SIAUW-SINSHE (TABIB CILIK)
Bu Kie menjadi heran sekali dia berpikir. “Lembah Ouw-tiap-kok ini sepi luar biasa. Kecuali orang-orang partai agama sesat, orang Kangouw sedikit sekali yang mengetahuinya. Tetapi mereka adalah orang-orang Khong-tong-pay dan sebagainya yang bukan kaum sesat. Mengapa mereka berbareng pada datang kemari untuk berobat? Pula, mengapa mereka terluka berbareng? Dan pemilik bunga emas itu, sungguh lihay! Jika dia mau mengambil jiwa mereka, bukan pekerjaan sulit baginya. Kenapa dia justru melukai orang-orang ini begini hebat?”
Di antara semua orang yang berjumlah empat belas itu, ada yang pandai bicara ada pula yang diam saja, tetapi semuanya bersatu tidak mau angkat kaki walau pun sudah ditolak. Ketika itu sudah magrib, mereka memenuhi sebuah ruang. Kacung tukang masak nasi menyajikan makan bagi Bu Kie. Tanpa sungkan-sungkan lagi Bu Kie dahar seorang diri. Kemudian dia duduk menghadapi meja dan dengan terangnya pelita, dia membaca buku tentang ilmu ketabiban. Terhadap semua orang itu dia tidak ambil peduli. Dia berpikir.
“Aku sudah dapat mempelajari ilmu tabib dari Ouw-sinshe, maka aku pun boleh mempelajari ilmunya, melihat kematian tidak menolong.”
Malam sudah tiba, sunyi sekali. Di rumah gubuk itu tidak terdengar suara apa-apa kecuali suara Bu Kie membalik-balik halaman buku serta suara bernapas keras dari mereka yang terluka. Justru suasana sunyinya itu, dari luar gubuk terdengar tindakan kaki dari dua orang. Bu Kie merasa heran. Dia mengangkat kepalanya dan memasang kuping. Tindakan tadi amat perlahan, semakin mendekat semakin perlahan. Terang orang lagi menghampiri ke rumah gubuk. Tidak lama kemudian terdengar suara yang halus tetapi jelas.
“Ibu, di sana ada sinar api dari dalam rumah. Kita sudah sampai!”
Kalau didengar dari suaranya, mesti seorang anak kecil. Lalu terdengar suara lain, “Anak, kau capai atau tidak?” lebih keras tetapi toh dari seorang wanita juga.
“Aku tidak capai,“ sahut si anak barusan. “Ibu, kalau tabib sudah mengobati kau tentunya kau tidak sakit lagi.”
Si wanita terdengar menjawab. “Ya... Tapi entahlah dia suka menolong atau tidak!”
Hati Bu Kie tergerak. “Ahh, rasanya aku kenal baik suara ini...“ pikirnya. “Rupanya dia Nona Kie Siauw Hu.”
“Pasti tabib akan mengobati ibu,” kata pula si anak perempuan. “Tak usah kuatir. Apakah nyeri ibu sudah mendingan?”
“Sedikit mendingan?” sahut si nyonya yang dipanggil ibu itu. “Ah, anak yang sengsara...”
Mendengar lagi suara itu, Bu Kie tidak sangsi lagi. Dia lantas melompat ke ambang pintu.
“Apa Kie-kouwkouw di sana?” ia bertanya “Apakah kau pun terluka?”
Di bawah terangnya sang Puteri Malam ia melihat seorang wanita yang sebelah tangannya menuntun seorang nona kecil. Wanita yang dipanggil Kouwkouw atau bibi itu benar Kie Siauw Hu adanya. Akan tetapi Siauw Hu tidak mengenalinya sebab ketika mereka bertemu di gunung Bu-tong-san, Bu Kie baru berumur sepuluh tahun dan sekarang sang waktu sudah lewat lima tahun.
“Kau... kau...?” tanyanya heran.
“Kouwkouw, kau sudah tidak mengenali aku, bukan?” kata Bu Kie, “Aku Thio Bu Kie. Dulu ketika ayah dan ibuku bunuh diri di Bu-tong-san, aku melihat kau.”
Siauw Hu berseru saking herannya. Kejadian yang sama sekali tidak di-sangkanya. Berbareng itu dengan sendirinya dia menjadi kaget dan malu. Ia seorang nona yang belum menikah, membawa-bawa seorang anak perempuan... Sekarang dia berhadapan dengan Bu Kie, keponakan In Lie Heng bakal suaminya. Sebagai bocah tanggung, Bu Kie tentu sulit untuk diberi penjelasan tentang keganjilan ini. Maka mukanya menjadi merah. Karena dia sedang terluka dan lukanya tidak enteng maka kagetnya itu membuat tubuhnya terhuyung. Melihat ibunya mau jatuh, anak perempuan yang umurnya baru enam atau tujuh tahun itu lantas menjambret tangannya. Akan tetapi tenaganya lemah, dia dapat berbuat apa? Melihat Siauw Hu mau jatuh, si nona cilik pun bakal roboh juga, Bu Kie segera menahan pundak sang bibi.
“Kouwkouw, silakan masuk ke dalam untuk beristirahat,” ia mengundang.
Dia berkata begitu, namun dia toh memimpin orang masuk ke dalam ruangan. Karena itu dengan pertolongan cahaya api dia lantas melihat luka sang bibi, luka di pundak kiri dan di bahu kanan, bekas golok atau pedang. Kalau melihat darah yang menembus dari balutan, luka itu mestinya sangat parah. Lagi pula si nona merintih beberapa kali, tandanya hebat menahan rasa nyeri. Mendengar rintihan atau batuk-batuk si nona, Bu Kie mengerti hebatnya luka sang bibi. Dalam hal ilmu ketabiban, sekarang ini Bu Kie sudah dapat melawan sembarang ‘tabib kenamaan’. Suara batuk itu menandakan si nona telah mendapat goncangan di pinggir paru-parunya yang sebelah kiri.
“Kouwkouw,” katanya, “tangan kananmu bentrok dengan tangan orang karena itu kau terluka di bagian paru they-im-hie.“ Dia berkata begitu, tetapi tanpa menanti jawaban dia mengeluarkan tujuh batang jarum emas. Tanpa membuka baju si nona, dengan jarum itu dia menusuk di tujuh jalan darah in-bun di pundak, hoa-kay di dada cie-tek dan lain-lain.
Kepandaian Bu Kie sekarang berbeda jauh dari waktu dulu ketika dia mengobati Siang Gie Cun. Selama dua tahun dia belajar di bawah pimpinan Tiap-kok Ie-sian Ouw Ceng Gu, dia sudah mendapat kemajuan pesat. Penghalang satu-satunya ialah usianya yang masih terlalu muda. Jadi kalau dibandingkan dengan gurunya, dia masih ketinggalan jauh sekali. Hanya dalam ilmu menusuk jalan darah dengan jarum emas saja dia sudah mendapat tujuh atau delapan bagian dari keahlian gurunya. Kie Siauw Hu melihat anak tanggung itu mengambil jarum. Dia tidak tahu apa perlunya itu, maka dia heran dan kagum sekali ketika tahu-tahu dia telah ditusuk berulang-ulang secara demikian hebat dan tepat. Begitu selesai dia merasakan dadanya tak terlalu sesak lagi.
“Anak yang baik!” Dia berseru dalam girangnya. “Aku tidak sangka kau berada di sini dan sudah dapat mempelajari ilmu tabib begini sempurna!”
Siauw Hu lantas teringat kejadian di Bu-tong-san, pada waktu ia menghadapi Thio Cui San dan In So So. Suami isteri itu saling bergantian bunuh diri dan akhirnya mayat mereka dipeluki Bu Kie. Dia merasa sangat terharu, dia kasihan terhadap anak ini, maka dia membujuk dan menghiburnya seraya memberikan kalungnya yang terbuat dari emas. Hanya ketika itu Bu Kie menampik pemberiannya karena dia sedang sangat berduka dan marah sehingga dia memandang semua tamu yang hadir adalah musuh-musuh yang mendesak kebinasaan ayah dan ibunya. Atas penampikan itu Siauw Hu jadi malu sekali, tetapi dia tidak dapat berbuat apa-apa.
Kemudian pikiran Bu Kie berubah. ketika dia terluka serangan ilmu Hian-beng Sin-ciang, dia ditolong secara mati-matian oleh In Lie Heng, yang sudah mengorbankan banyak tenaga dalamnya. Pertolongan itu dia ingat betul sebab dia merasa berhutang budi. Maka, karena teringat budinya In Lie Heng, dia menjadi ingat juga kebaikan Kie Siauw Hu dan untuk membalas budinya si paman guru, amat pantas jika dia memberikan kesan baik terhadap tunangan sang paman. Semakin usianya bertambah semakin dia dapat berpikir, membedakan yang benar dan yang salah. Dia juga ingat waktu dulu kala sekalian paman gurunya telah membicarakan persoalan minta Go-bi-pay bekerja sama menentang musuh. Jadi Go-bi-pay bukanlah musuh utama, bahkan sama sekali bukan musuh Bu-tong-pay. Dua tahun yang lalu, ketika Bu Kie bertemu dengan Siang Gie Cun di luar rimba, di sana ia menyaksikan Kie Siauw Hu menolong Pheng Hwesio. Perbuatan mulia nona itu membikin ia beranggapan bahwa si nona adalah orang baik. Hanya sekarang ini ia belum dapat berpikir kenapa Siauw Hu, si bibi yang belum menikah itu, sudah mempunyai anak perempuan berumur lebih dari lima tahun. Cuma Siauw Hu yang malu sendiri. Selama ini Bu Kie bisa melihat jelas anaknya bibi itu. Nona cilik itu berdiri diam di sebelah ibunya. Dia masih kecil, cantik sekali. Sepasang alisnya bagaikan dilukis, sepasang matanya hitam dan jeli, dan dengan mata tajam mengawasi padanya.
“Ibu, apakah anak ini si tabib?” kemudian anak itu berbisik di kuping ibunya. “Apakah rasa nyeri ibu sudah baik?”
Mendengar panggilan ‘Ibu’, muka Siauw Hu menjadi merah. Tak dapat dia mencegah rasa jengahnya.
“Ini kakakmu, kakak Bu Kie,” dia menyahut. “Ayah kakakmu ini sahabat ibumu.” Kemudian dia meneruskan kepada Bu Kie dengan suara perlahan. “Dia... dia bernama Put Hwie...“ Dia berhenti sejenak. “Dia... dia she Yo... Yo Put Hwie...”
Bu Kie girang, dia tertawa. “Bagus!” dia berseru. “Aku Thio Bu Kie dan kau Yo Put Hwie!”
Siauw Hu sangat senang melihat sikap wajar dari Bu Kie, sedikit pun tidak tampak sikap yang hendak menegur kepadanya. Hatinya menjadi lega.
“Anak, kepandaian kakakmu sangat hebat,” katanya. “Sekarang rasa nyeriku sudah berkurang.”
Put Hwie memainkan matanya yang jeli itu. Dia mengawasi ibunya, lalu dia mengawasi Bu Kie. Sekonyong-konyong dia maju mendekati bocah di depannya untuk merangkul, mencium pipinya. Bukan main terkejutnya Bu Kie. Nona Put Hwie ini adatnya sangat polos dan wajar. Semenjak masih kecil sekali dia tidak pernah bertemu dengan orang lain kecuali ibu dan pengasuhnya. Sekarang ibunya terluka parah, mereka pun dalam kesukaran besar, menyaksikan Bu Kie menolong ibunya. Maka dia bersyukur bukan main. Adalah kebiasaannya, jika dia hendak mengutarakan kegirangan dan rasa syukurnya, dia suka melompat kepada mereka untuk memeluk atau merangkul, kemudian mencium pipi mereka. Kebiasaan ini sekarang dilakukannya terhadap Bu Kie tanpa rasa malu.
“Hush!” Siauw Hu berseru. “Jangan begitu Hwie-jie. Nanti Kakak Bu Kie jadi tidak senang!”
Put Hwie mementang kedua matanya, dia heran. “Apakah kau tidak senang padaku?” tanyanya. “Kenapa aku tidak boleh berlaku baik kepadamu?”
Bu Kie tertawa. “Aku girang!” sambutnya. “Aku pun suka berbuat baik terhadapmu!” Dan ia balas mencium pipi yang halus dari nona cilik itu.
Put Hwie girang bukan main, dia bertepuk-tepuk tangan. “Hai, tabib kecil, lekas kau obati ibu agar ibu sembuh seluruhnya!” dia berseru. “Nanti aku cium lagi!”
Tidak kepalang girangnya Bu Kie mendapatkan orang demikian manja dan lincah. Selama belasan tahun hidupnya, dia telah bergaul dengan banyak orang, tetapi mereka adalah paman-pamannya dan Siang Gie Cun juga masih lebih tua delapan tahun. Di dalam perahu dia pernah bertemu dengan Ciu Cie Jiak, akan tetapi pertemuan itu sangat pendek, belum sampai satu hari mereka sudah berpisah lagi. Jadi belum pernah dia bergaul dengan sahabat-sahabat cilik sebayanya. Karena itu, mendapati nona ini, dia berpikir. “Kalau benar aku mempunyai adik sekecil ini, yang begini menarik hati, pasti aku sering mengajak dia bermain-main...”
Dalam usia empat belas tahun anak yatim piatu ini masih kekanak-kanakan. Ia kehilangan waktu bermain-main seperti anak-anak lainnya. Sementara itu Kie Siauw Hu sudah menyaksikan semua hadirin yang pada terluka itu. Dia merasa malu untuk mendahului mereka.
“Tuan-tuan ini datang lebih dulu, pergilah kau periksa mereka lebih dulu,” dia berkata kepada Bu Kie. Dia tidak mengetahui duduknya perkara. “Sekarang ini sakitku sudah berkurang banyak.”
“Mereka itu datang untuk berobat kepada Ouw-sinshe,” Bu Kie memberi tahu. “Akan tetapi sekarang Ouw-sinshe sendiri sedang sakit. Mana bisa mengobati orang? Mereka tidak mau pergi, maka biarlah mereka terus menunggu. Kouwkouw, kau bukan mencari Sinshe, jika kau percaya kepada keponakanmu ini, mari sini, biar aku periksa lebih jauh lukamu. Sudah lama juga aku diam di sini, tentang luka-luka aku tahu sedikit.”
Sesungguhnya Kie Siauw Hu sudah mendapat petunjuk agar datang ke lembah ini untuk mencari Tiap-kok Ie-sian Ouw Ceng Gu. Sebab itu dia datang dengan maksud yang sama dengan Kan Ciat beramai. Maka itu dia merasa heran melihat keadaan Kan Ciat semua, tetapi siapa tahu duduknya hal ternyata sederhana saja. Dia lantas tahu bahwa Ouw Ceng Gu tidak berniat menolong mereka. Tapi mengenai Bu Kie, kepercayaannya lantas muncul. Bukankah dia telah berulang-ulang ditusuk dan kini rasa nyerinya berkurang banyak? Jadi dia tidak boleh memandang enteng karena usia bocah ini.
“Baiklah,“ katanya kemudian. “Aku berterima kasih kepadamu! Tidak apa tabib besar tidak mau mengobati aku, asal ada kau si tabib kecil...”
Bu Kie minta bibinya masuk ke kamar samping di mana ia lantas bekerja. Lebih dulu ia guntingi baju si bibi di bagian tubuh yang terluka. Ia mendapatkan tiga luka bacokan golok di bahu, sambungan pundaknya sudah bergeser, di lengan juga ada tulang yang remuk. Di mata kebanyakan tabib, luka-luka itu adalah luka-luka yang sukar untuk diobati, namun di mata muridnya Ouw Ceng Gu, itu hanyalah luka-luka biasa. Maka lebih dulu Bu Kie menyambung rapi tulang yang bergeser itu, kemudian memborehkan obat. Kemudian ia membuat surat obat dan menyuruh si kacung memasaknya hingga matang. Ia belum biasa membalut luka, tapi walau pun rada lambat, dapat juga menyelesaikan tugas ketabibannya.
“Kouwkouw, sekarang silakan beristirahat,” katanya. “Sebentar sesudah kekuatan baal (mematikan rasa) dari obat ini habis, kau akan merasa sakit luar biasa.”
“Terima kasih!” sahut bibi itu.
Bu Kie pergi ke kamar obat untuk mencari buah Angco dan buah Leng. Dia bawa itu untuk diberikan kepada Put Hwie. Ketika dia kembali, si nona sudah tertidur menyender kepada ibunya sebab sudah satu malaman dia tidak tidur. Karena itu dia masukkan saja buah itu ke dalam saku si nona. Kemudian dia kembali ke depan. Lelaki Hoa-san-pay yang muntah darah itu lantas bangkit. Dia menjura dalam kepada si anak tanggung.
“Siauw-sinshe,“ katanya. Ia memanggil ‘Siauw-sinshe’ atau tabib kecil. “Karena Ouw-sinshe tengah sakit, harap kau saja yang menolong kami. Pasti kami akan bersyukur sekali terhadapmu...”
Bu Kie mengawasi orang itu dan kawan-kawannya. Semenjak dia belajar ilmu, sebenarnya belum pernah mencoba lebih jauh kepandaiannya itu kecuali mengobati Siang Gie Cun dan Kie Siauw Hu ini. Akan tetapi dia ingat kata-katanya Ouw-sinshe, maka dia cepat menguasai diri.
“Rumah ini adalah rumah Ouw-sinshe,” dia berkata. “Sedangkan aku sendiri adalah orang yang menderita sakit dan berada di bawah rawatannya. Mana berani aku melancangi tuan rumah?”
Orang Hoa-san-pay mengawasi si bocah, dia seperti dapat menerka isi hati orang. “Pada umumnya seorang tabib kenamaan memang sudah berusia lima atau enam puluh tahun,“ dia berkata untuk mengumpak, “Karena itu sungguh luar biasa Siauw-sinshe yang usianya masih muda sekali tapi kepandaiannya benar-benar langka. Maka itu, Sinshe, aku mohon sukalah kau menolong kami.”
Si orang terokmok (gemuk) she Nio yang romannya seperti hartawan turut bicara. “Kami empat belas orang memiliki sedikit nama di kalangan kangouw,” katanya, “Maka itu, jika kami dapat ditolong Siauw-sinshe, sesudah kami pulang nanti pasti kami akan menguwarkan kepandaian Sinshe ini supaya menjadi tersohor hingga dalam satu malam saja kau akan menjadi terkenal di seluruh negeri!”
Dasar masih terlalu muda dan belum punya pengalaman, Bu Kie menjadi tertarik dengan kata-kata yang mengumpak-umpak itu, hatinya menjadi girang sekali.
“Apa bagusnya nama tersohor di seluruh negeri?” katanya. “Ouw-sinshe sendiri tidak dapat menolong kalian, apa lagi aku? Apakah yang bisa aku perbuat? Agaknya luka kalian bukannya enteng, maka begini saja, aku akan membantu meringankan rasa nyerimu.”
Kemudian dia mengambil obat-obatan guna memberi pertolongan. Setelah melihat luka orang-orang itu, dia menjadi heran. Nyata bahwa setiap luka berbeda satu dengan yang lain, dan semuanya adalah luka-luka yang luar biasa. Belum pernah Ouw Ceng Gu mengajarkan dia tentang bermacam-macam luka seperti ini. Ada orang yang agaknya dipaksa menelan beberapa puluh batang jarum, ada orang yang isi perutnya tergoncang tergempur tenaga dalam, ada yang beberapa jalan darahnya dilukai dengan racikan pisau. Semua itu menandakan bahwa si pembuat luka juga mengerti ilmu tabib dengan baik sekali. Semua itu adalah luka yang sangat sulit diobati.
Ada lagi orang yang pinggiran paru-parunya terpaku sehingga tiada hentinya dia batuk-batuk dan mengeluarkan darah, ada pula orang yang tulang-tulang iganya pada patah tetapi luka itu tidak mengganggu paru-paru atau jantung. Seorang lagi terkutungkan kedua ujung tangannya lalu tangan-tangan yang buntung itu, yang kiri ditaruh di bahu kanan sedangkan yang kanan ditaruh pada bahu kiri. Masih ada pula yang seluruh tubuhnya bengkak seperti bekas dipagut kelabang atau binatang berbisa lainnya.
“Semua luka mereka luar biasa. Tidak ada satu pun yang bisa aku obati,” pikirnya. “Orang yang membuat luka itu hebat sekali, dia sangat lihay. Kenapa dia menyiksa orang sampai begini rupa?”
Karena berpikir demikian dia jadi teringat kepada lukanya Kie Siauw Hu. “Luka bibi kelihatan biasa saja, apakah bibi pun mendapat luka dalam?” pikirnya dengan hati terkejut. “Kalau tidak, mengapa bibi seorang yang dikecualikan?”
Lekas-lekas ia meninggalkan Kan Ciat semua. Ia berlari ke dalam. Segera ia memeriksa nadinya Siauw Hu. Ia menjadi kaget. Ia mendapatkan nadi si bibi bergerak-gerak, sebentar keras sebentar kendor, atau sebentar kemudian jalannya lurus dan sesat bergantian. Pasti semua itu disebabkan sesuatu dari dalam tubuh. Ia terkejut karena ia tidak mengerti akan perubahan ini. Keempat belas orang itu lukanya aneh, namun ia tidak memikirkannya. Di antara mereka ada orang Khong-tong-pay yang ada sangkut pautnya dengan kebinasaan ayah ibunya, maka pantaslah kalau mereka tersiksa. Akan tetapi Kie Siauw Hu, bibinya ini, tak dapat ia tidak menolongnya. Maka lekas-lekas ia pergi ke kamarnya Ouw Ceng Gu.
“Sinshe! Apa sinshe sudah tidur?” ia tanya perlahan.
“Ada apa?” ia mendapat jawaban. “Tidak peduli siapa, aku tidak akan mengobatinya!”
“Ya, sinshe. Hanya luka mereka itu, semuanya luka yang aneh-aneh...”
Bu Kie lantas saja menuturkan tentang semua luka itu. Ouw Ceng Gu yang teraling sekosol mendengarkan. Kalau ada hal yang tidak dia mengerti maka dia lantas bertanya untuk menegaskan. Untuk ini Bu Kie mesti pergi keluar kepada orang-orang yang luka itu untuk memeriksa, selanjutnya ia memberikan jawaban yang jelas kepada Tiap-kok Ie-sian. Maka itu dibutuhkan waktu setengah jam untuk mendapat tahu secara jelas luka semua lima belas orang itu berikut Siauw Hu. Beberapa kali Ouw-sinshe mengeluarkan suara tak jelas, agaknya ia sedang berpikir keras. Kemudian ia berkata,
“Hm, semua luka itu tidak akan dapat menyulitkan aku!“
Belum lagi Bu Kie sempat bertanya, mendadak ada orang yang bersuara di belakangnya, katanya,
“Ouw-sinshe, pemilik bunga emas itu bilang kepadaku untuk kusampaikan kepada kau. Dia bilang: ‘Sia-sia saja kau dipanggil Tiap-kok Ie-sian, sebab aku menduga di antara lima belas macam luka ini tak ada satu pun yang sanggup kau sembuhkan’. Ha-ha-ha! Ternyata benar. Sekarang kau menyembunyikan diri, kau berpura-pura sakit!”
Bu Kie berpaling. Ia mengenali si orang tua berkepala pelontos Seng-ciu Ka-lam Kan Ciat dari Khong-tong-pay. Tadinya ia menyangka rambut orang rontok wajar, tapi kemudian ia tahu bahwa rambut itu rontok karena kepala si gundul pernah dilabur obat yang sifatnya keras oleh si pemilik bunga emas atau Kim-hoa hingga rambutnya habis. Bahkan sisa obat beracun menempel dan menembus kulit sehingga selanjutnya kepala itu menjadi gatal terus-terusan dan timbul kekuatiran bahwa selewatnya beberapa hari racun jahat itu akan menyerang polo atau otak sehingga orang dapat menjadi gila. Sekarang pun kedua tangannya dirantai oleh kawan-kawannya supaya tidak dapat menggaruk, bila tidak, tidak akan dapat melawan rasa gatalnya itu. Atas kata-kata jago Khong-tong-pay itu, Ouw Ceng Gu menjawab dengan tawar,
“Bagiku, aku bisa menyembuhkan syukur, tidak dapat pun tak mengapa. Ringkasnya, aku tak mau mengobati kau! Kulihat kau masih dapat hidup sampai tujuh atau delapan hari lagi, karena itu baiklah kau lekas-lekas pulang menemui isteri dan anak-anakmu,! Apa perlunya kau banyak omong di sini? Apakah gunanya itu?”
Kan Ciat menggoyang-goyangkan kepalanya. Apa bila ia mendongkol, berduka dan kuatir, rasa gatalnya menyerang hebat sekali. Karena ia tidak bisa menggaruk, ia membenturkan kepalanya berulang-ulang pada tembok, sedang kedua tangannya yang digerak-gerakkan, mendatangkan suara berkelontrangan yang sangat berisik. Dan terdengar jelas napasnya yang memburu.
“Ouw-sinshe, orang yang menggunakan bunga emas itu, siang atau malam bakal datang kemari!” Ia berkata dengan sengit. “Aku juga sudah melihat bahwa kau pun tidak bakalan mati secara baik, sebab itu aku pikir lebih baik kita bergabung dan bekerja sama melawan dia. Bukankah lebih baik begitu dari pada kau menanti kematianmu dengan tak berdaya?”
“Jikalau kalian semua masih dapat melawan dia, tentu siang-siang kalian telah membunuh mampus padanya,” kata Ouw Ceng Gu “Apa perlunya aku mendapat lima belas kantong nasi yang tidak mempunyai guna?”
Kan Ciat menjadi putus asa. Dari omong keras dia jadi merendah, memohon pertolongan tabib pandai itu. Tapi Ouw Ceng Gu sudah bertekad dengan keputusannya bahwa dia tak mau ambil peduli. Akhirnya Kan Ciat menjadi marah hingga dia berjingkrakan.
“Baiklah!” serunya saking nekatnya. “Ke kiri dan ke kanan toh bakal mampus, maka kalau betul-betul mesti mampus, baiklah, aku akan menggunakan api untuk membakar kandang anjingmu ini. Kami yang biasa memasukkan golok putih bersih dan mengeluarkan golok berdarah merah, biar kami membikin kau terjungkal, pendeta bangsat! Biarlah kita sama-sama mengantarkan jiwa kita di tempat ini!”
Pada saat itu dari luar masuk lagi seorang lainnya, yaitu orang yang ditolong Bu Kie waktu mau muntahkan darah. Melihat kekalapan Kan Ciat ia meraba pinggang dan mengeluarkan sebatang Go-bi Kong-cek (senjata semacam pusut/ jarum). Sambil menotol dada Kan Ciat dengan pusutnya, ia berkata,
“Kau berdosa terhadap Ouw-cianpwe, dan aku she Sie merasa tak enak sekali. Kau ingin masuk pisau putih yang keluar pisau merah? Baiklah! Aku akan mengiringi keinginanmu.”
Sebenarnya ilmu silat Kan Ciat lebih tinggi dari pada si orang she Sie. Tapi karena kedua tangannya diikat rantai besi, maka ia tak melawan dan hanya mengawasi dengan mata terbelalak.
“Ouw-cianpwe,” si orang she Sie berkata dengan suara nyaring, “Boanpwe Sie Kong Wan murid Sian-ie Sian-seng dari Hoa-san memberi hormat.“ Seraya berkata demikian ia pun menekuk lutut dan manggutkan kepala empat kali.
Melihat itu, dalam hati Kan Ciat lantas timbul sedikit harapan. Ouw Ceng Gu yang tidak dapat dipaksa dengan kekerasan, mungkin dapat dihadapi dengan kelembutan. Sesudah menjalankan peradatan besar, Sie Kong Wan berkata lagi,
“Kami benar-benar bernasib sial, karena Ouw-sinshe justru sakit pada waktu kami memerlukan pertolongan. Tapi kami tahu bahwa di sini ada saudara kecil yang mempunyai kepandaian tinggi dalam ilmu pengobatan. Maka itu kami mohon Ouw-cianpwe suka memberi permisi agar saudara kecil itu dapat mengobati luka kami yang sangat luar biasa. Di kolong langit, kecuali murid Tiap-kok le-sian tiada orang lain yang dapat menyembuhkan luka kami.”
“Anak ini bernama Thio Bu Kie,” si tabib malaikat berkata dengan suara tawar. “Dia putera Thio Cui San. Aku Ouw Ceng Gu manusia jahat dari agama siluman tidak punya sangkut paut dengan murid dari partai yang lurus bersih. Dia sendiri kena racun dingin dan minta pertolonganku, tetapi aku sudah bersumpah bahwa kecuali anggota Beng-kauw, aku tidak mau menolong orang. Anak she Thio itu tak sudi menjadi anggota agama kami, mana bisa aku menolongnya?”
Hati Sie Kong Wan mencelos. Semula dia menduga bahwa Bu Kie adalah murid Tiap-kok Ie-sian. Sesudah berdiam sejenak, si tabib berkata lagi.
“Mengapa kalian tidak mau pergi dari situ? Huh! Huh! Apa kalian sangka aku akan merasa kasihan? Tanyakanlah anak itu. Tanyalah dia sudah berapa lama dia diam di rumahku.”
Sie Kong Wan dan Kan Ciat lantas mengawasi Bu Kie yang lalu mengacungkan dua jari tangannya.
“Dua puluh hari?” tanya Sie Kong Wan.
“Tepat dua tahun dua bulan,” jawabnya.
Kan Ciat dan Sie Kong Wan merasa kepalanya seperti disiram air es. Mereka saling mengawasi dengan mulut ternganga.
“Biar pun dia di sini sepuluh tahun lagi, aku tetap tidak menolongnya,” kata Ceng Gu, “Hanya sayang, dalam waktu satu tahun ini racun dingin yang mengeram dalam isi perutnya akan mengamuk sehingga biar bagaimana pun juga dia tidak bisa hidup setahun lagi. Aku pernah bersumpah di hadapan leluhur agama kami, bahwa biar pun ayah sendiri, biar pun anak kandungku sendiri, aku tetap tak akan menolong jika dia bukan murid Beng-kauw.”
Dengan putus harapan Kan Cat dan Sie Kong Wan menghela napas berulang-ulang. Tapi baru saja mereka mau keluar, mendadak Ouw Ceng Gu berkata,
“Bocah Bu-tong-pay ini mengerti sedikit ilmu pengobatan. Meski pun ilmu pengobatan Bu-tong tidak dapat menandingi ilmu ketabiban Beng-kauw, kurasa dia tidak akan membinasakan kalian dengan pengobatan yang keliru. Apa dia suka monolong atau tidak, itu bukan urusanku.”
Sie Kong Wan agak terkelut. Kalau didengar dari suaranya, si tabib malaikat memberi isyarat supaya Bu Kie memberikan pertolongan. Maka itu dia lantas berkata,
“Jika Thio Siauw-hiap sudi menolong, kami punya harapan lagi untuk bisa hidup terus.”
“Bukan urusanku!” bentak Ceng Gu. “Bu Kie kau dengarlah. Aku melarang kau mengobati mereka di rumahku. Kalau kalian tidak berada di dalam rumah ini, aku tak peduli.”
Kan Ciat dan Sie Kong Wan kaget dan heran. Mereka sungguh tak mengerti apa maksud si tabib malaikat yang beradat aneh ini. Namun Bu Kie yang sangat pintar lantas tahu apa maunya Ceng Gu.
“Kalian jangan mengganggu Ouw-sinshe yang sedang sakit,” katanya. “Ikutlah aku.” Mereka lalu mengikuti Bu Kie ke ruang depan. “Pengetahuanku tentang ilmu ketabiban sangatlah cetek, sedangkan luka kalian sangat luar biasa,” kata si bocah. “Karena itu aku tidak mempunyai pegangan apakah aku akan berhasil atau tidak. Kalau kalian percaya dan rela diobati olehku, maka bolehlah aku mencoba-coba. Tapi aku tidak bertanggung jawab akan keselamatan jiwa kalian.”
Pada saat itu mereka sedang menderita hebat. Rasa sakit, gatal, meriang dan kesemutan tercampur menjadi satu. Mereka mau mati tidak bisa mau hidup pun tak dapat. Maka itu, begitu mendengar kata-kata Bu Kie, mereka segera menyetujui untuk menerima pertolongan bocah itu dengan rela hati. Sesudah mendapat jawaban Bu Kie lantas berkata lagi,
“Sebagaimana kalian tahu, Ouw-sinshe tidak mengijinkan aku mengobati kalian di rumahnya. Ia kuatir kalau kalian mati di sini maka nama harumnya sebagai Ie-sian (Tabib Malaikat) akan ternoda. Karena itu marilah kita keluar.”
Mendengar perkataan Bu Kie, mereka menjadi sangsi. Apakah kepandaiannya seorang anak-anak yang baru berusia belasan tahun? Kalau dia salah mengobati tentu penderitaan akan ditambah dengan penderitaan lain. Tapi Kan Ciat sudah berteriak.
“Kulit kepalaku gatal bukan main. Saudara kecil, kau boleh mengobati aku lebih dulu.” Sehabis berkata begitu dia segera bertindak keluar.
Bu Kie berpikir sejenak kemudian masuk ke kamar obat di mana ia mengambil Lam-seng, Hong-hong, Pek-tit, Thiam-ma, Kiang-ho, Pek-hu-cu, Cie-souw dan sebagainya, semuanya belasan macam bahan obat. Setelah itu ia memerintahkan seorang kacung menggilingnya dan mencampurnya dengan sedikit arak untuk membuat koyo yang lalu ditempelkan pada kepala Kan Ciat yang gundul. Begitu koyo menempel, dia langsung mengeluarkan teriakan kesakitan sambil melompat-lompat.
“Aduh...! Aduh...!” teriaknya. “Sakit sekali... tapi... tapi... masih mending dari pada gatal.“
Sambil menggertak gigi dia berlari-lari dan berteriak-teriak seperti orang edan. Beberapa lama kemudian kecepatan larinya lebih perlahan dan teriakannya mulai mereda.
“Enakan... mendingan...“ katanya dengan napas tersengal-sengal. “Bocah ini punya kepandaian lumayan... ehh, salah! Thio Siauw-hiap, kau memiliki ilmu sangat tinggi dan aku merasa sangat berterima kasih sekali padamu!”
Melihat hasil itu, semua orang segera mohon pertolongan Bu Kie. Di antara mereka yang paling menderita adalah orang yang terus bergulingan di tanah sambil mencekal perut. Ternyata dia telah dipaksa menelan tiga puluh ekor lebih lintah hidup yang sekarang menghisap darahnya di dalam perut. Untung Bu Kie teringat dalam salah satu kitab dia pernah membaca lintah dalam perut harus ditaklukkan dengan madu.
Buru-buru ia memerintahkan seorang kacung mengambil semangkok madu yang lalu diberikan kepada orang itu. Dan sekali lagi ia berhasil. Dengan demikian ia terus bekerja keras hingga fajar menyingsing. Tidak lama kemudian Kie Siauw Hu dan puterinya keluar dari kamar. Melihat Bu Kie masih repot mengobati orang, Siauw Hu segera memberi bantuan apa yang ia bisa. Belasan orang ini sesungguhnya jago-jago yang malang-melintang di dunia Kangouw, tapi sekarang mereka jadi jinak sekali. Dengan sabar mereka menunggu giliran dan tidak berani membantah apa yang dikatakan si bocah.
Di antara mereka hanya Yo Put Hwie yang bebas dari rasa jengkel atau bingung. Sambil mengunyah buah angco dia berlari-larian kian kemari untuk menangkapi kupu-kupu yang berterbangan di dalam kebun.
Sesudah lewat tengah hari barulah Bu Kie mulai mengobati luka-luka luar. Dengan dibantu Siauw Hu dia menghentikan keluarnya darah, memberi obat untuk meredakan rasa sakit, membalut luka dan sebagainya. Sesudah selesai Bu Kie segera pergi mengaso di kamarnya. Baru saja pulas beberapa jam, dia disadarkan suara ribut ribut. Buru-buru dia bangun dan pergi keluar untuk menengok para penderita. Ternyata keadaan sebagian penderita cukup memuaskan, tetapi keadaan yang sebagian lagi berbalik menghebat. Bu Kie jadi bingung, dia tak tahu apa yang harus diperbuat. Karena tak berdaya lagi, akhirnya dia terpaksa menemui Ouw Ceng Gu dan menceritakan keadaan mereka.
“Mereka bukan anggota Beng-kauw, peduli apa kalau mereka mampus,” kata Tiap-kok Ie-sian dengan suara tawar.
Mendadak Bu Kie mendapat ingatan dan dia lantas berkata, “Andai kata ada seorang murid Beng-kauw yang di luar badannya tidak terdapat luka, sedangkan perutnya kembung bengkak, warna kulitnya hitam biru dan terus menerus dalam keadaan pingsan, cara bagaimana Sinshe akan mengobatinya?”
“Kalau benar dia murid Beng-kauw, aku akan mengobatinya dengan menggunakan San-ka, Liong-bwee, Ang-hoa, Seng-tee, Leng-sian, To-ouw ” kata Ceng Gu. “Obat-obatan itu aku masak dengan arak encer sambil menambahkannya dengan sedikit To-pian. Sesudah minum godokan tersebut si sakit akan buang-buang air dan mengeluarkan darah beracun dari kotorannya.”
“Ouw-sinshe apa yang akan kau perbuat jika kuping kiri seorang murid Beng-kauw dituangi timah cair, kuping kanan dituangi dengan air perak (air raksa) dan kedua matanya dilabur dengan cat sehingga dia menderita kesakitan hebat dan matanya tidak bisa melihat lagi?” tanya pula si bocah.
Ouw Ceng Gu naik darah. “Siapa yang berani berlaku begitu kejam terhadap murid Beng-kauw?!” bentaknya.
“Musuhnya itu memang kejam luar biasa,” kata Bu Kie. “Tapi menurut pendapatku, yang paling perlu adalah mengobati lebih dulu kemudian barulah kita menanyakan siapa adanya musuh itu.”
Sesudah berpikir sejenak Tiap-kok Ie-sian berkata: “Kalau dia memang murid Beng-kauw, aku akan menuang air perak ke dalam kuping kirinya. Timah akan lumer dan bercampur dengan air perak sehingga cairan itu akan mengalir ke luar. Kemudian aku akan memasukkan jarum emas ke dalam kuping kanannya. Air perak akan menempel di jarum itu yang dengan perlahan dapat ditarik keluar. Mengenai cat yang masuk di kedua matanya, kurasa akan dapat dipunahkan dengan kepiting yang ditumbuk hancur kemudian dibalutkan pada matanya.”
Demikianlah, untuk setiap luka yang aneh Bu Kie minta pertolongan Ouw Ceng Gu dengan menggunakan nama ‘murid Beng-kauw’ dan sang tabib pun akan memberikan bantuannya dengan segala senang hati. Kalau lukanya terlampau aneh dan si penderita tidak menjadi mendingan dengan pertolongan pertama, Bu Kie segera menanyakan lagi pendapat Tiap-kok Ie-sian yang lalu mengasah otak dan mencoba lagi dengan cara pengobatan lainnya. Sesudah berselang lima enam hari, semua orang dapat dikatakan mulai sembuh seluruhnya.
Luka yang diderita Kie Siauw Hu adalah luka dalam, tercampur racun. Tenaga pukulan musuh melukai perutnya, sementara itu racun pun sudah masuk ke dalam tubuhnya. Sesudah memeriksa dengan teliti, Bu Kie segera memberi obat pemunah racun kepadanya dan selang beberapa hari, keadaannya jauh lebih baik. Sementara itu para penderita sudah mendirikan sebuah gubuk di depan rumah Ouw Ceng Gu dan mereka tidur menggeletak di atas tanah yang hanya dialasi rumput kering. Beberapa tombak dari gubuk itu, Kie Siauw Hu juga membuat sebuah gubuk yang lebih kecil untuk dia dan puterinya. Bu Kie sangat capai dan lelah. Tapi ia gembira dan bersemangat sekali karena bukan saja ia menolong sesama manusia, tapi juga sudah memperoleh resep-resep mujijat dan cara-cara pengobatan yang luar biasa dari Tiap-kok Ie-sian.
Tapi pagi itu ia kaget bukan main karena waktu bertemu dengan Kie Siauw Hu, ia melihat sinar hitam pada alis nona Kie. Apakah penyakitnya kumat lagi? Apa racun itu mengamuk lagi? Cepat-cepat ia memeriksa nadi Siauw Hu. Sesudah itu ia mencampur ludah Siauw Hu dengan bubuk obat Pek-hap-san dan begitu lekas melihat campuran itu, ia bisa memberi kepastian bahwa memang benar racun mengamuk lagi. Ia mengasah otak mati-matian, akan tetapi tetap tidak bisa memecahkan sebab musabab dari perubahan itu. Karena itu ia segera meminta pertolongan Ouw Ceng Gu yang lantas memberi-tahu cara pengobatan lain kepadanya. Benar saja, sesudah diobati menurut petunjuk baru itu, keadaan Siauw Hu menjadi lebih baik.
Tetapi sungguh heran, sehabis Siauw Hu perubahan luar biasa mendadak datang kepada diri Kan Ciat. Kepala gundulnya yang sudah mulai sembuh mendadak borokan lagi dan mengeluarkan bau yang tak sedap. Perubahan itu terjadi silih berganti atas diri kelima belas orang itu, yang satu mendingan, yang lain menghebat lagi penyakitnya! Bu Kie bingung bukan main. Ia pergi menemui Tiap-kok Ie-sian dan menuturkan kejadian yang luar biasa itu.
“Sebab musabab dari perubahan itu adalah karena luka mereka betul-betul aneh, berbeda dengan luka biasa,” menerangkan sang tabib malaikat. “Kalau mereka dapat disembuhkan oleh tabib biasa maka mereka tak perlu datang kemari.”
Malam itu Bu Kie tak dapat pulas. Ia berduka dan mencoba memecahkan teka-teki yang rumit.
“Perubahan penyakit itu adalah kejadian biasa,” pikirnya. “Tapi walau pun begitu tidak bisa jadi semua penderita itu mengalami perubahan hingga berkali-kali, sebentar baik sebentar hebat,” Ia gelisah dan gulang-guling di atas pembaringan.
Kira-kira tengah maiam, tiba-tiba ia mendengar suara tindakan kaki yang amat enteng dan lewat di depan kamarnya. Ia melompat bangun dan mengintip dari celah-celah jendela. Ia melihat berkelebatnya bayangan manusia yang segera menghilang di belakang pohon kuil. Jika dilihat dari pakaian dan gerak-geriknya, orang itu bukan lain dari pada Ouw Ceng Gu.
“Eh-ehh...! Mengapa Ouw Sinshe berkeliaran di tengah malam buta?” tanyanya dalam hati. “Apa cacarnya sudah sembuh?”
Tak lama kemudian Bu Kie melihat Tiap-kok Ie-sian masuk ke dalam gubuk Kie Siauw Hu. Jantungnya berdebar keras dan jiwa ksatrianya tampil ke muka.
“Apakah dia mau menganiaya atau menghina Kie-kouwkouw?” tanyanya pada diri sendiri. “Meski pun aku bukan tandingannya, tak dapat aku mengawasi dengan berpeluk tangan.” Ia melompat keluar jendela dan berindap indap mendekatii gubuk Kie Siauw Hu.
Gubuk tersebut terbuat dari alang-alang hanya untuk menedeng angin dan embun, di dalamnya kosong melompong, tiada sekosol, tiada aling-aling apa pun juga. Dengan hati bergoncang Bu Kie mengintip dari belakang gubuk. Ia melihat sang bibi bersama puterinya sedang pulas nyenyak di atas setumpuk rumput-rumput kering. Sekonyong-konyong Ouw Ceng Gu merogoh saku dan mengeluarkan sebutir pil yang lalu dicemplungkan ke dalam mangkok obat Siauw Hu. Setelah itu ia memutar tubuh dan terus berjalan keluar. Sekelebatan Bu Kie melihat bahwa muka orang tua itu masih ditutup dengan topeng kain hijau. Bu Kie mengeluarkan keringat dingin. Baru sekarang dia tahu bahwa ternyata Ouw Ceng Gu-lah yang sudah menaruh racun sehingga para penderita tidak bisa sembuh.
Sesudah keluar dari gubuk Kie Siauw Hu, Ceng Gu masuk ke gubuk lain di mana dia berdiam agak lama. Bu Kie mengerti bahwa untuk meracuni keempat belas orang dengan racun yang berbeda-beda, si tua memerlukan waktu yang lebih banyak. Pada lain saat si bocah sudah masuk ke gubuk dan mencium mangkok obat Siauw Hu. Di dalam mangkok terisi godokan Pat sian-thung dan ia telah berpesan supaya begitu bangun tidur, Kouwkouw segera minum obat itu. Tapi sekarang godokan itu mengeluarkan bau-bauan yang menusuk hidung. Sekonyong-konyong terdengar langkah kaki. Buru-buru Bu Kie merebahkan diri di atas tanah. Ia tahu bahwa Ouw Ceng Gu sudah kembali ke kamar tidurnya. Sesudah menunggu beberapa lama, dia segera menaruh mangkuk obat itu di luar gubuk.
“Kie-kouwkouw! Kie-kouwkouw!” ia memanggil-manggil dengan suara perlahan.
Sebagai seorang ahli silat, pantasnya Siauw Hu mudah tersadar. Tapi sesudah si bocah memanggil berulang-ulang, ia masih pulas. Karena terpaksa Bu Kie lantas masuk kemudian menggoyang-goyang badan bibinya berulang kali. Dengan kaget Siauw Hu tersadar.
“Siapa?” tanyanya.
“Kouwkouw, aku... ” bisiknya. “Mari kita keluar.”
Siauw Hu mengerti bahwa kedatangan Bu Kie di tengah malam tentu disebabkan kejadian penting. Perlahan-lahan ia menarik lengannya yang ditandalkan di bawah kepala puterinya kemudian keluar dari gubuk bersama-sama si bocah.
“Kie-kouwkouw,” bisik Bu Kie, “ada orang yang menaruh racun di mangkok obatmu. Buanglah obat itu, tetapi jagalah jangan sampai diketahui orang. Besok aku akan memberi penjelasan kepadamu.”
Siauw Hu manggutkan kepala dan Bu Kie segera kembali ke kamarnya. Karena kuatir ketahuan, dia masuk dengan melompati jendela. Pada keesokan paginya, setelah sarapan Bu Kie mengajak Yo Put Hwie pergi menangkap kupu-kupu. Mereka berlari-larian, makin lama makin jauh dari rumah Ouw Ceng Gu. Siauw Hu yang mengerti maksud si bocah, lantas mengikuti dari belakang. Selama beberapa hari Bu Kie sering bermain-main dengan si nona cilik sehingga perginya ketiga orang itu sama sekali tak menimbulkan kecurigaan. Sesudah kurang lebih satu lie, tibalah mereka di sebuah tanjakan gunung. Bu Kie menghentikan langkahnya dan segera duduk di atas rumput, sedangkan Siauw Hu segera berkata kepada puterinya,
“Put-jie sekarang jangan menguber kupu-kupu lagi. Pergi petik bunga-bunga dan buatlah tiga buah topi bunga untuk kita bertiga.”
Si nona kecil menjadi girang sekali dan sambil tertawa nyaring ia berlari-lari untuk mencari bunga.
“Kouwkouw,” Bu Kie mulai, “apakah kau punya permusuhan dengan Ouw Ceng Gu? Dialah yang menaruh racun ke dalam mangkok obatmu.”
Siauw Hu terkejut sekali. “Aku belum pernah mengenal Ouw Ceng Gu dan hingga hari ini aku belum pernah bertemu muka dengannya,” jawabnya. Ia berdiam sejenak seperti orang sedang berpikir, kemudian berkata lagi, “Tiap kali bicara mengenai Ouw-sinshe, Thia-thia (ayah) dan Suhu selalu mengatakan bahwa dia adalah seorang tabib nomor satu di dunia pada jaman ini. Tetapi mereka pun tidak mengenal Ouw-sinshe. Aku sungguh tidak mengerti mengapa Ouw-sinshe mencoba mencelakakan aku.”
Si bocah lantas menuturkan kejadian tadi malam dan menambahkan. “Di dalam godokan Pat-sian-thung itu aku mengendus bau rumput Pat-sian-co dan Touw-kut-kun yang sangat tajam. Kedua daun obat itu memang dapat mengobati luka, tetapi racunnya sangat hebat dan tidak boleh digunakan terlalu banyak. Selain itu sifat kedua daun obat tersebut juga bertentangan dengan delapan macam obat yang terdapat dalam Pat sian-thung. Maka itu biar pun tidak membahayakan jiwa, luka Kouwkouw semakin sukar disembuhkan.”
Siauw Hu tersenyum. “Kau mengatakan bahwa Ouw-sinshe juga meracuni empat belas penderita yang lain,” katanya. “Hal ini lebih mengherankan lagi. Terhadap aku, kita dapat mengandaikan saja bahwa secara tak sengaja ayah atau Go-bi-pay pernah menyinggung Ouw-sinshe. Tapi bagaimana terhadap yang lainnya? Apa mungkin keempat belas orang itu semuanya berdosa terhadap Ouw-sinshe?”
Bu Kie mengangguk. “Memang! Memang amat mengherankan,” katanya sambil menghela napas. “Kie-kouwkouw, selat Ouw-tiap-kok adalah tempat yang terpencil dan tidak banyak diketahui orang. Bagaimana kau dan yang lain-lainnya bisa datang kemari? Siapa adanya Kim-hoa Cu-jin (Majikan Bunga Emas) yang sudah melukai kau? Urusan ini sebenarnya tiada sangkut pautnya dengan aku dan menurut pantas, sebenarnya aku tidak boleh bertanya macam-macam. Akan tetapi karena persoalan ini berbelit-belit, maka aku harap kau tidak menjadi kecil hati.”
Paras muka Siauw Hu lantas berubah merah. Ia mengerti maksud si bocah yang rupanya kuatir kalau pertanyaan itu akan menyentuh persoalan puterinya. Persoalan mengapa sebelum menikah ia sudah memiliki anak. Sesudah berpikir sejenak, ia berkata dengan suara parau,
“Kau sudah menolong jiwaku, maka tak dapat aku menyembunyikan sesuatu terhadapmu. Di samping itu, meski pun masih kanak-kanak kau memperlakukan aku dan Put-jie luar biasa baiknya. Baiklah, aku akan menceritakan segala penderitaanku kepadamu, satu-satunya orang di dunia yang boleh mendengar rahasiaku.” Sehabis berkata begitu, air matanya mengucur. Ia mengambil sapu tangan dan sesudah menyusut air mata kemudian berkata,
“Semenjak aku bentrok dengan kakak seperguruan dua tahun lebih yang lalu, aku tak berani menemui Suhu lagi... aku tak berani pulang...”
“Hmm! Teng Bin Kun...! Kouwkouw, kau tidak usah takut,” kata Bu Kie.
“Bagaimana kau tahu?” tanya Siauw Hu dengan rasa terkejut dan heran.
Bu Kie segera memberi-tahu bahwa pada malam itu, bersama Siang Gie Cun dia telah menyaksikan peristiwa menolong Pheng Hwesio. Siauw Hu menghela napas.
“Memang... rahasia tak mungkin ditutupi,” katanya.
“Kouwkouw, kau tak usah terlalu berduka,“ kata Bu Kie, “In Liok-siok adalah orang baik. Kalau kau tidak suka menikah dengannya, urusan itu bukan urusan yang terlampau besar. Begini saja, kalau bertemu dengan Liok-siok, aku akan memberi-tahu dia bahwa kau tidak suka menikah dan dia merdeka untuk mencari isteri lain!”
Mendengar perkataan yang polos dan jujur itu, yang keluar dari otak sederhana, Siauw Hu tertawa getir.
“Anak,” katanya dengan suara gemetar. “Percayalah bahwa aku bukan sengaja berbuat dosa terhadap pamanmu. Waktu itu aku... aku... tidak punya jalan lain... dan aku pun menyesal sekali...“ Ia tidak meneruskan ucapannya dan air mata kembali mengucur.
Ia mengawasi si bocah dan berkata dalam hati, “Anak ini masih suci bersih, bagaikan selembar kertas putih. Ahh... Lebih baik aku tidak menceriterakan segala hal percintaan kepadanya. Lagi pula urusan pribadi ini tiada sangkut pautnya dengan dia.“ Berpikir demikian ia lantas berkata,
“Sesudah cekcok dengan Teng-suci, dengan membawa Put-jie aku bertani dan hidup mengasingkan diri di tempat yang terpisah kira-kira tiga ratus lie di sebelah barat Ouw-tiap-kok ini. Selama dua tahun lebih hanya bergaul dengan kaum petani dan aku dapat melewati hari tanpa banyak pikiran. Setengah bulan yang lalu aku mengajak Put-jie ke kota untuk membeli kain guna pakaian anakku. Di luar dugaan, di atas sebuah tembok, secara kebetulan aku melihat gambar lingkaran Hud-kong (lingkaran sinar Buddha yang suci) dan sebatang pedang.
Itu adalah tanda rahasia memanggil kawan dari partai Go-bi-pay. Aku bingung dan sangsi. Sesudah menimbang-nimbang, aku anggap bahwa meski pun aku sudah bentrok dengan Teng-suci, tetapi aku belum pernah melakukan perbuatan yang menghina guru atau mengkhianati partai. Selain itu bentrokan tersebut juga tak ada sangkut pautnya dengan Suhu dan saudara seperguruan lainnya. Tanda itu mungkin diberikan oleh salah seorang saudara seperguruanku yang sedang menghadapi bahaya besar dan kalau benar begitu, aku tidak pantas berpeluk tangan. Demikianlah, dengan menuruti petunjuk tanda rahasia itu, aku pergi ke Hong Yang.
Di kota Hong Yang aku kembali melihat tanda itu yang memberi petunjuk supaya kawan-kawan datang di rumah makan Lim-hway-kok. Karena sudah terlanjur datang, aku segera menyusul ke situ. Ternyata di rumah makan sudah berkumpul tujuh delapan orang, di antaranya terdapat Seng-ciu Ka-lam Kan Ciat dari Khong-tong-pay, Sie Kong Wan dari Hoa-san-pay dan lain-lain. Anggota Go-bi-pay hanya aku seorang. Aku mengenal Kan Ciat dan Sie Kong Wan, maka aku menanyakan sebab musabab dari berkumpulnya mereka di rumah makan itu. Mereka memberi-tahu bahwa mereka datang karena melihat tanda rahasia partainya, tetapi seperti juga aku mereka tidak tahu sebab musabab dari panggilan itu.
Sehari suntuk kami menunggu tapi tidak ada yang datang lagi. Pada keesokan harinya dengan beruntun datang beberapa orang lainnya, ada orang Sin-kun-bun, ada orang Siauw-lim-pay bagian selatan dan lain-lain. Mereka juga mengatakan bahwa kedatangannya adalah karena melihat tanda rahasia. Tidak ada satu pun di antara mereka yang punya urusan langsung. Semua orang heran dan curiga. Apa tidak bisa jadi kami semua tengah dipermainkan seorang musuh?
Ketika itu di loteng rumah makan berkumpul lima belas orang dari sembilan buah partai. Tanda rahasia setiap partai bukan saja berbeda satu dengan yang lain, tetapi juga sangat dirahasiakan sehingga kalau bukan murid partai yang bersangkutan, orang luar tidak mengerti arti tanda itu. Kalau seseorang ingin main gila, apakah ia bisa tahu tanda rahasia dari sembilan partai? Mengingat bahwa aku membawa Put-jie dan kalau bisa aku tak mau anak itu menghadapi bahaya, dan mengingat pula bahwa panggilan itu bukan lantaran saudara seperguruanku ada yang sedang menghadapi bencana besar, maka aku segera mengambil keputusan untuk pulang saja.
Tapi baru saja aku mau turun tangga, tiba-tiba di tangga terdengar suara keras, seperti juga undakan tangga dipukul orang dengan menggunakan toya. Suara itu disusul dengan suara batuk-batuk dan seorang nenek yang rambutnya sudah putih semua, mendaki undakan tangga. Dia naik setindak demi setindak sambil batuk-batuk dan kelihatannya lelah sekali. Di sampingnya ada seorang nona kecil yang berusia kira-kira dua belas tahun yang memapah si nenek.
Melihat nenek yang usianya sudah begitu tinggi dan juga kelihatannya sedang sakit, aku segera minggir agar dia dapat naik lebih dulu. Nona kecil itu ternyata cantik sekali, meski pun usianya masih sangat muda akan tetapi belum pernah aku melihat wanita yang seayu dia sehingga tanpa merasa aku memandangnya beberapa kali. Tangan kanan nenek itu memegang sebatang tongkat dari kayu Pek-bok dan dari pakaiannya, dia kelihatan seperti seorang wanita miskin. Sedangkan tangan kirinya memegang serenceng biji tasbih yang mengeluarkan sinar kuning berkilauan. Ketika aku memperhatikan, rencengan itu ternyata bukan biji biji tasbih, melainkan bunga bunga bwee yang terbuat dari emas tulen...”
“Aha!” memutus Bu Kie. “Perempuan tua itu tidak bisa lain dari pada majikan Kim-hoa.”
“Benar. Tapi pada waktu itu, siapakah yang bisa menduga jelek padanya?” kata Siauw Hu. Sehabis berkata begitu dia merogoh saku dan mengeluarkan sekuntum bunga bwee emas yang menyerupai Kim-hoa yang oleh Bu Kie pernah diserahkan kepada Ceng Gu.
Si bocah tertegun. Tadinya ia menduga bahwa Kim-hoa Cu-jin adalah saorang lelaki yang tubuhnya tinggi besar dan mukanya menakutkan. Tidak dinyana majikan bunga emas itu hanyalah seorang nenek tua.
“Sesudah berada di atas loteng, nenek itu kembali batuk-batuk,” Siauw Hu melanjutkan penuturannya. “Si nona cilik berbisik: ‘Popo makan obat, ya?’ Si nenek mengangguk dan nona kecil itu mengeluarkan sebutir yo-wan dari dalam sebuah peles kristal. Sambil mengunyah yo-wan, nenek itu berkata. ‘Omitohud...! Omitohud...!’ Dengan mata separuh tertutup ia mengawasi kami, lantas berkata pula dengan suara perlahan: ‘Hmm... hanya lima belas orang. Coba tanya, apakah orang Kun-lun-pay dan Bu-tong-pay sudah pada datang semua?’. Kedatangan kedua wanita itu tidak terlalu diperhatikan oleh kami. Tetapi begitu si nenek berkata, beberapa orang yang kupingnya paling tajam segera menengok dan mengawasinya. Melihat nenek itu, hati mereka lega dan menganggap bahwa mereka salah dengar.”
“Tiba-tiba si nona cilik berkata dengan suara nyaring: ‘Hai! Popo-ku bertanya kepada kalian. Apakah orang-orang Kun-lun-pay dan Bu-tong-pay sudah pada datang semua?’. Semua orang terkejut, sejenak tak dapat mengeluarkan sepatah kata pun. Sesaat kemudian barulah Kan Ciat berkata: ‘Adik kecil, apa katamu?’. Nona kecil itu lalu menjawab: ‘Popoku bertanya, kenapa dia tidak melihat murid Bu-tong dan Kun-lun?’. Alis Kan Ciat berkerut, kemudian bertanya pula: ‘Siapa kalian?’. Nenek itu kembali batuk-batuk sambil terbungkuk-bungkuk. Mendadak... mendadak saja, aku merasa semacam angin menyambar dadaku, entah dari mana. Sambaran itu hebat bukan main, buru-buru aku mengibaskan tangan untuk menangkis. Mendadak aku merasa dadaku sesak, darahku bergolak, kedua lututku lemas, lalu aku jatuh duduk muntahkan darah.
Dalam keadaan setengah pingsan aku melihat badan si nenek bergerak-gerak. Ia meninju atau menggaplok seraya batuk-batuk tak hentinya. Dalam sekejap empat belas orang rebah di atas loteng. Kecepatan bergeraknya dan betapa hebat tenaganya tak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Seumur hidup belum pernah aku melihat manusia yang bisa bergerak begitu cepat dan mempunyai tenaga Iweekang yang demikian hebat. Di antara kami, satu jurus pun tidak ada yang mampu melawan. Kalau bukan tertotok jalan darah, isi perut terluka karena pukulan Iweekang.
Mendadak si nenek mengayun tangan kirinya dan lima belas bunga emas menyambar ke bahu atau tangan kelima belas orang. Kali ini dia tidak mencelakakan orang, sebab meski pun lima belas bunga emas itu mengenai tepat pada sasarannya, tiada seorang pun yang luka. Setelah itu dia memutar tubuh dan dengan dipapah si nona kecil, dia berkata: ‘Omitohud...! Omitohud...!’ Tanpa menengok lagi mereka turun ke bawah loteng. Beberapa saat kemudian kami mendengar suara totokan tongkat di tanah, diselang-seling dengan suara batuk-batuk.”
Bicara sampai di situ, tampak Yo Put Hwie datang dengan tangan mencekal sebuah karangan bunga yang merupakan topi.
Sambil tertawa ha-ha hi-hi, dia berkata. “Ibu, kau pakailah topi ini,” dengan sikap aleman dia menaruh topi bunga itu di kepala sang ibu.
Siauw Hu tertawa sambil manggut-manggut, kemudian melanjutkan penuturannya. “Kami semua rebah di atas papan tanpa bisa berkutik. Sebagian pingsan, sebagian bernapas tersengal-sengal dan sebagian lagi merintih perlahan...”
“Ibu,” potong Put Hwie. “Apakah kau sedang menceritakan perempuan jahat itu? Jangan! Aku takut.”
“Nak,” sang ibu berkata sambil tersenyum, “Pergilah kau memetik bunga lagi dan buatlah topi untuk kakak Bu Kie”
Put Hwie mengawasi Bu Kie. “Warna apa yang kau suka?” tanyanya.
“Merah dan campur sedikit dengan warna putih, lebih besar topinya lebih baik lagi,” jawab Bu Kie.
“Apakah sebesar ini?” tanya pula si nona sambil membuat sebuah lingkaran dengan kedua tangannya.
“Ya, sebesar itu,” jawabnya.
Put Hwie segera berlari-lari sambil bertepuk-tepuk tangan dan tertawa-tawa. “Kalau sudah jadi kau harus memakainya!” teriaknya.
“Beberapa lama kemudian dalam keadaan lupa-lupa ingat aku melihat belasan orang naik ke loteng,” Siauw Hu melanjutkan ceritanya. “Mereka adalah para pelayan, tukang masak dan pengurus rumah makan. Mereka menggotong kami ke dapur. Tak usah dikatakan lagi, Put-jie ketakutan setengah mati dan sambil menangis keras ia mengikuti orang-orang yang menggotong aku. Setibanya di dapur, si pengurus rumah makan lalu membaca tulisan di selembar kertas. Seraya menuding Kan Ciat, dia memerintah: ‘Labur koyo di kepalanya!’ Seorang pelayan segera membuka sebuah kotak koyo dan melebur isinya dikepala Kan Ciat.”
“Sesudah itu, sambil membaca dia menuding yang lainnya dan berkata: ‘Putuskan tangan kanannya dan tempelkan lengan itu di kaki kirinya!’ Siksaan itu dijalankan oleh dua orang pelayan. Waktu giliranku tiba, untung sekali aku tidak mendapat hukuman yang aneh. Aku hanya diperintah minum semangkok air yang rasanya manis. Aku mengerti bahwa air itu tentu mengandung racun, tetapi aku tidak berdaya.
Sesudah kami semua mendapat hukuman yang luar biasa, si pengurus rumah makan berkata: ‘Kalian semua sudah mendapat luka yang tidak mungkin disembuhkan lagi. Tak seorang pun di antara kalian yang bisa hidup sepuluh hari atau setengah bulan lagi. Tapi pemilik bunga emas mengatakan bahwa ia sama sekali tidak bermusuhan dengan kalian. Karena itu ia menaruh rasa belas kasihan dan membuka sebuah jalan hidup untuk kalian. Sekarang lekas-lekaslah kalian pergi ke Ouw-tiap-kok yang terletak di tepi telaga Lie-san-ouw dan mintalah pertolongan dari Ouw Ceng Gu yang bergelar Tiap-kok Ie-sian. Kalau dia sudi menotong, maka kalian semua ada harapan hidup, tetapi mana kala dia menolak, di dalam dunia tak ada orang yang bisa menolong kalian lagi. Tapi Ouw Ceng Gu memiliki julukan lain, yaitu Kian-sie Put-kiu. Kalau kalian tidak berusaha mati-matian, dia pasti tak akan mengulurkan tangan. Jika kamu bertemu dengan Ouw Ceng Gu, katakanlah bahwa tak lama lagi Kim-hoa Cu-jin aku akan mencari dia siang2 dan dia harus mempersiapkan penguburan mayatnya sendiri’. Setelah berkata begitu dia segera menyediakan kereta dan kuda-kuda, memberi petunjuk mengenai jalan yang harus kami ambil, kemudian mengusir kami.”
Bu Kie mendengarkan cerita itu dengan mata tidak berkedip. “Kie-kouwkouw,” katanya, “Jika dengar dari penuturanmu, pengurus Lim-hway-kok, tukang masak berikut pelayan-pelayannya, semua adalah kaki tangan perempuan jahat itu,”
“Aku pun menduga demikian,” kata Siauw Hu. “Si pengurus rumah makan memerintahkan agar siksaan itu dijalankan sesuai surat catatan yang kiranya ditinggalkan oleh perempuan kejam itu. Tetapi dalam peristiwa ini ada beberapa teka teki yang hingga sekarang masih belum bisa kupecahkan. Mengapa nenek itu melakukan perbuatan yang demikian kejam? Kalau dia mendendam sakit hati dan mau mengambil jiwa kami, dia dapat melakukannya dengan mudah sekali. Kalau dia hanya ingin menyiksa orang-orang dengan rupa-rupa jalan yang kejam, kenapa dia mengirim kami ke Ouw-sinshe? Dia mengatakan bahwa tak lama lagi dia akan mencari Ouw-sinshe untuk membalas sakit hati, Apakah siksaannya terhadap kami hanya untuk menjajal kepandaian Ouw-sinshe?”
Bu Kie menundukkan kepala. Setelah berpikir sejenak ia berkata. “Menurut katanya Siang Gie Cun Toako, Ouw-sinshe memiliki seorang musuh yang akan datang untuk membalas sakit hati. Musuh itulah Kim-hoa Cu-jin. Menurut pantas mestinya Ouw-sinshe mengobati kalian dengan sungguh hati, supaya kalian bisa membantu dia dalam menghadapi musuh berat itu. Sesuai dengan julukan Kian-sie Put-kiu, dia menolak untuk mengobati. Tetapi mengapa sesudah menolak dia memberi berbagai resep kepadaku dan mengajarkan aku bermacam-macam cara pengobatan untuk menolong kalian? Resep obat itu manjur sekali. Tapi kenapa di tengah malam buta dia menggerayang dan memberi racun kepada kalian? Ahh! Sikap Ouw-sinshe sungguh aneh. Di dalam peristiwa ini muncul banyak cangkriman (teka-teki) yang tak akan bisa ditembus olehku.”
Lama sekali mereka berunding, tapi mereka tak juga dapat menebak artinya banyak teka-teki itu. Tidak lama kemudian Put Hwie kembali dengan sebuah topi bunga yang lalu ditaruhnya di atas kepala Bu Kie, kemudian pergi lagi untuk membuat topinya sendiri.
“Kie-kouwkouw,” kata pula Bu Kie. “Mulai sekarang kau tidak boleh minum apa pun juga, kecuali kalau obat itu kuberikan sendiri. Di waktu malam sebaiknya kau siap sedia dengan senjata untuk menjaga segala sesuatu yang tidak diinginkan. Sekarang kau masih belum boleh pulang karena aku masih perlu memberi obat untuk menyembuhkan luka di dalam badanmu. Begitu lukamu tidak berbahaya lagi, kau harus buru-buru pulang membawa Put Hwie.”
Siauw Hu mengangguk dengan rasa sangat berterima kasih. “Manusia she Ouw itu amat aneh dan hatinya sukar ditebak,” katanya, “Bu Kie, aku pun kuatir akan keselamatanmu kalau kau berdiam lama-lama di sini. Lebih baik kita menyingkir bersama-sama.”
Bu Kie yang keselamatannya dikuatirkan kalau berada lama-lama di lembah Ouw-tiap-kok lantas menyatakan kesediaannya ikut menyingkir dari lembah itu bersama-sama Kie Siauw Hu dan puterinya.
“Bu Kie,” kata Siauw Hu. “Kalau kau mau ikut, kita jalan bersama-sama. Aku sendiri akan segera pergi menemui Suhu di Go-bi-san. Kalau nasibku baik dan beliau tidak mendengar hasutan Suci-ku, masih ada sedikit harapan hidup untukmu karena beliau memang memiliki niat menurunkan semua kepandaiannya kepadaku, bahkan akan mengambil aku sebagai ahli warisnya. Mana kala niat itu dilaksanakan, tentu beliau akan menurunkan Go-bi Kiu-yang-kang kepadaku. Selanjutnya aku bisa ajarkan ilmu itu kepadamu. Dengan memiliki Go-bi Kiu-yang-kang, kau dapat menggabungkannya dengan Siauw-lim dan Bu-tong Kiu-yang-kang sehingga racun dingin Hian-beng Sin-ciang rasanya dengan gampang dapat terusir keluar dari badanmu. Tetapi, aihh..., sesudah aku melakukan perbuatan yang tidak pantas, mana aku ada muka bertemu lagi dengan Suhu? Mana bisa beliau mengangkat aku menjadi ahli warisnya lagi?”
Semula sang bibi berbicara dengan semangat berapi-api karena memikirkan penyakit yang diderita Bu Kie. Tetapi mana kala teringat olehnya akan dirinya yang telah ternoda, dia tampak bermuram durja.
Melihat paras sang bibi yang sangat berduka, Bu Kie segera menghibur, “Kie-kouwkouw, kau tak usah bersedih. Ouw-sinshe mengatakan bahwa paling lama aku hanya bisa hidup setahun lagi. Aku pun sering memeriksa keadaan badanku dan aku yakin bahwa apa yang dikatakan Ouw-sinshe bukan omong kosong. Andai kata gurumu mengajarkan Go-bi Kiu-yang-kang kepadamu, kurasa kau pun tak akan keburu menolong aku. Memang benar juga, jalan yang terbaik adalah kita menyingkir sekarang juga. Tapi dalam cara mengobati lukamu, masih ada beberapa bagian yang belum begitu jelas bagiku. Untuk itu aku masih perlu minta petunjuk kepada Ouw-sinshe.”
Siauw Hu tertawa dan bertanya: “Apa tak bisa ia sengaja memberi petunjuk yang salah? Kau tidak boleh lupa bahwa ia sudah berusaha untuk meracuniku.”
“Tidak, kurasa ia tak akan berbuat sedemikian,” Bu Kie membantah. “Sebegitu jauh, obat-obat atau cara mengobati yang diberikan oleh Ouw-sinshe sangat mustajab dan tepat. Di samping itu aku pun dapat membedakan kalau dia sengaja memberikan obat yang salah. Dan... inilah yang aku tidak mengerti!”
Put Hwie kembali dengan kepala memakai topi rangkaian bunga. Mereka bertiga sudah mempunyai topi, perundingan pun telah selesai, maka mereka lalu kembali ke rumah Ouw Ceng Gu. Malam itu Bu Kie tidak bisa pulas lagi. Kira-kira tengah malam Ouw Ceng Gu menggerayang lagi ke gubuk Siauw Hu, gubuk Kan Ciat dan kawan-kawannya untuk menaruh racun.
Tiga hari telah lewat tanpa terjadi sesuatu yang luar biasa. Karena tak pernah kena racun lagi, kesehatan Siauw Hu pulih dengan cepat. Keadaan Sie Kong Wan dan yang lain-lain masih tetap seperti biasa, sebentar mendingan dan sebentar hebat. Beberapa orang mulai mengeluh dan mengatakan bahwa kepandaian Bu Kie masih terlampau rendah, tapi si bocah tidak menggubris. Malam itu, sambil berbaring di pembaringan Bu Kie berkata dalam hatinya, “Setelah lewat malam ini, aku ikut Kie-kouwkouw menyingkirkan diri. Karena racun dalam tubuhku tidak bisa dipunahkan, lebih baik aku tidak pulang ke Bu-tong, supaya Thay-suhu dan paman-paman jangan bersusah hati. Aku akan pergi ke tempat yang sepi, kemudian mati dengan diam-diam.”
Mengingat bahwa ia akan segera meninggalkan Ouw-tiap-kok, hatinya terharu. Walau pun Ceng Gu beradat aneh, dia sudah memperlakukannya baik sekali dan selama kurang lebih dua tahun, orang tua itu sudah menurunkan banyak ilmu ketabiban kepadanya. Sesudah berkumpul begitu lama, di dalami hatinya bersemi rasa cinta terhadap orang tua itu. Maka itu perlahan-lahan dia bangun lalu pergi ke kamar si tabib malaikat dan menanyakan kesehatan orang tua itu dari luar kamar. Mendadak dia ingat bahwa Kim-hoa Cu-jin akan segera menyateroni. Apa Ouw-sinshe mampu melawan perempuan jahat itu? Dia merasa kasihan dan berkata,
“Ouw-sinshe, kau sudah demikian lama berdiam di Ouw-tiap-kok, apa kau tidak merasa sebal? Mengapa kau tidak mau pergi pelesir ke tempat lain?”
Ceng Gu terkejut. “Aku sedang sakit, mana bisa pergi ke tempat lain?” jawabnya.
“Sinshe dapat menggunakan kereta,” kata pula Bu Kie. “Dengan menutup jendela kereta dengan tirai supaya tidak masuk angin, kau bisa pergi ke mana pun juga”
Tiap-kok Ie-sian menghela napas panjang. “Anak, hatimu mulia sekali,” dia memuji. “Dunia sedemikian lebar, di mana pun sama saja. Bagaimana keadaanmu selama beberapa hari ini? Bagaimana dadamu? Apakah hawa dingin masih bergolak di tantian-mu?”
“Makin lama hawa itu semakin bertambah saja,” jawabnya. “Sudahlah! Biarkan saja. Toh aku tak bisa ditolong lagi.”
Untuk beberapa saat Ceng Gu tidak mengatakan apa-apa. Sejenak kemudian barulah berkata, “Anak, sekarang aku ingin memberi obat yang akan dapat menolong jiwamu. Gunakanlah Tong-kwie, Wan-cie, Seng-tee, Tok-ho dan Hong-hong, semua lima macam. Tengah malam minumlah obat itu cepat-cepat dengan menggunakan Coan-san-ka sebagai penuntun.”
Bu Kie kaget. Lima macam bahan obat itu sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan penyakit yang dideritanya. Bukan saja begitu, sifat kelima macam bahan obat itu malahan berbahaya untuk dirinya. Ditambah dengan Coan-san-ka, bahaya itu jadi makin besar.
“Sinshe, berapa timbangannya?” tanyanya dengan heran.
“Jangan rewel!” bentak Ceng Gu dengan marah. “Aku sudah memberi-tahu kau. Sudah cukup. Pergi!”
Si bocah gusar. Sejak berdiam di Ouw-tiap-kok, orang tua ini memperlakukannya dengan sopan-santun dan mereka sering kali merundingkan soal ketabiban sebagai sahabat. Tak dinyana hari ini Ceng Gu berlaku begitu kasar. Dengan mendongkol dia kembali ke kamarnya. Sambil bergolak-golek di pembaringan Bu Kie berkata di dalam hati, “Dengan baik hati aku menasihati supaya kau menyingkir, tapi aku berbalik dihina olehmu. Hm...! Kau juga mencoba memberi obat yang tidak-tidak kepadaku. Apa kau kira aku akan kena diakali?”.
Makin lama hatinya semakin panas. Ia tidak mengerti mengapa si tua begitu berani mati memberinya resep obat yang begitu gila-gilaan. Beberapa lama kemudian ia merasa lelah dan meramkan kedua matanya. Tiba-tiba saja, dalam keadaan layap-layap serupa ingatan berkelebat dalam otaknya.
“Ah! Tong-kwie, Wan-cie, resep tanpa diberi timbangan obatnya... Di dunia tak ada resep demikian. Aha! Apa tak bisa jadi Tong-kwie dimaksudkan kay-tong-kwie-kie? Mungkin!” (Tong-kwie adalah nama serupa obat. Tapi ‘Tong-kwie’ atau ‘kay-tong-kwie-kie’ dapat juga berarti ‘harus pulang’). Sesudah berpikir beberapa saat, tiba-tiba ia melompat bangun dan berkata dalam hatinya,
“Benar! Resep itu mengandung maksud lain. Dengan Wan-cie, rupanya ia ingin menyuruh aku ‘cie-cay-wan-hang’ (ingatan berada di tempat jauh) atau dengan perkataan lain ia ingin aku ‘ko-hui-wan-cuw’ (pergi ke tempat yang jauh). Ia menyebutnya Seng-tee (tanah hidup) dan Tok-ho (hidup sendirian). Mungkin sekali Seng-tee diartikan ‘Seng-louw’ (jalan hidup) dan sesudah mengambil jalan hidup barulah aku bisa ‘hidup sendirian’. Apa arti Hong-hong (menjawab angin)? Ouw-sinshe maksudkan supaya aku menutup rahasia, jangan sampai ‘membocorkan angin’.”
“Obat itu harus diminum cepat-cepat di waktu tengah malam buta dengan menggunakan Coan-san-ka sebagai penuntun. ‘Cepat-cepat’, ‘tengah malam buta’, ‘Coan-san-ka’, hm... apakah Ouw-sinshe maksudkan bahwa aku harus cepat-cepat kabur pada tengah malam buta dengan menembus jalan gunung dan tidak boleh mengambil jalan raya? Tidak salah! Tentu itulah maksud yang sebenarnya.“ (Coan-san-ka berarti trenggiling. Arti huruf-huruf itu sendiri adalah ‘menembus gunung’).
Berpikir begitu, ia segera menghampiri pintu. Sebelum membukanya, ia merandek. “Sekarang musuh belum tiba, tetapi mengapa Ouw-sinshe tidak memberi-tahu aku secara terang-terangan?” tanyanya di dalam hati. “Mengapa ia mengeluarkan cangkriman itu? Kalau aku tidak dapat menebaknya, bukankah aku bisa celaka? Ahh! Sekarang sudah lewat tengah malam, aku mesti menyingkir secepat mungkin.” Sungguh pun baru berusia belasan tahun namun Bu Kie sudah mempunyai jiwa ksatria. Ia ingin segera menyingkir, tapi ia memikirkan nasib Ouw-sinshe. Di lain saat ia ingat bahwa si tabib malaikat tentu sudah punya pegangan untuk melawan musuh karena sesudah tahu bakal kedatangan musuh, ia tetap saja tidak mau menyingkir. Tetapi biar bagaimana pun juga, meski pun Ceng Gu sudah berpesan supaya ia menutup rahasia, ia tak bisa tidak menolong Siauw Hu dan puterinya. Perlahan-lahan ia keluar dari kamarnya kemudian pergi ke gubuk Siauw Hu. Ia menepuk-nepuk tangan seraya memanggil-manggil dengan suara perlahan.
“Kie-kouwkouw... Kie-kouwkouw... bangun!”
Siauw Hu tersadar. “Siapa? Bu Kie?” tanyanya.
Sesaat itu sekonyong-konyong si bocah merasa ada sambaran angin yang sangat halus di punggungnya, akan tetapi baru saja ia memutar badan, pundak serta pinggangnya sudah kesemutan dan ia pun roboh tanpa berkutik lagi. Gerakan penyerang itu cepat luar biasa. Di lain saat, ia pun sudah merobohkan Siauw Hu dengan totokan. Dengan bantuan sinar bulan sisir, Bu Kie melihat bahwa orang itu mengenakan topeng kain hijau. Ouw Ceng Gu! Selagi berbagai pertanyaan ber-kelebatan dalam otak Bu Kie, tangan kiri si tabib malaikat sudah mencengkeram pipi Siauw Hu untuk memaksanya membuka mulut, sedang tangan kanannya mencoba memasukkan sebutir yo-wan. Sebelum pil itu masuk ke dalam mulutnya, Siauw Hu sudah mengendus bebauan yang tak enak sekali. Ia mengerti bahwa pil itu adalah racun yang amat hebat, tapi ia tidak berdaya, kaki tangannya tidak bisa bergerak lagi. Dengan sorot mata putus harapan ia mengawasi puterinya.
“Put-jie!” dia mengeluh di dalam hati. “Ibumu bernasib celaka, kau pun jelek peruntungan. Mulai sekarang ibumu tidak bisa merawatmu lagi.”
Pada detik yang sangat berbahaya itu tiba-tiba Bu Kie melompat bangun. Orang itu kaget dan menengok, tetapi punggungnya sudah dihantam Bu Kie dengan sekuat tenaga.
Ternyata, setelah jalan darah pada pundak dan pinggangnya ditotok, untuk sementara Bu Kie rebah dengan tidak berdaya. Tetapi sebagai ahli waris Cia Sun, selang beberapa saat berhasil membuka jalan darahnya dengan menggunakan Iweekang. Ia melompat bangun dan pada detik yang sangat genting, ia menghantam jalan darah Kin-su-hiat pada punggung Ouw Ceng Gu dengan pukulan Sin-liong Pa-bwee, yakni salah satu jurus dari Hang-liong-sip-pat-ciang. Sungguh pun ia hanya mengenal bagian kulit dari pukulan itu, tetapi karena jurus tersebut merupakan jurus yang sangat luar biasa dan juga karena Ouw Ceng Gu sama sekali tidak menduga bakal dibokong, maka pukulan Bu Kie mengenai Kin-su-hiat, ia roboh tanpa mengeluarkan suara. Berbareng dengan robohnya orang, topeng kain tersingkap separuh dan begitu melihat, Bu Kie mengeluarkan teriakan tertahan.
“Ahh...!” Mengapa? Karena wajah itu bukan wajah Ouw Ceng Gu, melainkan wajah seorang wanita setengah tua yang berparas cantik.
“Siapa kau?!” bentak Bu Kie.
Sesudah terpukul wanita itu merasakan kesakitan hebat, mukanya pucat pasi sehingga ia tidak dapat menjawab pertanyaan si bocah.
Cepat Bu Kie membuka jalan darah Kie Siauw Hu dan berkata, “Kie-kouwkouw, tempelkan ujung pedangmu pada dadanya supaya dia tidak bisa berkutik. Aku mau menengok Ouw-sinshe.“
Ia kuatir akan keselamatan Ouw Ceng Gu. Ia menduga bahwa wanita itu adalah konco Kim-hoa Cu-jin. Jika perempuan jahat itu keburu datang, maka dia beserta Siauw Hu dan puterinya pasti akan celaka. Dengan berlari bagaikan terbang ia pergi ke kamar Ceng Gu dan tanpa banyak rewel lagi ia memukul pintu yang lantas terpentang.
“Ouw-sinshe!” teriaknya, namun tak ada jawaban.
Ia segera mengeluarkan bahan api dan menyulut lilin. Kasur terbuka, orang tua itu tak kelihatan bayangannya. Melihat kamar itu kosong, hatinya agak lega karena semula ia menduga bahwa Ouw Ceng Gu sudah dibinasakan.
“Ouw-sinshe rupanya diculik musuh,” pikirnya.
Baru saja ia mau keluar, terdengar suara helaan napas di bawah ranjang. Ia segera mengangkat ciak-tak (tempat tancapan lilin) kemudian menyuluhi kolong ranjang. Ia girang bukan main melihat Ouw Ceng Gu rebah di situ dengan kaki tangan terikat.
“Ouw-sinshe, jangan kuatir!” katanya, lalu ia merangkak ke kolong ranjang untuk menyeret sang tabib keluar.
Ternyata orang tua itu tidak bisa bicara karena mulutnya disumbat dengan buah tho, Bu Kie segera mengorek keluar buah itu. Pada waktu mau membuka ikatan, ia mendapat kenyataan bahwa kaki tangan Ceng Gu diikat dengan tambang urat kerbau sehingga dia tidak dapat memutuskannya, Buru-buru dia mencari pisau.
“Mana perempuan itu?” tanya Ceng Gu selagi Bu Kie hendak memotong tambang.
“Jangan kuatir, ia sudah ditaklukkan dan tak akan bisa lari lagi,” jawabnya.
“Jangan kau putuskan dulu tambang ini!” kata Ceng Gu tergesa. “Lekas bawa dia kemari. Lekas! Kalau terlambat, aku kuatir tak keburu lagi.”
Bu Kie heran. “Mengapa begitu?” tanyanya.
“Lekas bawa dia kemari!” bentak orang tua. “Tidak...! Begini saja. Lebih dulu berikan kepadanya tiga butir Gu-hong Hiat-ciat-tan. Ambillah dari laci ke tiga. Lekas...! Lekas...“ Ia berkata begitu dengan paras muka bingung dan pucat.
Bu Kie tahu bahwa Gu-hong Hiat-ciat-tan adalah pil untuk memunahkan racun dan dibuat dengan menggunakan bermacam bahan yang sangat mahal harganya. Untuk memunahkan racun yang sangat hebat, sebutir saja sudah lebih dari cukup. Akan tetapi Ouw Ceng Gu menyuruhnya memberikan tiga butir. Siapakah wanita itu? Ia heran tak kepalang, tapi melihat sikap orang tua itu, ia tidak berani bertanya melit-melit. Buru-buru ia mengambil pil itu lalu berlari-lari ke gubuk Siauw Hu.
“Lekas telan ini!” bentaknya sambil menyodorkan tiga butir Gu-hong Hiat-ciat-tan kepada tawanannya.
“Pergi! Aku tidak perlu pertolonganmu!” teriak wanita itu. Begitu mengendus bau Gu-hong Hiat-ciat-tan, ia tahu Bu Kie datang membawa obat.
“Ouw-sinshe yang menyuruh aku membawa obat ini,” kata Bu Kie dengan mendongkol.
“Pergi...! Pergi...! Pergi!” teriak pula wanita itu. Setelah kena pukulan Bu Kie, teriakannya lemah sekali.
Si bocah bingung dan hanya dapat menebak-nebak. Dia menduga bahwa waktu mengikat CengGu wanita itu kena senjata racun. Untuk mengorek keterangan mengenai musuhnya, Tiap-kok Ie-sian rupanya sengaja memberi obat pemunah kepadanya. Berpikir begitu, dia menotok jalan darah Kian-tin-hiat sehingga wanita itu tidak dapat melawan, lalu memasukkan tiga butir pil itu ke dalam mulutnya. Karena suara ribut-ribut, Put Hwie bangun dan mengawasi wanita itu dengan perasaan heran.
“Kouwkouw, marilah kita membawa dia kepada Ouw-sinshe,” kata Bu Kie. Mereka lantas mencekal tangan wanita itu yang diseret ke kamar Tiap-kok Ie-sian.
Begitu mereka masuk, Ouw Ceng Gu langsung bertanya, “Sudah makan obat?”
“Sudah,” jawab Bu Kie.
Paras muka Ceng Gu lebih tenang dan Bu Kie segera memotong tambang yang mengikat kaki tangannya. Tiap-kok Ie-sian cepat-cepat menghampiri wanita itu, lalu membuka kelopak matanya dan memegang nadinya.
“Eh... eh!” katanya dengan suara kaget, “Mengapa kau mendapat luka? Siapa yang melukai kau?”
Wanita itu menjebi. “Tanya muridmu!” bentaknya.
Ouw Ceng Gu memutar badan dan bertanya pada Bu Kie, “Apa kau yang memukul?”
“Benar,” jawabnya, “waktu dia mau...”
“Plok! Plok!”
Orang tua itu menggaplok Bu Kie keras-keras hingga mata si bocah berkunang-kunang. Siauw Hu menghunus pedang dan membentak,
“Kurang ajar!”
Tanpa menghiraukannya, Ceng Gu lalu bertanya pada wanita itu, “Bagaimana rasanya dadamu? Aku pasti akan menyembuhkan kau.“ Sikap serta perkataannya berbeda jauh, bagaikan langit dan bumi dengan kebiasaan Kian-sie Put-kiu Ouw Ceng Gu. Tapi si wanita tetap tidak menggubris dan terus bersikap tawar.
Dengan rasa heran yang sangat besar Bu Kie mengawasi kejadian itu sambil mengusap-usap pipinya yang bengkak. Dengan sikap menyayang Tiap-kok Ie-sian lalu membuka jalan darah si wanita, mengurut-urutnya, mengambil beberapa macam daun obat yang lantas dimasukkan ke dalam mulut wanita itu, kemudian memondongnya dan menaruhnya di atas pembaringan, dan akhirnya menyelimutinya dengan selimut tebal. Semuanya itu dilakukan si tua secara lemah lembut dan penuh kecintaan. Bu Kie menggeleng-gelengkan kepala. Otaknya benar-benar pusing. Setelah berdiri beberapa saat di depan pembaringan, Ouw Ceng Gu berkata dengan suara halus,
“Sekarang selain racun, kau pun mendapat luka. Kalau aku dapat menyembuhkan, kita jangan menjajal-jalal kepandaian lagi.”
Wanita itu tertawa. “Apa artinya luka ini?” katanya. “Tapi apakah kau tahu, racun apa yang ditelan olehku? Jika kau bisa menyembuhkan aku maka aku akan mengaku kalah. Hm...! Tetapi belum tentu kepandaian Ie-sian (tabib malaikat atau tabib dewa) dapat menandingi kepandaian Tok-sian (si dewi racun).“ Sehabis berkata begitu ia tersenyum, dan senyum itu tampak menggairahkan.
Dalam usia belasan tahun Bu Kie belum mengerti soal percintaan. Tapi biar pun begitu, ia bisa merasakan bahwa di antara kedua orang tua itu terdapat kasih sayang yang tak ada batasnya.
“Semenjak sepuluh tahun berselang aku sudah mengatakan bahwa Ie-sian tidak akan bisa menandingi Tok-sian,“ kata Ceng Gu. “Tetapi kau tidak percaya. Kau terlalu suka menjajal ilmu. Aku benar-benar tidak mengerti mengapa kau begitu gila sehingga kau meracuni diri sendiri. Sekarang aku berharap bahwa Ie-sian akan menang dari Tok-sian. Jika aku gagal maka aku pun tak sudi hidup sendirian di dunia.”
Wanita itu tersenyum. “Kalau aku meracuni orang lain, bisa saja kau berlagak kalah,“ katanya. “Ha-ha-ha! Dengan meracuni diri sendiri tentu kau akan mengeluarkan semua kepandaianmu.”
Ceng Gu mengusap-ngusap rambut wanita itu dan berkata dengan suara nyaring, “Hatiku sangat kuatir. Sudahlah! Kau jangan banyak bicara. Meramkan matamu dan mengasolah. Tapi ingat, kalau dengan diam-diam kau mengerahkan Iweekang untuk mencelakakan diri sendiri maka kau sudah berbuat curang dalam pertandingan ilmu ini.”
“Aku tidak begitu rendah,” kata wanita itu sambil tertawa. Dia segera memeramkan kedua matanya dan pada bibirnya tersungging senyuman.
Untuk beberapa saat kamar itu sunyi-senyap. Siauw Hu dan Bu Kie menyaksikan semua itu dengan mata terbelalak. Tiba-tiba saja Tiap-kok Ie-sian memutar badan lalu menyoja kepada Bu Kie.
“Saudara kecil,” katanya, “dalam kebingungan aku sudah berbuat kesalahan terhadapmu. Aku harap kau sudi memaafkan.”
“Sedikit pun aku tak mengerti, apa artinya semua ini,” kata si bocah dengan hati dongkol.
Sekonyong-konyong si tua mengangkat tangan kanannya lantas dua kali menggaplok pipi sendiri keras-keras.
“Saudara, kecil,” katanya pula. “Kau adalah tuan penolongku. Hanya karena aku sangat memikirkan keselamatan isteriku maka aku sudah berbuat dosa terhadapmu.”
“Dia... dia isterimu?” menegas si bocah dengan suara heran.
Ceng Gu mengangguk, “Benar, dia adalah isteriku!” jawabnya.
Melihat sikap orang tua itu dan mendengar bahwa wanita itu adalah isterinya, semua rasa dongkol Bu Kie menghilang.
Ceng Gu mengambil kursi lalu mempersilakan Siauw Hu dan Bu Kie duduk, “Kalian tentu merasa heran melihat kejadian hari ini,“ katanya, “Baiklah! Aku akan menceritakan latar belakang tanpa tedeng aling-aling. Isteriku she Ong bernama Lan Kouw. Kami berdua adalah saudara seperguruan. Ketika kami masih berada di rumah perguruan, di samping belajar ilmu silat aku mempelajari ilmu ketabiban, sedangkan dia mempelajari Tok-sut (ilmu menggunakan racun). Menurut pendapatnya, tujuan belajar ilmu silat adalah untuk membunuh orang dan tujuan Tok-sut juga untuk membunuh orang, sebab itu Bu-sut (Ilmu silat) dan Tok-sut merupakan dua macam ilmu yang berdiri berendeng. Jika seorang mahir dalam Bu-sut dan Tok-sut, maka kepandaiannya bertambah satu kali lipat. Ilmu ketabiban adalah untuk menolong manusia sehingga pada hakekatnya ilmu ketabiban dan ilmu silat bertentangan satu sama lain. Itulah jalan pikiran isteriku. Tetapi karena bakatku terletak dalam ilmu ketabiban, aku tidak dapat mengubah kesukaan itu.
Meski pun apa yang dipelajari kami berdua berbeda, tapi hubungan kami sangat erat dan di antara kami kemudian timbul perasaan cinta. Belakangan Suhu menikahkan kami berdua. Perlahan-lahan nama kami mulai terkenal di dunia kangouw sehingga banyak orang memberi gelar Ie-sian kepadaku dan julukan Tok-sian bagi isteriku. Kepandaiannya soal racun sungguh-sungguh lihay. Ia sudah melebihi kepandaian Suhu sendiri dan mungkin sekali di dunia sukar dicari tandingannya. Bahwa dia telah mendapat gelar Sian atau Dewi, merupakan bukti nyata dari kepandaiannya.
Dasar aku yang tolol, yang bertindak tanpa dipikir lagi. Berapa kali isteriku telah meracuni orang, kemudian orang itu datang kepadaku untuk minta pertolongan. Tanpa berpikir panjang lagi aku segera menolong mereka. Pada waktu itu hatiku malah merasa senang, sedikit pun aku tak merasa bahwa tindakanku itu sangat menyinggung perasaan isteriku. Aku sama sekali tak ingat bahwa jika menyembuhkan orang yang diracuni olehnya, maka itu berarti kepandaian Ie-sian lebih unggul dari pada Tok-sian”
Siauw Hu menggeleng-gelengkan kepala dan menghela napas. Sepasang suami isteri itu benar-benar manusia aneh.
Sementara itu Ceng Gu sudah melanjutkan penuturannya. “Isteriku sangat mencintai aku. Di dunia sukar dicari tandingannya. Tapi aku sendiri? Dengan didorong napsu mau menang, berulang kali menyinggung perasaannya. Cobalah kalian pikir. Biar pun dia patung, suatu waktu dia bisa habis kesabaran. Akhirnya aku sadar. Aku bersumpah tidak akan menolong lagi orang yang sudah diracuni olehnya. Lantaran begitu lama-lama orang memberi gelar Kian-sie Put-kiu (Melihat kebinasaan tak sudi menolong) kepadaku. Melihat aku berubah, isteriku merasa senang. Tetapi baru saja beberapa tahun aku mengambil jalan benar, muncullah peristiwa adik perempuanku.
Kehormatan adikku dilanggar oleh bangsat Sian Ie Thong dari Hoa-san-pay, bahkan akhirnya binasa di tangannya. Tetapi sampai pada detik mau menghembuskan napas penghabisan, adikku masih mencintai bangsat itu. Dan pesannya yang terakhir agar aku berjanji selama hidup aku akan menolongnya jika dia memerlukan pertolongan. Karena melihat adikku tidak akan mati dengan mata meram apa bila aku tidak meluluskan permintaannya, maka mau tidak mau, dengan hati penasaran aku terpaksa memberikan janjiku itu.
Di luar tahuku, isteriku menaruh racun yang sangat hebat di badan Sian Ie Thong. Racun yang jalannya sangat perlahan itu akan merusak seluruh tubuh bangsat itu. Setelah menderita hebat selama tiga tahun, dia akan mampus dengan daging membusuk. Sian Ie Tong mengetahui janji yang kuberikan kepada adikku. Begitu melihat keadaannya sangat berbahaya, dia segera meminta pertolonganku. Hai...! Otakku benar-benar pusing. Kalau aku menolong, aku menyinggung isteri sendiri. Jika tidak menolong aku melanggar janjiku kepada adikku.”
“Sian Ie Tong adalah Ciang-bun-jin Hoa-san-pay. Ilmu silatnya tinggi dan di kalangan kangouw dikenal seorang pendekar,” kata Siauw Hu. “Sungguh tidak dinyana dia sebenarnya manusia rendah. Ouw-sinshe, sesudah adikmu binasa di tangannya, kau pun tak perlu menolong dia. Apa pula adikmu yang sudah meninggal dunia tidak tahu lagi urusan itu.”
“Tidak!” Bu Kie membantah. “Kie-kouwkouw, kau salah. Roh seseorang yang telah meninggal masih bisa mengetahui apa yang terjadi di dunia.” Waktu mengatakan begitu ia ingat kedua orang tuanya. Ia berharap supaya roh ayah ibunya masih tetap berada di alam baka sehingga nanti kalau ia sendiri meninggal dunia, ia akan bisa berkumpul lagi dengan kedua orang itu.
Tiap-kok Ie-sian menghela napas panjang. “Apa yang terjadi di alam baka tidak diketahui oleh manusia,” katanya. “Pada waktu itu jalan pikiranku adalah begini: kalau aku berdosa terhadap isteriku, di alam kemudian aku masih dapat memperbaikinya. Tapi jika aku melanggar janji... hai...! Selama hidupnya, adikku selalu menderita... Bagaimana aku tega untuk menyakiti rohnya? Demikianlah, dengan menggunakan seluruh kepandaian akhirnya aku berhasil juga menyembuhkan si bangsat Sian Ie thong. Isteriku tidak ribut-ribut lagi, dia hanya berkata dengan suara dingin: ‘Bagus. Kepandaian Tiap-kok Ie-sian Ouw Ceng Gu memang benar-benar tinggi. Akan tetapi Tok-sian Ong Lan Kauw tidak sudi takluk. Sekarang marilah kita menjajal ilmu untuk memperoleh keputusan, Ie-sian atau Tok-sian yang lebih tinggi!’. Mati-matian aku memohon maaf, tetapi dia tidak meladeni.
Beberapa tahun isteriku memperdalam ilmunya dan telah meracuni beberapa orang Kangouw ternama. Sesudah meracuni, dia memberi petunjuk supaya orang-orang itu datang kepadaku. Tok-sut isteriku ternyata sudah jauh lebih lihay sehingga kadang-kadang aku tidak mendapat jalan untuk mengobatinya. Apa lagi ditambah dengan rasa sungkan untuk membangkitkan kemarahan isteriku, maka dalam menghadapi keracunan yang hebat, sesudah gagal satu dua kali aku pun menghentikan usahaku dan mengatakan saja bahwa aku tidak mampu menolong lagi. Tetapi di luar dugaan, sikapku bahkan menambah kemarahannya. Ia menuduh bahwa aku memandang rendah padanya dan bahwa aku sengaja tak mau mengeluarkan semua kepandaianku. Dengan marah ia meninggalkan Ouw-tiap-kok setelah mengatakan bahwa biar apa pun yang terjadi, ia takkan kembali kepadaku.
Selama berada di luar Ouw-tiap-kok, berulang kali ia meracuni orang kemudian menyuruh datang kepadaku. Kepandaiannya semakin tinggi sehingga kadang kala aku tidak tahu, siapa yang sudah meracuni penderita yang meminta pertolonganku. Dalam menghadapi penderita seperti itu, dengan anggapan bahwa dia bukan diracuni oleh isteriku, kadang kala aku memberi pertolongan dan menyembuhkannya. Belakangan baru aku tahu bahwa orang itu sebenarnya sudah diracuni oleh isteriku. Demikianlah hubungan kami jadi makin renggang. Namaku Ceng Gu, atau Kerbau Hijau, tetapi sebenarnya lebih tepat jika nama itu diganti dengan ‘Kerbau Tolol’. Entah kebaikan apa yang sudah kuperbuat hingga aku dicintai seorang wanita begitu mulia seperti isteriku dan hanya karena ketololanku maka dia meninggalkan rumah dan hidup terlunta-lunta di luaran. Mengingat bahayanya dunia Kangouw, setiap saat, setiap detik, hatiku selalu memikirkan keselamatannya.”
Berkata sampai di situ, paras muka Tiap-kok Ie-sian kelihatan berduka sekali. Siauw Hu melirik Ong Lan Houw yang rebah di pembaringan. “Di dunia, siapa yang berani melanggar Ouw-hujin?” katanya dalam hati. “Sudah bagus kalau orang lain tidak dilanggar olehnya. Sungguh lucu! Ouw-sinshe sangat takut pada isterinya.”
Sesudah berdiam sejenak, Ceng Gu berkata lagi, “Tujuh tahun berselang, sepasang suami isteri yang sudah berusia lanjut kena racun hebat dan mereka datang ke sini. Mereka adalah majikan pulau Leng-coa-to di laut Tong-hay. Mereka memiliki ilmu silat luar biasa dan tingkatan mereka pun tinggi sekali. Puluhan tahun berselang, nama Kim-hoa Popo dan Gin-yap Sian-seng menggetarkan rimba persilatan. Aku tidak berani lantas menolak secara tegas. Tapi coba kalian pikir, bagaimana aku berani membuat kesalahan lagi? Maka aku memeriksa nadi mereka dan mengatakan bahwa Gin-yap Sian-seng tak dapat diobati lagi, sedang Kim-hoa Popo hanya kena racun enteng dan dia dapat menyembuhkan dirinya menggunakan Iweekang sendiri. Aku diberi-tahu bahwa yang meracuni mereka adalah seorang Pek-to-pay (Partai Unta putih) yang amat lihay di wilayah See-hek (Wilayah barat) dan tiada sangkut pautnya dengan isteriku.
Tapi sesudah sesumbar bahwa selain anggota Beng-kauw, aku tak akan menolong orang lagi, maka aku tidak bisa menjilat ludah sendiri hanya karena yang minta tolong adalah orang jempolan. Nyonya tua itu memohon-mohon agar aku suka menolong seorang saja, yaitu suaminya, dan untuk itu dia menjanjikan hadiah yang sangat besar. Kalian harus mengetahui bahwa di rimba persilatan Gin-yap Sian-seng dan Kim-hoa Popo sangat cemerlang, mereka mau membuka mulut untuk meminta pertolonganku, bagiku sudah kehormatan besar. Tapi demi kepentingan kami berdua suami isteri, aku tetap tidak mau menolong. Untung mereka tidak menggunakan kekerasan. Sesudah yakin tidak ada harapan, mereka pergi dengan perasaan duka. Aku mengerti bahwa karena penolakanku, aku sudah menanam banyak bibit permusuhan. Namun kecintaan dan kerukunan antara aku dengan isteriku jauh lebih penting dari pada kepentingan orang lain. Bagaimana pendapat kalian? Bukankah pendirian itu pendirian yang benar?”
Siauw Hu dan Bu Kie bungkam, namun dalam hati mereka tentu saja sangat tidak menyetujui pendirian yang gila ini.
Sementara itu Ouw Ceng Gu berkata lagi, “Waktu Gie Cun datang ke sini, dia mengatakan bahwa di tengah jalan bertemu seorang nenek yang memberi-tahu bahwa sesuai dugaanku, Gin-yap Sian-seng meninggal dunia karena racun. Setelah Gie Cun berlalu, isteriku mendadak pulang. Begitu melihat Bu Kie, segera dia menggunakan bie-yok (obat tidur) hingga saudara kecil pulas nyenyak semalam suntuk.”
“Ahh! Kalau begitu kerjaan Ong Lan Kouw,” kata si bocah dalam hati. “Hari itu aku menduga bahwa aku sakit.”
Sesudah melirik isterinya, Ceng Gu melanjutkan penuturannya, “Kepulangan isteriku tentu saja amat menggirangkan. Dia pun sudah mendengar bahwa Kim-hoa Popo datang lagi di Tiong-goan sehingga biar pun masih mendongkol terhadapku, buru-buru dia pulang memberi-tahukan hal itu kepadaku. Atas kemauannya, aku berpura-pura sakit cacar dan menolak menemui orang. Kami mengunci diri di kamar dan memikirkan siasat guna menghadapi Kim-hoa Popo. Ilmu silat nyonya tua itu terlalu lihay sehingga tak mungkin kami melarikan diri. Tapi dia memiliki adat yang aneh. Kalau dia ingin membunuh seseorang, serangannya dibatasi dalam tiga kali. Kalau orang itu bisa menyelamatkan diri dari tiga kali serangan, maka dia akan mengampuninya. Selang beberapa hari kemudian datanglah Sie Kong Wan, Kan Ciat, dan kau sendiri Kie-kouwnio, juga yang lain-lainnya sampai lima belas orang.
Begitu mendengar luka kalian, aku segera mengetahui bahwa Kim-hoa Popo sengaja mau mencoba-coba aku, apakah aku masih tetap pada pendirianku, yaitu tidak mau menolong siapa pun juga kecuali murid-murid Beng-kauw. Luka kelima belas orang itu rata-rata luka yang sangat aneh. Aku adalah orang yang keranjingan ilmu ketabiban. Begitu melihat luka atau penyakit aneh, tanganku gatal dan ingin menjajal kepandaianku.
Kini Kim-hoa Popo mengirim bukan satu, tetapi lima belas orang. Dapat kalian bayangkan perasaanku. Aku mengerti maksud nenek itu. Jika ada satu orang saja yang aku obati, maka celakalah aku. Dia pasti akan menyiksaku ratusan kali lipat lebih dahsyat dari pada orang yang kuobati. Sebab itu sambil menahan keinginan hati aku tetap berpeluk tangan. Dan belakangan, sesudah Bu Kie menanyakan pendapatku andai kata orang yang terluka adalah seorang murid Beng-kauw, barulah aku memberi petunjuk. Tapi aku sangat berhati-hati dan sengaja menerangkan bahwa Bu Kie adalah murid Bu-tong-pay dan tidak bersangkut paut dengan diriku.
Melihat bahwa dengan pertolongan Bu Kie, orang-orang itu mulai sembuh dengan cepat, Lan Houw kembali merasa tidak senang. Setiap malam dia menaruh racun di piring mangkok mereka. Dengan demikian, lagi-lagi dia bermaksud mengadu kepandaian denganku. Lima belas orang itu rata-rata jago rimba persilatan. Bagaimana dia bisa menyateroni tanpa diketahui? Sebelum menyebar racun lebih dulu dia menggunakan obat tidur.”
Siauw Hu dan Bu Kie saling mengawasi. Sekarang mereka baru mengerti mengapa malam itu Siauw Hu begitu sukar disadarkan sehingga Bu Kie sampai menggoyang-goyangkan badannya.
“Selama beberapa hari ini kesehatan Kie-kouwnio pulih dengan cepat, sepertinya racun isteriku tidak mempan lagi,” kata pula Ceng Gu. “Sesudah menyelidiki, dia mengerti bahwa rahasianya diketahui Bu Kie, maka dia segera mengambil keputusan untuk mengambil jiwa Bu Kie. Hai...! Kata orang sungai dan gunung lebih gampang diubah dari pada adat manusia. Kini aku harus mengakui bahwa aku, Ouw Ceng Gu tidak cukup setia kepada isteriku. Sebenarnya aku sudah mengambil keputusan untuk berpeluk tangan, tapi karena Bu Kie telah menasihatiku agar aku menyingkir, hatiku menjadi lemah. Aku segera memberi resep istimewa untuknya dengan menyebutkan Tong-kwie, Wan-cie, Tok-ho dan beberapa macam obat lain. Aku tidak dapat bicara terus terang karena Tan Kouw berada di sampingku.
Namun isteriku sangat cerdas dan mengenal ilmu ketabiban. Mendengar resep yang gila itu, sesudah mengasah otak beberapa lama, dia segera dapat menangkap maksudku yang sebenarnya. Dia lalu mengikat kaki tanganku dan mengambil beberapa macam racun yang lalu ditelannya. Sesudah menelan racun dia pun berkata: ‘Suko, aku dan kau sudah menjadi suami isteri selama dua puluh tahun lebih. Lautan bisa kering, batu bisa hancur, tetapi kecintaan kita takkan bisa berubah. Tapi selamanya kau memandang rendah kepada Tok-hutku. Setiap orang yang diracuni olehku, selalu dapat ditolong olehmu. Sekarang aku sendiri menelan racun. Jika kau dapat menolong jiwaku, aku takluk padamu’.
Bukan main rasa kagetku, berulang-ulang aku minta ampun dan mengaku kalah. Tapi dia lalu menyumbat mulutku dengan buah tho, sehingga aku tidak dapat bicara lagi. Kejadian selanjutnya sudah kalian ketahui. Hai...! Bu Kie, kau berdosa terhadapku. Kau membalas kebaikan dengan kejahatan. Aku menasihati kau agar menyingkir, tapi kau malah berbalik melukai isteriku tercinta.“ Seraya berkata begitu dia menggeleng-gelengkan kepala.
Siauw Hu dan Bu Kie saling mengawasi tanpa dapat mengeluarkan sepatah katapun. Mereka mendongkol campur geli. Sepasang suami isteri ini benar-benar aneh dan sukar dicari tandingannya di dunia selebar ini. Karena rasa cinta yang besar Ouw Ceng Gu takut kepada isterinya. Di lain pihak Ong Lan Kouw terus menindih suaminya dan akhirnya dia bahkan meracuni diri sendri.
Sesudah menggelengkan kepala, Tiap-kok Ie-sian berkata lagi, “Cobalah kalian pikir, apa yang harus diperbuat olehku? Kalau sekarang aku berhasil menyembuhkannya, itu berarti kepandaianku lebih unggul dari pada kepandaiannya sehingga Lan Kouw pasti tetap merasa kurang senang. Jika aku gagal, jiwanya melayang. Hai! Aku mengharap Kim-hoa Popo cepat datang supaya aku lekas mampus agar jangan merasakan penderitaan ini lebih lama lagi.”
Tiba-tiba serupa ingatan berkelebat di otak Bu Kie. “Racun apa yang ditelan Subo?” tanyanya. “Bagaimana mengobatinya?” Sambil berkata begitu ia menggoyang-goyangkan tangan sebagai isyarat supaya Ceng Gu tidak menjawab dengan sebenarnya.
Ceng Gu melirik isterinya yang sedang tidur menghadap ke dalam. Sebagai seorang yang sangat pintar dia segera mengerti maksud bocah ini.
“Selama beberapa tahun kepandaian isteriku sudah banyak maju sehingga aku tidak dapat menebak racun apa yang ditelannya,” jawabnya. “Dan sebelum mengetahui racunnya, aku tidak dapat mengobati.”
Selagi orang tua itu menjawab pertanyaannya, dengan jari tangan Bu Kie menulis huruf-huruf yang berbunyi begini di atas meja: ‘Beri-tahukanlah aku dengan tulisan’. Dan selagi menulis, mulutnya berkata,
“Kalau begitu Subo tak bisa diobati lagi.”
“Isteriku sendiri pasti tahu cara memunahkan racun itu,” kata Ceng Gu. “Tetapi aku kenal adatnya. Biar pun mati dia tak akan memberi-tahu kepada kita.“ Waktu berkata begitu, dengan telunjuknya dia menulis di atas meja. ‘Racun Sam-ciong Sam-co. Sam-ciong ialah kelabang, ular tanah dan laba-lain beracun, Sam-co terdiri dari Cin-po-co, Toan-chung-co dan Siauw-houw-kun’. Sesudah itu dia juga menulis resep obat. (Sam-ciong: Tiga macam binatang. Sam-co: Tiga macam rumput).
Bu Kie mengangguk dan lalu menulis pula di atas meja: ‘Kau telanlah Sam-ciong Sam-co. Sesudah kau meracuni diri sendiri, aku yang akan menolong’.
Tiap-kok Ie-sian terkejut, namun dia segera dapat menangkap maksud Bu Kie. “Jalan ini sangat berbahaya,” pikirnya. “Tapi karena tidak ada lain jalan biarlah aku mencoba secara untung-untungan.”
Sementara itu Bu Kie sudah berkata pula, “Ouw-sinshe, dengan memiliki kepandaian yang begitu tinggi, masa kau tidak tahu racun apa yang sudah ditelan Subo?”
“Menurut dugaanku dia sudah menelan racun Sam-ciong Sam-co,” jawabnya. “Sam-ciong bersifat ‘im’ (dingin), sedangkan Sam-co besifat ‘yang’ (panas). Jangankan sampai enam macam, satu macam saja sukar untuk diobati. Kalau aku menggunakan obat yang sifatnya panas untuk memunahkan racun binatang yang bersifat dingin, maka akibatnya racun rumput yang panas akan menjadi-jadi. Dan begitu juga sebaliknya. Tubuh manusia terdiri dari darah daging takkan bisa bertahan terhadap enam rupa racun yang hebat itu.“ Dia mengibas tangannya lalu kembali berkata, “Kalian pergilah! Mana kala Lan Kouw binasa, aku pun tidak bisa hidup sendirian di dunia.”
“Kami harap Sinshe bisa menyayang diri dan mencoba membujuk Subo,” kata Bu Kie.
Ceng Gu menghela napas. “Kalau dia dapat dibujuk maka kejadian hari ini tak akan terjadi,” jawabnya dengan suara putus harapan.
Siauw Hu dan Bu Kie lantas meninggalkan kamar itu. Sesudah mereka berlalu, Tiap-kok Ie-sian segera menotok jalan darah di pinggangnya dan pinggang isterinya.
“Sumoay,” katanya dengan suara parau, “Suamimu tidak mempunyai kemampuan dan tidak dapat memunahkan racun Sam-ciong Sam-co. Jalan satu-satunya ialah mengikuti kau ke dunia baka untuk menyambung perjodohan kita.” Ia merogoh saku isterinya dan mengeluarkan beberapa bungkus obat yang sesuai dengan dugaannya berisi Sam-ciong Sam-co.
Karena ditotok, tubuh Lan Kouw tidak bisa berkutik, tetapi mulutnya masih bisa berbicara.
“Suko, kau tak boleh makan racun!” teriaknya dengan kaget.
Sang suami tidak meladeni. Ia membuka bungkusan bubuk racun yang lantas dimasukkan ke dalam mulutnya kemudian ditelan dengan bantuan air.
Paras muka Lan Kouw berubah menjadi pucat pasi. “Suko!” jeritnya. “Kau gila! Mengapa begitu banyak? Racun sebanyak itu dapat membinasakan tiga manusia.”
Tiap-kok Ie-sian tertawa dingin. Dia duduk menyender di kursi di samping kepala ranjang. Sesaat kemudian perutnya bagaikan disayat ratusan pisau dan dia mengerti bahwa Toan-chung-co (Rumput memutuskan usus) sudah mulai bekerja. Tak lama lagi lima racun yang lain akan turut mengamuk dan penderitaan Ceng Gu tidak mungkin dilukiskan dengan kata-kata.
“Suko! Racun itu ada pemunahnya!” teriak Lan Kouw.
Sang suami menggigil, giginya bercatrukan dan ia berkata sambil menggelengkan kepala,
“Aku... tak... percaya...”
“Lekas makan Giok-liong Souw-hap-san!” teriak si isteri. “Kemudian gunakan jarum untuk membuyarkan racun!”
“Apa gunanya?” kata Ceng Gu.
Sekarang nyonya itu menangis, “Racun yang ditelan olehku sangat sedikit,” katanya. “Kau makan terlalu banyak. Oh Suko...! Lekaslah tolong jiwamu... Kalau terlambat... tak keburu lagi...”
“Aku mencintai kau segenap jiwa,” kata sang suami. “Tapi kau sendiri tak hentinya mengajak aku mengadu ilmu. Aku merasa hidup lebih lama tiada artinya... aduh!... aduhh!”
Ia tidak berpura-pura, ketika itu racun ular dan lawa-lawa sudah mulai menyerang jantung. Badannya bergoyang-goyang dan di lain detik ia sudah tak ingat orang. Semua kejadian itu didengar jelas oleh Siauw Hu dan Bu Kie yang menunggu di luar pintu.
“Suko! Suko!” Lan Kouw sesambat. “Akulah yang salah... Kau tidak boleh mati...aku tidak akan mengajak kau mengadu ilmu lagi.”
Sekarang Bu Kie menganggap bahwa sudah tiba waktunya turun tangan. Ia cepat menerobos masuk lalu bertanya,
“Subo... lekas! Lekas beri-tahu cara menolong Suhu!”
Lan Kouw girang tak kepalang. “Lekas berikan Giok-liong Souw-hap-san kepadanya!” dia berteriak. “Lekas kau ambil jarum emas lalu tusuklah jalan darah Yong-coan-hiat dan Kiu-bwee-hiat dan cepat!”
Pada detik itu sekonyong-konyong terdengar suara batuk-batuk dari luar kamar. Di tengah malam buta suara itu membangunkan bulu roma. Kie Siauw Hu melompat masuk, paras mukanya pucat bagaikan kertas. Sambil melompat dia berkata dengan suara heran,
”Kim-hoa Popo...”
Hampir berbareng dengan perkataan ‘Popo’, tirai bergoyang dan di ambang pintu berdiri seorang nenek yang tangannya mencekal satu nona cilik yang berparas sangat cantik. Nenek itu memang bukan lain Majikan Pulau Leng-coa-to, Kim-hoa Popo. Melihat Ceng Gu mencekal perut dengan paras muka bersemu hitam dan berada dalam keadaan pingsan, dia terkejut dan bertanya,
“Ada apa?”
Lan Kouw menangis keras, “Suko! Suko!” jeritnya. “Mengapa kau meracuni diri sendiri?”
Kedatangan Kim-hoa Popo di wilayah Tiong-goan mengandung dua tujuan. Pertama mencari musuh yang telah meracuni suaminya dan ke dua untuk memberi hukuman pada Ouw Ceng Gu. Tak dinyana dia bertemu Tiap-kok Ie-sian yang sudah hampir mati. Begitu melihat paras muka Ceng Gu dan Lan Kouw, sebagai seorang ahli dalam ilmu menggunakan racun dia segera mengetahui bahwa jiwa mereka sukar ditolong lagi. Dia menduga bahwa Ceng Gu sudah menelan racun karena takut hukuman yang mungkin dijatuhkan olehnya dan dengan adanya dugaan itu, rasa sakit hatinya lenyap.
Ia menghela napas dan sambil menarik tangan si nona cilik, ia berjalan keluar. Di lain saat suara batuk-batuk sudah terdengar di luar rumah, dalam jarak puluhan tombak. Kecepatan bergerak nenek itu sungguh sukar dicari tandingannya. Sesudah Kim-hoa Popo berlalu, Bu Kie meraba dada Ceng Gu yang jantungnya masih mengetuk perlahan. Buru-buru ia mengambil Giok-liong Souw-hap-san yang dicekukkan ke mulutnya, kemudian mengambil jarum emas menusuk Yong-coan-hiat dan Kiu-bwee-hiat agar hawa beracun bisa keluar dari lubang tusukan. Setelah menolong sang Suhu barulah ia menolong sang Subo. Setengah jam kemudian perlahan-lahan Tiap-kok Ie-sian tersadar. Rasa syukurnya sukar dilukiskan. Ia menangis dan berkata,
“Saudara kecil! Kau tuan penolong kami yang sudah menolong jiwa kami berdua.”
“Sekarang kalian tidak usah kuatir lagi,“ kata Bu Kie. “Kim-hoa Popo menduga kalian pasti akan binasa, sudah berlalu tanpa mengucapkan sepatah katapun.”
“Tapi aku masih kuatir,” kata sang Subo. “Kim-hoa Popo seorang yang amat berhati-hati. Biar pun hari ini dia sudah pergi tetapi di lain hari pasti akan datang lagi untuk menyelidiki. Kami berdua harus segera menyingkirkan diri. Saudara kecil, aku ingin minta pertolonganmu. Buatlah dua buah kuburan kosong dan tulisilah nama kami di atas batu nisan.“
Si bocah mengangguk sebagai tanda dia akan melakukan permintaan itu. Ceng Gu dan Lan Kouw segera berkemas-kemas dan malam itu juga, dengan menumpang sebuah kereta keledai, berangkat meninggalkan Ouw-tiap-kok. Bu Kie mengantar mereka sampai di mulut selat. Sesudah berkumpul selama dua tahun lebih dan sekarang mesti berpisah secara mendadak, Ceng Gu dan Bu Kie merasa sangat terharu. Sambil mengangsurkan sejilid buku tulisan tangan kepada si bocah, orang tua itu berkata,
“Bu Kie, semua pelajaranku tercatat dalam buku ini. Kini aku menghadiahkannya padamu. Aku merasa sangat menyesal bahwa racun Hian-beng Sin-ciang dalam tubuhmu belum dapat disingkirkan. Sesudah mempelajari buku ini, aku berharap kau sendiri akan mendapat jalan untuk memunahkan racun. Dengan berkah Tuhan, di hari kemudian kita masih bisa bertemu lagi.”
Sambil menghaturkan banyak terima kasih Bu Kie menerima hadiah itu.
“Bu Kie,” kata Lan Kouw. “Engkau bukan saja sudah menolong jiwa kami, tapi juga mengakurkan kami berdua suami isteri. Menurut pantas seharusnya aku pun memberikan semua pelajaran kepadamu. Hanya sayang apa yang kupelajari adalah ilmu-ilmu meracuni manusia yang tiada faedahnya. Aku hanya dapat memohon pada Tuhan Yang Maha Esa supaya kau sembuh dalam waktu cepat agar di hari kemudian aku masih bisa membalas budimu.”
Demikianlah, dengan rasa duka mereka berpisah. Setelah kereta itu tak kelihatan lagi, barulah Bu Kie kembali ke rumah Ceng Gu yang sudah kosong. Pada esok paginya dia segera membuat dua buah kuburan di samping rumah dan kemudian memanggil tukang batu untuk mendirikan bong-pay (batu nisan). Di atas sebuah bong-pay tertulis.
‘Kuburan Tiap-kok Ie-sian, Ouw-sinshe, Ceng Gu’, sedangkan di lain bong-pay tertulis: ‘Kuburan Nyonya Ouw, Ong-sie’.
Kan Ciat, Sie Kong Wan dan yang lain-lainnya percaya bahwa kedua suami isteri itu telah meninggal dunia karena sakit cacar. Setelah pengacaunya berlalu, dengan diobati Bu Kie, semua orang sembuh dengan cepat sekali. Dalam sepuluh hari mereka semua telah berlalu dengan menghaturkan banyak terima kasih.
Selama beberapa hari Bu Kie memusatkan seluruh perhatiannya kepada buku yang diberikan oleh Tiap-kok Ie-sian. Ia mendapat kenyataan bahwa isi buku itu benar-benar hebat, berisi resep-resep luar biasa serta macam-macam cara untuk mengobati berbagai penyakit yang aneh-aneh. Sungguh tidak memalukan Ouw Ceng Gu mendapat julukan Ie-sian. Tetapi sesudah mempelajari delapan sembilan hari, dia masih juga belum dapat membaca keterangan tentang cara mengusir racun Hian-beng Sin-ciang. Dia berpikir bolak-balik dan mengasah otak siang malam, tetap tidak berhasil. Dia jadi putus harapan. Hari itu dengan perasaan tertindih dia berjalan-jalan di luar rumah. Sambil mengawasi dua kuburan kosong itu dia berkata dalam hati,
“Setahun lagi, siapa yang akan mengubur mayatku?” Mengingat begitu, hatinya menjadi sedih dan air matanya mengucur.
Sekonyong-konyong di belakangnya terdengar suara batuk-batuk. Dia kaget dan memutar badan. Orang yang berdiri di belakangnya bukan lain Kim-hoa Popo yang sedang mencekal tangan si gadis kecil.
“Anak kecil, ada hubungan apa kau dengan Ouw Ceng Gu?” tanya si nenek. “Mengapa kau menangis di depan kuburannya?”
Jawab Bu Kie, “Aku kena racun Hian-beng Sin-ciang...”
Si nenek mengangsurkan tangannya dan memegang nadi Bu Kie. “Siapa yang memukul kau?” tanyanya dengan suara heran.
Bu Kie menggelengkan kepala sambil menjawab, “Entahlah, orang itu menyamar perwira Mongol. Aku tidak tahu siapa adanya. Aku datang kemari minta pertolongan Ouw-sinshe, tapi dia tak sudi menolong. Sekarang dia meninggal dunia, maka penyakitku tentu tak dapat diobati lagi. Itu sebabnya mengapa aku menangis.”
Melihat paras muka si bocah yang sangat tampan dan gerak-geriknya yang menarik. Kim-hoa Popo merasa kasihan dia menghela napas panjang dan berkata,
“Sayang, sungguh sayang!”
Dua tahun yang lalu, waktu baru diberi-tahu bahwa racun Hian-beng Sin-ciang sulit diobati, Bu Kie amat ketakutan. Belakangan, setelah berbagai usaha gagal, dia putus harapan dan menjadi nekat. Dia sudah tidak memikirkan lagi soal mati hidupnya. Mendengar perkataan si nenek, dia tertawa dingin dan berkata,
“Mati atau hidup tidak dapat diminta secara paksa. Apakah seseorang yang serakah dan ingin hidup terus-menerus bukan orang yang sedang mabuk? Entahlah. Apakah seseorang yang takut mati bukan seperti kanak-kanak yang kesasar dan tidak mengenal jalan pulang? Entahlah. Apakah seseorang yang sudah meninggal dunia tidak merasa menyesal bahwa dia dahulu ingin sekali dilahirkan di dunia? Ini pun aku tidak tahu.”
Si nenek terkesiap. Untuk sementara dia tidak mengeluarkan sepatah kata pun melainkan mencoba memecahkan maksud perkataan si bocah.
Di antara semua orang yang berjumlah empat belas itu, ada yang pandai bicara ada pula yang diam saja, tetapi semuanya bersatu tidak mau angkat kaki walau pun sudah ditolak. Ketika itu sudah magrib, mereka memenuhi sebuah ruang. Kacung tukang masak nasi menyajikan makan bagi Bu Kie. Tanpa sungkan-sungkan lagi Bu Kie dahar seorang diri. Kemudian dia duduk menghadapi meja dan dengan terangnya pelita, dia membaca buku tentang ilmu ketabiban. Terhadap semua orang itu dia tidak ambil peduli. Dia berpikir.
“Aku sudah dapat mempelajari ilmu tabib dari Ouw-sinshe, maka aku pun boleh mempelajari ilmunya, melihat kematian tidak menolong.”
Malam sudah tiba, sunyi sekali. Di rumah gubuk itu tidak terdengar suara apa-apa kecuali suara Bu Kie membalik-balik halaman buku serta suara bernapas keras dari mereka yang terluka. Justru suasana sunyinya itu, dari luar gubuk terdengar tindakan kaki dari dua orang. Bu Kie merasa heran. Dia mengangkat kepalanya dan memasang kuping. Tindakan tadi amat perlahan, semakin mendekat semakin perlahan. Terang orang lagi menghampiri ke rumah gubuk. Tidak lama kemudian terdengar suara yang halus tetapi jelas.
“Ibu, di sana ada sinar api dari dalam rumah. Kita sudah sampai!”
Kalau didengar dari suaranya, mesti seorang anak kecil. Lalu terdengar suara lain, “Anak, kau capai atau tidak?” lebih keras tetapi toh dari seorang wanita juga.
“Aku tidak capai,“ sahut si anak barusan. “Ibu, kalau tabib sudah mengobati kau tentunya kau tidak sakit lagi.”
Si wanita terdengar menjawab. “Ya... Tapi entahlah dia suka menolong atau tidak!”
Hati Bu Kie tergerak. “Ahh, rasanya aku kenal baik suara ini...“ pikirnya. “Rupanya dia Nona Kie Siauw Hu.”
“Pasti tabib akan mengobati ibu,” kata pula si anak perempuan. “Tak usah kuatir. Apakah nyeri ibu sudah mendingan?”
“Sedikit mendingan?” sahut si nyonya yang dipanggil ibu itu. “Ah, anak yang sengsara...”
Mendengar lagi suara itu, Bu Kie tidak sangsi lagi. Dia lantas melompat ke ambang pintu.
“Apa Kie-kouwkouw di sana?” ia bertanya “Apakah kau pun terluka?”
Di bawah terangnya sang Puteri Malam ia melihat seorang wanita yang sebelah tangannya menuntun seorang nona kecil. Wanita yang dipanggil Kouwkouw atau bibi itu benar Kie Siauw Hu adanya. Akan tetapi Siauw Hu tidak mengenalinya sebab ketika mereka bertemu di gunung Bu-tong-san, Bu Kie baru berumur sepuluh tahun dan sekarang sang waktu sudah lewat lima tahun.
“Kau... kau...?” tanyanya heran.
“Kouwkouw, kau sudah tidak mengenali aku, bukan?” kata Bu Kie, “Aku Thio Bu Kie. Dulu ketika ayah dan ibuku bunuh diri di Bu-tong-san, aku melihat kau.”
Siauw Hu berseru saking herannya. Kejadian yang sama sekali tidak di-sangkanya. Berbareng itu dengan sendirinya dia menjadi kaget dan malu. Ia seorang nona yang belum menikah, membawa-bawa seorang anak perempuan... Sekarang dia berhadapan dengan Bu Kie, keponakan In Lie Heng bakal suaminya. Sebagai bocah tanggung, Bu Kie tentu sulit untuk diberi penjelasan tentang keganjilan ini. Maka mukanya menjadi merah. Karena dia sedang terluka dan lukanya tidak enteng maka kagetnya itu membuat tubuhnya terhuyung. Melihat ibunya mau jatuh, anak perempuan yang umurnya baru enam atau tujuh tahun itu lantas menjambret tangannya. Akan tetapi tenaganya lemah, dia dapat berbuat apa? Melihat Siauw Hu mau jatuh, si nona cilik pun bakal roboh juga, Bu Kie segera menahan pundak sang bibi.
“Kouwkouw, silakan masuk ke dalam untuk beristirahat,” ia mengundang.
Dia berkata begitu, namun dia toh memimpin orang masuk ke dalam ruangan. Karena itu dengan pertolongan cahaya api dia lantas melihat luka sang bibi, luka di pundak kiri dan di bahu kanan, bekas golok atau pedang. Kalau melihat darah yang menembus dari balutan, luka itu mestinya sangat parah. Lagi pula si nona merintih beberapa kali, tandanya hebat menahan rasa nyeri. Mendengar rintihan atau batuk-batuk si nona, Bu Kie mengerti hebatnya luka sang bibi. Dalam hal ilmu ketabiban, sekarang ini Bu Kie sudah dapat melawan sembarang ‘tabib kenamaan’. Suara batuk itu menandakan si nona telah mendapat goncangan di pinggir paru-parunya yang sebelah kiri.
“Kouwkouw,” katanya, “tangan kananmu bentrok dengan tangan orang karena itu kau terluka di bagian paru they-im-hie.“ Dia berkata begitu, tetapi tanpa menanti jawaban dia mengeluarkan tujuh batang jarum emas. Tanpa membuka baju si nona, dengan jarum itu dia menusuk di tujuh jalan darah in-bun di pundak, hoa-kay di dada cie-tek dan lain-lain.
Kepandaian Bu Kie sekarang berbeda jauh dari waktu dulu ketika dia mengobati Siang Gie Cun. Selama dua tahun dia belajar di bawah pimpinan Tiap-kok Ie-sian Ouw Ceng Gu, dia sudah mendapat kemajuan pesat. Penghalang satu-satunya ialah usianya yang masih terlalu muda. Jadi kalau dibandingkan dengan gurunya, dia masih ketinggalan jauh sekali. Hanya dalam ilmu menusuk jalan darah dengan jarum emas saja dia sudah mendapat tujuh atau delapan bagian dari keahlian gurunya. Kie Siauw Hu melihat anak tanggung itu mengambil jarum. Dia tidak tahu apa perlunya itu, maka dia heran dan kagum sekali ketika tahu-tahu dia telah ditusuk berulang-ulang secara demikian hebat dan tepat. Begitu selesai dia merasakan dadanya tak terlalu sesak lagi.
“Anak yang baik!” Dia berseru dalam girangnya. “Aku tidak sangka kau berada di sini dan sudah dapat mempelajari ilmu tabib begini sempurna!”
Siauw Hu lantas teringat kejadian di Bu-tong-san, pada waktu ia menghadapi Thio Cui San dan In So So. Suami isteri itu saling bergantian bunuh diri dan akhirnya mayat mereka dipeluki Bu Kie. Dia merasa sangat terharu, dia kasihan terhadap anak ini, maka dia membujuk dan menghiburnya seraya memberikan kalungnya yang terbuat dari emas. Hanya ketika itu Bu Kie menampik pemberiannya karena dia sedang sangat berduka dan marah sehingga dia memandang semua tamu yang hadir adalah musuh-musuh yang mendesak kebinasaan ayah dan ibunya. Atas penampikan itu Siauw Hu jadi malu sekali, tetapi dia tidak dapat berbuat apa-apa.
Kemudian pikiran Bu Kie berubah. ketika dia terluka serangan ilmu Hian-beng Sin-ciang, dia ditolong secara mati-matian oleh In Lie Heng, yang sudah mengorbankan banyak tenaga dalamnya. Pertolongan itu dia ingat betul sebab dia merasa berhutang budi. Maka, karena teringat budinya In Lie Heng, dia menjadi ingat juga kebaikan Kie Siauw Hu dan untuk membalas budinya si paman guru, amat pantas jika dia memberikan kesan baik terhadap tunangan sang paman. Semakin usianya bertambah semakin dia dapat berpikir, membedakan yang benar dan yang salah. Dia juga ingat waktu dulu kala sekalian paman gurunya telah membicarakan persoalan minta Go-bi-pay bekerja sama menentang musuh. Jadi Go-bi-pay bukanlah musuh utama, bahkan sama sekali bukan musuh Bu-tong-pay. Dua tahun yang lalu, ketika Bu Kie bertemu dengan Siang Gie Cun di luar rimba, di sana ia menyaksikan Kie Siauw Hu menolong Pheng Hwesio. Perbuatan mulia nona itu membikin ia beranggapan bahwa si nona adalah orang baik. Hanya sekarang ini ia belum dapat berpikir kenapa Siauw Hu, si bibi yang belum menikah itu, sudah mempunyai anak perempuan berumur lebih dari lima tahun. Cuma Siauw Hu yang malu sendiri. Selama ini Bu Kie bisa melihat jelas anaknya bibi itu. Nona cilik itu berdiri diam di sebelah ibunya. Dia masih kecil, cantik sekali. Sepasang alisnya bagaikan dilukis, sepasang matanya hitam dan jeli, dan dengan mata tajam mengawasi padanya.
“Ibu, apakah anak ini si tabib?” kemudian anak itu berbisik di kuping ibunya. “Apakah rasa nyeri ibu sudah baik?”
Mendengar panggilan ‘Ibu’, muka Siauw Hu menjadi merah. Tak dapat dia mencegah rasa jengahnya.
“Ini kakakmu, kakak Bu Kie,” dia menyahut. “Ayah kakakmu ini sahabat ibumu.” Kemudian dia meneruskan kepada Bu Kie dengan suara perlahan. “Dia... dia bernama Put Hwie...“ Dia berhenti sejenak. “Dia... dia she Yo... Yo Put Hwie...”
Bu Kie girang, dia tertawa. “Bagus!” dia berseru. “Aku Thio Bu Kie dan kau Yo Put Hwie!”
Siauw Hu sangat senang melihat sikap wajar dari Bu Kie, sedikit pun tidak tampak sikap yang hendak menegur kepadanya. Hatinya menjadi lega.
“Anak, kepandaian kakakmu sangat hebat,” katanya. “Sekarang rasa nyeriku sudah berkurang.”
Put Hwie memainkan matanya yang jeli itu. Dia mengawasi ibunya, lalu dia mengawasi Bu Kie. Sekonyong-konyong dia maju mendekati bocah di depannya untuk merangkul, mencium pipinya. Bukan main terkejutnya Bu Kie. Nona Put Hwie ini adatnya sangat polos dan wajar. Semenjak masih kecil sekali dia tidak pernah bertemu dengan orang lain kecuali ibu dan pengasuhnya. Sekarang ibunya terluka parah, mereka pun dalam kesukaran besar, menyaksikan Bu Kie menolong ibunya. Maka dia bersyukur bukan main. Adalah kebiasaannya, jika dia hendak mengutarakan kegirangan dan rasa syukurnya, dia suka melompat kepada mereka untuk memeluk atau merangkul, kemudian mencium pipi mereka. Kebiasaan ini sekarang dilakukannya terhadap Bu Kie tanpa rasa malu.
“Hush!” Siauw Hu berseru. “Jangan begitu Hwie-jie. Nanti Kakak Bu Kie jadi tidak senang!”
Put Hwie mementang kedua matanya, dia heran. “Apakah kau tidak senang padaku?” tanyanya. “Kenapa aku tidak boleh berlaku baik kepadamu?”
Bu Kie tertawa. “Aku girang!” sambutnya. “Aku pun suka berbuat baik terhadapmu!” Dan ia balas mencium pipi yang halus dari nona cilik itu.
Put Hwie girang bukan main, dia bertepuk-tepuk tangan. “Hai, tabib kecil, lekas kau obati ibu agar ibu sembuh seluruhnya!” dia berseru. “Nanti aku cium lagi!”
Tidak kepalang girangnya Bu Kie mendapatkan orang demikian manja dan lincah. Selama belasan tahun hidupnya, dia telah bergaul dengan banyak orang, tetapi mereka adalah paman-pamannya dan Siang Gie Cun juga masih lebih tua delapan tahun. Di dalam perahu dia pernah bertemu dengan Ciu Cie Jiak, akan tetapi pertemuan itu sangat pendek, belum sampai satu hari mereka sudah berpisah lagi. Jadi belum pernah dia bergaul dengan sahabat-sahabat cilik sebayanya. Karena itu, mendapati nona ini, dia berpikir. “Kalau benar aku mempunyai adik sekecil ini, yang begini menarik hati, pasti aku sering mengajak dia bermain-main...”
Dalam usia empat belas tahun anak yatim piatu ini masih kekanak-kanakan. Ia kehilangan waktu bermain-main seperti anak-anak lainnya. Sementara itu Kie Siauw Hu sudah menyaksikan semua hadirin yang pada terluka itu. Dia merasa malu untuk mendahului mereka.
“Tuan-tuan ini datang lebih dulu, pergilah kau periksa mereka lebih dulu,” dia berkata kepada Bu Kie. Dia tidak mengetahui duduknya perkara. “Sekarang ini sakitku sudah berkurang banyak.”
“Mereka itu datang untuk berobat kepada Ouw-sinshe,” Bu Kie memberi tahu. “Akan tetapi sekarang Ouw-sinshe sendiri sedang sakit. Mana bisa mengobati orang? Mereka tidak mau pergi, maka biarlah mereka terus menunggu. Kouwkouw, kau bukan mencari Sinshe, jika kau percaya kepada keponakanmu ini, mari sini, biar aku periksa lebih jauh lukamu. Sudah lama juga aku diam di sini, tentang luka-luka aku tahu sedikit.”
Sesungguhnya Kie Siauw Hu sudah mendapat petunjuk agar datang ke lembah ini untuk mencari Tiap-kok Ie-sian Ouw Ceng Gu. Sebab itu dia datang dengan maksud yang sama dengan Kan Ciat beramai. Maka itu dia merasa heran melihat keadaan Kan Ciat semua, tetapi siapa tahu duduknya hal ternyata sederhana saja. Dia lantas tahu bahwa Ouw Ceng Gu tidak berniat menolong mereka. Tapi mengenai Bu Kie, kepercayaannya lantas muncul. Bukankah dia telah berulang-ulang ditusuk dan kini rasa nyerinya berkurang banyak? Jadi dia tidak boleh memandang enteng karena usia bocah ini.
“Baiklah,“ katanya kemudian. “Aku berterima kasih kepadamu! Tidak apa tabib besar tidak mau mengobati aku, asal ada kau si tabib kecil...”
Bu Kie minta bibinya masuk ke kamar samping di mana ia lantas bekerja. Lebih dulu ia guntingi baju si bibi di bagian tubuh yang terluka. Ia mendapatkan tiga luka bacokan golok di bahu, sambungan pundaknya sudah bergeser, di lengan juga ada tulang yang remuk. Di mata kebanyakan tabib, luka-luka itu adalah luka-luka yang sukar untuk diobati, namun di mata muridnya Ouw Ceng Gu, itu hanyalah luka-luka biasa. Maka lebih dulu Bu Kie menyambung rapi tulang yang bergeser itu, kemudian memborehkan obat. Kemudian ia membuat surat obat dan menyuruh si kacung memasaknya hingga matang. Ia belum biasa membalut luka, tapi walau pun rada lambat, dapat juga menyelesaikan tugas ketabibannya.
“Kouwkouw, sekarang silakan beristirahat,” katanya. “Sebentar sesudah kekuatan baal (mematikan rasa) dari obat ini habis, kau akan merasa sakit luar biasa.”
“Terima kasih!” sahut bibi itu.
Bu Kie pergi ke kamar obat untuk mencari buah Angco dan buah Leng. Dia bawa itu untuk diberikan kepada Put Hwie. Ketika dia kembali, si nona sudah tertidur menyender kepada ibunya sebab sudah satu malaman dia tidak tidur. Karena itu dia masukkan saja buah itu ke dalam saku si nona. Kemudian dia kembali ke depan. Lelaki Hoa-san-pay yang muntah darah itu lantas bangkit. Dia menjura dalam kepada si anak tanggung.
“Siauw-sinshe,“ katanya. Ia memanggil ‘Siauw-sinshe’ atau tabib kecil. “Karena Ouw-sinshe tengah sakit, harap kau saja yang menolong kami. Pasti kami akan bersyukur sekali terhadapmu...”
Bu Kie mengawasi orang itu dan kawan-kawannya. Semenjak dia belajar ilmu, sebenarnya belum pernah mencoba lebih jauh kepandaiannya itu kecuali mengobati Siang Gie Cun dan Kie Siauw Hu ini. Akan tetapi dia ingat kata-katanya Ouw-sinshe, maka dia cepat menguasai diri.
“Rumah ini adalah rumah Ouw-sinshe,” dia berkata. “Sedangkan aku sendiri adalah orang yang menderita sakit dan berada di bawah rawatannya. Mana berani aku melancangi tuan rumah?”
Orang Hoa-san-pay mengawasi si bocah, dia seperti dapat menerka isi hati orang. “Pada umumnya seorang tabib kenamaan memang sudah berusia lima atau enam puluh tahun,“ dia berkata untuk mengumpak, “Karena itu sungguh luar biasa Siauw-sinshe yang usianya masih muda sekali tapi kepandaiannya benar-benar langka. Maka itu, Sinshe, aku mohon sukalah kau menolong kami.”
Si orang terokmok (gemuk) she Nio yang romannya seperti hartawan turut bicara. “Kami empat belas orang memiliki sedikit nama di kalangan kangouw,” katanya, “Maka itu, jika kami dapat ditolong Siauw-sinshe, sesudah kami pulang nanti pasti kami akan menguwarkan kepandaian Sinshe ini supaya menjadi tersohor hingga dalam satu malam saja kau akan menjadi terkenal di seluruh negeri!”
Dasar masih terlalu muda dan belum punya pengalaman, Bu Kie menjadi tertarik dengan kata-kata yang mengumpak-umpak itu, hatinya menjadi girang sekali.
“Apa bagusnya nama tersohor di seluruh negeri?” katanya. “Ouw-sinshe sendiri tidak dapat menolong kalian, apa lagi aku? Apakah yang bisa aku perbuat? Agaknya luka kalian bukannya enteng, maka begini saja, aku akan membantu meringankan rasa nyerimu.”
Kemudian dia mengambil obat-obatan guna memberi pertolongan. Setelah melihat luka orang-orang itu, dia menjadi heran. Nyata bahwa setiap luka berbeda satu dengan yang lain, dan semuanya adalah luka-luka yang luar biasa. Belum pernah Ouw Ceng Gu mengajarkan dia tentang bermacam-macam luka seperti ini. Ada orang yang agaknya dipaksa menelan beberapa puluh batang jarum, ada orang yang isi perutnya tergoncang tergempur tenaga dalam, ada yang beberapa jalan darahnya dilukai dengan racikan pisau. Semua itu menandakan bahwa si pembuat luka juga mengerti ilmu tabib dengan baik sekali. Semua itu adalah luka yang sangat sulit diobati.
Ada lagi orang yang pinggiran paru-parunya terpaku sehingga tiada hentinya dia batuk-batuk dan mengeluarkan darah, ada pula orang yang tulang-tulang iganya pada patah tetapi luka itu tidak mengganggu paru-paru atau jantung. Seorang lagi terkutungkan kedua ujung tangannya lalu tangan-tangan yang buntung itu, yang kiri ditaruh di bahu kanan sedangkan yang kanan ditaruh pada bahu kiri. Masih ada pula yang seluruh tubuhnya bengkak seperti bekas dipagut kelabang atau binatang berbisa lainnya.
“Semua luka mereka luar biasa. Tidak ada satu pun yang bisa aku obati,” pikirnya. “Orang yang membuat luka itu hebat sekali, dia sangat lihay. Kenapa dia menyiksa orang sampai begini rupa?”
Karena berpikir demikian dia jadi teringat kepada lukanya Kie Siauw Hu. “Luka bibi kelihatan biasa saja, apakah bibi pun mendapat luka dalam?” pikirnya dengan hati terkejut. “Kalau tidak, mengapa bibi seorang yang dikecualikan?”
Lekas-lekas ia meninggalkan Kan Ciat semua. Ia berlari ke dalam. Segera ia memeriksa nadinya Siauw Hu. Ia menjadi kaget. Ia mendapatkan nadi si bibi bergerak-gerak, sebentar keras sebentar kendor, atau sebentar kemudian jalannya lurus dan sesat bergantian. Pasti semua itu disebabkan sesuatu dari dalam tubuh. Ia terkejut karena ia tidak mengerti akan perubahan ini. Keempat belas orang itu lukanya aneh, namun ia tidak memikirkannya. Di antara mereka ada orang Khong-tong-pay yang ada sangkut pautnya dengan kebinasaan ayah ibunya, maka pantaslah kalau mereka tersiksa. Akan tetapi Kie Siauw Hu, bibinya ini, tak dapat ia tidak menolongnya. Maka lekas-lekas ia pergi ke kamarnya Ouw Ceng Gu.
“Sinshe! Apa sinshe sudah tidur?” ia tanya perlahan.
“Ada apa?” ia mendapat jawaban. “Tidak peduli siapa, aku tidak akan mengobatinya!”
“Ya, sinshe. Hanya luka mereka itu, semuanya luka yang aneh-aneh...”
Bu Kie lantas saja menuturkan tentang semua luka itu. Ouw Ceng Gu yang teraling sekosol mendengarkan. Kalau ada hal yang tidak dia mengerti maka dia lantas bertanya untuk menegaskan. Untuk ini Bu Kie mesti pergi keluar kepada orang-orang yang luka itu untuk memeriksa, selanjutnya ia memberikan jawaban yang jelas kepada Tiap-kok Ie-sian. Maka itu dibutuhkan waktu setengah jam untuk mendapat tahu secara jelas luka semua lima belas orang itu berikut Siauw Hu. Beberapa kali Ouw-sinshe mengeluarkan suara tak jelas, agaknya ia sedang berpikir keras. Kemudian ia berkata,
“Hm, semua luka itu tidak akan dapat menyulitkan aku!“
Belum lagi Bu Kie sempat bertanya, mendadak ada orang yang bersuara di belakangnya, katanya,
“Ouw-sinshe, pemilik bunga emas itu bilang kepadaku untuk kusampaikan kepada kau. Dia bilang: ‘Sia-sia saja kau dipanggil Tiap-kok Ie-sian, sebab aku menduga di antara lima belas macam luka ini tak ada satu pun yang sanggup kau sembuhkan’. Ha-ha-ha! Ternyata benar. Sekarang kau menyembunyikan diri, kau berpura-pura sakit!”
Bu Kie berpaling. Ia mengenali si orang tua berkepala pelontos Seng-ciu Ka-lam Kan Ciat dari Khong-tong-pay. Tadinya ia menyangka rambut orang rontok wajar, tapi kemudian ia tahu bahwa rambut itu rontok karena kepala si gundul pernah dilabur obat yang sifatnya keras oleh si pemilik bunga emas atau Kim-hoa hingga rambutnya habis. Bahkan sisa obat beracun menempel dan menembus kulit sehingga selanjutnya kepala itu menjadi gatal terus-terusan dan timbul kekuatiran bahwa selewatnya beberapa hari racun jahat itu akan menyerang polo atau otak sehingga orang dapat menjadi gila. Sekarang pun kedua tangannya dirantai oleh kawan-kawannya supaya tidak dapat menggaruk, bila tidak, tidak akan dapat melawan rasa gatalnya itu. Atas kata-kata jago Khong-tong-pay itu, Ouw Ceng Gu menjawab dengan tawar,
“Bagiku, aku bisa menyembuhkan syukur, tidak dapat pun tak mengapa. Ringkasnya, aku tak mau mengobati kau! Kulihat kau masih dapat hidup sampai tujuh atau delapan hari lagi, karena itu baiklah kau lekas-lekas pulang menemui isteri dan anak-anakmu,! Apa perlunya kau banyak omong di sini? Apakah gunanya itu?”
Kan Ciat menggoyang-goyangkan kepalanya. Apa bila ia mendongkol, berduka dan kuatir, rasa gatalnya menyerang hebat sekali. Karena ia tidak bisa menggaruk, ia membenturkan kepalanya berulang-ulang pada tembok, sedang kedua tangannya yang digerak-gerakkan, mendatangkan suara berkelontrangan yang sangat berisik. Dan terdengar jelas napasnya yang memburu.
“Ouw-sinshe, orang yang menggunakan bunga emas itu, siang atau malam bakal datang kemari!” Ia berkata dengan sengit. “Aku juga sudah melihat bahwa kau pun tidak bakalan mati secara baik, sebab itu aku pikir lebih baik kita bergabung dan bekerja sama melawan dia. Bukankah lebih baik begitu dari pada kau menanti kematianmu dengan tak berdaya?”
“Jikalau kalian semua masih dapat melawan dia, tentu siang-siang kalian telah membunuh mampus padanya,” kata Ouw Ceng Gu “Apa perlunya aku mendapat lima belas kantong nasi yang tidak mempunyai guna?”
Kan Ciat menjadi putus asa. Dari omong keras dia jadi merendah, memohon pertolongan tabib pandai itu. Tapi Ouw Ceng Gu sudah bertekad dengan keputusannya bahwa dia tak mau ambil peduli. Akhirnya Kan Ciat menjadi marah hingga dia berjingkrakan.
“Baiklah!” serunya saking nekatnya. “Ke kiri dan ke kanan toh bakal mampus, maka kalau betul-betul mesti mampus, baiklah, aku akan menggunakan api untuk membakar kandang anjingmu ini. Kami yang biasa memasukkan golok putih bersih dan mengeluarkan golok berdarah merah, biar kami membikin kau terjungkal, pendeta bangsat! Biarlah kita sama-sama mengantarkan jiwa kita di tempat ini!”
Pada saat itu dari luar masuk lagi seorang lainnya, yaitu orang yang ditolong Bu Kie waktu mau muntahkan darah. Melihat kekalapan Kan Ciat ia meraba pinggang dan mengeluarkan sebatang Go-bi Kong-cek (senjata semacam pusut/ jarum). Sambil menotol dada Kan Ciat dengan pusutnya, ia berkata,
“Kau berdosa terhadap Ouw-cianpwe, dan aku she Sie merasa tak enak sekali. Kau ingin masuk pisau putih yang keluar pisau merah? Baiklah! Aku akan mengiringi keinginanmu.”
Sebenarnya ilmu silat Kan Ciat lebih tinggi dari pada si orang she Sie. Tapi karena kedua tangannya diikat rantai besi, maka ia tak melawan dan hanya mengawasi dengan mata terbelalak.
“Ouw-cianpwe,” si orang she Sie berkata dengan suara nyaring, “Boanpwe Sie Kong Wan murid Sian-ie Sian-seng dari Hoa-san memberi hormat.“ Seraya berkata demikian ia pun menekuk lutut dan manggutkan kepala empat kali.
Melihat itu, dalam hati Kan Ciat lantas timbul sedikit harapan. Ouw Ceng Gu yang tidak dapat dipaksa dengan kekerasan, mungkin dapat dihadapi dengan kelembutan. Sesudah menjalankan peradatan besar, Sie Kong Wan berkata lagi,
“Kami benar-benar bernasib sial, karena Ouw-sinshe justru sakit pada waktu kami memerlukan pertolongan. Tapi kami tahu bahwa di sini ada saudara kecil yang mempunyai kepandaian tinggi dalam ilmu pengobatan. Maka itu kami mohon Ouw-cianpwe suka memberi permisi agar saudara kecil itu dapat mengobati luka kami yang sangat luar biasa. Di kolong langit, kecuali murid Tiap-kok le-sian tiada orang lain yang dapat menyembuhkan luka kami.”
“Anak ini bernama Thio Bu Kie,” si tabib malaikat berkata dengan suara tawar. “Dia putera Thio Cui San. Aku Ouw Ceng Gu manusia jahat dari agama siluman tidak punya sangkut paut dengan murid dari partai yang lurus bersih. Dia sendiri kena racun dingin dan minta pertolonganku, tetapi aku sudah bersumpah bahwa kecuali anggota Beng-kauw, aku tidak mau menolong orang. Anak she Thio itu tak sudi menjadi anggota agama kami, mana bisa aku menolongnya?”
Hati Sie Kong Wan mencelos. Semula dia menduga bahwa Bu Kie adalah murid Tiap-kok Ie-sian. Sesudah berdiam sejenak, si tabib berkata lagi.
“Mengapa kalian tidak mau pergi dari situ? Huh! Huh! Apa kalian sangka aku akan merasa kasihan? Tanyakanlah anak itu. Tanyalah dia sudah berapa lama dia diam di rumahku.”
Sie Kong Wan dan Kan Ciat lantas mengawasi Bu Kie yang lalu mengacungkan dua jari tangannya.
“Dua puluh hari?” tanya Sie Kong Wan.
“Tepat dua tahun dua bulan,” jawabnya.
Kan Ciat dan Sie Kong Wan merasa kepalanya seperti disiram air es. Mereka saling mengawasi dengan mulut ternganga.
KIM-HOA CU-JIN (MAJIKAN BUNGA EMAS)
“Biar pun dia di sini sepuluh tahun lagi, aku tetap tidak menolongnya,” kata Ceng Gu, “Hanya sayang, dalam waktu satu tahun ini racun dingin yang mengeram dalam isi perutnya akan mengamuk sehingga biar bagaimana pun juga dia tidak bisa hidup setahun lagi. Aku pernah bersumpah di hadapan leluhur agama kami, bahwa biar pun ayah sendiri, biar pun anak kandungku sendiri, aku tetap tak akan menolong jika dia bukan murid Beng-kauw.”
Dengan putus harapan Kan Cat dan Sie Kong Wan menghela napas berulang-ulang. Tapi baru saja mereka mau keluar, mendadak Ouw Ceng Gu berkata,
“Bocah Bu-tong-pay ini mengerti sedikit ilmu pengobatan. Meski pun ilmu pengobatan Bu-tong tidak dapat menandingi ilmu ketabiban Beng-kauw, kurasa dia tidak akan membinasakan kalian dengan pengobatan yang keliru. Apa dia suka monolong atau tidak, itu bukan urusanku.”
Sie Kong Wan agak terkelut. Kalau didengar dari suaranya, si tabib malaikat memberi isyarat supaya Bu Kie memberikan pertolongan. Maka itu dia lantas berkata,
“Jika Thio Siauw-hiap sudi menolong, kami punya harapan lagi untuk bisa hidup terus.”
“Bukan urusanku!” bentak Ceng Gu. “Bu Kie kau dengarlah. Aku melarang kau mengobati mereka di rumahku. Kalau kalian tidak berada di dalam rumah ini, aku tak peduli.”
Kan Ciat dan Sie Kong Wan kaget dan heran. Mereka sungguh tak mengerti apa maksud si tabib malaikat yang beradat aneh ini. Namun Bu Kie yang sangat pintar lantas tahu apa maunya Ceng Gu.
“Kalian jangan mengganggu Ouw-sinshe yang sedang sakit,” katanya. “Ikutlah aku.” Mereka lalu mengikuti Bu Kie ke ruang depan. “Pengetahuanku tentang ilmu ketabiban sangatlah cetek, sedangkan luka kalian sangat luar biasa,” kata si bocah. “Karena itu aku tidak mempunyai pegangan apakah aku akan berhasil atau tidak. Kalau kalian percaya dan rela diobati olehku, maka bolehlah aku mencoba-coba. Tapi aku tidak bertanggung jawab akan keselamatan jiwa kalian.”
Pada saat itu mereka sedang menderita hebat. Rasa sakit, gatal, meriang dan kesemutan tercampur menjadi satu. Mereka mau mati tidak bisa mau hidup pun tak dapat. Maka itu, begitu mendengar kata-kata Bu Kie, mereka segera menyetujui untuk menerima pertolongan bocah itu dengan rela hati. Sesudah mendapat jawaban Bu Kie lantas berkata lagi,
“Sebagaimana kalian tahu, Ouw-sinshe tidak mengijinkan aku mengobati kalian di rumahnya. Ia kuatir kalau kalian mati di sini maka nama harumnya sebagai Ie-sian (Tabib Malaikat) akan ternoda. Karena itu marilah kita keluar.”
Mendengar perkataan Bu Kie, mereka menjadi sangsi. Apakah kepandaiannya seorang anak-anak yang baru berusia belasan tahun? Kalau dia salah mengobati tentu penderitaan akan ditambah dengan penderitaan lain. Tapi Kan Ciat sudah berteriak.
“Kulit kepalaku gatal bukan main. Saudara kecil, kau boleh mengobati aku lebih dulu.” Sehabis berkata begitu dia segera bertindak keluar.
Bu Kie berpikir sejenak kemudian masuk ke kamar obat di mana ia mengambil Lam-seng, Hong-hong, Pek-tit, Thiam-ma, Kiang-ho, Pek-hu-cu, Cie-souw dan sebagainya, semuanya belasan macam bahan obat. Setelah itu ia memerintahkan seorang kacung menggilingnya dan mencampurnya dengan sedikit arak untuk membuat koyo yang lalu ditempelkan pada kepala Kan Ciat yang gundul. Begitu koyo menempel, dia langsung mengeluarkan teriakan kesakitan sambil melompat-lompat.
“Aduh...! Aduh...!” teriaknya. “Sakit sekali... tapi... tapi... masih mending dari pada gatal.“
Sambil menggertak gigi dia berlari-lari dan berteriak-teriak seperti orang edan. Beberapa lama kemudian kecepatan larinya lebih perlahan dan teriakannya mulai mereda.
“Enakan... mendingan...“ katanya dengan napas tersengal-sengal. “Bocah ini punya kepandaian lumayan... ehh, salah! Thio Siauw-hiap, kau memiliki ilmu sangat tinggi dan aku merasa sangat berterima kasih sekali padamu!”
Melihat hasil itu, semua orang segera mohon pertolongan Bu Kie. Di antara mereka yang paling menderita adalah orang yang terus bergulingan di tanah sambil mencekal perut. Ternyata dia telah dipaksa menelan tiga puluh ekor lebih lintah hidup yang sekarang menghisap darahnya di dalam perut. Untung Bu Kie teringat dalam salah satu kitab dia pernah membaca lintah dalam perut harus ditaklukkan dengan madu.
Buru-buru ia memerintahkan seorang kacung mengambil semangkok madu yang lalu diberikan kepada orang itu. Dan sekali lagi ia berhasil. Dengan demikian ia terus bekerja keras hingga fajar menyingsing. Tidak lama kemudian Kie Siauw Hu dan puterinya keluar dari kamar. Melihat Bu Kie masih repot mengobati orang, Siauw Hu segera memberi bantuan apa yang ia bisa. Belasan orang ini sesungguhnya jago-jago yang malang-melintang di dunia Kangouw, tapi sekarang mereka jadi jinak sekali. Dengan sabar mereka menunggu giliran dan tidak berani membantah apa yang dikatakan si bocah.
Di antara mereka hanya Yo Put Hwie yang bebas dari rasa jengkel atau bingung. Sambil mengunyah buah angco dia berlari-larian kian kemari untuk menangkapi kupu-kupu yang berterbangan di dalam kebun.
Sesudah lewat tengah hari barulah Bu Kie mulai mengobati luka-luka luar. Dengan dibantu Siauw Hu dia menghentikan keluarnya darah, memberi obat untuk meredakan rasa sakit, membalut luka dan sebagainya. Sesudah selesai Bu Kie segera pergi mengaso di kamarnya. Baru saja pulas beberapa jam, dia disadarkan suara ribut ribut. Buru-buru dia bangun dan pergi keluar untuk menengok para penderita. Ternyata keadaan sebagian penderita cukup memuaskan, tetapi keadaan yang sebagian lagi berbalik menghebat. Bu Kie jadi bingung, dia tak tahu apa yang harus diperbuat. Karena tak berdaya lagi, akhirnya dia terpaksa menemui Ouw Ceng Gu dan menceritakan keadaan mereka.
“Mereka bukan anggota Beng-kauw, peduli apa kalau mereka mampus,” kata Tiap-kok Ie-sian dengan suara tawar.
Mendadak Bu Kie mendapat ingatan dan dia lantas berkata, “Andai kata ada seorang murid Beng-kauw yang di luar badannya tidak terdapat luka, sedangkan perutnya kembung bengkak, warna kulitnya hitam biru dan terus menerus dalam keadaan pingsan, cara bagaimana Sinshe akan mengobatinya?”
“Kalau benar dia murid Beng-kauw, aku akan mengobatinya dengan menggunakan San-ka, Liong-bwee, Ang-hoa, Seng-tee, Leng-sian, To-ouw ” kata Ceng Gu. “Obat-obatan itu aku masak dengan arak encer sambil menambahkannya dengan sedikit To-pian. Sesudah minum godokan tersebut si sakit akan buang-buang air dan mengeluarkan darah beracun dari kotorannya.”
“Ouw-sinshe apa yang akan kau perbuat jika kuping kiri seorang murid Beng-kauw dituangi timah cair, kuping kanan dituangi dengan air perak (air raksa) dan kedua matanya dilabur dengan cat sehingga dia menderita kesakitan hebat dan matanya tidak bisa melihat lagi?” tanya pula si bocah.
Ouw Ceng Gu naik darah. “Siapa yang berani berlaku begitu kejam terhadap murid Beng-kauw?!” bentaknya.
“Musuhnya itu memang kejam luar biasa,” kata Bu Kie. “Tapi menurut pendapatku, yang paling perlu adalah mengobati lebih dulu kemudian barulah kita menanyakan siapa adanya musuh itu.”
Sesudah berpikir sejenak Tiap-kok Ie-sian berkata: “Kalau dia memang murid Beng-kauw, aku akan menuang air perak ke dalam kuping kirinya. Timah akan lumer dan bercampur dengan air perak sehingga cairan itu akan mengalir ke luar. Kemudian aku akan memasukkan jarum emas ke dalam kuping kanannya. Air perak akan menempel di jarum itu yang dengan perlahan dapat ditarik keluar. Mengenai cat yang masuk di kedua matanya, kurasa akan dapat dipunahkan dengan kepiting yang ditumbuk hancur kemudian dibalutkan pada matanya.”
Demikianlah, untuk setiap luka yang aneh Bu Kie minta pertolongan Ouw Ceng Gu dengan menggunakan nama ‘murid Beng-kauw’ dan sang tabib pun akan memberikan bantuannya dengan segala senang hati. Kalau lukanya terlampau aneh dan si penderita tidak menjadi mendingan dengan pertolongan pertama, Bu Kie segera menanyakan lagi pendapat Tiap-kok Ie-sian yang lalu mengasah otak dan mencoba lagi dengan cara pengobatan lainnya. Sesudah berselang lima enam hari, semua orang dapat dikatakan mulai sembuh seluruhnya.
Luka yang diderita Kie Siauw Hu adalah luka dalam, tercampur racun. Tenaga pukulan musuh melukai perutnya, sementara itu racun pun sudah masuk ke dalam tubuhnya. Sesudah memeriksa dengan teliti, Bu Kie segera memberi obat pemunah racun kepadanya dan selang beberapa hari, keadaannya jauh lebih baik. Sementara itu para penderita sudah mendirikan sebuah gubuk di depan rumah Ouw Ceng Gu dan mereka tidur menggeletak di atas tanah yang hanya dialasi rumput kering. Beberapa tombak dari gubuk itu, Kie Siauw Hu juga membuat sebuah gubuk yang lebih kecil untuk dia dan puterinya. Bu Kie sangat capai dan lelah. Tapi ia gembira dan bersemangat sekali karena bukan saja ia menolong sesama manusia, tapi juga sudah memperoleh resep-resep mujijat dan cara-cara pengobatan yang luar biasa dari Tiap-kok Ie-sian.
Tapi pagi itu ia kaget bukan main karena waktu bertemu dengan Kie Siauw Hu, ia melihat sinar hitam pada alis nona Kie. Apakah penyakitnya kumat lagi? Apa racun itu mengamuk lagi? Cepat-cepat ia memeriksa nadi Siauw Hu. Sesudah itu ia mencampur ludah Siauw Hu dengan bubuk obat Pek-hap-san dan begitu lekas melihat campuran itu, ia bisa memberi kepastian bahwa memang benar racun mengamuk lagi. Ia mengasah otak mati-matian, akan tetapi tetap tidak bisa memecahkan sebab musabab dari perubahan itu. Karena itu ia segera meminta pertolongan Ouw Ceng Gu yang lantas memberi-tahu cara pengobatan lain kepadanya. Benar saja, sesudah diobati menurut petunjuk baru itu, keadaan Siauw Hu menjadi lebih baik.
Tetapi sungguh heran, sehabis Siauw Hu perubahan luar biasa mendadak datang kepada diri Kan Ciat. Kepala gundulnya yang sudah mulai sembuh mendadak borokan lagi dan mengeluarkan bau yang tak sedap. Perubahan itu terjadi silih berganti atas diri kelima belas orang itu, yang satu mendingan, yang lain menghebat lagi penyakitnya! Bu Kie bingung bukan main. Ia pergi menemui Tiap-kok Ie-sian dan menuturkan kejadian yang luar biasa itu.
“Sebab musabab dari perubahan itu adalah karena luka mereka betul-betul aneh, berbeda dengan luka biasa,” menerangkan sang tabib malaikat. “Kalau mereka dapat disembuhkan oleh tabib biasa maka mereka tak perlu datang kemari.”
Malam itu Bu Kie tak dapat pulas. Ia berduka dan mencoba memecahkan teka-teki yang rumit.
“Perubahan penyakit itu adalah kejadian biasa,” pikirnya. “Tapi walau pun begitu tidak bisa jadi semua penderita itu mengalami perubahan hingga berkali-kali, sebentar baik sebentar hebat,” Ia gelisah dan gulang-guling di atas pembaringan.
Kira-kira tengah maiam, tiba-tiba ia mendengar suara tindakan kaki yang amat enteng dan lewat di depan kamarnya. Ia melompat bangun dan mengintip dari celah-celah jendela. Ia melihat berkelebatnya bayangan manusia yang segera menghilang di belakang pohon kuil. Jika dilihat dari pakaian dan gerak-geriknya, orang itu bukan lain dari pada Ouw Ceng Gu.
“Eh-ehh...! Mengapa Ouw Sinshe berkeliaran di tengah malam buta?” tanyanya dalam hati. “Apa cacarnya sudah sembuh?”
Tak lama kemudian Bu Kie melihat Tiap-kok Ie-sian masuk ke dalam gubuk Kie Siauw Hu. Jantungnya berdebar keras dan jiwa ksatrianya tampil ke muka.
“Apakah dia mau menganiaya atau menghina Kie-kouwkouw?” tanyanya pada diri sendiri. “Meski pun aku bukan tandingannya, tak dapat aku mengawasi dengan berpeluk tangan.” Ia melompat keluar jendela dan berindap indap mendekatii gubuk Kie Siauw Hu.
Gubuk tersebut terbuat dari alang-alang hanya untuk menedeng angin dan embun, di dalamnya kosong melompong, tiada sekosol, tiada aling-aling apa pun juga. Dengan hati bergoncang Bu Kie mengintip dari belakang gubuk. Ia melihat sang bibi bersama puterinya sedang pulas nyenyak di atas setumpuk rumput-rumput kering. Sekonyong-konyong Ouw Ceng Gu merogoh saku dan mengeluarkan sebutir pil yang lalu dicemplungkan ke dalam mangkok obat Siauw Hu. Setelah itu ia memutar tubuh dan terus berjalan keluar. Sekelebatan Bu Kie melihat bahwa muka orang tua itu masih ditutup dengan topeng kain hijau. Bu Kie mengeluarkan keringat dingin. Baru sekarang dia tahu bahwa ternyata Ouw Ceng Gu-lah yang sudah menaruh racun sehingga para penderita tidak bisa sembuh.
Sesudah keluar dari gubuk Kie Siauw Hu, Ceng Gu masuk ke gubuk lain di mana dia berdiam agak lama. Bu Kie mengerti bahwa untuk meracuni keempat belas orang dengan racun yang berbeda-beda, si tua memerlukan waktu yang lebih banyak. Pada lain saat si bocah sudah masuk ke gubuk dan mencium mangkok obat Siauw Hu. Di dalam mangkok terisi godokan Pat sian-thung dan ia telah berpesan supaya begitu bangun tidur, Kouwkouw segera minum obat itu. Tapi sekarang godokan itu mengeluarkan bau-bauan yang menusuk hidung. Sekonyong-konyong terdengar langkah kaki. Buru-buru Bu Kie merebahkan diri di atas tanah. Ia tahu bahwa Ouw Ceng Gu sudah kembali ke kamar tidurnya. Sesudah menunggu beberapa lama, dia segera menaruh mangkuk obat itu di luar gubuk.
“Kie-kouwkouw! Kie-kouwkouw!” ia memanggil-manggil dengan suara perlahan.
Sebagai seorang ahli silat, pantasnya Siauw Hu mudah tersadar. Tapi sesudah si bocah memanggil berulang-ulang, ia masih pulas. Karena terpaksa Bu Kie lantas masuk kemudian menggoyang-goyang badan bibinya berulang kali. Dengan kaget Siauw Hu tersadar.
“Siapa?” tanyanya.
“Kouwkouw, aku... ” bisiknya. “Mari kita keluar.”
Siauw Hu mengerti bahwa kedatangan Bu Kie di tengah malam tentu disebabkan kejadian penting. Perlahan-lahan ia menarik lengannya yang ditandalkan di bawah kepala puterinya kemudian keluar dari gubuk bersama-sama si bocah.
“Kie-kouwkouw,” bisik Bu Kie, “ada orang yang menaruh racun di mangkok obatmu. Buanglah obat itu, tetapi jagalah jangan sampai diketahui orang. Besok aku akan memberi penjelasan kepadamu.”
Siauw Hu manggutkan kepala dan Bu Kie segera kembali ke kamarnya. Karena kuatir ketahuan, dia masuk dengan melompati jendela. Pada keesokan paginya, setelah sarapan Bu Kie mengajak Yo Put Hwie pergi menangkap kupu-kupu. Mereka berlari-larian, makin lama makin jauh dari rumah Ouw Ceng Gu. Siauw Hu yang mengerti maksud si bocah, lantas mengikuti dari belakang. Selama beberapa hari Bu Kie sering bermain-main dengan si nona cilik sehingga perginya ketiga orang itu sama sekali tak menimbulkan kecurigaan. Sesudah kurang lebih satu lie, tibalah mereka di sebuah tanjakan gunung. Bu Kie menghentikan langkahnya dan segera duduk di atas rumput, sedangkan Siauw Hu segera berkata kepada puterinya,
“Put-jie sekarang jangan menguber kupu-kupu lagi. Pergi petik bunga-bunga dan buatlah tiga buah topi bunga untuk kita bertiga.”
Si nona kecil menjadi girang sekali dan sambil tertawa nyaring ia berlari-lari untuk mencari bunga.
“Kouwkouw,” Bu Kie mulai, “apakah kau punya permusuhan dengan Ouw Ceng Gu? Dialah yang menaruh racun ke dalam mangkok obatmu.”
Siauw Hu terkejut sekali. “Aku belum pernah mengenal Ouw Ceng Gu dan hingga hari ini aku belum pernah bertemu muka dengannya,” jawabnya. Ia berdiam sejenak seperti orang sedang berpikir, kemudian berkata lagi, “Tiap kali bicara mengenai Ouw-sinshe, Thia-thia (ayah) dan Suhu selalu mengatakan bahwa dia adalah seorang tabib nomor satu di dunia pada jaman ini. Tetapi mereka pun tidak mengenal Ouw-sinshe. Aku sungguh tidak mengerti mengapa Ouw-sinshe mencoba mencelakakan aku.”
Si bocah lantas menuturkan kejadian tadi malam dan menambahkan. “Di dalam godokan Pat-sian-thung itu aku mengendus bau rumput Pat-sian-co dan Touw-kut-kun yang sangat tajam. Kedua daun obat itu memang dapat mengobati luka, tetapi racunnya sangat hebat dan tidak boleh digunakan terlalu banyak. Selain itu sifat kedua daun obat tersebut juga bertentangan dengan delapan macam obat yang terdapat dalam Pat sian-thung. Maka itu biar pun tidak membahayakan jiwa, luka Kouwkouw semakin sukar disembuhkan.”
Siauw Hu tersenyum. “Kau mengatakan bahwa Ouw-sinshe juga meracuni empat belas penderita yang lain,” katanya. “Hal ini lebih mengherankan lagi. Terhadap aku, kita dapat mengandaikan saja bahwa secara tak sengaja ayah atau Go-bi-pay pernah menyinggung Ouw-sinshe. Tapi bagaimana terhadap yang lainnya? Apa mungkin keempat belas orang itu semuanya berdosa terhadap Ouw-sinshe?”
Bu Kie mengangguk. “Memang! Memang amat mengherankan,” katanya sambil menghela napas. “Kie-kouwkouw, selat Ouw-tiap-kok adalah tempat yang terpencil dan tidak banyak diketahui orang. Bagaimana kau dan yang lain-lainnya bisa datang kemari? Siapa adanya Kim-hoa Cu-jin (Majikan Bunga Emas) yang sudah melukai kau? Urusan ini sebenarnya tiada sangkut pautnya dengan aku dan menurut pantas, sebenarnya aku tidak boleh bertanya macam-macam. Akan tetapi karena persoalan ini berbelit-belit, maka aku harap kau tidak menjadi kecil hati.”
Paras muka Siauw Hu lantas berubah merah. Ia mengerti maksud si bocah yang rupanya kuatir kalau pertanyaan itu akan menyentuh persoalan puterinya. Persoalan mengapa sebelum menikah ia sudah memiliki anak. Sesudah berpikir sejenak, ia berkata dengan suara parau,
“Kau sudah menolong jiwaku, maka tak dapat aku menyembunyikan sesuatu terhadapmu. Di samping itu, meski pun masih kanak-kanak kau memperlakukan aku dan Put-jie luar biasa baiknya. Baiklah, aku akan menceritakan segala penderitaanku kepadamu, satu-satunya orang di dunia yang boleh mendengar rahasiaku.” Sehabis berkata begitu, air matanya mengucur. Ia mengambil sapu tangan dan sesudah menyusut air mata kemudian berkata,
“Semenjak aku bentrok dengan kakak seperguruan dua tahun lebih yang lalu, aku tak berani menemui Suhu lagi... aku tak berani pulang...”
“Hmm! Teng Bin Kun...! Kouwkouw, kau tidak usah takut,” kata Bu Kie.
“Bagaimana kau tahu?” tanya Siauw Hu dengan rasa terkejut dan heran.
Bu Kie segera memberi-tahu bahwa pada malam itu, bersama Siang Gie Cun dia telah menyaksikan peristiwa menolong Pheng Hwesio. Siauw Hu menghela napas.
“Memang... rahasia tak mungkin ditutupi,” katanya.
“Kouwkouw, kau tak usah terlalu berduka,“ kata Bu Kie, “In Liok-siok adalah orang baik. Kalau kau tidak suka menikah dengannya, urusan itu bukan urusan yang terlampau besar. Begini saja, kalau bertemu dengan Liok-siok, aku akan memberi-tahu dia bahwa kau tidak suka menikah dan dia merdeka untuk mencari isteri lain!”
Mendengar perkataan yang polos dan jujur itu, yang keluar dari otak sederhana, Siauw Hu tertawa getir.
“Anak,” katanya dengan suara gemetar. “Percayalah bahwa aku bukan sengaja berbuat dosa terhadap pamanmu. Waktu itu aku... aku... tidak punya jalan lain... dan aku pun menyesal sekali...“ Ia tidak meneruskan ucapannya dan air mata kembali mengucur.
Ia mengawasi si bocah dan berkata dalam hati, “Anak ini masih suci bersih, bagaikan selembar kertas putih. Ahh... Lebih baik aku tidak menceriterakan segala hal percintaan kepadanya. Lagi pula urusan pribadi ini tiada sangkut pautnya dengan dia.“ Berpikir demikian ia lantas berkata,
“Sesudah cekcok dengan Teng-suci, dengan membawa Put-jie aku bertani dan hidup mengasingkan diri di tempat yang terpisah kira-kira tiga ratus lie di sebelah barat Ouw-tiap-kok ini. Selama dua tahun lebih hanya bergaul dengan kaum petani dan aku dapat melewati hari tanpa banyak pikiran. Setengah bulan yang lalu aku mengajak Put-jie ke kota untuk membeli kain guna pakaian anakku. Di luar dugaan, di atas sebuah tembok, secara kebetulan aku melihat gambar lingkaran Hud-kong (lingkaran sinar Buddha yang suci) dan sebatang pedang.
Itu adalah tanda rahasia memanggil kawan dari partai Go-bi-pay. Aku bingung dan sangsi. Sesudah menimbang-nimbang, aku anggap bahwa meski pun aku sudah bentrok dengan Teng-suci, tetapi aku belum pernah melakukan perbuatan yang menghina guru atau mengkhianati partai. Selain itu bentrokan tersebut juga tak ada sangkut pautnya dengan Suhu dan saudara seperguruan lainnya. Tanda itu mungkin diberikan oleh salah seorang saudara seperguruanku yang sedang menghadapi bahaya besar dan kalau benar begitu, aku tidak pantas berpeluk tangan. Demikianlah, dengan menuruti petunjuk tanda rahasia itu, aku pergi ke Hong Yang.
Di kota Hong Yang aku kembali melihat tanda itu yang memberi petunjuk supaya kawan-kawan datang di rumah makan Lim-hway-kok. Karena sudah terlanjur datang, aku segera menyusul ke situ. Ternyata di rumah makan sudah berkumpul tujuh delapan orang, di antaranya terdapat Seng-ciu Ka-lam Kan Ciat dari Khong-tong-pay, Sie Kong Wan dari Hoa-san-pay dan lain-lain. Anggota Go-bi-pay hanya aku seorang. Aku mengenal Kan Ciat dan Sie Kong Wan, maka aku menanyakan sebab musabab dari berkumpulnya mereka di rumah makan itu. Mereka memberi-tahu bahwa mereka datang karena melihat tanda rahasia partainya, tetapi seperti juga aku mereka tidak tahu sebab musabab dari panggilan itu.
Sehari suntuk kami menunggu tapi tidak ada yang datang lagi. Pada keesokan harinya dengan beruntun datang beberapa orang lainnya, ada orang Sin-kun-bun, ada orang Siauw-lim-pay bagian selatan dan lain-lain. Mereka juga mengatakan bahwa kedatangannya adalah karena melihat tanda rahasia. Tidak ada satu pun di antara mereka yang punya urusan langsung. Semua orang heran dan curiga. Apa tidak bisa jadi kami semua tengah dipermainkan seorang musuh?
Ketika itu di loteng rumah makan berkumpul lima belas orang dari sembilan buah partai. Tanda rahasia setiap partai bukan saja berbeda satu dengan yang lain, tetapi juga sangat dirahasiakan sehingga kalau bukan murid partai yang bersangkutan, orang luar tidak mengerti arti tanda itu. Kalau seseorang ingin main gila, apakah ia bisa tahu tanda rahasia dari sembilan partai? Mengingat bahwa aku membawa Put-jie dan kalau bisa aku tak mau anak itu menghadapi bahaya, dan mengingat pula bahwa panggilan itu bukan lantaran saudara seperguruanku ada yang sedang menghadapi bencana besar, maka aku segera mengambil keputusan untuk pulang saja.
Tapi baru saja aku mau turun tangga, tiba-tiba di tangga terdengar suara keras, seperti juga undakan tangga dipukul orang dengan menggunakan toya. Suara itu disusul dengan suara batuk-batuk dan seorang nenek yang rambutnya sudah putih semua, mendaki undakan tangga. Dia naik setindak demi setindak sambil batuk-batuk dan kelihatannya lelah sekali. Di sampingnya ada seorang nona kecil yang berusia kira-kira dua belas tahun yang memapah si nenek.
Melihat nenek yang usianya sudah begitu tinggi dan juga kelihatannya sedang sakit, aku segera minggir agar dia dapat naik lebih dulu. Nona kecil itu ternyata cantik sekali, meski pun usianya masih sangat muda akan tetapi belum pernah aku melihat wanita yang seayu dia sehingga tanpa merasa aku memandangnya beberapa kali. Tangan kanan nenek itu memegang sebatang tongkat dari kayu Pek-bok dan dari pakaiannya, dia kelihatan seperti seorang wanita miskin. Sedangkan tangan kirinya memegang serenceng biji tasbih yang mengeluarkan sinar kuning berkilauan. Ketika aku memperhatikan, rencengan itu ternyata bukan biji biji tasbih, melainkan bunga bunga bwee yang terbuat dari emas tulen...”
“Aha!” memutus Bu Kie. “Perempuan tua itu tidak bisa lain dari pada majikan Kim-hoa.”
“Benar. Tapi pada waktu itu, siapakah yang bisa menduga jelek padanya?” kata Siauw Hu. Sehabis berkata begitu dia merogoh saku dan mengeluarkan sekuntum bunga bwee emas yang menyerupai Kim-hoa yang oleh Bu Kie pernah diserahkan kepada Ceng Gu.
Si bocah tertegun. Tadinya ia menduga bahwa Kim-hoa Cu-jin adalah saorang lelaki yang tubuhnya tinggi besar dan mukanya menakutkan. Tidak dinyana majikan bunga emas itu hanyalah seorang nenek tua.
“Sesudah berada di atas loteng, nenek itu kembali batuk-batuk,” Siauw Hu melanjutkan penuturannya. “Si nona cilik berbisik: ‘Popo makan obat, ya?’ Si nenek mengangguk dan nona kecil itu mengeluarkan sebutir yo-wan dari dalam sebuah peles kristal. Sambil mengunyah yo-wan, nenek itu berkata. ‘Omitohud...! Omitohud...!’ Dengan mata separuh tertutup ia mengawasi kami, lantas berkata pula dengan suara perlahan: ‘Hmm... hanya lima belas orang. Coba tanya, apakah orang Kun-lun-pay dan Bu-tong-pay sudah pada datang semua?’. Kedatangan kedua wanita itu tidak terlalu diperhatikan oleh kami. Tetapi begitu si nenek berkata, beberapa orang yang kupingnya paling tajam segera menengok dan mengawasinya. Melihat nenek itu, hati mereka lega dan menganggap bahwa mereka salah dengar.”
“Tiba-tiba si nona cilik berkata dengan suara nyaring: ‘Hai! Popo-ku bertanya kepada kalian. Apakah orang-orang Kun-lun-pay dan Bu-tong-pay sudah pada datang semua?’. Semua orang terkejut, sejenak tak dapat mengeluarkan sepatah kata pun. Sesaat kemudian barulah Kan Ciat berkata: ‘Adik kecil, apa katamu?’. Nona kecil itu lalu menjawab: ‘Popoku bertanya, kenapa dia tidak melihat murid Bu-tong dan Kun-lun?’. Alis Kan Ciat berkerut, kemudian bertanya pula: ‘Siapa kalian?’. Nenek itu kembali batuk-batuk sambil terbungkuk-bungkuk. Mendadak... mendadak saja, aku merasa semacam angin menyambar dadaku, entah dari mana. Sambaran itu hebat bukan main, buru-buru aku mengibaskan tangan untuk menangkis. Mendadak aku merasa dadaku sesak, darahku bergolak, kedua lututku lemas, lalu aku jatuh duduk muntahkan darah.
Dalam keadaan setengah pingsan aku melihat badan si nenek bergerak-gerak. Ia meninju atau menggaplok seraya batuk-batuk tak hentinya. Dalam sekejap empat belas orang rebah di atas loteng. Kecepatan bergeraknya dan betapa hebat tenaganya tak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Seumur hidup belum pernah aku melihat manusia yang bisa bergerak begitu cepat dan mempunyai tenaga Iweekang yang demikian hebat. Di antara kami, satu jurus pun tidak ada yang mampu melawan. Kalau bukan tertotok jalan darah, isi perut terluka karena pukulan Iweekang.
Mendadak si nenek mengayun tangan kirinya dan lima belas bunga emas menyambar ke bahu atau tangan kelima belas orang. Kali ini dia tidak mencelakakan orang, sebab meski pun lima belas bunga emas itu mengenai tepat pada sasarannya, tiada seorang pun yang luka. Setelah itu dia memutar tubuh dan dengan dipapah si nona kecil, dia berkata: ‘Omitohud...! Omitohud...!’ Tanpa menengok lagi mereka turun ke bawah loteng. Beberapa saat kemudian kami mendengar suara totokan tongkat di tanah, diselang-seling dengan suara batuk-batuk.”
Bicara sampai di situ, tampak Yo Put Hwie datang dengan tangan mencekal sebuah karangan bunga yang merupakan topi.
PERTARUNGAN OBAT DAN RACUN
Sambil tertawa ha-ha hi-hi, dia berkata. “Ibu, kau pakailah topi ini,” dengan sikap aleman dia menaruh topi bunga itu di kepala sang ibu.
Siauw Hu tertawa sambil manggut-manggut, kemudian melanjutkan penuturannya. “Kami semua rebah di atas papan tanpa bisa berkutik. Sebagian pingsan, sebagian bernapas tersengal-sengal dan sebagian lagi merintih perlahan...”
“Ibu,” potong Put Hwie. “Apakah kau sedang menceritakan perempuan jahat itu? Jangan! Aku takut.”
“Nak,” sang ibu berkata sambil tersenyum, “Pergilah kau memetik bunga lagi dan buatlah topi untuk kakak Bu Kie”
Put Hwie mengawasi Bu Kie. “Warna apa yang kau suka?” tanyanya.
“Merah dan campur sedikit dengan warna putih, lebih besar topinya lebih baik lagi,” jawab Bu Kie.
“Apakah sebesar ini?” tanya pula si nona sambil membuat sebuah lingkaran dengan kedua tangannya.
“Ya, sebesar itu,” jawabnya.
Put Hwie segera berlari-lari sambil bertepuk-tepuk tangan dan tertawa-tawa. “Kalau sudah jadi kau harus memakainya!” teriaknya.
“Beberapa lama kemudian dalam keadaan lupa-lupa ingat aku melihat belasan orang naik ke loteng,” Siauw Hu melanjutkan ceritanya. “Mereka adalah para pelayan, tukang masak dan pengurus rumah makan. Mereka menggotong kami ke dapur. Tak usah dikatakan lagi, Put-jie ketakutan setengah mati dan sambil menangis keras ia mengikuti orang-orang yang menggotong aku. Setibanya di dapur, si pengurus rumah makan lalu membaca tulisan di selembar kertas. Seraya menuding Kan Ciat, dia memerintah: ‘Labur koyo di kepalanya!’ Seorang pelayan segera membuka sebuah kotak koyo dan melebur isinya dikepala Kan Ciat.”
“Sesudah itu, sambil membaca dia menuding yang lainnya dan berkata: ‘Putuskan tangan kanannya dan tempelkan lengan itu di kaki kirinya!’ Siksaan itu dijalankan oleh dua orang pelayan. Waktu giliranku tiba, untung sekali aku tidak mendapat hukuman yang aneh. Aku hanya diperintah minum semangkok air yang rasanya manis. Aku mengerti bahwa air itu tentu mengandung racun, tetapi aku tidak berdaya.
Sesudah kami semua mendapat hukuman yang luar biasa, si pengurus rumah makan berkata: ‘Kalian semua sudah mendapat luka yang tidak mungkin disembuhkan lagi. Tak seorang pun di antara kalian yang bisa hidup sepuluh hari atau setengah bulan lagi. Tapi pemilik bunga emas mengatakan bahwa ia sama sekali tidak bermusuhan dengan kalian. Karena itu ia menaruh rasa belas kasihan dan membuka sebuah jalan hidup untuk kalian. Sekarang lekas-lekaslah kalian pergi ke Ouw-tiap-kok yang terletak di tepi telaga Lie-san-ouw dan mintalah pertolongan dari Ouw Ceng Gu yang bergelar Tiap-kok Ie-sian. Kalau dia sudi menotong, maka kalian semua ada harapan hidup, tetapi mana kala dia menolak, di dalam dunia tak ada orang yang bisa menolong kalian lagi. Tapi Ouw Ceng Gu memiliki julukan lain, yaitu Kian-sie Put-kiu. Kalau kalian tidak berusaha mati-matian, dia pasti tak akan mengulurkan tangan. Jika kamu bertemu dengan Ouw Ceng Gu, katakanlah bahwa tak lama lagi Kim-hoa Cu-jin aku akan mencari dia siang2 dan dia harus mempersiapkan penguburan mayatnya sendiri’. Setelah berkata begitu dia segera menyediakan kereta dan kuda-kuda, memberi petunjuk mengenai jalan yang harus kami ambil, kemudian mengusir kami.”
Bu Kie mendengarkan cerita itu dengan mata tidak berkedip. “Kie-kouwkouw,” katanya, “Jika dengar dari penuturanmu, pengurus Lim-hway-kok, tukang masak berikut pelayan-pelayannya, semua adalah kaki tangan perempuan jahat itu,”
“Aku pun menduga demikian,” kata Siauw Hu. “Si pengurus rumah makan memerintahkan agar siksaan itu dijalankan sesuai surat catatan yang kiranya ditinggalkan oleh perempuan kejam itu. Tetapi dalam peristiwa ini ada beberapa teka teki yang hingga sekarang masih belum bisa kupecahkan. Mengapa nenek itu melakukan perbuatan yang demikian kejam? Kalau dia mendendam sakit hati dan mau mengambil jiwa kami, dia dapat melakukannya dengan mudah sekali. Kalau dia hanya ingin menyiksa orang-orang dengan rupa-rupa jalan yang kejam, kenapa dia mengirim kami ke Ouw-sinshe? Dia mengatakan bahwa tak lama lagi dia akan mencari Ouw-sinshe untuk membalas sakit hati, Apakah siksaannya terhadap kami hanya untuk menjajal kepandaian Ouw-sinshe?”
Bu Kie menundukkan kepala. Setelah berpikir sejenak ia berkata. “Menurut katanya Siang Gie Cun Toako, Ouw-sinshe memiliki seorang musuh yang akan datang untuk membalas sakit hati. Musuh itulah Kim-hoa Cu-jin. Menurut pantas mestinya Ouw-sinshe mengobati kalian dengan sungguh hati, supaya kalian bisa membantu dia dalam menghadapi musuh berat itu. Sesuai dengan julukan Kian-sie Put-kiu, dia menolak untuk mengobati. Tetapi mengapa sesudah menolak dia memberi berbagai resep kepadaku dan mengajarkan aku bermacam-macam cara pengobatan untuk menolong kalian? Resep obat itu manjur sekali. Tapi kenapa di tengah malam buta dia menggerayang dan memberi racun kepada kalian? Ahh! Sikap Ouw-sinshe sungguh aneh. Di dalam peristiwa ini muncul banyak cangkriman (teka-teki) yang tak akan bisa ditembus olehku.”
Lama sekali mereka berunding, tapi mereka tak juga dapat menebak artinya banyak teka-teki itu. Tidak lama kemudian Put Hwie kembali dengan sebuah topi bunga yang lalu ditaruhnya di atas kepala Bu Kie, kemudian pergi lagi untuk membuat topinya sendiri.
“Kie-kouwkouw,” kata pula Bu Kie. “Mulai sekarang kau tidak boleh minum apa pun juga, kecuali kalau obat itu kuberikan sendiri. Di waktu malam sebaiknya kau siap sedia dengan senjata untuk menjaga segala sesuatu yang tidak diinginkan. Sekarang kau masih belum boleh pulang karena aku masih perlu memberi obat untuk menyembuhkan luka di dalam badanmu. Begitu lukamu tidak berbahaya lagi, kau harus buru-buru pulang membawa Put Hwie.”
Siauw Hu mengangguk dengan rasa sangat berterima kasih. “Manusia she Ouw itu amat aneh dan hatinya sukar ditebak,” katanya, “Bu Kie, aku pun kuatir akan keselamatanmu kalau kau berdiam lama-lama di sini. Lebih baik kita menyingkir bersama-sama.”
Bu Kie yang keselamatannya dikuatirkan kalau berada lama-lama di lembah Ouw-tiap-kok lantas menyatakan kesediaannya ikut menyingkir dari lembah itu bersama-sama Kie Siauw Hu dan puterinya.
“Bu Kie,” kata Siauw Hu. “Kalau kau mau ikut, kita jalan bersama-sama. Aku sendiri akan segera pergi menemui Suhu di Go-bi-san. Kalau nasibku baik dan beliau tidak mendengar hasutan Suci-ku, masih ada sedikit harapan hidup untukmu karena beliau memang memiliki niat menurunkan semua kepandaiannya kepadaku, bahkan akan mengambil aku sebagai ahli warisnya. Mana kala niat itu dilaksanakan, tentu beliau akan menurunkan Go-bi Kiu-yang-kang kepadaku. Selanjutnya aku bisa ajarkan ilmu itu kepadamu. Dengan memiliki Go-bi Kiu-yang-kang, kau dapat menggabungkannya dengan Siauw-lim dan Bu-tong Kiu-yang-kang sehingga racun dingin Hian-beng Sin-ciang rasanya dengan gampang dapat terusir keluar dari badanmu. Tetapi, aihh..., sesudah aku melakukan perbuatan yang tidak pantas, mana aku ada muka bertemu lagi dengan Suhu? Mana bisa beliau mengangkat aku menjadi ahli warisnya lagi?”
Semula sang bibi berbicara dengan semangat berapi-api karena memikirkan penyakit yang diderita Bu Kie. Tetapi mana kala teringat olehnya akan dirinya yang telah ternoda, dia tampak bermuram durja.
Melihat paras sang bibi yang sangat berduka, Bu Kie segera menghibur, “Kie-kouwkouw, kau tak usah bersedih. Ouw-sinshe mengatakan bahwa paling lama aku hanya bisa hidup setahun lagi. Aku pun sering memeriksa keadaan badanku dan aku yakin bahwa apa yang dikatakan Ouw-sinshe bukan omong kosong. Andai kata gurumu mengajarkan Go-bi Kiu-yang-kang kepadamu, kurasa kau pun tak akan keburu menolong aku. Memang benar juga, jalan yang terbaik adalah kita menyingkir sekarang juga. Tapi dalam cara mengobati lukamu, masih ada beberapa bagian yang belum begitu jelas bagiku. Untuk itu aku masih perlu minta petunjuk kepada Ouw-sinshe.”
Siauw Hu tertawa dan bertanya: “Apa tak bisa ia sengaja memberi petunjuk yang salah? Kau tidak boleh lupa bahwa ia sudah berusaha untuk meracuniku.”
“Tidak, kurasa ia tak akan berbuat sedemikian,” Bu Kie membantah. “Sebegitu jauh, obat-obat atau cara mengobati yang diberikan oleh Ouw-sinshe sangat mustajab dan tepat. Di samping itu aku pun dapat membedakan kalau dia sengaja memberikan obat yang salah. Dan... inilah yang aku tidak mengerti!”
Put Hwie kembali dengan kepala memakai topi rangkaian bunga. Mereka bertiga sudah mempunyai topi, perundingan pun telah selesai, maka mereka lalu kembali ke rumah Ouw Ceng Gu. Malam itu Bu Kie tidak bisa pulas lagi. Kira-kira tengah malam Ouw Ceng Gu menggerayang lagi ke gubuk Siauw Hu, gubuk Kan Ciat dan kawan-kawannya untuk menaruh racun.
Tiga hari telah lewat tanpa terjadi sesuatu yang luar biasa. Karena tak pernah kena racun lagi, kesehatan Siauw Hu pulih dengan cepat. Keadaan Sie Kong Wan dan yang lain-lain masih tetap seperti biasa, sebentar mendingan dan sebentar hebat. Beberapa orang mulai mengeluh dan mengatakan bahwa kepandaian Bu Kie masih terlampau rendah, tapi si bocah tidak menggubris. Malam itu, sambil berbaring di pembaringan Bu Kie berkata dalam hatinya, “Setelah lewat malam ini, aku ikut Kie-kouwkouw menyingkirkan diri. Karena racun dalam tubuhku tidak bisa dipunahkan, lebih baik aku tidak pulang ke Bu-tong, supaya Thay-suhu dan paman-paman jangan bersusah hati. Aku akan pergi ke tempat yang sepi, kemudian mati dengan diam-diam.”
Mengingat bahwa ia akan segera meninggalkan Ouw-tiap-kok, hatinya terharu. Walau pun Ceng Gu beradat aneh, dia sudah memperlakukannya baik sekali dan selama kurang lebih dua tahun, orang tua itu sudah menurunkan banyak ilmu ketabiban kepadanya. Sesudah berkumpul begitu lama, di dalami hatinya bersemi rasa cinta terhadap orang tua itu. Maka itu perlahan-lahan dia bangun lalu pergi ke kamar si tabib malaikat dan menanyakan kesehatan orang tua itu dari luar kamar. Mendadak dia ingat bahwa Kim-hoa Cu-jin akan segera menyateroni. Apa Ouw-sinshe mampu melawan perempuan jahat itu? Dia merasa kasihan dan berkata,
“Ouw-sinshe, kau sudah demikian lama berdiam di Ouw-tiap-kok, apa kau tidak merasa sebal? Mengapa kau tidak mau pergi pelesir ke tempat lain?”
Ceng Gu terkejut. “Aku sedang sakit, mana bisa pergi ke tempat lain?” jawabnya.
“Sinshe dapat menggunakan kereta,” kata pula Bu Kie. “Dengan menutup jendela kereta dengan tirai supaya tidak masuk angin, kau bisa pergi ke mana pun juga”
Tiap-kok Ie-sian menghela napas panjang. “Anak, hatimu mulia sekali,” dia memuji. “Dunia sedemikian lebar, di mana pun sama saja. Bagaimana keadaanmu selama beberapa hari ini? Bagaimana dadamu? Apakah hawa dingin masih bergolak di tantian-mu?”
“Makin lama hawa itu semakin bertambah saja,” jawabnya. “Sudahlah! Biarkan saja. Toh aku tak bisa ditolong lagi.”
Untuk beberapa saat Ceng Gu tidak mengatakan apa-apa. Sejenak kemudian barulah berkata, “Anak, sekarang aku ingin memberi obat yang akan dapat menolong jiwamu. Gunakanlah Tong-kwie, Wan-cie, Seng-tee, Tok-ho dan Hong-hong, semua lima macam. Tengah malam minumlah obat itu cepat-cepat dengan menggunakan Coan-san-ka sebagai penuntun.”
Bu Kie kaget. Lima macam bahan obat itu sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan penyakit yang dideritanya. Bukan saja begitu, sifat kelima macam bahan obat itu malahan berbahaya untuk dirinya. Ditambah dengan Coan-san-ka, bahaya itu jadi makin besar.
“Sinshe, berapa timbangannya?” tanyanya dengan heran.
“Jangan rewel!” bentak Ceng Gu dengan marah. “Aku sudah memberi-tahu kau. Sudah cukup. Pergi!”
Si bocah gusar. Sejak berdiam di Ouw-tiap-kok, orang tua ini memperlakukannya dengan sopan-santun dan mereka sering kali merundingkan soal ketabiban sebagai sahabat. Tak dinyana hari ini Ceng Gu berlaku begitu kasar. Dengan mendongkol dia kembali ke kamarnya. Sambil bergolak-golek di pembaringan Bu Kie berkata di dalam hati, “Dengan baik hati aku menasihati supaya kau menyingkir, tapi aku berbalik dihina olehmu. Hm...! Kau juga mencoba memberi obat yang tidak-tidak kepadaku. Apa kau kira aku akan kena diakali?”.
Makin lama hatinya semakin panas. Ia tidak mengerti mengapa si tua begitu berani mati memberinya resep obat yang begitu gila-gilaan. Beberapa lama kemudian ia merasa lelah dan meramkan kedua matanya. Tiba-tiba saja, dalam keadaan layap-layap serupa ingatan berkelebat dalam otaknya.
“Ah! Tong-kwie, Wan-cie, resep tanpa diberi timbangan obatnya... Di dunia tak ada resep demikian. Aha! Apa tak bisa jadi Tong-kwie dimaksudkan kay-tong-kwie-kie? Mungkin!” (Tong-kwie adalah nama serupa obat. Tapi ‘Tong-kwie’ atau ‘kay-tong-kwie-kie’ dapat juga berarti ‘harus pulang’). Sesudah berpikir beberapa saat, tiba-tiba ia melompat bangun dan berkata dalam hatinya,
“Benar! Resep itu mengandung maksud lain. Dengan Wan-cie, rupanya ia ingin menyuruh aku ‘cie-cay-wan-hang’ (ingatan berada di tempat jauh) atau dengan perkataan lain ia ingin aku ‘ko-hui-wan-cuw’ (pergi ke tempat yang jauh). Ia menyebutnya Seng-tee (tanah hidup) dan Tok-ho (hidup sendirian). Mungkin sekali Seng-tee diartikan ‘Seng-louw’ (jalan hidup) dan sesudah mengambil jalan hidup barulah aku bisa ‘hidup sendirian’. Apa arti Hong-hong (menjawab angin)? Ouw-sinshe maksudkan supaya aku menutup rahasia, jangan sampai ‘membocorkan angin’.”
“Obat itu harus diminum cepat-cepat di waktu tengah malam buta dengan menggunakan Coan-san-ka sebagai penuntun. ‘Cepat-cepat’, ‘tengah malam buta’, ‘Coan-san-ka’, hm... apakah Ouw-sinshe maksudkan bahwa aku harus cepat-cepat kabur pada tengah malam buta dengan menembus jalan gunung dan tidak boleh mengambil jalan raya? Tidak salah! Tentu itulah maksud yang sebenarnya.“ (Coan-san-ka berarti trenggiling. Arti huruf-huruf itu sendiri adalah ‘menembus gunung’).
Berpikir begitu, ia segera menghampiri pintu. Sebelum membukanya, ia merandek. “Sekarang musuh belum tiba, tetapi mengapa Ouw-sinshe tidak memberi-tahu aku secara terang-terangan?” tanyanya di dalam hati. “Mengapa ia mengeluarkan cangkriman itu? Kalau aku tidak dapat menebaknya, bukankah aku bisa celaka? Ahh! Sekarang sudah lewat tengah malam, aku mesti menyingkir secepat mungkin.” Sungguh pun baru berusia belasan tahun namun Bu Kie sudah mempunyai jiwa ksatria. Ia ingin segera menyingkir, tapi ia memikirkan nasib Ouw-sinshe. Di lain saat ia ingat bahwa si tabib malaikat tentu sudah punya pegangan untuk melawan musuh karena sesudah tahu bakal kedatangan musuh, ia tetap saja tidak mau menyingkir. Tetapi biar bagaimana pun juga, meski pun Ceng Gu sudah berpesan supaya ia menutup rahasia, ia tak bisa tidak menolong Siauw Hu dan puterinya. Perlahan-lahan ia keluar dari kamarnya kemudian pergi ke gubuk Siauw Hu. Ia menepuk-nepuk tangan seraya memanggil-manggil dengan suara perlahan.
“Kie-kouwkouw... Kie-kouwkouw... bangun!”
Siauw Hu tersadar. “Siapa? Bu Kie?” tanyanya.
Sesaat itu sekonyong-konyong si bocah merasa ada sambaran angin yang sangat halus di punggungnya, akan tetapi baru saja ia memutar badan, pundak serta pinggangnya sudah kesemutan dan ia pun roboh tanpa berkutik lagi. Gerakan penyerang itu cepat luar biasa. Di lain saat, ia pun sudah merobohkan Siauw Hu dengan totokan. Dengan bantuan sinar bulan sisir, Bu Kie melihat bahwa orang itu mengenakan topeng kain hijau. Ouw Ceng Gu! Selagi berbagai pertanyaan ber-kelebatan dalam otak Bu Kie, tangan kiri si tabib malaikat sudah mencengkeram pipi Siauw Hu untuk memaksanya membuka mulut, sedang tangan kanannya mencoba memasukkan sebutir yo-wan. Sebelum pil itu masuk ke dalam mulutnya, Siauw Hu sudah mengendus bebauan yang tak enak sekali. Ia mengerti bahwa pil itu adalah racun yang amat hebat, tapi ia tidak berdaya, kaki tangannya tidak bisa bergerak lagi. Dengan sorot mata putus harapan ia mengawasi puterinya.
“Put-jie!” dia mengeluh di dalam hati. “Ibumu bernasib celaka, kau pun jelek peruntungan. Mulai sekarang ibumu tidak bisa merawatmu lagi.”
Pada detik yang sangat berbahaya itu tiba-tiba Bu Kie melompat bangun. Orang itu kaget dan menengok, tetapi punggungnya sudah dihantam Bu Kie dengan sekuat tenaga.
Ternyata, setelah jalan darah pada pundak dan pinggangnya ditotok, untuk sementara Bu Kie rebah dengan tidak berdaya. Tetapi sebagai ahli waris Cia Sun, selang beberapa saat berhasil membuka jalan darahnya dengan menggunakan Iweekang. Ia melompat bangun dan pada detik yang sangat genting, ia menghantam jalan darah Kin-su-hiat pada punggung Ouw Ceng Gu dengan pukulan Sin-liong Pa-bwee, yakni salah satu jurus dari Hang-liong-sip-pat-ciang. Sungguh pun ia hanya mengenal bagian kulit dari pukulan itu, tetapi karena jurus tersebut merupakan jurus yang sangat luar biasa dan juga karena Ouw Ceng Gu sama sekali tidak menduga bakal dibokong, maka pukulan Bu Kie mengenai Kin-su-hiat, ia roboh tanpa mengeluarkan suara. Berbareng dengan robohnya orang, topeng kain tersingkap separuh dan begitu melihat, Bu Kie mengeluarkan teriakan tertahan.
“Ahh...!” Mengapa? Karena wajah itu bukan wajah Ouw Ceng Gu, melainkan wajah seorang wanita setengah tua yang berparas cantik.
“Siapa kau?!” bentak Bu Kie.
Sesudah terpukul wanita itu merasakan kesakitan hebat, mukanya pucat pasi sehingga ia tidak dapat menjawab pertanyaan si bocah.
Cepat Bu Kie membuka jalan darah Kie Siauw Hu dan berkata, “Kie-kouwkouw, tempelkan ujung pedangmu pada dadanya supaya dia tidak bisa berkutik. Aku mau menengok Ouw-sinshe.“
Ia kuatir akan keselamatan Ouw Ceng Gu. Ia menduga bahwa wanita itu adalah konco Kim-hoa Cu-jin. Jika perempuan jahat itu keburu datang, maka dia beserta Siauw Hu dan puterinya pasti akan celaka. Dengan berlari bagaikan terbang ia pergi ke kamar Ceng Gu dan tanpa banyak rewel lagi ia memukul pintu yang lantas terpentang.
“Ouw-sinshe!” teriaknya, namun tak ada jawaban.
Ia segera mengeluarkan bahan api dan menyulut lilin. Kasur terbuka, orang tua itu tak kelihatan bayangannya. Melihat kamar itu kosong, hatinya agak lega karena semula ia menduga bahwa Ouw Ceng Gu sudah dibinasakan.
“Ouw-sinshe rupanya diculik musuh,” pikirnya.
Baru saja ia mau keluar, terdengar suara helaan napas di bawah ranjang. Ia segera mengangkat ciak-tak (tempat tancapan lilin) kemudian menyuluhi kolong ranjang. Ia girang bukan main melihat Ouw Ceng Gu rebah di situ dengan kaki tangan terikat.
“Ouw-sinshe, jangan kuatir!” katanya, lalu ia merangkak ke kolong ranjang untuk menyeret sang tabib keluar.
Ternyata orang tua itu tidak bisa bicara karena mulutnya disumbat dengan buah tho, Bu Kie segera mengorek keluar buah itu. Pada waktu mau membuka ikatan, ia mendapat kenyataan bahwa kaki tangan Ceng Gu diikat dengan tambang urat kerbau sehingga dia tidak dapat memutuskannya, Buru-buru dia mencari pisau.
“Mana perempuan itu?” tanya Ceng Gu selagi Bu Kie hendak memotong tambang.
“Jangan kuatir, ia sudah ditaklukkan dan tak akan bisa lari lagi,” jawabnya.
“Jangan kau putuskan dulu tambang ini!” kata Ceng Gu tergesa. “Lekas bawa dia kemari. Lekas! Kalau terlambat, aku kuatir tak keburu lagi.”
Bu Kie heran. “Mengapa begitu?” tanyanya.
“Lekas bawa dia kemari!” bentak orang tua. “Tidak...! Begini saja. Lebih dulu berikan kepadanya tiga butir Gu-hong Hiat-ciat-tan. Ambillah dari laci ke tiga. Lekas...! Lekas...“ Ia berkata begitu dengan paras muka bingung dan pucat.
Bu Kie tahu bahwa Gu-hong Hiat-ciat-tan adalah pil untuk memunahkan racun dan dibuat dengan menggunakan bermacam bahan yang sangat mahal harganya. Untuk memunahkan racun yang sangat hebat, sebutir saja sudah lebih dari cukup. Akan tetapi Ouw Ceng Gu menyuruhnya memberikan tiga butir. Siapakah wanita itu? Ia heran tak kepalang, tapi melihat sikap orang tua itu, ia tidak berani bertanya melit-melit. Buru-buru ia mengambil pil itu lalu berlari-lari ke gubuk Siauw Hu.
“Lekas telan ini!” bentaknya sambil menyodorkan tiga butir Gu-hong Hiat-ciat-tan kepada tawanannya.
“Pergi! Aku tidak perlu pertolonganmu!” teriak wanita itu. Begitu mengendus bau Gu-hong Hiat-ciat-tan, ia tahu Bu Kie datang membawa obat.
“Ouw-sinshe yang menyuruh aku membawa obat ini,” kata Bu Kie dengan mendongkol.
“Pergi...! Pergi...! Pergi!” teriak pula wanita itu. Setelah kena pukulan Bu Kie, teriakannya lemah sekali.
Si bocah bingung dan hanya dapat menebak-nebak. Dia menduga bahwa waktu mengikat CengGu wanita itu kena senjata racun. Untuk mengorek keterangan mengenai musuhnya, Tiap-kok Ie-sian rupanya sengaja memberi obat pemunah kepadanya. Berpikir begitu, dia menotok jalan darah Kian-tin-hiat sehingga wanita itu tidak dapat melawan, lalu memasukkan tiga butir pil itu ke dalam mulutnya. Karena suara ribut-ribut, Put Hwie bangun dan mengawasi wanita itu dengan perasaan heran.
“Kouwkouw, marilah kita membawa dia kepada Ouw-sinshe,” kata Bu Kie. Mereka lantas mencekal tangan wanita itu yang diseret ke kamar Tiap-kok Ie-sian.
Begitu mereka masuk, Ouw Ceng Gu langsung bertanya, “Sudah makan obat?”
“Sudah,” jawab Bu Kie.
Paras muka Ceng Gu lebih tenang dan Bu Kie segera memotong tambang yang mengikat kaki tangannya. Tiap-kok Ie-sian cepat-cepat menghampiri wanita itu, lalu membuka kelopak matanya dan memegang nadinya.
“Eh... eh!” katanya dengan suara kaget, “Mengapa kau mendapat luka? Siapa yang melukai kau?”
Wanita itu menjebi. “Tanya muridmu!” bentaknya.
Ouw Ceng Gu memutar badan dan bertanya pada Bu Kie, “Apa kau yang memukul?”
“Benar,” jawabnya, “waktu dia mau...”
“Plok! Plok!”
Orang tua itu menggaplok Bu Kie keras-keras hingga mata si bocah berkunang-kunang. Siauw Hu menghunus pedang dan membentak,
“Kurang ajar!”
Tanpa menghiraukannya, Ceng Gu lalu bertanya pada wanita itu, “Bagaimana rasanya dadamu? Aku pasti akan menyembuhkan kau.“ Sikap serta perkataannya berbeda jauh, bagaikan langit dan bumi dengan kebiasaan Kian-sie Put-kiu Ouw Ceng Gu. Tapi si wanita tetap tidak menggubris dan terus bersikap tawar.
Dengan rasa heran yang sangat besar Bu Kie mengawasi kejadian itu sambil mengusap-usap pipinya yang bengkak. Dengan sikap menyayang Tiap-kok Ie-sian lalu membuka jalan darah si wanita, mengurut-urutnya, mengambil beberapa macam daun obat yang lantas dimasukkan ke dalam mulut wanita itu, kemudian memondongnya dan menaruhnya di atas pembaringan, dan akhirnya menyelimutinya dengan selimut tebal. Semuanya itu dilakukan si tua secara lemah lembut dan penuh kecintaan. Bu Kie menggeleng-gelengkan kepala. Otaknya benar-benar pusing. Setelah berdiri beberapa saat di depan pembaringan, Ouw Ceng Gu berkata dengan suara halus,
“Sekarang selain racun, kau pun mendapat luka. Kalau aku dapat menyembuhkan, kita jangan menjajal-jalal kepandaian lagi.”
Wanita itu tertawa. “Apa artinya luka ini?” katanya. “Tapi apakah kau tahu, racun apa yang ditelan olehku? Jika kau bisa menyembuhkan aku maka aku akan mengaku kalah. Hm...! Tetapi belum tentu kepandaian Ie-sian (tabib malaikat atau tabib dewa) dapat menandingi kepandaian Tok-sian (si dewi racun).“ Sehabis berkata begitu ia tersenyum, dan senyum itu tampak menggairahkan.
Dalam usia belasan tahun Bu Kie belum mengerti soal percintaan. Tapi biar pun begitu, ia bisa merasakan bahwa di antara kedua orang tua itu terdapat kasih sayang yang tak ada batasnya.
“Semenjak sepuluh tahun berselang aku sudah mengatakan bahwa Ie-sian tidak akan bisa menandingi Tok-sian,“ kata Ceng Gu. “Tetapi kau tidak percaya. Kau terlalu suka menjajal ilmu. Aku benar-benar tidak mengerti mengapa kau begitu gila sehingga kau meracuni diri sendiri. Sekarang aku berharap bahwa Ie-sian akan menang dari Tok-sian. Jika aku gagal maka aku pun tak sudi hidup sendirian di dunia.”
Wanita itu tersenyum. “Kalau aku meracuni orang lain, bisa saja kau berlagak kalah,“ katanya. “Ha-ha-ha! Dengan meracuni diri sendiri tentu kau akan mengeluarkan semua kepandaianmu.”
Ceng Gu mengusap-ngusap rambut wanita itu dan berkata dengan suara nyaring, “Hatiku sangat kuatir. Sudahlah! Kau jangan banyak bicara. Meramkan matamu dan mengasolah. Tapi ingat, kalau dengan diam-diam kau mengerahkan Iweekang untuk mencelakakan diri sendiri maka kau sudah berbuat curang dalam pertandingan ilmu ini.”
“Aku tidak begitu rendah,” kata wanita itu sambil tertawa. Dia segera memeramkan kedua matanya dan pada bibirnya tersungging senyuman.
Untuk beberapa saat kamar itu sunyi-senyap. Siauw Hu dan Bu Kie menyaksikan semua itu dengan mata terbelalak. Tiba-tiba saja Tiap-kok Ie-sian memutar badan lalu menyoja kepada Bu Kie.
“Saudara kecil,” katanya, “dalam kebingungan aku sudah berbuat kesalahan terhadapmu. Aku harap kau sudi memaafkan.”
“Sedikit pun aku tak mengerti, apa artinya semua ini,” kata si bocah dengan hati dongkol.
Sekonyong-konyong si tua mengangkat tangan kanannya lantas dua kali menggaplok pipi sendiri keras-keras.
“Saudara, kecil,” katanya pula. “Kau adalah tuan penolongku. Hanya karena aku sangat memikirkan keselamatan isteriku maka aku sudah berbuat dosa terhadapmu.”
“Dia... dia isterimu?” menegas si bocah dengan suara heran.
Ceng Gu mengangguk, “Benar, dia adalah isteriku!” jawabnya.
Melihat sikap orang tua itu dan mendengar bahwa wanita itu adalah isterinya, semua rasa dongkol Bu Kie menghilang.
Ceng Gu mengambil kursi lalu mempersilakan Siauw Hu dan Bu Kie duduk, “Kalian tentu merasa heran melihat kejadian hari ini,“ katanya, “Baiklah! Aku akan menceritakan latar belakang tanpa tedeng aling-aling. Isteriku she Ong bernama Lan Kouw. Kami berdua adalah saudara seperguruan. Ketika kami masih berada di rumah perguruan, di samping belajar ilmu silat aku mempelajari ilmu ketabiban, sedangkan dia mempelajari Tok-sut (ilmu menggunakan racun). Menurut pendapatnya, tujuan belajar ilmu silat adalah untuk membunuh orang dan tujuan Tok-sut juga untuk membunuh orang, sebab itu Bu-sut (Ilmu silat) dan Tok-sut merupakan dua macam ilmu yang berdiri berendeng. Jika seorang mahir dalam Bu-sut dan Tok-sut, maka kepandaiannya bertambah satu kali lipat. Ilmu ketabiban adalah untuk menolong manusia sehingga pada hakekatnya ilmu ketabiban dan ilmu silat bertentangan satu sama lain. Itulah jalan pikiran isteriku. Tetapi karena bakatku terletak dalam ilmu ketabiban, aku tidak dapat mengubah kesukaan itu.
Meski pun apa yang dipelajari kami berdua berbeda, tapi hubungan kami sangat erat dan di antara kami kemudian timbul perasaan cinta. Belakangan Suhu menikahkan kami berdua. Perlahan-lahan nama kami mulai terkenal di dunia kangouw sehingga banyak orang memberi gelar Ie-sian kepadaku dan julukan Tok-sian bagi isteriku. Kepandaiannya soal racun sungguh-sungguh lihay. Ia sudah melebihi kepandaian Suhu sendiri dan mungkin sekali di dunia sukar dicari tandingannya. Bahwa dia telah mendapat gelar Sian atau Dewi, merupakan bukti nyata dari kepandaiannya.
Dasar aku yang tolol, yang bertindak tanpa dipikir lagi. Berapa kali isteriku telah meracuni orang, kemudian orang itu datang kepadaku untuk minta pertolongan. Tanpa berpikir panjang lagi aku segera menolong mereka. Pada waktu itu hatiku malah merasa senang, sedikit pun aku tak merasa bahwa tindakanku itu sangat menyinggung perasaan isteriku. Aku sama sekali tak ingat bahwa jika menyembuhkan orang yang diracuni olehnya, maka itu berarti kepandaian Ie-sian lebih unggul dari pada Tok-sian”
Siauw Hu menggeleng-gelengkan kepala dan menghela napas. Sepasang suami isteri itu benar-benar manusia aneh.
PASANGAN YANG MAHA ANEH
Sementara itu Ceng Gu sudah melanjutkan penuturannya. “Isteriku sangat mencintai aku. Di dunia sukar dicari tandingannya. Tapi aku sendiri? Dengan didorong napsu mau menang, berulang kali menyinggung perasaannya. Cobalah kalian pikir. Biar pun dia patung, suatu waktu dia bisa habis kesabaran. Akhirnya aku sadar. Aku bersumpah tidak akan menolong lagi orang yang sudah diracuni olehnya. Lantaran begitu lama-lama orang memberi gelar Kian-sie Put-kiu (Melihat kebinasaan tak sudi menolong) kepadaku. Melihat aku berubah, isteriku merasa senang. Tetapi baru saja beberapa tahun aku mengambil jalan benar, muncullah peristiwa adik perempuanku.
Kehormatan adikku dilanggar oleh bangsat Sian Ie Thong dari Hoa-san-pay, bahkan akhirnya binasa di tangannya. Tetapi sampai pada detik mau menghembuskan napas penghabisan, adikku masih mencintai bangsat itu. Dan pesannya yang terakhir agar aku berjanji selama hidup aku akan menolongnya jika dia memerlukan pertolongan. Karena melihat adikku tidak akan mati dengan mata meram apa bila aku tidak meluluskan permintaannya, maka mau tidak mau, dengan hati penasaran aku terpaksa memberikan janjiku itu.
Di luar tahuku, isteriku menaruh racun yang sangat hebat di badan Sian Ie Thong. Racun yang jalannya sangat perlahan itu akan merusak seluruh tubuh bangsat itu. Setelah menderita hebat selama tiga tahun, dia akan mampus dengan daging membusuk. Sian Ie Tong mengetahui janji yang kuberikan kepada adikku. Begitu melihat keadaannya sangat berbahaya, dia segera meminta pertolonganku. Hai...! Otakku benar-benar pusing. Kalau aku menolong, aku menyinggung isteri sendiri. Jika tidak menolong aku melanggar janjiku kepada adikku.”
“Sian Ie Tong adalah Ciang-bun-jin Hoa-san-pay. Ilmu silatnya tinggi dan di kalangan kangouw dikenal seorang pendekar,” kata Siauw Hu. “Sungguh tidak dinyana dia sebenarnya manusia rendah. Ouw-sinshe, sesudah adikmu binasa di tangannya, kau pun tak perlu menolong dia. Apa pula adikmu yang sudah meninggal dunia tidak tahu lagi urusan itu.”
“Tidak!” Bu Kie membantah. “Kie-kouwkouw, kau salah. Roh seseorang yang telah meninggal masih bisa mengetahui apa yang terjadi di dunia.” Waktu mengatakan begitu ia ingat kedua orang tuanya. Ia berharap supaya roh ayah ibunya masih tetap berada di alam baka sehingga nanti kalau ia sendiri meninggal dunia, ia akan bisa berkumpul lagi dengan kedua orang itu.
Tiap-kok Ie-sian menghela napas panjang. “Apa yang terjadi di alam baka tidak diketahui oleh manusia,” katanya. “Pada waktu itu jalan pikiranku adalah begini: kalau aku berdosa terhadap isteriku, di alam kemudian aku masih dapat memperbaikinya. Tapi jika aku melanggar janji... hai...! Selama hidupnya, adikku selalu menderita... Bagaimana aku tega untuk menyakiti rohnya? Demikianlah, dengan menggunakan seluruh kepandaian akhirnya aku berhasil juga menyembuhkan si bangsat Sian Ie thong. Isteriku tidak ribut-ribut lagi, dia hanya berkata dengan suara dingin: ‘Bagus. Kepandaian Tiap-kok Ie-sian Ouw Ceng Gu memang benar-benar tinggi. Akan tetapi Tok-sian Ong Lan Kauw tidak sudi takluk. Sekarang marilah kita menjajal ilmu untuk memperoleh keputusan, Ie-sian atau Tok-sian yang lebih tinggi!’. Mati-matian aku memohon maaf, tetapi dia tidak meladeni.
Beberapa tahun isteriku memperdalam ilmunya dan telah meracuni beberapa orang Kangouw ternama. Sesudah meracuni, dia memberi petunjuk supaya orang-orang itu datang kepadaku. Tok-sut isteriku ternyata sudah jauh lebih lihay sehingga kadang-kadang aku tidak mendapat jalan untuk mengobatinya. Apa lagi ditambah dengan rasa sungkan untuk membangkitkan kemarahan isteriku, maka dalam menghadapi keracunan yang hebat, sesudah gagal satu dua kali aku pun menghentikan usahaku dan mengatakan saja bahwa aku tidak mampu menolong lagi. Tetapi di luar dugaan, sikapku bahkan menambah kemarahannya. Ia menuduh bahwa aku memandang rendah padanya dan bahwa aku sengaja tak mau mengeluarkan semua kepandaianku. Dengan marah ia meninggalkan Ouw-tiap-kok setelah mengatakan bahwa biar apa pun yang terjadi, ia takkan kembali kepadaku.
Selama berada di luar Ouw-tiap-kok, berulang kali ia meracuni orang kemudian menyuruh datang kepadaku. Kepandaiannya semakin tinggi sehingga kadang kala aku tidak tahu, siapa yang sudah meracuni penderita yang meminta pertolonganku. Dalam menghadapi penderita seperti itu, dengan anggapan bahwa dia bukan diracuni oleh isteriku, kadang kala aku memberi pertolongan dan menyembuhkannya. Belakangan baru aku tahu bahwa orang itu sebenarnya sudah diracuni oleh isteriku. Demikianlah hubungan kami jadi makin renggang. Namaku Ceng Gu, atau Kerbau Hijau, tetapi sebenarnya lebih tepat jika nama itu diganti dengan ‘Kerbau Tolol’. Entah kebaikan apa yang sudah kuperbuat hingga aku dicintai seorang wanita begitu mulia seperti isteriku dan hanya karena ketololanku maka dia meninggalkan rumah dan hidup terlunta-lunta di luaran. Mengingat bahayanya dunia Kangouw, setiap saat, setiap detik, hatiku selalu memikirkan keselamatannya.”
Berkata sampai di situ, paras muka Tiap-kok Ie-sian kelihatan berduka sekali. Siauw Hu melirik Ong Lan Houw yang rebah di pembaringan. “Di dunia, siapa yang berani melanggar Ouw-hujin?” katanya dalam hati. “Sudah bagus kalau orang lain tidak dilanggar olehnya. Sungguh lucu! Ouw-sinshe sangat takut pada isterinya.”
Sesudah berdiam sejenak, Ceng Gu berkata lagi, “Tujuh tahun berselang, sepasang suami isteri yang sudah berusia lanjut kena racun hebat dan mereka datang ke sini. Mereka adalah majikan pulau Leng-coa-to di laut Tong-hay. Mereka memiliki ilmu silat luar biasa dan tingkatan mereka pun tinggi sekali. Puluhan tahun berselang, nama Kim-hoa Popo dan Gin-yap Sian-seng menggetarkan rimba persilatan. Aku tidak berani lantas menolak secara tegas. Tapi coba kalian pikir, bagaimana aku berani membuat kesalahan lagi? Maka aku memeriksa nadi mereka dan mengatakan bahwa Gin-yap Sian-seng tak dapat diobati lagi, sedang Kim-hoa Popo hanya kena racun enteng dan dia dapat menyembuhkan dirinya menggunakan Iweekang sendiri. Aku diberi-tahu bahwa yang meracuni mereka adalah seorang Pek-to-pay (Partai Unta putih) yang amat lihay di wilayah See-hek (Wilayah barat) dan tiada sangkut pautnya dengan isteriku.
Tapi sesudah sesumbar bahwa selain anggota Beng-kauw, aku tak akan menolong orang lagi, maka aku tidak bisa menjilat ludah sendiri hanya karena yang minta tolong adalah orang jempolan. Nyonya tua itu memohon-mohon agar aku suka menolong seorang saja, yaitu suaminya, dan untuk itu dia menjanjikan hadiah yang sangat besar. Kalian harus mengetahui bahwa di rimba persilatan Gin-yap Sian-seng dan Kim-hoa Popo sangat cemerlang, mereka mau membuka mulut untuk meminta pertolonganku, bagiku sudah kehormatan besar. Tapi demi kepentingan kami berdua suami isteri, aku tetap tidak mau menolong. Untung mereka tidak menggunakan kekerasan. Sesudah yakin tidak ada harapan, mereka pergi dengan perasaan duka. Aku mengerti bahwa karena penolakanku, aku sudah menanam banyak bibit permusuhan. Namun kecintaan dan kerukunan antara aku dengan isteriku jauh lebih penting dari pada kepentingan orang lain. Bagaimana pendapat kalian? Bukankah pendirian itu pendirian yang benar?”
Siauw Hu dan Bu Kie bungkam, namun dalam hati mereka tentu saja sangat tidak menyetujui pendirian yang gila ini.
Sementara itu Ouw Ceng Gu berkata lagi, “Waktu Gie Cun datang ke sini, dia mengatakan bahwa di tengah jalan bertemu seorang nenek yang memberi-tahu bahwa sesuai dugaanku, Gin-yap Sian-seng meninggal dunia karena racun. Setelah Gie Cun berlalu, isteriku mendadak pulang. Begitu melihat Bu Kie, segera dia menggunakan bie-yok (obat tidur) hingga saudara kecil pulas nyenyak semalam suntuk.”
“Ahh! Kalau begitu kerjaan Ong Lan Kouw,” kata si bocah dalam hati. “Hari itu aku menduga bahwa aku sakit.”
Sesudah melirik isterinya, Ceng Gu melanjutkan penuturannya, “Kepulangan isteriku tentu saja amat menggirangkan. Dia pun sudah mendengar bahwa Kim-hoa Popo datang lagi di Tiong-goan sehingga biar pun masih mendongkol terhadapku, buru-buru dia pulang memberi-tahukan hal itu kepadaku. Atas kemauannya, aku berpura-pura sakit cacar dan menolak menemui orang. Kami mengunci diri di kamar dan memikirkan siasat guna menghadapi Kim-hoa Popo. Ilmu silat nyonya tua itu terlalu lihay sehingga tak mungkin kami melarikan diri. Tapi dia memiliki adat yang aneh. Kalau dia ingin membunuh seseorang, serangannya dibatasi dalam tiga kali. Kalau orang itu bisa menyelamatkan diri dari tiga kali serangan, maka dia akan mengampuninya. Selang beberapa hari kemudian datanglah Sie Kong Wan, Kan Ciat, dan kau sendiri Kie-kouwnio, juga yang lain-lainnya sampai lima belas orang.
Begitu mendengar luka kalian, aku segera mengetahui bahwa Kim-hoa Popo sengaja mau mencoba-coba aku, apakah aku masih tetap pada pendirianku, yaitu tidak mau menolong siapa pun juga kecuali murid-murid Beng-kauw. Luka kelima belas orang itu rata-rata luka yang sangat aneh. Aku adalah orang yang keranjingan ilmu ketabiban. Begitu melihat luka atau penyakit aneh, tanganku gatal dan ingin menjajal kepandaianku.
Kini Kim-hoa Popo mengirim bukan satu, tetapi lima belas orang. Dapat kalian bayangkan perasaanku. Aku mengerti maksud nenek itu. Jika ada satu orang saja yang aku obati, maka celakalah aku. Dia pasti akan menyiksaku ratusan kali lipat lebih dahsyat dari pada orang yang kuobati. Sebab itu sambil menahan keinginan hati aku tetap berpeluk tangan. Dan belakangan, sesudah Bu Kie menanyakan pendapatku andai kata orang yang terluka adalah seorang murid Beng-kauw, barulah aku memberi petunjuk. Tapi aku sangat berhati-hati dan sengaja menerangkan bahwa Bu Kie adalah murid Bu-tong-pay dan tidak bersangkut paut dengan diriku.
Melihat bahwa dengan pertolongan Bu Kie, orang-orang itu mulai sembuh dengan cepat, Lan Houw kembali merasa tidak senang. Setiap malam dia menaruh racun di piring mangkok mereka. Dengan demikian, lagi-lagi dia bermaksud mengadu kepandaian denganku. Lima belas orang itu rata-rata jago rimba persilatan. Bagaimana dia bisa menyateroni tanpa diketahui? Sebelum menyebar racun lebih dulu dia menggunakan obat tidur.”
Siauw Hu dan Bu Kie saling mengawasi. Sekarang mereka baru mengerti mengapa malam itu Siauw Hu begitu sukar disadarkan sehingga Bu Kie sampai menggoyang-goyangkan badannya.
“Selama beberapa hari ini kesehatan Kie-kouwnio pulih dengan cepat, sepertinya racun isteriku tidak mempan lagi,” kata pula Ceng Gu. “Sesudah menyelidiki, dia mengerti bahwa rahasianya diketahui Bu Kie, maka dia segera mengambil keputusan untuk mengambil jiwa Bu Kie. Hai...! Kata orang sungai dan gunung lebih gampang diubah dari pada adat manusia. Kini aku harus mengakui bahwa aku, Ouw Ceng Gu tidak cukup setia kepada isteriku. Sebenarnya aku sudah mengambil keputusan untuk berpeluk tangan, tapi karena Bu Kie telah menasihatiku agar aku menyingkir, hatiku menjadi lemah. Aku segera memberi resep istimewa untuknya dengan menyebutkan Tong-kwie, Wan-cie, Tok-ho dan beberapa macam obat lain. Aku tidak dapat bicara terus terang karena Tan Kouw berada di sampingku.
Namun isteriku sangat cerdas dan mengenal ilmu ketabiban. Mendengar resep yang gila itu, sesudah mengasah otak beberapa lama, dia segera dapat menangkap maksudku yang sebenarnya. Dia lalu mengikat kaki tanganku dan mengambil beberapa macam racun yang lalu ditelannya. Sesudah menelan racun dia pun berkata: ‘Suko, aku dan kau sudah menjadi suami isteri selama dua puluh tahun lebih. Lautan bisa kering, batu bisa hancur, tetapi kecintaan kita takkan bisa berubah. Tapi selamanya kau memandang rendah kepada Tok-hutku. Setiap orang yang diracuni olehku, selalu dapat ditolong olehmu. Sekarang aku sendiri menelan racun. Jika kau dapat menolong jiwaku, aku takluk padamu’.
Bukan main rasa kagetku, berulang-ulang aku minta ampun dan mengaku kalah. Tapi dia lalu menyumbat mulutku dengan buah tho, sehingga aku tidak dapat bicara lagi. Kejadian selanjutnya sudah kalian ketahui. Hai...! Bu Kie, kau berdosa terhadapku. Kau membalas kebaikan dengan kejahatan. Aku menasihati kau agar menyingkir, tapi kau malah berbalik melukai isteriku tercinta.“ Seraya berkata begitu dia menggeleng-gelengkan kepala.
Siauw Hu dan Bu Kie saling mengawasi tanpa dapat mengeluarkan sepatah katapun. Mereka mendongkol campur geli. Sepasang suami isteri ini benar-benar aneh dan sukar dicari tandingannya di dunia selebar ini. Karena rasa cinta yang besar Ouw Ceng Gu takut kepada isterinya. Di lain pihak Ong Lan Kouw terus menindih suaminya dan akhirnya dia bahkan meracuni diri sendri.
Sesudah menggelengkan kepala, Tiap-kok Ie-sian berkata lagi, “Cobalah kalian pikir, apa yang harus diperbuat olehku? Kalau sekarang aku berhasil menyembuhkannya, itu berarti kepandaianku lebih unggul dari pada kepandaiannya sehingga Lan Kouw pasti tetap merasa kurang senang. Jika aku gagal, jiwanya melayang. Hai! Aku mengharap Kim-hoa Popo cepat datang supaya aku lekas mampus agar jangan merasakan penderitaan ini lebih lama lagi.”
Tiba-tiba serupa ingatan berkelebat di otak Bu Kie. “Racun apa yang ditelan Subo?” tanyanya. “Bagaimana mengobatinya?” Sambil berkata begitu ia menggoyang-goyangkan tangan sebagai isyarat supaya Ceng Gu tidak menjawab dengan sebenarnya.
Ceng Gu melirik isterinya yang sedang tidur menghadap ke dalam. Sebagai seorang yang sangat pintar dia segera mengerti maksud bocah ini.
“Selama beberapa tahun kepandaian isteriku sudah banyak maju sehingga aku tidak dapat menebak racun apa yang ditelannya,” jawabnya. “Dan sebelum mengetahui racunnya, aku tidak dapat mengobati.”
Selagi orang tua itu menjawab pertanyaannya, dengan jari tangan Bu Kie menulis huruf-huruf yang berbunyi begini di atas meja: ‘Beri-tahukanlah aku dengan tulisan’. Dan selagi menulis, mulutnya berkata,
“Kalau begitu Subo tak bisa diobati lagi.”
“Isteriku sendiri pasti tahu cara memunahkan racun itu,” kata Ceng Gu. “Tetapi aku kenal adatnya. Biar pun mati dia tak akan memberi-tahu kepada kita.“ Waktu berkata begitu, dengan telunjuknya dia menulis di atas meja. ‘Racun Sam-ciong Sam-co. Sam-ciong ialah kelabang, ular tanah dan laba-lain beracun, Sam-co terdiri dari Cin-po-co, Toan-chung-co dan Siauw-houw-kun’. Sesudah itu dia juga menulis resep obat. (Sam-ciong: Tiga macam binatang. Sam-co: Tiga macam rumput).
Bu Kie mengangguk dan lalu menulis pula di atas meja: ‘Kau telanlah Sam-ciong Sam-co. Sesudah kau meracuni diri sendiri, aku yang akan menolong’.
Tiap-kok Ie-sian terkejut, namun dia segera dapat menangkap maksud Bu Kie. “Jalan ini sangat berbahaya,” pikirnya. “Tapi karena tidak ada lain jalan biarlah aku mencoba secara untung-untungan.”
Sementara itu Bu Kie sudah berkata pula, “Ouw-sinshe, dengan memiliki kepandaian yang begitu tinggi, masa kau tidak tahu racun apa yang sudah ditelan Subo?”
“Menurut dugaanku dia sudah menelan racun Sam-ciong Sam-co,” jawabnya. “Sam-ciong bersifat ‘im’ (dingin), sedangkan Sam-co besifat ‘yang’ (panas). Jangankan sampai enam macam, satu macam saja sukar untuk diobati. Kalau aku menggunakan obat yang sifatnya panas untuk memunahkan racun binatang yang bersifat dingin, maka akibatnya racun rumput yang panas akan menjadi-jadi. Dan begitu juga sebaliknya. Tubuh manusia terdiri dari darah daging takkan bisa bertahan terhadap enam rupa racun yang hebat itu.“ Dia mengibas tangannya lalu kembali berkata, “Kalian pergilah! Mana kala Lan Kouw binasa, aku pun tidak bisa hidup sendirian di dunia.”
“Kami harap Sinshe bisa menyayang diri dan mencoba membujuk Subo,” kata Bu Kie.
Ceng Gu menghela napas. “Kalau dia dapat dibujuk maka kejadian hari ini tak akan terjadi,” jawabnya dengan suara putus harapan.
Siauw Hu dan Bu Kie lantas meninggalkan kamar itu. Sesudah mereka berlalu, Tiap-kok Ie-sian segera menotok jalan darah di pinggangnya dan pinggang isterinya.
“Sumoay,” katanya dengan suara parau, “Suamimu tidak mempunyai kemampuan dan tidak dapat memunahkan racun Sam-ciong Sam-co. Jalan satu-satunya ialah mengikuti kau ke dunia baka untuk menyambung perjodohan kita.” Ia merogoh saku isterinya dan mengeluarkan beberapa bungkus obat yang sesuai dengan dugaannya berisi Sam-ciong Sam-co.
Karena ditotok, tubuh Lan Kouw tidak bisa berkutik, tetapi mulutnya masih bisa berbicara.
“Suko, kau tak boleh makan racun!” teriaknya dengan kaget.
Sang suami tidak meladeni. Ia membuka bungkusan bubuk racun yang lantas dimasukkan ke dalam mulutnya kemudian ditelan dengan bantuan air.
Paras muka Lan Kouw berubah menjadi pucat pasi. “Suko!” jeritnya. “Kau gila! Mengapa begitu banyak? Racun sebanyak itu dapat membinasakan tiga manusia.”
Tiap-kok Ie-sian tertawa dingin. Dia duduk menyender di kursi di samping kepala ranjang. Sesaat kemudian perutnya bagaikan disayat ratusan pisau dan dia mengerti bahwa Toan-chung-co (Rumput memutuskan usus) sudah mulai bekerja. Tak lama lagi lima racun yang lain akan turut mengamuk dan penderitaan Ceng Gu tidak mungkin dilukiskan dengan kata-kata.
“Suko! Racun itu ada pemunahnya!” teriak Lan Kouw.
Sang suami menggigil, giginya bercatrukan dan ia berkata sambil menggelengkan kepala,
“Aku... tak... percaya...”
“Lekas makan Giok-liong Souw-hap-san!” teriak si isteri. “Kemudian gunakan jarum untuk membuyarkan racun!”
“Apa gunanya?” kata Ceng Gu.
Sekarang nyonya itu menangis, “Racun yang ditelan olehku sangat sedikit,” katanya. “Kau makan terlalu banyak. Oh Suko...! Lekaslah tolong jiwamu... Kalau terlambat... tak keburu lagi...”
“Aku mencintai kau segenap jiwa,” kata sang suami. “Tapi kau sendiri tak hentinya mengajak aku mengadu ilmu. Aku merasa hidup lebih lama tiada artinya... aduh!... aduhh!”
Ia tidak berpura-pura, ketika itu racun ular dan lawa-lawa sudah mulai menyerang jantung. Badannya bergoyang-goyang dan di lain detik ia sudah tak ingat orang. Semua kejadian itu didengar jelas oleh Siauw Hu dan Bu Kie yang menunggu di luar pintu.
“Suko! Suko!” Lan Kouw sesambat. “Akulah yang salah... Kau tidak boleh mati...aku tidak akan mengajak kau mengadu ilmu lagi.”
Sekarang Bu Kie menganggap bahwa sudah tiba waktunya turun tangan. Ia cepat menerobos masuk lalu bertanya,
“Subo... lekas! Lekas beri-tahu cara menolong Suhu!”
Lan Kouw girang tak kepalang. “Lekas berikan Giok-liong Souw-hap-san kepadanya!” dia berteriak. “Lekas kau ambil jarum emas lalu tusuklah jalan darah Yong-coan-hiat dan Kiu-bwee-hiat dan cepat!”
Pada detik itu sekonyong-konyong terdengar suara batuk-batuk dari luar kamar. Di tengah malam buta suara itu membangunkan bulu roma. Kie Siauw Hu melompat masuk, paras mukanya pucat bagaikan kertas. Sambil melompat dia berkata dengan suara heran,
”Kim-hoa Popo...”
Hampir berbareng dengan perkataan ‘Popo’, tirai bergoyang dan di ambang pintu berdiri seorang nenek yang tangannya mencekal satu nona cilik yang berparas sangat cantik. Nenek itu memang bukan lain Majikan Pulau Leng-coa-to, Kim-hoa Popo. Melihat Ceng Gu mencekal perut dengan paras muka bersemu hitam dan berada dalam keadaan pingsan, dia terkejut dan bertanya,
“Ada apa?”
Lan Kouw menangis keras, “Suko! Suko!” jeritnya. “Mengapa kau meracuni diri sendiri?”
Kedatangan Kim-hoa Popo di wilayah Tiong-goan mengandung dua tujuan. Pertama mencari musuh yang telah meracuni suaminya dan ke dua untuk memberi hukuman pada Ouw Ceng Gu. Tak dinyana dia bertemu Tiap-kok Ie-sian yang sudah hampir mati. Begitu melihat paras muka Ceng Gu dan Lan Kouw, sebagai seorang ahli dalam ilmu menggunakan racun dia segera mengetahui bahwa jiwa mereka sukar ditolong lagi. Dia menduga bahwa Ceng Gu sudah menelan racun karena takut hukuman yang mungkin dijatuhkan olehnya dan dengan adanya dugaan itu, rasa sakit hatinya lenyap.
Ia menghela napas dan sambil menarik tangan si nona cilik, ia berjalan keluar. Di lain saat suara batuk-batuk sudah terdengar di luar rumah, dalam jarak puluhan tombak. Kecepatan bergerak nenek itu sungguh sukar dicari tandingannya. Sesudah Kim-hoa Popo berlalu, Bu Kie meraba dada Ceng Gu yang jantungnya masih mengetuk perlahan. Buru-buru ia mengambil Giok-liong Souw-hap-san yang dicekukkan ke mulutnya, kemudian mengambil jarum emas menusuk Yong-coan-hiat dan Kiu-bwee-hiat agar hawa beracun bisa keluar dari lubang tusukan. Setelah menolong sang Suhu barulah ia menolong sang Subo. Setengah jam kemudian perlahan-lahan Tiap-kok Ie-sian tersadar. Rasa syukurnya sukar dilukiskan. Ia menangis dan berkata,
“Saudara kecil! Kau tuan penolong kami yang sudah menolong jiwa kami berdua.”
“Sekarang kalian tidak usah kuatir lagi,“ kata Bu Kie. “Kim-hoa Popo menduga kalian pasti akan binasa, sudah berlalu tanpa mengucapkan sepatah katapun.”
“Tapi aku masih kuatir,” kata sang Subo. “Kim-hoa Popo seorang yang amat berhati-hati. Biar pun hari ini dia sudah pergi tetapi di lain hari pasti akan datang lagi untuk menyelidiki. Kami berdua harus segera menyingkirkan diri. Saudara kecil, aku ingin minta pertolonganmu. Buatlah dua buah kuburan kosong dan tulisilah nama kami di atas batu nisan.“
Si bocah mengangguk sebagai tanda dia akan melakukan permintaan itu. Ceng Gu dan Lan Kouw segera berkemas-kemas dan malam itu juga, dengan menumpang sebuah kereta keledai, berangkat meninggalkan Ouw-tiap-kok. Bu Kie mengantar mereka sampai di mulut selat. Sesudah berkumpul selama dua tahun lebih dan sekarang mesti berpisah secara mendadak, Ceng Gu dan Bu Kie merasa sangat terharu. Sambil mengangsurkan sejilid buku tulisan tangan kepada si bocah, orang tua itu berkata,
“Bu Kie, semua pelajaranku tercatat dalam buku ini. Kini aku menghadiahkannya padamu. Aku merasa sangat menyesal bahwa racun Hian-beng Sin-ciang dalam tubuhmu belum dapat disingkirkan. Sesudah mempelajari buku ini, aku berharap kau sendiri akan mendapat jalan untuk memunahkan racun. Dengan berkah Tuhan, di hari kemudian kita masih bisa bertemu lagi.”
Sambil menghaturkan banyak terima kasih Bu Kie menerima hadiah itu.
“Bu Kie,” kata Lan Kouw. “Engkau bukan saja sudah menolong jiwa kami, tapi juga mengakurkan kami berdua suami isteri. Menurut pantas seharusnya aku pun memberikan semua pelajaran kepadamu. Hanya sayang apa yang kupelajari adalah ilmu-ilmu meracuni manusia yang tiada faedahnya. Aku hanya dapat memohon pada Tuhan Yang Maha Esa supaya kau sembuh dalam waktu cepat agar di hari kemudian aku masih bisa membalas budimu.”
Demikianlah, dengan rasa duka mereka berpisah. Setelah kereta itu tak kelihatan lagi, barulah Bu Kie kembali ke rumah Ceng Gu yang sudah kosong. Pada esok paginya dia segera membuat dua buah kuburan di samping rumah dan kemudian memanggil tukang batu untuk mendirikan bong-pay (batu nisan). Di atas sebuah bong-pay tertulis.
‘Kuburan Tiap-kok Ie-sian, Ouw-sinshe, Ceng Gu’, sedangkan di lain bong-pay tertulis: ‘Kuburan Nyonya Ouw, Ong-sie’.
Kan Ciat, Sie Kong Wan dan yang lain-lainnya percaya bahwa kedua suami isteri itu telah meninggal dunia karena sakit cacar. Setelah pengacaunya berlalu, dengan diobati Bu Kie, semua orang sembuh dengan cepat sekali. Dalam sepuluh hari mereka semua telah berlalu dengan menghaturkan banyak terima kasih.
Selama beberapa hari Bu Kie memusatkan seluruh perhatiannya kepada buku yang diberikan oleh Tiap-kok Ie-sian. Ia mendapat kenyataan bahwa isi buku itu benar-benar hebat, berisi resep-resep luar biasa serta macam-macam cara untuk mengobati berbagai penyakit yang aneh-aneh. Sungguh tidak memalukan Ouw Ceng Gu mendapat julukan Ie-sian. Tetapi sesudah mempelajari delapan sembilan hari, dia masih juga belum dapat membaca keterangan tentang cara mengusir racun Hian-beng Sin-ciang. Dia berpikir bolak-balik dan mengasah otak siang malam, tetap tidak berhasil. Dia jadi putus harapan. Hari itu dengan perasaan tertindih dia berjalan-jalan di luar rumah. Sambil mengawasi dua kuburan kosong itu dia berkata dalam hati,
“Setahun lagi, siapa yang akan mengubur mayatku?” Mengingat begitu, hatinya menjadi sedih dan air matanya mengucur.
Sekonyong-konyong di belakangnya terdengar suara batuk-batuk. Dia kaget dan memutar badan. Orang yang berdiri di belakangnya bukan lain Kim-hoa Popo yang sedang mencekal tangan si gadis kecil.
“Anak kecil, ada hubungan apa kau dengan Ouw Ceng Gu?” tanya si nenek. “Mengapa kau menangis di depan kuburannya?”
Jawab Bu Kie, “Aku kena racun Hian-beng Sin-ciang...”
Si nenek mengangsurkan tangannya dan memegang nadi Bu Kie. “Siapa yang memukul kau?” tanyanya dengan suara heran.
Bu Kie menggelengkan kepala sambil menjawab, “Entahlah, orang itu menyamar perwira Mongol. Aku tidak tahu siapa adanya. Aku datang kemari minta pertolongan Ouw-sinshe, tapi dia tak sudi menolong. Sekarang dia meninggal dunia, maka penyakitku tentu tak dapat diobati lagi. Itu sebabnya mengapa aku menangis.”
Melihat paras muka si bocah yang sangat tampan dan gerak-geriknya yang menarik. Kim-hoa Popo merasa kasihan dia menghela napas panjang dan berkata,
“Sayang, sungguh sayang!”
Dua tahun yang lalu, waktu baru diberi-tahu bahwa racun Hian-beng Sin-ciang sulit diobati, Bu Kie amat ketakutan. Belakangan, setelah berbagai usaha gagal, dia putus harapan dan menjadi nekat. Dia sudah tidak memikirkan lagi soal mati hidupnya. Mendengar perkataan si nenek, dia tertawa dingin dan berkata,
“Mati atau hidup tidak dapat diminta secara paksa. Apakah seseorang yang serakah dan ingin hidup terus-menerus bukan orang yang sedang mabuk? Entahlah. Apakah seseorang yang takut mati bukan seperti kanak-kanak yang kesasar dan tidak mengenal jalan pulang? Entahlah. Apakah seseorang yang sudah meninggal dunia tidak merasa menyesal bahwa dia dahulu ingin sekali dilahirkan di dunia? Ini pun aku tidak tahu.”
Si nenek terkesiap. Untuk sementara dia tidak mengeluarkan sepatah kata pun melainkan mencoba memecahkan maksud perkataan si bocah.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA



































Tidak ada komentar:
Posting Komentar