Kamis, 15 Oktober 2026

To Liong To 19

TIGA PUKULAN PENUKAR JIWA

Dengan dikurung rombongan lima perguruan Kun-lun, Go-bi, Bu-tong, Hoa-san serta Khong-tong, maka sisa pasukan itu tinggal menanti ajalnya saja. Tapi demi persaudaraan, sedikit pun mereka tak merasa gentar. Mereka terus melawan dengan tekad untuk binasa bersama pemimpinnya. Sesudah merobohkan beberapa musuh, In Lie Heng sangat tidak tega.

“Siluman-siluman Swie-kim-kie, dengarlah!” teriaknya. “Jalan kalian hanya jalan mati. Lemparkanlah senjatamu! Kami akan mengampuni jiwamu.”

Ciang-kie Hu-su (wakil pemimpin) Swie-kim-kie tertawa terbahak-bahak. “Ha-ha-ha...! Kau terlampau memandang rendah Beng-kauw,” katanya. “Setelah Tong Chung Toako binasa, bagaimana kami bisa hidup terus?”

“Saudara-saudara Kun-lun, Go-bi, Hoa-san dan Khong-tong, mundurlah sepuluh langkah!” teriak In Lie Heng lagi. “Berikan kesempatan supaya mereka bisa menyerah.”

Kecuali Biat-coat, semua orang segera mengundurkan diri. Si nenek yang amat benci kepada Mo-kauw tidak meladeni dan terus membasmi sepuas hati. Di mana Ie-thian-kiam berkelebat, di situ tentu ada senjata patah atau manusia roboh. Melihat guru mereka menyerang terus, murid-murid Go-bi segera maju kembali sehingga di gelanggang pertempuran terjadi perubahan, Go-bi-pay bertempur sendirian melawan Swie-kim-kie.

Kekuatan Swie-kim-kie masih ada enam puluh orang lebih dan jago-jago yang mempunyai kepandaian tinggi sedikitnya masih ada dua puluh orang lebih sehingga dengan begitu, di bawah pimpinan Ciang-kie Hu-su, Gouw Kin Co, jumlah mereka masih lima kali lipat lebih banyak dari pada belasan orang Go-bi-pay. Dengan lima lawan satu seharusnya pihak Swie-kim-kie berada di atas angin. Tetapi Biat-coat hebat luar biasa dan Ie-thian-kiam merupakan senjata terhebat pada jaman itu, maka dalam sekejap saja tujuh delapan anggota Swie-kim-kie roboh lagi tanpa nyawa.

Bu Kie merasa sangat tidak tega. Sambil berpaling kepada Cu-jie, ia berkata, “Ayolah kita pergi.“

Ia mengangsurkan tangannya membuka jalan darah si nona yang ditotok Biat-coat. Tapi biar pun sudah menotok beberapa kali, jalan darah Cu-jie masih belum juga terbuka. Ternyata Biat-coat mempunyai ilmu Iweekang yang amat tinggi, maka totokannya masuk sangat dalam sehingga meski pun usaha Bu Kie dilakukan menurut cara yang tepat tetapi jalan darah Cu-jie tidak dapat terbuka dengan cepat. Sambil menghela napas Bu Kie mengawasi jalannya pertempuran. Ketika itu sisa pasukan Swie-kim-kie yang jumlahnya beberapa puluh orang sudah tidak bersenjata lagi. Senjata mereka telah diputuskan si nenek. Tapi karena dikurung rapat oleh rombongan partai dan juga mereka tidak berniat melarikan diri, maka dengan tangan kosong mereka tetap meneruskan perlawanan terhadap murid-murid Go-bi.

Sebagai orang yang berkedudukan sangat tinggi, Biat-coat sungkan menggunakan senjata terhadap musuh yang sudah tak bersenjata. Di lain saat tubuhnya telah berkelebat lalu jari tangannya menyambar-nyambar dan dalam sekejap lima puluh lebih anggota Swie-kim-kie berdiri tegak bagaikan patung dengan jalan darah tertotok. Melihat kepandaian si nenek yang luar biasa, semua orang lantas bersorak-sorai.

Fajar mulai menyingsing. Tiba-tiba dari sebelah tenggara dan barat laut terlihat bayangan-bayangan manusia yang bergerak mendekat. Mereka adalah orang-orang Peh-bie-kauw.

Selagi Go-bi bertempur melawan Swie-kim-kie, dengan rasa khawatir Song Ceng Su terus memperhatikan gerak-gerik Peh-bie-kauw. Kini mereka mulai mendekat, tapi mereka berhenti lagi dalam jarak kira-kira dua puluh tombak,.

“A Gu koko, kita harus cepat pergi,” kata Cu-jie. “Celaka benar kalau kita jatuh ke tangan Peh-bie-kauw.”

Namun di dalam hati pemuda itu terdapat semacam perasaan yang tidak dapat dilukiskan terhadap Peh-bie-kauw. Pihak itu adalah pihak mendiang ibunya, tetapi dia sendiri belum pernah bertemu dengan orang Peh-bie-kauw. Setiap teringat mendiang ibunya, dia selalu berkata di dalam hati, “Aku tak bisa bertemu lagi dengan ibu. Kapankah aku bisa bertemu dengan kakek dan paman?” Dan kini mereka berada begitu dekat dengan dirinya. “Ah, biar bagaimana pun juga aku harus melihat, apakah kakek dan paman berada dalam pasukan itu,” katanya di dalam hati. Sementara itu Song Ceng Su mendekati Biat-coat.

“Cianpwe,” katanya, “Cepatlah mengambil keputusan terhadap orang-orang Swie-kim-kie supaya kita bisa segera menghadapi Peh-bie-kauw.”

Si nenek mengangguk. Waktu itu matahari pagi sudah mulai memancarkan sinarnya yang gilang gemilang. Bayangan Biat-coat yang tinggi besar dan terpeta di pasir kuning tampak angker sekali, tetapi dalam keangkeran itu terasa sesuatu yang menyedihkan. Dalam kebenciannya terhadap Mo-kauw, si nenek ingin sekali meruntuhkan semangat dan nyali orang-orang itu. Karena itu dia lantas membentak,

“Hei, orang-orang Mo-kauw! Kalian dengarlah. Siapa yang masih ingin hidup bisa memperoleh pengampunan asal saja meminta ampun.”

Tapi pengumuman itu dijawab dengan gelak tawa.

“Tertawa apa kalian?!” bentak Biat-coat dengan marah.

“Dengan Chung-toako kami ingin hidup dan mati bersama-sama!” teriak Ciang-kie Hu-su, Gouw Kin Co. “Kau jangan banyak rewel, cepat ambil jiwa kami.”

Si nenek mengeluarkan suara di hidung, “Baikalh,” katanya. “Tapi kau jangan mimpi bahwa kau bisa mampus dengan enak.“ Seraya berkata begitu dia membabat putus lengan orang itu.

Gouw Kin Co tertawa terbahak-bahak. “Beng-kauw mewakili langit menjalankan keadilan, membereskan dunia menolong rakyat dan kami menganggap bahwa hidup atau mati tiada bedanya,” katanya dengan suara nyaring. “Bangsat tua! Kalau kau mengharap takluknya kami maka seperti mimpi di siang bolong!”

Biat-coat semakin marah. Ie-thian-kiam menyambar tiga kali dan tiga orang putus lengannya.

“Bagaimana kau?” tanyanya kepada orang yang ke lima. “Apa kau mau minta ampun?”

“Tutup mulutmu!” bentak orang itu sambil tertawa. Kali ini, sebelum gurunya bergerak Ceng-hie telah melompat mendahului dan memutuskan lengan kanan orang itu dengan pedangnya.

“Suhu, biarlah teecu saja yang menghukum siluman-siluman ini,” katanya.

Dengan beruntun dia menanyai beberapa musuh tetapi tak satu pun yang sudi menyerah. Sesudah membabat putus lengan beberapa orang, dia berpaling kepada gurunya seraya berkata,

“Suhu, mereka sangat keras kepala...“ Dengan berkata begitu dia mengharapkan belas kasihan Biat-coat.

Namun si nenek tidak memperdulikan suara memohon dari muridnya. “Putuskan lengan kanan semua siluman ini!” bentaknya. “Apa bila mereka masih belum mengenal takut, kau putuskan juga lengan kirinya.”

Ceng-hie tak berdaya. Dia kembali mengangkat pedang dan memutuskan pula beberapa lengan.

Sampai di situ Bu Kie tak dapat menahan dirinya lagi. Dia melompat dari kereta salju dan menghadang di depan Ceng-hie.

“Tahan!” bentaknya.

Semua orang terkejut, begitu juga Ceng-hie yang langsung mundur selangkah. “Apakah kau tidak merasa malu sudah menyakiti sesama manusia begitu kejam?” teriak Bu Kie dengan suara terengah.

Semua orang kaget, tapi sesudah melihat pakaian Bu Kie yang compang-camping mereka lantas tertawa. Sesudah tertawa nyaring, Ceng-hie berkata,

“Semua orang ingin membinasakan kawanan siluman yang sesat. Dalam hal ini tidak ada soal kejam atau tidak kejam.”

“Para Cianpwe dan toako ini adalah orang-orang yang berkepribadian luhur dan tidak takut mati,” kata Bu Kie. “Sikap mereka sikap ksatria tulen. Bagaimana kau bisa menganggap mereka sebagai kawanan siluman yang sesat?”

“Apa kawanan Mo-kauw bukan siluman?” tanya Ceng-hie dengan marah. “Dengan matamu sendiri kau menyaksikan betapa Ceng-ek Hok-ong membunuh manusia kemudian menghisap darahnya. Dia sudah membunuh sute dan sumoay-ku. Kalau itu bukan siluman apa yang bisa dinamakan siluman?”

“Ceng-ek Hok-ong hanya membunuh dua orang, tapi kalian membinasakan sepuluh kali dua orang,” kata Bu Kie. “Dia menggunakan gigi, gurumu menggunakan Ie-thian-kiam. Dia membunuh, gurumu juga membunuh. Apa bedanya?”

Ceng-hie emosi, “Bocah!” bentaknya. “Kau berani menyamakan guruku dengan siluman?” Seraya membentak dia memukul Bu Kie dengan telapak tangannya.

Dengan cepat pemuda itu berkelit. Namun Ceng-hie adalah murid kepala Go-bi-pay yang mempunyai kepandaian tinggi. Pukulan yang ditujukan ke muka Bu Kie hanyalah pukulan gertakan dan begitu cepat pemuda itu berkelit, kaki kirinya menendang dada.

“Dukk!“

Sesosok tubuh terpental beberapa tombak jauhnya, tetapi tubuh itu adalah tubuh Ceng-hie yang sudah patah tulang betisnya. Dalam ilmu silat Bu Kie memang kalah jauh dari Ceng-hie. Tapi dia memiliki Kiu-yang Sin-kang yang keluar secara wajar jika dia diserang orang. Makin berat serangan itu semakin hebat pula tenaga menolak dari Kiu-yang Sin-kang. Untung juga, waktu menendang Ceng-hie tak berniat mengambil jiwa Bu Kie dan hanya menggunakan separuh tenaganya. Maka itu walau pun tulangnya patah tetapi dia tidak mendapat luka berat. Semua orang termasuk Biat-coat langsung terkesiap.

“Siapa dia?” tanya si nenek dalam hati. “Selama beberapa hari aku tidak memperhatikan dia dan tak disangka dia seorang yang berkepandaian tinggi. Aku sendiri pun belum tentu bisa melemparkan Ceng-hie dengan cara begitu. Di dunia ini mungkin hanya Thio Sam Hong yang memiliki Iweekang sedemikian dahsyat.”

Biat-coat adalah manusia yang beradat aneh, keras dan kejam. Ia tak berani memandang rendah kepada Bu Kie, tapi saat itu juga dia segera mengambil keputusan untuk mengadu jiwa dengan pemuda itu. Dengan sorot mata tajam dia menatap Bu Kie dari kepala sampai kaki. Tapi pemuda itu tidak menghiraukan karena dia sedang repot menolong orang Swie-kim-kie. Dengan cepat dia menotok jalan darah mereka dan sesudah ditotok maka darah yang mengalir keluar dari lengan yang putus itu lantas berkurang. Di antara orang-orang itu terdapat banyak ahli ilmu totok, tapi tak satu pun yang mengenal ilmu Bu Kie yang lain dari yang lain.

“Terima kasih atas pertolongan Siauw-hiap,” kata Gouw Kin Co. “Bolehkah aku mengetahui she dan nama Siauw-hiap yang mulia?”

“Aku she Can, namaku A Gu,” jawabnya.

“Bocah, kemari!” bentak Biat-coat dengan suara dingin, “Sambutlah tiga seranganku.”

“Tunggu dulu,” kata Bu Kie seraya membalut luka korban yang terakhir. Sesudah selesai barulah dia menghampiri si nenek kemudian berkata seraya merapatkan dua tangannya, “Biat-coat Suthay, aku bukan tandinganmu. Aku sama sekali tak berniat bertanding melawan Lo-jinke (panggilan menghormati untuk seorang yang tua). Aku hanya berharap supaya kedua belah pihak menghentikan pertempuran dan mengadakan perdamaian.”

Dia bicara sungguh-sungguh dengan nada memohon. Dalam hatinya dia mencintai kedua belah pihak karena pihak yang satu adalah pihak mendiang ayahnya sedangkan pihak yang lain adalah golongan mendiang ibunya.

Biat-coat tertawa dingin, “Apakah kami harus menghentikan pertempuran atas perintahmu, bocah bau?” katanya. “Apakah kau seorang Bu-lim Cie-cun (orang yang termulia di dunia persilatan)?”

Bu Kie terkejut, “Apa artinya perkataan Suthay?” tanyanya.

“Andaikan di tanganmu memegang golok To-liong-to, kau masih harus melawan Ie-thian-kiam-ku untuk menentukan siapa menang siapa kalah,” kata si nenek. “Sesudah kau menjadi Cie-cun di dunia persilatan, barulah kau boleh memerintah di kolong langit.”

Mendengar ejekan sang guru, semua murid Go-bi lantas tertawa geli. Bu Kie amat terkejut dan dia segera berpikir, “Apakah tujuan orang-orang dunia persilatan yang mencari ayah angkatku hanya untuk merampas To-liong-to? Apakah mereka hanya bermaksud untuk menjadi yang termulia di dunia persilatan agar dapat memerintah di kolong langit?” Selagi berpikir begitu, murid-murid Go-bi masih belum berhenti tertawa. Sebagai seorang muda yang tidak mempunyai nama, memang tak pantas juga bila Bu Kie mengatakan ‘mengharapkan kedua belah pihak menghentikan pertempuran’. Mendengar suara tawa orang, paras mukanya berubah merah. Bu Kie menengok dan di antara murid-murid Go-bi, dia melihat Ciu Cie Jiak yang tengah mengawasinya dengan sorot mata kagum dan menganjurkan hingga semangatnya lantas bangkit.

“Mengapa kau mau membunuh begitu banyak orang?” katanya. “Setiap orang mempunyai ayah ibu, isteri dan anak. Jika kau membunuh mereka, anak-anak mereka jadi yatim piatu yang tentu akan dihina orang. Engkau adalah seorang pertapa yang menyucikan diri. Dengan melakukan pembunuhan itu, apakah di hatimu kau bisa merasa tenteram?” Waktu mengatakan kata-kata itu, suaranya bersungguh-sungguh dan mengharukan sekali karena dia teringat akan nasibnya sendiri yang sejak kecil sudah ditinggal orang tua.

Paras muka nona Ciu berubah pucat dan kedua matanya mengembang air. Tapi muka Biat-coat sekali pun tak berubah. Dia adalah seorang manusia yang tak pernah atau sedikit pun jarang memperlihatkan perasaan hatinya pada paras mukanya. Ketika dia kembali membuka mulut suaranya tetap dingin bagaikan es.

“Bocah, apakah aku masih perlu kau nasihati? Dengan mengandalkan tenaga dalammu yang kuat, kau membacot di sini. Baiklah, apa bila kau sanggup menerima tiga pukulanku maka aku akan melepaskan manusia-manusia ini.”

“Mana berani aku bertanding dengan Suthay?” kata Bu Kie, “Aku hanya mengharap agar Suthay suka menaruh belas kasihan.”

“Can-siangkong, tidak usah banyak bicara dengan bangsat tua itu!” teriak Gouw Kin Co. “Kami lebih suka mampus dari pada menerima belas kasihannya yang diliputi kepalsuan.”

Biat-coat mengawasi Bu Kie dengan sorot mata tajam. “Siapa gurumu?” tanyanya.

Bu Kie berpikir sejenak. “Ayah dan ayah angkatku pernah mengajarkan ilmu silat padaku tetapi mereka bukan guruku,” katanya di dalam hati. Karena itu dia lantas saja menjawab,

“Aku tidak punya guru.”

Jawaban itu amat mengejutkan semua orang. Di rimba persilatan, seorang guru amat dihormati. Adalah lumrah jika seorang murid tidak mau menyebutkan nama gurunya, tetapi tak mungkin terjadi bahwa seorang yang mempunyai guru mengatakan tidak punya guru. Maka itu kalau Bu Kie mengatakan tak punya guru, dia pasti tidak punya guru.

Sekarang Biat-coat tidak mau banyak omong lagi. “Sambutlah!” katanya seraya menepuk dengan tangannya.

Bu Kie tidak bisa tidak melawan. Sambil mengerahkan Iweekang, dia mendorong dengan kedua tangannya menyambut pukulan si nenek. Mendadak Biat-coat menundukkan tangannya dan bagaikan seekor ikan kecil, tangan itu melejit dari sambutan Bu Kie, kemudian bagaikan kilat menyambar ke dada pemuda ini. Dalam kagetnya tenaga Kiu-yang Sin-kang dalam tubuh Bu Kie keluar secara wajar. Pada detik dua tenaga hampir beradu, tenaga pukulan Biat-coat mendadak menghilang. Dengan tercengang Bu Kie mengawasi si nenek. Pada saat itulah mendadak dia merasa dadanya seperti dipukul martil, kakinya bergoyang dan dia berjumpalitan beberapa kali.

“Uagh!” dia muntahkan darah kemudian roboh.

Tenaga pukulan Biat-coat yang sebentar ada dan sebentar hilang sungguh merupakan ilmu yang sudah mencapai puncak kesempurnaan. Tanpa terasa dengan serentak semua orang bersorak-sorai. Sambil mengeluarkan teriakan menyayat hati Cu-jie melompat dan berlarian menghampiri.

“A Gu koko, kau... kau...“ katanya seraya membangunkannya.

Bu Kie merasa dadanya menyesak. Dia meng-goyangkan tangannya kemudian berkata dengan suara lirih.

“Jangan kuatir, aku tidak mati.“ Perlahan dia merangkak bangun.

Biat-coat menengok pada tiga murid perempuannya dan berkata. “Putuskan lengan kanan semua siluman itu!”

“Baik,” jawab mereka seraya bertindak ke arah orang-orang Swie-kim-kie.

“Biat-coat Suthay,” kata Bu Kie tergesa-gesa. “Kau sendiri mengatakan, kalau aku... aku bisa menerima tiga pukulanmu maka kau akan melepaskan mereka. Tadi aku sudah menerima pukulan yang pertama... masih ada dua.”

Sesudah mengirim pukulan yang barusan, si nenek segera mengetahui bahwa Iweekang Bu Kie bukan Iweekang dari golongan Mo-kauw, malah hampir sama dengan Iweekang-nya sendiri. Dia juga tahu bahwa biar pun dia mencoba melindungi orang Mo-kauw, tapi Bu Kie bukan anggota ‘agama’ itu. Maka dia lantas berkata.

“Anak muda! Jangan kau coba-coba mengurus urusan orang lain. Lurus dan sesat harus dibedakan se-jelasnya. Barusan aku hanya menggunakan sepertiga bagian tenagaku. Apa kau tahu?”

Bu Kie yakin bahwa sebagai Ciang-bun-jin Biat-coat tentu tidak berdusta. Tetapi dia sudah mengambil keputusan bahwa walau pun mesti mati, dia tidak bisa melihat penyembelihan terhadap orang Mo-kauw sambil berpeluk tangan.

“Dengan melupakan dangkalnya tenaga sendiri, biarlah aku menerima dua pukulan lagi,” katanya.

Biat-coat merasa penasaran melihat bocah itu tidak kapok setelah menerima pukulannya, bahkan seolah menantangnya untuk menerima pukulan yang ke dua. Dari penasaran dia menjadi marah, maka dia berkata,

“Dalam pukulan ke dua aku akan menghantam dengan tenaga yang jauh lebih kuat. Kali ini kau pasti akan mampus!”

Bu Kie tidak menghiraukan dan segera berkata, “Biat-coat Suthay...“ Tapi dia hanya dapat mengeluarkan empat perkataan itu karena mendadak dia memuntahkan darah lagi.

Cu-jie bingung bukan main. Tiba-tiba dia bangun berdiri dan mencoba memapah pemuda ini. Tapi di lain saat, kedua kakinya lemas kembali dan dia jatuh pula di pasir. Ternyata, walau pun ‘hiat’ yang ditotok Biat-coat telah dibuka Bu Kie, tapi darahnya belum mengalir sempurna. Ketika melihat pemuda itu terluka, dalam kagetnya dia bisa berdiri dan bergerak. Kejadian itu sama sebab musababnya dengan seorang lumpuh yang dalam kebakaran mendadak bisa berlari dengan cepat. Tapi semangat dan tenaga Cu-jie yang luar biasa hanya keluar untuk sementara waktu.

Dengan rasa mendongkol Biat-coat menghampiri si nona yang dianggapnya sangat rewel. Dia mengibas tangan jubahnya dan tubuh Cu-jie melayang ke belakang. Ciu Cie Jiak yang berdiri di sebelah belakang cepat menyangga badan si nona dengan kedua tangannya lalu perlahan menaruhnya di atas pasir.

“Ciu-cici,” kata Cu-jie. “Cobalah bujuk supaya dia jangan menerima dua pukulan lagi. Dia akan menurut apa yang kau katakan.”

“Bagaimana kau tahu dia akah menurut?” tanya nona Ciu dengan heran.

“Dia suka kepadamu,” jawabnya. “Apakah kau tidak tahu?”

Paras muka Cie Jiak lantas bersemu dadu. “Mana bisa jadi!” katanya ke-malu-maluan.

Sementara itu sudah terdengar suara Biat-coat yang menyeramkan. “Kau sendiri yang cari mati dan kau tak boleh menyalahkan aku.” Seraya berkata begitu dia mengangkat tangan kanannya dan menghantam dada Bu Kie.

Pemuda itu tak berani menangkis. Bagaikan kilat dia mengegos. Si nenek tiba-tiba menekuk sedikit sikunya dan dari sudut yang tidak diduga-duga itu, telapak tangannya menyambar punggung Bu Kie.

“Plakk!”

Dan tubuh pemuda ini langsung terpelanting sejauh dua tombak. Bu Kie roboh tanpa berkutik lagi, seakan-akan dia sudah putus jiwa. Sebenarnya pukulan Biat-coat adalah pukulan yang lihai luar biasa dan menurut pantas kawannya dari lain-lain partai harus bersorak sorai untuk memujinya. Tetapi semua orang terdiam seperti patung karena di dalam hati mereka merasa kasihan dan kagum terhadap pemuda itu yang sudah mengunjuk perbuatan seorang ksatria.

“Ciu-cici,” kata Cu-jie dengan suara parau, “aku mohon... mohon... lihat... lihat... lukanya!”

Jantung nona Ciu memukul keras. Permintaan itu diajukan dengan meratap dan di dalam hati dia ingin sekali memenuhinya. Akan tetapi mana dia berani? Kalau dia menolong Bu Kie maka berarti dia tidak mengindahkan guru sendiri. Kakinya sudah melangkah, namun segera ditariknya lagi. Beberapa saat kemudian tampak tubuh pemuda itu perlahan bergerak, lalu dia mencoba untuk duduk. Akan tetapi, setelah beberapa detik mengandalkan sikutnya di pasir kuning, tenaganya habis dan dia roboh kembali.

Ketika itu matahari sudah memancarkan sinarnya yang gilang gemilang dan semua orang bisa melihat bahwa Bu Kie seolah tidur di kubangan darah. Pemuda itu berada dalam keadaan lupa ingat. Tanpa bergerak dia rebah dan ingin sekali bisa rebah di situ untuk selama-lamanya. Tetapi sayup-sayup dia ingat bahwa untuk menolong orang Swie-kim-kie, dia masih harus menerima satu pukulan lagi. Sesaat kemudian dia menarik napas dalam-dalam dan dengan dorongan tenaga kemauan yang tiada taranya tiba-tiba dia terduduk! Tetapi badannya lantas gemetaran dan setiap detik dia bisa roboh kembali. Semua orang mengawasi dengan mata terbelalak.

Di sekitar itu terdapat ratusan manusia. Tapi keadaan sunyi senyap bagaikan kuburan dan andai kata ada sebatang jarum di tanah, mungkin suaranya dapat didengar orang. Dalam kesunyian itulah di otak Bu Kie tiba-tiba berkelebat beberapa baris kata-kata dalam Kiu-yang Cin-keng yang berbunyi begini:

‘Dia kuat, biarlah dia kuat,
Angin sejuk meniup bukit,
Dia ganas, biarlah dia ganas,
Bulan terang menyoroti sungai’.

Semenjak meninggalkan lembah itu, sebegitu jauh Bu Kie belum pernah bisa menangkap arti kata-kata itu. Sekarang dalam menghadapi kekuatan serta keganasan Biat-coat yang sama sekali bukan tandingannya, se-konyong-konyong otaknya seperti dapat menangkap arti dari pada kata-kata itu yang seperti juga ingin mengunjukkan bahwa tak peduli bagaimana kuat dan ganasnya musuh, kita selalu dapat menganggapnya seperti angin yang meniup bukit atau rembulan yang memancarkan sinarnya di atas sungai. Angin dan rembulan itu takkan dapat mencelakai kita. Tapi bagaimana? Bagaimana kita harus bertindak sehingga kekuatan dan keganasan itu tidak mecelakakan kita? Perkataan selanjutnya dalam Kiu-yang Cin-keng adalah seperti berikut:

‘Biar dia ganas
Biar dia jahat
Bagiku cukuplah jika aku sekali menyedot hawa tulen!
Hawa tulen!’

Sekarang Bu Kie tersadar. Buru-buru dia duduk bersila dan sesuai dengan ajaran kitab itu, dia segera menjalankan pernapasan dan mengalirkan hawa ‘tulen’ ke seluruh tubuhnya. Dalam sekejap dia merasa semacam hawa panas muncul di bagian ‘tan-tian’ (pusar) dan hawa tulen mengalir berputar-putar di seluruh tubuhnya, terus sampai ke tangan dan kaki. Dia kagum bukan main. Baru sekarang dia tahu hebatnya ajaran Kiu-yang Cin-keng. Dia mendapat luka berat, tapi tenaga dalam dan hawa ‘tulen’ yang berada di dalam tubuhnya sedikit pun tidak berubah.

Biat-coat terus memperhatikan gerak gerik pemuda itu dengan perasaan heran. Dia tahu bahwa Bu Kie kuat dan alot. Pukulannya yang pertama adalah salah satu pukulan dari Piauw-soat Coan-in-ciang (pukulan salju melayang menembus awan). Pukulan ke dua malah lebih lihay lagi, yaitu Ciat-chiu Kiu-sit (Sembilan jurus pukulan yang memutuskan) dan yang telah digunakan olehnya adalah jurus ke tiga. Kedua pukulan itu ialah pukulan terhebat dari ilmu silat Go-bi-pay. Dalam pukulan yang pertama dia hanya menggunakan tiga bagian tenaga saja. Menurut perhitungannya, walau pun tidak mati sedikitnya Bu Kie pasti akan terluka berat dan patah tulang. Tapi tak dinyana, sesudah rebah beberapa saat, dia bisa duduk lagi.

Menurut peraturan pibu (adu silat) di rimba persilatan, sebenarnya Biat-coat boleh tak usah menunggu sampai Bu Kie menjalankan pernapasannya untuk mengobati luka. Tetapi sebagai orang tua yang mempunyai kedudukan tinggi, ia merasa malu untuk turun tangan selagi lawannya yang masih muda belia berada dalam bahaya. Tapi Teng Bin Kun yang merasa tidak sabaran lantas saja berteriak,

“Hei, orang she Can! Apa bila tidak berani menerima pukulan ke tiga dari guruku, lebih baik kau lekas-lekas berlalu dari sini. Apakah kami mesti menunggu kau seumur hidup di sini?”

“Teng-suci, biarlah dia mengaso lebih lama sedikit,” kata Ciu Cie Jiak dengan suara pelan.

Si perempuan she Teng menjadi marah. “Eh!” bentaknya “Apa... Apa kau mau melindungi orang luar? Apa karena melihat bocah itu...“ Sebenarnya dia ingin mengatakan ‘apa karena melihat bocah itu tampan maka kau jadi menuju padanya’, tapi mendadak dia ingat bahwa di hadapan begitu banyak orang dari berbagai partai, tidaklah pantas jika dia mengeluarkan kata sekasar itu. Sebab itu perkataannya putus di tengah jalan. Tapi tentu saja semua orang mengerti apa yang mau dia katakan. Ciu Cie Jiak malu bercampur marah hingga mukanya berubah pucat, “Siauw-moay hanya mengingat keangkeran partai dan guru kita,” katanya dengan tawar. “Siauw-moay tidak mau orang luar berbicara yang tidak-tidak.”

“Tidak-tidak apa?!” bentak sang kakak.

“Ilmu silat partai kita tersohor di kolong langit dan guru kita adalah seorang Cianpwe yang berkedudukan sangat tinggi,” jawabnya dengan bernapsu. “Karena itu guru kita pasti tidak boleh mempunyai pandangan yang sama dengan seorang bocah. Hanya karena dia sangat kurang ajar maka guru kita memberi hajaran kepadanya. Apa Suci menduga Suhu betul-betul mau mengambil jiwa bocah itu? Selama kurang lebih seratus tahun partai kita dikenal sebagai parai para ksatria. Guru kita sangat dikagumi, orang membicarakan ksatriaannya dan kemurnian hatinya yang selamanya bersedia untuk menolong sesama manusia. Bocah itu seperti api lilin, maka dengan cara bagaimana dia mampu menandingi matahari dan rembulan. Meski pun dia berlatih satu abad lagi, dia masih belum tentu bisa menandingi guru kita. Karena itu apa salahnya jika kita membiarkan dia mengaso lebih lama?”

Indah sungguh pembelaan nona Ciu! Semua orang manggut-manggut, sedangkan orang yang paling girang adalah Biat-coat sendiri. Ia merasa bahwa murid yang kecil ini sudah mengangkat tinggi nama Go-bi-pay di hadapan orang banyak. Setelah hawa ‘tulen’ mengalir lancar di sekujur badannya, tenaga Bu Kie pulih kembali, semangatnya terbangun dan otaknya terang lagi. Setiap perkataan nona Ciu didengar jelas olehnya dan dia merasa sangat berterima kasih karena tahu bahwa dengan berkata begitu, si nona mencoba menyelamatkan jiwanya. Beberapa saat kemudian dia bangun berdiri seraya berkata,

“Suthay biarlah boanpwe membuang jiwa dengan menerima pukulan terakhir.”

Tak kepalang herannya si nenek. Ia benar-benar tidak mengerti cara bagaimana, dengan hanya bersila beberapa saat tenaga pemuda itu sudah pulih kembali. Apakah dia memiliki ilmu siluman? Sambil menatap wajah Bu Kie, ia berkata,

“Sekarang kau boleh menyerang aku. Mengapa kau tidak mau membalas?”

Bu Kie tersenyum getir. “Dengan kepandaian yang tidak ada artinya, bahkan ujung jubah Suthay saja Boanpwe tidak akan dapat menyentuhnya,” jawabnya. “Bagaimana Boanpwe bisa menyerang?”

“Kalau kau tahu, pergilah cepat,” kata si nenek dengan suara lebih sabar. “Pemuda seperti kau memang sukar dicari tandingannya. Biat-coat Suthay sebenarnya tidak pernah mengampuni orang, tapi hari ini aku melanggar kebiasaan itu.”

Bu Kie membungkuk seraya berkata, “Terima kasih atas belas kasihan Locianpwe yang sudah mengampuni juga saudara-saudara dari Swie-kim-kie?”

Sepasang alis si nenek turun dan dia tertawa dingin. “Kau tahu apa Hoat-beng-ku (nama pendetaku)?” tanyanya..

“Nama Ciapwee yang mulia adalah Biat (memusnahkan) dan Coat (membinasakan atau menumpas),” jawab Bu Kie.

“Bagus sekali!” kata si nenek. “Aku bertekad untuk memusnahkan dan menumpas semua kawanan Mo-kauw. Apa kau kira ‘Biat-coat’ hanya nama kosong?”

“Kalau begitu biarlah Cianpwe mengirim pukulan yang ke tiga,” kata Bu Kie.

Si nenek tercengang. Seumur hidupnya dia belum pernah bertemu dengan manusia begitu nekat dan keras kepala. Sebenarnya dia seorang berhati dingin. Namun sekarang tiba-tiba dia merasa sayang kalau pemuda gagah seperti Bu Kie harus mati konyol.

JUMPA KELUARGA

Sesudah berpikir sejenak dia segera mengambil keputusan untuk memukul saja di bagian tan-tian supaya pemuda itu pingsan untuk sementara waktu. Kemudian dia dapat menolongnya lagi sesudah membinasakan orang-orang Swe-kim-kie. Berpikir demikian dia segera mengibaskan tangan kirinya dan bergerak untuk mengirim pukulan yang ke tiga. Se-konyong-konyong dari tempat jauh terdengar teriakan.

“Biat-coat Suthay, tahan!” suara itu lantang luar biasa hingga telinga semua orang merasa tak enak.

Di lain saat seraya menggoyang-goyangkan kipas seorang pria sudah berdiri di hadapan si nenek. Orang itu mengenakan pakaian warna putih dan sebelah kiri tangan bajunya tersulam sebuah hiat-chiu (tangan berlumuran darah). Waktu berjalan tak sebutir pasir pun naik ke atas sehingga semua orang mengerti bahwa dia adalah seorang yang berkedudukan tinggi di Peh-bie-kauw. Seragam resmi Peh-bie-kauw sama dengan seragam Mo-kauw yaitu pakaian warna putih. Perbedaannya adalah kalau di tangan baju anggota Mo-kauw terdapat sulaman obor maka anggota Peh-bie-kauw menggunakan tanda hiat-chiu. Sambil menyoja orang itu tertawa dan berkata,

“Selamat bertemu, Suthay. Pukulan ke tiga biarlah aku yang menerimanya.”

“Siapa kau?” tanya Biat-coat.

“Aku she In, namaku yang rendah Ya Ong,” jawabnya.

Mendengar nama ‘In Ya Ong’, semua orang terkejut. Sekitar dua puluh tahun nama itu menggetarkan dunia Kangouw. Ayahnya, yaitu Peh-bie Eng-ong In Thian Cong, memusatkan seluruh perhatiannya dalam pelajaran ilmu silat dan menyerahkan semua urusan Peh-bie-kauw kepadanya. Secara resmi In Ya Ong hanya Hio-cu Thian-wie-tong, tetapi sebenarnya dia adalah seorang wakil Kauwcu. Dengan mata tajam Biat-coat mengawasi. Jago Peh-bie-kauw itu baru berusia sekitar empat puluh tahun, tetapi bermata sangat tajam se-olah sinar kilat yang dingin.

“Pernah apa bocah itu denganmu?” tanyanya dengan suara dingin.

Jantung Bu Kie memukul keras. Hampir ia berteriak. “In-kuku (paman, saudara lelaki dari ibu)!”

In Ya Ong tertawa lantang, “Aku belum pernah mengenal dia,” jawabnya. “Tetapi sesudah melihat jiwanya yang luhur, yang berbeda dengan manusia palsu di rimba persilatan, maka aku merasa sayang kepadanya dan di dalam hatiku lantas timbul niat untuk menjajal tenaga Suthay.” Perkataannya yang paling belakang tidak sungkan se-olah dia tidak memandang mata kepada si nenek.

Tapi Biat-coat tidak marah. “Bocah,” katanya kepada Bu Kie. “Jika kau ingin hidup lebih lama, kau masih mempunyai kesempatan.”

“Untuk menyelamatkan jiwa sendiri, Boanpwe tidak berani melupakan budi orang,” jawab Bu Kie.

Si nenek mengangguk kemudian berkata kepada In Ya Ong, “Anak ini masih hutang satu pukulan. Perhitungan harus dibereskan satu per satu. Sebentar sesudah beres yang satu, aku pasti tidak akan mengecewakan tuan.”

In Ya Ong tertawa terbahak. “Biat-coat Suthay!” bentaknya. “Jika kau mempunyai nyali, binasakanlah anak itu! Jika dia binasa, kalian semua tak seorang pun yang bakal luput dari mampus tanpa kuburan!” seraya berkata begitu, laksana melayang di udara ia berlalu dari hadapan si nenek. “Keluar semua!” teriaknya.

Hampir berbareng, di seputar rombongan Biat-coat dan kawan-kawannya muncul sejumlah besar orang yang membekal tameng sambil kedua tangannya mementang busur dengan semua anak panah ditujukan ke arah rombongan Biat-coat. Kiranya selagi Biat-coat berurusan dengan Bu Kie, kawanan Peh-bie-kauw telah membuat parit di pesisir dan sudah mengurung rombongan musuh. Perkerjaan itu dilakukan tanpa diketahui oleh siapa pun juga karena perhatian semua orang ditujukan kepada Biat-coat dan Bu Kie.

Paras muka semua orang langsung berubah pucat. Dengan melihat mata anak panah yang berwarna biru, mereka tahu bahwa senjata itu mengandung racun. Sekali In Ya Ong memberi perintah, kecuali beberapa orang yang memiliki kepandaian tinggi tentu mereka semua akan binasa. Di antara lima partai yang berada di sana, Biat-coatlah yang berkedudukan paling tinggi. Maka itu semua orang mengawasinya dan menunggu keputusannya. Si nenek adalah manusia keras kepala. Biar pun dia mengetahui bahwa pihaknya menghadapi bencana namun sikapnya tetap tidak berobah.

“Bocah, kau tidak boleh menyalahkan orang lain untuk nasibmu,” katanya kepada Bu Kie. “Di lain saat tulang di tubuhmu berkerotokan seperti kacang digoreng,” kemudian dengan telapak tangan menepuk dada Bu Kie.

Pukulan itu adalah pukulan terlihay dari Go-bi-pay yang dikenal sebagai Hud-kong Po-tiaw (Sinar Buddha menyorot di selebar dunia). Menurut kebiasaan ilmu silat, setiap pukulan berisi sejumlah jurus yang saling susul seperti mata rantai dan saban jurus mengandung pula perubahan yang jumlahnya tidak sedikit. Akan tetapi Hud-kong Po-tiauw hanya satu jurus saja dan jurus itu tak ada perubahannya. Sungguh pun begitu jurus tunggal itu lihai bukan main. Tak akan ada manusia yang dapat mengelakkannya. Tenaga dahsyat yang terdapat di dalamnya adalah Go-bi Kiu-yang-kang. Pada jaman itu di kalangan Go-bi-pay hanya Biat-coat seorang yang dapat menggunakan pukulan tersebut.

Semula si nenek hanya ingin memukul tan-tian Bu Kie agar dia pingsan untuk sementara waktu. Tetapi sesudah munculnya In Ya Ong, dia mengambil keputusan untuk tidak malu menaruh kasihan lagi. Menurut anggapannya, jika dia menaruh belas kasihan kepada Bu Kie itu artinya takut menghadapi In Ya Ong. Demikianlah dia lalu mengirim Hud-kong Po-Tiauw dengan seluruh tenaga Go-bi Kiu-yang-kang. Mendengar suara berkerotoknya tulang-tulang si nenek, Bu Kie mengerti bahwa dia akan diserang dengan pukulan yang membinasakan. Ia tahu jiwanya tergantung pada selembar rambut. Untuk menolong jiwa, pada detik itu dia hanya mempunyai satu pegangan, yaitu kata-kata yang terdapat di dalam Kiu-yang Cin-keng.

‘Biar dia ganas
Biar dia jahat
Bagiku cukuplah jika aku sekali menyedot hawa tulen!’

Maka itulah tanpa menghiraukan segalanya dia segera mengerahkan pernapasannya dan mengumpulkan hawa tulen di dadanya.

“Plakk!” telapak tangan Biat-coat mampir tepat di dada Bu Kie!

Semua orang terkesikap, beberapa di antaranya mengeluarkan seruan tertahan. Mereka menduga tulang pemuda itu akan hancur. Muka Bu Kie kelihatan seperti orang terkejut, namun dia tetap berdiri tegak di atas pasir. Sementara paras Biat-coat pucat pasi bagaikan mayat, tangannya yang barusan memukul tampak bergetar. Apa yang sudah terjadi?

Tenaga pukulan Hud-kong Po-tiauw adalah Go-bi Kiu-yang-kang. Yang digunakan Bu Kie adalah Kiu-yang Sin-kang Go-bi Kiu-yang-kang digubah Kwee Siang sesudah mendengar Kak Wan Taysu menghafal Kiu-yang Cin-keng. Karena hanya mendengar satu kali maka dapatlah dimengerti jika Kwee Siang tidak dapat menangkap isi kitab itu. Karena itu Go-bi Kiu-yang-kang sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan Kiu-yang Sin-kang dari Bu Kie yang mendapatkannya dengan membaca kitabnya sendiri. Dengan lain perkataan Kiu-yang Sin-kang Bu Kie yang lebih tulen dan lebih murni lebih kuat dari pada Go-bi Kiu-yang-kang yang dimiliki Biat-coat. Dan sebagai akibatnya, begitu lekas kedua tenaga bentrok, Go-bi Kiu-yang-kang hilang bagaikan batu jatuh di laut. Untuk sedetik Bu Kie merasa dadanya tergetar, tapi di lain saat seluruh tubuhnya berubah nyaman dan semangatnya bertambah besar. Mengapa?

Karena Go-bi Kiu-yang-kang dihisap Kiu-yang Sin-kang dan tenaga Go-bi Kiu-yang-kang berbalik menambah tenaga Bu Kie. Pemuda itu tidak sengaja menghisap tenaga si nenek. Itu semua sudah terjadi secara wajar sebab kedua rupa tenaga itu sifatnya sama sehingga yang lebih kuat akan menyedot yang lebih lemah. Dalam pukulan pertama dan ke dua Biat-coat tidak mempergunakan Go-bi Kiu-yang-kang, maka Bu Kie terluka. Sebab musabab dari semuanya ini tidak diketahui oleh siapa pun jua. Semua orang rimba persilatan sudah mendengar bahwa di dunia terdapat Kiu-im Cin-keng, tetapi sejak kerajaan Lam Song, Kiu-im sudah menghilang dari rimba persilatan.

Di samping Kiu-im ada Kiu-yang Sin-kang. Tetapi kecuali Kak Wan Taysu, belum pernah ada satu pun manusia yang dapat melihatnya sampai secara aneh dan kebetulan Bu Kie mendapatkannya dari perut seekor kera. Sebab itulah kenyataan Go-bi Kiu-yang Sin-kang tidak diketahui oleh siapa pun juga, bahkan tidak diketahui pula oleh Biat-coat sendiri yang hanya menggangap bahwa pemuda itu memiliki Iweekang yang luar biasa.

Walau pun dalam bentrokan itu tenaga Go-bi Kiu-yang-kang terhisap, tetapi karena mempunyai Iweekwang yang sangat tinggi maka lweekang Biat-coat tidak menjadi rusak dan dia sama sekali tidak mengunjukkan tanda yang jelek. Karena itu ratusan orang yang menyaksikan peristiwa itu memberi tafsiran yang beraneka warna. Ada yang menduga si nenek menaruh belas kasihan, ada yang menduga dia tidak mau mencelakakan jiwa ratusan lawan dan ada juga yang menduga dia bernyali kecil dan takut pada ancaman In Ya Ong.

Sementara itu Bu Kie menyoja sambil membungkuk. “Terima kasih atas belas kasihan dari Suthay,” katanya.

Biat-coat mengeluarkan suara di hidung. Dia malu bercampur marah. Kini dia serba salah, jika memukul lagi, sebagai seorang Cianpwe dia tak menepati janji. Kalau menyudahi saja, dia seperti juga menekuk lutut di bawah ancaman Peh-bie-kauw.

In Ya Ong tertawa ter-bahak. “Orang yang dapat melihat selatan adalah seorang gagah,” katanya. “Tak malu Biat-coat menjadi seorang yang berkedudukan tinggi pada jaman ini,“ Dia mengibaskan tangannya dan membentak, “Mundur semua!”

Dengan serentak dan rapi, pasukan anak panah Peh-bie-kauw menghilang ke dalam parit. Biat-coat malu besar, tapi orang tentu tidak akan mau percaya jika dia mengatakan bahwa barusan dia memukul dengan sungguh-sungguh. Orang tentu menggangap bahwa dia takut akan ancaman In Ya Ong. Karena itu dia hanya mengawasi Bu Kie dengan sorot mata marah. Sesaat kemudian dia berseru,

“In Ya Ong! Jika kau ingin menjajal pukulanku, marilah!”

“Sesudah hari ini menerima budi Suthay, aku tak berani berbuat dosa lagi,” jawabnya. “Di hari kemudian masih ada kesempatan untuk bertemu pula.”

Si nenek mengibaskan tangannya dan tanpa mengeluarkan sepatah kata lagi, dia segera mengajak murid-muridnya pergi ke arah barat. Rombongan Kun-lun, Hoa-san dan Khong-tong bersama In Lie Heng dan Song Ceng Su lantas berangkat.

Cu-jie yang masih belum dapat jalan lantas saja berteriak, “A Gu koko! Bawalah aku pergi dari sini!”

“Tunggu sebentar,” kata Bu Kie yang ingin bicara dengan In Ya Ong. Dia mendekati dan berkata. “Terima kasih atas budi Cianpwe, Boanpwe takkan melupakannya.”

Sambil memegang tangan pemuda itu dan mengawasi mukanya dengan tatapan tajam, In Ya Ong bertanya.

“Apa benar kau she Can?”

Di dalam hati Bu Kie ingin sekali menubruk dan memeluk pamannya, tetapi sebisa-bisanya dia mempertahankan diri. Saking terharunya, kedua matanya mengembang air. Orang bilang, ‘Melihat paman bagaikan melihat ibu sendiri’. Sesudah kedua orang tuanya meninggal dunia, selama belasan tahun baru sekarang Bu Kie berjumpa dengan keluarga sendiri sehingga dapatlah dimengerti jika dia merasa sangat terharu. Di lain pihak In Ya Ong hanya menafsirkan menangisnya pemuda itu sebagai suatu tanda terima kasih. Tiba-tiba dia menengok kepada Cu-jie yang rebah di tanah dan dia tertawa dingin.

“A-lee,” tegurnya. “Apa kamu sudah tidak mengenal aku?”

Paras si nona lantas saja berubah. “Thia...!” katanya dengan suara gemetar.

Bu Kie terkejut dan berbareng dia dapat melihat segalanya yang semula gelap baginya.

“Ah! Kalau begitu ia puterinya Kuku dan saudari sepupuku,” pikirnya. “Ia telah membunuh ibu tirinya, menyebabkan meninggalnya ibu kandungnya sendiri dan ia mengatakan kalau bertemu ayahnya maka akan bunuh diri... Ah! Ia sudah membinasakan In Bu Lok dengan Cian-cu Ciat-hu-ciu. Mungkin sekali tiga orang itu pernah menyakiti hatinya. Biar pun membenci tetapi In Bu Hok dan In Bu Siu tidak berani melawan dia malah lari sambil membawa mayat Bu Lok...“ Ia mengawasi si nona dan berkata pula di dalam hatinya. “Tak heran ia agak mirip dengan ibu. Tak dinyana, ternyata ibuku adalah bibinya sendiri.”

Sementara itu, seraya tertawa dingin In Ya Ong berkata. “Hmm...! Kau masih memanggil aku ‘thia’. Setelah mengikuti Kim-hoa Popo, kukira kau tak memandang sebelah mata lagi kepada Peh-bie-kauw. Hm...! Kau tidak ada bedanya dengan ibumu, mempelajari Cian-cu Ciat-hu-ciu. Ambillah kaca kemudian pandang mukamu yang tak keruan macam. Apakah di dalam keluarga In ada manusia yang beroman seperti setan?”

Cu-jie ketakutan dan menggigil. Tiba-tiba dia mendongak dan menatap wajah ayahnya.

“Thia,” katanya dengan nyaring. “Jika kau tidak menyebutkan kejadian dulu maka aku pun tak akan mengusik-usiknya. Tetapi setelah kau menyebutkan itu, kini aku ingin bertanya. Ibu telah menikah denganmu dan sudah merawat engkau sebagaimana mestinya. Tetapi mengapa kau mengambil isteri kedua?”

“Kurang ajar kau!” bentak sang ayah. “Lelaki manakah yang tidak memiliki beberapa isteri dan gundik? Kau berdosa besar... tiada guna kau mencoba membela diri dengan pertanyaan kurang ajar... hm... Kim-hoa Popo... Gin-yap Sian-seng... sedikit pun kau tak memandang mata kepada Peh-bie-kauw.” Sambil menengok kepada In Bu Hok dan In Bu Siu, dia pun berkata, “Bawa budak ini!”

“Tahan!” kata Bu Kie. “In... Cianpwe, perlu apa kau membawa dia?”

“Budak ini adalah anakku sendiri,” jawabnya dengan mendongkol. “Dia meracuni ibu tirinya hingga mati dan ia pun menyebabkan matinya ibu kandungnya sendiri. Perlu apa manusia binatang ini dibiarkan hidup?”

“Waktu itu In-kouwnio masih amat muda. Karena jengkel melihat ibunya dihina orang, dia melakukan perbuatan yang tak pantas,” kata Bu Kie. “Dengan mengingat rasa cinta antara ayah dan anak, aku mengharap Cianpwe suka mengampuninya.”

In Ya Ong tertawa terbahak-bahak. “Bocah! Siapa sebenarnya engkau sehingga engkau berani ikut campur urusan rumah tanggaku? Apakah kau seorang Bu-lim Cie-cun?”

Di dalam hatinya Bu Kie ingin menjawab, “Aku bukan orang luar, aku keponakanmu,” tapi kata-kata yang sudah hampir keluar itu ditelan lagi.

Sesudah berdiam sejenak, In Ya Ong berkata, “Bocah, secara mujur hari ini jiwamu tertolong. Tetapi jika kau tidak mengubah adat, jika kau terus coba-coba ikut campur urusan orang, biar pun kau memiliki sepuluh jiwa juga tidak cukup.“ Ia mengibas tangannya dan In Bu Hok serta In Bu Siong segera mengangkat Cu-jie lalu menaruhnya di belakang In Ya Ong.

Bu Kie maklum bahwa begitu si nona dibawa oleh ayahnya maka jiwanya pasti akan melayang. Dalam bingungnya dia melompat untuk merampasnya. Alis In Ya Ong berkerut. Bagaikan kilat tangannya menyambar dan mencengkeram dada Bu Kie yang lalu dilontarkan.

“Brukk!”

Bu Kie ambruk di pasir kuning. Dengan Kiu-yang Sin-kang melindungi dirinya memang dia tidak terluka, tapi muka dan pakaiannya belepotan pasir. Dengan cepat dia merangkak bangun dan lekas mengulangi usaha untuk merampas Cu-jie.

“Bocah!” bentak In Ya Ong. “Barusan aku menaruh belas kasihan. Tapi sekali lagi aku tak akan menaruh sungkan.”

“In... Cianpwe,” Bu Kie meratap. “Dia adalah anak kandungmu sendiri. Dahulu kau senang mendukung dia... kau pernah mencintainya... Dengan mengingat kecintaan itu, ampunilah dia...”

Mendengar ratapan itu hati In Ya Ong tergerak juga. Dia mengawasi puterinya, tapi begitu melihat muka Cu-jie yang tak keruan macamnya, darahnya segera meluap lagi.

“Minggir!” bentaknya.

Sebaliknya dari pada menyingkir, Bu Kie melompat merebut si nona.

“A Gu koko,” kata Cu-jie. “Kau tidak usah mempedulikan aku! Aku tidak akan melupakan budimu. Pergilah! Kau bukan tandingan ayahku.”

Pada saat itulah mendadak muncul seorang pria yang mengenakan jubah berwarna hijau. Dengan kedua tangannya dia mencekal belakang leher In Bu Hok dan In Bu Siu kemudian membentrokkan kepala kedua orang itu yang lantas menjadi pingsan. Hampir berbareng, dengan kecepatan kilat dia mendukung tubuh Cu-jie dan segera kabur.

“Ceng-ek Hok-ong!” bentak In Ya Ong dengan marah. “Kau juga ingin mencampuri urusanku?!”

Ceng-ek Hok-ong Wie It Siauw tertawa sambil terus berlari dengan se-cepatnya. Sesuai dengan namanya ‘It Siauw’ (Sekali tertawa), tertawanya nyaring dan panjang luar biasa. In Ya Ong dan Bu Kie lantas mengejar. Kali ini Ceng-ek Hok-ong tidak lari berputaran, tapi terus menuju ke jurusan tenggara. Dia sungguh lihai. In Ya Ong adalah seorang ahli silat kelas utama yang mempunyai lweekang sangat tinggi, sedangkan Bu Kie memiliki Kiu-yang Sin-kang. Namun makin lama mereka mengejar Wie It Siauw yang mendukung orang, mereka ketinggalan makin jauh sehingga si Raja Kelelawar tidak kelihatan bayangannya lagi.

Bagaikan kalap In Ya Ong mengejar terus. Dia merasa heran karena Bu Kie dapat terus merendenginya. Sesudah tidak punya harapan untuk menyusul musuh, sekarang dia ingin menjajal kepandaian pemuda ini. Ia segera menggunakan seluruh tenaga dalamnya dan berlari bagaikan anak panah lepas dari busurnya. Tetapi pundak Bu Kie tetap berendeng dengan pundaknya. Tiba-tiba pemuda ini berkata,

“In-cianpwe, meski pun Ceng-ek Hok-ong bisa berlari sangat cepat, tapi lweekang-nya belum tentu tinggi. Cobalah kita kejar terus untuk mencoba kekuatannya.”

In Ya Ong kaget bukan main. “Dengan lari secepat ini, aku telah menggunakan seluruh tenaga dalamku,” pikirnya. “Jangankan berbicara, bernapas salah pun sudah tidak boleh. Tetapi anak ini bisa berbicara dengan kecepatan lari yang tidak berubah. Apa dia memiliki ilmu siluman?”

Mendadak dia menghentikan langkahnya dan dalam sedetik itu tubuh Bu Kie sudah melesat belasan tombak jauhnya. Cepat pemuda ini berhenti dan menghampiri In Ya Ong.

“Saudara Can,” kata In Ya Ong, “Siapakah gurumu?”

“Tidak... tidak...“ kata Bu Kie tergugu. “In-cianpwe, janganlah kau memanggil aku dengan istilah ‘saudara’. Panggil saja namaku A Gu. Aku tidak punya guru.”

Mendengar jawaban itu, serupa ingatan yang tidak baik mendadak muncul di hati In Ya Ong. “Bocah ini punya kepandaian yang sangat aneh,” pikirnya. “Kalau dia hidup terus, dia bisa jadi bibit penyakit. Sebaiknya sekarang saja aku mangambil jiwanya.”

Sekonyong-konyong di kejauhan terdengar suara terompet yang terbuat dari pada keong raksasa. Itulah tanda bahaya dari Peh-bie-kauw. Alis In Ya Ong berkerut.

“Tidak salah lagi. Ang-sui dan Liat-hwee mencari gara-gara,” pikirnya. “Rupanya mereka marah karena aku tidak membantu Swie-kim-kie. Jika sekarang aku menyerang dan tidak membinasakan bocah ini dengan satu kali pukul, maka aku mesti bertempur lama, sedang aku tidak punya banyak waktu. Ahh... Lebih baik aku meminjam tenaga orang. Biarlah dia mampus di tangan Wie It Siauw.“ Berpikir demikian dia lantas berkata.

“Peh-bie-kauw sedang menghadapi musuh, maka aku harus segera kembali. Kau saja yang pergi mencari Wie It Siauw. Manusia itu amat lihay dan jahat. Kalau bertemu dia, kau mesti turun tangan lebih dulu.”

“Kepandaianku amat cetek, bagaimana aku bisa melawan dia?” kata Bu Kie. “Musuh dari manakah yang menyerang pihakmu?”

Sesaat itu terdengar suara terompet keong. “Benar-benar Ang-sui, Liat-hwee dan Houw-touw yang menyerang,“ kata In Ya Ong.

“Kalian semua dari satu golongan Mo-kauw, tetapi mengapa kalian saling bunuh?” tanya Bu Kie.

Paras muka In Ya Ong berubah, “Tahu apa kau?!” bentaknya seraya memutar tubuh lalu berlari ke arah datangnya suara terompet.

Sesudah berada sendirian, Bu Kie segera teringat keselamatan Cu-jie. “Kalau lehernya digigit dan darahnya dihisap, dia tentu segera mati,” pikirnya. Mengingat begitu, dia merasa bingung dan segera mengerahkan Iweekang. Dia mengejar lagi. Untung sekali, walau pun Wie It Siauw memiliki ilmu ringan badan yang sangat tinggi tapi karena mendukung orang, dia tak bisa menghilangkan tapak kakinya di permukaan pasir. Dengan demikian, walau pun manusianya sudah tidak kelihatan tetapi Bu Kie masih dapat terus mengikutinya. Ia mengambil keputusan untuk mengejar terus tanpa mengaso dan ia percaya dalam beberapa hari ia akan dapat menyusulnya.

Tetapi mengejar orang berhari-hari di bawah teriknya matahari bukanlah pekerjaan mudah. Sesudah sampai magrib, mulutnya kering dan keringat membasahi pakaiannya. Namun sungguh heran, dia bukan saja tidak merasa lelah bahkan kekuatan kakinya tidak berubah. Tenaga Kiu-yang Sin-kang yang telah dilatihnya selama beberapa tahun kini menunjukkan manfaatnya yang tiada batasnya. Makin banyak tenaga digunakan, semangatnya makin berkobar. Kalau haus dia hanya minum air dari kobakan (lekukan di tanah yang berisi air) yang terdapat di pinggir jalan dan sesudah minum dia segera mengejar lagi.

Waktu sampai tengah malam, dengan hati ber-debar ia mengawasi rembulan. Ia sangat berkuatir. Ia kuatir Cu-jie keburu dibinasakan. Se-konyong-konyong dia mendengar suara langkah di belakangnya, tetapi waktu menengok tidak terlihat siapa pun juga. Ia berlari terus. Sesaat kemudian suara langkah terdengar lagi. Ia heran bukan main dan cepat-cepat memutar tubuh. Tetapi ia tetap tidak melihat bayangan manusia. Dengan matanya yang amat tajam ia mengawasi pasir. Di atas pasir terdapat tiga renteng (deret) tapak kaki, yang satu tapak Wie It Siauw, yang lain tapak kakinya sendiri, sedang yang ketiga tapak orang itu. Tapi siapakah dia?

Ia memutar badan dan mengawasi ke depan. Di depan hanya terdapat serentetan tapak yaitu tapak kaki Wie It Siauw. Dengan lain perkataan, orang itu hanya mengikuti dari belakang. Siapa dia? Apa siluman? Apa dia seorang berilmu yang bisa menghilang? Dengan rasa heran dan sangsi dia mengejar lagi. Lagi-lagi di sebelah belakang terdengar suara langkah!

“Siapa?!” teriak Bu Kie.

“Siapa?!” kata orang di belakangnya.

Bu Kie terkesiap. “Apa kau manusia atau setan?” tanya pemuda itu.

“Apa kau manusia atau setan?” mengulangi suara itu.

Bagaikan kilat Bu Kie memutar badan. Kali ini dia dapat melihat berkelebatnya bayangan manusia. Sekarang dia tahu bahwa seseorang yang gerakannya cepat luar biasa sedang mempermainkan dirinya.

“Perlu apa kau mengikuti aku?” teriaknya.

“Perlu apa kau mengikuti aku?” tanya orang itu.

Bu Kie tertawa. “Bagaimana aku tahu?” katanya. “Aku justru mau bertanya padamu,”

“Bagaimana aku tahu? Aku justru mau bertanya padamu,” orang itu mengulangi.

Bu Kie tahu orang itu tidak mengandung maksud jahat. Kalau mau dengan mudah dia bisa mengambil jiwanya.

“Siapa namamu?” tanyanya pula.

“Tak bisa diberi-tahukan,” jawabnya.

“Mengapa tidak bisa diberi-tahukan?” mendesak pemuda itu.

“Tidak bisa diberi-tahukan, ya tidak bisa diberi-tahukan,“ jawabnya. “Keterangan apa lagi yang bisa diberikan kepadamu? Ehh, siapa namamu?”

“Aku... aku Can A Gu,” jawab Bu Kie.

“Dusta!” bentak orang itu.

“Dusta apa?” tanya Bu Kie.

“Dusta ya dusta,” jawabnya. “Eh, sekarang aku yang mau bertanya kepadamu. Perlu apa kau berlari seperti orang edan di tengah malam buta?”

Bu Kie mengerti bahwa dia sedang manghadapi orang yang memiliki kepandaian amat tinggi. Karena itu dia lantas menjawab.

“Salah seorang sahabatku telah ditawan oleh Ceng-ek Hok-ong dan aku mau coba menolongnya.”

“Kau takkan mampu menolong sahabatmu,” kata orang itu.

“Mengapa?” tanya Bu Kie.

“Ilmu silat Ceng-ek Hok-ong lebih tinggi dari pada kepandaianmu, jadi kau takkan dapat menandinginya.”

“Biar pun kalah aku mesti tetap melawan dia.”

“Bagus! Semangatmu harus dipuji. Sahabatmu seorang wanita, bukan?”

“Benar. Bagaimana kau tahu?”

“Jika bukan wanita, tak mungkin seorang pemuda rela mengorbankan jiwa untuk menolong dia. Apakah dia cantik?”

“Sangat jelek.”

“Kau sendiri? Apa mukamu bagus?”

“Mari, datanglah ke hadapanku. Kau bisa lihat sendiri.”

“Tak perlu kulihat mukamu. Apa nona itu mengerti ilmu silat?”

“Cukup pandai. Dia adalah puteri In Ya Ong Cianpwe dari Peh-bie-kauw. Dia pernah berguru kepada Kim-hoa Popo dari Leng-coa-to.”

“Tiada gunanya kau mengejar. Wie It Siauw pasti tak akan melepaskan dia.”

“Mengapa?”

Orang itu mengeluarkan suara di hidung. “Kau sungguh tolol,” katanya.

“Pernah apa In Ya Ong kepada In Thian Ceng?”

“Mereka adalah ayah dan anak.”

“Antara Peh-bie Eng-ong dan Ceng-ek Hok-ong, siapa yang lebih tinggi ilmu silatnya?”

“Tidak tahu. Bagaimana pendapat Cianpwe.”

“Aku pun tidak tahu. Antara mereka berdua, pengaruh siapakah yang lebih besar?”

“Eng-ong adalah Kauwcu dari Peh-bie-kauw. Kurasa dia lebih berpengaruh.”

“Benar. Itulah sebabnya mengapa Wie It Siauw menawan cucu perempuannya In Thian Ceng. Dia ingin menggunakan nona itu sebagai barang tanggungan untuk mendesak In Thian Ceng guna kepentingannya sendiri. Itulah sebabnya kenapa menurut pendapatku Wie It Siauw tak akan melepaskan tawanannya.”

Bu Kie menggelengkan kepalanya. “Maksud itu tak akan tercapai,“ katanya. “In Ya Ong Cianpwe ingin sekali membunuh puterinya.”

“Apa?!” menegas orang itu dengan suara heran.

Bu Kie lantas menceritakan riwayatnya Cu-jie, cara bagaimana nona itu meracuni ibu tirinya sehingga belakangan ibu kandungnya sendiri turut binasa.

“Tak dinyana! Tak dinyana! Sungguh bakat yang baik!” orang itu memuji.

“Mengapa bakat yang baik?” tanya Bu Kie.

“Dia masih begitu muda tetapi dia sudah dapat meracuni ibu tirinya dan ibu kandungnya sendiri sampai turut binasa,” jawabnya “Di samping itu dia sudah mendapat pelajaran dari Kim-hoa Popo. Aku sungguh menyayang nona yang jempolan itu. Sekarang aku tahu, Wie It Siauw mau mengambilnya sebagai murid.”

Bu Kie kaget. “Bagaimana kau bisa tahu?” tanyanya.

“Wie It Siauw adalah sahabatku,” jawabnya. “Aku mengenal adatnya.”

Pemuda itu terkesiap. “Celaka!” teriaknya kemudian berlari sekencang-kencangnya.

Orang itu tertawa lantas mengikuti dari belakang. Sambil berlari Bu Kie bertanya. “Mengapa kau terus menguntit aku?”

“Aku ingin menonton keramaian,” jawabnya. “Perlu apa kau mengejar Wie It Siauw?”

“Cu-jie sudah berhawa sesat, aku tak akan mengijinkan dia berguru kepada Wie It Siauw,“ jawabnya dengan suara marah. “Sungguh celaka bila dia menjadi siluman yang menghisap darah manusia!”

“Apa kau menyukai dia?”

“Tidak... Hanya... hanya dia mirip dengan ibuku.”

“Kalau begitu ibumu seorang wanita yang bermuka jelek.”

“Jangan ngaco! Ibuku sangat cantik.”

Orang itu tertawa. Sesaat kemudian ia berkata sambil menghela napas. “Sayang! Sayang sungguh!”

“Sayang apa?”

“Semangatmu cukup baik, nyalimu cukup besar. Hanya sayang, dalam sekejap kau akan menjadi mayat yang tidak ada darahnya lagi.”

Bu Kie terkejut. Di dalam hati dia membenarkan apa yang dikatakan orang itu. Andai kata Wie It Siauw dapat disusul, ia tetap tak akan dapat menolong Cu-jie. Bukan saja begitu, ia malah akan membuang jiwa sia-sia. Maka ia lantas memohon,

“Cianpwe, apa bisa kau membantu aku?”

“Tidak bisa,” jawabnya. “Pertama, Wie It Siauw adalah sahabatku dan kedua, belum tentu aku bisa menandingi dia.”

“Wie It Siauw adalah manusia siluman yang senang menghisap darah manusia,” kata Bu Kie. ”Kalau dia sahabatmu, mengapa kau tidak mencoba membujuknya supaya dia tidak melakukan perbuatan yang terkutuk itu?”

Orang itu menghela napas. “Tak ada gunanya aku membujuk dia,” katanya dengan suara duka. “Dia bukan ingin menghisap darah seenaknya. Dia berbuat seperti itu karena terpaksa. Aku tahu, dia sendiri sangat menderita.”

“Karena terpaksa?” Bu Kie menegas dengan heran. “Apa iya?”

“Dulu waktu berlatih Iweekang ia telah berbuat kesalahan besar,” orang itu menerangkan. ”Belakangan setiap kali menggunakan Iweekang ia harus minum darah manusia karena jika tidak maka sekujur badannya kedinginan dan jika tidak tertolong, ia akan mati beku.”

Bu Kie berpikir sejenak, kemudian ia berkata, “Bukankah penyakit itu sudah terjadi karena ketidak-beresan pada pembuluh darah Sam-in?”

“Ihhh...! Bagaimana kau tahu?” tanya orang itu dengan heran.

“Aku hanya menebak,” jawabnya.

“Sudah tiga kali aku mendaki gunung Tiang-pek-san untuk menangkap kodok api guna mengobati penyakitnya,” kata orang itu. Dia menghela napas dan berkata lagi, “Tapi tidak berhasil. Dalam usaha yang pertama aku bertemu seekor kodok api tapi tidak berhasil menangkapnya. Dalam usaha yang kedua dan ketiga, bayangan kodok itu tidak terlihat. Sesudah kesulitan yang kuhadapi rasanya dapat diatasi, aku ingin pergi ke Tiang-pek-san lagi.”

“Apa boleh aku ikut?” tanya Bu Kie.

“Hm... Iweekang-mu sudah boleh juga, tapi ilmu meringankan badan masih belum cukup,” jawabnya “Nanti saja kita bicara lagi, kalau waktunya sudah tiba. Ehh! Perlu apa kau mau membantuku?”

“Jika berhasil bukan saja kita akan bisa menolong Wie It Siauw, tapi juga bisa membantu orang lain yang dihinggapi penyakit yang sama,“ jawabnya. “Cianpwe, dia sudah pergi begitu lama dan sudah menggunakan banyak tenaga dalam pula. Apakah mungkin karena terpaksa dia menghisap darah Cu-jie?”

“Mungkin... memang sangat mungkin,” jawabnya.

Bu Kie sangat kuatir, maka dia berlari semakin cepat. Tiba-tiba orang itu berteriak. “Hei! Coba lihat, ada apa di belakangmu?”

Pemuda itu menengok ke belakang. Tiba-tiba saja matanya gelap dan tubuhnya terangkat dari bumi. Ia merasa seluruh badannya masuk ke dalam karung yang kemudian diangkat dan digendong di punggung orang itu. Dengan hati mendongkol ia mencoba merobeknya. Ia kaget sebab tak berhasil. Karung itu terbuat dari semacam kain yang alot dan kuat luar biasa.

PERTIKAIAN DI TENGAH KEPUNGAN MUSUH

“Plakk!”

Orang itu memukul pantat Bu Kie. Dia tertawa lantas berkata. “Bocah, jangan kau banyak lagak di karungku. Akan kubawa kau ke tempat yang menyenangkan. Kalau kau bersuara dan diketahui orang lain maka aku takkan bisa menolong jiwamu lagi.”

“Ke mana kau akan membawaku?” tanya Bu Kie.

Orang itu tertawa. “Sesudah kau masuk ke dalam karung Kian-kun-tay, apa kau kira bisa lari jika aku benar menginginkan jiwamu?” tanyanya. “Asal kau dengar kata-kataku, tidak bergerak dan tidak bersuara, pasti kau akan mendapat keuntungan.”

Bu Kie merasa bahwa orang itu bicara sebenarnya, maka dia tidak bergerak lagi. Se-konyong-konyong orang itu melontarkan karungnya di tanah sambil tertawa ter-bahak.

“Bocah! Kalau kau bisa keluar, kau benar-benar lihay,” katanya.

Pemuda itu segera mengerahkan Iweekang dan kedua tangannya mendorong ke depan sekerasnya. Tetapi karung itu sangat alot dan tetap utuh. Dia menendang dan memukul kalang-kabut. Karung itu tetap tak bergeming. Selang beberapa lama orang itu tertawa dan bertanya,

“Kau menyerah?”

“Menyerah,“ jawab Bu Kie.

“Bahwa kau bisa masuk ke dalam karungku boleh dikata rejekimu amat besar,” kata orang itu seraya mengangkat tangannya, lalu menggendong di punggung dan berlari.

“Bagaimana dengan Cu-jie?” tanya Bu Kie.

“Mana aku tahu?” jawabnya. “Bila rewel aku akan melemparkan kau keluar dari karungku.”

Bu Kie ingin sekali orang itu membuktikan ancamannya, namun dia tidak berani membuka mulut lagi. Orang itu berlari dengan kecepatan luar biasa. Selang beberapa jam kemudian pemuda itu merasakan hawa yang hangat. Dia tahu matahari sudah keluar. Dia juga dapat merasakan bahwa dia sedang dibawa ke atas gunung. Sesudah lewat sekitar dua jam lagi, hawa udara berubah dingin.

“Hm... sudah sampai di puncak yang tertutup salju,” pikirnya.

Mendadak dia merasa karung melayang ke atas dan tubuhnya seolah terbang di angkasa. Dia terkesiap dan berteriak. Di lain detik orang itu telah hinggap di tanah. Bu Kie mengetahui bahwa orang itu sedang melalui puncak yang berbahaya sehingga dia harus melompat kian kemari. Sekali meleset, habislah sudah! Baru saja berpikir demikian, karung sudah melayang lagi ke atas. Bu Kie meramkan matanya dan menyerahkan segalanya kepada nasib. Tiba-tiba dari sebelah kejauhan terdengar teriakan orang.

“Swee Put Tek! Hey! Mengapa kau baru datang?”

“Tadi di tengah jalan aku menemui sedikit urusan,” jawab orang yang memanggul Bu Kie. “Apakah Wie It Siauw sudah datang?”

“Belum,” jawab suara yang jauh itu. “Sungguh heran. Swee Put Tek, apakah kau bertemu dengan dia?” seraya menjawab orang itu menghampiri.

Bu Kie tersadar. Sekarang dia tahu orang itu bernama ‘Swee Put Tek’. Tidak heran pada waktu dia menanyakan namanya, orang itu menjawab ‘Swee Put Tek’, yang berarti ‘Tidak dapat diberi-tahukan’. Mengapa namanya begitu aneh?

“Tiat-koan Suheng,” kata Swee Put Tek menyapa.

“Mari kita cari saudara Wie. Aku kuatir terjadi sesuatu yang hebat,” kata Tiat-koan Tojin.

“Ceng-ek Hok-ong seorang pintar dan berkepandaian tinggi,” kata Put Tek.

“Tapi aku tetap merasa tak enak.” Se-konyong-konyong dari sebuah lembah di bawah puncak terdengar teriakan.

“Hwesio bau Swee Put Tek! Tua bangka Tiat-koan! Lekas kemari! Bantulah aku. Aduh celaka benar!”

“Ciu Tian!” teriak kedua orang itu hampir berbareng.

“Dia sepertinya terluka,” kata Swee Put Tek. “Kenapa suaranya begitu lemah?” Tanpa menunggu jawaban dia segera melompat-lompat ke bawah sambil menggendong karung.

“Ahh!” kata Tiat-koan yang mengikuti di belakang, “Lihat! Siapa yang digendong Ciu Tian? Apa Wie It Siauw?”

“Ciu Tian, jangan bingung!” teriak Swee Put Tek. “Kami akan membantu kau!”

Ciu Tian tertawa, “Kurang ajar!” bentaknya. “Bingung apa? Yang hampir mampus adalah si kelelawar penghisap darah!”

“Saudara Wie?” menegas Swee Put Tek dengan kaget. “Mengapa dia?” Seraya bertanya dia mempercepat tindakannya.

Bu Kie yang merasa dirinya seakan terbang ke angkasa menjadi ketakutan dan berbisik,

“Cianpwe, lepaskan aku untuk sementara waktu. Yang penting adalah menolong orang.”

Swee Put Tek tak menyahut. Tiba-tiba dia mengikat karungnya yang lalu diputar beberapa kali. Bukan main kagetnya Bu Kie. Kalau terlepas jiwanya bisa melayang.

“Bocah! Aku bicara terang-terangan padamu. Aku adalah Put-thay Hwesio Swee Put Tek. Yang di belakangku Tiat-koan Tojin Thio Tiong. Orang yang berada di lembah itu bernama Ciu Tian. Kami bertiga ditambah Leng-bian Sian-seng Leng Kiam dan Pheng Eng Giok Pheng Hwesio dikenal sebagai Ngo-sianjin dari Mo-kauw. Apa kau tahu apa yang dinamakan Mo-kauw?”

“Tahu,“ jawab Bu Kie. “Kalau begitu Taysu adalah anggota Mo-kauw.”

“Aku dan Ciu Tian tidak suka membunuh orang,“ kata pula Swee Put Tek. “Tapi Tiat-koan Tojin, Leng-bian Sian-seng dan Pheng Hwesio dapat membunuh manusia tanpa berkedip. Kalau mereka tahu kau berada di karungku, dengan sekali hajar saja tubuhmu bisa hancur luluh.”

Kata Bu Kie. “Aku tak berdosa. Mengapa...”

“Apa kau anggap Tiat-koan Tojin baru membunuh orang sesudah lebih dulu menanyakan dosannya?” Swee Put Tek memutus. “Ahh...! Kalau kau masih ingin hidup, mulai sekarang kau tidak boleh mengeluarkan sepatah kata pun. Mengerti?”

Di dalam karung Bu Kie manggut-manggut.

“Ehh! Mangapa kau tidak menjawab?” tanya Swee Put Tek.

“Bukankah kau melarang aku bicara?” Bu Kie balas bertanya.

Swee Put Tek tersenyum. “Baguslah kalau kau tahu,“ katanya. “Hei! Bagaimana keadaan Wie?” kata-kata yang belakangan itu ditujukan kepada Ciu Tian.

“Dia... dia... celaka besar...! Celaka besar!” jawab Ciu Tian dengan suara terputus-putus.

“Hm... saudara Wie masih bernapas, siapa yang menolongnya?”

Sebelum Ciu Tian menjawab, Tiat-koan Tojin mendahului. “Ciu Tian, apakah kau luka? Mengapa mukamu pucat?”

“Tadi aku menemukan Si Kelelawar tergeletak seperti mayat, napasnya hampir saja putus,” Ciu Tian menerangkan. “Aku segera mengerahkan Iweekang untuk menolongnya. Tapi di luar dugaan racun dingin di tubuh Si Kelelawar lihay. Begitulah duduk persoalannya.”

“Ciu Tian, kali ini kau telah melakukan suatu perbuatan mulia,” kata Swee Put Tek.

Ciu Tian mengeluarkan suara di hidung. “Peduli apa dengan mulia atau jahat,” katanya. “Si Kelelawar lebih beracun dan aneh dari biasanya. Aku amat membenci dia, tapi kali ini dia melakukan perbuatan yang cocok dengan hatiku. Karena itu aku mencoba menolongnya. Tapi tak nyana, bukan saja aku tak berhasil malah racun itu berbalik masuk ke tubuhku. Sungguh celaka! Mungkin sekali jiwaku akan turut melayang.“ Dia berdiam sejenak lantas berkata lagi. “Pembalasan...! Ini namanya pembalasan... Seumur hidup Si Kelelawar dan Ciu Tian belum pernah melakukan perbuatan baik. Sekali berbuat baik, bencana langsung datang.”

“Perbuatan baik apa yang dilakukan oleh saudara Wie?” tanya Swee Put Tek.

“Sesudah menggunakan Iweekang, racun dingin di dalam tubuhnya mengamuk hebat dan menurut kebiasaan, dia bisa menolong diri sendiri dengan menghisap darah manusia,” Ciu Tian menerangkan. “Ketika itu di sampingnya terdapat seorang gadis. Tapi dia lebih suka mati dari pada menghisap darah nona itu. Melihat itu aku berkata, ‘Si Kelelawar berlaku aneh, maka aku pun hendak berlaku aneh. Baiklah, Ciu Tian coba menolong dia’. Lantas saja aku bekerja dan beginilah hasilnya.”

Bu Kie kegirangan, tanpa terasa tubuhnya bergerak.

“Siapakah wanita itu?” Swee Put Tek bertanya sambil menepuk karungnya. “Ke mana dia sekarang?”

“Aku pun bertanya begitu kepada si Kelelawar,” sahutnya. “Ia mengatakan bahwa nona itu bernama In Lee, cucu perempuannya si tua bangka Peh-bie. Karena sudah menerima si nona sebagai muridnya, maka si Kelelawar tidak bisa lagi menghisap darahnya.”

Swee Put Tek dan Tiat-koan Tojin menepuk tangan. “Perbuatan Wie-heng (saudara Wie) yang sangat mulia itu mungkin akan menjadi titik kebangkitan kembali agama kita,” kata Swee Put Tek. “Jika Kelelawar hijau dan burung Eng (Rajawali) putih bisa bergandeng tangan, maka kekuatan Beng-kauw akan bertambah banyak,” seraya berkata demikian dia menyambut tubuh Wie It Siauw dari tangan Ciu Tian. “Badannya sudah dingin seperti es,” katanya dengan suara kaget. “Bagaimana baiknya?”

“Itu sebabnya mengapa aku minta kau datang lebih cepat,” kata Ciu Tian. “Dalam sepuluh bagian, si Kelelawar sudah mati sembilan bagian. Kalau bangkai Kelelawar bergandengan tangan dengan Peh-bie Eng-ong, bagi Beng-kauw tak ada kebaikannya sedikit pun juga.”

“Kalian tunggu sebentar di sini,” kata Tiat-koan. “Aku akan turun gunung membekuk seorang manusia hidup guna dijadikan minuman bagi Wie heng,” seraya berkata begitu ia mengayunkan tubuh untuk melompat ke bawah.

“Tahan!” teriak Ciu Tian. “Tua bangka, kau sungguh tidak punya otak! Gunung ini sangat sepi, hampir tidak ada manusianya. Kalau menunggu kau, Wie It Siauw (Wie sekali tertawa) sudah menjadi Wie Put Siauw (Wie tidak tertawa). Swee Put Tek, paling baik kau keluarkan bocah yang berada dalam karungmu untuk menolong saudara Wie.”

Mendengar itu Bu Kie ketakutan setengah mati.

“Tidak bisa,” kata Swee Put Tek. “Dia telah berbudi sangat besar kepada agama kita. Jika Wie-heng membinasakan dia, Ngo-beng-kie (Lima Bendera) sudah pasti tidak mau tahu.“

Sehabis berkata begitu dengan cepat dia segera menuturkan bagaimana pemuda itu menolong jiwa berpuluh-puluh anggota dari pasukan Swie-kim-kie.

“Waktu itu aku menyusup dalam pasukan Peh-bie-kauw dan dengan mataku sendiri, aku menyaksikan semuanya,” katanya. “Dengan berhutang budi yang begitu besar, Ngo-beng-kie pasti akan membela dia mati-matian.”

“Apakah kau ingin menggunakan bocah itu untuk menaklukkan Ngo-beng-kie?” tanya Tiat-koan.

“Tidak bisa diberi-tahukan! Tidak bisa diberi-tahukan!” jawab Swee Put Tek. “Bagaimana pun juga ini kenyataaan bahwa sekarang di Beng-kauw sudah terjadi keretakan hebat. Pada waktu menghadapi bencana, Peh-bie-kauw justru bentrok dengan Ngo-beng-kie. Untuk menyelamatkan diri dari kemusnahan, jalan satu-satunya adalah bersatu padu. Bocah yang berada di dalam karungku mempunyai arti penting untuk usaha mendamaikan orang-orang kita.”

Sehabis berkata begitu dia mengangsurkan dan menempelkan tangan kanannya di Leng-tay-hiat pada punggung Wie It Siauw. Kemudian dia mengerahkan hawa murninya untuk membantu menindih racun dingin yang sedang mengamuk di tubuh Wie It Siauw. Ciu Tian menghela napas.

“Swee Put Tek, tentu saja aku tidak bisa mengatakan apa pun juga kalau kau rela menjual jiwa demi kepentingan sahabat,” katanya.

“Biarlah kubantu kau,” kata Tiat-koan Tojin sambil menempelkan telapak tangan kanannya pada telapak tangan kiri Swee Put Tek. Di saat itu, bagaikan gelombang dua hawa murni menerjang masuk ke tubuh Wie It Siauw.

Sekitar sepemakanan nasi, Wie It Siauw merintih dengan perlahan dan sesaat kemudian dia tersadar, tetapi giginya masih gemeletukan. Dia membuka kedua matanya lantas berkata,

“Ciu Tian, Tiat-koan To-heng, terima kasih atas pertolongan kalian.“

Ia tidak menghaturkan terima kasih kepada Swee Put Tek karena mereka berdua memiliki hubungan yang sangat erat sehingga memang tidak perlu pernyataan terima kasih. Tiat-koan dan Swee Put Tek yang sedang mengeluarkan tenaga untuk melawan racun dingin tidak bisa lantas memberi jawaban. Tiba-tiba dari puncak gunung sebelah timur sayup-sayup terdengar suara Khim.

“Leng-bian Sian-seng dan Pheng Hwesio sudah tiba,” kata Ciu Tian yang lalu mendongak dan berteriak sekeras-kerasnya. “Leng-bian Sian-seng! Pheng Hwesio! Ada orang terluka. Lekas kemari!”

Suara Khim berhenti mendadak, tanda teriakan itu sudah didengar. “Siapa... yang... terluka...!” demikian terdengar teriakan Pheng Hwesio.

“Setan tak sabaran!” caci Ciu Tian dengan suara lirih. “Sedikit pun dia tidak bisa menanti.”

Sementara itu Pheng Hwesio terus memberondong dengan pertanyaan-pertanyaan yang saling susul.

“Siapa yang terluka...? Apa Swee Put Tek...? Apa Tiat-koan-heng...?“ Hampir berbareng dengan selesainya pertanyaan-pertanyaan itu ia tiba di hadapan rombongan Ciu Tian.

“Aduh!” serunya. “Kalau begitu Wie It Siauw yang terluka.”

“Perlu apa kau begitu tergesa-gesa?” kata Ciu Tian, “Saudara Leng Kiam, mengapa kau bungkam saja?”

Leng Kiam hanya menyahut, “Hmm.” Ia sungkan membuang tenaga sia-sia. Biarlah Pheng Hwesio yang minta keterangan.

Benar saja pendeta itu segera menghujani Ciu Tian dengan berbagai pertanyaan dan pada saat Ciu Tian selesai memberi penjelasan, Swee Put Tek dan Tiat-koan pun selesai memasukkan hawa murni ke tubuh Wie It Siauw.

“Aku datang dari timur laut,” kata Pheng Hwesio. “Kudengar Ciang-bun-jin Siauw-lim-pay, Kong-bun Taysu bersama Sute-nya, Kong-tie Taysu berikut seratus lebih murid-muridnya menerjang ke Kong-beng-teng.”

“Di sebelah timur Bu-tong Ngo-hiap!” kata Leng Kiam yang paling tak suka bicara panjang-panjang.

“Enam partai sudah mulai mengurung, sementara Ngo-beng-kie yang sudah beberapa kali bertarung dengan mereka selalu mendapat pukulan,” kata Pheng Hwesio pula. “Menurut pendapatku, kita harus pergi ke Kong-beng-teng secepat mungkin.”

“Omong kosong!” Ciu Tian membentak, “Bocah Yo Siauw tidak mengundang kita, apakah Beng-kauw Ngo-sianjin harus menyembah dia?”

“Ciu Tian, sekarang Beng-kauw tengah menghadapi bencana,” kata Pheng Hwesio dengan suara membujuk. “Jika mereka dapat menghancurkan Kong-beng-teng dan memadamkan api suci, apakah kita masih bisa menjadi manusia? Memang benar Yo Siauw telah berbuat tidak pantas terhadap Ngo-sianjin, tetapi bantuan kita adalah untuk Beng-kauw dan bukan untuk kepentingan Yo Siauw.”

“Aku menyetujui pendapat Pheng Hwesio,” sambung Swee Put Tek. “Meski pun Yo Siauw amat kurang ajar, tapi kita harus ingat kepentingan agama kita yang lebih besar dari pada kepentingan pribadi.”

“Omong kosong!” teriak Ciu Tian. “Dua keledai gundul sama-sama omong kosong! Tiat-koan Tojin, Yo Siauw pernah menghancurkan pundak kirimu, apa kau masih ingat?”

Tiat-koan tak menyahut. Lewat beberapa saat barulah dia berkata, “Melindungi agama kita dan memundurkan musuh adalah hal yang sangat penting. Perhitungan dengan Yo Siauw dapat dibereskan sesudah musuh dipukul mundur. Dengan Ngo-sianjin bersatu padu, tidak usah kuatir bocah itu tidak akan tunduk.”

Ciu Tian mendengus, “Leng Kiam, bagaimana pendapatmu?” tanyanya.

“Kau pun rela bertekuk lutut di hadapan Yo Siauw?” tegas Ciu Tian. “Dahulu kita pernah bersumpah bahwa Ngo-sianjin tidak akan mempedulikan lagi urusan Beng-kauw. Apakah sumpah itu hanya omong kosong belaka?”

“Semua omong kosong!” kata Leng Kiam.

Ciu Tian marah tak kepalang, dia melompat bangun dan berteriak, “Kalian manusia berotak miring semuanya!”

“Kita harus bertindak cepat,” kata Tiat-koan tanpa menghiraukan kemarahan kawannya. “Mari kita berangkat.”

“Ciu-heng,” bujuk Pheng Hwesio. “Dulu kita bermusuhan karena tak ada kecocokan dalam urusan memilih Kauwcu. Memang benar Yo Siauw berpandangan sempit. Tapi bila dipikir-pikir, Ngo-sianjin pun ada salahnya...”

“Dusta!” teriak Ciu Tian, “Kita berlima tak sudi menjadi Kauwcu. Salah apa?”

“Biar pun kita bertengkar satu tahun, kita tidak dapat membereskan soal siapa salah siapa benar,” kata Swee Put Tek. “Ciu Tian, coba kau jawab pertanyaanku. Apakah kau bukan murid Beng-cun Thian-seng (pemimpin Beng-kauw)?”

“Benar, aku muridnya Beng-cun Thian-seng,” jawabnya.

“Pada saat ini agama kita tengah menghadapi bencana. Bila kita terus berpangku tangan, apakah di alam baka kita ada muka bertemu dengan Beng-cun Thian-seng?” tanya Swee Put Tek. “Jika kau takut, biarlah kami berempat saja yang pergi ke Kong-beng-teng. Setelah kami binasa, kau boleh mengubur mayatku.”

Ciu Tian menjadi kalap. Seraya melompat dia mengayunkan tangan. “Plok!” tangannya memukul.

Swee Put Tek tak bergerak dan juga tidak mengeluarkan sepatah katapun. Perlahan-lahan dia membuka mulut lalu menyemburkan belasan gigi yang rontok akibat pukulan itu. Sebelah pipinya berubah merah dan bengkak. Pheng Hwesio dan yang lainnya sangat terkejut, sedangkan Ciu Tian sendiri memandang hasil pukulannya dengan mata membelalak. Ilmu silat Swee Put Tek dan Ciu Tian kira-kira sebanding. Apa bila Swee Put Tek mau berkelit atau menangkis, pukulan itu pasti takkan melukainya. Di luar dugaan dia diam saja dipukul. Ciu Tian merasa sangat tak enak.

“Swee Put Tek, pukullah aku!” teriaknya, “Bila kau tidak mau, kau bukan manusia.”

Swee Put Tek tersenyum tawar. “Tenagaku hanya digunakan terhadap musuh dan takkan dipakai terhadap orang sendiri,” sahutnya.

Ciu Tian marah bercampur malu. Tiba-tiba dia mengangkat tangannya lantas menghantam pipinya sendiri. Sesaat kemudian dia pun menyemburkan belasan gigi dari mulutnya.

“Ciu Tian, mengapa kau berbuat begitu?” tanya Pheng Hwesio dengan kaget.

“Tak pantas aku memukul Swee Put Tek,” jawabnya. “Aku suruh dia membalas, tetapi dia tidak mau. Tak bisa lain, aku harus turun tangan sendiri.”

“Ciu Tian, hubungan di antara kita seperti saudara kandung,” kata Swee Put Tek. “Kami berempat telah mengambil keputusan untuk mengorbankan jiwa di atas Kong-beng-teng. Kita akan berpisah untuk selama-lamanya. Apa ada masalah jika kau memukul aku sekali dua kali?”

Bukan main rasa terharunya Ciu Tian dan dia lantas mengucurkan air mata. “Sudahlah!” katanya, “Aku pun akan ikut. Biarlah perhitungan dengan Yo Siauw dibereskan belakangan.”

Pheng Hwesio dan yang lainnya menjadi girang sekali. Mendengar pembicaraan itu Bu Kie berkata di dalam hatinya,

“Mereka berlima bukan saja berkepandaian tinggi, tapi juga mempunyai budi pekerti yang sangat luhur. Apakah orang-orang seperti itu sesat semua?” Sesaat kemudian dia merasa karung diangkat dan semua orang mulai berangkat ke Kong-beng-teng.

Sesudah mengetahui bahwa Cu-jie tak kurang suatu apapun, hati pemuda ini memikirkan soal pertarungan antara enam partai Tiong-goan dan Beng-kauw. Siapa yang akan menang? Di lain saat dia ingat bahwa setibanya di Kong-beng-teng dia akan bertemu dengan Yo Put Hwie. Apakah si nona masih mengenali dirinya? Sesudah berjalan sehari semalam, tiba-tiba Bu Kie merasa karung itu menyentuh tanah. Semula dia tidak mengerti sebab musababnya. Belakangan, waktu dia mengangkat kepala, kepalanya terbentur batu yang menyerupai dinding. Sekarang dia baru tahu berada dalam terowongan, di bawah tanah yang hawanya sangat dingin.

Berselang kira-kira satu jam barulah mereka keluar dari terowongan. Mereka terus naik ke atas dan tidak lama kemudian masuk ke dalam terowongan lain. Sesudah keluar masuk lima terowongan, tiba-tiba terdengar teriakan Ciu Tian,

“Yo Siauw, si Kelelawar dan Ngo-sianjin datang untuk menemuimu!”

Lewat beberapa saat barulah terdengar jawaban. “Aku sungguh tak menyangka Hok-ong dan Ngo-sianjin sudi datang berkunjung. Yo Siauw tidak bisa menyambut dari tempat jauh, maka harap kalian sudi memaafkan.”

“Jangan berlagak bicara manis-manis,” kata Ciu Tian. “Dalam hatimu, kau tentu mencaci kami. Kau tentu mencaci kami sebagai badut yang sudah bersumpah tak mau naik lagi ke Kong-beng-teng dan tak mau ikut campur lagi urusan Beng-kauw, tetapi sekarang datang tanpa diundang.”

“Tidak, tidak demikian,” kata Yo Siauw. “Siauwte justru sedang kebingungan. Enam partai besar mengurung Kong-beng-teng, sedangkan Siauwte hanya seorang diri. Dengan memandang muka Beng-cun Thian-seng kini Hok-ong dan Ngo-sianjin datang berkunjung memberi bantuan. Ini benar-benar rejekinya Beng-kauw.”

“Bagus kalau kau tahu,” kata Ciu Tian.

Yo Siauw segera mengajak tamu-tamunya masuk ke dalam dan seorang pelayan lantas menyuguhkan teh. Mendadak si pelayan mengeluarkan teriakan menyayat hati. Bu Kie tidak tahu sebabnya, tapi teriakan itu membuat bulu romanya berdiri. Sesaat kemudian Wie It Siauw tertawa dan berkata,

“Co-sucia, kau telah membinasakan pelayanmu. Aku pasti akan membalas budimu itu.“ Ia mengucapkan kata-kata itu dengan suara lantang dan bersemangat.

Bu Kie terkejut, sekarang tahulah dia bahwa si Kelelawar telah membunuh dan menghisap darah pelayan itu.

“Di antara kita tidak ada urusan budi,” kata Yo Siauw dengan tawar. “Bahwa Hok-ong sudi datang ke sini merupakan bukti masih menghargai aku.”

Tujuh orang itu adalah jago utama dari Beng-kauw. Walau pun di antara mereka terdapat perselisihan tapi pertemuan yang terjadi pada saat Beng-kauw menghadapi musuh-musuh berat telah membangunkan semangat. Sehabis makan kue mereka segera merundingkan usaha untuk melawan musuh. Swee Put Tek menaruh karung di samping kakinya. Bu Kie merasa lapar dan haus namun dia tak berani bersuara atau bergerak. Yang hadir berjumlah tujuh orang, tapi seperti enam karena Leng Kiam tidak pernah buka mulut. Sesudah berunding beberapa lama, Pheng Hwesio berkata,

“Cie-san Liong-ong dan Kim-mo Say-ong tak ketahuan ke mana perginya, sedangkan mati hidupnya Kong-beng Yu-su juga belum dapat dipastikan. Mereka bertiga tak usah dimasukkan ke dalam perhitungan. Di pihak kita, bentrokan antara Ngo-beng-kie dan Peh-bie-kauw yang makin lama semakin hebat sudah membuat kedua belah pihak menderita kerusakan besar. Andai kata mereka bisa berdamai dan dapat datang ke sini, jangankan hanya enam, dua belas atau delapan belas partai pun pasti akan dapat dipukul mundur.”

Seraya menyentuh karung dengan ujung kaki, Swee Put Tek berkata, “Bocah ini berada di Peh-bie-kauw dan dia pun telah berbudi besar kepada Ngo-beng-kie. Mungkin juga kelak di kemudian hari dia akan memainkan peranan penting dalam usaha mendamaikan permusuhan di antara kita.”

Wie It Siauw tertawa dingin. “Sebelum Kauwcu dipilih, perselisihan di kalangan agama kita tak akan bisa dibereskan,” katanya.

“Manusia yang paling tinggi kepandaiannya tak akan berhasil mendamaikan kita. Co-sucia, aku yang rendah ingin mengajukan sebuah pertanyaan kepadamu. Setelah musuh dipukul mundur, siapakah yang akan kau dukung untuk menjadi Kauwcu?”

“Siapa yang bisa mendapatkan Seng-hwee-leng dialah yang menjadi Kauwcu,” jawabnya tawar. “Ini adalah peraturan agama kita. Perlu apa kau bertanya lagi?”

Wie It Siauw segera tertawa nyaring. “Seng-hwee-leng sudah hilang sekitar seratus tahun,” katanya. “Apakah sebegitu lama Seng-hwee-leng tidak muncul, sebegitu lama juga Beng-kauw tidak mempunyai Kauwcu? Bahwa enam partai persilatan sudah berani menyerang adalah karena mereka tahu tentang terjadinya perpecahan di Beng-kauw.”

“Wie-heng, kau betul,” kata Swee Put Tek. “Po-tay Hwesio tidak miring ke mana pun juga. Aku bukan orang partai In, juga bukan dari partai Wie. Siapa pun yang menjadi Kauwcu akan kusetujui. Yang paling penting kita harus mempunyai Kauwcu. Andai kata belum ada Kauwcu, untuk sementara waktu boleh juga diangkat seorang wakil Kauwcu. Kalau tidak ada orang yang memegang tampuk pimpinan, bagaimana kita dapat melawan musuh secara teratur?”

“Aku menyetujui pendapat Swee Put Tek,” kata Tiat-koan Tojin.

Paras muka Yo Siauw lantas berubah, “Sebenarnya apa maksud kedatangan kalian?” tanyanya. “Kalian mau membantu atau mau menyusahkan aku?”

Ciu Tian tertawa ter-bahak. “Yo Siauw,” katanya. “Apa kau kira aku tidak tahu maksudmu mengapa kau tetap tidak mau memilih seorang Kauwcu? Sebegitu lama Beng-kauw belum memiliki Kauwcu, sebegitu lama juga kau menjadi Kong-beng Cosu yang berkedudukan paling tinggi. Huh-huh...! Bukankah benar begitu? Biar pun kau menduduki kursi tertinggi, tetapi tiada seorang pun mau mendengar segala perintahmu. Apa gunanya? Apa kau bisa memerintah Ngo-beng-kie? Apakah kau mampu menyuruh keempat Hu-kauw Hoat-ong? Kami kelima Ngo-sianjin hidup bagaikan awan bebas dan burung ho liar. Bagi kami, Kong-beng Cosu tidak berarti apa pun.”

Mendadak Yo Siauw bangkit. “Dalam menghadapi musuh dari luar, Yo Siauw tidak punya waktu untuk bersilat lidah dengan kalian,” katanya dingin. “Kalau kalian rela melihat hidup matinya Beng-kauw dengan berpangku tangan, silakan kalian turun dari Kong-beng-teng! Apa bila Yo Siauw masih bernapas, di kemudian hari dia akan melayani kalian satu demi satu.”

“Yo-cosu, kau jangan marah,” bujuk Pheng Hwesio. “Serangan enam partai kepada Beng-kauw menyangkut setiap murid dari agama kita. Urusan ini bukan urusan kau seorang.”

“Tapi mungkin dalam agama kita ada orang yang mengharapkan kematianku,” sindir Yo Siauw. “Matinya Yo Siauw berarti tercabutnya paku pada biji mata mereka.”

“Siapa orang itu?!” bentak Ciu Tian.

“Siapa kepotong, dia merasa perih,” jawabnya. “Tak perlu aku menyebutkan namanya.”

“Kau maksudkan aku?!” teriak Ciu Tian dengan marah.

Yo Siauw tidak menghiraukannya. Dia memandang ke arah lain. Melihat kemarahan kawannya, Pheng Hwesio buru-buru membujuk.

“Kata orang, saudara berkelahi, yang lain tertawa. Meski pun kita cekcok dan berkelahi sampai langit roboh dan bumi terbalik, tetap saja kita merupakan saudara sendiri. Menurut pendapatku, sementara waktu kita tunda saja soal pemilihan Kauwcu. Sekarang kita harus merundingkan siasat untuk melawan musuh.”

“Eng Giok Taysu memang tahu urusan,” puji Yo Siauw. “Pendapatnya tepat sekali.”

“Bagus!” teriak Ciu Tian. “Kepala gundul she Pheng tahu urusan dan Ciu Tian tidak paham urusan!” Ia sudah kalap dan tanpa mempedulikan apa pun ia berteriak. “Kauwcu kita harus dipilih hari ini juga! Aku mengusulkan Wie It Siauw. Kepandaian Si Kelelawar sangat tinggi dan dia banyak tipu dayanya. Di Beng-kauw, siapa yang dapat menandinginya?”

Sebenarnya antara Ciu Tian dan Wie It Siauw tidak ada hubungan erat. Tetapi sekarang, dalam marahnya dia mengusulkan Ceng-ek Hok-ong sebagai Kauwcu untuk mengganggu Yo Siauw. Yo Siauw tertawa terbahak-bahak,

“Menurut pendapatku, paling baik kita angkat Ciu Tian sebagai Kauwcu,” katanya. “Sekarang Beng-kauw sudah berantakan, maka kalau dijungkir balikkan oleh Kauwcu besar Ciu Tian, tentunya agama kita akan lebih sedap dipandang.“ (Kata ‘Tian’ dari Ciu Tian bisa juga berarti ‘kacau’ atau ‘gila’)

Bukan main marahnya Ciu Tian. “Bangsat!” ia membentak sambil menghantam Yo Siauw.

Belasan tahun yang lalu, karena pertengkaran urusan pemilihan Kauwcu, Ngo-sianjin telah bersumpah untuk tidak menginjak Kong-beng-teng lagi. Tapi sekarang secara mendadak mereka datang pula. Sejak tadi Yo Siauw memang telah curiga dan selalu waspada. Begitu Ciu Tian memukul, dia segera menarik kesimpulan bahwa Ngo-sianjin memang sengaja ingin mengepung dia dengan mengajak Wie It Siauw. Maka itu dengan penuh kemarahan dia segera menangkis dengan tangan kanannya.

SADAR YANG TERLAMBAT

Melihat tangkisan itu Wie It Siauw menjadi terkejut karena pada telapak tangan Yo Siauw terlihat cahaya hijau, serupa pukulan yang dinamakan Ceng-tiok-ciu (pukulan bambu hijau). Dia tahu bahwa sesudah menolong dirinya, tenaga dalam Ciu Tian belum pulih sehingga kawannya itu pasti takkan bisa menyambut pukulan tersebut. Maka itu bagaikan kilat dia mendahului menangkis. Kedua tangan saling bentrok tanpa mengeluarkan suara dan segera menempel kencang satu dengan lainnya.

Meski pun sedang marah, akan tetapi mengingat bahwa Ciu Tian adalah saudara seagama maka ketika memukul ternyata Yo Siauw tidak menggunakan segenap tenaga. Namun di lain pihak pukulan Han-peng Bian-ciang (pukulan kapas yang dingin bagaikan es) dari Wie It Siauw bukan main dahsyatnya. Begitu bentrok Yo Siauw merasa tangannya gemetar dan serupa hawa yang sangat dingin menerobos masuk ke dalam dagingnya. Dia kaget dan buru-buru mengerahkan Iweekang yang lebih besar sehingga kedua lawan itu lantas mengadu tenaga dalam.

“Orang she Yo!” bentak Ciu Tian. “Sambutlah lagi pukulanku!” sambil membentak tangan kanannya menghantam dada Yo Siauw.

“Ciu Tian, tahan!” teriak Swee Put Tek.

“Yo-cosu! Wie Hok-ong! Berhentilah! Kalian tidak boleh berkelahi dengan kawan sendiri,” sambung Pheng Eng Giok sambil mengangkat tangannya untuk menyambut pukulan Ciu Tian.

Tapi Yo Siauw sudah lebih dulu memiringkan badannya sambil mengangsurkan lengannya dan telapak tangan kirinya lantas menempel dengan telapak tangan kanan Ciu Tian.

“Ciu Tian, dua lawan satu bukan perbuatan orang gagah,” kata Swee Put Tek.

Dia meraih pundak Ciu Tian untuk ditarik mundur. Tetapi sebelum tangannya menyentuh pundak, mendadak ia melihat badan kawannya gemetaran. Ia kaget tak kepalang. Ia tahu bahwa di kalangan Beng-kauw, Yo Siauw memiliki kepandaian yang tinggi. Apakah dengan hanya sekali beradu tangan saja Ciu Tian terluka berat?

“Ciu Tian, di antara saudara sendiri perlu apa mengadu nyawa?” katanya sambil menarik pundak kawannya. “Yo-cosu, harap kau menaruh belas kasihan,” katanya lagi. Ia berkata begitu sebab kuatir Yo Siauw mengirim serangan susulan.

Di luar dugaan, begitu ditarik badan Ciu Tian bergoyang-goyang tetapi tangannya tak bisa lepas dari Yo Siauw. Hampir berbarengan, Swee Put Tek merasakan serangan semacam hawa dingin yang menerobos masuk dari telapak tangan terus ke ulu hati. Swee Put Tek terkesiap. Ia tahu bahwa Wie It Siauw mempunyai pukulan Han-peng Bian-ciang yang tersohor di kolong langit. Apakah Yo Siauw juga menguasai pukulan itu? Buru-buru dia mengerahkan Iweekang untuk melawan hawa dingin itu. Namun serangan hawa dingin semakin lama bertambah hebat dan lewat beberapa saat, giginya sudah gemeletukan.

Mau tidak mau Tiat-koan Tojin dan Pheng Eng Giok maju juga, yang satu membantu Ciu Tian dan yang lain menolong Swee Put Tek. Dengan mempersatukan Iweekang keempat Sian-jin barulah hawa dingin bisa ditahan. Tenaga yang keluar dari telapak tangan Yo Siauw seakan bergelombang pasang surut, sebentar enteng dan sebentar berat. Keempat orang itu tak berani melepaskan tangan kuatir Yo Siauw akan menyerang pada detik melepaskan tangan. Kalau sampai terjadi begitu, andai kata tidak mati sedikitnya akan mendapat luka berat. Sesudah bertahan beberapa lama, Swee Put Tek lalu berkata,

“Yo-tayhiap, terhadap kau kami...” perkataannya putus di tengah jalan karena mendadak ia merasa darahnya mau membeku. Ternyata waktu bicara tenaga dalamnya tak dapat lagi menahan serangan hawa dingin. Cepat-cepat ia memperbaiki keadaannya.

Kira-kira semakanan nasi Wie It Siauw dan keempat Sian-jin sudah payah sekali, tapi Yo Siauw masih tenang-tenang saja. Leng Kiam yang masih tetap menonton makin lama makin heran.

“Meski pun berkepandaian tinggi, kepandaian Yo Siauw hanya kira-kira sebanding dengan kepandaian Wie It Siauw,” pikirnya. “Sepantasnya Wie It Siauw dan empat kawanku pasti akan dapat merobohkannya. Tapi mengapa dia yang lebih unggul?”

Benar mengherankan. Ia seorang yang sangat cerdas, tapi walau pun sudah mengasah otak beberapa lama, belum juga ia dapat memecahkan teka-teki ini.

“Setan... muka... dingin... pukul... punggungnya,” kata Ciu Tian terputus-putus.

Tapi Leng Kiam yang belum dapat menebak sebab dari keanehan itu masih tak mau turun tangan. Di antara Ngo-sianjin hanya ia seorang yang belum turut bertanding dan hanya ia seorang pula yang dapat menyingkirkan mala petaka. Kalau ia turut mengeroyok sebelum dapat memecahkan teka-teki itu, maka pihaknya belum tentu dapat kemenangan. Lewat beberapa saat muka Ciu Tian dan Pheng Eng Giok sudah berubah biru dan mereka takkan bisa bertahan lebih lama lagi. Leng Kiam tahu, kalau racun dingin masuk ke dalam isi perut mereka bisa celaka. Dia segera merogoh saku dan mengeluarkan lima batang pit (pena Tionghoa) kecil yang terbuat dari perak murni.

“Lima pit kecil ini akan menghantam Kim-tie, Kie-kut, Yang-kee, Ngo-lie dan Tiong-touw-hiatmu,” katanya.

Kelima ‘hiat’ itu terletak pada tangan dan kaki dan bukan ‘hiat’ yang membinasakan. Leng Kiam sengaja mengatakan begitu supaya Yo Siauw tahu bahwa maksudnya hanya untuk menghentikan pertandingan. Yo Siauw hanya tersenyum, dia tidak mempedulikan.

“Maaf!” teriak Leng Kiam seraya mengayunkan kedua tangannya dan dengan berbareng lima sinar putih menyambar.

Mendadak Yo Siauw menekuk lengan kirinya dan Ciu Tian berempat lantas tertarik ke depannya. Hampir berbareng Pheng Hwesio dan Ciu Tian sama-sama mengeluarkan teriakan kesakitan karena lima batang pit itu mampir tepat di badan mereka, dua di badan Ciu Tian dan tiga di badan Pheng Eng Giok. Untung juga Leng Kiam memang tidak bermaksud mencelakai orang. Ia melempar tanpa mengeluarkan banyak tenaga dan lemparan itu tidak ditujukan ke arah jalan darah yang berbahaya sehingga luka kedua orang itu tidak membahayakan jiwa.

“Kian-kun Tay-lo-ie (memindahkan langit dan bumi)!” bisik Pheng Eng Giok.

Mendengar perkataan itu Leng Kiam sadar. Dalam sejarah Beng-kauw, Kian-kun Tay-lo-ie adalah ilmu yang terhebat. Dasarnya ilmu itu sederhana saja, yaitu berdasarkan ilmu ‘meminjam tenaga untuk memukul tenaga’ dan ilmu ‘empat tahil memukul ribuan hati’. Tidak usah dikatakan lagi, dalam dalil yang sangat sederhana itu terdapat perubahan-perubahan yang menakjubkan dan tidak dapat ditaksir manusia biasa. Selama beberapa tahun, di kalangan Beng-kauw ilmu itu belum pernah disebut-sebut orang, maka tidak mengherankan jika Ngo-sianjin dan Wie It Siauw tidak segera mengenalinya.

Dengan Kian-kun Tay-lo-ie, Yo Siauw mempergunakan Han-peng Bian-ciang dari Wie It Siauw untuk menyerang keempat Sian-jin, sedangkan tenaga keempat Sian-jin dipakainya untuk menghantam Wie It Siauw. Dia sendiri di tengah dan tanpa mengeluarkan tenaga, dia mengadu domba kedua tenaga dari lawannya.

“Kiong-hie!” kata Leng Kiam. “Kami tidak bermaksud jahat. Hentikanlah pertandingan.”

Leng-bian Sian-seng adalah orang yang selalu bicara sesedikit mungkin. ‘Kiong-hie’ berarti dia memberi selamat yang sudah tidak dikenal selama kurang lebih sepuluh tahun kepada Yo Siauw. Di samping sungkan bicara banyak, Leng Kiam pun orang jujur sehingga jika ia mengatakan ‘tidak bermaksud jahat’, maka tentu tidak bermaksud jahat. Sebagai bukti lima pit perak itu hanya dipakai untuk menghentikan pertandingan dan bukan digunakan untuk mencelakai orang. Mengingat itu, Yo Siauw lantas tertawa terbahak-bahak.

“Wie-heng dan Su-wi Sian-jin,” katanya, “Sesudah aku menghitung satu, dua, tiga, kalian tarik pulang tenaga dengan berbareng supaya tidak sampai terluka.”

Wie It Siauw dan keempat Sian-jin lantas menganggukkan kepala. Yo Siauw tersenyum dan segera menghitung,

“Satu...! Dua...! Tiga!”

Berbareng dengan perkataan ‘tiga’ ia lantas menarik pulang Kian-kun Tay-lo-ie Sin-kang. Mendadak saja ia merasa punggungnya dingin dan semacam totokan mampir tepat pada Sim-to-hiat di punggungnya. Hati Yo Siauw mencelos. Dia menduga Wie It Siauw yang main gila. Baru saja dia hendak membalas, tiba-tiba tubuh Ceng-ek Hok-ong terkulai lantas jatuh terguling. Tak salah lagi, Wie It Siauw pun dibokong orang! Selama hidupnya Yo Siauw sudah kenyang mengalami gelombang hebat. Maka, meski pun sudah terpukul, dia tidak menjadi bingung. Bagaikan kilat dia melompat ke depan lalu memutar tubuh. Dia mendapat kenyataan bahwa Ciu Tian, Pheng Eng Giok, Tiat-koan Tojin dan Swee Put Tek juga roboh di tanah, sementara Leng Kiam sedang menyerang seseorang yang mengenakan jubah warna abu-abu. Orang itu menangkis dan...

“Aughh...!” Leng-bian Sian-seng mengeluarkan suara seperti orang kesakitan.

Buru-buru Yo Siauw menarik napas dalam-dalam lantas melompat untuk membantu Leng Kiam. Sekonyong-konyong dia merasakan serangan semacam hawa dingin yang naik dari Sim-to-hiat dan terus menerjang ke Sin-cu, Toa-to, Toa-tui, Hong-hu dan lain ‘hiat’ di seluruh tubuh. Yo Siauw tahu ia sedang menghadapi bencana. Orang itu bukan saja memiliki kepandaian tinggi, tetapi juga sangat licik dan beracun. Tadi dia membokong pada detik Wie It Siauw, keempat Sian-jin dan ia sendiri sedang menarik kembali tenaga Iweekang. Sekarang ia tak bisa berbuat lain dari pada segera mengerahkan hawa dingin itu.

Ia merasa hawa dingin itu berlainan dengan hawa Han-peng Bian-ciang dari Wie It Siauw. Hawa ini lebih halus, akan tetapi jalan darah yang diserang lantas kesemutan. Dalam keadaan waspada dan dengan tenaga dalam yang melindungi dirinya, Yo Siauw tak akan bisa diserang dengan totokan apa pun juga. Namun sekarang ia sudah dibokong. Melihat Leng Kiam dalam bahaya, ia segera mengambil keputusan untuk menolong sambil menahan sakit. Tapi baru saja bergerak dan menggerakkan tangan, ia langsung menggigil dan tenaganya hilang.

Waktu itu Leng Kiam sudah bertempur lebih dari dua puluh jurus dan dia sudah tak dapat mempertahankan diri lagi. Yo Siauw bingung. Di lain saat Leng Kiam tertendang kemudian musuh melompat dan menotok lengan Leng Kiam yang lantas jatuh terjengkang. Yo Siauw terkejut bercampur marah. Karena Leng Kiam dapat meladeni musuh dalam dua puluh jurus lebih, maka ia menganggap kepandaian musuh itu belum tentu lebih tinggi dari pada kepandaiannya. Tapi celakanya ia sudah dibokong hingga tak berdaya.

Bu Kie yang berada di dalam karung mendengar semua kejadian itu. Pada saat Yo Siauw dan keempat Sian-jin bertempur, dia kuatir kedua belah pihak terluka berat. Ia ingin sekali menyaksikan pertandingan itu, tapi dalam karung gelap gulita. Ia girang waktu Leng Kiam berhasil menghentikan pertandingan. Tapi tak disangka datang musuh yang membokong. Ia tahu bahwa Yo Siauw masih berdiri tegak, tetapi mendengar gemeletuk gigi dan beratnya napas, ia pun mengerti bahwa jago itu sudah tak bertenaga lagi. Untuk beberapa detik keadaan sunyi senyap. Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari dalam berlari-lari keluar.

“Thia! Siapa yang datang? Mengapa kau tidak memperkenalkan mereka padaku?” Itu adalah suara seorang wanita. Jantung Bu Kie memukul keras.

“Adik Put Hwie!” katanya dalam hati.

“Pergi... pergi...! Lebih jauh lebih baik...!” seru Yo Siauw dengan napas tersengal-sengal.

Melihat keadaan dalam ruangan itu, Put Hwie terkejut. “Thia... apa kau terluka?” tanyanya. Ia berpaling kepada si jubah abu-abu dan bertanya, “Apa kau yang melukai ayahku?”

Orang itu tidak menyahut, ia hanya tertawa dingin.

“Put Hwie!” teriak Yo Siauw. “Turutilah perintah ayah! Ayo pergi!”

Sebenarnya Put Hwie ingin menyerang si jubah abu-abu, tetapi ia ragu-ragu. Kemudian ia mendekat dan memeluk ayahnya.

“Bocah, pergi!” bentak si jubah abu-abu dengan suara menyeramkan.

Si nona tidak menghiraukannya, “Thia,” katanya. “Mari kita istirahat.”

Yo Siauw tertawa getir. “Kau pergilah lebih dahulu,” jawabnya. Ia mengerti tidak akan bisa meloloskan diri dengan mudah.

Put Hwie mengawasi si jubah abu-abu seraya berkata, “Hwesio, kenapa kau membokong ayahku?”

Orang itu tertawa tawar. “Bagus!” katanya. “Matamu sangat tajam. Kau dapat mengenal bahwa aku adalah seorang hwesio. Hm... sekarang aku tidak bisa mengampuni kau lagi!” Ia mengibaskan tangannya lalu menotok Peng-hong-hiat si nona.

Hati Yo Siauw mencelos. Kalau kena, puterinya pasti binasa. Walau pun Iweekang-nya belum pulih, pada detik berbahaya itu dengan nekat ia menyikut dada si hwesio. Jari tangan kiri orang itu menyambar dan menotok Siauw-hau-hiat di bawah siku Yo Siauw. Tapi karena serangan itu, sambaran jari tangan kanannya agak miring sehingga tidak kena pada jalan darah yang membinasakan si nona. Sebagai seorang ayah yang sangat mencintai puterinya, sambil menahan dingin Yo Siauw menendang sehingga tubuh si nona terbang keluar dari ruangan itu, kemudian ia berdiri di tengah-tengah pintu supaya si pendeta tidak bisa mengejar.

“Bocah itu sudah kena It-im-cie-ke,” katanya dengan suara dingin. “Belum tentu dia dapat hidup tiga hari tiga malam lagi.“ Dia mengawasi Yo Siauw dan berkata lagi, “Nama besar dari Kong-beng Sucia bukan nama kosong. Sudah kena dua totokan tetapi kau masih mampu berdiri.”

“Kong-kian Taysu, pendeta suci dari Siauw-lim adalah seorang yang welas asih dan mulia hati,” kata Yo Siauw. “Sungguh tak disangka ia memiliki seorang murid yang terkutuk seperti kau. Kau tentu seorang murid dari deretan Goan. Goan apa namamu?”

Si jubah abu-abu terkejut. “Hebat! Sungguh hebat!” ia memuji. “Matamu hebat benar. Kau sudah bisa melihat asal usulku. Pinceng (Aku si pendeta yang miskin) bernama Goan-tin.“

Bu Kie kaget tak kepalang. “Orang itu pernah menghajar aku dengan Siauw-lim Kiu-yang-kang,” pikirnya. “Dia tahu di tubuhku mengeram racun Hian-beng Sin-ciang, namun dia sengaja membuka pembuluh darahku sehingga racun dingin itu sukar diusir dari dalam badanku. Kalau dilihat begini, dia bukan saja berilmu tinggi tetapi juga sangat jahat. Dalam enam partai persilatan, mungkin sekali dialah yang paling hebat. Hm... kali ini Beng-kauw harus menerima nasib.”

Sementara itu Yo Siauw berkata lagi, “Dalam permusuhan antara enam partai dan Beng-kauw, sebagai laki-laki sejati kita harus bertempur dengan senjata secara berhadap-hadapan. Tapi kau...” ia tidak dapat meneruskan perkataannya, kedua lututnya lemas dan ia pun jatuh duduk di lantai.

Goan-tin tertawa terbahak-bahak, “Sejak jaman purba, dalam peperangan orang selalu menarik keuntungan dengan siasat yang luar biasa dan di dalam memimpin tentara, orang memang biasa menggunakan tipu daya,” katanya. “Aku Goan-tin, seorang diri sudah bisa merobohkan tujuh jago utama dari Beng-kauw. Apakah kalian masih penasaran?”

“Bagaimana kau dapat mencuri masuk di Kong-beng-teng?” tanya Yo Siauw. “Bagaimana kau bisa mengenal jalan-jalan rahasia di gunung ini? Jika kau mau memberi-tahu, biar pun mati Yo Siauw akan mati dengan mata meram.”

Berhasilnya Goan-tin dalam serangan ini tentu saja disebabkan kepandaiannya yang tinggi. Tapi di samping itu masih ada sebab lain yang lebih penting, yaitu pengetahuannya mengenai jalan-jalan rahasia sehingga ia mampu meloloskan diri dari pengawasan belasan rombongan penjaga dan akhirnya berhasil membokong ketujuh jago ini.

Goan-tin tertawa dan menjawab, “Orang-orang Mo-kauw menganggap bahwa Kong-beng-teng yang mempunyai tujuh puncak dan tiga belas tebing sebagai tempat yang tidak akan dapat dilewati manusia. Tetapi di mata pendeta Siauw-lim, tempat itu hanyalah jalan raya yang tidak ada rintangannya. Kalian semua sudah terkena totokan It-im-cie. Dalam tempo tiga hari semua akan berpulang ke alam baka. Sesudah itu aku akan mendaki puncak Co-bong-hong dan menanam beberapa belas kati obat pasang, kemudian pinceng akan coba memadamkan api siluman dari Mo-kauw. Peh-bie-kauw, Ngo-beng-kie dan lainnya akan mencoba menolong, ‘Belendung’, obat pasang itu meledak dan seluruh Mo-kauw musnah tiada bekas! Inilah yang dinamakan seorang diri pendeta Siauw-lim memusnahkan Beng-kauw, dan tujuh siluman Kong-beng-teng bersama-sama pulang ke See-thian (Langit Barat yang berarti alam baka).“

Mendengar itu, Yo Siauw bingung tak kepalang. Ia tahu bahwa ancaman itu bukan gertak sambal. Bahwa ia akan mati adalah urusan kecil, tetapi apakah Beng-kauw yang memiliki sejarah selama tiga puluh turunan akan musnah di tangan seorang pendeta Siauw-lim? Sesudah diam sejenak, sambil tersenyum Goan-tin berkata lagi,

“Di kalangan Beng-kauw terdapat banyak sekali orang pandai. Apa bila kalian tidak saling bunuh, tidak saling makan, Beng-kauw tak akan menghadapi bencana seperti hari ini. Lihatlah kejadian sekarang. Karena kalian bertujuh berkelahi maka dengan mudah pinceng bisa naik sampai di sini. Kalau bukan lantaran begitu, mana bisa pinceng berhasil begitu gampang? Ha-ha-ha...! Tak disangka Beng-kauw yang dahulu begitu hebat, sesudah matinya Yo Po Thian lantas runtuh.”

Yo Siauw dan yang lainnya tertegun. Mereka segera ingat kejadian-kejadian sejak kurang lebih dua puluh tahun. Semua merasa amat menyesal. Dalam hati kecil mereka mengakui bahwa apa yang dikatakan Goan-tin memang tak salah.

“Yo Siauw!” teriak Ciu Tian, “Aku benar-benar pantas mati! Aku sudah melakukan banyak perbuatan yang tidak pantas terhadapmu. Walau pun kau tidak terlalu baik tapi kalau kau menjadi Kauwcu tentu keadaan kita akan lebih baik dari pada tidak punya Kauwcu sama sekali.”

Yo Siauw tertawa getir. “Apa kemampuanku hingga aku berani menjadi Kauwcu?” katanya. “Dalam urusan ini kita semua bersalah. Kita salah membuat keadaan menjadi sedemikian kacau dan akhirnya agama kita akan musnah sehingga di alam baka kita tak akan punya muka menemui para Beng-cun Kauwcu.”

“Kalian menyesal pun sudah tak berguna,” kata Goan-tin sambil tertawa. “Waktu Yo Po Thian mengepalai Mo-kauw, keangkerannya begitu meluap-luap. Tapi sayang, dia mati terlalu cepat sehingga dia tidak bisa menyaksikan kehancuran Mo-kauw.”

“Bangsat!” caci Ciu Tian. “Tutup mulutmu! Jika Yo-kauwcu masih hidup, kami semua akan menaati segala perintahnya. Kepala gundul macam kau mana bisa membokong kami?”

Goan-tin tertawa dingin lantas berkata dengan suara mengejek, “Tak peduli Yo Po Thian mati atau hidup, aku tetap mempunyai cara untuk menghancurkan Mo-kauw...“

“Plakk!”

Tiba-tiba terdengar suara dan Goan-tin mengeluarkan suara kesakitan karena punggungnya kena dipukul Wie It Siauw. Hampir berbareng Wie It Siauw juga kena ditotok Goan-tin pada Tian-tiong-hiat di dadanya. Mereka mundur sedikit kemudian roboh bersamaan. Wie It Siauw adalah orang yang berakal budi. Sesudah kena totokan pertama, walau pun luka berat, berkat Iweekang-nya yang amat tinggi sebenarnya dia masih dapat melawan. Tetapi ia berlagak lumpuh dan pada waktu Goan-tin sedang girang dan tidak berjaga-jaga, ia cepat menyerang dengan segenap tenaganya. Demi menolong Beng-kauw, ia bertekad mati bersama musuh.

Ceng-ek Hok-ong adalah salah seorang dari empat Hoat-ong di kalangan Beng-kauw dan kepandaiannya sebanding dengan In Thian Ceng atau Cia Sun. Karena itu meski pun hebat tapi Goan-tin tidak bisa mempertahankan diri terhadap pukulan yang dikirim secara nekat.

Demikianlah, begitu kena tenaga Han-peng Bian-ciang lantas menerobos masuk ke dalam tubuhnya dan ia merasa dadanya sesak. Beberapa kali ia mengerahkan Iweekang tetapi sebaliknya dari pada berhasil, kepalanya malah pusing. Kemudian ia menjatuhkan diri dan bersila untuk mengerahkan hawa murni guna menolak hawa dingin dari Han-peng Bian-ciang. Di lain pihak, sesudah tertotok dua kali oleh It-im-cie, Wie It Siauw tergeletak tanpa bisa bergerak dan napasnya tersengal-sengal. Ruangan itu berubah sunyi senyap. Delapan jago terluka berat, tetapi yang terluka paling berat adalah Yo Put Hwie yang roboh di luar ruangan itu.

Goan-tin dan tujuh tokoh Beng-kauw sama-sama menjalankan pernapasan dan mengerahkan Iweekang. Mereka tahu bahwa siapa yang tenaganya pulih lebih dahulu maka dialah yang akan mendapat kemenangan terakhir. Andai kata Goan-tin yang bisa bergerak lebih dulu, dengan menggunakan pedang ia bisa membunuh ketujuh musuhnya dan dapat mengobati lukanya belakangan. Sebaliknya jika di antara orang Beng-kauw ada yang lebih dulu pulih tenaganya, maka dengan mudah ia akan bisa membunuh Goan-tin.

Mengingat jumlahnya maka ketujuh tokoh Beng-kauw itu tampaknya mempunyai harapan yang lebih besar. Akan tetapi tenaga dalam Ngo-sianjin agak cetek dan setelah kena It-im-cie, tenaganya telah punah. Yo Siauw dan Wie It Siauw yang Iweekang-nya lebih tinggi masing-masing sudah kena dua totokan. Pada hakekatnya kehebatan Han-peng Bian-ciang dan It-im-cie kira-kira sebanding. Tetapi Wie It Siauw memukul sesudah terluka sehingga tenaganya lebih kecil dari pada Goan-tin yang belum terluka. Bila ditinjau dari sini kelihatannya Goan-tin yang akan dapat bergerak lebih dahulu.

Yo Siauw dan yang lainnya menjadi bingung. Akan tetapi orang tidak dapat memaksakan diri saat menjalankan pernapasan dan mengerahkan tenaga dalam untuk mengobati luka. Makin dia bingung, semakin mudah celaka. Sebagai ahli Iwee-keh, Yo Siauw dan kawan-kawannya mengerti kenyataan ini.

Setelah beberapa kali berusaha, Leng Kiam tahu bahwa ia takkan bisa mendahului Goan-tin. Harapan satu-satunya adalah masuknya salah seorang anggota Beng-kauw ke ruangan itu. Orang itu tak usah memiliki ilmu silat tinggi bahkan ia tak perlu mengerti ilmu silat. Dengan sepotong kayu saja ia dapat membinasakan Goan-tin yang sudah tidak berdaya. Meski sudah menunggu lama namun di luar ruangan tidak terdengar suara apa pun. Waktu itu tengah malam dan para anggota Beng-kauw sudah pada tidur, sedangkan mereka yang bertugas hanya menjaga tempat-tempat penjagaan tertentu. Tanpa adanya panggilan, mana mereka berani masuk ke ruangan Gie-su-teng (ruangan rapat)?

Yo Siauw mempunyai beberapa pelayan pribadi, tapi sesudah yang satu dihisap darahnya oleh Wie It Siauw, yang lainnya lantas menyingkir jauh-jauh. Jangankan tak dipanggil, dipanggil pun belum tentu mereka berani menghampiri.

Bu Kie yang berada di dalam karung juga bisa merasakan bahwa kesunyian itu kesunyian yang sangat tegang. Selang beberapa lama, mendadak Swee Put Tek berkata,

“Sahabat yang berada di dalam karung harus menolong kami.”

“Bagaimana menolongnya?” tanya Bu Kie.

Pada waktu itu hawa murni Goan-tin justru sudah mulai mengalir bebas pada bagian tan-tiannya. Mendengar pembicaraan itu, ia kaget bukan main dan hawa murni itu berbalik lagi sehingga ia kembali menggigil keras. Dalam tekadnya dan kesibukannya untuk membasmi jago-jago Beng-kauw mimpi pun ia tidak pernah bahwa di dalam karung ada manusianya.

“Habislah jiwaku,” ia mengeluh dalam hati.

“Mulut karung dijerat mati. Kecuali aku sendiri, siapa pun juga takkan bisa membukanya,” terang Swee Put Tek. “Tapi kau bisa berdiri di dalam karung.”

“Baiklah,” kata Bu Kie yang segera bangkit dan berdiri di dalam karung.

“Saudara kecil!” kata Swee Put Tek tanpa memperdulikan keselamatan jiwanya. “Kau telah menolong beberapa puluh saudara dari Swie-kim-kie. Ksatriaanmu dikagumi semua orang. Sekarang kami pun hendak mengandalkan bantuanmu. Pergilah ke tempat pendeta bangsat itu lalu hantam dia sampai mati.”

Bu Kie berpikir keras, ia tidak segera menjawab.

“Dengan cara licik pendeta jahat itu membokong orang,” kata Swee Put Tek. “Cara bangsat itu sudah kau dengar sendiri. Kalau kau tidak membinasakan dia, maka berlaksa-laksa anggota Beng-kauw akan musnah di tangannya. Jika membunuh dia, kau sudah melakukan perbuatan yang sangat mulia.”

Pemuda itu tetap ragu.

“Aku sudah tidak bisa bergerak lagi,” kata Goan-tin. “Jika kau mengambil nyawaku dalam keadaan begitu maka kau akan ditertawai seluruh orang gagah di kolong langit.”

“Kepala gundul, tutup mulutmu!” bentak Ciu Tian. “Siauw-lim-pay menyebut diri sebagai partai yang lurus bersih. Tapi diam-diam kau membokong orang. Apakah perbuatan itu tidak ditertawai semua orang gagah di kolong langit?”

Bu Kie maju selangkah, tetapi segera berhenti lagi. “Swee Put Tek Taysu,” katanya. “Aku sama sekali tidak tahu sebab dari permusuhan agamamu dengan enam partai persilatan. Aku ingin membantu kalian, tetapi aku pun tidak mau mencelakai pendeta Siauw-lim-pay.”

“Saudara kecil, ada satu hal yang belum kami pikirkan. Dia akan mengambil jiwamu juga.”

Goan-tin tertawa, “Aku tidak bermusuhan dengan saudara kecil itu,” katanya. “Di samping itu, ia pun bukan anggota Mo-kauw. Maka tak bisa salah lagi, ia ditangkap Po-tay Hwesio dengan maksud jahat. Orang-orang Mo-kauw memang sudah terbiasa berlaku kejam dan melakukan perbuatan-perbuatan terkutuk.”

Bu Kie jadi serba salah. Ia tahu bahwa Goan-tin bukan manusia baik, tetapi ia tidak ingin membinasakan orang. Selain itu, bila ia turun tangan maka dengan sendirinya ia berdiri di pihak Mo-kauw. Dengan sendirinya ia telah bermusuhan dengan keenam partai persilatan, bermusuhan dengan Thay-suhu (Thio Sam Hong), Bu-tong Liok-hiap, Cie Jiak serta yang lainnya. Di mata orang rimba persilatan, Mo-kauw dianggap agama sesat, serupa agama siluman. Perbuatan Wie It Siauw yang suka mengisap darah manusia dan perbuatan ayah angkatnya yang sering membunuh sesama manusia sembarangan adalah bukti-bukti dari perbuatan-perbuatan mereka yang tak pantas.

Thay-suhu pernah berpesan bahwa biar bagaimana pun juga dia tidak boleh bergaul atau berhubungan dengan orang-orang Mo-kauw supaya dia tidak usah menghadapi bencana yang tak perlu. Dia ingat juga pengalaman mendiang ayahnya. Karena sang ayah menikah dengan ibunya yang Mo-kauw, maka ayahnya mati bunuh diri. Ia lantas teringat pula bahwa Goan-tin adalah murid Kong-kian Taysu. Dalam usaha untuk menuntun ayah angkatnya ke jalan lurus, pendeta suci itu rela menerima tiga belas pukulan Cit-siang-kun sehingga akhirnya mengorbankan jiwanya. Itulah pengorbanan yang sangat mulia dan jarang terjadi di dunia luas ini. Apakah dia bisa membunuh murid seorang yang begitu mulia?

Di samping itu dia pun ingat bahwa setelah menerima ajaran Siauw-lim Kiu-yang-kang dari Goan-tin maka hubungan mereka adalah murid dan guru. Memang benar bahwa dengan membuka pembuluh darahnya pendeta itu mengandung maksud kurang baik.

“Tapi biar bagaimana pun juga aku toh tidak jadi mati,” katanya di dalam hati.

Bu Kie adalah seorang manusia yang tak bisa melupakan kebaikan orang. Bila ada orang yang menyakiti dirinya, sesudah lewat beberapa lama ia selalu mencari-cari alasan untuk mengentengkan arti jahat dari perbuatan itu. Misalnya perbuatan Ho Thay Ciong Cu Tiang Leng dan Cu Kiu Tin adalah perbuatan yang sangat kurang ajar, namun tanpa diminta di dalam hatinya ia sudah memaafkan orang-orang itu. Terhadap Goan-tin pun ia tak punya dendam lagi. Berulang kali Sweet Put Tek mendesaknya tapi ia tetap tak bergerak. Akhirnya ia berkata,

“Swee Put Tek Taysu, cobalah kau cari cara agar aku tak usah membinasakannya dan dia pun tidak bisa mencelakai kalian.”

Swee Put Tek tidak menyahut. Mana ada cara begitu.....?.


OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia