Sabtu, 10 Oktober 2026

To Liong To 10

UDANG DI BALIK BATU

In Bu Lok merogoh sakunya, mengeluarkan tiga batang bendera kecil berbentuk segitiga. Sembari mengangsurkan kepada Cui San dengan kedua tangannya, dia berkata,

“Karena mendengar ketiga piauwsu itu bernyali begitu besar, berani membentur kepalan batu, maka urusan ini telah kami alihkan kepada Peh-bie-kauw.”

Cui San terkejut melihat tiga bendera tiga itu. Yang pertama bersulamkan harimau galak, kepalanya dimiringkan, mulutnya dipentang lebar, dan tubuhnya sedang nongkrong. Itu bendera Houw-po Piauw-kiok. Bendera yang kedua bergambar sulaman seekor burung ho putih sedang terbang di tengah udara. Itu benderanya Chin-yang Piauw-kiok, sebab burung itu diartikan in Ho, ketua Piauw-kiok itu. Bendera yang ketiga, yang juga disulam, sulamannya merupakan sembiIan ekor burung walet (yan). Terang itu bendera Yan-in Piauw-kiok, sebab di situ ada huruf ‘Yan’, yang berarti ‘walet’, sedang ‘sembilan’ walet, bilangan ‘sembilan’ (kiu) diambil dari namanya Kiong Kiu Kee.

“Kenapa kau mengambil bendera mereka?” dia bertanya dengan heran.

“Kouwya toh baba mantunya Peh-bie-kauw!” sahut In Bu Lok. “Sedangkan Kie Thian Piu dan Kiong Kiu Kee, ketiga orang itu makhluk-makhluk macam apa? Mereka tahu bahwa mereka hutang budi kepada Bu-tong Cit-hiap, mengapa mereka masih mau pergi kepada Sin-chio Tin-pat-hong, si tua bangka she Tam di Kay-hong? Agar si tua bangka datang berurusan dengan Kouwya? Bukankah hal itu terlalu tidak pantas? Sebenarnya Loya dan Thay-thay hanya menugaskan kepada kami untuk mengantar hadiah kepada Kouwya, tapi setelah dapat mendengar kata-kata ketiga orang piauwsu yang kurang ajar itu...”

“Sebenarnya mereka tidak kurang ajar...“ kata Cui San.

“Benar, sebab Kouwya amat bijaksana dan pemurah,” kata Bu Hok. “Tapi kami yang tidak bisa menahan kesabaran sudah membereskan mereka semua sekalian mengambil bendera ini...”

Thio Cui San terkejut. Dia tahu Kie Thian Piu bertiga adalah Piauwsu-piauwsu kenamaan. Sungguh pun mereka itu bukan orang rimba persilatan nomor satu, tetapi mereka masing-masing memiliki kepandaian sendiri-sendiri. Kenapa dua orang bawahan In Thian Ceng ini memandang mereka enteng sekali? Umpama In Bu Hok hanya ngoceh sembarangan saja, toh bendera ketiga Piauw-kiok itu telah berada di tangan mereka berdua. Bukankah jangan kata mengambilnya dengan cara berterang, dengan jalan mencuri pun sukar? Maka itu, apa mungkin mereka merobohkan tiga Piauwsu itu dengan obat atau hio pulas?

“Bagaimana caranya bendera ini diambil dari tangan mereka?” akhirnya dia bertanya.

“Ketika itu Jiete Bu Lok menantang mereka,” Bu Hok memberi keterangan. “Tempat yang dipilih adalah pintu luar kota selatan. Mereka bertiga, kami pun bertiga.”

“Pertaruhan kita adalah jika mereka yang kalah maka mereka mesti menyerahkan bendera dan mereka mesti mengutungkan sebelah tangan sendiri serta untuk selanjutnya mereka tidak boleh menaruh kaki, sekali pun satu tindak di wilayah propinsi Ouwpak.”

Cui San bertambah heran. Sungguh hebat pertaruhan itu. Ia semakin tidak berani memandang enteng kepada kedua Koankee ini.

“Bagaimana kemudian jadinya?” dia tanya lagi.

“Kemudian tidak ada apa-apa yang aneh,” kata Bu Hok. “Mereka menyerahkan bendera serta masing-masing menebas kutung lengan mereka yang sebelah kanan seraya mengatakan untuk seumur hidupnya tidak akan menginjak lagi wilayah Ouwpak.”

Diam-diam hati Cui San menggiris. Pikirnya, “Orang-orang Peh-bie-kauw benar-benar telengas...”

Bu Hok berkata pula, “Seandainya Kouwya menganggap turun tangan kami terlalu enteng, sekarang juga kami pergi menyusul untuk mengambil kepala mereka!”

“Bukannya enteng, bahkan berat!” berkata Cui San cepat-cepat.

Kembali Bu Hok berkata, “Kami pun berpikir bahwa kami datang untuk mengantar hadiah kepada Kouwya. Itu artinya girang di balik girang, maka jika kami mengambil jiwa orang berarti alamat tidak baik.”

“Benar, kalian berpikir sempurna sekali,” Cui San memuji. “Barusan kamu menyebut kalian datang bertiga, mana dia yang satu lagi?”

“Dia saudara kami, In Bu Siu,” menyahut Bu Hok. “Sesudah mengusir ketiga piauwsu itu, kami berdua langsung berangkat kemari menjeguk kouwya, sedangkan saudaraku terus berangkat ke Kayhong. Kami kuatir Si tua bangka she Tam nanti keburu mendapat kabar dan lantas datang untuk banyak rewel. Ya, Bu Siu minta kami mewakilinya menyampaikan hormat kepada Kouwya.”

Habis berkata, koankee berlutut dan mengangguk untuk memberi hormat. Cui San cepat membalas dengan menjura. Ia merendah dan berkata bahwa ia tidak dapat menerima kehormatan itu. Dalam hatinya baba mantunya Peh-bie Kauwcu ini lantas memikirkan jago tua Tam Sui Lay yang oleh dua saudara Bu ini dinamakan ‘si tua bangka she Tam’. Ia bergelar Sin-chio Tin-pat-hong, artinya ia jago ilmu silat yang menggetarkan delapan penjuru negara. Ia tahu orang itu sudah menjagoi selama empat puluh tahun. Dengan perginya In Bu Siu seorang diri, ia merasa kuatir. Siapa pun yang akan terluka di antara mereka berdua, hatinya tidak senang.

“Sudah lama aku mendengar nama Tam Sui Lay,” kata Cui San pula. “Dia adalah seorang Kuncu. Maka Jiewie tolong kalian lekas pergi menyusul ke Kayhong untuk minta toako Bu Siu... Bukan! Untuk berbicara dengan Sui Lay. Kalau mereka berdua sama-sama besikap keras kemudian terjadi bentrok, itu hal yang tidak bagus.”

“Jangan Kouwya merasa kuatir”, berkata Bu Lok dengan tawar. “Tua bangka she Tam itu tidak akan berani melawan Bu Siu Samte. Kalau Samte memberi-tahu dia agar jangan usilan, pasti dia akan mendengar.”

“Begitukah?” tanya Cui San sangsi. Dia pikir Tam Suy Lay sendiri sudah tua sehingga mungkin dapat berlaku sabar, tetapi bagaimana dengan orang-orang di dalam rumahnya? Sedikitnya Sui Lay mempunyai dua puluh murid yang sudah lihay, mana mereka merasa jeri terhadap Bu Siu? Bu Hok dapat melihat roman ragu-ragu dari baba mantu majikannya. Dia berkata, “Pada dua puluh tahun yang lalu tua bangka she Tam itu adalah pecundangnya Bu Siu. Juga ada sesuatu rahasia penting yang berada di tangan kami. Maka Kouwya jangan kuatir. Harap Kouwya tetap baik!” tambahnya dan bersama saudaranya ia lantas memberi hormat untuk meminta diri dan berangkat pergi.

Cui San membiarkan mereka berlalu. Tangannya masih memegang ketiga helai bendera Piauw-kiok. Pikirannya lantas bekerja. Tadinya dia berpikir untuk minta dua orang itu pergi mendengar-dengar halnya Bu Kie, anaknya, tetapi berat untuk mengatakannya. Dia kuatir merusak nama kakaknya yang nomor dua. Maka akhirnya dengan ogah-ogahan dia kembali ke kamarnya.

In So So duduk menyender di atas pembaringan sambil memeriksa daftar barang-barang bingkisan ayah dan ibunya. Di samping itu dia merasa berduka dan kuatir untuk Bu Kie yang dibawa lari musuh. Sekarang ini entah bagaimana nasib anak itu. Ketika dia melihat suaminya masuk, dia heran melihat roman suaminya itu tidak senang.

“Eh, kenapa?” tanyanya.

“Sebenarnya Bu Hok, Bu Lok dan Bu Siu itu orang macam apa?” sang suami malah balik bertanya.

Sudah 10 tahun So So menikah dengan Cui San. Dia tahu suami itu tidak menyukai Peh-bie-kauw, kumpulan agama yang dipimpin ayahnya. Sebab itu dia tak mau membicarakan mengenai agamanya serta rumah tangga keluarganya, sedang suaminya pun tidak pernah menanyakannya. Maka itu heran juga dia mendengar pertanyaan suaminya. Tetapi dia menjawab,

“Dua puluh tahun yang lalu mereka bertiga adalah penjahat besar yang malang melintang di wilayah barat daya. Pada suatu hari mereka dikepung serombongan jago hingga mereka tak berdaya untuk melawan atau meloloskan diri. Kebetulan sekali Ayah lewat di situ dan melihatnya. Ayah senang melihat keberanian mereka yang tidak sudi menyerah kalah, maka ayah lantas mengulurkan tangan menolong. Lantaran itu mereka amat bersyukur dan mereka bersumpah bahwa seumur hidup rela menjadi hamba-hamba ayah. Mereka lantas membuang she dan nama mereka, kemudian memakai nama yang sekarang: In Bu Hok, Bu Lok dan Bu Siu. Sejak kecil aku berlaku baik kepada mereka, tidak berani aku memandang rendah. Mereka tidak diperlakukan sebagai bujang-bujang biasa. Ibuku pernah memberi-tahu mengenai kepandaian mereka. Sekali pun ahli silat yang kenamaan belum tentu gampang-gampang dapat menandingi mereka.”

“Ah, begitukah?” kata Cui San yang terus menuturkan cerita Bu Hok tentang pertempuran dengan ketiga piauwsu itu, yang benderanya dirampas serta bagaimana ketiga piauwsu itu mengutungi lengannya sendiri.

Mendengar itu In So So mengerutkan alis. “Dengan berbuat begitu sesungguhnya mereka bermaksud baik,” kata si isteri. “Aku tidak menyangka bahwa kelakuan orang-orang yang menyebut diri dari kalangan sejati, ternyata mirip dengan orang kaum sesat. Ngoko, urusan ini bisa menambah pusing kepalamu. Ah, aku tidak tahu bagaimana baiknya urusan ini diatur...” Dia berhenti sejenak untuk kemudian menambahkan, “Nanti sesudah Bu Kie dapat dicari, lebih baik kita balik lagi saja ke Peng-hwee-to...”

Belum lagi Cui San menanggapi, di luar terdengar suara berisik dari In Lie Heng yang berseru,

“Ngoko, Mari lekas! Kau ambil pit besar. Lekas kau menulis lian dan lain-lainnya!” Kata-katanya itu langsung disusul dengan, “Ngoso, jangan kau sesalkan aku yang mengajak Ngoko keluar! Siapa suruh dia dijuluki Gin-kauw Tiat-hoa?”

Maka keluarlah Cui San, untuk selanjutnya lohor itu dia mengepalai saudaranya bekerja berenam menghias kuil, terutama untuk memajang banyak lian pilihan Song Wan Kiauw yang ditulis oleh Cui San. Besoknya pagi-pagi Wan Kiauw semua berdandan rapi dengan pakaian baru. Di saat mereka hendak memayang Jie Thay Giam untuk diajak pergi keluar memberi selamat kepada guru mereka, mendadak datang satu totong, yaitu kacung imam, yang membawa sehelai kartu nama. Song Wan Kiauw yang menyambut, tetapi mata Thio Siong Kee yang sangat lihay sudah membaca tulisan di atas kertas itu, bunyinya: ‘Ho Thay Ciong yang muda dari Kun-lun-san beserta sekalian muridnya memberi selamat kepada Thio Cinjin. Semoga panjang umur sebagai gunung Selatan!’.

Maka heranlah Thio Siong Kee dan dia berkata, “Ketua Kun-lun-pay datang sendiri memberi hormat kepada Suhu! Ia datang dari tempat yang jauhnya laksaan lie. Ini adalah suatu pemberian muka terang yang tidak kecil!”

Wan Kiau pun berkata, “Tetamu kita ini bukan tamu sembarangan, harus kita minta Suhu sendiri yang menyambutnya!” Maka dia lantas lari masuk guna memberi-tahu gurunya.

“Ciang-bun-jin dari Kun-lun-pay ini kabarnya belum pernah datang ke Tiong-goan. Karena itu adalah hal yang luar biasa bahwa dia mendapat tahu hari ulang tahunku,” berkata sang guru yang lantas memimpin keenam muridnya melakukan penyambutan.

Ho Thay Ciong mengenakan jubah kuning, romannya ramah dan agung, agaknya tepat menjadi ketua partai persilatan. Ia diiringi deIapan muridnya, di antaranya terdapat See-hoa-cu serta Wie Su Nio. Thio Sam Hong menyambut sambil menjura dan segera menghaturkan terima kasihnya. Song Wan Kiauw berenam memberi hormat sambil berlutut. Ho Thay Ciong membalas hormatnya tuan rumah, sedang hormatnya Wan Kiauw beramai dibalas dengan setengah kehormatan.

“Nama Bu-tong Liok-hiap tersohor sekali, hormatmu tidak dapat aku menerimanya,” katanya.

Tetamu itu lalu diundang ke ruang tengah, dipersilakan duduk dan disuguhkan teh. Tidak lama berselang, satu totong datang lagi dengan selembar kartu nama. Ketika Wan Kiauw menerimanya, ternyata dari rombongan Khong-tong-pay. Di kalangan persilatan masa itu, Siauw-lim-pay paling tersohor, Kun-lun-pay dan Go-bi-pay yang kedua, baru Khong-tong-pay. Maka kedudukan orang Khong-tong-pay ini seimbang dengan Song Wan Kiauw.

Tetapi Thio Sam Hong manis budi. Ia bangkit seraya berkata kepada tetamunya, “Ada tetamu dari Khong-tong-pay. Aku hendak menyambutnya, sebab itu kuminta sudilah Ho-loyu menanti sebentar.”

Ho Thay Ciong mengangguk, dalam hatinya ia berkata, “Yang datang hanya orang Khong-tong-pay, cukup kalau mereka disambut seorang murid saja...”

Tidak lama kemudian muncullah Khong-tong Ngo-lo bersama murid-muridnya. Ho Thay Ciong menemui mereka tanpa bangkit, melainkan hanya membungkuk sambil duduk. Tidak lama datanglah tetamu lain seperti dari partai Sin-kun-bun, Hay-see-pay, Kie-keng-pang, Bu-san-pay dan lainnya. Maka repotlah Wan Kiauw dan saudara-saudaranya. Mereka bermaksud bersuka-ria bersama gurunya saja. Siapa tahu datang begini banyak tetamu.

Thio Sam Hong juga tidak gemar ramai-ramai. Ketika dia berulang tahun usia tujuh puluh, delapan puluh dan sembilan puluh, ia berpesan kepada murid-muridnya untuk jangan memberi-tahu ke banyak orang. Tidak mengira kali ini kedatangan begitu banyak tamu, tidaklah heran kalau kursi pun sampai kekurangan hingga terpaksa Wan Kiauw beramai menggunakan batu-batu bundar sebagai gantinya.

Semua ketua partai dapat duduk di kursi, murid-murid terpaksa duduk di batu bundar. Untuk minum teh juga kehabisan cawan sehingga terpaksa memakai mangkok nasi sebagai gantinya.

Selagi Thio Siong Kee dan Thio Cui San hanya berdua di kamar sebelah timur, sang kakak bertanya:

“Ngote, apakah kau dapat melihat sesuatu?”

“Agaknya mereka sudah berdamai Iebih dulu,” berkata Cui San. “Lihatlah sikap mereka waktu bertemu satu sama lain. Beberapa nampak heran tetapi terang pura-pura belaka.”

“Kau benar. Mereka ini bukannya bersungguh hati datang memberi selamat kepada Suhu,” kata Siong Kee kemudian.

“Memberi selamat hanyalah alasan. Yang benar mereka datang untuk menegur!” Kata Cui San.

“Bukan, bukan menegur,“ kata Siong Kee. “Jiwa keluarga Liong-bun Piauw-kiok tak akan mengundang Ho Thay Ciong dari Kun-lun-pay.”

“Habis, apakah untuk urusan Kim-mo Say-ong Cia Sun?” tanya Cui San.

Siong Kee tertawa dingin. “Hm! Mereka memandang terlalu enteng Bu-tong-pay!” katanya. “Walau pun mereka mengandalkan jumlah banyak untuk memperoleh kemenangan, apakah mereka kira murid-murid Bu-tong-pay dapat menjual sahabatnya? Ngote, meski pun Cia Sun jahat tak berampun, tidak akan saudaramu membuka mulut memberi-tahu hal dia.”

“Sieko benar. Sekarang bagaimana kita harus bertindak?”

Siong Kee berdiam untuk berpikir. “Sekarang kita berhati-hati saja,” sahutnya. “Cukup asal kita bersatu padu, Bu-tong Cit-hiap telah kenyang menghadapi badai dan gelombang dahsyat, mana jeri terhadap mereka?”

Meski pun Jie Thay Giam telah cacad, Siong Kee tetap menyebut Bu-tong Cit-hiap, tujuh jago dari Bu-tong-pay. Ia tak ingin gurunya sampai turun tangan, terutama karena gurunya sedang merayakan ulang tahunnya yang ke seratus. la menghibur saudaranya meski ia merasa urusan ini sulit sekali. Selanjutnya Wan Kiauw bertiga Jie Lian Ciu dan In Lie Heng yang melayani para tamu di toa-thia (ruang besar). Mereka merasa semakin pasti bahwa sikap sekalian tetamu itu luar biasa. Selagi orang berbicara, kembali ada kacung yang masuk dengan wartanya,

“Murid kepala dari Go-bi-pay, Ceng-hian Suthay, datang bersama lima Sute dan Sumoay-nya untuk memberi selamat kepada Su-couw!”

Mendengar warta itu, Wan Kiauw dan Lian Ciu tersenyum. Keduanya memandang Lie Heng. Boh Seng Kok pun tampak masuk bersama sembilan tetamunya yang baru tiba, sedangkan Thio Siong Kee dan Thio Cui San baru muncul dari dalam. Mereka juga mendengar warta itu dan mereka turut memandang Lie Heng sambil tersenyum. Saudara she In ini menjadi merah mukanya, likat sikapnya. Tapi tanpa memperhatikan itu Cui San menarik tangan Sutenya untuk diajak keluar sambil tertawa. Ia berkata,

“Mari, mari... Mari kita menyambut tetamu!”

Di luar terlihat Ceng-hian Suthay menunggu bersama lima adik seperguruannya. Bhiksuni ini berusia empat puluh lebih, tubuhnya tinggi besar dan romannya gagah. Ia seorang wanita, namun tubuhnya lebih tinggi dari pada kebanyakan pria. Dari lima saudara seperguruannya, satu seorang pria kurus, usia tiga puluh tahun. Dua wanita, satu di antaranya adalah Ceng-hie Suthay yang pernah bertemu dengan Cui San di perahu di tengah laut. Dua wanita lainnya, satu nona berumur kurang lebih dua puluh tahun, yang mulutnya senantiasa senyuman, dan yang lainnya berkulit halus, tubuhnya jangkung, romannya cantik. Nona ini terus menundukkan kepala dan tangannya selalu mainkan ujung baju, karena dialah Nona Kie yang menjadi tunangan In Lie Heng.

Bersama Lie Heng, Cui San menyambut tamu dari Go-bi-san yang mereka pimpin untuk masuk ke dalam. In Lie Heng tidak berani mengawasi Siauw Hu, tunangannya. Hanya setibanya di paseban, selagi yang lain sudah berada di depan, barulah dia berpaling. Justru si nona melirik ke arahnya, bentroklah sinar mata mereka. Adik seperguruan Siauw Hu melihat lagak suci-nya ini. Dia berdehem sehingga dua muda mudi ini menjadi kemalu-maluan dan keduanya segera berpaling ke lain arah. Sumoay ini tertawa geli dan berkata:

“Lihatlah, Suci, In-suko lebih pemalu dari padamu!”

Hati Siong Kee lega juga karena datangnya rombongan Go-bi-pay. Ia percaya bila sampai terjadi sesuatu maka Ceng-hian Suthay tentu membantu pihaknya, mengingat Nona Kie adalah tunangan Lie Heng.

Tetamu yang datang begitu banyak, sedangkan pihak Giok-hie-koan tidak siap siaga, mana dapat diadakan perjamuan besar? Maka pihak imam ini hanya dapat menyuguhkan masing-masing tetamu semangkok nasi putih campur sayur tauw-hu dan kwa-cay. Wan Kiauw berulang-ulang minta maaf karena dia tidak dapat menjamu semua tetamunya lebih dari itu. Sebaliknya kawanan tetamu itu sembari dahar sering kali memandang ke luar seperti sedang menantikan seseorang. Secara diam-diam Song Wan Kiauw dan saudara-saudaranya memperhatikan gerak-gerik mereka. Semua Ciang-bun-jin atau Pangcu tidak ada yang membekal senjara, akan tetapi banyak murid mereka membawa senjata. Hanya murid-murid Go-bi-pay, Kun-lun-pay dan Khong-tong-pay yang bertangan kosong.

Bu-tong-pay belum lama didirikan, di kaki gunung belum dipasang ‘Kay Kiam Giam’, yaitu batu tanda untuk meletakkan pedang. Dengan ‘pedang’ diartikan pelbagai macam senjata tajam. Karena itu, walau pun ada yang membawa pedang naik ke gunung dan termasuk perbuatan yang kurang pantas, kedatangan sekalian tetamu itu tidak dapat dilarang. Tuan rumah sendiri pun tidak dapat menegur. Cuma dalam hati merasa tidak puas.

Wan Kiauw berkata dalam hati, “Kalian datang untuk memberi selamat pada guruku, tetapi mengapa kalian diam-diam membekal senjata?”

Ada lagi yang tidak memuaskan pihak Bu-tong-pay, yang membikin lebih nyata bahwa tetamu-tetamu itu mengandung sesuatu maksud. Pelbagai bingkisan yang mereka bawa, mieshoa dan lainnya, adalah barang pembelian sambil lalu dari dusun di kaki gunung Bu-tong-san, semua dibeli tergesa-gesa. Bingkisan semacam itu tidak saja tidak tepat untuk Thio Sam Hong, juga tidak sesuai dengan derajatnya pelbagai tetamu golongan ketua itu. Hanya bingkisan Go-bi-pay yang tepat, enam belas perabot kumala berikut sepotong jubah warna merah yang sekalian disulamkan seratus huruf ‘Siu’ (umur) berbagai hiasan.

Thio Sam Hong girang bukan main. Ia mengucapkan terima kasih. Ia memuji kepandaian menyulam itu. Murid-murid Go-bi-pay bukan hanya pandai silat, katanya. Selagi gurunya berkata-kata, Siong Kee berpikir, “Entah semua orang ini masih menantikan siapa lagi... Suhu tidak gemar dengan keramaian, karena itu sahabat-sahabat Bu-tong-pay tidak ada yang diundang. Kalau tidak, tidaklah mungkin kita menjadi terpencil seperti ini sehingga kita tidak mempunyai bala bantuan...” Thio Sam Hong biasa merantau, tujuh muridnya juga sudah banyak melakukan perbuatan baik. Jika pihak Bu-tong-pay mau melepas undangan, maka akan banyaklah sahabat lihay yang datang. Jie Lian Ciu yang berpikir seperti Siong Kee, berbisik pada adik seperguruannya,

“Kita telah berpikir sehabis ulang tahun Suhu akan melepas undangan guna rapat orang gagah di Lauw-teng Hong-ho-lauw. Siapa tahu karena kita berayal kini kita mengalami kegagalan ini.”

Ia bermaksud di dalam rapat itu memberi waktu kepada Thio Cui San untuk menjelaskan bahwa Cui San tidak menjual sahabat agar dia bebas, atau kalau ada yang mendesaknya, pihaknya mungkin memperoleh simpati dan bantuan dari banyak hadirin lainnya. Namun di luar dugaan pihak ‘musuh’ telah mendahului, sekarang mereka meluruk datang.

“Sekarang kita cuma dapat berkelahi mati-matian,” bisik Siong Kee kemudian.

Di antara Bu-tong Cit-hiap, Siong Kee yang paling pandai berpikir. Setiap ada kesukaran, selalu dialah yang mendapat pikiran baik. Maka itu, mendengar suara Sute-nya, Jie Lian Ciu berkata dalam hati, “Andai kata Sute sampai tak berdaya, agaknya enam murid Bu-tong-pay harus mengucurkan darah di atas gunungnya ini.” Coba semua orang berkelahi satu demi satu, hanya Thie-khim Siang-seng Ho Thay Ciong yang dapat menandingi Bu-tong Liok-hiap. Tetapi orang pasti akan mengepung, itu artinya bukan satu lawan dua puluh tetapi satu lawan empat puluh. Siong Kee menarik ujung baju Lian Ciu untuk diajak ke belakang. Ia berkata kepada kakaknya yang nomor dua ini,

“Kalau sebentar nanti pembicaraan memuncak ke suasana buruk, kita mesti menantang satu lawan satu. Syukur bila siasat kita ini kesampaian. Jika tidak, mereka bakal main keroyok...“

Lian Ciu mengangguk. “Dalam kesulitan ini paling penting kita menolong Samte,” katanya. “Kita mesti menjaganya sehingga dia tidak terjatuh ke tangan musuh, agar dia tidak menderita lagi, baik bathin mau pun lahir. Tugas ini kuserahkan padamu. Ngote-hu sudah sembuh, akan tetapi kesehatannya belum pulih benar. Maka itu kau mintalah Ngote yang melindunginya. Untuk menyambut, tugasku dan Toako berempat.”

Siong Kee mengangguk. “Baik,” katanya. Ia diam sejenak, lantas berkata lagi, “Mungkin ada jalan untuk kita lolos dari bahaya...”

“Apa itu, Sute? Biar pun kita mesti menerjang bahaya dulu, itu tidak apa-apa.”

“Aku berpikir untuk mempergunakan siasat, kita berenam masing-masing menyerbu satu lawan,” Siang Kee mengutarakan pikirannya. “Dalam satu jurus mesti berhasil membekuk musuh agar musuh lainnya menjadi jeri dan tidak berani mendesak kita...”

Lian Ciu ragu-ragu, ”Tapi yang lainnya bakal mengepung kita. Umpama kita berhasil pun, masih...”

“saat berbahaya begini, jangan berpikir terlalu banyak,” kata Siong Kee. “Kita gunakan saja jurus cengkeraman naga Liong-jiauw Ciat-hu-ciu!”

“Hari ini adalah ulang tahun Suhu,” kata Lian Ciu, “artinya hari baik. Apa tidak terlalu telengas menggunakan jurus itu?”

Jago Bu-tong nomor dua ini sangsi karena dia mengenal baik jurus itu, semacam jurus Kim-na Cui-hoat atau menangkap tangan, sedang Liong-jiauw Ciat-hoat-ciu berarti ‘kuku naga memutuskan’. Jurus paling lihay di Bu-tong-pay. Ketika Lian Ciu berhasil dengan jurus itu, dia masih kurang puas. Sebabnya adalah kalau musuh lihay masih dapat meloloskan tangannya dari tangkapan. Karena itu dengan kecerdikannya dia lalu mengolahnya. Dan dia berhasil menambah jurus itu, menciptakan dua belas jurus lanjutan.

Dalam memilih murid, Thio Sam Hong juga memperhatikan kecerdasan setiap murid. Karena itu murid-muridnya dapat menggunakan otak mereka, di mana perlu mereka bisa mengubah ilmu silat yang diajarkan gurunya untuk disempurnakan. Sesudah Lian Ciu berhasil dengan ciptaannya, dia lalu menjalankan di depan gurunya. Sang guru cuma mengangguk, tidak mengiyakan juga tak menolak. Melihat sikap guru itu Lian Ciu tahu rupanya masih ada cacad dalam ciptaannya. Dia lantas meyakinkan terus. Selang beberapa bulan, kembali dia mempertunjukkan di depan gurunya. Kali ini Thio Sam Hong menghela napas dan berkata,

”Lian Ciu, ciptaanmu ini jauh lebih lihay dari pada jurus yang aku ajarkan. Hanya sambaranmu pada pinggang, tidak peduli siapa yang menjadi korban, dia bakal terluka dalam hingga daya turunannya akan terputus. Apakah kau anggap ajaranku, ilmu silat sejati, masih kurang hingga kau menghendaki jurus yang hanya dengan satu serangan bisa membikin lawan tak berkutik?” Mendengar penuturan itu Lian Ciu mengeluarkan keringat dingin. Ia bergidik sendiri.

Beberapa hari kemudian, Thio Sam Hong mengumpulkan ketujuh muridnya dan berbicara tentang ciptaan Lian Ciu, dia menambahkan,

“Ciptaan Lian Ciu berkat ketekunannya menjadi dua belas jurus adalah suatu ilmu pukulan yang istimewa. Sungguh sayang bila ilmu itu dibuang karena kata-kataku. Maka pergilah kalian belajar kepada Lian Ciu untuk mempelajarinya supaya kalian bisa menggunakannya. Aku hanya berpesan, janganlah sembarangan memakai ilmu ini kecuali dalam keadaan mati hidup. Sekarang di bawah nama ‘Liong-jiauw’ aku menambahkan dua huruf ‘Ciat-hu’ yang berarti ‘menutup pintu’. Ingatlah kalian, akibat dari serangan pukulan ini dapat membuat musuh putus turunannya, jadi ini adalah jurus yang mematikan!”

Semua murid menerima baik pesan gurunya, maka yang enam lantas belajar kepada Lian Ciu. Mereka telah meyakinkan ilmu ini, tapi belum pernah menggunakannya karena mereka taat kepada pesan guru. Sekarang ini, keadaan amat berbahaya, Siong Kee mengajukan pikirannya yang membuat si orang she Jie ragu-ragu.

“Memang lawan bakal putus turunannya apa bila terkena serangan kita,” kata Siong Kee kemudian. “Tetapi kita masih memiliki jalan lain, yaitu mencari lawan seorang pendeta imam, atau kalau tidak, kita hajar lawan-lawan yang usianya sudah tujuh atau delapan puluh tahun.”

Mendengar itu Lian Ciu tertawa. “Sungguh cerdik kau, Sute!” Dia memuji. “Memang kaum pendeta atau imam tidak bakal mempunyai anak!”

Akhirnya mereka sepakat, maka keduanya mencari empat saudara yang lainnya, untuk mengisik supaya mereka masing-masing menghadapi satu lawan yang tangguh atau kenamaan. Tanda untuk turun tangan adalah bila Thio Siong Kee sudah berseru. Jie Lian Ciu sendiri lantas memilih mangsanya, yaitu anggota paling tua dari Khong-tong Ngo-lo, sedangkan Thio Cui San mengincar See-hoa-cu dari Kun-lun-pay.

ADU SIASAT

Habis bersantap, semua mangkuk, sumpit dan cawan dibenahi. Sesudah itu dengan suaranya yang terang dan lancar Thio Siong Kee berpidato.

”Para Cianpwe serta para sahabat! Hari ini adalah ulang tahun guru kami memasuki usia seratus tahun. Kami bersyukur atas kunjungan Cianpwe dan sahabat sekalian, hanya kami mohon maaf untuk pelayanan yang tidak sempurna ini. Sebenarnya guru hendak mengundang para Cianpwe dan sahabat dalam pertemuan di Hong-ho-lauw, minum bersama hingga puas, dari itu biarlah pelayanan hari ini akan diperbaiki kelak di kemudian hari. Hari ini pun saudara seperguruan kami, Thio Cui San, baru saja kembali dari perjalanan jauh yang memakan waktu selama sepuluh tahun. Dia belum sempat menuturkan kepada guru kami tentang perjalanan dan pengalamannya. Ini disebabkan pesta ulang tahun guru kami. Maka itu, kalau dalam suasana begini kita berbicara tentang budi atau permusuhan kaum rimba persilatan, tidak dapat, juga alamat yang tidak bagus. Sebab dengan begitu maksud para Cianpwe dan sahabat datang memberi selamat lantas dengan sendirinya berubah menjadi hal yang tidak-tidak. Maksud baik ini berubah menjadi maksud buruk. Karena itu, tuan-tuan, sesudah tuan-tuan datang ke Bu-tong pai, mari aku yang rendah mengundang tuan-tuan melihat-lihat bagian depan dan belakang gunung ini.”

Hebat siasat Siong Kee ini. Pertama ia telah menyumbat mulut semua orang. Dengan ucapan itu dia mau mengatakan bahwa orang pastilah bermaksud bermusuh jika hendak membicarakan urusan Cia Sun dan Liong-bun Piauw-kiok. Karena hari itu adalah hari pesta ulang tahun yang merupakan hari baik. Sekalian tamu menghendaki Bu-tong-san untuk bicara, mendesak menanyakan di mana adanya Kim-mo Say-ong Cia Sun. Tetapi nama Bu-tong-pay angker sekali. Tidak ada yang berani memulai, karena siapa yang mengajukan diri berarti dialah yang mengundang permusuhan. Sebaliknya, untuk langsung menyerang sendiri juga tidak ada yang berani memulai, siapa maju dulu, dialah yang celaka paling dulu.

Karena tidak ada yang mau menjadi musuh Bu-tong-pay serta tidak sudi juga menjadi korban pertama. Mereka saling pandang satu sama lain. Dengan sendirinya suasana menjadi tegang tidak keruan juntrungannya.

See-hoa-cu dari Kun-lun-pay bangkit bicara. Dia bukannya menerima undangan Siong Kee, hanya berkata nyaring,

“Thio Sie-hiap, tidak usah kau mengatakan sesuatu yang maknanya lain. Sudah terang kita tidak melakukan apa-apa yang gelap. Kita hendak bicara dengan mementang jendela lebar-lebar! Kali ini kami datang kemari dengan maksud, pertama adalah memberi selamat bagi Thio Cinjin. Yang ke dua mencari tahu tentang di mana beradanya Cia Sun sekarang.”

Sudah lama sekali Boh Seng Kok menahan hati. Mendengar See-hoa-cu, ia tidak dapat lagi menguasai dirinya.

“Bagus! Kiranya begitu!” katanya dengan tertawa dingin. “Tidak heran! Tidak heran.”

See-hoa-cu mendelik. “Apa yang tidak heran?!” tanyanya bengis.

Dengan nyaring Seng Kok berkata: “Tidak heran karena tadinya aku menyangka tuan-tuan datang kemari memberi selamat kepada guru. Tetapi di tubuh kalian masing-masing disembunyikan senjata tajam. Mulanya aku amat heran dan di dalam hatiku bertanya-tanya apakah tuan-tuan hendak menghadiahkan senjata tajam kepada guruku? Sekarang barulah terang duduknya hal! Kiranya bingkisan ini bingkisan macam begini!”

See-hoa-cu menjadi mendongkol sekali. Ia menepuk-nepuk tubuhnya, terus ia meloloskan jubahnya.

“Bok Cit-hiap, lihatlah biar terang!” ia berseru. “Kau masih sangat muda, maka jangan menyembur orang dengan darah! Lihatlah tubuhku ini! Siapa yang menyembunyikan senjata tajam?”

“Bagus! Memang tidak ada!” berkata Seng Kok dengan tertawa.

Dengan sebat jari tangannya menyodok dua orang yang berada di samping. Ketika tangannya menarik maka putuslah tali baju dua orang itu, lalu dengan menerbitkan suara nyaring berisik jatuhlah dua batang golok pendek yang berkilauan. Ternyata benar, mereka menyembunyikan senjata di dalam bajunya. Menyaksikan itu, banyak hadirin yang air mukanya menjadi berubah.

“Benar!” See-hoa-cu berseru. Sekarang ia sudah tidak main pernik (banyak cingcong) lagi. “Thio Ngo-hiap, jika kau tidak menunjukkan di mana adanya Cia Sun, mungkin kita bakal menggerakkan golok atau pedang!”

Thio Siong Kee menunggu kesempatan mengeluarkan kata-kata. Ia melihat kesempatan itu telah datang, hanya saja di saat hendak membuka mulut, tiba-tiba terdengar suara pujian,

“Omitohud...!” yang datangnya dari arah luar pintu. Suara itu tegas sekali dan nadanya halus masuk ke telinga orang. Suara itu datang dari tempat jauh, akan tetapi seperti dari samping setiap orang.

Thio Sam Hong yang sejak tadi berdiam diri lantas berkata, “Kiranya Kong-tie Siansu dari Siauw-lim-pay datang! Lekas sambut!”

Ketika itu di pintu luar terdengar lagi, “Hong-thio Kong-bun dari Siauw-lim-si dengan mengajak Sute-nya, Kong-tie dan Kong-seng beserta murid-murid memuji agar Thio Cinjin panjang umur!”

Kong-bun bersama Kong-tie dan Kong-seng adalah tiga di antara pendeta-pendeka kenamaan dari Siauw-lim-si. Karena saudara mereka yang tertua, Kong-kian, sudah berpulang (meninggal), maka sekarang tinggal mereka saja. Karena kedatangannya yang tiba-tiba itu batallah Siong Kee berseru. Lagi pula dia lantas mengerti, dengan datangnya ketiga pendeta Siauw-lim-si ini maka gagallah rencananya untuk menyergap lawan.

Ho Thay Ciong dari Kun-lun-pay lantas menyambut dengan berkata, “Sudah lama aku mendengar nama besar dari keempat pendeta berilmu dari Siauw-lim-si. Sekarang kita bertemu di sini, aku merasa beruntung sekali. Dengan begini berarti tidak sia-sialah kedatanganku!”

Dari luar lantas terdengar satu suara dalam, pertanda bahwa yang mengeluarkannya seseorang yang usianya sudah lanjut. Katanya,

“Tuan tentu Ho Sian-seng yang menjadi Ciang-bun-jin dari Kun-lun-pay. Maka aku berbahagia sekali dengan pertemuan ini. Thio Cinjin, aku si pendeta tua datang terlambat memberi selamat padamu, ini perbuatan kurang hormat, harap dimaafkan!”

Atas ucapan itu Thio Sam Hong berkata dengan merendah, “Hari ini di Bu-tong-san berkumpul banyak tetamu yang mulia. Aku merasa girang sekali! Aku si imam hanya berhasil hidup sampai umur seratus tahun. Bagaimana aku berani membuat Suhu yang agung datang kemari...“

Sembari berkata dia mengajak murid-muridnya menyambut tamu yang dipandang suci dan dihormatinya itu. Kedatangan rombongan Siauw-lim-pay ini luar biasa. Pihaknya dengan pihak Bu-tong-pay tuan rumah, bicara dari jarak jauh. Kedua pihak menggunakan suara dari tenaga dalam. Mereka masih terpisah jauh, tetapi mereka bagaikan bicara berhadapan.

Ceng-hian Suthay dari Go-bi-pay kalah mahir tenaga dalamnya. Dia tidak berani campur bicara. Yang lain-lain terlebih lagi, sampai hati mereka ciut dan malu sendiri. Ketika Thio Sam Hong dan murid-muridnya muncul di luar, rombongan Siauw-lim-pay yang jalannya perlahan itu baru sampai di depan pintu. Ketiga pendeta tua itu datang bersama sembilan murid yang telah memasuki usia pertengahan.

Kong-bun Taysu beralis putih yang panjang sampai turun ke matanya sehingga dia mirip dengan Tiang-bie Lo-han, arhat yang alisnya sangat panjang. Kong-seng bertubuh besar dan romannya gagah. Adalah Kong-tie yang beroman meringis dan mulutnya monyong ke bawah.

Melihat roman Kong-tie ini, Siong Kee heran sehingga dia berpikir, “Aku dapat melihat wajah orang. Siapa beroman seperti pendeta ini, jika bukan umurnya pendek pasti dia mati celaka. Maka sungguh heran, mengapa dia dapat berumur panjang dan dihormati banyak orang? Mungkinkah ilmu khoa-mia yang kumiliki sangat terbatas?”

Thio Sam Hong dan Kong-bun adalah guru-guru silat ternama dan asalnya satu golongan. Akan tetapi mereka belum pernah mengenal satu sama lain. Dalam hal umur Sam Hong lebih tua kira-kira tiga atau empat puluh tahun. Ia berasal dari Siauw-lim-si karena gurunya adalah Kak Wan Taysu. Ia berderajat atau bertingkat dua kali lipat lebih tinggi dari pada Kong-bun bertiga. Hanya ia tidak menjadi pendeta dan masuknya menjadi murid Siauw-lim-si pun tanpa upacara resmi. Ia cuma murid perseorangan dari Kak Wan.

Sebab itu pertemuan dengan Kong-bun bertiga dilakukan sebagai orang-orang dari sesama derajat dan tingkat. Oleh karenanya Wan Kiauw dan saudara-saudaranya menjadi berada di tingkat sebelah bawah tetamu-tetamu itu. Setelah kedua pihak saling memberi hormat, Sam Hong mengundang sekalian tetamunya masuk ke dalam di mana mereka bertemu dengan Ho Thay Ciong dan Ceng-hian Suthay sekalian. Kong-bun halus gerak-geriknya. Ia memberi hormat sekali pun terhadap anak-anak muda. Habis minum teh, Kong-bun berkata,

“Thio Cinjin, menurut usia dan tingkatan lolap adalah pihak yang lebih muda. Tapi mengingat kedudukan Bu-tong dan Siauw-lim sederajat, dan lolap justru menjadi Ciang-bun-jin dari Siauw-lim-pay, harap kau mengijinkan lolap bicara terus terang dan sukalah memaafkan lolap.”

Thio Sam Hong dapat menduga maksud orang. Karena ia memang jujur, ia lantas berkata,

“Sam-wi yang suci, apakah kedatangan Sam-wi ini untuk Thio Cui San, muridku yang nomor lima?”

”Benar,” jawab Kong-bun. “Ada urusan yang hendak didamaikan dengan Thio Ngo-hiap. Pertama yaitu halnya Thio Ngo-hiap sudah membinasakan tujuh puluh dua jiwa keluarga Liong-bun Piauw-kiok berikut enam jiwa murid Siauw-lim-si. Bagaimana harus diputuskan mengenai tujuh puluh delapan jiwa itu? Yang kedua mengenai Suheng kami, Kong-kian Taysu. Dia adalah seorang yang pemurah dan bijaksana, seumurnya belum pernah ribut dengan siapa pun tetapi dia telah dicelakai Kim-mo Say-ong Cia Sun hingga mati secara amat menyedihkan. Kami dengar Thio Ngo-hiap mengetahui di mana adanya Cia Sun, maka kami mohon sukalah Ngo-hiap memberikan petunjuk. Kami dari Siauw-lim-si pasti akan mengingat budi itu.”

Mendengar itu Thio Cui San bangkit tanpa menunggu gurunya bicara. Dia berkata tegas,

“Kong-bun Taysu, tujuh puluh delapan jiwa keluarga Liong-bun Piauw-kiok beserta pendeta Siauw-lim-si yang dimaksudkan itu bukan dibunuh olehku. Seumur hidup Cui San telah menerima budi dan ajaran guruku yang berbudi luhur. Meski pun bodoh tapi aku tak berani berdusta. Tentang halnya siapa yang telah menyebabkan lenyapnya tujuh puluh delapan jiwa itu, dapat aku terangkan bahwa aku mengetahui orangnya akan tetapi tidak ingin memberi-tahukannya. Ini jawabanku untuk urusan yang pertama.

Sedangkan mengenai urusan yang kedua, kematian Kong-kian Taysu, siapa pun di kolong langit ini tidak ada yang tidak merasa berduka. Akan tetapi Cia Sun adalah sahabat dan saudara angkatku, maka di mana dia sekarang, meski tahu tidak dapat kuterangkan. Kita orang rimba persilatan paling mengutamakan kehormatan. Aku Thio Cui San, leherku boleh kutung dan darahku boleh muncrat, tetapi alamat kakak angkatku tidak bisa kuterangkan. Urusanku ini tak ada sangkut pautnya dengan guruku yang berbudi luhur, juga tidak ada hubungannya dengan saudara-saudara seperguruanku. Jadi semua itu aku yang bertanggung jawab sendiri. Terserah kepada Taysu, silakan turun tangan apa bila hendak membinasakan aku! Aku she Thio, seumurku belum pernah melakukan sesuatu yang dapat membikin malu guruku, juga belum pernah aku lancang membunuh orang baik-baik. Jika tuan-tuan hendak memaksa aku melakukan perbuatan tidak terhormat, maka bagianku hanyalah mati, lain tidak!” Cui San bicara dengan semangat sekali hingga Kong-bun memuji,

“Omitohud...!” dan berpikir, “Mendengar suaranya, dia tidak berdusta. Bagaimana baiknya sekarang?”

Ketika ruang itu sunyi, dari luar jendela terdengar suara bocah memanggil, “Ayah!”

Cui San terkejut. Dia mengenali suara anaknya. “Bu Kie, kau pulang!” serunya. Dan dia melompat berlari keluar.

Dua orang, masing-masing dari Bu-san-pay dan Sin-kun-bun yang berdiri di depan pintu, menduga Cui San hendak melarikan diri. Mereka mengulur tangannya, mencekuk sambil membentak,

“Kau hendak lari ke mana?!”

Cui San amat memikirkan anaknya. Ia mementang kedua tangannya, maka dua perintang itu terpental ke samping kiri dan kanan kemudian roboh terguling. Ketika dia sudah melompat keluar jendela, dia tidak melihat apapun.

“Bu Kie...! Bu Kie...!” Dia terus memanggil berulang-ulang kali.

Tidak ada sahutan. Dari dalam memburu belasan orang. Sesudah mereka mendapatkan orang bukannya lari, mereka hanya berdiri diam mengawasi saja.

“Bu Kie...! Bu Kie...!” Cui San memanggil-manggil lagi.

Tetapi dia tidak memperoleh jawaban, sebaliknya, sejenak kemudian di situ muncul In So So. Isterinya baru saja sembuh dan sedang berada di ruangan dalam ketika mendengar suaminya memanggil-manggil anak mereka.

“Bu Kie pulang?” tanya isterinya kegirangan.

“Barusan aku seperti mendengar suaranya. Tetapi ketika aku memburu keluar, tidak melihatnya,“ sahut sang suami.

So So kecele. “Mungkin karena kau terlalu memikirannya maka barusan kau salah mendengar,“ katanya perlahan,

Cui San diam sejenak, lalu dia menggelengkan kepalanya dengan keras. “Terang aku mendengarnya,” katanya. “Pergilah kau masuk!”

Cui San kuatir isterinya bertemu dengan sekalian tetamu dan nanti ada ekornya. Setelah isterinya berlalu barulah dia kembali ke dalam terus dia memberi hormat kepada Kong-bun seraya minta maaf untuk kepergiannya barusan tanpa perkenan lagi.

“Siancay, siancay!” Kong-tie memuji, “Thio Ngo-hiap begitu menyayangi anak, sampai seperti lupa ingatan. Maka, begitu banyak jiwa yang dicelakai Cia Sun, apakah mereka tidak mempunyai ayah atau ibu, isteri atau anak?”

Pendeta itu bertubuh kecil dan kurus namun suaranya nyaring bagaikan genta, menderu di telinga para hadirin. Pikiran Cui San sedang kalut, maka dia tidak menyahut. Kong-bun mengawasi kedua Sute-nya, dia melihat Kong-tie dan Kong-seng mengangguk. Maka dia lantas menghadapi tuan rumah dan berkata,

“Thio Cinjin, bagaimana urusan ini hendak diputuskan, kami mohon petunjuk Cinjin saja.”

“Muridku tidak memiliki kepandaian apa-apa. Walau pun demikian tidak akan dia berani memperdaya gurunya,” berkata Sam Hong. “Karena itu aku percaya tidak akan dia berani mendustai sam-wi. Seperti yang dia katakan, jiwa orang-orang Liong-bun Piauw-kiok serta murid-muridmu itu bukan dia yang membunuhnya. Sedangkan tempat kediaman Cia Sun sudah terang dia tidak mau memberi-tahukannya.”

Kong-tie tertawa dingin. “Tetapi ada orang yang melihat dengan matanya sendiri bahwa Thio Ngo-hiap membunuh murid-murid kami!” katanya mengejek. “Mustahil jika murid-murid Bu-tong-pay tidak dapat berdusta tetapi murid Siauw-lim-pay dapat.”

Dia mengibaskan tangan kirinya dan dua pendeta usia pertengahan di belakangnya segera maju ke depan. Di belakang dua pendeta ini mengintil seorang pendeta lain, tetapi karena ia bertubuh kecil dan kate, tubuhnya teraling dan tidak segera terlihat. Ketiganya picak mata kanannya. Mereka Goan-sim, Goan-im dan Goan-giap, tiga pendeta Siauw-lim-pay yang telah dihajar jarum emas in So So di tepi telaga di Lim-an.

Cui San melihat mereka dan mengenali ketiganya. Ia menduga pasti mereka bakal dijadikan saksi untuk peristiwa di tepi telaga See-ouw itu. Sekarang dugaannya itu jitu. Dia tidak takut. Dia bukanlah si pembunuh, si pembunuh adalah So So yang kini telah menjadi isterinya. Bagaimana bisa dia tidak melindungi isterinya? Namun bagaimana dia harus melindunginya?

Di antara tiga pendeta yang berhuruf ‘Goan’ itu, Goan-im yang tabiatnya paling keras. Kalau menuruti adatnya, begitu bertemu Cui San sebenarnya dia ingin menerjang. Tetapi karena ada gurunya, dia menahan emosi. Sekarang setelah gurunya memanggil, dia segera muncul untuk terus berkata,

“Thio Cui San, di tepi telaga See-ouw di Lim-an, kau menerjang Hui-hong dengan jarummu. Jarum itu masuk dari mulut lantas mengambil jiwanya! Aku melihat dengan mataku sendiri! Apakah aku memfitnah kau? Dan mata kanan kami pun diserang jarum beracun itu. Apakah kau masih hendak menyangkal?”

Dalam keadaan seperti itu Cui San masih menyangkal. Katanya, “Kami dari kaum Bu-tong-pay, benar mempelajari senjata rahasia dan jumlah macamnya tidak sedikit. Akan tetapi semuanya piauw dan panah tangan! Kami bertujuh sudah lama merantau, cobalah tanya, apa pernah ada yang melihat kami menggunakan jarum, baik jarum emas mau pun jarum perak? Maka tentang jarum beracun tidak usah disebut-sebut lagi!”

Rimba persilatan memang tahu bahwa golongan Bu-tong-pay adalah golongan lurus, banyak yang tidak percaya bahwa Thio Cui San menggunakan jarum jahat seperti itu. Tidak demikian dengan Goan-im yang menjadi sangat marah.

“Apakah kau tetap menyangkal?” ia membentak. “Bersama-sama Sute Goan-giap aku melihat sendiri kau menyerang Hui-hong dengan jarum. Kalau itu bukan kau, habis siapa?”

“Aku tahu siapa dia, tapi aku tidak mau memberi-tahu kepadamu!” menyahut Cui San. “Apa kau kira murid-murid Bu-tong-pay dapat kau paksa?“

Cui San pandai bicara. Dia membuat darah Goan-im meluap. Maka adu mulut mereka berkesudahan dari unggul si pendeta menjadi jatuh di bawah angin.

“Goan-im Suheng,” kini Thio Siong Kee turut bicara, ”mengenai siapa sesungguhnya yang membinasakan murid-murid Siauw-lim, saat ini rasanya sulit dibikin terang. Akan tetapi Suheng kami, Jie Thay Giam, jelas dipukul dengan Kim-kong-cie dari Siauw-lim-pay! Maka kebetulan sekali kunjungan tuan-tuan semua, sekarang aku mohon bertanya, sebenarnya siapa yang telah melukai Sam-suheng?”

“Itu bukan aku,” Goan-im menyangkal cepat.

“Aku juga tahu bukan kau!” kata Siong Kee tertawa dingin. “Aku juga tidak percaya kau mampu meyakinkan ilmu itu!” Ia berdiam sejenak, lalu melanjutkan, “Kalau saja Suheng kami bertubuh sehat dan bertempur dengan orang partaimu yang kosen secara laki-laki, biar pun dia sampai dilukai dengan Kim-kong-cie, harus disesalkan saja kepandaiannya yang belum sempurna. Kalau dalam pertempuran sampai terjadi terluka atau binasa, apa mau dikata lagi? Orang toh tidak biasanya sebelum pertandingan dimulai lebih dulu membuat perjanjian untuk mempertanggungkan keselamatan bulu atau rambutnya? Akan tetapi Suheng kami sedang menderita sakit berat, tubuhnya tak dapat digerakkan. Dalam keadaan begitu tuan pendeta itu menggunakan pukulan Kim-kong-cie. Dia memaksa Suheng-ku supaya menerangkan tentang golok mustika To-liong-to!” Sampai di situ, dengan mengeraskan suaranya Siong Kee menambahkan,

“Ilmu silat Siauw-lim-pay menjagoi di kolong langit ini, Siauw-lim-pay menjadi jago rimba persilatan. Karena itu apa perlunya dia menghendaki juga golok mustika itu? Selain itu golok tersebut pernah dilihat sekali oleh Suheng-ku! Kenyataannya dia telah dipaksa. Bukankah perbuatan itu terlalu kejam? Di dunia Kangouw Jie Thay Giam juga memiliki sedikit nama. Dia biasa melakukan perbuatan-perbuatan mulia, melakukan jasa-jasa baik untuk kaum rimba persilatan. Tapi sekarang dia dianiaya pihak Siauw-lim-pay hingga dia cacad seumur hidup. Untuk sepuluh tahun ini dia rebah saja di atas pembaringan. Sekarang kami mohon pertimbangan dari tiga Taysu yang mulia.”

Terlukanya Jie Thay Giam dan kebinasaan keluarga Liong-bun Piauw-kiok telah menjadi bahan perselisihan selama sepuluh tahun. Hanya karena lenyapnya Thio Cui San suami isteri maka perkara itu tergantung. Kini pihak Siauw-lim-pay mengangkatnya lagi dan Thio Siong Kee menggunakan kesempatan ini untuk balik menggugatnya.

“Tentang itu pernah lolap menyelidiki,” berkata Kong-bun. “Lolap telah memeriksa sekalian murid Siauw-lim-si, tidak ada satu pun yang melakukan penganiayaan itu.”

Mendengar jawaban itu, Thio Siong Kee merogoh sakunya mengeluarkan sepotong emas goan-po. Pada uang itu ada tapak jari tangan. Sambil menunjuk tapak itu ia berkata dengan nyaring,

“Baiklah semua orang gagah di kolong langit tahu. Orang yang menyiksa Suheng ialah pendeta Siauw-lim-pay yang tapak jari tangannya berada di atas uang goan-po ini! Kecuali dengan Kim-kong-cie, apakah ada partai lain yang dapat membikin tanda di atas uang seperti ini?”

Goan-im bertiga menuduh Thio Cui San hanya dengan kata-kata. Namun sekarang Siong Kee membalas dengan bukti. Inilah pembalasan yang hebat.

“Siancay, siancay!” Kong-bun Taysu memuji. “Kecuali kami bertiga, di partai kami yang meyakinkan Kim-kong-cie hanya lima Tianglo dari Tat-mo-tong. Akan tetapi sudah tiga sampai empat puluh tahun lamanya kelima Tianglo itu tidak pernah keluar dari kuil. Bagaimana mereka dapat melukai Jie Sam-hiap?”

Mendengar itu Boh Seng Kok menyela, “Barusan Taysu tak percaya perkataan Ngo-suko. Taysu mengatakan omongan satu pihak saja. Habis bagaimana sekarang, apakah kata-kata Taysu juga bukan hanya kata-kata sepihak?”

Kong-bun sabar luar biasa. Dia tidak marah walau pun ditanggapi demikian rupa. “Kalau Boh Cit-hiap tidak percaya lolap, ya apa boleh buat!” katanya.

“Mana berani Boanpwe tidak percaya Taysu?” kata Seng Kok. “Namun di dunia ini segala sesuatu gampang sekali berubah, sukar untuk menerkanya dan segala yang benar dan tidak benar tidak dapat dipastikan. Tuan-tuan hanya mengetahui beberapa pendeta Siauw-lim-pay telah terbinasa di tangan Suheng. Sebaliknya kami menyatakan Sam-suheng dianiaya pihak Siauw-lim-pay. Siapa tahu jika dalam perkara ini ada sesuatu yang tersembunyi? Karena itu menurut Cianpwe urusan ini harus diurus dengan sabar, supaya tidak mengganggu persahabatan di antara kedua partai. Apa bila kita bertindak sembrono, kemudian di belakang hari urusan dapat dibikin terang, bukankah kita akan menyesal tapi semuanya sudah terlanjur?”

“Boh Cit-hiap benar,” kata Kong-bun mengangguk.

Walau pun saudaranya itu berlaku demikian sabar, akan tetapi Kong-tie berteriak dengan mendadak,

“Habis apakah sakit hati Suheng Kong-kian bisa dibiarkan saja? Thio Ngo-hiap, urusan Liong-bun Piauw-kiok untuk sementara boleh kita biarkan, tetapi tentang Cia Sun si jahat itu, adalah urusan lain lagi! Hari ini juga kami menghendaki supaya kau memberi-tahu mengenai dia. Biar pun kau tidak suka, kau mesti bicara!”

Song Wan Kiauw membungkam sekian lama. Sekarang ia melihat suasana tegang, maka terpaksa ia campur bicara. Ia berkata dengan nyaring,

“Jika golok mustika itu tidak ada di tangan Cia Sun, apakah Taysu tetap begini bernafsu hendak mengetahui di mana adanya dia?”

Kata-kata itu singkat, namun maksudnya dalam sekali. Kong-tie telah ditegur dan dituduh ingin memiliki golok mustika itu. Kong-tie menjadi sangat marah. Tangannya menepuk meja! Maka celakalah meja itu yang menjadi hancur! Tetapi ini pun menandakan lihaynya tangan itu. Ia sampai terkejut sendiri. Tapi ia lagi murka, ia tidak menghiraukannya. Ia bahkan berkata nyaring,

“Sudah lama kami mendengar ilmu silat Thio Cinjin berasal dari Siauw-lim-pay. Orang rimba persilatan mengatakan, hijau itu asalnya dari biru, tetapi yang hijau akhirnya menjadi lebih menang dari pada biru. Kami sudah lama mengaguminya, hanya kami tidak tahu sampai di mana kebenarannya. Apa itu tidak melebihkan dari kenyataan? Hari ini di hadapan orang-orang gagah di seluruh negara ini, ingin aku belajar kenal. Aku harap Cinjin tidak terlalu pelit!”

Kata-kata itu mengejutkan orang banyak sekaligus menarik hati. Sejak tujuh puluh tahun yang silam Thio Sam Hong menjagoi rimba persilatan. Orang-orang sepantarannya yang pernah bertempur dengannya sudah mati semua. Jadi sekarang ini belum ada yang mengetahui sampai di mana lihaynya dia. Kecuali tujuh muridnya, belum pernah ada yang menyaksikan dia bersilat. Namun hanya dengan melihat dari kegagahan Song Wan Kiauw bertujuh, bisalah ditaksir kelihayannya itu. Sekarang ketua Bu-tong-pay ditantang. Semua orang menjadi gembira, ingin menyaksikan pertempuran jago-jago utama. Maka semua mata diarahkan pada Thio Sam Hong. Semua orang ingin sekali mendengar apakah tantangan itu akan diterima atau tidak. Tapi orang mendapatkan orang tua itu hanya tersenyum saja. Sama sekali tidak menolak tetapi juga tidak menerima.

“Ilmu silat Thio Cinjin sangat lihay. Di kolong langit tidak ada tandingannya,” kata Kong-bun Taysu. “Begitu juga kami tiga pendeta dari Siauw-lim-si, bukan tandingan Cinjin. Tapi sekarang keadaan memaksa sekali! Perselisihan di antara murid kedua pihak, jika tidak dibereskan dengan kekuatan tenaga, untuk memastikan siapa kuat dan siapa lemah, sungguh sukar untuk diselesaikan. Karena itu kami bertiga tidak tahu diri, kami bersedia bekerja sama bertiga meminta Cinjin sukalah memberi pengajaran kepada kami. Cinjin berderajat dua tingkat lebih tinggi. Jika bertempur satu lawan satu, artinya kami berlaku tidak hormat terhadap Cinjin!”

Kata-kata ini didengar semua orang. Mereka berkata dalam hati, “Perkataanmu sangat merendah, enak didengarnya, tetapi itu artinya tiga melawan satu! Thio Sam Hong boleh lihay sekali, tetapi sekarang dia sudah berusia seratus tahun. Tenaganya tentu telah berkurang banyak sekali. Maka itu dapatkah dia melayani tiga jago dari Siauw-lim-si?”

Song Wan Kiauw lantas bangkit. “Hari ini adalah hari perayaan ulang tahun guruku. Mana bisa hari ini orang mengadu kepandaian?” katanya.

Mendengar sampai di situ para hadirin menduga Bu-tong-pay takut menyambut tantangan. Tapi ternyata Wan Kiauw belum selesai bicara, karena dia sudah melanjutkan,

“Lagi pula benar seperti kata Kong-bun Taysu barusan. Tingkat derajat di antara guruku dan Taysu bertiga berlainan, tidak seimbang. Jika pertempuran sampai terjadi, bukankah itu sama dengan yang tua menghina yang muda? Akan tetapi Siauw-lim-pay sudah menantang. Bu-tong-pay tidak dapat tidak menyambutnya. Pepatah berbunyi, ‘bila ada urusan maka sang murid mengurusnya’. Karena itu sekarang baiklah diatur begini, kami tujuh murid dari Bu-tong-pay akan melawan dua belas pendeta lihay dari Siauw-lim-pay!”

Dengan sendirinya orang menjadi gempar mendengar jawaban berani dari Wan Kiauw ini. Ucapan itu bukan menyambut tantangan belaka, bahkan balik menantang. Kong-bun, Kong-tie dan Kong-seng datang ke Bu-tong-san dengan mengajak masing-masing tiga murid. Jumlahnya menjadi dua belas, jumlah yang ditantang murid Bu-tong-pay. Karena Wan Kiauw menyebut jumlah tujuh, semua orang menjadi heran. Bukankah Jie Thay Giam telah cacad dan jumlah mereka tinggal enam orang? Enam melawan dua belas, sama artinya satu melawan dua. Bukankah dengan begitu Song Wan Kiauw telah mengangkat harga diri Bu-tong-pay?

Kelihatannya Song Wan Kiauw menyerbu bahaya dengan kata-katanya itu. Memang dia terpaksa bersikap demikian. Namun sikapnya ini telah diperhitungkan. Ia tahu baik bahwa Kong-bun bertiga sangat lihay melebihi semua saudaranya. Jika satu lawan satu, maka hanya dia seorang yang bisa menandinginya secara berimbang. Jie Thay Giam cacad, sedang Jie Lian Ciu baru sembuh. Tetapi kalau mereka melawan dua belas orang, ia tahu sembilan murid tiga pendeta itu tidak harus dijerikan. Maka namanya saja enam lawan dua belas, tetapi kenyataannya enam lawan tiga. Kong-tie Taysu mengetahui maksud hati Wan Kiauw. Ia mengeluarkan suara di hidung. Ia berkata,

“Kalau Thio Cinjin sendiri tidak sudi memberi pelajaran, baiklah, biar kami bertiga saja yang melawan tiga di antara keenam tuan dari Bu-tong-pay. Dalam tiga pertandingan, siapa yang menang dua kali maka dialah yang menang.”

Thio Siong Kee dapat menerka hati orang. Ia menggantikan kakaknya berbicara, “Kalau Kong-tie Taysu menghendaki satu lawan satu, baiklah, dari kita tujuh saudara, Samko Jie Thay Giam tidak dapat turun dari pembaringan karena dia telah dianiaya oleh pendeta Siauw-lim-si. Meski begitu tidak ada satu pun di antara kita berenam yang sudi ketinggalan. Maka baiklah kita bertempur dalam enam rombongan saja, enam murid Bu-tong-pay melawan enam pendeta gagah dari Siauw-lim-pay. Siapa pun yang menang dalam empat pertandingan, dialah yang menang.”

“Benar begitu!” Boh Seng Kok turut bicara. “Jika pihak Bu-tong-pay yang kalah maka Thio-ngoko akan memberi-tahu tentang Kim-mo Say-ong Cia Sun. Dia akan memberi-tahu kepada Hong-thio dari Siauw-lim-si. Tapi andai kata pihak Siauw-lim-pay yang mengalah, maka kami minta Taysu bertiga mengajak semua sahabat ini, yang namanya saja datang untuk memberi selamat ulang tahun kepada guruku, tetapi sebenarnya hendak mencari gara-gara, untuk turun dari gunung ini!”

Seng Kok mengatakan begitu sebab dia bisa mengerti maksud Siong Kee. Dengan enam lawan enam, sudah terang Bu-tong-pay tidak bakal kalah. Dia tahu sekali bahwa kakaknya yang nomor satu dan nomor dua dapat menandingi tiga musuh yang lihay, tetapi ketiga murid mereka pasti bakal dikalahkan.

Kong-tie Taysu sangat cerdik, maka dia menggeleng-gelengkan kepalanya. “Tidak sempurna, tidak sempurna!” katanya. Dia berkata begitu, lantas dia berhenti, tidak mau menjelaskan ‘tidak sempurna’ nya itu.

Thio Siong Kee berkata lagi, “Taysu bertiga menantang guru kami, katanya kalian hendak bertanding tiga lawan satu. Setelah kami enam orang Bu-tong-pay bersedia melawan dua belas pendeta Siauw-lim-pay, Kong-tie Taysu malah menghendaki satu lawan satu. Kami pun menerima baik, tapi Taysu bilang tidak sempurna. Sekarang begini saja, biar Boanpwe seorang diri melawan tiga pendeta yang lihay. Bukankah ini sempurna? Jika Taysu bertiga dapat menghajar aku sampai mati, itu artinya Siauw-lim-pay yang menang! Tidakkah cara ini bagus sekali?”

Wajah Kong-tie berubah. Sungguh hebat ejekan itu. Tapi Kong-seng tertawa terbahak-bahak. Berulang kali dia memuji,

“Siancay! Siancay!”

Semenjak datang pendeta ini belum pernah buka mulut. Ini yang pertama kali. Lalu dia menambahkan,

“Suheng berdua, Thio Sie-hiap ini mau bersendirian melawan kita bertiga, marilah kita maju bersama!”

Pendeta ini lihay ilmu silatnya, tetapi dia tidak menginsyafi ejekan Siong Kee. “Jangan banyak omong, Sute!” Kong-bun mencegah. Kemudian ia berpaling kepada Song Wan Kiauw dan berkata, “Begini saja! Kami enam pendeta Siauw-lim melawan enam jago Bu-tong, menang atau kalah diputuskan dengan satu kali pukul.“

“Bukan enam orang dari Bu-tong melainkan tujuh!” berkata Wan Kiauw.

Kong-tie Taysu terkejut. “Jadi kalau begitu Thio Cinjin bakal turun tangan juga?” tanyanya.

“Taysu keliru,” sahut Wan Kiauw. “Orang-orang yang pernah bertempur dengan guru kami semuanya sudah tak ada lagi di dunia. Sebab itu mana bisa guru kami melakukan pertempuran? Sedangkan tentang Jie-samte kami, dia cacad, dia tidak dapat bergerak, dia juga tidak punya murid. Tetapi meski demikian persaudaraan kami bertujuh amat erat. Kami mau hidup dan mati bersama. Maka di saat mati hidup seperti ini, mana dapat kami berpeluk tangan menonton saja di pinggiran? Sebab itu untuk gantinya aku hendak minta supaya ia mencari wakilnya. Untuk ini biarlah dia diberi waktu memberi petunjuk kepada wakilnya. Dengan begitu tujuh murid Bu-tong-pay menempur pendeta-pendeta dari Siauw-lim-pay! Ada pun pihak Taysu, maju tujuh baik, maju dua belas juga baik, untuk kami tidak ada halangannya!”

Kong-bun heran. Dia pikir, “Sebegitu jauh yang aku tahu di pihak Bu-tong-pay kecuali Thio Cinjin dan tujuh muridnya, tidak ada lagi yang lihay. Jika sekarang dia mau mencari wakil, mana bisa? Kalau mereka minta bantuan dari lain partai, itu bukan partai Bu-tong-pay lagi namanya. Dia mengatakan begitu sebagai pelabi (tipu daya) saja untuk memegang nama baik Bu-tong Cit-hiap...”

Maka ia lantas mengangguk dan menyahut, “Baik, tujuh pendeta Siauw-lim akan melawan tujuh jago Bu-tong!”

Pihak Bu-tong-pay, Jie Lian Ciu dan Thio Siong Kee dapat menerka maksud Toako mereka. Thio Sam Hong mempunyai semacam ilmu silat istimewa yang diberi nama ‘Cin-bu Cit-cay-tin’, semacam ilmu warisan di mana tujuh orang mesti bertempur bersatu padu melayani musuh. Ilmu itu didapatkan Thio Sam Hong karena ilham yang muncul tiba-tiba setelah dia melihat sesuatu.

SEHIDUP SEMATI

Pujaan Bu-tong-pay adalah Cin Bu Tay-tee, yaitu patung Tay-tee yang didampingi oleh dua panglimanya, Ku Ciang-kun, dan Coa Ciang-kun, malaikat kura-kura dan ular. Kedua Ciang-kun ini berkedudukan sedemikian rupa hingga mirip dengan letaknya Coa-san dan Ku-san, Gunung Ular dan Gunung Kura-kura di sungai Tiangkang dan sungai Hansui. Ular bersifat lincah dan kura-kura bersifat pendiam. Ular dan kura-kuranya Cin Bu Tay-tee justru mencakup kedua sifat itu. Maka setelah mendapat ilham segera Thio Sam Hong pergi ke Han-yang untuk memandang kedua Gunung Ular dan Kura-kura. Ia mengawasi terus-terusan. Ia membayangkan bagaimana Gunung Ular bagaikan ber-legot sedangkan Gunung Kura-kura numprak tegak dan agung.

Setelah itu dia melamunkan ilmu silat yang hendak diciptakannya. Hebat usaha Thio Sam Hong ini. Dia berdiri di tepi sungai selama tiga hari dan tiga malam tanpa minum dan dahar. Di pagi hari ke empat dia menyaksikan munculnya sang surya yang merah marong. Tiba-tiba dia sadar. Dia lantas tertawa lebar, kemudian berangkat pulang ke Bu-tong-san untuk selanjutnya mengumpulkan tujuh muridnya dan mengajar mereka ilmu silat istimewa itu. Apa bila digunakan oleh satu orang maka ilmu sitat itu mempunyai keistimewaan sendiri-sendiri. Kalau dengan dua orang maka mereka berdua dapat saling membantu, baik maju mau pun mundur. Jika bertiga maka ilmu itu menjadi lebih hebat lagi, hebatnya seperti tiga orang melawan empat orang lihay.

Ketujuh murid belajar dengan rajin. Mereka meyakinkannya dengan sungguh-sungguh hingga mereka memperoleh hasil berlipat ganda. Umpama empat dapat melawan delapan, lima dapat melawan enam belas, enam bisa melawan tiga puluh dua, tujuh bisa melawan enam puluh empat dan seterusnya. Di jaman itu orang lihay cuma berjumlah kira-kira tiga puluh orang. Mereka pun terpecah di antara pelbagai partai dan golongan, sejati dan sesat sehingga kalau terjadi bertempuran tidak dapat bersatu. Maka itu Cin-bu Cit-cay-tin jadi merupakan semacam barisan. Sekarang Song Wan Kiauw menghadapi lawan tangguh. Dia ingat ilmu silat itu.

“Sekarang aku minta Taysu suka menanti sebentar,” kemudian dia berkata kepada Kong-bun beramai. “Kami hendak menemui Jie-samte dan meminta dia memilih wakilnya untuk menambah jumlah kami yang kurang satu.”

Sesudah berkata demikian, kakak seperguruan itu lantas mengedipkan mata kepada lima saudaranya. Mereka memberi hormat kepada gurunya, kemudian mengundurkan diri dan masuk ke dalam.

“Toako,” kata Seng Kok yang telah mendahului buka mulut, “mari kita lawan pendeta-pendeta Siauw-lim itu dengan Cit-cay-tin agar mereka mengetahui lihaynya ilmu silat Bu-tong-pay. Tapi siapakah yang bakal menggantikan Samko?”

“Hal itu kita putuskan dengan suara terbanyak,” kata Wan Kiauw mengangguk. “Sekarang kita semua jangan bicara. Kita menulis satu nama di telapak tangan kita. Nanti kita lihat siapa pilihan kita beramai.”

“Bagus!” seru Seng Kok yang sangat setuju. Ia lantas mengambil pit dan menyerahkannya kepada kakaknya yang tertua.

Wan Kiauw menulis satu nama, kemudian ia membekap tangannya. Pit itu ia serahkan kepada Lian Ciu. Si adik lantas menulis di telapak tangannya. Begitu seterusnya hingga mereka berenam melakukan hal yang sama.

“Sekarang mari buka bersama-sama!” kata Wan Kiauw kemudian.

Segera ternyata bahwa Wan Kiauw bersama Lian Ciu dan Siong Kee menulis ‘Ngote-hu’, artinya ipar mereka, isteri Cui San. Cui San sendiri menulis ‘So So’, nama isterinya. Seng Kok pun menulis ‘Ngo-so’, artinya isteri Cui San juga. In Lie Heng yang paling belakang. Dia tidak membuka telapak tangannya, mukanya berubah merah.

“Heran!” kata Seng Kok. “Apakah ada yang aneh?” Lantas ia memaksa membuka kepalan kakaknya itu.

Ternyata saudara she In ini menulis ‘Nona Kie’, tunangannya. Cui San merasa terharu. Ia menggenggam tangan adik seperguraannya, mulutnya mengucap,

“Oh, Liokte...”

Semua orang tahu mengapa Lie Heng sampai menulis nama tunangannya. Ini disebabkan karena dia kasihan pada In So So yang kesehatannya belum pulih benar, pikirnya tidak seharusnya berkelahi mati-matian. Seng Kok hendak menggoda, tapi Cui San cepat mencegah dengan kedipan mata.

“Ternyata suara terbanyak sudah menunjuk kepada Tehu. Ngote, sekarang pergilah kau mengundang isterimu datang kemari,” kata Wan Kiauw.

Cui San menurut. Ia cepat-cepat pergi ke kamarnya dan mengundang isterinya sambil sekalian menjelaskan duduk persoalan.

“Aku yang membinasakan semua orang Liong-bun Piauw-kiok dan Hui-hong,” kata So So. “Ketika aku melakukan hal itu, aku belum berkenalan dengan Ngo-ko. Maka urusan ini tidak selayaknya menyeret-nyeret Bu-tong-pay. Baiklah aku menyuruh semua pendeta itu untuk mencari Peh-bie-kauw, yaitu ayahku, agar mereka membuat perhitungan di sana.”

“Tehu, perkara telah terjadi, tidak semestinya kita berhitungan,” kata Siong Kee. “Lagi pula aku sudah bisa melihat jelas. Biar pun mereka bilang datang untuk urusan Liong-bun Piauw-kiok, tetapi sesungguhnya mereka datang untuk urusan Cia Sun. Mereka berpegang pada urusan permusuhan, tapi sebenarnya mereka mencari golok mustika To-liong-to!”

“Sieko betul!” kata Seng Kok. “Memang benar mereka hendak mencari golok mustika itu. Maka biar bagaimana pun juga mereka pasti menanyakan di mana tempat berdiamnya Cia Sun sekarang ini.”

“Memang demikian adanya,“ kata Cui San. “Kong-kian sendiri yang memberi-tahu Cia Sun saudara-angkatku itu, bahwa dalam golok To-liong-to tersimpan semacam ilmu silat yang dapat membikin orang menjagoi kolong langit. Kong-kian tahu hal itu, mestinya Kong-bun, Kong-tie dan Kong-seng juga mengetahuinya.”

“Jika begitu terserah kalian,” kata So So akhirnya. “Hanya ilmu silatku masih rendah sekali. Dalam tempo sependek ini, mana dapat aku memahami Cin-bu Cit-cay-tin?”

“Itu soal gampang,” berkata Wan Kiauw. “Sebenarnya dengan kita berlima melawan tujuh pendeta, pasti bakal menang. Kalau toh minta bantuan kau, Tehu, itu karena kita mendengar lihaynya senjata rahasiamu berupa jarum itu. Kita mengharap kapan perlu kau dapat membantu kita. Dengan begitu pastilah Samte bakal jadi terhibur hatinya.”

Wan Kiauw benar. Ia memang memberatkan Jie Thay Giam yang tak bisa turut bertempur sehingga saudaranya itu pasti akan menyesal sekali. Sedangkan penggunaan ‘tin’ ini, untuk yang pertama kalinya. Alangkah terhiburnya Thay Giam umpama kata dia bisa turut mengambil bagian dan mereka berhasil menang.

In So So cerdas sekali, maka dia lantas mengerti. “Baiklah!” katanya. “Sekarang juga aku menemui Samko minta petunjuknya. Aku hanya kuatir nanti tidak dapat memahaminya dengan baik.”

“Jangan kuatir, enso” kata In Lie Heng: “Itu soal gampang, asal kau mengingat baik-baik letak kedudukanmu dan gerakan kaki. Umpama kata kau mendadak lupa, kami pun dapat menyadarkan kau.”

Maka mereka bertujuh segera pergi ke kamar Jie Thay Giam. Semenjak pulang ke gunung Bu-tong, sudah beberapa kali Thio Cui San menemui kakak sepenguruannya ini, akan tetapi yang pertama kali untuk In So So, sebab gangguan kesehatannya mencegah dia dapat segera menemui iparnya itu. Melihat si nona muda, cantik, gerak geriknya halus, Jie Thay Giam merasa senang. Tetapi ketika dia mendengar keterangan Wan Kiauw tentang kedatangan musuh pendeta Siauw-lim-pay yang hendak dilawan dengan Cin-bu Cit-cay-tin, untuk mana ia harus diwakili oleh So So, ia terharu dan berduka sekali. Hatinya pedih bukan kepalang. Tentu saja ia sangat menyesalkan cacadnya sehingga ia tidak dapat membantu semua saudaranya. Ia cepat menguatkan hati. Ia tertawa. Sambil tersenyum berkata kepada So So,

“Tehu, Sam-pek tidak bisa memberikan apa-apa kepadamu untuk pertemuan pertama kali ini karena terlalu mendadak. Maka baiklah nanti aku mengajar kau tentang ‘tin’ kita. Nanti sesudah musuh mundur, akan kulatih lebih jauh agar kau paham semuanya.”

So So girang sekali. “Terima kasih, Sam-pek,“ ucapnya.

Ini pertama kali Thay Giam mendengar suara iparnya. Tampaknya ia terkejut sekali dan segera ia menatap muka orang. Otaknya pun bekerja, memikirkan sesuatu yang telah dilupakan. Wajahnya menunjuk rasa heran luar biasa. Cui San pun heran bukan main.

“Samko, apakah kau merasa tubuhmu tidak enak?” tanyanya.

Thay Giam tidak menyahut, dari menatap ia menjadi bengong. Matanya mendelong lurus ke depan. Mata itu bersinar sangat tajam. Sekarang tampak perubahan air mukanya yang menandakan ia menderita dan penasaran.

Habis memandang saudaranya, Cui San berpaling kepada isterinya. Air muka isterinya juga berubah, So So tampak sangat kuatir. Sementara Song Wan Kiauw dan yang lainnya juga turut merasa heran. Bergantian mereka mengawasi saudara mereka serta sang ipar. Kini hati mereka tidak tenang lagi. Kamar menjadi sunyi senyap. Semua orang hatinya berdebar. Selagi berdiam itu tampak napas Thay Giam memburu, lalu mukanya yang pucat menjadi bersemu merah.

“Ngote-hu, coba kemari,” katanya perlahan. “Mari aku lihat kau...”

Tubuh So So gemetar. Ia tidak berani menghampiri, sebaliknya tangannya menyambar tangan suaminya. Kamar menjadi sunyi lagi. Selang sesaat terdengar Thay Giam menghela napas.

“Kau tidak sudi datang juga tidak apa,” katanya. “Dulu, hari itu aku tidak melihat wajahmu. Tehu, aku minta sukalah kau menyebutkan kata-kataku ini: ‘Pertama, aku minta Cong-piauw-tauw sendiri yang mengantarkannya. Ke dua, Dari Lim-an sampai kota Siang-yang-hu di propinsi Ouwpak, kau harus berjalan siang malam, supaya piauw bisa mencapai tempat tujuan dalam tempo sepuluh hari. Syarat ke tiga, kalau terjadi sedikit kesalahan saja, huh! Huh! Jangankan jiwa Cong-piauw-tauw sendiri, sedangkan ayam dan anjing dari Liong-bun Piauw-kiok pun tak akan luput dari kebinasaan!’.”

Thay Giam bicara dengan perlahan, tetapi mendengar itu orang pada mengeluarkan peluh di punggungnya. So So maju satu tindak.

“Sam-pek, kau benar-benar hebat!” katanya. “Kau dapat mengenali suaraku. Memang hari itu, di kantor Liong-bun Piauw-kiok, adikmu inilah yang memesan kepada Touw Tay Kim agar mengantarkan kau ke Bu-tong-san.”

“Terima kasih untuk kebaikan hatimu, Tehu.”

“Kemudian pihak Liong-bun Piauw-kiok telah melakukan kegagalan di tengah jalan,” So So berkata lagi. “Kegagalan itu menyebabkan kau menjadi sengsara begini rupa. Karena itu adikmu telah membunuh habis semua keluarga Liong-bun Piauw-kiok.”

“Mengapa kau berlaku sedemikian rupa untukku?” tanya Thay Giam dingin.

Wajah So So menjadi guram. Ia menghela napas panjang. “Sam-pek, perkara sudah berjalan begini jauh. Aku tidak dapat menyembunyikan apa-apa lagi,” katanya kemudian. “Hanya terlebih dahulu aku hendak menjelaskan semuanya. Cui San tidak tahu menahu tentang itu. Aku kuatir... aku takut... sesudah dia mengetahui itu, selanjutnya dia bakal tidak mempedulikan lagi padaku.”

“Kalau begitu tidak usah kau menyebutnya lagi,“ kata Thay Giam. “Aku telah cacad begini rupa, urusan yang sudah-sudah tidak usah ditimbulkan lagi. Kejadian itu tidak perlu mengganggu kalian sebagai suami isteri. Nah, kalian pergilah! Bu-tong Liok-hiap melawan pendeta-pendeta dari Siauw-lim-pay, maka kemenangan sudah dapat dipastikan. Jadi tidak perlu aku mendapat nama kosong.”

Karena keangkuhannya, Thay Giam tak pernah mengeluh atau mengutarakan penasaran hati akibat lukanya, bahkan bicara pun ia tak dapat. Namun sesudah dirawat sungguh-sungguh oleh gurunya selama sepuluh tahun, perlahan-lahan ia dapat juga bicara. Hanya mengenai pengalamannya itu, ia tetap tutup mulut. Maka hari ini, saat ini, dugaannya tadi membuat semua saudaranya menjadi kaget dan heran sehingga akhirnya semuanya berduka, bahkan ln Lie Heng lantas menangis.

“Sam-pek, sebenarnya kau dapat menduga sejak siang-siang,” berkata So So. “Tapi karena kau berat kepada Cui San sebagai Sute-mu, kau hanya menahan sabar. Kau tidak sudi bicara. Memang hari itu di sungai Cian-tong, adikmu inilah yang sembunyi di dalam perahu dan melukai kau dengan jarum...”

Cui San terkejut. “So So!” serunya. “Benarkah itu? Kau... mengapa kau tidak pernah memberi-tahu itu padaku?”

“Biang keladi segala kejadian dan orang yang mencelakai Suheng-mu ini adalah So So isterimu. Bagaimana aku berani menerangkannya?” sahut sang isteri. “Samko, orang yang melukai kau dengan paku Cit-seng-teng, memperdaya golok To-liong-to dari tanganmu, dia adalah kakakku sendiri, In Ya Ong. Kami dari Peh-bie-kauw tidak ada permusuhan dengan kalian dari Bu-tong-pay. Sesudah kami mendapatkan golok mustika, dan karena kami pun menghargai kau sebagai seorang gagah sejati, maka kami menugaskan Liong-bun Piauw-kiok agar mengantarkan kau pulang ke Bu-tong-san. Perihal peristiwa di tengah jalan, sungguh aku tidak menduganya sama sekali.”

Tubuh Cui San menggigil keras, matanya seperti menghamburkan marong (nyala api). Dia lantas menuding isterinya:

“Kau... kau mendustai aku hebat sekali!” katanya nyaring.

Tiba-tiba Jie Thay Giam berseru keras, lantas tubuhnya mencelat dari atas pembaringan dan roboh. Tubuh jatuh di papan pembaringan hingga papan itu tak kuat menahan dan ambruk. Thay Giam sendiri langsung pingsan. Melihat semua itu So So menghunus pedang di pinggangnya. Ia membalik gagang pedang itu lalu diangsurkan kepada suaminya.

“Ngoko,” katanya. “Sudah sepuluh tahun kita menjadi suami isteri dan aku amat bersyukur untuk kecintaanmu. Kalau pun sekarang aku harus mati, aku merasa puas dan tidak akan menyesal. Karena itu tikamlah aku supaya dengan begitu kau dapat melindungi dan mempertahankan kehormatan Bu-tong Cit-hiap...“

Cui San menyambut pedang isterinya. Ia hendak meneruskan pedang itu menikam dada isterinya. Tiba-tiba ia ingat akan cinta kasih mereka selama sepuluh tahun. Hatinya menjadi lemah. Segalanya terbayang di hadapan matanya. Untuk sejenak ia hanya menjublak. Akhirnya ia berteriak, lalu berlari keluar dari kamar menuju ke depan! So So dan Wan Kiauw semua tidak tahu apa yang bakal dilakukan oleh Cui San. Mereka cepat berlari menyusul. Mereka melihat Cui San pergi ke ruangan besar kemudian berlutut di depan gurunya sambil mengangguk-angguk beberapa kali dan berkata,

“Suhu, kesalahanku begini jauh sehingga tak dapat ditarik kembali lagi. Maka muridmu hanya memohon satu hal...”

Thio Sam Hong tidak tahu apa yang terjadi di dalam kamar Thay Giam. Karena ia berwatak sabar maka ia berkata dengan tenang,

“Apa itu? Kau sebutkan saja! Gurumu pasti tidak akan menampik.”

Cui San mengangguk pula tiga kali. “Terima kasih, Suhu,” katanya. “Muridmu memiliki seorang anak laki-laki, dia adalah anak satu-satunya. Sekarang dia masih berada di tangan orang jahat. Maka muridmu mohon agar Suhu suka menolongnya dari tangan iblis itu, kemudian tolong Suhu merawat dia hingga besar.”

Setelah berkata begitu Cui San memutar tubuh ke arah Kong-bun Taysu dan tetamu lain, termasuk Ceng-hian Suthay dari Go-bi-pay. Dengan nyaring ia berkata,

“Segala kesalahan, aku Thio Cui San yang melakukannya. Sebagai seorang lelaki, aku sendiri yang akan menanggungnya. Karena itu sekarang aku hendak membuat tuan-tuan puas!”

Kata-kata itu diakhiri dengan tebasan pedangnya pada leher sehingga darahnya muncrat dan tubuhnya roboh binasa. Thio Sam Hong terkejut bukan main. Ia melompat untuk menolong. Melompat juga Jie Lian Ciu, Thio Siong Kee dan In Lie Heng. Mereka semua serentak berseru. Berbareng dengan mereka berempat, ada lima orang lain yang turut melompat maju, akan tetapi mereka dibikin terpental oleh sampokan guru dan tiga muridnya. Justru karena mereka terlambat, Cui San sudah keburu membunuh diri dan tubuhnya roboh. Song Wan Kiauw, Boh Seng Kok dan In So So muncul paling belakang. Pada saat itulah dari luar jendela terdengar teriakan,

“Ayah! Ayah!” Suara yang kedua kali itu tertahan seperti keluar dari mulut yang tersumbat.

Hanya sekelebatan saja Thio Sam Hong mencelat keluar jendela sehingga ia dapat melihat seorang laki-laki dengan dandanan seragam tentara Mongolia memeluk seorang bocah berumur delapan atau sembilan tahun, bocah yang mulutnya dibekap tetapi ia meronta. Hati Sam Hong sedang sakit dan pedih, maka tanpa berpikir lagi dia membentak orang Mongolia itu,

“Kau masuk ke dalam!”

Orang itu tidak mau menuruti perintah, bahkan dia menggerakkan sebelah kakinya menjejak tanah guna melompat naik ke atas genteng. Ketika menjejak dia mendak sedikit sambil tetap memeluk si bocah. Tapi ia tidak dapat melompat, tubuhnya dirasakan berat. Malah Thio Sam Hong telah menekan pundaknya! Orang itu kaget bukan main. Rupanya dia mengerti gelagat, maka tanpa membuka suara dia lalu bertindak ke dalam sehingga batallah niatnya melarikan diri.

Bocah itu memang Bu Kie, puteranya Cui San dan So So. Ia ditotok urat gagunya. Akan tetapi ia pernah mengikuti Cia Sun belajar silat dan memperoleh kemajuan luar biasa. Karena itu tak lama setelah ditotok, dengan sendirinya ia dapat membebaskan diri. Ia melihat ayahnya bunuh diri. Ia terkejut luar biasa dan berteriak memanggil-manggil. Sebab itu segera dibekap sampai kakek gurunya datang menolong.

Melihat suaminya bunuh diri, In So So terasa karam. Meski pun begitu girangnya muncul juga sudah mendapatkan anaknya kembali. Maka segera ia menghampiri, tetapi perkataannya yang pertama ialah pertanyaan ini,

“Anak, kau tidak menyebutkan di mana ayah angkatmu, bukan?”

“Biar pun dia membunuh mati aku, tidak akan aku beri-tahu!” sahut si anak.

“Oh, anak yang baik,” seru sang ibu, “Mari aku memelukmu!”

“Serahkan anak itu!” Sam Hong memerintah orang Mongolia.

Orang itu menurut, tanpa bersuara dia menyerahkan si bocah kepada ibunya. Bu Kie nelusup dalam rangkulan ibunya.

“Ibu,” katanya, “Siapa yang telah memaksa ayah bunuh diri?”

“Di sini ada begini banyak orang,” menyahut sang ibu. “Mereka yang naik ke gunung ini yang telah memaksa kematian ayahmu!”

Mata Bu Kie lantas menyapu dari kiri ke kanan. Ia masih kecil, akan tetapi sinar matanya tajam sekali. Sinar mata itu mengandung kebencian dan kemarahan hebat sehingga siapa pun yang sinar matanya kebentrok, hatinya terkesiap.

“Bu Kie, berjanjilah kepada ibumu!” kata So So.

“Titahkan, ibu!” sang anak menjawab.

“Kau jangan terburu napsu menuntut balas,” katanya. “Kau harus bersabar. Perlahan-lahan menantikan saatnya, tetapi seorang pun jangan diberi lolos...”

Mendengar kata-kata ini semua orang merasa tubuhnya bergidik, punggungnya dingin dengan sendirinya.

“Baik, ibu!” Bu Kie menjawab. “Aku akan menanti dengan perlahan-lahan, seorang pun tak akan aku kasih lolos!”

Tubuh si nyonya tiba-tiba menggigil. “Anak,” katanya. “Karena ayahmu sudah mati, baiklah kita menyebutkan tempat kediaman ayah angkatmumu...”

“Jangan, ibu, jangan!” Bu Kie mencegah. Tapi So So tidak mempedulikannya.

“Kong-bun Taysu, kemarilah!” kata So So. “Aku hanya akan memberi-tahu kepada kau seorang. Mari kupingmu, akan aku bisiki...”

Semua orang heran. Ini di luar dugaan. “Siancay! Siancay!” Kong-bun memuji. “Nyonya yang budiman, coba kau bicara sejak tadi, pasti Thio Ngo-hiap tidak usah binasa...”

Ia lantas menghampiri So So kemudian membungkuk. Nyonya Cui San menggerakkan kedua bibirnya, tetapi suaranya tidak terdengar.

“Apa?” tanya Kong-bun.

“Kim-mo Say-ong Cia Sun, dia bersembunyi di...“ kata So So. Perkataan ‘bersembunyi di’ itu diucapkan sangat perlahan dan samar-samar sehingga sukar terdengar jelas.

“Apa?” pendeta dari Siauw-lim-si itu menegas.

“Ya, dia bersembunyi di sana, pergilah kau mencari sendiri,“ kata So So pula.

“Aku tidak mendengar nyata!” kata Kong-bun yang menjadi gelisah sendirinya.

“Aku hanya bisa memberi-tahu secara demikian, maka pergilah kau ke sana. Kau akan mendapatkannya sendiri...“ katanya pula.

Kemudian merangkul anaknya untuk berbisik, “Anak, setelah dewasa nanti jagalah dirimu agar tidak diperdayai wanita! Semakin cantik dan manis seseorang, semakin pandai dia memperdayai orang...” Bibir itu ditaruh di telinga puteranya. Dia menambahkan, “Aku tidak mengatakan apa-apa kepada si pendeta, aku hanya mendustainya!” Lalu dia tertawa sendiri, tertawa sedih sekali.

“Nyonya yang baik!” Kong-bun berseru.

Sekonyong-konyong rangkulan So So terlepas, tubuhnya terhuyung dan akhirnya roboh telentang. Maka terlihatlah di dadanya tertancap sebilah pisau belati. Karena selagi merangkul Bu Kie, puteranya, pisau belati itu telah dipasang, maka tak ada seorang pun yang melihat dia bunuh diri. Bu Kie menubruk tubuh ibunya.

“Ibu! Ibu!” ia memanggil-manggil.

Namun sang ibu sudah putus jiwanya.

HIAN-BENG SIN-CIANG (TANGAN MALAIKAT AIR)

Kedukaan Bu Kie melampaui batas sampai dia tidak dapat menangis. Dia mencabut pisau belati dari dada ibunya lalu mencekal pisau yang berlumuran darah itu. Sambil memegang belati dia memandang Kong-bun Taysu. Dia bertanya dengan suara dingin,

“Kaukah yang membunuh ibuku? Benar atau tidak?”

Kong-bun terperanjat. Kematian si nyonya masih membuatnya menjublak. Biar bagaimanapun dia adalah seorang Ciang-bun-jin, maka hatinya terharu juga menyaksikan sekaligus dua peristiwa berdarah yang terjadi beruntun dan menyayat hati itu. Tanpa terasa dia mundur setindak.

“Bukan... bukan aku...” katanya menyangkal. “Dia bunuh diri...”

Air mata Bu Kie mengembang, tapi dia mencoba menahan. Dia berkata di dalam hatinya, “Aku tidak boleh menangis! Aku tidak boleh menangis! Aku tidak boleh memperlihatkan kepada mereka bahwa aku menangis!” Dengan tangan memegang kencang pisau belati berdarah itu, bocah ini lantas bertindak, dari kiri ruangan terus ke sebelah kanan. Dia berjalan dengan tindakan perlahan, matanya memandang tajam semua hadirin yang berjumlah tiga ratus orang lebih untuk mengenali mereka satu demi satu, sementara itu di dalam batok kepalanya teringat pesan ibunya barusan, ‘perlahan-lahan saja kau menantikan saatnya, tetapi seorang pun jangan diberi lolos...!’.

Orang yang mendaki gunung Bu-tong-san, kalau bukan ketua partai atau perkumpulan, tentulah ahli silat, dan kenyataan bahwa mereka berani mengunjungi kuilnya Thio Sam Hong menunjukkan keberanian mereka. Tapi sekarang, ditatap Bu Kie demikian rupa, hati mereka terkesiap dan mencelos, jantung mereka berdenyutan memukul keras. Akhirnya Kong-bun Taysu batuk-batuk perlahan.

“Thio Cinjin,” katanya, “Peristiwa ini... ah... sungguh di luar dugaan... Thio Ngo-hiap suami isteri sudah menutup mata. Maka semua urusan yang telah lampau baiklah dibikin habis saja. Sekarang kami mohon diri.” Pendeta itu lantas memberi hormat.

Thio Sam Hong membalas hormat itu. “Maafkan, aku tidak dapat mengantar sampai jauh,” katanya tawar.

Semua pendeta Siauw-lim-si lantas bergerak untuk berlalu. Mendadak In Lie Heng berseru bengis,

“Kalian telah memaksa kematian saudaraku...“

Tapi dia segera berhenti karena ingat bahwa Ngoko membunuh diri akibat merasa malu kepada Samko. Mereka ini tidak ada sangkut pautnya. Maka dia tidak melanjutkan menegur, sebaliknya ia menubruk tubuh Cui San lalu menangis menggerung-gerung. Semua orang menjadi merasa tak enak hati. Mereka lantas menghampiri Thio Sam Hong untuk pamitan, sedangkan di dalam hati mereka berpikir, “Perkara ini hebat sekali, tentu pihak Bu-tong-pay tidak mau sudah dengan begitu gampang...”

Hanya Song Wan Kiauw yang mengantar semua tetamu sampai di luar pintu. Selama itu matanya sudah merah, ketika kemudian ia memutar tubuh, air matanya lantas menerobos keluar, sedang kupingnya mendengar tangisan riuh dan memedihkan dari ruangan dalam. Rombongan yang terakhir minta diri adalah orang-orang Go-bi-pay. Kie Siauw Hu melihat In Lie Heng menangis demikian sedih, maka tanpa disadari matanya menjadi merah. Dengan melupakan rasa malu atau rasa likat dia pun menghampiri pemuda itu.

“Liok-ko, aku pengi,” katanya perlahan sekali, “Kau... kau rawatlah dirimu baik-baik.”

Dengan air mata masih mengembang In Lie Heng mengangkat kepalanya dan memandang si nona. Karena air matanya itu maka matanya agak kabur. Ia masih sesenggukan ketika berkata,

“Kalian... kalian kaum Go-bi-pay, apakah kalian pun datang untuk menyeterukan Ngoko?”

“Bukan,” menyahut Siauw Hu cepat. “Guruku hanya hendak minta agar saudara Thio suka menunjukkan alamatnya Cia Sun.”

Bu Kie mendengar pembicaraan itu dan mendadak ia nyeletuk, “Ibuku sudah memberi-tahu soal itu kepada si pendeta, kau tanyakan saja kepada dia! Kalau pendeta itu tidak sudi memberi tahu, kalian paksa saja dia!” Dalam kedukaannya anak ini sudah mengerti maksud ibunya.

“Kau anak yang baik,” berkata Kie Siauw Hu. “Paman In-mu tentu akan dapat merawatmu...”

Dengan kata-katanya ini si nona hendak maksudkan bahwa ia dan In Lie Heng pasti akan memandang dia sebagai anak sendiri. Kemudian ia meloloskan kalung emasnya dari leher. Ia masukkan kalung itu ke kepala Bu Kie seraya berkata dengan halus,

“Ini untukmu ...”

Mendadak Bu Kie melompat sambil membentak, “Aku tidak menghendaki barang musuh!”

Nona Kie berdiri menjublak dengan rasa likat, tangannya tetap memegangi kalungnya itu.

“Kalian lekas pergilah!” kata Bu Kie berteriak. “Aku hendak menangis! Seperginya semua musuh, barulah aku menangis!”

“Anak, kami bukan musuhmu,” kata Kie Siauw Hu perlahan.

Bu Kie menggertak gigi. Dia berkata sengit, “Semakin cantik wanita, semakin pandai dia menipu orang!”

Muka Kie Siauw Hu menjadi merah semua, hampir-hampir ia menangis. Wajah Ceng-hian Suthay menjadi guram.

“Sumoay, buat apa banyak bicara sama anak kecil!” katanya. “Mari kita pergi!”

Bu Kie mengawasi. Ia menanti sampai Kie Siauw Hu semua sudah lenyap dari pintu ruang itu, barulah ia hendak menangis. Tetapi tiba-tiba napasnya berhenti berjalan dan tubuhnya roboh terkulai. Jie Lian Ciu terkejut sekali. Ia segera melompat dan menubruk untuk membangunkannya. Ia mengira saking sedihnya anak ini menjadi pingsan. Katanya,

“Anak, kau menangislah!” Ia pun lantas mengurut tubuh si bocah.

Luar biasa keadaan Bu Kie. Ia tidak siuman, bahkan sebaliknya tubuhnya menjadi dingin bagaikan es. Sementara hidungnya menghembuskan napas yang lemah sekali. Lian Ciu terus mengurut, namun Bu Kie tetap tidak sadar. Sekarang Wan Kiauw semua menjadi kaget.

“Anak ini hatinya keras dan ia pun telah mengerti segalanya,“ kata Thio Sam Hong sambil menghela napas. Ia lantas menekan jalan darah Leng-thay-hiat di punggung anak itu untuk menyalurkan hawanya sendiri ke tubuh si anak.

Mengingat kekuatan tenaga dalam Thio Sam Hong, bagaimana pun beratnya luka orang, selama jiwanya belum putus, asal dia sudah menyalurkan hawanya maka orang itu segera akan sadar dari pingsannya dan keadaannya lantas menjadi baikan. Akan tetapi tidak demikian dengan Bu Kie. Anak ini menunjukkan akibat yang luar biasa. Mukanya berubah pucat, lalu menjadi biru, dari biru menjadi unggu, sementara tubuhnya gemetaran. Ketika keningnya diraba, terasa sangat dingin seperti es. Terkejutlah kakek guru ini. Lekas-lekas dia memasukkan tangannya ke dalam baju di bagian punggung untuk meraba-raba. Di sana ada satu bagian yang mengeluarkan hawa panas, sedangkan di sekitarnya semua dingin sekali. Kalau bukan Sam Hong, mungkin dia turut kedinginan juga.

“Wan Kiauw, lekaslah kau cari orang Tartar yang tadi membawa anak ini kemari!” guru ini menitahkan muridnya.

“Aku ikut!” kata Lian Ciu yang lantas turut pergi.

Tadi ketika orang-orang sedang bingung, tanpa ketahuan orang Mongolia itu telah mengangkat kakinya. Thio Sam Hong sendiri sampai lupa memperhatikannya. Sam Hong cepat merobek baju Bu Kie untuk memeriksa tubuhnya yang berkulit halus dan putih. Di punggung itu terdapat tapak dari lima jari tangan, bersemu hijau tua dan berbahaya. Ketika diraba tapak itu mengeluarkan hawa panas sekali, sedangkan di sekitar tapak itu semuanya berhawa dingin. Karena itu pantas saja kalau Bu Kie pingsan bagaikan mayat.

Cepat Wan Kiauw dan Lian Ciu kembali beserta laporannya bahwa si orang Mongolia tidak kelihatan lagi, bahwa mereka telah mencari dengan sia-sia. Mereka ini pun menjadi kaget sekali melihat tapak tangan di punggung Bu Kie. Thio Sam Hong mengerutkan alis. Dia tampak menyesal sekali ketika mengucapkan kata-katanya,

“Tiga puluh tahun yang silam aku mengira bahwa dengan matinya Pek-su Tauw-to maka lenyaplah sudah ilmu Hian-beng Sin-ciang yang lihay luar biasa ini. Siapa sangka sebenarnya masih ada orang yang memiliki kepandaian ini.”

Wan Kiauw terkejut bukan main. “Jadi anak ini terluka dengan ilmu Hian-beng Sin-ciang?” tanyanya. Ia berusia paling tinggi dan mengetahui perihal ilmu pukulan tangan kosong itu, Tangan Malaikat Air, sedangkan Lian Ciu dan yang lainnya mendengar pun belum.

“Warna tapak jari ini merupakan tanda utama dari pukulan jahat itu,” kata Thio Sam Hong menerangkan.

“Suhu perlu obat apa?” tanya In Lie Heng: “Akan segera aku ambilkan.”

Guru itu menghela napas. Ia tidak menyahut, hanya kedua matanya mengucurkan air. Ia mengangkat tubuh Bu Kie untuk dirangkul erat-erat, sementara matanya memandang mayat Cui San. Katanya,

“Cui San, Cui San! Kau mengangkat aku menjadi guru. Ketika kau mau ‘pulang’, kau menitipkan anakmu ini padaku, akan tetapi aku tidak mampu melindungi anakmu ini! Maka apalah artinya aku hidup sampai umur seratus tahun? Apa gunanya Bu-tong-pay terkenal di seluruh jagat? Lebin baik aku mati saja...”

Wan Kiauw semua kaget tidak terkira. Semenjak mereka mengikuti guru ini, mereka selalu mendapatkan si guru gembira. Belum pernah dia bersusah hati atau putus asa seperti ini.

“Suhu, benarkah anak ini tidak dapat ditolong lagi?” tanya Lie Heng penasaran.

Sam Hong terus memeluki tubuh Bu Kie. Ia berjalan mondar-mandir di ruangan itu. “Kecuali... kecuali guruku Kak Wan hidup lagi dan dia mengajarkan aku seluruh kitab Kiu-yang Cin-keng...”

Murid Thio Sam Hong kaget semua. Semuanya terdiam. Kak Wan Taysu telah menutup mata delapan puluh tahun yang lampau. Mana bisa dia hidup lagi? Itu artinya Bu Kie tidak bisa ditolong lagi.

“Suhu,” kata Lian Ciu tiba-tiba. “Aku ingat orang Mongolia tadi. Aku pernah beradu tangan dengannya. Memang tangannya lihay sekali, jarang ada orang selihay dia. Tanganku terluka, tapi sekarang tanganku sudah sembuh dan rasanya tidak akan ada akibatnya lebih jauh...”

“Dalam hal itu kau sudah mengandalkan nama besar Bu-tong Cit-hiap,” kata sang guru. “Hian-beng Sin-ciang itu luar biasa, kalau melukai orang maka celakalah korbannya. Namun sebaliknya, bila dia kalah tenaga dalam maka dia bakal terluka sendiri. Ketika dia beradu tangan dengan kau, mungkin dia tidak bersungguh hati, agaknya dia merasa jeri. Maka ingat, berhati-hatilah kalau lain kali kau bertemu dia.”

Mendengar penjelasan itu, dengan sendirinya Lian Ciu lantas bergidik. “Jadi dia jeri kepada tenaga dalamku? Jadi dia tidak menggunakan semua ilmunya yang lihay itu,” pikirnya. “Coba lain kali dia bertemu lagi denganku, tentu dia tak akan memberi ampun lagi...”

Keenam orang itu berdiam diri. Sekonyong-konyong terdengar jeritan Bu Kie, “Ayah! Ayah! Aduh... sakit!” Kemudian dia balas merangkul Thio Sam Hong dengan kencang, kepalanya diselusupkan pada dada si imam tua.

Hati Sam Hong tergetar. Ia amat menyayang anak ini. Dengan mengertak gigi ia berkata,

“Mari kita gunakan semua tenaga untuk menolong bocah ini. Sampai berapa lama lagi dia dapat hidup, terserah kepada kemurahan hati Thian.”

Dia lantas mengawasi mayat Cui San, dengan air mata turun bercucuran dia berkata,

“Cui San, ohh Cui San, betapa sengsaranya anakmu ini!”

Ia lalu bertindak ke dalam, membawa bocah itu ke kamarnya sendiri. Setelah meletakkan tubuh anak itu, dia menotok berulang-ulang pada delapan macam jalan darahnya. Sesudah ditotok beberapa kali, tubuh Bu Kie tidak gemetaran lebih jauh, namun warna kulit mukanya, warna ungu itu, bertambah gelap. Sam Hong tahu baik sekali, bila mana warna itu berubah menjadi hitam maka habislah sudah jiwa bocah yang malang ini. Karena itu ia cepat meloloskan semua pakaian Bu Kie dan membuka jubahnya sendiri, lalu punggung si anak ditempel rapat-rapat pada dadanya sendiri.

Ketika itu di luar Song Wan Kiauw beramai mengurus mayat Thio Cui San dan In So So. Kemudian Jie Lian Ciu bersama Thio Siong Kee dan Boh Seng Kok bertiga menyusul guru mereka sehingga melihat sepak terjang guru itu yang tengah mengerahkan tenaga dalamnya menurut ilmu ‘Sun-yang Bu-kek-kang’ untuk menyedot hawa dingin dari tubuh Bu Kie. Seumurnya Thio Sam Hong tak pernah menikah, maka sampai usianya seratus tahun dia tetap perjaka sejati, karena itulah dia pun berhasil meyakinkan ilmu tenaga dalamnya yang amat istimewa. Hanya saja ilmu itu luar biasa sekali, kalau salah penggunaannya dapat mencelakakan diri sendiri.

Menyaksikan itu, ketiga murid ini hatinya berdebar tegang. Mereka menguatirkan gurunya. Yang dikuatirkan adalah karena usianya sudah tinggi mungkin tenaganya telah berkurang tanpa diketahui. Selang setengah jam terlihat muka Thio Sam Hong berwarna semu hijau dan sepuluh jari tangannya gemetaran. Kemudian membuka mata dan berkata,

“Lian Ciu mari kau gantikan aku. Kalau kau sudah tidak sanggup, lekas suruh Siong Kee menggantikannya. Ingat, jangan kau memaksakan diri.”

Lian Ciu melolos jubahnya, kemudian menyambut Bu Kie untuk dipeluk erat-erat. Begitu tubuh mereka beradu, dia merasakan hawa dingin seakan-akan dia memeluk sebalok es. Maka dia pun berkata,

“Cit-te, lekas kau suruh orang menyalakan beberapa tungku, makin marong apinya semakin baik!”

Demikianlah, dengan mengandalkan tenaga dalam mereka, guru serta murid-muridnya menolong Bu Kie, si bocah keturunan satu-satunya dari Cui San dan So So. Di sini terlihat nyata perbedaan tingkat tenaga dalam antara guru dan murid itu. Seng Kok tidak sanggup bertahan lama-lama seperti saudara-saudaranya, dia hanya kuat bertahan selama sepanasnya air teh di dalam cangkir, sedang Wan Kiauw kuat bertahan selama dua batang hio. Ketika tiba giliran In Lie Heng yang menggantikan, seketika itu dia menjerit dan tubuhnya menggigil.

“Mari serahkan Bu Kie padaku!” kata Sam Hong kaget. “Pergi kau bersemedhi!”

Ternyata Lie Heng menjadi lemah karena dialah yang mendapatkan pukulan batin paling hebat karena kematian Cui San itu sehingga dia tidak dapat menguasai diri. Usaha untuk merampas kembali jiwa Bu Kie dari tangan maut ini dilanjutkan terus dengan bergantian selama tiga hari tiga malam, maka dapatlah dimengerti alangkah hebatnya penderitaan mereka. Syukur bahwa hawa dingin pada tubuh Bu Kie mulai berkurang, yang berarti berkurangnya racun dari Hian-beng Sin-ciang. Di hari ke empat barulah mereka dapat senggang sedikit untuk beristirahat dan tidur. Pada hari ke delapan pembagian giliran dapat diatur lebih rapi, yaitu setiap orang dapat menolong bergantian setiap dua jam. Dengan begitu mereka bisa beristiahat dengan baik dan teratur.

Bu Kie memperoleh kemajuan, setiap hari hawa dingin itu terus berkurang. Ingatannya pun bertambah sadar, bahkan dia bisa makan sedikit-sedikit. Semua orang berlega hati. Itulah pertanda bahwa anak ini akan dapat ditolong. Maka bukan kepalang kagetnya ketika tiba pada hari yang ke tiga puluh enam. Lian Ciu yang pertama mengetahui munculnya perubahan luar biasa. Dia mendapatkan bahwa hawa dingin di tubuh Bu Kie tak dapat disedot lagi. Lian Ciu heran, dia menyangka bahwa tenaganya sendiri yang sudah habis, maka dia memberi-tahu gurunya. Thio Sam Hong segera mencoba sendiri, tapi dia pun gagal. Semua orang menjadi gelisah lagi. Lima hari lima malam mereka mencoba terus, tetapi hasilnya tetap tidak ada.

“Thay-suhu,” kata Bu Kie yang masih tetap sadar, “tangan dan kakiku terasa hangat, hanya ubun-ubunku, juga hati dan perutku bertambah dingin...”

Dalam hatinya Thio Sam Hong kaget bukan. “Lukamu sudah banyak sembuh,” dia berkata menghibur. “Rasanya kami pun tidak usah selalu harus mendampingimu. Pergilah kau merebahkan diri sebentar di pembaringanku.”

“Baik, Thay-suhu,” kata bocah itu.

Bu Kie segera berlutut di depan kakek gurunya, begitu pula di depan Wan Kiauw berlima, dan manggut-manggut beberapa kali. Ia berkata pula,

“Thay-suhu bersama paman semua sudah menolong jiwa Bu Kie, maka selanjutnya Bu Kie mohon diajarkan ilmu silat supaya kelak Bu Kie dapat membalaskan sakit hati ayah dan ibu.”

Sam Hong mengajak semua muridnya ke ruang dalam. Di sini ia berkata kepada mereka,

“Hawa dingin sudah masuk ke ubun-ubun, hati dan perutnya, tidak dapat tertolong dengan tenaga luar. Kelihatannya sia-sia belaka pengorbanan kita selama hampir empat puluh hari ini. Sungguh aku tidak mengerti mengapa bisa terjadi begini...”

Semua orang mengasah otak, akan tetapi sesudah sekian lama belum juga ada yang bisa menebak sebab musababnya perubahan itu. Jika mau dikatakan bahwa Sun-yang Bu-kek-kang tidak dapat mengusir hawa dingin itu, mengapa ilmu tersebut sudah memperlihatkan kefaedahannya selama tiga puluh enam hari dan baru gagal pada hari ke tiga puluh tujuh? Kenapa hanya di ubun-ubun, hati, dan tantian (perut, tiga dim di bawah pusar) yang dingin luar biasa sedangkan bagian lain tubuhnya hangat? Selang beberapa saat kemudian mendadak Jie Lian Ciu berkata,

“Suhu, apakah tidak bisa jadi, sesudah terkena pukulan Hian-beng Sin-ciang, Bu Kie mengerahkan Iweekang untuk melawannya dan karena salah mempergunakan tenaga dalam, racun dingin itu dan tenaga dalamnya melekat satu sama lain sehingga tidak dapat disedot lagi?”

Sam Hong menggelengkan kepala. “Tidak mungkin,” jawabnya. “Andai kata Cui San telah mengajarnya, anak yang masih begitu kecil pasti tidak mempunyai Iweekang yang begitu berarti.”

“Suhu keliru,” Lian Ciu segera membantah. “Tenaga dalam Bu Kie tidak lemah.“

Ia lantas menceritakan bagaimana dengan pukuan Sin-liong Pa-bwee, bocah itu telah merobohkan seorang murid dari Bu-san-pang.

Tiba-tiba sang guru menepuk lututnya. “Benar, kau benar!” katanya. “Anak ini tentu sudah mempelajari ilmu silat Kim-mo Say-ong Cia Sun yang aneh-aneh. Kalau Iweekang-nya diperoleh dari Cui San sehingga ia mempunyai tenaga dalam dari partai kita sendiri, maka pengobatan dengan Sun-yang Bu-kek-kang sudah pasti akan mempercepat kesembuhan dan tidak mungkin akan timbul perubahan yang sangat luar biasa, Tapi... ilmu silat apakah yang dimiliki Cia Sun?” Dia segera kembali ke kamar Bu Kie dan berkata, “Nak, Thay-suhu ingin mengetahui ilmu silatmu. Cobalah kau memukul aku tiga kali.”

“Aku tidak berani memukul Thay-suhu,” kata Bu Kie.

Sang kakek guru tersenyum. “Nak, jika kau tidak mau memukul, bagaimana aku bisa tahu cetek dalamnya ilmu silatmu?” katanya. “Sebelum mengetahui hal itu, aku tidak dapat menurunkan pelajaran yang lebih tinggi. Pukullah dengan semua tenaga.”

“Kalau begitu baiklah,” kata si bocah. “Tapi Thay-suhu jangan membalas.”

“Jangan kuatir,” kata Sam Hong.

Bu Kie lantas miringkan badannya, tangan kanan dari atas menyabet ke bawah, ke sebelah kiri. Itulah pukulan Kian-liong Cay-tian (Melihat naga di sawah) dari Hang-liong-sip-pat-ciang. Sang kakek guru cepat menyambut dengan tangan kirinya sehingga tenaga pukulan si bocah lantas punah. Sam Hong manggut-manggutkan kepalanya.

“Tidak jelek,” katanya.

Begitu lekas pukulan pertama punah, Bu Kie memutar tubuh lantas menyabet pula dengan telapak tangannya menggunakan jurus Sin-liong Pa-bwee. Thio Sam Hong menyambutnya dengan tangan kanan dan untuk kedua kalinya pukulan Bu Kie punah bagaikan tenggelam ke dalam laut.

“Bagus!” memuji sang kakek guru. “Bahwa anak sekecil kau bisa mempunyai tenaga sebesar ini, sungguh-sungguh luar biasa.”

Paras muka si bocah berubah merah. “Thay-suhu, sudahlah! Aku tak mau memukul lagi.”

“Kedua pukulanmu sangat bagus, coba satu kali lagi,” perintah Sam Hong.

Bu Kie segera membuat satu lingkaran dengan tangan kirinya, ada pun tangan kanannya berbareng mendorong ke depan. Itulah pukulan Kang-liong Yu-hwie (Sang naga menyesal) dari Hang-liong-sip-pat-ciang. Waktu menyambutnya, Sam Hong merasa bahwa pukulan itu tidaklah selihay dua pukulan yang lebih dulu. Maka ia menggelengkan kepala seraya berkata,

“Pukulan barusan kurang bagus. Mungkin kau belum mahir.”

“Bukan, bukan aku, tapi Gie-hu yang belum mahir,” bantah Bu Kie. “Memang Gie-hu telah mengatakan bahwa Hang-liong-sip-pat-ciang adalah salah satu ilmu pukulan yang terlihay di dunia. Sayang dia hanya mengenal sebagian kecil saja. Gie-hu juga mengatakan bahwa dia sendiri masih belum bisa menyelami inti sari dari Kang-liong-yu-hwie, tapi ia tetap mengajarkannya juga kepadaku dengan harapan bahwa di kemudian hari aku bisa menyelaminya sendiri.”

Sam Hong mengangguk. “Ya,“ katanya, “sekarang aku mengerti. Tapi dalam pertempuran tak boleh kau menggunakan pukulan ini, karena kau sendiri bisa celaka.”

“Thay-suhu, aku mohon padamu untuk mengajarkan aku ilmu silat ini,” kata Bu Kie.

“Aku sendiri tidak mampu,” jawabnya. “Sejak jaman Kwee Ceng, Kwee-tayhiap, membela kota Siang-yang, kecuali Kwee-tayhiap sendiri, ilmu silat itu sudah menghilang dari rimba persilatan.“ Sesudah itu dia lalu menanyakan semua ilmu yang sudah dipelajari Bu Kie dan anak itu menerangkan sejelas-jelasnya.

Sesudah mendengar habis, Sam Hong merasa sangat kagum akan luasnya pengetahuan Cia Sun. Dapat dikatakan bahwa ia mengenal semua ilmu silat yang terdapat di rimba persilatan. Hanya sayang, ia tidak menyelami ilmu-ilmu itu sampai ke dasarnya, kemudian menggubah ilmu silatnya sendiri seperti yang lazimnya diperbuat oleh guru-guru besar. Oleh karena begitu, biar pun ilmunya beraneka warna tak satu pun yang dipelajari sampai di puncaknya.

Maka tak usah diherankan kalau dalam usia yang semuda itu Bu Kie belum bisa mewarisi kepandaian ayah angkatnya. Apa yang sudah dilakukannya adalah menghafal kitab-kitab dan Kouw-koat (teori) dari macam-macam ilmu silat. Dia menghafal dengan lancar sekali. Beberapa macam ilmu silat bahkan belum pernah didengar oleh Sam Hong sendiri.

Dalam tekadnya yang bulat untuk membalas sakit hati terhadap Seng Kun, Cia Sun sudah membinasakan banyak jago-jago dari berbagai partai atau golongan persilatan. Setiap kali membunuh orang, dia selalu merampas kitab ilmu silat yang dimiliki oleh korbannya, supaya kalau belakangan dia mesti bertempur dengan kawan-kawan si korban, dia sudah mengenal ilmu silat musuhnya. Itulah sebabnya kenapa dia memiliki ilmu silat yang begitu banyak corak ragamnya dan ilmu-ilmu itu semua diturunkan kepada Bu Kie. Tapi Bu Kie hanya mempelajari teori tanpa mengenal prakteknya. Dia belum bisa bersilat berdasarkan teori itu dan masih gelap akan perubahan-perubahan yang disebutkan dalam Kouw-koat itu.

Sam Hong manggut-manggutkan kepalanya. Dia mengerti bahwa dengan berbuat begitu, Cia Sun memperlihatkan cintanya yang tidak terbatas terhadap anak pungutnya. Cia Sun tahu bahwa Bu Kie tak akan bisa mempelajari semua ilmu silatnya dalam tempo beberapa tahun saja. Sang tempo sudah sangat mendesak, karena Bu Kie mesti segera pulang ke Tiong-goan. Maka dia menurunkan semua Kouw-koat, dengan harapan bahwa di kemudian hari, dengan dibantu kecerdasannya, anak itu bisa mengerti sendiri semua teori-teori yang telah dihapalnya.

Sesudah menyambut tiga pukulan Bu Kie, Sam Hong tahu bahwa tenaga dalam bocah itu tidak murni. Dan sebagai akibatnya, Iweekang dingin dari Hian-beng Sin-ciang tidak dapat disedot keluar lagi. Dengan hati masgul kakek guru itu duduk terpekur sambil mengasah otak. Selang sekian lama dia berkata dengan suara perlahan,

“Untuk mengeluarkan racun itu, orang lain tidak akan bisa membantunya lagi. Jalan satu-satunya dia harus melatih diri dengan Iweekang tertinggi dari Kiu-yang Cin-keng. Tapi sayang sekali bahwa pada waktu mendiang guruku, Kak Wan Taysu, menghafal kitab tersebut, aku masih sangat muda dan tidak dapat mengingat semuanya. Meski sudah berulang kali aku menutup diri dan merenungkannya sekian lama, belum juga aku dapat menyelami seluruhnya. Sekarang, karena tak ada jalan lain, biarlah dia berlatih sendiri dengan apa yang aku mampu. Apa bila dia bisa hidup lebih lama satu hari, maka biarlah dia hidup lebih lama satu hari.”

Setelah itu dia segera mengajar Bu Kie dengan Kouw-koat dan cara berlatih dari Kiu-yang Cin-kang (Ilmu senjata dari Kiu-yang). Ilmu yang tampaknya sederhana itu sangat dalam dan banyak sekali perubahannya. Dengan menjalankan pernapasan sesuai peraturan yang telah ditetapkan, Cin-khie (Hawa murni) yang hangat dari tantian mengalir ke berbagai jalan darah, kemudian kembali dan berkumpul lagi di sekitar tantian. Pengaliran hawa murni dari tantian ke tantian merupakan satu putaran dan putaran itu diulang dan diulang lagi. Sesudah selesai satu putaran, orang yang berlatih merasa seluruh tubuhnya nyaman luar biasa. Hawa-murni yang melayang-layang dan mengalir bagaikan asap rokok ini dinamakan juga In-un Cie-kie (Hawa ungu dari Langit dan Bumi). Jika latihan seseorang telah mencapai tingkat yang tinggi, In-un Cie-kie bisa mengusir racun dingin di tantian dan di berbagai jalan darah.

Di rimba persilatan, azas-azas Iweekang dari berbagai partai itu tak banyak bedanya. Yang berbeda adalah cara berlatihnya. Sebegitu jauh mengenai tenaga, Bu-tong Sin-hoat dari Thio Sam Hong jarang tandingannya. Sesudah berlatih dua tahun lebih, Bu Kie sudah dapat mengumpulkan cukup banyak In-un Cin-khie di tantiannya. Tetapi karena racun dingin terlampau hebat, maka kehangatan dari hawa murni itu tidak berhasil mengusirnya. Sebaliknya dari pada sembuh, sinar hijau pada mukanya kian hari kian tua dan setiap kali racun dingin itu mengamuk, ia menderita bukan main.

Selama dua tahun Thio Sam Hong memeras tenaga dan pikiran untuk mengajar, mendidik dan merawat cucu muridnya ini. Song Wan Kiauw dan saudara-saudara sepenguruannya telah menjelajah ke berbagai tempat untuk mencari obat-obatan yang mujarab dan langka. Mereka membawa pulang Jin-som yang sudah berusia seratus tahun lebih, Siu-ouw, Hok-leng dari Soat-san dan sebagainya untuk diberikan kepada anak itu. Tetapi semua obat-obatan itu bagaikan batu yang dilemparkan ke dalam lautan. Makin hari anak itu semakin kurus dan pucat. Guna menyenangkan orang-orang yang mencintainya, Bu Kie selalu memaksa diri untuk bergembira. Tetapi sang kakek guru dan paman-pamannya merasa bahwa turunan tunggal dari Thio Cui San sudah tidak dapat ditolong lagi.


OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar