untuk meminjam tenaga. Kedua tangannya yang diluncurkan ke depan hampir tergencet di antara dinding terowongan sehingga tidak bisa memberi bantuan apa pun. Sekarang barulah si tua merasa ketakutan. Dia tahu bahwa dia akan mati konyol. Keringat dingin membasahi pakaiannya. Dia bingung bercampur heran bercampur takut.

“Mana bisa begini?” tanyanya dalam hati. “Badan bocah itu masih lebih besar dari pada badanku. Mengapa dia bisa tetapi aku tidak bisa? Mana bisa begini?”

Ya! Di dunia ini memang banyak hal yang aneh-aneh. Demikianlah, Cu Tiang Leng yang pintar dan Bun-bu-song-coan (pandai ilmu surat dan ilmu silat) tergencet di lubang, maju tak dapat mundur pun tak bisa.....!

Di lain pihak, bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya Bu Kie melayang ke bawah.

“Bu Kie...! Bu Kie...!” dia mengeluh. “Kau sungguh tolol. Kau tahu Cu Tiang Leng manusia licik, masih juga kena diperdayai. Thio Bu Kie... kau memang pantas mampus diakali orang!”

Sambil menyesali diri sendiri Bu Kie berusaha menolong jiwanya. Dia mengerahkan tenaga dan melompat ke atas untuk memperlambat kecepatan jatuhnya. Tetapi mana dia bisa berhasil? Dengan tubuh melayang, tanpa sesuatu yang dapat digunakan untuk landasan, badannya terus meluncur ke bawah dengan dahsyatnya. Di lain saat dia merasa matanya sakit karena tertumbuk sinar salju. Bagi Bu Kie detik itu adalah detik yang sangat menentukan, detik antara mati dan hidup. Pada detik itu dia melihat gundukan salju. Tanpa pikir panjang lagi, tanpa menghiraukan benda apa yang diliputi salju itu, dia mengerahkan Iweekang dan jungkir balik ke arah tumpukan salju.

“Bluss...!”

Kedua kakinya terjeblos dan dengan berbareng dia mengerahkan Kiu-yang Sin-kang untuk melompat ke atas dengan meminjam tenaga balik dari tumpukan salju itu. Tapi tenaga jatuh dari tempat yang begitu tinggi dahsyatnya bukan main, bahkan terlebih dahsyat dari tenaga yang dikerahkannya. Ia merasa kesakitan hebat karena kedua tulang betisnya patah. Walau pun terluka hebat namun otaknya masih terang. Ia mendapat kenyataan bahwa ia jatuh di tumpukan rumput dan kayu bakar.

“Sungguh berbahaya!” pikirnya. “Kalau pada lapisan salju terdapat batu-batu besar, jiwaku tidak bisa tertolong lagi.”

Dengan menggunakan kedua tangan, perlahan-lahan dia merangkak keluar dari tumpukan rumput itu lalu merebahkan diri di atas tanah yang tertutup salju. Setelah memeriksa luka-lukanya, ia menarik napas panjang kemudian menyambung tulangnya yang patah.

“Tanpa bergerak, paling sedikit aku memerlukan waktu satu bulan agar bisa berjalan lagi,” katanya di dalam hati. “Tetapi selama itu, dari mana aku bisa memperoleh makanan untuk menangsal perut?”

Ia tahu tumpukan rumput ini milik seorang petani sehingga di tempat itu mesti terdapat rumah orang. Semula ia ingin berteriak minta tolong. Tapi ia mengurungkan niatnya karena mengingat bahwa di dunia terdapat banyak manusia jahat sehingga jika teriakannya memancing kedatangan orang jahat ia bisa menjadi lebih celaka lagi. Karena berpikir demikian, ia segera mengambil keputusan untuk rebah terus di situ sambil menunggu sembuhnya kembali tulang-tulang yang patah.

Tiga hari telah lewat. Semakin lama rasa lapar menerjang kian hebat. Tapi dia tetap tidak berani bergerak karena sekali bergerak dia bisa menjadi orang pincang seumur hidup. Karena itulah dia terpaksa menelan salju untuk menangsal perutnya yang keroncongan. Selama tiga hari itu berulang-ulang dia berjanji pada diri sendiri untuk lebih berhati-hati supaya tidak sampai kena diakali orang jahat. Pada hari keempat, waktu malam selagi dia melatih diri dengan mengerahkan Kiu-yang Sin-kang, kupingnya tiba-tiba menangkap suara menyalaknya anjing. Makin lama suara itu makin dekat dan didengar dari suaranya, mungkin sekali beberapa ekor anjing tengah menguber binatang buas.

“Apakah anjing-anjing itu milik Kiu Tin Cici?” tanyanya dalam hati. “Semua anjing Tin-ci sudah dibinasakan oleh Cu-pekpek, tapi sesudah berselang beberapa tahun, bisa saja dia mendidik anjing-anjing baru.”

Dia pasang kuping dan mengawasi ke arah suara itu. Tak lama kemudian terlihat bayangan seseorang yang lari bagaikan terbang dikejar tiga ekor anjing. Orang itu kelihatannya sudah lelah sekali, tindakannya limbung, tapi dalam ketakutan dia berlari terus dengan mati-matian. Bu Kie bergidik karena ia ingat pengalamannya beberapa tahun yang lalu. Bu Kie ingin sekali memberi pertolongan, tetapi tidak dapat karena tulang betisnya belum tersambung. Di lain saat dia mendengar teriakan menyayat hati dan orang itu roboh di tanah lalu diterkam pengejar-pengejarnya.

“Anjing bangsat! Kemari kalian!” teriak Bu Kie dengan marah.

Anjing itu ternyata mengerti omongan manusia. Dengan serentak mereka meninggalkan si korban dan menghampiri Bu Kie. Begitu mengetahui bahwa pemuda itu adalah orang yang tidak dikenal, mereka segera menyalak dan menubruk. Buru-buru Bu Kie mengerahkan Sinkang yang memang ingin dijajalnya. Dengan telunjuk, bagaikan kilat ia menotok hidung ketiga binatang itu yang tanpa bersuara lagi roboh binasa. Bu Kie terkejut karena baru sekarang ia menginsyafi lihaynya Kiu-yang Sin-kang. Mendengar suara rintihan perlahan dari orang yang barusan digigit anjing, Bu Kie segera bertanya,

“Saudara, apakah kau terluka berat?”

“Aku... aku... tidak bisa ditolong lagi...“ jawabnya.

“Tulang betisku patah, aku tidak bisa mendekati kau,” kata Bu Kie. “Coba kau kemari, aku ingin memeriksa lukamu.”

Dengan napas tersengal-sengal orang itu merangkak ke arah Bu Kie. Tapi baru saja maju beberapa langkah, ia roboh dan tidak bisa bergerak lagi.

“Toako, di bagian mana kau terluka?” tanya Bu Kie.

“Di dada... di perut...“ jawabnya dengan suara lemah.

Bu Kie terkejut, sebab didengar dari suaranya orang itu tidak akan bisa mempertahankan diri lagi.

“Mengapa Toako diserang kawanan anjing bangsat itu?” tanyanya lagi.

“Malam ini... aku... aku keluar untuk memburu babi-babi hutan yang sering mengganggu tanamanku,” ia menerangkan. “Secara kebetulan aku bertemu seorang wanita dan seorang pria yang sedang bercakap-cakap di bawah pohon... Hai...!“ orang itu tidak dapat meneruskan perkataannya lagi, bahkan tubuhnya tidak berkutik lagi.

Bu Kie lantas menduga bahwa wanita dan lelaki itu adalah Cu Kiu Tin dan Wie Pek yang mengadakan pertemuan rahasia di tengah malam buta. Mengingat kekejaman wanita itu, darahnya meluap. Kesunyian malam kembali meliputi lembah yang dingin itu.

TIU-KOUWNIO (NONA MUKA JELEK)

Sekonyong-konyong dari kejauhan terdengar derap kuda, disusul teriakan memanggil-manggil dari seorang wanita. Jantung Bu Kie memukul keras dia kenal suara Kiu Tin yang sedang memanggil anjing-anjingnya. Bu Kie segera bersiap sebab suara derap kuda itu datang ke arahnya. Tidak lama kemudian dua penunggang kuda, wanita dan pria, tiba di situ. Dugaan Bu Kie ternyata tepat, mereka itu adalah Cu Kiu Tin dan Wie Pek.

“Ih! Kenapa ketiga Peng-see Ciangkun binasa semua?” kata si nona dengan suara heran.

Wie Pek melompat turun dari tunggangannya. “Ada dua orang mati di sini!” katanya heran.

Bu Kie siap sedia. “Kalau dia bergerak, aku akan turun tangan lebih dahulu,” pikirnya.

Melihat korban yang menderita luka-luka berat serta Bu Kie yang pakaiannya compang-camping dan rebah tanpa berkutik itu, Kiu Tin segera menarik kesimpulan bahwa mereka keduanya binasa digigit anjing. Dia mengadakan pertemuan itu untuk bersuka-ria dengan Wie Pek dan dia tidak mau tinggal lama-lama di tempat yang dapat merusak suasana. Maka dia lantas berkata,

“Piawko, hayolah! Sebelum mati mereka melawan mati-matian dan sudah membinasakan ketiga anjing itu.“ Seraya berkata begitu dia mengedut les kuda yang dikaburkan ke arah barat.

Sebenarnya Wie Pek merasa sangat heran dan ingin menyelidiki lebih jauh. Tetapi karena kekasihnya sudah berlalu, cepat dia melompat ke atas punggung tunggangannya menyusul si cantik. Sayup-sayup Bu Kie mendengar suara tawa Kiu Tin. Tiba-tiba dia dihinggapi perasaan muak dan marah terhadap nona itu. Ia sendiri merasa heran. Empat tahun yang lalu dia memuja Cu Kiu Tin seperti memuja seorang dewi. Andai kata ia diperintah memanjat gunung golok atau masuk ke dalam kuali minyak mendidih, ia pasti akan menurut tanpa sangsi. Tapi sekarang, entah mengapa pengaruh si nona atas dirinya tiada bekasnya lagi.

Dalam hati kecilnya dia menduga perubahan itu terjadi berkat latihan Kiu-yang-kang. Dia tidak tahu bahwa hal itu adalah kejadian lumrah bagi seorang laki-laki yang baru berangkat besar. Pada masa akil baliq, rasa cinta seorang lelaki terhadap perempuan cepat panasnya namun cepat pula dinginnya. Sesudah lewat beberapa lama pikirannya berubah, sering-sering mentertawai dirinya sendiri mengapa dulu dia begitu gila. Kejadian seperti ini sedikit banyak sudah dialami setiap lelaki. Pada keesokan harinya, seekor elang yang melihat mayat manusia dan bangkai binatang, terbang berputaran di angkasa. Beberapa saat kemudian menyambar ke bawah. Tapi elang itu bernasib sial. Bukan mayat yang disambar, tapi Bu Kie yang dikira mayat.

Dengan sekali menggerakkan tangan Bu Kie mencengkeram leher elang itu yang lalu dibinasakan. Langit masih menaruh belas kasihan dan sudah mengantarkan sarapan pagi, pikirnya dengan rasa girang. Ia mencabuti bulu burung itu lalu makan dagingnya. Biar pun mentah dengan penuh nafsu sebab sudah berhari-hari perutnya menahan lapar. Belum habis daging elang yang pertama, elang kedua sudah menyatroni. Dengan begitu ia tidak kekurangan makanan untuk menangsal perut. Hari lewat hari dia rebah di situ sambil menunggu bersambungnya tulang. Untung sekali karena hawa yang sangat dingin maka mayat dan bangkai manusia yang mengawaninya tak menjadi rusak. Karena sudah biasa hidup menyendiri maka hari-hari dilewatinya tanpa terlalu menderita.

Pada suatu lohor, sesudah melatih Iweekang Bu Kie melihat dua ekor elang yang terbang berputaran terus menerus di angkasa tanpa berani turun. Tiba-tiba seekor berkelebat ke bawah menyambar ke arahnya. Tapi dia tak menyambar terus. Waktu terpisah kira-kira tiga kaki dari Bu Kie, elang itu mendadak berbelok lalu terbang ke atas lagi dengan gerakan yang lincah dan indah sekali.

“Aha! Gerakan itu bisa digunakan dalam ilmu silat,” kata Bu Kie dalam hatinya. “Serangan itu sangat cepat sehingga lawan sukar dapat menangkisnya dan kalau serangan itu gagal, gerakan mundurnya pun tak kurang cepatnya sehingga musuh takkan bisa mengejar.”

Sebagaimana diketahui, Kiu-yang Cin-keng adalah kitab yang mengutamakan pelajaran latihan tenaga dalam. Di dalam kitab itu tidak terdapat pelajaran jurus-jurus dan tipu-tipu silat. Maka itulah, biar pun sudah berlatih Kiu-yang Cin-keng, waktu diserang Kak Wan tak tahu cara membela diri. Perlawanan Thio Kun Po (belakangan dikenal sebagai Thio Sam Hong) terhadap In Kek See juga berkat empat jurus silat yang diperolehnya dari Sin-tiauw Tayhiap Yo Ko.

Tapi Bu Kie agak berlainan dari pada Kak Wan dan Thio Sam Hong. Sedari kecil dia telah belajar ilmu silat. Tetapi jika dia ingin melebur Iweekang tertinggi yang sudah dimilikinya dalam ilmu-ilmu silat, dia tidak akan bisa melakukannya dalam waktu yang pendek. Maka setiap kali melihat jatuhnya bunga, menjulangnya cabang pohon ke angkasa, gerak-gerik binatang atau burung, mau pun perubahan angin, dia segera membayangkan jurus-jurus silat yang dapat digubah dari contoh-contoh itu. Dia terus mengawasi kedua elang itu dan berharap agar mereka menyambar lagi seperti tadi. Tiba-tiba kupingnya menangkap suara langkah di atas salju. Langkah itu enteng dan lincah, seperti tindakan wanita. Ia memutar kepala dan mengawasi ke arah suara itu. Benar saja, yang sedang mendatangi adalah seorang wanita yang tangannya menenteng sebuah keranjang kecil.

Melihat mayat dan bangkai binatang, wanita itu merandek sambil mulutnya mengeluarkan seruan kaget. Dia seorang wanita muda berusia sekitar tujuh belas atau delapan belas tahun. Jika dilihat pakaiannya yang terbuat dari pada kain kasar, dia adalah seorang gadis dusun yang miskin. Ia pun bukan gadis yang cantik, bahkan dapat dikatakan beroman jelek karena rambutnya kering, kulitnya hitam, otot-otot pada mukanya banyak melesak atau menonjol keluar, ada pun kedua ujung mulutnya agak turun ke bawah. Bagian yang tampak menyedapkan dari wanita itu adalah kedua matanya yang jeli dan bersinar tajam serta tubuhnya yang sangat ramping dan gemulai. Dia mendekati dan waktu kedua matanya bentrok dengan sorot mata Bu Kie, dia kaget dan bertanya dengan suara terputus-putus.

“Kau... kau... tidak mati?”

“Tidak,“ jawab Bu Kie.

Pertanyaan yang pendek itu dijawab dengan pendek pula. Di lain saat mereka tertawa bersama.

“Kalau kau belum mati, perlu apa kau rebah di situ?” tanya pula si nona.

“Aku jatuh dari atas gunung, tulang betisku patah,“ Bu Kie menerangkan.

“Apakah dia kawanmu?” tanya wanita itu seraya menunjuk mayat. “Mengapa tiga anjing itu mati?”

“Tiga binatang itu telah menggigit dan membinasakannya,” jawabnya.

“Bagaimana keadaanmu? Apa kau tidak lapar?”

“Tentu saja lapar. Tapi aku tak dapat bergerak dan menyerahkan segalanya pada nasib.”

Wanita itu tersenyum. Dia merogoh keranjangnya dan mengeluarkan dua potong kue phia yang lalu diberikan kepada Bu Kie.

“Terima kasih,” kata Bu Kie seraya menyambutnya, tetapi dia tidak lantas memakannya.

“Mengapa kau tidak makan? Apa kau takut ada racunnya?” tanya si nona.

Sudah lebih dari empat tahun, kecuali dengan Cu Tiang Leng, Bu Kie tidak pernah bicara dengan manusia lain. Karena itu pertemuannya dengan gadis itu menggirangkan hatinya, sebab biar pun si nona berparas jelek tetapi omongannya sangat menarik. Ia tertawa dan menjawab,

“Bukan, bukan begitu. Sebabnya adalah karena phia ini diberikan oleh nona, maka aku merasa sayang untuk segera memakannya.”

Jawaban yang sebenarnya hanya guyon-guyon itu dapat diartikan sebagai ejekan. Bu Kie adalah seorang yang sifatnya sungguh-sungguh dan dia jarang sekali bicara main-main. Tetapi sekarang, ketika berhadapan dengan gadis jelek ini, hatinya bebas dan tanpa terasa dia mengeluarkan kata-kata itu. Di luar dugaan, paras muka si nona berubah gusar dan ia mengeluarkan suara di hidung sehingga Bu Kie merasa sangat menyesal dan buru-buru ia memasukkan kue ke dalam mulutnya. Karena terburu-buru, kue itu menyangkut di tenggorokan sehingga ia pun terbatuk-batuk. Muka si nona berubah lagi, dari marah menjadi girang.

“Terima kasih Langit, terima kasih Bumi. Tiu-pat-koay (si muka jelek) bukanlah manusia baik-baik,” katanya. “Bapak Langit sudah menjatuhkan hukuman kepadamu. Mengapa orang lain tidak dipatahkan tulangnya, hanya kau seorang yang dipatahkan tulang betismu?”

“Sesudah empat tahun tak pernah mencukur rambut dan muka, tentu saja mukaku terlihat jelek,” kata Bu Kie dalam hati. “Tapi kau pun tidak cantik. Kita berdua setali tiga uang.“ Tetapi tentu saja ia tak berani mengutarakan terus terang apa yang dipikir dalam hatinya. Ia tersenyum dan berkata,

“Sudah sembilan hari aku menggeletak di sini. Sungguh untung nona kebetulan lewat di sini dan nona sudah memberi kue kepadaku. Terima kasih banyak untuk kebaikanmu.”

Si nona tertawa. “Jangan kau bicara menyimpang,” katanya. “Aku tanya mengapa hanya satu orang saja yang patah tulang? Jika kau tidak menjawab, aku akan mengambil pulang kueku ini.”

Jantung Bu Kie memukul kencang karena selagi bicara sambil tertawa pada mata gadis itu terdapat sinar kenakalan yang menyerupai sinar mata yang dimiliki ibunya.

“Mengapa sinar matanya mirip dengan sinar mata ibu?” tanyanya dalam hati. “Sebelum meninggal dunia, waktu ibu memperdayai pendeta Siauw-lim-si, kedua matanya juga terlihat sinar seperti ini.“ Mengingat ibunya, hatinya terasa pilu sehingga air matanya mengucur.

“Fui!” kata si nona sambil tertawa nyaring. “Tidak, aku tak akan merampas kue itu. Sudah! Jangan menangis. Hai...! Kalau begitu, kau hanya manusia dungu.”

“Huh! Kau kira kuemu ini enak?” kata Bu Kie. “Aku menangis karena ingat sesuatu, bukan sebab kuemu.”

“Ingat apa?” tanya si nona.

Bu Kie menghela napas. “Aku ingat ibu. Ibuku yang sudah meninggal dunia,” jawabnya.

Si nona tertawa nyaring. “Ibumu sering memberi phia kepadamu, bukan?” tanyanya.

“Benar, dahulu ibuku memang sering memberi kue kepadaku,” jawabnya. “Tapi aku ingat kepadanya bukan karena itu. Aku ingat ibu sebab tertawamu sangat mirip dengan tertawa ibu.”

“Setan!” bentak si nona dengan suara marah, “Jadi aku sudah tua ya? Aku sama seperti ibumu, ya?” Ia mengambil cabang kering dan menyabet Bu Kie dua kali.

Kalau mau, dengan mudah saja Bu Kie bisa merampas cabang kering itu. Tapi ia berkata dalam hatinya, “Ia tidak tahu bagaimana cantiknya ibuku. Rupanya ia menganggap roman ibu sejelek romanku sehingga ia merasa tersinggung. Jika dilihat dari sudut ini, ia memang pantas marah. Sesudah disabet, ia berkata,

“Ibuku sangat cantik!”

Muka si nona tetap muram. “Kau mentertawai aku karena romanku jelek, ya?!” bentaknya pula. “Benar-benar kau sudah bosan hidup, biar aku tarik kakimu.“ Seraya mengancam, ia membungkuk dan bergerak untuk menarik kaki pemuda ini.

Bu Kie kaget. Tulang betisnya baru menyambung sehingga jika ditarik dia bakal menderita lebih berat. Buru-buru dia meraup salju. Begitu kakinya tersentuh dia akan menimpuk Bie-sim-hiat si nona supaya ia pingsan. Untung juga ancaman itu tidak dibuktikan. Melihat perubahan pada paras muka Bu Kie, nona itu lantas berkata,

“Mengapa kau begitu ketakutan? Nyalimu seperti nyali tikus, siapa suruh kau mentertawai aku?”

“Sedikit pun aku tidak mempunyai niat untuk menggoda nona,” kata Bu Kie dengan suara sungguh-sungguh. “Bila aku berniat mentertawai nona, biarlah sesudah sembuh aku jatuh lagi tiga kali dan seumur hidup aku menjadi orang pincang.”

Mendengar sumpah itu, si nona tertawa geli lalu duduk di sampingnya. “Kalau ibumu seorang wanita cantik, lalu kenapa kau membandingkan aku dengan dia?” tanyanya dengan suara perlahan. “Apa aku pun cantik?”

Bu Kie tergugu. Sesaat kemudian barulah ia bisa menjawab. “Entahlah, aku pun tidak tahu sebabnya. Aku hanya merasa bahwa kau mirip dengan ibuku. Biar pun kau tidak secantik ibu, tapi aku merasa sayang jika memandang parasmu.”

Si nona tersenyum. Dia mencolek pipi Bu Kie dengan jarinya dan berkata sambil tertawa,

“Anak baik, nah kalau begitu kau panggil saja ibu kepadaku...“

Ia tidak meneruskan perkataannya dan dengan sikap kemalu-maluan memutar kepala ke jurusan lain karena dia merasa bahwa perkataannya tidak pantas dikeluarkan. Tapi sesudah memutar kepala, dia tak dapat menahan rasa gelinya dan lantas tertawa. Melihat itu Bu Kie teringat kejadian-kejadian di pulau Peng-hwee-to, pada saat kedua orang tuanya bersenda-gurau. Ia ingat bahwa dalam guyon, sikap mendiang ibunya sangat menyerupai sikap si wanita jelek saat ini. Tiba-tiba ia merasa bahwa nona ini tidak jelek. Dia cantik, dia ayu... dan ia mengawasi seperti orang kesengsem. Tiba-tiba si nona memutar lagi kepalanya dan melihat Bu Kie mengawasinya seperti orang linglung. dia tertawa dan bertanya,

”Mengapa kau senang melihat aku? Coba beri-tahu kepadaku sebab musababnya.”

Bu Kie tidak lantas menjawab. Sesudah menggelengkan kepalanya barulah dia berkata,

“Aku tidak dapat mengatakan secara tepat. Aku hanya merasa bahwa kalau memandang wajahmu maka hatiku tenang dan aman. Aku merasa bahwa kau akan hanya berbuat baik terhadapku, bahwa kau tidak akan mencelakai aku.”

Si nona tertawa nyaring, “Ha-ha-ha...! Kau salah besar! Aku adalah manusia yang paling suka mencelakai orang,” katanya.

Se-konyong-konyong dia mengangkat cabang kayu yang dipegangnya dan menyabet betis Bu Kie dua kali. Sesudah itu ia berjalan pergi. Sabetan itu yang dijatuhkan secara di luar dugaan, kena tepat pada tulang yang patah sehingga Bu Kie kesakitan dan berteriak,

“Aduh!”

Teriakan Bu Kie disambut dengan tertawa geli. Dengan mendongkol Bu Kie mengawasi bayangan wanita itu yang makin lama makin jauh.

“Kurang ajar!” ia mengomel. “Yang cantik suka melukai orang, yang jelek pun begitu juga.”

Malam itu Bu Kie bermimpi. Ia bermimpi bertemu dengan wanita itu, bertemu pula dengan mendiang ibunya dan bertemu pula dengan seorang wanita yang wujudnya tidak jelas. Mungkin ibunya dan mungkin juga wanita jelek itu. Dia bermimpi sang ibu mempermainkannya, menjatuhkannya, dan sesudah dia menangis barulah ibunya memeluk dan mencium pipinya sambil berkata,

“Anak baik. Sttt, jangan menangis, sayang... sayang... ibu menyayang kau.”

Waktu suara itu terdengar di otaknya mendadak berkelebat ingatan yang baru pernah diingatnya sekarang. “Kenapa ibu begitu suka mencelakakan manusia?” tanyanya dalam hati. “Kedua mata Gie-hu dibutakan oleh ibu. Jie Sam-supek juga cacat karena ibu. Seluruh keluarga Liong-bun Piauw-kiok binasa di tangan ibu. Apa dia orang baik?” Sambil bertanya begitu dia memandangi bintang di langit dan berulang-ulang menghela napas. “Tak peduli baik atau jahat, dia tetap ibuku,” pikirnya. “Kalau ibu masih hidup, aku pasti akan mencintanya dengan segenap jiwa dan raga.”

Di lain saat dia ingat gadis dusun itu. Mengapa si jelek memukul kakinya? “Aku tidak salah apa-apa, mengapa dia memukul aku?” tanyanya dalam hati. “Sesudah aku berteriak kesakitan, ia malah tertawa kegirangan. Apakah ia pun manusia yang suka mencelakakan sesama manusia?” Dia berharap nona itu datang lagi, namun ia pun kuatir akan dipukul lagi. Otaknya bekerja terus, sebentar ingat mendiang ibunya, sebentar ingat gadis dusun itu dan sebentar ingat hal-hal lainnya. Dua hari telah lewat dan nona itu tidak pernah muncul. Bu Kie menganggap dia tidak akan datang lagi untuk selama-lamanya. Di luar dugaan, kira-kira lohor pada hari ketiga, gadis dusun itu menyatroni lagi sambil menenteng keranjangnya.

“Tiu-pat-koay,” tegurnya seraya tertawa. “Kau belum mati kelaparan?”

“Sudah hampir,” jawabnya. “Sebagian besar mampus, sebagian kecil masih hidup.”

Nona itu tertawa, lalu duduk di samping Bu Kie. Mendadak dia memandang betis pemuda itu.

“Apa bagian itu masih hidup?” tanyanya.

“Aduh!” teriak Bu Kie. “Kau sungguh manusia yang tak punya liang-sim (perasaan hati)!”

“Tidak punya liang-sim?” tegas si nona. “Kebaikan apa yang sudah kau unjukkan terhadap diriku?”

Bu Kie terkejut. “Kemarin kau memukul aku, tetapi aku tidak menaruh dendam,” katanya. “Selama dua hari aku selalu mengingat kau.”

Paras muka si nona berubah merah, seperti orang bergusar, tetapi ia menekan nafsu amarahnya.

“Apa yang kau pikir kebanyakan bukan hal yang baik,” katanya. “Aku berani memastikan bahwa di dalam hati pasti kau mencaciku sebagai perempuan jelek dan jahat.”

“Romanmu tidak jelek,” kata Bu Kie. “Tapi mengapa kau baru merasa senang bila sudah mencelakakan manusia?”

Si nona tertawa geli. “Bagaimana aku dapat memperlihatkan rasa senangku jika aku tidak bisa menyaksikan penderitaan orang?” katanya dengan suara adem.

Sehabis berkata begitu ia menatap Bu Kie yang pada mukanya menunjuk perasaan tidak puas dan tidak setuju. Melihat pemuda itu masih saja mencekal sepotong kue yang belum dimakan tiga hari, ia tersenyum lalu berkata.

“Phia itu sudah tiga hari, apa masih enak dimakan?”

“Aku merasa sayang untuk makan kue yang dihadiahkan olehmu ini,” jawabnya. Bila pada tiga hari yang lampau dia mengatakan begitu untuk berguyon, sekarang suaranya bernada sungguh-sungguh.

Nona itu dapat merasa bahwa kali ini Bu Kie tidak bicara main-main dan paras mukanya lantas bersemu merah.

“Aku membawa kue yang baru,” katanya sambil merogoh keranjang dan mengeluarkan beberapa macam makanan, selain kue juga terdapat ayam panggang serta paha kambing panggang yang baunya wangi sekali.

Bu Kie girang bukan main. Selama tiga tahun lebih dia hanya mengenal daging kodok dan bebuahan, dan sekarang barulah dia dapat mencicipi lagi makanan enak. Tanpa sungkan-sungkan dia lalu memasukkan sepotong daging ayam ke dalam mulutnya. Sambil memeluk lutut dan mengawasi cara makan Bu Kie yang sangat bernafsu, si nona duduk di samping pemuda ini.

“Tiu-pat-koay (Siluman muka jelek), kau makan enak sekali,” katanya. “Aku amat senang melihat cara makanmu. Kau agak berlainan dengan manusia lain. Tanpa mencelakai kau, aku sudah merasa senang.”

“Rasa senang yang sejati adalah rasa senang yang didapatkan karena melihat orang lain merasa senang,“ kata Bu Kie.

Nona itu tertawa dingin. “Huhh!” Dia mengeluarkan suara di hidung. “Biarlah aku berterus terang terhadapmu. Hari ini hatiku senang dan aku tidak mencelakai kau. Tapi di lain hari, kalau aku tidak senang mungkin sekali aku akan menghajar kau hingga kau hidup tidak mati pun tidak. Kalau peristiwa itu benar terjadi, jangan kau menyalahkan aku.”

Bu Kie menggelengkan kepalanya. “Kau takkan mampu menghajar aku,“ katanya.

“Mengapa begitu?” tanya si nona.

“Sedari kecil aku sudah biasa dihajar manusia jahat,” jawabnya. “Aku dihajar hingga besar. Makin dihajar, aku makin alot.”

“Nanti kau lihat saja buktinya,” kata nona ini.

Bu Kie tersenyum dan berkata lagi. “Sesudah lukaku sembuh, aku akan menyingkir jauh-jauh. Kau takkan bisa menganiaya aku lagi.”

“Kalau begitu lebih dahulu aku akan putuskan betismu sehingga seumur hidup kau takkan bisa berpisah lagi denganku,” kata si nona.

Mendengar suara dingin bagaikan es, Bu Kie bergidik. Ia merasa bahwa perkataan itu bukan diucapkan seenaknya saja dan bahwa apa yang dikatakannya dapat dilakukan oleh wanita ini. Sementara itu, setelah mengawasi Bu Kie beberapa saat, si nona menghela napas. Tiba-tiba paras mukanya berubah.

“Tiu-pat-koay!” bentaknya. “Apakah betis anjingmu tidak pantas dibacok putus olehku?!”

Mendadak ia bangkit, merampas potongan daging ayam, kaki kambing dan kue phia yang belum dimakan kemudian melemparkannya jauh-jauh. Sesudah itu dengan penuh amarah ia meludahi muka Bu Kie. Bu Kie menatap wajah si nona. Ia merasa bahwa gadis itu bukan sengaja benar-benar marah dan juga bukan sengaja mau menghina dirinya, karena pada paras mukanya terlihat sinar kedukaan yang amat besar. Bu Kie adalah orang yang memiliki perasaan halus dan bisa turut merasakan penderitaan orang lain. Ia ingin sekali menghibur, tapi untuk sementara ia tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Melihat sikap Bu Kie, nona itu berhenti meludah.

“Tiu-pat-koay!” bentaknya. “Apa yang sedang kau pikirkan?”

“Nona, mengapa kau terlihat begitu menderita?” Bu Kie balas bertanya. “Beri-tahukanlah kepadaku.”

Karena ditanya dengan perkataan yang lemah lembut, gadis itu tak mendapat jalan untuk mengumbar nafsunya lagi. Sekonyong-konyong dia duduk lagi di samping Bu Kie lalu menangis sedu sedan sambil memeluk kepalanya. Bu Kie mengawasinya dengan pandangan belas kasihan.

“Nona,” katanya dengan suara perlahan. “Siapakah yang telah menghina kau? Tunggulah, sesudah kakiku sembuh aku akan membalaskan sakit hatimu.”

Nona itu terus saja menangis. Selang beberapa lama barulah ia berkata. “Tidak ada orang yang menghinaku. Penderitaanku karena nasibku yang buruk, karena salahku sendiri. Aku terus memikirkan orang yang tak dapat kulupakan.”

Bu Kie mangutkan kepala. “laki-laki, bukan?” tanyanya pula. “Dia jahat terhadapmu, bukan?”

“Benar!” jawabnya. “Dia sangat tampan, tapi sombong luar biasa. Aku ingin dia mengikutiku seumur hidup, tapi dia tidak mau. Itu masih tidak apa-apa. Celakanya, dia bukan saja mencaci tapi juga menganiaya aku sehingga darah berlumuran.”

“Dia betul-betul kurang ajar!” teriak Bu Kie dengan marah. “Nona, kau jangan pedulikan dia lagi.”

Air mata si nona kembali mengucur. “Tapi... aku tidak dapat melupakannya,” katanya. “Dia pergi jauh untuk menyingkirkan diri dan aku sudah mencarinya ke sana kemari!”

Mendengar ini, walau pun merasa bahwa nona itu beradat aneh, rasa kasihan Bu Kie makin besar.

“Di dunia terdapat banyak sekali lelaki yang baik. Perlu apa kau memikirkan manusia yang tak berbudi itu?”

Si nona menarik napas panjang, matanya mengawasi ke tempat jauh. Bu Kie tahu bahwa dia tak dapat menghilangkan bayangan lelaki itu dari alam pikirannya. Untuk mencoba lagi dia berkata,

“Lelaki itu hanya memukulmu satu kali. Tapi penderitaanku sepuluh kali lebih hebat dari pada kau”.

“Apa? Kau ditipu wanita cantik?” tanya nona itu.

“Dia bukan sengaja ingin menipu aku,” jawabnya. “Tapi aku sendirilah yang salah. Melihat kecantikannya aku seperti orang edan. Tentu saja aku bukan timpalannya dan aku pun tidak mengharapkan yang tidak-tidak. Belakangan ayah wanita itu menjalankan siasat busuk terhadap diriku hingga aku menjadi sangat menderita.” Seraya berkata begitu dia menggulung tangan bajunya dan sambil menunjukkan tanda bekas luka, dia berkata pula. “Lihatlah! Ini tanda bekas gigitan anjing-anjingnya yang jahat.”

Paras muka nona itu berubah marah. “Apa kau maksudkan Cu Kiu Tin?” tanyanya.

“Bagaima kau tahu?” Bu Kie balas bertanya dengan suara heran.

“Budak hina dina itu senang sekali memelihara anjing yang sering digunakan untuk mencelakakan manusia,” jawabnya. “Dalam jarak ratusan li di sekitar tempat ini tidak ada satu orang pun yang tidak tahu.”

Bu Kie mengangguk. “Benar”, katanya. “Lukaku sudah sembuh dan aku pun masih hidup, aku pun tak mau membenci dia lagi.”

Mereka saling pandang tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Selang beberapa saat nona itu bertanya.

“Siapa namamu? Mengapa kau berada di sini?”

Mendengar pertanyaan itu Bu Kie segera ingat bahwa waktu berada di Tiong-goan banyak sekali orang yang mencoba mengorek keterangan mengenai ayah angkatnya dan karena urusan itu dia banyak kesengsaraan.

“Mulai sekarang Thio Bu Kie telah meninggal dunia sehingga di dunia tidak ada lagi manusia yang tahu tempat bersembunyinya Kim-mo Say-ong Cia Sun,” katanya dalam hati. “Di kemudian hari biar pun aku bertemu dengan manusia sepuluh kali lebih lihay dari pada Cu Tiang Leng, aku tak bisa mengaku lagi.” Berpikir begitu dia lantas menjawab.

“Namaku Ah Gu.”

“She-mu?” tanya pula si nona.

“Aku... aku she Cia,” jawabnya. “Dan kau?”

“Aku tidak punya she,” jawabnya. Sesaat kemudian ia berkata lagi dengan suara perlahan. “Ayah kandungku membenci aku. Kalau ia bertemu denganku ia pasti akan membunuhku. Bagaimana aku bisa menggunakan she-nya? Ibuku sendiri sudah meninggal dunia gara-gara aku, maka aku pun tidak bisa menggunakan she ibu. Roman mukaku sangat jelek (tiu), sebab itu biarlah kau memanggil aku dengan sebutan Tiu-kouwnio (nona muka jelek) saja.”

Bu Kie terkejut. “Kau... kau sudah mencelakakan ibumu sendiri?” tanyanya dengan suara ter-putus. “Bagaimana bisa begitu?”

Gadis itu menghela napas panjang. “Kalau mau dituturkan panjang sekali,” jawabnya. “Aku mempunyai dua orang ibu. Ibu kandungku adalah isteri pertama. Karena lama tidak memiliki anak ayah lalu mengambil isteri kedua. Ibu tiriku (Jie-nio) sudah melahirkan dua kakak laki-laki dan seorang kakak perempuan sehingga ayah sangat menyayangnya. Belakangan ibu melahirkan aku. Karena disayang dan keluarganya sangat berpengaruh, Jie-nio sangat sewenang-wenang terhadap ibuku yang hanya bisa menangis. Ketiga kakak juga sangat jahat dan mereka membantu ibunya menindas ibuku. Tiu-pat-koay, coba kau pikir, apakah yang harus kuperbuat?”

“Dalam hal ini ayahmu harus berlaku adil,” kata Bu Kie.

“Tapi ayah sangat pilih kasih dan dia selalu membenarkan Jie-nio” kata si nona. “Karena tidak dapat menahan sabar akhirnya aku membacok mampus ibu tiriku itu.”

“Ahh...!” tanpa terasa Bu Kie mengeluarkan suara kaget.

Bu Kie adalah seorang dari rimba persilatan yang sudah biasa menyaksikan pertempuran dan pembunuhan. Tetapi gadis itu yang kelihatannya lemah bisa membunuh orang adalah kejadian yang sangat di luar dugaan. Tapi nona itu sebaliknya tenang-tenang saja dan dengan suara perlahan dia melanjutkan penuturannya.

“Ibu jadi ketakutan dan menyuruh aku melarikan diri. Ketika kakakku hendak mengejar untuk menangkap aku, ibu mencoba mencegah mereka tetapi tidak berhasil. Untuk menolong jiwaku, ibu segera gantung diri hingga mati. Coba kau pikir. Bukankah aku yang telah mencelakakan ibuku sendiri? Bukankah ayah bisa membunuh aku kalau dia bertemu denganku?”

Bu Kie mendengarkan cerita itu dengan jantung memukul keras. “Walau pun kedua orang tuaku telah meninggal dunia secara mengenaskan, tapi sedikitnya mereka mencintai satu sama lain,” katanya di dalam hati. “Ayah dan ibu juga sangat mencintai aku. Ya! Kalau dibandingkan maka boleh dikata penderitaan nona ini ribuan kali lebih hebat dari pada pengalamanku.” Mengingat begitu, rasa kasihannya jadi terlebih besar.

“Apa sudah lama kau meninggalkan rumah?” tanyanya. “Apakah mulai saat itu kau terus terlunta-lunta sebatang kara?”

Si nona manggut-manggutkan kepalanya.

“Sekarang kau mau pergi ke mana?” tanya pula Bu Kie.

“Entahlah”, jawabnya. “Dunia amat lebar dan aku bisa pergi ke mana pun juga. Asal tidak berpapasan dengan ayah dan kakakku, aku tak kuatir.”

Darah Bu Kie bergolak dalam dadanya.

TIU-PAT-KOAY YANG LIHAY

Di samping rasa kasihan, Bu Kie merasa senasib dengan gadis dusun ini karena dia pun sebatang kara dan hidup menggelandang di dunia yang lebar ini.

“Biarlah kau tunggu hingga lukaku sembuh,” katanya kemudian. “Setelah aku sembuh kita akan mencari toako... pemuda itu. Aku mau tanya, bagaimana sikap sebenarnya terhadapmu?”

“Bagaimana kalau dia memukul aku?” tanya si nona.

“Hmm!” Bu Kie mengeluarkan suara di hidung. “Kalau dia berani menyentuh satu lembar rambutmu saja, aku tak akan mengampuninya.”

“Tetapi bagaimana kalau dia hanya mengambil sikap tidak peduli?” mendesak si nona.

Bu Kie bungkam. Dia mengerti bahwa dia tidak dapat memaksakan cinta. Sesudah termenung beberapa saat, dia berkata.

“Aku akan berusaha sedapat mungkin.”

Sekonyong-konyong nona ini tertawa terbahak, tertawa geli seolah-olah di dunia tak ada hal lain yang lebih menggelikan dari pada pernyataan Bu Kie.

“Mengapa kau tertawa?” tanya Bu Kie dengan heran.

“Tiu-pat-koay,” jawabnya. “Manusia apa kau? Apakah kau kira orang akan mengindahkan segala kemauanmu? Aku sudah mencari-cari dia ke segala pelosok, akan tetapi tidak bisa menemukannya. Apakah kini dia masih hidup? Apakah dia telah mati? Entahlah! Kau mau berusaha sedapat mungkin? Apa kemampuanmu? Ha-ha-ha...! Ha-ha...!”

Sebenarnya Bu Kie ingin mengatakan sesuatu, tetapi mendengar perkataan itu mulutnya yang sudah terbuka tertutup kembali. Dengan paras muka merah dan mulut ternganga dia mengawasi gadis dusun ini.

“Kau mau bicara apa?” tanya si nona.

“Sesudah kau mentertawai aku, tak perlu aku bicara lagi.”

“Hm...! Paling banyak aku tertawa lagi. Dengan kutertawakan, kau toh tak akan mati.”

“Nona, aku bicara setulus hati. Tak pantas kau mentertawakan.”

“Sudahlah. Sekarang jawablah pertanyaanku. Apa yang mau kau katakan?”

“Baiklah,” kata Bu Kie. “Karena melihat kau sebatang kara dan nasibmu agak mirip dengan nasibku sendiri yang sudah tak punya orang tua atau saudara, maka tadi aku ingin mengatakan bahwa kalau pemuda itu tetap tidak mau mempedulikan kau, biarlah aku saja yang mengawani kau. Biar bagaimana pun juga aku bisa menjadi kawan bercakap guna menghibur kau. Tapi jika kau menganggap bahwa diriku tidak sesuai untuk berbuat begitu, terserahlah kepadamu.”

“Tidak sesuai...! Memang tidak sesuai,” kata si nona. “Manusia jahat itu seratus kali lipat lebih tampan dari pada mukamu. Sungguh celaka! Aku membuang-buang waktu di sini dengan pembicaraan yang tiada faedahnya.” Sesudah menendang daging ayam dan kaki kambing yang dilontarkannya ke tanah, ia segera berlalu dengan cepat.

Bu Kie menghela napas. “Nona itu sungguh harus dikasihani,” pikirnya dengan perasaan penuh duka. “Dia sangat menderita dan segala sepak terjangnya yang sangat aneh harus dimaafkan.”

Se-konyong-konyong terdengar suara langkah dan gadis dusun itu kembali lagi. “Tiu-pat-koay!” bentaknya dengan suara garang. “Di hatimu kau tentu amat penasaran, kau pasti merasa sangat mendongkol bahwa seorang wanita yang sejelek aku masih berani menghina dirimu. Benarkah begitu?”

Bu Kie meggelengkan kepala. “Tidak, tidak begitu,” katanya. “Justru karena kau tak begitu cantik maka begitu bertemu aku lantas merasa cocok denganmu. Jika mukamu tidak berubah jelek dan masih seperti pada waktu pertemuan pertama kali...”

“Apa?!” potong si nona. “Bagaimana kau tahu bahwa dahulu aku tidak seperti sekarang?”

“Dalam pertemuan kali ini bengkak matamu lebih hebat dan warna kulitmu lebih hitam dari pada pertemuan pertama kali,” kata Bu Kie. “Roman muka yang didapat semenjak dilahirkan tidak bisa berubah.”

Nona itu kelihatan kaget sekali. “Aku... aku... Memang dalam beberapa hari ini tidak berani berkaca,” katanya. “Apakah romanku makin lama makin jelek?”

“Aku memandang manusia bukan melihat romannya,” kata Bu Kie menghibur. “Mengenai manusia, yang terutama adalah hatinya harus baik, rupa adalah soal kedua. Ibuku pernah mengatakan bahwa semakin cantik seorang wanita mungkin semakin busuk pula hatinya, semakin suka menipu orang dan ibu menasihati aku supaya aku waspada terhadap wanita cantik.”

Akan tetapi gadis itu tentu saja tak peduli dengan apa yang dikatakan ibunya Bu Kie. Baginya yang penting adalah soal dirinya sendiri. Cepat-cepat dia berkata,

“Kau jawablah pertanyaanku. Dalam pertemuan kita pertama kali, apakah romanku belum sejelek sekarang?”

Bu Kie tahu bahwa jika dia menjawab ‘Ya’ maka gadis itu tentu akan tersinggung. Sebab itu dia tidak menjawab, melainkan hanya mengawasi si nona dengan hati sangsi. Tetapi otak nona itu ternyata cukup cerdas. Melihat kesangsian orang, dia bisa menebak apa yang dipikir oleh pemuda itu. Tiba-tiba dia menangis.

“Tiu-pat-koay! Aku benci kau...! Aku benci kau...!“ teriaknya. Dia segera berlalu dan kali ini tidak kembali lagi.

Dua hari telah berlalu... Malam itu seekor srigala berkeliaran mencari makan. Sambil mengendus dia mendekati Bu Kie. Dengan sekali meninju Bu Kie berhasil membinasakannya sehingga binatang yang sedang mencari makan itu malah kena dimakan. Beberapa hari lewat lagi tanpa terjadi sesuatu yang penting... Kedua tulang betis Bu Kie yang patah kini sudah menyambung dan tujuh delapan hari lagi ia akan bisa jalan seperti sedia kala. Selama beberapa hari itu ia selalu memikirkan si gadis dusun. Ia merasa menyesal belum tahu nama si nona. Di samping itu ia pun merasa amat heran mengapa muka nona itu bisa berubah menjadi lebih jelek. Ia mengasah otak untuk memecahkan teka teki ini, tapi sampai kepalanya puyeng, ia masih belum juga berhasil. Karena lelah, tak lama kemudian ia pulas nyenyak.

Kira-kira tengah malam ia tersadar karena suara langkah beberapa orang di tempat jauh. Setelah melatih Kiu-yang Sin-kang di dalam dirinya terdapat semacam kewaspadaan yang wajar. Biar pun sedang pulas, setiap suara dalam puluhan tombak tidak terlepas dari pendengarannya. Waktu itu meski pun kakinya masih belum dapat digunakan, ia sudah bisa duduk. Dengan cepat ia duduk dan mengawasi ke arah suara itu. Dengan bantuan sinar bulan sisir yang remang-remang, ia melihat tujuh orang mendekat. Yang berjalan paling depan seorang wanita bertubuh langsing dan gerak geriknya gemulai. Sesaat kemudian ia amat terkejut sebab wanita itu bukan lain dari pada si wanita dusun yang aneh. Di belakangnya mengikuti enam orang yang berjalan berbareng dalam bentuk kipas, seolah-olah ingin menjaga supaya nona itu jangan melarikan diri.

“Apakah ia ditangkap ayah dan kakak-kakaknya?” tanyanya dalam hati. “Kenapa mereka datang ke sini?”

Makin lama mereka makin mendekat. Tiba-tiba Bu Kie terkesiap. Keenam orang itu sudah dikenal olehnya. Yang berjalan di sebelah kiri adalah Bu Ceng Eng bersama ayahnya, Bu Liat dan Wie Pek. Sedang yang di sebelah kanan adalah Ciang-bun-jin Kun-lun-pay Ho Thay Ciong bersama isterinya, Pan Siok Ham, dan yang satunya lagi, seorang wanita berusia pertengahan, seorang kenalan lama, yaitu Teng Bin Kun, murid Go-bi-pay. Kejadian yang sungguh di luar dugaan! “Bagaimana dia bisa mengenal orang-orang itu?” tanya Bu Kie dalam hati. “Apakah dia juga orang rimba persilatan yang telah mengenal siapa adanya aku kemudian memberi-tahu kawan-kawannya untuk memaksa aku membuka rahasia Gie-hu?” Dengan adanya dugaan itu darahnya meluap.

“Perempuan jelek!” cacinya. “Aku dengan kau tidak mempunyai permusuhan. Kenapa kau hendak mencelakai aku?”

Dengan cepat dia memikirkan daya upaya untuk menolong diri. “Kedua kakiku belum bisa bergerak dan keenam orang itu lihay semuanya,” katanya dalam hati. “Mungkin sekali si perempuan dusun pun memiliki kepandaian tinggi. Biarlah untuk sementara aku berlagak tunduk dan pura-pura meluluskan kemauan mereka dalam hal mencari Gie-hu. Sesudah sembuh aku bisa membuat perhitungan dengan mereka.”

Kalau kejadian itu terjadi empat rahun yang silam, tentu Bu Kie akan berlaku nekat karena baginya tiada jalan lain dari pada mati. Ia tentu akan menolak segala paksaan dan menutup mulutnya rapat-rapat. Tapi sekarang sesudah memiliki Kiu-yang Sin-kang, ia merasa mantap dan percaya diri. Maka itu, sesudah hilang kagetnya, ia tertawa dalam hatinya dan sedikit pun ia tak merasa takut. Ia hanya merasa mendongkol dan menyesal karena tak pernah menduga bahwa gadis dusun itu akan mengkhianati dirinya. Beberapa saat kemudian nona itu sudah berdiri di dekat Bu Kie. Untuk beberapa lama dia mengawasi pemuda itu, kemudian perlahan-lahan memutar badan. Waktu dia memutar badan, Bu Kie mendengar helaan napas perlahan yang penuh dengan perasaan sedih.

“Kau boleh turun tangan sesuka hati,” kata pemuda itu dalam hati. “Perlu apa berlagak sedih?”

Tiba-tiba Wie Pek mengibaskan pedangnya sambil berkata dengan suara dingin. “Kau mengatakan bahwa sebelum mati kau ingin bertemu lagi dengannya untuk terakhir kali. Semula kukira dia tampan laksana Phoa An, tak tahunya manusia beroman setan. Ha-ha-ha...! Sungguh menggelikan. Kau dan dia sungguh pasangan setimpal.”

Gadis itu sama sekali tidak menjadi marah. “Benar,” jawabnya dengan suara tawar. “Sebelum mati aku ingin bertemu lagi dengannya, sebab aku mau mengajukan sebuah pertanyaan. Setelah mendengar jawabannya barulah aku bisa mati dengan mata meram.”

Bu Kie heran bukan kepalang. Didengar dari omongan kedua orang itu, mereka berenam kelihatannya hendak membinasakan si gadis dusun dan nona tersebut sudah mengajukan sebuah permintaan terakhir, minta menemui dirinya sendiri untuk menanyakan suatu hal. Berpikir begitu dia lantas bertanya,

“Nona, ada urusan apakah kau datang kemari bersama orang-orang ini?”

“Aku hendak mengajukan sebuah pertanyaan kepadamu dan kau harus menjawab dengan setulus hati,” katanya.

“Kalau pertanyaanmu mengenai diriku tentu akan kujawab dengan seterang-terangnya dan setulus-tulusnya,” kata Bu Kie. “Tetapi jika kau mengajukan pertanyaan mengenai orang lain, maaf, walau pun dibunuh mati aku tidak akan buka mulut.” Dia menjawab begitu sebab menduga bahwa pertanyaan yang akan diajukan adalah halnya Cia Sun.

“Buat apa aku mencampuri urusan orang lain?” si nona berkata dengan suara dingin. “Soal yang hendak kutanyakan adalah ini. Pada hari itu kau mengatakan kepadaku bahwa kita berdua orang yang hidup sebatang kara dan tak punya tempat berteduh. Karena itu kau bersedia untuk mengawani aku. Sekarang aku mau tanya. Apakah pernyataanmu itu keluar dari hati yang tulus bersih?”

Bu Kie segera duduk. Melihat sinar mata nona itu yang penuh kedukaan, ia lantas saja menjawab.

“Aku bicara sesungguhnya.”

“Kalau begitu, bukankah kau tidak mencela romanku yang jelek dan bersedia untuk hidup bersama aku seumur hidup?” tanya pula si nona.

Bu Kie terkesiap. Sedikit pun dia tidak menduga bahwa dia bakal dihadapkan pertanyaan ini. Tetapi karena sungkan melukai hati orang, dia segera menjawab,

“Soal jelek atau cantik tak pernah kuhiraukan. Mana kala kau ingin aku mengawanimu untuk bercakap-cakap tentu saja aku merasa senang untuk mengiringi keinginanmu itu.”

“Kalau begitu... kau... kau bersedia mengambil aku sebagai isterimu, bukan?” tanya nona itu dengan suara gemetar dan ter-putus-putus.

Bu Kie kaget tak kepalang hingga badannya menggigil dan untuk beberapa saat dia tidak dapat mengeluarkan sepatah katapun. Sesudah dapat menentramkan hatinya yang berdebar-debar, dia menjawab dengan suara yang ter-putus-putus.

“Aku... aku tidak pernah... tidak pernah berpikir untuk menikah...”

“Lihatlah!” kata Wie Pek dengan suara mengejek. “Lelaki dusun yang tua dan jelek seperti dia saja masih tak mau menikah denganmu. Andai kata kami tak mengambil jiwamu, kau hidup terus pun tiada artinya. Sebelum kami turun tangan, lebih baik kau membenturkan kepalamu sendiri di batu besar itu.”

Dengan penuh kasihan Bu Kie memandang nona itu yang mengucurkan air mata sambil menundukkan kepalanya. Ia tak tahu si nona menangis karena takut mati, apakah karena memikirkan romannya yang jelek, ataukah karena perkataan Wie Pek yang tajam bagaikan pisau. Melihat begitu darah Bu Kie bergolak. Ia lantas saja ingat bahwa sesudah kedua orang tuanya meninggal dunia, ia telah menerima berbagai hinaan. Gadis itu, yang berusia lebih muda darinya, mempunyai riwayat hidup yang lebih tidak beruntung dari pada riwayat hidupnya sendiri. Karena itu bagaimana dia tega menambah penderitaan si nona yang sudah cukup hebat. Di samping itu pertanyaan yang diajukan merupakan suatu pengabdian dari seorang wanita yang bersedia untuk menjadi isterinya.

“Selama hidupku, kecuali ayah, ibu, ayah angkat, Thay-suhu dan para paman, siapa lagi yang pernah mencintai aku dengan setulus hati?” katanya dalam hati. “Kalau di kemudian hari dia bisa memperlakukan aku secara pantas, aku dan dia masih bisa hidup beruntung.”

Sesaat itu dengan badan gemetaran si nona sudah bergerak untuk berlalu. Dengan cepat Bu Kie mengangsurkan tangan kirinya dan mencekal lengan kanan nona itu.

“Nona,” katanya dengan suara nyaring. “Dengan setulus hati aku bersedia menikah dengan kau. Aku hanya berharap kau tidak mengatakan bahwa aku tidak setimpal dengan dirimu.”

Demi mendengar perkataan Bu Kie, dari kedua mata gadis itu mengeluarkan sinar terang, sinar kemenangan.

“Ah, Gu-koko,” katanya dengan suara perlahan. “Apakah kau tidak mendustaiku?”

“Tidak! Aku tidak mendustai kau,” jawabnya. “Mulai detik ini aku akan mencintai dan melindungi kau dengan segenap jiwa dan raga. Tak peduli ada berapa banyak orang yang akan mencelakaimu, tak peduli ada berapa banyak jago yang hendak menghina kau, aku pasti akan melindungimu. Aku bersedia mengorbankan jiwa demi kepentinganmu. Aku ingin kau bahagia dan melupakan segala penderitaanmu.”

Si nona lantas duduk di tanah dan menyandarkan tubuhnya di badan Bu Kie. Sambil mencekal tangan pemuda itu yang satunya lagi, dia berkata dengan suara lemah lembut.

“Aku sungguh merasa sangat berterima kasih.“ Ia meramkan kedua matanya dan berbisik, “Ah, Gu-koko, coba katakan lagi apa yang tadi dikatakan olehmu supaya setiap perkataan bisa diingat di lubuk hatiku. Cobalah!”

Melihat kebahagiaan nona itu, Bu Kie pun merasa sangat berbahagia. Sambil memegang kedua tangan si gadis yang empuk bagaikan kapas, ia mengulangi perkataannya.

“Aku ingin berusaha supaya kau bisa hidup beruntung, agar kau dapat melupakan segala penderitaanmu masa lalu. Tak peduli ada berapa banyak orang yang mau menghina kau, yang mau mencelakai kau, aku bersedia mengorbankan jiwa demi keselamatanmu.”

Si nona tersenyum, senyum yang penuh dengan rasa beruntung. Sambil bersandar pada dada pemuda itu, ia berkata,

“Dahulu waktu aku minta kau ikut aku, kau bukan saja sudah menolak, tapi juga memukul aku, mencaci... Aku merasa sangat beruntung bahwa sekarang kau bisa mengatakan begitu.”

Perkataan si nona seolah-olah air dingin yang menyiram kepala pemuda itu. Dia mendapat kenyataan bahwa dengan mendengar perkataannya sambil memeramkan mata, nona itu membayang-bayangkan bahwa kata-kata itu dikeluarkan oleh pemuda yang dipujanya tapi yang sudah menyakiti hatinya.

Tiba-tiba saja gadis itu menggigil dan dia membuka kedua matanya. Pada paras mukanya terlihat sinar kegusaran bercampur perasaan kecewa tetapi di dalam sinar kekecewaan itu terbayang juga sedikit rasa bahagia. Selang beberapa saat dia berkata,

“Ah, Gu-koko, aku merasa amat berterima kasih bahwa engkau bersedia untuk mengambil aku sebagai isterimu. Kau tidak mencela aku, seorang wanita yang beroman jelek. Hanya sayang, semenjak beberapa tahun berselang aku sudah memberikan hatiku kepada orang lain. Dahulu saja dia sudah tidak mempedulikan aku. Kalau dia melihat keadaanku sekarang, lebih-lebih dia tak akan menghiraukan aku... Ah! Setan kecil yang berhati kejam...” Waktu mengatakan ‘setan kecil berhati kejam’ nadanya masih menunjuk perasaan cinta.

“Apa sekarang kau sudah boleh bangkit?” Bu Ceng Eng bertanya sambil mengawasi gadis dusun itu, “Dia sudah menyatakan bersedia menikah denganmu dan kalian berdua sudah cukup lama membicarakan soal cinta!”

Perlahan-lahan nona itu bangkit, katanya, “Ahh, Gu-koko,” katanya sambil mengawasi Bu Kie. “Aku akan segera menemui ajalku. Andai kata tidak mati, aku pun tidak bisa menikah denganmu. Tetapi apa pun yang kau ucapkan tadi, sesudah aku mati janganlah kau membenci aku. Kalau ada waktu luang, boleh juga kau mengingat aku.“ Ia bicara dengan suara memohon sehingga Bu Kie merasa sangat terharu.

“Sudahlah! Jangan terlampau rewel!” Pan Siok Ham membentak, “Kami sudah meluluskan permintaanmu dan kau sudah bertemu dengan dia. Sekarang kau harus menepati janjimu dan memberi-tahu di mana adanya orang itu.”

“Baiklah,” kata si nona. “Sepanjang pengetahuanku, dahulu orang itu pernah tinggal di rumahnya,” dia berkata begitu sambil menuding Bu Liat.

Paras muka Bu Liat berubah. Sambil mengeluarkan suara di hidung ia membentak. “Jangan bicara gila!”

“Jawab pertanyaanku!” Wie Pek turut membentak, “Siapa yang menyuruh kau membunuh Cu Kiu Tin Piauw-moay?”

Kagetnya Bu Kie bagaikan disambar halilintar. “Membunuh... membunuh Cu Kiu Tin Kouwnio?” ia menegas.

Dengan mata mendelik Wie Pek menatap wajah Bu Kie, “Kau kenal Cu Kiu Tin Kouwnio?” tanyanya dengan suara marah.

“Siapa yang tidak pernah mendengar nama Sut-leng Siang-moay yang tersohor?” kata Bu Kie.

Bibir Bu Ceng Eng bergerak-gerak seperti orang tersenyum. “Hei, jawablah! Siapa yang menyuruh kau?!” teriaknya.

“Kalau kau mau tahu juga, baiklah, aku akan memberi-tahu,” kata si gadis dusun. “Yang menyuruh aku membunuh Cu Kiu Tin adalah Ho Thay Ciong dari Kun-lun-pay dan Biat-coat Suthay dari Go-bi-pay.”

“Gila!” teriak Bu Liat. “Binatang! Jangan harap bisa menyebar racun dan merenggangkan persahabatan kami.“ Seraya mencaci dia menghantam dengan telapak tangannya, namun dengan gerakan yang sangat gesit, nona itu berhasil menyelamatkan diri.

Bu Kie jadi bingung bukan main. “Kalau begitu dia benar seorang dari rimba persilatan,” pikirnya. “Tak bisa salah lagi, dia membunuh Cu-kouwnio untuk membalaskan sakit hatiku sebab aku memberi-tahu bahwa aku sudah ditipu oleh nona Cu dan digigit oleh anjing-anjingnya. Sungguh celaka! Aku sama sekali tidak menyuruh dia membinasakan Cu Kiu Tin. Semula aku hanya mengganggap dia manusia aneh karena romannya jelek dan nasibnya buruk. Tak tahunya dia bisa membunuh manusia serampangan.”

Sementara itu dengan bersenjata pedang Wie Pek dan Bu Ceng Eng segera membantu menyerang dari kiri kanan. Dengan penuh kewaspadaan Bu Kie memperhatikan jalannya pertempuran.

Dengan menggunakan kegesitan, dengan melompat kian kemari, gadis itu mengelakkan serangan Bu Liat yang bertubi-tubi. Dari gerak-geriknya tampaknya dia tidak memandang sebelah mata kepada Wie Pek dan Bu Ceng Eng. Sesudah bertempur belasan jurus, bagaikan kilat ia melompat ke samping Bu Ceng Eng.

“Plokk!”

Dia menggaplok pipi nona Bu. Berbareng dengan gaplokan itu tangan kirinya turut menyambar dan di lain saat pedang Bu Ceng Eng sudah berpindah ke tangannya. Bu Liat dan Wie Pek terkejut. Degan berbareng mereka menerjang untuk menolong nona Bu yang berada dalam bahaya.

“Kena!” gadis dusun itu berteriak dan pedangnya menggores muka Bu Ceng Eng!

Ternyata dalam marahnya karena tadi nona Bu sudah mengejek romannya yang jelek, tanpa memperdulikan bahaya yang datang dari Bu Liat dan Wie Pek dia sudah melompat dan menggoreskan ujung pedang di muka nona Bu.

Seraya mengeluarkan teriakan keras, Bu Ceng Eng jatuh terjengkang. Sebetulnya lukanya sendiri sangat enteng. Ia jatuh lantaran kaget karena ia tahu bahwa mukanya yang cantik manis sudah digores pedang.

Dengan mata merah Bu Liat menerjang dan si gadis dusun melompat ke samping.

“Trangg...!”

Mendadak terdengar suara bentrokan antara pedang si nona dan pedang Wie Pek yang lantas terbang ke angkasa.

Hampir pada detik yang bersamaan, telunjuk tangan kanan Bu Liat berhasil menotok Hok-touw-hiat dan Hong-siauw-hiat di betis si nona. Totokan ini adalah It-yang-ci yang sangat lihai.

Sambil mengeluarkan rintihan perlahan gadis itu roboh terguling, jatuh di atas Bu Kie. Dia merasa sekujur badannya nyaman dan hangat tapi tidak bertenaga sedikit pun jua, bahkan tidak kuat menggerakkan jari tangannya. Dia merasa diikat semacam tenaga yang kekuatannya ribuan kati tapi badannya bebas dari perasaan sakit.

Biar pun Bu Liat sendiri bukan orang yang sepak terjangnya boleh dipuji, tapi ilmu It-yang-ci adalah warisan dari seorang ksatria. Maka itu meski pun dapat menjatuhkan lawan, ilmu tersebut tidak mengakibatkan penderitaan.

Bu Ceng Eng menjemput pedang Wie Pek lantas berkata dengan suara yang membenci,

“Perempuan bau! Kini tamatlah riwayatmu. Tapi aku tak mau menghadiahkan kebinasaan yang enak kepadamu. Aku hanya hendak memutuskan kedua tangan dan kedua betisnya supaya hidup kau dimakan kawanan serigala.“ Seraya mencaci dia mengayun pedang untuk membabat lengan kanan si gadis dusun.

“Tahan!” Bu Liat mencegah sambil mencekal pergelangan tangan puterinya. Ia mengawasi gadis dusun itu seraya berkata. “Kalau kau memberi-tahu siapa yang menyuruh, aku akan membinasakan kau tanpa siksaan. Tetapi jika kau membandel... huh-huh...! Aku akan memutuskan kaki tanganmu.”

Nona itu ternyata mempunyai nyali yang sangat besar. Mendengar ancaman yang hebat itu, dia tersenyum dan berkata dengan suara tenang.

“Kalau kau ingin tahu juga maka aku terpaksa bicara terus terang. Nona Cu Kie Tin mencintai seorang pemuda, tetapi seorang nona lain juga mencintai pemuda itu. Yang menyuruh aku membinasakan nona Cu Kiu Tin adalah nona yang lain itu. Sebenarnya aku sungkan membuka rahasia...“ Belum habis dia bicara, Bu Ceng Eng menjadi kalap dan menikam menggunakan seluruh tenaganya.

Ternyata si gadis dusun sudah dapat menduga adanya percintaan antara Wie Pek, Cu Kiu Tin dan Bu Ceng Eng. Dia memang sengaja mengatakan demikian untuk membangkitkan amarahnya nona Bu supaya dia bisa mati tanpa disiksa.

Sinar pedang Bu Ceng Eng berkelebat bagaikan kilat. Pada detik ujung pedang itu hampir menyentuh ulu hati, tiba-tiba serupa benda yang tak bersuara menyambar lalu membentur pedang itu. Tiba-tiba saja Bu Ceng Eng merasakan telapak tangannya seperti dibeset dan tanpa ampun lagi senjatanya terbang ke atas. Tenaga benturan itu hebat luar biasa dan pedang nona Bu jatuh di tempat yang jauhnya lebih dari dua puluh kaki.

Di tengah malam yang gelap itu tak seorang pun melihat kenapa pedang itu terpental dari tangan Bu Ceng Eng. Yang mereka ketahui hanyalah bahwa tenaga yang membenturnya sangat menakjubkan sehingga menduga si gadis dusun mendapat bantuan dari seseorang yang bersembunyi.

Dengan terkejut keenam orang itu mundur beberapa tindak lalu mengawasi sekitarnya. Tempat itu merupakan tanah lapang yang luas tanpa pohon yang dapat digunakan untuk menyembunyikan diri. Setelah mengawasi ke sana sini beberapa lama mereka tidak bisa melihat bayangan siapa pun juga. Dengan rasa heran dan curiga mereka saling pandang tanpa mengeluarkan suara.

Beberapa saat kemudian Bu Liat berkata dengan suara perlahan, “Ceng-jie, apakah yang terjadi?”

“Pedangku seperti dipukul semacam senjata rahasia yang amat lihai,” jawabnya.

Bu Liat mengawasi sekitarnya, tapi ia tetap tidak melihat manusia lain. Ia heran bukan main dan berkata dalam hatinya.

“Terus terang dia sudah kena kutotok dengan It-yang-ci. Bagaimana ia masih memiliki tenaga begitu besar? Apakah perempuan ini memiliki ilmu siluman?”

Dia segera maju mendekat dan menepuk pundak nona itu. Dengan tepukan yang disertai Iweekang dahsyat, ia bermaksud hendak menghancurkan tulang pundak si nona supaya kepandaiannya musnah dan dapat dipermainkan oleh puterinya.

Pada waktu telapak tangan Bu Liat hampir menyentuh pundak, tiba-tiba gadis dusun itu mengangkat tangan kirinya dan menangkis. Begitu dua tangan bentrok, Bu Liat merasa dadanya panas seolah didorong dengan tenaga taufan atau gelombang laut yang maha dahsyat.

“Ahh...!” Sambil mengeluarkan teriakan tubuhnya mengapung ke atas dan jatuh ke tempat yang jauhnya melebihi tiga tombak. Untung sekali ia memiliki ilmu silat cukup tinggi sehingga begitu lekas punggungnya ambruk di tanah, begitu lekas pula ia dapat melompat bangun. Tetapi meski begitu ia masih merasakan sakit di dadanya dan darahnya bergolak sehingga kepalanya pusing. Baru saja ia berdiri tegak dan mau mengatur pernapasannya, matanya berkunang-kunang, badannya bergoyang dan sekali lagi ia jatuh terguling.

Bu Ceng Eng mencelos hatinya, cepat ia menubruk dan membangunkan ayahnya.

“Biarkan ia rebah lebih lama!” tiba-tiba Ho Thay Ciong berkata.

Nona Bu menengok dan membentak dengan hati marah. “Apa kau kata?!”

Dengan berkata begitu ia menganggap bahwa Ho Thay Ciong mengejek ayahnya.

“Darahnya bergolak, maka dia harus mengaso dengan merebahkan diri,” jawabnya.

Wie Pek segera tersadar. “Benar,” katanya. Ia segera memeluk tubuh gurunya lantas merebahkan kembali di atas tanah.

Ho Thay Ciong dan Pan Siok Ham saling pandang dengan perasaan sangat heran. Mereka sudah pernah bertempur dengan gadis dusun ini dan mereka tahu bahwa meski pun ilmu silat si nona cukup tinggi namun Iweekang-nya belum mencapai tingkatan atas. Tetapi tenaga yang barusan merobohkan Bu Liat adalah Iweekang yang jarang terdapat d dunia ini.

Kalau mereka heran, si gadis dusun malah lebih heran lagi. Sesudah kena ditotok ia roboh dalam pangkuan Bu Kie tanpa bisa bergerak. Waktu pedang Bu Ceng Eng hampir mampir di ulu hatinya, tiba-tiba menyambar benda yang membentur senjata itu hingga terlepas dari tangan nona Bu. Ia sendiri tidak tahu apa adanya benda itu.

Sesaat kemudian tiba-tiba ia merasakan masuknya hawa panas di Ciok-sam-lie dan Yang-leng-coan, yaitu dua hiat pada betisnya. Hawa panas itu terus menerjang ke How-touw-hiat dan Hong-hiat sehingga jalan darah yang ditotok terbuka kembali.

Begitu jalan darahnya terbuka, si gadis dusun bergidik. Ia mengawasi kakinya dan melihat kedua tangan Bu Kie sedang mencekal kedua tumit kakinya dan semacam hawa hangat masuk ke badannya.

Saat itu Bu Liat menghantam dengan telapak tangannya. Dengan nekat ia segera mengangkat tangan dan menangkis. Ia merasa bahwa hancurnya tulang lengan lebih baik dari pada hancurnya tulang pundak. Mimpi pun ia tak pernah bahwa tangkisannya itu membuat terpentalnya tubuh Bu Liat sampai beberapa tombak. Ia terkesiap dan berkata dalam hati.

“Apakah aku mendapat bantuan dari Tiu-pat-koay? Apakah Tiu-pat-koay seorang tokoh rimba persilatan yang memiliki kepandaian luar biasa tinggi?”

Sesudah menyaksikan lihainya nona itu, Ho Thay Ciong tak berani lagi mengadu tenaga. Sambil menghunus pedang ia berkata,

“Aku ingin meminta pelajaran kiam-hoat dari nona.”

“Aku tidak punya pedang,” kata si nona sambil tertawa.

Dengan kakinya Ho Thay Ciong menyontek pedang Bu Ceng Eng yang lantas terbang ke arah si nona yang lalu menyambutnya. Sebagai seorang Ciang-bun-jin dari sebuah partai besar, Ho Thay Ciong sungkan bergerak terlebih dahulu dalam menghadapi orang yang tingkatnya lebih muda.

“Kau mulailah,” ia mengundang. “Kau boleh menyerang lebih dahulu dalam tiga jurus, dan sesudah itu barulah aku membalas.”

Tanpa sungkan lagi si nona lalu menikam dan Ho Thay Ciong menangkis.

“Trangg...!”

Kedua pedang itu patah bersama-sama. Paras muka Ho Thay Ciong pucat pias. Ia melompat mundur beberapa tindak.

“Sayang! Sungguh sayang!” kata si nona.

Dia maklum bahwa Bu Kie sudah memasukkan semacam tenaga luar biasa (yaitu tenaga Kiu-yang Sin-kang) ke dalam tubuhnya, tapi karena ia masih belum bisa menggunakannya maka pedangnya sendiri pun turut menjadi patah. Bila ia sudah dapat menggunakan Kiu-yang Sin-kang, senjatanya pasti akan utuh. Pan Siok Ham menjadi heran tak kepalang.

“Bagaimana bisa begini?” tanyanya dengan suara perlahan.

“Ilmu silatmu!” jawabnya sang suami.

Dengan rasa penasaran nyonya itu menghunus pedang. “Aku pun ingin minta pelajaran!” katanya dengan suara menyeramkan.

Si nona mengangkat kedua tangannya untuk mengunjukkan bahwa ia tidak punya senjata lagi.

“Kau boleh menggunakan pedang itu,” kata Pan Siok Ham sambil menuding pedang Wie Pek yang menggeletak di tempat yang agak jauh.

Nona itu tahu bahwa jika berpisah dengan Bu Kie maka ia takkan mempunyai lweekang begitu tinggi lagi. Sebab itu seraya tersenyum ia berkata,

“Biarlah aku menggunakan pedang buntung ini saja.”

Pan Siok Ham meluap darahnya. Jawaban nona itu dianggap sebagai penghinaan baginya. Dalam marahnya ia tak berlaku seperti suaminya dan tak menghiraukan lagi kedudukannya sebagai seorang Cianpwe (orang yang tingkatannya lebih tinggi). Dengan mendadak dia menikam leher si nona yang lantas menangkis.

SEMUA MUNDUR TERATUR

Nyonya itu memiliki kegesitan luar biasa. Baru saja tikamannya yang pertama ditangkis, tikaman kedua menyambar ke arah pundak telah menyusul. Si nona cepat mengibas pedang buntungnya untuk melindungi pundak kiri, tetapi hampir berbareng pedang musuh sudah menyambar pundak kanan. Dalam sekejap Pan Siok Ham telah mengirim delapan tinju kilat saling susul. Dalam serangannya itu dia selalu menjaga supaya senjatanya tidak terbentur dengan senjata si nona. Sebelum menyerang dia telah mengambil keputusan untuk menggunakan kegesitan guna mengimbangi Iweekang si nona.

Benar saja, makin lama si nona semakin repot. Meski pun dia tidak dapat menandingi Pan Siok Ham, dalam hal ilmu pedang gadis dusun itu sebenarnya masih bisa bertahan sedikitnya seratus jurus. Apa mau dikata, dia bukan saja menggunakan pedang buntung tetapi dia juga tidak berani berpisah dengan Bu Kie sehingga dalam pertempuran itu dia hanya membela diri dan tidak bisa balas menyerang. Mendadak pedang Pan Siok Ham berkelebat bagaikan kilat.

“Srett!”

Lengan kirinya kena di gores. Nyonya itu jadi girang dan terus mengirim serangan berantai. Sesaat kemudian si nona mengeluarkan teriakan.

“Aduhh...!” dan sekali ini pundaknya tertikam pendang.

“Hai! Apa kau tidak mau membantu aku lagi?” teriak si nona.

Dengan kaget Pan Siok Ham melompat mundur kemudian mengawasi sekitarnya. Tapi di seputar itu tidak terlihat bayangan manusia lain. Sambil tersenyum dia segera menyerang lagi dengan hebatnya. Walau pun sudah terluka namun gadis dusun itu terus melawan dengan nekat. Suatu kali dengan kecepatan luar biasa dia bisa mengelakkan serangan Pan Siok Ham.

“Perempuan bangsat, tanganmu cepat juga!” memuji nyonya.

“Nenek bangsat! Tanganmu pun tidak terlalu lambat,” jawab si nona yang tak mau kalah.

Tapi di luar dugaan jawabannya itu mendatangkan akibat buruk. Sebagai seorang ahli silat yang berkepandaian tinggi, meski mulutnya berbicara tetapi tangan Pan Siok Ham bekerja terus seperti biasa. Di lain pihak begitu ia bicara, pemusatan perhatian si nona terpecah dan gerakannya berubah lambat. Tentu saja Pan Siok Ham sungkan menyia-nyiakan kesempatan bagus ini. Dengan sekali tikam pedangnya tepat menancap di pergelangan tangan nona ini sehingga pedang yang sedang dicekalnya lantas terbang.

“Celaka!” si nona mengeluarkan seruan terkejut dan hampir berbareng ujung pedang Pan Siok Ham meluncur ke bawah ketiaknya.

Setelah gadis itu hampir roboh, Teng Bin Kun yang semenjak tadi hanya menonton tanpa bergerak kini mendadak turun tangan. Tanpa menghunus pedang kedua telapak tangannya menghantam punggung gadis dusun dengan jurus Tui-cung-bong-goat (mendorong jendela melihat rembulan). Bu Ceng Eng juga tak mau ketinggalan, dia melompat dan menendang pinggang musuhnya. Hati si gadis dusun mencelos. Dia merasa ajalnya sudah tiba. Tiba-tiba dia merasa sekujur badannya panas luar biasa seolah dibakar. Ketika pedang Pan Siok Ham menyambar, tanpa terasa dia mengangkat tangannya dan menyentil badan pedang dengan jarinya. Pada detik yang bersamaan punggungnya kena pukulan Teng Bin Kun dan pinggangnya kena tendangan Bu Ceng Eng.

“Tring...!“

“Aduh...!“

“Aduh...!”

Tiga suara itu terdengar berbareng. Apakah yang sudah terjadi? Pedang Pan Siok Ham patah, tubuh Teng Bin Kun dan Bu Ceng Eng jatuh terpelanting. Ternyata pada detik yang sangat berbahaya Bu Kie mengempos semangatnya dan memasukkan seluruh ‘hawa murni’ ke tubuh si nona. Pada waktu itu dia sudah berhasil mendapatkan dua bagian dari tenaga Kiu-yang Sin-kang dan dua bagian ini sudah hebat bukan main. Sebagai akibatnya pedang Pan Siok Ham patah, kedua tulang lengan Teng Bin Kun hancur dan tulang kaki Bu Ceng Eng pun remuk. Ho Thay Ciong, Bu Liat dan Wie Pek mengawasi dengan sepasang mata terbelalak dan mulut ternganga. Pan Siok Ham melemparkan pedang buntungnya di tanah.

“Hayo kita pergi!” katanya pada sang suami, “Apa kau belum cukup mendapat malu?”

“Baiklah,” jawabnya.

Dengan menggunakan ilmu mengentengkan badan, mereka berlalu tanpa pamit lagi. Sambil menuntun tangan guru dan memapah adik seperguruannya, Wie Pek pun segera meninggalkan tempat itu. Karena tulang kaki Bu Ceng Eng hancur, mereka terpaksa jalan perlahan-lahan. Hati mereka berdebar-debar dan kadang menengok ke belakang karena kuatir dikejar gadis dusun itu. Teng Bin Kun juga tidak mampu berbuat lain dari pada menyingkir dengan rasa marah dan sakit hati yang sangat besar. Sesudah semua berlalu, si nona tertawa terbahak-bahak.

“Tiu-pat-koay!” teriaknya. “Kalau begitu kau...“ Dia tidak dapat meneruskan perkataannya sebab kedua matanya mendadak berkunang dan dia segera roboh dalam keadaan pingsan.

Ternyata sesudah musuh kabur semua, Bu Kie melepaskan kedua kaki si nona dari cekalannya dan berbareng dengan itu, semua hawa Kiu-yang keluar dari tubuhnya. Dengan demikian tubuh itu menjadi ‘kosong’ mendadak, tenaganya habis dan dia pun tidak dapat mempertahankan diri lagi. Bu Kie mengerti sebab musabah pingsannya si nona. Cepat dia menekan Sie-tiok-kong di ujung alis nona itu dan mengerahkan sinkang. Selang beberapa saat si nona tersadar dan perlahan dia membuka matanya. Melihat dirinya rebah di pangkuan Bu Kie, paras muka si nona berubah merah dan cepat dia melompat bangun. Se-konyong-konyong dia membetot kumis Bu Kie dan berteriak,

“Tiu-pat-koay! Kau menipuku, ya! Kau memiliki kepandaian yang sangat lihai, tapi kau sengaja tidak mau memberi-tahu kepadaku.”

“Aduh... aduh... lepas!” teriak Bu Kie.

“Siapa suruh kau mendustai aku?” kata si nona seraya tertawa.

“Lagi pula kapan aku mendustai kau?” Bu Kie balas bertanya. “Kau tidak pernah memberi-tahu kepadaku bahwa kau mengerti ilmu silat. Aku pun begitu juga.”

“Baiklah, sekali ini aku mengampuni kau,” kata si nona. “Tapi kau sudah bisa jalan?”

“Belum bisa,” jawabnya.

Si nona menghela napas, “Benar juga kata orang, siapa yang berbuat baik akan mendapat pembalasan baik,” katanya. “Jika aku tidak memikirkan kau dan tidak datang lagi ke sini, kau tentu tidak bisa menolong jiwaku.“ Ia berdiam sejenak, kemudian berkata pula, “Kalau aku tahu bahwa kau mempunyai kepandaian lebih tinggi dari aku, aku tentu tidak merasa perlu untuk membinasakan perempuan she Cu itu.”

Paras muka Bu Kie lantas berubah marah. “Aku sama sekali belum pernah meminta kau untuk membunuh nona Cu,” katanya dengan suara mendongkol.

“Aduh! Kau ternyata belum dapat melupakan nona manis itu!” kata si nona dengan suara mengejek. “Akulah yang bersalah. Aku sudah mencelakai kekasihmu.”

“Nona Cu bukan kekasihku,” kata Bu Kie. “Dia dan aku tidak ada sangkut pautnya.”

“Ah, heran sekali!” kata si nona. “Dia telah mencelakakan kau dan aku membinasakannya untuk membalas sakit hatimu. Apakah dengan bertindak begitu aku bersalah?”

“Orang yang mencelakai aku begitu banyak jumlahnya,” kata Bu Kie tawar. “Kalau mereka satu demi satu harus dihukum mati, mereka tidak bakal terbunuh habis. Ada pula orang yang berniat mencelakai aku, tapi dalam pandangan mataku mereka itu harus dikasihani. Misalnya nona Cu, setiap hari dia dirundung kekuatiran dan hatinya terus berdenyutan, dia kuatir kakak misannya tidak mau bersikap baik kepadanya, dia kuatir kakak misannya itu menikahi nona Bu. Orang semacam dia apakah ada senangnya?”

Mendengar itu wajah si gadis desa menjadii muram. “Apakah kau menyindir aku?” tanyanya marah.

Bu Kie melengak. Ia tidak menyangka lantaran menyebut Cu Kiu Tin, ia membangkitkan cemburunya nona di hadapannya ini.

“Bukan, bukan...” katanya cepat. “Aku ingin bilang bahwa setiap manusia ada nasibnya masing-masing. Umpama kata ada orang berbuat tidak benar terhadapmu lantas kau bunuh dia, itu tidak baik.”

Gadis desa itu tertawa dingin. “Jika kau mempelajari ilmu silat bukan untuk membunuh orang, habis untuk apa?” dia bertanya.

“Jikalau kita telah mempelajari ilmu silat,” sahut Bu Kie dengan suara dalam, “Jikalau ada orang jahat terhadap kita barulah kita lawan dia.”

“Aku kagum terhadapmu,” berkata si nona. “Ternyata kau seorang kuncu sejati, seorang yang sangat baik hati!”

Bu Kie tunduk, ia mengawasi nona itu. Ia merasa si nona aneh sekali, ia merasakan sikap orang yang sangat erat hubungannya dengan ia, agaknya ia mengenalnya dengan baik.

“Kau mengawasi apa?” tanya si nona sambil matanya bermain.

“Aku teringat pada ibuku,” sahut Bu Kie. “Ibu sering menertawakan ayahku yang dikatakan orang yang sangat baik hati, yang menjadi seorang pelajar yang harus dikasihani karena hatinya amat lemah. Selain itu, selagi bicara gerak gerik dan lagu suaranya mirip denganmu.”

Muka si nona menjadi merah. “Hai! Kau menggoda aku!” tegurnya. “Kau bilang aku mirip ibumu, jadi kau mirip ayahmu?” Meski dia menegur toh sinar matanya adalah sinar mata yang manis...!

“Oh, oh...“ kata Bu Kie cepat. “Langit ada di atas. Jikalau aku menggoda kau biarlah langit membunuhku dan bumi memusnahkan aku!”

Nona itu mendadak tertawa. “Kau gampang saja bicara!” katanya. “Kenapa mesti main sumpah?”

Tepat si nona baru selesai berkata demikian, dari arah timur utara terdengar suitan yang nyaring dan panjang. Itulah suara seorang wanita. Dari kejauhan lantas terdengar jawaban serupa. Itulah jawaban dari Teng Bin Kun yang belum pergi jauh. Air muka si nona lantas berubah.

“Kembali ada orang dari Go-bi-pay yang datang,” katanya perlahan.

Bu Kie dan gadis desa ini merasakan suara jawaban itu telah membuktikan bahwa tenaga dalam orang lebih lihay dari pada Teng Bin Kun karena suara itu terang dan jernih sekali. Apa lagi orang berada di tempat yang lebih jauh dari pada si nona Teng. Ketika mendengar jawaban itu Teng Bin Kun menghentikan tindakannya.

Sementara itu Bu Kie dan si gadis dusun memandang ke arah timur utara. Cuaca sudah mulai terang, maka di sana dapat terlihat bayangan orang dengan pakaian hijau. Berjalan di atas salju, orang itu bagaikan melayang-layang. Dia mendekati Teng Bin Kun untuk berbicara satu sama lain, lalu dia memandang kepada Bu Kie dan si nona terus menghampiri. Dia bertindak dengan tindakan ringan dan jarak tindakannya itu pun tidak lebar. Ketika dia sudah mendatangi kira-kira empat atau lima tombak, terlihat jelas wajahnya yang cantik sekali dan bersih, dan usianya belum lewat tujuh atau delapan belas tahun.

Dalam herannya Bu Kie berpikir. Jika mendengar suara siulannya tadi serta menyaksikan ringannya tubuh ini, seharusnya dia lebih tua dari pada Teng Bin Kun, tetapi tidak tahunya dia justru lebih muda bahkan rupanya lebih muda dari pada dia sendiri. Nona itu membawa pedang di pinggangnya, tetapi senjata itu tidak dihunus. Dia bertindak mendekati dengan tangan kosong saja.

“Hati-hatilah, Ciu-sumoay!” Teng Bin Kun berkata memperingati. “Budak setan itu memiliki kepandaian yang rada sesat!”

Nona itu mengangguk. “Jiwi, kalian she apa dan siapakah nama kalian?” tanyanya halus. Ia memanggil jiwi, nona atau tuan berdua, kepada Bu Kie dan gadis desa. “Mengapa jiwi melukai suci-ku ini?”

Selagi orang mendekat, Bu Kie mengawasi terus. Ia lantas merasa bahwa ia pernah kenal dengan nona itu. Ketika ia mendengar suara si nona, ia pun lantas teringat, maka katanya di dalam hati, “Ah, kiranya dia Ciu Cie Jiak yang pernah bertemu denganku di sungai Han-sui! Thay-suhu membawa dia ke Bu-tong-san, mengapa sekarang dia masuk ke partai Go-bi-pay?”

Karena berpikir demikian Bu Kie lantas ingat juga Thio Sam Hong. Ia langsung merasakan dadanya panas. Hanya sejenak ia lantas berpikir pula, “Thio Bu Kie sudah mati! Sekarang aku adalah orang dusun, si Can A Gu yang rupanya sangat jelek! Kalau aku tidak dapat menyabarkan diri mungkin aku bakal menghadapi mala petaka yang tiada habisnya! Tidak, di depan siapa pun tidak bisa aku memperlihatkan diriku yang asli supaya ayah dan ibuku jangan penasaran terus di dunia baka!”

Sekejap ia jadi teringat kepada ayah angkatnya yang tinggal di pulau terpencil yang tak dikenal dan tentang ayah dan ibunya yang sudah binasa penasaran. Selagi Bu Kie berpikir itu, si gadis dusun menyahut dengan suara dingin. Sembari berkata dia tertawa.

“Dengan kedua tangannya Suci-mu itu sudah menghajar punggungku dengan pukulan Tui-cung-bong-goat,” katanya. “Dia memukulku, lalu tangannya patah sendiri. Apakah karena kejadian itu aku pantas disesalkan dan dipersalahkan? Coba kau tanya Suci-mu, apakah aku pernah membalas memukul dia meski pun hanya satu kali saja?”

Ciu Cie Jiak berpaling kepada kakak seperguruannya, romannya penuh tanda tanya. Teng Bin Kun tidak memberikan jawaban, hanya dengan marah dia berkata,

“Kau bawalah mereka berdua kepada suhu supaya suhu yang memberi hukuman kepada mereka!”

Mendengar itu Cie Jiak berkata, “Kalau mereka ini bertindak keliru bukan dengan sengaja, menurut pandanganku baiklah urusan dihabiskan saja. Lebih baik kita menjadi sahabat.”

Teng Bin Kun marah. “Apa?!” dia berteriak. “Apakah kau malah berbalik hendak membantu orang luar?”

Melihat roman Teng Bin Kun itu, Bu Kie ingat peristiwa malam itu ketika Pheng Eng Giok Hwesio kena dikeroyok di dalam hutan. Karena kejadian itu Kie Siauw Hu menjadi bentrok dengan Teng Bin Kun. Sekarang peristiwa ini rupanya berulang lagi, Teng Bin Kun kembali mendesak dan memaksa adik seperguruannya ini untuk bertindak se-wenang-wenang dan kejam. Karena itu Bu Kie menjadi kuatir untuk Cie Jiak. Agaknya nona Ciu sangat menurut terhadap suci-nya, ia sangat menghormati. Sembari menjura ia berkata,

“Baiklah, siauw-moay menurut kata suci, siauw-moay tidak punya niat untuk membantahnya.”

“Bagus!” kata Teng Bin Kun. “Sekarang boleh kau bekuk budak itu, kau patahkan kedua tangannya!”

“Baik!” adik seperguruan itu menyahut. “Tolong suci ber-jaga.” Ia lantas berpaling kepada gadis dusun kemudian berkata, “Maaf, siauw-moay terpaksa berlaku kurang ajar, ingin aku menerima beberapa jurus.”

Gadis dusun itu tertawa dingin. “Tidak usah banyak cingcong!” katanya. Dengan sebat sekali dia langsung menyerang beruntun tiga kali karena serangannya yang pertama dan kedua tidak memberikan hasil.

Cie Jiak main mundur, tangan kanannya menangkis, tangan kirinya mencoba menangkap. Itulah pembelaan diri sambil menyerang. Dia bergerak lincah sekali. Bu Kie menonton dan ia menjadi kagum. Mengenai ilmu dalam ia sudah mencapai puncak kemahiran, namun dalam hal ilmu silat ia masih ketinggalan. Sekarang ia melihat kedua nona itu bertempur cepat dan hebat. Lihay tangan Bian-ciang dari Cie Jiak, namun aneh gerak gerik si gadis desa. Ia kagum juga kuatir. Sebenarnya ia tidak mengharap siapapun menang, ia hanya ingin keduanya tidak terluka. Dengan cepat dua orang ini sudah bertarung lebih dari dua puluh jurus, sekarang mereka sama-sama memasuki babak yang berbahaya. Mendadak si gadis dusun berseru.

“Kena!”

Benar saja ia dapat menghajar pundak Cie Jiak. Sebaliknya si nona Ciu dapat menjambret baju orang hingga robek. Keduanya melompat mundur, muka mereka pun sama-sama merah.

“Ilmu menangkap yang hebat!” si gadis dusun berseru. Sesungguhnya dia hendak maju lagi, tapi dia lantas melihat lawannya mengerutkan alis, tangannya meraba dada, tubuhnya pun terhuyung dua kali hampir roboh.

Bu Kie kaget sehingga ia berteriak, “Kau... kau...!“ Nyata sekali perhatiannya sangat besar terhadap nona marga Ciu itu.

Ciu Cie Jiak heran melihat pria yang rambut dan kumisnya panjang itu menaruh perhatian sedemikian rupa terhadapnya.

“Sumoay, kau kenapa?” Bin Kun bertanya heran.

Dengan tangan kirinya Cie Jiak memegang pundak sang Suci, kepalanya digeleng. Bin Kun heran kemudian ia menjadi terkejut. Tadi ia dikalahkan si gadis desa sehingga ia menjadi penasaran dan ingin menuntut balas, maka hatinya merasa senang sekali karena sang Sumoay (adik seperguruan) datang kepadanya. Ia percaya Sumoay ini bakal berhasil melampiaskan sakit hatinya. Ia pernah mendengar guru mereka memuji-muji sang Sumoay sebagai murid yang cerdas, yang majunya pesat, sehingga Ciu Cie Jiak diharap nanti dapat mengangkat pamor perguruan mereka. Karena itulah sekarang ia memaksa sang Sumoay menempur si gadis desa.

Ia lega hati melihat Ciu Cie Jiak dapat berkelahi hingga dua puluh jurus lebih. Itu tanda sang Sumoay sudah lebih menang darinya. Maka ia heran melihat akhir pertandingan itu, bahkan ia terkejut waktu merasakan cekalan tangan Sumoay pada pundaknya. Tangan itu seperti tidak ada tenaganya. Tanda bahwa sang Sumoay terluka. Dari kaget ia menjadi takut, takut si gadis dusun nanti merangsek untuk menyerang lagi.

“Mari kita pergi!” katanya cepat. Ia membawa Sumoay-nya berlalu dengan cepat ke arah timur laut tadi.

Si gadis desa menatap kepergian lawannya, lantas ia menoleh kepada Bu Kie. Ia tertawa dingin.

“Hai, si muka jelek tidak keruan!” katanya mengejek, “Begitu melihat nona cantik, semangatmu terbang ke langit!”

Bu Kie berniat membantah, tetapi ia segera berpikir. “Jika aku tidak memperlihatkan jati diriku maka urusan sukar dibuat jelas. Tapi lebih baik aku tetap tidak bicara!” Karena itu ia pun menjawab,

“Peduli apa dia cantik atau tidak? Apa kaitannya dengan aku? Aku justru menguatirkan kau, aku takut nanti kau terluka...”

Mendengar itu si nona menjadi girang. Perubahan sikapnya amat cepat. “Omonganmu ini benar-benar atau dusta?” dia bertanya.

“Sebenarnya aku menguatirkan kalian berdua,” pikir Bu Kie, tapi ia menjawab, “Untuk apa aku mendustai kau? Aku hanya tidak menyangka bahwa di Go-bi-pay ada nona demikian muda tetapi ilmu silatnya mahir sekali.”

“Hebat, ya hebat!” kata si gadis dusun.

Bu Kie mengawasi Cie Jiak. Tadi nona itu datang dengan lincah, tetapi sekarang pergi dengan langkah terseok-seok. Ia teringat bagaimana dulu di dalam perahu di sungai Han-sui, si nona menyuapinya, meminumkan air, bagaimana ia diberi sapu tangan untuk menyusut air matanya. Itulah budi si nona. Mengingat itu ia segera berdoa agar luka si nona tidak berbahaya... Tiba-tiba gadis desa tertawa dingin.

“Tak usah kau menguatirkan dia!” katanya nyaring. “Dia tidak terluka sama sekali! Bahkan aku bilang dia sangat hebat! Bukan ilmunya yang kumaksudkan, tapi kecerdikannya, apa lagi ia masih berusia demikian muda!”

Bu Kie heran. “Apakah dia tidak terluka?” tanyanya.

“Memang tidak! Pada saat tanganku mengenai pundaknya, dari pundak itu menolak keluar aliran tenaga dalam yang membuat tanganku mental kembali. Jelas dia sudah mempelajari ilmu Kiu-yang-kang dari Go-bi-pay. Dia telah membuat tanganku gemetar dan kesemutan! Dia mana bisa terluka?”

Bu Kie menjadi girang. Ia berkata di dalam hatinya, “Kalau begitu Biat-coat Suthay sangat menghargai nona itu. Dia rela menurunkan ilmu Kiu-yang-kang dari Go-bi-pay, sedangkan ilmu itu adalah ilmu pelindung partainya.”

Tengah ia berpikir, Bu Kie merasa kupingnya sakit. Tanpa setahunya telinganya itu sudah ditampar si nona. Pipinya juga kena sehingga kuping dan pipinya menjadi merah dan agak bengap.

“Kau... kau berbuat apa?” tegurnya gusar.

Nona itu terlihat mendongkol, katanya sengit. “Melihat orang demikian cantik semangatmu terbang naik keluar langit! Aku bilang dia tidak terluka, langsung kau kegirangan! Mengapa?”

“Jika benar aku girang untuknya, apa kaitannya denganmu?” Bu Kie balik bertanya.

Tangan si nona melayang lagi, tapi Bu Kie dapat berkelit mundur. Nona itu menjadi marah dan berteriak.

“Tadi kau sudah bilang bahwa kau bakal menikahi aku! Belum lewat setengah hari pikiranmu sudah berubah! Kau sudah kepincut nona lain!”

“Toh kau sendiri yang bilang bahwa aku tidak cocok bagimu!” Bu Kie membalas. “Kau pun bilang di hatimu ada seorang kekasih lain sehingga kau tidak dapat menikah denganku!”

“Itu benar! Tapi kau telah berjanji padaku bahwa seumur hidupmu kau akan setia padaku,” kata si nona pula.

“Tentu sekali, apa yang telah aku bilang akan kupegang,” kata Bu Kie.

“Kalau begitu,” kata si nona marah, “Kenapa setelah melihat nona cantik kau menjadi tidak punya semangat seperti ini? Melihat lagakmu ini bagaimana orang tidak mendongkol?”

Mau tidak mau Bu Kie tertawa. “Semangatku tidak hilang!” katanya.

Si nona masih berkata sengit, “Aku larang kau menyukai dia! Aku larang kau memikirkan dia!”

“Aku tidak bilang bahwa aku menyukai dia,” kata Bu Kie.

“Tapi mengapa di hatimu kau senantiasa mengingat orang lain? Kau selalu mengingatnya hingga kau tidak pernah dapat melupakannya?”

“Karena aku kenal orang itu lebih dulu dari pada aku kenal kau. Coba aku mengenal kau lebih dulu, pasti seumur hidup aku selalu baik terhadap kau seorang, takkan mencintai orang lain lagi. Ini yang dibilang, ikut satu orang hingga akhir hayatnya. Jika satu orang mempunyai dua atau tiga pikiran, Tuhan juga tidak dapat menerimanya?”

“Aku kenal nona Ciu jauh lebih lama dari pada aku kenal kau,” kata Bu Kie di dalam hati. Tapi ia tidak dapat mengatakan itu, maka ia bilang,

“Jika kau baik denganku seorang, aku juga akan baik dengan kau seorang, tetapi jika di hatimu memikirkan orang lain, aku pun boleh memikirkan orang lain!”

Nona itu terdiam. Beberapa kali ia hendak membuka mulutnya tapi batal. Mendadak kedua matanya mengalir, lantas ia berpaling ke arah lain. Tanpa sepengetahuan Bu Kie ia menghapus air matanya.

Bu Kie menjadi kasihan. Ia mencekal tangannya. “Untuk apa kita bicara tidak keruan begini?” ia bilang. “Beberapa hari lagi kakiku sembuh, kita berdua boleh pergi pesiar melihat keindahan sang alam. Apakah itu tidak bagus?”

Nona itu menoleh, wajahnya berduka. “Gu-koko, aku mau minta sesuatu,” katanya sabar. “Aku minta kau jangan marah.”

“Apakah itu?” Bu Kie balik bertanya. “Asalkan aku sanggup tentu aku akan melakukannya untuk kau.”

“Kalau kau berjanji tidak akan marah kepadaku barulah aku mau bicara.”

“Baik, aku tidak akan marah.”

Nona itu ragu-ragu. Katanya sesaat kemudian. “Kau bilanglah bahwa di hatimu tidak akan marah. Kalau di mulut bilang tidak marah...”

“Baiklah, di dalam hatiku juga aku tidak akan marah.”

Nona itu lantas menggenggam keras. “Gu-koko!” Ia berkata sungguh-sungguh. “Aku datang dari Tiong-goan yang jaraknya berlaksa lie sampai di wilayah Barat ini, maksudku adalah untuk mencari dia. Mulanya aku masih bisa mendengar sedikit kabar tentangnya, tapi setibanya di sini dia bagaikan sebuah batu yang tenggelam di lautan luas, sedikit pun tidak kudengar lagi kabarnya. Maka itu, kalau nanti kakimu sudah sembuh, aku minta kau membantuku mencarinya, setelah itu barulah aku menemani kau pesiar ke gunung dan sungai! Tidakkah ini bagus?”

Bu Kie tidak dapat menahan rasa tidak senangnya sehingga tanpa terasa ia mengeluarkan suara di hidung.

“Hmm...”

“Kau sudah menerima baik, kau sudah berjanji tidak akan marah,” kata si nona. “Apakah ini bukan tandanya marah?”

“Baiklah, nanti aku akan membantumu mencari dia!” kata Bu Kie.

Kembali si nona girang secara mendadak. “Gu-koko, kau baik sekali,” dia berseru. Dia lantas memandang jauh ke depan, ke arah di mana langit dan bumi bertemu, hatinya bergetar. Dengan perlahan dia berkata, “Jika nanti kita dapat menemukannya, dia akan berpikir bahwa aku telah mencari dia lama sekali, dia tidak akan mengusir aku. Apa pun yang dia bilang, aku akan melakukannya. Pendek kata aku akan menuruti segala perkataannya!”

“Sebenarnya apakah kebaikan kekasihmu itu?” tanya Bu Kie. “Kenapa kau sampai selalu memikirkannya?”

Ditanya begitu, si nona tertawa. “Apa kebaikannya?” katanya. “Mana bisa aku menerangkan? Gu-koko, aku tanya. Apakah kita dapat mencari dia? Umpama kata kita berhasil mencarinya, apakah dia bakal mencaci dan memukulku?”

Tidak senang Bu Kie melihat orang yang demikian tergila-gila, akan tetapi ia pun tak mau membuatnya tidak bergembira, maka ia berkata perlahan seperti bersenandung.

“Asal hati manusia keras bagaikan emas, di atas langit atau di dunia pasti orang dapat saling bertemu!”

Mulut mungil si nona bergerak perlahan dan air matanya berlinang. Ia mengulangi dengan perlahan.

“Asal hati manusia keras bagaikan emas, di atas langit atau di dunia pasti orang dapat saling bertemu...”

Bu Kie dapat mendengar suara si nona, katanya dalam hati. “Nona ini demikian tergila-gila kepada kekasihnya. Kalau di dunia ini ada seseorang yang demikian memikirkan aku, biar pun hidupku lebih menderita lagi, aku rela...” Ia memandang ke arah timur laut, di atas salju ia melihat tapak kaki Cie Jiak dan Bin Kun. Ia melamun pula. “Apa bila tapak kakinya Bin Kun itu adalah tapak kakiku, dapat berjalan bersama nona Ciu...” Ia terbangun dari lamunannya dengan kaget. Mendadak ia mendengar suara keras dari si nona.

“Hayo! Lekas! Mari kita pergi. Kalau terlambat, nanti tak keburu!”

“Apa?” tanya Bu Kie masih gelagapan.

“Nona muda dari Go-bi-pay itu tidak mau bertempur denganku,” kata si nona. “Ia berpura-pura terluka, tapi lain lagi dengan Teng Bin Kun, dia bilang hendak menangkap kita untuk dibawa kepada gurunya. Itu berbahaya karena mestinya Biat-coat Suthay berada di dekat sini. Pendeta wanita bangsat tua itu mau menang sendiri, mana bisa dia tidak datang kemari?”

Bu Kie terkejut, ia pun kuatir. Ia ingat kekejaman Biat-coat Suthay ketika menghajar mati Kie Siauw Hu dengan sebelah tangannya.

“Memang dia sangat hebat, kita tidak dapat melawannya,” katanya.

“Apakah kau pernah bertemu dengan dia?”

“Kalau bertemu, belum. Tapi dia ketua Go-bi-pay, dia bukan orang sembarangan.”

Untuk sejenak nona itu mengerutkan alis. Ia lantas bekerja. Ia mengumpulkan beberapa kayu yang kuat, ia ikat itu dengan tali babakan pohon. Setelah selesai segera membuat semacam kursi bagaikan kereta. Tanpa bilang apa-apa ia lantas menggendong Bu Kie untuk duduk di dalam kursi itu, yang ujungnya diikatkan dengan tali panjang, setelah itu ia lalu menarik membawa pergi berlari! Kencang larinya!

Sambil duduk di kereta salju, Bu Kie mengawasi gadis desa yang tabiatnya aneh ini.


OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar