ads

Rabu, 21 Oktober 2026

To Liong To 35

KETIKA CINTA HARUS MEMILIH

Empat busu segera mendekati Bu Kie. Tio Beng menangis, “Thia-thia, apakah kau benar hendak memaksakan kebinasaanku?” tanyanya. Ia menekan pisaunya yang segera menancap setengah dim sehingga darah mengucur dan menodai bajunya.

Jie Lam Ong terkesiap. “Beng Beng! kau tidak boleh berbuat begini...!“ teriaknya.

“Thia-thia, anakmu tidak berbakti...“ kata si nona. “Diam-diam anak telah menikah dengan Thio-kongcu dan kini anak sedang mengandung! Kalau memang Thia-thia hendak membinasakan dia, binasakanlah anak terlebih dahulu...”

Pengakuan itu bagaikan halilintar di tengah hari bolong. Bukan saja Jie Lam Ong dan Ong Po Po, bahkan Bu Kie sendiri kaget tak kepalang. Pemuda itu tidak pernah mimpi bahwa untuk melindungi dirinya si nona rela mengarang cerita itu, dusta yang dapat menodai kesuciannya sendiri sebagai seorang gadis bangsawan dan terhormat.

Berulang Jie Lam Ong membanting kakinya. “Apa benar...? Apa benar...?“ tanyanya berulang.

“Memang hal ini merupakan hal yang sangat memalukan,” jawab Tio Beng. “Kalau bukan karena terpaksa anak takkan membusukkan nama sendiri di hadapan orang banyak. Anak tahu bahwa kejadian ini juga akan menyeret nama baik ayah dan saudara. Thia-thia, janganlah kau berduka! Hitung-hitung Thia-thia kehilangan seorang anak. Lepaskanlah kami supaya anak bisa membawa diri sendiri!”

Dengan tangan rada gemetar raja muda itu mengelus jenggotnya, sedangkan kepala dan mukanya basah keringat. Dia adalah seorang jendral besar yang biasa mengambil keputusan penting dalam waktu singkat. Namun sekarang dia bingung. Dia tidak tahu apa yang harus diperbuatnya.

“Moay-cu,” kata Ong Po Po, “Kau dan Thio-kongcu terluka berat, sebaiknya pulang bersama Thia-thia untuk berobat. Sesudah kalian berdua sembuh Thia-thia segera bisa menikahkan kalian dengan pantas. Thia-thia mendapat menantu, sedang aku sendiri mendapat moay-hu. Bukankah lebih baik begitu?”

Tio Beng tahu bujukan sang kakak hanya siasat untuk mengulur waktu. Dia tahu begitu jatuh ke tangan mereka, Bu Kie tidak usah berharap bisa hidup lebih lama lagi. Tanpa menghiraukan kakaknya dia lantas berkata,

“Thia-thia, ibarat beras sekarang sudah terlanjur menjadi bubur. Kata orang, kawin dengan ayam ikut ayam, kawin dengan anjing ikut anjing. Mati hidup anak akan ikut dengan Thio-kongcu. Segala siasat takkan bisa memperdayai aku. Bagi Thia-thia hanya terbuka dua jalan. Apa bila kau suka mengampuni anak maka anak akan hidup terus. Tapi jika kau ingin anak mati maka anak segera mati di hadapanmu.”

“Beng Beng!” bentak sang ayah dengan marah. “Kau harus pikir masak-masak. Kalau kau mengikuti pemberontak ini, mulai sekarang kau bukan anakku lagi.”

Dalam sedetik itu si nona berpikir bolak balik ratusan kali. Dia merasa sangat berat meninggalkan ayah dan kakak. Mengingat kecintaan sang ayah, hatinya laksana tersayat pisau. Tapi dia mengerti sedikit saja dia sangsi maka jiwa Bu Kie tak akan bisa ditolong lagi. Dia segera mengambil keputusan untuk lebih dahulu menolong kecintaannya dan di hari kemudian barulah berusaha minta pengampunan sang ayah dan kakak. Karena itu dia lantas berkata dengan suara perlahan,

“Thia-thia... koko... segalanya memang salah Beng Beng. Ampunilah aku...”

Melihat keputusan puterinya tak bisa diubah lagi, bukan main dukanya Jie Lam Ong. Dia merasa sangat menyesal karena sudah menunjukkan rasa cintanya secara berlebihan dan membiarkan berkelana di dunia Kangouw sehingga kini terjadilah peristiwa yang menyakitkan hatinya. Mereka mengenal puterinya keras kepala. Kalau dipaksa, bukan tak mungkin dia akan bunuh diri. Tanpa terasa jenderal tua itu menghela napas dan air matanya mengucur.

“Beng Beng...“ katanya dengan suara parau, “Kau harus bisa menjaga diri. Thia-thia mau pergi... berhati-hatilah...!”

Si nona mengangguk. Dia tidak berani mengangkat muka melihat wajah ayahnya. Jie Lam Ong memutar tubuh lalu turun gunung dengan tindakan perlahan. Dia seperti tidak melihat kudanya yang dituntun seorang pengawal. Dia terus berjalan kaki. Tapi baru berjalan belasan tombak, tiba-tiba dia menengok dan berseru,

“Beng Beng, apa lukamu tidak berbahaya? Apa kau membawa uang?”

Dengan air mata berlinang si nona menganggukkan kepala. Alis Jie Lam Ong berkerut. Tiba-tiba dia berpaling kepada pengawalnya kemudian berkata,

“Serahkan dua ekor kuda kepada Kuncu!”

Beberapa pengawal lantas menuntun dua ekor kuda pilihan yang kemudian diserahkan kepada Tio Beng. Setelah menghadiahkan dua ekor kuda pilihan kepada puterinya, dengan diiringi para pengawal, Jie Lam Ong segera turun gunung. Enam orang busu memapah ketiga pendeta Thian-tiok yang tidak dapat berjalan karena kehabisan tenaga. Tak lama kemudian di jalan hanya tinggal Bu Kie dan Tio Beng berdua.

Bu Kie cepat bersila sambil mengerahkan sinkang untuk mengeluarkan hawa dingin akibat pukulan Lok Thung Kek dari dalam tubuhnya. Dia menderita luka berat karena pada saat Lok Thung Kek mengirim pukulan, dia sedang mempergunakan seluruh tenaganya menghadapi ketiga pendeta Thian-tiok. Sesudah dia mengerahkan Kiu-yang Cin-khie tiga putaran dan dua kali memuntahkan darah, barulah dadanya yang menyesak lebih lega. Dia membuka mata dan melihat paras muka Tio Beng yang diliputi rasa kuatir.

“Tio-kouwnio, kau sangat menderita,” katanya dengan suara lemah lembut.

“Apakah sampai sekarang kau masih perlu memanggil aku dengan sebutan Tio-kouwnio?” tanya si nona. “Sekarang aku bukan orang kerajaan lagi, aku bukan seorang Kuncu... Apa... apa kau menganggap aku sebagai wanita siluman?”

Perlahan Bu Kie bangun berdiri. “Aku ingin mengajukan satu pertanyaan,” katanya dengan suara sungguh-sungguh. “Kau harus menjawab sejujurnya. Siapakah yang melukai Piauw-moayku, In Lee? Apa kau?” “Bukan!” jawabnya.

“Kalau bukan kau lalu siapa?”

“Aku tidak bisa memberi-tahu. Begitu bertemu dengan Cia-tayhiap, orang tua itu bisa segera memberi keterangan jelas kepadamu.”

“Gie-huku? Apa benar Gie-hu tahu siapa yang menurunkan tangan jahat?”

“Kau baru saja terluka dan kau tidak boleh banyak berpikir. Aku hanya ingin mengatakan begini. Apa bila setelah menyelidiki sejelasnya dan di kemudian hari kau mendapat bukti bahwa akulah yang telah mencelakai Thio-kouwnio, maka aku sendiri akan bunuh diri di hadapanmu tanpa kau perlu turun tangan.”

Mendengar kata yang diucapkan dengan amat bernapsu dan tegas jelas, Bu Kie mana bisa tidak percaya. Setelah berpikir sejenak dia berkata,

“Hmm... kalau tidak salah piauw-moay dicelakai salah seorang dari kapal Persia. Mungkin ada orang yang mempunyai kepandaian tinggi dari kapal itu diam-diam menyateroni pulau, lalu membikin kami semua menjadi mabuk dan menurunkan tangan jahat kepada Piauw-moay. Kemudian dia mencuri Ie-thian-kiam dan To-liong-to. Dilihat begini, sesudah menolong Gie-hu kita harus pergi ke Persia. Hai...! Siauw Ciauw...!”

Tio Beng tertawa geli, “Aku tahu segala akalmu,” kata si nona. “Kau ingin bertemu dengan Siauw Ciauw maka kau sengaja membuat dugaan yang tidak-tidak. Aku menasihati, lebih baik kau jangan memikirkan yang bukan-bukan. Paling penting kau mengobati lukamu supaya kita bisa pergi ke Siauw-lim-si secepat mungkin.”

Bu Kie heran, “Perlu apa ke Siauw-lim-si?” tanyanya.

“Menolong Cia-tayhiap,” jawabnya.

Bu Kie tambah heran lagi. “Gie-hu berada di Siauw-lim-si?” Dia menegas. “Bagaimana bisa Gie-hu berada di situ?”

“Hal ini banyak seluk beluknya,” sahut si nona. “Aku pun belum tahu sejelas-jelasnya. Tapi sekarang Cia-tayhiap berada di Siauw-lim-si adalah kenyataan yang tak dapat dibantah lagi. Di antara bawahanku ada seorang serdadu yang mencukur rambut dan menjadi pendeta di Siauw-lim-si. Dialah yang memberitahu aku tentang Cia-tayhiap.”

“Ha...! Sungguh lihai...!“ seru Bu Kie.

Entah apa yang dimaksudkan olehnya dengan perkataan ‘lihai’ itu. Mungkin lihai berarti hebatnya bahaya yang dihadapi Cia Sun. Sesudah berkata begitu ia menundukkan kepala dan tidak bicara lagi. Mendadak tubuhnya bergoyang.

‘Uahh...!’ Dia muntah darah.

Tio Beng jadi bingung. “Aku sungguh menyesal!” katanya. “Kalau aku tahu lukamu begini hebat, kalau aku tahu kau jadi begitu jengkel, aku tak akan bicara.”

Bu Kie duduk bersandar di batu gunung dan berusaha menjernihkan pikirannya. Tapi dia gagal dalam usahanya karena pikirannya sedang kalut.

“Kong-kian Seng-ceng dari Siauw-lim-si dibinasakan Gie-hu,” katanya. “Selama lebih dari dua puluh tahun orang Siauw-lim-si mencari Gie-hu untuk membalas sakit hati. Kalau sekarang Gie-hu jatuh ke tangan mereka, jiwanya akan melayang.”

“Kau tidak usah bingung,” bujuk si nona. “Ada sesuatu yang menolong jiwa Cia-tayhiap.”

“Apa itu?”

“To-liong-to.”

Mendengar ini Bu Kie mengakui kebenaran kata-kata Tio Beng. Selama beberapa ratus tahun Siauw-lim-pay menjadi pemimpin di rimba persilatan. Partai itu ingin sekali memiliki To-liong-to yang dikenal sebagai ‘Bu-lim Cie-cun’ (yang paling mulia dalam rimba persilatan). Untuk memperoleh golok mustika itu mereka tidak akan gampang membunuh ayah angkatnya. Tapi biar bagaimana pun juga, orang tua itu tentu takkan lolos dari bermacam penderitaan dan hinaan.

“Menurut pendapatku, usaha menolong Cia-tayhiap sebaiknya dilakukan kita berdua saja,” kata Tio Beng. “Biar pun di Beng-kauw banyak orang gagah, tapi kalau kita menyerang besar-besaran maka kedua belah pihak akan mendapat kerusakan besar. Kalau Siauw-lim-si merasa tidak tahan menghadapi serangan Beng-kauw, mungkin mereka akan menurunkan tangan jahat terhadap Cia-tayhiap sebelum kita keburu menolong.”

Bu Kie manggutkan kepala. Dia setuju dengan perkataan si nona dan dia merasa sangat berterima kasih.

“Beng-moay (adik Beng), kau benar,” katanya.

Sungguh sedap kata-kata ‘Beng-moay’ yang digunakan Bu Kie untuk pertama kalinya! Tapi di lain detik Tio Beng ingat orang tuannya, sanak familinya. Ia ingat bahwa mulai sekarang ia tidak bisa pulang lagi kepada orang tuanya dan mengingat ini ia lantas berduka. Bu Kie tahu apa yang dipikir gadis itu, tapi ia tidak tahu bagaimana harus menghiburnya. Akhirnya ia bangkit dan berkata.

“Hayo kita berangkat.”

Melihat paras muka Bu Kie yang pucat pasi. Si nona merasa sangat kuatir. “Thia-thia yang amat mencintai aku tidak akan mengambil tindakan,” katanya. “Yang aku kuatirkan adalah koko. Mungkin dia akan mengirim orang untuk menangkap kita.”

Bu Kie mengangguk. Ia merasa bahwa Ong Po Po yang sangat lihai itu tak akan mau sedemikian gampang melepaskan mereka berdua. Mereka terluka berat dan perjalanan ke Siauw-lim-si tampaknya penuh dengan duri.

“Bu Kie Koko,” kata si nona. “Sekarang kita menyingkir dulu dari tempat ini. Sesudah tiba di kaki gunung barulah kita berunding lagi.”

Sekali lagi Bu Kie mengangguk. Dengan tindakan limbung dia mendekati kuda. Selagi mau melompat naik mendadak badannya terasa sakit dan tenaganya tidak cukup untuk naik ke punggung kuda.

Sambil mengigit gigi Tio Beng mendorongnya ke atas dengan tangan kiri. Tetapi sesudah Bu Kie berada di atas kuda, lukanya di dada akibat tusukan pisau kembali mengeluarkan darah. Dengan susah payah barulah Tio Beng bisa turut naik dan duduk di belakang Bu Kie. Kalau tadi dia dipapah Bu Kie, kini dialah yang harus memapah Bu Kie. Sesudah mengaso beberapa saat barulah kuda itu dijalankan, ada pun yang seekor lagi mengikuti dari belakang.

Dengan perlahan mereka turun gunung. Tio Beng sudah menduga pasti bahwa sebegitu lama masih berada di hadapan ayahandanya, kakaknya tidak akan berani bertindak. Tapi kalau sudah menyingkir dari mata orang tua itu, Ong Po Po dapat mengambil segala macam tindakan. Sebab itulah mereka segera membelok ke timur lalu mengambil sebuah jalan kecil.

Setelah berjalan beberapa lama barulah mereka agak lega. Andai kata Ong Po Po mengirim orang untuk mengejar, tak mudah menemukannya. Selagi enak berjalan, sekonyong-konyong terdengar kaki kuda dan dua penunggang kuda cepat mendatangi dari arah belakang. Muka Tio Beng berubah pucat. Sambil memeluk pinggang Bu Kie, dia berkata,

“Kakakku bertindak cepat sekali. Ternyata kita tidak bisa lolos dari tangannya. Bu Kie Koko, biarlah aku pulang dahulu. Aku akan berikhtiar memohon kepada ayah supaya kita bisa berkumpul kembali. Bu Kie Koko, aku bersumpah tidak akan mengkhianati kau!”

Sesaat itu kedua pengejar sudah datang dekat sekali. Tio Beng cepat menarik les supaya tunggangan miring ke sisi jalan dan mencabut pisaunya. Dia sudah mengambil keputusan pasti bahwa jika kakaknya menginginkan jiwa Bu Kie maka dia akan mati bersama kekasihnya. Tapi setelah lewat, kedua pengejar itu tidak berhenti dan ternyata mereka hanyalah dua serdadu biasa. Baru saja Tio Beng girang, kedua serdadu Mongol itu tiba-tiba menahan tunggangannya dan sesudah diskusi sejenak mereka lalu membelokkan kuda dan menghampiri.

“Hai! Dari mana kalian mencuri kuda-kuda ini?!” bentak salah seorang yang brewokan.

Mendengar bentakan itu Tio Beng pun tahu bahwa mereka jadi mata merah karena melihat kuda yang dihadiahkan ayahnya. Kuda ini adalah tunggangan pilihan dengan pelana tertata emas dan sanggurdi yang terbuat dari perak. Orang Mongol amat mencintai kuda karenanya tidaklah heran bila kedua serdadu itu goncang hatinya. Diam-diam si nona mengambil keputusan bahwa kalau terpaksa dia akan menyerahkan kuda-kuda ini.

“Jangan kurang ajar!” bentaknya dalam bahasa Mongol, “Dalam pasukan siapa kalian berdua?”

Serdadu itu sangat terkejut. “Siapakah Siocia?” dia balas bertanya. Melihat pakaian Bu Kie dan Tio Beng yang sangat indah, juga mendengar bahasa Mongol yang diucapkan dengan lancar, dia tidak berani berlaku sembrono.

“Aku puteri Waeri Puche Ciangkun,” jawab Tio Beng. “Ini kakakku. Di tengah jalan aku bertemu orang jahat hingga kami terluka.”

Kedua serdadu itu saling melirik, kemudian mereka tertawa terbahak. “Bagus!” teriak si brewok. “Paling benar aku antarkan kalian berdua ke akherat!” Seraya berkata begitu dia menghunus golok dan menyentak les lantas menerjang.

Tio Beng terkesiap. “Eh-ehh!” teriaknya. “Aku akan beritahu kepada ayah dan engkau akan dibeset empat kuda.”

Si botak menyeringai sambil mengeluarkan suara di hidung. “Puche tidak becus melawan pemberontak Beng-kauw dan melampiaskan amarahnya terhadapku,” katanya. “Kemarin aku memberontak dan mencincang ayahmu. Sungguh kebetulan sekali kami bisa bertemu dengan kalian berdua.“ Seraya berkata begitu dia membacok.

Tio Beng mengedut les dan kudanya segera melompat sehingga golok membacok angin. Selagi si brewok hendak mengejar, kawannya yang berusia lebih muda berkata,

“Jangan bunuh nona manis itu! Paling benar kita mengambilnya untuk menghibur hati.”

“Bagus!” kata si brewok.

Pada detik itu pula Tio Beng yang sangat pintar sudah menentukan tindakan yang harus diambilnya. Dia melompat turun dari punggung kuda lalu berlari ke sisi jalan. Kedua serdadu itu lantas mengejar.

“Aduhh!” teriak si nona yang lantas roboh di tanah.

Si brewok menubruk. Begitu ditubruk, dengan sikutnya Tio Beng menggentas dada si penyerang yang tanpa bersuara lagi terguling. Gentasan itu kena tepat pada jalan darah. Kawannya menjadi marah dan lantas menyerang, tetapi dia pun mendapat nasib seperti si brewok. Setelah merobohkan kedua serdadu itu, dengan napas tersengal-sengal Tio Beng menurunkan Bu Kie dari punggung kuda.

“Binatang! Kamu mau mati atau hidup?!” bentaknya.

Tadinya kedua serdadu itu tidak mengharap hidup lagi, tapi sekarang mereka melihat jalan hidup.

“Ampun nona!” kata si brewok. “Aku tidak ikut menyerang Waeri Puche Ciangkun.”

“Baiklah,” kata si nona. “Kalau kalian mau menurut perintah maka aku akan mengampuni jiwa anjingmu!”

“Turut! Turut!” jawab mereka tergesa gesa.

Sambil menuding kedua kudanya sendiri si nona berkata, “Dengan menunggang kuda-kuda ini kalian harus pergi ke jurusan timur. Dalam sehari semalam paling sedikit kalian harus melalui tiga ratus li. Lebih cepat lebih baik.”

Kedua serdadu itu saling mengawasi. Mimpi pun mereka tidak pernah bahwa mereka akan mendapat perintah semacam ini. Beberapa saat kemudian barulah si brewok berkata,

“Kouwnio, Siauw-jin tidak... tidak berani...”

“Jangan rewel!” potong Tio Beng. “Lekas tunggangi kedua kuda itu! Kalau ditanya orang, katakan saja bahwa kalian membelinya di pasar. Kalian tidak boleh mengatakan hal yang sebenarnya. Mengerti?”

Dua serdadu itu masih sangsi. Tapi karena berulang didesak Tio Beng, sambil menahan sakit dan dengan terpincang-pincang, mereka menghampiri kedua tunggangan itu. Tangan mereka masih belum bisa bergerak. Untung setiap orang Mongol pada jaman itu mahir dalam ilmu menunggang kuda sehingga biar pun tidak menggunakan tangan bisa juga dia naik ke punggung binatang itu kemudian menjalankannya.

Mereka menduga Tio Beng seorang berotak miring dan merasa kuatir kalau-kalau si nona berubah pikiran. Karena itulah setelah berjalan belasan tombak mereka segera menjepit perut kuda sehingga kedua binatang itu lantas kabur. Bu Kie menghela napas,

“Beng-moay, kau benar-benar pintar,” dia memuji. “Jika kuda-kuda itu dilihat orang-orangnya kakakmu, tentu mereka mengira kita lari ke jurusan timur. Beng-moay, kini kita menuju ke mana?”

“Ke barat daya,” jawabnya.

Mereka lantas menunggang kuda yang ditinggalkan serdadu Mongol dan dengan perlahan menuju ke barat daya. Jalan kecil yang diambil mereka berliku-liku dan penuh dengan pohon berduri. Sesudah berjalan kurang lebih satu jam dan sekitar dua puluh lie, matahari mulai tenggelam. Selagi mencari tempat istirahat, tiba-tiba mereka melihat mengepulnya asal di sebelah depan.

“Di depan ada rumah untuk kita bermalam,” kata Bu Kie dengan girang.

Mereka segera menuju ke asap itu. Tidak lama kemudian terlihat tembok kuning yang mengitari sebuah kelenteng. Sesudah menurunkan Bu Kie, Tio Beng menghadapkan kuda ke arah barat kemudian mencambuknya dengan sebatang ranting berduri. Kedua binatang itu berdenger lalu kabur sekerasnya. Demikianlah, sekali lagi dia mengatur siasat untuk memperdayai pengejar yang mungkin dikirim kakaknya.

Dengan hilangnya tunggangan maka perjalanan semakin sukar dilakukan. Tetapi nona Tio tak mau berpikir terlalu panjang. Dia mendahulukan apa yang dianggapnya paling penting. Untuk menyelamatkan diri dia harus lebih dahulu menenggelamkan perahunya. Dengan saling memapah mereka mendekati pintu. Di atas pintu itu terdapat sebuah papan dengan huruf yang berbunyi: ‘Tiong-gak Sin-bio’ (Kelenteng Malaikat Tiong-gak). Tio Beng segera mengetuk pintu. Setelah menunggu lama tapi belum juga ada jawaban, si nona lantas mengetuk lagi. Selang beberapa saat dari dalam terdengar bentakan,

“Siapa? Manusia atau setan?”

Di dalam suara itu terdapat lweekang sehingga dapat dipastikan bahwa yang bicara adalah orang rimba persilatan. Bu Kie kaget dan menarik si nona.

“Kreeeyot...!”

Tiba-tiba terdengar suara dan daun pintu yang rupanya jarang dibuka itu lantas terpentang. Di ambang pintu berdiri seseorang, tapi karena waktu itu cuaca mulai gelap dan dia berdiri membelakangi sinar terang, maka Bu Kie dan Tio Beng tidak bisa melihat mukanya. Tetapi dia seorang pendeta, sebab kepalanya gundul dan mengenakan pakaian hweshio.

“Kami berdua kakak beradik,” kata Bu Kie. “Di tengah jalan bertemu perampok sehingga mendapat luka. Kami mohon bisa bermalam di sini dan kami percaya Taysu suka menaruh belas kasihan.”

Pendeta itu mengeluarkan suara di hidung. “Huh... tidak!” sahutnya. “Di sini bukan penginapan.“ Sehabis berkata demikian tangannya bergerak untuk menutup pintu.

“Taysu, tahan dulu!” kata Tio Beng. “Kata orang, siapa yang membantu orang, membantu diri sendiri. Dengan menolong kami, mungkin Taysu juga mendapat kebaikannya.”

“Kebaikan apa?” tanyanya dengan aseran.

Si nona segera membuka antingnya yang bertahta mutiara lalu menyerahkannya kepada si pendeta. Melihat mutiara yang bersinar terang, sejenak si pendeta mengawasi dua tamunya dengan mata tajam. Akhirnya dia berkata,

“Baiklah! Ya... membantu orang, membantu diri sendiri.”

Sambil memapah Bu Kie, Tio Beng lantas masuk. Si pendeta membawa mereka melewati ruangan sembahyang kemudian sebuah pekarangan dan akhirnya berhenti pada sebuah kamar samping yang terletak di bagian timur.

“Kalian boleh tidur di sini,” katanya.

Kamar itu gelap gulita. Dengan meraba-raba ranjang, Tio Beng hanya mendapat selembar kasur rumput. Mendadak terdengar suara sangat nyaring.

“Hek-sute, siapa itu?”

“Dua tamu yang hendak numpang menginap,” jawab si pendeta yang lantas berlalu.

“Taysu,” kata Tio Beng, “Bolehkan kami minta dua mangkok nasi dan sedikit lauknya?”

“Tidak ada nasi!” bentaknya sambil terus berlalu.

Si nona mendongkol bukan main. “Kurang ajar!” katanya, “Bu Kie Koko, kau tentu lapar. Kita harus berusaha untuk mendapat makanan.”

Di luar kamar sekonyong-konyong terdengar suara langkah yang ramai. Sinar api berkelebat dan pintu didorong orang, lalu muncul dua orang pendeta yang mengangkat Ciak-tay (tempat menancap lilin) tinggi-tinggi. Dalam sekelebatan Bu Kie tahu bahwa yang datang berjumlah delapan orang. Ada yang alisnya tebal dan matanya melotot, ada yang otot-otot mukanya menonjol keluar, tapi mereka beroman bengis dan semuanya kelihatan bukan orang baik-baik.

“Keluarkan semua harta bendamu!” bentak seorang pendeta tua.

“Perlu apa?” tanya Tio Beng.

“Karena berjodoh kalian telah datang di sini dan secara kebetulan kami ingin mengadakan sembahyang besar serta memperbaiki kelenteng yang sudah tua,” kata si pendeta. “Maka itu kami minta kalian mengeluarkan emas, perak dan barang berharga lainnya untuk disumbangkan kepada kami. Apa bila kalian berlaku pelit hingga pouw-sat marah maka kalian berabe sekali.”

“Ahh! Itu perbuatan perampok!” kata si nona dengan marah.

“Maaf! Maaf!” kata si pendeta sambil menyeringai. “Urusan perampok adalah membunuh dan membakar, dan memang itulah perkerjaan kami. Karena didesak Mo-kauw maka kami terpaksa mencukur rambut untuk mengelak dari bencana. Kalian berdua berjodoh dengan kami. Kambing gemuk datang sendiri! Ha-ha-ha! Sungguh kejadian yang sulit terjadi lagi!”

Bu Kie dan Tio Beng terkesiap. Sungguh celaka! Mereka masuk di sarang perampok.

“Li-sicu tak usah takut,” kata seorang pendeta lain sambil tertawa. “Kebetulan sekali kami berdelapan tidak punya nyonya. Kau begitu cantik! Sungguh kebetulan! He-he-he-he...”

Tio Beng merogoh saku dan mengeluarkan delapan potong emas serta serenceng mutiara yang lalu ditaruh di atas meja.

“Ini semua milikku,” katanya. “Kami berdua adalah orang-orang rimba persilatan juga. Dengan memandang persahabatan, kami harap kalian tidak mengganggu lagi.”

“Bagus!” kata si pendeta tua. “Apakah aku bisa tahu nama partai kalian?”

“Kami murid-murid Siauw-lim-pay,” jawabnya. Siauw-lim-pay adalah sebuah partai besar dan dengan menyebutkan partai besar itu Tio Beng berharap urusan segera beres.

Namun di luar dugaan si tua lantas tertawa terbahak-bahak. “Murid Siauw-lim-pay?” Dia menegas dengan suara menyeramkan. “Sungguh kebetulan! Kami tidak bisa melawan hwesio-hwesio Siauw-lim-pay dan sekarang mendapat kesempatan melampiaskan ganjalan kami kepada kalian.“ Seraya berkata begitu dia mengangsurkan tangannya untuk menarik Tio Beng. Si nona mundur, sehingga tangan itu menjambret angin.

Bu Kie mengerti bahaya sudah sangat mengancam. Kini dia dan Tio Beng terluka berat dan tidak bisa melawan. Selama beberapa tahun dia merobohkan banyak jago rimba persilatan kenamaan. Apakah sekarang dia binasa di tangan kawanan penjahat kecil? Tidak! Biar bagaimana pun juga dia mesti melawan.

“Beng-moay,” bisiknya. “Lekas sembunyi di belakangku. Aku masih bisa membereskan mereka.”

Nona Tio sangat pintar, tapi sekarang dia mati kutu. “Siapa sebenarnya kalian semua?”

“Kami adalah murid yang diusir dari Siauw-lim-si,” jawab si perampok tua.

“Kami masih bisa menaruh belas kasihan kalau bertemu dengan anggota partai lain. Tapi terhadap orang Siauw-lim-si...? Huh...! Huh...! Semuanya mesti dibunuh.”

“Bagus!” bentak Bu Kie. “Kalian pasti murid pendeta jahat Goan-tin. Begitu, bukan?”

Si perampok tua mengeluarkan seruan kaget. “Heran! Bagaimana kau tahu?” tanyanya.

“Kami justru hendak pergi ke Siauw-lim-si.“ Tio Beng mendahului. “Kami hendak menemui Tan Yu Liang Toako untuk mengangkat Goan-tin Taysu menjadi Hong-thio (kepala sebuah kelenteng).“

“Bagus!” seru si tua. “Sang Buddha memang sangat murah hati.”

“Ya,“ sambung si nona. “Kita semua harus bersatu padu untuk mencapai tujuan besar.”

Semua penjahat itu tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Kedelapan penjahat ini memang benar konconya Tan Yu Liang. Tan Yu Liang lah yang membawa mereka ke Goan-tin. Mereka berasal dari rimba hijau (kalangan perampok) dan memiliki ilmu yang cukup tinggi. Sesudah mendapat petunjuk Goan-tin maka kepandaian mereka bertambah tinggi.

Selama beberapa tahun terakhir Goan-tin berusaha keras merebut kedudukan Hong-thio dan mencari murid dari berbagai tempat. Untung Siauw-lim-si mempunyai peraturan yang keras dan setiap murid baru selalu diselidiki asal usulnya, sehingga Goan-tin tak berhasil dalam usaha mengumpulkan orangnya di dalam kuil.

Belakangan Tan Yu Liang mengatur siasat lain. Dia mencari orang gagah dan penjahat di dunia Kangouw lalu mereka mengangkat Goan-tin sebagai guru di luar Siauw-lim-si. Mereka disiapkan di sekitar Siauw-lim-si dan menanti saat yang baik untuk turun tangan.

Goan-tin adalah ahli silat kelas utama pada jaman itu. Mendengar nama Siauw-lim-si yang cemerlang dan melihat kepandaian pendeta itu, banyak orang Kangouw lari dari partainya sendiri dan rela menjadi murid Goan-tin. Perkataan ‘Sang Buddha memang sangat murah hati’ sebetulnya merupakan kata-kata rahasia dari persekutuan Goan-tin dan harus dijawab dengan ‘Kembang mekar menemui Sang Buddha’.

TO-SAY ENG-HIONG-HWEE

Tio Beng sangat pintar. Ia bisa menebak bahwa Goan-tin ingin merebut kedudukan Hong-thio, tetapi dia tidak tahu bahwa perkataan yang diucapkan si tua adalah kata-kata rahasia.

“Hu-toako,” kata seorang yang kate gemuk, “Bocah perempuan ini mengatakan guru kita mau diangkat sebagai Hong-thio. Dari mana dia mendengar warta itu? Ini adalah hal besar. Kita harus menyelidiki seterangnya.”

Sementara itu, begitu mendengar nada tawa kedelapan penjahat itu, Bu Kie tahu ada sesuatu yang tidak benar dan bahaya yang lebih besar sedang mengancam. Setelah terluka, meski pun Cin-khie (hawa tulen) di tubuhnya tidak musnah tetapi hawa itu sukar dikumpulkan dan digunakan untuk berkelahi. Dalam menghadapi bencana dia mati-matian berusaha mengumpulkan hawa itu. Namun dia gagal. Hawa itu berkumpul dalam kelompok kecil di sana sini dalam tubuhnya tetapi tidak bisa menjadi satu dan mengalir di sepanjang jalan darah.

Tiba-tiba si penjahat tua hendak menjambret Tio Beng. Karena tidak kuat menangkis maka si nona hanya mundur ke ranjang. Bu Kie tetap bersila sambil memejamkan kedua matanya. Dia terus mengerahkan pernapasannya dengan harapan sebagian tenaganya segera pulih kembali. Melihat Bu Kie bersila dengan tenangnya di tengah ranjang, penjahat yang bertubuh kate gemuk meluap darahnya.

“Bocah, kau sangat sombong!” bentaknya sambil mengerahkan seluruh Iweekang-nya sehingga tulangnya berbunyi kerotokan, kemudian ia meninju Lan-thiong-hiat di dada Bu Kie sekuatnya.

“Bukk!”

Sehabis meninju lengan kanannya terkulai, matanya melotot dan dia tidak bergerak lagi. Si pendeta tua terkejut dan mengangsurkan tangannya untuk menarik kawannya. Tapi begitu tersentuh, si kate gemuk lantas roboh dalam keadaan mati seketika! Kawanan penjahat itu kaget campur marah. Mereka menduga Bu Kie mempunyai ilmu siluman.

Mengapa penjahat itu binasa seketika? Sebagaimana telah dikatakan, sesudah terluka Cin-khie (hawa tulen) dalam tubuh Bu Kie sukar berkumpul menjadi satu dan tidak bisa digunakan melukai musuh. Tapi meski pun begitu, Kiu-yang Sin-kang di dalam badannya tidak menjadi musnah. Penjahat itu memukul dengan sepenuh tenaganya. Kiu-yang Sin-kang Bu Kie pada waktu itu memang tidak cukup untuk menghantam musuh, tapi lebih dari cukup untuk melindungi dirinya sendiri. Begitu terpukul tenaga Kiu-yang segera menolak dan memulangkan tenaga pukulan.

Di samping itu terjadi peristiwa di luar dugaan. Karena terpukul hawa Kiu-yang maka bagian dalam tubuh Bu Kie terbangun hingga tenaga menolak ditambah lagi dengan tenaga lainnya. Itulah sebabnya mengapa si penjahat lantas binasa.

Pendeta tua itu seorang yang berpengalaman luas. Dia tahu bahwa Bu Kie menggunakan ilmu meminjam tenaga untuk memukul tenaga. Tetapi dia tidak menjadi gentar karena dia amat yakin akan kelihaian Tiat-see-ciang-nya (Tangan Pasir Besi). Sambil menarik napas dalam dia segera memukul dengan kedua tangannya. Tiat-see-ciang si tua cukup terkenal di rimba persilatan hingga dia mendapat julukan Sin-see Pa-thian-chiu (Tangan pasir malaikat yang bisa memecahkan langit).

Waktu kawannya yang gemuk memukul dada Bu Kie, dia menyaksikan dengan kedua matanya sendiri. Dia menduga di dada pemuda itu tersimpan senjata beracun. Karena itulah sekarang dia tujukan pukulannya ke lengan Bu Kie yang berada di luar tangan baju. Dia ingin mematahkan lengan itu lebih dulu kemudian barulah membinasakan si pemuda. Tetapi begitu memukul, tubuh si tua langsung terbang keluar dari jendela yang terbuka hingga jendela itu hancur, lalu kepalanya membentur batang pohon dan dia binasa seketika itu juga.

Tiga orang kawannya yang masih belum tahu nasib si tua lantas menyerang dengan berbareng. Yang pertama meninju Tay-yang-hiat, yang kedua mencoba mengorek biji mata dengan pukulan Siang-liong Chio-cu (Sepasang naga merebut mutiara) sedangkan orang yang ketiga menendang tan-tian (di bawah pusar). Dengan menundukkan kepala Bu Kie mengegos dari dua jari tangan yang mau mengorek biji matanya sehingga pukulan itu mampir pada dahinya, kemudian sambil menahan napas dia menerima dua pukulan yang lain.

“Bukk! Bukk!”

Berbareng dengan suara berdebuk terdengar jeritan menyayat hati dan ketiga penjahat itu roboh dengan jiwa melayang. Penjahat yang menendang tan-tian mati dengan tulang kaki patah akibat tendangannya terlalu keras. Di lain pihak dengan tertendangnya tan-tian-maka cin-khie di tubuh Bu Kie bergolak hebat dan dia merasa jalan darah di sebagian tubuhnya terbuka mendadak. Dia girang dan berkata dalam hatinya.

“Sungguh sayang pendeta jahat itu mampus terlalu cepat. Kalau dia bisa menendang beberapa kali lagi, keadaan akan jauh lebih mendingan. Jika dilihat begini dalam sepuluh hari tenagaku akan pulih kembali.”

Di antara delapan sudah lima orang melayang jiwanya. Tidak usah dikatakan lagi tiga orang sisanya ketakutan setengah mati lantas kabur lintang pukang. Sesampainya di luar mereka baru melihat mayat si tua yang tergeletak di bawah pohon dengan kepala hancur. Mereka kabur terus sampai di luar pintu kelenteng. Karena tidak dikejar mereka berhenti kemudian berunding.

“Kurasa bocah itu mempunya ilmu siluman,” kata yang satu.

“Bukan... bukan ilmu siluman,” bantah yang lain. “Dia tentu memiliki lweekang tinggi yang digunakan untuk memukul balik serangan saudara kita.”

“Benar,” sambung yang ketiga. “Biar bagaimana pun juga kita harus membalas sakit hati.”

Meski pun penjahat kejam tetapi ternyata mereka masih mempunyai ‘gie-khie’ (rasa setia kawan) dari kalangan Kangouw. Dulu mereka berdelapan saling mengangkat saudara dengan bersumpah untuk sama senang dan sama susah. Sesudah berdiskusi beberapa saat mereka bertekad bulat membalas sakit hati. Tapi mereka sadar bukan tandingan Bu Kie.

“Ahh! Tak salah lagi!” seseorang berseru. “Bocah itu tentu mendapat luka berat. Kalau tidak mengapa dia tidak mengejar kita?”

Dua temannya menjadi girang. “Benar,” kata yang satu. “Rupanya dia tidak bisa berjalan. Kelima saudara kita menyerang dengan kaki tangan dan dia memukul balik dengan tenaga lweekang. Sekarang kita serang dia dengan senjata. Aku tak percaya jika badannya tidak mempan senjata.”

Mereka kembali masuk untuk bertindak. Satu membawa tombak, satu menenteng golok, dan satu lagi mencekal pedang. Mereka memperoleh kenyataan bahwa kamar di sebelah timur sunyi tidak terdengar suara apa pun. Dengan berindap-indap mereka mendekat dan mengintip dari jendela yang hancur. Ternyata Bu Kie masih tetap duduk bersila dan dia tampak lelah sekali. Tio Beng duduk di sampingnya sambil menyusuti keringat. Ketiga penjahat itu saling melirik. Namun tidak ada satu pun yang berani menerjang lebih dahulu. Selang beberapa saat, yang satu tidak sabar lagi.

“Bocah bau!” teriaknya. “Kalau kau berani, lekas keluar!”

“Bocah tak tahu malu!” Yang kedua ikut mencaci.

Menyambung yang lain. “Kalau memang benar kau berkepandaian tinggi, jangan gunakan ilmu siluman!”

Bu Kie tidak meladeni. Makin lama ketiga penjahat itu makin berani akhirnya mereka mencaci dengan kata-kata kotor. Tetapi Bu Kie dan Tio Beng tidak marah. Sebaliknya, mereka justru bersyukur bahwa sesudah kabur ketiga penjahat itu kembali lagi. Tempat itu tak jauh dari Siauw-lim-si dan tadi waktu mereka lari, Bu Kie dan Tio Beng merasa khawatir kalau mereka pergi ke Siauw-lim-si lalu melaporkan kejadian itu kepada Seng Kun. Apa bila Seng Kun atau temannya datang, maka bencana sukar dihindarkan.

Sementara itu setelah diserang beberapa kali, Kiu-yang Cin-khie di beberapa bagian tubuh Bu Kie yang tadinya buyar kini sedikit banyak bisa berkumpul. Dia masih belum bisa menggunakan lweekang untuk melukai musuh, tetapi sekarang dia sudah tidak begitu bingung seperti semula.

“Brakk!”

Tiba-tiba terdengar suara pintu didobrak, kemudian golok berbareng ujung tombak yang berkuncir merah muncul di ambang pintu.

“Celaka!” seru Tio Beng seraya menyodorkan pisau yang dipegangnya kepada Bu Kie.

Bu Kie menggelengkan kepala. Dia tidak menyambut pisau itu karena dia tahu bahwa dia tidak punya tenaga untuk menggunakannya. Di lain detik sesudah membuat sebuah lingkaran bagaikan kilat ujung tombak menyambar kepada Bu Kie. Pada saat yang amat berbahaya itu, tanpa berpikir lagi Tio Beng merogoh saku Bu Kie dan mengeluarkan sebatang Seng-hwee-leng, yang lantas ditaruh di dada Bu Kie, di tempat yang disambar mata tombak.

“Takk!”

Mata tombak mampir tepat pada Seng-hwee-leng. Pukulan itu merangsang Kiu-yang Sin-kang di tubuh Bu Kie dan tenaga itu lantas balik memukul.

“Aduh!” si pendeta yang menikam mengeluarkan teriakan hebat karena gagang tombaknya amblas di dadanya sendiri. Sebelum dia roboh seorang kawannya sudah membacok batok kepala Bu Kie dengan goloknya.

Karena kuatir sebatang Seng-hwee-leng tidak cukup kuat, dengan kedua tangannya nona Tio menaruh dua batang leng di atas kepala Bu Kie.

“Takk!”

Sekali lagi terdengar suara. Golok itu terpental dan menghantam janggut majikannya yang lantas menjadi hancur. Karena tidak keburu menarik pulang tangan kirinya, sekali ini ujung kelingking nona Tio terpapas putus oleh mata golok yang terpental. Dalam keadaan tegang si nona sendiri tidak merasakan luka itu. Pendeta ketiga yang masuk sambil membawa pedang, semangatnya lantas terbang saat melihat dua kawannya menggeletak tanpa nyawa. Sambil berteriak keras dia kabur.

“Dia tidak boleh dibiarkan lari!” seru Tio Beng seraya menimpuk dengan sebatang Seng-hwee-leng. Walau pun dia menimpuk dengan seluruh tenaganya namun senjata itu jatuh di tengah jalan sebab tenaganya tidak cukup.

Bu Kie terkejut. Dia memeluk si nona dan berbisik, “Timpuk lagi!”

Dia mengempos Cin-khie yang berkumpul di dadanya lantas mengirimnya ke tubuh si nona. Tio Beng segera menimpuk lagi dengan Seng-hwee-leng yang dicekal di tangan kiri. Dua tindak lagi penjahat itu akan bisa menyelamatkan diri di belakang tembok. Tetapi dia tidak keburu sebab Seng-hwee-leng telah menyambar laksana kilat lalu amblas di punggungnya hingga menembus keluar di dadanya.

Sesudah menggunakan tenaga terakhir Bu Kie dan Tio Beng pingsan bersama dan dengan saling peluk mereka lantas jatuh ke bawah ranjang. Di dalam kamar itu menggeletak enam sosok mayat, di luar kamar dua mayat lagi, sedangkan Bu Kie dan Tio Beng sendiri berbaring di antara kobakan darah.

Sinar rembulan menerangi kelenteng itu yang sunyi bagaikan kuburan. Sesudah lewat beberapa lama Tio Beng mulai tersadar. Dia memegang hidung Bu Kie dan si pemuda masih bernapas dan jalan napasnya tenang. Perlahan ia bangkit dan berusaha mengangkat Bu Kie ke atas ranjang, tapi tenaganya tidak cukup sehingga ia hanya bisa meluruskan tubuh Bu Kie kemudian dengan napas tersenggal ia duduk di samping kekasihnya. Beberapa saat kemudian barulah Bu Kie membuka mata.

“Beng-moay,” katanya. “Kau... kau berada di sini?”

Si nona tertawa. Mereka saling pandang dan mereka tertawa bersama. Muka mereka belepotan darah dan keadaan di kamar itu sangat berantakan. Setelah lolos dari bencana bersama, di hati mereka merasakan semacam kebahagiaan yang sukar dilukiskan. Dalam seluruh pertempuran mereka telah menewaskan tujuh pendeta tanpa mengeluarkan tenaga sendiri dan menggunakan ilmu meminjam tenaga memukul tenaga. Namun dalam mengambil jiwa penjahat terakhir mereka telah menggunakan seluruh kekuatan dan sekarang mereka tak punya tenaga lagi sehingga mereka terpaksa rebah di antara mayat-mayat itu.

Dengan tangan gemetar Tio Beng membalut kelingkingnya yang tadi terpapas golok untuk menghentikan keluarnya darah. Sesudah itu dia tertidur pulas bersama Bu Kie. Pada keesokan tengah hari barulah mereka tersadar. Sesudah bersemedhi sekitar setengah jam, Bu Kie merasa badannya segar. Karena lapar perlahan dia pergi ke dapur di mana mendapatkan nasi yang separuh hangus di dalam kuali. Sambil tersenyum dia makan dua suap kemudian mengisinya pada sebuah mangkok yang lantas dibawa ke kamar dan diserahkan kepada Tio Beng.

“Bagaimana keadaan sekarang kalau dibandingkan makan minum di rumah makan kecil di kota raja?” kata Tio Beng.

“Dulu lain, sekarang lain!” jawabnya sambil tertawa.

“Ya,” kata pula si nona. “Sekarang kita menderita lahir tapi apa yang dirasakan di dalam hati kita hanya diketahui langit, bumi, olehmu dan olehku sendiri. Orang luar tak perlu tahu!”

Mereka tertawa lalu makan bersama dengan hanya menggunakan tangan. Yang mereka makan hanya nasi separuh hangus. Tapi bagi mereka lezatnya nasi itu melebihi santapan yang terlezat di dunia. Belum habis mereka makan, di tempat jauh terdengar suara tindakan kuda. Tak kepalang terkejutnya Bu Kie dan Tio Beng. Mangkok nasi yang dipegang si nona jatuh dan hancur di lantai. Meeka saling pandang dengan hati berdebar-debar. Tak lama kemudian kedua ekor kuda berhenti di depan pintu kelenteng dan pintu diketuk orang.

“Siangkoan Sam-ko!” teriak seseorang. “Buka pintu! Aku Cin Lo Ngo.”

“Bagaimana sekarang?” bisik Bu Kie.

“Mereka akan segera merusak pintu,” kata Tio Beng. “Kita berlagak mati.“

Bu Kie mengangguk dan mereka cepat rebah tengkurep. Beberapa saat kemudian terdengar suara gedubrakan dan pintu terpental akibat dorongan tenaga yang sangat kuat.

“Kau rebah di pinggir pintu, cegat jalan mundur mereka!” bisik si nona.

Bu Kie lalu merangkak ke pintu kamar. Di luar terdengar seruan kaget dari dua orang yang baru saja masuk, disusul dengan suara menghunus senjata. Rupanya mereka sudah melihat mayat yang menggeletak di luar.

“Hati-hati!” kata seseorang. “Jangan sampai kena dibokong!”

“Sahabat!” teriak yang lainnya. “Perlu apa kau sembunyi? Jika nyalimu besar, keluarlah!” Suara orang itu nyaring dan bertenaga. Tak salah lagi dialah yang mendobrak pintu. Dia berteriak menantang berulang tapi tetap tidak mendapat jawaban.

“Mungkin penjahatnya telah pergi,” kata kawannya.

“Mari kita geledah,” kata orang yang suaranya nyaring, yang tadi memperkenalkan dirinya sebagai Cin Lo Ngo. “Siu Lao-te, kau periksa di sebelah timur, aku di barat.”

Orang she Siu ini bernyali kecil. “Aku kuatir lawan berjumlah besar,” katanya dengan nada jeri. “Lebih baik kita jalan berdua.” Sebelum Cin Lo Ngo menyahut dia telah mengeluarkan seruan tertahan, “Lihat itu!” katanya sambil menuding kamar sebelah timur. “Kelihatannya di kamar itu masih ada mayat lainnya.”

Mereka menghampiri dan bulu kuduk mereka segera bangun semua. “Siapa... siapa yang membinasakan mereka?” kata Cin Lo Ngo dengan suara gemetar.

“Cin Lo Ngo, mari kita pulang! Kita harus beritahu Suhu.”

“Suhu telah berpesan agar kita bekerja cepat. Surat undangan harus disampaikan secepat mungkin agar tamu bisa hadir dalam To-say Eng-hiong-hwee (Pertemuan orang gagah dalam upacara membinasakan singa) yang akan diadakan pada hari Toan-ngo (Bulan lima tanggal lima menurut perhitungan Imlek, atau hari perayaan Pehcun). Kalau terlambat kita bisa dihukum.”

Mendengar To-say Eng-hiong-hwee, kening Bu Kie berkerut. Tiba-tiba darahnya bergolak. Kaget, girang dan marah bercampur aduk jadi satu. Ayah angkatnya bergelar Kim-mo Say-ong atau Raja singa bulu emas dan To-say Eng-hiong-hwee tentulah dimaksudkan upacara membunuh ayah angkatnya.

“Jika melihat begini sebelum Toan-ngo jiwa Gie-hu tidak akan diganggu,” pikirnya. “Hai...! Kedudukanku adalah pemimpin Beng-kauw, tapi aku tak mampu melindungi Gie-hu hingga dia mesti menderita, mesti menerima segala rupa hinaan. Aku sungguh seorang anak yang tidak berbakti.“

Makin lama dia semakin marah. Jika menuruti kemauannya maka dia ingin membinasakan kedua orang itu. Tapi karena tenaganya belum pulih, jalan satu-satunya adalah menanti sampai mereka masuk kamar kemudian membinasakan dengan ilmu ‘Meminjam tenaga, memukul tenaga’. Tapi kedua orang itu tak berani masuk. Mereka berdiri di luar kamar dan berunding.

“Begini saja,” kata Cin Lo Ngo, “Kita berdua berbagi tugas. Aku akan mengantarkan surat undangan dan kau kembali ke Siauw-lim-si memberi laporan kepada Suhu.”

Tapi si orang she Siu kuatir jika di tengah jalan bertemu musuh. Dia sangsi dan tidak mengiyakan usul kawannya.

Cin Lo Ngo mendongkol sekali. “Kalau kau takut kau boleh pilih,” katanya. “Kalau kau mau mengantarkan surat undangan juga boleh.”

Sesudah berpikir sejenak si orang she Siu menganggap bahwa kembali ke Siauw-lim-si akan lebih banyak selamat. Maka itu dia lantas saja berkata,

“Aku turut perkataan Cin Lo Ngo. Biarlah aku pulang dan melaporkan kejadian ini kepada Suhu.”

Sesudah mencapai persetujuan mereka segera bertindak untuk berlalu. Mendadak Tio Beng menggerakkan tubuhnya dan merintih. Kedua orang itu terkejut. Mereka menghentikan tindakan dan menengok. Sekali lagi nona Tio menggerakkan badannya. Kali ini kedua orang itu melihat tegas bahwa yang tubuhnya bergerak adalah seorang wanita.

“Siapakah perempuan itu?” tanya Cin Lo Ngo seraya menghampiri.

Si orang she Siu juga mengikuti masuk ke kamar. Meski pun nyalinya kecil dia tidak takut karena Tio Beng seorang wanita dan seorang wanita yang terluka berat. Dia membungkuk untuk membalikkan tubuh si nona. Tiba-tiba Bu Kie batuk-batuk sehingga si orang she Siu terkesiap dan mengurungkan niatnya. Sesudah batuk, Bu Kie duduk sambil memejamkan kedua matanya. Melihat Bu Kie yang mukanya berlepotan darah, semangat kedua orang itu lantas terbang.

“Celaka!” teriak si orang she Siu. “Ada mayat bangun lagi!”

“Setan!” bentak Cin Lo Ngo setelah menenteramkan hatinya. “Aku tidak takut!” Dia segera mengayunkan goloknya dan membacok batok kepala Bu Kie.

Ketika itu Bu Kie telah siap sedia dengan dua Seng-hwee-leng. Begitu musuh membacok, dia menaruh kedua leng itu di atas kepalanya.

“Takk!”

Golok terpental lantas memukul Cin Lo Ngo yang binasa seketika itu juga.

“Trang!”

Golok yang dicekal si orang she Siu terlepas dari tangannya dan jatuh ke lantai.

“Kalau kau punya nyali, bacoklah aku!” tantang Bu Kie. “Tinjulah aku kalau kau berani!”

“Siaw-jin... Siauw-jin tidak berani,” jawabnya.

“Coba kau tendang aku!”

“Siauw-jin... Siauw-jin... lebih tidak berani lagi.”

“Tolol kau! Lekas bacok aku!”

Orang she Siu itu semakin ketakutan. Tiba-tiba dia berlutut dan berkata sambil manggutkan kepalanya.

“Ampun loya... ampun...”

Tio Beng sangat mendongkol. Dia mengeluarkan suara di hidung lantas berkata, “Aku tak nyana di rimba persilatan ada manusia yang begitu rendah seperti kau!”

“Ya... ya... Siauw-jin manusia rendah...” katanya.

Thio Bu Kie jadi kewalahan. Mendadak dia mendapat pikiran. “Kemari kau!” bentaknya.

Orang she Siu lantas menghampiri dengan merangkak. Bu Kie segera menempelkan dua jempol tangannya di biji mata orang itu dan membentak,

“Aku korek biji matamu!”

Dalam menghadapi bahaya, tanpa terasa si orang she Siu mendorong dengan sepasang tangannya. Inilah yang diinginkan Bu Kie. Dengan meminjam tenaga itu dia menotok jalan darah Sin-hong dan Po-liong-hiat di bawah dada orang itu yang badannya lantas kesemutan dan tidak bertenaga lagi.

“Loya... ampun...“ dia sesambat.

Tio Beng tahu bahwa totokan Bu Kie tadi hanya bisa menahan orang itu sementara waktu. Dalam waktu sekitar setengah jam ‘hiat’ yang tertotok akan terbuka lagi dengan sendirinya. Tapi dia pun tak ingin mengambil jiwa orang, terutama karena dia memerlukan banyak keterangan dari orang itu. Sesudah berpikir sejenak dia berkata,

“Kau sudah ditotok pada hiat yang membinasakan. Coba kau tarik napas dalam-dalam.” Orang itu menurut. “Nah, bukankah sebelah kiri dadamu sangat sakit?”

Si orang she Siu mengangguk dengan rasa takut yang semakin besar, padahal rasa sakit itu adalah gejala biasa sebagai akibat dari totokan yang dilakukan Bu Kie. Dia lantas memohon-mohon kepada Tio Beng supaya jiwanya ditolong.

“Untuk menolong jiwamu aku harus menggunakan jarum emas dan bekerja dalam waktu setengah bulan,” kata Tio Beng.

“Tolong, Kouwnio!” sesambat si orang she Siu. “Kalau Kouwnio sudi menolong, Siauw-jin rela menjadi kerbau atau kudanya Kouwnio.”

Si nona tertawa. “Huh! Baru pertama ini aku melihat orang Kangouw macam kau,” katanya. “Baiklah. Ambil sepotong batu!”

“Baik... baik...!” jawabnya tergesa gesa dan dengan menahan sakit dan tindakan limbung dia berjalan keluar mencari apa yang diminta Tio Beng.

“Untuk apa?” bisik Bu Kie.

“Kau lihat saja,” sahutnya sambil tersenyum.

Beberapa saat kemudian si orang she Siu kembali dan sambil membungkuk menyerahkan sepotong batu kepada Tio Beng. Nona Tio mencabut tusuk kondenya yang terbuat dari emas lantas memasangnya di Coat-pun-hiat pada pundak orang she Siu itu.

“Aku akan membuka jalan darahmu dengan tusuk konde ini agar hawa Sie-hiat (‘hiat’ mati) tidak naik ke atas kemudian masuk ke otakmu. Tetapi aku tidak tahu apakah Loya itu suka mengampuni jiwamu atau tidak.”

Mendengar keterangan itu, orang she Siu lantas mengawasi Bu Kie dengan sorot mata minta dikasihani. Bu Kie mengangguk dan dia pun kegirangan.

“Loya suka memberi ampun!” katanya. “Kouwnio, hayolah.”

“Hm...!“ si nona mengeluarkan suara di hidung. “Apa kau takut sakit?”

“Tidak! Siauw-jin hanya takut mati tetapi tidak takut sakit.”

“Kalau begitu panteklah tusuk kondeku dengan batu ini.”

Tanpa pikir panjang lagi dia memantek tusuk konde itu yang lantas masuk di daging pundaknya, tepat pada Coat-pun-hiat. Sebaliknya dari sakit, dia justru merasa nyaman sehingga dia makin percaya omongan Tio Beng dan menghaturkan terima kasih berulang-ulang. Beberapa saat kemudian si nona menyuruh mencabut tusuk konde itu lantas mengulangi penusukan pada Hun-bun-hiat, Kouw-pong-hiat dan beberapa ‘hiat’ lain. Bu Kie tersenyum dan berkata.

“Sudah! Sudah cukup!”

Penusukan beberapa ‘hiat’ itu adalah tindakan Tio Beng untuk berjaga-jaga menghadapi pengkhianatan. Selama sepuluh hari, jika orang she Siu itu berlari dalam jarak kira-kira seratus lie maka dia akan roboh dan binasa. Menurut perhitungan nona Tio, jika dia ingin melaporkan kejadian itu kepada Seng Kun, begitu keluar dari kelenteng dia tentu akan lari secepat mungkin karena takut dikejar. Dan larinya itu berarti kebinasaan.

“Sekarang ambil dua paso air untuk kami cuci muka dan sesudah itu masak nasi,” kata si nona. “Kalau sudah bosan hidup, tidak ada halangannya kau menaruh racun dalam nasi supaya kita bertiga bisa mampus bersama.”

“Siauw-jin tidak berani, Siauw-jin pasti tidak berani...“ jawabnya.

Demikianlah, mulai hari itu Bu Kie dan Tio Beng mempunyai seorang pelayan. Atas pertanyaan Tio Beng ia menerangkan bahwa ia she Siu bernama Lam San. Ia juga dikenal dengan julukan Ban-siu Bu-kiang. Julukan itu berarti Usia Abadi, hanya merupakan suatu ejekan. Ia berasal dari kalangan rimba hijau dan ia mengabdi kepada Goan-tin (Seng Kun) karena tolol, otaknya tumpul dan kepandaiannya cetek. Goan-tin hanya menggunakannya sebagai pesuruh dan tak pernah memberi pelajaran silat kepadanya. Terakhir ia diperintah mengantarkan surat-surat undangan hingga akhirnya bertemu Bu Kie dan Tio Beng.

Dalam peranannya sebagai pelayan Siu Lam San sangat rajin dan selalu mendengar kata. Dialah yang menguburkan mayat-mayat. Biar pun bodoh dia memiliki semacam ilmu yang cukup tinggi, yaitu ilmu memasak. Sayur-sayur buatannya sangat lezat dan bernilai tinggi sehingga kedua ‘majikannya’ merasa sangat girang. Perlahan-lahan Bu Kie dan Tio Beng mulai menanyakan soal To-say Eng-hiong-hwee. Siu Lam San memberi segala keterangan yang dia tahu, hanya sayang dia tahu sedikit sekali.

Dia hanya mendengar Hong-thio Siauw-lim-si, Kong-bun Taysu mengangkat Goan-tin sebagai pelaksana pertemuan besar yang bakal diadakan dan bahwa yang mengundang adalah Kong-bun dan Kong-tie Seng-ceng. Orang-orang gagah dari berbagai partai dan golongan diundang untuk berkumpul di Siauw-lim-si pada hari perayaan Toan-ngo.

Bu Kie lalu minta surat-surat undangan yang dibawanya. Ternyata surat2 itu dialamatkan kepada Houw-tin-gu, Kouw-siong-cu dan Kiam-kek (ahli pedang) lain dari Tiam-cong-pay di In-lam. Jago-jago pedang Tiam-cong-pay telah lama dikenal di rimba persilatan. Tapi mereka selalu menyembunyikan diri di daerah In-lam dan tak pernah bergaul dengan orang-orang gagah di wilayah Tiong-goan. Sekarang Siauw-lim-pay mengundang mereka juga, dapat dibayangkan bahwa pertemuan yang bakal diadakan itu benar-benar bukan pertemuan kecil.

Siauw-lim-pay diakui sebagai pemimpin rimba persilatan. Dengan dua Seng-ceng (pendeta suci) yang mengundang sendiri, maka orang yang menerima undangan sedapat mungkin akan menghadiri pertemuan itu. Bunyi undangan itu amat singkat.

‘Kami mengundang tuan untuk berkumpul di kuil Siauw-lim-si pada hari perayaan Toan-ngo untuk minum arak dan bergembira ria bersama-sama orang-orang gagah di kolong langit’.

“Dalam surat undangan itu sama sekali tidak disebut-sebut soal ‘To-say’. Mengapa Cin Lo Ngo mengatakan pertemuan itu adalah To-say Eng-hiong-hwee?” tanya Bu Kie.

“Thio-ya tidak tahu,” jawab Siu Lam San dengan suara bangga. “Guruku telah menangkap seseorang yang memiliki nama sangat besar, yaitu Kim-mo Say-ong Cia Sun. Kali ini Siauw-lim-pay akan mendapat muka terang di hadapan para orang gagah. Di hadapan mereka Siauw-lim-pay akan membinasakan si Singa Bulu Emas, karenanya pertemuan itu dinamakan To-say Eng-hiong-hwee.”

Darah Bu Kie meluap, tetapi sebisanya dia menahan sabar. “Apa kau pernah melihat Kim-mo Say-ong?” tanyanya. “Bagaimana gurumu menangkap dia? Di mana adanya dia sekarang?”

“Kim-mo Say-ong... Huh huh...! Lihay tiada bandingannya,” jawabnya. “Tingginya dua kali tubuh Siauw-jin. Yang lain boleh tak usah disebutkan. Matanya saja sukar dilawan. Matanya berkeredepan dan kalau kita diawasi... huh... semangat kita lantas terbang!” Dia mendehem beberapa kali dan berkata pula. “Tujuh hari tujuh malam guruku bertempur dengan dia. Akhirnya Suhu menjadi marah lantas menggunakan Kim-liong Hok-hauw-kang. Setelah menggunakan ilmu itu barulah Kim-mo Say-ong bisa ditaklukkan. Sekarang dia dikurung di dalam goa batu di belakang kuil dan dirantai dengan delapan...”

“Diam!” bentak Bu Kie. “Jangan ngaco kalau kau masih sayang jiwamu! Kim-mo Say-ong Cia-tayhiap buta matanya. Mana bisa matanya berkeredepan?”

Siu Lam San langsung terkesiap. “Ya... ya... Siauw-jin tentu salah lihat,” jawabnya dengan sangat ketakutan.

“Katakan sebenar-benarnya,” kata Bu Kie pula. “Apakah kau pernah bertemu dengan Cia-tayhiap atau tidak?”

Siu Lam San yang tadi hanya mengibul cepat menyahut. “Siauw-jin tidak berani dusta lagi. Sebenarnya Siauw-jin belum pernah melihat Cia-tayhiap. Siauw-jin hanya mendengar cerita itu dari saudara-saudara seperguruan.”

Apa yang sangat ingin diketahui Bu Kie adalah tempat dikurungnya Cia Sun. Ia mendesak dan mendesak lagi, tetapi Siu Lam San tetap mengatakan tidak tahu. Bu Kie yakin dia tidak berdusta. Rahasia besar tentu tidak akan dibocorkan kepada sembarang orang. Untung perayaan Toan-ngo masih dua bulan lebih, mereka masih memiliki cukup waktu. Yang paling penting bagi mereka adalah mengobati luka dan beristirahat.

'SUAMI ISTERI'

Sesudah tinggal sepuluh hari di kelenteng itu, Bu Kie dan Tio Beng sembuh total tenaga mereka pun pulih kembali. Pada hari itu Bu Kie berunding dengan Tio Beng bagaimana mereka harus menolong Cia Sun.

“Jalan yang paling baik adalah menotok ‘hiat mati’ Siu Lam San kemudian mengirim dia ke Siauw-lim-si untuk jadi mata-mata kita,” kata nona Tio. “Tetapi orang ini terlalu tolol dan jika rahasia ini sampai tercium Seng Kun atau Tan Yu Liang maka semua urusan akan rusak. Begini saja. Kita berdua pergi ke kaki Siauw-sit-san dan menyelidiki. Tapi kita harus menyamar.”

“Menyamar bagaimana?” tanya Bu Kie. “Apa menyamar menjadi hwesio dan nikouw?”

“Fui! Bagus sungguh pemikiranmu! Apa kata orang kalau mereka melihat seorang hwesio berjalan bersama seorang nikouw?”

“Kalau begitu kita menyamar saja sebagai suami isteri dari pedusunan.”

Tio Beng tertawa geli. “Apa tidak boleh sebagai kakak adik?” tanyanya. “Apa bila kita menyamar sebagai suami isteri lantas terlihat Ciu-kouwnio, bukankah pundakku bisa berlubang lagi?”

Bu Kie ikut tertawa dan tidak mengatakan apa-apa lagi. Setelah bertanya kepada Siu Lam San mengenai keadaan di kuil Siauw-lim-si, dia lantas berkata.

“Sie-hiatmu yang tertotok sekarang sudah hampir sembuh. Tetapi kau perlu berada di daerah selatan yang hawanya panas. Mana kala kau tinggal di tempat yang turun salju, jiwamu akan melayang. Sekarang kau harus berangkat ke selatan, lebih panas tempat itu lebih baik lagi. Apa bila kau terkena angin utara maka dadamu akan sesak dan kau akan batuk-batuk dan itu sangat berbahaya.“ Sehabis berkata begitu dia lantas mengurut dada dan punggung si tolol.

Tentu saja Siu Lam San percaya penuh karangan Bu Kie. Tanpa menyia-nyiakan waktu dia segera minta diri lalu berangkat ke selatan. Di Tiongkok Selatan dia hidup tenteram dan berumur panjang. Dia baru meninggal dunia pada tahun Kian-bun, kerajaan Beng.

Sesudah Siu Lam San berlalu Bu Kie segera membakar kelenteng itu, kemudian mereka berangkat. Di sebuah dusun membeli seperangkat pakaian dan berganti pakaian di tempat sepi. Pakaian mereka yang mewah ditanam di tanah. Dengan hati-hati mereka menuju ke Siauw-sit-san. Dalam jarak tujuh delapan lie dari kuil Siauw-lim-si, beberapa kali mereka bertemu dengan beberapa pendeta.

“Kita tidak boleh maju lebih jauh,” kata Tio Beng.

Kebetulan sekali di tepi jalan terlihat gubuk dan seorang petani tua sedang menyiram kebun sayur.

“Kita boleh numpang menginap di situ,” kata si nona.

Bu Kie segera menghampiri dan setelah memberi hormat dia pun berkata. “Lo-tiang, kami berdua kakak beradik capek sekali dan mohon semangkok air dingin.”

Tapi si kakek tidak meladeni. Dia terus menyirami sambil menundukkan kepala. Mendadak pintu gubuk terbuka lalu keluarlah seorang nenek yang rambutnya sudah putih semua.

“Suamiku tuli dan gagu,” katanya sambil tertawa. “Apa yang tuan inginkan?”

“Adikku tidak kuat jalan lagi,” jawab Bu Kie. “Kami ingin minta air minum.”

“Masuklah,” kata si nenek.

Gubuk itu bersih, perabotnya bersih dan pakaian si nenek biar pun terbuat dari kain kasar juga tak kalah bersihnya. Melihat kebersihan itu Tio Beng merasa senang. Setelah minum air dia mengeluarkan sepotong perak kemudian berkata sambil tertawa.

“Popo yang baik, kakakku mengajakku ke rumah nenek kami. Lantaran tidak biasa kakiku terasa sakit bukan main. Apakah malam ini kami boleh numpang menginap di sini? Besok pagi kami akan meneruskan perjalanan.”

“Numpang menginap tidak halangan, juga tidak perlu mengeluarkan uang,” jawab si nenek dengan suara manis. “Tetapi kami hanya mempunyai sebuah kamar dan sebuah ranjang. Andai kata aku dan suamiku tidur di luar, kalian berdua kakak beradik tentu tak boleh tidur seranjang. Hm! Nona kecil... sebaiknya kau bicara terus terang kepada Popo. Bukankah kau kabur dari rumah ikut kakak yang tercinta?”

Muka si nona berubah menjadi merah. Di dalam hati dia sangat terkejut. Nenek itu punya mata yang amat tajam dan agaknya dia bukan orang sembarangan. Tanpa terasa dia melirik orang tua itu beberapa kali.

Meski pun sudah berusia lanjut dan badannya bongkok, nenek itu kelihatan gagah. Kedua matanya bersinar sehingga mungkin sekali dia mempunyai ilmu silat yang tinggi. Tio Beng tahu bahwa roman Bu Kie masih menyerupai seorang petani. Tapi dia sendiri bukan seorang gadis dusun. Maka itu, sesudah berpikir sejenak dia lantas berkata dengan sikap kemalu-maluan.

“Sesudah ditebak Popo aku tahu tidak boleh berdusta lagi. Dia Gu-koko, kawan mainku sedari kecil. Karena dia miskin, ayah tak setuju aku menikah dengannya. Melihat aku mau bunuh diri, ibu lantas menyuruh aku... aku lari ikut dia. Kata ibu, sesudah lewat satu atau dua tahun, setelah kami mempunyai anak, baru boleh pulang. Pada waktu itu mungkin ayah sudah berubah pikiran.”

Sambil berkata begitu, beberapa kali dia melirik Bu Kie dengan sorot mata penuh cinta. Sesudah berdiam sejenak dia berkata lagi.

“Di kota raja keluargaku cukup terkemuka. Ayah bekerja sebagai pembesar negeri. Apa bila kami kena ditangkap, maka celakalah kami! Sebab itu, sesudah aku bicara terus terang, mohon Popo tidak membuka rahasia kepada siapa pun juga.”

Si nenek tertawa terbahak sambil manggut-manggutkan kepalanya. “Aku sendiri pernah muda, jadi kau tak usah kuatir,” katanya. “Aku akan menyerahkan kamarku kepada kalian berdua. Tempat ini terpisah ribuan lie dari kota raja dan aku tanggung tidak ada manusia yang akan berani mengganggu kalian. Andai kata ada orang berani main api, Popo tidak akan berpeluk tangan.”

Melihat Tio Beng yang cantik dan lemah lembut sudah membuka rahasianya sendiri, hati si nenek jadi girang dan dia langsung mengambil keputusan membantu kedua orang muda ini.

Di lain pihak Tio Beng makin yakin dengan dugaannya bahwa mereka adalah orang rimba persilatan. Tempat itu amat berdekatan dengan Siauw-lim-si dan belum diketahui apakah dia adalah musuh atau sahabat Seng Kun sehingga si nona merasa bahwa dia harus lebih berhati-hati. Dia lantas menyoja sambil berkata,

“Terima kasih banyak atas kebaikan dan bantuan Popo. Gu-koko, mari! Lekas haturkan terima kasih kepada Popo!”

Bu Kie segera mendekat dan menyoja. Malam itu si nenek benar-benar menyerahkan kamarnya kepada Bu Kie dan Tio Beng. Dia sendiri membuat dipan di ruangan tengah dengan menggunakan beberapa lembar papan yang dialasinya dengan selembar tikar. Di dalam kamar Tio Beng menceritakan pembicaraannya dengan si nenek kepada Bu Kie. Bu Kie manggutkan kepalanya.

“Kakek yang menyiram sayur memiliki kepandaian lebih tinggi,” katanya. “Apa kau tidak melihatnya?”

“Ahh... aku benar-benar tidak dapat melihat.”

“Tadi dia memikul air. Tindakannya sangat cepat tapi airnya sama sekali tidak bergoyang. Ini bukti dari lweekang yang sangat tinggi.”

“Bagaimana kalau dibandingkan kau?”

“Aku mau coba.“ Sehabis berkata demikian Bu Kie mengangkat tubuh si nona lalu bergaya seperti orang memikul air.

Tio Beng tertawa geli. “Gila kau! Kau anggap aku tahang air?” bentaknya dengan rasa bahagia.

Mendengar senda gurau itu, rasa curiga si nenek lantas hilang sama sekali. Malam itu Bu Kie dan Tio Beng makan bersama kakek dan nenek. Makanannya cukup baik, ada daging berikut sayur. Selama makan Bu Kie dan Tio Beng terus bercanda dan memperlihatkan rasa cinta mereka sebagaimana biasanya pengantin baru.

Si nenek tersenyum-senyum, tetapi si kakek tidak menghiraukan dan terus makan sambil menundukkan kepala. Sesudah makan dan bercakap-cakap sebentar, Bu Kie dan Tio Beng masuk ke kamar lalu memalang pintu. Dengan muka yang kemerah-merahan Tio Beng berbisik.

“Kita hanya bersandiwara, bukan sungguhan.”

Bu Kie lantas memeluknya erat-erat kemudian berkata dengan suara perlahan. “Bila tidak sungguhan, dalam dua atau tiga tahun, bagaimana kita bisa mendapatkan anak?”

“Fui!” bentak si nona. “Kau tentu mencuri dengar pembicaraanku!” Sehabis berkata begitu dia menundukkan kepala dengan sikap kemalu-maluan.

Dalam keadaan itu, sebagai seorang ksatria Bu Kie dapat menguasai dirinya. Ingat bahwa dengan Ciu Cie Jiak dia sudah mengikat janji yang mesti dipenuhi. Nanti sesudah menikah dengan nona Ciu barulah dia boleh mengurus persoalan nona Tio, pikirnya. Setelah bercakap-cakap beberapa lama Bu Kie segera mempersilakan Tio Beng tidur, sedangkan dia sendiri duduk bersila di kursi sambil mengerahkan Kiu-yang Cin-khie. Tidak lama kemudian dia tertidur.

Tio Beng tidak bisa lantas pulas. Cukup lama dia hanya bergulak gulik di ranjang. Kira-kira tengah malam, dalam keadaan setengah tidur kupingnya mendengar suara langkah kaki yang datang dari tempat jauh. Langkah itu cepat luar biasa dan dalam sekejap sudah tiba di pintu luar. Dia melompat dan menyentuh tangan Bu Kie. Pemuda itu ternyata sudah tersadar dan mencekal tangannya. Pada saat itu terdengar suara seseorang yang amat nyaring.

“Suami isteri Touw, selamat bertemu! Malam-malam kami datang berkunjung. Apakah kunjungan ini dianggap tidak pantas?”

“Apakah itu Ceng-hay Sam-kiam?” tanya si nenek. “Dari Coan-see (Su-coan barat) kami menyembunyikan diri di tempat ini. Kami sudah menunjukkan rasa takut terhadap Ceng-hay Giok-cin-koan. Kenapa kalian mendesak?”

Tamu itu tertawa terbahak-bahak. “Kalau kalian benar-benar takut, berlututlah tiga kali di hadapan kami dan kami akan mencoret semua hutang lama,” katanya.

Sekonyong-konyong terdengar suara pintu dibuka. “Masuklah!” kata si nenek.

Bu Kie dan Tio Beng mengintip dari celah-celah papan. Dengan bantuan cahaya rembulan mereka melihat tiga tojin (imam) yang berdiri di ambang pintu. Tojin yang berdiri di tengah-tengah seorang kate gemuk dengan brewok pendek langsung bertanya.

“Apa kalian mau minta ampun dengan berlutut atau membereskan persoalan ini dengan senjata?”

Sebelum si nenek menjawab, suaminya telah keluar dengan tulang-tulang dalam tubuhnya memperdengarkan suara peratak perotok, suatu tanda bahwa dia memiliki lweekang yang luar biasa. Ia lantas berdiri di samping isterinya seraya mengawasi ketiga imam itu dengan mata tajam.

“Touw Lo-sianseng,” kata si brewok, “Kenapa kau tidak mengeluarkan sepatah katapun? Apa kau merasa derajatmu terlalu tinggi untuk bercakap-cakap dengan Ceng-hay Sam-kiam?”

“Suamiku tuli,” kata si nenek.

Si brewok mengeluarkan seruan tertahan, “Ilmu Thia-hong Pan-kee (membedakan senjata rahasia dengan mendengar sambaran anginnya) dari Touw Lo-sianseng amat terkenal di rimba persilatan,” katanya. “Mengapa Lo-sianseng bisa jadi tuli? Sungguh sayang!”

Tojin yang berbadan lebih gemuk dari si brewok menghunus pedang kemudian berkata,

“Mengapa kalian tidak mengeluarkan senjata?”

Si nenek mengangkat kedua tangannya dan pada setiap telapak tangan terdapat tiga batang golok yang panjangnya tidak cukup setengah kaki. Hampir berbareng si kakek juga mengangkat kedua tangannya dan ternyata dia pun memegang enam golok pedang yang berukuran sama, tiga batang di tiap tangan. Di lain saat golok itu saling berpindah tangan, yang di tangan kanan pindah ke tangan kiri dan yang di tangan kiri pindah ke tangan kanan. Cara pemindahan itu amat menakjubkan dan memperlihatkan suatu hasil dari latihan yang lama dan sungguh-sungguh.

Melihat senjata yang aneh itu ketiga tojin terkejut. Di rimba persilatan belum pernah ada senjata macam itu. Mau disebut golok terbang (hui-to) namun cara menggunakannya bukan seperti menggunakan golok terbang. Siapa pasangan tua itu?

Kakek yang gagu tuli itu adalah she Touw bernama Pek Tong dan dengan senjata Siang-kauw (sepasang gaetan) dia mendapat nama besar di Su-coan barat. Isterinya bernama Ek Sam Nio mahir dalam menggunakan tombak. Beberapa tahun yang silam mereka bermusuhan dengan Giok-cin-koan di Ceng-hay. Karena harus menghadapi musuh yang berjumlah jauh lebih besar dan juga karena bibit permusuhan sebenarnya hanya soal remeh, maka mereka mengambil keputusan meninggalkan Su-coan dan pindah ke tempat lain. Namun di luar dugaan, meski pun sudah berada di tempat jauh malam ini mereka disusul musuh-musuh lama.

Ketiga imam itu adalah murid turunan kedua dari Giok-cin-koan. Yang brewokan bernama In Ho, yang bertubuh gemuk Ma Hoat Thong, sedangkan imam ketiga yang bertubuh kecil kurus bernama In Yan. Mereka menggunakan pedang sehingga mendapat julukan ‘Ceng-hay Sam-kiam’ (tiga jago pedang dari Ceng-hay).

Biar pun berbadan gemuk dan gerak-geriknya kelihatan tidak begitu gesit, Ma Hoat Thong amat berakal budi. Melihat suami isteri Touw menggunakan golok-golok pendek dan tidak lagi mempergunakan senjata mereka yang lama, dia lantas mengetahui bahwa kedua belas golok pendek itu tentu mengandung kelihayan yang luar biasa. Karena itu dia lantas berseru,

“Sam-cay Kiam-tin (barisan pedang Sam-cay) Thian-te-jin!”

Thian-te-jin adalah langit, bumi dan manusia, yaitu sifat ketiga imam yang dikenal sebagai Sam-cay.

“Tian-swee-seng-cie Cut-giok-cin (kilat menyusul bintang, keluar dari Giok-cin-koan)!” In Ho menyambung.

Dengan serentak ketiganya bergerak mengurung suami isteri Touw. Bu Kie memperhatikan ‘tin’ itu dengan perasaan sangsi. Tiga tojin itu tak hentinya saling bertukar tempat sehingga tiga batang pedang itu seakan selembar jala yang bersinar putih. Sesudah mengawasi beberapa saat dia lantas dapat menebak inti sari dari pada barisan itu.

“Kurang ajar!” pikirnya. “Ketiga imam itu benar-benar licik. Mereka menggunakan Sam-cay Kiam-tin, tetapi di dalam tin itu sebenarnya terkandung Ngo-heng. Kalau musuh percaya bahwa tin itu betul-betul Sam-cay Kiam-tin lalu mencoba memecahkannya dengan mengambil kedudukan Thian-te-jin, maka dia bisa celaka dalam kepungan Ngo-heng. Tetapi tidaklah gampang menciptakan Ngo-heng Kiam-tin (barisan Ngo-heng) untuk tiga orang karena setiap orang harus menduduki lebih dari satu kedudukan. Memang ilmu ringan badan dan Kiam-hoat mereka sudah cukup tinggi.“

Suami isteri Touw lantas saja berdiri saling membelakangi dan kedua belas batang golok itu segera bergerak di sekeliling badan mereka. Dengan cara mengagumkan golok-golok itu bertukar tangan. Golok Touw Pek Tong diserahkan kepada Ek Sam Nio, begitu pula sebaliknya. Dalam tukar menukar ini mereka bukan melemparkan tapi menyodorkan dari satu ke lain tangan.

Tio Beng heran. “Bu Kie Koko, ilmu apa itu?” tanyanya berbisik.

Bu Kie tidak langsung menyahut. Dia terus mengawasi dengan alis berkerut. Tiba-tiba dia berkata.

“Ah! Sekarang tahulah aku! Dia takut akan Say-cu-hauw (Geram singa) Gie-hu.”

“Apa itu Say-cu-hauw?” tanya Tio Beng.

Bu Kie tak menyahut. Dia manggutkan kepala, lalu tertawa dingin dan berkata. “Hm... dengan kepandaian seperti itu mereka ingin membunuh singa?”

Si nona tambah tidak mengerti. “Ehh... tolol!” katanya dengan mendongkol. “Kenapa kau bicara sendirian?”

”Kelima orang itu adalah musuh Gie-hu,” bisik Bu Kie. “Karena takut dengan Say-cu-hauw Gie-hu, si tua merusak kupingnya sendiri.”

Sementara itu pertempuran berlangsung dan bentrokan senjata terdengar tak henti-hentinya. Lima kali Ceng-hay Sam-kiam menyerang dan lima kali pula mereka dipukul mundur. Dua belas golok pendek yang dioper dari satu ke lain tangan berputar terus menerus sehingga di bawah sinar rembulan tampak tiga helai sinar putih mengelilingi tubuh suami isteri Touw. Garis pembelaan itu sangat rapat dan padat.

Selang beberapa saat mendadak Touw Pek Tong membuka serangan dan bagaikan kilat golok pendek menyambar perut Ma Hoat Thong. Dalam ilmu silat terdapat kata-kata demikian, ‘Panjang satu cun (dim), kekuatan satu cun. Pendek satu cun, bahaya satu cun’.

Panjang golok Touw Pek Thong hanya sekitar lima cun, maka dapatlah dibayangkan betapa hebatnya bahaya serangan itu. Empat kali dia melakukan serangan yang membinasakan tanpa mempedulikan pembalasan pada diri sendiri. In Ho dan In Yan balas menyerang tapi serangan-serangan itu ditangkis oleh Ek Sam Nio. Ternyata ilmu golok suami isteri itu berdasarkan kerja sama yang sangat erat, yang satu menyerang dan yang lain membela. Yang menyerang tak menghiraukan balasan atas dirinya sendiri.

Diserang dengan cara begitu, Ma Hoat Thong menjadi repot bukan main. Touw Pek Tong terus mendesak, kian lama serangannya kian hebat. Sambil bersiul nyaring sekonyong-konyong In Ho mengubah bersilatnya. In Yan dan Ma Hoat Thong pun segera mengikuti perubahan itu dan mereka bertiga membuat sehelai jala pedang yang sedemikian rapat sehingga andai kata mereka disiram air, air itu takkan kena di badan mereka. Bu Kie tertawa dingin dan berbisik.

“Ilmu golok dan ilmu pedang itu semuanya dilatih untuk menghadapi Gie-hu. Lihat baik-baik! Mereka lebih banyak membela diri dari pada menyerang. Berkelahi dengan cara begini sampai besok pun tidak akan ada habisnya.“

Benar saja. Sesudah serangan-serangannya gagal, Touw Pek Tong juga mengubah siasat dan sekarang dia hanya membela diri. Sesudah memperhatikan beberapa lama, Tio Beng pun melihat bahwa serangan kelima orang itu biasa saja dan yang istimewa adalah pembelaan mereka.

“Bu Kie Koko,” bisiknya. “Kim-mo Say-ong Cia-tayhiap berkepandaian amat tinggi. Dengan ilmu silat itu, mana bisa mereka memperoleh kemenangan?”

Setelah lewat tujuh delapan jurus lagi, sambil melompat keluar dari gelanggang mendadak Ma Hoat Thong berseru.

“Tahan!”

Touw Pek Thong melompat ke belakang dan berdiri tegak sambil mengawasi lawannya.

“Apakah to-hoat (ilmu golok) kalian dilatih untuk membunuh singa?” tanya Ma Hoat Thong.

Ek Sam Nio kaget, “Kupingmu tajam sekali,” jawabnya.

“Saudara dari Touw Lo-sianseng dibunuh Cia Sun dan sakit hati itu memang tidak mungkin tak dibalas,” kata Ma Hoat Thong. “Sesudah kalian tahu bahwa Cia Sun berada di Siauw-lim-si, mengapa kalian tidak membereskan persoalan itu lebih awal?”

“Urusan itu adalah urusan kami berdua,” jawab Ek Sam Nio. “Totiang tak usah turut memikirkan.”

“Ganjalan antara Giok-cin-koan dengan kalian berdua adalah urusan kecil,” kata Ma Hoat Thong. “Perlu apa kita mengadu jiwa? Bukankah lebih baik kalau kita bersahabat dan bersama mencari Cia Sun?”

“Apa Giok-cin-koan juga bermusuhan dengan Cia Sun?” tanya Ek Sam Nio.

“Tidak, memang tidak bermusuhan.”

“Kalau tidak bermusuhan, mengapa kalian melatih diri dalam kiam-hoat istimewa itu? Kalau tidak salah Kiam-hoat kalian dan to-hoat kami bertujuan sama, yaitu untuk melawan pukulan Cit-siang-kun.”

“Sam Nio mempunyai mata yang sangat tajam! Kini kami tak perlu menyembunyikan apa-apa lagi. Maksud kami adalah untuk meminjam To-liong-to.”

Nyonya Touw manggutkan kepalanya dan dengan jari tangan lalu menulis beberapa huruf di telapak tangan suaminya. Sebagai jawaban, Touw Pek Tong juga menulis di telapak tangan isterinya. Sesudah ‘berbicara’ dengan tulisan, si nenek berkata.

“Tujuan kami berdua membalas sakit hati. Untuk itu kami rela membuang jiwa. Sedikit pun kami tidak punya minat terhadap To-liong-to,.”

“Bagus!” kata Ma Hoat Thong dengan girang. “Sekarang sebaiknya kita berlima bersatu untuk mencapai tujuan, kalian membalas sakit hati sedangkan kami meminjam golok mustika. Dengan cara begini kita akan mendapat dua keuntungan, hasil yang dikejar dan persahabatan.”

Semua orang setuju. Mereka berlima lalu mengangkat tangan dan mengucapkan sumpah persatuan. Sesudah bersumpah, suami isteri Touw lalu mengundang ketiga tamunya masuk untuk minum teh dan merundingkan rencana kedepan. Setelah duduk di ruangan tengah, melihat pintu kamar tidur tertutup, Ceng-hay Sam-kiam curiga dan beberapa kali menengok.

“Sam-wi tidak usah curiga,” kata Ek Sam Nio sambil tertawa. “Yang tidur di situ adalah sepasang suami isteri muda yang kabur dari rumahnya di kota raja. Yang perempuan cantik bagaikan dewi, yang lelaki seorang pemuda kasar yang tidak tahu ilmu silat.”

Ma Hoat Thong adalah seorang yang amat berhati-hati. “Sam Nio jangan marah,” katanya. “Bukan aku tak percaya, tapi karena urusan ini sangat besar maka jangan sampai bocor.”

Si nenek tertawa, “Kita bertempur begitu lama tetapi mereka terus tidur seperti bangkai,” katanya. “Kalau tidak percaya Ma To-ya boleh melihat sendiri.“ dia bangkit dan menolak pintu, tapi pintu dipalang dari dalam.

Bu Kie tahu, kalau rahasianya bocor maka kesempatan menolong ayah angkatnya akan hilang. Buru-buru dia membuka sepatu, lalu naik ke ranjang dan menyelimuti dirinya.

“Krekk!”

Terdengar suara dan palang pintu patah akibat didorong In Ho. Ek Sam Nio masuk paling dulu dengan membawa ciak-tay (tempat menancap lilin) diikuti Ceng-hay Sam-kiam. Dengan mata dan paras muka seperti orang yang baru bangun, Bu Kie mengawasi si nenek. Tiba-tiba Ma Hoat Thong menghunus pedang dan menikam tenggorokan Bu Kie. Tikaman itu menyambar bagaikan kilat. Bu Kie mengeluarkan seruan kaget. Sebaliknya dari berkelit, dengan berlagak bingung dia mencoba bangun hingga tenggorokannya seolah-olah memapaki ujung pedang.

Cepat Ma Hoat Thong menarik senjatanya. Ia tak pernah mimpi bahwa kepandaian pemuda itu sepuluh kali lipat lebih tinggi dari pada kemampuannya sehingga andai kata ia benar-benar mempunyai niat jahat, ia pun takkan bisa mencelakai Bu Kie. Tio Beng hanya mengeluarkan suara seperti orang mengigau dan terus tidur.

“Sam Nio tidak salah,” kata In Ho. “Mari kita keluar.“ Mereka lantas kembali ke ruangan tengah.

Bu Kie segera melompat turun dari ranjang, memakai sepatunya dan mengintip lagi.

“Apakah kalian sudah menyelidiki pasti bahwa Cia Sun berada di Siauw-lim-si?” tanya Ma Hoat Thong.

“Belakangan Siauw-lim-pay telah mengirim surat undangan ke berbagai orang gagah untuk menghadiri To-say Tay-hwee pada hari perayaan Toan-ngo. Apa bila Cia Sun belum tertangkap tentu mereka tak akan berbuat begitu.”

Ma Hoat Thong mengangguk. “Kong-kian Seng-ceng telah dibinasakan Cia Sun,” katanya. “Semua murid Siauw-lim-si bertekat membalas sakit hati. Sebenarnya kalian berdua tidak usah banyak capek. Kalian hanya perlu menghadiri pertemuan itu dan menyaksikan kebinasaan Cia Sun. Tanpa mengangkat tangan sakit hati kalian telah terbalas. Perlu apa Touw Lo-sianseng merusak kuping sendiri dan menempuh bahaya besar?”

Ek Sam Nio tertawa dingin.“Hm...! Kalian tidak tahu bahwa anak lelaki tunggal kami, tanpa sebab dan tanpa lantaran sudah dibunuh Cia Sun,” katanya dengan suara parau. “Sakit hati kami sedalam laut, untuk membalasnya, mana bisa kami memainkan peran sebagai penonton saja? Begitu bertemu dengan bangsat she Cia, aku akan menusuk kedua kupingnya dan kami berdua rela binasa bersamanya. Huh..! Huh...! Untuk membalas sakit hati ini kami tak peduli dengan segala akibatnya. Kami juga tidak menghiraukan kalau kami mesti melanggar Siauw-lim-pay, Bu-tong-pay atau ‘pay’ yang mana pun juga.”

Mendengar keterangan itu Bu Kie bergidik. “Karena perbuatan Seng Kun. Gie-hu melampiaskan amarahnya kepada orang-orang yang tidak berdosa,” pikirnya. “Suami isteri Touw kelihatannya bukan orang jahat. Tapi sakit hati mereka sudah pasti tidak akan dapat didamaikan. Hai...! Jalan satu-satunya bagiku adalah menolong Gie-hu dan membawanya ke tempat jauh supaya permusuhan tidak bertambah hebat.”

Sesudah itu Bu Kie tidak mendengar suara apa-apa lagi. Ia mengintip dari sela-sela papan dan mendapat kenyataan bahwa suami isteri Touw dan ketiga tamunya bicara dengan cara menulis huruf-huruf di meja menggunakan air teh.

“Mereka sangat berhati-hati,” katanya dalam hati. “Gie-hu banyak musuh dan To-liong-to memiliki daya tarik yang sangat hebat. Dilihat gelagatnya, sebelum Toan-ngo Siauw-lim-si bakal disatroni oleh banyak orang pandai. Kalau penjagaan kurang kuat maka Gie-hu bisa mati konyol. Aku harus menolong secepat mungkin.”

Karena tidak bisa mengorek rahasia lagi, Bu Kie lantas tidur. Pada keesokan paginya Ceng-hay Sam-kiam sudah berlalu.

“Popo,” kata Bu Kie kepada si nenek. “Mengapa semalam tiga to-ya itu masuk ke kamar dengan golok terhunus? Aku ketakutan setengah mati dan menduga mereka datang untuk menangkap kami.”

Mendengar Bu Kie menamakan pedang sebagai golok, si nenek tertawa dalam hati. “Mereka nyasar dan setelah minum teh segera berlalu,” jawabnya. “Can-siauwko, lewat tengah hari kami hendak membawa tiga pikul kayu bakar ke kuil Siauw-lim-si untuk dijual. Bolehkah kau membantu kami? Kepada para pendeta di sana kami akan mengakui kau sebagai anak agar mereka tidak curiga. Isterimu sangat cantik, sebaiknya menunggu saja di rumah.”

Bu Kie mengerti bahwa kedua orang itu mau menyelidiki keadaan Siauw-lim-si. Dia girang dan segera menyahut, “Aku akan menurut semua perintah Popo. Satu-satunya harapanku adalah Popo suka menerima kami menumpang di sini. Kami sudah lelah berlarian ke sana sini.”

Lohor itu Bu Kie mengikuti suami isteri Touw, dengan masing-masing memikul satu pikul kayu bakar. Bu Kie memakai tudung besar, alas kaki rumput dan di pinggangnya terselip kapak pendek. Selagi mereka berangkat, Tio Beng berdiri di ambang pintu sambil tersenyum.....

MENYELUNDUP DI SARANG HARIMAU

Mereka berjalan perlahan sambil berlagak tersengal-sengal. Setibanya di pendopo di luar kuil Siauw-lim-si, mereka berhenti mengaso. Di pendopo itu terdapat dua orang yang mengawasi mereka dengan sikap acuh tak acuh. Ek Sam Nio membuka bungkusan kepala yang terbuat dari kain kasar dan menggunakan kain itu menyusut keringat. Sesudah itu dia menyusut keringat Bu Kie.

“Nak, apa kau sudah capek?” tanyanya.

Waktu keringatnya disusut, Bu Kie merasa agak jengah. Tapi begitu mendengar suara si nenek, jantungnya berdetak keras. Itu suara yang bernada rasa cinta dan yang keluar dari hati setulusnya. Bu Kie melirik dan melihat air mata yang berlinang di kedua mata si nenek. Ia tahu bahwa orang tua itu ingat anaknya sendiri yang telah dibunuh Cia Sun. Sesudah bertanya nenek itu mengawasi Bu Kie dengan sorot mata meminta jawabah. Bu Kie tidak tega dan segera menjawab dengan suara lemah lembut.

“Ibu, aku tidak capek. Kau sendirilah yang sudah capek.”

Begitu mendengar perkataan ‘Ibu’ air mata si nenek mengucur. Buru-buru dia menyusut mukanya. Touw Pek Tong lantas bangun dan memikul pikulannya. Sambil mengulapkan tangan kirinya dia lantas bertindak keluar dari pendopo itu. Dia tahu bahwa isterinya sedih dan kalau mereka tinggal lama maka kedua pendeta itu bisa curiga. Sebelum berangkat Bu Kie menghampiri pikulan si nenek dan menaruhnya di pikulannya sendiri.

“Ibu, mari!” katanya.

Melihat kecintaan Bu Kie, Ek Sam Nio makin sedih. “Jika puteraku masih hidup, kemungkinan dia lebih tua dari pemuda ini,” pikirnya. “Mungkin sekarang aku sudah menimang cucu.” Sambil berpikir begitu dia segera memikul pikulannya. Karena berduka maka tindakannya agak limbung dan Bu Kie yang melihat itu lantas kembali kemudian menuntun tangan si nenek.

”Anak itu sangat berbakti,” kata salah seorang pendeta.

“Popo, apakah kalian hendak membawa kayu itu ke Siauw-lim-si?” seru pendeta yang lain. “Sejak beberapa hari berselang Hong-thio telah mengeluarkan peraturan bahwa orang luar tidak boleh datang ke kuil. Sebaiknya kau jangan pergi ke kuil!”

Ek Sam Nio terkejut. Kalau mereka tidak bisa masuk dengan menyamar maka penjagaan Siauw-lim-si yang sangat kuat akan sukar ditembus. Sementara itu, melihat isterinya dan Bu Kie berhenti, Touw Pek Tong yang sudah berjalan lebih dahulu juga turut berhenti.

“Mereka keluarga baik-baik,” kata pendeta pertama. “Ibu mencintai anak, anak berbakti pada ibunya. Kita patut menolong mereka. Sute, ajaklah mereka ke dapur. Kalau diketahui pengawas, katakan saja penduduk dusun sini yang biasa menjual kayu bakar.”

“Baiklah,” jawabnya. Dia lalu membawa suami isteri Touw dan Bu Kie ke dapur dengan masuk dari pintu belakang.

Setelah tiga pikul kayu bakar itu dimasukkan ke dalam gudang dan harganya dibayar oleh hwesio pengurus dapur, Ek Sam Nio berkata.

“Kami menanam pie-cay yang amat bagus. Besok aku akan menyuruh A Gu membawa beberapa kati untuk para Suhu di sini sebagai pernyataan terima kasih kami.”

Pendeta yang mengantar mereka tertawa sambil menggelengkan kepalanya. “Tidak bisa,” katanya. “Mulai besok siapa pun juga tidak boleh masuk ke sini. Kalau ketahuan aku bisa celaka.”

Pendeta pengawas dapur mengawasi Bu Kie dan tiba-tiba dia berkata. “Selama perayaan Toan-ngo kita bakal menerima kira-kira seribu tamu. Kita akan sangat repot. Masak, pikul air, bacok kayu bakar dan sebagainya. Kulihat saudara ini memiliki tubuh yang kuat. Apa kau mau membantu di sini selama dua bulan? Setiap bulan kau akan menerima lima tahil perak.”

Ek Sam Nio girang sekali. “Bagus!” katanya. “A Gu, di rumah tidak ada pekerjaan penting. Jika kau bisa bekerja di sini dan mendapat beberapa tahil perak maka kau bisa membantu ongkos rumah tangga.”

Bu Kie merasa sangsi. Di antara tokoh tokoh Siauw-lim-si banyak yang mengenalnya. Jika salah seorang datang ke dapur maka dia bisa dikenali. Karena itu dia lantas berkata,

“Ibu... isteriku...”

Si nenek tidak menyia-nyiakan kesempatan yang begitu baik. Ia segera berkata, “Apa kau takut aku menganiaya isterimu? Turutilah perkataanku. Kau tinggal dan bekerja baik-baik di sini. Beberapa hari lagi ibumu dan isterimu akan menengok kau. Hm...! Kau sudah begitu besar masih belum bisa ditinggalkan ibu. Apa kau masih menetek?” Setelah berkata begitu, sambil membereskan rambutnya dia mengawasi Bu Kie dengan sorot mata penuh cinta.

Dalam menghadapi pertemuan orang gagah, beberapa pendeta pengurus dapur merasa jengkel. Pekerjaan mempersiapkan makanan dan minuman untuk begitu banyak orang bukan pekerjaan enteng. Pendeta pengawas kuil telah mengirim banyak pembantu, tapi semua tidak memuaskan.

Pendeta-pendeta Siaulw-lim-pay jika bukan mempelajari kitab-kitab suci tentu belajar ilmu silat. Tak ada yang suka pekerjaan di dapur. Orang yang dikirim oleh pengawas ke dapur dengan perasaan mendongkol hingga mereka tak mau bekerja di dapur. Apa bila tingkatannya lebih tinggi dari pada pengurus dapur, mereka lebih-lebih sungkan diperintah. Itulah sebabnya mengapa pengurus dapur bertekad mendapat bantuan Bu Kie yang kelihatannya kuat dan rajin. Dia lalu membujuk berulang.

Setelah memperhitungkan untung ruginya, sebenarnya tawaran itu menggirangkan Bu Kie. Tapi dia sengaja mengunjuk laga sangsi. Sesudah pendeta yang mengantarkannya turut membujuk barulah dia mengyiakan dengan tawaran.

“Suhu,” katanya. “Kalau aku bisa minta enam tahil perak sebulan, lima tahil untuk ibu dan setahil untuk isteriku membeli pakaian...”

Pengurus dapur tertawa terbahak-bahak. “Baiklah! Enam tahil perak sebulan!”

Setelah memberi pesan berulang-ulang supaya Bu Kie bekerja baik-baik, barulah Ek Sam Nio turun gunung bersama suaminya. Atas pertanyaan Bu Kie, pendeta pengurus dapur memberi-tahu bahwa namanya sebagai seorang pendeta adalah Hui-ci. Mulai hari itu Bu Kie melakukan berbagai pekerjaan kasar seperti membelah kayu, mengambil arang, menyalakan api, memikul air dan sebagainya. Dia sengaja menghitamkan kulit mukanya hingga waktu berkaca di air, dia sendiri tidak mengenalnya.

Malam itu bersama pekerja lainnya dia tidur di sebuah rumah kecil di samping dapur. Dia tahu bahwa Siauw-lim-si sarang harimau dan di antara pendeta-pendeta yang berkedudukan rendah kadang-kadang terdapat orang yang berkepandaian tinggi. Maka itu dia sangat berhati-hati dalam setiap gerak-geriknya. Selama kurang lebih seminggu, dua kali Ek Sam Nio dan Tio Beng menyambanginya. Dia bekerja keras dari pagi sampai malam dan tidak pernah menampik pekerjaan apa pun hingga pengurus dapur sangat menyayanginya. Dia pun bergaul akrab dengan semua kawan. Tetapi dia tidak berani menanyakan ini itu yang bersangkut paut dengan Cia Sun. Dia hanya memasang kuping dan mata.

Dia berpendapat bahwa mana kala ayah angkatnya memang benar berada di Siauw-lim-si, orang tentu harus mengantarkan makanan. Kalau tugas mengantarkan makanan diberikan kepadanya, dia akan tahu di mana ayah angkatnya dikurung. Tapi sesudah bersabar beberapa hari, dia belum juga menemukan sesuatu yang memberi harapan. Pada hari ke sembilan, selagi tidur lapat-lapat Bu Kie mendengar bentakan-bentakan. Perlahan dia bangun dan setelah mendapat kepastian bahwa semua kawannya sedang tidur pulas, dia segera pergi ke arah suara itu menggunakan ilmu meringankan badan.

Ia sangat berhati-hati. Ia melompat naik ke pohon besar lalu memperhatikan keadaan di seputarnya. Setelah mendapat kepastian bahwa di sekitar tempat itu tidak ada manusianya, barulah berani maju dan kemudian naik lagi ke atas lain pohon. Tidak lama kemudian dia melihat pertempuran yang dilakukan beberapa orang. Dia cepat bersembunyi di balik pohon dan memperhatikan pertempuran itu. Karena berada di hutan yang gelap, dia tidak dapat melihat muka yang berkelahi. Dia hanya melihat berkelebatannya senjata dan enam orang yang tengah bertempur, dengan masing-masing pihak terdiri dari tiga orang.

Selang beberapa saat ia mengenali bahwa pihak yang satu adalah Ceng-hay Sam-kiam yang ketika itu sedang membela diri dengan Sam-cay-tin palsu. ‘Tin’ itu sangat rapat, tapi tiga pendeta Siauw-lim yang bersenjata golok ternyata mempunyai kepandaian tinggi dan terus merangsek dengan hebatnya. Tak lama kemudian salah seorang dari Ceng-hay Sam-kiam roboh terbacok. Begitu lekas ‘tin’ itu pecah, pembelaan diri dari dua orang yang masih hidup lantas menjadi kalang kabut.

Selang beberapa jurus terdengar teriakan menyayat hati dan seorang lagi roboh terguling. Didengar dari suaranya, yang roboh itu adalah Ma Hoat Thong. Orang yang terakhir, yang lengannya sudah terluka, terus melawan dengan nekat. Tiba-tiba salah seorang pendeta membentak.

“Tahan!”

Anggota Ceng-hay Sam-kiam yang masih hidup, yaitu In Ho, tetap dikurung akan tetapi serangan segera dihentikan.

“Ceng-hay Giok-cin-koan dengan Siauw-lim-si sama sekali tidak punya permusuhan,” kata seorang pendeta tua. “Mengapa kalian menyatroni kuil kami di tengah malam?”

“Sesudah kami kalah, perlu apa banyak bicara lagi?” kata In Ho dengan suara parau.

Pendeta tua itu tertawa dingin. “Huh! Kalian datang untuk Cia Sun atau untuk To-liong-to?” tanyanya lagi. “Aku belum pernah mendengar bahwa Giok-cin-koan bermusuhan dengan Cia Sun. Huh huh...! Kalian tentu datang untuk merebut To-liong-to. Dengan kepandaian yang tidak berarti kalian berani menyatroni kuil kami? Selama seribu tahun lebih Siauw-lim-si, kuil kami ini sudah memimpin rimba persilatan. Sungguh tak nyana ada orang yang memandang kami begitu rendah.”

Selagi bicara mendadak In Ho menikam bagaikan kilat. Pendeta itu berkelit, namun tak urung pundak kirinya tertikam juga. Dua kawannya lantas membacok dan In Ho roboh binasa. Tanpa mengeluarkan sepatah katapun ketiga pendeta itu memanggul mayat Ceng-hay Sam-kiam lalu kembali ke kuil. Baru saja Bu Kie hendak menguntit, kupingnya mendengar suara napas.

“Sungguh berbahaya!” pikirnya. Dia tidak berani bergerak.

Berselang sekitar setengah jam, dari rumput tinggi terdengar suara tepukan tangan yang disambut lain-lain tepukan. Di lain saat enam pendeta yang memegang macam-macam senjata muncul dari tempat persembunyian. Kemudian mereka kembali ke kuil dengan berjalan dalam barisan berbentuk kipas. Setelah mereka pergi jauh barulah Bu Kie kembali ke pondokannya. Ternyata para pekerja dapur masih tidur pulas.

“Kalau bukan melihat dengan mata sendiri, aku tidak akan menduga bahwa dalam sekejap tiga orang gagah sudah mengorbankan jiwanya,” pikirnya.

Dengan adanya pengalaman itu maka dia lebih berhati-hati. Beberapa hari kemudian sudah lewat pertengahan bulan empat. Kini udara berubah hangat dan perayaan Toan-ngo berada di ambang pintu. Hari lepas Bu Kie bertambah bingung.

“Kalau tidak nekat tentu aku takkan tahu di mana Gie-hu dikurung,” pikirnya. “Biar bagaimana pun juga malam ini aku harus berani menempuh bahaya.“

Bu Kie tahu bahwa ilmu silatnya lebih tinggi dari pendeta Siauw-lim mana pun juga. Tetapi seorang diri, ia tidak berdaya. Siauw-lim-si sarang harimau dan dengan kekerasan takkan bisa menolong ayah angkatnya. Jalan satu-satunya menggunakan siasat. Malam itu kira-kira tengah malam dia keluar dan melompat ke atas genteng. Tiba-tiba dua bayangan hitam datang dari selatan ke utara. Cepat ia mendekam. Kedua bayangan itu adalah pendeta Siauw-lim yang meronda.

Sesudah peronda itu lewat barulah Bu Kie bergerak maju. Tetapi baru berjalan beberapa tombak, kupingnya mendadak menangkap suara langkah yang sangat enteng. Sekali lagi dia menyembunyikan diri. Yang datang kali ini juga dua peronda. Bu Kie mengerti bahwa penjagaan diperkeras sebab para pemimpin Siauw-lim-si tahu, kali ini kuilnya bakal disatroni banyak tokoh rimba persilatan. Sesudah melihat penjagaan yang hebat itu, Bu Kie merasa bahwa jika dia maju terus maka dia bakal dipergoki.

Tiga hari lewat..... Malam itu geledek bergemuruh, kilat menyambar-nyambar dan turunlah hujan yang sangat besar. Tak kepalang girangnya Bu Kie.

“Thian membantu aku!” katanya dalam hati.

Makin lama hujan makin besar. Langit gelap gulita. Sesudah berdandan rapi, dengan tetap berhati-hati Bu Kie pergi ke gedung sebelah depan.

“Lo-han-tong, Tat-mo-tong, Cong-kek-kok dan tempatnya Hong-thio adalah tempat-tempat penting,” pikirnya. “Biarlah lebih dulu aku menyelidiki di situ.”

Tapi Siauw-lim-si amat besar. Dia tidak tahu di mana Lo-han-tong, di mana Cong-kek-kok. Dengan berindap-indap dia bergerak maju. Waktu tiba di sebuah lorong sayup-sayup dia teringat pernah berada di situ.

Aha, benar...! Dulu waktu dia diajak Thio Sam Hong datang ke Siauw-lim-si untuk meminta pelajaran Siauw-lim Kiu-yang-kang guna mengobati lukanya, dia pernah lewat di lorong itu dan setelah membelok ke kiri dia pergi ke kamar Seng Kun atau Goan-tin. Sesudah berpikir sejenak dia mengambil keputusan menyelidiki kamar rahasia itu.

Perlahan dia terus maju sambil mengingat-ingat jalan yang dulu dilewatinya. Setelah melalui jalan kecil yang tertutup batu-batu sebesar telur itik dan sesudah melewati sebuah hutan bambu tibalah dia di depan kamar Seng Kun.

Jantungnya bergetar keras. Dia tahu Seng Kun berkepandaian tinggi dan banyak akalnya. Jika rahasianya bocor, kesudahannya tidak bisa diramalkan. Ketika itu pakaiannya basah kuyup. Sambil mengentengkan tubuhnya dia menghampiri jendela dan memasang kuping. Di dalam terdengar suara orang. Dengan satu perkataan saja dia lantas mengenali bahwa yang bicara adalah Kong-bun Taysu, Hong-thio atau kepala kuil Siauw-lim-si.

“Karena Kim-mo Say-ong, selama satu bulan ini Siauw-lim-pay sudah membinasakan dua puluh orang,” kata Kong-bun. “Hakekatnya cara ini bukan cara-cara agama kita yang berdasarkan belas kasihan. Beng-kauw Co-su Yo Siauw, Yu-su Han Yauw, Peh-bie Eng-ong dan We It Siauw dengan beruntun sudah mengirim utusan untuk meminta supaya kita melepaskan Cia Sun.”

Mendengar sampai di situ, Bu Kie merasa terhibur. Sedikitnya dia tahu bahwa tokoh-tokoh Beng-kauw sudah bertindak.

Sesudah berdiam sejenak Kong-bun berkata lagi. “Kita menolak, tapi Beng-kauw tak akan menyudahi begitu saja. Kepandaian Thio-kauwcu sangat tinggi, tetapi sampai kini dia belum muncul. Aku kuatir dia bekerja diam-diam.”

“Aku dan Kong-tie Sute pernah ditolong olehnya hingga kami berhutang budi. Mana kala dia sendiri yang minta, bagaimana kita harus menjawabnya? Hari ini ketiga Susiok mencoba bertanya kepada Cia Sun tentang kebinasaan Kong-kian Suheng. Tapi dia tutup mulut. Hal ini benar-benar sukar. Sute, Sutit, bagaimana pikiranmu?”

Seorang tua batuk-batuk beberapa kali. Sesudah itu dia berkata, “Hong-thio Susiok terlalu kuatir. Dengan dijaga ketiga Thay-susiok, Cia Sun takkan bisa lari dan takkan bisa ditolong siapa pun. Eng-hiong Tay-hwee bersangkut paut dengan nama baik Siauw-lim-pay sebagai pemimpin rimba persilatan selama ribuan tahun. Hong-thio Susiok tidak usah terlampau memikirkan budi kecil dari pihak Mo-kauw. Apa lagi dalam urusan ini sesungguhnya secara gelap Mo-kauw telah bersekutu dengan kerajaan Goan dalam usaha mencelakai enam partai. Apa Hong-thio Susiok belum tahu kenyataan ini?”

Bu Kie mengenali bahwa yang berbicara adalah Seng Kun yang dikenal sebagai Goan-tin. Thay-susiok berarti kakek paman guru, ada pun Seng Kun adalah murid Kong-kian. Maka dengan demikian Kong-bun dan Kong-tie adalah paman gurunya. Thay-susiok Seng Kun adalah tokoh-tokoh Siauw-lim-pay yang tingkatannya lebih atas dari pada Kong-kian Taysu dan saudara-saudara seperguruannya.

“Bagaimana Beng-kauw dapat bersekutu dengan kerajaan?” tanya Kong-bun dengan heran.

“Sebenarnya Thio-kauwcu harus menikah dengan Ciu-kouwnio, Ciang-bun-jin Go-bi-pay,” Goan-tin menerangkan. “Tetapi pada hari pernikahan, Kuncu Nio-nio puteri Jie Lam Ong mendadak muncul kemudian kabur bersama bocah she Thio itu. Kejadian ini menggemparkan seluruh Kangouw, maka Hong-thio Susiok tentu sudah mendengarnya.”

“Benar, aku pernah mendengar cerita itu,” kata Kong-bun.

“Di antara jagoan-jagoannya Kuncu Nio-nio itu terdapat orang yang dikenal sebagai Kouw Tauw-to,” kata pula Goan-tin. “Tentunya Jie-wi Susiok sudah pernah bertemu dengan dia di Ban-hoat-si.”

“Hm...!“ Kong-tie mengeluarkan suara di hidung dengan paras muka marah. Rupa-rupanya dia ingat kejadian dahulu. “Sesudah urusan di sini beres, aku ingin pergi ke kota raja mencari Kouw Tauw-to.”

“Apa Jie-wi Susiok tahu siapa sebenarnya Kouw Tauw-to itu?” tanya Goan-tin.

“Dia berpengetahuan luas dan agaknya dia paham segala macam ilmu silat,” kata Kong-tie. “Tetapi aku sendiri tidak dapat melihat asal usulnya.”

“Kouw Tauw-to itu bukan lain dari pada Kong-beng Yu-su Hoan Yauw,” kata Goan-tin.

Kong-bun dan Kong-tie terkejut. “Apa benar?” tanya mereka berbareng.

“Mana berani Goan-tin mendustai Susiok,” jawabnya. “Jika nanti dia benar datang ke sini, Jie-wi Susiok akan bisa membuktikan sendiri.”

Setelah berpikir sejenak Kong-tie berkata, “Kalau begitu memang benar Thio Bu Kie telah bersekutu dengan Kuncu itu. Si Kuncu menangkap tokoh-tokoh enam partai, lalu Thio Bu Kie berlagak melepas budi dan memberi bantuan.”

“Rasanya memang begitu,” sahut Goan-tin.

“Tapi menurut penglihatanku, Thio-kauwcu seorang ksatria yang jujur dan bukan manusia jahat,” kata Kong-bun. “Kita tidak boleh sembarangan menuduh orang baik.”

“Tetapi Hong-thio Susiok jangan lupa bahwa menurut katanya pepatah kita bisa mengenal muka tetapi sukar mengenal hati orang,” kata Goan-tin. “Cia Sun adalah ayah angkatnya Thio Bu Kie. Mungkin sekali tanpa mempedulikan segalanya dan dengan menggunakan segala macam daya, Mo-kauw akan menolong Cia Sun. Pada hari To-say Tay-hwee segala sesuatunya akan menjadi terang.”

Setelah itu mereka bertiga lalu merundingkan soal menyambut tamu, melawan musuh dan menghitung-hitung tokoh tokoh berbagai partai yang berkepandaian tinggi. Kalau didengar dari perkataannya, siasat Goan-tin adalah mengadu domba berbagai partai persilatan dan sesudah partai-partai itu rusak barulah Siauw-lim-pay tampil ke muka dan secara resmi menjadi partai yang menguasai To-liong-to. Setelah itu barulah Cia Sun dibunuh dan diadakan sembahyangan untuk rohnya Kong-kian. Tapi Kong-bun sendiri tampaknya tidak berani memandang enteng kepada Beng-kauw.

“Tapi biar bagaimana pun juga yang terpenting adalah mengorek rahasia di mana adanya To-liong-to dari mulut Cia Sun,” kata Kong-tie. “Apa bila kita tidak berhasil memiliki senjata itu maka To-say Tay-hwee bukan saja tidak ada artinya, bahkan akan menurunkan derajat partai kita.”

“Sute benar,” kata Kong-bun. “Dalam pertemuan itu kita harus memperlihatkan To-liong-to untuk mengangkat tinggi derajat partai. Kita harus bisa mengumumkan bahwa To-liong-to yang termulia di rimba persilatan sudah dikuasai partai kita. Dengan begitu partai kita akan bisa memerintah di rimba persilatan tanpa ada yang berani tidak menurut.”

“Ya, begitu saja,” kata Kong-tie. “Goan-tin, sekarang kau pergilah membujuk Cia Sun agar dia suka memberi-tahu di mana adanya To-liong-to. Katakan kepadanya bahwa jika ia menurut maka kita akan mengampuni jiwanya.”

“Baik,” jawabnya. “Serahkan tugas ini kepada Goan-tin. Aku tanggung sebelum hari Toan-ngo kita sudah memiliki To-liong-to.“

Kemudian terdengar suara langkah yang amat enteng dan bayangan Goan-tin berkelebat keluar dari kamar itu.

Tak kepalang girangnya Bu Kie. Tapi ia mengerti bahwa ketiga pendeta itu berkepandaian tinggi. Kalau ceroboh gerak geriknya bakal diketahui. Makanya ia segera menahan napas. Ia melihat bayangan Goan-tin berlari ke jurusan utara. Dia memakai payung kertas minyak dan jatuhnya air hujan di payung menerbitkan suara yang agak keras. Sesudah musuh itu berjalan belasan tombak barulah Bu Kie berani menguntit.

Dalam keadaan hujan penjagaan banyak kendur. Dengan mengandalkan ilmu ringan tubuh dan dengan bantuan sang hujan, Bu Kie bisa maju terus dengan selamat. Ia melihat Goan-tin melompati tembok di belakang kuil dan terus ke utara.

“Kalau begitu Gie-hu dikurung di luar Siauw-lim-si,” pikirnya.

Ia tidak berani meloncat tembok begitu saja. Ia menempelkan badannya di tembok kemudian memanjat perlahan. Sesudah tiba di atas, ia menunggu sampai peronda lewat dan sesudah itu barulah melompat turun. Ketika itu Goan-tin sudah berada jauh di depan, sekitar seratus tombak. Lapat-lapat ia melihat manusia itu membelok ke kiri kemudian menuju ke sebuah bukit kecil. Goan-tin adalah gurunya Cia Sun dan pada saat itu ia sudah berusia lebih dari tujuh puluh tahun. Tapi ia masih gagah dan gesit. Selagi memanjat bukit, payungnya tidak bergoyang dan tubuhnya seolah-olah ditarik ke atas dengan seutas tambang.

Bu Kie mempercepat langkahnya. Tapi baru saja ia tiba di kaki bukit, dari antara pohon tiba-tiba berkelebat bayangan manusia. Dengan cepat ia menghentikan tindakannya. Sesaat kemudian muncul empat orang, tiga di depan dan satu di belakang yang segera memanjat bukit itu. Bu Kie mengawasi ke atas. Di puncak hanya terdapat beberapa pohon siong yang sudah tua dan sama sekali tidak terdapat rumah atau gubuk.

“Di mana Gie-hu dipenjarakan?” tanyanya dalam hati.

Di puncak itu juga tidak terlihat manusia. Dengan menggunakan ilmu meringankan badan ia segera ikut memanjat bukit. Ke empat orang itu memiliki ilmu meringankan badan yang cukup tinggi. Dalam memanjat bukit mereka seperti juga berjalan di tanah datar. Bu Kie mengempos semangat dan mengejar. Dalam beberapa saat saja ia sudah berada dalam jarak dua puluh tombak dari orang-orang itu. Ia mendapat kenyataan bahwa di antara mereka terdapat seorang wanita. Ketiga pria mengenakan pakaian biasa sehingga bisa dipastikan bahwa mereka itu bukan pendeta Siauw-lim-si.

“Tentu mereka datang untuk mencelakai Gie-hu” pikirnya. “Biarlah mereka bertempur dulu dengan Goan-tin kemudian barulah aku turun tangan.”

Pada waktu mendekati puncak keempat orang itu berlari semakin cepat. Tiba-tiba Bu Kie mengenali dua di antaranya.

“Ahh! Ho Thay Ciong dan Pan Siok Ham!” katanya dalam hati.

Sambil bersiul nyaring sekonyong-konyong Goan-tin memutar tubuh lalu turun kembali dari bukit itu dengan berlarian. Ternyata ia sudah tahu bahwa dirinya dikuntit orang.

Gerakan Bu Kie cepat luar biasa. Begitu melihat Goan-tin memutar tubuh, ia melompat ke rumput tinggi lantas merangkak ke sebelah kiri sehingga dalam sekejap ia sudah berada di tempat puluhan tombak jauhnya. Di lain saat ia mendengar suara beradunya senjata. Dari suara itu ia tahu bahwa dua orang mengeroyok Goan-tin.

“Ahh! Yang dua lagi tentu sedang menyateroni Gie-hu!” pikirnya. Buru-buru ia merangkak keluar dari rumput tinggi dan mendaki bukit secepat mungkin.

Setibanya di puncak, ia merasa sangat heran. Seperti dilihat dari bawah, puncak itu hanya merupakan tanah datar. Di sana hanya terdapat tiga pohon siong tua yang tumbuh dalam bentuk segi tiga.

“Di mana adanya Gie-hu?” tanyanya dalam hati. Sesaat kemudian ia mendengar suara orang.

“Kita harus cepat-cepat turun tangan. Sat-sute dan Lam-sute belum tentu dapat melayani pendeta itu.“ Itu suara Pan Siok Ham.

“Benar,” jawab Ho Thay Ciong.

Dua orang yang mendaki bukit dengan merangkak itu mendadak bangun berdiri, kemudian menerjang ke arah tiga pohon siong. Karena kuatir ayah angkatnya celaka, Bu Kie segera mengejar.

“Huhh!” sekonyong-konyong Ho Thay Ciong mengeluarkan suara seperti orang terluka.

Bu Kie mengawasi. Ia melihat suami isteri Ho itu memutar pedang sambil berdiri di antara ketiga pohon siong. Mereka seperti sedang bertempur tetapi lawannya tak terlihat. Di lain saat terdengar suara.

“Tak! Tak! Tak!”

Pedang kedua suami isteri itu seolah bentrok dengan senjata. Dengan rasa heran Bu Kie mendekat dan tiba-tiba saja ia terkesiap. Di pangkal dua pohon siong yang berada di depannya ternyata terdapat sebuah lubang dan di setiap lubang duduk seorang pendeta tua yang masing-masing memegang seutas tambang untuk menyerang suami isteri Ho.

Pohon yang ketiga membelakangi Bu Kie sehingga keadaannya tidak dapat terlihat. Akan tetapi karena dari samping pohon itu juga keluar seutas tambang, maka dapatlah ditarik kesimpulan bahwa di pangkal pohon itu pun terdapat seorang pendeta. Pada malam yang gelap itu Bu Kie tidak bisa melihat tegas gerakan tiga tambang itu.

Dalam pertempuran itu Ho Thay Ciong dan isterinya terlihat repot sekali. Mereka memutar pedang bagaikan kitiran dan membuat garis pembelaan yang sangat rapat. Beberapa kali mereka membentak keras dan coba menerjang keluar, namun selalu dipukul balik dengan ketiga tambang itu.

Bu Kie kaget tercampur kagum. Tambang hitam itu sama sekali tak mengeluarkan suara. Kenyataan ini membuktikan bahwa Iweekang ketiga pendeta itu sudah mencapai puncak kesempurnaan.

“Goan-tin mengatakan bahwa Gie-hu dijaga tiga Thay-susioknya,” pikir Bu Kie, “Tiga pendeta itu tentulah paman guru dari Kong-bun dan Kong-tie. Mereka memiliki Iweekang yang sudah dilatih selama tujuh puluh tahun. Kalau aku harus melawan mereka, pasti akan kalah.”

Mendadak terdengar teriakan menyayat hati. Teriakan itu keluar dari Ho Thay Ciong yang punggungnya terpukul tambang hingga tubuhnya terlempar keluar dari gelanggang. Ia jatuh rebah dan kelihatannya sudah binasa. Pan Siok Ham marah dan sedih. Karena tidak waspada pada lain detik kepalanya terpukul pecah. Seutas tambang menyambar lalu melemparkan mayatnya keluar gelanggang.

Sementara itu Goan-tin berkelahi sembari mundur. “Mari! Mari! Kalau kalian berani, maju terus untuk menerima kebinasaan!” ia berteriak berulang untuk memancing lawannya.

Orang she Sat dan she Lam itu adalah jago Kun-lun-pay. Mereka tahu bahwa si pendeta tengah memancing mereka, tapi mereka tidak takut dan terus mendesak. Dalam ilmu silat, meski pun dikeroyok Goan-tin tidak kalah. Tetapi menurut perhitungannya, paling banyak ia hanya bisa membinasakan seorang lawan dan yang lain tentu melarikan diri. Makanya ia memancing mereka ke pohon siong supaya keduanya bisa dibunuh oleh Thay-susioknya.

Waktu sudah berada dalam jarak beberapa tombak dari pohon siong, kedua jago Kun-lun itu mendadak melihat mayat Ho Thay Ciong. Dengan serentak mereka berhenti. Tiba-tiba dua utas tambang menyambar dan melibat pinggang mereka. Dengan sekali sentak tambang-tambang itu sudah melempar tubuh mereka. Di tengah udara mereka berteriak, lalu jatuh tanpa bernyawa lagi.

Bu Kie meleletkan lidah melihat cara ketiga pendeta itu membinasakan empat tokoh Kun-lun-pay. Itulah kepandaian yang belum pernah dilihatnya. Kepandaian itu malah lebih tinggi dari pada yang dimiliki Hian-beng Jie-lo. Walau pun belum bisa menyamai Thio Sam Hong tetapi kepandaian mereka sudah boleh dikatakan mencapai puncak kesempurnaan.

Bahwa Siauw-lim-pay masih memiliki tetua yang berkepandaian demikian tinggi mungkin tidak diketahui oleh Thio Sam Hong dan Yo Siauw yang berpengetahuan luas. Hati Bu Kie berdebar-debar. Ia terus mendekam di rumput tinggi tanpa berani bergerak.


OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia