ads

Sabtu, 17 Oktober 2026

To Liong To 24

TERPERANGKAP DI LEK-LIU-CHUNG

Pada detik-detik yang sangat berbahaya itu Sinkang yang dimiliki Bu Kie memperlihatkan kelihayannya. Sungguh pun cekalannya terlepas, tetapi karena cekalannya itu dia berhasil meminjam sedikit tenaga sehingga kemerosotan tubuhnya terhenti untuk beberapa detik dan tangannya menjambret lengan si nona. Jambretan itu berhasil! Dia mengerahkan Sinkang untuk melompat ke atas, tapi kali ini maksudnya gagal. Karena tubuhnya berat dan Tio Beng enteng, maka begitu dia membetot, tubuh si nona terjungkal dan tanpa dapat tercegah lagi kedua-duanya tergelincir ke dalam lubang. Sesaat kemudian terdengar suara nyaring.

“Trangg...!”

Penutup lubang tertutup lagi. Lubang itu, atau lebih tepatnya sumur, tidak terlalu dalam, hanya belasan tombak. Begitu hinggap di dasarnya, Bu Kie melompat dan dengan menggunakan ilmu Peh-houw Yu-ciang (Cicak merayap di tembok), dia merayap ke atas. Setelah sampai di atas dia mendorong penutup sumur beberapa kali, namun tidak bergeming. Penutup yang dingin seperti es itu terbuat dari selembar besi tebal yang dipegang erat-erat dengan semacam alat. Meski pun memiliki sinkang tinggi, tetapi lantaran badannya berada di udara maka Bu Kie tidak dapat meminjam tenaga. Sesudah mendorong beberapa kali tanpa hasil, dia terpaksa melompat turun lagi.

Tio Beng tertawa geli. “Penutup itu dipegang delapan batang baja yang amat besar,” katanya. “Dengan berada di bawahnya, bagaimana kau bisa membuka?”

Bu Kie sangat mendongkol. Dia tidak dapat meladeni dan meraba-raba pinggiran sumur yang licin dan dingin.

“Thio-kongcu, Peh-houw Yu-ciangmu betul-betul lihay,” kata si nona. “Lubang jebakan ini terbuat dari baja murni yang licin luar biasa. Tapi kau masih bisa naik ke atas, betul-betul hebat... Hi-hi-hi...!”

“Apa yang lucu?!” bentak Bu Kie. Mendadak dia ingat bahwa nona itu sangat licin. Di dalam sumur mungkin terdapat jalan rahasia. “Aku tidak dapat membiarkan dia kabur seorang diri,” pikirnya. Setelah berpikir demikian dia segera mencengkeram tangan si nona.

Tio Beng terkesiap, “Mau apa kau?” tanyanya.

“Kau tidak usah berharap dapat lari seorang diri,” jawab Bu Kie. “Kalau kau masih kepingin hidup, bukalah jalan keluar.”

“Kau tidak usah bingung,” kata Tio Beng. “Kita tidak akan mati kelaparan dalam jebakan ini. Jika orang-orangku tidak melihat aku, mereka pasti akan datang kemari untuk melepaskan kita. Aku hanya kuatir, mereka menduga aku pergi keluar. Kalau mereka menduga begitu, maka celakalah kita.”

“Apakah di sumur ini tidak ada jalan keluar?”

“Kulihat kau bukan manusia goblok, tapi mengapa kau ajukan pertanyaan yang setolol ini? Jebakan ini dibuat bukan untuk ditempati sendiri, tapi untuk menangkap musuh. Perlu apa dibikin jalan keluar?”

Bu Kie merasa perkataan Tio Beng ada benarnya juga. “Menjeplaknya papan penutup dan jatuhnya kita pasti didengar orang-orangmu,” katanya. “Tapi mengapa mereka belum datang? Lekas panggil mereka!”

“Orang-orangku sedang menjalankan tugas,” jawabnya. “Besok kira-kira waktu begini barulah mereka kembali. Kau tidak perlu bingung. Mengasolah tenang-tenang. Bukankah tadi kau sudah makan sampai kenyang?”

Bu Kie menjadi marah. Dia tidak keberatan untuk berdiam lebih lama di dalam jebakan ini. Tapi bagaimana keselamatan kakeknya dan yang lain-lain? Ia mencengkeram tangan si nona lebih keras dan membentak,

“Kalau kau tidak segera melepaskan aku, lebih dulu aku akan mengambil jiwamu.”

Tio Beng tertawa, “Jika kau membunuhku maka kau tidak akan dapat keluar dari penjara ini,” katanya. “Eh...! Perlu apa kau pegang tanganku?”

Bu Kie jadi malu hati, cepat ia melepaskan cekalannya. Ia mundur dua tindak lalu duduk di lantai. Tapi karena sumur itu terlalu kecil, mau tidak mau dia mencium bau wangi yang keluar dari tubuh si nona. Makin lama Bu Kie semakin mendongkol. Tiba-tiba ia bangkit lantas berkata dengan suara marah,

“Beng-kauw dan kau sama sekali belum pernah bermusuhan. Mengapa kau begitu jahat?”

“Ada banyak hal yang tidak kau mengerti,” jawabnya. “Karena kau sudah bertanya begitu, biarlah aku menceritakan sebab musababnya, dari kepala sampai di buntut. Apa kau tahu siapa aku sebenarnya?”

Bu Kie ingin sekali mendengar asal usul dan maksud si nona. Tetapi kalau ia mendengar cerita, mungkin In Thian Ceng dan yang lainnya keburu mati. Lagi pula cerita wanita itu belum tentu benar. Jalan satu-satunya adalah memaksa supaya ia membuka papan penutup. Ia lantas berkata,

“Aku tak punya waktu untuk mendengarkan ceritamu. Jawablah pertanyaanku ini. Kau mau atau tidak meneriaki orang-orangmu membuka besi penutup itu?”

“Aku sudah memberi-tahu kau semua orangku tidak berada di sini,” jawabnya. “Selain itu teriakan sekeras apapun takkan terdengar.”

Darah Bu Kie meluap, bagaikan kalap ia menubruk. Tio Beng terkejut dan mencoba melawan, tapi jalan darahnya segera tertotok sehingga dia tidak bisa bergerak. Sambil mencekik tenggorokan si nona, Bu Kie membentak. “Sedikit saja aku menambah tenaga, jiwamu melayang!”

Tio Beng megap-megap. Tiba-tiba dia menangis. “Kau menghina aku! Kau menghina aku!” teriaknya.

Kejadian ini lagi-lagi di luar dugaan Bu Kie. Ia melepaskan cengkeramannya dan berkata,

“Aku tak berniat menghina kau. Aku hanya ingin supaya kau melepaskan aku.”

“Baiklah,” kata si nona. “Aku akan panggil orang-orangku.“ Sehabis berkata begitu, ia pun berteriak. “Hei...! hei...! Kemari! Buka penutup jebakan! Aku jatuh ke dalam penjara baja.“ Tapi di luar sepi-sepi saja. Segera ia tertawa dan berkata, “Kau lihatlah! Bukankah tiada gunanya aku berteriak-teriak?”

“Sungguh kau tak mengenal malu!” kata Bu Kie dengan mendongkol. “Sebentar menangis, sebentar tertawa.”

“Kau yang tak tahu malu!” bentak si nona. “Lelaki menghina perempuan.”

Bu Kie mengeluarkan suara di hidung. “Engkau bukan perempuan biasa!” katanya. “Akal bulusmu terlalu banyak, sepuluh lelaki belum tentu bisa menandingi kau seorang.”

Tio Beng tertawa geli. “Aku yang rendah tidak sanggup menerima pujian terlalu tinggi dari Thio-kauwcu yang mulia,” katanya.

Bu Kie mengertak gigi. Waktu sudah sangat mendesak. Bila dia asal-asalan maka semua pemimpin Beng-kauw akan binasa. Tiba-tiba tangannya menyambar dan merobek bagian bawah kain si nona.

Tio Beng terkesiap dan berteriak dengan suara terputus-putus. “Mau... mau... bikin apa... kau?”

“Kalau kau bersedia melepaskan aku dari penjara ini, manggutkan saja kepalamu,” jawab si pemuda.

“Mengapa begitu?” tanya pula si nona.

Bu Kie tidak menyahut, tapi segera membasahi kain sobekan itu dengan ludahnya. “Maaf, aku tidak bisa berbuat lain,” katanya seraya menyumbat mulut dan hidung si nona dengan kain.

Tio Beng tidak bisa bernapas. Tapi dia bandel sekali. Walau pun dadanya menyesak dan selebar mukanya sudah berubah merah, dia tetap tak mau mengangguk. Akhirnya kedua matanya berkunang-kunang dan dia pun jatuh pingsan.

Bu Kie memegang nadi si nona. Ketukan nadi itu ternyata sudah sangat lemah sehingga dia buru-buru mencabut kain yang menyumbat mulut dan hidung Tio Beng. Beberapa saat kemudian Tio Beng sadar. Ia membuka kedua matanya dan mengawasi dengan penuh kemarahan.

“Tak enak, bukan?” tanya si pemuda. “Bagaimana? Apa kau bersedia untuk melepaskan aku?”

“Tidak akan!” bentaknya dengan bernafsu. “Biar pun pingsan ratusan kali, tidak akan melepaskan kau. Kalau penasaran, kau boleh membunuhku.”

Mendengar jawaban yang keras kepala ini, Bu Kie tertegun dan tidak tahu apa yang harus diperbuatnya. Akhirnya sambil menggertak gigi ia berkata,

“Untuk menolong nyawa banyak orang, aku terpaksa berlaku kasar terhadapmu dan kuharap kau suka memaafkan.“

Sehabis berkata begitu ia memegang kaki kiri Tio Beng dan melucuti sepatu serta kaus kakinya. Si nona kaget bercampur marah.

“Anak bau! Mau berbuat apa kau?” teriaknya.

Tanpa menjawab Bu Kie membuka sepatu dan kaus kaki, kemudian dengan telunjuk dia menotok Yong-coan-hiat di kedua telapak kaki si nona. Sesudah itu dia mengerahkan Kiu-yang Sin-kang dan mengirim hawa hangat dari ‘hiat’ tersebut. Yong-coan-hiat yang terletak di bagian cekungan telapak kaki adalah permulaan dari jalan darah Ciok-siauw-im Kian-keng dan merupakan bagian tubuh manusia yang amat perasa. Sebagai seorang yang mahir ilmu ketabiban Bu Kie tahu kenyataan ini. Apa bila bagian itu dikitik, orang akan merasa geli luar biasa hingga sekujur tubuhnya lemas kesemutan. Kiu-yang Sin-kang yang dikirim Bu Kie seratus kali lebih dahsyat dari pada dikitik.

Semula Tio Beng tertawa geli terus menerus. Dia mau meronta, tetapi karena ditotok kaki tangannya tidak dapat bergerak. Sesaat kemudian dia merasakan penderitaan yang lebih hebat dari pada bacokan golok atau cambukan. Ia merasa seperti berlaksa kutu merayap dan menggigit isi perutnya serta tulang-tulangnya. Dari tertawa sekarang ia menangis dan sesambat. Sambil mengeraskan hati Bu Kie terus mengirim Sinkang-nya. Keringat dingin membasahi baju si nona, jantungnya seolah-olah hendak melompat keluar.

“Anak bau...!” cacinya. “Bangsat... bangsat tengik...! Suatu hari... aku... aku akan cincang kau...! Aduh...! Ampun...! Ampun...! Thio-kongcu... hu.hu hu...!”

“Kau mau lepaskan aku atau tidak?” tanya Bu Kie.

“Le... pas! Ampun...!“ jawabnya.

Bu Kie segera menarik kembali Sinkang-nya lalu menepuk punggung si nona beberapa kali sehingga jalan-jalan darah yang tertotok segera terbuka lagi. Napas Tio Beng tersengal-sengal. Beberapa saat kemudian barulah dia mampu membuka suara.

“Bangsat! Pakaikan sepatuku.”

Bu Kie segera mengambil kaos kaki dan sepatu si nona, lalu memegang kaki kirinya. Tadi waktu membuka kaos kaki, dalam marahnya dia tidak punya pikiran lain. Tetapi sekarang, begitu tangannya menyentuh tumit kaki yang halus lemas itu, jantungnya berdetak keras.

Di lain pihak si nona pun mengalami perasaan serupa sehingga parasnya berubah merah. Untung sekali karena berada di tempat gelap Bu Kie tidak bisa melihat perubahan paras muka itu. Dengan cepat kedua kakinya sudah memakai sepatu dan kaos kaki lagi. Tiba-tiba ia mendapat perasaan luar biasa. Di dalam hati kecilnya ia kepingin pemuda itu memegang kakinya lagi. Mendadak dia tersadar. Kupingnya mendengar bentakan Bu Kie.

“Lekas! Lekas lepaskan aku!”

Tanpa menjawab tangannya meraba dinding jebakan, kemudian dengan gagang pedang, ia mengetuk-ngetuk sebuah lingkaran yang diukir pada dinding baja itu. Setelah mengetuk beberapa kali, sekonyong-konyong terdengar suara menjeplak dan penutup jebakan terbuka. Ternyata pada lingkaran itu terdapat alat rahasia yang dihubungkan kepada para penjaga di luar jebakan. Begitu melihat isyarat yang diberikan majikannya, si penjaga segera membuka tutup lubang. Bu Kie kaget tercampur girang.

“Mari kita keluar,” katanya.

Tapi Tio Beng tidak bergerak, dia tetap berdiri sambil menundukkan kepala. Melihat itu dan mengingat akan perbuatannya, Bu Kie merasa tidak enak hati. Dia cepat-cepat membungkuk seraya berkata,

“Tio-kouwnio, tadi karena sangat terpaksa aku sudah melakukan perbuatan yang sangat tidak pantas terhadapmu. Aku harap kau tidak menjadi marah.”

Si nona tetap tidak menyahut. Ia bahkan memutar badan dan berdiri menghadapi dinding jebakan. Pundaknya bergoyang-goyang seperti orang sedang menangis. Waktu sedang mengadu kepandaian, Bu Kie merasa amat mendongkol terhadap nona ini yang dianggapnya wanita kejam. Namun sekarang di dalam hatinya muncul rasa kasihan.

“Tio-kouwnio,” katanya dengan suara menyesal, “Sekarang aku mau pergi. Aku mengaku bahwa aku sudah berbuat dosa terhadapmu dan kuharap kau suka memaafkan.“

Sesudah berkata begitu, dengan menggunakan ilmu Peh-houw Yu-ciang dia pun merayap ke atas. Setibanya di mulut lubang, sambil menendang pinggiran jebakan hingga tubuhnya melesat ke atas, dia juga mengibaskan kedua tangan bajunya untuk menjaga bokongan. Sebelum kakinya hinggap di bumi, dia menyapu seputar Sui-kok dengan kedua matanya, tetapi di situ tidak kelihatan bayangan manusia. Tanpa menyia-nyiakan waktu lagi ia melompati tembok dan dengan mempergunakan ilmu ringan badan, ia segera menuju ke tempat berkumpulnya rombongan Beng-kauw. Karena terjebak maka ia terlambat kira-kira satu jam. Apakah In Thian Ceng dan yang lain-lain masih bisa ditolong? Dengan penuh rasa kuatir ia berlari sekencang-kencangnya dan dalam beberapa saat sudah hampir tiba di tempat yang dituju. Mendadak hatinya mencelos. Bukan main kagetnya karena ia melihat sepasukan serdadu Mongol berkuda mengurung rombongan Beng-kauw dan melepaskan anak panah.

“Celaka!” ia mengeluh lalu mempercepat langkahnya.

Sekonyong-konyong dari tengah rombongan Beng-kauw terdengar suara seorang wanita yang sangat nyaring.

“Swie-kim-kie menyerang dari timur laut! Ang-sui-kie mengurung ke barat daya!”

Itulah suara Siauw Ciauw! Hampir berbareng dengan komando itu, pasukan Beng-kauw yang membawa bendera putih sudah menerjang dari timur laut dan sepasukan lain yang membawa bendera hitam mengurung ke barat daya. Barisan Goan segera dipecah untuk menahan kedua pasukan itu. Houw-touw-kie yang membawa bendera kuning dan Kie-bhok-kie yang membawa bendera hijau tiba-tiba menyerang dari tengah. Mereka menerjang bagaikan sepasang naga, yang satu kuning dan yang lain hijau. Barisan Goan terpukul pecah dan terpaksa mundur.

Dengan beberapa kali lompatan Bu Kie sudah berada di antara orang-orangnya sendiri. Melihat pemimpin mereka, semangat para anggota Beng-kauw langsung bangkit. In Thian Ceng, Yo Siauw dan yang lain-lain masih tetap bersila di tempat tadi, sedang Siauw Ciauw memimpin gerakan-gerakan Ngo-heng-kie dan Peh-bie-kie sambil berdiri di atas bukit kecil dan sebelah tangannya memegang bendera. Di bawah pimpinan si nona yang menggerak-gerakkan keenam bendera menurut ilmu Kie-bun Pat-kwa, semua serangan barisan Goan selalu dapat dipukul mundur.

“Thio-kongcu, gantikan aku,” kata Siauw Ciauw dengan suara girang.

“Pimpin terus!” jawab Bu Kie. “Aku akan membekuk pemimpin barisan musuh.“

Tiba-tiba beberapa batang anak panah menyambar ke arahnya. Dengan cepat ia menjambret sebatang tombak dari tangan seorang anggota Beng-kauw lantas memukul jatuh seluruh anak panah itu. Sesudah itu, sambil mengerahkan Sinkang dia menimpukkan tombaknya yang amblas di dada seorang Pek-hu-thio. Sejumlah serdadu yang mengiring Pek-hu-thio (Pemimpn dari seratus prajurit) itu menjadi ketakutan lantas mundur serabutan.

Sekonyong-konyong dari kejauhan terdengar bunyi terompet tanduk, disusul dengan munculnya belasan penunggang kuda yang datang dengan cepat. Bu Kie yang bermata paling jeli mengenali bahwa di dalam rombongan itu terdapat Sin-cian Pat-hiong. Dia kaget dan berkata dalam hatinya. “Kalau mereka turun tangan, akan banyak saudara yang menjadi korban. Lebih baik aku turun tangan lebih dulu.” Tapi ternyata bahwa mereka tak bermaksud menyerang. Dari jauh Tio It Siang yang menjadi pemimpin menggoyangkan sebatang tongkat pendek kepala naga yang berwarna kuning emas.

“Majikan mengeluarkan perintah untuk segera menarik kembali tentara!” teriaknya.

Seorang Cian-hu-thio (Pemimpin dari seribu prajurit) yang memimpin barisan itu langsung berteriak dalam bahasa Mongol dan seluruh barisan segera mundur teratur. Sementara itu, dengan tangan menyangga nampan Cian Jie Pay segera melompat turun dari tunggangannya lalu menghampiri Bu Kie. Seraya membungkuk ia berkata,

“Majikanku minta Kauwcu suka menerima ini sebagai kenang-kenangan.“

Di atas nampan yang dialasi dengan selembar sutera sulam warna kuning itu ada sebuah kotak emas dengan ukiran yang sangat indah. Bu Kie mengambil kotak itu yang kemudian diserahkan kepada Siauw Ciauw. Cian Jie pay membungkuk lagi kemudian, sesudah mundur tiga tindak barulah melompat ke punggung tunggangannya. Sesudah musuh mundur dan rombongan Sin-cian Pat-hiong berlalu, tanpa menyia-nyiakan waktu lagi, dari sakunya Bu Kie lantas mengeluarkan pohon bunga yang serupa Ciu-sian. Dia minta air bersih, kemudian menghancurkan semua ubi yang berwarna merah di dalam air. Campuran itu segera diberikan kepada Ie Thian Ceng dan yang lain-lain untuk diminum.

Kecuali Bu Kie sendiri yang dilindungi Kiu-yang Sin-kang sehingga tidak mempan racun, semua orang yang turut makan minum di Sui-kok sudah kena racun. Yo Put Hwie terbebas karena dia menemani In Lie Heng di dalam kamar, begitu pula Siauw Ciauw dan para anggota Beng-kauw lainnya yang makan minum di ruangan lain. Obat yang diberikan Bu Kie ternyata sangat mustajab. Belum sampai setengah jam, rasa pusing sudah hilang dan yang masih ketinggalan hanyalah perasaan lemas. Menjawab pertanyaan beberapa orang bagaimana caranya ia tahu tentang keracunan ini, sambil menghela napas Bu Kie berkata.

“Kita semua berhati-hati, maka jika racun ditaruh dalam makanan atau minuman, kita dapat segera mengetahuinya. Di luar dugaan cara wanita itu lihay luar biasa. Sebelum kalian merasa pusing, siapa pun juga tidak akan bisa menebaknya. Pohon kembang yang menyerupai bunga Cui-sian itu adalah pohon Cui-sian Leng-hu yang jarang terdapat di dunia. Pada hakekatnya pohon itu tidak beracun. Di lain pihak, pedang Ie-thian-kiam kayu itu terbuat dari kayu Kie-kiauw Hiang-bhok yang terdapat di dasar laut. Kayu ini pun pada hakekatnya tidak beracun. Akan tetapi di sinilah letaknya kunci persoalan. Jika bau wangi dari Cui-sian Leng-hu dan Kie-kiauw Hiang-bhok bercampur menjadi satu, maka kedua macam wangi-wangian itu akan berubah menjadi racun yang sangat berbahaya.”

Ciu Tian menepuk lututnya. “Aha! Kalau begitu akulah yang bersalah,” teriaknya. “Akulah yang gatal tangan mencabut pedang kayu itu.”

“Ciu-heng tidak bersalah,” kata Bu Kie. “Wanita itu sudah bertekad untuk mencelakai kita, maka walau pun Ciu-heng tidak mencabut pedang itu, dia tentu akan mencari jalan untuk mencabutnya. Kejadian itu tidak akan bisa dicegah.”

“Kurang ajar!” si semberono berteriak dengan marah. “Mari kita bakar perkampungannya sampai rata dengan bumi!”

Baru saja berkata begitu, di kejauhan tiba-tiba terlihat mengepulnya asap hitam. Lek-liu-chung benar-benar terbakar! Para pemimpin saling pandang tanpa bisa mengeluarkan sepatah katapun. Semua orang merasa kagum sekali. Ternyata Tio Beng bisa menghitung dengan tepat. Ia sudah menduga bahwa sesudah racun dipunahkan maka jago-jago Beng-kauw akan kembali untuk membakar perkampungannya sehingga oleh karenanya ia telah mendahului dengan membakarnya sendiri. Walau pun ia masih berusia muda dan hanya seorang wanita, nona Tio ternyata merupakan seorang lawan yang tidak boleh dipandang enteng.

“Lebih baik kita mengejar mereka dan menghajarnya sampai mereka bertobat,” kata Ciu Tian.

“Sesudah dia membakar perkampungannya sendiri, kita tahu bahwa dia telah menyiapkan segalanya dalam setiap tindakannya,” kata Yo Siauw. “Kurasa belum tentu kita dapat menyusul mereka.”

“Yo-heng, kau sungguh pintar,” kata Ciu Tian. “Dalam akal budi kau memang lebih tinggi dari pada Ciu Tian.”

Yo Siauw tertawa, “Aduh! Aku tidak berani menerima pujian Ciu-heng,” katanya. “Dalam hitung-hitungan, mana bisa siauwte menandingi Ciu-heng.”

“Sudahlah, Jie-wi tidak usah saling merendahkan diri,” menyela Bu Kie seraya tersenyum. “Bahwa hanya beberapa belas saudara terluka enteng karena panah dan bahwa kita tidak menderita kerusakan lebih hebat, sudah dapat dikatakan untung sekali. Sekarang mari kita meneruskan perjalanan.”

Di tengah jalan beberapa orang bertanya kepada Bu Kie bagaimana ia bisa menebak keracunan itu.

“Aku ingat dalam Tok-keng terdapat keterangan yang mengatakan bahwa jika bau wangi dari kayu Kie-kauw Hiang-bhok tercampur dengan bau wangi sebangsa kembang Hu-yong, maka bebauan itu mengakibatkan mabuk, seperti mabuk arak, selama beberapa hari. Bila hawa beracun itu masuk ke dalam isi perut, maka jantung dan paru-paru bisa rusak. Itulah sebabnya kenapa tadi aku melarang kalian mengerahkan tenaga dalam. Mana kala kalian mengerahkan khie (hawa) sehingga racun masuk ke dalam pembuluh darah, maka besarnya bahaya tidak bisa ditaksir lagi.”

“Tidak dinyana si budak Siauw Ciauw berjasa besar,” kata Wie It Siauw. “Kalau pada detik berbahaya tadi dia tidak tampil ke muka, kita akan mendapat kerusakan besar sekali.”

Perbuatan Siauw Ciauw terutama membingungkan Yo Siauw. Ia telah menduga bahwa si nona adalah mata-mata musuh yang mau menyelidiki segala rahasia Beng-kauw. Tapi sekarang si nona berbalik menjadi seorang penolong. Malam itu rombongan Beng-kauw menginap di sebuah penginapan. Seperti biasa, Siauw Ciauw membawa sepaso (sebaskom) air cuci muka ke kamar Bu Kie.

“Siauw Ciauw, hari ini kau sudah berjasa besar sekali,” kata Bu Kie. “Mulai sekarang kau tidak usah melakukan tugas pelayan lagi.”

Si nona tersenyum. “Aku justru merasa senang jika bisa merawat kau,” katanya. “Semua tugas sama saja, yang satu tidak lebih mulia dari pada yang lain.” Sesudah Bu Kie mencuci muka, si nona mengeluarkan kotak emas yang dikirim Tio Beng. “Apa isinya?” tanyanya. “Mungkin racun, mungkin senjata rahasia. Kita harus berhati-hati.”

“Ya, kita harus berhati-hati,” kata Bu Kie. Dia menaruh kotak itu di atas meja dan sesudah menarik tangan si nona agar menyingkir agak jauh, kemudian dia menimpuknya dengan uang tembaga.

“Tringg...!”

Uang itu kena tepat di pinggir kotak dan penutupnya lantas terbuka. Bu Kie mendekat dan melongok ke dalam kotak yang isinya ternyata kembang mutiara yang pernah dipetik dari konde nona Tio. Dua butir mutiara yang katanya hilang, juga sudah berada di tempatnya. Bu Kie mengawasi dengan mata terbelalak. Dia tahu apa artinya ini.

“Thio-kongcu,” kata Siauw Ciauw sambil tertawa. “Thio-kouwnio bersikap manis luar biasa terhadapmu.”

“Aku seorang laki-laki, perlu apa dengan perhiasan ini?” kata Bu Kie. “Siauw Ciauw, kau ambillah.”

Si nona tertawa nyaring. Sambil menggoyang-goyangkan tangannya dia berkata, “Tidak! Tidak boleh begitu. Bagaimana aku dapat menerima hadiah itu yang diberikan kepadamu dengan penuh kecintaan?”

Tanpa berkata apa-apa lagi Bu Kie segera menjemput kembang mutiara itu. “Kena!” serunya seraya menimpuk. Timpukan itu tepat sekali menancap di rambut Siauw Ciauw tanpa melukai kulit kepalanya.

Si nona mau mencabutnya, tapi Bu Kie buru-buru mencegah dengan berkata, “Anak baik, apakah aku tidak boleh menghadiahkan sesuatu kepadamu?”

Paras muka si nona lantas bersemu merah. Ia menunduk dan berkata, “Terima kasih. Tapi aku kuatir Tio-siocia akan marah jika dia melihat aku memakai perhiasan ini.”

“Tidak!” bantah Bu Kie. “Hari ini kau sudah berjasa besar. Yo-cosu, ayah dan anak takkan curiga lagi.”

Siauw Ciauw jadi girang sekali. “Melihat Kongcu belum juga kembali, hatiku amat bingung. Apa lagi belakangan datang barisan Goan itu yang langsung mengurung dan menyerang,” katanya. “Entah bagaimana dan entah dari mana aku mendapat keberanian, tahu-tahu aku sudah memegang bendera dan berteriak-teriak. Jika sekarang aku mengingat kejadian itu, hatiku masih takut. Thio-kongcu, kumohon kau mau berkata begini kepada Ngo-heng-kie dan Peh-bie-kie: 'Kuharap kalian tidak merasa kecil hati untuk segala kekurang ajaran Siauw Ciauw’.”

Bu Kie tersenyum, “Kau gila?” katanya. “Seharusnya mereka berterima kasih kepadamu.”

Sambil berjalan para pemimpin Beng-kauw bercakap-cakap membicarakan soal Tio Beng dan meraba-raba asal usulnya, tapi tak satu pun yang bisa menebak. Bu Kie sendiri menceritakan bagaimana dia mengambil Cui-sian Leng-hu, tapi menyembunyikan hal terjebaknya dan segala kejadian di penjara baja. Meski benar segala tindakannya dapat dipertanggung-jawabkan, akan tetapi dia merasa jengah untuk menceritakannya.

Pada suatu hari tibalah mereka di daerah Ho-lam. Jaman itu adalah jaman kalut. Rakyat Tiongkok mulai bangkit melawan penjajah. Di mana-mana tentara Mongol mengadakan pemeriksaan yang amat keras. Untuk menghindari kecurigaan dan mencegah kerewelan tentara penjaga, rombongan Beng-kauw dipecah untuk kemudian berkumpul lagi di kaki gunung Siong-san. Dari situ mereka akan mendaki Siauw-sit-san. Gouw Kin Co diperintahkan jalan lebih dulu dengan membawa karcis nama Bu Kie dan pemimpin lain untuk dipersembahkan kepada Hong-thio Siauw-lim-si.

Meski pun Bu Kie tidak menghendaki pertempuran, tetapi dia mengerti bahwa kesudahan kunjungannya ke Siauw-lim-si itu masih merupakan teka-teki. Mana kala pendeta-pendeta Siauw-lim tidak bisa diajak bicara dan menyerang lebih dahulu maka Beng-kauw mau tidak mau harus melayani. Maka ia segera mengeluarkan perintah supaya menyamar sebagai pelancong, ada pun anggota-anggota Ngo-heng-kie dan Peh-bie-kie akan berpencar di seputar kuil dan mereka harus segera menerjang masuk ketika mendengar tiga siulan panjang. Perintah itu segera dijalankan dengan semangat. Tidak lama kemudian seorang Tie-kek-ceng (pendeta penyambut tamu) ikut Gouw Kin Co turun dari atas gunung.

“Kauwcu,” kata pendeta itu kepada Bu Kie. “Hong-thio beserta para Tianglo dari kuil kami sedang menutup diri dan bersemedi, mereka tidak dapat menemui Kauwcu. Kami harap Kauwcu sudi memaafkan.”

Mendengar itu paras muka semua orang berubah. “Pendeta-pendeta Siauw-lim benar-benar sombong!” kata Ciu Tian dengan marah. “Mereka sama sekali tidak peduli bahwa yang datang berkunjung adalah Kauwcu kami sendiri.”

Pendeta itu menundukkan kepala dengan paras duka. “Tidak bisa menemui!” katanya.

Ciu Tian lebih marah lagi. Tangannya menyambar mencengkeram dada si pendeta tapi keburu ditangkap oleh Swee Put Tek.

“Ciu-heng, jangan sembrono,” bujuknya.

“Kalau Hong-thio sedang menutup diri, kami boleh bicara dengan Kong-tie dan Kong-seng Seng-ceng, bukan?” kata Pheng Eng Giok.

Tie-kek-ceng itu merangkapkan kedua tangannya dan berkata dengan suara dingin, “Tidak bisa menemui!”

“Bagaimana kalau Siu-co dari Tat-mo-tong?” tanya Pheng Eng Giok. “Jika Siu-co Tat-mo-tong juga tak bisa menemui kami, kami bersedia untuk bicara saja dengan Siu-co Lo-han-tong.”

Tapi jawaban si pendeta tetap tidak berbeda, “Tidak bisa menemui!” katanya.

In Thian Ceng meluap darahnya. “Gila!” teriaknya. “Kau bilang saja, apakah pemimpinmu mau menemui kami atau tidak?” Hampir bersamaan dengan bentakannya, ia menghantam sebuah pohon siong tua dengan kedua tangannya. Pohon itu patah dan roboh.

Pendeta itu ketakutan. “Kalian yang datang dari tempat jauh sesungguhnya harus diterima dengan segala kehormatan,” katanya. “Tapi menyesal sekali para pemimpin kami sedang menutup diri sehingga kami mohon kalian sudi datang lagi di lain waktu.“ Seraya berkata begitu dia membungkuk dan memutar badan.

Dengan sekali melompat Wie It Siauw sudah menghadang di hadapannya. “Bolehkah aku tahu hoat-beng Taysu yang mulia?” tanyanya.

“Hoat-beng Siauw-ceng adalah Hui-hian,” jawabnya.

Mendengar itu, segenap pemimpin Beng-kauw menjadi dongkol bukan kepalang. Seorang pendeta Siauw-lim yang memakai nama ‘Hui’ adalah pendeta tingkat ketiga yang hidup di jaman itu. Sebagaimana diketahui, yang paling tinggi adalah ‘Kong’, ada pun yang kedua adalah ‘Goan’. Bahwa Siauw-lim hanya mengirim seorang wakil dari tingkatan ‘Hui’ untuk menyambut pemimpin Beng-kauw dianggap hinaan paling besar. Dengan paras muka marah Wie It Siauw menepuk pundak pendeta ini.

“Baiklah!” katanya. “Sejak tadi Taysu terus menerus mengatakan tidak bisa menemui. Jika Giam-lo-ong yang memanggil, Taysu akan menemui atau tidak?”

Begitu ditepuk Hui-hian merasakan hawa dingin yang sangat hebat menerobos sehingga sekujur badannya gemetaran dan giginya gemelutukan. Sambil menahan rasa dingin dia berlari melewati Wie It Siauw dan terus kabur ke atas gunung dengan langkah limbung.

“Sesudah dia dipukul, guru dan paman-paman gurunya tidak akan menyudahi begitu saja,” Bu Kie menyambung perkataan itu. “Sekarang tidak ada jalan lain dari pada naik ke atas untuk melihat apakah pendeta-pendeta itu benar-benar tidak mau menemui kita.”

Semua mengangguk. Mereka merasa bahwa pertempuran hebat tak akan bisa dielakkan lagi. Siauw-lim-pay dikenal sebagai gunung Thay-san atau bintang Pak-tauw di rimba persilatan dan selama ribuan tahun partai ini dinamakan sebagai ‘partai yang tidak pernah terkalahkan’. Hari ini akan diputuskan, apakah Beng-kauw atau Siauw-lim-pay yang unggul. Mereka maklum di kuil Siauw-lim-si banyak orang pandai sehingga hebatnya pertempuran yang akan terjadi sulit dibayangkan. Mengingat begitu, dengan semangat bergelora para pemimpin Beng-kauw mendaki gunung.

BENCANA DI SIAUW-LIM-SI

Berselang kira-kira sepeminuman teh mereka tiba di pendopo Lip-swat-teng. Dengan rasa terharu Bu Kie ingat beberapa tahun yang lampau dia bersama Thay-suhunya bertemu dengan pendeta suci Siauw-lim-pay di pendopo ini. Waktu itu dia datang sebagai seorang bocah kurus kering yang menderita keracunan hebat, tapi sekarang dia berkunjung sebagai seorang Kauwcu dari Beng-kauw yang amat berpengaruh. Jangka waktu kunjungan itu hanya beberapa tahun tetapi seolah-olah sudah satu abad. Bu Kie menahan rombongannya di pendopo ini. Ia ingin menunggu wakil Siauw-lim-si. Sebelum menggunakan kekerasan dia mau bertindak menurut peraturan sopan santun. Namun mereka menunggu dengan sia-sia.

“Ayo kita naik!” kata Bu Kie akhirnya.

Dengan Yo Siauw dan Wie It Siauw di sebelah kiri serta In Thian Ceng dan In Ya Ong di sebelah kanan, Tiat-koan Tojin, Pheng Eng Giok, Ciu Tian dan Swee Put Tek di belakang, Bu Kie lalu memasuki pintu kuil Siauw-lim-si. Sesudah berada di dalam ruang sembahyang Tay-hiong Po-thian, mereka melihat patung Buddha yang agung, meja kursi yang mengkilap, asap hio yang mengepul ke atas berikut lampu-lampu yang menyala. Tapi tidak kelihatan bayangan manusia.

“Ketua Beng-kauw Thio Bu Kie bersama Yo Siauw, In Thian Ceng dan lain-lainnya datang berkunjung untuk bertemu dengan Hong-thio Taysu!” teriak Bu Kie yang suaranya disertai Iweekang dahsyat sehingga lonceng yang tergantung di ruangan mengeluarkan suara dengung.

Yo Siauw, Wie It Siauw dan yang lainnya saling pandang dengan perasaan kagum. Mempunyai pemimpin yang tenaga dalamnya begitu tinggi, mereka merasa dalam pertempuran sekali ini Beng-kauw akan memperoleh kemenangan. Teriakan Bu Kie bisa terdengar di seluruh kuil, namun sesudah menunggu beberapa lama seorangpun tak kelihatan batang hidungnya.

“Hei! Apa kalian hendak sembunyi seumur hidup?” teriak Ciu Tian berangasan.

Mereka menunggu lagi, tetap tiada satupun yang muncul. “Sudahlah!” kata In Thian Ceng. “Sekarang kita tak usah pedulikan akal apa yang sedang dijalankan mereka. Marilah kita masuk semua!” dengan diikuti yang lain dia maju lebih dulu dan terus menuju ke ruang belakang. Tapi seorang manusia pun tidak ditemuinya.

Mereka heran tak kepalang. Siauw-lim-pay adalah sebuah partai persilatan yang besar dan sejak dahulu sudah mempunyai nama yang sangat harum. Di dalam kuil terdapat banyak sekali pendeta yang tinggi ilmu silatnya dan banyak akal budinya. Namun hari ini mereka menjalankan ‘tipu kuil kosong’. Tipu apa ini? Tak bisa tidak suatu tipu yang sangat hebat! Mengingat itu mereka semakin berhati-hati. Mereka waspada di setiap langkahnya. Mereka sudah melewati Ka-lam-tian, belum juga menemui manusia. Tiba-tiba Wie It Siauw berkata,

“Swee Put Tek, mari kita mengamat-amati dari atas!”

Swee Put Tek mengangguk dan badannya mencelat ke atas, tapi sebelum kedua kakinya menginjak payon rumah, Wie It Siauw sudah berada di atas wuwungan.

“Ilmu meringankan badan Wie Hok-ong benar-benar tak akan bisa ditandingi oleh Put-thay Hwesio,” katanya di dalam hati.

“Hei! Pendeta-pendeta Siauw-lim-si!” teriak Ciu Tian. “Mengapa kalian main sembunyi terus menerus?”

Rombongan Bu Kie menyelidiki dari satu ruang ke lain ruang. Sebegitu jauh mereka bukan saja belum ketemu manusia, tetapi juga belum melihat tanda-tanda yang mencurigakan. Di ruangan berlatih silat Lo-han-tong, mereka mendapati kenyataan semua senjata yang biasanya terdapat di ruangan ini sudah tidak ada lagi. Tanpa mengeluarkan sepatah katapun mereka segera menuju ke Tat-mo-tong. Di atas lantai hanya terdapat sembilan lembar tikar yang sudah separuh rusak. Dengan sepasang alis berkerut Yo Siauw berkata,

“Kudengar Tat-mo-tong adalah tempat beristirahatnya para Cianpwe dari Siauw-lim-si, malah di antaranya ada yang tidak pernah keluar dari pintu ruangan ini selama sepuluh tahun. Mana bisa terjadi... mana bisa terjadi tanpa bertempur mereka menyembunyikan diri?”

“Hatiku sangat tak enak,” sambung Pheng Eng Giok. “Aku merasa di kuil ini sudah terjadi sesuatu yang sangat hebat, kejadian yang sangat buruk...”

Ciu Tian tertawa nyaring, “Ada-ada saja!” katanya.

Tiba-tiba Bu Kie ingat pengalaman waktu dia belajar Siauw-lim Kiu-yang-kang. “Coba kita pergi ke situ,” katanya.

Dengan diikuti pengiringnya, dia menuju ke kamar Goan-tin. Di dinding masih terlihat bekas-bekas dari bagian yang dahulu ditoblos Goan-tin, tetapi kamar itu kosong tiada manusianya.

“Coba kita menyelidiki Cong-keng-kok,” kata Yo Siauw.

Di Cong-keng-kok, rak-rak buku kosong semuanya! Ke mana perginya beberapa laksa jilid kitab suci? Semua menggeleng-gelengkan kepala. Mereka betul-betul pusing. Andai kata benar pemimpin-pemimpin Siauw-lim menyingkirkan diri, sepatutnya mereka akan meninggalkan beberapa orang untuk membersihkan kuil ini. Pasti Beng-kauw tidak akan menyusahkan mereka. Apakah jika mereka meninggalkan beberapa orang maka pemimpin Siauw-lim-si kuatir rahasianya terbuka?

Semuanya lantas kembali ke Tay-hiong Po-thian. Wie It Siauw dan Swee Put Tek yang menyusul belakangan melaporkan bahwa sesudah menyelidiki seluruh kuil mereka tidak mendapatkan apa pun bahkan si pendeta penyambut tamu pun turut menghilang. Sementara itu Yo Siauw memanggil Gan Hoan, pemimpin Houw-touw-kie dan memerintahkan supaya bersama semua anggota bendera tersebut menyelidiki kalau-kalau di dalam kuil ini terdapat jalan atau tempat rahasia untuk menyembunyikan diri.

Dua jam kemudian Gan Hoan kembali dengan laporan bahwa penyelidikannya tidak memberi hasil. Dia hanya menemukan beberapa kamar untuk menutup diri dan bersemedi, namun kamar itu kosong semua. Gan Hoan adalah seorang ahli bangunan dan di dalam Houw-touw-kie terdapat tukang membuat rumah yang pandai. Karena itu laporan tersebut tidak diragukan lagi.

Yo Siauw, In Thian Ceng, Pheng Eng Giok dan yang lain-lainnya adalah orang-orang yang berpengalaman luas dan berakal budi tinggi. Tapi sekarang mereka menemui jalan buntu. Mereka mengasah otak, berpikir bolak balik, tetap tak bisa menembus misteri yang aneh ini. Selagi mereka berunding, tiba-tiba di sebelah barat terdengar suara gedubrakan. Sebuah pohon siong tua roboh dengan tiba-tiba. Semua kaget dan memburu ke tempat itu. Pohon itu berada di pinggir sebuah pekarangan yang terkurung tembok dan batang yang patah menimpa tembok.

Ternyata pohon itu roboh karena terpukul, sebab urat-uratnya di bagian yang patah putus semua. Dilihat dari urat-uratnya yang sudah agak kering, pukulan itu bukan baru terjadi, tapi sudah berselang beberapa hari. Mendadak beberapa orang mengeluarkan seruan kaget.

“Ihh...!”

“Lihat ini!”

“Aha! Di sini terjadi pertempuran hebat!”

Di pekarangan itu memang terlihat adanya tanda-tanda bekas pertempuran. Baik di atas lantai batu hijau, di dahan pohon dan di tembok terlihat bekas bacokan senjata tajam atau pukulan-pukulan dahsyat. Kalau dilihat dari bekas-bekasnya, orang-orang yang bertempur adalah ahli silat kelas satu. Tapak-tapak kaki yang menggores lantai membuktikan Iweekang yang sangat tinggi dari orang-orang yang berkelahi.

Mendadak Wie It Siauw mengendus bau darah. Dalam pertempuran itu rupanya sudah mengucur banyak darah tapi karena semalam turun hujan besar, sebagian besar darah sudah hanyut dan hanya tersisa di beberapa tempat tertentu. Pekarangan itu sangat besar dan tadi waktu diperiksa, orang tidak memeriksa dengan teliti karena di situ tidak terdapat manusia. Jika pohon siong itu tidak roboh tentu mereka tidak akan datang lagi ke sini.

“Yo-cosu, bagaimana pendapatmu?” tanya Pheng Eng Giok.

“Tiga empat hari yang lalu di sini telah berlangsung pertempuran yang sangat hebat,” jawabnya. “Hal ini tidak usah disangsikan lagi. Apakah orang-orang Siauw-lim-si terbasmi semua?”

“Aku sependapat dengan Yo-cosu,” kata Pheng Eng Giok. “Tapi siapa musuh Siauw-lim-si? Mana ada partai yang begitu lihay? Apakah Kay-pang?”

“Biar pun Kay-pang partai besar dan memiliki banyak orang pandai, tapi Kay-pang tidak akan bisa membasmi semua pendeta di kuil ini,” kata Ciu Tian. “Yang bisa berbuat begini hanyalah Beng-kauw kita, tapi jelas-jelas bukan kita yang melakukannya.”

“Ciu Tian, lebih baik kau tidak usah mengeluarkan segala omong kosong,” kata Tiat-koan Tojin. “Apakah di antara kita ada yang tidak tahu bahwa kita tidak melakukan perbuatan ini?”

Tapi di luar dugaan perkataan Ciu Tian yang tadi dikatakan sebagai omong kosong mengingatkan sesuatu kepada Yo Siauw.

“Ahh...!” ia mengeluarkan seruan tertahan. “Kauwcu, mari kita pergi lagi ke Tat-mo-tong.”

Bu Kie tahu bahwa ajakan itu mesti ada sebabnya. “Baik,” katanya.

Cepat semuanya masuk lagi ke Tat-mo-tong. Di ruangan ini, di atas meja sembahyang yang berdiri di samping sembilan lembar tikar pecah, terdapat sebuah patung batu dari Tat-mo Couwsu. Wajah patung itu menghadap tembok dengan punggung menghadap keluar. Semua orang tahu bahwa patung itu adalah untuk memperingati sebuah kejadian penting dalam hidup guru besar tersebut. Menurut cerita, sesudah bersemedi menghadap tembok selama sembilan tahun Tat-mo Couwsu berhasil mendapatkan inti sari ilmu silat.

“Tadi kita sudah menyelidiki tempat ini. Perlu apa kita datang lagi ke sini?” tanya Ciu Tian.

Tanpa meladeni ucapan Ciu Tian, Yo Siauw berkata kepada In Ya Ong. “In Sie-heng, aku ingin minta bantuanmu. Mari kita putar patung Tat-mo Couwsu.”

“Jangan!” cegah In Thian Ceng.

Tat-mo Couwsu adalah pendiri Siauw-lim-si yang dipandang suci dan dipuja bukan saja oleh orang-orang Siauw-lim-pay, tapi juga semua tokoh persilatan di kolong langit.

“Harap Eng-ong jangan kuatir,” kata Yo Siauw. “Siauwte bertanggung jawab untuk segala akibatnya.” Seraya berkata begitu dia melompat ke atas meja sembahyang dan mencoba memutar patung itu. Namun karena terlalu berat, patung itu tidak bergeming.

“Ya Ong, bantulah,” kata sang ayah.

In Ya Ong segera melompat ke atas dan dengan tenaga dua orang, patung yang beratnya lebih dari dua ribu kati itu dapat diputar. Begitu patung diputar, paras muka semua orang langsung berubah pucat. Ternyata muka patung itu sudah dipapas rata hingga merupakan selembar papan batu dan di atasnya terdapat huruf-huruf yang berbunyi seperti berikut:

‘Lebih dahulu membasmi Siauw-lim.
Kemudian menumpas Bu-tong.
Yang merajai rimba persilatan hanyalah Beng-kauw’

Huruf-huruf itu ditulis dengan jari tangan yang seolah-olah memahat papan batu ini. Tanpa terasa semua orang lantas mengeluarkan seruan kaget. Itulah tipu daya yang sangat busuk, yang menimpakan semua dosa di atas pundak Beng-kauw. Dengan bersamaan Yo Siauw dan In Ya Ong melompat turun.

“Hidung kerbau Tiat-koan!” bentak Ciu Tian. “Jika aku tidak mengeluarkan omong kosong, Yo-cosu tidak bisa menebak kejahatan musuh.”

Tiat-koan Tojin tidak meladeni. Ia tak ada kegembiraan untuk bertengkar dengan saudaranya yang rewel ini.

“Yo-cosu, bagaimana kau dapat memikirkan bahwa pada patung itu terdapat sesuatu yang luar biasa?” tanyanya.

“Tadi waktu pertama aku masuk ke sini, aku sudah melihat bahwa patung itu memang digeser orang,” jawabnya. “Tetapi aku belum dapat berpikir bahwa dalam penggeseran itu bersembunyi tipu daya yang sangat busuk.”

“Ada hal lain yang belum dimengerti,” kata Pheng Eng Giok. “Tak bisa disangsikan lagi bahwa dengan huruf-huruf itu musuh ingin menumpahkan segala dosa di atas pundak Beng-kauw supaya kita dikeroyok seluruh rimba persilatan. Tapi mengapa musuh itu menghadapkan muka patung ke tembok? Kalau Yo-cosu tidak berotak cerdas, bukankah kita pun tidak tahu adanya huruf-huruf ini?”

Yo Siauw manggut-manggut. “Patung itu sudah diputar lagi oleh orang lain,” jawabnya. “Ada orang yang berkepandaian amat tinggi secara diam-diam membantu kita. Kita telah menerima budi yang sangat besar.”

Semua orang segera menanyakan siapa adanya orang itu. Yo Siauw menghela napas dan berkata,

“Aku pun tidak tahu...”

Ucapan itu tiba-tiba diputuskan teriakan Bu Kie. “Celaka...! Lebih dahulu membasmi Siauw-lim, kemudian menumpas Bu-tong... Bu-tong menghadapi bencana besar!”

“Kita harus segera membantu,” kata Wie It Siauw. “Sambil memberi bantuan, kita pun bisa menyelidiki siapa adanya anjing terkutuk itu.”

Pada saat itu pula di depan mata Bu Kie terbayang kecintaan Thay-suhu dan para pamannya. Apakah Song Wan Kiauw dan yang lain-lain sudah kembali ke Bu-tong? Di sepanjang jalan ia tidak pernah menerima berita mengenai gerak-gerik rombongan Bu-tong. Kalau rombongan itu terlambat, maka yang berada di gunung hanyalah Thay-suhu, murid-murid turunan ketiga dan Sam-supek Jie Thay Giam yang sudah cacat. Jika musuh menyerang, bagaimana mereka bisa melawannya? Mengingat itu, ia bingung bukan main.

“Para Cianpwe dan Heng-tiang!” katanya dengan suara nyaring. “Bu-tong adalah tempat asal mendiang ayahku. Sekarang Bu-tong menghadapi bencana. Kalau sampai terjadi sesuatu, maka di kemudian akan sukarlah bagiku menginjak bumi sebagai manusia terhormat. Menolong orang seperti menolong kebakaran, lebih cepat lebih baik. Sekarang aku minta supaya Wie Hok-ong mengikuti aku berangkat lebih dulu. Yang lain bisa menyusul. Kuminta Yo-cosu dan Gwa-kong sudi mengepalai rombongan kita.“ Sehabis berkata begitu, ia menyoja dan dengan sekali berkelebat, ia sudah berada di luar kuil.

Wie It Siauw mengikuti dengan ilmu ringan badan. Dalam sekejap mereka sudah melewati Lip-swat-teng. Di kolong langit tidak ada orang yang dapat menandingi mereka dalam ilmu ringan badan. Sesampainya di kaki gunung Siong-san, siang sudah berganti malam. Tetapi mereka terus melanjutkan perjalanan dan setelah berlari semalam suntuk, sudah melalui beberapa ratus li. Kecepatan lari Wie It Siauw tidak kalah dari Bu Kie, tetapi dalam jangka waktu panjang ia kalah tenaga dalam. Biar bagaimana pun jua lama-lama mereka merasa lelah.

“Dengan kecepatan seperti sekarang, untuk mencapai Bu-tong-san harus menggunakan waktu satu hari satu malam lagi,” kata Bu Kie dalam hati. “Manusia yang terdiri darah dan daging takkan bisa berlari terus menerus. Apa lagi dalam menghadapi musuh kelas berat kita harus menyimpan tenaga!” Berpikir begitu dia segera berkata,

“Wie Hok-ong, setibanya di kota aku ingin membeli dua ekor kuda untuk dijadikan tunggangan.”

Wie It Siauw memang sudah punya niat itu, namun dia merasa malu hati untuk buka mulut.

“Kauwcu, membeli kuda amat merepotkan,” katanya sambil tersenyum. “Perlu apa kita membuang-buang waktu?”

Tidak lama kemudian dari arah depan datang lima-enam penunggang kuda. Dengan sekali melompat Ceng-ek Hok-ong mengangkat tubuh dua penunggang kuda yang lantas dilepaskan di tanah dengan perlahan.

“Kauwcu, naiklah!” serunya.

Bu Kie ragu-ragu. Perbuatan itu tiada bedanya dengan merampok.

“Kauwcu!” teriak Wie It Siauw. “Demi kepentingan urusan besar kita tidak boleh terlampau menghiraukan segala hal remeh.”

Beberapa orang itu mengerti sedikit ilmu silat, maka mereka segera menyerang. Dengan tangan memegang les kuda, Wie It Siauw menendang kian kemari dan beberapa golok terpental.

“Bangsat! Siapa kau?!” bentak salah seorang.

Bu Kie mengerti bahwa kalau orang-orang itu diladeni terlalu lama maka Beng-kauw akan mendapat lebih banyak musuh. Maka itu dia segera melompat ke punggung seekor kuda lalu kabur bersama Wie It Siauw. Orang-orang itu mencaci, tapi mereka tidak berani mengejar.

“Meski pun kita berbuat begini karena terpaksa, tapi orang-orang itu pun mungkin memiliki urusan yang sangat penting,” kata Bu Kie. “Aku sungguh merasa tidak enak.”

Wie It Siauw tertawa nyaring. “Kauwcu,” katanya. “Janganlah kau memikirkan urusan yang tak ada artinya. Kalau dulu memang benar kita pernah berbuat seenaknya.“ Sehabis berkata begitu dia pun tertawa terbahak-bahak.

Mendengar itu Bu Kie berpikir, “Kalau orang menamakan Beng-kauw agama yang sesat memang beralasan juga. Tapi pada hakekatnya apa yang benar dan apa yang salah tak gampang disimpulkan begitu saja.“ Dia ingat bahwa kurang pengalaman dan pengetahuan dalam memikul beban Kauwcu yang amat berat sehingga dia sering ragu-ragu dalam mengambil keputusan. Biar pun dia memiliki ilmu silat sangat tinggi, tapi urusan-urusan penting di dunia tidak bisa dibereskan dengan mengandalkan ilmu silat saja.

Dengan pikiran kusut dia larikan tunggangannya. Dia hanya berharap agar berhasil dalam usaha menjemput Cia Sun. Agar dia bisa menyerahkan tanggung jawab yang berat ini kepada ayah angkatnya. Berpikir sampai di situ, tiba-tiba berkelebat bayangan manusia dan dua orang menghadang di tengah jalan.

Bu Kie dan Wie It Siauw cepat-cepat menahan kudanya. Yang mencegat mereka adalah pengemis anggota Kay-pang yang bersenjata tongkat baja dan menggendong karung.

“Minggir!” bentak Wie It Siauw sambil mengedut tali les (tali pengikat kuda) dan menyabet salah seorang dengan cambuk.

Pengemis itu menangkis dengan tongkatnya, sedangkan kawannya mengeluarkan siulan nyaring seraya mengibaskan tangan kirinya. Kuda Wie It Siauw terkejut lantas berjingkrak. Pada saat itu pula dari gombolan pohon-pohon melompat pengemis lain yang kalau dilihat dari gerakannya berkepandaian cukup tinggi.

“Kauwcu, jalanlah lebih dahulu!” seru Ceng-ek Hok-ong. “Biar aku yang melayani kawanan tikus ini.”

Bu Kie dongkol bukan kepalang. Pencegatan ini membuktikan bahwa Bu-tong-pay benar-benar menghadapi bencana. Dengan mengingat bahwa Wie It Siauw memiliki ilmu ringan badan yang sangat tinggi sehingga andai kata dia tidak mampu memperoleh kemenangan sedikitnya dia masih dapat menyelamatkan diri, maka Bu Kie segera menjepit perut kuda dengan kedua lututnya dan binatang itu segera lompat menerjang.

Dua orang pengemis merintangi Bu Kie dengan tongkatnya. Sambil mencondongkan tubuh Bu Kie menangkap kedua tongkat itu kemudian dilemparkan. Hampir bersamaan kedua pengemis mengeluarkan teriakan kesakitan lantas roboh di tanah karena tulang betisnya patah terpukul tongkatnya sendiri. Sebenarnya Bu Kie tak berniat melukai orang, tetapi karena melihat empat pengemis yang baru datang dan berkepandaian tinggi, maka dia terpaksa turun tangan untuk membantu Wie It Siauw.

Meski pun Siong-san dan Bu-tong-san terletak di dua propinsi yang berbeda, tapi lantaran yang satu berada di Ho-lam barat dan yang lainnya berada di Ouw-pak utara, maka jarak antara kedua gunung itu tidak terlampau jauh. Sesudah melewati Ma-san-kauw, daerah di sebelah selatan adalah tanah datar sehingga kuda dapat berlari lebih cepat. Sekitar tengah hari, sesudah melalui Lwee-hiang Bu Kie segera berhenti di sebuah pasar untuk membeli makanan guna menahan perut.

Selagi makan mendadak dia mendengar pekik kesakitan dari kudanya. Dia menengok dan dengan terkejut dia melihat ada sebatang pisau tertancap pada perut kuda dan berkelebat bayangan manusia yang mencoba melarikan diri. Tidak salah lagi, binatang itu ditikam orang tersebut. Dengan beberapa lompatan saja Bu Kie berhasil membekuk orang itu yang ternyata juga seorang murid Kay-pang dengan baju berlepotan darah kuda. Dengan marah dia menotok Toa-tio-hiatnya supaya pengemis itu menderita selama tiga hari tiga malam. Bu Kie jadi bingung. Kudanya mati dan ia tidak punya uang lagi. Tapi waktu menggeledah tawanannya, ia mendapatkan seratus tahil perak lebih.

“Kau telah membunuh kudaku, maka biarlah kuambil uang ini sebagai gantinya,” katanya.

Dia pergi ke pasar dan secara kebetulan melihat kuda yang sikapnya garang. Sesudah melemparkan seratus tahil perak lebih di tanah, tanpa mempedulikan si pemilik kuda lagi dia lantas melompat ke punggung kuda yang lalu dilarikan sekencang-kencangnya. Tak lama kemudian dia tiba di Sam-koan-tian di tepi sungai Han-sui. Sungguh beruntung di pinggir sungai kelihatan berlabuh sebuah perahu eretan besar. Sambil menuntun kudanya dia turun ke perahu dan minta diseberangkan.

Selagi perahu melaju di tengah sungai, di depan mata Bu Kie terbayang kejadian di masa lampau. Ia jadi teringat. Sekembalinya dari Siauw-lim-si, saat menyeberangi Han-sui bersama Thay-suhu, dia bertemu Siang Gie Cun kemudian menolong nona she Ciu. Dengan pikiran melayang dia mengawasi air sungai yang berombak. Mendadak ia sadar dari lamunannya karena perahu bergoyang-goyang. Dengan kaget ia menyadari bahwa perahu bocor, air menerobos masuk. Sebagai orang yang pernah menghuni pulau Peng-hwee-to tentu saja ia pandai berenang. Tetapi apa bila perahu ini tenggelam maka perjalanannya jadi terlambat.

Dia memutar badan dan melihat si juragan perahu sedang bersiap melompat ke dalam air dengan bibir tersungging senyuman mengejek. Gerakan Bu Kie cepat luar biasa. Dengan sekali melompat, ia menjambret pakaian orang itu yang segera ditotok sehingga dia berteriak-teriak.

“Lekas kayuh!” bentak Bu Kie. “Kalau kau main gila lagi, kusodok kedua biji matamu!”

Sesudah mendengar kata-kata itu, si juragan perahu tidak berani membantah dan segera mengayuh sekuat-kuatnya. Selagi dia mengayuh, Bu Kie merobek ujung bajunya yang lalu digunakan untuk menyumbat lubang kebocoran di dasar perahu. Setelah tiba di seberang, sambil mencengkeram dada juragan perahu Bu Kie membentak,

“Siapa yang menyuruhmu mencelakai aku?”

Orang itu ketakutan dan menjawab dengan suara terputus-putus. “Siauw-jin... siauw-jin... Kay-pang...”

Tanpa menanti selesainya jawaban, Bu Kie sudah melompat ke punggung kuda yang lalu dilarikan ke arah selatan. Cuaca sudah mulai berubah gelap. Sesudah berjalan kira-kira satu jam lagi, kuda itu jatuh berlutut karena terlalu lelah. Sambil menepuk-nepuk punggung kuda itu, Bu Kie berkata,

“Kuda, biarlah kau mengaso di sini. Aku harus segera meneruskan perjalanan.“

Dengan menggunakan ilmu ringan badan dia segera berlari sekencang-kencangnya. Sesudah lewat tengah malam, selagi enak berlari dengan kecepatan kilat, sayup-sayup ia mendengar suara kaki kuda yang ramai di sebelah depan. Bu Kie menyusul dan melewati rombongan penunggang kuda itu. Karena gelap dan gerakannya sangat cepat, rombongan yang dilewati tidak sadar. Dilihat dari arahnya, rombongan yang terdiri dari dua puluh orang lebih itu menuju ke Bu-tong-san. Mereka terus berjalan tanpa bicara sehingga Bu Kie tidak bisa mendapat keterangan apa pun, tetapi lapat-lapat ia melihat orang-orang itu berbekal senjata.

“Tentu mereka hendak menyerang Bu-tong-san,” pikirnya. “Untung aku keburu menyusul. Kalau melihat begini agaknya Bu-tong-pay belum diserang.”

Setengah jam kemudian ia kembali bertemu dengan serombongan orang yang menuju ke Bu-tong-san. Kejadian ini terulang beberapa kali sehingga ia telah menyusul dan melewati tidak kurang dari lima rombongan orang. Bu Kie menjadi bingung sendiri, “Berapa rombongan yang sudah naik ke atas?” tanyanya di dalam hati. “Apakah mereka sudah bertempur dengan partaiku?” Secara resmi sebenarnya ia belum menjadi murid Bu-tong, tetapi karena ayahnya ia selalu menganggap dirinya sebagai seorang anggota Bu-tong-pay.

Dalam bingungnya, ia berlari makin cepat. Ketika tiba di tengah-tengah gunung, di sebelah depan tiba-tiba terdengar suara bentakan dan teriakan. Dengan mengambil jalan memutar ia bersembunyi. Di lain saat ia melihat bayangan hitam yang sedang kejar-kejaran di depan. Tiga orang mengenakan baju putih mengejar dari belakang.

“Kepala gundul! Perlu apa kau naik ke Bu-tong-san?” teriak salah seorang yang mengejar.

“Usahamu untuk menyampaikan berita tidak ada gunanya,” sambung yang lain.

“Serrr...! Serrr...! Serrr...!”

Hampir bersamaan terdengar suara dan beberapa senjata rahasia sudah menyambar ke arah orang yang dikejar. Didengar dari suaranya, orang yang melepaskan senjata rahasia bukan sembarang orang.

“Kalau begitu dia sahabat,” pikir Bu Kie. “Aku harus mencegat ketiga pengejar itu.“

Ia melompat dan menyembunyikan diri di belakang pohon. Di lain saat, orang yang dikejar sudah lewat di depannya. Orang itu kepalanya gundul, seorang hwesio. Dia memegang golok yang warnanya kehitam-hitaman dan larinya terpincang-pincang, rupanya ia sudah terluka. Tiga pengejarnya mengikuti dengan amat cepat. Mereka bersenjata tombak bercagak dan Bu Kie mengenal mereka adalah orang-orang Kay-pang tetapi memakai baju putih yang biasa dipakai anggota Beng-kauw. Darah Bu Kie bergolak,

“Ayah sering menceritakan bahwa dulu di bawah pimpinan Kiu-cie Sin-kay Ang Cit Kong, Kay-pang adalah sebuah partai yang dihormati dan disegani di rimba persilatan,” katanya dalam hati. “Siapa nyana sekarang partai itu sudah berubah tak keruan.”

Sementara itu si pendeta berlari terus dengan langkah limbung. “Kepala gundul, berhenti kau!” teriak seorang pengejar. “Siauw-lim-pay-mu sudah musnah. Apa yang dapat kau perbuat seorang diri? Paling baik kau takluk. Beng-kauw bersedia mengampuni.”

Bu Kie menjadi semakin marah. Karena merasa tidak mampu berlari lebih jauh, pendeta itu berhenti lantas memutar badan dan membentak seraya melintangkan goloknya.

“Manusia siluman! Aku mau lihat sampai kapan kalian masih bisa berbuat sewenang-wenang. Sekarang aku hendak mengadu jiwa dengan kalian.”

Ketiga anggota Kay-pang itu segera mengurung si pendeta dan menyerang secara hebat. Tapi pendeta itu ternyata memiliki kepandaian cukup tinggi dan melawan dengan gagah. Sesudah bertempur beberapa lamanya, sambil membentak keras pendeta itu membacok bagaikan kilat dan goloknya mampir tepat di lengan kiri seorang lawan. Selagi musuh-musuhnya kaget, ia membabat lagi dan sekali ini berhasil melukai pundak seorang musuh lainnya. Sesudah dua kawannya luka, yang ketiga buru-buru angkat kaki. Tanpa mengaso lagi pendeta itu mendaki gunung secepatnya.

“Permusuhan Beng-kauw dengan Siauw-lim serta Bu-tong masih belum selesai dan dengan adanya siasat busuk ini maka permusuhan akan menghebat,” pikir Bu Kie. “Kalau aku menunjukkan diri, mungkin urusan akan jadi lebih sulit. Lebih baik aku menguntit dan bertindak mengimbangi keadaan.“

Setelah berpikir begitu, dengan menggunakan ilmu ringan badan dia mengikuti di belakang pendeta itu. Waktu hampir mencapai puncak, tiba-tiba terdengar suara di belakang,

“Sahabat dari mana yang datang berkunjung?”

Bentakan ini disusul dengan melompat keluarnya empat orang, yaitu dua imam serta dua orang biasa dari belakang batu-batu gunung. Mereka adalah murid-murid turunan ketiga dan keempat dari Bu-tong-pay. Sambil merangkap kedua tangannya, pendeta itu menjawab.

“Kong-siang pendeta Siauw-lim mohon berjumpa dengan Thio Cinjin dari Bu-tong-pay untuk suatu urusan yang sangat penting.”

Mendengar nama ‘Kong-siang’, Bu Kie jadi agak terkejut. “Kedudukan pendeta itu ternyata setingkat dengan ketiga Seng-ceng (pendeta suci) dari Siauw-lim-si, Hong-thio Kong-bun, Kong-tie dan Kong-seng. Tidak mengherankan kalau ilmu silatnya begitu tinggi. Dia benar-benar seorang ksatria,” pikir Bu Kie. “Tanpa mempedulikan bahaya dan lelah, dia datang ke Bu-tong untuk menyampaikan berita.”

“Taysu tentu capek, masuklah untuk minum secangkir teh,” kata salah seorang murid Bu-tong.

Sambil berjalan Kong-siang menyerahkan goloknya kepada salah seorang tojin sebagai tanda menghormati bahwa ia tidak berani masuk ke dalam kuil dengan membawa senjata.

Bu Kie pernah tinggal di Bu-tong-san. Dengan rasa terharu ia melewati pohon-pohon dan batu-batu yang dikenalnya. Keenam murid Bu-tong itu segera mengajak tamunya masuk ke dalam Sam-ceng-tian dan Bu Kie lantas bersembunyi di luar jendela untuk mengamat-amati.

“Totiang, lekaslah memberi laporan kepada Thio Cinjin,” kata Kong-siang. “Urusan ini amat penting dan tidak boleh ditunda-tunda.”

“Taysu datang pada waktu yang tidak tepat,” kata si imam dengan suara menyesal. “Tahun yang lalu Suhu menutup diri dan sampai sekarang sudah setahun lebih. Kami sendiri pun sudah lama tidak pernah bertemu muka.”

Alis Kong-siang berkerut, “Kalau begitu biarlah aku menemui saja Song-tayhiap,” katanya.

Tojin itu menggeleng-geleng. “Toa-supek belum pulang,” jawabnya. “Sebagaimana Taysu ketahui, Toa-supek, Suhu dan para Susiok bersama partai Taysu sendiri telah pergi untuk menyerang Beng-kauw. Sampai sekarang mereka belum pulang.”

Bu Kie kaget. Sekarang dia tahu bahwa rombongan Bu-tong-pay pun belum kembali dan kemungkinan besar para pamannya mendapat bencana atau paling sedikitnya mendapat halangan di tengah jalan.

Kong-siang menghela napas, “Jika dilihat begini Bu-tong-pay bakal bernasib sama dengan Siauw-lim-pay dan hari ini sukar meloloskan diri dari mara bahaya,” katanya dengan suara duka.

Si imam yang tidak mengerti maksud pertanyaan itu segera berkata, “Segala urusan partai kami untuk sementara diurus Tong Hian Su Suheng. Aku bisa melaporkan padanya.”

“Murid siapakah Tong Hian Totiang?” tanya Kong-siang.

“Dia adalah murid Jie Sam-susiok,” jawab si imam.

Paras muka pendeta itu berubah terang. “Meski pun Jie Sam-hiap cacat, dia adalah orang pandai,” katanya. “Biarlah aku bicara dengan Jie Sam-hiap saja.”

“Baiklah, aku akan menyampaikan keinginan Taysu,” tojin itu berkata sambil masuk ke dalam.

Dengan roman tak sabaran Kong-siang jalan mondar-mandir di ruangan itu. Kadang-kadang dia berhenti dan memasang kuping kalau-kalau musuh sudah tiba.

THAY-KEK-KUN

Tidak lama kemudian tojin yang tadi keluar dengan tergesa-gesa. “Jie Sam-susiok mengundang Taysu,” katanya seraya membungkuk. “Sam-susiok mohon maaf bahwa dia tidak bisa keluar untuk menyambut Taysu.“

Kini sikap tojin itu jauh lebih manis dibandingkan tadi. Mungkin sekali sesudah mendengar bahwa yang datang berkunjung adalah seorang pendeta Siauw-lim dari tingkatan ‘Kong’ Jie Thay Giam sudah berpesan supaya dia berlaku hormat terhadap tamu itu.

Sebenarnya Bu Kie ingin sekali mengintip dari jendela kamar pamannya, tetapi dia segera membatalkan niatnya. “Sesudah kaki tangannya lumpuh, kuping dan mata Sam-supek lebih hebat dari pada manusia biasa,” pikirnya. “Kalau aku mendengar di luar jendela, dia pasti akan tahu.“

Karena berpikir begitu, ia lalu berdiri di tempat yang berjarak beberapa tombak dari kamar Jie Thay Giam. Kira-kira sepeminuman teh, dengan tersipu-sipu si imam keluar dari kamar.

“Ceng-hong! Beng-goat!” teriaknya. “Kemari!”

Dua to-tong (imam kecil) menghampiri dengan berlari-lari. “Ada apa Susiok?” tanyanya.

“Sediakan kursi tandu, Sam-susiok mau keluar,” jawabnya.

Kedua to-tong itu mengiyakan dan segera berlalu. Tie-kek Tojin (imam penyambut tamu) yang tadi menyambut Kong-siang adalah murid baru dari Jie Lian Ciu. Bu Kie tidak mengenalnya karena pada waktu ia berada di Bu-tong-san, imam itu belum menjadi murid. Tetapi ia mengenal Ceng-hong dan Beng-goat. Ia pun tahu bahwa setiap kali Jie Thay Giam hendak keluar, paman itu selalu digotong dengan kursi tandu oleh mereka. Melihat to-tong itu masuk ke dalam kamar kursi tandu, ia lantas mengikuti dari belakang. Tiba-tiba ia menegur,

“Ceng-hong, Beng-goat, apakah kalian masih mengenaliku?”

Mereka terkejut lantas mengawasi. Mereka merasa pernah bertemu dengan orang yang menegur ini, tapi mereka lupa siapa orang.

Bu Kie tertawa dan berkata, “Aku Bu Kie, Siauw-susiok-mu (Paman kecil)! Apa kau lupa?”

Mereka segera mengenali. Mereka girang tak kepalang. “Aha! Siauw-susiok pulang!” seru yang satu. “Apa kau sudah sembuh?”

Usia mereka bertiga hampir sama. Dahulu waktu Bu Kie di Bu-tong-san, mereka bersahabat dan sering bermain bersama-sama, main petak umpet, adu lari, adu jangkrik, menangkap kodok dan sebagainya. Pertemuan yang tidak diduga-duga ini tentu saja amat menggirangkan.

“Ceng-hong, aku ingin menyamar sebagai kau dan menggantikan tugasmu menggotong. Kira-kira Sam-supek dapat mengenali aku atau tidak?”

Ceng-hong ragu-ragu, ”Aku bisa dimarahi...” katanya.

“Tidak mungkin!” kata Bu Kie, “Begitu melihat aku pulang dengan sehat, Sam-supek tentu akan kegirangan. Mana dia ada waktu untuk mengurusi kau?”

Kedua to-tong itu paham bahwa semua pemimpin Bu-tong-pay mulai dari Couwsu sampai Bu-tong Cit-hiap sangat mencintai paman kecil ini. Sekarang Siauw-susiok mendadak pulang dalam keadaan sehat. Kejadian ini tentu saja kejadian yang amat menggirangkan. Karena itu mereka berpikir, “Apa halangannya jika si paman kecil mau bercanda sedikit untuk menggirangkan hati Jie Thay Giam yang sedang sakit?”

“Baiklah Siauw-susiok, kami menurut saja,” kata Beng-goat.

Sambil tertawa ha-ha hi-hi Ceng-hong segera membuka pakaian imamnya, sepatu berikut kaus kakinya yang lantas diserahkan kepada Bu Kie. Sementara itu Beng-goat membuat konde imam di kepala sang paman. Dalam sekejap seorang kongcu yang tampan berubah menjadi seorang to-tong.

“Siauw-susiok, kau tidak dapat menyamar sebagai Ceng-hong karena muka kalian sangat berlainan,” kata Beng-goat. “Begini saja, kau mengaku murid baru yang menggantikan Ceng-hong yang kakinya keseleo. Tapi kau harus mempunyai nama. Nama apa yang baik?”

Setelah berpikir sejenak Bu Kie berkata sambil tertawa, “Ceng-hong (Angin) meniup daun-daun jatuh. Biarlah aku menggunakan nama Sauw-yap (Menyapu daun).“

Kedua to-tong itu tertawa nyaring. Ceng-hong bertepuk tangan sambil berseru, “Bagus... ! Sungguh bagus nama itu!”

Selagi mereka bersenda gurau, tiba-tiba terdengar teriakan si tojin penyambut tamu, “Hei, sedang apa kalian? Mengapa belum juga keluar?”

Bu Kie dan Beng-goat buru-buru memikul kursi tandu lalu pergi ke kamar Jie Thay Giam. Dengan hati-hati mereka mengangkat Jie Sam-hiap dan merebahkannya di kursi. Pendekar Bu-tong itu kelihatannya diliputi kedukaan sehingga ia tidak memperhatikan kedua to-tong tersebut.

“Pergi ke belakang gunung, ke tempat Couwsuya,” katanya.

Mereka segera memikul kursi tandu. Beng-goat berjalan di depan dan Bu Kie di belakang sehingga Jie Thay Giam hanya menatap punggung Beng-goat. Kong-siang sendiri berjalan di samping tandu. Karena diminta sang paman, tojin penyambut tamu itu tidak ikut.

Thio Sam Hong menutup diri di sebuah gubuk kecil yang terdapat di hutan bambu di belakang gunung. Tempat itu sunyi senyap, kecuali suara burung dan binatang-binatang kecil tidak terdengar suara apa pun juga.

Sesampainya di depan gubuk Beng-goat dan Bu Kie menghentikan langkah. Baru saja Jie Thay Giam hendak memanggil, dari dalam gubuk mendadak terdengar sang guru,

“Seng-ceng Siauw-lim-pay yang mana yang datang berkunjung? Aku minta maaf tidak bisa menyambut dari tempat jauh.“ Hampir bersamaan pintu bambu terbuka dan Thio Sam Hong berjalan keluar.

Kong-siang terkejut. “Bagaimana dia tahu bahwa yang datang adalah pendeta dari Siauw-lim-si?” tanyanya di dalam hati. “Ah! Mungkin dia telah diberi-tahu oleh tojin penyambut tamu itu.”

Akan tetapi Jie Thay Giam tahu bahwa berkat ilmunya yang sangat tinggi, dengan hanya mendengarkan suara langkah kaki Kong-siang, sang guru bisa menebak partai dari orang yang sedang menghampirinya, bahkan dapat menebak juga tinggi rendahnya tingkat kepandaian orang itu. Tapi sekali ini tebakan Thio Sam meleset sedikit. Ia menduga yang datang adalah salah seorang dari ketiga pendeta suci Siauw-lim-si.

Di lain pihak Iweekang Bu Kie jauh lebih tinggi dari pada Kong-siang. Oleh karena itu Bu Kie bisa menyembunyikan gerak-geriknya dari pendengaran Thio Sam Hong, sebab pada hakekatnya seseorang yang Iweekang-nya sudah mencapai tingkat tinggi bisa berbuat sedemikian rupa sehingga yang ‘berisi’ menjadi ‘kosong’, yang ‘ada’ menjadi ‘tidak ada’. Dengan jantung berdetak keras Bu Kie mengawasi paras Thay-suhunya. Wajah itu tetap bersinar merah namun rambut dan jenggotnya yang putih semua, paras itu terlihat lebih tua dari pada delapan sembilan tahun berselang. Ia girang bercampur terharu dan tanpa terasa air matanya mengalir keluar. Cepat-cepat ia melengos.

Kong-siang merangkap kedua tangannya, “Kong-siang pendeta Siauw-lim-si, menghadap Bu-tong Cianpwe Thio Cinjin,” katanya.

Guru besar itu membalas hormat, “Aku tak berani menerima pujian yang demikian tinggi,” katanya. “Taysu tidak usah menggunakan banyak peradatan. Masuklah.”

Mereka berlima segera melangkah masuk. Di ruangan hanya terdapat sebuah meja dan di atas meja ada sebuah poci teh berikut sebuah cangkir. Di atas lantai tergelar selembar tikar dan pada dinding tergantung sebatang pedang kayu. Hanya itu, tak ada apa-apa lagi.

“Thio Cinjin,” kata Kong-siang dengan suara penuh duka. “Siauw-lim-pay mengalami bencana hebat yang belum pernah dialami selama ribuan tahun. Mo-kauw telah menyerbu secara mendadak. Kecuali aku sendiri, seluruh anggota Siauw-lim-pay yang berada di kuil mulai dari Hong-thio Kong-bun Suheng sampai pendeta yang tingkatannya paling rendah, tak ada yang lolos. Mereka binasa atau ditawan musuh, hanya Siauw-ceng sendiri yang luput kemudian siang malam Siauw-ceng kabur ke sini. Serombongan Mo-kauw yang berjumlah besar sedang menuju Bu-tong-san. Mati hidupnya rimba persilatan Tiong-goan sekarang berada di tangan Thio Cinjin.“ dia menangis sedih sekali.

Biar pun Thio Sam Hong berilmu tinggi dan berusia seabad lebih, mendengar laporan itu ia terkesiap. Untuk sejenak ia mengawasi Kong-siang dengan mulut ternganga. Setelah bisa menentramkan hatinya kemudian dia berkata,

“Di Siauw-lim-si banyak orang pandai. Bagaimana kalian sampai mendapat kesukaran begitu besar?”

“Sebagaimana Thio Cinjin tahu, Kong-tie dan Kong-seng, Jie-wie Suheng dan para murid Siauw-lim-si bersama lima partai besar pergi ke daerah barat untuk menumpas Mo-kauw,” kata Kong-siang. “Entah bagaimana mereka dikalahkan, bahkan akhirnya mereka tertawan...”

Bu Kie terkejut, “Siapakah musuh itu?” tanyanya dalam hati.

Sesudah diam sejenak, Kong-siang meneruskan lagi penuturannya. “Waktu kami mendapat laporan bahwa rombongan yang menyerang Mo-kauw sudah pulang. Hong-thio Kong-bun Suheng sangat girang lalu keluar menyambut dengan membawa murid-murid Siauw-lim-si. Kong-tie dan Kong-seng Suheng dan yang lainnya lantas masuk ke dalam kuil dan selain mereka juga terdapat kurang lebih seratus tawanan. Pada saat berada di pekarangan kuil, Kong-bun Suheng menanyakan perihal berhasilnya keenam partai dalam usaha membasmi Mo-kauw. Tapi Kong-tie Suheng memberikan jawaban yang tidak jelas. Tiba-tiba Kong-seng Suheng berteriak, ‘Suheng, awas! Kami semua telah jatuh ke tangan musuh. Semua tawanan adalah musuh...!’ Sebelum Hong-thio Suheng berbuat apa-apa, semua tawanan menghunus pedang dan menyerang. Lantaran gugup dan tidak membawa senjata, kami segera terdesak. Semua pintu ditutup musuh. Dalam suatu pertempuran yang sangat hebat, kami terbasmi, Kong-seng Suheng sendiri binasa...“ Dia tidak bisa meneruskan perkataannya lalu menangis sesenggukan.

Thio Sam Hong sangat berduka, “Sungguh jahat!” katanya sambil berulang kali menghela napas.

Sementara itu Kong-siang mengambil buntalan yang digendong pada punggungnya. Ia lalu membuka buntalan itu yang di dalamnya terdapat bungkusan kain minyak. Semua orang terkesiap karena di dalamnya terdapat satu kepala manusia, yaitu kepala Kong-seng Taysu salah seorang dari Siauw-lim Seng-ceng! Dengan bersamaan Thio Sam Hong, Jie Thay Giam berikut Bu Kie mengeluarkan teriakan kaget.

“Dengan mati-matian aku berhasil merebut jenazah Kong-seng Suheng,” kata Kong-siang dengan air mata bercucuran. “Thio Cinjin, bagaimana caranya kita harus membalas sakit hati yang besar ini?” Dia berlutut di hadapan Thio Sam Hong. Guru besar itu membungkuk untuk membalas hormat.

Rasa duka dan marah mengaduk dalam dada Bu Kie. Dia ingat bahwa dalam pertempuran di Kong-beng-teng Kong-seng Taysu telah memperlihatkan ksatriaannya dan sifat-sifatnya yang agung sehingga dia tak usah malu menjadi seorang guru besar dari Siauw-lim-pay. Siapa nyana ksatria ini telah binasa di tangan manusia-manusia terkutuk! Melihat Kong-siang masih mendekam di lantai sambil menangis, Thio Sam Hong segera mengangsurkan kedua tangannya kemudian mengangkatnya seraya berkata,

“Kong-siang Suheng, pada hakekatnya Siauw-lim dan Bu-tong adalah keluarga. Sakit hati ini tidak bisa tak dibalas...“ Bersamaan dengan perkataan ‘dibalas’, tiba-tiba Kong-siang mengangkat kedua telapak tangannya dan menghantam ke punggung Thio Sam Hong!

Kejadian yang tidak akan diduga oleh siapa pun juga, Thio Sam Hong seorang guru besar yang berpengalaman sangat luas. Tapi dia pun tidak pernah mimpi bahwa seorang pendeta beribadat dari Siauw-lim-si yang memiliki sakit hati hebat dan datang dari tempat jauh untuk menyampaikan kabar penting bisa memukul dirinya.

Pada saat Kong-siang baru menyentuh punggungnya, dalam sedetik dia bahkan menduga bahwa karena terlampau berduka maka pendeta itu menjadi was-was dan menganggap ia seorang musuh. Tapi di detik lain ia terkesiap. Pukulan itu adalah Kam-kong Pan-jiak-ciang dari Siauw-lim-pay dan Kong-siang telah menghantam dengan segenap tenaga. Muka pendeta itu pucat laksana kertas tapi pada bibirnya tersungging senyum mengejek.

Melihat peristiwa ini kagetnya Jie Thay Giam, Bu Kie dan Beng-goat bagaikan disambar halilintar. Mereka terpaku sambil mengawasi dengan mulut ternganga. Karena cacat, Thay Giam tidak dapat membantu gurunya. Untuk beberapa detik Bu Kie yang belum berpengalaman masih belum sadar bahwa dengan pukulan itu si pendeta mencoba mengambil jiwa Thay-suhunya. Sebelum mereka bergerak, Thio Sam Hong sudah mengangkat tangan kirinya dan menepuk batok kepala Kong-siang.

“Plakk!”

Berbarengan dengan suara itu, tepukan yang kelihatan enteng itu sudah menghancurkan kepala si pendeta yang segera roboh tanpa bersuara lagi. Dengan latihan hampir seabad, Iweekang guru besar itu sukar diukur bagaimana tingginya. Meski Kong-siang menyerang dengan ilmu kelas satu, dia masih tidak mampu melawan tepukan yang enteng itu. Sesudah hilang kagetnya, Jie Thay Giam segera berteriak,

“Suhu! Kau...“

Ia tidak meneruskan perkataannya sebab sang guru sudah memejamkan kedua matanya dan dari kepalanya keluar uap putih, satu tanda bahwa guru besar itu sedang mengerahkan Iweekang untuk mengobati lukanya. Beberapa saat kemudian tiba-tiba Sam Hong membuka mulutnya dan memuntahkan darah.

Bu Kie kaget bukan kepalang. Sekarang dia tahu bahwa Thay-suhu menderita luka berat. Apa bila darah itu berwarna ungu hitam, dengan mempunyai Iweekang yang tinggi maka kesehatan guru besar itu akan segera pulih. Tapi darah yang barusan dimuntahkan adalah darah segar. Ini merupakan petunjuk bahwa isi perut Sam Hong terluka hebat. Sesaat itu beberapa ingatan keluar masuk dalam otaknya. Apa yang harus diperbuatnya? Apa sebaiknya dia segera memperkenalkan diri dan menolong Thay-suhunya? Sebelum dia bisa mengambil keputusan, di luar pintu mendadak terdengar suara langkah kaki. Langkah itu cepat sekali datangnya tapi segera berhenti di luar pintu. Rupanya orang yang sedang kebingungan itu tidak berani membuka suara.

“Siapa? Apa Cong-hian? Ada apa?” tanya Thay Giam.

“Betul,” jawab tojin penyambut tamu itu. “Melaporkan kepada Sam-susiok bahwa sejumlah besar musuh yang memakai seragam Mo-kauw sudah berkumpul di luar kuil. Mereka mau bertemu dengan Couwsuya dan mereka mengeluarkan kata-kata kotor, mereka bilang mau menginjak-injak Bu-tong-pay sampai rata dengan tanah.”

“Diam!” bentak Thay Giam. Ia kuatir gurunya menjadi lebih parah karena laporannya.

Perlahan-lahan Thio Sam Hong membuka sepasang matanya dan berkata dengan suara perlahan.

“Kim-kong Pan-jiak-ciang sungguh hebat. Untuk sembuh aku harus beristirahat selama tiga bulan.”

“Kalau begitu Thay-suhu menderita luka lebih berat dari dugaanku,” kata Bu Kie di dalam hati.

“Dalam serangannya ini pasti Beng-kauw telah membuat persiapan sempurna,” kata Sam Hong pula. “Hai! Bagaimana dengan Wan Kiauw, Lian Ciu dan yang lain-lain? Thay Giam, apa yang harus kita perbuat?”

Si murid tidak menyahut. Ia mengerti bahwa kecuali sang guru dan ia sendiri, murid-murid Bu-tong lainnya, yaitu murid-murid turunan ketiga dan keempat, takkan sanggup menahan musuh dan mereka hanya akan membuang jiwa sia-sia. Karena itu satu-satunya jalan adalah mengorbankan jiwa sendiri supaya sang guru dapat menyingkirkan diri untuk mengobati lukanya, untuk membalas sakit hati di kemudian hari. Berpikir begitu, ia segera berkata dengan suara nyaring,

“Cong-hian, beri-tahu orang-orang itu bahwa aku akan segera keluar untuk menemui mereka. Minta mereka menunggu di Sam-cong-tian.”

“Baiklah,” kata Cong-hian yang lalu berjalan pergi.

Thio Sam Hong dan Jie Thay Giam menjadi guru dan murid selama puluhan tahun dan mereka telah saling mengenal isi hati masing-masing. Mendengar ucapan Thay Giam, Sam Hong segera mengerti maksud si murid. Dia tersenyum-senyum dan berkata,

“Thay Giam, hidup atau mati, dihormati atau dihina, adalah soal remeh. Tapi pelajaran istimewa dari Bu-tong-pay tidak boleh dilupakan karena itu menjadi putus di tengah jalan. Dalam menutup diri selama delapan belas bulan, aku telah mendapatkan inti sari dari ilmu silat dan sudah menggubah Thay-kek-kun serta Thay-kek-kiam. Sekarang kedua ilmu ini hendak kuturunkan kepadamu.”

Thay Giam tertegun. Sebagai orang cacat, mana bisa dia belajar silat? Di samping itu musuh sudah masuk ke dalam kuil! Mana ada waktu lagi menurunkan ilmu silat?

“Suhu...“ katanya dengan tergugu.

Thio Sam Hong tertawa tawar. “Sedari didirikan Bu-tong-pay kita telah melakukan banyak perbuatan baik sehingga menurut pantas partai kita tak akan musnah begitu saja,” katanya. “Thay-kek-kun dan Thay-kek-kiam yang kugubah berbeda dengan ilmu silat yang pernah dikenal semenjak dulu. Dasar dari pada ilmu ini ialah ‘yang tenang menindih yang bergerak, yang bergerak belakangan menguasai yang duluan’. Thay Giam, gurumu sudah berusia lebih dari seratus tahun. Biar pun hari ini dia tidak bertemu dengan musuh, berapa tahun lagi dia bisa hidup? Aku merasa girang bahwa pada saat-saat terakhir dari hidupku aku masih dapat menggubah ilmu silat ini. Wan Kiauw, Lian Ciu, Siong Kee, Lie Heng dan Seng Kok tidak berada di sini.

Kecuali Ceng Su, di antara murid-murid turunan ke tiga dan ke empat tidak ada yang berbakat baik. Tapi Ceng Su pun tidak berada di sini. Karena itu, Thay Giam, kau adalah satu-satunya orang yang dapat menerima warisan ini. Dihormatinya atau dihinanya Bu-tong-pay di satu waktu tertentu tidak terlalu menjadi soal. Soal yang terpenting adalah semoga Thay-kek-kun dapat diwariskan kepada orang-orang yang hidup di jaman belakangan. Apa bila harapanku ini bisa terwujud, maka Bu-tong-pay pasti akan bisa hidup abadi selama ribuan tahun.” Dia mengucapkan kata-kata itu dengan semangat bergelora seolah-olah melupakan rombongan musuh yang sudah menunggu di luar.

Dengan mata mengembang Thay Giam manggut-manggut. Dia mengerti maksud sang guru. Dia mengerti bahwa sang guru memerintahkan dia menelan segala hinaan agar dia dapat mewariskan ilmu silat Bu-tong-pay kepada dunia.

Perlahan-lahan Thio Sam Hong berdiri. Kedua tangannya diturunkan, belakang tangannya menghadap ke luar, jari-jarinya ditekuk sedikit dan kedua kakinya dipentang. Sesudah itu dengan perlahan dia mengangkat kedua lengannya di depan dada, lengan kiri ditekuk dan telapak tangannya menghadap muka sehingga merupakan Im-ciang. Hampir berbarengan telapak tangan kanannya dibalik menjadi Yang-ciang.

“Inilah permulaan Thay-kek-kun,“ katanya.

Sesudah itu sejurus demi sejurus ia mulai bersilat sambil menyebutkan nama-nama setiap pukulan. Lang-ciak-pwee, Tan-pian, Tee-chiu Siang-sit, Pek-ho Liang-cie, Siauw-sit Youw-pwee, Chiu-hwie Pie-pee, Cin-po Pan-lan-tui, Jie-hong Sit-pit, Po-houw Kwie-shoa, Cap-jie-chiu.

Dengan sepenuh perhatian Bu Kie mengawasi setiap pukulan. Semula dia menduga Thay-suhu sengaja memperlambat gerakannya agar Jie Thay Giam bisa melihat dengan tegas. Pada jurus ke tujuh, yaitu Chiu-hiee Pie-pee, dengan Yang-ciang pada tangan kiri dan Im-ciang pada tangan kanan, sambil mengawasi tangan kirinya Thio Sam Hong mendorong telapak tangannya dengan perlahan. Dorongan itu kelihatannya berat seperti gunung, tapi juga enteng bagaikan bulu burung. Tiba-tiba Bu Kie sadar. “Ah! Inilah yang dinamakan yang perlahan mengalahkan yang cepat, yang tenang menguasai yang bergerak!” katanya di dalam hati. “Aku tidak nyana di dunia terdapat ilmu silat begini lihaI.“ Dia memang sudah memiliki ilmu silat tinggi. Begitu dapat menangkap inti sari Thay-kek-kun, perhatiannya menjadi lebih besar.

Thio Sam Hong bersilat terus dengan kedua tangannya membuat gerakan-gerakan yang merupakan lingkaran dan setiap jurus mengandung perubahan Im-yang dari Thay-kek-sit. Ilmu silat ini digubah berdasarkan kitab Ya-keng dari Tiongkok purba dan berbeda dengan ilmu silat Tat Mo Couwsu. Walau pun belum tentu menang tetapi sedikitnya ilmu ini tidak usah kalah dari pelajaran Tat Mo. Kira-kira sepemakanan nasi barulah Thio Sam Hong selesai lalu berdiri tegak. Sesudah itu dia memberi pelajaran tentang pukulan-pukulan yang tadi diperlihatkannya.

Jie Thay Giam mendengar tanpa buka mulut. Ia tahu bahwa waktu sudah mendesak dan ia tak keburu mengajukan pertanyaan-pertanyaan lagi. Banyak yang tidak dimengerti olehnya dan hanya diingat saja di dalam otaknya. Andai kata sampai terjadi sesuatu yang tidak diharapkan atas diri sang guru, dia dapat mengajarkan Kouw-koat (teori) itu kepada orang lain agar di hari kemudian seseorang yang cerdas dan berbakat bisa memecahkan artinya yang dalam.

Di lain pihak Bu Kie berhasil menyelami hampir seluruh pelajaran itu. Biar pun Kouw-koat dan cara latihan Kian-kun Tay-lo-ie berbeda dengan Thay-kek-kun, tapi pada hakekatnya dasar kedua ilmu silat itu adalah sama. Ke-duanya berdasarkan ‘meminjam tenaga untuk memukul tenaga’. Maka itulah setiap jurus dan penjelasan Thio Sam Hong bisa ditangkap olehnya.

Melihat paras bimbang pada wajah muridnya, Thio Sam Hong lalu bertanya, “Thay Giam, berapa bagian yang dapat kau mengerti?”

“Murid berotak tumpul, hanya mengerti tiga empat bagian,” jawabnya. “Tetapi murid sudah menghafal semua jurus dan Kouw-koat yang diberikan Suhu.”

“Aku banyak menyusahkan kau,” kata pula sang guru. “Jika Wan Kiauw berada di sini, dia pasti dapat menangkap lima bagian dari pelajaran ini. Hai! Di antara murid-muridku, Ngo-sutemu yang berotak paling cerdas, hanya sayang siang-siang dia sudah meninggal dunia. Jika dia masih hidup, di bawah pimpinanku dalam lima tahun tentu dia telah bisa mewarisi seluruh pelajaran ini.”

Mendengar mendiang ayahnya disebut-sebut, jantung Bu Kie berdetak keras. Sesudah berdiam sejenak, Thio Sam Hong berkata kembali,

“Nah sekarang perhatikan ini. Tenaga pukulan kelihatannya enteng tetapi tidak enteng, agaknya sudah dikerahkan tetapi belum dikerahkan, seolah-olah putus tetapi sebenarnya belum putus...“ Ia berhenti karena dari Sam-ceng-tian tiba-tiba terdengar teriakan.

“Kalau Thio Sam Hong terus sembunyi, lebih dahulu kita binasakan murid-murid dan cucu-cucu muridnya!”

“Serbu!” menyambung seorang lain. “Bakar saja kuil ini!”

“Mampus dibakar terlalu enak untuk dia,” kata orang ke tiga sambil tertawa nyaring. “Kita harus menangkap dia, belenggu kaki tangannya, arak di pusat berbagai partai supaya semua orang bisa melihat macamnya gunung Thay-san dan bintang Pak-tauw dari dunia persilatan.”

Jarak antara gubuk di belakang gunung dengan Sam-ceng-tian kira-kira satu li, namun suara mereka terdengar tegas sekali sehingga dapat dilihat bahwa musuh sengaja memamerkan Iweekang mereka. Dan memang benar bahwa kelihayan tenaga dalam itu harus diakui. Mendengar cacian itu, tak kepalang marahnya Jie Thay Giam sehingga sepasang matanya seolah-olah mengeluarkan api.

“Thay Giam,” kata sang guru. “Apa kau sudah lupa pesanku? Jika kau tidak bisa menelan hinaan, bagaimana kau bisa memikul tanggung jawab yang sangat berat ini?”

“Benar,” kata si murid sambil menundukkan kepala.

“Kau cacat, maka musuh takkan menurunkan tangan jahat atas dirimu,“ kata pula Thio Sam Hong. “Sekali lagi aku minta supaya kau menahan napsu amarah. Mana kala kau tidak bisa menyebar pelajaranku kepada turunan yang belakangan, maka kau menjadi seorang yang berdosa dari partai kita.”

Thay Giam mengeluarkan keringat dingin. Ia mengerti maksud gurunya. Demi kepentingan Bu-tong-pay, ia diperintah untuk menelan segala hinaan. Sesudah berkata begitu Thio Sam Hong mengeluarkan sepasang Lohan besi dari sakunya lantas menyerahkannya kepada si murid.

“Menurut cerita Kong-siang, Siauw-lim-pay telah rmusnah,” katanya. “Entah benar entah dusta, kita tidak tahu. Tapi kalau seorang tokoh Siauw-lim-pay seperti dia sampai takluk kepada musuh lalu membokongku, dapatlah kita menarik kesimpulan bahwa Siauw-lim-pay benar sudah mendapat bencana. Kira-kira seratus tahun yang lampau Kwee Siang Liehiap telah menghadiahkan sepasang Lohan ini kepadaku. Di hari kemudian serahkan benda ini kepada ahli waris Siauw-lim-pay. Dengan bantuan sepasang Lohan ini kuharap sebagian ilmu silat Siauw-lim-si bisa dipertahankan!” Setelah memberi keterangan, sambil mengibaskan tangan jubah, ia bertindak keluar pintu.

“Mari kita ikut,” kata Thay Giam.

Bu Kie dan Beng-goat segera memikul kursi tandu lalu mengikuti di belakang guru besar itu. Setibanya di Sam-ceng-tian mereka mendapat kenyataan bahwa ruangan itu sudah penuh dengan manusia yang jumlahnya tidak kurang dari tiga ratus orang. Thio Sam Hong hanya mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah katapun.

“Inilah guruku, Thio Cinjin,” kata Jie Thay Giam dengan suara nyaring. “Perlu apa kalian naik ke Bu-tong-san?”

Semua mata ditujukan kepada Thio Sam Hong, tokoh tertua di rimba persilatan yang namanya menggetarkan seluruh dunia. Guru besar ini memakai jubah hitam warna abu-abu, rambut dan jenggotnya putih laksana perak, sedangkan badannya tinggi besar.

Selagi semua orang mengawasi Thio Sam Hong, Bu Kie menyapu seluruh ruangan dengan matanya. Ia mendapat kenyataan bahwa separuh dari orang-orang itu memakai seragam Beng-kauw dan beberapa belas orang yang rupa-rupanya menjadi pemimpin, mengenakan pakaian biasa. Sekonyong-konyong di luar pintu terdengar teriakan.

“Kauwcu tiba...!“

Ruangan Sam-ceng-tian lantas berubah sunyi. Belasan pemimpin itu dengan tergesa-gesa keluar menyambut, diikuti oleh yang lainnya dan dalam sekejap saja beberapa ratus orang sudah keluar dari Sam-ceng-tian. Tak lama kemudian orang-orang itu kembali, tetapi mereka tidak lantas masuk melainkan berhenti di luar pintu.

Bu Kie melongok keluar. Tiba-tiba ia terkesiap karena melihat delapan orang memikul sebuah joki indah yang dikawal oleh enam tujuh orang dan delapan tukang pikul itu bukan lain adalah Sin-cian Pat-hiong. Cepat-cepat kedua tangannya mengusap debu lantai yang lantas dipoleskan pada mukanya.

Melihat itu Beng-goat merasa geli bercampur takut. Dia menduga bahwa perbuatan Bu Kie itu terdorong oleh perasaan takut. Dalam bingungnya, dia pun segera memoles debu pada mukanya sehingga di lain saat kedua To-tong berubah menjadi badut wayang.

BENG-KAUW MEMBANTU BU-TONG

Joli diturunkan tirai disingkap kemudian keluar seorang Kongcu tampan yang mengenakan jubah panjang warna putih dengan sulaman obor kemerah-merahan di tangan bajunya. Dia itu bukan lain adalah Tio Beng. Dengan diiringi belasan pemimpin rombongan, sambil menggoyang-goyangkan kipasnya si nona bertindak masuk. Seorang pria yang bertubuh jangkung maju lebih dulu kemudian berkata sambil membungkuk.

“Melaporkan kepada Kauwcu, yang itu Thio Sam Hong, ada pun yang cacat itu Jie Thay Giam, murid ketiga dari Bu-tong-pay.”

Tio Beng manggut-manggut. Dia maju beberapa langkah, lalu menutup kipasnya dan menyoja seraya membungkuk.

“Boan-seng Thio Bu Kie pemimpin Beng-kauw!” katanya. “Boan-seng bersyukur pada hari ini bisa bertemu dengan Gunung Thay-san dari rimba persilatan.”

Bu Kie terkejut dan marah. Di dalam hatinya dia mencaci wanita ini yang sudah menyamar sebagai dirinya dan menipu Thay-suhu.

Mendengar nama Thio Bu Kie, Thio Sam Hong menjadi heran, “Mengapa namanya sama benar dengan nama anak Thio Bu Kie?” tanyanya di dalam hati. Ia membalas hormat dan menjawab,

“Karena tak tahu Kauwcu datang dari tempat jauh, untuk kelalaian itu kuharap Kauwcu suka memaafkan.”

“Bagus, bagus!” kata si nona.

Dengan diikuti To-tong bagian depan, Tie-kek Tojin segera menyuguhkan teh. Tio Beng duduk di kursi seorang diri. Bawahannya berdiri jauh-jauh dengan sikap hormat.

Sebagai orang yang sudah memiliki usia seabad lebih dan memiliki ilmu yang amat tinggi, Thio Sam Hong mempunyai ketenangan luar biasa dan tak menghiraukan lagi yang bersifat keduniawian. Akan tetapi ikatan antara guru dengan murid demikian eratnya sehingga di dalam ketenangannya guru besar itu masih memikirkan keselamatan murid-muridnya.

“Dengan tidak mengingat tenaganya yang sangat kecil, beberapa murid Lao-to pergi ke tempat Thio-kauwcu untuk minta pelajaran,” katanya. “Sampai sekarang mereka belum pulang. Apakah Thio-kauwcu sudi memberi sedikit keterangan?”

Tio Beng tertawa, “Song-tayhiap, Jie-tayhiap, Thio Sie-hiap dan Boh Cit-hiap berada di tangan Beng-kauw. Mereka mendapat luka enteng karena totokan tapi sama sekali tidak membahayakan jiwa.”

“Luka totokan mungkin berarti luka kena racun,” kata Thio Sam Hong.

Tio Beng tersenyum. “Thio Cinjin kelihatannya sangat mengagulkan kepandaian Bu-tong-pay,” katanya. “Kalau Thio Cinjin menduga kena racun, biarlah kita anggap mereka kena racun.”

Thio Sam Hong mengenal kepandaian murid-muridnya. Mereka adalah ahli-ahli silat kelas satu. Andai kata benar, karena berjumlah kecil mereka tak dapat melawan musuh yang jumlahnya besar, namun bagaimana pun juga mestinya ada beberapa orang yang berhasil meloloskan diri untuk menyampaikan berita. Jika tidak menggunakan racun, musuh tidak mungkin bisa merobohkan atau menangkap mereka semua. Mendengar jitunya tebakan guru besar itu, Tio Beng pun tidak mau membantah.

“Di mana adanya muridku yang she In?” tanya pula Thio Sam Hong.

Si nona menghela napas, “In Liok-hiap dibokong orang-orang Siauw-lim-pay dan keadaannya sama dengan Jie Sam-hiap,” jawabnya. “Tulang kaki tangannya dihancurkan dengan Kim-kong-cie sehingga sungguh pun tidak binasa tapi dia menjadi seorang bercacat yang tidak dapat bergerak.”

Paras muka Thio Sam Hong jadi lebih pucat. Ia tahu bahwa Tio Beng tidak berdusta. Tiba-tiba ia memuntahkan darah.

Orang-orang yang berdiri di belakang si nona kelihatan girang sebab muntah darah itu sebagai bukti bahwa Kong Siang sudah berhasil dalam bokongannya. Lawan paling berat sudah terluka berat mereka tak usah takut lagi.

“Dengan setulus hati aku ingin memberi nasihat, hanya aku tidak tahu apakah Thio Cinjin suka mendengarnya,” kata Tio Beng.

“Kauwcu boleh bicara.”

“Selebar bumi di kolong langit ini milik kaisar, dan keangkeran kaisar Mongol kami meliputi empat lautan. Kalau Thio Cinjin suka menakluk kepada kaisar, maka Hong-siang tentu akan memberi anugerah dan Bu-tong-pay akan menikmati jaman gilang gemilang. Di samping itu Song-tayhiap dan yang lain-lain pun bisa segera pulang dengan selamat.”

Thio Sam Hong mendongak dan mengawasi atap. Kemudian perlahan-lahan berkata dengan suara dingin.

“Meski pun Beng-kauw banyak melakukan perbuatan yang tak patut, sejak dulu selalu menentang penjajah Goan. Sejak kapan Beng-kauw menakluk kepada kerajaan? Lao-to belum pernah mendengar kejadian itu.”

“Meninggalkan tempat gelap dan pergi ke tempat terang adalah perbuatan seorang gagah sejati,” kata Tio Beng. “Siauwte, Kong-bun dan Kong-tie Seng-ceng sampai pada pendeta yang berkedudukan terendah sudah menunjukkan kesetiaan terhadap kerajaan. Tindakan kami ini adalah demi kepentingan negara dan mengikuti tindakan segenap orang gagah di seluruh rimba persilatan. Apakah hal itu mengecewakan Thio Cinjin?”

Kedua mata Thio Sam Hong berkeredepan laksana kilat dan sorot matanya yang setajam pisau mengawasi muka si nona.

“Orang Goan kejam dan banyak mencelakai rakyat,” katanya dengan suara gemetar. “Di waktu ini segenap orang gagah di kolong langit bangkit serentak untuk mengusir penjajah dan merampas kembali sungai serta gunung kita. Di dalam hati setiap anak cucu Oey Tee terdapat tekad mengusir para Tat-cu. Tindakan inilah yang bisa dinamakan tindakan demi kepentingan negara. Meski pun hanya seorang pertapaan tetapi Lao-to juga mengenal peribudi luhur. Kong-bun dan Kong-tie adalah pendeta-pendeta suci. Mana bisa mereka ditundukkan dengan kekerasan? Nona, kenapa kau bicara begitu sembarangan?”

Mendadak seorang pria tinggi besar yang berdiri di belakang Tio Beng melompat ke luar dan membentak.

“Bangsat tua, jangan kau menggoyang lidah seenaknya saja! Bu-tong-pay sedang menghadapi kemusnahan. Kau sendiri tidak takut mati, tetapi apakah ratusan imam yang berada di kuil ini juga tidak takut mati?” Dia bicara dengan suara disertai Iweekang dan sikapnya garang sekali.

Mendengar cacian itu, Thio Sam Hong berkata dengan suara tawar. “Sejak dulu, manusia mana yang tak pernah mati? Aku menggunakan kesetiaan untuk mencatat kitab sejarah.“

Kata-kata itu adalah sajak gubahan Bu Thian Siang yang amat dikagumi Thio Sam Hong. Selama hidupnya sering kali ia merasa menyesal karena waktu Bu Sin Siang menghadapi kebinasaan, dia tidak dapat menolong karena ilmu silatnya belum cukup tinggi. Sekarang dalam menghadapi kematiannya sendiri, tanpa terasa dia menyebutkan sajak itu. Sesudah berdiam sejenak, dia menambahkan,

“Sebenarnya Bu Sin Siang pun terlampau kukuh. Aku hanya ingin bersetia terhadap nusa dan bangsa. Aku tak peduli apa yang akan ditulis dalam kitab sejarah,” ia melirik Jie Thay Giam dan berkata dalam hati, “Aku hanya berharap agar Thay-kek-kun bisa diwariskan kepada orang-orang yang hidup pada jaman belakangan. Tapi... hai! Jika aku berharap demikian, bukankah aku pun memikirkan soal setelah aku meninggal dunia? Bukankah sikapku menjadi sama saja dengan sikap Bu Sin Siang? Hai, peduli apa bisa diwariskan atau tidak! Peduli apa mati hidupnya Bu-tong-pay!”

Tiba-tiba Tio Beng mengibaskan tangan kirinya dan lelaki tinggi besar itu lantas mundur sambil membungkuk. Si nona tersenyum kemudian berkata,

“Thio Cinjin ternyata seorang kukuh, biarlah untuk sementara waktu kita tidak bicara lagi. Mari! Semua ikut aku!” seraya berkata begitu dia bangkit berdiri.

Hampir berbareng empat orang yang tadinya berdiri di belakang Tio Beng, melompat dan mengurung Thio Sam Hong. Keempat orang itu adalah si lelaki tinggi besar, seorang yang mengenakan dandanan pakaian pengemis, seorang hwesio kurus dan seorang lagi wanita setengah tua. Jika dilihat gerak-geriknya mereka semua ahli silat kelas utama.

Bu Kie kaget, “Dari mana Tio-kouwnio mendapat orang yang begitu lihai?” tanyanya dalam hati.

Keadaan sudah mendesak! Kalau Thio Sam Hong tidak mau ikut, keempat orang itu pasti akan menggunakan kekerasan.

“Jumlah musuh terlampau besar dan mereka semua adalah kawanan manusia yang tidak mengenal malu, tidak bisa dibandingkan dengan enam partai yang mengurung Kong-beng-teng,” pikir Bu Kie. “Biar pun aku dapat merobohkan beberapa orang tetapi yang lain akan mengeroyok. Amat sukar bagiku melindungi Thay-suhu dan Sam-supek. Tapi keadaan sudah begini. Sudahlah! Jalan satu-satunya adalah mengadu jiwa.”

Tetapi baru saja dia hendak menerjang, dari luar pintu mendadak terdengar suara tertawa yang sangat nyaring disusul dengan berkelebatnya bayangan hijau. Gerakan orang ini cepat luar biasa, laksana angin bagaikan kilat. Begitu berkelebat masuk dia sudah berada di belakang keempat pendatang itu dan tangannya lantas bergerak menampar si pria tinggi besar. Namun si pria tinggi besar cukup lihai juga. Tanpa memutar badan dia menangkis dengan sepenuh tenaga.

Tetapi orang itu sudah keburu menarik pukulan-pukulannya dan dengan berbereng tangan kirinya menepuk pundak wanita setengah tua. Wanita itu berkelit seraya menendang, tapi dia menendang angin karena orang itu sudah melompat ke samping dan menghantam si pendeta.

Dalam sekejap saja dia telah mengirim empat pukulan kepada empat jago itu. Biar semua pukulan gagal akan tetapi kecepatan gerakan itu sungguh menakjubkan. Keempat jago itu tahu bahwa mereka sedang menghadapi lawan berat. Dengan serentak mereka melompat mundur untuk melakukan serangan teratur. Tanpa menghiraukan gerakan musuhnya, orang yang mengenakan pakaian hijau itu telah menghampiri Thio Sam Hong kemudian sambil membungkuk ia berkata,

“Boanpwe Wie It Siauw, bawahan Thio-kauwcu dari Beng-kauw memberi hormat kepada Thio Cinjin!”

Orang itu memang Wie It Siauw yang buru-buru menyusul Bu Kie sesudah berhasil mengalahkan musuh. Mendengar pengakuan ‘orang bawahan Thio-kauwcu dari Beng-kauw’, semula Thio Sam Hong menganggap dia adalah kaki tangan Tio Beng dan serangannya terhadap keempat jago itu hanya pura-pura saja. Sebab itu dia lantas berkata dengan suara tawar,

“Wie Sian-seng tak usah menggunakan banyak peradatan. Sudah lama kudengar bahwa Ceng-ek Hok-ong mempunyai ilmu ringan badan yang sangat luar biasa. Hari ini baru aku tahu bahwa pujian itu bukan pujian kosong!”

Wie It Siauw menjadi girang, “Thio Cinjin adalah gunung Thay-san dari rimba persilatan,” katanya. “Pujian Thio Cinjin sungguh membikin terang muka Boanpwe.” Sehabis berkata begitu dia memutar tubuh lalu membentak sambil menuding Tio Beng.

“Tio-kouwnio! Perlu apa kau merusak nama baik Beng-kauw? Kalau kau memang laki-laki sejati, mengapa kau menggunakan tipu yang begitu busuk?”

Si nona tertawa geli. ”Aku memang bukan laki-laki,” jawabnya. “Kalau aku menggunakan tipu busuk, kau mau apa?”

Ceng-ek Hok-ong tertegun. Dia insyaf salah omong. Sesudah kagetnya hilang dia berkata dengan sungguh-sungguh.

“Siapa sebenarnya kalian semua? Setelah menyerang Siauw-lim lalu membokong Bu-tong. Kalau kalian hanya bermusuhan dengan Siauw-lim dan Bu-tong, Beng-kauw tidak perlu campur tangan. Tapi kalian menyamar sebagai orang-orang Beng-kauw, maka aku Wie It Siauw tidak bisa tidak campur tangan!”

Thio Sam Hong memang tak begitu percaya kalau Beng-kauw yang sudah selama hampir seratus tahun berseteru dengan kerajaan Goan bisa gampang bertekuk lutut. Mendengar perkataan Wie It Siauw, dia berkata di dalam hati. “Walau pun Mo-kauw mempunyai nama tidak baik, tetapi dalam urusan penting ternyata para anggotanya dapat berpendirian tegas sekali.”

Sementara itu, Tio Beng berpaling kepada si lelaki tinggi besar kemudian berkata, “Dengarlah, suaranya sungguh besar! Coba kau jajal kepandaiannya.”

“Baik,” jawabnya. Sesudah mengencangkan ikat pinggang dia segera bertindak ke tengah ruangan, “Wie Hok-ong,” katanya, “Aku hendak minta pelajaran dari Han-peng Bian-ciang-mu!”

Wie It Siauw terkejut. “Bagaimana dia tahu aku memiliki Han-peng Bian-ciang?” tanyanya di dalam hati. “Sesudah tahu aku memiliki ilmu itu, dia masih berani menantang. Dia pasti bukan lawan enteng.“ Sambil berpikir begitu dia bertanya,

“Bolehkah aku tahu nama tuan?”

“Setelah datang menyamar sebagai orang-orang Beng-kauw, apa mungkin kuperkenalkan namaku yang sejati?” kata orang itu. “Wie Hok-ong, pertanyaanmu sungguh tolol!”

Wie It Siauw tertawa dingin. “Benar, pertanyaanku memang tolol,” katanya dengan dongkol. “Mengapa setelah rela menjadi anjing kaisar Goan dan bersedia menghamba kepada orang asing, tuan justru tidak mau memperkenalkan nama sendiri? Dengan begitu sedikitnya kau sudah merusak nama leluhurmu.”

Didamprat demikian si tinggi besar menjadi malu juga dan karena malu dia menjadi marah. Sambil membentak keras dia menghantam dada Wie It Siauw. Wie Hok-ong melompat ke samping, disusul dengan lompatan kedua ke belakang lawan sambil mengirim satu totokan. Karena hanya ingin menjajal ‘isi’ orang itu maka totokan ini bukan totokan Han-peng Bian-ciang. Orang itu mengegos lalu balas menyerang. Setelah beberapa jurus, Wie It Siauw heran lantaran merasakan sambaran angin panas dalam pukulan-pukulan lawan. Tiba-tiba dia terkejut karena melihat kedua telapak tangan orang itu merah bagaikan darah.

“Apakah itu Cu-see Cit-sat-siang?” tanyanya dalam hati. “Ilmu itu telah lama hilang dari rimba persilatan. Siapa dia? Bagaimana dia bisa memiliki ilmu yang luar biasa itu?”

Ceng-ek Hok-ong berkelahi dengan amat hati-hati. Luka di dalam tubuhnya baru saja sembuh dan sekarang harus menghadapi musuh yang berat. Dia segera menggosok kedua telapak tangannya dan mulai bersilat dengan ilmu Han-peng Bian-ciang. Tidak lama kemudian jalan pertempuran berubah dari cepat menjadi amat perlahan karena mereka mulai menguji tenaga dalam. Sekonyong-konyong dari mulut pintu gerbang masuk serupa benda yang sangat besar dan menyambar ke tubuh si tinggi besar. Benda itu jauh lebih besar dari pada karung beras. Semua orang kaget, senjata apakah itu?

Si tinggi besar terkejut dan dengan sepenuh tenaga dia menghantam benda tersebut yang lantas terpental setombak lebih, dibarengi dengan teriakan manusia yang menyayat hati. Ternyata benda itu sebuah karung berisi manusia. Dipukul dengan Cu-see Cit-sat-ciang, tentu saja orang itu hancur tulangnya. Si tinggi besar tertegun. Mendadak dia menggigil karena pada saat itu dia tidak waspada. Wie It Siauw melompat ke belakangnya lalu menotok Toa-tui-hoat di bagian punggungnya dengan Han-peng Bian-ciang. Dibokong begitu dia menjadi kalap. Sambil memutar tubuh dia menghantam batok kepala Wie It Siauw dengan telapak tangannya.

Nyali Ceng-ek Hok-ong betul-betul besar. Ia tertawa terbahak sambil berdiri tegak, tidak berkelit atau menangkis. Ternyata tenaga si tinggi besar sudah habis. Telapak tangannya tepat mampir di batok kepala Wie It Siauw, tapi Wie Hok-ong hanya seperti diusap-usap. Melihat gilanya Wie It Siauw, semua orang menggeleng-gelengkan kepala. Kalau si tinggi besar mempunyai ilmu untuk bertahan terhadap pukulan Han-peng Bian-ciang, bukankah dia akan mati konyol? Tapi adat Wie Hok-ong memang ugal-ugalan. Makin besar bahaya yang dihadapi, semakin gembira. Ia menganggap bokongannya sebagai perbuatan yang kurang bagus, maka ia memasang kepalanya untuk menebus dosa.

Sementara itu si tokoh Kay-pang (Partai pengemis) membuka karung kemudian mengeluarkan sesosok tubuh yang berlumuran darah dan sudah binasa karena pukulan Cu-see Cit-sat-ciang. Mayat yang berpakaian compang-camping itu adalah mayat seorang pengemis. Entah mengapa dia berada di dalam karung dan menemui ajal secara mengenaskan. Tak kepalang marahnya si tokoh Kay-pang. Dengan mata merah ia berteriak,

“Bangsat...!“ Ia tidak dapat meneruskan caciannya karena pada detik itu selembar karung menyambar dan hendak menelungkup dirinya. Cepat-cepat ia melompat mundur.

Di lain saat seorang pendeta gemuk sudah berdiri di tengah ruangan sambil tertawa ha-ha hi-hi. Dia bukan lain Put-thay Hwesio Swee Put Tek! Sesudah karung Kian-kun It-khie-tay dipecahkan Bu Kie, ia tidak punya senjata yang tepat sehingga terpaksa membuat beberapa karung biasa sebagai gantinya. Walau pun ilmu mengentengkan tubuhnya tidak selihai Wie It Siauw, tapi karena tidak menemui rintangan maka ia sudah tiba di Bu-tong-san pada saat yang tepat. Ia menghampiri Thio Sam Hong dan sambil membungkukkan badan, ia memperkenalkan diri,

“Yu-heng Sianjin Put-thay Hwesio Swee Put Tek, sebawahan Thio-kauwcu dari Beng-kauw, memberi hormat kepada Bu-tong Ciang-kauw Couwsu Thio Cinjin.”

Guru besar itu membalas hormat lantas berkata sambil tersenyum. “Taysu banyak capek. Terima kasih atas kunjunganmu.”

“Thio Cinjin,” kata pula Swee Put Tek dengan suara lantang. “Kong-beng Sucia, Peh-bie Kie Peh-bie Eng-ong, empat Sianjin, lima Kie-su, serta berbagai pasukan dari agama kami sudah mendaki Bu-tong-san untuk menghajar kawanan manusia yang tidak kenal malu itu, yang sudah menggunakan nama kami.”

Di dalam hatinya Bu Kie dan Wie It Siauw tertawa geli. Hebat sungguh ngibulnya Put-thay Hwesio. Tapi Tio Beng kaget dan kuatir sekali. Ia mengira para pemimpin Beng-kauw benar-benar sudah tiba dengan seluruh barisan. “Cara bagaimana mereka bisa datang demikian cepat? Siapa yang membocorkan rahasia?” tanyanya dalam hati. Karena bingung, tanpa terasa dia bertanya,

“Mana Thio-kauwcu-mu? Suruh dia menemui aku.”

“Thio-kauwcu telah memasang jala untuk menjaring kalian semua,” jawab Swee Put Tek. “Orang yang berkedudukan begitu mulia mana boleh sembarangan menemui orang seperti kau?“ Sambil berkata demikian dia saling melirik dengan Wie It Siauw dengan sorot mata penuh tanda tanya.

Melihat datangnya bantuan, tidak kepalang girangnya Bu Kie.

Tio Beng tertawa dingin. “Yang satu kelelawar beracun, yang lain hwesio bau. Hawa di sini sungguh tidak sedap,“ katanya.

Mendadak di sudut timur terdengar suara tawa yang amat nyaring. “Swee Put Tek, apa Yo-cosu sudah tiba?” tanya orang itu yang ternyata In Thian Ceng.

Sebelum Swee Put Tek menjawab, suara tawa Yo Siauw sudah terdengar di sudut barat.

“Eng-ong sungguh lihai, sudah tiba lebih dahulu dari pada aku,“ katanya.

“Yo-cosu jangan berlaku sungkan,” kata In Thian Ceng. “Kita berdua tiba bersamaan, tak ada yang kalah tak ada yang menang. Karena memandang muka Thio-kauwcu, mungkin sekali Yo-cosu sengaja mengalah terhadapku.”

“Tidak!” kata Yo Siauw. “Boanpwe sudah menggunakan semua tenaga tetapi setindak pun tidak bisa mendahului Eng-ong.”

Mereka bicara begitu karena di tengah jalan selagi gembira mereka setuju untuk menjajal tenaga kaki. In Thian Ceng memiliki Iweekang yang lebih kuat, tapi Yo Siauw bisa berlari lebih cepat sehingga pada akhirnya mereka sampai pada detik yang bersamaan kemudian melompat turun dari kedua ujung payon kuil.

Thio Sam Hong sudah mengenal lama nama besar In Thian Ceng. Mengingat bahwa jago itu juga mertua Thio Cui San, maka ia lantas maju tiga langkah dan menyambut sambil merangkap kedua tangannya.

“Thio Sam Hong menyambut In-heng dan Yo-heng,“ katanya.

Diam-diam dia merasa heran. Terang-terang In Thian Ceng seorang Kauwcu dari Peh-bie-kauw, tapi mengapa dia menyebut-nyebut ‘karena memandang Thio-kauwcu?’ In Thian Ceng dan Yo Siauw membalas hormat dengan membungkuk.

“Sudah lama kami mendengar nama harum Thio Cinjin, hanya menyesal sebegitu jauh kami belum mendapat kesempatan bertemu muka,“ kata Peh-bie Eng-ong. “Kami bersyukur hari ini bisa melihat wajah Thio Cinjin yang mulia.”

“Kalian adalah guru-guru besar pada jaman ini,” kata Thio Sam Hong. “Kunjungan kalian merupakan kehormatan untuk Bu-tong-san.”

Tio Beng menjadi lebih jengkel dan marah. Makin lama jumlah tokoh Beng-kauw semakin bertambah. Bu Kie sendiri belum muncul, akan tetapi keterangan Swee Put Tek tak boleh diabaikan. Mungkin pemuda itu memang sudah memasang siasat untuk menghancurkan segala rencananya. Makin dipikir, ia semakin mendongkol. Dengan mudah ia berhasil melukai Thio Sam Hong. Itu adalah hasil yang luar biasa. Hari ini adalah saat terbaik untuk membasmi Bu-tong-pay. Di lain hari kalau Thio Sam Hong sudah sembuh maka kesempatan itu tak ada lagi. Di luar semua penghitungan ternyata Beng-kauw mengacau balau. Yang datang pentolan-pentolannya. Apakah dia akan berhasil? Makin dipikir dia makin mendongkol. Biji matanya yang hitam bermain beberapa kali. Tiba-tiba dia tertawa dingin dan berkata dengan suara mengejek.

“Dunia Kangouw selamanya memuji Bu-tong-pay sebagai partai yang lurus bersih. Huh! Mendengar tidak sama dengan melihat. Tak dinyana sekarang Bu-tong-pay bergandengan tangan dengan Mo-kauw dan mengandalkan tenaga Mo-kauw. Huh...! Sekarang baru aku tahu bahwa ilmu silat Bu-tong-pay tiada harganya.”

Swee Put Tek tertawa nyaring. “Tio-kouwnio,” katanya. “Pandanganmu tidak lebih panjang dari panjang rambutmu. Kau betul-betul masih kanak-kanak. Dengarlah, Thio Cinjin sudah mendapat nama besar sebelum kakekmu dilahirkan! Anak kecil tahu apa?!”

Belasan orang yang berdiri di belakang Tio Beng mengawasi hwesio yang gatal mulut itu dengan mata melotot, tapi Put-thay Hwesio tenang-tenang saja.

“Apa aku tak boleh bicara begitu?“ tanyanya. “Aku Swee Put Tek (Tidak boleh dibicarakan), tapi bila aku bicara, aku akan tetap bicara. Mau apa kalian?”

Hwesio jangkung meluap darahnya. “Cu-jin (Majikan),” katanya, “Ijinkan aku membereskan Hwesio gila ini!”

“Bagus!” kata Swee Put Tek. “Aku hwesio gila, engkau pun hwesio gila. Yang gila ketemu gila, kita minta Thio Cinjin jadi juru pemisah.“ Ia mengibaskan tangannya yang sudah memegang selembar karung.

Tio Beng menggelengkan kepala, “Hari ini kita minta pelajaran Bu-tong,” katanya. “Kalau yang turun anggota Bu-tong-pay, kita boleh melayani. Berisi atau kosongnya Bu-tong-pay dipastikan hari ini. Perhitungan antara kita dengan Mo-kauw dapat dibereskan di hari nanti. Hatiku belum puas kalau belum mencabut urat-urat setan kecil Thio Bu Kie dan membeset kulitnya. Tapi hal itu boleh ditunda sementara waktu.”

Mendengar perkataan ‘setan kecil Thio Bu Kie’, Thio Sam Hong menjadi sangat heran. “Apakah Kauwcu Beng-kauw juga bernama Thio Bu Kie?” tanyanya di dalam hati.

Swee Put Tek tertawa geli, “Kauwcu kami seorang pemuda gagah yang sangat tampan,” katanya. “Mungkin usiamu lebih muda beberapa tahun dari pada Kauwcu. Lebih baik kau menikah saja dengan Kauwcu kami? Kulihat cocok benar...“

Sebelum dia habis bicara, orang-orang Tio Beng membentak dan mencaci. “Bangsat, tutup mulut!”

“Diam!”

”Kau sungguh telah bosan hidup!”

Paras muka si nona bersemu dadu sehingga nampak lebih cantik lagi. Pada paras itu terlihat tiga bagian kemarahan dan tujuh bagian kemalu-maluan. Seorang pemimpin yang berkuasa berubah menjadi gadis pemalu. Namun perubahan itu hanya sedetik dua detik saja. Di lain saat paras mukanya berubah dingin seperti es.

“Thio Cinjin,” katanya dengan nada memandang rendah. “Jika kau tak mau turun ke gelanggang, kami tak akan memaksa, asal kau mau mengakui terang-terangan bahwa Bu-tong-pay adalah partai yang mendustai dunia dan mencuri nama. Sesudah kau mengaku begitu, kami akan pergi. Bahkan kami bersedia memulangkan Song Wan Kiauw, Jie Lian Ciu dan kawanan tikus lainnya kepadamu.”

Saat itu Tiat-koan Tojin dan In Ya Ong tiba, disusul Ciu Tian dan Pheng Eng Giok. Melihat bertambahnya tenaga Beng-kauw, Tio Beng mengerti bahwa dalam sebuah pertempuran yang menentukan pihaknya belum pasti menang. Dan yang paling membuat dia kuatir adalah Bu Kie dan siasatnya. Sambil menyapu pihak lawan dengan matanya yang jeli, si nona berkata dalam hati. “Thio Sam Hong dibenci kaisar karena muridnya amat banyak dan dianggap sebagai Thay-san atau Pak-tauw di rimba persilatan. Tetapi dia sudah begitu tua, berapa tahun lagi dia bisa hidup? Tak perlu aku mengambil jiwanya. Kalau aku bisa menghina Bu-tong-pay, jasaku sudah cukup besar.” Sesudah berpikir demikian, ia lantas berkata,

“Tujuan kedatangan kami ke sini untuk menjajal kepandaian Thio Cinjin. Jika kami hendak mengukur tenaga dengan Beng-kauw, apakah kami tak tahu jalan menuju Kong-beng-teng? Begini saja, sebelum menjajal, kami tidak dapat mengatakan apakah ilmu silat Bu-tong berisi atau kosong. Aku memiliki tiga orang pegawai rumah tangga yang sudah lama ikut. Yang satu mengerti sedikit ilmu pukulan, yang kedua mempunyai lweekang yang cetek, yang ketiga mengenal sedikit ilmu pedang. A Toa, A Jie, A Sam, kemari! Asal Thio Cinjin dapat mengalahkan mereka, kami takluk dan mengakui bahwa Bu-tong-pay benar-benar mempunyai ilmu silat tinggi. Kalau Thio Cinjin tidak mau dijajal atau tidak sanggup melawan mereka, maka kesimpulannya biarlah ditarik oleh orang-orang Kangouw sendiri.” Seraya berkata begitu ia bertepuk tangan dan tiga orang yang berdiri di belakangnya lantas berjalan ke tengah ruangan.

Yang disebut A Toa adalah seorang kakek kurus kering yang kedua tangannya memegang sebatang pedang. Mukanya yang berkerut-kerut diliputi paras sedih. Yang kedua, A Jie, juga bertubuh kurus, namun lebih tinggi. Kepalanya botak, Thay-yang-hiatnya melesak ke dalam kira-kira setengah dim. A Sam yang ketiga, berbadan keras padat, sikapnya garang dan angker laksana harimau. Pada muka, lengan, leher, pendek kata di bagian-bagian badannya yang terbuka tampak otot-otot yang menonjol keluar.

Thio Sam Hong, In Thian Ceng, Yo Siauw dan yang lainnya amat terkejut. Ketiga orang itu bukan sembarang orang.

“Tio-kouwnio,” kata Ciu Tian, “Mereka bertiga ahli silat kelas utama di rimba persilatan. Melawan mereka Ciu Tian tidak unggulan. Tapi kenapa dengan tidak mengenal malu nona memperkenalkan mereka sebagai pegawai rumah tangga? Apakah nona ingin bercanda dengan Thio Cinjin?”

“Mereka ahli silat kelas utama?” menegas Tio Beng. “Ah! Aku sendiri tidak tahu. Apa kau tahu siapa mereka? Apa kau tahu nama mereka?”

Ciu Tian tertegun. Dia diam tidak dapat menjawab pertanyaan itu.

Si nona tersenyum tawar. Ia menengok kepada Thio Sam Hong dan berkata, “Thio Cinjin lebih dahulu, biarlah kau mengadu pukulan dengan A Sam.”

A Sam maju satu langkah dan sambil merangkap kedua tangannya, ia berkata, “Thio Cinjin, silakan!” berbareng dengan tantangannya, kaki kirinya menjejak lantai.

“Brakk!”

Tiga batu hijau persegi hancur. Orang tak akan heran kalau yang hancur hanya batu yang terjejak. Yang luar biasa adalah turut hancurnya dua batu yang lain. Sesudah kawannya maju, A Toa dan A Jie segera mundur sambil menundukkan kepala. Sedari masuk ke dalam Sam-ceng-tian, ketiga orang ini selalu mengikuti Tio Beng dengan kepala menunduk sehingga orang tidak memperhatikan mereka. Siapa pun tak menduga bahwa mereka adalah jago-jago yang tidak boleh dibuat gegabah. Tetapi begitu mundur, mereka memperlihatkan lagi sikap seperti bangsa budak belian.

Melihat lihainya A Sam, In Thian Ceng merasa kuatir akan keselamatan Thio Sam Hong. “Thio Cinjin sudah terluka berat, tapi meski pun tidak terluka, dengan usianya yang sudah begitu tinggi, bagaimana ia bisa bertanding dengan orang ini?” pikirnya. “Jika dilihat gerak-geriknya, orang itu ahli dalam ilmu silat keras. Sudahlah, biar aku saja yang melayaninya.“ Sesudah berpikir demikian dia lantas berkata dengan suara nyaring.

“Seorang yang memiliki kedudukan begitu tinggi seperti Thio Cinjin mana boleh melayani manusia rendah macam kau! Jangankan Thio Cinjin, aku pun, orang she In, rasanya masih terlalu tinggi berhadapan dengan budak belian seperti kau.“

Ia tahu bahwa ketiga orang itu bukan sembarangan orang. Ia sengaja berkata seperti itu supaya mereka panas dan tantangannya diterima dengan baik.

“A Sam,” kata Tio Beng. “Apakah kau masih ingat namamu yang dulu? Cobalah beri-tahu mereka supaya bisa menimbang-nimbang apakah kau cukup berderajat atau tidak untuk bertanding dengan seorang tokoh Bu-tong-pay.“ Dalam bicaranya ia menekankan kata-kata Bu-tong-pay.

“Sedari Siauw-jin (aku yang rendah) menghadapi Cu-jin, nama yang dahulu sudah tidak digunakan lagi,“ kata A Sam. “Tetapi bila diperintah, siauw-jin tidak berani membantah. Dahulu Siauw-jin she U-bun bernama Cek.”

Semua orang terkesiap. Sejenak kemudian In Thian Ceng membentak lantang, “U-bun Cek! Bukankah dua puluh tahun berselang kau yang telah membinasakan lima jago she Sie di Tiang-an! Malam itu pembunuh yang mengenakan topeng dan baju merah serta mengaku sebagai ‘Piat-pie Sin-mo (Iblis bertangan delapan) U-bun Cek’ sudah membunuh tiga belas tokoh rimba persilatan dalam satu perjamuan hari ulang tahun. Bukankah kau yang melakukan pembunuhan itu?”

“Ingatanmu sangat kuat, aku sendiri telah lupa,” jawabnya dengan suara dingin.

Mendengar itu, semua orang Beng-kauw dan Bu-tong-pay meluap darahnya. Lima jago she Sie adalah orang-orang yang sangat disegani serta dihormati di rimba persilatan. Mereka berkepandaian tinggi dan selalu bersedia menolong sesama manusia yang perlu ditolong.

Pada suatu malam tiba-tiba mereka dibinasakan seorang bertopeng yang mengenakan baju merah. Pembunuh itu mengaku Ang-ie-kok U-bun Cek. Selain lima jago she Sie, beberapa tokoh Hoa-san-pay dan Go-bi-pay turut dibinasakan. Karena orang tidak bisa menyelidiki asal-usul U-bun Cek itu, maka menduga bahwa perbuatan musuh itu dilakukan oleh Beng-kauw dan Peh-bie-kauw.

Tuduhan itu sangat menjengkelkan hati In Thian Ceng, tapi dia tidak mendapat jalan untuk melampiaskan rasa penasarannya. Sungguh tidak dinyana, sesudah berselang dua puluh tahun baru diketahui pembunuh yang benar.


OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar