ads

Jumat, 16 Oktober 2026

To Liong To 21

PEH-BIE ENG-ONG SANG GWA-KONG

Boh Seng Kok tahu bahwa lawannya takkan menyerang lebih dulu. Maka itu, tanpa sungkan lagi dia lantas membuka serangan dengan pukulan Pek-niauw Tiauw-hong (Ratusan burung menghadap burung Hong). Dengan tergetarnya ujung pedang sehingga seolah-olah puluhan batang pedang yang menyambar, beberapa pukulan ini masih tetap merupakan Kiam-hoat penghormatan terhadap seorang yang dituakan.

Sambil menangkis dengan toya buntung di tangan kirinya, In Thian Ceng berkata, “Bocah Cit-hiap tak usah berlaku sungkan.”

Setelah lewat gebrakan pertama, pertempuran lantas berlangsung dengan hebatnya. Dengan senjata yang lebih berat, gerakan In Thian Ceng terlihat kaku dan lambat. Akan tetapi orang yang berkepandaian tinggi mengetahui bahwa si kakek melayani lawannya dengan pukulan yang disertai Iweekang yang sangat tinggi. Di lain pihak Boh Seng Kok menyerang bagaikan harimau edan dan dalam sekejap dia telah mengirim lebih dari enam puluh serangan yang membinasakan. Makin lama Boh Seng Kok menyerang semakin cepat sehingga belakangan orang hanya bisa melihat berkelebatnya sinar pedang tetapi tidak bisa mengenali lagi gerakan pukulan-pukulannya.

Kun-lun dan Go-bi adalah partai yang terkenal ilmu pedangnya. Tapi meski begitu, orang-orang dari kedua partai tersebut masih merasa amat kagum akan lihainya Boh Cit-hiap. Mereka harus mengakui bahwa tersohornya Bu-tong Kiam-hoat bukan nama kosong belaka. Biar pun sudah menyerang bagaikan topan akan tetapi pedang Boh Seng Kok masih tidak bisa menembus garis pertahanan si kakek.

“Si tua telah merobohkan seorang tokoh Hoa-san-pay dan tiga jago Siauw-lim,” pikir Boh Seng Kok. “Dia juga sudah bertempur melawan Suko sehingga aku adalah lawannya yang ke lima. Jika aku tidak memperoleh kemenangan, di mana aku harus menaruh muka Bu-tong-pay?” Setelah berpikir demikian, seraya membentak keras dia mengubah Kiam-hoatnya. Mendadak pedangnya yang kaku menjadi lemas seperti ikatan pinggang. Itulah Jiauw-cie Jiu-kiam (Ilmu pedang lembek memutari jari tangan) dari Bu-tong-pay yang kesemuanya memuat tujuh puluh dua jurus. Tanpa tertahan lagi para penonton bersorak sorak.

Mau tidak mau In Thian Ceng terpaksa mengubah cara bersilatnya. Kini dia menggunakan ilmu meringankan badan dan melawan dengan kecepatan pula. Se-konyong-konyong Boh Seng Kok membentak dan pedangnya menyambar dada lawan. Tetapi sebelum menyentuh dada, ujung pedang itu tiba-tiba membengkok dan menyambar pundak kanan si kakek. Dalam menggunakan Jiauw-jie Jiu-kiam, orang harus mempunyai Iweekang yang sangat tinggi agar dapat mengubah sifat pedang dari kaku menjadi lemas. Dapat dimengerti bahwa serangan pedang yang lemas seperti ikat pinggang sangat sukar ditangkis. Walau pun berpengalaman, In Thian Ceng belum pernah bertemu dengan Kiam-hoat yang seaneh ini. Demikianlah, melihat sambaran pedang di pundaknya, ia mengegos karena sudah tidak keburu untuk menangkis lagi.

“Cringg...!”

Mendadak terdengar suara, ujung pedang membal dan menikam lengan kirinya! Hampir berbareng dengan tikamannya yang tepat itu, In Thian Ceng mengulurkan tangan kanannya. Entah bagaimana tangan itu mulur setengah kaki dan menyapu pergelangan Boh Seng Kok! Sambaran kilat itu berhasil merampas pedang Boh Cit-hiap! Lebih celaka lagi, tangan kanan si kakek sudah menempel pada Kian-tin-hiat di pundak Boh Seng Kok.

Eng-jiauw Kim-na-chiu (cengkeraman cakar burung elang) dari Peh-bie Eng-ong ialah satu ilmu yang sangat tersohor di rimba persilatan. Pada jaman itu tidak ada manusia yang dapat menandinginya. Sekali dia mencengkeram dengan menggunakan Iweekang, maka tulang pundak Boh Cit-hiap akan hancur seumur hidup dan ia akan menjadi seorang yang bercacad. Para pendekar Bu-tong terkejut tak kepalang. Tetapi baru saja mereka hendak melompat dengan niat memberi pertolongan, si kakek menghela napas lantas berkata dengan suara duka,

“Satu saja sudah lebih dari pada cukup, perlu apa terulang lagi?”

Dia melepaskan cengkeramannya dan tangan kanannya menarik pedang yang dirampas. Begitu pedang tercabut, darah mengucur dari lengan kirinya. Seraya memandangi pedang itu dia kembali berkata,

“Selama puluhan tahun lohu belum pernah dikalahkan. Thio Sam Hong, kau benar-benar lihai!”

Boh Seng Kok berdiri terpaku dan mengawasi dengan mulut ternganga. Lewat beberapa saat barulah dia dapat membuka mulut.

“Terima kasih atas budi kebaikan Locianpwe yang sudah menaruh belas kasihan.”

Tanpa menjawab In Thian Ceng mengangsurkan pedang yang sudah dirampasnya. Tetapi Boh Cit-hiap merasa malu dan segera mengundurkan diri tanpa menerima senjatanya.

Bu Kie segera merobek tangan bajunya. Tapi baru saja dia hendak maju untuk membalut luka kakek luarnya, dari barisan Bu-tong sudah keluar seorang laki-laki berjenggot hitam yang melambai sampai di dada dan mengenakan pakaian imam. Orang itu bukan lain dari pada Song Wan Kiauw, kepala Bu-tong Cit-hiap.

“Perkenankan aku untuk membalut luka Locianpwe,“ katanya dengan suara manis. Tanpa menunggu jawaban dia mengeluarkan obat, melaburnya di luka si kakek dan membalutnya dengan sapu tangan.

Melihat keangkeran dan keagungan Song Wan Kiauw, baik orang Peh-bie-kauw maupun Beng-kauw tidak merasa curiga.

”Terima kasih,” kata In Thian Ceng.

Bu Kie girang. “Mungkin karena merasa berterima kasih, Song-supek telah membalut luka Gwa-kong,” pikirnya. “Semoga permusuhan bisa habis sampai di sini.”

Akan tetapi di luar dugaan, sesudah selesai membalut, Song Wan Kiauw mundur setindak lantas berkata seraya mengibas tangannya.

“Aku yang rendah ingin minta pengajaran dari Locianpwe!”

Bu Kie terkesiap. Tanpa terasa dia berteriak. “Itu tidak adil! Melawan seorang tua bergiliran adalah perbuatan yang tidak adil!”

Semua orang menengok dan mengawasi pemuda yang berpakaian compang camping itu. Kecuali orang Go-bi-pay, Song Ceng Su, In Lie Heng. Swee Put Tek dan beberapa orang lain, tidak ada yang tahu siapa adanya Bu Kie. “Tak salah ucapan sahabat kecil itu,” kata Song Wan Kiauw. “Hari ini kita boleh menunda permusuhan antara Bu-tong dan Peh-bie-kauw. Akan tetapi sekarang ini adalah saat yang memutuskan dalam pergulatan antara enam partai dengan Beng-kauw. Maka itu kami dari Bu-tong-pay menantang pihak Beng-kauw.”

Dengan matanya yang amat tajam, perlahan In Thian Ceng menyapu seluruh lapangan. Yo Siauw, Wie It Siauw dan pemimpin Beng-kauw lainnya belum dapat bergerak. Jago-jago Ngo-heng-kie sudah roboh semua, kalau tidak binasa tentu luka berat. Puteranya sendiri, In Ya Ong, menggeletak dalam keadaan pingsan. Di kalangan Beng-kauw hanya dia seorang yang masih mampu menandingi Song Wan Kiauw. Tetapi sesudah melawan lima jago, dia mulai lelah dan di samping itu dia pun sudah terluka. Pada saat si kakek mengasah otak untuk mencari jalan keluar, seorang tua yang bertubuh kecil dari rombongan Khong-tong-pay tiba-tiba berteriak.

“Tenaga Mo-kauw telah musnah. Kalau sekarang kalian tidak mau takluk, mau tunggu sampai kapan lagi? Kong-tie Taysu! Mari kita hancurkan sin-wie (tempat pemujaan) dari tiga puluh tiga Kauwcu Mo-kauw!”

Dalam gerakan membasmi Beng-kauw, Hong-thio (kepala kuil) Siauw-lim-si, yaitu Kong-bun Taysu, tidak turut serta karena dia harus tetap menjaga kuil Siauw-lim-si di Siong-san. Maka itu murid-murid Siauw-lim-si dipimpin oleh Kong-tie Taysu. Karena Siauw-lim-si memiliki kedudukan yang sangat tinggi di rimba persilatan, maka partai-partai yang ikut dalam gerakan ini dengan suara bulat telah mengangkat Kong-tie Taysu sebagai pemimpin. Sebelum Kong-tie menjawab, seorang dari Hoa-san-pay telah mendahului.

“Apa? Takluk? Hari ini tak satu pun dari kawanan Mo-kauw yang boleh dibiarkan hidup terus. Kita harus membasmi sampai ke akarnya. Bila masih ada yang ketinggalan, di kemudian hari dunia kangouw bisa dikacaukan lagi. Hei kawanan Mo-kauw! Lebih baik kalian menggorok leher sendiri supaya tuan besarmu tak usah berabe!”

Diam-diam In Thian Ceng mengerahkan Iweekang. Ia merasa lengan kirinya tertusuk pedang sampai ke tulang dan pada waktu mengerahkan tenaga dalam, ia merasa sangat sakit. Ia maklum bahwa sebagai murid kepala Thio Sam Hong, Song Wan Kiauw sudah mendapat seluruh kepandaian guru besar itu. Dalam keadaan segar belum tentu ia bisa memperoleh kemenangan, apa lagi sekarang setelah ia lelah dan terluka. Tapi karena jago Beng-kauw lainnya sudah binasa atau terluka berat, maka baginya tidak ada pilihan lain kecuali hanya mengadu jiwa. Ia tidak takut mati, ia hanya merasa sayang bahwa nama besarnya yang sudah dijaga seumur hidup bakal segera hancur.

“In-locianpwe,” kata Song Wan Kiauw. “Di antara Bu-tong-pay dan Peh-bie-kauw terdapat permusuhan yang dalam bagaikan lautan. Tapi kami tak ingin menggunakan kesempatan pada waktu musuh sedang menghadapi bahaya. Maka itu persoalan ini dapat ditunda dan diperhitungkan di kemudian hari. Tujuan dari enam partai adalah menyerang Beng-kauw, sedangkan Peh-bie-kauw sudah memisahkan diri dari Beng-kauw dan kenyataan ini telah diketahui semua orang. Perlu apa In-locianpwe ikut menceburkan diri? Kuharap Locianpwe suka mengajak semua anggota Peh-bie-kauw turun gunung.”

Semua orang tahu bahwa karena urusan Jie Thay Giam, Bu-tong-pay bermusuhan hebat dengan Peh-bie-kauw. Karena itu perkataan Song Wan Kauw yang membuka jalan hidup bagi Peh-bie-kauw sudah membangkitkan rasa heran dan kagum di hati semua orang. In Thian Ceng tertawa ter-bahak.

“Song-tayhiap, banyak terima kasih untuk maksudmu yang sangat baik,” katanya. “Tetapi biar bagaimana pun juga lohu adalah salah seorang dari empat Hu-kauw Hoat-ong. Meski pun benar lohu sudah mendirikan agama lain, tapi jika Beng-kauw berada dalam keadaan bahaya, pasti lohu tidak dapat hanya berpeluk tangan di luar gelanggang. Hari ini lohu rela mengorbankan jiwa. Song-tayhiap, kau mulailah!” Seraya berkata begitu dia maju setindak dan memasang kuda-kuda.

“Baiklah!” kata Song Wan Kiauw.

Dia mengangkat telapak tangan kirinya dan menempelkan tinju kanan pada telapak kanan itu. Itulah Ceng-chiu-sit, gerakan yang memberi hormat kepada seorang yang tingkatannya lebih tinggi. Bu-tong-pay adalah partai yang belum lama didirikan dan dalam menggubah ilmu silat Bu-tong, Thio Sam Hong menggunakan cara tersendiri, lain dari pada yang lain. Karena itu gerakan Song Wan Kiauw tidak dikenal In Thian Ceng. Tapi begitu melihat lawannya agak membungkuk, dia tahu bahwa Wan Kiauw memberi hormat sehingga oleh karenanya dia berkata,

“Song Taihap, jangan berlaku sungkan.”

Sambil berkata begitu dia mengangkat kedua tangannya ke dada untuk membalas hormat. Menurut kebiasaan, Wan Kiauw harus maju dan menyerang. Akan tetapi berbeda dengan kebiasaan, Song-tayhiap mengirim pukulan tanpa bertindak maju. Pukulan itu dikirim dari jarak satu tombak lebih.

In Thian Ceng terkejut. “Apakah ilmu silat Bu-tong sudah begitu lihai sehingga memiliki Sin-kang Khek-san Pah-gu (dengan teraling gunung memukul kerbau, semacam ilmu yang dapat merobohkan lawan dari jarak jauh dengan ‘angin’ pukulan yang disertai lweekang tertinggi)?” tanyanya dalam hati. Buru-buru dia mengerahkan tenaga dalam dan mengibaskan tangan kanannya untuk menangkis. Tetapi sekali lagi dia terkejut karena sampokannya tidak terbentur dengan tenaga lawan. Dalam kagetnya dia pun merasa heran.

“Sudah lama aku sangat mengagumi ilmu Locianpwe dan guruku pun sering menyebutkan kepandaian Locianpwe yang sangat tinggi,” kata Song Wan Kiauw. “Akan tetapi sekarang Locianpwe sudah bertanding dengan beberapa orang, sedangkan Boanpwe masih segar, sehingga kalau kita mengadu kepandaian menurut cara yang biasa maka pertandingan itu amat tidak adil. Sekarang begini saja, kita hanya mengadu jurus tanpa mengadu tenaga.“

Seraya berkata begitu dia menendang dari jarak satu tombak lebih. Tendangan itu cepat bagaikan kilat dan dikirim dari arah yang tidak diduga-duga sehingga sukar dielakkan dan dalam pertempuran biasa pasti akan dapat merobohkan seorang ahli silat yang ternama.

“Sungguh indah tendangan itu!” In Thian Ceng memuji seraya meninju. Dengan tinju itu, yaitu siasat membela diri dengan menyerang, si kakek berhasil memunahkan tendangan Wan Kiauw, yang lantas saja membalas pukulan telapak tangan.

Demikianlah, mereka mulai serang menyerang dari jarak jauh. Makin lama silat mereka makin cepat. Walau pun mereka bertempur dari jarak jauh tetapi semua pukulan tidak disertai tenaga dalam dan tidak menyentuh badan. Namun keduanya adalah ahli silat kelas utama, maka masing-masing tahu kalah menangnya. Andai kata pukulan yang satu tidak mampu dipunahkan pihak yang lain, maka pihak yang kalah takkan bisa tidak mengakui akan kekalahannya. Bukan hanya dia, tetapi ahli silat lain yang memiliki kepandaian tinggi pun bisa mengikut jalannya pertempuran luar biasa ini.

Mereka berdua bertanding hebat sekali, tidak kalah hebatnya seperti dalam pertandingan sungguhan. Sesuai dengan azas ilmu silat Bu-tong, Song Wan Kiauw menggunakan ilmu bersifat ‘lembek’ untuk menindih ‘kekerasan’ lawan, sedang In Thian Ceng mengutamakan ‘kekerasan’ untuk menghancurkan ‘kelembekan’ orang.

Pada waktu In Thian Ceng melawan Thio Siong Kee dan Boh Seng Kok, Bu Kie tidak bisa memperhatikan semua jurus mereka karena dia dalam kebingungan dan berkuatir akan keselamatan mereka. Tetapi sekarang, karena mengetahui bahwa pertandingan itu hanya memutuskan kalah dan menang dan tidak membahayakan jiwa, maka dengan lega hati ia bisa memusatkan seluruh perhatiannya kepada jalan pertempuran. Semakin lama dia menonton, makin besar pula rasa tak mengertinya.

“Gwa-kong dan Song Toa-supek adalah ahli utama di rimba persilatan, tapi mengapa ilmu silat mereka begitu banyak cacadnya?” tanyanya dalam hati. “Bila lengan Gwa-kong ke kiri setengah kaki, tinjunya yang tadi pasti akan mampir tepat di dada Toa-supek. Bila sambaran tangan Toa-supek terlambat satu detik, cengkeramannya ke arah pundak Gwa-kong tentu berhasil. Apakah mereka memang sengaja saling mengalah? Tapi jika ditinjau dari jalannya pertempuran, kelihatannya bukan begitu.”

Memang. Dalam pertandingan jarak jauh ini baik In Thian Ceng mau pun Song Wan Kiauw tidak saling mengalah. Adalah tidak benar jika dikatakan bahwa kepandaian kedua jago itu banyak cacadnya. Sebab musabab dari masuknya jalan pikiran tadi ke dalam otak Bu Kie adalah karena setelah memiliki Kiu-yang dan Kian-kun Tay-lo-ie Sin-kang, dalam ilmu silat pemuda itu sudah lebih unggul setingkat dari pada In Thian Ceng dan Song Wan Kiauw. Pukulan yang dapat dibayangkan dan dapat pula dilakukan oleh Bu Kie, tidak akan dapat dilakukan oleh In Thian Ceng dan Song Wan Kiauw mau pun oleh jago lainnya. Sebagai contoh, kalau seekor burung yang terbang di angkasa melihat cara berkelahinya dua ekor harimau, dia bisa bertanya di dalam hatinya.

“Mengapa harimau itu tidak mau terbang menubruk musuhnya? Apa bila si harimau mau berbuat begitu, bukankah dia akan mendapat kemenangan?” si burung tidak tahu bahwa harimau tidak mampu terbang.

Karena belum cukup berpengalaman, sebab musabab itu belum dapat dipikir Bu Kie. Sesudah bertanding beberapa lama lagi, mendadak saja Song Wan Kiauw mengubah cara bersilatnya. Kedua tangannya seperti menari-nari dan gerakan-gerakannya lemas laksana kapas. Itulah Bian-ciang (ilmu pukulan kapas) dari Bu-tong-pay. In Thian Ceng membentak keras dan memperhebat serangannya dalam ilmu silat keras untuk melawan pukulan ‘lembek’ dari lawannya.

Lewat beberapa saat kemudian, sekonyong-konyong telapak tangan kiri Song Wan Kiauw menyambar, disusul dengan pukulan telapak tangan kanan yang meski dikirim belakangan tetapi tiba lebih dulu. Hampir berbareng, telapak tangan kirinya miring dan menyusul pula dari belakang. Melihat seluruh tubuhnya sudah ditutup dengan pukulan lawan, seraya berteriak In Thian Ceng mengulurkan kedua tinjunya. Semua orang terkejut. Dua telapak tangan dan dua tinju menempel satu sama lain di tengah udara! Setelah mengeluarkan seluruh kepandaian dan ketika sampai gebrakan yang menentukan, kedua jago itu tidak bisa berbuat lain kecuali mengadu tenaga lawan. Mendadak Song Wan Kiauw tersenyum dan menarik pulang kedua tangannya.

“Ilmu silat Locianpwe tinggi luar biasa dan Boanpwe merasa takluk,” katanya seraya membungkuk.

In Thian Ceng pun cepat-cepat menarik pulang tinjunya dan berkata dengan suara manis,

“Sekarang lohu mengakui bahwa semenjak dulu Ciang-hoat (Ilmu pukulan dengan tangan kosong) dari Bu-tong-pay tiada tandingannya di dunia.”

Karena sudah berjanji untuk tidak bertanding dengan menggunakan tenaga dalam, maka pertandingan itu tidak dapat dilangsungkan lagi. Di pihak Bu-tong-pay masih ada Jie Lian Ciu dan In Lie Heng yang belum turun ke gelanggang. Ketika itu muka In Thian Ceng berwarna merah dan di atas kepalanya keluar uap dari hawa panas. Biar pun dalam pertandingan tadi dia tidak mempergunakan tenaga dalam, tetapi karena lawannya terlalu kuat dan dia bersilat menggunakan seluruh kepandaiannya, maka sekarang tenaganya habis sama sekali. Karena itu jika turun ke gelanggang, Jie Lian Ciu atau In Lie Heng dengan mudah bisa merobohkannya dan mendapat nama besar sebagai jago yang telah menjatuhkan Peh-bie Eng-ong.

Kedua pendekar Bu-tong itu mengawasi, kemudian menggelengkan kepalanya. Mereka sungkan menggunakan kesempatan selagi lawan habis tenaganya. Mereka yakin bahwa mereka akan menang, tapi kemenangan itu bukan kemenangan yang boleh dibanggakan. Kalau tokoh Bu-tong berpikir begitu, tetapi orang lain tidak demikian. Dari barisan Khong-tong-pay tiba-tiba melompat keluar seorang tua yang bertubuh kate kecil. Dia adalah orang yang menyarankan untuk membakar tempat pemujaan para kauwcu Beng-kauw. Begitu berhadapan dengan In Thian Ceng dia berkata,

“Aku si orang she Tong ingin bermain-main sedikit dengan In-lojie.“ Tantangan ini ia keluarkan dengan suara yang amat memandang rendah.

Peh-bie Eng-ong melirik dan mengeluarkan suara di hidung. “Dalam waktu biasa, Khong-tong Ngo-lo tidak masuk dalam hitungan,” pikirnya. “Sungguh celaka! Benar juga kata orang bahwa harimau yang kesasar di tanah datar akan dihina oleh kawanan anjing. Aku rela kalau roboh di tangan Bu-tong Cit-hiap, tetapi terhadap Tong Bun Liang, tak akan aku mau mengalah.“ Waktu itu ia merasa sekujur badannya lemas dan keinginan satu-satunya adalah merebahkan diri di pembaringan. Tapi mendengar tantangan Bun Liang, darahnya meluap dan alisnya yang putih berdiri. Sambil mengempos sisa tenaganya yang penghabisan, ia membentak,

“Bocah! Kau mulailah!”

Tetua Khong-tong itu mengerti bahwa sesudah kehabisan tenaga, dalam beberapa jurus saja In Thian Ceng akan roboh sendiri. Maka itu tanpa mengeluarkan sepatah katapun dia segera melompat ke belakang musuhnya lantas mengirim tinju ke punggung Peh-bie Eng-ong. In Thian Ceng cepat mengegos sambil menangkis, tapi Tong Bun Liang sudah melompat ke samping dengan gerakan yang sangat gesit. Benar saja, baru beberapa gebrakan mata In Thian Ceng gelap dan memuntahkan darah dari mulutnya. Badannya bergoyang-goyang dan tanpa tercegah lagi, dia pun jatuh duduk. Tong Bun Liang girang bukan kepalang.

“In Thian Ceng! Hari ini kau harus mampus di tanganku!” teriaknya seraya melompat ke atas.

Melihat Tong Bun Liang melompat tinggi dan dari atas menghantam ke bawah, hati Bu Kie terkesiap dan mengambil keputusan untuk menolong kakeknya. Tapi sebelum ia bergerak, In Thian Liang sudah mengangkat tangan kanannya dalam suatu gerakan menyeramkan untuk menyambut musuhnya. Tong Bun Liang sudah tidak dapat mengelakkan sambutan itu.

“Krek...! Krek...!”

Kedua tangan jago Khong-tong itu patah karena pukulan Eng-jiauw Kim-na-chiu.

“Krek...! Krek...!”

Sekali lagi terdengar suara dan tulang kedua betisnya juga turut patah. Tong Bun Liang jatuh ambruk tanpa bisa bergerak lagi. Semua orang mengawasi dengan mata membelalak. Mereka tak pernah menduga bahwa sesudah terluka berat, In Thian Ceng masih bisa berbuat begitu. Dengan robohnya tetua mereka yang ketiga, orang Khong-tong tentu saja merasa malu. Karena Tong Bun Liang menggeletak di dekat Peh-bie Eng-ong, tak ada seorang pun yang berani maju menolong. Setelah berselang beberapa saat, dari rombongan Khong-tong-pay barulah keluar seorang tua bongkok yang bertubuh tinggi besar. Sambil menendang sebutir batu ke arah In Thian Ceng si kakek membentak,

“Peh-bie Lo-jie! Biarlah aku si orang she Cong membereskan perhitungan lama denganmu.

Si Bongkok itu she Cong bernama Wie Hiap, tetua kedua dari Khong-tong Ngo-lo. Dengan menyebut ‘perhitungan lama’ dapatlah diketahui bahwa dulu dia sudah pernah dirobohkan oleh In Thian Ceng.

“Takk!”

Batu yang ditendang Cong Wie Hiap mampir tepat di dagu In Thian Ceng yang lantas saja mengucur darah. Semua orang terkejut, terhitung Cong Wie Hiap sendiri yang sama sekali tidak menduga bahwa batu itu bisa melukai musuhnya. Sekarang dia tahu bahwa In Thian Ceng tidak berdaya lagi, dengan satu pukulan saja sudah cukup untuk membinasakannya. Dia maju seraya mengangkat tangannya.

Dari barisan Bu-tong-pay tiba-tiba melompat keluar seseorang yang menghadang di depannya. Orang yang berparas angker dan mengenakan jubah panjang yang terbuat dari kain kasar itu bukan lain dari pada Bu-tong Jie-hiap Jie Lian Ciu. Sambil menjura Jie-hiap berkata,

“Cong-heng, In-kauwcu telah terluka berat sehingga biar pun kau menang, kemenangan itu bukanlah kemenangan yang gemilang. Dengan partai kami In-kauwcu mempunyai perhitungan yang belum dibereskan. Maka itu siauwte harap Cong-heng suka menyerahkannya kepada siauwte.”

Cong Wie Hiap mengeluarkan suara di hidung. “Terluka berat?” Dia menegas. “Huh-huh! Dia berlagak mampus. Kalau tadi dia tidak berpura-pura, tentu Tong Sam-te tidak sampai celaka. Jie Jie-hiap, kau mengatakan partaimu memiliki perhitungan dengan dia. Tapi aku pun mempunyai perhitungan dengan dia. Aku akan menyerahkan dia kepadamu sesudah menghajarnya tiga kali...”

Jie Lian Ciu yang ingin menolong In Thiang Ceng, lantas berkata. “Cit-siang-kun dari Cong-heng tersohor di rimba persilatan. Dalam keadaan begini, mana bisa In-kauwcu menerima tiga pukulanmu?”

Paras muka jago Khong-tong itu lantas berubah. “Kalau begitu, begini saja,” katanya dengan suara mendongkol. “Dia telah mematahkan kaki tangan Tong Sam-te, maka aku akan mematahkan kaki tangannya juga. Inilah yang dinamakan pembayaran tunai.”

Jie Lian Ciu kelihatan sangsi.

“Jie Jie-hiap!” bentak Cong Wie Hiap. “Sebelum berangkat ke See-hek, enam partai sudah membuat persekutuan dengan sumpah yang berat. Kenapa sekarang kau ingin melindungi Si tua bangka dari Mo-kauw itu?”

Jie-hiap menghela napas. “Baiklah, sekarang kau boleh berbuat sesukamu,” katanya. “Tapi sesudah kembali ke Tiong-goan, aku akan minta pengajaran dari Cit-siang-kun mu.”

Cong Wie Hiap terkejut. Dia tidak mengerti mengapa Jie Lian Ciu coba menolong In Thian Ceng. Dia merasa jeri terhadap Bu-tong-pay, tapi dia tak mau menunjukkan kelemahannya di hadapan banyak orang. Seraya tertawa dingin, dia berkata.

“Di dunia orang tidak boleh melampui kepantasan. Biar pun Bu-tong-pay lebih kuat dari pada sekarang, dia tidak boleh berbuat sewenang-wenang.”

Kata-kata itu sangat tajam, secara langsung menyeret nama partai dan secara tidak langsung menyentuh Thio Sam Hong sendiri. Song Wan Kiauw menjadi dongkol.

“Jie-te!” serunya. “Biarkan dia berbuat sesukanya!”

“Baiklah,” jawab si adik. “Sungguh seorang gagah sejati! Sungguh seorang gagah sejati!”

Perkataan itu seperti juga mau memuji In Thian Ceng sekaligus mengejek Cong Wie Hiap. Tetapi karena tidak mau bermusuhan dengan Bu-tong-pay, tetua Khong-tong itu berlagak tidak mengerti. Begitu lekas Jie Lian Ciu mundur, dia segera maju mendekati korbannya. Sementara itu Kong-tie Taysu mengeluarkan perintah dengan suara yang sangat lantang.

“Aku minta Hoa-san-pay dan Khong-tong-pay membinasakan sisa kawanan Mo-kauw yang ada di lapangan ini. Bu-tong-pay menggeledah sebelah barat dan Go-bi-pay menggeledah sebelah timur. Seorang pun tidak boleh ada yang lolos. Kun-lun-pay menyediakan bahan api untuk membakar sarang Mo-kauw.”

Sesudah membagi tugas kepada lima partai, dia merangkapkan kedua tangannya seraya berkata,

“Aku minta murid Siauw-lim-si menyediakan alat sembahyang dan membaca kitab suci supaya para enghiong dari enam partai dan para pengikut Mo-kauw yang sudah meninggal dunia bisa mendapatkan tempat yang lapang di alam baka dan supaya hutang piutang ini bisa berakhir sampai di sini.”

Selagi Kong-tie mengeluarkan perintah, Cong Wie Hiap menghentikan perbuatannya dan ikut mendengarkan. Sesaat kemudian dia maju lagi. Semua orang menahan napas. Begitu lekas pukulan dikirim, In Thian Ceng pasti segera binasa dan usaha membasmi Mo-kauw turut selesai. Pada detik menghadapi kemusnahan, kecuali yang terluka berat dan tidak dapat bergerak lagi, semua anggota Beng-kauw segera bersila di lantai dengan dua tangan yang sepuluh jarinya terpentang. Itu adalah simbol dari api yang berkobar. Sambil memeramkan mata mereka mengikuti Yo Siauw berdoa menurut cara Beng-kauw

‘Membakar ragaku,
Api nan suci,
Hidup, apa senangnya,
Mati, apa susahnya?
Untuk kebaikan menyingkirkan kejahatan,
Guna kegemilangan Beng-kauw,
Kesenangan dan kedukaan,
Semua berpulang ke dalam tanah,
Kasihan manusia dalam dunia,
Banyak yang menderita!
Kasihan manusia dalam dunia,
Banyak yang menderita!’


Dalam mengucapkan doa itu, dari Yo Siauw yang berkedudukan paling tinggi sampai pada pegawai dapur yang berkedudukan paling rendah, sedikit pun mereka tidak mengunjuk rasa takut, suara mereka lantang dan sikap mereka pun angker. Jie Lian Ciu mendengarkan dengan hati penuh duka. Ia merasa bahwa mereka yang bisa bersikap tabah dalam menghadapi kebinasaan, bahkan masih dapat mengasihani manusia yang hidup menderita, adalah orang gagah yang berwatak mulia.

“Pendiri Beng-kauw adalah seorang mulia, hanya sayang pengikutnya yang belakangan sudah menyeleweng dari jalan yang benar!” katanya di dalam hati.

Sementara Bu Kie yang semula merasa keder karena menghadapi begitu banyak orang, sekarang menjadi nekat. Ia nekat karena Cong Wie Hiap sudah mendekati kakeknya dan Kong-tie telah mengeluarkan perintah membunuh sisa anggota Beng-kauw. Dengan sekali melompat ia sudah menghadang di depan Cong Wie Hiap.

“Tahan!” bentaknya. “Kau ingin membunuh seorang yang sudah terluka berat, apakah kau tidak takut ditertawai?!” Ia membentak dengan bernafsu sehingga suaranya menggeledek dan menggetarkan seluruh lapangan.

Semua orang telah bergerak untuk menjalankan perintah Kong-tie, tapi begitu mendengar bentakan itu, serentak mereka menghentikan serangannya dan mengawasi pemuda itu. Melihat bahwa yang mencegatnya tidak lebih dari pada seorang pemuda yang berpakaian compang-camping, Cong Wie Hiap tersenyum tawar dan segera mendorong Bu Kie yang lantas mengegos seraya menyampok dengan tangannya.

“Plak!”

Cong Wie Hiap terhuyung tiga tindak. Secepat kilat ia mengerahkan tenaga kedua kakinya agar bisa berdiri tetap. Tapi di luar dugaan, gelombang tenaga Bu Kie terus mendorongnya sehingga tubuhnya terjengkang. Sebagai seorang ahli silat, dalam keadaan bahaya cepat dia menotol tanah dengan kaki kanannya dan badannya lantas saja melesak ke belakang setombak lebih. Tapi waktu kedua kakinya hinggap di tanah, gelombang tenaga itu masih belum mereda sehingga dia kembali terhuyung sejauh tujuh delapan langkah!

Kejadian di luar dugaan. Semua orang tidak tahu sebab musababnya. Mereka mengira Cong Wie Hiap sengaja main gila atau berguyon. Cong Wie Hiap sendiri tak pernah bermimpi bahwa pemuda itu bertenaga sedemikian besar. Sesudah mengumpulkan semangatnya, Cong Wie Hiap memandang Jie Lian Ciu dengan mata melotot.

“Lelaki harus berterang!” teriaknya. “Tidak boleh menyerang orang dengan panah gelap!”

Dia menduga bahwa tadi Jie Lian Ciu memberi bantuan secara menggelap atau mungkin sekali bantuan itu diberikan oleh kelima pendeta Bu-tong dengan serentak. Sebab tak bisa jadi seorang manusia mempunyai tenaga yang begitu besar.....

JURU DAMAI

Jie Lian Ciu bingung, tetapi karena merasa tak bersalah maka ia tidak memperdulikan dan hanya balas melotot.

“Gila betul!” katanya dalam hati.

Sementara Cong Wie Hiap sudah maju mendekati Bu Kie, kemudian membentak seraya menuding,

“Bocah, siapakah kau?!”

“Aku Can A Gu,” jawabnya seraya mengangsurkan tangan dan menempelkannya di leng-tay-hiat pada punggung In Thian Ceng.

Gelombang tenaga yang berhawa panas menerobos masuk ke tubuh si kakek. Jago tua itu membuka kedua matanya lantas memandang Bu Kie yang membalas dengan senyuman sambil menambah tenaganya. In Thian Ceng heran tak kepalang. Tenaga itu sungguh menakjubkan. Sebelum Cong Wie Hiap tiba di hadapannya, dada dan tan-tiannya yang menyesak sudah lega kembali.

“Terima kasih, sahabat kecil,” bisiknya. Dengan gagah ia melompat bangun dan berkata dengan suara lantang. “Orang she Cong! Apa jempolnya Cit-siang-kun dari Khong-tong-pay? Marilah! Aku bersedia menerima tiga seranganmu.”

Ceng Wie Hiap tertegun. Dia tak nyana lawannya dapat segera bangkit dengan semangat penuh. Bagaimana bisa terjadi begitu? Hatinya lantas saja merasa jeri, terutama terhadap Eng-jiauw Kim-na-chiu yang sangat lihai.

“Memang Cit-siang-kun tidak bisa dikatakan jempolan,” katanya. “Baik. Kau terimalah tiga tinjuku!”

Dalam hati ia telah mengambil keputusan untuk mengadu Iweekang supaya pertandingan berjalan lama. Tenaganya yang masih segar akan dapat mengalahkan lawan yang sudah payah. Mendengar disebutkannya ‘Cit-siang-kun’, di depan mata Bu Kie lantas terbayang kejadian malam itu di pulau Peng-hwee-to, di mana ayah angkatnya menceritakan peristiwa binasanya Kong-kian Taysu akibat pukulan Cit-siang-kun. Belakangan dia sendiri disuruh menghafal teori Cit-siang-kun sampai pernah digaplok beberapa kali oleh ayah angkat itu karena tidak bisa menghafal dengan lancar. Ia ingat pula teori ilmu pukulan tersebut dan... sekarang ia mengerti artinya teori itu. Bu Kie heran tak kepalang. Mengapa dia jadi begitu cerdas?

Dia tidak tahu bahwa sebab musababnya terletak pada kenyataan bahwa dia sudah mahir Kiu-yang dan Kian-kun Tay-lo-ie Sin-kang. Kiu-yang meliputi segala rupa lweekang yang ada di seluruh rimba persilatan, sedangkan Kian-kun Tay-lo-ie adalah ilmu mengerahkan tenaga dalam dan menggunakannya. Dengan demikian, setelah memahami kedua sinkang yang tertinggi itu, ilmu silat lainnya sudah tidak menjadi soal baginya.

“Jangankan tiga, tiga puluh tinju pun akan kuterima,” kata In Thian Ceng. Ia berpaling pada Kong-tie dan berkata dengan suara lantang, “Kong-tie Taysu, sebelum mati aku tak akan menyerah kalah! Apakah kau mau berbuat sewenang-wenang dengan menggunakan jumlah besar?”

Ternyata pada waktu tiba di Kong-beng-teng, melihat Yo Siauw dan beberapa tokoh lain sudah terluka, dengan menggunakan kata-kata yang tajam In Thian Ceng berhasil mencegah pengeroyokan. Sesuai dengan kebiasaan di rimba persilatan, Kong-tie Taysu telah menyetujui untuk mengadu kekuatan satu lawan satu. Tapi pada akhirnya jago Peh-bie-kauw dan Ngo-heng-kie roboh semua, kalau tidak mati tentu terluka hebat, dan yang ketinggalan hanyalah si kakek sendiri. Tapi selama In Thian Ceng masih belum menyerah, Kong-tie memang tidak boleh memerintahkan pembasmian.

Bu Kie tahu bahwa biar pun keadaannya sudah banyak mendingan, kakeknya tidak boleh mempergunakan terlalu banyak tenaga. Kegagahan orang tua itu terhadap Cong Wie Hiap telah didorong oleh tekad untuk berkelahi sampai binasa. Maka itu dia segera berbisik,

“In-locianpwe, biarlah aku maju lebih dulu. Jika aku kalah barulah Locianpwe yang maju.”

Si kakek yakin bahwa lweekang pemuda itu tinggi luar biasa, dan dalam keadaan segar ia takkan bisa menandinginya. Akan tetapi ia merasa bahwa ia berkewajiban untuk membela Beng-kauw dengan jiwanya, sedangkan pemuda yang mungkin tidak punya sangkut paut dengan Beng-kauw itu tidak pantas untuk berkorban. Ia tahu bahwa biar pun lihai Bu Kie tidak akan dapat melayani lawan yang berjumlah begitu besar. Mana bisa ia membiarkan seorang pemuda yang demikian mulia membuang jiwa sia-sia di atas Kong-beng-teng? Sesudah berpikir begitu, ia lantas bertanya,

“Sahabat kecil, bolehkah aku tahu partai atau rumah perguruanmu? Agaknya kau bukan anggota agama kami. Betulkah begitu?”

“Memang Boanpwe bukan anggota Beng-kauw,” jawabnya. “Tetapi sudah lama Boanpwe mengagumi Locianpwe dan hari ini kita berdua akan melawan musuh bersama-sama.”

In Thian Ceng heran tak kepalang, tetapi sebelum ia bertanya lagi, Cong Wie Hiap sudah maju sambil berteriak,

“Orang she In, sambutlah tinju pertama!”

“Tahan dulu!” bentak Bu Kie, “In-locianpwe mengatakan bahwa kedudukanmu belum cukup tinggi untuk bertanding dengannya. Kalau kau sudah bisa menangkan aku barulah ia akan melayani kau.”

“Siapa kau?!” bentak Cong Wie Hiap dengan marah. “Bocah, kau sungguh tidak mengenal mampus! Apa kau mau berkenalan dengan kelihaian Cit-siang-kun dari Khong-tong-pay?”

Tiba-tiba serupa pikiran berkelebat di otak Bu Kie. “Untuk mendamaikan kedua belah pihak, jalan satu-satunya adalah membuka rahasia kebusukan Goan-tin,” pikirnya. “Kalau menggunakan kekerasan, mana dapat aku melawan jago dari enam partai. Apa lagi para pamanku juga berada di sini. Mana bisa aku berhadapan dengan mereka sebagai musuh?” Sesudah berpikir sejenak, dia segera berkata dengan suara nyaring.

“Kelihaian Cit-siang-kun dari Khong-tong-pay sudah kuketahui lama sekali. Bukankah pendeta suci Siauw-lim-pay, Kong-kian Taysu, juga binasa karena pukulan ini?”

Pernyataan itu menggemparkan barisan Siauw-lim-pay. Sepanjang pengetahuan mereka, Kong-kian Taysu binasa di tangan Cia Sun. Turut sertanya Siauw-lim-pay dalam gerakan membasmi Beng-kauw juga bertujuan untuk membalas sakit hati ini. Tetapi dalam pemeriksaan jenazah Kong-kian yang bebas dari tanda-tanda luka, tapi urat-uratnya terputus dan tulang-tulangnya patah, memang seperti dipukul Cit-siang-kun dari Khong-tong-pay.

Pada waktu itu selama beberapa hari Kong Bun, Kong-tie serta Kong-seng mengadakan perundingan rahasia. Mereka menganggap bahwa Khong-tong-pay tidak mempunyai jago yang berkepandaian sebegitu tinggi sehingga dapat membinasakan Kong-kian yang sudah berhasil dalam latihan Kim-kong Put-hoay-tee Sin-kang. Karena itu walau pun tandanya sangat mencurigakan tapi mereka merasa bahwa pendeta suci itu bukan dibinasakan orang Khong-tong-pay.

Belakangan, dengan membawa murid-muridnya Kong-seng melakukan penyelidikan. Dari penyelidikan itu mereka mendapat kepastian bahwa waktu Kong-kian meninggal dunia di Lok-yang, Khong-tong Ngo-lo sedang berada di daerah barat daya sehingga pembunuhan itu sudah tentu bukan dilakukan oleh kelima tetua tersebut. Karena di Khong-tong-pay hanya Ngo-lo saja yang sekiranya dapat melukai Kong-kian, maka kecurigaan Siauw-lim-pay lantas hilang.

Selain itu pada tembok rumah penginapan di Lok-yang juga terdapat tulisan yang berbunyi ‘Seng Kun membinasakan Kong-kian Taysu’. Belakangan Siauw-lim-pay baru tahu bahwa orang yang menggunakan nama Seng Kun adalah Cia Sun. Sesudah lewat beberapa tahun tiba-tiba saja Bu Kie menyebutkan lagi kejadian itu sehingga dapatlah dimengerti jika orang Siauw-lim-pay menjadi kaget.

“Kong-kian Taysu dibunuh bangsat Cia Sun dan kenyataan ini diketahui seluruh kalangan kangouw,” kata Cong Wie Hiap dengan marah. “Kejadian itu tak ada sangkut pautnya dengan Khong-tong-pay.”

“Apakah kau menyaksikan dengan mata sendiri pada waktu Cia-cianpwe membinasakan Kong-kian Seng-ceng?” tanya Bu Kie. “Apakah kau berada di tempat itu?”

Mendengar pertanyaan itu Cong Wie Hiap lantas menduga bahwa Bu Kie disuruh Bu-tong-pay untuk merenggangkan hubungan antara Khong-tong dan Siauw-lim-pay. Oleh karena itu dia lantas berhati-hati.

“Waktu Kong-kian Seng-ceng meninggal dunia di Lok-yang, Khong thong Ngo-lo berada di In-lam sebagai tamu Liu-tayhiap dari Tiam-cong-pay,” jawabnya dengan sungguh-sungguh. “Bagaimana bisa berada di tempat pembunuhan?”

“Maka itu!” teriak Bu Kie, “Jika benar waktu itu kau berada di In-lam, bagaimana kau bisa mengatakan dengan pasti bahwa Kong-kian Seng-ceng dibunuh Cia-cianpwe? Adalah sebuah kenyataan yang tidak dapat dibantah lagi bahwa Kong-kian Taysu binasa karena pukulan Cit-siang-kun. Cia-cianpwe bukan orang Khong-tong-pay. Mana bisa kau menuduh orang serampangan?”

Cong Wie Hiap merasa dadanya seolah-olah mau meledak. “Tutup mulutmu!” bentaknya. “Sesudah membunuh Kong-kian Taysu, di atas tembok binatang Cia Sun menulis huruf seperti berikut: ‘Seng Kun membinasakan Kong-kian Taysu’ dan huruf itu ditulis dengan darah. Semua orang sudah mengetahui bahwa dengan menggunakan nama gurunya, Cia Sun sudah melakukan pembunuhan di berbagai tempat.”

Bu Kie terkejut karena ia tidak tahu bahwa setelah membunuh Kong-kian, ayah angkatnya menulis kata-kata itu di tembok. Tapi ia lantas mendongak dan tertawa terbahak-bahak,

“Kata-kata itu bisa ditulis oleh siapa pun,” katanya. “Siapa yang melihat bahwa huruf itu ditulis oleh Cia-cianpwe? Aku pun bisa mengatakan bahwa huruf itu ditulis oleh orang Khong-tong-pay. Tapi belajar Cit-siang-kun tidak semudah menulis.“ Ia menengok ke arah Kong-tie dan berkata lagi, ”Kong-tie Taysu, bukankah suhengmu binasa karena pukulan Cit-siang-kun? Apakah tidak benar jika aku mengatakan bahwa Cit-siang-kun serupa ilmu yang tidak pernah diturunkan oleh orang partai Khong-tong-pay?”

Sebelum Kong-tie menjawab, seorang pendeta yang bertubuh besar tinggi dan memakai jubah warna merah melompat keluar dari barisan Siauw-lim-pay. Seraya mengetok Sian-thungnya (tongkat pertapaan) yang bersinar keemasan di bumi, dia membentak,

“Bocah suruhan siapa kau? Apakah manusia serendah kau mau coba-coba mengadu lidah dengan guruku?”

Bu Kie menatap tajam dan segera mengenali bahwa pendeta itu adalah salah seorang dari delapan belas lo-han yang bernama Goan-im. Dulu waktu Siauw-lim-pay ikut datang di Bu-tong untuk mendesak orang tuanya, pendeta itulah yang sudah memberi kesaksian bahwa beberapa murid Siauw-lim-si telah dibinasakan oleh mendiang ayahnya. Waktu itu, dalam kedukaan yang amat besar dia memperhatikan muka setiap orang dan menyimpan di dalam otaknya. Sekarang begitu melihat Goan-im darahnya bergolak, paras mukanya merah padam dan badannya gemetaran. Sekuat tenaga dia menindih kemarahannya yang sudah mendekat kekalapan.

“Bu Kie! Bu Kie!” serunya dalam hati. “Tugasmu hari ini adalah mendamaikan permusuhan antara enam partai dan Beng-kauw. Kau tak boleh merusak demi kepentingan pribadi. Sakit hati terhadap Siauw-lim-pay dapat dibereskan di hari kemudian.”

Karena pertanyaannya tidak segera dijawab, Goan-im membentak lagi. “Bocah! Jika kau kaki tangan Mo-kauw, panjangkan lehermu untuk menerima kebinasaan! Tetapi kalau kau tiada sangkut pautnya dengan agama siluman ini, menyingkirlah dari gunung secepat mungkin. Sebagai orang pertapaan, kami takkan mencelakai kau.“ Ia berkata begitu sebab melihat Bu Kie tak mengenakan seragam Beng-kauw dan juga karena badan pemuda itu gemetaran yang ditafsirkan olehnya sebagai rasa ketakutan.

“Bukankah kau Goan-im Taysu?” tanya Bu Kie. “Dalam partaimu ada seorang yang dikenal sebagai Goan-tin Taysu. Cobalah minta keluar. Aku ingin ajukan beberapa pertanyaan.”

“Goan-tin Suheng tidak turut datang ke sini,” jawabnya. “Kalau kau ingin bicara, lekaslah. Kami tak punya banyak waktu untuk mendengar segala obrolanmu. Siapakah gurumu?” Ia bertanya begitu karena ikut menyaksikan terhuyungnya Cong Wie Hiap karena sampokan Bu Kie. Ia tahu bahwa guru pemuda itu bukan orang sembarangan. Kalau bukan berpikir begitu, ia tentu tidak sudi rewel-rewel pada saat berhasilnya usaha keenam partai.

“Aku bukan pengikut Beng-kauw dan juga bukan murid dari partai di daerah Tiong-goan,” kata Bu Kie. “Akan tetapi aku memiliki sangkut paut dengan Beng-kauw, Bu-tong, Siauw-lim, Go-bi, Kun-lun dan Hoa-san-pay. Aku bicara terus terang, gerakan enam partai untuk membalas Beng-kauw adalah karena perbuatan seorang jahat. Di dalam itu terselip suatu salah paham yang amat hebat. Biar pun masih berusia muda tetapi aku tahu seluk beluk persoalannya. Karena itu dengan memberanikan hati aku minta supaya kedua belah pihak menghentikan pertempuran, menyelidiki soal ini sampai kedasarnya supaya siapa yang salah dan siapa yang benar menjadi terang, kemudian membereskan permusuhan ini seadil-adilnya.” Pernyataan Bu Kie itu disambut dengan gelak tertahan, ejekan dan jengekan.

“Ha-ha-ha... He-he-he... Hi-hi-hi...“ Mereka tertawa ter-bahak dan ejekan berkumandang di seluruh lapangan.

“Bocah itu tentunya sudah gila!”

“Otaknya sudah miring! Rupanya dia menganggap dirinya seperti Thio Cinjin dari Bu-tong-pay atau Kong Bun Seng-ceng dari Siauw-lim-pay!”

“Dia mimpi memperoleh To Liong To dan menjadi yang termulia di rimba persilatan!”

“Ha-ha-ha! Dia anggap kita seperti anak kecil. Aduh! Aku tertawa sampai perutku sakit.”

“Ho-ho-ho... Hi-hi-hi...!”

Di Go-bi-pay hanya seorang, yaitu Ciu Cie Jiak, yang tidak buka mulut. Dengan rasa duka ia mengerutkan alisnya. Sejak bertemu dengan Bu Kie di gurun pasir, ia merasa rapat hati dengan pemuda itu. Mendengar ejekan-ejekan itu, ia turut merasa malu. Tapi waktu ia melirik, pemuda itu berdiri tegak sambil mengangkat kepala. Sikapnya angker dan tenang. Tiba-tiba Bu Kie berkata dengan suara nyaring.

“Asal saja Goan-tin Taysu dari Siauw-lim-pay mau munculkan diri dan bicara beberapa patah kata denganku, maka segala muslihat jahatnya akan bisa diketahui oleh kalian.“ Ia berkata sepatah demi sepatah dan meski pun suara tertawa dan ejekan masih belum mereda, setiap perkataannya dapat didengar jelas sekali oleh setiap orang yang berada di lapangan yang luas itu.

Semua orang amat terkejut dan suara ramai lantas mereda. Mereka tak nyana bahwa pemuda itu mempunyai Iweekang yang begitu tinggi.

“Bocah, kau benar-benar licin!” bentak Goan-im. “Kau tahu bahwa Goan-tin Suheng tidak berada di sini maka kau sengaja menyeretnya. Kenapa kau tidak mengambil Thio Cui San dari Bu-tong untuk dijadikan pesakitan?”

Ejekan menusuk itu disambut dengan gelak tawa orang banyak, sedangkan murid Bu-tong serentak berubah paras mukanya.

“Goan-im, hati-hati bila bicara!” bentak Kong-tie.

Mengapa Goan-im mengejek Thio Cui San? Karena dia merasa sakit hati terhadap Thio Ngo-hiap. Goan-im menganggap Thio Ngo-hiap yang sudah membutakan mata kanannya dengan senjata rahasia di pinggir telaga, padahal perbuatan itu dilakukan oleh In So So. Mendengar cacian terhadap mendiang ayahnya, tak kepalang marahnya Bu Kie.

“Apa kau dapat menodai nama baiknya Thio Ngo-hiap?” bentaknya. “Kau... kau...!”

Goan-im tertawa dingin. “Thio Cui San cari penyakit sendiri dan dibikin mabuk oleh wanita siluman,” katanya. “Dia mendapat pembalasan yang setimpal karena paras cantik...”

Itu sudah melampaui batas! Sekuat tenaga Bu Kie menindih amarahnya. Berulang kali ia berkata di dalam hatinya. “Bu Kie! Bu Kie! Ingatlah tugasmu yang suci!”

Tapi ia gagal, matanya berkunang kunang dan ia menjadi kalap! Dengan sekali melompat, tangan kirinya mencengkeram pinggang si pendeta yang lalu diangkat ke atas, sedangkan tangan kanannya merampas sian-thung! Menghadapi Bu Kie, Goan-im seolah anak itik menghadapi elang, sedikit pun ia tidak bisa melawan.

Hampir berbareng dua pendeta melompat dari barisan Siauw-lim-pay lantas menyabet Bu Kie dari kiri kanan dengan sian-thung. Itulah cara terbaik untuk menolong orang, serupa siasat yang dikenal sebagai ‘Menyerang Gui untuk menolong To’. Dengan siasat ini musuh yang diserang harus menolong diri dan karena musuh harus menolong diri, maka kawan yang menghadapi bencana dengan sendirinya akan dapat ditolong. Kedua pendeta itu adalah Goan-tin dan Goan-hiap.

Tapi Bu Kie memang lihai luar biasa. Begitu merasakan kesiuran angin, dengan tangan kiri ia menenteng Goan-im dan tangan kanan memegang sian-thung, ia melompat tinggi dan menotol sian-thung Goan-tin dan Goan-hiap dengan kedua ujung kakinya. Sungguh dahsyat totolan itu! Goan-tin dan Goan-hiap serentak jatuh terjungkal! Untunglah tongkatnya tidak menghantam kepala sendiri. Semua orang mengeluarkan teriakan tertahan! Di lain saat, bagaikan daun kering yang melayang Bu Kie hinggap di muka bumi.

“Tee-in-ciong (Lompatan tenaga awan) dari Bu-tong-pay!” seru beberapa orang.

Memang benar lompatan Bu Kie adalah Tee-in-ciong yang sangat tersohor di rimba persilatan. Masa kecilnya Bu Kie mengikuti ayah, Thay-suhu serta para pamannya, sehingga biar pun belum pernah belajar ilmu silat Bu-tong secara resmi, dia sudah banyak mendengar dan melihat. Setelah memiliki Kian-kun Tay-lo-ie Sin-kang, dengan mudah dia mengolah segala rupa ilmu silat. Tadi secara tiba-tiba saja dia ingat lompatan Tee-in-ciong dan waktu menjajalnya, dia berhasil secara wajar.

Pendekar Bu-tong seperti Jie Lian Ciu, Boh Seng Kok dan yang lainnya, tentu saja mahir ilmu ringan badan itu. Mereka dapat melayang di tengah udara bagaikan burung. Tapi melakukan lompatan Tee-in-ciong sambil menenteng seorang dewasa yang bertubuh besar berat adalah di luar kemampuan mereka.

Sementara itu sambil menahan napas orang-orang Siauw-lim-pay mengawasi Goan-im yang berada di tangan Bu Kie. Dengan sekali mengemplang, pemuda itu bisa saja menghancurkan kepala si pendeta. Mereka tidak akan keburu menolong sebab Goan-im berada dalam jarak tujuh delapan tombak. Jalan satu-satunya adalah menimpuk dengan senjata rahasia. Tapi jalan itu pun tak mungkin digunakan karena Bu Kie dapat menggunakan tubuh Goan-im sebagai tameng sehingga senjata rahasia akan berbalik mencelakai pendeta itu sendiri.

Demikianlah, biar pun di dalam barisan Siauw-lim terdapat Kong-tie dan Kong-seng yang berkepandaian tinggi, namun mereka tidak berdaya. Dengan mata menyala dan menggertak gigi Bu Kie menggangkat sian-thung. Hati semua murid Siauw-lim mencelos, bahkan beberapa di antaranya meramkan mata karena tidak tega menyaksikan kebinasaan Goan-im.

Di luar dugaan tongkat yang telah terangkat itu berhenti di tengah udara. Untuk beberapa saat Bu Kie mengawasi korbannya dengan paras muka yang sukar dilukiskan. Perlahan-lahan kemarahannya mereda dan perlahan pula ia melepaskan Goan-im dari cekalannya.

Ternyata pada detik yang sangat genting mendadak pemuda itu dapat menguasai dirinya. “Begitu kubunuh salah seorang dari rombongan enam partai itu, segera aku bermusuhan dengan mereka semua dan aku tidak dapat memainkan peranan sebagai pendamai lagi,“ pikirnya. “Apa bila aku gagal, maka permusuhan hebat ini tidak akan bisa dibereskan. Dengan begitu aku justru terjerumus ke dalam jebakan yang dipasang binatang Seng Kun. Sudahlah! Aku harus menelan semua hinaan. Hanya dengan begitu barulah aku bisa membalas sakit hati kedua orang tuaku dan Gie-hu.” Sesudah melepaskan Goan-im, ia berkata dengan suara pelan,

“Matamu bukan dibutakan oleh Thio Ngo-hiap. Janganlah mendendam begitu hebat. Apa lagi sesudah Thio Ngo-hiap bunuh diri, semua sakit hati sebetulnya sudah harus habis. Taysu adalah seorang pertapa yang tentu tahu bahwa dunia ini penuh dengan kekosongan. Perlu apa Taysu begitu sakit hati?”

Sesudah lolos dari lubang jarum, Goan-im berdiri terpaku dan mengawasi Bu Kie dengan kedua mata terbelalak tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Melihat pemuda itu mengangsurkan sian-thungnya, seperti orang linglung ia menyambut dan sesaat kemudian ia mengundurkan diri sambil menundukkan kepala. Melihat hebatnya Bu Kie, Cong Wie Hiap kaget bercampur heran. Tetapi karena ia sudah turun ke dalam gelanggang, tak dapat ia memperlihatkan kelemahannya.

“Orang she Can!” teriaknya. “Siapa sebenarnya yang telah menyuruh kau berbuat begini?”

“Aku bukan suruhan orang,” jawabnya. “Aku bertindak demi keadilan dengan harapan agar enam partai dan Beng-kauw bisa berdamai.”

Cong Wie Hiap mengeluarkan suara di hidung, “Tak mungkin aku berdamai dengan Beng-kauw,” katanya dengan kaku. “Bangsat tua she In itu hutang tiga pukulan Cit-siang-kun. Sesudah aku menghajar dia, kita boleh bicara lagi.“ Seraya berkata begitu ia menggulung tangan bajunya.

“Cong Cianpwe tak henti-hentinya menyebut Cit-siang-kun,” kata Bu Kie. “Tetapi menurut penglihatan Boanpwe, latihan Cianpwe dalam ilmu itu masih jauh dari cukup. Dalam tubuh manusia terdapat Ngo-heng. Jantung berarti ‘api’, paru-paru berarti ‘emas’, ginjal berarti ‘air’, nyali berarti ‘tanah’ dan hati berarti ‘kayu’. Di samping itu terdapat dua macam Khie (hawa), yaitu Im dan Yang (negatif dan positif) sehingga semuanya berjumlah tujuh unsur. Begitu seseorang terburu-buru melatih diri dalam ilmu Cit-siang-kun maka ketujuh unsur itu akan terluka semua. Semakin tinggi latihannya semakin hebat luka di badannya. Sebelum ilmu itu bisa melukai musuh, ilmu tersebut lebih dulu melukai diri sendiri. Untung latihan Cianpwe masih belum tinggi sehingga luka Cianpwe masih dapat diobati.“

Memang Cit-siang-kun berarti ilmu pukulan tujuh luka. Cong Wie Hiap terkejut. Keterangan pemuda itu sesuai dengan apa yang tertulis di kitab Cit-siang-kun! Dalam kitab itu ada peringatan keras bahwa seseorang yang hendak melatih Cit-siang-kun harus mempunyai Iweekang yang sangat tinggi, harus mencapai di mana Khie (hawa) yang dikerahkan dapat menerobos masuk ke dalam semua jalan darah yang terdapat di dalam tubuh manusia. Barang siapa belum mencapai tingkat setinggi itu dilarang mempelajarinya.

Namun Cong Wie Hiap tak menggubris. Begitu ia merasa tenaga dalamnya sudah cukup kuat, ia segera melakukan latihan Cit-siang-kun. Benar saja latihan itu banyak menambah tenaganya dan karena belum merasakan bahaya, ia lupa daratan. Sekarang mendadak ia mendengar perkataan Bu Kie, maka lantas saja ia menjadi kaget.

“Mengapa kau tahu?” tanyanya tanpa sadar.

Sebaliknya dari menjawab pertanyaan itu, Bu Kie berkata, “Cong-cianpwe, bukankah kau sering merasa sakit pada In-bun-hiat di pundakmu? In-bun-hiat berhubungan dengan paru-paru. Itu berarti paru-paru Cianpwe sudah terluka. Bukankah Ceng-leng-hiat Cianpwe di lengan terasa gatal-gatal? Ceng-leng-hiat berhubungan langsung dengan jantung dan itu berarti bahwa jantung Cianpwe telah terluka. Setiap hawa lembab dan turun hujan, betis Cianpwe di bagian Ngo-lie-hiat terasa lemas. Bukankah begitu? Ngo-lie-hiat berhubungan dengan hati dan aku berani mengatakan bahwa hati Cianpwe juga ikut terluka. Makin lama Cianpwe berlatih, tanda-tanda itu akan semakin terasa. Jika Cianpwe berlatih terus enam tujuh tahun lagi, maka sekujur tubuh Cianpwe akan lumpuh.”

Cong Wie Hiap mendengarkan keterangan itu dengan keringat dingin turun menetes dari dahinya. Bu Kie mengerti seluk beluk Cit-siang-kun karena dia pernah mendapat teorinya dari Cia Sun. Belakangan, sesudah mahir ilmu ketabiban, dia mengerti juga bahaya-bahaya dari ilmu pukulan itu sehingga dengan demikian dia dapat menyebutkan tanda-tandanya secara tepat sekali.

Di lain pihak, selama beberapa tahun terakhir ini Cong Wie Hiap pun sudah merasa bahwa ada sesuatu yang kurang beres dalam tubuhnya. Tapi lantaran penyakit itu terasa enteng dan juga ia takut menghadapi tabib seperti lumrahnya manusia kebanyakan, maka sejauh ini ia belum pernah berusaha mengobati ketidak beresan itu. Sekarang ia takut setengah mati dan parasnya berubah pucat. Ia menatap Bu Kie dengan mata terbuka lebar, dan beberapa saat kemudian barulah ia bisa membuka mulut,

“Kau... bagaimana... kau tahu?”

Pemuda itu tertawa tawar. “Boanpwe mengenal ilmu ketabiban,” sahutnya. “Jika Cianpwe percaya, sesudah urusan ini beres, Boanpwe bersedia mengobati. Tapi bagi Cianpwe Cit-siang-kun banyak bahayanya dan tiada gunanya. Sebaiknya Cianpwe tidak melatih ilmu itu lagi.”

Si tua coba ngotot terus. “Cit-siang-kun adalah ilmu terhebat dari Khong-tong-pay, maka bagaimana bisa kau mengatakan bahwa ilmu itu banyak bahayanya dan tiada gunanya?” tanyanya. “Dulu Ciang-bun Su-couw kami, yaitu Bok Leng Cu telah mengguncang seluruh rimba persilatan. Nama harumnya dikenal di empat penjuru dan dia dapat berusia sampai sembilan puluh satu tahun. Ini bukti bahwa Cit-siang-kun tidak mencelakai orang yang mempelajarinya. Bocah! Kau jangan bicara sembarangan!”

“Kalau begitu, bisa dipastikan bahwa Iweekang Bok Leng Cu Cianpwe sudah mencapai taraf yang cukup,” kata Bu Kie. “Seseorang yang tenaga dalamnya cukup tentu saja boleh berlatih ilmu tersebut. Ia bukan saja tak akan mendapat bahaya, malah akan memperoleh keuntungan besar karena Cit-siang-kun bisa memperkuat isi perut manusia. Jika Cianpwe tak percaya omonganku, terserahlah. Tapi Boanpwe tetap berpendapat bahwa Iweekang Cianpwe belum cukup tinggi untuk berlatih Cit-siang-kun.”

Cong Wie Hiap adalah salah seorang tetua Khong-tong-pay dan juga jago ternama di rimba persilatan. Tetapi sekarang, di hadapan tokoh-tokoh berbagai partai ia didesak seorang pemuda yang tidak dikenal. Bukan saja terdesak, namun ilmu terhebat partainya dikatakan ilmu tak berguna. Dapatlah dimengerti bila darahnya lantas mendidih.

“Bocah!” bentaknya dengan mata melotot. “Kalau kau bilang Cit-siang-kun tidak berguna, cobalah jajal!”

Bu Kie kembali tertawa tawar. “Cit-siang-kun memang ilmu yang sangat hebat,” katanya. “Aku tidak mengatakan bahwa ilmu itu tak berguna. Maksudku jika Iweekang seseorang belum cukup tinggi, biar pun dia berlatih lama, latihan itu tiada gunanya.”

Dengan berdiri di belakang para sucinya, Ciu Cie Jiak mengawasi pemuda itu. Di dalam hati dia merasa geli. Paras muka Bu Kie masih agak kekanak-kanakan, tapi dengan sikap seperti orang tua yang berpengalaman dia memberi nasihat kepada salah seorang tetua dari Khong-tong-pay dan hal itu seolah-olah gurauan.

Murid-murid Khong-tong-pay yang berusia muda merasa marah dan ingin sekali menghajar Bu Kie. Tapi karena melihat Cong Wie Hiap mendengarkan setiap perkataan pemuda itu dengan penuh perhatian, mereka tidak berani bertindak sembrono.

“Apakah kau berpendapat bahwa Iweekang-ku belum cukup?” tanya Cong Wie Hiap.

“Cukup atau tidak cukup, aku tidak tahu,” jawabnya. “Akan tetapi menurut penglihatanku, waktu berlatih Cit-siang-kun, Cianpwe telah terluka sehingga sebaiknya latihan itu jangan diteruskan...”

“Jie-ko, tidak usah meladeni semua omong kosong!” mendadak terdengar suara bentakan seseorang di belakangnya. “Dia menghina Cit-siang-kun kita, biar dia rasakan pukulanku.“

Hampir berbareng, satu pukulan yang hebat menyambar Leng-tay-hiat di punggung Bu Kie. Leng-tay-hiat adalah salah satu ‘hiat’ penting yang membinasakan. Jangan kata Cit-siang-kun, pukulan yang biasa sekali pun bisa membinasakan jika kena tepat di bagian itu.

Dalam tekadnya untuk menaklukkan keenam partai dengan Kiu-yang Sin-kang, meski pun tahu sedang dibokong orang, Bu Kie tidak memutar badan dan membalas. Ia berkata pula kepada Cong Wie Hiap,

“Cong-cianpwe...”

Tiba-tiba saja terdengar kerincingan rantai disusul dengan bentakan, “Tua bangka! Jangan membokong orang!” Itu bentakan Siauw Ciauw yang segera melompat sambil meninju kepala si pembokong.

Orang itu menangkis dengan tangan kirinya, sedang tinju kanannya mampir tepat di Leng-tay-hiat Bu Kie. Semua orang terkesiap tapi pemuda itu sendiri tidak bergeming. Ia mengambil sikap acuh tak acuh bahkan tidak mengerahkan tenaga dalam untuk menolak tenaga pukulan itu.

“Siauw Ciauw,” katanya seraya tertawa. “Kau tak usah khawatir. Pukulan Cit-siang-kun itu sedikit pun tiada gunanya.”

Muka si nona yang putih langsung saja bersemu merah. Dengan jengah ia berkata, “Aku lupa... aku lupa kau sudah belajar...“ Dia tidak meneruskan perkataannya dan buru-buru meloncat mundur sambil menyeret rantai.

Bu Kie memutar tubuh dan melihat si pembokong adalah seorang kakek yang badannya kurus dan batok kepalanya besar. Kakek ini adalah tetua ke empat dari Khong-tong-pay yang bernama Siang Keng Cie. Kini mukanya berubah pucat dan ia berkata dengan suara tergugu.

“Kau... memiliki Kim-kong Put-hoay-tee Sin-kang... Apakah kau murid Siauw-lim-si?”

Sambil tersenyum pemuda itu menjawab, “Aku bukan murid Siauw-lim-si, tetapi benar aku pernah belajar ilmu di kuil Siauw-lim-si.”

“Bukk!”

Selagi ia bicara, tinju Siang Keng Cie mampir tepat di dadanya. Sepanjang pengetahuan tetua Khong-tong itu, Kim-kong Put-hoay-tee hanya dapat dipertahankan sambil menahan napas.

Bu Kie tertawa lantas berkata, “Kalau seseorang sudah melatih diri dalam Kim-kong Put-hoay-tee sampai pada puncak kesempurnaan, dia tidak akan bisa diserang walau pun dia sedang bicara. Biar pun tanpa menggunakan Iweekang, tubuhnya tidak bisa kena segala pukulan. Jika tidak percaya kau boleh memukul lagi.”

Bagaikan kilat Siang Keng Cie mengirim empat tinju geledek. Bu Kie menerima dengan paras muka berseri-seri.

MENGALAHKAN ILMU ANDALAN LAWAN

Siang Keng Cie berjuluk It-kun Toan-gak (satu tinju mematahkan gunung). Sungguh pun julukan itu terlalu mencolok tapi orang-orang yang berusia agak lanjut mengetahui bahwa tetua Khong-tong itu memang mempunyai pukulan dahsyat. Bahwa Bu Kie bisa menerima keempat pukulan itu sambil tersenyum-senyum telah mengejutkan semua orang. Sudah lama Kun-lun dan Khong-tong-pay tak begitu akur dan meski pun sekarang mereka bersatu untuk membasmi Beng-kauw, akan tetapi banyak anggota kedua partai masih mengambil sikap bermusuhan di dalam hati. Maka itu dari barisan Kun-lun-pay lantas terdengar beberapa ejekan.

“Lihat, sungguh hebat tinju It-kun Toan-gak!”

“Apakah yang telah dipatahkan Sie-kun (empat tinju)?”

Untung sekali Siang Keng Cie berkulit hitam sehingga warna merah pada mukanya tidak begitu menyolok. Di lain pihak anggota-anggota Siauw-lim-pay merasa heran sekali dan banyak pertanyaan muncul dalam hati mereka.

“Pemuda itu mengatakan bahwa dia sudah pernah belajar ilmu Siauw-lim-si. Siapa dia? Kim-kong Put-hoay-tee tidak pernah diturunkan kepada orang luar. Di samping Kong-kian Taysu dalam partai kita, tiada orang lain yang menguasai ilmu tersebut. Pemuda ini masih begitu muda. Mana bisa dia memiliki ilmu yang harus dilatih selama empat puluh tahun? Sungguh mengherankan. Siapa dia? Siapa dia...?”

Di lain saat Cong Wie Hiap sudah mengangkat tangannya lalu berkata dengan suara yang menyeramkan,

“Can-heng, aku merasa sangat kagum dengan sinkang-mu. Apa boleh aku menerima pelajaran darimu dalam tiga jurus?” Dia menantang karena tahu bahwa tenaga Cit-siang-kun yang dimilikinya jauh lebih kuat dari pada Siang Keng Cie sehingga mungkin sekali dia akan berhasil merobohkan pemuda ini.

“Jika nanti Cianpwe sudah berhasil, Boanpwe pasti akan menolak,” jawabnya. “Tapi untuk sekarang ini, bolehlah Boanpwe menerima pukulan Cianpwe.”

Dengan marah Cong Wie Hiap mengerahkan Cin-khie sehingga tulang-tulangnya di dalam tubuh berkerotokan. Dia maju selangkah dan menghantam dada Bu Kie sekuat tenaga.

Begitu tinju menyentuh dada, dia segera terkesiap sebab tinjunya tersedot semacam tenaga dan dia tidak mampu menarik kembali tangannya. Di lain saat dari tinjunya masuk semacam hawa hangat yang terus menerobos ke perutnya. Waktu menarik kembali tangannya, dia merasa semangatnya bangkit dan sekujur badannya nyaman luar biasa. Dia tertegun sejenak, lalu mengirimkan tinju ke dua ke punggung Bu Kie. Sekali ini pemuda itu mengerahkan sedikit Iweekang sehingga dia terhuyung beberapa langkah.

Melihat paras muka kawannya yang sebentar pucat dan sebentar merah, Siang Keng Cie yang berdiri di samping Bu Kie menduga bahwa kawan itu sudah terluka berat. Karena itu pada waktu Cong Wie Hiap mengirimkan tinju ke tiga, dia pun menghantam dari belakang sehingga dengan bersamaan dua tinju mampir telak pada tubuh Bu Kie, satu di dada dan satu di punggung.

Semua orang melihat bahwa dua pukulan itu disertai dengan Iweekang yang amat tinggi. Tapi begitu menyentuh tubuh si pemuda, semua tenaga dalam langsung amblas bagaikan batu yang masuk ke dalam lautan.

Siang Keng Cie tahu bahwa dengan kedudukannya yang tinggi, dalam pembokongannya yang pertama saja dia sudah melakukan perbuatan yang tidak pantas. Namun bokongan pertama itu bisa dimengerti dan dimaafkan. Orang bisa menganggap dia berbuat demikian akibat terlampau marah karena partainya dihina orang. Tetapi pembokongan yang ke dua merupakan perbuatan hina yang tidak bisa dibela dengan cara apa pun juga.

Waktu memukul dia percaya bahwa Bu Kie akan binasa dengan pukulan itu. Jika pemuda itu dapat dibinasakan maka menurut jalan pikirannya dia sudah berjasa terhadap keenam partai dalam menyingkirkan seorang pengacau. Mungkin orang akan mencela dia, tapi dia bisa menebus ketidak-patutan itu dengan jasanya. Dapatlah dibayangkan sendiri betapa kagetnya karena bokongannya tidak berhasil.

“Bagaimana rasanya badan Cianpwe?” tanya Bu Kie kepada Cong Wie Hiap.

Si tua kelihatan terkejut. Sesaat kemudian ia mengangkat tangannya dan berkata dengan suara jengah.

“Terima kasih atas budi Can-heng yang sudah membalas kejahatan dengan kebaikan, sungguh aku merasa malu dan berterima kasih tidak habisnya.”

Pengakuan itu mengejutkan semua orang. Ternyata, waktu menerima tiga pukulan tadi Bu Kie telah mengirim Kiu-yang Cin-khie yang disalurkan ke tubuh si tua. Walau pun pengiriman ‘hawa tulen’ itu hanya dilakukan dalam waktu satu detik, tapi karena Kiu-yang Cin-khie bertenaga dahsyat maka Cong Wie Hiap telah mendapat keuntungan yang tidak kecil. Jika dalam pukulan ke tiga Siang Keng Cie tidak mengadu tinju maka keuntungan yang didapat olehnya akan lebih besar lagi.

“Pujian Cianpwe yang begitu tinggi tidak dapat kuterima,” kata pemuda itu dengan suara merendah. “Barusan Kie-keng Pat-meh (pembuluh darah) Cianpwe telah mendapat sedikit bantuan, dan sekarang sebaiknya Cianpwe mengaso sambil mengerahkan hawa. Dengan demikian racun yang berkumpul di tubuh sebagai akibat latihan Cit-siang-kun akan dapat disingkirkan dalam waktu dua atau tiga tahun.”

Cong Wie Hiap yang tahu penyakitnya sendiri buru-buru menyoja sambil berkata, “Terima kasih, banyak-banyak terima kasih.”

Bu Kie berjongkok dan menyambung tulang Tong Bun Liang. Seraya menengok ke Siang Keng Cie, dia berkata,

“Harap berikan koyo Hwee-yang Giok-liong kepadaku.”

Siang Keng Cie segera menyerahkan apa yang dipintanya.

“Cobalah Cianpwe minta Sam-hong Po-la-wan dari Bu-tong-pay dan bubuk Giok-cin-san dari Hoa-san-pay,” kata Bu Kie lagi.

Permintaan itu lantas dituruti.

“Dengan mempergunakan rumput Co-oh, koyo Hwee-yang Giok-liong dari partai Cianpwe sangat mujarab,” kata pemuda itu. “Dalam Sam-hong Po-la-wan dari Bu-tong-pay terdapat Thian-tiok-hong, Hiong-hong dan Tang-hong. Ditambah dengan Giok-cin-san maka dalam waktu dua bulan saja kesehatan Tong-cianpwe akan pulih seperti biasa lagi.“

Seraya berkata demikian dengan cepat dia membalut tulang-tulang Tong Bun Liang yang sudah disambung dan dalam sekejap pekerjaan itu sudah selesai. Perbuatan Bu Kie makin lama makin mengherankan. Kepandaiannya dalam menyambung tulang tidak akan dapat ditandingi tabib mana pun juga. Di samping itu dia pun tahu obat-obat istimewa yang dimiliki setiap partai. Dengan perasaan malu Siang Keng Cie memondong Tong Bun Liang kemudian mundur dari gelanggang. Mendadak Tong Bun Liang berteriak,

“Orang she Can! Bahwa kau telah menyambung tulangku, aku merasa amat berterima kasih dan di kemudian hari nanti, aku pasti akan membalas budimu. Tapi permusuhan antara Khong-tong-pay dengan Mo-kauw sedalam lautan. Tidak bisa kami sudahi karena budimu. Jika kau anggap melupakan budi, kau boleh mematahkan lagi tulang kaki tanganku.”

Mendengar pernyataan itu, hati semua orang timbul perasaan hormat terhadap Tong Bun Liang yang bersifat lebih ksatria dari pada Siang Keng Cie.

“Cara bagaimanakah baru Cianpwe bisa merasa puas dan suka menyudahi permusuhan ini?” tanya Bu Kie.

“Cobalah kau perlihatkan ilmu silatmu,” jawabnya. “Jika Khong-tong-pay merasa tidak bisa menandingi, barulah kami tak bisa berkata apa-apa lagi.”

“Dalam Khong-tong-pay terdapat banyak sekali orang pandai sehingga biar bagaimana pun juga Boanpwe takkan bisa menandingi,” sahut Bu Kie sambil tertawa. “Tapi karena sudah terlanjur, biarlah Boanpwe memperlihatkan kebodohan.“ Seraya berkata demikian matanya mengawasi seluruh lapangan.

Di sebelah timur terdapat pohon siong yang tingginya lebih dari tiga tombak dan daunnya rindang. Perlahan-lahan Bu Kie mendekati pohon itu lantas berkata dengan suara nyaring,

“Boanpwe pernah belajar Cit-siang-kun dan kini Boanpwe ingin memperlihatkan kebodohan sendiri. Boanpwe mohon supaya para Cianpwe tidak menertawai.“

Semua orang merasa heran. “Dari mana bocah itu belajar Cit-siang-kun?” tanya mereka di dalam hati.

Sesudah berdiam sejenak, tiba-tiba Bu Kie menghafalkan sesuatu yang menyerupai sajak:

“Hawa Ngo-heng dicampur Im-yang,
Merusak jantung, melukai paru-paru, hati dan usus,
Tenaga hilang, pikiran kalang kabut,
Semangat terbang!”


Tak kepalang kagetnya kelima ketua Khong-tong-pay! Mengapa? Karena apa yang dihafal pemuda itu adalah bagian terakhir dari kitab Cit-siang-kun, rahasia yang belum pernah diturunkan kepada orang luar. Dalam kagetnya, tentu saja mereka tidak pernah menduga bahwa pelajaran itu pernah diturunkan oleh Cia Sun yang telah merampas kitab tersebut kepada Bu Kie. Sementara itu, sesudah mengerahkan tenaga dalam, bagaikan kilat Bu Kie meninju pokok pohon.

“Krreek...!“

Sebatas batang yang ditinju, pohon itu terbang dan...

“Brakk!”

Bagian atas pohon roboh dalam jarak dua tombak lebih! Di atas tanah kini hanya berdiri sisa pohon yang tingginya kira-kira empat kaki.

“Pukulan itu... pukulan itu... bukan Cit-siang-kun,” kata Siang Keng Cie dengan suara tak puas.

Cit-siang-kun adalah semacam pukulan yang di dalam kekerasannya terdapat kelembekan dan di dalam kelembekannya terdapat kekerasan. Biar pun dahsyat luar biasa, pukulan Bu Kie itu hanyalah pukulan menggunakan tenaga ‘keras’.

Tetapi setelah Siang Keng Cie menghampiri pangkal pohon yang masih berdiri kemudian memeriksanya, dia segera terpaku dan mengawasi dengan mulut ternganga. Dia melihat bahwa urat-urat pohon yang terpukul sudah hancur semuanya! Itulah Cit-siang-kun yang telah mencapai puncak kesempurnaan!

Ternyata dalam pukulannya itu Bu Kie sudah menggunakan dua macam tenaga. Untuk mencapai maksudnya, dia harus memperlihatkan hasil dengan segera. Apa bila dia hanya menggunakan Cit-siang-kun, maka sesudah berselang sepuluh hari atau setengah bulan barulah pohon itu mati berdiri. Sebab itulah dia meninju dengan tenaga Cit-siang-kun yang disertai dengan Yang-kang (tenaga ‘keras’) sehingga batangnya patah dan terbang. Kehebatan Bu Kie disambut dengan sorak-sorai gegap-gempita.

“Bagus!” seru Tong Bun Liang. “Itulah Cit-siang-kun yang tertinggi. Sekarang aku merasa takluk! Tapi bolehkah aku bertanya, dari mana Can Siauw-hiap belajar ilmu itu?”

Bu Kie tidak menjawab. Dia hanya tersenyum. Tiba-tiba si tua berteriak,

“Di mana adanya Kim-mo Say-ong Cia Sun?! Beri-tahukanlah!”

Pemuda itu terkejut sekali. “Celaka!” dia mengeluh di dalam hati. “Dengan memperlihatkan Cit-siang-kun, aku telah menyeret Gie-hu. Jika aku bicara terus terang maka peranan juru damai tidak dapat dipegang lagi olehku.” Sesudah berpikir sejenak, Bu Kie lalu bertanya dengan suara lantang,

“Apakah Cianpwe menganggap kitab Cit-siang-kun dirampas oleh Kim mo Say-ong? Ha-ha! Cianpwe salah, salah besar! Kitab itu dicuri oleh Hun-goan Pek-lek-chiu Seng Kun. Malam itu, pada waktu terjadi pertempuran di kuil Ceng-yang-kun di gunung Khong-tong-san, bukankah ada dua orang yang kena pukulan Hun-goan-kang? Katakanlah, Boanpwe benar atau salah?”

Ternyata pada waktu Cia Sun bertempur di Khong-tong-san dalam usahanya merampas kitab Cit-siang-kun, Seng Kun yang ingin memperhebat kekacauan rimba persilatan, diam-diam memberi bantuan. Dia melukai Tong Bun Liang dan Siang Keng Cie dengan pukulan Hun-goan-kang. Waktu itu Cia Sun sendiri masih belum tahu. Belakangan, atas petunjuk Kong-kian Taysu, barulah dia tahu adanya bantuan itu.

Mengingat kejahatan Seng Kun, tanpa ragu lagi Bu Kie sudah menimpakan kesalahan ini kepadanya. Apa lagi pada hakekatnya Bu Kie tidak seluruhnya berdusta, sebab memang benar Seng Kun sudah membokong kedua tetua Khong-tong dengan maksud tidak baik. Selama dua puluh tahun lebih Tong Bun Liang dan Siang Keng Cie dihinggapi perasaan ragu. Mendengar keterangan Bu Kie, mereka saling lirik namun tidak mengatakan apa pun juga.

“Apakah Can Siauw-hiap mengetahui di mana adanya Seng Kun sekarang?” tanya Cong Wie Hiap.

“Dengan mempergunakan semua kepandaiannya, Seng Kun mengadu domba enam partai besar dengan Beng-kauw,” Bu Kie menerangkan. “Belakangan ia menjadi murid Siauw-lim dan sebagai seorang pertapa ia memakai nama Goan-tin. Di kuil Siauw-lim-si, dia pernah mengajarkan ilmu silat kepada Boanpwe. Jika bohong, Boanpwe rela menerima hukuman seberat-beratnya di akhirat dan biarlah Boanpwe tidak bisa lahir lagi di dunia.”

Rombongan Siauw-lim-pay langsung gempar. Goan-tin adalah murid Kong-kian Seng-ceng dan sesuai dengan peraturan yang amat keras, kecuali di kuilnya pendeta-pendeta Siauw-lim belum pernah keluar dari pintu kuil. Keterangan Bu Kie bahwa Goan-tin adalah Seng Kun sedikit pun tidak dipercaya oleh mereka.

“Omitohud...”

Tiba-tiba terdengar pujian kepada Sang Buddha dan seorang pendeta yang mengenakan jubah pertapa warna abu-abu berjalan keluar dari barisan Siauw-lim. Pendeta itu berparas angker dan tangan kirinya menggenggam tasbih, Dia Kong-seng, salah seorang dari ketiga pendeta suci.

“Can-sicu, bagaimana kau berani menuduh murid Siauw-lim-si sembarangan?” dia bertanya. “Kapan kau belajar silat di kuil kami? Di hadapan orang-orang gagah di seluruh rimba persilatan, aku tidak bisa membiarkan kau menodai nama harumnya Siauw-lim.”

Bu Kie cepat membungkuk seraya berkata, “Taysu, janganlah kau marah. Jika Taysu bisa memanggil Goan-tin maka Taysu akan segera tahu duduk persoalannya.”

Paras muka Kong-seng lantas berubah menyeramkan. “Can-sicu, barusan sekali lagi kau menyebut nama sutit-ku,” katanya dengan suara kaku. “Kau masih begitu muda, mengapa hatimu begitu kejam?”

“Mengapa Taysu mengatakan hatiku kejam?” tanya Bu Kie. “Aku minta Goan-tin Hwesio keluar hanya untuk menjelaskan persoalan ini di hadapan para orang gagah.”

“Goan-tin sutit telah berpulang ke alam baka,” kata Kong-seng dengan suara perlahan. “Ia mengorbankan jiwanya untuk partai kami. Sesudah meninggal dunia, nama baiknya tidak dapat...“

Begitu mendengar perkataan ‘Goan-tin sutit telah berpulang ke alam baka’, kepala Bu Kie lantas pusing dan paras mukanya berubah pucat. Perkataan Kong-seng yang selanjutnya tidak dapat ditangkap lagi olehnya.

“Apa... apakah benar dia mati?” tanyanya dengan suara terputus-putus. “Itu tidak... tidak mungkin.”

Kong-seng menunjuk sesosok tubuh yang tergeletak di sebelah barat dan berkata dengan suara keras,

“Kau lihat sendiri.”

Bu Kie mendekati. Mayat yang mukanya melesak dan matanya terbuka lebar itu ternyata memang mayat Goan-tin atau Hun-goan Pek-lek-chiu Seng Kun. Dia membungkuk lantas meraba dada mayat yang dingin itu, suatu tanda bahwa Goan-tin sudah mati lama juga. Bu Kie berduka campur girang. Dia tidak menyangka bahwa musuh besar ayah angkatnya binasa di tempat itu. Biar pun bukan dia sendiri yang membinasakannya, sakit hati sudah terbalas. Darahnya bergolak dan sambil mendongak, dia tertawa terbahak-bahak.

“Bangsat! Oh, bangsat terkutuk!” teriaknya keras. “Selama hidup kau melakukan berbagai kejahatan tapi pada hari ini akhirnya kau mendapat juga bagianmu!” Suara tawanya yang dahsyat seolah-olah menggetarkan seluruh lembah. Sesudah berteriak dia menengok ke arah Kong-seng dan bertanya, “Siapa yang membinasakan Goan-tin?”

Kong-seng tidak menyahut. Dia melirik pemuda itu dengan mata menyala dan mukanya bersinar dingin bagaikan es.

Yang menjawab Bu Kie adalah In Thian Ceng, “Dia sudah bertempur dengan anakku, Ya Ong,” katanya. “Dia mati dan anakku terluka.”

Bu Kie membungkuk. Dalam hatinya pemuda ini berkata, “Goan-tin terluka berat sesudah kena pukulan Han-peng Bian-ciang dari Ceng-ek Hok-ong. Oleh karena itu paman berhasil membinasakannya. Sungguh menyenangkan bahwa paman telah berhasil membalas sakit hati ini.“ Ia menghampiri In Ya Ong lantas memegang nadinya. Hatinya lega sebab ia tahu bahwa luka sang paman tidak berbahaya bagi jiwanya.

Makin lama Kong-seng makin marah. Tiba-tiba dia berteriak, “Bocah! Kemari kau untuk menerima kebinasaan!”

Bu Kie terkejut, dia menengok dan menegaskan, “Apa?”

“Jelas-jelas kau tahu bahwa Goan-tin Sutit sudah binasa, tetapi masih juga kau berusaha untuk menimpakan segala dosa pada pundaknya,” kata Kong-seng. “Kau terlalu jahat dan aku tidak dapat mengampuni kau. Hari ini aku terpaksa membuka pantangan membunuh. Pilihlah, kau mau mati bunuh diri atau kubinasakan.”

Pemuda itu jadi bingung. “Kebinasaan Goan-tin merupakan ganjaran setimpal bagi dirinya dan kejadian ini amat menggirangkan,” pikirnya. “Tapi dengan binasanya pendeta itu, aku tidak punya saksi lagi dan urusan jadi makin susah dipecahkan. Bagaimana baiknya?”

Selagi dia mengasah otak, Kong-seng telah menerjang. Tangan kanannya menyambar ke leher dengan jari-jari yang dipentang lurus.

“Hati-hati! Itu Liong-jiauw-chiu (Ilmu pukulan cakar naga)!” seru In Thian Ceng.

Dengan sekali berkelit Bu Kie sudah menyelamatkan dirinya. Tapi Kong-seng adalah seorang dari tiga pendeta suci Siauw-lim-si, sedangkan Liong-jiauw-chiu merupakan salah satu pukulan terhebat dari Siauw-lim-pay.

Baru saja cengkeraman pertama gagal, cengkeraman ke dua yang lebih dahsyat dan lebih cepat menyusul. Bu Kie meloncat ke samping. Dalam sekejap cengkeraman ke tiga, ke empat, ke lima menyambar-nyambar laksana hujan dan angin. Pendeta itu seolah-olah seekor naga yang terbang di angkasa sambil mementangkan sepasang cakarnya hingga semua gerakan Bu Kie di bawah kekuasaannya. Berbareng dengan melayangnya tubuh Bu Kie, mendadak terdengar suara.

“Brett!”

Di lain saat barulah orang tahu bahwa tangan baju pemuda itu robek dan lengan kanannya tercakar hingga mengucurkan darah. Di antara sorak-sorai orang Siauw-lim-pay terdengar teriakan kaget dari seorang wanita. Bu Kie cepat melirik dan melihat Siauw Ciauw tengah mengawasinya dengan paras muka ketakutan.

“Thio-kongcu, hati-hati!” teriak si nona.

“Nona kecil itu sungguh baik,” pikir Bu Kie sambil melompat ke belakang karena dengan kecepatan luar biasa Kong-seng sudah menubruk lagi.

Begitu cengkeraman pertama gagal, cengkeraman kedua menyusul dan Bu Kie kembali melompat ke belakang. Selagi yang satu menubruk dan satu lainnya melompat, mereka tetap berhadapan satu sama lain. Setelah menubruk delapan sembilan kali, Kong-seng masih juga belum berhasil. Jarak antara mereka tetap tidak berubah, yaitu dua kaki lebih. Dengan demikian maka sungguh pun Bu Kie masih belum balas menyerang, namun tinggi rendahnya ilmu ringan badan antara kedua lawan itu sudah bisa dilihat nyata.

Kita tahu bahwa Kong-seng menubruk ke depan sedangkan Bu Kie meloncat ke belakang. Tidak dapat disangkal lagi bahwa menubruk ke depan lebih mudah dari pada meloncat ke belakang. Tetapi meski pun begitu Kong-seng masih tidak bisa menyentuh badan pemuda itu. Dengan demikian dapatlah ditarik kesimpulan bahwa dalam ilmu meringankan badan, pendeta itu kalah satu tingkat. Kalau mau dengan mudah Bu Kie dapat menyingkir jauh-jauh dari Kong-seng.

Kenapa Bu Kie tetap mempertahankan jarak dua tiga kaki dari pendeta itu? Sebab ia ingin mempelajari rahasia pukulan Liong-jiauw-chiu. Ia menyadari bahwa setelah mengeluarkan tiga puluh enam macam pukulan, si pendeta menyerang pula dengan pukulan ke delapan yaitu Na-na-sit (Gerakan mencengkeram) yang tadi sudah digunakan. Sesudah itu kedua tangan Kong-seng menyambar dari atas ke bawah. Itulah Chio-cu-sit (Gerakan merebut mutiara), pukulan kedua belas. Melihat itu, Bu Kie segera mengetahui bahwa Liong-jiauw-chiu hanya terdiri dari tiga puluh enam pukulan atau gerakan.

Selama hidup Kong-seng jarang sekali bertempur melawan musuh. Waktu mencapai usia setengah tua, walau pun beberapa kali ia pernah bertemu lawan berat, tapi begitu mengeluarkan Liong-jiauw-chiu, pihak lawan segera keteteran. Sejauh itu ia belum pernah bertempur dengan lawan yang sanggup bertahan lebih dari dua belas pukulan. Sebab itu mulai pukulan ke tiga belas sampai ke tiga puluh enam belum pernah dipergunakan untuk menghadapi musuh.

Kini sungguh tak disangka, sesudah mengeluarkan tiga puluh enam pukulan ia masih juga belum mampu merobohkan Bu Kie. Mau tak mau ia terpaksa mengulangi pukulan-pukulan yang tadi sudah digunakan.

“Ilmu ringan badan bocah ini memang hebat luar biasa,” pikirnya. “Dengan mengandalkan kegesitannya ia berhasil menyelamatkan diri dari pukulan-pukulan. Tetapi kalau bertempur sungguhan, belum tentu ia bisa melayani dua belas pukulan Liong-jiauw-chiu.”

Sementara itu Bu Kie sudah bisa menyelami kehebatan Liong-jiauw-chiu. Memang Jiauw-hoat (Ilmu mencengkeram) yang terdiri dari tiga puluh enam gerakan itu tak ada cacatnya. Akan tetapi setelah memiliki Kian-kun Tay-lo-ie Sin-kang, dengan mengandalkan sinkang tersebut pemuda itu dapat memecahkan pukulan apa pun juga. Kalau dia mau, sekarang juga Bu Kie dapat menghancurkan Liong-jiauw-chiu. Tapi ia ragu dan berkata dalam hati,

“Tidak sukar bagiku untuk mengambil jiwanya, tapi Siauw-lim-pay mempunyai nama besar sedangkan Kong-seng Taysu adalah salah seorang dari tiga pendeta suci. Kalau dengan gegabah aku merobohkannya di hadapan orang banyak, lalu di mana Siauw-lim-pay mau menaruh muka? Tetapi bila tidak dirobohkan, dia pasti tidak akan mau mundur.“ Bu Kie jadi serba salah.

Tiba-tiba Kong-seng membentak, “Bocah! Kau bukan sedang Pibu melainkan kabur!”

Bu Kie menjawab, “Mau Pibu...“

Dengan menggunakan kesempatan selagi pemuda itu bicara, Kong-seng segera mengirim dua pukulan berantai. Di luar dugaan, seraya melompat Bu Kie terus bicara dengan suara tenang.

“...juga boleh. Tapi bagaimana kalau aku menang?” Suaranya bukan saja tenang, tapi juga tak terputus.

Kalau seseorang memeramkan kedua matanya, ia tidak akan menyangka bahwa selama mengucapkan kata-katanya itu, Bu Kie telah menyelamatkan diri dari tiga serangan Kong-seng yang amat cepat dan dahsyat.

“Ilmu ringan badanmu betul-betul hebat,” puji si pendeta itu. “Tetapi jangan harap kau bisa menandingi aku dalam sebuah pertempuran yang sungguh-sungguh.”

“Dalam Pibu tak seorang pun dapat meramalkan siapa bakal menang, siapa bakal kalah,” kata Bu Kie. “Usia Boanpwe lebih muda dari pada Taysu. Sungguh pun kalah ilmu tetapi mungkin Boanpwe menang tenaga.”

“Kalau aku kalah, kau boleh membunuhku!” bentak Kong-seng dengan marah.

“Hal itu tidak akan berani Boanpwe lakukan,” kata pemuda itu. “Apa bila Boanpwe kalah, Taysu boleh berbuat sesuka hati. Tetapi jika secara kebetulan Boanpwe menang sejurus atau setengah jurus, maka Boanpwe hanya berharap supaya Siauw-lim-pay suka mundur dari Kong-beng-teng.”

“Urusan Siauw-lim-pay harus diputuskan Suheng-ku,” kata Kong-seng. “Aku hanya bicara secara pribadi. Aku tak percaya kalau Liong-jiauw-chiu tidak bisa membereskan kau.”

Sebuah gagasan lewat di otak Bu Kie dan dia segera mengambil keputusan, “Liong-jiauw-chiu dari Siauw-lim-pay memang tiada cacatnya,” katanya. “Ilmu itu adalah Kim-na Chiu-hoat (Ilmu mencengkeram) yang tiada duanya di dunia. Hanya sayang latihan Taysu belum sempurna.”

“Baiklah!” kata Kong-seng dengan marah. “Kalau kau dapat memecahkan Liong-jiauw-chiu-ku, aku akan segera pulang ke Siauw-lim-si dan seumur hidup aku tidak akan keluar dari pintu kuil lagi!”

“Itu tidak perlu!” kata Bu Kie.

Selagi mereka tanya jawab, sorak-sorai di seputar lapangan tak henti-hentinya. Semua orang merasa kagum karena ketika mulut mereka bicara, kaki dan tangan bekerja terus. Waktu mengatakan ‘ilmu ringan badanmu betul-betul hebat’ Kong-seng mengirimkan dua serangan beruntun dan selagi mengatakan ‘tetapi jangan harap kau bisa menandingi aku dalam sebuah pertempuran yang sungguh-sungguh’ ia sudah mengirimkan tiga serangan lain.

Di antara sorak-sorai yang riuh rendah, setiap perkataan mereka terdengar nyata sekali. Sesudah berkata ‘itu tidak perlu', mendadak tubuh Bu Kie mencelat ke atas lantas berputar empat kali dan pada setiap putaran tubuhnya mengapung makin tinggi, kemudian bagaikan daun kering ia melayang-layang ke bawah dan akhirnya kedua kakinya hinggap di bumi dalam jarak beberapa tombak jauhnya dari tempat semula.

Semua orang memandang dengan mata membelalak dan sesaat kemudian, tampik sorak gegap-gempita memecah angkasa. Belum pernah jago-jago itu melihat ilmu ringan badan yang setinggi itu. Hampir bersamaan dengan hinggapnya Bu Kie, Kong-seng sudah berada di hadapannya.

“Apa kita sekarang boleh mulai Pibu?” tanyanya.

“Baiklah. Taysu boleh menyerang,” jawab Bu Kie.

“Apakah kau akan menggunakan siasat kabur-kaburan lagi?” tanya Kong-seng lagi.

Pemuda itu tersenyum, “Kalau Boanpwe mundur setengah langkah saja, Boanpwe boleh dihitung kalah,” jawabnya.

Walau pun badannya tidak dapat bergerak, Yo Siauw, Leng Kiam, Ciu Tian, Swee Put Tek dan yang lain-lain masih bisa melihat dan mendengar. Perkataan Bu Kie yang terakhir itu mengejutkan mereka. Pengalaman mereka luas. Mereka tahu bahwa setiap pukulan Kong-seng hebat luar biasa dan untuk menyambut satu pukulan saja sudah bukan urusan mudah. Menurut pendapat mereka, walau pun hebat tapi kalau mau mengharapkan kemenangan, setidaknya Bu Kie harus bertempur seratus jurus. Selama pertempuran itu, mana bisa ia tidak mundur barang setengah langkah sekali pun?

“Tak usah begitu,” kata Kong-seng. “Yang menang biarlah menang secara adil. Yang kalah biarlah kalah tanpa merasa penasaran.“ Dia terdiam sejenak kemudian membentak, “Sambutlah!”

Tangan kirinya sudah mengirim pukulan gertakan disusul dengan sambaran tangan kanan yang meluncur ke arah Koat-pun-hiat di pundak Bu Kie. Itulah pukulan Na-in-sit (Gerakan menjambret awan). Begitu tangan kiri Kong-seng bergerak, Bu Kie sudah lantas tahu pukulan apa yang bakal dikeluarkan. Ia pun segera membuat serangan gertakan dengan tangan kirinya dan tangan kanannya menyambar ke Koat-pun-hiat di pundak Kong-seng.

Kedua lawan itu menyerang dengan pukulan yang sama. Tetapi dalam persamaan itu ada juga bedanya. Bedanya Bu Kie menyerang belakangan tapi tangannya sampai lebih dulu. Pada detik jari tangan Kong-seng masih terpisah dua dim dari pundak Bu Kie, jari tangan pemuda itu telah mencengkeram Koat-pun-hiat Kong-seng yang segera saja merasa jalan darahnya kesemutan dan tangan kanannya tidak bertenaga lagi. Akan tetapi Bu Kie cepat menarik kembali tangannya.

Untuk sejenak kemudian Kong-seng jadi terpaku. Tiba-tiba kedua tangannya menyambar ke Tay-yang-hiat kiri dan kanan dengan gerakan Chio-cu-sit. Kejadian tadi terulang kembali. Bu Kie pun menyerang sepasang Tay-yang-hiat Kong-seng dengan Chio-cu-sit dan seperti tadi, walau pun Bu Kie menyerang belakangan tapi kedua tangannya sampai lebih dulu. Tay-yang-hiat adalah ‘hiat’ besar yang kalau terpukul segera mematikan.

Dengan perlahan Bu Kie mengebut kedua Tay-yang-hiat lawan, kemudian dengan sekali membalikkan tangan, dia menyentuh Hong-hu-hiat di belakang kepala Kong-seng dengan gerakan Lo-goat-sit (Gerakan menjemput rembulan), yaitu jurus ke tujuh belas dari Liong-jiauw-chiu. Begitu Tay-yang-hiat-nya dikebut, hati Kong-seng mencelos dan melihat gerakan Lo-goat-sit itu, ia menjadi kaget tak kepalang.

“Kau... kau mencuri Liong-jiauw-chiu Siauw-lim-pay!” teriaknya.

Bu Kie tersenyum, “Semua ilmu silat di dunia ini diciptakan oleh manusia,” katanya. “Belum tentu Liong-jiauw-chiu hanya dimiliki Siauw-lim-pay.”

Kong-seng menatap pemuda itu dengan mata terbelalak. Ia bingung bukan main. Dalam ilmu Liong-jiauw-chiu, kepandaiannya lebih tinggi dari pada Kong-bun dan Kong-tie. Bagaimana caranya pemuda itu bisa memiliki salah satu ilmu terhebat dari Siauw-lim-pay? Bukan hanya memiliki, bahkan dia lebih unggul dari pada dirinya sendiri. Bagaimana bisa begitu? Untuk sejenak dia berdiri terpaku tanpa bisa mengeluarkan sepatah katapun.

Dengan hati berdebar ratusan orang mengawasi kedua lawan itu. Mereka merasa heran sekali karena baru dua gebrakan saja kedua lawan itu sudah berhenti. Kecuali beberapa tokoh yang memiliki kepandaian amat tinggi, yang lainnya tidak tahu siapa menang siapa kalah. Namun dengan melihat sikap Bu Kie yang tenang-tenang saja dan alis Kong-seng yang berkerut, mereka menarik kesimpulan bahwa pendeta Siauw-lim itulah yang jatuh di bawah angin.

MENGULITI MUSANG BERBULU DOMBA

Selama ratusan tahun, Liong-jiauw-chiu sudah menjadi ilmu silat Siauw-lim-pay yang tidak terkalahkan. Kalau Bu Kie menggunakan ilmu lain, tak gampang baginya mendapat kemenangan. Tiba-tiba Kong-seng membentak keras sambil melompat dan kedua tangannya menyambar bagaikan hujan dan angin. Secepat kilat secara beruntun dia menyerang dengan delapan pukulan yaitu Po-hong-sit, To-eng-sit, Bu-khim-sit, Kouw-sek-sit, Pi-kong-sit, To-hi-sit, Po-cam-sit dan Siu-koat-sit. Bu Kie mengempos semangat dan menyambut dengan delapan pukulan yang sama.

Delapan pukulan berantai yang dikirim Kong-seng sedemikian cepatnya sehingga seolah-olah merupakan satu pukulan tunggal yang berisi delapan perubahan. Tetapi kalau Kong-seng cepat, Bu Kie lebih cepat. Apa yang paling menakjubkan adalah biar pun pemuda itu bergerak belakangan, tapi setiap pukulannya tiba lebih dulu sehingga setiap kali memukul Kong-seng harus mundur satu langkah.

Dalam sekejap, sambil melangkah mundur untuk ketujuh kalinya Kong-seng mengirim Po-cam-sit dan Siu-koat-sit, yaitu pukulan ketiga puluh lima dan ketiga puluh enam. Dilihat dari luar, Po-cam-sit dan Siu-koat-sit banyak cacatnya, tapi sebenarnya kedua pukulan itu adalah yang terhebat dalam Liong-jiauw-chiu. Dalam cacatnya tersembunyi jebakan yang membinasakan. Pada hakekatnya Liong-jiauw-chiu adalah ilmu silat ‘keras’, namun dalam dua pukulan yang terakhir itu, di dalam ‘kekerasan’ tersembunyi Im-jiu (‘kelembekan’).

Sambil membentak keras Bu Kie maju selangkah dan menyambut dengan Po-cam-sit dan Siu-koat-sit juga, tapi mendadak dia mengubah gerakannya menjadi gerakan Na-in-sit dan tangannya menerobos masuk ke garis pertahanan Kong-seng.

Kong-seng girang sekali. “Lihat kehebatanku,” katanya dalam hati.

Saat itu lengan kanan Bu Kie sudah masuk ke garis pertahanan Kong-seng hingga dia tidak bisa segera mundur kembali. Cepat bagaikan kilat si pendeta mengangkat kedua tangannya dan menghantam lengan pemuda itu.

Kong-seng adalah seorang beribadat yang punya peri-kemanusiaan. Melihat Bu Kie mahir dalam ilmu Liong-jiauw-chiu, ia kuatir pemuda itu punya sangkut paut dengan Siauw-lim-si. Di samping itu, dalam gerakan-gerakan yang lalu beberapa kali jalan darahnya telah tercengkeram tetapi Bu Kie sengaja melepaskan. Maka itu, dalam pukulan ini ia pun tidak menurunkan tangan jahat. Ia hanya ingin mematahkan lengan pemuda ini.

Namun di luar dugaan, begitu kedua telapak tangannya menyentuh lengan Bu Kie, dia merasakan dorongan semacam tenaga yang halus tetapi dahsyat yang dengan mudah dapat menolak tenaga pukulannya. Hampir bersamaan kelima jari tangan pemuda itu telah menempel di dadanya pada bagian Tan-tiong-hiat. Semangat Kong-seng runtuh. Dia merasa bahwa latihannya selama berpuluh tahun sedikit pun tiada gunanya. Dia manggut-manggut dan berkata dengan suara perlahan,

“Can-sicu berkepandaian lebih tinggi dari pada Lolap.“ Seraya berkata begitu, lima jari tangan kiri mencengkeram lima jari tangan kanannya.

Tetapi sebelum keburu mengerahkan Iweekang untuk mematahkan jari tangan sendiri, mendadak pergelangan tangan kirinya terasa kesemutan dan tenaganya habis. Ternyata jalan darahnya sudah dikebut oleh Bu Kie.

“Dengan menggunakan Liong-jiauw-chiu dari Siauw-lim-pay, Boanpwe telah mengalahkan Taysu,” kata Bu Kie dengan suara nyaring. “Kerugian apakah yang diderita oleh Siauw-lim-pay? Jika Boanpwe tidak menggunakan Liong-jiauw-chiu, ilmu dari Siauw-lim-pay sendiri, di dunia yang lebar ini tidak ada ilmu lain yang akan dapat menjatuhkan Taysu.”

Tadi karena marah dan malu, Kong-seng ingin mematahkan jari tangannya sendiri supaya seumur hidup dia tidak bisa bersilat lagi. Sekarang sesudah mendengar perkataan Bu Kie, hatinya jadi lega. Di lain saat dia harus mengakui bahwa sepak terjang pemuda itu selalu mencoba melindungi nama baik Siauw-lim-pay. Memang benar, jika Bu Kie tidak menggunakan Liong-jiauw-chiu maka nama baik Siauw-lim-si akan jatuh di tangannya dan ia akan menjadi orang yang berdosa. Mengingat begitu Kong-seng merasa berterima kasih dan terharu. Sejenak kemudian dengan air mata berlinang ia merangkap kedua tangannya sambil berkata,

“Can-sicu mempunyai budi yang sangat tinggi, Lolap merasa berterima kasih dan takluk.”

Cepat Bu Kie membalas hormat sambil membungkuk. “Janganlah Taysu memuji begitu tinggi,” katanya. “Boanpwe hanya berharap agar Taysu suka mengampuni segala kekurang ajaran Boanpwe.”

Kong-seng tersenyum. “Waktu digunakan oleh Sicu, Liong-jiauw-chiu dahsyat luar biasa,” katanya. “Lolap belum pernah bermimpi bahwa ilmu silat itu sedemikian hebatnya. Kalau di lain hari nanti Sicu mempunyai waktu luang, Lolap harap Sicu suka mampir di kuil kami. Lolap ingin menjadi tuan rumah dan minta pengajaran dari Sicu.”

Menurut kebiasaan di rimba persilatan, kata-kata ‘minta pengajaran’ mengandung maksud mengajukan tantangan. Tapi kali ini perkataan itu jujur. Dengan sejujurnya Kong-seng ingin minta pengajaran dari Bu Kie. Cepat-cepat Bu Kie menyoja dan berkata dengan suara merendah,

“Tidak! Boanpwe tidak berani menerima perkataan Taysu.”

Di kalangan Siauw-lim-pay, Kong-seng memiliki kedudukan amat tinggi. Biar pun ia tidak memegang tugas penting karena tidak bisa memimpin, tapi karena berwatak mulia dan berkepandaian tinggi maka ia dihormati segenap pendeta Siauw-lim-si. Sekarang sesudah pertandingan antara Kong-seng dan Bu Kie berakhir, semua anggota Siauw-lim-pay merasa bahwa partai mereka tidak bisa menantang pemuda itu lagi.

Dalam usaha membasmi Beng-kauw, Kong-tie sudah diangkat sebagai pemimpin. Maka dapatlah dimengerti jika perkembangan yang tak diduga-duga ini sangat membingungkan hatinya. Urusan membasmi Mo-kauw sudah dirintangi dan dikacau seorang pemuda yang tak ternama. Bagaimana kalau ditertawakan segenap orang gagah di rimba persilatan? Ia ragu dan tidak dapat mengambil keputusan. Dalam kebingungannya ia melirik Sin-soan-cu (si Malaikat tukang hitung) Sian Ie Thong, Ciang-bun-jin dari Hoa-san-pay.

Sian Ie Thong dikenal seorang yang memiliki banyak tipu daya dan ia memegang peran sebagai Kun-su (penasihat) dalam usaha membasmi Beng-kauw. Begitu dilirik oleh Kong-tie, dia segera bertindak masuk ke tengah lapangan sambil menggoyang-goyangkan kipasnya. Melihat yang maju seorang sasterawan tampan yang berusia empat puluh tahun lebih, Bu Kie mendapat kesan baik. Dia menyoja dan berkata,

“Pelajaran apakah yang hendak diberikan oleh Cianpwe?”

Sebelum Sian Ie Thong menjawab, In Thian Ceng mendahului, “Dia bernama Sian Ie Thong, Ciang-bun-jin Hoa-san-pay. Ilmu silatnya tidak tinggi tapi banyak akal bulusnya.”

Mendengar ‘Sian Ie Thong’, Bu Kie kaget. Nama itu sepertinya tidak asing baginya. Tapi di mana dia pernah mendengar nama ini? Sian Ie Thong menghentikan langkahnya dalam jarak satu tombak lebih, kemudian sambil menyoja dia berkata,

“Can Siauw-hiap, selamat bertemu!”

Bu Kie membalas hormat. “Siang Ie Ciang-bun, selamat bertemu,” sahutnya.

“Can Siauw-hiap mempunyai Sin-kang yang sangat tinggi,” kata Sian Ie Thong. “Kau telah mengalahkan tetua dari Khong-tong-pay, bahkan Siauw-lim Seng-ceng pun jatuh di bawah angin. Aku sungguh sangat kagum. Tapi apakah aku boleh mengetahui, Cianpwe manakah yang mempunyai seorang murid begitu gagah seperti Can Siauw-hiap?”

Bu Kie tidak menjawab. Ia sedang mengingat-ingat nama Sian Ie Thong. Ia yakin pernah mendengar nama itu, tapi di mana? Di mana?

Tiba-tiba Sian Ie Thong mendongak lantas tertawa terbahak-bahak. “Mengapa Can Siauw-hiap sungkan memberi-tahu nama gurumu?” tanyanya dengan suara nyaring. “Orang jaman dahulu sering berkata begini, Kian-hian Su-cee (Melihat orang pandai teringat negeri Cee)...“

Mendengar ‘Kian-hian-su-cee’ Bu Kie terkesiap dan lantas saja teringat ‘Kian-sie Put-kiu’ (Melihat kebinasaan tetap sungkan menolong, yaitu gelar Tiap-kok Ie-sian Ouw Ceng Gu). Ia lantas ingat kejadian di Ouw-tiap-kok lima tahun lalu. Waktu itu Ouw Ceng Gu pernah memberi-tahu bahwa Sian Ie Thong dari Hoa-san-pay adalah manusia yang menyebabkan kebinasaan adik perempuannya. Di kala itu dia masih kecil, tetapi di dalam hati dia sudah memastikan bahwa Sian Ie Thong akan mendapatkan pembalasan yang setimpal karena Tuhan adil. Saat itu perkataan Ouw Ceng Gu seakan-akan terdengar lagi di kupingnya,

“Aku pernah menolong seseorang yang mendapat tujuh belas lubang luka bacokan. Sesungguhnya dia mesti mati. Tiga hari tiga malam aku tidak tidur dan dengan segenap kepandaian aku bisa menyembuhkannya. Akhirnya aku mengangkat saudara, tetapi tak disangka ia malah membinasakan adik perempuanku, adik kandungku...“ Waktu berkata begitu air mata Ouw Ceng Gu mengucur deras sehingga ia pun sangat berduka.

Belakangan isteri Ouw Ceng Gu, yaitu Tok-sian Ong Lan Kauw, meracuni Sian Ie Thong dengan racun yang sangat hebat. Tetapi manusia terkutuk itu ditolong oleh Ouw Ceng Gu sendiri hingga kedua suami isteri jadi bertengkar dan pertengkaran itu lalu mengakibatkan banyak penderitaan. Pada akhirnya suami isteri Ouw Ceng Gu binasa secara tidak wajar. Biar pun bukan dibunuh oleh Sian Ie Thong, tapi kebinasaan itu adalah karenanya.

Mengingat sampai di situ, Bu Kie mendekat. Dengan sinar mata berapi ia menyapu muka Sian Ie Thong. Dia juga ingat manusia lain yang bernama Sie Kong Wan, murid Sian Ie Thong. Sesudah dilukai oleh Kim-hoa Popo, jiwa Sie Kong Wan ditolong olehnya. Tak disangka manusia itu belakangan mencoba mengiris dagingnya! Paras muka Bu Kie merah padam. Guru dan murid itu adalah manusia yang membalas kebaikan dengan kejahatan. Sie Kong Wan sudah mampus, namun Sian Ie Thong masih malang melintang di dunia dengan kedudukan tinggi.

“Manusia ini harus diberi hajaran keras,” pikirnya.

Sesudah mengambil keputusan apa yang akan diperbuatnya, dia tersenyum dan berkata,

“Di badanku tidak ada tujuh belas luka dan aku pun belum pernah mencelakakan jiwa adik angkatku. Aku tidak punya rahasia apa pun juga yang harus disembunyikan.”

Sungguh tajam kata-kata ini! Sian Ie Thong menggigil! Keringat dingin mengucur dari punggungnya. Beberapa tahun yang lalu, jiwanya ditolong oleh Ouw Ceng Gu, Sian Ie Thong dicintai Ouw Cen Yo, yaitu adik perempuan Ouw Ceng Gu. Nona Ouw menyerahkan kehormatannya hingga ia hamil. Tapi Sian Ie Thong yang ingin menduduki kursi Ciang-bun-jin dari Hoa-san-pay menyia-nyiakan nona itu, dia kabur lalu menikah dengan puteri tunggal dari Ciang-bun-jin Hoa-san-pay pada masa itu. Akibat malu dan marah, nona Ouw bunuh diri hingga dua jiwa, yaitu jiwa ibu dan anak, menjadi korban.

Karena urusan itu amat memalukan, Ouw Ceng Gu tak pernah memberi-tahu kepada orang luar. Sian Ie Thong sendiri tentu saja tutup mulut rapat-rapat. Siapa sangka, sesudah berselang belasan tahun rahasianya dibuka Bu Kie. Bagaimana dia tidak kaget? Saat itu juga dia mengambil keputusan untuk mengambil jiwa pemuda ini.

“Kalau Can Siauw-hiap tidak sudi memberi-tahu nama gurumu, maka aku mengambil keberanian untuk meminta pengajaran dengan menggunakan ilmu silat Hoa-san-pay yang sangat cetek,” katanya. “Kalau Kong-seng Seng-ceng saja masih belum dapat menandingi Can Siauw-hiap, maka ilmu silatku tentu tidak masuk hitungan. Maka biarlah pertandingan ini dibatasi sampai salah satu pihak ada yang kena sentuh. Aku harap dalam pertempuran Can Siauw-hiap suka menaruh belas kasihan.“

Sehabis berkata begitu tangan kirinya menghantam pundak Bu Kie. Ia tidak mau memberi kesempatan kepada pemuda itu untuk bicara. Bu Kie mengerti maksudnya. Sambil menangkis ia berkata,

“Ilmu silat Hoa-san-pay amat tinggi sehingga tak perlu meminta pelajaran dari orang luar. Yang menjadi soal adalah ilmu Sian Ie Ciang-bun sendiri yang sukar dicari duanya di dunia ini. Ilmu itu bernama ilmu melupakan budi, ilmu membalas kebaikan dengan kejahatan...”

Bagaikan kalap Sian Ie Thong menyerang untuk menutup mulut pemuda itu. Ia menyerang dengan silat Eng-coa Sang-sie-pek (Pertempuran mati hidup antara burung elang dengan ular), salah satu ilmu silat paling hebat dari Hoa-san-pay yang terdiri dari tujuh puluh dua jurus. Dia menutup kipas dan memegangnya di tangan kanan sehingga gagang kipas yang menonjol keluar merupakan kepala ular yang dipergunakan untuk menotok dan menikam. Lima jari tangan kirinya dipentang lebar seolah cakar elang yang menyambar-nyambar untuk mencoba mencengkeram Bu Kie.

Eng-coa Sang-sie-pek adalah ilmu simpanan Hoa-san-pay. Seratus tahun silam, waktu berada di gunung Hok-gu-san seorang pendekar Hoa-san-pay yang bernama In Pek Thian menyaksikan pertempuran hidup mati antara seekor elang dan seekor ular. Dia mendapat ilham dan belakangan menggubah ilmu tersebut.

Elang berkelahi dengan ular sebenarnya bukanlah kejadian langka. Semenjak dulu banyak ahli menggubah ilmu-ilmu baru berdasarkan pertempuran antara binatang dengan binatang. Tapi Eng-coa Sang-sie-pek agak beda dari yang lain. Perbedaannya adalah ilmu itu mengandung gerakan elang dan ular yang dikeluarkan bersama dengan kecepatan luar biasa. Bagi orang biasa ilmu ini sangat membingungkan karena serangan menyambar dari kiri ke kanan dalam gerakan yang berbeda-beda, sehingga jika seseorang menjaga di bagian kiri maka dia tidak akan bisa menjaga di bagian kanan.

Baru beberapa gebrakan Bu Kie sudah tahu, biar pun mahir dalam ilmu itu namun tenaga Sian Ie Thong masih jauh dari cukup. Sesudah lewat beberapa jurus dia berkata,

“Sian Ie Ciang-bun, ada satu hal yang kurang kumengerti dan aku ingin minta penjelasan. Dulu kau mendapat tujuh belas luka dan keadaanmu lebih banyak mati dari pada hidup, kemudian ada orang yang tanpa tidur tiga hari tiga malam sudah menolong dan mengobatimu hingga kau sembuh. Dia mengangkat saudara denganmu dan memperlakukanmu seperti saudara kandungnya sendiri. Tapi kenapa kau begitu jahat sehingga kau tega membinasakan adik perempuannya?”

Sian Ie Thong marah bukan kepalang dan berteriak, “Ouw...“

Sebenarnya dia ingin mengatakan ‘Ouw-swee Pat-to’ (omong kosong) dan berniat hendak menjatuhkan tuduhan yang tidak-tidak terhadap Bu Kie supaya pemuda itu menjadi marah dan konsentrasi pikirannya terpecah sehingga dengan mudah dia bisa melaksanakan niat jahatnya. Di luar dugaan, baru saja ia berkata ‘Ouw’, semacam tenaga lembek yang amat dahsyat telah menindih dadanya yang lantas saja menjadi sesak sehingga dia tidak dapat meneruskan kata-katanya. Mati-matian ia mengerahkan Iweekang untuk melawannya. Sementara itu Bu Kie sudah kembali berkata dengan suara nyaring.

“Benar! Rupanya kau masih ingat orang she Ouw itu. Mengapa kau tidak bicara terus? Sungguh mengenaskan kematian nona Ouw. Apakah di hatimu kau tidak pernah merasa malu?”

Dengan napas megap-megap Sian Ie Thong menyerang bagaikan kalap. Bu Kie sengaja mengendurkan tekanan tenaganya dan Sian Ie Thong lantas merasakan seakan-akan dadanya lega. Ia menarik napas dan membentak.

“Kau...“ Ia tidak dapat bicara lagi sebab mendadak Bu Kie menekan lagi dengan Iweekang-nya.

Pemuda ini mengeluarkan suara di hidung. “Seorang laki-laki berani berbuat berani menanggung akibatnya,” katanya dengan nada mengejek. “Ya bilang ya, tidak bilang tidak. Mengapa kau tidak berani buka suara? Bukankah Tiap-kok Ie-sian Ouw Ceng Gu Sinshe binasa di tanganmu? Benarkah begitu? Jawab!”

Sebetulnya Bu Kie tidak tahu bagaimana adik Ouw Ceng Gu menemui ajalnya. Maka ia tidak bisa mengatakan secara jelas. Akan tetapi dalam bingungnya Sian Ie Thong menganggap pemuda itu sudah tahu rahasianya. Mukanya pucat pasi tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutnya.

Orang-orang yang mengenal Sian Ie Thong tahu bahwa dia amat pandai bicara. Maka itu, melihat dari paras mukanya, sikap serta terkancingnya mulut pemimpin Hoa-san-pay itu, mau tidak mau mereka pun percaya apa yang dikatakan Bu Kie. Kecuali mereka berdua, tak ada orang lain yang mengetahui bahwa pemuda itu sudah menindih jalan pernapasan Sian Ie Thong dengan lweekang yang sangat tinggi.

Yang paling malu adalah orang-orang Hoa-san-pay. Pemimpin mereka dicaci seorang pemuda tanpa mampu membela diri. Di mana muka mereka harus ditaruh? Tapi ada juga sejumlah orang yang berpendapat lain. Mereka mengenal Sian Ie Thong sebagai manusia yang banyak akalnya. Mungkin sikapnya itu hanya satu siasat yang berisi muslihat untuk membalas sehebat-hebatnya. Sementara itu Bu Kie telah memaki kembali.

“Menurut kebiasaan, orang rimba persilatan membalas budi dengan budi, kejahatan dengan kejahatan. Tiap-kok Ie-sian anggota Beng-kauw. Kau adalah seorang yang berhutang budi terhadap Beng-kauw. Tapi lihatlah! Hari ini kau mengajak orang-orang partaimu menyerang Beng-kauw. Orang telah menolong jiwamu, tetapi kau berbalik mencelakai adiknya. Manusia rendah! Kau lebih rendah dari pada binatang! Mukamu tebal, begitu tebalnya sehingga kau masih punya muka menjadi Ciang-bun-jin dari sebuah partai besar.”

Bu Kie mencaci sesuka hati tanpa dibalas. “Kalau Ouw-shinshe masih hidup dan berada di sini, dia pasti akan merasa puas,” pikirnya. Sesudah memaki beberapa lama lagi, dia berkata di dalam hati. “Sekarang cukuplah. Hari ini aku mengampuni jiwanya. Biarlah di lain hari aku berhitungan lagi dengannya.“ Setelah berpikir demikian ia lantas menarik kembali tenaga telapak tangannya yang digunakan untuk menekan Sian Ie Thong.

“Binatang! Hari ini aku menitipkan kepalamu di atas lehermu untuk sementara waktu!” kata Bu Kie dengan suara lantang.

Hampir berbareng dada Sian Ie Thong lega. “Bangsat kecil! Rasakan ini!” teriaknya seraya menotok Bu Kie dengan gagang kipas sambil melompat ke samping.

Mendadak Bu Kie mengendus bebauan, kepalanya tiba-tiba pusing, kakinya lemas dan ia terhuyung-huyung. Ia merasa matanya berkunang-kunang dan dunia seolah terbalik.

“Bangsat kecil!” caci Sian Ie Thong. “Hari ini kau boleh belajar kenal dengan lihainya Eng-coa Sang-sie-pek!” ia melompat dan lima jari tangan kirinya mencengkeram Yan-ie-hiat di bawah ketiak Bu Kie. Tapi ia terkejut karena tangannya seolah-olah mencengkeram ikan yang licin dan ia tak bisa menggunakan Iweekang-nya.

Melihat pimpinan mereka berada di atas angin, orang-orang Hoa-san-pay lantas bersorak-sorai dan berteriak-teriak.

“Lihatlah lihainya Eng-coa Sang-sie-pek!”

“Sian Ie Ciang-bun, hajar!”

“Bangsat kecil! Akhirnya kau roboh juga!”

Di antara tampik sorak tiba-tiba saja Bu Kie tersenyum dan meniup muka Sian Ie Thong. Hampir berbareng Sian Ie Thong mengendus bebauan wangi amis dan kepalanya merasa puyeng. Hatinya mencelos, kagetnya seperti disambar geledek. Baru saja ia mau beteriak, Bu Kie sudah mengebut kedua lututnya dengan tangan baju sehingga dia roboh berlutut di hadapan pemuda ini.

Kejadian ini di luar dugaan semua orang. Terang-terangan mereka melihat Bu Kie terluka berat dan badannya bergoyang-goyang. Mengapa terjadi perubahan? Apakah pemuda itu mempunyai ilmu siluman? Sementara itu, sesudah mengambil kipas dari tangan Sian Ie Thong, Bu Kie tertawa ter-bahak.

“Kalian lihat!” teriaknya sambil mengacungkan kipas itu di atas kepalanya. “Hoa-san-pay menamakan diri sebagai partai yang lurus bersih, tapi siapa duga pemimpin partai memiliki ilmu penyebar racun?” Dengan sebelah tangan dia membuka kipas itu yang di atasnya terdapat lukisan puncak gunung Hoa-san dengan beberapa baris sajak yang indah bunyinya dan indah pula huruf-hurufnya.

“Tak seorang pun akan menduga bahwa di dalam kipas yang seindah ini bersembunyi alat rahasia untuk melepaskan racun yang hebat,” katanya seraya menghampiri sebuah pohon bunga lantas menotok batangnya dengan gagang kipas. Dalam sekejap semua bunga layu dan rontok, sedangkan warna daunnya pun segera berubah kuning. Semua orang terkejut, di dalam hati mereka bertanya-tanya. Racun apa yang disimpan di dalam kipas itu?

Sambil mendekam di muka bumi Sian Ie Thong menjerit-jerit seperti babi dipotong. “Ah...! Ahh...!“ Suaranya sungguh menyayat hati.

Menurut pantas, meski dipotong sungguhan seorang yang berkedudukan seperti dia harus bisa menahan sakit. Tidak boleh dia menjerit-jerit di hadapan banyak orang. Setiap jeritan berarti digaploknya muka orang-orang Hoa-san-pay.

“Lekas... lekas bunuh aku!” teriaknya. “Lekas...! Lekas...!”

“Aku bisa menghilangkan rasa sakitmu,” kata Bu Kie. “Tapi sebelum tahu racun apa yang kau gunakan, aku tidak berdaya.”

“Racun... racun... Kim-cam Kouw-tok... Aduh! Bunuhlah aku... lekas!” ia sesambat.

Kata-kata ‘Kim-cam Kouw-tok’ tak berpengaruh pada orang-orang muda, tapi orang-orang yang lebih tua langsung berubah paras mukanya. Mereka yang mempunyai rasa keadilan lantas mencaci.

Kim-cam Kouw-tok keluaran propinsi Kwi-ciu adalah salah satu racun yang paling hebat di dunia. Penderitaan orang yang kena racun itu tidak mungkin dilukiskan, sekujur badannya seperti digigit berlaksa kutu beracun. Racun itu amat memuakkan orang-orang rimba persilatan yang baik-baik. Karena sukar didapat, banyak orang hanya pernah mendengar namanya. Tetapi dengan menyaksikan penderitaan Sian Ie Thong, sekarang mereka baru tahu lihainya Kim-cam Kouw-tok.

“Apakah kau tahu cara bagaimana racunmu berbalik makan tuan?” tanya Bu Kie.

“Bunuh aku! Bunuhlah...! Aku tidak tahu,” teriaknya sambil bergulingan.

“Kau melepaskan racun itu kepadaku, tapi aku berhasil menolaknya dengan menggunakan lweekang, kemudian balas menghantam kau,” kata Bu Kie. “Sekarang apa lagi yang mau kau katakan?”

“Ya! Pembalasan...! Pembalasan...!” jeritnya seraya mencengkeram tenggorokannya untuk mencoba bunuh diri. Tapi tenaganya habis. Sekuat tenaganya ia mencoba membenturkan kepala di tanah, tetapi ia gagal lagi.

Di sinilah lihainya Kim-cam Kouw-tok. Panca indera si korban makin tajam tapi tenaganya habis sehingga mau hidup tidak bisa ingin mati pun tidak mungkin. Dari mana Sian Ie Thong mendapat racun itu? Pada waktu hendak menghembuskan napasnya yang terakhir, karena cintanya yang tiada terbatas Ouw Ceng Yo telah memohon kepada Ouw Ceng Gu supaya kakaknya suka melindungi Sian Ie Thong. Karena terpaksa sang kakak lalu memberi janjinya.

Isteri Ouw Ceng Gu, Ouw Lan Kouw, merasa marah maka diam-diam meracuni Sian Ie Thong dengan Kim-cam Kouw-tok. Belakangan, karena sudah berjanji Ouw Ceng Gu menolong juga manusia itu. Tapi Sian Ie Thong ternyata licik luar biasa. Pada saat berobat di rumah Tiap-kok Ie-sian, selagi orang meleng, dia mencuri dua pasang ulat sutera emas yang lalu dipiara menurut aturan dan dibuat menjadi bubuk racun. Kemudian ia memasang alat rahasia di kipasnya untuk menyimpan racun itu, yang bisa disembur keluar dengan bantuan tenaga dalamnya.

Tadi, karena ditindih dengan lweekang Bu Kie, ia tidak dapat bergerak. Tapi begitu pemuda itu menarik kembali tekanannya, dia segera melepaskan racun. Untung sekali Bu Kie mempunyai lweekang yang sangat kuat. Pada detik yang berbahaya dia menahan napas, mengerahkan semua hawa tulen sehingga bahkan bisa menyembur balik racun itu ke badan Sian Ie Thong. Kalau saja badannya kurang kuat maka yang akan menjerit-jerit bukannya Sian Ie Thong melainkan dia sendiri.

Sesudah mempelajari Tok-kang dari Ong Lan Kouw, Bu Kie tahu lihainya Kim-cam Kouw-tok. Diam-diam dia mengalirkan hawa tulen ke seluruh badannya dan setelah merasakan sesuatu yang luar biasa barulah hatinya lega. Melihat penderitaan Sian Ie Thong, di dalam hatinya dia merasa kasihan. “Menolong, aku akan menolong, tapi lebih dulu dia harus mengakui segala dosanya,” pikirnya. Karena itu ia segera berkata,

“Aku tahu cara mengobati orang yang kena racun Kim-cam Kouw-tok. Tapi sebelum ditolong, kau harus menjawab sejujurnya setiap pertanyaanku. Jika kau berdusta aku takkan memperdulikan kau lagi. Kau akan menderita tujuh hari tujuh malam hingga dagingmu rusak dan tulang-tulangmu kelihatan.”

Walau pun terpaksa tapi otak Sian Ie Thong tetap tenang. “Dahulu Ong Lan Kouw pernah mengatakan bahwa dagingku akan rusak dan tulang-tulangku akan kelihatan sesudah aku menderita tujuh hari tujuh malam,” katanya dalam hati. “Bagaimana bocah ini bisa tahu?” Tapi dia tidak percaya kalau Bu Kie mempunyai kepandaian yang menyamai kepandaian Ouw Ceng Gu.

“Kau... kau... takkan bisa menolongku,” katanya terputus-putus.

Bu Kie tersenyum. Dengan gagang kipas dia menotok Sian Ie Thong. “Aku akan membuat lubang di sini dan akan memasukkan obat ke dalam lubang,” katanya.

“Benar! Kau benar!” teriak Sian Ie Thong.

“Nah! Kalau kau mau hidup, lekaslah ceritakan segala dosamu,” kata Bu Kie.

Sambil menggigit bibir Sian Ie Thong mengawasi pemuda itu. “Ti... dak!” katanya dengan suara gemetar.

“Baiklah,” kata Bu Kie seraya mengibas tangannya. “Kau rebahlah di sini selama tujuh hari tujuh malam.”

“Ya...! Ya...! Aku... aku cerita...“ sesambat Sian Ie Thong. Tapi mulutnya tetap terkancing. Meski bagaimana pun juga, terutama mengingat kedudukannya sebagai Ciang-bun-jin dari sebuah partai besar, ia merasa tak sanggup untuk menceritakan perbuatan-perbuatannya yang terkutuk di hadapan ratusan tokoh rimba persilatan.

Tiba-tiba saja, berbareng dengan siulan nyaring, dua orang, satu jangkung dan satu kate, melompat keluar dari barisan Hoa-san-pay lantas berdiri di depan Bu Kie. Mereka berusia lima puluh tahun lebih dan masing-masing mencekal sebatang golok.

“Orang she Can,” kata si kate, “Orang Hoa-san-pay boleh dibunuh tapi tidak boleh dihina. Perbuatanmu terhadap Ciang-bun-jin kami bukan perbuatan seorang gagah.”

Bu Kie merangkap kedua tangannya dan bertanya, “Bolehkah aku mendapat tahu she dan nama besar kedua Cianpwe?”

“Derajatmu masih belum cukup untuk mengetahui nama kami berdua,” kata si kate seraya membungkuk untuk mendukung Sian Ie Thong.

Bu Kie cepat mendorong si kate sehingga si kate itu terhuyung, “Hati-hati kau!” katanya. “Badannya penuh racun. Kalau kena sedikit saja maka kau akan menderita seperti dia.”

Si kate terkejut dan berdiri terpaku.

“Tolong...! Tolong aku!” jerit Sian Ie Thong. “Pek Goan, Pek-suko! Hanya Pek-suko yang aku binasakan dengan Kim-cam Kouw-tok! Tidak ada orang lain lagi...! Tidak ada...!”

“Kau yang membinasakan Pek Goan?” si kate menegas. “Apa benar? Tapi mengapa kau mengatakan bahwa dia mati di tangan orang-orang Beng-kauw?”

“Pek-suko...! Ampun... “ jerit Sian Ie Thong sambil manggut-manggutkan kepalanya. “Pek-suko... kau mati secara mengenaskan. Tapi siapa suruh kau memaksaku untuk mengakui urusan nona Ouw? Suhu pasti tidak akan mengampuni aku, tak ada jalan lain... aku... aku terpaksa... Pek-suheng! Ampun...!“

Dia mencengkeram tenggorokannya, tetapi tenaganya habis. Dengan napas tersengal-sengal dia berkata lagi.

“Sesudah mencelakai kau, jalan satu-satunya untukku adalah menumplekkan kesalahan di atas pundak Beng-kauw. Tapi... tapi.. aku telah membakar banyak sekali uang-uangan untuk rohmu... aku telah membikin sembahyangan besar.. aku terus menunjang kehidupan anak isterimu. Kenapa kau masih minta ganti jiwa...? Ampun...!”

Ketika itu langit cerah dan matahari memancarkan sinarnya yang gilang gemilang. Namun banyak orang menggigil seperti kedinginan karena mendengar jerit-jeritan Sian Ie Thong. Roh Pek Goan seolah-olah berada di tempat itu.....


OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia