ads

Minggu, 18 Oktober 2026

To Liong To 27

BERBURU PEMUNAH SIP-HIANG JOAN-KIN-SAN

Untuk menjaga tawanan, Hian-beng Jie-lo, Hoan Yauw serta jago lainnya menginap di Ban-hoat-si. Tio Beng sendiri tinggal di gedung raja muda dan hanya pada waktu malam, jika mau berlatih ilmu silat, dia datang ke kelenteng itu. Hoan Yauw kembali ke kamarnya dengan rasa bahagia. Dia ingat bagaimana selama dua puluh tahun lebih Beng-kauw terpecah belah. Tapi hari ini, atas berkah Tuhan agama tersebut mempunyai harapan menjadi makmur kembali sehingga pengorbanannya tidak sia-sia.

Dia tinggal di kamar deretan sebelah barat, sedangkan Hian-beng Jie-lo menginap di kamar dekat menara di pekarangan belakang. Karena merasa jeri akan kelihaian kedua kakek itu dan kuatir rahasianya bocor, ia jarang bergaul dengan Hian-beng Jie-lo dan mengambil kamar yang jauh dari mereka. Tapi sekarang dia mendapat tugas mengajak Ho Pit Ong minum arak. Dia harus mendekati kakek itu. Sambil memutar otak dia mengawasi pekarangan belakang. Matahari mulai tenggelam ke barat. Sinarnya menyorot genteng kaca menara yang sudah mulai guram. Setelah mengasah otak beberapa lama, dia belum juga mendapatkan jalan mendekati Ho Pit Ong. Sambil menggendong tangan perlahan berjalan ke belakang pekarangan.

Mendadak hidungnya mencium bau daging dari kamar di seberang kamar Hian-beng Jie-lo. Itulah kamarnya Sun Sam Hwie dan Lie Sie Cui, dua anggota Sin-cian Pat-hiong. Tiba-tiba dalam otaknya berkelebat ingatan. Ia menghampiri kamar itu dan menolak pintu. Hampir berbareng bau daging menyambar hidung. Lie Sie Cui sedang jongkok di lantai sambil mengipasi api di tungku tanah. Di atas tungku itu terdapat sebuah kuali yang airnya bergolak-golak dan mengeluarkan bau yang sangat harum. Sun Sam Hwie sendiri sedang menggambil piring mangkok. Tidak salah lagi, mereka tengah bersiap untuk makan minum.

Melihat masuknya Kouw Tauw-to, paras muka kedua orang itu berubah pucat. Mengapa? Karena yang sedang mereka masak adalah daging anjing dan makan daging anjing dalam sebuah kelenteng hwesio merupakan pelanggaran hebat. Kalau dipergoki orang lain tak apa-apa. Tapi Kouw Tauw-to bukan saja seorang pendeta, melainkan juga berkepandaian tinggi. Bagaimana kalau dia tidak mau mengerti? Di luar dugaan mereka, Kouw Tauw-to tidak marah. Dia menghampiri tungku, lalu membuka tutup kuali dan mencium dengan hidungnya. Tanpa mempedulikan panasnya air sekonyong-konyong dia memasukkan tangan ke dalam kuali dan menjemput sepotong daging, kemudian mengunyahnya secara rakus. Dalam sekejap daging itu ditelan habis. Sun Sam Hwie dan Lie Sie Cui girang tak kepalang.

“Kouw Taysu duduklah! Duduklah!” kata Sun Sam Hwie. “Kami merasa amat girang bahwa Taysu pun suka makan daging anjing.”

Tetapi Kouw Tauw-to tidak mau duduk di kursi. Sesudah mengambil sepotong daging dan memasukkan ke dalam mulut, dia turut berjongkok di samping tungku. Sun Sam Hwie buru-buru menuangkan semangkok arak yang lalu diangsurkan kepada si Tauw-to. Tetapi baru meneguk Kouw Tauw-to segera menyemburkannya di lantai, sedang tangan kirinya mengipas-ngipas hidung sepertinya mau mengatakan bahwa arak itu tidak wangi dan tidak enak rasanya. Sesudah itu dia berlalu dengan tindakan lebar, tetapi tak lama kemudian dia kembali dengan tangan menentang sebuyung arak. Tadi Su Sam Hwie dan Lie Sie Cui sangat kuatir melihat si pendeta pergi dengan sikap marah. Sekarang mereka malah menjadi sangat girang.

“Bagus!” seru Lie Sie Cui. “Arak kami memang sangat jelek. Sungguh syukur kalau Taysu mempunyai arak mahal.”

Mereka segera mengatur piring mangkok dan meja lalu dengan sikap hormat mengundang Kouw Tauw-to untuk duduk pada kursi pertama. Di kalangan para jago Tio Beng, Kouw Tauw-to termasuk jago kelas utama. Dengan melayani secara hormat Sun Sam Hwie dan Lie Sie Cui berharap agar dalam gembiranya si pendeta akan menurunkan satu dua pukulan istimewa kepada mereka. Kouw Tauw-to membuka tutup buyung dan menuang isinya ke dalam tiga mangkok. Arak itu berwarna kuning keemas-emasan seperti madu tawon dan aromanya yang menyambar hidung harum dan segar.

“Sungguh bagus arak ini!” seru Lie Sie Cui.

Sambil menjalankan perannya, di dalam hati Hoan Yauw sangsi. Dia tidak tahu apakah Hian-beng Jie-lo berada di kamarnya. Apa bila kedua kakek itu sedang bepergian maka usahanya kali ini akan sia-sia. Dengan pikiran tak tenteram ia menjemput mangkok araknya kemudian menaruhnya di kuah daging yang sedang bergolak. Begitu panas arak itu jadi semakin wangi.

Sun Sam Hwie dan Lie Sie Cui yang sudah keluar iler, ingin segera mencegak arak dingin, tetapi dicegah oleh Kouw Tauw-to yang dengan gerakan tangan meminta mereka supaya memanaskan dahulu arak itu menurut contohnya. Demikianlah, secara bergantian mereka memanaskan arak di kuah daging. Hoan Yauw menghitung pasti bahwa kalau Ho Pit Ong berada di Ban-hoat-si dia tentu akan dapat mencium bau arak itu dan akan datang ke situ. Benar saja. Tidak lama kemudian pintu kamar di seberang terbuka dan hampir berbareng terdengar seruan Ho Pit Ong.

“Aduh! Wangi sungguh arak ini. Huh, huh!”

Tanpa sungkan dia menolak pintu dan terus masuk ke dalam. Melihat Kouw Tauw-to ikut serta dalam pesta itu, dia agak terkejut,

“Kouw Taysu aku tidak nyana kau pun menyukai makanan ini,” katanya.

Sun Sam Hwie dan Lie Sie Cui cepat bangkit. “Ho Kong-kong, kebetulan sekali,” kata Sun Sam Hwie. “Marilah kita minum, arak ini adalah araknya Kouw Taysu. Tak gampang orang bisa minum arak seenak ini.”

Ho Pit Ong segera duduk di depan Kouw Tauw-to dan mereka berdua lantas makan minum sepuas hati, sedangkan kedua tuan rumah menjadi semacam pelayan. Tidak lama kemudian mereka mulai sinting.

“Sekarang tiba waktunya untuk aku turun tangan,” pikir Hoan Yauw.

Berpikir demikian dia segera mengisi mangkoknya sendiri sampai arak meluber. Sesudah itu dia mengembalikan buyung ke atas meja, tapi cara menaruhnya berbeda dari tadi. Kali ini buyung arak ditaruh miring. Miringnya buyung berarti Hoan Yauw sudah turun tangan.

Dalam menjalankan siasatnya Hoan Yauw bertindak secara cermat dan hati-hati. Ia menggiling ramuan racun yang dibuat Bu Kie menjadi bubuk. Kemudian membuat sebuah lubang pada tutup buyung yang terbuat dari kayu dan memasukkan bubuk racun ke dalam lubang itu. Tutup buyung lalu dibungkus dengan kain sehingga dengan demikian selama buyung ditaruh berdiri maka arak di dalamnya tetap arak biasa. Tapi begitu buyung ditaruh miring, sebagian arak akan segera membasahi kain penyaring dan racunnya lantas tercampur. Dasar buyung itu berbentuk bulat sehingga baik ditaruh berdiri mau pun ditaruh miring tidak begitu menarik perhatian. Apa lagi setelah minum begitu banyak, ketiga orang itu sudah sinting dan tidak melihat perubahan itu.

Melihat mangkuk Ho Pit Ong sudah kosong, Hoan Yauw segera mencabut tutup buyung dan menyerahkannya kepada si kakek. Ho Pit Ong menyambut lalu mengisi mangkoknya. Kemudian menambahkan arak di mangkok Sun Sam Hwi dan Lie Sie Cui yang telah separuh kosong. Dia tidak bisa menambah di mangkok Hoan Yauw yang masih penuh.

“Mari!” mengajak Ho Pit Ong.

Dengan serentak mereka mengangkat mangkok lalu mengeringkan isinya. Selain Hoan Yauw, ketiga orang itu sudah minum arak beracun. Sun Sam Hwie dan Lie Sie Cui yang Iweekang-nya tidak begitu kuat lantas merasa lemas.

“Sie-te (adik ke empat), perutku terasa tidak enak,” bisik Sun Sam Hwie. “Aku... aku pun begitu,” kata Lie Sie Cui. “Apa kena racun?”

Saat itu Ho Pit Ong mulai merasa tidak enak. Buru-buru dia mengerahkan tenaga dalam, tapi hawanya tidak mau naik ke atas. Paras mukanya berubah pucat. Tiba-tiba Hoan Yauw bangkit dan mencengkeram dada Ho Pit Ong sambil mengeluarkan suara “ah-ah uh-uh”. Matanya mendelik dan dia kelihatan sangat marah.

“Kouw Taysu, mengapa kau?” tanya Sun Sam Hwie.

Hoan Yauw mencelup arak dengan jari tangannya lalu menulis huruf ‘Sip-hiang Joan-kin-san’ di atas meja. Sun Sam Hwie dan Lie Sie Cui tahu bahwa racun dan obat pemunah Sip-hiang Joan-kin-san dikuasai Hian-beng Jie-lo. Mereka saling lirik dan sambil membungkuk Sun Sam Hwie berkata,

“Ho Kong-kong, kami berdua sedikit pun belum pernah berdosa terhadap Kong-kong. Kami mohon Kong-kong suka menaruh belas kasihan.“ Dia berkata begitu karena menduga si kakek memang mau mencelakai Kouw Tauw-to dan secara kebetulan mereka turut minum arak beracun.

Bukan main herannya Ho Pit Ong. Memang bulan ini Sip-hiang Joan-kin-san dipegang oleh dia sendiri dan disembunyikan di dalam salah sebuah pit yang berbentuk patuk burung ho. Kedua senjata itu belum pernah berpisah dari badannya sehingga tak mungkin orang bisa mencuri racun tanpa diketahui olehnya. Tetapi sewaktu mengerahkan hawa, dia tidak bisa mengeluarkan tenaga seperti kena Sip-hiang Joan-kin-san.

Meskipun racun yang dibuat Bu Kie sangat keras sebenarnya berbeda jauh dari Sip-hiang Joan-kin-san dan perasaan tidak enak yang dirasakan para korban juga berbeda. Ho Pit Ong hanya tahu bahwa racun Sip-hiang memusnahkan tenaga dalam. Karena belum pernah mencobanya tentu saja dia tidak tahu perbedaan antara racun Sip-hiang dan racun buatan Bu Kie. Begitu melihat kemarahan Kouw Tauw-to dan mendengar ratapan Sun Sam Hwie serta Lie Sie Cui, dia tidak ragu lagi bahwa mereka semua termasuk dia sendiri sudah kena racun Sip-hiang.

“Kouw Taysu, kau sabarlah,” katanya. “Kita adalah sahabat. Mana bisa aku mencelakakan kalian? Aku pun kena racun ini. Badanku lemas dan tidak bertenaga. Tapi siapa yang sudah main gila? Aku sungguh merasa heran.”

Kouw Tauw-to mencelup lagi arak dengan jari tangannya lantas menulis. ‘Lekas keluarkan obat pemunah di atas meja’.

Ho Pit Ong mengangguk. “Benar,” katanya. “Lebih dulu kita makan obat. Sesudah itu kita cari penjahatnya. Tapi obat disimpan Lok-heng. Kouw Taysu, mari kita pergi menemui dia.”

Hoan Yauw sangat girang. Dia tidak mengira siasat Yo Siauw bisa berjalan begitu lancar. Dengan tangan kiri dia sengaja memegang pergelangan tangan kanan Ho Pit Ong, lalu dia berjalan dengan langkah limbung. Beberapa saat kemudian mereka sudah tiba di gedung itu. Kamar samping yang terletak di sebelah selatan adalah kamar Ho Pit Ong, sedangkan kamar di sebelah utara kamarnya Lok Thung Kek. Pintu kamar itu tertutup rapat.

“Lok-heng!” teriak Ho Pit Ong, “Lok-heng!”

Dari dalam kamar terdengar sahutan Lok Thung Kek. Ho Pit Ong mendorong pintu tetapi pintu itu terkunci.

“Lok-heng!” panggilnya, “Lekas buka pintu! Ada urusan penting.”

“Urusan apa?” tanya Lok Thung Kek. “Aku sedang berlatih ilmu silat. Jangan ganggu.”

Ho Pit Ong dan Lok Thung Kek adalah saudara seperguruan. Kepandaian mereka kira-kira berimbang. Tapi karena Lok Thung Kek seorang kakek yang lebih tua dan juga karena dia lebih berakal budi, maka Ho Pit Ong selalu menghormatinya. Begitu mendengar jawaban sang kakek yang kurang enak, dia tidak berani memanggil lagi.

Hoan Yauw bingung. Dalam siasat ini sang waktu memainkan peranan amat penting. Bila harus menunggu sampai tenaga racun berkurang, tentu rahasianya akan bocor. Maka tanpa mempedulikan segala aturan dia segera mendobrak daun pintu dengan pundaknya dan pintu lantas terbentang. Hampir berbarengan terdengar jeritan seorang wanita.

Mendengar suara terpentalnya pintu, Lok Thung Kek yang sedang berdiri di depan ranjang segera menengok. Paras mukanya berubah pucat. Dia kaget bercampur malu. Di tengah ranjang tergeletak seorang wanita yang tubuhnya terbungkus selembar kasur tipis dan kasur itu dibebat dengan seutas tambang. Apa yang bisa terlihat hanyalah sebuah kepala dengan seraut wajah cantik dan rambutnya yang terurai. Wanita itu mengawasi Ho Pit Ong dan Hoan Yauw dengan mata terbelalak dan paras mukanya menunjukkan ketakutan besar. Hoan Yauw lantas mengenali bahwa dia itu bukan lain adalah Han-kie (selir seorang raja muda she Han).

“Hok-ong benar-benar hebat,” katanya dalam hati. “Seorang diri dia masuk ke dalam Ong-hu (gedung raja muda) dan dengan begitu cepat dia sudah berhasil menculik Han-kie.“

Wie It Siauw berhasil sebab meski pun di dalam Ong-hu terdapat banyak sekali pengawal, tetapi yang selalu diperhatikan dan dilindungi hanyalah Jie Lam Ong, Sicu (putera seorang pangeran) dan Kuncu. Raja muda itu mempunyai banyak selir dan seorang pun tak pernah menduga bahwa seorang selir bakal diculik. Selain itu gerak gerik Wie Hok-ong juga cepat luar biasa dan tanpa penjagaan istimewa, dengan mudah dia berhasil menculik Han-kie. Tapi menaruh wanita cantik itu di ranjang Lok Thung Kek adalah pekerjaan yang jauh lebih sulit dari pada menculiknya. Setelah menunggu beberapa lama barulah si kakek kelihatan keluar dari kamarnya. Dengan menggunakan kesempatan itu dia segera melompat masuk lalu meletakkan tubuh Han-kie di pembaringan.

Waktu kembali ke kamarnya dan melihat sesosok tubuh wanita, Lok Thung Kek kaget tak kepalang. Bagaikan kilat dia melompat ke atas genteng, namun Wie It Siauw sudah pergi jauh. Penyelidikannya di sekitar rumah itu tidak memberi hasil, maka buru-buru dia balik ke kamar dan dia menjadi lebih kaget lagi.

Hari itu, dalam perjamuan di taman bunga semangat Lok Thung seolah-olah terbang ketika melihat kecantikan Han-kie. Dia kembali dengan perasaan duka dan menyesal. Dia merasa menyesal mengapa tidak lebih dulu dia bertemu dengan si cantik. Tapi sesudah Han-kie menjadi selir Jie Lam Ong, biar bagaimana pun juga dia tidak berani mengganggu. Apa lagi belakangan dia sudah mendapatkan seorang selir baru yang cukup cantik sehingga perlahan-lahan dia dapat melupakan Han-kie.

Mimpi pun dia tidak pernah bahwa Han-kie bisa mendadak berada di pembaringannya. Dia terkejut bercampur heran. Setelah berpikir sejenak dia pun menduga bahwa perbuatan itu dilakukan seorang murid kenalannya yang bernama Yu Liong Su. Rupanya murid itu sudah bisa menebak isi hatinya dan diam-diam menculik si cantik. Sambil menyeringai dia mengawasi Han-kie dan mengajukan beberapa pertanyaan, tetapi wanita itu tidak bisa menjawab. Dia segera sadar bahwa jalan darah Han-kie telah ditotok.

Baru saja mengangsurkan tangannya untuk membuka jalan darah, mendadak Ho Pit Ong mengetuk pintu dan Kouw Tauw-to mendobraknya. Itulah kejadian yang tidak terduga. Kini dia tidak bisa menyangkal lagi. Tiba-tiba di otaknya berkelebat sebuah ingatan. Dia menduga bahwa kedatangan Kouw Tauw-to atas perintah Jie Lam Ong yang sudah tahu penculikan itu dan hwesio berambut itu datang untuk menangkapnya. Dalam keadaan begitu, jalan satu-satunya adalah kabur. Bagaikan kilat tangan kanannya mengulurkan tongkat tanduk menjangan, tangan kirinya mendukung Han-kie dan ia segera bergerak untuk melompat keluar dari jendela.

Ho Pit Ong terkejut, “Lok-suko!” teriaknya, “Lekas keluarkan obat pemunah!”

“Apa?” tegas sang kakak.

“Entah bagaimana Siauwte dan Kouw Taysu terkena racun Sip-hiang Joan-kin-san,” jawab sang adik.

“Apa katamu?” dia menegas lagi.

Ho Pit Ong mengulangi keterangannya. “Bukankah Sip-hiang Joan-kin-san dipegang olehmu?” tanya Lok Thung Kek dengan suara heran.

“Siauwte pun merasa amat heran,” sahutnya. “Tadi kami empat orang makan dan minum. Lalu secara mendadak kami semua terkena racun. Lok-suko, keluarkanlah obat pemunah. Sesudah makan obat itu, kita boleh bicara lagi.”

Hati Lok Thung Kek menjadi lega. Dia segera menaruh Han-kie di pembaringan kemudian menyuruhnya menghadap tembok. Ho Pit Ong tahu kesukaan kakaknya. Dia tidak heran melihat adanya seorang wanita di kamar sang kakak. Dalam kebingungannya dia tidak memperhatikan siapa adanya wanita itu. Tapi biar bagaimana pun dalam keadaan biasa dia tentu dapat segera mengenali. Hari itu, dalam perjamuan di taman bunga, yang dia perhatikan bukan si cantik tetapi makanan dan arak yang istimewa. Sesudah menaruh Han-kie, Lok Thung Kek lalu berkata,

“Kouw Taysu, tunggulah di kamar saudara Ho, aku akan datang membawa obat.“ Seraya berkata begitu ia mendorong tubuh kedua orang itu.

Badan Ho Pit Ong bergoyang-goyang dan hampir saja dia jatuh. Hoan Yauw pun berlagak sempoyongan. Tetapi ada sesuatu yang tidak pernah diperhitungkan oleh pemimpin Beng-kauw ini. Dia memiliki Iweekang yang amat tinggi sehingga waktu didorong secara wajar, di luar keinginannya dari dalam tubuhnya keluar semacam tenaga untuk melawan dorongan itu.

Sebagai seorang ahli silat kelas satu, Lok Thung Kek segera merasakan perbedaan antara dua dorongannya. Karena kuatir pikirannya salah, dia mendorong kembali, sekali ini menggunakan tenaga. Ho Pit Ong dan Kouw Tauw-to langsung jatuh berbarengan. Tapi Lok Thung Kek segera mendapat kepastian bahwa adik seperguruannya benar-benar jatuh karena tenaga dalamnya ‘kosong’, sedangkan Kouw Tauw-to hanya berlagak jatuh.

“Maaf, Kouw Taysu,” katanya sambil mengangsurkan tangannya hendak membangunkan Hoan Yauw. Namun begitu tangan menyentuh tangan, dia segera memijit Hwee-cong-hiat dan Thong-tie-hiat pada pergelangan tangan Kouw Tauw-to.

Tapi Hoan Yauw cukup hebat. Dia segera tahu bahwa rahasianya telah ketahuan. Dengan cepat dia menotok Hun-bun-hiat di punggung Ho Pit Ong supaya dalam tiga jam dia tidak mampu bergerak. Setelah Ho Pit Ong tak berdaya, dia tidak usah kuatir lagi sebab paling banyak dia harus melayani Lok Thung Kek seorang diri.

“Huh-huh!” dia tertawa dingin, “Lok Thung Kek, kau mau hidup atau mati? Sungguh besar nyalimu! Kau berani menculik selir Ong-ya.”

Hian-beng Jie-lo langsung tertegun. Selama belasan tahun mereka menganggap Kouw Tauw-to seorang gagu. Lok Thung Kek sudah lama mencurigainya, tapi dia belum pernah berpikir bahwa Hoan Yauw bukan seorang gagu. Dia mengerti bahwa sekarang dia berada dalam keadaan sangat berbahaya.

“Baru sekarang aku tahu bahwa Kouw Taysu bukanlah orang gagu,” katanya. “Perlu apa kau memperdayai orang selama belasan tahun?”

“Aku berlagak gagu atas perintah Ong-ya,” jawabnya. “Karena tahu hatimu bercabang, dia memerintahkan aku untuk mengamat-amati gerak gerikmu.”

Keterangan itu sebenarnya agak mustahil, tetapi Lok Thung Kek yang sudah kebingungan tidak bisa lagi menggunakan otaknya yang cerdas. Dia terkesiap dan badannya lemas.

“Apakah Ong-ya memerintahkan kau untuk menangkapku?” tanyanya. “Huh huh! Biar pun kau memiliki kepandaian tinggi, belum tentu kau bisa menangkap Lok Thung Kek.“ Seraya berkata begitu dia mengambil tongkatnya dan siap sedia untuk bertempur.

Hoan Yauw tertawa. “Lok Sian-seng,” katanya dengan suara mengejek. “Andai kata ilmu silat Kouw Tauw-to tidak sanggup menandingi kau, itu belum seberapa. Apa bila kau mau merobohkan aku, paling sedikit kau harus berkelahi seratus atau bahkan dua ratus jurus. Memang tidak terlalu sukar bagimu untuk mengalahkan aku. Tapi jangan harap kau bisa membawa lari Han-kie dan menolong Sute-mu.”

Lok Thung Kek mengawasi adik seperguruannya dengan sorot mata berduka. Sedari muda mereka belajar silat bersama dan puluhan tahun mereka belum pernah terpisahkan. Mereka berdua tidak menikah dan di dunia ini, tak ada orang yang lebih dicintainya seperti terhadap adik seperguruan ini. Maka biar bagaimana pun juga dia tak akan bisa melarikan diri seorang diri dengan meninggalkan Ho Pit Ong. Melihat hati si kakek tergerak, Hoan Yauw segera memanggil Sun Sam Hwie dan Lie Sie Cui. Sesudah menutup pintu kamar, dia berkata,

“Lok Sian-seng, urusan ini belum keluar. Kouw Tauw-to bersedia melindungi kau.”

Bagaikan kilat Hoan Yauw cepat menotok Ah-hiat (hiat gagu) dan Joan-ma-hiat (hiat yang membuat badan lemas) Sun Sam Hwie dan Lie Sie Cui. Sesudah itu dia berkata perlahan,

“Kau sendiri tentu tak akan membocorkan rahasia ini, sedangkan Sute-mu pasti takkan mau mencelakakan kau. Kouw Tauw-to berlagak gagu dan dia akan tetap berlagak gagu. Kedua sahabat itu pun takkan menjadi rintangan, Kouw Tauw-to akan menotok Sie-hiatnya untuk menutup mulutnya.”

Sun Sam Hwie dan Lie Sie Cui terkejut bukan kepalang. Mereka tak nyana bahwa urusan makan daging anjing akan berbuntut demikian hebat. Mereka ingin minta dikasihani tetapi mereka tidak bisa diajak bicara sama sekali.

Sambil menunjuk kepada Han-kie, Hoan Yauw lalu berkata lagi. “Mengenai wanita cantik itu lolap hendak mengusulkan dua jalan. Pertama mencuci tangan bersih. Kita membawa dia dan kedua sahabat itu ke tempat sepi lalu membunuh mereka. Aku akan melaporkan pada Ong-ya bahwa Han-kie main gila dengan Lie Sie Cui yang tampan dan mereka mencoba melarikan diri. Tapi mereka berpapasan dengan Kouw Tauw-to yang dalam kemarahannya membunuh mereka. Kalau mau, boleh kita mengampuni jiwa Sun Sam Hwie. Jalan kedua, kau membawa lari Han-kie dan menyembunyikan dia di suatu tempat aman. Apakah kau berhasil atau tidak bukan urusanku.”

Tanpa terasa Lok Thung Kek menoleh lalu mengawasi Han-kie. Si cantik balas mengawasi dengan sorot mata memohon. Dia mengerti bahwa Han-kie ingin mengambil jalan kedua. Melihat kecantikan wanita itu, dia merasa tidak tega untuk membunuhnya.

“Terima kasih atas maksudmu yang baik,” katanya. “Tapi apakah yang kau inginkan dariku?” Dia tahu bahwa Kouw Tauw-to mempunyai sesuatu untuk diajukan kepadanya. Tanpa mengharap balasan budi, si pendeta pasti tak gampang mau menyudahi urusan ini.

“Permintaanku sangat sederhana,” jawab Hoan Yauw. “Ciang-bun-jin Go-bi-pay, Biat-coat Suthay adalah isteriku sedangkan si nona she Ciu itu adalah anak kami berdua. Aku ingin minta obat pemunah Sip-hiang Joan-kin-san untuk menolong mereka supaya mereka bisa melarikan diri. Nanti akulah yang akan bertanggung-jawab di hadapan Kuncu. Apa bila aku melibatkan kau, biarlah semua anggota keluarga Kouw Tauw-to dengan Biat-coat Suthay menjadi manusia hina dina yang binasa secara mengerikan dan tidak bisa terlahir lagi ke dunia.”

Hoan Yauw telah memperhitungkan bahwa sebagai orang yang suka bercinta, Lok Thung Kek tentu akan percaya jika dia mengarang cerita berdasarkan percintaan. Dia amat membenci Biat-coat Suthay sebab telah mendengar keterangan Yo Siauw bahwa pendeta wanita itu sudah membinasakan banyak anggota Beng-kauw. Itulah sebabnya kenapa dia tidak merasa sungkan untuk mengarang cerita yang tidak-tidak, yang menodai nama baik Biat-coat. Mengenai sumpah, dia sama sekali tidak menghiraukan sumpah.

Di dalam hal ini orang harus ingat bahwa Hoan Yauw masih memiliki sifat yang sesat dan dia dapat melakukan perbuatan yang biasanya tak akan diperbuat oleh tokoh-tokoh rimba persilatan.

Lok Thung Kek terkejut mendengar keterangan itu, tetapi sesaat kemudian dia tersenyum. Perbuatan yang diakui Kouw Tauw-to dianggapnya sebagai perbuatan lumrah. Walau pun berbahaya, dia menganggap menukar obat pemunah dengan wanita cantik ada harganya juga.

“Kalau begitu menculik selir Ong-ya lantas menaruhnya di dalam kamarku juga perbuatan Kouw Taysu, bukan?” tanyanya.

“Kau memberi aku obat, aku membalasnya dengan Han-kie,” jawabnya. “Mulai sekarang kita bersahabat untuk selama-lamanya.”

Lok Thung Kek menjadi girang. Mendadak dia mendapat satu ingatan dan bertanya, “Tapi cara bagaimana Sute-ku bisa kena Sip-hiang Joan-kin-san? Dari mana kau mendapatkan racun itu?”

“Gampang sekali,” jawabnya. “Racun itu disimpan oleh Sute-mu dan Sute-mu suka minum arak. Sesudah dia mabuk, apa kau kira Kouw Tauw-to masih tidak mampu mencuri racun itu?”

Sekarang Lok Thung Kek tidak ragu lagi. “Baiklah. Kouw Taysu,” katanya. “Kami berdua akan mengikat tali persahabatan denganmu. Aku tidak akan menjual kau tapi kuharap kau pun jangan memasang jebakan lain yang sehebat ini.”

Hoan Yauw tertawa. Sambil menunjuk Han-kie dia pun berkata, “Lain kali kalau ada wanita secantik dia, kuharap Lok Sian-seng suka memasang jaring supaya aku terjaring di dalam jaring bahagia.”

Mereka tertawa terbahak, tetapi masing-masing mempunyai perhitungan sendiri. Diam-diam Lok Thung Kek memikirkan daya untuk menyembunyikan Han-kie dan setelah itu dia akan berusaha membinasakan si Tauw-to jahat. Di lain pihak Hoan Yauw maklum bahwa biar pun sekarang Lok Thung Kek tunduk, namun begitu dia sudah menyembunyikan Han-kie di tempat yang aman, tentu Hian-beng Jie-lo akan membuat perhitungan dengannya. Tetapi pada waktu itu rombongan keenam partai sudah tertolong dan dia sendiri sudah menyingkir ke tempat lain.

Sementara itu Lok Thung Kek tidak segera mengeluarkan obat pemunah melainkan malah mengkhayal. Hoan Yauw tidak mau mendesak terlalu keras sebab bila dia berbuat begitu tentu si kakek akan curiga. Dia duduk dan berkata,

“Lok-heng, mengapa kau tidak segera membuka jalan darah Han-kie? Ayolah! Untuk merayakan keberuntunganmu, kita boleh minum beberapa cawan arak. Di bawah cahaya lampu, ada arak, nona cantik apa lagi yang mau dicari oleh seorang manusia yang hidup di dunia ini?”

Ketika Hoan Yauw sedang bicara, si kakek mengasah otaknya. Ban-hoat-si adalah tempat ramai, kalau Han-kie kelamaan berada di kamar akan berbahaya. Dia segera mengeluarkan tongkatnya dan mencabut salah satu cabang tanduk menjangan. Kemudian dia mengambil cawan dan menuang sedikit bubuk obat ke dalam cawan itu.

“Kouw Taysu,” katanya. “Siasatmu amat hebat dan aku menyerah kalah. Ambillah obat ini.”

Hoan Yauw menggelengkan kepala. “Begitu sedikit?” katanya. “Mana cukup?”

“Obat ini lebih dari cukup,” kata Lok Thung Kek. “Jangankan dua orang, enam tujuh orang masih bisa ditolong.”

“Mengapa kau begitu pelit?” kata Hoan Yauw, “Apa halangannya kalau kau memberi lebih banyak? Untuk berterus terang, aku kuatir diperdayai olehmu karena kau sangat licin dan cerdik.”

Karena penolakan itu Lok Thung Kek menjadi curiga. “Kouw Taysu, apakah orang yang hendak kau tolong bukan hanya Biat-coat dan puterimu?” tanyanya.

Baru saja Hoan Yauw hendak memberi keterangan, di luar rumah terdengar suara ramai-ramai dan langkah kaki tujuh delapan orang.

“Tapak kakinya terlihat di sini,” kata seseorang. “Apakah mungkin Han-kie dibawa ke Ban-hoat-si?”

Muka Lok Thung Kek berubah pucat. Dia segera memasukkan cangkir obat ke dalam sakunya. Dia menduga bahwa Kouw Tauw-to sudah menyiapkan orang dan begitu dia menyerahkan obat itu, si pendeta akan turun tangan. Hoan Yauw menggoyang-goyangkan tangannya. Ia mengambil selembar seprei kemudian menyelimuti seluruh tubuh Han-kie dan menutup kelambu.

“Lok Sian-seng! Apakah Lok Sian-seng ada?” demikian terdengar suara seruan orang.

Hoan Yauw menunjuk mulutnya. Dengan isyarat itu dia hendak mengatakan bahwa karena dia dikenal sebagai seorang gagu, maka dia tidak dapat memberi jawaban dan biarlah Lok Thung Kek yang menjawab.

“Ada apa?!” bentak si kakek.

“Salah seorang selir Ong-ya diculik orang,” jawabnya. “Tapak kaki penculik diikuti sampai di sini.”

Lok Thung Kek menatap muka Hoan Yauw dengan sorot mata marah. Hoan Yauw malah tersenyum dan dengan gerakan-gerakan tangan dia menyilakan Lok Thung Kek mengusir orang-orang itu.

“Jangan bikin ribut di sini!” bentak Lok Thung Kek. “Carilah ke tempat lain!”

Dia seorang berkepandaian tinggi dan berkedudukan tinggi, maka sangat disegani. Orang-orang itu tidak berani bersuara lagi lantas berpencar untuk menggeledah berbagai pelosok kelenteng Ban-hoat-si.

KENCAN DI KEDAI ARAK

Lok Thung Kek mengerti bahwa sesudah terjadi peristiwa itu pasti Ban-hoat-si akan dijaga ketat sehingga usaha membawa Han-kie keluar kelenteng hampir tidak bisa dilakukan lagi. Alisnya berkerut dan kedua matanya mengawasi Hoan Yauw dengan sorot benci. Mendadak Hoan Yauw teringat sesuatu.

“Lok-heng,” bisiknya, “Di Ban-hoat-si ada sebuah tempat yang cukup aman untuk sementara waktu menyembunyikan kesayanganmu. Satu dua hari kemudian, sesudah penjagaan agak kendor, kita bisa berusaha lagi.”

“Paling aman di kamarmu sendiri!” kata si kakek dengan marah.

Hoan Yauw tertawa. “Apakah Lok-heng benar-benar rela menyerahkan wanita yang begitu cantik kepadaku?” tanyanya dengan nada mengejek.

“Di mana tempat itu?!” bentak si kakek.

Hoan Yauw tersenyum kemudian menuding puncak menara. Sebagai orang yang cerdas, Lok Thung Kek lantas bisa melihat tepatnya usul itu. Dia mengacungkan jempol sambil memuji.

“Bagus!”

Sebagaimana diketahui, menara itu merupakan penjara rombongan keenam partai. Secara kebetulan Cong-koan (pengurus) penjara adalah Yu Liong Cu, murid kepala si kakek. Orang bisa mencurigai tempat lain, tetapi orang tak akan mimpi bahwa selir Ong-ya disembunyikan di puncak menara yang terjaga ketat.

“Orang-orang itu telah pergi ke tempat lain,” bisik Hoan Yauw. “Kita harus cepat bertindak.“ Ia segera mengikat empat sudut seprei sehingga tubuh Han-kie merupakan bungkusan besar. Ia mengangkat bungkusan itu dan mengangsurnya kepada Lok Thung Kek.Hoan Yauw mengerti, “Jika mau menolong orang harus menolong sampai akhir,” katanya, “Baiklah! Aku akan menolong kau dan kau akan menyerahkan obat kepadaku.”

Seraya berkata demikian dia mengangkat bungkusan itu lalu menaruhnya di atas pundak.

“Kau harus menjaga baik-baik,” bisiknya. “Jika ada yang coba menahan, binasakan saja.”

Lok Thung Kek manggutkan kepala dan segera keluar lebih dulu. Hoan Yauw turut keluar dan sesudah merapatkan pintu, sambil memanggul Han-kie dia berjalan ke arah menara.

Waktu itu kira-kira sudah jam sembilan malam. Kecuali sejumlah pengawal yang menjaga di luar menara, di pekarangan kelenteng tidak terdapat manusia lain. Melihat Kouw Tauw-to dan Lok Thung Kek, para pengawal cepat memberi hormat dengan membungkuk dan membuka jalan. Sebelum tiba di pintu, Yu Liong Cu yang mendapat berita dari bawahannya sudah keluar menyambut dan berkata dengan suara girang,

“Suhu! Mari masuk!”

Lok Thung Kek mengangguk dan bersama Kouw Tauw-to, dia lantas menuju pintu. Mendadak pintu menara terbuka dan dari dalam keluar seseorang yang tidak lain adalah Tio Beng! Lok Thung Kek terkesiap. Dia tidak pernah menduga secara kebetulan majikannya berada di menara. Sambil menengok ke Yu Liong Cu, Tio Beng berkata sambil tertawa,

“Gurumu mempunyai seorang murid yang amat baik. Karena hanya ingat menyambut guru, kau tidak peduli lagi kepadaku.”

Yu Liong Cu cepat membungkuk. “Siauw-jin tidak tahu akan kedatangan Kuncu,” katanya. “Untuk kelalaian itu mohon Kuncu sudi memaafkan.”

“Penjagaanmu sangat memuaskan,” kata si nona. “Kurasa Beng-kauw tak akan gampang turun tangan.”

Tio Beng tidak tahu bahwa orang Beng-kauw yang datang ke kota raja hanya tiga orang. Setelah Bu Kie mengacau, dia merasa kuatir kalau-kalau Beng-kauw akan menyatroni lagi dengan rombongan besar. Oleh sebab itu Tio Beng sering datang sendiri ke menara untuk memeriksa penjagaan. Dia merasa amat puas karena penjagaan sangat rapi dan di setiap lantai ditaruh dua orang yang berkepandaian tinggi. Dia menengok pada Kouw Tauw-to dan tersenyum,

“Kouw Tauw-to,” katanya, “Aku justru sedang mencari kau.”

Kouw Tauw-to manggut-manggutkan kepalanya.

“Aku mau minta kau mengantar aku ke satu tempat,” kata si nona pula.

Hoan Yauw mengeluh di dalam hati. Dia sudah berhasil menipu Lok Thung Kek dan obat pemunah sudah berada di depan mata, siapa sangka Tio Beng datang mengacau. Dia mau menolak tapi dalam peranan sebagai orang gagu dia tidak boleh bicara. “Biarlah si tua bangka yang menolong aku,” pikirnya. Dia mengangkat buntalan kemudian mengangsurkannya ke Lok Thung Kek.

Si kakek terkejut.

“Lok Sian-seng,” kata Tio Beng, “Apa isi buntalan itu?”

“Oh...” jawabnya tergugu, “Kasur Kouw Taysu.”

“Kasur? Perlu apa Kouw Taysu membawa kasur kemari?” Ia tertawa dan berkata lagi. “Kouw Taysu menganggap aku terlampau bodoh sehingga tak sudi menerima aku sebagai muridnya. Sekarang dia sampai harus membawa kasur sendiri.”

Hoan Yauw menggeleng-gelengkan kepala sambil menggerak-gerakkan tangan kanannya. “Biar si tua itu yang mencari jalan keluar,” katanya dalam hati. “Huh-huh... inilah enaknya menjadi seorang gagu.”

Tio Beng tidak mengerti gerakan tangan itu dan dia mengawasi Lok Thung Kek. Si kakek cukup hebat, dalam sekejap saja dia sudah memikirkan jawaban yang bagus.

“Sebagaimana Cu-jin ketahui, beberapa siluman telah datang mengacau,” katanya. “Kami kuatir... kuatir mereka menyatroni lagi untuk menolong tawanan itu. Maka kami berdua sudah mengambil keputusan hendak bermalam di sini guna menjaga diri. Kasur itu adalah kasurnya Kouw Taysu.”

Tio Beng amat girang. “Sesungguhnya aku sendiri memang ingin sekali minta bantuan Lok Sian-seng dan Kouw Taysu menjaga menara ini,” katanya sambil tertawa, “Tapi aku belum berani buka mulut sebab menganggap bahwa dengan minta begitu maka aku minta terlalu banyak. Aku sungguh merasa girang bahwa tanpa diminta kalian berdua sudi mengeluarkan tenaga demikian besar. Kouw Taysu, dengan adanya Lok Sian-seng, kurasa kawanan siluman tak akan berani mengacau. Biarlah kau sendiri ikut aku.“ Seraya berkata demikian dia memegang tangan Hoan Yauw.

Hoan Yauw tidak bisa meloloskan diri lagi. Kini jalan satu-satunya hanyalah menyerahkan buntalan itu kepada Lok Thung Kek yang segera menyambutnya.

“Baiklah aku menunggu kau di menara,” kata si kakek.

“Suhu, mari teecu yang membawanya,” kata Yu Liong Cu.

“Tak usah,” kata sang guru sambil tertawa. “Aku ingin mengambil hati Kouw Taysu. Tugas ini harus dipanggul olehku sendiri.”

Di dalam hati Hoan Yauw mengutuk si kakek. Tiba-tiba dia menepuk bungkusan itu. Baiknya Han-kie sudah tertotok jalan darahnya sehingga tepukan itu tidak mengakibatkan teriakan. Tetapi Lok Thung Kek sudah ketakutan setengah mati. Dia tidak berani bercanda lagi dan setelah membungkuk kepada majikannya dia segera melangkah masuk.

Diam-diam dia sudah memperhitungkan tindakannya. Begitu tiba di atas menara, dia akan mengeluarkan Han-kie dari bungkusannya dan membungkus sebuah kasur dengan seprei itu. Andai kata Kouw Tauw-to mengadu kepada Tio Beng, biar pun mesti mati dia tak akan mengaku.

Dengan rasa bingung dan heran Hoan Yauw mengikuti Tio Beng keluar dari Ban-hoat-si. Ke mana nona itu hendak mengajaknya pergi? Sambil mengenakan tudung yang semula tergantung di punggungnya Tio Beng berbisik,

”Kouw Taysu, mari kita menemui si bocah Bu Kie.”

Hoan Yauw terkejut dan melirik si nona. Dia mendapat kenyataan bahwa muka nona Tio Beng bersemu dadu, sikapnya malu-malu bercampur girang. Hati Hoan Yauw jadi lega. Dia lantas ingat pertemuan malam itu di Ban-hoat-si antara kedua orang muda itu. Cara-cara mereka bukan seperti musuh besar. Tiba-tiba dia sadar.

“Aha!” serunya dalam hati, “Mungkin sekali Kuncu mencintai Kauwcu.“ Sejenak kemudian dia berpikir, “Tetapi... tetapi mengapa dia mengajak aku dan bukan Hian-beng Jie-lo yang menjadi orang kepercayaannya? Ahh... aku tahu. Aku gagu dan tidak bisa membocorkan rahasia. Ya! Itulah sebabnya.“ Setelah berpikir begitu dia manggut-manggutkan kepalanya dan tersenyum.

“Mengapa kau tertawa?” tanya si nona.

Kouw Tauw-to menggerak-gerakkan kedua tangannya dalam isyarat bahwa biar pun harus masuk ke sarang harimau dia akan turut serta dan melindungi keselamatan si nona. Tanpa buka suara lagi Tio Beng berjalan mengikuti si gagu. Tidak lama kemudian mereka tiba di depan penginapan Bu Kie.

“Kuncu benar-benar hebat,” pikir Hoan Yauw, “Dia sudah tahu tempat penginapan Kauwcu.”

Mereka segera masuk ke dalam. “Kami hendak bertemu dengan seorang tamu she Can,” kata Tio Beng kepada pengurus hotel. Si nona tahu bahwa di dalam rumah penginapan itu Bu Kie menggunakan nama ‘Can Ah Gu’.

Seorang pelayan masuk ke dalam untuk memberi-tahu Bu Kie. Pemuda itu sedang bersemedi sambil menunggu tanda api di kelenteng Ban-hoat-si. Mendengar kedatangan seorang tamu, dia merasa heran dan segera pergi ke ruangan tengah. Begitu melihat Tio Beng dan Hoan Yauw, dia menjadi kaget sekali.

“Celaka!” dia mengeluh. “Mungkin rahasia Hoan-yusu bocor dan Tio-kouwnio datang untuk berhitungan denganku.“ Ia menyoja dan berkata,

“Maaf! Karena tidak tahu Kouwnio datang berkunjung aku tidak keburu menyambut.”

Tio Beng balas memberi hormat. “Tempat ini bukan tempat bicara,” katanya dengan suara perlahan. “Mari kita pergi ke rumah makan kecil untuk minum tiga cawan arak.”

Tio Beng berjalan lebih dahulu. Di seberang rumah penginapan lewat lima rumah terdapat sebuah rumah makan kecil dengan hanya beberapa meja kayu. Karena sudah malam, di rumah makan itu tidak terdapat tamu lain. Tio Beng segera memilih sebuah meja di ruang tengah dan duduk berhadapan dengan Bu Kie.

Hoan Yauw tertawa dalam hati. Ia menggerak-gerakkan kedua tangannya memberi isyarat bahwa ia ingin minum arak di ruangan depan. Tio Beng segera manggutkan kepala. Sesudah Kouw Tauw-to keluar barulah si nona memanggil pelayan dan memesan tiga kati daging kambing serta dua kati arak putih.

Bu Kie merasa amat heran. Nona ini bagaikan pohon bercabang emas dan berdaun giok. Kenapa dia mengajaknya makan minum di rumah makan yang kecil dan kotor? Apa maksudnya? Sementara itu si nona sudah mengisi dua cawan arak. Sesudah meneguk salah sebuah cawan, dia berkata sambil tertawa,

“Nah! Arak ini tidak beracun. Kau boleh minum dengan hati lega!” Seraya berkata dia menaruh cawan yang isinya sudah dia cicipi di depan Bu Kie.

“Ada urusan apa maka nona mengajak aku kemari?” tanya Bu Kie.

“Minum dahulu tiga cawan barulah kita bisa bicara,” jawabnya. “Untuk kehormatanmu, aku minum lebih dahulu.“ Dia mengangkat dan mengeringkan isi cawannya.

Bu Kie pun segera mengangkat cawannya. Tiba-tiba hidungnya mencium bau yang sangat harum. Di bawah sinar lampu samar-samar dia melihat tapak bibir yang berwarna merah pada pinggir cawan. Dan wangi harum itu, dari Yanciekah? Dari badan si nonakah? Hatinya berdebar-debar tetapi dia segera meneguk cawannya.

“Kita minum dua cawan lagi,” kata Tio Beng. “Aku tahu kau selalu curiga padaku. Maka itu isi setiap cawan akan lebih dahulu kucicipi.”

Bu Kie bungkam. Di dalam hatinya dia memang merasa jeri terhadap nona Tio yang mempunyai banyak akal bulus. Dia merasa senang bahwa setiap cawan yang disuguhkan kepadanya akan diminum lebih dahulu oleh si nona sehingga dengan begitu dia tidak usah menempuh bahaya. Akan tetapi minum arak yang telah diteguk seorang wanita mengakibatkan perasaan yang sulit dilukiskan dalam hatinya. Ketika ia mengangkat muka, ternyata si nona sedang mengawasi dengan bibir menyungging senyum dan pipi berwarna dadu. Buru-buru Bu Kie melengos.

“Thio-kauwcu,” kata Tio Beng dengan suara pelan, “Apa kau tahu siapa sebenarnya aku?”

Bu Kie menggelengkan kepala.

“Hari ini aku akan terus terang padamu,” katanya. “Ayahku adalah Jie Lam Ong yang berkuasa atas seluruh angkatan perang kerajaan. Aku wanita Mongol, namaku Ming Ming Temur. Tio Beng adalah nama Han yang kupilih. Hong-siang telah menganugerahkan aku gelar Siauw-beng Kuncu.”

Kalau bukan sudah diberi-tahu oleh Hoan Yauw, tentu Bu Kie akan kaget. Bahwa si nona sudah bicara terus terang adalah sangat luar biasa. Sebagai manusia yang tidak bisa berpura-pura si pemuda tidak menunjukkan rasa kaget.

Tio Beng heran, “Mengapa kau tenang saja?” tanyanya. “Apa kau sudah tahu?”

“Bukan,” sahutnya. “Tapi sejak awal aku sudah menduga. Kau seorang wanita muda belia tetapi kau dapat menguasai tokoh-tokoh ternama di rimba persilatan. Sejak awal aku menduga bahwa kau bukan sembarang orang.”

Nona Tio meng-usap cawan arak. Untuk beberapa saat dia tidak mengeluarkan sepatah katapun. Akhirnya dia berkata dengan suara perlahan,

“Thio-kongcu, aku ingin mengajukan sebuah pertanyaan dan kuharap kau suka menjawabnya setulus hati. Bagaimana sikapmu apa bila aku membunuh Ciu-kouwnio?”

“Ciu-kouwnio tidak berdosa padamu,” jawabnya dengan suara heran. “Mengapa kau mau membunuhnya?”

“Jika ada orang yang tidak kusuka maka aku segera membunuh mereka,” kata si nona. “Apa kau kira aku hanya membunuh orang yang berdosa terhadapku? Ada manusia yang berdosa padaku tetapi aku tidak membunuh mereka. Seperti kau sendiri, apakah dosamu terhadapku belum cukup besar?” Sambil berkata begitu sinar matanya menunjukkan sinar bercanda.

Bu Kie menghela napas panjang. “Tio-kouwnio,” katanya. “Aku berdosa kepadamu karena terpaksa. Bagaimana pun aku tak akan pernah melupakan budimu menolong Sam-supek dan Liok-susiokku.”

Tio Beng tertawa lantas berkata, “Kau seorang yang berotak miring. Jie Thay Giam dan In Lie heng terluka karena perbuatan orang-orangku. Tapi kau bukan saja tidak menyalahkan aku bahkan kau menghaturkan terima kasih.”

“Sam-supek terluka kira-kira dua puluh tahun yang silam. Pada waktu itu kau belum lahir,” kata Bu Kie.

“Tapi biar bagaimana pun juga orang-orang itu adalah kaki tangan ayahku. Kalau mereka adalah kaki tangan ayahku maka mereka pun menjadi kaki tanganku,” kata si nona. “Ahh! Kau mencoba menyimpang dari pokok pembicaraan. Aku tanya, jika aku membunuh Ciu-kouwnio, apakah engkau akan membunuhku untuk membalas sakit hati?”

Bu Kie berpikir sejenak. “Aku tidak tahu,” jawabnya.

“Mengapa tidak tahu?” desak si nona. “Kau tidak mau bicara terus terang, bukan?”

“Ayah dan ibuku mati karena didesak orang,” kata Bu Kie dengan suara berduka. “Hari itu di gunung Bu-tong-san, di depan jenazah kedua orang tuaku, aku telah bersumpah bahwa di kemudian hari sesudah aku besar aku akan membalas sakit hati. Aku masih ingat muka orang-orang Siauw-lim, Go-bi, Kun-lun dan Khong-tong-pay yang waktu itu berada di Bu-tong. Waktu aku masih kecil hatiku penuh dengan kebencian. Tapi sesudah aku besar, sesudah aku memperoleh lebih banyak pengetahuan, sakit hatiku kian lama kian berkurang.

Pada hakekatnya aku tidak tahu siapa yang sebenarnya sudah mencelakai kedua orang tuaku. Aku tidak boleh menuduh Khong-tie Siansu, Thie-khim Sian-seng dan tokoh-tokoh lain. Aku tidak boleh menuduh kakek atau pamanku (In Ya Ong), bahkan aku tidak pantas menuduh orang-orangmu seperti A Toa, A Jie, Hian-beng Jie-lo dan yang lainnya. Selama beberapa hari aku merenungkan hal itu di dalam pikiranku. Apa bila manusia tidak saling bunuh, apa bila semua manusia hidup damai dan bersahabat, bukankah kehidupan akan menjadi lebih berarti dari pada sekarang ini?”

Pikiran itu sudah lama berada dalam otaknya tapi sebegitu jauh belum pernah diutarakan kepada orang lain. Malam itu entah mengapa dia membuka isi hatinya kepada Tio Beng di rumah makan kecil itu. Sesudah bicara dia sendiri malah merasa heran kenapa dia bicara begitu. Tio Beng tahu bahwa Bu Kie bicara sungguh-sungguh.

“Hatimu sungguh mulia,” katanya sesudah berdiam beberapa saat. “Manusia semacam aku tidak bisa berbuat seperti kau. Bila mana ada orang membinasakan ayah dan kakakku, bukan saja aku akan menumpas keluarganya tapi bahkan membasmi sahabat-sahabat dan kenalan-kenalannya.”

“Aku pasti akan merintangi.”

“Mengapa begitu?”

“Karena lebih banyak kau membunuh manusia, lebih besar dosamu dan lebih berbahaya keadaanmu. Tio-kouwnio, katakanlah terus terang, apa kau pernah membunuh orang?”

“Sampai sekarang, belum. Tapi sesudah aku lebih tua, aku akan membunuh banyak sekali manusia. Leluhurku adalah Kaisar Genghiz Khan, Kubilai Khan dan yang lain. Sayangnya aku seorang wanita. Kalau aku lelaki... huh huh! Aku pasti akan melakukan sesuatu yang maha besar.“ Dia menuang arak ke cawannya lalu meneguk isinya. Setelah itu dia tertawa dan berkata lagi, “Thio-kongcu, kau belum menjawab pertanyaanku.”

“Kalau kau membunuh Ciu-kouwnio atau salah seorang sahabatku maka aku tidak akan mau menganggapmu sebagai sahabat lagi,” jawabnya. “Aku tidak mau bertemu muka lagi selama-lamanya dan jika bertemu juga aku takkan mau bicara lagi denganmu.”

“Kalau demikian sekarang kau menganggapku sebagai sahabatmu, bukan?” tanya si nona dengan suara dingin.

“Andai kata aku membencimu, tentu aku sungkan untuk minum bersamamu di tempat ini,” sahutnya. “Hai...! Aku merasa sangat sukar untuk membenci orang. Di dunia ini, manusia yang paling kubenci adalah Hun-goan Pek-lek-chiu Seng Kun. Tapi sesudah dia mati, aku berbalik merasa kasihan di dalam hati, seolah-olah aku berharap supaya dia tidak mati.”

“Bagaimana perasaanmu andai kata besok aku mati?” tanya Tio Beng. “Di dalam hatimu kau tentu berkata: ‘Terima kasih kepada Langit dan Bumi, musuh yang kejam kini sudah mampus sehingga aku boleh tidak usah terlalu pusing’. Kau tentu berpikir begitu bukan?”

“Tidak! Tidak begitu! Aku sama sekali tidak mengharapkan kematianmu. Tidak! Wie Hok-ong hanya me-nakuti kau, mengancam untuk menggores mukamu. Bicara terus terang, aku merasa sangat kuatir. Tio-kouwnio, kuharap kau tidak menyulitkan lebih lama. Harap lepaskan tokoh-tokoh keenam partai itu dan marilah kita hidup dengan damai. Bukankah kehidupan begitu lebih bahagia dari pada bermusuhan yang berlarut-larut?”

“Bagus! Aku pun mengharapkan itu. Kau seorang Kauwcu dari Beng-kauw. Perkataanmu berharga bagaikan emas. Pergilah kau memberi-tahu mereka supaya mereka semua suka mengabdi kepada kerajaan. Ayahku akan melaporkan kepada Hong-siang supaya mereka diberi anugerah.”

Bu Kie menggelengkan kepalanya dan berkata dengan suara perlahan, “Kami bangsa Han mempunyai suatu tekad. Tekad itu adalah mengusir kekuasaan Mongol dari bumi bangsa kami.”

Tiba-tiba saja si nona bangkit. “Apa?!” tegasnya. “Kau berani mengeluarkan kata-kata itu? Apakah itu bukan berarti pemberontakan?”

“Aku memang sudah memberontak,” jawabnya. “Apa kau belum tahu?”

Lama sekali si nona menatap wajah Bu Kie. Perlahan-lahan sinar kemarahan menghilang dari paras wajahnya lantas berganti menjadi sinar kedukaan dan putus harapan. Perlahan-lahan dia duduk kemudian berkata dengan suara parau,

“Aku sudah tahu. Aku hanya ingin mendengar kepastian dari mulutmu sendiri.”

Bu Kie berhati lemah. Melihat kedukaan si nona dia terus merasa berduka. Kalau bisa dia bersedia untuk menuruti segala kemauan nona Tio. Tetapi urusan itu adalah urusan nusa dan bangsa, maka dia harus tetap kokoh pada pendiriannya. Bu Kie tidak tahu bagaimana caranya menghibur Tio Beng, maka dia membungkam saja sambil menundukkan kepala. Berselang beberapa lama barulah dia berkata,

“Tio-kouwnio, sekarang sudah larut malam. Biarlah aku mengantar kau pulang.”

“Apakah kau tidak sudi menemani aku duduk-duduk di sini lebih lama lagi?”

“Bukan begitu! Kalau kau masih ingin minum dan bicara, aku bersedia untuk menemani terus.”

Tio Beng tersenyum, “Kadang kala aku melamun,” katanya. “Andai kata aku bukan orang Mongol, bukan seorang puteri pangeran tapi hanya seorang wanita Han biasa seperti Ciu-kouwnio, mana yang lebih cantik?”

Bu Kie terkejut. Dia tidak menyangka bahwa si nona bakal mengajukan pertanyaan seperti itu. Tapi hal ini tidak mengherankan. Tio Beng adalah seorang Mongol yang beradat polos. Tanpa merasa si pemuda mengawasi wajah si nona yang sangat ayu dan tanpa merasa pula dia berkata,

“Tentu saja kau lebih cantik.”

Mata Tio Beng bersinar girang. Dia sodorkan tangan kanannya dan mencekal tangan Bu Kie.

“Thio-kongcu apakah kau merasa senang jika kau sering-sering bertemu denganku?” tanyanya dengan suara lemah lembut. “Apa kau sudi datang pula kalau aku mengundang kau minum arak lagi di tempat ini?”

Jantung Bu Kie bergetar keras. Setelah menentramkan hatinya dia menjawab, “Aku tidak bisa berdiam lama-lama di sini, beberapa hari lagi aku harus pergi ke selatan.”

“Perlu apa kau pergi ke selatan?”

“Kurasa kau bisa menebak sendiri. Kalau aku memberi-tahu maksudku kau tentu akan marah...”

Tio Beng memandang keluar jendela, menatap sang rembulan dengan sinarnya yang putih bagaikan perak. Mendadak dia berkata,

“Thio-kongcu, kau telah berjanji untuk melakukan tiga permintaanku. Apa kau masih ingat?”

“Tentu saja masih ingat. Nona boleh memberi-tahu dan dalam batas kemampuanku, aku akan melakukan perintahmu.”

Si nona menatap wajah Bu Kie dan berkata, “Kini aku baru mempunyai satu permintaan. Aku minta kau mengambil golok To-liong-to.”

Bu Kie mengerti bahwa permintaan yang diajukan Tio Beng pasti bukan permintaan yang mudah dilakukan. Tapi dia sama sekali tidak menduga bahwa permintaan pertama sudah begitu sukar. Melihat paras muka Bu Kie yang menunjukkan rasa susah hati, Tio Beng cepat bertanya,

“Bagaimana? Apakah kau tidak sudi melakukan permintaanku tadi? Apakah dilakukannya permintaan itu melanggar sifat ksatriaan di rimba persilatan?”

“Sebagaimana kau tahu, To-liong-to adalah pusaka milik ayah angkatku, Kim-mo Say-ong Cia-tayhiap. Tak dapat aku mengkhianati Gie-hu dan menyerahkan golok itu kepadamu.”

“Aku bukan menyuruhmu mencuri, merampas atau menipu. Aku pun bukan ingin memiliki golok itu. Aku hanya minta kau meminjamnya dari ayahmu dan memberikannya kepadaku agar aku bisa bermain-main dengan golok itu untuk satu jam lamanya. Sesudah satu jam tentu akan kukembalikan kepada Cia-tayhiap. Kalian berdua adalah ayah dan anak. Apa boleh jadi Cia-tayhiap tidak akan sudi meminjamkannya dalam jangka waktu hanya satu jam? Aku bukan ingin merampas harta benda atau membunuh manusia. Apakah hal itu melanggar ksatriaan dalam rimba persilatan? Meski pun namanya tersohor tetapi To-liong-to sebenarnya tidak terlalu luar biasa, hanya lebih berat dan lebih tajam dari golok biasa.

Di rimba persilatan terdapat kata-kata sebagai berikut: Bu lim cie cun, po to to liong, hauw leng thian hee boh kam put ciong, ie thian put cut, swee ie ceng hong (yang termulia dalam rimba persilatan, golok mustika membunuh naga, perintahnya di kolong langit tiada manusia yang berani tidak menurut, kalau ie thian tidak keluar, siapa yang dapat melawan ketajamannya). Ie-thian-kiam yang berada di tanganku terlihat seperti To-liong-to. Jika kau tidak percaya padaku untuk melihat golok mustika itu, kau boleh berdiri di sampingku. Dengan memiliki kepandaian begitu tinggi kau tidak usah takut bahwa aku akan main gila terhadapmu.”

Mendengar keterangan itu, Bu Kie berpikir. Sesudah rombongan keenam partai tertolong, sesungguhnya dia juga ingin segera berangkat untuk mengajak ayah angkatnya pulang ke Tiongkok supaya orang tua itu bisa menduduki kursi Kauwcu. Kalau nona Tio hanya ingin melihat-lihat golok itu dalam waktu satu jam, walau pun dia mau main gila namun dengan penjagaan yang hati-hati mungkin takkan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Dia ingat bahwa menurut ayah angkatnya dalam golok itu tersembunyi rahasia pelajaran ilmu silat yang amat tinggi. Ayah angkatnya telah mendapatkan To-liong-to sebelum kedua matanya buta. Tapi sebegitu lama orang tua yang berotak sangat cerdas itu masih belum dapat memecahkan rahasia tersebut. Karena itu dalam waktu satu jam nona Tio rasanya takkan bisa berbuat banyak.

Selain itu ayah angkatnya dan dia sudah berpisah kurang lebih sepuluh tahun. Barang kali dalam sepuluh tahun ayah angkat itu telah berhasil menembus tabir rahasia dari To-liong-to. Melihat Bu Kie belum juga menjawabnya, Tio Beng tertawa.

“Kau tidak sudi meluluskan?” tegasnya. “Terserah kepadamu, aku ingin mengajukan permintaan lain, permintaan yang lebih sukar.”

Bu Kie maklum bahwa Tio Beng pintar dan banyak akalnya. Apa bila nona itu mengajukan permintaan lain yang lebih sulit maka dia lebih takkan bisa memenuhi janji. Karena itulah buru-buru dia menjawab,

“Baiklah! Aku bersedia untuk meminjamkan To-liong-to padamu. Tapi kita berjanji pahit dulu, aku hanya meminjamkan dalam jangka waktu satu jam. Mana kala kau berani main gila, berani coba-coba untuk merampasnya, aku tentu takkan tinggal diam.”

“Akur! Aku tidak bisa bersilat dengan golok. Perlu apa aku menginginkan golok yang berat itu? Andai kata engkau menghadiahkannya kepadaku dengan segala kehormatan, belum tentu aku sudi menerimanya. Kapan kau mau berangkat untuk mengambilnya?”

“Dalam beberapa hari ini.”

“Bagus. Aku pun akan segera berkemas. Jika kau sudah menetapkan tanggalnya, harap kau segera memberi-tahu kepadaku.”

Bu Kie terkejut, “Kau mau ikut?” tanyanya.

“Tentu saja. Kudengar ayah angkatmu tinggal di sebuah pulau terpencil. Kalau orang tua itu tidak mau pulang, apakah kau mesti berlayar berlaksa li untuk mengambil golok itu dan menyerahkannya kepadaku untuk jangka waktu satu jam, kemudian kau harus melakukan perjalanan berlaksa li lagi untuk memulangkannya dan sesudah itu pulang ke Tiong-goan? Itu terlalu gila!”

Bu Kie manggut-manggutkan kepala. Pelayaran menyeberangi samudera penuh bahaya dan masih merupakan sebuah pertanyaan, apakah dia bisa mencapai pulau Peng-hwee-to atau tidak. Sekali jalan saja masih belum tentu, apa lagi sampai tiga kali. Perkataan Tio Beng mungkin sekali benar. Sesudah berdiam di pulau itu selama puluhan tahun, belum tentu juga ayah angkatnya mau pulang ke Tiong-goan. Sesudah berpikir beberapa saat, dia berkata,

“Angin dan ombak samudera tak mengenal kasihan. Perlu apa nona pergi menempuh bahaya itu?”

“Kalau kau boleh menempuh bahaya, mengapa aku tidak boleh?” si nona balas bertanya.

“Apakah ayahmu sudi meluluskan?”

“Ayah menyuruh aku memimpin jago-jago Kangouw dan selama beberapa tahun aku pergi ke berbagai tempat tanpa pengawalan ayah.”

Mendengar keterangan Tio Beng ‘ayah menyuruh aku memimpin jago-jago Kangouw’ tiba-tiba Bu Kie ingat sesuatu.

“Entah kapan aku bisa kembali dalam usaha menjemput Gie-hu,” pikirnya. “Jika dia berniat menggunakan siasat memancing harimau keluar dari gunung lalu dengan memakai kesempatan itu dia menyerang Beng-kauw besar-besaran, maka keadaan bisa menjadi berbahaya. Tapi kalau dia ikut aku maka kaki tangannya pasti tidak akan berani bergerak sembarangan.“ Sesudah berpikir demikian lantas dia mengangguk dan berkata,

“Baiklah, begitu aku sudah menetapkan tanggal keberangkatan, aku akan segera memberi-tahu kau.”

Sebelum habis dia bicara, dari jendela mendadak terlihat sinar api yang kemerah-merahan diikuti dengan teriak-teriakan di tempat jauh. Tio Beng melongok keluar.

“Celaka!” dia mengeluh. “Menara Ban-hoat-si kebakaran! Kouw Taysu! Kouw Taysu!” Dia berteriak berulang-ulang tetapi Kouw Tauw-to tidak muncul.

Dia segera menuju ke ruangan depan, namun bayangan pendeta itu ternyata sudah tidak kelihatan lagi. Menurut keterangan pengurus rumah makan, semenjak tadi Kouw Tauw-to sudah pergi, kira-kira dua jam. Bukan main herannya si nona, tetapi dia masih belum menduga bahwa si pendeta telah mengkhianatinya.

Sementara itu, pada waktu melihat sinar api berkobar-kobar di atas menara, Bu Kie menjadi kuatir akan keselamatan paman-pamannya serta tokoh-tokoh lain yang Iweekang-nya baru saja pulih kembali.

“Tio-kouwnio, aku tidak bisa menemani lebih lama lagi,” katanya. Seraya berkata begitu dia melompat ke luar jendela.

“Tunggu! Aku ikut!” seru si nona.

Tapi Bu Kie sudah hilang dari pandangan ketika dia keluar dari jendela.

RAHASIA IE-THIAN-KIAM DAN TO-LIONG TO

Sekarang marilah kita melihat Lok Thung Kek.

Sesudah Kuncu dan Kouw Tauw-to berlalu, dengan hati lega Lok Thung Kek memanggul Han-kie ke kamar Yu Liong Cu yang terletak di tengah-tengah lantai ke tujuh.

“Kau tunggu di luar, tak ada seorang pun yang boleh masuk ke sini,” kata si kakek kepada muridnya. Begitu Yu Liong Cu keluar, dia segera membuka bungkusan dan mengeluarkan Han-kie yang paras mukanya pucat dan sinar matanya menunjukkan duka besar.

“Setelah berada di sini, kau tak usah takut,” bujuk si kakek. “Kau pasti akan kuperlakukan dengan baik.”

Dia belum berani membuka jalan darah si cantik kuatir dia akan berteriak. Sesudah menaruh Han-kie di ranjang Yu Liong Cu, dia menurunkan kelambu kemudian mengambil kasur yang lalu dibungkus dengan seprei yang tadi membungkus tubuh si cantik. Dia menaruh bungkusan itu di samping ranjang. Lok Thung Kek adalah orang yang sangat berhati-hati. Buru-buru dia keluar dari kamar dan memesan Yu Liong Cu bahwa tak seorang pun boleh masuk ke dalam kamar itu. Dia tahu muridnya sangat taat kepadanya dan pesan itu pasti takkan dilanggar. Setelah beres menyembunyikan Han-kie, dia lalu memikirkan tindakan selanjutnya.

“Kalau aku mau Kouw Tauw-to menutup mulut, aku harus membalas budi kepadanya,” pikirnya. “Jalan satu-satunya adalah melepaskan si nenek kecintaannya serta anak perempuannya. Untunglah bahwa Kauwcu Mo-kauw telah mengacau di sini dan pengacau itu ada sangkut pautnya dengan Ciu-kouwnio. Sesudah menolong mereka, aku dapat mengatakan bahwa kedua orang itu ditolong Kauwcu Mo-kauw. Kuncu pasti takkan curiga dan tak akan menyalahkanku sebab Kauwcu memang mempunyai kepandaian yang sangat tinggi.“

Sesudah mengambil keputusan, dia segera pergi ke kamar tahanan Biat-coat Suthay. Mengingat kedudukannya sebagai seorang Ciang-bun-jin dari suatu partai besar, Biat-coat ditahan sendirian di sebuah kamar, ada pun semua murid wanita Go-bi-pay ditahan di lantai empat. Lok Thung Kek memerintahkan penjaga supaya membuka pintu dan dia lantas masuk ke dalam. Ternyata pendeta wanita itu sedang bersemedi seraya memejamkan matanya.

“Biat-coat Suthay, apa kau baik?” tegur si kakek.

Perlahan-lahan Biat-coat membuka matanya. “Baik apa?” katanya dengan suara dongkol.

“Kau benar-benar keras kepala,” kata Lok Thung Kek. “Cu-jin mengatakan bahwa tak ada gunanya kau diberi hidup lebih lama lagi dan dia telah memerintahkan aku untuk mengirim kau ke dunia baka.”

“Baiklah,” kata si nenek dengan suara tawar. “Tetapi tidak perlu tuan turun tangan sendiri. Aku hanya ingin meminjam sebatang pedang pendek. Di samping itu, sebagai keinginanku terakhir kuminta tuan sudi memanggil muridku Ciu Cie Jiak. Aku ingin bicara dengannya.”

Lok Thung Kek mengiyakan. Dia lantas keluar dan memerintahkan seorang penjaga membawa nona Ciu. “Cinta ibu dan anak memang tidak sama dengan cinta lain,” pikirnya.

Beberapa saat kemudian Cie Jiak sudah datang.

“Lok Sian-seng,” kata Biat-coat. “Kumohon kau keluar dulu. Pembicaraan kami tidak akan makan waktu lama.”

Sesudah si kakek berlalu, Cie Jiak segera merapatkan pintu dan menubruk gurunya. Dia menangis sesenggukan. Biar pun Biat-coat berhati besi tetapi pada saat itu, pada detik-detik perpisahan untuk selama-lamanya, hatinya terasa seperti disayat sembilu. Dia mengusap-usap rambut muridnya. Nona Ciu tahu bahwa gurunya tidak akan bicara panjang-panjang. Maka itu lebih dulu dia menceritakan bagaimana caranya ia ditolong Bu Kie dan kedua kawannya. Alis si nenek berkerut. Selang beberapa saat dia berkata,

“Mengapa dia hanya menolong kau dan tidak menolong yang lainnya?”

Muka si nona berubah merah, “Entahlah,” jawabnya.

“Hm! Bocah itu terlampau jahat,” kata sang guru dengan suara marah. “Dia adalah kepala siluman dari kawanan siluman Mo-kauw. Tak mungkin dia mempunyai hati yang baik. Dia memasang jaring untuk menjala engkau.”

“Dia... dia memasang jaring apa?” tanya si nona dengan suara heran.

“Kita adalah musuh kawanan Mo-kauw,” sang guru menerangkan. “Dengan Ie-thian-kiam aku sudah membunuh banyak sekali siluman. Mereka sangat membenci Go-bi-pay. Mana bisa mereka benar-benar mau menolong? Siluman she Thio jatuh hati kepadamu. Diam-diam dia menyuruh orang menangkap kita, kemudian dia sendiri yang menolong kau untuk mengambil hati.”

“Tapi Suhu,” kata si nona dengan suara lemah lembut. “Kulihat... dia tidak berpura-pura.”

Si nenek lantas naik darah. “Apa katamu?!” bentaknya, “Rupanya kau telah mengikuti contoh si binatang Kie Siauw Hu. Kau jatuh cinta kepada siluman itu. Bila aku masih bertenaga, dengan sekali hantam aku sudah mengambil jiwamu.”

Cie Jiak ketakutan, dengan tubuh gemetar dia berkata, “Murid tidak berani.”

“Apa sungguh-sungguh tidak berani atau kau hanya mencoba memperdaya gurumu?”

“Murid sungguh-sungguh tidak berani melanggar ajaran Suhu.”

“Kalau begitu kau berlututlah dan bersumpah.”

Nona Ciu segera menekuk kedua lututnya, namun dia tidak tahu sumpah apa yang harus diucapkan olehnya.

Kata Biat-coat, “Kau harus bersumpah begini. Aku, Ciu Cie Jiak bersumpah kepada Langit bahwa kalau di kemudian hari aku jatuh cinta kepada Kauwcu Mo-kauw Thio Bu Kie dan menjadi suami isteri dengannya, maka roh kedua orang tuaku yang sekarang berada di alam baka akan merasa tidak aman. Sedang guruku Biat-coat Suthay akan menjadi setan jahat dan akan mengganggu aku seumur hidup. Apa bila dari perkawinan itu terlahir anak, maka semua anak laki-laki akan menjadi budak dan anak perempuan akan menjadi pelacur.”

Tak kepalang kagetnya nona Ciu. Dia seorang yang berwatak lemah lembut dan di dalam lubuk hatinya terdapat kasih sayang terhadap sesama umat manusia. Tetapi sekarang dia harus mengucapkan sumpah begitu hebat. Sumpah yang menyebut roh kedua orang tuanya, sumpah yang juga menyeret anak-anaknya yang belum lahir. Tapi begitu melihat sinar mata gurunya yang berkilat-kilat, dia tak berani membantah. Dengan kepala puyeng dan dengan suara parau dia mengucapkan kata-kata yang diucapkan Biat-coat. Setelah muridnya bersumpah begitu berat, paras si nenek lantas berubah lunak.

“Kau bangunlah,” katanya.

Dengan air mata bercucuran Cie Jiak lantas bangun berdiri. Sesaat kemudian Biat-coat berkata pula dengan suara halus bercampur rasa terharu yang sangat besar.

“Cie Jiak, aku bukan sengaja menekan kau. Setiap tindakanku adalah untuk kebaikanmu sendiri. Kau masih berusia muda dan mulai sekarang gurumu tidak bisa lagi mengawasi kau. Kalau kau mengikuti contoh Kie Suci-mu, maka di alam baka gurumu tak akan merasa senang. Di samping itu ada sesuatu yang sangat penting. Sekarang gurumu ingin menyerahkan tanggung jawab yang sangat berat di atas pundakmu sehingga sedikit pun kau tidak boleh berlaku sembarangan.” Seraya berkata demikian Biat-coat mencabut sebuah cincin besi dari telunjuk kirinya dan berdiri tegak, “Murid wanita Go-bi-pay, Ciu Cie Jiak, kau berlututlah untuk menerima amanat!” katanya dengan suara angker.

Cie Jiak terkejut dan segera menekuk lututnya. Sambil mengangkat cincin besi itu tinggi-tinggi, Biat-coat Suthay berkata.

“Ciang-bun-jin Go-bi-pay dari turunan ketiga, yaitu pendeta wanita Biat-coat, dengan ini menyerahkan kedudukan Ciang-bun-jin kepada murid wanita dari turunan keempat, yaitu Ciu Cie Jiak.”

Tak kepalang kagetnya nona Ciu. Selagi kepalanya masih merasa pusing sebagai akibat dari pengucapan sumpah yang berat itu, kini dia mendapat kekagetan hebat lainnya. Dia hanya mengawasi sang guru dengan mulut ternganga dan mata terbelalak.

“Ciu Cie Jiak, ulurkan tangan kirimu untuk menerima cincin besi sebagai tanda Ciang-bun-jin dari partai kita,” kata pula si nenek.

Bagaikan seorang linglung Ciu Cie Jiak menyodorkan tangan kirinya dan sang guru segera memasukkan cincin itu ke jari telunjuknya. Sekarang barulah Cie Jiak bisa membuka suara.

“Suhu,” katanya dengan suara gemetar, “Teecu masih terlampau muda dan belum lama belajar ilmu, bagaimana teecu dapat memikul beban yang begini berat? Suhu jangan berkata seperti itu, sesungguhnya teecu tidak bisa...“ Cie Jiak tidak dapat meneruskan perkataannya dan sambil menangis dia memeluk kedua betis gurunya.

Mendengar suara tangisan, Lok Thung Kek yang sudah sangat tidak sabaran lantas mengetuk pintu,

“Hei! Apa belum beres? teriaknya.

“Jangan rewel kau!” bentak Biat-coat. Dia mengawasi si murid dan berkata dengan suara menyeramkan, “Cie Jiak, apakah kau ingin membantah perintah gurumu?” tanpa menanti jawaban dia segera menyebutkan peraturan dan larangan bagi seorang Ciang-bun-jin Go-bi-pay dan menyuruh murid itu menghafal larangan tersebut.

Nona Ciu semakin bingung. Dengan air mata bercucuran dia berkata, “Suhu, teecu... sungguh-sungguh... tidak... sanggup...“

“Cie Jiak!” si nenek membentak dengan marah. “Apa kau benar-benar hendak membantah perintahku? Murid yang melawan kemauan guru adalah murid yang menghina guru.”

Meski pun suaranya keras tetapi hatinya sedih seperti tersayat pisau. Dia merasa kasihan terhadap muridnya ini. Dia bakal segera meninggalkan dunia ini dan secara mendadak dia menaruh beban seberat ini di atas bahu seorang wanita muda yang lemah. Memang mungkin sekali Cie Jiak tidak mampu menunaikan tugasnya secara memuaskan, tetapi dia tahu bahwa di antara murid-murid Go-bi-pay, nona Ciu-lah yang otaknya paling cerdas. Demi kepentingan dan kemakmuran Go-bi-pay, hanya dialah seorang yang pantas menjadi Ciang-bun-jin.

Dia dapat membayangkan bahwa sesudah dia pulang ke alam baka maka murid kecil ini akan menghadapi macam-macam kesukaran dan penderitaan. Mengingat itu, bukan main rasa dukanya. Dengan kedua tangan dia membangunkan Cie Jiak yang lantas dipeluknya.

“Cie Jiak, kau dengarlah,” katanya dengan suara lembut. “Aku sudah menyerahkan kedudukan Ciang-bun-jin kepadamu dan bukan kepada salah seorang di antara para kakak seperguruanmu adalah bukan karena aku pilih kasih. Sebab musababnya adalah seorang Ciang-bun-jin partai kita harus memiliki ilmu silat yang sangat tinggi, yang dapat bersaing dengan lain-lain partai.”

“Tapi, Suhu,” kata Cie Jiak. “Ilmu silat teecu kalah jauh dari para suci.”

Biat-coat tersenyum. “Kepandaian mereka sangat terbatas,” katanya. “Sesudah mencapai batas tertentu, mereka sukar bisa maju lebih jauh. Inilah soal bakat yang tak dapat diubah dengan tenaga manusia. Biar pun sekarang ilmu silatmu masih kalah jauh dari para suci-mu, tapi di kemudian hari kepandaian yang bakal kau miliki tidak dapat diukur bagaimana tingginya. Hm... tidak dapat diukur bagaimana tingginya.”

Dalam bingungnya, walau pun mendengar tetapi Cie Jiak tidak dapat menangkap maksud perkataan sang guru. Sesaat kemudian Biat-coat mendekati muridnya dan berbisik dekat kuping si nona.

“Kau sekarang adalah Ciang-bun-jin partai kita dan sudah kewajibanku untuk memberi-tahu rahasia besar kepadamu. Couwsu pendiri partai kita ialah Kwee-lihiap, puteri kedua dari Tayhiap Kwee Ceng. Pada waktu tentara Goan merampas kota Siang-yang, dalam peperangan yang sangat hebat Kwee-tayhiap gugur untuk nusa dan bangsa. Sebelum dia melepaskan napasnya, dia memberi-tahu rahasia besar ini kepada Couwsu Kwee-lihiap.

Pada masa itu nama Kwee-tayhiap menggetarkan seluruh dunia. Dia memiliki dua macam ilmu yang amat istimewa, pertama ilmu perang dan kedua ilmu silat. Isteri Kwee-tayhiap adalah Oey Yong Oey-lihiap, seorang wanita yang pandai luar biasa. Sejak awal dia sudah menduga bahwa kota Siang-yang pasti akan dirampas tentara Goan yang amat kuat. Kedua suami isteri itu telah mengambil keputusan untuk membalas budi negara dengan mengorbankan jiwa. Inilah keputusan yang biasa diambil oleh ksatria-ksatria yang setia terhadap negara. Tetapi bukankah sayang sekali apa bila dua rupa ilmu Kwee-tayhiap turut menjadi musnah?

Betapa pun Oey-lihiap sudah menduga bahwa orang Mongol akan menguasai Tiongkok dan hal itu pasti akan menimbulkan rasa penasaran di hati segenap bangsa Han. Pada suatu waktu bangsa Han tentu akan memberontak menggulingkan pemerintah penjajah. Pemberontakan itu akan berupa peperangan hebat. Mana kala saatnya tiba, maka kedua ilmu Kwee-tayhiap akan berguna besar. Oey-lihiap lantas merundingkan hal ini dengan suaminya dan akhirnya mereka mengambil satu keputusan. Dia mengundang tukang yang pandai betul dalam pembuatan senjata. Tukang itu melebur Hian-tiat-kiam milik Yo Ko Tayhiap, dan sesudah menambahkannya dengan emas murni dari daerah barat, dia membuat Ie-thian-kiam dan To-liong-to.”

Cie Jiak terkejut. Ia mengenal Ie-thian-kiam dan sudah lama ia mendengar nama To-liong-to. Tapi baru sekarang ia mengetahui sejarah kedua senjata mustika itu.

Biat-coat melanjutkan penuturannya. “Dengan menggunakan waktu satu bulan, Oey-lihiap bersama Kwee-tayhiap menulis ilmu perang dan ilmu silat yang kemudian disembunyikan dalam pedang dan golok itu. Yang disembunyikan dalam To-liong-to adalah ilmu perang. Golok itu dinamakan To Liong. Nama itu mengandung arti bahwa di kemudian hari, orang yang bisa mendapatkan kitab ilmu perang di dalam golok tersebut harus mengusir Tat-cu dan membunuh kaisar Tat-cu. Yang disembunyikan di dalam Ie-thian-kiam ialah kitab ilmu silat, di antaranya yang paling berharga adalah Kiu-im Cin-keng dan Hang-liong-sip-pat-ciang. Kedua suami isteri berharap supaya di belakang hari orang yang mendapatkannya bisa berbuat kebaikan kepada sesama manusia, bisa menumpas kejahatan dan menolong rakyat.

Sesudah pembuatan pedang dan golok mustika itu selesai, Oey-lihiap menyerahkan To-liong-to kepada Kwee-kong (paduka Kwee) Kwee Boh-lo dan Ie-thian-kiam kepada Kwee-couwsu. Kepandaian mereka tidak perlu dikatakan lagi, Kwee-couwsu telah mendapatkan pelajaran ilmu silat dari ayah ibunya, ada pun Kwee-kong Boh-lo mendapat pelajaran ilmu pedang dari kedua orang tuanya. Tapi Kwee-kong Boh-lo gugur bersama ayah dan ibunya. Bakat Kwee-couwsu tak sesuai dengan pelajaran ilmu silat dari ayahandanya, maka itu sebabnya mengapa ilmu silat partai kita berbeda dari ilmu silat Kwee-tayhiap.”

Dari para kakak seperguruannya, Ciu Cie Jiak memang telah mendengar bagaimana berbagai partai persilatan berebut To-liong-to sehingga akhirnya mereka naik ke Bu-tong dan sebagai akibatnya, kedua orang tua Bu Kie sampai membunuh diri. Sekarang baru dia tahu bahwa pedang dan golok itu mempunyai sangkut paut yang sangat rapat dengan Go-bi-pay. Sementara itu Biat-coat Suthay melanjutkan penuturannya.

“Selama kurang lebih seratus tahun, di rimba persilatan timbul gelombang hebat. Beberapa kali pedang dan golok itu bertukar majikan. Belakangan orang hanya tahu bahwa To-liong-to adalah ‘Bu Lim Cie Cun’ (yang termulia dalam rimba persilatan) dan yang dapat menandinginya hanyalah Ie-thian-kiam, tetapi orang tidak tahu kenapa golok itu dipandang sebagai ‘Bu Lim Cie Cun’. Kwee-kong Boh-lo mati muda. Dia tidak punya keturunan dan tidak punya murid yang bisa mewarisi kepandaiannya dan rahasia besar itu. Sebab itulah hanya Couwsu seorang yang tahu rahasia itu. Selama hidupnya Couwsu sudah berusaha sekuat tenaga mencari To-liong-to, tetapi semua usahanya sia-sia.

Waktu mau meninggal Couwsu memberi-tahu rahasia ini kepada Insu (guruku yang besar budinya) It Ceng Suthay. Insu adalah seorang yang sangat mulia dan berhati lemah. Dia mempunyai seorang murid durhaka. Belakangan bukan saja To-liong-to tidak dicarinya, bahkan Ie-thian-kiam dicuri oleh Suci-ku yang lantas mempersembahkannya kepada kaisar Goan. Insu sangat berduka hingga mati memelas. Sebelum menutup mata dia sempat memerintahkan supaya aku mengambil kembali kedua senjata mustika itu.”

“Ahh, kalau begitu teecu mempunyai seorang Supek yang kurang baik,” kata Cie Jiak.

Paras muka Biat-coat langsung berubah dingin laksana es. “Kau masih memanggil Supek kepada manusia pengkhianat itu?” katanya dengan suara marah.

Si nona menundukkan kepalanya dan tidak berani menjawab.

“Akhirnya murid pengkhianat itu tidak lolos dari tanganku,” kata pula Biat-coat. “Karena hatinya jahat maka ilmu silatnya tidak terlampau tinggi. Kau boleh merasa bangga bahwa gurumu tidak menyia-nyiakan pesan Sucouw-mu. Pada akhirnya aku berhasil membersihkan rumah tangga kita (menyingkirkan kejahatan dalam kalangan sendiri).”

“Membersihkan rumah tangga kita?” menegas si nona.

Pada paras muka Biat-coat berkelebat sinar kebanggaan dan kekejaman. “Benar,” katanya dengan suara angkuh. “Di kaki gunung Gak-louw-san, di daerah kota Tiang-see, aku bisa menyandak manusia durhaka itu dan dengan pukulan Pwee-hoa Pwee-yan (bukan bunga, bukan asap) aku menikam jantungnya. Dulu dialah orang yang mengajarkan pukulan itu. Dia pernah mengejek diriku dengan mengatakan bahwa seumur hidup, aku tidak akan bisa menggunakan pukulan tersebut. Pada malam itu, di bawah cahaya rembulan, sebenarnya aku sudah bisa mengambil jiwanya dalam dua ratus jurus. Tapi karena aku bertekad untuk membinasakannya dengan Pwee-hoa Pwee-yan maka setelah bertempur kurang lebih tiga ratus jurus barulah aku berhasil. Huh! Huh...! Itulah kejadian dua puluh tahun berselang.”

Cie Jiak bergidik. Entah kenapa di dalam lubuk hatinya muncul perasaan kasihan terhadap Supek yang berkhianat itu.

Mendadak Lok Thung Kek memukul-mukul pintu. “Hei! Sudah selesai belum?” teriaknya. “Aku tidak bisa menunggu lagi!”

“Tidak lama lagi. Kau tunggulah,” sahut Biat-coat. Sesudah itu dia berkata lagi di kuping muridnya. “Waktu sudah mendesak, kita tidak dapat membicarakan lagi hal yang penting. Belakangan kaisar Goan menghadiahkan Ie-thian-kiam kepada Jie Lam Ong. Aku berhasil mencurinya dari gedung raja muda itu. Hanya sungguh sayang, aku terjebak dan pedang itu jatuh ke tangan Mo-kauw.”

“Bukan,” bantah si murid. “Ie-thian-kiam dirampas oleh Tio-kouwnio.”

Biat-coat mendelik. Sambil mengeluarkan suara di hidung dia berkata. “Apa kau tidak tahu bahwa perempuan she Tio itu adalah kawannya si Kauwcu Mo-kauw? Apa sampai detik ini kau masih tidak percaya perkataan gurumu?”

Nona Ciu memang tidak percaya, namun dia tidak berani membantah lagi.

“Cie Jiak, kau dengarlah,” kata pula sang guru. “Dalam memilih kau sebagai Ciang-bun-jin, gurumu mempunyai maksud yang dalam. Aku terjatuh ke tangan orang jahat sehingga nama besarku yang didapat selama puluhan tahun kini musnah laksana disapu air. Aku sendiri memang tak sudi keluar dari menara ini dengan bernapas. Penjahat cabul she Thio itu punya niat yang tidak baik atas dirimu, tapi menurut pendapatku dia tak akan mengambil jiwamu. Sekarang kuperintahkan kau untuk berlagak membalas cintanya, kemudian rampaslah pedang Ie-thian-kiam begitu ada kesempatan. Golok To-liong-to ada di tangan Cia Sun, ayah angkat penjahat she Thio itu. Biar bagaimana pun juga bocah itu takkan membuka rahasia di mana adanya Cia Sun. Tapi di dunia terdapat manusia yang bisa memaksa dia mengambil golok tersebut.”

Cie Jiak tahu bahwa seorang manusia itu dimaksudkan dirinya sendiri. Ia kaget bercampur malu, girang bercampur takut.

“Orang itu adalah kau sendiri,” kata pula sang guru. “Aku memerintahkan kau mengambil kembali pedang berikut golok mustika itu dengan mempergunakan kecantikanmu. Aku tahu bahwa tindakan ini memang bukan tindakan seorang ksatria, tetapi dalam usaha besar tak perlu menghiraukan soal-soal remeh. Coba kau pikir, Ie-thian-kiam berada di tangan si perempuan she Tio, ada pun To-liong-to jatuh ke tangan bangsat Cia Sun. Jahat bertemu dengan jahat, pedang bertemu dengan golok. Kalau mereka berhasil mengambil ilmu perang dan ilmu silat Kwee-tayhiap, alangkah besarnya penderitaan umat manusia di kolong langit ini.

Di samping itu usaha mengusir penjahat Tat-cu pun akan menjadi lebih sulit lagi. Cie Jiak, aku tahu bahwa beban yang ditaruh di atas pundakmu terlampau berat. Sebenarnya aku merasa tidak tega memerintahkan kau memikul beban yang berat ini. Tetapi apakah adanya maksud tujuan orang-orang seperti kita dalam mempelajari ilmu silat? Cie Jiak, demi kepentingan rakyat di seluruh negeri, aku mohon kepadamu.” Seraya berkata begitu dia berlutut di hadapan muridnya.

Tak kepalang kagetnya nona Ciu. Buru-buru dia pun menekuk kedua lututnya dan berseru dengan suara parau,

“Suhu...!“

“Ssst! Perlahan sedikit, jangan sampai penjahat di luar mendengarkan pembicaraan kita. Apakah kau sudi meluluskan permintaanku? Sebelum kau mengiyakan aku, aku tidak akan bangun.”

Kepala Cie Jiak terasa puyeng. Dalam waktu sependek itu gurunya sudah mengeluarkan tiga perintah sulit. Pertama, dia diperintah mengangkat sumpah berat bahwa dia tak akan mencintai Bu Kie. Kedua, dia diperintah menerima kedudukan Ciang-bun-jin dari Go-bi-pay. Akhirnya dia diperintah memancing Bu Kie dengan kecantikannya untuk merampas kembali To-liong-to dan Ie-thian-kiam. Sebagai seorang wanita muda belia yang berhati sangat lemah dia sungguh-sungguh tidak tahu apa yang harus diperbuatnya. Kepalanya berputar, matanya berkunang-kunang, dia hampir pingsan. Cepat-cepat dia memejamkan kedua matanya dan menggigit bibir untuk mempertahankan diri. Mendadak dia merasa bibirnya sakit dan dia membuka kedua matanya. Sang guru masih berlutut.

“Suhu... bangunlah!” katanya sambil menangis.

“Apakah kau sudi meluluskan permintaanku?” tanya Biat-coat pula.

Dengan air mata mengucur si nona manggut-manggutkan kepalanya. Biat-coat mencekal pergelangan tangan muridnya erat-erat dan berbisik.

“Sesudah merampas To-liong-to dan Ie-thian-kiam, kau harus segera pergi ke tempat yang sepi, tempat yang tidak ada manusianya. Dengan sebelah tangan mencekal golok dan sebelah tangan memegang pedang, kau harus mengerahkan tenaga dalam dan saling membacokkan dua senjata itu. Bacokan itu akan mematahkan atau memutuskan golok dan pedang dengan berbareng. Sesudah itu barulah kau bisa mengambil pit-kip (kitab) yang disembunyikan di kedua senjata itu. Cie Jiak, inilah cara satu-satunya untuk mengambil kedua kitab yang berharga itu. Sampai di situ tamatlah riwayat To-liong-to dan Ie-thian-kiam. Apa kau ingat pesanku?” Walau pun berbicara dengan suara berbisik-bisik, paras muka Biat-coat tampak angker dan kereng.

Si murid mengangguk.

“Cara untuk mengambil kedua pit-kip itu merupakan rahasia terbesar dari partai kita,” kata pula sang guru. “Semenjak Oey-lihiap mewariskan rahasia tentang kitab ini kepada Kwee-sucouw, hanya Ciang-bun-jin dari partai kita yang mengetahuinya. To-liong-to dan Ie-thian-kiam adalah senjata mustika. Andai kata ada orang yang dapat memiliki kedua senjata itu dengan berbareng, dia pasti takkan berlaku begitu gila untuk merusakkan kedua-duanya. Setelah memiliki kitab ilmu perang kau harus mencari seorang pecinta negeri yang berhati mulia untuk mewarisi kitab tersebut. Tapi sebelum menyerahkannya, kau harus menyuruh dia bersumpah bahwa dengan segala usaha dan kepandaiannya dia akan mencoba untuk mengusir kaum penjajah. Ada pun kitab ilmu silat harus kau pelajari sendiri.

Dalam seluruh hidupnya gurumu memiliki dua angan-angan. Yang pertama mengusir Tat-cu dan merampas kembali negara kita. Yang kedua adalah mengangkat derajat Go-bi-pay sedemikian rupa sehingga partai kita berada di atas Siauw-lim, Bu-tong dan partai-partai lainnya sehingga partai kita menjadi partai yang paling utama di rimba persilatan. Kedua angan itu memang sukar tercapai, tetapi sekarang kita sudah melihat satu jalan. Jika kau mentaati pesan gurumu, belum tentu kau tidak akan berhasil. Di alam baka gurumu akan sangat berterima kasih terhadapmu.”

Baru sampai di situ dia berkata, pintu sudah digedor oleh Lok Thung Kek.

“Masuklah!” kata Biat-coat.

Pintu terbuka, tapi yang masuk bukan Lok Thung Kek melainkan Kouw Tauw-to. Biat-coat tidak heran. Baginya Lok Thung Kek atau pun Kouw Tauw-to tidak ada bedanya.

“Bawa anak itu keluar,” katanya sambil mengibaskan tangan.

Dia tidak mau muridnya menyaksikan waktu dia bunuh diri karena khawatir si murid tidak dapat mempertahankan diri. Namun di luar dugaan Kouw Tauw-to mendekati dan berbisik,

“Telanlah obat pemunah ini. Sebentar lagi kau harus turut menerjang keluar kalau di luar ada suara ribut-ribut.”

Biat-coat heran dan bingung. “Siapakah tuan?” tanyanya. “Kenapa tuan menyerahkan obat pemunah kepadaku?”

“Aku adalah Kong-beng Yu-su dari Beng-kauw dan aku bernama Hoan Yauw. Aku berhasil mencuri obat ini dan aku sengaja datang untuk menolong Suthay,” jawabnya.

Darah si nenek lantas meluap. “Penjahat Mo-kauw!” bentaknya. “Sampai saat ini kau masih mempermainkan aku?”

Hoan Yauw tertawa. “Baiklah!” katanya. “Aku tidak membantah anggapanmu. Apakah kau mempunyai nyali untuk menelannya? Begitu masuk di perut, racun ini akan memutuskan isi perutmu.”

Tanpa mengeluarkan sepatah kata si nenek segera menyambut bubuk yang diangsurkan kepadanya, lalu membuka mulut dan menelannya.

“Suhu...! Suhu...!” teriak Cie Jiak.

“Jangan ribut!” bentak Hoan Yauw. “Kau pun harus menelan racun ini.”

Si nona terkejut, namun dia tidak berdaya karena badannya sudah dipeluk dan mulutnya dibuka. Dengan cepat Hoan Yauw memasukkan bubuk obat lantas menuang air ke dalam mulut si nona sehingga obat pemunah itu segera saja masuk ke dalam perut. Tak kepalang marahnya Biat-coat. Matinya Cie Jiak berarti musnahnya segala harapan. Dengan kalap dia menubruk Hoan Yauw, tapi karena tidak punya tenaga dalam dia segera kena dirobohkan.

“Semua pendeta Siauw-lim dan jago-jago Bu-tong sudah menelan racunku ini,” kata Hoan Yauw sambil menyeringai. “Apakah orang Beng-kauw manusia jahat atau manusia baik, kau segera akan mengetahuinya.” Seraya berkata begitu dia melompat keluar dan mengunci pintu.

Ajakan Tio Beng mencari Bu Kie amat membingungkan Hoan Yauw. Bagaimana dia dapat menunaikan tugas merampas obat pemunah? Karena itu, sesudah mendapat permisi dari Tio Beng untuk minum arak di ruangan depan, dia segera kabur ke Ban-hoat-si. Tanpa membuang waktu dia mendaki menara sampai ke lantai paling atas di mana dia bertemu dengan Yu Liong Cu yang sedang menjaga di luar kamar sendiri. Melihat Hoan Yauw, Yu Liong Cu menyambut dengan hormat,

“Kouw Tauw-to,” katanya sambil membungkuk.

Hoan Yauw manggut-manggutkan kepalanya. “Kurang ajar si tua bangka,” katanya dalam hati. “Muridnya disuruh menjaga di luar, sementara itu dia sendiri bercinta-cintaan dengan selir Ong-ya. Aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang baik ini.”

Dia melangkah berjalan melewati Yu Liong Cu dan mendadak secepat kilat jari tangannya menotok jalan darah di perut murid kepala Lok Thung Kek. Jangankan Yu Liong Cu tidak berwaspada, sekali pun siap sedia belum tentu dia bisa meloloskan diri dari totokan Hoan Yauw. Begitu tertotok, badannya tak bisa bergerak lagi dan dia menatap si pendeta dengan mata terbelalak. Dosa apa yang sudah diperbuatnya? Apakah dia berlaku kurang hormat?

Hoan Yauw segera mendobrak pintu dan melompat ke dalam. Sebelum kakinya hinggap di lantai, tangannya sudah menghantam tubuh yang berbaring di ranjang. Dia tahu bahwa Lok Thung Kek mempunyai kepandaian tinggi. Jika dia tidak membokong dengan pukulan yang membinasakan maka dia harus melakukan pertempuran lama dan belum tentu dia bisa menang. Maka itu dalam pukulan itu dia menggunakan seluruh tenaganya.

“Bukk!”

Kasur lantas pecah dan kapas berhamburan. Tapi dia kaget waktu membuka kasur sebab dia hanya melihat sesosok tubuh, yaitu Han-kie yang sudah binasa dengan mengeluarkan darah dari hidung dan mulutnya. Lok Thung Kek sendiri tak kelihatan. Sesudah berpikir sejenak, buru-buru Hoan Yauw keluar dan menyeret masuk Yu Liong Cu yang kemudian digulingkan masuk ke kolong ranjang. Sesudah itu dia merapatkan pintu dan menunggu.

USAHA MEMBEBASKAN TOKOH-TOKOH ENAM PARTAI

Beberapa saat kemudian Hoan Yauw mendengar teriakan Lok Thung Kek. “Liong-jie...! Liong-jie...!” panggilnya dengan suara marah. “Ke mana kau?”

Sebagaimana diketahui, si kakek sedang dijemur Biat-coat. Dengan perasaan mendongkol ia menanti di luar kamar. Karena tidak tahu sampai kapan si nenek selesai bicara dengan muridnya, ia segera mengambil keputusan untuk menengok Han-kie dan sebentar kembali lagi. Sesampainya di depan kamar Yu Liong Cu, ia marah besar muridnya tidak mentaati perintahnya. Ia menolak pintu dan hatinya menjadi lega sebab di kamar tidak terjadi perubahan dan si cantik masih berbaring di ranjang dengan tubuh tertutup kasur. Setelah menutup pintu, ia berkata sambil tertawa.

“Nona cantik, aku akan membuka jalan darahmu. Tetapi kuharap kau tidak mengeluarkan suara.” Seraya berkata begitu, ia memasukkan tangannya ke bawah kasur untuk menotok punggung Han-kie.

Mendadak, mendadak saja, ia merasa pergelangan tangannya dicengkeram dengan jari-jari tangan yang keras laksana besi dan berbareng tenaganya lantas habis. Kasur tersingkap dan dari bawah kasur keluar seorang pendeta rambut panjang, Kouw Tauw-to!. Dengan tangan kanan mencekal pergelangan tangan si kakek, cepat Hoan Yauw menotok sembilan belas hiat utama di sekujur badan Lok Thung Kek sehingga jago itu benar-benar tidak berdaya lagi dan hanya bisa mengawasi musuh dengan mata melotot.

Sembari menuding hidung si kakek, Hoan Yauw berkata, “Tua bangka! Aku tidak pernah mengubah she atau menukar nama. Aku adalah Kong-beng Yu-su dari Beng-kauw, Hoan Yauw namaku. Kau sudah kena kutipu dan percuma saja kau selalu membanggakan diri sebagai manusia yang pintar dan cerdas. Sesungguhnya kau tak lebih dan tak kurang dari pada manusia goblok. Kalau kini aku hendak membunuhmu, itu sama mudahnya dengan aku membalikkan tangan. Tetapi aku mengampuni jiwamu. Jika kau mempunyai nyali, di belakang hari kau boleh mencari Hoan Yauw untuk membalas sakit hatimu.”

Karena kuatir Lok Thung Kek dapat membuka jalan darahnya dengan jalan menggunakan Lweekang sendiri, sesudah berkata begitu dia menghantam kaki tangan si kakek sehingga tulang-tulangnya patah. Hoan Yauw adalah seorang anggota Beng-kauw yang masih memiliki Sia-khie (sifat-sifat sesat). Setelah mematahkan tulang-tulang si kakek, ia masih belum merasa puas. Sambil menyeringai ia membuka pakaian Lok Thung Kek lantas merendengkannya dengan mayat Han-kie, kemudian menggulung dua sosok tubuh itu. Satu manusia hidup dan satu mayat dengan satu kasur. Sesudah itu barulah ia mengambil kedua tongkat Lok Thung Kek, lalu membuka salah sebuah cabang tanduk menjangan dan menuang semua obat pemunah.

Dengan hati gembira ia segera pergi ke berbagai kamar tahanan dan mem-bagi2kan obat kepada Kong-bun Taysu, Song Wan Kiauw, Jie Lian Ciu, dan yang lain2. Dalam memberi pertolongan ini, beberapa kali ia harus menerangkan secara panjang lebar kepada orang-orang yang bersangsi sehingga ia harus menggunakan waktu banyak sekali.

Kamar yang paling akhir dikunjungi ialah kamar Biat-coat Suthay. Melihat sikap si nenek, ia sengaja mengeluarkan kata-kata yang membangkitkan hawa amarah. Dengan berbuat begitu hatinya merasa senang karena pada hakekatnya ia membenci pemimpin Go-bi-pay itu yang pernah membinasakan banyak anggota Beng-kauw. Tapi baru saja tugasnya selesai dan hatinya tergirang-girang, sekonyong-konyong di kaki menara terdengar teriakan-teriakan ramai. Dengan kaget ia mamasang kuping. Di antara suara ramai-ramai itu ia dapat menangkap teriakan Ho Pit Ong.

“Kouw Tauw-to mata-mata musuh! Tangkap! Tangkap dia!”

Hoan Yauw mengeluh. “Celaka! Siapa yang sudah menolong bangsat itu?”

Ia menengok ke bawah dan melihat bahwa menara itu telah dikurung oleh Ho Pit Ong dan sejumlah besar busu. Hampir berbareng dua batang anak panah yang dilepaskan oleh Sun Sam Hwie dan Lie Sie Cui menyambar dirinya.

“Bangsat! Hebat sungguh kau menyiksa kami!” caci Sun Sam Hwie.

Siapa yang menolong ketiga orang itu? Dengan totokan Hoan Yauw, tanpa ditolong tidak gampang mereka bisa menolong diri sendiri. Ternyata yang menolong adalah rombongan busu (pengawal) yang mencari Han-kie. Sebagaimana diketahui, rombongan itu sudah bertanya kepada Lok Thung Kek tapi diusir oleh si kakek. Sesudah mencari di seantero Ban-hoat-si dan usaha mereka tetap sia-sia, beberapa orang lantas saja mencurigai Lok Thung Kek yang dikenal sebagai orang yang gemar akan paras cantik. Namun semua orang merasa jeri terhadap si kakek. Siapa yang berani menepuk kepala harimau?

Belakangan karena kuatir dimarahi oleh Ong-ya, pemimpin rombongan yang bernama Ali Chewa mendapat satu siasat. Ia memerintahkan seorang busu yang berkedudukan rendah untuk mengetuk kamar Lok Thung Kek. Ia menganggap bahwa orang yang berkedudukan tinggi tidak akan berlaku kejam terhadap orang yang bukan tandingannya. Dengan memberanikan hati, busu itu mengetuk pintu. Di luar dugaan, meski telah diketuk beberapa kali tetapi dari dalam tidak ada jawaban. Sesudah menunggu beberapa lama Ali Chewa jadi nekat dan mendobrak pintu. Begitu pintu terbuka dia terkesiap karena melihat tiga sosok tubuh Ho Pit Ong, Sun Sam Hwie, dan Lie Sie Cui yang tergeletak di lantai.

Pada saat itu Ho Pit Ong sudah hampir berhasil membuka jalan darahnya sendiri. Dengan bantuan Ali Chewa, jalan darah yang tertotok segera terbuka. Setelah Sun Sam Hwie dan Lie Sie Cui tertolong, dengan kegusaran yang meluap-luap Ho Pit Ong segera mengajak rombongan busu itu pergi ke menara dan mengurungnya. Dari bawah dia berteriak-teriak menantang Kouw Tauw-to untuk bertempur sampai ada yang binasa.

“Bangsat tua! Apa kau kira Hoan Yauw takut padamu?” Hoan Yauw balas mencaci.

Di dalam hati Hoan Yauw merasa bingung. Rahasianya sudah terbuka, tapi dia tidak akan mampu melawan musuh yang jumlahnya begitu besar, sedangkan anggota keenam partai yang baru saja menelan obat dan belum pulih tenaga dalamnya, untuk sementara waktu belum bisa memberikan bantuannya.

“Tauw-to jahanam! Kalau kau tidak mau turun, akulah yang akan naik ke atas!” teriak pula Ho Pit Ong.

Tiba2 Hoan Yauw mendapat akal. Ia masuk ke kamar Yu Liong Cu lalu keluar lagi dengan membawa bungkusan kasur berisi tubuh Han-kie dan Lok Thung Kek. Sambil mengangkat kasur itu tinggi-tinggi, ia berteriak,

“Tua bangka, begitu kau bertindak masuk pintu menara, seketika itu pula aku melemparkan tubuh lelaki dan perempuan cabul ini!”

Para busu segera mengangkat obor dan lapat-lapat mereka bisa melihat muka Lok Thung Kek dan Han-kie. Bukan main kagetnya Ho Pit Ong.

“Suko! Suko! Bagaimana kau?” teriaknya.

Lok Thung Kek tidak menyahut. Hati Ho Pit Ong langsung mencelos. Dia menduga bahwa kakak seperguruannya telah dibinasakan Hoan Yauw.

“Tauw-to bangsat!” teriaknya bagaikan orang kalap. “Kau sudah membinasakan kakakku, aku bersumpah tak akan hidup bersama-sama dengan kau di dunia ini!”

Mendengar itu Hoan Yauw cepat membuka ah-hiat (jalan darah yang menyebabkan gagu) si kakek yang lantas saja mencaci.

“Tauw-to bangsat! Aku bersumpah akan mencincang badanmu seperti perkedel...!“ Baru mencaci sampai di situ, ah-hiatnya sudah ditotok lagi.

Sesudah mendapat bukti bahwa Suheng-nya belum mati, Ho Pit Ong merasa sangat lega. Demi keselematan jiwa sang kakak, dia tidak berani maju lebih jauh. Untuk beberapa lama, Ho Pit Ong dan rombongan busu tidak berani bergerak. Hoan Yauw sendiri tentu saja sebisa mungkin ingin mempertahankan keadaan itu. Dia perlu mendapat waktu sampai tenaga dalam tokoh-tokoh keenam partai yang baru mendapat obat keburu pulih. Sambil tertawa terbahak-bahak dia berteriak.

“Tua bangka she Ho! Sungguh besar nyali Suheng-mu. Dia berani menculik selir Ong-ya. Aku telah menangkap kedua-duanya. Tua bangka! Apa kau berani melindungi Suheng-mu yang kotor itu? Ali Chewa Cong-koan, mengapa kau tak lantas membekuk tua bangka itu? Dia dan kakaknya sudah berdosa besar sehingga harus mendapat hukuman mati. Dengan membekuk dia maka kau akan mendapat hadiah besar.”

Ali Chewa melirik Ho Pit Ong. Dia berniat turun tangan, tapi dia merasa jeri terhadap jago tua yang berkepandaian tinggi itu. Di dalam hati dia merasa heran kenapa Kouw Tauw-to tiba-tiba bisa berbicara. Dia tahu bahwa kejadian itu mesti ada latar belakangnya. Tapi dia pun tidak dapat mengabaikan bukti yang nyata dan dengan mata kepala sendiri dia sudah melihat Lok Thung Kek dan Han-kie di dalam selembar kasur. Sesudah berpikir sejenak dia berseru,

“Kauw Taysu, kau turunlah! Mari kita pergi kepada Ong-ya agar dapat memutuskan siapa yang salah siapa yang benar. Kalian bertiga adalah Cianpwe yang berkedudukan tinggi. Terhadap siapa pun Siauw-jin tidak berani bertindak.”

Hoan Yauw adalah seorang pemberani. Ia segera menghitung-hitung untung ruginya usul Ali Chewa. Ia merasa bahwa dengan menghadap Jie Lam Ong, ia dapat mengulur waktu sampai tenaga dalam tokoh-tokoh keenam partai pulih kembali. Sebab itulah ia lantas saja berteriak,

“Bagus! Bagus sekali! Aku justru ingin minta hadiah dari Ong-ya. Ali Cong-koan, tahanlah tua bangka she Ho itu, jangan sampai dia kabur.”

Namun baru saja Hoan Yauw habis bicara, sekonyong-konyong terdengar suara tindakan kuda yang sangat ramai dan di lain saat sejumlah penunggang kuda menerobos masuk ke pekarangan kelenteng dan terus menghampiri menara. Para busu serentak membungkuk sambil berseru,

“Siauw Ong-ya (Raja Muda Kecil yang berarti putera Jie Lam Ong)!”

Hoan Yauw cepat mengawasi ke bawah. Ia mendapat kenyataan bahwa yang mengepalai rombongan itu adalah seorang pemuda yang mengenakan jubah sangat indah dengan topi emas dan menunggang seekor kuda berbulu putih yang tampaknya sangat garang. Ia pun mengenali bahwa pemuda itu bukan lain adalah Kuh Kuh Temur alias Ong Po Po, putera Jie Lam Ong.

“Mana Han-kie?!” bentak pangeran muda. “Hu-ong marah besar, beliau memerintahkan aku menyelidiki sendiri.”

Ali Chewa segera menerangkan bahwa Han-kie diculik oleh Lok Thung Kek yang sekarang sudah dibekuk Kouw Tauw-to.

“Dusta!” teriak Ho Pit Ong. “Siauw Ong-ya, Kouw Tauw-to adalah mata-mata musuh dan dia telah mencelakai Suheng-ku... “

Kening Ong Po Po berkerut. “Sudahlah,” katanya, “Semua orang turun dan kita bisa bicara dengan perlahan.”

Sebagai orang yang sudah berdiam lama di gedung raja muda, Hoan Yauw mengenal Ong Po Po sebagai seorang yang cerdik dan pandai. Kepandaian pemuda itu bahkan melebihi ayahnya sendiri. Dia bisa mendustai orang lain, tetapi tak mungkin mengelabui tuan muda itu. Jika dia turun, hampir boleh dipastikan rahasianya terbuka dan begitu lekas topengnya tercopot, dia pasti akan segera dikepung. Satu Ho Pit Ong saja sudah sukar dilayani, apa lagi begitu banyak orang? Selain itu tokoh-tokoh keenam partai juga sukar dapat ditolong lagi. Setelah berpikir beberapa saat dia lantas saja berteriak,

“Siauw Ong-ya, Ho Pit Ong amat membenci aku karena aku sudah membekuk Suheng-nya. Kalau aku turun, dia tentu akan membunuhku.”

“Kau turunlah, aku tanggung Ho Sian-seng tidak akan menyerang kau,” kata Ong Po Po.

Hoan Yauw menggeleng-gelengkan kepalanya. “Di sini aku lebih aman,” katanya. “Siauw Ong-ya, selama hidup Kouw Tauw-to tidak pernah bicara. Hari ini aku terpaksa membuka mulut untuk membalas budi Ong-ya yang sangat besar padaku dan untuk memperlihatkan kesetiaanku. Jika kau tidak percaya, lebih baik aku melompat dari sini dan membenturkan kepala di tanah supaya Siauw Ong-ya bisa membuktikan kesetiaanku.”

Mendengar perkataan yang mencurigakan itu, Ong Po Po segera dapat menebak bahwa si pendeta sedang menjalankan siasat mengulur waktu,

“Ali Cong-koan,” bisiknya. “Kurasa dia sedang menjalankan tipu dan mencoba untuk mengulur waktu. Apa kau tahu, siapakah yang sedang ditunggu olehnya?”

“Siauw-jin tidak tahu,” jawabnya.

“Siauw Ong-ya, penjahat itu telah merampas obat pemunah dari tangan Suheng-ku,” kata Ho Pit Ong. “Dia hendak menolong kaum pemberontak yang ditahan di menara.”

Ong Po Po lantas saja tersadar. “Kouw Tauw-to!” teriaknya. “Aku tahu kau sangat berjasa. Turunlah! Aku akan memberi hadiah besar untukmu.”

“Siauw Ong-ya, aku tidak bisa jalan. Aku kena ditendang Lok Thung Kek sehingga kedua tulang betisku patah. Tunggulah sebentar, kini aku sedang mengerahkan lweekang untuk mengobati lukaku. Begitu lekas aku bisa berjalan, aku pasti akan segera turun.”

“Ali Cong-koan!” bentak pangeran itu. “Kirim seorang naik ke atas untuk memapah Kouw Taysu.”

“Tidak bisa!” teriak Hoan Yauw. “Kalau badanku bergerak maka kedua kakiku tidak akan bisa digunakan lagi.”

Sekarang Ong Po Po tidak merasa sangsi lagi. Ia menarik kesimpulan bahwa pendeta itu adalah seorang musuh yang dalam selimut. Sesudah Han-kie dan Lok Thung Kek berada dalam satu kasuran, andai kata mereka tidak main gila pun ayahnya tentu tidak akan mau menerima selir itu. Oleh karena itu ia lantas saja berkata dengan suara pelan,

“Ali Cong-koan, bakar menara itu dan siapkan satu pasukan pemanah. Binasakan setiap orang yang melompat turun.”

Ali Chewa membungkuk dan segera menjalankan perintah itu. Dalam sekejap saja menara itu sudah dikurung oleh para busu yang bersenjata gendewa dan anak panah, sedangkan sejumlah busu lainnya mengambil rumput kering, kayu serta bahan api. Ho Pit Ong kaget bukan main.

“Siauw Ong-ya,” katanya dengan suara bingung. “Kakakku juga berada di atas.”

“Betapa pun juga Tauw-to itu tidak dapat dibiarkan berdiam di atas selama-lamanya,” kata Ong Po Po dengan suara tawar. “Begitu lekas kaki menara dibakar maka dia akan turun sendiri.”

“Bagaimana jika dia melemparkan Suheng-ku ke bawah?” tanya Ho Pit Ong. “Siauw Ong-ya, janganlah membakar.”

Ong Po Po hanya mengeluarkan suara di hidung dan tidak meladeninya. Tidak lama kemudian para busu sudah menumpuk rumput dan kayu kering pada seputar menara lalu mulai menyulutnya.

Ho Pit Ong adalah seorang bernama besar di dalam rimba persilatan. Dengan mendapat undangan yang disertai segala kehormatan dia bekerja kepada Jie Lam Ong dan selama banyak tahun dia dihormati oleh majikan dan rekan-rekannya. Tetapi siapa sangka hari ini dia bukan saja ditipu oleh Kouw Tauw-to, tetapi juga sudah tidak dipandang sebelah mata oleh Ong Po Po? Karena kakaknya tengah menghadapi bahaya, ia pun menjadi kalap. Tanpa mempedulikan suatu apa lagi, sambil mengangkat sepasang pit-nya yang berbentuk patuk burung ho, ia melompat dan menendang dua orang busu yang tengah menyulut tumpukan kayu. Hampir berbareng kedua busu itu terpental dan roboh di tanah.

“Ho Sian-seng!” bentak Ong Po Po. “Apa kau mau mengacau?”

“Aku takkan mengacau jika kau tidak membakar menara,” jawabnya.

“Bakar!” teriak Ong Po Po dengan gusar. Seraya membentak ia mengibaskan tangan kiri.

Hampir berbarengan dari belakang pangeran muda itu segera melompat keluar lima orang Hoan-ceng yang mengenakan baju merah. Mereka mengambil obor dari lima busu lantas menyulut tumpukan kayu. Perlahan-lahan api berkobar-kobar. Ho Pit Ong bingung bukan kepalang. Dari tangan seorang busu, dia merampas sebatang tombak yang lalu digunakan untuk memukul-mukul api. Ong Po Po naik darah.

“Tangkap!” bentaknya.

Kelima Hoan-ceng baju merah itu langsung saja menghunus golok dan mengurung. Ho Pit Ong melemparkan tombaknya dan coba merampas golok Hoan-ceng yang berdiri di sudut kiri. Tapi pendeta itu bukan sembarang orang. Dengan sekali membalik tangan dia sudah bisa mengegos dari sambaran tangan Ho Pit Ong dan terus membacok. Baru saja Ho Pit Ong berkelit, dua golok sudah menyambar punggungnya pula.

Kelima Hoan-ceng (pendeta asing) itu adalah orang-orang kepercayaan Ong Po Po dan mereka termasuk dalam Thian-liong Sip-pat-po (delapan belas jago Thian-liong). Pemuda itu suka sekali pesiar seorang diri dengan menunggang kuda. Tapi ke mana pun dia pergi, dari sebelah kejauhan dia selalu diikuti oleh delapan pengawal pribadinya.

Thian-liong Sip-pat-po terdiri dari Ngo-to (lima golok), Ngo-kiam (lima pedang), Sie-thung (empat tongkat), dan Sie-poa (empat cecer). Lima Hoan-ceng yang bersenjata golok itu adalah Ngo-to-sin (malaikat lima golok). Biar pun mereka lihai tetapi bila satu lawan satu, mereka bukan tandingan Ho Pit Ong. Tapi dengan bekerja sama mereka sudah membuat Ho Pit Ong menjadi repot sekali sungguh pun keteternya si tua sebagian disebabkan oleh rasa bingungnya dalam memikirkan nasib kakak seperguruannya.

Sesudah Ho Pit Ong dirintangi oleh kelima Hoan-ceng, sejumlah busu segera membantu menyalakan api yang makin lama menjadi semakin besar. Melihat musuh menggunakan api, Hoan Yauw bingung bercampur kuatir. Setelah menaruh kasur yang membungkus tubuh Lok Thung Kek dan Han-kie di lantai, buru-buru dia masuk ke beberapa kamar tahanan.

“Tat-cu membakar menara!” teriaknya, “apa lweekang kalian sudah pulih kembali?”

Namun teriakannya tidak mendapat jawaban. Dia mendapat kenyataan bahwa Song Wan Kiauw, Jie Lian Ciu, dan yang lain-lain tengah bersemedi. Mereka semuanya memejamkan mata dan tidak memberi jawaban. Hoan Yauw tahu bahwa mereka berada pada detik yang sangat penting, yaitu detik menjelang pulihnya tenaga dalam mereka. Sementara sejumlah busu yang tadinya menjaga di beberapa lantai telah dirobohkan dan dilontarkan ke bawah oleh Hoan Yauw sehingga mereka binasa seketika. Bahkan ada pula penjaga yang melompat turun sendiri.

Tidak lama kemudian api sudah membakar lantai ketiga. Yang dikurung di lantai ini adalah rombongan Hoa-san-pay yang terpaksa lari ke lantai empat. Api terus membakar dengan ganas. Orang-orang Khong-tong-pay yang ditahan di lantai ke empat juga terpaksa naik ke lantai lima bersama-sama rombongan Hoa-san-pay. Makin lama Hoan Yauw menjadi makin bingung. Sekonyong-konyong mereka mendengar teriakan seseorang.

“Hoan-yusu! Sambutlah!”

Hoan Yauw girang bukan kepalang. Itulah teriakan Wie It Siauw yang sudah berdiri di atas wuwungan gedung belakang Ban-hoat-si. Dengan sekali mengayunkan tangan, terbanglah seutas tambang yang lalu disambut oleh Hoan Yauw.

“Ikatlah di langkan supaya menjadi jembatan tambang!” teriak pula Wie Hok-ong.

Namun baru saja Hoan Yauw mengikat tambang itu, Tio It Siang salah seorang dari Sin-cian Pat-hiong sudah memutuskannya dengan anak panah. Wie It Siauw dan Hoan Yauw mencaci kalang kabut, tetapi mereka tahu bahwa tak ada gunanya mencoba lagi.

“Bangsat! Kau benar-benar sudah bosan hidup!” teriak Wie It Siauw seraya menghunus senjata dan melompat turun. Ia menggunakan sepasang gaetan berbentuk kepala harimau yang jarang sekali digunakan kecuali dalam detik-detik berbahaya.

Begitu kakinya hinggap di bumi, lima Hoan-ceng yang berbaju hijau dan bersenjata pedang lantas saja mengepungnya. Kelima pendeta asing itu ialah Ngo-kiam-ceng dari Thian-liong Sip-pat-po.

Selagi api terus berkobar-kobar, dengan rasa bingung Ho Pit Ong bertempur mati-matian.

“Siauw Ong-ya!” teriaknya. “Kalau kau tidak mau memadamkan api, aku tidak akan berlaku sungkan lagi terhadapmu.”

Ong Po Po tidak meladeninya. Empat Hoan-ceng yang bersenjata tongkat lantas berdiri di seputar majikan mereka untuk menjaga serangan di luar dugaan. Ho Pit Ong menjadi nekat. Tiba-tiba dengan kedua pit-nya dia membabat dengan pukulan Hoan-siauw Cian-kun (menyapu ribuan tentara). Karena serangan itu hebat luar biasa, tiga Hoan-ceng terpaksa melompat mundur. Dengan mempergunakan kesempatan itu Ho Pit Ong melompat tinggi, kemudian laksana seekor elang kedua kakinya hinggap pada payon lantai menara tinggi yang pertama itu. Melihat api yang berkobar-kobar, kelima pendeta asing itu tidak berani mengejar.

Sambil mengempos semangat Ho Pit Ong naik ke atas. Waktu dia tiba di lantai ke empat, Hoan Yauw yang berdiri di lantai ke tujuh mengangkat kasur tinggi-tinggi sambil berteriak,

“Tua bangka she Ho, berhenti kau! Kalau kau maju setindak lagi, badan Suheng-mu akan hancur bagaikan perkedel!”

Diancam begitu, Ho Pit Ong benar-benar menghentikan semua tindakannya.

“Kouw Taysu!” teriaknya dengan suara memohon. “Suheng-ku belum pernah berbuat dosa terhadapmu dan kita belum pernah bermusuhan, kenapa kau begitu kejam? Jika kau mau menolong kecintaanmu Biat-coat Suthay, dan puterimu Ciu-kouwnio, kau boleh menolong. Kami pasti takkan menghalang-halangi.”

Sementara itu api berkobar semakin besar dan meluas.....

*********

Sekarang marilah kita menengok Biat-coat Suthay. Setelah menelan bubuk yang diberikan Hoan Yauw, dia mengira bahwa dia akan segera mati. Dia tidak takut mati. Yang membuat perasaannya berduka ialah turut matinya Ciu Cie Jiak. Dengan matinya murid itu, habislah harapannya. Selagi berada dalam kedukaan besar, sekonyong-konyong dia mendengar suara ribut-ribut di kaki menara yang disusul dengan caci mencaci antara Kouw Tauw-to dan Ho Pit Ong. Sesudah itu Ong Po Po memerintahkan dibakarnya menara. Semua kejadian itu didengar jelas olehnya.

Dia merasa heran dan berkata di dalam hati. “Apa tak bisa jadi Tauw-to bangsat itu benar-benar menolong aku?” Sambil berpikir demikian dia coba mengerahkan tenaga dalamnya. Sekonyong-konyong dia merasakan naiknya serangkum hawa hangat dari bagian tan-tian (pusar). Dia terkesiap. Inilah tanda bahwa tenaga dalamnya mulai pulih.

Dengan wataknya yang amat keras Biat-coat menolak untuk menunjukkan kepandaiannya di hadapan Tio Beng dan telah mogok makan enam tujuh hari sehingga perutnya kosong. Karena perutnya kosong maka obat pemunah bisa bekerja lebih cepat. Berkat Lweekang-nya yang sangat kuat maka racun Sip-hiang Joan-kin-san segera terdorong ke luar. Inilah sebabnya mengapa begitu lekas dia mengerahkan tenaga dalam, hawa hangat lantas saja naik ke atas.

Tak kepalang girangnya si nenek. Cepat-cepat ia bersila sambil mengatur jalan napasnya. Belum cukup setengah jam, kira-kira separuh Lweekang-nya sudah pulih kembali. Sambil bersemedi dia terus memasang kuping. Tiba-tiba dia mendengar perkataan Ho Pit Ong yang tajam bagaikan pisau, “...jika kau mau menolong kecintaanmu Biat-coat Suthay, dan puterimu Ciu-kouwnio, kau boleh menolong...“ Biat-coat adalah gadis yang putih bersih. Pada waktu masih muda dia bahkan tak pernah menemui orang lelaki. Dengan begitu dapatlah dibayangkan betapa besar kegusarannya. Dengan mata merah dia segera bangkit lalu menghampiri langkan.

“Bangsat! Apa katamu?!” teriaknya.

“Lo-suthay,” Ho Pit Ong berkata dengan suara memohon. “Bujuklah... sahabatmu supaya melepaskan Suheng-ku. Aku tanggung keluargamu yang terdiri dari tiga orang akan dapat keluar dari kelenteng ini dengan selamat. Hian-beng Jie-lo tidak pernah menjilat ludahnya sendiri.”

“Apa itu keluarga dari tiga orang?!” teriak pula Biat-coat.

Meski pun sedang menghadapi bencana Hoan Yauw tertawa terbahak-bahak. “Lo-suthay!” teriaknya, “Dia mengatakan bahwa aku adalah kecintaanmu dan Ciu-kouwnio adalah puteri kita berdua”.

Paras muka si nenek berubah merah padam. Dengan disoroti sinar api, muka itu sungguh menakutkan.

“Penjahat she Ho!” bentaknya. “Naik kau! Mari kita bertempur sampai ada yang mampus!”

Pada waktu biasa Ho Pit Ong pasti akan segera menyambut tantangan itu. Sedikit pun dia tidak merasa takut terhadap Ciang-bun-jin Go-bi-pay. Namun sekarang kakaknya berada di dalam tangan musuh sehingga dia tidak berani menguber napsu amarahnya.

“Kouw Tauw-to, itulah keterangan yang diberikan olehmu sendiri,” katanya.

Hoan Yauw kembali tertawa besar. Baru saja dia ingin mengejek si nenek, di kaki menara terdengar suara ribut yang sangat hebat. Cepat-cepat dia melongok ke bawah. Di antara musuh dan diringi suara gemerencengnya senjata-senjata yang jatuh di tanah, tampaklah olehnya sesosok bayangan berkelebatan. Orang itu adalah Kauwcu Thio Bu Kie.

Begitu Bu Kie turun tangan, lima batang pedang dari kelima Hoan-ceng yang mengurung Wie It Siauw langsung saja terpental ke tengah udara. Wie Hok-ong girang tak kepalang. Dengan sekali melompat dia sudah berada di samping Bu Kie dan berbisik,

“Kauwcu, aku mau pergi ke gedung Jie Lam Ong untuk melepas api.”

Bu Kie mengerti maksudnya dan segera mengangguk. Dia tahu bahwa dengan beberapa orang saja, kalau pihaknya tidak berhasil dalam waktu cepat dan musuh segera mengirim bala bantuan, maka usaha menolong tokoh-tokoh keenam partai akan gagal semua. Di dalam hati dia memuji siasat Ceng-ek Hok-ong yang sangat lihai. Begitu lekas Ong Hu kebakaran maka para busu pasti akan buru2 pulang untuk melindungi keluarga raja muda itu. Di lain saat, dengan sekali berkelebat saja Wie Hok-ong sudah berada di atas tembok kelenteng yang tinggi. Sesudah Wie It Siauw berlalu. Bu Kie menengadah dan berteriak,

“Hoan-yusu, bagaimana dengan kau?”

“Celaka besar!” jawabnya, “Jalan turun terputus, aku tidak dapat meloloskan diri lagi!”

Pada saat itu pula keempat belas anggota Thian-liong Sip-pat-po serentak menerjang dan mengepung Bu Kie dari berbagai jurusan. Begitu melihat jumlah musuh yang amat besar, pemuda itu berpendapat bahwa jalan satu2nya adalah membekuk pemimpin rombongan yang memakai topi emas untuk memaksa dia memadamkan api. Dengan sekali melompat dia telah menoblos dari kepungan bagaikan gerakan seekor ikan. Di lain saat dia telah berhadapan dengan Ong Po Po. Tapi sebelum dia sempat bergerak, sebatang pedang sudah menyambar dadanya.

“Thio-kauwcu, jangan lukai kakakku!” kata penikam itu yang bukan lain adalah Tio Beng. Sambaran pedang itu disertai dengan hawa yang sangat dingin dan Bu Kie tahu bahwa dia berhadapan dengan Ie-thian-kiam. Bagaikan kilat dia berkelit ke samping.

“Lekas kau perintahkan orang untuk memadamkan api dan melepaskan semua tahanan!” kata Bu Kie. “Kalau tidak, aku tidak akan berlaku sungkan lagi.”

“Thian-liong Sip-pat-po!” teriak Tio Beng. “Orang itu berkepandaian sangat tinggi. Kepung dia dengan barisan Thian-liong-tin!”

Tanpa diberi-tahu pun kedelapan belas Hoan-ceng itu telah tahu kelihaian Bu Kie. Mereka lantas saja bergerak hingga merupakan semacam tembok manusia di antara Bu Kie dan kedua majikan mereka. Melihat cara bertindak yang sangat aneh dari delapan belas lawan itu, Bu Kie tahu bahwa Thian-liong-tin tidak boleh dipandang enteng. Tiba-tiba saja kegembiraannya muncul dan dia mengambil keputusan untuk menghadapi barisan itu. Tetapi sebelum dia bergerak, se-konyong2 terdengar suara gedubrakan dan sepotong balok dengan apinya yang berkobar-kobar jatuh ke bawah.

Bu Kie mengawasi ke atas. Api telah membakar lantai ke enam dan dia melihat dua orang yang sedang bertempur mati-matian di atas atap. Mereka adalah Biat-coat Suthay dan Ho Pit Ong. Balok lantai yang jatuh berasal dari lantai tertinggi yang penuh dengan manusia, tokoh-tokoh keenam partai. Kini Lweekang mereka belum pulih semua. Meski pun dalam keadaan sehat tetapi mereka tidak akan dapat melompat dengan selamat dari tempat itu yang tingginya beberapa puluh tombak. Kalau mereka melompat juga, mereka pasti celaka. Kalau tidak binasa sedikitnya tentu patah tulang. Dalam waktu beberapa detik Bu Kie mengasah otak.

“Kalau aku mencoba untuk memecahkan Thian-liong-tin, usaha itu tentu memakan waktu,” pikirnya. “Lagi pula andai kata Thian-liong-tin pecah, jago-jago lain pasti akan segera turun mengepung. Tidak gampang untuk aku membekuk pangeran itu, Biat-coat Suthay dan Ho Pit Ong sudah bertempur cukup lama dan belum ada yang kalah. Tenaga dalam si nenek sudah pulih kembali. Dengan begitu Lweekang Toa-supek dan lain-lain Cianpwe pun pasti sudah pulih. Kalau belum semua sedikitnya sebagian besar. Hanya sayangnya menara itu terlampau tinggi dan kalau melompat mereka pasti celaka.”

Mendadak dia mendapat satu pikiran baik dan dia segera mengambil keputusan apa yang harus diperbuatnya.....


OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia