SIAUW-LIM-SI
Musim semi gembira-ria,
Setiap peringatan Han-sit,
Bunga Lee-hoa mekar semua.
Sutera putih licin,
Bau harum bertebaran,
Pohon-pohon bagaikan giok,
Tertutup salju berhamburan.
Malam yang sunyi,
Sinar yang mengambang,
Cahaya yang dingin.
Di antara bumi dan langit,
Sinar perak menyelimuti semesta alam.
Ah, dia bagaikan Dewi dari gunung Kouw-sia,
Bakatnya cerdas dan suci,
Wataknya agung dan murni.
Laksaan sari bunga besar kecil tak ketentuan,
Tapi siapa berani mengatakan,
dia tak berendeng dengan bunga-bunga kenamaan?
Jiwanya gagah,
Kepintarannya berlimpah-limpah,
Sesudah rontok, semua sama.
Maka itu dia pulang kekeraton langit,
Guna melihat keindahan nan ABADI.
Sajak di atas adalah ‘Bu-siok-liam’ (Cita-cita hidup bebas dari segala keduniawian), yakni buah kalam seorang ahli silat ternama di jaman Lam-song (kerajaan Song Selatan). Orang itu she Khu bernama Cie Kie (Kee) bergelar Tiang-cun-cu, salah seorang dari Coan-cin-cit-cu (Tujuh Cu dari agama Coan-cin-kauw)
Dalam sajak itu Khu Cie Kie berbicara tentang bunga Lee-hoa. Tapi sesungguhnya, dalam melukiskan keagungan bunga Lee-hoa, ia hendak memberi pujian kepada seorang wanita cantik yang mengenakan pakaian serba putih. la membandingkan wanita itu seperti ‘Dewi dari gunung Kouw-sia, bakatnya cerdas dan suci, wataknya agung dan murni’. Dan ia pun memujinya sebagai manusia yang ‘jiwanya gagah kepintarannya ber-limpah’.
Siapakah wanita yang mendapat pujian sedemikian tingginya dari seorang beribadat yang berilmu itu? Ia adalah Siauw Liong Lie, seorang jago betina partai Ko-bong-pay (partai kuburan tua). Ia suka mengenakan pakaian serba putih sehingga se-olah pohon giok yang tertutup salju. Dengan sifat-sifatnya yang bersih dingin ia seakan-akan sinar rembulan yang menyelimuti semesta alam dengan sinarnya yang teduh dan dingin. Waktu masih berdiam di Ciong-lam-san, Siauw Liong Lie pernah jadi tetangga Khu Cie Kie dan setelah melihat gadis itu yang elok luar biasa, Cie Kie segera menulis sajak ‘Bu-siok-liam’ untuk memujinya.
Tapi sekarang Khu Cie Kie sudah lama meninggal dunia, sedangkan Siauw Liong Lie sudah menikah dengan Sin-tiauw Tayhiap Yo Ko. Akan tetapi, pada suatu hari, di jalanan gunung Siauw-sit-san, di propinsi Holam, terlihat seorang gadis remaja yang sedang berjalan sambil menundukkan kepala dan menghafal sajak ‘Bu-siok-liam’. Gadis itu berusia kurang lebih delapan belas tahun dan mengenakan pakaian warna kuning, menunggang seekor keledai kurus. Per-lahan keledai itu mendaki jalanan gunung yang sempit. Sambil termenung di atas tunggangannya, si nona berkata dalam hatinya.
“Ya, memang benar! Hanya seorang seperti Liong-cici yang pantas menjadi isteri dia.”
‘Dia’ adalah Sin-tiauw Tayhiap Yo Ko. Keledai berjalan terus, perlahan-lahan. Si nona menghela napas dan menggumam dengan suara perlahan.
“Berkumpul gembira, berpisahan menderita...”
Gadis tersebut berpakaian sederhana dan pada pinggangnya tergantung sebatang pedang pendek, berjalan dengan paras muka tenang, sehingga dengan muka sekelebatan saja orang bisa menebak bahwa ia adalah orang yang sudah biasa berkelana di dunia Kangouw. Dalam usia remaja, usia yang riang gembira. Menurut ukuran biasa, dalam usia belasan seperti ini, pemuda atau pemudi tak mengenal apa yang dinamakan penderitaan mau pun kedukaan. Tetapi nona itu berada di luar dari ukuran biasa. Pada paras mukanya yang cantik bagaikan sekuntum bunga mawar terlihat sinar yang guram. Alisnya berkerut, seolah-olah serupa pikiran berat sedang menindih hatinya.
Nona itu she Kwee bernama Siang, puteri ke dua dari Tayhiap Kwee Ceng dan Lihiap Oey Yong. Dalam dunia rimba persilatan ia dijuluki sebagai ‘Siauw-tong-sia’ (si Sesat kecil dari Timur). Dengan seekor keledai dan sebatang pedang, dia berkelana untuk menghilangkan kedukaan. Namun di luar dugaan, semakin jauh ia berkelana mendaki gunung yang indah dan sunyi, semakin besar kedukaannya. Jalan kecil itu dibuat atas perintah Kaisar Kocong dari kerajaan Tong, untuk memudahkan lalu lintas ke kuil Siauw-lim-si. Sesudah berjalan beberapa lama, Kwee Siang melihat lima buah air terjun di gunung seberang dan di belakang sebuah tikungan, lapat-lapat nampak tembok dan genteng dari sebuah kuil yang besar luar biasa.
Sambil mengawasi bangunan yang berderet, si nona berkata dalam hatinya. “Semenjak dulu Siauw-lim-si dikenal sebagai pusat pelajaran ilmu silat. Tapi mengapa selama dua kali diadakan pertandingan di puncak gunung Hoa-san, di antara lima jago utama tak terdapat orang Siauw-lim-si yang berkepandaian cukup tinggi? Atau apakah karena sudah memiliki ilmu yang sangat tinggi, mereka sungkan mencampuri pergaulan dunia?”
Sambil berpikir ia mendekati kuil, turun dari tunggangannya dan menuju ke pintu kelenteng. Melewati pohon-pohon yang berdiri sejumlah pay batu yang sebagian besar sudah rusak, sehingga huruf-hurufnya tak dapat dibaca lagi. Si nona menghela napas.
“Ah! Huruf yang terpahat di pay batu hampir tak terbaca karena lamanya waktu, tapi mengapa huruf yang terukir dalam hatiku semakin lama semakin tegas?” katanya dalam hati.
Beberapa saat kemudian ia berpapasan dengan sebuah pay batu yang amat besar yang masih dapat dibaca. Pay itu ternyata hadiah Kaisar Tong-thay-cong sebagai pujian untuk jasa-jasanya para pendeta Siauw-lim-si.
Menurut catatan sejarah, pada waktu masih menjadi Raja Muda Cin-ong, Tong-thay-cong pernah membawa tentara menghukum Ong Sie Oen. Dalam peperangan itu banyak pendeta Siauw-lim-si yang memberikan bantuan dan yang paling terkenal berjumlah tiga belas orang. Di antara mereka itu hanya seorang she Tham yang suka menerima pangkat jenderal, sedangkan yang lainnya, sesudah peperangan selesai lantas meminta diri. Tong-thay-cong tak dapat menahan mereka dan sebagai pernyataan terima kasih kepada setiap orang, ia menghadiahkan satu jubah pertapaan yang sangat indah.
“Pada jaman antara kerajaan Sui dan Tong ilmu silat Siauw-lim-si sudah tersohor di kolong langit,” kata Kwee Siang dalam hati. “Selama beberapa ratus tahun ilmu silat itu tentu telah mendapat banyak kemajuan, entah berapa banyak orang berilmu yang bersembunyi dalam kuil yang besar ini?”
Selagi dia melamun di belakang pohon, terdengar suara berkerincingnya rantai besi, disusul dengan suara seseorang yang sedang menghafalkan Hud-keng (Kitab Suci agama Buddha). Antara perkataan yang dihafalkan itu ia menangkap kata seperti berikut,
“Dari cinta timbul kejengkelan, dari cinta timbul ketakutan. Jika seseorang menyingkirkan diri dari cinta, dia terbebas dari kejengkelan dan ketakutan.”
Jantung si nona memukul keras. Dia bengong mengulangi kata-kata itu. “Dari cinta timbul kejengkelan dan ketakutan. Jika seseorang menyingkirkan diri dari cinta, dia terbebas dari kejengkelan dan ketakutan.”
Di lain saat suara kerincingan rantai besi dan suara pembacaan kitab suci semakin jauh.
“Aku mesti tanya dia,” kata si nona dalam hati. “Aku mesti tanya, bagaimana seseorang bisa menyingkir dari cinta, bisa terbebas dari kejengkelan dan ketakutan.”
Ia ikat tali les keledai di pohon lalu menguber ke arah suara itu. Ternyata di belakang pohon terdapat jalan kecil yang menanjak ke atas dan nampak seorang pendeta yang memikul dua tahang besar sedang naik di tanjakan itu.
Cepat Kwee Siang mengejar. Setelah berada dalam jarak belasan tombak dari si pendeta, tiba-tiba dia terkesiap. la mendapat kenyataan bahwa yang dipikulnya sepasang tahang besi yang tiga kali lipat lebih besar dari tahang biasa. Yang mengejutkan adalah di leher, di tangan dan di kaki si pendeta dilibatkan rantai besi yang sangat besar sehingga menimbulkan suara berkerincingan. Berat kedua tahang besi itu ratusan kati dan ditambah dengan air dapatlah dibayangkan betapa beratnya.
“Toa-hwesio (pendeta besar)...!“ teriak si nona. “Berhenti dulu! Aku ingin bertanya.”
Si pendeta menengok, mereka saling memandang. Pendeta itu ternyata adalah Kak Wan yang pada tiga tahun berselang pernah bertemu Kwee Siang di puncak ganung Hoa-san. Si Nona tahu, walau pun pendeta itu agak tolol tetapi dia memiliki Iweekang yang sangat tinggi, yang tidak kalah dari siapa pun juga.
“Ah! Kukira siapa,” katanya. “Tak tahunya Kak Wan Taysu. Mengapa kau jadi begini?”
Kak Wan manggutkan kepala sambil tersenyum dan merangkapkan kedua tangan, tapi ia tak menjawab pertanyaan si nona. Lalu ia memutar badan dan berjalan lagi.
“Kak Wan Taysu!” teriak Kwee Siang. “Apakah tidak mengenal aku? Aku Kwee Siang!”
Kak Wan kembali menengok, ia tertawa dan memanggutkan kepala, tetapi kakinya terus saja bertindak.
“Siapa yang mengikat kau dengan rantai?” tanya si nona. “Siapa yang menghina kau?”
Sambil berjalan terus Kak Wan menggoyang tangan kirinya di belakang kepala, sebagai isyarat supaya si nona jangan terlalu melit (ingin tahu segalanya sehingga menyusahkan). Kwee Siang jadi semakin heran. Mana dia bisa puas dengan begitu saja? Dia segera mengejar untuk mencegat pendeta yang aneh itu. Tapi di luar dugaan, setelah menguber beberapa lama, Kak Wan yang dilibat rantai sambil memikul tahang masih tetap berada di sebelah depan.
Si nona jadi jengkel. Ia mengempos semangat dan mengejar dengan ilmu mengentengkan badan. Bagaikan seekor walet tubuhnya yang langsing melesat ke depan, lalu satu tangannya menjambret sebuah tahang. Menurut perhitungan, jambretan itu tak akan meleset. Tetapi di luar dugaan, tangan Kwee Siang jatuh di tempat kosong, hanya selisih dua dim dari tahang itu.
“Toa-hwesio! Lihay benar kau!” teriaknya. “Tetapi lihat saja! Biar bagaimana pun aku akan menyandak kau.”
Jalanan semakin menanjak. Dengan tenang Kak Wan mempercepat tindakannya berkerincingnya rantai semakin ramai. Kwee Siang menguber dengan sekuat tenaga, napasnya tersengal, tapi ia tetap terpisah kurang lebih setombak. Ia kagum bukan main dan berkata dalam hatinya: “Di atas gunung Hoa-san, ayah dan ibu pernah mengatakan bahwa hwesio ini mempunyai kepandaian yang sangat tinggi. Waktu itu aku masih belum percaya. Tetapi sekarang baru terbukti, ternyata perkataan ayah dan ibu adalah benar.” Tidak lama kemudian mereka tiba di depan rumah kecil dan Kak Wan pergi ke belakang lalu menuangkan air kedua tahang itu ke dalam sumur. Kwee Siang jadi lebih heran.
“Toa-hwesio, apa kau telah gila?” tanyanya. “Kenapa kau menuang air ke dalam sumur?”
Paras muka si pendeta tetap tenang. Ia hanya tersenyum. Mendadak Kwee Siang tertawa nyaring.
”Ah! Aku tahu sekarang,” katanya. “Kau sedang melatih ilmu silat, bukan?”
Kak Wan kembali meng-gelengkan kepala. Si nona jadi dongkol. “Kau seorang gagu? Barusan aku mendengar kau menghafal Kitab Suci,” katanya. “Mengapa kau tidak mau menjawab pertanyaanku?”
Si pendeta merangkap kedua tangannya, kalau dilihat dari paras mukanya, ia seperti ingin meminta maaf. Tapi ia tetap membungkam dan sesudah mengangkat kedua tahangnya, ia turun ke jalanan tadi. Kwee Siang melongok sumur. Dia hanya melihat air yang bening dan merasakan hawa yang dingin. Tiada apa pun yang luar biasa. Ia berdiri bengong dan hati bimbang, mengawasi bayangan Kak Wan yang semakin lama semakin jauh. Setelah menguber mati-matian ia merasa letih, ia lantas duduk di pinggir sumur sambil memandang keadaan seputarnya.
Dia berada di tempat yang lebih tinggi dari pada kuil Siauw-lim-si. Dipandang dari jauh kuil itu angker dan indah. Dia mendongak dan memandang puncak yang menjulang ke langit dan berderet bagaikan sekosol (sekat yang dapat di-pindah), sedang di bawah puncak itu terdapat awan putih yang mengambang kian kemari. Pada lain saat sayup-sayup mendengar suara lonceng di kuil yang dibawa ke atas olen tiupan angin. Dalam keadaan begitu Kwee Siang merasa berada di tempat suci yang jauh dari keduniawian.
“Ke mana perginya murid si pendeta itu?” tanyanya dalam hati. “Kalau dia sendiri tidak mau bicara, biar kucari muridnya. “Perlahan-lahan ia turun gunung mencari Thio Kun Po, murid Kak Wan.
Sesudah berjalan beberapa lama, ia kembali mendengar suara berkerincingnya rantai besi dan jauh-jauh Kak Wan kelihatan mendatangi sambil memikul dua tahang besinya. Kwee Siang buru-buru melompat dan menyembunyikan diri di belakang pohon.
“Biarlah aku mengintipnya,” pikirnya. “Permainan gila apa yang tengah dilakukannya?”
Tak lama kemudian Kak Wan sudah tiba di tempat sembunyinya. Kwee Siang mendapat kenyataan bahwa sambil berjalan pendeta itu terus membaca sejilid buku dengan penuh perhatian. Mendadak ia melompat dan berteriak.
”Toa-hwesio, buku apa yang kau baca?”
“Aduh! Kaget benar aku!” teriak si pendeta tanpa merasa. “Nakal sungguh kau!”
Si nona tertawa geli. “Toa-hwesio, kenapa tadi engkau berlagak gagu?” tanyanya dengan nada mengejek.
Muka pendeta itu lantas saja berubah pucat, seperti orang ketakutan. Dia menengok ke kiri kanan dan menggoyang-goyangkan tangannya.
“Apa yang kau takuti?” tanya pula Kwee Siang dengan perasaan heran.
Sebelum Kak Wan keburu menjawab, dari dalam hutan muncul dua orang pendeta yang mengenakan jubah kuning.
“Kak Wan!” bentak si pendeta yang jalan di depan. “Hm! Kau berani bicara dan melanggar larangan kami? Kau berani berbicara dengan orang luar, apa lagi dengan seorang wanita. Sekarang kau harus menghadap kepada tetua Kay-lut-tong (dewan perundang-undangan dari kalangan Buddha).”
Kak Wan kelihatan berduka. Ia menunduk dan mengangguk, kemudian berjalan mengikuti di belakang kedua pendeta itu.
Kwee Siang lantas saja naik darahnya. “Hai! Di kolong langit mana ada aturan tidak boleh bicara?” bentaknya. “Aku bicara dengan Taysu itu, karena aku mengenalnya. Ada sangkut paut apakah dengan kau berdua?”
Pendeta yang bertubuh jangkung memelototkan matanya. “Semenjak ribuan tahun, belum pernah ada wanita diperkenankan masuk ke daerah Siauw-lim-si,” katanya. “Lebih baik nona cepat-capat turun gunung supaya tidak menghadapi kesukaran.”
Si nona semakin marah. “Eh, kalau wanita masuk ke sini, mau apa kau?!” bentaknya. “Apa perempuan tidak sama dengan lelaki? Kenapa kamu menyusahkan Kak Wan Taysu? Sesudah mengikatnya dengan rantai besi, kau masih mengeluarkan larangan gila.”
Si jangkung mengeluarkan suara di hidung. “Kaisar sendiri tak pernah mencampuri urusan dalam kuil kami,” katanya dengan suara tawar. “Nona tak usah banyak bicara.”
Kwee Siang berjingkrak. “Aku tahu Kak Wan Taysu seorang baik dan karena dia seorang baik, kau berani menghinanya,” katanya. “Huh-huh! Di mana adanya Thian Beng Siansu, Bu Sek Hwesio dan Bu Siang Hwesio? Panggil mereka! Aku mau menanyakan urusan gila ini!”
Kedua pendeta itu terkejut. Harus diketahui bahwa Thian Beng Siansu adalah Hong-thio atau kepala kuil Siauw-lim-si, sedangkan Bu Sek Siansu pemimpin Lo-han-tong dan Bu Siang Siansu pemimpin Tat-mo-tong dengan kedudukan yang sangat tinggi. Mereka dihormati oleh segenap pendeta yang belum pernah berani menyebutkan Hoat-nia (nama sesudah jadi pendeta) mereka dan biasa menggunakan panggilan ‘Lo-hong-thio’, ‘Lo-han-tong Cocu’ atau ‘Tat-mo-tong Cocu’. Maka tidaklah heran jika mereka kaget bercampur marah waktu mendengar si nona menyebut nama ketiga pemimpin dengan suara kasar.
Hoat-nia pendeta yang bertubuh jangkung adalah Hong Beng, murid kepala Cocu (pemimpin) Kay Lut Tang. Atas perintah cocu, bersama Hong Yang, adik seperguruannya, ia menilik gerak-gerik Kak Wan.
“Li-sicu (nona)!” bentaknya sambil menahan amarah. “Jika kau terus berlaku kurang sopan di tempat yang suci ini, Siauw-ceng tak akan berlaku sungkan lagi.”
“Kau kira aku takut?” Kwee Siang balas membentak. “Lekas buka rantai yang melibat Kak Wan Taysu. Jika tidak, aku akan cari Thian Beng Lo-hwesio untuk berurusan lebih jauh.”
Bagaimana siauw-tong-sia Kwee Siang bisa berada di gunung Siauw-sit-san? Setelah berpisah dari Yo Ko dan Siauw Liong Lie di puncak Hoa-san, selama tiga tahun ia tidak pernah menerima warta tentang kedua sahabat itu. Karena berkuatir, ia segera minta ijin pada kedua orang tuanya untuk pesiar ke berbagai tempat, dengan tujuan mendengar berita tentang Yo Ko. la bukan terlalu ingin bertemu muka dengan kedua suami isteri itu. Ia sudah merasa puas jika bisa mendengar warta tentang sepak terjang mereka. Tetapi semenjak berpisah, Yo Ko dan Siauw Liong Lie tidak pernah muncul di dunia Kangouw. Tiada orang tahu di mana mereka menyembunyikan diri. Sesudah berkelana di sebagian besar wilayah Tiong-goan, dari utara ke selatan dan dari timur ke barat, belum pernah Kwee Siang mendengar disebut-sebutnya, nama ‘Sin-tiauw Tayhiap Yo Ko’.
Waktu tiba di propinsi Holam, dia ingat dahulu Yo Ko pernah mengatakan bahwa ia kenal Hong-thio dari kuil Siauw-lim-si. Mengingat begitu di dalam hatinya muncul harapan kalau Thian Beng Siansu mengetahui segala sesuatu mengenai Yo Ko. la lalu mendaki Siauw-sit-san, tapi tak dinyana, begitu tiba ia bertemu dengan kejadian yang mengherankan. Melihat pinggang Kwee Siang tergantung sebatang pedang pendek, Hong Beng dan Hong Yang menjadi semakin marah.
“Tinggalkan pedangmu di sini dan lekaslah pergi dari gunung!” bentak Hong Yang dengan mata melotot.
Mendengar perintah itu, kemarahan si nona menjadi bertambah. Dia membuka ikatan tali pedang dari pinggangnya, lalu sambil mengangsurkannya dengan kedua tangan ia berkata seraya tertawa dingin.
“Baiklah, aku menurut perintah!”
Sejak kecil Hong Yang sudah menyucikan diri di kuil Siauw-lim-si. Selama belasan tahun dia selalu mendengar bahwa Siauw-lim-si adalah pusat dari ilmu silat dan siapa pun juga, biar pun ahli silat yang berkepandaian paling tinggi juga tak akan berani melewati pintu kuil dengan membawa senjata. Sekarang walau pun Kwee Siang masih belum masuk di pintu, tapi ia sudah berada dalam lingkungan Siauw-lim. Dengan usianya yang masih begitu muda, pula dia adalah seorang wanita, dapatlah dimengerti jika Hong Yang tidak memandang sebelah mata kepada Kwee Siang.
Begitu Kwee Siang mengangsurkan senjatanya, si pendeta menafsirkan bahwa nona itu sudah menyerah dengan ketakutan. Maka dengan paras muka ber-seri sambil mengibas lengan jubah yang menutupi kedua tangannya; dia langsung menyelonjorkan tangan menjemput pedang Si nona. Tapi baru saja lima jarinya menyentuh sarung pedang, lengannya lantas bergetar seperti kena arus kilat. Ia merasakan semacam tenaga yang sangat besar menerobos keluar dari pedang itu dan mendorongnya dengan hebat, sehingga tak ampun lagi dia roboh terguling dan terus menggelinding ke bawah tanjakan. Sesudah tergelincir belasan tombak, untung ia berhasil menjemput pohon kecil di pinggir jalanan dan dapat menolong dirinya. Darah Hong Beng mendidih; paras mukanya menjadi merah padam.
“Perempuan celaka!” bentaknya. “Tampaknya kau sudah makan nyali singa sehingga berani unjuk keganasan di Siauw-lim-si.“ Sambil mencaci ia menghantam dengan kedua tangannya.
Melihat gerakan orang, Kwee Siang segera tahu bahwa kepandaian pendeta itu lebih tinggi dari pada kawannya. Dengan cepat ia pun mengangkat pedangnya yang masih berada di dalam sarung dan menotok pundak Hong Beng laksana kilat. Si pendeta mengegos sambil menjambret sarung pedang.
“Jangan berkelahi! Jangan berkelahi!” teriak Kak Wan dengan suara bingung.
Jambretan Hong Beng ternyata berhasil, tapi baru saja ia mau membetot sarung pedang, lengannya mendadak kesemutan dan ia mengeluarkan teriakan tertahan.
“Celaka!”
Hampir berbareng Kwee Siang menyapu dengan kakinya hingga tubuh Hong Beng tergelincir ke bawah. Ia menderita lebih hebat dari pada Hong Yang karena baru berhenti setelah menggelinding dua puluh tombak lebih dengan tubuh dan muka berlepotan darah. Peristiwa itu membuat si nona agak menyesal.
“Ah! Aku naik ke Siauw-lim-si untuk mendengar warta tentang Yo-toako,” pikirnya. “Siapa nyana aku bentrok dengan mereka.”
Melihat Kak Wan berdiri di tepi jalan dengan paras muka berduka, ia segera menghunus pedang kemudian membacok rantai yang melibat kaki pendeta itu. Biar pun bukan pedang mustika, tetapi senjata Kwee Siang bukan senjata sembarangan. Dengan berkerincingan tiga rantai putus terbacok.
“Jangan! Jangan!” si pendeta coba mencegah.
“Mengapa jangan?” tanyanya. Dia mengawasi Hong Beng dan Hong Yang yang sedang berlari-lari dan berkata. “Dua hwesio jahat itu tentu hendak melapor. Mari kita kabur. Mana muridmu, she Thio itu? Kita ajak dia lari bersama-sama.”
Kak Wan meng-gelengkan kepala dan mengawasi si nona dengan sorot mata berterima kasih. Kwee Siang mendengar suara orang di belakangnya.
“Terima kasih untuk kebaikan nona. Aku berada di sini.”
Si nona cepat menoleh dan melihat di belakangnya berdiri seorang pemuda yang berusia kurang lebih tujuh belas tahun, dengan alis tebal, mata besar dan badan tinggi besar, tapi paras mukanya masih kekanak-kanakkan. la segera mengenali bahwa pemuda itu bukan lain dari pada Thio Kun Po yang pernah bertemu di puncak gunung Hoa-san. Tubuh anak itu sudah banyak lebih tinggi, tetapi mukanya tidak banyak berubah. Kwee Siang girang.
“Dua hwesio jahat itu telah menghina gurumu,” katanya. “Mari kita kabur.”
“Sebenarnya mereka tidak menghina Suhu,“ kata Kun Po.
“Tidak menghina,” menegas si nona. “Mereka melibatkan rantai di kaki tangan gurumu dan melarang gurumu bicara. Apa itu tidak menghina?”
Kak Wan tertawa getir. Ia kembali menggelengkan kepalanya sambil menuding ke bawah sebagai nasihat supaya Kwee Siang buru-buru kabur sendiran. Tetapi Siauw-tong-sia Kwee Siang adalah manusia yang mempunyai sifat-sifat ksatria. Dia yakin bahwa di kuil Siauw-lim-si terdapat ahli silat yang tak terhitung banyaknya. Tetapi ia tidak bisa berpeluk tangan melihat keganjilan. Melihat Kak Wan dan Kun Po ayal-ayalan, ia menjadi bingung karena kuatir keburu dicegat.
“Lekas! Jika mau bicara, boleh bicara di bawah gunung,” katanya sambil menyeret tangan guru dan muridnya. Tapi baru saja ia mengeluarkan perkataan itu, dari bawah muncul tujuh delapan pendeta yang bersenjata toya Ci-bi-kun.
“Perempuan dari mana berani mengganas di Siauw-lim-si?” teriak satu diantaranya.
“Suheng, jangan kurang ajar,” kata Kun Po. “Dia adalah...”
“Jangan menyebut namaku!” potong Kwee Siang. Ia mengerti bahwa ia telah menerbitkan keonaran yang mungkin tak bisa dibereskan lagi dengan jalan damai.
Sebagai jago betina ia hendak bertanggung jawab sepenuhnya atas perbuatannya sendiri. Ia sungkan me-nyeret kedua orang tuanya, maka itu ia lalu menambahkan dengan suara perlahan:
“Mari kita kabur. Tapi jangan sekali-kali kau menyebut nama kedua orang tuaku atau lain-lain sahabat.”
Se-konyong-konyong terdengar suara bentakan dan di atas gunung kembali muncul tujuh delapan pendeta. Melihat jalan di depan dan di belakang sudah tercegat, Kwee Siang jadi mendongkol.
“Semua gara-gara kalian berdua yang seperti nenek-nenek, sedikit pun tidak punya semangat laki-laki. Bilang sekarang, mau pergi atau tidak?”
Kun Po berpaling kepada gurunya seraya berkata. “Suhu ini kebaikan budi dari Kwee-kouwnio...”
Sesaat itu di bawah kembali muncul empat pendeta yang berjubah warna kuning. Mereka tidak bersenjata, tetapi selagi mendaki, gerakan mereka gesit dan cepat luar biasa. Kwee Siang mengakui bahwa mereka adalah orang yang mempunyai kepandaian tinggi. Sekarang si nona mengerti bahwa dia takkan dapat melarikan diri lagi. Dia segera berdiri tegak dengan sikap angkuh, siap sedia untuk menghadapi segala kemungkinan. Begitu datang dekat, pendeta yang berjalan paling depan segera berteriak dengan suara nyaring,
“Atas perintah tetua Lo-han-Tong, kau harus meninggalkan senjatamu. Kemudian pergi ke Pendopo Lip-swat-teng di kaki gunung untuk memberi penjelasan dan mendengar keputusan kami.”
Kwee Siang tertawa dingin. “Ah! Lagak hwesio Siauw-lim-si sungguh tak berbeda dengan pembesar negeri,” katanya dengan nada mengejek. “Bolenkah aku tahu, apa para Toa-hwesio menjadi pembesar dari kerajaan Song atau menjadi pembesar dari kaisar Mongol?”
Ketika itu daerah di sebelah utara sungai Hway-sui sudah jatuh ke tentara Mongol dan Siauw-sit-san dengan Siauw-lim-si-nya justru berada di wilayah kekuasaaan Mongol. Sampai sebegitu jauh, karena selama bertahun-tahun repot menyerang kota Siang-yang, maka bala tentara Mongol masih belum sempat memperhatikan soal-soal lain sehingga sampai sebegitu jauh Siauw-lim-si masih belum diganggu.
Mendengar perkataan Kwee Siang yang sangat tajam, paras muka pendeta itu berubah merah. Ia merasa bahwa perkataannya tadi memang tidak pantas, sebab dengan berkata begitu, Siauw-lim-si seolah-olah mau jadi hakim sendiri terhadap orang luar. Maka itu, sambil merangkap kedua tangannya, ia segera berkata pula dengan suara manis.
“Ada urusan apa Li-sicu datang berkunjung ke kuil kami? Mohon meninggalkan senjata dan pergi ke pendopo Lip-swat-teng untuk sekedar minum teh sambil beromong-omong.”
Kwee Siang mengeluarkan suara di hidung, “Huh! Kalian melarang aku masuk ke kuilmu, apa dalam kuilmu terdapat mustika yang menjadi ternoda karena dilihat olehku?” katanya sambil melirik Thio Kun Po dan berkata dengan suara perlahan. ”Kau mau ikut tidak?”
Pemuda itu menggelengkan kepala dan memonyongkan mulut ke arah Kak Wan sebagai tanda bahwa ia mau menetap di samping gurunya.
“Baiklah,” kata si nona dengan suara nyaring. “Aku tidak ikut campur lagi.“ Ia mengangkat kaki dan turun dari tanjakan itu.
Si jubah kuning yang pertama lantas minggir ke samping, tapi yang kedua dan yang ketiga merintang sambil mengangkat tangan mereka.
“Tunggu dulu,” kata salah seorang. “Tinggalkan senjatamu.”
“Kami tidak akan menahan senjata Li-sicu dalam tempo lama,” kata si jubah kuning yang pertama. “Begitu Li-sicu sudah turun gunung maka kami akan segera mengembalikannya. Peraturan ini adalah peraturan Siauw-lim-si yang telah dipertahankan selama ribuan tahun sehingga kami minta Li-sicu suka memaafkan.”
Mendengar permintaan yang sopan, si nona bimbang. ”Jika aku membantah, tentu aku harus bertempur. Tapi seorang diri, bagaimana bisa melawan jumlah mereka yang begitu besar?” Pikirnya. “Tetapi kalau aku meninggalkan senjata, aku seperti menghilangkan muka ayah, ibu, kakek, cici, Toako dan Liong-cici.”
Sebelum ia mengambil keputusan, satu bayangan kuning berkelebat, disusul dengan bentakan.
“Kau bukan saja membawa senjata, tapi juga sudah melukai orang. Semenjak dulu belum pernah ada manusia yang berani berbuat begini!“
Hampir berbareng, lima jeriji menyambar sarung pedang Kwee Siang. Kalau saja dia tidak diserang, setelah berpikir masak-masak, mungkin sekali si nona akan menyerahkan senjatanya. Harus diketahui bahwa sifat gadis itu berbeda dengan Kwee Hu, kakaknya. Walau pun gagah, ia tidak sembrono. Melihat keadaan yang merugikan dirinya, ia dapat menahan kesabaran untuk kembali lagi di kemudian hari dengan membawa bala-bantuan. Tapi usaha si pendeta untuk merebut pedangnya sudah meniadakan segala kemungkinan perdamaian. Mana bisa ia menyerahkan senjatanya dengan begitu saja? Ilmu Kin-na-chiu-hoat (ilmu menangkap menyengkeram) pendeta itu memang amat lihay. Sekali menjambret, ia berhasil mencengkeram sarung pedang. Dalam keadaan terdesak Kwee Siang mencekal gagang pedang dan membetotnya.
“Srett!” pedang tercabut dan mengeluarkan sinar menyilaukan mata.
Hampir berbareng si pendeta berteriak karena lima jarinya terpapas putus. Dalam kesakitan dia menotok muka si nona dengan sarung pedang yang dicekal tangan kanannya. Kwee Siang memapaki dan...
“Trangg...!” sarung pedang itu menjadi dua potong.
Pendeta itu tidak bisa menyerang lagi dan dengan paras muka pucat ia segera melompat mundur. Kawan-kawannya jadi marah bukan main, dengan serentak mereka memutar toya dan maju mengepung.
“Aihh, hari ini aku pasti tidak bisa meloloskan diri tanpa melukai banyak orang,” kata Kwee Siang dalam hatinya. Sambil mencekal pedangnya erat-erat, ia segera menerjang dengan Lok-eng Kiam-hoat.
Lok-eng Kiam-hoat yang digubah Oey Yok Su dari ilmu pukulan Lok-eng Ciang-hoat ialah salah satu kepandaian istimewa dari pulau Tho-hoa-to yang tidak kalah lihainya dari pada Giok-siauw Kiam-hoat. Begitu menerjang pedang si nona me-nyambar bagaikan kilat dan dalam sekejap dua orang pendeta terluka. Akan tetapi ia berada di atas angin hanya untuk sementara waktu, dan tidak lama kemudian keadaannya mulai terjepit karena semakin lama jumlah pengepung semakin besar.
Sesudah bertempur selama beberapa puluh jurus Kwee Siang hanya dapat membela diri, tanpa mampu menyerang. Dalam keadaan terdesak seperti itu sebenarnya para pendeta bisa segera merobohkannya. Tapi karena Siauw-lim-si mengutamakan belas kasihan, mereka tidak tega melakukannya. Tujuan mereka hanyalah untuk merebut senjata si nona dan kemudian mengusirnya dari Siauw-sit-san.
Tetapi merebut pedang bukanlah pekerjaan mudah dan sesudah lewat lagi puluhan jurus, Kwee Siang masih mampu mempertahankan senjatanya. Semakin lama para pendeta semakin heran. Mereka merasa pasti bahwa gadis kecil ini adalah puteri atau murid seorang ahli silat kenamaan dan oleh karenanya, mereka tidak berani melukainya karena hal itu bisa berbuntut panjang. Karena itu sambil mengepung salah seorang pergi ke kuil untuk melaporkan kepada Bu Sek Siansu, pemimpin Lo-han-tong.
Tak lama kemudian tampak seorang pendeta tua yang bertubuh jangkung kurus mendekati gelanggang pertempuran lalu menonton sambil tersenyum. Dua orang pendeta segera melompat keluar dari gelanggang dan bicara bisik-bisik dengan pendeta tua itu. Sementara Kiam-hoat si nona semakin terdesak.
“Hai! Kalian semua benar-benar tidak kenal malu!” teriaknya. “Kalian selalu mengagulkan Siauw-lim-si sebagai pusat pelajaran ilmu silat, tetapi tidak tahunya, puluhan Toa-hwesio menarik keuntungan dengan jalan mengerubut.”
“Berhenti semua!” pendeta tua yang bukan lain adalah Bu Sek Siansu membentak sambil tersenyum. Mendengar perintah itu dengan serentak semua pendeta melompat keluar dari gelanggang kemudian berdiri di pinggiran.
“Nona,” tegur Bu Sek Siansu dengan suara sabar. “Bolehkah aku mendapat tahu she dan nama nona yang mulia. Siapa nama orang tuamu dan siapakah gurumu? Ada urusan apa nona datang berkunjung ke kuil kami?”
“Hari ini aku sudah mengacau hebat sekali. Jika diketahui ayah ibu dan Toakoko, tentulah mereka akan mengomel,” kata Kwee Siang dalam hati. Sesudah berpikir begitu dia lantas mengeluarkan suara di hidung.
“Tak mungkin aku memberi-tahukan namaku,” jawabnya. “Aku mendaki gunungmu karena tertarik dengan pemandangannya yang sangat indah dan sama sekali tidak mengandung maksud apa pun juga. Tapi siapa nyana Siauw-lim-si lebih angker dari pada keraton kaisar. Tanpa sebab yang jelas kalian ingin merampas senjataku. Taysu, aku ingin tanya. Apakah aku pernah menginjak pintu kuilmu?” Dia berdiam sejenak sambil mengawasi Bu Sek, lalu berkata lagi. “Dulu pada waktu Tat-Mo Couwsu menurunkan ilmu silat, kurasa tujuannya yang paling utama adalah supaya para pendeta mempunyai tubuh yang kuat agar dapat menjalankan tugas keagamaan se-baiknya. Tapi ternyata makin lama nama Siauw-lim-si semakin terkenal, ilmu silatnya jadi semakin tinggi dan kebiasaan mengeroyoknya pun jadi makin tersohor! Baiklah, Toa-hwesio, jika kau mau merebut senjataku, ambillah! Tapi, kecuali kau membinasakan aku, kejadian ini pasti akan diketahui oleh semua orang dalam Rimba persilatan.”
Mendengar perkataan si nona yang amat tajam, Bu Sek jadi tergugu. Untuk sejenak ia mengawasi si nona dengan mulut ternganga dan tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun.
“Aku sendiri takut kejadian ini diketahui orang, tapi rupanya ia lebih takut lagi,“ kata Kwee Siang dalam hatinya. Memang puluhan pendeta mengerubuti seorang wanita bukan kejadian yang boleh dibuat bangga. Ia segera melontarkan pedangnya kemudian bertindak turun gunung.
Bu Sek maju satu tindak sambil mengibaskan lengan bajunya dan pedang itu tergulung lengan jubah. Seraya memegang senjata yang bernoda darah itu dengan kedua tangannya ia berkata:
“Jika nona enggan menjawab pertanyaanku, biarlah aku kembalikan senjata ini dan dengan segala kehormatan aku mengantar nona turun gunung.”
Kwee Siang tertawa. “Toa-hwesio adalah seorang yang mengerti urusan dan boleh dibuat contoh oleh pendeta di sini.“ Ia memuji sambil mengulur tangan untuk menyambut. Tapi begitu jerijinya menyentuh gagang pedang, segera ia terkesiap.
Ternyata dari telapak tangan Bu Sek keluar semacam tenaga menyedot sehingga pedang itu tak dapat diangkat. Tiga kali Kwee Siang mengempos semangat sambil mengerahkan Iwekang, tetapi ia belum juga bisa berhasil.
“Eh, Toa-hwesio, kau sengaja memperlihatkan kepandaianmu, ha?” tanyanya dengan hati mendongkol.
Tiba-tiba saja bagaikan kilat tangannya menyambar dan mengebut jalan darah Thian-teng-hiat dan Ki-kut-hiat di leher Bu Sek yang menjadi kaget bukan main dan buru-buru melompat ke belakang. Pada detik ia terkejut dan Iweekang-nya agak kendor, si nona segera membetot dan berhasil merebut senjatanya.
“Sungguh indah Lan-hoa-hud-hiat-chiu (Ilmu Bunga anggrek mengebut jalanan darah)!” Bu Sek memuji. “Nona, pernah apakah dengan majikan pulau Tho-hoa?”
“Majikan pulau Tho-hoa?” ia menegas seraya tertawa. “Dia dikenal sebagai Lo-tong-sia (si Sesat Tua dari Timur).”
Tong-sia Oey Yok Su, pemilik Tho-hoa, adalah kakek luar Kwee Siang. Orang tua yang adatnya aneh sering memanggil cucu perempuannya sebagai ‘Siauw-tong-sia’ yang lalu membalas dengan menggunakan istilah ‘Lo-tong-sia’. Sebaliknya dari jengkel, sang kakek malah girang dan menerima baik panggilan si cucu nakal.
Begitu mendengar jawaban Kwee Siang, Bu Sek menarik kesimpulan bahwa si nona tidak punya hubungan rapat dengan orang tua itu. Jika masih tersangkut keluarga, ia tentu tak akan mengeluarkan kata-kata yang agak kurang ajar. Berpikir begitu, hati Bu Sek lebih lega. Di waktu masih muda Bu Sek Siansu pernah menjagoi di kalangan rimba hijau. Karena itu meski pun ia sudah menjadi orang beribadat puluhan tahun lamanya, sifat-sifat jagoannya masih belum hilang. Semakin Kwee Siang menolak memberi-tahukan nama gurunya dan asal-usulnya, semakin besar pula hasratnya untuk menyelidiki. Dia tertawa ter-bahak seraya berkata,
“Nona kecil, mari kita main-main sebentar untuk menjajal mata si pendeta tua ini. Coba kita lihat, apakah dalam sepuluh jurus aku bisa atau tidak menerka asal usul ilmu silatmu?”
“Bagaimana jika kau tak mampu?” tanya si nona.
Bu Sek kembali tertawa terbahak-bahak. “Jika kau bisa melayani aku dalam sepuluh jurus dan aku masih belum bisa menebak asal-usul ilmu silatmu maka aku akan menurut segala kemauanmu,“ jawabnya.
“Dulu aku pernah bertemu muka dengan Taysu dan sekarang aku ingin minta sesuatu untuknya,” kata Kwee Siang sambil menunjuk Kak Wan. “Kalau dalam sepuluh jurus kau masih belum bisa menebak siapa guruku, aku minta kau suka meluluskan permohonanku untuk tidak menyusahkan Taysu itu lagi.”
Bu Sek amat heran. Sepanjang pengetahuannya, selama sepuluh tahun mengurus kitab-kitab di Cong-keng-kok (perpustakaan), Kak Wan belum pernah berhubungan dengan orang luar. Bagaimana kini ia bisa mengenal si nona? Karena itu sambil mengawasi Kwee Siang dengan sorot mata tajam, ia berkata.
“Kami belum pernah berniat untuk sengaja menyakitinya. Kalau melanggar, setiap pendeta dalam kuil ini, tak peduli siapa pun juga, diharuskan mendapat hukuman. Karena itu adalah kurang tepat kalau nona menggunakan istilah menyusahkan.”
“Hm!” kata Kwee Siang seraya tertawa dingin. “Biar apa pun yang dikatakan olehmu, kau tetap seorang yang pandai putar-putar omongan.”
Bu Sek mengangkat dua tangannya sambil berkata. “Baiklah. Aku luluskan permintaanmu! Apa bila lolap kalah, maka biarlah aku mewakili Kak Wan Sute memikul tiga ribu seratus delapan pikul air. Nona kecil, hati-hati aku akan segera menyerang.”
Diam-diam Kwee Siang menentukan siasat. “Pendeta ini pasti memiliki kepandaian tinggi dan jika dibiarkan ia menyerang lebih dahulu maka aku mesti mengeluarkan ilmu silat dari ayah dan ibu untuk membela diri,“ pikirnya. “Paling benar aku mendahului dan mengirim sepuluh serangan aneh beruntun-runtun.”
Begitu Bu Sek selesai mengucapkan perkataannya, Kwee Siang segera menikam dengan pukulan Ban-ci-cian-hong dari Lok-eng Kiam-hoat. Dengan pukulan itu, ujung pedangnya menggetar tak hentinya sehingga musuh sukar menebak arah serangan. Bu Sek yang tahu lihaynya pukulan tersebut, tidak berani menyambut secara berhadapan dan buru-buru melompat.
“Awas, sekarang serangan yang kedua!” teriak si nona sembari memutar senjatanya lalu menikam dari bawah ke atas dengan tipu Thian-sin-to-hian (Malaikat langit jungkir balik) dari Coan-cin Kiam-hoat.
“Thian-sin-to-hian!” seru Bee sek.
“Belum tentu benar,” kata si nona sambil menyengir.
Begitu mengegos, Bu Sek membalik tangan kanannya lantas lima jerijinya yang dipentang menyambar ke arah muka Kwee Siang. Si nona sangat terkejut karena ia sama sekali tak menduga bahwa pendeta itu bisa mengirim serangan balasan begitu cepat. Dalam keadaan terdesak ia menggoyangkan pedangnya beberapa kali dan menyambut dengan Ok-kauw-lun-louw (Anjing jahat mempercepat jalan) dari Tah-kauw Pang-hoat (Ilmu tongkat pemukul anjing).
Harus diketahui bahwa waktu kecil, nona Kwee bersahabat rapat dengan mendiang Loh Yu Ka, Pangcu dari Kaypang (Partai pengemis). Keduanya sering makan minum ber-sama, bersenda gurau dan tempo-tempo atas desakan si nona, mereka berlatih silat. Biar pun di Kaypang terdapat peraturan bahwa Tah-kauw Pang-hoat hanya boleh diturunkan kepada seorang Pangcu, tapi berkat pergaulannya dengan orang tua itu maka lama-lama Kwee Siang berhasil mempelajari beberapa pukulan dari ilmu silat tongkat yang luar biasa itu. Kalau diingat bahwa bekas Pangcu Kaypang sekarang, Yalu Ce, adalah suami dari kakak perempuannya, maka sesungguhnya si nona mempunyai kesempatan luas untuk melihat latihan-latihan Tah-kauw Pang-hoat. Maka itu biar pun tak mengerti inti sari dari pada ilmu silat tersebut, dalam keadaan terjepit ia masih bisa menggunakannya untuk menolong diri.
Bu Sek kaget bukan main sebab pada saat kelima jarinya hampir menyentuh pergelangan tangan si nona, tiba-tiba sehelai sinar putih berkelebat dan pedang menyambar dari arah yang sebenarnya tak mungkin dilakukan sehingga hampir-hampir jerijinya terbabat putus. Untung saja pada detik terakhir ia masih keburu melompat ke belakang. Tetapi meski pun begitu, tak urung lengan jubahnya tergores ujung pedang dan menjadi robek. Paras muka Bu Sek berubah pucat dan keringat dingin mengucur dari dahinya.
Hati Kwee Siang berbunga. “Taysu, apa kau tahu ilmu pedang apa itu?” tanyanya sambil nyengir.
Di dunia memang tidak terdapat Kiam-hoat yang serupa itu. Sesudah mencuri Tah-kauw Pang-hoat, dengan otaknya yang sangat cerdas, si nona mengubah pukulan Kiam-hoat berdasarkan ilmu tongkat itu sehingga dengan demikian, ia telah membuat seorang pendeta Siauw-lim-si yang berilmu tinggi tak bisa menjawab pertanyaannya.
“Ha! Jika aku bisa menyerang lagi dengan beberapa pukulan Tah-kauw Pang-hoat, maka pendeta tua ini akan dapat dirobohkan,” katanya dalam hati. “Sungguh sayang, aku hanya memiliki satu pukulan yang semengga-mengganya (hanya satu-satunya) ini.”
Sebelum sang lawan sempat bergerak, Kwee Siang sudah mendahului lagi dan menotol beberapa kali bagian bawah Bu Sek dengan ujung pedang. Sekali ini ia menyerang dengan Leng-po-wi-po (Leng-po bertindak dengan ayunya), yakni salah satu pukulan dari Giok-li Kiam-hoat yang didapatnya dari Siauw Liong Lie. Seperti sudah diketahui, Giok-li Kiam-hoat adalah ilmu pedang gubahan Lim Tiauw Eng, setiap pukulannya mempunyai gerakan Leng-po-wi-po, maka jadi tambah menyolok ketika dilakukan oleh nona Kwee yang cantik dan ayu. Dengan perasaan kagum semua pendeta mengawasi serangan itu sambil menahan napas.
Harus diketahui bahwa Tat-mo Kiam-hoat, Lo-han Kiam-hoat dan ilmu pedang lainnya dari Siauw-lim-si mengutarakan ‘kekerasan’, sedangkan Giok-li Kiam-hoat, yang jarang terlihat di rimba persilatan justru berbeda dengan silat Siauw-lim-pay. Begitu si nona mulai menyerang dengan Leng-po-wi-po, seperti pendeta lainnya Bu Sek pun lantas mengawasi dengan rasa kagum dan heran. Seumur hidup belum pernah dia menyaksikan ilmu pedang yang seindah itu dan cepat-cepat dia meloncat ke samping dengan harapan si nona akan mengulangi serangannya.
Saat itu pula Kwee Siang kembali mengubah cara bersilatnya. Sekarang ia berlari ke timur dan ke barat sambil membabat berulang dengan pedangnya. Thio Kun Po yang menonton dari pinggir jalan mengawasi serangan si nona dengan mata membelalak dan tiba-tiba ia mengeluarkan teriakan:
“Ahh!”
Ternyata yang digunakan Kwee Siang adalah pukulan Su-thong Pat-ta (Empat menembus Delapan meyampaikan), yaitu ilmu silat yang pada tiga tahun berselang diturunkan Yo Ko kepada Kun Po. Pada waktu itu Kwee Siang kebetulan dapat melihatnya dan sekarang dia menggunakannya untuk menghadapi Bu Sek. Su-thong Pat-ta yang dulu diajarkan Yo Ko adalah Ciang-hoat (ilmu silat tangan kosong). Dengan mengubahnya menjadi Kiam-hoat (ilmu pedang) maka pengaruh ilmu itu menjadi banyak berkurang sehingga kalau dahulu Thio Kun Po berhasil mengalahkan In Kek See, sekarang Kwee Siang tidak bisa berbuat banyak terhadap Bu Sek.
Dengan be-runtun Kwee Siang menyerang lima kali, tapi Bu Sek masih belum bisa meraba asal-usul ilmu silat si nona. Di waktu muda ia malang melintang di dunia Kangouw dan mempunyai pengalaman yang amat luas. Semenjak mengetuai Lo-han-tong pada belasan tahun berselang, ia telah menggunakan seluruh temponya untuk menyelidiki ilmu silat berbagai partai dan membandingkannya dengan ilmu Siauw-lim-si. Ia menggodok semua pengalamannya dan pendapatnya itu untuk menyempurnakan ilmu partainya. Maka ia selalu percaya penuh bahwa dengan sekali melihat bisa tahu asal usul ilmu silat setiap ahli. Tapi di luar dugaan, hari ini ia ‘ketemu batunya’.
Kakek, ayah-ibu, paman dan kakak Kwee Siang adalah ahli-ahli silat nomor satu. Dalam menghadapi serangan yang ber-macam coraknya, kepandaian Bu Sek masih lebih dari cukup untuk membela diri. Tapi untuk mengetahui siapa guru si nona, ia masih belum bisa me-raba.
“Kalau aku membiarkan dia menyerang lebih dulu, jangankan dalam sepuluh jurus, bahkan seratus jurus sekali pun belum tentu aku dapat menebak asal-usul ilmu silatnya,” pikir Bu Sek. “Jalan satu-satunya adalah menyerang dengan hebat supaya ia terpaksa mengeluarkan ilmu silatnya yang asli guna menolong diri.”
Berpikir begitu, cepat bagaikan kilat ia mengegos ke kiri dan menghantam dengan pukulan Song-koan-kun, dengan merapatkan kedua tangannya dan sepuluh jarinya ditekuk seperti ceker. Melihat sambaran yang sangat dahsyat, Kwee Siang tidak berani menyambut kekerasan dengan kekerasan. Dengan sedikit membungkuk dan dengan satu gerakan yang sangat indah dan lincah, ia pun berhasil meloloskan diri dari bawah kedua tangan lawan. Gerak itu adalah tipu yang pernah dipergunakan Eng Kouw pada waktu bertempur dengan Yo Ko di Ban-hoa-kok (lembah laksaan bunga).
“Bagus, sungguh bagus gerakanmu!” memuji Bu Sek, “Sambutlah lagi satu seranganku!”
Ia membuat sebuah lingkaran dengan tangan kirinya, sedang sikut kanan ditaruh di dada dengan telapak tangan menghadap ke atas. Itulah pukulan Ui-eng-loh-kee (Burung kuning hinggap di cagak) dari Siauw-lim-kun. Sebagai seorang tetua Siauw-lim-si, biar pun paham dengan ilmu silat berbagai partai, akan tetapi dalam setiap pertempuran dia selalu harus menggunakan ilmu partai sendiri yang paling asli.
Kwee Siang kaget sebab begitu cepat Bu Sek membuat lingkaran di tengah udara. Dia merasakan tindihan semacam tenaga yang sangat kuat. Buru-buru dia membalikkan pedang dan dengan gagang pedang dia menotok jalan darah Wan-kut-hiat, Yang-kok-hiat dan Yang-lo-hiat di pergelangan tangan si pendeta. Ilmu menotok itu adalah It-yang-ci yang pernah dia pelajari dari Bu Siu Bun. Sebenarnya pelajarannya masih sangat cetek dan belum bisa digunakan untuk melukai musuh. Tetapi gerakan menotok tiga jalan darah itu adalah salah satu pukulan yang paling lihay dari It-yang-ci. Sebab itu, begitu melihat gerakan tangan si nona, Bu Sek kaget tak kepalang dan cepat-cepat dia menarik pulang serangannya.
Andai kata ia menyerang terus kemudian pergelangan tangannya tertotok, ia pasti takkan terluka, sebab totokan itu tidak disertai dengan Iwekang It-yang-ci yang disegani orang. Akan tetapi sebagai orang yang berpengalaman, Bu Sek sungkan mempertaruhkan nama besarnya dalam satu pukulan itu. Kwee Siang tertawa nyaring.
“Toa-hwesio, kiranya kau sudah mengenal ilmuku yang amat lihay,” katanya seraya nyengir.
Bu Sek tidak menyahut, ia hanya mangeluarkan suara, “Hmm...!”
Lantas menyerang dengan pukulan Tan-hong-tiauw-yang (Angin dan matahari). Dengan pukulan itu, kedua tangannya terpentang lebar dan terangkat tinggi hingga si nona sukar menggunakan It-yang-ci lagi. Namun Kwee Siang tidak kehabisan modal. Dengan cepat ia menyilangkan kedua telapak tangannya lantas balas menyerang dengan Biauw-chiu-kong-kong (Tangan lihay kelihatan kosong), yaitu jurus ke tujuh puluh dua dari Kong-beng-kun, gubahan Lo-wan-tong Ciu Pek Thong.
Kong-beng-kun adalah ilmu yang belum pernah tersiar di dunia, maka untuk sekian kalinya Bu Sek ter-heran. Dengan cepat dia berkelit ke samping dan hampir berbareng mengirim pukulan Pi-na-hoa-cit-seng (Tujuh bintang). Bagaikan arus kilat tahu-tahu tangannya menyentuh telapak tangan si nona yang jika tak dilawan dengan menggerakkan Iwekang maka tulang tangannya pasti akan patah. Kwee Siang mengerti bahwa tangannya sudah berada di bawah kekuasaan lawan, tetapi hatinya masih penasaran.
“Jangan kegirangan dulu kau! Belum tentu mampu mematahkan tulang tanganku,” katanya dalam hati.
Kwee Siang segera mengempos semangat, melawan tenaga si pendeta dengan Cat-po-san-chiu (Kipas besi). llmu ini yang merupakan ilmu simpanan dari Tiat-ciang-kang (ilmu tangan besi) adalah sebuah ilmu ‘keras’ yang paling ditakuti di rimba persilatan. Sebagai seorang ahli tentu saja Bu Sek mengenal ilmu ini dan jantungnya memukul keras. Ia menjadi serba salah. Jika ia menggunakan kekerasaan maka si nona bisa terluka berat dan ia sama sekali tak bermaksud mencelakai gadis ini. Di samping itu terus terang saja ia memang merasa agak segan terhadap Tiat-ciang-kang. Sesudah berpikir sejenak, ia segera menarik pulang tangannya.
Sekali lagi si nakal tertawa nyaring. ”Awas! Inilah pukulan yang ke sepuluh. Apa kau masih belum dapat menebak partaiku?” teriaknya. Sambil berteriak begitu tangan kirinya mengibas ke atas, tangan kanan menyambar ke janggut Bu Sek.
Tanpa terasa semua pendeta mengeluarkan seruan tertahan karena pukulan yang diberi nama Kouw-hay-hui-tauw (Memutar kepala di laut kesengsaraan) itu adalah salah satu pukulan Kim-na-chiu-hoat (Ilmu menangkap dan menyengkeram) dari Siauw-lim-pay sendiri. Tapi Kouw-hay-hui-tauw agak berlainan dengan Kim-na-chiu-hoat dari cabang lain, karena biasanya hanya digunakan pada saat berbahaya untuk menolong jiwa. Dengan pukulan itu tangan kiri si penyerang menolak kepala musuh, sedang tangan kanan menyambar leher sehingga jika berhasil, leher musuh bisa patah atau setidaknya terluka berat.
Melihat si nakal berani menggunakan pukulan tersebut di hadapannya se-akan seorang sasterawan mengagulkan diri di hadapan Nabi Khong Cu, Bu Sek jadi geli dalam hatinya. Ia telah melatih pukulan tersebut selama puluhan tahun sehingga setiap gerakannya terjadi secara wajar. Secepat kilat ia miringkan badan dan menggeser maju kakinya, sedangkan tangan kiri menyambar ke bawah ketiak si nona dan tangan kanan mencekal belakang lutut Kwee Siang. Itulah pukulan yang diberi nama Sia-san-tiauw-hay (Mengempit gunung melompati lautan), merupakan pukulan tunggal untuk memunahkan Kouw-hay-hui-tauw.
Si nona kaget tak kepalang dan tahu-tahu kedua kakinya sudah terangkat naik dari muka bumi. Sebenarnya ia masih bisa menyikut lawan dengan menggunakan sikut. Tapi karena gerakan Bu Sek cepat luar biasa, maka sebelum sempat bergerak dia sudah tak berdaya. Dengan demikian puteri Kwee Ceng telah dikalahkan. Selagi kedua tangannya mencekal si nona, Bu Sek terkesiap.
“Celaka!” ia mengeluh. “Aku hanya memperoleh kemenangan dalam pertempuran, tetapi masih belum tahu siapa gurunya dan apa nama partainya.”
Kwee Siang memberontak sekuat tenaga. “Lepaskan aku!” teriaknya.
“Cringg...!” serupa benda jatuh dari saku si nona.
“Toa-hwesio, apa benar-benar kau tidak mau melepaskan diriku?” serunya dengan suara ketakutan.
Bu Sek Siansu adalah seorang beribadat yang berilmu tinggi dan yang mencintai segenap makhluk Tuhan. Maka mendengar suara si nona cilik, ia lantas tertawa terbahak-bahak.
“Nona kecil, lolap sudah berusia lanjut dan pantas menjadi kakekmu,” kata Bu Sek seraya tersenyum. “Apa kau masih perlu merasa takut?”
Sehabis berkata begitu, dengan menggunakan tenaga yang diperhitungkan dia lontarkan tubuh si nona kira-kira dua tombak jauhnya sehingga kedua kaki Kwee Siang bisa hinggap di muka bumi tanpa kurang apapun. Sebagai ksatria yang takkan menjilat ludah sendiri, Bu Sek segera manggutkan kepalanya untuk mengaku kalah. Selagi kepalanya mengangguk, tiba-tiba dia melihat benda hitam di atas tanah dan benda itu adalah sepasang Lo-han (pendeta yang berilmu tinggi) yang terbuat dari pada besi.
“Toa-hwesio, apa kau mengaku kalah?” tanya Kwee Siang.
Bu Sek mengangkat mukanya yang berseri-seri dan seraya tertawa girang, dia menjawab.
“Bagaimana aku bisa kalah oleh seorang bocah cilik? Aku tahu, ayahmu adalah Tayhiap Kwee Ceng, ibumu Lihiap Oey Yong, ada pun majikan pulau Thoa-hoa adalah kakekmu. Ayahandamu mempunyai kepandaian yang beraneka ragam, karena dia pernah berguru kepada Kanglam Chit-koay, kepada Kiu-ci-sin-kay, tokoh-tokoh Coan-cin-pay dan lain-lain partai lagi. Kwee Ji-kouwnio, engkau adalah puterinya pendekar kelas satu pada jaman ini sehingga tidaklah heran jika kau memiliki kepandaian yang luar biasa.”
Kwee Siang kemekmek, dia tak pernah bermimpi akan mendengar jawaban begitu. Melihat paras bingung muka si nakal, sambil tertawa geli Bu Sek membungkuk dan menjemput dua Lo-han besi itu.
“Kwee Ji-kouwnio, aku si pendeta tua tak boleh mendustai seorang bocah cilik,” katanya. “Aku bernasil menebak asal-usulmu karena melihat sepasang Lo-han besi ini. Apakah Yo-tayhiap baik-baik saja?”
“Apa kau pernah berjumpa dengan Toako dan Liong-cici?” ia balas bertanya. “Aku datang kemari justru untuk mendengar tentang mereka. Kau mungkin belum tahu bahwa toako-ku dan Liong-cici sudah merangkap menjadi suami isteri.”
Bu Sek mengangguk beberapa kali, “Pada beberapa tahun yang silam Yo-tayhiap pernah datang berkunjung ke kuil kami untuk beberapa hari dan aku merasa cocok dengannya,” menerangkan si tua. “Belakangan kami mendengar bahwa dia membinasakan kaisar Mongol di luar kota Siang-yang sehingga namanya menggetarkan seluruh dunia. Waktu menerima warta itu, kami semua merasa girang bukan main. Tapi sekarang kami tak tahu di mana dia berada. Ahh, kalau begitu dia sudah menikah. Aku berani memastikan bahwa isterinya adalah seorang wanita yang bun-bu-song-coan (mahir dalam ilmu surat dan ilmu perang).”
Kwee Siang berdiri bengong dan mengawasi ke tempat jauh. Dia menghela napas seraya berkata dengan suara perlahan.
“Kalau begitu kalian pun tak tahu di mana mereka berada. Siapa yang bisa memberi keterangan?” Dia berdiam sejenak, kemudian berkata lagi, “Sekarang aku tahu, kau adalah Bu Sek Siansu. Tak heran jika kau memiliki ilmu begitu tinggi. Hm! Aku belum menghaturkan terima kasih untuk hadiah ulang tahunku. Sekarang belum terlambat. Biarlah hari ini aku menghaturkan banyak terima kasih kepadamu.”
Si pendeta tertawa. “Orang sering mengatakan bahwa tanpa berkelahi tidak bisa menjadi sahabat,” katanya. “Bagi kita berdua kata-kata itu sungguh tepat sekali. Ehh, apa bila kau bertemu dengan Yo-tayhiap, kuharap kau jangan memberi-tahukan bahwa aku si tua telah menghina seorang wanita muda.”
Kedua mata si nona memandang puncak gunung yang tertutup awan. “Sampai kapan... sampai kapan baru akan bisa bertemu dengannya,” katanya.
Sebagaimana diketahui, pada waktu Kwee Siang merayakan hari ulang tahunnya yang ke enam belas, Yo Ko telah mengundang jago-jago rimba persilatan untuk berkumpul di kota Siang-yang guna mengucapkan selamat panjang umur. Pada hari itu, dengan memandang muka Yo Ko, ahli silat dari ‘jalan hitam’ dan ‘jalan putih’ berkumpul di Siang-yang. Bu Sek yang kebetulan sedang repot tidak dapat datang berkunjung dan hanya mengirim seorang wakil untuk memberi selamat sambil menyampaikan barang antaran. Dan barang antaran yang dikirimnya bukan lain sepasang Lo-han besi yang dipasangi alat-alat dan jika alat-alat tersebut diputar maka anak-anakan itu segera menjalankan satu pukulan Lo-han-kun. Yang membuatnya adalah seorang pendeta aneh yang pada satu abad berselang pernah tinggal di kuil Siauw-lim-si.
Kwee Siang yang masih ke-kanakan merasa sangat tertarik dengan mainan yang selalu di-bawanya dalam saku. Pukulan Kouw-hay-hui-tauw yang barusan digunakannya, sebenarnya telah didapatkan oleh si nona dari kedua Lo-han besi itu. Tak dinyana, karena itu hari ini asal-usulnya telah ditebak jitu oleh Bu Sek Siansu.
“Berhubung dengan peraturan yang sudah turun tumurun, aku merasa menyesal tak bisa mengundang Kwee Ji-kouwnio datang berkunjung ke kuil kami,” kata Bu Sek. “Tetapi aku percaya kau tak akan merasa kecil hati.”
“Tidak apa,” kata si nona dengan masgul. “Ada yang hendak aku tanyakan.”
Sambil menunjuk Kak Wan, pendeta tua itu berkata lagi. “Tentang Sute-ku itu, aku akan menerangkan kepadamu per-lahan. Begini saja. Si tua akan menemani kau turun gunung kemudian kita mencari sebuah rumah makan, supaya aku bisa menjadi tuan rumah untuk minum beberapa cawan arak. Bagaimana pikiranmu?”
Mendengar kata-kata itu, semua pendeta terkejut bercampur heran. Bu Sek Siansu adalah seorang yang mempunyai kedudukan sangat tinggi di Siauw-lim-si. Bahwa ia sudah berlaku begitu hormat terhadap seorang gadis remaja, adalah suatu kejadian luar biasa.
“Taysu, janganlah kau berlaku demikian sungkan,” kata si nona dengan perasaan jengah. “Aku menyesal sekali bahwa barusan dengan semberono melakukan perbuatan sangat tak pantas terhadap beberapa Suheng. Aku mohon Taysu sudi menyampaikan maafku kepada mereka. Biarlah kita berpisah di sini saja dan di lain hari kita pasti akan bertemu pula.“ Sehabis berkata begitu dia segera memberi hormat, kemudian memutar badan dan mulai bertindak turun.....
“Nona kecil, mengapa kau menolak tawaranku yang diajukan dengan setulus hati?” kata Bu Sek sambil tertawa. “Beberapa tahun berselang, karena repot aku tidak dapat menghadiri pesta hari ulang tahunmu sehingga sampai sekarang hatiku masih merasa tak enak. Kalau hari ini aku tidak mengantarkan kau sampai 30 li, aku seperti tidak mengenal peraturan untuk melayani tamu terhormat.”
Mendengar kata-kata yang tulus ikhlas itu dan juga karena merasa senang dengan cara si tua yang polos, Kwee Siang segera berpaling dan berkata sambil tersenyum.
”Marilah.”
Dengan berendeng pundak mereka turun dari tanjakan itu dan tak lama kemudian tibalah di pendopo Lip-swat-teng. Mendadak mereka mendengar suara tindakan kaki dan waktu menengok, mereka melihat bahwa orang yang membuntuti adalah Thio Koan Po.
”Saudara Thio,” menegur Kwee Siang. “Apakah kau juga ingin mengatarkan tamu?”
Paras muka pemuda itu berubah merah. “Benar!” jawabnya.
Pada saat itulah dari jauh mereka melihat seorang pendeta bertindak keluar dari pintu kuil kemudian berlari turun sekencang-kencangnya dengan menggunakan ilmu mengentengkan badan. Alis Bu Sek berkerut.
“Ada apa begitu ter-buru-buru?” tanyanya.
Begitu berhadapan dengan Bu Sek, pendeta itu memberi hormat lalu bicara bisik-bisik. Paras muka si tua lantas saja berubah.
“Apa benar ada kejadian begitu?” teriaknya.
“Lo-hong-thio (pemimpin kuil) mengundang Siu-co (kepala bagian) untuk berdamai,“ jawab pendeta itu.
Melihat paras muka Bu Sek, Kwee Siang paham bahwa Siauw-lim-si sedang menghadapi urusan sulit. Oleh karena itu ia berkata:
“Lo-siansu, dalam persahabatan yang paling penting adalah kecintaan hati. Segala adat istiadat tak ada sangkut pautnya dengan persahabatan. Apa bila Lo-siansu mempunyai urusan, uruslah saja. Di lain hari kita masih mempunyai banyak kesempatan untuk makan minum sepuas hati.”
“Tak heran bila Yo-tayhiap begitu menghormatimu,” Bu Sek memuji. “Kau benar-benar seorang gagah, seorang jago betina. Aku merasa girang bisa bersahabat dengan seorang seperti kau.”
Kwee Siang tersenyum dengan paras muka ke-merahan dan sesudah keduanya saling memberi hormat, si pendeta tua segera kembali kekuil Siauw-lim-si. Si nona segera meneruskan perjalanan dibuntuti Thio Kun Po dari belakang. Pemuda itu tidak berani berjalan berendeng, ia mengikuti dalam jarak lima-enam tindak.
“Saudara Thio, mengapa mereka menghina gurumu?” tanya nona Kwee sambil menengok ke belakang. “Dengan memiliki kepandaian begitu tinggi sesungguhnya gurumu tak usah takut pada mereka.”
Kun Po mempercepat tindakannya. “Mereka bukan sengaja menghina Suhu,” jawabnya. “Memang peraturan di kuil selalu dipegang keras sehingga siapa pun juga membuat pelanggaran, tak akan terluput dari hukuman.”
Kwee Siang jadi heran. “Gurumu adalah seorang ksatria dan jarang terdapat manusia yang hatinya begitu mulia,” katanya. “Dosa apakah yang telah diperbuatnya?”
Pemuda itu menghela napas panjang. “Sesungguhnya latar belakang kejadian ini sudah diketahui nona,” jawabnya. “Yang menjadi gara-gara adalah kitab Leng-keh-keng.”
“Ahh! Kitab yang dicuri Siauw Siang Cu dan In Kek See?” menegas si nona.
“Benar,” jawabnya. “Hari itu, waktu berada di puncak Hoa-san, atas petunjuk Yo-tayhiap aku menggeledah badan kedua orang. Sesudah turun gunung, mereka tak kelihatan mata hidungnya lagi. Dengan apa boleh buat, Suhu dan aku segera kembali ke kuil lantas melaporkan kepada Siu-co dari Kay-lut-tong. Leng-keh-keng adalah kitab yang ditulis oleh Tat-mo Couwsu sendiri dan merupakan sebuah barang berharga di Siauw-lim-si. Maka dapatlah dimengerti jika Suhu tak bisa terlolos dari hukuman.”
“Gurumu dihukum tak boleh bicara?” tanya pula si nona.
“Ya, menurut peraturan yang sudah berlaku turun temurun,” sahutnya. “Menurut peraturan, orang yang dihukum harus memikul air dengan kaki tangan dilibat rantai dan tak boleh bicara. Menurut para tetua, hukuman memikul air malah ada baiknya untuk orang yang terhukum. Dengan membungkam maka ia mendapat kemajuan dalam latihan rohani dan dengan memikul air maka tenaganya akan bertambah besar.”
Si nona tertawa geli. “Kalau begitu, gurumu sebenarnya bukan menjalani hukuman, tetapi sedang melatih badan,“ katanya. “Ahh! Memang aku yang terlampau rewel dan suka ikut mencampuri urusan orang lain.”
“Bukan, bukan begitu,” kata Kun Po dengan cepat, “Untuk kebaikan nona, Suhu merasa sangat berterima kasih dan tak akan melupakannya.”
Kwee Siang menghela napas. “Lain orang sudah melupakan aku sama sekali,” katanya dalam hati. Sesaat itu, mendadak terdengar suara bunyi keledai yang sedang makan rumput di dalam hutan.
“Saudara Thio, tak usah kau mengantar lebih jauh lagi,“ katanya sambil bersiul dan tunggangannya segera menghampiri.
Kun Po mengawasi dengan sorot mata penuh duka. Kelihatannya dia merasa berat untuk berpisah, tapi dia tidak mengeluarkan sepatah katapun, Kwee Siang dapat membaca jalan pikirannya. Ia segera merogoh saku dan mengeluarkan sepasang Lo-han besi.
“Kau ambilah ini,” katanya seraya mengangsurkan.
Kun Po terkejut, ia tak berani menerimanya. “Ini... ini...“ katanya ter-putus.
“Aku berikan ini kepadamu,” kata si nona, “Kau ambillah.”
Pemuda itu tergugu. “Aku... aku...”
Si nona segera memasukkan sepasang Lo-han besi itu ke dalam saku Kun Po, kemudian melompat naik ke atas punggung keledai. Akan tetapi, sebelum dia berangkat, di atas tanjakan sekonyong-konyong terdengar orang berteriak:
“Kwee Ji-kouwnio! Tahan!”
Si nona menengok dan melihat Bu Sek Siansu sedang mendatangi dengan berlari. “Pendeta tua itu ternyata kukuh sekali,” pikirnya. “Perlu apa dia mengantarkan aku?”
Begitu berhadapan dengan si nona, Bu Sek segera berkata kepada Kun Po: “Lekas kau kembali ke kuil. Kau tak boleh berkeliaran lagi di gunung ini.”
Pemuda itu mengangguk sambil melirik si nona, ia segera mendaki tanjakan. Sesudah Kun Po berada jauh, Bu Sek segera mengeluarkan selembar kertas dari dalam lengan jubahnya dan berkata:
“Kwee Ji-kouwnio, apa kau kenal tulisan siapa ini?”
Si nona menyambut dan membaca dua baris huruf yang tertulis di atasnya. ‘Sepuluh hari kemudian, Kun-lun Sam-seng (Tiga nabi gunung Kun-lun-san) akan datang berkunjung ke Siauw-lim-si untuk meminta pelajaran’.
“Siapa Kun-lun Sam-seng?” tanya si nona. “Suaranya sombong sekali!”
“Jika begitu nona pun tak mengenal mereka,” katanya. Si tua berdiri bengong. “Urusan ini benar-benar mengherankan,” katanya dengan suara perlahan.
“Mengapa mengherankan?” tanya Kwee Siang.
“Biar pun baru sekali bertemu, aku menganggap nona sebagai seorang sahabat lama dan aku bersedia untuk menerangkan se-jelasnya,” kata Bu Sek. “Apa nona tahu dari mana datangnya kertas ini?”
“Diantarkan oleh suruhan Kun-lun Sam-seng,“ jawabnya.
“Jika disampaikan oleh seorang suruhan, kami tentu tidak menjadi heran,“ kata si pendeta. “Orang sering mengatakan, bahwa pohon yang tinggi selalu mengundang serangan angin. Sudah sejak lama, selama beberapa ratus tahun, Siauw-lim-si dikenal sebagai sumber pelajaran ilmu silat dan oleh karena demikian, banyak sekali ahli silat datang berkunjung untuk menjajal kepandaian kami. Hal ini adalah hal yang lumrah. Di pihak kami, setiap kali orang menantang, kami selalu coba membujuknya agar dia membatalkan niat itu. Sedapat mungkin kami mencoba mengelakkan pertandingan. Kami sungkan merebut kemenangan. Orang yang masih suka berkelahi, mana boleh jadi murid Buddha?”
“Benar, perkataan Taysu benar sekali,” kata si nona sambil mengangguk.
“Akan tetapi pada umumnya setiap ahli silat yang datang berkunjung masih penasaran jika mereka belum memperlihatkan kepandaiannya,” kata pula Bu Sek. “Maka itu di dalam kuil kami dibentuk bagian Lo-han-tong yang bertugas untuk melayani para tamu itu.”
Si nona tertawa-tawa geli. “Aha! Kalau begitu Taysu bertugas sebagai tukang berkelahi,” katanya.
Si tua tertawa getir. “Sebagian besar ahli-ahli silat yang datang kemari dapat dilayani oleh para murid dan aku tidak usah turun tangan sendiri,” katanya. “Tapi hari ini karena melihat gerakan nona yang luar biasa, aku terpaksa turun tangan sendiri.”
“Terima kasih banyak atas pujian Toa-hwesio,” kata si nona sambil membungkuk dan tertawa manis.
“Ahh, aku sudah melantur ke lain tempat,” kata Bu Sek. “Sekarang kita kembali pada surat tantangan itu. Untuk bicara sejujurnya, kertas ini diambil dari tangan patung Hang-liong Lo-han yang terdapat di kamar Lo-han-tong.”
“Eh-eh! Siapa yang menaruhnya?” tanya si nona.
Si pendeta meng-garuk kepalanya. “Kami tidak tahu, justru inilah yang mengherankan,” jawabnya. “Di Siauw-lim-si ada ratusan pendeta sehingga orang luar tidak mungkin menyelinap masuk tanpa diketahui. Apa lagi kamar Lo-han-tong siang malam dijaga delapan murid dengan bergantian. Barusan, mendadak saja seorang murid melihat kertas itu di tangan Hang-liong Lo-han dan dia segera melaporkan kepada Lo-hong-thio. Semua orang tak habisnya merasa heran, maka mereka lalu memanggil aku untuk diajak berunding.”
Mendengar sampai di situ, Kwee Siang lantas saja bisa menebak jalan pikiran si pendeta.
“Bukankah kau merasa curiga padaku?” tanyanya. “Kalian menganggap aku mempunyai hubungan dengan manusia yang menamakan dirinya Kun-lun Sam-seng itu. Aku mengacau di luar dan mereka diam-diam masuk ke Lo-han-tong untuk menaruh surat itu. Bukankah begitu dugaanmu?”
“Aku sendiri tidak, hatiku bebas dari segala prasangka,” sahutnya. “Tetapi nona tentu bisa mengerti jika Lo-hong-thio dan Bu Siang Suheng agak curiga. Secara kebetulan surat itu muncul pada waktu nona mau berangkat.”
“Sekali lagi aku memastikan bahwa aku tidak kenal dengan tiga manusia itu,” kata Kwee Siang. “Toa-hwesio, apa yang mesti ditakuti? Jika mereka benar-benar berani menyatroni, iringilah segala kemauannya.”
“Kalau takut tentu kami tidak takut,” kata si tua. “Jika nona tidak bersangkut paut dengan mereka, aku boleh tak usah berkuatir lagi.”
Kwee Siang mengerti bahwa maksud si pendeta tua adalah baik sekali. Rupanya Bu Sek menyangka tiga orang itu ada hubungan dengan dirinya sehingga kalau sampai bergebrak dan ketiga orang itu sampai terluka, si pendeta akan merasa tidak enak hati terhadapnya. Maka ia berkata,
“Toa-hwesio, kalau mereka datang dan bicara baik-baik, kau boleh menyambutnya baik-baik pula. Tetapi kalau mereka kurang ajar, hajarlah supaya mereka tahu lihaynya Siauw-lim-si. Jika dilihat dari suratnya, mereka kelihatannya sombong luar biasa.”
Bicara sampai di situ, otaknya mendadak berkelebat serupa pikiran. Maka dia lalu berkata pula:
“Toa-hwesio, apa tidak mungkin kalau di dalam kuil terdapat konconya yang diam-diam sudah menaruh kertas itu di tangan Hang-liong Lo-han?”
“Kemungkinan ini sudah direnungkan oleh kami,” sahutnya. “Tetapi rasanya tidak mungkin terjadi. Tinggi tangan Hang-liong Lo-han dari lantai ada tiga tombak lebih sehingga murid yang membersihkannya selalu harus menggunakan tangga. Orang yang mempunyai ilmu mengentengkan badan sangat tinggi, belum tentu mampu mencapainya. Andai kata benar ada pengkhianat, dia pasti tidak mempunyai ilmu yang begitu tinggi.”
Penuturan yang amat menarik itu membangkitkan rasa ingin tahu dalam hati Kwee Siang. Ia kepingin tahu bagaimana macamnya Kun-lun Sam-seng dan kepingin tahu pula bagaimana kesudahan pertemuan itu. Akan tetapi sayang, tak mungkin ia menyaksikan itu semua dengan mata sendiri, karena Siauw-lim-si tidak bisa menerima tamu wanita.
Melihat si nona ter-menung. Bu Sek menduga bahwa nona itu sedang memikirkan daya upaya untuk mengelakkan ancaman bahaya. Maka dari itu, sambil tersenyum dia berkata.
“Kwee Ji-kouwnio, selama ribuan tahun Siauw-lim-si sudah mengalami banyak gelombang dan taufan, tapi begitu jauh belum pernah dirusak orang. Jika Kun-lun Sam-seng sungkan diajak berunding, kami pun takkan mengorbankan keangkeran Siauw-lim-si dengan begitu saja. Kwee Ji-kouwnio, setengah bulan mendatang kau boleh men-dengar, apakah Kun-lun Sam-seng sudah berhasil menghancurkan kuil kami,” Waktu mengucapkan kata yang paling akhir, muncullah kembali keangkeran Bu Sek di jaman muda, suaranya nyaring dan berpengaruh, sedangkan kedua matanya ber-kilat.
“Toa-hwesio, jangan gampang naik darah,” kata si nona tertawa geli. “Cara berangasan tak sesuai dengan kedudukanmu sebagai murid Sang Buddha. Baiklah, setengah bulan lagi aku menunggu warta menggirangkan.“
Sesudah berkata demikian dia mengedut les keledai kemudian mulai turun gunung. Diam-diam dia mengambil keputusan bahwa sepuluh hari kemudian dia akan kembali untuk menonton keramaian. Sambil menjalankan keledai per-lahan, rupa-rupa pikiran berkelebat dalam otak si nona. “Mungkin sekali Kun-lun Sam-seng tidak mempunyai kepandaian berarti sehingga aku tak bakal menyaksikan keramaian yang menarik hati,” pikirnya. “Ahh, kalau di antara mereka terdapat orang yang memiliki kepandaian seperti kakek, ayah, ibu atau Yo-toakoko, peristiwa Sam-seng mengacau Siauw-lim-si ini barulah sedap ditonton.”
Mengingat Yo Ko, hatinya lantas berduka. Selama tiga tahun dia telah menjelajahi berbagai tempat, selalu menubruk angin. Cong-lam-san Kuburan Mayat Hidup sunyi-senyap, di lembah Ban-hoa-kok hanya terdapat rontokan laksaan bunga, di Coat-ceng-kok hanya penuh dengan tumpukan puing, sedangkan di Hong-leng-touw pun dia tidak dapat menemukan tapak Yo Ko dan Siauw Liong Lie. Dia menghela napas ber-ulang dan berkata dalam hatinya.
“Andai kata aku bisa bertemu dengannya, apalah artinya pertemuan itu? Bukankah hanya akan menambah luka yang pedas perih? Bukankah dengan menyingkirnya dia ke tempat jauh malah banyak baiknya untuk diriku? Hai! Terang-terangan aku tahu bahwa apa yang kupikir adalah bayangan bunga di kaca atau bayangan rembulan di muka air, tapi... aku tak kuasa untuk menindas dorongan hati... untuk menindih keinginan mencari dia.”
Sambil melamun ia biarkan keledainya jalan sendiri. Di waktu lohor sudah terpisah agak jauh dari Siauw-sit-san. Di sepanjang jalan ia menikmati pemandangan yang sangat indah dan dari jauh memandang puncak timur dari Siauw-sit-san yang menjulang ke langit. Tiba-tiba di antara pohon siong yang sudah ribuan tahun tuanya, lapat-lapat terdengar suara khim.
“Siapakah yang menabuh khim di tengah gunung yang sunyi ini?” tanyanya dalam hati. Karena kepingin tahu, dia lalu melompat turun dari keledainya dan berjalan ke arah suara tetabuhan itu.
Sesudah datang lebih dekat, ia mendapat kenyataan, suara khim itu diiringi dengan suara lain, seperti semacam nyanyian. Semenjak kecil, di bawah bimbingan ibunya Kwee Siang telah mempelajari berbagai ilmu sehingga biar pun tidak terlampau mendalam, dia mengenal baik ilmu menabuh khim, ilmu main tiokie (catur Tioaghoa), ilmu surat dan melukis yang umumnya dimiliki orang terpelajar. Ditambah dengan otaknya yang amat cerdas, maka ia tak usah kalah dari orang biasa bahkan dia masih sanggup menimpali kakeknya dalam ilmu musik dan melayani Cu Cu Liu dalam ilmu surat. Sekarang mendengar suara tabuh-tabuhan yang agak aneh itu, dia segera mendekati dengan berindap-indap.
Setelah berjarak belasan tombak barulah terang baginya bahwa suara khim itu diiringi suara ratusan burung. Dengan rasa heran ia lalu mengintip dari belakang sebatang pohon besar dan terlihat seorang lelaki yang mengenakan baju putih sedang duduk di bawah tiga pohon siong sambil menabuh khim.
Di dahan ketiga pohon itu terdapat ratusan ekor burung besar dan kecil tengah bernyanyi menurut irama tabuh-tabuhan. Suara khim dan bunyi burung tersusun sedemikian akur sehingga didengar dari jauh, sulit sekali orang dapat membedakan yang mana suara khim dan yang mana suara burung. Kwee Siang terpesona dan dengan hati ber-debar2 ia mendengarkan musik luar biasa itu, yang semakin lama semakin keras. Tiba-tiba di kejauhan terdengar ramai suara gerakan sayap burung yang mendatangi dengan cepat sekali dan di lain saat ratusan burung gereja tiba di situ, sebagian segera hinggap di cabang, sebagian pula terbang ber-putar. Tiba-tiba Kwee Siang ingat suatu hal.
“Ah,” katanya dalam hati. “Apakah lagu ini Pek-niauw-hong (Ratusan burung menghadap kepada burung Hong) yang kini sudah tak dikenal lagi di dunia? Menurut kakek, dalam lagu tersebut suara khim menyerupai bunyi burung Hong yang bisa menyebabkan kedatangan ratusan burung. Tapi apa benar di dunia ini terdapat ilmu memetik khim yang begitu tinggi?”
Beberapa lama kemudian suara itu berubah perlahan, kawanan burung mulai meninggalkan dahan lalu terbang berputaran di atas pohon.
“Tingg...!”
Mendadak terdengar suara dan orang itu berhenti memetik alat musiknya. Setelah terbang memutar beberapa kali lagi, ratusan burung itu pun bubar. Orang itu mendongak dan sesudah menghela napas, dari mulutnya terdengarlah nyanyian seperti berikut:
Mengapa siang hari begitu cepat saatnya
Ratusan tahun lewat dalam sekejap mata
Langit yang luas tiada batasnya.
Takdir menderita tak bisa dibantah.
Lihatlah rambut si Nikouw suci.
Sebagian sudah seperti salju yang putih.
Thian-kong bertemu dengan Giok-lie
Tertawa ter-bahak laksana kali.
Aku ingin mengeluarkan kereta.
Dan mendorongnya pulang ke kampung halaman.
Pak-tauw menuang air kata-kata.
Dan mengajak semua orang minum secawan.
Kekayaan dan kemewahan tak jadi idam-idaman.
Yang diharapkan ialah awet muda sepanjang jaman.
Suara orang itu sedih sekali, seperti juga dia merasakan bahwa penghidupan manusia di dunia ini diliputi dengan kesengsaraan yang tidak habisnya. Kwee Siang turut merasa terharu, maka tanpa merasa dua butir air mata mengalir turun kedua pipinya. Dia mendongak seraya berkata dalam hati,
“Memutar pedang!
Mengangkat alis!
Air bening, batu putih, mengapa bersimpang siur?
Manusia hidup tanpa sahabat sejati.
Hidup ribuan tahun, tiada berarti!”
Dari bawah khim tiba-tiba orang itu menghunus sebatang pedang bersinar hijau.
“Aha, kalau begitu dia seorang Bun-bu-coan-cay (pandai ilmu surat dan ilmu perang),” pikir si nona. “Coba kulihat ilmu silatnya.”
Per-lahan orang itu berjalan ke sebidang tanah lapang. Tetapi sebaliknya dia bersilat, dia malah menggores tanah dengan pedangnya, segaris demi segaris.
“Eh-eh! Kiam-hoat apa itu?” tanya si nona dalam hatinya. “manusia aneh.”
Orang itu membuat garis-garis melintang. Setelah menggores sembilan belas kali ia pun berhenti dan lain saat mulai membuat garis-garis membujur yang sama jaraknya satu dengan yang lain, yaitu kurang lebih satu kaki. Seperti juga garis melintang, ia membuat sembilan belas garis membujur. Dengan menuruti caranya orang itu, Kwee Siang meng-garis-garis tanah dengan telunjuknya.
“Wah! Kurang ajar!” katanya dalam hati, “Papan Wie-kie!” (Wie-kie semacam catur yang menggunakan biji putih dan biji hitam).
Setelah selesai, dengan ujung pedang dia membuat bundaran di sudut kiri atas dan sudut kanan bawah papan catur itu. Kemudian dia membuat tanda silang, juga di sudut kiri atas dan sudut kanan bawah. Kwee Siang yang mengintip dari sebelah kejauhan lantas paham bahwa orang itu sedang mengatur biji Wie-kie. Tanda bundar mewakili biji putih, tanda silang biji hitam. Orang itu lalu mulai menjalankan biji caturnya. Setelah jalan enam belas biji, ia kelihatan bersangsi. Apakah biji putih harus bergulat terus ataukah mengambil sikap membela diri di sepanjang pinggiran papan? la menancapkan pedangnya di tanah dan mengawasi papan berpikir keras.
“Dilihat begini, dia seorang yang hidup kesepian,” pikir si nona. “Ia memetik khim sendirian dan berkawan dengan burung. Ia juga tak mempunyai kawan untuk main Wie-kie sehingga harus bermain seorang diri.”
Sesudah berpikir beberapa saat, orang itu lalu mulai menjalankan kembali biji-biji Wie-kie. Ternyata biji putih sungkan mengalah sehingga satu pertempuran hebat terjadi pada sudut kiri atas. Putih dan hitam ber-gerak saling makan dengan serunya, sama-sama merebut kedudukan Tiong-goan (tengah). Tapi, biar bagaimana pun, karena memang sudah kalah setingkat, biji putih terus berada di bawah angin. Sesudah jalan 93 kali, biji putih terjepit, tapi masih bergulat sedapat mungkin.
Si nona menonton pertempuran itu dengan hati berdebar. Tanpa terasa ia berteriak. “Mengapa tak mau meninggalkan Tiong-goan dan mundur ke See-hek (sebelah barat)?”
Orang itu terlihat terkejut. Ia melihat bahwa bagian barat papan catur itu memang terdapat sebidang tanah yang kosong. Kalau biji putih menerjang ke situ, masih bisa dipertahankan keadaan seri.
“Bagus! Bagus!” serunya lalu menjalankan biji putih ke jurusan barat.
Setelah jalan beberapa kali barulah ia ingat kepada orang yang memberi petunjuk. Ia lalu melemparkan pedangnya di atas tanah dan memutar tubuh.
“Siapakah orang berilmu yang telah memberi pelajaran?” teriaknya. “Aku sungguh merasa berterima kasih.”
Sehabis berkata begitu ia menyoja ke arah Kwee Siang. Si nona mendapat kenyataan bahwa orang itu berusia sekitar tiga puluh tahun, mukanya lonjong panjang dan bermata dalam, sedang badannya jangkung kurus. Sebagai seorang jago betina yang tidak menghiraukan perbedaan antara laki-laki dan perempuan, perlahan-lahan Kwee Siang berjalan keluar dari tempat sembunyinya dan berkata seraya tertawa,
“Barusan aku merasa kagum waktu mendengar Sian-seng memetik khim dengan diiringi nyanyian ratusan burung. Sesudah itu, tidak kurang rasa kagumku ketika melihat Sian-seng membuat papan Wie-kie dengan menggaris tanah lantas main Wie-kie dengan menggunakan pedang. Karena itu aku jadi banyak mulut dan kuharap Sian-seng sudi memaafkan.”
Mendengar perkataan si nona, orang itu kelihatan girang sekali. “Dari kata-katamu itu ternyata nona mahir dalam ilmu memetik khim,” katanya sambil tersenyum. “Jika sudi, aku mohon nona suka perdengarkan satu dua lagu.”
“Memang benar aku pernah belajar menabuh dari ibuku, tetapi kalau dibandingkan dengan kepandaianmu, masih kalah jauh sekali,” kata si nona. “Tetapi jika menolak terlampau keras, aku tak enak hati. Biarlah aku akan perdengarkan sebuah lagu, tapi jangan tertawa.”
“Bagaimana aku berani?” kata orang itu sambil mengangsurkan khim-nya dengan kedua tangan.
Khim itu sudah berusia tua dan enteng sekali. Setelah mengakurkan talinya, Kwee Siang segera memetik lagu Kho-phoa. Kepandaian si nona memang tidak seberapa tinggi, juga lagu yang dimainkannya tidak luar biasa. Tetapi walau pun begitu, pada paras muka orang itu terlukis rasa terkejut tercampur girang. Mengapa? Karena lagu Kho-phoa mengena jitu pada apa yang dipikirnya sehingga ia merasa sangat girang dan berterima kasih terhadap si nona. Sesudah Kwee Siang selesai menabuh, untuk beberapa saat dia masih bengong dengan mata mengawasi ke tempat jauh.
Syair lagu Ko-phoa diambil dari Sie-keng (Kitab Syair). Sebuah lagu dari seorang Tay-soa, seorang yang mengasingkan diri dari pergaulan umum. Dalam syair itu dikatakan bahwa cita-cita yang luhur dari seorang lelaki sejati yang berkelana sebatang kara di daerah pegunungan tidak akan berubah, biar pun pada mukanya terlihat sinar kedukaan dan di dalam hatinya terdapat rasa kesepian.
Perlahan si nona menaruh khim di atas tanah dan tanpa mengeluarkan sepatah kata lalu barjalan pergi, kemudian melompat ke atas punggung keledai dan meneruskan perjalanan yang tak tentu rimbanya. Siang dan malam lewat dengan cepatnya dan dalam sekejap tibalah hari ke sepuluh, yaitu hari yang dijanjikan Kun-lun Sam-seng untuk menyatroni Siauw-lim-si. Sudah beberapa hari Kwee Siang mengasah otak guna mencari daya untuk masuk ke kuil Siauw-lim-si, tapi belum juga berhasil.
“Sungguh malu aku menjadi anak ibuku,” pikirnya dengan hati mendongkol. “Ibuku begitu pintar, tetapi anaknya sedemikian tolol. Biarlah aku datang saja di luar kuil dan menunggu kesempatan. Mungkin sekali, selagi repot berkelahi, mereka tak sempat merintangi aku.”
Pagi itu setelah menangsal perut dengan makanan kering, ia tujukan keledainya ke Siauw-lim-si. Ketika berada dalam jarak kurang lebih sepuluh li, tiba-tiba dia mendengar suara kaki kuda dan dari sebelah kaki gunung kelihatan datang tiga penunggang kuda. Ketiga ekor kuda itu satu berbulu dauk (putih kelabu), satu kuning dan satu lagi putih bertubuh tinggi besar dan cepat sekali larinya. Dalam sekejap mereka sudah melewati si nona dan menuju ke arah kuil. Ketiga penunggang kuda itu rata-rata berusia sekitar lima puluh tahun. Mereka mengenakan baju pendek warna hijau dan di atas pelananya tergantung kantong kain yang berisi alat senjata.
”Ahh! Mereka tentulah Kun-lun Sam-seng,” pikir Kwee Siang. “Jika terlambat bisa-bisa aku ketinggalan nonton.”
Ia segera menjepit perut keledai dengan lututnya dan menepuk leher binatang itu. Sambil berbunyi kereng keledai itu lantas lari congklang. Meski kurus kecil ternyata dia kuat sekali dan larinya cepat. Tidak lama kemudian dia sudah bisa menyusul dan membuntuti ketiga penunggang kuda itu. Sekarang si nona dapat melihat lebih tegas. Penunggang kuda dauk bertubuh kate kecil, penungggang kuda kuning berpotongan badan sedang, ada pun penungggang kuda putih seorang jangkung kurus. Selanjutnya dia pun mendapat kenyataan bahwa ketiga binatang itu berbulu sangat panjang sampai di kakinya sehingga berbeda sekali dengan kuda-kuda di wilayah Tiong-goan.
Begitu tahu ada yang membututi, ketiga orang itu segera mengeprak tunggangannya yang langsung saja kabur sekeras-kerasnya sehingga Kwee Siang ketinggalan jauh sekali. Sesudah melalui dua-tiga-li, si nona belum juga melihat bayangan ketiga penunggang kuda itu. Walau pun kuat tetapi tenaga keledai kecil kurus itu sangat terbatas. Napasnya sudah tersengal-sengal dan kelihatannya dia sudah lelah sekali.
“Binatang tak punya guna!” bentak si nona. “Biasanya kau banyak lagak dan selalu ingin berlari cepat-cepat. Waktu aku memerlukan tenagamu keok.“
Melihat tiada gunanya coba menyusul lagi, ia lalu melompat turun dari punggung si kurus. Dia duduk mengaso di sebuah pendopo batu di pinggir jalan dan membiarkan keledainya makan rumput. Belum lama dia duduk mengaso, sekonyong-konyong terdengar suara kaki kuda dan ketiga penunggang kuda yang tadi sudah melewati satu lembah, kelihatan mendatangi.
“Ehh, mengapa mereka kembali begitu cepat?° tanyanya dalam hati.
Setibanya di pendopo, mereka segera melompat turun lantas duduk mengaso bersama-sama si nona. Orang yang bertubuh kate kecil, bermuka merah dan yang paling menyolok adalah hidungnya yang merah mengkilap se-olah membara. Ia mempunyai paras yang selalu tersungging senyuman. Si tua yang bertubuh jangkung kurus, mukanya pucat sekali, di antara warna putih pias itu terdapat sinar biru seolah-olah dia tidak pernah kena sorotan matahari. Dengan demikian warna kedua orang itu bertentangan satu sama lain, yang satu merah membara, yang lain pucat pias. Orang ketiga yang badannya berukuran sedang-sedang saja, tidak mempunyai ciri-ciri luar biasa, kecuali mukanya yang berwarna kuning seperti orang sakit-sakitan. Sesudah menyapu ketiga orang itu dengan matanya yang bening tajam, Kwee Siang lalu tersenyum seraya bertanya:
“Sam-wi Lo-sian-seng (ketiga tuan), apakah kalian barusan mengunjungi Siauw-lim-si? Mengapa baru naik sudah turun kembali?”
Si muka pucat melirik seperti orang kekhi, tapi si muka merah tertawa dan balas bertanya dengan suara manis.
“Bagaimana nona tahu bahwa kami pergi ke Siauw-lim-si?”
“Kalau bukan ke kuil lalu ke mana lagi?” kata Kwee Siang.
Si muka merah mengangguk. “Benar,” katanya. “Nona sendiri mau pergi ke mana?”
“Kalian pergi ke Siauw-lim-si, aku pun mau ke situ,” jawabnya.
Tiba-tiba si muka pucat menyelak, ”Siauw-lim-si tak pernah mengijinkan perempuan masuk ke dalam kuil dan juga tidak pernah mengijinkan membawa senjata.”
Ia bicara dengan suara sombong, tanpa melirik kepada si nona. Kwee Siang jadi mendongkol.
“Tapi mengapa kalian sendiri membawa senjata?” tanyanya. “Bukankah dalam kantong di pelana berisi senjata?”
“Bagaimana kau bisa dibandingkan dengan kami,” kata si muka pucat dengan suara tawar.
“Sombong amat! Siapakah kalian sebetulnya?” si nona bertanya dengan suara yang sama tawarnya. “Apakah Kun-lun Sam-seng sudah bertempur dengan pendeta-pendeta Siauw-lim-si? Bagaimana kesudahannya?”
Mendengar kata-kata Kun-lun Sam-seng, ketiga orang itu menjadi kaget bukan main dan paras muka mereka berubah.
“Nona kecil,” kata si muka merah.’”Bagaimana kau tahu hal Kun-lun Sam-seng?”
“Tentu saja aku tahu,” jawabnya.
Mendadak si muka pucat maju satu tindak dan membentak: “She apa kau? Siapa gurumu dan ada urusan apa kau datang ke sini?”
“Bukan urusanmu!” si nona balas membentak.
Si muka pucat yang sangat berangasan dan yang selama puluhan tahun selalu dihormati orang, darahnya meluap. Dia segera mengangkat tangan untuk menggaplok si jelita yang dianggap sangat kurang ajar. Tetapi sebelum tangannya melayang, tiba-tiba dia ingat kedudukannya yang sangat tinggi. Dia insyaf sangat tidak pantas sebagai seorang tua dia menghina seorang muda, lebih-lebih seorang wanita. Mengingat begitu, ia lalu mengurungkan niatnya menggampar muka, tapi tangannya menyambar terus ke pinggang si nona dan pedang Kwee Siang bersama sarungnya sudah pindah tangan! Kecepatan orang tua itu sungguh sukar dilukiskan.
Selama berkelana di dunia Kangouw, kejadian getir ini belum pernah dialami oleh si nona. Kepandaian yang dimilikinya memang belum cukup untuk malang melintang dengan leluasa, akan tetapi jago rimba persilatan sebagian besar tahu bahwa dia adalah puteri Kwee Ceng, sedang pentolan di kalangan sesat juga banyak sekali mengenalnya sebab atas undangan Yo Ko, mereka pernah datang di Siang-yang untuk memberi selamat panjang umur kepadanya. Semua orang sungkan terhadap si nona, kalau tidak memandang muka Kwee Ceng, tentu memandang Yo Ko.
Di samping itu si nona mempunyai paras yang cantik dan adat yang polos terbuka. Ia tak pernah bersikap sombong dan memandang siapa pun juga sebagai sesama manusia. Tak jarang ia mengajak buaya-buaya kecil minum arak ber-sama. Dengan demikian, biar pun dunia Kangouw penuh dengan duri dan bahaya, sebegitu jauh ia berkelana dengan tanpa kurang apapun. Belum pernah ada orang yang berani menghinanya. Si nona kemekmek waktu mendapat kenyataan bahwa pedangnya dirampas si tua. Ia ingin merebut kembali, tetapi ia tahu kepandaiannya masih kalah terlalu jauh. Tapi kalau menyudahi saja, hatinya sangat penasaran. Sementara itu, sambil memegang pedang di tangan kirinya, si muka pucat berkata dengan suara dingin:
“Aku akan menyimpan pedangmu untuk sementara waktu. Bahwa kau sudah berani berlaku begitu kurang ajar terhadapku, adalah karena orang tua dan gurumu kurang mengajarmu. Beri-tahukanlah supaya mereka datang kepadaku untuk meminta pulang pedangmu ini. Dengan baik-baik aku akan menasihati ayah ibu dan gurumu supaya mereka lebih memperhatikan kau.”
Paras muka si nona lantas saja berubah merah. Si tua se-olah memandangnya sebagai bocah nakal yang kurang ajar. Dengan marah dia berkata dalam hatinya. “Bagus sekali! Kau mencaci aku seperti juga mencaci kakek, ayah dan ibuku. Apa benar kau mempunyai kepandaian begitu tinggi sehingga kau begitu sombong?” Sesudah dapat menenteramkan hatinya yang bergoncang keras, sambil menahan amarah ia bertanya,
“Siapa namamu?”
Si muka pucat mengeluarkan suara di hidung. “Apa? Kau berani bertanya siapa namaku?” bentaknya. “Kau benar-benar tak tahu adat. Kau harus mengatakan begini, bolehkah aku mendapat tahu she dan nama Lo-cianpwe yang mulia? Mengerti?!”
“Jangan rewel!” bentaknya. “Aku merdeka untuk menggunakan kata apa pun juga. Berapa harganya pedang itu? Kau seorang tua, tapi tidak menghargai usiamu yang tua. Tak malu mencuri pedang orang! Sudahlah! Aku tak mau pedang itu.” Sambil berkata begitu dia pun bertindak keluar dari pendopo.
Se-konyong-konyong bayangan berkelebat dan si muka merah menghadang di hadapannya.
“Seorang gadis remaja tidak boleh gampang marah,” katanya seraya ter-senyum. “Kalau sudah menikah, apa kau boleh marah-marah seperti anak kecil di depan mertua? Baiklah, sekarang aku beri-tahukan kau. Dalam beberapa hari sesudah melalui perjalanan berlaksa li kami tiga saudara seperguruan baru saja tiba di Tiong-goan dari daerah See-hek (daerah sebelum barat)...”
“Itu aku sudah tahu,” memotong si nona sambil monyongkan mulutnya. “Di daerah Tiong-goan tidak terdapat namamu bertiga.”
Ketiga orang itu saling memandang. “Nona, bolehkah aku mendapat tahu siapa gurumu?” tanya si muka merah.
Sebenarnya Kwee Siang tidak suka memberi tahu nama ayah dan ibunya. Tapi sekarang, karena sudah jengkel, dia menjawab:
“Ayah she Kwee bernama Ceng. Sedang ibuku she Oey bernama Yong. Aku tak punya guru, hanya kedua orang tuaku itulah yang menurunkan sedikit ilmu silat.”
Ketiga kakek itu saling pandang. Sesaat kemudian barulah si muka pucat berkata. “Kwee Ceng? Oey Yong? Dari partai mana mereka? Murid siapa?”
Dengan pertanyaan itu si nona menjadi gusar. Nama kedua orang tuanya sangat tersohor di kolong langit, jangankan orang-orang dari rimba persilatan, rakyat jelata pun mengenal Kwee-tayhiap, seorang pendekar yang telah membantu membela kota Siang-yang. Tapi, melihat paras sungguh-sungguh dari ketiga orang itu, Kwee Siang segera mendapat pikiran lain.
“Kun-lun-san terletak di daerah barat dan terpisah amat jauh dari wilayah Tiong-goan,” pikirnya. “Ketiga orang lihai ini memiliki ilmu silat yang sangat tinggi, tapi ayah dan ibu belum pernah me-nyebut nama mereka. Mungkin sekali mereka memang belum pernah mendengar nama kedua orang tuaku.“ Mengingat begitu darahnya yang barusan telah meluap, mereda kembali.
“Aku sendiri she Kwee bernama Siang,” katanya pula. “Siang adalah Siang dari Siang-yang. Nah, sesudah memperkenalkan diri, bolehkah aku bertanya she dan nama kalian yang mulia?”
Si muka merah tertawa hahahihi. “Bocah perkataanmu itu tepat sekaii,” katanya. “Dengan jawabanmu itu, kau menghormati orang yang lebih tua.” Sambil menunjuk si muka kuning, ia berkata pula: “Itu Toa-suko (kakak seperguruan yang paling tua) kami. Dia she Phoa bernama Thian Keng. Aku sendiri Ji-suheng (kakak kedua), aku she Phu, namaku Thian Lo.” la lalu menuding pada si muka pucat dan melanjutkan perkataannya. “Yang itu adalah Sam-sute (adik ketiga), dia she Wie bernama Thian Bong. Kau lihatlah! Kami tiga saudara seperguruan mengambil huruf ‘Thian’ (Langit).”
“Hmm!” Kwee Siang mengeluarkan suara di hidung dan berdiam sejenak mengingat-ingat tiga nama itu. “Tapi apakah kalian sudah bertanding dengan pendeta Siauw-lim-si? Kalau sudah, siapa yang lebih unggul?” tanyanya kemudian.
Si muka pucat Wie Thian Bong menjadi marah dan membentak dengan suara keras. “Ehh, bagaimana kau tahu? Bahwa kami hendak menjajal ilmu Siauw-lim-si hanya diketahui oleh beberapa orang saja. Bagaimana kau bisa tahu? Lekas bilang!” Dia berteriak seraya mendekati Kwee Siang dan menatap wajah si nona dengan mata melotot.
Tentu saja Kwee Siang jadi dongkol. Kalau mereka bertanya baik-baik mungkin sekali ia akan memberi-tahukan dengan segala senang hati. Tetapi dengan cara yang kasar itu, ia lantas saja mengambil putusan untuk menutup rahasia.
“Namamu bertiga sebenarnya kurang tepat,” katanya dengan suara tawar. “Mengapa tak dirubah menjadi Thian Ok (Ok berarti jahat)?”
“Apa kau kata?!” bentak Thian Bong.
Kwee Siang menggeleng-gelengkan kepalanya. “Aku sangat jarang melihat manusia yang begitu galak seperti kau,” katanya dengan adem. “Setelah merampas barangku kau masih bersikap begitu ganas. Bukankah kau seperti juga penitisan dari binatang jahat di langit?”
Tiba-tiba tenggorokan Wie Thian Bong mengeluarkan suara aneh se-olah menggaungnya binatang buas. Dadanya lantas saja melembung ke atas, sedangkan rambut serta alisnya bangun serentak.
“Samte!” kata Phui Thian Lo si muka merah dengan cepat. “Jangan kau naik darah.”
Sambil berkata begitu ia menyeret tangan Kwee Siang ke belakangnya sehingga tubuhnya sendiri berada di antara kedua orang itu. Melihat betapa hebatnya gerak-gerik Wie Thian Bong sehingga pukulannya tentu hebat luar biasa kalau dia turun tangan, hati si nona jadi keder juga. Sementara itu dengan tangannya Wie Thian Bong mencabut pedang Kwee Siang, sedang jeriji tangan kirinya menyentil badan pedang.
“Cringg...!” pedang itu patah jadi dua.
Kemudian dia masukkan pedang buntung itu ke dalam sarungnya seraya berkata dengan suara mengejek:
“Siapa yang kepingin senjata yang tidak ada gunanya ini?”
Bukan main kagetnya si nona. Biar pun kepandaian itu belum bisa menandingi Tan-ci Sin-thong (ilmu menyentil) dari kakeknya tapi tenaga Iweekang yang begitu dahsyat sungguh jarang terlihat di rimba persilatan.
Melihat perubahan paras muka si nona, hati Wie Thian Bong menjadi bungah. Ia mendongak dan tertawa ter-bahak. Suara tertawa yang disertai Iweekang itu sangat menusuk kuping, bahkan menggoncangkan genteng di atas pendopo batu itu. Se-konyong-konyong, berbareng dengan suara gedubrakan, atap pendopo lantas berlubang besar dan dari lubang itu jatuh benda yang sangat besar. Semua orang terkejut sekali, terhitung Wie Thian Bong sendiri. Ia sama sekali tak pernah menduga bahwa suara tertawanya tadi biar pun disertai Iweekang bisa merusakkan atap pendopo batu. Waktu orang tahu benda apa yang jatuh, rasa kaget jadi semakin besar. Ternyata yang rebah di lantai adalah seorang lelaki yang mengenakan baju putih dan kedua tangannya memeluk khim. Dia rebah di situ sambil meramkan kedua matanya, se-olah sedang tidur pulas. Mendadak terdengar teriakan Kwee Siang,
“Aha! Kau berada di sini?”
Orang itu bukan lain dari pada si pria yang pandai memetik khim dan yang pernah ditemui si nona beberapa hari berselang. Per-lahan orang itu membuka matanya. Begitu melihat Kwee Siang, ia melompat bangun sambil berkata.
“Nona, aku mencarimu ke segala tempat. Tak tahunya kau berada di sini.”
“Perlu apa kau mencari aku?” tanya Kwee Siang.
“Aku lupa menanyakan she nona yang mulia dan namamu yang besar,” jawabnya.
“Apa itu she mulia nama besar?” tanya Kwee Siang seraya mencebikan bibir. “Aku paling sebal dengan kata yang banyak kembangnya.”
Orang itu kelihatan kaget, tapi di lain saat ia sudah tertawa besar. “Benar, nona,” katanya. “Memang, semakin manusia berlagak pintar semakin kosong otaknya.”
Sambil berkata begitu ia mengawasi Wie Thian Bong dengan mata melotot, kemudian ia tertawa dingin. Kwee Siang girang sekali. Ia tak nyana si baju putih ini seorang yang menarik. Paras muka Wie Thian Bong yang pucat jadi lebih pucat lagi.
“Siapa tuan?” tanyanya.
Laki-laki yang pandai menabuh khim itu tidak menggubris. Sambil berpaling kepada Kwee Siang, ia bertanya:
“Nona, siapa namamu?”
“Aku she Kwee bernama Siang,“ jawab si nona.
Orang itu menepuk kedua tangannya lantas berseru dengan suara girang. “Ahh...! Mataku sudah kotokan sehingga tak mengenal gunung Thay-san yang besar. Kalau begitu kau Kwee Toa-kouwnio yang namanya kesohor di seluruh jagat! Kecuali manusia-manusia tolol, siapa pun juga mengenal ayahmu Kwee Ceng Kwee-tayhiap, dan ibumu, Oey Yong Oey-lihiap. Di dunia Kangouw, siapakah yang tidak mengenal mereka? Mereka adalah orang-orang yang bun-bu-song-coan (mahir dalam ilmu surat dan ilmu perang), juga mahir menggunakan macam-macam senjata dan telah menyelami dasarnya berbagai ilmu silat, paham pula tentang ilmu menabuh khim, tio-kie, menulis huruf-huruf indah, melukis, bersyair, dan bersajak. Dari dulu sampai sekarang kepandaian mereka jarang tandingan. Ha-ha-ha….! Tapi masih juga terdapat manusia-manusia yang tidak mengenal mereka!”
Kwee Siang menjadi girang sekali. “Kalau begitu sudah lama dia bersembunyi di atas atap pendopo dan telah mendengarkan pembicaraanku dengan ketiga orang ini,” katanya dalam hati, “Tetapi jika didengar dari perkataannya, ia pun belum mengenal kedua orang tuaku. Kalau sudah mengenal, ia tentu takkan memanggil aku Kwee Toa-kouwnio (nona Kwee yang paling tua). Sungguh lucu dia mengatakan ayahku mahir ilmu menabuh khim, main tio-kie, menulis huruf indah dan sebagainya.” Berpikir begitu, seraya tersenyum ia bertanya.
“Siapa namamu?”
“Aku she Ho, namaku Ciok To.“ jawabnya. (Ho Ciok To berarti tidak cukup berharga untuk dibicarakan).
“Ho Ciok To?” menegas si nona. “Sungguh satu nama yang merendahkan diri.”
“Benar,“ jawabnya. “Tetapi namaku lebih baik dari pada nama yang menggunakan perkataan sombong seperti ‘langit dan bumi’. Sedikitnya namaku tidak memuakkan orang yang mendengarnya.”
Siapa pun mengerti bahwa dia sedang mengejek ketiga Suhengte (saudara seperguruan) yang menggunakan huruf ‘Thian’ langit itu. Maka, sesudah menyaksikan cara Ho Ciok To menjatuhkan diri dari lubang atap, mereka tahu bahwa orang itu bukan sembarang orang dan oleh karenanya se-bisanya mereka menahan sabar.
Tapi mendengar ejekan yang paling belakang, Wie Thian Bong meluap darahnya. Sekali membalik tangan dia menggaplok dagu orang. Ho Ciok To menundukkan kepalanya dan molos dari bawah bahu. Tiba-tiba Wie Thian Bong merasa tangan kirinya kesemutan dan pedang Kwee-Siang yang sedang dicekalnya sudah berpindah tangan.
Sebagaimana diketahui, waktu merampas pedang itu dari tangan nona Kwee, gerakannya cepat luar biasa. Dari sini dapatlah dibayangkan betapa cepat gerakan Ho Ciok To yang dengan begitu mudah berhasil merampas senjata itu.
Wie Thian Bong terkesiap. Di lain detik, dengan marah ia menerjang dan lima jerijinya yang dipentang bagaikan gaetan, menyambar pundak Ho Ciok To. Dengan sekali mengegos Ho Ciok To berhasil menyelamatkan diri. Sementara itu hampir berbareng Phoa Thian Keng dan Phui Thian Lo melompat keluar dari pendopo. Dengan gregetan Wie Thian Bong mengirim serangan berantai dengan kedua tangannya dan dalam sekejap dia sudah menyerang tujuh delapan kali. Tapi lawannya tetap bersikap tenang. Meski diserang bagaikan hujan dan angin sedikit pun dia tidak membalas. Dengan mengegos ke kiri kanan, ke depan belakang, dia kelitkan pukulan-pukulan hebat itu.
Biar pun masih berusia muda dan kepandaiannya tidak seberapa tinggi, nona Kwee Siang adalah puteri ahli silat nomor satu, dia memiliki mata yang amat tajam. Melihat gerakan Ho Ciok To yang begitu gesit dan lincah, ia yakin bahwa ilmu kepandaiannya berbeda dengan berbagai ilmu silat yang ada di wilayah Tiong-goan.
Sementara itu, sesudah menyerang dua puluh jurus lebih tanpa hasil, Wie Thian Bong menggeram dan mengubah cara silatnya. Jika tadi serangan dikirim bagaikan kilat, sekarang gerakan-gerakannya perlahan namun disertai dengan tenaga yang sangat hebat. Setelah dia menyerang beberapa jurus, Kwee Siang yang berada di pendopo turut merasakan sambaran-sambaran pukulannya, buru-buru dia melompat keluar. Ho Ciok To pun mengubah sikap. Kini dia tidak berani memandang enteng lagi musuhnya. Setelah menyelipkan pedang Kwee Siang di pinggangnya, dia berdiri tegak dan badannya seolah-olah sebuah gunung yang kokoh teguh.
“Kau menggunakan ilmu keras?” tanya Ho Ciok To, lalu, “Apa kau kira aku tidak mampu?”
Pada saat kedua tangan Wie Thian Bong menyambar, sambil mengerahkan Iweekang dia memapaki dengan tangan kirinya. Keras melawan keras!
“Takk!”
Kedua tangan beradu dengan dahsyatnya. Badan Wie Thian Bong ber-goyang terhuyung ke belakang dua tiga tindak, sedang kedua kaki Ho Ciok To tetap berdiri tegak. Wie Thian Bong yang selalu menganggap bahwa Gwakang-nya (ilmu luar, yaitu ilmu yang menggunakan tenaga kekerasan) jarang tandingan, jadi penasaran sekali. Sesudah menarik napas panjang, sambil membentak keras sekali lagi ia pun menghantam dengan kedua tangannya. Ho Ciok To pun mengeluarkan teriakan nyaring dan satu tangannya kembali memapaki pukulan lawan.
“Dakk!”
Kedua tangan beradu, kali ini hebat luar biasa sehingga debu dan pasir meluruk turun dari lubang di atap pendopo. Hampir berbarengan dengan bentrokan itu, tubuh Wie Thian Bong terhuyung lagi dan sesudah sempoyongan empat lima tindak, barulah dia bisa berdiri tegak. Sesudah dikalahkan dua kali, Wie Thian Bong jadi mata merah. Rambutnya terurai, kedua matanya melotot sehingga macamnya sungguh menakutkan sekali. Dengan kedua tangan memegang perut, dia menarik napas panjang. Pada lain saat dadanya melesak ke dalam, perut melembung keluar, se-akan sebuah tambur dan tulangnya berkerotokan. Dalam keadaan yang menyeramkan itu, setindak demi setindak dia mendekati lawannya.
Melihat begitu, Ho Ciok To segera tahu bahwa lawannya akan segera menyerang dengan menggunakan seantero kepandaian dan tenaga Iwekang. Ia tidak berani berayal lagi dan menyedot napas untuk mengerahkan Iweekang. Menurut kebiasaan, setelah mengerahkan Iweekang yang hebat itu, dari jarak empat lima tindak Wie Thian Bong sudah mengirim pukulan. Tetapi sekarang dia tidak berbuat begitu. Dengan perlahan dia terus maju hingga berhadapan dengan lawan. Sesudah itu barulah dua tangannya bergerak, yang satu memukul muka, yang lain menyambar ke punggung. Tujuan kedua pukulan itu untuk membuyarkan seantero Iwekang Ho Ciok To.
Ho Ciok To pun menyambar dengan kedua tangannya. Tangan kiri menempel dengan tangan kiri, tangan kanan dengan tangan kanan. Akan tetapi di tangan itu dia mengeluarkan dua tenaga yang berbeda, satu ‘keras’ dan yang lain ‘lembek’. Dengan demikian tangan Wie Thian Bong yang memukul keras ke punggung seperti menghantam kapas saja, sedang tangan kanan yang menyambar ke muka se-olah menyentuh tembok tembaga.
“Celaka!” Wie Thian Bong mengeluh. Hampir berbareng dia merasakan dorongan tenaga yang sangat hebat dan tanpa ampun lagi badannya didorong keluar dari pendopo.
Itulah akibat keras melawan keras. Siapa yang bertenaga lebih lemah, dialah yang celaka. Didorong dengan tenaganya sendiri yang berbalik dan ditambah dengan dorongan tenaga Ho Ciok To, pastilah Wie Thian Bong bakal muntah darah. Pada saat yang amat berbahaya, satu detik sebelum roboh, Phoa Thian Keng dan Phui Thian Lo membentak keras:
“Keluarkan pukulan!”
Dengan berbareng mereka mendorong ke depan dan tenaga tangan mereka merupakan semacam tembok lembek yang tidak kelihatan. Punggung Wie Thian Bong bersandar di arus tenaga itu sehingga dia pun tertolong dari luka berat di dalam badan. Tapi meski pun begitu, isi perutnya mendapat goncangan hebat, tulangnya seolah terpukul hancur dan ia merasakan sakit luar biasa di sekujur badannya. Melihat saudara seperguruannya dirobohkan begitu menyedihkan, Phui Thian Lo marah bukan main, tapi paras mukanya masih tetap tersenyum.
“Kekuatan tenaga tangan tuan sangat jarang terdapat di dunia,” katanya. “Aku sungguh merasa takluk.”
Mendengar kata-kata itu, Kwee Siang tertawa dalam hati. “Kun-lun Sam-seng tiada bedanya seperti kodok dalam sumur,” pikirnya. “Jika mengenai tenaga tangan, siapakah yang dapat menandingi ayahku dalam pukulan Hang-liong-sip-pat-ciang?”
Sesudah berdiam sejenak, seraya tertawa hahahihi, si muka merah berkata pula: “Aku si tua yang tidak punya kepandaian berarti, sekarang ingin minta pengajaran dari Kiam-hoat tuan.”
“Phui-heng berlaku sangat manis terhadap Kwee-kouwnio dan aku pun tidak mempunyai ganjalan denganmu,” jawabnya. “Aku rasa kita tak usah menjajal kepandaian.”
Kwee Siang menjadi terkejut. “Kalau begitu dia menghajar Wie Thian Bong karena kurang ajar terhadapku,” katanya dalam hati.
Sementara itu, tanpa menggubris penolakan orang, Phui Thian Lo menghampiri kuda tungggangannya dan mengambil sebatang pedang panjang dari kantong senjata.
“Srett!”
Dia menghunusnya dan paras mukanya berubah kereng! Sambil melonjorkan tangan kirinya, dia mendongakkan pedang di tangannya. Itulah pukulan yang diberi nama Sian-jin-tit-loan (Dewa mengunjuk jalan).
Ho Ciok To tersenyum seraya berkata, “Kalau Phui-heng mau bertanding juga, biarlah aku melayani beberapa jurus dengan menggunakan pedang Kwee-kouwnio.”
Dia mencabut pedang buntung yang terselip di pinggangnya. Pedang itu asalnya memang pedang pendek. Panjangnya tidak lebih dari dua kaki. Sesudah dipatahkan Wie Thiang Bong kini yang ketinggalan hanya tujuh delapan dim saja sehingga lebih pendek dari pada pisau belati biasa. Sambil mencekal sarung pedang di tangan kirinya, tanpa menegur lagi ia mengirim tiga serangan kilat yang cepat luar biasa. Hanya karena senjatanya terlalu pendek, maka serangan itu tidak mengenai sasaran. Phui Thian Lo terkesiap.
“Cepat sungguh gerakannya!” pikirnya. “Kiam-hoat apa itu? Jika dia menggunakan pedang panjang, jiwaku mungkin sudah melayang.”
Di lain pihak, setelah menyerang tiga kali beruntun, Ho Ciok To melompat ke samping dan berdiri tegak. Sewaktu Phui Thian Lo balas menyerang, dia hanya mengegos dan berkelit. Selagi dihujani serangan, tiba-tiga sekali lagi dia mengirim tiga tikaman berantai sehingga silat lawan jadi kalang kabut. Di lain saat, seperti tadi, ia meloncat lagi ke samping dan berhenti menyerang. Dipermainkan begitu rupa. Phui Thian Lo meluap darahnya. Sambil membentak keras dia menyerang seraya memutar pedangnya menyambar-nyambar bagaikan kilat. Badannya yang kurus kecil se-akan dikurung sinar pedang yang berkelebat seperti kitiran. Semakin lama pertempuran dilakukan semakin cepat, gerakan kedua lawan sukar dilihat tegas. Se-konyong-konyong terdengar bentakan Ho Ciok To.
“Awas!”
Hampir berbareng dengan bentakan itu, sarung pedang yang dicekal dalam tangan kirinya menyambar.
“Trangg...!”
Sarung itu masuk di ujung pedang lawan dan pedang buntung meluncur ke tenggorokan Phui Thian Lo. Walau pun lihay, si muka merah tidak mampu menangkis sebab pedangnya tidak bisa bergerak. Tapi sebagai orang yang berkepandaian tinggi, dalam bahaya dia tidak menjadi bingung. Dia lepaskan pedangnya dan sambil melenggokkan kepala, membuang diri bergulingan ditanah. Sebelum Phui Thian Lo melompat bangun tiba-tiba berkelebat bayangan dan tangan Phui Thian Keng mencekal gagang pedang yang barusan dilepaskan oleh Sute-nya. Dengan sekali membetot dia mencabut pedang itu dari sarung pedang buntung yang dipegang Ho Ciok To.
“Sungguh indah gerakan itu!” puji Ho Ciok To dan Kwee Siang hampir berbaring.
Kakek yang mukanya seperti orang berpenyakitan dan tak pernah mengeluarkan sepatah kata itu ternyata memiliki kepandaian yang paling tinggi di antara ketiga orang itu.
“Sungguh aku merasa benar-benar takluk akan kepandaian tuan.“ kata Ho Ciok To sambil membungkuk. Dia berpaling pada Kwee Siang dan berkata, “Kwee-kouwnio. sesudah mendengar lagumu beberapa hari yang lalu, aku menggubah sebuah lagu baru yang ingin aku persembahkan kepadamu untuk dinilai.”
“Lagu apa?” tanya si nona.
Tanpa menghiraukan ketiga orang tua itu, dia lantas bersila di atas tanah, meletakkan khim-nya di pangkuan lalu menyetel talinya. Melihat hal itu, Phoa Thian Keng mendekati dan berkata.
“Tuan sudah merobohkan kedua Sute-ku dan sekarang akulah yang ingin minta pengajaranmu.”
Ho Ciok To menggelengkan kepalanya beberapa kali. “Tidak, itu sudah cukup,” katanya. “Pertandingan silat tidak menimbulkan banyak kegembiraan. Sekarang aku ingin memetik khim untuk diperdengarkan kepada Kwee-kouwnio. Laguku adalah sebuah lagu baru. Jika suka, kalian boleh duduk dan ikut mendengarkan. Kalau tidak suka, kalian merdeka untuk berlalu.“ Sehabis berkata begitu, jarinya mulai memetik.
Sesudah mendengarkan beberapa saat, Kwee Siang jadi kaget bercampur girang. Sejak belajar memetik khim, belum pernah ia mendengar lagu yang begitu luar biasa. Luar biasa karena lagu itu merupakan kombinasi dari lagu Ko-phoa yang pernah dia perdengarkan dengan lagu Kian-kee (nama semacam rumput). Sesungguhnya kedua lagu yang sangat berbeda itu digubah begitu rupa sehingga merupakan sebuah lagu baru yang sangat merdu dan harmonis. Syair lagu ini antara lain berbunyi.
Si orang pertapaan.
Berkelana di pegunungan
Rumput Kian-kee hijau2.
Embun berubah menjadi salju.
Dan si dia.
Berada di satu sudut dunia
Mendengar sampai di situ, hati si nona berdebaran. “Siapa si dia?” tanyanya di hati. “Apa dia maksudkan aku? Mengapa suara khim itu sedemikian merdu dan mengharukan hati?” Mengingat itu, mukanya lantas saja bersemu dadu. Dia merasa kagum bukan main sebab dalam kombinasi yang sudah menjadi sebuah lagu Kian-kee masih bisa mempertahankan kepribadiannya sendiri.
Phoa Thian Keng dan kedua Sute-nya tidak mengerti ilmu musik. Mereka jadi mendongkol bukan main. Cara-cara Ho Ciok To yang terus memetik tali-tali khim tanpa mempedulikan mereka, dianggapnya suatu hinaan. Sesudah mendengarkan beberapa saat, Phoa Thian Keng tidak mampu menahan sabar lagi. Dia mendekati dan sambil menotok pundak kiri Ho Ciok To dengan ujung pedang, dia membentak.
“Bangun kau! Mari kita menjajal kepandaian.”
Ho Ciok To yang sedang memusatkan seluruh semangat pada tetabuhannya, seolah-olah tidak mendengar tantangan itu. Ia seperti juga sedang berkelana di satu pegunungan yang amat indah dan dari jauh ia melihat seorang gadis jelita yang tengah berdiri di atas sebuah pulau kecil yang dikurung air. Tiba-tiba pundak kirinya sakit dan ia pun tersadar. Ia mendongak dan melihat Phoa Thian Keng berdiri di dekatnya sambil memegang pedang terhunus yang barusan telah ia gunakan untuk menotol pundaknya. Ia mengerti bahwa jika tidak melawan, mungkin sekali ia akan terluka secara konyol. Hanya sungguh sayang, lagunya belum selesai. Sebagai seorang seniman tulen, ia tidak rela menghentikan lagunya di tengah jalan.
Karena itu tangan kirinya segera mengulurkan pedang buntung yang lalu digunakan untuk menangkis senjata Phoa Thian Keng, sedangkan tangan kanannya tetap memetik tali-tali khim. Dengan kedua mata tetap memperhatikan tetabuhannya, Ho Ciok To menangkis setiap serangan lawan. Phoa Thian Keng jadi semakin marah dan menyerang tambah hebat. Tapi ke mana pun juga pedangnya menyambar, Ho Ciok To selalu dapat menangkisnya. Kwee Siang yang sedang kesengsem juga tidak mempedulikan serangan itu. Akan tetapi ia mendongkol sebab suara bentrokan senjata merusak irama. Ia membentak.
“Hai! Apa kau tuli akan merdunya lagu ini. Jangan merusak! Cobalah kau menyerang menurut tempo tepukan tanganku.”
Tentu saja Phoa Thian Keng tidak meladeni. Sambil membentak keras, dengan gusar ia merubah Kiam-hoatnya dan menyerang bagaikan hujan angin sehingga suara bentrokan senjata jadi semakin gencar dan irama khim semakin dikacaukan. Ho Ciok To juga mendongkol. Seraya menambah Iweekang, ia menangkis satu tikaman.
“Trangg...!”
Pedang Phoa Thian Keng patah jadi dua. Hampir berbareng tali ke lima dari Cit-hian-khim (khim yang bertali tujuh) juga putus. Paras muka Phoa Thian Keng pucat bagaikan mayat. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun dia lalu meloncat keluar dari pendopo batu, kemudian bersama kedua Sute-nya, dia melompat naik ke punggung tunggangannya yang segera dikaburkan ke atas gunung.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA
Setiap peringatan Han-sit,
Bunga Lee-hoa mekar semua.
Sutera putih licin,
Bau harum bertebaran,
Pohon-pohon bagaikan giok,
Tertutup salju berhamburan.
Malam yang sunyi,
Sinar yang mengambang,
Cahaya yang dingin.
Di antara bumi dan langit,
Sinar perak menyelimuti semesta alam.
Ah, dia bagaikan Dewi dari gunung Kouw-sia,
Bakatnya cerdas dan suci,
Wataknya agung dan murni.
Laksaan sari bunga besar kecil tak ketentuan,
Tapi siapa berani mengatakan,
dia tak berendeng dengan bunga-bunga kenamaan?
Jiwanya gagah,
Kepintarannya berlimpah-limpah,
Sesudah rontok, semua sama.
Maka itu dia pulang kekeraton langit,
Guna melihat keindahan nan ABADI.
Sajak di atas adalah ‘Bu-siok-liam’ (Cita-cita hidup bebas dari segala keduniawian), yakni buah kalam seorang ahli silat ternama di jaman Lam-song (kerajaan Song Selatan). Orang itu she Khu bernama Cie Kie (Kee) bergelar Tiang-cun-cu, salah seorang dari Coan-cin-cit-cu (Tujuh Cu dari agama Coan-cin-kauw)
Dalam sajak itu Khu Cie Kie berbicara tentang bunga Lee-hoa. Tapi sesungguhnya, dalam melukiskan keagungan bunga Lee-hoa, ia hendak memberi pujian kepada seorang wanita cantik yang mengenakan pakaian serba putih. la membandingkan wanita itu seperti ‘Dewi dari gunung Kouw-sia, bakatnya cerdas dan suci, wataknya agung dan murni’. Dan ia pun memujinya sebagai manusia yang ‘jiwanya gagah kepintarannya ber-limpah’.
Siapakah wanita yang mendapat pujian sedemikian tingginya dari seorang beribadat yang berilmu itu? Ia adalah Siauw Liong Lie, seorang jago betina partai Ko-bong-pay (partai kuburan tua). Ia suka mengenakan pakaian serba putih sehingga se-olah pohon giok yang tertutup salju. Dengan sifat-sifatnya yang bersih dingin ia seakan-akan sinar rembulan yang menyelimuti semesta alam dengan sinarnya yang teduh dan dingin. Waktu masih berdiam di Ciong-lam-san, Siauw Liong Lie pernah jadi tetangga Khu Cie Kie dan setelah melihat gadis itu yang elok luar biasa, Cie Kie segera menulis sajak ‘Bu-siok-liam’ untuk memujinya.
Tapi sekarang Khu Cie Kie sudah lama meninggal dunia, sedangkan Siauw Liong Lie sudah menikah dengan Sin-tiauw Tayhiap Yo Ko. Akan tetapi, pada suatu hari, di jalanan gunung Siauw-sit-san, di propinsi Holam, terlihat seorang gadis remaja yang sedang berjalan sambil menundukkan kepala dan menghafal sajak ‘Bu-siok-liam’. Gadis itu berusia kurang lebih delapan belas tahun dan mengenakan pakaian warna kuning, menunggang seekor keledai kurus. Per-lahan keledai itu mendaki jalanan gunung yang sempit. Sambil termenung di atas tunggangannya, si nona berkata dalam hatinya.
“Ya, memang benar! Hanya seorang seperti Liong-cici yang pantas menjadi isteri dia.”
‘Dia’ adalah Sin-tiauw Tayhiap Yo Ko. Keledai berjalan terus, perlahan-lahan. Si nona menghela napas dan menggumam dengan suara perlahan.
“Berkumpul gembira, berpisahan menderita...”
Gadis tersebut berpakaian sederhana dan pada pinggangnya tergantung sebatang pedang pendek, berjalan dengan paras muka tenang, sehingga dengan muka sekelebatan saja orang bisa menebak bahwa ia adalah orang yang sudah biasa berkelana di dunia Kangouw. Dalam usia remaja, usia yang riang gembira. Menurut ukuran biasa, dalam usia belasan seperti ini, pemuda atau pemudi tak mengenal apa yang dinamakan penderitaan mau pun kedukaan. Tetapi nona itu berada di luar dari ukuran biasa. Pada paras mukanya yang cantik bagaikan sekuntum bunga mawar terlihat sinar yang guram. Alisnya berkerut, seolah-olah serupa pikiran berat sedang menindih hatinya.
Nona itu she Kwee bernama Siang, puteri ke dua dari Tayhiap Kwee Ceng dan Lihiap Oey Yong. Dalam dunia rimba persilatan ia dijuluki sebagai ‘Siauw-tong-sia’ (si Sesat kecil dari Timur). Dengan seekor keledai dan sebatang pedang, dia berkelana untuk menghilangkan kedukaan. Namun di luar dugaan, semakin jauh ia berkelana mendaki gunung yang indah dan sunyi, semakin besar kedukaannya. Jalan kecil itu dibuat atas perintah Kaisar Kocong dari kerajaan Tong, untuk memudahkan lalu lintas ke kuil Siauw-lim-si. Sesudah berjalan beberapa lama, Kwee Siang melihat lima buah air terjun di gunung seberang dan di belakang sebuah tikungan, lapat-lapat nampak tembok dan genteng dari sebuah kuil yang besar luar biasa.
Sambil mengawasi bangunan yang berderet, si nona berkata dalam hatinya. “Semenjak dulu Siauw-lim-si dikenal sebagai pusat pelajaran ilmu silat. Tapi mengapa selama dua kali diadakan pertandingan di puncak gunung Hoa-san, di antara lima jago utama tak terdapat orang Siauw-lim-si yang berkepandaian cukup tinggi? Atau apakah karena sudah memiliki ilmu yang sangat tinggi, mereka sungkan mencampuri pergaulan dunia?”
Sambil berpikir ia mendekati kuil, turun dari tunggangannya dan menuju ke pintu kelenteng. Melewati pohon-pohon yang berdiri sejumlah pay batu yang sebagian besar sudah rusak, sehingga huruf-hurufnya tak dapat dibaca lagi. Si nona menghela napas.
“Ah! Huruf yang terpahat di pay batu hampir tak terbaca karena lamanya waktu, tapi mengapa huruf yang terukir dalam hatiku semakin lama semakin tegas?” katanya dalam hati.
Beberapa saat kemudian ia berpapasan dengan sebuah pay batu yang amat besar yang masih dapat dibaca. Pay itu ternyata hadiah Kaisar Tong-thay-cong sebagai pujian untuk jasa-jasanya para pendeta Siauw-lim-si.
Menurut catatan sejarah, pada waktu masih menjadi Raja Muda Cin-ong, Tong-thay-cong pernah membawa tentara menghukum Ong Sie Oen. Dalam peperangan itu banyak pendeta Siauw-lim-si yang memberikan bantuan dan yang paling terkenal berjumlah tiga belas orang. Di antara mereka itu hanya seorang she Tham yang suka menerima pangkat jenderal, sedangkan yang lainnya, sesudah peperangan selesai lantas meminta diri. Tong-thay-cong tak dapat menahan mereka dan sebagai pernyataan terima kasih kepada setiap orang, ia menghadiahkan satu jubah pertapaan yang sangat indah.
“Pada jaman antara kerajaan Sui dan Tong ilmu silat Siauw-lim-si sudah tersohor di kolong langit,” kata Kwee Siang dalam hati. “Selama beberapa ratus tahun ilmu silat itu tentu telah mendapat banyak kemajuan, entah berapa banyak orang berilmu yang bersembunyi dalam kuil yang besar ini?”
Selagi dia melamun di belakang pohon, terdengar suara berkerincingnya rantai besi, disusul dengan suara seseorang yang sedang menghafalkan Hud-keng (Kitab Suci agama Buddha). Antara perkataan yang dihafalkan itu ia menangkap kata seperti berikut,
“Dari cinta timbul kejengkelan, dari cinta timbul ketakutan. Jika seseorang menyingkirkan diri dari cinta, dia terbebas dari kejengkelan dan ketakutan.”
Jantung si nona memukul keras. Dia bengong mengulangi kata-kata itu. “Dari cinta timbul kejengkelan dan ketakutan. Jika seseorang menyingkirkan diri dari cinta, dia terbebas dari kejengkelan dan ketakutan.”
Di lain saat suara kerincingan rantai besi dan suara pembacaan kitab suci semakin jauh.
“Aku mesti tanya dia,” kata si nona dalam hati. “Aku mesti tanya, bagaimana seseorang bisa menyingkir dari cinta, bisa terbebas dari kejengkelan dan ketakutan.”
Ia ikat tali les keledai di pohon lalu menguber ke arah suara itu. Ternyata di belakang pohon terdapat jalan kecil yang menanjak ke atas dan nampak seorang pendeta yang memikul dua tahang besar sedang naik di tanjakan itu.
Cepat Kwee Siang mengejar. Setelah berada dalam jarak belasan tombak dari si pendeta, tiba-tiba dia terkesiap. la mendapat kenyataan bahwa yang dipikulnya sepasang tahang besi yang tiga kali lipat lebih besar dari tahang biasa. Yang mengejutkan adalah di leher, di tangan dan di kaki si pendeta dilibatkan rantai besi yang sangat besar sehingga menimbulkan suara berkerincingan. Berat kedua tahang besi itu ratusan kati dan ditambah dengan air dapatlah dibayangkan betapa beratnya.
“Toa-hwesio (pendeta besar)...!“ teriak si nona. “Berhenti dulu! Aku ingin bertanya.”
Si pendeta menengok, mereka saling memandang. Pendeta itu ternyata adalah Kak Wan yang pada tiga tahun berselang pernah bertemu Kwee Siang di puncak ganung Hoa-san. Si Nona tahu, walau pun pendeta itu agak tolol tetapi dia memiliki Iweekang yang sangat tinggi, yang tidak kalah dari siapa pun juga.
“Ah! Kukira siapa,” katanya. “Tak tahunya Kak Wan Taysu. Mengapa kau jadi begini?”
Kak Wan manggutkan kepala sambil tersenyum dan merangkapkan kedua tangan, tapi ia tak menjawab pertanyaan si nona. Lalu ia memutar badan dan berjalan lagi.
“Kak Wan Taysu!” teriak Kwee Siang. “Apakah tidak mengenal aku? Aku Kwee Siang!”
Kak Wan kembali menengok, ia tertawa dan memanggutkan kepala, tetapi kakinya terus saja bertindak.
“Siapa yang mengikat kau dengan rantai?” tanya si nona. “Siapa yang menghina kau?”
Sambil berjalan terus Kak Wan menggoyang tangan kirinya di belakang kepala, sebagai isyarat supaya si nona jangan terlalu melit (ingin tahu segalanya sehingga menyusahkan). Kwee Siang jadi semakin heran. Mana dia bisa puas dengan begitu saja? Dia segera mengejar untuk mencegat pendeta yang aneh itu. Tapi di luar dugaan, setelah menguber beberapa lama, Kak Wan yang dilibat rantai sambil memikul tahang masih tetap berada di sebelah depan.
Si nona jadi jengkel. Ia mengempos semangat dan mengejar dengan ilmu mengentengkan badan. Bagaikan seekor walet tubuhnya yang langsing melesat ke depan, lalu satu tangannya menjambret sebuah tahang. Menurut perhitungan, jambretan itu tak akan meleset. Tetapi di luar dugaan, tangan Kwee Siang jatuh di tempat kosong, hanya selisih dua dim dari tahang itu.
“Toa-hwesio! Lihay benar kau!” teriaknya. “Tetapi lihat saja! Biar bagaimana pun aku akan menyandak kau.”
Jalanan semakin menanjak. Dengan tenang Kak Wan mempercepat tindakannya berkerincingnya rantai semakin ramai. Kwee Siang menguber dengan sekuat tenaga, napasnya tersengal, tapi ia tetap terpisah kurang lebih setombak. Ia kagum bukan main dan berkata dalam hatinya: “Di atas gunung Hoa-san, ayah dan ibu pernah mengatakan bahwa hwesio ini mempunyai kepandaian yang sangat tinggi. Waktu itu aku masih belum percaya. Tetapi sekarang baru terbukti, ternyata perkataan ayah dan ibu adalah benar.” Tidak lama kemudian mereka tiba di depan rumah kecil dan Kak Wan pergi ke belakang lalu menuangkan air kedua tahang itu ke dalam sumur. Kwee Siang jadi lebih heran.
“Toa-hwesio, apa kau telah gila?” tanyanya. “Kenapa kau menuang air ke dalam sumur?”
Paras muka si pendeta tetap tenang. Ia hanya tersenyum. Mendadak Kwee Siang tertawa nyaring.
”Ah! Aku tahu sekarang,” katanya. “Kau sedang melatih ilmu silat, bukan?”
Kak Wan kembali meng-gelengkan kepala. Si nona jadi dongkol. “Kau seorang gagu? Barusan aku mendengar kau menghafal Kitab Suci,” katanya. “Mengapa kau tidak mau menjawab pertanyaanku?”
Si pendeta merangkap kedua tangannya, kalau dilihat dari paras mukanya, ia seperti ingin meminta maaf. Tapi ia tetap membungkam dan sesudah mengangkat kedua tahangnya, ia turun ke jalanan tadi. Kwee Siang melongok sumur. Dia hanya melihat air yang bening dan merasakan hawa yang dingin. Tiada apa pun yang luar biasa. Ia berdiri bengong dan hati bimbang, mengawasi bayangan Kak Wan yang semakin lama semakin jauh. Setelah menguber mati-matian ia merasa letih, ia lantas duduk di pinggir sumur sambil memandang keadaan seputarnya.
Dia berada di tempat yang lebih tinggi dari pada kuil Siauw-lim-si. Dipandang dari jauh kuil itu angker dan indah. Dia mendongak dan memandang puncak yang menjulang ke langit dan berderet bagaikan sekosol (sekat yang dapat di-pindah), sedang di bawah puncak itu terdapat awan putih yang mengambang kian kemari. Pada lain saat sayup-sayup mendengar suara lonceng di kuil yang dibawa ke atas olen tiupan angin. Dalam keadaan begitu Kwee Siang merasa berada di tempat suci yang jauh dari keduniawian.
“Ke mana perginya murid si pendeta itu?” tanyanya dalam hati. “Kalau dia sendiri tidak mau bicara, biar kucari muridnya. “Perlahan-lahan ia turun gunung mencari Thio Kun Po, murid Kak Wan.
Sesudah berjalan beberapa lama, ia kembali mendengar suara berkerincingnya rantai besi dan jauh-jauh Kak Wan kelihatan mendatangi sambil memikul dua tahang besinya. Kwee Siang buru-buru melompat dan menyembunyikan diri di belakang pohon.
“Biarlah aku mengintipnya,” pikirnya. “Permainan gila apa yang tengah dilakukannya?”
Tak lama kemudian Kak Wan sudah tiba di tempat sembunyinya. Kwee Siang mendapat kenyataan bahwa sambil berjalan pendeta itu terus membaca sejilid buku dengan penuh perhatian. Mendadak ia melompat dan berteriak.
”Toa-hwesio, buku apa yang kau baca?”
“Aduh! Kaget benar aku!” teriak si pendeta tanpa merasa. “Nakal sungguh kau!”
Si nona tertawa geli. “Toa-hwesio, kenapa tadi engkau berlagak gagu?” tanyanya dengan nada mengejek.
Muka pendeta itu lantas saja berubah pucat, seperti orang ketakutan. Dia menengok ke kiri kanan dan menggoyang-goyangkan tangannya.
“Apa yang kau takuti?” tanya pula Kwee Siang dengan perasaan heran.
Sebelum Kak Wan keburu menjawab, dari dalam hutan muncul dua orang pendeta yang mengenakan jubah kuning.
“Kak Wan!” bentak si pendeta yang jalan di depan. “Hm! Kau berani bicara dan melanggar larangan kami? Kau berani berbicara dengan orang luar, apa lagi dengan seorang wanita. Sekarang kau harus menghadap kepada tetua Kay-lut-tong (dewan perundang-undangan dari kalangan Buddha).”
Kak Wan kelihatan berduka. Ia menunduk dan mengangguk, kemudian berjalan mengikuti di belakang kedua pendeta itu.
Kwee Siang lantas saja naik darahnya. “Hai! Di kolong langit mana ada aturan tidak boleh bicara?” bentaknya. “Aku bicara dengan Taysu itu, karena aku mengenalnya. Ada sangkut paut apakah dengan kau berdua?”
Pendeta yang bertubuh jangkung memelototkan matanya. “Semenjak ribuan tahun, belum pernah ada wanita diperkenankan masuk ke daerah Siauw-lim-si,” katanya. “Lebih baik nona cepat-capat turun gunung supaya tidak menghadapi kesukaran.”
Si nona semakin marah. “Eh, kalau wanita masuk ke sini, mau apa kau?!” bentaknya. “Apa perempuan tidak sama dengan lelaki? Kenapa kamu menyusahkan Kak Wan Taysu? Sesudah mengikatnya dengan rantai besi, kau masih mengeluarkan larangan gila.”
Si jangkung mengeluarkan suara di hidung. “Kaisar sendiri tak pernah mencampuri urusan dalam kuil kami,” katanya dengan suara tawar. “Nona tak usah banyak bicara.”
Kwee Siang berjingkrak. “Aku tahu Kak Wan Taysu seorang baik dan karena dia seorang baik, kau berani menghinanya,” katanya. “Huh-huh! Di mana adanya Thian Beng Siansu, Bu Sek Hwesio dan Bu Siang Hwesio? Panggil mereka! Aku mau menanyakan urusan gila ini!”
Kedua pendeta itu terkejut. Harus diketahui bahwa Thian Beng Siansu adalah Hong-thio atau kepala kuil Siauw-lim-si, sedangkan Bu Sek Siansu pemimpin Lo-han-tong dan Bu Siang Siansu pemimpin Tat-mo-tong dengan kedudukan yang sangat tinggi. Mereka dihormati oleh segenap pendeta yang belum pernah berani menyebutkan Hoat-nia (nama sesudah jadi pendeta) mereka dan biasa menggunakan panggilan ‘Lo-hong-thio’, ‘Lo-han-tong Cocu’ atau ‘Tat-mo-tong Cocu’. Maka tidaklah heran jika mereka kaget bercampur marah waktu mendengar si nona menyebut nama ketiga pemimpin dengan suara kasar.
Hoat-nia pendeta yang bertubuh jangkung adalah Hong Beng, murid kepala Cocu (pemimpin) Kay Lut Tang. Atas perintah cocu, bersama Hong Yang, adik seperguruannya, ia menilik gerak-gerik Kak Wan.
“Li-sicu (nona)!” bentaknya sambil menahan amarah. “Jika kau terus berlaku kurang sopan di tempat yang suci ini, Siauw-ceng tak akan berlaku sungkan lagi.”
“Kau kira aku takut?” Kwee Siang balas membentak. “Lekas buka rantai yang melibat Kak Wan Taysu. Jika tidak, aku akan cari Thian Beng Lo-hwesio untuk berurusan lebih jauh.”
Bagaimana siauw-tong-sia Kwee Siang bisa berada di gunung Siauw-sit-san? Setelah berpisah dari Yo Ko dan Siauw Liong Lie di puncak Hoa-san, selama tiga tahun ia tidak pernah menerima warta tentang kedua sahabat itu. Karena berkuatir, ia segera minta ijin pada kedua orang tuanya untuk pesiar ke berbagai tempat, dengan tujuan mendengar berita tentang Yo Ko. la bukan terlalu ingin bertemu muka dengan kedua suami isteri itu. Ia sudah merasa puas jika bisa mendengar warta tentang sepak terjang mereka. Tetapi semenjak berpisah, Yo Ko dan Siauw Liong Lie tidak pernah muncul di dunia Kangouw. Tiada orang tahu di mana mereka menyembunyikan diri. Sesudah berkelana di sebagian besar wilayah Tiong-goan, dari utara ke selatan dan dari timur ke barat, belum pernah Kwee Siang mendengar disebut-sebutnya, nama ‘Sin-tiauw Tayhiap Yo Ko’.
Waktu tiba di propinsi Holam, dia ingat dahulu Yo Ko pernah mengatakan bahwa ia kenal Hong-thio dari kuil Siauw-lim-si. Mengingat begitu di dalam hatinya muncul harapan kalau Thian Beng Siansu mengetahui segala sesuatu mengenai Yo Ko. la lalu mendaki Siauw-sit-san, tapi tak dinyana, begitu tiba ia bertemu dengan kejadian yang mengherankan. Melihat pinggang Kwee Siang tergantung sebatang pedang pendek, Hong Beng dan Hong Yang menjadi semakin marah.
“Tinggalkan pedangmu di sini dan lekaslah pergi dari gunung!” bentak Hong Yang dengan mata melotot.
Mendengar perintah itu, kemarahan si nona menjadi bertambah. Dia membuka ikatan tali pedang dari pinggangnya, lalu sambil mengangsurkannya dengan kedua tangan ia berkata seraya tertawa dingin.
“Baiklah, aku menurut perintah!”
Sejak kecil Hong Yang sudah menyucikan diri di kuil Siauw-lim-si. Selama belasan tahun dia selalu mendengar bahwa Siauw-lim-si adalah pusat dari ilmu silat dan siapa pun juga, biar pun ahli silat yang berkepandaian paling tinggi juga tak akan berani melewati pintu kuil dengan membawa senjata. Sekarang walau pun Kwee Siang masih belum masuk di pintu, tapi ia sudah berada dalam lingkungan Siauw-lim. Dengan usianya yang masih begitu muda, pula dia adalah seorang wanita, dapatlah dimengerti jika Hong Yang tidak memandang sebelah mata kepada Kwee Siang.
Begitu Kwee Siang mengangsurkan senjatanya, si pendeta menafsirkan bahwa nona itu sudah menyerah dengan ketakutan. Maka dengan paras muka ber-seri sambil mengibas lengan jubah yang menutupi kedua tangannya; dia langsung menyelonjorkan tangan menjemput pedang Si nona. Tapi baru saja lima jarinya menyentuh sarung pedang, lengannya lantas bergetar seperti kena arus kilat. Ia merasakan semacam tenaga yang sangat besar menerobos keluar dari pedang itu dan mendorongnya dengan hebat, sehingga tak ampun lagi dia roboh terguling dan terus menggelinding ke bawah tanjakan. Sesudah tergelincir belasan tombak, untung ia berhasil menjemput pohon kecil di pinggir jalanan dan dapat menolong dirinya. Darah Hong Beng mendidih; paras mukanya menjadi merah padam.
“Perempuan celaka!” bentaknya. “Tampaknya kau sudah makan nyali singa sehingga berani unjuk keganasan di Siauw-lim-si.“ Sambil mencaci ia menghantam dengan kedua tangannya.
Melihat gerakan orang, Kwee Siang segera tahu bahwa kepandaian pendeta itu lebih tinggi dari pada kawannya. Dengan cepat ia pun mengangkat pedangnya yang masih berada di dalam sarung dan menotok pundak Hong Beng laksana kilat. Si pendeta mengegos sambil menjambret sarung pedang.
“Jangan berkelahi! Jangan berkelahi!” teriak Kak Wan dengan suara bingung.
Jambretan Hong Beng ternyata berhasil, tapi baru saja ia mau membetot sarung pedang, lengannya mendadak kesemutan dan ia mengeluarkan teriakan tertahan.
“Celaka!”
Hampir berbareng Kwee Siang menyapu dengan kakinya hingga tubuh Hong Beng tergelincir ke bawah. Ia menderita lebih hebat dari pada Hong Yang karena baru berhenti setelah menggelinding dua puluh tombak lebih dengan tubuh dan muka berlepotan darah. Peristiwa itu membuat si nona agak menyesal.
“Ah! Aku naik ke Siauw-lim-si untuk mendengar warta tentang Yo-toako,” pikirnya. “Siapa nyana aku bentrok dengan mereka.”
Melihat Kak Wan berdiri di tepi jalan dengan paras muka berduka, ia segera menghunus pedang kemudian membacok rantai yang melibat kaki pendeta itu. Biar pun bukan pedang mustika, tetapi senjata Kwee Siang bukan senjata sembarangan. Dengan berkerincingan tiga rantai putus terbacok.
“Jangan! Jangan!” si pendeta coba mencegah.
“Mengapa jangan?” tanyanya. Dia mengawasi Hong Beng dan Hong Yang yang sedang berlari-lari dan berkata. “Dua hwesio jahat itu tentu hendak melapor. Mari kita kabur. Mana muridmu, she Thio itu? Kita ajak dia lari bersama-sama.”
Kak Wan meng-gelengkan kepala dan mengawasi si nona dengan sorot mata berterima kasih. Kwee Siang mendengar suara orang di belakangnya.
“Terima kasih untuk kebaikan nona. Aku berada di sini.”
Si nona cepat menoleh dan melihat di belakangnya berdiri seorang pemuda yang berusia kurang lebih tujuh belas tahun, dengan alis tebal, mata besar dan badan tinggi besar, tapi paras mukanya masih kekanak-kanakkan. la segera mengenali bahwa pemuda itu bukan lain dari pada Thio Kun Po yang pernah bertemu di puncak gunung Hoa-san. Tubuh anak itu sudah banyak lebih tinggi, tetapi mukanya tidak banyak berubah. Kwee Siang girang.
“Dua hwesio jahat itu telah menghina gurumu,” katanya. “Mari kita kabur.”
“Sebenarnya mereka tidak menghina Suhu,“ kata Kun Po.
“Tidak menghina,” menegas si nona. “Mereka melibatkan rantai di kaki tangan gurumu dan melarang gurumu bicara. Apa itu tidak menghina?”
Kak Wan tertawa getir. Ia kembali menggelengkan kepalanya sambil menuding ke bawah sebagai nasihat supaya Kwee Siang buru-buru kabur sendiran. Tetapi Siauw-tong-sia Kwee Siang adalah manusia yang mempunyai sifat-sifat ksatria. Dia yakin bahwa di kuil Siauw-lim-si terdapat ahli silat yang tak terhitung banyaknya. Tetapi ia tidak bisa berpeluk tangan melihat keganjilan. Melihat Kak Wan dan Kun Po ayal-ayalan, ia menjadi bingung karena kuatir keburu dicegat.
“Lekas! Jika mau bicara, boleh bicara di bawah gunung,” katanya sambil menyeret tangan guru dan muridnya. Tapi baru saja ia mengeluarkan perkataan itu, dari bawah muncul tujuh delapan pendeta yang bersenjata toya Ci-bi-kun.
“Perempuan dari mana berani mengganas di Siauw-lim-si?” teriak satu diantaranya.
“Suheng, jangan kurang ajar,” kata Kun Po. “Dia adalah...”
“Jangan menyebut namaku!” potong Kwee Siang. Ia mengerti bahwa ia telah menerbitkan keonaran yang mungkin tak bisa dibereskan lagi dengan jalan damai.
Sebagai jago betina ia hendak bertanggung jawab sepenuhnya atas perbuatannya sendiri. Ia sungkan me-nyeret kedua orang tuanya, maka itu ia lalu menambahkan dengan suara perlahan:
“Mari kita kabur. Tapi jangan sekali-kali kau menyebut nama kedua orang tuaku atau lain-lain sahabat.”
Se-konyong-konyong terdengar suara bentakan dan di atas gunung kembali muncul tujuh delapan pendeta. Melihat jalan di depan dan di belakang sudah tercegat, Kwee Siang jadi mendongkol.
“Semua gara-gara kalian berdua yang seperti nenek-nenek, sedikit pun tidak punya semangat laki-laki. Bilang sekarang, mau pergi atau tidak?”
Kun Po berpaling kepada gurunya seraya berkata. “Suhu ini kebaikan budi dari Kwee-kouwnio...”
Sesaat itu di bawah kembali muncul empat pendeta yang berjubah warna kuning. Mereka tidak bersenjata, tetapi selagi mendaki, gerakan mereka gesit dan cepat luar biasa. Kwee Siang mengakui bahwa mereka adalah orang yang mempunyai kepandaian tinggi. Sekarang si nona mengerti bahwa dia takkan dapat melarikan diri lagi. Dia segera berdiri tegak dengan sikap angkuh, siap sedia untuk menghadapi segala kemungkinan. Begitu datang dekat, pendeta yang berjalan paling depan segera berteriak dengan suara nyaring,
“Atas perintah tetua Lo-han-Tong, kau harus meninggalkan senjatamu. Kemudian pergi ke Pendopo Lip-swat-teng di kaki gunung untuk memberi penjelasan dan mendengar keputusan kami.”
Kwee Siang tertawa dingin. “Ah! Lagak hwesio Siauw-lim-si sungguh tak berbeda dengan pembesar negeri,” katanya dengan nada mengejek. “Bolenkah aku tahu, apa para Toa-hwesio menjadi pembesar dari kerajaan Song atau menjadi pembesar dari kaisar Mongol?”
Ketika itu daerah di sebelah utara sungai Hway-sui sudah jatuh ke tentara Mongol dan Siauw-sit-san dengan Siauw-lim-si-nya justru berada di wilayah kekuasaaan Mongol. Sampai sebegitu jauh, karena selama bertahun-tahun repot menyerang kota Siang-yang, maka bala tentara Mongol masih belum sempat memperhatikan soal-soal lain sehingga sampai sebegitu jauh Siauw-lim-si masih belum diganggu.
Mendengar perkataan Kwee Siang yang sangat tajam, paras muka pendeta itu berubah merah. Ia merasa bahwa perkataannya tadi memang tidak pantas, sebab dengan berkata begitu, Siauw-lim-si seolah-olah mau jadi hakim sendiri terhadap orang luar. Maka itu, sambil merangkap kedua tangannya, ia segera berkata pula dengan suara manis.
“Ada urusan apa Li-sicu datang berkunjung ke kuil kami? Mohon meninggalkan senjata dan pergi ke pendopo Lip-swat-teng untuk sekedar minum teh sambil beromong-omong.”
Kwee Siang mengeluarkan suara di hidung, “Huh! Kalian melarang aku masuk ke kuilmu, apa dalam kuilmu terdapat mustika yang menjadi ternoda karena dilihat olehku?” katanya sambil melirik Thio Kun Po dan berkata dengan suara perlahan. ”Kau mau ikut tidak?”
Pemuda itu menggelengkan kepala dan memonyongkan mulut ke arah Kak Wan sebagai tanda bahwa ia mau menetap di samping gurunya.
“Baiklah,” kata si nona dengan suara nyaring. “Aku tidak ikut campur lagi.“ Ia mengangkat kaki dan turun dari tanjakan itu.
Si jubah kuning yang pertama lantas minggir ke samping, tapi yang kedua dan yang ketiga merintang sambil mengangkat tangan mereka.
“Tunggu dulu,” kata salah seorang. “Tinggalkan senjatamu.”
“Kami tidak akan menahan senjata Li-sicu dalam tempo lama,” kata si jubah kuning yang pertama. “Begitu Li-sicu sudah turun gunung maka kami akan segera mengembalikannya. Peraturan ini adalah peraturan Siauw-lim-si yang telah dipertahankan selama ribuan tahun sehingga kami minta Li-sicu suka memaafkan.”
Mendengar permintaan yang sopan, si nona bimbang. ”Jika aku membantah, tentu aku harus bertempur. Tapi seorang diri, bagaimana bisa melawan jumlah mereka yang begitu besar?” Pikirnya. “Tetapi kalau aku meninggalkan senjata, aku seperti menghilangkan muka ayah, ibu, kakek, cici, Toako dan Liong-cici.”
Sebelum ia mengambil keputusan, satu bayangan kuning berkelebat, disusul dengan bentakan.
“Kau bukan saja membawa senjata, tapi juga sudah melukai orang. Semenjak dulu belum pernah ada manusia yang berani berbuat begini!“
Hampir berbareng, lima jeriji menyambar sarung pedang Kwee Siang. Kalau saja dia tidak diserang, setelah berpikir masak-masak, mungkin sekali si nona akan menyerahkan senjatanya. Harus diketahui bahwa sifat gadis itu berbeda dengan Kwee Hu, kakaknya. Walau pun gagah, ia tidak sembrono. Melihat keadaan yang merugikan dirinya, ia dapat menahan kesabaran untuk kembali lagi di kemudian hari dengan membawa bala-bantuan. Tapi usaha si pendeta untuk merebut pedangnya sudah meniadakan segala kemungkinan perdamaian. Mana bisa ia menyerahkan senjatanya dengan begitu saja? Ilmu Kin-na-chiu-hoat (ilmu menangkap menyengkeram) pendeta itu memang amat lihay. Sekali menjambret, ia berhasil mencengkeram sarung pedang. Dalam keadaan terdesak Kwee Siang mencekal gagang pedang dan membetotnya.
“Srett!” pedang tercabut dan mengeluarkan sinar menyilaukan mata.
Hampir berbareng si pendeta berteriak karena lima jarinya terpapas putus. Dalam kesakitan dia menotok muka si nona dengan sarung pedang yang dicekal tangan kanannya. Kwee Siang memapaki dan...
“Trangg...!” sarung pedang itu menjadi dua potong.
Pendeta itu tidak bisa menyerang lagi dan dengan paras muka pucat ia segera melompat mundur. Kawan-kawannya jadi marah bukan main, dengan serentak mereka memutar toya dan maju mengepung.
“Aihh, hari ini aku pasti tidak bisa meloloskan diri tanpa melukai banyak orang,” kata Kwee Siang dalam hatinya. Sambil mencekal pedangnya erat-erat, ia segera menerjang dengan Lok-eng Kiam-hoat.
Lok-eng Kiam-hoat yang digubah Oey Yok Su dari ilmu pukulan Lok-eng Ciang-hoat ialah salah satu kepandaian istimewa dari pulau Tho-hoa-to yang tidak kalah lihainya dari pada Giok-siauw Kiam-hoat. Begitu menerjang pedang si nona me-nyambar bagaikan kilat dan dalam sekejap dua orang pendeta terluka. Akan tetapi ia berada di atas angin hanya untuk sementara waktu, dan tidak lama kemudian keadaannya mulai terjepit karena semakin lama jumlah pengepung semakin besar.
TIAT-LO-HAN MEMBUKA JATI DIRI
Sesudah bertempur selama beberapa puluh jurus Kwee Siang hanya dapat membela diri, tanpa mampu menyerang. Dalam keadaan terdesak seperti itu sebenarnya para pendeta bisa segera merobohkannya. Tapi karena Siauw-lim-si mengutamakan belas kasihan, mereka tidak tega melakukannya. Tujuan mereka hanyalah untuk merebut senjata si nona dan kemudian mengusirnya dari Siauw-sit-san.
Tetapi merebut pedang bukanlah pekerjaan mudah dan sesudah lewat lagi puluhan jurus, Kwee Siang masih mampu mempertahankan senjatanya. Semakin lama para pendeta semakin heran. Mereka merasa pasti bahwa gadis kecil ini adalah puteri atau murid seorang ahli silat kenamaan dan oleh karenanya, mereka tidak berani melukainya karena hal itu bisa berbuntut panjang. Karena itu sambil mengepung salah seorang pergi ke kuil untuk melaporkan kepada Bu Sek Siansu, pemimpin Lo-han-tong.
Tak lama kemudian tampak seorang pendeta tua yang bertubuh jangkung kurus mendekati gelanggang pertempuran lalu menonton sambil tersenyum. Dua orang pendeta segera melompat keluar dari gelanggang dan bicara bisik-bisik dengan pendeta tua itu. Sementara Kiam-hoat si nona semakin terdesak.
“Hai! Kalian semua benar-benar tidak kenal malu!” teriaknya. “Kalian selalu mengagulkan Siauw-lim-si sebagai pusat pelajaran ilmu silat, tetapi tidak tahunya, puluhan Toa-hwesio menarik keuntungan dengan jalan mengerubut.”
“Berhenti semua!” pendeta tua yang bukan lain adalah Bu Sek Siansu membentak sambil tersenyum. Mendengar perintah itu dengan serentak semua pendeta melompat keluar dari gelanggang kemudian berdiri di pinggiran.
“Nona,” tegur Bu Sek Siansu dengan suara sabar. “Bolehkah aku mendapat tahu she dan nama nona yang mulia. Siapa nama orang tuamu dan siapakah gurumu? Ada urusan apa nona datang berkunjung ke kuil kami?”
“Hari ini aku sudah mengacau hebat sekali. Jika diketahui ayah ibu dan Toakoko, tentulah mereka akan mengomel,” kata Kwee Siang dalam hati. Sesudah berpikir begitu dia lantas mengeluarkan suara di hidung.
“Tak mungkin aku memberi-tahukan namaku,” jawabnya. “Aku mendaki gunungmu karena tertarik dengan pemandangannya yang sangat indah dan sama sekali tidak mengandung maksud apa pun juga. Tapi siapa nyana Siauw-lim-si lebih angker dari pada keraton kaisar. Tanpa sebab yang jelas kalian ingin merampas senjataku. Taysu, aku ingin tanya. Apakah aku pernah menginjak pintu kuilmu?” Dia berdiam sejenak sambil mengawasi Bu Sek, lalu berkata lagi. “Dulu pada waktu Tat-Mo Couwsu menurunkan ilmu silat, kurasa tujuannya yang paling utama adalah supaya para pendeta mempunyai tubuh yang kuat agar dapat menjalankan tugas keagamaan se-baiknya. Tapi ternyata makin lama nama Siauw-lim-si semakin terkenal, ilmu silatnya jadi semakin tinggi dan kebiasaan mengeroyoknya pun jadi makin tersohor! Baiklah, Toa-hwesio, jika kau mau merebut senjataku, ambillah! Tapi, kecuali kau membinasakan aku, kejadian ini pasti akan diketahui oleh semua orang dalam Rimba persilatan.”
Mendengar perkataan si nona yang amat tajam, Bu Sek jadi tergugu. Untuk sejenak ia mengawasi si nona dengan mulut ternganga dan tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun.
“Aku sendiri takut kejadian ini diketahui orang, tapi rupanya ia lebih takut lagi,“ kata Kwee Siang dalam hatinya. Memang puluhan pendeta mengerubuti seorang wanita bukan kejadian yang boleh dibuat bangga. Ia segera melontarkan pedangnya kemudian bertindak turun gunung.
Bu Sek maju satu tindak sambil mengibaskan lengan bajunya dan pedang itu tergulung lengan jubah. Seraya memegang senjata yang bernoda darah itu dengan kedua tangannya ia berkata:
“Jika nona enggan menjawab pertanyaanku, biarlah aku kembalikan senjata ini dan dengan segala kehormatan aku mengantar nona turun gunung.”
Kwee Siang tertawa. “Toa-hwesio adalah seorang yang mengerti urusan dan boleh dibuat contoh oleh pendeta di sini.“ Ia memuji sambil mengulur tangan untuk menyambut. Tapi begitu jerijinya menyentuh gagang pedang, segera ia terkesiap.
Ternyata dari telapak tangan Bu Sek keluar semacam tenaga menyedot sehingga pedang itu tak dapat diangkat. Tiga kali Kwee Siang mengempos semangat sambil mengerahkan Iwekang, tetapi ia belum juga bisa berhasil.
“Eh, Toa-hwesio, kau sengaja memperlihatkan kepandaianmu, ha?” tanyanya dengan hati mendongkol.
Tiba-tiba saja bagaikan kilat tangannya menyambar dan mengebut jalan darah Thian-teng-hiat dan Ki-kut-hiat di leher Bu Sek yang menjadi kaget bukan main dan buru-buru melompat ke belakang. Pada detik ia terkejut dan Iweekang-nya agak kendor, si nona segera membetot dan berhasil merebut senjatanya.
“Sungguh indah Lan-hoa-hud-hiat-chiu (Ilmu Bunga anggrek mengebut jalanan darah)!” Bu Sek memuji. “Nona, pernah apakah dengan majikan pulau Tho-hoa?”
“Majikan pulau Tho-hoa?” ia menegas seraya tertawa. “Dia dikenal sebagai Lo-tong-sia (si Sesat Tua dari Timur).”
Tong-sia Oey Yok Su, pemilik Tho-hoa, adalah kakek luar Kwee Siang. Orang tua yang adatnya aneh sering memanggil cucu perempuannya sebagai ‘Siauw-tong-sia’ yang lalu membalas dengan menggunakan istilah ‘Lo-tong-sia’. Sebaliknya dari jengkel, sang kakek malah girang dan menerima baik panggilan si cucu nakal.
Begitu mendengar jawaban Kwee Siang, Bu Sek menarik kesimpulan bahwa si nona tidak punya hubungan rapat dengan orang tua itu. Jika masih tersangkut keluarga, ia tentu tak akan mengeluarkan kata-kata yang agak kurang ajar. Berpikir begitu, hati Bu Sek lebih lega. Di waktu masih muda Bu Sek Siansu pernah menjagoi di kalangan rimba hijau. Karena itu meski pun ia sudah menjadi orang beribadat puluhan tahun lamanya, sifat-sifat jagoannya masih belum hilang. Semakin Kwee Siang menolak memberi-tahukan nama gurunya dan asal-usulnya, semakin besar pula hasratnya untuk menyelidiki. Dia tertawa ter-bahak seraya berkata,
“Nona kecil, mari kita main-main sebentar untuk menjajal mata si pendeta tua ini. Coba kita lihat, apakah dalam sepuluh jurus aku bisa atau tidak menerka asal usul ilmu silatmu?”
“Bagaimana jika kau tak mampu?” tanya si nona.
Bu Sek kembali tertawa terbahak-bahak. “Jika kau bisa melayani aku dalam sepuluh jurus dan aku masih belum bisa menebak asal-usul ilmu silatmu maka aku akan menurut segala kemauanmu,“ jawabnya.
“Dulu aku pernah bertemu muka dengan Taysu dan sekarang aku ingin minta sesuatu untuknya,” kata Kwee Siang sambil menunjuk Kak Wan. “Kalau dalam sepuluh jurus kau masih belum bisa menebak siapa guruku, aku minta kau suka meluluskan permohonanku untuk tidak menyusahkan Taysu itu lagi.”
Bu Sek amat heran. Sepanjang pengetahuannya, selama sepuluh tahun mengurus kitab-kitab di Cong-keng-kok (perpustakaan), Kak Wan belum pernah berhubungan dengan orang luar. Bagaimana kini ia bisa mengenal si nona? Karena itu sambil mengawasi Kwee Siang dengan sorot mata tajam, ia berkata.
“Kami belum pernah berniat untuk sengaja menyakitinya. Kalau melanggar, setiap pendeta dalam kuil ini, tak peduli siapa pun juga, diharuskan mendapat hukuman. Karena itu adalah kurang tepat kalau nona menggunakan istilah menyusahkan.”
“Hm!” kata Kwee Siang seraya tertawa dingin. “Biar apa pun yang dikatakan olehmu, kau tetap seorang yang pandai putar-putar omongan.”
Bu Sek mengangkat dua tangannya sambil berkata. “Baiklah. Aku luluskan permintaanmu! Apa bila lolap kalah, maka biarlah aku mewakili Kak Wan Sute memikul tiga ribu seratus delapan pikul air. Nona kecil, hati-hati aku akan segera menyerang.”
Diam-diam Kwee Siang menentukan siasat. “Pendeta ini pasti memiliki kepandaian tinggi dan jika dibiarkan ia menyerang lebih dahulu maka aku mesti mengeluarkan ilmu silat dari ayah dan ibu untuk membela diri,“ pikirnya. “Paling benar aku mendahului dan mengirim sepuluh serangan aneh beruntun-runtun.”
Begitu Bu Sek selesai mengucapkan perkataannya, Kwee Siang segera menikam dengan pukulan Ban-ci-cian-hong dari Lok-eng Kiam-hoat. Dengan pukulan itu, ujung pedangnya menggetar tak hentinya sehingga musuh sukar menebak arah serangan. Bu Sek yang tahu lihaynya pukulan tersebut, tidak berani menyambut secara berhadapan dan buru-buru melompat.
“Awas, sekarang serangan yang kedua!” teriak si nona sembari memutar senjatanya lalu menikam dari bawah ke atas dengan tipu Thian-sin-to-hian (Malaikat langit jungkir balik) dari Coan-cin Kiam-hoat.
“Thian-sin-to-hian!” seru Bee sek.
“Belum tentu benar,” kata si nona sambil menyengir.
Begitu mengegos, Bu Sek membalik tangan kanannya lantas lima jerijinya yang dipentang menyambar ke arah muka Kwee Siang. Si nona sangat terkejut karena ia sama sekali tak menduga bahwa pendeta itu bisa mengirim serangan balasan begitu cepat. Dalam keadaan terdesak ia menggoyangkan pedangnya beberapa kali dan menyambut dengan Ok-kauw-lun-louw (Anjing jahat mempercepat jalan) dari Tah-kauw Pang-hoat (Ilmu tongkat pemukul anjing).
Harus diketahui bahwa waktu kecil, nona Kwee bersahabat rapat dengan mendiang Loh Yu Ka, Pangcu dari Kaypang (Partai pengemis). Keduanya sering makan minum ber-sama, bersenda gurau dan tempo-tempo atas desakan si nona, mereka berlatih silat. Biar pun di Kaypang terdapat peraturan bahwa Tah-kauw Pang-hoat hanya boleh diturunkan kepada seorang Pangcu, tapi berkat pergaulannya dengan orang tua itu maka lama-lama Kwee Siang berhasil mempelajari beberapa pukulan dari ilmu silat tongkat yang luar biasa itu. Kalau diingat bahwa bekas Pangcu Kaypang sekarang, Yalu Ce, adalah suami dari kakak perempuannya, maka sesungguhnya si nona mempunyai kesempatan luas untuk melihat latihan-latihan Tah-kauw Pang-hoat. Maka itu biar pun tak mengerti inti sari dari pada ilmu silat tersebut, dalam keadaan terjepit ia masih bisa menggunakannya untuk menolong diri.
Bu Sek kaget bukan main sebab pada saat kelima jarinya hampir menyentuh pergelangan tangan si nona, tiba-tiba sehelai sinar putih berkelebat dan pedang menyambar dari arah yang sebenarnya tak mungkin dilakukan sehingga hampir-hampir jerijinya terbabat putus. Untung saja pada detik terakhir ia masih keburu melompat ke belakang. Tetapi meski pun begitu, tak urung lengan jubahnya tergores ujung pedang dan menjadi robek. Paras muka Bu Sek berubah pucat dan keringat dingin mengucur dari dahinya.
Hati Kwee Siang berbunga. “Taysu, apa kau tahu ilmu pedang apa itu?” tanyanya sambil nyengir.
Di dunia memang tidak terdapat Kiam-hoat yang serupa itu. Sesudah mencuri Tah-kauw Pang-hoat, dengan otaknya yang sangat cerdas, si nona mengubah pukulan Kiam-hoat berdasarkan ilmu tongkat itu sehingga dengan demikian, ia telah membuat seorang pendeta Siauw-lim-si yang berilmu tinggi tak bisa menjawab pertanyaannya.
“Ha! Jika aku bisa menyerang lagi dengan beberapa pukulan Tah-kauw Pang-hoat, maka pendeta tua ini akan dapat dirobohkan,” katanya dalam hati. “Sungguh sayang, aku hanya memiliki satu pukulan yang semengga-mengganya (hanya satu-satunya) ini.”
Sebelum sang lawan sempat bergerak, Kwee Siang sudah mendahului lagi dan menotol beberapa kali bagian bawah Bu Sek dengan ujung pedang. Sekali ini ia menyerang dengan Leng-po-wi-po (Leng-po bertindak dengan ayunya), yakni salah satu pukulan dari Giok-li Kiam-hoat yang didapatnya dari Siauw Liong Lie. Seperti sudah diketahui, Giok-li Kiam-hoat adalah ilmu pedang gubahan Lim Tiauw Eng, setiap pukulannya mempunyai gerakan Leng-po-wi-po, maka jadi tambah menyolok ketika dilakukan oleh nona Kwee yang cantik dan ayu. Dengan perasaan kagum semua pendeta mengawasi serangan itu sambil menahan napas.
Harus diketahui bahwa Tat-mo Kiam-hoat, Lo-han Kiam-hoat dan ilmu pedang lainnya dari Siauw-lim-si mengutarakan ‘kekerasan’, sedangkan Giok-li Kiam-hoat, yang jarang terlihat di rimba persilatan justru berbeda dengan silat Siauw-lim-pay. Begitu si nona mulai menyerang dengan Leng-po-wi-po, seperti pendeta lainnya Bu Sek pun lantas mengawasi dengan rasa kagum dan heran. Seumur hidup belum pernah dia menyaksikan ilmu pedang yang seindah itu dan cepat-cepat dia meloncat ke samping dengan harapan si nona akan mengulangi serangannya.
Saat itu pula Kwee Siang kembali mengubah cara bersilatnya. Sekarang ia berlari ke timur dan ke barat sambil membabat berulang dengan pedangnya. Thio Kun Po yang menonton dari pinggir jalan mengawasi serangan si nona dengan mata membelalak dan tiba-tiba ia mengeluarkan teriakan:
“Ahh!”
Ternyata yang digunakan Kwee Siang adalah pukulan Su-thong Pat-ta (Empat menembus Delapan meyampaikan), yaitu ilmu silat yang pada tiga tahun berselang diturunkan Yo Ko kepada Kun Po. Pada waktu itu Kwee Siang kebetulan dapat melihatnya dan sekarang dia menggunakannya untuk menghadapi Bu Sek. Su-thong Pat-ta yang dulu diajarkan Yo Ko adalah Ciang-hoat (ilmu silat tangan kosong). Dengan mengubahnya menjadi Kiam-hoat (ilmu pedang) maka pengaruh ilmu itu menjadi banyak berkurang sehingga kalau dahulu Thio Kun Po berhasil mengalahkan In Kek See, sekarang Kwee Siang tidak bisa berbuat banyak terhadap Bu Sek.
Dengan be-runtun Kwee Siang menyerang lima kali, tapi Bu Sek masih belum bisa meraba asal-usul ilmu silat si nona. Di waktu muda ia malang melintang di dunia Kangouw dan mempunyai pengalaman yang amat luas. Semenjak mengetuai Lo-han-tong pada belasan tahun berselang, ia telah menggunakan seluruh temponya untuk menyelidiki ilmu silat berbagai partai dan membandingkannya dengan ilmu Siauw-lim-si. Ia menggodok semua pengalamannya dan pendapatnya itu untuk menyempurnakan ilmu partainya. Maka ia selalu percaya penuh bahwa dengan sekali melihat bisa tahu asal usul ilmu silat setiap ahli. Tapi di luar dugaan, hari ini ia ‘ketemu batunya’.
Kakek, ayah-ibu, paman dan kakak Kwee Siang adalah ahli-ahli silat nomor satu. Dalam menghadapi serangan yang ber-macam coraknya, kepandaian Bu Sek masih lebih dari cukup untuk membela diri. Tapi untuk mengetahui siapa guru si nona, ia masih belum bisa me-raba.
“Kalau aku membiarkan dia menyerang lebih dulu, jangankan dalam sepuluh jurus, bahkan seratus jurus sekali pun belum tentu aku dapat menebak asal-usul ilmu silatnya,” pikir Bu Sek. “Jalan satu-satunya adalah menyerang dengan hebat supaya ia terpaksa mengeluarkan ilmu silatnya yang asli guna menolong diri.”
Berpikir begitu, cepat bagaikan kilat ia mengegos ke kiri dan menghantam dengan pukulan Song-koan-kun, dengan merapatkan kedua tangannya dan sepuluh jarinya ditekuk seperti ceker. Melihat sambaran yang sangat dahsyat, Kwee Siang tidak berani menyambut kekerasan dengan kekerasan. Dengan sedikit membungkuk dan dengan satu gerakan yang sangat indah dan lincah, ia pun berhasil meloloskan diri dari bawah kedua tangan lawan. Gerak itu adalah tipu yang pernah dipergunakan Eng Kouw pada waktu bertempur dengan Yo Ko di Ban-hoa-kok (lembah laksaan bunga).
“Bagus, sungguh bagus gerakanmu!” memuji Bu Sek, “Sambutlah lagi satu seranganku!”
Ia membuat sebuah lingkaran dengan tangan kirinya, sedang sikut kanan ditaruh di dada dengan telapak tangan menghadap ke atas. Itulah pukulan Ui-eng-loh-kee (Burung kuning hinggap di cagak) dari Siauw-lim-kun. Sebagai seorang tetua Siauw-lim-si, biar pun paham dengan ilmu silat berbagai partai, akan tetapi dalam setiap pertempuran dia selalu harus menggunakan ilmu partai sendiri yang paling asli.
Kwee Siang kaget sebab begitu cepat Bu Sek membuat lingkaran di tengah udara. Dia merasakan tindihan semacam tenaga yang sangat kuat. Buru-buru dia membalikkan pedang dan dengan gagang pedang dia menotok jalan darah Wan-kut-hiat, Yang-kok-hiat dan Yang-lo-hiat di pergelangan tangan si pendeta. Ilmu menotok itu adalah It-yang-ci yang pernah dia pelajari dari Bu Siu Bun. Sebenarnya pelajarannya masih sangat cetek dan belum bisa digunakan untuk melukai musuh. Tetapi gerakan menotok tiga jalan darah itu adalah salah satu pukulan yang paling lihay dari It-yang-ci. Sebab itu, begitu melihat gerakan tangan si nona, Bu Sek kaget tak kepalang dan cepat-cepat dia menarik pulang serangannya.
Andai kata ia menyerang terus kemudian pergelangan tangannya tertotok, ia pasti takkan terluka, sebab totokan itu tidak disertai dengan Iwekang It-yang-ci yang disegani orang. Akan tetapi sebagai orang yang berpengalaman, Bu Sek sungkan mempertaruhkan nama besarnya dalam satu pukulan itu. Kwee Siang tertawa nyaring.
“Toa-hwesio, kiranya kau sudah mengenal ilmuku yang amat lihay,” katanya seraya nyengir.
Bu Sek tidak menyahut, ia hanya mangeluarkan suara, “Hmm...!”
Lantas menyerang dengan pukulan Tan-hong-tiauw-yang (Angin dan matahari). Dengan pukulan itu, kedua tangannya terpentang lebar dan terangkat tinggi hingga si nona sukar menggunakan It-yang-ci lagi. Namun Kwee Siang tidak kehabisan modal. Dengan cepat ia menyilangkan kedua telapak tangannya lantas balas menyerang dengan Biauw-chiu-kong-kong (Tangan lihay kelihatan kosong), yaitu jurus ke tujuh puluh dua dari Kong-beng-kun, gubahan Lo-wan-tong Ciu Pek Thong.
Kong-beng-kun adalah ilmu yang belum pernah tersiar di dunia, maka untuk sekian kalinya Bu Sek ter-heran. Dengan cepat dia berkelit ke samping dan hampir berbareng mengirim pukulan Pi-na-hoa-cit-seng (Tujuh bintang). Bagaikan arus kilat tahu-tahu tangannya menyentuh telapak tangan si nona yang jika tak dilawan dengan menggerakkan Iwekang maka tulang tangannya pasti akan patah. Kwee Siang mengerti bahwa tangannya sudah berada di bawah kekuasaan lawan, tetapi hatinya masih penasaran.
“Jangan kegirangan dulu kau! Belum tentu mampu mematahkan tulang tanganku,” katanya dalam hati.
Kwee Siang segera mengempos semangat, melawan tenaga si pendeta dengan Cat-po-san-chiu (Kipas besi). llmu ini yang merupakan ilmu simpanan dari Tiat-ciang-kang (ilmu tangan besi) adalah sebuah ilmu ‘keras’ yang paling ditakuti di rimba persilatan. Sebagai seorang ahli tentu saja Bu Sek mengenal ilmu ini dan jantungnya memukul keras. Ia menjadi serba salah. Jika ia menggunakan kekerasaan maka si nona bisa terluka berat dan ia sama sekali tak bermaksud mencelakai gadis ini. Di samping itu terus terang saja ia memang merasa agak segan terhadap Tiat-ciang-kang. Sesudah berpikir sejenak, ia segera menarik pulang tangannya.
Sekali lagi si nakal tertawa nyaring. ”Awas! Inilah pukulan yang ke sepuluh. Apa kau masih belum dapat menebak partaiku?” teriaknya. Sambil berteriak begitu tangan kirinya mengibas ke atas, tangan kanan menyambar ke janggut Bu Sek.
Tanpa terasa semua pendeta mengeluarkan seruan tertahan karena pukulan yang diberi nama Kouw-hay-hui-tauw (Memutar kepala di laut kesengsaraan) itu adalah salah satu pukulan Kim-na-chiu-hoat (Ilmu menangkap dan menyengkeram) dari Siauw-lim-pay sendiri. Tapi Kouw-hay-hui-tauw agak berlainan dengan Kim-na-chiu-hoat dari cabang lain, karena biasanya hanya digunakan pada saat berbahaya untuk menolong jiwa. Dengan pukulan itu tangan kiri si penyerang menolak kepala musuh, sedang tangan kanan menyambar leher sehingga jika berhasil, leher musuh bisa patah atau setidaknya terluka berat.
Melihat si nakal berani menggunakan pukulan tersebut di hadapannya se-akan seorang sasterawan mengagulkan diri di hadapan Nabi Khong Cu, Bu Sek jadi geli dalam hatinya. Ia telah melatih pukulan tersebut selama puluhan tahun sehingga setiap gerakannya terjadi secara wajar. Secepat kilat ia miringkan badan dan menggeser maju kakinya, sedangkan tangan kiri menyambar ke bawah ketiak si nona dan tangan kanan mencekal belakang lutut Kwee Siang. Itulah pukulan yang diberi nama Sia-san-tiauw-hay (Mengempit gunung melompati lautan), merupakan pukulan tunggal untuk memunahkan Kouw-hay-hui-tauw.
Si nona kaget tak kepalang dan tahu-tahu kedua kakinya sudah terangkat naik dari muka bumi. Sebenarnya ia masih bisa menyikut lawan dengan menggunakan sikut. Tapi karena gerakan Bu Sek cepat luar biasa, maka sebelum sempat bergerak dia sudah tak berdaya. Dengan demikian puteri Kwee Ceng telah dikalahkan. Selagi kedua tangannya mencekal si nona, Bu Sek terkesiap.
“Celaka!” ia mengeluh. “Aku hanya memperoleh kemenangan dalam pertempuran, tetapi masih belum tahu siapa gurunya dan apa nama partainya.”
Kwee Siang memberontak sekuat tenaga. “Lepaskan aku!” teriaknya.
“Cringg...!” serupa benda jatuh dari saku si nona.
“Toa-hwesio, apa benar-benar kau tidak mau melepaskan diriku?” serunya dengan suara ketakutan.
Bu Sek Siansu adalah seorang beribadat yang berilmu tinggi dan yang mencintai segenap makhluk Tuhan. Maka mendengar suara si nona cilik, ia lantas tertawa terbahak-bahak.
“Nona kecil, lolap sudah berusia lanjut dan pantas menjadi kakekmu,” kata Bu Sek seraya tersenyum. “Apa kau masih perlu merasa takut?”
Sehabis berkata begitu, dengan menggunakan tenaga yang diperhitungkan dia lontarkan tubuh si nona kira-kira dua tombak jauhnya sehingga kedua kaki Kwee Siang bisa hinggap di muka bumi tanpa kurang apapun. Sebagai ksatria yang takkan menjilat ludah sendiri, Bu Sek segera manggutkan kepalanya untuk mengaku kalah. Selagi kepalanya mengangguk, tiba-tiba dia melihat benda hitam di atas tanah dan benda itu adalah sepasang Lo-han (pendeta yang berilmu tinggi) yang terbuat dari pada besi.
“Toa-hwesio, apa kau mengaku kalah?” tanya Kwee Siang.
Bu Sek mengangkat mukanya yang berseri-seri dan seraya tertawa girang, dia menjawab.
“Bagaimana aku bisa kalah oleh seorang bocah cilik? Aku tahu, ayahmu adalah Tayhiap Kwee Ceng, ibumu Lihiap Oey Yong, ada pun majikan pulau Thoa-hoa adalah kakekmu. Ayahandamu mempunyai kepandaian yang beraneka ragam, karena dia pernah berguru kepada Kanglam Chit-koay, kepada Kiu-ci-sin-kay, tokoh-tokoh Coan-cin-pay dan lain-lain partai lagi. Kwee Ji-kouwnio, engkau adalah puterinya pendekar kelas satu pada jaman ini sehingga tidaklah heran jika kau memiliki kepandaian yang luar biasa.”
Kwee Siang kemekmek, dia tak pernah bermimpi akan mendengar jawaban begitu. Melihat paras bingung muka si nakal, sambil tertawa geli Bu Sek membungkuk dan menjemput dua Lo-han besi itu.
“Kwee Ji-kouwnio, aku si pendeta tua tak boleh mendustai seorang bocah cilik,” katanya. “Aku bernasil menebak asal-usulmu karena melihat sepasang Lo-han besi ini. Apakah Yo-tayhiap baik-baik saja?”
“Apa kau pernah berjumpa dengan Toako dan Liong-cici?” ia balas bertanya. “Aku datang kemari justru untuk mendengar tentang mereka. Kau mungkin belum tahu bahwa toako-ku dan Liong-cici sudah merangkap menjadi suami isteri.”
Bu Sek mengangguk beberapa kali, “Pada beberapa tahun yang silam Yo-tayhiap pernah datang berkunjung ke kuil kami untuk beberapa hari dan aku merasa cocok dengannya,” menerangkan si tua. “Belakangan kami mendengar bahwa dia membinasakan kaisar Mongol di luar kota Siang-yang sehingga namanya menggetarkan seluruh dunia. Waktu menerima warta itu, kami semua merasa girang bukan main. Tapi sekarang kami tak tahu di mana dia berada. Ahh, kalau begitu dia sudah menikah. Aku berani memastikan bahwa isterinya adalah seorang wanita yang bun-bu-song-coan (mahir dalam ilmu surat dan ilmu perang).”
Kwee Siang berdiri bengong dan mengawasi ke tempat jauh. Dia menghela napas seraya berkata dengan suara perlahan.
“Kalau begitu kalian pun tak tahu di mana mereka berada. Siapa yang bisa memberi keterangan?” Dia berdiam sejenak, kemudian berkata lagi, “Sekarang aku tahu, kau adalah Bu Sek Siansu. Tak heran jika kau memiliki ilmu begitu tinggi. Hm! Aku belum menghaturkan terima kasih untuk hadiah ulang tahunku. Sekarang belum terlambat. Biarlah hari ini aku menghaturkan banyak terima kasih kepadamu.”
Si pendeta tertawa. “Orang sering mengatakan bahwa tanpa berkelahi tidak bisa menjadi sahabat,” katanya. “Bagi kita berdua kata-kata itu sungguh tepat sekali. Ehh, apa bila kau bertemu dengan Yo-tayhiap, kuharap kau jangan memberi-tahukan bahwa aku si tua telah menghina seorang wanita muda.”
Kedua mata si nona memandang puncak gunung yang tertutup awan. “Sampai kapan... sampai kapan baru akan bisa bertemu dengannya,” katanya.
Sebagaimana diketahui, pada waktu Kwee Siang merayakan hari ulang tahunnya yang ke enam belas, Yo Ko telah mengundang jago-jago rimba persilatan untuk berkumpul di kota Siang-yang guna mengucapkan selamat panjang umur. Pada hari itu, dengan memandang muka Yo Ko, ahli silat dari ‘jalan hitam’ dan ‘jalan putih’ berkumpul di Siang-yang. Bu Sek yang kebetulan sedang repot tidak dapat datang berkunjung dan hanya mengirim seorang wakil untuk memberi selamat sambil menyampaikan barang antaran. Dan barang antaran yang dikirimnya bukan lain sepasang Lo-han besi yang dipasangi alat-alat dan jika alat-alat tersebut diputar maka anak-anakan itu segera menjalankan satu pukulan Lo-han-kun. Yang membuatnya adalah seorang pendeta aneh yang pada satu abad berselang pernah tinggal di kuil Siauw-lim-si.
Kwee Siang yang masih ke-kanakan merasa sangat tertarik dengan mainan yang selalu di-bawanya dalam saku. Pukulan Kouw-hay-hui-tauw yang barusan digunakannya, sebenarnya telah didapatkan oleh si nona dari kedua Lo-han besi itu. Tak dinyana, karena itu hari ini asal-usulnya telah ditebak jitu oleh Bu Sek Siansu.
“Berhubung dengan peraturan yang sudah turun tumurun, aku merasa menyesal tak bisa mengundang Kwee Ji-kouwnio datang berkunjung ke kuil kami,” kata Bu Sek. “Tetapi aku percaya kau tak akan merasa kecil hati.”
“Tidak apa,” kata si nona dengan masgul. “Ada yang hendak aku tanyakan.”
Sambil menunjuk Kak Wan, pendeta tua itu berkata lagi. “Tentang Sute-ku itu, aku akan menerangkan kepadamu per-lahan. Begini saja. Si tua akan menemani kau turun gunung kemudian kita mencari sebuah rumah makan, supaya aku bisa menjadi tuan rumah untuk minum beberapa cawan arak. Bagaimana pikiranmu?”
Mendengar kata-kata itu, semua pendeta terkejut bercampur heran. Bu Sek Siansu adalah seorang yang mempunyai kedudukan sangat tinggi di Siauw-lim-si. Bahwa ia sudah berlaku begitu hormat terhadap seorang gadis remaja, adalah suatu kejadian luar biasa.
“Taysu, janganlah kau berlaku demikian sungkan,” kata si nona dengan perasaan jengah. “Aku menyesal sekali bahwa barusan dengan semberono melakukan perbuatan sangat tak pantas terhadap beberapa Suheng. Aku mohon Taysu sudi menyampaikan maafku kepada mereka. Biarlah kita berpisah di sini saja dan di lain hari kita pasti akan bertemu pula.“ Sehabis berkata begitu dia segera memberi hormat, kemudian memutar badan dan mulai bertindak turun.....
LELAKI PEMETIK KHIM
“Nona kecil, mengapa kau menolak tawaranku yang diajukan dengan setulus hati?” kata Bu Sek sambil tertawa. “Beberapa tahun berselang, karena repot aku tidak dapat menghadiri pesta hari ulang tahunmu sehingga sampai sekarang hatiku masih merasa tak enak. Kalau hari ini aku tidak mengantarkan kau sampai 30 li, aku seperti tidak mengenal peraturan untuk melayani tamu terhormat.”
Mendengar kata-kata yang tulus ikhlas itu dan juga karena merasa senang dengan cara si tua yang polos, Kwee Siang segera berpaling dan berkata sambil tersenyum.
”Marilah.”
Dengan berendeng pundak mereka turun dari tanjakan itu dan tak lama kemudian tibalah di pendopo Lip-swat-teng. Mendadak mereka mendengar suara tindakan kaki dan waktu menengok, mereka melihat bahwa orang yang membuntuti adalah Thio Koan Po.
”Saudara Thio,” menegur Kwee Siang. “Apakah kau juga ingin mengatarkan tamu?”
Paras muka pemuda itu berubah merah. “Benar!” jawabnya.
Pada saat itulah dari jauh mereka melihat seorang pendeta bertindak keluar dari pintu kuil kemudian berlari turun sekencang-kencangnya dengan menggunakan ilmu mengentengkan badan. Alis Bu Sek berkerut.
“Ada apa begitu ter-buru-buru?” tanyanya.
Begitu berhadapan dengan Bu Sek, pendeta itu memberi hormat lalu bicara bisik-bisik. Paras muka si tua lantas saja berubah.
“Apa benar ada kejadian begitu?” teriaknya.
“Lo-hong-thio (pemimpin kuil) mengundang Siu-co (kepala bagian) untuk berdamai,“ jawab pendeta itu.
Melihat paras muka Bu Sek, Kwee Siang paham bahwa Siauw-lim-si sedang menghadapi urusan sulit. Oleh karena itu ia berkata:
“Lo-siansu, dalam persahabatan yang paling penting adalah kecintaan hati. Segala adat istiadat tak ada sangkut pautnya dengan persahabatan. Apa bila Lo-siansu mempunyai urusan, uruslah saja. Di lain hari kita masih mempunyai banyak kesempatan untuk makan minum sepuas hati.”
“Tak heran bila Yo-tayhiap begitu menghormatimu,” Bu Sek memuji. “Kau benar-benar seorang gagah, seorang jago betina. Aku merasa girang bisa bersahabat dengan seorang seperti kau.”
Kwee Siang tersenyum dengan paras muka ke-merahan dan sesudah keduanya saling memberi hormat, si pendeta tua segera kembali kekuil Siauw-lim-si. Si nona segera meneruskan perjalanan dibuntuti Thio Kun Po dari belakang. Pemuda itu tidak berani berjalan berendeng, ia mengikuti dalam jarak lima-enam tindak.
“Saudara Thio, mengapa mereka menghina gurumu?” tanya nona Kwee sambil menengok ke belakang. “Dengan memiliki kepandaian begitu tinggi sesungguhnya gurumu tak usah takut pada mereka.”
Kun Po mempercepat tindakannya. “Mereka bukan sengaja menghina Suhu,” jawabnya. “Memang peraturan di kuil selalu dipegang keras sehingga siapa pun juga membuat pelanggaran, tak akan terluput dari hukuman.”
Kwee Siang jadi heran. “Gurumu adalah seorang ksatria dan jarang terdapat manusia yang hatinya begitu mulia,” katanya. “Dosa apakah yang telah diperbuatnya?”
Pemuda itu menghela napas panjang. “Sesungguhnya latar belakang kejadian ini sudah diketahui nona,” jawabnya. “Yang menjadi gara-gara adalah kitab Leng-keh-keng.”
“Ahh! Kitab yang dicuri Siauw Siang Cu dan In Kek See?” menegas si nona.
“Benar,” jawabnya. “Hari itu, waktu berada di puncak Hoa-san, atas petunjuk Yo-tayhiap aku menggeledah badan kedua orang. Sesudah turun gunung, mereka tak kelihatan mata hidungnya lagi. Dengan apa boleh buat, Suhu dan aku segera kembali ke kuil lantas melaporkan kepada Siu-co dari Kay-lut-tong. Leng-keh-keng adalah kitab yang ditulis oleh Tat-mo Couwsu sendiri dan merupakan sebuah barang berharga di Siauw-lim-si. Maka dapatlah dimengerti jika Suhu tak bisa terlolos dari hukuman.”
“Gurumu dihukum tak boleh bicara?” tanya pula si nona.
“Ya, menurut peraturan yang sudah berlaku turun temurun,” sahutnya. “Menurut peraturan, orang yang dihukum harus memikul air dengan kaki tangan dilibat rantai dan tak boleh bicara. Menurut para tetua, hukuman memikul air malah ada baiknya untuk orang yang terhukum. Dengan membungkam maka ia mendapat kemajuan dalam latihan rohani dan dengan memikul air maka tenaganya akan bertambah besar.”
Si nona tertawa geli. “Kalau begitu, gurumu sebenarnya bukan menjalani hukuman, tetapi sedang melatih badan,“ katanya. “Ahh! Memang aku yang terlampau rewel dan suka ikut mencampuri urusan orang lain.”
“Bukan, bukan begitu,” kata Kun Po dengan cepat, “Untuk kebaikan nona, Suhu merasa sangat berterima kasih dan tak akan melupakannya.”
Kwee Siang menghela napas. “Lain orang sudah melupakan aku sama sekali,” katanya dalam hati. Sesaat itu, mendadak terdengar suara bunyi keledai yang sedang makan rumput di dalam hutan.
“Saudara Thio, tak usah kau mengantar lebih jauh lagi,“ katanya sambil bersiul dan tunggangannya segera menghampiri.
Kun Po mengawasi dengan sorot mata penuh duka. Kelihatannya dia merasa berat untuk berpisah, tapi dia tidak mengeluarkan sepatah katapun, Kwee Siang dapat membaca jalan pikirannya. Ia segera merogoh saku dan mengeluarkan sepasang Lo-han besi.
“Kau ambilah ini,” katanya seraya mengangsurkan.
Kun Po terkejut, ia tak berani menerimanya. “Ini... ini...“ katanya ter-putus.
“Aku berikan ini kepadamu,” kata si nona, “Kau ambillah.”
Pemuda itu tergugu. “Aku... aku...”
Si nona segera memasukkan sepasang Lo-han besi itu ke dalam saku Kun Po, kemudian melompat naik ke atas punggung keledai. Akan tetapi, sebelum dia berangkat, di atas tanjakan sekonyong-konyong terdengar orang berteriak:
“Kwee Ji-kouwnio! Tahan!”
Si nona menengok dan melihat Bu Sek Siansu sedang mendatangi dengan berlari. “Pendeta tua itu ternyata kukuh sekali,” pikirnya. “Perlu apa dia mengantarkan aku?”
Begitu berhadapan dengan si nona, Bu Sek segera berkata kepada Kun Po: “Lekas kau kembali ke kuil. Kau tak boleh berkeliaran lagi di gunung ini.”
Pemuda itu mengangguk sambil melirik si nona, ia segera mendaki tanjakan. Sesudah Kun Po berada jauh, Bu Sek segera mengeluarkan selembar kertas dari dalam lengan jubahnya dan berkata:
“Kwee Ji-kouwnio, apa kau kenal tulisan siapa ini?”
Si nona menyambut dan membaca dua baris huruf yang tertulis di atasnya. ‘Sepuluh hari kemudian, Kun-lun Sam-seng (Tiga nabi gunung Kun-lun-san) akan datang berkunjung ke Siauw-lim-si untuk meminta pelajaran’.
“Siapa Kun-lun Sam-seng?” tanya si nona. “Suaranya sombong sekali!”
“Jika begitu nona pun tak mengenal mereka,” katanya. Si tua berdiri bengong. “Urusan ini benar-benar mengherankan,” katanya dengan suara perlahan.
“Mengapa mengherankan?” tanya Kwee Siang.
“Biar pun baru sekali bertemu, aku menganggap nona sebagai seorang sahabat lama dan aku bersedia untuk menerangkan se-jelasnya,” kata Bu Sek. “Apa nona tahu dari mana datangnya kertas ini?”
“Diantarkan oleh suruhan Kun-lun Sam-seng,“ jawabnya.
“Jika disampaikan oleh seorang suruhan, kami tentu tidak menjadi heran,“ kata si pendeta. “Orang sering mengatakan, bahwa pohon yang tinggi selalu mengundang serangan angin. Sudah sejak lama, selama beberapa ratus tahun, Siauw-lim-si dikenal sebagai sumber pelajaran ilmu silat dan oleh karena demikian, banyak sekali ahli silat datang berkunjung untuk menjajal kepandaian kami. Hal ini adalah hal yang lumrah. Di pihak kami, setiap kali orang menantang, kami selalu coba membujuknya agar dia membatalkan niat itu. Sedapat mungkin kami mencoba mengelakkan pertandingan. Kami sungkan merebut kemenangan. Orang yang masih suka berkelahi, mana boleh jadi murid Buddha?”
“Benar, perkataan Taysu benar sekali,” kata si nona sambil mengangguk.
“Akan tetapi pada umumnya setiap ahli silat yang datang berkunjung masih penasaran jika mereka belum memperlihatkan kepandaiannya,” kata pula Bu Sek. “Maka itu di dalam kuil kami dibentuk bagian Lo-han-tong yang bertugas untuk melayani para tamu itu.”
Si nona tertawa-tawa geli. “Aha! Kalau begitu Taysu bertugas sebagai tukang berkelahi,” katanya.
Si tua tertawa getir. “Sebagian besar ahli-ahli silat yang datang kemari dapat dilayani oleh para murid dan aku tidak usah turun tangan sendiri,” katanya. “Tapi hari ini karena melihat gerakan nona yang luar biasa, aku terpaksa turun tangan sendiri.”
“Terima kasih banyak atas pujian Toa-hwesio,” kata si nona sambil membungkuk dan tertawa manis.
“Ahh, aku sudah melantur ke lain tempat,” kata Bu Sek. “Sekarang kita kembali pada surat tantangan itu. Untuk bicara sejujurnya, kertas ini diambil dari tangan patung Hang-liong Lo-han yang terdapat di kamar Lo-han-tong.”
“Eh-eh! Siapa yang menaruhnya?” tanya si nona.
Si pendeta meng-garuk kepalanya. “Kami tidak tahu, justru inilah yang mengherankan,” jawabnya. “Di Siauw-lim-si ada ratusan pendeta sehingga orang luar tidak mungkin menyelinap masuk tanpa diketahui. Apa lagi kamar Lo-han-tong siang malam dijaga delapan murid dengan bergantian. Barusan, mendadak saja seorang murid melihat kertas itu di tangan Hang-liong Lo-han dan dia segera melaporkan kepada Lo-hong-thio. Semua orang tak habisnya merasa heran, maka mereka lalu memanggil aku untuk diajak berunding.”
Mendengar sampai di situ, Kwee Siang lantas saja bisa menebak jalan pikiran si pendeta.
“Bukankah kau merasa curiga padaku?” tanyanya. “Kalian menganggap aku mempunyai hubungan dengan manusia yang menamakan dirinya Kun-lun Sam-seng itu. Aku mengacau di luar dan mereka diam-diam masuk ke Lo-han-tong untuk menaruh surat itu. Bukankah begitu dugaanmu?”
“Aku sendiri tidak, hatiku bebas dari segala prasangka,” sahutnya. “Tetapi nona tentu bisa mengerti jika Lo-hong-thio dan Bu Siang Suheng agak curiga. Secara kebetulan surat itu muncul pada waktu nona mau berangkat.”
“Sekali lagi aku memastikan bahwa aku tidak kenal dengan tiga manusia itu,” kata Kwee Siang. “Toa-hwesio, apa yang mesti ditakuti? Jika mereka benar-benar berani menyatroni, iringilah segala kemauannya.”
“Kalau takut tentu kami tidak takut,” kata si tua. “Jika nona tidak bersangkut paut dengan mereka, aku boleh tak usah berkuatir lagi.”
Kwee Siang mengerti bahwa maksud si pendeta tua adalah baik sekali. Rupanya Bu Sek menyangka tiga orang itu ada hubungan dengan dirinya sehingga kalau sampai bergebrak dan ketiga orang itu sampai terluka, si pendeta akan merasa tidak enak hati terhadapnya. Maka ia berkata,
“Toa-hwesio, kalau mereka datang dan bicara baik-baik, kau boleh menyambutnya baik-baik pula. Tetapi kalau mereka kurang ajar, hajarlah supaya mereka tahu lihaynya Siauw-lim-si. Jika dilihat dari suratnya, mereka kelihatannya sombong luar biasa.”
Bicara sampai di situ, otaknya mendadak berkelebat serupa pikiran. Maka dia lalu berkata pula:
“Toa-hwesio, apa tidak mungkin kalau di dalam kuil terdapat konconya yang diam-diam sudah menaruh kertas itu di tangan Hang-liong Lo-han?”
“Kemungkinan ini sudah direnungkan oleh kami,” sahutnya. “Tetapi rasanya tidak mungkin terjadi. Tinggi tangan Hang-liong Lo-han dari lantai ada tiga tombak lebih sehingga murid yang membersihkannya selalu harus menggunakan tangga. Orang yang mempunyai ilmu mengentengkan badan sangat tinggi, belum tentu mampu mencapainya. Andai kata benar ada pengkhianat, dia pasti tidak mempunyai ilmu yang begitu tinggi.”
Penuturan yang amat menarik itu membangkitkan rasa ingin tahu dalam hati Kwee Siang. Ia kepingin tahu bagaimana macamnya Kun-lun Sam-seng dan kepingin tahu pula bagaimana kesudahan pertemuan itu. Akan tetapi sayang, tak mungkin ia menyaksikan itu semua dengan mata sendiri, karena Siauw-lim-si tidak bisa menerima tamu wanita.
Melihat si nona ter-menung. Bu Sek menduga bahwa nona itu sedang memikirkan daya upaya untuk mengelakkan ancaman bahaya. Maka dari itu, sambil tersenyum dia berkata.
“Kwee Ji-kouwnio, selama ribuan tahun Siauw-lim-si sudah mengalami banyak gelombang dan taufan, tapi begitu jauh belum pernah dirusak orang. Jika Kun-lun Sam-seng sungkan diajak berunding, kami pun takkan mengorbankan keangkeran Siauw-lim-si dengan begitu saja. Kwee Ji-kouwnio, setengah bulan mendatang kau boleh men-dengar, apakah Kun-lun Sam-seng sudah berhasil menghancurkan kuil kami,” Waktu mengucapkan kata yang paling akhir, muncullah kembali keangkeran Bu Sek di jaman muda, suaranya nyaring dan berpengaruh, sedangkan kedua matanya ber-kilat.
“Toa-hwesio, jangan gampang naik darah,” kata si nona tertawa geli. “Cara berangasan tak sesuai dengan kedudukanmu sebagai murid Sang Buddha. Baiklah, setengah bulan lagi aku menunggu warta menggirangkan.“
Sesudah berkata demikian dia mengedut les keledai kemudian mulai turun gunung. Diam-diam dia mengambil keputusan bahwa sepuluh hari kemudian dia akan kembali untuk menonton keramaian. Sambil menjalankan keledai per-lahan, rupa-rupa pikiran berkelebat dalam otak si nona. “Mungkin sekali Kun-lun Sam-seng tidak mempunyai kepandaian berarti sehingga aku tak bakal menyaksikan keramaian yang menarik hati,” pikirnya. “Ahh, kalau di antara mereka terdapat orang yang memiliki kepandaian seperti kakek, ayah, ibu atau Yo-toakoko, peristiwa Sam-seng mengacau Siauw-lim-si ini barulah sedap ditonton.”
Mengingat Yo Ko, hatinya lantas berduka. Selama tiga tahun dia telah menjelajahi berbagai tempat, selalu menubruk angin. Cong-lam-san Kuburan Mayat Hidup sunyi-senyap, di lembah Ban-hoa-kok hanya terdapat rontokan laksaan bunga, di Coat-ceng-kok hanya penuh dengan tumpukan puing, sedangkan di Hong-leng-touw pun dia tidak dapat menemukan tapak Yo Ko dan Siauw Liong Lie. Dia menghela napas ber-ulang dan berkata dalam hatinya.
“Andai kata aku bisa bertemu dengannya, apalah artinya pertemuan itu? Bukankah hanya akan menambah luka yang pedas perih? Bukankah dengan menyingkirnya dia ke tempat jauh malah banyak baiknya untuk diriku? Hai! Terang-terangan aku tahu bahwa apa yang kupikir adalah bayangan bunga di kaca atau bayangan rembulan di muka air, tapi... aku tak kuasa untuk menindas dorongan hati... untuk menindih keinginan mencari dia.”
Sambil melamun ia biarkan keledainya jalan sendiri. Di waktu lohor sudah terpisah agak jauh dari Siauw-sit-san. Di sepanjang jalan ia menikmati pemandangan yang sangat indah dan dari jauh memandang puncak timur dari Siauw-sit-san yang menjulang ke langit. Tiba-tiba di antara pohon siong yang sudah ribuan tahun tuanya, lapat-lapat terdengar suara khim.
“Siapakah yang menabuh khim di tengah gunung yang sunyi ini?” tanyanya dalam hati. Karena kepingin tahu, dia lalu melompat turun dari keledainya dan berjalan ke arah suara tetabuhan itu.
Sesudah datang lebih dekat, ia mendapat kenyataan, suara khim itu diiringi dengan suara lain, seperti semacam nyanyian. Semenjak kecil, di bawah bimbingan ibunya Kwee Siang telah mempelajari berbagai ilmu sehingga biar pun tidak terlampau mendalam, dia mengenal baik ilmu menabuh khim, ilmu main tiokie (catur Tioaghoa), ilmu surat dan melukis yang umumnya dimiliki orang terpelajar. Ditambah dengan otaknya yang amat cerdas, maka ia tak usah kalah dari orang biasa bahkan dia masih sanggup menimpali kakeknya dalam ilmu musik dan melayani Cu Cu Liu dalam ilmu surat. Sekarang mendengar suara tabuh-tabuhan yang agak aneh itu, dia segera mendekati dengan berindap-indap.
Setelah berjarak belasan tombak barulah terang baginya bahwa suara khim itu diiringi suara ratusan burung. Dengan rasa heran ia lalu mengintip dari belakang sebatang pohon besar dan terlihat seorang lelaki yang mengenakan baju putih sedang duduk di bawah tiga pohon siong sambil menabuh khim.
Di dahan ketiga pohon itu terdapat ratusan ekor burung besar dan kecil tengah bernyanyi menurut irama tabuh-tabuhan. Suara khim dan bunyi burung tersusun sedemikian akur sehingga didengar dari jauh, sulit sekali orang dapat membedakan yang mana suara khim dan yang mana suara burung. Kwee Siang terpesona dan dengan hati ber-debar2 ia mendengarkan musik luar biasa itu, yang semakin lama semakin keras. Tiba-tiba di kejauhan terdengar ramai suara gerakan sayap burung yang mendatangi dengan cepat sekali dan di lain saat ratusan burung gereja tiba di situ, sebagian segera hinggap di cabang, sebagian pula terbang ber-putar. Tiba-tiba Kwee Siang ingat suatu hal.
“Ah,” katanya dalam hati. “Apakah lagu ini Pek-niauw-hong (Ratusan burung menghadap kepada burung Hong) yang kini sudah tak dikenal lagi di dunia? Menurut kakek, dalam lagu tersebut suara khim menyerupai bunyi burung Hong yang bisa menyebabkan kedatangan ratusan burung. Tapi apa benar di dunia ini terdapat ilmu memetik khim yang begitu tinggi?”
Beberapa lama kemudian suara itu berubah perlahan, kawanan burung mulai meninggalkan dahan lalu terbang berputaran di atas pohon.
“Tingg...!”
Mendadak terdengar suara dan orang itu berhenti memetik alat musiknya. Setelah terbang memutar beberapa kali lagi, ratusan burung itu pun bubar. Orang itu mendongak dan sesudah menghela napas, dari mulutnya terdengarlah nyanyian seperti berikut:
Mengapa siang hari begitu cepat saatnya
Ratusan tahun lewat dalam sekejap mata
Langit yang luas tiada batasnya.
Takdir menderita tak bisa dibantah.
Lihatlah rambut si Nikouw suci.
Sebagian sudah seperti salju yang putih.
Thian-kong bertemu dengan Giok-lie
Tertawa ter-bahak laksana kali.
Aku ingin mengeluarkan kereta.
Dan mendorongnya pulang ke kampung halaman.
Pak-tauw menuang air kata-kata.
Dan mengajak semua orang minum secawan.
Kekayaan dan kemewahan tak jadi idam-idaman.
Yang diharapkan ialah awet muda sepanjang jaman.
Suara orang itu sedih sekali, seperti juga dia merasakan bahwa penghidupan manusia di dunia ini diliputi dengan kesengsaraan yang tidak habisnya. Kwee Siang turut merasa terharu, maka tanpa merasa dua butir air mata mengalir turun kedua pipinya. Dia mendongak seraya berkata dalam hati,
“Memutar pedang!
Mengangkat alis!
Air bening, batu putih, mengapa bersimpang siur?
Manusia hidup tanpa sahabat sejati.
Hidup ribuan tahun, tiada berarti!”
Dari bawah khim tiba-tiba orang itu menghunus sebatang pedang bersinar hijau.
“Aha, kalau begitu dia seorang Bun-bu-coan-cay (pandai ilmu surat dan ilmu perang),” pikir si nona. “Coba kulihat ilmu silatnya.”
Per-lahan orang itu berjalan ke sebidang tanah lapang. Tetapi sebaliknya dia bersilat, dia malah menggores tanah dengan pedangnya, segaris demi segaris.
“Eh-eh! Kiam-hoat apa itu?” tanya si nona dalam hatinya. “manusia aneh.”
Orang itu membuat garis-garis melintang. Setelah menggores sembilan belas kali ia pun berhenti dan lain saat mulai membuat garis-garis membujur yang sama jaraknya satu dengan yang lain, yaitu kurang lebih satu kaki. Seperti juga garis melintang, ia membuat sembilan belas garis membujur. Dengan menuruti caranya orang itu, Kwee Siang meng-garis-garis tanah dengan telunjuknya.
“Wah! Kurang ajar!” katanya dalam hati, “Papan Wie-kie!” (Wie-kie semacam catur yang menggunakan biji putih dan biji hitam).
Setelah selesai, dengan ujung pedang dia membuat bundaran di sudut kiri atas dan sudut kanan bawah papan catur itu. Kemudian dia membuat tanda silang, juga di sudut kiri atas dan sudut kanan bawah. Kwee Siang yang mengintip dari sebelah kejauhan lantas paham bahwa orang itu sedang mengatur biji Wie-kie. Tanda bundar mewakili biji putih, tanda silang biji hitam. Orang itu lalu mulai menjalankan biji caturnya. Setelah jalan enam belas biji, ia kelihatan bersangsi. Apakah biji putih harus bergulat terus ataukah mengambil sikap membela diri di sepanjang pinggiran papan? la menancapkan pedangnya di tanah dan mengawasi papan berpikir keras.
“Dilihat begini, dia seorang yang hidup kesepian,” pikir si nona. “Ia memetik khim sendirian dan berkawan dengan burung. Ia juga tak mempunyai kawan untuk main Wie-kie sehingga harus bermain seorang diri.”
Sesudah berpikir beberapa saat, orang itu lalu mulai menjalankan kembali biji-biji Wie-kie. Ternyata biji putih sungkan mengalah sehingga satu pertempuran hebat terjadi pada sudut kiri atas. Putih dan hitam ber-gerak saling makan dengan serunya, sama-sama merebut kedudukan Tiong-goan (tengah). Tapi, biar bagaimana pun, karena memang sudah kalah setingkat, biji putih terus berada di bawah angin. Sesudah jalan 93 kali, biji putih terjepit, tapi masih bergulat sedapat mungkin.
Si nona menonton pertempuran itu dengan hati berdebar. Tanpa terasa ia berteriak. “Mengapa tak mau meninggalkan Tiong-goan dan mundur ke See-hek (sebelah barat)?”
Orang itu terlihat terkejut. Ia melihat bahwa bagian barat papan catur itu memang terdapat sebidang tanah yang kosong. Kalau biji putih menerjang ke situ, masih bisa dipertahankan keadaan seri.
“Bagus! Bagus!” serunya lalu menjalankan biji putih ke jurusan barat.
Setelah jalan beberapa kali barulah ia ingat kepada orang yang memberi petunjuk. Ia lalu melemparkan pedangnya di atas tanah dan memutar tubuh.
“Siapakah orang berilmu yang telah memberi pelajaran?” teriaknya. “Aku sungguh merasa berterima kasih.”
Sehabis berkata begitu ia menyoja ke arah Kwee Siang. Si nona mendapat kenyataan bahwa orang itu berusia sekitar tiga puluh tahun, mukanya lonjong panjang dan bermata dalam, sedang badannya jangkung kurus. Sebagai seorang jago betina yang tidak menghiraukan perbedaan antara laki-laki dan perempuan, perlahan-lahan Kwee Siang berjalan keluar dari tempat sembunyinya dan berkata seraya tertawa,
“Barusan aku merasa kagum waktu mendengar Sian-seng memetik khim dengan diiringi nyanyian ratusan burung. Sesudah itu, tidak kurang rasa kagumku ketika melihat Sian-seng membuat papan Wie-kie dengan menggaris tanah lantas main Wie-kie dengan menggunakan pedang. Karena itu aku jadi banyak mulut dan kuharap Sian-seng sudi memaafkan.”
Mendengar perkataan si nona, orang itu kelihatan girang sekali. “Dari kata-katamu itu ternyata nona mahir dalam ilmu memetik khim,” katanya sambil tersenyum. “Jika sudi, aku mohon nona suka perdengarkan satu dua lagu.”
“Memang benar aku pernah belajar menabuh dari ibuku, tetapi kalau dibandingkan dengan kepandaianmu, masih kalah jauh sekali,” kata si nona. “Tetapi jika menolak terlampau keras, aku tak enak hati. Biarlah aku akan perdengarkan sebuah lagu, tapi jangan tertawa.”
“Bagaimana aku berani?” kata orang itu sambil mengangsurkan khim-nya dengan kedua tangan.
Khim itu sudah berusia tua dan enteng sekali. Setelah mengakurkan talinya, Kwee Siang segera memetik lagu Kho-phoa. Kepandaian si nona memang tidak seberapa tinggi, juga lagu yang dimainkannya tidak luar biasa. Tetapi walau pun begitu, pada paras muka orang itu terlukis rasa terkejut tercampur girang. Mengapa? Karena lagu Kho-phoa mengena jitu pada apa yang dipikirnya sehingga ia merasa sangat girang dan berterima kasih terhadap si nona. Sesudah Kwee Siang selesai menabuh, untuk beberapa saat dia masih bengong dengan mata mengawasi ke tempat jauh.
Syair lagu Ko-phoa diambil dari Sie-keng (Kitab Syair). Sebuah lagu dari seorang Tay-soa, seorang yang mengasingkan diri dari pergaulan umum. Dalam syair itu dikatakan bahwa cita-cita yang luhur dari seorang lelaki sejati yang berkelana sebatang kara di daerah pegunungan tidak akan berubah, biar pun pada mukanya terlihat sinar kedukaan dan di dalam hatinya terdapat rasa kesepian.
Perlahan si nona menaruh khim di atas tanah dan tanpa mengeluarkan sepatah kata lalu barjalan pergi, kemudian melompat ke atas punggung keledai dan meneruskan perjalanan yang tak tentu rimbanya. Siang dan malam lewat dengan cepatnya dan dalam sekejap tibalah hari ke sepuluh, yaitu hari yang dijanjikan Kun-lun Sam-seng untuk menyatroni Siauw-lim-si. Sudah beberapa hari Kwee Siang mengasah otak guna mencari daya untuk masuk ke kuil Siauw-lim-si, tapi belum juga berhasil.
“Sungguh malu aku menjadi anak ibuku,” pikirnya dengan hati mendongkol. “Ibuku begitu pintar, tetapi anaknya sedemikian tolol. Biarlah aku datang saja di luar kuil dan menunggu kesempatan. Mungkin sekali, selagi repot berkelahi, mereka tak sempat merintangi aku.”
Pagi itu setelah menangsal perut dengan makanan kering, ia tujukan keledainya ke Siauw-lim-si. Ketika berada dalam jarak kurang lebih sepuluh li, tiba-tiba dia mendengar suara kaki kuda dan dari sebelah kaki gunung kelihatan datang tiga penunggang kuda. Ketiga ekor kuda itu satu berbulu dauk (putih kelabu), satu kuning dan satu lagi putih bertubuh tinggi besar dan cepat sekali larinya. Dalam sekejap mereka sudah melewati si nona dan menuju ke arah kuil. Ketiga penunggang kuda itu rata-rata berusia sekitar lima puluh tahun. Mereka mengenakan baju pendek warna hijau dan di atas pelananya tergantung kantong kain yang berisi alat senjata.
”Ahh! Mereka tentulah Kun-lun Sam-seng,” pikir Kwee Siang. “Jika terlambat bisa-bisa aku ketinggalan nonton.”
Ia segera menjepit perut keledai dengan lututnya dan menepuk leher binatang itu. Sambil berbunyi kereng keledai itu lantas lari congklang. Meski kurus kecil ternyata dia kuat sekali dan larinya cepat. Tidak lama kemudian dia sudah bisa menyusul dan membuntuti ketiga penunggang kuda itu. Sekarang si nona dapat melihat lebih tegas. Penunggang kuda dauk bertubuh kate kecil, penungggang kuda kuning berpotongan badan sedang, ada pun penungggang kuda putih seorang jangkung kurus. Selanjutnya dia pun mendapat kenyataan bahwa ketiga binatang itu berbulu sangat panjang sampai di kakinya sehingga berbeda sekali dengan kuda-kuda di wilayah Tiong-goan.
Begitu tahu ada yang membututi, ketiga orang itu segera mengeprak tunggangannya yang langsung saja kabur sekeras-kerasnya sehingga Kwee Siang ketinggalan jauh sekali. Sesudah melalui dua-tiga-li, si nona belum juga melihat bayangan ketiga penunggang kuda itu. Walau pun kuat tetapi tenaga keledai kecil kurus itu sangat terbatas. Napasnya sudah tersengal-sengal dan kelihatannya dia sudah lelah sekali.
“Binatang tak punya guna!” bentak si nona. “Biasanya kau banyak lagak dan selalu ingin berlari cepat-cepat. Waktu aku memerlukan tenagamu keok.“
Melihat tiada gunanya coba menyusul lagi, ia lalu melompat turun dari punggung si kurus. Dia duduk mengaso di sebuah pendopo batu di pinggir jalan dan membiarkan keledainya makan rumput. Belum lama dia duduk mengaso, sekonyong-konyong terdengar suara kaki kuda dan ketiga penunggang kuda yang tadi sudah melewati satu lembah, kelihatan mendatangi.
“Ehh, mengapa mereka kembali begitu cepat?° tanyanya dalam hati.
Setibanya di pendopo, mereka segera melompat turun lantas duduk mengaso bersama-sama si nona. Orang yang bertubuh kate kecil, bermuka merah dan yang paling menyolok adalah hidungnya yang merah mengkilap se-olah membara. Ia mempunyai paras yang selalu tersungging senyuman. Si tua yang bertubuh jangkung kurus, mukanya pucat sekali, di antara warna putih pias itu terdapat sinar biru seolah-olah dia tidak pernah kena sorotan matahari. Dengan demikian warna kedua orang itu bertentangan satu sama lain, yang satu merah membara, yang lain pucat pias. Orang ketiga yang badannya berukuran sedang-sedang saja, tidak mempunyai ciri-ciri luar biasa, kecuali mukanya yang berwarna kuning seperti orang sakit-sakitan. Sesudah menyapu ketiga orang itu dengan matanya yang bening tajam, Kwee Siang lalu tersenyum seraya bertanya:
“Sam-wi Lo-sian-seng (ketiga tuan), apakah kalian barusan mengunjungi Siauw-lim-si? Mengapa baru naik sudah turun kembali?”
Si muka pucat melirik seperti orang kekhi, tapi si muka merah tertawa dan balas bertanya dengan suara manis.
“Bagaimana nona tahu bahwa kami pergi ke Siauw-lim-si?”
“Kalau bukan ke kuil lalu ke mana lagi?” kata Kwee Siang.
Si muka merah mengangguk. “Benar,” katanya. “Nona sendiri mau pergi ke mana?”
“Kalian pergi ke Siauw-lim-si, aku pun mau ke situ,” jawabnya.
Tiba-tiba si muka pucat menyelak, ”Siauw-lim-si tak pernah mengijinkan perempuan masuk ke dalam kuil dan juga tidak pernah mengijinkan membawa senjata.”
Ia bicara dengan suara sombong, tanpa melirik kepada si nona. Kwee Siang jadi mendongkol.
“Tapi mengapa kalian sendiri membawa senjata?” tanyanya. “Bukankah dalam kantong di pelana berisi senjata?”
“Bagaimana kau bisa dibandingkan dengan kami,” kata si muka pucat dengan suara tawar.
“Sombong amat! Siapakah kalian sebetulnya?” si nona bertanya dengan suara yang sama tawarnya. “Apakah Kun-lun Sam-seng sudah bertempur dengan pendeta-pendeta Siauw-lim-si? Bagaimana kesudahannya?”
Mendengar kata-kata Kun-lun Sam-seng, ketiga orang itu menjadi kaget bukan main dan paras muka mereka berubah.
JAGOAN-JAGOAN DARI TIONG-GOAN
“Nona kecil,” kata si muka merah.’”Bagaimana kau tahu hal Kun-lun Sam-seng?”
“Tentu saja aku tahu,” jawabnya.
Mendadak si muka pucat maju satu tindak dan membentak: “She apa kau? Siapa gurumu dan ada urusan apa kau datang ke sini?”
“Bukan urusanmu!” si nona balas membentak.
Si muka pucat yang sangat berangasan dan yang selama puluhan tahun selalu dihormati orang, darahnya meluap. Dia segera mengangkat tangan untuk menggaplok si jelita yang dianggap sangat kurang ajar. Tetapi sebelum tangannya melayang, tiba-tiba dia ingat kedudukannya yang sangat tinggi. Dia insyaf sangat tidak pantas sebagai seorang tua dia menghina seorang muda, lebih-lebih seorang wanita. Mengingat begitu, ia lalu mengurungkan niatnya menggampar muka, tapi tangannya menyambar terus ke pinggang si nona dan pedang Kwee Siang bersama sarungnya sudah pindah tangan! Kecepatan orang tua itu sungguh sukar dilukiskan.
Selama berkelana di dunia Kangouw, kejadian getir ini belum pernah dialami oleh si nona. Kepandaian yang dimilikinya memang belum cukup untuk malang melintang dengan leluasa, akan tetapi jago rimba persilatan sebagian besar tahu bahwa dia adalah puteri Kwee Ceng, sedang pentolan di kalangan sesat juga banyak sekali mengenalnya sebab atas undangan Yo Ko, mereka pernah datang di Siang-yang untuk memberi selamat panjang umur kepadanya. Semua orang sungkan terhadap si nona, kalau tidak memandang muka Kwee Ceng, tentu memandang Yo Ko.
Di samping itu si nona mempunyai paras yang cantik dan adat yang polos terbuka. Ia tak pernah bersikap sombong dan memandang siapa pun juga sebagai sesama manusia. Tak jarang ia mengajak buaya-buaya kecil minum arak ber-sama. Dengan demikian, biar pun dunia Kangouw penuh dengan duri dan bahaya, sebegitu jauh ia berkelana dengan tanpa kurang apapun. Belum pernah ada orang yang berani menghinanya. Si nona kemekmek waktu mendapat kenyataan bahwa pedangnya dirampas si tua. Ia ingin merebut kembali, tetapi ia tahu kepandaiannya masih kalah terlalu jauh. Tapi kalau menyudahi saja, hatinya sangat penasaran. Sementara itu, sambil memegang pedang di tangan kirinya, si muka pucat berkata dengan suara dingin:
“Aku akan menyimpan pedangmu untuk sementara waktu. Bahwa kau sudah berani berlaku begitu kurang ajar terhadapku, adalah karena orang tua dan gurumu kurang mengajarmu. Beri-tahukanlah supaya mereka datang kepadaku untuk meminta pulang pedangmu ini. Dengan baik-baik aku akan menasihati ayah ibu dan gurumu supaya mereka lebih memperhatikan kau.”
Paras muka si nona lantas saja berubah merah. Si tua se-olah memandangnya sebagai bocah nakal yang kurang ajar. Dengan marah dia berkata dalam hatinya. “Bagus sekali! Kau mencaci aku seperti juga mencaci kakek, ayah dan ibuku. Apa benar kau mempunyai kepandaian begitu tinggi sehingga kau begitu sombong?” Sesudah dapat menenteramkan hatinya yang bergoncang keras, sambil menahan amarah ia bertanya,
“Siapa namamu?”
Si muka pucat mengeluarkan suara di hidung. “Apa? Kau berani bertanya siapa namaku?” bentaknya. “Kau benar-benar tak tahu adat. Kau harus mengatakan begini, bolehkah aku mendapat tahu she dan nama Lo-cianpwe yang mulia? Mengerti?!”
“Jangan rewel!” bentaknya. “Aku merdeka untuk menggunakan kata apa pun juga. Berapa harganya pedang itu? Kau seorang tua, tapi tidak menghargai usiamu yang tua. Tak malu mencuri pedang orang! Sudahlah! Aku tak mau pedang itu.” Sambil berkata begitu dia pun bertindak keluar dari pendopo.
Se-konyong-konyong bayangan berkelebat dan si muka merah menghadang di hadapannya.
“Seorang gadis remaja tidak boleh gampang marah,” katanya seraya ter-senyum. “Kalau sudah menikah, apa kau boleh marah-marah seperti anak kecil di depan mertua? Baiklah, sekarang aku beri-tahukan kau. Dalam beberapa hari sesudah melalui perjalanan berlaksa li kami tiga saudara seperguruan baru saja tiba di Tiong-goan dari daerah See-hek (daerah sebelum barat)...”
“Itu aku sudah tahu,” memotong si nona sambil monyongkan mulutnya. “Di daerah Tiong-goan tidak terdapat namamu bertiga.”
Ketiga orang itu saling memandang. “Nona, bolehkah aku mendapat tahu siapa gurumu?” tanya si muka merah.
Sebenarnya Kwee Siang tidak suka memberi tahu nama ayah dan ibunya. Tapi sekarang, karena sudah jengkel, dia menjawab:
“Ayah she Kwee bernama Ceng. Sedang ibuku she Oey bernama Yong. Aku tak punya guru, hanya kedua orang tuaku itulah yang menurunkan sedikit ilmu silat.”
Ketiga kakek itu saling pandang. Sesaat kemudian barulah si muka pucat berkata. “Kwee Ceng? Oey Yong? Dari partai mana mereka? Murid siapa?”
Dengan pertanyaan itu si nona menjadi gusar. Nama kedua orang tuanya sangat tersohor di kolong langit, jangankan orang-orang dari rimba persilatan, rakyat jelata pun mengenal Kwee-tayhiap, seorang pendekar yang telah membantu membela kota Siang-yang. Tapi, melihat paras sungguh-sungguh dari ketiga orang itu, Kwee Siang segera mendapat pikiran lain.
“Kun-lun-san terletak di daerah barat dan terpisah amat jauh dari wilayah Tiong-goan,” pikirnya. “Ketiga orang lihai ini memiliki ilmu silat yang sangat tinggi, tapi ayah dan ibu belum pernah me-nyebut nama mereka. Mungkin sekali mereka memang belum pernah mendengar nama kedua orang tuaku.“ Mengingat begitu darahnya yang barusan telah meluap, mereda kembali.
“Aku sendiri she Kwee bernama Siang,” katanya pula. “Siang adalah Siang dari Siang-yang. Nah, sesudah memperkenalkan diri, bolehkah aku bertanya she dan nama kalian yang mulia?”
Si muka merah tertawa hahahihi. “Bocah perkataanmu itu tepat sekaii,” katanya. “Dengan jawabanmu itu, kau menghormati orang yang lebih tua.” Sambil menunjuk si muka kuning, ia berkata pula: “Itu Toa-suko (kakak seperguruan yang paling tua) kami. Dia she Phoa bernama Thian Keng. Aku sendiri Ji-suheng (kakak kedua), aku she Phu, namaku Thian Lo.” la lalu menuding pada si muka pucat dan melanjutkan perkataannya. “Yang itu adalah Sam-sute (adik ketiga), dia she Wie bernama Thian Bong. Kau lihatlah! Kami tiga saudara seperguruan mengambil huruf ‘Thian’ (Langit).”
“Hmm!” Kwee Siang mengeluarkan suara di hidung dan berdiam sejenak mengingat-ingat tiga nama itu. “Tapi apakah kalian sudah bertanding dengan pendeta Siauw-lim-si? Kalau sudah, siapa yang lebih unggul?” tanyanya kemudian.
Si muka pucat Wie Thian Bong menjadi marah dan membentak dengan suara keras. “Ehh, bagaimana kau tahu? Bahwa kami hendak menjajal ilmu Siauw-lim-si hanya diketahui oleh beberapa orang saja. Bagaimana kau bisa tahu? Lekas bilang!” Dia berteriak seraya mendekati Kwee Siang dan menatap wajah si nona dengan mata melotot.
Tentu saja Kwee Siang jadi dongkol. Kalau mereka bertanya baik-baik mungkin sekali ia akan memberi-tahukan dengan segala senang hati. Tetapi dengan cara yang kasar itu, ia lantas saja mengambil putusan untuk menutup rahasia.
“Namamu bertiga sebenarnya kurang tepat,” katanya dengan suara tawar. “Mengapa tak dirubah menjadi Thian Ok (Ok berarti jahat)?”
“Apa kau kata?!” bentak Thian Bong.
Kwee Siang menggeleng-gelengkan kepalanya. “Aku sangat jarang melihat manusia yang begitu galak seperti kau,” katanya dengan adem. “Setelah merampas barangku kau masih bersikap begitu ganas. Bukankah kau seperti juga penitisan dari binatang jahat di langit?”
Tiba-tiba tenggorokan Wie Thian Bong mengeluarkan suara aneh se-olah menggaungnya binatang buas. Dadanya lantas saja melembung ke atas, sedangkan rambut serta alisnya bangun serentak.
“Samte!” kata Phui Thian Lo si muka merah dengan cepat. “Jangan kau naik darah.”
Sambil berkata begitu ia menyeret tangan Kwee Siang ke belakangnya sehingga tubuhnya sendiri berada di antara kedua orang itu. Melihat betapa hebatnya gerak-gerik Wie Thian Bong sehingga pukulannya tentu hebat luar biasa kalau dia turun tangan, hati si nona jadi keder juga. Sementara itu dengan tangannya Wie Thian Bong mencabut pedang Kwee Siang, sedang jeriji tangan kirinya menyentil badan pedang.
“Cringg...!” pedang itu patah jadi dua.
Kemudian dia masukkan pedang buntung itu ke dalam sarungnya seraya berkata dengan suara mengejek:
“Siapa yang kepingin senjata yang tidak ada gunanya ini?”
Bukan main kagetnya si nona. Biar pun kepandaian itu belum bisa menandingi Tan-ci Sin-thong (ilmu menyentil) dari kakeknya tapi tenaga Iweekang yang begitu dahsyat sungguh jarang terlihat di rimba persilatan.
Melihat perubahan paras muka si nona, hati Wie Thian Bong menjadi bungah. Ia mendongak dan tertawa ter-bahak. Suara tertawa yang disertai Iweekang itu sangat menusuk kuping, bahkan menggoncangkan genteng di atas pendopo batu itu. Se-konyong-konyong, berbareng dengan suara gedubrakan, atap pendopo lantas berlubang besar dan dari lubang itu jatuh benda yang sangat besar. Semua orang terkejut sekali, terhitung Wie Thian Bong sendiri. Ia sama sekali tak pernah menduga bahwa suara tertawanya tadi biar pun disertai Iweekang bisa merusakkan atap pendopo batu. Waktu orang tahu benda apa yang jatuh, rasa kaget jadi semakin besar. Ternyata yang rebah di lantai adalah seorang lelaki yang mengenakan baju putih dan kedua tangannya memeluk khim. Dia rebah di situ sambil meramkan kedua matanya, se-olah sedang tidur pulas. Mendadak terdengar teriakan Kwee Siang,
“Aha! Kau berada di sini?”
Orang itu bukan lain dari pada si pria yang pandai memetik khim dan yang pernah ditemui si nona beberapa hari berselang. Per-lahan orang itu membuka matanya. Begitu melihat Kwee Siang, ia melompat bangun sambil berkata.
“Nona, aku mencarimu ke segala tempat. Tak tahunya kau berada di sini.”
“Perlu apa kau mencari aku?” tanya Kwee Siang.
“Aku lupa menanyakan she nona yang mulia dan namamu yang besar,” jawabnya.
“Apa itu she mulia nama besar?” tanya Kwee Siang seraya mencebikan bibir. “Aku paling sebal dengan kata yang banyak kembangnya.”
Orang itu kelihatan kaget, tapi di lain saat ia sudah tertawa besar. “Benar, nona,” katanya. “Memang, semakin manusia berlagak pintar semakin kosong otaknya.”
Sambil berkata begitu ia mengawasi Wie Thian Bong dengan mata melotot, kemudian ia tertawa dingin. Kwee Siang girang sekali. Ia tak nyana si baju putih ini seorang yang menarik. Paras muka Wie Thian Bong yang pucat jadi lebih pucat lagi.
“Siapa tuan?” tanyanya.
Laki-laki yang pandai menabuh khim itu tidak menggubris. Sambil berpaling kepada Kwee Siang, ia bertanya:
“Nona, siapa namamu?”
“Aku she Kwee bernama Siang,“ jawab si nona.
Orang itu menepuk kedua tangannya lantas berseru dengan suara girang. “Ahh...! Mataku sudah kotokan sehingga tak mengenal gunung Thay-san yang besar. Kalau begitu kau Kwee Toa-kouwnio yang namanya kesohor di seluruh jagat! Kecuali manusia-manusia tolol, siapa pun juga mengenal ayahmu Kwee Ceng Kwee-tayhiap, dan ibumu, Oey Yong Oey-lihiap. Di dunia Kangouw, siapakah yang tidak mengenal mereka? Mereka adalah orang-orang yang bun-bu-song-coan (mahir dalam ilmu surat dan ilmu perang), juga mahir menggunakan macam-macam senjata dan telah menyelami dasarnya berbagai ilmu silat, paham pula tentang ilmu menabuh khim, tio-kie, menulis huruf-huruf indah, melukis, bersyair, dan bersajak. Dari dulu sampai sekarang kepandaian mereka jarang tandingan. Ha-ha-ha….! Tapi masih juga terdapat manusia-manusia yang tidak mengenal mereka!”
Kwee Siang menjadi girang sekali. “Kalau begitu sudah lama dia bersembunyi di atas atap pendopo dan telah mendengarkan pembicaraanku dengan ketiga orang ini,” katanya dalam hati, “Tetapi jika didengar dari perkataannya, ia pun belum mengenal kedua orang tuaku. Kalau sudah mengenal, ia tentu takkan memanggil aku Kwee Toa-kouwnio (nona Kwee yang paling tua). Sungguh lucu dia mengatakan ayahku mahir ilmu menabuh khim, main tio-kie, menulis huruf indah dan sebagainya.” Berpikir begitu, seraya tersenyum ia bertanya.
“Siapa namamu?”
“Aku she Ho, namaku Ciok To.“ jawabnya. (Ho Ciok To berarti tidak cukup berharga untuk dibicarakan).
“Ho Ciok To?” menegas si nona. “Sungguh satu nama yang merendahkan diri.”
“Benar,“ jawabnya. “Tetapi namaku lebih baik dari pada nama yang menggunakan perkataan sombong seperti ‘langit dan bumi’. Sedikitnya namaku tidak memuakkan orang yang mendengarnya.”
Siapa pun mengerti bahwa dia sedang mengejek ketiga Suhengte (saudara seperguruan) yang menggunakan huruf ‘Thian’ langit itu. Maka, sesudah menyaksikan cara Ho Ciok To menjatuhkan diri dari lubang atap, mereka tahu bahwa orang itu bukan sembarang orang dan oleh karenanya se-bisanya mereka menahan sabar.
Tapi mendengar ejekan yang paling belakang, Wie Thian Bong meluap darahnya. Sekali membalik tangan dia menggaplok dagu orang. Ho Ciok To menundukkan kepalanya dan molos dari bawah bahu. Tiba-tiba Wie Thian Bong merasa tangan kirinya kesemutan dan pedang Kwee-Siang yang sedang dicekalnya sudah berpindah tangan.
Sebagaimana diketahui, waktu merampas pedang itu dari tangan nona Kwee, gerakannya cepat luar biasa. Dari sini dapatlah dibayangkan betapa cepat gerakan Ho Ciok To yang dengan begitu mudah berhasil merampas senjata itu.
Wie Thian Bong terkesiap. Di lain detik, dengan marah ia menerjang dan lima jerijinya yang dipentang bagaikan gaetan, menyambar pundak Ho Ciok To. Dengan sekali mengegos Ho Ciok To berhasil menyelamatkan diri. Sementara itu hampir berbareng Phoa Thian Keng dan Phui Thian Lo melompat keluar dari pendopo. Dengan gregetan Wie Thian Bong mengirim serangan berantai dengan kedua tangannya dan dalam sekejap dia sudah menyerang tujuh delapan kali. Tapi lawannya tetap bersikap tenang. Meski diserang bagaikan hujan dan angin sedikit pun dia tidak membalas. Dengan mengegos ke kiri kanan, ke depan belakang, dia kelitkan pukulan-pukulan hebat itu.
Biar pun masih berusia muda dan kepandaiannya tidak seberapa tinggi, nona Kwee Siang adalah puteri ahli silat nomor satu, dia memiliki mata yang amat tajam. Melihat gerakan Ho Ciok To yang begitu gesit dan lincah, ia yakin bahwa ilmu kepandaiannya berbeda dengan berbagai ilmu silat yang ada di wilayah Tiong-goan.
Sementara itu, sesudah menyerang dua puluh jurus lebih tanpa hasil, Wie Thian Bong menggeram dan mengubah cara silatnya. Jika tadi serangan dikirim bagaikan kilat, sekarang gerakan-gerakannya perlahan namun disertai dengan tenaga yang sangat hebat. Setelah dia menyerang beberapa jurus, Kwee Siang yang berada di pendopo turut merasakan sambaran-sambaran pukulannya, buru-buru dia melompat keluar. Ho Ciok To pun mengubah sikap. Kini dia tidak berani memandang enteng lagi musuhnya. Setelah menyelipkan pedang Kwee Siang di pinggangnya, dia berdiri tegak dan badannya seolah-olah sebuah gunung yang kokoh teguh.
“Kau menggunakan ilmu keras?” tanya Ho Ciok To, lalu, “Apa kau kira aku tidak mampu?”
Pada saat kedua tangan Wie Thian Bong menyambar, sambil mengerahkan Iweekang dia memapaki dengan tangan kirinya. Keras melawan keras!
“Takk!”
Kedua tangan beradu dengan dahsyatnya. Badan Wie Thian Bong ber-goyang terhuyung ke belakang dua tiga tindak, sedang kedua kaki Ho Ciok To tetap berdiri tegak. Wie Thian Bong yang selalu menganggap bahwa Gwakang-nya (ilmu luar, yaitu ilmu yang menggunakan tenaga kekerasan) jarang tandingan, jadi penasaran sekali. Sesudah menarik napas panjang, sambil membentak keras sekali lagi ia pun menghantam dengan kedua tangannya. Ho Ciok To pun mengeluarkan teriakan nyaring dan satu tangannya kembali memapaki pukulan lawan.
“Dakk!”
Kedua tangan beradu, kali ini hebat luar biasa sehingga debu dan pasir meluruk turun dari lubang di atap pendopo. Hampir berbarengan dengan bentrokan itu, tubuh Wie Thian Bong terhuyung lagi dan sesudah sempoyongan empat lima tindak, barulah dia bisa berdiri tegak. Sesudah dikalahkan dua kali, Wie Thian Bong jadi mata merah. Rambutnya terurai, kedua matanya melotot sehingga macamnya sungguh menakutkan sekali. Dengan kedua tangan memegang perut, dia menarik napas panjang. Pada lain saat dadanya melesak ke dalam, perut melembung keluar, se-akan sebuah tambur dan tulangnya berkerotokan. Dalam keadaan yang menyeramkan itu, setindak demi setindak dia mendekati lawannya.
Melihat begitu, Ho Ciok To segera tahu bahwa lawannya akan segera menyerang dengan menggunakan seantero kepandaian dan tenaga Iwekang. Ia tidak berani berayal lagi dan menyedot napas untuk mengerahkan Iweekang. Menurut kebiasaan, setelah mengerahkan Iweekang yang hebat itu, dari jarak empat lima tindak Wie Thian Bong sudah mengirim pukulan. Tetapi sekarang dia tidak berbuat begitu. Dengan perlahan dia terus maju hingga berhadapan dengan lawan. Sesudah itu barulah dua tangannya bergerak, yang satu memukul muka, yang lain menyambar ke punggung. Tujuan kedua pukulan itu untuk membuyarkan seantero Iwekang Ho Ciok To.
Ho Ciok To pun menyambar dengan kedua tangannya. Tangan kiri menempel dengan tangan kiri, tangan kanan dengan tangan kanan. Akan tetapi di tangan itu dia mengeluarkan dua tenaga yang berbeda, satu ‘keras’ dan yang lain ‘lembek’. Dengan demikian tangan Wie Thian Bong yang memukul keras ke punggung seperti menghantam kapas saja, sedang tangan kanan yang menyambar ke muka se-olah menyentuh tembok tembaga.
“Celaka!” Wie Thian Bong mengeluh. Hampir berbareng dia merasakan dorongan tenaga yang sangat hebat dan tanpa ampun lagi badannya didorong keluar dari pendopo.
Itulah akibat keras melawan keras. Siapa yang bertenaga lebih lemah, dialah yang celaka. Didorong dengan tenaganya sendiri yang berbalik dan ditambah dengan dorongan tenaga Ho Ciok To, pastilah Wie Thian Bong bakal muntah darah. Pada saat yang amat berbahaya, satu detik sebelum roboh, Phoa Thian Keng dan Phui Thian Lo membentak keras:
“Keluarkan pukulan!”
Dengan berbareng mereka mendorong ke depan dan tenaga tangan mereka merupakan semacam tembok lembek yang tidak kelihatan. Punggung Wie Thian Bong bersandar di arus tenaga itu sehingga dia pun tertolong dari luka berat di dalam badan. Tapi meski pun begitu, isi perutnya mendapat goncangan hebat, tulangnya seolah terpukul hancur dan ia merasakan sakit luar biasa di sekujur badannya. Melihat saudara seperguruannya dirobohkan begitu menyedihkan, Phui Thian Lo marah bukan main, tapi paras mukanya masih tetap tersenyum.
“Kekuatan tenaga tangan tuan sangat jarang terdapat di dunia,” katanya. “Aku sungguh merasa takluk.”
Mendengar kata-kata itu, Kwee Siang tertawa dalam hati. “Kun-lun Sam-seng tiada bedanya seperti kodok dalam sumur,” pikirnya. “Jika mengenai tenaga tangan, siapakah yang dapat menandingi ayahku dalam pukulan Hang-liong-sip-pat-ciang?”
Sesudah berdiam sejenak, seraya tertawa hahahihi, si muka merah berkata pula: “Aku si tua yang tidak punya kepandaian berarti, sekarang ingin minta pengajaran dari Kiam-hoat tuan.”
“Phui-heng berlaku sangat manis terhadap Kwee-kouwnio dan aku pun tidak mempunyai ganjalan denganmu,” jawabnya. “Aku rasa kita tak usah menjajal kepandaian.”
Kwee Siang menjadi terkejut. “Kalau begitu dia menghajar Wie Thian Bong karena kurang ajar terhadapku,” katanya dalam hati.
Sementara itu, tanpa menggubris penolakan orang, Phui Thian Lo menghampiri kuda tungggangannya dan mengambil sebatang pedang panjang dari kantong senjata.
“Srett!”
Dia menghunusnya dan paras mukanya berubah kereng! Sambil melonjorkan tangan kirinya, dia mendongakkan pedang di tangannya. Itulah pukulan yang diberi nama Sian-jin-tit-loan (Dewa mengunjuk jalan).
Ho Ciok To tersenyum seraya berkata, “Kalau Phui-heng mau bertanding juga, biarlah aku melayani beberapa jurus dengan menggunakan pedang Kwee-kouwnio.”
Dia mencabut pedang buntung yang terselip di pinggangnya. Pedang itu asalnya memang pedang pendek. Panjangnya tidak lebih dari dua kaki. Sesudah dipatahkan Wie Thiang Bong kini yang ketinggalan hanya tujuh delapan dim saja sehingga lebih pendek dari pada pisau belati biasa. Sambil mencekal sarung pedang di tangan kirinya, tanpa menegur lagi ia mengirim tiga serangan kilat yang cepat luar biasa. Hanya karena senjatanya terlalu pendek, maka serangan itu tidak mengenai sasaran. Phui Thian Lo terkesiap.
“Cepat sungguh gerakannya!” pikirnya. “Kiam-hoat apa itu? Jika dia menggunakan pedang panjang, jiwaku mungkin sudah melayang.”
Di lain pihak, setelah menyerang tiga kali beruntun, Ho Ciok To melompat ke samping dan berdiri tegak. Sewaktu Phui Thian Lo balas menyerang, dia hanya mengegos dan berkelit. Selagi dihujani serangan, tiba-tiga sekali lagi dia mengirim tiga tikaman berantai sehingga silat lawan jadi kalang kabut. Di lain saat, seperti tadi, ia meloncat lagi ke samping dan berhenti menyerang. Dipermainkan begitu rupa. Phui Thian Lo meluap darahnya. Sambil membentak keras dia menyerang seraya memutar pedangnya menyambar-nyambar bagaikan kilat. Badannya yang kurus kecil se-akan dikurung sinar pedang yang berkelebat seperti kitiran. Semakin lama pertempuran dilakukan semakin cepat, gerakan kedua lawan sukar dilihat tegas. Se-konyong-konyong terdengar bentakan Ho Ciok To.
“Awas!”
Hampir berbareng dengan bentakan itu, sarung pedang yang dicekal dalam tangan kirinya menyambar.
“Trangg...!”
Sarung itu masuk di ujung pedang lawan dan pedang buntung meluncur ke tenggorokan Phui Thian Lo. Walau pun lihay, si muka merah tidak mampu menangkis sebab pedangnya tidak bisa bergerak. Tapi sebagai orang yang berkepandaian tinggi, dalam bahaya dia tidak menjadi bingung. Dia lepaskan pedangnya dan sambil melenggokkan kepala, membuang diri bergulingan ditanah. Sebelum Phui Thian Lo melompat bangun tiba-tiba berkelebat bayangan dan tangan Phui Thian Keng mencekal gagang pedang yang barusan dilepaskan oleh Sute-nya. Dengan sekali membetot dia mencabut pedang itu dari sarung pedang buntung yang dipegang Ho Ciok To.
“Sungguh indah gerakan itu!” puji Ho Ciok To dan Kwee Siang hampir berbaring.
Kakek yang mukanya seperti orang berpenyakitan dan tak pernah mengeluarkan sepatah kata itu ternyata memiliki kepandaian yang paling tinggi di antara ketiga orang itu.
“Sungguh aku merasa benar-benar takluk akan kepandaian tuan.“ kata Ho Ciok To sambil membungkuk. Dia berpaling pada Kwee Siang dan berkata, “Kwee-kouwnio. sesudah mendengar lagumu beberapa hari yang lalu, aku menggubah sebuah lagu baru yang ingin aku persembahkan kepadamu untuk dinilai.”
“Lagu apa?” tanya si nona.
Tanpa menghiraukan ketiga orang tua itu, dia lantas bersila di atas tanah, meletakkan khim-nya di pangkuan lalu menyetel talinya. Melihat hal itu, Phoa Thian Keng mendekati dan berkata.
“Tuan sudah merobohkan kedua Sute-ku dan sekarang akulah yang ingin minta pengajaranmu.”
Ho Ciok To menggelengkan kepalanya beberapa kali. “Tidak, itu sudah cukup,” katanya. “Pertandingan silat tidak menimbulkan banyak kegembiraan. Sekarang aku ingin memetik khim untuk diperdengarkan kepada Kwee-kouwnio. Laguku adalah sebuah lagu baru. Jika suka, kalian boleh duduk dan ikut mendengarkan. Kalau tidak suka, kalian merdeka untuk berlalu.“ Sehabis berkata begitu, jarinya mulai memetik.
Sesudah mendengarkan beberapa saat, Kwee Siang jadi kaget bercampur girang. Sejak belajar memetik khim, belum pernah ia mendengar lagu yang begitu luar biasa. Luar biasa karena lagu itu merupakan kombinasi dari lagu Ko-phoa yang pernah dia perdengarkan dengan lagu Kian-kee (nama semacam rumput). Sesungguhnya kedua lagu yang sangat berbeda itu digubah begitu rupa sehingga merupakan sebuah lagu baru yang sangat merdu dan harmonis. Syair lagu ini antara lain berbunyi.
Si orang pertapaan.
Berkelana di pegunungan
Rumput Kian-kee hijau2.
Embun berubah menjadi salju.
Dan si dia.
Berada di satu sudut dunia
Mendengar sampai di situ, hati si nona berdebaran. “Siapa si dia?” tanyanya di hati. “Apa dia maksudkan aku? Mengapa suara khim itu sedemikian merdu dan mengharukan hati?” Mengingat itu, mukanya lantas saja bersemu dadu. Dia merasa kagum bukan main sebab dalam kombinasi yang sudah menjadi sebuah lagu Kian-kee masih bisa mempertahankan kepribadiannya sendiri.
Phoa Thian Keng dan kedua Sute-nya tidak mengerti ilmu musik. Mereka jadi mendongkol bukan main. Cara-cara Ho Ciok To yang terus memetik tali-tali khim tanpa mempedulikan mereka, dianggapnya suatu hinaan. Sesudah mendengarkan beberapa saat, Phoa Thian Keng tidak mampu menahan sabar lagi. Dia mendekati dan sambil menotok pundak kiri Ho Ciok To dengan ujung pedang, dia membentak.
“Bangun kau! Mari kita menjajal kepandaian.”
Ho Ciok To yang sedang memusatkan seluruh semangat pada tetabuhannya, seolah-olah tidak mendengar tantangan itu. Ia seperti juga sedang berkelana di satu pegunungan yang amat indah dan dari jauh ia melihat seorang gadis jelita yang tengah berdiri di atas sebuah pulau kecil yang dikurung air. Tiba-tiba pundak kirinya sakit dan ia pun tersadar. Ia mendongak dan melihat Phoa Thian Keng berdiri di dekatnya sambil memegang pedang terhunus yang barusan telah ia gunakan untuk menotol pundaknya. Ia mengerti bahwa jika tidak melawan, mungkin sekali ia akan terluka secara konyol. Hanya sungguh sayang, lagunya belum selesai. Sebagai seorang seniman tulen, ia tidak rela menghentikan lagunya di tengah jalan.
Karena itu tangan kirinya segera mengulurkan pedang buntung yang lalu digunakan untuk menangkis senjata Phoa Thian Keng, sedangkan tangan kanannya tetap memetik tali-tali khim. Dengan kedua mata tetap memperhatikan tetabuhannya, Ho Ciok To menangkis setiap serangan lawan. Phoa Thian Keng jadi semakin marah dan menyerang tambah hebat. Tapi ke mana pun juga pedangnya menyambar, Ho Ciok To selalu dapat menangkisnya. Kwee Siang yang sedang kesengsem juga tidak mempedulikan serangan itu. Akan tetapi ia mendongkol sebab suara bentrokan senjata merusak irama. Ia membentak.
“Hai! Apa kau tuli akan merdunya lagu ini. Jangan merusak! Cobalah kau menyerang menurut tempo tepukan tanganku.”
Tentu saja Phoa Thian Keng tidak meladeni. Sambil membentak keras, dengan gusar ia merubah Kiam-hoatnya dan menyerang bagaikan hujan angin sehingga suara bentrokan senjata jadi semakin gencar dan irama khim semakin dikacaukan. Ho Ciok To juga mendongkol. Seraya menambah Iweekang, ia menangkis satu tikaman.
“Trangg...!”
Pedang Phoa Thian Keng patah jadi dua. Hampir berbareng tali ke lima dari Cit-hian-khim (khim yang bertali tujuh) juga putus. Paras muka Phoa Thian Keng pucat bagaikan mayat. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun dia lalu meloncat keluar dari pendopo batu, kemudian bersama kedua Sute-nya, dia melompat naik ke punggung tunggangannya yang segera dikaburkan ke atas gunung.




































Tidak ada komentar:
Posting Komentar