ads

Minggu, 18 Oktober 2026

To Liong To 26

PERTEMUAN DI OUW-TIAP-KOK

Dalam perjalanan itu rombongan Bu Kie menyaksikan penderitaan rakyat yang sangat hebat. Daerah sepanjang pantai biasanya daerah yang kaya, tapi apa yang dilihat mereka hanyalah ladang-ladang yang kosong kering dan kelaparan merajalela di mana-mana. Dengan ringkas dapat dikatakan bahwa kemiskinan rakyat telah sampai pada puncaknya. Bu Kie dan kawan-kawannya merasa amat berduka, tapi mereka pun tahu bahwa dengan adanya penderitaan itu kekuasaan Mongol di Tiongkok pasti takkan dapat dipertahankan dalam waktu lama. Sekarang saja orang-orang gagah di seluruh negeri telah mulai bangkit untuk mengusir kaum penjajah.

Pada suatu hari mereka sampai di Kay-pay-kie yang terletak tidak jauh dari Ouw-tiap-kok. Selagi enak berjalan, mereka mendengar teriakan-teriakan dan belakangan ternyata bahwa teriakan itu keluar dari dua pasukan yang sedang bertempur.

Bu Kie dan kawan-kawannya segera membedal kuda dan setelah melewati sebuah hutan, mereka melihat kira-kira seribu serdadu Mongol sedang mengepung sebuah tangsi yang di atasnya berkibar bendera Beng-kauw. Tangsi itu dipertahankan sejumlah kecil anak buah yang perlahan-lahan tidak mampu mempertahankan diri lagi. Biar pun dihujani anak panah mereka tetap tidak mau menyerah. Tentara Goan berteriak-teriak.

“Pemberontak Mo-kauw! Lekas menakluk!”

“Kalau menakluk, kalian mendapat ampun!”

“Apa kalian ingin mampus semua?!”

Untuk beberapa saat rombongan Bu Kie memperhatikan jalannya pertempuran.

“Kauwcu, apakah kita sudah boleh menerjang musuh?” tanya Cu Tian.

“Baiklah!” jawabnya. “Lebih dahulu singkirkan pemimpin-pemimpin pasukan itu.”

Di lain saat Yo Siauw, In Thian Ceng, In Ya Ong, Tiat-koan Tojin beserta Ciu Tian menerjang musuh. Dua orang Pek-hu-thio langsung roboh. Sesaat kemudian Cian-hu-thio yang memimpin pasukan dibinasakan oleh In Ya Ong.

Karena kehilangan pemimpin, tentara Goan lantas kalut. Di lain pihak, begitu melihat datangnya bala bantuan, orang yang membela tangsi segera bersorak-sorai. Pintu tangsi terbuka dan seorang lelaki yang bertubuh tinggi besar dan bersenjata tombak menerjang keluar. Dalam sekejap dia sudah merobohkan sejumlah serdadu Goan. Setiap kali tombak orang berkelebat, seorang serdadu Goan terjungkal.

Melihat begitu, tentara Goan menjadi jeri. Mereka lari serabutan menyingkirkan diri dari orang itu yang gagah dan angker bagaikan malaikat.

Para pemimpin Beng-kauw dalam rombongan Bu Kie merasa kagum dan memuji orang gagah itu. Tapi yang paling girang adalah Bu Kie sendiri karena dia mengenali bahwa orang itu Siang Gie Cun yang selalu dikenangnya siang dan malam. Hanya karena masih bertempur, dia tidak dapat segera menghampiri tuan penolong itu.

Akibat digencet dari depan dan belakang maka tentara Goan mendapat kerusakan besar. Kurang lebih lima ratus orang mati dan luka-luka. Sisanya tidak berani berperang terus lalu melarikan diri.

Sesudah musuh kabur, sambil tertawa terbahak-bahak Siang Gie Cun berseru, “Saudara-saudara dari manakah yang sudah memberi bantuan? Siang Gie Cun menghaturkan terima kasih yang sebesar-besarnya.”

“Siang-toako!” teriak Bu Kie. “Aduh! Siang malam siauwte memikirkan Toako.”

Ia segera berlari kemudian memegang tangan kakak itu erat-erat. Siang Gie Cun memberi hormat dengan membungkuk.

“Saudara Kauwcu,” katanya dengan suara gemetar. “Aku menjadi kakakmu sekaligus juga menjadi bawahanmu. Tak dapat kukatakan betapa besar rasa girangku.”

Kiranya Siang Gie Cun memegang tugas Hee-koa dalam Kie-bhok-kie. Pertempuran hebat di Kong-beng-teng yang berakhir dengan diangkatnya Bu Kie sebagai Kauwcu sudah dia ketahui dari Bun Cong Siong, Ciang-kiesu Kie-bhok-kie. Sudah beberapa hari dia berkemah di situ bersama sejumlah anggota Kie-bhok-kie untuk menunggu kedatangan Bu Kie. Namun apa mau dikata, tiba-tiba saja sepasukan tentara Goan datang menyerang. Karena musuh berjumlah lebih besar, dia berlagak kalah sambil memancing musuh untuk dibasmi.

Di luar dugaan rombongan Bu Kie muncul pada saat yang tepat dan dia segera menerjang ke luar. Di kalangan Beng-kauw dia berkedudukan rendah sebagai orang bawahan, maka dia lantas memberi hormat kepada Yo Siauw, In Thian Ceng dan yang lainnya. Melihat kegagahan dan mengingat bahwa dia adalah saudara angkat Kauwcu, para pemimpin Beng-kauw memperlakukannya sebagai sahabat yang sederajat.

Siang Gie Cun segera memerintahkan orang agar menyediakan makanan untuk menjamu para tamunya. Selagi makan minum ia menceritakan keadaan dan apa yang dilakukannya di daerah itu.

Selama beberapa tahun terakhir, daerah Hwai-lam dan Hwai-pak (sebelah selatan dan utara sungai Hwai-ho) mengalami kekeringan sehingga rakyat sangat menderita. Karena terpaksa dia mengumpulkan saudara-saudara Beng-kauw lalu melakukan pekerjaan tanpa modal. Tapi dalam pekerjaan itu dia hanya merampok milik hartawan jahat atau pembesar rakus dan jika ada kelebihan digunakan untuk menolong rakyat. Beberapa kali tentara Goan mencoba menyerang tangsi mereka, namun selalu dapat dipukul mundur.

Sesudah menginap semalaman, pada keesokan paginya rombongan Bu Kie meneruskan perjalanan bersama pasukan Siang Gie Cun. Mereka menganggap, sesudah mengalami kekalahan maka selama dua tiga bulan tentara Goan takkan berani menyerang lagi. Beberapa hari kemudian mereka tiba di luar Ouw-tiap-kok. Begitu mendengar kedatangan Kauwcu, para anggota Beng-kauw yang sudah tiba lebih dahulu lantas keluar untuk menyambut. Ternyata barisan Kie-bhok-kie sudah membangun rumah-rumah kecil untuk tempat berteduhnya para orang gagah. Wie It Siauw, Peng Eng Giok dan Swee Put tek pun sudah berada di situ dan mereka segera menemui Bu Kie.

Setelah berkenalan dengan semua orang, Bu Kie segera memerintahkan disediakan alat sembahyang, kemudian menyembahyangi suami isteri Ouw Ceng Gu dan Kie Siauw Hu. Mengingat kejadian dahulu bukan main rasa terharunya. Mimpi pun dia tak pernah bahwa hari ini dia bisa kembali lagi sebagai seorang Kauwcu dari satu agama yang sangat besar pengaruhnya pada jaman itu. Tiga hari kemudian tibalah hari Tiong-ciu. Di tengah-tengah lapangan Ouw-tiap-kok yang luas didirikan sebuah panggung tinggi dan di depan panggung dinyalakan api unggun yang sangat besar. Sesudah semua pemimpin Beng-kauw berkumpul, Bu Kie segera naik ke atas panggung kemudian dengan suara lantang mengumumkan bahwa Beng-kauw sudah menghentikan permusuhan dengan berbagai partai persilatan di wilayah Tiong-goan dan bahwa sekarang Beng-kauw berusaha sekuat tenaga untuk mengusir penjajah Goan dari tanah air. Setelah itu dia membaca peraturan-peraturan agama yang bertujuan untuk menyingkirkan penjahat dan menolong sesama manusia yang memerlukan pertolongan. Pengumuman itu disambut sorak sorai gegap gempita. Dalam suasana riang gembira dan dengan semangat bergelora para hio-cu dan yang lain-lain memasang hio lalu bersumpah untuk mentaati pesan Kauwcu.

Hari itu obor berkobar-kobar, wangi hio dapat diendus di seluruh selat. Sesudah terpecah belah begitu lama, sekarang Beng-kauw bersatu kembali. Semua orang mengakui bahwa di Beng-kauw belum pernah tercapai persatuan sedemikian kokoh sehingga di antaranya banyak yang mengucurkan air mata kegirangan. Sesudah itu Bu Kie membuat pengumuman lain yang berbunyi sebagai berikut:

“Menurut kebiasaan agama kita, kita semua tidak makan makanan yang asalnya berjiwa. Akan tetapi dalam menghadapi kelaparan manusia harus makan apa pun juga yang dapat dimakan. Apa lagi hari ini kita telah bertekad untuk melakukan satu pekerjaan besar, yaitu mengusir Tat-cu (orang Mongol) dari tanah air kita. Kalau kita tetap tidak makan makanan berjiwa, maka tenaga atau semangat kita akan berkurang dan kita sulit untuk menunaikan tugas-tugas yang berat itu. Sebab itu mulai sekarang kami menghapus peraturan yang melarang para anggota makan makanan berjiwa dan minum arak. Sebagai manusia yang hidup di dunia ini, kita harus mementingkan urusan besar. Soal makan adalah soal remeh yang bisa diubah sesuai dengan keadaan.”

Malam itu di bawah cahaya rembulan beberapa ribu pemimpin Beng-kauw makan minum sepuas hati dan pesta baru berakhir setelah terang tanah. Sesudah mengaso kira-kira tengah hari, barulah Bu Kie bangun dan mandi. Baru saja dia selesai berpakaian, seorang anggota melaporkan bahwa Ciu Coan Ciang, Cie Tat dan beberapa anggota lain dari Ang-sui-kie minta bertemu.

Bu Kie girang sekali dan cepat keluar menyambut. Begitu melihat Bu Kie, Cu Goan Ciang, Cie Tat, Thong Ho, Teng Jie, Hoa In, Gouw Liang dan Gouw Tin yang menunggu di luar pintu lantas memberi hormat dan membungkuk. Cepat-cepat Bu Kie membalas hormat. Di depan matanya lantas terbayang kejadian pada hari itu, waktu Cie Tat menyelamatkan jiwanya. Dengan tangan kiri menuntun Cu Goan Ciang dan tangan kanan menuntun Cie Tat, dia mengajak semua orang masuk ke dalam. Sesudah meminta maaf, Cu Goan Ciang dan kawan-kawannya baru berani duduk di kursi. Ternyata Cu Goan Ciang sudah tidak menjadi pendeta lagi.

“Begitu menerima perintah Kauwcu, buru-buru kami datang ke sini,” katanya. “Tapi di luar dugaan kami bertemu dengan kejadian luar biasa di tengah jalan sehingga kami terlambat, dan untuk itu kami mohon maaf.”

“Kejadian apa?” tanya Bu Kie.

“Pada bulan enam kami telah menerima perintah Kauwcu,” jawabnya. “Kami merasa amat girang lalu berunding tentang barang antaran yang sebaiknya kami bawa untuk memberi selamat kepada Kauwcu. Tapi Hwai-pak adalah daerah miskin sehingga tidak ada barang berharga. Untung masih ada banyak waktu dan sesudah berunding, kami mengambil keputusan untuk mencoba peruntungan di propinsi Shoa-tang. Karena kuatir dikenali pembesar negeri maka kami menyamar sebagai kusir kereta keledai, dengan aku sendiri sebagai pemimpin rombongan.

Hari itu kami tiba di kota Kwie-tek-hu di mana kereta kami disewa beberapa saudagar yang hendak pergi ke Ho-tek di Shoa-tang. Selagi enak berjalan, tiba-tiba kami dikejar sejumlah orang bersenjata dan kelihatan garang sekali. Mereka mengusir saudagar-saudagar itu, lalu dengan sikap galak mengatakan bahwa kami harus mengangkut penumpang lain. Saudara Hoa In yang beradat berangasan lantas mau turun tangan. Untung dia sempat dihalangi saudara Cie Tat yang buru-buru memberi isyarat dengan lirikan mata. Orang-orang itu membawa kami berikut sembilan buah kereta kami ke sebuah lembah, di mana sudah menunggu beberapa belas kereta lainnya. Di atas tanah kelihatan duduk sejumlah hwesio...”

“Hwesio?” Bu Kie menegas.

“Benar,” jawabnya. “Mereka kelihatan sangat berduka cita, sebagian besar mereka duduk sambil menundukkan kepala, tapi banyak di antaranya bukan sembarang orang. Ada yang Tay-yang-hiatnya menonjol keluar, ada yang tubuhnya tinggi besar kokoh. Dengan bisik-bisik saudara Cie Tat mengatakan bahwa pendeta-pendeta itu mempunyai ilmu silat yang amat tinggi. Begitu kami tiba, orang-orang galak itu memerintahkan agar semua hwesio naik ke kereta lalu menggiring kami ke jurusan utara.

Aku yakin dalam hal ini pasti terselip sesuatu yang luar biasa. Diam-diam aku berpesan agar semua saudara waspada dan harus menjaga agar penyamaran kita tidak diketahui. Di sepanjang jalan kami memperhatikan gerak-gerik dan pembicaraan orang-orang yang menggiring kami. Tapi mereka amat berhati-hati dan mereka tak pernah bicara sembarangan di hadapan kami. Akhirnya, dengan memberanikan diri di tengah malam saudara Gouw Liang mencoba memasang kuping di luar jendela kamar mereka. Sesudah menyatroni empat-lima malam barulah ia mendapat sedikit keterangan. Ternyata hwesio itu adalah pendeta-pendeta berilmu dari Siauw-lim-si di Siong-san.”

Biar pun sudah menduga dari semula, mendengar itu Bu Kie mengeluarkan seruan kaget. Sesudah berdiam sejenak, Cu Goan Ciang melanjutkan penuturannya.

“Malam itu, setelah mengintip beberapa lama saudara Gouw Liang mendengar suara seseorang. ‘Perhitungan Cu-jin benar-benar lihai, semua jago dari enam partai besar tidak ada yang bisa lolos dari tangannya. Sejak dahulu, siapakah yang bisa berbuat seperti itu?’ Sambung seorang lagi. ‘Masih ada hal lain yang amat mengagumkan. Dengan sebatang anak panah majikan kita berhasil memanah dua ekor tiauw. Dengan siasatnya yang amat lihai dia sudah menyeret iblis-iblis Mo-kauw ke dalam lubang permusuhan.’ Kami lantas berunding. Kami berpendapat bahwa karena agama kita juga disebut-sebut maka kami harus menyelidiki hal ini sampai seterang-terangnya guna dilaporkan kepada Kauwcu.”

“Benar,” kata Bu Kie sambil menggangguk. “Keputusan kalian tepat sekali.”

“Kami terus digiring ke jurusan utara,” kata pula Cu Goan Ciang. “Di sepanjang jalan kami berlagak sebagai manusia tolol. Saudara Thong Ho dan saudara Teng Jie pura-pura berkelahi lantaran berebut lima tahil perak. Mereka saling pukul membabi buta untuk menunjukkan bahwa mereka tidak mengerti ilmu silat. Orang-orang galak itu tertawa ter-bahak dan mereka tidak memperhatikan kami lagi. Di samping itu kami memperlakukan mereka dengan amat hormat. Kami selalu memanggil mereka dengan panggilan ‘Loya’ (Tuan Besar). Saudara Gouw Tin mengusulkan untuk menggunakan obat tidur guna menolong pendeta-pendeta itu.

Setelah berunding kami menolak usulnya. Kami berpendapat bahwa terlebih dulu kami harus menyelidiki teka-teki ini sampai ke dasarnya. Kami pun berpendapat bahwa orang-orang itu sangat berhati-hati dan memiliki kepandaian tinggi sehingga sekali salah bertindak urusan besar bisa gagal. Maka kami tidak berani turun tangan. Waktu tiba di kota Ho-kian-hu, kami bertemu dengan enam buah kereta lain yang juga membawa orang. Orang-orang di dalam kereta itu adalah orang-orang biasa. Selagi makan, salah seorang pendeta menegur orang itu dengan berkata begini ‘Song-tayhiap, kau pun berada di sini?’.”

Bu Kie terkesiap. “Song-tayhiap?” ia menegas. “Bagaimana macamnya?”

“Dia bertubuh jangkung kurus,” jawabnya. “Usianya kira-kira lima puluh atau enam puluh tahun. Jenggotnya bercabang tiga, paras mukanya tampan dan anggun.”

Tak salah lagi, itulah Song Wan Kiauw! Bu Kie girang dan cepat menanyakan yang lainnya dalam rombongan itu. Dari keterangan Cu Goan Ciang, ia menarik kesimpulan bahwa Jie Lian Ciu, Thio Siong Kee dan Boh Seng Kok juga berada di situ.

“Apakah mereka terluka? Apakah mereka dirantai?” tanyanya.

“Tidak,” jawab Cu Goan Ciang. “Mereka tidak dirantai dan kami pun tidak melihat tanda-tanda luka. Mereka berbicara dan berlaku seperti orang yang sehat. Mereka hanya tidak punya semangat dan bila berjalan tindakan mereka agak limbung. Mendengar perkataan pendeta Siauw-lim itu Song-tayhiap hanya tertawa getir. Ia tidak menjawab. Hwesio itu ingin bicara lagi, tetapi seorang penjaga keburu datang dan dengan kasar memisahkan mereka dalam jarak belasan li. Kami tidak pernah bertemu muka lagi dengan rombongan Song-tayhiap. Pada tanggal tiga bulan tujuh, rombongan kami tiba di kota raja.”

“Ahh!” seru Bu Kie “Kota raja! Kalau begitu yang turun tangan adalah kaisar Goan sendiri. Kemudian bagaimana?”

“Pendeta-pendeta Siauw-lim dikirim ke sebuah rumah berhala yang amat besar di See-shia (kota sebelah barat),” katanya. “Kami pun disuruh menginap di bio (kuil) itu.”

“Bio apa?” tanya Bu Kie.

“Ketika tiba di depan kuil, aku mendogak dan mengawasi papan nama yang terpasang di luar,” jawabnya “Bio itu adalah Ban-hoat-si. Karena mendongak aku lantas dicambuk oleh seorang penjaga. Kami segera berunding. Kami menduga bahwa untuk menutup mulut maka kami akan dibinasakan. Sebab itu kami mengambil keputusan melarikan diri malam itu juga.”

“Sungguh berbahaya,” kata Bu Kie. “Untung mereka tidak mengejar sehingga kalian bisa lari sampai di sini dengan selamat.”

Thong Ho tertawa. “Cu-toako sudah bertindak terlebih dulu untuk mencegah pengejaran,” katanya. “Selagi para penjaga pergi keluar, cepat kami menyatroni tempat penjualan keledai lantas membekuk tujuh penjual keledai. Sesudah menukar pakaian dengan mereka, kami membunuh ketujuh orang itu di dalam bio. Kami membacok muka mereka supaya tidak dikenali lagi. Kami juga membinasakan kusir-kusir kereta lainnya yang datang bersama. Kemudian kami menyebar uang perak di lantai. Dengan demikian para penjaga tentu akan menduga bahwa kedua rombongan kusir kereta saling bunuh karena berebut uang.“ Ia sama sekali tidak merasakan kekejaman dari perbuatan itu dan dia pun bercerita sambil tertawa-tawa.

Bu Kie terkejut. Ia melirik Cie Tat yang kelihatannya merasa tidak tega, sedangkan paras Teng Jie menunjukkan paras jengah. Hanya Cu Goan Ciang yang bersikap tenang dengan paras muka tak berubah. “Dia kejam dan lihay,” kata Bu Kie dalam hati. Sesudah menenteramkan hati, dia berkata dengan suara tajam.

“Meski pun siasat toako bagus tetapi mulai sekarang kita tidak boleh membunuh manusia yang tidak berdosa.”

Dengan serentak Cu Goan Ciang beserta kawan-kawannya segera bangkit dan berkata sambil membungkuk.

“Kami akan memperhatikan perintah Kauwcu.”

“Kau berjasa besar dan sekarang kita sudah tahu di mana adanya rombongan Siauw-lim dan Bu-tong,” kata pula Bu Kie. “Sesudah selesai mengatur gerakan untuk merobohkan kerajaan Goan, kita akan segera ke kota raja untuk menolong rombongan kedua partai itu.”

Sesudah beres urusan mengenai kepentingan umum barulah Bu Kie menuturkan hal memasak daging kerbau di kelenteng Hong-kak-sie pada hari itu. Membayangkan kejadian itu, semua orang tertawa terkakak sambil bertepuk tangan. Malam itu Bu Kie mengadakan acara kumpul-kumpul dengan segenap pemimpin Beng-kauw. Mereka menyalakan api ungun kemudian memasang hio. Maka secara resmi telah diambil suatu keputusan bahwa seluruh Beng-kauw siap untuk bergerak dengan serentak. Pasukan Peh-bie-kie dan semua anggota Beng-kauw harus saling tolong menolong dalam menggempur tentara musuh dan merobohkan kerajaan Goan.

Rencana gerakan Beng-kauw adalah sebagai berikut: Kauwcu Thio Bu Kie bersama Kong-beng Cosu Yo Siauw dan Ceng-ek Hok-ong Wie It Siauw memegang kekuasaan Cong-tan (seluruhnya) dan menjadi Cong-swee (pemimpin ketentaraan yang tertinggi). Peh-bie Eng-ong In Thian Ceng bersama seluruh anggota Peh-bie-kie bergerak di daerah Khong-lam.

Cu Goan Ciang, Cie Tat, Thong Ho, Teng Jie, Hoa In, Gouw Liang dan Gouw Tin, bersama pasukan-pasukan Siang Gie Cun, Kwee Cu Hian dan Sun Tek Ciu bergerak di Hu-ciu di Hwai-pak. Put-thay Hwesio Swee Put Tek bergerak di Eng-ciu propinsi Ho Lam dengan memimpin Han San Tong, Lauw Hok Thong, Touw Cun To, Lo Bun So, Ong Hian Tiong, Seng Bun Yu dan Hau Kauw-ji. Pheng Eng Giok bergerak di Yauw-ciu, Wan-ciu, Sin Ciu dan kota-kota lain di Kang-say dengan memimpin Cie Siu Hwie, Cie Cin Ong dan Beng Giok Tin.

Tiat-koan Tojin bergerak di daerah Siang-couw dan Keng-siang dengan memimpin Po Sam Ong dan Beng Hay Ma. Ciu Tian bergerak di daerah Ciu-siok dan Hoang-pay dengan memimpin Cie Ma Lie dan Tio Kun Yang. Leng Kiam bersama anggota-anggota Beng-kauw wilayah See-hek harus mencegat bala tentara Mongol yang dikirim ke Tiong-goan dari See-hek. Ngo-heng-kie dikuasai oleh Cong-tan yang juga akan mengatur dan mengirim bala bantuan yang perlu dibantu.

Itulah rencana pergerakan Beng-kauw yang menurut taksiran orang sudah direncanakan oleh Yo Siauw. Pengumuman Bu Kie itu disambut dengan tepuk tangan dan sorak yang menggetarkan seluruh Ouw-tiap-kok. Sesudah suasana agak mereda, kembali Bu Kie berkata dengan suara nyaring.

“Menurut perhitungan, kalau kita hanya mengandalkan tenaga sendiri maka tidak gampang bisa merobohkan kerajaan Goan yang sudah menancapkan kaki selama seratus tahun. Karena itu kita harus berserikat dengan seluruh orang gagah di seluruh negeri dan dengan kerja sama yang erat kokoh, semoga saja kita dapat mencapai tujuan yang besar ini. Sekarang hampir separuh tokoh rimba persilatan Tiong-goan telah ditawan kerajaan Goan. Cong-tan akan berusaha sekeras tenaga untuk menolong mereka.

Besok saudara-saudara harus pulang ke tempat masing-masing guna mengatur dan mempersiapkan segala sesuatunya. Begitu ada kesempatan, saudara sekalian boleh bergerak. Cong-tan pun akan secepatnya berangkat ke kota raja. Hari ini boleh kita makan minum sepuas hati. Di belakang hari entah kapan kita dapat bertemu muka kembali. Kami mengharapkan kalian akan saling mencintai kawan seperjuangan dan akan mengutamakan kepentingan umum. Janganlah kalian serakah untuk kepentingan pribadi atau saling bunuh antar kawan sendiri. Cong-tan tak akan memberi ampun terhadap siapa pun juga yang menyeleweng!”

Pernyataan dan nasihat itu disambut dengan teriakan-teriakan bersemangat oleh para hadirin yang berjanji akan mentaati pesan Kauwcu mereka. Setelah itu segera diadakan upacara sumpah. Dengan meneteskan darah dan memasang hio semua orang bersumpah untuk berserikat sehidup semati dan berjuang sekuat tenaga melaksanakan rencana demi mencapai tujuan.

Pada keesokan paginya semua orang berpamitan pada kauwcu. Meski pun mereka terdiri dari orang-orang gagah yang berhati baja, namun perpisahan itu mengharukan banyak orang karena mereka maklum bahwa dalam peperangan bakal jatuh banyak korban sehingga belum tentu berapa banyak orang yang bisa ketemu muka lagi.

Perlahan-lahan mereka mulai keluar dari mulut Ouw-tiap-kok, di mana dinyalakan sebuah api ungun yang sangat besar. Entah siapa yang memulai, tiba-tiba di selat itu berkumandang nyanyian seperti berikut.

Membakar ragaku,
Api nan suci.
Hidup apa senangnya?
Mati apa susahnya?

Semua orang lantas mengikuti dan suara nyanyian terdengar semakin keras.

Membakar ragaku.
Api nan suci.
Hidup apa senangnya?
Mati apa susahnya?

Untuk kebaikan, menyingkirkan kejahatan.
Guna kegemilangan Beng-kauw.
Kesenangan dan kedukaan.
Semua berpulang ke dalam tanah.

Kasihan manusia di dalam dunia.
Banyak yang menderita!
Kasihan manusia di dalam dunia
Banyak yang menderita!

Di antara suara nyanyian yang mengalun di seluruh selat, para pemimpin Beng-kauw yang mengenakan pakaian serba putih minta diri dari Kauwcu mereka. Satu demi satu mereka menghampiri Bu Kie, lalu membungkuk dan berjalan keluar tanpa menengok lagi. Bu Kie menerima pemberian hormat itu dengan rasa terharu. Mereka adalah orang-orang gagah sejati. Demi nusa dan bangsa, selama sepuluh atau dua puluh tahun darah mereka akan mengucur di bumi Tiongkok. Mengingat begitu tanpa terasa air matanya menetes di kedua pipinya.

Makin lama suara nyanyian tedengar makin jauh. Tak lama kemudian Ouw-tiap-kok yang selama beberapa hari penuh dengan manusia, kini kembali ke asalnya. Sunyi dan tenang. Yang masih tertinggal di sana hanya Bu Kie, Yo Siauw, Wie It Siauw, Cu Goan Ciang dan kawan-kawannya. Bu Kie menanyakan letak Ban-hoat-si dan macamnya penjaga kelenteng itu, sesudah itu dia berkata kepada Cu Goan Ciang.

“Cu-toako, dunia sedang menghadapi kekalutan dan kita tidak boleh menyia-nyiakan setiap kesempatan. Kalian tidak usah menemani kami lagi ke kota raja. Sekarang kita berpisah.”

“Baiklah,” jawabnya. “Kami mengharapkan Kauwcu segera berhasil dan kami semua menunggu kabar baik.” Sehabis berkata begitu dia meninggalkan Ouw-tiap-kok bersama kawan-kawannya.

“Mari, kita pun harus berangkat,” kata Bu Kie sesudah rombongan Cu Goan Ciang berlalu. “Siauw Ciauw, karena kau membawa-bawa rantai, sebaiknya kau menunggu di sini saja.”

Si nona tidak menolak, tetapi dia mengantar terus menerus. Sesudah tiga li, tiga li lagi dan dia tetap tidak rela untuk berpisah.

“Siauw Ciauw, kau sudah mengantar terlampau jauh,” kata Bu Kie. “Ada kemungkinan kau kesasar sehingga tidak bisa kembali ke Ouw-tiap-kok.”

“Thio-kauwcu, apakah kau akan bertemu dengan Tio-kouwnio di kota raja?” tanya si nona.

“Entahlah,” jawabnya.

“Kalau kau bertemu dengan dia, bolehkah mengajukan satu permintaan untukku?”

Bu Kie heran. “Permintaan apa?” tanyanya.

“Minta pinjam Ie-thian Po-kiam untuk memutuskan rantai. Selama rantai ini belum bisa diputuskan, selama itu pula aku masih menjadi orang yang sengsara.”

Melihat sikap dan paras muka si nona, Bu Kie merasa tidak tega. Tapi belum sempat dia membuka mulut, Siauw Ciauw sudah mendahului berkata,

“Tetapi aku kuatir dia tidak sudi meminjamkan pedang itu. Kita bisa minta supaya dia sendiri yang memutuskan rantai ini.”

Bu Kie tertawa. “Siauw Ciauw, aku sudah tahu maksudmu,” katanya. “Kau hanya ingin ikut bersama kami. Yo-cosu, bagaimana pendapatmu? Apa boleh kita ajak?”

Yo Siauw mengerti jalan pikiran sang Kauwcu. Dengan bertanya begitu sebetulnya Bu Kie ingin mengajak si nona. Maka itu dia lantas menjawab.

“Tidak ada halangan jika Kauwcu ingin mengajak dia, di perjalanan bisa merawat Kauwcu. Hanya rantai itu amat menarik perhatian. Begini saja. Biar dia berlagak sakit dan bersembunyi di kereta. Di depan orang banyak dia tidak boleh sembarangan menonjolkan wajah.”

Siauw Ciauw girang bukan main. “Terima kasih, Kauwcu, terima kasih Yo-cosu,” katanya. Dia menoleh kepada Wie it Siauw lalu menambahkan, “Terima kasih, Wie Hok-ong.”

Wie It Siauw tertawa dan berkata. “Perlu apa kau menghaturkan terima kasih kepadaku? Hati-hati kau. Kalau penyakitku kumat lagi, aku bisa menghisap darahmu,” sambil berkata begitu dia menyeringai dan memperlihatkan dua baris giginya yang putih.

Siauw Ciauw tahu bahwa Wie It Ong sedang bergurau, tetapi dia merasa seram juga. Dia mundur beberapa tindak dan berkata,

“Wie Hok-ong, jangan menakut-nakuti aku.”

Demikianlah, dengan menggunakan tiga ekor kuda dan sebuah kereta, Bu Kie berempat menuju kota raja. Perjalanan itu dilakukan tanpa menemui halangan dan pada suatu hari, tibalah mereka di Tay-touw (sekarang Beijing). Ibukota kerajaan Goan. Sebagai tempat tinggal kaisar, tentu saja kota itu lain dari pada yang lain. Wakil dari berbagai negeri dan suku bangsa berkumpul di situ. Begitu masuk di pintu kota, Bu Kie berempat langsung menuju ke See-shia (kota sebelah barat) dan mencari sebuah rumah penginapan yang besar.

Yo Siauw berlagak sebagai seorang hartawan. Ia minta tiga kamar kelas satu dan memberi persen secara royal kepada pelayan yang tentu saja berlaku amat hormat dalam pelayanannya. Sesudah minum teh, Yo Siauw memanggil pelayan itu lalu mengajaknya bercakap-cakap tentang keadaan kota raja. Ia mengatakan bahwa ia suka sekali meninjau tempat yang mempunyai nilai kebudayaan dan sejarah.

“Di mana kami bisa melihat lihat kelenteng tua yang tersohor?” tanyanya.

Setelah menyebutkan beberapa nama, si pelayan menyebutkan Ban-hoat-si. “Ban-hoat-si sangat besar,” katanya. “Di dalam kelenteng itu terdapat tiga patung Buddha yang sangat besar dan terbuat dari tembaga. Di seluruh negeri tidak ada patung lain yang sebesar itu. Sebetulnya tepat sekali kalian mau meninjau bio tersebut, hanya sayang kalian terlambat. Semenjak setengah tahun yang lalu kelenteng itu digunakan sebagai tempat tinggal para Hud-ya (pendeta) dari See-hoan (daerah barat). Sekarang rakyat tidak berani lagi datang ke sana.”

“Biar pun ada Hoan-ceng, halangan apa kalo kita melihat-lihat bio itu?” kata Yo Siauw.

Si pelayan menggelengkan kepala. Sesudah menegok ke sana kemari barulah dia berbisik,

“Tuan baru saja datang ke sini sehingga tidak tahu keadaan sesungguhnya. Bukan aku banyak mulut, tetapi para Hud-ya Su-hoan itu galak luar biasa. Mereka sering memukul dan membunuh orang. Mereka dilindungi Hong-siang (Kaisar) sehingga tak satu manusia pun yang berani menepuk lalat di kepala harimau. Kini rakyat biasa tidak berani datang lagi di kelenteng itu.”

Sejak lama Yo Siauw tahu bahwa para pendeta Su-hoan sering berlaku sewenang-wenang terhadap rakyat. Ia hanya tak menduga bahwa para pendeta itu berani berbuat sesuka hati di kota raja. Mendengar keterangan si pelayan ia tidak berkata apa lagi. Setelah makan malam Bu Kie, Yo Siauw dan Wie It Siauw bersemedi untuk mengaso dan mengumpulkan tenaga. Kira-kira tengah malam mereka membuka jendela lalu menuju ke arah barat.

Ban-hoat-si memiliki empat loteng dan di belakang kelenteng berdiri sebuah menara yang bertingkat sembilan. Dengan menggunakan ilmu ringan badan dalam sekejap mereka sudah berada di depan kelenteng. Setelah saling memberi isyarat dengan gerakan tangan, mereka mengambil jalan memutar lalu pergi ke sebelah kiri. Mereka ingin melompat naik ke atas menara untuk menyelidiki keadaan di dalam kelenteng. Di luar dugaan, dari jarak sekitar tiga puluh tombak mendadak mereka melihat beberapa bayangan manusia bergerak di menara itu. Ternyata di setiap tingkat terdapat penjagaan, dan di bawah menara pun berkumpul kurang lebih dua puluh orang penjaga.

Melihat keadaan itu mereka kaget bercampur girang. Mereka merasa yakin bahwa dengan adanya penjagaan yang keras, para tokoh Siauw-lim, Bu-tong dan partai-partai lainnya pasti dipenjarakan di menara ini. Mereka ingin mengirit waktu. maka tidak perlu menyelidiki tempat lain. Tapi mereka pun maklum tidak gampang memberi pertolongan. Kong-bun, Kong-tie, Song Wan Kiauw dan lainnya adalah ahli silat kelas utama, tetapi mereka tertawan dan tidak berdaya. Ini membuktikan bahwa pihak musuh terdapat banyak orang pandai yang tidak boleh dibuat gegabah.

MENCURI ILMU

Sebelum berangkat ke Ban-hoat-si, Bu Kie bertiga sudah berunding dan menyetujui untuk bertindak dengan amat berhati-hati. Maka, setelah mengawasi menara tersebut beberapa lama mereka segera mundur. Tiba-tiba saja di tingkat ke enam muncul penerangan yang terang benderang. Dari kejauhan Bu Kie melihat gerakan delapan-sembilan orang yang tangannya mencekal obor. Dari tingkat ke enam orang-orang itu turun ke tingkat lima, lalu turun lagi ke tingkat empat, terus turun sampai ke bawah dan akhirnya keluar dari pintu menara dan menuju ke arah kelenteng. Yo Siauw memberi isyarat dengan manggapaikan tangan lantas menguntit dengan hati-hati.

Pekarangan belakang Ban-hoat-si penuh dengan pohon besar yang berusia tua. Bu Kie bertiga bersembunyi di belakang pohon-pohon itu dan ketika angin bertiup barulah mereka berani bergerak maju. Ban-hoat-si penuh dengan orang pandai, sedikit pun mereka tidak berani ceroboh. Biar pun ilmu ringan badan mereka sudah mencapai tingkat tinggi tetapi mereka khawatir diketahui orang. Mereka baru berani bergerak berbareng dengan tiupan angin, di antara berkereseknya daun-daun. Dengan cara begitu mereka sudah maju kurang lebih dua puluh tombak.

Dengan bantuan sinar obor mereka melihat ada beberapa belas lelaki yang mengenakan jubah kuning dan memegang senjata sedang mengiring seorang kakek yang mengenakan jubah panjang. Saat kakek itu menengok ke belakang Bu Kie terkesiap karena dia itu bukan lain Thie-khim Sian-seng Ho Thay Ciong, Ciang-bun-jin Kun-lun-pay. Tidak lama kemudian orang-orang itu masuk di pintu belakang Ban-hoat-si. Sesudah menunggu beberapa saat dan setelah melihat di sekitar itu tidak ditaruh penjaga, Bu Kie bertiga turut masuk ke dalam.

Ban-hoat-si terdiri dari sejumlah bangunan besar kecil dan sejumlah besar kamar-kamar. Untung sekali begitu masuk Bu Kie bertiga melihat penerangan luar biasa di Toa-thia (ruangan besar, tempat sembayang utama). Mereka merasa pasti Ho Thay Ciong dibawa ke ruangan ini. Dengan berindap mereka mendekat. Bu Kie mengintip di jendela sedangkan Yo Siauw dan Wie It Siauw menjaga di kiri kanan. Sebagai orang yang berkepandaian tinggi, mereka memiliki nyali besar. Tapi dalam sarang harimau jantung mereka tetap berdetak keras. Celah jendela itu sangat kecil Bu Kie hanya bisa melihat bagian sebelah bawah tubuh Ho Thay Ciong. Orang-orang lain yang berada di ruangan itu tidak bisa dilihat. Sekonyong-konyong dia mendengar suara Ho Thay Ciong.

“Aku sudah ditipu dan jatuh ke tanganmu. Mau bunuh, boleh bunuh! Kau tidak usah berharap aku sudi menjadi anjing kaisarmu. Biar pun kau membujuk tiga tahun atau lima tahun lagi, kau hanya membuang tenaga.”

Bu Kie manggut-manggut. “Walaupun Ho Thay Ciong bukan seorang kuncu tetapi dalam menghadapi urusan penting ternyata dia bisa mempertahankan keanggunannya sebagai seorang Ciang-bun,” pikirnya.

“Kalau kau terus keras kepala, Cu-jin pun tak akan memaksa,” kata seseorang dengan suara dingin. “Apa kau sudah tahu peraturan di sini?”

“Meski pun kau memutuskan sepuluh jari tanganku, aku tetap tak mau takluk,” kata Ho Thay Ciong.

“Baiklah,“ kata orang itu. “Sekali lagi aku ingin memberi-tahu peraturan kami. Apa bila kau dapat memenangkan ketiga orang ini maka selekas mungkin kami akan melepaskan kau. Kalau kau kalah maka kami akan memutuskan jari tanganmu kemudian mengurung kau selama satu bulan lagi. Setelah itu kami akan menanyakan lagi, barang kali berubah pikiran dan suka takluk kepada Hong-siang.”

“Dua jari tanganku telah putus,” kata Ho Thay Ciong. “Putus sebuah lagi tak menjadi soal. Ambil pedang!”

Orang itu tertawa dingin. “Apa bila semua jari tanganmu sudah putus, walau pun kau mau menakluk, kami tidak akan menerima. Perlu apa menerima orang yang sudah tak berguna lagi? Serahkan pedang kepadanya! Mokopas, kau majulah terlebih dahulu.”

“Baik,“ jawab seseorang yang suaranya kasar.

Dengan menggunakan sinkang Bu Kie meniup celah jendela yang lantas terbuka lebar. Dia melihat Ho Thay Ciong memegang sebatang pedang kayu yang ujungnya dibungkus kain.

Yang berdiri di hadapannya adalah seorang tinggi besar yang memegang sepasang golok baja. Tapi Ho Thay Ciong sedikit pun tidak merasa keder dan sambil mengibaskan pedang kayu, dia membentak,

“Hayolah!” Seraya berkata begitu dia membacok dengan salah satu pukulan lihai dari Kun-lun Kiam-hoat.

Mokopas berkelit lalu balas menyerang. Biar pun bertubuh besar gerakannya cukup gesit dan setiap serangan ditujukan kepada bagian tubuh Ho Thay Ciong yang berbahaya.

Sesudah memperhatikan beberapa jurus, Bu Kie berkata di dalam hati, “Mengapa tindakan Ho Sian-seng kosong dan napasnya tersengal-sengal? Dia kelihatan sudah tidak punya tenaga dalam.”

Semenjak mempunyai Kiu-yang Sin-kang dan Kian-kun Tay-lo-ie Sim-hoat, Bu Kie dapat memahami berbagai ilmu silat yang ada di dunia persilatan. Selama beberapa bulan terakhir ini dia sudah menerima banyak petunjuk dari Thio Sam Hong sehingga kepandaiannya tambah tinggi. Kini, makin lama ia menonton pertandingan antara Ho Thay Ciong dan pendeta See-hoan itu, semakin ia merasa bahwa di balik pertempuran itu terselip suatu latar belakang.

Kiam-hoat Ho Thay Ciong masih tetap lihai tetapi ia tidak memiliki Iweekang lagi sehingga tenaganya sama saja dengan tenaga orang biasa yang tidak mengerti ilmu silat. Di lain pihak kepandaian Hoan-ceng kalah jauh bila dibandingkan Ho Ciang-bun. Beberapa kali dia menyerang dengan hebat, tapi setiap serangan dapat dipunahkan. Sesudah bertanding sekitar lima puluh jurus tiba-tiba Ho Thay Ciong membentak.

“Kena!”

Pedang kayu yang menyambar ke timur mendadak membelok ke barat lalu mampir tepat di iga pendeta See-hoan. Jika pedang itu pedang baja atau jika Ho Thay Ciong masih mempunyai Iweekang maka pendeta itu pasti binasa. Tetapi sekarang bacokan itu hanya mengakibatkan sedikit rasa sakit.

“Mokopas, mundur kau!” bentak orang yang suaranya dingin. “Unwol, sekarang giliranmu!”

Bu Kie mengawasi orang yang memberi perintah. Wajah orang yang berjenggot putih itu seolah tertutup oleh selapis asap hitam dan dia bukan lain salah seorang dari Hian-beng Jie-lo. Dia berdiri sambil menggendong tangan dengan kedua mata dirapatkan, seolah dia tidak mempedulikan apa yang terjadi di ruangan itu. Tiba-tiba Bu Kie melihat sepasang kaki di atas sebuah meja kate yang dialasi sutera sulam. Kedua kaki itu memakai sepatu kuning dan di atas setiap sepatu tertera sebutir mutiara yang berkeredapan.

Jantung Bu Kie bergetar kencang. Dia mengenal sepasang kaki yang bentuknya bulat dan bagus sekali itu adalah kaki nona Tio Beng. Dalam pertemuan di Bu-tong-san ia menghadapi nona itu sebagai seorang musuh. Tapi sekarang entah mengapa hatinya berdebar dan paras mukanya berubah merah. Kaki Tio Beng bergerak. Rupanya dia sedang memperhatikan jalannya pertempuran. Berselang kira-kira seminuman teh, mendadak Ho Thay Ciong membentak lagi.

“Kena!”

Dan dia pun berhasil merobohkan jago yang ke dua.

“Unwol mundur!” bentak Hian-beng Lo-jin. “Helin Pohu, maju!”

Ketika itu, napas Ho Thay Ciong sudah tersengal. Sesudah merobohkan dua orang lawan, tenaganya mulai habis. Sesaat kemudian pertempuran ke tiga dimulai. Helin Pohu menggunakan senjata berat, sebatang toya baja dan dia bertenaga amat besar. Angin pukulan toya menyambar-nyambar dengan hebat sehingga semua lilin yang menerangi ruangan itu berkedip-kedip, sebentar gelap dan sebentar terang. Baru saja belasan jurus berlangsung, pedang kayu terpukul patah dan sambil menghela napas Ho Thay Ciong melemparkan pedang buntungnya di lantai.

“Thie-kiam Sian-seng, apa sekarang kau tidak suka menakluk?” tanya Hian-beng Lo-jin.

“Tidak!” jawabnya dengan angkuh. “Aku bukan saja tidak mau menakluk, tetapi juga tidak menyerah kalah. Kalau saja aku masih memiliki tenaga dalam, Hoan-ceng itu sama sekali bukan tandinganku.”

“Putuskan jari manis tangan kirinya!” bentak Hian-beng Lo-jin. “Setelah itu kirim pulang ke menara!”

Bu Kie menengok dan memandang kedua kawannya. Yo Siauw menggelengkan kepala sebagai tanda bahwa dia tidak menyetujui penyerbuan yang bakal menggagalkan seluruh rencana mereka. Sesaat kemudian terdengar suara dibacoknya jari tangan dan suara orang yang membalut luka. Ho Thay Ciong benar-benar jago, sedikit pun dia tidak mengeluarkan suara. Sesudah itu sejumlah pengawal berbaju kuning kembali keluar dari pintu belakang dan mengantar Ho Thay Ciong balik ke menara.

Sambil menyembunyikan diri di sudut tembok, Bu Kie bertiga melihat paras muka si kakek yang pucat bagaikan kertas dan kedua matanya yang seolah mengeluarkan api. Se-konyong-konyong di dalam ruangan terdengar suara nyaring seorang wanita.

“Lok Thung Kek, Kiam-hoat Kun-lun-pay betul-betul lihai. Dia membacok Mokopas dengan pukulan ini, membabat seperti ini di sebelah kiri sambil memutar begini di sebelah kanan.“

Orang yang bicara bukan lain Tio Beng. Sambil bicara ia bersilat menggunakan pedang kayu dengan dilayani oleh Mokopas, menuruti pukulan yang tadi digunakan oleh Ho Thay Ciong. Orang yang dipanggil Lok Thung Kek kiranya adalah Hian-beng Lo-jin, kakek muka hitam yang lantas memberi pujian.

“Cu-jin berotak sangat cerdas. Pukulan-pukulan itu tidak beda dengan aslinya.”

Tio Beng berlatih berulang-ulang. Setiap kali ia membacok iga Mokopas dengan menggunakan tenaga sehingga meski pun pedang itu pedang kayu akan tetapi si pendeta Su-hoan merasakan kesakitan hebat akibat harus menerima pukulan berulang pada tempat yang sama. Biar pun ber-jengit-jengit tapi Mokopas sama sekali tidak memperlihatkan rasa jengkel. Sesudah memahami beberapa pukulan kemudian Tio Beng memanggil Unwol dan berlatih dengan pendeta itu dalam pukulan Ho Thay Ciong yang tadi merobohkan si pendeta.

Melihat begitu Bu Kie segera mengerti latar belakang kejadian ini. Dengan suatu tipu Tio Beng telah memenjarakan tokoh-tokoh berbagai partai di Ban-hoat-si dan menekan Iweekang mereka menggunakan obat. Dengan cara itu dia mencoba memaksa ahli-ahli silat tersebut menakluk kepada kerajaan Goan. Karena tujuan pertama tidak berhasil maka ia memerintahkan orang-orangnya bertanding dengan tokoh-tokoh itu. Sedang ia sendiri memperhatikan jalannya pertandingan untuk mencuri pukulan-pukulan yang paling lihay dari berbagai partai. Dari sini dapatlah dilihat bahwa nona yang cantik itu telah menjalankan tipu daya. Sekarang Tio Beng berlatih dengan Helin Pohu. Sesudah beberapa lama ia terlihat sangsi dalam beberapa jurus terakhir. Ia menengok dan bertanya.

“Lok Thung Kek, apakah begini?”

Si kakek muka hitam terkejut dan sambil berpaling ke sebelah kiri, dia berkata, “Saudara Ho, apa kau melihat tegas pukulan-pukulan itu?”

Tio Beng tersenyum. “Kauw Suhu,” katanya. “Aku mohon petunjukmu.”

Seorang Tauw-to (pendeta) yang berambut putih lantas melangkah keluar. Tubuhnya bongkok dan jalannya pincang, mukanya penuh dengan bacokan golok sehingga hampir tidak dapat dikenali lagi. Di samping itu dia bertubuh tinggi besar sehingga biar pun bongkok, dia tidak lebih kate dari pada Lok Thung Kek. Tanpa mengeluarkan sepatah katapun dia mengambil pedang kayu dari tangan Tio Beng dan segera menyerang Helin Pohu dengan pukulan Kun-lun Kiam-hoat. Gerakannya sedemikian lincah seolah-olah dia sudah mempelajari ilmu pedang itu selama puluhan tahun.

Seperti Ho Thay Ciong, Kouw Tauw-to tidak menggunakan tenaga dalam sementara Helin Pohu menyerang dengan seluruh tenaganya. Sesudah bertanding beberapa saat, sambil membentak Helin Pohu menyabet dengan toyanya. Sebagian lilin langsung padam karena angin pukulan itu. Itulah pukulan yang mematahkan pedang Ho Thay Ciong. Menghadapi sabetan dahsyat itu Kouw Tauw-to memperlihatkan kegesitannya. Bagaikan walet yang terbang di atas air, pedangnya berkelebat lantas menempel di badan toya dan memapas ke depan, menghantam tangan Helin Pohu yang lantas kesemutan.

“Trangg...!”

Toya itu jatuh di lantai. Muka Helin Pohu berubah merah. Ia tahu jika pedang itu pedang baja, maka jari tangannya tentu sudah terbabat putus.

“Aku menyerah kalah!” katanya sambil membungkuk lalu menjemput toyanya.

Dengan kedua tangannya Kouw Tauw-to segera memulangkan pedang kayu kepada Tio Beng.

“Kauw Suhu,” kata si nona sambil tersenyum. “Apakah pukulan terakhir juga Kun-lun Kiam-hoat?”

Si pendeta manggutkan kepalanya.

“Apakah Ho Thay Ciong tidak mampu menggunakan pukulan itu?” tanya Tio Beng.

Dia menggangguk lagi.

“Kauw Suhu, coba ajarkan aku lagi,” si nona memohon.

Pendeta itu lantas melayani Tio Beng dengan tangan kosong. Meski pun dia bongkok dan pincang tapi gerakannya gesit luar biasa sehingga Tio Beng tidak dapat melayaninya. Tapi meski begitu, berkat kecerdasannya si nona dapat juga meniru gerakan setiap jurus. Sesudah beberapa gebrakan, dalam satu gerakan yang cepat dan indah tiba-tiba si Tauw-to memutar badan sambil mendorong dengan kedua tangannya, kemudian dia berdiri tegak dan tidak bergerak lagi.

“Sungguh lihay pukulan itu!” puji Bu Kie di dalam hati.

Setelah berpikir sejenak barulah nona Tio sadar. “Aya!” serunya. “Kauw Suhu, jika kau memegang toya, toya itu tentu sudah menghantam lenganku. Dengan cara apa pukulan itu bisa dipunahkan?”

Kouw Tauw-to segera membuat satu gerakan seperti orang sedang merampas toya dan berbareng kaki kirinya menendang. Gerakan yang dilakukan dalam kecepatan luar biasa itu bukanlah pukulan Kun-lun-pay.

“Kauw Suhu, perlahan sedikit!” kata Tio Beng sambil tertawa.

“Tenaga dalammu tidak cukup, kau tidak dapat meniru gerakan itu,” kata Bu Kie di dalam hati.

Kouw Tauw-to menggoyangkan tangannya sebagai tanda bahwa Tio Beng yang belum mempunyai cukup Iweekang tak akan bisa menggunakan pukulan itu. Sesudah itu, tanpa meladeni si nona lagi dia kembali ke tempatnya dengan terpincang-pincang.

“Kepandaian Tauw-to itu mungkin tidak berada di sebelah bawah Hian-beng Jie-lo,” pikir Bu Kie. “Biar pun Iweekang-nya belum diketahui seberapa tinggi tapi dia bukan lawan enteng. Kenapa dia tak pernah bicara? Apa dia gagu? Tak mungkin gagu sebab dia tidak tuli. Tio-kouwnio kelihatannya amat menghormati dia. Dia pasti bukan sembarang orang.”

Melihat si bongkok tidak meladeninya. Tio Beng tidak marah. Ia hanya tersenyum kemudian berkata,

“Panggil Tong Bun Liang!”

Tak lama kemudian Tong Bun Liang digiring masuk dan kembali Lok Thung Kek menyuruh tiga orang untuk melayani tetua Khong-tong-pay itu. Tong Bun Liang yang tak mau jatuh di bawah angin karena senjata yang tak seimbang minta bertanding dengan tangan kosong. Dia berhasil merobohkan dua orang lawan, tetapi kalah dalam pertandingan yang ke tiga. Seperti Ho Thay Ciong, salah satu jari tangannya segera dikutungkan. Sesudah Tong Bun Liang meninggalkan ruangan, dibantu oleh Lok Thung Kek sendiri, Tio Beng segera berlatih pukulan-pukulan Khong-tong-pay.

Di dalam hati Bu Kie memuji kelihayan Tio Beng. Nona itu rupa-rupanya mengerti bahwa tenaga dalamnya tidak cukup dan untuk memiliki lweekang yang tinggi, dia harus berlatih dalam jangka waktu lama. Karena itu dia mengambil jalan yang lebih pendek. Untuk menambal kekurangannya dalam lweekang, dia memetik bagian-bagian yang paling bagus dari berbagai ilmu silat di dunia persilatan. Sesudah berlatih beberapa lama, Tio Beng berkata,

“Panggil Biat-coat Lo-ni!”

“Sudah lima hari Biat-coat mogok makan,” jawab seorang pengawal baju kuning. “Sampai hari ini dia masih keras kepala.”

“Biarkan dia mati kelaparan!” kata si nona sambil tersenyum. “Kalau begitu panggillah Ciu Cie Jiak!”

Sejak kembali ke Bu-tong, Bu Kie mengerti segala kejadian semenjak dia berpisah dengan Thay-suhu. Dia tahu bahwa Ciu Cie Jiak adalah si gadis yang dulu ditolong oleh Thio Sam Hong di tengah sungai Han-sui. Waktu itu mereka berdua masih kecil. Tapi kecintaan, atau sedikitnya keramah tamahan si nona tidak dapat dilupakan olehnya.

Di Kong-beng-teng Cie Jiak pernah menikam dia atas perintah Biat-coat. Tapi sedikit pun dia tidak pernah merasa sakit hati. Sekarang mendengar perintah Tio Beng, jantung Bu Kie berdetak keras. Tidak lama kemudian sejumlah pengawal baju kuning mengawal nona Ciu masuk ke ruangan. Bu Kie mendapat kenyataan bahwa si nona lebih kurus, akan tetapi kecantikannya tidak berubah. Dia melangkah masuk dengan sikap tenang seolah tidak memikirkan soal hidup mati lagi.

Lok Thung Kek segera menanyakan apakah Ciu Cie Jiak suka menakluk. Si nona tak menjawab hanya menggelengkan kepala. Ketika kakek itu baru saja hendak memerintahkan bawahannya turun ke gelanggang, Tio Beng berkata,

“Aku sungguh merasa kagum bahwa dalam usia yang masih demikian muda kau telah menjadi salah seorang murid terpenting dari Go-bi-pay. Kudengar kau sangat disayang oleh Biat-coat Suthay dan sudah mendapat ilmu yang paling tinggi dari gurumu. Benar begitu?”

“Ilmu silat guruku amat luas dan dalam,” jawabnya. “Mana bisa orang gampang mewarisi ilmunya yang paling tinggi?”

Tio Beng tertawa. “Menurut peraturan di sini, asalkan bisa menangkan tiga orangku, dia akan segera diantar keluar tanpa diganggu selembar rambut pun,” katanya. “Mengapa gurumu begitu sombong dan sungkan memperlihatkan ilmu silatnya kepada kami?”

“Dalam menghadapi kebinasaan, guruku sungkan dihina,” sahut nona Ciu “Mana boleh Ciang-bun Go-bi-pay mencari keselamatan dari bawahanmu? Kau benar! Guruku memang tidak memandang sebelah mata kepada manusia rendah yang jahat dan kejam. Memang benar Suhu tak sudi bertanding dengan manusia seperti kau dan anjing-anjingmu!”

Walau pun disemprot dengan perkataan tajam, Tio Beng kelihatan tidak menjadi marah. Dia bahkan masih tertawa.

“Bagaimana dengan Ciu-kouwnio sendiri?” tanyanya.

“Aku seorang muda, belum mempunyai pendirian sendiri,” jawabnya. “Aku hanya menuruti apa yang dikatakan guruku.”

“Gurumu juga melarang kau untuk bertanding dengan kami, bukan?” tanya pula Tio Beng. “Mengapa begitu?”

Cie Jiak tersenyum dingin. “Meski pun Kiam-hoat Go-bi-pay tidak bisa dinamakan ilmu pedang yang sangat tinggi, sedikitnya Kiam-hoat kami adalah ilmu dari sebuah partai lurus bersih di wilayah Tiong-goan. Karena itu tentu saja kami harus menjaga supaya ilmu itu tidak sampai dicuri segala manusia yang tidak mengenal malu.”

Tio Beng terkejut. Ia tidak pernah menduga bahwa maksudnya telah ditebak jitu oleh Biat-coat Suthay. Mendengar sindiran yang sangat pedas, darahnya lantas meluap juga.

“Srett!” Dia menghunus Ie-thian-kiam.

“Hm, gurumu telah mencaci kami manusia yang tidak mengenal malu,” katanya. “Baiklah! Sekarang aku hendak bertanya. Pedang Ie-thian-kiam ini adalah mustika milik keluargaku. Mengapa partaimu, Go-bi-pay mencurinya?”

“Semenjak dahulu orang mengenal Ie-thian-kiam dan To-liong-to sebagai senjata mustika milik rimba persilatan daerah Tiong-goan,“ jawab Cie Jiak dengan suara tawar. “Aku belum pernah mendengar bahwa pedang itu ada sangkut pautnya dengan seorang perempuan Hoan-pang (orang asing dari See-hoan).”

Paras muka Tio Beng langsung berubah merah padam. “Ha!” bentaknya. “Apa benar kau tidak mau bertanding?”

Nona Ciu menggelengkan kepala.

“Peraturan di sini, yang kalah bertanding atau yang tidak mau bertanding harus diputuskan salah satu jari tangannya,” kata Tio Beng. “Rupa-rupanya kau beradat sombong karena mengagulkan mukamu yang sangat cantik. Tapi sekarang aku tidak mau memutuskan jari tanganmu.” Dia menunjuk Kouw Tauw-to lantas berkata lagi. “Aku akan membuat mukamu seperti muka Suhu itu. Aku hendak membuat beberapa puluh goresan pedang di atas mukamu. Aku mau lihat apakah kau masih bisa mempertahankan kesombonganmu.”

Sehabis berkata begitu ia mengibaskan tangannya. Dua pengawal baju kuning lantas melompat dan mencekal kedua lengan Cie Jiak erat-erat. Tio Beng tertawa mengejek.

“Untuk menggores muka orang tak perlu memiliki Kiam-hoat Go-bi-pay,” katanya. “Apa kau sangka aku tidak dapat mengubah kau menjadi perempuan muka jelek karena ilmu silatku tak keruan macamnya?”

Kedua mata nona Ciu mengembang air dan tubuhnya gemetaran, sementara Ie-thian-kiam hanya terpisah beberapa dim dari pipinya. Dengan sekali dorong tangan si iblis wanita bisa membuat mukanya menyerupai muka Tauw-to. Tio Beng tertawa.

“Kau takut tidak?” tanyanya.

Sekarang Ciu Cie Jiak tidak dapat mempertahankan keteguhannya lagi. Dia menggangguk dan menjawab dengan suara parau.

“Takut.”

“Bagus!” kata nona Tio. “Apa itu berarti bahwa kau mau menakluk?”

“Tidak!” jawabnya. “Lebih baik kau bunuh aku saja.”

Tio Beng tertawa nyaring. “Aku tidak pernah membunuh orang,“ katanya. “Aku hanya ingin menggores kulit dan sedikit dagingmu.”

Tiba-tiba sinar putih berkelebat. Tio Beng menyabetkan Ie-thian-kiam ke muka nona Ciu. Pada detik yang sangat berbahaya, sebelum ujung pedang menyentuh kulit, tiba-tiba terdengar suara.

“Trangg...!”

Sebuah benda menyambar dan Ie-thian-kiam terpukul miring. Hampir berbarengan jendela hancur, seseorang melompat masuk dan dua pengawal yang mencekal Ciu Cie Jiak roboh di lantai. Semua kejadian itu terjadi dalam sekejap mata. Di lain detik tangan kiri orang itu melindungi nona Ciu dengan memeluk pinggang si nona, sedangkan tangan kanannya mengadu dengan Lok Thung Kek.

“Plakk!”

Keduanya terhuyung selangkah. Ternyata orang yang menolong adalah Bu Kie. Menyerbunya Bu Kie seolah-olah halilintar di tengah hari bolong. Di ruangan itu berkumpul jago-jago yang amat lihai, tapi tak urung mereka terkesiap. Bahkan Hian-beng Jie-lo (dua kakek yang memiliki Hian-beng Sin-kang) yang mempunyai kepandaian paling tinggi tak keburu menghalangi Bu Kie.

Namun biar bagaimana pun Long Thung Kek bertindak cepat. Begitu mendengar pecahan jendela dia sudah cepat melompat ke depan Tio Beng untuk melindungi majikannya dan berbareng menyambut pukulan Bu Kie. Di luar dugaan bentrokan tangannya membuat dia terhuyung. Buru-buru dia mengempos semangat, tetapi dia terkejut karena dia merasa sekujur badannya panas seperti masuk ke dalam tungku menyala. Mengapa begitu? Karena pada waktu beradu tangan, Kiu-yang Cin-keng dari Bu Kie menerobos masuk ke badannya.

Sebagaimana diketahui, Iweekang Lok Thung Kek adalah Iweekang yang sangat dingin. Kiu-yang Cin-khie adalah hawa yang bersifat Sun-yang (panas murni). Maka masuknya Kiu-yang Cin-khie mengakibatkan bentrokan antara hawa panas dan dingin di dalam tubuhnya. Melihat keadaan Lok Thung Kek, Hian-beng Jie-lo yang satunya lagi yang bernama Ho Pit Ong cepat menghampiri lantas mencekal tangan Lok Thung Kek. Dengan tenaga kedua orang itu barulah Kiu-yang Cin-khie dapat ditindih.

Pada detik itu Ciu Cie Jiak menjadi orang yang merasakan keberuntungan paling besar. Dalam menghadapi bahaya besar gadis ini tidak pernah mimpi bahwa dia akan mendapat pertolongan dan yang menolong adalah Bu Kie sendiri. Dengan jantung bergetar kencang dia mendapat tahu bahwa pinggangnya dipeluk Bu Kie. Sejak pertemuan di Kong-beng-teng, siang malam dia belum pernah melupakan si pemuda. Maka biar pun menghadapi bahaya besar, biar pun ia berada di tengah ratusan golok, ia merasa beruntung dan tidak mempedulikan apa pun lagi.

Sementara itu melihat kauwcu mereka menyerbu, Yo Siauw dan Wie It Siauw pun segera melompat masuk dan berdiri di belakang Bu Kie. Orang-orang Tio Beng yang semula kaget kini sudah tenang kembali lantaran mereka tahu bahwa yang datang hanyalah tiga orang musuh. Dari tanda yang diberikan oleh pengawal, mereka tahu bahwa di luar ruangan tidak terdapat musuh lain. Mereka lantas menjaga semua pintu dan menanti perintah sang majikan.

Nona Tio tidak marah. Dia mengawasi Bu Kie kemudian mengawasi dua benda kuning berkeredapan yang tergeletak di lantai. Ternyata, waktu dia mau menggores muka Ciu Cie Jiak, Bu Kie menimpuk dengan benda dan karena Ie-thian-kiam tajam luar biasa maka benda itu terbacok menjadi dua potong. Sekarang dia tahu bahwa benda itu adalah kotak emas yang dia berikan kepada Bu Kie.

“Rupanya kau sangat membenci kotak itu,” katanya dengan suara pelan.

Melihat sorot mata Tio Beng yang penuh rasa menyesal, Bu Kie kaget dan heran. “Aku tak pernah membawa senjata rahasia,” katanya dengan suara lemah lembut. “Dalam keadaan buru-buru dan terpaksa aku telah menggunakan kotak itu. Harap Tio-kouwnio tidak marah.”

Kedua mata si nona mendadak mengeluarkan sinar terang. “Apakah kau selalu membawa kotak itu?” tanyanya.

“Ya,” jawab Bu Kie. Melihat Tio Beng terus mengawasi dirinya, dengan paras muka merah cepat dia melepaskan pelukannya pada pinggang Cie Jiak.

Nona Tio menarik napas panjang dan berkata. “Aku tak tahu bahwa Ciu Cie Jiak adalah... adalah... sahabatmu. Kalau aku tahu tentu tidak berbuat begitu terhadapnya. Kalau begitu kalian adalah...” Dia tidak meneruskan perkataannya malah menengok ke jurusan lain.

“Ciu-kouwnio bukan... bukan... apa-apa,” kata Bu Kie “Hanya... hanya...”

Tanpa mengeluarkan sepatah kata Tio Beng mengawasi dua potong emas itu. Sinar matanya menunjukkan bahwa dia ingin bicara banyak tapi mulutnya terkancing.

Melihat itu Ciu Cie Jiak terkejut. Dengan jantung berdetak keras dia berkata di dalam hati, “Ahh! Tak dinyana kiranya iblis perempuan ini mencintainya.”

Tapi Bu Kie tidak berpikir sampai di situ. Dia hanya merasa bahwa dia telah berbuat salah. Isi kotak itu sudah mengobati Jie Thay Giam dan In Lie Heng, tetapi sebagai balas budi dia menggunakannya sebagai senjata rahasia sehingga kotak itu terbelah dua. Ini ketelaluan, pikirnya. Dia segera menjemput kedua potong kotak itu dari atas lantai, kemudian berkata dengan suara meminta maaf.

“Aku akan minta tolong kepada seorang tukang yang pandai untuk menyambungnya lagi.”

“Apa benar?” menegas si nona dengan suara girang.

Bu Kie manggutkan kepala. Dia merasa heran mengapa nona Tio begitu girang. Tetapi dia tak berpikir panjang. Dia hanya menganggap bahwa wanita muda itu sering memperlihatkan sikap yang aneh. Dia segera memasukkan kedua potongan itu ke dalam sakunya.

“Nah, sekarang kau pergilah!” kata Tio Beng.

Alis Bu Kie berkerut. Dia datang dengan tujuan menolong para pamannya dan lain-lain. Dia tidak bisa pergi sebelum mereka tertolong. Tetapi di lain pihak musuh memiliki banyak sekali orang pandai dan dengan hanya bertiga, dia tidak bisa berbuat banyak.

“Tio-kouwnio, perlu apa kau menangkap Toa-supek dan yang lainnya?” tanyanya.

Nona Tio tertawa, “Sesungguhnya maksudku sangat baik,” jawabnya. “Aku mengundang mereka supaya mereka suka mengeluarkan tenaga untuk kerajaan supaya kita bersama bisa mencicipi kesenangan dan kemewahan. Di luar dugaan mereka sangat keras kepala. Maka aku tidak bisa berbuat lain kecuali mencoba membujuk mereka dengan perlahan-lahan.”

