Kamis, 08 Oktober 2026

To Liong To 02

KUN-LUN SAM-SENG

Kwee Siang heran. “Eh-eh!” katanya. “Mengapa mereka lari ke arah kuil?” Dia menengok dan melihat Ho Ciok To sedang memegang tali Khim yang putus dengan paras duka. “Mengapa dia begitu jengkel?” tanyanya dalam hati. ”Berapakah harganya tali khim?”

Ho Ciok To menghela napas, kemudian berkata dengan suara perlahan, “Tujuh tahun aku berlatih, tapi hatiku tetap belum bisa tenang. Tangan kiriku berhasil mematahkan senjata, tetapi tangan kanan memutuskan tali khim.”

Sekarang si nona baru mengerti bahwa ia berduka karena merasa kepandaiannya belum sempurna. Ia tertawa kemudian berkata,

“Dengan tangan kiri melawan musuh dan tangan kanan memetik khim, sebenarnya kau menggunakan ilmu Hun-sin-ji-yong (ilmu memecah pikiran). Di dunia ini hanya tiga orang yang mahir dalam ilmu itu. Kau belum mencapai taraf yang tinggi, tak usah dibuat jengkel!”

“Siapa tiga orang itu?” tanya Ho Ciok To.

“Yang pertama adalah Lo-wan-tong Ciu Pek Thong,” jawab si nona. “Yang kedua ayahku sendiri, sedangkan yang ketiga Yo-hujin, Siauw Liong Lie. Selain ketiga orang itu, malahan kakekku, ibuku atau Sin-tiauw-tayhiap Yo Ko tak ada yang mampu memiliki ilmu yang luar biasa itu.”

“Bolehkah kau memperkenalkan orang berilmu itu kepadaku?” tanya Ho Ciok To.

“Kalau kau mau bertemu dengan Thia-thia (ayah), mudah sekali,” jawabnya. “Tapi dua orang lainnya sangat sukar dicari, karena mereka tak punya tempat kediaman yang tentu.”

Ho Ciok To berdiri bengong, agaknya ia masih merasa sangat menyesal karena putusnya tali khim itu.

Si nona tertawa seraya berkata dengan suara menghibur. ”Dengan sekali gebrak kau telah berhasil merobohkan Kun-lun Sam-seng dan hasil itu boleh dibuat bangga. Perlu apa kau berduka karena hal yang remeh?”

Ho Ciok To terkesiap. “Kun-lun Sam-seng?” dia menegas, “Apa kau kata? Bagaimana kau tahu?”

“Bukankah ketiga orang itu dikenal sebagai Kun-lun Sam-seng?” tanyanya. Kepandaian mereka memang cukup tinggi, tetapi jika mau coba-coba membentur Siauw-lim-si, kurasa mereka agak tahu diri...” Melihat paras muka Ho Ciok To mengunjuk perasaan heran yang semakin besar, si nona lalu bertanya. “Mengapa kau kelihatannya heran?”

“Kun-lun Sam-seng... Kun-lun Sam-seng Ho Ciok To... itu aku sendiri!” katanya dengan suara perlahan.

Kini giliran Kwee Siang yang terheran-heran. “Kau... kau Kun-lun Sam-seng...?” tanyanya. ”Mana yang dua lagi?”.

“Kun-lun Sam-seng hanya satu orang,” jawabnya, “Di See-hek aku telah mendapat nama biar pun bukan nama besar. Kawan-kawan menganggap aku memiliki kepandaian tinggi dalam ilmu main khim, ilmu pedang dan ilmu main catur, sehingga oleh karenanya, kata mereka aku boleh dinamakan sebagai Khim-seng, Kiam-seng dan Kie-seng (Nabi khim, Nabi pedang dan Nabi kie. Kie berarti Tio-kie atau catur). Lantaran aku suka sekali berdiam di gunung Kun-lun-san, maka mereka lantas memberi julukan Kun-lun Sam-seng. Tapi aku merasa malu dengan istilah Seng itu. Mana bisa orang seperti aku menamakan diri sebagai seorang nabi? Biar pun gelaran itu diberikan oleh orang lain, tak boleh aku menerimanya dengan begitu saja. Maka itu aku segera mengubah namaku, Aku menggunakan nama Ho Ciok To sehingga jika disambung jadi Kun-lun Sam-seng Ho Ciok To (Kun-lun Sam-seng tidak cukup berharga untuk dibicarakan). Dengan begitu orang tidak bisa mengatakan bahwa aku manusia sombong.”

Si nona bertepuk-tepuk tangan sambil tertawa geli. “Oh, begitu?” katanya. “Mati hidup aku menduga bahwa Kun-lun Sam-seng terdiri dari tiga orang. Tapi siapakah ketiga orang tua itu?”

“Mereka adalah orang-orang Siauw-lim-pay.“

Kwee Siang terkejut. “Siauw-lim-pay?” ia menegas. “Hm...! Ilmu silat mereka kurang. Yang lain cukup tinggi... Benar! Ilmu pedang si kakek muka merah memang Tat-mo Kiam-hoat. Tidak salah lagi! Si muka penyakitan paling belakang menyerang dengan ilmu Wie-to-hok-mo-kiam (ilmu pedang menaklukkan iblis). Tadi aku tidak bisa melihatnya karena dalam ilmu pedang itu terdapat banyak sekali perubahan. Tapi... kenapa mereka mengaku baru datang dari See-hek?”

“Ada sebabnya,” jawab Ho Ciok To, “Pada musim semi tahun yang lalu, aku main khim di puncak Keng-sin-hong gunung Kun-lun-san. Tiba-tiba aku mendengar suara pertempuran di luar gubuk. Aku segera keluar dan melihat dua orang yang masing-masing telah terluka berat sedang berkelahi mati-matian. Aku berteriak supaya berhenti, tetapi mereka tak mau meladeni. Karena merasa tidak tega, aku segera memisahkan. Begitu dipisahkan, salah seorang matanya terbalik dan menarik napasnya yang penghabisan. Yang satu lagi belum mati, maka aku membawanya ke gubukku dan coba menolong dengan memberikan pil Siauw-yang-tan kepadanya. Tetapi ternyata lukanya terlalu berat sehingga obatku tidak berhasil. Sebelum meninggal ia memperkenalkan diri sebagai In Kek See...”

“Ah!” seru si nona, “Orang yang satunya lagi mestinya Siauw Siang Cu. Bukankah orang yang binasa lebih dulu bertubuh jangkung kurus dan bermuka seperti mayat?”

“Benar,” jawabnya. “Bagaimana kau tahu?”

Kata si nona sambil tertawa. “Ahh, sungguh tak nyana pada akhirnya kedua mustika hidup itu mampus saling bunuh.”

Ho Ciok To menghela napas lantas berkata pula, ”Sebelum mati, In Kek See mengatakan bahwa selama hidup dia sudah berbuat banyak sekali kedosaan dan sekarang dia merasa amat menyesal, tapi sudah terlambat. Dia memberi-tahukan, bersama Siauw Siang Cu dia telah mencuri sejilid kitab suci dari Siauw-lim-si. Setelah memiliki kitab itu, mereka saling curiga. Kuatir bahwa jika yang satu memahami kitab itu terlebih dulu dan berhasil mempertinggi ilmu silatnya maka segera dia akan menurunkan tangan jahat untuk membinasakan yang lain guna memiliki sendiri kitab suci itu. Demikianlah, mereka saling mengawasi dan sungkan berpisah. Mereka makan di satu meja dan tidur satu ranjang. Sedikit pun hati mereka tak pernah tenang, waktu makan kuatir racun, waktu tidur takut kalau-kalau yang satu menurunkan tangan jahat selagi pulas. Di samping itu mereka juga kuatirkan kejaran pendeta Siauw-lim-si. Mereka kabur sampai di See-hek. Setibanya di Keng-sin-hong, keduanya lelah sekali. Mereka tahu bahwa dengan hidup begitu terus menerus maka belum sepuluh hari mereka tentu binasa. Mereka jadi nekat dan terus bertempur untuk mengakhiri keadaan yang gila itu. In Kek See mengatakan, bahwa ilmu silat Siauw Siang Cu sesungguhnya banyak lebih tinggi dari padanya. Semula ia tak mengerti mengapa dalam perkelahian Siauw Siang Cu hanya lebih unggul sedikit. Belakangan dia baru ingat bahwa kawan yang berubah jadi musuh itu telah mendapat luka di gunung Hoa-san. Jika mereka tidak saling curiga tentu mereka tak akan mendaki Kun-lun-san.”

Mendengar penuturan itu Kwee Siang kelihatan berduka. Ia menghela napas dan berkata,

“Aihh...! Karena sejilid kitab, mereka mengorbankan jiwa. Berapa harganya kitab itu?”

Ho Ciok To mengangguk kemudian melanjutkan perkataannya, “In Kek See bicara dengan napas tersengal-sengal dan suara ter-putus. Akhirnya ia meminta supaya aku suka pergi ke kuil Siauw-lim-si dan menemui seorang pendeta yang bernama Kak Wan. Ia memberi-tahukan, bahwa kitab suci itu berada di dalam minyak. Aku jadi heran, mengapa di dalam minyak? Selagi mau menanyakan terlebih terang, ia sudah tidak tahan lagi dan pingsan. Ia pingsan untuk tidak sadar lagi. Sesudah ia mati, aku terus memikirkan arti perkataannya.

Di dalam minyak? Apakah dia maksudkan kitab itu dibungkus dalam kain minyak. Dengan teliti aku memeriksa jenazah mereka, tapi tidak bisa mendapatkan kitab itu. Sesudah menerima permintaan orang, aku tak bisa menyampingkan dengan begitu saja. Mengingat bahwa selamanya aku memang tidak pernah menginjak wilayah Tiong-goan, maka dengan memakai kesempatan itu aku segera mengambil keputusan untuk pergi ke kuil Siauw-lim-si, sebagian guna memenuhi pesanan orang dan sebagian lagi guna pesiar.”

“Tapi mengapa kau mengirim surat tantangan?” tanya Kwee Siang.

Ho Ciok To tersenyum waktu menjawab: “Asal mulanya adalah gara-gara ketiga orang itu. Mereka bertiga adalah murid Siauw-lim-si yang tidak mencukur rambut. Menurut orang-orang rimba persilatan di daerah Barat (See-hek), mereka adalah orang-orang dari tingkatan Thian dan tingkatannya itu sama tingginya dengan Hong-thio Siauw-lim-si Thian Beng Siansu. Menurut dugaan orang, dahulu Sucouw mereka saling bentrok dengan saudara seperguruannya di kuil Siauw-lim-si dan sebagai akibat dari bentrokan itu, ia pergi ke daerah Barat lalu mendirikan sebuah cabang Siauw-lim-pay. Hal ini bukan hal yang mengherankan. Ilmu silat Siauw-lim-si telah dibawa oleh Tat-mo Couwsu dari Thian-tiok (India) ke Tiong-goan (Tiongkok asli). Kalau dari Tiong-goan diangkat pula ke daerah Barat, tidak mengherankan, bukan?

Mendengar julukanku sebagai Kun-lun Sam-seng, mereka bertiga jadi penasaran. Mereka sesumbar hendak menjajal kepandaianku. Mereka tidak peduli dengan gelaran Khim-seng dan Kie-seng. Tapi gelaran Kiam-seng (Nabi pedang)? Ha! Tidak boleh dibiarkan saja! Secara kebetulan muncul urusan In Kek See. Maka itu aku segera mengambil keputusan untuk pergi ke kuil Siauw-lim-si, sekalian men-jajal kepandaian mereka. Sebelum tiba di Tiong-goan aku sengaja menyingkirkan diri dari mereka, tapi sungguh tak dinyana mereka bisa datang begitu cepat.”

“Oh, begitu?” kata Kwee Siang, semua dugaan ternyata meleset semua. “Sekarang ketiga orang itu sudah tiba di kuil. Entah apa yang dikatakan mereka!”

“Dengan pendeta Siauw-lim-si, aku tak punya ganjalan apa pun,” kata Ho Ciok To. “Itu sebabnya untuk menunggu kedatangan ketiga orang itu aku menjanjikan sepuluh hari. Sekarang penjajalan kepandaian sudah dilakukan, segalanya sudah beres. Mari kita naik ke atas. Sesudah aku menyampaikan pesan In Kek See, kita boleh lantas turun lagi.”

Si nona mengerutkan alis. “Pendeta Siauw-lim-si mempunyai semacam peraturan yang sangat keras, wanita dilarang masuk ke dalam kuil,” kata Kwee Siang.

“Fui! Aturan apa itu?” kata Ho Ciok To. “Bagaimana kalau kita menerobos masuk?”

Sebenarnya Kwee Siang adalah seorang gadis pemberani yang senang mencari urusan. Tapi karena merasa malu hati terhadap Bu Sek Siansu, ia segera menggelengkan kepala seraya berkata:

“Jangan! Kau masuk sendiri saja. Aku menunggu di luar kuil agar jangan banyak urusan.”

“Baiklah,” kata Ho Ciok To. “Lagu tadi belum selesai. Begitu kembali, aku akan memetik sekali lagi.”

Per-lahan mereka mendaki gunung, tetapi sesudah sampai di depan pintu, mereka belum melihat bayangan satu manusia pun.

“Sudahlah, aku juga tidak perlu masuk ke kuil,” katanya. “Aku akan panggil saja pendeta itu.“ Sehabis berkata begitu ia pun berteriak. “Ho Ciok To datang berkunjung ke Siauw-lim-si, ingin menyampaikan omongan kepada Kak Wan Taysu.”

Hampir berbareng dengan teriakannya, belasan lonceng besar dalam kuil berbunyi dengan serentak sehingga seluruh Siauw-sit-san se-olah tergetar. Tiba-tiba pintu kuil terbuka dan dari kiri kanan keluar dua baris pendeta yang mengenakan jubah warna abu-abu. Kedua barisan itu terdiri dari lima puluh empat murid Lo-han-tong dan jumlah mereka adalah sesuai dengan seratus delapan Lo-han. Setelah itu keluar delapan belas pendeta yang badannya dikerobongi jubah pertapan warna kuning. Mereka adalah murid Tat-mo-tong yang berusia lebih tinggi dari pada murid Lo-han-tong.

Sesaat kemudian dari dalam kuil berjalan keluar tujuh pendeta yang sudah berusia lanjut. Mereka adalah Cit-lo (Tujuh Tetua) dari Sim-sian-tong yang berkedudukan sangat tinggi. Beberapa di antaranya mempunyai ilmu silat luar biasa, tapi yang lain tidak mengenal ilmu silat dan mereka dapat duduk dalam Sim-sian-tong karena pengetahuannya yang sangat mendalam tentang agama Buddha. Malah mereka amat dihormati oleh Hong-thio Siauw-lim-si sendiri.

Paling akhir keluarlah Hong-thio Thian Beng Siansu yang diapit oleh kepala Tat-ma-tong Bu Siang Siansu dan kepala Lo-han-tong Bu Sek Siansu. Phoa Thian Keng, Phui Thian Lo dan Wie Thian Bong mengikuti di sebelah belakang, bersama kurang lebih delapan puluh murid Siauw-lim-si yang tidak jadi pendeta.

Sambutan yang hebat luar biasa dan dapat dikatakan belum pernah, atau sedikitnya langka sekali, diberikan kepada seorang tamu. Menurut kebiasaan, pembesar negeri, biar pun pangkatnya sangat tinggi, atau tokoh rimba persilatan, paling banyak hanya disambut Hong-thio, Bu Sek dan Bu Siang. Sebegitu jauh yang diingat orang, Cit-lo dari Sim-sian-tong belum pernah keluar menyambut tamu. Kenapa sekarang diadakan upacara penyambutan yang begitu besar? Sebab yang utama ialah karena Ho Ciok To sudah menaruh surat tantangan dalam tangan patung Hang-liong Lo-han tanpa diketahui oleh siapa pun juga. Kepandaian yang luar biasa itu mengejutkan hati para pemimpin Siauw-lim-si. Selain itu Phoa Thian Keng dan dua Sute-nya yang baru tiba dari See-hek juga sudah menceritakan betapa lihaynya Kun-lun Sam-seng sehingga para pemimpin Siauw-lim-si lebih berwaspada lagi.

Karena berpisahan sangat jauh, Siauw-lim-pay cabang See-hek amat jarang berhubungan dengan cabang Tiong-ciu, yaitu Siauw-lim-si dan Siauw-sit-san. Akan tetapi para pendeta tahu bahwa Susiok-couw mereka yang telah pergi ke Barat mempunyai kepandaian sangat tinggi sehingga murid-murid atau cucu muridnya tentu juga bukan sembarangan ahli silat. Maka itu, setelah mendengar keterangan Phoa Thian Keng bertiga, para pemimpin Siauw-lim-si lantas mengambil tindakan-tindakan yang seperlunya. Di samping tindakan di dalam kuil, pucuk pimpinan juga sudah mengeluarkan perintah supaya murid Siauw-lim-si, tak peduli pendeta atau orang biasa yang bertempat tinggal dalam lingkungan lima ratus li harus segera datang ke kuil guna menunggu perintah selanjutnya.

Semua pendeta itu menganggap bahwa Kun-lun Sam-seng terdiri dari tiga orang. Setelah mendapat keterangan Phui Thian Keng, barulah mereka tahu bahwa Kun-lun Sam-seng hanya satu orang dan bahwa dia memperoleh gelaran itu sebab mahir dalam tiga macam ilmu, yaitu ilmu main khim, ilmu pedang dan ilmu main catur. Mengenai ilmu main khim dan main catur, para pendeta tidak menghiraukannya. Yang mereka harus ber-siap adalah untuk menghadapi ilmu pedang dari orang itu. Maka semenjak mendapat tantangan, siang malam ahli-ahli pedang Siauw-lim-si berlatih keras.

Sementara itu, karena merasa sengketa dengan Kun-lun Sam-seng adalah gara2 mereka, Phoa Thian Keng dan kedua Sute-nya ingin sekali bisa membereskan pertikaian tersebut dengan tangan mereka sendiri. Untuk memapaki lawan, dengan menunggang kuda setiap hari mereka meronda di sekitar gunung. Mereka ingin sekali menjajal kepandaian lawan di luar kuil dan sesudah itu barulah mereka ingin balik ke kuil supaya Kun-lun Sam-seng bisa mengukur tenaga dengan para pendeta. Mereka pikir dengan demikian biarlah dilihat, apa cabang Tiong-ciu atau cabang See-hek dari Siauw-lim-pay yang lebih unggul.

Tetapi di luar dugaan, dalam pertandingan di pendopo batu dengan mudah mereka dirobohkan oleh Ho Ciok Tao. Begitu mendapat warta mengenai kekalahan Phoa Thian Keng dan kedua Sute-nya, Thian Beng Siansu insyaf bahwa hari itu adalah hari keputusan utuh runtuhnya nama Siauw-lim-si. Bagaimana pun juga gelar ‘sumber pelajaran ilmu silat di kolong langit’ yang sudah dapat dipertahankan Siauw-lim-si selama ribuan tahun, tak boleh hancur dalam tangannya. Tapi dalam pada itu, dia agak keder karena merasa bahwa kepandaiannya dan kepandaian Bu Sek dan Bu Siang, tidak lebih unggul banyak di atas kepandaian Phoa Thian Keng bertiga. Itu sebabnya kenapa dengan terpaksa ia mengundang Cit-lo Sim-sian-tong untuk turut keluar menyambut guna memberi bantuan jika perlu.

Namun sampai seberapa tinggi kepandaian tujuh tetua itu, ia dan Bu Sek serta Bu Siang tak tahu pasti. Apa bila ada bahaya, apakah Cit-lo bisa menolong muka Siauw-lim-si masih merupakan sebuah teka teki. Begitu berhadapan dengan Ho Ciok To dan Kwee Siang, Thian Beng segera merangkap kedua tangannya seraya berkata.

“Apakan Kiesu (tuan) yang mahir dalam ilmu Khim Kiam Kie? Lo-ceng (aku pendeta tua) tidak dapat menyambut dari jauh dan untuk itu harap Kiesu suka memaafkan,”

Ho Ciok To cepat-cepat membalas hormat dengan membungkuk. “Boan-seng (orang yang tingkatannya rendah) merasa tidak enak hati sudah mengacau kuil yang angker ini dan Boan-seng sungguh tidak sanggup menerima penyambutan yang begini besar.”

Mendengar jawaban itu, Thian Beng berkata dalam hati. “Kata-katanya terdengar cukup menyenangkan. Dilinat dari romannya, ia baru berusia sekitar tiga puluh tahun. Apa benar ia memiliki kepandaian tinggi?” Berpikir begitu, ia lantas saja berkata lagi:

“Ho-kiesu jangan terlalu sungkan. Mari kita masuk untuk minum air teh dingin dan Li-kiesu (nona) ini...“ Ia tidak meneruskan perkataannya dan paras mukanya terlihat perasaan sangsi.

Melihat pendeta itu mau menolak Kwee Siang, Ho Ciok Lo mendongak dan tertawa-tawa.

“Lo-hong-thio,” katanya kemudian, “Boan-seng datang kesini karena menerima permintaan seseorang untuk menyampaikan sepatah kata. Setelah menyampaikan itu Boan-seng pun akan segera berlalu. Akan tetapi peraturan dalam kuil Lo-hong-thio yang memandang tinggi kepada pria dan memandang rendah terhadap wanita adalah peraturan yang tidak dimengerti olehku. Harus diketahui bahwa ilmu Sang Buddha tiada batasnya dan semua makhluk Tuhan adalah sama rata. Oleh karena itu menurut Boan-seng peraturan itu agak bertentangan dengan pelajaran Sang Buddha.”

Thian Beng Siansu adalah seorang pendeta yang berilamu tinggi dan berpandangan luas. Ia segera dapat membedakan apa yang benar dan apa yang salah. Mendengar perkataan Ho Ciok To, dia segera tersenyum dan berkata.

“Terima kasih atas petunjuk Kiesu. Peraturan itu memang peraturan yang agak sempit. Kalau begitu aku pun mengundang nona untuk turut minum teh.”

Kwee Siang melirik kawannya sambil tersenyum. sementara dalam hatinya dia memuji ketajaman lidah pemuda itu. Thian Beng segera melangkah ke samping dan mengangkat tangannya sebagai undangan supaya kedua tetamu itu masuk. Tetapi sebelum Ho Ciok To melangkah, dari samping kiri Thian Beng tiba-tiba maju seorang pendeta tua yang bertubuh kurus.

”Dengan beberapa perkataan saja Kiesu sudah meniadakan peraturan Siauw-lim-si yang sudah berjalan ribuan tahun,” katanya. “Peraturan itu bukan tidak boleh dirubah. Tapi kita harus menyelidiki dulu apakah orang yang menyebabkan berubahnya peraturan itu benar-benar orang yang berkepandaian tinggi. Aku mengharap Ho-kiesu suka memberi sedikit pelajaran supaya mata para pendeta bisa terbuka dan tidak merasa penasaran lagi karena mengetahui bahwa orang yang merubah peraturan kami adalah orang yang sungguh-sungguh berkepandaian tinggi.”

Orang yang bicara itu adalah Bu Siang Siansu, kepala Tat-mo-tong. Ia berbicara dengan suara nyaring luar biasa sehingga telinga yang mendengarnya terasa sakit akibat tekanan tenaga Iweekang yang sangat dahsyat. Mendengar perkataan Bu Siang, paras muka Phoa Thian Keng dan kedua Sute-nya berubah. Mereka merasa diejek, bahwa mereka sudah dijatuhkan oleh seorang yang belum tentu memiliki kepandaian tinggi.

Sementara itu, waktu melirik ke arah Bu Sek Siansu, Kwee Siang melihat sorot bingung dan jengkel pada muka pendeta itu. “Toa-hwesio ini adalah seorang baik dan juga sahabat Toakoko,” katanya dalam hati. “Jika Ho Ciok To dan para pendeta Siauw-lim-si sampai bertempur, tak peduli siapa yang kalah dan siapa menang hatiku merasa tak enak.“ Berpikir demikian, lantas ia berkata dengan suara nyaring.

“Ho-toako, sesungguhnya kita tidak perlu masuk kuil. Sekarang beri-tahukanlah omongan yang ingin disampaikan olehmu dan sesudah itu kita boleh segera berlalu.” Sehabis berkata begitu, sambil menunjuk Bu Sek ia melanjutkan perkataannya. “Bu Sek Siansu, sahabat baikku. Kedua belah pihak sebaiknya jangan merusak keakuran.”

Ho Ciok To kelihatan terkejut. “Oh, begitu?” katanya sambil berpaling kepada Thian Beng dan berkata pula: “Lo-hong-thio, yang mana Kak Wan Siansu? Aku menerima permintaan seseorang untuk menyampaikan pesan kepadanya.”

“Kak Wan Siansu?” menegas Thian Beng dengan suara perlahan.

Dalam kuil Siauw-lim-si, Kak Wan berkedudukan rendah. Selama beberapa puluh tahun ia menyembuyikan diri di perpustakaan Cong-keng-kok. Dia tidak banyak dikenal dan sebegitu jauh belum pernah ada orang yang menambahkan kata-kata ‘Siansu’ di belakang nama gelarnya. Karena itu untuk sementara Thian Beng tak ingat siapa adanya ‘Kak Wan Siansu’. Sesudah bengong beberapa saat, barulah dia berkata:

“Ahh...! Ho-kiesu tentu maksudkan pendeta yang menjaga kitab Lang-keh-keng. Apakah Kiesu mencari dia dalam hubungan soal kitab itu?”

“Entahlah,” jawabnya sambil menggelengkan kepala.

Thian Beng segera berpaling kepada seorang murid dan berkata: “Coba panggil Kak Wan.“

Murid itu lantas berlalu untuk mejalankan tugasnya. Bu Siang Siansu yang rupanya sangat bernapsu, sudah tidak dapat menahan sabar lagi. Begitu mendapat kesempatan, dia langsung berkata pula:

“Ho-kiesu, kau dijuluki sebagai Khim-kiam-kie Sam-seng dan kata ‘Seng’ itu tentu tak bisa dimiliki oleh sembarang orang. Tidak usah disangsikan lagi bahwa Kiesu memiliki kepandaian yang baik dan tinggi dalam tiga rupa ilmu itu. Pada sepuluh hari yang lalu Kiesu telah menulis surat dan berjanji untuk memperlihatkan kepandaianmu. Tapi mengapa setelah datang kemari kau jadi begitu pelit dan sungkan untuk memberi pelajaran kepada kami?”

Ho Ciok To menggelengkan kepalanya. “Nona ini sudah mengatakan bahwa kedua belah pihak tidak boleh merusak keakuran,” katanya.

Bu Siang jadi gusar sekali. Ia terutama gusar karena Ho Ciok To sudah menantang lebih dulu dan tantangan itu dianggap sebagai kekurang-ajaran terhadap Siauw-lim-si. Selain itu ia juga gusar sebab Phoa Thian Keng dan kedua Sute telah dirobohkan sehingga di luaran orang bisa menyiarkan cerita bahwa murid Siauw-lim-pay dijatuhkan oleh Kiam-seng. Tapi ia pun yakin, bahwa sebagian besar murid Siauw-lim-si bukan tandingan Ho Ciok To dan oleh karenanya, ia segera mengambil keputusan untuk turun tangan sendiri. Ia lalu maju dua tindak seraya berkata:

“Menjajal ilmu tak selamanya merusak keakuran, kenapa Ho-kiesu menolak begitu keras?” Ia berpaling kepada muridnya dan berkata pula. “Ambil pedang!”

Di kuil sudah disediakan macam-macam senjata, tapi pada waktu keluar menyambut tamu para pendeta tentu saja merasa tak pantas untuk membawa senjata. Dengan cepat murid itu telah keluar kembali dengan membawa tujuh atau delapan batang pedang yang lalu diangsurkan kepada Ho Ciok To.

“Apa Kiesu membawa pedang sendiri atau ingin meminjam senjata kami?” tanyanya.

Sebaiknya dari menjemput senjata yang diangsurkan, Ho Ciok To justru membungkuk dan mengambil sebutir batu kecil. Dengan menggunakan batu itu dia membuat sembilan belas garis melintang dan sembilan belas garis membujur pada batu hijau yang menutupi jalan di depan kuil, setiap garis sangat lurus, seperti dibuat dengan menggunakan penggaris. Tapi apa yang mengejutkan ialah setiap goresan masuk di batu kira-kira satu dim dalamnya. Batu hijau itu adalah batu gunung Siauw-sit-san yang keras bagaikan besi. Ratusan tahun orang mondar mandir di atasnya tanpa rusak sedikitpun. Setelah membuat garis-garis itu yang merupakan papan catur, sambil tertawa Ho Ciok To berkata:

“Mengadu pedang agak terlalu ganas, sedang suara khim pun sukar diadu. Maka itu, jika Toa-hwesio merasa gembira, mari kita bermain catur.”

Apa yang diperlihatkan Ho Ciok To amat mengejutkan hati Thian Beng, Bu Sek, Bu Siang dan Cit-lo dari Sim-sian-tong. Thian Beng Siansu yakin bahwa Iweekang yang setinggi itu tidak dipunyai oleh siapa pun juga di kuil Siauw-lim-si. Ia jadi bingung bukan main. Tapi baru saja ia berpikir untuk mengaku kalah, tiba-tiba terdengar suara berkerincing dari rantai besi dan di lain saat Kak Wan muncul sambil memikul dua tahang besi, sedangkan di belakangnya mengikuti seorang pemuda yang bertubuh jangkung. Begitu tiba di hadapan Thian Beng, ia segera memberi hormat seraya bertanya.

“Apakah Lo-hong-thio memanggil aku?”

“Ho-kiesu ingin bertemu dan bicara denganmu,“ jawabnya.

Ia memutar badan dan merasa heran sebab tak tahu siapa adanya orang itu. “Siauw-ceng adalah Kak Wan,” ia memperkenalkan diri. “Omongan apa yang hendak disampaikan oleh Kiesu?”

Sesudah membuat papan catur, kegembiraan Ho Ciok To lantas terbangun. “Omongan itu akan aku beri-tahukan sebentar,“ katanya. “Toa-hwesio manakah yang ingin melayani aku main catur?”

Ho Ciok To adalah seorang yang keranjingan main khim, pedang dan tiokie. Kalau gilanya datang, ia melupakan apa pun juga.

“Kepandaian Kiesu dalam membuat papan catur dengan menggores batu, belum pernah disaksikan oleh lolap,” kata Thian Beng. “Semua pendeta di kuil kami tidak mampu menandinginya.”

Setelah mendengar perkataan Thian Beng dan melihat papan catur itu, barulah Kak Wan tahu bahwa Ho Ciok To datang di Siauw-lim-si untuk memamerkan kepandaiannya. Tanpa mengeluarkan sepatah kata, dia menaruh kedua tahang besi di pundaknya sambil menyedot napas untuk mengumpulkan semua tenaga dalamnya di kedua lutut. Sesudah itu setindak demi setindak ia berjalan di garisan pinggir dari papan catur itu. Semua orang terkesiap dan mengawasi tindakan Kak Wan dengan mata terbelalak. Mengapa? Ternyata di tempat yang dilewati rantai besi yang melibat di kakinya, terdapat goresan-goresan yang lebarnya kira-kira lima dim dan goresan-goresan itu merusak garis yang dibuat Ho Ciok To! Sesaat kemudian, tanpa terasa seluruh pendeta bersorak sorai.

Thian Beng, Bu Sek, Bu Siang dan lain pemimpin jadi terkejut bercampur girang. Mereka tak pernah bermimpi bahwa pendeta tua yang ke-tololan itu mempunyai lweekang tinggi. Mereka sudah berkumpul di kuil puluhan tahun lamanya, tapi tak seorang pun yang tahu kelihayan Kak Wan.

Sebenarnya, biar pun seseorang mempunyai tenaga dalam yang hebat, dia tidak mungkin membuat goresan seperti yang dibuat Kak Wan di atas batu hijau yang sangat keras itu. Hanya karena pendeta itu memikul dua tahang besi berisi air yang beratnya kurang lebih enam ratus kati sehingga tenaga yang sangat besar itu dapat dia salurkan dari pundak ke rantai besi, maka selagi terseret rantai besi itu se-olah menjadi semacam cangkul yang mencangkul garis papan catur. Tapi meski pun demikian, walau pun Kak Wan meminjam tenaga, apa yang diperlihatkannya itu sudah jarang sekali terlihat di rimba persilatan.

“Toa-hwesio!” teriak Ho Ciok To. “Iweekang-mu hebat sekali, aku tak bisa menandingi.”

Kak Wan menghentikan tindakannya dan mengawasi tamu sambil tersenyum.

“Toa-hwesio,” kata pula Ho Ciok To. “Kita tidak bisa bermain catur lagi dan aku mengaku kalah. Sekarang aku ingin minta petunjukmu dalam ilmu pedang.”

Hampir berbareng dengan perkataannya, dia menghunus sebatang pedang panjang dari bawah Cit-hian-khim. Ia segera bergerak menyerang dan gerakannya yang pertama sangat luar biasa, ujung pedang menuding dadanya sendiri, sedang gagang pedang menuding lawan. Semua orang ter-heran sebab di dunia belum pernah ada Kiam-hoat yang begitu aneh.

PENJAGA DAN KACUNG PERPUSTAKAAN

“Lo-ceng hanya dapat membaca kitab, bersemedhi, menjemur buku dan menyapu lantai,” kata Kak Wan. “Mengenai ilmu silat sedikit pun aku tidak mengerti.”

Ho Ciok To tentu saja tak mau percaya. Seraya tertawa dingin ia lompat menerjang. Tiba-tiba ujung pedang itu berbalik dan meluncur ke dada si pendeta. Ternyata, dalam gerakannya yang pertama, yaitu pada waktu ujung pedang menuding ke dadanya sendiri, dia sedang mengumpulkan tenaga dalam dan kemudian secara mendadak membalikkan senjatanya dengan Iweekang. Jika Ho Ciok To menghadapi ahli silat biasa, serangan itu pasti akan berhasil. Akan tetapi Iweekang Kak Wan telah mencapai taraf di mana setiap gerakannya selalu terjadi secara wajar, menurut jalan pikirannya. Karena itu, meski pun pedang menyambar bagaikan kilat, jalan pikiran si pendeta lebih cepat dari sambaran pedang. Pada detik yang tepat, sebuah tahang melompat naik.

“Tangg...!”

Pedang menikam tahang dan lantas saja melengkung seperti bulan sabit. Ho Ciok To menarik pulang senjatanya, sedangkan tangan kirinya mengibas muka lawan. Sekali lagi tahang yang lain naik dan tangannya terpental ke samping. Dia kaget tercampur penasaran. Dia merasa pasti bahwa kedua tahang besi yang sangat berat itu takkan bisa menangkis ceceran pedang jika ia menyerang dengan menggunakan kecepatan. Berpikir begitu dia lantas saja berseru,

“Toa-hwesio, kali ini kau hati-hati!″

Pedangnya menggetar dan seperti kilat mengirim enam belas tikaman berantai.

“Tang-tangg-tanggg...!”

Enam belas kali berturut-turut Cap-lak-chiu Sun-lui-kiam (Pedang geledek enam belas kali menikam) menikam di tahang besi! Melihat gerak-gerik Kak Wan yang amat repot dan bingung waktu diserang, semua orang percaya bahwa memang sebenarnya dia tidak mengerti ilmu silat. Pada waktu Ho Ciok To baru mulai menyerang, semua orang sangat berkuatir.

“Ho-kiesu, jangan berlaku kejam!” teriak Bu Sek dan Bu Siang hampir berbareng,

“Ho-toako, jangan turunkan tangan jahat!” seru Kwee Siang.

Tapi sungguh heran, dalam caranya yang sangat luar biasa dan tidak sesuai dengan ilmu silat, Kak Wan mengangkat kedua tahang besi itu bolak balik dan semua tikaman itu mampir di tahang air. Biar pun semua orang bisa melihat bahwa si pendeta sebenarnya tak mengerti ilmu silat, tetapi Ho Ciok To sendiri yang serangannya digagalkan sehingga dia jadi sangat dongkol, sedikit pun tidak merasa bahwa lawannya menangkis tikamannya dengan gerakan wajar yang telah didapat berkat latihan Iweekang yang amat tinggi. Maka, sesudah Cap-lak-chiu Sun-lui-kiam gagal, sambil membentak keras dia menikam kempungan Kak Wan.

“Celaka!” seru si pendeta yang dalam repotnya merangkap kedua tangan yang mencekal tahang.

Berbareng dengan terdengarnya suara nyaring beradunya besi, pedang Ho Ciok To tergencet di antara kedua tahang. Buru-buru dia mengerahkan tenaga dalam dan membetot senjatanya, tapi sedikit pun tak bergeming. Cepat bagaikan kilat tangan kirinya menghantam muka lawan.

Semua orang terkesiap. Kak Wan yang sedang mencekal tahang besi tidak akan dapat menangkis lagi. Pada detik yang sangat berbahaya mendadak Thio Kun Po melompat dan menghantam pundak Ho Ciok To dengan pukulan Su-thong-pat-ta yang didapatnya dari Yo Ko. Pada saat yang bersamaan, Iweekang Kak Wan sudah mengalir masuk ke dalam tahang kemudian tiba-tiba saja sepasang ‘arus’ air menyembur dari kedua tahang itu dan menyambar muka Ho Ciok To hingga pukulannya kebentrok dengan air yang menyemprot dan kedua-duanya basah kuyup. Oleh karena tangan kanannya mencekal pedang yang digencet tahang air dan tangan kiri menyambut sambaran air, maka dia tidak bisa menangkis lagi pukulan Thio Kun Po.

“Bukk!” pukulan itu mengenai tepat di pundaknya.

Sekali lagi semua orang terkejut sebab Thio Kun Po yang masih seperti bocah itu ternyata memiliki Iweekang yang cukup tinggi sehingga badan Ho Ciok To bergoyang-goyang dan terhuyung ke belakang beberapa tindak.

“O-mi-to-hud!” teriak Kak Wan. “Ho-kiesu, ampuni Lo-ceng! Tikaman-tikamanmu ini amat menakutkan.“ Sehabis berkata begitu dia pun menyusuti air dan keringat yang membasahi mukanya lalu minggir ke samping.

Sekarang Ho Ciok To naik darah. “Kudengar di kuil Siauw-lim-si berkumpul banyak sekali orang pandai dan ternyata memang benar begitu,” katanya dengan suara dongkol. “Malahan seorang bocah cilik memiliki kepandaian yang sangat tinggi. Bocah! Marilah kita main-main. Jika kau bisa melayani aku dalam sepuluh jurus, Ho Ciok To tidak akan datang lagi ke wilayah Tiong-goan untuk selama-lamanya.”

Bu Sek, Bu Siang dan yang lain-lain tahu bahwa Thio Kun Po adalah kacung Cong-keng-kok dan sebegitu jauh belum pernah belajar silat. Entah bagaimana secara kebetulan dia berhasil memukul orang she Ho itu. Mereka yakin bahwa jika bertempur sungguh-sungguh maka dalam satu jurus saja bocah itu bisa binasa di tangan lawan.

“Ho-kiesu salah,” kata Bu Siang. “Kau bergelar Kun-lun Sam-seng dan ilmu silatmu menggetarkan seluruh jagat. Bagaimana kau boleh bertempur dengan satu kacung tukang masak air dan menyapu lantai? Jika kau tidak malu boleh kau main-main sepuluh jurus.”

Ho Ciok To menggelengkan kepala. “Tidak bisa!” katanya. “Hinaan pukulan itu, bagaimana bisa disudahi saja. Bocah! Sambutlah!”

Hampir berbareng dengan bentakannya, tangannya sudah menyambar ke dada Thio Kun Po. Jarak antara keduanya sangat dekat sehingga walau pun Bu Sek dan Bu Siang ingin menolong takkan keburu lagi. Semua orang menduga bahwa bocah itu segera akan terluka berat.

Diserang dengan pukulan hebat, kedua kaki Thio Kun Po sama sekali tidak bergerak. Dia hanya menggeser ujung kakinya ke kanan dan badannya turut berputar ke kanan. Dalam gerakan itu ia telah berhasil mengempos pukulan lawan. Hampir berbareng, dengan tinju kiri melindungi pinggang, telapak tangan kanan menyambar. Itulah pukulan Yu-coan-hoa-chiu (Pukulan menembus bunga), salah satu pukulan pokok dari ilmu silat Siauw-lim-pay. Yang luar biasa ialah, waktu memukul tubuhnya kokoh teguh laksana gunung, sedangkan pukulannya dahsyat bagaikan gelombang sungai Tiang-kang. Semua orang terkejut bukan main, karena pukulan itu bukan pukulan seorang pemuda yang masih hijau, tapi pukulan seorang tokoh kenamaan dari rimba persilatan.

Sesudah pundaknya terpukul, Ho Ciok To tahu bahwa tenaga dalam pemuda itu jauh lebih kuat dari pada Phoa Thian Keng dan dua saudara seperguruannya. Tapi dia yakin bahwa dalam sepuluh jurus akan dapat merobohkannya. Melihat sambaran Yu-coan-hoa-chiu yang sangat hebat, tanpa terasa dia memuji.

“Bocah! Lihay benar pukulanmu!”

Jantung Bu Siang ber-debar. Dia melirik Bu Sek dan berkata seraya tersenyum, “Bu Sek Sute, aku memberi selamat, ternyata diam-diam kau sudah mendapat murid berbakat!”

Bu Sek menggelengkan kepala dan berkata dengan suara perlahan. “Bukan...”

Sementara itu dengan beruntun Thio Kun Po mengirim empat serangan berantai, yaitu Auw-po-lat-kiong (Menggeser kaki menarik busur), Tan-hong-tauw-yang (Burung hong menghadap matahari), Siu-tek-kiat-chiang (Di bawah tangan baju memotong tangan) dan Jie-long-tan-jan (Jie-long memikul gunung). Setiap pukulan disertai dengan Iweekang yang sangat tinggi sehingga semua pendeta kagum bukan main. Thian Beng, Bu Sek, Bu Siang dan Cit-lo dari Sim-sian-tong saling mengawasi dengan hati berdebar-debar.

“Pukulan-pukulannya sangat bagus dan cepat, tapi itu masih dapat dimengerti,” kata Bu Siang. “Tetapi bagaimana dengan Iweekang-nya yang begitu hebat?”

Sesaat itu dengan paras muka ke-merahan Ho Ciok To mengirim pukulan yang keenam. “Sedangkan seorang bocah saja sudah tidak mampu aku jatuhkan, bagaimana aku berani datang ke Siauw-lim-si, perguruan tempatnya ilmu silat dan mengirim surat tantangan?“ pikirnya. “Bukankah perbuatanku hanya jadi bahan tertawaan orang gagah di kolong langit?”

Sambil berpikir demikian dia memutar badan kemudian menyerang dengan pukulan Thian-san-soat-piauw (Salju me-layang di gunung Thian-san), dalam sekejap seluruh tubuh Thio Kun Po dikurung dengan pukulan yang me-nyambar bagaikan turunnya salju.

Kecuali Yo Ko yang pernah memberi petunjuk kepadanya di puncak Hoa-san, Thio Kun Po belum pernah menerima pelajaran dari lain guru. Oleh karena itu dia jadi kaget bukan main ketika melihat serangan yang sehebat itu. Pada detik yang sangat berbahaya, dalam bingungnya dia memutar pinggang ke kiri, mengangkat kedua tangan sampai melewati dagu dan telapak tangan kiri berhadapan dengan telapak tangan kanan. Itulah pukulan Song-coan-chiu (pukulan sepasang lingkaran) dari Siauw-lim-pay, semacam pukulan yang teguh kokoh bagaikan gunung kalau disertai dengan tenaga Iweekang yang kuat dan dapat memunahkan segala rupa serangan. Maka itulah semua serangan Ho Ciok To, tak peduli dari mana datangnya, dapat ditangkis dengan Song-coan-chiu.

Sampai di situ kegirangan pihak Siauw-lim-si tidak dapat di-tahan lagi. Dengan serentak murid-murid Tat-mo-tong bersorak sorai. Selagi sorakan belum mereda, sambil membentak keras Ho Ciok To meninju dada lawan. Pukulan itu adalah pukulan biasa saja, tapi disertai dengan tenaga dalam yang sangat dahsyat. Kun Po menolak dengan kedua telapak tangannya dalam pian-hoa-cit-seng.

“Bukk!”

Telapak tangan dan tinju beradu keras. Badan Ho Ciok To ber-goyang sedangkan tubuh Thio Kun Po terhuyung ke belakang beberapa tindak.

“Huhh!” demikian terdengar suara Ho Ciok To yang tanpa tenaga dalam sudah mengubah gerakannya lalu maju setindak dan sekali lagi mengirim tinju dengan sepenuh tenaga. Thio Kun Po yang ilmu silatnya sangat terbatas, kembali menangkis dengan Pian-hoa-cit-seng yaitu mendorong dengan kedua telapak tangannya.

“Bukk!”

Tubuh Thio Kun Po sempoyongan lima tindak ke belakang, sedangkan badan Ho Ciok To terhuyung ke depan.

“Tinggal satu pukulan lagi!” bentaknya dengan paras muka pucat. “Sambutlah dengan seantero tenagamu!” Dia maju dua tindak, memasang kuda-kuda dan mengirim pukulan dengan gerakan perlahan.

Sesaat itu ratusan pendeta Siauw-lim-si mengawasi sambil menahan napas. Semua orang yakin bahwa dengan pukulan itu Ho Ciok To mempertaruhkan nama besarnya dan bahwa dia tentu menggunakan seantero tenaga Iweekang yang dimilikinya. Untuk ketiga kalinya Kun Po menyambut dengan Pian-hoa-cit-seng. Sekali ini beradunya tinju dengan telapak tangan tidak mengeluarkan suara apa pun. Kedua lawan dengan berbareng mengempos semangat mengerahkan seluruh Iweekang mereka. Mengenai ilmu silat, Ho Ciok To lebih unggul ratusan kali lipat dari pada Thio Kun Po, tapi dalam hal tenaga Iweekang ia masih belum bisa mengatasi pemuda itu. Semua orang tak pernah bermimpi bahwa secara kebetulan Kun Po sudah memperoleh pelajaran dari Kiu-yang Cin-keng dan memiliki tenaga dalam yang sudah mencapai tingkat tinggi. Mereka sama-sama bertahan sambil memusatkan seantero tenaga dalam pada tangan mereka.

“Huhh!” Ho Ciok To mengeluarkan suara dan berbareng itu se-konyong-konyong dia mundur satu tindak karena dia merasa darahnya meluap ke atas. Sebisa-bisanya dia masih mencoba mempertahankan diri, tetapi mendadak matanya gelap dan dia lantas muntahkan darah dari mulutnya.

Walau tidak tahu apa artinya memuntahkan darah itu, tetapi begitu tahu bahwa lawannya terluka berat, Thio Kun Po menjadi kaget bukan main.

“Celaka!” teriaknya sambil memburu untuk memapah lawan.

Ho Ciok To mengibas tangannya dan seraya tertawa getir, dia berkata. “Ho Ciok To! Ho Ciok To! Kau orang edan!” Dia berpaling ke arah Thian Beng Siansu dan menyoja sampai ke tanah. “Ilmu silat Siauw-lim-si tersohor ribuan tahun dan benar saja nama itu bukan nama kosong,” katanya. “Hari ini aku bisa membuka kedua mataku lebih lebar.”

Sehabis berkata begitu ia memutar badan dan dengan sekali menotol tanah dengan ujung kakinya, tubuhnya melesat beberapa tombak jauhnya. Ia berhenti sebentar dan menengok ke arah Kak Wan.

“Kak Wan Taysu,” katanya perlahan. “Orang itu mengatakan bahwa ‘kitab suci berada di dalam minyak’. Dia minta agar aku menyampaikan perkataannya kepadamu.“

Di lain saat dengan menotol tanah beberapa kali dengan ujung kakinya, ia sudah berada di luar dari rentetan pohon pek yang tumbuh di sepanjang jalan. Semua pendeta merasa kagum bukan main, karena sesudah terluka berat dia masih bisa bergerak begitu cepat. Kepandaian dan keuletan itu sesungguhnya jarang terdapat di rimba persilatan. Sesudah musuh berlalu, semua pendeta segera mengawasi Thian Beng untuk mendengar perintah lebih jauh. Tiba-tiba seorang pendeta tua yang bertubuh kurus dari Cit-lo Sim-sian-tong berkata dengan suara nyaring dan menyeramkan.

“Siapa yang sudah menurunkan ilmu silat kepada murid itu?”

Semua orang langsung bergidik mendengar suara itu yang menyerupai bunyinya seekor burung malam. Thian Beng, Bu Sek dan Bu Siang yang juga ingin mengajukan pertanyaan tersebut, dengan serentak mengawasi Kak Wan dan Thio Kun Po. Tapi guru dan murid itu tidak lantas menjawab. Mereka berdiri bengong dengan mulut ternganga.

“Kak Wan memiliki Iweekang yang sangat tiggi, tetapi bisa dilihat nyata bahwa dia belum pernah belajar ilmu silat,” kata Thian Beng. “Yang sangat mengherankan adalah ilmu silat Siauw-lim dari anak itu. Siapakah yang sudah mengajarkannya?”

Semua murid Tat-mo-tong dan Lo-han-tong menunggu jawaban dengan hati ber-debar. Semua orang menganggap bahwa bocah itu yang sudah merobohkan musuh sedemikian tangguh, pasti bakal mendapat hadiah besar, sedang gurunya pun akan mendapat pujian tinggi. Melihat Thio Kun Po tidak menjawab pertanyaannya, alis si pendeta tua mendadak berdiri dan paras mukanya terdapat sinar pembunuhan.

”Hei! Aku tanya kau. Siapakah yang mengajarkan Lo-han-kun kepadamu?!” tanyanya dengan suara keras.

Thio Kun Po segera merogoh saku dan mengeluarkan sepasang Thi-lo-han (Lo-han besi) yang diberikan kepadanya oleh Kwee Siang.

“Teecu (murid) belajar dari kedua Thi-lo-han ini,” jawabnya. “Dengan se-benarnya Teecu belum pernah mendapat pelajaran ilmu silat dari siapa pun.”

Si pendeta tua maju setindak dan berkata dengan suara perlahan. “Kau bicaralah se-tulusnya. Siapa yang sudah menurunkan ilmu silat kepadamu?”

Walau pun diucapkan seperti berbisik, suara itu disertai Iweekang yang tinggi, dapat terdengar nyata oleh semua orang. Thio Kun Po merasa sangat kecewa, tapi karena tidak merasa bersalah maka sedikit pun dia tidak merasa keder biar pun melihat paras muka si pendeta tua yang menyeramkan.

“Tidak, di kuil ini belum pernah ada seorang pun yang mengajarkan ilmu silat kepada Teecu,” katanya dengan suara nyaring. “Teecu selalu berdiam di Cong-keng-kok, menyapu lantai, memasak air dan melayani Kak Wan Suhu. Beberapa pukulan Lo-han-kun itu telah dipelajari oleh Teecu sendiri dan jika ada gerak-gerik yang kurang benar, Teecu mohon Lo-suhu sudi memberi petunjuk”.

Si pendeta tua mengeluarkan suara di hidung dan kedua mata yang ber-api itu menatap wajah Thio Kun Po. Lama sekali dia mengawasi muka pemuda itu tanpa mengeluarkan sepatah kata. Kak Wan tahu bahwa pendeta Sim-sian-tong itu memiliki kedudukan yang sangat tinggi di Siauw-lim-si dan dia adalah Susiok (paman guru) dari Thian Beng Siansu. Melihat sikap Si tua tehadap muridnya, dia sungguh tak mengerti. Waktu kedua matanya bentrok dengan mata pendeta tua yang penuh dengan sorot kebencian, tiba-tiba di otaknya berkelebat suatu ingatan. Dia ingat bahwa dua puluh tahun lebih berselang, secara kebetulan dalam Cong-keng-kok dia mendapatkan sejilid buku tipis dengan tulisan tangan, yang mencatat peristiwa besar di kuil Siauw-lim-si. Kejadiannya seperti berikut.

Pada tujuh puluh tahun lebih yang lalu, Hong-thio kuil Siauw-lim-si adalah Kouw Ti Siansu, Sucouw atau kakek guru dari Thian Beng Siansu. Menurut adat, setiap setahun sekali ada hari perayaan Tiong-cu dan pada hari itu pula di Tat-mo-tong diadakan ujian ilmu silat yang dikepalai oleh Hong-thio, sui-co dari Tat-mo-tong dan Lo-han-tong. Tujuan dari ujian itu adalah untuk melihat kemajuan para murid Siauw-lim-si selama satu tahun. Tapi di luar dugaan, waktu diadakan ujian pada tahun itu telah terjadi suatu peristiwa yang amat menyedihkan. Setelah semua murid memperlihatkan kepandaiannya, pemimpin Tat-mo-tong, Kouw Ti Siansu, segera naik ke mimbar dan membincangkan kepandaian setiap murid. Selagi Kouw Ti enak bicara, tiba-tiba muncul seorang Tauw-to, atau pendeta yang memelihara rambut, yang lantas saja berteriak,

“Omongan Kouw Ti Siansu omongan kentut anjing! Dia sebenarnya tidak tahu apa artinya ilmu silat, tapi dengan berani mati dia menduduki kursi Sui-co dari Tat-mo-tong. Sungguh memalukan!”

Dengan terkejut semua pendeta mengawasi orang itu yang ternyata adalah Tauw-to yang bekerja di dapur sebagai tukang menyalakan api. Sebelum guru mereka membuka mulut, murid Tat-mo-tong balas mencaci dengan kemarahan yang meluap-luap.

“Kalian jangan banyak bacot!” teriak Si Tauw-to. “Gurunya kentut anjing, muridnya pun kentut anjing!” Sehabis memaki dia berdiri di tengah ruangan dengan sikap menantang.

Sejumlah pendeta lantas maju hendak menghajar Tauw-to, namun satu demi satu mereka dirobohkan secara mudah sekali. Dan yang lebih hebat lagi adalah si Tauw-to tak berlaku sungkan. Sembilan murid utama dari Tat-mo-tong dijatuhkan dengan luka berat atau patah kaki tangannya. Kouw Ti Siansu kaget bercampur marah. Ia mendapat kenyataan bahwa ilmu silat Tauw-to itu adalah ilmu Siauw-lim-pay sehingga dia bukan orang luar yang sengaja datang untuk mengacau. Sambil menahan amarah, Kouw Ti menanyakan siapa gurunya.

“Aku belajar sendiri, tak ada satu manusia pun yang mengajari aku,” jawabnya.

Apa latar belakang perbuatan Tauw-to itu? Ternyata selama beberapa tahun ini dia sering dianiaya oleh penilik bagian dapur yang beradat berangasan dan suka main pukul bawahannya. Sering kali dia muntah darah akibat pukulan penilik dapur itu yang selalu turun tangan tanpa mengenal kasihan. Dengan mendendam sakit hati yang sangat besar, diam-diam ia belajar silat. Ia mendapat kesempatan luas untuk mencuri pelajaran karena hampir semua murid Siauw-lim-si pandai ilmu silat. Jika seseorang bertekad melakukan serupa pekerjaan, lama atau cepat ia pasti akan berhasil.

Dengan dibantu kecerdasan otaknya yang melebihi manusia biasa, maka dalam tempo belasan tahun dia mempunyai kepandaian yang amat tinggi. Tetapi dia masih tetap menyembunyikan kepandaiannya dan terus bekerja sebagai tukang menyalakan api. Kalau dipukul si penilik dapur, dia sama sekali tidak melawan. Berkat Iweekang-nya yang sangat kuat, sekarang dia tidak takut lagi segala pukulan. Dengan sabar dia berlatih terus. Sesudah merasa bahwa kepandaiannya berada di atas semua pendeta Siaw-lim-si, pada hari ujian silat, di hari Tiong-cu, barulah dia turun tangan.

Sakit hati yang telah dipendam belasan tahun lamanya menyebabkan di lubuk hatinya tertanam rasa benci kepada semua pendeta Siauw-lim-si. Maka itu dia menyerang tanpa sungkan lagi. Setelah mengetahui sebab musabab kejadian itu, Kouw Ti Siansu tertawa seraya berkata,

“Aku sungguh merasa kagum akan ketekunanmu.“

Ia turun dari mimbar dan pertempuran hebat terjadi. Pada masa itu Kouw Ti adalah orang yang berkepandaian paling tinggi di kuil Siauw-lim-si. Mereka berdua serang menyerang menggunakan ilmu-ilmu pukulan yang paling hebat dan dalam tempo cepat sudah bertempur kurang lebih 500 jurus. Semakin lama pertempuran semakin hebat sehingga mencapai satu titik yang sangat berbahaya. Pada saat itu, karena mengingat jerih payahnya si Tauw-to untuk bisa memiliki kepandaian yang begitu tinggi, dalam hati Kouw Ti muncul perasaan sayang dan kasihan. Maka itu sambil mementang kedua tangannya, dia membentak.

“Mundurlah!”

Tetapi sungguh sayang, si Tauw-to salah terima maksud baik orang. Dia menduga bahwa dengan mementang kedua tangannya, Kouw Ti Siansu ingin menyerang dengan Sin-ciang Pat-ta (Delapan pukulan Tangan Malaikat), yaitu salah satu ilmu terlihay dari Siauw-lim-si. Dia lantas ingat bahwa waktu berlatih dengan ilmu itu, seorang murid Tat-mo-tong pernah mematahkan satu balok kayu dengan pukulan kedua tangannya, maka dia tahu hebatnya Sin-ciang Pat-ta. Biar bagaimana pun juga, biar memiliki kepandaian tinggi tapi karena dia belajar dengan mencuri dan tidak mendapat petunjuk guru yang pandai, maka dia masih belum bisa menyelami ilmu Siauw-lim-pay sampai di dasarnya.

Dia sama sekali tidak tahu bahwa dengan mementang kedua tangannya, Kouw Ti Siansu sebetulnya mengerahkan pukulan Hun-kay-ciang (pukulan memecah dan membuka) untuk meminjam dan memindahkan tenaga, dengan tujuan menghentikan pertempuran begitu kedua belah pihak melompat mundur. Dia justru menduga bahwa Kouw Ti Siansu hendak menggunakan Pi-sim-ciang (pukulan pembelah hati), pukulan keenam dari Sin-ciang Pat-ta. Dengan menduga begitu, dia berkata dalam hatinya: “Tidak begitu gampang kau ambil jiwaku!” Dia pun melompat sambil memukul dengan kedua tangannya. Pukulan sepasang tangan itu menyambar bagaikan gunung roboh. Dengan hati mencelos Kouw Ti Siansu buru-buru membalik tangannya untuk menangkis, tapi sudah tak keburu lagi.

“Bukk!”

Diiringi satu suara, tulang lengan kiri dan empat tulang dadanya patah! Semua pendeta terkejut dan bingung. Dengan serentak mereka memburu memberi pertolongan. Tapi Kouw Ti yang telah terluka berat hanya ter-sengal napasnya dan tidak dapat mengeluarkan sepatah kata lagi. Malam itu juga dia menutup mata. Selagi seluruh Siauw-lim-si diliputi kedukaan besar, malam itu secara diam-diam si Tauw-to menyatroni dan membinasakan si pendeta penilik dapur beserta lima pendeta lain yang mempunyai ganjalan dengannya.

Peristiwa itu menimbulkan kegemparan dan kemarahan yang tiada taranya dalam sejarah Siauw-lim-si. Pendeta pimpinan lantas mengirim puluhan pendeta yang mempunyai kepandaian tinggi untuk membekuk Tauw-to kejam itu. Tapi sesudah mencari ke sana sini di seluruh Kang-lam dan Kang-pak (daerah sebelah selatan dan utara Sungai Besar), usaha mereka tidak berhasil. Akibat dari peristiwa itu, belakangan di Siauw-lim-si muncul gelombang perebutan kekuasaan dan saling salah menyalahkan. Dalam marahnya, pemimpin Lo-han-tong, Kouw Hui Siansu, pergi ke See-hek di mana dia kemudian membentuk sebuah cabang Siauw-lim-pay. Phoa Thian Keng dan dua saudara seperguruannya adalah murid Kouw Hui Siansu.

Demikian bunyi catatan dalam buku tipis itu yang kebetulan dapat dibaca oleh Kak Wan. Setelah itu ilmu silat Siauw-lim-si merosot banyak. Untuk mencegah terulangnya kejadian itu, para pemimpin segera mengadakan peraturan bahwa setiap murid Siauw-lim-si hanya boleh belajar silat di bawah pimpinan guru dan bahwa siapa pun juga tidak boleh mencuri belajar. Orang yang melanggar diancam hukuman sangat berat. Hukuman yang paling enteng adalah diputuskan tulang dan uratnya agar dia menjadi cacat.

Selama puluhan tahun peraturan itu dipertahankan dengan keras dan tak pernah terjadi lagi peristiwa mencuri belajar silat. Sesudah lewat banyak tahun, per-lahan orang mulai melupakan peristiwa hebat itu. Pendeta tua anggota Sim-sian-tong itu adalah salah seorang dari murid Kouw Ti Siansu. Selama puluhan tahun dia tidak pernah melupakan kebinasaan gurunya yang benar-benar menyedihkan. Oleh karena itulah, begitu tahu Thio Kun Po memiliki ilmu silat tinggi tanpa mempunyai guru, kejadian yang sudah lampau kembali terbayang di depan matanya dan rasa sedih serta marah me-luap-luap dalam hatinya. Teringat apa yang telah dibacanya, tanpa terasa Kak Wan mengeluarkan keringat dingin.

“Lo-hong-thio!” teriaknya. “Ini... Kun Po...”

Belum habis perkataannya, Bu Siang Siansu telah membentak. “Murid2 Tat-mo-tong! Majulah! Bekuk dia!”

Hampir berbareng dengan perintah itu, delapan belas murid Tat-mo-tong segera melompat maju mengurung Kak Wan dan muridnya. Karena mereka membuat lingkaran besar maka Kwee Siang turut terkurung di dalamnya.

“Murid-murid Lo-han-tong! Mengapa kalian belum mau maju?” seru si pendeta Sim-sian-tong.

Semua murid Lo-han-tong langsung bergerak serentak dan membuat tiga lingkaran lain di luar lingkaran murid Tat-mo-tong, Thio Kun Po menjadi bingung bukan main. Apakah dengan mengalahkan Ho Ciok To, dia telah melanggar peraturan kuil?

“Suhu!” teriaknya. “Aku... aku...“

Kurang lebih sepuluh tahun Kak Wan hidup ber-sama muridnya sehingga kecintaan mereka tiada bedanya seperti ayah dan anak. Dia tahu bahwa jika Kun Po sampai kena ditangkap, biar pun tidak mati, dia bakal menjadi orang cacad.
“Kalau tak mau turun tangan sekarang, mau tunggu sampai kapan lagi?!” terdengar bentakan Bu Siang Siansu.

Delapan belas murid Tat-mo-tong lantas mendesak dengan hebatnya. Tanpa berpikir lagi Kak Wan memutar sepasang tahang besi yang membuat sebuah lingkaran, disertai tenaga Iweekang-nya yang sangat dahsyat sehingga semua pendeta-pendeta itu tidak bisa maju. Senjatanya bagaikan sepasang bandringan, kedua tahang besi itu ter-putar hingga murid-murid Tat-mo-tong terpaksa melompat ke belakang untuk menyelamatkan diri.

Sesudah semua penyerang terpukul mundur, tiba-tiba Kak Wan menyapu dengan kedua tahangnya sehingga Kun Po masuk ke tahang kanan dan Kwee Siang masuk ke tahang kiri. Bagaikan terbang dia turun gunung dengan memikul kedua orang muda itu. Semakin lama suara berkerincingnya rantai menjadi semakin jauh dan beberapa saat kemudian, tidak kedengaran lagi.

Karena peraturan Siauw-lim-si selalu dijalankan dengan keras, maka sesudah Siu-co Tat-mo-tong mengeluarkan perintah menangkap Thio Kun Po, semua murid Tat-mo-tong lantas menguber walau pun tahu tidak akan dapat menyandak. Dalam pengejaran itu segera tampaklah siapa yang memiliki kepandaian lebih rendah dan ilmu mengentengkan tubuhnya masih agak cetek, lantas saja ketinggalan di belakang.

Sesudah siang berganti malam, hanya lima orang saja yang masih mengejar terus. Jalanan terpecah jadi beberapa cagak. Mereka bingung tidak tahu jalan mana yang diambil Kak Wan. Demikianlah, mau tidak mau dengan masgul mereka kembali ke kuil untuk mendengar perintah lebih jauh.

LAHIRNYA TIGA PERGURUAN BESAR

Sesudah kabur lebih dari seratus li, barulah Kak Wan berani menghentikan tindakannya. Ternyata dia sudah masuk ke gunung yang sepi. Meski memiliki Iweekang yang sangat tinggi, tapi setelah berlari begitu lama dengan pikulan yang begitu berat, kini dia sudah tidak bertenaga lagi. Kwee Siang dan Kun Po lantas melompat keluar dari tahang yang separuhnya masih penuh air. Seluruh tubuh mereka basah kuyup dan sesudah mengalami kekagetan hebat, paras muka mereka masih kelihatan pucat.

“Suhu,” kata Kun Po. “Kau mengaso dulu di sini, aku mau pergi mencari makanan.”

Tapi di gunung yang sepi ini, di mana dia bisa mencari makanan? Setelah pergi beberapa jam, dia kembali dengan hanya membawa buah-buahan hutan. Sesudah menangsal perut, mereka pun mengaso dengan menyender di bebatuan.

“Toa-hwesio,” kata Kwee Siang. “Para pendeta Siauw-lim-si kelihatannya aneh-aneh.”

Kak Wan tidak menjawab. Ia hanya mengeluarkan suara mendengus. “Hmm...!”

“Benar-benar gila,” kata pula si nona. “Di kuil itu tak ada seorang pun yang bisa melawan Kun-lun Sam-seng Ho Ciok To, yang hanya dapat dipukul mundur dengan mengandalkan tenaga kalian berdua. Tapi sebaliknya dari berterima kasih, mereka bahkan berbalik mau menangkap saudara Thio. Sungguh gila! Agaknya mereka tidak dapat membedakan yang mana hitam dan yang mana putih.”

Kak Wan menghela napas. “Dalam hal ini kita tidak dapat menyalahkan Lo-hong-thio dan Bu Siang Suheng,” katanya. “Di Siauw-lim-si terdapat sebuah peraturan...” Ia tidak bisa meneruskan perkataannya karena lantas batuk tak hentinya.

“Toa-hwesio, kau terlalu letih,” kata Kwee Siang seraya me-mukul-mukul punggung si pendeta. “Besok saja baru kau ceritakan.”

Kak Wan menghela napas. “Benar, aku terlalu capai,“ katanya.

Thio Kun Po segera mengumpulkan cabang-cabang kering lalu membuat perapian untuk mengeringkan pakaian Kwee Siang serta pakaiannya sendiri. Sesudah itu mereka bertiga lalu tidur di bawah satu pohon besar. Tengah malam si nona tersadar. Tiba-tiba dia mendengar Kak Wan bicara seorang diri, seperti juga sedang menghafat kitab suci. Antara lain ia berkata,

“...Tenang dia merintangi kulit dan buluku, niatku sudah masuk ke tulang dia. Dan tangan saling bertahan. Hawa menembus. Yang di kiri berat, yang di kanan kosong, sedang yang di kanan sudah pergi. Yang kanan berat, yang kiri kosong, yang kiri sudah pergi...“

Sekarang Kwee Siang mendapat kepastian bahwa apa yang dihafalkan si pendeta adalah kitab ilmu silat.

“Toa-hwesio tidak mengerti ilmu silat, tapi dia seorang kutu buku yang suka membaca dan menghafal semua yang dihadapinya,” katanya dalam hati. “Beberapa tahun berselang, dalam pertempuran pertama di puncak Hoa-san, ia telah memberi-tahu bahwa di samping kitab Leng-keh-keng, Tat-mo Lo-couwsu juga menulis sebuah kitab iImu silat yang dinamakan Kiu-yang Cin-keng. Dia mengatakan bahwa pelajaran dalam kitab itu dapat menguatkan dan menyehatkan badan. Tapi sesudah berlatih menurut petunjuk kitab itu, tanpa merasa guru dan murid itu telah memanjat tingkatan yang sangat tinggi di dunia persilatan. Hari itu, pada waktu diserang oleh musuhnya Siauw Siang Cu, dengan satu kali membalas saja dia berhasil melukai penyerangnya. Kepandaian yang setinggi itu belum tentu dimiliki Thia-thia atau Toakoko. Cara Thio Kun Po merobohkan Ho Ciok To lebih mengagumkan. Apakah itu semua bukan berkat pelajaran Kiu-yang Cin-keng? Apakah yang barusan dihafalnya bukan Kiu-yang Cin-keng?”

Mengingat begitu, perlahan-lahan supaya tidak mengagetkan si pendeta, dia pun bangun lalu duduk. Dia memasang kuping terang-terang dan mengingat-ingat apa yang dikatakan Kak Wan “Kalau benar apa yang dihafal Toa-hwesio adalah Kiu-yang Cin-keng, tentu aku tidak akan bisa menyelami artinya dalam tempo cepat,” pikirnya. “Biarlah besok aku minta petunjuknya.”

Sesaat kemudian, Kak Wan berkata-kata pula, “...Lebih dulu dengan menggunakan hati memerintahkan badan, mengikuti orang lain, tidak mengikuti kemauan sendiri. Belakangan badan bisa mengikuti kemauan hati. Menurut kemauan hati dengan tetap mengikuti orang. Mengikuti kemauan sendiri artinya mandek, mengikuti orang lain artinya hidup. Dengan mengikuti kemauan orang lain, kita bisa mengukur besar kecilnya tenaga orang itu, bisa mengenal panjang pendeknya lawan. Dengan adanya pengetahuan itu, bisa maju dan bisa mundur dengan leluasa.”

Mendengar sampai di situ Kwee Siang lantas meng-gelengkan kepala. “Tidak benar, tidak benar,“ katanya dalam hati. “Ayah dan ibu sering mengatakan bahwa kalau berhadapan dengan lawan kita harus lebih dahulu mengusai lawan dan jangan sampai diri kita dikuasai oleh lawan. Apa yang dikatakan Toa-hwesio tidak benar.”

Selagi si nona memikirkan perkataan Kak Wan, si pendeta berkata lagi. “Lawan tak bergerak, kita tidak bergerak. Lawan bergerak sedikit, kita mendahului. Tenaga seperti juga longgar, tetapi tidak longgar, hampir dikeluarkan, tetapi belum dikeluarkan. Tenaga putus, pikiran putus...”

Makin mendengarkan Kwee Siang semakin bingung. Semenjak kecil dia sudah dididik bahwa ‘orang yang bergerak lebih dulu akan mengusai lawan, sedangkan yang terlambat gerakannya akan dikuasai lawan’. Dengan lain perkataan, pokok dasar lmu silatnya ialah ‘mendahului lawan’. Tapi Kak Wan mengatakan bahwa ‘mengikuti kemauan sendiri artinya mandek, mengikuti kemauan orang lain artinya hidup’. Dan semuanya itu adalah sangat bertentangan dengan apa yang telah dipelajarinya.

“Jika aku berhadapan dengan musuh dan pada saat penting aku mengikuti kemauannya, musuh mau ke timur aku ikut ke timur, musuh mau ke barat aku juga ke barat, bukankah dengan demikian aku seolah-olah mencari penggebuk sendiri?” katanya dalam hati.

Perlu diketahui bahwa ilmu silat yang berpokok dasar ‘Menguasai lawan dengan bergerak belakangan’ baru dihargai orang pada jaman kerajaan Beng, yaitu pada jaman makmurnya partai Bu-ciang-pay. Waktu itu adalah akhir dari jaman kerajaan Song, sebab itu dapatlah dimengerti kalau perkataan Kak Wan sangat membingungkan hati Kwee Siang. Dengan adanya kesangsian itu maka banyak perkataan si pendeta tidak dapat ditangkap Kwee Siang. Ketika ia melirik, ia melihat Thio Kun Po sedang bersila dan mendengarkan perkataan gurunya dengan penuh perhatian.

“Biarlah, tidak peduli dia benar atau salah, aku dengarkan saja,” pikirnya. “Dengan mataku sendiri aku menyaksikan Toa-hwesio melukai Siauw Siang Cu dan mengusir Ho Ciok To. Sebagai orang yang mempunyai kepandaian begitu tinggi, apa yang dikatakannya itu tentu memiliki alasan kuat.“

Karena berpikir demikian, ia lantas memusatkan pikirannya dan mendengarkan setiap perkataan yang diucapkan si pendeta. Kak Wan menghafal terus dan kadang dalam kata-katanya terselip bagian dari kitab Leng-keh-keng. Hal ini bisa terjadi karena Kiu-yang Cin-keng sebenarnya ditulis di antara huruf kitab Leng-keh-keng sehingga si pendeta, yang sifatnya agak tolol, dalam menghafal Kiu-yang Cin-keng, menyelipkan kata-kata dari kitab itu.

Tentu saja Kwee Siang jadi semakin bingung. Tapi berkat kecerdasan otaknya, ia berhasil juga menangkap sebagian dari apa yang didengarnya. Rembulan mendoyong ke barat dan makin lama suara si pendeta semakin perlahan.

“Toa-hwesio,” kata si nona dengan suara membujuk. “Kau sudah sangat capek, tidurlah lagi.”

Tetapi Kak Wan seperti juga tidak mendengarnya dan berkata pula dengan suara lebih keras.

”...Tenaga dipinjam dari orang. Hawa dikeluarkan dari tulang punggung. Dari dua pundak masuk di tulang punggung lalu berkumpul di pinggang. Inilah hawa yang dari atas turun ke bawah dan dinamakan ‘Hap’ (Menutup). Kemudian, dari pinggang hawa itu naik ke tulang punggung dan dari tulang punggung kemudian meluas sampai di lengan dan bahu tangan. Inilah hawa yang naik dari bawah ke atas dan dinamakan ‘Kay’ (Membuka). ‘Hap’ berarti mengumpulkan, sedangkan ‘Kay’ berarti melepaskan. Siapa yang paham tentang artinya ‘Hap’ dan ‘Kay’ akan mengerti juga artinya Im-Yang (negatif dan positif)...”

Suaranya semakin perlahan dan akhirnya tidak terdengar lagi, seperti orang sudah pulas. Kwee Siang dan Thio Kun Po tak berani mengganggu, mereka hanya mengingat apa yang barusan didengar. Tak lama kemudian bintang mulai menghilang, rembulan menyilam ke barat dan setelah cuaca berubah gelap untuk kira-kira semakanan nasi, di sebelah timur mulai kelihatan sinar terang. Kak Wan masih tetap bersila sambil meramkan kedua matanya, sedangkan badannya tak bergerak dan pada bibirnya tersungging satu senyuman.

“Kwee-kouwnio, apakah kau tidak lapar?” bisik Kun Po. “Aku hendak pergi sebentar untuk mencari buah-buahan.”

Ketika menengok, dia lihat berkelebatnya satu bayangan manusia di belakang pohon dan samar-samar orang itu seperti juga mengenakan jubah pertapaan warna kuning. Ia terkesiap dan membentak:

“Siapa?!”

Seorang pendeta tua yang bertubuh jangkung muncul dari belakang pohon dan pendeta itu bukan lain dari pada pemimpin Lo-han-tong, Bu Sek Siansu. Kwee Siang kaget campur girang.

“Toa-hwesio,” tegurnya. “Kenapa kau terus membuntuti? Apakah kau juga mau menangkap guru dan murid ini?”

“Biar bagaimana pun juga Lo-ceng (aku si pendeta tua) masih bisa melihat apa yang benar dan apa yang salah,” jawabnya dengan paras muka sungguh-sungguh. “Aku bukan seorang yang tak tahu peraturan. Sudah lama sekali Lo-ceng tiba di sini dan jika mau turuh tangan, Lo-ceng tentu tidak akan menunggu sampai sekarang. Kak Wan Sute, Bu Siang Siansu dan murid Tat-mo-tong mengejar kejurusan timur. Lekas kalian lari ke sebelah barat.”

Tapi pendeta itu terus bersila dan sedikit pun tidak bergerak. Kun Po mendekati seraya memanggil.

“Suhu, bangunlah! Lo-han-tong Siu-co ingin bicara denganmu.”

Kak Wan bersila terus. Dengan jantung memukul keras, Kun Po menyentuh pipi gurunya yang dingin bagaikan es. Ternyata Kak Wan sudah meniggal dunia. Si murid munubruk dan memeluk gurunya sambil mengeluarkan teriakan yang menyayat hati.

“Suhu! Suhu!” teriaknya sambil menangis tersedu-sedu.

Bu Sek Siansu merangkapkan kedua tangannya dan berkata dengan suara perlahan,

“Di langit tidak ada awan, di empat penjuru terang benderang, angin membawa bau harum, seluruh gunung sunyi senyap. Hari ini bertemu dengan kebahagiaan besar. Terbebas dari bahaya dan terbebas pula dari segala penderitaan. Apa tak pantas untuk diberi selamat?” Sehabis berdoa, orang beribadat itu segera berlalu tanpa mengeluarkan sepatah kata lagi.

Bukan hanya Kun Po saja, Kwee Siang pun mengucurkan air mata. Sesuai dengan agama mereka, jenazah semua pendeta Siauw-lim-si yang meninggal dunia harus diperabukan. Maka Kwee Siang dan Kun Po lalu mengumpulkan kayu dan cabang kering kemudian membakar jenazah Kak Wan. Sesudah perabuan itu beres, Kwee Siang berkata dengan suara terharu.

“Saudara Thio, kurasa pendeta Siauw-lim-si akan terus berusaha untuk menangkap kau. Karena itu kau harus berlaku hati-hati. Di sini saja kita berpisah dan di kemudian hari kita tentu akan mendapat kesempatan bertemu lagi.”

Air mata si pemuda itu mengalir turun di kedua pipinya. “Kwee-kouwnio,” katanya dengan suara parau. “Ke mana saja kau pergi, aku ikut denganmu.”

Mendengar jawaban itu, si nona merasa pilu bukan main. Maka dia berkata dengan suara gemetar.

“Aku adalah orang yang tengah menjelajah dunia dan aku sendiri pun tak tahu ke mana bakal menuju.“ Ia berdiam sejenak, lantas berkata pula. “Saudara Thio berusia sangat muda dan tidak punya pengalaman di dunia Kangouw, di samping itu pendeta-pendeta Siauw-lim-si tentu bakal terus menerus menguber kau. Begini saja...“ Sampai di sini ia meloloskan gelang emas dari pergelangan tangannya lalu menyerahkannya kepada pemuda itu dan berkata pula, “Bawalah gelang ini ke kota Siang-yang dan minta bertemu dengan ayah ibuku. Mereka pasti akan memperlakukan kau dengan baik. Begitu kau telah berada di bawah perlindungan kedua orang tuaku, para pendeta Siauw-lim-si pasti tidak akan menyulitkan kau lagi.“

Dengan air mata berlinang-linang Kun Po menerima gelang emas itu. Sesaat kemudian Kwee Siang berkata pula dengan suara serak.

“Beri-tahukanlah kedua orang tuaku bahwa aku tak kurang suatu apa pun dan aku harap mereka tidak memikirkan diriku. Ayahku paling suka dengan pemuda yang gagah dan sesudah bertemu dengan kau mungkin sekali dia akan mengambil kau sebagai murid. Adikku sederhana dan polos, dan aku merasa pasti ia bisa bergaul rapat denganmu. Hanya Cici-ku yang agak sombong dan jika ada orang yang punya salah sedikit saja, dia lantas menyemprotnya tanpa sungkan. Tapi asal kau bisa mengalah, kurasa tak bakal terjadi apa-apa yang tidak diinginkan.“ Sehabis berkata dia memutar badan kemudian berjalan pergi.

Dapatlah dibayangkan bagaimana besarnya kedukaan Thio Kun Po. Dengan berlalunya Kwee Siang ia merasa hidup sebatang kara di dunia yang luas. Lama, lama sekali dia berdiri bengong di depan tumpukan sisa kayu dan abu bekas membakar gurunya. Sesudah kenyang memeras air mata, dengan hati seperti diris-iris, per-lahan dia berjalan pergi. Akan tetapi baru saja belasan tombak, dia kembali lagi lalu mengambil pikulan serta sepasang tahang besi peninggalan mendiang gurunya. Sesudah itu dia baru meninggalkan tempat dengan tindakan limbung, kesepian dan kedukaan besar.

Berselang kurang lebih setengah bulan, ia tiba di daerah Ouwpak tak jauh lagi dari kota Siang-yang. Berkat pertolongan Bu Sek Siansu, untung di perjalanan tidak bertemu dengan pengejar-pengejarnya. Hari itu di waktu lohor ia berada di kaki gunung besar. Waktu bertanya pada orang dusun, barulah ia tahu bahwa gunung itu gunung Bu-tong atau Bu-tong-san yang bukan saja besar dan angker, dengan hutan lebat serta tebing curam, tetapi juga sangat indah pemandangan alamnya. Selagi enak berjalan sambil memandang keindahan alam, dia dilewati dua orang pemuda dan pemudi dusun yang berjalan sambil berendeng pundak. Jika dilihat dari gerak-geriknya tak bisa salah lagi mereka adalah suami isteri. Dengan kupingnya yang tajam Kun Po dapat menangkap perkataan si isteri yang sedang mengomeli suaminya.

“Kau lelaki sejati, tapi sebaliknya dari mendirikan rumah tangga dengan tenaga sendiri, kau malah selalu mengandalkan Cici dan Cihu-mu sehingga akhirnya kau dihina. Kita berdua masih punya tangan dan kaki dan kita pasti bisa cari makan sendiri. Andai kata kita mesti hidup miskin dengan menanam sayur, tetapi kita hidup merdeka. Kau lelaki yang tak punya tulang punggung dan sungguh percuma kau hidup di dunia. Orang sering berkata, kecuali mati tak ada urusan besar. Apa kau tidak bisa hidup tanpa mengandalkan orang lain?”

Sang suami tidak berani menjawab, mukanya berwarna ungu seperti juga hati babi. Tanpa disengaja perkataan wanita itu mengena di jantung hati Kun Po. “Kau laki-laki sejati, tapi sebaliknya daripada mendirikan rumah tangga dengan tenaga sendiri, kau malah selalu mengandal Cici dan Cihu-mu sehingga akhirnya kau dihina. Apa kau tidak bisa hidup tanpa mengandalkan orang lain?” Dia berdiri begong memikirkan kata-kata itu. Di lain saat sang suami mengucapkan beberapa perkataan yang tidak dapat didengar olehnya dan setelah itu mereka tertawa berkakakan. Rupanya si lelaki telah mengambil keputusan untuk berdiri sendiri dan isterinya jadi girang sekali.

“Kwee-kouwnio mengatakan bahwa Cici-nya beradat jelek dan biasa menyemprot orang tanpa sungkan sehingga aku harus selalu mengalah,” pikirnya. “Aku adalah seorang lelaki sejati, perlu apa aku mesti tunduk begitu rupa di hadapan orang hanya untuk hidup selamat? Kedua suami isteri dusun itu masih memiliki semangat untuk berdiri di atas kaki sendiri. Masa aku, Thio Kun Po, mesti selalu bernaung di bawah atap orang dan hidup dengan memperhatikan sorot mata tuan rumah?”

Setelah berpikir beberapa lama, ia lantas mengambil keputusan gagah. Dengan memikul kedua tahang besi, ia mendaki Bu-tong-san. Mulai saat itu ia minum air gunung, makan buah-buahan dan melatih diri berdasarkan Kiu-yang Cin-keng yang diperoleh dari gurunya. Berkat kecerdasan dan juga karena apa yang dipelajari ialah sebuah kitab luar biasa di dunia persilatan, maka dalam tempo belasan tahun Iweekang-nya sudah mencapai tingkatan tinggi.

Pada suatu hari, selagi jalan-jalan di gunung itu, ia menyaksikan pertarungan sengit antara seekor ular dan seekor burung. Dengan segenap kegesitannya burung itu menyerang dari berbagai jurusan, tapi ia masih kalah setingkat dari ular itu sehingga akhirnya ia terpaksa melarikan diri. Tiba-tiba saja Kun Po mendapat serupa ingatan dan selama tujuh malam ia merenungkan ingatan itu di dalam goa. Mendadak ia tersadar, kedua matanya seolah menembus suatu tabir rahasia. Sekarang dia dapat memahami pokok dasar yang luar biasa di dunia persilatan, yaitu: Dengan ‘Ju’ (kelembekan) melawan ‘Kong’ (kekerasan).

Tanpa terasa dia mendongak sambil tertawa terbahak-bahak. Tawa kegirangan itu berarti munculnya satu Tay-cong-su (guru besar) baru di dalam rimba persilatan. Dari ilmu yang didapatnya sendiri, kemudian digabung dengan Iweekang berdasarkan Kiu-yang Cin-keng, dia sudah menggubah semacam ilmu silat yang belakangan dikenal sebagai ilmu silat Bu-tong, sedang muridnya telah bersatu dalam suatu ‘partai’ persilatan baru yang dinamakan Bu-tong-pay.

Setelah lewat lagi sekian tahun, pada waktu berkelana di Tiongkok Urara, ia bertemu dengan tiga puncak gunung (Sam Hong) yang amat luar biasa dan oleh karenanya ia lalu menggunakan gelar Sam Hong untuk dirinya sendiri dan gelar ini terkenal luar biasa dalam sejarah persilatan di Tiongkok.

***********

Bagaimana dengan Kwee Siang? Selama puluhan tahun si nona terus berkelana di empat penjuru mencari Yo Ko dan Siauw Liong Lie. Demi kecintaan yang suci murni dari muda sampai tua dia mencari-cari tanpa rasa menyesal sedikit pun. Tapi Yo Ko dan Siauw Liong Lie telah lenyap dan tidak pernah muncul lagi. Waktu mencapai usia enam puluh tahun, mata Kwee Siang terbuka dan ia sadar, kemudian mencukur rambut dan hidup sebagai pendeta perempuan di puncak gunung Go-bi-san. Di sanalah dengan tekun dia melatih diri dan mempelajari ilmu silat sehingga kian lama kepandaiannya kian tinggi. Belakangan ia menerima murid dan beserta cucu muridnya mempersatukan diri ke dalam satu partai persilatan yang dikenal sebagai Go-bi-pay..

***********

Di lain pihak, sesudah menderita kekalahan di depan kuil Siauw-lim, Kun-lun Sam-seng Ho Ciok To pulang ke daerah barat. Sesuai dengan sumpahnya, selama hidup dia tak pernah menginjak lagi wilayah Tiong-goan. Sesudah berusia lanjut barulah dia mengambil seorang murid yang mewarisi seni memetik Khim, ilmu bermain catur, dan ilmu silat pedangnya. Itulah sebabnya mengapa walau pun bermarkas di daerah Barat yang amat jauh, akan tetapi murid Kun-lun-pay rata-rata bun-bu-coan-cay (mahir dalam ilmu surat dan dan ilmu pedang).

Di kemudian hari, partai rimba persilatan yang paling tersohor adalah Siauw-lim, Bu-tong, Go-bi dan Kun-lun. Di dalam keempat partai tersebut terdapat banyak sekali orang pandai yang memiliki kepandaian tinggi.

***********

Pada hari itu, sebelum Kak Wan Taysu meninggal dunia, waktu dia menghafal Kiu-yang Cin-keng ada tiga orang yang mendengarnya, yaitu Bu Sek Siansu, Kwee Siang dan Thio Kun Po. Oleh karena pengetahuan, bakat dan kecerdasan ketiga orang itu berbeda-beda, maka apa yang didapatkan mereka pun berbeda-beda pula. Dengan begitu pelajaran ilmu silat Siauw-lim, Go-bi dan Bu-tong amat banyak perbedaannya dan persamaannya sedikit sekali.

Kwee Siang adalah puteri dari ahli-ahli silat kelas utama dan pelajarannya pun beraneka warna. Maka ilmu silat Go-bi banyak sekali corak ragamnya, apa bila satu saja dapat dipahami sampai ke-dasarnya, sudah cukup untuk membuat orang mendapat nama besar.

Mengenai Bu Sek Siansu, sewaktu mendengarkan Kiu-yang Cin-keng, ia sendiri memang telah menjadi seorang ahli kenamaan. Didapatinya Kiu-yang Cin-keng hanya mempertinggi kepandaiannya, tapi pada dasar pokoknya dia tidak menarik keuntungan apa pun juga.

Di antara ketiga orang itu, yang menarik keuntungan paling banyak adalah Thio Kun Po. Pada waktu itu, kecuali empat jurus ilmu silat yang ia dapatkan dari Yo Ko dan beberapa macam pukulan Lo-han-kun, belum pernah ia belajar ilmu silat. Maka itu ia menarik pelajaran yang paling murni dari kitab Kiu-yang Cin-keng. Akan tetapi, karena ia memang tak pernah belajar di bawah pimpinan guru pandai, maka ia kekurangan dasar-dasar ilmu silat sehingga banyak sekali bagian Kiu-yang Cin-keng yang tidak begitu dimengerti olehnya.

Belakangan, sesudah mempelajari pertarungan antara ular dan burung, barulah dia sadar tentang seluk beluknya iimu silat. Akan tetapi kejadian itu sudah lama dilupakan sehingga banyak bagian dalam kitab Kiu-yang Cin-keng yang tidak diingat lagi olehnya.

Dengan demikian ilmu silat Siauw-lim, Bu-tong dan Go-bi mempunyai keunggulan dan kekurangannya sendiri-sendiri. Tiga guru besar partai-partai itu sama-sama memetik bagian-bagian dari Kiu-yang Cin-keng dan berdasarkan bakat serta kecerdasan masing-masing, mereka mempelajari, memperbaiki kemudian menggubah ilmu-ilmu silat yang luar biasa.

***********

Sebagaimana diketahui kerajaan Goan adalah kerajaan bangsa Mongol yang berkuasa di Tiongkok. Selama jaman penjajahan itu ilmu surat tak begitu diperhatikan lagi karena para pecinta negeri ber-lomba belajar ilmu silat.

Pada jaman itu di dunia Kangouw banyak muncul orang luar biasa yang mempunyai kepandaian luar biasa pula. Jumlah mereka lebih besar dan kepandaian mereka pun lebih tinggi dari pada orang di jaman kerajaan Song, yaitu pada jaman Kwee Ceng, Oey Yong, Yo Ko, Siauw Liong Lie dan sebagainya.

Orang gagah yang muncul di daerah Barat kebanyakan adalah murid dari Kun-lun-pay, sedangkan jago di wilayah Tiong-goan sebagian besar adalah orang Siauw-lim, Bu-tong dan Go-bi. Di samping itu masih ada ratusan malahan ribuan partai-partai lain yang lebih kecil. Demikianlah sedikit pendahuluan dari kisah Membunuh Naga atau Ie-thian To-liong-kie.

***********

TO LIONG TO (GOLOK PEMBUNUH NAGA)

Tahun itu adalah tahun kedua dari Kaisar Goan-sun-tee. Robohnya Kerajaan Song sudah genap enam puluh tahun. Waktu itu bulan Sha-gwee (Bulan Ketiga). Cong-su (orang gagah) yang berusia kira-kira tiga puluh tahun, mengenakan baju biru dan pakai sepatu rumput, kelihatan berjalan di jalan raya dengan tindakan lebar. Di kedua pinggir jalanan itu, buah tho yang merah dan pohon Liu yang hijau memperlihatkan keindahannya, tetapi orang itu tidak memperhatikan sedikit pun jua.

“Hari ini Sha-gwee Jie-sie (Bulan Ketiga tanggal 24),” katanya dalam hati. “Sampai Sie-gwee Cee-kauw (Bulan Keempat tanggal 9) masih tersisa empat belas hari. Dengan tidak mem-buang tempo barulah aku bisa tiba pada waktunya di Giok-hie-kiong, Bu-tong-san untuk memberi selamat ulang tahun ke sembilan puluh In-su (guru).”

Orang gagah itu she Jie bernama Thay Giam, murid ketiga dari Thio Sam Hong (Thio Kun Po), Couw-su Bu-tong-pay. Setelah berusia tujuh puluh tahun, yaitu sesudah ilmu silatnya mencapai tingkatan sangat tinggi barulah Thio Sam Hong menerima murid. Maka itu biar pun dia sendiri telah berusia sembilan puluh tahun, tapi tujuh muridnya masih muda. Murid kepala, Song Wan Kiauw belum cukup empat puluh lahun. Sedangkan murid yang paling kecil, Boh Kok Seng, baru berusia belasan tahun. Meski pun begitu, murid-muridnya muda, tetapi mereka sudah melakukan pekerjaan-pekerjaan yang menggemparkan dunia Kangouw. Apa bila menyebutkan nama mereka, orang-orang rimba persilatan selalu mengacungkan jempol.

“Bu-tong Cit-hiap (Tujuh pendekar dari Bu-tong) adalah pendekar dari sebuah partai yang lurus bersih,“ kata mereka.

Pada permulaan tahun itu Jie Thay Giam mendapat titah gurunya untuk pergi ke propinsi Hokkian guna membinasakan seorang penjahat besar yang amat menindas rakyat jelata. Penjahat itu bukan saja berkepandaian tinggi, tapi juga licin luar biasa. Sesudah menyelidiki dua bulan lebih barulah dia berhasil mencari sarang penjahat itu yang segera ditantang olehnya. Dalam pertempuran yang amat hebat dia telah membinasakan musuhnya dengan pukulan ke sebelas dari Thay-kek-kun Hian-hian To-hoat.

Menurut perhitungan, seharusnya ia dapat menyelesaikan tugasnya dalam tempo sepuluh hari, namun di luar dugaan ia memerlukan waktu lebih dari dua bulan. Saat meng-hitung, hari ulang tahun ke sembilan puluh gurunya ternyata sudah dekat sekali karena itu ia buru-buru pulang dari kota Lang-lam. Makin lama jalanan jadi semakin sempit dan sisi kanan berdampingan dengan pantai laut. Tiba-tiba ia melihat tanah datar yang licin mengkilap laksana kaca dan dibagi jadi petakan yang luasnya kira-kira 7-8 tombak persegi. Sebagai orang yang sering berkelana di selatan dan utara Sungai besar, Thay Giam punya banyak pengalaman, tetapi belum pernah ia melihat tanah yang begitu luar biasa.

Sesudah bertanya kepada seorang penduduk pribumi, ia tahu bahwa petakan itu bukan lain dari pada sawah garam. Untuk membuat garam, penduduk memasukkan air laut ke sawah. Sesudah kering, mereka keruk tanah yang mengandung garam kemudian dimasak dan dijemur lagi sampai menjadi garam yang putih bersih.

“Sudah tiga puluh tahun aku makan garam, tetapi baru sekarang ini tahu bagaimana sukarnya membuat garam,” katanya dalam hati.

Selagi enak berjalan, ia melihat 30 orang lebih memikul pikulan, mendatangi dengan cepat dari jalanan kecil di sebelah barat. Mereka mengenakan pakaian seragam baja dan celana pendek warna hijau, kepala mereka ditutup tudung lebar. Sekelebatan ia bisa menebak bahwa isi pikulan itu adalah garam. Ia tahu bahwa pembesar di sepanjang pantai biasanya sangat kejam dan rakus, dan biasa memungut bea Cukai garam yang sangat berat. Sebab itu, walau pun bertempat tinggal di tepi lautan tapi rakyat tidak kuat makan garam resmi dan terpaksa membeli garam gelap.

Kalau dilihat dari potongan badan dan gerakan, hampir boleh dipastikan bahwa apa yang diangkat mereka adalah garam gelap. Hal ini sedikit pun tidak mengherankan. Yang mengherankan adalah pikulan mereka. Setiap pikulan bukan terbuat dari bambu dan juga bukan kayu berwarna hitam sebab tidak memiliki sifat melenting (membal), sehingga bisa diduga pemikul itu terbuat dari besi. Dan yang lebih mengherankan lagi adalah, walau pun tiap orang memikul barang yang beratnya tidak kurang dari tiga ratus kati, tetapi tindakan mereka cepat luar biasa, seolah tidak menginjak tanah dan dalam sekejap sudah melewati Jie Thay Giam.

“Kawanan pengusaha garam gelap ini terdiri dari jago-jaga,” katanya dalam hati. “Sudah lama aku dengar bahwa Hay-see-pay (Partai Pasir Laut) di Kanglam yang jual beli garam gelap, mempunyai pengaruh sangat besar dan anggota yang berkepandaian tinggi. Akan tetapi kejadian yang sangat luar biasa jika dua puluh lebih ahli silat beramai-ramai memikul garam.”

Jie Thay Giam adalah seorang yang gemar menyelidiki hal-hal aneh. Di waktu biasa ia tentu akan mencari tahu kejadian yang luar biasa itu. Tapi sekarang, mengingat hari ulang tahun gurunya, dia sungkan membuang waktu. Maka sambil mengempos dia lalu menyusul dan melewati pemikul-pemikul garam itu, yang jadi heran melihat tindakan Jie Thay Giam yang begitu enteng.

Lewat magrib Jie Thay Giam tiba di sebuah kota kecil. Dari keterangan seorang penduduk, ia mengetahui bahwa kota itu adalah Am-tong-tin wilayah Cie-yauw-koan. Dari situ, setelah menyeberang sungai Cian-tong-kang ia akan tiba di Lim-an dan dengan membelok ke jurusan barat laut, sesudah melewati propinsi Kang-say dan Ouw-lam, barulah ia tiba di Bu-tong. Malam itu, karena tidak ada perahu untuk menyeberang sungai, dia terpaksa menginap di rumah penginapan kecil di Am-tong-tin. Setelah makan malam, baru saja mencuci kaki untuk naik ke ranjang, ia mendengar ribut-ribut dari sejumlah orang yang mau nginap.

Mendengar lidah Ciat-kang timur dan suara yang nyaring luar biasa, dia melongok keluar dan ternyata bahwa orang-orang itu bukan lain adalah kawanan pemikul garam yang tadi bertemu dengannya. Menurut kebiasaan, orang perdagangan garam gelap adalah kaum kasar yang suka sekali minum arak dan makan minum seperti setan kelaparan. Tetapi kawanan ini berbeda dengan yang lain, mereka hanya minta disediakan nasi, sayur-sayur dan tahu.

Sesudah bersantap tanpa minum setetes arak, mereka segera pergi tidur. Jie Thay Giam sendiri lantas bersemedhi dan melatih lweekang untuk beberapa lama, sesudah itu ia segera merebahkan badan di atas pembaringan. Kira-kira tengah malam, di kamar sebelah sekonyong-konyong terdengar suara keresekan. Pada waktu itu Jie Thay Giam sudah menyelami ilmu silat Bu-tong-pay, bahkan dia sudah mencapai tingkatan yang sangat tinggi sehingga walau pun sedang pulas nyenyak, suara keresekan itu cukup untuk menyadarkannya. Tiba-tiba dia mendengar suara orang berbisik.

“Per-lahan. Jangan mengagetkan tamu di kamar sebelah supaya tidak menimbulkan banyak urusan.”

Pintu kamar dibuka per-lahan dan dua puluh orang lebih itu lantas keluar. Jie Thay Giam mengintip dari jendela. Sambil memikul pikulan, mereka semua keluar dengan melompati tembok. Meski tembok tidak tinggi, mereka bisa melompatinya sambil memikul barang yang begitu berat, merupakan bukti bahwa kepandaian mereka tak boleh dipandang enteng.

“Ilmu silat mereka belum bisa menandingi aku, tetapi dua puluh orang lebih yang rata-rata mempunyai kepandaian tinggi, bukan kejadian yang sering ditemui,” kata Jia Thay Giam dalam hati.

Untuk beberapa saat ia berdiri bengong dengan perasaan sangsi. Kata-kata orang itu ‘jangan mengagetkan tamu di kamar sebelah supaya tidak menimbulkan banyak urusan’ sangat mengganggu pikirannya. Jika ia tidak mendengar perkataan itu, biar pun terbiasa, ia sungkan mempedulikan urusan orang. Tetapi kata-kata itu membangunkan rasa ksatriannya. “Kejahatan apa yang mau dilakukan mereka?” tanyanya dalam hati. “Setelah berpapasan denganku, tak bisa tidak aku mesti mencampuri. Kalau aku bisa menolong satu dua orang, meski pun tidak keburu hadir dalam peringatan hari ulang tahun In-su, tentu In-su tak akan marah.”

Jie Thay Giam berpikir begitu oleh karena setiap kali menerima murid baru, paling dulu Thio Sam Hong menasihati bahwa sesudah berhasil dalam mempelajari ilmu silat, si murid harus mengutamakan sifat ksatria dan selalu bersedia menolong sesama manusia yang memerlukan pertolongan. Itulah sebabnya mengapa nama Bu-tong Cit-hiap tersohor bukan main. Mereka tersohor bukan saja karena berkepandaian tinggi, tetapi juga karena sepak terjangnya sangat mulia. Demikianlah, karena mengingat nasihat gurunya, Jie Thay Giam lantas menyoren golok dan membekal kantong senjata rahasia, kemudian melompat keluar dari jendela dan tembok. Begitu berada di luar rumah penginapan, dia mendengar suara tindakan kaki ke jurusan timur laut. Buru-buru dia mengempos semangat lalu mengejar dengan menggunakan ilmu mengentengkan badan.

Malam itu tak berbintang, langit gelap gulita ditutup awan awan tebal. Melihat tindakan orang-orang cepat luar biasa, se-olah tidak merasakan tindihan pikulan yang sangat berat, Jie Thay Giam menjadi tambah heran.

“Penjual garam gelap berjalan tengah malam buta adalah kejadian yang biasa saja,” pikirnya. “Yang luar biasa adalah kepandaian orang ini. Dengan mempunyai ilmu silat begitu tinggi, kalau benar mereka mau berbuat jahat, jangankan hanya merampok rumah hartawan, menggarong gudang pemerintah sekali pun dapat melakukannya tanpa bisa dicegah oleh opas atau tentara di kota ini. Mengapa mereka mau memikul garam di tengah malam buta untuk mendapatkan keuntungan yang sangat kecil? Tak bisa jadi. Di dalam hal ini pasti terselip latar belakang yang luar biasa.“ Berpikir demikian dia terus menguntit.

Berselang kurang lebih setengah jam, kawanan penjual garam gelap itu sudah melalui dua puluh li lebih. Sedikit pun mereka tidak merasa jika sedang dibuntuti orang, mereka berjalan dengan terburu-buru dan karena yang menguntit memiliki ilmu mengentengkan badan yang sangat tinggi. Tak lama kemudian mereka tiba di jalanan yang berdampingan dengan pantai laut di mana gelombang demi gelombang menerjang ke tepi dengan mengeluarkan suara keras. Selagi enak berjalan, salah seorang yang rupanya menjadi pemimpin rombongan tiba-tiba mengeluarkan seruan perlahan dan semua kawannya segera menghentikan tindakan.

“Siapa?” bentak si pemimpin.

“Apa sahabat-sahabat dari Tiga Pinggir Air?” seorang yang berada di tempat gelap balas bertanya.

“Benar, siapa tuan?” tanya pula si pemimpin.

Jie Thay Giam bingung. “Apa itu sahabat-sahabat dari Tiga Pinggir Air?” tanyanya dalam hati. Tetapi di lain saat dia menduga dan dapat menebak bahwa ‘Tiga Pinggir Air’ berarti ‘Hay-see-pay’ yang mengandung huruf ‘Air’.

“Aku menasihati kalian jangan turut campur urusan To-liong-to,” kata orang yang berada di tempat gelap. (To-liong-to artinya Golok pembunuh naga).

Si pemimpin terkejut. “Apa tuan juga datang karena urusan To-liong-to?” tanyanya.

“Ha-ha-ha...” orang itu tertawa dingin. Dia tidak memberi jawaban.

Mendengar suara tertawa itu, jantung Jie Thay Giam memukul keras. Suara itu aneh, tapi tidak mungkin dilukiskan bagaimana anehnya dan begitu masuk ke dalam kuping, pikiran orang yang mendengarnya kalang kabut seakan-akan belasan ulat bulu merayap di tulang punggung. Dengan perasaan sangat heran ia berindap-indap maju ke depan. Dengan matanya yang terlatih dia melihat bahwa di tengah jalan menghadang seorang lelaki yang tubuhnya kurus kecil. Karena gelap gulita dia tidak dapat melihat tegas mukanya. Apa yang dapat dilihat ialah bahwa orang itu mencekal sebatang tongkat, sedang pada pakaiannya terdapat titik-titik sinar yang berkeredepan sehingga dia menarik kesimpulan bahwa orang itu mengenakan jubah sulam.

“To-liong-to adalah mustika milik partai kami,” kata si pemimpin Hay-see-pay. “Golok itu dicuri orang, jadi wajar saja jika kami berusaha mendapatkannya kembali.”

Si kurus lagi-lagi tertawa dingin dan tetap menghadang di tengah jalan. Seorang yang berdiri di belakang si pemimpin mendadak membentak dengan suara keras.

“Minggir! Dengan mencegat kami, kau hanya mencari mampus...”

Belum habis perkataannya, ia mengeluarkan teriakan menyayat hati lantas jatuh ke belakang. Semua kawannya terkesiap. Hampir berbareng, sinar berkeredepan di jubah si kurus kering bergoyang goyang beberapa kali lalu dia menghilang dari pandangan. Para anggota Hay-see-pay kaget bercampur marah karena kawan mereka yang baru jatuh telah putus napasnya dan tubuhnya meringkuk. Beberapa di antaranya melepaskan pikulan untuk mengejar Si kurus. Tetapi musuh yang gerakannya cepat bagaikan kilat itu sudah tidak kelihatan lagi bayangannya.

Jie Thay Giam heran bukan main. “Senjata rahasia apa yang dipergunakan si jubah sulam?” tanyanya dalam hati. “Bagaimana dia dapat membinasakan orang dengan tangan dan badan tidak bergerak? Aku berdiri cukup dekat, tapi tak dapat melihat gerakan apa pun.“ la terus bersembunyi di belakang batu besar agar tidak terlihat oleh orang Hay-see-pay yang sedang marah.

“Biar kita tinggalkan dahulu jenazah Lo-sie di tempat ini untuk sementara waktu,” demikian terdengar suara pemimpin. “Kita harus membereskan dulu urusan yang lebih penting. Setelah selesai urusan kita, barulah kita merawat jenazah Lo-sie. Kita pun harus menyelidiki siapa adanya musuh itu.”

Semua kawannya mengiyakan dan segera berlalu sambil memikul pikulan. Setelah mereka pergi jauh barulah Jie Thay Giam keluar dari tempat sembunyi kemudian mendekati jenazah. Orang itu mati dengan tubuh meringkuk seperti seekor udang dan dari tanda-tandanya, kebinasaannya disebabkan racun yang sangat hebat. Karena takut kena racun, ia tidak berani menyentuh mayat itu. Ia jadi sangsi dan sesudah berpikir beberapa saat, ia lalu mengempos semangat dan menyusul kawanan Hay-see-pay yang sudah pergi agak jauh.

Setelah melalui beberapa li, si pemimpin rombongan mengeluarkan seruan perlahan. Semua kawannya segera berpencaran sambil mendekati sebuah gedung di sebelah timur laut dengan tindakan perlahan.

“Apakah golok To-liong-to berada di rumah itu?” tanya Jie Thay Giam dalam hati.

Di atas gedung besar itu ada sebuah lubang asap, dari mana terus mengepul asap hitam yang dalam tempo lama berkumpul di tengah udara tanpa mau buyar. Kawanan penjual garam gelap itu segera menaruh pikulan di tanah dan setiap orang mengeluarkan sebuah sendok kayu yang dipakai untuk menyendok semacam benda dari dalam keranjang. Benda itu lalu ditaburkan di seputar gedung. Melihat warna yang putih bagaikan salju, Jie Thay Giam merasa pasti, bahwa benda itu semacam garam.

“Apa yang disaksikan olehku pada malam ini sungguh luar biasa,” pikirnya. “Jika kejadian ini diceritakan kepada In-su belum tentu dia percaya.”

Waktu menyebarkan garam, orang Hay-see-pay terlihat sangat ber-hati-hati sepertinya kuatir benda itu menyentuh badan. Sebagai seorang yang sudah kawakan di dunia Kangouw, Jie Thay Giam mengerti bahwa garam itu mengandung racun hebat untuk mencelakakan penghuni gedung. Jiwa ksatrianya terbangun.

“Siapa salah, siapa benar, aku tidak tahu,” pikirnya. ”Tetapi perbuatan orang Hay-see-pay terlampau rendah. Biar bagaimana pun juga aku harus memberi-tahu penghuni rumah supaya dia jangan sampai celaka di tangan manusia-manusia rendah.”

Melihat orang-orang itu belum menyebarkan garam di bagian belakang rumah, buru-buru dia mengambil jalan memutar ke belakang gedung lalu melompat masuk ke dalam tembok pekarangan. Dalam pekarangan yang amat luas itu berdiri lima buah bangunan dengan tiga puluh atau empat puluh kamar dan yang amat mengherankan adalah seluruh gedung itu gelap gulita, tidak terlihat sinar lampu atau lilin.

“Di rumah tengah, dari mana mengepul asap hitam, pasti ada manusianya,” pikir Jie Thay Glam.

Karena kuatir penghuni rumah akan menganggapnya sebagai musuh, dia mengambil sebatang cabang kering, lalu menyalakan api dan menyulutnya. Sambil mengangkat obor tinggi ia berkata.

”Murid Bu-tong-pay, Jie Thay Giam, datang berkunjung untuk memberi-tahu satu rahasia. Aku tidak punya maksud jelek, harap kalian jangan curiga.”

Walau perlahan suaranya tajam dan jauh sehingga menurut perhitungan, bisa didengar penghuni di lima rumah itu. Tapi setelah mengulangi perkataannya dua kali, dia masih juga belum mendapat jawaban. Jie Thay Giam adalah seorang pendekar dari sebuah partai kenamaan, nyalinya lebih besar dari pada manusia biasa. Biar pun gedung itu menyeramkan tetapi dia sungkan memperlihatkan kelemahan.

Tanpa menghunus golok dan hanya dengan mengempos semangat agar panca indranya lebih tajam, ia bertindak masuk ke dalam rumah yang mengeluarkan asap hitam. Sesudah melewati sebuah cim-che tibalah ia di ruangan belakang. Tiba-tiba ia berdiri terpaku karena di pinggir ruang itu menggeletak dua mayat, yang satu mengenakan pakaian tojin (imam), sedang yang lain memakai pakaian petani. Usia kedua orang itu sudah lanjut dan mukanya nampak menyeramkan, seperti juga kesakitan hebat sebelum menghembuskan napas penghabisan. Tapi badan mereka sedikit pun tidak terlihat tanda-tanda luka.

Jie Thay Giam berjalan terus menyelidiki keadaan rumah. Segera dia mendapat kenyataan bahwa setiap pintu terbuka lebar tetapi semua kamar gelap gulita sehingga dia tidak dapat melihat apa yang terdapat di dalam kamar. Kecuali obor yang dibawanya, tidak ada penerangan lain di seluruh rumah yang luas itu. Meski pun bernyali besar, mau tak mau hatinya berdebar juga. Dari situ ke ruangan samping, ia melihat pemandangan yang lebih hebat lagi. Dalam ruangan itu menggeletak mayat dua puluh orang lebih. Dilihat dari muka mayat-mayat itu, sebagian sudah mati cukup lama dan sebagian lagi baru saja mati.

“Kalau dilihat dari senjatanya, di antara mereka terdapat orang pandai,“ katanya dalam hati. “Ada senjata untuk menotok jalan darah, roda Ngo-heng-lun, Poan-koan-pit dan sebagainya. Apa bila orang-orang itu tidak mahir dalam ilmu menotok jalan darah, mereka tentu tidak menggunakan senjata itu. Mengapa mereka mati di sini? Mengapa?”

Semula ia masuk gedung itu dengan sembarangan. Tapi melihat mayat begitu banyak jago-jago, sekarang ia berhati-hati.

“Murid Bu-tong-pay Jie Thay Giam minta bertemu dengan Cianpwe untuk melaporkan satu urusan,” teriaknya kembali.

Jawaban tetap tidak ada, tetapi di ruangan tengah terdengar suara orang meniup api dan suara merontoknya perapian. Dengan tindakan hati-hati dia menghampiri suara itu dan sesudah melewati tembok dan sekosol, tibalah di ruangan tengah. Dia terkejut merasakan menyambarnya hawa yang sangat panas. Di tengah-tengah ruangan terdapat sebuah tungku besar yang terbuat dari batu dan api dalam tungku itu menjilat-jilat ke atas. Di seputar tungku berdiri tiga orang sedang meniup dengan menggunakan tenaga Iweekang, sedang di atas tungku menggeletak sebatang pedang yang panjangnya kira-kira empat kaki.
Saking panasnya, dari merah sinar api berubah hijau dan dari hijau berubah merah, tetapi sinar golok tersebut masih tetap berkeredepan dan sedikit pun tidak melumer atau rusak karena panas api.

Ketiga orang itu rata-rata berusia kurang lebih enam puluh tahun dan semuanya mengenakan jubah hijau. Mukanya penuh debu dan jubah mereka banyak berlubang akibat peletikan api. Di atas kepala mengepul uap putih dan seraya mengempos semangat, per-lahan mereka meniup api. Setiap kali ditiup, api itu menjilat ke atas kira-kira lima kaki tingginya dan menggulung golok yang berkeredepan itu.

Jie Thay Giam mengerti bahwa ketiga orang tua itu mempunyai tenaga dalam yang amat tinggi. Dengan berdiri di tempat yang berapa tombak jauhnya dari perapian itu, dia sudah bisa merasakan hebatnya hawa panas, maka dapatlah dibayangkan panasnya hawa yang menyambar ketiga kakek yang berdiri di pinggir tungku. Tetapi sungguh aneh, biar pun digulung api yang bersinar hijau, golok itu masih tetap utuh dan warnanya sama sekali tak berubah.

Tiba-tiba dari atas genteng terdengar suara menyeramkan. “Berhenti! Merusak golok mustika adalah dosa besar.”

Jantung Je Thay Giam memukul keras ia mengenal suara si jubah sulam. Tapi ketiga kakek itu tidak menghiraukan dan malahan meniup semakin hebat. Hampir berbareng dengan terdengarnya suara tertawa dingin, mendadak bayangan yang bersinar emas berkelebatan dan bagaikan jatuhnya selembar daun, si jubah sulam berdiri di tengah-tengah ruangan. Dengan bantuan cahaya api Jie Thay Giam dapat melihat tegas romannya orang yang ternyata seorang pemuda yang baru berusia kurang lebih dua puluh tahun, dengan muka yang tampan tapi pucat dan bersorot hijau. Sulaman benang emas di jubahnya sangat indah dan mewah merupakan gambar-gambar harimau, singa dan bunga-bunga. Dengan sikap tenang dan tanpa membawa senjata dia pun berkata dengan suara dingin,

“Tiang-pek Sam-khim, kenapa kau hendak merusak senjata mustika itu?“ Seraya berkata dia maju setindak.

Si kakek yang berdiri di sebelah barat mendadak mementangkan lima jari tangannya menyambar ke muka orang. Si jubah sulam mengegos lantas maju lagi satu tindak. Kakek yang berdiri di sebelah timur dengan cepat meagambil satu martil yang tergeletak di pinggir tungku lalu menghantam kepala orang. Tapi gerakan pemuda itu gesit luar biasa. Dengan sekali miringkan badan, ia kembali bisa meloloskan diri dari serangan kedua. Martil itu menghantam tempat kosong lantas jatuh di lantai dengan muncratnya lelatu api. Ternyata batu lantai bukan biasa, tetapi batu gunung yang sangat keras. Si kakek yang di sebelah barat lantas bantu menyerang dengan kedua tangan yang jarinya dipentang seperti cakar ayam. Dia menyerang nekat dengan pukulan-pukulan yang membinasakan sehingga Jie Thay Giam sangat heran.

“Sakit hati apa yang didendam orang-orang ini hingga berkelahi dengan menggunakan pukulan-pukulan kejam?” tanyanya dalam hati.

Tetapi kepandaian si jubah sulam benar-benar luar biasa. Walau pun diserang kedua kakek, dia masih dapat tersenyum-senyum dan melayani dengan sikap acuh tak acuh. Setelah bertempur beberapa jurus, si kakek yang bersenjata martil membentak,

“Siapakah tuan? Jika menginginkan golok mustika, tuan harus lebih dulu memberi-tahukan she dan namamu,”

Namun si jubah sulam tidak menjawab, dia hanya tertawa dingin. Mendadak dia memutar badan.

“Krak! Krek!”

Terdengar suara dan tubuh si kakek yang di sebelah timur terbang menghantam dan menjebloskan atap rumah, kemudian jatuh dipekarangan gedung! Kakek yang martilnya terbang bisa berpikir cepat. Ia tahu bahwa sekarang mereka tengah menghadapi musuh yang sangat lihay dan meski pun tiga lawan satu, pihaknya pasti bakal dapat dirobohkan. Karena itu ia mengambil satu jepitan api untuk menjepit golok To-liong-to. Pada waktu itu si kakek yang berdiri di sebelah selatan sudah siap sedia dengan senjata rahasianya dan menanti kesempatan. Akan tetapi karena gerakan pemuda itu gesit luar biasa, maka sedari tadi dia belum mendapatkan lowongan untuk menyerang.

Sekarang, begitu melihat si kakek di sebelah timur mengangkat jepitan, hatinya terkesiap. Dia yakin begitu golok mustika itu jatuh ke tangan orang lain, maka dia sukar mendapatkannya kembali. Sesudah si kakek memiliki To-liong-to, mana sanggup dia melawannya? Dalam bingungnya dia menjadi nekat dan bagaikan kilat, tangannya menyambar ke tungku lantas memegang gagang golok. Meski pun tidak sampai lumer sebagai akibat dari pembakaran yang sangat hebat, tapi golok itu panas bukan main. Begitu tangan si kakek memegang gagang golok, uap putih mengepul ke atas dan semua orang mengendus bau daging terbakar. Tapi ia seperti tidak merasa sakit dan sambil membelalak ia tetap memegangi gagang golok. Karena terkejut, pertempuran terhenti dan semua orang berdiri terpaku. Di lain saat kakek itu sudah melompat ke belakang dan kemudian, sambil menenteng To-liong-to, bagaikan seorang edan dia segera kabur dari ruangan.

Si jubah sulam tertawa dingin. “Mana bisa begitu mudah?” katanya seraya turut melompat dan menjambret punggung si kakek yang lalu digentak ke belakang.

Orang tua itu membalikkan tangannya dan To-Liong-to menyambar. Sebelum mata golok tiba, hawa panas menyambar muka si jubah sulam sehingga rambut berikut alisnya hangus. Pemuda itu terkejut dan tidak berani menyambut dengan tangannya. Cepat bagaikan kilat kedua tangannya mendorong ke depan dan tubuh si kakek langsung terbang ke arah mulut tungku!.

Sedari tadi Jie Thay Giam menonton pertempuran itu. Sebetulnya ia tak ingin mencampuri sebab persoalan golok mustika tidak bersangkut paut dengan dirinya. Tapi pada detik jiwa si kakek terancam kebinasaan, tanpa berpikir panjang dia mengempos semangat dan melompat. Ketika badannya masih berada di tengah udara, dia menjambret rambut orang tua itu lalu mengangkatnya ke atas dan kemudian, dengan gerakan yang sangat indah dia pun hinggap di atas lantai. Lompatan yang merupakan ilmu mengentengkan badan paling tinggi dalam rimba persilatan itu dinamakan Tee-in-ciong (Lompatan awan tangga). Si jubah sulam dan Tiang-pek Sam-khim yang tadinya tidak memperhatikan Jie Thay Giam jadi kaget bukan main.

“Bukankah lompatan itu Tee-in-ciong yang tersohor di kolong langit?” tanya pemuda itu.

Mendengar orang menyebutkan nama ilmunya, semula Jie Thay Giam merasa kaget, tapi kemudian dia girang karena mendapat pujian.

“Ilmu yang cetek itu tidak ada artinya untuk di-sebut-sebut,″ jawabnya dengan suara merendah. “Apakah aku bisa mendapat tahu she dan nama tuan yang mulia?”

“Bagus! Bagus!” katanya tanpa menjawab pertanyaan orang. “Orang mengatakan bahwa ilmu mengentengkan badan Bu-tong-pay tiada keduanya di dunia. Ternyata ada benarnya juga.” Meski pun memberi pujian tapi suaranya bernada sombong, seolah seorang Cianpwe (orang yang tingkatannya lebih tinggi) tengah memuji kepandaian seorang Boanpwee (orang yang tingkatannya lebih bawah).

Jie Thay Giam mendongkol, tetapi ia menahan sabar. “Dengan sekali bergerak tuan sudah membinasakan seorang jago Hay-see-pay, agaknya kepandaian tuan tidak bisa diukur bagaimana tingginya.”

Si baju sulam kaget. “Ehh, dia melihat aku tetapi aku sendiri tidak melihat dia,” katanya dalam hati. “Di mana bocah itu tadi bersembunyi?” Dia tersenyum tawar lalu berkata dengan suara yang tawar pula.

“Benar, ilmu itu memang sukar dimengerti orang luar. Jangankan tuan, Ciang-bun-jin Bu-tong-pay sendiri pun belum tentu bisa mengerti.”

Jie Thay Giam adalah seorang yang amat sabar, akan tetapi mendengar hinaan terhadap gurunya, darahnya naik juga. Baik juga ia masih bisa menguasai dirinya dan merasa tidak perlu untuk menambah musuh karena beberapa perkataan kurang ajar itu. Dia tersenyum seraya berkata,

“Di dunia persilatan memang banyak sekali ilmu-ilmu yang murni dan yang sesat. Bu-tong-pay hanya memiliki sekelumit ilmu dari lautan ilmu yang dalam dan luas. Ilmu yang dimiliki tuan memang tidak dipunyai oleh guruku.“ Jawabnya yang sungkan itu mengandung duri dan ia seperti juga mau mengatakan bahwa Bu-tong-pay memang tidak mengerti segala ilmu sesat dan menyeleweng.

Sementara itu kakek yang memegang golok mendadak memutar To-liong-to sambil berlari menerjang keluar. Jie Thay Giam berdiri paling dekat, maka dia yang paling dulu menerima serangan. Dia merasakan sambaran angin hebat ke arah pinggangnya. Setelah menolong jiwa orang tua itu, sedikit pun dia tidak menduga bahwa dirinya bakal diserang. Pada saat yang sangat berbahaya, ia menotol lantai dengan kakinya dan badannya melesat ke atas. Kakek itu sendiri terus berlari keluar sambil menyabetkan To-liong-to membabi buta.

Si jubah sulam dan dua kakek lainnya tidak berani merintangi dengan kekerasan. Seraya ber-teriak mereka lalu menguber dari belakang. Jie Thay Giam pun segera turut mengudak. Berkat ilmu mengentengkan badannya yang amat tinggi, biar pun menguber belakangan dia lebih dulu menyandak kakek itu yang berlari dengan tindakan limbung sambil kedua tangan memegang To-liong-to, seperti juga tidak kuat menentengnya dengan satu tangan. Begitu tahu dicandak orang, sambil mengeluarkan seruan keras ia melompat jauh dengan menggunakan seantero tenaga dan badannya melesat keluar dari pintu depan. Tetapi sungguh heran, begitu kedua kakinya hinggap di tanah, dia terguling dan berteriak kesakitan seperti terluka berat.

Si jubah sulam beserta kedua kakek lainnya menyusul dan coba merebut To-liong-to. Tapi dengan serentak mereka ber-turut-turut roboh mengeluarkan teriakan menyayat hati, se-olah dipagut ular atau lain binatang berbisa. Si jubah sulam yang ilmunya paling tinggi cepat melompat bangun lantas kabur sekerasnya. Namun ketiga kakek itu terus bergulingan dan tak bisa bangun lagi.

Melihat kejadian luar biasa itu Jie Thay Giam segera bergerak untuk memberi pertolongan. Mendadak dia terkejut sendiri dia ingat garam beracun yang disebar oleh orang Hay-see-pay. Melihat akibatnya terhadap Tiang-pek Sam-khim dan si jubah sulam, racun itu mestinya hebat luar biasa, dan ia tahu bahwa seputar gedung sudah dikurung dengan garam beracun sehingga ia sendiri pun tak tahu bagaimana harus meloloskan diri. Ia berdiri diam dan mengasah otak. Sekonyong-konyong ia lihat dua kursi tinggi di kedua samping pintu dan mendadak ia mendapat pikiran baik. Ia membalik kedua kursi itu dan sambil menggaetkan kakinya dikursi ia berjalan seperti orang main jangkungan.

Ketiga orang tua itu masih bergulingan di atas tanah sambil mengeluarkan teriakan hebat. Thay Giam mengerti bahwa dia sedang berada di tempat yang sangat berbahaya, cepat-cepat dia merobek ujung bajunya dan menjambret punggung si kakek yang mencekal To-liong-to dan sambil menentengnya dia pun berlari se-cepatnya ke jurusan timur. Inilah kejadian yang tak diduga-duga oleh orang Hay-see-pang, dengan serentak mereka melepaskan sejata rahasia. Tapi Jie Thay Giam yang gerakannya cepat luar biasa dalam sekejap sudah berada di luar jarak senjata rahasia. Orang-orang Hay-see-pang tidak mau mengerti dan terus mengejar se-kerasnya.

Jie Thay Giam melompat tinggi, sedangkan kedua kakinya menendang. Dua kursi lantas terbang ke belakang dan menghantam beberapa pengejarnya. Mereka berseru kesakitan dan semua kawannya terpaksa berhenti sejenak untuk melihat keadaan mereka. Menggunakan kesempatan itu, sambil mengempos semangat Jie Thay Giam mempercepat tindakannya dan dalam sekejap dia sudah meninggalkan pengejarnya jauh sekali. Sesudah berlari lagi beberapa jauh, dia hanya mendengar suara ombak laut tetapi suara kejaran musuh sudah tidak terdengar lagi.

“Bagaimana keadaanmu?” tanyanya.

Si kakek tidak menjawab. Dia merintih kesakitan.

“Lebih baik cuci badannya yang penuh garam beracun,” pikir Thay Giam.

Ia segera membawa orang tua itu ke air yang cetek kemudian melemparkannya sambil menjaga agar air laut tidak mengenai badannya sendiri. Beberapa saat kemudian kakek itu kelihatan sadar, akan tetapi belum mampu bangun. Selagi Thay Giam hendak mengangsurkan tangan untuk menariknya, tiba-tiba menyambar gelombang besar yang secara kebetulan melontarkan badan Si tua ke atas pasir.

“Sekarang kau lolos dari bahaya. Karena masih punya urusan penting aku tidak bisa menemani terus, maka di sini saja kita berpisahan,“ kata Thay Giam.

Sambil menekan pasir dengan kedua tangannya si kakek mengangkat badannya. “Kau... kau... mengapa kau tidak merampas golak mustika ini?” tanyanya dengan heran.

Thay Giam tertawa. “Biar pun bagus, golok itu bukan milikku,” jawabnya. “Bagaimana aku bisa merampasnya?”

Si kakek semakin heran. Dia tak percaya di dunia ada orang begitu mulia. “Kau... kau... tipu busuk apa yang sedang kau jalankan?” tanyanya. “Kau ingin menyiksa aku?”

“Kita sama sekali tidak bermusuhan, bagaimana aku bisa menyiksa kau?” Jie Thay Giam balas bertanya seraya tersenyum. “Malam ini secara kebetulan kita bertemu dan karena merasa tidak tega melihat kau terluka, aku memberi pertolongan.”

Orang tua itu meng-gelengkan kepala. “Jiwaku berada di tanganmu, kalau kau mau, bunuhlah sekarang!” katanya dengan suara keras. “Tapi jika kau turunkan tangan beracun, sesudah mati aku akan jadi setan penasaran dan akan terus me-nguber kau.”

Thay Giam tahu bahwa otak si tua masih kalang kabut, maka dia hanya tersenyum tanpa meladeni. Baru saja dia hendak berlalu, mendadak menyambar sebuah gelombang besar sehingga pakaiannya menjadi basah kuyup dan kakek itu sendiri mendekam di atas pasir dengan badan gemetaran.

OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia