PERSETERUAN DUA SAUDARI SEPERGURUAN
Di lain saat badan Pheng Hwesio tampak bergoyang-goyang, hampir jatuh terguling, dan ketujuh musuhnya lantas mengurung. Sambil memutar Sian-thung-nya, pendeta Siauw-lim menerjang dan berteriak,
“Pheng Hwesio! Kau telah membinasakan Sute-ku. Mari kita mengadu jiwa!”
“Lututnya sudah kena Sia-wie-kauw (Gaetan ekor kalajengking, sejenis senjata rahasia)!” teriak si tosu Kun-lun. “Tidak lama lagi dia akan mampus keracunan!”
Dan benar saja, langkah Pheng Hwesio kelihatan limbung dan perlawanannya terhadap si pendeta Siauw-lim sudah kalut.
“Celaka!” bisik Siang Gie Cun. “Ia adalah guru Ciu-toako. Bagaimana aku harus menolong dia?”
Bu Kie tahu bahwa si brewok adalah manusia yang tidak bisa menonton kawannya celaka sambil berpeluk tangan. Walau pun dirinya sendiri terluka berat, dia masih mau menolong orang. Andai kata dia sampai nekat menerjang keluar, hanya akan mengantarkan jiwa cuma-cuma. Mendadak Bu Kie teringat sesuatu dia lantas berkata,
“Siang-toako, kau ingin menolong Pheng Hwesio bukan?”
“Tidak bisa tidak ditolong!” jawabnya. “Dia kena senjata beracun, aku sendiri... aku sendiri...”
“Aku punya suatu daya untuk memulihkan tenagamu,” memutus si bocah. “Kau akan dapat bertahan selama setengah jam, namun demikian kau akan merusak tenaga dalammu.”
Setelah mendengar keterangan si bocah mengenai ilmu silat dari berbagai partai, Gie Cun percaya bahwa anak yang sangat pintar ini adalah murid istimewa dari Thio Sam Hong, maka dia tidak menyangsikan omongan itu.
“Untuk menolong jiwa manusia, aku rela merusak tenaga dalamku sendiri.”
“Ambillah dua butir batu yang tajam,” bisik Bu Kie.
Gie Cun segera melakukan apa yang diminta Bu Kie. “Apakah ini boleh?” tanyanya sambil mengangsurkan kedua batu itu.
“Boleh,” jawab si bocah sambil mengangguk. “Dengan bagian batu yang tajam, totoklah samping pahamu tepat di bawah pinggang.”
“Di sini?” tanya Gie Cun sambil menunjuk samping pahanya.
“Lebih bawah sedikit,” kata si bocah. “Ya! Betul di situ. Ke sebelah sedikit, setengah coan. Bagus! Nah, sekarang totoklah.”
Si brewok lantas menotok paha kanannya dengan batu itu dan hampir berbareng, dia merasa pahanya kesemutan.
“Inilah ilmu yang dinamakan Tie-sin Tah-hiat-hoat (ilmu menotok jalan darah untuk mempertinggi semangat),” menerangkan Bu Kie. “Totoklah paha kirimu.”
Si brewok agak sangsi. Walau pun belum pernah belajar tapi dia tahu bahwa di rimba persilatan terdapat ilmu Tiam-hiat yang bisa melumpuhkan anggota badan manusia. Meski pun teringat akan hal itu namun dia tetap percaya omongan Bu Kie karena menurut anggapannya, sebagai sebuah partai persilatan yang namanya menggetarkan dunia, Bu-tong-pay tentu mempunyai cara-cara lain dari pada yang lain. Demikianlah, dia segera menotok lagi paha kirinya. Tetapi di luar dugaan, begitu paha kirinya tertotok, separuh badannya mulai dari pinggang ke bawah tidak dapat digerakkan lagi. Sementara itu, sesudah melompat beberapa tombak jauhnya Pheng Hwesio roboh.
“Saudara Thio!” kata si brewok dengan bingung. “Kenapa... badanku rasanya seperti mati separuh?”
Bu Kie tertawa geli dalam hati karena Siang Gie Cun sudah tertipu, tetapi dia pura-pura kaget dan mengeluarkan seruan tertahan:
“Celaka! Kau tidak mengerti Tiam-hiat, mungkin sekali kau salah dalam menggunakan tenaga. Tunggulah sebentar.”
Siang Gie Cun bukan orang tolol. Di lain saat dia mengerti bahwa dia telah terjebak oleh muslihat si bocah nakal. Akan tetapi dia pun mengerti bahwa dengan berbuat demikian Bu Kie bermaksud baik. Dia tidak dapat berbuat lain dari pada menghela napas dengan perasaan dongkol tercampur geli. Pheng Hwesio menggeletak di tanah tanpa bengerak, se-olah dia telah menghembuskan napasnya yang penghabisan. Akan tetapi biar pun begitu, musuh-musuhnya masih belum berani mendekati.
“Kouw-sute, cobalah kau timpuk lagi dengan dua buah golok terbangmu untuk mencoba-coba,” kata si tosu Kun-lun-pay. Tojin yang dipanggil ‘Kouw-sute’ itu segera mengayunkan tangan kanannya dan dua Hui-to menyambar, yang satu menancap pada pundak kanan Pheng Hwesio, sedangkan yang lain mengenai paha kirinya. Tetapi pendeta jubah putih itu tetap tidak bergerak, suatu bukti bahwa dia benar-benar sudah binasa.
“Sayang! Sayang dia sudah mati,” kata si tosu Kun-lun. “Sekarang sukar diselidiki di mana menyembunyikan Pek Kwie Siu.”
Semua orang lalu mendekati ‘mayat’ Pheng Hwesio. Mendadak, mendadak saja terdengar suara.
“Plak! Plak! Plak! Plak! Plak!“ lima kali beruntun, dan lima orang roboh terguling! Hampir berbareng, dengan semangat bergelora Pheng Hwesio bangun berdiri dengan pundak dan paha masih tertancap golok.
Ternyata setelah kena senjata beracun dan yakin bahwa jiwanya tidak akan dapat ditolong, Pheng Hwesio lalu berpura-pura mati. Namun begitu lawan-lawannya mendekat, dia segera menghantam lima orang musuh lelaki dengan pukulan Ngo-heng-ciang. Ia sengaja mengampuni dua orang lawan wanita, yaitu Kie Siauw Hu dan Suci-nya yang bernama Teng Bin Kun. Dalam kagetnya kedua murid Go-bi-pay itu cepat-cepat meloncat mundur. Mereka melihat bahwa kelima kawannya muntahkan darah dan dua di antaranya yang Iweekang-nya agak lemah, sudah jatuh berlutut. Sesudah mengeluarkan banyak tenaga, tubuh Pheng Hwesio pun bergoyang-goyang.
“Teng-kouwnio, Kie-kouwnio!” teriak si tosu Kun-lun. “Tikamlah bangsat gundul itu!”
Di antara sembilan orang yang tadi bertempur, seorang pendeta Siauw-lim sudah binasa, kan Pheng Hwesio dan lima lawannya luka berat sehingga hanya Teng Bin Kun dan Kie Siauw Hu yang tidak kurang suatu apapun. Mendengar teriakan si tosu Kun-lun, Teng Bin Kun segera mengangkat pedang kemudian menyabet kaki si pendeta. Pheng Hwesio mengeluh.
“Karena merasa kasihan terhadap perempuan, aku tidak berlalu kejam kepada kalian, tidak dinyana rasa kasihanku berbalik mencelakakan diriku sendiri,” katanya dalam hati. Ia pejamkan kedua matanya untuk menunggu kebinasaan.
“Trangg...!” tiba-tiba terdengar suara benturan senjata.
Pheng Hwesio membuka mata dan mendapat kenyataan bahwa yang menolongnya Kie Siauw Hu.
“Ehh, mengapa kau begitu?” tanya Teng Bin Kun dengan kaget.
Nona Kie tertawa. “Suci,” katanya. “Pheng Hwesio tidak berlaku kejam kepada kita, maka kita pun tidak boleh membunuh dia.”
“Aku pun bukan mau mengambil jiwanya,” kata Teng Bin Kun. “Aku hanya ingin memaksa supaya dia memberi-tahu tempat sembunyinya Pek Kwie Siu.”
“Dia telah keracunan hebat, paling dulu kita harus memunahkan racun itu,” kata Kie Siauw Hu seraya mendekati si tosu Kun-lun dan berkata, “Saudara See-leng, harap berikan obat pemunah Sie-wie-kauw kepadaku.”
To-ho (nama sebagai orang pertapaan) dari tojin itu adalah See-leng-cu, sedangkan tojin yang melepaskan golok terbang bernama See-ciat-cu dan mereka kedua-duanya adalah adik sepenguruan See-hoa-cu.
“Belenggu dulu,” kata See-leng-cu. “Hwesio ltu banyak akal bulusnya...“ Ia bicara dengan napas tersengal-sengal karena pukulan Ngo-heng-ciang membuatnya luka berat.
Kie Siauw Hu mengangguk dan setelah mengambil seutas tambang, dia lalu menghampiri Pheng Hwesio.
“Pheng-taysu,” katanya dengan suara lemah lembut, “aku mohon maaf atas kekurangan ajaranku.”
Karena sudah tidak ada jalan lain, mau tidak mau si pendeta membiarkan kaki tangarnya dibelenggu. Sesudah itu barulah See-leng-cu mengeluarkan obat yang lantas diserahkan kepada nona Kie dengan memberi-tahu cara-cara menggunakannya. Siauw Hu lalu mencabut dua Hui-to yang menancap di pundak dan paha Pheng Hwesio, kemudian menaruh obat di lubang-lubang luka itu.
“Pheng Hwesio!” bentak Teng Bin Kun. “Sumoay-ku berhati murah dan sudah menolong jiwamu. Sekarang beri-tahukanlah di mana adanya Pek Kwie Siu.”
Pheng Hwesio tertawa terbahak-bahak. “Teng-kouwnio,” katanya. “Dengan berkata begitu kau memandang aku terlalu rendah. Thio Ngo-hiap dari Bu-tong-pay lebih suka bunuh diri dari pada memberi-tahu tempat tinggal saudara angkatnya. Pribudi Thio Ngo-hiap yang luhur itu sungguh dikagumi Pheng Eng Giok. Karena itu biar pun aku bukan seorang ternama, aku ingin mengikuti perbuatan Thio Ngo-hiap.”
Mendengar itu bukan main rasa bangganya Bu Kie. Kematian Cui San amat disayangkan oleh orang-orang rimba persilatan dan mereka menganggap bahwa kebinasaan Thio Ngo-hiap adalah karena menikah dengan wanita ‘siluman’ dari partai yang sesat. Sebagai anak yang sangat cerdas Bu Kie tahu bahwa dalam omong-omong antara kakek guru dan para pamannya, mereka sangat berduka akan kematian ayahnya, tetapi dongkol terhadap mendiang ibunya. Tapi dari semua pembicaraan yang pernah didengarnya, belum pernah ada seorang pun yang mengutarakan rasa hormat begitu besar terhadap ayahnya seperti pengutaraan Pheng Hwesio.
Teng Bin Kun tertawa dingin. “Dengan menikahi perempuan siluman, Thio Cui San seperti buta matanya,” katanya. “Dia sendiri pula yang rela menjadi seorang hina dina. Apa orang semacam itu pantas dibuat contoh? Bu-tong-pay...”
“Suci!” memutus Kie Siauw Hu.
“Jangan kuatir,” kata sang kakak sepenguruan “Aku takkan menyeret nama In Liok-hiap,” Ia mengibas pedangnya yang lalu ditudingkan ke mata kanan si pendeta. “Kalau kau tidak mau bicara, lebih dulu kutusuk mata kananmu.“ Ia mengancam dengan nada bengis. “Lalu kutikam mata kirimu. Sesudah itu kusodok kuping kanan dan kuping kirimu dan akhirnya kupapas hidungmu. Tetapi kau tidak usah kuatir. Biar bagaimana pun juga aku tidak akan mengambil jiwamu.“ Ujung pedang yang berkilauan dan menggetar tak hentinya itu hanya terpisah setengah dim dari mata kanan Pheng Hwesio.
Akan tetapi Pheng Hwesio sedikit pun tak menjadi gentar. Dengan mata tidak berkedip dia berkata,
“Sudah lama kudengar bahwa Biat-coat Suthay dari Go-bi-pay adalah seorang kejam. Sekarang aku mendapat kenyataan bahwa si murid tidak banyak beda dengan sang guru. Hari ini Pheng Eng Giok telah jatuh ke tanganmu dan kau boleh berbuat sesukamu.”
“Bangsat gundul!” teriak Teng Bin Kun. “Kau berani menghina guruku?”
Dengan sekali mendorong pedangnya, mata kanan Pheng Hwesio menjadi buta. Kemudian dia menempelkan ujung pedang di kelopak mata kiri si pendeta. Namun pendeta itu malah tertawa terbahak-bahak, sedangkan mata kirinya yang terbuka lebar menatap muka musuhnya. Ditatap dengan sinar mata yang berkeredepan seperti itu, jantung Teng Bin Kun memukul keras.
“Kepala gundul!” bentaknya lagi. “Aku sungguh tidak mengerti akan sikapmu. Kau bukan anggota Peh-bie-kauw, tetapi mengapa kau rela membuang jiwamu untuk manusia seperti Pek Kwie Siu?”
“Walau pun aku menerangkan tentang seorang ksatria, kau tentu tak akan mengerti,“ jawabnya dengan suara duka.
Melihat paras muka si pendeta yang seakan memandang rendah kepadanya, Teng Bin Kun meluap darahnya dan sekali lagi dia menggerakkan pedang untuk menusuk mata kiri Pheng Hwesio.
Dengan cepat Kie Siauw Hu menangkis dengan senjatanya. “Suci. Dia keras kepala sekali dan biar bagaimana pun dia takkan buka mulut,” katanya. “Meski pun dibinasakan tiada gunanya.”
“Dia mencaci Suhu sebagai seorang kejam, maka biarlah dia menyaksikan kekejamanku,“ kata Teng Bin Kun. “Siluman Mo-kauw macam dia hanya dapat mencelakakan manusia baik-baik. Karena itu, jikalau kita menyingkirkannya dari muka bumi ini berarti kita berbuat baik terhadap sesama manusia,”
“Tapi tidak bisa disangkal bahwa dia seorang gagah yang tidak takut mati,” Siauw Hu mencoba membujuk lagi. “Suci, menurut pendapatku, sebaiknya kita memberi ampun.”
“Tidak bisa!” bentak sang kakak sepenguruan. “Dua Suheng dari Siauw-lim-pay yang satu binasa, satu terluka. Sedangkan dua Totiang dari Kun-lun-pay luka berat, dan dua saudara dari Hay-see-pay terluka lebih hebat lagi. Apa tangannya tidak cukup kejam? Sekarang biar aku menusuk mata kirinya. Sesudah itu barulah kita tanyakan lagi tempat sembunyi Pek Kwie Siu.”
Sehabis berkata demikian, bagaikan kilat pedangnya menyambar mata kiri Pheng Hwesio. Tapi sekali lagi Kie Siauw Hu menangkis pedang Suci-nya.
“Suci,” katanya dengan suara memohon. “Dia sudah tidak bisa melawan lagi dan jika kita menganiaya dia, aku kuatir partai kita mendapat nama jelek di rimba persilatan.”
Teng Bin Kun mendelik. “Minggir! Jangan pedulikan aku!” bentaknya.
Kie Siauw Hu kelihatan bingung dan berkata lagi, “Suci...“
“Jangan rewel!” Bin Kun langsung memotong. “Kalau kau menganggap aku sebagai kakak seperguruan, kau harus mendengar omonganku.”‘
“Baiklah,” kata nona Kie.
Sekali lagi pedang Teng Bin Kun berkelebat menyambar mata kiri Pheng Hwesio. Kali ini dia menggunakan tiga bagian tenaga Iweekang. Nona Kie juga turut mengerahkan tenaga dalam.
“Trangg...!”
Kedua senjata bentrok dan kedua saudari sepenguruan terhuyung beberapa tindak. Teng Bin Kun marah besar.
“Sumoay!” bentaknya. “Beberapa kali dengan mati-matian kau melindungi pendeta siluman ini. Apa maksudmu sebenarnya?”
Kie Siauw Hu tertawa. “Aku hanya minta supaya Suci jangan menganiayanya,“ jawabnya dengan sabar, “Jika kita ingin menyelidiki di mana tempat sembunyinya Pek Kwie Siu, kita hanya bisa menanyakan nanti secara perlahan-lahan.”
Teng Bin Kun tertawa dingin. “Huh! Apa kau kira aku tak tahu jalan pikiranmu?” tanyanya dengan nada mengejek. “Berapa kali In Liok-hiap dari Bu-tong-pay mendesak supaya kau menikah dengannya. Kenapa kau selalu menolak dengan berbagai alasan? Waktu ayahmu turut mendesak, mengapa kau malah kabur dari rumahmu?”
“Suci, itu adalah urusan sumoay pribadi,” kata nona Kie. “Mengapa Suci jadi menyebut hal itu?”
Sang kakak mengeluarkan suara di hidung. “Kita sama tahu,“ katanya. “Di hadapan orang luar, memang kurang baik jika aku membuka topengmu. Huh! Badanmu berada di Go-bi, tapi hatimu di Mo-kauw!”
Mendengar perkataan itu, Siauw Hu marah tak kepalang sehingga paras mukanya berubah pucat.
“Aku selalu menghormatimu sebagai seorang kakak dan belum pernah aku berbuat kesalahan padamu,” katanya dengan suara gemetar. “Tapi mengapa hari ini kau menghinaku demikian hebat?”
“Jika hatimu benar-benar tidak condong kepada Mo-kauw, coba tusuklah mata kiri pendeta siluman ini,“ kata Teng Bin Kun.
“Suci,” nona Kie berkata dengan suara duka. “Sebagaimana kau tahu, sejak jaman Siauw-ong-sia Kwee Sucouw (Kwee Siang), di dalam partai kita terdapat banyak sekali wanita yang tidak mau menikah seumur hidupnya. Karena mengagumi kemuliaan mendiang guru besar kita, siauw-moay pun telah mengambil keputusan untuk tidak menikah. Siauw-moay menganggap hal itu lumrah saja. Mengapa Suci mendesak begitu hebat?”
“Sudah! Aku tidak suka mendengar segala omonganmu!” bentak Bin Kun. “Jika kau tidak mau menikam mata pendeta siluman ini, aku akan mencopoti topengmu.”
Mendengar ancaman itu, Siauw Hu kelihatannya tak berani berkeras lagi. “Suci,” katanya dengan suara halus, “aku memohon kepadamu, Suci, dengan mengingat kasih sayang sesama saudara seperguruan, janganlah kau mendesak aku terlalu hebat.”
Wanita she Teng itu tertawa. “Aku bukan memaksa engkau mengerjakan pekerjaan yang sulit,” katanya, “Sebagaimana kau tahu, Suhu telah memerintahkan kita menyelidiki tempat persembunyian Kim-mo Say-ong Cie Sun. Pendeta ini adalah satu-satunya yang bisa memberi keterangan kepada kita, tapi dia bukan saja sungkan membantu kita, malah melukai kawan-kawan. Jika aku menikam mata kanannya dan kau menikam mata kirinya, bukankah merupakan suatu hal yang sangat wajar? Mengapa kau merasa segan tidak mau turun tangan?”
“Hati siauw-moay lembek, tidak bisa turun tangan,” jawabnya.
“Apa? Hatimu lembek?” sindir Teng Bin Kun. “Suhu sering memuji kau sebagai murid yang ilmu pedangnya hebat dan adatnya keras. Menyerupai adat Suhu sehingga beliau punya niat untuk mengangkat kau sebagai ahli warisnya. Mana boleh hatimu lembek?”
Apa bila dua saudara bertengkar, maka hal itu akan sangat membingungkan orang-orang yang mendengarnya karena mereka tidak mengetahui sebab musabab yang sebenarnya dari percekcokan antara keduanya. Setelah mendengar perkataan Teng Bin Kun yang paling belakangan, barulah mereka bisa meraba-raba. Rupanya Ciang-bun-jin Go-bi-pay Biat-coat Suthay sangat menyayangi Kie Siauw Hu dan berniat mengangkat murid ini menjadi ahli warisnya. Kelihatannya hal ini sudah menimbulkan rasa iri di hati Teng Bin Kun yang entah sudah memegang rahasia apa dari adik sepenguruannya dan sekarang ingin menghilangkan muka nona Kie di hadapan orang banyak.
Bu Kie yang menyaksikan kejadian itu dari tempat sembunyinya, merasa gusar sekali. Dia ingat perlakuan nona Kie yang sangat baik terhadapnya pada hari itu, pada hari kedua orang tuanya bunuh diri. Dia gusar dan berduka sekali. Kalau bisa dia ingin sekali menerjang keluar dan menggaplok muka si wanita she Teng yang tidak kenal kasihan.
“Kie-sumoay, aku ingin mengajukan Iagi satu pertanyaan,” kata Teng Bin Kun. “Tiga tahun berselang, Suhu telah mengumpulkan semua murid di puncak Kim-teng, di puncak gunung Go-bi-san dengan maksud akan mengajarkan ilmu pedang Bit-kiam dan Coat-kiam kepada semua saudara sepenguruan kita. Coba kau jawab. Kenapa kau tidak hadir dalam pertemuan besar itu? Mengapa beliau menjadi begitu marah sehingga beliau mematahkan pedangnya sendiri lantas mengatakan bahwa dunia tidak akan mengenal lagi kedua ilmu pedang itu?”
“Ketika itu siauw-moay tiba-tiba sakit berat di Lam-ciu sehingga tidak bisa bangun,” jawabnya. “Hal ini siauw-moay sudah memberi-tahu kepada Suhu. Mengapa Suci menanyakan pedang itu?”
Teng Bin Kun tertawa dingin. “Hmm!” ia mengeluarkan suara di hidung. “Mungkin kau bisa memperdayai Suhu, tetapi tidak bisa mengelabui aku. Aku masih ingin mengajukan sebuah pertanyaan. Tetapi jika kau menikam mata si kepala gundul, pertanyaan itu tidak diajukan olehku.”
Kie Siauw Hu menundukkan kepala. Ia berduka bukan main. “Suci,” katanya dengan suara perlahan, “apakah kau tidak ingat Iagi kecintaan antara sesama saudara sepenguruan?”
“Kau mau tikam atau tidak?” tanya sang kakak dengan bengis
“Suci, kau tidak usah kuatir,” kata nona Kie dangan suara memohon. “Andai kata aku mau dijadikan ahli waris oleh Suhu, aku akan menolak.”
“Bagus!” bentak Teng Bin Kun dengan marah. “Dengan berkata demikian kau seperti mau mengatakan bahwa aku menerima budimu yang besar. Coba kau unjukkan. Di bagian mana yang aku kalah dari kau? Aku tak perlu menerima budimu! Tak perlu kau mengalah! Ehh! Sekarang katakan, kau mau tikam atau tidak?”
“Jika Siauw-moay bersalah, Suci boleh menegur atau menjatuhkan hukuman dan Siauw-moay akan menerima dengan segala senang hati,” kata Siauw Hu. “Di sini ada sahabat dari lain partai sehingga kumohon Suci jangan mendesak terlalu...“ berkata sampai di situ dia tidak dapat meneruskan perkataannya karena air matanya sudah mulai mengucur.
Teng Bin Kun tertawa dingin. “Huh! Tak usah kau berlagak sedih sementara di hati kau mencaci aku,” ejeknya. “Tiga tahun yang lalu, apakah kau betul-betul mendapat sakit di Lam ciu? Perkataan ‘dapat’ memang tak salah, tapi bukan mendapat sakit, hanya mendapat anak!”
Mendengar ucapan sehebat itu, Kie Siauw Hu mengeluarkan seruan yang menyayat hati. Ia memutar badan kemudian kabur sekeras-kerasnya. Tapi Teng Bin Kun juga sudah menduga lebih dulu, maka dia lantas menguber dan mencegatnya.
“Sumoay, lebih baik kau tikam mata kiri pendeta siluman itu,” katanya sambil mengibas pedang. “Kalau kau tetap membantah, aku akan bertanya siapa ayah anak itu dan aku akan bertanya, mengapa sebagai murid sebuah partai yang lurus bersih, engkau melindungi seorang pendeta siluman dari agama Mo-kauw mati-matian”
“Kau... kau... minggir!” bentak nona Kie dengan napas tersengal-sengal.
Sambil menudingkan pedang pada dada adik seperguruannya, Teng Bin Kun membentak,
“Jawab pertanyaanku: Di mana kau titipkan bayimu? Kau adalah tunangan In Lie heng, In Liok-hiap, tetapi mengapa kau melahirkan anak?”
Kata-kata itu mengejutkan semua orang. Bahkan Bu Kie yang masih kecil juga merasa bahwa Kie Siauw Hu telah dituduh melakukan perbuatan hebat yang menyinggung kehormatan In Lie Heng. Paras muka nona Kie berubah pucat bagaikan kertas dan dia pun menerjang untuk mencoba meloloskan diri. Tapi di luar dugaannya Teng Bin Kun membuktikan ancamannya. Dengan sekali menyodok pedangnya amblas di lengan Siauw Hu hingga ujung pedang mengenai tulang. Sambil menahan sakit nona Kie terpaksa menghunus senjatanya dengan tangan kiri.
“Suci,” katanya dengan suara parau, “jika kau mendesak terus, terpaksa aku akan berlaku kurang ajar.”
Teng Bin Kun merasa bahwa sesudah membuka rahasia si adik sepenguruan, tentu Kie Siauw Hu akan berusaha membinasakannya guna menutup mulut. Karena itu, dengan mengetahui bahwa bekal ilmu silatnya masih kalah dari Siauw Hu, dia segera mengambil keputusan untuk turun tangan lebih dulu. Sesudah menikam lengan si adik dalam serangan susulan, ia menusuk perut Siauw Hu. Melihat Suci-nya menyerang lagi dengan pukulan yang membinasakan, sambil menahan sakit nona Kie menangkis dengan pedang yang dipegang tangan kirinya. Di lain saat mereka bertempur seru dengan gerakan-gerakan yang luar biasa cepat.
Semua orang yang ada di situ adalah ahli-ahli silat berkepandaian tinggi. Akan tetapi karena semuanya telah mendapat luka berat, mereka tak berdaya untuk memisahkannya. Mereka merasa kagum akan lihaynya ilmu pedang Go-bi-pay, yang dikenal sebagai salah satu dari empat partai besar di rimba persilatan. Kie Siauw Hu bertempur dengan lengan kanan yang terus mengucurkan darah. Beberapa kali Kie Siauw Hu menerjang dengan pukulan hebat dalam usaha untuk memaksa Suci-nya mundur agar dia bisa melarikan diri, tetapi usahanya selalu gagal. Dia gagal karena tidak biasa menggunakan pedang dengan tangan kiri, juga karena tenaganya berkurang sesudah tangannya mengeluarkan banyak darah.
Untung juga Teng Bin Kun selamanya merasa jeri terhadap adik seperguruannya sehingga dia tidak berani terlalu mendesak. Dia berkelahi dengan hati-hati sekali sambil menunggu lelahnya Siauw Hu. Memang semakin lama tindakan nona Kie kelihatan semakin limbung dan gerakan-gerakannya semakin lambat. Setelah lewat beberapa jurus lagi, lengan kanan Siauw Hu kembali tertikam dan darah pun mengucur semakin deras.
“Kie-kouwnio!” tiba-tiba Pheng Eng Giok berteriak. “Tikamlah mataku! Kie-kouwnio, budimu yang sangat besar tak akan dapat dibalas oleb Pheng Eng Giok!”
Memang benar rasa terima kasih Pheng Hwesio tak dapat dilukiskan lagi. Bahwa dengan menempuh bahaya Siauw Hu melawan Suci-nya untuk melindungi seorang musuh, merupakan suatu perbuatan yang sukar dilakukan. Apa lagi dalam usaha untuk melindungi musuh ini ia telah dicaci dengan kata-kata yang menodai nama baik seorang wanita, nama baik yang dipandang lebih penting dari pada jiwa. Akan tetapi jika sekarang Siauw Hu menurut perintah dan menusuk mata Pheng Hweshio, Teng Bin Kun juga tak akan memberi ampun. Kakak seperguruannya mengerti bahwa kalau sekarang dia tidak membinasakan si adik maka dia seperti menanam bibit penyakit di kemudikan hari. Teng Bin Kun menyerang Siauw Hu. Pheng Hwesio yang melihat itu lalu berteriak,
“Teng Bin Kun, kau sungguh manusia tak kenai malu! Tidak heran jika orang Kangouw memberi gelar Tok-chiu Bu-yam kepadamu. Sekarang aku menyaksikan dengan mataku sendiri bahwa hatimu benar-benar jahat seperti ular dan kalajengking. Huh! Mukamu jelek seperti muka Bu-yam! Jika semua wanita seperti kau, semua laki-laki di dunia ini tentu buru-buru mencukur rambut!”
Meski pun tidak bisa disebut cantik, sebenarnya Teng Bin Kun bukan seorang wanita yang jelek. Pheng Hwesio memang sengaja mencaci begitu dan memberi gelaran ‘Tok-chiu Bu-yam’ kepadanya untuk menolong Kie Siauw Hu. Ia tahu bahwa seorang wanita bisa mata gelap apa bila disinggung kejelekan mukanya. Ia berharap supaya dalam marahnya Teng Bin Kun membunuh ia sendiri sehingga Kie Siauw Hu bisa memperoleh kesempatan melarikan diri. Tetapi wanita she Teng itu ternyata bukan manusia tolol. Ia berpendapat bahwa sesudah membinasakan adiknya, ia masih punya banyak waktu untuk mengambil jiwa pendeta itu. Maka ia terus menyerang dengan hebat tanpa meladeni cacian orang.
“Di dunia Kangouw, siapakah yang tidak tahu kesucian Kie Lihiap?” teriak pula Pheng Hwesio. “Teng Bin Kun, sekarang aku hendak membuka rahasiamu. Kau manusia muka jelek, sebenarnya kaulah yang menginginkan In Lie Heng! Tetapi karena In Liok-hiap tidak meladeni maka kau memfitnah Kie Lihiap. Ha-ha-ha….! Tulang pipimu begitu tinggi! Mulutmu sebesar panci! Kulitmu kering dan kuning, sedang badanmu kurus jangkung seperti galah jemuran! Ha-ha-ha….! In Liok-hiap yang begitu tampan mana mau mengambil kau sebagai isteri? Sebenarnya kau harus lebih sering berkaca ...”
Sungguh pun pintar akhirnya Teng Bin Kun kalap juga. Mendengar sampai di situ, ia tidak dapat mempertahankan ketenangannya lagi. Ia melompat sambil mengayun pedang yang diturunkan ke mulut Pheng Hwesio. Memang benar tulang pipi nona Teng agak tinggi, mulutnya terlampau besar, kulitnya agak hitam sedang badannya agak jangkung. Tetapi kekurangan-kekurangan yang tidak banyak itu tidak terlihat nyata jika tidak diperhatikan. Akan tetapi Pheng Hwesio yang bermata tajam bisa melihat itu semua dan dia lalu mengejek secara berlebih-lebihan. Apa yang membuat Teng Bin Kun kalap ialah disebutnya nama In Lie Heng yang belum pernah dikenal olehnya. Mendadak dari dalam hutan berkelebat bayangan yang sambil membentak keras, menghadang di depan Pheng Hwesio sehingga pedang Teng Bin Kun yang sedang menyambar menancap tepat di lehernya. Hampir berbareng tangan orang itu menghantam dan...
“Bukk!”
Pukulan itu mengenai dada Teng Bin Kun yang lantas terhuyung beberapa tindak dan mulutnya muntahkan darah. Pedang yang dilepaskan oleh nona Teng tetap menancap di leher orang itu yang rupanya sudah tidak bisa hidup lebih lama lagi. See-leng-cu maju dua tindak dan mengawasi orang itu.
“Pek Kwie Siu!” teriaknya.
Orang itu memang Pek Kwie Siu, Tancu dari Hian-bu-tan. Sesudah terluka berat dia mendapat tahu bahwa untuk melindungi dirinya, Pheng Hwesio telah dikepung oleh orang-orang Siauw-lim, Kun-lun, Go-bi dan Hay-see-pay. Karena itu dengan sekuat tenaga ia datang ke tempat pertempuran dan menggantikan Hwesio itu untuk menerima tikaman Teng Bin Kun. Tetapi pukulannya yang terakhir masih hebat luar biasa sehingga beberapa tulang rusuk Teng Bin Kun menjadi patah. Setelah menenteramkan hatinya, Kie Siauw Hu merobek tangan bajunya untuk membalut luka di lengannya, lalu dengan pedangnya dia memutuskan tambang yang membelenggu kaki tangan Pheng Hwesio. Sesudah itu, tanpa mengeluarkan sepatah kata, dia memutar badan dan berjalan pergi.
“Kie-kouwnio, tahan!” seru si pendeta, “Terimalah hormat Pheng Hwesio.”
Buru-buru Kie Siauw Hu melompat ke samping untuk menolak pemberian hormat pendeta itu yang berlutut di tanah. Begitu bangun berdiri si pendeta segera menjemput pedang See-leng-cu lantas berkata,
“Manusia yang sudah merusak nama baik Kie-kouwnio tidak boleh dibiarkan hidup.”
Seraya berkata begitu dia mengayun pedang dan menikam tenggorokan Teng Bin Kun. Bagaikan kilat nona Kie cepat menangkis pedang itu.
“Dia adalah kakak seperguruanku,” katanya. “Biar pun dia tidak mencintaiku, aku sendiri tak bisa tidak mengenal pribudi.”
“Kalau sekarang tidak dibunuh, di belakang hari dia bisa menyebabkan munculnya banyak kesukaran bagi Kie-kouwnio,” kata si pendeta.
Air mata Siauw Hu lantas saja mengucur. “Aku seorang wanita yang bernasib paling buruk di dunia ini,” katanya dengan suara sedih. “Biarlah... biarlah aku serahkan saja segalanya kepada nasib. Pheng Suhu, jangan kau melukai Suci-ku!”
“Perintah Kie Lihiap tidak akan dilanggar olehku,” kata Pheng Hwesio sambil membungkukkan tubuh.
“Suci, kuharap kau dapat menjaga diri baik-baik,” kata Kie Siauw Hu dengan suara perlahan. Kemudian, sesudah memasukkan pedangnya ke dalam sarung, dia segera berlalu tanpa menengok lagi.
Setelah nona Kie pergi jauh, Pheng Hwesio segera berkata kepada See-leng-cu dan yang lain-lain,
“Aku she Pheng sebenarnya tidak mempunyai permusuhan apa pun dengan kalian. Tetapi fitnah hebat yang dilontarkan si perempuan she Teng telah didengar oleh kalian semua. Kalau cerita ini sampai tersiar di luaran, bagaimana Kie-kouwnio bisa berdiri terus di atas bumi ini? Maka itu aku tak bisa membiarkan kalian hidup. Hal ini terjadi lantaran terpaksa, maka aku harap kalian jangan menyalahkan aku.”
Sehabis berkata begitu, dengan beruntun dia menikam See-leng-cu, See-ciat-cu, seorang pendeta Siauw-lim dan dua jago Hay-see-pay. Kemudian barulah ia menggores muka Teng Bin Kun dengan pedangnya sehingga wanita she Teng itu menjadi kalap tetapi tidak dapat berbuat banyak karena dia sudah terluka hebat.
“Bangsat gundul!” teriaknya. “Jangan kau menyiksa aku! Bunuhlah!”
Pheng Hwesio tertawa nyaring. “Aku tak berani membunuh perempuan jelek yang kulitnya kering dan mulutnya lebar,” ejeknya. “Jika kau mampus, aku kuatir begitu rohmu masuk di akhirat, berlaksa-laksa setan akan kabur ke dunia akibat ketakutan. Aku pun kuatir Giam-lo-ong akan berak-berak saking kagetnya!”
Sehabis berkata begitu ia tertawa nyaring lalu melemparkan pedang di tanah. Dan setelah memanggul mayat Pek Kwie Siu, dia menangis keras kemudian berlalu dengan tindakan cepat. Untuk beberapa lama Teng Bin Kun mengaso dengan napas tersengal-sengal. Kemudian dengan mempergunakan sarung pedang sebagai tongkat dia pun berlalu dengan tindakan limbung. Peristiwa yang hebat itu disaksikan semua oleh Siang Gie Cun dan Bu Kie. Sesudah Teng Bin Kun berlalu barulah mereka menarik napas lega.
“Siang-toako,” kata Bu Kie. “Kie-kouwnio itu adalah tunangan In Liok-siok. Perempuan she Teng tadi mengatakan ‘mendapat anak’. Siang-toako, bagaimana pendapatmu, apa benar atau tidak’?”
“Dia omong kosong, jangan dipercaya!” jawabnya.
“Benar!” kata Bu Kie. “Kalau bertemu In Liok-siok, aku akan memberi-tahu kekurang-ajaran perempuan she Teng itu supaya Liok-siok bisa menghajarnya.”
“Jangan...! Jangan!” cegah Gie Cun tergesa-gesa. “Hal itu sekali-kali tidak boleh kau beri-tahu kepada In Liok-siok. Kau mengerti?”
“Mengapa?” tanya si bocah.
“Omongan-omongan yang tidak sedap itu tak boleh diberi-tahu kepada siapa pun juga,” jawabnya. “Ingatlah. Kau tidak boleh bicara dengan siapa pun juga.”
Bu Kie mengangguk sambil menatap wajah Gie Cun. Beberapa saat kemudian ia berkata lagi,
“Siang-toako, apa kau kuatir tuduhan Teng Bin Kun adalah suatu kenyataan?”
Gie Cun menghela napas. “Tidak tahu,” jawabnya.
Pada keesokan paginya jalan darah Gie Cun yang tertotok terbuka dengan sendirinya. Dia segera mendukung Bu Kie, siap untuk meneruskan perjalanan. Sambil mengawasi mayat-mayat yang menggeletak di tanah, ia berkata dalam hati, “Sudah belasan tahun Cia Sun menghilang, gara-gara dia orang-orang rimba persilatan masih terus mengorbankan jiwa. Hai! Sampai kapan urusan ini menjadi beres?”
Setelah banyak mengaso maka sebagian tenaga Gie Cun pulih kembali. Rasa sakit dalam badannya sudah banyak berkurang dan dia dapat berjalan lebih cepat. Sesudah melalui beberapa li mereka bertemu jalan raya. Gie Cun agak terkejut.
“Ouw-supek diam di tempat yang sepi. tapi mengapa aku bertemu dengan jalan raya?” tanyanya dalam hati. “Apa kita kesasar?”
Baru saja dia mau mencari penduduk dusun untuk menanyakan, tiba-tiba terdengar suara tindakan kuda dan empat orang serdadu Mongol mengejar dari belakang.
“Lekas jalan! Lekas jalan!” teriak mereka sambil mengacung-acungkan senjata seolah-olah menggebah binatang.
“Tak dinyana aku mesti mati di tempat ini,” keluh Gie Cun.
Karena lukanya maka ilmu silatnya telah musnah semua. Sekarang dia malah tidak dapat melawan seorang serdadu Mongol biasa. Sebab itu sambil menahan amarah dia terpaksa berjalan terus. Tidak lama kemudian mereka bertemu dengan sejumlah penduduk yang juga digiring oleh serdadu-serdadu Mongol. Dalam hati mereka lantas muncul sedikit harapan. Ternyata bahwa serdadu-serdadu itu sedang memperlihatkan kekejamannya terhadap rakyat jelata dan bukan mereka yang hendak dijadikan bulan-bulanan. Melihat bahaya, Bu Kie segera berbisik,
“Siang-toako, lekas kau berlagak jatuh dan buang golokmu.”
Gie Cun tersadar. Sesudah berjalan beberapa tindak lagi, dia pura-pura terpeleset lantas menggulingkan diri di rumput sambil melepaskan golok yang disisipkan di pinggangnya. Setelah itu ia merangkak bangun dan berjalan lagi dengan napas tersengal-sengal. Selagi dia lewat di depan seorang perwira Mongol, seorang Han yang jadi juru bahasa berteriak,
“Bangsat! Kau sungguh tidak tahu adat. Lekas berlutut di hadapan Tayjin!”
Mengingat Ciu Cu Ong sekeluarga telah dibinasakan oleh tentara Mongol, darah Siang Gie Cun naik tinggi dan biar pun mesti mati, ia tak sudi menekuk lutut. Ia berjalan terus dengan berlagak tuli. Seorang serdadu Mongol mengejar dan menyapu kakinya sehingga ia jatuh terguling.
“She apa kau?!” bentak si juru bahasa.
Sebelum Gie Cun sempat memberi jawaban, Bu Kie sudah mendahului berkata, “She Cia, dia kakakku.”
Serdadu itu lalu menendang punggung Bu Kie seraya membentak, “Pergi!”
Tak kepalang marahnya Gie Cun. Sambil merangkak bangun dia bersumpah dalam hati bahwa selama ia masih hidup maka ia akan berusaha dengan segala tenaganya untuk mengusir bangsa Mongol dari Tiong-goan. Dalam keadaan tak berdaya buru-buru dia mendukung Bu Kie dan cepat-cepat berlalu. Baru berjalan beberapa puluh tombak, tiba-tiba mereka mendengar teriakan-teriakan yang menyayat hati. Mereka cepat menengok dan melihat puluhan rakyat sedang dibunuh tentara Mongol.
Sepanjang sejarah, selama penjajahan kerajaan Goan (Mongol) banyak rakyat yang mencoba memberontak. Maka belakangan ini seorang pembesar tinggi Mongol telah mengeluarkan perintah untuk membunuh orang-orang Han yang memakai she Thio, Ong, Lauw, Lie dan Tio. Semuanya lima she. Pada jaman itu orang she Thio, Ong, Lauw dan Lie yang paling banyak terdapat di Tiong-goan, sedang she Tio adalah she dari Kaisar-Kaisar Song. Maka itu, menurut jalan pikiran si pembesar Mongol, semangat bangsa Han akan runtuh jika orang-orang dari kelima she itu dibunuh. Untung saja perintah yang amat kejam itu cepat diketahui oleh Kaisar Mongol yang segera mengeluarkan larangannya. Tetapi sementara itu banyak juga orang Han yang sudah mati dibunuh.
Gie Cun tidak berani berdiam lebih lama lagi, dia lalu berjalan secepat-cepatnya. Sesudah melalui beberapa lie mereka bertemu dengan seorang penjual kayu bakar dan mereka lalu menanyakan di mana letaknya Ouw-tiap-kok. Orang itu menggelengkan kepala, tetapi Gie Cun segera mengetahui bahwa Supek-nya pasti berdiam di sekitar tempat itu.
Dengan sabar dia mencari-cari. Di sepanjang jalan mereka melihat ratusan macam bunga yang menghiasi daerah pegunungan itu. Tapi sesudah menyaksikan peristiwa yang memilukan, mereka tak punya kegembiraan Iagi untuk menikmati pemandangan alam yang sangat indah. Sesudah membelok di beberapa tikungan, di sebelah depan menghadang sebuah tembok gunung dan jalanan putus di situ. Selagi mereka kebingungan, tiba-tiba muncul beberapa ekor kupu-kupu yang terbang masuk ke sebuah gerombolan pohon-pohon kembang.
“Tempat ini dinamakan Ouw-tiap-kok, atau Selat Kupu-kupu,” kata Bu Kie. “Apa tidak baik kalau kita mengikuti kupu-kupu itu?”
“Baiklah,” kata Gie Cun yang lalu turut masuk ke gerombolan pohon itu.
Sesudah melewati gerombolan pohon bunga, mereka bertemu sebuah jalan kecil yang tertutup rumput hijau. Sesudah berjalan beberapa jauh lagi, jumlah kupu-kupu yang beterbangan di sekitar situ menjadi makin banyak. Hidung mereka mengendus harumnya bunga-bunga. Kembang-kembang yang tumbuh di sekitar situ sangat berbeda dengan apa yang terlihat di tempat lain. Makin jauh mereka maju, kupu-kupu semakin tidak takut kepada manusia. Mereka terbang mendekati seolah-olah menyambut kedatangan tamu-tamu dan hinggap di kepala, di pundak, di lengan Gie Cun dan Bu Kie. Gie Cun dan Bu Kie jadi bersemangat karena mereka tahu bahwa mereka sudah berada di selat Ouw-tiap-kok. Lewat tengah hari mereka melihat tujuh-delapan rumah gubuk di tepi sebuah selokan yang airnya jernih. Di depan, di belakang dan di kiri kanan setiap gubuk dikurung dengan kebun kembang yang terawat baik. Gie Cun berlari-lari ke depan gubuk-gubuk itu lantas berkata dengan suara menghormat,
“Teecu Siang Gie Cun ingin berjumpa dengan Ouw-supek.”
Selang beberapa saat, dari sebuah gubuk keluar seorang kacung yang langsung berkata,
“Masuklah.”
Sambil mendukung Bu Kie, Gie Cun segera bertindak masuk. Di satu sudut dari ruangan tengah kelihatan berdiri seorang laki-laki setengah tua yang berparas agung. Ternyata dia sedang menilik seorang kacung yang sedang memasak obat. Seluruh ruangan itu penuh dengan macam-macam daun obat yang aneh-aneh. Buru-buru Gie Cun menaruh Bu Kie di atas kursi lalu berlutut di hadapan orang itu,
“Ouw-supek, Gie Cun memberi hormat,” katanya.
Bu Kie mengawasi orang itu yang tentulah juga bukan lain dari pada Tiap-kok Ie-sian Ouw Ceng Gu. Tabib malaikat itu manggut-manggut dan berkata,
“Aku sudah tahu tentang urusan Ciu Cu Ong. Itu adalah nasib. Mungkin sekali rejeki Tat-cu masih belum berakhir dan agama kita belum sampai waktunya untuk bisa memperoleh kemakmuran.”
Setelah berkata demikian dia memegang nadi Gie Cun sambil membuka baju pemuda itu. Sambil mengawasi dada si brewok, ia pun berkata,
“Kau kena pukulan Ciat-sim-ciang dari Hoan-ceng. Pada hakekatnya, pukulan itu tidak sukar diobati. Tetapi sesudah terpukul kau menggunakan terlampau banyak tenaga sehingga hawa dingin menyerang jantungmu dan sebagai akibatnya, aku memerlukan lebih banyak waktu untuk menyembuhkannya.“ Sesudah memberi penjelasan, dia meraba-raba sekujur badan Gie Cun.
“Dengan siapa kau bertempur tadi malam?” tanya Ceng Gu tiba-tiba. “Dengan murid Bu-tong-pay?”
“Tidak,” jawabnya.
Sang paman segera meraba-raba kedua paha Si brewok. Tiba-tiba paras mukanya berubah lalu dia membentak,
“Gie Cun! Tujuh delapan tahun kita tak pernah bertemu muka. Sekali bertemu, kau mencoba memperdayai Supek-mu. Sudahlah! Aku tidak bisa mengobati lukamu. Pergilah!”
Gie Cun jadi bingung. “Ouw-supek,” katanya. “Mana berani aku mendustai kau? Memang sebenarnya sepanjang malam aku tak pernah bertempur dengan siapa pun jua. Tenagaku sudah habis semua. Andai kata aku ingin, aku pun tidak bisa berkelahi!”
“Omong kosong!” bentak sang paman guru “Sudah jelas Hoan-tiauw-hiat di kedua pahamu telah ditotok orang dan totokan itu dilakukan dengan menggunakan ilmu menotok dari Bu-tong-pay. Temponya adalah antara Cu-sie dan Tio-sie,” (Cu-sie antara jam 11 malam dan jam 1. Tio-sie antara jam 1 dan jam 3 pagi).
Tiba-tiba saja si brewok tertawa. “Ah! Kalau begitu yang dimaksudkan Supek adalah jalan darah yang ditotok olehku sendiri,” katanya. Dengan ringkas ia lalu menceritakan kejadian semalam.
Waktu Gie Cun menuturkan cara bagaimana dia sudah dikelabui Bu Kie, Ceng Gu melirik bocah itu dan ketika dia menceritakan cara bagaimana mata kanan Pheng Hwesio ditusuk oleh Teng Bin Kun, sang paman guru menghela napas berulang-ulang dan berkata,
“Pheng Eng Giok Hwesio adalah seorang gagah sejati dari agama kita. Biar pun kita tidak segolongan dengan dia, tetapi harus kita akui bahwa dia itu seorang manusia yang jarang terdapat di dunia ini. Kalau begitu ditusuk dia bisa segera datang kepadaku, mungkin sekali mata kanannya tidak sampai menjadi buta. Tapi sekarang sudah tidak dapat diobati lagi.”
Ia menengok kepada Bu Kie dan berkata lagi, “Dari mana kau belajar ilmu Tiam-hoat Bu-tong-pay?”
“Supek,“ kata Gie Cun, “saudara kecil itu adalah putera Thio Ngo-hiap dari Bu-tong-pay.”
Ouw Ceng Gu kaget dan paras mukanya berubah gusar. “Murid Bu-tong-pay?” la menegas, “Perlu apa kau membawa dia kemari?”
Gie Cun lantas menuturkan cara bagaimana Thio Sam Hong menolongnya dan puteri Ciu Cu Ong waktu mereka dikejar kaki tangan Kaisar Goan di sungai Han-sui. Setelah selesai bercerita, akhirnya dia berkata,
“Sesudah menanggung budi yang begitu besar, teecu mohon supaya Supek suka membuat pengecualian dan sudilah Supek menolong jiwa saudara kecil ini.”
Sang paman guru mengeluarkan suara di hidung, “Gie Cun, kau benar-benar seorang yang royal dengan janji-janjimu,” ejeknya. “Hemm... yang ditolong Thio Sam Hong adalah kau, bukan aku. Lagi pula kapan aku pernah membuat pengecualian dalam kebiasaanku?”
Gie Cun segera berlutut sambil manggutkan kepalanya berulang-ulang. “Supek,“ katanya, “ayah saudara kecil itu adalah seorang lelaki sejati yang lebih suka menggorok leher dari pada menjual sahabat. Meski pun masih kecil dia sendiri mempunyai jiwa seorang ksatria. Teecu menjamin bahwa dia adalah orang baik.”
“Apa? Orang baik?” Ceng Gu mengejek. “Ada berapa banyak orang baik di dunia ini? Kalau dia bukan murid Bu-tong-pay, masih tidak apa-apa. Dia adalah murid sebuah partai yang lurus bersih, mengapa dia harus minta pertolongan dari agama sesat?”
“Tapi ibu saudara Thio adalah puteri Peh-bie Eng-ong In-kauwcu,” kata Gie Cun. “Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa separuh badannya adalah dari agama kita.”
Mendengar keterangan itu, hati Ouw Ceng Gu tergerak juga. “Oh, begitu. Kau bangunlah,“ katanya. “Dia adalah putera In So So dari Peh-bie-kauw. Kalau begitu lain urusan.“
Dia lalu mendekati Bu Kie dan berkata dengan suara hangat, “Anak, selamanya aku selalu mentaati peraturan bahwa aku tidak akan menolong orang-orang dari partai lurus bersih. Ibumu adalah anggota dari agama kita. Tetapi sebelum mengobati, aku ingin kau berjanji bahwa sesudah sembuh kau harus pulang ke tempat kakekmu, yaitu Peh-bie Eng-ong ln Kauwcu, dan kau pun harus masuk agama Peh-bie-kauw. Dengan kata lain kau harus meninggalkan partai Bu-tong-pay.”
Sebelum Bu Kie menjawab, Gie Cun sudah mendahului. “Supek, hal itu tidak bisa terjadi. Sebelum menyerahkan saudara Thio ini kepada Teecu, Thio Sam Hong Thio Cinjin sudah mengatakan terang-terangan bahwa kita tak boleh memaksa dia masuk ke agama kita dan andai kata dia sembuh, Bu-tong-pay tidak menanggung budi dari agama kita.”
Kedua mata Ouw Ceng Gu mendelik dan darahnya naik. “Huh! Manusia apa Thio Sam Hong!” bentaknya. “Dia begitu memandang rendah kepada kita, perlu apa kau membantu dia. Anak, bagaimana keputusanmu sendiri?”
Bu Kie mengerti bahwa dia sedang menghadapi persoalan mati atau hidup. Setelah kakek gurunya tidak berdaya menolong, satu-satunya harapan adalah Ouw Ceng Gu. Dia maklum kalau dia tidak dapat meluluskan apa yang diminta oleh Tiap-kok Ie-sian, jiwanya pasti tak akan bisa ditolong lagi. Ia sendiri sebenarnya masih tidak tahu apa kejelekan atau kebusukan ‘agama’ sesat yang begitu dibenci oleh sang kakek guru dan semua paman-pamannya. Tapi karena ia sangat mencintai dan menghormati kakek gurunya, maka dia lantas mengambil keputusan bahwa dia lebih baik mati dari pada melanggar pesan orang tua itu. Tanpa sangsi lagi dengan suara lantang ia menjawab.
“Ouw-sinshe, ibuku Hio-cu dari Peh-bie-kauw dan aku pribadi menganggap bahwa Peh-bie-kauw adalah agama baik. Tetapi karena Thay-suhu melarang aku masuk ke dalam Mo-kauw dan aku sendiri sudah menyanggupi, maka sebagai laki-laki aku tidak dapat menarik kembali janjiku. Kalau kau tidak sudi mengobati, aku pun tidak dapat berbuat apa-apa. Kalau lantaran takut mati lalu aku menurut dengan apa yang kau minta, maka aku akan menjadi seorang manusia yang tidak mempunyai kepercayaan. Dari pada menjadi manusia macam itu, lebih baik aku berpulang ke alam baka.”
Ouw Ceng Gu mendongkol bukan main. “Gie Cun,” katanya. “Bawalah dia pergi! Di rumah Ouw Ceng Gu tidak boleh ada orang mati lantaran sakit.”
Gie Cun menjadi bingung. Ia mengenal benar adat Supek-nya Jika ia telah berkata ‘tidak’, maka perkataannya tidak bisa diubah lagi.
“Saudara kecil,” katanya dengan suara membujuk. “Meski Mo-kauw agak berbeda dengan partai-partai yang lurus bersih, akan tetapi sejak jaman kerajaan Tong sampai sekarang, di kalangan kami setiap turunan selalu muncul orang gagah sejati. Lagi pula kakek luarmu adalah Kauwcu dari Peh-bie-kauw, sedang ibumu sendiri adalah Hio-cu dari agama tersebut. Saudara kecil, luluskanlah permintaan Ouw-supek. Di hari kemudian akulah yang akan bertanggung jawab di hadapan Thio Cinjin.”
“Baiklah,” kata Bu Kie. “Siang-toako, ketuklah tulang punggungku yang ke delapan dan ke tiga belas dengan kuku jarimu, ketuklah beberapa kali.”
Gie Cun menjadi girang kemudian melakukan apa yang diminta. Di luar dugaan, begitu kedua tulang punggungnya diketuk, si bocah lantas menggerakkan kedua kakinya. Ia bangun berdiri seraya berkata kepadanya,
“Siang-toako. Kau sudah berbuat apa yang kau bisa. Di belakang hari Thay-suhu tak bisa menyesalkan kau.“ Dia lalu memutar badan dan berjalan keluar dengan tindakan lebar.
Si brewok kaget. “Mau ke mana kau?” teriaknya.
“Kalau aku mati di Ouw-tiap-kok, bukankah nama Tiap-kok Ie-sian akan menjadi rusak?” jawabnya. Sambil berkata demikian dia kabur dengan menggunakan ilmu mengentengkan badan.
Ouw Ceng Gu tertawa dingin. “Nama Kian-sie Put-kiu (Melihat kebinasaan tetap tidak mau menolong) Ouw Ceng Gu sudah amat tersohor di kolong langit ini,“ katanya. “Bukan baru satu orang yang roboh binasa di luar rumahnya.“.
Tanpa menghiraukan perkataan Supek-nya, Gie Cun segera mengejar keluar. Mereka berdua sama-sama mendapat luka, tapi luka Gie Cun jauh lebih enteng dan tenaganya pun lebih besar. Maka itu dalam beberapa saat saja dia sudah bisa menyandak Bu Kie yang lalu dipeluknya dan dibawa balik ke rumah paman guruya. Dengan kedua tangan belum bisa bergerak, maka si bocah tidak berdaya lagi.
“Ouw-supek, apakah kau benar-benar tidak mau menolong?” tanya Gie Cun dengan napas tersengal-sengal.
“Apa kau tidak tahu bahwa aku bergelar Kian-sie Put-kiu?” Sang paman balas bertanya. “Perlu apa kau melit-melit?”
“Tapi apakah Supek bersedia untuk mengobati luka di tubuhku?” tanya pula Siang Gie Cun.
“Tentu,“ jawabnya.
“Bagus!” kata si brewok girang. “Teecu sudah berjanji kepada Thio Cinjin untuk menolong saudara kecil ini. Sesudah memberi janji itu, teecu tidak mau bila orang-orang partai sana mengatakan bahwa murid-murid Mo-kauw tidak boleh dipercaya. Karena itu begini saja, Teecu tidak usah diobati oleh Supek, tetapi teecu mohon supaya Supek sudi mengobati saudara kecil. Dengan demikian satu ditukar dengan satu dan Supek tidak rugi.”
“Kau tahu bagaimana hebatnya Ciat-sim-ciang?” sang paman guru bertanya dengan paras sungguh-sungguh. “Sesudah kena pukulan itu, jika dalam tempo tujuh hari kau mendapat pertolongan seorang tabib kelas satu, maka lukamu akan sembuh. Sesudah lewat tujuh hari hanya nyawamu saja yang dapat ditolong, sedangkan ilmu silatmu akan musnah. Setelah lewat empat belas hari, tak satu tabib pun yang akan bisa menolong jiwamu.”
“Ya, meski pun melihat kebinasaan, Supek tidak sudi menolong,” jawabnya, “Teecu rela mati dan takkan menyesal.”
“Aku tak sudi ditolong olehmu!” teriak Bu Kie. “Tak sudi! Kau mengerti?” la menengok ke arah si brewok dan berkata: “Siang-toako, apakah kau kira Bu Kie manusia rendah? Kau menukar jiwamu dengan jiwaku. Andaikan aku hidup maka aku akan hidup menderita. Tak boleh ada kejadian begitu!”
Gie Cun adalah seorang lelaki tulen. Tanpa mengeluarkan sepatah kata lagi dia membuka tali pinggangnya yang lalu digunakan untuk membelenggu kaki tangan Bu Kie, kemudian mengikatkan ke sebuah kursi.
“Lepas! Lepas!” teriak bocah itu. “Kalau kau tidak lepaskan maka aku akan mencaci.”
Si brewok tidak menggubris.
“Kian-sie Put-kiu Ouw Ceng Gu!” teriak Bu Kie. “Kau betul-betul seperti kerbau tolol! Kau malah lebih rendah dari pada binatang. Aku sedih bahwa di dalam Mo-kauw ada manusia yang tidak bersifat manusia. Dan kau masih begitu tidak mengenal malu, kau masih ada muka untuk membujuk aku masuk ke dalam agamamu. Entah dosa apa yang ditumpuk delapan belas leluhurmu sehingga akhirnya mereka mendapat keturunan seperti kau, manusia yang lebih rendah dari pada anjing dan babi!”
Sesudah selesai mengikat Bu Kie, Gie Cun segera berkata, “Ouw-supek, saudara Thio, selamat tinggal! Sekarang aku ingin mencari tabib.”
“Di seluruh propinsi An-hui tidak terdapat tabib yang pandai,” kata Ceng Gu. “Dan dalam tujuh hari, belum tentu kau bisa keluar dari propinsi ini.”
Si brewok tertawa ter-bahak. “Aku mempunyai Supek yang melihat kebinasaan tidak sudi menolong,” katanya. “Dan kau mempunyai Sutit (keponakan murid) yang tidak mengenal mampus.“ Selesai berkata begitu, dengan tindakan lebar dia berjalan keluar.
“Ouw Ceng Gu!” bentak Bu Kie. “Jika kau tidak mengobati Siang-toako, satu hari kau pasti akan binasa di tanganku! Aku... aku...”
Ia tidak dapat meneruskan perkataannya, karena ia sudah pingsan. Ouw Ceng Gu mengeluarkan suara di hidung.
“Tidak perlu kau mampus di luar rumahku,” katanya seraya mengambil sebatang daun obat yang cepat ditimpukkan ke arah Gie Cun. Batang daun obat itu menyambar bagaikan kilat dan tepat mengenai lutut si brewok yang tanpa mengeluarkan suara segera roboh terguling dan tidak bisa bangun lagi.
Memang adat Ouw Ceng Cu sungguh aneh. Kalau dia berkata ‘tidak’ tetap tidak, kalau dia ‘mau’ maka dia tetap mau. Perkataan Bu Kie yang paling akhir, yakni ancaman ‘jika kau tidak mengobati Siang-toako, satu hari kau pasti akan binasa di tanganku’, sangat mengejutkan hatinya. Melihat kegagahan Bu Kie dan mengingat bahwa anak itu adalah murid Thio Sam Hong, ia merasa bahwa ancaman itu bukan ancaman kosong. Ia seorang yang sangat berhati-hati. Setelah berpikir sejenak dia berkata dalam hatinya, “Biarlah kedua-duanya tidak kutolong. Peduli apa kalau di Ouw-tiap-kok bertambah dengan dua setan penasaran.”
Sesudah menimpuk Gie Cun, dia lantas membuka ikatan Bu Kie dan mencekal kedua pergelangan tangan anak itu untuk dilontarkan sejauh-jauhnya keluar. Mendadak Ceng Gu terkejut karena denyut nadi si bocah sangat luar biasa. Dia segera memeriksa lebih teliti dan rasa kagetnya menjadi bertambah.
“Apakah bocah sekecil ini bisa membuka Kie-keng Pat-meh?” tanyanya dalam hati. “Puluhan tahun aku berlatih belum dapat membuka pembuluh darahku. Oh, aku tahu! Tidak salah lagi, ini akibat bantuan Thio Sam Hong. Rupanya dia sangat sayang kepada bocah ini dan rela mengorbankan sebagian Iweekang-nya.”
Dia lalu membuka baju Bu Kie dan memeriksa seluruh tubuhnya. Setelah itu dia menekan tantian, dada, ubun-ubun dan hati si bocah. Akhirnya ia tertawa dingin kemudian berkata,
“Thio Sam Hong berlagak pintar, tapi dia jadi bodoh. Lantaran menyayang, dia mencelakai cucu muridnya. Kalau saja Kie-keng Pat-meh anak ini belum terbuka maka jiwanya masih dapat ditolong. Tapi sekarang racun dingin sudah buyar dan masuk ke perutnya. Kecuali dewa, manusia biasa tak akan berdaya lagi. Huh! Huh! Orang bilang Bu-tong Thio Sam Hong memiliki kepandaian luar biasa tinggi. Tetapi menurut penglihatanku, dia goblok berlapis dungu.”
Beberapa saat kemudian Bu Kie tersadar dan melihat Ouw Ceng Gu sedang mengawasi api tungku obat dengan mata terbelalak, sedangkan Siang Gie Cun masih tergeletak di jalan berumput di luar rumah. Untuk beberapa lama keadaan begitu sunyi senyap, tidak ada seorang pun yang membuka mulut. Ouw Ceng Gu adalah seorang tabib yang telah mencurahkan seluruh kehidupannya untuk mempelajari ilmu ketabiban. Bila hatinya senang dengan mudah dia dapat menyembuhkan penyakit yang aneh-aneh. Karena itulah ia mendapat gelaran ‘Ie-sian’, atau ‘Tabib Dewa’. Tapi sekarang dia menghadapi racun yang sangat langka, yaitu racun dingin dari pukulan Hian-beng Sin-ciang. Apa yang lebih luar biasa lagi ialah pembuluh darah dari orang yang terkena racun itu, terbuka semua sehingga racun sudah masuk ke perutnya.
Sebagaimana diketahui, di dunia ini, orang-orang sangat sukar mendapat lawan yang setimpal. Seorang ahli catur jempolan sukar mendapat lawan yang seimbang. Bila mana ia menemui lawan begitu, ia bisa lupa makan dan lupa tidur. Seorang ahli hitung juga pasti tidak akan menyerah kalah sebelum dapat memecahkan teka-teki hitungan yang sulit. Hal yang sama sekarang dihadapi oleh Ouw Ceng Cu. Penyakit Bu Kie merupakan tantangan yang amat menarik baginya. Ia sungkan mengobati Bu Kie, tapi tantangan itu terlalu hebat untuk bisa dielakkan begitu saja. Tanpa terasa dia mengasah otaknya. Beberapa lama dia mengasah otak tanpa berhasil. Akhirnya dengan geregetan dia berkata dalam hati, “Baiklah. Lebih dulu aku akan menyembuhkan penyakitnya. Aku pasti dapat menyembuhkannya. Sesudah dia sembuh, masih banyak tempo untuk membinasakannya.”
Setelah memeras pikiran sejam lebih, ia mengeluarkan dua belas kepingan kecil tembaga dari sakunya. Sambil mengerahkan Iweekang ia menancapkan kepingan-kepingan logam tembaga itu di Tiong-kie-hiat (sebelah bawah tantian), di Thian-touw-hiat (sebelah bawah leher), di Cian-keng-hiat (di pundak) dan di lain-lain jalan darah di sekujur badan Bu Kie. Sesudah kepingan tembaga itu ditancapkan, maka kedua belas Keng-siang-meh terputus hubungannya dengan Kie-keng Pat-meh. Keng-siang-meh ialah hati, nyali (empedu), paru-paru, ginjal, usus besar, usus kecil dan lain-lain, yakni dua belas macam isi perut di dalam tubuh manusia. Sesudah Keng-siang-meh terputus hubungannya dengan Kie-keng Pat-meh, maka racun dingin yang telah masuk ke dalam perut Bu Kie tidak bisa naik lagi ke pembuluh darah dan untuk sementara, tidak berbahaya lagi.
Sesudah membuka semua jalan darah yang tertotok di kaki dan di tangan Bu Kie, dengan mempergunakan batang rumput Tin-ngay, Ouw Ceng Gu lalu membakar Tiang-hu-hiat dan In-bun-hiat di pundak si bocah. Kemudian dia membakar berbagai jalan darah dari lengan sampai di jempol tangan seperti Thian-hu-hiat, Hiap-pek-hiat, Cek-tek-hiat dan sebagainya. Setiap pembakaran di tiap jalan darah mengurangi racun dingin yang mengeram dalam perut Bu Kie. Namun cara itu, yakni mempergunakan hawa panas untuk melawan hawa dingin, menimbulkan sakit yang luar biasa sehingga penderitaan Bu Kie lebih dahsyat dari pada waktu mengamuknya racun dingin itu. Tanpa mengenal kasihan si tabib malaikat membakar terus dengan batang Tin-ngay yang menyala-nyala. Setelah selang beberapa lama, tubuh si bocah penuh dengan totol-totolan hitam akibat pembakaran itu.
Bu Kie yang keras kepala sedikit pun sungkan memperlihatkan kelemahannya. Jangankan berteriak kesakitan, merintih pun tidak. Sebaliknya dari itu, dia masih dapat bicara dengan sang tabib sambil tersenyum-senyum. Meski pun tidak mengerti ilmu ketabiban, sesudah belajar ilmu Tiam-hiat dari Cia Sun, dia paham akan letaknya berbagai jalan darah di sekujur badan manusia. Maka itu waktu Ouw Ceng Gu bicara tentang ketabiban sambil membakar jalan darahnya, sedikit-sedikit dia masih dapat melayaninya. Kadang-kadang berdasarkan pengetahuannya tentang ilmu Tiam-hiat, dia malah memberi tafsiran atau mengajukan pertanyaan yang amat tepat. Hal ini sangat menggembirakan hati Tiap-kok Ie-sian.
Seperti yang diketahui, dia hidup menyendiri di sebuah selat yang terpencil dari dunia luar. Manusia yang mengawaninya hanyalah kacung-kacung yang membantu mencari daun obat atau memasak obat. Maka dapat dimengerti kalau sekarang kegembiraannya timbul sebab ia bisa bicara dengan orang yang tampaknya mengerti akan apa yang dibentangkan olehnya. Sesudah beberapa ratus jalan darah yang bersangkut paut dengan Keng-sian-meh selesai dibakar, siang berganti malam. Tak lama kemudian datang seorang kacung membawa nasi dan sayur yang diletakkan di atas meja, kemudian membawa juga santapan keluar rumah untuk diberikan kepada Siang Gie Cun yang masih menggeletak di atas rumput.
Malam itu si brewok tidur di udara terbuka. Ketika tiba waktunya beristirahat, tanpa mengeluarkan sepatah kata Bu Kie berjalan keluar rumah kemudian membaringkan dirinya di atas rumput di samping sang Toako, sebagai tanda bahwa dia bersamaan nasib dengan si brewok. Ouw Ceng Gu tidak mempedulikan, bahkan dia berlagak tidak melihat perbuatan Bu Kie. Tapi dalam hati diam-diam dia merasa heran dan kagum akan cara-caranya bocah cilik itu. Esok harinya, si tabib malaikat menggunakan waktu setengah hari untuk membakar ‘hiat’ dari Kie-keng Pat-meh. Keng-siang-meh adalah laksana sungai yang terus mengalir tak henti-hentinya, sedang Kie-keng Pat-meh se-olah telaga atau lautan yang menerima semua aliran. Maka usaha untuk mengusir racun dingin yang berkumpul di Kie-keng Pat-meh jauh lebih sukar dari pada usaha mengusir racun itu dari Keng-siang-meh.
Sesudah selesai membakar berbagai ‘hiat’ dari Kie-keng Pat-meh, Ouw Ceng Gu segera memerintahkan kacungnya memasak semacam ramuan obat yang kemudian segera diberikan kepada Bu Kie. Obat itu bersifat dingin karena dalam usaha babak kedua itu dia menggunakan dingin membasmi dingin. Sehabis makan obat itu Bu Kie mengigil hebat. Akan tetapi sesudah serangan itu mereda, dia merasakan badannya lebih baik, lebih nyaman dan lebih segar. Pada waktu lohor si tabib malaikat meneruskan usahanya dengan menusuk berbagai jalan darah Bu Kie dengan mempergunakan jarum emas. Selagi diobati dengan rupa-rupa daya, Bu Kie mencoba membujuk Ceng Gu supaya dia suka mengobati Gie Cun, tapi orang aneh itu tidak meladeni dan hanya berkata,
“Sebenarnya gelar Tiap-kok Ie-sian kurang tepat untukku dan aku tidak menyukai julukan itu. Tetapi gelar Kian-sie Put-kiu barulah menyenangkan hatiku.”
Sambil berkata begitu dia menusuk Ngo-kit-hiat di antara pinggang dan paha dengan jarum emasnya. Jalan darah itu adalah tempat bertemunya Siauw-yang dan Tay-yang.
“Tay-meh di dalam tubuh manusia merupakan pembuluh darah yang paling aneh,” kata Bu Kie. “Ouw-sinshe, apakah kau tahu bahwa ada beberapa orang yang tidak memiliki Tay-meh?”
Ceng Gu kaget. “Omong kosong! Itu tidak mungkin terjadi!” bentaknya.
Memang benar, Bu Kie hanya bicara sembarangan. Tetapi dia berkata lagi. “Ouw-sinshe, dunia ini luas sekali dan di dunia terdapat banyak kejadian dan hal yang aneh-aneh. Apa lagi menurut katanya orang, sebenarnya Tay-meh tidak memegang peranan penting dalam tubuh manusia.”
“Aku mengakui bahwa Tay-meh adalah pembuluh darah yang sedikit aneh,” kata si tabib. “Tetapi dusta besar kalau orang mengatakan bahwa Tay-meh tidak berguna besar. Di dunia terdapat banyak tabib tolol yang tidak mengerti kegunaan dan pentingnya Tay-meh. Aku mempunyai sejilid Kitab Tay-meh. Kau bacalah sendiri.”
Ia segera masuk ke dalam dan keluar lagi dengan membawa sejilid buku tipis yang ditulis dengan tulisan tangannya sendiri, lalu menyerahkan kepada si bocah. Bu Kie membuka halaman yang pertama di mana tertulis seperti berikut: ‘Dua belas Keng-siang-meh dan Kie-keng-cit-meh semuanya mengalir dari atas ke bawah. Hanya Tay-meh yang terletak di samping perut mengalir dengan memutari pinggang seperti sehelai ikat pinggang. Di dalam beberapa kitab pengobatan terdapat keterangan bahwa Tay-meh memiliki empat hiat atau enam hiat. Itu semua salah. Sebenarnya Tay-meh mempunyai sepuluh hiat, dua di antaranya kadang-kadang muncul, kadang kala menghilang sehingga sukar sekali dapat diraba’.
Bu Kie membaca terus dengan teliti dan diam-diam mengingat semua yang dibacanya. Tiba-tiba dia teringat peristiwa Tan Yu Liang yang mengelabui kakek gurunya. Kitab Tay-meh itu tidak seberapa banyak isinya dan apa yang tertulis di dalamnya ternyata amat mudah dimengerti sehingga jika dibandingkan dengan Kouw-koat ilmu silat, kitab tersebut sepuluh kali lebih mudah dihafal. Sesudah selesai membaca, si bocah lalu mengembalikan kitab itu kepada Ouw Ceng Gu.
“Aku sudah pernah membaca kitab seperti itu,” katanya dengan suara tawar. “Waktu berusia tiga puluh tahun, Thay-suhu pernah menulis Cu-hak Tay-meh Jip-bun Cian-swee yang sama isinya dengan hubungan itu. Entah Thay-suhu yang menelad (mengikuti) keteranganmu atau kau yang menyontoh gubahan Thay-suhu.”
Ouw Ceng Gu tercengang, kemudian marah besar. “Tahun ini aku baru berusia lima puluh satu tahun,” katanya dalam hati. “Kau mengatakan bahwa Thio Sam Hong menulis buku itu waktu ia berusia tiga puluh tahun dan karena sekarang ia sudah berumur seratus tahun lebih, maka ia menulis itu tujuh puluh tahun berselang. Dengan lain perkataan lagi, akulah yang mencuri buah kalamnya Thio Sam Hong. Kurang ajar! Kitab Tay-meh itu adalah hasil jerih pajahku dan belum pernah didapat oleh siapa pun jua di dunia ini. Kurang ajar! Kau mengatakan Cu-hak Tay-meh Jip-bun Cian-swee, sudah ‘Cu-hak’, ‘Jip-bun’, sudah ‘Jip-bun’, ‘Cian-swee’ lagi! Kunyuk kecil ini benar-benar kurang ajar!” (Cu-hak artinya pelajaran permulaan, Jip-bun adalah pendahuluan, Cian-swee berarti perundingan yang cetek, tidak mendalam).
Dalam marahnya dia tancapkan jarum emas dalam-dalam di pinggir jalan darah sehingga darah keluar berketel ketel. Bu Kie kesakitan, hampir-hampir dia berteriak. Tapi sambil menggigit bibir dia menahan rasa sakit itu.
“Kalau kau tidak percaya, biarlah aku menghafal Cu-hak Tay-meh Jip-bun Cian-swee yang digubah oleh Thay-suhu itu,” katanya dengan tenang.
“Baiklah!” bentak Ceng Gu. “Jika kau salah satu huruf saja, hmm... tahu sendiri, aku akan segera mengambil jiwamu “
Selama di Peng-hwee-to, semenjak berusia lima tahun Bu Kie sudah dipaksa menghafal Kouw-koat ilmu silat oleh ayah angkatnya. Salah sedikit saja langsung digaplok oleh ayah angkat yang galak itu. Maka sesudah berlatih selama lima tahun boleh dikatakan dia sudah menjadi ahli dalam ilmu menghafal. Akan tetapi dia merasa keder juga mendengar ancaman Ouw Ceng Gu. Dia yakin bahwa orang aneh itu dapat membuktikan ancamannya. Diam-diam dia merasa menyesal bahwa dia berguyon melampaui batas. Tetapi sekarang dia sudah tidak bisa mundur lagi. Sambil mengempos semangat untuk mengumpulkan segenap tenaga otaknya, dia mulai menghafal dengan suara nyaring:
“Dua belas Keng-siang-meh dan Kie-keng-cit-meh semuanya mengalir dari atas ke bawah. Hanya Tay-meh yang terletak di samping perut mengalir dengan memutari pinggang seperti sehelai ikat pinggang...”
Makin lama dia semakin bersemangat hingga akhirnya dia berhasil menyelesaikan hafalan itu dengan sempurna. Tak kepalang kagetnya Ceng Gu. Untuk beberapa saat dia memandang si bocah dengan mata membelalak.
“Sungguh luar biasa,” pikirnya. “Anak ini mempunyai bakat Kwee-bak-put-bong (begitu melihat tidak bisa lupa Iagi). Manusia seperti dia sukar dicari keduanya di dunia.” Dia tidak tahu bahwa di kuil Siauw-lim-si terdapat Tan Yu Liang yang kecerdasannya tidak berada di sebelah bawah Bu Kie. Sesudah hilang kagetnya, tanpa terasa dia memuji, “Pintar! Kau sungguh pintar!”
Sehabis berkata begitu dia langsung menusuk sepuluh ‘hiat’ dari Tay-meh Bu Kie dengan jarum emasnya. Sehabis mengaso sebentar, Ceng Gu mendapat ingatan untuk mencoba lagi.
“Di samping kitab Tay-meh, aku memiliki kitab Cu-ngo Ciam-cie-keng,” katanya. “Coba kau lihat kitab itu. Apakah Thio Sam Hong juga sudah pernah menggubah kitab seperti itu?”
Dia segera masuk ke dalam dan keluar lagi dengan membawa 12 jilid kitab tulisan tangan. Bu Kie segera membalik-balik lembarannya. Setiap halaman dipenuhi huruf-huruf kecil yang menerangkan kedudukan semua jalan darah, beratnya timbangan obat, waktu serta cetek dalamnya tusukan jarum emas. Semua diterangkan dengan jelas sekali.
“Untuk membaca dua belas jilid kitab sedikitnya memerlukan waktu tiga atau empat hari,” pikirnya. “Bagaimana aku dapat menghafal dalam waktu cepat? Biarlah aku coba mencari ilmu untuk mengobati luka Siang-toako saja.“
Dengan cepat dia membalik-balik lembaran kitab-kitab itu dengan hanya memperhatikan judulnya saja. Waktu memeriksa jilid ke sembilan pada bagian Ciang-siang Cie-hoat (Cara mengobati luka pukulan telapak tangan), ia melihat petunjuk-petunjuk cara mengobati luka Tiat-see-ciang, Tok-ciang, Kay-san-ciang dan sebagainya. Waktu ia meneliti lagi sampai di halaman seratus delapan puluh, barulah ia bertemu dengan cara pengobatan luka terkena pukulan Ciat-sim-ciang. Dia menjadi amat girang. Lalu membaca dan mempelajari apa yang tertulis di situ. Dia mendapat kenyataan bahwa keterangan tentang pukulan itu diberikan secara jelas sekali, tetapi cara mengobatinya amat sederhana dan ringkas. Mengenai itu hanya ditulis seperti berikut:
‘Turun tangan mulai dari Ci-kiong-hiat, Tiong-teng-hiat, Koan-goan-hiat dan Thian-tie-hiat. Sesudah itu memberi obat dengan melihat perubahan Im-yang dan Ngo-heng, meninjau lima hawa udara yaitu: dingin, panas, kering, basah dan angin, juga memperlihatkan lima perasaan girang, gusar, jengkel, banyak pikiran dan bersemangat dari si sakit’.
Dalam ilmu pengobatan Tionghoa terdapat banyak perubahan dan tak ada peraturan yang pasti. Untuk mengobati suatu penyakit si tabib biasa memberi obat dengan melihat hawa udara, siang atau malam, lelaki atau perempuan, besar atau kecil dan sebagainya. Sementara itu, sesudah membaca beberapa kali, Bu Kie berkata di dalam hatinya, “Yang paling adalah mencoba menolong Siang-toako. Aku tak boleh mengejek tabib malaikat ini.”
Di bagian terakhir dari Ciang-siang Cie-hoat ada tertulis Hian-beng Sin-ciang. Kehebatan pukulan itu diterangkan jelas, tapi pada bagian cara pengobatan tertulis: ‘Tidak ada’. Ia lalu menutup kitab itu dan dengan sikap hormat menaruhnya di atas meja.
“Dalam ilmu silat, Ouw-sinshe tidak dapat menandingi Thay-suhu, tapi dalam ilmu ketabiban Thay-suhu tidak bisa melawan Ouw-sinshe,” katanya, “Cu-ngo Ciam-cie-keng luas dan dalam, Thay-suhu tidak akan dapat menggubah kitab seperti itu. Tetapi mengenai pengobatan pukulan telapak tangan, apa yang dipelajari Ouw-sinshe belum dapat melampaui pelajaran Thay-suhu.”
Sehabis berkata begitu ia segera menghafal Ciang-siang Cie-hoat yang berisikan cara-cara mengobati seratus lebih macam pukulan telapak tangan, dan di dalam menghafal itu tidak ada sehuruf pun yang salah atau ketinggalan. Akhirnya dia berkata,
“Luka Boanpwe akibat pukulan Hian-beng Sin-ciang tidak dapat diobati oleh Thay-suhu. Mungkin Ouw-sinshe pun tidak berdaya.”
Ouw Ceng Gu tertawa dingin. “Tidak usah kau memanasi hatiku,” katanya. “Kau saksikan saja sendiri apa benar aku tidak berdaya. Tetapi sesudah aku menyembuhkan kau, belum tentu kau bisa hidup lama.”
Walau pun Bu Kie pintar luar biasa, dia tidak mengerti maksud sebenarnya dari perkataan si tabib yang ingin membinasakan setelah menyembuhkannya, supaya sesuai dengan kebiasaannya bahwa dia tak akan pernah menolong orang yang di luar lingkungan ‘agama’ sesat. Dengan tujuan satu-satunya untuk menolong Siang Gie Cun, si bocah lantas berkata,
“Ouw-sinshe, kalau Boanpwe tidak bisa hidup lama, Boanpwe ingin sekali bisa membaca lagi kitab Cu-ngo Ciam-cie-keng yang sangat luar biasa itu.”
Ouw Ceng Gu tidak lantas menjawab. Setelah menimbang sejenak dia menganggap tidak halangan jika dia meluluskan permintaan itu, sebab biar bagaimana pun juga bocah itu tak akan bisa keluar dari Ouw-tiap-kok dengan masih bernyawa. Dia mengangguk seraya berkata,
“Boleh, kau boleh membaca sesukamu.”
Sungguh pun adatnya aneh, tidak dapat disangkal lagi bahwa Ouw Ceng Gu adalah seorang manusia luar biasa yang berkepandaian tinggi dan berpengetahuan luas. Hanya setelah masuk ke dalam ‘agama’ sesat, ia membenci manusia biasa dan lebih membenci lagi orang-orang rimba persilatan yang menjadi anggota dari partai-partai lurus bersih. Makin lama adatnya semakin aneh dan dia hidup menyendiri di tempat yang terpencil. Tapi sebagai manusia biasa kadang merasa menyesal bahwa ia tidak mempunyai kawan untuk bersama-sama merundingkan atau mempelajari ilmu ketabiban sehingga dia pun merasa sangat kesepian. Oleh karena itu kedatangan Bu Kie yang sangat pintar dan yang kagum akan kepandaiannya, pada hakekatnya menyenangkan hatinya yang kosong sunyi.
Sesudah mendapat perkenan, siang malam Bu Kie mempelajari isi kitab-kitab Ceng Gu. Sering kali dia lupa makan dan lupa tidur. Dia bukan saja membaca belasan macam kitab yang ditulis oleh Ouw Ceng Gu sendiri, tetapi juga banyak kitab lainnya seperti Oey Tee Iweekang, Hoa To, Iwee-ciauw-touw, Cian-kim-ek dan sebagainya. Tujuan sebenarnya tidak bisa ditebak oleh Ouw Ceng Gu. Dia menganggap bahwa anak itu tidak mengerti kitab gubahannya sendiri, tetapi karena sungkan bertanya secara langsung maka dia sudah membongkar kitab-kitab ketabiban kuno untuk mencari penjelasannya.
Beberapa hari telah lewat. Bu Kie sudah bisa menghafal banyak kitab, tapi ilmu pengobatan yang dalam dan luas mana bisa dipahaminya dalam beberapa hari saja. Dia menghitung-hitung dan ternyata dia telah berdiam di Ouw-tiap-kok enam hari lamanya. Dia menjadi bingung. Menurut Ouw Ceng Gu, jika dalam waktu tujuh hari Cie Cun bisa mendapat pertolongan tabib yang pandai, maka lukanya akan sembuh total. Jika lewat tujuh hari, andai kata bisa sembuh, ilmu silat Gie Cun akan musnah semuanya. Dan sekarang si brewok telah menggeletak di luar rumah selama enam hari enam malam. Apakah dia akan bisa menolong jiwa Siang-toako?
Hari itu turun hujan besar hingga Gie Cun separuh terendam, tapi sang paman guru tidak menghiraukannya. Melihat begitu Bu Kie mendongkol bukan main dan di dalam hatinya mencaci si tabib malaikat yang berhati kejam. Malamnya hujan turun semakin deras. Kilat menyambar-nyambar, diiringi guntur dan petir yang menggetarkan bumi. Bu Kie tidak bisa mempertahankan diri lagi. Sambil menggertak gigi dia berkata dalam hati. “Biar pun aku mesti membunuh Siang-toako, tak dapat aku mengawasi penderitaannya dengan berpeluk tangan.“ Dari laci obat Ouw Ceng Gu, dia segera mengambil delapan batang jarum emas kemudian menghampiri Gie Cun.
“Siang-toako,” katanya dengan suara parau. “Siauwte telah mempelajari kitab-kitab Ouw-sinshe selama beberapa hari dan meski pun belum mengerti benar, tetapi karena keadaan memaksa, siauwte ingin mencoba mempergunakan jarum untuk mengobati Toako. Andai kata terjadi kejadian yang tidak diharapkan, siauwte pun tidak bisa hidup sendirian di dunia ini.”
Gie Cun tertawa terbabak bahak. “Saudara kecil jangan kau berkata begitu,” katanya. “Lekas gunakan jarum itu. Kalau kau berhasil, Supek akan merasa malu sekali. Andai kata aku mati, aku memang lebih suka mati dari pada berendam di kobokan ini.”
Dengan tangan gemetar Bu Kie mencari jalan darah Gie Cun lalu menancapkan sebatang jarum emas di Koan-goan-hiat. Tetapi begitu ditancapkan, jarum itu bengkok dan tidak bisa masuk ke dalam daging. Hal ini bisa dimengerti karena bukan saja si bocah belum pernah menggunakan jarum itu, tetapi jarum itu pun lemas luar biasa sehingga orang harus menggunakan Iweekang yang tinggi untuk memasukkannya ke dalam daging. Maka Bu Kie terpaksa mencabutnya lagi. Biasanya, kalau jarum masuk tepat di jalan darah maka tidak ada darah yang keluar. Tetapi sekarang, karena si bocah salah menusuk, maka begitu jarum tercabut darah Gie Cun keluar banyak. Koan-goan-hiat yang terletak di perut manusia merupakan salah satu ‘hiat’ yang paling berbahaya. Melihat darah merembes keluar tiada hentinya, Bu Kie menjadi bingung.
Sekonyong-konyong di belakangnya terdengar suara orang tertawa berkakakan. Dia cepat menengok dan melihat Ouw Ceng Gu yang berdiri sambil menggendong tangan, dengan paras muka berseri-seri.
“Ouw-sinshe,” kata Bu Kie dengan suara kebingungan. “Koan-goan-hiat Siang-toako terus mengeluarkan darah. Bagaimana baiknya?”
“Tentu saja aku tahu bagaimana baiknya,” jawabnya. “Tapi buat apa aku memberi-tahu kau?”
“Ouw-sinshe, mengapa kau begitu kejam?” kata Bu Kie dengan suara keras. “Begini saja. Satu jiwa ditukar dengan satu jiwa. Tolonglah Siang-toako. Setelah kau menolongnya, aku akan segera binasa di hadapanmu.”
“Kalau aku kata tidak, tetap tidak,” kata Ceng Gu dengan suara tawar. “Aku hanya Kian-sie Put-kiu Ouw Ceng Gu. Aku bukan Bu Siang (setan yang biasa membetot jiwa orang). Kalau kau mampus, sedikit pun tiada sangkut pautnya denganku. Andai kata sepuluh Bu Kie mati, aku tetap tidak akan menolong satu pun Siang Gie Cun.”
Bu Kie mengerti, tiada gunanya dia memohon lagi. Dia tahu bahwa dia tidak akan bisa menggunakan jarum emas yang terlampau lemas itu. Tetapi mencari jarum baja atau jarum besi sudah tidak keburu lagi. Setelah berpikir sejenak, cepat dia mematahkan sebatang bambu. Dengan menggunakan pisau dia membuat beberapa biting bambu, lalu tanpa pikir lagi segera dia tancapkan pada Cie-kiong, Siong-tong, Kun-goan dan Tian-tie-hiat. Sesaat kemudian Gie Cun memuntahkan darah hitam beberapa kali. Bu Kie menjadi bingung sekali. Setelah menusuk jalan darah orang, dia tidak tahu apakah penyakitnya lebih enteng atau bertambah berat. Dia mengawasi muka Ouw Ceng Gu dan melihat bahwa biar pun sikapnya acuh tak acuh tapi paras muka si tabib malaikat menunjukkan rasa kagum. Ia sekarang tahu bahwa usahanya yang pertama berhasil dan hatinya menjadi girang sekali.
Buru-buru ia masuk ke dalam rumah dan sambil membaca beberapa kitab, ia mengasah otak untuk mencoba menulis surat obat. Dia tahu obat apa bisa dipakai untuk menyembuhkan penyakit apa, tetapi dia belum pemah melihat macamnya obat itu dan juga tidak mengerti berapa banyak harus diberikan kepada si sakit. Sesudah berpikir beberapa lama, dengan nekat ia pun menulis surat obat yang lantas diserahkan kepada si kacung tukang masak obat sambil berkata,
“Masaklah obat ini”
Si kacung membawa surat obat itu kepada majikannya lantas bertanya, apakah dia boleh menuruti perintah Bu Kie. Ceng Gu mengeluarkan suara di hidung dan berkata kepada dirinya sendiri,
“Hmm! Benar-benar gila!” Dia berpaling kepada kacungnya dan berkata, “Boleh. Masaklah obat menurut timbangannya. Kalau dia tidak mati, benar-benar rejekinya sangat besar.”
Bu Kie mengerti apa maksudnya perkataan itu. Cepat dia merebut surat obat itu, kemudian mengurangi timbangannya dan barulah menyerahkannya kembali kepada si kacung. Setelah dimasak, Bu Kie membawa obat itu kepada Gie Cun dan berkata dengan air mata berlinang,
“Siang-toako, minumlah obat ini. Apa untung, apa celaka, siauwte sendiri tidak tahu.”
“Bagus! Bagus sekali!” kata si brewok sambil tertawa, “Ini yang dinamakan ‘tabib buta mengobati kuda picek’.“ Sambil pejamkan mata dia segera minum habis semangkok obat itu.
Malam itu Gie Cun gelisah. Dia merasa perutnya seperti disayat pisau dan dari mulutnya terus keluar darah. Tanpa menghiraukan hujan dan hawa dingin, semalam suntuk Bu Kie menemani si sakit. Pada keesokan paginya hujan berhenti dan darah yang dimuntahkan Gie Cun makin lama makin sedikit. Warna darah juga berubah, dari hitam menjadi ungu, dari ungu berubah merah.
“Saudara kecil,” kata Siang Gie Cun dengan gembira. “Ternyata obatmu tidak membunuh manusia. Aku merasa badanku jauh lebih enak, lebih nyaman.”
“Bagaimana? Obat siauwte boleh juga, bukan?” kata si bocah sambil nyengir.
“Lebih dari boleh juga!” Gie Cun memuji. “Hanya obatmu mungkin terlalu keras sehingga perutku rasanya seperti diiris-iris pisau.”
“Ya, mungkin terlalu keras,” kata Bu Kie dengan rasa jengah.
Sebenarnya obat yang diberikan oleh Bu Kie kepada Gie Cun bukan hanya terlalu keras, tapi beberapa lipat kali terlalu keras. Kalau Gie Cun tidak mempunyai badan yang sangat kuat maka siang-siang dia sudah binasa. Sesudah membersihkan badan, Ouw Ceng Gu berjalan keluar. Melihat paras muka Siang Gie Cun, dia langsung terkesiap. Dia tak nyana bahwa Bu Kie benar-benar sudah berhasil menyembuhkan luka si brewok.
Sementara itu si bocah sudah menulis surat obat yang gunanya untuk menguatkan badan, kemudian menyerahkannya kepada si kacung untuk dimasak. Dia masukkan segala macam obat penguat seperti Jin-som, Lok-jiong, Souw-ouw dan sebagainya. Di rumah Ouw Ceng Gu terdapat rupa-rupa obat, dari yang paling murah sampai yang paling mahal harganya. Sesudah minum obat kuat enam tujuh hari beruntun, bukan saja kesehatannya, bahkan kepandaian silat Gie Cun sudah pulih kembali. Beberapa hari kemudian dia berkata begini kepada Bu Kie,
“Saudara kecil, lukaku sudah sembuh. Sekarang kita berpisah.“
Selama kurang lebih satu bulan Bu Kie berkawan dengan pemuda ini dan mereka berdua sama-sama merasakan banyak penderitaan. Mereka telah menjadi seperti saudara kandung dan dapatlah dimengerti jika si bocah merasa sedih waktu mendengar perkataan sang kakak. Dia tidak dapat mengeluarkan sepatah katapun. Dia hanya mengangguk dengan air mata berlinang.
“Saudara kecil, jangan kau bersusah hati,” Gie Cun membujuk. “Tiga bulan kemudian aku akan kembali untuk menengokmu. Apa bila racun dingin sudah diusir bersih dari badanmu, aku akan segera mengantarkan kau pulang ke Bu-tong.” Dia lalu masuk ke dalam rumah dan berlutut di hadapan Ouw Ceng Gu.
“Ouw-supek,” katanya. “Kini teecu sudah sembuh sama sekali. Walau pun benar saudara Thio yang mengobati, tapi pengobatan itu diberikan berdasarkan petunjuk dari kitab-kitab Ouw-supek. Di samping itu teecu pun sudah menghabiskan banyak sekali obat milik Supek yang berharga mahal. Untuk semua itu, teecu hanya dapat menghaturkan banyak-banyak terima kasih.”
Sang paman guru manggut-manggut. “Tak apa,” katanya. “Lukamu memang sudah sembuh, hanya sayang usiamu berkurang tiga puluh tahun.”
Gie Cun tidak mengerti. “Apa maksud Supek?” tanyanya,
“Jika dilihat dari kekuatan badanmu, sebenarnya paling sedikit kau bisa hidup sampai usia delapan puluh tahun,” menerangkan sang paman guru. “Tetapi karena bocah itu membuat kesalahan waktu menusuk jalan darahmu, dan membuat kesalahan pula dalam memberi obat, maka setiap kali bertemu dengan musim hujan angin, sekujur badanmu akan terasa sakit. Menurut taksiranku, kau hanya bisa berusia sampai lima puluh tahun.”
Si brewok tertawa ter-bahak. “Ouw-supek,” katanya dengan suara lantang, “jika seorang laki-laki dapat menolong sesama manusia dan mengabdi kepada negara, berusia sampai empat puluh tahun saja kurasa sudah cukup. Jika seorang hidup tanpa tujuan, biar pun dia bisa berumur seratus tahun maka hidupnya percuma saja.”
Ceng Gu tidak mengatakan apapun, dia hanya mengangguk beberapa kali. Bu Kie mengantar Gie Cun sampai di mulut selat Ouw-tiap-kok, kemudian mereka saling berpisah setelah memeras banyak air mata. Sambil mengawasi bayangan si brewok yang makin lama makin jauh, Bu Kie bertekad mempelajari ilmu pengobatan supaya di belakang hari dia bisa memulihkan usia Gie Cun yang menurut Ouw Ceng Gu, akan berkurang tiga puluh tahun.
Setiap hari dengan telaten Ceng Gu menggunakan jarum emas dan memberi obat untuk mengusir semua racun dingin yang masih mengeram dalam tubuh si bocah. Sementara itu di waktu luang Bu Kie tidak menyia-nyiakan waktu. Tanpa kenal capai dia membaca dan mempelajari kitab-kitab ketabiban. Apa bila ada bagian yang tidak dimengerti, dia mohon petunjuk dari Ouw Ceng Gu yang memberinya dengan segala senang hati. Perlahan-lahan tabib malaikat itu mulai merasa senang terhadap si bocah pintar itu. Sekali hatinya terbuka, tanpa ragu-ragu dia memberi segala pelajaran yang dimilikinya. Kadang kala bocah itu malah mengajukan pertanyaan tentang hal-hal yang belum pernah dipikir olehnya sendiri. Rasa kagum orang tua itu terhadap Bu Kie menjadi makin besar. Semula dia berniat membinasakan Bu Kie begitu lukanya sembuh. Namun sekarang dia merasa bahwa jika si bocah binasa tentu dia akan hidup kesepian. Sebab itulah waktu memberi obat dia sengaja mengurangi timbangannya untuk menunda penyembuhan dan menunda pula kebinasaan anak ini.
Sesudah lewat satu dua bulan, dengan rasa heran Ceng Gu sesudah menggunakan berbagai cara, dia masih belum juga dapat mengusir racun dingin yang berkumpul di Sam-cauw (hormon). Belasan hari bekerja keras dengan memeras pikiran, tetapi hasilnya nihil sehingga rambutnya bertambah uban. Pada suatu hari sambil menghela napas dia berkata,
“Ilmu silat Thay-suhu-mu amat tinggi, tetapi dalam ilmu ketabiban dia mencelakakan kau. Sesudah kau kena pukulan Hian-beng Sin-ciang, dia malah membuka Kie-keng Pat-mehmu. Betul-betul gila!”
“Bukan, bukan Thay-suhu yang membuka pembuluh darahku,” bantah Bu Kie.
Sesudah berkumpul dengan Ouw Ceng Gu beberapa bulan, dia merasa bahwa meski pun beradat aneh tabib melaikat ini bukan manusia jahat. Makanya tanpa diminta ia meneceritakan riwayat hidupnya. Dia juga menuturkan pengalamannya di kuil Siauw-lim-si, ketika dia datang untuk belajar Siauw-lim Kiu-yang-kang. Setelah menunduk beberapa saat, tiba-tiba saja Ceng Gu menepuk paha dan berkata,
“Bu Kie, pendeta Siauw-lim itu pasti sengaja mencelakakan kau!”
Si bocah terkejut. “Aku belum pernah mengenalnya, perlu apa dia mencelakai aku?” tanyanya.
“Hal... hal ini sungguh aneh,” kata pula Ceng Gu. “Coba kau ceritakan lebih jelas semua pengalamanmu di Siauw-sit-san.”
Bu Kie menurut dan mengulang penuturannya secara lebih jelas. Tiap-kok Ie-sian nampak berjalan mondar mandir sambil menggendong kedua tangannya. Sekonyong-konyong ia berteriak,
“Tidak mungkin salah lagi. Pendeta itu memang sengaja mencelakai kau. Thay-suhu-mu tidak mengerti ilmu ketabiban dan juga dia adalah seorang yang sangat percaya segala manusia. Makanya dia tidak curiga. Coba kau pikir, Goan-tin adalah orang yang mahir ilmu Siauw-lim Kiu-yang-kang dan dia pun bisa membantu kau dalam membuka Kie-keng Pat-meh. Dengan lain kata dia sudah mempunyai Iweekang yang sangat tinggi. Maka itu begitu kedua telapak tangannya nempel dengan telapak tanganmu, dia pasti tahu bahwa dalam tubuhmu mengeram racun dingin. Akan tetapi dia malah sengaja membuka pembuluh darahmu. Apakah dengan begitu dia bukan sengaja mencelakakan kau?”
“Tapi sebelum membobol tembok dia memang sudah berniat membantu membuka Kie-keng Pat-mehku,” kata Bu Kie. “Waktu itu dia belum tahu bahwa aku terkena pukulan Hian-beng Sin-ciang.”
Ceng Gu geleng-gelengkan kepalanya. “Aku masih belum tahu kenapa Goan-tin mau mencelakakan kau,” katanya. “Kau mengatakan bahwa karena belum pernah saling kenal satu sama lain maka tak mungkin dia mencelakakan kau. Tapi kau harus ingat bahwa kau sudah belajar Siauw-lim Kiu-yang-kang, yang mungkin dianggap sebagai miliknya sendiri. Hal ini cukup untuk menimbulkan niat membunuh kau di dalam hatinya.”
“Menurut Thay-suhu, Siauw-lim-si dan Bu-tong adalah pemimpin dari partai-partai yang lurus bersih,” kata Bu Kie. “Menurut pendapatku, biar pun di kuil Siauw-lim-si terdapat orang-orang yang berpemandangan sempit akan tetapi mereka tidak akan bertindak begitu hina. Lagi pula Thay-suhu sendiri sudah menyerahkan Thay-kek Sip-sam-sit dan Bu-tong Kiu-yang-kang kepada mereka sebagai penukar. Dalam hal ini pada hakekatnya pihak Siauw-lim yang lebih untung.”
Ouw Ceng Gu tertawa dingin. “Lurus bersih!” ia menegas. “Apakah ayah ibumu bukan didesak sehingga binasa oleh orang-orang dari partai lurus bersih? Dengan menganggap bahwa mereka putih bersih, mereka berlaku amat kejam terhadap orang-orang dari partai yang dianggapnya sesat. Padahal orang partai lurus bersih belum tentu baik semua, orang partai sesat belum tentu jahat semua.”
Kata-kata itu menyentuh hati Bu Kie. Dia teringat bahwa yang mendesak hebat sehingga mengakibatkan kebinasaan kedua orang tuanya, sebagian besar terdiri dari orang partai lurus bersih seperti Siauw-lim, Kun-lun dan Khong-tong-pay. Bahkan para pamannya dari Bu-tong-pay hanya menyaksikan pembunuhan diri kedua orang tuanya dengan berpeluk tangan. Memang benar mereka berduka, akan tetapi di dalam hati menganggap bahwa binasanya kedua orang tuanya adalah kebinasaan yang sepantasnya. Pendapat itu telah lama sekali terkandung dalam lubuk hatinya, tetapi sebegitu jauh dia belum pernah berani mengatakan terang-terangan. Sekarang, begitu mendengar perkataan Ouw Ceng Gu, dia menggigil dan menangis keras.
“Ya, dunia memang begitu,” kata Ceng Gu dengan suara tawar. “Baru ketemu satu masalah saja kau sudah menangis. Kalau kau tidak mati hari ini, di hari kemudian kau bakal mengalami banyak sekali kejadian-kejadian yang dapat mengucurkan air matamu.”
Bu Kie buru-buru menyusut air matanya.
“Kau tadi mengatakan bahwa kau belum pernah melihat muka Goan-tin,” kata pula si tabib malaikat. “bagaimana kau tahu bahwa dia tidak mengenal kau? Suara orang dapat diubah bahkan muka masih dapat diubah. Dia tidak mau menemui kau. Hal ini saja sudah menerbitkan kecurigaan. Kau mengatakan bahwa tanpa sebab seseorang pasti tidak akan mencelakakan kau. Apa kau tahu pasti bahwa aku tidak ingin membunuhmu? Biarlah aku berterus terang. Karena melihat penyakitmu sangat aneh, aku berusaha untuk mengobati kau. Tetapi berbareng dengan itu, aku pun sudah mengambil keputusan bahwa begitu kau sembuh maka aku akan segera mengambil jiwamu!”
Bu Kie bergidik. Dia mengerti bahwa apa yang dikatakan orang aneh ini tidak mudah diubah lagi. Dia menghela napas lantas berkata,
“Racun dingin di tubuhku tak dapat dikeluarkan seluruhnya. Tanpa kau turun tangan pun aku akan mati sendiri. Hai! Manusia di dunia agaknya merasa senang kalau melihat orang lain celaka atau mati. Bukankah orang yang belajar silat bertujuan untuk membunuh sesama manusia?”
Ouw Ceng Gu mendongak dan dengan mata terbelalak dia mengawasi langit. Sesudah sekian lama dia berkata dengan suara parau,
“Waktu masih muda aku mempelajari ilmu ketabiban dengan tekad menolong sesama manusia. Akan tetapi orang-orang yang ditolong malah berbalik mencelakakan aku. Aku pernah menolong jiwa seseorang yang mendapat tujuh belas lubang luka bacokan. Sesungguhnya dia sudah pasti mati. Tiga hari tiga malam aku tidak tidur dan dengan segala kepandaianku berhasil menyembuhkannya. Belakangan aku mengangkat saudara dengannya. Akan tetapi tak nyana akhirnya dia membinasakan adik perempuanku, adik kandungku. Siapa dia? Sekarang dia adalah seorang tokoh besar yang namanya besar dari sebuah partai lurus bersih.”
Dengan rasa iba Bu Kie mengawasi muka Ceng Gu yang diliputi sinar kedukaan. “Kalau begitu dia dapat gelar Kian-sie Put-kiu karena telah mengalami kejadian hebat,” katanya dalam hati. Darahnya meluap dan bertanya,
“Siapa adanya manusia binatang itu? Kenapa kau tidak mencari untuk membalas sakit hati?”
“Waktu mau meninggal, adikku memaksa aku bersumpah tak mencoba membalas sakit hatinya,” sahutnya, “Lebih gila lagi ia minta aku berjanji bahwa jika manusia itu berada dalam bahaya, aku mesti menolongnya. Dapat dimengerti jika aku menolak tuntutan itu. Tapi sebelum aku meluluskan, adikku tidak akan mati dengan mata meram. Hati adikku... hatinya terlampau mulia. Akhirnya aku tidak bisa tidak meluluskan permintaannya yang terakhir itu.“ Setelah berkata demikian air matanya berlinang-linang.
Baru sekarang Bu Kie menyadari bahwa Ouw Ceng Gu bukan manusia yang tidak punya perasaan. Tak bisa salah, antara saudara angkatnya dan adik perempuannya mempunyai hubungan yang sangat erat, kalau bukan suami isteri, tentulah juga sepasang kekasih.
Tiba-tiba Ceng Gu berkata dengan suara keras. “Ingatlah apa yang dikatakan olehku, tak boleh kau menyebut-nyebut lagi pembicaraan tadi di hadapanku. Kalau kau membocorkan pembicaraan ini kepada orang lain, aku akan membuat kau hidup tidak mati pun tidak.”
Sebenarnya Bu Kie ingin menjawab dengan beberapa perkataan tajam, namun dia segera mengurungkan niatnya karena merasa bahwa pada hakekatnya Ouw Ceng Gu adalah seorang yang harus dikasihani.
“Baiklah, aku berjanji tak akan bicara lagi mengenai hal ini,“ katanya.
Tabib malaikat itu kemudian meng-usap rambut si bocah dan sesudah menghela napas panjang berulang-ulang dia berkata,
“Kasihan! Kasihan!” Sesudah berkata begitu dia pun masuk ke ruang dalam.
Sesudah terjadi pembicaraan di atas, berulang kali Ceng Gu memeriksa tubuh Bu Kie dan siang malam mengasah otak, namun dia tidak mendapat jalan untuk membasmi racun dingin yang sudah masuk ke dalam Sam-ciauw. Sekarang dia yakin bahwa biar pun berusaha sebisanya dengan menggunakan ilmu pengobatan paling tinggi, paling banyak dia hanya bisa memperpanjang umur si bocah beberapa tahun saja. Sementara itu, karena berada di pegunungan yang sepi Bu Kie merupakan seorang kawan yang amat menyenangkan, maka di waktu-waktu luang Ceng Gu memberi petunjuk dan pelajaran ilmu ketabiban kepada si bocah yang terus belajar dengan rajin tanpa kenal lelah. Melihat kecerdasan bocah itu yang dalam waktu singkat dapat memahami kitab-kitab Uy-te Ha-mo-keng, See-hong Cu-beng-tong Cie-keng, Tay-peng-seng Hui-hong dan sebagainya, Ceng Gu menghela napas seraya berkata,
“Dengan kecerdasanmu, dibantu olehku sendiri, sebelum berusia dua belas tahun kau akan bisa merendengi Hoa To atau Pian Ciak. Hanya sayang... sungguh sayang...!”
Ia merasa sayang karena dengan usia pendek semua kecerdasan dan kepandaian itu tiada gunanya. Tapi Bu Kie mempunyai lain tujuan. Ia belajar ilmu ketabiban dengan tekad untuk dapat memulihkan usia Siang Gie Cun yang menurut Ouw Ceng Gu akan berkurang tiga puluh tahun.....
Hari berlalu laksana terbang dan tanpa terasa dua tahun sudah berselang. Sekarang Bu Kie berusia empat belas tahun. Selama dua tahun itu beberapa kali Gie Cun datang menengoknya. Dia memberi-tahu bahwa Thio Sam Hong memperkenankannya untuk diam lebih lama di Ouw-tiap-kok, sampai racun dingin di tubuhnya dapat dibasmi seluruhnya. Dia juga menyampaikan warta bahwa makin lama orang Mongol semakin ganas, rakyat menderita dan permusuhan antara partai lurus bersih dan partai sesat semakin menghebat dan jumlah manusia yang menjadi korban semakin meningkat. Setiap kali datang di Ouw-tiap-kok, Siang Gie Cun diam beberapa hari kemudian pergi lagi.
Pada kedatangan Gie Cun yang terakhir, Bu Kie sudah mendapat kemajuan pesat dalam pelajaran ilmu ketabiban. Dia memeriksa nadi Siang Gie Cun kemudian menulis obat yang lalu diberikan kepada si brewok dengan pesan bahwa dia harus sering-sering minum obat itu. Gie Cun menghaturkan banyak terima kasih, lalu memasukkan surat obat itu ke dalam sakunya. Kali ini, di dalam kamar paman gurunya, Gie Cun beromong-omong dengan orang tua itu hingga jauh malam. Malam itu dia tidak bisa tidur dan gelisah sekali. Bu Kie merasa heran. Si brewok tidak begitu akur dengan paman gurunya. Tapi mengapa dia bicara demikian lama? Bu Kie menduga bahwa di kalangan Mo-kauw sedang timbul gelombang dan karena dia sendiri bukan anggota ‘agama’ itu, maka dia tidak mau menyelidiki. Esok paginya Gie Cun berpamitan dan Bu Kie mengantarnya sampai di mulut selat.
“Saudara,“ kata si brewok ketika mereka berpisah. “Dalam beberapa hari ini ada seorang musuh yang sangat lihay akan menyateroni Ouw-supek. Sebenarnya aku ingin mengajak kau pergi ke lain tempat untuk sementara waktu, tetapi Ouw-supek mengatakan bahwa musuh itu tak akan bisa berbuat banyak. Dia mengatakan, aku tidak usah takut. Tapi aku harap kau hati-hati.”
“Musuh siapa?” tanya Bu Kie.
“Aku pun tidak tahu,” jawabnya. “Aku mendengar warta itu di tengah jalan dan buru-buru aku datang kemari memberi-tahu Ouw-supek. Saudara, Ouw-supek itu orang pintar yang sangat berhati-hati. Jika dia mengatakan tidak usah kuatir, tentu dia sudah mempunyai pegangan. Hanya aku yang masih merasa kuatir.”
Melihat kecintaan si brewok terhadap dirinya, Bu Kie merasa terharu dan sesudah beromong-omong lagi beberapa lama, mereka lalu berpisah. Sekembalinya di rumah Ceng Gu, dia melihat orang tua itu tenang-tenang saja. Beberapa kali dia coba bertanya, tetapi pertanyaan selalu diputus di tengah jalan.
Enam tujuh hari telah lewat dengan tenang. Malam itu, selagi Bu Kie membaca sejilid kitab obat, mendadak kepalanya berat dan badannya lelah sekali. Ia lantas naik ke pembaringan. Keesokan harinya, ketika tersadar dia merasa kepalanya sakit sekali. Dia segera pergi ke belakang untuk mengambil obat. Namun baru saja berjalan puluhan tindak, dia mendapat kenyataan bahwa dia baru sadar di waktu lohor.
“Mengapa aku tidur begitu lama? Apakah aku sakit?” tanyanya dalam hati.
Dia segera memegang nadi, ketukan nadi tidak mengunjuk hal yang luar biasa. Dia jadi semakin kaget. Apakah racun dingin itu mengamuk dan dia sudah mendekati ajalnya? Buru-buru dia mencari Ouw Ceng Gu, tapi orang tua itu tidak kelihatan hidungnya. Selama beberapa hari dia selalu kuatir dan sekarang karena orang tua itu tidak berada di dalam rumah, sambil berlari-lari dia pergi ke kebun untuk mencarinya. Di kebun dia bertemu dengan seorang kacung yang sedang mencangkul tanah.
“Mana Ouw-sinshe?” tanyanya.
“Apa dia tidak berada di kamarnya?” si kacung balas bertanya. “Baru saja aku membawa teh. Ouw-sinshe memesan supaya dia tidak diganggu.”
Bu Kie tertawa. “Aku benar-benar tolol,“ katanya dalam hati lalu kembali ke rumah.
Waktu tiba di depan kamar Ceng Gu, dia melihat pintunya dikunci. Mengingat perkataan si kacung dia tidak berani mengetuk melainkan hanya batuk-batuk beberapa kali.
“Bu Kie,” kata orang tua itu, “hari ini badanku kurang enak. Leherku sakit. Kau belajar saja sendiri.”
“Baiklah,” jawabnya. Sesaat kemudian, karena kuatir penyakit orang tua itu lebih berat, dia lalu berkata, “SinShe, bolehkah kuperiksa lehermu?”
“Tak usah,” jawabnya dengan suara dalam. “Aku sendiri sudah memeriksa dari kaca. Tak apa-apa. Aku juga sudah minum obat.”
Malam itu, waktu kacung membawa nasi, Bu Kie turut masuk ke kamar Ceng Gu. Ia melihat muka orang tua yang rebah di pembaringan itu pucat pasi. Ia kaget.
“Apakah tadi malam, selagi aku tidur, musuh sudah datang menyatroni?” tanyanya dalam hati. “Mungkin sekali biar pun berhasil mengusirnya tapi Ouw-sinshe sendiri terluka berat.”
Begitu melihat Bu Kie, Ceng Gu segera mengibaskan tangannya. “Pergi!” bentaknya. “Kau tahu aku sakit apa? Sakit cacar!”
Si bocah mengawasi dan benar saja, tangan dan muka orang tua itu penuh dengan titik-titik merah. Kalau pengobatannya salah maka orang bisa mati, atau sedikitnya bakal bermuka bopeng. Tapi mengingat Ceng Gu seorang tabib malaikat, dia tidak merasa kuatir. Hatinya lega karena dia yakin bahwa orang tua itu bukan dilukai musuh.
“Kau dan si kacung tak boleh masuk lagi ke dalam kamarku,” kata pula Ceng Gu. “Semua perabot makan, sesudah kugunakan harus diseduh dengan air panas. Kalian tidak boleh menggunakan itu... hm...“ Ia berdiam sejenak, kemudian berkata lagi. “Bu Kie, begini saja. Menyingkirlah dari Ouw-tiap-kok untuk sementara waktu. Kau boleh menumpang di salah satu rumah penduduk kira-kira setengah bulan. Aku kuatir kau ketularan cacar!”
“Tidak!” kata si bocah. “Sinshe sedang sakit, jika aku pergi siapa yang akan merawatmu? Biar bagaimana pun aku lebih mengenal ilmu pengobatan dari pada dua kacung itu.”
“Tetapi lebih baik kau menyingkir,” kata orang tua itu. Dia membujuk beberapa kali, tapi si bocah tetap pada pendiriannya. Akhirnya Ceng Gu berkata, “Baiklah. Tapi biar bagaimana pun juga aku melarang kau masuk lagi ke kamarku.”
Tiga hari telah lewat. Setiap pagi dan malam Bu Kie selalu menanyakan kesehatan orang tua itu dari luar kamar. Dia mendapat kenyataan bahwa walau pun suara Ceng Gu masih agak parau namun semangatnya sudah cukup baik dan nafsu makannya pun bertambah besar. Setiap hari dari dalam kamar Ceng Gu menyebutkan nama-nama obat berikut timbangannya yang harus dimasak untuknya oleh si kacung. Pada hari ke empat, waktu lohor, Bu Kie membaca bagian Su-kie Tauw-sia Tay-lun (Diskusi tentang peran empat hawa dalam memperkuat semangat) dari Oey Teng Lwee-keng (Kitab obat-obatan dari Kaisar Uy Teng). Pada bagian itu antara lain tertulis seperti berikut:
‘Maka itulah seorang pandai tidak mengobati penyakit, tetapi menjaga supaya penyakit itu jangan sampai timbul. Dia tidak membereskan kekacauan, tetapi menjaga jangan sampai kekacauan muncul. Inilah jalan yang paling baik. Jika menunggu sampai penyakit timbul baru mengobatinya, sampai kekacauan muncul baru membereskannya, maka usaha itu adalah seperti menggali sumur setelah haus atau membuat senjata setelah menghadapi musuh. Apakah itu bukan sudah terlambat?’
Tanpa terasa Bu Kie mengangguk beberapa kali. “Memang sudah terlambat jika menggali sumur sesudah haus dan membuat senjata sesudah berhadapan dengan musuh,” katanya di dalam hati. “Membereskan negara sesudah muncul kekacauan juga sudah terlambat. Biar pun andai kata keamanan dapat dipulihkan, akan tetapi negara tetap mendapat kerugian. Mengobati penyakit juga tiada bedanya. Lebih baik menjaga sebelum penyakit mengamuk dari pada mengobati sesudah penyakit itu menjadi berat,” Ia ingat di bagian lain dari kitab tersebut terdapat kata-kata seperti berikut:
‘Seorang tabib yang pandai paling senang mengobati kulit dan bulu, kemudian mengobati otot-otot, lalu mengobati urat-urat, dan akhirnya baru mengobati isi perut. Jika dia harus mengobati isi perut, maka kemungkinan sembuhnya si sakit hanya separuh-separuh’.
“Benar, memang benar apa yang dikatakan dalam kitab itu,” pikir Bu Kie. “Seorang tabib pandai selalu mengobati pada waktu penyakit baru saja muncul. Apa bila penyakit sudah masuk ke isi perut, biar bagaimana pandai pun dia tidak mempunyai pegangan lagi. Seperti aku, racun sudah masuk ke dalam isi perutku. Keadaanku sudah sembilan bagian mati dan hanya satu bagian hidup.”
Selagi berpikir begitu, tiba-tiba terdengar suara tindakan kuda. Bu Kie buru-buru menutup bukunya lalu bangkit berdiri. Ia bingung sebab kuatir kedatangan musuh. Sambil berlari dia pergi ke kamar Ceng Gu.
“Ouw-sinshe,” katanya. “Aku mendengar suara tindakan beberapa ekor kuda yang masuk ke selat ini. Bagaimana baiknya?”
Kuda-kuda itu ternyata bisa lari luar biasa cepatnya. Sebelum orang tua itu menjawab, mereka sudah tiba di depan rumah.
“Sesama orang rimba persilatan mohon bertemu dengan Ie-sian Ouw-sinshe!” terdengar teriakan seseorang. “Kami ingin mohon belas kasih Ouw-sinshe untuk mengobati penyakit.”
Mendengar itu hati Bu Kie menjadi lega. Ia bertindak keluar dan melihat orang bermuka hitam berdiri di depan pintu. Orang itu menuntun tiga ekor kuda. Di punggung kedua hewan itu rebah dua orang yang pakaiannya berlepotan darah. Penunggang kuda itu sendiri berdiri dengan kepala yang dibalut kain putih bernoda darah, sedangkan tangan kanannya dimasukkan ke dalam selembar kain yang diikatkan ke leher. Dilihat dari romannya, dia pun terluka yang tidak ringan.
“Kedatangan kalian sangat tidak kebetulan,” kata Bu Kie. “Ouw-sinshe sedang sakit dan tidak bisa bangun. Harap kalian mencari tabib lain saja.”
“Celaka!” kata orang itu dengan suara kaget. “Kami melakukan perjalanan ratusan lie dengan harapan bisa mendapat pertolongan Ie-sian”
“Ouw-sinshe sakit cacar,” Bu Kie menerangkan. “Dalam beberapa hari ini keadaannya sangat buruk. Ini adalah kenyataan dan aku tidak berdusta.”
Orang itu menghela napas. “Kami bertiga saudara seperguruan dan mendapat luka yang amat berat,” katanya dengan suara duka. “Jika tidak ditolong Ie-sian kami akan meninggal. Kuharap saudara suka melaporkan kepada Ouw-sinshe.”
“Kalau begitu, bolehkah aku tahu she dan nama Toako yang mulia?” tanya Bu Kie.
“Nama kami tidak cukup berharga untuk disebut-sebut,” jawabnya. “Tolong beritahu saja bahwa murid Sian-ie Ciang-bun dari Hoa-san-pay mohon pertolongan.“ Sesudah berkata begitu badannya bergoyang-goyang, paras mukanya lebih pucat dan mulutnya agak terbuka seperti mau muntahkan darah.
Bu Kie melompat dan menotok beberapa jalan darah pada dada dan punggung orang itu. Begitu tertotok, darah yang sudah meluap turun kembali dan orang itu merasa dadanya agak lega. Melihat kepandaian si bocah, dia kelihatan kaget dan kagum.
Bu Kie segera masuk ke dalam, “Sinshe,” katanya. “Di luar menunggu tiga orang terluka berat dan minta pertolonganmu. Mereka mengatakan murid-murid dari Sian-ie Ciang-bun Hoa-san-pay.”
“Ihh!” terdengar Ouw Ceng Gu mengeluarkan suara, kemudian dia berteriak dengan marah,
“Tidak! Tidak! Usir mereka!”
“Baiklah,” kata Bu Kie dengan cepat lalu berjalan keluar.
“Ouw-sinshe tak bisa menemui kalian karena penyakitnya masih belum mendingan,” kata Bu Kie. “Harap kalian suka memaafkan.”
Orang itu mengerutkan alis. Selagi hendak memohon lagi, tiba-tiba salah seorang yang bertubuh kurus kecil dan rebah di atas punggung kuda mengangkat kepala lantas mengayunkan tangannya. Hampir berbareng sehelai sinar emas menyambar dan benda jatuh di atas meja di dalam rumah.
“Saudara, tolong kau bawa bunga emas itu kepada Kian-sie Put-kiu,” kata si kurus. “Beri-tahu bahwa kami bertiga dilukai majikan bunga emas itu. Dia sendiri akan segera mencari le-sian. Jika Kian-sie Put-kiu suka mengobati kami, sesudah sembuh kami akan tetap berdiam di sini untuk membantu melawan musuh. Meski kepandaian kami tidak berarti tetapi masih merupakan tiga tenaga bantuan.”
Bu Kie menghampiri meja. Dia melihat bahwa senjata rahasia itu menyerupai sekuntum bunga bwee yang terbuat dari pada emas tulen, dengan sari bunga dibuat dari perak putih sehingga Kim-hoa (bunga emas) itu indah sekali kelihatannya. Bu Kie mengulurkan tangan dan mencoba mengambilnya, tetapi di luar dugaan bunga emas itu menancap di meja dan dia tidak dapat mencabutnya. Dengan menggunakan jepitan obat barulah dia berhasil.
“Orang kurus itu memiliki kepandaian cukup tinggi, masih kena dilukai,“ pikirnya, “Siang-toako mengatakan bahwa seorang musuh akan menyatroni Ouw-sinshe. Mungkin sekali musuh Ouw-sinshe adalah orang itu.“
Sambil membawa senjata rahasia tersebut ia segera masuk dan menyampaikan kata-kata si kurus kepada Ouw Ceng Gu.
“Coba aku lihat,” kata orang tua itu.
Bu Kie menolak pintu dan menyingkap tirai. Kamar itu amat gelap. Seorang yang terkena penyakit cacar memang takut pada sinar terang, maka pintu dan jendela kamar itu ditutup dengan tirai. Dia melihat muka Ouw Ceng Gu ditutup kain sehingga hanya kedua matanya yang bisa dilihat orang. Hati Bu Kie berdebar. Bagaimana macamnya bisul-bisul di muka orang tua ini. Apakah sudah sembuh dia bakal bopeng?
“Taruh bunga emas itu di atas meja dan lekas keluar!” perintah si tabib malaikat. Bu Kie menurut. “Mati hidup mereka bertiga tiada sangkut pautnya denganku,” demikian terdengar suara Tiap-kok Ie-sian, “Soal mati hidupku juga tak usah diributi mereka.”
“Pletak!” bunga emas itu terbang keluar sesudah menoblos tirai kemudian jatuh di tanah.
Biar pun daun bunga dari senjata rahasia itu amat tipis dan tajam, tapi karena tirai adalah benda lemas dan alot, maka dicobloskannya kain yang tebal itu amat mengejutkan Bu Kie. Selama dua tahun di rumah Tiap-kok Ie-sian, Bu Kie belum pernah melihat ilmu silat orang tua ini. Baru sekarang terbukti bahwa si tabib malaikat juga memiliki ilmu silat yang sangat tinggi. Dia mengambil Kim-hoa dan menghampiri lelaki yang kurus itu. Sambil menggelengkan kepala, dia berkata.
“Sakitnya Ouw-sinshe sangat berat.”
Tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara roda kereta memasuki selat Ouw-tiap-kok. Perkataan Bu Kie terhenti dan semua orang memasang kuping. Kereta itu cepat sekali jalannya dan tidak lama kemudian berada di luar rumah. Dari dalam kereta seorang pemuda yang kulit mukanya kuning keluar sambil melompat. Begitu turun dia mendukung seorang kakek yang gundul kepalanya.
“Apa Tiap-kok Ie-sian Ouw-sinshe ada?” tanyanya. “Murid Khong-tong-pay...“
Baru berkata begitu, badannya bergoyang-goyang dan roboh bersama si kakek. Dua ekor kuda yang menarik kereta, mulutnya mengeluarkan busa, juga telah berlutut dengan berbareng. Rupanya kedua binatang itu kehabisan tenaga. Melihat roman dua orang itu, tanpa ditanya lagi bahwa mereka itu baru saja melakukan perjalanan cepat satu sampai dua ratus li tanpa beristirahat di tengah jalan. Selain itu Bu Kie juga mendengar disebutnya ‘Murid-murid Khong-tong-pay’, maka teringatlah ia akan halnya, di antara orang yang memaksakan kematian ayah ibunya di atas gunung Bu-tong-san ada tianglo atau tertua dari partai ini.
Ia melihat si orang tua berkepala gundul kelimis disebut Seng-ciu Ka-lam Kan Ciat. Ketika itu orang tua ini tidak hadir di gunung, akan tetapi dia menduga bahwa ini mestinya bukan manusia baik-baik. Karena itu ingin dia menolak mereka. Tapi dia segera melihat munculnya lagi empat atau lima orang, ada yang dingkluk-dingkluk sambil memegang tongkat, ada yang saling menuntun, dan mereka semuanya terluka. Dia mengerutkan alis. Tanpa menanti sampai mereka mendekat, dia berkata nyaring,
“Ouw-sinshe sedang kena penyakit cacar. Karena dirinya sendiri belum tentu dapat ditolong, jadi dia tidak bisa mengobati kalian, tuan-tuan! Maka itu silahkan tuan-tuan sekalian mencari tabib lain supaya tuan-tuan tidak mendapat celaka.”
Sementara itu orang-orang yang jumlahnya berlima sudah mendekat. Nyata mereka mengenakan pakaian bagus-bagus. Mirip saudagar besar, tetapi muka mereka semuanya pucat pasi bagaikan kertas putih polos, sedikitpun tak ada sinar darahnya. Di tubuh mereka tidak tampak tanda tanda bekas luka, teranglah sudah bahwa mereka mendapat luka-luka hebat di dalam. Orang yang berjalan di depan, yang tubuhnya jangkung dan gemuk, mengangguk terhadap Kan Ciat serta si pria kurus dan kecil, dan karena itu mereka itu saling menyeringai. Jadi ketiga rombongan orang itu semuanya saling kenal satu sama lain. Bu kie menjadi heran, tertarik rasa ingin tahunya.
“Apakah kalian semua terluka oleh si pemilik bunga emas?” ia tanya.
“Benar,“ jawab si gemuk yang terus berpaling kepada Kan Ciat untuk bertanya, “Saudara Kan, apakah kau telah bertemu dengan Ouw-sinshe?”
Kan Ciat menggelengkan kepala, “Saudara Nio, mukamu lebih terang. Mungkin kau dapat mengundang Ouw-sinshe,” katanya
“Siapakah si pemilik bunga emas itu?” tanya Bu Kie menyela. “Kenapa dia begitu galak?”
“Saudara kecil,” kata orang yang dipanggii saudara Nio oleh Kan Ciat tanpa dia menjawab pertanyaan si anak tanggung. “Tolong kau menyampaikan kepada Ouw-sinshe bahwa aku si orang she Nio dari Toko Emas Goan Sang di Bu-hu datang dari tempat yang jauh untuk mohon berobat.”
Si orang yang muntah darah segar, yang tiba duluan, menduga biar pun Bu Kie muda sekali tetapi bukan sembarang orang. Maka dia bertanya,
“Saudara kecil, kau she apa? Apa hubunganmu dengan Ouw-sinshe?”
“Aku juga pasien dari Ouw-sinshe,“ Bu Kie menyahut. “Sudah dua tahun lebih Ouw-sinshe mengobatiku tetapi aku masih belum sembuh betul. Ouw-sinshe bilang bahwa dia tidak dapat mengobati, maka itu sudah pasti dia tidak bakal mengobati. Karena itu tak ada gunanya kalau kalian berdiam lama-lama di sini.”
Selagi mereka bicara, dengan beruntun datang lagi empat orang. Ada yang menunggang kuda, ada yang naik kereta. Mereka ini juga datang untuk minta tolong diobati dan mereka memintanya dengan sangat.
“Pheng Hwesio! Kau telah membinasakan Sute-ku. Mari kita mengadu jiwa!”
“Lututnya sudah kena Sia-wie-kauw (Gaetan ekor kalajengking, sejenis senjata rahasia)!” teriak si tosu Kun-lun. “Tidak lama lagi dia akan mampus keracunan!”
Dan benar saja, langkah Pheng Hwesio kelihatan limbung dan perlawanannya terhadap si pendeta Siauw-lim sudah kalut.
“Celaka!” bisik Siang Gie Cun. “Ia adalah guru Ciu-toako. Bagaimana aku harus menolong dia?”
Bu Kie tahu bahwa si brewok adalah manusia yang tidak bisa menonton kawannya celaka sambil berpeluk tangan. Walau pun dirinya sendiri terluka berat, dia masih mau menolong orang. Andai kata dia sampai nekat menerjang keluar, hanya akan mengantarkan jiwa cuma-cuma. Mendadak Bu Kie teringat sesuatu dia lantas berkata,
“Siang-toako, kau ingin menolong Pheng Hwesio bukan?”
“Tidak bisa tidak ditolong!” jawabnya. “Dia kena senjata beracun, aku sendiri... aku sendiri...”
“Aku punya suatu daya untuk memulihkan tenagamu,” memutus si bocah. “Kau akan dapat bertahan selama setengah jam, namun demikian kau akan merusak tenaga dalammu.”
Setelah mendengar keterangan si bocah mengenai ilmu silat dari berbagai partai, Gie Cun percaya bahwa anak yang sangat pintar ini adalah murid istimewa dari Thio Sam Hong, maka dia tidak menyangsikan omongan itu.
“Untuk menolong jiwa manusia, aku rela merusak tenaga dalamku sendiri.”
“Ambillah dua butir batu yang tajam,” bisik Bu Kie.
Gie Cun segera melakukan apa yang diminta Bu Kie. “Apakah ini boleh?” tanyanya sambil mengangsurkan kedua batu itu.
“Boleh,” jawab si bocah sambil mengangguk. “Dengan bagian batu yang tajam, totoklah samping pahamu tepat di bawah pinggang.”
“Di sini?” tanya Gie Cun sambil menunjuk samping pahanya.
“Lebih bawah sedikit,” kata si bocah. “Ya! Betul di situ. Ke sebelah sedikit, setengah coan. Bagus! Nah, sekarang totoklah.”
Si brewok lantas menotok paha kanannya dengan batu itu dan hampir berbareng, dia merasa pahanya kesemutan.
“Inilah ilmu yang dinamakan Tie-sin Tah-hiat-hoat (ilmu menotok jalan darah untuk mempertinggi semangat),” menerangkan Bu Kie. “Totoklah paha kirimu.”
Si brewok agak sangsi. Walau pun belum pernah belajar tapi dia tahu bahwa di rimba persilatan terdapat ilmu Tiam-hiat yang bisa melumpuhkan anggota badan manusia. Meski pun teringat akan hal itu namun dia tetap percaya omongan Bu Kie karena menurut anggapannya, sebagai sebuah partai persilatan yang namanya menggetarkan dunia, Bu-tong-pay tentu mempunyai cara-cara lain dari pada yang lain. Demikianlah, dia segera menotok lagi paha kirinya. Tetapi di luar dugaan, begitu paha kirinya tertotok, separuh badannya mulai dari pinggang ke bawah tidak dapat digerakkan lagi. Sementara itu, sesudah melompat beberapa tombak jauhnya Pheng Hwesio roboh.
“Saudara Thio!” kata si brewok dengan bingung. “Kenapa... badanku rasanya seperti mati separuh?”
Bu Kie tertawa geli dalam hati karena Siang Gie Cun sudah tertipu, tetapi dia pura-pura kaget dan mengeluarkan seruan tertahan:
“Celaka! Kau tidak mengerti Tiam-hiat, mungkin sekali kau salah dalam menggunakan tenaga. Tunggulah sebentar.”
Siang Gie Cun bukan orang tolol. Di lain saat dia mengerti bahwa dia telah terjebak oleh muslihat si bocah nakal. Akan tetapi dia pun mengerti bahwa dengan berbuat demikian Bu Kie bermaksud baik. Dia tidak dapat berbuat lain dari pada menghela napas dengan perasaan dongkol tercampur geli. Pheng Hwesio menggeletak di tanah tanpa bengerak, se-olah dia telah menghembuskan napasnya yang penghabisan. Akan tetapi biar pun begitu, musuh-musuhnya masih belum berani mendekati.
“Kouw-sute, cobalah kau timpuk lagi dengan dua buah golok terbangmu untuk mencoba-coba,” kata si tosu Kun-lun-pay. Tojin yang dipanggil ‘Kouw-sute’ itu segera mengayunkan tangan kanannya dan dua Hui-to menyambar, yang satu menancap pada pundak kanan Pheng Hwesio, sedangkan yang lain mengenai paha kirinya. Tetapi pendeta jubah putih itu tetap tidak bergerak, suatu bukti bahwa dia benar-benar sudah binasa.
“Sayang! Sayang dia sudah mati,” kata si tosu Kun-lun. “Sekarang sukar diselidiki di mana menyembunyikan Pek Kwie Siu.”
Semua orang lalu mendekati ‘mayat’ Pheng Hwesio. Mendadak, mendadak saja terdengar suara.
“Plak! Plak! Plak! Plak! Plak!“ lima kali beruntun, dan lima orang roboh terguling! Hampir berbareng, dengan semangat bergelora Pheng Hwesio bangun berdiri dengan pundak dan paha masih tertancap golok.
Ternyata setelah kena senjata beracun dan yakin bahwa jiwanya tidak akan dapat ditolong, Pheng Hwesio lalu berpura-pura mati. Namun begitu lawan-lawannya mendekat, dia segera menghantam lima orang musuh lelaki dengan pukulan Ngo-heng-ciang. Ia sengaja mengampuni dua orang lawan wanita, yaitu Kie Siauw Hu dan Suci-nya yang bernama Teng Bin Kun. Dalam kagetnya kedua murid Go-bi-pay itu cepat-cepat meloncat mundur. Mereka melihat bahwa kelima kawannya muntahkan darah dan dua di antaranya yang Iweekang-nya agak lemah, sudah jatuh berlutut. Sesudah mengeluarkan banyak tenaga, tubuh Pheng Hwesio pun bergoyang-goyang.
“Teng-kouwnio, Kie-kouwnio!” teriak si tosu Kun-lun. “Tikamlah bangsat gundul itu!”
Di antara sembilan orang yang tadi bertempur, seorang pendeta Siauw-lim sudah binasa, kan Pheng Hwesio dan lima lawannya luka berat sehingga hanya Teng Bin Kun dan Kie Siauw Hu yang tidak kurang suatu apapun. Mendengar teriakan si tosu Kun-lun, Teng Bin Kun segera mengangkat pedang kemudian menyabet kaki si pendeta. Pheng Hwesio mengeluh.
“Karena merasa kasihan terhadap perempuan, aku tidak berlalu kejam kepada kalian, tidak dinyana rasa kasihanku berbalik mencelakakan diriku sendiri,” katanya dalam hati. Ia pejamkan kedua matanya untuk menunggu kebinasaan.
“Trangg...!” tiba-tiba terdengar suara benturan senjata.
Pheng Hwesio membuka mata dan mendapat kenyataan bahwa yang menolongnya Kie Siauw Hu.
“Ehh, mengapa kau begitu?” tanya Teng Bin Kun dengan kaget.
Nona Kie tertawa. “Suci,” katanya. “Pheng Hwesio tidak berlaku kejam kepada kita, maka kita pun tidak boleh membunuh dia.”
“Aku pun bukan mau mengambil jiwanya,” kata Teng Bin Kun. “Aku hanya ingin memaksa supaya dia memberi-tahu tempat sembunyinya Pek Kwie Siu.”
“Dia telah keracunan hebat, paling dulu kita harus memunahkan racun itu,” kata Kie Siauw Hu seraya mendekati si tosu Kun-lun dan berkata, “Saudara See-leng, harap berikan obat pemunah Sie-wie-kauw kepadaku.”
To-ho (nama sebagai orang pertapaan) dari tojin itu adalah See-leng-cu, sedangkan tojin yang melepaskan golok terbang bernama See-ciat-cu dan mereka kedua-duanya adalah adik sepenguruan See-hoa-cu.
“Belenggu dulu,” kata See-leng-cu. “Hwesio ltu banyak akal bulusnya...“ Ia bicara dengan napas tersengal-sengal karena pukulan Ngo-heng-ciang membuatnya luka berat.
Kie Siauw Hu mengangguk dan setelah mengambil seutas tambang, dia lalu menghampiri Pheng Hwesio.
“Pheng-taysu,” katanya dengan suara lemah lembut, “aku mohon maaf atas kekurangan ajaranku.”
Karena sudah tidak ada jalan lain, mau tidak mau si pendeta membiarkan kaki tangarnya dibelenggu. Sesudah itu barulah See-leng-cu mengeluarkan obat yang lantas diserahkan kepada nona Kie dengan memberi-tahu cara-cara menggunakannya. Siauw Hu lalu mencabut dua Hui-to yang menancap di pundak dan paha Pheng Hwesio, kemudian menaruh obat di lubang-lubang luka itu.
“Pheng Hwesio!” bentak Teng Bin Kun. “Sumoay-ku berhati murah dan sudah menolong jiwamu. Sekarang beri-tahukanlah di mana adanya Pek Kwie Siu.”
Pheng Hwesio tertawa terbahak-bahak. “Teng-kouwnio,” katanya. “Dengan berkata begitu kau memandang aku terlalu rendah. Thio Ngo-hiap dari Bu-tong-pay lebih suka bunuh diri dari pada memberi-tahu tempat tinggal saudara angkatnya. Pribudi Thio Ngo-hiap yang luhur itu sungguh dikagumi Pheng Eng Giok. Karena itu biar pun aku bukan seorang ternama, aku ingin mengikuti perbuatan Thio Ngo-hiap.”
Mendengar itu bukan main rasa bangganya Bu Kie. Kematian Cui San amat disayangkan oleh orang-orang rimba persilatan dan mereka menganggap bahwa kebinasaan Thio Ngo-hiap adalah karena menikah dengan wanita ‘siluman’ dari partai yang sesat. Sebagai anak yang sangat cerdas Bu Kie tahu bahwa dalam omong-omong antara kakek guru dan para pamannya, mereka sangat berduka akan kematian ayahnya, tetapi dongkol terhadap mendiang ibunya. Tapi dari semua pembicaraan yang pernah didengarnya, belum pernah ada seorang pun yang mengutarakan rasa hormat begitu besar terhadap ayahnya seperti pengutaraan Pheng Hwesio.
Teng Bin Kun tertawa dingin. “Dengan menikahi perempuan siluman, Thio Cui San seperti buta matanya,” katanya. “Dia sendiri pula yang rela menjadi seorang hina dina. Apa orang semacam itu pantas dibuat contoh? Bu-tong-pay...”
“Suci!” memutus Kie Siauw Hu.
“Jangan kuatir,” kata sang kakak sepenguruan “Aku takkan menyeret nama In Liok-hiap,” Ia mengibas pedangnya yang lalu ditudingkan ke mata kanan si pendeta. “Kalau kau tidak mau bicara, lebih dulu kutusuk mata kananmu.“ Ia mengancam dengan nada bengis. “Lalu kutikam mata kirimu. Sesudah itu kusodok kuping kanan dan kuping kirimu dan akhirnya kupapas hidungmu. Tetapi kau tidak usah kuatir. Biar bagaimana pun juga aku tidak akan mengambil jiwamu.“ Ujung pedang yang berkilauan dan menggetar tak hentinya itu hanya terpisah setengah dim dari mata kanan Pheng Hwesio.
Akan tetapi Pheng Hwesio sedikit pun tak menjadi gentar. Dengan mata tidak berkedip dia berkata,
“Sudah lama kudengar bahwa Biat-coat Suthay dari Go-bi-pay adalah seorang kejam. Sekarang aku mendapat kenyataan bahwa si murid tidak banyak beda dengan sang guru. Hari ini Pheng Eng Giok telah jatuh ke tanganmu dan kau boleh berbuat sesukamu.”
“Bangsat gundul!” teriak Teng Bin Kun. “Kau berani menghina guruku?”
Dengan sekali mendorong pedangnya, mata kanan Pheng Hwesio menjadi buta. Kemudian dia menempelkan ujung pedang di kelopak mata kiri si pendeta. Namun pendeta itu malah tertawa terbahak-bahak, sedangkan mata kirinya yang terbuka lebar menatap muka musuhnya. Ditatap dengan sinar mata yang berkeredepan seperti itu, jantung Teng Bin Kun memukul keras.
“Kepala gundul!” bentaknya lagi. “Aku sungguh tidak mengerti akan sikapmu. Kau bukan anggota Peh-bie-kauw, tetapi mengapa kau rela membuang jiwamu untuk manusia seperti Pek Kwie Siu?”
“Walau pun aku menerangkan tentang seorang ksatria, kau tentu tak akan mengerti,“ jawabnya dengan suara duka.
Melihat paras muka si pendeta yang seakan memandang rendah kepadanya, Teng Bin Kun meluap darahnya dan sekali lagi dia menggerakkan pedang untuk menusuk mata kiri Pheng Hwesio.
Dengan cepat Kie Siauw Hu menangkis dengan senjatanya. “Suci. Dia keras kepala sekali dan biar bagaimana pun dia takkan buka mulut,” katanya. “Meski pun dibinasakan tiada gunanya.”
“Dia mencaci Suhu sebagai seorang kejam, maka biarlah dia menyaksikan kekejamanku,“ kata Teng Bin Kun. “Siluman Mo-kauw macam dia hanya dapat mencelakakan manusia baik-baik. Karena itu, jikalau kita menyingkirkannya dari muka bumi ini berarti kita berbuat baik terhadap sesama manusia,”
“Tapi tidak bisa disangkal bahwa dia seorang gagah yang tidak takut mati,” Siauw Hu mencoba membujuk lagi. “Suci, menurut pendapatku, sebaiknya kita memberi ampun.”
“Tidak bisa!” bentak sang kakak sepenguruan. “Dua Suheng dari Siauw-lim-pay yang satu binasa, satu terluka. Sedangkan dua Totiang dari Kun-lun-pay luka berat, dan dua saudara dari Hay-see-pay terluka lebih hebat lagi. Apa tangannya tidak cukup kejam? Sekarang biar aku menusuk mata kirinya. Sesudah itu barulah kita tanyakan lagi tempat sembunyi Pek Kwie Siu.”
Sehabis berkata demikian, bagaikan kilat pedangnya menyambar mata kiri Pheng Hwesio. Tapi sekali lagi Kie Siauw Hu menangkis pedang Suci-nya.
“Suci,” katanya dengan suara memohon. “Dia sudah tidak bisa melawan lagi dan jika kita menganiaya dia, aku kuatir partai kita mendapat nama jelek di rimba persilatan.”
Teng Bin Kun mendelik. “Minggir! Jangan pedulikan aku!” bentaknya.
Kie Siauw Hu kelihatan bingung dan berkata lagi, “Suci...“
“Jangan rewel!” Bin Kun langsung memotong. “Kalau kau menganggap aku sebagai kakak seperguruan, kau harus mendengar omonganku.”‘
“Baiklah,” kata nona Kie.
Sekali lagi pedang Teng Bin Kun berkelebat menyambar mata kiri Pheng Hwesio. Kali ini dia menggunakan tiga bagian tenaga Iweekang. Nona Kie juga turut mengerahkan tenaga dalam.
“Trangg...!”
Kedua senjata bentrok dan kedua saudari sepenguruan terhuyung beberapa tindak. Teng Bin Kun marah besar.
“Sumoay!” bentaknya. “Beberapa kali dengan mati-matian kau melindungi pendeta siluman ini. Apa maksudmu sebenarnya?”
Kie Siauw Hu tertawa. “Aku hanya minta supaya Suci jangan menganiayanya,“ jawabnya dengan sabar, “Jika kita ingin menyelidiki di mana tempat sembunyinya Pek Kwie Siu, kita hanya bisa menanyakan nanti secara perlahan-lahan.”
Teng Bin Kun tertawa dingin. “Huh! Apa kau kira aku tak tahu jalan pikiranmu?” tanyanya dengan nada mengejek. “Berapa kali In Liok-hiap dari Bu-tong-pay mendesak supaya kau menikah dengannya. Kenapa kau selalu menolak dengan berbagai alasan? Waktu ayahmu turut mendesak, mengapa kau malah kabur dari rumahmu?”
“Suci, itu adalah urusan sumoay pribadi,” kata nona Kie. “Mengapa Suci jadi menyebut hal itu?”
Sang kakak mengeluarkan suara di hidung. “Kita sama tahu,“ katanya. “Di hadapan orang luar, memang kurang baik jika aku membuka topengmu. Huh! Badanmu berada di Go-bi, tapi hatimu di Mo-kauw!”
Mendengar perkataan itu, Siauw Hu marah tak kepalang sehingga paras mukanya berubah pucat.
“Aku selalu menghormatimu sebagai seorang kakak dan belum pernah aku berbuat kesalahan padamu,” katanya dengan suara gemetar. “Tapi mengapa hari ini kau menghinaku demikian hebat?”
“Jika hatimu benar-benar tidak condong kepada Mo-kauw, coba tusuklah mata kiri pendeta siluman ini,“ kata Teng Bin Kun.
“Suci,” nona Kie berkata dengan suara duka. “Sebagaimana kau tahu, sejak jaman Siauw-ong-sia Kwee Sucouw (Kwee Siang), di dalam partai kita terdapat banyak sekali wanita yang tidak mau menikah seumur hidupnya. Karena mengagumi kemuliaan mendiang guru besar kita, siauw-moay pun telah mengambil keputusan untuk tidak menikah. Siauw-moay menganggap hal itu lumrah saja. Mengapa Suci mendesak begitu hebat?”
“Sudah! Aku tidak suka mendengar segala omonganmu!” bentak Bin Kun. “Jika kau tidak mau menikam mata pendeta siluman ini, aku akan mencopoti topengmu.”
Mendengar ancaman itu, Siauw Hu kelihatannya tak berani berkeras lagi. “Suci,” katanya dengan suara halus, “aku memohon kepadamu, Suci, dengan mengingat kasih sayang sesama saudara seperguruan, janganlah kau mendesak aku terlalu hebat.”
Wanita she Teng itu tertawa. “Aku bukan memaksa engkau mengerjakan pekerjaan yang sulit,” katanya, “Sebagaimana kau tahu, Suhu telah memerintahkan kita menyelidiki tempat persembunyian Kim-mo Say-ong Cie Sun. Pendeta ini adalah satu-satunya yang bisa memberi keterangan kepada kita, tapi dia bukan saja sungkan membantu kita, malah melukai kawan-kawan. Jika aku menikam mata kanannya dan kau menikam mata kirinya, bukankah merupakan suatu hal yang sangat wajar? Mengapa kau merasa segan tidak mau turun tangan?”
“Hati siauw-moay lembek, tidak bisa turun tangan,” jawabnya.
“Apa? Hatimu lembek?” sindir Teng Bin Kun. “Suhu sering memuji kau sebagai murid yang ilmu pedangnya hebat dan adatnya keras. Menyerupai adat Suhu sehingga beliau punya niat untuk mengangkat kau sebagai ahli warisnya. Mana boleh hatimu lembek?”
Apa bila dua saudara bertengkar, maka hal itu akan sangat membingungkan orang-orang yang mendengarnya karena mereka tidak mengetahui sebab musabab yang sebenarnya dari percekcokan antara keduanya. Setelah mendengar perkataan Teng Bin Kun yang paling belakangan, barulah mereka bisa meraba-raba. Rupanya Ciang-bun-jin Go-bi-pay Biat-coat Suthay sangat menyayangi Kie Siauw Hu dan berniat mengangkat murid ini menjadi ahli warisnya. Kelihatannya hal ini sudah menimbulkan rasa iri di hati Teng Bin Kun yang entah sudah memegang rahasia apa dari adik sepenguruannya dan sekarang ingin menghilangkan muka nona Kie di hadapan orang banyak.
Bu Kie yang menyaksikan kejadian itu dari tempat sembunyinya, merasa gusar sekali. Dia ingat perlakuan nona Kie yang sangat baik terhadapnya pada hari itu, pada hari kedua orang tuanya bunuh diri. Dia gusar dan berduka sekali. Kalau bisa dia ingin sekali menerjang keluar dan menggaplok muka si wanita she Teng yang tidak kenal kasihan.
“Kie-sumoay, aku ingin mengajukan Iagi satu pertanyaan,” kata Teng Bin Kun. “Tiga tahun berselang, Suhu telah mengumpulkan semua murid di puncak Kim-teng, di puncak gunung Go-bi-san dengan maksud akan mengajarkan ilmu pedang Bit-kiam dan Coat-kiam kepada semua saudara sepenguruan kita. Coba kau jawab. Kenapa kau tidak hadir dalam pertemuan besar itu? Mengapa beliau menjadi begitu marah sehingga beliau mematahkan pedangnya sendiri lantas mengatakan bahwa dunia tidak akan mengenal lagi kedua ilmu pedang itu?”
“Ketika itu siauw-moay tiba-tiba sakit berat di Lam-ciu sehingga tidak bisa bangun,” jawabnya. “Hal ini siauw-moay sudah memberi-tahu kepada Suhu. Mengapa Suci menanyakan pedang itu?”
Teng Bin Kun tertawa dingin. “Hmm!” ia mengeluarkan suara di hidung. “Mungkin kau bisa memperdayai Suhu, tetapi tidak bisa mengelabui aku. Aku masih ingin mengajukan sebuah pertanyaan. Tetapi jika kau menikam mata si kepala gundul, pertanyaan itu tidak diajukan olehku.”
Kie Siauw Hu menundukkan kepala. Ia berduka bukan main. “Suci,” katanya dengan suara perlahan, “apakah kau tidak ingat Iagi kecintaan antara sesama saudara sepenguruan?”
“Kau mau tikam atau tidak?” tanya sang kakak dengan bengis
“Suci, kau tidak usah kuatir,” kata nona Kie dangan suara memohon. “Andai kata aku mau dijadikan ahli waris oleh Suhu, aku akan menolak.”
“Bagus!” bentak Teng Bin Kun dengan marah. “Dengan berkata demikian kau seperti mau mengatakan bahwa aku menerima budimu yang besar. Coba kau unjukkan. Di bagian mana yang aku kalah dari kau? Aku tak perlu menerima budimu! Tak perlu kau mengalah! Ehh! Sekarang katakan, kau mau tikam atau tidak?”
“Jika Siauw-moay bersalah, Suci boleh menegur atau menjatuhkan hukuman dan Siauw-moay akan menerima dengan segala senang hati,” kata Siauw Hu. “Di sini ada sahabat dari lain partai sehingga kumohon Suci jangan mendesak terlalu...“ berkata sampai di situ dia tidak dapat meneruskan perkataannya karena air matanya sudah mulai mengucur.
Teng Bin Kun tertawa dingin. “Huh! Tak usah kau berlagak sedih sementara di hati kau mencaci aku,” ejeknya. “Tiga tahun yang lalu, apakah kau betul-betul mendapat sakit di Lam ciu? Perkataan ‘dapat’ memang tak salah, tapi bukan mendapat sakit, hanya mendapat anak!”
Mendengar ucapan sehebat itu, Kie Siauw Hu mengeluarkan seruan yang menyayat hati. Ia memutar badan kemudian kabur sekeras-kerasnya. Tapi Teng Bin Kun juga sudah menduga lebih dulu, maka dia lantas menguber dan mencegatnya.
“Sumoay, lebih baik kau tikam mata kiri pendeta siluman itu,” katanya sambil mengibas pedang. “Kalau kau tetap membantah, aku akan bertanya siapa ayah anak itu dan aku akan bertanya, mengapa sebagai murid sebuah partai yang lurus bersih, engkau melindungi seorang pendeta siluman dari agama Mo-kauw mati-matian”
“Kau... kau... minggir!” bentak nona Kie dengan napas tersengal-sengal.
Sambil menudingkan pedang pada dada adik seperguruannya, Teng Bin Kun membentak,
“Jawab pertanyaanku: Di mana kau titipkan bayimu? Kau adalah tunangan In Lie heng, In Liok-hiap, tetapi mengapa kau melahirkan anak?”
Kata-kata itu mengejutkan semua orang. Bahkan Bu Kie yang masih kecil juga merasa bahwa Kie Siauw Hu telah dituduh melakukan perbuatan hebat yang menyinggung kehormatan In Lie Heng. Paras muka nona Kie berubah pucat bagaikan kertas dan dia pun menerjang untuk mencoba meloloskan diri. Tapi di luar dugaannya Teng Bin Kun membuktikan ancamannya. Dengan sekali menyodok pedangnya amblas di lengan Siauw Hu hingga ujung pedang mengenai tulang. Sambil menahan sakit nona Kie terpaksa menghunus senjatanya dengan tangan kiri.
“Suci,” katanya dengan suara parau, “jika kau mendesak terus, terpaksa aku akan berlaku kurang ajar.”
Teng Bin Kun merasa bahwa sesudah membuka rahasia si adik sepenguruan, tentu Kie Siauw Hu akan berusaha membinasakannya guna menutup mulut. Karena itu, dengan mengetahui bahwa bekal ilmu silatnya masih kalah dari Siauw Hu, dia segera mengambil keputusan untuk turun tangan lebih dulu. Sesudah menikam lengan si adik dalam serangan susulan, ia menusuk perut Siauw Hu. Melihat Suci-nya menyerang lagi dengan pukulan yang membinasakan, sambil menahan sakit nona Kie menangkis dengan pedang yang dipegang tangan kirinya. Di lain saat mereka bertempur seru dengan gerakan-gerakan yang luar biasa cepat.
Semua orang yang ada di situ adalah ahli-ahli silat berkepandaian tinggi. Akan tetapi karena semuanya telah mendapat luka berat, mereka tak berdaya untuk memisahkannya. Mereka merasa kagum akan lihaynya ilmu pedang Go-bi-pay, yang dikenal sebagai salah satu dari empat partai besar di rimba persilatan. Kie Siauw Hu bertempur dengan lengan kanan yang terus mengucurkan darah. Beberapa kali Kie Siauw Hu menerjang dengan pukulan hebat dalam usaha untuk memaksa Suci-nya mundur agar dia bisa melarikan diri, tetapi usahanya selalu gagal. Dia gagal karena tidak biasa menggunakan pedang dengan tangan kiri, juga karena tenaganya berkurang sesudah tangannya mengeluarkan banyak darah.
Untung juga Teng Bin Kun selamanya merasa jeri terhadap adik seperguruannya sehingga dia tidak berani terlalu mendesak. Dia berkelahi dengan hati-hati sekali sambil menunggu lelahnya Siauw Hu. Memang semakin lama tindakan nona Kie kelihatan semakin limbung dan gerakan-gerakannya semakin lambat. Setelah lewat beberapa jurus lagi, lengan kanan Siauw Hu kembali tertikam dan darah pun mengucur semakin deras.
“Kie-kouwnio!” tiba-tiba Pheng Eng Giok berteriak. “Tikamlah mataku! Kie-kouwnio, budimu yang sangat besar tak akan dapat dibalas oleb Pheng Eng Giok!”
Memang benar rasa terima kasih Pheng Hwesio tak dapat dilukiskan lagi. Bahwa dengan menempuh bahaya Siauw Hu melawan Suci-nya untuk melindungi seorang musuh, merupakan suatu perbuatan yang sukar dilakukan. Apa lagi dalam usaha untuk melindungi musuh ini ia telah dicaci dengan kata-kata yang menodai nama baik seorang wanita, nama baik yang dipandang lebih penting dari pada jiwa. Akan tetapi jika sekarang Siauw Hu menurut perintah dan menusuk mata Pheng Hweshio, Teng Bin Kun juga tak akan memberi ampun. Kakak seperguruannya mengerti bahwa kalau sekarang dia tidak membinasakan si adik maka dia seperti menanam bibit penyakit di kemudikan hari. Teng Bin Kun menyerang Siauw Hu. Pheng Hwesio yang melihat itu lalu berteriak,
“Teng Bin Kun, kau sungguh manusia tak kenai malu! Tidak heran jika orang Kangouw memberi gelar Tok-chiu Bu-yam kepadamu. Sekarang aku menyaksikan dengan mataku sendiri bahwa hatimu benar-benar jahat seperti ular dan kalajengking. Huh! Mukamu jelek seperti muka Bu-yam! Jika semua wanita seperti kau, semua laki-laki di dunia ini tentu buru-buru mencukur rambut!”
Meski pun tidak bisa disebut cantik, sebenarnya Teng Bin Kun bukan seorang wanita yang jelek. Pheng Hwesio memang sengaja mencaci begitu dan memberi gelaran ‘Tok-chiu Bu-yam’ kepadanya untuk menolong Kie Siauw Hu. Ia tahu bahwa seorang wanita bisa mata gelap apa bila disinggung kejelekan mukanya. Ia berharap supaya dalam marahnya Teng Bin Kun membunuh ia sendiri sehingga Kie Siauw Hu bisa memperoleh kesempatan melarikan diri. Tetapi wanita she Teng itu ternyata bukan manusia tolol. Ia berpendapat bahwa sesudah membinasakan adiknya, ia masih punya banyak waktu untuk mengambil jiwa pendeta itu. Maka ia terus menyerang dengan hebat tanpa meladeni cacian orang.
“Di dunia Kangouw, siapakah yang tidak tahu kesucian Kie Lihiap?” teriak pula Pheng Hwesio. “Teng Bin Kun, sekarang aku hendak membuka rahasiamu. Kau manusia muka jelek, sebenarnya kaulah yang menginginkan In Lie Heng! Tetapi karena In Liok-hiap tidak meladeni maka kau memfitnah Kie Lihiap. Ha-ha-ha….! Tulang pipimu begitu tinggi! Mulutmu sebesar panci! Kulitmu kering dan kuning, sedang badanmu kurus jangkung seperti galah jemuran! Ha-ha-ha….! In Liok-hiap yang begitu tampan mana mau mengambil kau sebagai isteri? Sebenarnya kau harus lebih sering berkaca ...”
Sungguh pun pintar akhirnya Teng Bin Kun kalap juga. Mendengar sampai di situ, ia tidak dapat mempertahankan ketenangannya lagi. Ia melompat sambil mengayun pedang yang diturunkan ke mulut Pheng Hwesio. Memang benar tulang pipi nona Teng agak tinggi, mulutnya terlampau besar, kulitnya agak hitam sedang badannya agak jangkung. Tetapi kekurangan-kekurangan yang tidak banyak itu tidak terlihat nyata jika tidak diperhatikan. Akan tetapi Pheng Hwesio yang bermata tajam bisa melihat itu semua dan dia lalu mengejek secara berlebih-lebihan. Apa yang membuat Teng Bin Kun kalap ialah disebutnya nama In Lie Heng yang belum pernah dikenal olehnya. Mendadak dari dalam hutan berkelebat bayangan yang sambil membentak keras, menghadang di depan Pheng Hwesio sehingga pedang Teng Bin Kun yang sedang menyambar menancap tepat di lehernya. Hampir berbareng tangan orang itu menghantam dan...
“Bukk!”
Pukulan itu mengenai dada Teng Bin Kun yang lantas terhuyung beberapa tindak dan mulutnya muntahkan darah. Pedang yang dilepaskan oleh nona Teng tetap menancap di leher orang itu yang rupanya sudah tidak bisa hidup lebih lama lagi. See-leng-cu maju dua tindak dan mengawasi orang itu.
“Pek Kwie Siu!” teriaknya.
Orang itu memang Pek Kwie Siu, Tancu dari Hian-bu-tan. Sesudah terluka berat dia mendapat tahu bahwa untuk melindungi dirinya, Pheng Hwesio telah dikepung oleh orang-orang Siauw-lim, Kun-lun, Go-bi dan Hay-see-pay. Karena itu dengan sekuat tenaga ia datang ke tempat pertempuran dan menggantikan Hwesio itu untuk menerima tikaman Teng Bin Kun. Tetapi pukulannya yang terakhir masih hebat luar biasa sehingga beberapa tulang rusuk Teng Bin Kun menjadi patah. Setelah menenteramkan hatinya, Kie Siauw Hu merobek tangan bajunya untuk membalut luka di lengannya, lalu dengan pedangnya dia memutuskan tambang yang membelenggu kaki tangan Pheng Hwesio. Sesudah itu, tanpa mengeluarkan sepatah kata, dia memutar badan dan berjalan pergi.
KIAN-SIE PUT-KIU (MELIHAT KEBINASAAN TETAP TIDAK MENOLONG)
“Kie-kouwnio, tahan!” seru si pendeta, “Terimalah hormat Pheng Hwesio.”
Buru-buru Kie Siauw Hu melompat ke samping untuk menolak pemberian hormat pendeta itu yang berlutut di tanah. Begitu bangun berdiri si pendeta segera menjemput pedang See-leng-cu lantas berkata,
“Manusia yang sudah merusak nama baik Kie-kouwnio tidak boleh dibiarkan hidup.”
Seraya berkata begitu dia mengayun pedang dan menikam tenggorokan Teng Bin Kun. Bagaikan kilat nona Kie cepat menangkis pedang itu.
“Dia adalah kakak seperguruanku,” katanya. “Biar pun dia tidak mencintaiku, aku sendiri tak bisa tidak mengenal pribudi.”
“Kalau sekarang tidak dibunuh, di belakang hari dia bisa menyebabkan munculnya banyak kesukaran bagi Kie-kouwnio,” kata si pendeta.
Air mata Siauw Hu lantas saja mengucur. “Aku seorang wanita yang bernasib paling buruk di dunia ini,” katanya dengan suara sedih. “Biarlah... biarlah aku serahkan saja segalanya kepada nasib. Pheng Suhu, jangan kau melukai Suci-ku!”
“Perintah Kie Lihiap tidak akan dilanggar olehku,” kata Pheng Hwesio sambil membungkukkan tubuh.
“Suci, kuharap kau dapat menjaga diri baik-baik,” kata Kie Siauw Hu dengan suara perlahan. Kemudian, sesudah memasukkan pedangnya ke dalam sarung, dia segera berlalu tanpa menengok lagi.
Setelah nona Kie pergi jauh, Pheng Hwesio segera berkata kepada See-leng-cu dan yang lain-lain,
“Aku she Pheng sebenarnya tidak mempunyai permusuhan apa pun dengan kalian. Tetapi fitnah hebat yang dilontarkan si perempuan she Teng telah didengar oleh kalian semua. Kalau cerita ini sampai tersiar di luaran, bagaimana Kie-kouwnio bisa berdiri terus di atas bumi ini? Maka itu aku tak bisa membiarkan kalian hidup. Hal ini terjadi lantaran terpaksa, maka aku harap kalian jangan menyalahkan aku.”
Sehabis berkata begitu, dengan beruntun dia menikam See-leng-cu, See-ciat-cu, seorang pendeta Siauw-lim dan dua jago Hay-see-pay. Kemudian barulah ia menggores muka Teng Bin Kun dengan pedangnya sehingga wanita she Teng itu menjadi kalap tetapi tidak dapat berbuat banyak karena dia sudah terluka hebat.
“Bangsat gundul!” teriaknya. “Jangan kau menyiksa aku! Bunuhlah!”
Pheng Hwesio tertawa nyaring. “Aku tak berani membunuh perempuan jelek yang kulitnya kering dan mulutnya lebar,” ejeknya. “Jika kau mampus, aku kuatir begitu rohmu masuk di akhirat, berlaksa-laksa setan akan kabur ke dunia akibat ketakutan. Aku pun kuatir Giam-lo-ong akan berak-berak saking kagetnya!”
Sehabis berkata begitu ia tertawa nyaring lalu melemparkan pedang di tanah. Dan setelah memanggul mayat Pek Kwie Siu, dia menangis keras kemudian berlalu dengan tindakan cepat. Untuk beberapa lama Teng Bin Kun mengaso dengan napas tersengal-sengal. Kemudian dengan mempergunakan sarung pedang sebagai tongkat dia pun berlalu dengan tindakan limbung. Peristiwa yang hebat itu disaksikan semua oleh Siang Gie Cun dan Bu Kie. Sesudah Teng Bin Kun berlalu barulah mereka menarik napas lega.
“Siang-toako,” kata Bu Kie. “Kie-kouwnio itu adalah tunangan In Liok-siok. Perempuan she Teng tadi mengatakan ‘mendapat anak’. Siang-toako, bagaimana pendapatmu, apa benar atau tidak’?”
“Dia omong kosong, jangan dipercaya!” jawabnya.
“Benar!” kata Bu Kie. “Kalau bertemu In Liok-siok, aku akan memberi-tahu kekurang-ajaran perempuan she Teng itu supaya Liok-siok bisa menghajarnya.”
“Jangan...! Jangan!” cegah Gie Cun tergesa-gesa. “Hal itu sekali-kali tidak boleh kau beri-tahu kepada In Liok-siok. Kau mengerti?”
“Mengapa?” tanya si bocah.
“Omongan-omongan yang tidak sedap itu tak boleh diberi-tahu kepada siapa pun juga,” jawabnya. “Ingatlah. Kau tidak boleh bicara dengan siapa pun juga.”
Bu Kie mengangguk sambil menatap wajah Gie Cun. Beberapa saat kemudian ia berkata lagi,
“Siang-toako, apa kau kuatir tuduhan Teng Bin Kun adalah suatu kenyataan?”
Gie Cun menghela napas. “Tidak tahu,” jawabnya.
Pada keesokan paginya jalan darah Gie Cun yang tertotok terbuka dengan sendirinya. Dia segera mendukung Bu Kie, siap untuk meneruskan perjalanan. Sambil mengawasi mayat-mayat yang menggeletak di tanah, ia berkata dalam hati, “Sudah belasan tahun Cia Sun menghilang, gara-gara dia orang-orang rimba persilatan masih terus mengorbankan jiwa. Hai! Sampai kapan urusan ini menjadi beres?”
Setelah banyak mengaso maka sebagian tenaga Gie Cun pulih kembali. Rasa sakit dalam badannya sudah banyak berkurang dan dia dapat berjalan lebih cepat. Sesudah melalui beberapa li mereka bertemu jalan raya. Gie Cun agak terkejut.
“Ouw-supek diam di tempat yang sepi. tapi mengapa aku bertemu dengan jalan raya?” tanyanya dalam hati. “Apa kita kesasar?”
Baru saja dia mau mencari penduduk dusun untuk menanyakan, tiba-tiba terdengar suara tindakan kuda dan empat orang serdadu Mongol mengejar dari belakang.
“Lekas jalan! Lekas jalan!” teriak mereka sambil mengacung-acungkan senjata seolah-olah menggebah binatang.
“Tak dinyana aku mesti mati di tempat ini,” keluh Gie Cun.
Karena lukanya maka ilmu silatnya telah musnah semua. Sekarang dia malah tidak dapat melawan seorang serdadu Mongol biasa. Sebab itu sambil menahan amarah dia terpaksa berjalan terus. Tidak lama kemudian mereka bertemu dengan sejumlah penduduk yang juga digiring oleh serdadu-serdadu Mongol. Dalam hati mereka lantas muncul sedikit harapan. Ternyata bahwa serdadu-serdadu itu sedang memperlihatkan kekejamannya terhadap rakyat jelata dan bukan mereka yang hendak dijadikan bulan-bulanan. Melihat bahaya, Bu Kie segera berbisik,
“Siang-toako, lekas kau berlagak jatuh dan buang golokmu.”
Gie Cun tersadar. Sesudah berjalan beberapa tindak lagi, dia pura-pura terpeleset lantas menggulingkan diri di rumput sambil melepaskan golok yang disisipkan di pinggangnya. Setelah itu ia merangkak bangun dan berjalan lagi dengan napas tersengal-sengal. Selagi dia lewat di depan seorang perwira Mongol, seorang Han yang jadi juru bahasa berteriak,
“Bangsat! Kau sungguh tidak tahu adat. Lekas berlutut di hadapan Tayjin!”
Mengingat Ciu Cu Ong sekeluarga telah dibinasakan oleh tentara Mongol, darah Siang Gie Cun naik tinggi dan biar pun mesti mati, ia tak sudi menekuk lutut. Ia berjalan terus dengan berlagak tuli. Seorang serdadu Mongol mengejar dan menyapu kakinya sehingga ia jatuh terguling.
“She apa kau?!” bentak si juru bahasa.
Sebelum Gie Cun sempat memberi jawaban, Bu Kie sudah mendahului berkata, “She Cia, dia kakakku.”
Serdadu itu lalu menendang punggung Bu Kie seraya membentak, “Pergi!”
Tak kepalang marahnya Gie Cun. Sambil merangkak bangun dia bersumpah dalam hati bahwa selama ia masih hidup maka ia akan berusaha dengan segala tenaganya untuk mengusir bangsa Mongol dari Tiong-goan. Dalam keadaan tak berdaya buru-buru dia mendukung Bu Kie dan cepat-cepat berlalu. Baru berjalan beberapa puluh tombak, tiba-tiba mereka mendengar teriakan-teriakan yang menyayat hati. Mereka cepat menengok dan melihat puluhan rakyat sedang dibunuh tentara Mongol.
Sepanjang sejarah, selama penjajahan kerajaan Goan (Mongol) banyak rakyat yang mencoba memberontak. Maka belakangan ini seorang pembesar tinggi Mongol telah mengeluarkan perintah untuk membunuh orang-orang Han yang memakai she Thio, Ong, Lauw, Lie dan Tio. Semuanya lima she. Pada jaman itu orang she Thio, Ong, Lauw dan Lie yang paling banyak terdapat di Tiong-goan, sedang she Tio adalah she dari Kaisar-Kaisar Song. Maka itu, menurut jalan pikiran si pembesar Mongol, semangat bangsa Han akan runtuh jika orang-orang dari kelima she itu dibunuh. Untung saja perintah yang amat kejam itu cepat diketahui oleh Kaisar Mongol yang segera mengeluarkan larangannya. Tetapi sementara itu banyak juga orang Han yang sudah mati dibunuh.
Gie Cun tidak berani berdiam lebih lama lagi, dia lalu berjalan secepat-cepatnya. Sesudah melalui beberapa lie mereka bertemu dengan seorang penjual kayu bakar dan mereka lalu menanyakan di mana letaknya Ouw-tiap-kok. Orang itu menggelengkan kepala, tetapi Gie Cun segera mengetahui bahwa Supek-nya pasti berdiam di sekitar tempat itu.
Dengan sabar dia mencari-cari. Di sepanjang jalan mereka melihat ratusan macam bunga yang menghiasi daerah pegunungan itu. Tapi sesudah menyaksikan peristiwa yang memilukan, mereka tak punya kegembiraan Iagi untuk menikmati pemandangan alam yang sangat indah. Sesudah membelok di beberapa tikungan, di sebelah depan menghadang sebuah tembok gunung dan jalanan putus di situ. Selagi mereka kebingungan, tiba-tiba muncul beberapa ekor kupu-kupu yang terbang masuk ke sebuah gerombolan pohon-pohon kembang.
“Tempat ini dinamakan Ouw-tiap-kok, atau Selat Kupu-kupu,” kata Bu Kie. “Apa tidak baik kalau kita mengikuti kupu-kupu itu?”
“Baiklah,” kata Gie Cun yang lalu turut masuk ke gerombolan pohon itu.
Sesudah melewati gerombolan pohon bunga, mereka bertemu sebuah jalan kecil yang tertutup rumput hijau. Sesudah berjalan beberapa jauh lagi, jumlah kupu-kupu yang beterbangan di sekitar situ menjadi makin banyak. Hidung mereka mengendus harumnya bunga-bunga. Kembang-kembang yang tumbuh di sekitar situ sangat berbeda dengan apa yang terlihat di tempat lain. Makin jauh mereka maju, kupu-kupu semakin tidak takut kepada manusia. Mereka terbang mendekati seolah-olah menyambut kedatangan tamu-tamu dan hinggap di kepala, di pundak, di lengan Gie Cun dan Bu Kie. Gie Cun dan Bu Kie jadi bersemangat karena mereka tahu bahwa mereka sudah berada di selat Ouw-tiap-kok. Lewat tengah hari mereka melihat tujuh-delapan rumah gubuk di tepi sebuah selokan yang airnya jernih. Di depan, di belakang dan di kiri kanan setiap gubuk dikurung dengan kebun kembang yang terawat baik. Gie Cun berlari-lari ke depan gubuk-gubuk itu lantas berkata dengan suara menghormat,
“Teecu Siang Gie Cun ingin berjumpa dengan Ouw-supek.”
Selang beberapa saat, dari sebuah gubuk keluar seorang kacung yang langsung berkata,
“Masuklah.”
Sambil mendukung Bu Kie, Gie Cun segera bertindak masuk. Di satu sudut dari ruangan tengah kelihatan berdiri seorang laki-laki setengah tua yang berparas agung. Ternyata dia sedang menilik seorang kacung yang sedang memasak obat. Seluruh ruangan itu penuh dengan macam-macam daun obat yang aneh-aneh. Buru-buru Gie Cun menaruh Bu Kie di atas kursi lalu berlutut di hadapan orang itu,
“Ouw-supek, Gie Cun memberi hormat,” katanya.
Bu Kie mengawasi orang itu yang tentulah juga bukan lain dari pada Tiap-kok Ie-sian Ouw Ceng Gu. Tabib malaikat itu manggut-manggut dan berkata,
“Aku sudah tahu tentang urusan Ciu Cu Ong. Itu adalah nasib. Mungkin sekali rejeki Tat-cu masih belum berakhir dan agama kita belum sampai waktunya untuk bisa memperoleh kemakmuran.”
Setelah berkata demikian dia memegang nadi Gie Cun sambil membuka baju pemuda itu. Sambil mengawasi dada si brewok, ia pun berkata,
“Kau kena pukulan Ciat-sim-ciang dari Hoan-ceng. Pada hakekatnya, pukulan itu tidak sukar diobati. Tetapi sesudah terpukul kau menggunakan terlampau banyak tenaga sehingga hawa dingin menyerang jantungmu dan sebagai akibatnya, aku memerlukan lebih banyak waktu untuk menyembuhkannya.“ Sesudah memberi penjelasan, dia meraba-raba sekujur badan Gie Cun.
“Dengan siapa kau bertempur tadi malam?” tanya Ceng Gu tiba-tiba. “Dengan murid Bu-tong-pay?”
“Tidak,” jawabnya.
Sang paman segera meraba-raba kedua paha Si brewok. Tiba-tiba paras mukanya berubah lalu dia membentak,
“Gie Cun! Tujuh delapan tahun kita tak pernah bertemu muka. Sekali bertemu, kau mencoba memperdayai Supek-mu. Sudahlah! Aku tidak bisa mengobati lukamu. Pergilah!”
Gie Cun jadi bingung. “Ouw-supek,” katanya. “Mana berani aku mendustai kau? Memang sebenarnya sepanjang malam aku tak pernah bertempur dengan siapa pun jua. Tenagaku sudah habis semua. Andai kata aku ingin, aku pun tidak bisa berkelahi!”
“Omong kosong!” bentak sang paman guru “Sudah jelas Hoan-tiauw-hiat di kedua pahamu telah ditotok orang dan totokan itu dilakukan dengan menggunakan ilmu menotok dari Bu-tong-pay. Temponya adalah antara Cu-sie dan Tio-sie,” (Cu-sie antara jam 11 malam dan jam 1. Tio-sie antara jam 1 dan jam 3 pagi).
Tiba-tiba saja si brewok tertawa. “Ah! Kalau begitu yang dimaksudkan Supek adalah jalan darah yang ditotok olehku sendiri,” katanya. Dengan ringkas ia lalu menceritakan kejadian semalam.
Waktu Gie Cun menuturkan cara bagaimana dia sudah dikelabui Bu Kie, Ceng Gu melirik bocah itu dan ketika dia menceritakan cara bagaimana mata kanan Pheng Hwesio ditusuk oleh Teng Bin Kun, sang paman guru menghela napas berulang-ulang dan berkata,
“Pheng Eng Giok Hwesio adalah seorang gagah sejati dari agama kita. Biar pun kita tidak segolongan dengan dia, tetapi harus kita akui bahwa dia itu seorang manusia yang jarang terdapat di dunia ini. Kalau begitu ditusuk dia bisa segera datang kepadaku, mungkin sekali mata kanannya tidak sampai menjadi buta. Tapi sekarang sudah tidak dapat diobati lagi.”
Ia menengok kepada Bu Kie dan berkata lagi, “Dari mana kau belajar ilmu Tiam-hoat Bu-tong-pay?”
“Supek,“ kata Gie Cun, “saudara kecil itu adalah putera Thio Ngo-hiap dari Bu-tong-pay.”
Ouw Ceng Gu kaget dan paras mukanya berubah gusar. “Murid Bu-tong-pay?” la menegas, “Perlu apa kau membawa dia kemari?”
Gie Cun lantas menuturkan cara bagaimana Thio Sam Hong menolongnya dan puteri Ciu Cu Ong waktu mereka dikejar kaki tangan Kaisar Goan di sungai Han-sui. Setelah selesai bercerita, akhirnya dia berkata,
“Sesudah menanggung budi yang begitu besar, teecu mohon supaya Supek suka membuat pengecualian dan sudilah Supek menolong jiwa saudara kecil ini.”
Sang paman guru mengeluarkan suara di hidung, “Gie Cun, kau benar-benar seorang yang royal dengan janji-janjimu,” ejeknya. “Hemm... yang ditolong Thio Sam Hong adalah kau, bukan aku. Lagi pula kapan aku pernah membuat pengecualian dalam kebiasaanku?”
Gie Cun segera berlutut sambil manggutkan kepalanya berulang-ulang. “Supek,“ katanya, “ayah saudara kecil itu adalah seorang lelaki sejati yang lebih suka menggorok leher dari pada menjual sahabat. Meski pun masih kecil dia sendiri mempunyai jiwa seorang ksatria. Teecu menjamin bahwa dia adalah orang baik.”
“Apa? Orang baik?” Ceng Gu mengejek. “Ada berapa banyak orang baik di dunia ini? Kalau dia bukan murid Bu-tong-pay, masih tidak apa-apa. Dia adalah murid sebuah partai yang lurus bersih, mengapa dia harus minta pertolongan dari agama sesat?”
“Tapi ibu saudara Thio adalah puteri Peh-bie Eng-ong In-kauwcu,” kata Gie Cun. “Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa separuh badannya adalah dari agama kita.”
Mendengar keterangan itu, hati Ouw Ceng Gu tergerak juga. “Oh, begitu. Kau bangunlah,“ katanya. “Dia adalah putera In So So dari Peh-bie-kauw. Kalau begitu lain urusan.“
Dia lalu mendekati Bu Kie dan berkata dengan suara hangat, “Anak, selamanya aku selalu mentaati peraturan bahwa aku tidak akan menolong orang-orang dari partai lurus bersih. Ibumu adalah anggota dari agama kita. Tetapi sebelum mengobati, aku ingin kau berjanji bahwa sesudah sembuh kau harus pulang ke tempat kakekmu, yaitu Peh-bie Eng-ong ln Kauwcu, dan kau pun harus masuk agama Peh-bie-kauw. Dengan kata lain kau harus meninggalkan partai Bu-tong-pay.”
Sebelum Bu Kie menjawab, Gie Cun sudah mendahului. “Supek, hal itu tidak bisa terjadi. Sebelum menyerahkan saudara Thio ini kepada Teecu, Thio Sam Hong Thio Cinjin sudah mengatakan terang-terangan bahwa kita tak boleh memaksa dia masuk ke agama kita dan andai kata dia sembuh, Bu-tong-pay tidak menanggung budi dari agama kita.”
Kedua mata Ouw Ceng Gu mendelik dan darahnya naik. “Huh! Manusia apa Thio Sam Hong!” bentaknya. “Dia begitu memandang rendah kepada kita, perlu apa kau membantu dia. Anak, bagaimana keputusanmu sendiri?”
Bu Kie mengerti bahwa dia sedang menghadapi persoalan mati atau hidup. Setelah kakek gurunya tidak berdaya menolong, satu-satunya harapan adalah Ouw Ceng Gu. Dia maklum kalau dia tidak dapat meluluskan apa yang diminta oleh Tiap-kok Ie-sian, jiwanya pasti tak akan bisa ditolong lagi. Ia sendiri sebenarnya masih tidak tahu apa kejelekan atau kebusukan ‘agama’ sesat yang begitu dibenci oleh sang kakek guru dan semua paman-pamannya. Tapi karena ia sangat mencintai dan menghormati kakek gurunya, maka dia lantas mengambil keputusan bahwa dia lebih baik mati dari pada melanggar pesan orang tua itu. Tanpa sangsi lagi dengan suara lantang ia menjawab.
“Ouw-sinshe, ibuku Hio-cu dari Peh-bie-kauw dan aku pribadi menganggap bahwa Peh-bie-kauw adalah agama baik. Tetapi karena Thay-suhu melarang aku masuk ke dalam Mo-kauw dan aku sendiri sudah menyanggupi, maka sebagai laki-laki aku tidak dapat menarik kembali janjiku. Kalau kau tidak sudi mengobati, aku pun tidak dapat berbuat apa-apa. Kalau lantaran takut mati lalu aku menurut dengan apa yang kau minta, maka aku akan menjadi seorang manusia yang tidak mempunyai kepercayaan. Dari pada menjadi manusia macam itu, lebih baik aku berpulang ke alam baka.”
Ouw Ceng Gu mendongkol bukan main. “Gie Cun,” katanya. “Bawalah dia pergi! Di rumah Ouw Ceng Gu tidak boleh ada orang mati lantaran sakit.”
Gie Cun menjadi bingung. Ia mengenal benar adat Supek-nya Jika ia telah berkata ‘tidak’, maka perkataannya tidak bisa diubah lagi.
“Saudara kecil,” katanya dengan suara membujuk. “Meski Mo-kauw agak berbeda dengan partai-partai yang lurus bersih, akan tetapi sejak jaman kerajaan Tong sampai sekarang, di kalangan kami setiap turunan selalu muncul orang gagah sejati. Lagi pula kakek luarmu adalah Kauwcu dari Peh-bie-kauw, sedang ibumu sendiri adalah Hio-cu dari agama tersebut. Saudara kecil, luluskanlah permintaan Ouw-supek. Di hari kemudian akulah yang akan bertanggung jawab di hadapan Thio Cinjin.”
“Baiklah,” kata Bu Kie. “Siang-toako, ketuklah tulang punggungku yang ke delapan dan ke tiga belas dengan kuku jarimu, ketuklah beberapa kali.”
Gie Cun menjadi girang kemudian melakukan apa yang diminta. Di luar dugaan, begitu kedua tulang punggungnya diketuk, si bocah lantas menggerakkan kedua kakinya. Ia bangun berdiri seraya berkata kepadanya,
“Siang-toako. Kau sudah berbuat apa yang kau bisa. Di belakang hari Thay-suhu tak bisa menyesalkan kau.“ Dia lalu memutar badan dan berjalan keluar dengan tindakan lebar.
Si brewok kaget. “Mau ke mana kau?” teriaknya.
“Kalau aku mati di Ouw-tiap-kok, bukankah nama Tiap-kok Ie-sian akan menjadi rusak?” jawabnya. Sambil berkata demikian dia kabur dengan menggunakan ilmu mengentengkan badan.
Ouw Ceng Gu tertawa dingin. “Nama Kian-sie Put-kiu (Melihat kebinasaan tetap tidak mau menolong) Ouw Ceng Gu sudah amat tersohor di kolong langit ini,“ katanya. “Bukan baru satu orang yang roboh binasa di luar rumahnya.“.
Tanpa menghiraukan perkataan Supek-nya, Gie Cun segera mengejar keluar. Mereka berdua sama-sama mendapat luka, tapi luka Gie Cun jauh lebih enteng dan tenaganya pun lebih besar. Maka itu dalam beberapa saat saja dia sudah bisa menyandak Bu Kie yang lalu dipeluknya dan dibawa balik ke rumah paman guruya. Dengan kedua tangan belum bisa bergerak, maka si bocah tidak berdaya lagi.
“Ouw-supek, apakah kau benar-benar tidak mau menolong?” tanya Gie Cun dengan napas tersengal-sengal.
“Apa kau tidak tahu bahwa aku bergelar Kian-sie Put-kiu?” Sang paman balas bertanya. “Perlu apa kau melit-melit?”
“Tapi apakah Supek bersedia untuk mengobati luka di tubuhku?” tanya pula Siang Gie Cun.
“Tentu,“ jawabnya.
“Bagus!” kata si brewok girang. “Teecu sudah berjanji kepada Thio Cinjin untuk menolong saudara kecil ini. Sesudah memberi janji itu, teecu tidak mau bila orang-orang partai sana mengatakan bahwa murid-murid Mo-kauw tidak boleh dipercaya. Karena itu begini saja, Teecu tidak usah diobati oleh Supek, tetapi teecu mohon supaya Supek sudi mengobati saudara kecil. Dengan demikian satu ditukar dengan satu dan Supek tidak rugi.”
“Kau tahu bagaimana hebatnya Ciat-sim-ciang?” sang paman guru bertanya dengan paras sungguh-sungguh. “Sesudah kena pukulan itu, jika dalam tempo tujuh hari kau mendapat pertolongan seorang tabib kelas satu, maka lukamu akan sembuh. Sesudah lewat tujuh hari hanya nyawamu saja yang dapat ditolong, sedangkan ilmu silatmu akan musnah. Setelah lewat empat belas hari, tak satu tabib pun yang akan bisa menolong jiwamu.”
“Ya, meski pun melihat kebinasaan, Supek tidak sudi menolong,” jawabnya, “Teecu rela mati dan takkan menyesal.”
“Aku tak sudi ditolong olehmu!” teriak Bu Kie. “Tak sudi! Kau mengerti?” la menengok ke arah si brewok dan berkata: “Siang-toako, apakah kau kira Bu Kie manusia rendah? Kau menukar jiwamu dengan jiwaku. Andaikan aku hidup maka aku akan hidup menderita. Tak boleh ada kejadian begitu!”
Gie Cun adalah seorang lelaki tulen. Tanpa mengeluarkan sepatah kata lagi dia membuka tali pinggangnya yang lalu digunakan untuk membelenggu kaki tangan Bu Kie, kemudian mengikatkan ke sebuah kursi.
“Lepas! Lepas!” teriak bocah itu. “Kalau kau tidak lepaskan maka aku akan mencaci.”
Si brewok tidak menggubris.
“Kian-sie Put-kiu Ouw Ceng Gu!” teriak Bu Kie. “Kau betul-betul seperti kerbau tolol! Kau malah lebih rendah dari pada binatang. Aku sedih bahwa di dalam Mo-kauw ada manusia yang tidak bersifat manusia. Dan kau masih begitu tidak mengenal malu, kau masih ada muka untuk membujuk aku masuk ke dalam agamamu. Entah dosa apa yang ditumpuk delapan belas leluhurmu sehingga akhirnya mereka mendapat keturunan seperti kau, manusia yang lebih rendah dari pada anjing dan babi!”
Sesudah selesai mengikat Bu Kie, Gie Cun segera berkata, “Ouw-supek, saudara Thio, selamat tinggal! Sekarang aku ingin mencari tabib.”
“Di seluruh propinsi An-hui tidak terdapat tabib yang pandai,” kata Ceng Gu. “Dan dalam tujuh hari, belum tentu kau bisa keluar dari propinsi ini.”
Si brewok tertawa ter-bahak. “Aku mempunyai Supek yang melihat kebinasaan tidak sudi menolong,” katanya. “Dan kau mempunyai Sutit (keponakan murid) yang tidak mengenal mampus.“ Selesai berkata begitu, dengan tindakan lebar dia berjalan keluar.
“Ouw Ceng Gu!” bentak Bu Kie. “Jika kau tidak mengobati Siang-toako, satu hari kau pasti akan binasa di tanganku! Aku... aku...”
Ia tidak dapat meneruskan perkataannya, karena ia sudah pingsan. Ouw Ceng Gu mengeluarkan suara di hidung.
“Tidak perlu kau mampus di luar rumahku,” katanya seraya mengambil sebatang daun obat yang cepat ditimpukkan ke arah Gie Cun. Batang daun obat itu menyambar bagaikan kilat dan tepat mengenai lutut si brewok yang tanpa mengeluarkan suara segera roboh terguling dan tidak bisa bangun lagi.
Memang adat Ouw Ceng Cu sungguh aneh. Kalau dia berkata ‘tidak’ tetap tidak, kalau dia ‘mau’ maka dia tetap mau. Perkataan Bu Kie yang paling akhir, yakni ancaman ‘jika kau tidak mengobati Siang-toako, satu hari kau pasti akan binasa di tanganku’, sangat mengejutkan hatinya. Melihat kegagahan Bu Kie dan mengingat bahwa anak itu adalah murid Thio Sam Hong, ia merasa bahwa ancaman itu bukan ancaman kosong. Ia seorang yang sangat berhati-hati. Setelah berpikir sejenak dia berkata dalam hatinya, “Biarlah kedua-duanya tidak kutolong. Peduli apa kalau di Ouw-tiap-kok bertambah dengan dua setan penasaran.”
Sesudah menimpuk Gie Cun, dia lantas membuka ikatan Bu Kie dan mencekal kedua pergelangan tangan anak itu untuk dilontarkan sejauh-jauhnya keluar. Mendadak Ceng Gu terkejut karena denyut nadi si bocah sangat luar biasa. Dia segera memeriksa lebih teliti dan rasa kagetnya menjadi bertambah.
“Apakah bocah sekecil ini bisa membuka Kie-keng Pat-meh?” tanyanya dalam hati. “Puluhan tahun aku berlatih belum dapat membuka pembuluh darahku. Oh, aku tahu! Tidak salah lagi, ini akibat bantuan Thio Sam Hong. Rupanya dia sangat sayang kepada bocah ini dan rela mengorbankan sebagian Iweekang-nya.”
Dia lalu membuka baju Bu Kie dan memeriksa seluruh tubuhnya. Setelah itu dia menekan tantian, dada, ubun-ubun dan hati si bocah. Akhirnya ia tertawa dingin kemudian berkata,
“Thio Sam Hong berlagak pintar, tapi dia jadi bodoh. Lantaran menyayang, dia mencelakai cucu muridnya. Kalau saja Kie-keng Pat-meh anak ini belum terbuka maka jiwanya masih dapat ditolong. Tapi sekarang racun dingin sudah buyar dan masuk ke perutnya. Kecuali dewa, manusia biasa tak akan berdaya lagi. Huh! Huh! Orang bilang Bu-tong Thio Sam Hong memiliki kepandaian luar biasa tinggi. Tetapi menurut penglihatanku, dia goblok berlapis dungu.”
Beberapa saat kemudian Bu Kie tersadar dan melihat Ouw Ceng Gu sedang mengawasi api tungku obat dengan mata terbelalak, sedangkan Siang Gie Cun masih tergeletak di jalan berumput di luar rumah. Untuk beberapa lama keadaan begitu sunyi senyap, tidak ada seorang pun yang membuka mulut. Ouw Ceng Gu adalah seorang tabib yang telah mencurahkan seluruh kehidupannya untuk mempelajari ilmu ketabiban. Bila hatinya senang dengan mudah dia dapat menyembuhkan penyakit yang aneh-aneh. Karena itulah ia mendapat gelaran ‘Ie-sian’, atau ‘Tabib Dewa’. Tapi sekarang dia menghadapi racun yang sangat langka, yaitu racun dingin dari pukulan Hian-beng Sin-ciang. Apa yang lebih luar biasa lagi ialah pembuluh darah dari orang yang terkena racun itu, terbuka semua sehingga racun sudah masuk ke perutnya.
Sebagaimana diketahui, di dunia ini, orang-orang sangat sukar mendapat lawan yang setimpal. Seorang ahli catur jempolan sukar mendapat lawan yang seimbang. Bila mana ia menemui lawan begitu, ia bisa lupa makan dan lupa tidur. Seorang ahli hitung juga pasti tidak akan menyerah kalah sebelum dapat memecahkan teka-teki hitungan yang sulit. Hal yang sama sekarang dihadapi oleh Ouw Ceng Cu. Penyakit Bu Kie merupakan tantangan yang amat menarik baginya. Ia sungkan mengobati Bu Kie, tapi tantangan itu terlalu hebat untuk bisa dielakkan begitu saja. Tanpa terasa dia mengasah otaknya. Beberapa lama dia mengasah otak tanpa berhasil. Akhirnya dengan geregetan dia berkata dalam hati, “Baiklah. Lebih dulu aku akan menyembuhkan penyakitnya. Aku pasti dapat menyembuhkannya. Sesudah dia sembuh, masih banyak tempo untuk membinasakannya.”
Setelah memeras pikiran sejam lebih, ia mengeluarkan dua belas kepingan kecil tembaga dari sakunya. Sambil mengerahkan Iweekang ia menancapkan kepingan-kepingan logam tembaga itu di Tiong-kie-hiat (sebelah bawah tantian), di Thian-touw-hiat (sebelah bawah leher), di Cian-keng-hiat (di pundak) dan di lain-lain jalan darah di sekujur badan Bu Kie. Sesudah kepingan tembaga itu ditancapkan, maka kedua belas Keng-siang-meh terputus hubungannya dengan Kie-keng Pat-meh. Keng-siang-meh ialah hati, nyali (empedu), paru-paru, ginjal, usus besar, usus kecil dan lain-lain, yakni dua belas macam isi perut di dalam tubuh manusia. Sesudah Keng-siang-meh terputus hubungannya dengan Kie-keng Pat-meh, maka racun dingin yang telah masuk ke dalam perut Bu Kie tidak bisa naik lagi ke pembuluh darah dan untuk sementara, tidak berbahaya lagi.
TABIB BUTA MENGOBATI KUDA PICEK
Sesudah membuka semua jalan darah yang tertotok di kaki dan di tangan Bu Kie, dengan mempergunakan batang rumput Tin-ngay, Ouw Ceng Gu lalu membakar Tiang-hu-hiat dan In-bun-hiat di pundak si bocah. Kemudian dia membakar berbagai jalan darah dari lengan sampai di jempol tangan seperti Thian-hu-hiat, Hiap-pek-hiat, Cek-tek-hiat dan sebagainya. Setiap pembakaran di tiap jalan darah mengurangi racun dingin yang mengeram dalam perut Bu Kie. Namun cara itu, yakni mempergunakan hawa panas untuk melawan hawa dingin, menimbulkan sakit yang luar biasa sehingga penderitaan Bu Kie lebih dahsyat dari pada waktu mengamuknya racun dingin itu. Tanpa mengenal kasihan si tabib malaikat membakar terus dengan batang Tin-ngay yang menyala-nyala. Setelah selang beberapa lama, tubuh si bocah penuh dengan totol-totolan hitam akibat pembakaran itu.
Bu Kie yang keras kepala sedikit pun sungkan memperlihatkan kelemahannya. Jangankan berteriak kesakitan, merintih pun tidak. Sebaliknya dari itu, dia masih dapat bicara dengan sang tabib sambil tersenyum-senyum. Meski pun tidak mengerti ilmu ketabiban, sesudah belajar ilmu Tiam-hiat dari Cia Sun, dia paham akan letaknya berbagai jalan darah di sekujur badan manusia. Maka itu waktu Ouw Ceng Gu bicara tentang ketabiban sambil membakar jalan darahnya, sedikit-sedikit dia masih dapat melayaninya. Kadang-kadang berdasarkan pengetahuannya tentang ilmu Tiam-hiat, dia malah memberi tafsiran atau mengajukan pertanyaan yang amat tepat. Hal ini sangat menggembirakan hati Tiap-kok Ie-sian.
Seperti yang diketahui, dia hidup menyendiri di sebuah selat yang terpencil dari dunia luar. Manusia yang mengawaninya hanyalah kacung-kacung yang membantu mencari daun obat atau memasak obat. Maka dapat dimengerti kalau sekarang kegembiraannya timbul sebab ia bisa bicara dengan orang yang tampaknya mengerti akan apa yang dibentangkan olehnya. Sesudah beberapa ratus jalan darah yang bersangkut paut dengan Keng-sian-meh selesai dibakar, siang berganti malam. Tak lama kemudian datang seorang kacung membawa nasi dan sayur yang diletakkan di atas meja, kemudian membawa juga santapan keluar rumah untuk diberikan kepada Siang Gie Cun yang masih menggeletak di atas rumput.
Malam itu si brewok tidur di udara terbuka. Ketika tiba waktunya beristirahat, tanpa mengeluarkan sepatah kata Bu Kie berjalan keluar rumah kemudian membaringkan dirinya di atas rumput di samping sang Toako, sebagai tanda bahwa dia bersamaan nasib dengan si brewok. Ouw Ceng Gu tidak mempedulikan, bahkan dia berlagak tidak melihat perbuatan Bu Kie. Tapi dalam hati diam-diam dia merasa heran dan kagum akan cara-caranya bocah cilik itu. Esok harinya, si tabib malaikat menggunakan waktu setengah hari untuk membakar ‘hiat’ dari Kie-keng Pat-meh. Keng-siang-meh adalah laksana sungai yang terus mengalir tak henti-hentinya, sedang Kie-keng Pat-meh se-olah telaga atau lautan yang menerima semua aliran. Maka usaha untuk mengusir racun dingin yang berkumpul di Kie-keng Pat-meh jauh lebih sukar dari pada usaha mengusir racun itu dari Keng-siang-meh.
Sesudah selesai membakar berbagai ‘hiat’ dari Kie-keng Pat-meh, Ouw Ceng Gu segera memerintahkan kacungnya memasak semacam ramuan obat yang kemudian segera diberikan kepada Bu Kie. Obat itu bersifat dingin karena dalam usaha babak kedua itu dia menggunakan dingin membasmi dingin. Sehabis makan obat itu Bu Kie mengigil hebat. Akan tetapi sesudah serangan itu mereda, dia merasakan badannya lebih baik, lebih nyaman dan lebih segar. Pada waktu lohor si tabib malaikat meneruskan usahanya dengan menusuk berbagai jalan darah Bu Kie dengan mempergunakan jarum emas. Selagi diobati dengan rupa-rupa daya, Bu Kie mencoba membujuk Ceng Gu supaya dia suka mengobati Gie Cun, tapi orang aneh itu tidak meladeni dan hanya berkata,
“Sebenarnya gelar Tiap-kok Ie-sian kurang tepat untukku dan aku tidak menyukai julukan itu. Tetapi gelar Kian-sie Put-kiu barulah menyenangkan hatiku.”
Sambil berkata begitu dia menusuk Ngo-kit-hiat di antara pinggang dan paha dengan jarum emasnya. Jalan darah itu adalah tempat bertemunya Siauw-yang dan Tay-yang.
“Tay-meh di dalam tubuh manusia merupakan pembuluh darah yang paling aneh,” kata Bu Kie. “Ouw-sinshe, apakah kau tahu bahwa ada beberapa orang yang tidak memiliki Tay-meh?”
Ceng Gu kaget. “Omong kosong! Itu tidak mungkin terjadi!” bentaknya.
Memang benar, Bu Kie hanya bicara sembarangan. Tetapi dia berkata lagi. “Ouw-sinshe, dunia ini luas sekali dan di dunia terdapat banyak kejadian dan hal yang aneh-aneh. Apa lagi menurut katanya orang, sebenarnya Tay-meh tidak memegang peranan penting dalam tubuh manusia.”
“Aku mengakui bahwa Tay-meh adalah pembuluh darah yang sedikit aneh,” kata si tabib. “Tetapi dusta besar kalau orang mengatakan bahwa Tay-meh tidak berguna besar. Di dunia terdapat banyak tabib tolol yang tidak mengerti kegunaan dan pentingnya Tay-meh. Aku mempunyai sejilid Kitab Tay-meh. Kau bacalah sendiri.”
Ia segera masuk ke dalam dan keluar lagi dengan membawa sejilid buku tipis yang ditulis dengan tulisan tangannya sendiri, lalu menyerahkan kepada si bocah. Bu Kie membuka halaman yang pertama di mana tertulis seperti berikut: ‘Dua belas Keng-siang-meh dan Kie-keng-cit-meh semuanya mengalir dari atas ke bawah. Hanya Tay-meh yang terletak di samping perut mengalir dengan memutari pinggang seperti sehelai ikat pinggang. Di dalam beberapa kitab pengobatan terdapat keterangan bahwa Tay-meh memiliki empat hiat atau enam hiat. Itu semua salah. Sebenarnya Tay-meh mempunyai sepuluh hiat, dua di antaranya kadang-kadang muncul, kadang kala menghilang sehingga sukar sekali dapat diraba’.
Bu Kie membaca terus dengan teliti dan diam-diam mengingat semua yang dibacanya. Tiba-tiba dia teringat peristiwa Tan Yu Liang yang mengelabui kakek gurunya. Kitab Tay-meh itu tidak seberapa banyak isinya dan apa yang tertulis di dalamnya ternyata amat mudah dimengerti sehingga jika dibandingkan dengan Kouw-koat ilmu silat, kitab tersebut sepuluh kali lebih mudah dihafal. Sesudah selesai membaca, si bocah lalu mengembalikan kitab itu kepada Ouw Ceng Gu.
“Aku sudah pernah membaca kitab seperti itu,” katanya dengan suara tawar. “Waktu berusia tiga puluh tahun, Thay-suhu pernah menulis Cu-hak Tay-meh Jip-bun Cian-swee yang sama isinya dengan hubungan itu. Entah Thay-suhu yang menelad (mengikuti) keteranganmu atau kau yang menyontoh gubahan Thay-suhu.”
Ouw Ceng Gu tercengang, kemudian marah besar. “Tahun ini aku baru berusia lima puluh satu tahun,” katanya dalam hati. “Kau mengatakan bahwa Thio Sam Hong menulis buku itu waktu ia berusia tiga puluh tahun dan karena sekarang ia sudah berumur seratus tahun lebih, maka ia menulis itu tujuh puluh tahun berselang. Dengan lain perkataan lagi, akulah yang mencuri buah kalamnya Thio Sam Hong. Kurang ajar! Kitab Tay-meh itu adalah hasil jerih pajahku dan belum pernah didapat oleh siapa pun jua di dunia ini. Kurang ajar! Kau mengatakan Cu-hak Tay-meh Jip-bun Cian-swee, sudah ‘Cu-hak’, ‘Jip-bun’, sudah ‘Jip-bun’, ‘Cian-swee’ lagi! Kunyuk kecil ini benar-benar kurang ajar!” (Cu-hak artinya pelajaran permulaan, Jip-bun adalah pendahuluan, Cian-swee berarti perundingan yang cetek, tidak mendalam).
Dalam marahnya dia tancapkan jarum emas dalam-dalam di pinggir jalan darah sehingga darah keluar berketel ketel. Bu Kie kesakitan, hampir-hampir dia berteriak. Tapi sambil menggigit bibir dia menahan rasa sakit itu.
“Kalau kau tidak percaya, biarlah aku menghafal Cu-hak Tay-meh Jip-bun Cian-swee yang digubah oleh Thay-suhu itu,” katanya dengan tenang.
“Baiklah!” bentak Ceng Gu. “Jika kau salah satu huruf saja, hmm... tahu sendiri, aku akan segera mengambil jiwamu “
Selama di Peng-hwee-to, semenjak berusia lima tahun Bu Kie sudah dipaksa menghafal Kouw-koat ilmu silat oleh ayah angkatnya. Salah sedikit saja langsung digaplok oleh ayah angkat yang galak itu. Maka sesudah berlatih selama lima tahun boleh dikatakan dia sudah menjadi ahli dalam ilmu menghafal. Akan tetapi dia merasa keder juga mendengar ancaman Ouw Ceng Gu. Dia yakin bahwa orang aneh itu dapat membuktikan ancamannya. Diam-diam dia merasa menyesal bahwa dia berguyon melampaui batas. Tetapi sekarang dia sudah tidak bisa mundur lagi. Sambil mengempos semangat untuk mengumpulkan segenap tenaga otaknya, dia mulai menghafal dengan suara nyaring:
“Dua belas Keng-siang-meh dan Kie-keng-cit-meh semuanya mengalir dari atas ke bawah. Hanya Tay-meh yang terletak di samping perut mengalir dengan memutari pinggang seperti sehelai ikat pinggang...”
Makin lama dia semakin bersemangat hingga akhirnya dia berhasil menyelesaikan hafalan itu dengan sempurna. Tak kepalang kagetnya Ceng Gu. Untuk beberapa saat dia memandang si bocah dengan mata membelalak.
“Sungguh luar biasa,” pikirnya. “Anak ini mempunyai bakat Kwee-bak-put-bong (begitu melihat tidak bisa lupa Iagi). Manusia seperti dia sukar dicari keduanya di dunia.” Dia tidak tahu bahwa di kuil Siauw-lim-si terdapat Tan Yu Liang yang kecerdasannya tidak berada di sebelah bawah Bu Kie. Sesudah hilang kagetnya, tanpa terasa dia memuji, “Pintar! Kau sungguh pintar!”
Sehabis berkata begitu dia langsung menusuk sepuluh ‘hiat’ dari Tay-meh Bu Kie dengan jarum emasnya. Sehabis mengaso sebentar, Ceng Gu mendapat ingatan untuk mencoba lagi.
“Di samping kitab Tay-meh, aku memiliki kitab Cu-ngo Ciam-cie-keng,” katanya. “Coba kau lihat kitab itu. Apakah Thio Sam Hong juga sudah pernah menggubah kitab seperti itu?”
Dia segera masuk ke dalam dan keluar lagi dengan membawa 12 jilid kitab tulisan tangan. Bu Kie segera membalik-balik lembarannya. Setiap halaman dipenuhi huruf-huruf kecil yang menerangkan kedudukan semua jalan darah, beratnya timbangan obat, waktu serta cetek dalamnya tusukan jarum emas. Semua diterangkan dengan jelas sekali.
“Untuk membaca dua belas jilid kitab sedikitnya memerlukan waktu tiga atau empat hari,” pikirnya. “Bagaimana aku dapat menghafal dalam waktu cepat? Biarlah aku coba mencari ilmu untuk mengobati luka Siang-toako saja.“
Dengan cepat dia membalik-balik lembaran kitab-kitab itu dengan hanya memperhatikan judulnya saja. Waktu memeriksa jilid ke sembilan pada bagian Ciang-siang Cie-hoat (Cara mengobati luka pukulan telapak tangan), ia melihat petunjuk-petunjuk cara mengobati luka Tiat-see-ciang, Tok-ciang, Kay-san-ciang dan sebagainya. Waktu ia meneliti lagi sampai di halaman seratus delapan puluh, barulah ia bertemu dengan cara pengobatan luka terkena pukulan Ciat-sim-ciang. Dia menjadi amat girang. Lalu membaca dan mempelajari apa yang tertulis di situ. Dia mendapat kenyataan bahwa keterangan tentang pukulan itu diberikan secara jelas sekali, tetapi cara mengobatinya amat sederhana dan ringkas. Mengenai itu hanya ditulis seperti berikut:
‘Turun tangan mulai dari Ci-kiong-hiat, Tiong-teng-hiat, Koan-goan-hiat dan Thian-tie-hiat. Sesudah itu memberi obat dengan melihat perubahan Im-yang dan Ngo-heng, meninjau lima hawa udara yaitu: dingin, panas, kering, basah dan angin, juga memperlihatkan lima perasaan girang, gusar, jengkel, banyak pikiran dan bersemangat dari si sakit’.
Dalam ilmu pengobatan Tionghoa terdapat banyak perubahan dan tak ada peraturan yang pasti. Untuk mengobati suatu penyakit si tabib biasa memberi obat dengan melihat hawa udara, siang atau malam, lelaki atau perempuan, besar atau kecil dan sebagainya. Sementara itu, sesudah membaca beberapa kali, Bu Kie berkata di dalam hatinya, “Yang paling adalah mencoba menolong Siang-toako. Aku tak boleh mengejek tabib malaikat ini.”
Di bagian terakhir dari Ciang-siang Cie-hoat ada tertulis Hian-beng Sin-ciang. Kehebatan pukulan itu diterangkan jelas, tapi pada bagian cara pengobatan tertulis: ‘Tidak ada’. Ia lalu menutup kitab itu dan dengan sikap hormat menaruhnya di atas meja.
“Dalam ilmu silat, Ouw-sinshe tidak dapat menandingi Thay-suhu, tapi dalam ilmu ketabiban Thay-suhu tidak bisa melawan Ouw-sinshe,” katanya, “Cu-ngo Ciam-cie-keng luas dan dalam, Thay-suhu tidak akan dapat menggubah kitab seperti itu. Tetapi mengenai pengobatan pukulan telapak tangan, apa yang dipelajari Ouw-sinshe belum dapat melampaui pelajaran Thay-suhu.”
Sehabis berkata begitu ia segera menghafal Ciang-siang Cie-hoat yang berisikan cara-cara mengobati seratus lebih macam pukulan telapak tangan, dan di dalam menghafal itu tidak ada sehuruf pun yang salah atau ketinggalan. Akhirnya dia berkata,
“Luka Boanpwe akibat pukulan Hian-beng Sin-ciang tidak dapat diobati oleh Thay-suhu. Mungkin Ouw-sinshe pun tidak berdaya.”
Ouw Ceng Gu tertawa dingin. “Tidak usah kau memanasi hatiku,” katanya. “Kau saksikan saja sendiri apa benar aku tidak berdaya. Tetapi sesudah aku menyembuhkan kau, belum tentu kau bisa hidup lama.”
Walau pun Bu Kie pintar luar biasa, dia tidak mengerti maksud sebenarnya dari perkataan si tabib yang ingin membinasakan setelah menyembuhkannya, supaya sesuai dengan kebiasaannya bahwa dia tak akan pernah menolong orang yang di luar lingkungan ‘agama’ sesat. Dengan tujuan satu-satunya untuk menolong Siang Gie Cun, si bocah lantas berkata,
“Ouw-sinshe, kalau Boanpwe tidak bisa hidup lama, Boanpwe ingin sekali bisa membaca lagi kitab Cu-ngo Ciam-cie-keng yang sangat luar biasa itu.”
Ouw Ceng Gu tidak lantas menjawab. Setelah menimbang sejenak dia menganggap tidak halangan jika dia meluluskan permintaan itu, sebab biar bagaimana pun juga bocah itu tak akan bisa keluar dari Ouw-tiap-kok dengan masih bernyawa. Dia mengangguk seraya berkata,
“Boleh, kau boleh membaca sesukamu.”
Sungguh pun adatnya aneh, tidak dapat disangkal lagi bahwa Ouw Ceng Gu adalah seorang manusia luar biasa yang berkepandaian tinggi dan berpengetahuan luas. Hanya setelah masuk ke dalam ‘agama’ sesat, ia membenci manusia biasa dan lebih membenci lagi orang-orang rimba persilatan yang menjadi anggota dari partai-partai lurus bersih. Makin lama adatnya semakin aneh dan dia hidup menyendiri di tempat yang terpencil. Tapi sebagai manusia biasa kadang merasa menyesal bahwa ia tidak mempunyai kawan untuk bersama-sama merundingkan atau mempelajari ilmu ketabiban sehingga dia pun merasa sangat kesepian. Oleh karena itu kedatangan Bu Kie yang sangat pintar dan yang kagum akan kepandaiannya, pada hakekatnya menyenangkan hatinya yang kosong sunyi.
Sesudah mendapat perkenan, siang malam Bu Kie mempelajari isi kitab-kitab Ceng Gu. Sering kali dia lupa makan dan lupa tidur. Dia bukan saja membaca belasan macam kitab yang ditulis oleh Ouw Ceng Gu sendiri, tetapi juga banyak kitab lainnya seperti Oey Tee Iweekang, Hoa To, Iwee-ciauw-touw, Cian-kim-ek dan sebagainya. Tujuan sebenarnya tidak bisa ditebak oleh Ouw Ceng Gu. Dia menganggap bahwa anak itu tidak mengerti kitab gubahannya sendiri, tetapi karena sungkan bertanya secara langsung maka dia sudah membongkar kitab-kitab ketabiban kuno untuk mencari penjelasannya.
Beberapa hari telah lewat. Bu Kie sudah bisa menghafal banyak kitab, tapi ilmu pengobatan yang dalam dan luas mana bisa dipahaminya dalam beberapa hari saja. Dia menghitung-hitung dan ternyata dia telah berdiam di Ouw-tiap-kok enam hari lamanya. Dia menjadi bingung. Menurut Ouw Ceng Gu, jika dalam waktu tujuh hari Cie Cun bisa mendapat pertolongan tabib yang pandai, maka lukanya akan sembuh total. Jika lewat tujuh hari, andai kata bisa sembuh, ilmu silat Gie Cun akan musnah semuanya. Dan sekarang si brewok telah menggeletak di luar rumah selama enam hari enam malam. Apakah dia akan bisa menolong jiwa Siang-toako?
Hari itu turun hujan besar hingga Gie Cun separuh terendam, tapi sang paman guru tidak menghiraukannya. Melihat begitu Bu Kie mendongkol bukan main dan di dalam hatinya mencaci si tabib malaikat yang berhati kejam. Malamnya hujan turun semakin deras. Kilat menyambar-nyambar, diiringi guntur dan petir yang menggetarkan bumi. Bu Kie tidak bisa mempertahankan diri lagi. Sambil menggertak gigi dia berkata dalam hati. “Biar pun aku mesti membunuh Siang-toako, tak dapat aku mengawasi penderitaannya dengan berpeluk tangan.“ Dari laci obat Ouw Ceng Gu, dia segera mengambil delapan batang jarum emas kemudian menghampiri Gie Cun.
“Siang-toako,” katanya dengan suara parau. “Siauwte telah mempelajari kitab-kitab Ouw-sinshe selama beberapa hari dan meski pun belum mengerti benar, tetapi karena keadaan memaksa, siauwte ingin mencoba mempergunakan jarum untuk mengobati Toako. Andai kata terjadi kejadian yang tidak diharapkan, siauwte pun tidak bisa hidup sendirian di dunia ini.”
Gie Cun tertawa terbabak bahak. “Saudara kecil jangan kau berkata begitu,” katanya. “Lekas gunakan jarum itu. Kalau kau berhasil, Supek akan merasa malu sekali. Andai kata aku mati, aku memang lebih suka mati dari pada berendam di kobokan ini.”
Dengan tangan gemetar Bu Kie mencari jalan darah Gie Cun lalu menancapkan sebatang jarum emas di Koan-goan-hiat. Tetapi begitu ditancapkan, jarum itu bengkok dan tidak bisa masuk ke dalam daging. Hal ini bisa dimengerti karena bukan saja si bocah belum pernah menggunakan jarum itu, tetapi jarum itu pun lemas luar biasa sehingga orang harus menggunakan Iweekang yang tinggi untuk memasukkannya ke dalam daging. Maka Bu Kie terpaksa mencabutnya lagi. Biasanya, kalau jarum masuk tepat di jalan darah maka tidak ada darah yang keluar. Tetapi sekarang, karena si bocah salah menusuk, maka begitu jarum tercabut darah Gie Cun keluar banyak. Koan-goan-hiat yang terletak di perut manusia merupakan salah satu ‘hiat’ yang paling berbahaya. Melihat darah merembes keluar tiada hentinya, Bu Kie menjadi bingung.
Sekonyong-konyong di belakangnya terdengar suara orang tertawa berkakakan. Dia cepat menengok dan melihat Ouw Ceng Gu yang berdiri sambil menggendong tangan, dengan paras muka berseri-seri.
“Ouw-sinshe,” kata Bu Kie dengan suara kebingungan. “Koan-goan-hiat Siang-toako terus mengeluarkan darah. Bagaimana baiknya?”
“Tentu saja aku tahu bagaimana baiknya,” jawabnya. “Tapi buat apa aku memberi-tahu kau?”
“Ouw-sinshe, mengapa kau begitu kejam?” kata Bu Kie dengan suara keras. “Begini saja. Satu jiwa ditukar dengan satu jiwa. Tolonglah Siang-toako. Setelah kau menolongnya, aku akan segera binasa di hadapanmu.”
“Kalau aku kata tidak, tetap tidak,” kata Ceng Gu dengan suara tawar. “Aku hanya Kian-sie Put-kiu Ouw Ceng Gu. Aku bukan Bu Siang (setan yang biasa membetot jiwa orang). Kalau kau mampus, sedikit pun tiada sangkut pautnya denganku. Andai kata sepuluh Bu Kie mati, aku tetap tidak akan menolong satu pun Siang Gie Cun.”
Bu Kie mengerti, tiada gunanya dia memohon lagi. Dia tahu bahwa dia tidak akan bisa menggunakan jarum emas yang terlampau lemas itu. Tetapi mencari jarum baja atau jarum besi sudah tidak keburu lagi. Setelah berpikir sejenak, cepat dia mematahkan sebatang bambu. Dengan menggunakan pisau dia membuat beberapa biting bambu, lalu tanpa pikir lagi segera dia tancapkan pada Cie-kiong, Siong-tong, Kun-goan dan Tian-tie-hiat. Sesaat kemudian Gie Cun memuntahkan darah hitam beberapa kali. Bu Kie menjadi bingung sekali. Setelah menusuk jalan darah orang, dia tidak tahu apakah penyakitnya lebih enteng atau bertambah berat. Dia mengawasi muka Ouw Ceng Gu dan melihat bahwa biar pun sikapnya acuh tak acuh tapi paras muka si tabib malaikat menunjukkan rasa kagum. Ia sekarang tahu bahwa usahanya yang pertama berhasil dan hatinya menjadi girang sekali.
Buru-buru ia masuk ke dalam rumah dan sambil membaca beberapa kitab, ia mengasah otak untuk mencoba menulis surat obat. Dia tahu obat apa bisa dipakai untuk menyembuhkan penyakit apa, tetapi dia belum pemah melihat macamnya obat itu dan juga tidak mengerti berapa banyak harus diberikan kepada si sakit. Sesudah berpikir beberapa lama, dengan nekat ia pun menulis surat obat yang lantas diserahkan kepada si kacung tukang masak obat sambil berkata,
“Masaklah obat ini”
Si kacung membawa surat obat itu kepada majikannya lantas bertanya, apakah dia boleh menuruti perintah Bu Kie. Ceng Gu mengeluarkan suara di hidung dan berkata kepada dirinya sendiri,
“Hmm! Benar-benar gila!” Dia berpaling kepada kacungnya dan berkata, “Boleh. Masaklah obat menurut timbangannya. Kalau dia tidak mati, benar-benar rejekinya sangat besar.”
Bu Kie mengerti apa maksudnya perkataan itu. Cepat dia merebut surat obat itu, kemudian mengurangi timbangannya dan barulah menyerahkannya kembali kepada si kacung. Setelah dimasak, Bu Kie membawa obat itu kepada Gie Cun dan berkata dengan air mata berlinang,
“Siang-toako, minumlah obat ini. Apa untung, apa celaka, siauwte sendiri tidak tahu.”
“Bagus! Bagus sekali!” kata si brewok sambil tertawa, “Ini yang dinamakan ‘tabib buta mengobati kuda picek’.“ Sambil pejamkan mata dia segera minum habis semangkok obat itu.
Malam itu Gie Cun gelisah. Dia merasa perutnya seperti disayat pisau dan dari mulutnya terus keluar darah. Tanpa menghiraukan hujan dan hawa dingin, semalam suntuk Bu Kie menemani si sakit. Pada keesokan paginya hujan berhenti dan darah yang dimuntahkan Gie Cun makin lama makin sedikit. Warna darah juga berubah, dari hitam menjadi ungu, dari ungu berubah merah.
“Saudara kecil,” kata Siang Gie Cun dengan gembira. “Ternyata obatmu tidak membunuh manusia. Aku merasa badanku jauh lebih enak, lebih nyaman.”
“Bagaimana? Obat siauwte boleh juga, bukan?” kata si bocah sambil nyengir.
“Lebih dari boleh juga!” Gie Cun memuji. “Hanya obatmu mungkin terlalu keras sehingga perutku rasanya seperti diiris-iris pisau.”
“Ya, mungkin terlalu keras,” kata Bu Kie dengan rasa jengah.
Sebenarnya obat yang diberikan oleh Bu Kie kepada Gie Cun bukan hanya terlalu keras, tapi beberapa lipat kali terlalu keras. Kalau Gie Cun tidak mempunyai badan yang sangat kuat maka siang-siang dia sudah binasa. Sesudah membersihkan badan, Ouw Ceng Gu berjalan keluar. Melihat paras muka Siang Gie Cun, dia langsung terkesiap. Dia tak nyana bahwa Bu Kie benar-benar sudah berhasil menyembuhkan luka si brewok.
Sementara itu si bocah sudah menulis surat obat yang gunanya untuk menguatkan badan, kemudian menyerahkannya kepada si kacung untuk dimasak. Dia masukkan segala macam obat penguat seperti Jin-som, Lok-jiong, Souw-ouw dan sebagainya. Di rumah Ouw Ceng Gu terdapat rupa-rupa obat, dari yang paling murah sampai yang paling mahal harganya. Sesudah minum obat kuat enam tujuh hari beruntun, bukan saja kesehatannya, bahkan kepandaian silat Gie Cun sudah pulih kembali. Beberapa hari kemudian dia berkata begini kepada Bu Kie,
“Saudara kecil, lukaku sudah sembuh. Sekarang kita berpisah.“
Selama kurang lebih satu bulan Bu Kie berkawan dengan pemuda ini dan mereka berdua sama-sama merasakan banyak penderitaan. Mereka telah menjadi seperti saudara kandung dan dapatlah dimengerti jika si bocah merasa sedih waktu mendengar perkataan sang kakak. Dia tidak dapat mengeluarkan sepatah katapun. Dia hanya mengangguk dengan air mata berlinang.
“Saudara kecil, jangan kau bersusah hati,” Gie Cun membujuk. “Tiga bulan kemudian aku akan kembali untuk menengokmu. Apa bila racun dingin sudah diusir bersih dari badanmu, aku akan segera mengantarkan kau pulang ke Bu-tong.” Dia lalu masuk ke dalam rumah dan berlutut di hadapan Ouw Ceng Gu.
“Ouw-supek,” katanya. “Kini teecu sudah sembuh sama sekali. Walau pun benar saudara Thio yang mengobati, tapi pengobatan itu diberikan berdasarkan petunjuk dari kitab-kitab Ouw-supek. Di samping itu teecu pun sudah menghabiskan banyak sekali obat milik Supek yang berharga mahal. Untuk semua itu, teecu hanya dapat menghaturkan banyak-banyak terima kasih.”
Sang paman guru manggut-manggut. “Tak apa,” katanya. “Lukamu memang sudah sembuh, hanya sayang usiamu berkurang tiga puluh tahun.”
Gie Cun tidak mengerti. “Apa maksud Supek?” tanyanya,
“Jika dilihat dari kekuatan badanmu, sebenarnya paling sedikit kau bisa hidup sampai usia delapan puluh tahun,” menerangkan sang paman guru. “Tetapi karena bocah itu membuat kesalahan waktu menusuk jalan darahmu, dan membuat kesalahan pula dalam memberi obat, maka setiap kali bertemu dengan musim hujan angin, sekujur badanmu akan terasa sakit. Menurut taksiranku, kau hanya bisa berusia sampai lima puluh tahun.”
Si brewok tertawa ter-bahak. “Ouw-supek,” katanya dengan suara lantang, “jika seorang laki-laki dapat menolong sesama manusia dan mengabdi kepada negara, berusia sampai empat puluh tahun saja kurasa sudah cukup. Jika seorang hidup tanpa tujuan, biar pun dia bisa berumur seratus tahun maka hidupnya percuma saja.”
Ceng Gu tidak mengatakan apapun, dia hanya mengangguk beberapa kali. Bu Kie mengantar Gie Cun sampai di mulut selat Ouw-tiap-kok, kemudian mereka saling berpisah setelah memeras banyak air mata. Sambil mengawasi bayangan si brewok yang makin lama makin jauh, Bu Kie bertekad mempelajari ilmu pengobatan supaya di belakang hari dia bisa memulihkan usia Gie Cun yang menurut Ouw Ceng Gu, akan berkurang tiga puluh tahun.
Setiap hari dengan telaten Ceng Gu menggunakan jarum emas dan memberi obat untuk mengusir semua racun dingin yang masih mengeram dalam tubuh si bocah. Sementara itu di waktu luang Bu Kie tidak menyia-nyiakan waktu. Tanpa kenal capai dia membaca dan mempelajari kitab-kitab ketabiban. Apa bila ada bagian yang tidak dimengerti, dia mohon petunjuk dari Ouw Ceng Gu yang memberinya dengan segala senang hati. Perlahan-lahan tabib malaikat itu mulai merasa senang terhadap si bocah pintar itu. Sekali hatinya terbuka, tanpa ragu-ragu dia memberi segala pelajaran yang dimilikinya. Kadang kala bocah itu malah mengajukan pertanyaan tentang hal-hal yang belum pernah dipikir olehnya sendiri. Rasa kagum orang tua itu terhadap Bu Kie menjadi makin besar. Semula dia berniat membinasakan Bu Kie begitu lukanya sembuh. Namun sekarang dia merasa bahwa jika si bocah binasa tentu dia akan hidup kesepian. Sebab itulah waktu memberi obat dia sengaja mengurangi timbangannya untuk menunda penyembuhan dan menunda pula kebinasaan anak ini.
KIM-HOA (BUNGA EMAS)
Sesudah lewat satu dua bulan, dengan rasa heran Ceng Gu sesudah menggunakan berbagai cara, dia masih belum juga dapat mengusir racun dingin yang berkumpul di Sam-cauw (hormon). Belasan hari bekerja keras dengan memeras pikiran, tetapi hasilnya nihil sehingga rambutnya bertambah uban. Pada suatu hari sambil menghela napas dia berkata,
“Ilmu silat Thay-suhu-mu amat tinggi, tetapi dalam ilmu ketabiban dia mencelakakan kau. Sesudah kau kena pukulan Hian-beng Sin-ciang, dia malah membuka Kie-keng Pat-mehmu. Betul-betul gila!”
“Bukan, bukan Thay-suhu yang membuka pembuluh darahku,” bantah Bu Kie.
Sesudah berkumpul dengan Ouw Ceng Gu beberapa bulan, dia merasa bahwa meski pun beradat aneh tabib melaikat ini bukan manusia jahat. Makanya tanpa diminta ia meneceritakan riwayat hidupnya. Dia juga menuturkan pengalamannya di kuil Siauw-lim-si, ketika dia datang untuk belajar Siauw-lim Kiu-yang-kang. Setelah menunduk beberapa saat, tiba-tiba saja Ceng Gu menepuk paha dan berkata,
“Bu Kie, pendeta Siauw-lim itu pasti sengaja mencelakakan kau!”
Si bocah terkejut. “Aku belum pernah mengenalnya, perlu apa dia mencelakai aku?” tanyanya.
“Hal... hal ini sungguh aneh,” kata pula Ceng Gu. “Coba kau ceritakan lebih jelas semua pengalamanmu di Siauw-sit-san.”
Bu Kie menurut dan mengulang penuturannya secara lebih jelas. Tiap-kok Ie-sian nampak berjalan mondar mandir sambil menggendong kedua tangannya. Sekonyong-konyong ia berteriak,
“Tidak mungkin salah lagi. Pendeta itu memang sengaja mencelakai kau. Thay-suhu-mu tidak mengerti ilmu ketabiban dan juga dia adalah seorang yang sangat percaya segala manusia. Makanya dia tidak curiga. Coba kau pikir, Goan-tin adalah orang yang mahir ilmu Siauw-lim Kiu-yang-kang dan dia pun bisa membantu kau dalam membuka Kie-keng Pat-meh. Dengan lain kata dia sudah mempunyai Iweekang yang sangat tinggi. Maka itu begitu kedua telapak tangannya nempel dengan telapak tanganmu, dia pasti tahu bahwa dalam tubuhmu mengeram racun dingin. Akan tetapi dia malah sengaja membuka pembuluh darahmu. Apakah dengan begitu dia bukan sengaja mencelakakan kau?”
“Tapi sebelum membobol tembok dia memang sudah berniat membantu membuka Kie-keng Pat-mehku,” kata Bu Kie. “Waktu itu dia belum tahu bahwa aku terkena pukulan Hian-beng Sin-ciang.”
Ceng Gu geleng-gelengkan kepalanya. “Aku masih belum tahu kenapa Goan-tin mau mencelakakan kau,” katanya. “Kau mengatakan bahwa karena belum pernah saling kenal satu sama lain maka tak mungkin dia mencelakakan kau. Tapi kau harus ingat bahwa kau sudah belajar Siauw-lim Kiu-yang-kang, yang mungkin dianggap sebagai miliknya sendiri. Hal ini cukup untuk menimbulkan niat membunuh kau di dalam hatinya.”
“Menurut Thay-suhu, Siauw-lim-si dan Bu-tong adalah pemimpin dari partai-partai yang lurus bersih,” kata Bu Kie. “Menurut pendapatku, biar pun di kuil Siauw-lim-si terdapat orang-orang yang berpemandangan sempit akan tetapi mereka tidak akan bertindak begitu hina. Lagi pula Thay-suhu sendiri sudah menyerahkan Thay-kek Sip-sam-sit dan Bu-tong Kiu-yang-kang kepada mereka sebagai penukar. Dalam hal ini pada hakekatnya pihak Siauw-lim yang lebih untung.”
Ouw Ceng Gu tertawa dingin. “Lurus bersih!” ia menegas. “Apakah ayah ibumu bukan didesak sehingga binasa oleh orang-orang dari partai lurus bersih? Dengan menganggap bahwa mereka putih bersih, mereka berlaku amat kejam terhadap orang-orang dari partai yang dianggapnya sesat. Padahal orang partai lurus bersih belum tentu baik semua, orang partai sesat belum tentu jahat semua.”
Kata-kata itu menyentuh hati Bu Kie. Dia teringat bahwa yang mendesak hebat sehingga mengakibatkan kebinasaan kedua orang tuanya, sebagian besar terdiri dari orang partai lurus bersih seperti Siauw-lim, Kun-lun dan Khong-tong-pay. Bahkan para pamannya dari Bu-tong-pay hanya menyaksikan pembunuhan diri kedua orang tuanya dengan berpeluk tangan. Memang benar mereka berduka, akan tetapi di dalam hati menganggap bahwa binasanya kedua orang tuanya adalah kebinasaan yang sepantasnya. Pendapat itu telah lama sekali terkandung dalam lubuk hatinya, tetapi sebegitu jauh dia belum pernah berani mengatakan terang-terangan. Sekarang, begitu mendengar perkataan Ouw Ceng Gu, dia menggigil dan menangis keras.
“Ya, dunia memang begitu,” kata Ceng Gu dengan suara tawar. “Baru ketemu satu masalah saja kau sudah menangis. Kalau kau tidak mati hari ini, di hari kemudian kau bakal mengalami banyak sekali kejadian-kejadian yang dapat mengucurkan air matamu.”
Bu Kie buru-buru menyusut air matanya.
“Kau tadi mengatakan bahwa kau belum pernah melihat muka Goan-tin,” kata pula si tabib malaikat. “bagaimana kau tahu bahwa dia tidak mengenal kau? Suara orang dapat diubah bahkan muka masih dapat diubah. Dia tidak mau menemui kau. Hal ini saja sudah menerbitkan kecurigaan. Kau mengatakan bahwa tanpa sebab seseorang pasti tidak akan mencelakakan kau. Apa kau tahu pasti bahwa aku tidak ingin membunuhmu? Biarlah aku berterus terang. Karena melihat penyakitmu sangat aneh, aku berusaha untuk mengobati kau. Tetapi berbareng dengan itu, aku pun sudah mengambil keputusan bahwa begitu kau sembuh maka aku akan segera mengambil jiwamu!”
Bu Kie bergidik. Dia mengerti bahwa apa yang dikatakan orang aneh ini tidak mudah diubah lagi. Dia menghela napas lantas berkata,
“Racun dingin di tubuhku tak dapat dikeluarkan seluruhnya. Tanpa kau turun tangan pun aku akan mati sendiri. Hai! Manusia di dunia agaknya merasa senang kalau melihat orang lain celaka atau mati. Bukankah orang yang belajar silat bertujuan untuk membunuh sesama manusia?”
Ouw Ceng Gu mendongak dan dengan mata terbelalak dia mengawasi langit. Sesudah sekian lama dia berkata dengan suara parau,
“Waktu masih muda aku mempelajari ilmu ketabiban dengan tekad menolong sesama manusia. Akan tetapi orang-orang yang ditolong malah berbalik mencelakakan aku. Aku pernah menolong jiwa seseorang yang mendapat tujuh belas lubang luka bacokan. Sesungguhnya dia sudah pasti mati. Tiga hari tiga malam aku tidak tidur dan dengan segala kepandaianku berhasil menyembuhkannya. Belakangan aku mengangkat saudara dengannya. Akan tetapi tak nyana akhirnya dia membinasakan adik perempuanku, adik kandungku. Siapa dia? Sekarang dia adalah seorang tokoh besar yang namanya besar dari sebuah partai lurus bersih.”
Dengan rasa iba Bu Kie mengawasi muka Ceng Gu yang diliputi sinar kedukaan. “Kalau begitu dia dapat gelar Kian-sie Put-kiu karena telah mengalami kejadian hebat,” katanya dalam hati. Darahnya meluap dan bertanya,
“Siapa adanya manusia binatang itu? Kenapa kau tidak mencari untuk membalas sakit hati?”
“Waktu mau meninggal, adikku memaksa aku bersumpah tak mencoba membalas sakit hatinya,” sahutnya, “Lebih gila lagi ia minta aku berjanji bahwa jika manusia itu berada dalam bahaya, aku mesti menolongnya. Dapat dimengerti jika aku menolak tuntutan itu. Tapi sebelum aku meluluskan, adikku tidak akan mati dengan mata meram. Hati adikku... hatinya terlampau mulia. Akhirnya aku tidak bisa tidak meluluskan permintaannya yang terakhir itu.“ Setelah berkata demikian air matanya berlinang-linang.
Baru sekarang Bu Kie menyadari bahwa Ouw Ceng Gu bukan manusia yang tidak punya perasaan. Tak bisa salah, antara saudara angkatnya dan adik perempuannya mempunyai hubungan yang sangat erat, kalau bukan suami isteri, tentulah juga sepasang kekasih.
Tiba-tiba Ceng Gu berkata dengan suara keras. “Ingatlah apa yang dikatakan olehku, tak boleh kau menyebut-nyebut lagi pembicaraan tadi di hadapanku. Kalau kau membocorkan pembicaraan ini kepada orang lain, aku akan membuat kau hidup tidak mati pun tidak.”
Sebenarnya Bu Kie ingin menjawab dengan beberapa perkataan tajam, namun dia segera mengurungkan niatnya karena merasa bahwa pada hakekatnya Ouw Ceng Gu adalah seorang yang harus dikasihani.
“Baiklah, aku berjanji tak akan bicara lagi mengenai hal ini,“ katanya.
Tabib malaikat itu kemudian meng-usap rambut si bocah dan sesudah menghela napas panjang berulang-ulang dia berkata,
“Kasihan! Kasihan!” Sesudah berkata begitu dia pun masuk ke ruang dalam.
Sesudah terjadi pembicaraan di atas, berulang kali Ceng Gu memeriksa tubuh Bu Kie dan siang malam mengasah otak, namun dia tidak mendapat jalan untuk membasmi racun dingin yang sudah masuk ke dalam Sam-ciauw. Sekarang dia yakin bahwa biar pun berusaha sebisanya dengan menggunakan ilmu pengobatan paling tinggi, paling banyak dia hanya bisa memperpanjang umur si bocah beberapa tahun saja. Sementara itu, karena berada di pegunungan yang sepi Bu Kie merupakan seorang kawan yang amat menyenangkan, maka di waktu-waktu luang Ceng Gu memberi petunjuk dan pelajaran ilmu ketabiban kepada si bocah yang terus belajar dengan rajin tanpa kenal lelah. Melihat kecerdasan bocah itu yang dalam waktu singkat dapat memahami kitab-kitab Uy-te Ha-mo-keng, See-hong Cu-beng-tong Cie-keng, Tay-peng-seng Hui-hong dan sebagainya, Ceng Gu menghela napas seraya berkata,
“Dengan kecerdasanmu, dibantu olehku sendiri, sebelum berusia dua belas tahun kau akan bisa merendengi Hoa To atau Pian Ciak. Hanya sayang... sungguh sayang...!”
Ia merasa sayang karena dengan usia pendek semua kecerdasan dan kepandaian itu tiada gunanya. Tapi Bu Kie mempunyai lain tujuan. Ia belajar ilmu ketabiban dengan tekad untuk dapat memulihkan usia Siang Gie Cun yang menurut Ouw Ceng Gu akan berkurang tiga puluh tahun.....
**************
Hari berlalu laksana terbang dan tanpa terasa dua tahun sudah berselang. Sekarang Bu Kie berusia empat belas tahun. Selama dua tahun itu beberapa kali Gie Cun datang menengoknya. Dia memberi-tahu bahwa Thio Sam Hong memperkenankannya untuk diam lebih lama di Ouw-tiap-kok, sampai racun dingin di tubuhnya dapat dibasmi seluruhnya. Dia juga menyampaikan warta bahwa makin lama orang Mongol semakin ganas, rakyat menderita dan permusuhan antara partai lurus bersih dan partai sesat semakin menghebat dan jumlah manusia yang menjadi korban semakin meningkat. Setiap kali datang di Ouw-tiap-kok, Siang Gie Cun diam beberapa hari kemudian pergi lagi.
Pada kedatangan Gie Cun yang terakhir, Bu Kie sudah mendapat kemajuan pesat dalam pelajaran ilmu ketabiban. Dia memeriksa nadi Siang Gie Cun kemudian menulis obat yang lalu diberikan kepada si brewok dengan pesan bahwa dia harus sering-sering minum obat itu. Gie Cun menghaturkan banyak terima kasih, lalu memasukkan surat obat itu ke dalam sakunya. Kali ini, di dalam kamar paman gurunya, Gie Cun beromong-omong dengan orang tua itu hingga jauh malam. Malam itu dia tidak bisa tidur dan gelisah sekali. Bu Kie merasa heran. Si brewok tidak begitu akur dengan paman gurunya. Tapi mengapa dia bicara demikian lama? Bu Kie menduga bahwa di kalangan Mo-kauw sedang timbul gelombang dan karena dia sendiri bukan anggota ‘agama’ itu, maka dia tidak mau menyelidiki. Esok paginya Gie Cun berpamitan dan Bu Kie mengantarnya sampai di mulut selat.
“Saudara,“ kata si brewok ketika mereka berpisah. “Dalam beberapa hari ini ada seorang musuh yang sangat lihay akan menyateroni Ouw-supek. Sebenarnya aku ingin mengajak kau pergi ke lain tempat untuk sementara waktu, tetapi Ouw-supek mengatakan bahwa musuh itu tak akan bisa berbuat banyak. Dia mengatakan, aku tidak usah takut. Tapi aku harap kau hati-hati.”
“Musuh siapa?” tanya Bu Kie.
“Aku pun tidak tahu,” jawabnya. “Aku mendengar warta itu di tengah jalan dan buru-buru aku datang kemari memberi-tahu Ouw-supek. Saudara, Ouw-supek itu orang pintar yang sangat berhati-hati. Jika dia mengatakan tidak usah kuatir, tentu dia sudah mempunyai pegangan. Hanya aku yang masih merasa kuatir.”
Melihat kecintaan si brewok terhadap dirinya, Bu Kie merasa terharu dan sesudah beromong-omong lagi beberapa lama, mereka lalu berpisah. Sekembalinya di rumah Ceng Gu, dia melihat orang tua itu tenang-tenang saja. Beberapa kali dia coba bertanya, tetapi pertanyaan selalu diputus di tengah jalan.
Enam tujuh hari telah lewat dengan tenang. Malam itu, selagi Bu Kie membaca sejilid kitab obat, mendadak kepalanya berat dan badannya lelah sekali. Ia lantas naik ke pembaringan. Keesokan harinya, ketika tersadar dia merasa kepalanya sakit sekali. Dia segera pergi ke belakang untuk mengambil obat. Namun baru saja berjalan puluhan tindak, dia mendapat kenyataan bahwa dia baru sadar di waktu lohor.
“Mengapa aku tidur begitu lama? Apakah aku sakit?” tanyanya dalam hati.
Dia segera memegang nadi, ketukan nadi tidak mengunjuk hal yang luar biasa. Dia jadi semakin kaget. Apakah racun dingin itu mengamuk dan dia sudah mendekati ajalnya? Buru-buru dia mencari Ouw Ceng Gu, tapi orang tua itu tidak kelihatan hidungnya. Selama beberapa hari dia selalu kuatir dan sekarang karena orang tua itu tidak berada di dalam rumah, sambil berlari-lari dia pergi ke kebun untuk mencarinya. Di kebun dia bertemu dengan seorang kacung yang sedang mencangkul tanah.
“Mana Ouw-sinshe?” tanyanya.
“Apa dia tidak berada di kamarnya?” si kacung balas bertanya. “Baru saja aku membawa teh. Ouw-sinshe memesan supaya dia tidak diganggu.”
Bu Kie tertawa. “Aku benar-benar tolol,“ katanya dalam hati lalu kembali ke rumah.
Waktu tiba di depan kamar Ceng Gu, dia melihat pintunya dikunci. Mengingat perkataan si kacung dia tidak berani mengetuk melainkan hanya batuk-batuk beberapa kali.
“Bu Kie,” kata orang tua itu, “hari ini badanku kurang enak. Leherku sakit. Kau belajar saja sendiri.”
“Baiklah,” jawabnya. Sesaat kemudian, karena kuatir penyakit orang tua itu lebih berat, dia lalu berkata, “SinShe, bolehkah kuperiksa lehermu?”
“Tak usah,” jawabnya dengan suara dalam. “Aku sendiri sudah memeriksa dari kaca. Tak apa-apa. Aku juga sudah minum obat.”
Malam itu, waktu kacung membawa nasi, Bu Kie turut masuk ke kamar Ceng Gu. Ia melihat muka orang tua yang rebah di pembaringan itu pucat pasi. Ia kaget.
“Apakah tadi malam, selagi aku tidur, musuh sudah datang menyatroni?” tanyanya dalam hati. “Mungkin sekali biar pun berhasil mengusirnya tapi Ouw-sinshe sendiri terluka berat.”
Begitu melihat Bu Kie, Ceng Gu segera mengibaskan tangannya. “Pergi!” bentaknya. “Kau tahu aku sakit apa? Sakit cacar!”
Si bocah mengawasi dan benar saja, tangan dan muka orang tua itu penuh dengan titik-titik merah. Kalau pengobatannya salah maka orang bisa mati, atau sedikitnya bakal bermuka bopeng. Tapi mengingat Ceng Gu seorang tabib malaikat, dia tidak merasa kuatir. Hatinya lega karena dia yakin bahwa orang tua itu bukan dilukai musuh.
“Kau dan si kacung tak boleh masuk lagi ke dalam kamarku,” kata pula Ceng Gu. “Semua perabot makan, sesudah kugunakan harus diseduh dengan air panas. Kalian tidak boleh menggunakan itu... hm...“ Ia berdiam sejenak, kemudian berkata lagi. “Bu Kie, begini saja. Menyingkirlah dari Ouw-tiap-kok untuk sementara waktu. Kau boleh menumpang di salah satu rumah penduduk kira-kira setengah bulan. Aku kuatir kau ketularan cacar!”
“Tidak!” kata si bocah. “Sinshe sedang sakit, jika aku pergi siapa yang akan merawatmu? Biar bagaimana pun aku lebih mengenal ilmu pengobatan dari pada dua kacung itu.”
“Tetapi lebih baik kau menyingkir,” kata orang tua itu. Dia membujuk beberapa kali, tapi si bocah tetap pada pendiriannya. Akhirnya Ceng Gu berkata, “Baiklah. Tapi biar bagaimana pun juga aku melarang kau masuk lagi ke kamarku.”
Tiga hari telah lewat. Setiap pagi dan malam Bu Kie selalu menanyakan kesehatan orang tua itu dari luar kamar. Dia mendapat kenyataan bahwa walau pun suara Ceng Gu masih agak parau namun semangatnya sudah cukup baik dan nafsu makannya pun bertambah besar. Setiap hari dari dalam kamar Ceng Gu menyebutkan nama-nama obat berikut timbangannya yang harus dimasak untuknya oleh si kacung. Pada hari ke empat, waktu lohor, Bu Kie membaca bagian Su-kie Tauw-sia Tay-lun (Diskusi tentang peran empat hawa dalam memperkuat semangat) dari Oey Teng Lwee-keng (Kitab obat-obatan dari Kaisar Uy Teng). Pada bagian itu antara lain tertulis seperti berikut:
‘Maka itulah seorang pandai tidak mengobati penyakit, tetapi menjaga supaya penyakit itu jangan sampai timbul. Dia tidak membereskan kekacauan, tetapi menjaga jangan sampai kekacauan muncul. Inilah jalan yang paling baik. Jika menunggu sampai penyakit timbul baru mengobatinya, sampai kekacauan muncul baru membereskannya, maka usaha itu adalah seperti menggali sumur setelah haus atau membuat senjata setelah menghadapi musuh. Apakah itu bukan sudah terlambat?’
Tanpa terasa Bu Kie mengangguk beberapa kali. “Memang sudah terlambat jika menggali sumur sesudah haus dan membuat senjata sesudah berhadapan dengan musuh,” katanya di dalam hati. “Membereskan negara sesudah muncul kekacauan juga sudah terlambat. Biar pun andai kata keamanan dapat dipulihkan, akan tetapi negara tetap mendapat kerugian. Mengobati penyakit juga tiada bedanya. Lebih baik menjaga sebelum penyakit mengamuk dari pada mengobati sesudah penyakit itu menjadi berat,” Ia ingat di bagian lain dari kitab tersebut terdapat kata-kata seperti berikut:
‘Seorang tabib yang pandai paling senang mengobati kulit dan bulu, kemudian mengobati otot-otot, lalu mengobati urat-urat, dan akhirnya baru mengobati isi perut. Jika dia harus mengobati isi perut, maka kemungkinan sembuhnya si sakit hanya separuh-separuh’.
“Benar, memang benar apa yang dikatakan dalam kitab itu,” pikir Bu Kie. “Seorang tabib pandai selalu mengobati pada waktu penyakit baru saja muncul. Apa bila penyakit sudah masuk ke isi perut, biar bagaimana pandai pun dia tidak mempunyai pegangan lagi. Seperti aku, racun sudah masuk ke dalam isi perutku. Keadaanku sudah sembilan bagian mati dan hanya satu bagian hidup.”
Selagi berpikir begitu, tiba-tiba terdengar suara tindakan kuda. Bu Kie buru-buru menutup bukunya lalu bangkit berdiri. Ia bingung sebab kuatir kedatangan musuh. Sambil berlari dia pergi ke kamar Ceng Gu.
“Ouw-sinshe,” katanya. “Aku mendengar suara tindakan beberapa ekor kuda yang masuk ke selat ini. Bagaimana baiknya?”
Kuda-kuda itu ternyata bisa lari luar biasa cepatnya. Sebelum orang tua itu menjawab, mereka sudah tiba di depan rumah.
“Sesama orang rimba persilatan mohon bertemu dengan Ie-sian Ouw-sinshe!” terdengar teriakan seseorang. “Kami ingin mohon belas kasih Ouw-sinshe untuk mengobati penyakit.”
Mendengar itu hati Bu Kie menjadi lega. Ia bertindak keluar dan melihat orang bermuka hitam berdiri di depan pintu. Orang itu menuntun tiga ekor kuda. Di punggung kedua hewan itu rebah dua orang yang pakaiannya berlepotan darah. Penunggang kuda itu sendiri berdiri dengan kepala yang dibalut kain putih bernoda darah, sedangkan tangan kanannya dimasukkan ke dalam selembar kain yang diikatkan ke leher. Dilihat dari romannya, dia pun terluka yang tidak ringan.
“Kedatangan kalian sangat tidak kebetulan,” kata Bu Kie. “Ouw-sinshe sedang sakit dan tidak bisa bangun. Harap kalian mencari tabib lain saja.”
“Celaka!” kata orang itu dengan suara kaget. “Kami melakukan perjalanan ratusan lie dengan harapan bisa mendapat pertolongan Ie-sian”
“Ouw-sinshe sakit cacar,” Bu Kie menerangkan. “Dalam beberapa hari ini keadaannya sangat buruk. Ini adalah kenyataan dan aku tidak berdusta.”
Orang itu menghela napas. “Kami bertiga saudara seperguruan dan mendapat luka yang amat berat,” katanya dengan suara duka. “Jika tidak ditolong Ie-sian kami akan meninggal. Kuharap saudara suka melaporkan kepada Ouw-sinshe.”
“Kalau begitu, bolehkah aku tahu she dan nama Toako yang mulia?” tanya Bu Kie.
“Nama kami tidak cukup berharga untuk disebut-sebut,” jawabnya. “Tolong beritahu saja bahwa murid Sian-ie Ciang-bun dari Hoa-san-pay mohon pertolongan.“ Sesudah berkata begitu badannya bergoyang-goyang, paras mukanya lebih pucat dan mulutnya agak terbuka seperti mau muntahkan darah.
Bu Kie melompat dan menotok beberapa jalan darah pada dada dan punggung orang itu. Begitu tertotok, darah yang sudah meluap turun kembali dan orang itu merasa dadanya agak lega. Melihat kepandaian si bocah, dia kelihatan kaget dan kagum.
Bu Kie segera masuk ke dalam, “Sinshe,” katanya. “Di luar menunggu tiga orang terluka berat dan minta pertolonganmu. Mereka mengatakan murid-murid dari Sian-ie Ciang-bun Hoa-san-pay.”
“Ihh!” terdengar Ouw Ceng Gu mengeluarkan suara, kemudian dia berteriak dengan marah,
“Tidak! Tidak! Usir mereka!”
“Baiklah,” kata Bu Kie dengan cepat lalu berjalan keluar.
“Ouw-sinshe tak bisa menemui kalian karena penyakitnya masih belum mendingan,” kata Bu Kie. “Harap kalian suka memaafkan.”
Orang itu mengerutkan alis. Selagi hendak memohon lagi, tiba-tiba salah seorang yang bertubuh kurus kecil dan rebah di atas punggung kuda mengangkat kepala lantas mengayunkan tangannya. Hampir berbareng sehelai sinar emas menyambar dan benda jatuh di atas meja di dalam rumah.
“Saudara, tolong kau bawa bunga emas itu kepada Kian-sie Put-kiu,” kata si kurus. “Beri-tahu bahwa kami bertiga dilukai majikan bunga emas itu. Dia sendiri akan segera mencari le-sian. Jika Kian-sie Put-kiu suka mengobati kami, sesudah sembuh kami akan tetap berdiam di sini untuk membantu melawan musuh. Meski kepandaian kami tidak berarti tetapi masih merupakan tiga tenaga bantuan.”
Bu Kie menghampiri meja. Dia melihat bahwa senjata rahasia itu menyerupai sekuntum bunga bwee yang terbuat dari pada emas tulen, dengan sari bunga dibuat dari perak putih sehingga Kim-hoa (bunga emas) itu indah sekali kelihatannya. Bu Kie mengulurkan tangan dan mencoba mengambilnya, tetapi di luar dugaan bunga emas itu menancap di meja dan dia tidak dapat mencabutnya. Dengan menggunakan jepitan obat barulah dia berhasil.
“Orang kurus itu memiliki kepandaian cukup tinggi, masih kena dilukai,“ pikirnya, “Siang-toako mengatakan bahwa seorang musuh akan menyatroni Ouw-sinshe. Mungkin sekali musuh Ouw-sinshe adalah orang itu.“
Sambil membawa senjata rahasia tersebut ia segera masuk dan menyampaikan kata-kata si kurus kepada Ouw Ceng Gu.
“Coba aku lihat,” kata orang tua itu.
Bu Kie menolak pintu dan menyingkap tirai. Kamar itu amat gelap. Seorang yang terkena penyakit cacar memang takut pada sinar terang, maka pintu dan jendela kamar itu ditutup dengan tirai. Dia melihat muka Ouw Ceng Gu ditutup kain sehingga hanya kedua matanya yang bisa dilihat orang. Hati Bu Kie berdebar. Bagaimana macamnya bisul-bisul di muka orang tua ini. Apakah sudah sembuh dia bakal bopeng?
“Taruh bunga emas itu di atas meja dan lekas keluar!” perintah si tabib malaikat. Bu Kie menurut. “Mati hidup mereka bertiga tiada sangkut pautnya denganku,” demikian terdengar suara Tiap-kok Ie-sian, “Soal mati hidupku juga tak usah diributi mereka.”
“Pletak!” bunga emas itu terbang keluar sesudah menoblos tirai kemudian jatuh di tanah.
Biar pun daun bunga dari senjata rahasia itu amat tipis dan tajam, tapi karena tirai adalah benda lemas dan alot, maka dicobloskannya kain yang tebal itu amat mengejutkan Bu Kie. Selama dua tahun di rumah Tiap-kok Ie-sian, Bu Kie belum pernah melihat ilmu silat orang tua ini. Baru sekarang terbukti bahwa si tabib malaikat juga memiliki ilmu silat yang sangat tinggi. Dia mengambil Kim-hoa dan menghampiri lelaki yang kurus itu. Sambil menggelengkan kepala, dia berkata.
“Sakitnya Ouw-sinshe sangat berat.”
Tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara roda kereta memasuki selat Ouw-tiap-kok. Perkataan Bu Kie terhenti dan semua orang memasang kuping. Kereta itu cepat sekali jalannya dan tidak lama kemudian berada di luar rumah. Dari dalam kereta seorang pemuda yang kulit mukanya kuning keluar sambil melompat. Begitu turun dia mendukung seorang kakek yang gundul kepalanya.
“Apa Tiap-kok Ie-sian Ouw-sinshe ada?” tanyanya. “Murid Khong-tong-pay...“
Baru berkata begitu, badannya bergoyang-goyang dan roboh bersama si kakek. Dua ekor kuda yang menarik kereta, mulutnya mengeluarkan busa, juga telah berlutut dengan berbareng. Rupanya kedua binatang itu kehabisan tenaga. Melihat roman dua orang itu, tanpa ditanya lagi bahwa mereka itu baru saja melakukan perjalanan cepat satu sampai dua ratus li tanpa beristirahat di tengah jalan. Selain itu Bu Kie juga mendengar disebutnya ‘Murid-murid Khong-tong-pay’, maka teringatlah ia akan halnya, di antara orang yang memaksakan kematian ayah ibunya di atas gunung Bu-tong-san ada tianglo atau tertua dari partai ini.
Ia melihat si orang tua berkepala gundul kelimis disebut Seng-ciu Ka-lam Kan Ciat. Ketika itu orang tua ini tidak hadir di gunung, akan tetapi dia menduga bahwa ini mestinya bukan manusia baik-baik. Karena itu ingin dia menolak mereka. Tapi dia segera melihat munculnya lagi empat atau lima orang, ada yang dingkluk-dingkluk sambil memegang tongkat, ada yang saling menuntun, dan mereka semuanya terluka. Dia mengerutkan alis. Tanpa menanti sampai mereka mendekat, dia berkata nyaring,
“Ouw-sinshe sedang kena penyakit cacar. Karena dirinya sendiri belum tentu dapat ditolong, jadi dia tidak bisa mengobati kalian, tuan-tuan! Maka itu silahkan tuan-tuan sekalian mencari tabib lain supaya tuan-tuan tidak mendapat celaka.”
Sementara itu orang-orang yang jumlahnya berlima sudah mendekat. Nyata mereka mengenakan pakaian bagus-bagus. Mirip saudagar besar, tetapi muka mereka semuanya pucat pasi bagaikan kertas putih polos, sedikitpun tak ada sinar darahnya. Di tubuh mereka tidak tampak tanda tanda bekas luka, teranglah sudah bahwa mereka mendapat luka-luka hebat di dalam. Orang yang berjalan di depan, yang tubuhnya jangkung dan gemuk, mengangguk terhadap Kan Ciat serta si pria kurus dan kecil, dan karena itu mereka itu saling menyeringai. Jadi ketiga rombongan orang itu semuanya saling kenal satu sama lain. Bu kie menjadi heran, tertarik rasa ingin tahunya.
“Apakah kalian semua terluka oleh si pemilik bunga emas?” ia tanya.
“Benar,“ jawab si gemuk yang terus berpaling kepada Kan Ciat untuk bertanya, “Saudara Kan, apakah kau telah bertemu dengan Ouw-sinshe?”
Kan Ciat menggelengkan kepala, “Saudara Nio, mukamu lebih terang. Mungkin kau dapat mengundang Ouw-sinshe,” katanya
“Siapakah si pemilik bunga emas itu?” tanya Bu Kie menyela. “Kenapa dia begitu galak?”
“Saudara kecil,” kata orang yang dipanggii saudara Nio oleh Kan Ciat tanpa dia menjawab pertanyaan si anak tanggung. “Tolong kau menyampaikan kepada Ouw-sinshe bahwa aku si orang she Nio dari Toko Emas Goan Sang di Bu-hu datang dari tempat yang jauh untuk mohon berobat.”
Si orang yang muntah darah segar, yang tiba duluan, menduga biar pun Bu Kie muda sekali tetapi bukan sembarang orang. Maka dia bertanya,
“Saudara kecil, kau she apa? Apa hubunganmu dengan Ouw-sinshe?”
“Aku juga pasien dari Ouw-sinshe,“ Bu Kie menyahut. “Sudah dua tahun lebih Ouw-sinshe mengobatiku tetapi aku masih belum sembuh betul. Ouw-sinshe bilang bahwa dia tidak dapat mengobati, maka itu sudah pasti dia tidak bakal mengobati. Karena itu tak ada gunanya kalau kalian berdiam lama-lama di sini.”
Selagi mereka bicara, dengan beruntun datang lagi empat orang. Ada yang menunggang kuda, ada yang naik kereta. Mereka ini juga datang untuk minta tolong diobati dan mereka memintanya dengan sangat.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA



































Tidak ada komentar:
Posting Komentar