Bu Kie mengeluarkan suara di hidung lalu mendekati Ciu Cie Jiak. Biar pun dikurung musuh yang berkepandaian sangat tinggi tapi sikapnya tenang dan wajar. Tadi ketika dia menjemput kedua potong kotak emas, dia bergerak seakan-akan di ruangan itu tidak ada manusianya. Sekarang, sesudah menyapu seluruh ruangan dengan matanya, dia berkata,

“Baiklah! Kalau begitu kami ingin berpamitan.“

Dia memegang tangan Ciu Cie Jiak, lalu memutar badan dan bertindak keluar.

“Tahan!” bentak Tio Beng. “Jika kau ingin pergi sendiri, aku tak akan meng-halangi. Tapi dengan mengajak Ciu-kouwnio tanpa memberi-tahu aku, kau sungguh tidak memandang sebelah mata kepadaku.”

“Memang aku melanggar adat kesopanan,” kata Bu Kie sambil menghentikan tindakannya kemudian memutar tubuh. “Tio-kouwnio, aku minta supaya kau melepaskan Ciu-kouwnio dan mempermisikannya untuk ikut aku.”

Tio Beng tak menjawab. Ia memberi isyarat kepada Hian-beng Jie-lo dengan lirikan mata.

Ho Pit Ong maju beberapa langkah dan berkata, “Thio-kauwcu, kau datang lantas datang, mau pergi lantas pergi. Mau menolong orang lantas menolong. Coba kau pikirlah! Dengan perbuatan itu, di mana kami harus menaruh muka? Bila mana kau belum memperlihatkan kepandaianmu, kami semua tentu merasa sangat penasaran.”

Mendengar suara si kakek, darah Bu Kie langsung meluap. “Tua bangka kurang ajar!” cacinya. “Dahulu waktu aku masih kecil kau telah membekuk aku sehingga hampir jiwaku melayang. Hari ini kau masih ada muka bicara begitu di hadapanku? Sambutlah!” Seraya berkata begitu dia menghantam Ho Pit Ong.

Tadi Lok Thung Kek sudah berkenalan dengan kelihayan Bu Kie. Dia tahu bahwa seorang diri kawannya itu bukan tandingan si pemuda. Bagaikan kilat dia melompat dan memukul.

Bu Kie tidak membatalkan serangan tangan kanannya. Dia terus menghantam Ho Pit Ong sedangkan tangan kirinya menangkis pukulan Lok Thung Kek. Dalam gebrakan ini ‘tenaga tulen’ melawan ‘tenaga tulen’. Berbareng dengan bentrokan empat lengan, tubuh ketiga orang itu bergoyang-goyang.

Pada beberapa bulan berselang, dalam pertemuan di Bu-tong-san, dua tangan Hian-beng Jie-lo melayani kedua tangan Bu Kie, ada pun dua tangan mereka yang lain menghantam tubuh si pemuda. Sekarang mereka ingin mengulangi siasat itu. Dua tangan mereka yang masih merdeka dengan berbareng menghantam Bu Kie.

KONG-BENG YU-SU HOAN YAUW

Tapi sesudah dibokong satu kali, sejak tadi dia telah memikirkan bagaimana untuk memunahkannya. Demikianlah, selagi kedua tangan musuh menyambar, tiba-tiba ia menyikut menggunakan Kian-kun Tay-lo-ie Sin-kang.

“Plakk!”

Tangan kiri Ho Pit Ong memukul tangan kanan Lok Thung Kek. Kedua kakek itu memukul dengan ciang-hoat yang sama dan dengan tenaga yang sama pula. Sambil mengeluarkan seruan tertahan mereka merasakan kesakitan hebat. Tak kepalang rasa herannya. Mereka sama sekali tidak mengerti mengapa mereka saling pukul dengan teman sendiri. Meski berkepandaian tinggi ternyata Hian-beng Jie-lo belum mengenal Kian-kun Tay-lo-ie.

Di lain saat dengan marah mereka menyerang bagaikan hujan dan angin. Dalam serangan itu mereka bekerja sama erat sekali, yang satu menyerang yang lain membela diri. Bu Kie mempergunakan Tay-lo-ie Sin-kang sehingga beberapa kali kedua lawannya saling gebuk dengan kawan sendiri. Hian-beng Jie-lo saling pandang dengan mata terbelalak dan muka pucat.

Sementara itu Bu Kie mengubah cara berkelahinya. Kini ia menyerang, dengan “hawa” yang “panas murni”. Diserang begitu ke-2 kakek ini yang mempunyai Iweekang “dingin” jadi setengah mati. Bu Kie terus mendesak tanpa mengenal ampun. Makin lama pukulannya semakin cepat dan keras. Dalam pertemuan ini dia mengenal bahwa di antara Hian-beng Jie-lo, Ho Pat Ong lah yang telah memukulnya dengan Hian-beng Sin-ciang dua puluh tahun yang silam. Dia ingat bagaimana pukulan itu mengakibatkan penderitaan hebat bagi dirinya dan hampir saja dia kehilangan jiwa.

Bu Kie adalah seorang yang selalu bersedia untuk mengampuni semua manusia. Namun sekarang darahnya mendidih. Terhadap Lok Thung Kek dia masih berlaku murah hati, tapi terhadap Ho Pit Ong dia tidak sungkan lagi. Sesudah bertempur kira-kira dua puluh jurus muka Ho Pit Ong yang semula hijau berubah menjadi merah. Mendadak Bu Kie menghantam dengan telapak tangannya. Buru-buru dia menangkis dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanan mereka dapat digunakan lagi untuk balas menyerang.

“Plakk! Plakk!”

Kedua tangan saling susul mampir di pundak Lok Thung Kek, sementara tangan Bu Kie terus menyambar tanpa bisa ditangkis atau dikelit lagi.

“Bukk!”

Dadanya terpukul keras. Untung pada detik-detik terakhir Bu Kie merubah pikiran dan sungkan mengambil nyawa musuh sehingga pada saat yang memutuskan dia mengurangi tenaganya. Tapi meski pun begitu Ho Pit Ong segera muntahkan darah, dari merah mukanya berubah menjadi ungu dan badannya bergoyang-goyang. Kalau Bu Kie mengirim pukulan susulan si kakek tentu segera tamat riwayatnya. Sementara itu karena kena dua pukulan kawan sendiri, Lok Thung Kek berjengit dan seraya menggertak gigi dia terhuyung beberapa tindak.

Hian-beng Jie-lo adalah jago utama di bawah perintah Tio Beng. Bahwa belum cukup tiga puluh jurus mereka sudah terluka berat adalah peristiwa yang benar-benar mengejutkan semua orang, terhitung Yo Siauw dan Wie It Siauw sendiri. Mengejutkan karena waktu bergebrak dengan Hian-beng Jie-lo di Bu-tong-san kepandaian Bu Kie belum setinggi sekarang. Tak disangka dalam tempo beberapa bulan saja maju begini pesat.

Sebab musabab dari kemajuan itu ialah sambil mengobati Jie Thay Giam dan In Lie Heng selama beberapa bulan Bu Kie banyak menerima pelajaran dari Thio Sam Hong. Kiu-yang Sin-kang, Kian-kun Thay-lo-ie dan Thay-kek-kun bergabung menjadi satu sehingga dapat dikatakan bahwa Bu Kie sudah mencapai tingkat tertinggi dalam ilmu silat. Setelah berpikir sejenak, Yo Siauw mengerti sebab musabab itu. Mereka kagum terhadap guru besar itu dan juga mengagumi kauwcu mereka.

Sesudah menderita kekalahan dalam pertandingan tangan kosong, sambil membentak keras Hian-beng Jie-lo mengeluarkan senjata. Lok Thung Kek memegang sebatang tongkat pendek bercagak menyerupai tanduk menjangan, berwarna hitam entah dibuat dari logam apa. Sementara Ho Pit Ong mencekal sepasang pit (senjata seperti pena Tiong-goan) warna putih terang seperti kristal, yang ujungnya lancip seperti patuk burung Ho. Mereka sudah lama mengikuti Tio Beng tapi si nona sendiri malah tidak pernah melihat mereka menggunakan senjata.

Di lain saat satu sinar hitam dan dua sinar putih sudah mengepung Bu Kie. Pemuda itu tak bersenjata tapi sedikit pun tidak merasa keder. Ia justru ingin menjajal kepandaiannya. Ia ingin mengetahui apakah dengan tangan kosong bisa melayani kedua musuh yang lihay ini.

Dalam kemarahannya Hian-beng Jie-lo mempergunakan senjata yang jarang sekali mereka gunakan. Selama hidup mereka sangat mengandalkan senjatanya yang dapat digunakan untuk menyerang musuh dengan pukulan-pukulan aneh. Nama mereka atau lebih tepatnya julukan mereka justru diperoleh dari senjatanya. Lok-kak Toan-thung (tongkat pendek yang berbentuk tanduk menjangan) dan Ho-swee Siang-pit (sepasang pit yang berbentuk patuk burung ho) dan secara ringkas mereka menggunakan nama Lok Thung Kek dan Ho Pit Ong.

Dengan memusatkan seluruh perhatian dan semangatnya, Bu Kie melayani kedua musuhnya. Untuk menyelamatkan diri dari serangan lawan yang luar biasa ia menggunakan ilmu ringan badan yang paling tinggi. Tapi untuk sementara waktu ia belum memahami pukulan kedua kakek ini yang benar-benar aneh. Dengan demikian biar pun ia berkepandaian cukup untuk membela diri, tapi ia tidak bisa mendapat kemenangan dalam waktu cepat.

Sementara itu, begitu Bu Kie bertempur melawan Hian-beng Jie-lo, Tio Beng bertepuk tangan tiga kali dan tiga orang lantas menerjang Yo Siauw, empat orang menyerang Wie It Siauw, sedangkan dua orang lain membekuk Ciu Cie Jiak. Dalam sekejap Yo Siauw melukai lawan dengan pedangnya, Wie It Siauw merobohkan dua orang dengan pukulan Bian Ciang. Namun jumlah musuh terlalu banyak. Roboh satu maju dua.

Bu Kie yang sedang dikepung tidak mampu memberikan pertolongan. Andai kata mereka bertiga ingin melarikan diri, mereka masih bisa. Tetapi kalau mau mengajak Ciu Cie Jiak, mereka takkan bisa melakukannya. Makin lama keadaan pihak Bu Kie semakin jelek. Mereka bingung dan makin bingung, maka mereka semakin terdesak saja. Sekonyong-konyong Tio Beng membentak.

“Semua berhenti!”

Hampir berbareng semua jago nona Tio melompat keluar dari gelanggang. Yo Siauw segera memasukkan pedangnya ke dalam sarung, sedangkan Wie It Siauw mengembalikan golok yang tadi dirampasnya. Setelah itu sambil tertawa terbahak mereka berdiri di belakang Bu Kie.

Bawahan Tio Beng yang berkepandaian tinggi, Kouw Tauw-to dan yang lain-lain banyak yang belum turun ke gelangang. Apa bila mereka menyerbu, Bu Kie bertiga pasti tidak akan bisa mempertahankan diri. Bahwa dalam menghadapi bahaya kedua pemimpin Beng-kauw itu masih bisa tertawa sudah membangkitkan rasa kagum di dalam hati semua orang. Sementara itu dengan rasa kuatir Bu Kie melihat seorang pria yang menudingkan sebatang pisau ke punggung Ciu Cie Jiak.

“Thio-kongcu, Sam-wi (ketiga tuan) pergilah,” kata nona Ciu. “Aku merasa amat berterima kasih akan maksud Sam-wi yang mulia.”

“Thio-kongcu,” kata Tio Beng sambil tersenyum. “Aku sungguh merasa kasihan terhadap nona yang begini cantik. Apakah Ciu-kouwnio gadis idam-idamanmu?”

Paras muka Bu Kie berubah merah. “Ciu-kouwnio dan aku sudah saling kenal sejak kecil,” katanya. “Di waktu kecil aku dipukul manusia itu...“ ia menuding Ho Pit Ong, “Dengan Hian-beng Sin-ciang. Racun dingin masuk ke dalam tubuhku hingga aku hampir tidak bisa bergerak. Pada waktu itu Ciu-kouwnio merawat aku, menyuapi makan ke mulutku dan memberi minum kepadaku. Budi yang amat besar itu sukar sekali bisa aku lupakan.”

“Hmm, kalau begitu kalian adalah kawan sedari kecil,” kata Tio Beng. “Bukankah kau ingin mengangkat dia sebagai Kauwcu Hujin (Nyonya kauwcu) dari Beng-kauw?”

Muka Bu Kie lebih merah lagi. “Sebelum musuh dapat diusir, aku tidak bisa menikah!” katanya.

Tio Beng lantas saja marah, “Apakah kau benar-benar mau menumpas aku?” tanyanya.

Bu Kie menggelengkan kepala. “Sampai sekarang aku pun masih belum tahu asal usul Kouwnio,” katanya. “Meski pun kita telah beberapa kali bentrok, bukan aku tetapi Kouwnio yang cari perkara. Apa bila kouwnio sudi melepaskan para pamanku dan tokoh berbagai partai, aku akan merasa sangat berterima kasih dan sedikit pun tidak berani bermusuhan lagi dengan kouwnio. Lagi pula kouwnio boleh memerintahkan aku melakukan tiga macam pekerjaan. Kouwnio boleh menyebutkannya dan aku pasti akan melakukannya sedapat mungkin.”

Tio Beng tertawa, “Ahh! Ternyata kau belum lupa?” katanya. Ia berpaling kepada Ciu Cie Jiak kemudian berkata. “Jika benar Ciu-kouwnio bukan gadis idamanmu, juga bukan saudari seperguruanmu dan bukan tunanganmu pula, maka digoresnya muka yang cantik itu sama sekali tiada sangkut pautnya dengan kau.”

Sehabis berkata begitu, ia melirik. Hampir berbareng Lok Thung Kek dan Ho Pit Ong melompat ke depan Ciu Cie Jiak dengan memegang senjata, sedangkan salah seorang pengawal menudingkan pisau pada muka Ciu.

“Thio-kongcu,” kata pula Tio Beng. “Lebih baik kau berterus terang kepadaku.”

Sewaktu Tio Beng berbicara, Wie It Siauw membuka telapak tangannya dan meludahinya beberapa kali, kemudian menggosok-gosok telapak tangan yang penuh ludah itu di sela sepatunya. Semua orang merasa heran. Mereka tak bisa menebak apa maksud Wie Hok-ong. Se-konyong-konyong Ceng-ek Hok-ong tertawa terbahak dan belum habis ia tertawa, tubuhnya sudah berkelebat bagaikan kilat. Hampir berbareng Tio Beng merasa kedua pipinya diusap orang dan di lain detik Wie It Siauw sudah berdiri lagi di tempatnya semula dengan tangan memegang dua batang golok pendek. Tidak ada seorang pun yang melihat, dari pinggang siapa ia mencabut kedua senjata itu.

Nona Tio terkesiap. Ia tidak berani meraba pipinya melainkan mengeluarkan sehelai sapu tangan untuk menyusutnya. Segera sapu tangan itu berlepotan cairan lendir yang tercampur tanah. Ludah Wie Hok-ong! Saking marahnya paras muka si nona berubah merah padam. Hampir ia muntah mengingat mukanya dilabur ludah.

“Tio-kouwnio!” bentak Wie It Siauw dengan suara lantang. “Kalau kau mau merusak muka Ciu-kouwnio, aku tentu tidak dapat mencegah. Nama Thio-kauwcu kami dikenal sampai di tengah lautan dan sebagai pemuda berkepandaian tinggi dan tampan, tidak sukar baginya mencari gadis-gadis cantik untuk dijadikan isteri dan empat gundik. Pada hakekatnya dia tidak memikirkan Ciu-kouwnio. Tapi kau manusia kejam luar biasa dan aku, si orang she Wie, tidak bisa membiarkan begitu saja. Tio-kouwnio, kau dengarlah! Jika hari ini kau menggores muka Ciu-kouwnio satu kali, aku akan membalas budimu dengan dua kali lipat, aku akan menggores mukamu dua kali. Jika kau menggores dua kali maka aku akan membayar dengan empat goresan.

Kalau kau memutuskan satu jari tangannya, aku akan memutuskan dua jari-jari tanganmu. Si orang she Wie tak pernah berdusta. Apa yang dia katakan pasti akan dilakukannya. Ceng-ek Hok-ong belum pernah menjilat ludah yang sudah dibuangnya. Mungkin kau dapat menjaga diri selama setengah atau satu tahun, tapi kau pasti takkan mampu waspada terus menerus dalam delapan sembilan tahun atau sepuluh tahun. Untuk menyelamatkan diri mungkin kau akan menyuruh anjing-anjingmu untuk membinasakan aku. Tapi aku percaya bahwa di dunia ini tak ada seorang pun yang sanggup mengejar Ceng-ek Hok-ong. Nah selamat tinggal!“

Berbareng dengan terdengarnya perkataan ‘tinggal’, badan Wie It Siauw menghilang dari ruangan itu. Kecepatan bergeraknya Wie Hok-ong sungguh menakjubkan. Semua orang yakin bahwa ancaman yang dikeluarkan dengan suara tenang itu bukan gertak sambal.

Muka Tio Beng sebentar pucat sebentar merah. Ia mengerti jika tadi Wie It Siauw mengusap mukanya dengan sebilah pisau maka muka cantik itu sudah menjadi cacat. Ia pun merasa yakin bahwa sesuai dengan ancaman itu, ia tidak akan dapat menjaga diri terus menerus.

Dalam ruangan itu, orang yang berilmu silat paling tinggi adalah Bu Kie. Tapi Bu Kie pun tidak ungkulan melawan Wie It Siauw dalam ilmu ringan badan. Dalam perlombaan jarak jauh berkat Iweekang-nya ia akan memperoleh kemenangan, namun dalam jarak dekat ia tidak usah berharap bisa menyandak Wie Hok-ong. Pada jaman itu di seluruh rimba persilatan, Wie It Siauw lah yang memiliki ilmu mengentengkan badan yang paling tinggi. Sesaat kemudian sambil membungkuk Bu Kie berkata,

“Tio-kouwnio, jika begitu sekarang saja kami minta diri.“

Dengan menuntun tangan Yo Siauw, ia meninggalkan ruangan itu. Ia tahu bahwa sesudah mendapat ancaman, Tio Beng tidak berani main gila terhadap Ciu Cie Jiak. Dengan rasa malu dan marah Tio-kouwnio mengawasi mereka, tetapi si nona tidak berani memerintahkan orangnya untuk mencegat kedua pimpinan Beng-kauw itu.

********

Setibanya di rumah penginapan, Wie It Siauw sudah menunggu.

“Wie Hok-ong,” kata Bu Kie sambil tertawa. “Hari ini kau memberi pelajaran sangat hebat kepada mereka. Sekarang mereka tahu bahwa Beng-kauw tidak boleh dibuat gegabah.”

Wie It Siauw tertawa nyaring, “Aku tanggung tiga hari tiga malam nona cantik itu tak akan enak tidur,” katanya.

“Makin dia tidak enak tidur, semakin sukar kita menolong orang,” kata Yo Siauw.

“Yo-cosu, bagaimana pikiranmu?” tanya Bu Kie. “Apakah kau mempunyai daya yang baik untuk menolong mereka?”

Alis Yo Siauw segera berkerut. “Memang sukar,” jawabnya. “Kita hanya bertiga, lagi pula kedatangan kita sudah diketahui musuh.”

Bu Kie merasa jengah. “Akulah yang bersalah,” dia berkata dengan suara meminta maaf. “Karena melihat Ciu-kouwnio menghadapi bahaya aku tidak dapat menahan hati sehingga akhirnya aku merusak urusan besar.”

“Kauwcu tidak bersalah,” bantah Yo Siauw. “Dalam keadaan seperti itu, kami pun tak bisa tidak turun tangan. Bahwa dengan seorang diri Kauwcu berhasil mengalahkan Hian-beng Jie-lo, adalah kejadian yang sangat baik untuk pihak kita.“

Sesudah bercakap-cakap beberapa lama lagi, mereka segera pergi mengaso di kamarnya masing-masing. Esok harinya Bu Kie terbangun dari tidurnya. Begitu membuka mata ia melihat jendela terpentang lebar dan seseorang berdiri di depan jendela sedang mengawasinya. Dengan terkejut ia melompat bangun. Orang yang mukanya penuh tanda bacokan golok itu bukan lain Kouw Tauw-to. Bu Kie makin kaget. Kouw Tauw-to terus mengawasinya, akan tetapi kelihatannya ia tidak mengandung maksud jelek. Bu Kie merasa seolah kepalanya diguyur air dingin.

“Bagaimana aku bisa pulas begitu nyenyak?” katanya di dalam hati. “Musuh sudah berada di luar jendela tetapi aku masih belum tahu.” Di lain saat ia berteriak,

“Yo-cosu! Wie Hok-ong!”

Mereka yang tidur di kamar sebelah lantas menyahut. Hati Bu Kie agak lega. Paling tidak dia tahu bahwa kedua kawannya tidak dicelakai musuh. Sementara itu Kouw Tauw-to sudah menyingkir. Bagaikan kilat Bu Kie melompat keluar jendela terus mengejar. Yo Siauw dan Wie It Siauw menyusul dari belakang. Setibanya di luar mereka tidak melihat musuh lain, sedangkan si pendeta kabur ke arah utara. Seraya memberi isyarat dengan lambaian tangan, mereka lantas mengejar.

Meski pun pincang pendeta itu bisa lari cepat sekali. Waktu itu fajar baru menyingsing dan jalanan masih sepi. Tidak lama kemudian mereka keluar dari pintu utara dan Kouw Tauw-to membelok ke jalan kecil. Sesudah lari tujuh delapan li lagi, mereka tiba di sebuah bukit batu dan si pendeta menghentikan tindakannya. Sesudah mengibas-ngibaskan tangannya sebagai tanda supaya Yo Siauw dan Wie It Siauw mundur, dia pun memberi hormat.

“Apa maksudnya?” tanya Bu Kie di dalam hati. “Tempat ini tiada manusianya, maka kalau sampai bertempur, dengan seorang diri dia pasti kalah. Kelihatannya dia tidak mempunyai maksud jahat.”

Selagi Bu Kie berpikir demikian, seraya mengeluarkan suara ‘ah-ah uh-uh’ si gagu sudah menerjang. Dia menyerang dengan sepuluh jeriji terpentang, tangan kirinya berupa Houw-jiauw (kuku harimau) dan tangan kanannya membentuk Liong-jiauw (cakar naga). Sepuluh jari tangannya bengkok seperti gaetan baja dan serangannya hebat luar biasa. Dengan mengibaskan tangan kiri Bu Kie memunahkan serangan lawan.

“Bagaimana maksud Sian-jin?” tanyanya. “Sesudah bicara kita masih mempunyai banyak waktu untuk bertempur.“

Tetapi si pendeta tidak meladeni melainkan terus menyerang. Tangan kirinya yang semula Houw-jiauw kini berubah menjadi Eng-jiauw (cakar elang), sedangkan tangan kanannya berubah menjadi Houw-jiauw.

“Apa Sian-jin benar-benar mau bertanding juga?” tanya Bu Kie seraya berkelit.

Si gagu tetap tidak menjawab. Kini kedua tangannya berubah lagi, Eng-jiauw menjadi Say-ciang (telapak tangan singa), Houw-jiauw menjadi Ho-swee (patuk burung Ho), sedangkan pukulannya juga turut berubah. Demikianlah, dalam tiga gebrakan dia sudah menyerang dengan enam rupa pukulan.

Bu Kie tidak berani berayal lagi dan segara melayani dengan Thay-kek-kun. Dia bergerak bagaikan mengalirnya air dan setiap pukulannya, baik membela diri mau pun menyerang, merupakan lingkaran Thay-kek. Di lain pihak Kouw Tauw-to menyerang dengan tipu-tipu yang beraneka ragam. Ia menggunakan ilmu silat yang aneh-aneh menggabung silat ‘sesat’ dengan silat dari partai lurus bersih. Tapi Bu Kie sendiri tetap melayani dengan Thay-kek-kun.

Setelah bertempur kurang lebih tujuh puluh jurus, sambil membentak keras Kouw Tauw-to meninju dari jurusan Tiong-kiong. Bagaikan kilat, dengan gerakan Jie-hong Sie-pit, Bu Kie memapaki tinju yang menyambar dan berbareng dengan pukulan Tan-pian, telapak tangan kanannya menepuk punggung si pendeta yang bongkok. Tepukan itu mampir tepat pada sasarannya, namun Bu Kie tidak menggunakan Iweekang dan begitu telapak tangannya menyentuh punggung, dia segera menarik kembali.

Si pendeta melompat ke belakang dan memandang Bu Kie dengan sorot mata berterima kasih. Dia mengerti bahwa dalam tepukan tadi, pemuda itu sudah menaruh belas kasihan. Sesaat kemudian dia menggapai Yo Siauw dan dengan gerakan tangan dia mengutarakan keinginannya untuk meminjam pedang. Yo Siauw membuka ikatan tali pedang dan bersama-sama sarungnya, dia menyerahkan senjata itu kepada si pendeta. Bu Kie menjadi heran.

“Mengapa Yo-cosu meminjamkan senjata kepada musuh?” tanyanya dalam hati.

Sementara itu, sesudah menghunus pedang Kouw Tauw-to memberi isyarat agar Bu Kie meminjam pedang Wie It Siauw. Tapi pemuda itu menggelengkan kepala lalu menggambil sarung pedang dari tangan si pendeta. Sesudah itu, sambil melintangkan sarung pedang di depan dada dia membuat gerakan Ceng-chiu (mengundang). Kouw Tauw-to tak berlaku sungkan-sungkan lagi dan segera membuka serangan. Setelah menyaksikan bagaimana pendeta itu mengajarkan ilmu pedang kepada Tio Beng, Bu Kie tahu bahwa dia memiliki Kiam-hoat yang sangat tinggi. Maka itu dia segera melayani dengan Thay-kek-kiam-hoat.

Seperti juga dalam pertandingan tangan kosong, Kouw Tauw-to menyerang dengan berbagai pukulan yang dikirim secara berantai, yang satu belum habis yang lain sudah menyusul. Sesudah bertanding beberapa lama, Bu Kie merasa kagum sekali.

“Kalau aku bertemu dia setengah tahun berselang, dalam Kiam-hoat belum tentu aku dapat menandinginya,” katanya di dalam hati. “Kalau dibandingkan dengan Giok-bin Sin-kiam Tong Hong Peng, ilmu pedangnya masih lebih tinggi setingkat.“ Berpikir demikian di dalam hatinya lantas muncul rasa sayang kepada pendeta ini.

Sesudah lewat beberapa jurus lagi, Kouw Tauw-to menyerang dengan ilmu Loan-pie-hong (angin puyuh) dan pedangnya menyambar-nyambar bagaikan berlaksa ular. Bu Kie menyambut setiap serangan dengan memusatkan seluruh semangat dan perhatiannya. Mendadak, mendadak saja dengan kecepatan yang tak mungkin dilukiskan dia membalik sarung pedang sehingga mulutnya menghadap keluar lantas memapaki pedang si pendeta yang menyambar!

“Srokk!”

Pedang itu masuk ke sarungnya. Hampir berbareng dua jarinya menyambar dan menyentuh pergelangan tangan si pendeta, kemudian sambil tersenyum melompat mundur. Kalau mau, dengan menggunakan sedikit tenaga dia akan dapat merampas pedang si pendeta. Cara yang digunakannya itu sangat berbahaya, namun indah luar biasa. Di luar dugaan, selagi dia melompat mundur dan sebelum kakinya menginjak tanah, Kouw Tauw-to sudah melemparkan pedangnya lantas menghantam dengan telapak tangan. Dari sambaran angin dia tahu bahwa pukulan itu disertai lweekang yang amat dahsyat. Karena ingin menjajal kekuatan tenaga dalam si pendeta, dia menyambut dengan tangan kanannya kemudian barulah kedua kakinya hinggap di tanah.

Kouw Tauw-to tidak berhenti sampai di situ dan terus mengirim pukulan-pukulan hebat. Bu Kie segera mengeluarkan ilmu Kian-kun Tay-lo-ie yang paling tinggi dan dengan ilmu tersebut dia mengumpulkan tenaga pukulan-pukulan itu, lalu sambil membentak keras dia balas memukul. Pukulan itu seolah-olah air banjir yang memecahkan bendungan. Tenaga sekitar dua puluh pukulan Kouw Tauw-to yang terkumpul menjadi satu, tiba-tiba dilepaskan secara mendadak. Di dunia belum pernah ada tenaga pukulan sehebat itu. Kalau pukulan itu menimpa tubuh manusia, maka daging dan tulang bisa hancur luluh.

Sesaat itu kedua telapak tangan menempel dan Kouw Tauw-to tidak bisa meloloskan diri lagi. Tiba-tiba tangan kiri Bu Kie menjambret dada si pendeta lalu melemparkannya ke atas sehingga tubuh yang tinggi besar itu terbang ke angkasa. Hampir berbareng terdengar suara keras dan batu-batu terbang berhamburan. Pukulan yang sangat dahsyat itu menimpa batu.

Yo Siauw dan Wie It Siauw mengeluarkan seruan kaget. Semula mereka menduga bahwa dalam pertandingan Iweekang antara Kauwcu dan Kouw Tauw-to, keputusan siapa yang menang siapa yang kalah baru bisa diperoleh sedikitinya dalam waktu sepeminuman teh. Di luar taksiran, detik yang menentukan sudah tercapai dalam waktu yang begitu cepat. Sesaat kemudian, dengan keringat membasahi telapak tangannya Kouw Tauw-to sudah hinggap di tanah dengan selamat. Begitu sepasang kakinya menyentuh tanah, dengan kedua tangannya dia membuat gerakan seperti api yang berkobar dan sesudah itu, sambil menaruh tangannya di atas dada dan berlulut dia berkata,

“Siauw-jin (aku yang rendah) Kong-beng Yu-su Hoan Yauw, menghadap Kauwcu. Siauw-jin menghaturkan banyak terima kasih kepada Kauwcu yang telah menaruh belas kasihan, dan meminta maaf untuk segala kekurang ajaranku.”

Bu Kie kaget bukan main. Mimpi pun dia tak pernah bahwa si gagu Kouw Tauw-to ternyata bukan saja bisa bicara, tapi dia juga adalah Kong-beng Yu-su dari Beng-kauw yang sudah menghilang selama beberapa tahun. Buru-buru dia membangunkannya dan berkata,

“Hoan-yusu, di antara orang sendiri janganlah menggunakan terlalu banyak peradatan.”

Waktu tiba di bukit batu itu, sesungguhnya Yo Siauw dan Wie It Siauw sudah menduga-duga. Hanya karena tubuh berikut muka Hoan Yauw berubah terlalu banyak maka mereka belum berani memastikan. Sesudah Hoan Yauw menunjukkan ilmu silatnya maka dugaan mereka menjadi makin kuat. Sekarang dengan serentak mereka mendekat dan mencekal tangan kawannya erat-erat. Sambil mengawasi Hoan Yauw dengan air mata ber-linang. Yo Siauw berkata,

“Saudara Hoan, siang malam kakakmu memikirkan engkau.”

Hoan Yauw memeluknya. Dia menangis segak-segak dan berkata, “Toako kita harus berterima kasih kepada Tuhan yang telah mengirim seorang kauwcu yang berkepandaian tinggi dan bijaksana kepada kita. Kita pun harus berterima kasih bahwa hari ini kita dapat bertemu muka.”

“Saudara, mengapa kau jadi begini?” tanya Yo Siauw.

“Kalau aku tidak merusak muka dan tubuh sendiri, bagimana aku dapat mengelabui Seng Kun?” jawabnya.

Mendenger keterangan itu, Bu Kie bertiga kaget bercampur duka. Sekarang mereka tahu bahwa Hoan Yauw mencacatkan diri sendiri untuk dapat masuk ke dalam kalangan musuh.

“Saudara, kau sangat menderita,” kata Yo Siauw dengan suara parau.

Dulu di kalangan Kangouw Yo Siauw dan Hoan Yauw dikenal sebagai Siauw Yauw Jie-sian (Dua dewa Siauw dan Yauw) dan julukan itu didapatkan karena mereka berdua mempunyai wajah yang sangat tampan. Dari hal ini dapatlah dibayangkan bahwa dengan mencacatkan muka sendiri, Hoan Yauw sudah membuat suatu pengorbanan yang sangat besar. Wie It Siauw yang beradat aneh sebenarnya tidak begitu akur dengan Hoan Youw. Tetapi sekarang dia menjadi berduka dan sambil berlutut dia berkata,

“Hoan-yusu, hari ini Wie It Siauw takluk kepadamu.”

Hoan Yauw segera balas berlutut. “Ilmu ringan badan Wie Hok-ong tiada bandingannya di dunia,” katanya. “Makin tua kau kian lihai saja. Semalam Kouw Tauw-to bertambah pengalaman.”

Yo Siauw menengok ke sekitarnya dan berkata, “Tempat ini tak jauh dari kota dan musuh banyak mempunyai mata. Lebih baik kita pergi ke lembah sebelah depan.“

Semua menyetujui dan mereka lantas berangkat. Sesudah berlari belasan li mereka tiba di belakang sebuah bukit kecil dari mana mereka bisa memandang sejauh beberapa li sehingga tak usah kuatir pembicaraan mereka didengar orang. Mereka lalu duduk di tanah dan mendengarkan cerita Hoan Yauw.

Sebagaimana diketahui, sesudah Yo Po Thian hilang mendadak, Beng-kauw terpecah belah akibat para pemimpinnya berebut kedudukan Kauwcu. Hoan Yauw sendiri percaya bahwa Yo Po Thian belum meninggal dunia, maka seorang diri dia menjelajah di dunia Kangouw untuk mencari pemimpinnya. Dalam beberapa tahun dia masih belum berhasil. Belakangan dia menduga mungkin sekali Yo Po Thian dicelakai orang Kay-pang. Diam-diam dia membekuk beberapa tokoh partai pengemis lantas menyiksanya untuk mengorek keterangan. Tapi tindakan ini pun tidak berhasil. Dia bukan saja gagal, tetapi tanpa sebab juga sudah menyakiti banyak anggota Kaypang.

Ketika itu permusuhan kalangan Beng-kauw makin menghebat. Dalam agama tersebut dia mempunyai kedudukan yang amat tinggi. Apa bila dia mau tampil ke muka dan turut serta dalam perebutan kedudukan Kauwcu, dia pasti akan mendapat banyak pengikut. Akhirnya dia mengundurkan diri dari dunia pergaulan dan menjadi pendeta yang memelihara rambut (Tauw-to).

PETUALANGAN KONG-BENG YU-SU

Tetapi manusia tidak bisa melawan maunya nasib. Suatu kejadian yang sangat kebetulan terjadi. Pada suatu hari, selagi lewat di kaki gunung Thay-heng-san ia ditimpa hujan lalu berteduh di sebuah kelenteng rusak. Tanpa disengaja ia mendengar pembicaraan dua orang, yang satu Seng Kun dan yang lain seorang pendeta. Belakangan baru dia tahu bahwa pendeta itu adalah Kong-kian Taysu, kepala dari empat pendeta suci dari kuil Siauw-lim-si. Hoan Yauw pernah bertemu dengan Seng Kun di Kong-beng-teng, dan ia pun tahu bahwa orang itu adalah adik seperguruan Yo-kauwcu. Setelah mereka selesai bicara, sebenarnya ia ingin segera menemuinya. Namun di luar dugaan, baru saja mendengar beberapa patah perkataan dia sudah kaget tak kepalang.

Dengan berlutut di lantai Seng Kun minta belas kasihan Kong-kian Taysu. Dia menuturkan bagaimana sewaktu mabuk arak dia sudah memperkosa isteri muridnya sendiri, yaitu Cia Sun, dan bagaimana dia belakangan membasmi rumah tangga muridnya. Dia pun menuturkan bahwa untuk membalas sakit hati, Cia Sun sudah mencarinya di berbagai tempat tapi tak berhasil karena dia tidak berani muncul untuk menemui muridnya. Akhirnya dengan menggunakan namanya, Cia Sun membunuh banyak jago rimba persilatan untuk memaksa dia keluar.

Kejadian itu telah diketahui Bu Kie. Tapi mendengar berita Hoan Yauw, dia kembali marah bercampur duka.

Selanjutnya Hoan Yauw menuturkan bahwa sambil menangis Seng Kun memohon supaya Kong-kian Taysu suka menerima sebagai murid. Dia juga memohon supaya dengan belas kasihan sang Buddha, pendeta itu suka mendamaikan permusuhannya dengan Cia Sun.

“Siancay, siancay!” kata Kong-kian Taysu, “Lautan kesengsaraan tiada batasnya,” pendeta itu menghela napas. “Dulu aku juga pernah tersesat, untunglah aku segera memalingkan kepala, melihat daratan, menaruh golok, dan menjadi Buddha. Mana kala kau sungguh merasa menyesal, pintu sang Buddha terbuka lebar dan kau tidak akan dibiarkan berdiri di luar pintu.“ Sehabis berkata begitu dia mencukur rambut Seng Kun dan menerima sebagai murid. Selain itu dia pun berjanji akan berusaha mendamaikan permusuhan hebat antara Seng Kun dan Cia Sun.

Mendengar sampai di situ Bu Kie segera teringat bagaimana Cia Sun membinasakan Kong-kian Taysu dengan pukulan hebat. Kong-kian rela menerima pukulan dengan harapan dapat membereskan sakit hati. Di luar dugaan Seng Kun memperdayai gurunya. Pada waktu Kong-kian hendak melepaskan napas penghabisan, dia tidak muncul untuk menemui Cia Sun.

Yo Siauw menyambung dengan menuturkan bagaimana Seng Kun menyerang Kong-beng-teng dan cara bagaimana akhirnya dia binasa dalam pertempuran melawan In Thian Ceng dan In Yan Ong. Hoan Yauw merangkap kedua tangannya sambil berkata berulang.

“Omitohud! Siancay, siancay!”

Dengan hati duka Yo Siauw mengawasi kawannya yang dahulu terkenal sebagai seorang pria yang berparas tampan.

“Hubunganku dengan Kim-mo Say-ong sangat baik,” kata pula Hoan Youw. “Aku pun telah mendengar bahwa seluruh keluarganya dibinasakan orang. Aku hanya tidak pernah menduga bahwa pembunuh itu adalah gurunya sendiri. Sesudah hujan reda mereka keluar dari kelenteng dan aku mengikuti dari belakang. Aku tahu mereka berkepandaian tinggi sehingga hanya berani menguntit dari kejauhan. Tapi Kong-kian tidak bisa diakali. Dia tahu bahwa dirinya dikuntit orang. Sambil berjalan dia berkata-kata seorang diri. Ia mengatakan bahwa seorang murid Buddha harus mempunyai hati kasihan. Mendengar begitu aku tidak berani mengikuti lagi.

Berselang sekitar setahun kudengar Kong-kian Taysu meninggal dunia. Aku merasa curiga dan menduga bahwa wafatnya pendeta itu tentu mempunyai sangkut paut dengan Seng Kun. Diam-diam aku pergi ke Siauw-lim-si untuk menyelidiki. Tetapi aku tidak berani masuk ke dalam kuil dan hanya bergerak di sekitar gunung Siong-san. Dan benar saja. Langit tidak menyia-nyiakan usaha manusia yang sungguh-sungguh. Secara kebetulan aku mendengar pembicaraan antara Seng Kun dengan seorang utusan kaisar. Utusan kaisar itu bukan lain adalah Lok Thung Kek.

Mereka berdua berkepandaian terlalu tinggi dan aku merasa tidak unggulan. Aku tidak berani datang terlalu dekat. Dari kejauhan aku hanya bisa menangkap sepatah dua patah. Kata-kata yang bisa kudengar jelas hanyalah, ‘Kong-beng-teng harus dimusnahkan’. Maka tahulah aku bahwa agama kita tengah menghadapi bencana dan aku tidak bisa berpeluk tangan lagi. Aku lantas menguntit Lok Thung Kek sampai di kota raja. Aku tak berani mengganggu orang itu. Dia berkepandaian terlalu tinggi, ada pun yang lainnya kupandang remeh. Sesudah menyelidiki cukup lama juga, akhirnya aku mendapat tahu bahwa jago-jago rimba persilatan itu adalah bawahannya Jie Lam Ong Khakan Temur.”

Jie Lam Ong (Raja Muda Jie Lam) Khakan Temur adalah seorang anggota keluarga kaisar. Dia berpangkat Thay-kat Thay-wie dan berkuasa atas semua tentara kerajaan di seluruh negeri. Dia seorang pintar dan gagah, menteri utama dari kaisar Gun. Dialah yang sudah menindas pemberontakan rakyat di Kang-hoay. Sudah lama Bu Kie dan para pemimpin Beng-kauw mendengar nama besarnya. Sekarang mendengar Lok Thung Kek berikut jago-jago lain rimba persilatan menjadi bawahan pembesar itu, biar pun tidak terlalu kaget sedikit banyak Bu Kie terkejut juga.

“Tapi siapakah adanya Tio-kouwnio?” tanya Yo Siauw.

“Coba Toako tebak,” kata Hoan Yauw.

“Apa nona itu puterinya Khakan Temur?” tanya pula Yo Siauw.

Hoan Yauw bertepuk tangan. “Benar,” katanya. “Sekali tebak Toako telah menebak jitu. Jie Lam Ong memiliki seorang putera yang bernama Kuh Kuh Temur dan seorang puteri yang bernama Ming Ming Temur. Nama itu nama Mongol. Kedua anak itu gemar ilmu silat dan mereka mempunyai kepandaian yang cukup tinggi. Di samping itu mereka pun suka berpakaian seperti orang Han dan bicara menggunakan bahasa Han. Belakangan masing-masing menggunakan nama Han, Kuh Kuh Temur memilih nama Ong Po Po dan Ming Ming memilih nama Tio Beng. Perkataan Tio Beng hampir bersamaan dengan Siauw Beng dan Siauw Beng Kuncu (puteri Siauw Beng) adalah gelaran si nona.”

Wie It Siauw tertawa, “Kakak beradik itu sangat aneh,” katanya. “Yang satu she Ong yang satu lagi she Tio. Kejadian itu tak akan terjadi di kalangan orang Han.”

“She atau nama keluarga mereka sesungguhnya Temur,” menerangkan Hoan Yauw. “Menurut kebiasaan orang asing, nama keluarga ditaruh di sebelah belakang.”

“Dari muka dan potongan badannya, Tio-kouwnio adalah wanita cantik,” kata Yo Siauw. “Hanya sayang, wataknya terlalu kejam.”

Baru sekarang ini Bu Kie tahu asal usul Tio Beng. Sebenarnya dari awal dia telah menduga bahwa nona itu seorang puteri yang berasal dari turunan keluarga kaisar. Dia hanya tidak pernah menaksir bahwa nona Tio puterinya raja muda Jie Lam Ong yang memegang kekuasaan atas semua tentara kerajaan. Beberapa kali ia selalu jatuh di bawah angin. Dalam hal ilmu silat nona Tio memang masih kalah jauh, tapi dalam menggunakan tipu, ia banyak lebih unggul dari pada dirinya sendiri. Mengingat semua itu, di dalam hati Bu Kie merasa jengah.

“Dalam penyelidikan selanjutnya aku mengetahui bahwa Jie Lam Ong hendak membasmi semua partai persilatan di dunia Kangouw,” kata pula Hoan Yauw. “Dia sudah menerima baik rencana Seng Kun. Sebagai tindakan pertama, dia ingin menumpas agama kita. Dalam menimbang keadaan itu, aku berpendapat bahwa dengan terpecah belahnya kalangan kita sendiri dan tangguhnya musuh, bahaya yang sedang kita hadapi benar-benar hebat. Satu-satunya jalan untuk menolong adalah masuk ke dalam Ong-hu dan menyelidiki rencana raja itu. Sesudah tahu rencana mereka barulah aku bertindak dengan mengimbangi keadaan. Kecuali itu tidak ada jalan lain lagi. Akan tetapi aku sudah pernah bertemu muka dengan Seng Kun sehingga untuk mencegah bocornya rahasia aku mesti membunuh manusia itu.”

“Benar,” kata Wie It Siauw.

“Tetapi manusia itu sangat licin dan ilmu silatnya pun sangat tinggi,” kata pula Hoan Yauw. “Tiga kali aku mencoba membokong dia dan tiga kali pula aku gagal. Dalam usaha yang ke tiga aku berhasil menikamnya dengan pedang, tetapi aku sendiri kena pukulan telapak tangannya. Untung aku berhasil melarikan diri tanpa dikenali. Tetapi aku terluka berat dan sesudah berobat setahun lebih barulah kesehatanku pulih kembali. Waktu itu rencana Jie Lam Ong sudah mendekati penyelesaiannya dan bencana agama kita sudah sampai di ambang pintu. Aku menjadi nekat. Aku merusak mukaku sendiri, aku mematahkan tulang betisku, lalu dengan menyamar sebagai orang gagu dan bongkok aku pun pergi ke negeri Watzu.”

“Negeri Watzu?” Wie It Siauw menegas. “Negeri itu jauhnya berlaksa li. Perlu apa Hoan-yusu pergi ke sana?”

Sebelum Hoan Yauw menjawab, Yo Siauw sudah mendahului. “Saudara, sungguh bagus tipumu itu! Wie-heng, perginya saudara Hoan ke negeri itu sungguh tepat. Di negeri itu dia pasti akan diundang untuk bekerja kepada pembesar Mongol. Seperti yang kau tahu, Jie Lam Ong sedang mencari orang pandai. Untuk mengambil hati raja muda itu, pembesar Watzu pasti akan mengirim saudara Hoan ke kota raja. Dengan muka dan tubuhnya yang sudah berubah dan dengan berlagak gagu, meski pun Seng Kun melihatnya, dia pasti tak akan bisa mengenali.”

Wie It Siauw menghela napas. “Yo-kauwcu sudah menempatkan Siauw Yauw Jie-sian di sebelah atas dari keempat Hoat-ong dan sekarang aku mengakui bahwa mata Yo-kauwcu tajam,” katanya. “Tipu yang selihai itu takkan bisa terpikir oleh Eng-ong, Hok-ong dan lain-lain ong.”

“Wie-heng, banyak terima kasih untuk pujianmu yang tinggi,” kata Hoan Yauw. Ia berhenti sejenak, kemudian berkata lagi dengan suara lirih, “Kauwcu, sekarang aku ingin menerima hukuman.”

“Mengapa Hoan-yusu berkata begitu?” tanya Bu Kie.

Hoan Yauw bangkit dan sambil membungkuk dia menjawab, “Aku telah berbuat dosa besar membunuh saudara-saudara dari agama kita. Sesuai dugaan Yo-cosu tadi, di Watzu aku sengaja membunuh singa dan membinasakan harimau hingga namaku lantas terkenal. Pembesar di sana lalu mengirim aku kepada Jie Lam Ong. Untuk memperkuat kepercayaan raja muda itu atas diriku, terpaksa aku membunuh tiga orang hio-cu dari agama kita.”

Alis Bu Kie berkerut. Dia tidak lantas menjawab. Di dalam hatinya dia beranggapan bahwa tindakan Hoan Yauw sangat luar biasa dan agak kejam. Dia rela mengorbankan muka dan kaki sendiri dan belakangan membunuh kawan sendiri. “Orang menamakan Beng-kauw agama sesat, agama siluman,” pikirnya. “Dilihat begini, sampai kapan Beng-kauw bisa mencuci kata-kata sesat dan siluman itu?”

Melihat sikap Bu Kie, mendadak Hoan Yauw menghunus pedang Yo Siauw. Dengan sekali berkelebat pedang itu telah memutuskan tiga jari tangan kirinya. Bu Kie terkejut dan cepat merampas senjata itu.

“Hoan-yusu... kenapa... kenapa kau berbuat begitu?” tanyanya dengan mata terbelalak.

“Membunuh saudara dalam agama kita adalah dosa besar,” jawabnya. “Karena urusan besar belum selesai, Hoan Yauw belum berani bunuh diri. Sekarang lebih dulu Hoan Yauw memutuskan tiga jeriji dan nanti dia akan mempersembahkan kepalanya kepada Kauwcu.”

“Aku telah mengampuni kesalahan Hoan-yusu,” kata Bu Kie. “Kenapa kau berbuat begitu? Sekarang kita menghadapi tugas yang amat berat. Kuharap Hoan-yusu tidak menyebut lagi urusan ini.“ Sehabis berkata begitu Bu Kie mengeluarkan obat luka, menyobek ujung bajunya dan membalut luka Hoan Yauw.

Di dalam hati Bu Kie merasa sangat tidak enak. Dia tahu bahwa Hoan Yauw bukan gertak sambal. Apa yang dikatakannya dapat dilakukannya. Mungkin sekali di hari kemudian dia akan bunuh diri. Mengingat segala penderitaannya demi kepentingan Beng-kauw, Bu Kie merasa sangat terharu dan tiba-tiba dia menekuk sebelah lututnya.

“Hoan-yusu sebagai orang yang telah berjasa besar bagi agama kita, terimalah hormatku,” katanya dengan suara parau. “Kalau kau melukai dirimu lagi, itu berarti kau menganggap aku sebagai manusia yang tidak punya guna dan tidak pantas untuk menjadi kauwcu dari agama kita. Kalau kau menikam dirimu satu kali, aku akan menikam diriku dua kali.”

Melihat Kauwcu mereka berlulut, dengan air mata bercucuran Hoan Yauw, Yo Siauw dan Wie It Siauw segera turut berlutut.

“Saudara Hoan,” kata Yo Siauw sambil menyusut air matanya. “Kau tak boleh mengulangi perbuatan itu. Bangun robohnya agama kita hanya mengandalkan Kauwcu seorang. Tadi Kauwcu telah mengeluarkan perintah dan kau tidak boleh melanggar perintahnya.”

“Dalam pertandingan hari ini aku takluk terhadap Kauwcu,” kata Hoan Yauw, “Kouw Tauw-to memiliki adat yang amat aneh dan aku memohon belas kasihan Kauwcu.”

Dengan kedua tangan Bu Kie membangunkan Hoan Yauw. Setelah terjadinya kejadian ini, dia dan Hoan Yauw menjadi sahabat yang saling mencintai. Sesudah itu Hoan Yauw segera menceritakan pengalaman di gedung Jie Lam Ong. Pada jaman itu kaisar Goan yang bodoh didampingi oleh menteri dorna sehingga karena tindakannya yang sewenang-wenang, negeri jadi kalut dan rakyat memberontak. Untung kerajaan Goan masih memiliki Jie Lam Ong yang gagah dan bijaksana.

Tanpa kenal lelah raja muda itu membawa tentara ke sana sini untuk menindas berbagai pemberontakan. Namun negeri tetap tidak menjadi aman. Di sini pemberontakan berhasil ditindas tapi di sana sudah kalut lagi. Dalam kerepotannya, raja muda terpaksa menunda rencana untuk membasmi partai-partai persilatan. Selama beberapa tahun kedua anaknya sudah besar. Kuh Kuh Temur alias Ong Po Po mengikuti ayahandanya dalam ketentaraan, ada pun Ming Ming Temur (Tio Beng) memimpin rombongan jago-jago silat untuk menumpas partai rimba persilatan. Jago-jago itu terdiri dari ahli-ahli silat Mongol, Han dan See-hek dan di antara mereka terdapat juga sejumlah pendeta See-hoan.

Gerakan enam partai besar menyerang Kong-beng-teng membuka kesempatan baik bagi Tio Beng. Atas usul Seng Kun, dia membawa semua jagonya membasmi enam partai itu dan Beng-kauw sekaligus. Peristiwa di Lek-liu-chung dan lain-lainnya adalah sebagian dari rencana itu. Karena sedang bertugas di seberang lautan untuk menyelidiki tempat persembunyian Cia Sun maka Hoan Yauw tidak ikut serta dalam rombongan Tio Beng yang pergi ke See-hek. Belakangan barulah dia tahu bahwa Tio Beng menggunakan racun Sip-hiang Joan-kin-san (obat bubuk harum yang membuat tubuh manusia menjadi lemas) yang dipersembahkan oleh pendeta See-hoan. Tio Beng berhasil menangkap jago enam partai besar yang mau kembali dari Kong-beng-teng.

Racun itu asin seperti garam dan wangi bagaikan sayur yang segar. Dengan mencampur racun itu dalam makanan, nona Tio berhasil menjaring semua korban. Walau pun masih bisa bergerak dan berjalan seperti biasa yang kena racun itu lemas badannya dan habis semua tenaga Iweekang-nya. Namun ketika meracuni Hoa-san-pay, kaki tangan Tio Beng kurang berhati-hati sehingga rahasia bocor. Satu pertempuran lantas terjadi. Tapi Hoa-san-pay tak tahan melawan jago-jago seperti Hian-beng Jie-lo, Sin-cian Pat-hiong, A Yoa, A Jie, A Sam dan yang lainnya sehingga sesudah beberapa belas orang binasa, mereka semua kena dibekuk juga.

Penangkapan atas diri para pendeta di kuil Siauw-lim-si juga dilakukan dengan tipu daya itu. Tapi kuil Siauw-lim-si biasanya dijaga keras sehingga tidak gampang orang bisa turun tangan. Menaruh racun di kuil tersebut berbeda jauh dengan menaruh racun di rumah penginapan.

“Aku tahu bahwa tugas menaruh racun di dalam kuil sebenarnya jatuh ke tangan Seng Kun,” kata Hoan Yauw. “Dengan kedudukannya sebagai murid Kong-kian Taysu, dengan mudah dia bisa menjalankan peranannya. Tetapi dia keburu mati dalam pertempuran di Kong-beng-teng. Maka aku merasa amat heran. Siapa yang meracuni para pendeta Siauw-lim-si? Pada saat itu aku baru saja kembali dari luar lautan dan menyusul rombongan yang mau membekuk para pendeta Siauw-lim-si. Aku kepingin sekali menyelidiki, tapi karena sudah berlagak gagu, tentu saja aku tidak bisa bertanya kepada mereka. Apa lagi Siauw-lim-pay sering menghina agama kita, maka terus terang saja aku merasa sangat senang apa bila para pendeta itu bisa merasakan sedikit penderitaan. Kauwcu, mungkin kau tak setuju dengan pendapatku itu. Ha-ha-ha!”

“Saudara, bukankah kau yang menggeser patung Tat-mo?” tanya Yo Siauw.

Hoan Yauw tertawa, “Ya,” jawabnya. “Ditulisnya huruf-huruf itu adalah atas perintah Kuncu (puteri seorang pangeran) untuk menumplek semua dosa di atas pundak agama kita. Belakangan, sesudah mereka semua berlalu, aku kembali lalu memutar patung itu. Ternyata mata kawan-kawan tajam sekali sehingga bisa melihat kejadian itu. Saudara Yo, apakah waktu itu kau mempunyai dugaan bahwa pekerjaan tersebut dilakukan olehku?”

“Aku hanya tahu bahwa di pihak musuh terdapat seorang berkepandaian tinggi yang diam-diam melindungi agama kita,” jawabnya. “Aku tidak pernah bermimpi bahwa pelindung kita ternyata saudara sendiri!” keempat pemimpin Beng-kauw itu tertawa terbahak-bahak.

Yo Siauw segera memberi-tahu Hoan Yauw bahwa kini Beng-kauw sudah mengakhiri permusuhan dengan partai-partai persilatan. Dengan bekerja sama mereka akan berusaha merobohkan kerajaan Goan. Karena itu Beng-kauw merasa berkewajiban untuk menolong tokoh dari keenam partai itu.

“Musuh berjumlah besar, sedangkan kita sangat kecil,” kata Hoan Yauw. “Dengan hanya mengandalkan tenaga empat orang, kita tidak akan berhasil. Jalan satu-satunya kita harus berusaha mendapatkan obat pemunah Sip-hiang Joan-kin-san dan memberikannya kepada hwesio, nikouw dan hidung kerbau bau itu. Sesudah tenaga dalam mereka pulih kembali, beramai-ramai kita bisa menghantam Tat-cu lantas kabur dari kota raja ini.”

Selama belasan tahun Hoan Yauw tak pernah bicara sehingga sekarang lidahnya agak kaku dan suara yang dikeluarkannya tak begitu tegas. Di samping itu, berhubung adanya permusuhan antara Beng-kauw dan partai-partai rimba persilatan, dalam berbicara tidak sungkan-sungkan lagi. Mendengar suara yang pelo dan perkataan ‘bau’, Yo Siauw merasa geli campur kuatir. Dia memberi isyarat dengan lirikan mata, tetapi Hoan Yauw tidak meladeni.

Tapi Bu Kie sendiri tidak berkecil hati. “Pendapat Hoan-yusu memang benar sekali,” katanya. “Cara bagaimana kita bisa mendapatkan obat pemunah itu?”

“Biar pun kuncu menghormati aku, tapi karena aku berlagak gagu maka dia belum pernah mengajak aku dalam merundingkan soal-soal penting,” jawabnya. “Selain itu aku datang dari negeri lain, dan dapatlah dimengerti jika dia menganggap aku sebagai orang kepercayaan. Oleh sebab itu hingga sekarang aku belum tahu bagaimana bentuknya obat pemunah Sip-hiang Joan-kin-san. Aku hanya tahu bahwa karena obat itu obat yang amat penting, maka kuncu berlaku sangat hati-hati. Kalau tidak salah, racun dan obat dipegang Hoan beng Jie-lo, yang satu memegang racun sedangkan yang lain memegang obat. Bukan itu saja, bahkan pada waktu-waktu tertentu diadakan tukar menukar dalam pemegangannya. Misalnya kalau bulan ini Lok Thung Kek menguasai racun, bulan lain dia menguasai obat pemunah.”

Yo Siauw menghela napas, “Wanita itu sungguh pintar,” katanya. “Aku tanggung tidak ada lelaki yang bisa menandingi dia. Apa dia tidak percaya penuh kepada Hian-beng Jie-lo?”

“Pertama memang begitu dan kedua untuk menjaga supaya lebih hati-hati,” kata Hoan Yauw. “Sekarang kita hendak mencuri obat pemunah. Tapi dengan tindakan Kuncu itu kita tidak tahu siapa yang memegangnya, Lok Thung Kek ataukah Ho Pit Ong. Selain itu kudengar antara racun dan obat tak ada perbedaan bau dan warna sehingga andai kata kita berhasil mencurinya, kita masih belum dapat memutuskan, apa kita mendapatkan obat atau racun. Sip-hiang Joan-kin-san mengandung serupa bahaya yang tak diketahui banyak orang. Kalau orang pertama kali kena racun, otot-otot dan tulangnya tak bertenaga lagi, tenaga dalamnya hilang semua. Tapi kalau dia kena untuk kedua kalinya, biar sedikit pun, maka aliran darahnya akan berbalik dan mati tanpa bisa ditolong lagi.”

Wie It Siauw meleletkan lidahnya, “Kalau begitu kita tidak boleh salah,” katanya.

“Memang demikianlah,” kata Hoan Yauw. “Tetapi aku punya satu jalan yang baik. Tanpa mempedulikan obat atau racun, kita curi saja apa yang disimpan oleh Hian-beng Jie-lo. Sesudah itu kita memberikannya kepada seorang Hoa-san-pay atau Khong-tong-pay yang kedudukannya tidak begitu penting. Bubuk yang membinasakan pasti bubuk racun. Dengan begitu kita tahu yang mana racun dan yang mana obat. Bagaimana pendapatmu, Kauwcu?”

Bu Kie mengerti bahwa Hoan Yauw masih memiliki sifat sesat. Tetapi dia hanya tertawa dan berkata,

“Aku tidak begitu setuju. Masih terdapat kemungkinan bahwa yang kita curi adalah racun semuanya.”

Yo Siauw menepuk lututnya. “Kauwcu, kau benar. Sesudah kita mengacau mungkin sekali karena kuatir kuncu telah menyimpan sendiri obat pemunahnya. Menurut pemikiraku, yang paling penting kita harus menyelidiki siapa yang memegang obat itu. Sesudah tahu pasti barulah kita mengatur daya upaya untuk mencurinya.” Sesudah mengasah otak beberapa saat, dia berkata lagi, “Saudara Hoan, apakah yang paling disukai Hian-beng Jie-lo?”

“Lok Thung Kek suka paras cantik. Ho Pit Ong suka arak,” jawabnya.

“Kauwcu,” kata Yo Siauw kepada Bu Kie. “Apakah ada racun yang dapat menghilangkan tenaga manusia seperti Sip-hiang Joan-kin-san?”

Bu Kie tersenyum, “Tidak sukar untuk membuat seseorang kehilangan tenaga,” jawabnya. “Tapi jika racun itu masuk ke dalam perut orang yang berkepandaian tinggi, belum cukup setengah jam tenaganya sudah pulih kembali. Rasanya aku tidak mampu membuat racun yang selihai Sip-hiang Joan-kin-san.”

“Setengah jam sudah cukup,” kata Yo Siauw. “Aku telah memikirkan suatu daya, tapi apa dapat digunakan atau tidak terserah pada pertimbangan Kauwcu. Saudara Hoan, cobalah kau undang Ho Pit Ong untuk minum arak dan di dalam arak taruhlah racun yang dibuat Kauwcu. Setelah minum kau mendahului bikin ribut, berlagak marah dan mengatakan bahwa kau sudah diracun oleh Ho Pit Ong dengan Sip-hiang Joan-kin-san. Jika dugaanku tidak salah, siasat itu kita dapat segera mengetahui siapa yang menyimpan obat pemunah. Dengan mengimbangi keadaan, kita bisa lantas merampasnya.”

Bu Kie manggut-manggut. “Apakah daya itu bisa berhasil tergantung pada sifat dan watak Ho Pit Ong,” katanya. “Hoan-yusu, bagaimana pendapatmu?”

“Kurasa tipu Yo-toako boleh dijalankan,” jawabnya. “Ho Pit Ong berangasan dan kejam, tapi dia tidak selihai Lok Thung Kek yang jahat dan banyak akal. Asal obat pemunah itu berada pada Ho Pit Ong, biar pun tidak berkepandaian tinggi mungkin aku masih dapat melayaninya. Tetapi bagaimana kalau obat itu disimpan Lok Thung Kek?” tanya Yo Siauw.

Alis Hoan Yauw berkerut, “Ya, itulah sukar,” sahutnya. Sehabis berkata begitu dia bangun berdiri lalu berjalan mondar mandir sambil menundukkan kepala. Berselang beberapa lama tiba-tiba dia menepuk kedua tangannya, “Hanya ada satu jalan,” katanya. “Lok Thung kok sangat pintar. Kalau kita menggunakan tipu, sangat mungkin dia takkan kena ditipu. Jalan satu-satunya kita mencengkeram kelemahannya dan kemudian menggertak dia. Tindakan ini memang berbahaya. Tapi menurut pikiranku, selain ini tidak ada jalan lain lagi.”

“Apa maksud saudara Hoan?” tanya Yo Siauw. “Bagaimana kita bisa mencengkeram kelemahan tua bangka itu?”

“Pada musim semi tahun ini Jie Lam Ong telah mengambil seorang selir (gundik),” Hoan Yauw menerangkan. “Untuk merayakannya, dia mengundang kami beberapa orang dalam sebuah perjamuan di taman bunga. Jie Lam Ong mengagulkan selir itu wanita yang sangat cantik dan untuk membuktikannya dia memerintahkan gundik baru itu menemui kami dan menuangkan arak. Kulihat mata bangsat Lok Thung Kek mengawasi nyonya muda itu tak henti-hentinya.”

“Habis bagaimana?” tanya Wie It Siauw.

“Tidak apa-apa,” jawabnya. “Andai kata Si tua bangka mempunyai nyali sebesar langit, dia tentu tidak berani main gila dengan selir Jie Lam Ong.”

“Tapi ada hubungan apa antara mata bangsat si tua bangka dengan kelemahannya yang hendak kau cengkeram?” tanya pula Wie It Siauw.

“Dengan sedikit usaha kita dapat berbuat begitu,” sahutnya sambil tersenyum. “Dalam hal ini kita memerlukan bantuan Wie-heng. Dengan menggunakan ilmu mengentengkan tubuh yang tiada bandingannya kau culik selir itu lalu menaruhnya di atas ranjang si tua bangka. Andai kata dia dapat mempertahankan diri dan tidak berani mengganggu nyonya itu, tetap saja dia takkan bisa membersihkan diri sebab wanita itu terbukti berada di kamarnya. Aku akan menerobos masuk ke kamarnya dengan tiba-tiba dan memaksa dia mengeluarkan obat pemunah. Kurasa dia pasti akan menurut.”

Yo Siauw dan Wie It bertepuk tangan. Mereka sangat menyetujui muslihat kawannya. Ada pun Bu Kie sendiri mendongkol tercampur geli. Ia ingat bahwa atas maunya nasib sekarang dia menjadi pemimpin serombongan manusia yang cara-caranya sering menyeleweng dari kepantasan dan tak ada bedanya dengan sepak terjang kawanan Tio Beng. Tapi dia ingat juga bahwa muslihat kelompok Tio Beng bertujuan busuk sedang siasat Hoan Yauw pada hakekatnya bermaksud baik, yaitu untuk menolong tokoh keenam partai persilatan. Memang harus begitu, pikirnya. Untuk melawan racun orang mesti menggunakan racun. Berpikir demikian dia lantas tertawa dan berkata,

“Hanya saja muslihat Hoan-yusu harus menyeret juga nama baik selir Jie Lam Ong.”

Hoan Yauw tertawa, “Aku akan mendobrak pintu kamar si tua bangka lebih cepat supaya biar pun mau tetapi dia tak akan keburu menodai kehormatan si nyonya,” katanya.

Setelah tercapai persetujuan tipu daya, mereka lantas merundingkan tindakan berikutnya. Akhirnya ditetapkan bahwa begitu obat pemunah dapat dirampas, Hoan Yauw akan pergi ke menara untuk memberikannya kepada jago keenam partai, sedang Bu Kie dan Yo Siauw menjaga di luar menara. Sehabis menunaikan tugas pertama, Hoan Yauw harus membakar Ban-hoat-si dan Bu Kie bersama Wie It Siauw akan membakar rumah rakyat di sekitar kelenteng tersebut. Dalam kekacauan itu rombongan keenam partai yang sudah pulih tenaga dalamnya, akan segera menerjang keluar.

Yo Siauw mendapat tugas membeli kuda dan kereta yang harus menunggu di luar pintu See-shia. Semua orang harus menerjang keluar lewat pintu See-shia, kemudian lari berpencaran menggunakan kuda dan kereta-kereta itu. Kemudian mereka berkumpul di Ciang peng. Dalam rencana itu ada sesuatu yang tak disetujui oleh Bu Kie, yaitu pembakaran rumah-rumah rakyat.

“Kauwcu,” kata Yo Siauw dengan suara membujuk, “Dalam setiap urusan kita tidak dapat mengharapkan kesempurnaan. Kita ingin menolong jago-jago itu supaya di kemudian hari dapat mengusir Tat-cu. Tujuan ini demi nusa dan bangsa, demi keselamatan beribu laksa umat manusia di kolong langit. Jika hari ini kita membakar sejumlah rumah rakyat, maka tindakan itu diambil karena terpaksa.”

Sesudah mencapai persetujuan bulat, mereka segera mulai bekerja. Yo Siauw pergi ke pasar membeli kuda dan Bu Kie membuat racun yang kemudian diserahkan kepada Hoan Yauw oleh Wie It Siauw. Di dalam membuat racun itu Bu Kie sengaja menaruh tiga macam wewangian supaya arak yang tercampur racun berbau harum.

Wie It Siauw membeli selembar karung dan begitu siang terganti malam, dia segera menyatroni gedung Jie Lam Ong.


OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar